BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI"

Transkripsi

1 BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 3.1. Kesimpulan Peningkatan daya saing produk menjadi tujuan terpenting untuk pengembangan UMKM di Kabupaten Sikka kemudian tujuan penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Menjaga kualitas dan mutu produk UMKM bagi para pemikir, pengambil kebijakan serta praktisi pengembangan dapat mempertahankan keberlanjutan produksi UMKM dalam persaingan global Kriteria penentuan KPJU Unggulan terpenting menurut ranking kepentingan berturut-turut adalah 1) ketersediaan teknologi, 2) ketersediaan pasar, 3) manegemen usaha, 4) penyerapan tenaga kerja, 5) ketrampilan tenaga kerja yang dibutuhkan, 6) ketersediaan sarana produksi, 7) aksesibilitas terhadap/ kebutuhan modal, 8) sumbangan terhadap perekonomian daerah, 9) harga/nilai tambah, 10) ketersediaan bahan baku dan yang terakhir adalah 11) aspek sosial budaya Sektor perikanan menjadi sektor utama yang diunggulkan dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Sikka sehingga patut mendapatkan prioritas pertama. Sektor usaha lain berdasarkan gabungan tujuan dan tingkat kepentingannya berturut-turut adalah sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, Perdagangan, Pariwisata, Jasa-Jasa, Peternakan, Perindustrian, Angkutan, Kehutanan, dan Pertambangan Sepuluh KPJU Unggulan lintas sektor untuk pengembangan UMKM di Kabupaten Sikka berturut-turut adalah : 1) Usaha Penangkapan ikan di laut, 2) Usaha budidaya rumput laut, 3) Industri kain tenun ikat, 4) Coklat, 5) Sembako, 6) Ayam Petelur, 7) Cengkeh, 8) Hasil pertanian/hortikultura, 9) karya seni dan kerajinan, dan 10) Ternak dan hasilnya Jenis usaha komoditi yang dipandang berpotensi dan prospek dengan kategori baik sampai sangat baik adalah: 1) Usaha Penangkapan ikan di laut, 2) Usaha budidaya rumput laut, 3) Coklat, dan 4) Sembako Rekomendasi Upaya berbagai pihak dalam pengembangan UMKM di NTT termasuk Kabupaten Sikka mestinya memberi perhatian yang tinggi pada minimal 5 (lima) hal penting sebagai necessery condition (syarat keharusan) yaitu: peningkatan kemampuan teknologi usaha, pengembangan ketersediaan pasar, pembinaan menegemen usaha, penyerapan tenaga kerja (padat karya), dan peningkatan ketrampilan tenaga kerja UMKM. Faktor-faktor lainnya bukanlah tidak penting, tetapi lebih merupakan suffisien condition (syarat kecukupan) dalam pengembangan dan pembinaan UMKM di NTT Berbagai pihak yang berperan dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Sikka disarankan untuk mengembangkan UKM di bidang KPJU Unggulan yang secara potensi dan prospek tergolong baik dan sangat baik, yaitu: Usaha Penangkapan ikan di laut, Usaha budidaya rumput laut, perkebunan coklat (kakao), dan perdagangan sembako. 305

2 Upaya untuk mengembangan dan memberdayakan ke-10 KPJu Unggulan UMKM dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan, sebaiknya diawali dengan identifikasi dan pemetaan masing-masing KPJu Unggulan oleh masing sektor (SKPD) yang implementasinya dilaksanakan secara terkoordinasi. Untuk menghindari terjadinya ketimpangan program, disarankan agar dibentuk sebuah forum atau kelompok kerja pengembangan dan pemberdayaan UMKM di bawah koordinasi langsung oleh Sekretaris Daerah Lembaga perbankan terutama BUMN diharapkan partisipasi aktifnya untuk turut serta membantu membina dan mengembangkan KPJu dari aspek teknis perbankan sehingga memungkinkan para pelaku UMKM lebih mudah mengakses pembiayaan yang berasal dari perbankan. Perlu dipertimbangkan untuk membentuk sebuah badan koordinasi perbankan di tingkat lokal yang secara reguler dapat berkoordinasi langsung dengan para pelaku UMKM, yang berfungsi sebabagi forum komunikasi dan konsultasi antara pihak perbankan dengan para pelaku UMKM. Untuk itu Bupati Sikka dapat berkoordinasi dengan perbankan setempat, terutama Bank NTT dan pihak Perwakilan BI NTT untuk membentuk wadah tersebut. Agar lebih efektif, wadah tersebut dibentuk melalui peraturan daerah. 306

3

4 BAB I KONDISI UMUM WILAYAH KABUPATEN ENDE 1.1. Kondisi Fisik Wilayah Kondisi Geografis Kabupaten Ende yang terkenal dengan danau tiga warna Kelimutu, terletak di Pulau Flores, merupakan salah satu dari 22 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas wilayah 2.046,60 Km 2 atau sekitar 4,32% dari luas wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (47.349,9 Km 2) ). Terdiri dari 21 kecamatan, 194 desa, dan 23 kelurahan (Tabel 1). Selain wilayah daratan Flores yang terletak di bagian tengah Pulau Flores, Kabupaten Ende juga terdiri dari satu pulau kecil yaitu Pulau Ende. Batas wilayah administratifnya; sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu, Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sikka, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Nagekeo Tabel 1. Luas Kecamatan dan Jumlah Desa/Kelurahan di Kabupaten Ende 2011 No Kecamatan Km 2 Luas Jumlah Persentase Desa/Kelurahan 1 Nangapanda Pulau Ende Maukaro Ende Ende Selatan Ende Timur Ende Tengah Ende Utara Ndona Ndona Timur Wolowaru Wolojita Lio Timur Kelimutu Ndori Maurole Kotabaru Detukeli Lepembusu Kelisoke Detusoko Wewaria Jumlah / Total 2046, Sumber : Kabupaten Ende Dalam Angka, 2012 Daerah yang paling luas adalah Kecamatan Nangapanda dengan luas 213,17 Km 2 (10,42% dari luas kabupaten) kemudian Kecamatan Detukeli dengan luas 198,81 Km 2 (9,71%), Sedangkan kecamatan yang luas daerahnya paling kecil adalah Kecamatan Ndori dengan luas hanya 5,94 Km 2 (0,29%). Bila dilihat luas wilayah menurut pulaunya maka sebahagian besar wilayah berada pada pulau Flores yaitu 96,02% dan wilayah Pulau Ende hanya 3,08% saja. 307

5 Topografi Keadaan topografi Kabupaten Ende umumnya berbukit-bukit, bergununggunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan Pembagian wilayah menurut ketinggian dari permukaan laut terdiri atas 79,4 % dengan ketinggian lebih kecil dari 500 meter. Pembagian wilayah menurut kemiringan tanah terdiri atas ; 3,02 % (kemiringan 0-3 %), 5,85 % (kemiringan 3-12 %), 19,59 % (kemiringan %), dan 71,54 % (kemiringan 40 %). Dibagian wilayah selatan daerah ini terletak pada jalur dalam deretan gunung api, diantaranya Gunung Api Iya mempunyai ketinggian 637 meter dengan letusan terakhir pada tahun 1969, Gunung Mutubusa mempunyai ketinggian meter dengan letusan terakhir tahun Iklim dan Curah Hujan Secara astronomis terletak diantara 8 26' 24,71'' ' 25,46'' Lintang Selatan dan antara ' 40,44'' ' 33,3'' Bujur Timur. Beriklim tropis, dengan temperatur udara minimum berkisar antara 21 O C sampai 23 O C dan temperatur maksimum sampai 34,7 O C. Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Kabupaten Ende hanya dikenal 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Perubahan suhu harian, siang dan malam tidak terlalu menonjol antara musim panas dan musim dingin. Rata-rata amplitudo suhu harian 60 0 C dengan rata-rata suhu siang hari 33,5 0 C dan malam hari 23 0 C. Hal ini menunjukkan perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu besar sehingga cuacanya tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas Cuaca Perubahan suhu harian, siang dan malam tidak terlalu menonjol antara musim panas dan musim dingin. Rata-rata amplitudo suhu harian 60 0 C dengan rata-rata suhu siang hari 33,5 0 C dan malam hari 23 0 C. Hal ini menunjukkan perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu besar. Ini berarti bahwa cuaca di wilayah daerah ini tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas Tanah, Flora dan fauna 1) Tanah Tekstur tanah di Kabupaten Ende terdiri dari 22,99 % (tekstur sedang), 57,11 % (tekstur kasar), 3,70 % (tekstur halus) dan 16,90 % (tidak terkategori). 2) F l o r a Vegetasi tanah di sebagian wilayah Kabupaten Ende, permukaan tanahnya gundul dan kritis sehingga hutan hanyalah 34,59 ha atau 15,52 %. Luas tanah gundul/kritis sampai dengan sekarang diperkirakan hektar, yang secara sporadis hampir terdapat di seluruh wilayah ini. Sedangkan untuk jenis lainnya meliputi berbagai jenis tanaman pangan seperti padi-padian, hortikultura dan komoditi perdagangan seperti kelapa, kemiri, asam, kayu manis, pinang, gewang, palem, bambu hutan, enau, cemara gunung (Casuaria, SP) umbi-umbian, rotan di samping itu terdapat pula tanaman anggrek, paku-pakuan dan tumbuhan obat tradisional yang relatif sedikit diketahui nama daerahnya. 3) F a u n a Berbagai jenis fauna yang terdapat di daerah ini antara lain terdiri dari: binatang liar dan berbagai ternak besar/kecil. Binatang liar meliputi rusa, babi hutan, buaya, biawak (mbou), jenis-jenis ular, landak, monyet, kucing hitam, kadal dan jenis satwa, lumba-lumba, paus serta hiu. Jenis satwa unggas meliputi burung beo, kakatua, nuri 308

6 kecil.perkici, srigunting, perkutut, tekukur, elang, alap-alap, kepondang, koka, nuri bodoh, jenis blibis/pelikan dan ikan-ikan hias. Sedangkan Jenis ternak besar/kecil yakni: sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, dan babi Demografi Jumlah penduduk Kabupaten Ende pada Tahun 2007 sebanyak jiwa ( laki-laki dan orang perempuan). Pada lima tahun kemudian (2011) jumlah penduduk Kabupaten Ende meningkat menjadi jiwa ( laki-laki dan perempuan) dengan luas wilayah mencapai 2.046,60 Km 2, maka tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Ende mencapai 128 jiwa per Km 2, dengan laju pertumbuhan yang terus menurun. Dimana pada tahun 2009 laju pertumbuhan sebesar 1,59%, kemudian menurunmenjadi 0,75% pada tahun 2010, dan pada tahun 2011 turun menjadi 0,32%. Penduduk terpadat ada di Kecamatan Ende Tengah (3.664 jiwa/km 2 ) kemudian diikuti Kecamatan Ende Selatan (1.681 jiwa/km 2 ), dan kecamatan Ndori (914 jiwa/km 2 ). Tingkat kepadatan terendah di Kecamatan Detukeli (37 jiwa/km 2 ). Jika dilihat dari luas wilayah kecamatan, maka kecamatan yang paling luas wilayahnya, adalah kecamatan Nangapanda (213,17 ha), kemudian diikuti kecamatan Detukeli (198,81 ha) dan kecamatan Detusoko (194,07 ha). Sedangkan kecamatan yang paling kecil luas wilayahnya adalah kecamatan Ndori (5,94 ha) tetapi dengan tingkat kepadatan tertinggi ketiga dan Ende Tengah (7,43 ha) sebagai kecamatan dengan tingkat kepadatan tertinggi. Sementara jumlah rumahtangga pada tahun 2011 sebanyak dengan rata-rata 4 ART (anggota rumahtangga) di setiap rumahtangganya. Jumlah penduduk Kabupaten Ende, luas wilayah dan tingkat kepadatan penduduk menurut kecamatan tahun 2011 dapat diikuti pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Ende dan Tingkat kepadatan per Kecamatan, Tahun 2011 No Kecamatan Jumlah Penduduk dan Jenis Luas Kepadatan Kelamin Areal (Km 2 ) Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Nangapanda 213, Pulau Ende 102, Maukaro 63, E n d e 179, Ende Selatan 12, Ende Timur 38, Ende Tengah 7, Ende Utara 48, Ndona 106, Ndona Timur 40, Wolowaru 66, Wolojita 32, Lio Timur 46, Kelimutu 58, Ndori 5, Maurole 155, Kotabaru 179, Detukeli 198, Lepembusu Kelisoke 136, Detusoko 194, Wewaria 157, Kabupaten Ende Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende 309

7 Kategori penduduk menurut kelompok umur menunjukan kelompok umur penduduk berusia antara 0 14 tahun (usia belum produktif) sebesar 33,30% dan kelompok umur yang berusia 65 tahun ke atas (sudah tidak produktif lagi) sebesar 5,99%. Sementara kelompok umur yang masih produktif, (15-64 tahun) sebesar 60,72%. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (2011) menunjukan, penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja di Kabupaten Ende sebanyak orang. Sebanyak orang (96,33%) sudah/sedang bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan sebanyak orang (3,67%). Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja sebanyak orang, diantaranya adalah mereka yang sedang sekolah, mengurus rumah tangga, dan lainnya. Diantara yang sedang bekerja, sebanyak orang (43,80%) bekerja pada sektor primer. Sementara yang bekerja pada sektor sekendur dan tersier, masingmasing sebanyak orang (23,40%) dan orang (32,80%). Jika dilihat dari jenis pekerjaan utama, hampir sebagiannya (43,63%) bekerja pada sektor pertanian, kemudian diikuti oleh tenaga produksi, angkutan dan pekerja kasar (31,90%), dan tenaga profesional (9,11%). Distribusi penduduk berumur 15 tahun keatas yang bekerja menurut jenis pekerjaan utama dan jenis kelamin dapat diikuti pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Penduduk Berusia 15 tahun Keatas yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin, 2011 No Jenis Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase 1 Tenaga Profesional ,11 2 Tenaga Kepemimpinan ,49 3 Tenaga Pelaksana ,47 4 Tenaga Usaha Penjualan ,92 5 Tenaga Usaha Jasa ,81 6 Tenaga Usaha Pertanian ,63 7 Tenaga Produksi ,90 8 Anggota TNI ,77 Jumlah ,00 Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende 1.3. Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Sumber Daya Alam Sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Ende cukup potensial, dengan topografi yang umumnya berbukit-bukit, bergunung-gunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan pembagian wilayah menurut ketinggian dari permukaan laut terdiri atas 79,4% dengan ketinggian lebih kecil dari 500 meter. 71,54% dari wilayah di Kabupaten Ende merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40%. Tingkat kemiringan antara 0 12% hanya mencapai 8,87% (181,54 Km 2 ) dari luas wilayah daratan, dan tingkat kemiringan antara 12% 40% mencapai 19,59% (400,93 Km 2 ). Secara umum potensi sumber daya alam Kabupaten Ende yang utama adalah pertanian, kelautan dan perikanan, dan pariwisata (terutama obyek wisata danau kelimutu). Sebagian besar potensi pertanian adalah pertanian lahan kering, dengan luas areal pengusahaan pertanian mencapai ,02 ha. Sementara pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang telah dilakukan sebatas penangkapan ikan laut dan budidaya laut. Selain itu terdapat beragam potensi sumberdaya alam yaitu meliputi 310

