BAB II KAJIAN PUSTAKA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Belajar enurut Gagne dalam Purwanto (1990) belajar terjadi apabila ada suatu stimulus yang mempengaruhi isi ingatan siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi kewaktu setelah ia mengalami situasi tadi. Sedangkan menurut Dimyati (1989) belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Berbagai perubahan pengalaman yang dimiliki siswa merupakan hasil dari pengetahuan yang diperolehnya saat melaksanakan kegia tan belajar. Perubahan yang terjadi pada diri siswa dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku,ketrampilan,kecakapan, kebiasan serta perubahan aspek-aspek yang lain yang ada pada individu yang belajar (Sudjana, 1989). Untuk mendapatkan perubahan sebagai hasil dari belajar perlu dilakukan berbagai latihan. Sedangkan menurut Winkel (1996) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan, dan nilai-sikap. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri siswa relatif bersifat konstan dan berbekas Perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang terjadi melalui sebuah pengalaman dan latihan dapat terlihat melalui peningkatan kualitas dan kuantitas dari kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, daya pikir dan ketrampilan yang dimiliki siswa. Hasil dari perubahan diharapkan dapat memberikan sebuah dorongan untuk memperkuat seluruh aspek yang terjadi pada diri siswa Keaktifan Belajar Pada hakekatnya keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua perbuatan belajar, tetapi kadarnya yang berbeda-beda tergantung pada jenis kegiatannya, 7

2 materi yang dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai (Hamalik, 2003). Sedangkan menurut Dimyati dan udjiono (2009) mengemukakan keaktifan siswa dalam peristiwa pembelajaran mengambil beraneka bentuk kegiatan fisik yang dapat diamati. Contoh kegiatan fisik tersebut telah dikemukakan oleh Usman (2011) yaitu meliputi aktivitas visual yang meliputi meliputi membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demonstrasi. Aktivitas lisan meliputi bercerita, membaca sajak, Tanya jawab, diskusi dan menyanyi. Aktivitas mendengarkan meliputi mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan. Aktivitas gerak seperti senam, atletik, menari, melukis dan aktivitas menulis seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat. Setiap jenis aktivitas tersebut memiliki bobot yang berbeda tergantung pada tujuan mana yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu, Usman (2011) juga mengemukakan bahwa keaktifan meliputi interkasi guru dengan siswa dan siswa dengan siswa lainnya. Interaksi tersebut memiliki berbagai macam pola interaksi diantaranya Pola guru-siswa G Komunikasi sebagai aksi (satu arah) Pola guru-siswa-guru G Ada balikan (feedback) bagi guru, tidak ada interaksi antar siswa (komunikasi sebagai interaksi) 8

3 Pola guru-siswa-siswa G Ada balikan bagi guru siswa saling belajar satu sama lain Pola guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa G Interaksi optimal antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa (komunikasi sebagai transaksi, multiarah Pola melingkar G Setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran keaktifan belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar. Keaktifan dapat ditunjukkan dengan keterlibatan siswa dalam mencari atau mendapatkan sebuah informasi dari suatu sumber seperti buku, guru dan teman lainnya sehingga siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. 9

4 enurut Sudjana (1991) keaktifan belajar siswa dapat dilihat berdasarkan indikator keaktifan siswa yaitu turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan permasalahan, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak, memahami persoalan yang dihadapinya, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untukpemecahan masalah, melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya, melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis, kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yangdihadapinya. elalui indikator keaktifan siswa, guru dapat melihat apakah siswa telah melakukan aktivitas belajar yang diharapkan atau tidak. Keaktifan belajar tidak semata-mata muncul karena siswa tetapi guru juga harus berusaha untuk memunculkan suasana belajar yang aktif sehingga siswa dapat terpacu untuk aktif dalam belajar Prestasi Belajar Prestasi belajar menjadi tolok ukur dalam suatu proses pembelajaran. Keberhasilan atau kegagalan suatu proses pembelajaran dapat dilihat melalaui prestasi belajar yang diperoleh siswa. Prestasi belajar merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran. enurut Chaplin (2001) juga mengemukakan bahwa prestasi (Achievment) merupakan suatu pencapaian atau hasil yang telah dicapai dan pencapaian satu tingkat khusus dari sebuah kesuksesan atau tingkat tertentu dari kecakapan/keahlian karena telah mempelajaritugas-tugas sekolah atau akademis dengan kata lain prestasi merupakan satu tingkat khusus atau hasil keahlian yang diperoleh dalam karya akademis yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes-tes yang dilakukan, atau lewat kombinasi kedua hal tersebut. sedangkan menurut Winkel (1996) yang menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. 10

5 enurut kamus besar bahasa Indonesia (2008) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar merupakan hasil usaha, kemampuan dan sikap siswa dalam menyelesaikan tugas dalam bidang pendidikan yang ditetapkan pada setiap jenjang studi yang dinyatakan dengan angka. Prestasibelajardalam bidang akademik dinyatakan sebagi pengetahuan yang dicapai atau keterampilan yang dikembangkan dalam mata pelajaran tertentu disekolah, biasanya diukur melalui tes atau ujian yang dilakukan oleh guru (Arikunto,1993) Tu u (2004) yang merumuskan prestasi sebagai hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran disekolah. Prestasi belajar siswa dinilai berdasarkan aspek kognitifnya terutama karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisi, dan evaluasi; Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka dari evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa serta ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengukur prestasi belajar siswa dimana tujuannya adalah mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar. Keberhasilan tersebut ditunjukan dengan peningkatan nilai hasil prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui usaha, latihan dan pengalaman. Prestasi belajar yang diukur mengenai penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tertentu yang telah disampaikan oleh guru sehingga dapat meningkatkan nilai hasil prestasi belajar siswa sehingga dengan prestasi belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam belajar. Pengukuran prestasi belajar yang diberikan berupa tes ulangan harian yang dilaksanakan pada akhir siklus pembelajaran Faktor-faktor Yang empengaruhi Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. enurut Dimyati (1989), mengatakan bahwa Faktor-faktor yang 11

