MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA"

Transkripsi

1

2 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 68/PUU-XII/2014 PERIHAL Pengujian Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan [Pasal 2 ayat (1)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 PEMOHON 1. Damian Agata Yuvens 2. Rangga Sujud Widigda 3. Varita Megawati Simarmata 4. Anbar Jayadi 5. Luthfi Sahputra ACARA Pemeriksaan Pendahuluan (I) Kamis, 4 September 2014, Pukul WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat SUSUNAN PERSIDANGAN 1) Wahiduddin Adams (Ketua) 2) Arief Hidayat (Anggota) 3) Muhammad Alim (Anggota) Achmad Edi Subiyanto Panitera Pengganti

3 Pihak yang Hadir: A. Pemohon Perkara Nomor 68/PUU-XII/2014: 1. Damian Agata Yuvens 2. Anbar Jayadi 3. Luthfi Sahputra

4 SIDANG DIBUKA PUKUL WIB 1. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Sidang Perkara Nomor 68/PUU-XII/2014 Pengujian Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. Pada siang ini, agenda kita adalah pemeriksaan pendahuluan. Kami persilakan kepada Pemohon atau Kuasa yang hadir untuk memperkenalkan diri. 2. PEMOHON: DAMIAN AGATA YUVENS Terima kasih, Majelis Hakim Konstitusi. Perkenalkan, kami adalah Pemohon Prinsipal dalam perkara ini. Saya Damian Agata Yuvens selaku Pemohon I, di sebelah kanan saya adalah Anbar Jayadi selaku Pemohon IV, dan di sebelah kanannya lagi adalah Luthfi Sahputra sebagai Pemohon V. Demikian, Majelis Hakim. 3. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Jadi, tiga semuanya Prinsipal? 4. PEMOHON: DAMIAN AGATA YUVENS Betul, Majelis Hakim. 5. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS KETUK PALU 3X Baik. Kami persilakan untuk menyampaikan pokok-pokok permohonannya, garis-garis besarnya karena pada dasarnya permohonan sudah kita terima. Oleh sebab itu, kami persilakan untuk menyampaikan pokokpokok permohonannya. Silakan. 6. PEMOHON: DAMIAN AGATA YUVENS Terima kasih. Assalamualikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Majelis Hakim Konstitusi yang terhormat, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyampaikan ringkasan permohonan pengujian Pasal 2 ayat (1)

5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan untuk selanjutnya disebut sebagai Undang-Undang Perkawinan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk selanjutnya disebut sebagai UUD Majelis hakim konstitusi Yang Mulia, pada dasarnya ada empat dalil yang menyatakan bahwa Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan bertentangan dengan UUD 1945 dan lima dalil yang menegaskan bahwa Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan seharusnya dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Empat dalil utama kami adalah: 1. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan memaksa setiap warga negara untuk melangsungkan perkawinan sesuai dengan agamanya dan kepercayaannya masing-masing yang mana hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak beragama yang dijamin dalam Pasal 28E ayat (1), 28E ayat (2), 28I ayat (1), dan Pasal 29 ayat (2) UUD Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan mengharuskan tiap perkawinan dilangsungkan berdasarkan hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Artinya pasal ini memaksa tiap warga negara untuk mematuhi hukum dari masing-masing agama dan kepercayaan dalam bidang perkawinan. Padahal hak beragama adalah bagian dari hak yang paling privat serta tidak dapat dipaksakan pelakasanaannya, bahkan termasuk sebagai bagian dari non derogable rights. Pemaksaan ini menyebabkan tiap warga negara tidak dapat memilih untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan ajaran agamanya dan kepercayaannya dalam hal hukum perkawinan karena tidak melaksanakan hukum... hukum agama dan kepercayaan, berarti perkawinan dilangsungkan menjadi tidak sah. 2. Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan membatasi hak untuk melangsungkan perkawinan yang dijamin berdasarkan Pasal 28B ayat (1) UUD Dengan menyerahkan keabsahan perkawinan kepada hukum masing-masing agama dan kepercayaan, artinya akan muncul perkawinan-perkawinan yang tidak sah karena agama dan kepercayaan. Dengan kata lain, seorang individu khususnya warga negara Indonesia menjadi tidak dapat melangsungkan perkawinan karena adanya pembatasan berdasarkan agama dan kepercayaan. Artinya, pengaturan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang - Undang Perkawinan menyebabkan terjadinya pembatasan terhadap hak warga negara Indonesia untuk melangsungkan perkawinan yang merupakan bagian dari hak asasi manusia dengan didasarkan pada materi pembatasan yang secara internasional telah dilarang yaitu agama dan kepercayaan. 3. Rumusan norma dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan membuka ruang penafsiran yang amat luas serta menimbulkan pertentangan antarnorma, sehingga tidak memenuhi hak atas

