BAB I PENDAHULUAN. gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu,

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu,"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional berbahasa Jawa (Tofani, 1995: 93). Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Pada umumnya tembang macapat itu memiliki urutan yang teratur, seperti kehidupan manusia yang berurut dari lahir, kanak-kanak, dewasa, hingga meninggal. Terdapat 11 tembang macapat. Tembang pertama yaitu maskumambang, menggambarkan jabang bayi dalam kandungan ibunya. Dari kata mas artinya hidup jabang bayi belum diketahui apakah laki-laki atau perempuan, kata kumambang artinya hidup jabang bayi itu mengambang dalam kandungan ibunya. Tembang yang kedua yaitu mijil, yang artinya lahir. Tembang yang ketiga yaitu kinanthi, dari kata kanthi atau tuntun artinya dituntun supaya setiap anak manusia bisa berjalan menempuh kehidupan di alam dunia. Tembang berikutnya yaitu sinom, artinya kanoman yaitu bekal untuk manusia supaya menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Tembang asmarandana, artinya rasa cinta kepada seseorang. Tembang gambuh, dari kata jumbuh artinya sarujuk atau cocok. Tembang dhandhanggula, menggambarkan hidup seseorang yang sedang bahagia, apa yang diinginkan bisa terlaksana. Tembang durma, artinya weweh atau berderma, seharusnya ketika seseorang sudah hidup serba cukup akan muncul dalam hatinya keinginan untuk berbagi, menolong sesama yang sedang 1

2 2 mengalami kesulitan. Tembang pangkur, dari kata mungkur yang artinya menyingkir dari segala nafsu angkara murka. Tembang berikutnya yaitu megatruh, dari kata megat (putus) dan ruh (nyawa) putus nyawa, seseorang harus rela untuk kembali kepada Sang Pencipta. Tembang yang terakhir yaitu pucung, artinya hidup manusia akan berakhir dengan kain mori putih atau pucung kemudian dikubur (Tasaro, 2012: 27). Dalam hal ini tembang macapat menjadi subjek dari penelitian bahasa karena penelitian ini akan melihat fenomena bahasa yang muncul dengan pendekatan gaya bahasa. Syair dari tembang tersebut diambil dari naskah yang berjudul Kyai Sĕstradilaras (selanjutnya ditulis KSD) koleksi perpustakaan Pura Pakualaman bernomor koleksi 0148/PP/73. Naskah KSD berbahasa Jawa dengan ragam krama dan ngoko, meskipun demikian beberapa kata mengadopsi kata berbahasa Melayu dan Belanda. Aksara yang dipakai adalah aksara Jawa. Terdapat 51 halaman dalam naskah KSD. Gaya bahasa dalam naskah KSD itu perlu dan menarik untuk diteliti, karena terdapat berbagai macam gaya bahasa di dalamnya. Dengan teridentifikasikannya berbagai macam gaya bahasa di dalam naskah KSD diharapkan dapat menunjukkan berbagai kekhasan bahasa yang ada di dalamnya. Hal demikian ini kiranya dapat membantu para pembaca untuk memahami isi yang terkandung di dalam naskah KSD, karena naskah ini mengandung isi tentang pengembaraan asmara Arjuna pada istri-istrinya dengan pelukisan kecantikan wanita Jawa. Naskah KSD ditulis pada masa K.G.P.A.A. Paku Alam IV setelah diangkat menjadi adipati Pakualaman, pada hari Selasa Pahing, tanggal 25 Jumadilakhir

3 3 Wawu 1793 mangsa Sad wuku Galungan lambang Klawu windu Karta, bertepatan dengan tanggal 25 November 1864 M. akan tetapi kemungkinan penulisan naskah diselesaikan pada masa K.G.P.A.A. Paku Alam V dengan judul yang sama (Febriyanto, 2012: 19). Naskah KSD merupakan manuskrip beraksara Jawa dengan pola penceritaan berbentuk tembang. Naskah KSD ini menceritakan kisah pengembaraan asmara Raden Arjuna dengan para istrinya. Raden Arjuna adalah panĕngah pandawa atau putra ketiga dari buah perkawinan Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunthi. Dalam naskah ini Raden Arjuna memiliki nama lain Dananjaya, Janaka, dan Bambang Kĕlithi. Raden Arjuna dikenal sebagai sosok ksatria berwajah tampan. Ketampanan inilah yang menjadi faktor Sang Arjuna mampu memikat hati para wanita bahkan para bidadari surga. Dalam naskah KSD Arjuna disebut sebagai satriya lananging bumi ksatria laki-laki yang unggul di dunia. Penelitian ini akan berfokus pada penelitian gaya bahasa. Gaya bahasa secara umum adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Menurut Keraf (1985: 113) gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Dalam Tarigan (1985:5) dinyatakan bahwa gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Gaya bahasa dapat dibedakan menjadi gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, dan gaya bahasa pertautan. Penelitian ini hanya dibatasi pada gaya

4 4 bahasa perbandingan, yaitu metafora dan simile. Penelitian ini berfokus pada metafora dan simile, karena dalam data KSD yang lebih dominan muncul adalah data metafora dan simile. Metafora mampu mengkonsepkan syair-syair dalam tembang yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret. Hal ini sesuai dengan pendapat Taylor yang menyatakan bahwa metafora dapat mengkonsepkan sesuatu yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret. Sejalan dengan Taylor, Kovecses (2000, 8) menyebutkan bahwa dalam hal mengkonkretkan hal-hal yang bersifat abstrak, metafora memiliki dua domain. Domain yang dimaksud yakni domain abstrak dan domain konkret. Korespondensi antara dua domain tersebut disusun agar tercipta sebuah pemahaman tentang domain yang abstrak menjadi konkret. Penggunaan bahasa kiasan tidak bersifat semena-mena, tetapi berdasarkan atas kesamaan tertentu, seperti kesamaan sifat, bentuk, fungsi, tempat, atau kombinasi di antaranya. Pemahaman domain yang abstrak menjadi lebih konkret dengan metafora dilakukan dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda yang masih berkaitan. Pembandingan tersebut melibatkan unsur-unsur yang diambil dari kehidupan sehari-hari yakni dunia penuturnya. Dengan demikian, diperoleh pemahaman bahwa salah satu prinsip dasar metafora adalah terdapatnya konvensi dalam asosiasi metaforis antara dua konsep. Hal ini berkesesuaian dengan pendapat Lakoff dan Mark Johnson (1980:5), menyatakan bahwa the essence of metaphor is understanding and experiencing one kind of thing in terms of another. Lakoff dan Mark Johnson menyatakan bahwa esensi metafora adalah pemahaman dan pengalaman akan sesuatu dengan sesuatu lain. Sesuatu yang satu

5 5 dengan sesuatu yang lain tersebut disebut dengan referen satu dan referen yang lain (Subroto, 2011). Selain itu, ada yang menyebutnya dengan tenor dan wahana (Richards dalam Abrahams, 1981, dalam Subroto, 2011). Tenor adalah sesuatu yang diperbincangkan dan wahana merupakan sesuatu tempat tenor itu diperbandingkan. Terkait hal ini, konsep yang sama namun dengan penamaan yang berbeda diajukan oleh Lakoff dan Mark Johnson. Lakoff dan Mark Johnson menyebutnya dengan target domain (pebanding) yang memiliki pendefinisian yang sama dengan tenor serta source domain (pembanding) untuk wahana. Teks dalam naskah KSD penuh dengan unsur metaforis yang mencerminkan kecantikan wanita Jawa. Metafora dalam bahasa Jawa dapat dikelompokan ke dalam metafora yang sifatnya universal dan metafora yang terikat oleh budaya (Wahab: 1991: 85). Metafora universal yang dimaksud ialah metafora yang mempunyai medan semantik yang sama bagi sebagian budaya di dunia, baik lambang kias maupun makna yang dimaksudkan, sedangkan metafora yang terikat oleh budaya ialah metafora yang memiliki medan semantik untuk lambang dan maknanya terbatas pada satu budaya saja. Tembang Gawan Gendhing, gending Mangungkung (hlm: 7) (1) Kang andhawuhakĕn timbalan yang an+dhawuh+aken: memerintahkan seorang raja Perintah yang mulia seri raja singgih Kangjĕng Tuan Rĕsden yang benar Kangjeng Tuan Residen Yang benar Kangjeng Tuan Residen Ariyes pangandikanira trah juruh Ariyes pa+ngandika+nira: perkataannya wedal (keluar) gula cair perkataannya Ariyes manis mring kang eyang Kangjĕng Ratu

6 6 kepada sang nenek Kangjeng Ratu Kepada sang nenek Kangjeng Ratu Ayu Dipatya. Ayu Dipatya Ayu Dipatya. Penggunaan metafora pada data (1) ditunujukan oleh penggunaan kata trah juruh keluar gula cair, kata tersebut diklasifikasikan metafora karena menjelaskan rasa yang mengacu pada perkataan. Umumnya penggunakan kata trah juruh keluar gula cair digunakan untuk indra perasa seperti manis. Rasa manis biasanya digunakan untuk menyatakan rasa pada makanan atau minuman, namun yang dimaksud pada data (1) rasa manis mengiaskan bahwa perkataannya dapat dirasakan oleh indra perasa yaitu manis. Dalam metafora tersebut terdapat tiga elemen pembentuk yaitu trah juruh air gula sebagai pembanding (vehicle), pangandikanira perkataannya sebagai pebanding (tenor), dan persamaan (ground) antara pebanding dan pembanding adalah persamaan sifat yaitu perkataan yang baik disamakan dengan konsep rasa manis, yaitu perkataannya menyenangkan dan enak didengar. Perkataan Tuan Residen Aries kepada neneknya yaitu Kangjeng Ratu Ayu Adipati. Dalam naskah KSD juga ditemukan data berupa simile. Simile yaitu perbandingan yang menyatakan sesuatu sama dengan hal lain dan menyamakan satu dan hal lain dengan menggunakan kata pembanding dikombinasikan sehingga didapati beberapa unsur pembentuk simile yaitu pebanding, pembanding, dan kata pembanding, pada penelitian ini meninjau kalimat yang mengandung simile dilihat dari cara penulis mengungkapkan makna.

7 7 Tembang Kinanthi, gending Eman-eman Sari Pelog (hlm: 11) (2) Kadwinya musthikaningrum kedua intan wanita Yang kedua adalah sang intan wanita Srikandhi rĕtnaning estri Srikandi intan wanita Srikandi sang intan wanita tan lĕnggana ing sakarsa tidak enggan di dari keinginan Tidak enggan di segala keinginan ngimpuni para absari menghimpun para bidadari menghimpun para bidadari mung putri Cĕmpala arja hanya putri Cempala arja hanya putri Cempala arja crĕma maya lir sitĕngsi. kulit terang seperti bulan kulitnya bersinar seperti bulan. Gaya bahasa simile yang terdapat pada data (2) ditandai dengan kata pembanding lir seperti. Pebandingnya adalah crĕma kulit, sedangkan pembandingnya adalah sitĕngsi bulan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan keindahan kulit wanita (Srikandi) yang dilambangkan sebagai sitĕngsi bulan. bulan adalah benda kosmos. Dalam kutipan di atas, bendabenda itu tidak dapat dipakai dalam arti yang sebenarnya. Penggunaan unsur tata surya yang berupa bulan mempunyai ketentuan tertentu, sehingga menjadi pilihan orang Jawa dalam menggambarkan kata keindahan yang mengacu pada keindahan kulit seorang wanita. Bulan memiliki cahaya yang sangat terang dan berwarna kuning. Adapun relasi persamaan antara kulit wanita dengan bulan adalah

8 8 mengambil sifat bulan, yaitu memiliki cahaya sangat terang dan berwarna kuning begitu pula disamakan dengan kulit wanita yang berwarna cerah dan putih kekuning-kuningan. Simbolisme tentang bulan sangat bervariasi antara budaya yang satu dengan budaya yang lain. Ada yang mengasosiasikan bulan dengan wanita, karena antara wanita dan bulan terdapat persamaan, yaitu masing-masing sangat terikat oleh siklus. Namun demikian dalam budaya Jawa, bulan diasosiasikan dengan keindahan. Berdasarkan pemaparan di atas, hal ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam guna melihat wujud realisasi data atau ekspresi data yang ada dalam naskah KSD, karena menggambarkan istri-istri Raden Arjuna dengan bahasa yang metaforis. Selain itu, penelitian ini juga dapat membantu penelitian filologi karena tidak hanya pada tataran penyuntingan dan penerjemahan naskah, tetapi juga pemahaman gaya bahasa perbandingan, yaitu metafora dan simile dalam memahami naskah tersebut. Jadi, naskah tidak hanya disunting dan ditejemahkan tetapi juga sampai tahap analisis yang lebih dalam. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada bagian latar belakang, beberapa masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. a. Apa saja jenis-jenis metafora dan simile yang digunakan dalam nakah KSD? b. Bagaimana elemen ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD?

9 9 1.3 Ruang Lingkup Penelitian dalam naskah KSD menggunakan analisis gaya bahasa perbandingan. Gaya bahasa perbandingan yang digunakan dalam penelitian ini hanya dibatasi pada metafora dan simile. Hal ini dikarenakan, kemunculan metafora dan simile cenderung lebih banyak. Selain itu juga menganalisis tentang jenis-jenis metafora dan simile, dan elemen ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD. 1.4 Tujuan Masalah Sebagaimana rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut a. Mengklasifikasikan jenis-jenis metafora dan simile yang digunakan dalam naskah KSD. b. Mendeskripsikan elemen ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD. 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi atau acuan dalam kajian mengenai gaya bahasa perbandingan, khususnya metafora dan simile dalam tembang macapat.

10 Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih pada upaya pemahaman teks yang lebih aplikatif. Sejauh ini, analisis tentang naskah KSD terbatas pada upaya penyuntingan dan penerjemahan teks saja, maka dengan adanya penelitian gaya bahasa perbandingan (metafora dan simile) ini dapat memahami isi teks lebih dalam. Isi teks tersebut tentang pengembaraan asmara Arjuna dengan istri-istrinya disertai pelukisan kecantikan wanita Jawa, sehingga dapat diketahui konsep cantik dalam masyarakat Jawa. 1.6 Tinjauan Pustaka Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh penulis, ditemukan beberapa buku hasil penelitian tentang gaya bahasa. Penulis menggunakan beberapa buku dan hasil penelitian sebagai acuan referensi pustaka yang berkaitan dengan penelitian gaya bahasa dalam naskah KSD ini. Penelitian terkait gaya bahasa dilakukan oleh Marsono (1996) dalam disertasi yang berjudul Lokajaya Suntingan Teks, Terjemahan, Struktur Teks, Analisis Intertekstual dan Semiotik. Dalam disertasi tersebut, Marsono membahas gaya bahasa yang terdapat dalam teks Lokajaya dengan menggunakan teori Hartmann dan Stork, Abrams, dan Wellek & Austin Warren. Gaya bahasa yang ditemukan dalam disertasinya itu antara lain gaya bahasa perulangan, gaya bahasa perbandingan, dan gaya bahasa pertentangan. Hal tersebut berbeda dengan penelitian ini yang hanya berfokus pada gaya bahasa perbandingan di antaranya metafora dan simile.

11 11 Penelitian Indarti (2008) dalam tesis yang berjudul Metafora Kidung Ludruk. Tujuan penelitiannya ialah melihat bentuk kebahasaan dalam kidung ludruk (bunyi, kata, frase, kalimat, dan wacana), jenis-jenis metafora dalam kidung ludruk, makna yang terkandung dalam kidung ludruk, serta bagaimana hubungan antara metafora dengan budaya jawa. Penelitian Metafora Kidung Ludruk berbeda dengan penelitian yang akan peneliti lakukan karena dalam penelitian tersebut melihat permasalahn masyarakat kelas menengah kebawah, sedangkan dalam penelitian ini melihat konsep cantik dalam masyarakat Jawa. Dari hasil penelitian di atas, dapat diketahui bahwa sungguhpun menggunakan teori yang sama, namun objek yang diteliti berbeda-beda, hasil yang diperolehnya pun belum tentu sama. Maksudnya ialah jenis gaya bahasa yang dihasilkan oleh beberapa penelitian tersebut selain ada persamaan juga ditemukan beberapa perbedaan tergantung objek yang ditelitinya. Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Febriyanto (2012) yang berjudul Kyai Sestradilaras Koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman (Suntingan, Terjemahan, dan Analisis Teks). Penelitian Febriyanto tersebut menggunakan objek penelitian yang sama yaitu sama-sama menggunakan naskah KSD sebagai objeknya. Sungguhpun menggunakan objek yang sama, namun analisisnya berbeda. Penelitian Febriyanto membahas tentang menyajikan teks KSD yang berupa suntingan teks edisi perbaikan bacaan disertai terjemahan bahasa teks ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dibaca dan dipahami isinya, serta memberikan informasi kaitan gending-gending Jawa yang terdapat dalam naskah KSD, seperti makna nama gending secara etimologi, peran dan fungsi gending. Hal tersebut

12 12 berbeda dengan penelitin ini yang membahas gaya bahasa dalam naskah KSD khususnya gaya bahasa perbandingan, yaitu metafora dan simile. pula. Dari temuan pustaka di atas, belum ada yang secara spesifik membahas tentang gaya bahasa perbandingan (metafora dan simile) dalam naskah KSD, sehingga penelitian ini layak untuk dilakukan. 1.7 Landasan Teori Landasan teori yang digunakan dalam menganalisis naskah KSD antara lain adalah teori gaya bahasa, metafora, simile, dan metafora dan budaya. Metafora dan simile menurut Marsono (1996:382) dalam pembagiannya digolongkan kedalam gaya bahasa. Menurut Hartmann dan Stork dalam Marsono (1996:381) gaya bahasa ialah cara menyampaikan gagasan atau hasil renungan oleh penulis dengan menggunakan unsur-unsur kebahasaan yang khusus. Fungsi penggunaan dengan cara khusus ini untuk menambah nilai estetis, melancarkan ucapan, menekankan, atau menyangatkan unsur teks. Masih menurut Marsono (1996:382) gaya bahasa itu digolongkan menjadi gaya bahasa perulangan (anafora, mesodiplosis, anadiplosis, dll), gaya bahasa perbandingan (metafora, simile, personifikasi), dan gaya bahasa pertentangan (hiperbola, klimaks, antiklimaks, paradoks, dll). Namun, pada penelitian ini penulis menfokuskan pada penggunaan teori gaya bahasa perbandingan yang mencakup metafora dan simile untuk menganalisis naskah KSD.

13 Metafora Penggunaan metafora dalam suatu bahasa tidak terlepas dari kenyataan bahwa manusia berkomunikasi dengan sesamanya tidak hanya menggunakan ungkapan yang bermakna harfiah saja, tetapi juga menggunakan ungkapan yang bermakna figurative (metaphor meaning). Secara umum bahasa figuratif dibagi menjadi dua (Knowless, Muray dan Rosamund Moon, 2006:94), yaitu: (1) Skema yaitu ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan pengulanganpengulangan seperti ritme, aliterasi, dan asonansi. (2) Tropes yaitu ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan penyimpangan makna seperti metafora, metonimi, ironi, personifikasi, simile, dan lain-lain. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa metafora merupakan bagian dari tropes yaitu adanya penyimpangan makna dari makna harfiah suatu kata. Berikut akan dijelaskan mengenai konsep, jenis, dan kaitan dengan budaya Konsep Metafora Kata metafora berasal dari bahasa Yunani yaitu meta yang berarti lebih dan phereon yang berarti memindahkan. Konsep tentang metafora telah dibicarakan oleh manusia sejak zaman kuno. Aristoteles mengungkapkan bahwa metafora merupakan ungkapan kebahasaan untuk menyatakan hal yang umum bagi hal yang khusus, hal yang khusus bagi yang khusus, yang khusus bagi yang umum, atau dengan analogi (Wahab, 1991:65). Selain itu terdapat beberapa pandangan tentang konsep metafora. Kridalaksana (2008:152) menyatakan bahwa metafora merupakan pemakaian kata atau

14 14 ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan. Keraf (2010:139) menyatakan bahwa metafora termasuk ke dalam gaya bahasa kiasan, semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Sementara itu, C.K. Ogden and L.A. Richard (1972: 123) menyatakan bahwa metaphor, in the most generale sense, is the use of one reference to a group of things between which a given relation holds for the purpose of facilitating the discrimination of an analogous relation in another group. Dalam metafora harus terdapat referen yang dibicarakan dan ada sesuatu sebagai pembandingnya serta kedua hal yang dibandingkan mempunyai sifat yang sama. Sejalan dengan C.K. Ogden, and L.A. Richard, Knowless, Muray dan Rosamund Moon (2006:2) menyatakan bahwa when we talk about metaphor, we means the use of language to refer to something other than what it was originally applied to, or what it literally means, in order to suggest some resemblance or make ar connection between the two things. Metafora dapat didefinisikan sebagai penggunaan bahasa yang merujuk kepada sesuatu yang lain, kedua hal tersebut memiliki persamaan. Persamaan di dalam kedua hal yang dibandingkan disebut sebagai ground. Persamaan ini dapat berupa persamaan bentuk, sifat, konsep, maupun emosi. Metafora memiliki tiga elemen pokok di dalamnya (C.K. Ogden and L.A. Richard, 1972:97), yaitu: (1) Tenor (pebanding) yaitu konsep, objek yang dideskripsikan, dibicarakan, dikiaskan, dilambangkan, atau dibandingkan. Tenor juga disebut reseptor.

15 15 (2) Vehicle (pembanding) yaitu konsep yang mendeskripsikan, mengkiaskan, melambangkan tenor. Vehicle juga disebut sebagai pendonor. Dalam arti vehicle merupakan lambang atau kiasan itu sendiri. (3) Ground (persamaan) yaitu relasi persamaan antara tenor dan vehicle. Relasi persamaan ini dapat berupa persamaan objektif seperti bentuk, tempat, sifat, atau kombinasi di antaranya, persamaan emotif, persamaan konsep, persamaan fungsi, dan persamaan sosial dan budaya Jenis-Jenis Metafora Berdasarkan Medan Semantik Dalam penelitian ini, naskah Kyai Sĕstradilaras dikaji melalui tinjauan semantik dengan menggunakan pendekatan semantik kognitif. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang arti, sedangkan semantik kognitif adalah pendekatan dalam semantik yang memandang makna bahasa sebagai bagian dari persoalan mental. Berdasarkan medan semantik pembandingnya, medan semantik metafora universal dibagi menjadi sembilan menurut Haley (Ching dkk, 1980: ). a. Metafora ke-ada-an (being) yaitu metafora yang meliputi hal-hal yang abstrak seperti kebenaran dan kasih. b. Metafora kosmos (cosmos) yaitu metafora yang meliputi benda-benda kosmos misalnya matahari dan bulan. c. Metafora tenaga (energy) yaitu metafora dengan medan semantik hal-hal yang memiliki kekuatan, misalnya angin, cahaya, api, dengan prediksi dapat bergerak.

16 16 d. Metafora substansi (substance) yaitu metafora yang meliputi macammacam dengan prediksinya dapat memberi kelembaban, bau, tekanan dan sebagainya. e. Metafora permukaan bumi (terrestrial) adalah metafora yang meliputi halhal terikat atau terbentang di permukaan bumi misalnya sungai, laut, gunung, dan sebagainya. selain itu, metafora ini juga meliputi hal-hal yang berhubungan dengan gravitasi yaitu metafora yang berhubungan dengan segala hal yang jatuh karena pengaruh gravitasi bumi. f. Metafora benda mati (object) adalah metafora yang meliputi benda-benda yang tak bernyawa misalnya meja, buku, kursi, gelas, dan sebagainya yang bisa hancur dan pecah. g. Metafora kehidupan/tumbuhan (living) yaitu metafora yang berhubungan dengan seluruh jenis tumbuh-tumbuhan (flora), seperti daun, sagu, padi dan sebagainya. h. Metafora makhluk bernyawa/binatang (animate) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk organisme yang dapat berjalan, berlari, terbang dan sebagainya misalnya seperti kuda, kucing, burung dan harimau. i. Metafora manusia (human) adalah metafora yang berhubungan dengan makhluk yang dapat berpikir dan mempunyai akal Simile Persamaan atau simile adalah gaya bahasa yang bersifat eksplisit, maksudnya adalah bahwa gaya bahasa ini langsung menyatakan sesuatu sama

17 17 dengan hal yang lain. Gaya bahasa simile menggunakan kata-kata pembanding untuk menunjukkan kesamaan, yaitu seperti, sama, sebagai bagaikan, laksana dan sebagainya (Keraf, 2010: 138). Kata-kata pembanding yang digunakan antara lain lir seperti, kadi seperti, kadya seperti, upama seperti Metafora dan Budaya Metafora erat kaitannya dengan budaya yang melingkupinya. Pada dasarnya, metafora terbentuk karena adanya interaksi antara pengalaman manusia dan budaya. Metafora yang terdapat dalam suatu daerah dengan daerah lain berbedabeda. Hal ini tergantung pada konsep pemikiran setiap masyarakatnya. Berdasarkan hal tersebut, untuk mengetahui makna sebenarnya dari suatu metafora, seseorang harus mengetahui konteks budaya di mana metafora tersebut muncul. Hal tersebut sejalan dengan Lyon (1996: ) yang berpendapat bahwa untuk mengentahui apakah suatu ungkapan hanya bermakna harfiah saja atau bermakna metaforis dibutuhkan konteks dan situasi pembicaraan. 1.8 Metode Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah naskah Kyai Sĕstradilaras koleksi perpustakaan Pura Pakualaman. Naskah tersebut sudah ditransliterasi, disunting, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Bagus Febriayanto dalam sebuah skripsi yang berjudul Kyai Sestradilaras Koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman (Suntingan, Terjemahan, dan Analisis Teks) pada tahun Penelitian ini menggunakan data yang sudah ditransliterasi dan diterjemahkan oleh Muhammad Bagus Febriyanto. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri

18 18 dari tiga bagian, yaitu metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data Metode Pengumpulan Data Tahap awal dalam penelitian ini adalah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik lanjut yaitu teknik catat. Mahsun (2014) menjelaskan bahwa metode simak adalah metode penyediaan data dengan cara menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis, sedangkan teknik catat menurut Kesuma (2007) adalah teknik menjaring data dengan mencatat hasil penyimakan data pada kartu data. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber tertulis yang berasal dari naskah KSD yang sudah ditransliterasi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Bagus Febriyanto dalam skripsinya yang berjudul Kyai Sestradilaras Koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman (Suntingan, Terjemahan, dan Analisis Teks). Setelah mencatat kemudian mencari dan menyalin tembang yang mengandung metafora dan simile. Kemudian memilah tembang yang mengandung metafora dan simile berdasarkan jenis-jenis metafora dan simile Metode Analisis Data Data yang telah terkumpul kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Data diterjemahkan dengan menggunakan metode penerjemahan kata demi kata, penerjemahan bebas, dan penerjemahan harfiah. Penerjemahan menggunakan kamus Bausastra Jawa-Indonesia jilid I-II yang ditulis oleh S. Prawiroatmodjo, Baoesastra Djawa yang ditulis oleh Poerwadarminta, dan Kamus

19 19 Jawa Kuna Indonesia yang ditulis oleh P.J. Zoetmulder. Setelah diterjemahkan, kemudian data dianalisis dengan mengklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis metafora dan jenis-jenis simile. Setelah diketahui jenis-jenis metafora dan simile kemudian dianalisis unsur pebanding (tenor), pembanding (vehicle), dan persamaannya (ground). Langkah terakhir yaitu mendeskripsikan elemen ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD Metode Penyajian Hasil Analisis Data Metode penyajiannya akan diuraikan pendahuluan, analisis jenis-jenis metafora dan simile, analisis ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD, dan yang terakhir adalah penutup. 1.9 Sistematika Penyajian Penelitian ini akan disajikan dalam lima bab. Bab I pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II membahas tentang klasifikasi jenis-jenis metafora dan simile dalam naskah KSD. Bab III membahas tentang elemen ranah target pada pembentukan metafora dan simile dalam naskah KSD. Bab IV penutup yang meliputi kesimpulan dan saran. Hasil akhir juga dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran.

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat yang berupa sistem

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat yang berupa sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat yang berupa sistem lambang bunyi yang bermakna dan dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 2004:1), sedangkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan dengan judul skripsi ini. Untuk mempertanggungjawabkan suatu karya ilmiah

Lebih terperinci

ANALISIS LIRIK LAGU LIR-ILIR (SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI)

ANALISIS LIRIK LAGU LIR-ILIR (SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI) ANALISIS LIRIK LAGU LIR-ILIR (SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI) Eka Susylowati, SS, M.Hum Staf Pengajar Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Surakarta Abstrak Metafora merupakan penggunaan bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada seseorang, bahasa mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. pada seseorang, bahasa mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan perasaan pada seseorang, bahasa mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seorang pengarang karya sastra tentu mempunyai berbagai ciri khas dalam

BAB I PENDAHULUAN. Seorang pengarang karya sastra tentu mempunyai berbagai ciri khas dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mengetahui dan mengerti maksud sebuah tulisan merupakan tujuan utama dalam membaca karya sastra. Karya sastra dibuat oleh pengarang karena adanya maksud atau

Lebih terperinci

ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU EBIT G. ADE SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU EBIT G. ADE SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 ANALISIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU EBIT G. ADE SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan oleh : EMA WIDIYAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan karakter sebagian pemuda-pemudi saat ini sehubungan dengan pendidikan karakter atau kodratnya sebagai makhluk sosial, dapat dikatakan sangat memprihatinkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karya puisi pasti tidak akan terlepas dari peran sebuah bahasa. Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. karya puisi pasti tidak akan terlepas dari peran sebuah bahasa. Bahasa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia memiliki berbagai macam potensi dan kreativitas dalam berimajinasi. Dalam menuangkan kemampuannya, manusia memiliki cara yang bervariasi dan beragam jenisnnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Bahasa Karya Sastra

BAB I PENDAHULUAN  A. Bahasa Karya Sastra BAB I PENDAHULUAN Karya sastra merupakan hasil kreasi sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Fenomena kehidupan itu beraneka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Menurut Felicia (2001), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian emosi telah dilakukan di banyak bahasa, baik dari bidang psikologi maupun linguistik. Penelitian tentang emosi dari bidang bahasa menarik, karena banyak

Lebih terperinci

Wahyu Aris Aprillianto Universitas Muhammadiyah Purworejo

Wahyu Aris Aprillianto Universitas Muhammadiyah Purworejo KAJIAN FILOLOGI SERAT-SERAT ANGGITAN DALEM KANGJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARIYA MANGKUNEGARA IV JILID I (WANAGIRI JAMAN KANGJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARIYA MANGKUNEGARA III) Wahyu Aris Aprillianto Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskahnaskah

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskahnaskah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai ilmu pengetahuan yang ada pada jaman sekarang dapat dikatakan merupakan buah pikir dari warisan leluhur. Warisan leluhur dapat berupa artefak yang tidak hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keinginan, memberikan saran atau pendapat, dan lain sebagainya. Semakin tinggi

BAB I PENDAHULUAN. keinginan, memberikan saran atau pendapat, dan lain sebagainya. Semakin tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa memiliki peranan yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya bahasa, manusia tidak dapat mengungkapkan perasaan, menyampaikan keinginan,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR ISI.. i ii iii iv ix xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Identifikasi Masalah.. 1.3 Batasan Masalah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam wujud bunyi itu (Muhammad, 2011:48). Bahasa merupakan unsur

BAB I PENDAHULUAN. dalam wujud bunyi itu (Muhammad, 2011:48). Bahasa merupakan unsur 13 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Bahasa sebagai alat komunikasi melambangkan sesuatu. Bahasa melambangkan suatu pengertian, konsep, ide, atau pikiran yang disampaikan dalam wujud bunyi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa merupakan hal yang sangat vital dalam berkomunikasi dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa merupakan hal yang sangat vital dalam berkomunikasi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan hal yang sangat vital dalam berkomunikasi dengan sesama manusia atau kelompok. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan kepada seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengertian secara umum, bahasa merupakan suatu bentuk alat komunikasi manusia yang berupa lambang bunyi melalui alat ucap yang dikeluarkannya akan memunculkan sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada karya sastra berbentuk puisi yang dikenal sebagai těmbang macapat atau disebut juga těmbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri. Manusia tentunya

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri. Manusia tentunya 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Di dalam kehidupan, manusia dikodratkan sebagai makhluk sosial karena manusia itu pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri. Manusia tentunya membutuhkan bantuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di negara Republik

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di negara Republik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di negara Republik Indonesia. Pentingnya bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi:

Lebih terperinci

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA Skripsi Diajukan untuk Menempuh Ujian Sarjana Humaniora Program Strata 1 dalam Ilmu Sastra Indonesia Oleh: Fitrianna Arfiyanti

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. atau persamaan; misal kaki gunung, kaki meja, berdasarkan kias pada kaki manusia (Harimurti, 2008: 152).

BAB 1 PENDAHULUAN. atau persamaan; misal kaki gunung, kaki meja, berdasarkan kias pada kaki manusia (Harimurti, 2008: 152). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sebagai sistem komunikasi merupakan alat untuk mengekspresikan pikiran kita, perasaan kita, dan pendapat kita. Tentunya ketika berbicara kepada seseorang tentang

Lebih terperinci

ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI AKU KARYA CHAIRIL ANWAR

ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI AKU KARYA CHAIRIL ANWAR P ISSN 2614-624X E ISSN 2614-6231 DOI: http://dx.doi.org/10.22460/p.v1i2p%25p.193 ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI AKU KARYA CHAIRIL ANWAR Risma Despryanti 1, Riska Desyana 2, Amalia Siddiqa Rahayu 3, Yeni

Lebih terperinci

ANALISIS TUTURAN METAFORIS DALAM LIRIK LAGU-LAGU LETTO

ANALISIS TUTURAN METAFORIS DALAM LIRIK LAGU-LAGU LETTO ANALISIS TUTURAN METAFORIS DALAM LIRIK LAGU-LAGU LETTO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Oleh : TYAS PUJI PRAMESTI

Lebih terperinci

2015 METAFORA DALAM TUTURAN KOMENTATOR INDONESIA SUPER LEAGUE MUSIM : KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF

2015 METAFORA DALAM TUTURAN KOMENTATOR INDONESIA SUPER LEAGUE MUSIM : KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepak bola menjadi cabang olahraga yang sangat populer dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Selain pertandingannya yang menarik terdapat pula fenomena bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra anak masih terpinggirkan dalam khazanah kesusastraan di Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang sastra anak. Hal

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TEMBANG MACAPAT BERFORMAT VIDEO INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN BAHASA DAERAH DI SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TEMBANG MACAPAT BERFORMAT VIDEO INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN BAHASA DAERAH DI SEKOLAH DASAR PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TEMBANG MACAPAT BERFORMAT VIDEO INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN BAHASA DAERAH DI SEKOLAH DASAR Joko Daryanto Universitas Sebelas Maret Abstrak Tembang Macapat merupakan salah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam pembahasan bab ini, peneliti akan memaparkan sekaligus memberikan

I. PENDAHULUAN. Dalam pembahasan bab ini, peneliti akan memaparkan sekaligus memberikan 1 I. PENDAHULUAN Dalam pembahasan bab ini, peneliti akan memaparkan sekaligus memberikan mengenai latar belakang penelitian mengenai gaya bahasa dalam kumpulan puisi Doa Untuk Anak Cucu karya W.S. Rendra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipandang sebagai cipta sastra karena teks yang terdapat dalam teks mengungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. dipandang sebagai cipta sastra karena teks yang terdapat dalam teks mengungkapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah-naskah Nusantara sangat beraneka ragam, yang isinya mengemukakan tentang kehidupan manusia misalnya, masalah politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, bahasa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rakyat, sejarah, budi pekerti, piwulang, dll. (Nindya 2010:1). Manfaat dalam

BAB I PENDAHULUAN. rakyat, sejarah, budi pekerti, piwulang, dll. (Nindya 2010:1). Manfaat dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah kuna mempunyai peran penting dalam peradaban umat manusia, karena naskah kuna berisi berbagai macam tulisan tentang: adat istiadat, cerita rakyat, sejarah, budi

Lebih terperinci

PERPADUAN SENI ISLAM DAN JAWA DALAM TEMBANG

PERPADUAN SENI ISLAM DAN JAWA DALAM TEMBANG PERPADUAN SENI ISLAM DAN JAWA DALAM TEMBANG MAKALAH Disusun guna memenuhi tugas Mata kuliah : Islam dan Budaya Jawa Dosen Pengampu : Prof. Dr. Hj. Sri Suhanjati Oleh Silma Ariyani (1504026064) FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesusastraan Bali adalah salah satu bagian dari karya sastra yang terdapat di

BAB I PENDAHULUAN. kesusastraan Bali adalah salah satu bagian dari karya sastra yang terdapat di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keindahan dalam isi dan ungkapannya. Karya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teks dibagi menjadi tiga yaitu teks lisan, teks tulisan tangan dan teks cetakan

BAB I PENDAHULUAN. teks dibagi menjadi tiga yaitu teks lisan, teks tulisan tangan dan teks cetakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mempelajari naskah tidak hanya melihat naskah dari segi fisik namun juga harus dilihat dari segi isi naskah yang disebut teks. Menurut sifat penurunannya, teks dibagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Jawa disebut tanggap wacana (sesorah). Dalam pernikahan adat

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Jawa disebut tanggap wacana (sesorah). Dalam pernikahan adat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan budaya merupakan suatu perpaduan yang indah jika diteliti lebih lanjut. Suatu hubungan yang tidak terpisahkan antara keduanya, bahasa melambangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Nama Judul : Endang Dwi Suryawati : Kemetaforaan dalam lirik lagu dangdut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roman Jacobson (dalam Tarigan, 1987:11) menyebutkan dua fungsi bahasa, yaitu fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah bahan utama kesusastraan. Harus disadari bahwa bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah bahan utama kesusastraan. Harus disadari bahwa bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahasa adalah bahan utama kesusastraan. Harus disadari bahwa bahasa adalah ciptaan manusia dan mempunyai muatan budaya dan linguistik dari kelompok pemakai bahasa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bagian ini digambarkan bagan alur penelitian dalam bentuk diagram berikut

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bagian ini digambarkan bagan alur penelitian dalam bentuk diagram berikut A. Desaian Penelitian ini. BAB III METODE PENELITIAN Pada bagian ini digambarkan bagan alur penelitian dalam bentuk diagram berikut Tuturan Komentator Indonesia Super League Musim 2013-2014 Pengolahan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil inventarisasi naskah didapatkan bahwa naskah

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil inventarisasi naskah didapatkan bahwa naskah BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil inventarisasi naskah didapatkan bahwa naskah Kempalan Dongeng yang memuat teks Kyai Prelambang dengan bertuliskakan aksara Jawa tidak ditemukan di tempat lain selain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pikir manusia demi menunjang keberlangsungan hidupnya. Dalam Kamus Besar

BAB I PENDAHULUAN. pikir manusia demi menunjang keberlangsungan hidupnya. Dalam Kamus Besar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Hal itu disebabkan karena budaya merupakan hasil olah rasa dan olah pikir manusia demi menunjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan sastra. Pada intinya kegiatan bersastra sesungguhnya adalah media

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan sastra. Pada intinya kegiatan bersastra sesungguhnya adalah media BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari sebuah kesusastraan, terlepas dari apakah kegiatan bersastra dilakukan didasari ataupun tanpa didasari kesadaran untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari buku-buku pendukung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari buku-buku pendukung BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari buku-buku pendukung dan skripsi yang relevan dengan judul penelitian. Sesuai dengan judul penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran menjadi salah satu kegiatan yang bernilai edukatif, hal ini terjadi karena adanya interaksi antara guru dan siswa. Interaksi yang dilakukan mengharapkan

Lebih terperinci

Kajian Stilistika dalam Karya Sastra

Kajian Stilistika dalam Karya Sastra Kajian Stilistika dalam Karya Sastra Gaya diartikan sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin dicapainya. Dalam kreasi penulisan sastra, efek tersebut terkait dengan upaya pemerkayaan makna, baik penggambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa tersebut. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa tersebut. Menurut Tarigan (1985:178)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjelaskan bahwa puisi berasal dari bahasa Yunani poeima membuat atau

BAB I PENDAHULUAN. menjelaskan bahwa puisi berasal dari bahasa Yunani poeima membuat atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Puisi merupakan bentuk karya sastra yang sangat populer di kalangan masyarakat sampai saat ini. Puisi digemari oleh semua lapisan masyarakat, karena kemajuan masyarakat

Lebih terperinci

GAYA BAHASA SIMILE DALAM NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI "DEE" LESTARI DAN PEMBELAJARANNYA DI SMK KELAS XII

GAYA BAHASA SIMILE DALAM NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI DEE LESTARI DAN PEMBELAJARANNYA DI SMK KELAS XII GAYA BAHASA SIMILE DALAM NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI "DEE" LESTARI DAN PEMBELAJARANNYA DI SMK KELAS XII Oleh: Tira Anggreyani, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, Tiera manutd@yahoo.co.id. ABSTRAK

Lebih terperinci

METAPHOR IN THE LYRIC OF MACAPAT SONG ABSTRACT

METAPHOR IN THE LYRIC OF MACAPAT SONG ABSTRACT METAPHOR IN THE LYRIC OF MACAPAT SONG Eka Susylowati 1 ; Sumarlam 2 ; Wakit Abdullah 2 ; Sri Marmanto 2 1 Doctoral Student of Universitas Sebelas Maret, Surakarta 2 Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Lebih terperinci

ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK

ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK ANALISIS GAYA BAHASA PERSONIFIKASI DAN HIPERBOLA LAGU-LAGU JIKUSTIK DALAM ALBUM KUMPULAN TERBAIK SKRIPSI Usulan Penelitian untuk Skripsi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan Oleh

Lebih terperinci

ANALISIS GAYA BAHASA HIPERBOLA DAN PERSONIFIKASI PADA NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI NASKAH PUBLIKASI

ANALISIS GAYA BAHASA HIPERBOLA DAN PERSONIFIKASI PADA NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI NASKAH PUBLIKASI ANALISIS GAYA BAHASA HIPERBOLA DAN PERSONIFIKASI PADA NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Metafora berperan penting dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. Metafora berperan penting dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Metafora berperan penting dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Untuk menarik perhatian pembaca, judul-judul berita pada surat kabar, tabloid, atau majalah sering dinyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam pemerintahan. Seperti yang terdapat pada kerajaan-kerajaan di Indonesia yang hingga saat ini

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia merupakan salah satu aset kebudayaan bagi bangsa

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia merupakan salah satu aset kebudayaan bagi bangsa 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Indonesia merupakan salah satu aset kebudayaan bagi bangsa Indonesia. Salah satu ragam bahasa di Indonesia adalah peribahasa. Berbicara mengenai peribahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipegang yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil

BAB I PENDAHULUAN. dipegang yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah merupakan tulisan tangan berupa benda konkret yang dapat dilihat dan dipegang yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia memiliki beragam suku dan tentu saja bahasa daerah

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia memiliki beragam suku dan tentu saja bahasa daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia memiliki beragam suku dan tentu saja bahasa daerah yang beragam banyaknya. Bahasa daerah yang beragam digunakan sebagai alat komunikasi oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ungkapan dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat kerap menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Ungkapan dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat kerap menjadi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ungkapan dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat kerap menjadi pilihan setiap penutur suatu bahasa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA (2) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru tentang kategorisasi dan pemetaan metafora konseptual kata penyakit dalam bahasa Indonesia. BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

Lebih terperinci

STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA SD/SDLB/MI PROVINSI JAWA TENGAH

STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA SD/SDLB/MI PROVINSI JAWA TENGAH STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA SD/SDLB/MI PROVINSI JAWA TENGAH A. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Sikap Pengetahuan Keterampilan Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap

Lebih terperinci

Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pamorring Kawula Gusti dan Relevansinya dalam Kehidupan Sekarang

Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pamorring Kawula Gusti dan Relevansinya dalam Kehidupan Sekarang Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pamorring Kawula Gusti dan Relevansinya dalam Kehidupan Sekarang Oleh: Sugeng Triwibowo Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Miftah1919@gmail.com Abstrak:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sistem konvensi sastra tertentu yang cukup ketat. Geguritan dibentuk oleh pupuh

BAB I PENDAHULUAN. sistem konvensi sastra tertentu yang cukup ketat. Geguritan dibentuk oleh pupuh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geguritan adalah suatu karya sastra tradisional yang mempunyai sistem konvensi sastra tertentu yang cukup ketat. Geguritan dibentuk oleh pupuh atau pupuh pupuh, dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan zaman, tentu masyarakat Jawa mengalami perubahan-perubahan. Hal

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan zaman, tentu masyarakat Jawa mengalami perubahan-perubahan. Hal 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masyarakat Jawa mempunyai khasanah kebudayaan yang beraneka ragam. Mulai dari sastra, musik, teater, tari, seni rupa, dan sebagainya. Dilihat dari perkembangan zaman,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Wujud sarana retorika yang digunakan dalam Puisi-puisi Anak di Harian

BAB V PENUTUP. 1. Wujud sarana retorika yang digunakan dalam Puisi-puisi Anak di Harian 112 BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Wujud sarana retorika yang digunakan dalam Puisi-puisi Anak di Harian Kedaulatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala bentuk gagasan, ide, tujuan, maupun hasil pemikiran seseorang kepada orang

BAB I PENDAHULUAN. segala bentuk gagasan, ide, tujuan, maupun hasil pemikiran seseorang kepada orang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah alat vital yang dimiliki oleh manusia dalam mengekspresikan segala bentuk gagasan, ide, tujuan, maupun hasil pemikiran seseorang kepada orang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa Orientasi Siswa (selanjutnya disebut MOS) merupakan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa Orientasi Siswa (selanjutnya disebut MOS) merupakan suatu 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa Orientasi Siswa (selanjutnya disebut MOS) merupakan suatu kegiatan yang rutin dilakukan oleh pihak sekolah untuk menyambut kedatangan siswa baru. Kegiatan ini

Lebih terperinci

d. bersifat otonom e. luapan emosi yang bersifat tidak spontan

d. bersifat otonom e. luapan emosi yang bersifat tidak spontan 1. Beberapa pengertian sastra menurut Wellek dan Austin Warren dapat dilihat pada pernyataan di bawah ini, kecuali: a. sebuah ciptaan, kreasi, bukan hanya imitasi b. menghadirkan sintesa antara hal-hal

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA TEORETIS

BAB 3 KERANGKA TEORETIS BAB 3 KERANGKA TEORETIS 3.1 Pengantar Cara berpikir dan bertindak setiap individu selalu terkait dengan metafora. Gambaran mengenai realitas dan pengalaman sehari-hari dapat dipahami dengan mudah melalui

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Dewi Lestari adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang cukup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Dewi Lestari adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang cukup BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Dewi Lestari adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang cukup diperhitungkan karya-karyanya dan dianggap sebagai pengarang produktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali tradisional yang masih

BAB I PENDAHULUAN. Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali tradisional yang masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali tradisional yang masih hidup dan berkembang cukup baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan para pengarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu masalah diantaranya: pertama; pandangan dari objek yang utama, kedua;

BAB I PENDAHULUAN. satu masalah diantaranya: pertama; pandangan dari objek yang utama, kedua; BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kajian metafora merupakan analogi atau perbandingan suatu yang memiliki kemiripan dengan sesuatu yang lainya. Sebagai contoh sifat manusia yang dianalogikan atau diperbandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui

BAB I PENDAHULUAN. Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui naskah kuna. Jenis isi dari naskah kuna sangat beragam. Jenis teks tersebut antara lain berisi

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif. Menurut pakar Jalaludin Rahmat penelitin deskriptif adalah

METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif. Menurut pakar Jalaludin Rahmat penelitin deskriptif adalah BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut pakar Jalaludin Rahmat penelitin deskriptif adalah penelitian yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penulisan karya ilmiah tentunya tidak terlepas dari buku-buku pendukung

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penulisan karya ilmiah tentunya tidak terlepas dari buku-buku pendukung BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan Penulisan karya ilmiah tentunya tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan. Ada beberapa buku yang dipakai dalam memahami dan mendukung penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahasa siswa, karena siswa tidak hanya belajar menulis, membaca,

BAB I PENDAHULUAN. bahasa siswa, karena siswa tidak hanya belajar menulis, membaca, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) menjadi sebuah proses belajar bahasa yang berada pada fase paling penting bagi penguasaan bahasa siswa, karena siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dengan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dengan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dengan manusia yang lain. Ia selalu berhubungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Hubungan ini dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Astri Rahmayanti, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Astri Rahmayanti, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap hari media massa dapat memberikan aneka sajian yang dapat dinikmati para pembaca setianya. Dalam satu edisi para pembaca mendapatkan berbagai informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara sadar ataupun tidak, manusia seringkali menggunakan gaya bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Secara sadar ataupun tidak, manusia seringkali menggunakan gaya bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara sadar ataupun tidak, manusia seringkali menggunakan gaya bahasa kiasan atau majas untuk mengungkapkan, menyetujui, menggambarkan suatu hal secara tidak langsung.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kailani (2001:76) menyatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang

BAB I PENDAHULUAN. Kailani (2001:76) menyatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.1.1 Latar Belakang Kailani (2001:76) menyatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang berbentuk lisan dan tulisan yang dipergunakan oleh masyarakat,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 289 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian sebagaimana perumusan masalah yang telah diajukan di bagian pendahuluan, maka peneliti menyimpulkan berikut ini. 1. Aspek-aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seorang pengarang lagu sehingga lirik-lirik lagunya menarik untuk

BAB I PENDAHULUAN. seorang pengarang lagu sehingga lirik-lirik lagunya menarik untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Gaya bahasa menimbulkan efek keindahan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Efek keindahan gaya bahasa berkaitan dengan selera pribadi pengarang dan kepekaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tutur merupakan salah satu jenis teks sastra tradisional yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. Tutur merupakan salah satu jenis teks sastra tradisional yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tutur merupakan salah satu jenis teks sastra tradisional yang mengandung nilai filsafat, agama, dan nilai kehidupan. Tutur adalah 'nasehat' atau 'bicara'. Kata perulangan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. dasarkan bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. dasarkan bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarkan bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, yang kemudian disebut dengan komunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim

BAB II KAJIAN PUSTAKA. onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Sinonim Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim berarti nama lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahasa, manusia dapat menyampaikan ide, gagasan, dan pikirannya terhadap orang lain. Seiring

BAB I PENDAHULUAN. bahasa, manusia dapat menyampaikan ide, gagasan, dan pikirannya terhadap orang lain. Seiring BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sangat penting bagi kehidupan manusia sebagai sarana komunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaikan ide, gagasan, dan pikirannya terhadap orang lain.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dalam sebuah karya sastra, namun berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sangat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dalam sebuah karya sastra, namun berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sangat BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Metafora tidak terbatas menyangkut pada sebuah gaya bahasa yang terdapat dalam sebuah karya sastra, namun berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sangat dekat dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia membutuhkan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide, pikiran, dan gagasan kepada pihak lain dalam suatu masyarakat. Hal ini sebagaimana dikemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menjalin hubungan dengan dunia luar, hal ini berarti bahwa fungsi utama

BAB I PENDAHULUAN. dalam menjalin hubungan dengan dunia luar, hal ini berarti bahwa fungsi utama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa merupakan wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan dunia luar, hal ini berarti bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis

BAB I PENDAHULUAN. bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia memiliki banyak warisan kebudayaan yang berupa bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis berupa naskah

Lebih terperinci

Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis Kajian : Stilistika. Oleh: Ana Ade Suryani A1B

Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis Kajian : Stilistika. Oleh: Ana Ade Suryani A1B Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis Kajian : Stilistika Oleh: Ana Ade Suryani A1B109048 I. PENDAHULUAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang gaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengidentifikasi diri (Chaer, 2007:33). Oleh karena itu, bahasa merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. mengidentifikasi diri (Chaer, 2007:33). Oleh karena itu, bahasa merupakan hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Chaer,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Puisi menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia terdapat dua macam

BAB I PENDAHULUAN. Puisi menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia terdapat dua macam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Puisi menurut Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia terdapat dua macam arti, yaitu ragam sastra yang bahasanya terikat oleh rima atau pengulangan bunyi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG, RUMUSAN MASALAH, TUJUAN, MANFAAT PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG, RUMUSAN MASALAH, TUJUAN, MANFAAT PENELITIAN BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG, RUMUSAN MASALAH, TUJUAN, MANFAAT PENELITIAN 1.1 Latar Belakang Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali Tradisional yang dibentuk oleh pupuh-pupuh. Setiap pupuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra diciptakan pengarang berdasarkan realita (kenyataan) yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra memang mencerminkan kenyataan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki

BAB I PENDAHULUAN. tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil karya manusia, baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai estetika yang dominan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. curahan perasaan pribadi, (2) susunan sebuah nyanyian (Moeliono (Peny.), 2003:

BAB II LANDASAN TEORI. curahan perasaan pribadi, (2) susunan sebuah nyanyian (Moeliono (Peny.), 2003: 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Lirik Lagu Sebagai Genre Sastra Lirik mempunyai dua pengertian yaitu (1) karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, (2) susunan sebuah nyanyian (Moeliono

Lebih terperinci

GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI MAJALAH FEMINA SKRIPSI. oleh Yuli Wulandari Wijaya NIM

GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI MAJALAH FEMINA SKRIPSI. oleh Yuli Wulandari Wijaya NIM GAYA BAHASA PADA IKLAN PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI MAJALAH FEMINA SKRIPSI oleh Yuli Wulandari Wijaya NIM 100110201078 JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS JEMBER 2014 GAYA

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Setelah terkumpul landasan teoretis dan kerangka berpikir pada bab sebelumnya, maka langkah selanjutnya adalah metode. Metode digunakan untuk menyederhanakan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. tertentu, menekankan penuturan atau emosi, menghidupkan gambaran, menunjukkan bahwa bahasa kias mempunyai peranan yang penting dalam

BAB V PENUTUP. tertentu, menekankan penuturan atau emosi, menghidupkan gambaran, menunjukkan bahwa bahasa kias mempunyai peranan yang penting dalam BAB V PENUTUP A. Simpulan Dalam novel AW karya Any Asmara ditemukan enam jenis penggunaan bahasa kias, yaitu simile, metafora, personifikasi, metonimia, sinekdoke dan hiperbola. Fungsi bahasa kias yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Perkembangan Islam di Indonesia khususnya pulau Jawa sangat

BAB I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Perkembangan Islam di Indonesia khususnya pulau Jawa sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara dengan penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Perkembangan Islam di Indonesia khususnya pulau Jawa sangat pesat, hal ini tak luput

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Istilah metafora sudah muncul dari hasil interpretasi terhadap Kejadian di

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Istilah metafora sudah muncul dari hasil interpretasi terhadap Kejadian di BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Teori-Teori yang Relevan 2.1.1 Teori Metafora Klasik Istilah metafora sudah muncul dari hasil interpretasi terhadap Kejadian di Injil ketika Adam dan Eva memakan buah terlarang

Lebih terperinci