6 mempengaruhi prestasi belajar siswa mencakup : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, yang terdiri dari N. Ach (Need For Achievement) yaitu kebutuhan atau dorongan atau motif untuk berprestasi. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar si pelajar. Hal ini dapat berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. enurut Purwanto (1990) mengemukakan bahwa Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor dari luar ini merupakan faktor yang berasal dari luar siswa yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, instrumentasi yang berupa kurikulum, guru atau pengajar, sarana dan fasilitas serta administrasi. Faktor dari dalam ini merupakan faktor yang berasal dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi fisiologi yang berupa kondisi fisik dan kondisi pancaindra, psikologi yang berupa bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif. Ahmadi (1998) juga mengemukakan bahwa prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor dari luar diri siswa (faktor eksternal). Faktor dari dalam diri siswa meliputi intelegensi yaitu kemampuan untuk mencapai prestasi disekolah yang didalamnya berpikir perasaan, minat yaitu kecenderungan tertentu untuk meras tertarik pada bidang tertentu dalam hal ini siswa yang kurang berminat dalam pelajaran tertentu akan menghambat dalam belajar, keadaan fisik dan psikis. Faktor dari luar siswa meliputi faktor guru, lingkungan keluarga, faktor sumber sumber belajar. Prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh karena adanya faktor-faktor tertentu. Faktor tesebut adalah yang muncul dari laur diri siswa yang disebut faktor ekstern dan faktor yang muncul dari dalam diri siswa atau faktor intern. Faktor dari luar siswa merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang berasal dari luar diri siswa seperti kemampuan atau keadaan sosial ekonomi, Kurang adanya dukungan dari orang-orang di sekitamya terutama orang tua, lingkungan masyarakat, lingkungan alam, sarana dan fasilitas sekolah, dan Kekurangmampuan guru dalam materi dan strategi pembelajaran. Sedangkan faktor dari dalam siswa merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa sendiri 12

7 seperti siswa merasa sukar mencerna materi karena menganggap materi tersebut sulit, kondisi fisik yang dimiliki siswa, siswa kehilangan gairah belajar karena mendapatkan nilai yang rendah. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba ingin meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mencari beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya sehingga diperoleh suatu perbaikan yang dapat meningkatkan keaktifan siswa, tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor dari luar diri siswa atau ekstern seperti keluarga, ekonomi, lingkungan belajar, guru, fasilitas dan faktor dari dalam diri siswa atau intern seperti kondisi fisik, kecerdasan, kemampuan kognitif etode Pembelajaran Index Card atch enurut Silberman (2006) index card match merupakan cara aktif dan menyenangkan untuk meninjau ulang materi pelajaran. elalui metode ini memungkinkan siswa untuk dapat belajar secara mandiri maupun dengan siswa lain. enurut Juntak argana (2010) Index Card atch merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa untuk bekerja sama dan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Sedangkan menurut Suwarno (2010) etode Index Cardatch dikenal juga dengan istilah mencari pasangan kartu metode ini digunakan untuk mengulang materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dan berpotensi membuat siswa senang. etode pembelajaran index card match adalah metode pembelajaran aktif dan menyenangkan yang cara kerjanya adalah mencari pasangan kartu dimana kartu tersebut berisi kartu soal dan kartu jawaban yang menuntut siswa untuk bekerja sama dalam mencari pasangan kartu. etode ini tepat digunakan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan belajar karena melalui metode index card matchsiswa dapat berinteraksi dengan guru ataupun siswa lainnya. Selain itu siswa juga dapat menggali kembali pengetahuan yang diperolehnya selama mengikuti pembelajaran. 13

8 enurut Suprijono (2011) langkah-langkah pembelajaran metode index card match adalah sebagai berikut a. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam kelas b. Bagilah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama c. Pada separuh bagian, tulis pertanyaan tentang materi yang akan dibelajarkan. setiap kertas berisi satu pertanyaan d. Pada separuh kertas lain, tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat e. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban f. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan separuh yang lain mendapatkan jawaban g. intalah kepada siswa untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, jelaskan kepada mereka untuk duduk berdekatan. Jelaskan juga agar mereka tidak memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain. h. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan keras kepada teman-teman yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya i. Akhiri proses ini dengan membuat klasifikasi dan kesimpulan Sedangkan menurut Silberman (2006) langkah-langkah pembelajaran metode index card match adalah sebagai berikut: a. Pada kartu index yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah kartu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswapada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atas masingmasing pertanyaan itu 14

9 b. Campurlah dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agarbenar-benar tercampur c. Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakanlatihan pencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauandari sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya e. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasagan mereka. Bila sudahterbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untukmencari tempat duduk bersama. (katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di akrtu mereka) f. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap pasangan untuk memberikan kuis pada siswa lain dengan membacakan kertas kertas pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya. etode index card match merupakan sebuah permainan mencocokkan kartu soal dan kartu jawaban yang sesuai melalui interaksi dan kerjasama antar siswa. Kartu yang digunakan disini berupa potongan-potongan kertas yang dibuat menarik. Bahan ajar yang disajikan dalam index card match tidak disajikan dalam bentuk jadi, karena bahan yang ditulis di dalam kartu soal dapat disajikan dalam bentuk soal-soal yang ditulis tidak lengkap ataupun dapat ditulis dengan suatu pertanyaan. Penyajian materi index card match dapat disajikan bermacam-macam sesuai materi yang dipelajari dan kreatifitas yang dimiliki guru dalam membuat kartu-kartu, agar materi yang dipelajari dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Tipe soal dalam kartu bermacam-macam tergantung dari materi yang dipelajari dan tujuan yang akan dicapai. Selain meningkatkan tingkat pemahaman siswa, metode index card match juga dapat memaksimalkan aktifitas siswa dalam belajar untuk memperoleh salah satunya dengan cara saling berinteraksi untuk memperoleh informasi. Informasi yang telah didapatkan akan disampaikan pada siswa lain agar semua siswa dapat 15

10 mengetahui informasi yang didapatkan dari setiap pasangan. etode index card match melatih siswa untuk belajar dari temannya sehingga perolehan informasi tidak hanya didapatkan dari guru namun dapat juga didapatkan dari temannya. Dalam penelitian ini peneliti berupaya agar yang memiliki kreatifitas untuk mengisi kartu soal dan kartu jawaban adalah siswa sendiri dari pengetahuan yang sudah didapatkannya selama proses belajar berlangsung. Untuk mengantisipasi kesamaan siswa dalam mengisi kartu soal dan kartu jawaban guru terlebih dahulu menetukan tema sesuai materi yang akan digunakan dalam metode index card match. Permainan pencocokkan kartu soal dan kartu jawaban dapat digunakan sebagai soal latihan dari materi yang sudah dipelajari dan akan diujikan untuk dirinya sendiri dan teman yang lain. elalui index card match dapat pula diketahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang dipelajari.adapun langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode index card match dalam penelitian ini sebagai berikut a. Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari terlebih dahulu pada siswa b. Siswa bermain index card match atau pencocokkan kartu c. Guru memberikan kartu tema kepada siswa dan setiap siswa mencari pasangan tema yang sama d. Siswa yang sudah mendapatkan tema yang sama duduk berdampingan sambil menunggu teman lain mendapatkan pasangan tema e. Siswa berpasangan untuk mengisi satu kartu soal dan satu kartu jawaban berdasarkan tema yang diperoleh f. Setiap siswa mengumpulkan kartu yang sudah dibuatnya g. Setelah semua kartu terkumpul guru mengacak semua kartu h. Siswa diminta mengambil satu kartu secara acak i. Siswa yang sudah mendapat kartu tidak boleh melihat isi kartu tersebut sebelum semua siswa sudah mendapatkan kartu j. Siswa mulai mencari pasangan dari kartu yang didapatkannya k. Siswa yang sudah berpasangan duduk berdampingan sambil menunggu teman lain mendapatkan pasangannya 16

11 l. Setiap pasangan maju ke depan kelas untuk membacakan pertanyaan pada siswa lain dan meminta siswa lain keculi pasangannya untuk menjawabnya m. Siswa yang memegang kartu jawaban memberikan tanggapan dari jawaban yang diberikan oleh temannya n. Siswa membuat rangkuman dari pengetahuan yang didapatkannya dari permainan kartu etode pembelajaran index card match memiliki kelebihan dan kekuruangan. enurut Handayani dalam argana (2010) menyatakan bahwa terdapat kelebihan dan kelemahan metode index card match sebagi berikut 1) Adapun kelebihan dari metode index card matchyaitu a. enumbuhkan kegembiraan dalam kegitan belajar mengajar b. ateri pelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa c. ampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan d. ampu meningkatkan prestasi belajar siswa mencapai tarafketuntasan belajar e. Penilaian dilakukan bersama pengamat dan pemain 2) Adapun kekurangan dari metode index card match yaitu a. embutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas dan prestasi. b. Guru harus meluangkan waktu yang lebih lama untuk membuat persiapan c. Guru harus memiliki jiwa demokratis dan ketrampilan yangmemadai dalam hal pengelolaan kelas d. enuntut sifat tertentu dari siswa atau kecenderungan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah e. Suasana kelas menjadi gaduh sehingga dapat mengganggu kelas lain Berdasarkan kelebihan dan kekurangan metode index card match sebisa mungkin guru dituntut untuk dapat mengantisipasi kekurangan yang terdapat dalam penerapan metode index card match terutama penerapannya dalam pembelajaran 17

12 IPS. Antisipasi tersebut dapat diwujudkan guru melalui berpikir kritis, inovatif dan kreatif dalam melaksanakan suatu pembelajaran agar siswa dapat belajar secara aktif. etode index card match dirasa cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS karena metode index card match merupakan salah satu metode pembelajaran aktif dimana siswa akan terlibat langsung dalam membangun pengetahuannya, menarik perhatian siswa karena ada unsur permainnan yang dapat membangun kebersamaan dan keakraban antar siswa Penerapan etode Index Card atch Dalam Pembelajaran IPS etode pembelajaran index card match merupakan metode mencari pasangan kartu metode ini digunakan untuk mengulang materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya dan berpotensi membuat siswa senang (Suprijono, 2011). Sejalan dengan itu menurut Silberman (2002) salah satu cara yang pasti untuk membuat pembelajaran tetap melekat dalam pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa yang telah dipelajari. Dalam metode index card match siswa dituntut untuk berpasangan dan bekerja sama dalam kegiatan belajar sehingga kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan namun tetap dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam penelitian ini penerapan metode index card matchpada pembelajaran IPS akan lebih difokuskan pada kegiatan siswa. sebelum bermain index card match guru memfasilitasi siswa dengan kartu soal dan kartu jawaban, selain itu guru juga memberikan kartu-kartu tema pada setiap siswa untuk menghindari kesamaan soal dan jawaban yang telah dibuat siswa. Dari kartu-kartu tersebut terlebih dahulu siswa minta untuk mencari pasangan tema yang sesuai. Setelah siswa mendapatkan pasangan tema, siswa diminta mengisi kartu berdasarkan tema yang didapatkannya, kemudian siswa diminta untuk mencari pasangan kartu. etode index card match dalam penelitian ini akan diterapkan di SD Negeri Kopeng 01 dalam pembelajaran IPS kelas IV semester II. Adapun rencana kegiatan pembelajaran dengan metode index card match sebagai berikut 18