6 kepastian hukum yang adil sebagaimana dijamin dalam Pasal 28D ayat (1) UUD Syarat dari kepastian hukum adalah norma yang tidak multitafsir dan tidak saling bertentangan. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menggantungkan keabsahan perkawinan pada penafsiran setiap orang mengenai hukum agama dan kepercayaan yang mana dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Dengan kata lain, tidak ada kepastian penafsiran mengenai keabsahan dari suatu perkawinan. Di sisi lain, dalam konteks perkawinan beda agama, Pasal 2 ayat ( 1) Undang-Undang Perkawinan dapat dikatakan bertentangan dengan ketentuan perkawinan beda agama sebagaimana diatur dalam Pasal 75 ayat (1) HOCI dan Pasal 7 ayat (2) GHR yang berlaku berdasarkan Pasal 66 Undang-Undang Perkawinan. Sekali lagi karena pasal ini menyerahkan keabsahan perkawinan pada penafsiran tiap orang mengenai hukum agama dan kepercayaan yang dapat berbedabeda. 4. Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan menyebabkan negara melalui aparaturnya memperlakukan warga negaranya secara bebeda, sehingga melanggar hak atas persamaan di hadapan hukum yang dijamin dalam Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD Penafsiran terhadap agama dan kepercayaan merupakan bagian dari hak setiap warga negara, maka perbedaan mengenai penafsiran terhadap hukum suatu agama atau kepercayaan antara warga negara yang hendak melangsungkan perkawinan dengan pegawai dari kantor catatan sipil atau kantor urusan agama akan sangat mungkin terjadi. Akibatnya adalah warga negara yang berurusan dengan kantor catatan sipil atau kantor urusan agama untuk urusan perkawinan yang sekali lagi keabsahanannya ditentukan oleh hukum masing-masing agama dan kepercayaan dapat diperlakukan secara berbeda antara satu sama lain, padahal hal yang diatur adalah sama. Hal ini selain menunjukkan adanya limitasi terhadap hak warga negara untuk menafsirkan hukum agamanya dan kepercayaannya, juga telah menggambarkan adanya kemungkinan terjadinya perlakuan yang berbeda-beda terhadap satu warga negara dengan warga negara lainnya yang disebabkan pada limitasi yang terjadi. Selanjutnya, akan dilanjutkan oleh rekan saya. 7. PEMOHON: ANBAR JAYADI Sedangkan lima dalil tambahan kami. Pertama, pembatasan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan tidak sejalan dengan pembatasan hak dan kebebasan yang ditentukan dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun Syarat pembatasan yang ditetapkan dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945

7 tidak terpenuhi karena pembatasan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang - Undang Perkawinan tidak menjamin pengakuan dan penghormatan atas hak dan kebebasan, serta tidak didasarkan pada pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum. Kedua, keberlakuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menyebabkan banyak penyelundupan hukum di bidang hukum perkawinan. Masyarakat Indonesia khususnya yang hendak melangsungkan perkawinan tanpa mengikuti hukum, agama, dan kepercayaan telah beradaptasi secara negatif untuk dapat menghindari keberlakuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu dengan cara melakukan penyelundupan hukum yaitu dengan mengenyampingkan hukum nasional maupun mengenyampingkan hukum agama. Pengenyampingan hukum nasional dilakukan dengan cara melangsungkan perkawinan di luar negeri dan dengan melangsungkan perkawinan secara adat, sedangkan pengenyampingan hukum agama dilakukan dengan cara menundukkan diri pada hukum perkawinan dari agama dan kepercayaan salah satu pihak, dan dengan berpindah agama dan kepercayaan untuk sesaat sebelum melangsungkan perkawinan. Yang ketiga, Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan tidak memenuhi standar sebuah norma. Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan bukannya menyelesaikan masalah mengenai perkawinan beda agama dan kepercayaan, namun justru menimbulkan permasalahan baru. Pasal ini bukannya melarang atau memperbolehkan perkawinan beda agama dan kepercayaan, namun justru menyerahkan kebolehannya kepada hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Sederhananya, ketika masyarakat bertanya kepada pemerintah apakah perkawinan beda agama dan kepercayaan diperbolehkan, alih-alih menjawab, melalui pasal ini pemerintah justru bertanya balik kepada masyarakat, apakah perkawinan beda agama dan kepercayaan boleh untuk dilakukan? Yang keempat, keberadaan Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan menyebabkan terlanggarnya hukum agama dan kepercayaan yang paling dasar. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan didesain agar tiap warga negara melaksanakan hukum dari masing-masing agamanya dan kepercayaannya ketika melangsungkan perkawinan. Namun dampak dari keberlakuan pasal ini, justru menyebabkan warga negara yang hendak melangsungkan perkawinan menjadi terpaksa berpindah agama dan kepercayaan. Dengan kata lain, untuk menghindari pelanggaran terhadap hukum agama dan kepercayaan dalam bidang perkawinan, justru terjadi pelanggaran terberat dari masing-masing hukum agama dan kepercayaan. Dan yang kelima, Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Perkawinan menimbulkan permasalahan dalam hubungan suami-istri dan orang tuaanak. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menetapkan, Dalam

8 hal perkawinan tidak didasarkan pada hukum agama dan kepercayaan, maka perkawinan menjadi tidak sah. Jika perkawinan tidak sah, maka seluruh akibat hukum termasuk hak dan kewajiban hukum yang timbul dari perkawinan menjadi tidak ada pula. Dengan kata lain, kewajiban suami terhadap istrinya tidak ada, kewajiban istri kepada suaminya tidak ada pula, dan tentu saja kewajiban orang tua kepada anak menjadi tidak ada. Meskipun telah ada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU- VIII/2010 tertanggal 17 Februari 2012 tentang Anak Luar Kawin, sehingga kerugian yang terjadi pada anak bisa diminimalisir, namun kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami tetaplah tidak ada, sehingga jika suami memutuskan untuk menelantarkan istrinya, bahkan dalam keadaan sedang hamil sekalipun, tidak ada perlindungan dari hukum yang diberikan kepada istri yang ditelantarkan. Selanjutnya, akan dilanjutkan oleh rekan saya. 8. PEMOHON: LUTHFI SAHPUTRA Berdasarkan seluruh uraian di atas dan dikuatkan dengan buktibukti yang terlampir, maka kami memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan putusan dengan amar sebagai berikut. Yang pertama, menerima dan mengabulkan uji materiil terhadap ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang diajukan oleh Para Pemohon untuk seluruhnya. Yang kedua, menyatakan Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28B ayat (1 ), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1), Pasal 28E ayat (2), Pasal 28I ayat (1), dan Pasal 29 ayat (2) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Yang ketiga, menyatakan Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dan yang keempat, memerintahkan pemuatan isi putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya, atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya atau ex aequo et bono. Sekian permohonan dari kami, Majelis Hakim. Terima kasih.