8 sumerdaya tambang, pertanian dan perkebunan, sumberdaya dibidang kehutanan, dan sumberdaya perairan. Potensi sumberdaya tambang yang besar, diantaranya berbagai jenis batuan dan mineral. Ada lima jenis bahan galian C yang menjadi unggulan di daerah ini yakni : Batu hijau (Zeolit) terdapat disepanjang pantai Penggajawa, Ndorurea, dan Ondorea serta batu hijau bongkahan di Desa Ondorea barat. Batu granit terdapat di Kecamatan wolowaru, wolojita dan Lio Timur. Toseki terdapat di wilayah weweria dan Maurole. Felspar terdapat di wilayah Wolowaru, Lio Timur dan Wolojita. Tras terdapat di wilayah Lio Timur. Selain terdapat juga potensi energi panas bumi yang berada diwilayah Sokoria, Lesugolo, Detusoko, Jopu, dan Kombadaru. Panas bumi Sokoria dan Lesugolo akan dilakukan pelelangan untuk proyek sumberdaya listrik di pulau Flores. Dengan luas wilayah mencapai 2.046,60 Km 2 (21%) kabupaten Ende memiliki sumber daya hutan seluas ,54 ha dengan rincian : (1) hutan lindung ha, (2) hutan produksi tetap ,02 ha, (3) hutan produksi terbatas 2.275,00 ha, (4) hutan produksi konversi 3.875, ha, (5) cagar alam 2.060,30 ha, dan (5) taman nasional 5.356,50 ha Sumber Daya Manusia Kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang baik merupakan syarat mutlak bagi penyelenggaraan pembangunan. Bersama-sama dengan sektor kesehatan, pendidikan menjadi penting dalam rangka peinngkatan kualitas SDM. Karena itu dalam rangka pembangunan suatu daerah, pendidikan, dan juga kesehatan harus dilihat sebagai investasi yang membantu meningkatkan pengetahuan, ketrampailan dan keahlian tenaga kerja sebagai modal utama dalam penyelenggaraan pembangunan. Indikator utama untuk memeriksa kualitas SDM suatu daerah, yaitu : angka melek huruf, parisipasi sekolah, dan pendidikan yang ditamatkan. Angka melek huruf di kabupaten Ende selama dua tahun terakhir menunjukan peningkatan yang cukup berarti. Pada tahun 2010 angka melek huruf penduduk kabupaten Ende yang berumur 10 tahun ke atas adalah 92,12%, kemudian meningkat menjadi 94,76% pada tahun Atau dengan kata lain, persentase penduduk yang buta huruf di kabupaten Ende telah berkurang dari 7,82% pada tahun 2010 menjadi 5,24% pada tahun Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, maka angka melek huruf laki-laki sedikit lebih baik dari perempuan. Pada tahun 2010, angka melek huruf penduduk laki-laki sebesar 93,80% kemudian meningkat menjadi 94,51% pada tahun Sedangkan penduduk perempuan sebesar 90,66% kemudian naik menjadi 92,61%. Hasil Susenas tahun 2011 menunjukan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7 12 tahun telah mencapai 97,03%, dan penduduk usia tahun adalah 90,45%. Sementara penduduk usian tahun dan tahun masing-masing 67,84% dan 19,01%. Selanjutnya jika dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan/ijazah yang dimiliki, maka persentase yang tidak memiliki ijazah dan yang berijazah SD pada tahun 2011 mencapai 64,47%. Sedangkan yang berijazah perguruan tinggi hanya mencapai 5,97%. Jika menggunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan gabungan dari tiga indikator utama, yaitu Indikator kesehatan (indeks harapan hidup), indikator pendidikan (indeks melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan indikator ekonomi (tingkat daya beli penduduk/purchasing power parity/ppp), maka berdasarkan data Indeks pembangunan manusia (IPM) provinsi Nusa Tenggara 311

9 Timur Tahun 2011, nilai IPM Kabupaten Ende adalah 67,49 atau sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan IPM provinsi NTT (67,75). Penduduk yang berusia 10 tahun ke atas menurut ijazah tertinggi yang dimiliki, ternyata sebagian besar penduduk (77,58%) pada tahun 2011 berpendidikan tertinggi SD/Sederajat. Sedangkan yang berpendidikan SMA ke atas hanya mencapai 22,42%. Tabel 4 di bawah ini menyajikan persentase penduduk Kabupaten Ende berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kelamin dan ijazah tertinggi yang dimiliki selama tiga tahun terakhir ( ). Tabel 4. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Jenis Ijazah Tertinggi yang Dimiliki, No Tingkat Pendidikan Tidak/Belum Tamat SD 41,78 42,52 35,10 2 SD/Sederajat 24,72 26,13 29,37 3 SMP/Sederajat 13,07 12,30 13,11 4 SMA/Sederajat 8,93 10,33 11,54 5 SMK/Sederajat 5,52 3,68 4,90 6 Diploma I II 0,98 1,43 1,63 7 Diploma III 1,54 0,81 1,27 8 Diploma IV/Universitas 3,46 2,80 3,07 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber : Indikator Kesra Kabupaten Ende 2012, BPS Ende Tabel di atas menunjukan bahwa proporsi penduduk Kabupaten Ende yang berpendidikan SMP ke bawah cendrung berkurang, sedangkan yang berpendidikan atau berijazah tertinggi SMA/SMK serta Diploma I-II terus mengalami peningkatan. Sementara yang berpendidikan Diploma III ke atas cenderung berfluktuasi Infrastruktur Wilayah Prarasana jalan Salah satu faktor penentu yang mendorong percepatan kemajuan pembangunan dan pengembangan bisnis di suatu wilayah adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang berada di wilayah tersebut. Data tahun 2007 menunjukan, Kabupaten Ende memiliki panjang jalan 1.463,31 Km, tetapi pada lima tahun kemudian (2011) panjang jalan tersebut berkurang menjadi 1.453,90 Km. Terjadi pengurangan sekitar 9,41 Km. Jalan beraspal baru mencapai 345,25 Km (23,75 %) sehingga menyebabkan biaya transportasi manusia, barang dan jasa menjadi tinggi, termasuk waktu tempuh menjadi lebih lama. Panjang jalan menurut jenis permukaan yang beraspal di Kabupaten Ende sudah menjangkau keseluruh kecamatan. Ukuran panjang jalan dengan permukaan aspal paling pendek adalah 2,60 Km, berada di Kecamatan Lio Timur, dan yang paling panjang adalah di Kecamatan Nangapanda (62,50 Km) Pelabuhan Laut dan Udara Kabupaten Ende hanya memiliki satu buah pelabuhan laut (Pelabuhan Ippi) yang dapat disinggahi kapal besar dengan volume bongkar muat barang selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup berarti, tetapi berfluktuasi. Tahun 2009 volume bongkar barang mencapai ton (rata-rata per bulan ,25 ton), kemudian meningkat menjadi ton pada tahun 2010 (rata-rata per bulan ton). Namun pada tahun berikutnya (2011) sedikit mengalami penurunan yaitu 312

10 sebanyak ton (rata-rata per bulan ton). Sementara volume muat barang, pada tahun 2009 sebanyak ton, kemudian meningkat menjadi ton (2010), dan meningkat lagi menjadi ton (2012). Terjadi penurunan tingkat kunjungan penumpang (datang) yaitu orang (2009) dan mengalami penurunan drastis menjadi orang (2010) dan orang pada tahun Sebaliknya penumpang yang berangkat melalui pelabuhan Ippi cendrung meningkat yaitu orang (2009), kemudian meningkat menjadi orang (2011), dan meningkat lagi menjadi orang (2012). Kabupaten Ende juga memiliki satu buah pelabuhan udara, yaitu Bandara Udara Haji Hasan Aroeboesman, terletak di Kota Ende. Bandara ini menjadi salah satu alternatif transportasi antara Kabupaten Ende dengan : (a) Kota Kupang (ibu kota Provinsi NTT) ; (b) Denpasar Bali ; serta (c) Maumere, Waingapu/Waitabula dan Labuan Bajo. Setiap hari disinggahi oleh maskapai penerbangan Trans Nusa, Merpati, Lion/Wings Air, dan Sky Aviation. Pada tahun 2009 pesawat yang datang dan berangkat melalui bandara ini sebanyak 1.180, kemudian meningkat menjadi pada tahun 2011, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi (rata-rata perbulan sebanyak 124 kali, atau rata-rata dalam sehari sebanyak 4 kali penerbangan). Volume bongkar-muat bagasi pada tahun 2011 masing-masing kg dan kg, atau rata-rata sebulan masing-masing kg dan kg. Sedangkan volume bongkar-muat barang (cargo) masing-masing kg dan kg, atau rata-rata dalam sebulan masing-masing 3.640,67 kg dan 4.225,50 kg Prasarana komunikasi Pelayanan prasarana telekomunikasi telah menjangkau pada hampir sebagian kecamatan yang berada di Kabupaten Ende. Selain PT. Telkom sebagai BUMN yang telah membangun jaringan telekomunikasi di Kecamatan Ende dan sekitarnya dan telah melayani pelanggan pada tahun Pada lima tahun kemudian (2011) jumlah pelanggan telpon sedikit mengalami penurunan, yaitu sebanyak pelanggan. Terdiri dari 250 pelanggan dinas/instansi pemerintah, dan pelanggan swasta (termasuk rumahtangga). Selain itu tersedia Kantor Pos pada beberapa kecamatan yang membantu meperlancar pengiriman surat, uang dan barang, baik yang keluar dari Kabupaten Ende maupun yang masuk. Pada tahun 2011 jumlah surat yang dikirim dari kabupaten Ende mencapai (rata-rata per bulan surat), dan jumlah uang yang dikirim atau diweselkan sebanyak Rp ,-. Sedangkan barang yang dipaketkan sebanyak 8.814,20 kg Prasarana air bersih Air bersih merupakan kebutuhan utama penduduk untuk keperluan minum dan kebutuhan sehari-hari, dan juga untuk memenuhi kebutuhan industri, pariwisata, manufaktur, serta investasi. Pada tahun 2007 produksi air minum pada perusahaan air minum di Kabupaten Ende sebesar m 3. dengan jumlah pelanggan sebanyak Pada lima tahun kemudian (2011), produksi air minum meningkat menjadi dengan jumlah pelanggan sebanyak Pelayanan air bersih dari PDAM saat ini baru menjangkau 6 (enam) kecamatan, yaitu kecamatan : (1) Nangapanda (302 pelanggan) ; (2) Ende (7.191 pelanggan); (3) Wolowaru (298 pelangga) ; (4) Kelimutu (51 pelanggan); (5) Maurole (259 pelanggan) ; dan (6) kecamatan Detusoko (167 pelanggan). 313

11 Pelanggan air minum terbesar terdapat di Kecamatan Ende (86,97%), sementara distribusi pelanggan terbesar adalah pelanggan rumah tangga yaitu sebanyak (89,78%). Pelanggan UMKM hanya sebanyak 198 unit usaha (2,39%). Uraian di atas menunjukan bahwa ketersediaan air bersih di Kabupaten Ende belum menyebar secara merata, dan masih didominasi penggunaannya untuk kebutuhan konsumtif. Kondisi seperti ini jika tidak diupayakan pembangunannya secara maksimal, dengan menyediakan sumber air yang cukup merata, terutama pada wilayah pengembangan UMKM serta wilayah-wilayah potensial lainnya, akan berdampak pada kinerja dan pengembangan UMKM Prasarana listrik Semberdaya listrik yang dikelolah oleh PLN Ende pada tahun 2007 mencapai KWh dan yang terjual sebesar , dengan jumlah pelanggan sebanyak Pada lima tahun kemudian (2011), energy listrik yang dibangkitkan mencapai KWh, dan yang terjual sebsar KWh, dan yang digunakan sendiri KWh kwh. Jumlah pelanggan tahun 2011 meningkat menjadi Jumlah energi listrik yang dibangkitkan tersebut, dihasilkan atau disalurkan melalui 7 lokasi, dengan jumlah terbesar adalah di Ende Kota ( KWh) ; Watuneso ( KWh) ; dan Wolowaru ( KWh). Empat lokasi lainnya relatif kecil (di bawah satu juta kwh). Kantor yang memberikan pelayanan sebanyak 13 lokasi (termasuk didalamnya 7 lokasi pembangkit). Sebagian besar kecamatan di Kabupaten Ende sudah mendapat penerangan listrik. Hanya 3 (tiga) kecamatan yang belum mendapat penerangan listrik Prasarana pendidikan Prasarana pendidikan di Kabupaten Ende sudah tersedia mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Banyaknya sekolah, guru dan murid menurut tingkat pendidikan tersaji dalam Tabel 5 di bawah ini. Tabel 5. No Jumlah Sekolah, Guru dan Murid serta Rata-rata Guru Per Sekolah Dan Rata-rata Murid Per Sekolah di Kabupaten Ende, 2011 Tingkat Sekolah Jumlah Sekolah Jumlah Guru Jumlah Murid Rerata Guru/ Sekolah Rata-rata Murid/ Sekolah 1 Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar SLTP SLTA/MA SMK Jumlah Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende Data di atas menunjukan bahwa rata-rata guru per sekolah pada masingmasing jenjang sekolah termasuk cukup baik. Tetapi yang menjadi masalah adalah tingkat pendidikan atau ijazah yang dimiliki para guru pada masing-masing jenjang pendidikan, terutama pendidikan menengah ke atas, serta ketersediaan guru menurut bidang studi yang dibutuhkan. Selain itu kesersediaan ruangan serta kelengkapan perangkat yang digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar, terutama pada SMK serta fasilitas laboratorium yang dibutuhkan pada jenjang SMP maupun SMA. 314

12 Jika dilihat dari tingkat penyebaran sekolah menurut masing-masing kecamatan, maka pada jenjang TK sampai SMP hampir merata pada semua kecamatan. Tetapi pada jenjang SMA/MA dan SMK, hanya terdapat pada 7 kecamatan. Terdapat 5 perguruan tinggi di Kabupaten Ende, yaitu Universitas Flores, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral, Politeknik Kesehatan Masyarakat dan Akademi Bahasa Asing. Jumlah mahasiswa yang belajar pada kelima perguruan tinggi tersebut adalah mahasiswa, dengan jumlah dosen 283 orang Prasarana kesehatan Prasaran kesehatan di Kabupaten Ende cukup tersedia dari jumlah dan tingkat penyebarannya. Terdapat 2 (dua) unit rumah sakit di Kabupaten Ende yaitu satu buah Rumah Sakit Umum di Kecamatan Ende Tengah dan rumah sakit swasta di Kecamatan Wolowaru. Terdapat 23 unit Puskesmas yang tersebar diseluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Timur masing-masing memiliki dua buah Puskesmas. Selain itu, terdapat 51 Puskesmas Pembantu, 6 buah Balai Pengobatan, dan 11 buah Apotik. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Kabupaten Ende Dalam Angka,2010), pada tahun 2009 jumlah dokter sebanyak 46 orang, dan berkurang menjadi 28 orang (2011). Sementara tenaga perawat sebanyak 155 orang (2009), 197 orang (2010), dan meningkat lagi menjadi 257 orang (2011). Sebaliknya tenaga Bidan menjadi berkurang, yaitu sebanyak 152 orang (2009) dan berkurang menjadi 150 orang (2011), sehingga tenaga kesehatan di Kabupaten Ende pada tahun 2011 sebanyak 517 orang Ekonomi Wilayah Konsumsi Domestik Pengeluaran untuk kelompok makanan di Kabupaten Ende dalam 10 tahun terakhir menunjukkan trend penurunan, sedangkan pengeluaran untuk kelompok bukan makanan menunjukkan trend sebaliknya. Hal ini dapat dikatakan bahwa pendapatan masyarakat setiap bulannya tidak lagi sepenuhnya untuk belanja kelompok makanan tetapi mulai bergeser untuk pengeluaran bukan makanan, misalkan untuk perumahan dan pendidikan anak sekolah. Tabel 6. Rata-Rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang di Kabupaten Ende, Tahun Rupiah Persentase Makanan Bukan Makanan Jumlah Makanan Bukan Makanan Jumlah ,593 31, , ,329 35, , ,480 43, , ,643 52, , ,738 74, , ,229 68, , ,500 93, , , , , , , , , , , Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende 315