13 1) Kegiatan awal Pada tahap awal, guru memberikan beberapa pertanyaan seputar materi yang akan dipelajari. Untuk membangkitkan minat dan keaktifan siswa guru mengajak siswa bernyanyi bersama agar tercipta suasana kelas yang menyenangkan. Kemudian guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari. 2) Kegiatan inti Pada tahap ini ada tiga tahap yang sangat penting yang harus dijalankan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran yaitu eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Pada tahap eksplorasi yang harus dilakukan guru adalah a. Guru melibatkan siswa dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari b. Guru mengajukan pertanyaan pada siswa berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki siswa berkaitan dengan materi yang dipelajari sehingga dapat tercipta pembelajaran yang interaktif. c. Guru mulai menjelaskan materi pembelajaran pada siswa Pada tahap elaborasi yang dilakukan siswa adalah a. Siswa bermain index card match atau pencocokkan kartu b. Setiap siswa mencari pasangan tema yang sama dari tema yang sudahditetapkan guru c. Siswa yang sudah mendapatkan tema yang sama duduk berdampingansambil menunggu teman lain mendapatkan pasangan tema d. Siswa berpasangan untuk mengisi satu kartu soal dan satu kartu jawaban berdasarkan tema yang diperoleh e. Setiap siswa mengumpulkan kartu yang sudah dibuatnya f. Setelah semua kartu terkumpul guru mengacak semua kartu g. Siswa diminta mengambil satu kartu secara acak h. Siswa yang sudah mendapat kartu tidak boleh melihat isi kartu tersebutsebelum semua siswa sudah mendapatkan kartu i. Siswa mulai mencari pasangan dari kartu yang didapatkannya 19

14 j. Siswa yang sudah berpasangan duduk berdampingan sambilmenunggu teman lain mendapatkan pasangannya k. Setiap pasangan maju ke depan kelas untuk membacakan pertanyaanpada siswa lain dan meminta siswa lain keculi pasangannya untuk menjawabnya l. Siswa yang memegang kartu jawaban memberikan tanggapan dari jawaban yang diberikan oleh temannya m. Siswa membuat rangkuman dari pengetahuan yang didapatkannya dari permainan kartu Pada tahap kolaborasi a. Guru memberikan umpan balik berupa penjelasan dari pengetahuan pengetahuan yang telah diperoleh siswa selama bermain kartu secara lisan ataupun tertulis b. Guru bersama siswa merefleksi semua kegiatan belajar yang telah dilakukan 3) Kegiatan penutup a. Siswa bersama guru membuat kesimpulan menyangkut materiyang sudah dipelajari b. Guru memberikan soal evaluasi c. Guru memberikan penilaian d. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya Pengertian IPS enurut Widiarto dan Suwarso (2006) IPS merupakan telaah tentang manusia dan dunianya. Sedangkan menurut Daldjoeni (1981) IPS adalah hubungan antara manusia (human realtionships) dan ini mencakup hubungan individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, serta kelompok dengan alam. Kurikulum (2006) menyebutkan bahwa mata pelajaran IPS sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/I sampaisp/ts.ata pelajaran ini mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan geneeralisasi yang berkaitan dengan isu 20

15 sosial. Pada jenjang SD/I, mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, ekonomi dan antropologi. assofa (2011) mengemukakan bahawa IPS merupakan enelaahan atau kajian tentang masyarakat. Senada dengan hal tersebut oeljono Cokrodikardjo dalam assofa wordpress (2011) mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari. Dari pendapat beberapa ahli tersebut pengertian IPS terfokus pada suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hubungannya dengan lingkungannya baik masa kini ataupun masa lampau. IPS merupakan gabungan dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, ekonomi, antropologi, sejarah, dan psikologi sosial. IPS membahas tentang kehidupan masyarakat yang nyata dengan berbagai masalah sosialnya. Dalam penelitian ini peneliti menyimpulkan pengetian IPS yaitu ilmu yang mempelajari seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial yang berkembang dalam kehidupan manusia yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari. Tidaklah mudah untuk memisahkan tujuan-tujuan dari pembelajaran IPS dari masing-masing mata pelajaran yang menjadi bagian dari pembelajaran IPS karena pada umumnya tujuannya sama (Daldjoeni, 1981). enurut Edwin Fenton dalam Tri Widiarto (2006) menyebutkan tiga tujuan pembelajaran IPS yaitu untuk memperoleh pengetahuan, untuk mengembangkan ketrampilan diri dan untuk mengembangan sikap dan nilai. Sedangkan enurut standar isi (2006) pembelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, memiliki kemampuan berkomunikasi, 21

16 bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengetahui secara mendalam tentang manusiadan hubungan manusia dengan lingkungannya berdasakan fakta-fakat yang terjadi dalam kehidupan manusia. Selain itu IPS juga bertujuan untuk membantu kita dapat berinteraksi dengan oarng lain, dapat membeuat suatu keputusan dengan baik, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta dapat emnjadi masyarakat yang demokratis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS SD enurut unthe (2009) standar kompetensi adalah kebulatan pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan tercapai dalam mempelajari suatu pembelajaran sedangkan kompetensi dasasr adalah jabaran dari standar kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dikuasai siswa atau dengan kata lain kompetensi dasar adalah kometensi-kompetensi pendukung atau penentu keberhasilan tercapainya standar kompetensi.standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam mata pelajaran IPS kelas IV Semester II sebagai berikut Tabel 2.1 Standar kompetensi dan kompetensi dasar amat pelajaran IPS kelas IV semester II Standar Kompetensi 2. engenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi Kompetensi Dasar 2.1 engenal aktivitas ekonomi yang berkaitandengan sumber daya alam dan potensi lain didaerahnya 2.2 engenal pentingnya koperasi dalammeningkatkan kesejahteraan masyarakat 2.3 engenal perkembangan teknologi produksi,komunikasi, dan transportasi sertapengalaman menggunakannya 2.4 engenal permasalahan sosial di daerahnya 22

17 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang telah membuktikan bahwa metode pembelajaran index card match dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Ervan Yopi Putranto (2011) dengan judul Penerapan metode pembelajaran index card match untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar IPS pada siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 kota Batu. Hasil penelitiannya adalah melalui penerapan metode pembelajaran index crad match di SDN Pesanggrahan 02 kota Batu menunjukan bahwa dengan penerapan metode pembelajaran Index Card atch dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan Ahmini (2011) dengan judul Peningkatan Kualitas Pembelajaran Ipa elalui matodeindex Card acth Pada Siswa Kelas III SDN Kandri 01 Kota Semarang. Dari hasil dan analisis data dapat disimpulkan bahwa metode index card match dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa Kelas III SDN Kandri 01 Kota Semarang. Peningkatan keaktifan belajar siswa ditunjukkan dengan adanya peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa dari setiap siklusnya. Dari pra siklus Keaktifan dan presatasi belajar mengalami peningkatan di skiklus I dan pada siklus II mengalami peningkatan kembali. Sedangkan penelitian yang dilakukan Saputro (2011) dengan judul Penerapan etode Pembelajaran Index Card atchuntuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa penerapan model pembelajarn index card match dapat meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar siswa. Peningkatan aktivitas siswa ditunjukkan dengan hasil observasi selama pembelajaran. Sedangkan peningkatan prestasi belajar dapat ditunjukan melalui hasil tes evaluasi setiap akhir siklusnya Berdasarkan beberapa penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa metode pembelajaran index card match dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Keaktifan yang ditunjukkan oleh siswa dalam proses belajar seperti aktif bertanya, berpendapat dan menjawab pertanyaan walaupun kadar keaktifannya 23

18 berbeda-beda. elalui penerapan metode index card match peningkatan keaktifan belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa karena siswa akan mengolah sendiri pengetahuan yang didapatkannya sehingga pembelajaran akan lebih berkesan dan bermakna yang dapat menyebabkan tingkat penguasaan siswa terhadap metari yang dipelajari lebih tinggi. 2.3 Kerangka Berpikir Sebelum di laksanakan tindakan peneliti melakukan wawancara pada guru kelas IV SD Negeri Kopeng 01. Terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi guru terutama dalam pembelajaran IPS. Permasalahan tersebut diantaranya siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran IPS karena materi pelajarannya dirasa kurang menarik perhatian siswamenyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPS karena siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik. Hal tersebut dipengaruhi juga oleh pembelajaran IPS yang dirasa membosankan karena dalam pembelajaran IPS guru hanya menyampaikan pembelajarannya dengan berceramah serta guru tidak menggunakan model pembelajaran yang mengaktifkan siswa karena guru malas untuk melakukan perubahan atau monoton.hal ini dibuktikan dengan data yang menunjukan bahwa tingkat keaktifan siswa masih rendah. Selain tingkat keaktifan siswa yang rendah prestasi belajar siswa juga belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai ulangan harian siswa pada mata pelajaran IPS yang menunjukkan ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 53.85%.elihat kenyataan yang ada perlu adanya tindakan yang harus dilakukan agar dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Dalam penelitian ini tindakan akan dilakukan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Tindakan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatakan keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Kopeng 01 pada mata pelajaran IPS. Oleh karena itu diharapkan melalui metode index card match keaktifan dan preastasi belajar siswa dapat meningkat. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan digunakan pada setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus I terdiri dari tiga pertemuan, pertemuan pertama digunakan untuk penyampaian materi, pertemuan kedua digunakan untuk 24

19 melanjutkan sedikit materi kemudian menerapkan metode index card match dan pada pertemuan ketiga akan dilaksankan evaluasi akhir siklus. Apabila pembelajaran siklus I sudah menunjukan keberhasilan maka akan dilanjutkan pada siklsu II dengan materi yang berbeda dan apabila pada siklus I belum menunjukkan keberhasilan dari tindakan yang dilakukan maka pada siklus II akan mengulang pada materi yang sama. Sedangkan kegiatan pembelajaran pada siklus II juga meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi yang terdiri dari tiga pertemuan, pertemuan pertama digunakan untuk penyampaian materi pembelajaran, pertemuan kedua yaitu penerapan metode index cardmatch dan pada pertemuan ketiga akan dilaksankan evaluasi akhir siklus. Apabila pembelajaran siklus II sudah menunjukkan keberhasilan maka tidak dilakukan pengulangan tindakan. 2.4 Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas bahwa terdapat berbagai permasalahan diantaranya siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran IPS karena materi pelajarannya dirasa kurang menarik perhatian siswamenyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPS karena siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik. Hipotesis dalam penelitian ini adalah melalui metode index card match diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan melalui metode index card match diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SD Negeri Kopeng 01 Tahun Pelajaran 2011/

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Arti make a match adalah mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Arti make a match adalah mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Make a Match 2.1.1 Arti Make a Match Arti make a match adalah mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban soal sebelum habis waktu yang ditentukan. Menurut Lie (2002:30) bahwa,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1 Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar IPS merupakan program pendidikan yang mengintegrasikan secara interdisiplin konsep ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Disiplin Belajar 1. Pengertian Disiplin Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang keberhasilan siswa di kelas maupun di sekolah. Ini bertujuan agar siswa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. KAJIAN TEORI 1. Belajar Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang sehingga

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa: dengan menggunakan kartu yang dipasangkan.