9 9. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Baik, sudah disampaikan pokok-pokok permohonan pada sidang ini, Majelis pada sidang pendahuluan akan memberikan nasihat dan masukan untuk permohonan ini. Dari saya nanti, kemudian Prof. Arief dan Pak Dr. Muhammad Alim. Ada beberapa hal yang kami sampaikan. Pertama, ini Pemohon statusnya belum kawin semua, ya? Ya, ya saya lihat di kopi KTP-nya, semuanya belum kawin dari yang berlima, ya. Kemudian yang melampirkan fotokopi NPWP dua atau tiga, ya? Dua, ya. Baik, itu nanti. Pertama, tentang kewenangan Mahkamah Konstitusi, mungkin nanti bisa dipertajam lagi, dilihat pola atau format dari permohonan yang ada selama ini. Kemudian, mengenai legal standing-nya. Ya, selain merujuk pada Undang-Undang MK juga putusan dari MK mengenai lima syarat yang harus dipenuhi, ya. Saya lihat juga di sini juga sudah dielaborasi mengenai ada hak atau kewenangan konstitusi yang diberikan Undang- Undang Dasar Tahun Kemudian, hak atau kewenangan dianggap dirugikan, ya, tadi bahkan sempat dibacakan. Kemudian, kerugian dan hak atau kewenangan konstitusional bersifat spesifik dan aktual atau setidaknya potensial yang menurut pandangan akan wajar dapat dipastikan akan terjadi. Ya, di sini saya melihat juga bahwa hal-hal kemungkinan akan terjadi pada Pemohon yang menyebutkan bahwa ya, ketika suatu hari hendak melangsungkan perkawinan, khususnya kemungkinan beda agama dan kepercayaan, jadi potensial ya, akan terjadi. Kemudian, ada dua fakta bahwa Indonesia negara plural yang suku, agama, dan kepercayaan yang ada di dalamnya. Kemudian, mobilitas penduduk Indonesia yang tinggi, coba nanti dipertajam lagi apa hal-hal yang akan menjadi fakta bahwa ya, potensial, ya. Kalau aktual kan, tidak, maka saya tanya tadi dalam fotokopi KTPnya semuanya belum menikah, ya, belum faktual terjadi, tapi potensial, ya semuanya ya, ingin melaksanakan pernikahan, ya. Baik, saya kira beberapa hal yang tambahan juga dari saya bahwa norma yang dimohon pengujian ini Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang Nomor 1 Tahun 1974 ya, tentang sahnya perkawinan apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Kemudian batu ujinya ini ada tujuh, ya. Tapi tadi sempat disebut 28J juga, tapi tidak ada di dalam permohonan, ya. Waktu dibacakan ada Pasal 28J disebutkan ayat (2 ) bahwa itu diatur dalam peraturan perundang-undangan, tapi di sini tidak disebut di dalam permohonan tapi diungkapkan lisan, tadi disebut.

10 Secara umum, posita ya, sudah cukup menggambarkan, namun sebaiknya mengenai pertentangan norma yang dimohonkan dengan batu uji itu dijelaskan pertentangan normanya karena di permohonan itu lebih banyak contoh-contoh kasus yang dikemukakan ya, contoh-contoh kasusnya, ya. Bahkan ya, di bukti sepintas saya lihat sudah ada putusanputusan pengadilan, baik yang tingkat pertama, banding, dan kasasi ya, mengenai apa... izin melangsungkan perkawinan yang berbeda agama. Tapi yang perlu dipertajam itu pertentangan norma, norma Pasal 2 ayat (1) itu dengan batu ujinya itu, dengan beberapa pasal yang sudah dikemukakan. Tapi termasuk tadi Pasal 28J yang tidak ada di dalam permohonan supaya dicantumkan, supaya jelas. Ya, juga sedapat mungkin ada contoh perbandingan di negara lain, ya yang sudah menerapkan sistem atau pengaturan mengenai nikah beda agama karena di dalam permohonan itu lebih banyak pada pelaksanaannya yang mendapat kesulitan itu, ya. Harus melalui pengadilan, lalu istilahnya tadi ada ya, semacam boleh jadi perkawinan apa... simulasi, semu, salah satu masuk, lalu kembali ke agamanya dan lain sebagainya, tapi ada enggak contoh-contoh di negara lain juga untuk dikemukakan yang kemudian justru Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974-nya belum dilampirkan, ya. Ya, nanti kita untuk bukti di daftar bukti itu bisa menyusul nanti, ya. Daftar alat bukti P-1 sampai P- 16 ini, Undang-Undang Dasar Tahun 1945-nya, kemudian Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 mungkin juga berbagai ketentuan pelaksaan, ya bahkan Undang-Undang Adminduk, ya, yang lama dan yang baru ada perubahan, ya. Itu dari saya. Kami persilakan Prof. Arief Yang Mulia. 10. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT Baik, terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saudara Pemohon, kalau tidak salah, Saudara Pemohon ini mahasiswa UI, ya? Kemarin juara Mood Court, ya? Debat konstitusi? Betul, ya? 11. PEMOHON: ANBAR JAYADI Ya, Yang Mulia. 12. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT Ya, saya hafal wajahnya soalnya, waktu itu saya jadi juri. Belum pada belum lulus? 13. PEMOHON: ANBAR JAYADI Saya belum lulus, Yang Mulia.