13 Struktur Ekonomi Wilayah PDRB Kabupaten Ende selama tiga tahun terakhir (ADHB) terus mengalami peningkatan, dengan tingkat pertumbuhan yang cukup besar. Pada tahun 2009 PDRB mencapai Rp 1.511,45 milyar kemudian meningkat 13,11 % menjadi Rp 1.709,64 milyar (2010), dan meningkat 19,79% atau Rp 2.047,99 (2011). Sumbangan terbesar terhadap pembentukan PDRB di Kabupaten Ende didominasi oleh sektor pertanian, tetapi dengan besaran sumbangan yang terus menurun. Sektor berikutnya yang memberikan sumbangan yang cukup besar adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Pariwisata serta sektor Jasa-jasa, dengan besaran sumbangan yang terus meningkat, meskipun relatif kecil. Pada tahun 2009 sektor Pertanian menyumbang sebesar 34,37% (ADHB), kemudian turun menjadi 33,56% (2010), dan turun lagi menjadi 31,51% (2011). Sementara pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran memberikan sumbangan sebesar 22,21% (2009) kemudian meningkat menjadi 22,82% (2010), dan meningkat lagi menjadi 26,77% (2011). Sedangkan pada sektor jasa di tahun 2009 menyumbang sebesar 22,22%, kemudian sedikit mengalami peningkatan menjadi 22,61% (2010) namun menurun menjadi 22,19% (2011) ; angka sementara. Sektor yang memberikan sumbangan terkecil adalah sektor Listrik dan Air Minum serta sektor Industri Pengolohan. Jika di lihat dari sumbangan sub-sektor, maka pada sektor Pertanian, sub-sektor tanaman pangan, kemudiian diikuti sub-sektor perkebunan dan sub-sektor perikanan. Sementara sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, lebih dari 90% disumbang oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran. Sedangkan pada sektor Jasa, lebih dari 70% disumbang oleh sub-sektor Pemerintahan Umum. Tabel 7 dan Tabel 8 menyajikan perkembangan PDRB Kabupaten Ende tahun , baik berdasarkan besarnya sumbangan masing-masing sektor dan subsektor, maupun sumbangan relatifnya terhadap pembentukan PDRB. Tabel 7. PDRB Kabupaten Ende Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan, Tahun No Sektor 2009 (Rp jutaan) 2010 (Rp jutaan) *) 2011 (Rp jutaan) **) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan 1 Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Perkebunan Peternakan & Hasilnya Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Listrik Air Bersih Bangunan Konstruksi Perdagangan, Hotel&Resto Perdagangan Hotel Restoran Pengangkutan dan Komunikasi a. A n g k u t a n Jalan Raya Laut Sungai dan Danau Udara Jasa Penunjang Angkutn b. K o m u n i k a s i

14 No Sektor 2009 (Rp jutaan) 2010 (Rp jutaan) *) 2011 (Rp jutaan) **) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan a.bank b. Lembaga Keuangan c. Sewa Bangunan d. Jasa Perusahaan Jasa-Jasa a. Pemerintahan Umum b. S w a s t a/private Sosial & Kemasyarakatn Hiburan & Rekreasi Perorangan & RT PDRB Kabupan Ende Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende *) angka sementara ; **) angka sangat sementara Tabel 8. Kontribusi Maing-masing Sektor Terhadap PDRB Kabupaten Ende Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000 Tahun No Sektor Tahun 2009 (%) Tahun 2010 *) (%) Tahun 2011 **) (%) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan 1 Pertanian 34,37 34,59 33,56 34,14 31,51 33,61 1. Tanaman Pangan 31,51 13,03 12,51 13,03 11,65 12,43 2. Tanaman Perkebunan 8,02 8,32 7,86 8,32 7,41 8,29 3. Peternakan dan Hasilnya 5,40 8,29 5,16 6,37 4,78 6,24 4. Kehutanan 4,78 0,24 4,78 0,23 0,14 0,22 5. Perikanan 8,01 6,52 7,87 6,47 7,52 6,41 2 Pertambangan 1,38 1,33 1,39 1,32 1,31 1,30 3 Industri Pengolahan 1,65 1,68 1,66 1,65 1,56 1,61 4 Listrik dan Air Bersih 0,48 0,46 0,49 0,47 0,46 0,48 1. Listrik 0,35 0,33 0,36 0,35 0,35 0,37 2. Air Bersih 0,14 0,12 0,13 0,12 0,11 0,12 5 Bangunan Konstruksi 7,00 6,41 6,96 6,16 6,46 6,08 6 Perdagangan, Hotel&Restoran 22,21 24,06 22,21 24,21 26,77 24,32 1. Perdagangan besar & eceran 21,92 23,71 22,53 23,86 26,50 23,97 2. Hotel 0,08 0,12 0,08 0,13 0,08 0,14 3. Restoran 0,21 0,23 0,21 0,22 0,20 0,22 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,00 7,66 6,00 7,79 5,09 7,95 a. A n g k u t a n 5,09 7,95 4,54 6,38 4,03 6,47 1. Jalan Raya 3,56 5,05 3,30 5,08 2,90 5,10 2. Laut 0,16 0,20 0,15 0,21 0,14 0,24 3. Sungai dan Danau 0,23 0,25 0,23 0,25 0,18 0,24 4. Udara 0,34 0,30 0,36 0,33 0,35 0,36 5. Jasa Penunjang Angkutan 0,53 0,52 0,51 0,52 0,47 0,52 b. K o m u n i k a s i 0,47 1,35 0,47 1,35 1,06 1,48 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 4,69 4,30 4,81 4,36 4,65 4,48 a.bank 2,46 1,84 2,59 1,89 2,58 1,97 b. Lembaga Keuangan 0,82 0,99 0,87 1,00 0,84 1,03 c. Sewa Bangunan 1,21 1,34 1,17 1,34 1,08 1,35 d. Jasa Perusahaan 0,19 0,13 0,19 0,13 0,16 0,13 9 Jasa-Jasa 22,22 19,50 22,61 19,90 22,19 20,17 a. Pemerintahan Umum 17,15 13,90 17,58 14,36 17,46 14,70 b. S w a s t a/private 5,07 5,60 5,02 5,60 4,73 5,47 1. Sosial & Kemasyarakatan 2,75 2,67 2,75 2,70 2,80 2,72 2. Hiburan & Rekreasi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3. Perorangan & Rumahtangga 2,31 2,92 2,16 2,84 1,92 2,75 PDRB Kabupaten Ende 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Ende Dalam Angka 2012, BPS Ende *) angka sementara ; **) angka sangat sementara 317

15 Hasil publikasi BPS Kabupaten Ende tentang Indikator Ekonomi Kabupaten Ende, menunjukkan pertumbuhan ekonomi daerah ini mengalami peningkatan relatif kecil. Pada tahun 2009 mengalami pertumbuhan 5,00%. Pertumbuhan tertinggi pada sektor Jasa-jasa (6,91%), sektor Listrik, Gas, dan Air (6,78%) dan sektor Pengangkutan dan Telekomunikasi. Selanjutnya pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,04%, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor Listrik dan Air Bersih (7,60%) tetapi hanya memberikan sumbangan sebesar 0,40% terhadap pembentukan PDRB. Tingkat pertumbuhan tertinggi kedua adalah pada sektor Jasa-jasa (7,19%) dan memberikan sumbangan terhadap pembentukan PDRB pada tahun yang sama sebesar 22,61%. Pada tahun berikutnya (2011) tingkat pertumbuhan ekonomi sedikit mengalami pertumbuhan sebesar 5,28%, atau meningkat 0,24% dari tahun Sektor Listrik, gas dan air (9,14%) adalah tertinggi dengan sumbangan sebesar 0,46%, kemudian sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (8,27%) serta sektor Pengangkutan dan Telekomunikasi (7,34%). Secara keseluruhan sektor pertanian, Industri Pengolahan, Bangunan/konstruksi, dan Jasa-jasa cendrung berfluktuasi sektor lainnya cenderung meningkat. Tabel 9 di bawah ini menyajikan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ende tahun Tabel 9. Pertumbuhan Eknomi Kabupaten Ende Tahun (Persentase) No Sektor *) 2011 **) 1 Pertanian 3,51 3,67 3,64 2 Pertambangan dan Penggalian 3,69 3,75 3,79 3 Industri Pengolahan 3,61 2,93 2,98 4 Listrik, Gas, dan Air 6,78 7,60 9,14 5 Bangunan/Konstruksi 3,31 0,99 3,88 6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 5,68 5,71 5,77 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,18 6,83 7,34 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 6,03 6,42 8,27 9 Jasa 6,91 7,19 6,68 PDRB Kabupaten 5,00 5,04 5,28 Sumber : Indikator Ekonomi Kab. Ende, BPS, 2012 *) Angka Sementara; **) Angka Sangat Sementara Gambar 1. Pendapatan per Kapita Kabupaten Ende dan Provinsi NTT Tahun Sumber : Indikator Ekonomi Kabupaten Ende 2012, BPS Ende Tingkat pendapatan per kapita di kabupaten Ende selama tiga tahun terakhir cukup tinggi jika dibandingkan pendapatan per kapita Provinsi NTT. Pendapatan per kapita Kabupaten Ende pada tahun 2009 mencapai Rp kemudian meningkat menjadi Rp (2010 ; peningkatan 11,88%) dan menjadi Rp (2011 meningkat 17,60%). Pada kurun waktu yang sama, pendapatan per kapita Provinsi NTT adalah Rp (2009), meningkat menjadi Rp (2010), dan pada tahun 2011 meningkat menjadi Rp

16 1.6. Potensi UMKM Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi NTT, sampai dengan Desember 2011 jumlah UMKM di kabupaten Ende mencapai unit. Sebagian besar (71,42%) berada pada sektor pertanian, kemudian diikuti oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (16,85%), dan sektor Jasa-jasa (8,19%). Kemudian dikuti berturut-turut oleh Pengangkutan dan Komunikasi (3,61 %) ; Bangunan (2,41%) ; Industri Pengolahan (2,40) ; Keuangan/ Persewaan (1,25%) ; Pertambangan dan Penggalian (0,79%) ; dan sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (0,61%). Gambar 2 di bawah ini menyajikan distribusi jumlah UMKM menurut masing-masing sektor. Gambar 2. Data UKM Kabupaten Ende Menurut Sektor Tahun 2011 Sumber : Dinkop dan UMKM Prov. NTT, 2012 Untuk mewujudkan visi Pemerintah Kabupaten Ende ( ), yaitu terwujudnya masyarakat Ende Lio Sare Pawe, dilaksanakan melalui delapan misi. Salah satu misi, dari delapan misi tersebut adalah meningkatkan perekonomian rakyat. Upaya untuk mewujudkan misi tersebut, pada dasarnya menjadi tangggung jawab hampir semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), akan tetapi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka di kabupaten Ende yang menjadi penanggung jawab utama adalah Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Koperasi dan UMKM). Salah satu misi yang diemban Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende, adalah membina dan mengembangkan UMKM yang berkeunggulan kompetitif, dengan sasaran pengembangan adalah : (a) meningkatkan jumlah UMKM yang dibina, dan (b) meningkatnya jumlah UMKM mandiri. Sementara Rencana Strategis Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Ende untuk mencapai sasaran tersebut adalah : (a) pengembangan lingkungan usaha yang kondusfi bagi Koperasi dan UMKM, dan (b) peningkatan akuntabilitas kinerja koperasi dan UMKM menuju terwujudnya koperasi yang berkualitas, kemandirian UMKM, swasembada pangan dan kabupaten koperasi. Sesuai dengan tujuan, sasaran, dan strategi tersebut, selanjutnya ditetapkan beberapa program atau kegiatan yang dilaksanakan. Dalam rangka penciptaan iklim usaha UMK yang kondusif, maka Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende melaksanakan beberapa program, diantaranya adalah : kegiatan magang ke beberapa daerah di luar Provinsi NTT (terutama di Jawa Timur), promosi hasil produk UMKM (ke Jakarta dan Bandung), identifikasi calon Wirausaha Baru (ditargetkan sebanyak 420 WUB), dan pelatihan kewirausahaan. 319

17 Selain itu, dalam rangka pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM, dilaksanakan melalui program : (1) peningkatan jaringan kerjasama antar lembaga, diantaranya melalui koordinasi program kemitraan dengan BUMN ; (2) sosialisasi dukungan informasi penyediaan permodalan ; (3) koordinasi penggunan dana pemerintah bagi UMKM yang dilaksanakan melalui rapat evaluasi pengelolaan dana bergulir ; (4) pemantauan pengelolaan penggunaan dana pemerintah ; dan (5) bantuan perkuatan modal usaha bagi koperasi dan UMKM. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka semua program tersebut mencakup semua UMKM dan juga koperasi yang tersebar pada berbagai sektor. UMKM yang bergerak pada berbagai sektor juga mendapat pembinaan dan pengembangan sesuai tugas pokok dan fungsi dari masing-masing SKPD, diantaranya yang paling utama adalah ; (1) Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan; (2) Dinas Perikanan dan Kelautan; (3) Dinas Perhubungan dan Komunikasi; serta (4) Dinas Peindustrian dan Perdagangan. Masing-masing SKPD mempunyai program yang relatif sama, dan dilakukan secara berkelanjutan serta didukung oleh dana yang terus meningkat setiap tahun Perbankan dan UMKM Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi NTT, peranan perbankan terhadap pengembangan UMKM di kabupaten Ende mengalami peningkatan yang cukup berarti. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kantor bank yang beroperasi di Kabupaten Ende, maupun jumlah pinjaman yang disalurkan pihak perbankan kepada pihak UMKM. Sampai dengan survei ini dilaksanakan, kantor bank yang beroperasi di Kabupaten Ende sebanyak 5 buah bank, yaitu BRI, BNI, BTN, Bank Danamon, dan Bank NTT. Data terakhir menunjukan, BRI Cabang Ende memiliki 9 kantor unit, 5 diantaranya terdapat di Kecamatan Ende Tengah, Detusoko, Wolowaru, Nangapanda, dan satu di Kecamatan Maurole. Selain itu Bank NTT Cabang Ende juga memiliki 2 Kantor Cabang Pembantu di Kecamatan Wolowaru dan Maurole, 3 kantor Kas dan 3 unit USPD di Kecamatan Kota Baru, Detusoko dan Nangapanda. Sementara Bank BNI, Bank Mandiri, dan Bank Danamon hanya memiliki satu kantor dengan status Cabang di Kota Ende. Selain kantor Bank terdapat 95 buah koperasi yang beberapa diantaranya juga memberikan pinjaman kepada UMKM. Jika dilihat dari besarnya simpanan masyarakat di bank selama lima tahun terakhir ( ) menunjukan perkembangan yang cukup signifikan. Pada tahun 2008, jumlah simpanan mencapai Rp juta. Pada lima tahun kemudian (2012) jumlah simpanan meningkat menjadi Rp juta. Selama lima tahun terakhir ratarata terjadi peningkatan sekitar 25,15%, dengan peningkatan terbesar terjadi pada tahun Dimana pada tahun 2010 jumlah simpanan mencapai Rp juta, kemudian meningkat menjadi Rp juta pada tahun 2011, atau mengalami peningkatan sekitar 30,26%. Jika dilihat berdasarkan jenis simpanan, sebagian besar berbentuk tabungan, kemudian diikuti giro. Simpanan berjangka relatif kecil. Tabel 10 di bawah ini menyajikan perkembangan jumlah simpanan menurut masing-masing jenis simpanan. 320

18 Tabel 10. Perkembangan Simpanan Masyarakat di Kabupaten Ende Menurut Jenis Simpanan, No Jenis Simpanan Rp (Juta) Rp (Juta) Rp (Juta) Rp (Juta) Rp (Juta) 1 Giro : Nominal Rekening (satuan) 2 Simpanan Berjangka Nominal Jmlh bilyet (satuan) 3 Tabungan Nominal Rekening (satuan) Sumber : Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah 2013, KPw BI NTT Dari sisi pemberian pinjaman, kebijakan perbankan dalam memberikan pinjaman berdasarkan lapangan usaha menunjukan pertumbuhan yang cukup berarti, tetapi jika dibandingkan dengan pinjaman yang diberikan bukan untuk lapangan usaha, maka proporsinya relatif kecil. Pada tahun 2008, total pinjaman yang diberikan oleh perbankkan di Kabupaten Ende mencapai Rp juta, tetapi yang diberikan kepada lapangan usaha hanya mencapai 31,36 %. Pada lima tahun kemudian (2012), jumlah pinjaman yang diberikan mencapai Rp juta, tetapi yang diperuntukan buat lapangan usaha hanya mencapai 32,65 %. Tabel 11 berikut ini menyajikan posisi pinjaman yang diberikan perbankkan menurut sektor atau lapangan usaha. Tabel 11 Posisi Pinjaman yang Diberikan Bank dan BPR di Kabupaten Ende Menurut Lapangan Usaha, No Jenis Pinjaman Tahun (Rp juta) A Berdasarkan Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 2 Petambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Kuangan, Real Estate, Jasa Perus Jasa-jas B Pinjaman bukan Lapangan Usaha Jumlah Sumber : Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah 2013, KPw BI NTT Tabel di atas menunjukan, bahwa jenis pinjaman yang diberikan kepada lapangan usaha, sebagian besar diserap oleh sektor perdagangan, hotel dan pariwisata. Sementara sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebagai sektor yang paling banyak diusahakan oleh UMKM yang berada di Kabupaten Ende, mendapatkan pinjaman yang sangat kecil dan cenderung berfluktuasi. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya layaknya usaha yang ditekuni serta terbatasnya bank garansi yang dimiliki. Meskipun kondisi ini sudah berlangsung lama, dan sudah 321

