PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK"

Transkripsi

1 PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK Skripsi diajukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Theologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat oleh Abdi Pujiasih NIM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H / 2008 M

2 PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK Skripsi diajukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Theologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat oleh Abdi Pujiasih NIM Di bawah bimbingan Prof. Dr. Zainun Kamal MA NIP JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H / 2009 M

3 Pengesahan Panitia Ujian Skripsi yang berjudul Pernikahan Beda Agama Menurut Islam dan Katolik telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 21 Februari Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Program Srata 1 (S1) pada Jurusan Perbandingan Agama. Jakarta, 18 Maret 2008 Sidang Munaqasyah Ketua merangkap Anggota Sekretaris merangkap Anggota Drs. Agus Darmaji. M.Fils Maulana. M.A. NIP: NIP: Anggota, Dra. Ida Rosyidah. M.A, Dr. Hamid Nasuhi. M.A. NIP: NIP: Dr. Zainun Kamal. M.A. NIP:

4 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta, berkat petunjuk-nya penulis dapat menyelesaikan karya ini. Tidak lupa pula shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai suri tauladan semua manusia di dunia. Selanjutnya, adalah suatu keharusan bagi setiap mahasiswa yang ingin menyelesaikan perkuliahan dan mencapai gelar sarjana pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menyusun sebuah skripsi. Terkait hal tersebut, penulis telah menyelesaikan penulisan sebuah skripsi dengan judul: PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK. Dalam hemat penulis, tema pernikahan beda agama ini perlu diangkat mengingat ia telah menjadi permasalahan yang menghinggapi hampir seluruh agama dan keyakinan yang ada dan berkembang di dunia. Persoalan ini tak jarang menimbulkan konflik antara pemeluk agama bahkan meluas menjadi persoalan antar-agama, meski tak jarang, dari sini, kemudian lahir sebuah hubungan yang toleran, saling menghormati, dan harmonis antar-agama. Karena fakta yang terjadi kini tidak lagi memungkinkan seseorang atau institusi, termasuk juga agama, untuk abai terhadap kehadiran dan karenanya berinteraksi dengan yang lain, maka pernikahan beda agama pun sudah selayaknya menjadi persoalan yang harus secara bijak ditanggapi. Eksklusif dengan keberadaan agama dan umat lain dan ahistoris terhadap perkembangan sejarah manusia dan hubungan yang harus

5 dibangun di antara sesamanya, adalah sebentuk kekerdilan sikap dan kepicikan dalam menjalani hidup, tidak hanya dalam beragama. Dari pemikiran dasar itulah, skripsi ini dihadirkan dan memperoleh momentumnya. Namun, penyelesaian skripsi hingga sampai pada bentuknya yang sekarang sungguh bukan sesuatu yang mudah, melainkan banyak menemui kesulitan dan hambatan yang kadang tidak begitu saja mudah diselesaikan. Kendati demikian, berkat segenap dukungan dan motivasi dari berbagai pihak skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, ucapan terimakasih yang tulus penulis ucapkan kepada: Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Dr. M. Amin Nurdin, MA, Dra. Hj. Ida Rosyidah, MA dan Bapak Maulana, M.A, sebagai ketua dan sekretaris Jurusan Perbandingan Agama yang begitu tulus dan ikhlas untuk selalu membantu penulis dalam berbagai hal. Terimakasih pula untuk Bapak Prof. Zainun Kamal, M.A selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan tidak hanya dalam aspek substansi keilmuan, melainkan juga memfasilitasi waktu dalam membantu menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada seluruh dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, khususnya dosen Jurusan Perbandingan Agama yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kepada yang terkasih dan tersayang suamiku Muhamad Arif Hadiwinata yang selalu memberi sentuhan kasih sayang dalam perjalanan hidup dan semangat yang membara dalam menyelesaikan tugas ini. Kepada Alvan Razky Hadiwinata, the little container driver, aku persembahkan segenap cinta dan kasih sayang yang tulus sebagai kesediaanmu mewarnai hidupku dengan penuh canda tawa.

6 Juga yang saya cintai kedua orang tua, H. Kasdullah dan Hj. Sukarsih, dan kedua mertua, H. Hadiat Subawinata dan Hj. Dwi Sulasmimbar, karena kesabaran, doa, kasih sayang dan motivasi yang begitu besar membuat saya mampu menuntaskan tugas ini. Tak lupa anggota keluarga yang lain, Mami dan Hani, adik-adikku, ka Abas, mbak Ratna, abang Maulvi dan Chika terima kasih atas pinjaman rumah dan tamannya. Ka Syidqi dan mbak Lina terima kasih atas pinjaman buku-bukunya. Terima kasih kepada Ayesha, Nayla, Azril dan Tante Wini yang selalu setia menjadi teman anak kami. Secara khusus, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada keluarga besar pa de Legimin di Legoso, Ciputat. Tanpa bantuan mereka, saya mungkin tidak bisa menyelesaikan skripsi ini dalam tenggat waktu yang telah ditentukan. Teruntuk teman-teman di pondok mawar, khususnya Indri, terimakasih atas kosannya. Didi yang selalu siap sedia untuk bantuan skripsinya, dan untuk teman-teman seperjuangan di Jurusan Perbandingan Agama angkatan 2001, khususnya Olies dan Awad yang masih setia menemani penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis mengakhiri dengan mengutip karya seorang novelis terkenal Paulo Coelho, jika engkau ingin mewujudkan legenda pribadimu, niscaya segenap alam semesta akan membantumu. Dalam hal ini penulis percaya bahwa karya penulis yang ada saat ini merupakan satu lompatan besar dalam rangka mewujudkan legenda pribadi penulis. Jakarta, Januari 2008 ABDI PUJIASIH

7 DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI i iii vi BAB I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah 1 B. Batasan dan Rumusan Masalah 6 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 7 D. Metodologi Penelitian 8 E. Sistematika Penulisan 8 BAB II. PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM ISTILAH 10 A. Pengertian Pernikahan Beda Agama 10 B. Kebijakan Negara tentang Pernikahan Beda Agama 15 BAB III. PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN KATOLIK 24 A. Pernikahan Beda Agama dalam Pandangan Islam Pernikahan Beda Agama Menurut al Quran Pernikahan Beda Agama dan Perdebatan tentang Ahl al-kitab 29 B. Pernikahan Beda Agama dalam Pandangan Katolik Pernikahan Beda Agama dalam Perjanjian Lama Pernikahan Beda Agama dalam Perjanjian Baru Pernikahan Beda Agama Menurut Hukum Kanonik 43 BAB IV. ANALISIS KOMPARATIF TERHADAP FENOMENA PERNIKAHAN BEDA AGAMA 47 A. Fakta Pluralitas di Indonesia 47 B. Perdebatan Kontemporer Pernikahan Beda Agama

8 di Indonesia 54 C. Analisis Komparatif terhadap Fenomena Pernikahan Beda Agama di Indonesia 65 BAB V. PENUTUP 73 A. Kesimpulan Landasan Pernikahan Beda Agama dalam Islam dan Katolik Keterkaitan Pemahaman Keagamaan terhadap Fenomena Pernikahan Beda Agama dan Hubungan Antaragama di Indonesia 75 B. Saran 77 DAFTAR PUSTAKA 78