BAB II KAJIAN TEORI. ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa: dengan menggunakan kartu yang dipasangkan. BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoretis 1. Teknik Index Card Match a. Pengertian Teknik Index Card Match Index Card Match merupakan salah satu teknik belajar aktif yang dapat membantu siswa mengingat apa

Lebih terperinci

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan kunci yang nantinya akan membuka pintu ke arah modernisasi dan kemajuan suatu bangsa. Tujuan pendidikan nasional Indonesia terdapat pada

Lebih terperinci

seperti adanya fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah seperti bangunan sekolah yang baik, juga tersedia alat atau media pendidikan.

seperti adanya fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah seperti bangunan sekolah yang baik, juga tersedia alat atau media pendidikan. 2 prasarana, mutu dan biaya juga sebagai kemudahan lain dari guru yang perlu disediakan agar tidak mengganggu jalannya proses belajar mengajar, misalnya seperti adanya fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

BAB II KAJIAN TEORI. mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. 11 BAB II KAJIAN TEORI A. Ilmu Pengetahuan Sosial Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yangdiberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Teori 2.1.1 Ilmu Pengetahuan Alam Dalam bahasa inggris Ilmu Pengetahuan Alam disebut natural science, natural yang artinya berhubungan dengan alam dan science artinya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di kelas IV semester II tahun pelajaran 2011/2012 pada SD Negeri Kopeng 01 Kecamatan Getasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), yang meliputi: guru,

BAB I PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), yang meliputi: guru, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan pendidikan pada umumnya dilaksanakan disetiap jenjang pendidikan melalui pembelajaran. Oleh karena itu, ada beberapa komponen yang menentukan keberhasilan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Hasil belajar 2.1.1.1. Pengertian Hasil Belajar Pengertian hasil belajar menurut penulis yakni hasil yang diperoleh pada siswa berupa perubahan kepandaian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Dalam melaksanakan suatu penelitian perlu mengkaji pendapat para ahli mengenai masalah yang diteliti. Berikut ini penulis akan mengkaji pendapat para ahli sebagai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan proses memperoleh ilmu pengetahuan, baik diperoleh sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Belajar dapat dilakukan berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar Menurut Hakim (2000: 14), belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

BA B II KAJIAN PUSTAKA

BA B II KAJIAN PUSTAKA BA B II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1. Hasil Belajar Menurut Nana Sudjana (2004: 14) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2008: 79).

I. PENDAHULUAN. berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2008: 79). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dengan demikian akan menimbulkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar Menurut Gagne dalam Agus Suprijono (2011: 5-6) bahwa hasil belajar itu berupa: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.1 Model Pembelajaran Role Playing (model bermain peran) a Pengertian Role playing atau bermain peran menurut Zaini, dkk (2008:98) adalah suatu aktivitas pembelajaran

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proaktif (urun rembuk) dalam memecahkan masalah-masalah yang diberikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proaktif (urun rembuk) dalam memecahkan masalah-masalah yang diberikan BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Aktivitas Belajar Aktivitas dalam hal ini berarti siswa aktif dalam mengerjakan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan dengan rasa senang dan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1991: 62) berpendapat. bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa.

BAB II KAJIAN TEORI. Sehubungan dengan keberhasilan belajar, Slameto (1991: 62) berpendapat. bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi belajar siswa. BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori 1. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Bahasa Indonesia Pembelajaran Bahasa Indonesia Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Bahasa Indonesia Pembelajaran Bahasa Indonesia Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD 4 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Bahasa Indonesia 2.1.1 Pembelajaran Bahasa Indonesia Yunanto (2004: 55) menyebutkan bahwa bahasa Indonesia merupakan materi belajar yang melibatkan anak dalam ketrampilan-ketrampilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan pendidikan. Hal ini sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2005 tentang

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan pendidikan. Hal ini sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2005 tentang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru sebagai tenaga profesional diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan. Karena guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Belajar Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan

Lebih terperinci

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI METODE DISCOVERY

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI METODE DISCOVERY 1 PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI METODE DISCOVERY PADA PEMBELAJARAN IPS DI SDN 28 PAINAN TIMUR KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN Mardalinda 1, Muhammad Sahnan 1, Khairul 2.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Bahri (2006: 5) secara

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Bahri (2006: 5) secara BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match 1. Pengertian Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru untuk mempermudah dalam penyampaian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut untuk mampu memilih dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut untuk mampu memilih dan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Belajar Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut untuk mampu memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi untuk mengaktifkan siswa. Belajar merupakan

Lebih terperinci

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DENGAN PERMAINAN TEMBAR PADA SISWA KELAS 4 A SDN SEMBORO 01 JEMBER

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DENGAN PERMAINAN TEMBAR PADA SISWA KELAS 4 A SDN SEMBORO 01 JEMBER MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DENGAN PERMAINAN TEMBAR PADA SISWA KELAS 4 A SDN SEMBORO 01 JEMBER Suparmini 31 Abstrak. Hasil belajar IPS siswa kelas 4 A SDN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. definisi ini adalah penguasaan pengetahuan sebanyak-banyaknya agar cerdas,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. definisi ini adalah penguasaan pengetahuan sebanyak-banyaknya agar cerdas, BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Anitah, W, dkk. (2.3-2.4) menyatakan bahwa menurut definisi lama belajar adalah menambah dan mengumpulkan pengetahuan. Hal utama dalam definisi ini adalah penguasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan atau mewujudkan pendidikan nasional yaitu menurut Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan atau mewujudkan pendidikan nasional yaitu menurut Undangundang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Kerja sama antara kedua pihak diharapkan dapat menciptakan atau mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6 sampai 12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun berada

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Pembelajara Tematik Terpadu dan Pendekatan Scientific. 1. Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Pembelajara Tematik Terpadu dan Pendekatan Scientific. 1. Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajara Tematik Terpadu dan Pendekatan Scientific 1. Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu Kurikulum 2013 yang sekarang ini mulai digunakan yaitu pembelajaran tematik terpadu.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1. Hasil Belajar IPA Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar IPA Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Konsep yang akan dijelaskan dalam kajian teori berikut meliputi karakteristik pembelajaran ilmu pengetahuan sosial, pengertian hasil belajar, strategi dalam mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1. belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1. belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakikatnya adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta didik yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sebagaimana

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Belajar dan Pembelajaran 2.1.1 Konsep Belajar 2.1.1.1 Pengertian Belajar Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungan. Hamalik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar Kegiatan pembelajaran meliputi belajar dan mengajar yang keduanya saling berhubungan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa untuk membangun makna atau pemahaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan. semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan. semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan mudah. Perkembangan teknologi dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dibahas beberapa hal yang lebih mengarah pada judul yaitu rumusan masalah,

I. PENDAHULUAN. dibahas beberapa hal yang lebih mengarah pada judul yaitu rumusan masalah, I. PENDAHULUAN Pembahasan dalam bab ini akan difokuskan pada beberapa hal pokok yang berupa latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah. Untuk memberikan arah pembahasan yang lebih

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Rasa Tanggung Jawab

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Rasa Tanggung Jawab BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Rasa Tanggung Jawab a. Pengertian Rasa Tanggung Jawab Rasa tanggung jawab merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maka dari itu perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan. Negara Kesatuan

BAB I PENDAHULUAN. maka dari itu perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan. Negara Kesatuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakekatnya merupakan syarat mutlak bagi pengembangan sumber daya manusia dalam menuju masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan dapat dibentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa maka, peningkatan mutu pendidikan menjadi prioritas utama pebangunan nasional.

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI KELOMPOK KECIL

PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI KELOMPOK KECIL PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI KELOMPOK KECIL Husnah Guru SDN 001 Pasar Inuman Kecamatan Inuman husnah683@gmail.com ABSTRAK Penelitian tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Sebagai suatu disiplin ilmu, matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memiliki kegunaan besar dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, konsepkonsep dalam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Di dalamnya dikembangkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Di dalamnya dikembangkan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Belajar dan Pembelajaran 2.1.1 Pengertian Belajar Belajar merupakan komponen dari ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Di dalamnya dikembangkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). PTK merupakan penelitian berupa tindakan yang dilakukan guru di dalam kelas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. KKG. Salah satu contoh yaitu rendahnya nilai belajar siswa kelas IV-A tahun

BAB I PENDAHULUAN. KKG. Salah satu contoh yaitu rendahnya nilai belajar siswa kelas IV-A tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran yang dikembang di SDN 02 Tiuh Toho Kecamatan Menggala belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Metode pembelajaran yang diterapkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Tindakan 4.1.1. Deskripsi Siklus 1 4.1.1.1. Perencanaan Tindakan 1 Pada tahapan ini, kegiatan penyusunan rencana pembelajaran dilakukan setelah diperoleh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Ilmu Pengetahuan Sosial 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial Pendidikan ilmu pengetahuan sosial merupakan proses mendidik dan memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pembelajaran Matematika 2.1.1.1 Pengertian Matematika Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui

BAB I PENDAHULUAN. dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia hidup pasti membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Karena pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 777 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Aktif Peran aktif merupakan partisipasi siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa dipandang sebagai obyek dan subyek, maksudnya yaitu selain siswa mendengarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. relevan, serta mampu membangkitkan motivasi kepada peserta didik.

BAB I PENDAHULUAN. relevan, serta mampu membangkitkan motivasi kepada peserta didik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu begitu pesat, sehingga berdampak kepada jalannya proses penerapan pendidikan. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,

BAB I PENDAHULUAN. dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan paparan mengenai pendidikan tersebut maka guru. mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya.

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan paparan mengenai pendidikan tersebut maka guru. mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa : Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji

BAB I PENDAHULUAN. diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. suatu wadah yang disebut sebagai lenbaga pendidikan. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP dan MTs

I. PENDAHULUAN. suatu wadah yang disebut sebagai lenbaga pendidikan. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP dan MTs I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Manusia memerlukan pendidikan untuk menjadi manusia seutuhnya. Di indonesia,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Ilmu Pengetahuan Sosial Bidang studi IPS yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari Amerika Serikat, yang di negara asalnya disebut Social Studies. Pertama

Lebih terperinci

T, 2015 PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN IPS

T, 2015 PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN IPS BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Berdasarkan hasil observasi pra- penelitian yang peneliti lakukan di SMP Negeri 19 Bandung khususnya di kelas VIII F, peneliti menemukan masalah ketika pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu-ilmu soasial terpadu yang disederhanakan untuk pembelajaran di sekolah dalam rangka menanamkan nilainilai sosial

Lebih terperinci

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA BIDANG STUDI IPS MATERI BENUA AFRIKA DENGAN PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA BIDANG STUDI IPS MATERI BENUA AFRIKA DENGAN PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION Indayani, Peningkatan Prestasi Belajar pada Bidang Studi IPS... 67 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA BIDANG STUDI IPS MATERI BENUA AFRIKA DENGAN PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS VI SDN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diberikan mulai dari tingkat sekolah dasar. Pendidikan Ilmu

BAB I PENDAHULUAN. yang diberikan mulai dari tingkat sekolah dasar. Pendidikan Ilmu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari tingkat sekolah dasar. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa ditentukan oleh kreativitas pendidikan bangsa itu sendiri.kompleksnya

BAB I PENDAHULUAN. bangsa ditentukan oleh kreativitas pendidikan bangsa itu sendiri.kompleksnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. standar kompetensi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata

BAB 1 PENDAHULUAN. standar kompetensi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah. Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang sifatnya terpadu dari sejumlah mata pelajaran. Menurut menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Belajar Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa Indonesia. Disana dipaparkan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif permanen

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIS. 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika. memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003:

BAB II KERANGKA TEORITIS. 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika. memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003: BAB II KERANGKA TEORITIS A. Kajian Teori 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS SUMINAH Dosen KSDP Universitas Negeri Malang E-mail: suminahpp3@yahoo.co.id Abstrak: Model pembelajaran interaktif adalah suatu pendekatan pembelajaran

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Prestasi Belajar a. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULAN. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 (2006, h. 1) tentang standar isi

BAB I PENDAHULAN. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 (2006, h. 1) tentang standar isi BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD / MI dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 (2006, h. 1) tentang standar isi untuk satuan pendidikan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Media Kartu Bergambar 2.1.1 Pengertian Media Kartu Bergambar Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti perantara. Dengan demikian media dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berbagai konsep

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berbagai konsep BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah salah satunya dengan cara melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dalam pencapaian tujuan dan hasil belajar. Belajar menurut Bell-Gredler

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dalam pencapaian tujuan dan hasil belajar. Belajar menurut Bell-Gredler BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Aktivitas Belajar Dalam proses pembelajaran, aktivitas belajar memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan dan hasil belajar. Belajar menurut Bell-Gredler (dalam Winataputra,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata

BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di Sekolah Dasar (SD). Tujuan mata pelajaran IPS mengajak siswa untuk

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Learning Cycle 5E (LC 5E) Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan dimulai dari sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP) yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN TEORI 1. Hakekat Belajar. a. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktivitas Belajar Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pemberian Metode Kuis 2.1.1 Pengertian Metode Pemberian Tugas Kuis Pemberian tugas kuis (Pretest) adalah sebagian bagian dari usaha untuk menambah wawasan dan meningkatkan kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sikap, dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. sikap, dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berdasarkan KTSP Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah ditegaskan bahwa Pengetahuan Sosial berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Derajat Sarjana S-1 Program Studi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Diajukan Oleh : YULITA PRALISTI A54B111011

NASKAH PUBLIKASI. Derajat Sarjana S-1 Program Studi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Diajukan Oleh : YULITA PRALISTI A54B111011 PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS KELAS IV SD KANISIUS NGLINGGI KECAMATAN KLATEN SELATAN KABUPATEN KLATEN TAHUN AJARAN 2013/2014 NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar UMI CHASANAH A 54A100106

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar UMI CHASANAH A 54A100106 PENINGKATAN MINAT BELAJAR PKn MELALUI PEMANFAATAN MEDIA KARTU KUIS WHO AM I BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI 01 BOLONG KARANGANYAR. TAHUN PELAJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang individu di muka bumi ini, tanpa pendidikan berarti seseorang tidak berilmu, padahal kita tidak

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran 1. Pengertian Model Pembelajaran Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik dan gaya mengajar guru. Kemudian dijelaskan lebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bertanya, mengajukan pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bertanya, mengajukan pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Aktivitas Belajar Slameto (2001 : 36) berpendapat bahwa penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa sendiri kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi difikirkan,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Belajar Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN BELAJAR IPA MATERI PROSES TERJADINYA TANAH DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY)

PENINGKATAN KETERAMPILAN BELAJAR IPA MATERI PROSES TERJADINYA TANAH DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY) Dinamika Vol. 3, No. 3, Januari 2013 ISSN 0854-2172 PENINGKATAN KETERAMPILAN BELAJAR IPA MATERI PROSES TERJADINYA TANAH DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY) Edi Suprapto SD Negeri Margamulya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di tingkat SD/MI/SDLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan senantiasa menjadi topik yang menarik pada saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan senantiasa menjadi topik yang menarik pada saat ini. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan senantiasa menjadi topik yang menarik pada saat ini. Merupakan hal yang wajar karena setiap orang berkepentingan dan terlibat dalam proes pendidikan.

Lebih terperinci

Oleh: Sulastri SD Negeri 02 Sembon Karangrejo Tulungagung

Oleh: Sulastri SD Negeri 02 Sembon Karangrejo Tulungagung 100 Sulastri, Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar IPS... PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI DISKUSI DAN EKSPOSITORI PADA SISWA KELAS V SDN 02 SEMBON KARANGREJO TULUNGAGUNG SEMESTER

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE INDEX CARD MATCH DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS TENTANG MASALAH SOSIAL DI KELAS IV SD

PENERAPAN METODE INDEX CARD MATCH DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS TENTANG MASALAH SOSIAL DI KELAS IV SD PENERAPAN METODE INDEX CARD MATCH DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS TENTANG MASALAH SOSIAL DI KELAS IV SD Oleh: Siti Mudrikah 1, Tri Saptuti Susiyani 2, Suhartono 3 FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Nasional bertujuan: Untuk mengembangkan potensi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Nasional bertujuan: Untuk mengembangkan potensi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional bertujuan: Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penelitian ini dari Amelliyani Salsabil, mahasiswa fakultas ilmu pendidikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penelitian ini dari Amelliyani Salsabil, mahasiswa fakultas ilmu pendidikan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitan Terdahulu Penelitian ini dari Amelliyani Salsabil, mahasiswa fakultas ilmu pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dicapai dengan

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dicapai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan di sekolah dasar merupakan langkah awal untuk mencapai keberhasilan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dicapai dengan mengembangkan kemampuan,

Lebih terperinci