19 dilakukan berbagai intervensi, baik oleh instansi pemerintah maupun oleh Bank Indonesia, diantaranya melalui program sertifikasi tanah dan pelatihan terhadap lembaga pendamping, tetapi belum memberikan dampak nyata terhadap pihak perbankan mupun pelaku UMKM itu sendiri. Apabila posisi pinjaman kepada UMKM dikaitkan dengan jenis penggunaan, maka dari total penjaman yang diserap oleh 9 sektor/lapangan usaha, sebagian besarnya digunakan untuk model kerja. Sedangkan untuk investasi relatif kecil. Seperti telah dijelaskan di atas (lihat juga Tabel 11), total pinjaman yang diberikan setiap tahun oleh bank umum dan BPR, lebih dari 60%-nya adalah pinjaman konsumtif. Tabel 12 berikut ini menyajikan pinjaman yang diberikan oleh Bank Umum dan BPR berdasarkan jenis penggunaan dan Tabel 13 menyajikan persentase menurut masingmasing jenis penggunaan. Tabel 12. Perkembangan Pinjaman yg Diberikan Perbankan di Kabupaten Ende Menurut Jenis Penggunaan, No Jenis Penggunaan 2008 (Rp juta) 2009 (Rp juta) 2010 (Rp juta) 2011 (Rp juta) 2012 (Rp juta) 1 Modal Kerja Investasi Konsumtif Jumlah Sumber : Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah 2013, KPw BI NTT Tabel 13. Persentase Pinjaman yg Diberikan Perbankan di Kabupaten Ende Menurut Jenis Penggunaan, No Jenis Penggunaan 2008 (%) 2009 (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 1 Modal Kerja 28,68 28,79 29,13 23,72 28,59 2 Investasi 2,17 3,45 6,73 4,60 4,06 3 Konsumtif 69,15 67,76 64,14 71,68 63,35 Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Data Primer (diolah) Tabel di atas menunjukan, bahwa persentase pinjaman yang digunakan untuk modal kerja dan investasi cenderung meningkat, meskipun pada tahun 2011 sedikit mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pinjaman untuk investasi misalnya, pada tahun 2008 hanya 2,10%, kemudian meningkat menjadi 6,73% (2009), tetapi pada tahun berikutnya (2011) turun menjadi 4,60, dan turun menjadi 4,06% pada tahun 2012, meskipun secara nominal terus mengalami peningkatan. Sementara pinjaman untuk konsumsi, pada tahun 2008 sebesar 69,15% kemudian turun menjadi 64,14% pada tahun 2010, tetapi pada tahun berikutnya (2011) meningkat cukup tajam, yaitu mencapai 71,68%. Namun pada tahun 2012, turun menjadi 63,35%. Kondisi ini menunjukan bahwa, selama lima tahun terakhir perbankan di Kabupaten Ende telah menunjukan peranan yang cukup berarti dalam rangka pembiayaan dan pengembangan UMKM. 322

20 BAB II HASIL PENETAPAN KPJu UNGGULAN UMKM KABUPATEN ENDE 2.1. Bobot S ektor-sub S ektor dalam pe ngembangan U MKM K abupaten Ende Hasil analisis dengan menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) berdasarkan 4 (empat) kriteria dan bobot kepentingannya menghasilkan KPJu unggulan untuk setiap sektor usaha UMKM di setiap kecamatan. Berdasarkan KPJu unggulan pada setiap sektor usaha di setiap kecamatan dilakukan proses agregasi untuk menentukan calon KPJu unggulan per sektor usaha untuk tingkat Kabupaten Ende. Hasil proses agregasi dengan menggunakan metode Borda, ditetapkan maksimum 10 kandidat KPJu unggulan Kabupaten Ende yang mempunyai nilai skor tertinggi. Analisis AHP menghasilkan skor terbobot setiap sektor ekonomi untuk setiap tujuan penetapan KPJu unggulan, serta skor terbobot total/gabungan dari masingmasing sektor usaha seperti disajikan pada Tabel 14. Pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa bobot atau prioritas tertinggi untuk mencapai ketiga tujuan dalam rangka penetapan KPJu unggulan di Kabupaten Ende, yakni untuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya saing produk adalah sektor Perikanan. Dengan memperhatikan bobot kepentingan dari masing-masing tujuan, secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan penetapan KPJu unggulan UMKM maka sektor usaha Perkebunan dapat dipertimbangkan untuk menjadi prioritas pertama. Sektor usaha lain berdasarkan gabungan tujuan dan tingkat kepentingannya berturut-turut adalah sektor Tanaman Pangan, Perindustrian, Perdagangan, Pariwisata, Jasa-Jasa, Peternakan, Perikanan, Angkutan, dan Pertambangan. Tabel 14. Skor-terbobot Tingkat Kepentingan Setiap Sektor Ekonomi Menurut Aspek Tujuan dan Rangking Urutan Kepentingannya Dalam Rangka Penetapan KPJu Unggulan di Kabupaten Ende Sektor Usaha Pertumbuhan Ekonomi (0.2692) Tujuan (Skor Terbobot) Penciptaan Lapangan Kerja (0.3615) Peningkatan Daya Saing Produk (0.3694) Skor Terbobot Gabungan Rangking Perkebunan 0,1057 0,1153 0,1458 0, Tanaman Pangan 0,1499 0,1006 0,0907 0, Perindustrian 0,0761 0,1295 0,1111 0, Perdagangan 0,1361 0,1176 0,0789 0, Pariwisata 0,0774 0,1017 0,1257 0, Jasa-Jasa 0,0781 0,0948 0,1076 0, Peternakan 0,0947 0,0848 0,0728 0, Perikanan 0,0935 0,0583 0,0715 0, Angkutan 0,0755 0,0697 0,0565 0, Pertambangan 0,0595 0,0656 0,0659 0, Sumber : Data Primer (diolah) 323

21 2.2. KPJU Unggulan Per Sektor di Kabupaten Berdasarkan hasil dari penelitian lapangan di tingkat kabupaten dan pelaksanaan FGD beserta bobot kepentingan masing-masing kriteria, analisis AHP menghasilkan KPJu unggulan setiap sektor ekonomi UMKM dengan urutan dan nilai skor terbobot seperti disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Rangking dan Skor-terbobot KPJu Unggulan per Sektor Usaha di Kabupaten Ende No Sektor Usaha/ Skor- Sektor Usaha/ Skor- No KPJu Unggulan Terbobot KPJu Unggulan Terbobot Padi dan Palawija Sayuran 1 ubi kayu 0, kacang panjang 0, Jagung 0, Tomat 0, kacang hijau 0, Sawi 0, ubi jalar 0, Bayam 0, padi sawah 0, Terong 0,1248 Buah-Buahan Perkebunan 1 Jeruk 0, Coklat 0, Pisang 0, Kemiri 0, Nenas 0, Pinang 0, Pepaya 0, Kopi 0, Nangka 0, Kelapa 0,0962 Peternakan Perikanan 1 Sapi 0, Usaha Penangkapan ikan di 0,3702 laut 2 Ayam Ras petelur 0, Tambak garam 0, ayam ras pedaging 0, Usaha Budidaya di Perairan 0,1140 Umum 4 Babi 0, Usaha budidaya rumput laut 0, Itik 0, Usaha budidaya tambak 0,0875 Pariwisata Industri 1 Penyediaan makanan 0, Industri minyak kelapa 0,2256 keliling 2 Warung makan 0, Pengolahan dan pengawetan 0,2137 ikan dan produk ikan 3 Pertunjukkan seni/budaya 0, Industri kain tenun ikat 0, hotel melati 0, industri tahu 0, Pondok wisata (home stay) 0, Industri meubel 0,0670 Perdagangan Jasa-jasa 1 Hasil pertanian/hortikultura 0, Sewa kos-kosan 0, bahan bakar 0, Keuangan 0, Ternak dan hasil-hasilnya 0, salon 0, Ikan dan hasilnya 0, Jasa sewa kendaraan penumpan 0, Suku Cadang 0, Agen perjalanan wisata 0,1153 Angkutan Kehutanan 1 Angkutan ojek motor 0, Bambu 0, Angkutan laut domestik 0, kemiri 0,1799 penumpang 3 Angkutan bus pariwisata 0, asam 0, Angkutan bus dalam kota 0, Penyadapan Aren &Nira Lontar 0, Angkutan barang umum 0, Sarang burung walet 0,0859 Pertambangan 1 Pasir 0,3224 Sumber : Data Primer (diolah) 2 Tanah urukan 0, Batu bangunan 0,

22 2.3. KPJU Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Ende Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi tentang penetapan kompetensi inti daerah dilakukan penetapan KPJu unggulan Lintas sektor. Mempertimbangkan bobot kepentingan atau prioritas setiap sektor usaha (Tabel 2.1) serta hasil skor KPJu unggulan setiap sektor usaha yang telah diperoleh (Tabel 2.2) dilakukan analisa dengan menggunakan Metoda Bayes. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh 10 (sepuluh) KPJu unggulan lintas sektor berdasarkan urutan nilai skor terbobot maka terlihat 5 (lima) KPJu unggulan lintas sektor di Kabupaten Ende yaitu ; Kakao, Industri minyak kelapa, Pengolahan dan pengawetan ikan dan produk ikan, Penyediaan makanan keliling, dan perdagangan Hasil pertanian/hortikultura. Hasil lengkap berupa rangking atau urutan KPJu unggulan lintas sektor usaha berdasarkan nilai skor terbobot masing-masing KPJu dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel KPJu Lintas Sektor yang Mempunyai Nilai Skor Terbobot Tertinggi Sebagai KPJu Unggulan Lintas Sektor Kabupaten Ende No KPJu Skor Terbobot Sektor Usaha 1 Kakao 0,0343 Perkebunan 2 Industri minyak kelapa 0,0321 Industri 3 Pengolahan dan pengawetan ikan dan produk ikan 0,0304 Industri 4 Penyediaan makanan keliling 0,0265 Pariwisata 5 Hasil pertanian/hortikultura 0,0231 Perdagangan 6 Sewa kos-kosan 0,0228 Jasa-Jasa 7 bahan bakar 0,0227 Perdagangan 8 Warung makan 0,0221 Pariwisata 9 Ternak dan hasil-hasilnya 0,0217 Perdagangan 10 Usaha Penangkapan ikan di laut 0,0212 Perikanan Sumber : Data Primer (diolah) Pada urutan ke enam dan seterusnya, sebagai KPJu unggulan lintas sektor adalah usaha Sewa kos-kosan, perdagangan bahan bakar, usaha warung makan, perdagangan ternak dan hasil-hasilnya, serta usaha penangkapan ikan di laut Hasil Analisis P erspektif Product Life Cycle (PLC) K PJu U nggulan Kabupaten Ende Kedudukan KPJu Unggulan di Kabupaten Ende berdasarkan hasil penilaian terhadap faktor-faktor Prospek dan Potensi saat ini adalah sebagai berikut: Tabel 17. Kedudukan KPJu Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Ende No KPJu Unggulan Skor Kriteria Kuadran Potensi Prospek Potensi Prospek 1 Kakao 4,60 4,40 Sangat Sesuai Sangat Sesuai I 2 Industri minyak kelapa 4,40 3,40 Sangat Sesuai Sangat Sesuai I 3 Pengolahan dan pengawetan ikan 3,20 2,80 Sesuai Sesuai II 4 Penyediaan makanan keliling 3,20 3,80 Sangat Sesuai Sangat Sesuai I 5 Hasil pertanian/hortikultura 3,00 3,80 Sesuai Sangat Sesuai I 6 Sewa kos-kosan 3,00 2,80 Sesuai Sesuai III 7 bahan bakar 2,60 2,60 Cukup Sesuai Sesuai IV 8 Warung makan 3,60 2,80 Sesuai Sesuai III 9 Ternak dan hasil-hasilnya 2,60 2,00 Cukup Sesuai Sesuai IV 10 Usaha Penangkapan ikan di laut 4,40 3,40 Sangat Sesuai Sangat Sesuai I Sumber : Data Primer (diolah) Seperti dapat dilihat pada Tabel 17 di atas, terdapat 5 KPJu Unggulan lintas Sektor, dalam anlisis kuadran KPJu tersebut berada pada Kuadran I, yaitu mempunyai Prospek dan Potensi saat ini yang sangat baik atau baik, yaitu perkebunan coklat (kakao), Industri minyak kelapa, Penyediaan makanan keliling, perdaganagn Hasil pertanian/hortikultura, dan Usaha Penangkapan ikan di laut. 325

23 BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 3.1. Kesimpulan Pada tataran tujuan untuk pengembangan UMKM, tujuan terpenting adalah peningkatan daya saing produk, kemudian penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi demikian, menunjukkan bahwa para pemikir, pengambil kebijakan serta praktisi pengembangan UMKM di Kabupaten Ende menyadari pentingnya daya saing produk dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Ende, karena tanpa daya saing, output dari UMKM akan sulit bersaing di pasar Kriteria penentuan KPJU Unggulan terpenting (ranking kepentingan), adalah ; 1) tersedianya teknologi, 2) pasar, 3) manegemen usaha, 4) penyerapan tenaga kerja, 5) ketrampilan tenaga kerja, 6) sarana produksi, 7) aksesibilitas terhadap modal, 8) sumbangan terhadap perekonomian daerah, 9) harga/nilai tambah, 10) ketersediaan bahan baku dan yang terakhir adalah 11) aspek sosial budaya Sektor perkebunan menjadi sektor utama di Kabupaten Ende sehingga patut menjadi prioritas pertama. Sektor usaha lain berdasarkan gabungan tujuan dan tingkat kepentingannya berturut-turut adalah sektor Tanaman Pangan, Perindustrian, Perdagangan, Pariwisata, Jasa-Jasa, Peternakan, Perikanan, Angkutan, dan Pertambangan KPJu Unggulan lintas sektor untuk pengembangan UMKM di Kabupaten Ende adalah ; 1) Kakao, 2) Industri minyak kelapa, 3) Pengolahan dan pengawetan ikan dan produk ikan, 4) Penyediaan makanan keliling, 5) Hasil pertanian/ Hortikultura, 6) Sewa kos-kosan, 7) bahan bakar, 8) Warung makan, 9) Ternak dan hasil-hasilnya, dan 10) Usaha Penangkapan ikan di laut Komoditi/usaha yang menurut potensi dan prospeknya terkategori baik sampai sangat baik adalah; 1) Kakao, 2) Industri minyak kelapa, 3) Penyediaan makanan keliling, 4) Hasil pertanian/hortikultura, dan 5) Usaha Penangkapan ikan di laut Rekomendasi Upaya berbagai pihak dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Ende mestinya memberi perhatian yang tinggi pada 5 hal penting sebagai necessery condition (syarat keharusan) yaitu : peningkatan kemampuan teknologi usaha, pengembangan ketersediaan pasar, pembinaan menegemen usaha, penyerapan tenaga kerja (padat karya), dan peningkatan ketrampilan tenaga kerja UMKM. Faktor-faktor lainnya bukanlah tidak penting, tetapi lebih merupakan suffisien condition (syarat kecukupan) dalam pengembangan dan pembinaan UMKM di NTT Dalam ruang lingkup rekomendasi (1), diharapkan berbagai pihak yang berperan dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Ende disarankan untuk mengembangkan UKM di bidang KPJU Unggulan yang secara potensi dan prospek tergolong baik dan sangat baik, yaitu: perkebunan coklat (kakao), Industri minyak kelapa, Penyediaan makanan keliling, perdaganagn Hasil pertanian/hortikultura, dan Usaha Penangkapan ikan di laut. 326

24 Upaya untuk mengembangan dan memberdayakan ke-10 KPJu Unggulan UMKM dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan, sebaiknya diawali dengan identifikasi dan pemetaan masing-masing KPJu Unggulan oleh masing sektor (SKPD) yang implementasinya dilaksanakan secara terkoordinasi. Untuk menghindari terjadinya ketimpangan program, disarankan agar dibentuk sebuah forum atau kelompok kerja pengembangan dan pemberdayaan UMKM di bawah koordinasi langsung oleh Sekretaris Daerah Lembaga perbankan terutama BUMN diharapkan partisipasi aktifnya untuk turut serta membantu membina dan mengembangkan KPJu dari aspek teknis perbankan sehingga memungkinkan para pelaku UMKM lebih mudah mengakses pembiayaan yang berasal dari perbankan. Perlu dipertimbangkan untuk membentuk sebuah badan koordinasi perbankan di tingkat lokal yang secara reguler dapat berkoordinasi langsung dengan para pelaku UMKM, yang berfungsi sebabagi forum komunikasi dan konsultasi antara pihak perbankan dengan para pelaku UMKM. Untuk itu Bupati Ende dapat berkoordinasi dengan perbankan setempat, terutama Bank NTT dan pihak Perwakilan BI NTT untuk membentuk wadah tersebut. 327

25

26 BAB I KONDISI UMUM WILAYAH KABUPATEN NAGEKEO 1.1. Kondisi Fisik Wilayah Kondisi Geografis Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di provinsi NTT yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten induknya Kabupaten Ngada pada tahun Kabupaten Nagekeo yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari daratan - dibentuk sebagai daerah otonomi baru pada tanggal 22 Mei 2007 melalui UU No. 02 tahun Terdiri dari 7 buah kecamatan, 78 desa dan 15 kelurahan dengan luas wilayah 1.416,96 Km 2, atau sekitar 2,99% dari luas wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (47.349,9 Km 2) ), dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ende Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ngada Iklim dan Curah Hujan Kabupaten Nagekeo terletak di belahan Selatan Indonesia, membentang antara LS dan BT sehingga Nagekeo berada pada zona iklim tropik yang sangat khas. Berdasarkan ketinggian, 65,56% dari luas wilayah Kabupaten Nagekeo berada pada rentang ketinggian m dpl, ketinggian di atas m hanya 7,83%. Topografi Nagekeo berbukit-bukit dengan dataran tersebar secara sporadis pada lulusan sempit dan kebanyakan permukaannya berbukit dan bergunung, dataran-dataran sempit memanjang di sekitar pantai atau diapit oleh dataran tinggi atau sistem perbukitan. Adanya perbedaan iklim, cuaca dan geologi menghasilkan perbedaan jenis tanah di wilayah Nagekeo. Jenis tanah meliputi Meditran, Litosol, Alufial, Grumosol dan Regosol. Kedalaman tanah di berbagai daerah relatif tipis yang sebagian besar disebabkan faktor struktur batuan induk berupa koral dan tanah yang terbuka karena vegetasi penutup minimum sehingga rentan terhadap erosi. Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman di mana akar-akar tanaman dapat leluasa mengambil unsur hara untuk pertumbuhannya. Nagekeo memiliki kedalaman efektif 0-30 cm. Iklim di Nagekeo memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada Bulan Juni-September arah angin dari Australia, tidak banyak mengandung uap air mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember-Maret arah angin dari Asia dan Samudera Pasifik, banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Nagekeo termasuk wilayah kering, di mana 4 bulan (Januari s/d Maret, dan Desember) keadaan relatif basah dan 8 bulan relatif kering. Tingkat curah hujan berbeda-beda di tiap daerah dengan rata-rata curah hujan 156 mm/tahun. Keadaan hidrologi (air permukaan) kurang bagus karena hanya 3 bulan basah sehingga mengakibatkan sulit mengeksploitasi sumber air permukaan. Keadaan tanah umumnya kurang menguntungkan karena kelembaban rendah pada semua orde tanah; reaksi tanah netral sampai alkalin; ketersediaan unsur hara makro dan kesuburan tanah rendah. Topografinya berbukit-bukit mengakibatkan tanah rentan terhadap erosi. 328

27 1.2. Demografi Jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo pada Tahun 2007 sebanyak jiwa ( laki-laki dan orang perempuan). Pada lima tahun kemudian (2011) jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo meningkat menjadi jiwa ( orang laki dan perempuan) dengan luas wilayah mencapai 1.416,96 Km 2, maka tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Nagekeo mencapai 96,25jiwa per Km 2, dengan laju pertumbuhan sekitar 1,89%. Jika dilihat dari tingkat kepadatan penduduk per kecamatan, maka penduduk terpadat berada di Kecamatan Mauponggo (217,52 jiwa/km 2 ) kemudian diikuti Kecamatan Keo Tengah (207,54 jiwa/km 2 ), dan kecamatan Boawae (105,72 jiwa/km 2 ). Sementara tingkat kepadatan terendah di Kecamatan Wolowae (27,10 jiwa/km 2 ). Jika dilihat dari luas wilayah kecamatan, maka kecamatan yang paling luas wilayahnya, adalah kecamatan Aesesa (432,29 Km 2 ), kemudian diikuti kecamatan Boawae (325,42 Km 2 ) dan kecamatan Nangaroro (238,02 Km 2 ). Sedangkan kecamatan yang paling kecil luas wilayahnya adalah kecamatan Keo Tengah (65,62 Km 2 ), tetapi dengan tingkat kepadatan tertinggi kedua dan Mauponggo sebagai kecamatan dengan tingkat kepadatan tertinggi. Jumlah rumahtangga pada tahun 2011 sebanyak dengan rata-rata 5,38 (anggota rumahtangga) di setiap rumahtangganya. Jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo, luas wilayah dan tingkat kepadatan penduduk menurut kecamatan tahun 2011 dapat diikuti pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Ende dan Tingkat Kepadatan per Kecamatan, Tahun 2011 No Kecamatan Luas Areal Jumlah Penduduk dan Jenis Kelamin Kepadatan Laki-laki Perempuan Jumlah (Km 2 ) 1 Mauponggo 102, ,52 2 Keo Tengah 65, ,54 3 Nangaroro 238, ,23 4 Boawae 325, ,72 5 Aesesa Selatan 71, ,86 6 Aesesa 432, ,08 7 Wolowae 182, ,10 Jumlah ,25 Sumber : Nagekeo Dalam Angka 2012, BPS Nagekeo Komposisi Penduduk Usia Kerja Jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo sebanyak jiwa, sebanyak orang (64,63%) berumur 15 tahun ke atas yang sedang bekerja menurut jenis kegiatan utama. Angkatan kerjanya sebanyak orang (73,80%), dan yang sudah/sedang bekerja sebanyak orang (97,62%), dan sisanya sebanyak orang (2,38%) belum bekerja (penganggur). Sementara yang termasuk bukan angkatan kerja (sekolah, mengurus rumah tangga, dan lainnya) sebanyak orang atau 35,37% dari total angkatan kerja. Diantara yang sedang bekerja, sebanyak orang (77,33%) bekerja pada sektor primer. Penduduk yang bekerja pada sektor sekendur dan tersier, sebanyak orang (5,75%) dan orang (16,93%). Jika dilihat dari jenis pekerjaan utama, maka hampir sebagiannya (43,63%) bekerja pada sektor pertanian, kemudian diikuti oleh tenaga produksi, angkutan dan pekerja kasar (31,90%), dan tenaga profesional (9,11%). Distribusi penduduk berumur 15 tahun keatas yang bekerja menurut jenis pekerjaan utama dan jenis kelamin dapat diikuti pada Tabel 2 berikut. 329

28 Tabel 2. Penduduk Berusia 15 tahun Keatas yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin, 2011 No Jenis Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase 1 Tenaga Profesional ,27 2 Tenaga Kepemimpinan ,12 3 Tenaga Pelaksana ,85 4 Tenaga Usaha Penjualan ,21 5 Tenaga Usaha Jasa ,26 6 Tenaga Usaha Pertanian ,03 7 Tenaga Produksi ,00 8 Lainnya ,00 Jumlah ,00 Sumber : Nagekeo Dalam Angka 2012, Nagekeo 1.3. Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Sumber Daya Alam Sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Nagekeo cukup potensial, dengan topografi berbukit-bukit dengan dataran tersebar secara sporadis. Kebanyakan permukaannya berbukit dan bergunung, dataran-dataran sempit memanjang di sekitar pantai atau diapit oleh dataran tinggi atau sistem perbukitan. Adanya perbedaan iklim, cuaca dan geologi menghasilkan perbedaan jenis tanah di wilayah Nagekeo. Sebagian besar lahan adalah lahan kering dan hanya sebagian kecil lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian lahan basah atau sawah. Tanaman bahan makanan yang ditanam di Kabupaten Nagekeo adalah padi sawah dan padi ladang, jagung, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedele, ubi kayu, ubi jalar, dan sorghum. Luasan tanam dan panen tertinggi adalah padi sawah diikuti jagung dan padi ladang. Tanaman perkebunannya seperti kelapa, kopi, kakao, cengkeh, vanili, kemiri, lada, dan jambu mete. Populasi tanaman perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat didominasi oleh kelapa, jambu mete dan tanaman kemiri, yang tersebar diberbagai kecamatan. Potensi pertambangannya golongan A, B dan C belum dieksplorasi dan dieksploitasi secara maksimal. Potensi bahan galian B berupa bahan galian Batu Besi, yang terdapat di Desa Nggolonio (Kecamatan Aesesa) seluas 100 Ha; bahan galian Emas, Tembaga dan Mangan terdapat di Desa Nggolonio, Tengatiba (Kecamatan Aesesa Selatan) dan bahan galian gipsum di Ratedao desa Tendatoto (Kecamatan Wolowae). Sumberdaya pesisir dan lautnya sangat beraneka ragam seperti potensi sumberdaya ikan laut sekitar 4.593,93 metrik ton/tahun, sedangkan tingkat pemanfaatan baru 0,05%. Potensi pengembangan budidaya laut diperkirakan 640,293 Km², dengan tingkat pemanfaatan tidak mencapai 1,0% (111 Ha). Jenis produksi yang potensial adalah rumput laut, teripang, budidaya tambak, ikan, udang, kepiting, cumicumi, ikan karang, kerang-kerangan dan ikan hias laut serta wisata bahari dan jasa lingkungan laut lainnya. Obyek wisata alam seperti Panorama Irueti, Agrowisata dan Agroindustri Kelapa, Wisata Religius dan Gua Alam belum dikelolah secara profesinal. Demikian halnya obyek wisata bahari di Maunori, Pantai Batu, Pecahan Ombak serta obyek wisata yang bernilai historis seperti Gua Nippon di Mbay. Sumber daya hutan seluas ,45 ha dengan rincian : (1) hutan lindung 4.734,60 Ha, (2) hutan produksi tetap ,55 Ha, (3) hutan produksi dikonversi ,90 Ha, dan (4) hutan bakau 1.201,40 Ha. 330

29 Sumber Daya Manusia Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik merupakan syarat mutlak bagi penyelenggaraan pembangunan. Bersama-sama dengan sektor kesehatan, pendidikan menjadi penting dalam rangka peinngkatan kualitas SDM. Dalam rangka pembangunan suatu daerah, pendidikan, dan juga kesehatan harus dilihat sebagai investasi yang membantu meningkatkan pengetahuan, ketrampailan dan keahlian tenaga kerja sebagai modal utama dalam penyelenggaraan pembangunan. Angka melek huruf di kabupaten Nagekeo selama dua tahun terakhir menunjukan peningkatan yang berarti yaitu pada tahun 2010 penduduk berumur 10 tahun ke atas 92,53%, kemudian meningkat menjadi 94,93% pada tahun Atau dengan kata lain, persentase penduduk yang buta huruf di kabupaten Nagekeo telah berkurang dari 7,47% pada tahun 2010 menjadi 5,07% pada tahun Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, maka angka melek huruf laki-laki sedikit lebih baik dari perempuan. Pada tahun 2010, angka melek huruf penduduk laki-laki sebesar 92,97% kemudian meningkat menjadi 95,56% pada tahun Sedangkan penduduk perempuan sebesar 92,12% kemudian naik menjadi 94,93%. Tingkat partisipasi sekolah pendudukan berusia 10 tahun ke atas yang masih sekolah mencapai 27,59%, (2010), kemudian turun menjadi 22,45% (2011). Penduduk yang tidak/belum pernah sekolah mencapai 9,08% (2010), turun menjadi 3,87% (2011), dan penduduk yang tidak bersekolah lagi 63,33% (2010),meningkat menjadi 73,68% (2011). Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS), pada tingkat SD relatif cukup baik, yaitu mencapai 92,13% pada tahun Tetapi pada tingkat penddikan SLTP baru mencapai 67,16%, dan SLTA 47,13%. Sedangkan pada jenjang perguruan tinggi hany 1,89%. Selanjutnya jika dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan/ijazah yang dimiliki, maka persentase yang tidak memiliki ijazah dan yang berijazah SD mencapai 70,69%. Sedangkan yang berijazah perguruan tinggi hanya mencapai 4,60%. Tabel 3 di bawah ini menyajikan persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut ijazah yang dimiliki. Tabel 3. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Ijazah Tertinggi yang Dimiliki, No Ijazah Tertinggi yang Dimiliki Tidak/Belum Tamat SD 41,85 29,66 2 SD/Sederajat 33,33 41,03 3 SMP/Sederajat 10,00 15,93 4 SMA/Sederajat 8,64 8,55 5 SMK/Sederajat 2,57 2,17 6 Diploma I II 1,09 1,35 7 Diploma III 0,36 1,05 8 Diploma IV/Universitas 2,05 2,21 9 S2 / S3 0,12 0,06 Jumlah (persen) 100,00 100,00 Sumber : Indikator Kesra Kabupaten Nagekeo, 2012 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan capaian kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, maka IPM yang dicapai kabupaten Nagekeo termasuk masih rendah. IPM Kabupaten Nagekeo mencapai 65,97 (2009) dan menjadi 66,59 (2011), lebih rendah dibanding IPM Provinsi NTT (67,75). Investasi di sektor kesehatan dan pendidikan memberikan dampak pada lambatnya peningkatan indikator penyusun IPM. 331

30 1.3. Infrastruktur Wilayah Prarasana jalan Salah satu faktor penentu yang mendorong percepatan kemajuan pembangunan dan pengembangan bisnis di suatu wilayah adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang berada di wilayah tersebut. Sampai dengan tahun 2011 panjang jalan di Kabupaten Nagekeo adalah Km, dan sudah diaspal baru mencapai Km (13,80 %) Pelabuhan Laut dan Bandar Udara Kabupaten Nagekeo memiliki tiga buah pelabuhan laut, yaitu satu buah di Kecamatan Mauponggo, dan dua buah pelabuhan di Kecamatan Aesesa. Volume bongkar muat barang melalui pelabuhan laut di Kabupaten Nagekeo masih sangat terbatas. Pada tahun 2010 volume bongkar barang hanya mencapai ton (ratarata per bulan 870,50 ton), sedangkan pada tahun 2011 (tercatat sampai dengan bulan April 2011) hanya mencapai ton. Volume muat barang belum tersedia data. Data yang tersedia adalah banyaknya bongkar muat hewan. Pada tahun 2010 jumlah hewan yang dimuat melalui pelabuhan laut adalah ekor. Tahun berikutnya (2011) jumlah hewan yang dimuat berkurang menjadi ekor. Jumlah penumpang yang datang atau turun melalui pelabuhan laut relatif kecil, yaitu hanya orang, dan yang naik atau berangkat orang. Tidak terdapat bandara di Kabupaten Nagekeo sehingga mobilitas penduduk yang berangkat atau datang dari dan ke Kabupaten Nagekeo yang mengunakan jasa penerbangan udara, harus melalui bandara di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Ende Prasarana komunikasi Sampai dengan survei ini dilaksanakan, data mengenai prasarana dan sarana telekomunikasi belum tersedia. Hasil publikasi yang di terbitkan oleh BPS kabupaten Nagekeo, baik kabupaten dalam angka, maupun indikator ekonomi, belum menyajikan data tentang prasarana telekomunikasi, baik informasi tentang jaringan telepon maupun kantor pos dan giro Prasarana air bersih Air bersih merupakan kebutuhan utama penduduk untuk keperluan minum dan kebutuhan sehari-hari, dan juga untuk memenuhi kebutuhan industri, pariwisata, manufaktur, serta investasi. Banyaknya air bersih yang disalurkan pada tahun 2011 mencapai m 3. dengan jumlah pelanggan sebanyak Ketika survei ini dilakukan, tidak ada data yang menggambarkan prasarana air bersih pada tahun Pada buku Nagekeo Dalam Angka 2012, hanya disajikan jumlah pelanggan PDAM pada tahun Tidak ada data mengenai jumlah rumahtangga pengguna air menurut sumber mata air. Data yang dipubilkasi BPS kabupaten Nagekeo tahun 2012 menyebutkan bahwa, lebih dari sebagian rumahtangga (56,45%) menggunakan air bersih yang bersumber dari mata air terlindung, dan yang bersumber dari ledeng sebanyak rumah tangga. Tabel 4 di bawah ini menyajikan jumlah rumahtangga pengguna air menurut sumber air di Kabupaten Nagekeo. 332

31 Tabel 4. Jumlah Rumahtangga Pengguna Air Menurut Sumber Air di Kabupaten Nagekeo, Tahun 2011 No Sumber Air Jumlah RT Persentase 1 Ledeng ,99 2 Pompa 57 0,24 3 Sumur Terlindung ,42 4 Sumur tak terlindung ,59 5 Mata air terlindung ,43 6 Mata air tak terlindung ,31 7 Sungai 726 3,00 Jumlah ,00 Sumber : RPJMD Prasarana listrik Sumberdaya listrik yang dikelolah oleh PLN Ranting Bajawa (mencakup Nagekeo) pada tahun 2007 mencapai KWh dan yang terjual sebesar 13,641,996 KWh. Data mengenai jumlah pelanggan tidak tersedia. Ketika survei ini dilaksanakan, belum tersedia data yang akurat mengenai energy listrik yang disediakan atau dipasok oleh PLN yang digunakan di kabupaten Nagekeo. Begitupula dengan data mengenai tingkat penyebaran atau jangkaun jaringan listrik di wilayah Nagekeo Prasarana pendidikan Data terakhir (2011) menunjukan jumlah SD di kabupaten Nagekeo, berjumlah 175 buah dengan jumlah siswa sebanyak orang dan guru sebanyak orang (1 : 12,30). Pada jenjang pendidikan menengah pertama, jumlah SMP sebanyak 50 buah dengan jumlah siswa sebanyak orang dan guru sebanyak 664 orang (1 : 10,80). Jenjang pendidikan menengah atas, jumlah SMA/sederajat sebanyak 13 buah dengan jumlah siswa sebanyak orang dan guru sebanyak 417 orang (1 : 12,77), sebagaimana Tabel 5 berikut. Tabel 5. Jumlah Sekolah, Guru dan Murid serta Rata-rata Guru Per Sekolah dan Rata-rata Murid Per Sekolah di Kabupaten Nagekeo, 2011 No Tingkat Jumlah Jumlah Jumlah Rata-Rata Rata-Rata Sekolah Sekolah Guru Murid Guru/Sekolah Murid/Sekolah 1 SD SLTP SLTA/MA SMK Jumlah Sumber : Nagekeo Dalam Angka 2012, BPS Nagekeo Rata-rata guru per sekolah pada setiap jenjang pendidikan cukup baik namun tingkat pendidikan terakhir yang dimiliki para guru serta ketersediaan guru menurut bidang studi yang dibutuhkan masih terbatas. Kesersediaan ruangan dan kelengkapan perangkat yang digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar, terutama pada SMK serta fasilitas laboratorium yang dibutuhkan pada jenjang SMP maupun SMA. Penyebaran sarana SD dan SMP tersebar merata pada semua kecamatan namun jenjang SMA dan SMK hanya terdapat pada 5 dari 7 kecamatan yang ada. 333

32 Jika dilihat berdasarkan penduduk yang berusia 10 tahun ke atas menurut ijazah tertinggi yang dimiliki, ternyata sebagian besar penduduk (76,938%) pada tahun 2011 berpendidikan tertinggi SD/Sederajat sampai dengan SMP. Sementara yang berpendidikan SMA dan SMK ke atas sebanyak 15,59%. Sedangkan yang berpendidikan Diploma ke atas hanya mencapai 4,67%. Tabel 6 di bawah ini menyajikan persentase penduduk Kabupaten Nagekeo berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kelamin dan ijazah tertinggi yang dimiliki selama tiga tahun terakhir ( ). Tabel 6. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Jenis Ijazah Tertinggi yang Dimiliki, 2011 No Tingkat Pendidikan 2011 Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Tidak/Belum Tamat SD SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat SMK/Sederajat Diploma I II Diploma III Diploma IV/Universitas Jumlah Sumber : BPS Nagekeo, Indikator Kesra Kabupaten Nagekeo, Prasarana Kesehatan Prasaran kesehatan di Kabupaten Nagekeo berupa 7 unit Puskesmas dan 33 Pustu sudah tersedia di 7 kecamatan namun Kabuparen Nagekeo belum memiliki Rumah Sakit tersendiri. Terdapat pula 9 unit BKIA, 8 Poskesdes dan 45 Polindes, serta 4 buah apotik. Tenaga kesehatan juga masih terbatas yaitu 16 orang dokter (termasuk 1 orang dokter gigi), tenaga perawat sebanyak 281 orang, bidan 106 orang, dan paramedis 31 orang Ekonomi Wilayah Konsumsi Domestik Pengeluaran konsumsi makanan semakin kecil, mencerminkan adanya tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin membaik. Batasan untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat ini adalah jika pengeluaran per kapita untuk konsumsi makanan berada di bawah 50 persen. Tabel 7 menunjukkan perubahan pola konsumsi rumahtangga selama periode Pengeluaran makanan dari tahun terus mengalami penurunan, sedangkan pola konsumsi bukan makanan mengalami kenaikan. Menurunnya pola konsumsi makanan maka terjadi peningkatan pada pola konsumsi bukan makanan, yaitu dari 39,54% pada tahun 2010 naik menjadi 42,85% pada tahun Tabel 7. Rata-rata dan persentase Pengeluaran per kapita Sebulan di Kabupaten Nagekeo, Kelompok Pengeluaran Makanan (63,93) (60,46) (57,15) Bukan Makanan (36,07) (39,54) (42,85) Jumlah (100) (100) (100) Sumber: BPS, Indikator Ekonomi Nagekeo,

33 Pengeluaran konsumsi rumahtangga yang semakin tinggi dapat disebabkan oleh meningkatnya kualitas barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumahtangga disamping adanya pergeseran pola konsumsi dari makanan ke non makanan, yang walaupun tidak secara drastis tetapi menunjukkan adanya suatu pola yang berubah di kabupaten Nagekeo Struktur Ekonomi Wilayah PDRB Kabupaten Nagekeo selama tiga tahun terakhir (ADHB) terus mengalami peningkatan dengan tingkat pertumbuhan yang cukup berarti. Pada tahun 2009 PDRB mencapai Rp 626,73 milyar kemudian meningkat 12,46% menjadi Rp 704,83 milyar (2010), dan meningkat 10,30 % menjadi Rp 777,43 milyar (2011). Pada tahun 2009 sektor Pertanian menyumbang sebesar 69,29% (ADHB), kemudian sedikit mengalami peningkatan menjadi 6,9,33% pada tahun 2010, tetapi pada tahun berikutnya (2011) turun menjadi 68,98%. Sementara pada sektor Jasa-jasa terus mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir, meskipun meningkat relatif kecil. Sektor lainnya yang memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap pembentukan PDRB adalah sektor Bangunan dan Konstruksi serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Sedangkan sektor yang memberikan sumbangan terkecil adalah sektor Listrik dan Air Minum serta sektor Pertambangan dan penggalian. Tabel 8 dan Tabel 9 menyajikan perkembangan PDRB Kabupaten Nagekeo tahun , baik berdasarkan besarnya sumbangan masing-masing sektor dan sub-sektor, maupun sumbangan relatifnya terhadap pembentukan PDRB. Tabel 8. PDRB Kabupaten Nagekeo Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000, Tahun No Sektor 2009 (Rp jutaan) 2011 (Rp jutaan) *) 2011 (Rp jutaan) **) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan 1 Pertanian , , , , , ,43 1. Tanaman Pangan , , , , , ,13 2. Tanaman Perkebunan , , , , , ,92 3. Peternakan & Hasilnya , , , , , ,60 4. Kehutanan , , , , , ,38 5. Perikanan 4.520, , , , , ,50 2 Pertambangan 4.013, , , , , ,85 3 Industri Pengolahan , , , , , ,53 4 Listrik dan Air Bersih 1.383,53 620, ,96 656, ,87 688,10 1. Listrik 1.285,59 574, ,27 611, ,45 639,78 2. Air Bersih 97,94 45,28 104,69 45,59 118,42 48,32 5 Bangunan Konstruksi , , , , , ,99 6 Perdagangan, Hotel&Resto , , , , , ,87 1. Perdagangan , , , , , ,26 2. Hotel 202,74 113,02 220,01 119,08 245,28 123,67 3. Restoran 653,20 294,69 744,07 311,52 821,06 325,94 7 Pengangkutan dan Telekomunikasi , , , , , ,25 a. A n g k u t a n , , , , , ,72 1. Jalan Raya , , , , , ,02 2. Laut 997,26 575, ,07 609, ,91 668,31 3. Jasa Penunjang Angkutn 296,76 136,40 312,99 143,73 347,28 149,39 b. K o m u n i k a s i 264,11 160,43 290,47 175,82 332,48 198,53 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan , , , , , ,50 a.bank 3.166, , , , , ,44 b. Lembaga Keuangan 5.006, , , , , ,51 335

34 No Sektor 2009 (Rp jutaan) 2011 (Rp jutaan) *) 2011 (Rp jutaan) **) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan c. Sewa Bangunan 5.437, , , , , ,82 d. Jasa Perusahaan 114,55 60,38 127,24 61,11 138,03 61,73 9 Jasa-Jasa , , , , , ,54 a. Pemerintahan Umum , , , , , ,87 b. S w a s t a/private , , , , , ,67 1. Sosial & Kemasyarakatn 8.738, , , , , ,89 2. Hiburan & Rekreasi 579,35 305,72 636,63 317,67 665,03 330,32 3. Perorangan & RT 1.493,90 751, ,13 769, ,00 796,46 PDRB Kabupan Nagekeo , , , , , ,16 Sumber : Nagekeo Dalam Angka 2012, BPS Nagekeo *) angka sementara Tabel 9. Kontribusi Maing-masing Sektor Terhadap PDRB Kabupaten Nagekeo Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000 Tahun No Sektor Tahun 2009 (%) Tahun 2010 (%) Tahun 2011 *) (%) Berlaku Konstan Berlaku Konstan Berlaku Konstan 1 Pertanian 69,29 69,33 68,98 1. Tanaman Pangan 41,34 41,36 40,90 2. Tanaman Perkebunan 9,16 9,17 8,97 3. Peternakan dan Hasilnya 16,41 16,44 16,84 4. Kehutanan 1,65 1,70 1,61 5. Perikanan 0,72 0,66 0,66 2 Pertambangan 0,64 0,62 0,60 3 Industri Pengolahan 1,90 1,91 1,89 4 Listrik dan Air Bersih 0,22 0,22 0,21 1. Listrik 0,21 0,20 0,20 2. Air Bersih 0,02 0,01 0,02 5 Bangunan/Konstruksi 5,46 5,37 5,23 6 Perdagangan 6,34 6,55 6,77 1. Perdagangan besar & eceran 6,20 6,41 6,63 2. Hotel 0,03 0,03 0,03 3. Restoran 0,10 0,11 0,11 7 Pengangkutan dan Komunikasi 3,70 3,42 3,27 a. A n g k u t a n 3,66 3,38 3,22 1. Jalan Raya 3,45 3,19 3,02 2. Laut 0,16 0,15 0,16 3. Jasa Penunjang Angkutan 0,05 0,04 0,04 b. K o m u n i k a s i 0,04 0,04 0,04 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2,19 2,15 2,16 a.bank 0,51 0,50 0,52 b. Lembaga Keuangan 0,80 0,80 0,81 c. Sewa Bangunan 0,87 0,82 0,82 d. Jasa Perusahaan 0,82 0,02 0,02 9 Jasa-Jasa 10,26 10,44 10,89 a. Pemerintahan Umum 8,53 8,81 9,35 b. S w a s t a/private 1,73 1,63 1,54 1. Sosial & Kemasyarakatan 1,39 1,32 1,24 2. Hiburan & Rekreasi 0,09 0,09 0,09 3. Perorangan & Rumahtangga 0,24 0,22 0,21 PDRB Kabupaten Nagekeo 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Kabupaten Nagekeo Dalam Angka, 2012 *) angka sementara 336

35 Kedua Tabel tersebut sekaligus juga mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nagekeo selama tiga tahun terakhir ( ). Pertumbuhan ekonomi daerah ini relatif kecil, dan cendrung menurun. Pada tahun 2009 mengalami pertumbuhan 5,06% dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor Listrik dan Air Bersih (5,93%) serta sektor Perdagangan (5,89%) kemudian diikuti oleh sektor Jasa-jasa (5,88%) dan sektor Pengangkutan dan Telekomunikasi. Selanjutnya pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi turun menjadi 3,70%, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor Jasa-jasa (11,66%), kemudian diikuti Listrik dan Air Bersih (5,90%) tetapi hanya memberikan sumbangan sebesar 0,01% terhadap pembentukan PDRB. Tingkat pertumbuhan tertinggi ketiga adalah pada sektor Keuangan (5,35%), kemudian diikuti sektor Perdagangan (4,22%). Sektor yang mengalami pertumbuhan paling kecil pada tahun 2010 adalah sektor Pertanian (2,39%). Pada tahun berikutnya (2011) tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan sebesar 3,94%, atau mengalami peningkatan sekitar 0,24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan tingkat pertumbuhan tertinggi pada sektor Jasa-jasa (8,71%), kemudian diikuti sektor Perdagangan (5,53%, sektor Keuangan (5,23%), dan sektor Listrik dan air (4,80%), tetapi sektor ini hanya menyumbang PDRB hanya sebesar 0,22%. Sama seperti tahun sebelumnya, tingkat pertumbuhan sektor pertanian paling kecil, yaitu 3,04. Tabel 10 di bawah ini menyajikan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Nagekeo tahun Tabel 10. Pertumbuhan Eknomi Kabupaten Nagekeo Tahun Dalam Persentase No Sektor *) 1 Pertanian 5,46 2,39 3,04 2 Pertambangan dan Penggalian 2,13 2,93 3,50 3 Industri Pengolahan 2,88 3,12 3,54 4 Listrik, Gas, dan Air 5,93 5,90 4,80 5 Bangunan/Konstruksi 1,93 3,21 3,21 6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 5,89 4,22 5,53 7 Pengangkutan dan Komunikasi 1,62 3,92 3,66 8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 4,08 5,35 5,23 9 Jasa 5,88 11,66 8,71 PDRB Kabupaten Nagekeo 5,06 3,70 3,94 Sumber : PDRB Kabupaten Nagekeo, BPS, 2012 *) Angka Sementara Gambar 1. Sumber : Tingkat pendapatan per kapita di Kabupaten Nagekeo selama tiga tahun terakhir relatif masih rendah, dan masih di bawah pendapatan per kapita Provinsi NTT. Pendapatan per kapita Kabupaten Nagekeo mencapai Rp ,- (2009) kemudian meningkat 8,65% menjadi Rp ,- (2010) dan meningkat 10,34% menjadi Rp Sementara pada kurun waktu yang sama, pendapatan per kapita Provinsi NTT pada tahun 2009 sebesar Rp , kemudian meningkat menjadi Rp pada tahun 2010, dan pada tahun 2011 Pendapatan per Kapita Kabupaten Nagekeo dan Provinsi NTT Tahun Nagekeo Dalam Angka 2012, BPS Nagekeo NTT) meningkat menjadi Rp

36 1.5. Potensi UMKM Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi NTT, sampai dengan Desember 2011 jumlah UMKM di kabupaten Nagekeo mencapai unit. Lebih dari sebagian (53,70%) berada pada sektor pertanian, kemudian diikuti oleh sektor bangunan (12,41, dan sektor keuangan/persewaan (9,30%), Kemudian dikuti berturut-turut oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (7,67%), Listrik, Gas dan Air Bersih (5,07%), sektor Pertambangan dan penggalian (4,15%), sektor Jasa-jasa (2,83%), Pengangkutan dan Komunikasi (2,72%), dan sektor Industri Pengolahan (2,14%). Gambar 2 berikut menyajikan distribusi jumlah UMKM menurut masing-masing sektor. Gambar 2. UKM Kabupaten Nagekeo Menurut Sektor Tahun 2011 Sumber : Dinkop & UMKM Provinsi NTT, 2012 Pada dasarnya tugas dan tanggung jawab pengembangan UMKM menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama semua SKPD persemakmuran. Tugas pokok dan fungsi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo No. 7 tahun 2009 tentang Perubahan atas Perda No 2 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Nagekeo, maka Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan diserahkan tugas untuk membantu Bupati Nagekeo melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (KOPERINDAG). Secara garis besar tugas dinas ini adalah : (a) melaksanakan pemberdayaan koperasi dan memperkuat kelembagaan koperasi ; (b) meningkatkan kerjasama kemitraan UMKM dan mengembangkan prasarana UMKM ; (c) mengembangkan usaha industri, teknologi dan standarisasi industri serta menyediakan sarana/ prasarana industri ; (d) mengembangkan perdagangan dalam negeri, melaksanakan metrologi legal ; dan (e) menyelenggarakan perizinan dan pendaftaran usaha. Tujuan dan sasaran yang hendak dicapai adalah : (a) meningkatkan modal koperasi dan UMKM; (b) memfasilitasi ketersediaan sarana/prasarana koperasi dan UMKM; (c) memfasilitasi akses penjaminan dan penyediaan pembiayaan bagi koperasi dan UMKM; (d) meningkatkan pengawasan dan pemantauan terhadap penerima dana pinjaman penguatan modal usaha koperasi dan UMKM; (e) meningkatkan koordinasi dalam rangka mengidentifikasi dn mempverifikasi koperasi dan UMKM penerima bantuan dana dari pemerintah; (f) menyediakan manajemen basis data koperasi dan UMKM berbasis desa/kelurahan; (g) melaksanakan promosi produk unggulan UMKM; dan (h) memetakan potensi-potensi komoditi unggulan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, Dinas Koperindag dan berbagai SKPD terkait lainnya telah dan sedang melaksnakan beberapa kegiatan, antara lain adalah : pendidikan dan penyuluhan, temu usaha dan kemitraan; fasilitasi pemasaran produk unggulan melalui kegiatan promosi/pameran, studi banding dan magang, konsultasi usaha, serta bantuan permodalan. 338

37 Pelaksanaan program dan kegiatan tersebut dilaksanakan secara terkordinasi dan berkesinambungan. Sampai dengan tahun 2011 jumlah UMKM yang telah diiberdayakan sebanyak 690 unit usaha, dengan rincian sebagai berikut : sektor perdagangan sebanyak 277 unit usaha; sektor industri 113 unit usaha, dan sektor jasa 690 unit usaha Perbankan dan UMKM Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah tahun 2011 maupun 2012 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi NTT, belum menyajikan secara lengkap mengenai posisi simpanan masyarakat maupun pinjaman uang yang diberikan oleh Bank Umum dan BPR di kabupaten Nagekeo selama lima tahun terakhir. Data mengenai posisi simpanan, belum ada sama sekali (tidak terisi). Mungkin masih menjadi bagian dari kabupaten Ngada (sebagai kebupaten induk). Sementara data mengenai pinjaman yang disalurkan oleh Bank Umum dan BPR, baik berdasarkan lapangan usaha maupun berdasarkan jenis penggunaan hanya tersedia tiga tahun terakhir ( ). Dengan demikian maka informasi yang disajikan mengenai peranan perbankan dalam pengembangan UMKM di kabupaten Nagekeo hanya menggunakan data tiga tahun terakhir, dan hanya menggambarkan tentang posisi penjaman yang disalurkan menurut lapangan usaha dan jenis penggunaannya. Jumlah pinjaman yang disalurkan oleh Bank NTT, BRI, dan BNI di kabupaten Nagekeo berdasarkan sektor usaha selama tiga tahun terakhir ( ) relatif masih kecil. Pada tahun 2010 jumlah pinjaman yang disalurkan hanya mencapai Rp juta. Tetapi pada tahun berikutnya (2011) meningkat cukup siginifakan, yaitu sebesar Rp juta, kemudian meningkat menjadi Rp juta pada tahun Sama seperti kabupaten lainnya di provinsi NTT, sebagian besar pinjaman diberikan kepada Bukan Lapangan Usaha. Pinajaman yang diserap oleh lapangan usaha masih sangat kecil. Pada tahun 2011 misalnya, dari total pinjaman yang diberikan sebesar Rp juta, yang diserap oleh lapangan usaha hanya mencapai 23,88%, sementara pada tahun 2012 dari total pinjaman Rp juta, yang diserap oleh lapangan usaha hanya 22,65%. Tabel 11 berikut ini menyajikan posisi pinjaman yang diberikan perbankkan menurut sektor atau lapangan usaha. Tabel 11. Posisi Pinjaman yang Diberikan Bank dan BPR di Kabupaten Nagekeo Menurut Lapangan Usaha, No Jenis Pinjaman Tahun (Rp juta) A Berdasarkan Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 2 Petambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Kuangan, Real Estate, Jasa Perus Jasa-jas B Pinjaman bukan Lapangan Usaha Jumlah Sumber : Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah 2013, KPw BI NTT 339

38 Jenis pinjaman yang diberikan kepada lapangan usaha, sebagian besar diserap oleh sektor jasa-jasa, kemudian sektor perdagangan, hotel dan pariwisata. Sementara sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebagai sektor yang paling banyak diusahakan oleh UMKM di Kabupaten Nagekeo, mendapatkan pinjaman yang sangat kecil dan cendrung berfluktuasi. Apabila posisi pinjaman kepada UMKM dikaitkan dengan jenis penggunaan, maka dari total penjaman yang diserap oleh 9 sektor/lapangan usaha, sebagian besarnya digunakan untuk model kerja. Sedangkan untuk investasi relatif kecil. Tabel 12 berikut ini menyajikan pinjaman yang diberikan oleh Bank Umum dan BPR berdasarkan jenis penggunaan dan Tabel 13 menyajikan persentase menurut masing-masing jenis penggunaan. Tabel 12. Perkembangan Pinjaman yg Diberikan Perbankan di Kabupaten Nagekeo Menurut Jenis Penggunaan, No Jenis Penggunaan 2008 (Rp juta) 2009 (Rp juta) 2010 (Rp juta) 2011 (Rp juta) 2012 (Rp juta) 1 Modal Kerja Investasi Konsumtif Jumlah Sumber : Survei Ekonomi dan Keuangan Daerah 2013, KPw BI NTT Tabel 13 Persentase Pinjaman yg Diberikan Perbankan di Kabupaten Nakegeo Menurut Jenis Penggunaan, No Jenis Penggunaan 2008 (%) 2009 (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 1 Modal Kerja ,39 22,79 20,59 2 Investasi - - 1,78 1,08 2,06 3 Konsumtif - - 9,83 76,13 77,35 Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Data Primer (diolah) Tabel di atas menunjukan, bahwa persentase pinjaman yang digunakan untuk modal kerja dan investasi cenderung meningkat, meskipun pada tahun 2012 pinjaman untuk modal kerja sedikit mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pinjaman untuk investasi misalnya, pada tahun 2010 hanya Rp 57 juta, tetapi pada dua tahun berikutnya meningkat sangat signifikan (meskipun secara nominal masih kecil) yaitu mencapai Rp juta (2011), kemudian meningkat menjadi Rp juta pada tahun Tetapi secara relatif, peningkatannya sangat kecil, bahkan berfluktuasi. Dimana pada tahun 2010 pinjaman untuk investasi sebesar 1,78%, kemudian pada tahun 2011 turun menjadi 1,08%, tetapi pada tahun berikutnya (2012) meningkat lagi menjadi 2,06%. Sementara pinjaman untuk modal kerja juga cenderung berfluktuasi. Kondisi ini menunjukan bahwa, selama tiga tahun terakhir perbankan di kabupaten Nagekeo belum menunjukan peranan yang cukup berarti dalam rangka pembiayaan dan pengembangan UMKM. 340

39 BAB II HASIL PENETAPAN KPJu UNGGULAN UMKM KABUPATEN NAGEKEO 2.1. Bobot Sektor-Sub Sektor KPJU Unggulan Tingkat Kabupaten Nagekeo Berdasarkan hasil analisis KPJu pada setiap sektor usaha di setiap kecamatan dilakukan proses agregasi untuk menentukan calon KPJu unggulan per sektor usaha untuk tingkat Kabupaten Belu. Hasil proses agregasi dengan menggunakan metode Borda, ditetapkan maksimum 10 kandidat KPJu unggulan Kabupaten Nagekeo yang mempunyai nilai skor tertinggi. Selanjutnya hasil FGD, analisis AHP menghasilkan skor terbobot setiap sektor ekonomi untuk setiap tujuan penetapan KPJu unggulan, serta skor terbobot total/gabungan dari masing-masing sektor usaha seperti disajikan pada Tabel 14. Bobot atau prioritas tertinggi untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dalam rangka penetapan KPJu unggulan di Kabupaten Nagekeo adalah sektor Tanaman pangan, sedangkan untuk tujuan peningkatan daya saing produk adalah sektor usaha perkebunan. Dengan memperhatikan bobot kepentingan dari masing-masing tujuan, secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan penetapan KPJu unggulan UMKM maka sektor usaha Tanaman pangan merupakan prioritas pertama. Sektor usaha lain berdasarkan tingkat kepentingannya berturut-turut adalah usaha perkebunan, perikanan, perdagangan, pariwisata, angkutan, peternakan, jasa, pertambangan, kehutanan dan perindutrian. Tabel 14. Skor-terbobot Tingkat Kepentingan Setiap Sektor Ekonomi Menurut Aspek Tujuan dan Rangking Urutan Kepentingannya Dalam Rangka Penetapan KPJu Unggulan di Kabupaten Nagekeo Sektor usaha Tujuan (Skor Terbobot) Skor Pertumbuhan Penciptaan Peningkatan Daya Terbobot Ekonomi Lapangan Kerja Saing Produk Gabungan (0,2692) (0,3615) (0,3694) Ranking Tanaman Pangan 0,1782 0,1821 0,1289 0, Perkebunan 0,1076 0,1096 0,1451 0, Perikanan 0,0846 0,1166 0,1221 0, Perdagangan 0,1258 0,1127 0,0691 0, Pariwisata 0,1025 0,0759 0,1090 0, Angkutan 0,0940 0,1050 0,0853 0, Peternakan 0,0905 0,0701 0,0917 0, Jasa 0,0769 0,0600 0,0595 0, Pertambangan 0,0489 0,0698 0,0558 0, Kehutanan 0,0373 0,0442 0,0872 0, Perindustrian 0,0536 0,0541 0,0463 0, Sumber : Data Primer (diolah) Selain sektor tanaman pangan dan perkebunan sebagai sektor dengan ranking tertinggi pertama dan kedua, maka sektor-sektor ekonomi lain yang termasuk dalam kelompok 5 sektor prioritas adalah perikanan, perdagangan dan pariwisata. Berdasarkan gambaran di atas, dapat dikatakan bahwa secara sektoral, tenaman pangan dan perkebunan masih merupakan sektor penting yang dapat diandalkan untuk dikembangkan dalam mendukung UMKM di tingkat masyarakat dan wilayah Kabupaten Nagekeo. 341

40 2.2. KPJU Unggulan Per Sektor di Kabupaten Nagekeo Berdasarkan hasil dari penelitian lapangan tingkat kabupaten dan pelaksanaan FGD beserta bobot kepentingan masing-masing kriteria yang telah dihasilkan sebelumnya, analisis AHP menghasilkan KPJu unggulan setiap sektor ekonomi UMKM dengan urutan dan nilai skor terbobot seperti disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Rangking dan Skor-terbobot KPJu Unggulan per Sektor Usaha di Kabupaten Nagekeo No Sektor Usaha/ Skor- Sektor Usaha/ Skor- No KPJu Unggulan Terbobot KPJu Unggulan Terbobot Padi dan Palawija Sayuran 1 Padi Sawah 0, terong 0, Kacang Kedelai 0, Cabai 0, Kacang Hijau 0, tomat 0, Jagung 0, sawi 0, ubi jalar 0, Kacang Panjang 0,0633 Buah-Buahan Perkebunan 1 Pisang 0, Kemiri 0, Mangga 0, kopi 0, Alpukat 0, Jambu Mete 0, Pepaya 0, Kelapa 0, Manggis 0, coklat 0,0881 Peternakan Perikanan 1 Sapi 0, Usaha Penangkapan nener 0, Ayam Kampung 0, Usaha budidaya rumput laut 0, Babi 0, Usaha Penangkapan ikan laut 0, Kerbau 0, Tambak garam 0, Itik 0, Usaha budidaya tambak 0,1204 Pariwisata Industri 1 hotel melati 0, Penggilingan padi 0, Kedai minum 0, Industri tempe 0, Kedai makanan 0, pengolahan & pengawetan biota air 0,1341 lainnya. 4 Pertunjukkan seni/budaya 0, Industri, kerupuk, keripik, peyek 0, Warung makan 0, Pengolahan dan pengawetan ikan 0,0962 dan produk ikan Perdagangan Jasa-jasa 1 Bahan bangunan 0, Sewa kos-kosan 0, bahan bakar 0, Jasa sewa kendaraan penumpang 0, Hasil pertanian/hortikultura 0, Perbengkelan 0, Ternak dan hasil-hasilnya 0, Servis perbaikan elektronik 0, Sembako 0, Wartel/warnet 0,0803 Angkutan Kehutanan 1 Angkutan sewa 0, Penyadapan Aren dan Nira Lontar 0, Angkutan barang umum 0, Gaharu 0, Angkutan bus antar kota 0, Bambu 0, Angkutan ojek motor 0, Kemiri 0, Angkutan bus dalam kota 0, Asam 0,1204 Pertambangan 1 Pasir 0, Batu bangunan 0, Tanah urukan 0,0876 Sumber : Data Primer (diolah) 342

41 2.3. KPJU Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Nagekeo Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi tentang penetapan kompetensi inti daerah dilakukan penetapan KPJu unggulan Lintas sektor. Dengan mempertimbangkan bobot kepentingan atau prioritas setiap sektor usaha (Tabel 13) serta hasil skor KPJu unggulan setiap sektor usaha yang telah diperoleh (Tabel 14) dilakukan analisa dengan menggunakan Metoda Bayes. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh 10 (sepuluh) KPJu unggulan lintas sektor berdasarkan urutan nilai skor terbobot KPJu yang bersangkutan, seperti disajikan pada Tabel 15 Terdapat 5 KPJu unggulan lintas sektor di Kabupaten Nagekeo adalah usaha perkebunan kemiri, usaha ternak sapi, perkebunan kopi, usaha tani padi sawah, serta perdagangan bahan bangunan. Tabel KPJu Lintas Sektor yang Mempunyai Nilai Skor Terbobot Tertinggi Sebagai KPJu Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Nagekeo No KPJu Unggulan Skor Terbobot Sektor Usaha 1 Kemiri 0,02844 Perkebunan 2 Sapi 0,02702 Peternakan 3 Kopi 0,02678 Perkebunan 4 Padi Sawah 0,02092 Tanaman Pangan 5 Bahan bangunan 0,02004 Perdagangan 6 bahan bakar 0,01766 Perdagangan 7 Hasil pertanian/hortikultura 0,01672 Perdagangan 8 Usaha Penangkapan nener 0,01598 Perikanan 9 Ternak dan hasil-hasilnya 0,01576 Perdagangan 10 Sembako 0,01571 Perdagangan Sumber : Data Primer (diolah) 2.4. H asil Analisis P erspektif Product Life Cycle (PLC) K PJu U nggulan Kabupaten Nagekeo Kedudukan KPJu Unggulan di Kabupaten Nagekeo berdasarkan hasil penilaian terhadap faktor-faktor Prospek dan Potensi saat ini adalah sebagai berikut: Tabel 16. Kedudukan KPJu Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Nagekeo No KPJu Unggulan Skor Kriteria Kuadran Potensi Prospek Potensi Prospek 1 Kemiri 3,00 2,80 Sesuai Cukup sesuai III 2 Sapi 4,40 4,20 Sangat sesuai Sangt sesuai I 3 Kopi 4,40 3,40 Sangat sesuai Sesuai I 4 Padi Sawah 4,40 4,20 Sangat sesuai Sangt sesuai I 5 Bahan bangunan 4,40 3,40 Sangat sesuai Sesuai I 6 bahan bakar 3,00 2,80 Sesuai Cukup sesuai III 7 Hasil pertanian/ Hortikultura 3,20 2,60 Sesuai Cukup sesuai III 8 Usaha Penangkapan nener 3,60 2,80 Sesuai Cukup sesuai III 9 Ternak dan hasil-hasilnya 3,60 2,40 Sesuai Cukup sesuai III 10 Sembako 3,60 2,80 Sesuai Cukup sesuai III Sumber : Data Primer (diolah) Seperti dapat dilihat pada Tabel 11 di atas, terdapat 5 KPJu Unggulan lintas Sektor, dalam anlisis kuadran KPJu tersebut berada pada Kuadran I, yaitu yang mempunyai Prospek dan Potensi saat ini yang sangat baik atau baik: usaha ternak sapi, perkebunan kopi, usaha tani padi sawah. 343

42 BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 3.1. Kesimpulan Peningkatan daya saing produk menjadi tujuan terpenting dalam pengembangan UMKM kemudian tujuan penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Mempersiapkan kualitas dan mutu output dari produksi UMKM agar mampu bersaing di pasaran dan mampu mempertahankan keberadaan UMKM menjadi pertimbangan stakeholder di Kabupaten Nagekeo untuk memilih tujuan peningkatan daya saing produksi Kriteria penentuan KPJu Unggulan terpenting (ranking kepentingan) berturutturut adalah 1) ketersediaan teknologi, 2) ketersediaan pasar, 3) manegemen usaha, 4) penyerapan tenaga kerja, 5) ketrampilan tenaga kerja yang dibutuhkan, 6) ketersediaan sarana produksi, 7) aksesibilitas terhadap/ kebutuhan modal, 8) sumbangan terhadap perekonomian daerah, 9) harga/nilai tambah, 10) ketersediaan bahan baku dan yang terakhir adalah 11) aspek sosial budaya Jenis usaha komoditi tanaman pangan menjadi sektor utama dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Nagekeo. Sektor usaha lain berdasarkan tingkat kepentingannya berturut-turut adalah usaha perkebunan, perikanan, perdagangan, pariwisata, angkutan, peternakan, jasa, pertambangan, kehutanan dan perindutrian KPJu Unggulan lintas sektor untuk pengembangan UMKM di Kabupaten Nagekeo berturut-turut adalah : 1) kemiri, 2) sapi, 3) kopi, 4) padi sawah, 5) bahan bangunan, 6) bahan bakar, 7) hasil pertanian/hortikultura, 8) usaha penangkaran nener, 9) ternak dan hasil-hasilnya, dan 10) sembako Jenis usaha komoditi yang dipandang potensi dan prospek dan berkategori baik sampai sangat baik adalah : 1) usaha ternak sapi, 2) usaha perkebunan kopi, dan 3) usaha tani padi sawah Rekomendasi Upaya berbagai pihak dalam pengembangan UMKM di NTT termasuk Kabupaten Nagekeo mestinya memberi perhatian yang tinggi pada minimal 5 (lima) hal penting sebagai necessery condition (syarat keharusan) yaitu: peningkatan kemampuan teknologi usaha, pengembangan ketersediaan pasar, pembinaan menegemen usaha, penyerapan tenaga kerja (padat karya), dan peningkatan ketrampilan tenaga kerja UMKM. Faktor-faktor lainnya bukanlah tidak penting, tetapi lebih merupakan suffisien condition (syarat kecukupan) dalam pengembangan dan pembinaan UMKM di NTT Dalam ruang lingkup rekomendasi (1), diharapkan berbagai pihak yang berperan dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Nagekeo disarankan untuk mengembangkan UKM di bidang KPJU Unggulan yang secara potensi dan prospek tergolong baik dan sangat baik, yaitu: usaha ternak sapi, perkebunan kopi, usaha tani padi sawah Upaya untuk mengembangan dan memberdayakan ke-10 KPJu Unggulan UMKM dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan, sebaiknya diawali 344

43 dengan identifikasi dan pemetaan masing-masing KPJu Unggulan oleh masing sektor (SKPD) yang implementasinya dilaksanakan secara terkoordinasi. Untuk menghindari terjadinya ketimpangan program, disarankan agar dibentuk sebuah forum atau kelompok kerja pengembangan dan pemberdayaan UMKM di bawah koordinasi langsung oleh Sekretaris Daerah Lembaga perbankan terutama BUMN diharapkan partisipasi aktifnya untuk turut serta membantu membina dan mengembangkan KPJu dari aspek teknis perbankan sehingga memungkinkan para pelaku UMKM lebih mudah mengakses pembiayaan yang berasal dari perbankan. Perlu dipertimbangkan untuk membentuk sebuah badan koordinasi perbankan di tingkat lokal yang secara reguler dapat berkoordinasi langsung dengan para pelaku UMKM, yang berfungsi sebabagi forum komunikasi dan konsultasi antara pihak perbankan dengan para pelaku UMKM. Untuk itu Bupati Nagekeo dapat berkoordinasi dengan perbankan setempat, terutama Bank NTT dan pihak Perwakilan BI NTT untuk membentuk wadah tersebut. 345

44

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Babulu rata-rata 242,25 mm pada tahun 2010 Kecamatan Babulu memiliki luas 399,46 km 2. Secara geografis berbatasan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota 66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Bandarlampung 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

Katalog BPS :

Katalog BPS : Katalog BPS : 1101002.6409010 Statistik Daerah Kecamatan Babulu 2015 Statistik Daerah Kecamatan Babulu No. Publikasi : 6409.550.1511 Katalog BPS : 1101002.6409010 Naskah : Seksi Statistik Neraca Wilayah

Lebih terperinci

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS Kecamatan Tomoni memiliki luas wilayah 230,09 km2 atau sekitar 3,31 persen dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan yang terletak di sebelah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Lokasi 1. Kondisi Fisik Nusa Tenggara Barat a. Peta wilayah Sumber : Pemda NTB Gambar 4. 1 Peta Provinsi Nusa Tenggara Barat b. Konsisi geografis wilayah Letak dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Sepaku rata-rata 177,2 mm pada tahun 2010 Kecamatan Sepaku memiliki luas 438,50 km 2. Secara geografis berbatasan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder periode tahun dari

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder periode tahun dari 38 III. METODE PENELITIAN A. Data dan sumber data Penelitian ini menggunakan data sekunder periode tahun 2009 2013 dari instansi- instansi terkait yaitubadan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Badan

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SERASAN STATISTIK DAERAH KECAMATAN SERASAN ISSN : - Katalog BPS : 1101002.2103.060 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : 10 halaman Naskah : Seksi Neraca Wilayah dan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

V. DESKRIPSI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 61 V. DESKRIPSI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 5.1. Keadaaan Geografis dan Administrasi Daerah Provinsi NTT terletak antara 8 0-12 0 Lintang Selatan dan 118 0-125 0 Bujur Timur. Luas wilayah daratan 48 718.10

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi BAB I Pendahuluan... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya...

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS :

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS : BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS : Katalog BPS : 9302008.53 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN

Lebih terperinci

frekuensi penerbangan 5 kali dalam seminggu oleh maskapai penerbangan Trans Nusa dan 10 kali seminggu oleh maskapai Susi Air. Bandara ini menjadi

frekuensi penerbangan 5 kali dalam seminggu oleh maskapai penerbangan Trans Nusa dan 10 kali seminggu oleh maskapai Susi Air. Bandara ini menjadi frekuensi penerbangan 5 kali dalam seminggu oleh maskapai penerbangan Trans Nusa dan 10 kali seminggu oleh maskapai Susi Air. Bandara ini menjadi salah satu alternatif transportasi antara Kabupaten Lembata

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR Bagian I :

KATA PENGANTAR Bagian I : KATA PENGANTAR Segala Puji Syukur patut kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rakhmat-nya sehingga pelaksanaan Penelitian Baseline Economic Survey-KPJu Unggulan UMKM Provinsi

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 43 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Kudus secara geografis terletak antara 110º 36 dan 110 o 50 BT serta 6 o 51 dan 7 o 16 LS. Kabupaten Kudus

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kabupaten Ende dengan ibukotanya bernama Ende merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kabupaten Ende dengan ibukotanya bernama Ende merupakan salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Kabupaten Ende dengan ibukotanya bernama Ende merupakan salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di daratan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Katalog BPS :

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Katalog BPS : 9302008.53 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 Anggota Tim Penyusun : Pengarah :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Sektor unggulan di Kota Dumai diidentifikasi dengan menggunakan beberapa alat analisis, yaitu analisis Location Quetiont (LQ), analisis MRP serta Indeks Komposit. Kemudian untuk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN NGADA No. 08/08/Th.IV, 3 Agustus 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NGADA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2011 MENCAPAI 5,11 PERSEN Ekonomi Kabupaten Ngada pada tahun 2011 tumbuh

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Geografis Secara astronomis Kabupaten Bolaang Mongondow terletak antara Lintang Utara dan antara Bujur Timur. Berdasarkan posisi geografisnya,

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Geografis dan Administratif Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 0 50 7 0 50 Lintang Selatan dan 104 0 48 108 0 48 Bujur Timur, dengan batas-batas

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT. STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan salah satu indikator yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infrastruktur Infrastruktur merujuk pada system phisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang

Lebih terperinci

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Kabupaten Kulonprogo Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di propinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan 78 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Pesawaran Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan UU No.33 Tahun 2007 yang diundangkan pada tanggal 10 Agustus

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... v

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... v BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3. Hubungan Antar-Dokumen Perencanaan... I-6 1.4. Maksud

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

8.1. Keuangan Daerah APBD

8.1. Keuangan Daerah APBD S alah satu aspek pembangunan yang mendasar dan strategis adalah pembangunan aspek ekonomi, baik pembangunan ekonomi pada tatanan mikro maupun makro. Secara mikro, pembangunan ekonomi lebih menekankan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil III. METODE PENELITIAN A. Gambaran Umum Kecamatan Kemiling. Kondisi Wilayah Kecamatan kemiling merupakan bagian dari salah satu kecamatan dalam wilayah kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM. A. Letak Geografis, Iklim

BAB IV KONDISI UMUM. A. Letak Geografis, Iklim 27 BAB IV KONDISI UMUM A. Letak Geografis, Iklim Kabupaten Bungo terletak di bagian Barat Provinsi Jambidengan luas wilayah sekitar 7.160 km 2. Wilayah ini secara geografis terletak pada posisi 101º 27

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Majalengka GAMBAR 4.1. Peta Kabupaten Majalengka Kota angin dikenal sebagai julukan dari Kabupaten Majalengka, secara geografis terletak

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON No. Potensi Data Tahun 2009 Data Tahun 2010*) 1. Luas lahan pertanian (Ha) 327 327

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang IV. GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Propinsi Kalimantan Timur dengan luas wilayah daratan 198.441,17 km 2 dan luas pengelolaan laut 10.216,57 km 2 terletak antara 113º44 Bujur Timur dan 119º00

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Profil Kabupaten Ngawi 1. Tinjauan Grafis a. Letak Geografis Kabupaten Ngawi terletak di wilayah barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.

Lebih terperinci

COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i

COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i COVER DALAM Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 i ii Indikator Ekonomi Kota Ternate 2015 INDIKATOR EKONOMI KOTA TERNATE 2015 No. Katalog : 9201001.8271 No. Publikasi : 82715.1502 Ukuran Buku : 15,5 cm

Lebih terperinci

Analisis Isu-Isu Strategis

Analisis Isu-Isu Strategis Analisis Isu-Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang ada pada saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi 5 (lima) tahun ke depan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangkalan perlu

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat 51 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera dengan ibukota

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara

BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara BAB II URAIAN SEKTORAL Uraian sektoral yang disajikan pada bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara penghitungan nilai tambah bruto atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kabupaten Sikka dengan ibu kotanya bernama Maumere merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kabupaten Sikka dengan ibu kotanya bernama Maumere merupakan salah BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Kabupaten Sikka dengan ibu kotanya bernama Maumere merupakan salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkaan uraian sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Topografinya, Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) zona/klasifikasi

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii vii Bab I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen 1-4 1.4 Sistematika Penulisan 1-6 1.5 Maksud dan Tujuan 1-7 Bab

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Geografis Kabupaten Kubu Raya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 84 meter diatas permukaan laut. Lokasi Kabupaten Kubu Raya terletak pada posisi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. 1. Keadaan Geografi Kabupaten Badung. satu kota di Bali yang mempunyai wilayah seluas 418,52 km 2 atau 41.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. 1. Keadaan Geografi Kabupaten Badung. satu kota di Bali yang mempunyai wilayah seluas 418,52 km 2 atau 41. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Geografi Kabupaten Badung Kabupaten Badung merupakan satu dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali yang mempunyai wilayah

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUNGURAN UTARA 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUNGURAN UTARA 2015 ISSN : - Katalog BPS : 1101002.2103.041 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : 10 halaman Naskah :

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat melalui beberapa proses dan salah satunya adalah dengan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah provinsi di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

Statistik Daerah Kabupaten Bintan

Statistik Daerah Kabupaten Bintan Statistik Daerah Kabupaten Bintan 2012 STATISTIK DAERAH KECAMATAN GUNUNG KIJANG 2014 ISSN : No. Publikasi: 21020.1419 Katalog BPS : 1101001.2102.061 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : Naskah:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari

Lebih terperinci

KERAGAAN EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, INGKUNGAN DAN TEKNOLOGI SERTA KELEMBAGAAN DI NUSA TENGGARA BARAT MUAIDY YASIN

KERAGAAN EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, INGKUNGAN DAN TEKNOLOGI SERTA KELEMBAGAAN DI NUSA TENGGARA BARAT MUAIDY YASIN KERAGAAN EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA, INGKUNGAN DAN TEKNOLOGI SERTA KELEMBAGAAN DI NUSA TENGGARA BARAT MUAIDY YASIN RPJM 3 (2015-2019) Memantapkan Pembangunan secara menyeluruh Dengan menekankan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN. Hal. 1. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Semarang Akhir Tahun Anggaran 2016

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN. Hal. 1. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Semarang Akhir Tahun Anggaran 2016 BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) merupakan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat capaian kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan pelaksanaan

Lebih terperinci

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / BAB IV TINJAUAN EKONOMI 2.1 STRUKTUR EKONOMI Produk domestik regional bruto atas dasar berlaku mencerminkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Pada tahun 2013, kabupaten Lamandau

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian ini meliputi wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan Luas Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak antara 6 0 21-7 0 25 Lintang Selatan dan 106 0 42-107 0 33 Bujur

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak, Batas Wilayah, dan Keadaan Alam Provinsi Jawa Timur merupakan satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Provinsi Daerah Khusus

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Geografi Kabupaten Bone Bolango secara geografis memiliki batas batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM 51 BAB IV GAMBARAN UMUM A. Keadaan Geografis 1. Keadaan Alam Wilayah Kabupaten Bantul terletak antara 07 o 44 04 08 o 00 27 Lintang Selatan dan 110 o 12 34 110 o 31 08 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Banten secara geografis terletak pada batas astronomis 105 o 1 11-106 o 7 12 BT dan 5 o 7 50-7 o 1 1 LS, mempunyai posisi strategis pada lintas

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE

KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE KATA PENGANTAR Buku Indikator Ekonomi Kota Lubuklinggau ini dirancang khusus bagi para pelajar, mahasiswa, akademisi, birokrat, dan masyarakat luas yang memerlukan data dan informasi dibidang perekonomian

Lebih terperinci