9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang identitas penduduknya terdiri beragam agama, etnis, dan budaya. Fakta tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal dengan kekayaan budayanya di antara negara lain di dunia ini. Namun demikian, Indonesia juga dikenal dengan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Mayoritas penduduk Muslim ini kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang menarik untuk dikaji. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa dengan banyaknya penduduk yang beragama Islam, Indonesia dapat dianggap sebagai sebuah negara yang sanggup merepresentasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Asumsi tersebut memang sah, namun justru terbantahkan dengan realitas sosial yang menunjukkan bahwa Indonesia sendiri merupakan kesatuan dari multi kebudayaan. 1 Dengan kata lain, identitas masyarakat indonesia tidak hanya bersandar kepada homogenitas agama Islam melainkan juga mengacu kepada heterogenitas budaya yang melingkupinya. Implikasi luas dari heterogenitas kebudayaan adalah timbulnya beragam perbedaan dalam realitas sosial. Sebagai contoh seringkali ditemukan perbedaan baik di tingkat sikap, persepsi, bahkan tindakan (yang sangat mungkin berujung konflik) di antara sesama Muslim 1 Dalam prakata buku Tafsir Ulang Pernikahan Lintas Agama, Perspektif Perempuan dan Pluralisme, (Jakarta, Kapal Perempuan, 2004) hlm ii. Yanti Muchtar mengatakan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang plural; dilihat dari sisi agama, suku, ras, dan kelas, dan lain-lain. Ruang interaksi lintas golongan sangat terbuka lebar.

10 Indonesia tentang sebuah fenomena sosial keagamaan. Untuk mencontohkan betapa perbedaan seperti itu kerap terjadi di Indonesia ambil contoh peristiwa pengusiran jamaah Ahmadiyah, jamaah Salamullah pimpinan Lia Eden, hingga peristiwa pernikahan beda agama di kalangan umat Muslim. Isu pernikahan beda agama juga merupakan isu yang sensitif jika kita tempatkan kepada pemeluk agama selain Islam di Indonesia. Dalam konteks agama Katolik di Indoenesia, pernikahan beda agama merupakan sebuah hal yang sama sensitifnya dengan agama Islam. Setidaknya dua agama besar ini melihat bahwa pernikahan beda agama justru merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan jika pasangan yang melakukan pernikahan tetap berpegang kepada prinsip agamanya masing-masing dalam melangsungkan pernikahan. Namun demikian, dalam agama Katolik pernikahan yang dilakukan tetaplah sah jika pasangan yang berbeda agama tersebut menerima prinsip-prinsip, sifat dan tujuan pernikahan menurut agama Katolik. Peristiwa pernikahan beda agama menjadi salah satu masalah perbedaan yang cukup kompleks dalam isu pernikahan. Dalam sejarah pernikahan beda agama, pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang tunduk pada hukum yang berbeda berdasarkan hukum agama, adat, maupun kewarganegaraan telah diatur secara khusus sejak zaman kolonial, hingga pasca kemerdekaan. 2 Namun sejak diberlakukannya UU No. 1 tahun 1974, definisi pernikahan beda agama mengarah kepada orang yang menikah dengan perbedaan kewarganegaraan. Undang-undang no. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 tentang pernikahan memuat asas penting bahwa, pernikahan adalah sah apabila dilaksanakan 2 Maria Ulfa dan Martin Lukito Sinaga (ed.), Tafsir Ulang Pernikahan Lintas Agama, Perspektif Perempuan dan Pluralisme, (Jakarta: Kapal Perempuan, 2004), h. 92

11 menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Asas ini berlaku untuk semua pernikahan yang dilaksanakan di Indonesia termasuk pernikahan antar agama. 3 Di sini jelas bahwa pernikahan yang dilaksanakan di luar hukum agama maka akan dianggap oleh negara sebagai pernikahan yang tidak sah. Selama ini pernikahan beda agama sudah banyak terjadi di Indonesia, tetapi dalam hal ini pemerintah kurang tegas dalam menanggapi pernikahan beda agama karena sampai detik ini pernikahan beda agama masih terus berlangsung. Dan dari sekian banyak pelaku pernikahan beda agama pun masih belum jelas tercatat dalam arsip pemerintah. Sedangkan permasalahan pernikahan beda agama dalam hukum agama Islam, senantiasa dimaknai dan dipahami secara berbeda oleh para penganutnya. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari kandungan kitab suci Al-Quran yang lebih banyak memuat gambaran umum dari satu persoalan, dan oleh karenanya selalu ada peluang untuk ditafsirkan, terlebih lagi jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi saat ini yang jelas berbeda dengan kondisi masa lalu. Beragam penafsiran disamping mencerminkan bahwa ada pluralitas dalam agama itu sendiri, juga mencerminkan kekayaan khasanah al-quran yang senantiasa bisa digali untuk kemudian mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah ditemukan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu, pernikahan beda agama dalam Islam menjadi sesuatu yang tak pernah selesai diperdebatkan. Sebagian sumber (nash al-qur an) dimaknai sebagai bentuk pelarangan terhadap pernikahan beda agama, sementara 3 H. Ichtiyanto, SA, SH, APU, Pernikahan Campuran dalam Negara Republk Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI,2003), h.81

12 sebagian lagi ditafsirkan oleh banyak kalangan sebagai ayat yang membolehkan pernikahan beda agama. Hal lain yang juga perlu dipertimbangkan dalam upaya memahami teks al-qur an sebagai sumber hokum, termasuk untuk pernikahan beda agama, adalah konteks pada saat ayat itu diturunkan. Dengan melihat konteks tersebut, penafsiran ayat yang membicarakan tentang pernikahan beda agama akan lebih jelas dipahami. Maka, dalam hemat penulis, ayat yang melarang pernikahan beda agama merupakan bentuk larangan untuk umat pada saat itu. Terbukti ketika konteksnya berubah, nada ayat al-qur an juga mengalami perubahan. Al-Qur an kemudian secara tegas memperbolehkan terjadinya pernikahan beda agama meski, pada saat itu, terbatas hanya pernikahan antara kaum Muslim dengan Ahl al-kitab. Konteks yang terjadi dan dapat dilihat pada masa kini, berbeda hampir 180 derajat dengan konteks baik ketika al-qur an melarang pernikahan beda agama maupun ketika memperbolehkannya dengan syarat tertentu. Konteks kini, manusia begitu plural, tidak mungkin hidup menyendiri tanpa bergaul dan berinteraksi dengan yang lain. Hubungan dan, bahkan, pernikahan dengan umat dari agama lain pun, kini, tak terelakkan lagi. Pendapat seperti ini sudah diutarakan oleh banyak ulama dan pemikir Islam kontemporer sebagaimana akan dijelaskan pada bab III. Sedangkan bagi umat Katolik sendiri pernikahan beda agama adalah salah satu halangan yang membuat tujuan pernikahan tidak dapat diwujudkan. Apabila pernikahan beda agama ini masih tetap dilaksanakan harus terlebih dahulu meminta izin atau dispensasi kepada uskup setempat. 4 Walaupun di dalam 4 Lihat Kanon 1086 pasal 2

13 pernikahan ini tidak ada keharusan bagi pihak yang bukan Katolik untuk ikut menjadi Katolik, tetapi ia harus menerima prinsip-prinsip, sifat dan tujuan pernikahan menurut agama Katolik. Di dalam agama Katolik terdapat ayat-ayat yang dipakai sebagai acuan pernikahan beda agama. Sebagian besar kitab Katolik melarang terjadinya pernikahan beda agama. Hal itu sebagaimana terlihat pada beberapa ayat di dalam kitab Perjanjian Lama seperti Kejadian 6:5-6 dan Ulangan 7:3-4. Pelarangan pernikahan beda agama juga terrekam dalam kitab Perjanjian Baru seperti pada Korintus 6:14 Korintus 7:1 dan 7: Sementara tanda-tanda pembolehan pernikahan beda agama baru muncul pada Hukum Kanonik, hukum turunan dari Kitab Suci yang berbasis pada realitas. Meski pasangan yang akan menikah beda agama terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan tertentu, dua ayat dalam Hukum Kanonik patut disebut sebagai ayat-ayat yang memungkinkan terjadinya pernikahan beda agama dalam Katolik. Dua ayat tersebut adalah Hukum Kanon 1125 dan Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan, dan itu tidak akan menjadi suatu masalah selama kita bisa menyikapinya dengan arif dan bijaksana, salah satunya yaitu senantiasa menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai kepada sesama pemeluk agama. Dan kita tidak sepatutnya untuk memaksakan suatu agama kepada orang lain karena pada dasarnya semua agama itu mengajarkan tentang kebaikan. Demi kepentingan kajian ini, penulis akan membahas lebih jauh mengenai pernikahan beda agama dari perspektif agama Islam dan dari agama Kristen 5 Yonathan A. Trisna, Berpacaran dan Memilih Teman Hidup, (Bandung:Penerbit Kalam Hidup Pusat, 1987), h.53

14 Katolik. Kedua agama ini merupakan agama yang cukup menarik karena kedua agama ini cukup banyak membahas tentang pernikahan beda agama, baik itu dari perspektif yang melarang pernikahan beda agama sampai dengan perspektif yang membolehkan bersyarat dengan alasan kemajemukan agama merupakan suatu yang tak terbantahkan, sehingga pernikahan seperti ini merupakan hal yang wajar terjadi di Negara Indonesia yang penduduknya terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis kemudian merasa perlu untuk melakukan studi secara mendalam mengenai pernikahan beda agama. Tentunya studi mendalam terhadap pandangan agama Islam dan Kristen Katolik dalam melihat pernikahan beda agama. Studi ini akan ditulis dengan judul: PERNIKAHAN BEDA AGAMA MENURUT ISLAM DAN KATOLIK. Diharapkan dengan adanya studi mengenai pernikahan beda agama ini penulis bisa memberikan kontribusi penting baik bagi studi agama yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan. B. Batasan dan Rumusan Masalah Pernikahan beda agama adalah peristiwa sosial. Ia sangat mungkin terjadi dan dialami oleh setiap umat dari semua agama dalam konteks kehidupan kini yang plural, multietnis, multi bahasa, budaya, dan lain sebagainya. Maka, pernikahan beda agama merupakan sebuah tema yang sungguh memiliki cakupan sangat luas. Karena keluasan wilayah itu, tanpa ada kepentingan lain, kecuali kebutuhan pemokusan masalah, penulis akan membatasi persoalan yang akan

15 diangkat dalam tulisan ini pada pernikahan beda agama dalam pandangan Islam dan Katolik. Dalam rangka memperoleh dan coba masuk pada pembahasan yang lebih sistematis dan logis, penulis perlu membuat beberapa rumusan masalah sebagai patokan dan focus bahasan pada bab-bab dan paparan-paparan selanjutnya. Untuk itu, rumusan masalah pada tulisan ini adalah: 1. Apa sesungguhnya yang menjadi landasan utama dalam agama Islam dan Katolik dalam memandang pernikahan beda agama? 2. Bagaimana pula penafsiran teks-teks keagamaan berimplikasi bagi para pelaku pernikahan beda agama dan kehidupan atau hubungan antar-umat beragama di Indonesia secara lebih luas? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan khusus dari penelitian ini adalah dalam rangka pemenuhan syaratsyarat dan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu (S1). Adapun yang menjadi tujuan umum penelitian ini adalah untuk memberikan analisis tentang bagaimana sesungguhnya pernikahan beda agama yang terjadi di dalam agama Islam dan Kristen Katolik. Adapun manfaat penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan pengayaan terhadap literatur penelitian di Indonesia khususnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

16 D. Metodologi Penelitian Sebagai sebuah karya ilmiah, ulasan dan isi karya ini merujuk pada dan menggunakan metode penelitian yang bersifat kualitatif. Penulis berusaha mensistematisasi berbagai penemuan dari bermacam literatur menjadi sebuah kumpulan kalimat atau paparan yang bermakna. Karena akan menganalisis kumpulan temuan literatur, maka data yang akan digunakan sekaligus penelitian ini juga bisa disebut dengan penelitian pustaka. Secara lebih tegas, penelitian pustaka dilakukan dengan membaca dan menginterpretasikan buku-buku dan dokumen yang memiliki kaitan erat, baik secara substansial maupun sekadar pelengkap data, dengan pembahasan yang tentunya disesuaikan berdasarkan pilihan tema yang menjadi konsentrasi perbabnya. Informasi yang didapatkan dari penelitian pustaka tersebut akan dianalisis dengan pendekatan komparatif antara satu informasi dengan informasi lainnya dan diskematisasikan melalui perangkat tabel. Dengan model analisis demikian diharapkan dapat tercipta proposisi kalimat yang kuat dan bertanggung jawab tidak hanya secara teks, tetapi juga konteks. Sehingga penarikan kesimpulan dan tesis yang dibuat oleh penulis memiliki kesesuaian dan ketepatan yang memadai. E. Sistematika Penulisan Penulisan skripsi ini sendiri akan terbagi ke dalam lima bab. Secara sistematis, kelimanya akan tersusun dan secara deskriptif menjelaskan: Bab I mencakup Pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

17 Bab II mencakup pengertian dari pernikahan beda agama. Bagaimana masing-masing (Islam dan Katolik) mendefinisikan pernikahan beda agama adalah uraian pada sub bab pertama. Selanjutnya bab ini juga akan membahas undang-undang dan kebijakan pemerintah yang telah ada dalam memandang pernikahan beda agama. Bab III membahas pernikahan beda agama dalam pandangan agama Islam dan Katolik berdasarkan sumber hukum yang ada pada masing-masing agama. Apa saja yang menjadi hambatan dan memungkinkan terjadinya atau bahkan sahnya pernikahan beda agama adalah poin penting yang juga dibahas pada bab ini. Bab IV berisi tentang analisis komparatif penulis setelah melihat dan mendeskripsikan pandangan kedua agama tersebut pada bab sebelumnya. Perdebatan kontemporer para tokoh agama dan celah hukum, argumentasi pelarangan dan persetujuan akan pernikahan beda agama menjadi suguhan utamanya. Adapun Bab V merupakan kesimpulan dan sikap subyektif penulis setelah melihat pandangan kedua agama (Islam dan Katolik) tentang pernikahan beda agama. Tak lupa penulis juga mengajukan saran yang secara khusus berkaitan dengan fenomena dan penafsiran teks keagamaan tentang pernikahan beda agama.

18 BAB II PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM ISTILAH A. Pengertian Pernikahan Beda Agama Sebelum membahas lebih jauh mengenai pengertian pernikahan beda agama, ada baiknya jika dijelaskan terlebih dahulu pengertian dari pernikahan itu sendiri. Undang-Undang (UU) perkawinan pasal 1 menyebutkan secara jelas apa yang dimaksud dengan pernikahan. Penulis menjadikan definisi itu juga untuk memaksudkan kata perkawinan atau pernikahan pada pembahasan selanjutnya. Di Undang-undang itu pernikahan didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha Esa. 6 Tampak bahwa UU di atas menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang mulia. Dari situ, idealitas kehidupan sepasang laki-laki dan perempuan guna memperoleh kesejahteraan dan keutuhan hidup berada pada tempat yang utama. Undang-Undang tersebut tidak hanya melihat pernikahan dari sisi lahir, tetapi sekaligus ikatan kebatinan antara suami istri dalam membina keluarga yang bahagia sesuai dengan kehendak Tuhan yang maha Esa. Dalam Islam, salah satu tanda dari kekuasaan Allah adalah penyatuan sepasang laki-laki dan perempuan. Penyatuan tersebut didasari oleh rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah) yang terjalin di antara mereka. Artinya, dalam 6 Muhammad Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional Berdasarkan Undang-Undang No. I Tahun 1974 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, (Medan: CV. Zahir Trading Co Medan, ), h. 237

19 Islam, pernikahan tidak hanya menjadi peristiwa sosial yang murni manusiawi, melainkan masih menyimpan unsur-unsur ketuhanan. Pernikahan bahkan dianggap sebagai manifestasi dari tanda kebesaran Tuhan. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah perbuatan yang diperintahkan oleh Allah. Allah menganjurkan seorang laki-laki dan perempuan yang telah dewasa dan mapan serta siap menjalin hubungan dengan manusia yang nota bene lain, baik dari jenis kelamin maupun keturunan darah, untuk melakukan pernikahan. Imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, dan Malik bin Anas menyatakan bahwa untuk pribadi-pribadi tertentu, yang telah memenuhi kualivikasi sebagaimana disebutkan pada paragraf sebelumnya, menikah menjadi suatu perbuatan dan pengambilan sikap yang dihukumi wajib. Kewajiban, atau lebih tepatnya perintah, kemudian bahkan tidak hanya dikenakan pada perbuatan menikah dalam skala besar, tetapi juga pada praktek yang lebih spesifik di dalamnya, yakni dalam rangka menambah dan melanjutkan keturunan. Pada kasus ini Islam memerintahkan untuk senantiasa mengingat dan bertaqwa kepada-nya. Karena itulah, pernikahan memiliki filosofi yang sangat mendalam. Dalam Islam, menikah kemudian bukan hanya dianggap sebagai sebuah perbuatan yang bermaksud untuk sekedar bersenang-senang dan melampiaskan nafsu (rekreasi) tetapi juga mengemban tugas mulia untuk melangsungkan keberlangsungan spesies manusia di muka bumi ini (prokreasi). Tugas suci tersebut hanya bisa diemban jika manusia memiliki cinta kasih (mawaddah wa rahmah) dalam melaksanakan pernikahan. Tanpa itu, cita-cita mulia yang sebenarnya hendak dicapai akan sulit untuk diwujudkan.

20 Karena pernikahan adalah institusi yang dianggap sakral, maka pernikahan biasanya diatur oleh aturan-aturan agama. Mulai dari persyaratan, tata cara, dan segala tetek bengek-nya. Karena itulah, pada lazimnya, pernikahan dilakukan oleh pasangan yang memeluk agama yang sama. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan pasangan yang menikah berasal dari agama yang berbeda. Pernikahan seperti inilah yang disebut dengan pernikahan beda agama. Bisa jadi, orang Islam, baik pria maupun wanita, akan menikah dengan orang yang non-islam seperti Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Khonghucu, dan lain-lain. Pernikahan beda agama ini mengundang titik perdebatan yang panjang. Karena, semua agama tampak ingin melindungi para penganutnya dari pengaruh yang ditebarkan oleh agama lain. Di samping itu, pernikahan beda agama seringkali dicurigai sebagai upaya-upaya yang tersistematisir untuk membawa pemeluk salah satu agama menjadi pemeluk agama lain. Titik perdebatan tersebut juga merambah hingga hal yang paling mendasar yaitu persoalan penafsiran terhadap teks-teks suci, baik al-quran dari pihak Islam maupun Injil dari pihak Katolik. Ada banyak pro dan kontra mengenai persoalan penafsiran teks suci ini. Pihak yang tidak menyetujui pernikahan beda agama biasanya menggunakan pola penafsiran tekstual dalam memahami ayat-ayat suci. Mereka menganggap bahwa teks suci diturunkan tanpa memandang realitas sosial yang terjadi di masa itu. Bagi kalangan penafsir tekstualis, kitab suci diangap sebagaimana layaknya Tuhan itu sendiri, yang berkuasa mengatur segala persoalan kehidupan.

21 Sebaliknya, kalangan yang menerima keberadaan pernikahan beda agama cenderung menafsirkan teks suci atau teks keagamaan dengan pendekatan yang lebih bersifat kontekstual. Mereka memandang bahwa teks adalah produk budaya, yang tak lepas dari interaksi dengan kondisi sosial pada masa ayat tersebut diturunkan. Artinya, teks suci selalu berdialektika dengan kondisi sosial pada saat teks tersebut diturunkan, tak pernah tercabut dari kontekstualitas. Oleh karena itu, dalam menyarikan maksud dari teks suci, para penafsir haruslah mempertimbangkan konteks ruang dan waktu ketika ayat tersebut diturunkan. Artinya, harus ditelaah pula kondisi sosial budaya yang berlangsung pada saat ayat tersebut diturunkan, untuk diterjemahkan dalam konteks kekinian. Perlu juga untuk menerjemahkan konteks tersebut dalam bingkai ruang, artinya bahwa teks tersebut diturunkan di suatu tempat tertentu yang notabene memiliki kultur budaya berbeda dengan kultur budaya Indonesia. Pembahasan lain yang berkenaan dengan penikahan beda agama adalah yang berkait dengan statusnya dalam wilayah hukum Indonesia. Hingga saat ini, belum ada hukum yang mengatur mengenai pernikahan beda agama. Dalam UU Nomor 1 tahun 1974 pasal 57 memang disebutkan istilah perkawinan campur. Akan tetapi, yang dimaksud dengan perkawinan campur dalam undang-undang ini adalah perkawinan (pernikahan) antara dua orang yang tinggal di Indonesia dan tetap tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan, salah satu pihak berkewarganegaraan asing dan pihak lainnya berkewarganegaraan Indonesia. 7 Jadi, pernikahan yang dimaksud bukan 7 Suparman Usman, Perkawinan Antar Agama dan Problematika Hukum Perkawinan di Indonesia, ( Serang: Percetakan Saudara, 1995), h. 35

22 merupakan pernikahan antara dua orang yang berbeda agama, melainkan pernikahan antara dua orang yang berbeda status kewarganegaraan. Undang-undang perkawinan pada dasarnya telah menjelaskan pernikahan yang secara substansial dilakukan oleh dua orang di Indonesia yang memiliki perbedaan spesifik seperti kewarganegaraan. Kendati perbedaan agama tidak disebutkan secara spesifik dalam undang-undang perkawinan, namun para pakar hukum perkawinan di Indonesia telah mendefinisikan pernikahan beda agama sebagai Ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita yang masing-masing berbeda agamanya dan mempertahankan agamanya itu sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. 8 Pengertian pernikahan antar agama yang lebih ringkas dapat ditemukan dalam pedoman pegawai pencatat nikah. Dalam pedoman tersebut disebutkan bahwa pernikahan antar agama adalah pernikahan yang terjadi di Indonesia antara dua orang yang menganut agama yang berbeda. 9 Sedangkan pernikahan beda agama menurut Romo Antunius Dwi Joko, Pr yaitu pernikahan antara seorang baptis Katolik dengan pasangan yang bukan Katolik (bisa dibaptis oleh gereja lain, atau sama sekali tidak dibaptis). Dan, menurutnya, gereja memberi kemungkinan untuk pernikahan beda agama tersebut 8 Eoh O.S., Perkawinan Antar Agama dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996) cet 1, h 35 9 A. Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum perkawinan (Nikah, Talak, Cerai, Rujuk), (Bandung: Al-Bayan, 1994) cet 1, h

23 karena membela dua hak asasi, yaitu hak untuk menikah dan hak untuk memilih pegangan hidup (agama) sesuai dengan hati nuraninya. 10 Dapat disimpulkan bahwa pernikahan beda agama yaitu suatu pernikahan yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda keyakinan atau agama, mereka bertekad untuk membangun keluarga bahagia tanpa harus meninggalkan keyakinan mereka masing-masing dan mereka tetap taat kepada agama yang mereka anut. B. Kebijakan Negara tentang Pernikahan Beda Agama Sebelum berlakunya UU tahun 1974, di Indonesia kita jumpai peraturan perkawinan campuran (Regeling of De Gemende Huwelykue; Staatsblad 1898 No. 158). Akan tetapi sesuai dengan ketentuan pasal 66 UU, peraturan Staatsblad 1898 No. 158 tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi. Di luar fakta sejarah di atas, UU Staatsblad 1898 No. 158 sendiri menyatakan bahwa pernikahan campuran adalah pernikahan antara orang-orang yang tinggal di Indonesia namun tunduk pada hukum yang berlainan. 11 Menurut UU di atas setiap pernikahan di antara orang-orang yang berada dan tunduk pada hukum yang berlainan disebut pernikahan campuran, baik disebabkan perbedaan golongan penduduk, perbedaan hukum adat, maupun perbedaan agama. Artinya, UU Staatsblad tahun 1898 No. 158 ingin mengatakan bahwa perbedaan golongan penduduk baik warga asing atau bukan warga asing, perbedaan hukum adat dan perbedaan agama bukanlah suatu penghalang bagi pasangan yang ingin 10 Romo Antunius Dwi Joko, Kawin Campur, artikel diakses pada 10 september 2007 dari Indocell. Net. 11 M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan nasional, h. 238

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia diciptakan oleh sang kholiq untuk memiliki hasrat dan keinginan untuk melangsungkan perkawinan. Sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh

BAB I. Pendahuluan. Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita, yang memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1974, TLN No.3019, Pasal.1.

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1974, TLN No.3019, Pasal.1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

Lebih terperinci

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014 PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014 Membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan

Lebih terperinci

PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat

PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat 09-04-05 PERNIKAHAN bernuansa keragaman ini banyak terjadi dan kita jumpai di dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin

Lebih terperinci

Mam MAKALAH ISLAM. Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan

Mam MAKALAH ISLAM. Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan Mam MAKALAH ISLAM Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan 20 Oktober 2014 Makalah Islam Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan H. Anwar Saadi (Kepala Subdit Kepenghuluan

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN 1 2 TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN (Studi Penelitian di Pengadilan Agama Kota Gorontalo) Nurul Afry Djakaria

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan salah satu negara dengan masyarakat yang pluralistik dengan beragam suku dan agama. Ini tercermin dari semboyan bangsa Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kalangan manusia, tetapi juga terjadi pada tumbuhan maupun hewan. Perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. kalangan manusia, tetapi juga terjadi pada tumbuhan maupun hewan. Perkawinan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah perilaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam dunia berkembang biak. Perkawinan bukan saja terjadi di kalangan manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa. melaksanakan kemurnian dari peraturan-peraturannya.

BAB I PENDAHULUAN. benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa. melaksanakan kemurnian dari peraturan-peraturannya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Di lihat dari letak geografis kepulauan Indonesia yang strategis antara dua benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa oleh pendatang

Lebih terperinci

BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung Terhadap Putusan Waris Beda Agama Kewarisan beda agama

Lebih terperinci

PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Oleh: Wahyu Ernaningsih, S.H.,M.Hum. Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Abstrak Putusan Mahkamah Konstitusi

Lebih terperinci

PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Abdul Kholiq ABSTRACT

PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Abdul Kholiq ABSTRACT ISSN : NO. 0854-2031 PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Abdul Kholiq * ABSTRACT Marriage is a part of human life on this earth, and in Indonesia live many human diverse religions recognized by the government,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pandangan tersebut didasarkan pada Pasal 28 UUD 1945, beserta

BAB I PENDAHULUAN. Pandangan tersebut didasarkan pada Pasal 28 UUD 1945, beserta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dan segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Pandangan tersebut didasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Ikatan lahir ialah

BAB I PENDAHULUAN. seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Ikatan lahir ialah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, dalam perkawinan akan terbentuk suatu keluarga yang diharapkan akan tetap bertahan hingga

Lebih terperinci

[ Indonesia Indonesian

[ Indonesia Indonesian SUAMI TIDAK SHALAT : [ Indonesia Indonesian ] Penyusun : Misy'al al-utaibi Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430 : : : : 2009 1430 2 Suami Tidak Shalat Segala puji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga kaya akan kebudayaan. Dengan latar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga kaya akan kebudayaan. Dengan latar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga kaya akan kebudayaan. Dengan latar belakang sejarah,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI KUA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK

BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI KUA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI KUA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK A. Analisis Terhadap Prosedur Pernikahan Wanita Hamil di Luar Nikah di Kantor Urusan Agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menginginkan bahagia dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi

BAB I PENDAHULUAN. menginginkan bahagia dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap manusia diatas permukaan bumi ini pada umumnya selalu menginginkan bahagia dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi miliknya. Sesuatu kebahagiaan itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia selalu ingin bergaul (zoon politicon) 1 bersama manusia lainya

BAB I PENDAHULUAN. Manusia selalu ingin bergaul (zoon politicon) 1 bersama manusia lainya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia selalu ingin bergaul (zoon politicon) 1 bersama manusia lainya dalam pergaulan hidup bermasyarakat, dari sifat tersebut manusia dikenal sebagai mahluk

Lebih terperinci

Akibat hukum..., Siti Harwati, FH UI, Universitas Indonesia

Akibat hukum..., Siti Harwati, FH UI, Universitas Indonesia 48 BAB III ANALISIS MENGENAI PERKAWINAN BEDA AGAMA YANG DIBERIKAN PENETAPAN OLEH HAKIM DAN DI DAFTARKAN KE KANTOR CATATAN SIPIL BAGI WARGA NEGARA INDONESIA 3.1 Kasus Posisi Pada tanggal 19 November 2007

Lebih terperinci

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. I Hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan

Lebih terperinci

REVISI UNDANG-UNDANG PERKAWINAN

REVISI UNDANG-UNDANG PERKAWINAN REVISI UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh: HERU SUSETYO Dosen Fakultas Hukum UIEU heru.susetyo@indonusa.ac.id ABSTRAK Undang Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 lahir antara lain dari perjuangan panjang kaum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahagia dan kekal yang dijalankan berdasarkan tuntutan agama. 1

BAB I PENDAHULUAN. bahagia dan kekal yang dijalankan berdasarkan tuntutan agama. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, manusia dibekali dengan keinginan untuk melakukan pernikahan, karena pernikahan itu adalah salah satu faktor

Lebih terperinci

Munakahat ZULKIFLI, MA

Munakahat ZULKIFLI, MA Munakahat ZULKIFLI, MA Perkawinan atau Pernikahan Menikah adalah salah satu perintah dalam agama. Salah satunya dijelaskan dalam surat An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN KATOLIK MENGENAI PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Perkawinan Antar Agama menurut Islam dan Kristen Katolik Pada dasarnya kedua agama tersebut, yakni Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki tuntutan kebutuhan yang makin maju dan sejahtera, tuntutan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. memiliki tuntutan kebutuhan yang makin maju dan sejahtera, tuntutan tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai mahluk individu, memiliki emosi yang memerlukan perhatian, kasih sayang, harga diri, pengakuan dan tanggapan emosional dari manusia lainnya dalam kebersamaan

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Sumber: LN 1974/1; TLN NO. 3019 Tentang: PERKAWINAN Indeks: PERDATA. Perkawinan.

Lebih terperinci

MENGENAL PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA Oleh: Marzuki

MENGENAL PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA Oleh: Marzuki MENGENAL PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA Oleh: Marzuki Perkawinan atau pernikahan merupakan institusi yang istimewa dalam Islam. Di samping merupakan bagian dari syariah Islam, perkawinan memiliki hikmah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam setiap perjalanan hidupnya, sudah pasti memiliki ketidakmampuan untuk bertahan hidup sendiri. Hal ini membuat manusia belajar untuk hidup berkelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga

Lebih terperinci

WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI

WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI Oleh Winarti NIM 070210402096 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun demikian, perkawinan di bawah

BAB I PENDAHULUAN. oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun demikian, perkawinan di bawah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan di bawah umur merupakan peristiwa yang dianggap wajar oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun demikian, perkawinan di bawah umur bisa menjadi isu yang menarik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan menjamin hak asasi manusia dalam proses penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara serta memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian sehingga

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki ketentuan hukum yang berlaku nasional dalam hukum perkawinan, yaitu Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Ketentuan Undang-undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam mempelajari suatu agama, aspek yang pertama dipertimbangkan sekaligus harus dikaji ialah konsep ketuhanannya. Dari konsep ketuhanan, akan diketahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 2 Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 2 Undang-Undang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan merupakan suatu hal yang terpenting di dalam realita kehidupan umat manusia. Perkawinan dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum masingmasing agama

Lebih terperinci

BAB IV. ANALISIS DASAR DAN PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BLITAR NO. 0187/Pdt.P/2014/PA.BL

BAB IV. ANALISIS DASAR DAN PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BLITAR NO. 0187/Pdt.P/2014/PA.BL 57 BAB IV ANALISIS DASAR DAN PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BLITAR NO. 0187/Pdt.P/2014/PA.BL A. Analisis Dasar Hukum Majelis Hakim dalam Menetapkan Penolakan Permohonan Dispensasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. identitas Indonesia adalah pluralitas, kemajemukan yang bersifat

BAB I PENDAHULUAN. identitas Indonesia adalah pluralitas, kemajemukan yang bersifat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal jika berbicara tentang identitas Indonesia adalah pluralitas, kemajemukan yang bersifat multidimensional. Kemajemukan

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

Mulia Quran Terjemahan Bahasa Indonesia. Surah Mumtahinah

Mulia Quran Terjemahan Bahasa Indonesia. Surah Mumtahinah Mulia Quran Terjemahan Bahasa Indonesia Terjemahan oleh Quraish Shihab Al-Harith bin Hisham asked Allah's Apostle "O Allah's Apostle! How is the Divine Inspiration revealed to you?" Allah's Apostle replied,

Lebih terperinci

PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM

PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM Latar belakang Beragam manusia, dengan latar belakang, kebudayaan dan keyakinan yang berbeda sehingga berefek pada pedoman tingkah laku untuk melakukan sesuatu.

Lebih terperinci

MATAN. Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

MATAN. Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab MATAN Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab C MATAN AS-SITTATUL USHUL Z. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Termasuk perkara yang sangat menakjubkan dan tanda yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagian yang terkecil dan yang pertama kali digunakan manusia sebagai sarana untuk bergaul dan hidup bersama adalah keluarga. Bermula dari keluarga inilah kemudian

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR KEWARGANEGARAAN. dengan bukan warga negara (orang asing).

BAB II KONSEP DASAR KEWARGANEGARAAN. dengan bukan warga negara (orang asing). 19 BAB II KONSEP DASAR KEWARGANEGARAAN A. Pengertian Warga Negara Wewenang sebuah organisasi negara meliputi kelompok manusia yang berada di dalamnya. Kelompok tersebut dapat dibedakan antara warga negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern dan maju secara tidak langsung menuntut setiap orang untuk mampu bersaing dalam mewujudkan tujuan

Lebih terperinci

POLIGAMI DALAM PERPEKTIF HUKUM ISLAM DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh: Nur Hayati ABSTRAK

POLIGAMI DALAM PERPEKTIF HUKUM ISLAM DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh: Nur Hayati ABSTRAK POLIGAMI DALAM PERPEKTIF HUKUM ISLAM DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh: Nur Hayati Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul ABSTRAK Dalam perkawinan, sudah selayaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam. Sinar Baru al Gesindo, Jakarta. Cet. Ke XXVII. Hal. 374.

BAB I PENDAHULUAN. 1 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam. Sinar Baru al Gesindo, Jakarta. Cet. Ke XXVII. Hal. 374. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di muka bumi ini Tuhan telah menciptakan segala sesuatu saling berpasangan, ada laki-laki dan perempuan agar merasa tenteram saling memberi kasih sayang dari suatu ikatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan sehingga dapat memperoleh keturunan. Proses tersebut ditempuh melalui suatu lembaga

Lebih terperinci

d. bahwa dalam usaha mengatasi kerawanan sosial serta mewujudkan, memelihara dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang

d. bahwa dalam usaha mengatasi kerawanan sosial serta mewujudkan, memelihara dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.: Ä Ä Ä TAHUN 2003 TENTANG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB III KEWARISAN TERHADAP ANAK DI LUAR NIKAH PASCA- PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/ PUU-VIII/ 2010

BAB III KEWARISAN TERHADAP ANAK DI LUAR NIKAH PASCA- PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/ PUU-VIII/ 2010 BAB III KEWARISAN TERHADAP ANAK DI LUAR NIKAH PASCA- PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/ PUU-VIII/ 2010 A. Sekilas Mahkamah Konstitusi Mahkamah Konstitusi adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sunnatullah yang umumnya berlaku pada semua mahkluk-nya. Hal ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. sunnatullah yang umumnya berlaku pada semua mahkluk-nya. Hal ini merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia secara alamiah mempunyai daya tarik antara satu dengan yang lainnya untuk membina suatu hubungan. Sebagai realisasi manusia dalam membina hubungan

Lebih terperinci

STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH

STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga

Lebih terperinci

H.M.A Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h.6

H.M.A Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h.6 BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan, manusia tidak dapat hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri. Setiap orang membutuhkan manusia lain untuk menjalani kehidupannya dalam semua hal, termasuk dalam pengembangbiakan

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI HARMONISASI HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

NASKAH PUBLIKASI HARMONISASI HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA BIDANG ILMU HUKUM NASKAH PUBLIKASI HARMONISASI HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA Dr. H. Muchammad Ichsan, Lc., MA. NIDN/NIK: 0525126501/19651225200504153052 Dr. Martinus

Lebih terperinci

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Pada Jumat, 17 Rabiul Awal 83 H (702 M), lahir seorang manusia suci dan penerus risalah Nabi Muhammad Saw. Pada hari yang bertepatan dengan maulid Rasulullah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian.

BAB I PENDAHULUAN. setiap manusia akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum waris merupakan salah satu dari bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA KUDUS TERHADAP HAK - HAK JANDA AKIBAT CERAI TALAK

PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA KUDUS TERHADAP HAK - HAK JANDA AKIBAT CERAI TALAK PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN AGAMA KUDUS TERHADAP HAK - HAK JANDA AKIBAT CERAI TALAK SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Tugas Dalam Menyelesaikan Jenjang Strata Satu (S1) Ilmu Hukum Dengan

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. 1. Kesimpulan

BAB VI PENUTUP. 1. Kesimpulan BAB VI PENUTUP 1. Kesimpulan Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat

Lebih terperinci

HIBAH, FUNGSI DAN KORELASINYA DENGAN KEWARISAN. O l e h : Drs. Dede Ibin, SH. (Wkl. Ketua PA Rangkasbitung)

HIBAH, FUNGSI DAN KORELASINYA DENGAN KEWARISAN. O l e h : Drs. Dede Ibin, SH. (Wkl. Ketua PA Rangkasbitung) HIBAH, FUNGSI DAN KORELASINYA DENGAN KEWARISAN O l e h : Drs. Dede Ibin, SH. (Wkl. Ketua PA Rangkasbitung) Hibah sebagai Fungsi Sosial Hibah yang berarti pemberian atau hadiah memiliki fungsi sosial dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. Dalam era globalisasi ini, Indonesia mengalami perkembangan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. Dalam era globalisasi ini, Indonesia mengalami perkembangan di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, Indonesia mengalami perkembangan di berbagai bidang, seperti perkembangan di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan

Lebih terperinci

KAJIAN YURIDIS TERHADAP HAK MEWARIS ANAK YANG LAHIR DARI PERKAWINAN CAMPURAN

KAJIAN YURIDIS TERHADAP HAK MEWARIS ANAK YANG LAHIR DARI PERKAWINAN CAMPURAN SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TERHADAP HAK MEWARIS ANAK YANG LAHIR DARI PERKAWINAN CAMPURAN JURIDICAL ANALYSIS TO THE INHERITANCE RIGHTS OF CHILD BORN FROM THE MIXED MARRIAGE TRIA IRNI RAHMAWATI NIM : 070710101100

Lebih terperinci

Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin

Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin Saat ini, jaminan hak asasi manusia di Indonesia dalam tataran normatif pada satu sisi semakin maju yang ditandai dengan semakin lengkapnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sudah menjadi sunatullah seorang manusia diciptakan untuk hidup

BAB I PENDAHULUAN. Sudah menjadi sunatullah seorang manusia diciptakan untuk hidup BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sudah menjadi sunatullah seorang manusia diciptakan untuk hidup saling berdampingan dengan manusia yang lain sebagaimana sifat manusia sebagai makhluk sosial,

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI AH SEBAGAI HIKMAH AL-TASYRI TERHADAP HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN

TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI AH SEBAGAI HIKMAH AL-TASYRI TERHADAP HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN 1 TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI AH SEBAGAI HIKMAH AL-TASYRI TERHADAP HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN (Studi Komparatif Pandangan Imam Hanafi dan Imam Syafi i dalam Kajian Hermeneutika dan Lintas Perspektif) Pendahuluan

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA HUBUNGAN ANTAR AGAMA DI INDONESIA Dosen : Mohammad Idris.P, Drs, MM Nama : Dwi yuliani NIM : 11.12.5832 Kelompok : Nusa Jurusan : S1- SI 07 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbuatan yang bernilai ibadah adalah perkawinan. Shahihah, dari Anas bin Malik RA, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW

BAB I PENDAHULUAN. perbuatan yang bernilai ibadah adalah perkawinan. Shahihah, dari Anas bin Malik RA, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW BAB I PENDAHULUAN Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari dua jenis, pria dan wanita. dengan kodrat jasmani dan bobot kejiwaan yang relatif berbeda yang ditakdirkan untuk saling berpasangan dan saling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, suami istri memikul suatu tanggung jawab dan kewajiban.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, suami istri memikul suatu tanggung jawab dan kewajiban. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan merupakan hubungan cinta, kasih sayang dan kesenangan. Sarana bagi terciptanya kerukunan dan kebahagiaan. Tujuan ikatan perkawinan adalah untuk dapat membentuk

Lebih terperinci

C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Agama, Suku, Ras, Budaya, dan Gender

C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Agama, Suku, Ras, Budaya, dan Gender C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Agama, Suku, Ras, Budaya, dan Gender Semua manusia pada dasarnya sama. Membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama manusia karena warna kulit atau bentuk fisik lainnya

Lebih terperinci

[97] Memahami Perda-perda Syariah Sunday, 03 February :51

[97] Memahami Perda-perda Syariah Sunday, 03 February :51 Bila penolakan itu dilakukan dengan alasan bahwa perda itu inkonstitusional, justru langkah yang mereka lakukan itulah yang inkonstitusional karena tidak sesuai dengan mekanisme UU. Tak henti-hentinya

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

PERNYATAAN UMUM TENTANG HAK-HAK ASASI MANUSIA

PERNYATAAN UMUM TENTANG HAK-HAK ASASI MANUSIA PERNYATAAN UMUM TENTANG HAK-HAK ASASI MANUSIA MUKADIMAH Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

3 Wasiat Agung Rasulullah

3 Wasiat Agung Rasulullah 3 Wasiat Agung Rasulullah Dalam keseharian kita, tidak disangsikan lagi, kita adalah orang-orang yang senantiasa berbuat dosa menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah atau meninggalkan kewajiban

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial, susila, dan religius. Sifat kodrati manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila,

Lebih terperinci

5 Oktober 2011 AAEI ITB K-07

5 Oktober 2011 AAEI ITB K-07 1 2 ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH... 3 Gina Maulia (10510064) Dewi Ratna Sari (10510028) KELOMPOK 3 Nilam Wahyu Nur Sarwendah (10510051) Widya Tania Artha (10510026) Kartika Trianita (10510007)

Lebih terperinci

PANCASILA & AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Tugas akhir kuliah Pendidikan Pancasila. Reza Oktavianto Nim : Kelas : 11-S1SI-07

PANCASILA & AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Tugas akhir kuliah Pendidikan Pancasila. Reza Oktavianto Nim : Kelas : 11-S1SI-07 PANCASILA & AGAMA Tugas akhir kuliah Pendidikan Pancasila STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Nama : Reza Oktavianto Nim : 11.12.5818 Kelas : 11-S1SI-07 Jurusan : S1 SISTEM INFORMASI KEL. : NUSANTARA DOSEN : Drs.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan: Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan

Lebih terperinci

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag.

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan pemecahan terhadap semua masalah kehidupan. Sebagai agama rahmatan lil alamin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Masyarakat Indonesia tergolong heterogen dalam segala aspeknya. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Masyarakat Indonesia tergolong heterogen dalam segala aspeknya. Dalam BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masyarakat Indonesia tergolong heterogen dalam segala aspeknya. Dalam aspek agama jelaslah bahwa terdapat enam agama yang diakui di Indonesia yakni Agama Islam, Hindu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalammenjadikan dan menciptakan alam ini. Perkawinan bersifat umum,

BAB I PENDAHULUAN. dalammenjadikan dan menciptakan alam ini. Perkawinan bersifat umum, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu ketentuan dari ketentuan-ketentuan Allah di dalammenjadikan dan menciptakan alam ini. Perkawinan bersifat umum, menyeluruh, berlaku

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PENGENAAN TARIF AKAD NIKAH NASKAH PUBLIKASI. derajat S-I Program Studi Pendidikan. Pancasila dan Kewarganegaraan

IMPLEMENTASI PENGENAAN TARIF AKAD NIKAH NASKAH PUBLIKASI. derajat S-I Program Studi Pendidikan. Pancasila dan Kewarganegaraan IMPLEMENTASI PENGENAAN TARIF AKAD NIKAH (Studi Kasus Penyelenggaraan Pernikahan di KUA Kec. Mantingan Kab. Ngawi dalam Perspektif Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2014) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi

Lebih terperinci

PERKAWINAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF MAHMÛD SHALTÛT (Studi Analisis Kitab al-fatâwâ)

PERKAWINAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF MAHMÛD SHALTÛT (Studi Analisis Kitab al-fatâwâ) PERKAWINAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF MAHMÛD SHALTÛT (Studi Analisis Kitab al-fatâwâ) SKRIPSI Oleh: MUHAMMAD MAKSUM NIM. 241 042 022 Pembimbing I LUTHFI HADI AMINUDDIN, M. Ag. Pembimbing II UDIN SAFALA, M.H.I

Lebih terperinci

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998 MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA -------------- KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENETAPAN HAKIM PENGADILAN AGAMA. MALANG NOMOR 0038/Pdt.P/2014/PA.Mlg

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENETAPAN HAKIM PENGADILAN AGAMA. MALANG NOMOR 0038/Pdt.P/2014/PA.Mlg BAB IV ANALISIS TERHADAP PENETAPAN HAKIM PENGADILAN AGAMA MALANG NOMOR 0038/Pdt.P/2014/PA.Mlg A. Analisis Pertimbangan dan Dasar Hukum Majelis Hakim Pengadilan Agama Malang Mengabulkan Permohonan Itsbat

Lebih terperinci

FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA Tentang Perayaan Natal Bersama

FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA Tentang Perayaan Natal Bersama FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA Tentang Perayaan Natal Bersama Menimbang: 1) Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama. 2) Ummat islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah

Lebih terperinci

RISALAH PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN NON MUSLIM DALAM TAFSIR TEMATIK AL-QUR AN

RISALAH PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN NON MUSLIM DALAM TAFSIR TEMATIK AL-QUR AN RISALAH PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN NON MUSLIM DALAM TAFSIR TEMATIK AL-QUR AN Imron Rosyadi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan Kartasura, Surakarta

Lebih terperinci

TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed

TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed TAWASSUL Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Setelah kita mengetahui bahaya kesyirikan yang sangat besar di dunia dan akhirat, kita perlu mengetahui secara rinci bentuk-bentuk kesyirikan yang banyak terjadi

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 0930/Pdt.G/2015/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. melawan

PUTUSAN Nomor 0930/Pdt.G/2015/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. melawan PUTUSAN Nomor 0930/Pdt.G/2015/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata tertentu pada tingkat

Lebih terperinci

Keutamaan Kalimat Tauhid dan Syarat-Syaratnya

Keutamaan Kalimat Tauhid dan Syarat-Syaratnya Keutamaan Kalimat Tauhid dan Syarat-Syaratnya Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

PEMBAHASAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

PEMBAHASAN KOMPILASI HUKUM ISLAM PEMBAHASAN KOMPILASI HUKUM ISLAM Materi : HUKUM KEWARISAN Oleh : Drs. H.A. Mukti Arto, SH, M.Hum. PENDAHULUAN Hukum Kewarisan Hukum Kewarisan ialah Hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Setiap manusia di muka bumi ini diciptakan saling berpasang-pasangan. Seorang pria dan seorang wanita yang ingin hidup bersama dan mereka telah memenuhi persyaratan-persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sayang keluarga, tukar pikiran dan tempat untuk memiliki harta kekayaan. 3 apa yang

BAB I PENDAHULUAN. sayang keluarga, tukar pikiran dan tempat untuk memiliki harta kekayaan. 3 apa yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menjalani kehidupan sebagai suami-isteri hanya dapat dilakukan dalam sebuah ikatan perkawinan. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, arah

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA

Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA UUD 1945 Tap MPR Nomor III/1998 UU NO 39 TAHUN 1999 UU NO 26 TAHUN 2000 UU NO 7 TAHUN 1984 (RATIFIKASI CEDAW) UU NO TAHUN 1998 (RATIFIKASI KONVENSI

Lebih terperinci

KUISIONER HASIL SURVEI TESIS

KUISIONER HASIL SURVEI TESIS KUISIONER HASIL SURVEI TESIS STUDI DESKRIPTIF TENTANG PERCERAIAN DAN AKIBAT HUKUMNYA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG BERAGAMA ISLAM PADA DINAS PENDIDIKAN KOTA PEKALONGAN Oleh : Nama : HENRI RUDIN NIM :

Lebih terperinci