11 14. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT Yang duanya? 15. PEMOHON: ANBAR JAYADI Sudah lulus. 16. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT Sudah lulus, baik. Komentar saya begini, ini permohonan ini sudah cukup baik, ya. Anda Prinsipal lulusan fakultas hukum, malah belum ada ada yang belum lulus, tapi membuat permohonan saya anggap sudah cukup baik. Tetapi kewajiban kita untuk pada sidang yang pertama itu memberi nasihat atau saran supaya permohonan ini bisa lebih baik, sempurna, begitu ya, sehingga meyakinkan kita sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi bahwa ini permohonannya bagus dan bisa diperiksa, kemudian diputus, sehingga berhasil memenuhi apa yang Saudara inginkan, sehingga permohonan ini betul-betul harus mampu memberikan keyakinan pada Hakim bahwa apa yang Anda inginkan itu betul secara konstitusional. Jadi ini harus di betul-betul harus disempurnakan. Tapi hak Saudara-Saudara menurut undang-undang, kewajiban kita memberi tahu, memberi saran, perbaikan, tetapi hak dari Anda. Kalau tidak diperbaiki juga enggak apa-apa, gitu, ya. Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan. Tadi betul alat buktinya itu kurang undang-undang yang diujikan dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional pengujiannya, itu harus dilampirkan sebagai bukti utama itu, ya. Selain yang Anda sudah sampaikan ini, itu harus dilengkapi nanti. Kemudian yang berikutnya yang perlu saya sampaikan supaya lebih dipertajam dalam posita, kenapa kok, pilihan Undang-Undang Perkawinan khususnya Pasal 2 ayat (1) itu kok, tidak konstitusional menurut Anda? Itu kenapa kok, inkonstitusional? Kalau inkonstitusional itu di mana letaknya? Reasoning ini harus mampu meyakinkan hakim itu harus masuk di posita, positanya harus lebih dipertajam. Saya melihat bisa dipertajam melalui upaya untuk lebih mengelaborasi dari aspek filosofinya, ya. Kebetulan Anda mahasiswa UI, ada buku-buku yang dikarang oleh dosen Saudara. Itu begini kan, Indonesia itu bukan negara atau konstitusi. Kita menganut bukan negara berdasar agama, tapi konstitusi kita juga bukan menganut negara sekuler, tapi konstitusi kita menganut sebagai negara yang berdasar pada Pancasila, kan itu. Artinya, di situ bisa diartikan sinar atau dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu harus menjadi landasan dalam kehidupan

12 bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Itu harus diuraikan dari situ landasan filosofinya. Buku yang bisa dipakai itu bukunya Pak siapa Pak Prof. Tahir itu kan Tahir Azhary itu bisa dipakai sebagai referensi untuk memperkuat posita Anda. Terus kemudian disertasinya Bu siapa yang sudah sekarang sudah profesor juga? Bahwa hukum di Indonesia itu harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang universal netral berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, itu. Coba dari situ. Kemudian, bisa juga uraian-uraian yang dibangun berdasarkan misalnya pidato Soekarno, original intent maksud pendirian Negara Republik Indonesia pada waktu Indonesia didirikan, sidang-sidang BPUPKI, PPKI, itu bisa diurai di situ, termasuk misalnya bukunya disertasinya yang menguraikan mengenai piagam Jakarta itu dari mungkin Pak Alim masih ingat bukunya Endang Saifuddin Anshari, itu bisa dipakai referensi. Membandingkan secara akademik itu, tetapi yang muncul itu kan perdebatan-perdebatan filosofis. Nah, kemudian juga ada perdebatan-perdebatan sosiologis. Jadi, positanya itu bisa disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, sehingga Anda bisa sampai kesimpulan Pasal 2 ayat (1) Undang -Undang 174 itu bertentangan dengan konstitusi kita itu karena dimungkinkan misalnya, kenapa ya? Tapi kemudian kalau di dalam petitum Saudara bahwa itu dinyatakan bertentangan dan tidak mengikat secara hukum, apakah itu juga jalan keluar? Nanti kalau itu kita batalkan, nanti perkawinan di Indonesia menurut apa nanti? Itu harus Anda pikirkan juga, ya kan? Berarti kalau begitu tidak bertentangan, tetapi harus dimaknai, misalnya begitu supaya kalau ini kita batalkan misalnya, Pasal 2 ayat (1) itu dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kemudian dinyatakan tidak ber mempunyai kekuatan hukum mengikat, nah, nanti perkawinan di Indonesia bagaimana? Dasarnya apa? Apakah hanya sekadar dicatat? Gimana? Nah, kalau begitu berarti sama saja dengan Undang-Undang perkawinan yang diatur di dalam KUH Perdata. KUH Perdata itu mengartikan perkawinan hanya sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan. Berarti, perkawinan menurut perdata itu sekuler, padahal kita tidak. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kawin saja harus disinari oleh sinar Ketuhanan Yang Maha Esa, bisa dilakukan menurut agama atau kepercayaan. Nah, ini coba Anda uraikan di dalam posita, sehingga betul-betul meyakinkan kita bersama bahwa Pasal 2 ayat (1) itu tidak bertentangan, tapi harus dimaknai, frasa itu harus dimaknai bagaimana karena kalau bertentangan nanti tidak ada dasar hukum yang melegalkan perkawinan di Indonesia. Apakah sekadar perjanjian perdata saja, laki-laki kawin sama perempuan, tidak ada perjanjian luhur. Padahal kan, perkawinan di Indonesia itu perjanjian luhur yang dilakukan antara laki-laki dan

13 perempuan untuk mengikatkan diri menjadi satu membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera. Kalau pakai orang Islam mengatakan, membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah, kan begitu. Nah, ini harus dipikirkan Anda di dalam posita, sehingga meyakinkan Hakim, itu. Ini yang dari sisi fiolosofis, sosiologis, itu bisa dikaji demikian. Kemudian, yang berikutnya, saya melihat di dalam permohonan ini ada Bab 5 itu, kesimpulan, dibuang saja. Tidak ada di dalam permohonan pengujian undang-undang enggak ada kesimpulan, langsung nanti kesimpulan itu Anda setelah ini sidang selesai, nanti Pemohon diminta untuk membuat kesimpulan, Pemerintah dan DPR juga membuat kesimpulan, kan gitu. Kesimpulannya tidak di dalam permohonan, tapi nanti di akhir setelah proses persidangan, yang terakhir diminta untuk membuat kesimpulan atas dasar perkembangan proses persidangan yang sudah berlangsung. Langsung petitumnya, ya. Kemudian, di dalam petitum, tadi saya sudah katakan, apa betul kalau itu dinyatakan bertentangan? Tidak apa tidak dimaknai frasa ini harus dimaknai demikian, sehingga tidak menghambat perkawinan yang terjadi penyelundupan ini, ini, ini, macam, macam, macam, gitu. Itu harus diuraikan, begitu. Kemudian, petitum angka satu, coba dilihat, menerima dan mengabulkan, menerima itu dicoret saja. Kalau menerima itu, kita Mahkamah pada waktu menguji legal standing, jadi tidak usah. Kalau Anda sudah dikabulkan, artinya legal standing Anda sudah diterima, enggak perlu dua kata ini disandingkan, nanti malah ambigu, ya. Cukup di petitum yang pertama itu mengabulkan uji materiil ini, itu. Kemudian, yang kedua, kalau mau tetap Anda berpandangan ini tetap tidak konstitusional bersyarat tapi itu bertentangan, maka di sini di dalam petitum tidak perlu lagi dikatakan, Menyatakan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 174, bertentangan dengan pasal ini, ini, ini. Cukup sudah di petitum itu hanya dikatakan, Bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, lebih pendek karena sudah diuraikan pada waktu Anda mengatakan pasal-pasal yang menjadi landasan konstitusional pengujiannya, itu. Kemudian satu lagi oh, bukti tadi sudah. Jadi, itu yang bisa saya sampaikan sehubungan dengan kewajiban Hakim pada sidang yang pertama untuk memberikan nasihat atau saran perbaikan permohonan. Terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saya kembalikan. 17. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Yang Mulia, Prof. Arief. Kami persilakan Yang Mulia, Dr. Muhammad Alim untuk memberikan masukan, nasihat terhadap permohonan yang diajukan Pemohon.

14 18. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM Terima kasih, Yang Mulia Ketua. Dari seperti yang dikatakan oleh Yang Mulia tadi Pak Prof. Arief, kita ini memberikan nasihat kalau diterima syukur, kalau tidak diterima enggak apa-apa juga karena itu hak Saudara. Tadi oleh beliau dikatakan bahwa di dalam perkawinan itu harus disinari oleh di antaranya, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sekadar saya tambah di dalam pengetahuan Saudara, di dalam putusan MK itu, Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, tidak berdasarkan apa-apa, justru berdasarkan itu putusan, lho. Putusan pengadilan, peradilan umum, peradilan semua pengadilan yang ada di Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, itu camkan baikbaik itu. Nah, kemudian di dalam permohonan Saudara, banyak Saudara mengutip undang-undang apa ketentuan-ketentuan yang ada di luar negeri, misalnya ICCPR, dan lain-lain itu undang-undang apa Deklarasi Hak Asasi Manusia oleh PBB, 10 Desember 1948 itu yang kemudian beberapa di antaranya yang sudah diratifikasi. Harus Saudara ingat bahwa diratifikasinya suatu undang-undang apa peraturan atau perjanjian di luar negeri itu tidak bisa menganulir Undang-Undang Dasar Tahun 1945 di Indonesia. Jadi, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 itu adalah supreme constitution. Tidak bisa, yang lain kalau dia bertentangan, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang harus dipertahankan, bukan ICCPR-nya misalnya. Jadi, itu harus karena itu diratifikasi dengan undang-undang, tidak diratifikasi dengan Undang- Undang Dasar Tahun Jadi, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 itu lebih tinggi daripada yang lainnya kalau di Indonesia. Harus ingat betul itu. Kemudian, di sini di angka di halaman 6 permohonan Saudara, itu angka 2 itu bahwa Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, dan uraiannya ke bawah itu saya kira itu tidak perlu. Orang sudah tahu bahwa yang kita berhak itu hanya undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun Kalau di bawahnya itu lagi sudah tidak lagi kita itu Mahkamah Agung punya wewenang. Jadi, enggak usah disebutkan itu yang angka 2. Kalau saya sarankan dikeluarkan saja itu. Kemudian, yang angka 3 masih halaman 6, ini istilah saja, Kontrol terhadap lembaga dalam menerbitkan undang-undang. Biasanya tidak menerbitkan, dipakai membentuk undang-undang, ya. Jadi, kalimat yang baku dipakai itu di dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 itu adalah pembentuk undang-undang. Jadi, mungkin barangkali dipakai kata pembentuk.

15 Sebaliknya, di halaman 7 angka 4 itulah yang benar oleh karena yang diuji, yang dimohonkan pengujian konstitusionalnya adalah Undang-Undang Perkawinan, maka ini wewenang Mahkamah, ya itu betul, cuma kalau bahasa Indonesia permohonan ya, enggak usah huruf besarlah, kalau Pemohon, ya. Ini lho, kata permohonan yang ada di halaman 7 itu Saudara tulis huruf besar, enggak janganlah huruf besar, Nak, huruf kecil saja, ya. Oke. Seperti juga para Pemohon, kalau para tidak usah besar, Pemohonnya yang besar. Para Pemohon ini ada di halaman 8 itu, b, hak konstitusional para Pemohon, itu dihapuskan saja. Tadi sudah dikatakan oleh Yang Mulia mengenai jadi begini, biasanya itu kalau menuliskan undang-undang petitum ini, saya masuk ke petitum, tadi sudah dikatakan oleh Yang Mulia tidak usah disebutkan, dikatakan saja bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan angka petitum ketiganya itu. Cuma begini, barangkali harus ditambah itu, Nak. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan itu ditambah Lembaran Negaranya (Lembaran Negara Nomor Tahun 1974, nomor berapa, tambahan Lembaran Negara nomor berapa). Baru dibalas kurung, ya. Kemudian, di bawah itu juga angka ketiganya itu lho, jadi disebutkanlah ya, nomor karena itu memang merupakan kelaziman yang harus diisi di dalam kelengkapan permohonan. Di petitum ketiga juga begitu. Biasanya itu kata ex aequo et bono itu yang di bawah itu atau itu di huruf besar semua. Nah, karena atau titik dua, artinya kalau yang 1, 2, 3, 4 itu tidak dikabulkan, bagaimanalah yang seadil-adilnya. Insya Allah nanti Mahkamah Konstitusi akan menjatuhkan putusan seadil-adilnya, insya Allah. Jadi, seperti kata Yang Mulia tadi, pertajamlah kembali anu apa permohonannya, mungkin dikeluarkan yang tidak terlalu perlu dan yang tidak perlu, dan kemudian di disinkronkan dengan yang lain. Terima kasih, Pak Ketua. 19. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Terima kasih, Pak Dr. Alim. Jadi, untuk mempertajam isi permohonan ini tadi sudah disarankan ya, dan saya juga ingin menekankan lagi bahwa di Putusan MK mengenai legal standing itu sedapatnya menggambarkan kerugian konstitusional itu spesifik. Misalnya, ya bahwa Pemohon ini akan melakukan pernikahan beda agama, spesifik, ya. Yang di sini baru asumsi ya, walaupun logis ya, asumsi bahwa masyarakat kita plural, kemudian mobilitas penduduk ya, atau mungkin juga peristiwa-peristiwa yang lalu. Tapi kalau lebih spesifik misalnya bahwa Pemohon ini memang akan melakukan pernikahan dalam status beda agama misalnya, itu kan menjadi apa spesifik. Ada disebut dalam putusan MK itu kerugian konstitusionalnya spesifik.

16 Kemudian juga dipertajam tadi ini Pasal 2 ayat (1) -nya ya, padahal Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan itu dikatakan ya, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal berdasarkan ke- Tuhanan yang Maha Esa. Jadi, di dasar perkawinan itu ya, Ketuhanan Yang Maha Esa itu. Ya, coba dielaborasi hal-hal yang seperti itu. Kemudian juga bahan-bahannya. Ini Undang-Undang Tahun 1974 ya, Undang-Undang Nomor 1 ada buku sejarah kelahirannya, itu di perpustakaan ada, Perpustakaan Kementerian Hukum dan HAM di Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan ada karena dulu setiap undang-undang lahir itu ada sejarah kelahirannya. Jadi, rancangan dulu bagaimana, kemudian proses pembahasannya. Ya, bahkan keterangan-keterangan fraksi-fraksi pada waktu itu. Ya, mungkin juga ketentuan Pasal 2 ayat (1) ini sudah dibahas bagaimana dengan konstitusi walaupun memang pasal-pasal yang batu uji ini ya, masih di undang-undang sebelum perubahan ya, Undang- Undang Dasar sebelum perubahan kan, belum ada itu. Tapi bisa dilihat di sana karena ini sudah persis 30 tahun ya, usia undang-undang, 1974, sekarang Ya, bisa oh, tahun, ya. Bagaimana undangundang itu dulu lahir, kemudian perdebatan-perdebatannya juga. Nah, itu bisa dibaca, juga disertasi-disertasi sudah cukup banyak mengenai perka Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perkawinan Berbeda Agama sudah ada. Doktor di UI juga saya ingat ada. Ya, ini supaya melengkapi dan tadi mempertajam, ya. Jadi, penasihatan ini untuk memberikan masukan, nasihat agar permohonan ini lebih baik. Terserah nanti pada Pemohon apakah nasihat atau masukan ini akan dipertimbangkan, kami serahkan sepenuhnya kepada Pemohon, ya. Waktu untuk perbaikan ini paling lama 14 hari. Jadi, apabila 14 hari tidak ada perbaikan, maka yang akan dipertimbangkan oleh Mahkamah atau Majelis adalah permohonan yang sekarang sudah kita terima ini, ya. Saya kira itu saja. Ada hal-hal yang ditambahkan? Silakan. 20. PEMOHON: DAMIAN AGATA YUVENS Tidak ada. Terima kasih, Yang Mulia, atas masukannya. Kami akan perbaiki permohonannya sesuai dengan arahan dan nasihat yang diberikan oleh Yang Mulia. Terima kasih.

17 21. KETUA: WAHIDUDDIN ADAMS Dengan demikian, sidang hari ini selesai dan dinyatakan ditutup. KETUK PALU 3X SIDANG DITUTUP PUKUL WIB Jakarta, 4 September 2014 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d Rudy Heryanto NIP Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah I. PEMOHON Bernard Samuel Sumarauw. II. OBJEK PERMOHONAN Pengujian materiil Undang-Undang

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 108/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 108/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 108/PUU-XII/2014 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATU BARA

Lebih terperinci

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN. Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Wonosari yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tertentu pada

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 18/PUU-XIII/2015 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 18/PUU-XIII/2015 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA SALINAN \ PUTUSAN Nomor 18/PUU-XIII/2015 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir,

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN KETERANGAN PIHAK TERKAIT (PERSEORANGAN CALON ANGGOTA DPRA DAN DPRK)

PEDOMAN PENYUSUNAN KETERANGAN PIHAK TERKAIT (PERSEORANGAN CALON ANGGOTA DPRA DAN DPRK) LAMPIRAN VII PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH,

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

TENTANG DUDUK PERKARA

TENTANG DUDUK PERKARA P E N E T A P A N Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Kotabumi yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat

Lebih terperinci

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM PENETAPAN Nomor: 0051/Pdt.P/2013/PA.Pas. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

SALINAN PENETAPAN. Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

SALINAN PENETAPAN. Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA SALINAN PENETAPAN Nomor : XX/Pdt.P/2011/PA.Ktb BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN AGAMA Kotabumi yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009

PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009 PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Perkara Permohonan, yang diajukan oleh : 1. S U B A R I,Umur 49 tahun,pekerjaan Karyawan Swasta ;

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Perkara Permohonan, yang diajukan oleh : 1. S U B A R I,Umur 49 tahun,pekerjaan Karyawan Swasta ; P E N E T A P A N Nomor : 151 /Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang mengadili perkara perdata dalam tingkat pertama, telah menetapkan seperti

Lebih terperinci

P E N E T A P A N. Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P E N E T A P A N. Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA SALINAN P E N E T A P A N Nomor : 0053/Pdt.P/2012/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkaraperkara

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ;

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ; P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI BANDUNG di Bandung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA IKHTISAR PUTUSAN PERKARA NOMOR 100/PUU-XI/2013 TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA Pemohon Jenis Perkara Pokok Perkara Amar Putusan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM

PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM H U K U M Vol. VI, No. 06/II/P3DI/Maret/2014 Kajian Singkat terhadap Isu-Isu Terkini PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM Shanti Dwi Kartika*) Abstrak Amar Putusan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor : 0827/Pdt.G/2010/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN

BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN 52 BAB IV AKIBAT HUKUM PERKAWINAN DI BAWAH TANGAN DALAM HAK PEWARISAN ANAK YANG DILAHIRKAN DALAM PERKAWINAN Perkawinan dibawah tangan banyak sekali mendatangkan kerugian daripada kebaikan terutama terhadap

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK Oleh: Muchamad Ali Safa at 1. Salah satu ancaman yang dihadapi oleh aktivis adalah jeratan hukum yang diterapkan dengan menggunakan

Lebih terperinci

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO Syarat-Syarat Berperkara Secara Prodeo 1. Anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis dapat mengajukan

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 2030 K/Pdt/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa perkara perdata dalam

P U T U S A N Nomor : 2030 K/Pdt/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa perkara perdata dalam P U T U S A N Nomor : 2030 K/Pdt/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR: 05/PMK/2004 TENTANG PROSEDUR PENGAJUAN KEBERATAN ATAS PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2004 MAHKAMAH

Lebih terperinci

BERSAMA PERCA INDONESIA DUKUNG IKE FARIDA DI MAHKAMAH KONSTITUSI (a Judicial Review for Mix Marriage Couple)

BERSAMA PERCA INDONESIA DUKUNG IKE FARIDA DI MAHKAMAH KONSTITUSI (a Judicial Review for Mix Marriage Couple) Dampak pasal-pasal UUPA dan UU Perkawinan tersebut terhadap pelaku perkawinan campuran yang tidak mempunyai prenuptial agreement: 1. WNI kawin campur tidak dapat membeli tanah dan bangunan dengan status

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, KOMISI INFORMASI Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PUTUSAN. NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN NOMOR : 333/Pdt.G/2010/PAME. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Muara Enim yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM KEBERHASILAN MEDIASI DI PENGADILAN

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DALAM KEBERHASILAN MEDIASI DI PENGADILAN DALAM KEBERHASILAN MEDIASI DI PENGADILAN Firmansyah, S.H., LL.M. TM Luthfi Yazid, S.H., LL.M. Comparative Study of Judicial System between Japan and Indonesia 2007 - Jepang MEDIASI DI PENGADILAN (Court-Annexed

Lebih terperinci

P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan

P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan P E N E T A P A N No. 27/Pdt.P/2013/PN.Wnsb. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Wonosobo yang memeriksa dan mengadili perkara perkara perdata permohonan dalam tingkat pertama,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 100/PUU-X/2012 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 100/PUU-X/2012 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 100/PUU-X/2012 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan

Lebih terperinci

KUMULASI PERMOHONAN ITSBAT NIKAH DENGAN ASAL USUL ANAK. A. Penggabungan Gugatan dalam HIR, RBg

KUMULASI PERMOHONAN ITSBAT NIKAH DENGAN ASAL USUL ANAK. A. Penggabungan Gugatan dalam HIR, RBg KUMULASI PERMOHONAN ITSBAT NIKAH DENGAN ASAL USUL ANAK (Dalam Persfektif Hukum Positif di Indonesia) Oleh: Drs.H.Abdul MUJIB AY,M.H. (Wakil Ketua PA Tanah Grogot Kalimantan Timur) A. Penggabungan Gugatan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) I Pembahasan tentang dan sekitar membangun kualitas produk legislasi perlu terlebih dahulu dipahami

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor 17/PUU-VI/2008 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN. Nomor 17/PUU-VI/2008 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 17/PUU-VI/2008 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012

Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012 18 Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012 TANDA TERIMA BERKAS PERMOHONAN Nomor :..*) Nama Pemohon :... Berkas yang sudah diserahkan terdiri dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan sehingga dapat memperoleh keturunan. Proses tersebut ditempuh melalui suatu lembaga

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENCABUTAN VERSUS PEMBATALAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DALAM PERKARA BANDING

PENCABUTAN VERSUS PEMBATALAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DALAM PERKARA BANDING PENCABUTAN VERSUS PEMBATALAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DALAM PERKARA BANDING Makalah disajikan untuk bahan Diskusi Hakim sekoordinator Bojonegoro Oleh Dra. Hj.Laila Nurhayati, MH Hakim Pengadilan Agama

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 57/PUU-IX/2011 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

PUTUSAN Nomor 57/PUU-IX/2011 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, PUTUSAN Nomor 57/PUU-IX/2011 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor : 98 /Pdt.G /2010/ PAME BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Muara enim di Muara Enim yang memeriksa dan mengadli perkara-perkara

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 21/PUU-XII/2014 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 21/PUU-XII/2014 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA SALINAN PUTUSAN Nomor 21/PUU-XII/2014 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

SURAT - EDARAN Nomor : 2 Tahun 1979

SURAT - EDARAN Nomor : 2 Tahun 1979 No : MA/Pemb./0294/1979 Jakarta, 7 April 1979. Lampiran : Hal : Pengangkatan anak. Kepada Yang Terhormat, 1. Saudara-saudara Ketua, Wakil Ketua, Hakim-hakim Pengadilan Tinggi. 2. Saudara-saudara Ketua,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, enimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR THE ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD LABOUR ( KONVENSI

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA I. UMUM Warga negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok suatu negara. Status

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa wakaf adalah suatu lembaga

Lebih terperinci

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DR. Wahiduddin Adams, SH., MA ** Pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berawal dari bersatunya komunitas adat yang ada di seluruh

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa

Lebih terperinci

Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun 2013

Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun 2013 Kepada Yang Terhormat Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Di J a k a r t a Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun

Lebih terperinci

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA Oleh : Drs.H. Zainir Surzain., S.H., M.Ag I. PENDAHULUAN Peradilan agama adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN KERJA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SALINAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

BAB III PERKARA PENETAPAN PERMOHONAN ASAL USUL ANAK OLEH SUAMI ISTRI YANG SUAMI-NYA BERSTATUS WNA PADA AWAL PERNIKAHAN-NYA

BAB III PERKARA PENETAPAN PERMOHONAN ASAL USUL ANAK OLEH SUAMI ISTRI YANG SUAMI-NYA BERSTATUS WNA PADA AWAL PERNIKAHAN-NYA BAB III PERKARA PENETAPAN PERMOHONAN ASAL USUL ANAK OLEH SUAMI ISTRI YANG SUAMI-NYA BERSTATUS WNA PADA AWAL PERNIKAHAN-NYA A. Deskripsi Normatif Pengadilan Agama Surabaya Pengadilan Agama Surabaya dibentuk

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

PRASTIKA BROTHERS & PARTNER KANTOR ADVOKAT DAN PENGACARA Tanah Merah 2, Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran.

PRASTIKA BROTHERS & PARTNER KANTOR ADVOKAT DAN PENGACARA Tanah Merah 2, Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran. PRASTIKA BROTHERS & PARTNER KANTOR ADVOKAT DAN PENGACARA Tanah Merah 2, Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran. Hal. : Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Surabaya, 26 Pebruari 2010 Dengan Hormat, Kepada

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 80 TAHUN 1957 TENTANG PERSETUJUAN KONPENSI ORGANISASI PERBURUHAN INTERNASIONAL NO. 100 MENGENAI PENGUPAHAN YANG SAMA BAGI BURUH LAKI-LAKI DAN WANITA UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Bentuk: Oleh: UNDANG-UNDANG (UU) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 7 TAHUN 1984 (7/1984) Tanggal: 24 JULI 1984 (JAKARTA) Sumber: LN 1984/29; TLN NO. 3277 Tentang: PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN

Lebih terperinci

HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER

HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER 1. Pendahuluan. HAL-HAL YANG PERLU PENGATURAN DALAM RUU PERADILAN MILITER Oleh: Mayjen TNI Burhan Dahlan, S.H., M.H. Bahwa banyak yang menjadi materi perubahan dalam RUU Peradilan Militer yang akan datang,

Lebih terperinci

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati,

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati, -------------------------------- LAPORAN KOMISI III DPR RI TERHADAP HASIL PEMBAHASAN DAN PERSETUJUAN MENGENAI PENGANGKATAN KAPOLRI (UJI KELAYAKAN CALON KAPOLRI) PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI Kamis, 16 April

Lebih terperinci

HAK UJI MATERIIL DI BAWAH UNDANG-UNDANG 1. Oleh: H. Ujang Abdullah, S.H., M.Si 2

HAK UJI MATERIIL DI BAWAH UNDANG-UNDANG 1. Oleh: H. Ujang Abdullah, S.H., M.Si 2 HAK UJI MATERIIL DI BAWAH UNDANG-UNDANG 1 Oleh: H. Ujang Abdullah, S.H., M.Si 2 I. Pendahuluan Mahkamah Agung sebagai lembaga yang melaksanakan Kekuasaan Kehakiman adalah merupakan Pengadilan Negara Tertinggi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: Mengingat: Bahwa untuk

Lebih terperinci

NOMOR : 263 /PID/2013/PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Umur / Tgl.Lahir : 30 tahun / 29 Juni 1982.

NOMOR : 263 /PID/2013/PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Umur / Tgl.Lahir : 30 tahun / 29 Juni 1982. P U T U S A N NOMOR : 263 /PID/2013/PT-MDN DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ------ PENGADILAN TINGGI SUMATERA UTARA DI MEDAN, yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana dalam

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci