Komisi Penelitian-Pengkajian & Komisi Dakwah MUI NTB

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Komisi Penelitian-Pengkajian & Komisi Dakwah MUI NTB"

Transkripsi

1 Komisi Penelitian-Pengkajian & Komisi Dakwah MUI NTB

2 Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KDT) Komisi Penelitian-Pengkajian & Komisi Dakwah MUI NTB Peta Dakwah Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat/ Muhammad Harin Zuhdi, MA, et.all/ 2017 I. II. Judul All right reserved Hak Cipta dilindungi Undang Undang Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini baik melalui media cetak ataupun digital dengan tujuan komersial tanpa izin tertulis dari penulis Peta Dakwah Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggaara Barat Penasehat Pengarah Ketua Tim Penulis Penulis Tata Usaha : Prof. H. Saiful Muslim, MM : Drs. H. Anang Zainuddin H. Abd. Rahman Kuling, SIP : Muhammad Harin Zuhdi, MA : Dr. Saleh Ending, MA Drs. H. M. Jamiluddin, MM Drs. H. M. Natsir Abdullah, MA Dr. H. Lalu Supriadi, MA Drs. H. Fachrir Rahman, MA Dr. H. Fakhrurrozi, MA Dr. H. Lalu Muchsin Effendi, MA Drs. H. Muhammad H. M. Nur Drs. Mukhlis, M.Ag. M.Pd : Dr. H. Badrun, M.Pd Drs. H. Djumadil, M.Pd Tata Letak : Luthi Hamdani Desain Cover : Sanabil Creative Cetakan 1 : September 2017 ISBN : Diterbitkan oleh: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB Jl. Pejanggik No. 04 Mataram Kode Pos: Telp. (0370) , Fax. (0370) Disetting dan dicetak oleh: Sanabil Jl. Kerajinan 1 Puri Bunga Amanah Blok C/13 Cakranegara Mataram Telp.: (0370) , Mobile:

3 Sambutan [Ketua umum mui Provinsi ntb] Al-Hamdulillahi Rabb al- Alamin. Segala puja puji syukur kami panjatkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta ala atas segala karunia, sehingga buku Peta Dakwah MUI NTB dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah keharibaan junjungan alam, Rasul yang mulia Nabi Muhammad shallahu alaihiwassallam atas Syafa at-nya. Dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah, yaitu jalan menuju Islam. Sebagai dinullah, Islam bersumber dari wahyu Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya, ia merupakan sumber nilai yang akan memberikan corak, warna dan bentuk kebudayaan Islam. Suatu bentuk kebudayaan yang berisikan pesan atau nilai-nilai islami, sekalipun ia muncul dari orang atau masyarakat bukan penganut dinul Islam. Demikian juga sebaliknya, tidak dikatakan budaya Islam, walau ia lahir dari orang atau masyarakat penganut dinul Islam, jika tidak memuat pesan atau nilai-nilaiislami. Pada hakekatnya, dakwah Islam merupakan aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berikir, bersikap dan bertindak manusia pada dataran kenyataan individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu. Keberadaan ormas dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam sektor dakwah Islamiah sangat penting untuk memiliki peta dakwah saat ini. Dengan adanya peta dakwah ini diharapkan penyelenggaraan dakwah menjadi lebih terkoordinasi antara para da i (muballigh) yang satu dengan yang lain sehingga tidak terjadi tumpang tindih (overlapping) dakwah yang tidak diperlukan. Selain itu, dakwah Islamiyah dapat Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB iii

4 dilaksanakan lebih tepat sasaran berdasarkan data yang terukur, akurat, dan lengkap sesuai dengan kondisi di lapangan. Peta dakwah juga memudahkan kepada seluruh stakeholder dakwah untuk menemukan obyek, target, dan metode yang digunakan sehingga dakwah dapat dilaksanakan secara efektif dan eisien. Pada tataran nilai, Islam sejak awal mengajarkan kebaikan dan moralitas luhur, dan pada saat yang sama melarang segala perilaku jahat. Oleh karenanya, untuk dapat mengaktualisasikan ajaran dan fungsi agama Islam sebagaimana mestinya, dan agar dapat berperan maksimal dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan, termasuk pembentukan nilai-nilai moral perilaku umat Islam, maka gagasan untuk memahami ajaran al-qur an secara utuh (komprehensif), bukan sebagai ajaran yang terpisah-pisah merupakan sebuah keniscayaan. Keutuhan akan dapat dicapai bila aspek teologis [akidah] diletakkan sejajar dalam pola hubungan interpendensi dengan aspek iqh [hukum/ interaksi sosial] yang dirangkaikan secara sistematis oleh akhlaq [etika moral], sehingga terjadi sinergitas antara ketiga aspek tersebut. Sebagai ketua umum MUI Provinsi NTB, kami mengapresiasi postif dan antusias dengan terbitnya buku Peta Dakwah Provinsi NTB sebagai bahan referensi bagi para pelaku dan praktisi dakwah yang bertugas di Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mensosialisasikan misi Islam yang damai, toleran dan membawa rahmat bagi semesta alam, dan berharap semoga buku ini dapat bermanfaat serta menjadi kontribusi bagi khazanah kajian dakwah Islamiah. Akhirnya, kami mengucapkan banyak terima kasih dan memohon kepada Allah, semoga apa yang telah ditulis oleh para kontributor buku ini akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SubhanahuwaTa ala dan menjadi bekal di akhirat kelak. Amin yamujiibassailin.[] Mataram, 5 Mei 2017 Prof. H. Saiful Muslim, MM iv Peta Dakwah MUI NTB

5 PraKata [Ketua tim Penelitian Peta DaKwah] Dakwah berarti mengajak, memanggil, menyeru, mengharap sekaligus permohonan kepada manusia agar senantiasa berada pada jalan lurus (shirath al-mustaqim). Term ini sering diberi arti yang sama dengan istilah tabligh, amar ma ruf-nahi munkar, mauizhoh hasanah, tabsyir, inzhar, washiyah, tarbiah, ta lim dan khotbah. Pada tataran empirik, parktek dakwah harus mengandung tiga unsur, yaitu penyampai pesan, informasi yang disampaikan, dan penerima pesan. Namun dakwah secara terminologi mengandung pengertian yang lebih luas, yaitu sebagai aktivitas menyampaikan ajaran Islam, menyuruh berbuat baik, dan mencegah perbuatan mungkar, serta memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia. Sebagai wacana praxis, dakwah selalu dikaitkan dengan frase dengan bijaksana, suatu ungkapan yang menegaskan penolakan atas setiap jalan kekerasan atau paksaan dalam mewujudkan tujuan. Pemaknaaninididerivasidariirman Allah SWT: بيال ت ي ا هدع إييل س بيي ي ل ر ب ك بياهلي هكم ية و اهل هو يعظ ية اهل س ن ية و ج ايدهل م يهي أ هحس ن إين ر ب ك ه و أ هعل م يب ن ض ل ع ن س بيييليه و ه و أ هعل م بياهل هت يدين Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-Nahl [16]: 125) Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB v

6 ات ب ع ن ي ق هل ه يذيه س بيييلي أ هدع و إيل ا هلي ع ل ى ب يصر ة أ ن اه و م ين و س ب ه ح ان ا هلي و م ا أ ن اه يمن اهل هشيريكن Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Yusuf [12]: 108) Berdasarkan penjelasan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa dakwah pada dasarnya adalah suatu upaya manusia dan untuk kepentingan manusia pula dalam kerangka mewujudkan nilai-nilai dasar keislaman dalam realitas kemanusiaan di mana kemaslahatan bagi semua menjadi tujuannya. Nilai-nilai dimaksud adalah apa yang lazim diistilahkan sebagai major themes of Islam, yakni ketuhanan (tawhîd), keadilan (al- adâlah), egaliterianisme (al-musâwah), kebebasan (al-hurriyah), kebaikan (al-khayr), musyawarah (al-syûrâ), dan amr ma rûf nahiy munkar. Makna dakwah sebagai seruan atau ajakan persuasif nan ramah itu relevan dengan metode dakwah yang dilansir dalam surat al-nahl. Secara eksplisit ayat tersebut mendiskripsikan tentang strategi metode dakwah, yaitu diperintah untuk mengajak manusia ke dalam jalan kebenaran dengan tiga cara, yaitu: pertama, mengetengahkan al-hikmah; kedua, menyampaikan al-maw izhah al-hasanah; dan ketiga melakukan mujâdalah (dialog) dengan cara terbaik. Adapun tujuan dakwah secara umum adalah mengubah perilaku sasaran dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam tataran kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatannya, agar terwujud kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan mendapat keselamatan di dunia atau pun akhirat. Selanjutnya agar dakwah bisa dilakukan dengan secara efesien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan, maka harus dibuat dan disusun stratiikasi sasaran dalam sebuah peta dakwah. Peta dakwah adalah informasi yang lengkap mengenai kondisi objektif unsur ataupun vi Peta Dakwah MUI NTB

7 komponen dari sistem dakwah baik raw (materi dakwah), input, konversi, output, feedback, maupun environmental. Dengan demikian, peta dakwah adalah suatu gambaran sistematik dan terinci tentang subyek,obyek dan lingkungan dakwah pada satuan unit daerah. Satuan unitnya dapat meliputi tingkat kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi. Luas dan besarnya satuan unit yang akan diambil sangat tergantung kepada kebutuhan akan data serta dana dan tenaga yang tersedia. Adapun gambaran petanya meliputi beberapa komponen antara lain: pertama, deskripsi keadaan. Deskripsi ini dapat dituangkan dalam bentuk uraian, dan dalam bentuk tabel, graik dan lainnya yang berkaitan dengan setiap komponen. Kedua, identiikasi masalah dakwah, dan ketiga, hubungan peta dakwah dan perencanaan dakwah. Sebua perencanaan dakwah tidak akan mengenai sasaran jika tanpa dilandaskan kepada data (bank data) yang sahih. Data yang sahih hanya dapat diperoleh dari sebuah penelitian. Penelitian dakwah akan menghasilkan bank data yang kemudian dituangkan dalam peta dakwah. Data yang ada dalam peta dakwah dijadikan landasan untuk menyusun perencanaan dakwah selanjutnya. Salah satu usaha untuk mengetahui materi dan metode dakwah yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat tertentu adalah melalui penyusunan peta dakwah. Peta dakwah, dengandemikian adalah gambaran (deskriptif ) menyeluruh tentang berbagai komponen yang terlibat dalam proses dakwah. Dinamisasi kehidupan masyarakat sebagai sarana dakwah dewasa ini semakin kompeks dan menuntut perlunya perubahan paradigma strategi dakwah Islam. Strategi dakwah Islam yang diyakini dapat menjawab tantangan zaman tersebut, meliputi: peningkatan sumber daya dai, pemanfaatan teknologi modern sebagai media dakwah, penerapan metode dakwah fardhiyah dan dakwah kultural, monitoring dan evaluasi dakwah, serta penyusunan peta dakwah. Dengan demikian para praktisi dakwah; Tuan Guru, Kyai, Ustdaz, Da i, dan Mubaligh akan dapat memperluas informasi tentang daerah yang ditandatangani. Akhirnya, ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pimpinan MUI NTB, dan semua pihak yang telah memberikan support, Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB vii

8 bantuan, terutama kerja keras, kerja cerdas para penulis, sehingga buku ini dapat diterbitkan. Paling akhir hanya kepada Allah Subhanahu Wata ala, kami memohon pertolongan semoga buku Peta Dakwah MUI NTB ini dapat bermanfaat dan menjadi kontribusi bagi khazanah keilmuan dakwah, serta menjadi amal shalih di sisi Allah Ta ala. Aamiin Ya Rabb al- Alamiin.[] Mataram, 5 April 2017 Muhammad Harin Zuhdi, MA viii Peta Dakwah MUI NTB

9 PrOLOG [Ketua umum mui Pusat] islam wasathiyah: KhiDmah mui untuk PeRaDaBan Dunia Secara teologis, Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Aktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Indonesia. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilainilai ketauhidan sebagai suatu benang merah yang mengikat secara kokoh satu sama lain. Kondisi Kehidupan keagamaan kaum muslimin pada saat ini tidak dapat dipisahkan dari proses dakwah atau penyebaran Islam di Indonesia sejak beberapa abad sebelumnya. Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi. Secara etimologis, kata dakwah berarti ajakan, yang berasal dari kata Arab, da â, yad û, da watan, du a 1 yang berarti mengajak, memanggil, menyeru, memanggil, permohonan dan mengharap manusia agar senantiasa berada di jalan Allah SWT. Istilah ini sering diberi arti yang sama dengan istilah tabligh, amar ma ruf-nahi munkar, mauizhoh hasanah, tabsyir, inzhar, washiyah, tarbiah, ta lim dan khotbah. 1 Majma al-lughah al- arabiyah, (Beirut: Dar al-fikr, 1972), h. 286 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB ix

10 Pada tataran empirik, parktek dakwah harus mengandung tiga unsur, penyampai pesan, informasi yang disampaikan, dan penerima pesan. Namun demikian, dakwah secara terminologi mengandung pengertian yang lebih luas, yaitu sebagai aktivitas menyampaikan ajaran Islam, menyuruh berbuat baik, dan mencegah perbuatan mungkar, serta memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia. Sebagai wacana praxis, dakwah selalu dikaitkan dengan frase dengan bijaksana, suatu ungkapan yang menegaskan penolakan atas setiap jalan kekerasan atau paksaan dalam mewujudkan tujuan. Pemaknaan etimologis ini diderivasi dari irman Allah SWT: بيال ت ي ا هدع إييل س بيي ي ل ر ب ك بياهلي هكم ية و اهل هو يعظ ية اهل س ن ية و ج ايدهل م يهي أ هحس ن إين ر ب ك ه و أ هعل م يب ن ض ل ع ن س بيييليه و ه و أ هعل م بياهل هت يدين Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-Mahl[16]: 125) ات ب ع ن ي ق هل ه يذيه س بيييلي أ هدع و إيل ا هلي ع ل ى ب يصر ة أ ن اه و م ين و س ب ه ح ان ا هلي و م ا أ ن اه يمن اهل هشيريكن Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Yusuf [12]: 108) Berdasarkan penjelasan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa dakwah pada dasarnya adalah suatu upaya manusia dan untuk kepentingan manusia pula dalam kerangka mewujudkan nilai-nilai dasar keislaman dalam realitas kemanusiaan di mana kemaslahatan bagi semua menjadi tujuannya. Nilai-nilai dimaksud adalah apa yang lazim diistilahkan sebagai major themes of Islam, yakni ketuhanan x Peta Dakwah MUI NTB

11 (tawhîd), keadilan (al- adâlah), egaliterianisme (al-musâwah), kebebasan (al-hurriyah), kebaikan (al-khayr), musyawarah (al-syûrâ), amrma rûf nahiy munkar, danseterusnya. Makna dakwah sebagai seruan atau ajakan persuasif nan ramah itu relevan dengan metode dakwah yang dilansir Allah SWT sendiri dalam surat an-nahl. Secara eksplisit ayat tersebut mendiskripsikan tentang strategi metode dakwah, yaitu diperintah untuk mengajak manusia ke dalam jalan kebenaran dengan tigacara, yaitu (1) mengetengahkan al-hikmah; (2) menyampaikan al-maw izhah al-hasanah (pelajaran yang baik); dan (3) melangsungkan mujâdalah (dialog) dengan cara terbaik. Majelis Ulama Indonesia bertujuan untuk terwujudnya masyarakat yang berkualitas (khaira ummah), dan negara yang aman, damai, adil dan makmur baik rohaniah dan jasmaniah yang diridhai Allah Subhanahuwa Ta ala (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur). Untuk mencapai tujuannya, MUI melaksanakan berbagai program kegiatan, antara lain memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat, merumuskan kebijakan dakwah Islam, memberikan nasehat dan fatwa, merumuskan pola hubungan keumatan, menjadi penghubung antara ulama dan umara, dan membina hubungan kerjasama startegis dengan lembaga sosial, pendidikan dan dakwah baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk mewujudkan fungsi dan tujuan tersebut, maka Majelis Ulama Indonesia menetapkan Islam Wasathiyah sebagai paradigma perkhidmatan untuk mensinergikan gerakan keislaman di Indonesia sebagaimana yang dibangun ulama terdahulu, yaitu keislaman yang mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeseimbangan (tawazun), lurus dan tegas (i tidal), toleransi (tasamuh), egaliter (musawah), mengedepankan musyawarah (syura), berjiwa reformasi (ishlah), mendahulukan yang prioritas (aulawiyah), dinamis dan inovatif (tathawwurwaibtikar), dan berkeadaban (tahadhdhur). Dalam pandangan Majelis Ulama Indonesia, Islam Wasathiyah adalah melihat ajaran Islam sebagai Rahmatanlil Alamin, rahmat bagi segenap alam semesta.islam Wasathiyah adalah Islam pertengahan/ moderat untuk terwujudnya umat terbaik (khairuummah). Allah SWT menjadikan umat Islam pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama. Berikut ini penjelasan singkat dan dasar hukum paradigm Islam Wasathiyah Majelis Ulama Indonesia. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB xi

12 Wasathiyah ataual-tawasuth adalah sikap tengah-tengah, sedangsedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari irman Allah SWT: و ك ذ ليك ج ع لهن اك هم أ م ة و س طا ل ت ك ون واه ش ه د اء ع ل ى الن ا يس و ي ك ون الر س ول ع ل ي ه ك هم ش يهيدا Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.(qs al-baqarah: 143). Al-Tawazun adalah sikap seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur an dan Hadits). Firman Allah SWT: ل ق هد أ هرس لهن ا ر س ل ن ا بيالهب ي ن ا يت و أ نز لهن ا م ع ه م اله يكت اب و اهلييز ان ليي ق وم الن اس بيالهي ق ه س يط Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-hadid: 25) Al-I tidal adalah sikap tegak lurus. Ini sebagaiamna irman Allah SWT: ي ا أ ي ه ا ال يذين آم ن واه ك ون واه ق و ايمن يل ه ي ش ه د اء بيالهي ق ه س يط و ا ي هيرم ن ك هم ش ن آن ق هوم ع ل ى أ ا ت هع يدل واه ا هع يدل واه ه و أ هقر ب ليلت هقو ى و ات ق واه ا هل إين ا هل خ بير يب ا ت هعم ل ون Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil.berbuat adillah xii Peta Dakwah MUI NTB

13 karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah MahaMelihatapa yang kamukerjakan. (QS al-maidah: 8) Selain ketiga prinsip ini, Majelis Ulama Indonesia juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi.yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT: ف ق وا ل ه ق هوا ل ي نا ل ع ل ه ي ت ذ ك ر أ هو ي هش ى Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudahmudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44) Alhamdulillah, Selamat kepada MUI NTB Masa Khidmah atas upaya penulisan buku Peta Dakwah MUI NTB yang disusun oleh Komisi Penelitian-Pengkajian dan Komisi Dakwah MUI NTB. Buku ini memiliki signiikansi untuk mendakwahkan Islam Wasathiyah, yaitu visi agama yang membawa misi keselamatan dan kedamaian bagi semesta alam. Oleh karenanya, segala bentuk tindakan ekstremitas; liberalisme, radikalisme dan terorisme tidak ditolerir Islam, karena menyalahi misi dasar Islam Rahmatan Lil Alamin. Untuk itu, sebagai Ketua Umum MUI, saya mengapresiasi positif dan menyambut baik penerbitan buku ini dalam rangka mensosialisasikan misi Islam yang damai, moderat, toleran dan membawa rahmat bagi semesta alam, dan berharap semoga buku ini dapat bermanfaat serta menjadi kontribusi bagi khazanah keilmuan dan dakwah Islamiah. Semoga.[] Jakarta, 27 Syawal 1438 H 21 Juli 2017 M Prof. Dr. KH. Ma ruf Amin Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB xiii

14

15 DaFtar ISI Sambutan_iii Prakata_v Prolog_ix Daftar Isi_xv BaB 1 SEJARAH SOSIAL NUSA TENGGARA BARAT_1 A. Nusa Tenggra Barat: Setting Geograi dan Demograi_1 B. Lombok Seting Sosial Budaya dan Keagamaan _6 C. Akar Sejarah Pulau Lombok_17 D. Akar Genealogi Islam di Lombok_23 E. Bahasa Sasak_29 F. Sistem Kekerabatan Suku Sasak Lombok_31 G. Stratiikasi Sosial Suku Sasak Lombok_38 H. Nilai Kearifan Lokal Suku Sasak Lombok_41 I. Dialektika Agama dan Budaya di Lombok_45 J. Pulau Sumbawa: Tipikal Wajah Politik Religius-Teknokrat_52 BaB 2 KOTA MATARAM_67 A. Akar Genealogi Kota Mataram._67 B. Sejarah Sosial Keagamaan Kota Mataram._72 C. Gambaran Umum Kota Mataram_86 BaB 3 KABUPATEN LOMBOK BARAT_133 A. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Lombok Barat_133 B. Motto, Visi dan Misi_139 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB xv

16 BaB 4 C. Luas Wilayah dan Batas Administrasi_141 D. Sosial Keagamaan Masyarakat_152 E. Perekonomian_154 F. Sejarah Masuknya Islam_154 KABUPATEN LOMBOK TENGAH_169 A. Peta dan Keadaan Alam_169 B. Sejarah dan Asal Usul_171 C. Pengaruh Budaya Luar_173 D. Sejarah Kabupaten Lombok Tengah_178 E. Motto Kabupaten Lombok Tengah_183 F. Karakteristik Penduduk _183 G. Pendidikan_188 H. Agama dan Kepercayaan_198 I. Organisasi Sosial dan Keagamaan_205 J. Identiikasi Persoalan Keagamaan di NTB_207 BaB 5 KABUPATEN LOMBOK TIMUR_215 A. Sejarah Lombok Timur_215 B. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Lombok Timur_219 C. Lembaga Pendidikan Umum di Kabupaten Lombok Timur_221 D. Lembaga Pendidikan Agama dan Keagamaan di Kabupaten Lombok Timur_222 E. Lembaga Sosial Keagamaan_226 F. Sumber Daya Manusia_230 G. Tempat Ibadah_231 H. Lembaga Dakwah_233 I. Lembaga Sosial_234 J. Lembaga Wakaf_235 K. Ailiasi Politik_236 L. Kendala Utama Yang Harus Ditindaklanjuti_240 M. Rekomendasi_240 BaB 6 KABUPATEN LOMBOK UTARA_243 A. Letak Geograis_243 B. Sekilas Sejarah Kabupaten Lombok Utara_244 C. Adat Istiadat dan Budaya_247 xvi Peta Dakwah MUI NTB

17 D. Agama_251 E. Pendidikan_254 F. Rumah Ibadah_256 G. Majlis Taklim dan TPQ_257 H. Pondok Pesantren_270 I. Lembaga Sosial Keagamaan_273 BaB 7 KABUPATEN SUMBAWA BARAT_275 A. Keadaan Alam NTB _275 B. Letak dan Keadaan Alam Sumbawa Barat_276 C. Kabupaten Sumbawa Barat Hasil Pemekaran_278 D. Motto _280 E. Penduduk dan Mata Pencaharian_281 F. Pendidikan Islam_285 G. Agama dan Kepercayaan_291 H. Konlik Sosial_294 I. Masjid Agung Sebagai Simbol Pemersatu_306 J. Penguatan Interaksi Agama_306 K. Sistem Organisasi Sosial_307 L. Identiikasi Persoalan Keagamaan_310 BaB 8 KABUPATEN SUMBAWA_313 A. Motto Kabupaten Sumbawa_313 B. Letak dan Keadaan Alam_316 C. Sejarah Masyarakat Sumbawa_319 D. Kependudukan_335 E. Pendidikan Islam_339 F. Agama dan Kepercayaan_344 G. Sistem Upacara Adat_355 BaB 9 KABUPATEN DOMPU_359 A. Letak Geograis_359 B. Kilas Sejarah Dompu_361 C. Keadaan Demograis Keagamaan Kabupaten Dompu_370 D. Sarana Ibadah_371 E. Sarana Pendidikan Islam Formal Dan Non Formal_372 F. Kondisi Da i Islam (Penyuluh Agama)_379 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB xvii

18 BaB 10 KABUPATEN BIMA_383 A. Letak Dan Keadaan Kabupaten Bima_383 B. Sejarah Masyarakat _393 C. Moto Dan Lambang Daerah Kabupaten Bima_398 D. Penduduk Dan Mata Pencaharian_398 E. Pendidikan_401 F. Agama Dan Kepercayaan_414 G. Sistem Organisasi Sosial Dulu Dan Sekarang_423 BaB 11 KOTA BIMA_427 A. Letak Dan Keadaan Kota Bima_427 B. Sejarah Masyarakat _428 C. Motto Sebagai Simbol Dan Warna Lambang Daerah Kota Bima_432 D. Penduduk Dan Mata Pencaharian_433 E. Pendidikan_435 F. Agama Dan Kepercayaan_437 G. Sistem Organisasi Sosial_446 H. Identiikasi Persoalan Persoalan Keagamaan_447 I. Lurah Dan Lingkungan Terpencil_449 Epilog_451 Daftar Pustaka_463 Index_469 xviii Peta Dakwah MUI NTB

19 bab 1 SEJaraH SOSIaL nusa tenggara barat A. Nusa Tenggra Barat: Setting Geograi dan Demograi Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri atas 2 (dua) pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dan ratusan pulau-pulau kecil.dari 279 pulau yang ada, terdapat 44 pulau yang telah berpenghuni. Pulau Lombok memiliki luas sekitar 4.738,65 Km 2 dengan panjang pulau dari Barat ke Timur sejauh 80 Km. Sedangkan Pulau Sumbawa tiga kali lebih luas, yakni ,5 Km 2, sepanjang 300 Km dari Barat ke Timur dan 100 Km dari Utara ke Selatan. Dengan dua pulau besar itu, maka luas wilayah Nusa Tenggara Barat adalah ,15 Km 2. 1 Keadaan geograi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi demograi Nusa Tenggara 1 Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Bappeda Propinsi NTB, Nusa Tenggara Barat dalam Angka, (Mataram: BPS NTB dan BAPPEDA, 2015), h. 3. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 1

20 Barat. Pada kenyataannya jumlah penduduk di Pulau Lombok lebih besar dari jumlah Penduduk Pulau Sumbawa dengan perbandingan 3:1. Nusa Tenggara Barat terletak antara Bujur Timur dan g 5 Lintang Selatan. Pusat pemerintahan Provinsi NTB terdapat di Kota Mataram Pulau Lombok. Selong merupakan kota yang mempunyai ketinggian paling tinggi, yaitu 166 mdpl. sementara Taliwang terendah dengan 11 mdpl. Kota Mataram sebagai tempat Ibukota Provinsi NTB memiliki ketinggian 27 mdpl. 1. Dari tujuh gunung yang ada di Pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan tertinggi dengan ketinggian mdpl, sedangkan Gunung Tambora merupakan gunung tertinggi di Sumbawa dengan ketinggian mdpl dari sembilan gunung yang ada. Secara klimatologi, kondisi iklim Nusa Tenggara Barat berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geoisika (BMKG), temperatur maksimum pada tahun 2014 berkisar antara 30,1 C - 35,8 C, dan temperatur minimum berkisar antara 20,5 C - 24,9 C. Temperatur tertinggi terjadi pada bulan November dan terendah pada bulan Agustus. Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara persen, dengan kecepatan angin rata-rata mencapai kisaran 2-6 Knots dan kecepatan angin maksimum mencapai 13 Knots. Sedangkan dari aspek demograis, berdasarkan data Proyeksi Penduduk tahun , maka jumlah penduduk Nusa Tenggara Barat Tahun 2014 mencapai jiwa. Dengan rincian, lakilaki sebanyak jiwa dan perempuan sebanyak jiwa, dengan rasio jenis kelamin sebesar 94,17. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Lombok Timur dan yang terkecil di Kabupaten Sumbawa Barat. Jumlah rumahtangga di Provinsi NTB adalah rumahtangga dengan rata-rata anggota rumah tangga sebesar 3,68 orang. Bila dilihat menurut kelompok umur, maka komposisi penduduk Provinsi NTB berbentuk piramid dengan komposisi penduduk terbanyak pada umur 0-4 tahun yaitu sebanyak jiwa. terkecil pada kelompok umur tahun. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini. 2 Peta Dakwah MUI NTB

21 No Tabel 1.1 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin di Kabupaten/Kota Provinsi NTB Kabupaten/ Kota Laki- Laki Perem- Puan Jumlah Rasio 1 Mataram ,79 2 Lombok Barat ,63 3 Lombok Utara ,04 4 Lombok Tengah ,68 5 Lombok Timur ,11 6 Sumbawa Barat ,70 7 Sumbawa ,14 8 Dompu ,99 9 Bima ,09 10 Kota Bima ,24 Jumlah Total ,17 Sumber: Proyeksi Penduduk Tahun , diolah dari NTB Dalam Angka Tahun Tabel 1.2. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi NTB Jumlah NO Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 3

22 Jumlah / Total Sumber: Proyeksi Penduduk Tahun , diolah dari NTB Dalam Angka Tahun Sedangkan batas wilayah Nusa Tenggara Barat adalah: Sebelah Utara Dengan Sebelah Selatan Dengan Sebelah Barat Dengan Sebelah Timur Dengan : Laut Jawa dan Laut Flores; : Samudra Indonesia; : Selat Lombok/Propinsi Bali; : Selat Sape/Propinsi Nusa Tenggara Timur Selanjutnya, penting dicatat bahwa secara geograis, eksistensi etnis dan sosial keagamaan provinsi ini diapit dua propinsi, di sebelah Barat oleh propinsi Bali dan di sebelah Timur oleh Propinsi Nusa Tenggara Timur; dimana pulau Bali dengan mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, dan Nusa Tenggara Timur, yang mayoritas menganut agama Kristen. Meskipun diapit oleh dua ideologi keagamaan yang berbeda, namun bangunan hubungan sosial-keagamaan mereka memiliki toleransi dan keharmonisan yang baik; hubungan antar agama sangat baik.hal ini terbukti dari dinamika kehidupan warganya yang ramah, terbuka, dan hidup berdampingan secara harmonis, meskipun komunitas Hindu (sebagian besar berasal dan memiliki hubungan keluarga dengan masyarakat Hindu Bali).Demikian juga komunitas Kristen juga memiliki hubungan keluarga dengan masyarakat Kristen Nusa Tenggara Timur. Bangunan yang harmonis ini tidak terlepas dari intensitas dialog dan sentuhan nilai-nilai adat-istiadat yang berkembang di Lombok. Karena itulah, realitas ini membuktikan bahwa Nusa Tenggara Barat dibingkai pluralitas dengan keragaman etnis, agama, dan budaya. Dengan demikian, kesadaran masyarakat dalam memahami realitas 4 Peta Dakwah MUI NTB

23 keberagaman menjadi suatu keniscayaan dalam membangun harmoni pluralitas. Nusa Tenggara Barat sendiri terdiri dari dua pulau, yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa dengan status budaya dan adat-istiadat yang berbeda. Pulau Lombok dengan status budaya Sasak dan Sumbawa dengan status budaya Tau Samawa atau orang Sumbawa, dan suku lainnya adalah Mbojo, yaitu masyarakat asli di Bima dan Dompu. Gabungan adat istiadat Sasak, Sumbawa dan Bima dikenal dengan istilah Sasambo. Kendati masyarakat Nusa Tenggara Barat terdiri dari tiga suku bangsa utama, mereka hidup dalam kerukunan dan keselarasan jalinan sosial kemasyarakatan.meskipun hidup dalam adat dan kebiasaan berlainan, masyarakat Nusa Tenggara Barat memiliki rasa persaudaraan dan solidaritas yang turun-temurun dan terpelihara. Bahkan Nusa Tenggara Barat sejak lama juga ditinggali oleh lebih dari satu suku bangsa pendatang. Suku bangsa Bali dan Bugis yang telah bermigrasi ke Nusa Tenggara Barat lebih dari dua abad silam.tetapi keseimbangan pergaulan sosial masyarakat amat terasa dalam pergaulan sehari-hari di semua pemukiman penduduk dan di setiap jengkal tanah Nusa Tenggara Barat.Meski warga Nusa Tenggara Barat dihuni penganut agama berbeda-beda, namun warga hidup berdampingan penuh kerukunan dan toleransi.lihatlah, bangunan rumah ibadah berdiri dengan megah. Ribuan masjid di Pulau Lombok dan Sumbawa, ratusan rumah ibadah umat Hindu, puluhan gereja, dan beberapa sarana ibadah umat lainnya, dibangun dengan jarak sepenggalah.suasana itu mencipta kedamaian jiwa dan kesetiakawanan yang tak lekang oleh zaman. Dengan demikian, Nusa Tenggara Barat memiliki dua tpologi pulau dengan karakteristik sosio-kultural, politik dan pola keberagamaan yang memiliki ciri khas masing-masing antara pulau Lombok dengan pulau Sumbawa. Pulau Lombok terdiri dari Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Lombok Utara. Sedangkan pulau Sumbawa terdiri dari Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 5

24 B. Lombok Seting Sosial Budaya dan Keagamaan Sub bab ini mendiskusikan dua topik utama, yaitu pertama membahas tentang pulau Lombok yang meliputi akar sejarah, adat istiadat, sistem kekrabatan dan kedua membahas tentang relasi agama, adat dan hukum di pulau Lombok. Uraiannya bersifat diskriptif dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang relasi ketiga aspek tersebut, sehingga diperoleh pemahaman yang tepat dan komprehensif dalam menganalisa tema utama tentang peta dakwah dan keragaman di pulau Lombok. Pulau Lombok, 2 selain dikenal dengan wisata alamnya yang eksotik, juga memiliki nilai penting untuk studi-studi sosial keagamaan dikarenakan banyak sisi yang menarik untuk ditelaah mulai dari historisitas, tradisi maupun institusi sosial politik dan dinamika keagamaan yang berkembang di daerah yang mendapat predikat Pulau Seribu Masjid. 3 Sebutan masyarakat Lombok dengan Pulau Seribu Masjid, memiliki latar historis yang cukup unik. Keunikan ini terlihat dari 2 Pulau Lombok terdiri dari 4 Kabupaten (Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara) dan 1 Kotamadya yaitu Kota Mataram. 3 Berdasarkan data di Kantor Wilayah Kementerian Agamadan validasi data NTB Dalam Angka tahun 2015, bahwa jumlah Masjid pada tahun 2015 telah mencapai Ini belum termasuk jumlah mushalla. Bila dibandingkan dengan luas wilayah NTB yang mencapai meter persegi, boleh dikata, rata-rata, setiap 400 meter ada masjid. 6 Peta Dakwah MUI NTB

25 beberapa terminologi agama yang berkolaborasi dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang pada masyarakat Lombok, yaitu konsep Ashhâb al-kahi, yaitu, yang mereka klaim sebagai Filsafat Tujuh Kepentingan. Tujuh kepentingan ini diaktualkan dalam beberapa istilah kepentingan teologis; (1) kecintaan utama adalah mementingkan kecintaan kepada Allah di atas segala-galanya; (2) kecintaan kepada Nabi Muhammad Rasulullah.; (3) kecintaan untuk lebih mementingkan agama dan berjuang di jalan Allah (menegakkan risâlah Islâm); (4) kecintaan kepada lingkungan alam, lingkungan hidup, mengatur dan melestarikan bumi; (5) kecintaan untuk mengutamakan jama ah; (6) kecintaan untuk mrnghargai handai taulan; dan, (7) kecintaan untuk mencintai diri sendiri. 4 Penting dicatat, penyebutan pulau Lombok sebagai pulau seribu masjid, karena di pulau ini dapat ditemukan banyak masjid di setiap kampung, dan hampir tidak ada kampung yang tidak ada masjidnya. Bahkan, tidak jarang dalam satu kampung bisa berdiri dua sampai tiga masjid. Kenyataan ini pula yang menyebabkan pelaksanaan shalat jum at dilakukan secara bergiliran pada setiap masjid. Karena masyarakat tidak mungkin melaksanakan shalat jum at secara sendiri-sendiri atau pada setiap masjid.alasannya, berdasarkan iqh mazhab Syai i, bahwa tidak diperkenankan adanya ta addud al-jum at. Penduduk asli pulau Lombok disebut suku Sasak. Mereka adalah kelompok etnik mayoritas yang berjumlah tidak kurang dari 89% dari keseluruhan penduduk Lombok. Sedangkan kelompok-kelompok etnik lainnya seperti Bali, Jawa, Arab, dan Cina adalah pendatang. 5 Orangorang Sasak menyebar di hampir seluruh daratan Lombok. Sedangkan para pendatang, biasanya tinggal di daerah-daerah tertentu. Sebagian besar orang Bali misalnya tinggal di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Orangorang Sumbawa terutama bermukim di Lombok Timur dan orang-orang Arab di Ampenan. Lingkungan pemukiman masyarakat Arab di Ampenan disebut Kampung Arab Ampenan. Orang-orang Cina yang bekerja sebagai pedagang umumnya tinggal di pusat-pusat kota seperti Cakranegara, Ampenan dan Praya. Secara administratif,pulau Lombok terdiri dari empat kabupaten dan satu kota. Masing-masing adalah Kabupaten Lombok Barat ibu 4 Warni Juwita, Nilai-nilai Keislaman Local Identity Etnis Sasak: Selintas Historis Keberagamaan Suku Bangsa Sasak dalam Makalah, disampaikan pada Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan pada 12-Mei-2012, di Hotel Grand Legi Lombok, Mataram. 5 Erni Budiwanti, Islam SasakWetu Telu vs Wetu Lima (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 6. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 7

26 kota Gerung dengan luas wilayah1,053.87km. Kabupaten Lombok Tengah, ibukota Praya dengan luas wilayah1, km.kabupaten Lombok Timur ibukota di Selong dengan luas wilayahn1, km. Kabupaten Lombok Utara, ibukota di Tanjung dengan luas wilayah km. Sedangkan satu kota, yaitu Kota Mataram beribukota di Mataram dengan luas wilayah terkecil yaitu km. 6 Empat Kabupaten dan satu kota tersebut merupakan satu kesatuan daratan sehingga memudahkan untuk menjangkaunya. Kabupaten Lombok Barat yang merupakan pintu masuk ke Nusa Tenggara Barat yang datang dari Bali dan Jawa dengan keberadaan pelabuhan Lembar. Sedangkan Lombok Timur merupakan pintu masuk ke Lombok yang datang dari daratan Sumbawa (Bima, Dompu dan Sumbawa) serta daratan Flores dengan keberadaan pelabuhan Kayangan LombokTimur. Luas wilayah pulau Lombok secara keseluruhan adalah km yang dihuni oleh penduduk yang berjumlah jiwa, terdiri dari laki-laki berjumlah orang dan perempuan berjumlah orang tersebar pada 53 kecamatan. 7 Secara geograis, pulau Lombok adalah wilayah yang paling subur jika dibandingkan dengan daerah lain di provinsi Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini menjadi sumber pendapatan daerah dalam sektor pertanian. Kondisi pulau Lombok yang subur ini tidak terlepas dari kondisi geograis di sekitarnya yang dikelilingi oleh pegunungan yang melintang di setiap sisi pulau ini. Bahkan terdapat gunung yang terbesar dan tertinggi di pulau ini yaitu Gunung Rinjani yang berketinggian hampir 4000 meter persegi dan dapat menjadi sumber air untuk pulau ini. 8 Karenanya, di pulau Lombok ini terdapat dua musim yang silih berganti yaitu musim panas/kemarau dan musim hujan/dingin. Karena kondisi musimnya seperti ini, maka masyarakat Lombok sebagian besar mengambil profesi sebagai petani. Bila dibandingkan dengan daerah lain di wilayah NTB pada saat musim kemarau, pulau Lombok sebenarnya tidak sepanas daerah lainnya seperti Bima, Dompu dan atau Sumbawa. Di pulau Sumbawa yang merupakan wilayah NTB 6 Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Bappeda Propinsi NTB, Nusa Tenggara Barat dalam Angka, (Mataram: BPS NTB dan BAPPEDA, 2015), h Badan Pusat Statistik.., h Sri Banun Muslim, Hasil Penelitian tentang Islam di Pulau Lombok, (Mataram: STAIN Mataram, 1999), h Peta Dakwah MUI NTB

27 dikenal dengan wilayah yang sangat panas dan gersang. Penduduknya pun tidak sebesar jumlah penduduk yang menetap di pulau Lombok. Di samping itu, dalam beberapa tahun terakhir ini Pulau Lombok terus mengembangkan sektor pariwisata ini sebagai sektor andalan. Pulau Lombok menjadi primadona tujuan destinasi tujuan wisata baik domestik maupun luar negeri,karena keindahan alamnya yang eksotik, wisata kulinernya yang enak dan halal, masyarakat yang ramah bersahabat, dan nilai-nilai religiustas masih kental terasa dalam nafas kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Indikator-indikator inilah yang kemudian mengantarkan pulau Lombok memperoleh penghargaan sebagai World s Best Halal Tourism Destination dan World s Best Halal Honeymoon Destination pada ajang World Halal Travel Award di Abu Dhabi Uni Emirat Arab tahun Dari aspek demograis, berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat, 9 tercatat jumlah penduduk mencapai 4,4 juta jiwa, yang terdiri atas 2,1 juta laki-laki dan 2,3 juta perempuan. Dari total jumlah penduduk tersebut, sebanyak 70,42% tersebar di Pulau Lombok, sedangkan di Pulau Sumbawa sebesar 29,58 persen. Kabupaten/kota di NTB yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, yaitu Kabupaten Lombok Timur sebanyak 1.1 juta jiwa lebih, disusul Kabupaten Lombok Tengah jiwa, Lombok Barat jiwa. Selanjutnya Kabupaten Bima sebanyak jiwa, Sumbawa jiwa, Kota Mataram jiwa, Kabupaten Dompu jiwa, Lombok Utara jiwa, Kota Bima jiwa dan Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata di NTB yang memiliki luas wilayah sekitar ,15 kilometer persegi, yakni sebanyak 223 orang per kilometer persegi. Kabupaten/kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Mataram, yakni sebanyak orang per kilometer persegi, sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 62 orang per kilometer persegi. Laju pertumbuhan penduduk NTB per tahun selama sepuluh tahun terakhir sebesar 1,17%. Laju pertumbuhan penduduk Pulau Sumbawa mencapai 1,29%, lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk di Pulau Lombok yang mencapai 1,10%. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat yakni sebesar 2,71%, sedangkan terendah di Kabupaten Lombok 9 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 9

28 Timur 0,78%. Meskipun Kabupaten Lombok Timur memiliki jumlah penduduk paling banyak di NTB, tapi laju pertumbuhan penduduknya paling rendah dibandingkan dengan sembilan kabupaten/lainnya. Secara historis, masyarakat Sasak sebelum memeluk Islam telah dipengaruhi oleh berbagai ajaran, dan karenanya dapat digolongkan kedalam tiga kelompok, yakni Sasak Boda, 10 Sasak Wetu Telu 11 dan SasakWetu Lima. 12 Pertama, Sasak Boda. Konon disebut-sebut sebagai agama yang pertama dikenal masyarakat Lombok. Kendati dari penyebutannya mirip dengan kata Budha, mereka bukanlah penganut Budhisme, karena mereka tidak mengakui Sidharta Gautama sebagai igur utama pemujaannya maupun terhadap ajaran pencerahannya. 13 Menurut Erni Budiwanti, agama Boda ditandai oleh animisme 14 dan panteisme Boda merupakan kepercayaan asli orang Sasak sebelum kedatangan pengaruh asing. Orang Sasak pada waktu itu, yang menganut kepercayaan ini, disebut Sasak Boda. Agama Sasak Boda ini ditandai oleh Animisme dan Panteisme. Pemujaan dan Penyembahan roh-roh leluhur dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda. Lihat Erni Budiwanti, The Impact of Islam on the Religion of the Sasak in Bayan, West Lombok dalam Kultur Volume I, No.2/2001/h Wetu Telu diidentikkan dengan mereka yang dalam praktek kehidupan sehari-hari sangat kuat berpegang kepada adat-istiadat nenek moyang mereka. Dalam ajaran Wetu Telu, terdapat banyak nuansa Islam di dalamnya. Namun demikian, artikulasinya lebih dimaknakan dalam idiom adat. Di sini warna agama bercampur dengan adat, padahal adat sendiri tidak selalu sejalan dengan agama. Pencampuran praktek-praktek agama ke dalam adat ini menyebabkan watak Wetu Telumenjadi sangat sinkretik.wetu Lima, adalah sebutan khas suku Sasak untuk membedakan dengan varian Islam Wetu Telu di pulau Lombok. Komunitas Wetu Lima dapat diidentiikasi berdasarkan kebiasaan, kepercayaan dan ritus keberagamaan yang dipraktekkan sesuai dengan Islam normatif. Islam Wetu Lima adalah prototipe komunitas Islam yang ditandai oleh ketaatan dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Komitmen mereka terhadap syari ah lebih besar dibandingkan komunitas Wetu Telu. Lihat, Muhammad Harin Zuhdi, Parokialitas Adat Tehadap Pola Keberagamaan Komunitas Islam Wetu Telu di Bayan Lombok ( Jakarta: Lemlit UIN Jakarta, 2009), h Waktu Lima adalah komunitas penganut agama Islam yang menjalankan ajaran Islam secara sempurna, (kaffah) dan dapat dikatagorikan sebagai penganut agama samawi. Identiikasi Lima sebagai simbol mereka menjalankan shalat 5 waktu sehari semalam. 13 Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima,(Yogyakarta: LKiS, 2000), h Animisme berasal dari kata Latin, anima yang berarti jiwa atau roh-roh.bagi masyarakat premitif, semua alam dipenuhi oleh roh-roh yang tidak terhingga banyaknya, tidak saja manusia atau binatang, tetapi benda-benda yang tidak hidup juga memiliki roh, seperti tulang atau batu.jadi, anismisme adalah suatu paham tentang semua benda, baik bernyawa maupun tidak bernyawa mempunyai jiwa atau roh.lihat. Amsal Bachtiar, Filsafat Agama, ( Jakarta: Logos,1997), h Panteisme mengandung pengertian; pertama, ajaran yang menyamakan Tuhan dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam semesta; dan, kedua, penyembahan atau 10 Peta Dakwah MUI NTB

29 Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dari berbagai dewa lokal lainnya merupakan focus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda. 16 Penting dicatat, penganut Boda merupakan komunitas kecil dan masih ditemukan pada awal abad ke 20, dan mereka tinggal di bagian utara Gunung Rinjani (kecamatan Bayan dan Tanjung) dan beberapa desa di sebelah Selatan Gunung Rinjani. Patut diduga, bahwa dulunya mereka berasal dari bagian tengah Pulau Lombok dan mengungsi ke wilayah pegunungan untuk menghindari proses islamisasi. 17 Kedua, Islam Wetu Telu adalah sebuah aliran keagamaan yang dianut oleh minoritas masyarakat Sasak. Dalam kehidupan seharihari penganut Wetu Telu diidentikkan dengan mereka yang dalam peraktek kehidupann sehari-hari sangat kuat berpegang kepada adatistiadat nenek moyang mereka. Dalam ajaran Wetu Telu, terdapat banyak nuansa Islam di dalamnya. Namun demikian, artikulasinya lebih dimaknakan dengan idiom adat. Di sini warna agama bercampur dengan adat, padahal adat sendiri tidak selalu sejalan dengan agama. Percampuran praktek-praktek agama ke dalam adat ini menyebabkan watak Wetu Telu menjadi sangat sinkretik. 18 Beberapa kalangan melihat fenomena Wetu Telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam Abangan di kalangan masyarakat Jawa. Akan tetapi, dilihat dari konsepsi serta cara pandang masingmasing, tidaklah tepat untuk mempersamakan antara keduanya. Zamakhsyari Dhoier, misalnya menyatakan, bahwa Islam Abangan hanya merupakan sebutan bagi orang Islam yang tidak taat melaksanakan ajaran Islam. 19 Meskipun demikian, patut dicatat, bahwa penyebutan Wetu Telu merupakan releksi teoretis dari praktek keagamaan yang mereka lakukan, yaitu; melakukan sembahyang tiga kali sehari (pagi, siang dan sore) bahkan diantara mereka ada yang hanya melaksanakan sembahyang Jum at dan hari raya lebaran, dan sembahyang jenazah. 20 Komunitas masyarakat Wetu Telu di Bayan Lombok, merupakan kelompok sosial yang sampai hari ini masih teguh memegang tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka. Komunitas ini memraktekkan sebuah agama adat yang terbentuk dari sinkretisasi pemujaan kepada semua Dewa dari berbagai kepercayaan. 16 Budiawanti, Islam Sasak.., h Muhammad Noor, Muslihan Habib, Muhammad Harin Zuhdi, Visi Kebangsaan Religius: Releksi Pemikiran Dan Perjuangan Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ( Jakarta: Logos, 2004), h Ibid. 19 Ibid Djuwita dkk.,pengaruh Nilai-Nilai.., h. 18. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 11

30 beberapa pengaruh, yaitu animisme, ajaran Hindu, dan ajaran Islam. 21 Namun, dalam perkembangannnya pengaruh Islam lebih kuat, sehingga kepercayaan yang dianut komunitas ini kemudian lebih dikenal sebagai Islam Wetu Telu. 22 Ketiga, masyarakat sasak penganut Waktu Lima, atau berbeda dengan Wetu Telu, bagi penganut Waktu Lima, merupakan realitas pemelukan masyarakat Lombok yang mengerjakan semua rukun Islam dan melaksanakan semua Wetu shalat dan peribadatan lainnya. Karenanya, menurut Waktu Lima penganut Wetu Telu hanya melaksanakan shalat tiga kali dalam sehari, yaitu maghrib dan isya. dhuhur dan ashar tidak mereka lakukan. Waktu Lima mengatakan, bahwa Wetu Telu tidak menjalan puasa sebulan penuh melainkan tiga kali saja; pada permulaan, pertengahan dan penghujung. 23 Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat Lombok didominasi oleh penganut Waktu Lima yang sampai saat ini merupakan masyarakat masyoritas. Hal ini tidak lepas dari perjuangan dan upaya para tokoh agama untuk melakukan dakwah terhadap Wetu Telu 24 Dari sudut pandang keagamaan, masyarakat Sasak mayoritas menganut agama Islam dengan jumlah mencapai 94,8 % dari keseluruhan penduduk Pulau Lombok. Kendati jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan penganut Islam, penganut Hindu mencapai 3,7 %, jauh lebih besar dibanding Budha yang hanya 1,2 % dan terkonsentrasi di wilayah Ampenan saja. Sementara penganut Kristen Protestan 0,2 % dan Katolik hanya 0,1 % saja. Besarnya jumlah penganut Hindu seperti yang disebut di atas, lebih disebabkan oleh pengaruh historis kekuasaan Kerajaan Mataram Karang Asem selama 209 tahun yaitu dari tahun Ajaran agama Islam mendapatkan tempat sangat tinggi dalam kehidupan masyarakat Sasak.Kehidupan sehari-hari senantiasa dijalankan sesuai dengan doktrin keagamaan yang dianut.kuatnya 21 Sven Cederrot, From Ancestor Worship to Monotheism Politics of Religion in Lombok, dalam Temenos 32. Didownload dari temeno32/ceder.htm 22 Zuhdi, Parokialitas.., h Noor, Habib, Zuhdi, Visi Kebangsaan Religius.., h Di antara mereka dapat disebutkan antara lain, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pancor, Pendiri Nahdhatul Wathan), TGH. Mutawalli (pendiri Pondok Pesntren Darul Yatama wa al-masakin),jerowaru, Lombok Timur, TGH. Shafwan al-hakim, (pengasuh pondok Pesantren Nurul Hakim), Kediri, Lombok Barat, dan TGH.Hazmi Hazmar, (pengasuh Pondok Pesantren Maraqit Ta limat), Mamben, Lombok Timur, dan lainnya. Lihat Ibid., h Peta Dakwah MUI NTB

31 tradisi keagamaan Islam ini dapat dilihat dengan banyaknya jumlah tempat ibadah (Masjid). Berdasarkan data di Kantor Wilayah Kementerian Agamadan validasi data NTB Dalam Angka tahun 2015, jumlah Masjid di pulau Lombok pada tahun 2015 telah mencapai Ini belum termasuk jumlah mushalla. Oleh itu tidaklah mengherankan bila Pulau Lombok dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid. Begitu juga dengan fenomena selalu bertambahnya kuota jamaah haji di tiap tahun yang menjadi indikator keseriusan ibadah masyarakat Sasak. 25 Tradisi keagamaan Islam pada masyarakat Sasak sejak awal masuknya lebih menekankan pada penguatan-penguatan amalan atau ritual keagamaan, yang secara sepintas sangat mementingkan ekspresi religiusitas dalam bentuk pola dasar ritualitas. Selanjutnya, tepatnya di masa aneksasi Kerajaan Mataram Karang Asem pada tahun 1895 sampai imprealisasi Belanda di Pulau Lombok pada paruh akhir abad ke-19, kaum muslim Sasak mengalami pergeseran paradigma keagamaan ke arah model keagamaan Islam suistik atau tarekat. Tarekat yang berkembang di saat itu adalah tarekat Naqsyabandiyah yang dalam catatan sejarah disebarkan oleh Tuan Guru Haji Ali Batu. Tokoh agama inilah yang membawa cara pandang keagamaan Islam baru dan yang dengan sangat gigih menciptakan sebentuk perlawanan kultural menentang kekuasaan yang dianggap lalim. 26 Di samping fenomena tarekat, perubahan sistem dan pola keberagamaan Islam juga dilakukan oleh pelajar-pelajar yang telah menuntut ilmu di Mekkah dengan berusaha mengajarkan ilmuilmunya kepada masyarakat Sasak. Pada titik ini, para pelajar yang nantinya disebut Tuan Guru ini memberikan pengaruh yang signiikan bagi transformasi dakwah Islamiyah di Lombok. Fenomena ini pun berpengaruh kepada perubahan orientasi dan corak keagamaan, yakni dari corak suisme menjadi corak Islam yang berwajah Islam sunni atau Ah lus Sunnah wal Jama ah. Penyebaran dakwah para Tuan Guru ini dilakukan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren dan pengajian-pengajian di masjid-masjid, surau dan langgar yang tersebar di seluruh wilayah Lombok. Para Tuan Guru menempati posisi kuat dalam masyarakat Sasak dan terlegitimasi untuk memberikan wejangan, petunjuk dan petuah 25 Noor, Habib, Zuhdi, Visi Kebangsaan.., h Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram, (Mataram: Yayasan Sumurmas Al-Hamidy, 1998, h Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 13

32 dalam segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk pada ranah kebudayaan dan komitmen politik. Eksistensi Tuan Guru sebagai agen petuah dan penunjuk bagi pola budaya dan tingkah laku masyarakat Sasak dalam menjalankan rutinitas kehidupannya telah memunculkan sistem sosial baru. Tak ayal lagi, Tuan Guru dituntut untuk mampu menyelesaikan dialektika adat dengan hukum agama dalam bidang-bidang tertentu, termasuk pola sistem perkawinan yang ideal dalam Islam. Tuan Guru dan para tokoh agama memberikan pencerahan baru bagi perubahan pemahaman masyarakat dalam memaknai dan memposisikan adat dalam perikehidupan mereka. Adat menurut Tuan Guru dan tokoh agama, merupakan artikulasi dari interpretasi nilai-nilai agama yang termaktub dalam sumber ajaran Islam dan ijtihad-ijtihad ulama iqh. Interpretasi baru tentang adat ini, sedikit tidak, telah menyebabkan tergesernya kompetensi tokoh adat dalam mengatur tata kehidupan bermasyarakat. Mengingat masyarakat Sasak yang sangat kental dengan ketaatan terhadap agamanya dan tentu saja loyal terhadap ketokohan Tuan Guru, maka fanatisme terhadap sosok Tuan Guru tertentu masih sangat banyak ditemukan. Fanatisme seperti ini kadang- kadang sampai menyeberangi demarkasi yang tegas antar pranata sosial yang sudah disepakati. Tidak mengherankan bila setiap kebijakan pemerintahan desa, harus atas prakarsa dan persetujuan dari tokoh agama atau Tuan Guru setempat. Secara sosiologis, masyarakat Lombok dikenal sebagai masyarakat yang kuat mempertahankan nilai-nilai dan ajaran agama Islam, hal ini disebabkan oleh pengakuan yang luar biasa terhadap peran Tuan Guru dan memandang mereka sebagai panutan dalam kehidupan sosialkeagamaan. Sebagai masyarakat yang mayoritas menganut Islam, maka dalam perkembangannya semakin meningkat. Meskipun demikian, keberadaan mereka dapat dikatakan harmonis dengan masyarakat non-muslim baik yang beragama Hindu, Kristen Protesten, Kristen Katolik dan Budha. Sebagaimana dipahami bahwa sejarah suku Sasak Lombok ditandai dengan silih bergantinya berbagai dominasi kekuasaan di Pulau Lombok dan masuknya pengaruh budaya lain membawa dampak semakin kaya dan beragamnya khazanah kebudayaan Sasak. Hal ini sebagai bentuk dari pertemuan (difusi, akulturasi, inkulturasi) kebudayaan. Oleh 14 Peta Dakwah MUI NTB

33 karenanya tidak berlebihan, jika Lombok dikatakan sebagai potret sebuah mozaik. Ada banyak warna budaya dan nilai menyeruak di masyarakatnya. Mozaik ini terjadi antara lain karena Lombok masa lalu adalah merupakan objek perebutan dominasi berbagai budaya dan nilai. Dalam konteks ini paling tidak ada empat budaya yang paling signiikan mendominasi dan mempengaruhi perkembangan dinamika pulau ini, yaitu: 1) pengaruh Islam; 2) pengaruh Hindu Jawa; 3) pengaruh Hindu Bali; dan 4) pengaruh kolonialisme Belanda dan Jepang. Namun demikian, saat ini dapat dikatakan bahwa Islam merupakan faktor utama dalam masyarakat Lombok. Hampir 94,8% dari penduduk kepulauan itu adalah orang Sasak dan hampir semuanya adalah muslim. Seorang etnograis bahkan lebih jauh mengatakan bahwa menjadi Sasak berarti menjadi Muslim. Meskipun pernyataan ini tidak seluruhnya benar (karena pernyataan ini mengabaikan popularitas Sasak Boda). 27 Namun demikian adagium ini dipegangi oleh sebagian besar penduduk Lombok karena identitas Sasak begitu erat terkait dengan identitas mereka sebagai seorang Muslim. Dominannya jumlah umat Islam di pulau Lombok berpengaruh signiikan terhadap banyaknya jumlahmasjid sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan jumlah umat Islam yang melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Adapun jumlah jama ah haji provinsi NTB tahun 2014adalah sebanyak orang dan jumlah tersebut sebanyak orang berasal dari pulau Lombok. 28 Di samping jumlah masjid dan jama ah haji, indakator lain dari keberadaan umat Islam di pulau ini adalah adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam yang berbasis pondok pesantren yang terdiri dari tingkat ula, ustho dan ulya. Data jumlah pondok pesantren tahun 2015 di pulau Lombok ini sebanyak 858 buah, yang tersebar di 4 kabupaten dan 1 kota. 29 Maraknya lembaga-lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah dan tempat pendidikan lainnya membuktikan bahwa masyarakat Sasak sangat peduli terhadap peningkatan intelektualitas 27 Boda merupakan kepercayaan asli orang Sasak sebelum kedatangan pengaruh asing. Orang Sasak pada Wetu itu, yang menganut kepercayaan ini, disebut Sasak Boda. Agama Sasak Boda ini ditandai oleh Animisme dan Panteisme. Pemujaan dan Penyembahan roh-roh leluhur dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda. Lihat Erni Budiwanti, The Impact of Islam on the Religion of the Sasak in Bayan, West Lombok dalam Kultur Volume I, No.2/2001/h Data Jama ah Haji NTB Dalam Angka Tahun Data Pondok Pesantren NTB Dalam Angka Tahun Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 15

34 dan moralitas masyarakat. Dan, pada umumnya kehadiran pondok pesanteren diharapkan sebagai tempat untuk mencetak generasi ilmuan agama (tuan guru) yang juga dapat menjadi pewaris sang tuan guru dalam menyebarkan dakwah Islam. Tentu saja, dan ini yang terpenting, menandai sebuah kenyataan yang serius dari perintah untuk menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam. Fenomena seperti ini seakan menghias kehidupan mereka dan ini memberi pengaruh dalam tata nilai dan juga pada tingkat intelektualitas keagamaan. Bahkan pada masa-masa yang lebih awal, masyarakat Lombok cenderung memasukkan anaknya ke pondok pesantren, yang mereka anggap sebagai tempat pencetak ulama (tuan guru). Karena dari pondok pesantren inilah mereka akan dapat mempelajari secara lebih mendalam ajaran-ajaran agama, seperti; iqh, aqidah, akhlaq, nahwu dan ilmu-ilmu lainnya. Meskipun demikian, patut dicatat, bahwa kecendrungan terhadap iqh lebih kuat (menonjol) daripada disipilin ilmu agama lainnya. Hal ini tidak berarti ilmu-ilmu lainnya tidak diperdalam. Tetapi bahwa iqh memang membawa implikasi sosiologis. Itulah sebabnya, ke ulamâ -an seseorang di Lombok sangat ditentukan oleh kemampuan mereka terhadap ilmu iqh dan seakanakan, iqh merupakan panglima intelektual dalam masyarakat. Argumentasi teoretis ini menunjukkan bahwa dalam perspektif muslim hukum Islam memang merupakan keilmuan Islam yang paling otoritatif dalam dinamika kehidupan intelektual keislaman. Atas alasan inilah barangkali tidak berlebihan bila penulis-penulis Barat, seperti Joseph Schatch, mengklaim bahwa untuk memahami Islam secara holistik, maka hukum Islam harus dipahami, atau yang dalam ungkapannya there is no understanding of Islam without understanding of Islamic law. 30 Selain itu, hukum Islam merupakan hukum yang hidup (living law). Artinya, eksistensinya selalu hadir dalam relung realitas kehidupan umat. Karena itu, secara sosiologis, hampir keseharian hidup masyarakat muslim dibingkai oleh hukum Islam, karena titik berat hukum Islam adalah pada pengaturan hidup bersama dalam tataran sosialnya, yang merupakan inti dari ajaran hukum Islam. 31 Dengan kata lain, masyarakat Lombok akan mengklaim kesarjanaan tuan guru dari perspektif ilmu iqh. Dengan demikian, dalam konteks pendidikan dan pencerahan dapat dikatakan bahwa masyarakat Sasak sangat tertarik pada 30 Joseph Schatch, An Introduction To Islamic Law (London: Clarendon Press, 1996), h Nurcholish Madjid, Islam Doktrin Dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), Peta Dakwah MUI NTB

35 peningkatan intelektualitas pada ilmu-ilmu agama, khususnya, hukum Islam. Penting dicatat, bahwa meskipun masyarakat muslim Lombok banyak yang concern dengan ilmu agama, hal ini tidak berarti mereka tidak mempelajari ilmu-ilmu non-agama. Keinginan kuat masyarakat dalam memahami ajaran agamanya, serta konstruksi keagamaan para tuan guru dan eksistensinya, sebagaimana dikemukakan di atas, telah menjadi titik penting bagi keberpenganutan umat Islam di pulau Lombok. Keberpenganutan ini tidak hanya dalam tataran teoretis, tetapi juga pada taraf praksisnya dan pada tingkat inilah, maka klaim bahwa otoritas keagamaan tuan guru lebih dihargai daripada otoritas politik formalistik pemerintah. Keberpenganutan ini kemudian merambah pada nilainilai normativitas hukum Islam (Fiqh al-islami), baik pada dimensi mu amalah, ibadah,munakahat dan lain-lainnya, kecuali dibidang jinayah dalam pengertian praksisnya. 32 Tetapi, secara teoretis mereka tetap berpegang pada ketentuan hukum iqh jinayat. 33 Hanya pada level implementasinya, mereka masyarakat muslim Lomboksebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, mereka tidak menerapkannya. C. Akar Sejarah Pulau Lombok Sangat sedikit diketahui tentang sejarah awal pulau Lombok. Mereka yang selama ini bergelut dengan studi dan pemerhati sejarah Lombok merasakan adanya kesulitan-kesulitan ketika berusaha merekonstruksi proses perjalanan pulau ini dengan baik. Hal yang sama dirasakan juga oleh mereka yang mencoba menelusuri tapak- 32 Dalam konteks ini adalah bahwa seluruh diktum hukum jinayat seperti tertuang dalam kitab iqh merupakan ketentuan hukum formal. Hanya saja, pada tataran implementasinya dikembalikan kepada otoritas negara. Hal ini merupakan realisasi dari prinsip bahwa Indonesia bukan negara agama, yang menjadikan agama sebagai dasar negara. Namun, juga bukan negara skuler, tetapi negara bangsa (nation state). Marzhuki Wahid dan Abdul Muqsith Ghazali. Relasi Agama dan Negara: Perspektif Pemikiran Nahdlatul Ulama. Istiqro.Vol. 4, No. 01, Baca pula. Marzuki Wahid dan Rumadi. Fiqh Mazhab Negara Kritik atas Politik Hukum Islam di Indonesia.(Yogyakarta: LKiS, 2001). 33 Ketidakberpegangan pada iqh jinayah pada tataran praksisnya, karena mereka menyadari bahwa ketentuan hukum dalam iqh jinayah, tentu tidak mungkin dapat diterapkan. Bagaimana pun, wilayah jinayah adalah wilayah politik kenegaraan, artinya kepastian penerapannya sangat tergantung pada keputusan politik negara. Bagaimana pun, Indonesia bukan negara yang berdasarkan agama, tetapi Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila. Lebih jauh tentang pembahasan iqh jinayat, baca. Awdah, Abd al-qâdir. al-islâm Bayna Jahli Abnâihi wa Ajzi Ulamâihi, (Riyâdl, al-mamlakah al-arabiyah al-suûdiyah: al-riâsah al-ammâh Li Idârah al-buhûth al-ilmiyah wa al-iftâ wa al-dawah wa al-irshâd, 1404);al-Tashrî al-jinâ i al-islâmi Muqâranân bi al-qânûn al-wadh i,(beirut: Muasasah al-risâlah, 1992). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 17

36 tapak sejarah masuknya Islam di wilayah ini. Paling tidak secara ilmiah, mereka kesulitan menemukan data-data valid dan reliable, sehingga dapat diveriikasi oleh semua pihak. Dalam konteks ini tidak berlebihan jika kemudian para peneliti, seperti John Ryan Bartholomew melihat ada dua tema penting yang melembari sejarah pulau ini, yaitu: Pertama, pulau yang seolah-olah tidur dan terbelakang ini merupakan situs dari bermacam macam inkursi (baca: serbuan atau penyerangan) yang mempengaruhi praktik praktik dan kepercayaan sasak (etnis asli lombok). Kedua, ada seruan periodik namun konsisten terhadap puriikasi agama. Perubahanperubahan sosial akibat dari inkursi-inkursi ini memberikan stimulus perasaan akan kebutuhan untuk memperbaharui agama. 34 Satu-satunya sumber yang selama ini secara khusus menguraikan perjalanan pulau ini adalah Babad. Babad Lombok, Babad Selaparang dan lain-lain. keraguan segera muncul, ketika di dalam babad-babad tersebut termuat cerita-cerita legenda dan mistis lainnya, yang sedikit banyak mempersulit pemilahan antara fakta dan mitos di dalamnya. Era pra sejarah tanah Lombok tidak jelas, karena sampai saat ini belum ada data-data dari para ahli serta bukti yang dapat menunjang tentang masa pra sejarah tanah lombok. Suku Sasak temasuk dalam ras tipe Melayu yang konon telah tinggal di Lombok selama tahun yang lalu dan diperkirakan telah menduduki daerah pesisir pantai sejak tahun yang lalu, dengan demikian perdagangn antar pulau sudah aktif terjadi sejak zaman tesebut dan bersamaan dengan itu saling mempengaruhi antar budaya juga telah menyebar. Selanjutnya khusus mengenai sejarah pulau Lombok, baru menjelang abad ke-14 terdapat bukti yang menunjukkan adanya hubungan dengan pulau Jawa. Dalam buku Negarakertagama (1365), karangan Mpu Prapanca, istilah Lombok (Lombok Mirah) dan Sasak (Sasak Adi), yang merepresentasikan pulau Lombok dengan masyarakatnya, disebutkan sebagai bagian dari wilayah Majapahit. Lombok Mirah dan Sasak Adi merupakan salah satu kutipan dari kitab Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahaan kerajaan Majapahit. Kata Lombok dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, kata Mirah berarti permata, kata Sasak berarti kenyataan, dan kata Adi artinya yang baik atau yang utama, 34 John Ryan Bartholemew, Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, terj. Imran Rasidi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), h Peta Dakwah MUI NTB

37 maka arti keseluruhan yaitu kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama. Makna ilosoi itulah mungkin yang selalu diidamkan leluhur penghuni tanah lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestariakan oleh anak cucunya. Lebih lanjut keterangan mengenai Lombok dalam pupuh ke-14 tertulis: Muwah tang I Gurunsanusari Lombok Mirah lawantikang sasakadi nikalun kahayian kabeh Muwah tanah I Bantayan Pramuka Bantayan len Luwuk teken Udamakatrayadhi nikayang sanusa pupul. 35 Penyebutan Lombok Mirah untuk daerah Lombok Barat dan Sasak Adi untuk daerah Lombok Timur. Lombok Timur disebut demikian, karena pada zaman dahulu ditumbuhi hutan belantara yang lebat sekali sampai sesak, hingga di sini asal nama Sasak, dari Saksak (bahasa sansekerta). Lebih lanjut dijelaskan dalam Babad Tanah Lombok, bahwa sebutan Sasak pada etnis asli Lombok berlatar legenda rakyat. Hal itu mengaca pada kondisi daerah lombok yang berupa hutan nan rapat sehingga seolah benteng kokoh. Orang pun lalu menyebutnya sesek (penuh sesak) untuk menunjukan daerah ini. Selanjutnya daerah dan penduduk kawasan ini pun dikenal orang dengan nama sasak atau tanah sasak. 36 Sumber lain, kata Sasak berasal dari bahasa sansekerta, yakni Sak (pergi). Sumber lain, dan kata Saka (asal). Disebutkan pula bahwa orang Sasak adalah orang orang yang pergi dari negeri asal dengan menggunakan rakit berlayar hingga terdampar di pulau ini. Diduga mereka berasal dari Jawa dan menetap di pulau ini secara turun temurun. Bukti penguat tesis ini adalah adanya silsilah para bangsawan Lombok yang terangkum dalam suatu sastra tertulis dalam gubahan bahasa Jawa Madya dan Jejawan. 37 Sedangkan dalam Babad Sangupati, pulau Lombok juga disebut dengan meneng (sepi), dalam babad ini yang disebut pangeran Sangupati (Sang Upati) tiada lain adalah Dahyang Nirarta yang pernah datang ke Lombok pada tahun 1530 M. Sementara Patih Gajah Mada yang datang tahun 1345, menyebutkan Lombok dengan Selapawis yang berarti sela (batu) dan pawis adalah parang karang. Namun ini semua berasal dari bahasa Sangsekerta. Dan nama Selaparang inilah yang populer 35 Sebagaimana dikutip Fathurrahman Zakaria, Mozaik.., h Tim Penyusun Monograi Daerah NTB, Monograi Daerah NTB, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997), h Ibid. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 19

38 bagi sebutan Lombok sejak Prabu Rangkesari sampai datangnya Islam di Lombok. 38 Kerajaan Selaparang merupakan salah satu kerajaan tertua yang pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok, bahkan disebutsebut sebagai embrio yang kemudian melahirkan raja-raja Lombok. Posisi ini selanjutnya menempatkan Kerajaan Selaparang sebagai ikon penting kesejarahan pulau ini. Terbukti penamaan pulau ini juga sering disebut sebagai bumi Selaparang atau dalam istilah lokalnya sebagai Gumi Selaparang. Berkaitan dengan kerajaan Selaparang ini, ada tiga pendapat tentang asal muasal kerajaan Selaparang 39, yaitu: Pertama, disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan proses kelanjutan dari kerajaan tertua di pulau Lombok, yaitu kerajaan desa Laeq yang diperkirakan berkedudukan di Kecamatan Sambalia, Lombok Timur sekarang. Dalam perkembangannya masyarakat kerajaan ini berpindah dan membangun sebuah kerjaan baru, yaitu kerjaan Pamatan di Kecamatan Aikmel dan diduga berada di Desa Sembalun sekarang. Dan ketika Gunung Rinjani meletus, penduduk kerajaan ini terpencar-pencar yang menandai berakhirnya kerajaan. Betara Indra kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Suwung, yang terletak di sebelah utara Perigi sekarang. Setelah berakhirnya kerajaan yang disebut terakhir, barulah kemudian muncul Kerajaan Lombok atau Kerajaan Selaparang. Kedua, disebutkan bahwa setelah Kerajaan Lombok dihancurkan oleh tentara Majapahit, Raden Maspahit melarikan diri ke dalam hutan dan sekembalinya tentara itu, Raden Maspahit membangun kerajaan yang baru bernama Batu Parang yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Selaparang. Ketiga, disebutkan bahwa pada abad XII, terdapat satu kerajaan yang dikenal dengan nama kerajaan Perigi yang dibangun oleh sekelompok transmigran dari Jawa di bawah pimpinan Prabu Inopati dan sejak waktu itu pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Perigi. Ketika kerajaan Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke Pulau Bali pada tahun 1443 yang diteruskan ke Pulau Lombok dan Dompu pada tahun 1357 dibawah pemerintahan Mpu Nala, ekspedisi ini menaklukkan Selaparang dan Dompu. 38 Anak Agung Ketut Agung, Kupu-kupu Kuning Yang Terbang di Selat Lombok, (Denpasar: Upada Sastra, 1992), h Tim Penyusun Monograi Daerah NTB, h Peta Dakwah MUI NTB

39 Agak sulit membuat kompromi penafsiran untuk menemukan benang merah ketiga deskripsi di atas. Minimnya sumber-sumber sejarah menjadi alasan yang tak terelakkan. Menurut Lalu Djelenga, 40 catatan sejarah kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit melalui exspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343, sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun Pasukan Gajah Mada ini diberitakan mendarat pertama kali di desa Akar-akar, wilayah Lombok Barat bagian utara. 41 Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok, dalam perkembangannya meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu Kerajaan Bayan di Barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di Tengah, dan Kerajaan Pejanggik di Selatan. Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka, setelah kerajaan Majapahit runtuh. 42 Sasak tradisional merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok, suku Sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Bukti lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong tong yang ditemukan di Pujungan, Bali, Suku Sasak sudah menghuni pulau Lombok sejak abad IX sampai XI Masehi, Kata Sasak pada prasasti tersebut mengacu pada tempat suku bangsa atau penduduk seperti kebiasaan orang Bali sampai saat ini sering menyebut pulau Lombok dengan gumi sasak yang berarti tanah, bumi atau pulau tempat bermukimnya orang Sasak. Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di dalamnya baik konlik internal, yaitu peperangan antar kerajaan di Lombok maupun ekternal yaitu penguasaan dari kerajaan di luar pulau Lombok. Perkembangan era Hindu, Buddha, memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang Hindu, dan Bayan. Kerajaan-kerajaan tersebut dalam perjalannya di tundukan oleh penguasa dari kerajaan Majapahit saat ekspedisi Gajah 40 Lalu Djelanga, Keris di Lombok, (Mataram: Yayasan Pusaka Selaparang, 2002), h Muhammad Syamsu AS, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnaya (Jakarta: Lentera Basritama, 1999), h Lalu Djelanga, Keris, h. 22 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 21

40 Mada di abad XIII XIV dan penguasaan kerajaan Gel Gel dari Bali pada abad VI. Antara Jawa, Bali dan Lombok mempunyai beberapa kesamaan budaya seperti dalam bahasa dan tulisan. Jika di telusuri asal usul mereka banyak berakar dari Hindu Jawa. Hal itu tidak lepas dari pengaruh penguasaan kerajaan Majapahit yang kemungkinan mengirimkan anggota keluarganya untuk memerintah atau membangun kerajaan di Lombok. Pengaruh Bali memang sangat kental dalam kebudayaan Lombok hal tersebut tidak lepas dari ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan Bali sekitar tahun 1740 di bagian barat pulau Lombok dalam Wetu yang cukup lama. Sehingga banyak terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan kebudayaan kaum pendatang. Hal tersebut dapat dilihat dari terjelmanya genre- genre campuran dalam kesenian. Banyak genre seni pertunjukan tradisional berasal atau diambil dari tradisi seni pertunjukan dari kedua etnik. Sasak dan Bali saling mengambil dan meminjam sehingga terciptalah genre kesenian baru yang menarik dan saling melengkapi. Gumi Sasak silih berganti mengalami peralihan kekuasaan hingga ke era Islam yang melahirkan kerajaan Islam Selaparang dan Pejanggik. Ada beberapa versi masuknya Islam ke Lombok sepanjang abad XVI Masehi. Pertama berasal dari Jawa dengan cara Islam masuk lewat Lombok Timur; Kedua, islamisasi berasal dari Makassar dan Sumbawa. Ketika ajaran tersebut diterima oleh kaum bangsawan ajaran tersebut dengan cepat menyebar ke kerajaan kerajaan di Lombok timur dan Lombok tengah. Mayoritas etnis sasak beragama Islam, namun demikian dalam kenyataanya pengaruh Islam juga berakulturasi dengan kepercayaan lokal sehingga terbentuk aliran seperti Wetu Telu, jika dianalogikan seperti Abangan di Jawa. Pada saat ini keberadaan Wetu Telu sudah kurang mendapat tempat karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Pengaruh Islam yang kuat menggeser kekuasaan Hindu di pulau Lombok, hingga saat ini dapat dilihat keberadaannya hanya di bagian barat pulau Lombok saja khususnya di kota Mataram. Silih bergantinya penguasaan di Pulau Lombok dan masuknya pengaruh budaya lain membawa dampak semakin kaya dan beragamnya khasanah kebudayaan Sasak. Sebagai bentuk dari Pertemuan (difusi, akulturasi, inkulturasi) kebudayaan. Seperti dalam hal kesenian, bentuk kesenian di Lombok sangat beragam. Kesenian asli dan pendatang 22 Peta Dakwah MUI NTB

41 saling melengakapi sehingga tercipta genre-genre baru. Pengaruh yang paling terasa berakulturasi dengan kesenian lokal yaitu kesenian bali dan pengaruh kebudayaan Islam. Keduanya membawa kontribusi yang besar terhadap perkembangan kesenian-kesenian yang ada di Lombok hingga saat ini. Implementasi dari pertemuan kebudayaan dalam bidang kesenian yaitu, yang merupakan pengaruh Bali; kesenian Cepung, Cupak Gerantang, tari Jangger, Gamelan Thokol, dan yang merupakan pengaruh Islam yaitu kesenian Rudat, Cilokaq, Wayang Sasak, dan Gamelan Rebana. Demikianlah sejarah dinamika pulau Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di dalamnya baik konlik internal, yaitu peperangan antar kerajaan di Lombok maupun eksternal, yaitu penguasaan dari kerajaan dari luar Pulau Lombok. D. Akar Genealogi Islam di Lombok Menurut Harry J. Benda, daerah-daerah kepulauan Indonesia mengalami proses Islamisasi mulai sekitar abad ke-13. Proses tersebut tentu memiliki corak tersendiri dari masing-masing daerah 43. Proses masuknya Islam ke Lombok belum dapat diketahui secara pasti. Penuturan-penuturan yang ada sementara ini agak beragam dan sangat sulit dikompromikan satu sama lain menjadi sebuah rangkaian proses yang berkesinambungan. Diduga keragaman ini mencerminkan keragaman asal usul Islam di pulau ini. Sebagian menyebutkan berasal dari Jawa, tetapi dengan perbedaan waktu dan tempat, dari Melayu, Bugis (Makasar). Bahkan sebagian menyebutkan dibawa oleh para pedagang dan pemimpin agama Islam dari Arab. 44 Menurut Mahmud Yunus, 45 bahwa Islam masuk di pulau Lombok pada abad ke 17 M dari arah Timur yaitu Pulau Sumbawa. Pendapat ini didasarkan adanya suatu riwayat yang menceritakan bahwa Raja Goa di Sulawesi Selatan telah memeluk Islam sekitar tahun 1600 M, ketika didatangi tiga orang muballigh dari Minangkabau, yaitu Dato Ri bandang, Dato Ri Patimang, dan Dato Ri Tiro. Setelah memeluk Agama islam gelar Baginda Raja Goa berubah menjadi al-sulthan Alaiddin Awwal al-islam. Selain Raja Goa juga terdapat baginda Karaeng Matopia yang ikut memeluk Agama Islam. Keduanya dikenal sebagai 43 Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang, (terjemah: Daniel Dakhidae), ( Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), h Geoffrey E. Marison, Sasak and Javanese Literature, (Leiden:KITLV Press,1999), h Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979) Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 23

42 penganjur dan menyebarkan Islam di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaanya sehingga dalam beberapa waktu masyarakat Lombok telah memeluk agama Islam. Bersamaan dengan meluasnya wilayah kekuasaan kerajaan Goa terutama setelah penaklukan Bone pada tahun 1606 M, Bima pada tahun 1616 M, 1618 M, dan 1623 M Sumbawa pada tahun 1618 dan 1626 M, dan Buton pada tahun 1626 M, maka perkembangan Islam di Pulau Sumbawa berlangsung secara cepat. Perkembangan Islam selanjutnya meluas hingga menyeberangi Selat Alas dan memasuki Pulau Lombok. Sementara berdasarkan penelitian Erni Budiwanti, bahwa pada abad ke-13 agama Islam mulai merasuki Lombok menyusul ambruknnya dinasti Majapahit dan memunduranya kekuasaan mereka di Jawa yang masuk dari arah barat laut Lombok 46. Warna Islam yang dibawa dari Jawa ini adalah berciri suisme-sinkretik. Sedangkan tesis abad ke-16 sebagai awal kehadiran Islam di Lombok ini umum diyakini banyak penulis histograi Lombok dibawa oleh kaum Muslim Makasar, menyusul penaklukan mereka atas kerajaan Selaparang Hindu di Lombok Timur. Tipikal Islam yang datang dari Makasar ini lebih bercorak ortodoks. Salah satu sumber yang menyebutkan masuknya Islam ke pulau ini dari Jawa adalah Babad Lombok. Di dalamnya antara lain disebutkan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. Susuhunan Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu Bandan dikirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier, dan Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok, dan Sumbawa. Prapen pertama kali berlayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada faham pagan. Setelah kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali, dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk 46 Erni Budiawanti, Islam Sasak..., h Peta Dakwah MUI NTB

43 memelihara agama Islam, dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi (tanpa hasil) dengan Dewa AgungKlungkung. 47 Berdasarkan keterangan di atas, dapat dikatakan bahwa agama Islam masuk di pulau Lombok kira-kira abad ke 16 M, 48 dan penyebarnya yang terkenal adalah satu ekspedisi dari Jawa dipimpinan Sunan Prapen, putra Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo. Berdasarkan mitologi lokal yang dicatat dalam berbagai Babad atau sejarah-sejarah yang tulis dalam pohon palma, disebutkan bahwa Sunan Giri bertanggungjawab atas diperkenalkannya Islam ke Lombok pada tahun 1545 M. 49 Menurut versi lain, ada dua teori yang berkembang tentang masuknya Islam ke Pulau Lombok, yaitu yang menyatakan bahwa Islam masuk dari arah Timur Tengah, dan teori yang menyatakan Islam masuk dari arah Barat, yakni Pulau Jawa. 50 Teori pertama menyatakan bahwa Islam masuk bersamaan dengan datangnya para pedagang dari Gujarat ke Perlak, Samudera Pasai datang pula seorang mubalig dari Arab yang bernama Syeikh Nurul Rasyid, yang kemudian dikenal dengan nama Gaoz Abdul Razaq, dengan tujuan berdakwah. Setelah mendapatkan berita dari Marcopolo, dalam pengembaraanya keliling dunia yang sempat singgah ke Perlak tahun 1292 M, sang mubaligh tertarik kepada Benua Kanguru (Austaralia). Setelah mendatangi benua tujuannya dengan berlayar, tampaknya tempat tersebut kurang menarik perhatianya, sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali ke tempat semula. Dalam perjalanan pulang inilah sang mubalig melewati Selat Alas (perairan yang membelah pulau Sumbawa dan Lombok) dan pada akhirnya mendarat di Kayangan, selanjutnya dari Kayangan, ia melanjutkan perjalanan melalui laut Jawa dan mendarat di pelabuhan Carik, desa Bayan. Rupanya, ditempat ini sang mubalig merasa sangat kerasan dan memutuskan untuk menetap dalam rangka mendawahkan Islam. Hal ini sangat mungkin terjadi karena keramahan komunitas pribuminya dan keindahan panorama alamnya. Sebagaimana diakui secara umum oleh suku Sasak, bahwa desa Bayan merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke daerah ini. 51 Secara geograis terdapat kenyataan yang mendukung pandangan di atas, yaitu di Bayan, tepatnya 500 M sebelah utara Desa Bayan terdapat lautan luas 47 Alfons Der Kraan, The Nature of Balinese Rule on Lombok, h Tim Monograi Daerah NTB..., h. 86; John Ryan Bartholomew, Alif Lam..., Sven Cederroth The Spell of, h. 32; John Ryan Bartholomew, Alif Lam...,h Tito Adonis, Suku Terasing Sasak di Bayan Provinsi NTB, (Mataram: Depdikbud,1989), h Ahli Waris Jawa Majapahit, Tempo,27 April 1991 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 25

44 dengan kondisi air yang tenang. Di tepinya terdapat hamparan pantai yang bernama Pelabuhan Carik. Diperkirakan pelabuhan ini sebagai tempat bersandarnya armada yang digunakan oleh penyiar Islam pertama. Konon syekh Nurul Rasyid atau Gaoz Abdul Razak mendarat di pesisir utama Lombok yang lalu ia namai Bayan. Berkaitan dengan nama ini, dapat pula dikemukakan mitologi yang dipercaya oleh orangorang Sasak Desa Bayan bahwa desa ini bernama Bayan diberikan oleh penyiar Islam pertama (Gaoz Abdul Razak) yang masuk ke daerah ini. Nama tersebut terambil dari kata Bayan yang ada didalam al-qur an, sebagaimana irman Allah SWT: ه ذ ا ب ي ان ل لن ا يس و ه د ى و م هو يعظ ة ل لهم ت يقن Artinya: (Al-Qur an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Imran [3]:138) Bayan berarti penerang. Tampaknya kata Bayan, dipakai untuk menamai tempat itu dengan harapan agar dapat memberikan penerangan (melalui ajaran-ajaran Islam) bagi kehidupan komunitas masyarakat di sana. 52 Gaoz Abdul Razak menetap dan berdakwah di Bayan untuk waktu yang cukup lama, sehingga ia mengawini Denda Bulan yang melahirkan Zulkarnaen, sosok yang jadi cikal-bakal raja-raja Selaparang. Kemudian menikah lagi dengan Denda Islamiyah yang melahirkan Denda Qamariyah yang popular dengan sebutan Dewi Anjani Zaki Yamani Athahar, Kearipan Lokal Dalam Ajaran Islam Wetu Telu di Lombok dalam Jurnal Ulumul, IAIN Mataram, Vol. IX, Edisi 15 No. 1, Sebagaimana antara lain disarikan Anto Achadiyat, dkk. Dalam suku terasing Sasak di Bayan Daerah Propinsi Nusa tenggara Barat ( Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1989 ), h Salah satu tokoh lokal yang meyakini kebenaran cerita ini adalah TGH Zainuddin Abdul Majid, pendiri Nahdlatul Wathan, yang kemudian menyuruh para santri kaum waktu lima untuk menziarahi makam sang syekh di bayan timur pada momen-momen seperti lebaran Idul itri suatu hal yang tidak di sukai para pemangku Wetu Telu karena dianggap merusak kesucian area makam yang mereka sakralkan sembari menantang TGH.Zainuddin Abdul Madjid untuk membenarkan ceritanya.lihat Erni Budiwanti, Islam Sasak, h Peta Dakwah MUI NTB

45 Teori ini tampak bersesuaian dengan teori Gujarat, 54 yang dikontruksi oleh Snouck Hourgronge tentang pembumian Islam di Nusantara. Teori ini berpandangan bahwa Islam membumi ke nusantara melalui Gujarat. Berdasarkan data historis, hubungan dagang Indonesia-India telah lama terjalin dan inskripsi tertua dengan Islam yang terdapat di Sumatera memberikan gambaran hubungan antara Sumatera dan Gujarat. 55 Teori kedua, Islam masuk ke pulau Lombok dari arah Barat, yakni Pulau Jawa dengan orang yang berbeda, yaitu Pangeran Sangupati, dan Sunan Prapen. Menurut Geoffrey E. Marison, Pangeran Sangupati membawa bentuk mistik Islam dari Jawa. Di Jawa ia bernama Aji Duta Semu, di Bali terkenal dengan nama Pedande Wau Rauh, di Lombok terkenal dengan nama Pangeran Sangupati, dan di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru. Bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan bentuk kombinasi dari Hindu (Adwatta) dengan Islam suisme, dengan ajaran pantheisme. Mistik Islam ini diterima oleh masyarakat Lombok yang masih animis, yang belakangan dikenal sebagai penganut Wetu Telu. Versi lain menyebutkan bahwa ia adalah putra Selaparang yang dipandang sebagai Waliyullah. Buku-buku karangannya, antara lain, jati Swara, Prembonan, Fikih, Tasawuf dan sebagainya. Di samping itu, ia juga mengadakan pegelaran wayang untuk pertama kalinya di Lombok sebagai media dakwah. 56 Sementara Sunan Prapen adalah putra Sunan Giri yang ditugaskan untuk mengislamkan Lombok, Bali, dan Sumbawa. 57 Pada masa kedatangan Sunan Prapen ini, Lombok sedang diperintah oleh Prabu Rangke Sari. Sunan Prapen datang bersama-sama dengan pengiringnya antara lain: Patih Mataram, Arya Kertasura, Jaya Lengakara, Adipati Semarang, Tumenggung Surabaya, Tumenggung Sedayu, Tumenggung Anom Sandi, Ratu Madura dan Ratu Sumenep. Dalam penyebaran dakwah ajaran Islam senantiasa disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu. Adat istiadat dan keseniannya disesuaikan dengan ketauhidan. Kemudian baru diajarkan kepada mereka ikrar tobat, ajaran iqh, dan ajaran-ajaran keagamaan lainnya, yang banyak 54 Ahmad Mansyur Suryanegara, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), h Nawawi Rambe, Sejarah Dakwah Islam (Jakarta: Wijaya,1989), Muhammad Noer, Muslihan Habib dan Muhammad Harin Zuhdi, Visi Kebangsaan Religius: Releksi Pemikiran dan Gerakan TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, (Jakarta: Logos, 2004), h Lalu Gde Suparman, Babad Lombok, (Jakarta: Depdikbud, 1984), h Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 27

46 ditulis dalam bahasa daerah yang dicampur dengan bahasa Kawi, dirubah dalam bentuk syair, yang ditembangkan dan ditulis dalam huruf Jejawan (huruf Sasak). Dalam setiap awal tulisan atau uraian selalu diawali dengan pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa contoh dari pengajaran beliau tentang Islam di Lombok yang masih menggunakan bahasa Jawa, antara lain; 58 Bismillah hamba miwiti, henebut namaning Allah, kang murah hing dunio reko, hingkang asih hing akhirat, kang pinujitan pegat, tan ana ratu liang agung, satuhuneamung Allah. (Bismillah hamba awali dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah di dunia dan penyayang di akhirat, yang dipuji tak terputus, tidak ada raja lain yang lebih mulia kecuali Allah) Adapun dua kalimah syahadat yang mereka ajarkan berbunyi: Weruh ingsun nora ana pangeran Iyaning Allah, lan weruh ingsun Nabi Muhammad utusan Allah (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah), atau Asyhadu ingsun weruh anyaksini angestoken norana Pangeran saberene hanging Allah pangeran kang seberene satuhune Nabi Muhammad utusan Allah. (Asyhadu saya bersaksi dengan seyakin-yakinnya bahwasanya tidak ada Tuhan yang sebenarnya, Cuma hanya Allah Tuhan yang sebenarnya, dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah). Adapun kalimat tobat mereka adalah sebaga berikuti: Ingsun aneda pengampuning Allah, hing dosa ingkang agung ingkang alit, ingkang nyata ingkang samar. [Hamba memohon pengampunan Allah terhadap dosa hamba, baik besar maupun kecil, yang nyata atau yang samar) Teori ini lebih banyak dibuktikan dengan fakta adanya kesamaan bahasa dan budaya Lombok dengan Jawa. Misalnya, dua kalimat syahadat yang diartikan dalam bahasa Jawa, sering digunakan di dalam upacara pernikahan komunitas Sasak Desa Bayan adanya tulisan sastra yang memakai daun lontar, berhuruf dan berbahasa Jawa yang berisi ajaran-ajaran Islam, adanya seperangkat gamelan sebagai instrumen pengiring kesenian tradisional Sasak (presean) yang sering dipergunakan pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW. mirip acara sekatenan Yogyakarta, dan juga adanya sebutan parabot-perabot agama yang diambil dari bahasa Jawa, seperti Ketib (orang yang membaca kutbah 58 Tim Penyusun Monograi Daerah NTB..., h Peta Dakwah MUI NTB

47 pada shalat Jum at, dan shalat Id) 59 Mudin (muadzin) dan Lebe (orang yang bertugas untuk menikahkan dan membaca do a). Dinamika peerkembangan Islam di pulau Lombok merupakan babakan sejarah baru dalam merubah keyakinan keagamaan etnis Sasak menjadi pemeluk agama Islam. Perkembangannya relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan agama dan kepercayaan sebelumnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor: pertama, karena Islam menekankan ketauhidan dalam sistem ketuhanan [prinsip ke-esaan Allah]. Kedua, karena daya lentur yang dimiliki Islam. Ketiga, kemampuan Islam untuk tampil sebagai institusi yang mengkooptasi kepentingan pemeluknya. 60 Setelah bertemu dengan beragam kultur, kebudayaan dan agama, maka ragam dan pola keagamaan masyarakat Sasak menjadi bervarian dan mengambil beberapa pola, antara lain: 1. Masyarakat Sasak yang lebih menerima Islam Suni dari pada Islam Sui atau sebaliknya; 2. Masyarakat bertahan dengan keyakinan dan agama sebelumnya yaitu Boda, Hindu-Budha, ataupun Kolaborasi antara keduanya; dan 3. Masyarakat Sasak yang menggabungkan seluruh elemen dan stimulan yang mempengaruhi yang tadinya Boda, dicampur dengan Hindu-Animis, Siwa-Budha, dan Islam. E. Bahasa Sasak Di samping menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara, tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Bahasa Sasak secara umum digunakan oleh masyarakat di pulau Lombok.Bahasa ini mempunyai gradasi sebagaimana bahasa Bali dan bahasa Jawa.Bahasa Sasak serumpun dengan bahasa Sumbawa.Bahasa 59 I Gusti Ngurah, et.all, Kamus Sasak Indonesia, (Jakarta: depdikbud, 1985), h Kamaruddin Zaelani, Dialektiaka Islam h. 65 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 29

48 Sasak mempunyai dialek-dialek yang berbeda menurut wilayah, bahkan dialek di kawasan Lombok Timur kerap sukar dipahami oleh para penutur Sasak lainnya.sebagai contoh, kawasan antar rukun warga (RW) yang hanya berjarak 500 meter sudah memiliki dialek yang sangat berbeda. Adapun dialek bahasa Sasak biasanya dibagi menjadi lima dialek, yaitu: 1) Kuto-Kute (Utara), 2) Ngeto-Ngete (Timur laut) 3) Meno-Mene (Tengah) 4) Ngeno-Ngene (Timur tengah, Barat tengah) 5) Meriaq-Mriku (selatan tengah) Berikut ini ditampilkan contoh beberapa kosakata bahasa Sasak yang biasa digunkan di pulau Lombok: aku = aku balé = rumah pacu = rajin tokol = duduk Nine= perempuan tiang = saya baruq = baru saja lekaq, ajaq = bohong nganjeng = berdiri mame = Laki-laki side = kamu kodeq = kecil tetu = benar merarik = nikah kereng = sarung tampi asih = terima kasih beleq = besar ore = berantakan dedare = gadis mele = mau kakenan = makan tangkong = baju brembe = bagaimana terune = perjaka pire = berapa kanggo = memakai mbé = mana ceket = pandai papuk nine = nenek mesaq = sendiri iku, tie = itu sai = siapa ndeq = tidak papuk mame = kakek tindok = tidur 30 Peta Dakwah MUI NTB

49 F. Sistem Kekerabatan Suku Sasak Lombok Sistem atau yang biasa disebut metode merupakan cara yang teratur untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kerabat adalah keluarga,sanak famili, teman sejawat (teman kerja). 61 Jadi dengan begitu dapat dikatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur atau cara dalam mengatur hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama secara turun temurun maupun berkala. Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem kekerabatan tersebut, maka sebelumnya harus terlebih dahulu memahami lahirnya sistem kekerabatan tersebut yakni rumah tangga dan keluarga inti. Koentjaraningrat 62 misalnya, menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan keluarga inti adalah pemegang atau inti dari sistem kekerabatan. Lebih lanjut seperti yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa pasangan suami istri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin juga terdiri dari dua sampai tiga keluarga inti. Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, istri dan anak-anak mereka yang belum menikah, anak tiri dan anak yang secara resmi diangkat sebagai anak, memiliki hak yang kurang lebih sama dengan hak anak kandung, dan karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari suatu keluarga inti. 63 Jadi secara sederhana dapat dikatakan semakin meluasnya kekerabatan maka akan semakin kompleks pula sistem kekerabatannya, dalam artian kadang-kadang budaya yang dikembangkan oleh suatu kerabat yang serumpun kadangkadang berbeda dengan kelompoknya yang satu kerabat, bisa karena perpindahan tempat tinggal maupun adanya pengaruh lingkungan, sosial, ekonomi maupun pendidikan. Namun bagaimanapun sistem kekerabatan yang disusun dalam suatu masyarakat dapa kita lihat dari status maupun tingkatan strata sosialnya dalam kehidupan masyarakat. Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan 61 Sutan Rajasa, Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya: Karya Utama,.2002), hlm Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi I,(Jakarta: Rineka Cipta,.2005), hlm Ibid., hlm Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 31

50 perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum dikenal kelompok kekerabatan lain, seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem kekerabatan, maka terlebih dahulu harus memahami lahirnya sistem kekerabatan tersebut, yakni rumah tangga dan keluarga inti. Koentjaraningrat, misalnya menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan keluarga inti adalah pemegang atau inti dari sistem kekerabatan. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa pasangan suami isteri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin juga terdiri dari dua sampai tiga keluarga inti. 64 Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, isteri, anak kandung yang belum menikah, anak tiri, dan anak angkat yang secara resmi diangkat sebagai anak memiliki hak yang kurang lebih sama dengan hak anak kandung, karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari suatu keluarga inti. Adanya keluarga ini seperti yang djelaskan di atas, walaupun di masing-masing kelompok masyarakat berbeda-beda, namun merupakan satu kesatuan yang dalam antropologi dan sosiologi disebut sebagai king group. Ada pun satu kelompok (king group) adalah kesatuan yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, yaitu: a) Sistem norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok. b) Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya. c) Interaksi yang intensif antarwarga kelompok. d) Sistem hak dan kewajiban mengatur interaksi antarwarga kelompok. e) Pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok. f) Sistem hak dan kewajiban terhadap harta produktif atau harta pusaka tertentu. 64 Koentjaraningrat, Pengantar.., hlm Peta Dakwah MUI NTB

51 Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan. 65 Dalam teori C. Van Volenhoven, Bali, Lombok, dan Sumbawa bagian Barat digolongkan sebagai satu daerah adat. 66 Tesis ini relevan jika ditinjau dari aspek kekerabatan yang berlangsung di ketiga pulau tersebut. Di Pulau Lombok sistem kekerabatannya dapat ditelusuri dari keluarga kecil maupun keluarga yang lebih besar. Keluarga kecil biasa disebut sebagai kurenan, sementara keluarga besar disebut sorohan. Di dalam sorohan tersebut dikenal istilah papuq baloq untuk garis keturunan ke atas, dan semeton jari untuk garis ke samping, sedangkan untuk garis ke bawah di sebut papu bai. Garis keturunan ini jika berasal dari garis (pancar) laki-laki disebut nurut lekan mame, sedangkan dari perempuan disebut nurut lekan nine. Dalam sistem kekeluargaan suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dikenal istilah Sekurenan atau Kurenan dan Sorohan. Sekurenan berarti keluarga inti mereka yang terdiri dari bapak, seorang atau lebih ibu dengan beberapa anak. Adapun Sorohan adalah istilah orang Sasak untuk menyebut keluarga luas mereka. Jika melihat arti ini, tampaknya pola perkawinan poligami, di mana istri tinggal dalam satu rumah sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan orang Sasak sejak dulu kala (bahkan hingga sekarang). 67 Menurut orang Sasak, keluarga akan lahir bilamana terjadi perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, baik dari hubungan keluarga (misan) ataupun dari pihak yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan. Bila perkawinan yang sesuai dengan adat Sasak selesai dilaksanakan (berarti yang tidak sesuai adat dianggap tidak sah), ketika mereka memiliki anak, maka anak tersebut adalah anak dari bapak dan ibunya dan oleh karena itu anak tersebut mempunyai hubungan kekeluargaan baik dari pihak ibu maupun dari pihak bapaknya. 68 Dalam aturan adat Sasak sehubungan dengan perkawinan, apabila keluarga tersebut bubar karena perceraian misalnya, maka anak-anak keduanya jika sudah besar biasanya akan ikut bapaknya. Dan sebaliknya, jika masih menyusui akan ikut ibunya, namun jika sudah besar akan 65 Ibid., hlm Ahmad Amin, et. al., Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1997), hlm Ibid., hlm Bartholemew,Alif.., hlm. 27. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 33

52 kembali ikut bapaknya. Selama dalam proses menyusui bersama ibunya, maka sang bapak wajib memberikan nafkahnya. Adat Sask juga mengatur, bahwa jika sang isteri meninggal sebelum keluarga tersebut bubar, maka biasanya jenazahnya dimakamkan di kampung tempat tinggal suaminya. Pihak keluarga sang isteri biasanya tidak akan meminta jenazah tersebut untuk dimakamkan di kampung aslinya karena masih terikat dalam satu keluarga (artinya masih hak suaminya). 69 Jika mencermati aturan adat di atas, maka keluarga bagi orang Sasak merupakan salah satu bagian penting yang perlu untuk ditata. Penataan ini didasarkan pada pemikiran bahwa agar sislilah kekerabatan mereka menjadi jelas, karena ketidakjelasan silsilah bagi orang Sasak akan berdampak negatif terhadap pembagian warisan, aturan siapasiapa yang boleh dan tidak boleh untuk dinikahi, interaksi kehidupan di masyarakat, bahkan konlik keluarga. Jika keluarga Sasak sudah terbentuk, kebudayaan Sasak memiliki panggilan-panggilan tertentu yang unik terhadap anggotaanggota kekerabatan yang ada. Misalnya, Amak untuk panggilan bapak, sedangkan jika keturunan bangsawan, maka dipanggil Mamiq, Inak untuk panggilan ibu, Semeton untuk saudara laki-laki dan perempuan, Papu Balo untuk kakek nenek mereka, dan sebagainya. Konsep kekerabatan suku Sasak terlihat cukup sederhana. Suku ini hanya memisahkan sistem kekerabatan mereka menjadi dua kelompok, yaitu keluarga batih (keluarga inti) dan keluarga luas. 1. Kurenan atau keluarga batih (inti) Konsep keluarga batih dalam suku Sasak adalah terdiri dari bapak, seorang atau lebih ibu, dan beberapa anak. Keluarga model ini sering disebut dengan istilah sekurenan. Namun, sebenarnya istilah sekurenan bukan merujuk pada unsur-unsur keluarga tersebut, akan tetapi merujuk pada konsep kehidupan dan perekonomian. Artinya, meskipun dalam keluarga tersebut terdiri dari bapak, seorang atau lebih ibu, dan beberapa anak, namun jika di dalamnya ikut juga orang lain bermukim dan makan, misalnya nenek, paman, bibi, atau pembantu, maka mereka juga dianggap bagian dari keluarga yang harus dihidupi secara ekonomi Amin, Adat.., hlm Amin, Adat..,hlm Peta Dakwah MUI NTB

53 Jika sekurenan sudah terbentuk, maka dalam interaksi kehidupan nyata, keluarga Sasak memiliki panggilan-panggilan tertentu terhadap anggota-anggota sekurenan tersebut, yaitu: Bapak akan dipanggil oleh anak-anaknya dengan panggilan Amaq, 71 sedangkan oleh isterinya dipanggil Pun Ibunya akan dipanggil oleh anak-anaknya dengan panggilan Inaq dan oleh suaminya akan dipanggil Pun Nina Anak yang paling besar (perangga) dipanggil Tekakaq Anak yang paling kecil dipanggil Teradiq Konsep sekurenan dalam suku Sasak dapat dijabarkan dari tabel sebagai berikut: Skema sekurenan Sasak Keterangan: A = Suami B = Isteri C = Anak Pertama D = Anak kedua E = Orang lain yang ikut dalam keluarga tersebut 71 Namun bagi orangtua yang berasal dari golongan bangsawan, maka bapak oleh anakanaknya akan dipanggil Mamiq. Stratiikasi sosial bangsawan Lombok terbagi menjadi tiga yaitu Raden untuk bangsawan yang tinggal di Bayan, Lalu untuk bangsawan Lombok secara umum, dan Tuan Guruuntuk bangsawan Lombok dalam bidang keagamaan. Sedangkan Mamik adalah sebutan pengganti untuk bangsawan Sasak, baik yang bergelar Lalu atau Raden.Raden adalah sebutan untuk bangsawan Bayan laki-laki dan Dende untuk bangsawan perempuan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 35

54 2. Sorohan atau keluarga luas Sorohan adalah istilah suku Sasak untuk menyebut keluarga luas mereka. Secara umum, istilah sorahan merujuk pada silsilah suami isteri yang mengarah pada kakek nenek mereka masing-masing dan saudara-saudara yang berasal dari kakek nenek tersebut. Dalam sorahan dikenal sebutan-sebutan tertentu, seperti. a) Papuq baloq, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke atas (kakek nenek hingga yang paling tua) b) Semeton jari, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke samping c) Papuq bai, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke bawah d) Saudara perempuan bapak dan ibu disebut dengan Inaq Kaka (dibaca Inak kake) e) Saudara laki-laki bapak dan ibu disebut dengan Amaq Kaka (dibaca Amak kake) Sehubungan dengan Papuq Baluq (kerabat garis ke atas), orang Sasak juga memiliki sebutan-sebutan tersendiri, yaitu: a) Amaq adalah sebutan untuk bapak b) Papuq adalah sebutan untuk orangtua dari bapak c) Baloq adalah sebutan untuk orangtua dari Papuq d) Tata adalah sebutan untuk orangtua dari Baloq e) Toker adalah sebutan untuk orangtua Tata f) Goneng adalah sebutan untuk orangtua Toker g) Keloyok adalah sebutan untuk orangtua Goneng h) Kelatek adalah sebutan untuk orangtua Keloyok i) Gantung siwur adalah sebutan untuk orangtua Kelatek j) Wareng adalah sebutan untuk orangtua Gantung Siwur. 72 Selanjutnya, sehubungan dengan Semeton jari (kerabat ke samping), orang Sasak juga memiliki sebutan berbeda, yaitu: 72 Wawancara dengan Lalu Gde Suparman, seorang budayawan dan tokoh adat Sasak- Lombok, pada tanggal 16 Maret 2004; Yusuf Efendi, Budaya Melayu: Sekurenan dan Sorohan: Keluarga dan Kekerabatan Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat. 36 Peta Dakwah MUI NTB

55 a) Semeton adalah sebutan untuk adik atau kakak seseorang b) Pisa atau Menasa sekali adalah sebutan untuk anak dari saudara seseorang c) Sempu sekali atau Menasa dua adalah sebutan untuk anak dari misan orangtua seseorang d) Sempu dua atau Menasa telu adalah sebutan untuk Sempu dari orangtua seseorang Adapun sehubungan dengan Papuq Bai (kerabat garis ke bawah), suku Sasak memiliki sebutan-sebutan sebagai berikut: a) Naken atau Ruwan adalah sebutan untuk anak saudara lakilaki atau perempuan, atau anak laki-laki maupun perempuan dari Sempu atau Menasa sekali atau dua kali seseorang b) Mentoaq adalah sebutan untuk orangtua laki-laki atau perempuan dari isteri seseorang (mertua) c) Menantu adalah sebutan untuk isteri atau suami dari anak seseorang, baik laki-laki maupun perempuan d) Sumbah adalah sebutan untuk orangtua Menantu seseorang e) Kadang waris adalah sebutan untuk ahli waris seseorang yang berasal dari satu leluhur laki-laki. Perlu untuk disebutkan di sini, bahwa istilah untuk pencarian kerabat dari suami (pihak laki-laki), biasa disebut dengan istilah nurut lekan mama. Adapun dari isteri (pihak perempuan) disebut dengan nurut lekan nina. Dikarenakan kebudayaan Sasak menganut sistem patriakhi (lakilaki menjadi sumber utama), biasanya pencarian kerabat didominasi dari pihak laki-laki (nurut lekan mama). Hal ini dibuktikan dari hukum adat waris, di mana laki-laki memiliki bagian yang lebih banyak. 73 Konsep keluarga luas ini masih dijaga dengan baik oleh orang Sasak hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat dalam proses upacara adat perkawinan sorong serah (memberi dan menerima). Sorong serah adalah proses tawar menawar mahar (maskawin) suku Sasak. Dalam proses tersebut, uang bayar adat yang diterima pengantin perempuan akan dibagi-bagikan kepada seluruh keluarga yang hadir maupun tidak dalam upacara tersebut. Pembagian dimaksudkan sebagai 73 Amin, Adat..., hlm ; dan Wawancara dengan Lalu Gde Suparman, budayawan dan tokoh adat Sasak-Lombok, tanggal 16 Maret Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 37

56 pemberitahuan bahwa mereka telah menikah dan permohonan doa restu atas pernikahan tersebut. Pola kekerabatan suku Sasak yang lebih menekankan kepada garis patrilineal, yakni ikatan silsilah antarindividu dari garis laki-laki, seperti anak laki-laki, ayah, saudara laki-laki, ayah dari ayah, dalam pandangan Ali Syahbana, akan menempatkan kaum laki-laki pada kedudukan yang menentukan dalam hampir semua aspek kehidupan, seperti dalam hal kepemimpinan dan kekuasaan, kepemilikan tanah, pewarisan kekayaaan, dan menjadi wali utama pengantin perempuan maupun laki-laki dalam perkawinan. 74 G. Stratiikasi Sosial Suku Sasak Lombok Stratiikasi sosial adalah penggolongan untuk pembedaan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisanlapisan hirarkhis menurut dimensi kekuasaan, previlese dan prestise. Penggolongan untuk pembedaan artinya, setiap induvidu menggolongkan dirinya sebagai orang yang termasuk dalam suatu lapisan tertentu (menganggap dirinya lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain) untuk digolongkan ke dalam lapisan tertentu. Munculnya stratiikasi sosial disebabkan karena adanya perbedaan tinggi rendah kedudukan seseorang dalam masyarakat, sehingga menyebabkan adanya kedudukan yang dinilai lebih tinggi dari kedudukan yang lainnya. 75 Sistem ini merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidupnya teratur. Begitu juga dengan masyarakat suku Sasak di lombok, pelapisan masyarakat di daerah ini didasarkan pada kebijaksanaan, keberanian, kebesaran darma dan asal-usul keturunan. 76 Stratiikasi sosial merupakan berbagai macam susunan hubungan antarindividu yang menyebabkan adanya berbagai sistem dalam masyarakat. Konsep stratiikasi sosial suku Sasak pada umumnya banyak ditentukan oleh susunan keluarga yang berawal dari perkawinan yang disebut nurut mama 77 (baca: mame). Artinya, garis keturunan darah 74 Sutan Takdir Alisyahbana, Indonesia: Social and Cultural Revolution (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1966), hlm Wayan Geriya, Beberapa Segi Tentang Masyarakat dan Sistem Sosial(Denpasar: Jurusan Anthropologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, 1981), h Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Upacara Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat, Upacara Kematian (Mataram:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985), h Idrus Abdullah, Penyelesaian Sengketa Melalui Mekanisme Pranata Lokal di Kabupaten Lombok Barat, Disertasi ( Jakarta: Fakultas Hukum Program Pasca Sarjana UI, 2000), h Peta Dakwah MUI NTB

57 ditekankan pada laki-laki (garis bapak). Garis keturunan ini memberi pengaruh pada pembentukan lapisan sosial dan pola kekerabatan dalam sistem kemasyarakatan etnis suku Sasak. Perkawinan seorang bangsawan misalnya, dengan laki-laki dari lapisan status sosial rendah, maka anak yang dilahirkan tidak berhak menggunakan identitas kebangsawanan ibunya. Demikian pula sebaliknya, anak yang dilahirkan akan diberi hak untuk menggunakan atribut kebangsawanannya apabila ia dilahirkan oleh seorang laki-laki dari kalangan bangsawan, walaupun ibunya dari lapisan sosial jajar karang (rakyat biasa). Struktur sosial dengan konsep nurut mama ini, kemudian membentuk sistem kewarisan yang menitikberatkan kepada pola kekerabatan patrilineal. Stratiikasi sosial dalam etnis Sasak dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Perwangsa Raden dan Denda 2. Triwangsa Lalu dan Baiq 3. Jajar karang Amaq/Loq dan Le Diagram Kelas-kelas Sosial Etnis Sasak 1. Pelapisan pertama, perwangsa raden adalah keturunan yang berasal dari keturunan raja dan pemimpin atau penguasa yang merupakan golongan paling berpengaruh, baik dalam bidang ekonomo, politik, maupun kepemimpinan. Raden sebutan untuk laki-laki dan denda untuk perempuan. Walaupun di beberapa desa di Lombok, kelas raden populasi sudah banyak berkurang, tetapi masih dikenal dan berpengaruh kuat secara sosial di kalangan suku Sasak. 2. Pelapisan kedua, triwangsa lalu merupakan golongan yang berasal dari pimpinan rakyat tingkat rendah. Mereka ini mendapat gelar bangsawan karena keberanian dan keperkasaannyaserta mempunyai hubungan dekat dengan datu (raja). Lalu sebutan untuk laki-laki dan baiq untuk perempuan. Kelas ini juga dikenal dengan sebutan permenak atau perlalu. 78 Dibandingkan dengan raden, kelas 78 Berbeda dengan orang Sasak lainnya, orang Sasak di Desa Bayan tidak menggunakan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 39

58 lalu dan baiq ini menyebar hampir di semua desa di Pulau Lombok, khususnya di Lombok Tengah dan sebagian lainnya di Lombok Timur. 3. Pelapisan ketiga adalah kelas jajar karang dan umumnya dikenal dengan panggilan amaq atau loq untuk laki-laki dan le untuk perempuan. Kelas jajar karang adalah kelompok mayoritas suku Sasak di Lombok. Perwangsa raden adalah hasil perkawinan antara seorang laki-laki raden dengan perempuan denda di mana anak yang dilahirkan dari strata ini akan menerima gelar raden dari orang tuanya secara turnun temurun. Sementara itu, kelas lalu, gelar kebangsawanan diturunkan dari hasil perkawinan antara seorangperlalu dengan perempuan bergelar baiq, atau perlalu dengan perempuan jajar karang. Untuk mengidentiikasi berbagai stratiikasi sosial di Lombok, memang tidak mudah karena masing-masing kelas tidak memiliki perbedaan spesiik di mana kelas bangsawan dan kelas non bangsawan (baca: jajar karang) dalam kesehariannya melakukan interaksi menurut etika dan norma-norma yang berlaku. Namun demikian, dengan sistem stratiikasi sosial akibat pola kekerabatan itu telah membentuk jarak antara lapisan bangsawan dengan non bangsawan yang melahirkan pola kekerabatan atau hubungan darah yang khas Sasak. Keluarga-keluarga bangsawan mempunyai hubungan dengan lapisan lainnya, umumnya karena perkawinan antara anggota lapisan masyarakat tersebut. H. Nilai Kearifan Lokal Suku Sasak Lombok Kearifan budaya lokal (local indigenous, local wisdom) adalah manifestasi dari kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tradisional dalam memanfaatkan sumber alam dan lingkungan untuk mewujudkan hidup yang harmonis. Kearifan budaya (cultural wisdom) adalah suatu terminologi yang diberikan bagi keluhuran nilai-nilai maupun sistem kehidupan leluhur di masa lampau, yang terbukti secara signiikan masih survive dan memberikan nilai-nilai dasar bagi era kekinian. Nilai-nilai ini semestinya bisa diaplikasikan dan dibumikan dalam kehidupan bermasyarakat secara teguq (kuat dan utuh), bender atau lomboq (lurus dan jujur), patut (benar) tuhu (sungguh-sungguh) dan trasna (kasih sayang). gelarlalu untuk laki-laki, dan Baiq untuk perempuan, sebagai gelar kehormatan. Wawancara dengan Raden Sageti, Kepala Desa Bayan Beleq. 40 Peta Dakwah MUI NTB

59 Dalam pergaulan dan hubungan kemanusiaaan dengan orang lain, masyarakat Sasak selalu mengedepankan moral kepatutan dan kepatuhan. Misalnya melalui moral dan sikap bender, lomboq (lurus, jujur), las, reda (ikhlas, rela dalam memberi), wanen (berani karena benar), dana- darma (dermawan, murah hati kepada siapa saja), jamaqjamaq (rendah hati, sikap sederhana), solah bagus perateq (suka damai, baik hati, cepat baik, tidak pendendam), periak-asek (belas kasihan), sabar (cepat mengalah), rema (tenggang rasa yang tinggi), gerasaq (ramah-tamah), teguq (kuat memegang janji) dan sebagainya. Dalam konteks interaksi sosial, masyarakat Sasak menerapkan kearifan lokal ini misalnya, ketika tradisi betemoe (bertamu), tuan rumah tidak akan menanyakan agama sang tamu. Yang ditanyakan pertma kali adalah seputar asal-muasal. Selanjutnya tuan rumah menawarkan makan sembari dalam waktu singkat disuguhkan penginang (tempat, wadah kapur sirih), dan lanjaran (rokok) dengan gerasak (ramah). Kemudian menyusul sajian air minum, kopi dansedaq (makanan kecil berupa jajan, pisang goring, ambon atau buah-buahan). Tradisi seperti ini dilakukan orang Sasak dengan sikap yang tindih, yakni dilakukan wajar dan tidak dibuat-buat, rapi dan teratur menurut adat. Dalam penataan hidup yang harmonis di tengah masyarakat, kearifan nilai-nilai budaya lokal masih dirasakan mempunyai keampuhan dan keunggulan. Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat Sasak menggunakan bahasa Sasak dengan fasih dan santun. Karena menurut tuntunan adat pergaulan harus dilandasi oleh saling menghormati (Sasak: saling ajinin). Ini ditunjukkan dengan digunakannya bahasa halus, dibarengi sikap merendah, di mana segala ucapan disampaikan dengan nada rendah, lebih-lebih terhadap orang lain yang baru dikenal. Dalam kitab Negarakertagama, sebuah kitab Hukum dan Pemerintahan yang ditulis oleh Empu Prapanca, pada pupuh 14 tertulis sebutan untuk Pulau Lombok adalah Lombok Mirah Sasak Adi yang makna bebasnya: Kejujuran adalah permata kenyataan yang utama. Karena itu, tau Sasak (orang Sasak) yang menghuni Lombok atau Gumi Selaparang, pada dasarnya dalam pergaulan hidupnya mengedepankan sifat dan tingkah laku yang lomboq yang bermakna lurus atau jujur. Dalam hubungan sosial kemasyarakatan, khususnya dalam hubungan kekerabatan dan persahabatan, masyarakat Sasak mengenal empat saling yang dapat diangkat sebagai pengikat tali silaturrahmi, yaitu: Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 41

60 1. Saling Perasak, yaitu saling memberi atau mengantarkan makanan berupa jajan dan buah-buahan kepada kerabat, tetangga dan sahabat sebagai bentuk semangat berbagi. 2. Saling Pesilaq, yaitu saling mengundang untuk suatu hajatan keluarga, misalnya dalam upacara perkawinan, acara bisoq tian (nujuh bulanan), sunatan (khitanan), roah roah selakaran haji (baca barzanji), roah kematian berupa tahlilan pada hari ke 3, 7, 9, 40, 100, dan (nelung, mituq, nyiwaq, metang dase, nyatus, dan nyiu) dan roah-roah lainnya. 3. Saling Laiq (saling kunjungi), yaitu saling melayat jika ada kerabat, tetangga dan sahabat yang meninggal. Saling laiq/saling ayo, juga diartikan sebagai saling kunjung- mengunjungi, tanpa harus saling undang secara resmi. Kebiasaan saling kunjung mengunjungi ini sudah merupakan kebiasaan masyarakat Sasak. 4. Saling ajin/saling lilaq, yaitu saling menghormati atau saling menghargai di dalam persahabatan dan pergaulan sehari-hari. Selain dari empat bentuk kearifan lokal Sasak saling di atas, terdapat lima perekat silaturrahmi komunitas Sasak yang lain dalam konteks hubungan kemasyarakatan dan kekerabatan antara lain: 1. Salin Jangoq, yaitu silaturrahmi saling menjenguk jika ada diantara sahabat sedang mendapat atau mengalami musibah, seperti sakit, kecelakaan dan lain-lain. Dalam kesempatan seperti itu, yang menjenguk datang membawa kaluq-aluq (buah tangan) berupa makanan, buah-buahan, dan lain-lain, atau paling tidak, ucapan do a dan rasa simpati. 2. Saling Bait, yaitu saling mengambil dalam adat perkawinan, asalkan antara kedua calon keluarga dan mempelai terjalin hubungan yang setara, yang disebut sekupu (setara, kesetaraan) dalam tingkat sosial, ekonomi, ciri-ciri dan sifat isik, terutama sekufu dari soal keyakinan agama. Jika tidak kufu, maka secara adat dan agama, penyelesaian dilakukan secara sepihak oleh pihak laki-laki. Hal ini dimaksudkan agar keluarga pihak perempuan (karena dianggap melanggar awig-awig adat) tidak dikucilkan secara adat oleh komunitas, sehingga perdamaian akan terjadi secara alami dalam waktu yang relatif sama. 3. Saling Wales/bales, yaitu saling berbalas kunjungan atau semu budi (kebaikan), hal ini terjadi karena kedekatan persahabatan dan 42 Peta Dakwah MUI NTB

61 kekerabatan. Ketika saling bales ada buah tangan yang dibawa oleh yang melakukan kunjungan, yang disebut pejambeq (bawaan), umumnya berupa ayam dan ditambah hasil sawah atau kebun yang sedang dipanen. 4. Saling Sauq, yaitu percaya mempercayai dalam pergaulan dan persahabatan, terutama sesama sanak (saudara) Sasak dan antara orang Sasak dengan batur luah (non Sasak). 5. Saling Pe eling/saling Peringet, yaitu saling mengingatkan satu sama lain dengan tulus hati antar kerabat, tetangga dan sahabat demi kebaikan bersama. Selanjutnya untuk menjalankan dan menegakkan nila-inilai kearifan lokal yang dianut masyarakat Sasak tersebut, maka perlu melakukan upaya revitalisasi beberapa pranata adat yang disebut krama. Untuk lebih solidnya pelaksanaan tugas dari krama, maka harus diperkokoh dengan pembentukan desa adat, yang dikelola dengan struktur organisasi yang dipimpin oleh pemusungan (kepala desa), kliang (kepala kampung/ dusun), lang-lang desa/dusun (pamswakarsa), serta juru arah(pembantu khusus pemusungan atau kliang), dan semua aturan tersebut disepakati sebagai awiq-awiq adat. Krama, secara bahasa, selain berarti masyarakat juga dapat berarti adat istiadat, tingkat laku, aturan dan hukum.bahkan dalam arti yang lebih luas, krama berarti pula suatu majelis, perkumpulan atau paguyuban. Berkaitan dengan pekraman adat urip-pati (krama adat hidup dan mati), etnis Sasak mengenal beberapa bentuk krama yaitu: 1. Krama Banjar Krama Banjar yaitu suatu kelompok adat atau perkumpulan masyarakat adat yang anggotanya terdiri dari penduduk di suatu kampung atau dusun/dasan, atau yang berasal dari beberapa desa, yang keanggotaannya mempunyai tujuan yang sama. Anggota-angggota banjar dapat saja terdiri dari keturunan yang sama, satu kelompok atau satu agama. Perkumpulan adat yang keanggotannya homogen, atau karena adanya hubungan sosiologis dan emosional atas dasar pada kepentingan bersama disebut juga krama banjar urip-pati, yaitu suatu banjar yang menyeleng-garkan urusan orang hidup dan orang yang mati. Tempat pertemuan para anggota banjar disebut bale banjar, yaitu rumah tempat pertemuan berwujud balairung atau berugaq sekenem atau sekewalu (balai-balai bertiang enam atau delapan). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 43

62 Krama banjar dikoordinir oleh kliang atau seorang toaq lokaq adat lainnya, ditambah seorang atau lebih petugas perlengkapan banjar. Krama banjar urip-pati, sesuai kepentingan masyarakat adat setempat dan berbentuk: a. Krama Banjar Subak, adalah perkumpulan para petani penggarap sawah atau pengguna air irigasi yang berada dalam wilayah subak tertentu, misalnya pada daerah teritorial bendungan tertentu. Kepentingan utama banjar ini adalah berkaitan dengan urusan irigasi sawah. Pada krama ini dapat terpatri rasa persaudaraan yang tinggi. b. Krama Banjar Merariq, yaitu banjar pemuda yang membentuk kelompok untuk mengadakan arisan perkawinan, dan uang iuran anggota banjar diberikan untuk membantu anggota banjar yang menikah. c. Krama Banjar Mate, yaitu perkumpulan untuk saling membantu anggota yang ditimpa musibah kematian. Iuran anggota dapat berupa kain kafan putih, uang belasungkawa, serta barangbarang lain yang dapat membantu kebutuhan keluarga yang ditinggal mati. d. Kraama Banjar Haji, yaitu perkumpulan untuk kepentingan berhaji, dengan pola yang sama seperti mendapat dana haji dari iuran anggota yang terkumpul. Anggota krama ini juga bergotong-royong membantu penyelenggaraan persiapan keberangkatan, seperti membuat tetaring (semcam terop), melaksanakan selakaran dengan membaca barzanji, zikir dan do a bersama di rumah calon haji. Termasuk juga mengantar dan menjemput anggota pada saat berangkat dan kembali dari Mekkah. 2. Krama Gubuk, Krama Gubuk yaitu suatu bentuk krama adat yang beranggotakan seluruh masyarakat dalam suatu kampung atau dusun, tanpa kecuali. Artinya bahwa keanggotaan krama ini tidak membedakan orang dan kepentingan khususnya, asalkan secara adat dan administratif merupakan penduduk sah di gubuk tersebut. Unsur pimpinan krama gubuk bisa berbeda-beda pada tiap kampung (dasan, dusun), tetapi umumnya terdiri dari kliang adat (kepala dusun), juru arah (pembantu kliang yang bertindak sebagai penghubung gubuk), lang-lang (kepala 44 Peta Dakwah MUI NTB

63 keamanan), Kiai, penghulu gubuk, mangku gubuk (pemangku adat) juga penaoq gubuk (para tetua kampung) yang lain. Juga termasuk penaoq agama (tokoh agama) seperti para Tuan Guru dan ustadz yang bertempat tinggal di dalam gubuk. 3. Krama Desa Krama Desa yaitu majelis adat tingkat Desa, terdiri dari pemusungan (kepala desa adat), juru arah (pembantu kepala desa), lang-lang desa (kepala keamanan desa), jaksa (hakim desa), luput (koordinator kesejahteraan desa), kiai-penghulu. I. Dialektika Agama dan Budaya di Lombok Dalam konteks masyarakat Lombok, Islam merupakan rujukan utama dan lensa ideologis dalam memahami dan mengevaluasi perubahan. Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi perubahan serta kekuatan-kekuatan eksternal yang dirasakan sebagai ancaman terhadap kehidupan sosial mereka.islam merupakan agama yang sangat dominan di pulau Lombok, yang memainkan peran penting sebagai penjaga nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Di Lombok, akulturasi Islam dengan budaya lokal berjalan dengan mulus. Islam dapat berkembang dengan baik tanpa konlik dan kekerasan. Islam dan kultur lokal saling bernegosiasi, berdialog dan berdialektika yang representasinya terlihat dari munculnya berbagai varian kultur yang dapat hidup dan berkembang dengan baik di masyarakat. Islam Sasak merupakan salah satu varian Islam kultural yang ada di Lombok setelah terjadinya dialektika antara Islam dengan budaya Sasak Lombok. Proses dialektika tersebut pada gilirannya menghasilkan Islam yang sangat parokial, unik, khas, dan esoterik dengan beragam tradisi-tradisi lokal yang disisipi nilai-nilai Islam. Pada perkembangan selanjutnya, Islam dan tradisi lokal menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan meski masih dapat dibedakan satu sama lain. Islam Sasak [baca: Wetu Telu] sebagai bagian dari dinamika Islam memiliki wajah tersendiri. Ia lebih merupakan interpretasi terhadap masyarakat (muslim) secara sosio-antropologis. Bukan domain aturan absolut teologis atau instrumen legal-formal yang bernama iqh. Konstruksi muslim Indonesia sudah majemuk dari awalnya ketika Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 45

64 Islam sebagai agama vis a vis masyarakat lokal yang telah ada sebelum Islam. 79 Posisi agama dalam kesadaran masyarakat Sasak di pulau Lombok sangat penting. Agama tidak hanya menjadi pondasi modal sosial dalam membina moralitas individu dan kelompok, melainkan begerak dan menyatu di dalam sistem budaya. Bagi masyarakat Sasak terkadang sangat susah membedakan antara nilai tradisi dengan nilai-nilai agama. Persentuhan tradisi dengan agama ini menjadikan masyarakat Lombok sangat fanatik terhadap nilai agama. Pasalnya, mereka tidak hanya mempertahankan nilai agamanya, tetapi juga menjaga eksistensi tradisinya. Pada level ini, masyarakat Sasak telah melakukan sakralisasi atas tradisi. Simbiosis mutualis semacam ini memang banyak terjadi di dalam praktik keberagamaan di Indonesia. Persentuhan Islam dengan masyarakat setempat meniscayakannya tidak menegasi totalitas tradisi masyarakat lokal, melainkan dikombinasi dan dicampur dengan anasiranasir adat. Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geograis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural. Proses kompromi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mugkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan apa yang di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam Wetu Telu. Sementara di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan. Proses islamisasi yang berlangsung di Nusantara pada dasarnya berada dalam proses akulturasi. Dari paradigma akulturasi ini lahir apa yang kemudian dikenal sebagai local genius. Dalam konteks ini,local genius bisa diartikan sebagai kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu bentuk baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain, secara implisit local genius dapat dirinci karakteristiknya, 79 Lebih lanjut baca, Muhammad Harin Zuhdi, Parokialitas Wetu Telu, Wajah Sosial Dialektika Agama Lokal di Lombok, (Mataram: Sanabil, 2015). 46 Peta Dakwah MUI NTB

65 antara lain: pertama, kemampuan bertahan terhadap dunia luar; kedua, kemamapuan mengakomodasi unsur-unsur dunia luar; ketiga, kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; dan keempat, memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya. Dalam konteks inilah, istilah Islam lokal, Islam Nusantara, Islam Pribumi, atau apapun istilahnya, sejatinya ingin membebaskan puritanisme, otentiikasi, dan segala bentuk pemurnian Islam sekaligus juga menjaga kearifan lokal tanpa menghilangkan identitas normatif Islam. Karena itulah, Islam Pribumi lebih berideologi kultural yang tersebar (spread cultural ideology), yang mempertimbangkan perbedaan lokalitas ketimbang ideologi kultural yang memusat, yang hanya mengakui ajaran agama tanpa interpretasi. Sehingga dapat tersebar di berbagai wilayah tanpa merusak kultur lokal masyarakat setempat. Dengan demikian, tidak akan ada lagi praktik-praktik radikalisme yang ditopang oleh paham-paham keagamaan ekstrem, yang selama ini menjadi ancaman bagi terciptanya perdamaian. 80 Selanjutnya dengan mempertimbangkan situasi-situasi sosiohistoris yang melungkupi nash al-qur an ketika turun, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dialektis antar teks al-qur an dan realitas budaya. Karena sifatnya yang selalu berdialektika dengan realitas itulah, maka tradisi keagamaan dapat berubah sesuai dengan konteks sosial dan kultural suatu masyarakat. Islam adalah sebuah gerakan yang membuka dan memberi harapan kepada semua kelompok sosial, baik agama, kelas, etnik, dan jender yang hidup di dalam wilayah sosio kultural tertentu untuk meneguhkan identiikasi diri mereka kepada lokalitasnya secara kritis, mengelola perbedaanperbedaan yang muncul sebagai konsekuensinya dan mengarahkan berbagai kelompok-kelompok yang berbeda tersebut untuk selalu melihat cita-cita yang lebih jauh untuk pemenuhan ketinggian harkat kemanusiaan mereka sendiri. 81 Dalam aksinya, Islam pribumi selalu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal masyarakat, di dalam merumuskan hukumhukum agama, tanpa mengubah hukum-hukum inti dalam agama. Sementara ajaran-ajaran inti Islam itu dilahirkan di dalam kerangka untuk memberikan kontrol konstruktif terhadap penyimpangan- 80 Khamami Zada, Islam Pribumi, dalam Tashwirul Afkar, Edisi No. 14 tahun M. Jadul Maula, Syariat [Kebudayaan] Islam: Lokalitas dan Universalitas, makalah belajar bersama Islam Transformatif dan Toleran, [Yogyakarta: LKiS, 2002] Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 47

66 penyimpangan lokalitas yang terjadi. Terhadap tradisi lokal yang mempraktekkan pola-pola kehidupan zholim, hegemonik, tidak adil, maka Islam pribumi akan melancarkan kritiknya. Sedangakan terhadap tradisi lokal yang memberikan jaminan keadilan, dan kesejahteraan pada lingkungan masyarakatnya, maka Islam pribumi akan bertindak sangat apresiatif. Bahkan, tradisi lokal yang adi luhung [urf shahih] dalam pandangan Islam pribumi, memiliki semacam otoritas untuk mentakhsis sebuah teks nash. Sebagai ilustrasi, bagaimana sebuah tradisi yang bersifat propan oleh para ulama kemudian diberi semacam wewenang untuk mentakhsis sebuah teks yang dipandang berasal dari Tuhan, Disebutkan bahwa tradisi masuk dalam deretan dalil-dalil istinbath hukum Islam [al- Adah al-muhakkamah]. Dalam tataran tersebut menarik juga memperhatikan sebuah kaidah iqh bahwa apa yang terhampar dalam tradisi, tidak kalah maknanya dengan apa yang dikemukakan oleh teks; al-tsabit bi al-urf ka al-tsabit bi al-nash.kaidah ini menggambarkan bahwa betapa para ulama telah memberikan apresiasi yang begitu tinggi terhadap tradisi. Tradisi tidak dipandang sebagai unsur rendah yang tak ternilai, melainkan dalam spasi tertentu diperhitungkan sebagai sederajat dengan teks agama sendiri. Dengan platform pemikiran ini, maka wajar jika sejumlah para pakar ushul iqh menyatakan bahwa mengetahui setting sosial historis Arab dari terbentuknya sebuah ketentuan agama seperti yang terpantul dalam teks suci menjadi sangat urgen dan signiikan. Al-Syathibi dalam al-muwaffaqat i Ushul al-syari ah, menyatakan bahwa mengetahui kondisi sosial masyarakat Arab, sebagai lokus awal turunnya al-qur an dan situasi ketika sebuah ayat turun merupakan salah satu persyaratan yang mesti dimiliki oleh seorang mufassir. 82 Dengan statemen ini sesungguhnya al-syathibi ingin mengatakan bahwa aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam menguak maksud sebuah teks bukan hanya dari sudut gramatika, melainkan juga harus mencakup pengetahuan tentang keadaan sosio-kultural yang hidup dalam masyarakat tatkala berlangsungnya era pewahyuan al-qur an. Dengan demikian, maka diperlukan sebuah upaya yang lebih dari sekedar mengenali, yaitu katagorisasi mana-mana ayat yang universal dan mana yang lokal-partikular terasa penting. Hal ini juga berlaku terhadap hadits. Terhadap ayat atau hadits khas lokal Arab, sangat tidak 82 Al-Syatibi, al-muwafaqat i Ushul al-syari ah, [Beirut: Dar al-fikr, t.th ], juz II, h Peta Dakwah MUI NTB

67 bijaksana kalau kita mencangkoknya begitu saja untuk diterapkan di Indonesia. Para pakar hukum Islam melihat prinsip-prinsip hukum Islam sebagai salah satu hukum Islam yang bersifat sekunder, dalam arti ia diaplikasikan hanya ketika sumber-sumber primer tidak memberikan jawaban terhadap masalah-maslah yang muncul. Para juris muslim mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang masuknya adat ke dalam hukum Islam, tetapi mereka sampai kepada suatu kesimpulan yang sama, bahwa prinsip-prinsip adat merupakan alat yang efektif untuk membangun hukum. Dalam hal ini Abu Hanifah memasukkan adat sebagai suatu pondasi dari prinsip Istihsan. Sarakhsi dalam kitab Mabsuth mengatakan bahwa Abu Hanifah menginterpretasikan makna aktual dari suatu adat sesuai dengan makna yang secara umum dipakai dalam masyarakat, namun keberlakuan itu ditolak jika bertentangan dengan nash. 83 Sementara Imam Malik percaya bahwa aturan-atuaran adat dari suatu negeri harus dipertimbangkan dalam memformulasikan suatu ketetapan, walaupun ia memandang adat penduduk Madinah sebagai suatu variabel yang paling otoritatif dalam teori hukumnya. Tidak seperti fuqaha Hanai dan Maliki yang memandang signiikansi sosial dan politik dari adat dalam proses penciptaan hukum, Imam Syai i dan Ahmad Ibn Hanbal tampaknya tidak begitu memperhatikan dalam keputusan mereka. Namun begitu, bukti adanya Qaul Jadid Syai i yang dikompilasikan setelah ia sampai di Mesir, dan dikontraskan dengan Qaul Qodim-nya yang dikompilasikan di Irak, mereleksikan adanya pengaruh dari tradisi adat pada kedua negeri yang berbeda. Sementara penerimaan Ahmad Bin Hambal terhadap hadits dlo if, ketika ia mendapatkan hadits tersebut bersesuaian dengan adat setempat, 84 juga memberikan bukti bahwa prinsip adat pada kenyataannya tidak pernah dikesampingkan oleh para para Mujtahid (juris Muslim) dalam usahanya untuk membangun hukum Islam. Imam Malik memasukkan adat sebagai pondasi dari doktrin Maslahah al-mursalah. Lebih jauh, ia memandang bahwa praktek adat masyarakat Madinah sebagai konsensus pendapat umum yang mencukupi untuk digunakan sebagai sumber hukum ketika tidak ada teks yang eksplisit. 83 Muhammad ibn Ahmad al-sarakhsi, Al-Mabsut, [Kairo: Matba ah al-sl-sa adah, 1331 H], jilid 9, hal Ibn Qudamah, Al-Mughni, jilid 6, [Kairo : Dar al-manar 1947], h. 485 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 49

68 Dengan format ini, Islam pribumi tidak perlu memberikan vonis apa pun terhadap sejumlah keyakinan teologis yang menjadi pegangan masyarakat lokal. Oleh karena itu, kata musyrik, kair, murtad, mubtadi [pelaku bid ah] tidak dikenakan lagi. Kesadaran Islam pribumi ini berdasar pada anggapan bahwa kekaffahan merupakan suatu proses yang tidak pernah benar-benar murni. Sebagai sebuah proses, keberislaman tidak dapat dipaksakan langsung terwujud; dan sebagai sesuatu yang tidak pernah murni keberislaman dipandang sebagai hasil dari pergulatan antara kemestian dan kenyataan ruang dan waktu. Pengakuan terhadap tradisi lokal dan kemungkinan sumbangan yang dapat diberikan tradisi lokal terhadap Islam merupakan kearifan yang ditekankan dalam Islam pribumi. Jika tidak, yang akan terjadi adalah pembasmian antara satu dan yang lain; dan ini pasti kontraproduktif bagi kelangsungan agama itu sendiri. 85 Situasi kontraproduktif itu dalam banyak hal telah dialami dan dirasakan, pertentangan satu paham agama dengan agama lain atau dengan tradisi lokal membuat agama disibukkan oleh urusan-urusan konsepsi dan melupakan tugasnya sebagai sumber praksis pembebasan sosial. Jangan-jangan kelumpuhan agama dalam memberi arah bagi kehidupan masyarakat Indonesia bermula dari pengingkaran agama terhadap kearifan tradisi lokal. Wacana Islam dalam konteks ini dapat diletakkan dalam kerangka Islam pribumi atau Islam kultural, yaitu proses penghargaan pada tafsir lokal terhadap ajaran Islam dalam manifestasi kehidupan. Penghargaan ini dapat dipahami jika memandang kebudayaan sebagai sumber nilai yang dimaknai dengan tindakan konkret di ruang sosial. Sebagai sumber bagi tindakan, nilai-nilai dalam tradisi atau agama bukanlah nilai yang murni, namun selalu diuji dalam kemampuannya menghadapi persoalan kehidupan. Dalam pengujian itu nilai-nilai tradisi dan agama dapat terus berubah, dinamis, dan bersifat sementara. Selalu ada hubungan timbal balik antara subjek pelaku dengan struktur objektif atau kebudayaan [sebagai seluruh pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam bentuk simbolik]. Dalam hubungannya dengan pelaku ini, simbol-simbol agama atau tradisi ditentukan oleh kesediaan pelaku dalam mempergunakannya dan bagaimana si pelaku mempergunakannya bergantung pada kepentingan dirinya dalam ruang dan waktu. Si pelaku selalu memiliki pilihan untuk 85 M. Imdadun Rahmat, Islam Pribumi: Mencari Wajah Islam Indonesia dalam Tashwirul Afkar, edisi No. 14 Th Peta Dakwah MUI NTB

69 mempergunakan satu simbol di antara simbol-simbol yang lain secara pragmatis. Dengan cara ini keberbedaan antara nilai tradisi dan agama dapat dikawinkan atau dikomunikasikan karena perpisahan antara keduanya akan menghasilkan kontraproduktif bagi keduanya. Di sinilah fungsi dialog dibutuhkan, yaitu sebuah dialog yang tidak hanya memunculkan kelebihan masing-masing sambil merendahkan nilai yang lain, tetapi sebuah dialog yang sanggup menciptakan ruang heteroglosia, bersuara majemuk. Dialog bukan hanya percakapan bahkan juga pertemuan dua pikiran dan hati mengenai persoalan bersama, dengan komitmen bersama yang tujuannya agar setiap partisipan dapat belajar dari yang lain, sehingga dapat berubah dan berkembang. Berubah artinya dialog dilakukan secara terbuka, jujur dan simpatik dapat membawa pada kesepahaman [mutual under standing], sehingga segala prasangka, streotip, dan celaan dapat dieliminir. Selanjutnya dikatakan tumbuh, karena dialog mengantarkan setiap partisipan memperoleh informasi, klariikasi dan semacamnya secara berimbang serta dapat mendiskusikannya secara terbuka dana tulus. Dialog merupakan pangkal pencerahan nurani dan akal pikiran [tanwir al-qulub wa al-uqul] menuju kematangan cara beragama yang menghargai kelainan [the otherness]. Dengan demikian, paradigma dan system nilai sawa adalah menyangkut cara manusia melakukan perjumpaan dengan dan memahami diri sendiri dan dunia lain [the others] pada tingkat terdalam [from within], membuka kemungkinankemungkinan untuk menggalai dan menggapai selaksa makna fundamental secara individual dan kolektif dengan berbagai dimensinya. 86 Akhirnya, Islam Pribumi dapat dipahami jika secara rela menjadikan Islam sebagai salah satu bagian dari ruang heteroglosia yang secara alamiah membutuhkan nilai dari tradisi lain demi pengayaan dan pendewasaan dirinya. Sebaliknya, tradisi adat Wetu Telu juga dapat menerima Islam sebagai sebuah cermin bagi pengembangan dirinya ke arah yang lebih baik. Berdasarkan elaborasi ini, maka dalam konteks ini, pribumisasi Islam diharapkan mampu melakukan secara simultan langkah invensi dan inovasi sebagai upaya kreatif untuk menemukan, merekonsiliasi, 86 Zakiyuddin Baidhawy, Membangun Sikap Multikulturalis perspektif Teologi Islam,Makalah pada Halqah Tarjih: Menuju Muslim Berwawasan Multikultural, Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 51

70 dan mengkomunikasikan serta menghasilkan konstruksi-konstruksi baru. 87 Konstruksi tersebut tidak harus merupakan pembaruan secara total atau kembali ke tradisi leluhur masa lalu secara total pula, namun pembaruan yang dimaksud di sini adalah pembaruan terbatas sesuai dengan prinsip al- AdahMuhakkamah. Jadi, sebuah invensi dalam konteks pribumisasi Islam tidak dimaksudkan menemukan tradisi atau autentisitas secara literal, melainkan bagaimana tradisi-tradisi lokal itu menjadi sesuatu yang dapat berdialektika dan dimodiikasi ulang sesuai dengan konteks dimensi ruang dan waktu [bi qadri alzamân wa al-makân] sesuai dengan kaidah Taghayyur al-ahkâmbiat- Taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwâl.pribumisasi Islam, dengan demikian merupakan proses yang tidak pernah berhenti mengupayakan berkurangnya ketegangan antara norma agama dan manifestasi budaya.[] J. Pulau Sumbawa: Tipikal Wajah Politik Religius-Teknokrat Setelah membahas panjang lebar tentang pulau Lombok, berikut ini akan dielaborasi Pulau Sumbawa sebagai pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah dibentuk berdasarkan Undang-Undang nomor Pulau Sumbawa yang terdiri dari kabupaten Sumbawa dengan suku Samawa, kabupaten Dompu dan kabupaten Bima dengan suku Mbojo. 1. Kabupaten Sambawa Secara geograis, pulau Sumbawa terletak antara 116 ; 42 sampai 119 ; 05 bujur Timur dan 80 ; 00 sampai 90 ; 71 Lintang Selatan, dibatasi di sebelah Utara oleh Laut Flores, di sebelah Selatan samudra Hindia/ Indonesia, disebelah Barat oleh Selat Alas dan sebelah timur oleh selat Sape. Sebelum digabungkan dengan Pulau Lombok menjadi satu provinsi Nusa Tenggara Barat, pulau Sumbawa merupakan salah satu bagian dari Provinsi Nusa Tenggara yang sebelum tahun 1950 bernama Provinsi Sunda Kecil, besama dengan pulau Bali, Lombok, Sumba, Flores dan Timor Kepulauannya. Pulau pulau yang tergabung dalam provinsi Nusa Tenggara tersebut kemudian dibentuk dengan Undang-undang yaitu lembaran Negara Hindia Belanda (Stb. 143 tahun 1946 ) menjadi Daerah yaitu daerah 87 Zainul Milal Bizawie, Dialektika Tradisi Kultural: Pijakan Historis dan Antropologis Pribumisasi Islam, dalam Tashwirul Afkar, Edisi No. 14 tahun Peta Dakwah MUI NTB

71 Bali, Daerah Lombok, Daerah Sumbawa, Daerah Sumba, Daerah Flores, dan Daerah Timor dan Kepulauannya. Daerah tersebut memperoleh penyerahan kekuasaan/urusan urusan dari Swapraja Swapraja yang ada di dalam daerah Masing masing. Sedangkan Pemerintahan Daerah terdiri dari kepala Daerah dan Dewan Raja raja. Hal ini dilaksanakan sebelum berlakunya Undang-Undang Negara Indonesia Timur Nomor 44 tahun Perjanjian penyerahan kekuasaan/ urusan urusan dari Swapraja Swapraja kepada Daerah yang ditandatangani oleh Dewan Raja Raja tersebut yang kemudian dikenal dengan nama daerah Statuta, merupakan dasar hukum dari pada Otonomi Daerah yang lazim dicantumkan dalam Undang-Undang Pembentukan Daerah. Daerah Statuta Pulau Sumbawa dibentuk dengan Undang-Undang Federasi Pulau Sumbawa yang ditetapkan oleh Raja-Raja di Pulau Sumbawa pada tanggal 23 Agustus Kemudian dengan berlakunya UU NIT Nomor 44 Tahun 1950 (Stb. Nomor 44 tahun 1950) maka daerah tersebut diatas menjadi daerah menurut UU NIT Nomor 44 tahun 1950 yang selanjutnya sejauh mungkin disesuaikan dengan UU Nomor 22 tahun 1948 ( yang berlaku untuk bekas wilayah RI Yogyakarta serta Daerah daerah lain yang tidak termasuk wilayah Indonesia Timur, akan tetapi mengenai otonominya daerah tetap lebih luas daripada Kabupaten di Jawa. Menurut catatan resmi dari Kantor Gubernur Nusa Tenggara di Singaraja, keinginan rakyat mengenai pembagian daerah Nusa Tenggara menjadi Daerah Swatantra Tingkat I adalah sama dalam tuntutan maksimalnya, yaitu: semua keinginan agar masing- masing daerah pulau dijadikan Daerah Swatantra Tingkat I. Alasan mereka pada dasarnya sama dan sederhana, yaitu agar daerahnya pesat maju dalam pembangunan, karena menurut pengalaman pada waktu itu daerah yang dekat dengan pusat / ibukota pemerintahan lebih pesat dalam hal pembangunan dari pada daerah yang jauh dari pusat / ibukota pemerintahannya. Tetapi akhirnya DPR RI memutuskan Nusa Tenggara menjadikannya 3 Daerah Swantantra Tingkat I, yaitu Bali berdiri sendiri, Nusa Tenggara Barat terdiri dari pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dan NTT terdiri dari pulau Sumba, Pulau Flores, dan Pulau Timor dan Kepulauannya, sebagaimana termuat dalam UU nomor 64 tahun Ditinjau dari segi sejarah, di pulau Sumbawa sejak 500 tahun yang lalu telah berjalan pemerintahan kerajaan yang berkesinambungan dari abad 14 sampai dengan abad 20 yaitu kerajaan Bima, Dompu, dan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 53

72 Sumbawa. Masing-masing kerajaan mempunyai kesatuan pemerintahan Adat dan perangkatnya dan wilayah kekuasaannya meliputi batas wilayah Kabupaten sekarang ini. Dari tradisi tulis menulis tersimpan sampai sekarang di Bima dokumen naska-naskah lama yang tercatat kegiatan pemerintahan yang tertib dan demokratis, sejarah kebudayaan mulai jauh sebelum kedatangan agama Islam sampai dijalankan pemerintahan menurut Agama Islam dan adat setempat. Termasuk pula hubungan interaksi antar daerah dengan daerah-daerah lain seperti Makasar, Kalimantan, Jawa, Sumatera Dll. Keadaan ini yang ditemukan oleh VOC ( Belanda ) waktu pertama kali datang ke Bagian Timur Indonesia tahun 1667 yang disambut dengan perlawanan dan pertempuran yang pada suatu saat mengakibatkan dibuatnya perjanjian politik dengan para Raja-raja di Pulau Sumbawa (yang setelah beragama Islam disebut Sultan) dengan pengakuan kedaulatan Raja atas Wilayahnya sendiri, berhak menjalankan pemerintahan dan hukumnya sendiri. Perjanjian (kontrak) ini tetap berlaku dengan pembaharuan dan perubahan sampai dengan terakhir diperbaharui pada tanggal 13 Desember tahun 1938 ( Contract met Bima En Sumbawa). Pada saat saat menghadapi VOC ketiga kerajaan di Pulau Sumbawa tetap bersatu dan bersama sama menghadapi tantangan dan cobaan yang dilontarkan oleh pihak luar dan secara berkala mengadakakan hubungan kunjungan kunjungan, musyawarah dan bahkan sejak beberapa abad menjalin hubungan keluarga kawin mengawin/antar keluarga raja maupun warga masyarakat. Ketiga daerah Swapraja di Pulau Sumbawa adalah daerah yang disebut daerah zelfbestuur (daerah berpemerintahan sendiri) yang tidak langsung diperintah oleh Pemerintah Hindia Belanda di dalam istilah pemerintahan digolongkan yang dinamakan dengan indirect Bestuurs-Gebied yang tetap diperlakukan sampai dihapusnya status daerah Swapraja dengan UU Nomor 1 tahun Kerajaan kerajaan lain yang pernah ada di pulau Sumbawa adalah kerajaan Pekat dan Tambora, hilang / hapus setelah meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815 dan Kerajaan Sanggar digabungkan ke Kerajaan Bima pada tahun 1929, sebagai ganti daerah Manggarai di Flores yang dimasukkan ke wilayah Pulau Flores. Pulau Sumbawa terdiri dari Kabupaten Sumbawa dengan ibukotanya Sumbawa Besar. Kabupaten ini terletak di sebagian 54 Peta Dakwah MUI NTB

73 besar berada di bagian barat Pulau Sumbawa. Batas-batas wilayahnya adalah: Laut Flores dan Teluk Saleh di utara, Kabupaten Dompu di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Sumbawa Barat di barat. Kabupaten Sumbawa memiliki luas wilayah km² dengan jumlah penduduk sekitar jiwa. Wilayah Kabupaten Sumbawa juga mencakup sejumlah pulau-pulau di sebelah utara Pulau Sumbawa, termasuk Pulau Moyo (pulau terbesar), Pulau Medang, Pulau Panjang, Pulau Liang, Pulau Ngali dan Pulau Rakit. Pada tanggal 18 Desember2003, bagian barat wilayah Kabupaten Sumbawa dimekarkan menjadi kabupaten baru, yakni Kabupaten Sumbawa Barat. Tana Samawa yang disebut Kabupaten Sumbawa, kelahirannya tidak lepas dari kelahiran Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan ditetapkan Undang-undang Dasar 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 yang merupakan landasan konstitusional dalam rangka penyelenggaraaan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 18 UUD 1945 (sebelum amandemen), yaitu: Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Selanjutnya pemerintah di Tana Samawa menjadi Swapraja Sumbawa yang bernaung dibawah Provinsi Sunda Kecil, sejak saat itu pemerintahan terus mengalami perubahan mencari bentuk yang sesuai dengan perkembangan yang ada sampai dilikuidasinya daerah pulau Sumbawa pada tangal 22 Januari Kelahiran Kabupaten Sumbawa juga tidak terlepas dari pembentukan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 yang merupakan tonggak sejarah terbentuknya Daswati I Nusa Tenggara Barat dan Daswati II di dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari: Daswati II Lombok Barat; Daswati II Lombok Tengah; Daswati II Lombok Timur; Daswati II Sumbawa; Daswati II Dompu; Daswati II Bima. Sesuai dengan ketentuan pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 PS Kepala Daerah Swantantra Tingkat I Nusa tenggara Barat menetapkan likuidasi daerah Pulau Sumbawa pada tanggal 22 Januari 1959 dilanjutingkatan dengan pengangkatan dan pelantikan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 55

74 PS Kepala Daerah Swantantra Tingkat II Sumbawa, Muhammad Kaharuddin III sebagai Kepala Daerah Swantantra Tingkat II Sumbawa. Oleh karena itu tanggal 22 Januari 1959 dijadikan hari lahirnya Kabupaten Sumbawa yang ditetapkan dengan Keputusan DPRD Kabupaten Sumbawa Nomor 06/KPTS/DPRD, tanggal 29 Mei 1990 dengan jumlah kecamatan 14 wilayah yang terdiri dari: Kecamatan Empang; Kecamatan Sumbawa; Kecamatan Plampang; Kecamatan Batu Lanteh; Kecamatan Lape Lopok; Kecamatan Utan Rhee; Kecamatan Moyo Hilir; Kecamatan Alas; Kecamatan Moyo Hulu; Kecamatan Seteluk; Kecamatan Ropang; Kecamatan Taliwang; Kecamatan Lunyuk; Kecamatan Jereweh; Perkembangan selanjutnya dalam rangka mengimplementasikan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 telah dimekarkan dan bertambah 5 kecamatan, sehingga menjadi 19 kecamatan, yaitu: Kecamatan Sekongkang; Kecamatan Brang Rea; Kecamatan Alas Barat; Kecamatan Labangka; Kecamatan Labuhan Badas. Aspirasi masyarakat yang berkembang dipandang perlu adanya pemekaran kecamatan lagi, sehingga pada tahun 2003 berkembang menjadi 25 kecamatan dengan bertambahnya 6 kecamatan baru, yaitu: Kecamatan Tarano; Kecamatan Maronge; Kecamatan Unter Iwes; Kecamatan Rhee; Kecamatan Buer; Kecamatan Moyo Utara. Dengan ditetapkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2003, tanggal 18 Desember 2003, Kabupaten Sumbawa resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga Kabupaten Sumbawa meliputi 20 kecamatan, sedangkan 5 kecamatan menjadi bagian dari Kabupaten Sumbawa Barat, yaitu: Kecamatan Sekongkang; Kecamatan Jereweh; Kecamatan Taliwang; Kecamatan Brang Rea; Kecamatan Seteluk. 2. Kabupaten Dompu Kabupaten Dompu memiliki motto: Nggahi Rawi Pahu (Satunya kata dengan perbuatan). Realitas berdirinya Kabupaten Dompu, dimulainya dengan adalah penetapan hari jadi Dompu dimulai sejak pemerintahan bupati Dompu Drs. H. Umar Yusuf, M.Sc sejak tahun 1989/1994 hingga periode pertama pemerintahan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH ( ). a. Periode pemerintahan bupati Dompu drs. H. Umar yusuf. M.Sc ( ). Pada periode tersebut sudah mulai dibicarakan secara serius tentang perlunya mencari dan menetapkan hari 56 Peta Dakwah MUI NTB

75 jadi Dompu. Maka berbagai pihak telah menyepakati dan menetapkan tanggal 12 September 1947 sebagai hari jadi Dompu. Kesepakatan dan penetapan tersebut, berdasarkan suatu penilaian, bahwa tanggal 12 September 1947 merupakan saat pengangkatan Sultan Dompu terakhir, yaitu Sultan M. Tajul Ariin Sirajuddin, sebagai kepala daerah Swapraja, oleh berbagai kalangan dapat dipandang sebagai tonggak sejarah, namun masih diperdebatkan oleh banyak pihak, walaupun sudah sempat diperingati untuk pertama kalinya pada tanggal 12 September 1993, namun penetapan hari jadi Dompu tanggal 12 September 1947 mentah kembali. b. Periode pemerintahan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH ( ). Pada periode ini penelusuran, dan pembahasan hari jadi Dompu diungkap kembali. Pada hari Rabu tanggal 15 Agustus 2001 di Gedung Sama Ngawa Dompu diadakan seminar sehari diikuti oleh berbagai kalangan masayarakat (birokrat, tomas, toga, tokoh pemuda) baik yang ada di Dompu maupun yang ada diluar Dompu dengan tujuan mencari, menelusuri, merumuskan dan menetapkan hari jadi Dompu. Melalui keputusan Bupati Dompu nomor 172 Tahun 2001 dibentuk tim perumus hari jadi Dompu. Tim bekerja dengan menggali berbagai dokumen dan mendengarkan berbagai informasi, telah merumuskan dan menetapkan hari jadi Dompu, pada hari jum at tanggal 24 September 1545 atau bertepatan dengan tanggal 8 Rajab 952 H. Adapun yang menjadi dasar pemikiran tim perumus pada saat itu yakni, bahwa pada tanggal tersebut bertepatan dengan pelantikan sultan Dompu pertama, yakni sultan syamsuddin pada tahun Di tengah perjalanan, usulan hari jadi Dompu yang jatuh pada tanggal 24 September 1545 tersebut masih menjadi perdebatan dari berbagai pihak. Akhirnya bupati Dompu saat itu memutuskan untuk menunda penetapan hari jadi Dompu sambil menunggu dan mencari data yang lebih akurat lagi. Setelah beberapa waktu soal penetapan hari jadi Dompu tidak di bahas, datang usulan dan masukan dari berbagai kalangan masyarakat Dompu berupa konsep atau naskah sebagai bahan acuan untuk mencari dan menetapkan hari jadi Dompu. Pertama, konsep M. El. Hayyat Ong (H. Muhammad Yahya) Mengusulkan tanggal 22 januari sebagai hari jadi Dompu, karena pada tanggal tersebut bertepatan dengan pemindahan kerangka jenazah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 57

76 sultan muhammad sirajuddin (Sultan Manuru Kupa) dari Kupang NTT ke Kabupaten Dompu. Kedua, konsep H. M. Djafar Ahmad mengusulkan tanggal 12 september 1545 dan tanggal 12 September 1947, dasar pemikiran usulan tersebut yakni bertepatan dengan Residen Timur dan daerah taklukannya menetapkan Dompu berpemerintahan sendiri sebagai zelfbestur, sedangkan tahun 1545 dilantiknya Sultan Syamsuddin sebagai Sultan pertama Dompu. Ketiga, konsep M. Ilyas Salman dan kawan-kawan. Tim ini tidak menetapkan tanggal, bulan dan tahun, melainkan hanya mengutarakan beberapa kejadian / peristiwa sejarah penting sebagai alternatif untuk dipilih sebagai hari jadi Dompu yaitu: a. Tahun 1360 pengucapan sumpah palapa oleh gajah mada yang mempersatukan semua wilayah nusantara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit; b. Tanggal 5 Mei 1667 penandatanganan perjanjian bongaya antara Sultan Goa, yaitu Sultan Hasanuddin dengan VOC, bahwa Makasar harus melepaskan kekuasaan politiknya terhadap Pulau Sumbawa termasuk Dompu; c. Tanggal 10 0ktober 1674, surat resmi pertama Raja Dompu kepada Jenderal VOC di Batavia, memuat kunjungan resmi Kapten Maros sebagai utusan VOC; d. Tanggal 22 Juli 1675 kontrak antara Kerajaan Sumbawa, Dompu dan Tambora tentang batas wilayah; e. Tanggal 30 September 1748, penandatanganan kontrak perbatasan antara kerajaan Dompu dan Tambora; f. Tanggal 9 Juli 1792, perjanjian politik kontrak adat, antara rakyat dan raja tentang kewajiban dan hak kedua belah pihak; g. Tanggal 27 Desember 1822, muncul resolusi resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda yang memuat pengaturan bahwa Raja Dompu memiliki kekuasaan di samping Sultan Bima. Beberapa tahun kemudian tampaknya pengungkapan hari jadi Dompu yang belum rampung itupun, sepertinya menjadi tanggung jawab bagi pemerintahan H. Abubakar Ahmad saat itu. 58 Peta Dakwah MUI NTB

77 Akhirnya Bupati Dompu mempunyai gagasan untuk meminta bantuan kepada salah seorang ahli sejarah nasional asal Dompu yang tinggal di Bandung, yakni Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Ph.D. (Guru Besar IKIP Bandung). Prof. Dr. Helyus Syamsuddin hadir ke Dompu sekaligus digelar kegiatan seminar bersama tim perumus hari jadi Dompu yang saat itu dipimpin ketua Komisi E DPRD Dompu H. Yusuf Djamaluddin, membahas soal penetapan hari jadi Dompu di gedung DPRD Dompu pada hari jum at tanggal 18 Juni Melalui seminar yang dihadiri oleh Bupati Dompu dan sejumlah toga, toma, tokoh pemuda, tokoh wanita serta dari berbagai komponen masyarakat. Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang akhirnya pada hari sabtu tanggal 19 Juni 2004, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Dompu menyetujui penetapan hari jadi Dompu jatuh pada hari selasa tanggal 11 April 1815 atau bertepatan dengan tahun Islam yakni, 1 Jumadil Awal 1230 H. Keputusan tersebut selanjutnya dituangkan dalam Peraturan Daerah (PERDA) nomor 18 Tanggal 19 Juni Dalam makalahnya yang berjudul Hari Jadi Daerah Dompu Sebuah Usul Alternatif dipaparkan antara lain bahwa, ada ilustrasi sejarah Indonesia, mungkin bermanfaat untuk ditambahkan bahwa peristiwa bencana alam, politik atau peperangan dapat saja dijadikan patokan-patokan sejarah yang amat penting. Dalam sejarah Indonesia di Jawa misalnya, malapetaka yang ditimbulkan oleh letusan dahsyat gunung merapi di jawa tengah, telah memaksa pusat pemerintahan mataram kuno (hindu) pindah dari jawa tengah ke jawa timur pada sekitar abad ke-10. Analogi dengan itu, ketika menggambarkan malapeta yang menimpa daerah Dompu Bima mengutip tulisan J. Olivier (1816), bahwa keterangan terakhir memberikan kunci kepada kita, bahwa mengapa istana Dompu yang dahulu, semula berada di Bata (Istana Doro Bata)? Jawabannya karena tertimbun abu dan tidak bisa lagi di diami/di huni, lalu di tinggalkan. Jadi Istana Bata dulu merupakan sebuah situs sejarah penting di Dompu, yaitu situs istana tua Dompu (asi ntoi) yang letaknya di Selatan Sorina e (Sekarang Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu) yang kemudian dipindahkan kesebelah Utara Sungai. Disinilah selanjutnya di dirikan istana baru (asi bou) letaknya dulu dilokasi masjid raya sekarang (Masjid Agung Baiturrahman, Dompu). Letusan gunung tambora yang memaksa ini semua terjadi. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 59

78 Perpindahan istana lama ke istana baru, pemerintahan pindah dari selatan sungai kesebelah utara sungai (sori na e). Apakah ini tidak merupakan suatu simbol kelahiran baru pemerintahan, meskipun sultan Dompu yang memerintah saat itu masih Sultan Abdul Rasul ( ). Jadi kita melihat ada perubahan dan keberlanjutan. Sultan inilah yang mendapat gelar Sultan Ma Ntau Bata Bou Yang kedua, dengan meletusnya gunung tambora maka 3 kerajaan sekitar tambora luluh lantah yakni, kerajaan tambora, kerajaan pekat dan kerajaan sanggar yang menyisakan penduduknya tinggal 200 orang saja. Tanah yang tidak berpenduduk dari kerajaan pekat dan sebagian Kerajaan Tambora dikuasai Sultan Dompu untuk memperluas wilayahnya. Jadi dengan dua alasan tersebut yaitu, pindahnya asi ntoi ke asi bou serta perluasan wilayah kesultanan dengan masuknya kerajaan pekat dan tambora, merupakan dasar pertimbangan demograis sosiologis. Dompu, karena malapetaka tersebut, dalam perjalanan waktu puluhan bahkan ratusan tahun, kemudian Dompu terpaksa menerima imigrasi penduduk dari kerajaan sekitarnya, khususnya dari wilayah Kerajaan Bima (mbojo). Terbentuklah komunitas-komunitas Bima di Dompu. Atas persetujuan Sultan Dompu dan bima di datangkanlah rakyat kolonisasi (pembojong) dari bima dengan syarat bahwa rakyat itu menjadi rakyat kerajaan Dompu. Karena itu bertambah jumlah kampung dan jiwa di Dompu seperti : kampung Bolonduru, Bolo Baka, Monta Baru, Rasana e, Buncu, dan lain-lainnya. Bagaimanapun juga ada hukum sejarah, bahwa sejarah itu adalah rangkaian dinamis dan dialogis antara keberlanjutan dan perubahan. Dompu Ntoi sebelum Tambora meletus dan Dompu Bou setelah Tambora meletus adalah Dompu yang sama; satu itu juga. Akhirnya sekarang Dompu sudah mempunyai lambang jati diri sebagai sebuah wilayah otonomi seperti daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Setelah sekian tahun mendambakan hari jadinya, dengan segala upaya dan kerja keras dari seluruh komponen masyarakat yang ada di Dompu, kini Dompu telah menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dengan telah di tetapkan hari jadi Dompu tanggal 11 april 1815 atau bertepatan dengan 1 Jumadil Awal 1230 h, melalui peraturan daerah Kabupaten Dompu nomor 18 tanggal 19 bulan Juni Dengan telah di tetapkannya hari jadi Dompu ini di harapkan agar supaya dapat lebih memacu dan memotivasi bagi seluruh masyarakat Dompu dalam membangun daerahnya yang bermotto nggahi rawi pahu (satunya kata dengan perbuatan). 60 Peta Dakwah MUI NTB

79 3. Kabupaten Bima Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan pemerintahan berdasarkan syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Buktibukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu Baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Sumatra. Kerajaan Bima dahulu terpecah pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu : a. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah; b. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan; c. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat; d. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara; e. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur. Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima. Cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra yaitu : 1) Darmawangsa; 2) Sang Bima; 3) Sang Arjuna; 4) Sang Kula; dan 5) Sang Dewa. Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat disebuah pulau kecil disebelah utara Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 61

80 Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan yakni Kerajaan Bima, dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat, dan saat itu pulalah Hadat kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa a Bilmana. Setelah menanamkan sendisendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/ XV. Beberapa perubahan Pemerintahan yang semula berdasarkan Hadat ketika pemerintahan Raja Ma Wa a Bilmana adalah : a. Istilah Tureli Nggampo diganti dengan istilah Raja Bicara. b. Tahta Kerajaan yang seharusnya diduduki oleh garis lurus keturunan raja sempat diduduki oleh yang bukan garis lurus keturunan raja. Perubahan yang melanggar Hadat ini terjadi dengan diangkatnya adik kandung Raja Ma Wa a Bilmana yaitu Manggampo Donggo yang menjabat Raja Bicara untuk menduduki tahta kerajaan. Pada saat pengukuhan Manggampo Donggo sebagai raja dilakukan dengan sumpah bahwa keturunannya tetap sebagai Raja sementara keturunan Raja Ma Wa a Bilmana sebagai Raja Bicara. Kebijaksanaan ini dilakukan Raja Ma Wa a Bilmana karena keadaan rakyat pada saat itu sangat memprihatinkan, kemiskinan merajalela, perampokan dimana-mana sehingga rakyat sangat menderita. Keadaan yang memprihatinkan ini hanya bisa di atasi oleh Raja Bicara. Akan tetapi karena berbagai kekacauan tersebut tidak mampu juga diatasi oleh Manggampo Donggo akhirnya tahta kerajaan kembali di ambil alih oleh Raja Ma Wa a Bilmana. Kira-kira pada awal abad ke XVI Kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir yang penobatannya tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan disesuaikan dengan tata pemerintahan Kerajaan Goa yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya Agama Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi 62 Peta Dakwah MUI NTB

81 Galarang (Kepala Desa). Struktur Pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri atas unsur Hadat, unsur Sara dan Majelis Hukum yang mengemban tugas pelaksanaan hukum Islam. Dalam penyelenggaraan pemerintahan ini Sultan dibantu oleh : a. Majelis Tureli ( Dewan Menteri ) yang terdiri dari Tureli Bolo, Woha, Belo, Sakuru, Parado dan Tureli Donggo yang dipimpin oleh Tureli Nggampo/ Raja Bicara. b. Majelis Hadat yang dikepalai oleh Kepala Hadat yang bergelar Bumi Lumah Rasa NaE dibantu oleh Bumi Lumah Bolo. Majelis Hadat ini beranggotakan 12 orang dan merupakan wakil rakyat yang menggantikan hak Ncuhi untuk mengangkat/ melantik atau memberhentikan Sultan. c. Majelis Agama dikepalai oleh seorang Qadhi (Imam Kerajaan) yang terdiri dari 4 orang Khatib Pusat yang dibantu oleh 17 orang Lebe Na e. Seiring dengan perjalanan waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan ke arah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatingkatan dalam Undang-undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 33 tahun 2004, Kabuapten Bima telah memanfaatakan kewenangan itu dengan Proil Kabupaten Bima tahun 2008 terus menggali potensi-potensi daerah baik potensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam agar dapat dimanfaatingkatan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatingkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat, Kabupaten Bima telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, dan bahkan dimekarkan menjadi Kota Bima pada tahun Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi tuntutan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat yang terus berkembang dari tahun ke tahun tetapi juga karena adanya daya dukung wilayah. Sejarah telah mencatat bahwa Kabuapten Bima sebelum otonomi daerah hanya terdiri dari 10 kecamatan, kemudian setelah otonomi daerah kecamatan sebagai pusat ibukota Kabupaten Bima dimekarkan menjadi Kota Bima, dan Kabupaten Bima memekarkan beberapa wilayah kecamatannya Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 63

82 menjadi 14 kecamatan dan pada tahun 2006 dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan dengan pusat ibukota kabupaten Bima yang baru dipusatkan di Kecamatan Woha. (Bappeda Kab. Bima) Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh elemen masyarakat. Hubungan kekerabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang kevii. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini : a. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-ii) b. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-iii) pada tahun c. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-iii) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-iv) d. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V). e. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate ne, pada tanggal 12 september dari 64 Peta Dakwah MUI NTB

83 pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI) f. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke- II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun g. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun h. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX i. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827 j. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim. k. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 65

84 l. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen. Adalah sangat ironis jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun. Pada beberapa catatan yang diketemukan bahwa pernikahan salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas Peta Dakwah MUI NTB

85 bab 2 KOta mataram A. Akar Genealogi Kota Mataram. Kata Mataram berasal dari bahasa Sansekerta dari kata mata yang berarti ibu dan kata aram berarti hiburan. Mataram berarti hiburan untuk ibu atau persembahan untuk ibu pertiwi. Kata Mataram juga bisa berasal dari kata matta yang berarti gembira atau gairah dan aram berarti hiburan. Jadi matta-aram atau mataram berarti pembangunan kerajaan atau kota ini adalah sebagai lambang pernyataan kegembiran sebagai hiburan dan sekaligus lambang kegairahan hidup untuk membangun tanah harapan yang menjanjikan masa depan yang lebih cerah. 1 1 Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram. (Mataram: Yayasan Sumurmas, Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 67

86 Secara etimologi, kata Mataram berasal dari kata Mentaram, Mentarum, Matawis. Bahkan secara pejoratif ada yang mengatakan berasal dari kata Mata-haram. Secara historis, kata Mataram pertama kali dipakai bagi nama kerajaan Mataram Yogyakarta yang berasal dari bahasa Sanskerta. Matta yang berarti ibu negeri dan ramya yang berarti ramai, bagus, atau indah. Sedangkan dalam ilmu sekarang (Tembang) kata Mataram dapat berubah menjadi Matarum untuk mendapatkan irama (guru lagu) dung dan dapat menjadi matawis untuk mendapatkan irama ding. Kata Matta yang bermakna ibu, sampai hari ini masih dipakai dalam kosakata bahasa Urdu India. Mata juga berarti mata, paningal, netra. 2 Letak Mataram pada masa lalu adalah daerah yang kini berada di sekitar kantor Gubernur NTB pada radius yang terbatas. Cikalbakalnya adalah suatu tempat yang kini bernama Majeluk dan berkembang ke sekitarnya daerah dimana pada awalnya ditempati oleh penduduk yang merupakan percampuran orang Sasak dan Jawa. 3 Merekalah yang diyakini pertamakalinya menamakan tempat tersebut dengan nama Mataram menurut asal daerah mereka yang dari Jawa atau sebagai bentuk ungkapan kegembiraan atas tempatnya yang baru tersebut. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa sumber, antara lain: Bahwa sekitar abad ke 15 M sekelompok penduduk Sasak yang tinggal terpencar di sekitar Majeluk sekarang mengalami percampuran dengan imigran yang berasal dari Jawa. Mereka kemudian membangun sebuah pemukiman dan menamakan tempat tersebut dengan Mataram. Kedatangan imigran dari Jawa pada abad ke 15 berawal dari ketika di Jawa terjadi banyak ketegangan sosial akibat pertentangan politik di Majapahit sepeninggal Hayam Wuruk. 4 Namun demikian data-data primer tentang imigran yang datang sebagai akibat dari konlik politik tersebut belum ditemukan. Dalam Babad Lombok ditemukan bahwa dalam ekspedisi mengislamkan wilayah Nusa Tenggara Sunan Prapen berangkat bersama para mubalig dan armadanya didukung oleh puluhan kapal dengan tidak kurang dari 10 ribu pasukan yang berasal dari daerahdaerah di Pulau Jawa yakni dari Mataram, Majalengka, Madura, 1998), h Lalu Gde Suparman, 11 Tahun Kota Mataram Membangun Kota Berbasis Dan Berwawasan Religius, (Mataram: Komunitas Pengkaji Dinamika Mataram, 2004). 3 Jamaluddin, et.all., Laporan Akhir Penyusunan Sejarah Kota Mataram, (Mataram: Bappeda Kota Mataram dan CV.Alam Manik, 2011), h Ibid. 68 Peta Dakwah MUI NTB

87 Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya yang dipimpin oleh pemukanya masing-masing seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dan Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, Raden Kusuma Betawi dan lainnya. Mantaram sendiri dipimpin oleh seorang yang disebut Patih Mentaram. Di Lombok setelah berhasil mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok itu ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan-rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok. Salah satu tokoh yaitu Patih Mataram sangat banyak berperan dalam misi ini. Salah satu peran pentingnya adalah mendapat tugas memimpin untuk mengislamkan semua orang di utara gunung dari Samulya (Sambelia), Bayan hingga Sokong. Bersamanya tidak hanya pasukan dari Jawa Mataram dan laskar kerajaan Lombok tetapi turut pula para muballig dan para cerdik pandai. 5 Selesai misi di utara gunung Laskar Mataram nampaknya melanjutkan misi ke wilayah selatan gunung melewati jalur yang biasa dilewati yang masih ada hingga sekarang yaitu Pusuk atau mengitari ujung barat pulau lewat pinggir laut, sembari mengislamkan pedukuhanpedukuhan yang dilewatinya. di Lembah Selatan kaki gunung mereka menemukan lokasi yang baik dan strategis topograinya suatu tempat subur yang diapit oleh dua buah sungai. Tempat ini kemudian dikenal dengan Sesela (Penamaan ini nampaknya erat hubungannya dengan daerah Sesela (Grobogan-Selatan Demak) daerah tempat berkuasanya Ki Ageng Sesela yang merupakan kakek Ki Gede Pamanahan pendiri dinasti Mataram-Yogya). Di sini ditempatkan beberapa orang laskar Lombok dan Jawa untuk membina wilayah sekitarnya dan menjadi cikal bakal penduduk setempat. Beberapa waktu setelah melakukan Islamisasi di Sesela perjalanan dilanjutkan lurus ke arah selatan sampai di daerah yang sekarang dikenal sebagai Rembiga. Di tempat ini juga mereka menempatkan beberapa orang anggota rombongan ekspedisi. Perjalanan dilanjutkan ke arah selatan dan mereka mendapati suatu tempat lagi untuk beristirahat dan membangun pemukiman baik dengan pertimbangan topograi atau pertimbangan taktis bina territorial sebagaimana lazimnya sebuah misi. Dengan demikian untuk itu beberapa dari anggota misi yang berasal 5 Babad Lombok, (Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 69

88 dari Mataram Jawa dan Lombok di tempat untuk membina masyarakat di sekitarnya terlebih masih ada daerah yang belum Islam seperti Pejarakan. Inilah menjadi cikal bakal pedukuhan yang mana orangorang dari Mataram ini menamakan tempat tersebut dengan nama Mataram sesuai dengan nama daerah asalnya untuk pertamakali. Setelah dari Mataram laskar Mataram ini melanjutkan misinya ke arah Selatan dan Tenggara, kemudian mereka masuk di Pujut. Di Pujut salah seorang dari pimpinan rombongan dikenal dengan sebutan Patih Babas Mataram. Tercatat dalam Piagam Pujut bahwa pada saat Ratna Putri Tanauran menjadi Ratu Pujut datanglah Patih Babas Mataram dengan balatentaranya dari tanah Jawa untuk mengislamkan raja-raja yang masih Budha di Pulau Lombok. Pujut yang semula menolak masuk Islam wilayahnya diblokir dan jalan ke semua mata air terutama mata air utama yang disebut Bun Kerok di kaki sebelah barat Gunung Pujut dijaga ketat oleh laskar Patih Babas Mataram selama berharihari. Karena masyarakat setempat kesulitan dalam menghadapi kondisi kekurangan air dan makanan, maka kemudian Pujut menyerah. 6 Sementara itu rombongan lain dalam tim ekspedisi yang dikirim ke penjuru Pulau Lombok ini adalah yang bertugas mengislamkan Negara Sasak yang berkuasa atas sebagian besar wilayah Lombok bagian barat (mungkin juga sebagian Lombok Tengah bagian barat sekarang) sehingga wilayah ini disebut dengan Negeri Sasak. Kelompok ini terdiri dari laskar Kerajaan Lombok dan Jawa termasuk Laskar Mataram yang dipimpin oleh Ratu Madura dan Ratu Sumenep bersama para mubaligh. Kerajaan Sasak berhasil diislamkan kecuali Pejarakan masih tetap memeluk agama Budha. 7 Untuk membina wilayah yang telah diislamkan ini maka beberapa dari Laskar Lombok dan mubaligh Jawa yang turut dalam misi ini ditempatkan di sekitar ibukota kerajaan Sasak ini sembari menggarap lahan yang subur dan relatif masih kosong ini dan mereka menamakan pemukimannya yakni Pajang dan Mataram. Bisa saja dua rombongan ekspedisi ini yang mana yang satu datang dari utara di bawah pimpinan Patih Mataram dan yang datang dari timur di bawah pimpinan Ratu Madura dan Sumenep kemudian bertemu di Mataram ini. Sumber lain menyebutkan bahwa pada awal abad ke 17 setelah terbukanya Ampenan menjadi Bandar laut, maka datang sekelompok 6 Monograi Daerah NTB (Jakarta: Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI, 1977). 7 Ibid.; bandingkan dengan Babad Lombok. 70 Peta Dakwah MUI NTB

89 pedagang yang berasal dari Jawa yang mengidentiikasi diri dengan Mataram. Identiikasi diri ini bisa berhubungan dengan daerah asalnya memang dari wilayah Mataram atau wilayah kekuasaan Mataram mengingat bahwa sejak tahun 1639 dengan berhasil dikuasainya Blambangan oleh Mataram berarti hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa timur dikuasai oleh kerajaan Mataram dibawah Sultan Agung, atau identiikasi diri ini berhubungan dengan spirit keagungan kala itu yaitu kebesaran Kerajaan Mataram meski dia tidak persis berasal dari daerah itu, sebagaimana sebagian kalangan mengidentiikasi diri dengan kebesaran Majapahit atau kemaharajaan Islam Bagdad atau kekaisaran Turki Usmani dan sebagainya. Disini mereka bercampur dengan penduduk setempat sehingga ada yang memilih untuk menetap. Untuk itu mereka mencari tempat yang bagus untuk pemukiman. Tidak jauh dari pelabuhan Ampenan ke arah timur, mereka menemukan lokasi yang cocok menurut tradisi Jawa yaitu suatu dataran yang diapit oleh dua buah sungai yang dalam. Tempat tinggal yang baru tersebut mereka namakan Mataram. 8 Namun demikian bukti kuat dari informasi ini belum ditemukan. Kemudian setelah dua ratus tahun agama Islam masuk di Lombok, maka datanglah berduyun duyun orang-orang dari Bali terutama dari Karangasem dan sekitarnya. Mereka membangun pemukiman di daratan negeri Sasak, sebutan wilayah Lombok bagian barat pada masa kuno. Salah satu pemukiman yang ditempati oleh pemukimpemukim dari Karangasem ini adalah wilayah Mataram tadi dengan membangun pemukiman lebih ke barat sedikit dari Majeluk yakni sekitar Kantor Gubernur sekarang dan menyebut pemukimannya dengan nama Metaram. Beberapa waktu pada pertengahan abad 19 Metaram pernah menjadi pusat Kepangeranan Metaram. 9 Selanjutnya, penyebutan Mataram pertama kali diperkenalkan secara formal oleh Belanda. Pada tahun 1895 M Belanda yang menempatkan Lombok sebagai daerah Gubernement atau berada dalam pemerintahan langsung Pemerintah Kolonial Belanda dari sebelumnya berstatus Zelfbestuurder (berpemerintahan sendiri) Mataram dijadikan secara resmi pertamakali oleh Belanda untuk menyebut ibukota pemerintahannya. Tanggal 31 Agustus 1895 Mataram menjadi ibukota Onder Afdeling Lombok Barat kemudian belakangan 8 Jamaluddin, et.al., Laporan akhir, h AA Ketut Agung, Kupu-Kupu Kuning Yang Terbang Di Selat Lombok (Denpasar: Upada Sastra, 1992). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 71

90 pertanggal 11 Maret 1898 menjadi ibukota Afdeling Lombok setelah dipindah dari Ampenan. 10 Pada bulan Februari 1942 Mataram menjadi pusat pemerintahan Negara Republik Lombok dan pusat pemerintahan Lombok Barat. 11 kemudian pada bulan Mei tahun itu juga Jepang mengambil alih pemerintahan dan menetapkan Mataram sebagai ibukota Ken Lombok dan Bun Ken Lombok Barat. Sejak 18 Agustus 1945 Mataram menjadi ibukota pemerintah Lombok. Pada Tanggal 15 Oktober 1945 Mataram menjadi ibukota Daerah Lombok dan Ibukota Pemerintahan Setempat Lombok Barat. Sejak Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dan sekaligus ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Lombok Barat. Pada tahun 1965 dengan perubahan nama Daerah Swatantra Tk I menjadi Propinsi dan Daerah Swatantra TK II menjadi kabupaten maka Mataram menjadi ibukota Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupten Lombok Barat, dan pada tahun 1978 Mataram sekaligus menjadi ibukota Kota Administratif Mataram. 12 B. Sejarah Sosial Keagamaan Kota Mataram. Penduduk pribumi di wilayah Mataram ini awalnya dahulu adalah orang-orang Sasak. Orang Sasak atau dalam bahasa asli Dengan Sasak. Orang Bali menyebutnya I Sasak, sedangkan orang Jawa menyebutnya Wong Sasak, adalah sebutan penduduk asli Pulau Lombok yang selanjutnya dikenal dengan suku Sasak. Secara etimologi kata Sasak berasal dari bahasa Sasak yakni Sa yang berarti yang dan Sak yang berarti satu, pertama, utama, sulung. Dengan demikian Sasak berarti yang satu, yang pertama, yang utama atau yang sulung. Dari makna kata ini ada beberapa pengertian antara lain: Orangorang Sasak adalah asal muasalnya dari satu pasang manusia dahulunya yang merupakan penduduk pertama dan menjadi leluhur orang Sasak di Pulau Lombok dan menjadi leluhur sebagian penduduk atau klan di pulau-pulau sekitarnya atau bahkan negeri yang lebih jauh seperti Sumbawa, Bali, Sulawesi Selatan, bahkan Kalimantan Tim Penyusun, Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2002). 11 Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Nusa Tenggara Barat ( )(Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1980) 12 Kota Mataram Ibadah Yang Maju dan Religius, Kantor Infokom Kota Mataram, Lalu Djelenga, Keris Di Lombok, (Mataram: Yayasan Pusaka Selaparang, 2000). 72 Peta Dakwah MUI NTB

91 Dalam sebuah naskah kuno mengisahkan tentang keberadaan seorang Pangeran Kerajaan Lombok bernama Pangeran Hame Mas Bele Batang dikisahkan megingsir ring jawe turun tibe Hamengkubuwana, yang artinya berpindah ke Jawa dan nantinya menjadi leluhur penguasapenguasa Jawa.18 Pengertian lain dari terminologi kata Sa Sak dalam arti yang utama adalah orang-orang Sasak melihat dirinya sebagai insan yang utama dan lebih sulung atau lebih tua dari yang lain karena lebih dahulu mengenal peradaban yang mana salah satu peradaban ini pernah berkembang di beberapa tempat di Asia Tenggara. Penemuanpenemuan arkeologis menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu banyak tempat di pulau ini telah dihuni penduduk dengan berbagai ragam kebudayaan. Makna yang ketiga dari kata Sa Sak atau yang satu adalah secara religiusitas sejak awal orang Sasak telah meyakini adanya Tuhan yang satu. Bahwa jauh sebelum datangnya agama-agama besar orang Sasak telah mempunyai agama asli yang monotheis yang mengakui adanya hanya satu Tuhan. Nenek adalah terminologi orang Sasak untuk menyebut Tuhan yang tunggal itu. Basis keyakinan monotheis ini yang menyebabkan orang Sasak umumnya besar kemungkinantidak pernah memeluk agama Polytheis atau agama dengan keyakinan Tuhan yang tidak tunggal. Dengan basis keyakinan itu pula agama Islam dapat diterima dengan mudah, cepat dan meluas nantinya untuk kemudian dipegang teguh, sebagai simbol Sasak. Sedangkan R. Goris menguraikan arti kata Sasak dari segi etimologis bahwa Sasak berasal dari bahasa Sanskerta dari kata Sahsaka. Sah berarti pergi, saka berarti asal. Jadi orang Sasak adalah orang yang pergi dari negeri asalnya dengan memakai rakit sebagai kendaraan kemudian berdiam di pulau Lombok. Pendapat Goris ini sejalan dengan informasi yang terdapat dalam Babad Lombok tentang asal-usul penduduklombok yang paling awal. Babad Lombok merunut leluhur nenek moyang orang Sasak yang paling awal berasal dari sepasang umatnya Nabi Nuh persisnya salah seorang putri Nabi Nuh dengan pasangannya seorang pembuat bahtera, yang dalam pengembaraannya mencari bumi baru atas perintah ayahnya setelah terkatung katung di lautan dan melewati banyak negeri selama bertahun-tahun, sampailah di Pulau Lombok, tepatnya di lokasi yang bernama Ujung Bayan. Disana mereka memulai kehidupan barunya dengan cara hidup yang sangat sederhana seraya belajar dari alam. Setelah ribuan tahun (bapuluh hatus warsa artinya berpuluh ratus tahun) pemukiman semakin padat dan makanan makin Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 73

92 terbatas karena jumlah penduduk kian berkembang maka mereka membangun sebuah tempat baru yang bernama desa Laeq, kemudian desa Laeq ini tumbuh menjadi desa yang makmur. Dari desa Laeq ini kemudian pada suatu saat sebagian penduduknya secara serempak menyebar ke berbagai tempat di pulau Lombok diantaranya ke negeri Sasak atau pulau Lombok bagian barat. Perpindahan penduduk dari desa Laeq ini dikarenakan adanya serangan suatu wabah endemik. Dalam Babad Lombok disebutkan bahwa wabah itu berasal dari rombongan pelaut pelarian dari negeri Yaman atau Talpaman ketika awal proses Islamisasi di negeri Arab. Setelah banyak yang mati dan kewalahan sebagian penduduk desa Laeq mengungsi ke berbagai tempat seperti Sasak, Pejanggik, Langko, Pengantap, Bayan, Tebango, dan sebagian membangun desa baru yang berkembang menjadi kerajaan Pamatan yang nantinya menjadi cikal bakal kerajaan Lombok. 14 Memperhatikan alur sejarah peristiwa tersebut, yakni sewaktu mulai tumbuhnya agama Islam di negeri Arab artinya perpindahan penduduk dari desa Laeq ini ke penjuru Lombok termasuk ke Lombok bagian barat terjadi pada abad ke-7 M. Orang-orang dari desa Laeq yang menyingkir ke negeri Sasak ini nampaknya menjadi cikal-bakal penduduk awal pulau Lombok bagian barat termasuk di wilayah Mataram sekarang. Setelah sekian lamanya penduduk ini kemudian membentuk pedukuhan-pedukuhan yang nantinya berkembang menjadi desa-desa. Beberapa desa nantinya terkonsolidasi menjadi kedatuan-kedatuan atau kerajaan kecil. Hingga datangnya Islam pada awal abad ke 16 di wilayah Mataram terdapat dua entitas Sasak yakni kedatuan Pejarakan dan sebuah kota pemerintahan pusat kerajaan Sasak di wilayah Cakranegara sekarang, yang ketika itu mereka masih beragama Budha. Dalam naskah-naskah kuno yang disebut sebagai Negareng Sasak atau negeri Sasak dahulunya adalah Pulau Lombok bagian barat menurut nama sebuah kerajaan besar yaitu kerajaan Sasak yang berpusat di wilayah Mataram yang pernah menguasai wilayah Pulau Lombok bagian barat. Kerajaan Sasak ini bahkan mungkin pernah mempunyai pengaruh di seluruh Pulau Lombok sehingga penduduk pulau ini dikenal dengan orang Sasak atau suku Sasak; sedang sebutan 14 Ibid. 74 Peta Dakwah MUI NTB

93 negeri Lombok dahulunya adalah untuk menyebut Pulau Lombok di ujung bagian timur menurut nama kerajaan besar yang pernah eksis di sana yang ibukotanya di Teluk Lombok sekarang. Kemasyhuran dua kerajaan ini membuatnya termasuk yang menjadi target Majapahit untuk ditundukkan. Kitab Negara Kertagama atau Decawarnana mencatat: Muwah tang Gurun Sanusa ri Lombok Mirah lawantikang Sasak Adi nikalun kehayian kabeh muwah tanah I bantayan Pramuka Bantayan len Luwuk teken Udamakatrayadhi nikayang sanusa pupul. Gelombang selanjutnya yang nantinya menjadi penduduk wilayah Mataram adalah berasal dari anggota rombongan ekspedisi pengislaman Negeri Sasak. Ekspedisi ini adalah kelanjutan dari tahapan pengislaman pulau Lombok yang dipimpin oleh Sunan Prapen sekitar tahun 1545 M yang berbasis di ibukota Kerajaan Lombok di teluk Lombok, Lombok Timur. Dari sana ekspedisi-ekspedisi disebar ke seluruh penjuru Pulau Lombok. Yang bertugas mengislamkan Negara Sasak adalah dari laskar Kerajaan Lombok dibantu laskar Jawa termasuk Laskar Mataram yang dipimpin oleh Ratu Madura dan Ratu Sumenep bersama para muballigh. Kerajaan Sasak berhasil diislamkan kecuali Pejarakan masih tetap Budha ketika itu. Untuk membina wilayah yang telah diislamkan ini maka beberapa dari Laskar Lombok dan mubaligh Jawa yang turut dalam misi ini memilih atau atas perintah kerajaan untuk tinggal di wilayah Mataram sembari menggarap lahan yang subur dan relatif masih kosong ini. Langkah ini nampaknya menjadi bagian dari strategi Kerajaan Lombok (yang nantinya menjadi kerajaan Selaparang) dalam rangka klaim sebagai wilayah pengaruhnya atas wilayah-wilayah yang telah diislamkan sekaligus meneruskan misi untuk mengislamkan Pejarakan yang masih memeluk agama Budha. Pemukim-pemukim ini menempati beberapa tempat yang nantinya berkembang menjadi pedukuhan-pedukuhan seperti Ampenan, Perigi, Kampung Jawa/ Mataram, Pajang dan pemukiman lain sepanjang kali Ancar. Mereka ini menjadi embrio pemukiman-pemukiman kerajaan Selaparang di wilayah ini. Secara berangsur-angsur mereka didorong oleh pihak kerajaan juga mengajak keluarga dari desa asal untuk membangun perkampungan di wilayah yang mereka tempati yang nantinya menjadi cikal-bakal desadesa Sasak di wilayah Mataram seperti Parigi, Dasan Agung, Pagutan, Karang Genteng, Rembige, Gubug Mamben dan lain-lain tempat yang penduduknya berbahasa Sasak dialek Ngeno-Ngeni menggunakan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 75

94 dialek Selaparang. Untuk memantapkan posisi ini nantinya kerajaan Selaparang sebagai penerus kerajaan Lombok juga menempatkan kerabat-kerabatnya memimpin komunitas-komunitas yang mulai tumbuh dan berkembang. Kerajaan Selaparang juga membangun desa pelabuhan diujung barat, yakni Ampenan. Termasuk dalam gelombang migrasi era ini adalah penduduk yang nantinya menjadi desa Sekarbela dan sekarang menjadi sebuah nama salah satu kecamatan di Kota Mataram. Kedatangan pertama pemukim Sekarbela diperkirakan mulai pada sekitar 1025 H atau Tahun 1603 M. Jumlah pemukim awal ini terdiri atas 41 orang berasal dari Selaparang, Masbagik, Sakra, Jerowaru, orang-orang Jawa dan beberapa daerah di Lombok bagian selatan. Kedatangan mereka dipimpin oleh seorang mubaligh yang dikenal dengan Wali Padang Reyak namanya Anumerta sesuai dengan nama tempat makamnya yang hingga kini dikeramatkan. Daerah yang ditempati pertama oleh pemukim ini adalah di daerah sekitar mesjid Bengaq (Masjid al-raisiyah sekarang) yang kini masuk dalam lingkungan Pande Mas. Beberapa diantara yang ditokohkan dan menjadi pimpinan mereka diyakini turunan dari senopati atau pepatih kerajaan Selaparang. Generasi kedua dari pemukim pertama ini ada yang kemudian berpindah ke Pagutan Presak dan berkembang keturunannya di sana. 15 Mengenai makna yang tersirat dari nama Sekarbela ini ada beberapa pendapat. Satu pendapat mengatakan Sekarbela berasal dari kata bahasa Arab yakni Assyukru dan Billah yang kalau digabung menjadi Assyukru Billah, artinya bersyukur kepada Allah. Terminologi yang berasal dari bahasa Arab ini kemungkinan berkaitan dengan aspek religius dan sosial masyarakat setempat, seperti sebagai ungkapan rasa syukur karena di daerah baru ini mereka mendapat kemudahan hidup sebab alamnya yang subur dan serta mendapat kecukupan rezeki. Selain itu sebagai ungkapan rasa syukur sebab memperolah kemudahan dalam mengembangkan ajaran Islam. 16 Pendapat lain mengatakan bahwa Sekarbela berasal dari akar kata Sekar yang berarti bunga atau kusuma bangsa yang berbudi dan Bela yang berarti pembela atau pelindung sehingga Sekarbela diartikan dengan kusuma pembela bangsa atau Pahlawan. Pengertian ini ada kaitan dengan keperwiraan mengingat sebagian di antara mereka adalah turunan senopati kerajaan Selaparang 15 Iskandar, Mengenal Sekarbela Lebih Dekat (Yogyakarta: Mahkota Kata, 2011) 16 Ibid. 76 Peta Dakwah MUI NTB

95 yang turut berperang melawan Gelgel di laut Selat Lombok pada tahun 1616 M. dan 1624 M. Dalam era perang melawan kerjaan Gelgel ini dan sesudahnya sebagai sebuah strategi pertahanan untuk mengamankan sisi barat wilayahnya Selaparang dan Pejanggik kali ini lebih banyak menempatkan prajurit dari pada petani yang biasanya dipimpin oleh orang dari keluarga kerajaan. Selain yang bertempat di Sekarbela, prajurit-prajurit Selaparang juga mendirikan pedukuhan Sukamulia yang kemudian berkembang menjadi pemukiman Sasak di Pagutan. Selain itu prajuritprajurit dari Selaparang dan Pejanggik juga memperkuat desa Dasan Agung dan berketurunan di sana. Selain desa-desa tersebut, hingga permulaan abad ke XVIII distrik Sasak yang terkemuka di wilayah Mataram ini adalah Ampenan, Pejarakan dan Cariding. Sejak permulaan abad ke XVIII secara bergelombang ratusan keluarga bermigrasi dari Bali terutama Karangasem berdatangan menuju Lombok. Babad Selaparang mencatat kedatangan pertamakali orang-orang Bali ini dan mendarat di Ampenan pada Isaka sepaha kawan dasa tiga atau 1643 Saka26 atau 1721M, sedang naskah Bali mencatat Dari tahun 1721 M itu gelombang migrasi ini membangun desadesa di Lombok Barat yang terdiri dari kumpulan beberapa keluarga. Desa-desa baru tersebut antara lain: Pagesangan, Pagutan, Singasari Mataram, Kediri dan Sengkongo. Semua desa-desa ini tetap berinduk ke Karangasem namun sebagai koordinator mereka di wilayah baru ini adalah Singasari. Puri Mataram dibangun tahun 1740 M-1744 M. disebut Puri Kanginan Metaram. Untuk memperkuat rasa persatuan mereka maka pada tahun 1744 M. di Singasari (Cakranegara sekarang) dibangun Pura Meru sebagai tempat pemujaan dan pemersatu seluruh keluarga Karangasem dan masyarakat Hindu di Pulau Lombok. 17 Setelah itu dengan semakin berkembangnya desa-desa di wilayah Mataram ini menjadi kota-kota yang mandiri baik secara sosial, ekonomi maupun politikmenarik minat penduduk-penduduk dari Lombok Tengah dan Lombok Timur untuk datang ke wilayah Mataram. Selain petani banyak dari mereka itu adalah orang-orang yang memilki keahlian professional seperti ahli perundagian, kerajinan dan sebagainya yang nantinya membangun perkampungan seperti Karang Kelok, Kamasan, Karang Mas-mas, Karang Tatah, Karang Sukun, Karang Bedil, Getap, Karang Kemong, Karang Tapen, Seganteng. Berangsur-angsur selain dari bekas wilayah Selaparang datang juga 17 AA. Ketut, Kupu-Kupu.., h. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 77

96 penduduk dari wilayah Pejanggik dan Lombok bagian tengah pada umumnya. Beberapa keluarga dari Ungga, Darek dan Ranggagate nantinya membuat perkampungan Petemon. Penduduk Kedemungan Tempit Truwai Lombok tengah mengisi tempat yang bernama sama yaitu Tempit di Ampenan. Begitu juga, dari Marong membangun dusun Marong Karang Baru, Krekok di Dusun Krekok Rembiga. Penduduk dari Kelayu Lombok timur nantinya bermukim di Punia Karang Kelayu, dari Saba di Punia Saba, asal Kateng Praya Barat bermukim di Punia Karang Kateng sedang dari Pademara Lombok Timur, Mangkung Lombok Tengah dan Gerung banyak mengisi lokasi yang kini dikenal sebagai Punia Jamak. Termasuk dari Taliwang Sumbawa membangun Desa Taliwang. Ampenan semula adalah desa nelayan kecil. Sesuai dengan namanya Ampenan berasal dari kata ampen yang berarti benang pancing ditambah akhiran an. Jadi Ampenan adalah tempat pemancingan atau tempat mencari ikan yang cukup baik. Pemukiman orang Sasak pertama disini adalah Otak Desa atau pusat desa dan kebon Roweq. Ketika peperangan melawan Gelgel awal abad 17 Pejanggik menempatkan prajurit yang sebagian besar berasal dari Kedemungan Tempit dan membangun pedukuhan Tempit. Dengan semakin berkembangnya Pelabuhan Ampenan nampaknya mengundang juga kelompok-kelompok pemukim dari berbagai tempat di pulau Lombok. Mereka membangun kampung Karang Panas, juga dari desa Sukaraja (sekarang termasuk kecamatan Jerowaru) yang nantinya membangun kampung yang menjadi cikal desa Sukaraja Ampenan. Penduduk dari desa Sintung Pringgarata membangun kampung Sintung, dan sebagainya. Selain itu perkembangan Ampenan menarik orang-orang dan para pedagang-pedagang dari Nusantara dan mancanegara untuk datang. Seperti orang Jawa, Banjar, Melayu, Bugis, Arab bahkan orang-orang Eropa. Sebagian dari mereka kemudian menetap dan membangun pemukiman dan memberikan nama sesuai dengan asal-usul mereka seperti kampung Arab, kampung Bugis, kampung Banjar, kampung Melayu dan lainnya. Kota Mataram memiliki motto: Religius dan Berbudaya. Kota Mataram, 18 yang merupakan anak kandung dari Kabupaten Lombok 18 Menelusuri sejarah Kota Mataram dari zaman raja-raja, zaman Pemerintahan Kolonial Belanda, Zaman Pendudukan Jepang dan terbentuknya Negara Indonesia Bagian Indonesia Timur dari Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember Kata-kata bijak menyebutkan segala abad adalah bersambung oleh adanya berbagai sebab dan akibat yang 78 Peta Dakwah MUI NTB

97 Barat, sebelum Lombok Barat menjadi Kabupaten tersendiri, berawal dari kelahirannya sebagai kota admnistratif Mataram. 19 Barangkali, penyebutan kata Mataram, tidak lepas dari pengaruh para Raja Mataram. 20 Secara historis, di bidang pendidikan, pada masa pemerintahan Hindia Belanda menerapkan system pendidikan bertingkat yang di antaranya adalah pertama, Voolkes School, hanya ada 1 unit di tiap desa (pemusungan), murid yang dididik kelas I-III; Kedua, Vervoleg School, hanya ada di tiap kedistrikan, 1 unit murid yang dididik kelas III-V; Ketiga,Holand Inland School (HIS), sekolah yang pengantaranya Bahasa Belanda, muridnya anak-anak orang belanda, distrik, orang berpengaruh dan pengusaha, murid yang dididik kelas V-VII; Keempat, MILO setingkat SMP hanya ada di Pulau Jawa; Kelima, A.M.S setingkat SLTA; dan, Keenam,Holden Bestuur School (HBS) sekolah khusus bidang ilmu pemerintahan di Makasar. 21 tidak putus-putus dan telah mengikat segala yang terdapat sebelumnya. Tim Redaksi, Kota Mataram Ibadah Yang Maju dan Religius, (Mataram: Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Mataram, tt.), h Ketika pulau Lombok diperintah oleh para raja-raja, Raja Mataram Tahun 1842 Masehi menaklukan kerajaan Pagesangan setahun kemudian tahun 1834 menaklukan kerajaan Kahuripan. Kemudian Ibukota Kerajaan dipindahkan ke Cakranegara dengan ukir Kawi Nama Istana Raja. Raja Mataram (Lombok) selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, melaksanakan sensus penduduk kerajaan dengan meminta semua penduduknya mengumpulkan jarum. Penduduk laki-laki dan perempuan akan diketahui lewat ikatan warna tali pada jarum-jarum yang diserahkan. Setelah raja Mataram jatuh oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan korban Jenderal Van Ham, yang monumenya ada di Karang Jangkong Cakranegara, mulailah diterapkan system pemerintahan dwitunggal berada di bawah Afdelling Bali Lombok yang berpusat di Kota Singaraja Bali. Pulau Lombok dalam pemerintahan dwitunggal terbagi menjadi tiga Onder Afdelling, dari pihak Kolonial sebagai wakil di sebut Controleur dan dari wilayah di sebut Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sampai ke tingkat ke distrikan. Adapun ketiga wilayah administratif masih disebut West Lombok (Lombok Barat) Midle Lombok (Lombok Tengah) dan East Lombok (Lombok Timur) dipimpin oleh seorang controleur dan Kepala Pemerintahan Setempat (KPS). Untuk wilayah West Lombok (Lombok Barat) membawahi tujuh wilayah administratif yang meliputi: 1. Kedistrikan Ampenan Barat di Dasan Agung; 2. Kedistrikan Ampenan Timur di Narmada; 3. Kedistrikan Bayan di Bayan Belek; 4. Kedistrikan Tanjung di Tanjung; 5. Kedistrikan Gerung di Gerung; 6. Asisten Distrik Gondang di Gondang; 7. Kepunggawaan Cakranegara di Mayura. Untuk Kepunggawaan Cakranegara dipimpin oleh punggawa, tidak memimpin wilayah yang dipimpin adalah umat Hindu se-pulau Lombok seperti Kepunggawaan Cakranegara semua pemeluk agama Hindu, ada juga Kepala Suku Bugis, Suku Arab dan Suku Tionghoa. Di bidang peradilan, Kepala Distrik diberikan wewenang penuh untuk bertindak sebagai kehakiman dan kejaksaan dalam memutuskan dan memenjarakan orang selama tujuh hari tanpa boleh banding, kelembangaan hukumnya disebut Raat Sasak dan Raat Kertha untuk Hindu. 20 Ibid. 21 Ibid., h Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 79

98 Mengenang Mataram di masa lalu, telah mengingatkan banyak orang untuk mengekspresikan keindahan dan kesejukannya. Bahkan, tidak jarang banyak kalngan menilainya sebagai sebuah kota yang damai, indah dan penuh persahabatan antara alam dengan manusia, dan manusia dengan manusia yang lainnya. Gambaran masa lalu Mataram, terutama, pada ranah kesejarahannya yang unik tersebut, sampai saat ini masih melekat pada pikiran banyak orang. Dalam sebuah tulisan yang bertajuk Jejak Masa Lalu Mataram Nyaris Tak Berbekas Istimewa, Bambang Soemadio (almarhun), mantan Direktur Permuseuman tahun 1980-an, menceritakan pengalaman dan kesan yang mendalam, seperti diceritakan oleh Khaerul Anwar, mengambarkan keunikan tersebut dengan kata-kata sebagai berikut: Tiap kali ke Mataram, Nusa Tenggara Barat, sangat terkesan dengan jalan Pejanggik, jalan protokol ini lurus, dikiri-kanannya ditumbuhi pohon kenari nan rindang dan teduh. Suasana itu dinilai trade mark yang membedakannya dengan kota lain di tanah air. 22 Fathurrahman Zakaria, dalam bukunya Mozaik Budaya Orang Mataram melukiskan kekaguman turis asing kepada keindahan alam kota Mataram, dalam denyut perjalanan mereka, mereka tidak segansegan mengabadikan setiap batang pohon yang berjejer disepanjang jalan kota Mataram. Dan, mereka (rombongan turis asal Belanda), ada yang memeluk, menjepret dan mengabadikan dengan kamera video, pohon yang ditanam sekitar tahun 1897 saat Belanda menguasai Lombok. Gambaran ilustratif tersebut, memberikan inspirasi penting bahwa penghijauan bukan saja menjadi sebuah pandangan yang estetis, tetapi juga menyiratingkatan pesan estetis dan transformative bahwa penataan lingkungan yang indah dapat menjadi benteng bagi kelestarian alam. Dan, femomena, seperti yang digambarkan tersebut, secara ekstrim berbeda dengan fenomena yang berkembang dan pertumbuhan kota Mataram saat ini. Dan, kedua pandangan ilustratif tersebut juga hendak ingin mengingatingkatan bahwa identitas sebuah kota bukan dilihat dari mal, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan rumah bertingkat yang mewah, namun yang lebih penting adalah perimbangan antara ruang tertutup dan ruang terbuka seperti adanya taman yang mendukung keindahan, kebetahan warganya, atau paling tidak mata bebas 22 Khaerul Anwar Jejak Masa Lalu Mataram Nyaris Tak Berbekas Istimewa, dalam Peta Dakwah MUI NTB

99 melempar pandangan. 23 Perubahan yang terjadi, yang ditandai dengan pembangunan infrastruktur bergaya modern itu tampaknya memberi sinyal, bahwa tuntutan modernitas sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, tetapi semagat dan nilai-nilai kearifan lokal pun hendaknya menjadi paradigma dalam setiap pengambilan kebijakan. Selain itu, perubahan yang terjadi sekarang ini, hendak memberi semangat yang menunjukkan suatu transformasi pengetahuan yang mengharapkan sebuah kesadaran bahwa perubahan suatu zaman meniscayakan perubahan sikap dan cara pandang. Karena itu, dituntut cara pandang masyarakat Mataram saat ini adalah bagaimana dalam suatu kebijakan, baik yang lahir dari pengambil kebijakan maupun masyarakatnya, adalah melestarikan pengalaman keajarahan. Memori kesejarahan kota Mataram dengan segala keunikannya yang penuh dengan tatanan yang beraturan digambarkan pula dengan ungkapan sebagai berikut: Sebutlah di kompleks pertokoan Cakranegara, sebelum tahun 1975 terdapat terminal dalam-luar kota. Mungkin jumlah sarana angkutan terbatas saat itu, suasana kompleks terminal tampak teratur dan bersih. Pedagang kaki lima berjualan makanan dan minuman pada malam hari di dalam kompleks itu. Bus dalam kota rute Cakranegara, Mataram, dan Ampenan, tidak perlu melewati jalur tertentu atau satu arah seperti sekarang, melainkan bisa ditempuh pulang-pergi lewat satu jalan: Jalan Langko, Pejanggik, dan Selaparang. Ruang terbuka publik pun tersedia di berbagai tempat, seperti di lapangan Karang Jangkong, Kecamatan Cakranegara, untuk arena pacuan kuda. Kini alun-alun itu berganti fungsi menjadi mal. Ruang sejenis terdapat di Mataram, berupa lapangan untuk olahraga, tepatnya di Kantor Bank Indonesia Cabang Mataram sekarang. Sekitar 300 meter ke barat dari lapangan itu ada arena terbuka, antara lain dijadikan arena pertandingan ataupun permainan tradisional memperingati HUT Kemerdekaan RI tiap tanggal 17 Agustus. Selanjutnya, tulisan ini mengingatkan bahwa betapa pentingnya pelestrian masa lalu yang penuh keunikan, lebih lanjut, ia menulis: Di depan alun-alun itu berdiri megah Masjid al-taqwa yang arsitekturnya mirip Masjid Syuhada di Yogyakarta. Kini masjid itu sudah berubah wajah, tinggal namanya yang diabadikan, namun tidak meninggalkan 23 Khaerul Anwar Jejak Masa Lalu Mataram Nyaris Tak Berbekas Istimewa, dalam Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 81

100 sedikit pun arsitektur lamanya. Ke Timur dari masjid ini ada gedunggedung tua peninggalan Belanda. Misalnya Kantor Asisten Residen Lombok beserta Gereja Katolik. Kantor itu sekarang dijadikan Markas Kodim 1606 Lombok Barat. Di depan kantor ini ditentukan titik nol (nol kilometer) untuk satuan jarak antarkota di Pulau Lombok. Rumah jabatan Asisten Residen berlokasi di Pendopo atau kediaman Gubernur Nusa Tenggara Barat sekarang. Di depannya ada taman bunga yang cukup luas dan indah yang disebut Kebun Raja. Fathurrahman Zakaria juga menggambarkan keadaan masa lalu kota Mataram yang indah tersebut, serta adanya tingkat hubungan yang luar biasa dalam hubungan harmonis umat. Dia pun berkata: Kini tempat ini dijadikan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat. Di Barat pendopo tadi berdiri Kantor Kontrolir Lombok Barat dan di sebelahnya ada Gereja Protestan. Berhadapan langsung dengan bangunan ini adalah rumah jabatan Sang Kontrolir. Dua bangunan itu masing-masing dijadikan Kantor Wali Kotamadya Mataram dan tempat tinggal wali kota. Apa yang ingin dikatakan dalam tafsir tulisan ini adalah bahwa penataan yang indah serta artistik menggambarkan hubungan harmonis antara alam dengan makhluk lainnya. Dan, hubungan yang berkesinambungan ini mencerminkan tingkat religiusitas alam dan manusia itu sendiri. Itulah sebabnya, mengapa dalam perspektif keislaman harmoni umat dengan alam dapat menjadi sarana mendekatingkatan diri kepada sang pencipta alam. Bahkan, dalam banyak ayatnya, al-qur an telah memberikan isyarat dan petunjuk bagaimana bagaimana membangun hubungan harmoni antara Tuhan dengan alam, seperti ayat, bagaimana gunung diciptakan? Selanjutnya, hubungan antaragama di kota Mataram, tampaknya telah terjalin secara harmonis. Dan, hubungan harmonis yang disimbulkan dengan berdirinya tempat peribadatan agama Kristen tersebut harus dipertahankan dalam kerangka jalinan kerjasama mu amalah (hubungan kemanusiaan sejati). Dalam perspektifnya yang lebih heroic dan humanis, hubungan kemanusiaan yang dibingkai dalam hubungan mu amalah ini telah terekpresi dalam Piagam Madinah. Sisa bangunan lama tidak berbekas lagi. Sarana semacam yang umumnya dibangun untuk kepentingan Belanda, juga ada di Kecamatan Ampenan, yang merupakan kota pelabuhan. Di simpang lima Ampenan ada Kantor Bea Cukai dengan arsitektur gaya Eropa awal abad ke-19, kini dijadikan Kantor Pegadaian. Menuju arah pelabuhan berderet 82 Peta Dakwah MUI NTB

101 pertokoan yang didiami pengusaha keturunan Cina. Salah satu yang pernah dikenal adalah Rumah Candu, tempat orang Cina mengisap (madat) candu. Mereka yang masuk rumah ini dikenai pajak/cukai yang tinggi. Di pesisir Ampenan juga dibangun perkantoran untuk swasta dan pemerintah seperti Kantor Handles Bank, Kantor Bea Cukai. Bangunan-bangunan di kompleks pelabuhan, seperti pintu gerbang (pelengkung) masuk pelabuhan hampir semua tinggal puing-puing. Kalaupun masih ada, fasilitas isik ini diubah, diganti menurut selera masing-masing pemiliknya, contohnya Kantor Bea Cukai/Pegadaian tadi. Ampenan malah dijadikan merek dagang sejumlah komoditas seperti kedelai Ampenan, beras Ampenan, kacang tanah Ampenan, dan Aapi ampenan. Kalaupun sekarang ini, pemanadangan indah Mataram dan segala keunikannya tersebut tidak dapat ditemukan, tetapi dan setidaktidaknya, mungkin dapat ditampilkan suasana yang lain dengan tidak menghilangkan arsitektur kealaman yang indah tersebut. Misalnya, melalui suatu penataan lingkungan kota yang indah, misalnya, di depan kantor pemerintahan tidak perlu menaruh sepanduk-sepanduk dan, mungkin juga, penataan tempat reklame-reklame yang tampaknya menghilangkan tatanan perkotaan yang asri dan religius. Religiusitas sebuah kota, bukan saja kerena masyarakatnya tampil dalam kehidupan beragama yang formal, tetapi nilai-nilai estetis lingkungannya juga dapat disebut sebagai religius. Harus diakui, perubahan penataan Kota Mataram, telah banyak mengalami perubahan. Sekedar mengingatingkatan, perubahanperubahan itu terlihat secara kasat mata, dan apa yang terlihat sekarang ini memang banyak yang berubah. Harus diakui, bahwa benang merah yang bisa direntangkan dari bangunan dan lokasinya, adalah soal pengaturan tata ruang. Sebutlah di Cakranegara, permukiman penduduk dirancang untuk mengantisipasi persoalan di masa mendatang. Terlihat dari jalan yang memisahkan antar permukiman, yang merupakan kanal guna menghindari kemacetan lalu lintas perkotaan. Para perancang, baik semasa Lombok di bawah Kerajaan Karang Asem maupun pemerintahan kolonial-terlepas dari kepentingan politik masing-masing penguasa saat itu telah meletakkan dasar pembangunan kota dengan mempertimbangkan asas manfaat keberadaan sarana dan prasarana seperti ruang terbuka dan taman kota Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 83

102 untuk kepentingan publik, paru-paru kota, keasrian dan keindahan kota. Mereka agaknya menghindari aktivitas asal bangun, dan tradisi ganti pimpinan ganti kebijakan seperti kecenderungan yang terjadi dewasa ini. Itu misalnya terlihat pada pembangunan mal di Jalan Udayana, mendirikan taman di seputar lapangan umum Mataram, menjadikan kota yang luasnya enam kilometer persegi itu bertambah sumpek dan sempit. Pendapat, dan kesan orang seperti diuraikan pada awal tulisan setidaknya menunjukkan Mataram telah memiliki identitas. Kacamata orang luar itu bukan untuk merajut kenangan dan romantisme masa silam, tetapi merupakan referensi bagi perencanaan tata ruang kawasan yang lebih detail, lalu dipatuhi semua kalangan (pemerintah dan warga kota). Syukur-syukur peninggalan bangunan dan kerindangan pohon kenari di jalan protokol mengilhami orang untuk merekonstruksi jejak masa lampau Mataram yang nyaris tak berbekas. Kota Madya Mataram sendiri tanggal 31 Agustus 2001 lalu berusia delapan tahun. 24 Secara ekonomis Kota Mataram memiliki letak yang sangat strategis karena merupakan salah satu pintu gerbang Propinsi Nusa Tenggara Barat melalui Bandar Internasional Lombok (BIL) di Praya. Setelah itu dekat dengan pusat perdagangan Propinsi Jawa Timur (Surabaya) dan terletak pada segitiga emas daerah tujuan wisata (DTW) yaitu bagian barat Propinsi Bali, bagian timur Pulau Komodo dan bagian utara Tanah Toraja Sulawesi Selatan. Sedangkan sejarah terbentuknya Kota Mataram berlangsung dalam tujuh periode: 1. Terbentuknya Negara Indonesia Timur, dimana Pulau Lombok, khususnya Lombok Barat adalah merupakan bagian dari Residensi Bali-Lombok. 2. Selama berdirinya Negara Indonesia Timur dimana Wetu itu Daerah Otonomi terbagi dalam 3 wilayah Administrasi pemerintahan setempat. Wilayah Pemerintahan Lombok Barat Wetu itu sama seperti Wetu sebelum terbentuknya Negara Indonesia Timur. 3. Terbentuknya Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat (17 Desember 1958) yang terdiri dari 6 Daerah Swatantra Tingkat II, diantaranya Daswati II Lombok Barat terdiri dari 6 kedistrikan Peta Dakwah MUI NTB

103 dimana kedistrikan Ampenan Barat dikembangkan menjadi 2 kedistrikan yaitu kedistrikan Ampenan dan Cakranergara. Pada periode inilah (17 Agustus 1959) Kota Mataram menjadi wilayah kedistrikan Ampenan menjadi Ibukota Kabupaten sekaligus Ibukota Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat. 4. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 dimana Daerah Tingkat II Lombok Barat dikembangkan menjadi beberapa Kecamatan diantaranya Kecamatan Mataram yang merupakan pemekaran Kecamatan Ampenan dan Cakranegara. 5. Sejak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun1978 tentang Pembentukan Kota Administratif Mataram yang meliputi 3 Kecamatan yaitu: Kecamatan Mataram, Kecamatan Ampenan, dan Kecamatan Cakranegara. Sejak terbentuk dan diresmikannya Tanggal 29 Agustus 1978 sebutan Kota Cakranegara, Kota Ampenan, dan Kota Mataram sendiri tergabung menjadi satu yaitu Kota Mataram. 6. Peningkatan status Kota Administratif Mataram menjadi Kotamadya Dati II Mataram berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1993 yang peresmiannya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Moch. Yogie S Memet) pada Tanggal 31 Agustus 1993 yang Wilayahnya meliputi: Kecamatan Mataram, Ampenan, dan Cakranegara. 7. Perubahan sebutan Kotamadya Dati II Mataram menjadi Kota Mataram dan beberapa perubahan sebutan lainnya sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Memperhatikan perjalanan sejarah Kota Mataram, nampak bahwa Kota Mataram sejak dulu letaknya sangat strategis dan menjadi pusat aktivitas seperti pemerintahan, pendidikan, perdagangan, industri dan jasa. Sehingga wajar bilamana Propinsi Nusa Tenggara Barat maupun Kabupaten Lombok Barat pada pada waktu itu menjadikan Kota Mataram sebagai Ibu Kotanya. Sejak Tanggal 31 Agustus 1993 Kota Mataram telah resmi menjadi Ibu Kota Pemerintah Daerah Kota Mataram, disamping masih tetap menyandang status sebagai Ibu Kota Propinsi Nusa Tenggara Barat. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 85

104 C. Gambaran Umum Kota Mataram Secara geograis Kota Mataram memiliki topograi wilayah berada pada ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan rentang ketinggian sejauh 9 km, terletak pada Lintang Selatan dan Bujur Timur. Secara geologi, struktur Kota Mataram sebagian besar adalah jenis tanah liat dan tanah endapan tuff yang merupakan endapan alluvial yang berasal dari kegiatan Gunung Rinjani, secara visual terlihat seperti lempengan batu pecah, sedangkan di bawahnya terdapat lapisan pasir. Adapun klimatologi suhu udara di Kota Mataram berkisar antara 20.4 C sampai dengan C. Kelembapan maksimum 92% terjadi pada bulan Januari, April, Oktober dan November, sedangkan kelembapan minimum 67% terjadi pada bulan Oktober. Rata-rata penyinaran matahari maksimum pada bulan Februari. Sementara jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan November sebanyak 27 hari, dengan curah hujan rata-rata mencapai 1.256,66 mm per tahun, dan jumlah hari relatif 110 hari per tahun. Secara administratif Kota Mataram memiliki luas daratan 61,30 km dan 56,80 km perairan laut, terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela dengan 50 kelurahan dan 297 lingkungan. Kecamatan terluas adalah Selaparang yaitu sebesar 10,7653 Km2, disusul Kecamatan Mataram dengan luas wilayah 10,7647 Km2. Sedangkan wilayah terkecil adalah Kecamatan Ampenan dengan luas 9,4600 Km2. KECAMATAN Ampenan Nama Kecamatan/Kelurahan di Kota Mataram setelah Pemekaran KELURAHAN 1 Bintaro 6 Ampenan Utara 2 Ampenan Utara 7 Taman Sari 3 Dayan Peken 8 Pejeruk 4 Amp.Tengah 9 Kebun Sari 5 Banjar 10 Pejarakan Karya Sekarbela 1 Kekalik Jaya 4 Karang Pule 86 Peta Dakwah MUI NTB

105 Mataram Selaparang Cakranegara Sandubaya 2 Tj. Kr. Permai 5 Jempong baru 3 Tanjung Karang 1 Pejanggik 6 Pagesangan timur 3 Punia 8 Pagutan 4 Pagesangan Brt. 9 Pagutan Timur 5 Pagesangan 1 Rembiga 6 Mataram Barat 2 Karang Baru 7 Gomong 3 Monjok timur 8 Dasan Agung 4 Monjok 9 Dasan Agung Baru 5 Monjok Barat 1 Cakranegara Barat 6 Cakranegara Selatan 2 Cilinaya 7 Cakrangra Sltn Baru 3 Sapta Marga 8 Cakranegara Utara 4 Mayura 9 Karang taliwang 5 Cakranegara Timur 10 Sayang Sayang 1 Selagalas 5 Turida 2 Bertais 6 Abian Tubuh Baru 3 Mandalika 7 Dasan Cermen 4 Babakan No Kecamatan Luas Kecamatan Kota Mataram Ibu Kota Kecamatan Luas Wilayah(Km2) Prosentase (%) 1 Ampenan Ampenan 9,46 15,4 2 Mataram Mataram 10,76 17,5 3 Cakranegara Cakranegara 9,67 15,8 4 Sandubaya Sandubaya 10,32 16,8 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 87

106 5 Sekarbela Sekarbela 10,32 16,8 6 Selaparang Selaparang 10,76 17,5 JUMLAH 61,3 100 Kecamatan / District Ibu Kota Kecamatan, Jumlah Kelurahan dan Lingkungan IbuKota Kecamatan/ District Capital Jumlah Kelurahan/ Number of Villages Jumlah Lingkungan/ Number of SubVillages Ampenan Ampenan Sekarbela Sekarbela 5 26 Mataram Mataram 8 53 Selaparang Selaparang Cakranegara Cakranegara Sandubaya Sandubaya Demograi Wilayah Jumlah Kota Mataram memiliki luas wilayah terkecil di Provinsi Nusa Tenggara Barat, namun dihuni oleh jumlah penduduk yang besar. Jumlah penduduk tersebut dapat menjadi potensi tenaga kerja sebagai modal pembangunan di segala bidang. Jumlah penduduk Kota Mataram sesuai data BPS Kota Mataram Tahun 2015 adalah sebanyak jiwa dengan perbandingan jumlah penduduk laki-laki sebanyak jiwa terhadap penduduk perempuan sebanyak jiwa. dengan rasio jenis kelamin sebesar 97, Peta Dakwah MUI NTB

107 JUMLAH PENDUDUK KOTA MATARAM BERDASARKAN JENIS KELAMIN JUMLAH PENDUDUK MENURUT KELOMPOK KELOMPOK UMUR (JIWA) UMUR LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH JUMLAH Suku bangsa Suku Sasak merupakan suku bangsa mayoritas penghuni Kota Mataram, selain Suku Bali, Tionghoa, Melayu dan Arab. Keharmonisan kehidupan antar suku di Mataram sempat terganggu oleh peristiwa pecahnya Kerusuhan Lombok 17 Januari 2000 yang menyeret isu agama dan ras sebagai penyebab kerusuhan. Namun saat ini kondisi kehidupan sosial keagamaan antar suku semakin harmonis dengan mengedepankan semangat toleransi dalam keberagaman suku, budaya dan agama di Kota Mataram dengan moto: Maju, religious dan Berbudaya. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 89

108 3. Agama dan Budaya: Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahirannya, Islam tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi yang tidak hampa budaya. Realitas kehidupan ini diakui atau tidak memiliki peran yang cukup signiikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangannya yang aktual sehingga sampai pada suatu peradaban yang mewakili dan diakui okeh masyarakat dunia. Aktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu unity sebagai benang merah yang mengikat secara kokoh satu sama lain. Islam sejarah yang beragam tapi satu ini merupakan penerjemahan Islam universal ke dalam realitas kehidupan umat manusia. Relasi antara Islam sebagai agama dengan adat dan budaya lokal sangat jelas dalam kajian antropologi agama. Dalam perspektif ini diyakini, bahwa agama merupakan penjelmaan dari sistem budaya. Berdasarkan teori ini, Islam sebagai agama samawi dianggap merupakan penjelmaan dari sistem budaya suatu masyarakat Muslim. Tesis ini kemudian dikembangkan pada aspek-aspek ajaran Islam, termasuk aspek hukumnya. Para pakar antropologi dan sosiologi mendekati hukum Islam sebagai sebuah institusi kebudayaan Muslim. Pada konteks sekarang, pengkajian hukum dengan pendekatan sosiologis dan antrologis sudah dikembangkan oleh para ahli hukum Islam yang peduli terhadap nasib syari ah. Dalam pandangan mereka, jika syari ah tidak didekati secara sosio-historis, maka yang terjadi adalah pembakuan terhadap norma syariah yang sejatinya bersifat dinamis dan mengakomodasi perubahan masyarakat. Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar dunia sudah sejak awal masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang hingga kini. Ia telah memberi sumbangsih terhadap keanekaragaman kebudayaan nusantara. Islam tidak saja hadir dalam tradisi agung [great 90 Peta Dakwah MUI NTB

109 tradition] bahkan memperkaya pluralitas dengan islamisasi kebudaya andan pribumisasi Islam yang pada gilirannya banyak melahirkan tradisi-tardisi kecil [little tradition] Islam. Berbagai warna Islam -dari Aceh, Melayu, Sunda, Jawa, Sasak, Bugis, dan lainnya riuh rendah memberi corak tertentu keragaman, yang akibatnya dapat berwajah ambigu. Ambiguitas atau juga disebut ambivalensi adalah fungsi agama yang sudah diterima secara umum dari sudut pandang sosiologis. Islam adalah agama mayoritas penduduk Mataram. Agama lain yang dianut adalah Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Walaupun Islam merupakan agama mayoritas di Mataram, namun kerukunan umat beragama dengan saling menghormati, menghargai dan saling menolong untuk sesamanya cukup besar adalah niat masyarakat Mataram dalam menjalankan amal ibadahnya, sesuai dengan visi kota Mataram untuk mewujudkan Kota Mataram maju, religius, dan berbudaya. 4. Bahasa Masyarakat Kota Mataram sebagian menggunakan Bahasa Sasak dalam keseharian, selain Bahasa Indonesia, Bahasa Bali, Bahasa Samawa, serta bahasa Bima. Bahasa Sasak itu sendiri terbagi atas beberapa dialek, bergantung daerah masing-masing pengguna di Pulau Lombok, serta dapat digunakan sebagai acuan perbedaan strata sosial di masyarakatnya. 5. Pendidikan Di Kota Mataram angka kualitas pendidikan bagi masyarakat bisa dibilang berada pada angka yang cukup aman, tersaji pada tabel berikut. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 91

110 Salah satu faktor yang terpenting dalam memenuhi kualitas penduduk adalah ketersediaan tenaga pendidik / guru. Pada tahun 2009 tercatat jumlah guru yang melayani pendidikan di Kota Mataram berjumlah orang. 6. Suku bangsa Suku Sasak merupakan suku bangsa mayoritas penghuni Kota Mataram, selain Suku Bali, Tionghoa, Melayu dan Arab. Keharmonisan kehidupan antar suku di Mataram sempat terganggu oleh peristiwa pecahnya Kerusuhan Lombok 17 Januari 2000 yang menyeret isu agama dan ras sebagai penyebab kerusuhan. Namun saat ini kondisi kehidupan sosial keagamaan antar suku semakin harmonis dengan mengedepankan semangat toleransi dalam keberagaman suku, budaya 92 Peta Dakwah MUI NTB

111 dan agama di Kota Mataram dengan moto: Maju, religious dan Berbudaya. 7. Agama dan Budaya: Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahirannya, Islam tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi yang tidak hampa budaya. Realitas kehidupan ini diakui atau tidak memiliki peran yang cukup signiikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangannya yang aktual sehingga sampai pada suatu peradaban yang mewakili dan diakui okeh masyarakat dunia. Aktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu unity sebagai benang merah yang mengikat secara kokoh satu sama lain. Islam sejarah yang beragam tapi satu ini merupakan penerjemahan Islam universal ke dalam realitas kehidupan umat manusia. Relasi antara Islam sebagai agama dengan adat dan budaya lokal sangat jelas dalam kajian antropologi agama. Dalam perspektif ini diyakini, bahwa agama merupakan penjelmaan dari sistem budaya. 25 Berdasarkan teori ini, Islam sebagai agama samawi dianggap merupakan penjelmaan dari sistem budaya suatu masyarakat Muslim. Tesis ini kemudian dikembangkan pada aspek-aspek ajaran Islam, termasuk aspek hukumnya. Para pakar antropologi dan sosiologi mendekati hukum Islam sebagai sebuah institusi kebudayaan Muslim. Pada konteks sekarang, pengkajian hukum dengan pendekatan sosiologis dan antrologis sudah dikembangkan oleh para ahli hukum Islam yang peduli terhadap nasib syari ah. Dalam pandangan mereka, jika syari ah tidak didekati secara sosio-historis, maka yang terjadi 25 Bassam Tibbi, Islam and Cultutral Accommodation of Social Change, [San Francisco: Westview Pres, 1991], h. 1 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 93

112 adalah pembakuan terhadap norma syariah yang sejatinya bersifat dinamis dan mengakomodasi perubahan masyarakat. 26 Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar dunia sudah sejak awal masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang hingga kini. Ia telah memberi sumbangsih terhadap keanekaragaman kebudayaan nusantara. Islam tidak saja hadir dalam tradisi agung [great tradition] bahkan memperkaya pluralitas dengan islamisasi kebudaya andan pribumisasi Islam yang pada gilirannya banyak melahirkan tradisi-tardisi kecil [little tradition] Islam. Berbagai warna Islam -dari Aceh, Melayu, Sunda, Jawa, Sasak, Bugis, dan lainnya riuh rendah memberi corak tertentu keragaman, yang akibatnya dapat berwajah ambigu. Ambiguitas atau juga disebut ambivalensi adalah fungsi agama yang sudah diterima secara umum dari sudut pandang sosiologis. Islam adalah agama mayoritas penduduk Mataram. Agama lain yang dianut adalah Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Walaupun Islam merupakan agama mayoritas di Mataram, namun kerukunan umat beragama dengan saling menghormati, menghargai dan saling menolong untuk sesamanya cukup besar adalah niat masyarakat Mataram dalam menjalankan amal ibadahnya, sesuai dengan visi kota Mataram untuk mewujudkan Kota Mataram maju, religius, dan berbudaya. 8. Bahasa Masyarakat Kota Mataram sebagian menggunakan Bahasa Sasak dalam keseharian, selain Bahasa Indonesia, Bahasa Bali, Bahasa Samawa, serta bahasa Bima. Bahasa Sasak itu sendiri terbagi atas beberapa dialek, bergantung daerah masing-masing pengguna di Pulau Lombok, serta dapat digunakan sebagai acuan perbedaan strata sosial di masyarakatnya. 9. Pendiidkan Di Kota Mataram angka kualitas pendidikan bagi masyarakat bisa dibilang berada pada angka yang cukup aman, tersaji pada tabel berikut. 26 Aziz al- Azmeh [ed.], Islamic Law: Social and Historical Contexts, [tp., 1988], h. viii 94 Peta Dakwah MUI NTB

113 Salah satu faktor yang terpenting dalam memenuhi kualitas penduduk adalah ketersediaan tenaga pendidik / guru. Pada tahun 2009 tercatat jumlah guru yang melayani pendidikan di Kota Mataram berjumlah orang. 10. Perekonomian Pertumbuhan ekonomi Kota Mataram pada 2009 ditunjukkan oleh pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000, yang mengalami kenaikan dari 7,76 persen pada 2008 menjadi 8,47 persen pada Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 95

114 11. Kesehatan : Selama lima tahun terakhir, derajat kesehatan masyarakat Kota Mataram mengalami peningkatan yang cukup tinggi, indikatornya 96 Peta Dakwah MUI NTB

115 adalah penurunan angka kematian bayi, umur harapan hidup serta prevalensi gizi buruk. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan adalah dengan penyediaan fasilitas kesehatan yang lebih baik dari tahun ke tahunnya. 12. Islamic Center Icon Landmark Kota Mataram Islamic Center, sebenarnya istilah ini berasal dari negara-negara barat, yaitu suatu tempat untuk menampung kegiatan shalat, ceramah agama atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ke-islaman. Awal mula kemunculannya, disebabkan oleh keresahan umat muslim yang minoritas di negara-negara barat, yang mengalami kesusahan dalam beribadah dan bersilaturahmi dengan umat muslim lainnya6. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 97

116 Seiring dengan perkembangan zaman, Islamic center mulai didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat muslim yang berada di negaranegara yang sedang maju dan berkembang seperti di Indonesia. Istilah Islamic Center belum pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah Islam. Awalnya istilah ini muncul di luar negeri, di daerah muslim minoritas yang mereka tidak memiliki masjid di dekat tempat tinggal mereka. Akhirnya masyarakat muslim minoritas dari beberapa daerah di luar negeri berkumpul mendirikan Islamic Center yang menjadi pusat tempat ibadah (sholat) bagi mereka semua. 27 Pencetusan Islamic Center sebagai pusat umat Islam di luar negeri inilah yang kemudian diadopsi di Indonesia. Di nusantara dan di mancanegara, Islamic Center ini memiliki beberapa nama yang sejenis seperti; Center For Islamic Studies, Islamic Studies Center, Islamic Cultural Center, Markaz Islarnic Center, Religious organization. Masjid Islamic Centreo AlMarkaz Al-Islami. Ada pula yang setelah lslamic Center diikuti dengan nama seorang Ulama Salaf, ada pula ulama Khalaf, ada pula nama seseorang tersendiri, juga ada nama sebuah organisasi. Di kompleks Islamic Center terdapat berbagai elemen bangunan dan badan Islami. Yang paling utama adalah Masjid sebagai pusat segala aktivitas, sebagai bangunan utama digambarkan dengan bentuk bangunan yang megah dengan menara pencakar langit dan kubahkubah besar yang dilapisi emas murni, perpustakaan Islam dan umum, lembaga manajemen ZISWAF (Zakat, Infak, Sodakoh, dan Wakaf), dan gedung PUSDIKLAT (Pusat Pendidikan dan Latihan). Tak jarang juga terdapat sekolah/madrasah dari tingkat Play Group atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai dengan universitas, ma had atau pondok pesantren khusus kajian Islam klasik, ruang serba guna, ruang audio visual atau multimedia. Ada pula penerbitan, percetakan, studio rekaman, audiovisual, rumah sakit dan klinik kesehatan, koperasi, kantin, laboratorium komputer bahasa dan Al-Qur an, auditorium, asrama, bimbingan manasik dan embarkasi haji, dan sebagainya. Pengertian dasar Islamic Center diambil dari beberapa sumber dan pendapat yang dikeluarkan oleh para ahli dan pakar-pakar keagamaan, antara lain: Dalam Buku Petunjuk Pelaksanaan Proyek Islamic Center di seluruh Indonesia oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat gs 27 masjid+islamic+center+mataram&oq=bab+ii+masjid+islamic+center+mataram& 98 Peta Dakwah MUI NTB

117 Islam Departemen Agama R.I, adalah sebagai berikul Islamic Center adalah merupakan lembaga keagamaan yang dalam fungsinya sebagai pusat pembinaan dan pengembangan Agama Islam, yang berperan sebagai mimbar Pelaksanaan Da wah dalam Era Pembangunan Sedangkan pendapat lain tentang pengertian Islamic Center, yang disampaikan oleh Drs. Sidi Gazatba mengatakan: Islamic Center adalah wadah bagi aktivitas-aktivitas kemasyarakatan yang berdasarkan Islam. Islam dalam pengertiannya sebagai agama, maupun Islam dalam pengertian yang lebih luas sebagai pegangan hidup (way of life). Dengan demikian aktivitasaktivitas didalamnya mencakup nilai-nilai peribadatan yang sekaligus nilainilai ke masyarakatan. Disamping pendapat-pendapat tersebut diatas, terdapat pendapat lain yang pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama seperti yang dikatakan oleh Prof. Syaii Karim, yaitu: Islamic Center merupaknn istilah yang berasal dari negara-negara barat yang dimana minoritas masyarakatnya beragama Islam. Jadi untuk memenuhi segala kebutuhan akan kegiatankegiatan Islam mereka kesulitan untuk mencari tempat. Untuk itu aktivitasakivitas Islam tersebut dipusatkan dalam suatu wadah yang disebut Islamic Center. Dari berbagai pengertian yang ada, dapat disimpulkan bahwa Islamic Center adalah suatu lembaga keagamaan yang meliputi beberapa fungsi, yaitu: a. Sebagai wadah bagi umat Islam untuk bermusyawarah, berkonsultasi dan berdialog tentang masalah-masalah, baik yang berhubungan dengan ajaran agama, kehidupan beragama maupun lebih luas lagi untuk kehidupan bermasyarakat. b. Sebagai pusat informasi dan hubungan masyarakat termasuk penerangan dan dokumentasi serta komunikasi bagi umat Islam. c. Sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pengkajian, serta sebagai forum pembinaan termasuk menjaga kemurnian ajaran syariat Islam maupun sebagai media da wah. Masjid Islamic Centre yang berlokasi di jalan Udayana kota Mataram menyempurnakan sebutan kehormatan bagi pulau Lombok sebagai: Pulau Seribu Masjid ( Island with a thousand Mosque). Masjid terbesar dan termegah di seluruh NTB,yakni Masjid Islamic Centre. Hal ini agaknya semakin melengkapi promosi dari pemerintah daerah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 99

118 propinsi NTB, yang sedang mempromosikan wisata religi, pariwisata halal di daerah ini. Warna budaya Islam mendominasi dan mewarnai kehidupan masyarkat kota Mataram. Oleh karena itu sejak beberapa tahun terakhir ini, pemerintah provinsi NTB giat mempromosikan wisata religi di daerahnya termasuk dengan mengedepankan destinasi wisata religi, dengan menampilkan masjid masjid kuno dan bersejarah serta tempat tempat perkembangan dan pendidikan Islam. Promosi wisata halal yang terdiri dari berbagai sisi, dirangkum dalam sebuah paket informasi. Seluruh aktivitas tersebut dipusatkan di Masjid Islamic Center yang berlokasi di kota Mataram dan telah menjadi landmark baru di daerah ini.. Propinsi NTB memang memiliki sejarah yang panjang tentang peradaban Islam salah satu destinasi yang sudah cukup dikenal adalah Masjid Kuno Bayan Belek yang ternyata mampu mempertahankan keasliannya hingga saat ini. Selain masjid kuno Bayan Belek masih ada Masjid Tradisonal Masyarakat Rambitan Pujut. Islamic Center Mataram mulai dibangun sejak masa kepemimpinan gubernur M. Zainul Majdi, rencana tersebut terealisasi pada tahun 2011 dan diresmikan pada 15 Desember 2013.Total biaya pembangunan masjid termegah ini,mencapai lebih dari 350 Milyar rupiah; Dengan dana pembangunan bersumber dari APBD dan dana CSR PT. Newmont dan sumbangan dari masyarakat lainnya. Ada berberapa bangunan khusus sebagai sarana tempat mengambil air wudhu, tampak berjejeran dengan apik disamping bangunan utama Masjid ini. Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 7,6 hektar di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan urat nadi lalu lintas di kota ini. Dibangun sangat megah dengan menampilkan perpaduan antara karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa. Bangunan Islamic Center ini dilengkapi dengan menara setinggi 99 meter sesuai dengan 99 nama nama Allah (Asma ul Husna). Bangunan menara ini dibuka sebagai objek wisata untuk memandang wajah kota Mataram dari ketinggian baik saat siang maupun malam hari. 100 Peta Dakwah MUI NTB

119 TABEL JUMLAH JAMA AH HAJI KOTA MATARAM TAHUN 2015/2015 NO KECAMATAN Ampenan Sekarbela Mataram Selaparang Cakrenegara Sandubaya JUMLAH JUMLAH PENDUDUK KOTA MATARAM MENURUT AGAMA TAHUN 2015 NO KECAMATAN ISLAM NAS- RANI HIN- DU BUDHA/ LAINNYA JUMLAH 1 Ampenan Sekarbela Mataram Selaparang Cakrenegara Sandubaya JUMLAH Sumber: Badan Statistik Kota Mataram Tahun 2015 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 101

120 NO Nama Masjid DATA JUMLAH MASJID KOTA MATARAM TAHUN 2015 Alamat Tahun Dibangun Sertiikat Status Tanah 1 AL Mukmin Lingkungan Pemamoran 1979 Ada 2 Nurul Yaqin Lingkungan Monjok 1982 Ada 3 Nurul Anwar Lingkungan Kebon Daya 1965 Ada 4 Nurul Falah Lingkungan Kebon Daya 1959 Ada 5 Al Mabrur Lingkungan Monjok 1967 Ada 6 Al Falah Monjok Perluasan 1990 Ada 7 Nurul Huda Lingkungan Mambe 1977 Ada 8 NH Mustaqin Lingkungan Kamasan 1970 Ada 9 Nurul Hidayah Lingkungan Karang Mas- Mas 1970 Ada 10 As Sidiqi Lingkungan Karang Kelok 1975 Ada 11 Assidiqi Lingkungan Monjok - Ada 12 Al Ikhlas Lingkungan Karang Tatah 1949 Ada 13 Nurul Falah Lingkungan Bebidas 1960 Ada 14 Baitul Gafur Lingkungan Gebang 1967 Ada 15 Nurul Iman Lingkungan Timbrah 1979 Ada 16 Istiqomah Lingkungan Karang Anyar 1940 Ada 17 Nurul Hilal Lingkungan Kekalik Kebon 1972 Ada 18 Nurul Huda Lingkungan Taman 1989 Ada 19 Al Mubarok Lingkungan BTN Kekalik 1970 Ada 102 Peta Dakwah MUI NTB

121 20 Al Mujahidin Lingkungan BTN Taman Baru 1976 Ada 21 Nurul Huda Lingkungan Taman 1972 Ada 22 Baiturrahman 23 Al Istiqomah Lingkungan Suradadi Timur Lingkungan Taman Karang Baru 1972 Ada 1944 Ada 24 Nurul Huda Wet Marong Pekanraya 1982 Ada 25 Nurul Yaqin Lingkungan Karang Baru 1967 Ada 26 Nurul Iman Lingkungan Marong Jamak 1957 Ada 27 Baiturrahim Lingkungan Suradadi Barat 1931 Ada 28 Nurul Iman 29 Babussalam Lingkungan Karang Baru Selatn Lingkungan Suradadi Timur - Ada - Ada 30 Nurul Iman Lingkungan Karang Baru - Ada 31 Baiturrahman Lingkungan Karang Baru - Ada 32 Nuruttaqwa Lingkungan Karang Baru - Ada 33 Nurul Iman Lingkungan Karang Baru - Ada 34 Babussalam Lingkungan Marong Jamak - Ada 35 Al Mujahidin Lingkungan Kampung Lawata - Ada 36 Riadusholihin Lingkungan Karang Perigi 1998 Ada 37 Al Mubarok Lingkungan BTN Kekalik - Ada 38 Raudatul Muttaqin Lingkungan Kampung Pelita 1984 Ada 39 Raudatul Jannah Lingkungan Dasan Agung 1975 Ada 40 Masjid Dasan Agung - Ada Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 103

122 41 Masjid Dasan Agung - Ada 42 Al Falah Bawak Bagek 1900 Ada 43 Al Hidayah Arong Arong - Ada 44 Al Hidayah Arong Arong Timur 1944 Ada 45 Al Rahman Gomong Sakura 1976 Ada 46 Al Awabin Lingkungan Gomong Lama 1960 Ada 47 Hidayatullah Lingkungan Punia Jamak - Ada 48 Riyadul Jannah Lingkungan Karang Kelayu 1967 Ada 49 At Taqwa Lingkungan Gomong Lama 1970 Ada 50 Baitul Muqaddis RK I Mataram Timur 1940 Ada 51 Masjid Pusaka RK II Mataram Timur 1976 Ada 52 Al Mustaqillah Lingkungan Karang Bedil 1970 Ada 53 Baitul Ibadah Lingkungan Gegutu Timur - Ada 54 Baiturrahman Lingkungan Rembige Barat 1972 Ada 55 Al Furqan Lingkungan Gegutu Barat 1940 Ada 56 AL Muttaqin Bangket Culik 1975 Ada 57 Al Ishlah Monjok baru 1943 Ada 58 Mifahul Jannah Karang Anyar Al Khoir Oloh Al Mujahidin Lawata Babul Hikmah Komplek Unram Raudatussa adah Komplek Sosial Peta Dakwah MUI NTB

123 63 Al Muttaqin Banjar Al Mujahidin Bawak Bagek At TaKarangim Gapuk Al Abrar Orong Orong Barat Nurul Hidayah Marong Jamak Nurul Huda Suradadi Timur At Ta awun Rembige Barat Al A la Peresak Rembige Baiturrahim Rembige Timur Hidayatullah Mataram Barat Darul Arqom Karang Kateng Nurulloh Punia Saba An Nur Pancaka Al Mujahidin Punia Saba At Taubah Majeluk Al Muttaqin Karang Sukun Al Ikhlas Komplek Kesehatan Al Ikhwan Pajang Timur Assalimah BKKBN Ar Rahman Pengempel Nurul Iman Timbrah Al Musthofa Singgahan Raudatul Jannah BTN Taman Indah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 105

124 86 Al Muhajirin Pagesangan Indah Al Ihsan Kebon Bawak Barat 1865 Ada 88 Nurul Yasin Kebon Bawak Barat - Ada 89 Baitul Amin Pejeruk Desa 1865 Ada 90 Darul Fakhrul Dasan Sari 1928 Ada 91 Masjid Pejeruk Desa - Ada 92 Nurul Ikhlas Pejeruk Bangkat - Ada 93 Nurul Hikmah Karang Baru - Ada 94 Nurul Huda Kebon Bawak Timur - Ada 95 Nurul Yaqin Kebon Bawak Timur - Ada 96 Baitul Haram Moncok Selatan - Ada 97 Baiturrahman Moncok Karya - Ada 98 Mujahidin Pejeruk - Ada 99 Ar Rasyiah Pejeruk - Ada 100 Nurul Bahar Kampung Bugis 1952 Ada 101 Rumaul Muslim Jempong Warang 1945 Ada 102 At Taqwa Telaga Mas 1998 Ada 103 Zulfa Telaga Mas 1967 Ada 104 Iman Salam Pelembak 1950 Ada 105 At Taubah Tinggar 1979 Ada 106 Haqqul Yaqin Dayen Peken 1990 Ada 107 Baitul Iman Pondok Perasi 1935 Ada 108 Leba I Sandai Dayen Peken 1893 Ada 106 Peta Dakwah MUI NTB

125 109 Babussalam Kampung Melayu Tengah 1952 Ada 110 Al Abror Ampenan Tengah 1981 Ada 111 Al Hidayah Otak Desa 1970 Ada 112 Al Muttaalimin Ampenan Tengah - Ada 113 Al Jihad Sukaraja Timur 1910 Ada 114 Awwalul Hidayah Kampung Tempit 1800 Ada 115 Al Mujahidin Kampung Tangsi 1953 Ada 116 Nurul Huda Kampung Sintung 1966 Ada 117 Al Amin Karang Panas 1903 Ada 118 Al Istiqomah Gatep 1903 Ada 119 Al Midzan Kampung Selaparang 1965 Ada 120 Nurul Falah Ampenan Selatan - Ada 121 Nurul Jihad Ampenan Selatan - Ada 122 Baiturrahman Taman Kapitan 1965 Ada 123 Nurul BaKarangi Ampenan Selatan 1995 Ada 124 Al Hadis Banjar Barat 1973 Ada 125 Mukhlisin Kekalik Gerisak 1974 Ada 126 Nurul Huda Batu Ringgit Selatan 1935 Ada 127 Al Mujahidin Batu Ringgit Utara 1930 Ada 128 Al Abror Bendega 1950 Ada 129 Baiturrahim Kekalik Kijang - Ada 130 Riyadussolihin Bagek Kembar 1981 Ada 131 Al Ihsan Bangsal 1987 Ada Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 107

126 132 Nurul Hidayah Geguntur 1951 Ada 133 Nurul A la Karang Pule 1951 Ada 134 Nurul Islam Karang Seme - Ada 135 Nurul Hikmah Karang Pule - Ada 136 Ropi iyah Karang Pule - Ada 137 Baiturrahman Sekarbela 1930 Ada 138 Nurul Jannah Jempong Barat 1945 Ada 139 Nurul Jihad Karang Pule - Ada 140 Ar raisyiah Sekarbela 1930 Ada 141 Badrussalam Mapak 1930 Ada 142 Badrussalam Sekarbela 1930 Ada 143 Al Muttahidah Petemon 1961 Ada 144 Nurussalam Pagutan 1960 Ada 145 Husnul Khotimah Karang Buaya 1958 Ada 146 As Sobirin Karang Genteng 1873 Ada 147 Nurul Ariin Peresak Barat 1965 Ada 148 Al Hamidi Peresak Timur 1885 Ada 149 Nurul Yaqin Pejeruk Nurul Huda Kebon Bawak Timur Nurul Hikmah Kampung Baru Baiturrahim Pejarakan Baiturrahman Moncok Karya Baitullah Moncok Karya Peta Dakwah MUI NTB

127 155 Raudatul Jannah Kebon Bawak Tengah Raudatussakinah Tmn Sejahtera Pejarakan Baiturrahman Lingkungan Penan Al Hamidah Dayen Peken Al Haq Otak Desa Al Ikhlas Otak Desa Utara Nurul Anwar Kebon Talo AL Mujahidin Bintaro Abu Bakar Siddiq Sukaraja Tengah Al Huda Taman Kapitan Al Falah Taman Kapitan Al Muttaqin Banjar Nurul Qomar Banjar Timur Baitussalam Selaparang (Polda) Mamba ul Hikmah Selaparang (Polda) Al Furqon Taman Kapitan Nurul Ikhlas Pejeruk Bangket Al Mujahidin Perumnas Al Mabrur Kekalik Genjer Al Istiqomah Kekalik Kijang Baiturrahim Kekalik Barat Nurul Jannah Lingkungan Sembalun Baitutto am Komplek Dolog Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 109

128 178 Nurul Yaqin Lingkungan Bangsal Al Ikhwan Kekalik Al Furqon Jl Swasembada Kekalik Nurul Islam Karang Seme Baiturrahim Pande Besi Sekarbela Darul Islam Jempong Timur Al Ittihad Jempong Barat Nurul Huda Jempong Timur Nurul Yaqin Batu Mediri Al Hidayah Kebon Daye Raudatul Khoir Kebon Lauk Raudatul Jannah BTN Pagutan Permai Jannatul Ma wa Pesongoran Barat Al Achwan Griya Pagutan Indah Nurhidayah Karang Mas-Mas 1990 Ada 193 Qubbatul Islam Seganteng Karang Bangket 1984 Ada 194 Nurul Hidayah Getap Barat 1988 Ada 195 Nurul Yaqin Seganteng Karang Gebang 1982 Ada 196 Baiturrahim Seganteng Gubuk Pande 1988 Ada 197 Babussalam Caaranegara Selatan - Ada 198 Samsul Huda Babakan 1985 Ada 199 Raudatul Abror Babakan 1985 Ada 200 Nurul Magiroh Turide 1989 Ada 110 Peta Dakwah MUI NTB

129 201 Nurul Jadid Lendang Lekong 1982 Ada 202 Mambaul Hasanah Turide Barat 1985 Ada 203 Nurul Iman Turide Timur - Ada 204 Nurul Huda Babakan 1998 Ada 205 Raudatul Jannah Kebon Duren - Ada 206 Nurul Huda Kampung Tegal - Ada 207 Al Ikhlas Selagalas - Ada 208 Masjid Selagalas - Ada 209 Badrussalam Selagalas - Ada 210 Al Mutragabit Bertais 1984 Ada 211 Ma rifatullah Lendang Lekong Barat 1985 Ada 212 Nurul Huda Gontoran Barat 1985 Ada 213 Nurul Hidayah Gerung Butun 1985 Ada 214 Haqqul Yaqin Gerung Barat 1984 Ada 215 Nurul Hidayah Lendang Lekong - Ada 216 Al Iman Abian Tubuh 1982 Ada 217 Subuhussalam Karang Bate 1990 Ada 218 Al Ikhlas 219 Nurul Hidayah 220 Al Ikhsan 221 Al Islahuddin Lingkungan Dasan Cermen Lingkungan Dasan Cermen Lingkungan Dasan Cermen Lingkungan Dasan Cermen 1990 Ada 1990 Ada 1993 Ada 1982 Ada 222 Nurul Jannah Babakan - Ada Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 111

130 223 Riyadus Shalihin Gubuk Panarage 1995 Ada 224 Nurul Huda Karang Tapen 1983 Ada 225 Nurul Iman Karang Jangkong 1994 Ada 226 Nurul Yaqin Karang Kemong 1995 Ada 227 Nurul Hidayah Kampung Jawa 1996 Ada 228 Nurul Yaqin Sayang Sayang 1985 Ada 229 Al Ittihad Dasan Kuluh 1985 Ada 230 Nurul Falah Sayang Sayang 1985 Ada 231 Nurul Huda Rungkang 1986 Ada 232 Nurul Falah Karang Keladan - Ada 233 Lijanatul Sobirin Cakranegara Timur - Ada 234 Nurul Yaqin Karang Tumbuk 1988 Ada 235 Asy suhada Gebang At Taqwa Karang Bedil Raudatul Jannah Karang Bagu Qubbatul Islam Karang Taliwang Nurul Hidayah Babakan Timur Al Mujahidin BTN Sweta Indah Raudatul Jannah Sayang-Sayang Nurul Huda Kebon Duren Al Ikhlas Kampung Tegal Miftahul Khair Selagalas Assa idah Aisyah Nyangget Selagalas Peta Dakwah MUI NTB

131 246 Nurul Huda Dusun Jangkuk Nurul Yaqin Gerung Butun Barat Arrahman Sweta Nurul Mulihun Gerung Apit Aik Al Falah BTN Sweta Sayo Baru Al Istiqomah Babakan Timur NO 1 DATA MAJELIS TAKLIM KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA MATARAM TAHUN 2015 / 2016 MAJELIS TAKLIM Baitul Muqoddis KEC. KELURA- HAN Kebun Raja 2 Al Hidayah Mataram 3 Arrahmah Pengempel USTADZ/ USTADZAH L.Ibnu Rusdam Haid Dr. Hj. Rodiyah Thalib Ny. Lajnah Suyadi PIMPINAN L.Ibnu Rusdam Haid Dr. Hj. Rodiyah Thalib Ny. Lajnah Suyadi 4 At-Taubah Majeluk TGH.Muhtar H. Syahari 5 Al-Mujahidin Majeluk TGH. Munir H.Baharudin Mataram 6 Al-Ihlas Pajang Timur TGH.Muhtar Ta mir Masjid 7 Al-Ihwan Pajang Timur H.L. Sampar H.L. Sampar 8 Nurul Iman Pejanggik H. Ashad H. Ashad 9 Assyfa, RSU Kebun Raja Ustadz Lukman Ustadz Lukman 10 MQH Saleh Kebun Raja 11 Pusaka Pusaka Ustadz Ir.Zainul Ariin Ustadz Ir.Zainul Ariin Ustadz Ir.Zainul Ariin Ustadz Ir.Zainul Ariin Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 113

132 12 Al- Mustaqillah Karang Bedil 13 Al-Taubah Karang Bedil 14 Al-Mutaqin 15 Al-Munajirin Karang Sukun Pegesangan Indah Ustadz Rahmattulah Ustadz H.Syawaludin Ustadz H.Azhar Ustadz Hidmat Ustadz Rahmattulah Ustadz H.Syawaludin Ustadz H.Azhar Ustadz Hidmat 16 Nurul Huda Taman H. Zainuri, Lc Abdul Hamid 17 Al-Furqon Taman TGH.Ulul Azmi Ta mir Masjid 18 Nurul huda BTN Pepabri 19 Annisa BTN Pepabri Mataram TGH. Ulul Azmi TGH. Ulul Azmi Ta mir Masjid Ta mir Masjid 20 Assakinah BTN Pepabri Penceramah Ta mir Masjid 21 Assyuhada Gebang H.Mahmud H.Mahmud 22 Darul Arqam Punia Karang Kateng Penceramah Ustadz Subki Ali 23 Nurullah Punia Saba Penceramah Ta mir Masjid 24 Al-Isiqomah Presak Penceramah 25 Hidayatul Muttaqin 26 Nurul Iman 27 Riadul Jannah Presak Pagutan Presak Pagutan Punia Kr Melayu Penceramah Ustadzah Yusnita H. Ahmad Sanusi H. Thurauhan H. Thurauhan Penceramah Ta mir Masjid 28 Hidayatullah Punia Jamaq Penceramah Ta mir Masjid 114 Peta Dakwah MUI NTB

133 29 Baitul Ibadah 30 Al-Mustafa 31 baiturrahman 32 Al-Furqoh 33 Raudatul Jannah Gegutu Timur Gegutu Timur Rembiga Barat Rembiga Utara Rembga Timur H. Abdurrahman Kuling H. Abdurahman H.Nurdin/ TGH.Munir H.Humaidi Penceramah H. Abdurrahman Kuling H. Abdurahman H.Nurdin/ TGH.Munir H.Humaidi Ta mir Masjid 34 Baitul Ghofur Rembiga H.Humaidi H.Humaidi 35 Baiturrahim Rembiga H.Saadani H.Saadani 36 Al-Ianah 37 Annuraman Selaparang Dasan Lekong Dasan Lekong TGH.Munir/ Bergantian TGH.Munir/ Bergantian TGH.Munir/ Bergantian TGH.Munir/ Bergantian 38 Al-ausath Karang Baru TGH. Mukhtar TGH. Mukhtar 39 Al-Musthafa Marong TGH. Mukhtar TGH. Mukhtar 40 Nurullah Marong TGH. Mukhtar TGH. Mukhtar 41 Al-Mujahidin Taman Hj.Rohani Hj.Rohani 42 Al-Ikhlan Monjok Rahmat Rahmat Al-Falah (Muslimah) Nurul Hidayatul M MT. Monjok Perluasan MT. Nurul Yaqin Monjok Perluasan Hj. Rahmi Kusbandiah Hj. Irni Kamasan TGH.Munir TGH.Munir Kamasan TGH.Munir TGH.Munir Monjok Culik TGH. Zaindin TGH. Zaindin 47 Al-Mukmin Pemamoran TGH.Ulul Azmi TGH.Ulul Azmi Ustadzah Ustadzah 48 Al-Ikhlas Karan Tatah Rahmi Hj.Mastur 49 At-Taqwa Gomong TGH.Munir TGH.Munir 50 Al-Arham Gomong Ustadz H. L.Sarpin Ustadz H. L.Sarpin Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 115

134 51 Hidayatullah 52 Bustanul Atfal Aisyiyiah 53 Al-Hidayah 54 Darul Karim/ An-Najah Gomong Abdul Mughni Abdul Mughni Jln Anyelir 2-4 Arong-arong Timur Gapuk Maskuning, BA TGH.Ulul Azmi TGH.Munir / Ust. H.Nurdin Maskuning, BA TGH.Ulul Azmi TGH.Munir / Ust..Nurdin 55 Al-Ishlah Gapuk H. Mu aidi H. Mu aidi 56 Darul Athfal Perigi Ustadz. Ahyar Abduh Ustadz Ahyar Abduh 57 Al-Falah Pejeruk TGH. Sya ban TGH. Sya ban 58 At-Takrim Gapuk TGH. Munir TGH. Munir 59 Annisa Raudlatul Jannah Al- Ishlahusshibyan Selaparang Arong-arong Barat Hj. Lin Jamhur Hj. Lin Jamhur Otak Desa Drs. H. Irfan Drs. H. Irfan Pejeruk TGH. Sya ban TGH. Sya ban 62 Assakinah Muhajirin Uni Wathaniyah Uni Wathaniyah 63 An-nisa Pelita Ustd Nurdin Ustd Nurdin 64 Raodatul Muttaqin 65 Babussalam 66 Raudatus Sa adah Dsn Agung Baru Komplek Unram Komplek Sosial H.Joharuddin Ustd. Hilman Makmun Ustadz Munir 67 Darul Hijrah Muhajirin Hj. Masruroti 68 H.Joharuddin Ustd. Hilman Makmun Ustadz Munir TGH. Haramain Mar atussholihah PGRI Selaparang Hj. Mir at Hj. Mir at 69 Kandai Gomong Ir. H. Ilham Ir. H. Ilham 116 Peta Dakwah MUI NTB

135 70 Nurul Iman (Muslimah) 71 Al-Jihad Karang Jangkong Cakra Karang Jangkong Cakra Hj. Rahmi & Ust. Syukri Dr.H.Husnan Ahmadi, M.Pd Hj. Surayani H. Ma ruf 72 RIyadus Shalihin Gubuk Panaraga Dr. H. Musawar/ Bergantian Musanip. M.Repro 73 Riyadus Shalihin (Remaja) 74 Nurul Yaqin Gubuk Panaraga Karang. Kemong Ustadzah Mira Humairoh, S.Psi. Ustadz H. Sahri Ustadz M. Harin Zuhdi, MA Ustadz H. Mulyadi, S.Pd. 75 Al-Muttaqin Cakra Barat Penceramah Ustadz Ibrahim 76 Nurul Huda Kr.Tapen Sapta Marga Penceramah H. Musleh 77 Asy-Syuhada 78 Nurul Yaqin 79 lijnatus Shobirin 80 At-Taqwa Cakranegara Gebang Sapta Marga Kr Tumbuk mayura Lekok Pandan salas Karang Bedil Cakra Timur Penceramah Penceramah Penceramah Penceramah H.M. Ma ruf H.M. Nur Ta mir Masjid Drs.H.M. Husni 81 Qubbatul Islam Kr. Taliwang TGH.M. Zaenuddin Ta mir Masjid 82 Raudiatul Jannah Kr.Bagu Kr Taliwang Penceramah H. Farhan Kamil 83 Al-Mujahirin Sayang Daye Penceramah H. Munir 84 Al-Muhibbin Lendang Kelor 85 Al-Mujtami in Lendang Re 86 Baiturrahim 87 Sainatut Taqwa Karang Kemong Cakra Penceramah TGH. Abdul Karim Ustadz Fahruddin H. Suhaili Ta mir Masjid Ustadz Fahruddin Sayang Daye Penceramah H.Muizi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 117

136 88 Bathul Athfal 89 Nurul Qur an Al-Aziziyah 90 Sholeh 91 Al-Mustaqim Sandubaya Link. Turide Rt 04 Rw.01 Montong Are Jl.Sanubaya46 Rt02Rw02 Jl.Turida Barat Turida Penceramah Penceramah Penceramah Penceramah 92 Al-Husnul Bertais Rt.06 Penceramah M. Zaenudin H. Husnul Hadi, S.Pd Ahmad sholeh Tauik Muhadisin Ustadz Husnul Mawali 93 Nurul Yaqin Betais TGH. Jamil Ta mir Masjid 91 Raudatul Jannah Bertais Rt At-Thoyyibah Bertais Rt Nurul Huda Nurul Hidayah Mambaul Khair Gontoran Barat Butun Indah Bertais 96 At-Taqwa Patebong 97 Haqqul Yaqin Al- Muqarrabin Nurul Hidayah 100 Ma rifatullah Dawail Qulum Miftahul Ishlah Gerung Butun Barat Gerung Butun Timur Lendang Lekong Timur Lendang Lekong Barat Tembelok TGH. DJamiluddin Azhar TGH. DJamiluddin Azhar TGH.Mustain Ramli TGH Farhan Kamil TGH. DJamiluddin Azhar TGH. DJamiluddin Azhar TGH.Farhan Kamil TGH. Mustain Ramli TGH. Mustain Ramli TGH. Mustain Ramli Drs. H.Yazid Baihaqi Drs. HM. Darwan H Isrin Thoyib, S.Ag Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ust. H. Muazir Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Tembelok H.Azizi Izudin Ta mir Masjid 118 Peta Dakwah MUI NTB

137 105 Nurul Huda Dawail Qulum Miftahul Ishlah Sandubaya Lendang Lekong Barat Tembelok TGH. Mustain Ramli Drs. H.Yazid Baihaqi Ta mir Masjid Ta mir Masjid Tembelok H.Azizi Izudin Ta mir Masjid 103 Sa adah Tembelok H.Abd Hanan Ta mir Masjid 104 Darul Mulihin Gerung apit Aik TGH. Mustain Ramli Ta mir Masjid 105 Nurul Huda Montong Are Ust. Sa I LC Ta mir Masjid 106 Nurul Huda 107 Syamsul Huda 108 Istiqlal 109 Raudhatul Ahror 110 Nurul Iman 111 Al-Usmani 112 Marhalul Ulum 113 Salsabillah 114 Nurul Jadid Babakan Timur babakan Barat Babakan Timur Selatan Babakan Kebon babakan Barat Babakan Timur Babakan Barat BTN Sweta Indah Lendang Lekong TGH Muhibullah TGH.Saleh TGH. Muhibullah TGH. Hapipi TGH. Khudori Ust. H. Muchlis Ustadz Dr. H. Musyawar, M.Ag Penceramah Penceramah 115 al-muhtadin Turida barat Penceramah 116 Al-Magirah Turida Timur Penceramah 117 Al-Falah 118 Al-Mujahidin 119 Nurul Hikmah BTN sayo barat BTN sayo barat Penceramah Penceramah Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Baiq Suriyani Ustadzah Samidah Ustadz M. Husni Ustadz H.Ma rif Ali Ustadz Muhammad, SH Anas M. Yakub, S.Ag Turida barat Penceramah Ustadz Sudiro 120 Nurul Yatim Turida barat TGH. Azizi Ta mir Masjid 121 Mambaul Abror Turida barat H. Zaini Ta mir Masjid Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 119

138 122 Nurul Hidayah Sandubaya Lendang Lekong Penceramah Hj. Nur aini 123 Al-Hasan Turida barat Ust. M. Tauhid, S.Ag Ta mir Masjid 124 Al Abrori Bertais Ta mir Masjid 125 Baitul Makmur Turida Timur TGH. Azizi Ta mir Masjid 126 Al-Faizin Turida Timur TGH.Abd. Basith Ta mir Masjid 127 Subulasalam Karang Bata TGH. 1 Utara Aminullah Ta mir Masjid 128 Al-Iman Abian Tubuh H. Rosyidi H. Rosyidi 129 Al-Ikhlas Karang Bata H.M. Syukri H.M. Syukri 130 Islahul Ummah 131 Mujtahidin 132 Al-Barar 133 Nurul Hidayah 134 Al-Iman 135 Subulassalam Al-Hidayah Ishlahuddin 138 Al-Ikhsan 139 Al-Hidayah 2 Selatan Karang Bata Utara karang Bata Tengah Karang Bata Selatan Karang Pelambik Karang Parwa Karang bata Utara Dsn Cermen Selatan Dasan Cermen Barat Dasan Cermen Utara Dsn Cermen Selatan 140 Al-Ikhlas Selagalas 141 Atoillah Raudatul Jannah Aisyah Ummul Mukminin Selagalas Baru Kebun Duren Dsn Jangkrik Ustadz Sukari TGH. Aminullah Ust. Kamrullah TGH. Mawardi TGH. Muzahar Bohari Ust. M. Tauhid S.ag TGH.Munir,H. Munzir HM. Idris H.Ali Akbar TGH. Mawardi TGH. Farhan Kamil TGH. Mukhtar TGH. Farhan Kamil H. Ramda Hasan Sukari H. Muhibullah Ustadz Mawardi Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid 120 Peta Dakwah MUI NTB

139 144 Nur At- Taqwa Dusun Jangkuk 145 Darul Quro Selagalas 146 An-Nur 147 Al-Ikhlas 148 BKMT 149 BabuS salam 150 Al-Hidayah 151 Miftahul jannah Sukaraja Timur Rt.06/02 Sukaraja Perluasan Jl.TanggulII Rt.01Sukaraja Jl.Lumba2 Melayu Tengah Jl. Lumba2 Melayu Tengah Jl. Gotong Royong Tempit TGH.Farhan Kamil TGH. Farhan Kamil Ta mir Masjid Ta mir Masjid H. Tahir Musa Ta mir Masjid H. Ibrahim Ta mir Masjid M. Husein Ta mir Masjid H. Arkanudin Ta mir Masjid H. Husni s Ta mir Masjid TGH. Farhan Kamil Ustadzah Anah 152 Baitul Amin Pejeruk Desa H.Hasan Ramli Ta mir Masjid 153 Nurul Ikhlas 154 Al-Ihsan Ampenan Pejeruk bangket Kebun Bawak Barat 155 Al-Amin Kebun Jeruk Gusin, S.PdI Ta mir Masjid M. Husen Ta mir Masjid TGH.Abdul Hamid Ta mir Masjid 156 Nurul Jannah Batu Raja Ust. Nasrudin Ta mir Masjid 157 Nurul Huda Sintung H.Sahri Suandi Ta mir Masjid 158 Riadul Ulum 159 Masy. Selaparang Ponpes Sintung Selaparang 160 Al Falah Gatep Indah Ibu -ibu Alfalah Baitussalam Polda Dr.Lukman alhakim TGH.Abdul Hamid Drs. H.Muhibah/ Ta mir Masjid Ustadz Lukman Ta mir Masjid Gatep Indah HJ. Siti hajar Hj. Siti Hajar Polda NTB Kompol Zamroni,S.Ag Ta mir Masjid Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 121

140 Pengajian Umum Dakwah Islam Pengajian Umum 166 Yasinan 167 Pengajian Umum Ampenan Dasan Sari H.Amin Subekti, S.Ag Dasan Sari Ahmad Yani Ta mir Masjid Karang Baru Ampenan Karang Baru Ampenan Kebun Bawak Timur H.M. Munir Remaja Masjid H.M. Munir Ta mir Masjid Remaja Masjid Ta mir Masjid 168 Yasinan Nurul Huda Ustadz Hasan Ta mir Masjid 169 Al-Makmun 170 Badrussalam 171 Madaniyah 172 Al-Iman 173 Ar-Raisiyah 174 Nurul Iman 175 Darul Iman Sekarbela Mapak Kebon Belek Mapak Kebon Belek Apur jempong Barat jempong Barat Sekarbela pande Mas Sekarbela pande Mas Barat Sekarbela Pande Besi 176 Al-Mujahidin Perumnas 177 Nurul a la Karang Pule 178 Nurul Yaqin Batu Mandiri 179 Baiturrahman 180 Baiturrahman 181 Baiturrahim Mas Mutiara Sekarbela Jl.Serayu BTN Kekalik Pande Besi Sekarbela TGH. M. Qusimi TGH. Farhan TGH. H.Madani H.Junaidi TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa Ust. F. Umam dan Ustd Rahmi TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa TGH. H. Mustafa Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid 122 Peta Dakwah MUI NTB

141 182 Istiqomah Batu Ringgit Selatan 183 Baitussakinah Sembalun 184 Al-Muhajirin 185 Babussalam 186 Rahmatul Alamin Jl. Suakarsa Gg 7 Jl. Suakarsa Rt 3 Jl. Suakarsa Gg 8 Rt. 8 M. Yusuf Ta mir Masjid TGH. Abdurrahman A Mukti Ta mir Masjid Ta mir Masjid H. Saleh Ariin Ta mir Masjid M. Tauik Ta mir Masjid 187 Baiturrahim Kekalik Barat H.M. Saf i Ta mir Masjid Al-Mujahidin (Muslimah) Darul Mukhlisin 190 Ar- Rohmah 191 Al-Istiqomah 192 BTN Puri Citra 193 Al-Furqon 194 Al-Hidayah At- Thayyibiyah Nurul Ummahat 197 Al-Barokah Sekarbela Perumnas Tj. Karang Hj. Siti MA ani Ta mir Masjid Lingk Gerisak M. Zaenuddin Ta mir Masjid Jl. Swadaya Kekalik Kijang Jl. Swadaya Kekalik Kijang Jl. Swakarsa Link. Gerisak Jl. Swasembada Jl. Swakarsa Kekalik Kijang Gubuk Mamben BTN Kodya Asri Perumnas Tanjung Karang H. Azhar Anshori H. Azhar Anshori H. Azhar Anshori H.L.M.Ikhsan H. Azhar Anshori Penceramah Penceramah Penceramah Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ta mir Masjid Ustadz H. Tahkim Ustadzah Indra Darma Hj. Siti Ma ani Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 123

142 DAFTAR NAMA RAUDLATUL ATHFAL ( RA ) DILINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA MATARAM TAHUN 2014 NO NAMA MADRASAH ALAMAT KEC. KEPALA SEKOLAH 1 RA. Perwanida I Jl. Teluk Bayur Kekalik Sekarbela Hj. Aluh Nurhamidah, S.Ag 2 RA. Muslimat NW Dasan Agung Jl. Aneka 3 No. 17 Muhajirin Ds. Agung Selaparang Hj. Sholatiah S.Ag 3 RA. UDW Persatuan Depag Jl. Erlangga Punia Mataram Mataram Saniatun Fatiani, S. Pd.I. 4 RA. 12 Rabiul Awal Jl. Adi Sucipto Jempong Ampenan Fathielsa Al- Qourma S.Pd 5 RA. Muslimat NW Sayang- Sayang Jl. Diponegoro No.36 Sayang-Sayang Cakranegara Kurratul Ain, S.Pd.I 6 RA. Ya Bunayya Jl.Hidayatullah No.6 Pejeruk Ampenan Eka Fitriani, S.Pd.I 7 RA. Baiturrahman Jl. Halmahera Gg.7 Rembiga Selaparang Nurul Ahyani, S.Pd.I 8 RA. Al-Islam Jl. Panji Tilar Negara 102 Sekarbela Baiq Muji Chaery, ST 9 RA. Nahdatul Mujahidin NW Jl. Adi Sucipto Jempong Ampenan 10 RA. Bani Saleh Jl. Lestari Pejarakan Ampenan 11 RA. Al-Falah Jl. Gili Air 1 Taman Kapitan Ampenan Solatiah, A.Ma Lestari Widiyaningsih,SPd.I 12 RA. MIN Karang Baru Jl. Dr. Sutomo Kr. Baru Selaparang Hj.Maslihah, S.Ag 13 RA. Al-Ikhlas Jl. Prabu Rangkasari Karang Bata Cakranegara Suzana, S.Pd, M.Pd 14 RA. Risalatut Ta lim Jl. Ade Irma Suryani Gg.Cempaka6 Monjok Selaparang Sri Sukanti 124 Peta Dakwah MUI NTB

143 15 RA. Perwanida II Jl. Barito VI Perumnas Tanjung Karang Sekarbela Hj. Bq. Farihun, S.Pd.I 16 RA. Muslimat NW Mataram Jl. Kaktus No. 1-3 Mataram Selaparang 17 RA. Darul Aman Jl. Pertanian Tegal Sandubaya Huliani 18 RA. Bakti A1Insani Jl. Jenderal Sudirman Gg. Alor Selaparang Nani Astuti, S.Pd.I 19 RA. As syai iyah Jl. Sultan Hasanuddin Sekarbela Mataram Laelatunnajah, S.Pd 20 RA. Darul Achwan E3 21 RA. Tariqul Izzah 22 RA. As`saumi Jl. Panji Anom BTN Griya Jl. Sunan Drajat III No.8 Bumi Kodya Asri Jl. Airlangga No. 5 Gomong Mataram Sekarbela Mataram N. Siti Hulaelah, S.Pd.I Hj. Ikhsanty Komala Rimbun 23 RA. Darussalam Jl. Swakarsa III No. 8 Gerisak Sekarbela Mahuni, S.Pd.I 24 RA. Babussalam 25 RA. Muslimat NW 2 Mataram 26 RA. Agniya 27 RA. Manhalul Hikmah 28 RA Al-Firdaus Jl. Durgantini No 21 Seganteng Jl. Abd Kadir Munsyi Gg. Tunjung Punia Jl. RM Panji Anom Pagutan Jl. Ali Napiah Babakan Jl. Peternakan Mayura Cakra Sandubaya Mataram Mataram Sandubaya Cakranegara Siti Rohani, S.Pd Siti Umroh Amrillah,S. Pd.I Nurhayati, S.Ag Zuhairatul Anwariyah,S. Pd.I Nurfadilah, S.Pd 29 RA Al-Burhani Jl. Gotong Royong Kr.Baru Kebun Sari Ampenan Baiq Nurul Ain 30 RA Nurul Qur an Aziziyah Jl. TGH. Izzuddin Bukhori Montong Are Sandubaya Hj. Nurul Hidayah,S.Ag Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 125

144 31 RA Raudatus Sakinah Jl. Melur No.20 Kampung Melayu Ampenan Ampenan Elya Jufri 32 RA Al-Kausar RA Raudhatul Jannah RA Zayyad Az- Zahra Jl. Energi Arwana 3 Karang Panas Ampenan Jl. Nelaya No. 9 Negara Sakah Cakra Jl. TGH. Izzuddin Bukhori Tembelok Ampenan Cakranegara Sandubaya Martinah Desi Asmalati,S. Pd.I Riadul Jannah, S.Pd.I 35 RA Sabilirrosyad Jl. Sunan Sudar RT.3 No. 25 Monjok Selaparang Ristaniarsih, SPd.I 36 RA Amaliya Jl. Dr. Sutomo Gg. Setiakawan Karang Baru Selaparang Febrina Amaliya Rha ifa 37 RA Pembina NW Mataram Jl. Langko No.59 Mataram Selaparang 38 RA Mi rajul Ishlah Getap Jl. Candi Rorojongrang No. 13 Getap Cakranegara Muhamad A. Zulhimam, S.Pd 39 RA Terampil Jl. KH. Mansyur I No. 4 Dasan Sari Ampenan 40 RA An-Nur Jl. Cancer Gang Aries III No. 18 Ampenan Eny Kustiyani, SH 41 RA An-Najah Jl. Gunung Pengsong No. 32 Dasan Agung Selaparang Sulhati, S.Pd 126 Peta Dakwah MUI NTB

145 DAFTAR NAMA MADRASAH IBTIDAIYAH ( MI ) DILINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA MATARAM TAHUN 2014 NO NAMA MADRASAH MIN. Punia Mataram MIN. Karang Baru MIN. Cakra Barat MI Al-Ittihadul Islamiyah MI Haqqul Yaqin NW Sayang-Sayang MI Karang Bata NW MI Al- Makripatul Islamiyah MI Islahul Muta allim 9 MI NW Taman 10 11A 12 MI Mambaul Khaer NW MI Mi rajul Ishlah MI Nahdlatul Mujahidin NW ALAMAT Jl. Erlangga Mataram Jl. DR. Sutomo No. 43 Mataram Jl. TGH. Arsyad Cakra Barat Jl. Lumba-Lumba No. 7 Ampenan Jl. P. Diponegoro No.38 Sayang- Sayang Jl. Prabu Rangkasari Karang Bata Jl. Gunung Pengsong Gang Jeruk No 15 Jl. Lingkar Selatan Pagutan Jl. Nuraksa No.5 Taman Pagesangan Jl. Sandubaya No. 36 Bertais Jl. C. Rorojongrang No.10 Getap Jl. Adi Sucipto Ampenan KEC. Mataram Selaparang Cakranegara Ampenan Cakranegara Sandubaya Selaparang Mataram Mataram Sandubaya Sandubaya Ampenan KEPALA SEKOLAH H. Marzuki, S.Pd Teddy Rusdi, M. Pd.I. H. Ramli Yunus, S.Pd Kurratul Ain, S.Pd.I Muzakki, S.Pd.I Drs. H. Hambali Herman Hadi, S. Pd Ismu Raikah,S.Pd.I Sri Susantini, S.Ag Amrullah AR, S.Pd.I Sopiatun, S.Pd.I Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 127

146 13 14 MI NW Dasan Agung MI Badrussalam NW 15 MI Al-Amin Jl. Aneka III No. 17 Mataram Jl. Swasembada 11 Sekarbela Jl. Dukuh Saleh No. 39 Ampenan Selaparang Sekarbela Ampenan Hj. Rabiatul Rosidah, S.Ag Siti Ahadiah,S.Pd 16 MI Nurul Qur an Jl. Banda Seraya Pagutan Mataram Anita Kusuma Pratiwi,S.Pd 17 MI Miftahul Ishlah Jl. TGH. Faesal Tembelok Sandubaya Dra. Martini MI Nurul Jannah NW MI Qubbatul Islam MI Al- Madaniyah MI Riadhussholihin Tohrir Yasin MI Nahdlatul Abror NW MI Riadhul Ulum 24 MI Nurul Islam Jl. Energi Gg. Melati Ampenan Jl. RA Kartini Karang Taliwang Jl. KH. Ahmad Dahlan Jempong Jl. R.A. Kartini Gg. Komodo Kamasan Jl. Gora Nyangget Selagalas Jl. Ragi Genap Dahlia Sintung Banjar Jl. Swasembada Sekarbela Ampenan Cakranegara Sekarbela Selaparang Cakranegara Ampenan Sekarbela Nurjannah, S.Pd.I Idhar, S PdI Minhaj-jutaisir Ahmad Gufron, S.PdI Akamaludin, S.PdI Mashur, S. Pd. I Hj. Mupaddalah, M.PdI 128 Peta Dakwah MUI NTB

147 DAFTAR NAMA MADRASAH TSANAWIYAH ( MTs ) DI LINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA MATARAM TAHUN 2014 NO NAMA MADRASAH 1 MTsN. 1 Mataram 2 MTsN. 2 Mataram 3 MTsN. 3 Mataram MTs. Miftahul Ishlah MTs. NW Karang Bata MTs. NW Mataram MTs. Nahdlatul Mujahidin NW MTs. Badrussalam NW 9 MTs. Riadul Ulum MTs. Haqqul Yaqin NW MTs. Mambaul Khaer NW MTs. Nurul Qur an 13 MTs. Hidayatullah 14 MTs. Al-Raisyiah 15 MTs. Nurul Jannah NW ALAMAT Jl. Pembangunan B.llI Mataram Jl. Jenderal Sudirman No. 17 Rembiga Jl. Lingkar Selatan Mataram Jl. TGH Faesal Tembelok Jl. Prabu Rangka Sari Kr. Bata Jl. Kaktus No. 1-3 Mataram Jl. Adi Sucipto Ampenan Jl. Sultan Kharudin Sekarbela Jl. Ragi Genep Gg. Dahlia Ampenan Jl. Diponegoro.No.36 Sayang- Sayang Jl. Sandubaya No. 36 Bertais Jl. Banda Seraya Gg. Sakura Pagutan Jl. Hidayatullah No. 6 Ampenan Jl. Kaharudin Sekarbela Jl. Energi Gg. Melati Ampenan KEC. Selaparang Selaparang Sekarbela Sandubaya Sandubaya Selaparang Ampenan Sekarbela Ampenan Cakranegara Sandubaya Mataram Ampenan Sekarbela Ampenan KEPALA SEKOLAH Dra. Hj. Rusniah Drs. H. Marzuki, M.Pd Lalu Sirajul Hadi, S.Ag, M.Pd Drs. H. Mahsan, M.Si Dra. Hj. Rahimah Dra. Hj. Baiq Nikmah, M.MPd Dra. Hj Siti Asiah H. Tahkim, S.Ag Roby Hidayat, S.Pd H. Lalu Samudra, S.Sos Abdul Wahab, S.Ag Moh. Wildan Asy`ari S.Pd Zainuddin, S.Pd Drs.H.Zainul Islam, MM H.M.Nasir Syukron, M. Pd.I Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 129

148 16 MTs. Darul Aman 17 MTs. Al-Intishor Jl. Pertanian Tegal Selagalas Jl. Sultan Salahuddin Sandubaya Sekarbela Zainul Amilin, SP Ratnawati, S.PdI 18 MTs. Ittihadil Ummah Jl. Nuraksa Taman Karang Anyar Mataram Paozan, S.P MTs. Mambaul Abror MTs. Tarbiyatul Qurro MTs Qubbatul Islam Jl. Unizar Turida Barat Jl. Ahmad Yani Selagalas Sandubaya Sandubaya Masyar, S.Ag DAFTAR NAMA MADRASAH ALIYAH ( MA ) DI LINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA MATARAM TAHUN 2014 NO 1 2 NAMA MADRASAH MAN 1 Mataram MAN 2 Mataram ALAMAT Jl. Pendidikan No. 31 Mataram KEC. KEPALA SEKOLAH Selaparang Dra. Hj. Rusniah Jl. Pendidikan No. 25 Mataram Selaparang Drs. H. Marzuki, M.Pd 3 MA NW Mataram Jl. Kaktus No. 1-3 Mataram Mataram Lalu Sirajul Hadi, S.Ag, M.Pd MA Miftahul Ishlah MA Hidayatullah MA Al- Raisiyah MA Nurul Iman MA Darul Aman MA Plus Abu Hurairah Jl. TGH Faesal Tembelok Jl. Hidayatullah No. 06 Ampenan Jl. Sultan Kaharudin Sekarbela Jl. Banda Seraya No. 13 Pagutan Jl. Pertanian Tegal Selagalas Jl. Majapahit No. 54 B. Mataram Sandubaya Ampenan Sekarbela Mataram Sandubaya Selaparang Drs. H. Mahsan, M.Si Dra. Hj. Rahimah Dra. Hj. Baiq Nikmah, M.MPd Dra. Hj Siti Asiah H. Tahkim, S.Ag Roby Hidayat, S.Pd 130 Peta Dakwah MUI NTB

149 MA Al- Barokah MA Al- Intishor MA Ittihadil Ummah MA Nurussalamah MA Nurul Jannah NW MA Plus Nurul Islam Jl. Lingkar Selatan Mataram Sekarbela H. Lalu Samudra, S.Sos Jl. Sultan Salahuddin Abdul Wahab, Sekarbela No.141 Bendega S.Ag Tj. Karang Jl. Nuraksa Moh. Wildan Mataram Karang Anyar Asy`ari S.Pd Jl. Yasum RT/ RW. 004/001 Sandubaya Zainuddin, S.Pd Belakang Koni Turida Jl. Energi Gg. Melati Jl. Swasembada No. IX kekalik Ampenan Sekarbela Drs.H.Zainul Islam, MM H.M.Nasir Syukron, M. Pd.I Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 131

150

151 bab 3 KabuPatEn LOmbOK barat A. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Lombok Barat Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, wilayah kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Onder Afdeling Lombok yakni Onder Afdeling Van West Lombok yang dipimpin oleh seorang Controleur. Onder Afdeling menurut hierarki kelembagaan sama dengan Regencschap (kabupaten). Selanjutnya pada zaman pemerintah Jepang, status Lombok Barat berubah menjadi daerah administratif yang disebut Bun Ken yang dikepalai oleh seorang Bun Ken bernama Kanrikan. Status ini berlangsung sampai Jepang menyerahkan kekuasannnya kepada sekutu Belanda (NICA). Di bawah pemerintahan NICA, wilayah Indonesia Timur dijadikan beberapa wilayah administratif yang dinamakan Neo Lanschap termasuk Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 133

152 didalamnya semua bekas Afdeling (Stb. No. 15 thn. 1947). Di dalam wilayah Neo Lanschap Lombok, wilayah Lombok Barat merupakan salah satu wilayah administratif yang dipimpin oleh seorang Hoovdpan Plastselijk Bestuur sebagai perubahan nama dari controleur. Namun sesudah Konferensi Meja Bundar dan berlangsung pemulihan kekuasaan negara Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, maka berdirilah negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri atas beberapa negara bagian, diantaranya negara Indonesia Timur (NIT). Menurut Undang-undang pemerintahan daerah NIT No 54 Tahun 1950, pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa wilayah administratif Lombok Barat menjadi daerah bagian yang otonom. Namun dalam prakteknya otonomi ini tidak pernah terlaksana sepenuhnya karena tidak dipimpin oleh kepala daerah bagian melainkan oleh seorang kepala pemerintahan setempat yang sifatnya administratif belaka. Pada masa ini daerah Lombok Barat membawahi wilayah administratif kedistrikan Ampenan Barat, kedistrikan Ampenan Timur, kedistrikan Tanjung, kedistrikan Bayan, kedistrikan Gerung, asisten kedistrikan Gondang dan Kepunggawaan Cakranegara. Penyelenggaraan pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan UU No. 1 Tahun 1957 daerah Indonesia dibagi habis dalam daerah Swatantra Tingkat I, Tingkat II dan Tingkat III. Selanjutnya berdasarkan UU No 1 Tahun 1957, lahirlah UU No 64 dan 69 Tahun Masing-masing tentang pembentukan daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT serta daerah tingkat II di dalam wilayah daerah tingkat I yang bersangkutan yang diundangkan pada tanggal 14 Agustus Oleh karena itu secara yuridis daerah Swatantra Tingkat II Lombok Barat sudah terbentuk sejak 14 Agustus Sebagai pelaksanaan UU No. 69 Tahun 1958, dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. UP. 7/14/34 diangkat J.B. Tuhumena Maspeitella sebagai pejabat sementara Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Lombok Barat yang pelantikannya dilaksanakan pada tangal 17 April 1959 yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Lombok Barat yang diperingati setiap tahun. Pada tahun 1960 pejabat sementara kepala daerah Swatantra Tingkat II Lombok Barat membentuk DPRD yang berjumlah 74 kursi sekaligus memilih Lalu Djapa sebagai ketua DPRD Lombok Barat dari unsur Partai Nasional Indonesia (PNI). Namun setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 berdasarkan Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1959, jabatan 134 Peta Dakwah MUI NTB

153 kepala daerah merangkap menjadi ketua DPRD, sehingga ketua DPRD yang sudah dipilih ditetapkan sebagai wakil ketua. Selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan anggota DPRD Lombok Barat pada tanggal 31 Mei 1960 dilantiklah Lalu Anggrat, BA sebagai Bupati Kepala Daerah. Pada masa ini dilakukan perubahan berupa penataan personil dan aparat pemerintah daerah serta perubahan status kepunggawaan Cakranegara menjadi kedistrikan Cakranegara. Dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB No. 205/Des.1/1/35 tanggal 7 Mei 1965, Lalu Anggrat, BA mengakhiri masa baktinya dan sebagai penggantinya ditunjuk Drs. Said, Ahli Praja pada kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB sebagai Bupati Kepala Daerah. Pada saat ini berlaku UU No. 18 Tahun 1665 yang melakukan perubahan meliputi: 1. Sebutan Daerah Swatantra Tingkat. II berubahmenjadikabupaten Daerah Tingkat II. 2. BupatiKepala Daerah tidaklagimerangkapketua DPRD. Berdasarkan instruksi Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 1967 setelah terjadinya G 30 S/PKI diadakan perombakan dan penyempurnaan DPRD menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRDGR) Lombok Barat dari 34 kursi menjadi 32 kursi, dengan ketua yang baru Usman Tjipto Soeroso dari partai politik Golongan Karya (Golkar) dan wakil ketua Fathurrahman Zakaria dari Partai politik NU. Pada masa ini sesuai perkembangan pemerintahan dan kebutuhan, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB No. 228/Pem.20/1/12 diadakan perubahan yakni peningkatan status Asisten Kedistrikan Gondang menjadi kecamatan Gangga dan kedistrikan Gerung dipecah menjadi kecamatan Gerung dan kecamatan Kediri. Dengan perubahan tersebut maka Kabupaten Lombok Barat terdiri dari 8 Kecamatan, yakni Kecamatan Ampenan, Kecamatan Cakranegara, Kecamatan Narmada, Kecamatan Tanjung, Kecamatan Gangga, Kecamatan Bayan, Kecamatan Gerung dan Kecamatan Kediri. Kemudian dengan SK Gubernur Kepala daerah Tk. I NTB No Pem. 7/2/226 tanggal 30 Mei 1969 ditetapkan pemecahan dua kecamatan yakni kecamatan Ampenan dan kecamatan Cakranegara dengan mengambil beberapa desa dari dua kecamatan Mataram sehingga Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 135

154 sampai pada saat itu kabupaten Lombok Barat telah membawahi 9 wilayah kecamatan. Pada tahun kabupten Lombok Barat dipimpin oleh H. Lalu A-. Rachman sebagai Bupati Kepala Daerah. Sampai dengan tahun 1978 Kota Mataram sebagai ibukota kabupaten Lombok Barat telah mengalami perkembangan yang demikian pesat sehingga banyak menghadapi permasalahan yang serba kompleks dan perlu ditangani secara khusus oleh Pemerintah Kota. Maka berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1978 dibentuk Kota Administratif Mataram yang membawahi 3 kecamatan, masing-masing kecamatan Ampenan, kecamatan Mataram dan kecamatan Cakranegara. Sebagai Walikota Mataram pertama dilantiklah Drs. H. Mudjitahid oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat. 1 Nusa Tenggara Barat, H. R. Wasita Kusuma sesaat setelah peresmian pembentukan kota administratif Mataram oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud pada tanggal 29 Agustus Selain menetapkan kota administratif Mataram, PP No. 21 Tahun 1978 juga menetapkan 3 perwakilan kecamatan yakni kecamatan Narmada di Gunungsari perwakilan kecamatan Kediri di Labuapi dan perwakilan kecamatan Gerung di Sekotong Tengah. Dengan demikian sejak 29 Agustus 1978 Wilayah kabupaten Lombok Barat terdiri dari 1 kota administratif, 9 kecamatan dan 3 perwakilan kecamatan. Sehubungan berakhirnya masa jabatan H. Lalu A-Rachman pada tanggal 20 Januari 1979 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Barat, H. Gatot Suherman melantik Drs. H. Lalu Ratmadji dalam sidang khusus DPRD Tingkat II Lombok Barat sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lombok Barat. Pada masa jabatan 5 tahun pertama Drs. H. Lalu Ratmadji sebagai Bupati Lombok Barat mengusulkan 3 perwakilan kecamatan untuk ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan penuh. Dengan keluarnya peraturan pemerintah No. 33 Tahun 1983 diresmikanlah peningkatan status perwakilan kecamatan Narmada menjadi kecamatan Gunungsari, perwakilan kecamatan Kediri menjadi kecamatan Labuapi dan perwakilan kecamatan Gerung menjadi Kecamatan Sekotong Tengah. Peresmian itu dilaksanakan setelah pelantikan Drs. H. lalu Ratmadji sebagai Bupati Kepala Daerah Lombok Barat untuk masa jabatan 5 tahun kedua Dengan diresmikannya ketiga perwakilan menjadi kecamatan penuh, maka Lombok Barat membawahi Peta Dakwah MUI NTB

155 wilayah kecamatan yakni kecamatan Ampenn, kecamatan Cakranegara, Mataram, kecamatan Gunungsari, kecamatan Tanjung, kecamatan Gangga, kecamatan Bayan, kecamatan Labuapi, kecamatan Kediri, kecamatan Gerung, kecamatan Sekotong Tengah dan kecamatan Narmada. Selanjutnya dalam sidang khusus DPRD tingkat II Lombok Barat pada tanggal 20 Januari 1989, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Warsito melantik Drs. H. L. Mudjitahid menjadi Bupati Lombok Barat menggantikan Drs. H. Lalu Ratmadji yang telah berakhir masa jabatannya. Pada periode jabatan pertama Drs. H. Lalu Mudjitahid wilayah Kabupaten Lombok Barat terus mengalami kemajuan, di mana Kota Mataram sebagai Ibukota Kabupaten Lombok Barat mengalami peningkatan status menjadi Kota Madya. Oleh karena itu sejak ditetapkannya pembentukannnya sebagai Daerah Tingkat II maka wilayah kabupaten Lombok Barat berkurang dari 12 wilayah kecamatan yakni kecamatan Bayan, kecamatan Gangga, kecamatan Tanjung, kecamatan Gunungsari, kecamatan Narmada, kecamatan Labuapi, kecamatan Kediri, kecamatan Gerung dan kecamatan Sekotong Tengah. Setelah Drs. Lalu Mudjitahid mengakhiri jabatan periode kedua kabupaten Lombok Barat dipimpin oleh Drs. H. Iskandar untuk masa jabatan Pada tahun 2000 wilayah kabupaten Lombok Barat terus dikembangkan dengan membentuk kecamatan pembantu masingmasing kecamatan pembantu Lingsar, kecamatan pembantu Lembar, kecamatan pembantu Kayangan dan kecamatan pembantu Pemenang sehingga secara keseluruhan wilayah Lombok Barat terdiri atas 9 Kecamatan dan 4 kecamatan pembantu. Selanjutnya pada tahun 2001 keempat kecamatan pembantu tersebut ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan. Sesuai UU No. 22 Tahun 2000 wilayah kecamatan dibentuk berdasarkan peraturan daerah maka wilayah kabupaten Lombok Barat dapat dimekarkan menjadi 15 kecamatan yaitu kecamatan Bayan, kecamatan Gangga, kecamatan Pemenang, kecamatan Kayangan, kecamatan Gunungsari, kecamatan Batu Layar, kecamatan Narmada, kecamatan Lingsar, kecamatan Labuapi, kecamatan Kediri, kecamatan Gerung, kecamatan Lembar dan kecamatan Sekotong Tengah. Pada masa jabatan periode pertama Drs. H. Iskandar Ibukota Kabupaten Lombok Barat dipindahkan dari Kota Mataram ke Giri Menang Gerung, sesuai dengan rekomendasi dari Menteri Dalam Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 137

156 Negeri dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dengan Surat Menteri Dalam Negeri No. 135/3638/PUOD tanggal 22 Desember 1999 dan Surat Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 49/M.PAN/2/2000 tanggal 2 Pebruari Dalam perkembangan selanjutnya berdasarkan UU No. 29 tahun 2008 tentang Kabupaten Lombok Utara (KLU) maka Kabupaten Lombok Barat bagian utara yaitu kecamatan Pemenang, kecamatan Tanjung, kecamatan Gangga, kecamatan Kayangan dan kecamatan Bayan adalah merupakan wilayah pemekaran dari kabupaten Lombok Barat masuk ke wilayah pemerintahan Kabupaten Lombok Utara (KLU). Berdasarkan Undangundang tersebut, maka dilantik Pejabat Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU) pada tanggal 30 Desember 2008, secara administrasi pembentukan Kabupaten Lombok Utara (KLU) sudah resmi, sehingga kabupaten Lombok Barat yang sebelumnya membawahi 15 kecamatan menjadi 10 kecamatan 88 desa dan 657 dusun. Kemudian menjelang akhir tahun 2008, pemerintah bersama masyarakat Kabupaten Lombok Barat melaksanakan pemilihan secara langsung Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat masa jabatan oleh rakyat untuk pertama kalinya, yang mendapat dukungan suara terbanyak dan pasangan Dr. H. Zaini Arony, M.Pd - H. Mahrip, SE., MM, dan dilantik dalam rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kabupaten Lombok Barat tanggal 23 April Dengan demikian, sejak terbentuknya, sesuai Undang-undang Nomor: 69 Tahun 1958 Kabupaten Lombok Barat telah dipimpin oleh beberapa Bupati yakni : 1. J.B. Tuhumena Maspeitella ( ). 2. Lalu Anggrat BA ( ). 3. Drs. Said ( ). 4. H. L. A-Rachman ( ). 5. Drs. H. Lalu Ratmadji ( ). 6. Drs. H. Lalu Mudjitahid ( ). 7. Drs. H. Iskandar ( ). 8. Drs. Iskandar H. M. Izzul Islam ( ). 9. Dr. H. Zaini Arony, M.Pd Mahrip, SE, MM ( ). 10. Dr. H. Zaini Arony, M.Pd H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Si (2014-saat ini). 138 Peta Dakwah MUI NTB

157 Sedangkan pejabat Ketua DPRD Kabupaten Lombok Barat masing-masing : 1. Lalu Djapa ( ). 2. H. Usman Tjipto Soeroso ( ). 3. Niti Soesanto ( ). 4. Imam Soebekti ( ). 5. H. A. Soewarno Atmodjo ( ). 6. Rana Syarif Hidayat ( ). 7. H. Zaenuddin, PS ( ). 8. H. Siradip Arty, BA ( ) meninggal dalam jabatan Ketua. 9. H. Abdul Kasim ( Juni Juni 2004). 10. H. Lalu Takdir Mahdi, S.Pd ( ). 11. H. Umar Said, S.Ag ( ). 12. Hj. Sumiatun (2014-saat ini) B. Motto, Visi dan Misi Motto Kabupaten Lombok Barat : PATUT PATUH PATJU: Nilai PATUT PATUH PATJU: Patut Patuh Patju : Baik, Terpuji, Layak, Wajar, Hal Yang Tidak Berlebihan : Rukun, Damai, Toleransi, Saling Menghargai : Rajin, Giat, Tak Mengenal Putus Asa Mengandung pesan agar setiap penduduk dan pemimpin haruslah bertindak menurut hukum, bijaksana, berbudi pekerti luhur, dan tidak berlebih-lebihan, rukun, saling menghargai, bekerjasama dalam halhal yang baik, serta giat, tak mengenal putus asa dalam menjalankan kewajiban, demi pembangunan daerah dan negara. Visi Visi Pembangunan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Tahun adalah : Terwujudnya Masyarakat Lombok Barat Yang Unggul, Mandiri, Sejahtera Dan Bermartabat Dilandasi Nilai-Nilai Patut Patuh Patju. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 139

158 Adapun penjabaran makna dari Visi Kabupaten Lombok Barat tersebut adalah sebagai berikut : 1. Masyarakat Lombok Barat, artinya merupakan seluruh masyarakat Lombok Barat 2. Unggul, artinya mampu bersaing secara kompetitif dan komparatif di berbagai bidang kehidupan 3. Mandiri, artinya mampu memanfaatkan potensi dan sumber daya yang dimiliki secara optimal 4. Sejahtera, artinya mampu memenuhi segenap kebutuhan hidup secara layak yang mencakup aspek, sosial-budaya, ekonomi dan isik 5. Bermartabat, artinya memiliki jati diri dan harga diri Misi Misi Kabupaten Lombok Barat yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan Kemampuan Daya Saing dan Kemandirian Daerah untuk Mendapatkan Nilai Tambah (Lobar Kreatif, Inovatif dan Produktif ) 2. Mewujudkan Kehidupan dan Sikap yang Memiliki Spirit Serta Etos Kerja Untuk Meraih yang Terbaik (Lobar Berprestasi) 3. Mengembangkan Potensi Sumberdaya Sosial dan Budaya yang dimiliki Untuk Keberlanjutan Pembangunan (Lobar Tangguh dan Berbudaya) 4. Mengembangkan Potensi sumberdaya Alam Dengan Memperhatikan Kelestarian dan Keseimbangan Lingkungan (Lobar Lestari) 5. Meningkatkan Kualitas Sumberdaya Manusia yang Mampu Beradaptasi Terhadap Perkembangan Regional, Nasional dan Global (Lobar sehat dan Cerdas) 6. Meningkatkan Martabat dan Kebanggan Daerah (Lobar Bermartabat) 140 Peta Dakwah MUI NTB

159 C. Luas Wilayah dan Batas Administrasi Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas wilayah 1.053,92 km2. Secara geograis, Kabupaten Lombok Barat berada di 115,46-116,20 Bujur Timur dan 8,25-8,55 Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Lombok Utara Sebelah Selatan : Samudera Hindia Sebelah Barat : Selat Lombok dan Kota Mataram Sebelah Timur : Lombok Tengah Secara administrasi Kabupaten Lombok Barat terdiri dari 10 kecamatan dengan 3 kelurahan dan 119 desa serta 820 jumlah dusun. Kecamatan Gerung merupakan ibukota Kabupaten sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Topograi Berdasarkan kondisi topograinya, wilayah Kabupaten Lombok Barat dikategorikan sebagai berikut : 1. ketinggian meter di atas permukaan laut, memiliki luas sebesar Ha atau 40,80% dari luas wilayah Kabupaten Lombok Barat. 2. ketinggian meter, memiliki luas wilayah sebesar Ha atau 48% dari luas wilayah Kabupaten Lombok Barat. 3. ketinggian meter memiliki luas wilayah Ha atau 10,1% dari luas wilayah Kabupaten Lombok Barat, dan 4. ketinggian 1000 meter keatas seluas 885 Ha atau 1,0% dari luas wilayah Kabupaten Lombok Barat. Klimatologi Kabupaten Lombok Barat termasuk wilayah yang beriklim tropis, dengan dua musim, yakni musim kemarau (April September) dan musim hujan (Oktober Maret) dengan temperatur / suhu udara rata - rata berkisar antara 21,03 C 32,78 C dimana suhu maksimum terjadi pada bulan Oktober dan November dengan suhu 33,8 C serta suhu terendah yang mencapai 17 C yang terjadi pada bulan Agustus. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 141

160 Hidrologi Pendataan jaringan irigasi dirinci berdasarkan wilayah pengamat pengairan diantaranya meliputi luas areal daerah irigasi (DI), bangunan utama/bendung (beserta kondisinya), bangunan pelengkap, panjang saluran, jaringan irigasi serta sumber sumber air irigasi. Terdapat 3 (tiga) wilayah pengamat pengairan di Kabupaten Lombok Barat yaitu Pengamat Gunungsari, Narmada dan Kediri. Untuk wilayah pengamat Gunungsari, luas irigasi baku mencapai sekitar ha, luas irigasi potensial sekitar ha dan luas irigasi teknis sekitar 2,776 ha. Di Pengamat Gunungsari terdapat 10 bendung dengan 5 buah bendung dalam kondisi baik dan 5 buah dalam kondisi rusak ringan. Untuk wilayah Pengamat Narmada, luas irigasi baku sekitar ha, luas irigasi potensial sekitar ha, luas irigasi teknis sekitar ha dan luas irigasi semi teknis sekitar ha. Jumlah bendung di wilayah pengamat Narmada ada 8 buah dengan rincian kondisi baik ada 6 buah dan 2 buah dalam kondisi rusak ringan. Untuk wilayah pengamat Kediri, luas irigasi baku sekitar ha, luas irigasi potensial sekitar ha, luas irigasi teknis sekitar ha dan luas irigasi semi teknis sekitar 829 ha. Ada 6 bendung, dimana 3 dalam kondisi baik, 2 rusak ringan dan 1 rusak berat. Geohidrologi Wilayah Kabupaten Lombok Barat dilalui oleh banyak aliran sungai dan anak sungai, namun tidak semua sungai berair sepanjang tahun. Mata air yang ada di wilayah Kabupaten Lombok Barat terdapat sekitar 146 sumber mata air yang airnya mengalir ke sungai-sungai Meninting, Dodokan, Jangkuk, Babak dan Sekotong. Tabel: (1) Banyaknya Sungai di Lombok Barat di rinci menurut Kecamatan NO KECAMATAN BANYAKNYA SUNGAI NAMA SUNGAI 1 Sekotong 2 Kelep Pelangan 2 Lembar 1 Jelateng 3 Gerung 1 Dodokan 4 Labuapi 1 Babak 5 Kediri 1 Paku Keling 142 Peta Dakwah MUI NTB

161 6 Kuripan 2 7 Narmada 1 Jangkok Sulin/Lendang Lekong Dalem/Batu Kumbung 8 Lingsar 3 Midang, Jangkok, Ancar 9 Gunung Sari 2 Meninting, Midang 10 Batu Layar 1 Meninting Jumlah 15 Sumber Data : Kecamatan dalam Angka Lombok Barat, 2015 Potensi air baku di Kabupaten Lombok Barat untuk pengembangan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) selama sepuluh tahun ke depan pada umumnya tersedia. Air permukaan yang dapat dimanfaatkan adalah ; Sungai Meninting, Jangkok dan Sungai Babak. Yang memerlukan upaya khusus untuk air baku serta air minumnya adalah Kecamatan Gerung, Kediri, Narmada dan kecamatan Lembar. Sumber daya air di Kabupaten Lombok Barat terdiri dari air tanah (akifer) termasuk mata air dan air permukaan. Berdasarkan atas besaran curah hujan per tahun, hujan lebih dan evapotranspirasi tahunan yang akan berpengaruh terhadap air metropologis sesuai dengan gradasi sebaran curah hujan, maka makin ke selatan wilayah Kabupaten Lombok Barat makin sedikit ketersediaan air metrologisnya. Berdasarkan data yang tersedia jumlah mata air di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2008 berjumlah 146 buah yang tersebar di kecamatan Batulayar (7 buah), Gunungsari (23 buah), Narmada (81 buah). Dari 146 buah mata air tersebut, sebanyak 138 mata air mempunyai debit sebesar 1-50 lt/detik, sebanyak 5 mata air mempunyai debit sebesar lt/detik dan debit diatas 100 lt/detik sebanyak 3 mata air. Dari sejumlah 146 buah, yang sudah dimanfaatkan sebanyak 30 mata air oleh PDAM maupun desa. Dengan memperhatikan kondisi terjadinya penebangan hutan secara liar dan adanya kenversi lahan dari lahan kebun, hutan, pertanian ke lahan pemukiman maka jumlah mata air cenderung akan berkurang jika tidak dilakukan perlindungan sumber mata air. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 143

162 Administratif Luas wilayah Kabupaten Lombok Barat adalah ± 2.215,11 Km 2, yang terdiri dari daratan seluas ± 862,62 Km² dan lautan seluas ± 1.352,49 Km². Secara administrasi berdasarkan ketetapan Undang-undang No. 26 Tahun 2008 tentang pembentukan daerah Otonomi Baru tertanggal 30 Desember 2008 kabupaten Lombok Barat terbagi dalam 10 kecamatan, 88 Desa dan 671 dusun, dimana kecamatan Sekotong memiliki wilayah terbesar dengan luas wilayah ± 330,45 Km² dan terkecil kecamatan Kuripan dengan luas wilayah ± 21,56 Km². Luas wilayah administrasi kabupaten Lombok Barat terlihat pada tabel berikut ini. Tabel: (2) Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015 No Kecamatan Ibukota 1 Sekotong Sekotong Tengah Jumlah Desa Jumlah Dusun Jumlah Kelurahan Lembar Lembar Gerung Gerung Labuapi Labuapi Kediri Kediri Kuripan Kuripan Narmada Narmada Lingsar Lingsar Gunung Sari Gunung Sari Batulayar Batulayar Total Sumber : Badan Pusat Statistik Lombok Barat Wilayah Kabupaten Lombok Barat yang terdiri dari 10 Kecamatan, dengan masing-masing kecamatan terdiri dari beberapa Desa, rincian jumlah Desa dapat terlihat pada tabel berikut ini. 144 Peta Dakwah MUI NTB

163 Tabel: (3) Nama Kecamatan dan Desa di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2009 No Nama Kecamatan 1 Sekotong Nama Desa 1. Sekotong Tengan 6. Buwun Mas 2. Sekotong Barat 7. Kedaro 3. Pelangan 8. Batu Putih 4. Cendi Manik 9. Gili Gede Indah 5. Taman Sari 2 Lembar 3 Gerung 4 Labuapi 5 Kediri 6 Kuripan 1. Lembar 6. Sekotong Timur 2. Mareja 7. Labuhan Tereng 3. Jembatan Kembar 8. Jembatan Gantung 4. Lembar Selatan 9. Mareje Timur 5. Jembatan Kembar Timur 10. Eyat Mayang 1. Gerung Utara 8. Babusalam 2. Kebon Ayu 9. Dasan Tapen 3. Gapuk 10. Beleke 4. Dasan Geres 11. Tempos 5. Suka Makmur 12. Gerung Selatan 6. Banyu Urip 13. Mesanggok 7. Giri Tembesi 14. Taman Ayu 1. Bengkel 7. Bagik Polak Barat 2. Merembu 8. Terong Tawah 3. Bagik Polak 9. Kuranji 4. Telaga Waru 10. Karang Bongkot 5. Perampuan 11. Labuapi 6. Bajur 12. Kuranji Dalang 1. Kediri 6. Kediri Selatan 2. Montong Are 7. Banyumulek 3. Jagerage Indah 8. Ombe Baru 4. Gelogor 9. Dasar Baru 5. Rumak 10. Lelede 1. Kuripan 4. Giri Sasak 2. Jagerage 5. Kuripan Selatan 3. Kuripan Utara 6. Kuripan Timur Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 145

164 7 Narmada 8 Lingsar 9 Gunung Sari 1. Lembuak 12. Selat 2. Nyiur Lembang 13. Lembah Sempaga 3. Peresak 14. Sesaot 4. Keru 15. Dasan Tereng 5. Batu Kuta 16. Badrain 6. Tanak Beak 17. Sembung 7. Sedau 18. Krama Jaya 8. Suranadi 19. Gerimak Indah 9. Narmada 20. Golong 10. Pakuan 21. Buwun Sejati 11. Mekar Sari 1. Lingsar 9. Langko 2. Batu Kumbung 10. Dasan Geria 3. Duman 11. Peteluan Indah 4. Segerongan 12. Gegerung 5. Karang Bayan 13. Batu Mekar 6. Giri Madia 14. Saribaye 7. Genggelang 15. Gontoran 8. Bug-Bug 1.Gunung Sari 9. Mambalan 2. Midang 10. Dopang 3. Kekait 11. Penimbung 4. Kekeri 12.Taman Sari 5. Sesela 13 Jati Sele 6. Guntur Macan 14. Mekarsari 7. Ranjok 15. Gelangsar 8. Bukit Tinggi 16. Jeringo 1. Batu Layar 6. Lembah Sari 2. Meninting 7. Senteluk 10 Batulayar 3. Sandik 8. Senggigi 4. Batu Layar Barat 9. Pusuk Lestari 5. Bengkaung Sumber Data : Data Olahan Bappeda Kabupaten Lombok Barat, Tahun 2015 Batas-batas administrasi wilayah Kabupaten Lombok Barat dapat terlihat pada gambar sebagai berikut: Kependudukan Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas salah satunya melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas 146 Peta Dakwah MUI NTB

165 insane dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan sumbaer daya manusia dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk dan pengembangan kualitas penduduk melalui perwujudan keluarga kecil yang berkualitas. Jumlah Penduduk Kabupaten Lombok Barat sebesar jiwa (2015). Dengan luas wilayah 1.053,92 Km 2. kepadatan penduduk Kabupaten Lombok Barat mencapai 580 jiwa/km 2, dimana Kecamatan Kediri merupakan Kecamatan tertinggi kepadatan penduduknya yakni jiwa/km 2 disusul Kecamatan Labuapi jiwa/km 2 dan terendah Kecamatan Sekotong sebesar 99 jiwa/km 2. Tabel: (4) Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015 Kecamatan Laki-Laki Perempuan Total Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunung Sari Batu Layar Jumlah Sumber : Kabupaten Lombok Barat dalam Angka 2015 Pendidikan Pondok Pesantren di Kabupaten Lombok Barat berjumlah 69. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 147

166 Tabel: (5) Jumlah Majelis Ta lim dan Pengajian Dirinci Per-Kecamatan, 2015 Kecamatan Majelis Ta lim TPQ Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunung Sari Batu Layar Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat Banyaknya Madrasah, Guru dan Murid Menurut Jenis Tabel: (6) Sekolah Dan Jenis Kelamin, Di Kabupaten Lombok Barat, 2015/2016. Jenis Sekolah Sekolah Guru Murid Negeri Swasta PNS Honorer Laki- Laki Per. MI MTS MA SPK SPP Lainnya Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat 148 Peta Dakwah MUI NTB

167 Tabel: (7) Banyaknya RA/BA, Guru dan Murid Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 2015/2016 Jenis Sekolah Sekolah Guru Murid Negeri Swasta PNS Honorer Laki- Laki Per. Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunungsari Batu Layar Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat Tabel: (8) Banyaknya Madrasah Ibtidaiyah (MI), Guru dan Murid Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 2015/2016 Jenis Sekolah Sekolah Guru Murid Negeri Swasta PNS Honorer Laki- Laki Per. Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 149

168 Narmada Lingsar Gunungsari Batu Layar Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat Tabel: (9) Banyaknya Madrasah Tsanawiyah (MTS), Guru dan Murid Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 2015/2016 Sekolah Guru Murid Jenis Sekolah Laki- Negeri Swasta PNS Honorer Per. Laki Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunungsari Batu Layar Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat 150 Peta Dakwah MUI NTB

169 Tabel: (10) Banyaknya Madrasah Aliyah (MA), Guru dan Murid Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 2015/2016 Sekolah Guru Murid Jenis Sekolah Laki- Negeri Swasta PNS Honorer Per. Laki Sekotong 3-59 Lembar 4-82 Gerung Labuapi Kediri Kuripan 2-51 Narmada Lingsar 2-46 Gunungsari Batu Layar Jumlah Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat Sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam era globalisasi adalah yang berkualitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas intelegensi dan intelektual manusia adalah melalui pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal diharapkan mampu membangun moral dan kualitas bangsa. Selain peningkatan sarana dan prasarana berupa isik, peningkatan sumber daya manusia juga penting. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Lombok Barat diarahkan maju dan modern namun tetap berakar pada akar budaya dan religi. Sebagaimana tertuang dalam visinya yakni Terwujudnya masyarakat Lombok Barat yang maju, mandiri dan bermartabat dengan dilandasi nilai-nilai Patut Patuh Patju dengan salah satu misi yakni Meningkatkan Optimalisasi Pelayanan Pendidikan dan Kesehatan secara Berkeadilan, Berkualitas dan berkelanjutan. Pendidikan bertujuan meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan penduduk secara maksimal. Dengan demikian, penduduk baik sebagai Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 151

170 perorangan maupun sebagai kelompok masyarakat merupakan sasaran kegiatan pembangunan pendidikan. Oleh karena itu, dinamika masyarakat dengan permasalahan yang ada akan sangat mempengaruhi pendidikan secara menyeluruh. D. Sosial Keagamaan Masyarakat Di Kabupaten Lombok Barat pemeluk agama Islam memang menjadi mayoritas namun hal tersebut tidak menimbulkan adanya suatu konlik dengan pemeluk agama lain. Gambaran komposisi penduduk menurut agama di Kabupaten Lombok Barat adalah sebagai berikut : Tabel: (11) Banyaknya Pemeluk Agama di Kabupaten Lombok Barat dirinci menurut Kecamatan, 2015 Kecamatan Islam Protestan Katolik Hindu Budha Jmlh. Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunungsari Batulayar Jumlah Sumber Data : Kantor Departemen Agama Kabupaten Lombok Barat Kehidupan beragama dalam hal kesadaran melaksanakan ritual ibadah telah berkembang di Lombok Barat sebagai daerah yang religious, sebagaimana sebutan popular bagi pulau seribu masjid. Begitu pula dengan keharmonisan antar umat beragama masih tetap terjaga dan terjalin dengan penuh toleransi. Namun demikian permasalahan kehidupan intern seperti berkembangnya aliran yang dianggap 152 Peta Dakwah MUI NTB

171 sesat/menyimpang dari ajaran yang sesungguhnya dan hal ini sering menimbulkan konlik social dan bahkan berpotensi menimbulkan konlik horizontal. Untuk mendukung aktivitas keagamaan terdapat sarana ibadah berupa masjid, mushalla, gereja, pura dan wihara, dengan jumlah pada masing-masing kecamatan sebagai berikut. Tabel: (12) Tempat Ibadah menurut golongan Agama di Kabupaten Lombok Barat dirinci menurut Kecamatan, Kecamatan Masjid Mushalla Gereja Pura Wihara Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Kuripan Narmada Lingsar Gunungsari Batulayar Jumlah Sumber Data : Kantor Departemen Agama Kabupaten Lombok Barat Komposisi penduduk Kabupaten Lombok Barat menurut penduduk asli, pendatang, asal daerah dan etnis tergolong heterogen, terdiri dari berbagai suku daerah, etnis dan golongan masyarakat yang hidup dalam kerukunan, keharmonisan dan saling toleransi. Komposisi tersebut dominan adalah suku Sasak, Samawa, Mbojo, Bugis dan Bali serta etnis Melayu, Arab dan Tionghoa selebihnya adalah dari Jawa, Sumatra dan Nusa Tenggara Timur. Warga Negara Asing yang menetap hanya sebagian kecil saja dari adanya hubungan perkawinan dengan penduduk setempat. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 153

172 Indek Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan Indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan komulatif pembangunan, dimana IPM Kabupaten Lombok Barat masih berada pada posisi yang tidak menggembirakan, yakni berada pada urutan ke 8 di antara 9 kabupaten/kota se propinsi NTB. E. Perekonomian Salah satu perangkat imformasi yang bersifat lintas sektoral khususnya dibidang ekonomi adalah Statistik Produk Domistin Regional Bruto (PDRB), karena PDRB merupakan salah satu informasi yang banyak digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah, dan dengan statistic PDRB dapat diketahui antara lain, tingkat pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, pendapatan per kapita, tingkat inlasi dan juga peranan masing-masing kegiatan ekonomi seperti sector pertanian, industry, perdagangan dan sebagainya. Tenaga Kerja yang merupakan salah satu permasalahan kependudukan yang konpleks, dimana peningkatan jumlah penduduk yang tidak diserati dengan meningkatnya jumlah lapangan pekerjaan. Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun atau lebih yang bekerja, menganggur, atau sedang mencari pekerjaan. F. Sejarah Masuknya Islam Secara historis masyarakat Sasak sebelum memeluk Islam telah dipengaruhi oleh berbagai ajaran, dan karenanya dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni Sasak Boda, Sasak Islam Waktu Telu, Dan Sasak Islam Waktu Lima. Penelitian sosiologis ilmuan Barat abad ke- 20, seperti Van Erde dan Bousquet, menunjukan bahwa di kalangan masyarakat Sasak terdapat tiga kelompok keagamaan; Sasak Boda, Waktu Lima dan Waktu telu. Pertama, Sasak Boda. Disebut sebagai agama asli masyarakat Lombok. Kendati dari penyebutannya mirip dengan kata Budha, mereka bukanlah penganut Budhisme, karena mereka tidak mengakui Sidharta Gautama sebagai igur utama pemujaannya maupun terhadap 154 Peta Dakwah MUI NTB

173 ajaran pencerahannya. 1 Menuru Erni Budiwanti, agama Boda ditandai oleh animisme 2 dan panteisme. 3 Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dari berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak Boda. 4 Penganut Boda merupakan komunitas kecil dan masih ditemukan pada awal abad ke-20, dan mereka tinggal di bagian utara Gunung Rinjani (kecamatan Bayan dan Tanjung) dan beberapa desa di sebelah selatan Gunung Rinjani. Patut diduga, bahwa dulunya mereka berasal dari bagian tengah Pulau Lombok dan mengungsi ke wilayah pegunungan untuk menghindari proses islamisasi. 5 Kedua, Islam Waktu Telu adalah sebuah aliran keagamaan yang dianut oleh minoritas masyarakat Sasak. Dalam kehidupan sehari-hari penganut Waktu Telu diidentikkan dengan mereka yang dalam praktek kehidupan sehari-hari sangat kuat berpegang kepada adat istiadat nenek moyang mereka. Dalam ajaran Waktu Telu, terdapat banyak nuansa Islam di dalamnya. Namun demikian, artikulasinya lebih dimaknakan dengan idiom adat. Di sini warna agama bercampur dengan adat, padahal adat sendiri tidak selalu sejalan dengan agama. Percampuran praktek-praktek agama ke dalam adat ini menyebabkan watak Waktu Telu menjadi sangat sinkritik. 6 Beberapa kalangan melihat fenomena Waktu Telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam Abangan di kalangan masyarakat Jawa. Akan tetapi, dilihat dari konsepsi serta cara pandang masing-masing, tidaklah tepat untuk mempersamakan antara keduannya. Zamakhsyari Dhoier, misalnya menyatakan, bahwa Islam Abangan hanya merupakan sebutan bagi orang Islam yang tidak taat melaksanakan ajaran Islam. 7 Meskipun demikian, penyebutan Waktu Telu merupakan releksi teoritis dari praktek keagamaan yang 1 Erni Budiwanti, Islam Sasak: Waktu Telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKiS,2000),8 2 Animisme berasal dari kata anima yang berarti jiwa atau roh-roh. Bagi masyarakat primitif, semua alam di penuhi oleh roh-roh yang tidak terhingga banyaknya, tidak saja manusia atau binatang, tetapi benda-benda yang tidak hidup juga meiliki roh, seperti tulang atau batu. Jadi, animism adalah suatu paham tentang semua benda, baik bernyawa maupun tidak bernyawa mempunyai jiwa atau roh. Lihat. Amsal Bachtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1997),58 3 Panteisme mengandung pengertian; Pertama, ajaran yang menyamakan Tuhan dengan kekuatan-keuatan dan hukum-hukum alam semesta; dan, Kedua, Penyembahan atau pemujaan kepada semua Dewa dari berbagai kepercayaan. 4 Erni Budiwati,Islam Waktu Telu,8 5 Muhammad Noor, at,al. Visi Kebangsaan Religious; Releksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ( Jakarta: Logos,2004),95 6 Ibid Ibid.96 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 155

174 mereka lakukan, yaitu; melakukan sembahyang tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore) bahkan diantara mereka ada yang hanya melaksanakan sembahyang jumat dan hari raya lebaran, dan sembahyang jenazah. 8 Ketiga, masyarakat Sasak penganut Waktu Lima, atau berbeda dengan Waktu Telu, bagi penganut Waktu Lima, merupakan realitas pemelukan masyarakat Lombok yang mengerjakan semua rukun islam dan melaksanakan semua waktu shalat dan peribadatan lainnya. Karenanya, menurut Waktu Lima, penganut Waktu Telu hanya melaksanakan shalat tiga kali dalam sehari, yaitu maghrib dan isya. Dhuhur dan ashar tidak mereka lakukan. Waktu lima mengatakan, bahwa Waktu Telu tidak menjalankan puasa sebulan penuh melainkan tiga kali saja; pada permulaan, pertengahan, dan penghujung. 9 Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat Lombok didominasi oleh penganut Waktu Lima yang sampai saat ini merupakan masyarakat mayoritas. Hal ini tidak lepas dari perjuangan dan upaya para tokoh Agama untuk melakukan dakwah terhadap Waktu Telu. Di antara mereka dapat disebutkan antara lain, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pancor, Pendiri Nahdhatul Watahan), TGH. Ibrahim Khalidi (pendiri pondok pesantren al-ishlahuddiny Kediri Lombok Barat) Mutawalli (pendiri pondok pesantren Darul Yatama wa al-masakin), Jerowaru, Lombok Timur, TGH. Shafwan al-hakim, (pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hakim), Kediri, Lombok Barat, dan TGH. Hazmi Hazmar, (Pengasuh Pondok Pesantren Maraqit Ta limat), Mamben, Lombok Timur 10 dan lain-lainnya. Secara sosiologis, masyarakat Lombok dikenal sebagai masyarakat yang kuat mempertahankan nilai-nilai dan ajaran agama, hal ini disebabkan oleh pengakuan yang luar biasa terhadap peran Tuan Guru dan memandang mereka sebagai panutan dalam kehdupan sosialkeagamaan. Sebagai masyarakat yang mayoritas menganut Islam, maka dalam perkembangannya semakin meningkat. Meskipun demikian, keberadaan mereka dapat dikatakan harmonis dengan masyarakat non-muslim baik yang beragama Hindu, Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Budha. Secara umum penganut agama di pulau Lombok sampai tahun 2001 berjumlah sekitar, 2,835,341 jiwa yang sebagian besar menganut agama Islam Lihat. Warni Djuwita dkk, Pengaruh Nilai Nilai, 18 9 Muhammad Noor, at.al Visi Kebangsaan Religius,97 10 Ibid, Sumber: Data Kanwil Departemen Agama Propinsi NTB, Th Peta Dakwah MUI NTB

175 Dominannya jumlah umat Islam di pulau Lombok, tentu mempunyai pengaruh signiikan kepada jumlah tempat-tempat ibadah (baca: masjid) yang menjadi salah satu indikator adanya penganut agama Islam serta jamaah haji yang menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Dari data yang ada di Departemen Agama Propinsi Nusa Tenggara Barat, terdapat 3151 buah masjid di seantero pulau ini. Sehingga tidaklah mengherankan kemudian, jika Lombok sering dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid. Sementara jumlah orang yang melaksanakan ibadah haji dari pulau ini pada tahun 2001 berjumlah 3312 orang atau 65% dari total jamaah haji propinsi Nusa Tenggara Barat. Selain itu, pulau Lombok juga dipercaya dengan ragam bahasa, agama, dan pemikiran keagamaan. Tetapi yang pasti, bahwa masyarakat Sasak, etnis Arab dan etnis Bugis menganut agama Islam, sementara etnis Bali mayoritas memeluk agama Hindu sedang etnis Cina umumnya beragama Kristen dan Kong Houchu. Di samping jumlah masjid dan jamaah haji, indikator lain dari keberadaan umat islam di pulau ini adalah adanya lenbaga-lembaga pendidikan Islam yang berbasis pondok pesantren. Pada tahun 1999/2000, jumlah pondok pesantren di pulau ini berjumlah 198 buah, yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. 12 Maraknya lembaga-lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah dan tempat pendidikan lainnya membuktikan bahwa masyarakat Sasak, bagaimanapun, sangat peduli terhadap peningkatan intelektualitas dan moralitas masyarakat. Dan pada umumnya kehadiran pondok pesantren diharapkan sebagai tempat untuk mencetak generasi ilmuan agama (tuan guru) yang juga dapat menjadi pewaris sang tuan guru dalam menyebarkan dakwah islam. Tentu saja, dan ini yang terpenting, menandai sebuah kenyataan yang serius dari perintah agama untuk menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan Islam. 13 Fenomena seperti ini seakan menghiasi kehidupan mereka dan ini memberi pengaruh dalam tata nilai dan juga pada tingkat intelektualitas keagamaan. Bahkan pada masa-masa yang lebih awal, masyarakat Lombok cenderung memasukan anaknya ke pondok pesantren, yang mereka anggap sebagai tempat ulama (tuan guru). Karena dari pondok pesantren inilah mereka akan dapat mempelajari secara lebih 12 Sumber: Data Pondok Pesantren Propinsi NTB Tahun 1999/2000, 13 Imam Muslim, sahih Muslim, (Indonesia: Maktab Dar Ihya al-kutub al-arabiyah,it), Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 157

176 mendalam ajaran-ajaran agama, seperti; iqh, aqidah, akhlaq, nahwu dan ilmu-ilmu lainnya. Meskipun demikian, kecendrungan terhadap iqh lebih kuat (menonjol) daripada disiplin ilmu agama lainnya. Hal ini tidak berarti ilmu-ilmu lainnya tidak diperdalam. Tetapi bahwa iqh memang membawa implikasi sosiologis. Itulah sebabnya, ke ulama - an seseorang di Lombok sangat ditentukan oleh kemampuan mereka terhadap ilmu iqh dan seakan-akan, iqh merupakan panglima intelektual dalam masyarakat. Argumentasi teoritis ini menunjukan bahwa dalam perspektif muslim hukum Islam memang merupakan keilmuan Islam yang paling otoritatif dalam dinamika kehidupan intelektual keislaman. Atas alasan inilah barangkali tidak berlebihan bila penulis-penulis Barat, seperti Joseph Schatch, mengklaim bahwa untuk memahami Islam secara holistik, maka hukum Islam harus dipahami, atau yang dalam ungkapannya there is no understanding of islam without understanding of Islamic law Selain itu, hukum Islam merupakan hukum yang hidup (living law). Artinya, eksistensinya selalu hadir dalam relung realitas kehidupan umat. Karena itu, secara sosiologis, hampir keseharian hidup masyarakat muslim dibingkai oleh hukum islam, karena titik berat hukum Islam adalah pada pengaturan hidup bersama dalam tataran sosialnya, yang merupakan inti dari ajaran hukum Islam. 15 Dengan kata lain, masyarakat Lombok akan mengklaim kesarjanaan tuan guru dari perspektif ilmu iqh. Dengan demikian, dalam konteks pendidikan dan pencerahan dapat dikatakan bahwa masyarakat Sasak sangat tertarik pada peningkatan intelektualitas pada ilmu-ilmu agama, khususnya, hukum Islam. Penting dicatat, bahwa meskipun masyarakat muslim Lombok banyak yang concern dengan ilmu agama, hal ini tidak berarti mereka tidak mempelajari ilmu-ilmu non-agama. 1995), 14 Joseph Schatch, An Introduction to Islamic law (London: Clarendon Press,1996), I 15 Lihat, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin Dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 158 Peta Dakwah MUI NTB

177 DAFTAR PONDOK PESANTREN AKTIF DI LOMBOK BARAT Nama Pondok Pesantren PP. Al Mahsun Khidir NW PP. Al Mujahidin NW PP. Al Muslimun NW PP. Al-Mahmud Alamat Tokoh Pendiri Pimpinan Dasan Tapen Gerung Lobar Tempos Kebon Kongok Aik Ampat Dasan Geres Muslehudin Zen, H, Ust Ahmad Marsini, S.Pd, TGH Zubaidi A.N, BA Ahmad Makki, TGH Muslehudin Zein H. Ust. Ahmad Marsini S.Pd. TGH Zubaidi, AN, BA Ahmad Makki, TGH PP. Darun Nawawi Dasan Tapen Tajudin, TGH M. Ma shum, H PP. Darunnadwah PP. Darussalam PP. Hidayatuddarain PP. Manba ul Ulum PP. Mi rojussalam Dasan Ketujur Gapuk Gerung Bermi Jl. Jendral Sudirman Dusun Ketujun Gapuk Babussalam Bile Kedit Muzhar Bochari, TGH Ridwanullah, TGH Usman Abdullah, TGH Ihsan Ismail Muhtar Kholidi (Alm) Muzhar Bochari, TGH Muhammad Ridwanullah, TGH Muhammad Jamiliudin, TGH Muhajirin Ismail Muslehuddin PP. Najmul Huda Batu Bokah Najamuddin, H Najamudin, H PP. Nurul Huda PP. Nurul Karim NW Tempos Kesuma Kebon Ayu Munaam, Drs. Ust Syamsul Hakim, TGKH PP. Al Akhyar NW Bagik Polak Mukhsin, H Mudaham MS, Ust Syamsul Hakim, TGH, KH Gufron Hamdan SS PP. Al Ikhlashiyah Jl. M. Rais Abd. Haiz, H Abd. Gafur TGH PP. Al Istiqomah Desa Telagawaru Abdul Haiz, TGH Abdul Haiz TGH Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 159

178 PP. Assaadah Ishlahiyah PP. Darul Quran PP. Darunnajah Al- Falah PP. Ijmaiyyah Babussalam PP. Mauidzunnisyan PP. Al Hasany Hamzanwadi NW PP. Al-Ishlahuddiny PP. Al-Kasyif Labuapi Mejeti Krama Jaya Jl. TGH Abdul Karim Pelowok Kediri Kebon Orong Dasan Baru Tohri, H Shaleh Hambali TGH (alm) Abrar TGH Masnun, Ust Ali Haidz Alimuddin, TGH Muadi, H Mustafa Al Kholidi, TGH (Alm) Moh Tasyim, Drs, HL Syahabuddin Asyari TGH. Jln. TGH Ibrahim Al- Khalidi Telaga Waru Gubuk Ida Rungkang Merembu Fatimatuizzahrah, Hj Ahmad Khairil Abrar TGH Masnun, Ust, QH Ali Haidz Alimuddin, TGH M. Said Al Gazali LC. H. Muhammad Idris Misbah, TGH Agus Satriawan, Lc. MA. HL PP. Al-Mukhtariyah Kuripan PP. Ishlahil Athfal Rumak Barak M. Tohri, H Abdul Hakim PP. Nurul Hakim PP. Riyadusshalihin PP. Selaparang Jl. Taruna No. 5 Jln Taruna Ombe Baru Ombe Jl. TGH. Abdul Haidz PP. Yusuf Abdussatar Jl. Kali Babak PP. Al Ma arif Qamarul Huda PP. Al-Furqan PP. Darul Hikmah Pembulun Keling Sesaot Batukuta Narmada Tanak Beak Narmada Abdul Karim, TGH Abdul Haidz, TGH Yusuf Abdussatar, TGH Nasruddin Muhdi, H, Ust HM. Yakub, TGH M. Djuaini Mukhtar, TGH Shafwan Hakim, BA, TGH L. Mahsun, TGH Ahmad Khuailid Yusuf, H, Ust L Turmuzi Badrudin TGH Faizin Yakub, Ust M. Djuaini Mukhtar, TGH 160 Peta Dakwah MUI NTB

179 PP. Darussalam PP. Hikmatussyarief NW PP. Nurul Haramain NW Putra PP. Nurul Harmain NW Putri Ketapang desa Gegerung Salut Selat Narmada Jl. Tegal Banyu Lembuak Narmad Jalan Hamzanwadi Lembuak Narma M Zahid Syarif TGH HM. Djuaini Mukhtar, TGH M. Djuaini Mukhtar, TGH M Zahid Syarif TGH Mahally Fikri,TGH Hasanain Djuaini, LC. H PP. Qur aniyah Batukuta M Naim (Alm) M Nuh PP. Quraniyah Batukuta M. Nuh, TGH M. Nuh, TGH PP. Tarbiyatul Mustaid PP. Al Aziziyah PP. Al Halimy PP. Al Hamidiyah PP. At-Tahdzib PP. MQWH Al- Aziziyah PP. NW Jauhar Pelita PP. Nurul Mujahidin PP. Raudlatusshibyan NW PP. Syaikh Sayuthi PP. Tarbiyatul Islamiyah Baturimpang Krama Jaya Kapek Jl. Patimura Sesela Sesela Kebun Indah Kekait Gunungsari Kapek Gunungsari Sesela Dopang Gunungsari Belencong Gunung Sari Dusun Ireng Lauq Kopang Sokong M. Adnan, TGH M. Adnan, TGH Umar Abdul Aziz, TGH Abdul Halim, TGH Suhaely Zainuddin, TGH Umar Abd Aziz, TGH Mansur As HM, Drs H Husnadi M. Said, TGH, KH ( Alm ) Muhammad Shaleh Ibrahim Saleh Musthafa Umar, TGH A Sanusi Suhaely Munsyir, TGH Musthafa Umar, TGH Baihaqi, A.Md Muzakki, H M. Luthi Mukhtar, Ust Muhammad Shaleh Ibrahim Saleh Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 161

180 PP. Nurul Huda NW Gondang H Usman H Humaidi Hamid PP. Babul Mujahiddin PP. Maraqitta Limat PP. Nurul Bayan PP. Nurul Haq PP. As-Sulamy PP. Darussalam PP. Nurul Hikmah PP. Al Hikmah PP. Al Jihad Bayan Beleq Lokok Aur Telage Bagek Anyar Desa Sambik Elen Desa Langko Lingsar Ketapang Desa Gegerung Langko Desa Langko Jl. Raya Pamenang Telaga Wareng Pabar Safwan Hakim, TGH M Zainuddin Arsyad, TGH Abdul Karim Abdul Ghafur, KH Lalu Abdul Haq, BA, Sp Nuruddin, H Muhammad Musthafa Bakri, TGH Azhar Rasyidi, H Musdah Mahmud, SS Mujahid, Lc Muhammad Dairi, Ust Hazmi Hamzar TGH Abdul Karim Abdul Ghafur, KH saiful bahri, Nuruddin, H Muhammad Musthafa Bakri, TGH Azhar Rasyidi, TGH Musdah Mahmud, SS Mujahid, Lc PP. Al-Mubassyisyrun Jl. Terengan Hasan Basri Muhtar Amin PP. Hidayaturahman NW Menggala M Zainuddin, AM, KH Pu ad Muhtar, QH PP. Al-Baqiatusshalihat Santong M. Rohdi, H Rasman Q, H, Ust PP. Bayyinul Ulum Santong Asli Azhar Ali Sukarman PP. Nurul Islam PP. Al Hidayah NW PP. Al-Hamidy Desa Kayangan Lendang Damai Kebon Talo Lembar Muh Turmuzi, BA Suparman Zuhri, A.Ma, QH Badrun Hamid, TGH Muh Turmuzi, BA Suparman Zuhri, A.Ma, QH Badrun Hamid, TGH 162 Peta Dakwah MUI NTB

181 PP. Nujumul Huda Batu Samban PP. Nurul Hikmah Lembar Muhiwan Roji, TGH Sati Ahmad, B.S, Ust Siti Khadijah, Hj Sati Ahmad, BS, Ust PP. Al Muslimun NW Tegal Meninting Musgep, H, BA Musgep H. BA PP. Al-Hamidiyah PP. Ishlahul Muslimin PP. Raudlatul Muslimin PP. Riyadlul Wardiyah Sidemen desa Lembah Sari Senteluk Kayangan Moh Dahlan, H Husni Usman, H Muhammad Sholihuddin, TGH Mujtaba, TGH Ahmad Zakaki, TGH Muhammad Sholihuddin, TGH Kerandangan Ahmad, H Abd Gani, H PP. Riyadus Shibyan Lendang Re Hanai Hanai, TGH Sumber: seksi pendidikan madrasah (PENMAD) kemenag Lombok barat Nusa Tenggara Barat, DAFTAR NAMA MASJID DI KABUPATEN LOMBOK BARAT NO NAMA MASJID ALAMAT 1 Masjid AL- MUHAJIRIN TAHUN BERDIRI KR. SEMBUNG Masjid At-TAQWA DUSUN RUNGKANG Masjid AL ISYKAL DUSUN TAKEBAN MEREMBU Masjid AL ITTIHAD DUSUN PAOK KAMBUT Masjid Al-Halimy Dusun Kebon Indah Desa Sesela Kec.Gunung Sari Masjid ATAKWA DUSUN KAYANGAN DESA SANDIK KEC. BATULAYAR 1991 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 163

182 7 Masjid Nurul Hidayah Karang Langko Desa Babussalam Kec.Gerung Masjid At-Taqwa Dusun Bile Kedit Desa Babussalam Kec.Gerung Masjid Mambaul Taqwa Dusun Lemokek Selatan Desa Babussalam Kec.Gerung Masjid Nurul Yakin Masjid Hidayatuttaqwa Dusun Lemokek Utara Desa Babussalam Kec.Gerung Dusun Telaga Potet Desa Babussalam Kec.Gerung Masjid Al-Hikmah Dusun Beremi Desa Babussalam Kec.Gerung Masjid Raudatul Jannah Gumese Utara Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Masjid Al-Muslihin Masjid Baiturrahmah Masjid Nurul Iman Dusun Perempung Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Dusun Gumese Selatan Desa Giri Tembesi Kec.Gerung475 Dusun Kesambik Ratik Desa Banyu Urif Kec.Gerung Masjid Nurul Jannah Dusun Kondak Desa Banyu Urif Kec.Gerung Masjid Nurul Jannah Dusun Kondak Desa Banyu Urif Kec.Gerung Masjid Nurul Falah Dusun Pesanggaran Desa Bayu Urif Kec.Gerung Masjid Nurul Jadid Masjid Nurul Yakin Masjid Burul Ikhlas Masjid Nurul Iman Dusun Betenu Bantir Desa Banyu Urif Kec.Gerung Dusun Kemuning Desa Banyu Urif Kec.Gerung Dusun Bantir Desa Bayu Urif Kec.Gerung Dusun Kusume Selatan Desa Banyu Urif Kec.Gerung Peta Dakwah MUI NTB

183 24 25 Masjid Nurul Huda Masjid Al-Abror 26 Masjid Qiyam Masjid Nurul Jibal Masjid Saipul khirah Masjid Nurul Hikmah Dusun Jeruk Poto Gumese Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Dusun Gawah Beroro Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Dusun Gemese Menang Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Dusun Gumese Desa Giri Tembesi Kec.Gerung Dusun Gunung Nalang Desa Taman Ayu Kec.Gerung Karang Genteng Desa Taman Ayu Kec.Gerung Masjid Baitul Mukhtar Masjid Silaturrahim Dusun Kelebut Desa Kebon Ayu Kec.Gerung Dusun Peseng Desa Taman Ayu Kec.Gerung Masjid Nurul Hidayah Dusun Bongor Desa Taman Ayu Kec.Gerung Masjid Nurul Islam Masjid Bayanudin Masjid Al-Abror Masjid Al-Abror Masjid Al-Muslihun Dusun Jeranjang Desa Taman Ayu Kec.Gerung Dusun Taman Endok Desa Taman Ayu Kec.Gerung Dusun Bakong Dasan Desa Kebon ayu Kec.Gerung Dusun Bakong Dasan Desa Kebon ayu Kec.Gerung Dusun Gubuk Raden Desa Kebon Ayu Kec.Gerung Masjid Nurul Hidayah Masjid Nurul Huda Masjid Al-Madinah Dusun Penarukan Daye Desa Kebon Ayu Kec.Gerung Dusun Penarukan Lauk Desa Kebon Ayu Kec.Gerung Dusun Batu Mulik Desa Gapuk Kec.Gerung Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 165

184 41 Masjid Baiturrahman Dusun Pelepok Desa Mesanggok Kec.Gerung Masjid Nurul Hidayah Dusun Dasan Ketujur Barat Desa Mesanggok Kec.Gerung Masjid Nurul MUbin Dusun Dasan Ketujur Desa Mesanggok Kec.Gerung Masjid Raudhatul Mushallin Dusun Mesulik Desa Gapuk Kec.Gerung Masjid Baiturrahim Dusun Gapuk Desa Gapuk Kec. Gerung Masjid Baital Azal Dusun Gapuk Desa Gapuk Kec. Gerung Masjid Baital Iman Taqwa Dusun Batu Mulik Lauk Desa Gapuk Kec.Gerung Masjid Baital Makmur Dusun Batu Mulik Daya Desa Gapuk Kec.Gerung Masjid Baital Mushallin Dusun Batu Mulik Tengah Desa Gapuk Kec.Gerung Masjid Darul Ad- Dakwah Dusun Mesanggok Desa Mesanggok Kec.Gerung Masjid Baital Makmur Dusun Beleka Timur Desa Beleka Kec.Gerung Masjid Istoqomah Dusun Barak Bokong Desa Beleka Kec.Gerung Masjid Nurul Hidayah 54 Masjid Yahya Dusun Bile Tepung Desa Beleka Kec.Gerung Dusun Mendagi Desa Beleka Kec.Gerung Masjid Nurul Abidin Lingkungan Karang Tengak Kelurahan Dasan Geres Kec. Gerung Masjid Baital Makmur Lingkungan Menang Timur Kelurahan Dasan Geres Kec. Gerung Peta Dakwah MUI NTB

185 57 Masjid Nurul Ariin Lingkungan Aik Ampat Kelurahan Dasan Geres Kec. Gerung Masjid Al-Umar Lingkungan Cemare Kelurahan Dasan Geres Kec.Gerung Masjid Nurut Taqwa Lingkungan Dasan Geres Tengah Kelurahan Dasan Geres Kec.Gerung Masjid Baituttahim Lingkungan Dasan Geres Tengah Kelurahan Dasan Kec. Gerung Masjid Mambaul Barokah Lingkungan Dasan Geres Selatan Kelurahan Dasan Geres Kec.Gerung Masjid Baituttohirin Lingkungan Masjid Baituttahim Masjid Al-Falah Masjid NURURRAHIM Lingkungan Batu Anyar Kelurahan Gerung Utara Kec. Gerung Lingkungan Montong Sari Kelurahan Gerung Utara Kec. Gerung Tanak Beak Narmada lombok barat NTB Masjid Baitur Rahman Jln TGH Abdul Karim Kediri Kecamatan Kediri Masjid Baital Atiq Jl Gatot Subroto Desa Gerung Utara Kecamatan Gerung Kab. Lombo barat 1920 Sumber: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari ah Direktorat Jenderal BIMAS Islam Kementerian Agama, 2014 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 167

186

187 bab 4 KabuPatEn LOmbOK tengah A. Peta dan Keadaan Alam Kabupaten Lombok Tengah sebagai salah satu bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki posisi koordinat bumi antara sampai Bujur Timur dan 8 24 sampai 8 57 Lintang Selatan dengan luas wilayah mencapai 1.208,39 km² ( ha). Dari segi letak geograis, kabupaten ini diapit oleh dua kabupaten lain, yakni Kabupaten Lombok Barat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Lombok Timur di sebelah timur dan utara, sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada tahun 2010, yaitu sekitar bulan September dan Oktober, Kabupaten Lombok Tengah mengalami pemekaran wilayah desa sebanyak 15 desa, sehingga jumlah desa yang ada di dalamnya menjadi 139, sedangkan jumlah kecamatan tetap 12 dengan luas wilayah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 169

188 berkisar antara 50 hingga 234 km 2. Kecamatan Pujut merupakan salah satu kecamatan terluas dengan wilayah mencapai 19,33 persen dari luas wilayah kabupaten, diikuti oleh Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan Praya Barat dan Kecamatan Praya Barat Daya dengan luas masing-masing 15,06, 12,64 dan 10,34 persen dari luas wilayah kabupaten. Sementara itu, kecamatan-kecamatan lainnya memiliki persentase luas wilayah di bawah tujuh persen. Melihat posisi geograis Kabupaten Lombok Tengah, maka jarak antara ibu kota kabupaten dengan ibu kota kecamatan memiliki radius yang relatif dekat yang berkisar antara 0 hingga 20 km. Namun antara ibu kota kecamatan yang satu dengan ibu kota kecamatan lain yang terjauh mencapai jarak 41 km yakni antara ibu kota Kecamatan Pringgarata dengan ibu kota Kecamatan Janapria. Dilihat dari topograi, bagian utara wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan daerah dataran tinggi di areal kaki Gunung Rinjani yang meliputi Kecamatan Batukliang, Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan Kopang, dan Kecamatan Pringgarata. Curah hujan pada daerah ini relatif tinggi dan dapat menjadi pendukung bagi kegiatan di sektor pertanian. Selain itu, di bagian utara terdapat aset wisata terutama pariwisata alam pegunungan dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Bagian tengah dari kabupaten ini meliputi Kecamatan Praya, Praya Tengah, Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Timur, Janapria dan sebagian Kecamatan Jonggat merupakan wilayah dataran rendah yang memiliki potensi pertanian padi dan palawija, didukung oleh hamparan lahan sawah yang luas dengan sarana irigasi yang memadai. Bagian selatannya merupakan daerah yang berbukit-bukit dan sekaligus berbatasan dengan Samudera Indonesia. Bagian selatan ini meliputi wilayah Kecamatan Pujut, sebagian Kecamatan Praya Barat, Kecamatan Praya Barat Daya dan Praya Timur. Karena berbatasan dengan Samudera Indonesia, maka wilayah ini memendam potensi wisata pantai yang indah dengan gelombang yang memikat wisatawan. Sebagai pendukung wisata, di wilayah bagian selatan telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti hotel, restoran, termasuk infrastruktur jalan yang memadai. 170 Peta Dakwah MUI NTB

189 B. Sejarah dan Asal Usul Penduduk mayoritas dan diklaim sebagai penduduk asli di wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah Suku Sasak. Suku yang dalam ras Melayu ini konon telah tinggal di Lombok selama tahun yang lalu dan diperkirakan telah menduduki daerah pesisir pantai sejak tahun yang lalu. Dengan demikian perdagangan antar pulau sudah aktif sejak zaman tersebut dan bersamaan dengan itu saling mempengaruhi antarbudaya juga telah menyebar. Dalam kitab Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahaan kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Prapanca, ada disebutkan sebuah frasa lombok mirah sasak adi. Kata lombok dalam bahasa Kawi berarti lurus atau jujur, kata mirah berarti permata, kata sasak berarti kenyataan, dan kata adi artinya yang baik atau yang utama. Arti keseluruhannya adalah kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama. Makna ilosoi itulah mungkin yang selalu diidamkan leluhur penghuni tanah Lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestariakan oleh anak cucunya. Dalam kitab-kitab lama, nama Lombok disebut dengan Lombok Mirah dan Lombok Adi. Beberapa lontar Lombok juga menyebut Lombok dengan Gumi Selaparang atau Selapawis. Asal usul nama lombok, sasak dan selaparang itu sendiri berhubungan dengan sebuah legenda yang beredar dalam masyarakat Sasak. Konon pada zaman dahulu, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan. Sang permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami adalah ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatera, dan ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik. Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja. Demikianlah, mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu mereka melabuh, tetapi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 171

190 juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut sak-sak, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada Wetu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang. Kerajaan Lombok itu kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang. Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di dalamnya baik konlik internal, yaitu peperangan antar kerajaan di Lombok maupun ekternal yaitu penguasaan oleh kerajaan dari luar pulau Lombok. Perkembangan era Hindu, Buddha, memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang Hindu, dan Bayan. Kerajaan-kerajaan tersebut dalam perjalannya di tundukan oleh penguasa dari kerajaan Majapahit saat ekspedisi Gajah Mada di abad XIII XIV dan penguasaan kerajaan Gel Gel dari Bali pada abad VI. Gumi Sasak silih berganti mengalami peralihan kekuasaan hingga ke era Islam yang melahirkan Kerajaan Islam Selaparang dan Kerajaan Islam Pejanggik. Ada beberapa versi pendapat tentang asal dan cara masuknya Islam ke Lombok sepanjang abad XVI Masehi. Yang pertama berasal dari Jawa dengan cara Islam masuk lewat Lombok timur. Yang kedua peng-islaman berasal dari Makassar dan Sumbawa. Ketika ajaran tersebut diterima oleh kaum bangsawan ajaran tersebut dengan cepat menyebar ke kerajaan kerajaan di Lombok Timur dan Lombok Tengah. 172 Peta Dakwah MUI NTB

191 C. Pengaruh Budaya Luar 1. Masuknya Agama Hindu-Buddha Ajaran Hindu-Bali dibawa langsung oleh pemeluknya, para imigran dari Pulau Bali sejak permualaan abad ke 17 Masehi. Hindu-Bali adalah sinkretisasi ajaran Hindu-Buddha, yang juga disebut Siwa-Buddha. Sebelum imigran dari Bali datang, pulau yang molek dan subur ini, dinamakan Gumi Selaparang dan dihuni oleh orang Sasak. Sampai abad ke 17, terdapat dua buah kerajaan Sasak, yaitu Kerajaan Pejanggik di Lombok Tengah sebagai kerajaan pedalaman, dan Kerajaan Selaparang sebagai kerajaan pesisir yang ibu kotanya di Kayangan, Labuhan Lombok di Lombok Timur. Memasuki abad ke 17 (1600an), secara bergelombang imigran dari Karang Asem- Bali datang ke Pulau Lombok untuk membuka lahan pertanian dan mendirikan pemukiman. Penduduk baru ini datang, selain karena kerajaanya diganggu oleh kerajaan kerajaan tetangganya di Bali, juga karena wilayah topograinya dengan kawasan tanah perbukitan kurang menguntungkan untuk pertanian. Pemukimanpemukiman itu dikenal dengan nama Sengkongok (di kaki Gunung Pengsong), Pagutan, Pagesangan, Mataram (Kota Mataram), dan Tanaq Embet (di Senggigi). 2. Masuknya Islam Sebelum mengungkap sejarah islamisasi di Lombok Tengah, nampaknya tidak bisa diabaikan, kapan Islam itu dan bagaimana proses Islamisasi di Pulau Lombok secara utuh. Menurut para sejarawan lokal, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri dari Gersik, adalah tokoh sentral yang datang mengislamkan penduduk Lombok. Peristiwa itu terjadi ketika Kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu RangkesariDalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman itu merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. Susuhunan Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama kali berlayar ke Lombok, di mana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 173

192 Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada paham pagan. Setelah kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, di mana ia memulai negosiasi (tanpa hasil) dengan Dewa Agung Klungkung. Sementara itu, di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang atas usul Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh dibandingkan posisi sebelumnya. Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang berupa bukitbukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat sampai hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah. Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari ini. ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara. Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara

193 lain Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaranajaran sui para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya. Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) dapat diketahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakat Sasak. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma dan Warsa. a. Danta artinya gading gajah, apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi. b. Danti artinya ludah, apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi. c. Kusuma artinya kembang, tidak mungkin kembang itu mekar dua kali. d. Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan. Berdasarkan empat sifat tersebut, seorang raja atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan. Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilahistilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur). Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil) atau genem (rajin). Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan Gelgel di Bali merasa tidak senang. Gelgel yang merasa sebagai pewaris Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan tetapi menemui kegagalan. Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada 1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan iniltrasi dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru dengan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 175

194 mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan paham baru berupa singkretisme Hindu-Islam. Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya telah dapat memengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan kelemahan di sana-sini. 3. Masuknya Kolonialisme Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai. Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel yang mulai bangkit tidak senang. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas Selaparang yang dianggap halaman belakang Gelgel. Sepeninggal Dalem Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom terjadi perubahan sikap. Terjadi polarisasi yang semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel, sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648, salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian barat pulau Sumbawa. Akhirnya, perang antara Gowa dengan Belanda tidak terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus menerima perjanjian Bungaya pada tahun Bungaya adalah sebuah wilayah yang terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya hubungan Gelgel-Belanda. Konon Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun , tetapi ekspedisi tersebut gagal. 176 Peta Dakwah MUI NTB

195 Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangganya, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad XV dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di kawasan Kota Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun Bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang sewetu-wetu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu, sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa. Di balik itu ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang dulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di Kecamatan Jonggat Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan menyerang Kerajaan Pejanggik. Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 177

196 Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. D. Sejarah Kabupaten Lombok Tengah Kabupaten Lombok Tengah terbentuk menjadi otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan daerahdaerah Tingkat II dalam wilayah Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Undang-undang tersebut disahkan pada tanggal 14 Agustus Namun demikian, sebelum terbentuk sebagai sebuah wilayah pemerintahan, entitas Lombok Tengah telah ada jauh sebelum itu. Beberapa momentum historis yang menandai keberadaan Lombok Tengah, antara lain adalah dengan dikeluarkan Stb Nomor 248 Tahun 1898, kemudian pasca proklamasi, Lombok Tengah secara integral menjadi bagian dari NKRI ditandai dengan pelantikan secara formal Kepala Pemerintahan Setempat Lombok Tengah yang pertama, pada tanggal15 Oktober Momentum ini menjadi leverage factor yang memicu tumbuhnya semangat integrasi, patriotisme dan nasionalisme di Kabupaten Lombok Tengah. Enam momentum yang diklasiikasi menjadi dua kategori masa kejadian perostiwa penting perjalanan Kabupaten Lombok Tengah, yakni pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus Momentum Peristiwa Sebelum Kemerdekaan, meliputi : a. Peristiwa 7 Agustus Pada saat inilah mulai dikobarkannya apa yang disebut dengan Congah Praya kemudian berlanjut pada 28 September 1898 menjadi Perang Lombok yang berakhir dengan runtuhnya dinasti Kerajaan Karang Asem di Lombok b. Peristiwa 18 Agustus Berlangsung pertemuan para tokoh masyarakat sasak untuk menentukan batas wilayah desa dan kampung, baik di onder afdeeling (di bawah divisi) Lombok Barat maupun di onder afdeeling Lombok Timur. Pada wetu itu, Lombok Tengah masih berada di onder afdeeling Lombok Timur c. Peristiwa 27 Agustus Onder afdeeling Lombok Timur dimekarkan menjadi onder afdeeling Lombok Timur dan 178 Peta Dakwah MUI NTB

197 onder afdeeling Lombok Tengah, sesuai statblad Nomor 248 Tahun 1898 kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Gubernur General Nomor 19 Tanggal 27 Agustus Sejak saat itulah dikenal istilah Lombok Tengah dengan batas-batas wilayah seperti sekarang. 2. Momentum Peristiwa setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, meliputi : a. Peristiwa 22 September Presiden RI, Ir. Soekarno, melantik I Gusti Ketut Pudja menjadi Gubernur Provinsi Sunda Kecil, dimana Lombok yang masih diduduki Jepang merupakan bagian dari wilayah Provinsi Sunda Kecil b. Peristiwa 15 Oktober Dilakukan over alih kekuasaan dari Jepang kepada Bangsa Indonesia di Gedung Mardi Bekso Mataram. Peristiwa ini menandai masuknya Lombok ke wilayah Hukum Pemerintahan Republik Indonesia. Sejak saat itu, Bendera Merah Putih mulai dikibarkan di Lombok, disusul dengan penetapan orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan, diantaranya R. Noene Noeraksa menjadi Kepala Daerah setempat Lombok Barat, Lalu Srinata menjadi Kepala Daerah Setempat-Lombok Tengah dan Mamiq Fadelah menjadi Kepala Daerah setempat-lombok Timur c. Peristiwa 17 Desember Hari jadi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan Undang-undang Nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT Tanggal 14 Agustus Keenam alternatif momentum tersebut, kemudian mengerucut menjadi dua. Satu alternatif momentum sebelum kemerdekaan, yakni peristiwa 27 Agustus Sedangkan alternatif momentum sesudah kemerdekaan, yang dipilih adalah peristiwa 15 Oktober Ketika memilih salah satu dari dua alternatif momentum ini ternyata tidak mudah. Buktinya, selama tiga hari dan tiga malam seminar berjalan, belum juga menghasilkan keputusan. Forum seminar kemudian membentuk tim perumus untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap kedua alternatif momentum tersebut. Setelah melalui perdebatan di antara tim perumus dipilih peristiwa 15 Oktober 1945 sebagai Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah. Dipilihnya momentum 15 Oktober 1945 sesuai dengan kriteria yang telah disepakati, Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 179

198 sebagaimana dinyatakan dalam Berita Acara Tim Perumus Seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah, yakni : a. Hari jadi yang ingin ditetapkan adalah Hari kesatuan masyarakat hukum b. Dasar penentuan alternatif momentum hendaknya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan memperhatikan hal-hal berikut : 1) Memperkokoh persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa kebersamaan serta mampu menggali nilai-nilai perjuangan sebagai spirit dalam menghadapi masa depan 2) Memiliki nilai legalitas dan landasan yuridis formal, serta didukung dengan kajian ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademis 3) Mendapat pengakuan secara luas dari masyarakat Selain telah memenuhi kretiria tersebut, dipilihnya tanggal 15 Oktober 1945 juga dilandasi oleh beberapa pertimbangan. Pertama, pengakuan Lalu Srinata selaku Kepala Pemerintahan Lombok Tengah oleh Gubernur Provinsi Sunda Kecil, Mr. I Gusti Ketut Pudja, telah melegitimasi keberadaan Pemerintahan Lombok Tengah secara hukum. Kedua, pada tanggal 15 Oktober 1945 Komite Nasional Daerah Lombok (semacam DPRD) mengadakan rapat umum di alunalun Mataram. Pada momentum itulah untuk pertama kali dikibarkan Bendera Merah Putih dan dibacanya Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 di Bumi Sasak Lombok. Peristiwa ini tentu amat membanggakan dan menjadi spirit bagi masyarakat Lombok untuk membangun daerahnya menjadi lebih maju kedepan. Periode Kepemimpinan Daerah (dari tahun 1945 sekarang) Dalam usia 67 tahun, perjalanan kabupaten Lombok Tengah, yakni zaman orde lama, zaman orde baru dan zama orde reformasi. Dalam tiga zaman pemerintahan tersebut, daerah bermotokan Tatas Tuhu Trasna ini telah dipimpin oleh 9 orang Kepala Daerah/Bupati Wakil Bupati. Figur bupati pada setiap zaman pemerintahan dipengaruhi oleh motivasi politik dan ketentuan Perundang-undangan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berlaku pada masing-masing zaman. Oleh karena itu, igur Bupati Wakil Bupati bisa dikatakan mewakili peradaban manusia pada beberapa peraturan Perundang-undangan 180 Peta Dakwah MUI NTB

199 tentang pemerintahan daerah, yakni : Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957, Penpres Nomor 6 Tahun 1959 dan Undang-undang Nomor 18 Tahun Berpijak pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan tersebut, sepertinya telah melegitimasi praktek kekuasaan rezim orde lama ketika memberlakukan apa yang dikenal dengan demokrasi terpimpin dalam sistem pemerintahannya. Kebijakan ini sangat dimungkinkan atas kondisi politik dan keamanan pada zaman itu. Pada saat itu, sistem rekruitmen kepala daerah dilakukan melalui proses pengangkatan oleh pejabat pemerintah pusat. Menariknya, igur para bupati yang diangkat adalah dari kalangan putra daerah, mulai dari kepala pemerintahan daerah setempat Lombok Tengah, dijabat oleh Lalu Srinata ( ). Mula-mula L. Wira Said (mendiang ayahanda Lalu Srinata), lebih dahulu memegang jabatan sebagai Kepala Distrik Jonggat. Berkat pendidikan yang dimiliki, Lalu Srinata kemudian diangkat oleh pihak kontelir (sebutan bagi penjajah) menjadi Kepala Distrik Jonggat pada , menggantikan kedudukan sang ayah. Ini menjadi awal perjalanan karir Lalu Srinata di dunia birokrasi pemerintahan. Pada awal masa kemerdekaan Negara RI, karier Lalu Srinata semakin meningkat, setelah diangkat mejadi Kepala Daerah Setempat Lombok Tengah pada 15 Oktober 1945 sampai Pada Wetu itu, wilayah administratif Pemerintahan daerah Lombok Tengah terdiri dari empat kedistrikan, yakni Distrik Praya, Kopang, Mantang dan distrik Jonggat. Setelah Lalu Srinata, Lombok Tengah kemudian dipimpin oleh Lalu Wirentanus alias Haji Hasyim atau biasa disapa Datu Tuan ( ). Pada masa ini dilakukan pembagian wilayah Lombok Tengah dengan Lombok Timur. Persatuan dan Kesatuan diantara semua elemen masyarakat merupakan salah satu titik berat atau fokus pemerintahan Lalu Wirentanus disamping masalah keamanan. Pemerintahan Lalu Wirentanus dialnjutkan oleh M. Sanusi ( ) selaku Kepala daerah Tingkat II Kabupaten lombok Tengah. Naiknya M. Sanusi sebagai Kepala daerah Tingkat II Kabupaten Lombok Tengah melalui pemilihan di DPRD yang ditetapkan oleh Menteri dalam Negeri. Selain meneruskan beberapa kebijakan pendahulunya, M. Sanusi juga melakukan berbagai upaya pembangunan agar masyarakat daerah ini lebih sejahtera. Salah satu yang sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat pada saat itu adalah air untuk pengairan maka Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 181

200 dibangunlah waduk yang ada di Desa Muncan, Kecamatan Kopang. Wilayah Administratif Lombok Tengah pada masa ini tetap empat Distrik, diantaranya, Distrik Praya, Kopang, Mantang dan Jonggat. Kepemimpinan M. Sanusi berakhir pada tahun 1964 dan dilanjutkan oleh salah satu putra terbaik Lombok Tengah, yaitu Drs. Lalu Sri Gede. Fokus pembangunan pada masa pemerintahan ini adalah memperluas infrastruktur jalan yang ada di kota praya dan beberapa wilayah lainnya. Maklum, pada saat itu infrastruktur jalan yang ada di kota praya sangat sempit. Pembangunan infrastruktur jalan diimbangi dengan pembangunan perkampungan yang salah satunya adalah Kampung kauman. Pemerintahan Drs Lalu Sri Gde berakhir pada tahun Setelah Drs H. Lalu Sri Gde berakhir pada tahun 1979, Pemerintahan dilanjutkan oleh Letkol. C. Parwoto WP untuk periode Untuk pertamakalinya, Lombok Tengah dipimpin oleh seorang TNI. Pada masa ini pemerintahan Parwoto WP inilah mulai ada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di Kabupaten Lombok Tengah. Bersamaan dengan itu, perencanaan pun dilakukan. Sistem Gogo Rancah yang sangat terkenal itu, mulai diterapkan pada masa pemerintahan ini. Melihat kondisi sebagai sebagian besar lahan di Lombok Tengah dalam keadaan kering, maka dibangunlah Waduk atau Bendungan Batujai. Tata ruang Kota Praya juga sudah mulai direncanakan. Selain itu, ide pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah mulai pada masa periode pemerintahan ini. Kepemimpinan Letkol C. Parwoto WP berakhir tahun 1989 yang dilanjutkan oleh Kol. (Purn) H. Ircham dari kalangan TNI juga. Kol. (Purn) Ircham memimpin Lombok Tengah untuk periode Disamping melanjutkan kegiatan pembangunan periode bupati sebelumnya, pada masa inilah lahan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang ada di Tanak Awu, Kecamatan Pujut dilakukan pembebasan. Sistem Gogo Rancah untuk mengimbangi tanah yang kering di wilayah selatan tetap diterapkan. Habis masa pemerintahan Kol. (Purn) H. Ircham dilanjutkan oleh Drs H. Lalu Suhaimi dari kalangan sipil yang diangkat melalui DPRD. Pada masa inilah pemekaran wilayah dilakukan sehingga menjadi 12 kecamatan seperti sekarang ini. Kecamatan yang baru hasil pemekaran pada masa Drs H Lalu Suhaimi, diantaranya, Kecamatan Praya Tengah, Kecamatan Praya Barat dan Kecamatan Praya Barat Daya. Selain 182 Peta Dakwah MUI NTB

201 pemekaran wilayah, Drs H. Lalu Suhaimi juga memindahkan terminal yang ada di Kota Praya ke Renteng, Kecamatan Praya. Hal ini seiring dengan pengembangan usaha perdagangan di kota praya. Drs H. Lalu Suhaimi menjadi Kepala Daerah Kabupaten Lombok Tengah sampai tahun Periode kepemimpinan Lombok Tengah selanjutnya di bawah pasangan H. Lalu Wiratmaja H. Lalu Suprayatno, SH. MBA. MM. Untuk pertama kalinya pasangan pimpinan Lombok Tengah ini dipilih secara langsung oleh seluruh rakyat Bumi Tatas Tuhu Trasna. Pada masa kepemimpinan H. Lalu Wiratmaja atau mamiq ngoh inilah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL). Kepemimpinan H. Lalu Wiratmaja hanya satu periode yaitu dari tahun Untuk periode , Gumi Tatas Tuhu Trasna dipimpin oleh pasangan H. Moh. Suhaili FT, SH. Drs H. Lalu Normal Suzana yang juga dipilih secara langsung. Pasangan yang etrkenal dengan Jargon Maiq Meres ini ingin mewujudkan tatanan masyarakat Lombok Tengah yang Bersatu : Beriman, Sejahtera dan Bermutu E. Motto Kabupaten Lombok Tengah Motto adalah sebuah motivasi yang diilhami oleh semangat optimisme dan tentu sah sah saja, apapun Bahasa dan ungkapannya. Motto Kabupaten Lombok Tengah yang terpampang dibawah Logo Kabupaten jelas dan terang tersusun rapai dengan suatu ungkupan TATAS TUHU TRESNA Motto ini secara hariah dapat diurai sebagai berikut: TATAS berarti wawasan yang luas, TUHU artinya tekun, dan TRESNA artinya senang. Dari arti hariah ini, secara ilosois dapat difahami bahwa siapa saja yang memiliki ilmu dan wawasan yang luas yang didasari dengan ketekunan yang berlandaskan iman dan taqwa akan mendapatkan kesenangan di dunia dan di akhirat kelak F. Karakteristik Penduduk 1. Mata Pencaharian Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, persentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah: Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 183

202 pertanian 72%, industri 7%, jasa 7%, perdagangan 7%, angkutan 3%, konstruksi 2% dan lainnya 2%. 2. Dinamika Penduduk Dinamika penduduk merupakan perubahan jumlah penduduk di suatu daerah dari waktu ke waktu. Di bawah ini dapat dilihat data dinamika penduduk di Lombok Tengah serta luas wilayahnya pada tahun 2013 dan jumlah penduduk antara lain sebagai berikut. Tabel 4.1 Data Dinamika Penduduk di Lombok Tengah Serta Luas Wilayah per Kecamatan pada Tahun 2013 No Kecamatan Luas (Km 2 ) Persentase (%) 1 Praya Barat 152,75 12,64 2 Praya Barat Daya 124,97 10,34 3 Pujut 233,55 19,33 4 Praya Timur 82,57 6,83 5 Janapria 69,05 5,71 6 Kopang 61,66 5,10 7 Praya 61,26 5,07 8 Praya Tengah 65,92 5,46 9 Jonggat 71,55 5,92 10 Pringgarata 52,78 4,37 11 Batukliang 50,37 4,17 12 Batukliang Utara 181,96 15,06 Total 1.208,39 100,00 3. Pertumbuhan dan Mobilitas Penduduk: Pemekaran wilayah merupakan dampak yang dapat disaksikan langsung sebagai akibat berlakunya Undang-Undang Otonomi, yang tidak saja terjadi pada level kecamatan, desa/kelurahan tapi bahkan sampai tingkat dusun/lingkungan. Walaupun tergolong lambat dibandingkan kabupaten lain, Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 2010 sekitar bulan September mengalami pemekaran desa sebanyak 15 desa sehingga jumlah desa pada tahun 2013 menjadi Peta Dakwah MUI NTB

203 Tabel 4.2 Sex Ratio Penduduk Dirinci Per Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 No. Kecamatan Laki Perempuan Sex Ratio 1 Praya Barat Prabarda Pujut Praya Timur Janapria Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pringgarata Batukliang Batukliang Utara Jumlah/ Total Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Tengah 4. Sistem Ekonomi Masyarakat Provinsi NTB terdiri dari 2 pulau utama yaitu Pulau Lombok yang berada dalam kawasan seluas 4, km 2 dengan panjang pulau dari barat ke timur sejauh 80 km. Sedangkan Pulau Sumbawa tiga kali lebih luas, yakni 15, km 2, sepanjang 300 km dari barat ke timur dan 100 km dari utara ke selatan. Dengan dua pulau besar itu, luas wilayah NTB adalah 20,153,15 km 2. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 185

204 Keadaan geograi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi demograi NTB. Pada kenyataannya jumlah penduduk di Pulau Lombok lebih besar dari jumlah Penduduk Pulau Sumbawa dengan perbandingan 3 : 1.Tingkat pertumbuhan penduduk kurang lebih 1,42 persen per tahun dari 4, 5 juta jiwa lebih penduduk NTB. Matapencaharian penduduk NTB sebagian besar pada sektor pertanian dalam arti luas, kemuadian sektor perdagangan dan jasa serta industri rumah tangga. Dengan lebih dari empat juta penduduk NTB tersebut dinamika kehidupan sosial masyarakat di provinsi ini amat dinamis. Warga NTB yang ramah dan terbuka, hidup berdampingan secara harmonis. Kendati masyarakat NTB terdiri dari tiga suku bangsa utama, mereka hidup dalam kerukunan dan keselarasan jalinan sosial kemasyarakatan. Dua dari tiga suku bangsa di NTB, adalah penduduk asli Pulau Sumbawa. Mereka disebut Tau Samawa atau orang Sumbawa, dan suku lainnya adalah Mbojo, yaitu masyarakat asli di Bima dan Dompu. Sedangkan penduduk asli Pulau Lombok adalah orang sasak. Meskipun hidup dalam adat dan kebiasaan berlainan, masyarakat NTB memiliki rasa persaudaraan dan solidaritas yang turun-temurun dan terpelihara. Bahkan NTB sejak lama juga ditinggali oleh lebih dari satu suku bangsa pendatang. Suku bangsa bali dan bugis yang telah bermigrasi ke NTB lebih dari dua abad silam. Tetapi keseimbangan pergaulan sosial masyarakat amat terasa dalam pergaulan sehari-hari di semua pemukiman penduduk dan di setiap jengkal tanah NTB. Meski warga NTB dihuni penganut agama berbeda-beda, namun warga hidup berdampingan penuh kerukunan dan toleransi. Lihatlah, bangunan rumah ibadah berdiri dengan megah. Ribuan masjid di Pulau Lombok dan Sumbawa, ratusan rumah ibadah umat hindu, puluhan gereja, dan beberapa sarana ibadah umat lainnya, dibangun dengan jarak sepenggalah. Suasana itu mencipta kedamaian jiwa dan kesetiakawanan yang tak lekang oleh zaman. 5. Perkembangan Ekonomi Secara sektoral, ekonomi NTB tahun 2009 dibanding dengan tahun 2008 mengalami perkembangan pada sektor pertambangan, industri, listrik dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel & restoran, lembaga keuangan, dan sektor jasa, sedangkan sektor pertanian dan pengangkutan tumbuh cukup. 186 Peta Dakwah MUI NTB

205 Laju pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2009 sebesar 9,07% (tanpa pertambangan non migas) atau sebesar 14,89% (termasuk pertambangan non migas). Dibandingkan tahun 2008 sebesar 6,69% (tanpa pertambangan non migas) atau 2,07% (dengan pertambangan non migas) berarti mengalami laju pertumbuhan cukup signiikan. BPS Provinsi NTB mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB pada semester I tahun 2010 mencapai 13,99%, berada di urutan kedua secara nasional setelah provinsi sulawesi barat. PDRB Provinsi NTB, pada triwulan II-2010 yang dihitung atas dasar harga (ADH) berlaku mencapai Rp. 12,11 triliun, sedangkan penghitungan ADH konstan mencapai Rp. 4,85 triliun. Jumlah penduduk miskin di NTB terus mengalami penurunan. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk miskin tahun 2010 sebanyak orang atau 21,55% mengalami penurunan pada bulan Maret 2011 sebanyak orang atau 1,82% sehingga total penduduk miskin sampai dengan bulan Maret 2011 sebanyak orang atau 19,67%. Angka itu turun menjadi 18,02 %.Untuk Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 2011 turun menjadi 18,14 % dari 19,92 % pada tahun Tabel 4.3 Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten /Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun ] Kabupaten/Kota Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Dompu Bima Sumbawa barat Lombok Utara Kota Mataram Kota Bima Tahun ,02 20,94 23,96 23,85 21,76 20,42 23,01-15,41 13,65 21,59 19,92 23,82 21,75 19,90 19,41 21,82 43,14 14,44 12,80 19,70 18,14 21,71 19,82 18,17 17,66 19,88 39,27 13,18 11,69 17,91 16,71 20,07 18,25 16,57 16,22 17,6 35,97 11,87 10,54 Nusa Tenggara Barat 21,98 21,59 19,67 18,02 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 187

206 G. Pendidikan Titik berat pembangunan tidak lagi hanya terbatas kepada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi semata, namun sudah mulai memperhatikan pembangunan kualitas manusia. Pembangunan kualitas sumber daya manusia dilaksanakan dengan menitikberatkan kepada peningkatan kemampuan dasar, salah satunya adalah peningkatan kemampuan dan keterampilan. Atas dasar itu, dan dengan merujuk pada amanat UUD 1945 beserta amandemennya (pasal 31 ayat 2), maka pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan kualitas SDM, yang salah satunya ditempuh melalui jalur pendidikan. Program wajib belajar 9 tahun, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA), dan yang terakhir adalah penyediaan porsi anggaran pendidikan sebesar 20 persen, pendidikan gratis, serta berbagai program pendukung lainnya adalah merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat peningkatan kualitas SDM dimaksud. Sejalan dengan itu, fasilitas pendidikan baik sarana maupun prasarana terus ditingkatkan ketersediaannya yang tidak saja dari segi kuantitas tapi juga kualitasnya. Dalam hal ini partisipasi masyarakat juga terlihat semakin meningkat. Kesemuanya diharapkan akan dapat menunjang percepatan peningkatan mutu pendidikan. Pada tahun 2013, semua level pendidikan terjadi peningkatan jumlah sekolah dan murid dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian juga dengan jumlah guru, sejak tahun 2008 hingga tahun 2013 jumlah guru di hampir semua jenjang pendidikan terus mengalami peningkatan. Begitu juga jumlah mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi yang yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk lebih konkretnya rasio angka tersebut berikut ini akan disajikan dalam bentuk table. Tabel 4.4 Bayaknya Sekolah, Murid dan Guru Raudatul Atfal (RA) Menurut di Kecamatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid Guru Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Peta Dakwah MUI NTB

207 Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah Tabel 4.5 Bayaknya Sekolah, Murid dan Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Menurut di Kecamatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid Guru Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 189

208 Tabel 4.6 Bayaknya Sekolah, Murid dan Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Menurut di Kecamatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid Guru Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah 190 Peta Dakwah MUI NTB

209 Tabel 4.7 Bayaknya Sekolah, Murid dan Guru Madrasah Aliyah (MA) Menurut di Kecamatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid Guru Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 191

210 Tabel 4.8 Jumlah Ruang Kelas Menurut Tingkat Pendidikan Madrasah dan Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Raudatul Atfal Madrasah Ibtidaiyah Madrasah Tsanawiyah Madrasah Aliyah Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah Peta Dakwah MUI NTB

211 Tabel 4.9 Jumlah Rombongan Belajar Menurut Tingkat Pendidikan Madrasah Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Raudatul Atfal Madrasah Ibtidaiyah Madrasah Tsanawiyah Madrasah Aliyah Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah/ Total Sumber: Departemen Agama Kabupaten Lombok Tengah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 193

212 Tabel 4.10 Banyaknya Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Dasar (SD) Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid PNS Guru Non PNS Total Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lombok Tengah 194 Peta Dakwah MUI NTB

213 Tabel 4.11 Banyaknya Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara PNS Guru Non PNS Jumlah Total Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lombok Tengah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 195

214 Tabel 4.12 Banyaknya Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Menengah Umum (SMU) Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid PNS Guru Non PNS Total Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lombok Tengah 196 Peta Dakwah MUI NTB

215 Tabel 4.13 Banyaknya Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Kecamatan Sekolah Murid PNS Guru Non PNS Total Praya Barat Praya Barat Daya Pujut Praya Timur Janapira Kopang Praya Praya Tengah Jonggat Pinggarata Batukiling Batukiling Utara Jumlah Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lombok Tengah Hampir tidak terdengar informasi tentang keberadaan perguruan tinggi di Kabupaten Lombok Tengah. Karena Praya sebagai ibukota Kabupaten Lombok Tengah tidak terlalu jauh dari Mataram Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (kira kira 30 Km ) sehinggga para calon mahasiswa tidak begitu tertarik dengan dengan kota Praya, di mana di kota ini pernah berdiri sebuah Universitas yaitu Universitas Jatisuara pada dua decade akhir akhir ini. Namun sekarang hanya tinggal jadi kenangan. Perkembangan selanjutnya, setelah Bandara Internasional Lombok (BIL ) dibuka, Kota Praya menjadi cukup ramai. Dengan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 197

216 demikian, perguruan Tinggi berupa, Universitas, Sekolah Tinggi dan lain lain bermunculan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.14 Jumlah Mahasiswa dan Dosen Dirinci Menurut Universitas/ Perguruan Tinggi di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Nama Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Lombok Universitas Muhamadiyah Mataram Kampus 2 Praya Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahim Qamarul Huda Bagu Pringgarata STIKES Qomarul Huda Bagu Pringgarata Akademi Kebidanan Kesatria Mahasiswa Dosen Laki Prp Laki Prp Jumlah/Total Sumber : Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lombok Tengah H. Agama dan Kepercayaan 1. Labuan Lombok Pusat Perdagangan Sejak abad ke 13 Masehi Labuan Lombok banyak dikunjungi para pedagang yang berasal dari Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi. Dengan demikian agama Islam mulai merasuki Lombok. Mula-mula kedatangan mereka untuk berdagang, kemudian banyak di antara mereka yang bertempat tinggal menetap bahkan mendirikan perkampungan-perkampungan. Sampai sekarang pun masih dapat kita lihat bekas-bekasnya seperti perkampungan Bugis di Labuan Lombok. Para pendatang dengan suku Sasak mengadakan hubungan. Dalam 198 Peta Dakwah MUI NTB

217 hubungan itu timbul rasa saling hormat menghormati dan harga menghargai. Dengan sadar atau tidak sadar terjadilah ambil mengambil dan pengaruh mempengaruhi dalam berbagai bidang seperti budaya dan agama. yang dianggap baik dan cocok diterima sedangkan yang tidak cocok ditinggalkan. Labuan Lombok sebagai pelabuan dagang disinggahi para pelaut dan saudagar muslim dari Jawa dan mulailah timbul bandar-bandar tempat para pedagang sehingga semakin ramai. Selanjutnya melalui saluran perdagangan tersebut terbawa pula kitab-kitab kesusateraan yang bernafaskan agama Islam seperti Roman Yusuf, Serat menak. Selain itu juga, Al Qur an terbawa oleh para pedagang untuk mengaji di tempatnya masing-masing. Ketika berkembang pesatnya perdagangan rempah-rempah, di Bali dan Lombok sudah berkembang perdagangan sarung yang diangkut oleh kapal-kapal dari Gresik.. Menurut Wisselius kemungkinan besar bahwa sejak abad ke-14, pedagang-pedagang muslim telah melakukan pelayaran dan perdagangan di sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa, Selat Madura Pesisir Timur pulau Lombok, pulau-pulau Sunda Kecil sampai ke Maluku. Dengan demikian penyebaran agama Islam di pulau Lombok melalui perdagangan, perkawinan, dan juga melalui seni sastra, ukir, pewayangan dan lain-lain. 2. Berkembangnya Agama Islam Pada awal mula masuknya agama Islam ke Pulau Lombok, penduduknya banyak yang menganut Animisme, tapi datangnya salah seorang kiyai dari Jawa yaitu Sunan Prapen maka beberapa tempat yang menjadi basisnya masih bisa ditemukan sampai sekarang. Dalam versi lain, penyebaran agama islam, mula-mula peranan para sui sangat menentukan disamping para pedagang yang berasal dari Gujarat, India. Para sui itu datang dari Pulau Jawa yang banyak membawa pengaruh dari Wali Songo. Kemudian menyusul dari ajaranajaran tarekat syaikh Yusu Makassar, dll. Dari sumber ajaran Syaikh Yusuf, ada yang diterima langsung pada saat beliau berada di Banten atau dari para pengikut pengikutnya di Nusantara. Sedangkan dari syaikh yang lain diterima langsung di Makkah pada saat para tuan guru dari Lombok, melaksanakan ibadah haji dan bermukim disana beberapa tahun untuk memperdalam ilmunya. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 199

218 Para Sui yang menyebarkan Islam yang berasal dari pengaruh Wali Songo meninggalkan kelompok masyarakat yang kemudian disebut Wektu Telu (Wetu Tiga) untuk membedakannya dengan yang lain, yang telah mengalami proses Islamisasi, yaitu Islam Wetu Lima. Ketika Raja Lombok Prabu Mumbul meninggal dunia, ia digantikan oleh Prabu Rangkesari. Di masa pemerintahan Rangkesari ini, putera Sunan Ratu Giri yang bernama Pangeran Prapen datang ke Kerajaan Lombok untuk melakukan Islamisasi. Berdasarkan Babad Lombok, Islamisasi ini merupakan upaya Raden Paku (Sunan Ratu Giri) dari Gresik untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. Pangeran Prapen melakukan Islamisasi di Lombok dengan kekuatan senjata. Setelah orang-orang Lombok masuk Islam, ia kemudian meneruskan upaya Islamisasi ke Bima dan Sumbawa. Sepeninggal Pangeran Prapen, masyarakat Lombok kembali ke agama asal, paganisme. Hal ini disebabkan kaum perempuan Lombok banyak yang belum memeluk Islam, sehingga berhasil mempengaruhi keluarganya agar kembali ke agama asal. Setelah berhasil mendapatkan kemenangan di Sumbawa dan Bima, Pangeran Prapen kembali ke Lombok. Dengan bantuan Raden Sumuliya dan Raden Salut, Pangeran Prapen kemudian menyusun gerakan dakwah baru untuk mengislamkan Lombok dan berhasil mencapai kesuksesan. Seluruh pulau Lombok berhasil diislamkan, kecuali di beberapa tempat. Masyarakat yang menolak masuk Islam kemudian menyingkir ke gunung-gunung, atau menjadi orang taklukan Agama Islam masuk di Bumi Selaparang tidak lama setelah runtuhnya kerajaan Majapahit karena pada Wetu itu sudah ada pedagang-pedagang muslim yang bermukim dan berniaga di Lombok kemudian mereka menyebarkan agamanya. Bukti yang paling eksplisit menjelaskan kedatangan Islam di Lombok adalah Babat Lombok yang menjelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia Bagian Utara yaitu a. Lemboe Mangkurat dengan pasukannya dikirim ke Banjar b. Datu Bandan dikirim ke Makasar, Tidore, Seram, Selayar c. Anak Laki-Laki Raja Pangeran Perapen berlayar ke Bali, Lombok, dan Sumbawa 200 Peta Dakwah MUI NTB

219 Menurut Faille, setelah turun dari kapal, pasukan pangeran Prapen mendarat, Raja Lombok dengan sukarela memeluk Agama Islam tetapi rakyatnya tetap menolak sehingga terjadi peperangan yang dimenangkan oleh pihak Islam. Pendapat lain menyebutkan bahwa Raja Lombok awal mulanya menolak kedatangan Islam, namun setelah Pangeran Prapen menjelaskan maksudnya yaitu untuk menyampaikan misi suci dengan cara damai maka beliaupun diterima dengan baik, tetapi karena hasutan rakyatnya kemudian Raja Lombok ingkar janji dan mempersiapkan pasukan sehingga terjadilah peperangan. Dalam peperangan itu, Raja Lombok terdesak dan melarikan diri tetapi malang bagi raja yang dikejar oleh Jayalengkara lalu beliau dibawa menghadap ke Pangeran Perapen. Beliau kemudian diampuni dan mengucapkan dua kalimah syahadat serta dikhitan. Masjidpun segera dibangun sedangkan Pura, Meru, Babi, dan Sanggah dimusnahkan. Seluruh rakyat diislamkan dan dikhitan kecuali kaum wanita penghitanannya ditunda atas permintaan Syahbandar Lombok. Setelah berhasil mengislamkan Raja Lombok, Sunan Perapen dengan pasukannya mengislamkan kedatuan-kedatuan lainnya seperti Pejanggik, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara). Hal ini memiliki bukti-bukti adanya tinggalan arkeologi seperti mesjid-mesjid tua, makam-makam kuno dan sebagainya. Dalam mengislamkan kedatuan-kedatuan lainnya, sebagiannya masuk Islam dengan sukarela sebagian lagi masuk Islam dengan cara kekerasan seperti di Parigi dan Sarwadadi. Setelah itu beberapa tahun kemudian seluruh Lombok memeluk agama Islam, kecuali Pajarakan dan Pengantap. 3. Sunan Prapen Kembali ke Lombok Sesuai dengan misi yang diemban dari Ratu Sunan Giri, maka setelah mengislamkan kerajaan-kerajaan lainnya di pulau Lombok, maka Sunan Prapen melanjutkan penyebaran Islam ke Sumbawa, Dompu dan Bima. Sepeninggal Sunan Perapen, keadaan agama Islam di Lombok sangat menyedihkan karena kaum wanitanya menolak memeluk agama yang baru itu. Hal ini sangatlah beralasan karena masih kuatnya pengaruh agama sebelumnya dan juga adanya pengaruh dari Karang Asem di Bali sebagai kerajaan yang kuat dan tangguh. Timbulnya permasalahan ini kemudian Sunan Prapen kembali lagi dan mendarat di Lombok melalui Sugian untuk menyerang penduduk Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 201

220 yang masih kair. Menurut Van der Kraan, dalam penyerangan ini penduduk Lombok terpecah menjadi 3 (tiga) bagian yaitu ; a. Kelompok yang melarikan diri dan mengungsi ke gununggunung masuk hutan dikenal dengan Orang Boda, b. Kelompok yang takluk dan masuk Islam dikenal sebagai Wetu Lima, c. Kelompok yang hanya takluk di bawah kekuasaan Sunan Perapen dikenal sebagai Penganut Wetu Telu. Rencana Sunan Perapen untuk mengislamkan Pulau Bali terpaksa ditunda karena mendapat perlawanan dari Dewa Agung Gelgel yaitu Dewa Agung Batu Renggong yang pada pertengahan abad ke-16 berusaha membendung penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh orang-orang Jawa dari arah barat maupun orang-orang Makasar dari arah Timur. Oleh sebab itu, pengaruh Kerajaan Gelgel di bagian barat Pulau Lombok yang besar sehingga Sunan Prapen mendarat di pantai timur (Labuan Lombok). 4. Penyebaran Islam di Bayan Sekitar abad ke-16, penyebaran agama Islam juga masuk melalui pantai utara Bayan dan dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang syekh dari Arab Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar suinya Gaoz Abdul Razak. Makamnya terletak di Kuranji di sebuah desa pantai barat daya Lombok. Gaoz Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan. Ia pun menetap dan berdakwah di sana mengawini Denda Bulan yang melahirkan seorang anak bernama Zulkarnaen. Keturunan inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja Selaparang. Kemudian Gaoz Abdul Razak mengawini lagi Denda Islamiyah yang melahirkan Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Dewi Anjani. Berita lain menyebutkan, Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga datang ke Lombok pada tahun 1640 untuk menyiarkanagama Islam (sui). Ia kawin dengan putri dari kerajaan Parwa sehinggga meninmbulkan kekecewaan raja Goa. Selanjutnya, raja Goa menduduki Lombok pada tahun Sunan Pengging terkenal dengan nama Pangeran Mangkubumi lari ke Bayan. Salah satu bukti yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang awal penyebaran agama Islam adalah Mesjid Kuno Bayan Beleq. 202 Peta Dakwah MUI NTB

221 5. Penyebaran Islam di Pujut Tokoh legendaris penyebar Agama Islam adalah Wali Nyatok. Dalam tradisi lisan Wali Nyatok dikenal sebagai penyebar Agama Islam di Lombok Bagian Selatan dan sekitarnya. Nama lain Wali Nyatok adalah Sayid Ali atau Sayid Abdurrahman. Sayang sekali pada batu nisannya tidak ada inskripsi yang menyebut nama tokoh meskipun dari segi tipologi tergolong tua. Mesjid di Rembitan sering dikaitkan dengan tokoh Wali Nyatok. Salah satu bukti yang paling konkrit adalah Masjid kuno Rembitan. Bangunan ini merupakan prototipe mesjid-mesjid tua. Secara kronologis diperkirakan sekitar abad ke 16. Salah satu penyebar Islam di Lombok Selatan adalah Pangeran sangupati. Pangeran Sangupati adalah putra Selaparang yang dianggap Waliyullah, ia mengarang kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tasawuf dan Fiqh. Pendapat lain menyebutkan bahwa Pangeran Sangupati berasal dari Jawa yang sengaja berkelana untuk menyebarkan Agama Islam dan memiliki nama asli di Jawa yaitu Aji Datu Semu, sedangkan, di Sumbawa dikenal dengan nama Tuan Semeru.Pendapat lain menyebutkan Pangeran Sangupati adalah tokoh agama Hindu yang menyebarkan agama Hindu di kalangan ummat Islam karena Islam yang dianut oleh para penduduk masih sangat lemah, maka beliau menyebarkan agama Islam Wetu Telu suatu bentuk peralihan dari agama Boda tua ke agama Wetu Lima dan dia dikenal dengan nama Pedanda Wau Rauh. Selain tokoh-tokoh tersebut ada juga yang disebutsebut sebagai penyebar Agama Islam di Lombok yaitu Al-Fadal. Tabel 4.15 Data Umat Beragama Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2014 No Kecamatan Islam Kristen Katholik Hindu Budha Konghucu Jumlah 1 Praya Praya Barat Praya Timur Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 203

222 No Kecamatan Islam Kristen Katholik Hindu Budha Konghucu Jumlah 4 Kopang Jonggat Pringgarata Batu Keliang Janapria Pujut Praya Tengah Praya Barat Daya Batu Keliang Utara Jumlah Sumber: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok tengah No Kecamatan Tabel 4.16 Data Tempat Ibadah Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2014 Raya Agung Besar Masjid Jami Kampung Musalla Jumlah Masjid Gereja Kristen Katolik Pura Wihara Kelenteng Ket. 1. Praya Praya Barat Praya Timur Kopang Jonggat Peta Dakwah MUI NTB

223 No Kecamatan Masjid Raya Agung Besar Jami Kampung Musalla Jumlah Masjid Gereja Kristen Katolik Pura Wihara Kelenteng Ket. 6. Pringgarata Batu Keliang Janapria Pujut Praya Tengah Praya Barat 11. Daya Batu Keliang 12. Utara JUMLAH Sumber: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok tengah I. Organisasi Sosial dan Keagamaan 1. Organisasi Sosial Kemasyarakatan a. Partai Politik Berdasarkan Data dan Infograik PEMILU Tahun 2014, jumlah partai politik di Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 12 partai politik yang terdiri dari 9 (sembilan) partai berbasis nasionalisme dan 3 (tiga) partai berbasis keagamaan. Tabel 4.17 Data Nama dan Fungsionaris Partai Politik di Kabupaten Lombok Tengah pada Pemilu Legislatif tahun 2014 No Nama Partai Fungsionaris 1 Nasdem 2 Partai Kebangkitan Bangsa 3 Partai Keadilan Sejahtra Ketua: Lalu Martadinata, S.Sos Sekretaris:Muhsin,B.A, SP.d Ketua: Burhanuddin Yusuf Sekretaris: Lalu Pelita Putra Ketua:Lalu Abdul Kadir,SP.d Sekretaris: Basnim,S.Pt Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 205

224 No Nama Partai Fungsionaris 4 PDIP Ketua: Suhaimi,SH Sekretaris: Lalu Mashudi, SH 5 Golkar Ketua: H.M.Suhaili, FT,SH Sekretaris: H.Lalu Kelan,SP.d 6 Gerindra Ketua: H.Muhdan Rum, Sekretaris: Ijim Pratama,SIP 7 Demokrat Ketua: Ahmad Ziadi Sekretaris: Hilmi, SP.dI 8 PAN Ketua: Lalu Teguh Juangsa Putra Sekretaris: Marsekan Fatawi 9 PPP Ketua: Idham Chalid, SIP Sekretaris: H.Mayuki, SA.g 10 Hanura Ketua: H. Burhanuddin, S,Sos Sekretaris: Muslihin, SH 11 PBB Ketua: Lalu Arif Rahman Hakim, SE Sekretaris: Muhammad Mahrif 12 PKPI Ketua: Lalu Rare Kusuma Sekretaris: Minangker Efendi Sumber: Hasil Wawancara dengan Ketua KPU Provinsi NTB 19 Januari 2017 di Kantor KPU NTB Mataram b. Organisasi Pemuda 2. Organisasi Sosial Keagamaan Organisasi sosial keagamaan di Kabupaten Lombok Tengah sudah dapat dipastikan telah mendapatkan dukungan yang jelas baik secara de facto maupun de jure oleh masyarakat Lombok Tengah. Sesuai dengan data yang diperoleh dari Bimas Islam Kementrian Agama Kabupaten Lombok Tengah organisasi sosial keagamaan dimaksud adalah; Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Muslimat Nahdlatul Wathan dan Pemuda Nahdlatul WathanVersi Pancor, serta organisasi A isyah dari Muhammadiyah, Pemuda NU dan Muhammadiyah. Begitu pula ada Ormas Keagamaan dari Hindu Dharma dan Kristen. Untuk lebih jelasnya perhatikan table di bawah ini: 206 Peta Dakwah MUI NTB

225 Tabel 4.18 Data Ormas Keagamaan Di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2014 No Kecamatan Pimpinan Alamat Nahdlatul Wathan (Anjani) Nahdlatul Wathan (Pancor) 3. Nahdlatul Ulama TGH. Munirul Ariin Lc.,MA. Drs. H. L. Suhaimi Drs. H. M. Jamiluddin, MM. Ponpes Yanmu Rabitah Praya Depan Masjid Agung Praya Praya 4. Muhammadiyah Drs. H. L. Elyas Munir Praya Muslimat Nahdlatul Wathan/Anjani Muslimat Nahdlatul Wathan/Pancor Muslimat Nahdlatul Ulama Dra. Hj. Mu minah Dra. Hj. Khaeriyah Hj.Bq. Sumiati 8. Aisyiyah Hj. Bq. Ainun Syahrun Pemuda Nahdlatul Wathan (PA) Patayat Nahdlatul Ulama Pemuda Muhammadiyah Ponpes YANMU Praya Jl. Agus Salim Loteng Ponpes Manhalul Ulum Praya Jl. M. Yamin No.7 Praya M. Palah, S.Pd. Ketejer, Praya Bq. Nasibah Drs. H. Nasri Anggara, MA. Jl. H. Agus Salim No. 11 Praya Praya 12. PHD/Hindu I.Gusti Ketut Alit Jl. Gajah Mada Praya 13. PGI/Kristen FX Johanes Kore Shobirin Sumber: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok tengah J. Identiikasi Persoalan Keagamaan di NTB 1. Konlik Sosial Mengidentiikasi persoalan persoalan keagamaan di Lombok, nampaknya, harus dipelajari juga dari peristiwa konlik-konlik sosial yang bernuansa sara dengan segala akibatnya, seperti yang pernah terjadi di Poso, Ambon, Lampung, dan lain lain. Kehidupan beragama di masyarakat di Indonesia secara umum ditandai dengan adanya integrasi ke arah kerukunan hidup beragama, juga ditandai dengan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 207

226 konlik tertentu dalam hubungan intren umat beragama dan hubungan antar umat beragama. Pada tatanan konlik intern umat beragama dari dulu sampai sekarang masih saja terjadi. Kadang kadang tidak disadari, manakala sejumlah besar orang mengalami perubahan sikap dan prilaku secara bersama, kemungkinan besar penyebabnya adalah perubahan pengaruh sosial dan budaya terhadap prilaku. Pernyataan demikian agaknya berlaku bagi masyarakat pada umumnya dan tidak terkecuali masyarakat di Lombok Tengah. Pada bulan Maret 1997 di Praya Lombok Tengah, dan konlik yang terjadi di kota Mataram pada bulan Januari tahun 2000., dan kasus kerusuhan yang menimpa Ahmadiyah 2002 di Lombok Timur.. Belajar dari konlik ini diperlukan kajian teoritis secara serius dan konperehensif untuk mendapatkan penyebab dan sekaligus solusinya. Identik dengan persoalan di atas, kita hidup di Indonesia sebagai masyarakat majemuk (plural society) yang terdiri dari beragam masyarakat dan kebudayaan nasional. Masyarakat majemuk, menurut Clifford Geertz (Nasikun, 1984), merupakan masyarakat yang terbagi dalam subsistem yang kurang lebih berdiri sendiri di mana masing masing subsistem itu terkait oleh ikatan ikatan primordial. Struktur masyarakat majemuk itu ditandai oleh dua ciri : a. Secara horizontal ditandai dengan adanya kesatuan kesatuan sosial berdasarkan perbedaan perbedaan suku bangsa, adat dan kedaerahan b. Secara vertikal ditandai dengan adanya perbedaan perbedaan pelapisan sosial. Dalam realitas sosial, masyarakat dalam perbedaan tersebut sering terkait sehingga satu sama lain saling mempengaruhi hubungan sosial masyarakat. Hal ini dapat dilihat antara lain pada hubungan antar pemeluk agama dalam masyarakat termasuk dalam bentuk integrasi dan konlik. Untuk itu, yang sampai saat ini dipandang sebagai salah satu masalah nasional, yaitu masalah konlik dan integrasi dalam hubungan intren umat beragama maupun antar pemeluk agama yang berbeda. Karena dipandang sebagai masalah nasional, maka program prioritas MUI adalah program kerukunan antar umat beragama khususnya dalam bidang keagamaan. Dalam hal kerukunan hidup antar pemeluk agama, akhir-akhir ini terdapat perkembangan yang cukup menarik, sekaligus menunjukkan kecenderungan yang terkesan kontradiktif. Di satu pihak upaya upaya ke arah kerukunan melalui dialog antar tokoh 208 Peta Dakwah MUI NTB

227 agama semakin meningkat, tetapi dalam waktu yang sama potensi konlik dalam hubungan antar pemeluk agama seperti isu islamisasi dan kristenisasi masih sering muncul ke permukaan. Hal itu menunjukkan proses integrasi dan konlik masih merupakan permasalahan dalam hubungan antar pemeluk agama di satu sisi dan perkembangan umat beragama itu sendiri dalam intraksi sosial di sisi lain. Interaksi sosial dalam kehidupan itu melahirkan suatu akibat yang fatal anatara lain : munculnya aliran sesat, gerakan teroris, penyalahgunaan narkoba, perkawinan beda agama, dan lain lain. Berangkat dari persoalan tersebut perlu ditingkatkan peran MUI secara lembaga dengan program kerja yang menyentuh persoalan integitas dan konlik itu dan ditingkatkan peran tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, para da i, sebagai mediator, teladan dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama. Selain itu pemerintah perlu mengevaluasi peraturan peraturan dalam bentuk regulasi, khususnya yang mengatur kerukunan antar pemeluk agama dan penangkalan persolan moral keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam konteks itu semua, diperlukan studi yang mendalam dan konperehensif untuk : a. Mengungkap bagaimana proses terjadinya konlik dan integrasi serta kaitan keduanya dalam hubungannya dengan pemeluk agama di masyarakat di NTB b. Faktor faktor apa yang mempengaruhi terjadinya integrasi dan konlik dalam hubungan antar pemeluk agama dan intren pemeluk agama di masyarakat NTB c. Bagaimana struktur sosial dan sistem sosial kemasyarakatan di mana proses integrasi dan konlik dalam hubungan agama antar pemeluk agama terjadi d. Bagaimana tingkat sosial ekonomi masayarakat beragama di mana pross konlik dan integrasi itu terjadi. e. Bagaimana hubungan sosial antar kelompok yang bertikai pasca konlik. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 209

228 Tabel 4.19 Jumlah Kejahatan Transnasional di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2013 Jenis Kejahatan Transnasional Narkoba KDRT Tahun Total Sumber: Kesabangpol dan Pol PP Kabupaten Lombok Tengah 2. Kegiatan Keagamaan Kegiatan keagamaan pada umumnya memiliki dua aspek, yaitu aspek ritual (peribadatan) dan aspek seremonial (upacara dalam kontek budaya). Kabupaten Lombok Tengah sebagai daerah yang berpenduduk mayoritas muslim, ditemukan berbagai kegiatan keagamaan Islam yang dilakukan rutin setiap tahunnya dalam dua aspek tersebut di atas. Adapun kegiatan-keagamaan keagamaan tersebut diuraikan di bawah ini. a. Tahun Baru Islam Secara historis,merupakan upacara peringatan tahun baru islam atau tahun baru hijriyah yang diperingati pada tanggal 1 Muharram. dengan beberapa acara budaya Islam yang menarik, seperti ceramah, pawai dan lain lain b. Maulid Nabi Merupakan peristiwa budaya berupa peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW yang diperingati pada tanggal 12 Rabi ul Awal. Hari peringatan maulid nabi pertama kali dilakukan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Dalam peringatannya beliau menceritakan tentang sejarah kelahiran hingga perjuangan Nabi untuk umatnya yang patut dijadikan contoh atau sebagai suri tauladan yang baik untuk umatnya. Hukum memperingati maulid nabi adalah bid ah hasanah, karena bagian dari aspek budaya tentu tujuan untuk meneladani sirah (perjalanan hidup Rasulullah SAW yang terpuji) dalam berbagai sisi kehidupan Peta Dakwah MUI NTB

229 c. Isra Mi raj Isra mi raj adalah sebutan untuk sebuah peristiwa tentang perjalanan nabi Muhammad dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho sampai ke Sidratul Muntaha untuk menerima tugas atau kewajiban shalat lima waktu yang sebelumnya adalah 50 waktu yang wajib dilaksanakan dalam sehari semalam. Isra Mi raj diperingati pada tanggal 27 Rajab. d. Nuzulul Qur an Nuzulul Qur an adalah upacara peringatan turunnya Al-Qur an yang berupa irman-irman Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril yang kemudian dihimpun menjadi kitab suci Al-Qur an. Nuzulul Qur an diperingati pada tanggal 17 Ramadhan. e. Lailatul Qodar Lailatul Qodar adalah malam yang dinantikan oleh setiap muslim yang beriman, malam terpenting yang terjadi hanya pada bulan Ramadhan dan tidak ada yang mengetahuinya kapan malam lailatul qodar ini tiba. Malam ini merupakan malam ganjil pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dan merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan serta banyak sekali keistimewaannya. f. Hari Raya Idul Adlha Merupakan hari raya qurban yang diperingati pada tanggal 10 Dzulhijjah yang biasa kita menyebutnya dengan lebaran haji. Pada hari inilah orang-orang Islam melakukan ibadah haji di Makkah dan seluruh dunia umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha. Setelah itu melakukan penyembelihan Qurban yang merupakan hewan ternak seperti onta, sapi, kambing, kerbau. Daging yang telah disembelih kemudian dibagikan sesuai dengan ketentuannya. Daging qurban dimaksud adalah untuk meningkatkan gizi masayarakat. 3. Kearifan Lokal Sebenarnya, hampir semua -kalau tidak bisa dikatakan seluruhmasyarakat memiliki kebijakan lokal (local wisdom) sendiri-sendiri yang bersumber dari kebudayaan masing-masing. Institusi kearifan lokal adalah pengakuan atas perbedaan dalam kesetaraan dengan cara membangun kerjasama yang positif. Institusi kerjasama ini, khususnya antar desa maupun antar agama. Institusi ini terkadang tidak berfungsi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 211

230 yang disebabkan berbagai faktor, seperti adanya intervensi pemerintah yang mengacaukan fungsinya, transmigrasi dan proses akulturasi budaya disamping pengaruh modernitas juga disinyalir menimbulkan ketidaksinabungan funsi institusi kearifan lokal. Dalam kontek penyelesaian konlik sosial di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, institusi kearifan lokal bisa menjadi alternatif yang efektif setelah berbagai upaya formalistik dari pemerintah gagal atau berhasil secara semu. Meskipun pemerintah kerap menginisiasi langkah perdamaian dalam suatu konlik sosial, namun, perdamaian itu pun diragukan dapat menyelesaikan konlik. Karena, setelah terjadi perdamaian, konlik masih kembali meletus. Dalam konteks inilah, secara alami kearifan lokal pun muncul dan efektif untuk mengatasi konik. Efektiitas itu didukung oleh masih adanya saling ketergantungan di antara sesama anggota masyarakat. Mereka yang terlibat konlik tetap saling membutuhkan. Meraka berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara saling membeli atau barter. Kebijakan lokal semacam itu telah mengkondisikan mereka bisa hidup rukun kembali atau, paling tidak, dapat memperkecil kemungkinan terjadi konlik. Ini berarti masyarakat telah melakukan institutionaldevelopment, yaitu memperbaharui institusi-institusi lama yang pernah berfungsi baik. Dengan kata lain, masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah telah melakukan rekacipta kearifan lokal yang baru, yang tepat-guna untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi dan politik masa kini di daerahnya. Salah satu bentuk kearifan lokal adalah awig-awig atau peraturan lokal yang dibuat oleh dan mengikat masyarakat. Tetapi, ada kalanya institusi itu terasa melemah, terutama karena masyarakat sebagai pengawas pelanggaran awig-awig mulai kurang kepeduliannya terhadap masyarakat lingkungannya dan enggan melapor. Masyarakat cenderung ingin hidup individualis. Padahal awig-awig sebenarnya bukan merupakan suatu institusi yang mati, melainkan merupakan institusi yang hidup. Awig-awig dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman atas dasar norma desa kala patra. Sebenarnya masyarakat juga bisa melakukan antisipasi atas semakin melemahnya awig-awig tersebut, antara lain, dengan membentuk pranata-pranata baru. Sebagaimana terjadi pada masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah dengan kearifan lokal yang mereka miliki, kebijakan lokal awig-awig mandeg akibat intervensi pemerintah pusat yang sedemikian intensif selama pemerintahan Orde Baru (UU No. 5 Tahun 1979), sehingga 212 Peta Dakwah MUI NTB

231 kearifan budaya lokal itu menjadi semakin kurang fungsional dan konlik antar desa pun kerap terjadi. Pergeseran norma-norma yang terkandung dalam kearifan budaya lokal ini sangat mungkin juga terjadi, tidak terkecuali di Kabupaten Lombok Tengah karena pelanggengan norma-norma dalam budaya lokal hanya atas dasar ingatan dan tradisi-tradisi yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pendukungnya. Adanya pergeseran norma kebudayaan lokal dapat pula menimbulkan upaya penolakan dari generasi tertentu. Sementara itu di Kabupaten Lombok Tengah, dengan tidak fungsionalnya kearifan lokal, timbul pula upaya rekacipta kearifan lokal baru (institutional development). Masyarakat tidak perlu lagi bermimpi membangun kearifan lokal seperti bentuk asli -nya, sebagaimana dipersepsikan selama ini. Yang penting adalah suatu rekacipta kearifan lokal baru, yang tepat guna untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi dan budaya serta politik masa kini di Kabupaten Lombok Tengah. Berdasarkan paparan di atas, ada sejumlah hal yang patut dicatat: (1) hampir setiap kalau tidak dapat dikatakan semua suku di Indonesia memiliki acuan norma-norma dari budaya lokal masing dalam berinteraksi baik secara individu maupun kelompok dari sesama suku atau dengan suku lain dalam kehidupan sosial-keagamaan, baik intern (sesama penganut agama yang sama) maupun ekstern (antar penganut agama yang berbeda); (2) kearifan lokal masing-masing suku ada yang masih fungsional, ada pula yang sudah tidak fungsional karena perkembangan zaman, adanya pergeseren nilai-nilai yang dipegangi oleh masyarakat, intervensi pemerintah, atau penolakan dari sebagian anggota masyarakat; (3) tetap fungsionalnya kearifan lokal tentu tidak terlepas dari proses sosialisasi yang dilakukan oleh generasi tua kepada generasi penerusnya; (4) kearifan lokal itu ada yang fungsional di wilayah budaya aslinya, namun ketika dibawa keluar wilayah aslinya menjadi tidak fungsional. Sebaliknya, ada norma-norma yang bersumber dari kearifan lokal suku tertentu, namun tetap fungsional di mana pun berada, bahkan menjadi acuan bagi suku-suku lain; (5) ada kemungkinan munculnya kearifan lokal baru sebagai rekacipta (institutionaldevelopment) dari kearifan lokal yang sudah tidak fungsional lagi, walaupun kearifan lokal yang baru tidak sama dengan bentuk asli dari kearifan lokal yang lama. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 213

232 Di Provinsi Nusa Tenggara Barat sendiri khususnya di Kabupaten Lombok Tengah terkait dengan kearifan lokal masyarakatnya, kita banyak menjumpai kearifan lokal dalam mengatur sistem sosial kemasyarakatan seperti persubakan, pengaturan desa dengan berbagai lembaga adat, keamanan, ekonomi, dan begitu pula kearifan lokal yang berkaitan dengan pencegahan terhadap konlik. Pada masyarakat Sasak, kearifan lokal merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan agama dan adat budaya. Karenanya denyut nadi kehidupan masyarakat sasak memerlukan cara-cara yang arif lagi bijaksana. Barangkali hal inilah yang perlu digali lebih luas dan mendalam, tentang pemahaman akan kearifan lokal terpadu yang dimiliki oleh masyarakat Sasak dalam memandang suatu konlik. Memang, hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam tentang bagaimana kearifan lokal terpadu masyarakat sasak menyikapi bagaimana nilai-nilai kearifan lokal disosialisasikan dari generasi ke generasi; nilai-nilai kearifan lokal manakah yang masih berlaku atau fungsional; dan bagaimana nilai kearifan yang masih fungsional itu dipedomani oleh masyarakat sebagai landasan berinteraksi, baik secara individual maupun kelompok, terutama dalam lingkup kehidupan beragama, baik secara intern maupun ekstern. Pemikiran ini setidaknya merupakan sumber bagi system penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak berharga dan sesuatu yang dapat menyelamatkan atau mencelakakan. Semua ini dapat terjadi karena kearifan lokal itu diselimuti oleh nilai-nilai moral yang bersumber pada agama, pandangan hidup dan pada etos atau system etika yang dimiliki oleh setiap manusia. Karenanya tema tersebut menjadi menarik untuk dikaji. 214 Peta Dakwah MUI NTB

233 bab 5 KabuPatEn LOmbOK timur A. Sejarah Lombok Timur Pada masa penjajahan Belanda Pulau Lombok dan Bali dijadikan satu wilayah kekuasaan pemerintahan dengan status Karesidenan dengan ibukota Singaraja berdasarkan Staabtlad Nomor 123 Tahun 1882 kemudian berdasarkan Staatblad Nomor 181 tahun 1895 tanggal 31 Agustus 1895 Pulau Lombok ditetapkan sebagai daerah yang diperintah langsung oleh Hindia Belanda. Staatblad ini kemudian disempurnakan dengan Staatblad Nomor 185 Tahun 1895 dimana Lombok diberikan status Afdeeling dengan ibukota Ampenan. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 215

234 Dalam afdeeling ini Lombok dibagi menjadi dua Onder Afdeeling yaitu Onder Afdeeling Lombok Timur dengan ibukota Sisi (Labuhan Haji) dan Onder Afdeeling Lombok Barat dengan ibukota Mataram, masing-masing Onder Afdeeling diperintah oleh seorang Contreleur (Kontrolir).Untuk Lombok Timur dibagi menjadi 7 wilayah kedistrikan yaitu Pringgabaya, Masbagik, Rarang, Kopang, Sakra, Praya dan Batukliang. Akibat pecahnya perang Gandor melawan Belanda tahun 1897 dibawah pimpinan Raden Wirasasih dan Mamiq Mustiasih maka pada tanggal 11 Maret 1898 ibukota Lombok Timur dipindahkan dari Sisi ke Selong. Selanjutnya dengan Staatblad Nomor 248 tahun 1898 diadakan perubahan kembali terhadap Afdeeling Lombok yang semula 2 menjadi 3 Onder Afdeeling yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Untuk Onder Afdeeling Lombok Timur terdiri dari 4 kedistrikan yaitu Rarang, Masbagik, Sakra dan Pringgabaya. Dalam perkembangan berikutnya dibagi lagi menjadi 5 distrik yaitu: 1. Rarang Barat dengan ibukota Sikur dipimpin oleh H. Kamaluddin 2. Rarang Timur dengan ibukota Selong dipimpin oleh Lalu Mesir 3. Masbagik dengan ibukota Masbagik dipimpin oleh H. Mustafa 4. Sakra dengan ibukota Sakra dipimpin oleh Mamiq Mustiarep 5. Pringgabaya dengan ibukota Pringgabaya dipimpin oleh L. Moersaid Seiring dengan terbentuknya daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dengan Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1958 maka dibentuk pula 6 (enam) Daerah Tingkat II dalam lingkungan Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Barat berdasarkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun Secara yuridis formal maka daerahswatantra Tingkat II Lombok Timur terbentuk pada tanggal 14 Agustus 1958 yaitu sejak di undangkannya Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun Dalam perkembangan berikutnya DPRD Daswati II Lombok Timurdengan keputusan Nomor 1/5/II/104/1960 tanggal 9 April 1960 mencalonkan dan mengusulkan L. Muslihin sebagai Kepala Daerah yang kemudian mendapat persetujuan pemerintah pusat dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor UP.7/12/ tanggal Peta Dakwah MUI NTB

235 Juli Dengan demikian L. Muslihin Bupati Kepala Daerah Lombok Timur yang pertama sebagai hasil pemilihan oleh DPRDTingkat II Lombok Timur.Jabatan tersebut berakhir sampai 24 Nopember Sejalan dengan pemerintahan di daerah maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB tanggal 16 Mei 1965 Nomor 228/Pem.20/1/12 diadakan pemekaran dari 5 distrik menjadi 18 distrik (Kecamatan) yang membawahi 73 desa, yaitu Kecamatan Selong, Dasan Lekong, Tanjung, Suralaga, Rumbuk, Sakra, Keruak, Apitaik, Montong Betok, Sikur, Lendang Nangka, Kotaraja, Masbagik, Aikmel, Wanasaba Pringgabaya, Sambelia dan Terara Dengan Surat Keputusan Mendagri Nomor UP.14/8/ tanggal 24 Nopember 1966 masa jabatan L. Muslihin berakhir dan diganti oleh Rahadi Tjipto Wardoyosebagai pejabat Bupati sampai dengan 15Agustus Selanjutnya dengan SK Mendagri Nomor UP.9/2/ tanggal 15 Agustus 1967 diangkatlah R.Roesdimenjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lombok Timur yang deinitif.pada masapemerintahan R. Roesdi dibentuk alat-alat kelengkapan Pemerintah Daerah yaitu Badan Pemerintah Harian dengan anggota H.L.Moh. Imran, BA, Mustafa, Hasan, L. Fihir dan Moh. Amin. Pada periode ini atas pertimbangan eisiensi dan rentang kendali pengawasan serta terbatasnya sarana dan prasarana maupun personil diadakanlah penyederhanaan kecamatan dari 18 menjadi 10 kecamatan yaitu Kecamatan Selong, Sukamulia, Sakra, Keruak, Terara, Sikur, Masbagik, Aikmel, Pringgabaya dan Sambelia. Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor Pemda/7/18/ tanggal 10 Nopember 1973 masa jabatan R. Roesdi selaku Bupati KDH Tingkat II Lombok Timur diperpanjang. Kemudian dengan berlakunya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah di Daerah, kedudukan Bupati dipertegas sebagai penguasa tunggal di daerah sekaligus sebagai administrator pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Pada periode ini dibentuk Sekretariat Wilayah/ Daerah sebagai pelaksana UU Nomor 5 tahun Pemerintah kecamatan pada masa ini masih tetap 10 kecamatan sedangkan desa berjumlah 96 dengan rincian desa swakarsa 91, swadaya 2 dan swasembada 3 desa. Jumlah dinas 6 buah yaitu Dinas Pertanian Rakyat, Perikanan,Perkebunan, Kesehatan, PU dan Dispenda sedangkan instansi vertikal 19 buah. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 217

236 Perkembangan selanjutnya yaitu pada periode Bupati KDH Tingkat II Lombok Timur dijabat oleh Saparwadi yang ditetapkan melalui SK Menteri Dalam Negeri Nomor Pem.7/4/31 tanggal 7 Februari 1979, jabatan ini dipangku selama 2 periode namun berakhir sebelum Wetunya karena meninggal dunia 13 Maret Pada periode ini terjadi pergantian Sekwilda dari Moh.Amin kepada Drs. L. Djafar Suryadi. Oleh karena meninggalnya Saparwadi maka oleh Gubernur NTB Gatot Suherman menunjuk Sekwilda H. L. Djafar Surayadi sebagai Pelaksana Tugas Bupati LombokTimur dengan SK Nomor 314 tahun 1987 tanggal 21 Desember Kemudian dengan keputusan DPRD Nomor 033/ SK.DPRD/6/1988, DPRD berhasil memilih calon Bupati Kepala Daerah yaitu Abdul Kadir dengan 36 suara, H.L.Ratmawa 5 suara dan Drs. H. Abdul Hakim 4 suara, dengan demikian maka Abdul Kadir berhak menduduki jabatan sebagai Bupati Lombok Timur sesuai SK Mendagri Nomor tanggal 13 Juli 1988, jabatan ini berakhir sampai tahun Pada tahun 1989 terjadi pergantian Sekwilda dari Drs. Djafar Suryadi kepada Drs. H. L. Fikri yang dilantik 23 Nopember 1989.Periode berikutnya tahun Bupati Lombok Timur dijabat Moch. Sadiryang ditetapkan dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor tanggal 3 Juli 1993 dan dilantik 28 Juli 1993.Pada masa kepemimpinan nya dibangun Wisma Haji Selong, Taman Kota Selong, Pintu Gerbang Selamat Datang serta Kolam Renang Tirta Karya Rinjani.Pada periode ini H.L. Fikri selaku Sekwilda ditarik ke Propinsi untuk sementara menunggu Sekwilda yang deinitif ditunjuklahmoch. Aminuddin,BA Ketua BAPPEDA saat itu sebagai Pelaksana Tugas Sekwilda sampai dengan dilantiknya H. Syahdan, SH.,SIP. sebagai Sekwilda deinif berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor tanggal 8 Februari Di tengah situasi negara yang sedang dilanda berbagai krisis dan berhembusnya era reformasi yang ditandai berhentinya Soeharto sebagai Presiden RI pada bulan Mei 1998, bulan Agustus 1998 DPRD Dati II Lotim berdasarkan hasil Pemilu 1997 megadakan pemilihan Bupati Lombok Timur masa bakti Tiga calon Bupati saat itu adalah H. Moch. Ali Bin Dachlan, SH,Achman Muzahar, SH dan H. Syahdan, SH.,SIP.Dalam pemilihan itu H. Syahdan, SH.,SIP. terpilih sebagai Bupati dengan memperoleh suara 23, H. Moch. Ali Bin 218 Peta Dakwah MUI NTB

237 Dachlan, SH, meperoleh 21 suara sedangkan Achman Muzahar, SH tidak mendapatsuara. B. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Lombok Timur Secara geograis, Tofograi wilayah kabupaten Lombok Timur menunjukkan penampakan miring dari utara ke arah selatan. Wilayah bagaian utara adalah daerah pegunungan/vulcan (kawasan Gunung Rinjani), daerah ini adalah asal aliran sungai-sungai yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Sebagai kawasan hutan, wilayah bagian utara cukup potensial untuk pengembangan produk-produk kehutanan dan sumber daya air untuk irigasi dan lain-lain. Lebih dari itu sumber daya parawisata alam pegunungan banyak terdapat di wilayah bagian utara. Sedangkan di bagian-bagian tengah merupakan hamparan-hamparan dataran rendah (aluvial), daerah persawahan, pemukiman, lokasi konsentrasi usaha-usaha pertanian dan lain-lain. bagian selatan merupakan pegunungan lipatan dengan tofograi yang bergelombang dan berbukit serta daerah pantai yang sangat potensial bila dikembangkan untuk kegiatan parawisata dan perikanan. Daerah pantai terbentang dari bagian utara ke sebelah timur hingga sebelah selatan, dimana terdapat pegunungan kapur. Kabupaten Lombok Timur beriklim trois yang dipengaruhi oleh tekanan udara pada garis khatulistiwa dan angin dari arah utara selatan. Rata-rata curah hujan perbulan tahun 2003 sekitar 143,5 mm dan selama tujuh tahun terakhir cukup luktuatif. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada akhir dan awal tahun yaitu pada bulan-bulan November- Mei atau Juni dan musim kemarau pada bulan Juni hingga Oktober. Kabupaten Lombok Timur terletak antara Bujur Timur dan 8-9 Lintang Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah di sebelah barat, Selat Alas di sebelah timur, Laut Jawa di sebelah utara dan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Luas wilayah Kabupaten Lombok Timur termasuk daerah pantai dihitung 4 mil dari garis pantai tercatat 2.679,99 km2, terdiri atas daratan seluas 1.605,55 (59,91%) dan lautan 1.074,33 km2 (40.09%). Proporsi penggunaan lahan meliputi 28,34% ( Ha) lahan sawah dan 71,66% ( Ha) lahan kering. Topograi wilayah menunjukkan penampakan miring dari utara ke selatan. Di bagian utara merupakan daerah pegunungan dataran tinggi kaki Gunung Rinjani. Sedangkan bagian tengah merupakan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 219

238 dataran rendah dan bagian selatan merupakan daerah berbukit-bukit. Daerah pantai membatasi wilayah dari bagian utara ke sebelah timur hingga wilayah bagian selatan. Ketinggian wilayah Kabupaten Lombok Timur bervariasi antara 0 m diatas permukaan laut pada daerah pantai sampai dengan meter dpl (diatas permukaan laut) pada daerah pegunungan. Berdasarkan topograi, maka untuk kelerengan antara 0-2% atau daerah yang datar mencakup Kecamatan Jerowaru, Keruak, Labuhan Haji dan Kecamatan Pringgabaya dengan luas keseluruhan mencapai Ha. Untuk wilayah dengan kelerengan antara 2-15% dan merupakan kriteria kelerengan dominan di Kabupaten Lombok Timur, mencakup wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Barat, Sakra Timur, Selong, Sukamulia, Suralaga, Terara, Montong Gading, Sikur, Masbagik, Pringgasela, Aikmel, Wanasaba, Suela dan Kecamatan Sambelia dengan luas keseluruhan wilayah sekitar Ha. Sedangkan untuk wilayah dengan kelerengan 15-40% mencakup sebagian wilayah Kecamatan Suela dan sebagian wilayah Kecamatan Sembalun, adapun untuk wilayah yang paling curam dengan kelerengan >40% meliputi daerah Pegunungan Rinjani yang ada di Kecamatan Sembalun dengan luas areal sekitar Ha. Jenis tanah di Kabupaten Lombok Timur secara umum terdiri atas jenis Aluvial, Regosol, Grumosol, Mediteran dan Asosiasi Litosol dan Litosol Coklat kemerahan. Adapun penyebaran jenis tanah berdasarkan wilayah kecamatan yang ada diperoleh gambaran sebagai berikut: Tanah jenis Grumosol tersebar di Kecamatan Keruak, Jerowaru, Terara, Montong Gading, Sikur, Sukamulia, Suralaga, Selong, Labuhan Haji, sebagian Aikmel, Wanasaba dan sebagian Kecamatan Sembalun, dengan luas Ha (23,93%) dari seluruh luas Kabupaten Lombok Timur. Kecamatan Keruak dan Jerowaru mempunyai luas Grumosol Ha (11,50%), sedagkan Kecamatan Sukamulia dan Suralaga hanya 23 Ha. Seperti daerah lainnya di Indonesia, Kabupaten Lombok Timur juga beriklim tropis yang ditandai dengan dua musim yaitu musim panas dan musim penghujan. Curah hujan rata-rata sebesar 1882 mm/ tahun dengan jumlah hari hujan perbulan 15 hari. Adapun Kecamatan yang basah pada musim penghujan adalah Kecamatan Aikmel, Suela, Sembalun, Masbagik Pringgasela, Montong Gading. Sedangkan daerah kering adalah Kecamatan Keruak dan Jerowaru dengan curah hujan rata-rata mm/tahun. 220 Peta Dakwah MUI NTB

239 Wilayah Kabupaten Lombok Timur secara administratif terbagi dalam 20 wilayah kecamatan, 13 kelurahan dan 96 desa. Kecamatankecamatan tersebut adalah: Aikmel, Jerowaru, Keruak, Labuhan Haji, Masbagik, Montong Gading, Pringgabaya, Pringgasela, Sakra Barat, Sakra Timur, Sakra, Sambelia, Selong, Sembalun, Sikur, Suela, Sukamulia, Suralaga, Terara dan Wanasaba. 1 Wilayah Kabupaten Lombok Timur dilalui oleh banyak aliran sungai dan anak sungai, akan tetapi tidak semua sungai berair sepanjang tahun. Danau hanya satu di daerah ini yaitu danau Segara Anak yang luasnya kira-kira 30 km dengan kedalaman 200 meter.karakteristik geograis tersebut di atas menggambarkan situasi umum Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia antara lain berupa sejumlah potensi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan juga kehutanan. Selain itu potensi pariwisata didukung oleh objek-objek wisata alam (pegunungan dan pantai). 2 Jumlah penduduk Kabupaten Lombok Timur mencapai jiwa. Terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mayoritas penduduk Kabupaten Lombok Timur memilih pertanian sebagai mata pencahariannya, swasta, TNI/ polri, PNS dan lain-lain. Kabupaten Lombok Timur adalah salah satu Daerah Tingkat II di ProvinsiNusa Tenggara Barat yang terletak di sebelah timur Pulau Lombok. Ibu kota daerah ini ialah kota Selong. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.605,55 km 2 dengan populasi jiwa. 3 Dari segi agama, mayoritas penduduk Kabupaten Lombok Timur beragama Islam ( ), (99,83%), Kristen (472)(0,05%), Katolik (187, (0,02%)), Hindu (1.021 (0,10%), Budha (39) Konghuchu (6 jiwa), dan agama lain-lain (0 ). Data ini merupakan data tahun 2008 yang dinamis dan terus bergerak seiring Wetu. Tingginya jumlah penduduk yang menganut agama Islam merupakan modal pengembangan dakwah Islam di kabupaten tersebut. C. Lembaga Pendidikan Umum di Kabupaten Lombok Timur: Pendidikan Umum yang dimaksud dalam item ini adalah pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Nasional dari jenjang yang paling rendah, menengah dan perguruan tinggi. 1 Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur, Tahun Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur, Tahun Badan Statistik Kabupaten Lombok Timur, 2015 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 221

240 Untuk Kabupaten Lombok Timur Lembaga Pendidikan tingkat Dasar (SD) berjumlah, (652 Negeri) (2 Swasta), SMP ( 53 Negeri) (10 Swasta), SMA (21 Negeri), (20 Swasta), SMK (6 Negeri), Jumlah Semuanya 732 Sekolah Negeri dan 32 Sekolah Swasta. REKAPITULASI DATA PENDIDIKAN Dl KABUPATEN LOMBOK TIMUR TAHUN 2006 MELALUI JALUR PERSEKOLAH NO DEC SD SMP SMA SMK JUMLAH N S N S N S N S N S 1 Jumlah Sekolah 2 Jumlah Siswa 3 Jumlah Guru 4 Romb. Belajar , Jumlah Ruang Kelas R Sumber Data: Kementerian Diknas, D. Lembaga Pendidikan Agama dan Keagamaan di KabupatenLombok Timur. Lembaga pendidikan agama yang dimaksud adalah lembaga pendidikan yang menggunakan kurikulum dan peraturan pemerintah di bawah pengawasan Kementerian Agama, mulai dari pendidikan tingkat rendah, sedang, tinggi, seperti TK, MI, MTs, MA, PTAI. Sedangkan Lembaga Keagamaan yang dimaksudkan di sini adalah lembaga formal dan non-formal yang mengatur tentang persoalan keagamaan seperti lembaga formal yang di bawah pembiayaan Kementerian Agama, KUA, dll. Sedangkan lembaga keagamaan nonformal dapat disebutkan seperti lembaga pondok pesantren, lembaga majlis ta lim, lembaga amil zakat, MUI, DDI, dan sebagainya. 222 Peta Dakwah MUI NTB

241 Deskripsi tentang lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan, secara umum dapat disebutkan sebagai berikut: 1. Lembaga Pesantren Pesantren Di Lombok Timur dalam Data Emis Kemenag Kabupaten Lombok Timur, tercatat lebih dari 156 buah, tapi fakta di lapangan sebenarnya masih banyak pondok pesantren yang belum layak dikatakan Pondok Pesantren karena tidak memenuhi standarisasi disebut Pondok Pesantren: Ada Pengasuh/ Tuan Guru, ada Santri yang mukim menetap di asrama pondok, bukan hanya di pendidikan formal/kelas, ada masjid/mushalla tempat mengaji kajian agama. Di antara 156 pondok pesantren yang tertera di Emis Kemenag tersebut, hanya tidak lebih dari 25 pondok pesantren yang layak disebut pondok pesantren karena melekat padanya karakteristik dan kriteria pondok pesantren, selebihnya adalah lembaga pendidikan, yang hanya mengelola lembaga pendidikan formal semisal, MI, MTS, MA, atau SMA kemudian diklaim menjadi pondok pesantren yang hanya menyelenggarakan pendidikan formal di kelas saja. Terlepas dari motivasinya apa, tapi yang terpenting harus dirapikan dan ditertibkan agar tidak terkesan pondok pesantren hanya di Papan Nama saja tapi tidak ada aktivitas pengajian dan pengkaderan keagamaan yang lazim bagi pondok pesantren yang difungsikan sebagai lembaga kederisasi umat. 2. Lembaga Pendidikan Keagamaan (Madrasah Non-Pesantren). Madrasah yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur mayoritas madrasah yang berailiasi ke organisasi NW. dapat dikatakan bahwa 90 % madrasah-madrasah yang ada di Lombok Timur merupakan madrasah binaan organisasi NW baik secara lansung maupun tidak lansung. Sedangkan 10% madrasah-madrasah yang ada di Lombok Timur dikelola oleh organisasi lain seperti, Madrasah al-badriayah Rarang, Madrasah Yadinu, madrasah al-mahsun Masbagik, di mana pimpinan Madrasahnya lebih cenderung ke NU. Di samping itu ada beberapa madrasah yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah, seperti Madrasah yang bertempat di Kelayu, Pancor, Pringgabaya, Masbagik. Dengan demikian, secara kuantitatif madrasah di Lombok Timur cukup banyak, tapi secara kualitatif atau dalam aspek kuantitasnya masih memerlukan bimbingan pemerintah, pengayoman pemerintah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 223

242 3. Organisasi Masyarakat Islam (Ormas Keagamaan) a. Organisasi Nahdlatul Wathan Lombok Timur merupakan basis utama organisasi terbesar di NTB yaitu Nahdlatul Wathan. Nahdlatul Wathan memiliki peran penting di dalam mendorong terjadinya perubahan keagamaan masyarakat Islam, dari Islam Sinkretis seperti Wetu telu menuju Islam Paripurna (Islam Kaffah). Pergerakan keagamaan yang dilakukan oleh NW di Lombok Timur dapat diringkas menjadi: Pertama, Melalui Pendidikan Kemadrasahan dan Gerakan Kemasjidan. Kedua, pengajaran keagamaan dengan mengadakan dakwah keliling yang lazim disebut oleh warga NW dengan Majlis dakwah Hamzanwadi dan majlis ta lim Nahdlatul Wathan. Ketiga, Gerakan Penyebaran Kader-kader NW ke seluruh Pelosok Nusantara. 4 Secara fungsional organisasi ini memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Lombok Timur. Artinya bahwa pengembangan agama dan pemahaman keagamaan di kalangan masyarakat cukup baik, meskipun di sana-sini masih perlu perbaikan managemen keorganisasian terlebih dengan dualisme kepemimpinan NW pasca meninggal pendirinya. b. Organisasi Nahdlatul Ulama Organisasi NU banyak berkembang di wilayah tengah di Kabupaten Lombok Timur, seperti di Masbagik terdapat lembaga pendidikan yang berailiasi ke organisasi NU taruhlah seperti Yadinu, Ponpes al- Mahsuni, Ponpes Thahir Yasin Ledang Nangka, begitu juga di wilayah Pancor terdapat pengurus NU dan lembaga pendidikan Jami ah Islamiyah.Untuk Kabupaten Lombok Timur bagian Selatan, wilayahwilayah yang dikuasai oleh NU seperti Ponpes Qudwatusshalihin Paek Kecamatan Jerowaru. Secara kelembagaan Organisasi NU memiliki sprangkat kepengurusan yang terstruktur dan terorganisir sehingga peran yang dimainkan dalam pengembangan keagamaan relatif bagus. Tapi perlu pembenahan terhadap mekanisme dan sistem menagerialnya yang harus terus ditingkatkan, sehingga ke depan dapat memberikan pengabdian yang fungsional dan aplikatif terhadap masyarakat. c. Organisasi Muhammadiyah Organisasi ini secara managerial cukup baik dan fungsional. Hal ini terlihat dari jaringan kerja dan sistem pengelolaan lembaga yang 4 Lihat Usman, Buku, Filsafat Pendidikan Nahdlatul Wathan, Yogyakarta: Teras, 2014, Cet. I. h Peta Dakwah MUI NTB

243 didirikannya tetap bisa bersaing dengan lembaga-lembaga di luar dirinya. Kantong-kantong ormas Muhammadiyah menyebar di wilayah Kabupaten Lombok Timur, seperti di Pancor terbentuk Majelis Dikdasmen, Tk, SMP Muhammadiyah, juga di Kelayu Selong, terdapat beberapa lembaga yang dikelola oleh Muhammadiyah, seperti STIE Muhammadiyah Selong, SMP, SMA Muhammadiyah. Di bagian Lombok Timur Utara, terdapat lembaga kemuhammadiyahan seperti di Pringgabaya, Suela, Selaparang, dll. d. Darul Yatama wa al-masakin (Dayama) Secara organisatoris, Dayama sebenarnya belum disebut sebagai Organisasi Kemasyarakatan, karena belum terbentuk struktur kelembagaannya dari tingkat pusat sampai ranting, dikarenakan YADAMA hanya sebuah yayasan pendidikan, sosial dan dakwah yang terbatas pada komunitas tertentu. Tapi secara sosiologis, masyarakat menyebutnya sebagai sebuaah organisasi yang tempat mereka berkumpul dan berserikat. e. Organisasi Jamaluddin Basis organisasi ini terpusatkan di Kecamatan Aik Mell. Organisasi ini sebenarnya berbentuk lembaga pendidikan yang terdiri dari MI, MTs, MA, SMA Jamaluddin. Secara organisatoris, Jamaluddin Belum bisa disebut sebagai organisasi, tapi lebih tepat disebut sebagai sebuah yayasan yang bergerak dalam aspek pendidikan, sosial dan dakwah. f. Gerakan Salai. Gerakan Salai di Kabupaten Lombok Timur berpusat di Pondok Pesantren al-mannan Bagek Nyake Lombok Timur. Gerakan salai ini merupakan bagian dari dinamika keberagamaan masyarakat. Penting menjadi catatan Pemerintah, bahwa Gerakan Salai dengan ajarannya sering menimbulkan konlik horizontal dengan masyarakat non-salai, karena pemahaman masyarakat akan doktrin yang diajarkan oleh salai sering berbenturan dengan pemahaman meanstream masyarakat secara umum. Dengan demikian, Pemerintah harus pro-aktif untuk memberikan pemahaman yang konprehensif akan arti di balik keragaman pemahaman keagamaan. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 225

244 DATA ORGANISASI KEAGAMAAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NO AGAMA JUMLAH ORGANISASI 1 ISLAM 2 PROTESTAN - 3 BUDHA - NAHDLATUL WATHAN NAHDLATUL ULAMA MUHAMMADIYAH JAMALUDDIN GERAKAN SALAFI WAHABI HARAKI HTI FPI DAYAMA 4 KATOLIK DEWAN GERAJA 5 KOMFUSIUS - 6 LAIN-LAIN - Sumber Data: Diolah dari hasil survei 2016 E. Lembaga Sosial Keagamaan Lembaga Sosial Keagamaan yang dimaksudkan adalah lembaga yang secara sosiologis bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Lembaga yang konsen terhadap aktivitas dan rutinitas keagamaan, seperti kegiatan pengajian umum, layatan, zikiran, dan lain sebagainya yang ada hubungannya dengan kegiatan keagamaan. Tercatat di Kabupaten Lombok Timur ada sekitar 8 lembaga sosial keagamaan, yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur. Secara fungsioanal lembaga sosial keagamaan itu dihajatkan untuk mengakomudir masyarakat dalam suatu wadah yang terorganisir sehingga dapat berperan sebagai anggota masyarakat terhadap masyarakat yang lain sesuai dengan program dan kegiatan yang mereka canangkan. Lembaga-lembaga seperti Hizbullah NW Anjani, SATGAS Hamzanwadi NW Pancor, Amphibi Jerowaru, Ababil Jerowaru, Elang Merah di Sakra, Elang Putih di Sakra Timur, Rajawali di Sakra. Ta awun di Masbagik. Secara umum lembaga ini bergerak dalam bidang sosial, keamanan dan keagamaan. Urgensitas dari lembaga ini sebenarnya 226 Peta Dakwah MUI NTB

245 tertumpu pada gerakan sosial, sehingga dapat pula disebut sebagai Pamswakarsa secara umum. Lembaga Sosial Kemasyarakatan/Pamswakarsa di Kabupaten Lombok Timur NO NAMA LEMBAGA MARKAS/WILAYAH HIZBULLAH NW SATGAS HAMZANWADI AMPHIBI ABABIL ELANG MERAH ELANG PUTIH RAJAWALI SAKTI TA AWUN 2 PROTESTAN - 3 BUDHA - 4 KATOLIK - 5 KOMFUSIUS - Ponpes Syeikh Zainuddin NW Anjani (PB NW Versi Anjani/ Hj. Siti Raehanun ZAM). Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor (PB NW Versi Pancor/ Hj.Siti Rauhun} Jerowaru/ TGH.M.Sibawaihi/ Guru Abdul Muqib Jerowaru/ H. Mahdi/ Gede Maknun Sakra Sakra Sakra Masbagik 6 LAIN-LAIN - Sumber data: diolah dari hasil Observasi Desember 2016 Lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan di atas sebenarnya bergerak dalam ranah keagamaan, seperti kegiatan layatan, gotongroyong, kegiatan hari ulang tahun organisasi masing-masing pimpinan pamswakarsa. Dampak dari banyaknya lembaga-lembaga tersebut, secara fungsional dapat membantu pemerintah dalam aspek-aspek tertentu, seperti aspek keamanan, di mana lembaga tersebut membuat kegiatan untuk membantu pemerintah dalam hal ini polisi, pada aspek menjaga keharmonisan antarwarga masyarakat. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 227

246 Dampak yang kurang baik dari banyaknya lembaga tersebut adalah, terjadinya pengelompokan terhadap masyarakat, yang rentan terjadinya gesekan dan konlik antarpengikut lembaga-lembaga tersebut. Begitu juga kurangnya semangat kebersamaan di kalangan masyarakat dikarenakan adanya faksi-faksi dalam lembaga tersebut, sehingga lembaga yang lain berjalan sesuai mekanismenya sendiri. Contoh kecil saja, dalam kematian, terkadang masyarakat yang kelompok A tidak ikut melayat bahkan tidak ikut shalat jenazah jika si mayit bukan kelompoknya, dan seterusnya. Adapun yang dimaksud dengan lembaga pendidikan di sini meliputi lembaga pendidikan formal, informal maupun non-formal, baik yang mengikuti kurikulum murni departemen pendidikan nasional, kurikulum departemen agama, kombinasi keduanya maupun kurikulum yang dibuat sendiri sesuai kebutuhan lembaga tersebut. Lembaga pendidikan Islam formal yang mengikuti Kurikulum Kementerian Agama diantaranya: NO. JENIS/ JENJANG PENDIDIKAN JUMLAH 1 TPQ = TK Bustanul Athfal 51 3 TK Raudhatul Athfal 51 4 TK Islam 51 5 MI 195, MIN 2 6 MTs 197, MTs N 2 Buah, sisanya Swasta 7 MA 101, MAN 2 Buah. Sisanya Swasta 8 PTI 8 buah (IAIH Pancor, IAIH Anjani, STKIP Pancor, STIKOM Anjani, STIT Palapa Nusantara, STAI NW Darul Kamal Kembang Kerang, STIKES Hazmar Mamben Lauk), STAI AL- Mahsuni Masbagik Dari data di atas dapat diketahui ailiasi ormas yang diikuti sebagai berikut: 228 Peta Dakwah MUI NTB

247 1. lembaga pendidikan itu dikelola oleh NW, dengan identitas ada tambahan nama di setiap lembaga pendidikan yang didirikan, seperti MI NW, MTs NW, MA/SMA NW, IAIH NW STKIP NW, dst. Dengan identitas tersebut jelas dapat dipetakan ailiasi lembaga tersebut ke organisasi NW yang secara Kuantitatif mendominasi di Kabupaten Lombok Timur. 2. Lembaga Pendidikan yang dikelola oleh NU, semisal Yadinu Masbagik, Jamiiyyah Islamiyah di Pancor, dll. Ailiasi lembaga ini diketahui melalui kedekatan dan keterlibatan pendiri atau pengurus lembaga tersebut di organisasi NU. 3. Muhammadiyah dengan lembaga yang dibangunnya disetiap wilayah, secara simbol menggunakan simbul kemuhammadiyahan, seperti lembaga pendidikan di Kelayu, Pancor, Masbagik, di Pringgabaya, dll. Melihat data di atas, dengan penduduk beragama Islam mencapai jiwa, dengan jumlah pendidikan formal hanya 507 lembaga, maka didapat rasio 1 : Artinya 1 lembaga pendidikan mengurusi sekitar 2083 orang.jumlah ini terlalu tidak sebanding.meskipun mungkin banyak dijumpai sekolah-sekolah formal di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional ada di Kabupaten Lombok Timur, tidak ada salahnya bila mulai dipikirkan penambahan sekolah-sekolah berbasis keislaman. Jumlah lembaga pendidikan Islam informal yang tumbuh dan berkembang di kota ini tercatat: pondok pesatren berjumlah 156 buah, dan TPQ berjumlah buah. Sedangkan majelis taklim masuk kategori lembaga pendidikan nonformal dan berjumlah sekitar 668 majelis taklim. Kabupaten Lombok Timur termasuk kabupaten yang cukup menggembirakan bagi pertumbuhan lembaga pendidikan Islam nonformalnya, dengan jumlah semuanya 2586.dengan demikian rasionya sekitar 1 berbanding 1195-an orang. Artinya, 1 majelis taklim diikuti oleh sekitar 1190-an jama ah. Jika diambil sepeluh persen saja dari 1190 orang, tercatat satu majelis taklim diikuti oleh sekitar 119 orang. Meskipun masih cukup kecil dan belum sebanding dengan besarnya umat Islam, jumlah ini cukup untuk menampung pendidikan keagamaan warga masyarakat.boleh jadi, data ini kurang memperhatikan jama ah yasinan, jamaah tahlil atau pengajian-pengajian kecil yang secara periodik diselenggarakan oleh anggota masyarakat. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 229

248 Jika pendidikan Islam formal, informal dan non-formal digabung diperoleh angka sebesar Dengan jumlah penduduk muslim sebesar , maka diperoleh rasio perbandingan 1 : 396. Yaitu, 1 lembaga pendidikan menampung 396 orang. Jumlah ini tampaknya perlu ditingkatkan terus kuantitatifnya, selanjutnya dipikirkan pula kualitasnya. F. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang dianalisis di sini mencakup SDM kalangan muslim dan non-muslim. Untuk kalangan muslim difokuskan pada pengasuh atau Tuan Guru pesantren, Tuan Guru sebagai muballigh, penyuluh agama Islam (PNS atau non-pns), khatib dan ustadz (guru ngaji dan sejenisnya). Sementara dari kalangan non-muslim meliputi pendeta, pastor, bhiksu dan pendeta agama Hindhu. Dalam rangka peningkatan SDM Lombok Timur, pemerintah daerah memiliki aparatur pengembangan masyarakat, dengan komposisi pegawai negeri sipil sebanyak jiwa orang merupakan jumlah yang relatif besar untuk melayani penduduk sebanyak jiwa. Pegawai negeri sipil sebanyak terdiri dari guru (TK, SD. SMP, SMA) sebanyak orang dan selebihnya sebanyak orang merupakan pegawai negeri sipil yang bekerja di bidang pelayanan yang tersebar di 25 dinas/badan dan sekretariat daerah, staf sekolah (TK, SD, SMP, SMS, SMK), kantor camat, dan kelurahan se kabupaten Lombok Timur. Kondisi pendidik atau guru pegawai negeri sipil di Lombok Timur sebanyak orang, dilihat dari kebutuhan yang ada sebanyak 8051 orang, maka terdapat kekurangan guru di Lombok Timur sebanyak orang. Kekurangan guru mencerminkan bahwa secara kuantitatif SDM Lombok Timur masih belum cukup). Secara kuantitatif, SDM yang mendukung berkembangnya dakwah Islam di Kabupaten Lombok Timur adalah: jumlah Tuan Guru pesantren 183 orang, Tuan Guru Muballigh sejumlah 114 orang, jumlah penyuluh agama yang PNS 21 orang dan non-pns berjumlah 190 orang, jumlah ustadz dan guru ngaji sebanyak 1371 perempuan dan laki dengan jumlah orang. Sedang untuk SDM agama lain: jumlah pendeta 0 orang, jumlah pastor 1 orang, jumlah biksu 2 orang dan pendeta Hindu sebanyak 2 orang. 230 Peta Dakwah MUI NTB

249 Jika jumlah SDM di atas dikaitkan dengan kebutuhan umat dalam melaksanakan misi profetisnya, berarti masing-masing SDM memiliki tanggung jawab yang sangat berat karena rasio yang tidak berimbang. Jumlah Umat Islam Orang SDM Ulama/Tuan Guru, 181laki/2 Perampuan Rasio Perbandingan 1 : 5600 Muballigh, : 8990 Khotib, : 683 Penyuluh PNS, 21 1 : Penyuluh non-pns, : 5394 Ustadz, : 212 Jika dilihat dari data atas, konponen dari masing-masing SDM tersebut sangat tidak ideal dan tidak refresentatif. Sebab rasio perbandingannya sangat jauh dari tenaga yang dibutuhkan. Pertama, Tenaga Penyuluh Agama. Penyuluh agama Fungsional hanya 21 orang, perorang menangani 1: artinya sangat tidak berimbang dengan jumlah masyarakat yang dibinanya. Idealnya adalah 1 : 1000 sehingga dengan demikian tenaga penyuluh yang dibutuhkan berjumlah 48 ribu. Penyuluh ini juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat masing-masing wilayah kecamatan. Dengan demikian, pemetaan wilayah dakwah harus dilihat dari aspek ketersediaan Tenaga Edukatif seperti Tuan Guru, Ustaz, Penyuluh, Khotib, Da i.sehingga dapat dikembangkan mana yang minim tenaga edukatifnya dan mana yang sudah cukup. Tapi rasio perbandingan tenaga edukatif tidak sebanding dengan jumlah penduduk Muslim di Kabupaten yang berjumlah ( ), (99,83%) rasionya jumlah Tenaga Edukatif yang harus ditingkatkan adalah ribu tenaga edukatif sehingga idealnya 1 : 100. G. Tempat Ibadah Tempat ibadah merupakan sarana substansial bagi pemeluk agama. Meskipun ibadah dapat dilakukan dimanapun tempatnya, namun Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 231

250 keberadaan tempat ibadah dipandang sebagai simbol penting umat suatu agama.tidak heran bila masyarakat seperti berlomba-lomba membangun tempat ibadah dengan kualitas terbaik dan bangunan yang megah, meski di samping kiri dan kanan masjid dijumpai rumahrumah penduduk yang reot dan seadanya. Nafsu membangun masjid atau tempat ibadah agama lain, selain dipicu oleh motivasi keagamaan juga oleh keinginan eksistensi dan aktualisasi diri sebagai penganut agama. Tentu saja, keberadaan dan banyaknya jumlah tempat ibadah tak menggambarkan jumlah dan kualitas pemeluk agama yang sesungguhnya, karena umumnya tempat ibadah berada di titik keramaian hanya pada momentum tertentu seperti shalat jum at, ibadah minggu atau hari raya keagamaan.sementara yang secara keseharian menggunakan tempat ibadah sebagai kegiatannya berada pada batas minimal dari seluruh umat Islam. Tempat ibadah yang dimaksud di sini adalah meliputi masjid dan musholla bagi umat Islam (berjumlah masjid dan musholla 632, Langgar, 1.679, Pondok Pesantren, 114), gereja (berjumlah 6 Kristen dan Katolik 1 buah), vihara berjumlah 0 buah dan Pura (berjumlah 4 buah). JUMLAH RUMAH IBADAH DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NO AGAMA JUMLAH RUMAH IBADAH 1 ISLAM masjid dan musholla 632, Langgar, 1.679, Pondok Pesantren, KRESTEN 6 Gereja 3 HINDU 4 Pura 4 KATOLIK 1 gereja 5 KOMFUSIUS 0 6 BUDHA 6 Vihara 7 LAIN-LAIN. Sumber Data: diolah dari hasil survei, Jika keberadaan masjid dan musholla digabungkan, maka di Kabupaten Lombok Timur didapat tempat ibadah umat Islam berjumlah buah. Jika dibandingkan dengan jumlah umat Islam 232 Peta Dakwah MUI NTB

251 yang berjumlah jiwa, maka diperoleh rasio, 1:212. Artinya, satu masjid atau musholla dapat menampung jama ah sebanyak 212 orang. Dari jumlah ini, sebenarnya di Kabupaten Lombok Timur masih dibutuhkan lebih banyak lagi masjid dan Musholla untuk menampung jama ah. Tetapi kenyataannya, tidak banyak umat Islam yang menjadikan masjid atau musholla sebagai kegiatan ibadah shalat sehari-hari, apalagi kegiatan duniawi lainnya. Selain di bulan Ramadhan, shalat jum at dan hari raya idul itri atau idul adha, tak banyak jama ah yang memenuhi masjid dan musholla di dekat rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa masjid dan musholla sekedar sebagai simbol keagamaan, bukan simbol etos religius yang ditunjukkan dengan ramainya jama ah yang beribadah. Bandingkan dengan tempat ibadah agama lain, yang biasanya cukup ramai di hari Minggu misalnya. Sementara perbandingan pemeluk agama non-muslim dengan ketersediaan tempatnya adalah sebagai berikut: H. Lembaga Dakwah Lembaga dakwah umat Islam yang hingga saat ini memiliki struktur lengkap dari tingkat pusat sampai ranting baru Nahdlatul Wathan (NW), Muhammadiyah dan NU. Selain itu, di Kabupaten Lombok Timur juga ditemukan gejala menarik yaitu berkembangnya ormas/ yayasan keagamaan yang memiliki kegiatan di banyak tempat. Organisasi NW Pasca pendirinya berpusat pada dua tempat: Pertama, Organisasi NW yang terpusat di Pondok Pesantren Darun Nahdlatain NW Pancor Lombok Timur NTB. Yayasan ini mengelola 17 lembaga pendidikan Islam dari Raudhatul Athfal (TK) hingga perguruan tinggi (STKIP & IAIH). Di samping itu juga mengelola dua panti asuhan untuk laki-laki dan perempuan. Dalam bidang pemberdayaan masyarakat, Yayasan Pendidikan Hamzanwadi memiliki BP3M (Badan Penelitian dan Pengkajian dan Pembangunan Masyarakat Nahdlatul Wathan) yang memiliki jaringan kerja dengan lembaga-lembaga sejenis, baik dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1999 sampai sekarang menjabat sebagai ketua umum Dewan Taniziyyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan yaitu organisasi kemasyarakatan Islam yang didirikan oleh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid pada tahun 1953 di Pancor Lombok Timur yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah. Hingga kini organisasi NW menaungi lebih dari Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 233

252 700 lembaga pendidikan dan sosial yang tersebar di NTB, NTT, Jakarta, Kaltim, Kalbar, Sulsel, Sulteng, Bali, dan Batam. Kedua, Organisasi NW berpusat di Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani yang memiliki struktur kepengurusan dari tingkat Dewan Musytasyar, Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Cabang, Anak Cabang, dan Ranting. Di samping itu juga mengelola lembaga pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi. Seperti lembaga TK, RA, SMP NW, MTs Muallimin/ Muallimat, MA Muallimin/ Muallimat, SMA NW, SMK NW, IAIH, STIKOM. Lembaga lain yang eksis di Lombok Timur, seperti Muhammadiyah yang secara terstruktur tercatat mulai dari pengurus daerah/wilayah Muhammadiyah, baru kemudian pengurus yang ada di lapisan masyarakat yang relatif kurang berpendidikan. Umumnya lembaga dakwah masih kurang intensif kegiatannya, tidak sistematis dan kadang parsial. Pengurus-pengurus lembaga dakwah di tingkat desa, kadang eksistensinya kalah dengan kapasitas individualnya. Dalam arti, katakanlah seorang da i yang diperhitungkan bukan karena ia menjadi pengurus organisasi ini atau itu, tapi karena ia aktif berdakwah untuk kemajuan umat. Bahkan kadangkala, eksistensi pengurus lembaga dakwah kalah aktif dengan pengurus masjid atau pengurus madrasah diniyyah. I. Lembaga Sosial Sinyalemen mandulnya aktiitas dakwah Islam oleh organisasi besar Islam semakin kentara manakala dihubungkan dengan lembaga sosial yang dimiliki masing-masing organisasi tersebut. Lembaga sosial yang dimaksud meliputi lembaga amil zakat (LAZ) dan panti asuhan anak yatim. Untuk panti asuhan anak yatim, NW memiliki lebih dari 20 panti asuhan, sedang Muhammadiyah juga memiliki 1 panti asuhan. Sedang panti asuhan yang dikelola oleh Yayasan sosial lainnya mencapai 9 buah. Panti asuhan yang dikelola oleh non-islam tidak ada. Kepekaan memberi dan menyantuni anak yatim dan fakir miskin masih rendah. Doktrin-doktrin agama yang tinggi memuji para dermawan dan mengecam keras orang-orang yang pelit belum mampu menyentuh nurani warga Muslim untuk berubah sikap. Jadi, mungkin dakwah kepada intern umat Islam sendiri perlu diintensifkan sebelum 234 Peta Dakwah MUI NTB

253 mengajak orang lain memeluk Islam. Besarnya populasi umat Islam mestinya dapat dimanfaatkan secara maksimal demi kemaslahatan umat, baik untuk kepentingan ekonomi, pendidikan, sosial maupun politik. Permasalahan yang sering muncul dalam lembaga-lembaga sosial ini seperti LAZ, BAZDA adalah kesadaran masyarakat terhadap peran dan fungsi lembaga ini sangat kurang, sehingga dibutuhkan sosialisasi dan pemahaman akan urgensitas dari lembaga yang secara esensial untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat. Organisasi-organisasi yang ada di Lombok Timur juga tidak tinggal diam dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui lembaga-lembaga yang mereka dirikan, seperti LAZ, Kopontren, Koperasi, Panti Asuhan, Asuhan Keluarga, LSM. Sehingga dengan adanya lembaga tersebut secara lansung dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan ummat. Persoalan yang perlu dibenahi adalah perlu ditingkatkan kepedulian masyarakat terhadap lembaga tersebut, sekaligus perhatian serius pemerintah. J. Lembaga Wakaf Data wakaf untuk kabupaten Lombok Timur, terdiri dari 209 tanah wakaf. Pemanfaatan fungsioanal dari tanah wakaf ini belum bisa dikembangkan menjadi lahan yang produktif. Dalam arti pemanfaatan tanah wakaf hanya sebatas pada aspek penggunaan secara isik. Sebenarnya jika tanah wakaf tersebut bisa ditertibkan administrasinya tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan sebagai penjamin dalam meningkatkan kesejahteraan ummat, dengan dijadikan saham tak bergerak di bursa ekonomi. Hal ini menjadi catatan penting bagi kementerian agama untuk menata ulang aspek-aspek perwakafan di kabupaten Lombok Timur. K. Media Dakwah Media dakwah di Kabupaten Lombok Timur dapat dipetakan menjadi tiga bagian: Pertama; media audio-visual, seperti Selaparang TV. Media ini sangat membantu pemerintah untuk mensosialisasikan program-program pemerintah, baik program pendidikan, sosial maupun dakwah. Tapi media ini belum merata dinikmati sajiannya oleh masyarakat, karena Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 235

254 keterbatasan cannel dan pembiayaan sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat yang sudah memiliki antena parabola. Kedua; media audio, seperti Radio Dakwah Hamzanwadi RHN, Radio Dakwah Dewi Anjani, Kacanta. Media-media tersebut sangat efektif untuk mengembangkan dakwah dalam segala aspek, sebab masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan pengajian melalui siaran radio, disebabkan karena masyarakat rata-rata memilikinya. Ketiga; media cetak, seperti Koran Dewi Anjani, Radar Lombok, dan lain-lain. Media cetak ini secara umum dapat dikonsumsi oleh masyarakat karena mudah dijangkau. Esensi media ini terletak pada kontent dari media tersebut, sebab dengan demikian masyarakat mendapatkan pemahaman tentang apa yang semestinya masyarakat butuhkan. Media Tradisional; media ini merupakan sarana dakwah yang lazim dipergunakan oleh masyarakat dalam acara-acara keagamaan, seperti rebana qasidah, burdah, ratiban, dan sejenisnya. Fungsi dari media ini adalah untuk membangkitkan semangat masyarakat untuk mengaji, untuk hiburan, dan sekaligus pesan-pesan dakwah dalam lirik-lirik. L. Ailiasi Politik Untuk konteks Lombok Timur, icon politik di daerah ini tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh kharismatik pendiri organisasi Islam Nahdlatul Wathan TGKH M.Zainuddin Abdul Majdi, sebab perubahan arus-arus politik di kabupaten ini sangat didominasi oleh arah dan apiliasi perpolitikan tokoh tuan guru di masing-masing wilayah. Karier politik TGKH M.Zainuddin Abdul Madjid dimulai sejak ia diangkat menjadi Konsulat Nahdlatul Ulama (NU) Sunda Kecil pada tahun Selanjutnya ketika Nahdlatul Ulama bersama-sama ormas Islam lainnya bergabung dalam Partai Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) di Nusa Tenggara Barat, maka ia diangkat sebagai ketua Badan Penasihat Partai Masyumi untuk daerah Lombok pada Tahun Dari Tuan guru Zainuddin menetapkan bahwa organisasi Nahdlatul Wathan menganut kebijakan politik bebas. Artinya, organisasi ini tidak berailiasi dengan kekuatan partai politik manapun. Sehingga merestui terbentuknya Partai Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dan PSII di Lombok pada tahun 236 Peta Dakwah MUI NTB

255 1953 dan Namun, pada tahun 1955, ia dan organisasi Nahdlatul Wathan memilih berailiasi dengan partai Masyumi, sehingga ia diangkat sebagai anggota Konstiuante periode , hasil dari pemilihan umum pertama pada tahun1955. Setelah partai Masyumi dibubarkan, khususnya di Pulau Lombok, Nahdlatul Wathan merupakan ormas Islam yang pertama kali dengan tegas mendukung terbentuknya Parmusi. Asumsinya, Parmusi merupakan duplikasi dari partai Masyumi. Namun dalam perkembangan selanjutnya masyarakat Nahdlatul Wathan tidak dapat berperan aktif dalam partai tersebut. Ini disebabkan tidak terakomodasinya aspirasi Nahdlatul Wathan sebagai ormas Islam yang memiliki basis konstituen terbesar di pulau Lombok. Selanjutnya setelah tidak aktif di Parmusi, Tuan guru Zainuddin dan masyarakat Nahdlatul Wathan, Khususnya di Kabupaten Lombok Timur, merubah haluan politiknya dengan berailiasi kepada Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber-Golkar), suatu organisasi yang dibentuk atas gagasan Jenderal A.H Nasution. Dukungan ini didasarkan pada pertimbangan politik, bahwa Golkar adalah partai Orde Baru yang dinilai sukses menumpas G30/S PKI. Keberhasilan ini paling tidak adalah sebuah kemashlahatan bagi kaum muslimin. Dalam orgainisasi politik, aspirasi Nahdlatul Wathan lebih terakomodir dari pada partai politik lainnya. Pada pemilihan umum tahun 1982 ailiasi perpolitikan masyarakat Nahdlatul Wathan, khususnya Lombok Timur, oleh Tuan guru Zainuddin mengambil politik diam atau dengan istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM), artinya masyarakat tidak lagi disuruh untuk memilih Golkar dalam pemilu ini. Sehingga dengan sikap politik beliau saat itu, kader-kader Nahdlatul Wathan banyak yang melanggar perintah pendiri NW, sehingga saat itulah mulai terjadi konlik internal dalam tubuh NW. Kader-kader yang tetap eksis di Golkar saat itu adalah TGH. Najamuddin Ma mun, TGH. Sakaki, TGH. Zaini Pademare, TGH.L. Zainal Abidin Sakra,dll. Pada pemilihan berikutnya ailiasi politik masyarakat NW, khususnya di Lombok Timur menetapkan pilihan ke Golkar setelah ada kontrak politik dengan elit-elit golkar pada saat itu, dengan memberikan porsi yang lebih banyak di parlemen, sehingga golkar berpikir ulang untuk tidak mengakomodir ailiasi politik masyarakat Nahdlatul Wathan, di Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 237

256 mana politik diamnya pada pemilu 1982 menjadi kekalahan telak bagi partai Golkar. Peta perubahan politik masyarakat Nahdlatul Wathan Lombok Timur, secara dramatis berubah setelah meninggalnya TGKH.M.Zainuddin pada tahun1997, kader-kader NW dan masyarakatnya ada yang tetap konsisten dengan partai Golkar ada juga yang berapiliasi kepada partai-partai baru yang dibentuk pasca orde baru yaitu era reformasi. Mengingat kondisi internal NW sepeninggal pendirinya terjadi konlik diantara kedua putri TGH.Zainuddin AM; Hj. Rauhun (putri sulung) dan Hj.Raehanun (putri bungsu), api konlik ini berimbas kepada apiliasi politik kedua putri beliau. Pada pemilihan umum pertama di era reformasi pada tahun 1999 kedua putri beliau ini berbeda aspirasi dalam partai politik. Hj. Rauhun berailiasi kepada PDR sementara Hj. Rehanun tetap pada partai Golkar. Dengan perbedaan ailiasi politik kedua putri pendiri NW ini secara tidak lansung berimbas kepada masyarakat pengikut organisasi NW. Pada pemilu 2004 kedua kubu NW ini tetap berbeda ailiasi politiknya, untuk NW Pancor dibawah komando Hj.Rauhun berailiasi ke Partai Bulan Bintang (PBB) yang kemudian menghantarkan putranya H. Zainul Madji, MA menjadi anggota DPR RI, sementara Hj Raehanun yang berkedudukan di Anjani, mendeklarasikan Partai Bintang Reformasi (PBR) bersama KH.Zainuddin MZ di Jakarta yang kemudian menghantarkan putranya Lalu Gede Syamsul Mujahidin, SE menjadi anggota DPR RI, di mana PBR merupakan pecahan dari PPP. Secara otoritatif Partai yang dideklarasikan oleh Hj. Raehanun lebih didominasi oleh kader-kader NW, ketimbang di Partai Bulan Bintang (PBR) yang masih didominasi kepengurusannya oleh organisasi selain organisasi NW. Melalui PBR ini kader-kader NW versi Anjani dapat duduk di parlemen baik tingkat daerah maupun tingkat nasional. Perpecahan yang terjadi di organisasi NW ini sangat berpengaruh kepada sikap politik masyarakat Islam di Lombok Timur. Sikap politik masyarakat dapat dilihat dari aspek keberpihakan mereka kepada kedua kubu NW ini. Sehingga masing-masing kubu berjuang dan bekerja ekstra keras untuk memperoleh dukungan dari masing-msaing masyarakat yang notabene pengikut NW. Di luar organisasi NW, ada organisasi masyarakat yang berskala lokal, seperti Maraqitta limat yang berlokasi di Tembeng Putik Kec. 238 Peta Dakwah MUI NTB

257 Wanasaba (dulu Aikmel sebelum pemekaran) di bawah pimpinan TGH. Hazmi Hazmar, menetapkan ailiasi politiknya ke PPP sehingga dengan partai ini mengantarkannya menjadi anggota DPRD TK 1 berkali-kali. Untuk konteks perpolitikan masyarakat Lombok Timur bagian Selatan, Keruak dan Jerowaru, ailiasi masyarakat Islam di wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kifrah dan kegiatan politik TGH. M. Mutawalli, pendiri Yayasan Darul Yatama walmasakin (YADAMA), tokoh kharismatik yang biasa mayarakat sebut dengan Tuan gurulauk ( Selatan : Sasak). Sebab ketokohan seorang igur Tuan guru sangat dirasakan manfaatnya oleh partai politik tertentu. Aktivitas politik Tuan guru ini mulai muncul semenjak orde lama di era presiden Soekarno sebagai salah seorang tokoh partai Masyumi (Majlis Syura Muslim Indonesia), satu-satunya partai Islam yang eksis di era Orde Lama, dan partai Masyumi merupakan partai kumpulan tokoh-tokoh Islam yang berdiri dengan tujuan izzu al-islam wa al-muslimin ; menegakkan panjipanji kemuliaan Islam dan kejayaan ummatnya di Negara berdasarkan Pancasila. Sepeninggal TGH. Mutawalli pada tgl 4 April 1984, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra sulungnya TGH. M. Sibawaihi Mutawalli, yang secara politis masih tetap melanjutkan ailiasi politiknya ke partai Golkar, sehingga mengantarkannya menjadi anggota DPRD TK II Kabupaten Lombok Timur dari partai Golkar. Di era reformasi sikap politik TGH. M.Sibawaihi kelihatan netral, tidak ada sikap untuk mendukung partai tertentu. Sikap politiknya ini membuat masyarakat ada kebebasan memilih partai politik yang dikehendakinya. Sikap politik dan apiliasi masyarakat Lombok Timur saat ini sangat bervariatif sesuai dengan apiliasi organisasi yang menjadi panutannya. Keragaman sikap politik masyarakat ini sesungguhnya merupakan bagian dari proses pendewasaan dalam brepolitik dan ada sikap keterbukaan dalam menyikapi perbedaan, baik dalam aspek politik, organisasi maupun budaya. Sebab secara umum masyarakat Lombok Timur cendrung memiliki sikap fanatisme yang sangat kuat terhadap organisasi atau tuan guru yang menjadi panutan mereka. Sikap fanatismenya ini muncul karena faktor doktrinal yang mereka terima dari tuan guru-tuan guru mereka masing-masing. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 239

258 M. Kendala Utama Yang Harus Ditindaklanjuti Banyak kendala yang dihadapi oleh umat Islam saat menjalankan tugasnya. Yang paling berat dirasakan diantara adalah 1) kualitas SDM yang rendah akibat tidak pernah diadakan orientasi keilmuan dan wawasan, 2) beratnya medan dakwah, di mana 40% daerah panas/ curah hujan kurang, 3) infrastruktur jalan dan sarananya sebagian besar belum tersentuh pembangunan (jelek), 4) persaingan terselubung antar da I cenderung tampil seperti hiburan malam dan 5) konsolidasi intern kurang bagus, sulit diajak musyawarah dan akhirnya suka tampil sendiri-sendiri, tanpa perencanaan yang matang. Selain itu, sebenarnya ada faktor pendorong yang dapat menggerakkan pelaksanaan dakwah di Kabupaten Lombok Timur, seperti 1) jumlah lembaga diniyyah yang cukup besar, 2) jumlah da I cukup banyak dan tersebar, 3) minat umat mengikuti pengajian di majlis taklim cukup besar, 4) majelis thoriqah dengan anggotanya yang sangat besar dan tersebar merata, 5) peluang radio siaran melalui studio radio yang dikelola pemkab dan swasta dan 6) ormas keagamaan yang terstruktur sampai dengan tingkat desa (ranting). Faktor pendorong ini hendaknya bisa dioptimalkan pemanfaatannya agar dakwah Islam dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan dakwah Islam, terutama menyangkut aspek 1) pembangunan keilmuan dan kualitas para da i 2) keteladanan dalam amalan nyata dalam menjalankan syari at Islam, 3) intensitas rekomendasi kepada pejabat publik agar mengembangkan kemitraan, 4) pemantapan soal ukhuwah, dan tasamuh secara intern maupun ekstern. Sementara itu, potensi yang bisa dikembangkan untuk mendukung dakwah Islam di Kabupaten Lombok Timur diantaranya adalah 1) perhatian terhadap kaum dhu afa perlu ditingkatkan dengan amalan nyata, 2) Menciptakan kemitraan antar lembaga keagamaan Islam di daerah, 3) mengembangkan kemampuan kemitraan dengan lembaga kemasyarakatan lainnya (misalnya di bidang kesenian, dan lain-lain). N. Rekomendasi 1. Pemerataan Tenaga Penyeluh dan Tenaga Da i. Untuk wilayah yang sangat kurang tenaga Agama di Kabupaten Lombok Timur antara lain: 240 Peta Dakwah MUI NTB

259 Kecamatan Jerowaru, kecamatan ini hanya memiliki 1 Tuan Guru yang sudah masyhur di kalangan masyarakat, Yaitu TGH. Abdul Aziz Anshari Ini artinya rasio penduduk kecamatan Jerowaru sekitar ribu jiwa sangat tidak ideal dengan jumlah tenaga keagamaan, sehingga perlu ditingkatkan tenaga da i seperti tenaga penyuluh agama, baik PNS maupun Non-PNS agar sebanding dengan jumlah penduduk. Kecamatan Sambelia, Swela, Labuhan Lombok, Kayangan, Pringgabaya, juga termasuk wilayah Lombok Timur bagian Utara, yang relatif mirip dengan kec. Jerowaru yang curah hujannya kurang dan geograis yang kurang subur, sehingga berpengaruh terhadap pengembangan keagamaan. Maka sangat diperlukan tenaga-tenaga keagamaan yang trampil untuk mengembangkan pendidikan dan pengajaran di kalangan masyarakat. Agar tidak sentralistik semua kegiatan keagamaan berpusat di Ibu Kota Kabupaten yang notabene markas besar atau pusat organisasi terbesar di NTB.. 2. Pemberdayaan Tuan Guru/ Tokoh Agama, Bagi pembuat kebijakan yang ada di pemerintah, baik tingkat I maupun tingkat II, khususnya Kabupaten Lombok Timur, yang sedang gencar-gencarnya memprogramkan peningkatan Indek Peningkatan Sumber Daya Manusia (IPM), maka hal utama dan pertama dikedepankan adalah memberikan perhatian serius kepada para tokoh agama, dalam hal ini Tuan Guru, yang notabene sebagai pengayom terdepan pendidikan pesantren di setiap wilayah masingmasing. Pemberdayaan Tuan Guru menjadi prioritas utama, agar mutu dan kualitas pesantren yang menjadi markas pendidikan masyarakat menjadi salah satu sarana yang efektif dalam pemberdayaan masyarakat dalam segala bidang. 3. Penataan Kriteria Pondok Pesantren Di data Kementerian Agama tercatat 156 Pondok Pesantren, tapi dalam realitas bahwa lebih dari 140 yang diklaim pondok pesantren tidak layak disebut Pondok Pesantren. Karena karakteristik pondok pesantren itu harus terdiri dari: ada Tuan Guru/pengasuh, Asrama/ sarana pengajian, Masjid/mushalla, ada santri yang mukim/mondok. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa lembaga pendidikan agama yang hanya menyelenggarakan pendidikan formal klasikal dicantumkan sebagai pondok pesantren. Dengan adanya penataan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 241

260 seperti ini akan jelas mana pondok pesantren yang sebenarnya dengan madrasah yang kemudian diklaim menjadi pesantren. 4. Pengembangan Konsep Pendidikan dan Dakwah Humanis. Dalam konteks masyarakat Sasak, khususnya masyarakat Lombok Timur, secara umum, belum bisa dikatakan masyarakat yang egaliter, atau moderat, sebab kebanyakan masyarakat belum dewasa menerima perbedaan, baik perbedaan pendapat, maupun perbedaan secara organisatoris, hal ini dapat dilihat bagaimana perpecahan di internal NW menjadi indikasi besar masyarakat terkotak-kotak dalam dua pilihan kepemimpinan yang terkadang tidak mencerminkan keharmonisan di masyarakat. Dalam dekade akhir-akhir ini sudah ada kelihatan perubahan terhadap dinamika pluralitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, hal ini mengindikasikan ada kedewasaan berpikir masyarakat terhadap dinamika perbedaan. Dengan demikian, keharmonisan di tengahtengah masyarakat sangat dirasakan, bahkan kompetisi yang positif terjadi di internal NW. Paham pluralitas sesungguhnya belumlah cukup untuk mengembangkan keberagamaan yang humanis. Karena itu, pluralisme haruslah dilanjutkan dengan dialog antarumat beragama dalam menyerap berbagai kebenaran yang ada. Dialog dapat dijadikan sebagai ajang kritik, koreksi, dan saling membantu dalam mewujudkan tatanan sosial yang sejuk dan damai. 242 Peta Dakwah MUI NTB

261 bab 6 KabuPatEn LOmbOK utara A. Letak Geograis Kabupaten Lombok Utara merupakan kabupaten termuda di Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki luas 776,25 Km², dan secara geograis berada di kaki gunung Rinjani. Daerah ini memiliki sejumlah obyek wisata yang cukup terkenal di manca negara, seperti pulau Gili Terawangan dan keindahan danau Segare Anak yang ada di puncak Rinjani. Kabupaten Lombok Utara menjadi salah satu dari sepuluh kabupaten/kota di provinsi Nusa Tenggra Barat yang terletak di Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 243

262 bagian utara pulau Lombok dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa, sebelah Barat berbatasan dengan selat Lombok dan kabupaten Lombok Barat, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Lombok Barat dan kabupaten Lombok Tengah serta sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Lombok Timur. 1 Kabupaten Lombok Utara mempunyai luas wilayah daratan yakni seluas 809,53 Km², dan secara administrastif terbagi dalam 5 (lima) kecamatan, 33 Desa dan 322 Dusun, dimana kecamatan Bayan memiliki luas wilayah terbesar dengan luas wilayah 329,10 Km² dan terkecil adalah kecamatan Pemenang dengan luas wilayah 81,09 Km². Letak kabupaten Lombok Utara sangat strategis, ia terletak pada daerah tujuan pariwisata, sedangkan jalur perhubungan laut dengan selat Lombok sebagai jalur perhubungan laut yang semakin ramai, dari arah Timur Tengah untuk lalu lintas bahan bakar minyak dan dari Australia berupa mineral logam ke Asia Pasiik. Di wilayah kabupaten Lombok Utara juga terdapat gugusan pulaupulau kecil yang cukup terkenal dengan wisata alam laut dan pantainya seperti, Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Berdasarkan data dari Badan Metereologi dan Geoisika (BMG), kabupaten Lombok Utara tergolong daerah yang beriklim tropis dengan temperatur berkisar 23,1 derajat Celcius dengan temperatur tertinggi terjadi pada bulan Juli-Agustus 32,9 derajat celcius dan terendah pada bulan April yaitu 20,9 derajat celcius. Ditinjau dari keadaan geograisnya kabupaten Lombok Utara terbagi menjadi daerah pegunungan, yaitu gugusan pegunungan yang membentang dari kecamatan Bayan sampai kecamatan Pemenang. Gugusan pegunungan ini merupakan sumber air sungai yang mengalir kewilayah-wilayah daratan dan bermuara di sepanjang pesisir pantai. B. Sekilas Sejarah Kabupaten Lombok Utara Lombok adalah sebuah pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat yang beribukota di Mataram. Nama Lombok, seperti diungkap oleh Solichin Salam dalam Lombok Pulau Perawan telah disebutkan dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca. 2 1 Sekertariat Daerah kabupaten Lombok Utara, Selayang Pandang Kabupaten Lombok Utara. 2 Naskah kitab Negarakartagama karya Empu Prapanca ditemukan pada tahun 1894 di Cakranegara, sebuah kota dekat Mataram Lombok sewetu tentara Belanda menyerbu ke puri Raja di Cakranegara. Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Kawi huruf Bali. Naskah 244 Peta Dakwah MUI NTB

263 Dalam Babad Sangupati, pulau Lombok dikenal dengan nama pulau Meneng yang berarti sepi, hal ini kemungkinan karena daerah tersebut pada masa itu masih sepi dan jarang penduduknya. Sampai akhir abad ke-xix Masehi ia disebut Pulau Selaparang berdasarkan nama sebuah kerajaan di Lombok Timur yang berkembang sampai pertengahan abad ke-xiv Masehi. 3 Pulau Lombok yang dihuni oleh mayoritas suku Sasak, di samping suku Samawa dan Mbojo yang berasal dari pulau Sumbawa mempunyai budaya tersendiri yang membedakannya dari budaya-budaya lain di Indonesia. Selain ketiga suku di atas, terdapat juga suku Bali, Jawa dan Sumatera yang berbaur dengan suku asli Sasak. 4 Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu kabupaten yang berada di pulau Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat. kabupaten Lombok Utara pada awalnya merupakan bagian dari kabupaten Lombok Barat berdasarkan Undang-undang pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) Nomor 44 Tahun 1950 pasal 1 ayat (1), di mana wilayah administrasi Lombok Barat membawahi wilayah administratif kedistrikan Ampenan Barat, Ampenan Timur, Tanjung, Bayan, Gerung, Asisten Kedistrikan Gondang dan Kepunggawaan Cakranegara. Demikian juga halnya, ketika lahir Undang-undang No.69 tahun 1958 tentang pembentukan wilayah wilayah Tk.II dalam wilayah daerah Tk.I. Bali, NTB dan NTT. Wilayah Lombok Utara tetap menjadi bagian dari kabupaten Lombok Barat. Seiring dengan terjadinya perkembangan yang menuntut pelayanan pemerintahan yang maksimal di berbagai daerah, dengan Undang-undang No.4 tahun 1993 kabupaten Lombok Barat dimekarkan menjadi 2 (dua) daerah otonomi, yaitu kabupaten Lombok Barat sendiri sebagai daerah induk dan kota Mataram sebagai daerah pemekaran. Sebagai konsekuensi dan terbentuknya kota Mataram, maka pada tahun 2000 dengan Peraturan Pemerintah No.62 Tahun 2000 ibu kota Lombok Barat dipindahkan dari kota Mataram ke kota Gerung. kitab ini untuk pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1902 sesuai dengan aslinya tanpa terjemahan maupun komentar, kemudian pada tahun 1919 diterbitkan kembali dengan catatan-catatan historis oleh N.J. Krom. Lihat lebih Lanjut, Solochin Salam, Lombok Pulau Perawan ( Jakarta: Penerbit Kuning Mas, 1992), h Rudini, et.al.,proil Propinsi Republik Indonesia Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992), h Rudini, et.al.,proil Propensi Republik Indonesia Nusa Tenggara Barat hal. 72. Lihat juga, Solichin Salam, Lombok Pulau Perawan; Sejarah dan Masa Depannya (Jakarta: Penerbit Kuning Mas, 1992), h.13. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 245

264 Kabupaten Lombok Utara pada awalnya merupakan bagian dari kabupaten Lombok Barat yang termasuk dalam lima belas kecamatan, yaitu kecamatan Bayan, Gangga, Kayangan, Tanjung, Pemenang, Gunungsari, Batulayar, Narmada, Lingsar, Labuapi, Kediri, Kuripan, Gerung, Lembar dan Sekotong Tengah. 5 Namun seiring dengan terjadinya perkembangan yang menuntut pelayanan administrasi pemerintahan dan pembangunan, serta pelayanan masyarakat yang maksimal, tercetus keinginan warga masyarakat kabupaten Lombok Barat bagian Utara untuk mengusulkan pemekaran kabupaten Lombok Barat bagian Utara menjadi kabupaten Lombok Utara. Guna mewujudkan aspirasi dan keinginan masyarakat kabupaten Lombok Barat bagian Utara, maka bupati kabupaten Lombok Barat membentuk komite dan tim pengkajian pemekaran kabupaten Lombok Barat yang melibatkan berbagai komponen masyarakat dan unsur akademisi dengan Surat Keputusan bupati nomor 04/03/PEM/2005 tanggal 14 Januari 2005 yang diketuai oleh H. Djohan Sjamsu, SH, wakil ketua H. Najmul Ahyar, SH, MH, dan Datu Rahdin Jayawangsa, SH sebagai sekretaris umum yang bertugas mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan proses persiapan, syarat-syarat dan kriteria Pemekaran Kabupaten Lombok Barat. Setelah melalui proses dan tahapan usulan pemekaran kabupaten Lombok Barat mendapatkan tindaklanjut dengan diagendakannya 12 Rancangan Undang-undang dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat, termasuk Undang-undang tentang Pembentukan Kabupaten Lombok Utara, yakni dengan diterbitkannya Surat Ketua DPR RI kepada Presiden RI Nomor RU.02/8231/DPR-RI/2007 tanggal 25 Oktober 2007 perihal Usul DPR mengenai 12 RUU tentang Pembentukan Kabupaten/Kota dan RUU tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 53 Tahun Sebagai pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 26 tahun 2008 tentang pembentukan kabupaten Lombok Utara di Provinsi Nusa Tenggara Barat, maka dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor tahun 2008 tanggal 24 Desember 2008 tentang pengangkatan Penjabat Bupati Lombok Utara di provinsi NTB, maka diangkatlah Drs. H. Lalu Bakri sebagai penjabat bupati Lombok Utara 5 Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Utara, Lombok Utara dalam Angka 2012 (Lombok Utara: Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Utara, 2012), h Lihat, Sekertariat Daerah kabupaten Lombok Utara, Selayang Pandang Kabupaten Lombok Utara, (Tanjung: Humas dan Protokol Sekertariat Kabupaten Lombok Utara). 246 Peta Dakwah MUI NTB

265 yang pelantikannya dilaksanakan pada tanggal 30 Desember 2008 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama presiden RI. Sehubungan dengan keikutsertaan penjabat bupati Drs. H. Lalu Bakri, sebagai calon wali kota Mataram, maka pada tanggal 06 Januari 2010 diangkat dan dilantik Drs. Ridwan Hidayat sebagai Penjabat Bupati Lombok Utara oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat menggantikan Drs H. Lalu Bakri. 7 Berdasarkan hasil pemilihan kepala daerah yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten Lombok Barat, maka diterbitkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor tahun 2010 tentang pengangkatan H. Djohan Sjamsu sebagai Bupati Kabupaten Lombok Utara periode , dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor tahun 2010 tentang pengangkatan H. Najmul Ahyar, SH, MH, sebagai Wakil Bupati Kabupaten Lombok Utara Periode yang pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan oleh Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada tanggal 02 Agustus Dengan diterbitkannya Undang-undang nomor 26 Tahun 2008, adalah tonggak awal terbentuknya kabupaten Lombok Utara, dilanjutkan dengan peresmian dan pelantikan Penjabat Bupati Lombok Utara pada tanggal 30 Desember Dengan Undang-undang tersebut, menjadikan kabupaten Lombok Utara sebagai daerah otonomi baru di provinsi Nusa Tenggara Barat. C. Adat Istiadat dan Budaya Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain, sebagai warisan, sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Adat istiadat adalah kebiasaan-kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib. Ada pula yang menganggap adat istiadat sebagai peraturan sopan santun yang turun temurun. Pada umumnya adat istiadat merupakan tradisi. Adat bersumber pada sesuatu yang suci (sakral) dan berhubungan dengan tradisi rakyat yang telah turun-temurun, sedangkan kebiasaan tidak merupakan tradisi rakyat. Adat-istiadat juga sering dimaknai sebagai tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi 7 Lihat, Sekertariat Daerah kabupaten Lombok Utara, Selayang Pandang Kabupaten Lombok Utara, (Tanjung: Humas dan Protokol Sekertariat Kabupaten Lombok Utara, 2013). 8 Sekertariat Daerah kabupaten Lombok Utara, Selayang Pandang Kabupaten Lombok Utara, (Tanjung: Humas dan Protokol Sekertariat Kabupaten Lombok Utara, 2013). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 247

266 ke generasi sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Masyarakat Lombok Utara terutama yang tinggal di desa-desa sangat memperhatikan adat istiadat dan sistem norma dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan masing-masing dusun atau desa mempunyai awiqawiq (aturan-aturan) yang ditetapkan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Bagi mereka yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai kesepakatan. Tradisi keagamaan yang berkembang pada masyarakat Lombok Utara pada umumnya dapat diklasiikasikan ke dalam dua azas, pertama, tradisi kepercayaan yang bersumber dari tradisi kepercayaan nenek moyang. Kedua, tradisi kepercayaan yang bersumber dari agama Islam. Di Lombok Utara, kedua azas ini bercampurbaur dalam praktek upacaraupacara adat dan keagamaan. Percampuran ini kemudian melahirkan varian praktek Islam yang terikat kuat dengan pola-pola pikir ulama ikih (hukum Islam) Empat Mazhab dan secara khusus Mazhab Imam Syai i. Varian pertama kemudian disebut Islam Wetu Telu, sedangkan varian kedua disebut Islam Wetu Lima. Fenomena keagamaan dari masyarakat Islam Wetu Telu adalah, masih tersisanya pengaruh ajaran agama tradisional pribumi, sedangkan pada masyarakat Islam Wetu Lima lebih ditekankan pada termanifestasikannya ideal Islam dalam pengertian normatifnya. Dalam praktek peribadatan sehari-harinya, Wetu Telu ini mempercayai dan menjalankan syari at Islam seperti sembahyang atau puasa, hanya saja pelaksanaannya tersebut dapat diwakili oleh para Kyai dan Penghulu. Sementara masyrakat lain terbebaskan. Dalam pelaksanaannya sangat variatif, ada yang melaksanakan sembahyang zuhur hanya pada hari Jum at, atau ada yang melaksanakan sembahyang subuh pada dua hari raya Kamis sore dan juga ada yang hanya sembahyang subuh dua hari raya saja. Mereka berkumpul di masjid hanya pada dua hari raya yaitu hari raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha. Sementara itu, puasa pada bulan Ramadhan dilaksanakan tiga yaitu pada awal, tengah, dan akhir. Dan dalam penentuan tanggal 1 bulan Ramadhan ada di antara mereka berpegang pada tanggal aboge (Rebo Wage), dan Kamis Pahing untuk menentukan tanggal 2 Ramadhan, serta ada yang berpegang pada Jum at Pahing untuk tanggal 3 Ramadhan. Di samping ritual keagamaan di atas, terdapat beberapa ritus kepercayaan atau upacara-upacara yang selalu dilakukan oleh 248 Peta Dakwah MUI NTB

267 masyarakat Islam Wetu Telutersebut seperti ritus yang terkait dengan pemahaman terhadap roh. Dalam pemahaman masyarakat Wetu Telu, leluhur nenek moyang masih hidup di alam halus yang suci Dana Keramat. Untuk mencapainya, harus dilakukan ritual-ritual setelah kematian (gawe pati) yang dilaksanakan pada hari kematiannya (nyelamat gumi) pada hari ke tiga, hari ke tujuh, ke sembilan, keempat puluh, ke seratus, dan ke seribu setelah kematiannya. Berbeda dengan varian Wetu Telu di atas, Islam WaktuLima merupakan varian keagamaan yang didominasi oleh ajaran Kitab Suci (al-qur an) dan Sunnah Rasulullah. Al-Qur an diyakini sebagai kitab suci yang diwahyukan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Hadits Nabi (Sunnah Nabi) yang merupakan ucapan dan tindakan serta ketetapan Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai penjelas kitab suci dan menjadi sumber sekunder hukum Islam. Di Lombok Utara, penganut Islam WaktuLima ini merupakan kelompok mayoritas yang membangun sistem kepercayaan pada pemahaman secara ketat teradap rukun Iman dan rukun Islam. Mereka menjalankan ritus-ritus keagamaan seperti syahadat, shalat, puasa, berzakat, dan berhaji sesuai dengan apa yang disyari atkan. Dan mereka pada umumnya adalah penganut Islam Ahlussunnah wal Jama ah. Namun demikian, dalam prakteknya, selain ritus-ritus keagamaan yang menjadi indikator pembeda kedua varian keagamaan di atas terdapat sejumlah praktek ritual lainnya merupakan pengaruh dari sistem kepercayaan dan budaya lokal. Berbagai ritus yang dilakukan oleh masyarakat Islam Wetu Lima ada yang terkait dengan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam seperti peringatan Nuzul al-qur an (peringatan turunnya al-qur an), Isra Mi raj, Maulid Nabi (Kelahiran Nabi SAW), ada juga yang terkait dengan peralihan hidup manusia dari satu tahapan ke tahapan lainnya. Upacara-upacara tersebut seperti peringatan kehamilan tujuh bulan kelahiran, sunatan, perkawinan, dan kematian. Upacara-upacara tersebut dilaksanakan sangat variatif sesuai dengan kemampuan. Orang kaya (mampu) misalnya, menyambut dan merayakan kelahiran anaknya dengan acara besar segala keramaiannya terutama anak pertama. Hal ini biasanya dilaksanakan pada saat anak berumur tujuh hari, dan dalam acara ini dibacakan kitab Barzanji oleh tokoh agama (Tuan Guru atau Kiai) dan diadakan acara potong rambut (ngurisan) dan ini biasanya disebut Aqiqah dalam konsep Islam. Sementara bagi masyarakat lemah acara ngurisan biasanya dilakukan pada saat hari-hari besar di masjid-masjid mereka. Dalam tradisi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 249

268 masyarakat Lombok Utara, membaca kitab Barzanji juga dilakukan pada saat akan menempati rumah baru, akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, atau momentum-momentum lainya. Prosesi lain yang terkait dengan peralihan kehidupan seperti upacara perkawinan dengan berbagai tahapannya, dan juga diadakan upacara kematian. Dalam upacara ini muatan-muatan Islam (shadaqah, ta ziah, zikir, dan do a) dan atau cara-cara pelaksanaannya lebih banyak ditampilkan cara-cara adat. Pada hari-hari kematian lebih banyak diadakan Tadarus al-qur an, yaitu membaca dengan tartil dan melagu menurut tajwid dilakukan secara bergilir. Tujuan utama dari upacara ini adalah memberikan barkah kepada arawah orang yang telah meningal dan penyebaran syariah Islam. Dan dapat pula rangkaian acara tersebut sebagai bentuk Ta ziah terhadap ahli waris yang ditinggalkan. Dalam peta dakwah, keberadaan Wetu Telu ini seringkali menimbulkan permasalahan di tengah masyarakat, terutama ketika mereka melakukan ritual adat lebaran dan ritual adat mauludan. Ritual-ritual ini sering dianggap menyimpang, baik dari pakaian yang dikenakan, bacaan-bacaan yang digunakan serta sesembahansesembahan yang mirip sesajen dalam tradisi agama Hindu.Bahkan, tidak terlihat perayaan layaknya yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam, terutama di pulau Lombok. Karena itu, pada dekade terakhir, kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para Da i dari berbagai elemen lembaga Islam kian marak.hal ini ditandai dengan semakin banyaknya pendirian masjid dan mushalla, berdirinya lembaga-lembaga pendidikan baik madrasah maupun pondok pesantren, sebagai upaya pendampingan dan dakwah untuk melahirkan kesadaran masyarakat untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar. Pada saat ini, keberadaan penganut Wetu Telu di Lombok Utara hanya terbatas di dua kecamatan, kecamatan Bayan dan kecamatan Kayangan. Sementara di tiga kecamatan yang lain, yaitu kecamatan Gangga, kecamatan Tanjung dan kecamatan Pemenang, keberadaan Wetu Telu sudah jauh berkurang, hanya tersisa di beberapa pedalaman, seperti desa Paok Rempek dan Desa Genggelang. Permasalahan dakwah yang sering terjadi terhadap kelompok Wetu Telu di Lombok Utara saat ini adalah, kuatnya keyakinan masyarakat Wetu Telu terutama para tokohnya.keyakinan yang cukup lama mereka dapatkan secara turun-temurun dan dalam rentang Wetu yang lama.hal 250 Peta Dakwah MUI NTB

269 ini menjadi kendala tersendiri bagi dakwah di tengah masyarakat Wetu Telu.Karena itu, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak dan memberikan pendidikan keagamaan kepada generasi muda dengan memberikan bantuan pendidikan keagamaan di madrasah-madrasah ataupun di pondok pesantren. D. Agama Sedangkan dari sudut pandang sosial keagamaan, sebagian besar penduduk pulau Lombok Utara adalah suku Sasak yang menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut adalah agama Hindu, yang dianut oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 10% dari seluruh populasi di sana. Penganut agama Budha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini. 9 Sedangkan agama Kristen, baik Katolik maupun Protesten mulai dikenal sekitar tahun 1970-an dengan jumlah penganut yang sangat sedikit, tidak lebih dari 1 persen. Di Lombok Utara ada tiga agama yang memiliki komunitas signiikan, Islam Hindu dan Budha. Masing-masing penganut agama tersebar di lima kecamatan dengan jumlah yang berbeda-beda. Jumlah pemeluk agama sesuai dengan data yang ada pada Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lombok Utara sebagai berikut: Kecamatan Islam Hindu Budha Protesten Katolik Pemenang Tanjung Gangga Kayangan Bayan Jumlah Lombok Utara sebagai salah satu kabupaten yang memiliki keanekaragaman ideologi dan agama menghadapi permasalahan sebagaimana yang di hadapi bangsa Indonesia saat-saat ini, yaitu 9 Kepala Kementerian Agama kabupaten Lombok Utara Wawancara pada Tanggal 10 November Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 251

270 kurangnya rasa kesatuan dan persatuan.salah satu sebab rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat Lombok Utara adalah karena randahnya penghayatan terhadap nilai-nilai agama.perbedaan kepentingan dan golongan seringkali menjadi sebab perpecahan dan konlik.perpecahan itu biasanya diawali dengan adanya perbedaan pandangan di kalangan umat beragama terhadap suatu fenomena. Di kalangan umat Islam Lombok Utara, seringkali terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran mengenai sesuatu keyakinan atau hukum yang kemudian melahirkan berbagai pandangan yang berbeda.perbedaan pendapat dan penafsiran pada dasarnya merupakan fenomena yang biasa dan manusiawi.karena itu, menyikapi perbedaan pendapat sesungguhnya adalah memahami berbagai penafsiran. Masyarakat Lombok Utara, seperti yang diungkapkan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat menganggap bahwa kerukunan hidup antarumat beragama merupakan kebutuhan bersama yang menjamin keamanan, kedamaian dan toleransi antar masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari semboyan hidup Polong Renten masyarakat Lombok Utara yang juga dikenal sebagai mayarakat Dayan Gunung. 10 Prinsip Polong Renten adalah sebuah nilai dalam kearifan lokal masyarakat Lombok Utara yang bermakna bahwa kita adalah saudara walaupun berbeda.persaudaraan yang didasarkan pada nilai kekerabatan dan kebersamaan yang secara historis telah terjalin dalam kurun Wetu yang begitu panjang.menurut para tokoh masyarakat Lombok Utara, perbedaan yang ada bukanlah merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Namun kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang bersifat dinamis, humanis dan demokratis, harus ditransformasikan kepada masyarakat kalangan bawah (grass root), sehingga kerukunan tersebut tidak hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh kalangan-kalangan atas atau orang kaya saja. Berangkat dari uraian singkat seputar sejarah masuknya unsurunsur baru di Lombok, mulai dari masuknya agama Hindu (Jawa dan Bali), Islam, Belanda dan Jepang, tidak diragukan lagi bahwa dalam komunikasi dan interaksi masyarakat Lombok dengan varianvarian yang membawa unsur-unsur baru tentunya akan memberikan dampak baru akibat terjadi akulturasi timbal balik antara budaya lokal 10 Ahmadi salah satu tokoh adat masyarakat kabupaten Lombok Utara Wawancara pada tanggal 12 November Peta Dakwah MUI NTB

271 dengan pernik-pernik baru tersebut. Sehingga yang dapat disaksikan sekarang ini adalah beberapa pernik peninggalan dari beragam unsur yang pernah masuk dan berkembang di Lombok. Unsur-unsur baru tersebut memberi andil terhadap pembentukan pola-pola kehidupan masyarakat Sasak Lombok Utara. 11 Barangkali, tipe Islam yang pertama kali dipraktekkan di pulau Lombok Utara terutama oleh orang-orang Sasak adalah campuran antara kepercayaan-kepercayaan Austronesia dengan Islam. Seperti ditegaskan oleh Jhon Rayn dalam penelitiannya tentang Masyarakat Nahdatul Wathan dan Muhamadiyyah di Lombok menyatakan bahwa sebenarnya banyak sarjana yang bekerja di Lombok berpendirian bahwa konversi awal kepada Islam tidak membutuhkan penerimaan secara keseluruhan dari kepercayaan-kepercayaan baru tersebut, karena agama baru (Islam) yang diterima cocok dan tidak mengancam struktur-struktur sosial serta kepercayaan-kepercayaan yang ada. 12 Corak Islam yang dibawa oleh Sunan Prapen ini bernuansakan ikih, hingga dari sinilah lahirnya kelompok Islam Wetu Lima sebagai tandingan dari Islam Wetu Telu (Wetu Telu). Sunan Prapen masuk ke Lombok melalui Labuan Lombok di Lombok Timur. Kedua, Islam datang dari arah Barat dari daerah Pengging Lombok Tengah yang datang hampir bersamaan dengan kelompok pertama sekitar abad ke XVI Masehi. Corak dari Islam yang kedua ini, adalah Islam yang bercorak mistik (suisme). 13 Masyarakat Lombok kendati memeluk Islam, mereka juga masih menjalankan kebiasaan dan melestarikan adat istiadat yang sepintas jika dicermati banyak dipengaruhi oleh adat dan tradisi Hindu. Sehingga di samping pemahaman tentang Islam, pengalaman keagamaan Boda pun masih terus dilestarikan. Ini sekaligus merupakan salah satu hipotesis dari sekian banyak asumsi tentang kemunculan Wetu Telu Zahroni Fath, Melihat Budaya Mataram (Mataram: Yayasan Sinar Mas, 1998), hal Jhon Ryan, Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak, hal. 95. Lihat juga, Sven Caderroth, Islam and Adat Some Recent Changs in The Social Position of Women Among Sasak in Lombok (London: Curzon Press, 1981), hal Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu Versus Wetu Lima, hal Pembagian yang dibuat oleh beberapa sarjana tentang agama di Lombok yaitu tradisional (Wetu Telu) dan samâwî (Wetu Lima) sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang terpisah satu sama lain. Kedua kategori ini bisa saling bertumpang tindih, di mana sebuah kategori memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang juga sebenarnya dimiliki oleh kategori lain begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain, Wetu Telu memuat nilai-nilai, konsep, pandangan dan praktik-praktik tertentu yang hingga batas-batas tertentu juga bisa ditemukan dalam Wetu Lima. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 253

272 E. Pendidikan 1. Pendidikan Anak Usia Dini/TK/RA Pembinaan anak usia dini ditujukan kepada anak-anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sebaran Pendidikan Usia Dini/TK perkecamatan sebagai berikut; No. Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 1 Pemenang Tanjung Gangga Kayangan Bayan Total Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Madrasah Ibtidaiyah merupakan jenjang pendidikan yang melandasi pendidikan tsanawiyah.pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jumlah Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Lombok Utara sebagaimana data yang ada di DIKBUDPORA kabupaten Lombok Utara sebagai berikut; No. Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 1 Pamenang Tanjung Gangga Kayangan Bayan Jumlah Sedangkan jumlah Madrasah Ibtidaiyah di kabupaten Lombok Utara per kecamatan berikut alamat dan pimpinannya sebagai berikut: 254 Peta Dakwah MUI NTB

273 No. Kecamatan Jumlah Madrasah 1 Pemenang 2 2 Tanjung 5 3 Gangga 8 4 Kayangan 8 5 Bayan 12 Jumlah Sekolah Menengah Pertama/MTs Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah adalah lanjutan dari jenjang sekilah dasar/madrasah Ibtidaiyah. Berdasarkan data DIKBUDPORA kabupaten Lombok Utara, sebaran Sekolah Menengah Pertama per kecamatan sebagai berikut; No. Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 1 Pemenang Tanjung Gangga Kayangan Bayan Total Madrasah Aliyah Madrasah Aliyah adalah tahap lanjutan dari Madrasah Tsanawiyah atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Data jumlah Madrasah Aliyah dari Kantor Kementrian Agama kabupaten Lombok Utara sebagai berikut; No. Kecamatan Madrasah Aliyah 1 Pemenang 6 2 Tanjung 4 3 Gangga 3 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 255

274 4 Kayangan 5 5 Bayan 2 Jumlah 20 F. Rumah Ibadah Sarana prasarana adalah sarana yang dibangun untuk kebutuhan beribadah dalam agama tertentu. Di Lombok Utara, rumah ibadah memiliki nilai sakral, sehingga setiap agama mempertahankan kesakralan tersebut dengan cara menjaga dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk mengajarkan tentang nilai-nilai dan norma-norma ajaran agama. Karena itu, seringkali rumah ibadah menjadi pusat kegiatan keagamaan. Di Lombok Utara terdapat masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin, Vihara tempat ibadah umat Bhudis dan Pure sebagai tempat ibadah umat Hindu. Sedangkan gereja sebagai tempat ibadah umat Kristiani belum dapat dibangun, hal ini dikarenakan jumlah umat Kristiani yang sedikit tidak memungkinkan untuk membangun rumah ibadah. Berikut ini data jumlah rumah ibadah di kabupaten Lombok utara di setiap kecamatan: Kecamatan Masjid Mushalla Pure Vihara Gereja Pemenang Tanjung Gangga Kayangan Bayan Jumlah Dari gambaran di atas, diketahui bahwa mayoritas penduduk kabupaten Lombok Utara beragama Islam dengan banyaknya jumlah masjid dan mushalla. Sampai saat ini ummat Kristen Katolik dan Protesten di kabupaten Lombok Utara belum memiliki sarana gereja sehingga mereka ke gereja di kota Mataram untuk melaksanakan ritual keagamaan. 256 Peta Dakwah MUI NTB

275 G. Majlis Taklim dan TPQ Majlis taklim dan TPQ adalah sebuah lembaga non formal yang dihajatkan untuk pembinaan keimanan dan pemahaman keagamaan. Sebagian masjid-masjid yang berada di pusat keramaian atau yang disebut dengan masjid Jami memiliki majlis taklim. Majlis taklim ini biasanya dilakukan setelah shalat magrib hingga menjelang salat Isya yang diisi oleh para tuan gura atau asatiz. Sedangkan untuk kegiatan membaca al-qur an dilakukan di rumah-rumah ataupun di mushalamushalla. Berikut ini jumlah TPQ di kabupaten Lombok Utara berdasarkan data yang ada pada kementrian agama kabupaten Lombok Utara: TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Al Abror Santong Asli TPQ Al Amin Dangiang Santong Asli, Desa Santong Dangiang Barat, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Al Amin Lokok Bata Lokok Bata, Desa Pendua TPQ/RTQ TPQ Al Anbiya` Suka Damai, Desa Santong Boyotan Proyek, Desa TPQ/RTQ TPQ Al Aswad Gumantar Dusun Karang Anyar TPQ/RTQ TPQ Al Falah Desa Gondang TPQ/RTQ TPQ Al Fatihah Sumur Pande Daya, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Fattah Karang Anyar Desa Medana TPQ/RTQ TPQ Al Ghuraba Kandang Kaok TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Al Hasanul Muttaqin TPQ Al Hijrah TPQ Al Hikmah Karang Tal TPQ Al Hikmah Sumur Pande Dasan Tereng, Desa Gumantar Banten Damai, Desa Dangiang Karang Tal, Desa Kayangan Sumur Pande Lauk, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Hikmah Dusun Temposodo Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 257

276 TPQ/RTQ TPQ Al Hikmah Gang Tengah Gang Tengah, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Al Hikmah Pansor Pansor Tengak, Desa Tengak Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Huda Rangsot Barat RT. 001 Desa Sigar Penjalin TPQ/RTQ TPQ Al Ihsan Cempaka, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Al Ijtihad Kebaloan Lauk, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Mekar Sari Mekar Sari, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Selengen Selengen, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Gumantar Gumantar, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Al Iman Tukak Bendu Tukak Bendu, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Iman Empak Mayong Empak Mayong, Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Al Iqrar Batu jompang, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Islahuddin Lokok Menur,Dusun Murpayung.Desa Sigar Penjalin. TPQ/RTQ TPQ Al Istiqomah Bat Pawang Bat Pawang, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Ainul Yaqin Dompo Indah Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Al Muhajirin Subak 10 Subak 10, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Al Muhajirin Majalangu, Sokong TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Al Muhajirin Dangiang Timur TPQ Al Muhajirin Santong Mulia TPQ Al Muhajirin Pansor Daya TPQ Al Muhajirin Lendang Lego Dangiang Timur, Dangiang Santong Mulia, Sesait Pansor Daya, Sesait Lendang Lego, Desa Sesait 258 Peta Dakwah MUI NTB

277 TPQ/RTQ TPQ Al Mujahiddin Lokok Rangan, Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Al Mukminin Salut Barat 1 Salut Barat, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Al Mukminin Salut Barat 2 Salut Barat, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Al Muttaqin Kebon Kunyit, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Al Ukhwah Koloh Gong Dusun Mengkudu TPQ/RTQ TPQ Annasrudin Boyotan Proyek, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Arrahman Sumur Pande, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Attohiriah Boyotan Proyek, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Babussalam Dangiang Dangiang Barat, Desa Barat 1 Dangiang TPQ/RTQ TPQ Babussalam Pendua Lauk Pendua Lauk, Desa Pendua TPQ/RTQ Jln. Kayangan- Santong. TPQ Babussalam Dangiang RT.003. Dangiang Barat. Barat 2 Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Babussalam Karang Karang Jurang Gengelang TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ Jurang TPQ Babussalam Karang Bayan TPQ Badrussalam Empak Mayong TPQ Baitul Haq Beraringan TPQ Baitul Makmur Lendang Batu Gangga Karang Bayan Desa Tanjung Empak Mayong, Desa Kayangan Beraringan, Desa Kayangan Lendang Batu, Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Baitul Makmur Sentul Sentul, Desa Pendua TPQ/RTQ TPQ Baiturrahim Lokok Sutrang Lokok Sutrang, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Baiturrahim Sentul Sentul, Desa Pendua Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 259

278 TPQ/RTQ TPQ Baiturrahim Waker Waker, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Baiturrahman Pendua Pendua Lauk, Desa Lauk Pendua TPQ/RTQ TPQ Baiturrahman Santong Santong Barat, Desa Barat Santong TPQ/RTQ TPQ Bayinul Ulum Santong Asli, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Bayinurrahim Gubuk Baru, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Bayyinul Ulum Subak 10 Subak 10, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Cahaya Sunnah Lading-Lading TPQ/RTQ TPQ Dahrim Tangga, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Darul Hikmah Lokok Ara, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Darul Iman Pansor Lauk, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Darul Muttaqin Santong Timur, Santong TPQ/RTQ TPQ Darunnasikin Boyotan Asli, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Darussalam Sumur Pande Sumur Pande, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Darussalam Kebon Kunyit Kebon Kunyit, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Darussalam Sempakok Sempakok, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Eling Al Islam Sengaran Dusun Selelos Desa Bentek TPQ/RTQ TPQ Gua Hiro` Mekar Sari, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Haqqul Yaqin TPQ Hubbul Jihad TPQ Ishlahul Ummah TPQ Jabal Nur Suka Damai TPQ Jamiatul Fadhli Lendang Galuh Lengkukun, Desa Kayangan Dusun Sankukun Desa Genggelang Dsn. Cupek, Desa Sigar Penjalin Suka Damai, Desa Santong Dusun Lendang Galuh 260 Peta Dakwah MUI NTB

279 TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Jamilatul Fadli TPQ Jannati Rangsot Timur Montong Singgan, Desa Salut Rangsot Timur RT. 001 Desa Sigar Penjalin TPQ/RTQ TPQ Darul Iman Perigi Perigi, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Miftahul Jannah Pansor Kuni Jati, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Miftahul Qulub Jelantik, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Minhajus Sahabah Gondang Gondang TPQ/RTQ TPQ Minhajuss Sahabah Kr. Lendang Kr. Lendang TPQ/RTQ TPQ Muhajirin Santong, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Arqom Banten Damai, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Nurul Fahmi Rangsot Barat RT. 001 Desa Sigar Penjalin TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Falah TPQ Nurul Hakim Tanak Sebang Dangiang Barat, Desa Dangiang Tanak Sebang, Desa Salut Lokok Menur,Dususn TPQ Nurul Hakim Lokok TPQ/RTQ Murpayung,Dsa Sigar Menur Penjalin Rt,01 TPQ/RTQ TPQ Nurul Haq Santong Asli, Santong TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Hidayah Tanak Maut TPQ Nurul Hidayah Panggung Barat TPQ Nurul Hidayah Lokok Beru TPQ Nurul Hidayatul Muhtar Tanak Muat, Desa Kayangan Panggung Barat, Desa Selengen Lokok beru, Desa Salut Lokok Menur,Dusun Murpayung.Desa Sigar Penjalin.Rt 02 TPQ/RTQ TPQ Nurul Hijjah Sempakok, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Hijrah Sempakok, Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Hikmah Sempakok Sempakok, Desa Santong Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 261

280 TPQ/RTQ TPQ Nurul Hikmah Sempakok Lembah berora, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Rebakong Rebakong, Desa Kayanga TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Sidutan Sidutan, Kayangan TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Sesait Sesait, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Pendua Pendua TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Santong Timur TPQ Nurul Huda Santong Tengah TPQ Nurul Huda Karang Teter Santong Timur, Desa Santong Santong Tengah, Desa Santong Karang Teter, Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Oman Rot Oman Rot, Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Suka Damai Suka Damai, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Teluk Dalam Medana TPQ/RTQ TPQ Nurul Ihsan Serimbun, Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Nurul Ikhsan Cempaka Cempaka, Desa Santong TPQ Nurul Ikhsan Santong Santong Barat, Desa TPQ/RTQ Barat Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Ikhwan Melepah, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Bagek Kembar TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Dangiang Barat TPQ Nurul Iman Sumur Pende TPQ Nurul Iman Kebaloan TPQ Al Abrar Dangiang Barat, Desa Dangiang Sumur pande tengak, Desa Sesait Kebaloan daya, Desa Sesait Dusun Gubuk Baru Desa Selengen 262 Peta Dakwah MUI NTB

281 TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Sabilirrosyad TPQ Nurul Iman Senumpeng Dusun Tampes Desa Selengen Senumpeng, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Melepah Melepah, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Sambik Rindang TPQ Nurul Iman Empak Mayong TPQ Nurul Islam Lokok Senggol TPQ Nurul Islam Santong Barat TPQ Nurul Istiqmah TPQ Nurul Jannah Sambik Rindang, Desa Salut Jln. Kayangan- Santong. RT.003. Bagek Kembar. Desa Kayangan Lokok Senggol, Desa Pendua Santong Barat, Desa Santong Sambik Jengkel Timur Desa Selengan Santong Timur, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Sejonggga Sejongga, Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Waker Waker, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Sempakok Sempakok, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Sambik Jengkel II Sambik Jengkel Brt, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Salut Kendal Salut Kendal, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Montong TPQ Nurul Mustafa TPQ Nurul Muttaqin Amoramor TPQ Nurul Muttaqin Kelanjuhan Dusun Montong, Desa Jenggala Santong Timur, Desa Santong Amor Amor, Desa Gumantar Kelanjuhan, Desa Gumantar Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 263

282 TPQ/RTQ TPQ Nurul YaKin Pendua Daya Pendua Daya, Desa Pendua TPQ/RTQ TPQ Nurul Yaqin Mursinjong Mursinjong, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Nurul Yaqin Gili Air Gili Air Desa Gili Indah TPQ/RTQ TPQ Nurussholawat Salut Salut Tengah, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Nuruttaqwa Bilok Suar, Desa Pendua TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Qiro`Ati Al Quran TPQ Raudatul Firdaus Orong Ramput Desa Medana Nangka Lombok, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Raudatul Islam Tanak Sebang, Desa Salut TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Raudatul Jannah Lembah Berora TPQ Raudhatul Jannah TPQ Raudhatussibyan TPQ Riyadushalihin Lembah berora, Desa Selengen Dsn. Orong Nagasari, Desa Sokong Santong Barat, Desa Santong Jl.Mengkudu, Dusun Mengkudu, Desa Sokong TPQ/RTQ TPQ Sabilul Hadi Jl. Prawira Batu Lilir Km 7 Dusun Dasan Tengak Desa Teniga TPQ/RTQ TPQ Sabilurrasyad Tampes, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Sangiang Sangiang, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Sifa`Ul Qulub Selengen, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Solatiah Gubuk Baru, Desa Santong TPQ/RTQ TPQ Solihin Lendang Jati, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Suparman Boyotan Proyek, Desa Gumantar TPQ/RTQ TPQ Syamsul Huda Perigi, Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Tunggal Kayun Karang Raden Desa Tanjung 264 Peta Dakwah MUI NTB

283 TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Ziyadul Ulum TPQ Darussalam Leong Barat Dangiang Timur Tengah Desa Dangiang Dusun Leong Barat, Desa Tegal Maja TPQ/RTQ TPQ Nurul Yaqin Teluk Dalam Medana TPQ/RTQ TPQ Madinatul Ilmi Dusun Sumur Pande Desa Sesait TPQ/RTQ TPQ Jabal Nur Lading-lading Lading-lading TPQ/RTQ TPQ Darussalam Karang Langu Karang Langu TPQ/RTQ TPQ Alif Al Fatihah Otak Lendang Desa Akarakar TPQ/RTQ TPQ Darul Qurra` Wal Huffaz Terengan Tanak Ampar Desea Pemenang Timur TPQ/RTQ TPQ Zainul Wathoni Dusun Persiapan Gubuk Baru Tanjung TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Shirotoll Mustaqim TPQ Darul Palihin TPQ Abu Hurairah Orong Ramput Desa Medana Lokok Piko Dusun Jugil, Samba Karang Montong Daya Desa Pemenang Timur TPQ/RTQ TPQ Al Hijrah Dusun Teluk Kombal TPQ/RTQ TPQ Assidiqiyah Kr. Baru Pemenang Timur TPQ/RTQ TPQ Al Khaerat Menggala Pemenang Barat TPQ/RTQ TPQ Al Furqon Jeruk Manis Pemenang Barat TPQ/RTQ TPQ Darul Quro Bentek Pemenang Barat TPQ/RTQ TPQ Miftahul Jihad Sentul Desa Pendua TPQ/RTQ TPQ Syifa`unnufus Sambik Elen TPQ/RTQ TPQ Muhajirin NW Kebaloan Dsn Kebaloan Atas Desa Senaru TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Dusun Akar-akar Selatan Desa Akar-akar TPQ/RTQ TPQ Nurul Hidayah Dusun Panggung Barat Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 265

284 TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Selengen TPQ/RTQ TPQ Nurul Yaqin Sambik Jengkel Timur TPQ/RTQ TPQ Nurul Hakim Tanak Sebang TPQ/RTQ TPQ Mekar Wangi Sambik Jengkel Barat TPQ/RTQ TPQ Darul Muttaqin I Lokok Mandi Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Darushalihin Lokok Mandi Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Darussalam Tanngga Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Nurul Jihad Sambil Jengkel Barat Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Sangiang TPQ/RTQ TPQ Miftahul Khair Dangiang Timur Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Baitur Rahim Dusun Lokok Sutrang TPQ/RTQ TPQ Hidayatullah Dusun Serimbun TPQ/RTQ TPQ Haqqul Yaqin Lengkukung Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Al Mujahidin Aur Kuning TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Rebakong Rebakong Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Raudlatusshibyan TPQ Al Azmi Dusun Santong Desa Santong Dsn. Banten Damai Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Bayyinul Ulum Santong Jalan Raya Santong Asli TPQ/RTQ TPQ Nurul Mutaqin Amor-Amor TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Senumpeng TPQ/RTQ TPQ Raudatul Jannah Lembah Berora Dsn. Lembah Berora RT. 1 Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Al Aqram Dusun Amor-amor TPQ/RTQ TPQ Nurul Iqmah Dusun Panggung Timur TPQ/RTQ TPQ Nurus Salawat Salut Dusun Salut Timur 266 Peta Dakwah MUI NTB

285 TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Dusun Sejongga TPQ/RTQ TPQ Darul Qur`an Dusun Dangiang Barat TPQ/RTQ TPQ Al Furqon Dusun Tampes Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Nur Ihsan Santong Barat RT. 03 TPQ/RTQ TPQ Al Kapiyah Dusun Waker Santong TPQ/RTQ TPQ Imam Syai`i Kr. Langu TPQ/RTQ TPQ Asmaul Husna Sembaro TPQ/RTQ TPQ Al Mubayin Dusun Lengkukung Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ As Salam Sambik Jengkel Barat TPQ/RTQ TPQ Al Azmi Dasan Banten Damai Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Zaenudin Dasan Banten Damai Desa Dangiang TPQ/RTQ TPQ Haqqul Yaqin I Lengkukung Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Nahdatul Ummah Sumur Pande Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Mujahidin Dusun Aur Kuning TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Lendang Batu Dusun Lendang Batu Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Al Ikhlas Sidutan Sidutan Desa Kayangan TPQ/RTQ TPQ Al Abrar Sambik Jengkel Barat TPQ/RTQ TPQ Nurul Huda Sesait Dusun Omat Rot Sesait TPQ/RTQ TPQ Al Mukminin Salut Barat TPQ/RTQ TPQ An Nur Gubuk Baru Selengen Dusun Gubuk Baru Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Al Amin Dusun Gubuk Baru Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Al Khairullah Dusun Sambik Rindang TPQ/RTQ TPQ Al Hikmah Dusun Pawang Karya TPQ/RTQ TPQ An Nur Dusun Akar-akar Selatan Desa Akar-akar Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 267

286 TPQ/RTQ TPQ Al Abrar Dusun Pawang Karya TPQ/RTQ TPQ Nurul Iman Pancor Getah Desa Rempek TPQ/RTQ TPQ Nurul Yaqin Dusun Mursinjong TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Al Abrar TPQ Al Amin Dusun Gitakl Demung Desa Genggelang Dusun Karang Anyar Desa Gondang TPQ/RTQ TPQ Al Muttaqin 2 Tanak Song Daya TPQ/RTQ TPQ Al Muttaqin 1 Tanak Song Daya TPQ/RTQ TPQ Athoriqul Hijrah Torean Desa Loloan TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Al Mukhar NW TPQ Nurul Hikmah TPQ Nurul Iman Murjumeneng TPQ Al Misbah TPQ Al-Ardhi TPQ al-fadhil Menggala Pemenang Barat Dusun Dasan Lendang Desa Anyar Murjumeneng Dusun Pandanan Desa Malaka RT. 2 Desa Medane teluk dalam kern Murmaqam Dusun Beriri Genteng Desa Teninga TQA TQA Al Mubaraq Kr. Bedil Desa Gondang TQA TQA TQA Jamiatul Muslim TQA Nurul Hidayah Rangsot Timur RT. 001 Desa Sigar Penjalin Jl. Pemda Dusun Tanak Sanggar Desa Sokong TPQ/RTQ TPQ Darul Qoror Subak 10 Santong Timur TPQ/RTQ TPQ Darun Najihin Jl. Puskesmas Santong Timur TPQ/RTQ TPQ Al Mujahidin Salut Timur TPQ/RTQ TPQ Darul Aulad Dusun Terengan Daya TPQ/RTQ TPQ Al Istiqomah Kr. Desa Karang Desa Pemenang Barat 268 Peta Dakwah MUI NTB

287 TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ/RTQ TPQ Babul Mujahidin TPQ Baitul Jannah TPQ Al Ikwan Montong Singgan TPQ Al Ishlahuddin Salut Kendal TPQ Nurul Hidayah Teluk Kodek TPQ Bahrul Ulum Lokok Menur TPQ Al Istiqomah Lendang Berora TPQ Fadhil Azizi TPQ Aq Barr TPQ Fathul Jannah Sira TPQ Darusalam Sambik Rindang TPQ Darul Muttaqin II Dusun Bayan Timur Desa Bayan Dusun Bayan Barat Desa Bayan Montong Singgan, Desa Salut Dusun Salut Kendal Teluk Kodek Desa Malaka Lokok Menur Desa Sigar Penjalin Lendang Berora Desa Sigar Penjalin Dusun Rangsot Barat Desa Sigar Penjalin Dusun Sanggar Sari Desa Sigar Penjalin Dusun Sira Desa Sigar Penjalin Dusun Sambik Rindang Desa Salut Dusun Sambik Jengkel Perigi Desa Selengen TPQ/RTQ TPQ Darul Muttaqin III Dusun lokok Mandi TPQ/RTQ TPQ Raodatul Islam Tanak Sebang Desa Salut TPQ/RTQ TPQ Teladan Imam Syai`i Karang Langu TPQ/RTQ TPQ Bayanul Muttaqin Anjah-Anjah Dusun Rempek Desa Rempek TPQ/RTQ TPQ Nurul Istiqomah Kebaloan, Desa Sesait Rekapitulasi Kecamatan Jumlah Lembaga Pemenang 13 Tanjung 41 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 269

288 Gangga 13 Kayangan 186 Bayan 11 Total 264 H. Pondok Pesantren Saat ini, pondok pesantren perlu dibaca sebagai warisan sekaligus sebagai kekayaan kebudayaan dan intelektual Nusantara. Lebih dari itu, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren juga harus difahami sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri karena peran sejarah yang dimainkannya. Pesantren selain dianggap dan dicita-citakan sebagi pusat pengembangan ilmu dan kebudayaan yang berdimensi religious, ia juga dipersiapkan sebagai motor transformasi bagi komunitas masyarakat dan bangsa. Dalam perkembangan sejarahnya, peran kebudayaan dan menonjol yang dimainkan pesantren hingga kini adalah konsentrasi dan kepeloporannya dalam mempertahankan dan melestarikan ajaran-ajaran Islam ala Sunni (Ahlussunnah Waljama ah) serta mengembangkan kajian-kajian keagamaan melalui khazanah berbagai Kitab Kuning (al-kutub al-qadimah) yang dikenal dikalangan pesantren sebagai mempedalam ilmu agama (al-tafaqquh i al-din). Sebagai hasil dari pergulatan kebudayaan yang kreatif antara tradisi, system pendidikan dan pola intraksi santri dan kiai, pesantren akhirnya memiliki pola yang spesiik sehingga cendikiawan seperti Gus Dur memposisikan pesantren sebagai sub-kultur tersendiri. Hal ini ia bandingkan dengan dengan lingkungan pendidikan parsial yang ditawarkan system pendidikan sekolah umum saat ini sebagai budaya pendidikan nasional, maka pondok pesantren mempunyai kulturnya sendiri yang unik. Sejalan dengan tuntutan modernitas dan keharusan merespon kenyataan, pesantrenpun melakukan perubahan diri. Pada masa silam, pondok pesantren di Indonesia dapat merespons tantangan-tantangan zamannya dengan sukses. Sementara itu, sistem pondok pesantren yang dikembangkan oleh kaum sui seperti banyak terjadi di Malaysia dan Thailand bagian Utara sebagai kekuatan di luar sekolah dan sebagai institusi agama saat ini merana tak henti-hentinya 270 Peta Dakwah MUI NTB

289 ditekan oleh system sekolah model Barat. Pondok pesantren di Indonesia menampakkan kemampuan (istitha ah/capability) yang unik dalam merespons problem yang sangat kompleks serta menolak secara umum sistem pendidikan di Indonesia. Semenjak tahun 1920-an, pondok pesantren mulai mengadakan eksperimen dengan mendirikan sekolahsekolah dilingkungan pondok pesantren sendiri. Kemudian pada tahun 1930-an, pondok pesantren sudah memperlihatkan percampuran kurikulum. Puncak kemapanan sekolah agama dilingkungan pondok pesantren terjadi sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an. Di sisi lain, pemikiran tentang kemungkinan pondok pesantren eksis dengan dirinya sendiri sebagai basis perkembangan masyarakat yang dimulai sekitar awal tahun 70-antelah berkembang menjadi suatu gerakan besar bagi transformasi sosial, termasuk bagi transformasi pondok pesantren itu sendiri. Pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan di Lombok Utara tumbuh dengan subur. Namun, sampai saat ini terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah pondok pesantren, hal ini disebabkan perbedaan deinisi tentang pondok pesantren itu sendiri. Karena pondok pesantren juga dimaknai sebagai madrasah. Jika mengacu kepada kreteria pondok pesantren secara nasional, dimana suatu lembaga dikatagorikan sebagai pesantren, jika ada Tuan Guru atau Kyai serta ada santri yang bermukim. Jika mengacu pada kreteria ini maka di Lombok Utara Sampai saat ini baru ada 21 pondok pesantren. Berikut ini data perkecamatan dan alamat masing-masing pondok pesantren.: No. Kecamatan Pesantren 1 Pemenang 6 2 Tanjung 3 3 Gangga 2 4 Kayangan 7 5 Bayan 3 6 Jumlah Total 21 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 271

290 Nurul Yaqin 2 Jln. Raya Senggigi - Pemenang, Dusun Pandanan, Desa Malaka Nurul Bayan 2 Hidayaturrahman NW Menggala Isti`daduddarain Orong Ramput Al Ikhwan Sesait 2 Jalan Tanjung Bayan KM.40 Dsn. Lendang Mamben 2 Jln. Raya Pemenang Tanjung 2 Orong Ramput Jalan Raya Santong Km5 Sumur Pande Lauk RT02/RW01 Desa Sesait Nurul Jihad Sambik Jengkel 2 Jl.Jurusan Sambik Jengkel Barat Desa Selengen Al Jariyah NW San Baro Hidayatul Muttaqin NW Dangiang 2 Jl. Raya Bentek San Baro Desa Bentek 2 Dusun Dangiang Timur Desa Dangiang Tarbiyatul Islamiyah 2 Jl. Latsitarda IV Kopang Medana Nurul Islam Kayangan 2 Jln Raya Santong Kayangan Al-Baqiyatusshalihat NW Santong 2 Jl.Raya Santong - Kayangan Km. 07 Dusun Suka Damai RT 01 Desa Santong Nurul Huda NW Gondang 2 Jln Bangsal Ketapang No.1 Desa Gondang Assyai`iyah Menggala 2 Menggala Desa Pemenang Barat Al-Hikmah Pemenang 2 Bayyinul Ulum 2 Al-Istiqomah Kapu 2 Gauts Abdurrazak NW Tumpang Sari 2 Jln. Raya Kr. Desa Pamenang Kec. Pamenang Kab. Lombok Utara Jalan Raya Santong Asli Km 8 RT 01 Dusun subak sepulu Dusun Kapu Desa Jenggala Kec. Tanjung KLU Jl. Raya Pariwisata Sindanggila, Senaru, Bayan, KLU. Maraqitta`limat Santong 2 Jalan Embung Santong Barat Desa Santong 272 Peta Dakwah MUI NTB

291 Babul Mujahidin 2 Al Jihad 2 Al Mubasysyirun 2 Jalan Pemuda Canada Dusun Bayan Timur Desa Bayan Jl. TGH Abdul Gafur No.1 Telagawareng Pemenang Jl. TGH. Hasan Basri Desa Pemenang Timur I. Lembaga Sosial Keagamaan Perkembangan partai politik yang semakin pesat di pulau Jawa mendatangkan pengaruh bagi kesadaran berorganisasi di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Barat, terutama di pulau Lombok. Pengaruh itu masuk ke Lombok secara lambat dan hanya terbatas pada kalangan berpendidikan saja. Benih faham kepartaian yang pertama kali pada tahun 1916 yang datang ke Nusa Tenggara Barat adalah Serikat Islam (SI). 15 Dalam Wetu singkat simpatisan Serikat Islam berkembang dengan cepat, terutama di kalangan ummat Islam Lombok. Tujuan utamanya adalah memberikan bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesulitan, terutama kalau ada kematian, pembinaan persaudaraan seagama serta usaha untuk menghapus kebatilan. 16 Hampir bersamaan dengan masuknya partai politik, masuk pula ke Lombok organisasi keagamaan seperti Muhamadiyyah dan Nahdatul Ulama (NU). Di pulau Lombok, Nahdatul Ulama (NU) mendapat respons positif dari masyarakat Lombok karena ajaran dan tujuan Nahdatul Ulama dianggap sesuai dengan mazhab Syai i yang menjadi anutan terbesar ummat Islam di pulau Lombok, maka organisasi ini dengan cepat tersebar sampai ke desa-desa. Lain halnya dengan Muhamadiyyah, yang dalam pandangan masyarakat Lombok belum dapat diterima sehingga perkembangannya di Lombok hanya terbatas pada orang-orang tertentu, khususnya pada masyarakat yang relatif lebih berpendidikan Rudini, et.al.,proil Propinsi Republik Indonesia Nusa Tenggara Barat, hal Lalu Wacana, Sejarah Nusa Tenggara Barat, (Mataram: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978), hal Sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia, Muhamadiyyah dipandang sebagai refresentasi aliran reformis dan modernis yang berusaha melakukan pembaharuan dalam berbagai ajaran Islam dan melakukan pengembangan pemahaman yang benar tentang praktek-praktek keagamaan dan usaha-usaha yang diarahkan untuk pemurnian kepercayaan dan ritual Islam dari pengaruh asing yang menyimpang. Lihat, Achmad Jainuri, Ideologi Kaum Reformis Melacak Pandangan Keagamaan Muhamdiyah Periode Awal (Surabaya: Lembaga Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 273

292 Pada tahun 1953 TGH. Zainuddin Abdul Majid mendirikan organisasi keagamaan Nahdatul Wathan (NW). Nahdatul Wathan merupakan organisasi pertama dan satu-satunya organisasi keagamaan yang lahir dan didirikan oleh putera Lombok. Kehadiran organisasi ini dilatarbelakangi oleh realitas sosial keagamaan masyarakat Lombok yang berada dalam posisi yang sangat lemah dan terbelakang. Lemahnya sikap keberagamaan masyarakat sangat nampak pada sikap dan perilaku keberagamaan masyarakat yang masih mencampur-adukkan antara nilai-nilai lokal, norma, dan adat istiadat dengan ajaran Islam. Bahkan tidak jarang tradisi dan norma-norma adat lebih diutamakan dari pada ajaran agama. 18 Di samping lembaga keagamaan yang telah disebutkan di atas, di Lombok Utara juga terdapat berbagai gerakan dakwah yang merupakan gerakan yang dalam istilah Azyumardi Azra sebagai gerakan transnasional, 19 yaitu dakwah Jama ah Tabligh. Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM), 2002), hal Jhon Rayn Bartholomew, Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak, hal Lihat juga, Solichin Salam, Lombok Pulau Perawan Sejarah dan Masa Depannya, hal Azyumardi Azra, Mengekspor Islam Indonesia dalam Resonansi, Koran Republika 21 Februari Peta Dakwah MUI NTB

293 bab 7 KabuPatEn SumbaWa barat A. Keadaan Alam NTB Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri atas 2 (dua) pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dan disertai ratusan pulau kecil. Dari 279 pulau yang ada, terdapat 44 pulau yang telah berpenghuni. Luas Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai ,20 km 2 terletak antara 115 o o 5 Bujur Timur dan 8 o 10-9 o 5 Lintang Selatan. Luas Pulau Sumbawa mencapai ,5 km 2 (76,495%) atau 2/3 dari luas Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Luas Pulau Lombok hanya mencapai 1/3 saja. Pusat pemerintahan Provinsi NTB terdapat di Kota Mataram Pulau Lombok. Selong merupakan kota yang mempunyai Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 275

294 ketinggian paling tinggi, yaitu 166 mdpl sementara Taliwang terendah dengan 11 mdpl. Kota Mataram sebagai tempat Ibukota Provinsi NTB memiliki ketinggian 27 mdpl. Dari Tujuh Gunung yang ada di Pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan tertinggi dengan ketinggian mdpl, sedangkan gunung Tambora merupakan gunung tertinggi di Sumbawa dengan ketinggian mdpl dari sembilan gunung yang ada. Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geoisika (BMKG), temperatur maksimum pada tahun 2015 berkisar antara 30,1 o C-35,8 o C, dan temperatur minimum berkisar antara 20,5 o C-24,9 o C. Temperatur tertinggi terjadi pada bulan November dan terendah pada bulan Agustus. Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara %, dengan kecepatan angin rata-rata mencapai kisaran 2-6 knots dan kecepatan angin maksimum mencapai 13 knots (BPS,2015). B. Letak dan Keadaan Alam Sumbawa Barat Secara Geograis, Kabupaten Sumbawa Barat terletak di bagian Barat Pulau Sumbawa, tepatnya antara 08 o 29 dan 9 o 07 Lintang Selatan dan anatara 116 o Bujur Timur. Sumbawa Barat berbatasan langsung dengan Selat Alas di sebelah Barat, Samudra Indonesia di sebelah Selatan dan Kabupaten Sumbawa di sebelah Utara dan Timur. Luas Kabupaten Sumbawa Barat sekitar 1.849,02 km 2, dengan ketinggian antara meter diatas permukaan laut. Kabupaten Sumbawa Barat memiliki 16 pulau kecil, seluruhnya sudah bernama. Sebagian besar wilayah Sumbawa Barat ( ha atau 50,53 persen) merupakan daerah dengan topograi sangat curam atau memiliki kemiringan lahan diatas 40%. 276 Peta Dakwah MUI NTB

295 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2016 Tabel (1) Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Luas Persentase 1 Sekongkang 372,42 20,14 2 Jereweh 260,19 14,07 3 Maluk 92,42 5,00 4 Taliwang 375,93 20,33 5 Brang Ene 140,90 7,62 6 Brang Rea 212,07 11,47 7 Seteluk 236,21 12,77 8 Poto Tano 158,88 8,59 Total 1849,02 100,00 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2016 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 277

296 Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2003 bahwa Kabupaten Sumbawa Barat terdiri dari 8 (delapan) kecamatan yakni kecamatan Sekongkong, Jereweh, Maluk, Taliwang, Brang Ene, Brang Rea, Seteluk dan Poto Tano. Berdasarkan gambar 2.2 diatas menunjukkan bahwa wilayah paling luas adalah Taliwang dan Sekongkong. Hal ini diperkuat lagi berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2015 pada tabel 2.1 tentang luas wilayah menurut kecamatan di kabupaten Sumbawa Barat diatas bahwa luas wilayah kabupaten Sumbawa Barat seluruhnya adalah 1.849,02 km 2. Area paling luas adalah kecamatan Taliwang seluas 375,93 km 2 sekaligus sebagai Ibukota daerah kabupaten Sumbawa Barat, dan menyusul kecamatan Sekongkang seluas 375,42 km 2. Area Paling kecil berada di wilayah Maluk hanya seluas 92,42 km 2. Rata-rata hari hujan di kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2015 berada pada rentang 6,6 sampai dengan 12,81 hari dengan curah hujan mencapai rata-rata 69,4 mm sampai dengan 145,72 mm setiap bulannya dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 380 mm. Rata-rata lama penyinaran matahari pada tahun 2015 mencapai 84,33 persen dengan kecepatan tinggi rata-rata 4,9 knots. C. Kabupaten Sumbawa Barat Hasil Pemekaran Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebuah kabupaten di provinsinusa Tenggara Barat, Indonesia. Kabupaten terletak di bagian barat Pulau Sumbawa, berbatasan dengan Laut Flores, di utara Kabupaten Sumbawa, di timur Samudra Hindia, di selatan Selat Alas. Sumbawa Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sumbawa pada tanggal 18 Desember2003 berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Upaya untuk mengembangkan daerah otonom baru tentu tidak lepas dari ikhtiar yang berlandaskan pada upaya mensejahterakan masyarakat. Terdapat kecenderungan akselerasi pembangunan berpusat di sekitar pusat pemerintahan, yaitu dikonsentrasikannya kegiatan pembangunan, baik isik, maupun nonisik pada wilayah ibu kota, maupun wilayah-wilayah kecamatan lainnya. Kesenjangan ini oleh masyarakat cukup dipahami, oleh karena disadari bahwa hal ini disebabkan oleh rentang kendali pemerintahan yang luas. 278 Peta Dakwah MUI NTB

297 Atas dasar itulah dan seiring dengan arus gelombang reformasi yang melanda republik ini, serta diperkuat oleh telah diberlakukannya UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999, telah terbuka jalan bagi setiap kelompok masyarakat untuk mengekspresikan diri secara bebas dan terbuka. Salah satu bentuk ekspresi diri tersebut adalah pernyataan kehendak untuk membentuk daerah otonom baru dari berbagai kalangan masyarakat yang sebelumnya telah menyatu dalam satu wilayah kekuasaan daerah otonom tertentu. Di antara segmen masyarakat yang mengekspresikan dalam wujud yang demikian itu adalah masyarakat di bagian barat kabupaten Sumbawa (masyarakat kecamatan-kecamatan Seteluk, Brang Rea, Taliwang, Jereweh, dan Sekongkang). Ide pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat berangkat dari kenyataan bahwa rentang kendali antara pusat kabupaten dengan masyarakat Sumbawa Barat teramat jauh, sehingga mengakibatkan lambannya pelayanan pemerintah kepada masyarakat, lambannya pemerataan pembangunan, lambannya upaya peningkatan SDM, dan lain sebagainya. Untuk itu, para tokoh masyarakat di Sumbawa Barat segera mencetuskan ide pembentukan kabupaten Sumbawa Barat. Ide itu kemudian disosialisasikan kepada seluruh komponen masyarakat di kecamatan-kecamatan Sekongkang, Jereweh, Taliwang, Brang Rea, Seteluk, Alas Barat, Alas, dan Utan Rhee dalam suatu rapat yang dihadiri oleh perwakilan masyarakat dari 8 (delapan) kecamatan tersebut pada tanggal 10 Maret pada pertemuan itulah dideklarasikan pembentukan kabupaten Sumbawa Barat, dan sekaligus dibentuk Komite Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat (KPKSB) yang kepengurusannya mengakomodir perwakilan delapan kecamatan. Deklarasi pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat 10 Maret 2000 tersebut merupakan ekspresi dari kemauan politik masyarakat di delapan kecamatan yang diwakili oleh beberapa orang tokoh-tokohnya. Aspirasi tersebut rupanya mendapat respon positif dari Bupati dan DPRD Sumbawa dengan keluarnya rekomendasi Bupati No. 135/060/ PEM/2000 dan rekomendasi DPRD No. 690/17/2001. Kedua lembaga tersebut dalam rekomendasinya memberikan petunjuk kepada KPKSB untuk melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat di delapan kecamatan. Pembentukan KPKSB peserta deklarasi tersebut kemudian menunjuk beberapa orang menjadi formatur untuk membentuk tim Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 279

298 kerja yang bertugas melakukan berbagai hal yang diperlukan bagi terbentuknya kabupaten Sumbawa Barat. Tim kerja itu bernama Komite Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat (KPKSB) yang diketuai oleh Ustadz Drs. M. Nur Yasin, dan beranggotakan puluhan tokoh dari berbagai komponen masyarakat di delapan kecamatan. Berdasarkan hasil sosialisasi tersebut, KPKSB melakukan evaluasi dan konsolidasi internal pada tanggal 23 April 2002 yang menghasilkan refreshing kepengurusan KPKSB Jilid II yang diketuai oleh KH. Zulkili Muhadli, SH. dan melakukan pengkajian ulang terhadap batas wilayah kabupaten Sumbawa Barat. Ternyata soliditas masyarakat di 5 (lima) kecamatan berhasil mencapai kesepakatan bersama dengan menetapkan batas wilayah meliputi kecamatan-kecamatan Seteluk, Brang Rea, Taliwang, Jereweh, dan Sekongkang, serta menetapkan pula Taliwang sebagai ibukota kabupatennya dengan penyebaran kantor dinas/instansi tingkat kabupaten di 4 (empat) kecamatan lainnya. Dengan demikian, pembentukan kabupaten Sumbawa Barat ini merupakan gagasan murni dari seluruh komponen masyarakat setempat, termasuk juga di dalamnya kemauan politik pemerintah kabupaten Sumbawa (eksekutif dan legislatif) agar diberikan kesempatan dan kepercayaan penuh untuk lebih dapat mengatur nasibnya sendiri dalam bentuk kabupaten baru yang lepas dari kabupaten induk yang semata-mata hanya bertujuan untuk mempercepat pengembangan pembangunan menuju masyarakat yang bermartabat dan sejahtera merata di seluruh wilayah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. D. Motto Motto Kabupaten Sumbawa barat adalah Pariri Lema Bariri. Pariri dalam bahasa sumbawa berarti menghimpun, memperbaiki, membangun atau merawat secara berkesinambungan. Lema berarti agar atau supaya. Sedangkan Bariri memiliki arti berguna atau bermanfaat. Jadi motto daerah ini dapat diartikan sebagai semangat masyarakat kabupaten Sumbawa Barat untuk membangun daerahnya agar lebih maju dan bermanfaat bagi semua. 280 Peta Dakwah MUI NTB

299 E. Penduduk dan Mata Pencaharian Tabel (2) Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat Laju Pertumbuhan Jumlah Penduduk Penduduk No Kecamatan Pertahun Sekongkong ,37 2,67 2 Jereweh ,3 2,87 3 Maluk ,47 2,48 4 Taliwang ,01 2,83 5 Brang Ene ,96 2,99 6 Brang Rea ,67 2,98 7 Seteluk ,71 2,95 8 Poto Tano ,1 2,86 Total ,04 2,83 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Tabel diatas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sumbawa Barat dari tahun sebesar 2,83% yaitu pertambahan jumlah sebanyak jiwa. Hal ini disebabkan karena adanya kelahiran dan kematian setiap waktu. Penduduk kabupaten Sumbawa Barat berdasarkan Badan Pusat Statistik kabupaten Sumbawa Barat dengan proyeksi penduduk tahun 2015 sebanyak jiwa, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan data dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang didata berdasarkan agama sebanyak jiwa. Dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan sebanyak jiwa, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak yakni jiwa. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2015 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 103 jiwa. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 281

300 Kepadatan penduduk di kabupaten Sumbawa Barat tahun 2015 mencapai 72 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga 4 orang. Kepadatan penduduk di 8 kecamatan cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di kecamatan Maluk dengan kepadatan sebesar 148 jiwa/km2 dan terendah di kecamatan sebesar 25 jiwa/km2 (BPS, 2015). Tabel (3) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah Total Sumber : BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Penduduk kabupaten Sumbawa Barat terbanyak pada rentang usia 0-4 tahun dengan total jiwa (Tabel 1.4). Hal ini tentunya akan menjadi perhatian penuh pemerintah kabupaten Sumbawa Barat untuk dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini dengan menciptakan generasi penerus yang berkualitas pula. 282 Peta Dakwah MUI NTB

301 Penduduk usia lanjut di kabupaten Sumbawa tergolong paling sedikit dibandingkan dengan pasangan usia subur. Dari jumlah penduduk kabupaten Sumbawa Barat ada sekitar jiwa (tahun 2014), meningkat dari tahun sebelumnya yakni hanya 625 jiwa (tahun 2013) yang menjadi tenaga kerja di Luar Negeri yang tersebar di berbagai negara (BPS, 2015). Peningkatan jumlah ini kemungkinan disebabkan karena sempitnya lapangan pekerjaan di kabupaten Sumbawa Barat. Tabel (4) Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota di NTB tahun No. Jenis Tindak Pidana Lombok Barat 64,50 65,10 2 Lombok Tengah 64,45 64,75 3 Lombok Timur 64,04 64,44 4 Sumbawa 65,72 66,02 5 Dompu 65,06 65,36 6 Bima 64,56 64,86 7 Sumbawa Barat 65,85 66,35 8 Lombok Utara 65,19 65,59 9 Mataram 70,18 70,43 10 Kota Bima 69,03 69,12 11 Privinsi NTB 64,90 65,38 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Tahun 2015 Pertanian masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di kabupaten Sumbawa Barat. Mengingat pentingnya sektor pertanian bagi masyarakat Sumbawa Barat maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk terus mengembangkan sektor ini. Kelapa dan jambu mete masih menjadi komoditi perkebunan utama yang dikembangkan di Sumbawa Barat. Pada tahun 2015 produksi kelapa dan jambu mete mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Bentang geograis yang berbukit dengan banyak padang rumput menjadikan wilayah Sumbawa Barat sangat ideal untuk mengembangkan sektor peternakan. Sapi dan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 283

302 kerbau adalah ternak yang paling banyak diusahakan. Sebagian besar ternak yang dipelihara di Sumbawa barat tidak dikandangkan. Pada tahun 2015 jumlah sapi di kabupaten Sumbawa Barat tercatat sebanyak ekor dan kerbau sebanyak ekor. Adapun ternak lain yang diusahakan adalah kuda, kambing dan domba. Jumlah unggas di kabupaten Sumbawa Barat pada tahun 2015 mengalami peningkatan yang signiikan dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan yang signiikan terjadi pada komoditi ayam ras. Secara geograis kabupaten Sumbawa Barat berbatasan langsung dengan laut. dengan panjang garis pantai 167,8 km dan luas perairan mencapai 1.234,07 km2, kabupaten Sumbawa Barat memiliki potensi perairan yang cukup besar untuk pengembangan sektor perikanan. Produksi perikanan tangkap pada tahun 2015 mengalami peningkatan dari 2.661,84 ton pada tahun 2013 menjadi 3.542,48. Selain perikanan tangkap, budidaya perikanan juga sangat potensial dikembangkan di wilayah Sumbawa Barat (BPS, 2015). Kegiatan perdagangan merupakan motor penggerak perekonomian karena menjadi sarana pertemuan antara produsen dan konsumen. Perkembangan pada sektor ini sangat berpengaruh pada perkembangan sektor-sektor perekonomian yang lain. Penggerak utama perekonomian masyarakat adalah pedagang kecil, karena pedagang inlah yang langsung menyentuh konsumen. Tahun 2015 terdapat pedagang kecil yang tersebar di seluruh wilayah Sumbawa Barat. Selain itu terdapat juga 5 pedagang besar dan 497 pedagang menengah yang menjadi penghubung pedagang kecil denagn distributor maupun produsen. Perkembangan sektor perdagangan juga sangat dipengaruhi ketersediaan sarana dan prasarana perdagangan. Sarana perdagangan di Sumbawa Barat didominasi oleh kios yang mencapai buah. Sedangkan jumlah pasar, di Sumbawa Barat masih tetap, yakni hanya sebanyak 6 buah (BPS, 2015). Keberadaan perusahaan multi nasional PT. Newmont Nusa Tenggara Barat memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan di kabupaten Sumbawa Barat. Selain itu dampak ekonomi yang ditimbulkan juga sangat signiikan terutama bagi masyarakat daerah lingkar tambang. Selain pertanian dan pertambangan, sektor pariwisata juga dikembangkan untuk menjadi sumber penyumbang PAD bagi daerah. Garis pantai yang panjang merupakan aset penunjang pengembangan 284 Peta Dakwah MUI NTB

303 wisata pantai. Beberapa objek sudah mulai dibenahi dengan penyiapan sarana dan prasarana untuk menarik wisatwan lokal dan mancanegara. F. Pendidikan Islam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan alat pengukur kualitas hidup penduduk suatu wilayah. IPM digunakan secara internasional dan merupakan alat untuk mengklasiikasikan tingkat kemajuan suatu negara. Salah satu indikator yang digunakan untuk menghitung indeks pembangunan manusia adalah indikator lama sekolah dan angka melek huruf. Peningkatan kualitas manusia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat telah berusaha memenuhi kebutuhan dasar pendidikan masyarakatnya dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan. Mulai dari gedung sekolah, guru hingga kelengkapan belajar mengajar. Berikut daftar sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat Berbasis Agama dan Umum: Tabel (5) Data Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan TPQ Jumlah Madrasah Diniah Pondok Pesantren 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 285

304 No. Tabel (6) Data Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Sumbawa Barat Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Tabel (7) Data Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, Peta Dakwah MUI NTB

305 Tabel (8) Data Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Tabel (9) Data Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 287

306 Tabel (10) Data Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Tabel (11) Data Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, Peta Dakwah MUI NTB

307 No. 1 2 Tabel (12) Data Madrasah Aliyah di Kabupaten Sumbawa Barat No. Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Tabel (13) Data Madrasah Aliyah di Kabupaten Sumbawa Barat Nama Panti Asuhan/ Asuhan Keluarga Panti Asuhan Al Manaar Panti Asuhan Al Balaad Nama Penyelenggara Pem/Org/Yys/ Perorangan Pondok Pesantren Al- Manaar Yayasan Al Balaad Taliwang Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Jumlah yang diasuh 52 orang 28 orang Alamat Desa Seloto-Kec Taliwang Kel. Telaga Bertong- Taliwang Menurut Sumber Badan Pusat Statistik kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2015 bahwa di kabupaten Sumbawa Barat belum terdapat Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 289

308 Tabel (14) Ekspektasi Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara barat, Tahun No. Jenis Tindak Pidana Lombok Barat 12,09 12,66 2 Lombok Tengah 12,36 12,81 3 Lombok Timur 13,10 13,12 4 Sumbawa 11,94 12,27 5 Dompu 13,16 13,27 6 Bima 12,70 13,11 7 Sumbawa Barat 13,21 13,57 8 Lombok Utara 12,31 13,57 9 Mataram 15,27 15,28 10 Kota Bima 14,92 14,95 11 Provinsi NTB 12,73 13,04 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Tahun 2015 Tabel (15) Rata-rata Lama Sekolah Menurut Kabuaten/Kota Di Provinsi Nusa Tenggara Barat,Tahun No. Jenis Tindak Pidana Lombok Barat 5,63 5,69 2 Lombok Tengah 5,52 5,54 3 Lombok Timur 6,03 6,15 4 Sumbawa 7,31 7,52 5 Dompu 7,45 7,83 6 Bima 7,29 7,36 7 Sumbawa Barat 7,44 7,68 8 Lombok Utara 4,97 5,22 9 Mataram 9,04 9,05 10 Kota Bima 9,58 9,96 11 Privinsi NTB 6,67 6,71 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Tahun Peta Dakwah MUI NTB

309 G. Agama dan Kepercayaan Berdasarkan data Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tahun 2016 bahwa di kabupaten Sumbawa Barat memiliki 5 (lima) jenis agama yang di anut antara lain sebagai berikut: 1. Agama No. Tabel (16) Data Penduduk Berdasarkan Agama di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2015 Kecamatan Islam Kristen Katolik Hindu Budha Konghucu 1 Sekongkong Lainnya 2 4 Jereweh dan Maluk Taliwang dan Brang Ene Brang Rea Seteluk dan Poto Tano Total Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Tabel (17) Data Penduduk Berdasarkan Agama di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2016 No. Kecamatan Islam Kristen Katolik Hindu Budha Konghucu Lainnya Jumlah 1 Sekongkong Jereweh Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 291

310 3 Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: FKUB Kabupaten Sumbawa Barat, Tempat Peribadatan No Tabel 18 Tempat Ibadah Semua Agama di Kabupaten Sumbawa Barat Kecamatan Masjid Gereja Pura Wihara Kelenteng Islam Kristen Katolik Budha Konghucu 1 Sekongkong Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Total Sumber: FKUB Kabupaten Sumbawa Barat, Peta Dakwah MUI NTB

311 Berdasarkan data tersebut diatas menunjukkan bahwa selain agama Islam dan Hindu, Agama yang lain belum memiliki tempat ibadah. Hal ini sarat dengan mayoritas penduduk Kabupaten Sumbawa Barat memeluk agama Islam. 3. Kegiatan Keagamaan Sebagai daerah yang memiliki penduduk mayoritas beragama islam, tentunya berbagai kegiatan keagamaan umat islam dilakukan rutin setiap tahunnya. Adapun beberapa kegiatan keagamaan yang dilakukan di Kabupaten Sumbawa Barat: a. Nuzulul Qur an Yaitu peringatan turunnya Al-Qur an yang berupa irman-irman Allah kepada nabiyullah Muhammad SAW melalui perantara malikat Jibril yang kemudian dihimpun menjadi kitab suci Al-Qur an. Nuzulul Qur an diperingati pada tanggal 17 Ramadhan. b. Lailatul Qodar Lailatul Qodar ini merupakan 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan dan merupakan malam terpenting yang terjadi hanya pada bulan Ramadhan dan tidak ada yang mengetahuinya kapan malam lailatul qodar ini tiba. Lailatul Qodar ini juga merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan dan banyak sekali keistimewaannya. Laitaul Qodar biasanya juga diperingati Nuzulul Qur an. c. Hari raya Idul Fitri Biasa kita sebut dengan lebaran yang diperingati pada tanggal 1 syawal. Hari Raya Idul Fitri ini merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dimana puasa ini merupakan latihan bagi umat islam untuk menjaga hatinya, lisannya, pikirannya dan seluruh anggota tubuhnya sehingga pada hari kemenangan tersebut, umat manusia kembali dalam itrahnya atau kembali suci. d. Hari Raya Idul Adha Merupakan hari raya qurban yang diperingati pada tanggal 10 Dzulhijjah yang biasa kita menyebutnya dengan lebaran haji. Pada hari inilah orang-orang islam melakukan ibadah di Makkah dan seluruh dunia umat Islam melaksanakan sholat Idul Ad kemudian dan setelah itu melakukan penyembelihan qurban yang merupakan hewan ternak Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 293

312 seperti onta, sapi, kambing, kerbau. Daging yang telah disembelih kemudian dibagikan sesuai dengan ketentuannya. e. Tahun Baru Islam Merupakan peringatan tahun baru Islam atau tahun baru Hijriyah yang diperingati pada tanggal 1 Muharram. f. Maulid nabi Merupakan hari peringatan kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW yang diperingati pada tanggal 12 Rabi ul Awal. Hari peringatan maulid nabi pertama kali dilakukan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Dalam peringatannya beliau menceritakan tentang sejarah kelahiran nabi sampai dengan perjuangan Nabi untuk umatnya yang patut dijadikan contoh atau sebagai suri tauladan yang baik untuk umatnya. Hukum memperingati maulid nabi adalah bid ah hasanah bertujuan untuk meneladani akhlak terpuji dan membesarkan junjungan nabi Muhammad SAW. g. Isra Mi raj Yakni sebuah peristiwa tentang perjalanan nabi Muhammad dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsho sampai ke Sidwatil Muntaha untuk menerima tugas atau kewajiban sholat lima waktu yang sebelumnya adalah 50 waktu yang wajib dilaksanakan dalam sehari semalam. Peristiwa isra Mi raj ini terjadi dalam satu malam. Isra Mi raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab. H. Konlik Sosial Berbagai konlik dan kerusuhan sosial beberapa tahun terakhir masih sering terjadi khususnya konlik sosial horizontal antar penduduk, koklik antar kelompok gank. Hal ini merupakan ancaman serius bagi keutuhan daerah, disamping itu yang termasuk dalam ruang lingkup bencana sosial adalah kebakaran rumah, orang terlantar, orang terdampar akibat kecelakaan perahu. Dampak nyata dari persoalan ini adalah terjadinya kerugia besar mulai dari harta benda, nyawa manusia, serta kerusakan tatanan dan pranata sosial (Heru Herdiansyah, 2017). Adapun beberapa konlik yang terjadi di kabupaten Sumbawa Barat: 294 Peta Dakwah MUI NTB

313 1. Konlik Padukuhan Adat Talonang Talonang, adalah sebuah padukuhan (Perkampungan adat) yang berada di antara padukuhan-padukuhan yang lainnya yang menyebar di tanah samawa (Indonesia) yang keberadaannya sudah ada semenjak sebelum lahirnya Kemerdekaan RI tahun Talonang yang dahulu kalanya berada di wilayah selatan pulau Sumbawa yang didiami oleh sebuah komunitas adat/suku Sapio yang keberadaannya telah ada sebelum tahun Sejarah telah membuktikan secara isik dan spiritual akan keberadaan padukuhan Talonang, dengan adanya bukti-bukti kuburan yang menyebar di beberapa titik di wilayah padukuhan Talonang, bekas bekas bangunan masjid lama, tanaman-tanaman produktif seperti kelapa, mangga, nangka, kayu jawa, pohon lontar, pohon aren serta perkampungan lama yang mewariskan jejak sejarah ratusan tahun lampau yang memiliki nama dan sejarah masing-masing sampai saat ini. Sesuai dengan penuturan sejarah dari keturunan pelanjut M. Amin sebagai kepala kampung adat Talonang diartikan dengan mengunakan tiga suku kata, yakni TA-LO dan NANG.Yang artinya, TA= ini, LO = ada, dan NANG= tonang (kalung), jika digabungkan arti dari ketiga suku kata tersebut menjadi ini ada kalung. Sehingga jelas kalo dimaknai secara singkat memang tidak memiliki makna apapun yang terkandung di dalam kata Talonang tersebut, namun suku Sapio (Talonang) khususnya, memaknai dengan arti lain kata Talonang, karena dimaknai secara spiritual sehingga makna yang terkandung di dalam kalimat Talonang yang diyakini oleh masyarakat adat Talonang waktu itu sudah sangat membudaya serta menjadi kaharusan bagi setiap warga untuk dibudayakan, hal-hal yang menjadi keharusan masyarakat adat suku Sapio berbentuk penghargaan masyarakat adat waktu itu kepada setiap pendatang ataupun masyarakat adat yang keluar untuk bepergaian ke luar perkampungan Talonang yang diharuskan membawa oleh-oleh berupa simbul (isyarat) sebuah Tonang (kalung) yang walaupun hanya dari lintingan rotan tali/rotan duri yang ada di luar perkampungan (pagar benteng), yang memang secara turun temurun telah menjadi bagian dari prosesi adat dan ciri khas untuk menghargai para leluhur masyarakat adat perkampungan Talonang. Makna yang lain yang diyakini dari kata Talonang, mengandung arti spiritual yang sangat bermanfaat yakni Tonang(kalung) yang berasal Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 295

314 dari rotan tali/rotan duri bisa menyembuhkan balita yang memiliki penyakit-penyakit khusus pada waktu itu. Dikhawatirkan akan terjadi gempa susulan yang akan menerjang wilayah bagian selatan Sumbawa, termasuk di wilayah perkampungan masyarakat adat Talonang tepatnya tanggal 15 Agustus tahun 1977 masyarakat adat Talonang didatangi oleh pihak Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa, masing-masing dari Departemen Sosial Provinsi dan Kabupaten yang tergabung dalam TIM TKP2BA menghimbau serta mengharapkan kepada warga Dusun Talonang untuk dengan segera meninggalkan perkampungan menuju kecamatan Lunyuk. Melalui TIM TKP2BA memberi waktu kepada masyarakat adat dusun Talonang untuk meninggalkan perkampungan paling lama 1 bulan untuk menyiapkan barang-barang yang sekedar bisa dibawa. Pada tanggal 25 Oktober tahun 1977 sebanyak 327 jiwa masyarakat adat asli Padukuhan Talonang di ungsikan ke kecamatan Lunyuk, setibanya di lokasi pengungsian warga adat ditempatkan di rumahrumah warga di desa Jamu Dusun Krida kecamatan Lunyuk. Selama 3 tahun berada di lokasi pengungsian, masyarakat Talonang merasakan kesengsaraan yang begitu berat karena 3 tahun tersebut masyarakat Talonang belum mendapatkan jaminan kehidupan oleh pemerintah sehingga dengan rasa keberanian yang terpaksa, harus mengusulkan kepada Gubernur NTB agar masyarakat Talonang bisa diberikan lahan pekarangan dan pertanian di lokasi pengungsian. Pada tahun 1979, berkat usulan dari bapak Jamalluddin M. Amin selaku tokoh adat pewaris tahta Padukuhan Adat Talonang, masyarakat diberikan pekarangan rumah masing-masing seluas ± 3 are dan lahan pertanian masing-masing seluas ±35 are. Namun hal tersebut bukannya memberikan solusi dan kenyamanan bagi masyarakat Talonang, justru menjadi awal penderitaan baru yang dialami masyarakat pengungsi Talonang. Seiring berjalannya waktu masyarakat Talonang mencoba membuka kehidupan yang baru, dengan harus meninggalkan dan melupakan segala yang menjadi hak, kewajiban, dan yang paling bersejarahpun dalam hidup masyarakat Talonang semasa di perkampungan adat Talonang. Namun harapan untuk hidup seperti semasa masih di perkampungan adat Talonang dulu, yang penuh dengan kedamaian, kerukunan serta saling menghargai selayaknya masyarakat yang dibina 296 Peta Dakwah MUI NTB

315 secara turun temurun dengan budaya dan prilaku adat istiadat yang begitu bermartabat secara drastic hilang dan tenggelam ditelan waktu. Sehingga pada tahun 1998 di dalam masyarakat adat Talonang yang berada di wilayah Desa Jamu Kecamatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa, terjadi ketidakpuasan sekelompok masyarakat atas tanah seluas 35 are pemberian pemerintah yang berbuntut konlik lahan pertanian antar sesama masyarakat pengungsi dan masyarakat lunyuk. Selama 2 tahun konlik lahan pertanian belum ada penyelesaian dari pemerintah untuk menjamin ruang kelola atas tanah, Sehingga pada awal tahun 2000 masyarakat adat Talonang melaksanakan musyawarah adat, yang dipimpin oleh bapak Jamalluddin M Amin bin Muhammad Amin alias Jambon. Dalam musyawarah adat membahas penyelesaian konlik tanah di daerah pengungsian, yang menghasilkan keputusan secara ikhlas menyerahkan dan mengembalikan lahan pemberian pemerintah melalui Depsos kepada warga lainnya yang belum memiliki lahan pertanian bantuan korban gempa bumi/tsunami tahun 1977, dan berniat secara bersama-sama dengan masyarakat adat Talonang ( yang menyerahkan kembali lahan pertaniannya) dengan seluruh angota keluarganya hingga cucu, kembali ke perkampungan adat Talonang lama untuk memelihara dan mendapatkan kembali harta peninggalan yang pernah ditinggalkan. dengan catatan dan kesimpulan bahwa masyarakat adat Talonang yang dievakuasi ke Desa Jamu Kecamatan Lunyuk dan telah memiliki lahan, tidak akan diikutsertakan dalam rombongan yang akan diajukan kepada pemerintah baik secara aturan hukum adat maupun secara aturan pemerintah. Akhirnya pada pertengahan tahun 2000 secara bersamasama melakukan koordinasi dengan unsur Pemerintah Desa dan Kecamatan yang menaungi secara administratif pemerintahan wilayah perkampungan adat Talonang yang diketuai oleh bapak Jamalluddin M Amin, untuk menyampaikan kepada Kepala Desa Sekongkang Bawah A.n Bapak Mukhlis MS dan Bapak Camat Sekongkang A.n Drs. Abdul Razak, bahwa masyarakat adat Talonang akan kembali ke perkampungannya, mengingat harta yang ditinggalkan dulu sudah tidak terurus lagi dan makam-makam nenek moyang yang ditinggalkan membutuhkan perawatan selayaknya makam manusia muslim lainnya, dan serta dengan niat ingin menguasai serta menghidupkan kembali status lahan-lahan pertanian hak ulayat masyarakat hukum adat Talonang yang dulu pernah dikuasai secara turun temurun, pada intinya ingin mendapat pengakuan secara aturan Pemerintah walaupun sudah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 297

316 jelas bahwa lahan-lahan tersebut adalah hak milik masyarakat hukum adat Talonang, namun demi menghargai aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjamin hak-hak setiap warga bangsa atas hak ulayat adatnya, maka diteruskan kembali dengan pengajuan atau permohonan kepada Bapak Bupati Sumbawa, yakni Drs. Latief Majid. Atas permohonan bapak Jamalluddin M. Amin kepada Bupati yang intinya meminta agar sekiranya masyarakat adat Talonang ekskorban gempa bumi/tsunami tahun 1977 bisa diberikan hak yang sama di hadapan hukum serta meminta untuk kembali ke perkampungan asal menguasai lahan-lahan pertanian dan diakui secara hukum oleh pemerintah daerah atas status lahan-lahan ulayat adat, dan mengikutsertakan semua anggota keluarga sampai anak cucu sebanyak pengajuan sesuai dengan hasil kesepakatan masyarakat hukum adat pada waktu sebelumnya, serta menolak apabila dalam realisasinya ada diikutsertakan masyarkat eks gempa bumi/tsunami yang sudah mendapatkan lahan pertanian di wilayah pengungsian (desa Jamu) karena tidak sesuai dengan hasil musyawarah terakhir baik dengan pihak instansi pemerintah lainnya maupun secara hukum adat. Pada tahun 2001 Bupati Sumbawa merestui permohonan bapak Jamalluddin M. Amin bin Muhammad Amin alias Jambon, melalui dinasdinas terkait, camat Sekongkang selaku Kepala Wilayah Kecamatan, serta Kepala Desa selaku Kepala Pemerintahan Desa di wilayah Sekongkang Bawah Kecamatan Sekongkang Kabupaten Sumbawa yang dibuktikan dengan penerbitan dokumen dasar penguasaan tanah, dari Kepala Desa Sekongkang Bawah Mukhlis MS, dan Camat Sekongkang Drs. Abdul Razak dan dokumen dasar serta Surat Rekomendasi bupati sebagai dasar penerbitan SPPT untuk melanjutkan hak-hak masyarakat hukum adat yang pernah ditinggalkan sebab evakuasi dari pihak pemerintah pada tahun 1997 yang lalu. Dengan ketentuan lain-lainnya masyarakat hukum adat Talonang diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya dengan melalui program pemerintah mengikuti program Departemen Transmigrasi untuk diikutsertakan dalam warga transmigrasi ke UPT TONGO 2 SPI. Pada akhirnya semenjak diakui secara hokum atas hak-hak masyarakat hukum adat Talonang oleh pemerintah kabupaten Sumbawa, sehingga bisa dikuasai, dimiliki serta dipelihara semua peninggalan nenek moyang yang menjadi kebanggaan bagi kami masyarakat hukum adat Talonang baik berupa lahan pertanian, 298 Peta Dakwah MUI NTB

317 tanah kelahiran, dan peninggalan-peninggalan lainnya yang berada di wilayah komunitas kami, selama itu pula kami hidup dalam kedamaian, ketentraman, saling menghargai satu sama lain dengan tetap melakukan pendekatan-pendekatan spiritual secara hukum adat sehingga tidak pernah ada muncul permasalahan yang begitu signiikan dalam keseharian kami, baik dalam mengelola lahan-lahan pertanian ulayat kami serta dalam mengikuti arus perkembangan zaman yang makin modern. Pihak pemerintah kabupaten Sumbawa Barat yang baru mekar 11 tahun yang lalu, menganggap dan mengklaim bahwa masyarakat hukum adat Talonang dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada, sikap pihak pemerintah yang mengklaim bahwa masyarakat hukum adat Talonang telah mengambil hak Negara. Pada tahun 2012 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia mendorong masuknya investasi di kawasan transmigrasi. Salah satunya bekerja sama dengan perusahaan China sebagai produk unggulan. Kebijakan investasi berkedok kesejahteraan tersebut justru kontradiksi dengan upaya pemerintah sebelumnya dalam upaya perlindungan hak-hak masyarakat adat yang mana saat ini pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah Sumbawa Barat melakukan penertiban tanah negara Blok Batu Nampar (TNBBN) Desa Talonang Baru, yang dilakukan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sosnakertrans) kabupaten Sumbawa Barat, telah mengalami proses panjang. atas kebijakan tersebut berbagai cara dilakukan Pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat untuk merongrong keberadaan masyarakat adat Talonang di lahan miliknya sendiri. Mulai dari pengklaiman sepihak pemerintah daerah yang menyatakan lahan di Blok Batu Nampar adalah milik negara dan masuk dalam kawasan hutan lindung. Kemudian Pemda KSB mengeluarkan Surat Keputusan eksekusi lahan yang ingin mengusir masyarakat adat dari lahan miliknya sendiri, bahkan telah melaporkan secara hukum setiap orang yang menguasai lahan tersebut. Tak hanya itu, masyarakat adat diimingimingi uang kerohiman atau jasa pembersihan lahan bagi mereka yang bersedia mengembalikan tanah, nilainya sebesar Rp 2,5 juta/hektar. Komnas HAM telah mengeluarkan rekomendasi untuk tidak mengkriminalisasikan masyarakat Adat Padukuan Talonang. sesuai dengan Rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komnas HAM RI Nomor. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 299

318 113/R/Mediasi/XII/2015 yang melahirkan point point sebagai berikut: dalam rangka mengakui dan menghormati kesatuan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hukum tradisionalnya sebagaimana dimandatkan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 dan pasal 6 Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia., Untuk mewujudkan kondisi yang kondusif bagi penyelesaian sengketa dengan memberikan rasa aman dan tentram pada masyarakat adat Talonang, sebagaimana mandat pasal 30 Undang Undang nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat diminta tidak mengunakan cara cara represif terhadap masyarakat Talonang termasuk mencabut Laporan ke Kepolisian sebab belum ada kepastian terkait dengan sah atau tidaknya klaim hak ulayat tanah yang menjadi obyek sengketa yang dilekatkan pada masyarakat Talonang. Komnas HAM memandang masyarakat Talonang sebagai masyarakat adat yang sedang memperjuangkan hak ulayatnya., Untuk menciptakan kondisi yang kondusif meminta semua pihak untuk membangun komunikasi, dialog dan kerja sama serta menahan diri dengan tidak melakukan kegiatan apapun di lokasi (lahan) sengketa selama proses penyelesaian ini berlangsung. Dengan rekomendasi Komnas HAM tersebut Pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat dalam hal ini Bupati Sumbawa Barat (KSB) mematuhi demi keberlangsungan hukum dan Hak Asasi Manusia. Ada beberapa konlik sosial yang muncul adalah: 2. Konlik Poto Tano Kawasan perbatasan antara Sumbawa dan Sumbawa Barat tepatnya di kawasan jalan negara batu Guring Desa Poto Tano dan Labuhan Mapin terdapat keberadaan cafe cafe di sepanjang jalan lintas perbatasan tersebut kerap memicu timbulnya aksi kriminal bahkan memicu konlik sosial dua wilayah. Status quo perbatasan antara ke dua daerah serumpun ini, ikut menyulitkan penyelesaian atau penanganan izin serta penegakkan hukum terhadap cafe cafe tadi. FKDM adalah forum mitra pemerintah kabupaten yang bertugas mendeteksi kerawanan konlik, ancaman kriminalitas, bencana dan kemanan dan ketertiban masyarakat secara umum. Organisasi ini di bentuk pemerintah sesuai arahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) melalui Gubernur. FKDM sudah berkoordinasi dengan ketua FKDM Provinsi NTB agar memberi catatan dan masukan bagi Gubernur dan Kepala Polisi Daerah (Polda) NTB, agar segera menutup aktiftas cafe cafe tadi. 300 Peta Dakwah MUI NTB

319 Pelibatan Gubernur dan Kapolda di perlukan karena perbatasan dua kabupaten ini masih dalam sengketa yang hingga kini masih belum tuntas. Rendahnya partisipasi kesadaran masyarakat terhadap permasalahan sosial disekitar kita. Ia mendukung dan menegaskan menerima aspirasi masyarakat kecamatan Alas dan Alas Barat yang menginginkan agar kawasan kafe itu ditutup segera. Data FKDM setempat menyebutkan, kejadian perkelahian yang berujung penebasan ini keempat kalinya terjadi sepanjang tahun. Korban dan pelaku selalu dari dua desa yang sama di dua kabupaten ini. Informasi yang lain yang dihimpun media dilapangan menyebutkan, kajadian ini lebih banyak bermotif dendam antar dua desa beda wilayah itu (Andy, 2016). 3. Konlik Bentrok dengan Brimob Ratusan orang di Kota Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terlibat bentrok dengan personel Brimob di jalan raya simpangan Soekarno Hatta-Jalan Sudirman-Jalan Ahmad Yani. Bentrokan yang terjadi sejak siang dan berakhir petang. Bentrok tersebut merupakan rentetetan dari aksi massa di Mapolres Sumbawa Barat yang berujung pada pelemparan dan pengrusakan kantor Mapolres Sumbawa Barat dan pos polisi. Bentrok itu berawal dari terjadinya konsentrasi massa di lokasi tersebut yang kembali merusak atap pos polisi dan membakarnya di tengah persimpangan sekitar pukul Wita. Tanpa dikomando, semakin lama jumlah massa semakin banyak. Satu peleton personel Brimob diterjunkan untuk menghalau massa. Tetapi massa yang emosi tak beranjak, meski polisi menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan. Massa melakukan perlawanan dengan lemparan batu ke arah polisi. Bentrok tak bisa dihindarkan. Jumlah massa yang semakin banyak mengurung polisi dari segala arah. Polisi akhirnya hanya bertahan di tengah-tengah antara simpang empat Pos Polisi Kota Taliwang. Massa yang terus merangsek maju dari segala arah dihalau dengan tembakan peluru karet oleh polisi. Tercatat sejumlah orang terluka terkena tembakan peluru karet. Arus lalu lintas di sekitar lokasi lumpuh total. Ribuan masyarakat tumpah ruah ke lokasi menyaksikan bentrok tersebut. Sekitar pukul WITA, pasukan Brimob ditarik mundur. Bentrok berakhir dan massa membubarkan diri, sementara Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 301

320 yang terkena tembakan langsung dibawa ke RSUD Sumbawa Barat. Data yang dihimpun di RSUD Sumbawa Barat, tercatat 7 orang terkena tembakan (Ado, 2015). Adapun data-data tindak pidana di kabupaten Sumbawa Barat seperti dibawah ini: Tabel (19) Jumlah Tindak Pidana dan Penyelesaiannya di Kepolisian Kabupaten Sumbawa Barat No Jenis Tindak Pidana Tindak pidana dilaporkan Tindak pidana diselesaikan Selang waktu terjadinya tindak pidana 19,2 23, ,7 36,20 4 Resiko penduduk terkena tindak pidana per pddk 391,5 32,7 24,09 18,88 2,67 Sumber: Kantor Kemenag KSB, 2016 Tabel (20) Jumlah Tindak Pidana Menurut Kasus di Kepolisian Kabupaten Sumbawa Barat No. Jenis Tindak Pidana Kejahatan konvensional Kejahatan trans nasional Kejahatan merugikan Kejahatan berimplikasi Kontijensi Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Peta Dakwah MUI NTB

321 Tabel (21) Banyaknya Gangguan Kamtibmas Yang Dilaporkan Di Wilayah Kepolisian Resort Sumbawa Barat, Jenis Peristiwa Pencurian Berat/Keras Penganiayaan Biasa Penipuan Laka Lantas (Mati) Laka Lantas (Luka) Pencurian Biasa Penggelapan Kebebasan Pengrusakan Penadahan Penghinaan Perjinahan/Perkosaan Kemerdekaan Orang Kejahatan Surat-surat Tentang tanah Penemuan mayat Tentang tibum Permainan judi Penganiayaan berat Bahan peledak Bunuh diri Pembunuhan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 303

322 Suntik liar Korupsi Kelecakaan laut Tentang perkawinan Tentang kesopanan Pencurian dengan kekerasan Curanmor Psikotropika/Narkotika Penyalahgunaan obatobat Keras Illegal loging Pembakaran dengan Sengaja Pengrusakan/ Penghancuran Gangguan lainnya Total Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Tabel (22) Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2015 No Kecamatan Korban Penyalahgunaan Narkoba (jiwa) Keluarga Fakir Miskin (KK) Keluarga berumah tidak layak huni (KK) Keluarga bermsalah psikologis (KK) 1 Sekongkang Jereweh Maluk Peta Dakwah MUI NTB

323 4 Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Jumlah/Total Ts/na Ts/na Ts/na Ts/na Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Tabel (23) Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2015 (lanjutan tabel 1.21) No. Kecamatan Keluarga Rentan (KK)) Masyarakat terasing/ Komunitas Adat Terpencil (KK) Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana (KK)) Korban bencana social (KK)) 1 Sekongkang Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk Poto Tano Jumlah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 305

324 Ts/na Ts/na Ts/na Ts/na Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 I. Masjid Agung sebagai Simbol Pemersatu Pemerintah kabupaten Sumbawa Barat menjadikan masjid Agung Darusalam sebagai pusat kegiatan Islam dan wisata religi di Sumbawa Barat. Penilaian itu dibantu dengan terbentuknya Kelompok Sadar Wisata Masjid Agung Darusalam, belum lama ini. Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata dinas Budaya Pariwisata Sumbawa Barat Amirullah mengatakan, dari segi konstruksi Masjid Agung Darusalam berbeda dengan kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat. Masjid Agung Darussalam yang berada di dalam kompleks Kemutar Telu Center (KTC) kabupaten Sumbawa Barat (KSB), secara resmi mulai digunakan pada tanggal sembilan Juli Sebagai tempat ibadah terbesar di NTB, masjid ini biasa dipergunakan untuk peringatan hari besar Islam. Masjid Agung Darussalam, bangunan yang berdiri megah di atas kolam persegi empat itu sedikitnya menghabiskan dana pembangunan sekitar Rp. 35 miliar. Masjid ini berada di Kompleks KTC seluas 48,2 hektar yang berdiri sejajar dengan Graha Fitrah, dan Tugu Syukur. Adapun tata cara perkawinan dalam masyarakat Sumbawa diselenggarakan dengan upacara adat yang kompleks, mirip dengan prosesi perkawinan adat Bugis-Makassar yang diawali dengan bakatoan (bajajak), basaputis, nyorong dan upacara barodak pada malam hari menjelang kedua calon pengantin dinikahkan. Upacara barodak ini mengandung unsur-unsur kombinasi ritual midodareni dan ruwatan dalam tradisi Jawa. J. Penguatan Interaksi Agama 1. Menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama, baik sesama antar pemeluk agama yang sama maupun yang berbeda. Rasa toleransi dapat terbentuk dalam macam-macam hal: perijinan pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain atau member waktu pada umat lain untuk beribadah bila memeang sudah waktunya. Banyak 306 Peta Dakwah MUI NTB

325 hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap toleransi. Hal ini sangat penting demi menjaga tali kerukunan umat beragama umat.adapun data jumlah tempat ibadah tertera dalam tabel 1.15 tentang data tempat ibadah semua agama di kabupaten Sumbawa Barat. Namun di kabupaten Sumbawa Barat hanya ada 197 masjid dan 1 pura. 2. Selalu siap membantu sesama, jangan melakukan diskriminasi terhadap suatu agama terutama saat mereka membutuhkan bantuan.di suatu daerah mengalami bencana alam. Mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Bagi anda pemeluk agama lain jangan lantas malas untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya karena perbedaan agama. 3. Selalu menjaga rasa hormat pada orang lain tanpa memandang agama apa yang mereka anut. Dengan selalu berbicara halus dan ramah. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama. Bila terjadi masalah yang menyangkut agama, tetap diselesaikan dengan kepala dingin tanpa harus saling menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak manapun atau mungkin malah menguntungkan pihak lain. K. Sistim Organisasi Sosial 1. Partai Politik Jumlah partai politik di kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 12 partai politi yang terdiri dari 9 (sembilan) partai nasionalisme dan 3 (tiga) partai keagamaan. Hal ini sesuai dengan Tabel dibawah ini: No. Tabel (24) Perolehan Suara Sah Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 2014 Partai Politik DPRD II Suara sah/valid Votes DPRD Prov DPR RI 1 Partai Nasdem Partai Kebangkitan Bangsa Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 307

326 3 Partai Keadilan Sejahtera PDI Perjuangan Partai Golongan Karya Partai Gerindara Partai Demokrat Partai Amanat Nasional Partai Pembangunan Pembangunan 308 Peta Dakwah MUI NTB Partai Hati Nurani Rakyat Partai Bulan Bintang Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia Total Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Tabel (25) Perolehan Kursi Partai Politik Peserta Pemilu 2014 No Partai Politik Perolehan Kursi di DPR 1 Partai Nasdem 1 2 Partai Kebangkitan Bangsa 2 3 Partai Keadilan Sejahtera 1 4 Partai Perjuangan 3 5 Partai Golongan Karya 2 6 Partai Gerindra 3 7 Partai Demokrat 2 8 Partai Amanat Nasional 3 9 Partai Persatuan Pembangunan 1 10 Partai Hati Nurani Rakyat 2 11 Partai Bulan Bintang 3 12 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 2 Jumlah total 25 Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015

327 Tabel (26) Jumlah Pemilih Terdaftar Pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 Kecamatan Jumlah Wajib Pilih Daftar Pemilih tambahan Jumlah total pemilih L P L P L P Jumlah total Sekongkang Jereweh Maluk Taliwang Brang ene Brang rea Seeteluk Poto tano Jumlah/total Sumber :BPS Kabupaten Sumbawa Barat, Tahun 2015 No. Tabel (27) Jumlah Lembaga Non Proit Menurut Kecamatan Tahun 2015 Organisasi Sosial Organisasi Politik Organisasi Masyarakat Organisasi Profesi 1 Sekongkang Jereweh Maluk Taliwang Brang Ene Brang Rea Seteluk LSM Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 309

328 8 Poto Tano Jumlah/Total Ts/na Ts/na Ts/na Ts/na Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 Table (28) Jumlah Demonstrasi Tahun 2015 No. Kecamatan Jumlah Demonstrasi (kali) 1 Sekongkang 3 2 Jereweh 1 3 Maluk 10 4 Taliwang 14 5 Brang Ene 0 6 Brang Rea 2 7 Seteluk 0 8 Poto Tano 0 Jumlah/Total Sumber: BPS Kabupaten Sumbawa Barat, 2015 L. Identiikasi Persoalan Keagamaan 1. Aliran Sesat Ketua majelis muzakarah dewan dakwah Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, HM. Arsyad menyerukan agar para ulama di NTB 310 Peta Dakwah MUI NTB

329 bersatu untuk membebaskan daerah ini dari aktivitas masyarakat yang menyimpang atau menyebarkan ajaran sesat. Pertemuan lintas ulama di Kota Mataram adalah releksi awal ulama bersatu merumuskan satu pendapat guna disampaikan kepada pemerintah agar seluruh organisasi Islam yang menyimpang segera ditindak tegas. Ahmadiyah, kata Arsyad adalah salah satu fokus pembicaraan para ulama. Maka itu, saat pertemuan yang dihadiri Menteri Agama, Suryadharma Ali para ulama menyampaikan rekomendasi yang terdiri dari tiga hal soal Ahmadiyah. Pertama, menolak Ahmadiyah ada di NTB serta bubarkan organisasi itu. Kedua, pengikut Ahmadiyah harus tegaskan keluar dari agama Islam, dan terakhir dipersilahkan membentuk agama baru. Di Sumbawa Barat sendiri, kata Arsyad, tidak ditemukan aktivitas Ahmadiyah atau aliran ormas sesat lainnya. Sesuai data Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, setidaknya ada 12 ormas dan lembaga dakwah terdaftar di daerah itu.seluruh kajian dan aktivitas dakwah mereka kini mulai dipantau dewan dakwah kabupaten bekerjasama dengan MUI dan pemerintah. 2. Gerakan Teroris Di Kabupaten Sumbawa Barat, Ada beberapa kasus yang pernah terjadi. Di area SPBU kecamatan Alas Barat, kabupaten Sumbawa ditangkap dua diduga teroris asal Desa Seteluk, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berinisial CR (32) dan AS (38) oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti TerorMabes Polri. Mereka diduga Pengikut JAT Informasi yang diserap media ini di lapangan, kedua terduga ini diduga pengikut Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Seperti diketahui JAT yang didirikan Ustadz Abubakar Ba asyir ini telah dimasukkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke dalam daftar organisasi teroris asing (FTO). Tiga orang pimpinan JAT yaitu ketua sementara Emir Mochammad Achwan, juru bicara Son Hadi bin Muhadjir dan seorang sesepuh JAT Abdul Rosyid Ridho Ba asyir juga dimasukkan dalam daftar teroris perorangan. Ketiganya dianggap terlibat dalam kegiatan perekrutan dan pengg;alangan dana (Sumbawabaratpost.com, 2016). 3. Penyalagunaan Narkoba Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2015 bahwa terdapat 7 kasus penyalahgunaan narkoba atau obatobatan terlarang. Jumlah ini meningkat dari tahun tahun sebelumnya. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 311

330 Terkait maraknya kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sumbawa Barat merespons persoalan tersebut yang melibatkan kalangan pelajar melalui kegiatan diseminasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan pendidikan. BNNK Sumbawa Barat turut meredam perilaku meyimpang penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba di kalangan pelajar sebab, perilaku tersebut bisa saja muncul dari lingkungan pendidikan/ sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Remaja pada usia belajar rentan disusupi paham atau perilaku negatif melalui ketiga aspek itu. Maka, perlu ada sistem pengawasan dari keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat maupun BNN dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba (Humas BNN, 2015). Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, menyatakan daerahnya dalam status darurat narkotika dan obatobatan berbahaya karena relatif tingginya kasus penyalahgunaan barang haram tersebut belakangan ini. Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaefuddin, di ibu kota Taliwang, menyebutkan, dari tujuh kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) yang diungkap kepolisian daerah periode Januari-April 2016, sebanyak empat perkara terjadi di wilayah hukum ini. Bahkan, dari 10 kabupaten/kota di NTB, jumlah kasus penyalahgunaan narkoba di Sumbawa Barat merupakan yang tertinggi. 312 Peta Dakwah MUI NTB

331 bab 8 KabuPatEn SumbaWa Latar belakang sosial budaya memiliki arti penting dalam pembentukan kebudayaan bagi kelompok masyarakat. Kondisi sosial dan budaya masyarakat Kabupaten Sumbawa juga dipengaruhi oleh berbagai latar sosial-budaya diantaranya: Letak dan keadaan alam, Asal-Usul Tau Samawa, Pengaruh Jawa Majapahit, masuknya Islam dan pengaruh Goa-Tallo, kependudukan, pendidikan Islam, dan agama/ kepercayaan. A. Motto Kabupaten Sumbawa Pemerintah kabupaten Sumbawa dilengkapi dengan motto di dalamnya yang m e m i l i k i nilai-nilai kearifan y a n g dirangkum ke Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 313

332 dalam satu u n g k a p a n yaitu: Sabalong Sama Lewa (memperbaiki secara bersama-sama). Berikut ini erikangambaran yang lebih jelas tentang lambang tersebut bersama perwujudan nyata dari nilai-nilai yang diidealkan melalui lambang tersebut. Gambar: (4.4) Lambang Kabupaten Sumbawa 1. Perisai : Perisai berbentuk seperti Perisai Pancasila, mewujudkan lambang perjuangan dan perlindungan serta menggambarkan jiwa kepahlawanan yang berdasarkan Pancasila sebagai kepribadian asli Bangsa Indonesia. 2. Bintang : Bintang persegi lima, melambangkan rasa Ketuhanan Yang Maha Esa dari masyarakat Kabupaten Sumbawa. 3. Kubah : Kubah, melambangkan pandangan hidup keagamaan dari penduduk Kabupaten Sumbawa yang teguh, patuh serta taat melaksanakan Perintah Agamanya. 4. Padi dan Katub Kapas : Padi dan Katub Kapas, melambangkan Struktur Pemerintah Wilayah kecamatan dan desa/kelurahan. 5. Menjangan : Menjangan, mengambarkan Binatang (Fauna) spesiik yang terindah di Daerah Kabupaten Sumbawa dan melambangkan keterampilan/ ketangkasan dalam gerak pembangunan. 314 Peta Dakwah MUI NTB

333 6. Pita : Pita bertuliskan Samawa mengungkapkan nama asli Kabupaten Sumbawa. 7. Pohon beringin berakar lima : Pohon beringin berakar lima, mengambil pengertian dari tambo penduduk Sumbawa. Tambo itu melukiskan proses sejarah kebudayaan penduduk suku Sumbawa, Taliwang dan Seran yang berpusat di Sumbawa Besar serta mewujudkan keunikan dan percampuran daerah suku Sumbawa asli dengan Mojopahit, Bugis, Makasar dan Banjar yang diwujudkan dalam akar lima. Tulisan yang berbunyi Sumbawa adalah nama Daerah Kabupaten Sumbawa yang berpemerintahan sendiri (otonom). Ukuran perbandingan lambang Daerah Kabupaten Sumbawa 22 x 30 Cm Motto Daerah Kabupaten Sumbawa: SABALONG SAMA LEWA Artinya: Membangun secara seimbang dan serasi antara pembangunan isik material dengan pembangunan mental spiritual (Dunia dan Akhirat). Sasanti Daerah Kabupaten Sumbawa B E S A R BERSIH, ELOK, SEHAT, AMAN, DAN RAPI 1 Dalam ungkapan Geertz (1973) bahwa simbol juga mampu merekam konsep dan motivasi-motivasi. Maka lambang di atas dapat dijadikan sebagai salah satu contoh representasi dari hal itu. Foto tersebut telah merepresentasikan konsep kegotong royongan terimplementasi dalam praktik nyata dalam kehidupan sosial masyarakat Sumbawa. Dengan kata lain, lambang beserta moto di dalamnya telah menjadi kerangka acuan yang memotivasi secara kolektif seluruh masyarakat untuk sama-sama mewujudkan nilai kerukunan dan kebersamaan 1 Sumber : Bagian Pemerintahan Kabupaten Sumbawa 2016 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 315

334 dalam kehidupannya.bahkan, juga menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pilihan dari cara hidup mereka. Pemerintah memandang hal-hal seperti itu, sebagai sebuah kearifan yang perlu untuk terus dilestarikan, diajarkan dan diwariskan kepada seluruh generasi masyarakatnya. Mengingat semua itu, bukan hanya bagian dari kepercayaan dalam bermasyarakat tetapi juga manifestasi dari makna kegotongroyongan yang menjadi simbol dalam bermasyarakat. B. Letak dan Keadaan Alam Daerah Sumbawa termasuk salah satu diantara sepuluh kabupaten wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Adapun daerah Kabupaten/Kota yang termasuk dalam wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), meliputi: Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, dan Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok dan dihuni oleh mayoritas Suku-bangsa Sasak (dengan sasak=orang sasak). Sedangkan daerah yang berada di pulau Sumbawa meliputi Kabupaten Bima, Dompu, dan Kota Bima dihuni oleh mayoritas Suku-bangsa Mbojo (dou Mbojo = orang Bima), serta Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat dihuni oleh mayoritas Sukubangsa Samawa (tau Samawa=orang Sumbawa). Hal itu semua dapat dilihat dalam peta kabupaten Sumbawa dalam propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai berikut: Sumbawa yang dimaksud dalam tulisan ini tidak mencakup semua kabupaten yang disebutkan di atas. Sumbawa yang dimaksud dalam tulisan ini hanya mecakup satu kabupaten saja, yaitu Kabupaten Sumbawa, walaupun ada Kabupaten Sumbawa Barat`yang sekaligus bisa menjadi perwakilan dari sukubangsa Sumbawa di pulau Sumbawa itu. Akan tetapi menurut Syarifuddin (2008:86) kedua Kabupaten itu, semula merupakan satu kabupaten yang dinamakan Kabupaten Sumbawa. Namun pada tahun 2004 terjadi pemekaran wilayah menjadi dua kabupaten, yaitu (1) Kabupaten Sumbawa yang berada di bagian tengah pulau Sumbawa dan (2) Kabupaten Sumbawa Barat yang terletak di bagian Barat pulau tersebut. Secara topograi, permukaan tanah daerah Sumbawa adalah bergunung-gunung dan berlembah. Di sebelah timur mulai dari kecamatan Plampang sampai wilayah kecamatan Empang merupakan hamparan tanah daratan. Namun, tanah daratan yang cukup luas itu 316 Peta Dakwah MUI NTB

335 sebagian besar tidak dapat di tanami padi, karena merupakan hamparan tanah yang kering. Sewaktu-waktu tanah itu dapat pula ditanami tanaman, seperti kacang hijau, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi kayu yang tidak banyak memerlukan air, seperti padi. Bagian tengah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan terbentang dari arah barat ke timur ditemukan gunung-gunung yang cukup tinggi, antara lain: (a) Gunung Batulanteh, tingginya 1730 meter; (b) Gunung Takan, tingginya 1400 meter; (c) Gunung Jaran Pusang, tingginya 1283 meter; (d) Gunung Tongo, tingginya 1167 meter; dan (e) Gunung Dodo, tingginya 1147 meter (Mahsun, 1994:63). Dengan demikian permukaan tanahdi wilayah kabupaten Sumbawatidak rata atau cenderung berbukit-bukit dengan ketinggian berkisar 1.730meterdiataspermukaan airlaut, dimanasebagian besar diantaranyayaitu seluas ha atau 41,81 persen berada pada ketinggian 100 hingga500 meter. Sementara itu ketinggian untuk kota-kota kecamatan di kabupaten Sumbawa berkisar antara 10 sampai 650 meter diatas permukaan air laut. Ibu kota kecamatan Batulantehya itu Semongkat merupakan ibu kota kecamatan yang tertinggi sedangkan Sumbawa Besar merupakan ibu kota kecamatan yang terendah (Sumbawa Dalam Angka, 2016:3). Luas wilayah kabupaten Sumbawa 6.643,98 KM2 dengan posisi sampai dengan Bujur Timur dan 8 8 sampai dengan 9 7 lintang selatan. Secara geograis, daerah Sumbawa ini disebelah barat berbatasan dengan selat alas dan kabupaten Sumbawa Barat, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Dompu, di sebelah utara ada laut Flores yang berperan luar biasa dalam kehidupan masyarakat, memberikan sumber bernilai bagi nelayan, menyumbang bagi pembangunan pembuatan kapal/perahu dan ketrampilan pelayaran. Di bagian Selatan membentang Samudra Indonesia yang luas dan kaya akan potensi perikanan dan kelautan. 2 Sumbawa dikelilingi juga oleh pulau-pulau kecil disebut gili 3 yang menakjubkan dengan teluk saleh yang mencolok jauh ke dalam dan hampir memotong pulau Sumbawa. Sepenuhnya berhak disebut suatu sudut dunia yang menakjubkan karena uniknya. Pulau-pulau kecil yang terletak di utara Sumbawa kebanyakan sangat kecil dan tidak 2 Raba,, Manggaukang; Fakta-Fakta Samawa (Samaha: Bougenvile, 2001),h.1 3 Ada banyak pulau-pulau kecil berdasarkan Lange Politiek Contract 1938 kerajaan Sumbawa (Kabupaten Sumbawa sekarang) misalnya pulau Dewa, Buraeng, Rakit, Depi, Tai Kebo, Lipan, Sentigi, Natu, Dempu, Tangar, Tapan, Ngali, Batu, Liang, Dangar, Moyo, Medang, Keramat, Kemudu, Ranga, kaung, bungin, Kalong, Lawang, Bilang, Kili, Pasaran, Ular, Batu, Nyamu, Puyin, Raja Kepang, dan Kuwu. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 317

336 berpenghuni. Hanya ada pulau Moyo yang luasnya sekitar hektar merupakan salah satu kebanggaan Sumbawa, sedangkan pulau bungin merupakan pulau karang memiliki keunikan tersendiri dan disebutsebut sebagai pulau terpadat di dunia. Secara administratif Kabupaten Sumbawa dibagi atas 24 kecamatan, yaitu: (1) Empang, (2) Lunyuk, (3) Lenangguar, (4) OrongTelu, (5) Ropang, (6) LabuhanBadas, (7) Plampang, (8) Batulanteh, (9) Tarano, (10) Moyohulu, (11) Maronge, (12) Labangka, (13) Rhee, (14) Lape, (14) Moyohilir, (16) AlasBarat, (17) Lantung, (18) Utan, (19) Lopok, (20) Buer, (21) Alas, (22) MoyoUtara, (23) UnterIwes, (24) Sumbawa, dengan luas masing-masing seperti pada tabel berikut ini: Tabel (1) Luas Daerah Kabupaten Sumbawa Dirinci Perkecamatan Tahun 2012 No Kecamatan Luas Wilayah (KM2) Proporsi 1. Empang 558,55 8,41 2. Lunyuk 513,74 7,73 3. Lenangguar 504,32 7,59 4. OrongTelu 465,97 7,01 5. Ropang 444,48 6,69 6. Lab.Badas 435,89 6,56 7. Plampang 418,69 6,30 8. Batulanteh 391,40 5,89 9. Tarano 333,71 5, Moyohulu 311,96 4, Maronge 274,75 4, Labangka 243,08 3, Rhee 230,82 3, Lape 204,43 3, Moyohilir 186,79 2, AlasBarat 168,88 2, Lantung 167,45 2, Peta Dakwah MUI NTB

337 18. Utan 155,42 2, Lopok 155,59 2, Buer 137,01 2, Alas 123,04 1, MoyoUtara 90,80 1, UnterIwes 82,38 1, Sumbawa 44,83 0,67 Jumlah 6643,98 100,00 Sumber: Sumbawa Dalam Angka 2016:33-34) Membaca tabel diatas secara berurutan, maka kecamatan Empang yang berada di bagian timur wilayah kabupaten Sumbawa memiliki luas wilayah yang paling besar, dikelilingi oleh pegunungan yang tinggi, laut yang luas membentang dan menjadi wilayah pembatas untuk menuju kabupaten Dompu. Sedangkan wilayah kecamatan Sumbawa yang menjadi pusat ibu kota kabupaten Sumbawaberada di bagian tengah memiliki luas wilayah paling kecil. Wilayah ini tidak memiliki pegunungan yang tinggi, dan hamparan laut membentang paling sedikit. Akan tetapi wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang hiterogin dimana hampir semua pendatang dari berbagai suku bangsa ada di kecamatan Sumbawa ini. Adapun curah hujan tahunan di kabupaten Sumbawa terutama di daerah daratan rendah adalah 1300 mm dan di daerah pegunungan adalah 2500 mm. Semakin ke timur cura hujannya semakin kecil, berkisar antara mm. Temperatur rata-rata maksimum dan minimum 32 derajat celcius dan 22 derajat celcius. Kelembaban udara rata-rata 85 % dan penyinaran matahari 60 %. Evaporasi berkisar 5 mm per-hari pada bulan januari dan berkisar antara 9-10 mm pada bulan oktober. C. Sejarah Masyarakat Sumbawa Masyarakat Sumbawa merupakan tempat sebagian besar masyarakat lain yang ada di Indonesia. Masyarakat Sumbawa terdiri atas kelompok-kelompok individu yang ditentukan oleh tempat, dialek, adat istiadat serta berbagai latar belakang sejarah yang banyak Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 319

338 dipengaruhi oleh faktor internal maupun external lingkungannya. Untuk lebih memahami secara mendalam perihal tentang sejarah masyarakat Sumbawa berikut ini akan dijelaskan secara berurutan tentang asal usul tau Samawa, pengaruh Jawa Majapahit, dan masuknya Islam dan pengaruh Goa-Makassar. 1. Asal-Usul Orang Sumbawa (Tau Samawa) Kata Sumbawa digunakan untuk menyebutkan sebuah pulau yang terdapat pada gugusan kepulauan Indonesia bagian Timur, juga digunakan sebagai nama salah satu kabupaten yang terdapat di pulau tersebut yaitu Kabupaten Sumbawa. Dalam tulisan ini kata Sumbawa dalam bahasa Sumbawa disebut dengan nama Samawa. Kata Samawa pun, selain digunakan sebagai nama asli Sumbawa, juga dipakai untuk menyebut sukubangsa Sumbawa yaitu Tau Samawa. 4 Berbicara tentang Sumbawa dari hasil penelusuran di lapangan terutama dalam jejak-jejak sejarah lama tidak cukup memberikan informasi valid karena dalam ingatan penduduk tidak dijumpai informasi yang jelas. Bahkan tulisan-tulisan yang memuat sejarah Sumbawa kebanyakan sudah terbakar atau bahkan hilang. Menurut Manca 5 pada masa pra-sejarah (purba) daerah Sumbawa belum dapat diungkapkan secara jelas, karena disamping belum ditemukan bahanbahan tertulis, juga sisa-sisa peninggalan kebudayaan purba yang berhasil ditemukan cukup terbatas. Di antara sisa-sisa kebudayaan purba yang cukup penting, yang berhasil ditemukan itu adalah situs Airenung yang merupakan satu-satunya penemuan yang memiliki ciri peradaban pra-sejarah yang sudah cukup tinggi validitasnya. Situs Airenung ditemukan pada ketinggian 475 m di atas permukaan air laut di desa Batu Tering, kecamatan Moyo Hulu itu merupakan kompleks Sarcofaag (kuburan manusia yang terbuat dari batu ). Hal ini menurut Muslimin Yasin 6 adalah produk budaya bangsa Austronesia 4000 tahun yang lalu sebagai penghuni dan perintis pertama sehingga lubang kuburan ditata sangat rapi, dikagumi oleh arkeolog Australia, Belanda, Perancis dan negara-negara lain. Menurut Mahsun 7 Kompleks ini terdiri dari 4 buah sarcofaag. Setiap sarcofaag dihiasi dengan relief atau 4 Mahsun, Dialek Geograis Bahasa Sumbawa, disertasi, (Universitas Gajah Mada,1994), h.54 5 Lalu Manca, Sumbawa pada Masa Lalu, Suatu Tinjauan Sejarah (Surabaya: Rinta,1984),h.21 6 Muslimin Yasin, Pentingnya Memelihara Arsip dan Situs Sejarah (Yogyakarta:Arti Bumi Intaran, 2007), h.xxvi 7 Mahsun, Dialek Geograis Bahasa Sumbawa...h Peta Dakwah MUI NTB

339 gambar-gambar timbul yang bermotif Polinesia dan berbentuk lukisan anak-anak. Keseluruhan bentuk pola hiasan itu menggambarkan alam pikiran yang umum tersebar di seluruh nusantara, misalnya binatang melata dianggap berhubungan dengan alam arwah, muka atau kepala manusia adalah lambang pencegah bahaya, dan alat kelamin melambangkan kesuburan. 8 Berdasarkan laporan singkat yang ditulis oleh tim peneliti arkeologi di Batu Tering (1980), sekitar tahun pada akhir masa plestosen, daerah Sumbawa telah dihuni oleh manusia purba. Pada akhir masa plestosen daerah Sumbawa Barat mengalami pengangkatan yang menyebabkan endapan sungai purba plestosen terkikis hingga terjadilah undak-undakan sungai sebanyak 8 buah. Pada saat itulah di lembah Batu Tering manusia purba tiba untuk pertama kalinya dan tinggal menetap di daerah tersebut. Seperti halnya yang terjadi di kepulauan lain maka dapat dikatakan pula bahwa pada zaman purba telah terjadi perpindahan penduduk dari suatu tempat menuju Sumbawa yang kemudian menjadi sukubangsa Samawa yang kita kenal sekarang ini. Mereka datang ke tanah Sumbawa (Tana Samawa) dan tinggal bersama kaum pribumi pada abad ke-15 dan ke-16 yang menganggap pulau itu adalah pulau nasi. 9 Hal ini yang mendorong para pendatang dari berbagai suku bangsa lain datang ke daerah ini seperti orang Bali, Bugis, Makassar, Banjar, Jawa, Melayu, Mbojo serta Lombok. Para pendatang ini membawa pengaruh terhadap bahasa, budaya, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Menurut Manca 10 dari hasil kutipannya dalam buku Memorie Van Overgave (Serah terima jabatan seorang residen) bahwa penduduk asli Sumbawa dulunya bertempat tinggal di Semenanjung Sanggar. Secara geologis, dahulunya Gunung Tambora telah mencapai ketinggian 4000 m dan pulau Sumbawa telah tenggelam 1000 m. kenyataan itu menunjukkan bahwa pulau Sumbawa dan Semenanjung Sanggar dahulunya merupakan dataran yang luas. Hal ini memungkinkan terjadinya perpindahan penduduk dari semenanjung Sanggar ke Sumbawa. 8 Lalu Manca, Sumbawa pada Masa Lalu,...h.20 9 Pulau nasi adalah sebutan bagi negeri tanah Samawa yang mempunyai sejarah kerajaan yang makmur, terutama di daerah yang terletak di bagian barat pulau ini. Dengan potensinya yang demikian besar, baik laut dan pesisir, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, pariwisata, dan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara terbesar di Indonesia. 10 ibid..h.19 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 321

340 Adapun menurut Mahsun 11 penduduk Sumbawa pada masa lalu berasal dari berbagai tempat dan datangnya secara berkelompokkelompok, kemudian masing-masing membuat tempat kediamannya. Hal ini didukung oleh dugaan bahwa pada zaman glasial Sumbawa bersambung langsung melalui Lombok dan Bali dengan dataran Sunda (Jawa, Kalimantan, dan Sumatra), serta dataran Asia. Melalui jembatan daratan itulah manusia purba dapat bermigrasi. Terdesak oleh suasana dan keadaan, baik karena perpindahan penduduk yang baru, maupun karena tarikan alam untuk mereka jadikan tempat bercocok tanam dan pemeliharaan ternak. Penduduk yang telah memiliki tempat kediaman itu akhirnya menjadi tanah ulayat yang dalam bahasa Sumbawa-nya disebut lar lamat, dengan batas serta penguasaanya yang disebut nyaka (membentuk daerah kekuasaan sendiri) dan diberi hak atas tanah disebut penyaka (penggarap dari kalangan rakyat biasa). Dasar kepemilikan hak atas suatu wilayah dilukiskan dalam ungkapan tradisi lisan Sumbawa tumpan aeng-aeng, me tu tumpan nan tau baeng (menemukan, siapa yang lebih dulu menemukan dia yang memilikinya). Penduduk yang lebih tua dan lebih dulu datang ke Sumbawa adalah tinggal di pegunungan Ropang, Lunyuk dan sebelah selatan pegunungan Batu Lanteh. Mereka telah terdesak penduduk baru yang masuk melalui pantai utara. Mereka tinggal di pegunungan tersebut selain adanya perbedaan tipe, juga bahasanya berlainan dengan penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Di tempat lain seperti di kampung Mantar, daerah pegunungan dekat desa Seteluk dan kampung Sesat dekat kecamatan Rhee, mereka mirip dengan logat/bahasa Jawa. Sedangkan di pegunungan Jereweh mereka mempunyai bahasa yang berlainan dengan tetangga dekatnya yaitu Jereweh dan Taliwang yang mempunyai bahasa sendiri. Namun tentang asal-usul Sumbawa tersebut sampai sekarang belum ada penelitian yang menjelaskan secara valid. Penduduk Sumbawa yang berada di daerah pegunungan seperti Orong Telu Ropang, Lunyuk, dan sebelah selatan Batu Lanteh, memiliki persamaan dengan orang-orang Bugis, Makasar, Banjar, Melayu, dan sebagian kecil dengan Jawa dan di sebelah barat orang Sasak. Hal ini dapat dipelajari dari logat bahasa yang digunakan, bentuk tubuh dan warna kulit yang lebih mirip dengan tetangganya di sebelah barat, sedangkan pada adat-istiadat, bangunan rumah dan aksara lebih menyerupai Makasar. Pada bagian lain, ada pendapat dari kisah perjalanan Zollinger pada bulan Mei-Desember (1847) bahwa 11 Mahsun, Dialek Geograis Bahasa Sumbawa...h Peta Dakwah MUI NTB

341 penduduk Bima dan Sumbawa, Selebes, Slayar, dan Flores secara keseluruhan berasal dari rumpun bangsa Melayu. 12 Berdasarkan sejarah ringkas masyarakat Sumbawa pada masa lalu, dan kehidupan sosial lainnya dapat dikatakan bahwa apapun latar belakang asal usul penduduk Sumbawa saat ini, secara realitas bahwa sukubangsa Samawa telah tumbuh dan berkembang dari percampuran aneka ragam sukubangsa yang telah berasimilasi dan bersatu dalam satu community (kesatuan masyarakat) yang bernama sukubangsa Samawa yang merasa memiliki kesamaan sejarah, adat istiadat, dan kebudayaan yang terus dikembangkan dan dipelihara oleh warganya, sehingga tetap menyatu dalam sistem adat istiadat dan kebudayaan Sumbawa yang kemudian disebut adat rapang Tana Samawa (tata cara dan adat istiadat orang Sumbawa). 2. Pengaruh Budaya Luar (Agama Hindu) Penduduk Sumbawa yang datang dari berbagai tempat dan hidup secara berkelompok akhirnya menjelma sebagai kerajaan-kerajaan misalnya dibuktikan di bagian tengah dan selatan terdapat kerajaan: Dewa Mas Kuning di Selesek dan Datu Naga di Petonang (kedua-duanya di kecamatan Ropang), kerajaan Airenung dan Dewa Awan Kuning di Sampar Semulan, serta Perumpak di Pernek (ketiga-tiganya, sekarang di kecamatan Moyo Hulu), kerajaan Gunung Setia (sekarang di kecamatan Sumbawa), dan kerajaan Gunung Galesa (sekarang kecamatan Moyo Hilir). Pada sebelah timur terdapat kerajaan Tangko (sekarang wilayah kecamatan Empang), Kolong (sekarang wilayah kecamatan Plampang), Ngali dan Dogan (kedua-duanya, sekarang masuk wilayah kecamatan Lape Lopok). Kemudian di sebelah barat terdapat kerajaan Hutan (sekarang kecamatan Utan), Seran (sekarang wilayah kecamatan Seteluk), Taliwang (sekarang wilayah kecamatan Taliwang), Jereweh (sekarang wilayah kecamatan Jereweh), dan Selaparang (Lombok). 13 Dan tercatat dalam sejarah bahwa pada abad ke-xiv dan XV seluruh negeri di Pulau Sumbawa menjadi daerah kerajaan Hindu Majapahit sejak pemerintahan Hayam Wuruk ( ) dan pengaruhnya itu masih membekas di bagian barat Sumbawa. 14 Dalam Buk Tana Samawa (buku tanah Sumbawa) disebutkan pula, bahwa raja-raja Sumbawa yang lebih tua ialah bersemayam di Airenung 12 Ibid..h Lihat Manca, h , Mahsun, 1994, h.58, Raba, 2002, h J. Noorduyn, Bima En Sumbawa, (Terj. Ygyakarta: Riset Informasi dan Arsip Kenegaraan, 2007), h. xxxii Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 323

342 dan Sampar Semulan.Rajanya bergelar Batara Sukin dan turun temurun hingga Dewa Awan Kuning. Dalam Buk tersebut mereka mengakui dirinya keturunan raja-raja kerajaan Majapahit dan kekuasaannya berakhir setelah penaklukan Karaeng Moroageng (kerajaan Goa) dan masuknya agama Islam. Hal ini ada hubungannya dengan penguasaan kerajaan Majapahit atas kerajaan-kerajaan di Sumbawa terutama kerajaan Taliwang, Seran dan Hutan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Perkembangan kerajaan Tana Samawa sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa misalnya raja Dewa Awan Kuning sampai Raja Dewa Majaparuwa melakukan hubungan dengan Raja Majapahit sejak tahun Dari catatan tersebut menunjukkan bahwa selama beratus-ratus tahun mendapat pengaruh Majapahit (Hindu) dan mengakar kuat di Tana Samawa sampai pada abad ke 17. Bentuk hubungannya dimulai dengan raja Dewa Awan Kuning datang ke Majapahit yang diiringi para pembantunya untuk belajar adat istiadat, cara bercocok tanam, berladang, belajar agama Hindu, dan bahkan belajar tentang sistem pemerintahan dan kemasyarakatan. 15 Pengaruh lain yang membentuk kebudayaan Sumbawa itu sendiri akibat asimilasi 16 antara budaya tersebut, tampak pada penggunaan istilah/nama pejabat kerajaan Sumbawa antara lain: Dewa Maraja, Ranga, Adipati, Menteri Telu 17, Mamanca Lima 18, Lelurah Pitu 19 pada perwira (sarian, penggawa, Bhayangkara), juga pada perlengkapan senjata yang digunakan, ada istilah keris, pada adat istiadat ada tradisi biso tiyan (tingkep), mitoni (tujuh bulan) dan sebagainya. Bahkan raja-raja seperti Sumbawa, Seran dan Selaparang (Lombok) adalah tiga bersaudara, yang orang tua beliau diduga berasal dari 15 Raba,, Manggaukang; Fakta-Fakta Samawa...h Proses penyesuaian golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan tertentu ke dalam golongan lain dengan kebudayaan yang berbeda sedemikian rupa sehingga sifat khasnya dan identitas kebudayaan golongan pertama lambat laut berkurang dan menghilang (Koentjaraningrat, 1984:13). 17 Pemerintahan di Tana Samawa adalah pada dewan menteri yang terdiri dari; Ranga (Ketua/Mangkubumi), Kalibelah dan Dipati. Dalam menjalankan urusan pemerintahan ketiga menteri membagi wilayah kekuasaannya dengan cara mengkoordinir pejabat-pejabat di bawahnya. 18 Majelis perwakilan beranggotakan 5 orang yang terdiri dari; Longan Samapuin (ketua), Kadimungun, Demung Langu, Menteri Tuban dan Mekal Tana. 19 Majelis perwakilan beranggotakan 7 orang, yang terdiri dari; Ngeru (ketua), Demung Pulit, Nyaka Samapuin, Nyaka Pemulung, Nyaka Bangkong, Nyaka Barare, dan Nyaka Lamok. 324 Peta Dakwah MUI NTB

343 keturunan Sunan Giri yang datang dalam tugasnya menyebarkan agama Islam di Sumbawa bernama Dewa Lengan Masmaling, di Seran bernama Dewa Lengan Maspakil. Sampai sekarang kuburan kedua beliau ini dikeramatkan. Adapun saudaranya yang perempuan bernama Dewa Lengan Masparang menjadi raja di Salaparang. 3. Masuknya Islam dan Pengaruh Goa-Makassar Menjelang awal abad ke-16 Islam masuk ke Sumbawa dari Jawa yang dilakukan oleh para muballigh Islam dengan tujuan awalnya berniaga. Pada saat itu Sunan Giri menjadi sumber ilmu keagamaan dan termasyhur di seluruh tanah Jawa, sehingga banyak yang pergi berguru kepadanya dan mengirimkan utusan (mission sacree) ke luar Jawa termasuk dari Nusa Tenggara. Untuk memperkuat pendapat diatas, Dalam Buk Tana Samawa juga menyebutkan bahwa ada orang Sumbawa datang ke Demak pada saat Masjid Agung sedang dibangun tahun saka 1451 atau bertepatan dengan tahun masehi Karena tertarik dengan prikehidupan masyarakat Demak, lalu ia memeluk agama Islam. Setelah kembali ke Sumbawa, ia datang bersama dengan penyebar Islam lainnya. Penyebar inilah yang mula-mula mengajarkan rakyat bercocok tanam dan membuat bendungan di sungai Reban Aji sekarang ini dan di tempat itu pula rakyat diajarkan membuat sawah dan sebagainya. Untuk pengiriman utusan (mission sacree), Sunan Giri mengutuskan Syekh Zainul Abidin, bukan saja sebagai muballigh tetapi juga menjadi seorang dukun (thabib/sanro). Nama ini menjadi kenangan dalam tradisi lisan yang berbentuk cerita rakyat Tanjung Menangis yang sulit untuk dilupakan oleh masyarakat Sumbawa seperti: Ada seorang puteri raja yang kena penyakit kulit. Sudah bermacammacam obat yang di pakai tetapi tak juga sembuh. Lalu dicanangkan ke segenap penjuru kerajaan, menyampaikan kepada segenap khalayak, bahwa oleh raja Sumbawa dijanjikan bagi siapa yang dapat menyembuhkan penyakit puterinya akan dijadikan menantu. Syekh Zainul Abidin menawarkan jasanya. Setelah raja menyetujui, lalu sang puteri oleh Zainul Abidin dibawa ke Kampung Ai Awak. 20 Di sana 20 Ai Awak dulunya merupakan suatu mata air di kaki bukit makam Sampar. Mulanya kecil digali dengan tangan dan lebarnya setengah meter. Orang-orang yang kembali dari gunung mengambil kayu dan sebagainya singgah sebentar untuk minum dan membasahkan tubuhnya sedikit dari leher hingga ke lutut diusap dengan air ini, kemudian dinamakan Beriwak. Lalu lama kelamaan tempat itu dinamakan Ai Beriwak, kemudian berubah menjadi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 325

344 terdapat sebuah kolam dan di atas batu besar yang terdapat di tengah kolam tersebut dengan kesaktian sang thabib tuan puteri diobati. Pada waktu mulai pengobatan, sang thabib meminta supaya dalam tempo 7 hari jangan diganggunya. Di sinilah waktu yang digunakan oleh para pembesar kerajaan untuk membuat itnah dan menghasut raja dengan cara menyampaikan berita bahwa sang thabib telah berbuat mesum terhadap tuan puteri. Fitnah semakin bertubi-tubi dan begitu derasnya sampai ke telinga sang Thabib. Untuk menyelamatkan diri dari prasangka yang bukan-bukan ini, walaupun diketahuinya bahwa hal itu semua tidak mungkin datang dari raja, tetapi demi kehormatan dirinya sebagai penyebar Islam (muballigh) dan kemuliaan agamanya yang tengah disebar kepada penduduk, menyingkirlah beliau meninggalkan Sumbawa menyusuri bukit ke bagian utara hingga sampai di Tanjung Menangis. Di sana kebetulan terdapat sampan lalu ditumpanginya. Setelah 7 hari, sang puteri sembuh dan ternyata adalah seorang puteri yang cantik. Didengarnya berita itnah yang disampaikan orang kepadanya, bahwa baginda Raja tak memenuhi janji dan sekarang Syekh Zainul Abidin telah menyingkirkan diri dari itnah, sang puteri lalu menyusul, tetapi sewaktu sampai di ujung Tanjung Menangis, sang thabib sudah tidak ada, sampan yang ditumpanginya sudah jauh di tengah laut. Sang puteri melambai-lambaikan tangan, sayup sayup sampai terdengar suara Zainul Abidin lewat Lawas: Ku menong si sengo sia intan ee Ling poto Tanjung Menangis Kupendi onang ku keme Aku bencanang tenga lit Sia gajah lulir tampar Tu saling panto mo untung Ku dengar suaramu saying e Di penghujung Tanjung Menangis Ku sayang, tapi nggak bisa apa-apa Kanda pencalang di tengah laut Dinda gajah menyelusuri pantai Jodoh tak mungkin menyatuh Di dalam hempasan angin laut terhadap ombak di pantai Tanjung Menangis terdengarlah suara sang Puteri dengan lawas nya: Lis keluyu tano gontar Kawang bane labu empang Ku kawa ngaro ke aku Aku terhuyung-huyung di Barat Bagaikan Bane Pantai Empang Dinda merana dirundung duka Ai Awak. Kolam kecil ini kian hari kian besar dan dalam. Ketika datang Syekh Zainul Abidin untuk mengajarkan agama Islam lalu Ai Awak ini diperbaiki dan di situlah tempat mengajarkan orang-orang yang memeluk agama Islam berwudhu dan mandi membersihkan diri. 326 Peta Dakwah MUI NTB

345 Kubalangan ruris tampar Leno tili ling sangkilang Sia su aku susa si Ku berjalan menyusur pantai Badan sebatang kara dikawal bayang Kanda gunda, dindapun gulana (Manca, 1984:50-51): Penyebaran Islam dengan jalur informal seperti tersebut diatas belum meluas masuk ke istana raja sehingga tidak bisa meluas dengan pesatnya kepada seluruh penduduk Sumbawa. Maka pada tahun seorang Raja yang berasal dari Sulawesi bernama Peta Manggalatung bersama pengikutnya menjelajah ke Sumbawa. Mereka datang dengan perahu besar lengkap dengan alat senjatanya. Mereka singgah ditiap-tiap pulau yang dilalui sampailah mereka di pulau Sumbawa dan bertemu dengan raja Sumbawa untuk menyampaikan maksud kedatangannya membawa misi untuk mengakrabkan persahabatan dalam satu kepercayaan, yaitu Islam. Raja Sumbawa menanyakan tentang seluk-beluk agama Islam, setelah mendapatkan penjelasan dari Peta Manggalatung, kemudian raja Sumbawa bermusyawarah dengan Lante-Menteri, Serian-Punggawa tetapi orang-orang pembesar istana banyak yang tidak menyetujuinya yaitu (1) Nyaka Karekeh, yaitu orang yang masih banyak ular piaraannya, (2) Nyaka Varosho, yaitu orang yang masih banyak babi piaraannya, (3) Nyaka Utan, yaitu orang masih banyak biawak piaraannya. Kesenangan mereka memakan binatang piaraaannya yang bertentangan dengan syariat Islam itulah yang memberatkan mereka untuk memeluk agama Islam. Tetapi secara bijaksana Peta Manggalantung menganjurkan untuk menggantikan makanan kesenangan masing-masing dengan belut untuk mengganti ular, rusa mengganti babi dan bandeng menggantikan biawak. Untuk mengatasi segala hal-hal yang merintangi misinya, Peta Manggalatung mengeluarkan maklumat atas nama raja Goa yang memuat anjuran agar semua makanan dan adat istiadat yang bertentangan dengan syariat agama Islam di tinggal. Pada masa Sultan Alauddin dari kerajaan Goa-Makassar tahun 1618 baru mulai melakukan penaklukkan di Sumbawa. Dalam penaklukkan ini dipimpin oleh Karaeng Maroangeng terhadap kerajaan Hindu di Sumbawa Barat, yaitu kerajaan Utan. Pada tahun 1620 daerah ini berhasil di Islamisasikan. Hal itu dilakukan karena: Kepentingan kerajaan Goa yang menyebutkan Sumbawa sebagai peng- Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 327

346 hasil beras dan bahan lainnya seperti daging dan ikan. Selain dikenal dengan penghasilan beras, Sumbawa juga dikenal sebagai pengekspor kuda. Pedagang-pedagang yang datang waktu itu bukan saja dari dalam negeri, bahkan dari luar negeri. Kuda ekspor oleh Sumbawa, pedagangpedagang datang membawa kain, kapak, pisau, pedang, tembikar cina, timah putih, timah hitam, air raksa dan manik-manik berwarna. 21 Di samping itu juga, karena semakin bertambah penduduknya, makanan rakyat menjadi persoalan. Dalam hal ini perlu ditambah perluasan kekuasaan dengan memasukkan daerah yang banyak menghasilkan bahan makanan seperti daerah Sumbawa. Dan yang lebih penting lagi adalah ingin mempersatukan Sumbawa dengan Makassar, dan dinyatakan bahwa pada waktu itu seluruh rakyat Sumbawa telah memeluk agama Islam. Invasi kerajaan Goa-Makassar atas kekuasaan politik dan kebudayaan Sumbawa yang kuat sehingga terjalin hubungan yang cepat antara Sulawesi Selatan dengan Sumbawa. Bahkan penaklukan diatas memuat perjanjian damai antara keduanya dalam salah satu maklumat: Haadza kalaamulqaati perjanjian Tanah Goa dengan Tanah Samawa pada perang Sariyu dengan Suruh Kari Taqwa. Telah berkata Kari Taqwa: Adat kamu dan rapang kamu tiada dibinaqqsakan dan tiada kami rusakkan. Adapun Aku meneguhkan juga kepadamu tetapi jangan kamu lupakan mengucap Asjhadu Anllaa illa haillallah wa Asyhadu anna Muhammad Rasulu llah dan iman kamu jangan tiada meneguhkan Agama Islam. 22 Pesan Raja Tuminang Ribalapangkah (Goa) kepada raja Sumbawa Dewa Maharaja Paruwa dan pembantunya Nene Ranga, Nene Kalibelah dan Nene Jurupalasan, Memanca Lelima dan Lelurah Pepitu dan segala orang-orang besar yang hadir menghadap raja Sumbawa: Hai tuanku maharaja Paruwa, tiadalah boleh kupegangkan dengan perkataan dan tiada boleh kupegangkan dengan harta, dan tiada boleh kupegangkan dengan senjata maka sebab kamu sekarang ini nafas kamu kepada ujung leher kamu saja dan jikalau kupanggilkan engkau di tengah padang janganlah tiada engkau dengar. 23 Sejak penaklukan Goa atas Sumbawa, segala adat lama yang dijalankan semenjak Dewa Awan Kuning yang memberatkan rakyat harus segera ditiadakan karena rakyat tidak kuat lagi menanggungnya, 21 J. Noorduyn, Bima En Sumbawa... h Lalu Manca, Sumbawa pada Masa Lalu,...h Ibid 328 Peta Dakwah MUI NTB

347 kemudian raja Hutan (utan) yang bernama Mas Gowa diturunkan dari tahta kerajaan oleh para menteri dan pangerannya, maka mulai saat itulah oleh Neneranga Kumesa dihilangkan adat yang berat itu dengan dekrit Tana Samawa yang melarang memberlakukan lagi adat-adat yang bernama itnah dan tidarus, bunga (pajak) perak dan emas yang berlipat ganda, yang semua berlawanan dengan hukum Islam, dan bahkan Neneranga Naugsasi dan Nenkanu Kanamerta bermufakat bersama para pejabat untuk merubah hukum adat yang lama itu dengan nama Adat Bersendikan Syara dan Syara Bersendikan Kitabullah. Kerajaan Goa terus bekerja atas daerah kekuasaanya. Tahun 1623 kerajaan-kerajaan kecil yang berada di Sumbawa Barat dipersatukan menjadi satu kerajaan, yaitu kerajaan Sumbawa. Menurut Ligtvoet (1983:58) kerajaan Sumbawa adalah terdiri dari kerajaan itu sendiri dan tiga daerah daratan taklukannya (de drie vasteland) yaitu: Taliwang, Seran dan Jereweh. Ketiga kerajaan taklukan ini memiliki kedudukan yang sederajat, dan karena itu dikenal dengan sebutan kamutar telu (de drie kamutarland). 24 Bahkan kerajaan Goa melakukan penaklukan atas kerajaan Selaparang (Lombok) pada tahun 1640 yang mengakibatkan kerajaan Selaparang disatukan dengan kerajaan Sumbawa di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Gowa. 25 Utrech (1962:93) menyebutkan pada tahun 1603 kerajaan Salaparang-Lombok masih tetap dalam wilayah kerajaannya Karang Asam Bali, akan tetapi pada tahun 1640 pulau Lombok seluruhnya dibawah kekuasaan Makassar kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Dengan demikian, sejak itulah kerajaan Sumbawa membawahi 4 kerajaan, yaitu: Jereweh, Taliwang, Seran, dan Selaparang, atau dikenal dengan kamutar Empat (de vier kamutarland). Raja Sumbawa yang pertama adalah Mas Tjini (1648) yang menggantikan saudaranya Mas Gowa I bekas raja Utan yang diturunkan dari tahta, karena masih menjalankan adat kebiasaan Hindu di tengah- 24 Kemutar Telu (de drie kamutarland) Seran,Taliwang, dan Jereweh bernaung di bawah kekuasaan kerajaan Sumbawa mempunyai delapan macam kewajiban, menurut istilah adatnya Sonap Lawang Blau Balu yaitu: (1) Nguri (persembahan berupa uang dalam bilangan tertentu menurut kedudukan sesuatu pejabat kepada raja, bila raja ditimpa duka/ suka. (2) turut membuat kuta (benteng) negeri Sumbawa, membuat tembok dalam dan mengumpulkan kayu sepang. (3) mengumpulkan kain dan orang, serta ikut mengiringin Raja bila berkunjung ke Makassar. (4) Membawa hantaran (perisi atau tekan tonang) dan menghadiri upacara kematian. (5) Sama dengan empat pada upacara perkawinan, khitanan dan sebagainya. (6) Membuat dan mengerjakan bendungan dan selokan bersama rakyat dari Mata hingga Sekongkang. (7) Memberi bantuan bila terjadi peperangan dan (8) Membayar uang upeti. 25 Utrech , h.93 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 329

348 tengah rakyatnya yang sudah beragama Islam. Berikut sultan dan sultanah Sumbawa: Tabel (2) Sultan-Sultan dan Sultanah Sumbawa (Nama Sultan tidak dikenal) Mas Pamajan (Mas Tjini) diangkat Mas Goa (Kakak laki-laki dari No. 2) Mas Banten (Putra kakak perempuan dari no 3), sesudah turun tahta raja yang bernama Datu Loka meninggal dunia Mei Mas Madina atau Muharram Harun Ar Rasyid (putra dari no. 4), di lahirkan ), meninggal Penguasa Seteluk, meninggal Djalaluddin Datu Taliwang, meninggal Mappasossong Muhammad Kaharuddin (Anak saudara kandung dari no. 5, meninggal September I Sugi Karaeng Bontoa (Sultanah Siti Aisyah) Hasanuddin/Alaudin, Datu Jereweh Muhammad Djalaluddin, Pangeran Anom mangkuningrat, datu Taliwang, Meninggal Mappatjonga Mustafa (anak laki-laki dari no. 11), meninggal dunia September 1980 Muhammad Harun Ar Rasyid, datu Jereweh (Anak laki-laki no. 10), meninggal Saiatuddin Daeng Massiki (putri dari no. 13), meninggal (Sultanah Sumbawa, Istri Sultan Bima). Muhammad Kaharuddin (Anak laki-laki dari no. 12), meninggal Peta Dakwah MUI NTB

349 Interegnum-Kekuasaan peralihan antara Sultan/ Sultanah yang sudah meninggal dunia dengan penggantinya. Dalam masa Interegnum ini menurut Adat, Sultan/Sultanah diganti oleh Ranga (Perdana Menteri) Lalu Mesir (anak laki-laki dari no. 15), meninggal tahun Amarullah (kakak lelaki dari no. 16), meninggal Mas Madina Raja-Dewa Muhammad Djalaluddin Muhammad Kaharuddin III (anak laki-laki dari no.18). (Noorduyn J, Bima En Sumbawa, 1987:123) Periode abad ke-17 sampai abad ke-20 tanah Sumbawa (Tana Samawa) mendapat pengaruh yang kuat dari Sulawesi Selatan, yaitu kerajaan Goa. Hal itu semakin intens sejak Sumbawa ditaklukkan oleh Karaeng Marowanging tahun 1628 pada masa pemerintahan Raja Goa I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenga ri Gaukanna ( ), kemudian dilanjutkan oleh raja Manuntungi Daeng Mattola, Kareng Laikung, Sultan Malikussaid Tumenanga Ri Papambatuna ( ), dan I Malombasi Daeng Mattawang, Karang Bonto Mangape, Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana ( ). Sejak saat itu raja-raja Sumbawa mempunyai hubungan dengan kerajaan di Sulawesi Selatan bahkan terjadi peristiwa kawin mawin antar keturunan pemangku kerajaan misalnya mulai dari; Mas Tjini ( ) kawin dengan Kareng Panaikang Putri Raja Tallo, Mas Bantam ( ) kawin dengan Kareng Tunisanga, putri dari Tumenanga Ri Lampana Raja Goa, Mas Madina ( ) kawin dengan I Rakia Karaeng Agang Jene Sindenreng (Sulawesi Selatan), dan bahkan Sultan Muhammad Kaharuddin III adalah keturunan dari Makassar-Goa- Tallo. 26 Pengaruh kebudayaan Bugis Makasar (setelah runtuhnya Majapahit) misalnya ada istilah Daeng, Datu, dan juga sistem upacara adat dan pakaian adat kebesaran raja, maupun pada senjata dan alat- 26 Raba,, Manggaukang...h.29 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 331

350 alat perlengkapan hidup, bahkan model rumah dan lain-lainnya mirip dengan Bugis/Makasar. Dalam hal pengantin laki-laki pada kepalanya diletakkan hiasan yang dinamakan pasigar, badannya berselempang emas yang disebut simbangang, lengannya diatas siku dihiasi dengan emas berbentuk burung dinamakan kilap bahu, pergelangannya dihiasi dengan gelang emas dinamakan ponto, pada ikat pinggangnya dinamakan pending, diselipkan keris dengan ujung sarungnya dikeluarkan lebih ke sebelah kiri dan digantung hiasan yang bernama mayil, pada sebelah hulunya dengan disertakan pula setangan sulam emas yang dinamakan kida sanging, diatas celananya yaitu pada pinggangnya dibelitkan dengan selubung kain dinamakan tope (Hasanuddin, wawancara 12 Desember 2013). Pengantin perempuan kepalanya disarungkan dengan hiasan bernama jamang (sua) dengan jumbainya yang disebut bunye, pakainnya baju pendek tangan bersulam benang emas dan di atas baju bergantung perhiasan emas yang disebut kalung, ujung jempol tangan kanannya diberikan sarung kuku panjang yang dibuat dari emas, jari-jari tangannya dihiaskan cincin emas dengan permata berkilau-kilauan. Lengan sebelah atas dihias dengan kilap bahu, dibawah siku hingga pergelangan dengan hiasan bersusun tiga yaitu ponto-kelaru-ponto, anting-antingnya bernama bengkar tarowe, cara bersandignya mereka diapit oleh anak-anak perempuan yang dinamakan tau ode rabawa yang membawa ketam, pajula dan cere, pada sebelahnya ada inaq saneng, dan inaq pengasuh kedua pengantin bernama inaq paraja. Dalam hal tradisi lisan Sumbawa bernama lawas mendapat pengaruh elampugi syair bugis, perbedaan antara keduanya yaitu lawas merupakan syair yang terdiri dari tiga baris dengan syarat tiap bait terjalin tiga seuntai, dimana tiap-tiap barisnya terdiri dari 8 suku kata. Sedangkan pada syair bugis pada baris pertama 8 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ketiga 6 suku kata. Elompugi Syair Bugis: Rek-ku-a ma-ru -da-ni-o Ce-nga -ko ri-ke-teng-nge Ta-si-dup-pa ma-ta (8 suku kata) (7 suku kata) (6 suku kata) 332 Peta Dakwah MUI NTB

351 Kalau engkau rindu Tengadahlah ke bulan Dan kita bertemu pandang Lawas Sumbawa: La-min-si-ya du-nung no-tang So-we san-tek bo-nga bin-tang (8 suku kata) (8 suku kata) Ling bu-lan ba-te-mung ma-ta (8 suku kata) Kalau rindu kanda mendadak datang Kuaklah atap, tataplah bintang Di Bulan jumpa berpadu Karena pengaruh yang beraneka dari beberapa adat istiadat, sehingga adat asli Sumbawa sudah hampir tidak dikenal lagi ciri-cirinya. Bahkan Van Vollenhoven (1979:33) menyatakan bahwa Sumbawa bagian barat mempunyai lingkaran hukum adat tersendiri yang disebut hukum adat Sumbawa Barat. Karena perpaduan kebudayaan tersebut diatas, kemudian bercampur lagi dengan keturunan-keturunan yang datang dari Palembang, Minangkabau, Banjar, Bali, Lombok dan lain-lainnya, telah menjadikan sukubangsa Sumbawa berpancaran darah seni dalam jiwa misalnya dalam upacara peminangan maka kita mendengar rangkaian kata-kata yang bersifat puitis. Begitu pula ada yang diinginkan atau dikehendaki pada seseorang tidak langsung terlontar kata meminta, tetapi diselubung dengan kata-kata: Ajan sempama katingka, betemung untung ke rela, lebe jinaq ku rasate ade siya kango, na kena ya rowa si bosan, ba kareng aku mo baeng jampang. Kalau seandainya, bertemu untung dengan kepasrahan, saya menginginkan apa yang dibanggakan oleh tuan, jikalau hatinya sudah tidak tertarik, biarkan saya yang memeliharanya. Hal lain yang dapat dijadikan petunjuk tentang penduduk Sumbawa yang datang dari berbagai tempat itu adalah perbedaan asal usul bangsawan-bangsawan yang menjadi raja pada kerajaan-kerajaan yang terdapat di Sumbawa. Dijelaskan dalam sejarah Sumbawa bahwa raja Jereweh, merupakan keturunan dari bangsawan Sulawesi, yang terkenal dengan nama Karaeng Tubudia. Raja-raja di Taliwang adalah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 333

352 keturunan raja Banjar. Hal ini tampak dari gelar yang di gunakan, yaitu pangeran atau Gusti. Penduduk Sumbawa pada masa dulu berasal dari berbagai tempat, misalnya dari Banjar, Selayar, Bugis, Arab dan Jawa. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya perkampungan yang menunjukan asal penduduknya, misalnya ditemukan perkampungan Banjar, Selayar, Bugis, dan Arab di Kecamatan Taliwang, dan perkampungan Jawa di Sumbawa Besar. Menurut Raba 27 Tau Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa merupakan percampuran dari banyak suku bangsa selama berabad-abad, hal itu dapat ditelusuri dari hasil cacah jiwa tahun 1920 dari penduduk kerajaan Sumbawa saat itu, diantaranya merupakan percampuran penduduk asli (kemutar) dengan orang yang tentu saja sebagian besar dengan suku bangsa yang pernah menduduki Tana Samawa (tanah Sumbawa), yaitu suku bangsa Bugis- Makassar. Sedangkan penduduk asli berjumlah orang, sisanya yang merupakan orang pendatang dari Sumatera (pagaruyung), Banjar, Sasak, Jawa, Bali, Bima. Dari sinilah kemudian tumbuh dan berkembang membentuk masyarakat baru melalui percampuran darah dan kebudayaan yang sekarang menjadi penduduk tanah Sumbawa (Tana Samawa). Tau Samawa (orang Sumbawa) selama berabad-abad menjadikan identitas budaya mereka. Meskipun pengaruh majapahit (Jawa) mempengaruhi selama ratusan tahun yang kemudian disusul pengaruh Makasar (Goa-Tallo) dan bugis yang juga ratusan tahun, termasuk pengaruh yang datang kemudian dari berbagai suku bangsa (Sasak, Bali Banjar, Melayu, Minang). Tau Samawa bangga dengan budaya yang dimilikinya. Tau Samawa berbicara dengan bahasa daerahnya bahasa Sumbawa (basa Samawa) yang merupakan identitas daerahnya. Walaupun banyak dialek yang berbeda, seperti yang ada di pegunungan Ropang, Batu Lanteh, Jereweh, penduduk di sebelah selatan Lunyuk, ataupun Taliwang, dan berbagai tempat lainnya yang berbeda dengan yang digunakan di Sumbawa bagian Timur atau tengah, namun tidak mengalami kesulitan untuk saling memahami. Semuanya merupakan kekayaan bahasa yang ada di Tana Samawa. Banyak kata-kata dalam bahasa Sumbawa yang mirip dengan bahasa Sasak, Bali, Jawa, atau bahasa Bugis-Makassar yang memang lama bersentuhan secara sosial budaya. Namun semua itu telah mengalami penyesuaian dengan dialek Tau Samawa sehingga menjadi 27 Ibid 334 Peta Dakwah MUI NTB

353 bagian dari bahasa Sumbawa (basa Samawa). Dengan persentuhan yang lama dengan sukubangsa Makassar, maka alphabet Samawa yang disebut satera jontal mirip dengan huruf lontar yang ada di Sulawesi Selatan. D. Kependudukan Masalah kependudukan yang dibicarakan di sini adalah berkaitan dengan keadaan penduduk, dan mata pencaharian. Ihwal kedua persoalan kependudukan diatas, dibicarakan satu persatu di bawah ini. 1. Penduduk Seperti dijelaskan diatas, bahwa pada masa lalu penduduk Sumbawa berasal dari berbagai tempat. Mereka datang secara berkelompok lalu membuat tempat tinggalnya diwilayah yang didatanginya seperti sukubangsa Sasak, Bali, Bugis, Jawa, Madura, Makassar, Alor, Banjar, Bajo dan lain-lainya. Hasil dari kedatangannya ke Sumbawa mereka membuat kampung tersendiri yang bernama Bugis, Jawa, Marelonga (orang Timur), Cemes (Sasak), Meno (Bali), Dima (Mbojo), dan Bajo. Di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat hasil pemekaran dari kabupaten induk Sumbawa terdapat kampung Banjar, kampung Selayar, dan kampung Arab. Sukubangsa-sukubangsa di atas telah hidup berbaur dengan semua sukubangsa yang asli maupun nonasli (pendatang) di daerah ini. Masyarakat Kabupaten Sumbawa adalah masyarakat yang majemuk. Kemajemukan sukubangsa dipulau Sumbawa yang terdiri dari etnis asli dan beberapa etnis pendatang itu merupakan satu kesatuan masyarakat yang terpadu. Dalam suatu wilayah desa, misalnya terdapat beberapa sukubangsa yang terbagi dalam masing-masing wilayah kampung tertentu secara kolektif. Walaupun demikian, pelaksanaan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari oleh masing-masing sukubangsa tersebut tetap terjaga dan antara sukubangsa yang satu dengan yang lain selalu menjalin hubungan baik. Semua itu dapat dilihat misalnya pada sistem pemerintahan baik di tingkat kabupaten, bukan saja suku bangsa asli yang memegang roda pemerintahan, tetapi juga diberikan kesempatan kepada sukubangsa lain yang ada diwilayah itu untuk ikut di dalamnya. Di dalam BUK yang memuat silsilah leluhur Dea Karang Bawa, disebutkan bahwa seorang bangsa Kaufah bernama Syamsuddin keturunan Alaydrus bersama isterinya dan anaknya bernama Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 335

354 Kamaluddin datang ke Sumbawa pada saat raja telah memeluk Islam. Keluarga Syamsuddin ini terus memperbanyak keturunan. Sebagian dari keluarganya menetap di Sumbawa, yaitu di Karang Bawa (sekarang lapangan pahlawan), sebagian pindah ke Gunung Galesa Olat Po (Moyo Hilir). Peninggalan yang terkenal dari keturunan ini adalah pohon lontar yang bercabang, yang dalam bahasa Sumbawanya disebut Tal Basampang, yang tumbuh di Kokar Dano yang terkenal angker sampai sekarang. Demikian pula di sebelah selatan kecamatan Jereweh terdapat kampung Singa. Menurut informasi dari masyarakat, kampung itu didirikan oleh sisa-sisa tentara Singosari yang terpukul mundur ketika dikirim ke Melayu dan pada saat itu Kertanegara Tewas. Selanjutnya, adanya desa Majapahit di kecamatan Empang merupakan petunjuk bahwa di Sumbawa dulu telah terdapat pengaruh Hindu. Hubungan dengan Majapahit itu telah terjadi pada tahun Ketika itu Raja Sumbawa Dewa Awan Kuning berkunjung ke Jawa untuk mempelajari adat istiadat yang berlaku di sana. Di Sumbawa besar, sampai saat ini terdapat sebuah kampung yang disebut kampung Jawa. Menurut pengakuan mereka, bahwa keturunan mereka telah tinggal sejak dulu di tempat itu. Selain itu, di kecamatan tersebut juga terdapat kampung bugis yang menurut informasi masyarakat bahwa tempat itu dulunya ditempati oleh para pengikut Karaeng Agang Jene Raja Sidenreng dari Sulawesi, yang diperistri oleh Raja Sumbawa Sultan Jalaluddin Muhammad Syah, Datu Bala Balong. Keturunan Bugis yang terdapat di Kampung Bugis tersebut selanjutnya, ada yang pindah ke kecamatan Alas, Taliwang (Sumbawa Barat). Menurut pengakuan para sesepuh di daerah bahwa dulunya orang tua mereka juga berasal dari kampung bugis tersebut. Pemukiman tempat tinggal bagi sukubangsa pendatang itu menurut Syarifuddin 28 tidak terlepas dari latar belakang budayanya, misalnya kebanyakan pendatang Bajo, Selayar, dan Bugis mendiami daerahdaerah pesisir dan umumnya bekerja sebagai nelayan. Sementara itu, sukubangsa Sasak, Jawa, Madura, Bali Alor (NTT), Mbojo, Arab, Tioghoa mendiami wilayah perkotaan dan biasanya bekerja sebagai pedagang. Lain halnya dengan Sukubangsa Samawa, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak. Penduduk yang bekerja sebagai petani tersebut umumnya tinggal di wilayah-wilayah pedesaan dan sebagian kecil di wilayah-wilayah perkotaan. 28 Syarifuddun, Mantra Nelayan Bajo , h Peta Dakwah MUI NTB

355 Perpindahan penduduk selanjutnya, yang terjadi dalam dekade 1900-an ini tampak disebabkan oleh faktor keadaan alam, baik itu karena bencana alam, maupun karena upaya mencari tempat penghidupan baru, seperti mencari tempat yang lebih subur dan mudah memperoleh air. Selain itu, juga terjadi karena perkawinan antara penduduk. Menurut data statistik yang dikeluarkan Kantor Statistik setempat, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa pada tahun 2016 mencapai jiwa, terdiri dari jiwa laki-laki dan jiwa perempuan dengan laju pertumbuhan 1,67 % pertahun. Bila jumlah penduduk dibandingkan dengan luas wilayah 6.643,98 Km2 maka setiap Km dihuni oleh 63 jiwa, ini memperlihatkan penduduk Kabupaten Sumbawa masih jarang. Berikut jumlah penduduk bila di rinci per kecamatan menurut jenis kelamin: Tabel (3) Penduduk Kabupaten Sumbawa Menurut Jenis Kelamin dan Dirinci Perkecamatan tahun 2016 No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah 1. Sumbawa Lb.Badas Utan Plampang Alas Moyo Hilir Empang Moyo Hulu AlasBarat UnterIwes Lunyuk Lopok Lape Tarano Buer Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 337

356 16. Labangka Batulanteh Maronge MoyoUtara Rhee Lenangguar Ropang OrongTelu Lantung Jumlah (Sumbawa Dalam Angka 2016). Dilihat keadaan masing-masing kecamatan, maka kecamatan Sumbawa merupakan yang terpadat yaitu sebesar jiwa perkm 2, diikuti Kecamatan Alas dan Unter Iwes yakni masing-masing sebesar 231 dan 223 jiwa per km 2. Terdapat 6 kecamatan lainnya yang memiliki kepadatan penduduk 100s/d200 jiwa perkm 2 yaitu Kecamatan Alas Barat, Buer, Utan, Moyohilir, Moyo Utara dan Kecamatan Lopok, sedangkan kecamatan yang memiliki kepadatan paling rendah adalah Kecamatan Lantung dengan kepadatan sebesar10 jiwa perkm 2. Jarangnya penduduk di Kabupaten Sumbawa lebih lanjut merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam penetapan suatu daerah menjadi tujuan transmigrasi. 2. Mata Pencaharian Penduduk di Kabupaten Sumbawa dari data statistik sebagian besar atau sekitar 58,38 % menjadi petani atau hidup dari hasil pertanian di sawah, ada juga yang bertani dengan system berladang karena daerahnya berbukit-bukit dan berbatu. Keadaan alam yang demikian menyebabkan mereka harus bekerja keras. Aktivitas-aktivitas bidang pertanian ini tidak dapat berlangsung sepanjang tahun, aktivitas menanam padi hanya dapat dilakukan pada musim penghujan (barat), sedangkan pada musim kemarau (balit) lahan-lahan pertanian sangat disesuaikan dengan jumlah air yang ada untuk bisa ditanami kedelai, kacang hijau, kacang-kacangan, dan jagung. Oleh karena itu, mudah dipahami jika Sumbawa termasuk salah satu daerah yang mengalami kekurangan air di Nusa Tenggara Barat. 338 Peta Dakwah MUI NTB

357 Mereka yang bergerak dalam bidang pertanian umumnya mereka yang menjadi petani tanaman pangan juga menjadi peternak, dalam arti bahwa mereka memelihara ternak sapi, kerbau, dan kuda untuk keperluan membajak, pacuan kuda dan karapan kerbau. Adapun yang menjadi nelayan kebanyakan diantara mereka bukan penduduk asli Sumbawa, misalnya sukubangsa Bajo, Bugis, dan Selayar pada umumnya mereka tinggal di daerah pantai seperti labuhan Alas, Bajo, dan Bontong. Untuk petani perkebunan jenis tanaman, selain mereka menanam padi sebagai makanan pokok, mereka juga dapat menanami sawah ladangnya dengan kacang tanah, kacang hijau, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, jagung dan kelapa. Tanaman perkebunan lainnya, seperti kopi, kapok, lada, dan cengkeh agak jarang di jumpai. E. Pendidikan Islam Pendidikan merupakan salah satu program yang sedang digalakkan pemerintah. Untuk itu sarana dan prasarana pendidikan terus ditingkatkan baik dari segi jumlah maupun mutunya. Penduduk usia sekolah diharapkan bisa tertampung seluruhnya pada sekolah yang telah ada. Adanya wajib belajar 12 tahun, sangat membantu mengentaskan penduduk dari buta huruf, memperluas kesempatan untuk belajar dan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah ini. Kesadaran akan pentingnya pendidikan telah lama dikemukakan oleh para ilmuan. Pendidikan bisa diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Di Sumbawa telah tersedia sarana dan prasarana pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Sedangkan pendidikan non formal meliputi berbagai kursus atau pelatihan ketrampilan seperti mekanik, otomotif, listrik, bangunan, kerajinan dan tata niaga. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sumbawa sangat dipengaruhi oleh adanya lembaga pendidikan. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lengkap, beragam, dan memadai, sehingga berdampak pada kualitas hasil pendidikan yang dilaksanakan. Di Sumbawa, penyelenggaraan pendidikan umum dimulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Untuk Taman kanakkanak berjumlah 162 lembaga, jumlah siswa 6.553, jumlah guru 772. Pelaksanaan pendidikan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat (swasta). Adapun untuk SD/ MI sampai dengan SMA/MA/SMK dapat lihat pada tabel berikut ini: Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 339

358 Tabel (4) Sekolah, SD/MI, SMP/MTs, SMU/SMK/PerKecamatan TahunAjaran2012/2013 Kecamatan Jumlah SD/MI Jumlah SMP/MTs Jumlah SMU/ SMK/MA Sumbawa Moyohilir Plampang Lab. Badas Empang Utan Moyohulu Alas Lunyuk Tarano UnterIwes Batulanteh Lopok AlasBarat Lape MoyoUtara Lenangguar Buer OrongTelu Labangka Ropang Maronge Rhee Lantung Jumlah Peta Dakwah MUI NTB

359 Adapun data jumlah sekolah agama di lihat dari per-kecamatan berdasarkan tingkatan yang ada adalah sebagai berikut: Tabel (5) Sekolah Agama di Kabupaten Sumbawa NO KECAMATAN MI MTs MA RA 1, Sumbawa Unter Iwes Labuhan Badas Moyo Hulu Lenangguar Lantung Ropang Orong Telu Lunyuk Moyo Hilir Moyo Utara Lopok Lape Maronge Plampang Labangka Empang Tarano Batu Lanteh Rhee Utan Buer Alas Alas Barat Jumlah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 341

360 Pendidikan taman kanak-kanak (Raudatul Atfhal) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA) belum dilaksanakan secara menyeluruh di masing-masing kecamatan. Artinya, pelaksanaan pendidikan Islam tersebut baru terdapat di beberapa wilayah kecamatan. Berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan Sekolah umum (SD), yang pelaksanaanya menyebar hampir diseluruh desa. Bahkan sekolah setingkat SMP penyelenggaraannya baru berpusat di tingkat kecamatan, bahkan terdapat beberapa kecamatan yang memiliki lebih dari satu SLTP, baik yang dikelola oleh pemerintah, maupun swasta. Untuk pendidikan tingkat SMU/SMK, umumnya tersebar di ibukota Kabupaten, namun terdapat beberapa kecamatan yang telah memiliki SMU/SMK negeri atau swasta. Dalam penyelenggaraan pendidikan agama Islam berbasis Pondok Pesentren terdapat di kecamatan Utan bernama Pondok Pesantren Babussalam, yang memiliki santri kurang lebih 300 orang (putra dan putri). Untuk perguruan tinggi di kabupaten Sumbawa sudah berdiri perguruan tinggi seperti Universitas Samawa (UNSA), Universitas Para Cendekia NW, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah NW, dan Institut Teknologi Samawa (ITS), dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sumbawa. Selain pendidikan Formal berbasis Islam, dilakukan juga pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Al-Qur an (TPQ), Majelis Ta lim dan seni Gambus, seperti pada table berikut ini dilihat dari masingmasing kecamatan: Tabel (6) Pendidikan Non Formal berbasis Islam No Kecamatan Qori Qoriah Haidz Haidzah Dewan Hakim Majlis Ta,lim TPQ Gambus 1. Sumbawa Unter Iwis Labuhan Badas Moyo Hulu Lenangguar Peta Dakwah MUI NTB

361 6. Lantung Ropang Orong Telu Lunyuk Moyo Hilir Moyo Utara Lopok Lape Maronge Plampang Labangka Empang Tarano Batu Lanteh Rhee Utan Buer Alas Alas Barat Jumlah Taman Pendidikan al-qur an (TPA) dan Majelis Ta,lim di Kabupaten Sumbawa sangat kurang sekali bila dilihat dari Luas wilayah dan jumlah kecamatan yang ada, sehingga berpengaruh juga pada jumlah Qori/ Qoriah dan Haidz/Haidzah tersedia termasuk dewan hakim yang diperlukan pada saat kontestasi seni resitasi Al-qur an di Sumbawa. Untuk mendukung agenda pertunjukan itu, sering sekali melakukan droping (pengiriman) tenaga haidz/haidzah dan Qori/Qoriah dari pulau Lombok. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 343

362 E. Agama dan Kepercayaan Agama menurut Clifford Geertz 29 adalah: (1) Religion is a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic. (1) Agama merupakan system symbol yang berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan cara (3) merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum keberadaan dan (4) membungkus konsep-konsep dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tersebut tampak khas secara nyata. Agama bagi masyarakat Sumbawa merupakan sistem budaya, yang dipengaruhi oleh berbagai proses perubahan sosial dan dengan sendirinya berbagai proses perubahan sosial itu mampu mempengaruhi sistem budaya. Hal ini sesuai dengan gagasan Pribumisasi Islam yang dilontarkan oleh Abdurrahman Wahid 30 bahwa agama (Islam) sebagai ajaran normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan kedalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitas masing-masing. Islam dan kebudayaan adalah menjadikan untuk tidak saling mengalahkan, melainkan berkelinda berwujud dalam pola nalar keagamaan, mempertemukan (jembatan) tidak lagi mempertentangkan antara keduanya. Erich From 31 mengatakan tidak ada kebudayaan yang tidak berakar pada agama. Dalam masyarakat Sumbawa, agama pertama yang dikenal adalah Hindu. Selama berabad-abad pengaruh Hindu menjadi bagian dari kehidupan Tau Samawa sampai masuknya Islam pada abad ke-16. Ketika kerajaan Goa menguasai tanah Sumbawa (tanaq Samawa) dan membawa Islam sebagai agama kerajaan pada tahun 1620, maka sejak saat itulah Islam telah menjadi agama resmi kesultanan Sumbawa. Dengan demikian, pemeluk agama dari penduduk asli Sumbawa adalah mayoritas Islam. Yang tetap berpegang teguh kepada agama dan budaya yang menjadi landasan dalam bermasyarakat dengan ungkapan lokal 29 Clifford Geertz, The Interpretation of culture, (New York: Basic Books, 1973), h Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan, (Jakarta: Desantara), h Erich From, Psicho Analysis of Religion, (Cambridge, 1956), h Peta Dakwah MUI NTB

363 adat ketong syara ke syara ketong kitabullah. (adat mengikuti agama, dan agama mengikuti kitabullah). Besarnya pengaruh kerajaan Goa terhadap kesultanan Sumbawa (Geertz, 1981:45), mengakibatkan penduduk kabupaten Sumbawa mayoritas beragama Islam. Data tahun 2016 menunjukkan bahwa yang beragama Islam berjumlah jiwa, diikuti Hindu sebanyak jiwa, Katolik sebanyak jiwa, Protestan jiwa, Budha sebanyak 366 jiwa dan yang paling sedikit beragama Konghucu sebanyak 81 orang. Berikut adalah tabel umat beragama Kabupaten Sumbawa tahun 2016: Tabel (7) Data Umat Beragama Kabupaten Sumbawa 2016 No Kecamatan Islam Protestan Khatolik Hindu Budha Konghucu 1. Sumbawa Unter Iwis Labuhan Badas Moyo Hulu Lenangguar Lantung Ropang Orong Telu Lunyuk Moyo Hilir Moyo Utara Lopok Lape Maronge Plampang Labangka Empang Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 345

364 18. Tarano Batu Lanteh Rhee Utan Buer Alas Alas Barat Jumlah Sampai saat ini hubungan antar umat beragama di kabupaten Sumbawa terus di bina, walaupun demikian sudah dua kali; Pertama, terjadi konlik agama antara umat Islam dengan Hindu yaitu pada tanggal 17 Nopember 1980, menurut Iskandar 32 dilatari oleh prasangka Sukubangsa Samawa terhadap sukubangsa Bali yang selalu melaksanakan upacara-upacara ritual keagamaan yang asing bagi penduduk setempat. Prilaku keagamaan ini kemudian menimbulkan ketersinggungan dikalangan penduduk setempat, seperti dalam prosesi adat dilaksanakan secara iring-iringan keliling kota, pembakaran mayat di dalam kota, sabung ayam sambil judi, menjual minuman arak, kawin lari dan sebagainya. Semua itu dijadikan argumentasi untuk menyerang orang Bali sehingga muncullah isu SARA yang dengan cepat membakar emosi massa untuk menyerang warga Bali secara spontan dan anarkhis. Kedua, pada tanggal 22 Januari 2013 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) kabupaten Sumbawa ke-54 terjadi kerusuhan yang mengakibatkan penjarahan, dan pembakaran tempat sembahyang umat Hindu yang disebabkan oleh persoalan sepele yaitu seorang laki-laki dari etnik Bali berpacaran dengan seorang wanita dari etnik Samawa. Mereka berdua saling mencintai, tetapi musibah datang terhadap wanita tersebut hingga akhirnya harus meregang nyawa, dikarenakan mereka berdua menikmati malam minggu sampai waktu pagi. Dugaan bermunculan, wanita tersebut telah diambil kehormatannya oleh pemuda dari etnik Bali. Sebagian masyarakat tidak bisa menerima kematian itu, karena rasa malu (illaq) dan harga diri orang Sumbawa telah direndahkan sehingga terjadi kerusuhan yang meluas. 32 Syaifuddin Iskandar, Konlik Etnik dalam Masyarakat Majemuk (Sumbawa: Universitas Samawa Press, 2006) h Peta Dakwah MUI NTB

365 Orang Samawa memiliki sikap mental yang positif, misalnya sikap terbuka dalam menerima pendatang, egaliter, dan toleran. Akan menjadi turun harga dirinya ( ila ) bila tidak menghargai orang lain (Mahsun;1996) Misalnya pengangkatan orang luar Samawa untuk menjabat sebagai Sultan Sumbawa pada abad ke-18 ( ), yaitu pengangkatan Gusti Mesir Abdurahman dari Banjar sebagai Sultan Sumbawa dengan gelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II yang diterima masyarakat Samawa seperti tertuang dalam lawas: Mana tau barang kayuq Lamin to sanyaman ate Ya nan si sanak prana Siapa pun orangnya Jikalau dapat membawa ketentraman (hati) Itulah saudaraku Demikian pula penghargaan orang Sumbawa kepada orang lain, yang terlukis dalam lawas bernuansa nasehat: Mana si ka rowe cinde Lamin dadi tali lampak Ya rik repa si ling tau (Walaupun ia keturunan cindai/sutera) (Kalau jadi tali sandal) (akan terinjak juga oleh orang) Mana si ka rowe lutung Lamin dadi si kopiah Urung ke jonyong ling tau (walaupun ia keturunan kain lutung (hitam) (kalau jadi peci/kopiah) (Tak urung pasti terjunjung) Fakta lain dari sikap menerima pendatang oleh orang Sumbawa, misalnya oleh pihak kerajaan diberikan ruang tempat hidup. Bahkan hingga saat ini di Sumbawa ada kampung Jawa, Kampung Arab, Marelonga (etnis Timor), karang Timur, Kampung Irian, Kampung Mandar, Kampung Madura, desa Bajo, Karang Bugis, dan Karang Lombok. Pengelompokan Suku Bangsa itu berdasarkan lokasi tempat tinggal, juga merupakan bagian dari strategi etnis tersebut untuk proteksi diri dari keamanan. Meskipun demikian, semangat egalitarian (keterbukaan) tau Samawa akan beruba menjadi amuk massa jika harga dirinya (martabat) diganggu oleh pihak lain. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 347

366 Selanjutnya, sukubangsa lain pun harus paham bahwa sukubangsa Sumbawa atau dari sukubangsa manapun mereka, jika merasa terganggu harkat dan martabatnya maka secara manusiawi mereka akan marah. Sikap ini terungkap dalam lawas Sumbawa: Mana lenas mu gita (Walaupun terlihat tenang) Mara ai dalam dulang (Bagai air di dalam tempayan) Rosa dadi umak rea (Jika diganggu bisa bergolak seperti ombak besar) Belajar dari peristiwan itu, untuk mencegah terjadi kerusuhan yang ada, sistem agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sebagian besar masyarakat Sumbawa beragama Islam dan agama lainnya saling mendukung dan menghargai perbedaan yang ada dan didukung pula oleh sarana ibadah sebagai tempat belajar nilai-nilai agama seperti dibawah ini: Tabel (8) SaranaPeribadatan PerKecamatanTahun2016 No Kecamatan Masjid Musholla Gereja Pura Vihara 1 Sumbawa Plampang Lunyuk Moyohulu Utan Labuhan Badas AlasBarat Alas Tarano Empang Lape Batulanteh Lopok UnterIwes Peta Dakwah MUI NTB

367 15 MoyoUtara Rhee Buer Moyohilir OrongTelu Lenangguar Labangka Maronge Ropang Lantung Jumlah Membaca tabel diatas, mayoritas masyarakat Sumbawa memeluk agama Islam. keberhasilan itu tentu ditopang oleh keberadaan tokohtokoh lembaga keagamaan Islam seperti dibawah ini: Tabel (9) Tokoh-Tokoh Lembaga Keagamaan di Kabupaten Sumbawa Tahun 2016 No Kecamatan Muhammadiyah NU NW Al-Irsyad Khilafatul Muslimin 1 Sumbawa Plampang Lunyuk Moyo Hulu Utan Labuhan Badas AlasBarat Alas Tarano Empang DII Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 349

368 11 Lape Batulanteh Lopok UnterIwes MoyoUtara Rhee Buer Moyohilir OrongTelu Lenangguar Labangka Maronge Ropang Lantung Jumlah Walaupun Sumbawa memiliki tokoh-tokoh agama yang bergerak dalam bidang dakwah Islamiyah, tetapi anggota masyarakat masih ada yang percaya terhadap hal-hal yang merupakan peninggalan animisme 33 dan dinamisme 34 yang berbaur dengan kepercayaan Hindu. Agama orang Sumbawa semacam ini ternyata masih berlangsung sampai sekarang, yaitu dengan adanya ritual-ritual dan sesaji sebagai bentuk negosiasi supernatural agar kekuatan adikodrati agar mau diajak kerjasama. 33 Animisme dalam arti luas dimaksudkan setiap andalan akan adanya unsur rohani (anima-jiwa, nyawa, semangat, tondi, begu, ganan, amirue dan sebagainya) disamping unsur jasmani atau madi, entah di dalam, entah di luar manusia. Dalam arti lebih khusus animisme menunjukkan kepercayaan akan roh-roh halus yang berdiri lepas dari manusia dan yang campur dalam urusan insane (Subagya, 1981:76). Dalam pandangan Koenjaraningrat (1984:10) Sistem religi yang berdasarkan keyakinan kepada berbagai macam roh dan mahluk halus yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. 34 Dinamisme adalah pemujaan terhadap kekuatan bendawi atau sering juga disebut sebagai sistem relegi yang berdasarkan keyakinan bahwa gejala alam itu mempunyai kekuatan luar biasa yang dapat mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan usaha manusia mempertahankan hidup (Koenjaraningrat, 1984:3). 350 Peta Dakwah MUI NTB

369 Animisme dan dinamisme merupakan religi Sumbawa tertua yang mewarnai keyakinannya. Wujud nyata dalam pemujaan roh dan kekuatan benda melalui permohonan berkah. Roh dan benda di sekitar manusia dianggap mempunyai kekuatan sakti dan dapat mendatangkan kebahagiaan atau sebaliknya. Bagi orang Sumbawa yang memuja kedua sumber kekuatan batin ini, lalu menganggap adanya orang sakti dan memiliki perewangan dalam hidupnya. Orang sakti dan perewangan tak lain merupakan bantuan roh leluhur atau nenek moyang dan jimat dan benda bertuah. Dalam ungkapan Koentjaraningrat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat magis masih terdapat pada suku-suku bangsa di Indonesia walaupun sudah dipengaruhi oleh agama-agama besar. Kepercayaan akan kekuatan di luar diri manusia bisa datang dari alam, benda-benda, atau penghuni alam yang tidak kelihatan yang dikenal dengan roh, jin, setan dan sebagainya. 35 Dalam masyarakat Sumbawa sangat percaya kepada ilmu sakti (tau kebal) tubuh dan benda-benda pusaka seperti keris dan golok yang memiliki kesaktian. Bahkan dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat petani masih memegang adat-istiadat yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Mereka masih mempercayai adanya kekuatan gaib atau magis yang menjaga padi dan para petani mengadakan ritus seperti adat Ponan di Desa Poto-Moyo Hilir. Adat ini diadakan setelah seluruh wilayah persawahan selesai ditanami. Mereka menyakini dirinya berasal dari nenek moyang yang sama dari desa yang sama yaitu sebuah bukit kuburan Haji Batu di tengah persawahan. Pada acara adat ponan, seluruh warga berbondong-bondong datang menuju ke Bukit membawa berbagai aneka macam penganan (makanan) khas tradisional yang tidak di goreng, dan semua bentuk makanannya sama seperti batar orong, buras, patikal, topat, serapat, lepat dll. Semua penganan tersebut dimasak dengan cara di rebus dalam bungkusan daun pisang atau kelapa maupun bambu. Penganan-penganan ini diyakini membawa berkah akan mendapatkan hasil panen berlimpah, terhindar dari serangan hama. 36 Disamping itu pula masyarakat Sumbawa percaya akan makhluk halus di beberapa tempat seperti di pohon-pohon besar, batu-batu besar atau tempat yang angker dalam bahasa lokalnya ada baengna (ada yang punya). Kalau melewati tempat tersebut tidak boleh ribut, dan harus 35 Koentjaraningrat, Pengantar Antopologi (Pokok-Pokok Etnograi) II (Jakarta:Rineka Cipta, 1998), h Observasi 12 Maret 2013 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 351

370 sopan kalau tidak mau disapa (ditegur) oleh mahluk halus tersebut. Mahluk itu mereka namakan: (1) Kono(mahluk halus yang suka berkeliaran siang hari ditempat sepi). Kono dipercaya sebagai penghuni lubuk dan jeram di sungai, dianggap tidak menganggu apabila tidak diganggu. Mandi waktu magrib di kali atau berteriak-teriak bermain dan berenang-renang di lubuk adalah perbuatan menganggu kono, yang mungkin akan mencelakakan manusia sendiri. Akibat yang terjadi pada umumnya adalah sakit dan paling sial mati tenggelam, (2) Bakiq (mahluk halus di hutan atau dalam gunung) dilukiskan sebagai mahluk halus serupa manusia, tumit kakinya ke muka sementara jari kakinya ke arah belakang. Dialah yang dianggap penghuni hutan yang memelihara semua satwa hutan. Mukanya jelek karena berbulu mirip monyet. Apabila seorang masuk hutan, dalam masyarakat ada mantera-mantera agar supaya tidak tersesat. Dan apabila seseorang di dalam hutan belukar tidak tahu arah pulang, dipercaya bahwa hal itu adalah ulah sang bakiq agar manusia tersesat sehingga mudah ditangkap untuk dijadikan teman. Dalam kondisi seperti itu manusia dianjurkan segera mengucapkan kata monte 37 rangap 38 berkali-kali dengan suara keras. Konon sang bakiq sangat takut mendengar kata-kata monte sehingga bakiq lari menjauh. Sebaliknya bagi seorang pemburu harus mampu bersahabat dan berkomunikasi dengan bakiq agar rela melepaskan satwa peliharaannya, (3) Leak (manusia yang menyerupai mahluk halus) yang menghisap darah yang mirip kancil atau menjangan muda. Leak ini ada dua jenis yaitu yang murni penghisap darah dan yang lain adalah leak suruhan menyakiti orang atau musuh. Leak penghisap darah berkeliaran di malam hari di sekitar rumah-rumah orang yang baru melahirkan dan juga di kamar gadis-gadis perawan yang sedang menstruasi. Sedangkan leak suruhan untuk menyakiti orang atau musuh dianggap sangat berbahaya. Dan ada pula setan belata, semacam hantu jahat yang konon suka makan orang dan hidup di batu-batu besar dan di sumur-sumur tua. 39 Sistem kepercayaan yang lain bagi orang Sumbawa adalah percaya pada adanya sihir, tenung, magis 40 yang dalam bahasa lokalnya pakedek (guna-guna) untuk menundukkan lawan. Menurut Subagya 41 orang percaya bahwa sejumlah benda berkhasiat baik dan benda lain bersifat jahat. Apa saja yang sedikit luar biasa disangkakan mempunyai daya 37 Jeruk Purut 38 Ani -ani 39 Aries Zulkarnain, Tradisi dan Adat Istiadat Samawa (Yogyakarta:Ombak, 2011) h Pengertian magis yang diberikan oleh Frazer adalah segala system perbuatan manusia (termasuk abstraksi-abstraksi dari perbuatan) untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam, serta seluruh kompleks anggapan yang ada di belakangnya (Koentjaraningrat, 1985:224). 41 Rahmat Subagya, Agama Asli Indonesia (Jakarta: Sinar harapan dan Cipta loka caraka, 1981) h Peta Dakwah MUI NTB

371 gaib itu: mana, keramat, angker, pemali, tabu, sekti, maesa, toana, pama, bruwa, gaukang dan sebagainya. Daya baik yang kerapkali bersifat prognose harus dipergunakan. Sedangkan daya jahat dipakai melawan musuh atau dinetralkan 42 bagi diri sendiri. Sihir 43 banyak dijumpai pada kegiatan kerapan kerbau (barapan kebo), pacuan kuda (main jaran), atau dalam kegiatan seni sakeco sendiri. Ada dua jenis sihir yaitu berupa sihir yang konon dilepas lewat angin, atau menyerupai binatang, dan dalam bentuk bura yang dilepas di tempat-tempat yang diperkirakan akan dilalui oleh lawan, di tempattempat perhelatan seperti perkawinan dan olah raga. Oleh karena itu untuk menghindari gangguan itu semua, setiap ada perhelatan atau kegiatan netralisasi selalu ada pendampingnya yaitu sanro (dukun) yang bertugas mengawasi agar segala sesuatunya bisa berjalan lancar. Sanro dikalangan masyarakat Sumbawa dianggap orang yang mempunyai kemampuan menangkal gangguan, mengobati segala jenis penyakit yang diakibatkan oleh makhluk halus maupun oleh kekuatan manusia lain yang disebut sihir seperti bengik, bura, loma, soke, yang membuat orang menjadi tidak sadarkan diri, lemas atau membunuh dari jarak jauh. Sarana yang biasanya dipergunakan sebagai perantara untuk mencapai sasarannya seperti rambut, kuku, kencing, pakaian, fhoto, dari calon korbannya. Kekuatan magis yang dibuat oleh sanro berupa jimat, juga dipakai untuk daya tarik, mengobati orang sakit, menaklukkan lawan jenis, dan sebagainya. Ramalan tentang nasib, hari baik atau bulan baik untuk melakukan suatu pekerjaan dan bepergian, menemukan pencuri atau barang yang hilang selalu mengunakan media alo tilik (pergi melihat) yang dilakukan oleh masyarakat dengan menanyakan kepada orang pintar (sanro) 44. Beberapa kejadian kecil yang sebenarnya terjadi secara kebetulan sering dimaknai sebagai suatu perlambang atau irasat. Misalnya kayu api mengeluarkan suara pada saat dibakar, dimaknai akan ada rezeki. Bibir sendiri yang tergigit waktu makan dimaknai ada orang yang sedang membicarakannya. Jika telinga mendadak terasa panas, dimaknai ada 42 Netralisasi ancaman (eksekrasi, imprekasi) disebut tulak, nruwat, ngracut (Jawa); ngaruat, ngalokat (Sunda); ngalukat (Bali), dengan mengucapkan kata dan kalimat sekti: rapal, mantera, rajah, jampi, pamunah, atau dengan menyembelihkan, sesaji, mandi bunga, sesirik. 43 Sihir atau magi di bagi atas sejumlah bentuk khusus seperti; (1) magi simpatetis misalnya seeorang suami berlagak sebagai ibu hamil agar istrinya mudah bersalin (nurut buat), (2) magi protektif untuk menghindarkan malapetaka (ilmu kebal, pelias), (3) magi destruktif (magi hitam) untuk merugikan orang. 44 Sanro (Shaman) adalah pemimpin spiritual yang tampil untuk tujuan penyembuhan orang sakit dengan cara ritualistik (Kirby 1975:1-5). Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 353

372 orang yang sedang menjelek-jelekannya. Mimpi gigi kita tanggal, dimaknai ada keluarga yang meninggal dunia, ketika sedang berbicara tiba-tiba ada suara cecak, maka sang pembicara akan mengatakan apa yang dia dibicarakan juga dibenarkan oleh cecak (tutu ling bertik). Di kalangan masyarakat Sumbawa ada juga kepercayaan yang menunjukan kearifan terhadap lingkungan hidup berupa pantangan dalam berprilaku terhadap alam misalnya: (1) tidak boleh membuang sampah ke tengah laut atau di mata air; (2) tidak boleh meninggalkan garam atau sisa garam sehabis makan di tengah hutan, sawah, kebun apalagi makan sambil berjalan di dalam kebun; (3) menzalimi tikus dengan mengejar-ngejar dan membunuhnya dengan perangkap apalagi dengan membakarnya akan berakibat fatal dan hama tikus dimanamana akan merajalela. Untuk mengantisipasinya tikus sebenarnya amat sederhana dengan cara memelihara kucing atau menyimpan kotak jangkrik di dalam lumbung padi; (4) larangan menyanyi dan berdendang sambil memasak di dapur, konon katanya akan cepat menjanda (bercerai), sekaligus dibenci mertua; (5) bagi ibu yang sedang hamil dilarang duduk tanpa alas (tikar/karpet) walaupun tempat duduknya bersih, untuk memudahkan proses kelahirannya, pantang juga masuk rumah melalui pintu depan lalu keluar lewat pintu belakang (lawang sawai) atau sebaliknya; (6) ari-ari dari sang bayi dibersihkan, digarami, ditambah dengan ramuan-ramuan yang dipercayai membawa kebaikan pada sang bayi bila ari-ari dimasukkan dalam periuk gerabah kecil, ditutup dengan kain putih sejenis kain kafan kemudian ditanam di bawah tangga depan rumahnya, dihamparkan batu-batu kecil mengelilingi sebuah batu sebesar kelapa, kemudian diatasnya dipasangkan lilin atau lampu yang menyala sepanjang waktu magrib dan selepas isya selama tiga hari berturut-turut; (7) apabila anak-anak suka sakit-sakitan maka anak itu menurut orang Sumbawa no bau bawa singen (tidak mampu memikul nama), maka segera mengganti nama anaknya dengan nama puntuk (sisa tanaman kayu), Pisak (hitam), Bosang (keranjang yang dibuat sari bambu), Jerengkeq, Lepang (katak) supaya cepat sembuh. Dalam kaitan dengan membangun rumah ada kepercayaan masyarakat seperti, tempat bangunan harus disesuaikan dengan urat tana maksudnya ukuran rumah harus sesuai dengan ukuran badan pemilik rumah (suami-istri) berdasarkan jengkalnya (depa), pohon yang akan ditebang untuk bangunan harus memohon izin pada penghuni hutan dan pohon yang dipotong jangan sampai jatuhnya melintang di 354 Peta Dakwah MUI NTB

373 atas tebing, sungai, dan mata air, atau teriakan monyet saat menebang pohon akan berakibat fatal pada penebang dan pemilik rumah. Di bidang pengobatan kepercayaan masyarakat Sumbawa sangat kuat terhadap pemakaian bahan-bahan obat dari tumbuhan dimana saat mengambil bahan harus menyalami pohon bersangkutan dengan menyebut nabinya yaitu Nabi Sulaiman. Tanaman sebagai bahan obat diyakini sebagai sarana, sedangkan penyembah utama adalah pencipta tanaman serta bahan obat itu sendiri yaitu causa prima. Para sanro (dukun) di Sumbawa menyebut bahan ramuan obat untuk penyakit berat dan multi fungsi selalu 44 macam jenis tumbuhan. Ini berlandaskan ilosoi agama Islam yang berdasarkan rukun Islam 5, rukun iman 6, rukun sholat 13, dan sifat Allah 20 sehingga berjumlah 44. Ada kebiasaan tau Samawa (orang Sumbawa) menyembelih hewan di depan kendaraan yang baru dibeli disebut dengan cera. Kegiatan ini dimaksudkan supaya tidak menimbulkan musibah berdarah di perjalanan. Ketika dalam perjalanan terjadi peristiwa menabrak kucing, maka si penabrak wajib menyelenggarakan penguburan seperti penguburan layaknya mayat manusia. Kucing wajib dikafani dengan pakaian yang dipakai oleh si pengemudi kendaraan. Menurut kepercayaan masyarakat, apabila tidak dilakukan seperti itu akan berakibat lebih fatal lagi bagi si pengemudi. Ketaatan masyarakat terhadap kepercayaan rakyat disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi kepercayaan rakyat meliputi: (1) keyakinan manusia akan adanya mahluk-mahluk gaib yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya, dan yang berasal dari jiwa-jiwa orang mati; (2) manusia takut akan krisis-krisis dalam hidupnya; (3) manusia yakin akan adanya gejala-gejala yang tidak dapat diterangkan dan dikuasai oleh akal; (4) manusia percaya akan adanya suatu kekuatan sakti dalam alam, 5) manusia dihinggapi emosi kesatuan dalam merakyatnya; dan (6) manusia mendapat suatu irman dari Tuhan 45 (Danandjaya, 1991: ). F. Sistem Upacara Adat Ada beberapa macam upacara adat Sumbawa yang biasa dilakukan menurut Iskandar 46 adalah: 45 James Danandjaya, Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain(jakarta: Pustaka Utama Graiti, 1991) h Syaifuddin Iskandar, Konlik Etnik dalam Masyarakat Majemuk (Sumbawa: Universitas Samawa Press, 2006) h.90 Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 355

374 1. Upacara Perkawinan Menurut tata cara adat perkawinan Sumbawa, bahwa proses perkawinan itu dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: a. Bajajak, yaitu datang bertamuke rumah orang tua calon pengantin perempuan yang dilakukan oleh pihak keluarga calon pengantin laki-laki dalam rangka mengetahui kesediaan calon pengantin perempuan bersama pihak keluarga. b. Bakatoan, jika tanda tanda pihak keluarga menerima pihak laki, maka dilanjutkan dengan acara bakatoan yaitu proses meminang secara resmi oleh pihak keluarga calon pengantin laki ke rumah orang tua/keluarga calon pengantin perempuan. Jika ada kata sepakat, maka akan dilanjutkan dengan acara basaputis pada waktu yang ditentukan bersama. c. Basaputis, yaitu proses pengambilan keputusan akhir terhadap pinangan pihak laki oleh pihak keluarga calon pengantin perempuan. Dalam tahap ini, pokok persoalan yang dibicarakan adalah jumlah pameli atau besar biaya perkawinan yang akan diberikan oleh pihak pengantin laki kepada pihak perempuan. Jika tidak ada kata sepakat, maka bisa jadi perkawinan ditunda atau dibatalkan. Dan jika ada kata sepakat, maka jumlah pameli ini kemudian dibawa pada saat acara nyorong. d. Nyorong, yaitu prosesi yang dilakukan oleh pihak calon pengantin lelaki untuk mengantarkan segala kebutuhan penyelenggaraan upacara pengantin. Prosesi ini biasanya diikuti oleh para keluarga beserta segenap undangan lainnya dalam jumlah yang cukup banyak. Setelah tiba di rumah calon pengantin perempuan, selanjutnya dilakukan acara penyambutan dan serah terima segala barang-barang yang dibawa. Disaat yang sama, dilakukan acara serimonial yaitu pemberitahuan kepada calon pengantin perempuan bahwa ia sudah resmi menjadi calon pengantin. Setelah itu, biasanya acara dirangkaikan dengan pembentukan panitia penyelenggaraan upacara perkawinan. e. Barodak (luluran), adalah proses luluran terhadap kedua pasangan calon pengantin yang dilakukan oleh tamu undangan dari kalangan ibu-ibu. Barodak ini dimaksudkan agar kedua pasangan calon pengantin menjadi bersinar/bercahaya, segar bugar pada saat acara ritual pernikahan dan pesta perkawinan. 356 Peta Dakwah MUI NTB

375 f. Aqad Nikah, yaitu proses peresmian kedua calon pengantin menurut syariat Islam bahwa mereka telah sah menjadi suami istri. g. Resepsi perkawinan, yaitu acara ramah tamah yang dihadiri oleh tamu undangan dalam jumlah yang cukup banyak. Menurut penilaian umum, bahwa semakin banyak tamu yang diundang hadir, apalagi dari kalangan pejabat, maka semakin tinggi prestise kedua keluarga mempelai. 2. Upacara Kematian Upacara kematian dalam tradisi Sumbawa dilakukan menurut ajaran Islam pada umumnya. Jika seseorang meninggal dunia terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka. Pada saat itu, para keluarga, kerabat dan sahabat datang melayat sebagai rasa ikut berduka cita sambil membawa sumbangan berupa uang, beras, atau berupa kebutuhankebutuhan untuk memasak sehari-hari. Selanjutnya berselang beberapa jam, setelah para keluarga dan tamu datang melayat, maka dilakukan pemandian jenazah. Setelah dimandikan jenazah dikenakan kain kafan dan setelah tertib selanjutnya jenazah disholatkan secara berjamaah, kemudian jenazah dimasukkan ke dalam Korong batang (peti jenazah) untuk diusung secara bersama sama ke tempat pemakaman. Sesampai di pemakaman, jenazah langsung dikuburkann sampai tanahnya rata lalu ditancapkan kayu/batu nisan di atasnya. Setelah prosesi pemakaman selesai dilakukan maka dilanjutkan dengan pembacaan doa (talkin) oleh Dea Guru (kyai/tuan Guru) sebagai orang yang dituakan. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan kata hati atas nama keluarga yang meninggal dunia menginformasikan kepada khalayak ramai (pasamada) apabila ada persoalan yang berkaitan hutang piutang orang yang meninggal dunia agar menghubungi pihak keluarga. Dan sekaligus juga mengundang pada malam harinya untuk mengikuti acara ta ziah yang diisi dengan tahlilan dan dakwah Islamiyah oleh para Dea Guru (Kyai/Tuan Guru). 3. Upacara Khitanan Upacara khitanan dalam tradisi masyarakat Sumbawa dilakukan menurut tuntunan ajaran Islam pada umumnya. Jika seorang anak yang telah cukup umur antara 6-9 tahun maka orang tua muslim diwajibkan melaksanakan khitan terhadap anak laki-laki maupun perempuan dimaksudkan untuk membersihkan diri dari segala hal yang dianggap najis. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 357

376 Prosesi khitan menurut tradisi Sumbawa, terutama terhadap anak laki-laki tempuh melalui beberapa tahap seperti diungkapkan oleh Iskandar (2006:92-93): a. Barodak (luluran), dilaksanakan pada malam hari yang dilengkapi dengan music tradisional (gong genang). Anak-anak yang akan di khitan dihias dengan pakaian adat Sumbawa. Barodak ini dimaksudkan agar anak-anak yang dikhitan lebih bersih, bercahaya, segar bugar pada hari khitanan. b. Acara khitanan, biasanya dilaksanakan pada pagi hari. Petugas khitan pada masa lalu dilakukan oleh sandro (dukun) dengan menggunakan bamboo halus/tajam. Sekarang petugas khitanan dilakukan oleh mantri rumah sakit yang sudah menggunakan alat-alat modern. Khitan dilaksanakan secara bergilir, dan pada saat berlangsungnya proses khitanan para hokum masjid membaca doa-doa (syarakalan) secara bersama-sama sampai berakhir/ setelah semua anak-anak mendapat giliran. c. Acara syukuran, yang dilakukan pada hari itu juga atau beberapa hari setelah acara khitanan, dengan mengundang segenap keluarga, kerabat atau berbagai kalangan untuk santap bersama sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas acara yang dilaksanakan. d. Turin Brang (Turun ke Sungai), yaitu proses penyembuhan terakhir terhadap alat kelamin anak laki-laki yang telah dikhitan, yang dilakukan melalui prosesi iring-iringan menuju sungai, pada hari yang telah ditentukan. Dalam tradisi Sumbawa, setiap pelaksanaan upacara tersebut maupun dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya antara keluarga atau tetangga, sahabat dan sebagainya selalu diikuti dengan aktiitas saling tolong menolong, saling bantu memberikan sumbangan dalam bentuk uang atau barang material lainnya. Dalam istilah Sumbawa disebut dengan saling tulung atau basirru. 358 Peta Dakwah MUI NTB

377 bab 9 KabuPatEn DOmPu A. Letak Geograis Kabupaten Dompu merupakan salah satu dari sepuluhkabupaten/ kota yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dompu terkenal sebagai penghasil susu kuda liar dan madu. Budaya masyarakat Dompu sangat dekat dengan Kabupaten Bima, Meskipun terdapat sedikit perbedaan dari logat dan bahasanya. Kabupaten Dompu merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak dibagian tengah Pulau Sumbawa. Secara geograis Kabupaten Dompu terletak pada 08 derajat samapai 08 derajat, sampai dengan 118 derajat, 30 Bujur timur. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 359

378 Kabupaten Dompu yang beribukota di Dompu terdiri dari 8 Kecamatan yakni Kecamatan Dompu, Woja, Hu u, Kempo, Kilo, Pekat, pajo dan Kecamatan manggelewa dengan jumlah Desa/kelurahan 57 buah, 9 Kelurahan, 44 Desa diinitif, 4 Desa Persiapan. Adapun batas wilayah Administrasi sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur : laut lores dan kabupaten Bima : Kabupaten Bima Sebelah selatan : Samudra Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Sumbawa Keadaan Geograis Kabupaten Dompu secara umum dapat digambarkan bahwa sebagian wilayah merupakan daerah yang bergelombang sampai berbukit dengan kemiringan tanah % dan diatas 40 % sebesar 49,97 % dari luas wilayah, daerah datar 18,48 5 serta daerah landai sebesar 31,55 % dari luas wilayah. Kabupaten Dompu mempunyai luas wilayah Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak jiwa. dari luas tersebut ha (51,93 %) merupakan kawasan budidaya (di luar kawasan hutan). Mata pencaharian penduduk Kabupaten Dompu sebagian besar adalah bertani dengan luas lahan pertanian ha, yang meliputi; lahan sawah beririgasi teknis seluas ha, beririgasi setengah teknis seluas Ha, dan sawah yang beririgasi non tehnis seluas ha. Sedangkan sebagian lainnya hidup sebagai petani peladang yang memanfaatkan lahan di lereng-lereng gunung atau bukit dengan luas lahan Ha. Struktur penduduk menurut agama yang dianut di Kabupaten Dompu pada umumnya beragama Islam. Bila dilihat dari latar belakang sejarahnya, wilayah Dompu merupakan kerajaan di mana pada saat itu raja dan masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam. Kerajaan Dompu yang kini menjadi Kabupaten Dompu merupakan sebuah kerajaan kuno di Indonesia. Kerajaan ini terletak di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa saat ini. Mayoritas penduduk kini beragama Islam, dengan tradisi dan budaya yang juga mayoritas Islam. Bangsawan Dompu atau keturuan raja-raja hingga kini masih ada. mereka dipanggil Ruma atau Dae. Istana Dompu, sebagai lambang kebesaran telah lama lenyap. Konon bangunan istana 360 Peta Dakwah MUI NTB

379 itu sudah diubah menjadi Masjid Raya Dompu saat ini. Namun rumah kediaman raja masih ada hingga sekarang dan terletak di Kelurahan Bada. B. Kilas Sejarah Dompu 1. Dompu pra Islam Dompo, nama untuk menunjuk Dompu masa lalu, merupakan kerajaan kuno yang namanya sudah dikenal sejak Kerajaan Tulang Bawang di Sumatera Selatan atau zaman Kerajaan Sriwijaya pada abad VII s/d abad IX Masehi dengan semangat Budha yang kental.dalam perkembangannya, ketika Sriwijaya runtuh dan Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah Nusantara, pengaruh Hindu menancapkan kakinya pada semua kerajaan dibelahan Nusantara termasuk Dompu. Pengaruh Hindu ini berlangsung cukup lama, yaitu sampai masuknya Islam pada abad XV-XVI.Seperti disebutkan dalam Kitab Negara Kertagama bahwa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk ( ), seluruh negeri di Pulau Sumbawa, Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit. Dalam cerita mengenai Kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawa a Taho, yaitu tahun 1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan dibantu oleh laskar dari Bali berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Tercatatnya Kerajaan Dompu sebagai salah satu target penguasaan Majapahit karena dipandang Kerajaan Dompu strategis pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah dikenal petinggi Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana ( ). Sebelum terbentuknya kerajaan, konon di daerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai Ncuhi atau raja kecil. Para Ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang, yaitu: a. Ncuhi Hu u,yang mempunyai wilayah kekuasaan di Hu u dan sekitarnya (sekarang Kecamatan Hu u). b. Ncuhi Saneo,yang mempunyai wilayah kekuasaan di Saneo dan sekitanya (sekarang Kecamatan Woja Dompu). c. Ncuhi Nowa, yang mempunyai wilayah kekuasaan di Nowa dan sekitarnya (sekarang masuk Kecamatan Woja). d. Ncuhi Tonda,yang mempunyai wilayah kekuasaan di Tonda Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 361

380 dan sekitarnya (sekarang masuk dalam wilayah Desa Riwo Kecamatan Woja Dompu). Selain empat Orang Ncuhi yang terkenal di Dompu, terdapat pula Ncuhi lainya seperti Ncuhi Tolo Fo o, Ncuhi Katua, Ncuhi Dorongao, Ncuhi Parapimpi dan Ncuhi Dungga. Para Ncuhi menguasai satu wilayah dengan penduduknya di beberapa bekas pemukiman lama atau perkampungan yang dikuasai oleh para Ncuhi dan sampai saat ini nama perkampungan itu masih melekat bahkan diabadikan menjadi salah satu nama desa atau kecamatan di Kabupaten Dompu. Beberapa perkampungan atau negeri yang pernah menjadi wilayah kekuasaan para Ncuhi itu misalnya: Tonda, Soro Bawah letaknya di Doro La Nggaja letaknya di tepi pantai teluk Cempi Hu u; Bata letaknya di Doro Bata Kelurahan Kandai Satu; Tolo Fo o letaknya di sebelah utara Dusun Raba Baka Desa Matua Kecamatan Woja; Para Sada sekarang merupakan lokasi persawahan So Mangge Kalo di Kampung Pelita Kelurahan Bada; La Rade lokasi tersebut berada di areal pertanian So Jero, Dungga terletak di sekitar Dam Rabalaju; Dorongao letaknya di Kelurahan Kandai Satu. Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang ada diwilayah Dompu saat itu dengan sistem pemerintahan berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja (Sangaji). Susunan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Dompu pra Islam adalah: a. Dewa Sang Kula. Konon Raja ini berasal dari negeri tanah seberang tokoh ini datang ke Dompu melalui laut tepatnya di wilayah teluk Cempi Hu u menggunakan perahu yang terbuat dari bambu betung yang masih muda dan mendarat di Pantai Ria di Riwo Woja, selanjutnya Sang tokoh tersebut bermukim di wilayah Riwo. Atas kesepakatan para Ncuhi yang ada di tanah Dompu saat itu, ia diangkat menjadi seorang raja pertama di Dompu. b. Dewa Tulang Bawang. Tokoh ini oleh masyarakat Dompu berdasarkan tuturan dari para sesepuh bahwa Dewa Tulang Bawang ini konon berasal dari Negeri Tulang Bawang Sumatera tepatnya di Bukit si Guntang. Dewa Tulang Bawang mengembara di negeri Dompu. Menurut cerita rakyat Dompu, tokoh ini datang ke Dompu menggunakan perahu dan terhempas gelombang dahsyat sehingga perahu yang ditumpanginya terdampar dan berubah menjadi sebongkah 362 Peta Dakwah MUI NTB

381 batu. Oleh masyarakat Dompu, batu tersebut di kenal dengan istilah Wadu Lopi. Dewa Tulang Bawang kemudian menikah dengan seorang putri anak dari Sang Kula Indra Kumala dan selanjutnya menjadi raja dompu yang kedua. c. Dewa Indra Dompu yang merupakan putra dari Dewa Tulang Bawang d. Dewa Mambara Bisu, yang adalah saudara dari dewa Indra Dompu. e. Dewa Mambawa Balada. Juga saudara kandung dari Dewa Indra Dompu. f. Dewa Kuda (Dewa Yang Punya Kuda) yang merupakan putra dari Dewa Mambara Balada. g. Dewa Mawa a Taho. Ia merupakan putra dari Dewa Kuda dan di masa pemerintahannya sekitar tahun 1340 terjadi ekspedisi laskar dari Kerajaan Majapahit untuk menaklukan Dompo. Majapahit saat itu dipimpin oleh panglima perangnya, yakni Panglima Nala dan dibantu dari pasukan Kerajaan Bali yang dipimpin oleh panglima perangnya, Pasung Gerigis. Namun, Kerajaan Dompu belum dapat di taklukan oleh Majapahit. Konon, sisa laskar Majapahit banyak yang tidak kembali ke negerinya pada akhirnya menetap di Dompu, tepatnya di sekitar wilayah teluk cempi Hu u. h. Dewa Dadalanata. Pada tahun 1357 di bawah pimpinan Panglima Soko dan Panglima Dadalanata dan dibantu laskar dari Kerajaan Bali saat itu membuat kesepakatan untuk melakukan perang tanding tampa melibatkan laskar dan rakyat agar tidak terjadi korban banyak. Perang tanding digelar dan akhinya Dompu saat itu harus takluk kepada Majapahit. Atas kesepakatan antara Raja Dompu, Dewa Mawa a Taho dan Panglima Soka, akhinya laskar Majapahit yang paling tangguh dan diangkatlah Dadalanata menjadi Raja Dompu terakhir di Dompu, sebelum berubah sistem pemerintahan menjadi kesultanan. 2. Islamisasi di Dompu Alkisah, konon, Syeikh Nurdin, seorang ulama terkemuka keturunan Arab Magribi, menginjakkan kakinya di Bumi Dompu sekitar 1528 untuk menyebarkan Islam sambil berdagang. Saat itu, Dompu di bawah Pemerintahan Raja Bumi Luma Na e yang bergelar Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 363

382 Dewa Mawa a Taho (kala itu Dompu belum mengenal Islam/masih menganut ajaran Hindu) sebab saat itu Kerajaan Dompu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit (Raja Hayam Wuruk) dengan Mahapatih Sang Gajah Mada Amurwa Bumi. Kehadiran Syeikh Nurdin di Kerajaan Dompu tampaknya mendapat simpati dari rakyat Dompu, terutama Raja Dompu saat itu. Bahkan, lambat laun ajaran Islam yang dibawa oleh Syeikh Nurdin dengan cepat dapat diterima oleh rakyat Kerajaan Dompu termasuk dari kalangan Istana (bangsawan). Konon cerita, salah seorang putri dari keluarga Kerajaan Dompu tertarik terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Syeikh Nurdin. Sang Putri pun akhirnya belajar dan memeluk Islam di hadapan Syeikh Nurdin. Bukan itu saja, sang putri Raja itu pun akhirnya menaruh hati dan menikah dengan sang ulama. Putri Raja, yang tidak diketahui nama aslinya, akhirnya mengganti namanya setelah menikah dengan Syeikh Nurdin dengan Islam, yakni Siti Khadijah. Dari pernikahan dengan Syeikh Nurdin tersebut ia dikarunia 3 orang anak, 2 putra dan 1 putri. Masing-masing bernama Syeikh Abdul Salam, Syeikh Abdullah, dan Joharmani. Pada saat Syeikh Nurdin dan keluarganya berangkat ibadah haji ke tanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama Islam, Syeikh Nurdin dan salah seorang putranya yakni Syeikh Abdullah, tidak kembali ke Dompu karena meninggal di Mekah. Hanya Syeikh Abdul Salam dan ibundanya Siti Khadijah serta adik perempuannya, Joharmani, yang kembali ke Dompu. Isteri Syeikh Nurdin dan kedua anaknya yang sudah menyandang gelar Haji akhirnya pulang ke Dompu dengan membawa oleh-oleh berupa kitab suci al-qur an sebanyak 7 buah (di Dompu dikenal dengan istilah Karo a Pidu). Konon ketujuh buah kitab suci al- Qur an yang dibawa dari Mekah oleh keluarga Syeikh Nurdin tersebut saat ini masih tersimpan dengan baik di Asi Mpasa (istana lama). Islam menjadi agama resmi Kerajaan Dompu ketika putra pertama Raja Dompu, La Bata Na e, naik tahta menggantikan Ayahandanya. Untuk memperdalam agama Islam, La Bata Na e pergi meninggalkan Dompu untuk menimba ilmu di Kerajaan Bima, Kerajaan Gowa Makassar bahkan sampai ke tanah Jawa. Setelah menguasai berbagai macam ilmu agama Islam, La Bata Na e akhirnya kembali ke Kerajaan Dompu untuk meneruskan memimpin pemerintahan warisan ayahandanya, Raja Dompu, Bumi Luwu Na e. Pada tahun 1545, La Bata Na e resmi naik tahta. La Bata Na e selanjutnya mengubah sistem 364 Peta Dakwah MUI NTB

383 pemerintahaan di Dompu dari Kerajaan menjadi Kesultanan dan bergelar Sultan Syamsuddin. La Bata Na e atau Sultan Syamsuddin merupakan Sultan Dompu pertama sekaligus Sultan Dompu yang pertamakali memeluk Islam. Selanjutnya agama Islam saat itu resmi menjadi agama di wilayah Kesultanan Dompu. Untuk mendampinginya dalam memerintah di Kesultanan Dompu, Sultan Syamsuddin akhirnya menikah dengan Joharmani saudara kandung Syeikh Abdul Salam pada tahun Syeikh Abdul Salam diangkat oleh Sultan Syamsuddin sebagai ulama di Istana Kesultanan Dompu. Makam Syeikh Abdul Salam terletak di Kampung Raba Laju Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu. Makam keramat tersebut saat ini oleh pemerintah telah dijadikan salah satu situs purbakala. Bahkan untuk mengenang nama Syeikh Abdul Salam, di dekat makam Syeikh Abdul Salam terdapat pemakaman umum yang dinamakan oleh warga Dompu Rade Sala (Kuburan Abdul Salam). Kemudian sekitar tahun 1585 M, datanglah beberapa saudagar/ pedagang sekaligus ulama Islam dari Sumatera, yakni bernama Syeikh Hasanuddin, Syeikh Abdullah dari Makassar, dan Syeih Umar al- Bantani dari Madiun Jawa Timur, dan selanjutnya mereka ini menetap di Dompu untuk membawa syi ar agama Islam. Kuat dugaan bahwa Syeikh Umar dan Bantam adalah murid Sunan Giri dari Gresik. Sedangkan Syeikh Hasanuddin adalah Mubaliqh dari Pagaruyung, sebuah kerajaan di Minangkabau Sumatra Barat. Beliau datang berdagang dan menyebarkan Islam ke Sumbawa Timur dan Tengah (Dompu dan Bima) dan sekaligus memilih menetap di sana. Adapun Syeikh Abdullah adalah mubaliqh dari Kerajaan Gowa-Makasar. Kedatangan tiga ulama dari negeri seberang tersebut rupanya mendapat simpati yang baik dari sultan Dompu dan masyarakat di wilayah Kesultanan Dompu. Untuk membuktikan rasa simpatik dan hormatnya terhadap ketiga orang ulama tersebut, Syeikh Hasanuddin mendapat kehormatan dari Sultan Syamsuddin untuk menduduki salah satu jabatan, yakni Qadhi (setingkat menteri Agama di kesultanan) dan selanjutnya bergelar Waru Kali. Kemudian Syeikh Umar al-bantani dan Syeikh Abdullah dipercaya Sultan Syamsuddin sebagai Imam Masjid di Kesultanan Dompu. Syeikh Hasanuddin yang bertempat tinggal di Kandai Satu meninggal dunia dan dimakamkan di tempat itu pula. Oleh masyarakat Dompu, lokasi atau komplek pemakaman tersebut kini dikenal dengan sebutan Makam Waru Kali. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 365

384 Dengan merujuk dari catan-catatan ini, Islam masuk ke Dompu melalui mubaliqh dari pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi Selatan. Ini berarti pada zaman Kerajaan Mataram di Jawa dan Kerajaan Gowa- Makasar di Sulawesi Selatan. Sejarah mencatat bahwa Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo dikenal sebagai salah seorang wali yang paling giat menyebarkan agama Islam dengan bantuan murid-muridnya yang tersebar di mana-mana terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam kaitannya dengan Kerajaan Gowa, sejarah juga mencatat bahwa kerajaan di Pulau Sumbawa (Bima, Dompu, dan Sumbawa) menjadi daerah taklukan Kerajaan Makasar dengan perjanjian bahwa agama Islam harus menjadi agama resmi kerajaan. Begitulah sejak abad XVII Islam menjadi agama resmi kerajaan (kesultanan) Dompu pada zaman pemerintahan Sultan Syamsuddin yang bergelar Mawa a Tunggu. Beberapa sultan yang pernah memerintah Dompu sejak tahun 1545 sampai dengan 1958 (selama 413 tahun) adalah sebagai berikut: a. Sultan Syamsuddin bergelar Mawa a Tunggu (1545 -?) 1) Putra dari Mawa a Taho 2) Sultan yang pertama masuk Islam 3) Mendirikan Istana Bata (Doro Bata) 4) Dikenal sebagai raja yang ulet dan bijaksana 5) Memerintah di Istana Tonda b. Sultan Jamaluddin bergelar Manuru Doronggao (?-1640) 1) Putra dari Mawa a Tunggu (Sultan Syamsuddin) 2) Mengangkat dirinya menjadi Raja Bicara Dompu 3) Bertahta di Doro Ngao c. Sultan Sirajuddin bergelar Manuru Bata ( ) 1) Putra dari Mawa a Tunggu (saudara dari Sultan Jamaluddin) 2) Tahun 1669 menandatangani perjanjian politik dengan Belanda di Benteng Rotterdam Makasar. 3) Ia memulai persahabatan dengan Belanda d. Sultan Ahmad bergelar Manuru Kilo ( ) 1) Putra dari Sultan Sirajuddin 2) Sepulang dari Betawi tinggal di Kilo 366 Peta Dakwah MUI NTB

385 e. Sultan Abdul Rasul bergelar Manuru Laju ( ) 1) Putra dari Sultan Sirajuddin (saudara dari Sultan Ahmad) 2) Ibunya anak Raja Manggarai 3) Dikenal sebagai Raja yang gagah berani f. Sultan Usman bergelar Manuru Parabo( ) 1) Putera dari Sultan Abdul Rasul 2) Meninggal di Makasar g. Sultan Ahmadsyah bergelar Manuru Kempo I ( ) 1) Putera dari Manuru Laju (Sultan Abdul Rasul) 2) Saudara dari Sultan Usman 30 Wafat di Kempo setelah pulang dari Makasar h. Sultan Abdul Kadir bergelar Mawa a Losa (Mawa a Alu) ( ) 1) Putera Manuru Laju (Sultan Abdul Rasul) 2) Saudara dari Sultan Ahmadsyah 3) Dikenal sebagai Raja yang memerintah dengan bijaksana i. Sultan Syamsudin bergelar Mawa a Sampela ( ) 1) Putera dari Sultan Usman 2) Ibunya anak Raja Sumbawa 3) Dikenal sebagai Raja yang sangat keras dalam memerintah 4) Tahun mengikuti pertemuan ulama di Madiun Jawa Timur 5) Mangkat tahun 1737 j. Sultan Kamaluddin ( ) 1) Putera dari Sultan Usman (Saudara dari Sultan Sultan Syamsuddin) 2) Putera tahun 1737 itu juga ia lari ke Sumbawa karena lebih memilih cinta dari pada tahta. j. Sultan Abdul Kahar bergelar Manuru Hidi ( ) 1) Putera dari Raja perempuannya Sultan Abdul Rasul 2) Dilantik di Makasar tahun 1737 sebagai Daeng Mamu Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 367

386 k. Sultan Abdurrahman bergelar Manuru Kempo ( ) 1) Putera Sultan Abdul Kadir 2) Wafat dalam pertempuran Kempo 3) Pada masa pemerintahannya terjadi perang perbatasan antara Dompu dengan Tambora. l. Sultan Abdul Wahab bergelar Mawa a Ca u ( ) 1) Putera dari Sultan Abdul Kadir 2) Ibunya keturunan Ncuhi Ncando 3) Beliau adalah Sultan yang memakai bintang Gubernur Jendral m. Sultan Abdullah bergelar Mawa a Saninu ( ) 1) Putera Sultan Abdurrahman 2) Wafat tahun 1799 n. Sultan Yakub diberi gelar Negeri Mpuri ( ) 1) Saudara dari Sultan Abdullah 2) Deri gelar rakyat orang Dompu sebagai Negeri Mpuri o. Sultan Abdullah Tajul Ariin bergelar Mawa a Bou ( ) 1) Putra Sultan Abdul Wahab 2) Ibunya orang Bali, anak Ompu Hawa p. Sultan Abdul Rasul II bergelar Yang Punya Bata Baharu ( ) 1) Putra Sultan Abdul Wahab 2) Satu ibu dengan Sultan Muhammad Tajul Ariin q. Sultan Muhammad Salahuddin bergelar Sultan Mawa a Adi ( ) 1) Putra dari Sultan Abdul Rasul 20 Mangkat tanggal 23 Agustus 1870 r. Sultan Abdullah II bergelar Mambora Bara Ncihi Ncawa (Ma Hidi Mbojo) ( ) 1) Putra Sultan Muhammad Salahuddin 2) Diangkat sebagai Sultan tanggal 3 Juni Peta Dakwah MUI NTB

387 3) Mangkat tanggal 25 Februari 1882 s. Sultan Muhammad Sirajuddin bergelar Manuru Kupa ( ) 1) Diangkat menjadi Sultan tanggal 21 Oktober ) Putra Sultan Abdullah 3) Menandatangani kontrak dengan Belanda tahun ) Dikenal sebagai Raja yang suka membangkang pada Belanda 5) Tahun 1934 dibuang ke Kupang bersama dua orang anaknya (Abdul Wahab dan Abdullah) 6) Memperbarui kontrak dengan Belanda tahun ) Wafat di Kupang tahun ) Tanggal 12 Maret 1908 bersurat kepada Tuan HN. Sourdi di Makasar yang isinya meminta agar Belanda mengngkat putranya Abdul Wahab sebagai Raja Muda Dompu tapi Belanda tidak menggubrisnya. t. Sultan Muhammad Tajul Ariin bergelar Mawa a Sama Mawa Sapau (Ruma To i) ( ) 1) Putra Sultan Muda (Ruma To i) Abdul Wahab Sirajuddin 2) Cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin 3) Diangkat menjadi Sultan setelah Kerajaan Dompu dihidupkan kembali (dipisahkan dari Kerajaan Bima) saat Negara Indonesia Timur (NTT) terbentuk Beliau dilantik pada tanggal 12 September ) Pernah menjadi Kepala Daerah Swapraja Dompu dan Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Dompu tahun ) Wafat tanggal 12 September Yang perlu dijelaskan di sini bahwa pada abad XIX di Dompu saat itu memerintah raja-raja yang lemah. Kerajaan dikacaukan oleh berbagai pemberontakan (tahun 1803) yang memaksa memerlukan campur tangan pihak residen. Sejak Sultan Abdul Azis, putra Sultan Abdullah yang mengganti Sultan Yakub, tidak banyak berbuat untuk memajukan kerajaannya. Kerajaan antara tahun diancam perompakperompak yang menghancurkan desa-desa yang ada di wilayah Dompu. Pada sekitar tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels menegaskan kepada Gubernur Van Kraam untuk memperbarui perjanjian dengan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 369

388 Dompu. Perjanjian tersebut diadakan di Bima, begitu pula penggantinya Sultan Muhammad Tajul Ariin I putra Sultan Abdull Wahab, Sultan Muhammad Tajul Ariin I diganti oleh Sultan Abdull Rasul II, adiknya. Sultan Abdull Rasul II memindahkan Istana Bata (Asi Ntoi), kini merupakan Situs Doro Bata yang terletak di kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu, ke Istana Bata yang baru (Asi Bou). Dasar itu, ia disebut dengan gelar Bata Bou dan setelah mangkat ia diganti oleh putranya, Sultan Muhammad Salahuddin. Sultan Salahuddin mengadakan perbaikan dalam sistem dan hukum pemerintahan. Ia menetapkan hukum adat berdasarkan hasil musyawarah dengan para alim ulama sekaligus menetapkan hukum Islam yang berlaku di wilayah kekuasaannya. Dalam menjalankan pemerintahannya, Sultan dibantu oleh Majelis Hadat serta Majelis Hukum. Mereka selanjutnya mereka disebut menteri-manteri dengan sebutan Raja Bicara, Rato Rasana e, Rato Parenta, dan Rato Renda dengan wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan sultan. Hadat juga merupakan kelengkapan pemerintahaan yang berfungsi menjalankan hukum agama yang dikepalai oleh Qadhi atau sultan menurut keperluannya. Seperti sultan-sultan sebelumnya, Sultan Salahuddin tetap melakukan hubungan dengan pihak pemerintah kolonial Belanda. Selanjutnya Sultan Salahuddin diganti oleh putranya, Sultan Abdullah. Pada masa pemerintahaannya ditandatangani kontrak atau perjanjian dengan pihak Belanda pada tahun 1886 silam. Selanjutnya, ia diganti oleh putranya Sultan Muhammad Sirajuddin yang memperbaharui kontrak tersebut pada sekitar tahun Tahun 1958 Kesultanan Dompu yang saat itu dipimpin oleh Sultan Dompu terakhir, yakni Sultan Muhammad Tajul Ariin (Ruma To i), sistem pemerintahan di Dompu dirubah menjadi suatu Daerah Swapraja Dompu dan Kepala Daerah Tingkat II Dompu tahun C. Keadaan Demograis Keagamaan Kabupaten Dompu Penduduk di Kabupaten Dompu mayoritas Muslim. Dari total jumlah penduduk sebanyak jiwa, terdapat jiwa atau 0,9812% penduduk menganut Agama Islam, jiwa atau 0,0151% beragama Hindu, 410 jiwa atau 0,0019% beragama Katolik, dan 388 jiwa atau 0,0018% beragama Kristen. Setelah Muslim, penganut agama Hindu berada di urutan kedua, sebagai mana data di atas dengan presentrase yang 0,0151% yang menempati wilayah-wilayah pinggiran karena mengikuti program transmigrasi, seperti di Desa Anamina 370 Peta Dakwah MUI NTB

389 Kecamatan Manggelewa, Kecamatan Pekat, Kecamatan Kempo, dan sebagiannya lagi merupakan pegawai Negeri yang bertugas dan menetap di wilayah administrasi Kabupaten Dompu. Adapun rincian jumlah penduduk berdasarkan agama anutan dapat dipaparkan dalam tabel berikut ini: Tabel (1) Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama No Kab./ Kota Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Islam Hindu Kristen Katolik Jumlah Ket DOMPU D. Sarana Ibadah Masing-masing penganut agama diberikan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, di Kabupaten Dompu terdapat 4 agama yang dianut oleh masyarakat, yakni Islam, sebagai mayoritas, kemudian menyusul Hindu, Katolik, dan Kristen. Ada sejumlah tempat ibadah yang dibangun sebagai sarana ibadah bagi penganut masing-masing agama. Terdapat 275 masjid dan 152 musalla umat Islam, 2 gereja umat Kristen, 1 gereja Katolik, dan 8 pure umat Hindu. Tabel (2) Data Tempat Ibadah Total Seluruh th Data Tempat Ibadah No Nama Wilayah Masjid Mushollah Gereja Kristen Gereja Katolik Pure Ket Kabupaten Dompu Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 371

390 Dari jumlah tersebut di atas, 83 masjid masjid bertipologi masjid jami yang berada di masing-masing kelurahan/desa. Sedangkan Masjid agung Kabupaten Dompu terletak di wilayah Kecamatan Dompu, yakni Masjid Baiturrahman yang beralamat di Jalan Manuru Kupang No.1 Dompu. Masjid yang luas bangunannya m 2 ini berdiri megah di atas tanah seluas m 2. Masjid Baiturrahman ini berdiri sejak tahun 1952 dengan daya tampung 2000 jamaah. Masjid ini dilengkapi dengan fasilitas internet akses, parkir, taman, gudang, tempat penitipan sepatu/sandal, ruang belajar (TPA/Madrasah), perlengkapan pengurusan jenazah, perpustakaan, kantor sekretariat, penyejuk udara/ AC, sound system dan multimedia, pembangkit listrik/genset, kamar mandi/wc, dan tempat wudhu.tidak saja ibadah shalat lima waktu, kegiatan di masjid baiturrahman meliputi: pemberdayaan zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf, menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, madrasah, pusat kegiatan belajar masyarakat), menyelenggarakan pengajian rutin, menyelenggarakan dakwah islam/tabliq akbar, menyelenggarakan kegiatan hari besar Islam, menyelenggarakan Sholat Jumat, menyediakan sarana terapi penyakit tertentu. E. Sarana Pendidikan Islam Formal Dan Non Formal Mayoritas masyarakat Dompu lebih memilih pendidikan formalnya (sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi) pada di sekolahsekolah umum, perguruan tinggi umum dibandingkan ke sekolah atau perguruan tinggi yang keagamaan seperti madrasah/pesantren, pun jika masuk di madrasah akan lebih memilih madrasah negeri. Pun demikian, madrasah swasta juga pesantren, meskipun tidak berkembang secara baik, sebagaimana yang terjadi di Lombok, dan Jawa, lembaga pendidikan madrasah pesantren juga banyak dijumpai di Kabupaten Dompu, terutama di wilayah pinggiran yang kebanyakan penduduk pendatang transmigran dari Lombok, seperti yang terdapat di Kecamatan Manggelewa dan Kecamatan Pekat. Berdasarkan datadata, jumlah madrasah ibtidaiyah (MI) sebanyak 7, yakni 1 madrasah ibtidaiyah negeri dan 6 berstatus swasta. Pada tingkat menengah, madrasah tsanawiyah berjumlah 6 MTs, (1 negeri dan 5 swasta), dan madrasah Aliyah berjumlah 4 (1 negeri dan 3 swasta). Adapun jumlah madrasah alamat dan status kepemilikian lembaga secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 372 Peta Dakwah MUI NTB

391 Tabel (3) Data Pendidikan Formal Berbasis Agama di Kabupaten Dompu No Nama Lembaga Pendidikan Alamat Status SD/MI 1 MIN Kandai Dua Kelurahan Kandai Dua, Dompu Negeri 2 MI Al Faat Woja Kecamatan Woja Swasta 3 MI Salman Dompu Desa O o, Dompu Swasta 4 MI Al Syaf Tahir Woja Desa Bara, Woja Swasta 5 MI Al Rahmatullah Manggelewa Kec. Manggelewa Swasta 6 MI Mutmainah, Pekat Kec. Pekat Swasta 7 MI Darusholihin, Pekat Kec. Pekat Swasta SMP/MTs 1 MTsN 1 Kandai Dua 2 MTs Al Mualafah Kelurahan Kandai Dua, Dompu Desa Nanga Tumpu, Manggelewa Negeri Swasta 3 MTs Al Inayah Manggelewa Kec. Manggelewa Swasta 4 MTs Arrahman Kilo Desa Malaju, Kilo Swasta 5 MA Al Syaf Tahir Desa Bara, Woja Swasta SMA/MA 1 MAN Kandai Dua Kel. Kandai dua Negeri 2 MAS Al Abrar Desa Kadindi Swasta 3 MAS Hamzanwadi Desa Nusa Jaya Swasta 4 MAS Fadhilatul Islamiyah Desa Lanci Jaya Swasta PTAI 1 STAI/STKIP Al-Amin Dompu Kandai Dua Dompu Swasta Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 373

392 Di samping sekolah-sekolah formal, di Kabupaten Dompu terdapat 29 pondok pesantren yang tersebar di 6 wilayah kecamatan, yakni: 1 ponpes di Kecamatan Hu u, 6 ponpes di Kecamatan Dompu, 6 ponpes di Kecamatan Pekat, 5 ponpes di Kecamatan Woja, 10 ponpes di Kecamatan Manggelewa, dan 1 ponpes di Kecamatan Pajo. Tabel (4) Data Pondok Pesantrendi Kabupaten Dompu No Nama Ponpes Tokoh Pendiri Pimpinan Alamat Kec. 1 PP. Al Rasyid Jurjis, S, Ag, M.Pd Jurjis, S.Ag. M.Pd Jl. Lintas Lakey Hu u 2 PP. Al - Ikhlas Dorebata 3 PP. Al Amin Abdu Razak AB, H (Alm) Muhammad Amin, Drs 4 PP. Al-Jariah Zaidun, H 5 PP. Al-Yasmin 6 PP. Salman 7 PP. Tarbiyatul Islamiyah Burhanuddin, S.Ag Salman Faris, KH, BA Habibah Har, Hj Kandai Satu Dompu Muslamin Kel. Bali Dompu Zaidun Ismail, H, Drs, S.Ag Burhanuddin, S.Ag Salman Faris, KH, BA Dompu Jl. Lintas Mbawi Dorobata Jl. Manuru Bata No. 35 Dompu Dompu Dompu Abdarab Abdarab Lepadi Dompu 8 PP. Al Hijrah Ariin, S.Pd.I Ariin, S.Pd.I Nanggamiro Pekat 9 PP. Al Muhajirin Ust Hamidin Ust Hamidan Pekat Pekat 10 PP. Nahdatul Wathan Kadindi Sahir Sahman Karang Juli Kadindi Pekat PP. Nurul Hidayah Al Akmaliah PP. Roudlatul Abror PP. Zainul Wathani NW Akmaluddin Lalu Djazuli Akmaluddin M Rifai KH Desa Kadindi Jl. Dam Latonda I, Kadindi Pekat Pekat Nurdin Mahsun Sorinomo Pekat 374 Peta Dakwah MUI NTB

393 No Nama Ponpes Tokoh Pendiri Pimpinan Alamat Kec. 14 PP. Al Yaminy 15 PP. Al-Istiqomah 16 PP. Arrahmah 17 PP. Hidayatullah 18 PP. Salaiah Imam Malik A. Malif H Yakub, S.Ag Mansyur Zainuddin Arahman Muhamad, H (Alm) Hendro Swastomo, Drs A Malik H Yakub, S.Ag A Malik H Yakub, S.Ag Mansyur Zainuddin Salman Faris, KH, BA Ahmad Yasin, Drs Saiful Anwar, S.Pd.i 19 PP. Al - Ittihad Sarwan, Ust Sarwan, Ust Jl. MT Sirajudin No.55 Selaparang Jl. Kakatua Bali Bunga Jl. Lintas Sumbawa Barat Jl. SMT Sirajuddin No. 36 Woja Jl. Istiqomah No PP. Al Inayah Mansyur mansyur Doromelo 21 PP. Al Majidiyah NW Ikhram Mustapa Wadi Nasip 22 PP. Al Masadatin Sarwan Sobri 23 PP. Al-Muallafah Abdul Malik, BA Zainal Abidin 24 PP. Babussalam Zaidun H Zaidun H PP. Daerah Manggelewa PP. Darun Hamzanwadi NW PP. Fadilatul Islamiyah Pemda Kabupaten Dompu Ahmad Misukiwahid, Drs, H H. Ismail H Abd Hamid, S.Pd.I Mursalin Cakra Baru Desa Sukadamai SPC Dusun Karang Punik Manggelewa Lanci desa Lanci Jaya Nusa Jaya Manggelewa Jl. Lintas Kilo Dompu Kaharuddin Abd. Gani Lanci Jaya Woja Woja Woja Woja Woja Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa Manggelewa 28 PP. Rahmatullah Kamaluddin Yaman, S.Ag Kamaluddin Yaman, S.Ag Desa Soriutu Manggelewa Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 375

394 No Nama Ponpes Tokoh Pendiri Pimpinan Alamat Kec. 29 PP. Al Kautsar Asikin Ahmad, Drs, H Asikin Ahmad, Drs, H Desa Ranggo Pajo Di samping pondok pesantren, terdapat juga majelis-majelis taklim di Kabupaten Dompu sebagai tempat berlangsungnya komunikasi dakwah, mauizhah juga tarbiyah umat Islam. Masjelis taklim (MT) pada masing-masing kecamatan dapat dideskripsikan sebagai berikut: Kec. Pekat 10 MT, Kempo 1 MT, Woja 4 MT, Dompu 26 MT, Hu u 3 MT, Manggelewa 3 MT, Kilo 7 MT, dan Pajo 5 MT. rincian nama, ketua, dan alamat majelis taklim dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel (5) Data Majelis Ta alim Kabupaten Dompu Tahun 2016 No Nama Majelis Ta alim 1 Uswatun Hasanah 2 Karunia Ketua Hj. Atikah Salman, S.Pdi Kurniasih Hamzah, S.Pdi 3 Al Hidayah Nur Intan, A.Ma 4 Bani un Nisa Ir. H. Hendri Atrimus, MBA 5 Husnul Khotimah H. Husen M. Nor 6 Al-Ikhlas Hj. Najmah, SH 7 Al-Mubarak Hj. Suharni 8 Syekh Abdul Gani Drs. H. Syamsul H.Ilyas, M.Si 9 Babussalam Siti Rohanah Alamat Kelurahan Kandai Dua Kecamatan Woja Kelurahan Bada Kecamatan Dompu Desa Adu Kecamatan Hu u Kelurahan Bada Kecamatan Dompu Kelurahan Bada Kecamatan Dompu Kelurahan Karijawa Kecamatan Dompu Kelurahan Karijawa Kecamatan Dompu Kelurahan Potu Kecamatan Dompu Kelurahan Bali Satu Kecamatan Dompu 376 Peta Dakwah MUI NTB

395 No Nama Majelis Ta alim 10 Al Manar Ketua Ustad Abdarah HM 11 As Sa adah St. Hajar, S.Pdi 12 An Nur Hj. Rui ah 13 Al Munawwarah Hj. Aisyah H. Usman 14 Fuadul Amin Atina Dahlan 15 Asmaul Husnah 16 An Nur 17 Asrafal Anam 18 Imadul Bilad Siti Asma Sudirman Siti Rohanah H. Julkili Nurjanah Syarifuddin Hj. Kalisom H.A Latif 19 Al Ma aarif Hj. Sumarni Haris 20 Barakallah H, M. Nor Alamat Desa Kareke Kecamatan Dompu Desa Kareke Kecamatan Dompu Desa Kareke Kecamatan Dompu Desa Kareke Kecamatan Dompu Desa Wera Kecamatan Dompu Seratalaka Kecamatan Dompu Kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu Mbawi Kecamatan Dompu Doro Tangga Kecamatan Dompu Doro Tangga Kecamatan Dompu Mangge Asi Kecamatan Dompu 21 Asmaul Husnah Alwi Ismail Saka Kecamatan Dompu 22 Al Muhsinin Abdurrahman 23 Al Muhajirin H. A. Majid Bakar Rasanggaro Kecamatan Dompu Kramabura Kecamatan Dompu 24 Nurul Huda Bukhari Mutamin 25 Al-Ihlas H. Ismail Daus 26 Al-Muhibah Siti Jaenab Alwi Kramabura Kecamatan Dompu Kramabura Kecamatan Dompu Balibunga Kecamatan Woja Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 377

396 No Nama Majelis Ta alim Ketua 27 Al Hidayah Nusrah, S.Ag 28 Muslimat Nurul Yakin 29 Assakinah Aliah SSH Hj. St. Aisyah H. Arsyik 30 Nurul Iman Ilham, S.Pd 31 LPDI Mujahidin, S.Pd 32 Al Falaq Halisah 33 Asifaul Qur an Malaju 34 Al Hidayah Jubaidah Junaidin 35 An Nur Ibrahim Muhammad 36 Al Huda A. Wahab, S.Pdi 37 Wastiqomah Zubair Usman, SH 38 Nurul Hidayah Dewi Kusumah Ningrum, S.Pd 39 Al Baroqah Hajnah, S.Pdi 40 Ihya Ulumuddin Syarifudin, S.Pdi 41 Nurul Wahid Asmunir, S.Ag 42 Assakinah Rini Ariani 43 Al Ikhlas Kasmin Fathul Bahri 44 Al Inayah Nurinayah Alamat Kelurahan Kandai Dua Kecamatan Woja Kota Baru Kecamatan Dompu Mangge Asi Kecamatan Dompu Desa taropo kecamatan Kilo Desa Mbuju Kecamatan Kilo Desa Kramat Kecamatan Kilo Desa Malaju Kecamatan Kilo Desa Malaju Kecamatan Kilo Desa Lasi Kecamatan Kilo Desa Kiwu Kecamatan Kilo Desa Ranggo Kecamatan Pajo Desa Lepadi Kecamatan Pajo Desa jambu Kecamatan Pajo Desa Temba Lae Kecamatan Pajo Desa Ranggo Kecamatan Pajo Desa Soriutu Kecamatan Manggelewa Desa Tekasire Kecamatan Manggelewa Desa Doremelo Kecamatan Manggelewa 378 Peta Dakwah MUI NTB

397 No Nama Majelis Ta alim Ketua 45 Al Hidayah Nurita, S.Pd 46 Al Falah 47 fastabiqul Khairat H.A Majid H. Abdullah Ustad Muliadin, S.Pd 48 Nurul Iman Muslim, S.Pd 49 Nurul Iman M. Tayeb 50 Yayasan Putri Nuraini Alamat Desa Adu Kecamatan Hu u Desa Hu u Kecamatan Hu u Desa Calabai Kecamatan Pekat Desa Jonggat Kecamatan Pekat Desa karombo Kec. Pekat Kel. Kandai Dua Kec. Woja 51 Al Hidayah H. Halimah Kel. Bada Kec. Dompu 52 Nurul Ilmi Idris Kasim 53 Al Amin Muksin 54 Nurul Fitri Marwan 55 Attaqwa Ma ruf 56 Nurul Hidayah Tasrif 57 Nurul Yakin A. Wahab Jamal 58 Babul Jannah Ustad Ma sun 59 Al Hilal Hj. Ijnah F. Kondisi Da i Islam (Penyuluh Agama) Desa Calabai Kecamatan Pekat Desa Calabai Kecamatan Pekat Desa Soritatanga Kecamatan Pekat Desa Soritatanga Kecamatan Pekat Desa Pekat Kecamatan Pekat Nagamiro Kecamatan Pekat Desa Nagakara Kecamatan Pekat Desa Kempo Kecamatan Kempo Penyuluh Agama Islam (Da i Islam) di lingkup kerja Kementerian Agama Kabupaten Dompu berjumlah 128 orang da i. Di lihat dari latar belakang pendidikan jumlah penyuluh yang telah menempuh perguruan Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 379

398 tunggi relatif lebih banyak. Terdapat 39 orang da i/penyuluh yang sudah menyelesaikan pendidikan pada jenjang S1, dan bahkan 3 orang diantaranya sudah menempuh pendidikan pada jenjang S2. Meskipun demikian jumlah penyuluh agama Islam yang berpendidikan hanya sampai pada jenjang SMA tak sedikit pula, yakni 22 orang da i. Secara lebih detail data tentang penyuluh agama Islam ditampilkan dalam tabel di bawah ini. No Pendidikan Tabel (6) Data Penyuluh Agama Islam Data Penyuluh Agama Islam PNS PNS Non Non Kemenag Kemenag PNS L P L P L P Jumlah 1 MI MTs MA DIPLOMA S S JUMLAH Di samping para penyuluh dari Kementerian Agama Kabupaten. Jumlah da i di Kabupaten Dompu, terbilang relatif banyak. Karena guru-guru agama, pegawai yang bekerja di institusi pemerintah maupun swasta, seringkali jika berkecimpung dalam ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, atau di lembaga pondok pesantren, atau di majelismajelis taklim akan bertindak sebagai da i, meskipun tidak ada label sosial secara khsusus seperti tuan guru di Lombok, atau kiyai di Jawa. Terkait ailiasi para da i, di Kabupaten Dompu tercatat ada 13 nama Ormas Islam. Adapun daftar nama-nama ormas Islam tersebut dapat di lihat pada tabel di bawah ini. 380 Peta Dakwah MUI NTB

399 Tabel (7) Data Ormas Islam Kabupaten Dompu NO NAMA ORMAS TAHUN BERDIRI ALAMAT KETUA 1. NU 1978 Kel. Potu Drs. Diaul Anhar 2. PP Muhammadiyah 1990 Kel. Karijawa Drs.H. Agus Buhari, M.Si Khilafatul Muslimin JAS (Jama ah Ansharut Syari ah) N W (Nahdatul Wathan) 2007 Desa Katua 2012 Desa O o Taqiuddin 2015 Kel. Simpasai Drs.H. Muhrip 6. H T I (Hisbutahrir Indonesia) 2013 Kel. Simpasai 7. GP. Anshor MUI (Majelis Ulama Indonesia) H M I P M I I 11. Fatayat NU 12. Muslimat NU 13. Aisiyah Desa Dorebara Kel. Karijawa Kel. Dorotangga PP. Salman Dompu Kel. Kandai Dua DR (HC). H.Abdullah Arsyad, S.Ag Slamat Abadi Sentosa Hj. Suryani, S.Pd Hj. Atikah Salman Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 381

400

401 bab 10 KabuPatEn bima A. Letak Dan Keadaan Kabupaten Bima 1. Karakteristik Umum Wilayah Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir (La Kai) dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan pemerintah berdasarkan syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa melayu purba dan bangsa melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya dou mbojo (orang Bima), dou donggo (orang Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 383

402 Donggo) mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Secara umum karakteristik wilayah kabipaten Bima dapat dijelaskan dari beberapa aspek di bawah ini. 2. Geograi a. Teritorial Wilayah Wilayah Kabupaten Bima terletak di ujung timur Propinsi Nusa Tenggara Barat bersebelahan dengan wilayah Kota Bima yang tidak lain adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Bima. Luas wilayah mencapai 4.389,400 km 2. Terletak diantara: I9.24 BT dan LS, dengan batas-batas sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Flores : Selat Sape Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Dompu Luas wilayah Kabupaten Bima adalah 4.389,4 km dengan jumlah populasi penduduk jiwa. Jumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Bima sebanyak 14 kecamatan dengan 150 kelurahan. Di kabupaten Bima terdapat lima buah gunung, yakni: 1) Gunung Tambora di Kecamatan Tambora 2) Gunung Sangiang di Kecamatan Wera 3) Gunung Maria di Kecamatan Wawo 4) Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu 5) Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini dengan ketinggian m. b. Sistem Sungai Wilayah Kabupaten Bima dialiri banyak sungai, baik sungai besar maupun kecil. Dari sungai-sungai yang ada tersebut, 26 sungai sudah dimanfaatkan untuk irigasi. 384 Peta Dakwah MUI NTB

403 3. Keadaan Topograi Wilayah Kabupaten Bima dikelilingi oleh pengunungan yang terdiri dari gunung Tambora di Kecamatan Tambora, gunung Sangiang di Kecamatan Wera, Gunung Maria di Kecamatan Wawo dan gunung Soromandi di Kecamatan Donggo. Dan gunung Soromandi merupakan gunung yang tertinggi dengan ketinggian mencapai m. No Tabel 1 Luas dan Tinggi Kota Kecamatan dari Permukaan Laut di Kabupaten Bima Luas wilayah Ketinggian di atas Kecamatan Ibu kota (Ha) (Km 2 ) permu-kaan laut (m) 1 Monta Tangga 2 Parado Parado 3 Madapangga Dena 20 4 Woha Tente 10 5 Belo Cenggu 6 Langgudu Karumbu 50 7 Wawo Maria 8 Sape Naru 5 9 Lambu Lambu 10 Wera Tawali Ambalawi Nipa 6 12 Donggo O o 13 Sanggar Kore 5 14 Tambora Labuan Kananga 15 Bolo Sila Soromandi Samoungu 17 Lambitu Teta 18 Palibelo Teke Total Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 385

404 Sumber Data : BPN Kab. Bima Secara topograis wilayah kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran rendah. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan Iebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk kedepan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit. Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi basis ekonomi dari sektor pertanian tradisional ke wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Dilihat dan ketinggian dari permukaàn laut, kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut. 4. Keadaan Iklim Dari aspek iklim, keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat mm, maka dapat disimpulkan kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering sepanjang tahun, yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai. Curah hujan tertinggi pada bulan Februari tercatat 171 mm dengan hari hujan selama 15 hari dan musim kering terutama pada bulan Juli, Agustus dan September dimana tidak tejadi hujan. Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas Ha atau 0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 90 Ha yaitu wilayah Dam Roka dan Dam Sumi. Sedangkan Wilayah yang tidak pernah tergenang di kabupaten Bima adalah seluas Ha. 386 Peta Dakwah MUI NTB

405 Tabel 2 Data Hujan di Wilayah Kabupaten Bima No Kecamatan Rata-rata CH HH CH HH CH HH CH HH 1 Monta Bolo Parado* Madapangga Woha Belo Palibelo* Langgudu Wawo Lambitu* Sape Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi* Sanggar Tambora Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 387

406 No Kecamatan Rata-rata CH HH CH HH CH HH CH HH Rata-rata Sumber Data : BMG Klas III M Salahuddin Bima Keterangan : CH : Curah Hujan HH : Hari Hujan * = Kecamatan Pemekaran Baru 5. Keadaan Geologi dan Penggunaan Lahan a. Geologi, Kondisi Tanah:Tipe, kedalaman, erosi Wilayah kabupaten Bima dijumpai jenis tanah alluvial, komplit regosol, komplit litosol dan komplit mediteran. Masing-masing jenis tanah tersebut tersebar hampir diseluruh wilayah kabupaten Bima. Adapun jenis tanah yang dominan adalah jenis tanah kompleks mediteran seluas 154,111 Ha, Sedangkan jenis tanah yang paling sedikit terdapat di kabupaten Bima adalah kompleks Litosol dan mediteran cokelat. Kedalaman efektif tanah (solurn) untuk seluruh jenis tanah yang dijumpai dapat dikelompokkan atas kelas kedalaman lebih dan 90 cm, cm, cm dan 30 cm. Berdasarkan kedalaman efektif tanah, wilayah kabupaten Bima sebagian besar memiliki kedalaman antara cm dengan luas Ha atau 50,3% dari luas wilayahnya. Sedangkan kelas kedalaman lebih dan 90 cm hanya seluas Ha (8,2%) (keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 1-3). Tingkat erosi yang tenjadi pada wilayah kabupaten Bima relatif tinggi dan luas. Wilayah yang telah mengalami erosi menjadi Ha atau 91,3% dan luas wilayah dengan tingkat erosi sedikit, sedang, sampai berat. Erosi tanah dipengaruhi oleh curah hujan, kemiringan lahan, tekstur tanah, kandungan bahan organik, serta vegetasi penutup lahan. 388 Peta Dakwah MUI NTB

407 Tabel 3 Pembagian Wilayah Menurut Kedalaman Efektif Tanah No Kecamatan 90 cm Kedalaman Efektif (Ha) cm cm 0-30 cm Jumlah (Ha) 1 Monta Bolo Parado Madapangga Woha Belo Palibelo Langgudu Wawo Lambitu Sape Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi Sanggar Tambora Jumlah Total Sumber Data : BPN Kab. Bima b. Keadaan Lahan Penggunaan lahan dapat dibedakan atas penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian dan non pertanian serta lahan kering Penggunaan lahan untuk masing-masing kecamatan didominasi oleh fungsi lahan pertanian seperti tegalan ladang, rumput, tanah, perkebunan maupun Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 389

408 hutan rakyat. Adapun penggunaan lahan di wilayah kabupaten Bima dirinci per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Penggunaan Lahan di Kabupaten Bima No 1 Lahan Sawah Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) a. Sawah irigasi teknis - - b. Sawah irigasi setengah teknis % c. Sawah irigasi sederhana P.U Lahan Bukan Sawah d. Sawah irigasi sederhana non P.U e. Sawah tadah hujan f. Sawah pasang surut - - Luas tanah sawah a. Tanah bangunan dan pekarangan Peta Dakwah MUI NTB

409 No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) b. Tegal/kebun c. Ladang/huma d. Padang/rumput pengembalaan e. Tanaman kayu-kayuan/hutan rakyat % f. Hutan negara g. Tanah sementara tidak usahakan h. Perkebunan i. Tambak j. Kolam/tebat/empang k. Rawa-rawa yang tidak ditanami l. Lain-lain Luas bukan sawah Luas Total Sumber Data : BPN Kab. Bima Tabel tersebut di atas juga menjelaskan bahwa luas lahan di kabupaten Bima yang terdiri dari lahan sawah seluas ha atau 5.86 % sedangkan lahan bukan sawah seluas (Ha) atau % dari total keseluruhan lahan, hal ini menunjukkan bahwa lahan di kabupaten Bima sebagian besar terdiri dari lahan bukan sawah dan hampir sebagian kecil saja, yang terdiri dari lahan sawah. Kabupaten Bima juga memiliki lahan dengan tingkat kemiringan terdiri dari 0-2%, 3-15%, 16-40%, dan lebih besar dari 40%. Tingkat kemiringan lebih besar sama dengan 16% mencapai lebih dari 50% dari luas wilayahnya, hal ini terjadi terutama di kecamatan Wawo, Sanggar, Monta dan Donggo. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 391

410 Tabel 5 Kemiringan Lahan Kecamatan di Kabupaten Bima Kelompok Kemiringan No Kecamatan Jumlah 0-2 % > 40 % % % 1 Monta Bolo Parado Madapangga Woha Belo Palibelo Langgudu Wawo Lambitu Sape Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi Sanggar Tambora Jumlah % Sumber Data : BPN Kab. Bima Tabel tersebut diatas menjelaskan bahwa wilayah kecamatan yang memiliki lahan kemiringan sangat tajam yaitu kecamatan Sape sekitar > kemudian diikuti oleh kecamatan Sanggar dengan kemiringan , adapun beberapa wilayah kecamatan yang tidak memiliki tingkat kemiringan yaitu : Parado, Madapangga, Langgudu, Lambu, Ambalawi, Tambora, Soromandi, Lambitu dan Palibelo. 392 Peta Dakwah MUI NTB

411 6. Keadaan alam Kabupaten Bima merupakan salah satu daerah otonom di provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari kota Bima). Secara geograis kabupaten Bima berada pada posisi BT dan LS. Secara topograis wilayah kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk ke depan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit. Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi basis ekonomi dari pertanian tradisional ke pertanian wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Di lihat dari ketinggian dari permukaàn laut, kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut. Wilayah kabupaten Bima beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan relatif pendek. Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat mm, maka dapat disimpulkan kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai. Curah hujan tertinggi pada bulan Februari tercatat 171 mm dengan hari hujan selama 15 hari dan musim kering terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September di mana tidak terjadi hujan. Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas Ha atau 0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi dan Dam Pelaparado, sedangkan wilayah yang tidak pernah tergenang di kabupaten Bima adalah seluas Ha. B. Sejarah Masyarakat Sejarah masyarakat atau asal-usul sejarah masyarakat Bima dapat dikelompokkan dalam dua model variasi masyarakat yakni Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 393

412 variasi berdasarkan keragaman etnis, budaya berdasarkan agama dan kepercayaannya 1. Keragaman Etnis dan Budaya Masyarakat Bima (Dou Mbojo). yang sekarang dikenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. Berdasarkan keragamannya, masyarakat Bima terdiri dari dua macam etnis dan budaya yaitu kelompok Dou Donggo dan Dou Mbojo. Orang Donggo dikenal sebagai penduduk asli yang telah menghuni tanah Bima sejak lama. Mereka menempati wilayah pegunungan. Secara geograis di atas ketinggian rata-rata tanah Bima, Dou Donggo (sebutan bagi orang Donggo dalam bahasa Bima), kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalani masyarakat Bima saat ini. Mata pencaharian Dou Donggo adalah berladang dan bertani. Sebelum mengenal cara bercocok tanam, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah-pindah, dan karena itu tempat tinggal mereka pun selalu berpindah-pindah pula (nomaden). Berhadapan dengan kian gencarnya arus modernisasi, seiring itu pula pemahaman masyarakat akan kenyataan hidup berubah, terutama dalam hal pendidikan dan teknologi. Saat ini, telah sekian banyak para sarjana asli Donggo, yang umumnya menimba ilmu di luar daerah seperti Ujung Pandang, Mataram atau bahkan ke kota-kota di pulau Jawa seperti Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain. Demikian halnya dengan teknologi, yang akhirnya merubah pola hidup mereka seperti penggarapan sawah, kendaraan sampai alat-alat elektronik rumah tangga, karena hampir semua daerahnya telah dialiri listrik. Bahkan tak jarang mereka menjadi para penyiar agama seperti Da i, karena telah begitu banyaknya mereka naik haji. Dou Mbojo yang dikenal sekarang, awalnya para pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitarnya seperti Makassar, Bugis, dengan mendiami daerah-daerah pesisir Bima. Mereka umumnya berbaur dengan masyarakat asli dan bahkan menikahi wanita-wanitanya. 394 Peta Dakwah MUI NTB

413 Terdorong oleh arus mobilitas penduduk yang cukup cepat, sekarang sebagian besar mereka telah membaur ke wilayah-wilayah pedalaman bersama masyarakat Bima lainnya. Orang Arab pun datang ke Bima sebagai pedagang dan mubaliqh. Awal kedatangan orang Arab umumnya sangat tertekan karena harus berhadapan dengan masyarakat Bima yang sudah cukup variatif. Mereka dianggap sebagai pendatang dari Arab, sebagai turunan Nabi. Akan tetapi, sekarang mereka telah diterima secara umum dan wajar, serta telah berbaur dengan masyarakat. Bahkan seiring dengan kuatnya pengaruh Islam melalui hadirnya Kesultanan Bima, termasuk orang Melayu, sering dianggap istimewa karena biasanya pada masa Kesultanan Bima mereka diangkat sebagai Da i dan pejabat adat di seluruh pelosok tanah Bima. Orang Cina tak ketinggalan memiliki peran di Bima, yang umumnya berprofesi sebagai pedagang. Dari segi jumlah, orang Cina memang tergolong kecil namun karena mereka sangat gigih dan ulet, peran mereka dalam perekonomian Bima sangat signiikan. 2. Variasi Masyarakat Berdasarkan Agama a) Kepercayaan Makakamba-Makakimbi Kepercayaan ini merupakan kepercayaan asli penduduk Dou Mbojo. Sebagai media penghubung manusia dengan alam lain dalam kepercayaan ini, diangkatlah seorang pemimpin yang dikenal dengan nama Ncuhi Ro Naka. Mereka percaya bahwa ada kekuatan yang mengatur segala kehidupan di alam ini, yang kemudian mereka sebut sebagai Marafu. Sebagai penguasa alam, Marafu dipercaya menguasai dan menduduki semua tempat seperti gunung, pohon rindang, batu besar, mata air, tempat-tempat dan barang-barang yang dianggap ghaib atau bahkan matahari. Karena itu, mereka sering meminta manfaat terhadap benda-benda atau tempat-tempat tersebut. Selain itu, mereka juga percaya bahwa arwah para leluhur yang telah meninggal terutama arwah orang-orang yang mereka hormati selama hidup seperti Ncuhi, masih memiliki peran dan menguasai kehidupan dan keseharian mereka. Mereka percaya, arwah-arwah tersebut tinggal bersama Marafu di tempat-tempat tertentu yang dianggap ghaib. Masyarakat asli juga memiliki tradisi melalui ritual untuk menghormati arwah leluhur, dengan mengadakan upacara pemujaan pada saat-saat tertentu. Upacara tersebut disertai persembahan sesajen dan korban hewan ternak yang dipimpin oleh Ncuhi. Tempat-tempat pemujaan tersebut biasa dikenal dengan nama Parafu Ra Pamboro. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 395

414 b) Agama Hindu Sampai saat ini belum ada ilmuwan/sejarawan yang mengetahui secara pasti kapan agama Hindu memasuki tanah Bima. Dari sekian petunjuk peninggalan sejarah yang berupa prasasti maupun berbentuk monumen seperti prasasti Wadu Pa a yang dipahat sang Bima saat mengembara ke arah timur pada sekitar pertengahan abad VIII, bekas candi di Ncandi Monggo, prasasti Wadu Tunti di Rasabou Donggo, kuburan kuno Padende dan Sanggu di pulau Sangiang, tidak meninggalkan informasi yang jelas tentang masuknya agama Hindu. Pengaruh agama Hindu dari Bali dan Lombok yang cukup besar tidak mampu menembus wilayah Bima, dan hanya bertahan di wilayah Dompu dan sebagian daerah Bolo. c) Agama Kristen Secara umum, Dou Mbojo tidak senang dengan kedatangan agama ini. Agama Kristen dianggap sebagai agama orang luar yang sangat berbeda dengan kenyataan hidup dan budaya mereka. Meskipun agama Kristen kurang mendapat angin segar dari Dou Mbojo, namun agama ini berhasil menyebar dan dianut oleh masyarakat pendatang lainnya seperti pendatang dari Timur, anggota polisi/tentara, serta pendatang dari Jawa dan Manado, yang awalnya mendiami daerahdaerah pesisir Bima dan kemudian sebagian kecil lagi memasuki daerah-daerah pedalaman. Akhir-akhir ini, tampaknya kegagalan sejarah tersebutlah yang kemudian memotivasi kembali kaum misionaris untuk melancarkan misinya ke daerah-daerah pelosok dan kepada masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan dan tergolong terbelakang, melalui apa yang dikenal dengan program Plan. Namun, lagi-lagi misi ini bukan tak ada hambatan, karena kemudian Majelis Ulama Indonesia NTB melarang keberadaan mereka dengan segala aktivitasnya. d) Agama Islam Ada dua alasan utama kenapa agama Islam dapat diterima di Bima. Pertama, jauh-jauh waktu sebelum diberlakukannya secara resmi sebagai agama kerajaan, masyarakat Bima sudah lebih dulu mengenal agama Islam melalui para penyiar agama dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari pedagang Gujarat dari India dan Arab di Sape pada tahun 1609 M, yang awalnya dianut oleh masyarakat pesisir. Kedua, peran yang penting adalah peralihan dari masa kerajaan kepada masa kesultanan yang kemudian secara resmi menjadikan agama Islam sebagai agama 396 Peta Dakwah MUI NTB

415 yang umum dianut oleh masyarakat Bima. Letak Bima yang strategis sangat mendukung sebagai jalur perdagangan antar daerah bahkan sebagai jalur transportasi perdagangan laut internasional, yang didukung dengan keberadaan pelabuhan Sape. Sebagai sultan pertama, diangkatlah Sultan Abdul Kahir pada tanggal 5 Juli 1620 M. Kehadiran sultan pertama ini memiliki pengaruh yang besar dan luas sehingga penyebaran agama Islam begitu cepat di seluruh pelosok tanah Bima, kecuali di daerah-daerah tertentu seperti di Donggo yang masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Selain Donggo, Wawo juga termasuk sebagian daerahnya masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Akan tetapi pada beberapa generasi berikutnya mereka mulai menerima Islam, karena makin sulitnya arus komunikasi terbatas internal yang mereka lakukan sesamanya serta makin meluasnya arus komunikasi masyarakat yang beragama Islam. Sekarang, bahkan di daerah-daerah yang dulu memegang kuat adat nenek moyang, hampir tidak dapat dibedakan antara Islam dengan budaya setempat. Dalam kehidupan yang demikian Islami tersebut, muncul satu ikrar setia pada Islam dalam bentuk ikrar yang berbunyi Mori ro made na Dou Mbojo ede kai hukum Islam-ku yang berarti Hidup dan matinya orang Bima harus dengan hukum Islam. Untuk menguatkan ikrar ini, bahkan sejak masa kesultanan telah dibentuk sebuah majelis yang dikenal dengan Hadat Tanah Bima, yang bertugas dan bertanggung jawab selain sebagai sarana penyiaran dan penyebaran Islam juga sebagai penentu segala kebijakan kesultanan yang berdasarkan Islam dan kitabnya. Penyebaran yang demikian pesat ini juga diiringi dengan berkembangnya berbagai pusat pendidikan dan pengajaran Islam, serta masjid-masjid selalu menghiasi di setiap desa dan kampung tanah Bima. Pusat-pusat pengajaran Islam tidak hanya berkembang melalui pesantren, bahkan berkembang dari rumah ke rumah, terbukti dengan menjamurnya tempat pengajian di rumah-rumah yang menggema dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di setiap sore dan malam hari. Pada masa kesultanan juga diperlakukan aturan yang bersendikan hukum Islam dengan mendirikan Badan Hukum Syara atau Mahkamah Tussara iyah, yang mengirim pemuda-pemuda Bima untuk belajar memperdalam kaidah dan pengetahuan Islam ke Mekkah, Mesir, Istamul dan Bagdad serta negara-negara Arab lainnya. Bahkan telah diusahakan tanah wakaf di Mekkah untuk menjamu jamaah calon haji Dou Mbojo yang selalu membanjir setiap tahunnya untuk menunaikan ibadah haji. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 397

416 Demikian dua model variasi masyarakat Bima yang kita lihat dan kenal sekarang. Meski demikian, pada perkembangan-perkembangan terakhir sebagaimana kenyataan yang dihadapi masyarakat Indonesia umumnya dengan semakin cepatnya arus modernisasi, kenyataan tersebut secara perlahan mengalami perubahan. Berbagai perubahan tersebut semakin memberi warna, baik putih maupun hitam, dalam beragam kehidupan dan keseharian masyarakat Bima. C. Moto Dan Lambang Daerah Kabupaten Bima Moto Kabupaten Bima adalah MAJA LABO DAHU. Secara haria, moto tersebut berarti malu dan takut. Moto ini mengandung maksud bahwa masyarakat Bima adalah masyarakat yang malu bila tidak berbuat baik, dan takut kepada Allah agar tidak berbuat jahat. Dengan demikian, moto ini, sebenarnya merupakan turunan dari konsep alhaya dan al-taqwa dalam Islam. Adapun lambang daerah Kabupaten Bima adalah sebagai berikut: D. Penduduk Dan Mata Pencaharian 1. Penduduk Kabupaten Bima Kabupaten Bima memiliki jumlah penduduk sebanyak jiwa yang terdiri dari (50,12%) jiwa berjenis kelamin laki-laki dan (49,88) berjenis kelamin perempuan yang tersebar di 18 kecamatan sebagaimana tertera pada tabel di bawah ini. 398 Peta Dakwah MUI NTB

417 No Tabel 6 Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Kecamatan Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Jumlah 1 Sape Woha Bolo Langgudu Lambu Monta Madapangga Wera Belo Palibelo Ambalawi Wawo Donggo Tambora Sanggar Parado Soromandi Lambitu Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Bima Tabel tersebut diatas menjelaskan bahwa, wilayah kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yakni Kecamatan Sape sejumlah Jiwa kemudian diikuti oleh Kecamatan Woha sejumlah Jiwa, sedangkan jumlah penduduk paling sedikit yaitu Kecamatan Lambitu sejumlah jiwa dan Soromandi sejumlah Jiwa. Adapun komposisi penduduk Kabupaten memiliki jumlah yang seimbang antara laki-laki dan perempuan yakni laki-laki sejumlah Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 399

418 Jiwa dan perempuan sejumlah Jiwa dengan demikian total jumlah penduduk kabupaten Bima sejumlah Jiwa. 2. Mata Pencaharian Mata pencaharian utamanya masyarakat suku Bima adalah bertani dan sempat menjadi segitiga emas pertanian bersama Makassar dan Ternate pada zaman kesultanan. Oleh karena itu, hubungan Bima dan Makassar sangatlah dekat, karena pada zaman kesultanan, kedua kerajaan ini saling menikahkan putra dan putri kerajaannya masing. Mereka juga berladang, berburu dan berternak kuda yang berukuran kecil tapi kuat. Orang menyebut kuda tersebut dengan kuda liar. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke pulau Jawa. Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakkan kuda yang penting. Mereka memiliki sistem irigasi yang disebut Ponggawa. Para wanita Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan tembe nggoli yang terkenal. 3. Ketenagakerjaan Berdasarkan umur, dari jumlah penduduk sebesar jiwa tersebut, penduduk berumur 15 tahun keatas menurut kegiatan utama terdiri dari angkatan kerja sebesar 66,67% sementara yang bukan angkatan kerja sebesar 33,33%. Dari jumlah yang masuk dalam kategori bukan angkatan kerja tersebut dalam hal ini usia sekolah sebesar 28,32%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia sekolah terutama pendidikan dasar relatif tinggi sehingga memerlukan penanganan yang lebih baik terutama terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar seperti ruang belajar dan penyesuaian ratio antara jumlah guru dengan siswa. Kondisi ketenagakerjaan di kabupaten Bima dapat dilihat dari hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SAKERNAS) 2011 yang dilakukan BPS, konsentrasi angkatan kerja yang bekerja terdapat pada sektor pertanian sebesar 60,18 persen, sedangkan sektor yang paling sedikit menampung tenaga kerja adalah sektor lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan sebesar 0,11 persen. Berdasarkan data badan pusat statistik kabupaten Bima, jumlah penduduk pencari kerja berdasarkan tingkat pendidikan mulai dari tingkat SD sebanyak 885 orang, SMP 684 orang, SMTA dan lainnya orang dan Perguruan Tinggi sebanyak orang. 400 Peta Dakwah MUI NTB

419 Data jumlah penduduk usia kerja yang cukup tinggi tersebut menunjukkan bahwa penduduk usia kerja yang potensial untuk bekerja cukup tinggi. Kondisi angkatan kerja selain dilihat berdasarkan kuantitasnya, dapat juga dilihat berdasarkan kualitasnya. Kualitas angkatan kerja antara lain dapat dilihat melalui tingkat pendidikan yang ditamatkannya. Investasi atau tambahan modal usaha merupakan kunci untuk meningkatkan hasil produksi dan menyerap tambahan tenaga kerja. Tanpa adanya investasi mustahil tambahan tenaga kerja dapat dilakukan dan produksi dapat ditingkatkan. Peningkatan kapasitas produksi akan mempengaruhi penyerapan terhadap tenaga kerja dan secara umum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun disayangkan Kabupaten Bima belum memiliki pabrik yang menampung tenaga kerja skala besar. Industri yang berkembang di kabupaten Bima mengalami perkembangan yang relatif terlambat dan umumnya masih berskala kecil dan menengah dengan penyerapan tenaga kerja rata-rata di bawah 100 orang. E. Pendidikan Salah satu cara meningkatkan mutu SDM guna mencapai tujuan pembangunan adalah dengan memperhatikan bidang pendidikan. Pendidikan sangat mutlak untuk menjadi prioritas utama dalam pembangunan. Jenis pendidikan yang terdapat di kabupaten Bima dan tersebar di tingkat kecamatan terdiri dari beberapa jenjang pendidikan, yakni mulai dari TPA/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA baik negeri maupun swasta dan perguruan tinggi dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini: Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 401

420 Tabel 7 Keadaan Taman Pendidikan Al-Qur an (TPQ) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Jumlah No Kecamatan Siswa Guru TPQ Lk Pr Jml Lk Pr Jml 1 Sape Ket 2 Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima 402 Peta Dakwah MUI NTB

421 No Tabel 8 Keadaan Madrasah Diniyah (MD) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan MD Siswa Jumlah Guru Lk Pr Jml Lk Pr Jml 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 403

422 No Kecamatan Tabel 9 Keadaan Raudlatul Atfal (RA) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Jumlah Lembaga Murid Kls A Murid Kls B Guru N S L P L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket. 404 Peta Dakwah MUI NTB

423 No Tabel 10 Keadaan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 405

424 No Kecamatan Tabel 11 Keadaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket 406 Peta Dakwah MUI NTB

425 No Tabel 12 Keadaan Madrasah Aliyah (MA) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 407

426 No Kecamatan Tabel 13 Keadaan Sekolah Dasar (SD) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket 408 Peta Dakwah MUI NTB

427 No Tabel 14 Keadaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 409

428 No Tabel 15 Keadaan Sekolah Menengah Atas (SMA) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket 410 Peta Dakwah MUI NTB

429 No Tabel 16 Keadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru N S L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo -= Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 411

430 Tabel 17 Keadaan Pondok Pesantren per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Jumlah No Kecamatan Lembaga Siswa Guru Ponpes L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket 412 Peta Dakwah MUI NTB

431 No Tabel 18 Keadaan Pondok Pesantren Salaiyah per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2012 Kecamatan Jumlah Lembaga Siswa Guru Ula L P L P 1 Sape Lambu Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 9 Belo Palibelo Bolo Donggo Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima Ket Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 413

432 Tabel 19 Keadaan Perguruan Tinggi di Kabupaten Bima Tahun 2012 No Nama PT Nama Penyelenggara 1 STKIP Taman Siswa Yayasan Taman Siswa Status Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima N S V Lokasi di Kec. Woha Ket F. Agama Dan Kepercayaan 1. Kepercayaan Masa Lalu Kepercayaan orang Bima tidak jauh beda dengan kepercayaan orang Indonesia umumnya, yaitu percaya pada roh, nenek moyang dan benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib. Roh roh nenek moyang di zaman awal orang Bima disebut Marafu dan ditempat kediamannya di sebut Parafu, generasi setelahnya di sebut Waro. Manafu dan Parafu tinggal di batu-batu besar dan di gununggunung sedang roh orang biasa berada di sekitar kuburannya. Orang Bima juga percaya pada kekuatan ghaib yang berada pada binatang-binatang yang dalam ilmu kebudayaan disebut totenisme. 2. Agama-Agama dan Lintasan Perubahan a. Jenis dan Pemeluk Agama Mayoritas agama yang dianut oleh masyarakat kabupaten Bima adalah agama Islam. Walaupun mayoritasnya muslim tidak menutup kemungkinan untuk berkembangnya agama lain. Agama yang bekembang di kabupaten Bima sebanyak 5 agama, yaitu Islam, Kristen, Protestan, dan Hindu. Berdasarkan hasil identiikasi terhadap pemetaan terhadap masyarakat agama Budha tidak ditemukan. Adapun penyebarannya di tiap kecamatan di kabupaten Bima sebagai berikut: 414 Peta Dakwah MUI NTB

433 No Kecamatan Tabel 20 Keadaan Pemeluk Agama per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2014 Islam Pemeluk Protestan Katolik Hindu Budha Ket. 1 Monta Parado Bolo Madapangga Woha Belo Palibelo Wawo Langgudu Lambitu Sape Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi Sanggar Tambora Bima Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bima Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kabupaten Bima memeluk agama Islam yaitu sekitar 99,9% dan selebihnya memeluk agama Kristen Protestan sebanyak 0,03%, Kristen Katolik Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 415

434 sebanyak 0,01%, Hindu sebanyak 0,06%, sedangkan untuk agama Budha sebanyak 0,001%. Mayoritas dalam jumlah pemeluk Islam di Bima dibarengi pula dengan semangat menjalankan ajaran agama Islam itu sendiri. Salah satu indikatornya adalah tingginya semangat umat Islam di Bima untuk menunaikan ibadah haji, sebuah ibadah yang menuntut kesiapan isik dan mental yang prima, serta inansial yang besar. Hal tersebut tergambar dalam tabel di bawah ini. Tabel 21 Jumlah Jemaah Haji yang Berangkat Dirinci per Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bima Tahun 2014 No Kecamatan Pria Haji Wanita Jumlah 1 Monta Parado Bolo Madapangga Woha Belo Palibelo Wawo Langgudu Lambitu Sape Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi Sanggar Peta Dakwah MUI NTB

435 No Kecamatan Pria Haji Wanita Jumlah 18 Tambora Jumlah Sumber : Kantor Departemen Agama Kabupaten Bima b. Jumlah tempat peribadatan Sarana peribadatan di kabupaten Bima terdiri dari masjid sebanyak 432 unit, Langgar sebanyak 131 unit, musholla sebanyak 329, dan gereja sebanyak 3, untuk tempat peribadatan agama lain selain Islam dan Kristen datanya tidak dapat ditemukan. Adapun perinciannya adalah sebagaimana tampak pada tabel berikut: Tabel 22 Jumlah Tempat Peribadatan per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2015 Tempat Peribadatan(Unit) No Kecamatan Masjid Mushola Gereja Protestan Gereja Katolik Pura Wihara 1 Monta Parado Bolo Madapangga Woha Belo Palibelo Wawo Langgudu Lambitu Sape Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 417

436 Tempat Peribadatan(Unit) No Kecamatan Masjid Mushola Gereja Protestan Gereja Katolik Pura Wihara 12 Lambu Wera Ambalawi Donggo Soromandi Sanggar Tambora Jumlah Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bima c. Petugas Agama Sebaran petugas agama terdiri dari lebe na e, cepe lebe dan da i di tiap kecamatan di kabupaten Bima dapat dilihat pada tabel di bawah ini. No Tabel 23 Jumlah Petugas/ Penyuluh Agama per Kecamatan di Kabupaten Bima Tahun 2015 Kecamatan Petugas Agama Lebe Na e Cepelebe Dai/Peny. Agama 1 Sape Lambu /9 3 Wawo Lambitu Langgudu Monta Parado 8 Woha 418 Peta Dakwah MUI NTB

437 No Kecamatan Petugas Agama Lebe Na e Cepelebe Dai/Peny. Agama 9 Belo Palibelo Bolo Donggo 13 Soromandi Wera Ambalawi Madapangga Sanggar Tambora Jumlah /9 3. Upacara Keagamaan Masyarakat Bima Dalam setiap upacara keagamaan masyarakat Bima sarat dengan nuansa keagamaan. Dalam masyarakat Bima upacara keagamaan banyak macamnya seperti upacara perkawinan, kelahiran, sunatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Dalam kesempatan ini penulis akan mencoba mengupas beberapa upacara keagamaan masyarakat Bima. a. Upacara Pra Kelahiran Dalam menghadapi pra kelahiran ada yang namanya upacara ngganta. Dalam bahasa Mbojo (Bima) ngganta artinya mulai ngidam atau hamil muda. Sedangkan wa a adalah pembawaan seseorang apabila sedang mengandung seperti: 1) Raho ro uri Raho berarti meminta sesuatu dan uri adalah memesan khusus,raho ro uri adalah sebuah kata kiasan yang mempunyai makna keinginan maupun naluri seseorang pada saat hamil. Misalnya:Mengginginkan makanan tertentu seperti asam-asaman,hati kijang,buah dan ikan, menyenangi pakaian seperti warna merah,hijau,kuning,biru maupun kombinasi warna atau corak kembang.kepinggin akan wangi-wangian atau kembang seperti bunga melati,anggrek,mawar,dahlia,cempaka dan lain-lain Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 419

438 Apabila raho ro uri seseorang yang sedang mengandung atau hamil tidak terpenuhi anaknya nanti setelah melahirkan pada masa bayi akan mengalami kajoro oi fela (ngiler). 2) Kiri Loko Apabila kehamilan telah mencapai 7 bulan, akan diadakan upacara sederhana yang disebut kiri loko (nuju bulan). Artinya memperbaiki letaknya bayi dalam kandungan,semula kepala nya keatas setelah tujuh bulan mulai menghadap kebawah mendekati mulut rahim ibunya. Pada saat upacara kiri loko berkumpul famili dari pihak isteri dan suami dengan mengadakan kegiatan diantaranya: a) Menyediakan makanan khusus mangonco (rujak) b) Pembacaan Al Qur an surat Yusuf dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat. c) Wai Sando (dukun bayi) memeriksa dan memperbaiki letaknya bayi dalam kandungan ibunya. Dalam upacara kiri loko dilarang memotong hewan,menurut kepercayaan mereka wati pehe dianggap tabu,apabila menumpahkan darah,nantinya berakibat fatal bagi ibunya pada waktu melahirkan akan terjadi pendarahan. 3) Wari ro Sai Wari ro sai berarti sesuatu pekerjaan/perbuatan bapaknya si cabang bayinya,dengan selalu mengucapkan aina wari ro sai anu nahu artinya memohon kepada yang kuasa,agar anaknya nanti tidak lahir dengan cacat sebagai akibat dari segala perbuatan bapaknya.. Sepanjang hari, bagi sang suami kalau isterinya sedang hamil, selalu berbuat hati-hatiatau selalu mengucapkan aina wari ro sai (amit-amit cabang bayi sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, apabila lupa takut akan mengakibatkan anaknya lahir dalam keadaan cacat. Dari kata wari ro sai dapat disimpulkan; setiap memulai sesuatu pekerjaan sang ayah selalu ingat pada Ynag Maha Pencipta dan keselamatan keluarganya. Tidak boleh sombong,takabur dan lupa diri. Dan selalu melakukan pekerjaan dengan tulus hati,penuh keikhlasan demi keluarganya dan masyarakat. b. Ngana Ro Nggina 420 Peta Dakwah MUI NTB

439 Nggana berarti melahirkan, sedangkan nggina adalah proses sesudah kelahiran, ada beberapa hal yang berhubungan dengan nggana ronggina dalam tradisi masyarakat Mbojo : 1) Tosi Woke Yaitu pemotongan tali pusaryang dilakukan setelah bayi yang baru lahir setelah di,mandikan dengan pemotongan tali pusar menggunakan alat sederhana yang diambil dari geri o o (sembilu bambu) yang sudah disterilkan dengan huni ro afu (kunyit dan kapur sirih). Setelah pemotongan tali pusar untuk memisahkan bayi dengan ariarinya, proses selanjutnya membersihkan ari-arinya lalu menguburkan di kolong rumah tinggal atau ada pula yang memasukkan dalam periuk tanah yang baru, setelah ari-arinya dicampur dengan abu dapur disimpan di atas pohon 2) Baka Bayi yang sudah terpisah dengan ari-arinya digendong oleh wai sandonya (dukun anak) untuk melakukan baka sebagai berikut : a) Memukul lantai dengan tumitnya 3 kali b) Memukul besi dengan besi 3 kali c) Memukul batu dengan batu 3 kali d) Dengan memukul baka bertanda : e) Mengingatkan bayi akan dunia barunya di luar kandungan atau alam semesta f ) Memberikan kebiasaan kepada bayi agar tidak kaget dengan bunyi-bunyian di sekitarnya 3) Azan dan Iqamah Setelah sang ayah menerima bayinya wai sando, mulai melakukan azan dan iqamah menurut syari at Islam pada telinga kanannya dilakukan adzan dan di telinga kirinya dilakukan iqamah. 4) Wa a di Oi Setelah kering, potongan tali pusarnya dan lepas dari badan bayi, bayi tidak boleh memandikan lagi di rumah saatnya wa a di oi (turun mandi) ke sungai atau ke sumber mata air di luar rumah. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 421

440 Dalam perjalanan bayi selalu digendong oleh wai sando dengan memakai kain gendongan yang dibuat dari kain putih (weri), setelah diberi warna kuning dari kunyit agar steril. Perlengkapan lain yang diperlukan adalah sebuah pisau khusus yang mempunyai mata bercabang-cabang disebut piso tawoa. Pada tiap-tiap mata pisau ditusuki dengan tawoa, huni, soku, ro ncuna (bangle, kunyit, kencur, dan bawang putih). Pisaunya juga telah dicoret-coret dengan kapur sirih dan kunyit menjadi belang-belang merah dan putih. Pisau untuk bayi ini melambangkan bahwa kehidupan mulai dari bayi hingga dewasa ramu-ramuan itulah yang berfungsi sebagai obat tradisional, dan sebilah pisau sebagai salah satu alat terpenting dalam kehidupannya sehari-hari. 5) Cai Sari Apabila telah kembali dari wa a di oi, wai sando melakukan cai sari, yaitu membersihkan tempat bekas melahirkan maupun alat-alat yang dipakai waktu melahirkan. 6) Doro ro Tangara Upacara doro ro tangara artinya melakukan aqiqah dengan memberikan nama kepada bayi setelah berumur 7 hari. 4. Konlik sosial Konlik di kabupaten Bima bisa mempengaruhi industri pariwisata di daerah ini yang sedang mengalami pertumbuhan positif. Konlik pertambangan di kabupaten Bima yang terjadi pada akhir Desember 2011 lalu, menjadi kekhawatiran para pelaku pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) karena bisa berdampak terhadap tingkat kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Menurut Dewan Penasihat Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, H Lalu Fatwir Uzali seperti yang dikutip dari antaranews.com menilai sektor pariwisata rentan dengan persoalan keamanan daerah. Namun, sejauh ini konlik di kabupaten Bima yang memicu aksi pembakaran kantor bupati serta gedung KPU Bima belum berdampak serius terhadap angka kunjungan wisatawan. Para pelaku pariwisata di NTB berharap konlik tersebut dijadikan salah satu dinamika demokrasi yang harus diselesaikan secara bersamasama oleh semua elemen. Meski belum berpengaruh signiikan terhadap pertumbuhan pariwisata, ujarnya. 422 Peta Dakwah MUI NTB

441 Dikatakan, saya mengajak para pelaku pariwisata untuk memperkuat komitmen memajukan dunia pariwisata guna mewujudkan angka satu juta wisatawan melalui program Visit Lombok-Sumbawa Komitmen bersama itu dapat diimplementasikan dalam bentuk pelayanan dan informasi wisata yang maksimal. Para wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri cenderung memilih negara tujuan wisata yang tingkat keamanannya cukup bagus. Oleh sebab itu, saya mengimbau seluruh komponen masyakarat untuk menyelesasikan berbagai persoalan secara damai tanpa ada tindakan anarki, katanya. Ditambahkannya, berbagai tindakan anarki dalam menyampaikan aspirasi berdampak luas terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Kalau dunia pariwisata NTB hancur karena konlik maka yang akan kena dampak buruknya adalah rakyat yang menggantungkan hidup pada sektor itu. G. Sistem Organisasi Sosial Dulu Dan Sekarang 1. Jaman Ncuhi Menurut sejarah, Wawo adalah nama sebuah kampung, asal dari penduduk Maria di kabupaten Kolaka propinsi Sulawesi Tenggara. Akibat dari seringnya terjadi permusuhan dengan suku Tolaki yang mayoritas di daerah tersebut, masyarakat Wawo bertekad mencari daerah yang baru. Mereka memakai beberapa buah perahu layar menuju pulau Sumbawa bagian timur yaitu Dana Mbojo. Mereka keluar melalui pesisir pantai Pai. Di Pai mereka tidak bertahan lama dikarenakan adanya kekuarangan air pada musim kemarau. Daerah pemukiman yang dituju kemudian adalah daerah di bagian barat desa Pai, yang terletak di sebelah timur kaki Gunung Maria, yaitu Wosu dan Ndaru. Di kampung dan Ndari itulah mereka tinggal berpuluhan dengan dipimpin oleh seorang yang bernama Rato Ara. Rato Ara adalah seorang pemimpin agama. Selain itu, Rato Ara berasal dari keturunan Raja atau Ruma Ma Wa a Bilmana. Rato Ara memiliki empat orang anak yaitu: La Rangga, La Kakapi, La Maria, dan La Goa. Setelah Rato Ara meninggal dan dimakamkan di sebelah selatan gunung Maria (Doro Diha), namanya sekarang Kuburan Rato Ara. Maka keempat anaknya sepakat untuk membagi wilayah kekuasaan. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 423

442 La Maria (Ncuhi Maria) mendapatkan wilayah di bagian sebelah barat Gunung Maria. La Kakapi di bagian sebelah selatan Gunung Maria. La Rangga di sebelah Utara Gunung Maria. Dan La Goa di bagian timur Gunung Maria. Setelah adanya pembagian wilayah kekuasaan ini, maka Ncuhi Maria dan pengikutnya menuju ke bagian barat Gunung Maria. Selain Ncuhi sebagai pemimpin suatu kelompok masyarakat pada saat itu, terdapat pula satu jabatan yang disebut ketua adat. Ketua adat adalah seorang pemimpin di bawah ncuhi. Tugas ketua adat adalah mempertegas hukum adat yang diberikan ncuhi. Karena pada masa Ncuhi masyarakat suka tinggal di atas puncak-puncak bukit dengan cara berkelompok kecil yang dipimpin oleh seorang ketua adat. Pada dasarkan kepemimpinan Ncuhi datang dari bawah. Dengan pengakuan masyarakat di tempat ia tinggal maka ia dinobatkan sebagai pimpinan (Ncuhi). Adanya kemampuan masyarakat terjadi karena dia memiliki kemampuan yang melebihi orang lain. Ncuhi Maria dikenal sebagai seorang yang sakti dan bisa membuat alat senjata tajam dari besi berpamong (Wari). Sedangkan Ncuhi Ntori memiliki kemampuan dengan mengandalkan kekuatan dalam. Karena itu, masyarakat yang telah dipimpin oleh Ncuhi Ntori, mewarisi permainan Ntumbu (adu kepala ). Sedangkan masyarakat yang telah dipimpin oleh Ncuhi Maria mewarisi permainan Manca dan Buja Ka Danda (tombak). 2. Jaman Gelarang Jabatan Gelarang merupakan suatu jabatan pengganti nama jabatan Ncuhi, yang diambil dari nama jabatan di Goa. Munculnya jabatan Gelarang terjadi pada saat Sultan Abdul Khair Sirajudin putera dari Sultan Bima Abdul Kahir. Pada saat itu, Sultan Abdul Kahair pergi meminang (Kadale Paduka) puteri Raja Goa III bernama Karaeng Bonto Jene. Sultan Goa mempersiapkan 7 orang puteri termasuk Karaeng Bonto Jene untuk dipilih sebagai calon isteri. Apabila yang dipilih salah atau bukan puteri dari Sultan Goa, maka perkawinan dibatalkan. Salah seorang yang bernama Yunus masyarakat Wawo/Maria di Bima berhasil membantu menunjukkan kepada Sultan Abdul Kahir yang mana puteri Karaeng Bonto Jene, sehingga pernikahan dapat dilaksanakan. Untuk jasanya Yunus memperoleh penghargaan sebagai Gelarang Mangasa (Gelarang Maria) yang merupakan Gelarang pertama di Bima. 424 Peta Dakwah MUI NTB

443 Sekembali dari Makasar, sultan melantik 4 gelarang yaitu, Gelarang Maria, Gelarang Bolo, Gelarang Belo, dan Gelarang sape, yang terjadi pada tahun 1646 M. Pada tahun 1648 M baru dilakukan pelantikan gelarang yang lain sebagai pengganti Ncuhi. Pada saat pelantikan Gelarang-gelarang yang lain, keempat Gelarang yang pertama kali dilantik diberi gelar Gelarang Na e (Gelarang Ompu) Pada saat ini jabatan gelarang digantikan dengan jabatan kepala desa (Lurah). Pergantian nama jabatan Gelarang menjadi Kepala Desa terjadi pada tahun Jaman Pemerintahan Kepala Desa Perubahan status pemerintahan Desa sebagai berikut : a. Dari tahun 1200-an Masehi s/d tahun 1646 pemerintahan Ncuhi. b. Dari tahun 1646 sampai dengan tahun 1975 masa Pemeintahan Gelarang. c. Dari tahun 1958 sampai dengan sekarang masa pemerintahan kepala desa, dengan susunan perangkatnya sebagai berikut : Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala urusan Pemerintahan, Kepala urusan Keuangan, Kepala urusan Ekonomi, Kepala urusan Kesejahteraan Sosial, Kepala urusan Umum Dalam melaksanakan pemerintahan di desa seorang Kepala Desa dibantu oleh: a. Kepala Dusun di tingkat lingkungan dengan memebawahi beberapa Ketua RT dan RW b. Di tingkat RT dipegang oleh Ketua RT yang membawahi 20 sampai dengan 30 Kepala Keluarga Selain Kepala Dusun, Ketua RW dan RT, Kepala Desa didampingi oleh organisasi Lembaga Kemasyarakatan yang disebut : Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Kemudian dibentuk pula Lembaga Musyawarah Desa (LMD) sebagai Lembaga Legislatif di Desa. Oleh karena itu maka fungsi LKMD sebagai Lembaga yang membantu tugas Kepala Desa, agar semua program yang dilaksanakan di Desa dapat berjalan sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan bersama. Sedangkan Lembaga Musyawaah Desa (LMD) berfungsi sebagai untuk memutuskan segala program Desa dan mengevaluasi Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 425

444 hasil kerja Kepala Desa dalam jangka waktu setahun maupun dalam jangka waktu lima tahun yang telah berjalan. 4. Sistem Pemerintahan Kecamatan a. Sistem ONDO; Pada tahun 1911 pemerintahan di tingkat Kecamatan disebut ONDO. Kata ONDO sama dengan Onder Distrik. Pangkat/jabatan ONDO diangkat dan diberhentikan oleh raja. b. System Hoof Gelarang c. System Jeneli d. Pada tahun 1927 sampai dengan tahun 1968 Kepala Pemerintahan di tingkat Kecamatan bernama Jeneli, sedangkan Wakilnya bernama Ajun Jeneli. e. Sistem Kecamatan; Organisasi pemerintahan berdasarkan wilayah kecamatan dimulai pada tahun 1969 sampai dengan sekarang, yaitu sejak orde baru berjalan. Kepala wilayah Kecamatan dipimpin oleh seorang dengan jabatannya disebut Camat, sedangkan kepala Kantor Wilayah Kecamatan dipimpin oleg seorang sekretaris wilayah Kecamatan yang disingkat dengan kata Cekwilcam. Celwilcam membawahi beberapa kepala urusan seperti : Kepala urusan Pemerintahan, Kepala urusan Kesejahteraan Sosial, kepala urusan keuangan, kepala urusan administrasi (tata Usaha) kepala urusan umum. 426 Peta Dakwah MUI NTB

445 bab 11 KOta bima A. Letak Dan Keadaan Kota Bima 1. Proil Kota Bima Kota Bima yang terbentuk berdasarkan UU Republik Indonesia no. 13 th 2002, merupakan daerah otonom baru sebagai salah satu bagian wilayah Provinsi NTB yang secara geograis terletak di bagian timur Pulau Sumbawa. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, sebelah timur berbatsan dengan Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Bima. Luas wilayah kota Bima adalah km terdiri dari 8,52% yang diantaranya (18,96 km) merupakan lahan sawah dan sisanya 91,47% / 203,29 km merupakan lahan penduduk. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 427

446 Secara administratif wilayah kota Bima sebelum dilakukan pemekaran wilayah, terbagi dalam 3 wilayah kecamatan yaitu Rasanae Barat, Rasanae Timur dan kecamatan Asakota dengan jumlah kelurahan sebanyak 25 kelurahan, setelah dilakukan pemekaran wilayah Kota Bima terbagi dalam 5 wilayah kecamatan yaitu : a. Kecamatan Asakota b. Kecamatan Rasanae Barat c. Kecamatan Mpunda d. Kecamatan Rasanae Timur e. Kecamatan Raba 2. Keadaan Alam Kota Bima beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 132,58 mm. hujan turun di kota Bima rata-rata hari/bulan. Kota Bima memiliki temperatus dengan kisaran 19.5 C sampai 30.8 C. matahari bersinar terik dengan rata-rata intensitas penyinaran tertinggi pada bulan oktober. Wilayah kota Bima sebagian besar terdiri atas daratan yang tanahnya berada pada kemiringan 8-2 % yaitu kurang lebih 80,77% dari luas wilayah. sedangkan kemiringan tanah antara 2-50% mempunyai luas terkecil yaitu kurang lebih 0,91% dari luas wilayah. B. Sejarah Masyarakat Oleh Zainuddin (kandidat magister ilmu politik UGM Yogyakarta asal Ncera) mengemukakan sebagai berikut : 1. Asal-Usul Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima maka tak heran agamapun cukup beragam meskipun 97% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. 2. Variasi masyarakat Bima berdasarkan etnis dan budaya. Secara etnis masyarakat Bima terdiri dari dua kelompok, yaitu: a. Orang Donggo (Dou Donggo) 428 Peta Dakwah MUI NTB

447 Orang Donggo dikenal sebagai penduduk asli yang menghuni tanah Bima sejak lama. Mereka sebagian besar menempati wilayah pegunungan. Karena letaknya yang secara geograis di atas ketinggian rata-rata tanah bima, orang Donggo (dou Donggo, dalam bahasa Bima) kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalani masyarakat Bima saat ini. Masyarakat Donggo mendiami sebagian besar wilayah Kecamatan Donggo sekarang yang dikenal dengan nama Dou Donggo Di, sebagaian lagi mendiami Kecamatan Wawo Tengah (Wawo Pengunungan) seperti di Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu (Dou Donggo Ele). Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunugan. Salah satu alasan mereka mengapa umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatangpendatang baru yang berbudaya dan beragama lain dari mereka. Sedangkan, di Kota Bima sendiri sekarang ini sepertinya suku asli tidak signiikan keberadaannya, jadi domisili mereka pada wilayah Kabupaten Bima, kecuali orang-orang Donggo terpelajar yang menjadi pegawai, dosen, polisi, dan ABRI mereka berada di Kota Bima. b. Orang Bima (Dou mbojo) Dou Mbojo yang dikenal sekarang awalnya merupakan para pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitarnya seperti Makassar, Bugis, dengan mendiami daerah-daerah pesisir Bima. Mereka umumnya berbaur dengan masyarakat asli dan bahkan menikahi wanita-wanitanya. Para pendatang ini datang pada sekitar abad XIV, baik yang datang karena faktor ekonomi seperti berdagang maupun untuk menyiarkan agama sebagai mubalig. Umumnya, mereka memiliki sifat ulet, mudah menyesuaikan diri bahkan, cendrung kasar namun hatinya baik. Pendatang dari Arab dan Melayu pun mendiami Kota Bima. Orangorang Melayu umumnya dari Minangkabau dan daerah daerah lain di Sumatra, baik sebagai padagang maupun sebagai mubalig. Jumlah mereka termasuk minoritas yang pada awalnya mendiami daerah pesisir Bima, kampong Melayu, dan Benteng. Orang-orang Arab pun datang ke Bima, baik sebagai pedagang maupun sebagai Mubalig. Sama dengan orang-orang Melayu mereka mendiami kampong Melayu dari Benteng. Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 429

448 Pendatang lainnya dari jauh seperti Madura, Ambon, Flores, Timor Timor, Banjar, Bali, Lombok. Yang kemudian, membaur dan menikahi gadis-gadis Bima dan pendatang lainnya. Orang Cina tidak ketinggalan memiliki peran di Bima, mereka umumnya sebagai pedagang. Dari segi jumlah orang Cina tergolong kecil namun karena mereka sangat gigih, peran mereka dalam bidang ekonomi sangat signiikan. 3. Pengaruh Budaya Luar (Hindu Budha) Pengaruh Hindu/Budha dalam membangun keagamaan di Bima tidak begitu signiikan. Sedikitnya jejak masuk agama hindu di Bima dapat dilihat pada prasasti Wadu Paa di Kecamatan Soromandi, bekas candi di Ncandi Monggo Kecamatan Bolo, Songgu di Pulau Sangiang Kecamatan Wera, Wadu Tunti Rasabou dan kuburan kuno padende Kecamatan Jonggo. Semuanya berada di Kabupaten bima sedangkan di Kota Bima tidak ada tanda-tanda pengaruh Agama Hindu/Budha. Begitu pula Agama Kristen, yang hanya memiliki sedikit penganut yang berada di tiga desa yaitu di Kecamatan Donggo Desa Mbawa, Desa Tolonggeru dan Desa Nggerukopa dengan jumlah ribu orang. Penganut Agama Kristen hanya sebatas pendatang dan perantau yaitu dari Nusa Tenggara Timur, Jawa, dan Manado. 4. Masuknya Islam di Kota Bima E. Utrech dalam bukunya Sejarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok menulis menurut Babat Tanah Lombok, maka pengislaman Pulau Lombok terjadi dibawah pemerintahan Sunan Prapen, putera keturunan Ratu Giri yang pernah menaklukan kerajaan-kerajaan Sumbawa dan Bima Mungkin bersumber dari Babat Tanah Lombok tersebut atau ada sumber lain, komentar H. Abdullah Tajib BA penulis buku Sejarah Bima Dana Mbojo, sehingga Zolinger berkesimpulan bahwa Agama Islam masuk di Kerajaan Bima sejak tahum 1450 atau 1540 M. Dari keterangan diatas kata H. Abdullah Tajib BA, dapat diketahui bahwa Agama Islam masuk di Kerajaan Bima pada abad XV atau XVI M, hampir bersamaan dengan penyiaran Agama Islam di Jawa. 47 Seorang pemerhati sejarah dan budaya Bima, Mawardin Sidik menguatkan pendapat atatu kesimpulan H. Abdullah Tajuk diatas 47 Abdullah Tajib, Sejarah Bima dana Mbojo, Penerbit PT Harapan Masa PGRI, hal Peta Dakwah MUI NTB

449 dengan mengatakan sekitar awal abad XVI kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir dididik dalam agama Islam oleh dua orang mubalig dari Sumatra yaitu Datuk ri Bandang dan Datuk Ri Tiro. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan kerajaan Gowa di Sulawesi yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya ajaran Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi Gelarang (Kepala Desa). Sturuktur pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri dari unsur Hadat, unsur syara dan Majelis Hukum yang mengembang tugas pelaksanaan hukum Islam. 48 Sekarang, di kota Bima telah berdiri beberapa Pondok Pesantren yaitu : a. Ponpes Al Husaini asuhan Drs. K,H Ramli Ahmad b. Ponpes Al-Ikhwaruddin di Salama dipimpin Drs. K.H Zainul Ariin M.Si (mantai Bupati Bima) c. Ponpes Darul Hikmah yang diasuh oleh K.H Abdurrrahman Haris di Soncolela Kota Bima (ketua MUI Kabupaten Bima) d. Pondok Pesantren Imam Syai i di Kedo khusus untuk anak yatim dan fakir miskin dengan biaya gratis dipimpin oleh ustad Fu ad e. Pondok Pesantren Khalid Bin Walid di sekitar wilayah asa Kota Bima (milik PERSIS) 48 Dikutip dari tulisan Mawardin Sidik dengan judul Agama Bima, beliau adalah pemerhati sejarah dan Budaya Bima Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 431

450 C. Motto Sebagai Simbol Dan Warna Lambang Daerah Kota Bima 1). Perisai : 2). Bintang bersudut lima 3). Kubah : 4). Rantai : 5). Rangkaian padi dan kapas serta dalam ikatan yang tidak putus : : : Bentuk dasar prisai berwarna hijau daun yang sederhana serta memiliki keseimbangan memberi kesan kemudahan pelayanan kepada masyarakat mencerminkan masyarakat Kota Bima. Sebagai lambang sila ketuhanan yang Maha Esa Melambang kehidupan masyarakat Kota Bima yang senantiasa beriman dan bertakwa kepadatuhan yang Maha Esa. Rantai dalam ikatan bersambung melambangkan keanekaragaman masyarakat Kota Bima yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Melambangkan keadilan sosial, kesejahteraan, kedamaian serta persatuan dan kesatuandalam wadah kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 yang bergambarkan dari 17 rantai yang saling terkait dengan 8 buah kapas dan 45 butir padi. 432 Peta Dakwah MUI NTB

451 6). Tulisan Kota Bima diatas kubah : Memberi makna bahwa Kota Bima memiliki pemerintahan yang otonom. 7). 8). Gambar kepala burung garuda yang menghadap dua sisi Persegi delapan (ngusu waru) mencerminkan sifat ilosoi kepemimpinan dana Mbojo : Mencerminkan masyarakat Kota Bima yang mengandung system sosial adat yang bersendikan syara, syara bersendikan Kitabullah. Iman ro taqwa = keimanan dan ketaqwaan Ilmu ro bae ade = ilmu pengetahuan Loa ro tingi = keahlian dan ketrampilan Londo ro dou = asal usul keturunan Mori ro woko = keadaan dan tata kehidupan Ruku ro rawi = tingkah lakunya Nggahi roe li = tutur katanya Hidi ro toho = isik dan mentalnya D. Penduduk Dan Mata Pencaharian 1. Penduduk Kota Bima NO Kecamatan Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Jumlah 1 Rasanae Barat Mpanda Rasanae Timur Asakota Raba Jumlah Sumber: BPS Kota Bima, hasil sensus Tahun 2010 Hasil sensus 2014, jumlah penduduk Kota Bima menjadi orang dengan penduduk yang beragama Islam sebanyak 97,38%. 2. Peluang dan Potensi Mata Pencaharian Masyarakat Kota Bima mempunyai potensi sumberdaya alam yang didukung oleh kondisi lahan dan iklim yang cocok untuk perkembangan pertanian. Potensi-potensi yang ada tersebut mendukung program-program yang Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 433

452 dikembangkan disektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan guna menciptakan ternuhinya kebutuhan pangan bagi masyarakat. Komoditas utama tanaman pangan Kota Bima adalah padi, jagung dan kedelai. Kota Bima juga memiliki potensi di sektor kehutanan. Meskipun saat ini kondisi kawasan hutan sebagian bearada pada kondisi kritis. Keberadaan hutan memegang peranan penting dalam menjaga ekosistem. Disamping sebagai penyangga kehidupan letaknya yang berada dipinggiran teluk bima menjadikan Kota Bima juga memiliki potensi di sektor perikanan.produksi perikanan budidaya pada tahun 2008 mencapai 553,10 ton yang terdiri dari budidaya tambak 508,50 ton kolam atau keramba 43 ton. Produksi perikanan yang berasal dari penagkapan laut ton dan perairan umum 11,60 ton. Selain produksi ikan, produksi lainnya adalah rumput laut dengan luas 5 ha dengan hasil rumput laut basah 38,40 ton. Di bidang perhubungan dan transportasi, Kota Bima memiliki posisi yang stategis dalam pergerakan manusia dan barang baik yang berskala regional maupun nasional. Transportasi darat dengan angkutan bus melayani rute antar kota dalam propinsi dan antar propinsi dengan tujuan kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Surabaya, Semarang dan Jakarta. Untuk pelayanan transportasi laut terdapat pelabuhan bima yang dikelola oleh PT Pelindo III Cab. Bima dengan rute pelayaran antar pulau seperti Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam kegiatan perekonomian. Industri yang ada di Kota Bima merupakan industry kecil dengan jumlah unit usaha sebanyak 468 unit dan menyerap tenaga kerja orang. Dari peluang dan potensi yang dipaparkan diatas yang paling berpeluang untuk dikembangkan ke depan adalah sector industry dan jasa. Karena posisi startegis Kota Bima telah lama dijadikan kota transit bagi kaum pendatang dari tiga titik, yaitu Bali, dan Lombok sebelah barat, NTT sebelah timur dan Sulawesi Utara. (diadopsi dari buku Proil daerah Kota Bima oleh Bappeda Kota Bima tahun 2008). Komposisi penduduk Kota Bima berdasarkan mata pencaharian didominasi oleh petani/peternak dan jasa/pedagang/pemerintahan yang besarnya masing-masing 45,84% dan 45,05%. Jenis pekerjaan yang digeluti penduduk Kota Bima berdasarkan hasil sensus tahun 2010 adalah sebagai berikut: 434 Peta Dakwah MUI NTB

453 NO Jenis Pekerjaan Jumlah (jiwa) 1 Petani Nelayan Peternak Penggalian Industri kecil Industri besar/sedang 76 7 Perdagangan ABRI Guru PNS E. Pendidikan No REKAPITULASI LEMBAGA PENDIDIKAN KOTA BIMA NAMA TINGKATAN PENDIDIKAN AGAMA RA 14 MTSN 2 Diniyah 7 MTS swasta 9 Pondok Pesantren 14 MIS 7 MAS 4 NAMA TINGKATAN PENDIDIKAN UMUM Taman kanak-kanak 46 SMP negeri 21 MIN SD negeri MAN SMA negeri/smk negeri Perguruuan tinggi Perguruan tinggi umum 6 agama (islam) 4 3 *KETERANGAN : Perguruan agama islam dan umum di Kota Bima semuanya berstatus swasta, terdaftar dan terakreditas Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 435

454 1. Perguruan Tinggi Berbasis Agama dan Umum a. Perguruan Tinggi swasta terakreditasi Berbasis Agama 1) UNMU (Universitas Muhamadiyah) 2) STIT Sunan Giri Bima 3) STISY As-Saidiyah b. Perguruan tinggi Swasta terakreditasi berbasis umum, 1) STKIP 2) STISIPOL 3) STIE 4) AKPER 2. SMU/MA berbasis Agama dan Umum a. SMU berbasis Agama 1) MAN 1 Seleko Bima 2) MAN 2 Tolobali 3) MA Swasta sebanyak 4 unit b. SMU berbasis Umum 1) SMAN 1 di Raba 2) SMAN 2 di Upunda 3) SMKN 1 di Pelabuhan Bima 4) SMKN 2 di Sadia 5) SMA Muhamadiyah 6) SMA berbasis umum dan seterusnya sebanyak 21 unit 3. SMP/MTS berbasis Agama dan Umum a. Yang berbasis Agama, 11 unit terdiri dari 2 MTS negeri dan 9 swasta, yaitu 1) MTSN 1 di Podolo 2) MTSN 2 di Raba 3) MTS Swasta 4) Pondok Pesantren sebanyak 14 unit? 436 Peta Dakwah MUI NTB

455 b. Yang berbasis umum 1) SMPN 1 di Mpunda 2) SMPN 2 di Bima 3) SMPN 4 di Sabali 4) SMPN 3 di Raba 5) Dan seterusnya berjumlah SD/MI berbasis Agama dan Umum NO SD Negeri MIN MIS KET Min tersebut adalah MIS Contoh Kelas paralelnya pertingkat 3 kelas 5. RA/TK Berbasis Agama dan Umum NO DINIYAH RA TK KET Info dari: Sektetaris MUI Kota Bima F. Agama Dan Kepercayaan 1. Kepercayaan Masa Lalu a. Kepercayaan orang Bima sebelum datangnya agama islam Kepercayaan orang Bima tidak jauh beda dengan kepercayaan orang Indonesia umumnya, yaitu percaya pada roh, nenek moyang dan benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib. Roh roh nenek moyang dijaman awal orang Bima disebut Marafu dan ditempat kediamannya disebut Parafu, Generasi setelahnya disebut Waro.Manafu dan Parafu tinggal di batu-batu besar dan di gunung - gunung sedang roh orang biasa berada disekitar kuburannya. Orang Bima juga percaya pada kekuatan ghaib yang berada pada binatang-binatang yang dalam ilmu kebudayaan disebut Totenisme. Sisa-sisa Totenisme dapat dilihat pada kebiasaan orang Bima seperti : a. Pada kedua ujung hubungan rumah dipasang kepala kerbau, kambing atau domba yang masih bertanduk. Pada masa berikutnya, menjelang abad 20 hal itu mengalami perubahan revolusi kemudian Komisi Penelitian & Komisi Dakwah MUI NTB 437

456 diganti dengan kayu yang berbentuk tanduk yang menjulang keatas. Sekarang, bentuk seperti itu menjadi perhiasan dan ciri khas rumah Bima (Mbojo). b. Dipergunakan juga sebagai nama marga (Bima : londo dou) seperti : 1) Londo dou deke (Bima= deke= tokek) 2) Londo dou duna (Bima=duna=belut) 3) Londo dou gande (Bima=gande=laba-laba) c. Disamping menyembah roh dan kesaktian seseorang atau binatang orang Bima dulu menyembah beberapa dewa yaitu : 1) Dewa Langi ; Dewa Langit 2) Dewa Oi : Dewa Air 3) Dewa Mango : Dewa Kering 2. Agama-Agama dan Lintasan Perubahan a. Jumlah agama ISLAM HINDU/BUDHA PROTESTAN KATOLIK b. Jumlah umat / anggota Mayoritas penduduk Kota Bima memeluk agama islam yaitu sekitar 97.38% dan selebihnya memeluk agama Kristen protestan sebanyak 0,89%, Kristen katolik sebanyak 0,62% dan hindu/budha sebanyak 1,11%. c. Jumlah tempat peribadatan Sarana peribadatan di kota Bima terdiri dari masjid sebanyak 133 unit, Langgar/mushola sebanyak 227 unit, gereja Kristen protestan sebanyak 7 unit, gereja katolik sebanyak 1 unit, dan Pura sebanyak 1 unit. 438 Peta Dakwah MUI NTB

PENGAJIAN RAMADAN 1435 H PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

PENGAJIAN RAMADAN 1435 H PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH PENGAJIAN RAMADAN 1435 H PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH Dakwah Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan Yogyakarta, 4-6 Ramadan 1435 H / 1-3 Juli 2014 Pemikiran dan Strategi Dakwah Pencerahan Menuju Indonesia

Lebih terperinci

ISLAM IS THE BEST CHOICE

ISLAM IS THE BEST CHOICE KULIAH FAJAR MASJID AL-BAKRI TAMAN RASUNA KUNINGAN - JAKARTA SELATAN ISLAM IS THE BEST CHOICE Disusun oleh : Agus N Rasyad Sabtu, 16 Maret 2013 INTRODUCTION BEBERAPA CIRI KETETAPAN HATI, BAHWA ISLAM PILIHAN

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA 12 Pluralisme, Liberalisme, DAN Sekularisme Agama FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam

Lebih terperinci

ISLAM dan DEMOKRASI (1)

ISLAM dan DEMOKRASI (1) ISLAM dan DEMOKRASI (1) Islam hadir dengan membawa prinsip-prinsip yang umum. Oleh karena itu, adalah tugas umatnya untuk memformulasikan program tersebut melalui interaksi antara prinsip-prinsip Islam

Lebih terperinci

Dunia telah menjadi DESA BESAR, Dunia tanpa Batas (pelaksanaan Haji, Pertandingan Sepak Bola dll, bisa dilihat secara langsung ASRORI, MA.

Dunia telah menjadi DESA BESAR, Dunia tanpa Batas (pelaksanaan Haji, Pertandingan Sepak Bola dll, bisa dilihat secara langsung ASRORI, MA. Modul ke: 13 Fakultas FIKOM Dunia telah menjadi DESA BESAR, Dunia tanpa Batas (pelaksanaan Haji, Pertandingan Sepak Bola dll, bisa dilihat secara langsung ASRORI, MA Program Studi Teknik Arsitektur Bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tertentu saja, melainkan seluruh individu yang mengaku dirinya muslim. 1

BAB I PENDAHULUAN. tertentu saja, melainkan seluruh individu yang mengaku dirinya muslim. 1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dakwah merupakan bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan hidup agama Islam, tidak mungkin Islam dapat bertahan di tengah masyarakat bila tidak

Lebih terperinci

ISBN:

ISBN: Muhammad Farid Wajdi, Lc. 2017, PT Elex Media Komputindo, Jakarta Hak cipta dilindungi undang undang Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kompas - Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN SIKAP BIRRUL WALIDAIN REMAJA DI DUSUN WONOREJO BANYUWANGI BANDONGAN MAGELANG

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN SIKAP BIRRUL WALIDAIN REMAJA DI DUSUN WONOREJO BANYUWANGI BANDONGAN MAGELANG HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN SIKAP BIRRUL WALIDAIN REMAJA DI DUSUN WONOREJO BANYUWANGI BANDONGAN MAGELANG SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Lebih terperinci

TOLERANSI BERAGAMA MENURUT PANDANGAN HAMKA DAN NURCHOLISH MADJID

TOLERANSI BERAGAMA MENURUT PANDANGAN HAMKA DAN NURCHOLISH MADJID TOLERANSI BERAGAMA MENURUT PANDANGAN HAMKA DAN NURCHOLISH MADJID SKRIPSI Diajukan kepada Program Studi Perbandingan Agama (Ushuluddin) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Adab makan berkaitan dengan apa yang dilakukan sebelum makan, sedang makan dan sesudah makan.

Adab makan berkaitan dengan apa yang dilakukan sebelum makan, sedang makan dan sesudah makan. ADAB ISLAMI : ADAB SEBELUM MAKAN Manusia tidak mungkin hidup tanpa makan. Dengan makan manusia dapat menjaga kesinambungan hidupnya, memelihara kesehatan, dan menjaga kekuatannya. Baik manusia tersebut

Lebih terperinci

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah - Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah Nama : aan jumeno Tempat tgl lahir : sragen. 02 01 1967 Alamat : jl. Kelud selatan III/3 smg Status : k 2 Nama Isteri : Deasy Ariyanti Anak : M. Hanif

Lebih terperinci

ISLAM DAN TOLERANSI. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. MUHAMMAD ALVI FIRDAUSI, S.Si, MA. Modul ke: Fakultas TEHNIK

ISLAM DAN TOLERANSI. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. MUHAMMAD ALVI FIRDAUSI, S.Si, MA. Modul ke: Fakultas TEHNIK Modul ke: ISLAM DAN TOLERANSI Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Fakultas TEHNIK MUHAMMAD ALVI FIRDAUSI, S.Si, MA Program Studi TEHNIK INFORMATIKA www.mercubuana.ac.id ق ل ي أ ي ھ ا ٱل

Lebih terperinci

MODEL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN IBADAH UMRAH PADA PT AN-NAMIRA ALMA MULIA KOTA SEMARANG

MODEL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN IBADAH UMRAH PADA PT AN-NAMIRA ALMA MULIA KOTA SEMARANG MODEL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN IBADAH UMRAH PADA PT AN-NAMIRA ALMA MULIA KOTA SEMARANG Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Sosial Islam

Lebih terperinci

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR: SYARIAH - IBADAH KOMPETENSI DASAR: Menganalisis kedudukan dan fungsi Syariah dan Rukun Islam Menganalisis fungsi masing-masing unsur dari Rukun Islam bagi kehidupan umat Islam INDIKATOR: Mendeskripsikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jenderal Bimbingan masyarakat Islam sekaligus sebagai ujung tombak dalam

BAB I PENDAHULUAN. Jenderal Bimbingan masyarakat Islam sekaligus sebagai ujung tombak dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyuluhan Agama Islam merupakan tugas yang dilaksanakan oleh seorang Penyuluh Agama Islam. Penyuluh Agama Islam adalah mitra bimbingan Direktorat Jenderal

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP FATWA MAJLIS TARJIH DAN TAJDID MUHAMMADIYAH NOMOR : 08 TAHUN 2006 TENTANG BUNGA

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP FATWA MAJLIS TARJIH DAN TAJDID MUHAMMADIYAH NOMOR : 08 TAHUN 2006 TENTANG BUNGA ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP FATWA MAJLIS TARJIH DAN TAJDID MUHAMMADIYAH NOMOR : 08 TAHUN 2006 TENTANG BUNGA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata

Lebih terperinci

Iman Kepada KITAB-KITAB

Iman Kepada KITAB-KITAB Iman Kepada KITAB-KITAB رمحو هللا Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin Publication : 1437 H, 2016 M Iman Kepada KITAB-KITAB Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin Disalin dari Kitab 'Aqidah AhlusSunnah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang pendidikan tersebar hampir di seluruh nusantara. Amal usaha. perguruan tinggi yang berjumlah 172 buah 1.

BAB I PENDAHULUAN. bidang pendidikan tersebar hampir di seluruh nusantara. Amal usaha. perguruan tinggi yang berjumlah 172 buah 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammadiyah merupakan sebuah persyarikatan dan pergerakan yang dikenal memiliki banyak amal usaha. Salah satu amal usaha Muhammadiyah yang membuat Muhammadiyah

Lebih terperinci

PENEMPELAN PHOTO PADA MUSHAF AL-QUR AN (KEMULIAAN AL-QUR AN)

PENEMPELAN PHOTO PADA MUSHAF AL-QUR AN (KEMULIAAN AL-QUR AN) 36 PENEMPELAN PHOTO PADA MUSHAF AL-QUR AN (KEMULIAAN AL-QUR AN) FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 5 Tahun 2005 Tentang PENEMPELAN PHOTO PADA MUSHAF AL-QUR AN (KEMULIAAN AL-QUR AN) Majelis Ulama Indonesia,

Lebih terperinci

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan 30-05-2017 Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan Tema: Fiqh Tarawih Al-Bukhari 1869-1873 Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Donasi Pusat Kajian Hadis Salurkan sedekah jariyah Anda untuk

Lebih terperinci

PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA PEDAGAN SAYUR DI KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN (STUDI KASUS KEPADA IBU PEDAGANG SAYUR)

PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA PEDAGAN SAYUR DI KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN (STUDI KASUS KEPADA IBU PEDAGANG SAYUR) PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA PEDAGAN SAYUR DI KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN (STUDI KASUS KEPADA IBU PEDAGANG SAYUR) OLEH RINI AMELIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M /

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, 07-9-09 Senin, 07 September 2009 Â SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Â PADA ACARA PERINGATAN NUZULUL QURAN 1430 H DI ISTANA BOGOR, JAWA BARAT,

Lebih terperinci

PROGRAM WAKAF TANAH RUMAH TAHFIDZ AL KAYYIS YAYASAN CERDAS BERSAMA

PROGRAM WAKAF TANAH RUMAH TAHFIDZ AL KAYYIS YAYASAN CERDAS BERSAMA PROGRAM WAKAF TANAH RUMAH TAHFIDZ AL KAYYIS YAYASAN CERDAS BERSAMA Jln. Raya Banaran No. 9, RT 01/RW IV Gunungpati Semarang I. PENDAHULUAN Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan

Lebih terperinci

Dengan nama Allah, maha pengasih dan penyayang. Salam kepada semua Nabi dari yang terdahulu hingga yang akhir.

Dengan nama Allah, maha pengasih dan penyayang. Salam kepada semua Nabi dari yang terdahulu hingga yang akhir. SYRIA: Tidak Untuk Invasi Asing di dunia Arab, Takutlah pada Allah wahai para pemimpin Arab! 12-09-2013-05:45 AM Dengan nama Allah, maha pengasih dan penyayang. Salam kepada semua Nabi dari yang terdahulu

Lebih terperinci

Oleh : Ahmad Abdillah NPM:

Oleh : Ahmad Abdillah NPM: PETUNJUK-PETUNJUK RASULULLAH SAW TERHADAP PENDIDIKAN PEMUDA DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN MASA KINI (Kajian terhadap Kitab al-hady an-nabawiy fi Tarbiyah al-aula d fi Ḍaui al-kita b wa as-sunnah)

Lebih terperinci

ف ان ت ه وا و ات ق وا الل ه ا ن الل ه ش د يد ال ع ق اب

ف ان ت ه وا و ات ق وا الل ه ا ن الل ه ش د يد ال ع ق اب 7 Aliran yang menolak sunah/hadis rasul Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta pada Tanggal 16 Ramadhan 1403 H. bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M., setelah : Memperhatikan

Lebih terperinci

HALAMAN PERSEMBAHAN. karya tulis ini untuk: Bapak Ibuku yang telah menumbuhkembangkanku. Para Guruku yang telah ikhlas mendidikku

HALAMAN PERSEMBAHAN. karya tulis ini untuk: Bapak Ibuku yang telah menumbuhkembangkanku. Para Guruku yang telah ikhlas mendidikku MOTTO مي ين ر س وال م ن ھ م ي ت ل و ع ل ي ھ م ء اي ات ه و ي ز كيھ م ھ و ال ذ ي ب ع ث ف ي األ و ي ع ل م ھ م ال ك ت اب و ال ح ك م ة و إ ن ك ان وا م ن ق ب ل ل ف ي ض ال ل م ب ين Dia-lah yang mengutus kepada

Lebih terperinci

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI SHALAT KEPADA SISWA SMAN DI KOTA BANJARMASIN TESIS Oleh: FADLIYANUR NIM. 1202520950 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ANTASARI PASCASARJANA

Lebih terperinci

Bulan Penuh Rahmat itu Telah Meninggalkan Kita. Written by Mudjia Rahardjo Friday, 15 November :41 -

Bulan Penuh Rahmat itu Telah Meninggalkan Kita. Written by Mudjia Rahardjo Friday, 15 November :41 - Sebuah bulan yang didambakan kehadirannya oleh setiap muslim, yakni bulan Ramadan 1432 H, telah meninggalkan kita dan insya Allah kikta akan bertemu lagi 11 bulan yang akan datang jika Allah memberi kita

Lebih terperinci

ج اء ك م ر س ول ن ا ي ب ي ن ل ك م ك ث ير ا م ما ك ن ت م ت خ ف و ن م ن ال ك ت اب و ي ع ف و ع ن ك ث ير ق د ج اء ك م م ن الل ه ن ور و ك ت اب

ج اء ك م ر س ول ن ا ي ب ي ن ل ك م ك ث ير ا م ما ك ن ت م ت خ ف و ن م ن ال ك ت اب و ي ع ف و ع ن ك ث ير ق د ج اء ك م م ن الل ه ن ور و ك ت اب KARAKTERISTIK ETIKA ISLAM 1. Al Qur an dan Sunnah Sebagai Sumber Moral Sebagai sumber moral atau pedoman hidup dalam Islam yang menjelaskan kriteria baik buruknya sesuatu perbuatan adalah Al Qur an dan

Lebih terperinci

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR: TRILOGI - AQIDAH KOMPETENSI DASAR: Menganalisis trilogi ajaran Islam dan kedudukan aqidah dalam agama Islam Menganalisis unsur-unsur dan fungsi aqidah bagi kehidupan manusia (umat Islam) INDIKATOR: Mendeskripsikan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan merupakan bentuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

Lebih terperinci

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi. Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi. اقتباس المشاركة: 81532 من الموضوع: Allah Berkompetisi mencintai adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada

Lebih terperinci

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 285

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 285 Tafsir Depag RI : QS 002 - Al Baqarah 285 آم ن الر س ول ب م ا ا ن ز ل ا ل ي ه م ن ر ب ه و ال م و م ن ون ك ل آم ن ب الل ه و م ل اي ك ت ه و ك ت ب ه و ر س ل ه ل ا ن ف ر ق ب ي ن ا ح د م ن ر س ل ه و ق ال وا

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. disisi Tuhan-Nya, dan untuk berpacu menjadi hamba-nya yang menang di

BAB 1 PENDAHULUAN. disisi Tuhan-Nya, dan untuk berpacu menjadi hamba-nya yang menang di BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ajaran agama Islam merupakan tuntunan yang sangat penting dan mendasar yang merupakan tujuan untuk mengatur setiap sikap dan tingkah laku manusia, terutama kaum muslimin,

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS IV DI MIN 4 KOTA BANJARMASIN

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS IV DI MIN 4 KOTA BANJARMASIN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK KELAS IV DI MIN 4 KOTA BANJARMASIN OLEH DEWI FITRIANI NAVIRI NIM. 1201291032 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H i

Lebih terperinci

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r:

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r: Penetapan Awal Bulan dan Jumlah Saksi Yang Dibutuhkan hilal? Bagaimana penetapan masuknya bulan Ramadhan dan bagaimana mengetahui Dengan nama Allah I Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji

Lebih terperinci

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284 Tafsir Depag RI : QS 002 - Al Baqarah 284 ل ل ه م ا ف ي الس م او ات و م ا ف ي ال ا ر ض و ا ن ت ب د وا م ا ف ي ا ن ف س ك م ا و ت خ ف وه ي ح اس ب ك م ب ه الل ه ف ي غ ف ر ل م ن ي ش اء و ي ع ذ ب م ن ي ش اء

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam UUD RI Tahun 1945 pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat 3 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan

Lebih terperinci

Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir

Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir www.muzir.wordpress.com shahmuzir@yahoo.com Diturunkan pada Lailatul-Qadr إ ن ا أ ن ز ل ن اه ف ي ل ي ل ة ال ق د ر Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam

Lebih terperinci

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad r. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah

Lebih terperinci

Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil

Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati Imam Mahdi Nasser Mohammad Al-Yamani Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil Tidakkah kalian tahu bahwa akal adalah

Lebih terperinci

PENERAPAN NILAI-NILAI AKHLAK DALAM MENUNTUT ILMU DI SMA MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

PENERAPAN NILAI-NILAI AKHLAK DALAM MENUNTUT ILMU DI SMA MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2016/2017 PENERAPAN NILAI-NILAI AKHLAK DALAM MENUNTUT ILMU DI SMA MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2016/2017 SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) pada program

Lebih terperinci

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah. (QS. al-kautsar:2)

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah. (QS. al-kautsar:2) Ditulis oleh slam Center FATWA-FATWA PLHAN (18) Hukum Menyembelih untuk selain Allah Pertanyaan: Apakah hukum menyembelih untuk selain Allah? Jawaban: Sudah kami jelaskan dalam kesempatan lain bahwa tauhid

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP SAKIT. A. Ayat-ayat al-qur`an. 1. QS. Al-Baqarah [2]:

BAB IV KONSEP SAKIT. A. Ayat-ayat al-qur`an. 1. QS. Al-Baqarah [2]: BAB IV KONSEP SAKIT A. Ayat-ayat al-qur`an 1. QS. Al-Baqarah [2]: 155 156...و ب ش ر الص اب ر ين ال ذ ين إ ذ ا أ ص اب ت ه م م ص يب ة ق ال وا إ ن ا ل ل و و إ ن ا إ ل ي و ر اج عون. "...Dan sampaikanlah kabar

Lebih terperinci

Membangun Generasi Berdasarkan 5 Basic Skill Ala PESMA YKM

Membangun Generasi Berdasarkan 5 Basic Skill Ala PESMA YKM Membangun Generasi Berdasarkan 5 Basic Skill Ala PESMA YKM Ahmad Rodli Putra H Pesantren Mahasiswa YKM FEUI adalah salah satu pesantren mahasiswa yang menawarkan program berbeda dibanding pesantren mahasiswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Algesindo, 2009), 79.

BAB I PENDAHULUAN. Algesindo, 2009), 79. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan agama Islam sangat menakjubkan bagi para pengamat sejarah. Nabi Muhammad Saw (571-623M) adalah peletak dasar agama Islam karena Nabi Muhammad

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi,

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman pada era globalisasi mengakibatkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, industri,

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 POLANHARJO KLATEN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 POLANHARJO KLATEN TAHUN PELAJARAN 2014/2015 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VIII DI SMP NEGERI 2 POLANHARJO KLATEN TAHUN PELAJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan kepada Program Studi Agama Islam (Tarbiyah) Fakultas Agama Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan masalah fundamental dalam pembangunan bangsa dan merupakan bekal yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda agar kelak dapat menghadapi

Lebih terperinci

Cece Abdulwaly. Diterbitkan oleh: melalui:

Cece Abdulwaly. Diterbitkan oleh: melalui: Cece Abdulwaly Diterbitkan oleh: melalui: HAFAL AL-QUR'AN: BUAH SABAR & ISTIQAMAH Oleh: Cece Abdulwaly Copyright 2014 by Cece Abdulwaly Cetakan I, 2015 Desain Sampul: Cece Abdulwaly Penerbit: Tahfidz Media

Lebih terperinci

PENYERANGAN AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA TERHADAP IRAK

PENYERANGAN AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA TERHADAP IRAK 31 PENYERANGAN AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA TERHADAP IRAK FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 2 Tahun 2003 Tentang PENYERANGAN AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA TERHADAP IRAK Majelis Ulama Indonesia, setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. sedang bentuk kata kerja atau fi ilnya adalah da a yad u yang berarti

BAB I PENDAHULUAN. diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. sedang bentuk kata kerja atau fi ilnya adalah da a yad u yang berarti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia. Islam sebagai agama sebenarnya

Lebih terperinci

Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati

Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati Imam Mahdi Nasser Mohammad Al-Yamani -Akal Yang Menerima Al Qur an, dan Akal adalah page 1 / 27 Hakim Yang Adil Tidakkah kalian tahu bahwa

Lebih terperinci

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR: AL-QURAN KOMPETENSI DASAR Menganalisis kedudukan dan fungsi al-quran dalam agama Islam Mengidentifikasi berbagai karakteristik yang melekat pada al-quran INDIKATOR: Mendeskripsikan kedudukan dan fungsi

Lebih terperinci

PENDAPAT IMAM ASY-SYÂFI'I TENTANG PEMBERLAKUAN HUKUM RAJAM BAGI PEZINA KAFIR DZIMMY

PENDAPAT IMAM ASY-SYÂFI'I TENTANG PEMBERLAKUAN HUKUM RAJAM BAGI PEZINA KAFIR DZIMMY PENDAPAT IMAM ASY-SYÂFI'I TENTANG PEMBERLAKUAN HUKUM RAJAM BAGI PEZINA KAFIR DZIMMY SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 Dalam Ilmu Syari ah

Lebih terperinci

Khutbah Pertama. Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah.

Khutbah Pertama. Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah. Khutbah Pertama Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah. Mari pada kesempatan yang berharga ini kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita memohon agar Allah SWT. menghidupkan kita dalam ketakwaan

Lebih terperinci

IPTEK, DAN SENI DALAM ISLAM 1. Konsep Ipteks Dalam Islam a. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan Pengetahuan : segala sesuatu yang diketahui manusia

IPTEK, DAN SENI DALAM ISLAM 1. Konsep Ipteks Dalam Islam a. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan Pengetahuan : segala sesuatu yang diketahui manusia IPTEK, DAN SENI DALAM ISLAM 1. Konsep Ipteks Dalam Islam a. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan Pengetahuan : segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindera, intuisi, firasat atau yang

Lebih terperinci

METODE MENGHAFAL AL-QUR AN SANTRIWATI DI PONDOK TAHFIZH MAHASISWI SITI KHADIJAH KELURAHAN PEKAPURAN RAYA KECAMATAN BANJARMASIN TIMUR KOTA BANJARMASIN

METODE MENGHAFAL AL-QUR AN SANTRIWATI DI PONDOK TAHFIZH MAHASISWI SITI KHADIJAH KELURAHAN PEKAPURAN RAYA KECAMATAN BANJARMASIN TIMUR KOTA BANJARMASIN METODE MENGHAFAL AL-QUR AN SANTRIWATI DI PONDOK TAHFIZH MAHASISWI SITI KHADIJAH KELURAHAN PEKAPURAN RAYA KECAMATAN BANJARMASIN TIMUR KOTA BANJARMASIN OLEH NUR MAULIDDA HAYATI 1201210442 INSTITUT AGAMA

Lebih terperinci

Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang, dan salam kepada para Rasul serta segala puji bagi Tuhan sekalian alam.

Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang, dan salam kepada para Rasul serta segala puji bagi Tuhan sekalian alam. Imam Nasser Muhammad Al-Yamani 18-11 - 1430 AH 06-11 - 2009 AD 12:41 am Tuhanmu Tidak Pernah Zhalim Kepada Siapapun Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang, dan salam kepada para Rasul serta

Lebih terperinci

TEKNIK KOMUNIKASI GURU TERHADAP ANAK AUTIS DI SEKOLAH LUAR BIASA LANDASAN ULIN BANJARBARU SKRIPSI. Oleh: SITI RODIAH NIM :

TEKNIK KOMUNIKASI GURU TERHADAP ANAK AUTIS DI SEKOLAH LUAR BIASA LANDASAN ULIN BANJARBARU SKRIPSI. Oleh: SITI RODIAH NIM : TEKNIK KOMUNIKASI GURU TERHADAP ANAK AUTIS DI SEKOLAH LUAR BIASA LANDASAN ULIN BANJARBARU SKRIPSI Oleh: SITI RODIAH NIM : 0901310700 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

Lebih terperinci

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

HADITS TENTANG RASUL ALLAH HADITS TENTANG RASUL ALLAH 1. KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA RASULALLAH ح د ث ي ن ي ون س ب ن ع ب ي د ا ل ع ل ى أ خ ب ر ن اب ن و ه ب ق ال : و أ خ ب ر ي ن ع م ر و أ ن أ ب ي ون س ح د ث ه ع ن أ ي ب ه ر ي ر ة ع ن

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diantara larangan Allah yang tertulis di Al-Qur an adalah tentang larangan

BAB I PENDAHULUAN. Diantara larangan Allah yang tertulis di Al-Qur an adalah tentang larangan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia hidup di dunia mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun. Manusia juga diberi pedoman

Lebih terperinci

PERAN BAITUL ARQOM DALAM MENANAMKAN FONDASI KARAKTER ISLAM (STUDI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PERAN BAITUL ARQOM DALAM MENANAMKAN FONDASI KARAKTER ISLAM (STUDI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PERAN BAITUL ARQOM DALAM MENANAMKAN FONDASI KARAKTER ISLAM (STUDI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2012/2013) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat

Lebih terperinci

KONSEP BERKAH MENURUT PANDANGAN PARA PEDAGANG PASAR KLEWER

KONSEP BERKAH MENURUT PANDANGAN PARA PEDAGANG PASAR KLEWER KONSEP BERKAH MENURUT PANDANGAN PARA PEDAGANG PASAR KLEWER SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Syari ah (S. Sy) Pada Fakultas Agama Islam Jurusan Muammalat (Syari

Lebih terperinci

KLONING FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR: 3/MUNAS VI/MUI/2000. Tentang KLONING

KLONING FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR: 3/MUNAS VI/MUI/2000. Tentang KLONING 15 FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR: 3/MUNAS VI/MUI/2000 Tentang Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 23-27 Rabi ul Akhir 1421 H./25-29

Lebih terperinci

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA AGAMA DI SMA NEGERI 7 BANJARMASIN

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA AGAMA DI SMA NEGERI 7 BANJARMASIN PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA AGAMA DI SMA NEGERI 7 BANJARMASIN TESIS Oleh Ellya Noor NIM. 1002530700 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ANTASARI PASCASARJANA BANJARMASIN 2016 ii PERAN

Lebih terperinci

MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA

MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA Jama ah Jum at rahimakumullah Setiap muslim pasti bersaksi, mengakui bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulullah, tapi tidak semua muslim memahami hakikat yang

Lebih terperinci

PENGGUNAAN STRATEGI GROUP INVESTIGATION PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV DI MIS NURUL ISLAM JALAN A. YANI KM 5 BANJARMASIN

PENGGUNAAN STRATEGI GROUP INVESTIGATION PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV DI MIS NURUL ISLAM JALAN A. YANI KM 5 BANJARMASIN PENGGUNAAN STRATEGI GROUP INVESTIGATION PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV DI MIS NURUL ISLAM JALAN A. YANI KM 5 BANJARMASIN OLEH SITI NADIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H i

Lebih terperinci

PROBLEMATIKA MURAJA AH HAFALAN ALQURAN DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ ALQURAN SITI KHADIJAH BANJARMASIN

PROBLEMATIKA MURAJA AH HAFALAN ALQURAN DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ ALQURAN SITI KHADIJAH BANJARMASIN PROBLEMATIKA MURAJA AH HAFALAN ALQURAN DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ ALQURAN SITI KHADIJAH BANJARMASIN Skripsi Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 1. dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 1. dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah Usaha sadar yang dengan sengaja dirancang dan direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Data Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di atas dapat diketahui dengan jelas gambaran tentang program dan peran MUI Kabupaten HSS dalam

Lebih terperinci

UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENDISIPLINKAN SISWA DI MAN 2 MODEL BANJARMASIN OLEH ANNISA DAMAYANTI

UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENDISIPLINKAN SISWA DI MAN 2 MODEL BANJARMASIN OLEH ANNISA DAMAYANTI UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENDISIPLINKAN SISWA DI MAN 2 MODEL BANJARMASIN OLEH ANNISA DAMAYANTI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2016 M/1437 H UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MENDISIPLINKAN

Lebih terperinci

Adzan Awal, Shalawat dan Syafaatul Ujma ADZAN AWAL, MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN SYAFA ATUL- UZHMA

Adzan Awal, Shalawat dan Syafaatul Ujma ADZAN AWAL, MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN SYAFA ATUL- UZHMA Adzan Awal, Shalawat dan Syafaatul Ujma ADZAN AWAL, MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN SYAFA ATUL- UZHMA Penanya: Ferry al-firdaus, Dayeuhmanggung Rt. 01 / RW 05 Kec. Cilawu Garut Pertanyaan: Mohon penjelasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]: ي ا أ ي ه ا آم ن وال إ ذ ا ق يل ل ك م ت ف س ح وا ف ي ل م ج ال س ف اف س ح وا ي ف س ح الل ه ل ك م و إ ذ ا ق يل ان

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan untuk manusia, apalagi ajaran

BAB I PENDAHULUAN. dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan untuk manusia, apalagi ajaran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam agama dakwah, yaitu agama yang menegaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Lebih terperinci

KRITERIA MASLAHAT. FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 6/MUNAS VII/MUI/10/2005 Tentang KRITERIA MASLAHAT

KRITERIA MASLAHAT. FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 6/MUNAS VII/MUI/10/2005 Tentang KRITERIA MASLAHAT 40 KRITERIA MASLAHAT FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 6/MUNAS VII/MUI/10/2005 Tentang KRITERIA MASLAHAT Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. samawi lain yang datang sebelumnya. Allah Swt. mewahyukan al-quran kepada

BAB I PENDAHULUAN. samawi lain yang datang sebelumnya. Allah Swt. mewahyukan al-quran kepada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama Islam merupakan agama samawi yang sempurna diantara agama samawi lain yang datang sebelumnya. Allah Swt. mewahyukan al-quran kepada Nabi Muhammad saw sebagai

Lebih terperinci

Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR

Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR حفظه هللا Ustadz Abu Ismail Muslim al-atsari Publication 1436 H/ 2015 M MENZHALIMI RAKYAT TERMASUK DOSA BESAR Sumber: Majalah As-Sunnah, No.08 Thn.XVIII_1436H/2014M

Lebih terperinci

Pengasih dan Pembenci, keduanya hukumnya haram. Pertanyaan: Apakah hukumnya menyatukan pasangan suami istri dengan sihir?

Pengasih dan Pembenci, keduanya hukumnya haram. Pertanyaan: Apakah hukumnya menyatukan pasangan suami istri dengan sihir? Pengasih dan Pembenci, keduanya hukumnya haram Pertanyaan Apakah hukumnya menyatukan pasangan suami istri dengan sihir? Jawaban ni hukumnya haram dan tidak boleh. ni dinamakan athaf (pengasih, pelet),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu aspek penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu aspek penting dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan, bahkan termuat dalam undang-undang pendidikan nasional, karena pendidikan agama mutlak

Lebih terperinci

Urgensi Berakhlaq Islami Dalam Bisnis

Urgensi Berakhlaq Islami Dalam Bisnis AKHLAQ BISNIS ISLAMI تا ا ق ا Rikza Maulan Lc M.Ag Urgensi Berakhlaq Islami Dalam Bisnis (1) Barometer Kataqwaan Seseorang: Allah SWT berfirman (QS. 2 : 188) ن - 2 # 5 وا 2 6 + س 3% "! ا ا ال ا # & م %

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. munkar, berakidah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. 1. dakwah amar ma ruf nahi munkar mengacu pada ayat-ayat berikut:

BAB I PENDAHULUAN. munkar, berakidah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. 1. dakwah amar ma ruf nahi munkar mengacu pada ayat-ayat berikut: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma ruf nahi munkar, berakidah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. 1 Organisasi ini didirikan

Lebih terperinci

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. 8 Darul Arqam Sejak tahun 1992, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah membahas dan membicarakan secara mendalam tentang masalah Darul Arqam dan mendiskusikannya secara seksama, khususnya ajaran yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beragama itu dimungkinkan karena setiap agama-agama memiliki dasar. damai dan rukun dalam kehidupan sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. beragama itu dimungkinkan karena setiap agama-agama memiliki dasar. damai dan rukun dalam kehidupan sehari-hari. 1 BAB I A. Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Dengan tumbuhnya pengetahuan tentang agama-agama lain, menimbulkan sikap saling pengertian dan toleran kepada orang lain dalam hidup sehari-hari, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena pendidikan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH DAN MUHAMMAD QUTHB SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM MODERN

PERBANDINGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH DAN MUHAMMAD QUTHB SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM MODERN PERBANDINGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH DAN MUHAMMAD QUTHB SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM MODERN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

Pertama, simaklah firman Allah SWT. tentang beliau. Dalam Al-Qur an Allah SWT. menggambarkan pribadi Rasul Saw. sebagai berikut:

Pertama, simaklah firman Allah SWT. tentang beliau. Dalam Al-Qur an Allah SWT. menggambarkan pribadi Rasul Saw. sebagai berikut: Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Pada bulan Rabiul Awal ini kita teringat momentum kelahiran Rasulullah Saw., tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal. Mari pada kesempatan ini kita sejenak mengenal lebih dekat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan sekolah tampak cukup pesat, terutama di kota-kota besar. (TPA), Taman Kanak-Kanak Al Qur an (TKA), Madrasah Diniyah,

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan sekolah tampak cukup pesat, terutama di kota-kota besar. (TPA), Taman Kanak-Kanak Al Qur an (TKA), Madrasah Diniyah, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama yang dilaksanakan secara sadar baik dari pihak pendidik maupun pihak terdidik. Kesadaran dalam melaksanakan

Lebih terperinci

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif Publication : 1436 H, 2015 M Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah Oleh : Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abd. Lathif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam kehidupan masyarakat. Ahli psikologi pada umumnya sependapat bahwa dasar pembentukan akhlak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah instansi, organisasi maupun lembaga-lembaga lainnya. Adapun

BAB I PENDAHULUAN. sebuah instansi, organisasi maupun lembaga-lembaga lainnya. Adapun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah kalimat populer yang menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan dari keberhasilannya dalam mencetak kader penerusnya. Dari sinilah kader

Lebih terperinci

Kesadaran Akan Keberadaan. Ahmad Munir

Kesadaran Akan Keberadaan. Ahmad Munir Kesadaran Akan Keberadaan Ahmad Munir Segala puji bagi Allah, kami memujinya, memohon pertolongannnya, dan ampunannya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri diri kami, dan dari kejelekan amalan

Lebih terperinci

PERAYAAN NATAL BERSAMA

PERAYAAN NATAL BERSAMA BIDANG SOSIAL DAN BUDAYA 5 PERAYAAN NATAL BERSAMA Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, setelah : Memperhatikan : Menimbang : 1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian

Lebih terperinci

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

HADITS TENTANG RASUL ALLAH HADITS TENTANG RASUL ALLAH 1. KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA RASULALLAH ح دث ني ي ون س ب ن ع ب د الا ع ل ى أ خ ب ر اب ن و ه ب ق ال : و أ خ ب ر ني ع م ر و أ ن أ اب ي ون س ح دث ه ع ن أ بي ه ر ي ر ة ع ن ر س ول

Lebih terperinci

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PASAL 9 UU NO. 36 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PASAL 9 UU NO. 36 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PASAL 9 UU NO. 36 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Syari ah (S.Sy)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah Swt. menciptakan manusia di bumi ini dengan dua jenis yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah Swt. menciptakan manusia di bumi ini dengan dua jenis yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah Swt. menciptakan manusia di bumi ini dengan dua jenis yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia agar

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TIPE COOPERATIVE, INTEGRATED, READING AND COMPOSITION

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TIPE COOPERATIVE, INTEGRATED, READING AND COMPOSITION PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TIPE COOPERATIVE, INTEGRATED, READING AND COMPOSITION (CIRC) PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS IV DI MI KHADIJAH BANJARMASIN OLEH MAHDIATI UNIVERSITAS ISLAM

Lebih terperinci

PENERAPAN PELAYANAN PRIMA PADA PRODUK SIMPANAN SI RELA (SUKARELA LANCAR) DI BMT BINA UMMAT SEJAHTERA CABANG KALIWUNGU

PENERAPAN PELAYANAN PRIMA PADA PRODUK SIMPANAN SI RELA (SUKARELA LANCAR) DI BMT BINA UMMAT SEJAHTERA CABANG KALIWUNGU PENERAPAN PELAYANAN PRIMA PADA PRODUK SIMPANAN SI RELA (SUKARELA LANCAR) DI BMT BINA UMMAT SEJAHTERA CABANG KALIWUNGU TUGAS AKHIR Diajukkan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci