PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER"

Transkripsi

1 PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER Yesi Desmiaty, Julia Ratnawati, Peni Andini Jurusan Farmasi Universitas Jend. Achmad Yani Cimahi Jawa Barat ABSTRAK Secara empiris daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) sangat berpotensi untuk dijadikan sediaan obat tradisional. Untuk itu perlu dikembangkan metode standardisasi sediaan obat tradisional, salah satunya adalah dengan penetapan kadar salah satu kandungan senyawa marker. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) memiliki kandungan senyawa flavonoid sehingga dapat dilakukan penentuan jumlah flavonoid total ekstrak etanol daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) secara kolorimetri komplementer. Penentuan jumlah flavonoid total dilakukan dengan menjumlahkan kadar flavonoid yang ditentukan menggunakan dua metode yaitu metode alumunium klorida untuk menentukan golongan flavon dan flavonol dan metode 2,4dinitrofenilhidrazin untuk menentukan golongan flavanon dan flavanonol. Dari hasil penelitian didapatkan jumlah flavanon dan flavanonol lebih tinggi daripada flavonol dan flavon dengan jumlah flavonoid total 0,99±0,01 % b/b. Keyword : daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.), flavonoid total, alumunium klorida, 2,4dinitrofenilhidrazin. Pendahuluan Tumbuhan obat yang belakangan ini menjadi sangat populer yaitu buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) mengandung beberapa senyawa aktif yang dapat berfungsi sebagai antioksidan yaitu karoten, betakaroten dan tokoferol. Buah merah dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit diantaranya asam urat, kolesterol, diabetes, hipertensi, hepatitis, jantung koroner, osteoporosis, hingga penyakit yang paling berbahaya saat ini yaitu HIV (dalam penelitian). Untuk itu perlu dikembangkan metode standardisasi simplisia, salah Page 1

2 satunya adalah dengan penetapan kadar salah satu kandungan senyawa Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) memiliki kandungan senyawa flavonoid sehingga dapat dijadikan sebagai senyawa marker. Penentuan jumlah flavonoid total ekstrak etanol daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) adalah secara kolorimetri komplementer atau menggunakan dua metode yaitu metode alumunium klorida untuk menentukan golongan flavon dan flavonol dan metode 2,4dinitrofenilhidrazin untuk menentukan golongan flavanon dan flavanonol. Alat dan bahan Alat : Alat-alat gelas yang biasa dipergunakan di laboratorium, cawan penguap, krus silikat, penangas air, timbangan analitik (Sartorius BL 210 S), botol semprot, termometer, cawan penguap, krus silikat, desikator, tanur (Nabertherm-Germany), oven (Memmert), stopwatch, spektrofotometer (Shimadzu.UV-Visible Spektrophotometer 1601). Bahan : Daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.), air suling, etanol redestilasi, metanol redestilasi, asam sulfat, alumunium (III) klorida LP, kertas saring, kalium hidroksida, asam klorida, kertas saring, kalium asetat, toluen, pereaksi Dragendorff, pereaksi Mayer, serbuk magnesium, amil alkohol, besi (III) klorida, gelatin, pereaksi Lieberman Bourchard, vanilin asam sulfat, naringenin murni, kuersetin murni, reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin. Metodologi Penelitian Daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) diperoleh dari daerah Wamena Papua dideterminasi di Herbarium Bogoriense Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI-Bogor. Bahan disiapkan hingga menjadi simplisia dan dilakukan penetapan karakteristiknya meliputi pemeriksaan makroskopik, pemeriksaan mikroskopik, penetapan kadar air simplisia, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu larut air, penentuan kadar abu tidak larut asam, penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol. Penapisan fitokimia meliputi pemeriksaan alkaloid, flavonoid, tanin, polifenolat, saponin, kuinon, monoterpenoid/seskuiterpenoid dan steroid/triterpenoid. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara ekstraksi dingin yaitu secara maserasi dengan alat pengaduk dalam pelarut etanol 95% kemudian diaduk pada kecepatan 200 rpm selama delapan jam selama tiga hari. Penentuan jumlah flavonoid total ditentukan secara kolorimetri komplementer terhadap ekstrak etanol daun buah merah dengan dua metode kolorimetri, yaitu: metode Page 2

3 alumunium klorida dan metode 2,4dinitrofenilhidrazin. Setelah diperoleh jumlah flavonoid dari masing-masing metode tersebut kemudian ditentukan jumlah flavonoid totalnya dengan menjumlahkan kandungan flavonoid dari kedua metode tersebut. Penentuan jumlah flavonoid metode alumunium klorida: 1. Pembuatan larutan uji ekstrak etanol yaitu 1,0 g serbuk simplisia dalam 25 ml etanol 95%. Kemudian diaduk selama delapan jam dengan menggunakan alat pengaduk pada kecepatan 200 rpm selama tiga hari, kemudian disaring, filtrat yang diperoleh di ad etanol 95% sampai 25,0 ml. 2. Pembuatan kurva kalibrasi dengan kuersetin sebagai pembanding. Dibuat serangkaian larutan kuersetin dalam etanol dengan konsentrasi 40, 60, 80, 100, dan 120 µg/ml. Sejumlah 0,5 ml dari masing-masing larutan, dicampur dengan 1,5 ml etanol 95%; 0,1 ml alumunium klorida 10%, 0,1 ml kalium asetat 1M dan 2,8 ml aquadest. Diinkubasikan pada suhu kamar selama 30 menit. Diukur serapannya dengan spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang maksimum yaitu 438 nm. Kurva kalibrasi yang diperoleh adalah sbb Gambar V Penentuan jumlah flavonoid dari larutan uji ekstrak etanol daun buah merah. Sejumlah 0,5 ml ekstrak etanol sampel diperlakukan sama seperti pada pembuatan kurva kalibrasi. Kemudian dihitung kadar flavonoidnya. 4. Perhitungan untuk menentukan jumlah flavonoid dengan metode kolorimetri alumunium korida dihitung dengan menggunakan persamaan : F1 = CxVxFx10-6 x100% m Keterangan : F 1 = Jumlah flavonoid dengan metode alumunium klorida, C = Kesetaraan kuersetin (.g/ml), V = Volume total ekstrak etanol (ml), F = Faktor pengenceran (2), m = Berat sampel (g) Penentuan Flavonoid Metode kolorimetri 2,4-dinitrofenilhidrazin 1. Pembuatan reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin: Ditimbang seksama 1,0 gram 2,4-dinitrofenilhidrazin dilarutkan dalam 2 ml asam sulfat 96% dan diencerkan sampai 100 ml dalam labu ukur dengan metanol. 2. Pembuatan kurva kalibrasi dengan naringenin sebagai pembanding. Dibuat serangkaian larutan naringenin dalam metanol dengan konsentrasi 400, 800, 1000 dan 1200 µg/ml. Sejumlah 1,0 ml dari masing-masing larutan yang telah dilarutkan, ditambahkan 2 Page 3

4 ml reagen 2,4dinitrofenilhidrazin 1%. Diinkubasikan pada suhu 50 0 C selama 50 menit. Setelah dingin pada suhu kamar, ditambahkan KOH 10% dalam metanol sampai 10 ml dalam labu ukur. Dipipet 1,0 ml dari campuran tersebut diatas, ditambah metanol sampai 10,0 ml. Diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yaitu 494 nm. Blanko 1,0 ml larutan pembanding diganti dengan methanol 1,0 ml dan prosedur seterusnya diperlakukan sama seperti diatas. Kemudian dibuat kurva kalibrasi. 3. Penentuan jumlah flavonoid dari ekstrak etanol daun buah merah. Diambil 1,0 ml ekstrak etanol kemudian diperlakukan sama seperti pada pembuatan kurva kalibrasi. Kemudian dihitung kadar flavonoidnya. Perhitungan untuk menentukan jumlah flavonoid dengan metoda kolorimetri 2,4- dinitrofenilhidrazin dihitung dengan menggunakan persamaan : F2 = CxVxFx10-6 x100% m Keterangan : F 2 = Jumlah flavonoid dengan metode 2,4 -dinitrofenilhidrazin, C = Kesetaraan naringenin (.g/ml), V = Volume total ekstrak etanol (ml), F = Faktor pengenceran (1), m = Berat sampel (g) Perhitungan Jumlah Flavonoid Total Jumlah flavonoid total daun buah merah dihitung dengan menggunakan persamaan : FT = F1 + F2. Keterangan : F 1 = Jumlah flavonoid dengan metode alumunium klorida, F 2 = Jumlah flavonoid dengan metode 2,4 dinitrofenilhidrazin, FT = Jumlah flavonoid total Hasil Penelitian Page 4

5 Gb. 1. Tanaman buah merah Tabel 1. Karakteristik simplisia daun buah merah Page 5

6 Serapan Absorban Kurva kalibrasi larutan pembanding kuersetin Konsentrasi y = x R 2 = Kurva kalibrasi larutan pembanding naringenin Konsentrasi y = x R 2 = Gb 2. Kurva kalibrasi larutan pembanding Tabel 2. Hasil Perhitungan Jumlah Flavonoid Pembahasan Page 6

7 Penentuan jumlah flavonoid dari ekstak etanol daun buah merah dilakukan dengan kolorimetri komplementer yang mempunyai prinsip pengukuran berdasarkan pembentukan warna. Prinsip penetapan flavonoid dengan metode kolorimetri AlCl3 adalah pembentukan kompleks antara AlCl3 dengan gugus keto pada atom C-4 dan juga dengan gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-4 yang bertetangga dari flavon dan flavonol. Sehingga metode ini dapat digunakan untuk menentukan jumlah flavonoid golongan flavon dan flavonol. Pada pembuatan kurva kalibrasi dengan metode AlCl3 digunakan kuersetin sebagai pembanding karena kuersetin merupakan flavonoid golongan flavonol yang mempunyai gugus keto pada C-4 dan memiliki gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari flavon dan flavonol. Panjang gelombang maksimum yang dihasilkan dari pengukuran kuersetin adalah 438 nm. Pada metode AlCl3 jumlah flavonoid flavon dan flavonol diperoleh 0,13±0,00 % b/b. Pada penentuan jumlah flavonoid dengan metode kolorimetri 2,4-dinitrofenilhidrazin, prinsipnya adalah reaksi antara 2,4-dinitrofenilhidrazin, suatu senyawa yang mengandung gugus.nh2 dengan gugus aldehid dan gugus keton membentuk 2,4-dinitrofenilhidrazon. Flavon, flavonol, dan isoflavon yang memiliki ikatan rangkap pada atom C2-C3 tidak dapat bereaksi dengan 2,4-dinitrofenilhidrazin. Sehingga penentuan jumlah flavonoid dengan metoda kolorimetri 2,4-dinitrofenilhidrazin spesifik untuk flavanon dan flavanonol. Naringenin merupakan flavonoid golongan flavanon yang memiliki gugus keto pada atom C- 4 dan juga memiliki gugus hidroksi pada atom C-5, C-7 dan C-4. Pada saat pembuatan kurva kalibrasi naringenin, panjang gelombang maksimum yang dihasilkan adalah 494 nm. Pada metode kolorimetri 2,4-dinitrofenilhidrazin, jumlah flavonoid flavanon dan flavononol ekstrak etanol daun buah merah adalah 0,86±0,01 % b/b. KESIMPULAN Jumlah flavonoid daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) golongan flavanon dan flavanonol lebih tinggi daripada golongan flavon dan flavonol, yaitu 0,86±0,01 % b/b dan 0,13±0,00 % b/b. Jumlah flavonoid total daun buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) adalah 0,99±0,010% b/b. Pustaka 1. I Made Budi, Fendy R. Paimin, Buah Merah, Penebar Swadaya, 2005, Page 7

8 2. Popova, M.S. Silici, O. Jaftanoglu V., Antibacterial Activity of Turkish Propolis Qualitative and Quantitative Chemical Composition, Bankova, Phytomedicine, 12 (2005). 3. Direktorat Jenderal POM., Departemen Kesehatan Republik Indonesia., Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Jakarta, 1989, Hidayat N. Atmaja., Penentuan Jumlah Flavonoid Total Ekstrak Etanol Daun Tempuyung (Sonchus arvensis.l.), Daun Sambiloto (Andrographis paniculata (Burn. F.) Nees) dan Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) Secara Kolorimetri Komplementer, skripsi, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNJANI, 2005 Page 8

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK Kadar kurkumin dan potensi antioksidan ekstrak etanol rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Berg) Roscoe.), temu magga (Curcuma mangga Val et Zyp.) dan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Ros Sumarny,

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

THE EFFECTIVENESS TEST OF ETHANOL EXTRACT OF HIBISCUS LEAVES

THE EFFECTIVENESS TEST OF ETHANOL EXTRACT OF HIBISCUS LEAVES THE EFFECTIVENESS TEST OF ETHANOL EXTRACT OF HIBISCUS LEAVES (Hibiscus rosa sinensis L.) AS ANTIMICROBIAL IN Salmonella typhi BACTERIA IN IN VITRO AND BIOAUTOGRAPHY Suhardjono, Agitya Resti Erwiyani, Martina

Lebih terperinci

KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM DUPLICATUM MENGGUNAKAN BERBAGAI PELARUT DAN METODE EKSTRAKSI

KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM DUPLICATUM MENGGUNAKAN BERBAGAI PELARUT DAN METODE EKSTRAKSI 22 Kajian Sifat Fisikokimia Ekstrak Rumput Laut..(Aisyah dkk) KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM DUPLICATUM MENGGUNAKAN BERBAGAI PELARUT DAN METODE EKSTRAKSI Aisyah Tri Septiana

Lebih terperinci

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.)

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) Biofarmasi (): 8, Pebruari 005, ISSN: 6 005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) Isolation and identification

Lebih terperinci

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS Liliek Nurhidayati, Sulistiowati Fakultas Farmasi Universitas

Lebih terperinci

Kembang gula Bagian 2: Lunak

Kembang gula Bagian 2: Lunak Standar Nasional Indonesia Kembang gula Bagian 2: Lunak ICS 67.180.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Komposisi...

Lebih terperinci

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1 TUJUAN 1. Mahasiswa mengenal alat-alat sederhana yang umum dipergunakan dalam laboratorium kimia. 2. Mahasiswa memahami kegunaan serta cara menggunakan secara benar alat-alat laboratorium kimia. Beberapa

Lebih terperinci

K 100 060 123 FAKULTAS

K 100 060 123 FAKULTAS FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK ETANOL DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus) DENGANN AMILUM MANIHOT SEBAGAI BAHAN PENGIKAT SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus SKRIPSI Oleh: AWALIAA

Lebih terperinci

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PENDAHULUAN Dahulu bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan yang luas di bidang obat-obatan tradisional yang berasal

Lebih terperinci

Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb)

Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb) Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb) ka Adi Parwata Kelompok Studi Bahan Alam Laboratorium Kimia rganik,

Lebih terperinci

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 Disusun oleh FERIA TIA AGUSTINA M0301024 SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan

Lebih terperinci

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA BAHAN AJAR SISWA PENGUJIAN BAHAN BAKAR NABATI (BBN) Disusun oleh: Niamul Huda, ST., M.Pd Linda Dwinanada, S.Pd., M.Si Didukungi oleh: TEACHING BIOMASS TECHNOLOGIES

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber

Lebih terperinci

PENETAPAN KADAR TRIPROLIDINA HIDROKLORIDA DAN PSEUDOEFEDRINA HIDROKLORIDA DALAM TABLET ANTI INFLUENZA SECARA SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF

PENETAPAN KADAR TRIPROLIDINA HIDROKLORIDA DAN PSEUDOEFEDRINA HIDROKLORIDA DALAM TABLET ANTI INFLUENZA SECARA SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF Hayun, Harianto dan Yenti Departemen Farmasi FMIPA-UI ISSN : 1693-9883 Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. III, No.1, April 2006, 94-105 PENETAPAN KADAR TRIPROLIDINA HIDROKLORIDA DAN PSEUDOEFEDRINA HIDROKLORIDA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Temu ireng dalam bahasa daerah dikenal dengan beberapa nama, antara

BAB II KAJIAN TEORI. Temu ireng dalam bahasa daerah dikenal dengan beberapa nama, antara BAB II KAJIAN TERI A. Deskripsi Teori 1. Temu Ireng (urcuma aeruginosa Roxb.) Temu ireng dalam bahasa daerah dikenal dengan beberapa nama, antara lain : temu hitam (Minang), koneng hideung (Sunda), temu

Lebih terperinci

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN TUGAS AKHIR disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Program Studi Teknik Kimia Oleh A. Amar Mualimin

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 1, Hal. 65-72, Juni 2011

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 1, Hal. 65-72, Juni 2011 Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 1, Hal. 65-72, Juni 2011 UJI TOKSISITAS EKSTRAK EMPAT JENIS TERIPANG SUKU HOLOTHURIIDAE DARI PULAU PENJALIRAN TIMUR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

Kata kunci : in-situ esterifikasi, minyak mentah dedak padi, asam lemak bebas/ffa

Kata kunci : in-situ esterifikasi, minyak mentah dedak padi, asam lemak bebas/ffa Pengaruh Jenis Alkohol terhadap Komponen-Komponen Terekstrak pada In-Situ Ekstraksi Dedak Padi Budiono S., Faisal Resa, Orchidea R., dan M. Rachimoellah Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL JUDUL PENELITIAN UJI LABORATORIUM SIFAT-SIFAT LIMBAH ORGANIK DAN MEKANISME REMEDIASI AIR ASAM TAMBANG OLEH DR. IR. RIWANDI, MS. IR. ALI MUNAWAR,

Lebih terperinci

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA Yessy Meisrilestari* ), Rahmat Khomaini, Hesti Wijayanti Progam Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus)

KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) Research Note KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) S. N. Permadi, S. Mulyani, A. Hintono ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

EVALUASI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG UNTUK MENINGKATKAN MUTU KITOSAN YANG DIHASILKAN

EVALUASI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG UNTUK MENINGKATKAN MUTU KITOSAN YANG DIHASILKAN EVALUASI PROSES PEGOLAHA LIMBAH KULIT UDAG UTUK MEIGKATKA MUTU KITOSA YAG DIHASILKA Ani Purwanti Jurusan Teknik Kimia, Institut Sains & Teknologi AKPRID Yogyakarta e-mail : ani4wanti@gmail.com ABSTRACT

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON Jhonson A. Harianja 1), Efraim Barus 2) 1) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta 2) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta

Lebih terperinci

PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS

PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.05.1.52.3920 TENTANG PENGAWASAN FORMULA BAYI DAN FORMULA BAYI UNTUK KEPERLUAN MEDIS KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus) SISTEM HETEROTROFIK MUHIB RADHIYUFA PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS

Lebih terperinci

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA KADAR NH KADAR 3 DAN NH CH 3 4 DAN SERTA CH 4 CO SERTA 2 DARI COPETERNAKAN 2 DARI PETERNAKAN BROILER PADA KONDISI BROILER LINGKUNGAN PADA KONDISI DAN LINGKUNGAN MANAJEMEN YANG PETERNAKAN BERBEDA YANG DI

Lebih terperinci