Jurnal Kimia Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Jurnal Kimia Indonesia"

Transkripsi

1 Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5 (1), 2010, h Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa molekul Kitosan L..A.N. Ramadhan, 1,2 C. L. Radiman, 1 D.Wahyuningrum, 1 V. Suendo, 1 L.. Ahmad, 2 S. Valiyaveetiil 3 1 Kelompok Penelitian Kimia Fisik dan Anorganik, Institut Teknologi Bandung 2 Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Haluoleo 3 Material Research Laboratory, Department of Chemistry, National University of Singapore Abstrak. Polimer alam saat ini menjadi perhatian peneliti untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai keperluan industri. Kitosan merupakan suatu senyawa poli (N-amino-2 deoksi β-dglukopiranosa) yang banyak terdapat di alam. Preparasi kitosan secara bertahap telah dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh proses deasetilasi kitin secara bertahap terhadap derajat deasetilasi dan massa molekul kitosan. Kitosan dikarakterisasi untuk mengetahui gugus fungsi dan derajat deasetilasi secara spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR 1 H), massa molekul dengan kromatografi permeasi gel (GPC). Hasil analisis menunjukan bahwa kitin mengalami deasetilasi menjadi kitosan secara bertahap. Kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang berbeda dihasilkan dari proses deasetilasi kitin secara bertahap. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan aseton menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 99%) dan massa molekul 407,38 kda. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan natrium hipoklorit menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 100%), namun demikian menurunkan massa molekul sebesar 161,99 kda. Kitosan hasil deasetilasi kitin secara bertahap dari limbah kulit udang putih (Litopenaeus vannamei) berpotensi untuk berbagai aplikasi yang memerlukan bahan dasar kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang tinggi. Kata kunci: Kitosan, deasetilasi bertahap, derajat deasetilasi, massa molekul. Pendahuluan Polimer alam saat ini menjadi perhatian peneliti untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai keperluan industri. Kitosan adalah polisakarida yang banyak terdapat di alam setelah selulosa. Kitosan merupakan suatu senyawa poli (N-amino-2 deoksi β-d-glukopiranosa) atau glukosamin hasil deasetilasi kitin/poli (N-asetil-2 amino-2-deoksi β- D-glukopiranosa) yang diproduksi dalam jumlah besar di alam, yaitu terdapat pada limbah udang dan kepiting yang cukup banyak terdapat di Indonesia. Pemanfaatan limbah kulit udang sebagai kitosan selain dapat mengatasi masalah lingkungan juga dapat menaikan nilai tambah bagi petani udang. Hasil isolasi kulit udang akan menghasilkan senyawa kitin yang merupakan polimer dari glukosamin yaitu polisakarida yang mengandung gugus asetatamida, sedangkan kitosan merupakan hasil proses hidrolisa kitin dengan alkali sehingga terjadi proses deasetilasi dari gugus asetamida menjadi gugus amina. Pada prinsipnya, proses transformasi kitin menjadi kitosan dapat melalui hidrolisis dengan asam dan basa. 5 Hidrolisis dalam suasana basa terdiri atas dua metode, secara homogen dan heterogen. Perlakuan secara heterogen dalam suasana basa kuat merupakan metode yang umum dilakukan dalam proses deasetilasi kitin menjadi kitosan dan menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang bervariasi, namun sampai saat ini belum ada metode baku untuk proses deasetilasi kitin. Kitosan mempunyai sifat spesifik yaitu adanya sifat bioaktif, biokompatibel, pengkelat, anti bakteri dan dapat terbiodegrasi. 2,4 Kualitas kitosan dapat dilihat dari sifat intrinsiknya, yaitu kemurniannya, massa molekul, dan derajat deasetilasi. Umumnya kitosan mempunyai derajat deasetilasi %. 1 Massa molekul kitosan dan Dapat dibaca di journal.kimiawan.org/jki

2 L..A.N. Ramadhan, C. L. Radiman, D. Wahyuningrum, V. Suendo, L.. Ahmad, S. Valiyaveetiil distribusinya berpengaruh terhadap sifat-sifat fisiko-kimia polisakarida, seperti sifat reologi kitosan, fleksibilitas rantai. 1 Derajat deasetilasi dan massa molekul kitosan hasil deasetilasi kitin pada dasarnya dipengaruhi oleh konsentrasi alkali/basa, rasio larutan terhadap padatan, suhu dan waktu reaksi, lingkungan/kondisi reaksi selama deasetilasi. 7 Konsentrasi alkali, rasio padatan dan larutan yang tinggi dapat menfasilitasi proses deasetilasi menghasilkan kitosan yang memiliki sifat fisiko-kimia yang memenuhi syarat untuk berbagai aplikasi. leh karena itu, untuk memperoleh informasi tentang metode deasetilasi kitin menjadi kitosan, telah dilakukan studi tentang proses deasetilasi kitin menjadi kitosan secara bertahap dan pengaruhnya terhadap derajat deasetilasi dan massa molekul kitosan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi yang berguna tentang pengaruh proses deasetilasi kitin secara bertahap terhadap derajat deasetilasi dan massa molekul kitosan hasil deasetilasi. Metode Penelitian Bahan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : kulit udang putih (Litopenaeus vannamei), natrium hidroksida teknis, asam klorida, asam asetat, natrium asetat, kalium bromida, deuterium oksida, asam trifluoroasetat, dekstran standar. Metode. Preparasi kitosan dari kulit udang dilakukan melalui beberapa proses antara lain penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi merujuk pada metode No dkk dan Tolaimate dkk dengan sedikit modifikasi. 3,6 Kitin diisolasi dari kulit udang (Litopenaeus vannamei) dengan proses deproteinasi dalam NaH 3,5% (b/v) dengan rasio massa kulit uang terhadap larutan 1: 10 selama 2 jam pada suhu 65 0 C, kemudian dilanjutkan demineralisasi dengan HCl 1 N (rasio 1:15 b/v) selama 1 jam pada suhu kamar. Proses deasetilasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan pengerjaan secara bertahap dalam larutan NaH 50% tingkat spesifikasi teknik (technical grade) rasio massa kitin dan larutan 1:20 (b/v), pada suhu C, dengan variasi waktu deasetilasi 2 x 3 jam, 3 x 3 jam (penghilangan warna dengan natrium hipoklorit/nacl), dan 3 x 3 jam (penghilangan warna dengan aseton). Karakterisasi. Untuk memastikan hasil transformasi kitin menjadi kitosan, hasil deasetilasi dikarakterisasi melalui analisis gugus fungsi secara spektrometri infra merah (FTIR) dan resonansi magnetik inti (RMI) atau nuclear magnetic resonance ( 1 H-NMR), penentuan derajat deasetilasi (DD) dengan metode 1 H-NMR, serta penentuan massa molekul dengan Kromatografi Permeasi Gel (GPC). Analisis struktur dengan FTIR dan NMR- 1 H. Spektrofotometer FTIR Shimadzu 8400 digunakan untuk merekam spektra FTIR kitosan untuk menentukan struktur kimia. Cuplikan padat berbentuk butiran diukur spektranya dengan cara dibuat dalam bentuk pellet KBr. Pengukuran spektra 1 H-NMR dilakukan dengan spektrofotometer NMR Bruker 300 MHz untuk analisis struktur kimia dan penentuan derajat deasetilasi kitosan. Penentuan massa molekul polimer kitosan. Massa molekul dihitung berdasarkan data hasil analisis dengan kromatografi permeasi gel (GPC) dengan dekstran sebagai senyawa standar menggunakan alat instrumentasi kromatografi cair tekanan tinggi (HPLC) 515 Water, detektor indeks refraktif 2414 Water. Suhu detektor 33 0 C, sensitivitas 128, tekanan 1035 Psi, laju alir 1 ml/menit, running time 42 menit. Kolom yang digunakan adalah PL-Aquagel 30, PL-Aquagel 40, PL-Aquagel 50. Hasil dan Pembahasan Preparasi dan Identifikasi Kitosan dari Limbah Kulit Udang. Untuk ketersediaan kitosan, telah dilakukan isolasi kitin dan preparasi 3 (tiga) jenis kitosan dengan sifat fisiko-kimia yang berbeda. Rerata kulit udang sebanyak 600 g menghasilkan 95,32 g kitosan, rincian berat tiap proses dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Rincian Berat Tiap Proses Pembuatan Kitosan* Material Kulit udang Kitin Proses Penghilang an Protein Penghilang an Mineral Berat (gram) Rendemen 260,00 43,33% 110,40 18,40% Kitosan Deasetilasi 95,32 15,88% Hasil Pengamatan Visual Kuning Kecoklatan Putih Kecoklatan Putih kekuningan (off-white) *Berat limbah udang : 600 g Proses transformasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan proses penghilangan gugus asetil dari kitin menjadi amina pada kitosan yang dikenal dengan proses deasetilasi. Proses ini dilakukan dengan cara hidrolisis gugus asetoamida oleh basa kuat yaitu NaH 50% spesifikasi teknis. Kitosan yang dihasilkan mempunyai warna putih 18 Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5(1), 2010

3 Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa Molekul Kitosan kekuningan (off-white). Struktur kimia kitosan terlihat pada Gambar 1. H CH 2 H NHCCH 3 H (a) CH 2 H H (b) NH 2 HH 2 C H n NH 2 Gambar 1 Struktur molekul (a) kitosan terasetilasi parsial dan (b) kitosan unit pengulangan poli D- glukosamin Identifikasi struktur kimia kitosan dilakukan menggunakan FTIR dan 1 H-NMR. Hasil pembacaan dari kitosan tersebut ditunjukan dalam Gambar 2 Spektrum infra merah kitosan n menunjukkan adanya gugus H, NH 2, C= amida, dan CH 3. Pada spektrum FTIR dapat dilihat adanya puncak pada daerah cm -1 yang menunjukkan adanya gugus H dan NH 2. Puncak lainnya adalah C amida yang terdapat pada 1656 cm -1 (Amida I), vibrasi C-N-H (Amida II) pada 1566 cm -1, deformasi NH 2 pada 1195 cm -1, vibrasi C--C pada 1159 cm -1, deformasi CH 3 simetri pada 1379 cm -1, dan vibrasi regang C-H pada 2920 cm -1. Spektrum FTIR hasil deasetilasi kitin menunjukan perubahan selama proses deasetilasi yang ditunjukan oleh variasi serapan inframerah kitosan. Pada daerah bilangan gelombang 1566 cm - 1 yang merupakan daerah serapan amina yang meningkat ketika waktu proses deasetilasi ditingkatkan.selama 3 x 3 jam. Perubahan serapan pada bilangan gelombang 1665 cm -1 yang semakin lemah. Spektra FTIR menunjukan bahwa deasetilasi kitosan secara bertahap dengan waktu 2 x 3 jam dan 3 x 3 jam dapat menghasilkan kitosan dengan spektrum serapan infra merah yang berbeda. (a) (b) % Transmitans (c) (d) Bilangan gelombang (cm -1 ) Gambar 2 Spektrum Infra Merah (a) Kitin (b) Kitosan hasil deasetilasi 3 x 3 jam penghilangan warna dengan NaCl, (c) Kitosan hasil deasetilasi 2 x 3 jam (d) Kitosan hasil deasetilasi 3 x 3 jam penghilangan warna dengan aseton 19

4 L..A.N. Ramadhan, C. L. Radiman, D. Wahyuningrum, V. Suendo, L.. Ahmad, S. Valiyaveetiil 1H NMR CS Bruker *** Current Data Parameters *** NAME : ma27dp EXPN : 1 PRCN : 1 *** Acquisition Parameters *** DATE_t : 23:53:06 DATE_d : Mar NS : 8 SF1 : MHz SLVENT : D2 *** Processing Parameters *** SF : MHz XDIM : 8192 *** 1D NMR Plot Parameters *** Start : 7.50 ppm Stop : ppm YScale : % SR : Hz Hz_cm : I n t e g r a l (ppm) Gambar 3 Spektrum 1 H-NMR Kitosan (pelarut D 2 +trifluoroasetat) Karakterisasi Kitosan dengan NMR. Sebagai pendukung hasil yang sudah ditunjukan oleh data-data FTIR, juga dilakukan pengukuran spektra 1 H-NMR Hasil karakterisasi kitosan secara spektrometri resonansi magnetik inti proton ( 1 H-NMR) terlihat pada Gambar 2. Spektrum 1 H-NMR menunjukkan pergeseran kimia (δ) proton gugus fungsi yang terdapat pada kitosan hasil sintesis adalah sebagai berikut: δ = 1,9 ppm merupakan spektra asetil, δ = 3,0 ppm, spektra H-2 dari unit GlcN (glukosamin), δ = 3,5-4,0 ppm spektra H-3,H- 4,H-5,H-6 dari unit GlcN, δ = 4,8 ppm spektra H-1 dari unit GlcN. Spektrum 1 H-NMR juga digunakan untuk menentukan derajat deasetilasi kitosan. Derajat Deasetilasi dan Massa molekul Kitosan. Derajat deasetilasi (DD) kitosan hasil sintesa variasi waktu deasetilasi dihitung melalui perbandingan nilai integral/jumlah proton pada pergeseran kimia δ = 1,9 ppm (gugus asetil) dan δ = 3,5-4,0 ppm spektra H-3,H-4,H-5,H-6 dari unit glukosamin. Massa molekul kitosan dianalisis menggunakan kromatografi permeasi gel dengan larutan standar polimer dekstran. Hasil penentuan derajat deasetilasi dan massa molekul pada waktu deasetilasi yang berbeda terlihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa pada waktu deasetilasi kitin yang lebih lama dihasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang bervariasi. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan waktu deasetilasi secara bertahap berpengaruh terhadap sifat fisiko-kimia kitosan. Waktu deasetilasi kitin selama 2 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan natrium hipoklorit menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 88 %) dan massa molekul 501,19 kda. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan aseton menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 99%) dan massa molekul 407,38 kda. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan natrium hipoklorit menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 100%), namun demikian menurunkan massa molekul yang cukup berarti sebesar 161,99 kda. Penurunan massa molekul kitosan ini diduga disebabkan kitosan mengalami degradasi pada saat penghilangan warna dengan natrium hipoklorit. Dari proses deasetilasi kitin secara bertahap, faktor pendorong terjadinya peningkatan derajat deasetilasi kitosan adalah faktor morfologi rantai kitin yang gugus asetamidanya semakin berkurang pada saat waktu deasetilasi meningkat. Pada setiap tahap perlakuan deasetilasi, kitin dengan gugus asetamida yang berkurang mengalami perubahan morfologi, sehingga memungkinkan proses hidrolisis oleh basa kuat. 20 Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5(1), 2010

5 Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa Molekul Kitosan Selain itu, proses pencucian secara bertahap dapat mempengaruhi sifat penggembungan kitin dengan alkali, oleh karena itu efektivitas proses hidrolisis basa terhadap gusus asetamida pada rantai kitin semakin baik. 6 Tabel 2 Derajat deasetilasi dan Massa molekul Kitosan Derajat Massa Kode Waktu Deasetilasi molekul Kitosan Deasetilasi (%DD) (kda) CS-23 2x3 jam ,19 CS-33 3x3 jam ,99 CS-33A 3x3 jam ,38 Keterangan: CS-23 dan CS33 = kitosan hasil deasetilasi kitin dengan penghilangan warna menggunakan NaCl, CS-33a= kitosan hasil deasetilasi kitin dengan penghilangan warna menggunakan aseton Keunggulan dari penelitian ini adalah hanya dengan natrium hidroksida 50% spesifikasi teknis yang harganya relatif murah, dapat menghasilkan kitosan dengan DD yang cukup tinggi, tanpa mengalami penurunan massa molekul yang cukup berarti. Kitosan hasil deasetilasi kitin bertahap secara heterogen dalam suasana basah kuat dari limbah kulit udang putih (Litopenaeus vannamei) pada penelitian ini berpotensi untuk berbagai aplikasi yang memerlukan bahan dasar kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang tinggi. Kesimpulan Kitosan dengan derajat deasetilasi dan massa molekul yang berbeda telah dihasilkan dari proses deasetilasi kitin secara bertahap. Proses deasetilasi selama 2 x 3 jam menghasilkan derajat deasetilsasi sebesar 88% dan massa molekul sebesar 501,19 kda. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan aseton menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 99%) dan massa molekul 407,38 kda. Peningkatan waktu deasetilasi kitin selama 3 x 3 jam dengan penghilangan warna menggunakan natrium hipoklorit menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi (DD = 100%), namun demikian menurunkan massa molekul sebesar 161,99 kda. Penghargaan. Terima kasih kepada pihak Islamic Development Bank-Universitas Haluoleo (IDB-UNHALU) atas beasiswa S3 dan Dirjen DIKTI atas dana Hibah Bersaing. Pustaka 1. Kurita, K., Controlled Functionalization of Polysaccharides Chitin, Progress in Polymer Science, 2001, 26, Muzzarelli, R. A. A., Chitin and Its Derivatives: New Trends of Applied Research, Carbohydrate Polymers, 1983, 3, No, H. K., Meyers, S. P., Lee, K. S., Isolation and Characterization of Chitin from Crawfish Shell Waste, Journal of Agricultural and Food Chemistry, 1989, 37(3), Ravi Kumar, M. N. V., A Review of Chitin and Chitosan Application, Reactive and Functional Polymers, 2000, 46, Rinaudo, M., Chitin and Chitosan: Properties and Application, Progress in Polymer Science, 2006, 31, Tolaimate, A., Desbrieres, J., Rhazi, M., Alagui, A., Contribution to the Preparation of Chitins and Chitosans with Controlled Physico-chemical Properties, Polymer, 2003, 44, Tolamaite, A., Desbrieres, J., Rhazi, M., Alagui, A., Vincendon, M., Vottero, P., n Influence of Deacetilation Process on Physicochemical Characteristics of Chitosan from Squid Chitin, Polymer, 2000, 41, Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5(1),

EVALUASI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG UNTUK MENINGKATKAN MUTU KITOSAN YANG DIHASILKAN

EVALUASI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG UNTUK MENINGKATKAN MUTU KITOSAN YANG DIHASILKAN EVALUASI PROSES PEGOLAHA LIMBAH KULIT UDAG UTUK MEIGKATKA MUTU KITOSA YAG DIHASILKA Ani Purwanti Jurusan Teknik Kimia, Institut Sains & Teknologi AKPRID Yogyakarta e-mail : ani4wanti@gmail.com ABSTRACT

Lebih terperinci

PENGOLAHAN LIMBAH UDANG WINDU SECARA KIMIAWI DENGAN NaOH DAN H 2 SO 4 TERHADAP PROTEIN DAN MINERAL TERLARUT

PENGOLAHAN LIMBAH UDANG WINDU SECARA KIMIAWI DENGAN NaOH DAN H 2 SO 4 TERHADAP PROTEIN DAN MINERAL TERLARUT PENGOLAHAN LIMBAH UDANG WINDU SECARA KIMIAWI DENGAN NaOH DAN H 2 SO 4 TERHADAP PROTEIN DAN MINERAL TERLARUT MAKALAH ILMIAH Oleh: A b u n JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Karakterisasi dan Uji Aktivitas Katalitik Zeolit Alam Indonesia pada Hidrorengkah Ban Bekas dengan Preparasi Sederhana

Karakterisasi dan Uji Aktivitas Katalitik Zeolit Alam Indonesia pada Hidrorengkah Ban Bekas dengan Preparasi Sederhana Karakterisasi dan Uji Aktivitas Katalitik Zeolit Alam Indonesia pada Hidrorengkah Ban Bekas dengan Preparasi Sederhana Characterization of Indonesian Natural Zeolite and Their Activity on Hydrocracking

Lebih terperinci

STUDI SIFAT-SIFAT REOLOGI ASPAL YANG DIMODIFIKASI LIMBAH TAS PLASTIK

STUDI SIFAT-SIFAT REOLOGI ASPAL YANG DIMODIFIKASI LIMBAH TAS PLASTIK STUDI SIFAT-SIFAT REOLOGI ASPAL YANG DIMODIFIKASI LIMBAH TAS PLASTIK Rezza Permana, ST. Peneliti Institut Teknologi Nasional Jl. PHH Mustapa 23 Bandung Telp. 022 727 2215 ; Facs 022 7202892 E-mail : edelweiss_pirates@yahoo.co.id

Lebih terperinci

PENGHILANGAN WARNA LIMBAH TEKSTIL DENGAN Marasmius sp. DALAM BIOREAKTOR UNGGUN TETAP TERMODIFIKASI (MODIFIED PACKED BED)

PENGHILANGAN WARNA LIMBAH TEKSTIL DENGAN Marasmius sp. DALAM BIOREAKTOR UNGGUN TETAP TERMODIFIKASI (MODIFIED PACKED BED) PROSIDING SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2007 ISSN : 1411 4216 PENGHILANGAN WARNA LIMBAH TEKSTIL DENGAN Marasmius sp. DALAM BIOREAKTOR UNGGUN TETAP TERMODIFIKASI (MODIFIED PACKED BED) Guswandhi

Lebih terperinci

KARAKTERISASI SIFAT FISIKOKIMIATEPUNG UMBI DAN TEPUNG PATI DARI UMBI GANYONG, SUWEG, UBIKELAPA DAN GEMBILI

KARAKTERISASI SIFAT FISIKOKIMIATEPUNG UMBI DAN TEPUNG PATI DARI UMBI GANYONG, SUWEG, UBIKELAPA DAN GEMBILI Karakterisasi J.Pascapanen Sifat 1(1) Fisikokimia 24: 29-37 Tepung Umbi 2 9 KARAKTERISASI SIFAT FISIKOKIMIATEPUNG UMBI DAN TEPUNG PATI DARI UMBI GANYONG, SUWEG, UBIKELAPA DAN GEMBILI Nur Richana 1 dan

Lebih terperinci

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN

PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN PEWARNA ALAMI BATIK DARI TANAMAN NILA (Indigofera) DENGAN METODE PENGASAMAN TUGAS AKHIR disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Program Studi Teknik Kimia Oleh A. Amar Mualimin

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP PROSES FLOKULASI PADA PEMANENAN MIKROALGA

PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP PROSES FLOKULASI PADA PEMANENAN MIKROALGA PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP PROSES FLOKULASI PADA PEMANENAN MIKROALGA Rangga Warsita Aji, Wulan Sari Gusniawati, Nur Rokhati *) Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jln.

Lebih terperinci

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 Disusun oleh FERIA TIA AGUSTINA M0301024 SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.)

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) Biofarmasi (): 8, Pebruari 005, ISSN: 6 005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) Isolation and identification

Lebih terperinci

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PEMBUATAN ADSORBEN DARI ZEOLIT ALAM MALANG UNTUK PEMURNIAN BIOETANOL MENJADI FUEL GRADE ETHANOL (FGE) BIDANG KEGIATAN PKM AI Diusulkan oleh: Diesta Noer

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

PENURUNAN KONSENTRASI ORGANIK AIR GAMBUT ECARA AOP (Advanced Oxidation Processes) DENGAN FOTOKIMIA SINAR UV DAN UV-PEROKSIDASI

PENURUNAN KONSENTRASI ORGANIK AIR GAMBUT ECARA AOP (Advanced Oxidation Processes) DENGAN FOTOKIMIA SINAR UV DAN UV-PEROKSIDASI PENURUNAN KONSENTRASI ORGANIK AIR GAMBUT ECARA AOP (Advanced Oxidation Processes) DENGAN FOTOKIMIA SINAR UV DAN UV-PEROKSIDASI Elfiana 1* dan Zulfikar 1 1,2 Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumase

Lebih terperinci

KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus)

KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) Research Note KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) S. N. Permadi, S. Mulyani, A. Hintono ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA

PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI CANGKANG KELAPA SAWIT DENGAN AKTIVASI SECARA FISIKA, KIMIA DAN FISIKA-KIMIA Yessy Meisrilestari* ), Rahmat Khomaini, Hesti Wijayanti Progam Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber

Lebih terperinci

Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb)

Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb) Isolasi dan Identifikasi 5-hidroksi-7-metoksi flavanon (Pinostrobin) pada Ekstrak n- Heksana Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb) ka Adi Parwata Kelompok Studi Bahan Alam Laboratorium Kimia rganik,

Lebih terperinci

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Gede Suantika 1), Pingkan Adityawati 2), Dea Indriani Astuti 2), dan Yusup Sofyan 1) 1) Kelompok

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder Maulana Malik 1, Wignyanto 2, dan Sakunda Anggarini 2 1 Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Disusun Oleh : YOGIK DWI MUSTOPO NIM. I 1404033

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Disusun Oleh : YOGIK DWI MUSTOPO NIM. I 1404033 digilib.uns.ac.id PENGARUH WAKTU TERHADAP KETEBALAN DAN ADHESIVITAS LAPISAN PADA PROSES ELEKTROPLATING KHROM DEKORATIF TANPA LAPISAN DASAR, DENGAN LAPISAN DASAR TEMBAGA DAN TEMBAGA-NIKEL SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL

PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL Presiding Pesentasi llmiah Daur Bahan BakarNukiir II ID0100132 PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL Deni Juanda A.S.,Guntur Dam Sambodo Pusat Penelitian Teknik Nuklir ABSTRAK PENINGKATAN

Lebih terperinci

Naahidi,et.al., 2013)

Naahidi,et.al., 2013) A.TIPE-TIPE NANOPARTIKEL PADA KOSMETIK Nanopartikel dapat dibedakan menjadi tipe-tipe berbeda berdasarkan perbedaan pada ukuran, bentuk, material, sifat kimia dan permukaan yang beragam. Nanopartikel bersifat

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA

PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2011 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGOLAHAN KEMBANG GULA JELLY CAMPURAN KULIT DAN DAGING BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) DAN PRAKIRAAN BIAYA PRODUKSI

OPTIMASI PENGOLAHAN KEMBANG GULA JELLY CAMPURAN KULIT DAN DAGING BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) DAN PRAKIRAAN BIAYA PRODUKSI OPTIMASI PENGOLAHAN KEMBANG GULA JELLY CAMPURAN KULIT DAN DAGING BUAH NAGA SUPER MERAH (Hylocereus costaricensis) DAN PRAKIRAAN BIAYA PRODUKSI Rekna Wahyuni Abstrak: Tujuan penelitian adalah menentukan

Lebih terperinci

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL JUDUL PENELITIAN UJI LABORATORIUM SIFAT-SIFAT LIMBAH ORGANIK DAN MEKANISME REMEDIASI AIR ASAM TAMBANG OLEH DR. IR. RIWANDI, MS. IR. ALI MUNAWAR,

Lebih terperinci

STUDI KINETIKA PROSES KIMIA DAN FISIKA PENGHILANGAN GETAH CRUDE PLAM OIL (CPO) DENGAN ASAM FOSFAT

STUDI KINETIKA PROSES KIMIA DAN FISIKA PENGHILANGAN GETAH CRUDE PLAM OIL (CPO) DENGAN ASAM FOSFAT Reaktor, Vol. 13 No., Desember 2011, Hal. 22-27 STUDI KINETIKA PROSES KIMIA DAN FISIKA PENGHILANGAN GETAH CRUDE PLAM OIL (CPO) DENGAN ASAM FOSFAT Yuli Ristianingsih, Sutijan, dan Arief udiman *) Process

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON Jhonson A. Harianja 1), Efraim Barus 2) 1) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta 2) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta

Lebih terperinci

Oleh : DR.HM.HATTA DAHLAN, M.Eng

Oleh : DR.HM.HATTA DAHLAN, M.Eng PROTOTIPE ALAT PENYARING AIR PAYAU (SUNGAI SUGIHAN) MENJADI SUMBER AIR BERSIH MENGGUNAKAN TABUNG FILTER BAGI MASYARAKAT PANGKALAN SAKTI KECAMATAN AIR SUGIHAN KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SUMSEL Oleh :

Lebih terperinci

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MATA PELAJARAN : PEDOMAN CARA BERLABORATORIUM YANG BAIK BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci