PERKAWINAN BEDA AGAMA BIMBINGAN BAGI ORANGTUA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERKAWINAN BEDA AGAMA BIMBINGAN BAGI ORANGTUA"

Transkripsi

1 PERKAWINAN BEDA AGAMA BIMBINGAN BAGI ORANGTUA Oleh Erna Sandy Komisi Keluarga, Keuskupan Denpasar PENGANTAR Orangtua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak. Sebagai pelengkap, Sekolah mendidik dengan ilmu pengetahuan, Gereja mendidik ajaran iman dan moral, serta masyarakat mendidik dengan pengalaman hidup sosial. Tanggung-jawab orangtua baru dapat dikatakan selesai, atau setidaknya akan berkurang, ketika anak-anak sudah tumbuh menjadi dewasa dan sudah membentuk keluarga sendiri. Peran pendampingan orangtua dalam mengantar anak menuju perkawinannya merupakan hal penting dan bukan merupakan hal yang mudah. Kesalahan pendampingan bisa menyebabkan perkawinan menjadi neraka bagi anak, terutama jika terlalu banyak campurtangan orangtua dalam menentukan perkawinan itu sendiri. Salah satu faktor penting dalam pendampingan adalah pencegahan anak terjebak dalam perkawinan beda agama. Bagi orangtua yang memiliki toleransi tinggi, didasari oleh iman Katolik yang memberikan penghargaan terhadap iman orang lain, bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mengatakan bahwa semua agama pada hakekatnya sama karena memang fakta mengatakan Bhineka Tunggal Ika adalah falsafah bangsa dan populasi Katolik memang rendah. Tetapi apakah itu berarti perkawinan beda agama bukan merupakan masalah yang krusial, yang tidak perlu dihindari? Marilah kita luangkan waktu untuk mengkaji lebih dalam mengenai perkawinan beda agama ini, dengan tujuan agar diperoleh pemahaman tentang berbagai konsekuensi sebagai dampak dari perkawinan beda agama itu sendiri, pemahaman tentang bagaimana pendampingan itu sebaiknya dilakukan, serta pemahaman tentang bagaimana menangani permasalahan jika perkawinan beda agama itu sudah tidak bisa lagi dihindari. Semoga pembahasan kita ini dapat menghasilkan banyak manfaat bagi kita selaku orangtua, sehingga kita dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Amin.

2 Pasangan itu memang berbeda Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran dan kehendak-nya, yaitu manusia yang diselimuti dengan pelbagai perbedaan satu sama lainnya, untuk kemudian saling berpasangan agar yang satu dengan lainnya bisa saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan akibat dari perbedaan-perbedaan tersebut. Tidak ada satupun perkawinan yang tidak disertai perbedaan, karena dengan perkawinan itulah dua insan yang berbeda dipertemukan sebagai pasangan suami istri (pasutri). Dipersatukan oleh Allah tidak serta-merta berarti disamakan atau dijadikan sama/serupa, melainkan dipasangkan menjadi satu pasang. Untuk bisa menjadi sepasang, keduanya mesti berbeda, se umpama se pasang sepatu, ada yang kiri dan ada yang kanan, tidaklah bisa kedua-duanya kiri atau kedua-duanya kanan. Untuk bisa dikatakan sepatu, keduanya mesti ada secara berpasangan. Mari kita lihat perbedaan-perbedaan yang seringkali kita jumpai hampir di setiap pasutri: 1. Perbedaan Pribadi a. Sifat Perkawinan adalah heteroseksual, yakni antara laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. b. Perbedaan karakter, watak, dan sifat-sifat seringkali menjadi pemicu perselisihan di dalam keluarga. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa perbedaan tersebut justru memperkaya relasi dengan pasangan. Coba kita bayangkan apa yang terjadi jika keduanya sama-sama berwatak keras/ngotot atau keduanya sama-sama suka mengalah/lembek? c. Perbedaan Hobby dan selera seringkali juga tidak dilandasi pemahaman yang baik. Pertengkaran terjadi karena yang satu suka menonton film action sementara yang lainnya suka drama percintaan. Yang satu suka makanan pedas sementara pasangannya tidak berani pedas, dan seterusnya. 2. Perbedaan Latar Belakang a. Pendidikan Banyak orangtua menginginkan anaknya menikah dengan pasangan yang setara dalam pendidikannya, misalnya sama-sama sarjana tanpa disadari bahwa sarjana teknik tentu berbeda dengan sarjana sastra misalnya. Apa yang terjadi jika suami-istri memiliki profesi yang sama, misalnya samasama menjadi dokter? Apakah mereka akan lebih harmonis dibandingkan pasangan yang tidak se-profesi? b. Keluarga Lain lubuk lain ikannya. Adanya perbedaan latar belakang keluarga, jika memperoleh pemahaman yang memadai, justru bisa menjadi pemicu terwujudnya toleransi di antara relasi-relasi yang ada. Apakah yang terjadi jika orangtua dan mertua kita memiliki profesi yang sama, katakanlah sama-sama penjual bakso? c. Lingkungan Perbedaan juga terjadi akibat pengaruh lingkungan dimana ia dibesarkan. Apa yang terjadi jika ia dibesarkan di pedesaan sementara pasangannya dibesarkan di kota besar? Hal. 2/9

3 3. Perbedaan Suku, Bangsa, dan Budaya Ini merupakan perbedaan yang melibatkan orang lain dalam lingkup yang lebih luas lagi. Sebagai anggota dari suatu suku atau bangsa, banyak tradisi dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun 4. Perbedaan Agama Berbeda agama dengan pasangan hidup menimbulkan pel-bagai konsekuensi yang harus dipikul oleh kedua pasangan suami istri. Pada makalah ini, kita hanya akan membahas perbedaan agama ini saja, dengan asumsi bahwa perbedaan pribadi, latar belakang, dan suku/bangsa/budaya dapat ditelaah sendiri atau dibahas pada kesempatan lain. Konsekuensi Perkawinan Beda Agama Marilah kita lihat kembali konsekuensi-konsekuensi apa saja yang merupakan resiko bagi anak-anak kita jika mereka memutuskan untuk melangsungkan perkawinan beda agama, yaitu anak kita yang Katolik memilih pasangan hidupnya yang beragama non-katolik. Kawin Campur dibedakan atas dua pengertian, yaitu: Perkawinan Beda Agama dan Perkawinan Beda Gereja. Perkawinan Beda Agama (Disparitas Cultus) adalah perkawinan pasangan Katolik dengan pasangan yang beragama Non-Baptis (Islam, Hindu, Budha), sedangkan yang dimaksud dengan Perkawinan Beda Gereja (Mixta Religiosa) adalah perkawinan pasangan Katolik dengan Kristen yang Baptisnya diakui oleh Gereja. Dalam konteks bahasan pada makalah ini, keduanya tidak dibedakan dan disebut sebagai Perkawinan Beda Agama saja. Jika keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi untuk dicegah, dimana kedua calon mempelai (dan pihak keluarga) bersikukuh mempertahankan agamanya masing-masing, maka perkawinan tetap dapat dilangsungkan dengan berbagai macam konsekuensi yang mesti dipikul oleh kedua mempelai dan pihak keluarganya masing-masing, yaitu konsekuensi yang berpeluang besar terjadinya kegagalan pencapaian keluarga yang bahagia. Apa saja resiko-resiko yang mesti dihadapi oleh pasangan perkawinan Beda Agama? 1. Perkawinan Sebagai Sakramen Melalui Sakramen Perkawinan, Allah mempersatukan dua manusia menjadi pasangan suami-istri, yaitu dengan menghadirkan Rahmat Allah bagi suami-istri dan anak-anaknya, sebagai wujud Kasih Allah kepada manusia, agar mereka saling menguduskan satu sama lain, saling membimbing, dan saling mewartakan keselamatan dengan kesaksian hidup yang penuh kasih 1. Meskipun dapat dilangsungkan dengan dispensasi dan dilaksanakan dengan tata cara pernikahan secara Katolik, perkawinan Beda Agama bukan sakramen, karena mempelai yang non-baptis belum menerima Sakramen Baptis sehingga ia belum bisa menerima sakramen manapun termasuk Sakramen Perkawinan 2. Perkawinan Beda Agama telah menghilangkan kesempatan kita untuk menerima Sakramen Perkawinan. 1 Religiositas Agama & Gereja Katolik, Jacobus Tarigan, Pr. Penerbit PT Grasindo, Tahun Surat untuk Suami Istri Katolik, AL. Purwa Hadiwardoyo, MSF. Penerbit Kanisius, Tahun Hal. 3/9

4 2. Perkawinan Monogamy yang Tak Terceraikan Perkawinan secara Katolik adalah perkawinan yang monogamy, artinya satu suami satu istri. Tak terceraikan karena suami-istri dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia 3. Betapa indahnya perkawinan secara Katolik ini: Tidak boleh punya istri lebih dari satu dan tidak boleh cerai. Perkawinan Beda Agama belum tentu menjamin kedua hal dasar ini. Wanita Katolik berpeluang untuk berbagi suami dengan wanita lain alias dimadu oleh suaminya yang non-katolik. Wanita Katolik juga berpeluang menjadi janda karena diceraikan oleh suaminya dan tidak punya kesempatan untuk kawin lagi sampai suaminya itu meninggal, sementara sang suami (bisa jadi) menikah lagi dengan wanita lain. Begitu pula Suami Katolik (bisa saja) mesti menghadapi gugatan cerai dari istrinya yang bukan Katolik. Jadi, perkawinan secara Katolik (dengan sakramen) adalah perkawinan yang ideal karena dapat menangkal monogamy dan perceraian. 3. Resiko dikucilkan dari Keluarga dan sangsi Adat Sebagian besar orangtua tidak menghendaki memiliki menantu yang berbeda agama. Reaksi yang berlebihan bisa terjadi, seperti: tidak lagi mau mengakui anaknya. Resiko minimal yang terjadi adalah anak menjadi orang asing di lingkungan mertuanya maupun di lingkungan keluarganya sendiri. Di beberapa kasus adat, Perkawinan Beda Agama berpengaruh terhadap hak dan sangsi adat, seperti hak waris, penghapusan garis keturunan, dsb. 4. Tak pernah bersatu dalam Iman Karena berbeda agama, suami dan istri menjalankan sendiri-sendiri kegiatan keagamaannya. Sebagai bentuk toleransi, ia bisa saja mendampingi pasangannya ketika melaksanakan kegiatan keagamaannya, dan itu artinya masing-masing mesti menyediakan waktu lebih untuk mengikuti kegiatan di 2 agama yang berbeda. Bagaimana jika kegiatan keagamaan keduanya berlangsung pada waktu yang bersamaan, siapa yang mengalah, ataukah jalan sendiri-sendiri? Perbedaan ajaran kedua agama tersebut juga akan menjadi perbedaan kedua pasangan suami-istri itu sendiri. Apakah keadaan seperti ini masih memungkinkan terwujudnya keluarga bahagia dalam pengertian yang sesungguhnya? 5. Masalah Pendidikan Iman bagi anak-anak Umumnya Si Ayah ingin agar anak-anaknya dididik berdasarkan agama yang dianutnya, tetapi Ibu yang memiliki relasi paling dekat dengan anak-anak akan menularkan sifat-sifat spiritualnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai akibatnya, Si Ibu akan dituduh telah mengajarkan agamanya secara diam-diam, tidak sesuai kesepakatan. Lebih celaka lagi kalau kedua orangtuanya sepakat untuk tidak mengajarkan agamanya masing-masing dan membiarkan anak-anak tumbuh sampai pada saatnya nanti keputusan diserahkan kepada anaknya masing-masing. Ini berarti anak-anak tidak mendapatkan pendidikan iman sama sekali 4. 3 Lihat lebih jauh Injil Markus 10: Disarikan dari kata pengantar Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Kawin Campur Beda Agama, BR. Agung Prihartana, MSF, Penerbit Kanisius, Hal. 4/9

5 Begitu juga halnya jika terjadi kedua orangtuanya saling berlomba-lomba mengajarkan agamanya masing-masing kepada anak-anak mereka, yang pada akhirnya membuat anak menjadi kebingungan, mana yang mesti ia dengarkan: Ayah atau Ibunya? Di beberapa kasus, anak juga bisa memanfaatkan situasi ini, dengan bermain condong kiri condong kanan. Selagi ingin ngerjain Ayahnya, ia berpura-pura lebih sreg kalau mengikuti agama Ibunya, dan tentunya ini akan membuat Ayahnya menjadi uring-uringan. Setidaknya, anak-anak akan dihadapkan pada pertanyaan: mengapa mesti mereka yang menanggung akibatnya padahal yang berbeda agama itu orangtuanya? 6. Ketika kematian memisahkan Pada saatnya nanti kedua pasangan meninggal dunia, bisa jadi mereka akan dikuburkan di tempat yang terpisah dan dengan tata cara pemakaman yang berbeda pula. Seringkali terjadi ketika salah satu pasangan suami-istri meninggal dunia, keluarga orangtua dan keluarga mertua saling ngotot dalam menentukan tata cara pemakaman yang digunakan, atau bahkan hal yang sebaliknya bisa terjadi, kedua keluarga sama-sama menolak untuk mengurusi pemakaman anaknya itu. 7. Dispensasi Perkawinan Beda Agama Menurut Kitab Hukum Kanonik (1983) Kan. 1086, Perkawinan Beda Agama adalah tidak sah, dan perlu mendapatkan dispensasi sebagaimana diatur pada Kan , dengan alasan yang wajar dan masuk akal. Pihak Katolik mesti menyatakan janjinya (Kan No. 1): Pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik. Janji tersebut harus diberitahukan pada waktunya kepada pihak non-katolik mengenai janji-janji yang dilakukan pihak Katolik, sedemikian rupa sehingga pihak non-katolik menyadari benar-benar janji serta kewajiban pihak Katolik 6. Meskipun dispensasi perkawinan beda agama bisa diperoleh, namun untuk mendapatkannya tidaklah mudah terutama dikarenakan syarat pemberitahuan kepada pihak non-katolik yang seringkali sulit diterima oleh pihak non-katolik tersebut. 8. Pernikahan Ganda Sebagian pernikahan beda agama dilangsungkan dengan pernikahan ganda atau menikah dua kali, yang satu mengikuti tata cara Katolik, lalu dilangsungkan juga menggunakan tata cara sesuai agama dari pasangannya. Tujuannya agar mendapatkan pengesahan dari kedua agama. Sebagai konsekuensinya, timbul kerepotan dan biaya tambahan. Tetapi yang terpenting untuk diketahui bahwa cara seperti ini dilarang Berbenturan sebagai keseharian Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai perbedaan dilematis muncul ke permukaan, misalkan soal penempatan simbul-simbul keagamaan, bisa jadi pemasangan Salib Yesus akan dipandang sebagai penyembah berhala oleh pasangannya. Contoh lain misalnya, Suami terpaksa berpisah dengan anjing peliharaannya karena istri dan keluarganya menganggap dijilat anjing sebagai hal yang najis. Belum lagi kita berbicara soal pantangan dan berpuasa. 5 Silahkan lihat lebih lanjut pada Kitab Hukum Kanonik (1983), Konferensi Waligereja Indonesia, Juni Kawin Campur, Beda Agama dan Beda Gereja, Dr. Piet Go, O.Carm & Suharto SH, Penerbit Dioma, Lihat Kitab Hukum Kanonik Kan No. 3 tentang larangan perayaan keagamaan lain. Hal. 5/9

6 Mengingat begitu banyaknya konsekuensi yang ditimbulkan dari perkawinan beda agama ini, maka perkawinan seperti ini sebisanya dihindari. Salah satu jalan keluar yang favorit adalah dengan Pindah Agama, salah satu pasangan mengalah dan mengikuti agama yang dianut oleh pasangannya. Tidak jarang juga terjadi, pindah agama ini hanyalah formalitas saja karena yang bersangkutan tidak benar-benar mengganti imannya dengan iman yang baru, seperti yang dialami oleh Shelly, sejak menikah belasan tahun yang lalu ia meninggalkan Katolik untuk mengikuti agama yang dianut suaminya. Selama belasan tahun, dan masih harus mengalami puluhan tahun lagi, Shelly terus menerus dibayang-bayangi panggilan iman Katolik-nya. Bisa dibayangkan betapa rindunya ia mendambakan menyambut Komuni saat Misa. Ini terjadi karena Iman Katolik yang begitu melekat dihatinya, yang telah dibangun sejak kecil dan tidak begitu saja bisa hilang ketika pindah agama ia putuskan. Pendampingan Preventif sebagai upaya untuk mencegah Perkawinan Beda Agama Sebagai orangtua, marilah kita awali pemahaman pendampingan ini dengan menela ah lebih jauh tentang karakteristik orangtua pada umumnya, yang bisa kita pisahkan atas 2 karakter utama, yaitu: 1. Orangtua Otoriter Orangtua tipe ini tidak mampu melihat anak-anaknya tumbuh menjadi dewasa. Mereka selalu menganggap bahwa anaknya masih kecil, belum mengerti apa-apa, dan belum berpengalaman. Mereka khawatir, atau bahkan secara berlebihan, anak-anaknya tidak akan bisa mencapai kebahagiaan tanpa campur tangan dari orangtuanya sehingga seringkali mereka lupa bahwa orangtua hanya pendamping, bukan pelaku. Mereka meminta anaknya untuk duduk manis di bangku penumpang, Ayahnya berperan sebagai supir dan Ibunya sebagai kondektur, lalu Sang Ayah berkata: Mana ada sih orangtua yang membawa anaknya nyemplung ke dalam jurang? Percaya sajalah kepada Ayah. Umumnya orangtua akan menetapkan berbagai disiplin yang mesti dipatuhi oleh anakanaknya, dibarengi dengan berbagai sangsi jika anaknya melanggar atau menentang. Namun seringkali terjadi, orangtua sendiri tidak konsisten atau bahkan tidak bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Dampak negatif yang terjadi pada anak terhadap perlakuan seperti ini, antara lain: a. Terganggunya, atau bahkan terputusnya, komunikasi di antara anak dan orangtuanya. Anak cenderung akan mencari second-parent di luar rumah. b. Anak mengalami luka batin yang mendalam, merasa tidak berguna, menjadi pasif, hopeless, terserah apa maunya orangtua-lah. Tidak sedikit di antaranya menyimpan dendam yang mendalam kepada orangtuanya. c. Anak memiliki kepribadian ganda. Di rumah ia nampak sebagai anak yang taat dan penurut (biasanya orangtua senang dengan sikap anak seperti ini), tetapi di luar rumah, anak bagaikan srigala yang lepas dari kandangnya. 2. Orangtua acuh-tak-acuh Ini bisa terjadi karena kesibukan orangtua, kurangnya tanggung-jawab moral dan iman sebagai orangtua, atau karena ketidak-tahuan tentang pendampingan anak. Hal. 6/9

7 Perhatian orangtua biasanya terbatas terhadap hal-hal sepele, seperti: apakah anakku sudah makan, sudah mandi, atau apakah anakku sehat, dan sebagainya. Terhadap pendidikan dan pengetahuan anak, orangtua tipe ini akan mengatakan: Lho, itu kan tanggung-jawab sekolah! Saya sudah bayar mahal kepada sekolah lho. Terhadap pergaulan anak, mereka bahkan tidak tahu banyak siapa-siapa saja teman bergaul anak-anaknya. Urusan pasangan hidup untuk Anak? Wah, Tuhan telah menyiapkan jodoh bagi anakku yang pada saatnya nanti akan dibawa kepadaku., katanya enteng-enteng saja. Umumnya anak yang dididik dengan cara seperti ini cukup memiliki kemandirian, namun dari sisi negatifnya, ia akan mewarisi karakter orangtuanya, yaitu cuek-bebek atau acuhtak-acuh, cenderung apatis, atau bisa jadi ia tidak mampu menjadi suami atau istri yang ideal bagi pasangan hidupnya. Dalam kaitannya dengan pendampingan anak guna menghindari perkawinan beda agama, kedua karakter orangtua di atas jangan sekali-sekali kita terapkan. Berikut ini akan dibahas kiat-kiat untuk memperlebar peluang mendapatkan pasangan hidup yang se-iman bagi anak-anak kita: 1. Pendidikan Iman Katolik Ini adalah kewajiban yang mutlak dilaksanakan se dini mungkin. Iman yang kuat adalah benteng yang kokoh dalam menghadapi dilema perkawinan beda agama. Sebagai orangtua tentunya kita telah memahami bagaimana mengajarkan iman Katolik kepada anak-anak kita. Daftar berikut ini bisa digunakan untuk memberi penyegaran tentang hal ini: Pembaptisan Katolik adalah mutlak bagi anak-anak kita, tetapi prosesi pembaptisan saja tidaklah cukup. Pembantisan bukan sekedar untuk mendapatkan surat baptis semata. Makna baptis seyogyanya senantiasa dijadikan bahan diskusi dan pembicaraan dari waktu ke waktu. Komuni Pertama adalah peristiwa besar bagi anak, karena pada waktu itu, untuk pertama kalinya anak menerima Kristus sebagai sahabatnya dan untuk seterusnya akan bersahabat dengan-nya. Pernahkah Anda memaksa anak Anda ke Gereja untuk Misa hari Minggu, atau memaksa anak Anda untuk pengakuan dosa menjelang Paskah dan Natal, atau memaksanya untuk menjadi mesdinar, paduan suara, atau aktif di kegiatan mudika? Jika anak-anak kita melakukan hal-hal di atas semata-mata untuk menyenangkan orangtua atau karena takut kepada orangtuanya, maka hampir dipastikan anak itu akan mengalami masalah dengan iman Katoliknya. Apakah Anda menanamkan fanatisme kepada anak-anak Anda, bahwa seolah-olah Katolik adalah yang paling benar, dan adalah hal yang tabu untuk mempelajari atau mengetahui agama atau kepercayaan lain? Pernahkah Anda sadari bahwa ada kalanya, di saat-saat tertentu, anak kita sedang menolak Yesus atau bahkan tidak mempercayai-nya, seperti yang dilakukan Petrus kepada Yesus? Bagaimana menyikapi hal ini? Pernahkah Anda sadari ketika anak kita merasa sebagai mahluk asing di antara teman-teman pergaulannya karena ia berbeda agama dengan mereka? 2. Komunikasi Orangtua-Anak Hal ini juga mutlak dibangun oleh para orangtua. Ada saatnya orangtua memang berperan sebagai orangtua, tetapi seringkali juga orangtua mesti berperan sebagai teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Hal. 7/9

8 Kesalahan yang kerap kali dilakukan oleh para orangtua adalah: berusaha sekuatnya agar kuantitas komunikasi dapat ditingkatkan setinggi-tingginya. Lalu apa hasilnya? Anakanak kita akan berkata kepada paman/bibi atau gurunya: Orangtuaku itu cerewet banget!. Yang terpenting adalah kualitas dari komunikasi itu, bukan kuantitas. Apakah anak Anda menyampaikan kepada Anda tentang perasaan yang dialaminya ketika pertama kali ia jatuh cinta (monyet) kepada lawan jenisnya? Beranikah anak Anda mengatakan tidak kepada Anda? Pernahkah ia melawan Anda? Apakah anak Anda memiliki kebebasan untuk menyampaikan apa saja yang ingin ia sampaikan kepada orangtuanya? Sudah cukupkah Anda memberikan ruang privacy bagi anak-anak Anda, yaitu terhadap hal-hal yang memang tidak diinginkan oleh anak untuk dikomunikasikan kepada orangtuanya? Apakah menurut Anda komunikasi dikatakan baik jika anak menyampaikan kepada orangtuanya segala hal tanpa ada yang tertinggal? Bagaimana seorang Ayah bersikap terhadap kasus dimana anak-anak lebih terbuka kepada Ibunya, atau sebaliknya, bagaimana sikap seorang Ibu ketika menyadari bahwa anak-anaknya lebih senang berkomunikasi dengan Ayahnya? 3. Pergaulan anak Banyak orangtua membatasi pergaulan anaknya di lingkungan Mudika saja, hindari pergaulan di luar itu. Jujur saja kami katakan: Itu salah besar! Bergaul dengan teman-teman non-katolik akan meluaskan wawasan anak tentang bagaimana hukum agama mereka sehingga bisa disimpulkan apakah ada peluang untuk perkawinan beda agama, dan kesimpulan ini dapat digunakan untuk memutuskan apakah relasi dengan teman itu hendak dilanjutkan dengan pacaran atau tidak. Banyak juga perkawinan se-iman terjadi justru karena pasangannya diperkenalkan oleh teman yang tidak se-iman. Orangtua wajib mengetahui siapa-siapa saja teman bergaul dari anak-anaknya, termasuk bagaiman latar belakang orangtuanya masing-masing, tanpa perlu menjadi polisi bagi anak-anaknya, atau tanya kiri tanya kanan bagaikan spionase. Informasi yang paling akurat dan terpercaya justru di dapat dari anak-anak kita sendiri. 4. Ketika anak menginjak remaja Tonggak penting yang menandai perubahan strategi dan tata cara pendampingan anak adalah ketika anak menginjak remaja, mengapa demikian? Pada masa ini, anak mengalami perubahan-perubahan besar baik secara biologis maupun kejiwaan. Dan masa ini sekaligus menjadi kunci keberhasilan menangkal perkawinan beda agama. Tindakan antisipasi orangtua seringkali dilakukan ketika anaknya minta kawin sama pasangan yang beda agama, yaitu ketika anak sudah menginjak dewasa dan sudah siap untuk hidup berkeluarga. Pada masa ini, anak mulai merasakan ketertarikan dengan lawan jenisnya, dibarengi dengan luapan-luapan emosi yang cenderung tidak stabil dan sering membuat pusing orangtuanya. Sikap pribadinya juga berubah, ia memiliki keinginan kuat untuk tampil memikat, berdandan dan berlama-lama berdiri di depan cermin, dan ia menginginkan banyak hal sampai membuat orang lain kerepotan memenuhi keinginannya. Yang terpenting dari semua itu, terkait dengan pokok bahasan kita, adalah perubahan yang menyangkut hubungan dan komunikasi dengan orangtuanya. Ia tidak lagi tertarik Hal. 8/9

9 untuk dekat-dekat dengan orangtuanya. Ia lebih mementingkan teman-temannya. Omongan teman-temannya lebih berpengaruh dibandingkan omongan orangtuanya. Ini adalah fenomena normal yang dialami oleh setiap anak yang menginjak remaja. Jika dalam kondisi seperti ini, kita sebagai orangtua lalu ngoceh kepada anak di setiap kesempatan bertemu anak, percayalah: Enggak bakalan didengerin! Diskusi dan Tanya-jawab Diskusikan apa apa saja yang telah dibahas dalam presentasi. Beri kesempatan kepada peserta rekoleksi untuk sharing dan memberikan tanggapan, atau untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Waktu diskusi: 30 menit. PENUTUP Semoga materi yang kami sajikan ini dapat membantu keluarga-keluarga dalam menghadapi berbagai persoalan yang terkait dengan perbedaan agama di antara sesama anggota keluarga. Saran, kritik, atau pertanyaan, dapat disampaikan ke: Komisi Keluarga, Keuskupan Denpasar, atau langsung kepada: Romo Johanes Hadriyanto, Phone: Erna Kusuma, Phone: Sandy Kusuma, Phone: Hal. 9/9

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proses dan pemaknaan tentang arti perkawinan itu sendiri selama pasangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proses dan pemaknaan tentang arti perkawinan itu sendiri selama pasangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah sesuatu yang sangat sakral. Kesakralan itu berada dalam proses dan pemaknaan tentang arti perkawinan itu sendiri selama pasangan menjalaninya

Lebih terperinci

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran 2008 2009 L E M B A R S O A L Mata pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kelas : 7 Hari / tanggal : Waktu : 60 menit PETUNJUK UMUM : 1. Tulislah nama

Lebih terperinci

Berdasarkan 10 Perintah Allah

Berdasarkan 10 Perintah Allah LEMBAR BANTUAN PENGAKUAN DOSA ~ Pemeriksaan Batin ~ Berdasarkan 10 Perintah Allah dan Persepsi Gereja Katolik Berdasarkan 10 Perintah Allah Perintah Pertama Aku adalah Tuhan Allahmu: Jangan ada padamu

Lebih terperinci

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin i Topik Makalah Keluarga Adalah Miniatur Perilaku Budaya Kelas : 1-ID08 Tanggal Penyerahan Makalah

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maha Esa kepada setiap makhluknya. Kelahiran, perkawinan, serta kematian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maha Esa kepada setiap makhluknya. Kelahiran, perkawinan, serta kematian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap makhluknya. Kelahiran, perkawinan, serta kematian merupakan suatu estafet

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. A.1. Perkawinan Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, perseorangan, maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan

Lebih terperinci

Jodoh dan pernikahan yang sempurna

Jodoh dan pernikahan yang sempurna Menemukan jodoh atau pasangan hidup yang tepat bukanlah hal yang sederhana dan tidak dapat dianggap remeh. Banyak pasangan suami-istri pada akhirnya menyesal menikah karena merasa salah memilih pasangan.

Lebih terperinci

Basuh Kaki. Mendapat Bagian dalam Tuhan HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Basuh Kaki. Mendapat Bagian dalam Tuhan HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Basuh Kaki Mendapat Bagian dalam Tuhan GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG MEKANISME DAN FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PERNIKAHAN DINI. A. Analisis Mekanisme Perkawinan Usia Dini di desa Kalilembu Kecamatan

BAB IV ANALISIS TENTANG MEKANISME DAN FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PERNIKAHAN DINI. A. Analisis Mekanisme Perkawinan Usia Dini di desa Kalilembu Kecamatan BAB IV ANALISIS TENTANG MEKANISME DAN FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PERNIKAHAN DINI A. Analisis Mekanisme Perkawinan Usia Dini di desa Kalilembu Kecamatan Karangdadap Kabupaten Pekalongan Analisis penulis tentang

Lebih terperinci

Pernikahan Kristen Sejati (2/6)

Pernikahan Kristen Sejati (2/6) Pernikahan Kristen Sejati (2/6) Nama Kursus   : Pernikahan Kristen yang Sejati Nama Pelajaran : Memilih Pasangan Kode Pelajaran : PKS-P02                    Pelajaran 02 - MEMILIH

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang

Lebih terperinci

M E M U T U S K A N. Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG IJIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL.

M E M U T U S K A N. Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG IJIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IJIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam Undang-Undang Nomor 1

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Dinamika Psikologis Mahasiswa Aktif yang Menikah di Masa Studi

BAB V PEMBAHASAN. A. Dinamika Psikologis Mahasiswa Aktif yang Menikah di Masa Studi BAB V PEMBAHASAN A. Dinamika Psikologis Mahasiswa Aktif yang Menikah di Masa Studi Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui dinamika psikologis mahasiswa

Lebih terperinci

Status Rohani Seorang Anak

Status Rohani Seorang Anak Status Rohani Seorang Anak PENDAHULUAN Kita yang melayani anak-anak di gereja atau di yayasan gerejawi perlu memiliki keyakinan tentang status rohani seorang anak di hadapan Tuhan, berdasarkan Firman Tuhan.

Lebih terperinci

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran 2008 2009 L E M B A R S O A L Mata pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kelas : 8 Hari / tanggal : Waktu : 60 menit PETUNJUK UMUM : 1. Tulislah nama

Lebih terperinci

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh: SITI SOLIKAH F100040107 Kepada FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi

A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi BAB IV ANALISIS A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya dapat diketahui bahwa secara umum mediasi diartikan sebagai

Lebih terperinci

Pelayanan Mengajar Bersifat Khusus

Pelayanan Mengajar Bersifat Khusus Pelayanan Mengajar Bersifat Khusus Dalam pelajaran dua kita melihat pentingnya mengajar, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Sejarah pengajaran dalam Alkitab merupakan pedoman bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa

Lebih terperinci

b. Salah satu pihak menjadi pemabok, pemadat, atau penjudi yang sukar disembuhkan,

b. Salah satu pihak menjadi pemabok, pemadat, atau penjudi yang sukar disembuhkan, Pernikahan PNS Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan

Lebih terperinci

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA NO PERBEDAAN BW/KUHPerdata Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 1 Arti Hukum Perkawinan suatu persekutuan/perikatan antara seorang wanita dan seorang pria yang diakui sah oleh UU/ peraturan negara yang bertujuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL Presiden Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang mengerutkan kening, terkejut, bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata poligami.

Lebih terperinci

PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Oleh: Wahyu Ernaningsih, S.H.,M.Hum. Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Abstrak Putusan Mahkamah Konstitusi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua,

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang senantiasa memerlukan interaksi dengan orang lain. Saat berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya,

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

Minggu 5 : Mengapa dan Bagaimana Saya Berdoa? Panduan Acara & Bantuan untuk Penceramah

Minggu 5 : Mengapa dan Bagaimana Saya Berdoa? Panduan Acara & Bantuan untuk Penceramah Minggu 5 : Mengapa dan Bagaimana Saya Berdoa? Panduan Acara & Bantuan untuk Penceramah Dokumen ini berisi panduan untuk keseluruhan acara, garis besar ceramah dan instruksi bagaimana memberikan ceramah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki ketidakmampuan untuk bertahan hidup sendiri. Hal ini membuat manusia belajar untuk hidup berkelompok

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Perkawinan Antar Agama menurut Islam dan Kristen Katolik Pada dasarnya kedua agama tersebut, yakni Islam

Lebih terperinci

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI Yoh 14: Divisi Kombas - Kepemudaan BPN PKKI

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI Yoh 14: Divisi Kombas - Kepemudaan BPN PKKI Yoh 14:23-29 FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI 2016 (23) Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya

Lebih terperinci

I. Buku Katekumen : Yang berisi tentang :

I. Buku Katekumen : Yang berisi tentang : I. Buku Katekumen : Yang berisi tentang : I B A P T I S A N a. Keterangan Calon Baptis Nama diri (Lengkap) :.. Nama baptis yang dipilih :. Tempat / Tgl lahir :.... Pendidikan terakhir :.. Pekerjaan Alamat

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. matang baik secara mental maupun secara finansial. mulai booming di kalangan anak muda perkotaan. Hal ini terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. matang baik secara mental maupun secara finansial. mulai booming di kalangan anak muda perkotaan. Hal ini terjadi di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pernikahan dini dapat didefinisikan sebagai sebuah pernikahan yang mengikat pria dan wanita yang masih remaja sebagai suami istri. Lazimnya sebuah pernikahan dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL Tanggal: 6 SEPTEMBER 1990 (JAKARTA)

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

NOVENA ROSARIO ELIZABETH ZAKHARIA NOVENA ROSARIO BERSAMA ST. MARIA, ST. ELIZABETH DAN ST. ZAKHARIA UNTUK PERMOHONAN MENDAPATKAN ANAK

NOVENA ROSARIO ELIZABETH ZAKHARIA NOVENA ROSARIO BERSAMA ST. MARIA, ST. ELIZABETH DAN ST. ZAKHARIA UNTUK PERMOHONAN MENDAPATKAN ANAK NOVENA ROSARIO ELIZABETH ZAKHARIA NOVENA ROSARIO BERSAMA ST. MARIA, ST. ELIZABETH DAN ST. ZAKHARIA UNTUK PERMOHONAN MENDAPATKAN ANAK 1 Pengantar Dalam suatu kesempatan Yesus pernah mengatakan "Mintalah,

Lebih terperinci

Tata Upacara Pernikahan Sipil

Tata Upacara Pernikahan Sipil Tata Upacara Pernikahan Sipil 1 Penyerahan calon mempelai oleh wakil keluarga K Romo yang kami hormati. Atas nama orang tua dan keluarga dari kedua calon mempelai, perkenankanlah kami menyerahkan putra-putri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga

Lebih terperinci

Bagan 2. Konflik Internal Subyek. Ketidakmampuan mengelola konflik (E) Berselingkuh

Bagan 2. Konflik Internal Subyek. Ketidakmampuan mengelola konflik (E) Berselingkuh Bagan 2 Kondisi keluarga : penuh tekanan, memandang agama sebagai rutinitas dan aktivitas, ada keluarga besar yang selingkuh, Relasi ayah-ibu : ibu lebih mendominasi dan selalu menyalahkan sedangkan ayah

Lebih terperinci

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Oleh: Chandra Dewi Puspitasari Pendahuluan Kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI

LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI KUNCI MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI BAGI MEREKA YANG MEMBUAT KEPUTUSAN Saudara yang terkasih, pada waktu Saudara menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat pribadi,

Lebih terperinci

Haec Dies! Warta 20 April 2014 Tahun V - No.16

Haec Dies! Warta 20 April 2014 Tahun V - No.16 Warta 20 April 2014 Tahun V - No.16 Haec Dies! haec est dies quam fecit Dominus exultemus et laetemur in ea. Alleluia. Suatu sore, ketika berkeliling di sekitar Gereja SanMaRe, terdengarlah lagu Haec Dies

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara No.755, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMSANEG. Pegawai. Perkawinan. Perceraian. PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI LEMBAGA SANDI

Lebih terperinci

Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran

Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran Pernahkah saudara melihat seekor induk burung yang mendesak anaknya keluar dari sarangnya? Induk burung itu memulai proses pengajaran yang akan berlangsung terus sampai

Lebih terperinci

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. 03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,

Lebih terperinci

BAB II KRITERIA ANAK LUAR NIKAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

BAB II KRITERIA ANAK LUAR NIKAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA 48 BAB II KRITERIA ANAK LUAR NIKAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA A. Kriteria Anak Luar Nikah dalam Kompilasi Hukum Islam Dalam Kompilasi Hukum Islam selain dijelaskan

Lebih terperinci

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PENDAHULUAN Allah tertarik pada anak-anak. Haruskah gereja berusaha untuk menjangkau anak-anak? Apakah Allah menyuruh kita bertanggung jawab terhadap anak-anak?

Lebih terperinci

Pikiran untuk menderita

Pikiran untuk menderita Ketika saya bertanya ke teman saya yang bekerja di divisi HRD sebuah bank terkenal tentang bagaimana bank tersebut mengelola karyawannya. Ia menjawab bahwa cara berpikir karyawan adalah menghindari penderitaan

Lebih terperinci

BAB III IMPLIKASI HAK KEWARISAN ATAS PENGAKUAN ANAK LUAR

BAB III IMPLIKASI HAK KEWARISAN ATAS PENGAKUAN ANAK LUAR BAB III IMPLIKASI HAK KEWARISAN ATAS PENGAKUAN ANAK LUAR KAWIN DALAM HUKUM PERDATA (BURGERLIJK WETBOEK) A. Pengertian Anak Luar Kawin Menurut Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Anak menurut bahasa adalah

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan PEDOMAN WAWANCARA I. Judul Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan pada pria WNA yang menikahi wanita WNI. II. Tujuan Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Lebih terperinci

Matematika Pernikahan

Matematika Pernikahan Matematika Pernikahan Pernikahan adalah karunia terpenting yang diberikan kepada umat manusia selama seminggu masa Penciptaan. Setelah menciptakan dunia yang sempurna, dilengkapi dengan segala yang diperlukan

Lebih terperinci

Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus. Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #30 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #30 tentang Wahyu, pasal

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh

BAB I. Pendahuluan. Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita, yang memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda antara

Lebih terperinci

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan subyek yang ikut berperan 14 1 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Menurut Anda pribadi, manakah rencana Allah bagi keluarga Anda? Dengan kata lain, apa yang menjadi harapan Allah dari keluarga Anda? Menurut Anda

Lebih terperinci

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #32 oleh Chris McCann

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #32 oleh Chris McCann Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #32 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #32 tentang Wahyu, pasal

Lebih terperinci

PEMBAHARUAN KESUCIAN Membangun Kesucian Pribadi dalam dunia yang Amoral

PEMBAHARUAN KESUCIAN Membangun Kesucian Pribadi dalam dunia yang Amoral 1 PEMBAHARUAN KESUCIAN Membangun Kesucian Pribadi dalam dunia yang Amoral I. TIGA PERINTAH UNTUK KESUCIAN PRIBADI (1 Tesalonika 4:3-6a) Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu... (4:3a). Perintah #1

Lebih terperinci

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8 Yoh 15:1-8 POKOK ANGGUR YANG BENAR HARI MINGGU PASKAH V 03 MEI 2015 (1) Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (2) Setiap ranting pada-ku yang tidak berbuah, dipotong-nya dan setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan Indonesia kearah modernisasi maka semakin banyak peluang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan. Tetapi berhubung masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana

Lebih terperinci

TAHUN AYIN ALEPH. Minggu I. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

TAHUN AYIN ALEPH. Minggu I. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. TAHUN AYIN ALEPH Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33) Minggu I Pada tanggal 8 September 2010, kalender orang Yahudi berubah

Lebih terperinci

BAB III KEWARISAN ANAK DALAM KANDUNGAN MENURUT KUH PERDATA 1. A. Hak Waris Anak dalam Kandungan menurut KUH Perdata

BAB III KEWARISAN ANAK DALAM KANDUNGAN MENURUT KUH PERDATA 1. A. Hak Waris Anak dalam Kandungan menurut KUH Perdata BAB III KEWARISAN ANAK DALAM KANDUNGAN MENURUT KUH PERDATA 1 A. Hak Waris Anak dalam Kandungan menurut KUH Perdata Anak dalam kandungan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) memiliki

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI LEMBAGA SANDI NEGARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI LEMBAGA SANDI NEGARA - 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam melaksanakan tugas pokok pegawai Lembaga Sandi Negara dibutuhkan kehidupan keluarga yang harmonis dan serasi agar dapat menciptakan suasana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu proses penyatuan dua individu yang memiliki komitmen berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

Lebih terperinci

Pembaptisan Air. Pengenalan

Pembaptisan Air. Pengenalan Pembaptisan Air Pengenalan Penting sekali bagi kita membaca Alkitab dan mempelajari apa yang Tuhan katakan kepada umatnya. Saya percaya kita perlu meneliti Kitab Suci secara menyeluruh untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. watak pada individu. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya

BAB I PENDAHULUAN. watak pada individu. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebudayaan Indonesia mempunyai nilai yang tinggi karena merupakan suatu system yang dikembangkan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad lamanya, di dalam kebudayaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB. Kasih Allah Untuk Orang Berdosa

MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB. Kasih Allah Untuk Orang Berdosa MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB Kasih Allah Untuk Orang Berdosa Hari ini kita mau belajar tentang kasih Allah. Untuk menghargai kasih Allah kepada kita, kita harus pertama-tama

Lebih terperinci

Siapakah Yesus Kristus? (4/6)

Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan Kode Pelajaran : SYK-P04 Pelajaran 04 - YESUS ADALAH JURU SELAMAT DAN TUHAN DAFTAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan kelompok yang sangat berpotensi untuk bertindak agresif. Remaja yang sedang berada dalam masa transisi yang banyak menimbulkan konflik, frustasi

Lebih terperinci

PERATURAN PERKAWINAN DI GKPS

PERATURAN PERKAWINAN DI GKPS PERATURAN PERKAWINAN DI GKPS 54 SURAT KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT GKPS Nomor : 119/1-PP/2006 Tentang PERATURAN PERKAWINAN DI GKPS Pimpinan Pusat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Menimbang : a.

Lebih terperinci

MENGUKIR KARAKTER DALAM DIRI ANAK

MENGUKIR KARAKTER DALAM DIRI ANAK MENGUKIR KARAKTER DALAM DIRI ANAK KARAKTER YANG BAIK dan KARAKTER SEPERTI KRISTUS, apa bedanya? Oleh : G.I. Magdalena Pranata Santoso, D.Min. Pendahuluan Meskipun akhir-akhir ini semakin banyak orang tua

Lebih terperinci

Lika-liku Mencari Pasangan Hidup yang Seiman. Ditulis oleh Krismariana Senin, 30 Januari :02

Lika-liku Mencari Pasangan Hidup yang Seiman. Ditulis oleh Krismariana Senin, 30 Januari :02 Ini cerita seorang teman, sebut saja namanya Fifi. Setelah berpacaran bertahun-tahun, lima tahun lebih, akhirnya Fifi memutuskan untuk menikah. Senang? Yaaa, senang. Senang, karena akhirnya dia tiba sampai

Lebih terperinci

-uhan BERSUKACITA. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. (Joh 15:16)

-uhan BERSUKACITA. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. (Joh 15:16) -uhan BERSUKACITA dengan panggilan kita Dalam panggilanmu, Tuhan berkata kepadamu: Kamu penting bagi-ku, Aku mencintaimu, Aku memperhitungkanmu. (Paus Fransiskus) Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Cinta dan seksual merupakan salah satu permasalahan yang terpenting yang dialami oleh remaja saat ini. Perasaan bersalah, depresi, marah pada gadis yang mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lembaga yang sah karena terbentuk sesuai dengan aturan hukum yang. berlaku, demi kelangsungan bangsa, perkembangan pribadi, dan

BAB I PENDAHULUAN. lembaga yang sah karena terbentuk sesuai dengan aturan hukum yang. berlaku, demi kelangsungan bangsa, perkembangan pribadi, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Banyak orang memiliki keyakinan bahwa perkawinan merupakan lembaga yang sah karena terbentuk sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, demi kelangsungan bangsa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan segi biologis, sosiologis dan teologis.

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan segi biologis, sosiologis dan teologis. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan-kebutuhan seperti makhluk hidup lainnya, baik kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensinya sebagai

Lebih terperinci

Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 DISIPLIN ORGANISASI

Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 DISIPLIN ORGANISASI DISIPLIN ORGANISASI Disiplin adalah tindakan para manajer untuk menegakkan standar organisasi, yang apabila para pekerja tidak mengetahui dan memahami standar tersebut, maka perilaku mereka akan tidak

Lebih terperinci

Knowing God (2) Untuk apa manusia diciptakan? Mengenal Tuhan Apa tujuan hidup kita?... Mengenal Tuhan

Knowing God (2) Untuk apa manusia diciptakan? Mengenal Tuhan Apa tujuan hidup kita?... Mengenal Tuhan Knowing God (2) Pendahuluan. Yeremia 9:23-24, Beginilah firman Tuhan, janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya

Lebih terperinci

SAUDARA BELAJAR BERJALAN

SAUDARA BELAJAR BERJALAN SAUDARA BELAJAR BERJALAN Dalam Pelajaran Ini Saudara Akan Mempelajari Letakkan Tangan Saudara di dalam Tangan Allah Sudahkah Iblis Berusaha untuk Menjatuhkan Saudara? Apakah Saudara Menderita karena Kristus?

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Sumber: LN 1974/1; TLN NO. 3019 Tentang: PERKAWINAN Indeks: PERDATA. Perkawinan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagian yang terkecil dan yang pertama kali digunakan manusia sebagai sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga inilah kemudian

Lebih terperinci

TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis

TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis tidaklah sulit. Mudah saja, simple dan sangat sederhana. Sebagai seorang

Lebih terperinci

Minggu 9 : Mengapa & Bagaimana Saya Memberitahukan Kepada Orang Lain?

Minggu 9 : Mengapa & Bagaimana Saya Memberitahukan Kepada Orang Lain? Minggu 9 : Mengapa & Bagaimana Saya Memberitahukan Kepada Orang Lain? Tips Ceramah 1. Tujuan: Di akhir dari ceramah ini, tamu-tamu akan membagikan kesaksian pribadi kepada kelompok. 2. Poin utama dari

Lebih terperinci

DOA. Prinsip: Doa dimulai dengan hubungan kita dengan Tuhan.

DOA. Prinsip: Doa dimulai dengan hubungan kita dengan Tuhan. DOA Pengantar Apakah Anda pernah kagum akan sesuatu yang dikatakan oleh seorang anak kecil? Mungkin caranya menerangkan bagaimana cara kerja sebuah mainan. Atau mungkin ia menceriterakan tentang suatu

Lebih terperinci

Gereja untuk Apa? Ef.1:1-14. Pdt. Andi Halim, S.Th.

Gereja untuk Apa? Ef.1:1-14. Pdt. Andi Halim, S.Th. Gereja untuk Apa? Ef.1:1-14 Pdt. Andi Halim, S.Th. Ayat 1. Orang-orang kudus bukan orang yang sama sekali tidak ada cacatnya. Di dunia ini semua orang berdosa, tanpa kecuali, temasuk bunda Maria, santo-santa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pernikahan. Berdasarkan Undang Undang Perkawinan no.1 tahun 1974,

BAB I PENDAHULUAN. pernikahan. Berdasarkan Undang Undang Perkawinan no.1 tahun 1974, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya, setiap individu pada tahap perkembangan dewasa awal menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis yang berujung pada jenjang pernikahan. Berdasarkan

Lebih terperinci

Baptisan. Mencuci Bersih Dosa HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Baptisan. Mencuci Bersih Dosa HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Baptisan Mencuci Bersih Dosa GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keluarga yang harmonis. Dalam berumah tangga setiap pasang terkadang

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keluarga yang harmonis. Dalam berumah tangga setiap pasang terkadang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan merupakan suatu tradisi dipersatukannya dua insan manusia dalam ikatan suci, dan keduanya ingin mencapai tujuan yang sama yaitu menjadi keluarga yang harmonis.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku seksual memiliki nilai simbolik yang sangat besar sehingga dapat menjadi barometer masyarakat. Dari dahulu sampai sekarang, seksualitas bukan hanya

Lebih terperinci

b. Hutang-hutang yang timbul selama perkawinan berlangsung kecuali yang merupakan harta pribadi masing-masing suami isteri; dan

b. Hutang-hutang yang timbul selama perkawinan berlangsung kecuali yang merupakan harta pribadi masing-masing suami isteri; dan BAB I PENDAHULUAN Perkawinan merupakan suatu perbuatan hukum. Perkawinan menimbulkan hak dan kewajiban kepada para pihak yang mengikatkan diri pada suatu perkawinan. Hak dan kewajiban tersebut harus dipenuhi

Lebih terperinci

5. Pengantar : Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu.

5. Pengantar : Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu. TATA CARA dan URUTAN PERAYAAN EKARISTI: Bagian 1 : RITUS PEMBUKA Bertujuan mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan umat untuk mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus

Lebih terperinci

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Roh Kudus Penolong dan Penghibur GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151

Lebih terperinci

Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage. Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann

Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage. Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Alasan Pemilihan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being menurut Diener (2005). Teori yang dipilih akan digunakan untuk meneliti gambaran

Lebih terperinci

KITAB AYUB PERTANYAAN DISKUSI

KITAB AYUB PERTANYAAN DISKUSI KITAB AYUB PERTANYAAN DISKUSI Pasal 1 Betapa mudah memuji dan mengikut Tuhan pada kondisi yang baik. Bagaimana kita bisa ingat untuk tetap setia bahkan dalam kondisi buruk sekalipun? Pasal 2 Pernahkah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memahami informasi tentang dunia atau lingkungan melalui penglihatan, penghayatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memahami informasi tentang dunia atau lingkungan melalui penglihatan, penghayatan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Persepsi Persepsi pada dasrnya adalah proses kognitif yang dialami seseorang dalam memahami informasi tentang dunia atau lingkungan melalui penglihatan, penghayatan dan

Lebih terperinci