ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI TESIS.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI TESIS."

Transkripsi

1 ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI TESIS Oleh MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA /M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

2 ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Oleh MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA /M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

3 Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI Nama Mahasiswa : MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA Nomor Pokok : Program Studi : KENOTARIATAN Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Syamsul Arifin, SH, MH) Pembimbing Pembimbing (Dr. OK. Saidin, SH, MHum) (Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN,MHum) Ketua Program Studi, Dekan, (Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum) Tanggal lulus : 04 February 2017

4 Telah diuji pada Tanggal : 04 February 2017 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Syamsul Arifin, SH, MH Anggota : 1. Dr. OK. Saidin, SH, MHum 2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum

5 SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA Nim : Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS PELEPASAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut. Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat. Medan, Yang membuat Pernyataan Nama : MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA Nim :

6 ABSTRAK Guna meningkatkan pelayanan jalan tersebut sebagai penyelenggara jalan merasa perlu membenahi sistem jaringan jalan, baik dengan melakukan peningkatan jalan maupun dengan cara pembangunan jalan bebas hambatan (jalan tol).khususdalam pelaksanaan pembangunan jalan Tol Medan-Binjai yang telah direncanakan oleh pemerintah, ternyata akan melintasi lahan perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara II. Oleh karena itu perlu dilakukan koordinasi lebih lanjut antar pihak-pihak yang terkait dalam pembebasan lahan maupun terhadap penilaian ganti kerugian lahan dan asset milik PT. Perkebunan Nusantara II yang terkena dampak dari rencana pembangunan jalan tol tersebut.hal inilah yang menjadi dasar pemikiran untuk melakukan penelitian dengan menjawab permasalahan, bagaimana pelaksanaan pelepasan tanah hak guna usaha PT. Perkebunan Nusantara II untuk pembangunan jalan Tol Medan-Binjai? bagaimana penetapan ganti rugi tanahpt. Perkebunan Nusantara II untuk pengadaan tanah pembangunan jalan Tol Medan- Binjai? bagaimanakah perlindungan hukum terhadap PT. Perkebunan Nusantara II dalam pelepasan hak atas untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai? Metode penelitian dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan yuridis empiris. Sumber data diperoleh dengan mengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan informan. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. Alat pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah studi dokumen dan wawancara, yang selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh, didapati dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai diselenggarakan melalui beberapa tahap, yaitu perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan terakhir penyerahan hasil kepada pihak yang memerlukan tanah bersamaan dengan pemberian ganti kerugian. Penilaian besarnya ganti kerugian terhadap lahan dan asset milik PT. Perkebunan Nusantara II dinilai berdasarkan per bidang tanah, tanaman, rumah dinas karyawan dan kantor perusahaan, dimana ganti kerugiannya dalam bentuk uang. Selanjutnya bentuk perlindungan hukum serta penghormatan hak atas tanah dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum adalah dengan adanya ganti kerugian, adanya kesempatan untuk melakukan musyawarah dan penetapan besarnya nilai ganti rugi yang diberikan kepada pemilik tanah. Kata Kunci: Pelepasan Hak, Pengadaan Tanah, PembangunanJalan Tol i

7 ABSTRACT In order to increase road service, the road organizer needs to improve road network system by improving road condition and constructing toll roads. The Medan- Binjai tollroad which has been planned by the government passes plantation area of PTPN (PT Perkebunan Nusantara) II. Therefore, it is necessary tocoordinate with the party concerned about land clearing and about compensation on the land and asset of PTPN II which have the impact of the tollroad construction. The research problems were as follows: how about the implementation of the renunciation of rights of the leasehold land of PTPN II for the Medan-Binjai tollroad construction, how about the compensation of the land acquisition for the Medan-Binjai tollroad construction, and how about legal protection for PTPN II in the renunciation of rights for the Medan-Binjai tollroad construction. The research used descriptive and judicial normative method. Primary data were gathered by conducting documentary study and interviews with the informants, and secondary data were obtained from primary, secondary, and tertiary legal materials. The gathered data were analyzed qualitatively. The result of the research showed that in the implementation of land acquisition for the Medan-Binjai toll road construction was done in some stages: planning, preparation, implementation, submitting its result, and the compensation to those who own the land. The amount of the compensation of the land and asset of PTPN II based on per piece of land, plants, employees houses, and offices; the compensation was in the form of money. Legal protection and valuation on land rights for land acquisition to public utility are compensation, the opportunity to negotiation, and the amount of compensation given to the land owners. Keywords: Transfer of Title, Land Acquisition, Toll Road Construction ii

8 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT dan shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW berikut keluarga, para sahabat dan seluruh umat pengikutnya, atas terselesaikannya penulisan Tesis dengan judul: Analisis Yuridis Pelepasan Hak Guna Usaha PT. Perkebunan Nusantara II Untuk Pengadaan Tanah Dalam Pembangunan Jalan Tol Medan Binjai. Penyusunan Tesis ini bertujuan untuk melengkapi syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum. Dengan penuh kesadaran bahwa tiada satupun yang sempurna di muka bumi ini, penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan tesis ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan terlebih dengan keterbatasan kemampuan, baik dari segi penyajian teknik penulisan maupun materi. Penulisan tesis ini tidaklah mungkin akan menjadi sebuah karya ilmiah tanpa adanya bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah ikut serta baik langsung maupun tidak langsung dalam usaha menyelesaikan tesis ini. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan yang diberikan untuk dapat menjadi mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum. iii

9 2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum, atas kesempatan yang diberikan untuk dapat menjadi mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., CN., MS., selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum dan selaku Ketua Komisi Penguji dalam penelitian ini. 4. Bapak Prof. Syamsul Arifin, SH., MH., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan waktu dan bimbingan serta materi ataupun teknik penulisan Tesis ini. 5. Bapak Dr. OK. Saidin, SH, MHum., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan waktu dan bimbingan serta materi ataupun teknik penulisan Tesis ini. 6. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan waktu dan bimbingan serta materi ataupun teknik penulisan Tesis ini. 7. Bapak Notaris Syafnil Gani, SH, M.Hum., selaku Anggota Komisi Penguji dalam penelitian ini. 8. Seluruh Staff Pengajar Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum, yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama menuntut ilmu pengetahuan di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum. iv

10 9. Seluruh staff pegawai administrasi Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum. 10. Kepada rekan-rekan seperjuangan stambuk 2014 dan seluruh rekan- rekan lainnya di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 11. Seluruh pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungannya kepada penulis dalam penyelesaian penulisan Tesis ini. Akhirnya tidak lupa penulis mohon maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun tidak sengaja. Penulis hanya bisa mendoakan agar semua pihak yang telah membantu selama ini dilipatgandakan pahalanya. Dengan iringan doa semoga Allah SWT berkenan menerima amal ini menjadi sebuah nilai ibadah disisi- Nya dan dengan segala kerendahan hati penulis berharap semoga Tesis ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan. Amiin Yaa Robbal alamin Wasalamu alaikum Wr. Wb. Medan, February 2017 Penulis MUHAMMAD RIZKI SYAHPUTRA v

11 DAFTAR RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS PRIBADI Nama : Muhammad Rizki Syahputra Tempat / Tanggal Lahir : Binjai, 26 Juni 1992 Agama : Islam Alamat : Jl. Danau Tempe Km. 18 No. 1, Kelurahan Sumber Karya, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai. II. KELUARGA Nama Ayah : H. M. Ali Umri, SH., M.Kn. Nama Ibu : T. Silvia Anim Nama Abang : Muhammad Reza Syahputra Nama adik : Muhammad Real Fatha Syahputra Siti Rerizha Syahputri Muhammad Reysi Umri Syahputra III. PENDIDIKAN 1. Sekolah Dasar : SD Negeri Binjai Tamat Tahun Sekolah Menengah Pertama : SMP Negeri 1 Binjai Tamat Tahun Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 5Binjai Tamat Tahun S-1 Fakultas Hukum : Universitas Medan Area Tamat Tahun S-2 Program Studi Magister Kenotaritan : Fakultas Hukum USU Tamat Tahun 2017 vi

12 DAFTAR ISI ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR RIWAYAT HIDUP... DAFTAR ISI... Halaman BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 8 C. Tujuan Penelitian... 8 D. Manfaat Penelitian... 8 E. Keaslian Penelitian... 9 F. Kerangka Teori dan Konsepsi Kerangka Teori Konsepsi G. Metode Penelitan Spesifikasi Penelitian Metode Pendekatan Sumber Data Alat Pengumpulan Data Analisis Data PELAKSANAAN PELEPASAN TANAH HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI A. Sejarah BerdirinyaPT. Perkebunan Nusantara II B. Hak atas Tanah Pengertian Hak atas Tanah i ii iii vi vii vii

13 2. Macam-macam Hak atas Tanah C. Pengaturan Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pengertian Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum Pengertian Kepentingan Umum Dasar Hukum Pengadaan Tanah D. Asas-asas Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum E. Proses Pelepasan Tanah Hak Guna Usaha PT. Perkebunan Nusantara II Untuk Pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai BAB III PENETAPAN GANTI RUGI TANAH PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II UNTUK PENGADAAN TANAH PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI A. Profil Proyek Pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai B. Ganti Rugi Hak Atas Tanah Untuk Kepentingan Umum Pengertian Ganti Rugi Bentuk Ganti Rugi Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum C. Ganti Rugi Dalam Pengadaan Tanah Melalui Pembebasan Hak 87 D. Ganti Rugi Dalam Pengadaan Tanah Melalui Pencabutan Hak.. 93 E. Musyawarah Sebagai Dasar Penentuan Ganti Rugi F. Penetapan Ganti Rugi Tanah Milik PT. Perkebunan Nusantara II Untuk Pengadaan Tanah Pembangunan Jalan Tol Medan- Binjai BAB IV PERLINDUNGANHUKUMTERHADAPPT.PERKEBUN ANNUSANTARAII DALAM PELEPASAN HAK ATAS UNTUK KEPENTINGAN PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI A. Konsep Hukum Tanah Nasional B. Prinsip-Prinsip Kepentingan Umum Dalam Pengadaan Tanah C. Prinsip Penghormatan Terhadap Hak Atas Tanah D. Sengketa Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. 126 viii

14 E. PerlindunganHukumTerhadapPT.PerkebunanNusantaraII Dalam Pelepasan Hak Atas Untuk Kepentingan Pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA ix

15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah adalah tempat bermukim bagi umat manusia disamping sebagai sumber kehidupan bagi mereka yang mencari nafkah melalui usaha. Tanah dan pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa tanah pembangunan hanya akan menjadi rencana. 1 Disisi lain, tanah yang digunakan oleh negara untuk menunjang proses pembangunan semakin sedikit dan jarang dijumpai, ketersediaan tanah sebagai sarana dalam menyelenggarakan seluruh segi kehidupan manusia semakin terbatas karena tanah tidak akan bisa bertambah luas, serta melonjaknya harga tanah secara tidak terkendali di daerah-daerah strategis membuat pemerintah semakin sulit melakukan pembangunan untuk penyediaan prasarana dan kepentingan umum. Pembangunan yang dilakukan Pemerintah dewasa ini antara lain pemenuhan kebutuhan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Pembentukan peraturan perundang-undangan diperlukan pendekatan yang mencerminkan pola pikir yang proaktif yang dilandasi sikap kritis dan obyektif, guna mewujudkan cita-cita yang luhur bangsa Indonesia, maka diperlukan komitmen politik yang sungguh-sungguh untuk memberikan dasar dan arah yang adil dalam 1994, hal I Wayan Suandra, Hukum Pertanahan Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta, Cetakan Kedua, 1

16 2 pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan tidak menyengsarakan rakyat, sehingga adanya keseimbangan antara kepentingan Pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Secara formal, kewenangan Pemerintah untuk mengatur bidang pertanahan tumbuh dan mengakar dari Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kemudian ditunaskan secara kokoh dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Selanjutnya merambah ke berbagai peraturan organik dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Presiden, dan Peraturan yang diterbitkan oleh pimpinan instansi teknis di bidang pertanahan. Melalui hak menguasai dari Negara inilah, maka Negara selaku badan penguasa akan dapat senantiasa mengendalikan atau mengarahkan pengelolaan fungsi bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang ada, yaitu dalam lingkup penguasaan secara yuridis yang beraspek publik. 2 Ketentuan di dalam Undang-Undang Pokok Agraria sendiri memberikan landasan hukum bagi pengambilan tanah hak, hal mana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 18 yaitu untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, 2 Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara (Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria), Yogyakarta, Citra Media, 2007, hal. 5.

17 3 dengan memberi ganti rugi yang layak menurut cara yang diatur dengan Undang- Undang. Pengaturan hukum tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan segala peraturan terkait dengannya di Indonesia mengalami proses perkembangan. Sampai saat ini dapat ditemukan beberapa peraturan yang mengatur mengenai pengadaan tanah untuk kepentingan umum yaitu antara lain UUPA No.5/1960, Undang-undang No. 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Benda-Benda Yang Ada Diatasnya, yang kemudian dilanjutkan dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (PMDN) No. 15 Tahun 1975, kemudian dicabut dan diganti dengan Keputusan Presiden No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, kemudian digantikan dengan Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan terakhir digantikan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Setelah melewati perjalanan waktu yang cukup panjang, akhirnya pada tanggal 14 Januari 2012, Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur secara khusus tentang pengadaan tanah, yaitu Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Pemerintah berharap dengan diterbitkannya Undang-Undang tersebut akan menjadi payung

18 4 hukum yang kuat guna memperlancar pelaksanaan pembangunan infrastruktur untuk kepentingan umum. Pembangunan oleh pemerintah, khususnya pembangunan fisik mutlak memerlukan tanah. Tanah yang diperlukan tersebut dapat berupa tanah yang dikuasai secara langsung oleh negara atau tanah yang sudah dipunyai dengan suatu hak oleh suatu subyek hukum. Jika tanah yang diperlukan untuk pembangunan itu berupa tanah negara, pengadaan tanahnya tidaklah sulit, yaitu pemerintah dapat langsung mengajukan permohonan hak atas tanah tersebut untuk selanjutnya digunakan untuk pembangunan. Namun demikian, tanah negara saat ini jarang ditemukan, oleh karena itu tanah yang diperlukan untuk pembangunan umumnya adalah tanah hak yang dapat berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai. Proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah merupakan suatu proyek yang terlebih dahulu direncanakan dalam penetapan rencana pembangunan untuk kepentingan umum dan sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota. Pelaksanaan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, menurut peraturan perundang-undangan harus dibantu dengan Panitia Pengadaan Tanah. Panitia pengadaan Tanah dibentuk untuk membuat dan menyusun pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan dengan melakukan berbagai kegiatan pendahuluan dalam pelepasan/penyerahan hak atas tanah. 3 Dalam praktiknya dikenal 2 (dua) jenis pengadaan tanah, pertama pengadaan tanah oleh pemerintah untuk kepentingan umum dan kedua pengadaan tanah untuk 3 Abdurrahman, Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1994, hal. 79.

19 5 kepentingan swasta yang meliputi kepentingan kepentingan komersial dan bukan komersial atau bukan sosial. 4 Pengadaan tanah untuk kepentingan umum merupakan salah satu manifestasi dari fungsi sosial hak atas tanah. Pengadaan tanah dipandang sebagai langkah awal dari pelaksanaan pembangunan yang merata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat atau masyarakat itu sendiri, baik yang akan digunakan untuk kepentingan umum maupun kepentingan swasta. Pengadaan tanah untuk pembangunan hanya dapat dilakukan atas dasar dan bentuk ganti rugi yang diberikan kepada pemegang hak atas tanah itu sendiri. 5 Secara normatif, pengadaan tanah itu berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti kerugian kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Sehubungan dengan itu, pengadaan tanah menyangkut dua sisi dimensi harus ditempatkan secara seimbang, yaitu kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah. 6 Tanah dan pembangunan merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Secara sederhana dikatakan bahwa tidak ada pembangunan tanpa tanah. Pembangunan selalu membutuhkan tapak untuk perwujudan proyek-proyek, baik yang dijalankan oleh instansi dan perusahaan milik pemerintah sendiri, maupun perusahaan milik swasta. Hubungan pembangunan dan tanah bukan hanya melingkupi aspek ekonomi namun juga politik. Sebagai alas hidup manusia, tanah 4 Bernhard Limbong, Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan : Regulasi, Kompensasi Penegakan Hukum, Jakarta, Pustaka Margareta, 2011, hal Ibid., hal Ibid.

20 6 dengan sendiri menempatkan posisi yang vital, atas pertimbangan karakternya yang unik sebagai benda yang tak tergantikan, tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat direproduksi. 7 Berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum tersebut di atas, maka pada saat ini pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan infrastruktur jalan termasuk salah satunya adalah membangun jalan tol. Kebutuhan akan jalan bebas hambatan dirasakan sudah sangat dibutuhkan untuk melancarkan konektivitas serta menekan biaya logistik transportasi di tanah air. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun , Pemerintah telah mencanangkan pembangunan jalan tol sepanjang 1000 km yang akan dilakukan selama lima tahun ke depan. Penambahan jalan tol 1000 km tersebut terdiri atas Trans Sumatera, Trans Jawa, Tol Samarinda-Balikpapan dan Tol Manado-Bitung. Sementara untuk Provinsi Sumatera Utara yang menjadi target pembangunan jalan Tol salah satunya adalah Jalan Tol Medan-Binjai sepanjang + 16,72 Km. Pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai yang merupakan rangkaian dari rencana pemerintah untuk membangun Tol Trans Sumatera. Kebutuhan terhadap jalan dikarenakan merupakan prasarana transportasi darat yang berperan banyak dalam menunjang pergerakan arus barang dan jasa. aktivitas pemerintahan. serta dinamika sosial ekonomi masyarakat. Perkembangan ekonomi yang cepat disertai. pertumbuhan penduduk dan kenaikan jumlah kendaraan yang tinggi. serta sistem jaringan jalan dan kondisi jalan yang kurang memadai. akan hal Winahyu Erwiningsih, Hak Menguasai Negara Atas Tanah, Yogyakarta, Total Media, 2009,

21 7 menyebabkan pelayanan terhadap pemakai jalan menurun. Guna meningkatkan pelayanan jalan tersebut sebagai penyelenggara jalan merasa perlu membenahi sistem jaringan jalan, baik dengan melakukan peningkatan jalan maupun dengan cara pembangunan jalan bebas hambatan (jalan tol). Khusus untuk pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai hampir 70 persen lahan yang digunakan adalah dalam status Hak Guna Usaha milik PT. Perkebunan Nusantara II yang melintasi beberapa areal kebun milik perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan musyawarah antara pihak pemilik tanah dengan pihak yang memerlukan tanah terkait dalam pembebasan lahan maupun terhadap penilaian ganti kerugian lahan mdan asset milik PT. Perkebunan Nusantara II yang akan dibebaskan terkait pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol tersebut. Oleh karena pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Medan Binjai yang mana lahan yang dibutuhkan pada saat ini dikuasai oleh PT. Perkebunan Nusantara II dengan diberikannya status tanah Hak Guna Usaha, maka dalam pelepasan objek pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang dikuasai oleh pemerintah atau dikuasai/dimiliki Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah harus didasarkan pada ketentuan Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan, Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER/02/MBU/2010 tentang Tata Cara Penghapusbukuan dan Pemindahtanganan Aktiva Tetap dan aturan-aturan terkait lainnya. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul: Analisis Yuridis Pelepasan Hak Guna Usaha PT. Perkebunan Nusantara II Untuk Pengadaan Tanah Dalam Pembangunan Jalan Tol Medan Binjai.

22 8 B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pelaksanaan pelepasan tanah hak guna usaha PT. Perkebunan Nusantara II untuk pembangunan jalan Tol Medan-Binjai? 2. Bagaimana penetapan ganti rugi tanah PT. Perkebunan Nusantara II untuk pengadaan tanah pembangunan jalan Tol Medan-Binjai? 3. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap PT. Perkebunan Nusantara II dalam pelepasan hak tanah atas untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai? C. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pelaksanaan pelepasan tanah hak guna usaha PT. Perkebunan Nusantara II untuk pembangunan jalan Tol Medan-Binjai. 2. Untuk mengetahui bentuk penetapan ganti rugi tanah PT. Perkebunan Nusantara II untuk pengadaan tanah pembangunan jalan Tol Medan-Binjai. 3. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap PT. Perkebunan Nusantara II dalam pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis, yaitu: a. Secara teoritis hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu sumbangan

23 9 pemikiran bagi peningkatan dan perkembangan hukum agraria tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum dalam hal ini pembangunan jalan tol. b. Secara praktis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pemikiran-pemikiran baru kepada pemerintah dan masyarakat yang memerlukan informasi yang berkaitan dengan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dalam pembangunan jalan tol. E. Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran kepustakaan, khususnya di lingkungan Universitas Sumatera Utara, penelitian mengenai Analisis Yuridis Pelepasan Hak Guna Usaha PT. Perkebunan Nusantara II Untuk Pengadaan Tanah Dalam Pembangunan Jalan Tol Medan Binjai, belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini adalah asli adanya dan secara akademis dapat dipertanggung jawabkan. Meskipun ada peneliti-peneliti pendahulu yang pernah melakukan penelitian mengenai masalah pengadaan tanah untuk kepentingan umum, namun menyangkut judul dan substansi pokok permasalahan yang dibahas sangat jauh berbeda dengan penelitian ini. Adapun penelitian yang berkaitan dengan pengadaan tanah untuk kepentingan umum tersebut yang pernah dilakukan yaitu oleh: 1. Elfriza Meutia, 2004, dengan judul: Pelaksanaan Pelepasan Hak Atas Tanah Pada Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Kepentingan Umum. Adapun permasalahan yang dibahas adalah: a. Apakah pelaksanaan pelepasan hak atas tanah untuk pembangunan pelabuhan Ulee Lheu sudah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku?

24 10 b. Adakah hambatan yang ditemui pada pelaksanaan pelepasan hak atas tanah untuk pembangunan pelabuhan Ulee Lheue? c. Bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang ditemui dilapangan? 2. Abinur Hamzah, 2006, dengan judul: Aspek Yuridis Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Setelah Keluarnya Perpres Nomor 36 Tahun 2005 (Studi Kasus Kwala Namu di Kecamatan Pantai Labu dan Proyek Pelebaran Tanjung Morawa di Desa Buntu Bedimbar, Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang). Adapun permasalahan yang dibahas adalah: a. Bagaimanakah pengaturan pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum sebelum dan sesudah keluarnya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005? b. Bagaimanakah penentuan besarnya ganti rugi dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum sebelum dan setelah keluarnya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005? c. Kendala-kendala apa yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum? 3. Bukhari, 2008, dengan judul: Problematika Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Kepentingan Umum (Studi Kasus Pada Pembangunan Kampus Unimal Di Desa Reuleut Timur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara). Adapun permasalahan yang dibahas adalah : a. Apakah Pelaksanaan pelepasan hak atas tanah untuk pembangunan kampus Universitas Malikussaleh sudah sesuai dengan prosedur?

25 11 b. Hambatan apa yang ditemui pada pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan kampus Universitas Malikussaleh? c. Upaya apa sajakah yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang ditemui antara pemilik tanah dan Universitas Malikussaleh di lapangan? 4. Yuselina, 2008, dengan judul: Pelepasan Hak Ulayat Nagari Untuk Kepentingan Umum (Studi Pengadaan Tanah Dari Hak Ulayat Untuk Bandar Udara International Minang Kabau). Adapun permasalahan yang dibahas adalah: a. Bagaimana pelaksanaan pengadaan tanah yang berasal dari hak ulayat nagari Ketaping untuk pembangunan Bandar Udara International Minangkabau? b. Apakah ada hambatan/masalah yang timbul dalam pelepasan hak ulayat nagari ketaping untuk pembangunan Bandar Udara International Minangkabau? c. Upaya apakah yang dilakukan oleh pemerintah Daerah untuk mengatasi hambatan/masalah dalam pengadaan tanah yang berasal dari hak ulayat untuk kepentingan umum? Jika diperbandingkan penelitian yang pernah dilakukan dengan penelitian ini, baik permasalahan maupun pembahasan adalah berbeda. Oleh karena itu penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Seiring dengan perkembangan masyarakat, hukumpun mengalami perkembangan. Kontinuitas perkembangan ilmu hukum selain bergantung pada

26 12 metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori. 8 Perkembangan ilmu hukum tidak terlepas dari teori hukum sebagai landasannya dan tugas teori hukum adalah untuk: menjelaskan nilai-nilai hukum dan postulat-postulatnya hingga dasar-dasar filsafatnya yang paling dalam, sehingga penelitian ini tidak terlepas dari teori-teori ahli hukum yang di bahas dalam bahasa dan sistem pemikiran para ahli hukum sendiri. 9 Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi. 10 Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. 11 Teori adalah merupakan suatu pinsip yang di bangun dan dikembangkan melalui proses penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu masalah. Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis. Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui. 12 Sedangkan menurut W.L Neuman, memberikan pendapatnya sebagaimana yang dikutip oleh Otje Salman dan Anton F Susanto, menyebutkan: teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan 8 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Jakarta, Press, 1986, hal W. Friedmann, Teori dan Filsafat Umum, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996, hal J.J M. Wuisman, Penyunting M. Hisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid 1, Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996, hal Ibid., hal M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju, 1994, hal. 80.

27 13 tentang dunia. Ia adalah cara yang ringkas untuk berfikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja. 13 Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Snelbecker mendefenisikan teori sebagai perangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan tata dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. 14 Adapun teori menurut pendapat Maria S.W. Sumardjono adalah: Seperangkat preposisi yang berisi konsep abstrak atau konsep yang sudah didefenisikan dan saling berhubungan antar variable sehingga menghasilkan pandangan sistematis dari fenomena yang digambarkan oleh suatu variable dengan variable lainnya dan menjelaskan bagaimana hubungan antar variable tersebut. Fungsi teori dalam suatu kegiatan penelitian adalah untuk memberikan arahan dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang terjadi, karena penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, kerangka teori diarahkan secara khas ilmu hukum. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori keadilan pemikiran Roscoe Pound yang menganut teori Sociological Jurisprudence yang menitikberatkan pendekatan hukum ke masyarakat. Menurut Sociological 13 HR. Otje Salman S. dan Anton F. Susanto, Teori Hukum, Bandung, Refika Aditama, 2005, hal Snelbecker dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2002, hal

28 14 Jurisprudence, hukum yang baik haruslah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) di masyarakat. Teori Roscoe Pound tersebut selanjutnya dikembangkan oleh Mochtar Kusumaatmadja dalam bukunya berjudul Konsep- Konsep Hukum Dalam Pembangunan, dimana hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (a tool of social engineering). Kepentingan pembangunan, dimana pembangunan merupakan proses perubahan terencana dan berjangka dari suatu kondisi menuju kondisi yang lebih baik dalam rangka untuk kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Dengan demikian setiap kegiatan untuk kepentingan umum yang membutuhkan tanah-tanah rakyat seharusnya memerlukan cakupan visi, misi, dan bidang kerja yang kedepannya jelas-jelas terukur. Konsep kepentingan umum harus dilaksanakan sejalan dengan terwujudnya Negara, dimana hukum merupakan sarana utama untuk mewujudkan kepentingan umum. Hukum tidak mempunyai pilihan lain kecuali disamping menjamin kepentingan umum juga melindungi kepentingan perorangan agar keadilan dapat terlaksana. Hal ini berarti bahwa hukum sendiri tidak dapat dipisahkan dari norma keadilan, karena hukum adalah pengejawantahan dari prinsip-prinsip keadilan. 15 Menurut pendapat Pluto dijelaskan bahwa, kepentingan negara selalu melebihi kepentingan pribadi, sehingga apapun yang menjadi milik pribadi termasuk pula milik negara. Negara harus mempunyai kekuasaan atas warganya. Kekuasaan itu 15 Tholahah Hasan, Pertanahan Dalam Perspektif Agama Islam dan Budaya Muslim, Yogyakarta, STPN, 1999, hal. 37.

29 15 diperlukan untuk mendidik warganya dengan nilai-nilai moral. Bagi Pluto, individu memiliki kecenderungan yang keras untuk bertindak atas dasar kepentingannya sendiri tetapi negara harus mencegahnya. 16 Untuk melaksanakan kepentingan pembangunan kepentingan umum, negara mempunyai hubungan hukum dengan tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia atas nama bangsa melalui peraturan perundang-undangan, yaitu UUPA dan peraturan pelaksanaannya. Hubungan hukum tersebut dinamakan hak menguasai negara. Hak ini tidak memberi kewenangan secara fisik dan menggunakannya seperti hak atas tanah, karena sifatnya semata-mata sebagai kewenangan publik sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 2 UUPA. 17 Kepentingan bangsa dan negara, setidaknya memberikan penjelasan dari ketentuan UUPA, sebagaimana yang tercantum pada penjelasan umum butir ke-2 menyebutkan bahwa negara/pemerintah bukanlah subyek yang dapat mempunyai hak milik, demikian pula tidak dapat sebagai subyek jual-beli dengan pihak lain untuk kepentingannya sendiri. Muhammad Yamin menyatakan pendapatnya bahwa: Negara sebagai organisasi kekuasaan dalam tingkatan-tingkatan tertinggi diberi kekuasaan sebagai badan penguasa untuk menguasai bumi, air dan ruang angkasa, dalam arti bukan memiliki Arif Budiman, Teori Negara Kekuasaan dan Ideologi, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1997, hal Arie Sukanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Kewenangan Pemerintah Di Bidang Pertanahan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2008, hal Muhammad Yamin, Jawaban Singkat Pertanyaan-Pertanyaan Dalam Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Edisi Revisi, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2003, hal. 5.

30 16 Terdapat 3 (tiga) prinsip yang dapat disimpulkan bahwa suatu kegiatan benarbenar ditujukan untuk kepentingan umum, yaitu: 19 a. Kegiatan pembangunan tersebut benar-benar dimiliki oleh pemerintah, b. Kegiatan pembangunan tersebut dilakukan oleh pemerintah, c. Kegiatan pembangunan tersebut tidak mencari keuntungan (non profit). Kegiatan pembangunan nasional khususnya pembangunan berbagai fasilitas untuk kepentingan umum memerlukan bidang tanah yang cukup. Usaha-usaha pengembangan perkotaan baik berupa perluasan, pembukaan tempat pemukiman baru di pinggir kota dan pembangunan jalan tol, senantiasa membutuhkan tanah, hanya saja kebutuhan tersebut tidak dengan mudah dapat dipenuhi. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan akan pembangunan fisik tersebut, masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah diharapkan dapat berperan serta dengan cara merelakan tanah yang dimilikinya untuk diserahkan kepada pihak yang membutuhkan, tentunya dengan mengikuti ketentuan yang ada, sebab pada asasnya hak atas tanah itu mempunyai fungsi sosial, sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 6 UUPA. Walaupun hak atas tanah yang dipunyai oleh seseorang atau badan hukum berfungsi sosial, hak atas tanah tersebut sesuai dengan hukum tanah nasional dilindungi dari gangguan pihak mana pun dan hak atas tanah tersebut tidak boleh dirampas dengan sewenang-wenang serta dengan secara melawan hukum termasuk oleh penguasa. 19 Adrian Sutedi, Implementasi Prinsip Kepentingan Umum Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, Jakarta, Sinar Grafika, 2008, hal

31 17 Oleh karenanya dalam rangka mengisi dan melaksanakan pembangunan untuk sarana kepentingan umum perlu adanya pengadaan tanah yang merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk meningkatkan/menunjang pembangunan melalui musyawarah dan mufakat dengan pemilik/pemegang hak atas tanah dan benda-benda yang ada di atasnya. Musyawarah yang dilakukan terkait dengan pemberian ganti rugi secara wajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sama dengan pembayaran ganti rugi terhadap hak-hak lainnya atas tanah, bangunan dan tanaman dengan tata cara yang diatur dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Menurut Marmin M. Roosadijo berpendapat bahwa, pembebasan tanah atau mengambil tanah yang diperlukan oleh pemerintah dengan cara pembebasan banyak dipergunakan karena cara ini dianggap lebih cepat terlaksana, juga dianggap tidak menimbulkan keresahan, sebab cara pembebasan tanah ini didasarkan adanya keharusan tercapai kata sepakat. 20 Adanya kata sepakat atau musyawarah dalam pembebasan tanah dimaksudkan untuk dapat memberikan rasa kesejahteraan bagi pemilik dan yang memerlukan tanah. Hal ini sejalan dengan pendapat Abdurrahman, pembebasan tanah adalah melepaskan hubungan hukum semula yang terdapat di antara pemegang hak/penguasaan atas tanah dengan cara pemberian ganti rugi atas dasar musyawarah dengan pihak yang bersangkutan Marmin M. Roosadijo, Tinjauan Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada Di Atasnya, Jakarta, Chalia Indonesia, 1997, hal Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak Atas Tanah dan Pembebasan Tanah di Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1991, hal. 10.

32 18 Pada umumnya dalam kegiatan pengadaan tanah tersangkut kepentingan dua pihak, yaitu instansi pemerintah yang memerlukan tanah dan masyarakat yang tanahnya diperlukan untuk kegiatan pembangunan dimaksud. Oleh karena itu pengadaan tanah dimaksud haruslah dilakukan melalui proses yang menjamin tidak adanya pemaksaan kehendak dari satu pihak terhadap pihak yang lain, pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan tersebut harus dilakukan dengan mengindahkan asas keadilan. 22 Adanya asas keadilan dimaksudkan bahwa kepada masyarakat yang terkena dampak harus diberikan ganti kerugian kepadanya untuk dapat memulihkan kondisi sosial ekonominya, minimal setara dengan keadaan semula, dengan memperhitungkan kerugian terhadap faktor fisik maupun non fisik. Kerugian yang bersifat non fisik misalnya, hilangnya bidang usaha atau sumber penghasilan, hilangnya pekerjaan, dan lain-lain. Ganti rugi merupakan suatu imbalan yang diterima oleh pemegang hak atas tanah sebagai pengganti dari nilai tanah termasuk benda-benda yang berada diatasnya, terhadap tanah yang telah dilepas atau diserahkan dan dengan adanya ganti rugi ini menyebabkan pemegang hak atas tanah akan kehilangan hak atas tanah dan bangunan yang berada diatasnya. Selain itu, adanya ketentuan mengenai ganti kerugian dianggap sebagai suatu upaya mewujudkan penghormatan kepada hak-hak dan kepentingan perseorangan yang telah dikorbankan untuk kepentingan umum, dapat disebut adil, apabila hal 22 Maria S.W. Soemardjono (I), Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya Jakarta, Kompas, 2008, hal. 282.

33 19 tersebut tidak membuat seseorang menjadi lebih kaya, atau sebaliknya menjadi lebih miskin dari keadaan semula Maria S.W. Sumardjono mengatakan, ganti rugi dapat disebut adil apabila keadaan setelah pengambilalihan tanah paling tidak kondisi sosial ekonominya setara dengan keadaan sebelumnya, disamping itu ada jaminan terhadap kelangsungan hidup mereka yang tergusur. 23 Sedangkan disisi lain prinsip keadilan juga harus meliputi pihak yang membutuhkan tanah agar dapat memperoleh tanah sesuai dengan rencana peruntukkannya dan memperoleh perlindungan hukum. 24 Oleh karena itu, dengan ditempatkannya asas keadilan di dalam peraturan pengadaan tanah, hal tersebut mencerminkan keadilan distributif sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles. Keadilan distributif ialah menyangkut soal pembagian barang dan kehormatan kepada masing-masing orang sesuai dengan tempatnya dalam masyarakat. Ia menghendaki agar orang-orang yang mempunyai kedudukan sama memperoleh perlakuan yang sama pula dihadapan hukum. 25 Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum harus dilakukan dengan prinsip keadilan, yaitu dengan penghormatan terhadap hakhak atas tanah yang diusahakan dengan cara seimbang dan dilakukan dengan cara musyawarah. Perlakuan yang seimbang antara pemilik tanah dan yang membutuhkan tanah adalah merupakan pemenuhan rasa keadilan bagi masing-masing pihak. Dalam 23 Maria S.W. Soemardjono (II), Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi, Edisi Revisi, Jakarta, Kompas, 2006, hal Syafruddin Kalo, Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2004, hal Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Cet. Ke IV, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996, hal. 258.

34 20 hal ini maka, Pemerintah harus bertindak secara adil dan dilaksanakan dengan etika moral yang tinggi. 2. Konsepsi Konsepsi diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional. 26 Soerjono Soekanto berpendapat bahwa, kerangka konsepsi pada hakekatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkrit dari kerangka teoritis yang seringkali bersifat abstrak, sehingga diperlukan defenisi-defenisi operasional yang menjadi pegangan konkrit dalam proses penelitian. 27 Samadi Surya Brata memberikan arti khusus mengenai pengertian konsep, yaitu sebuah konsep berkaitan dengan defenisi operasional, konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus, yang disebut dengan defenisi operasional. 28 Defenisi operasional perlu disusun, untuk memberi pengertian yang jelas atas masalah, tidak boleh memiliki makna ganda. Selain itu, konsepsi juga digunakan untuk memberikan pegangan pada proses penelitian. Oleh karena itu, dalam rangka penelitian ini, perlu dirumuskan serangkaian defenisi operasional atas beberapa variable yang digunakan. Selanjutnya, untuk menghindari terjadinya salah pengertian dan pemahaman yang berbeda tentang 26 Samadi Surya Barata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998, hal Soerjono Soekanto, Op.cit., hal Samadi Surya Barata, Op.cit, hal. 3.

35 21 tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, maka kemudian dikemukakan konsepsi dalam bentuk defenisi operasional sebagai berikut: Pelepasan Hak adalah pelepasan hubungan hukum antara sebidang tanah hak dengan pemiliknya, yang dilaksanakan melalui musyawarah yang selanjutnya disertai pemberian imbalan yang layak. Hak Guna Usaha adalah Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana telah ditentukan oleh undang-undang, guna perusahaan pertanian, perikanan, atau peternakan. PT. Perkebunan Nusantara II adalah sebuah bekas Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang agribisnis perkebunan. Badan usaha ini dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 Pengadaan Tanah adalah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Pengadaan tanah dapat dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah. Jalan Tol adalah jalan umum yang kepada pemakainya dikenakan kewajiban membayar tol dan merupakan jalan alternatif lintas jalan umum yang telah ada. Jalan tol diselenggarakan dengan maksud untuk mempercepat pewujudan jaringan jalan dengan sebagian atau seluruh pendanaan berasal dari pengguna jalan untuk meringankan beban pemerintah.

36 22 G. Metode Penelitian 1. Spesifikasi Penelitian Penelitian adalah usaha atau pekerjaan untuk mencari kembali yang dilakukan dengan suatu metode tertentu dengan cara hati-hati, sistematis serta sempurna terhadap permasalahan, sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menjawab problemnya. 29 Sifat dari penelitian ini adalah deskriptif, artinya penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara cermat karakteristik dari fakta-fakta (individu, kelompok atau keadaan), dan untuk menentukan frekuensi sesuatu yang terjadi. 30 Dengan penelitian yang bersifat deskriptif dimaksudkan untuk melukiskan keadaan objek atau peristiwanya, kemudian menelaah dan menjelaskan serta menganalisa data secara mendalam dengan mengujinya dari berbagai peraturan perundangan yang berlaku maupun dari pendapat ahli hukum sehingga dapat diperoleh gambaran tentang data faktual yang berhubungan dengan pelepasan hak guna usaha dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum untuk pembangunan jalan tol Medan Binjai. 2. Metode Pendekatan Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bersifat yuridis empiris. Metode yuridis empiris dipergunakan untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan dengan melihat berbagai aspek yang terdapat dalam pengadaan 29 Joko P. Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, hal Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta, Garanit, 2004, hal. 58.

37 23 tanah untuk kepentingan umum, sehingga akan diketahui secara hukum tentang pelepasan hak guna usaha dalam pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Medan Binjai. 3. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer didapat dengan cara wawancara secara mendalam (deep interview) dilakukan secara langsung kepada responden dan narasumber. Dalam hal ini, mula-mula diadakan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, sehingga dapat diperoleh jawaban yang memperdalam data primer dan sekunder lainnya. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan mempelajari : 1. Bahan Hukum Primer Yaitu bahan hukum berupa peraturan perundang-undangan, dokumen resmi yang mempunyai otoritas yang berkaitan dengan permasalahan, yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan

38 24 Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 99 Tahun 2014 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2015 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 148 Tahun 2015 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaran Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 5 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah, Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 6 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER/02/MBU/2010 tentang Tata Cara Penghapusbukuan dan Pemindahtanganan Aktiva Tetap. 2. Bahan Hukum Sekunder Yaitu semua bahan hukum yang merupakan publikasi dokumen tidak

39 25 resmi meliputi buku-buku, karya ilmiah Bahan Hukum Tertier Yaitu bahan yang memberikan maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar dan internet. 4. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data akan sangat menentukan hasil penelitian sehingga apa yang menjadi tujuan penelitian ini dapat tercapai. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggung jawabkan hasilnya, maka dalam penelitian akan dipergunakan alat pengumpulan data. Dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang diperlukan, dipergunakan alat pengumpulan data sebagai berikut: a. Studi Dokumen. Untuk memperoleh data sekunder perlu dilakukan studi dokumentasi yaitu dengan cara mempelajari peraturan-peraturan, teori dan dokumen-dokumen kontrak perjanjian kerjasama yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti. b. Pedoman Wawancara Untuk memperoleh data primer, maka akan dilakukan wawancara dengan pihak terkait langsung dalam kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan hal Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana Prenada Media Grup, 2005,

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN KEDUDUKAN HUKUM PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN KERJASAMA DAGANG ANTARA PT. FRISIAN FLAG INDONESIA DENGAN DISTRIBUTOR DI KOTA MEDAN (PT. PERMATA NIAGA SEBAGAI SALAH SATU DISTRIBUTOR DI KOTA MEDAN) TESIS Oleh

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS PENGESAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN AKIBAT HUKUMNYA (STUDI PENETAPAN NO. 156/PDT.P/2010/PN.SKA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA) TESIS

ANALISIS YURIDIS PENGESAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN AKIBAT HUKUMNYA (STUDI PENETAPAN NO. 156/PDT.P/2010/PN.SKA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA) TESIS ANALISIS YURIDIS PENGESAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN AKIBAT HUKUMNYA (STUDI PENETAPAN NO. 156/PDT.P/2010/PN.SKA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA) TESIS Oleh YUDI PRANATA 147011141/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB DEBITUR TERHADAP MUSNAHNYA BENDA JAMINAN FIDUSIA DALAM PERJANJIAN KREDIT BANK

TANGGUNG JAWAB DEBITUR TERHADAP MUSNAHNYA BENDA JAMINAN FIDUSIA DALAM PERJANJIAN KREDIT BANK TANGGUNG JAWAB DEBITUR TERHADAP MUSNAHNYA BENDA JAMINAN FIDUSIA DALAM PERJANJIAN KREDIT BANK TESIS Oleh AMALIA YULIA NASTITI 137011101/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016 TANGGUNG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas tanah. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas tanah. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas tanah manusia mencari nafkah. Diatas tanah pula manusia membangun rumah sebagai tempat bernaung dan membangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanah dan bangunan merupakan benda-benda yang memegang peranan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanah dan bangunan merupakan benda-benda yang memegang peranan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah dan bangunan merupakan benda-benda yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, Tanah dan bangunan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia (kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemanfaatannya haruslah di dasarkan pada prinsip-prinsip yang tumbuh dan

BAB I PENDAHULUAN. pemanfaatannya haruslah di dasarkan pada prinsip-prinsip yang tumbuh dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang sulit melakukan pembangunan untuk kepentingan umum diatas tanah negara, dan selalu bersinggungan dengan tanah hak milik. Sebagai jalan keluar

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PENGHIBAHAN SELURUH HARTA WARISAN OLEH PEWARIS SEHINGGA MELANGGAR LEGITIME PORTIE

AKIBAT HUKUM PENGHIBAHAN SELURUH HARTA WARISAN OLEH PEWARIS SEHINGGA MELANGGAR LEGITIME PORTIE AKIBAT HUKUM PENGHIBAHAN SELURUH HARTA WARISAN OLEH PEWARIS SEHINGGA MELANGGAR LEGITIME PORTIE AHLI WARIS DITINJAU DARI KUHPERDATA (STUDI PUTUSAN NOMOR 188/PDT.G/2013/PN.SMG) TESIS Oleh RIVERA WIJAYA 147011081/M.Kn.

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Gautama, Sudargo, Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Bandung : Citra Aditya, 1993.

DAFTAR PUSTAKA. Gautama, Sudargo, Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Bandung : Citra Aditya, 1993. 112 DAFTAR PUSTAKA A. Buku Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah, Pembebasan Tanah dan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Di Indonesia, Bandung : PT. Citra

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUANGAN DAN KONSESI USAHA ANTARA PT. INDOMOBIL BINTAN CORPORA CABANG MEDAN DENGAN PT. (PERSERO) ANGKASA PURA II MEDAN TESIS Oleh MUHAMMAD ZAIFAN 097011026/M.Kn

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Di dalam Negara Republik Indonesia, yang susunan kehidupan rakyatnya,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Di dalam Negara Republik Indonesia, yang susunan kehidupan rakyatnya, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam Negara Republik Indonesia, yang susunan kehidupan rakyatnya, termasuk perekonomiannya, terutama masih bercorak agraria, bumi, air dan ruang angkasa, sebagai

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tanah mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia,

PENDAHULUAN. Tanah mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sebagaimana besar kehidupan manusia bergantung pada tanah. Tanah dinilai sebagai suatu harta

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan satu macam

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan satu macam BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Masalah Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan satu macam pendekatan, yaitu pendekatan yuridis normatif. Penelitian hukum normatif adalah

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Ali, Chaidir, Yurisprudensi Indonesia tentang Hukum Agraria, Bandung: Bina Cipta, Jilid III, 1985.

DAFTAR PUSTAKA. Ali, Chaidir, Yurisprudensi Indonesia tentang Hukum Agraria, Bandung: Bina Cipta, Jilid III, 1985. DAFTAR PUSTAKA A. Buku-Buku Abdurahman, Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti, 1994., Masalah Pencabutan Hak-hak Atas Tanah, Pembebasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan disegala bidang yang dilaksanakan secara terpadu dan terencana

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan disegala bidang yang dilaksanakan secara terpadu dan terencana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia dalam era globalisasi ini sedang giatnya melakukan pembangunan disegala bidang yang dilaksanakan secara terpadu dan terencana diberbagai sektor

Lebih terperinci

KEBERADAAN HAK ULAYAT DALAM MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN NASSAU KABUPATEN TOBA SAMOSIR T E S I S

KEBERADAAN HAK ULAYAT DALAM MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN NASSAU KABUPATEN TOBA SAMOSIR T E S I S KEBERADAAN HAK ULAYAT DALAM MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN NASSAU KABUPATEN TOBA SAMOSIR T E S I S Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan dalam Program

Lebih terperinci

PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT ADAT SIMALUNGUN DI KECAMATAN PANOMBEAN PANEI KABUPATEN SIMALUNGUN TESIS.

PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT ADAT SIMALUNGUN DI KECAMATAN PANOMBEAN PANEI KABUPATEN SIMALUNGUN TESIS. PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT ADAT SIMALUNGUN DI KECAMATAN PANOMBEAN PANEI KABUPATEN SIMALUNGUN TESIS Oleh YOLANDA REGINA PURBA 147011036/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS AKTA KETERANGAN LUNAS YANG DIBUAT DIHADAPAN NOTARIS SEBAGAI DASAR DIBUATNYA KUASA MENJUAL JURNAL. Oleh

ANALISIS YURIDIS AKTA KETERANGAN LUNAS YANG DIBUAT DIHADAPAN NOTARIS SEBAGAI DASAR DIBUATNYA KUASA MENJUAL JURNAL. Oleh ANALISIS YURIDIS AKTA KETERANGAN LUNAS YANG DIBUAT DIHADAPAN NOTARIS SEBAGAI DASAR DIBUATNYA KUASA MENJUAL JURNAL Oleh AHMAD JUARA PUTRA 137011045/MKn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara 2 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK YANG BERHAK ATAS TANAH DALAM HAL GANTI RUGI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM T E S I S Diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Buku Pintar, Yogyakarta, 2012, hlm. 4 3 Elza Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah melalui Pengadilan Khusus Pertanahan, ctk.

BAB I PENDAHULUAN. Buku Pintar, Yogyakarta, 2012, hlm. 4 3 Elza Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah melalui Pengadilan Khusus Pertanahan, ctk. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanah merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan manusia untuk mencukupi kebutuhan, baik

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan

BAB III PENUTUP. Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pelaksanaan pengadaan tanah tahap ketiga untuk perluasan Bandara Frans Seda ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS MENGENAI PEMBERIAN KUASA DIREKSI PERSEROAN TERBATAS KEPADA KOMISARIS DALAM MEMINJAM KREDIT PADA PT. BANK MESTIKA DHARMA MEDAN TESIS

ANALISIS YURIDIS MENGENAI PEMBERIAN KUASA DIREKSI PERSEROAN TERBATAS KEPADA KOMISARIS DALAM MEMINJAM KREDIT PADA PT. BANK MESTIKA DHARMA MEDAN TESIS ANALISIS YURIDIS MENGENAI PEMBERIAN KUASA DIREKSI PERSEROAN TERBATAS KEPADA KOMISARIS DALAM MEMINJAM KREDIT PADA PT. BANK MESTIKA DHARMA MEDAN TESIS OLEH HENNY SURYANI 097011038/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. membandingkan dengan standar ukuran yang telah ditentukan. 1

BAB III METODE PENELITIAN. membandingkan dengan standar ukuran yang telah ditentukan. 1 BAB III METODE PENELITIAN Metode adalah cara yang dipakai untuk mencapai tujuan. Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan membandingkan dengan standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanah adalah sumber daya alam terpenting bagi bangsa Indonesia untuk

BAB I PENDAHULUAN. Tanah adalah sumber daya alam terpenting bagi bangsa Indonesia untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bumi, air, ruang angkasa beserta kekayaan alam yang terkandung di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikaruniakan

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS DAN PENERAPAN KUASA DALAM AKTA PERIKATAN/PERJANJIAN JUAL BELI ATAS TANAH SERTA KETERKAITANNYA DENGAN AKTA KUASA JUAL TESIS.

EFEKTIVITAS DAN PENERAPAN KUASA DALAM AKTA PERIKATAN/PERJANJIAN JUAL BELI ATAS TANAH SERTA KETERKAITANNYA DENGAN AKTA KUASA JUAL TESIS. EFEKTIVITAS DAN PENERAPAN KUASA DALAM AKTA PERIKATAN/PERJANJIAN JUAL BELI ATAS TANAH SERTA KETERKAITANNYA DENGAN AKTA KUASA JUAL TESIS Oleh HERRY SANTOSO 017011025/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN AKIBAT HUKUM DARI PEMBUATAN AKTA JUAL BELI TANAH BERSERTIFIKAT YANG TIDAK SESUAI DENGAN TATA CARA PEMBUATAN AKTA PPAT (STUDI PADA PPAT DI KABUPATEN LANGKAT) TESIS Oleh: FINE HANDRYANI 097011108/M.Kn FAKULTAS

Lebih terperinci

DOKUMEN ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERSPEKTIF PEMBARUAN HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA TESIS OLEH : MUHAMMAD IQBAL TARIGAN

DOKUMEN ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERSPEKTIF PEMBARUAN HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA TESIS OLEH : MUHAMMAD IQBAL TARIGAN DOKUMEN ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERSPEKTIF PEMBARUAN HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA TESIS OLEH : MUHAMMAD IQBAL TARIGAN 117005005 PROGRAM STUDI PASCA SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap kegiatan pembangunan membutuhkan tanah sebagai medianya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap kegiatan pembangunan membutuhkan tanah sebagai medianya, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap kegiatan pembangunan membutuhkan tanah sebagai medianya, sehingga antara tanah dan kegiatan pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan

Lebih terperinci

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN ANALISIS HUKUM GANTI RUGI PADA PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG DILAKUKAN PEMERINTAH KOTA BINJAI UNTUK PEMBANGUNAN KANTOR UNIT PELAYANAN TEKHNIS DAERAH (UPTD) BALAI BENIH IKAN DINAS PETERNAKAN

Lebih terperinci

11 Secara umum, diartikan bahwa kerangka teori merupakan garis besar dari suatu rancangan atas dasar pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan meng

11 Secara umum, diartikan bahwa kerangka teori merupakan garis besar dari suatu rancangan atas dasar pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan meng 10 BAB II Landasan Teori 2.1. Uraian Teori Teori adalah suatu butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin

Lebih terperinci

Lex Privatum, Vol.II/No. 3/Ags-Okt/2014

Lex Privatum, Vol.II/No. 3/Ags-Okt/2014 PERSOALAN GANTI RUGI DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN PEMBANGUNAN 1 Oleh : Angelia Inggrid Lumenta 2 ABSRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Tanah merupakan permukaan bumi yang memiliki dua dimensi dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Tanah merupakan permukaan bumi yang memiliki dua dimensi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Tanah merupakan permukaan bumi yang memiliki dua dimensi dengan adanya dua satuan ukur yaitu panjang dan lebar. Tanpa disadari oleh manusia, tanah mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu badan hukum ataupun Pemerintah pasti melibatkan soal tanah, oleh

BAB I PENDAHULUAN. suatu badan hukum ataupun Pemerintah pasti melibatkan soal tanah, oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah bagi kehidupan manusia mempunyai arti yang sangat penting, karena setiap kegiatan yang dilakukan baik perseorangan, sekelompok orang, suatu badan hukum ataupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu harta yang mempunyai sifat permanent dan dapat. dicadangkan untuk kehidupan pada masa datang.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu harta yang mempunyai sifat permanent dan dapat. dicadangkan untuk kehidupan pada masa datang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persoalan tentang tanah dalam kehidupan manusia mempunyai arti yang sangat penting sekali oleh karena sebagian besar daripada kehidupannya adalah bergantung pada tanah.

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 TINJAUAN YURIDIS TENTANG PELAKSANAAN ATAS PERPANJANGAN SERTIPIKAT HAK GUNA BANGUNAN YANG BERADA DIATAS TANAH HAK PENGELOLAAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU TESIS Oleh SUGIONO HARIANTO 097011105/M.Kn FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembuatan akta pemberian hak tanggungan atas tanah. 3 Dalam pengelolaan bidang

BAB I PENDAHULUAN. pembuatan akta pemberian hak tanggungan atas tanah. 3 Dalam pengelolaan bidang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelaksanaan tanah diselenggarakan atas dasar peraturan perundangundangan tertentu, yang secara teknis menyangkut masalah pengukuran, pemetaan dan pendaftaran peralihannya.

Lebih terperinci

PERBANDINGAN TINDAK PIDANA ABORSI MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA DAN HUKUM ISLAM S K R I P S I

PERBANDINGAN TINDAK PIDANA ABORSI MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA DAN HUKUM ISLAM S K R I P S I PERBANDINGAN TINDAK PIDANA ABORSI MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA DAN HUKUM ISLAM S K R I P S I Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan isi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. rakyat Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor

BAB I PENDAHULUAN. dan isi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. rakyat Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengadaan tanah di Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan semakin meningkat, sebagai tempat bermukim maupun untuk kegiatan usaha. Dengan hal itu meningkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan dan hasil-hasilnya, maka semakin meningkat pula

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan dan hasil-hasilnya, maka semakin meningkat pula BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Pembangunan Nasional yang dilaksanakan dalam rangka memenuhi amanat Pembukaan UUD 1945, dari tahun ke tahun terus meningkat. Bersamaan dengan itu jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala aspeknya melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya, yaitu tanah

BAB I PENDAHULUAN. segala aspeknya melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya, yaitu tanah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ruang lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi dan tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air. Permukan bumi sebagai dari bumi disebut tanah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanah bagi masyarakat agraris selain sebagai faktor produksi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Tanah bagi masyarakat agraris selain sebagai faktor produksi yang sangat 12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia sangat mendambakan dan menghargai suatu kepastian, terutama sebuah kepastian yang berkaitan dengan hak atas suatu benda yang menjadi miliknya, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ke mana mereka pergi. Dalam hal ini, tanah mempunyai dimensi ekonomi, sosial,

BAB I PENDAHULUAN. ke mana mereka pergi. Dalam hal ini, tanah mempunyai dimensi ekonomi, sosial, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan kebutuhan dasar manusia. Sejak lahir sampai meninggal dunia, manusia membutuhkan tanah untuk tempat hidupnya. Secara kosmologis, tanah adalah tempat

Lebih terperinci

PERJANJIAN JUAL BELI KAVLING OLEH PENGEMBANG PERUMAHAN (STUDI DI KOTA MEDAN)

PERJANJIAN JUAL BELI KAVLING OLEH PENGEMBANG PERUMAHAN (STUDI DI KOTA MEDAN) PERJANJIAN JUAL BELI KAVLING OLEH PENGEMBANG PERUMAHAN (STUDI DI KOTA MEDAN) TESIS Oleh LINAWATY 107011009/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 PERJANJIAN JUAL BELI KAVLING OLEH PENGEMBANG

Lebih terperinci

TESIS HIBAH ASSET PELANGGAN TERTENTU KEPADA PT. PLN (PERSERO) BERKAITAN DENGAN PERJANJIAN JUAL BELI TENAGA LISTRIK

TESIS HIBAH ASSET PELANGGAN TERTENTU KEPADA PT. PLN (PERSERO) BERKAITAN DENGAN PERJANJIAN JUAL BELI TENAGA LISTRIK TESIS HIBAH ASSET PELANGGAN TERTENTU KEPADA PT. PLN (PERSERO) BERKAITAN DENGAN PERJANJIAN JUAL BELI TENAGA LISTRIK Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum OLEH : BAMBANG

Lebih terperinci

PENULISAN HUKUM. Oleh : Roy Irawan

PENULISAN HUKUM. Oleh : Roy Irawan PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PENGANGKUT ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DOMESTIK TERHADAP PENUMPANG YANG MENGALAMI KETERLAMBATAN KEBERANGKATAN DARI BANDAR UDARA NGURAH RAI BALI DITINJAU DARI KEPUTUSAN

Lebih terperinci

ASPEK JURIDIS PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM SETELAH KELUARNYA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2005

ASPEK JURIDIS PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM SETELAH KELUARNYA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2005 ASPEK JURIDIS PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM SETELAH KELUARNYA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2005 (Studi Kasus Proyek Kwala Namu di Kecamatan Pantai Labu dan Proyek Pelebaran Jalan

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Ashofa Burhan, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 1996.

DAFTAR PUSTAKA. Ashofa Burhan, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 1996. 121 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita.Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1994. Abdurrahman, Aneka Masalah Hukum Agraria Dalam Pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa sepanjang masa dalam mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat yang

BAB I PENDAHULUAN. bangsa sepanjang masa dalam mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, merupakan salah satu sumber utama bagi kelangsungan hidup dan penghidupan bangsa sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berhadapan dengan keterbatasan ketersediaan lahan pertanahan.

BAB I PENDAHULUAN. berhadapan dengan keterbatasan ketersediaan lahan pertanahan. 14 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan dari berbagai dinamika masyarakat, semakin tinggi pula tuntutan terhadap pembangunan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dikatakan sangat vital karena sebagai suatu penunjang penting dalam maju

BAB I PENDAHULUAN. Dikatakan sangat vital karena sebagai suatu penunjang penting dalam maju BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengangkutan merupakan bidang yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat. Dikatakan sangat vital karena sebagai suatu penunjang penting dalam maju mundurnya perekonomian

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA A. BUKU-BUKU. Abdurrahman Masalah Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Pembebasan Tanah Di Indonesia, Bandung: Alumni

DAFTAR PUSTAKA A. BUKU-BUKU. Abdurrahman Masalah Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Pembebasan Tanah Di Indonesia, Bandung: Alumni DAFTAR PUSTAKA A. BUKU-BUKU Abdurrahman. 1983. Masalah Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Pembebasan Tanah Di Indonesia, Bandung: Alumni Alting, Husen. 2011. Dinamika Hukum Dalam Pengakuan Dan Perlindungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1945) memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan. sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

BAB I PENDAHULUAN. 1945) memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan. sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hal ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara yang merdeka dan berkembang saat ini Indonesia sedang. melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan nasional khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara yang merdeka dan berkembang saat ini Indonesia sedang. melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan nasional khususnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Tanggal 17 agustus tahun 1945 Negara Indonesia menyatakan kemerdekaanya sebagai tanda bahwa Indonesia sebagai negara yang merdeka. Sebagai negara yang merdeka dan berkembang

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT (TANDA BUKTI HAK) ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN. Tesis. Oleh. AFNIDA NOVRIANI /MKn.

AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT (TANDA BUKTI HAK) ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN. Tesis. Oleh. AFNIDA NOVRIANI /MKn. AKIBAT HUKUM PEMECAHAN SERTIPIKAT (TANDA BUKTI HAK) ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK TANGGUNGAN Tesis Oleh AFNIDA NOVRIANI 097011028/MKn. FAKULTAS HUKUM MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyalahgunaan perizinan..., Mumtazah, FH UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyalahgunaan perizinan..., Mumtazah, FH UI, 2010. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Bangunan gedung merupakan buah karya manusia yang dibuat untuk menunjang kebutuhan hidup manusia, baik sebagai tempat bekerja, usaha, pendidikan, sarana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat bermanfaat bagi pemilik tanah maupun bagi masyarakat dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. dapat bermanfaat bagi pemilik tanah maupun bagi masyarakat dan negara. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasal 6 Undang-undang Pokok Agraria Tahun 1960 menetapkan bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. Ini berarti, bahwa penggunaan tanah harus sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. haknya atas tanah yang bersangkutan kepada pihak lain (pembeli). Pihak

BAB I PENDAHULUAN. haknya atas tanah yang bersangkutan kepada pihak lain (pembeli). Pihak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jual beli tanah merupakan suatu perjanjian dalam mana pihak yang mempunyai tanah (penjual) berjanji dan mengikatkan diri untuk menyerahkan haknya atas tanah

Lebih terperinci

PELAKSANAAN TUGAS DAN KEWENANGAN KURATOR DALAM KEPAILITAN PADA PESEROAN TERBATAS TESIS. Oleh : ZUWINA PUTRI NIM :

PELAKSANAAN TUGAS DAN KEWENANGAN KURATOR DALAM KEPAILITAN PADA PESEROAN TERBATAS TESIS. Oleh : ZUWINA PUTRI NIM : PELAKSANAAN TUGAS DAN KEWENANGAN KURATOR DALAM KEPAILITAN PADA PESEROAN TERBATAS TESIS Oleh : ZUWINA PUTRI NIM : 097011040 MAGISTER KENOKTARIATAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 KATA

Lebih terperinci

ASPEK HUKUM PERJANJIAN PEMBORONGAN PEMELIHARAAN TANAMAN KELAPA SAWIT ANTARA HUTAGODANG ESTATE DENGAN PT SARI SAWIT KENCANA LABUHANBATU SKRIPSI.

ASPEK HUKUM PERJANJIAN PEMBORONGAN PEMELIHARAAN TANAMAN KELAPA SAWIT ANTARA HUTAGODANG ESTATE DENGAN PT SARI SAWIT KENCANA LABUHANBATU SKRIPSI. ASPEK HUKUM PERJANJIAN PEMBORONGAN PEMELIHARAAN TANAMAN KELAPA SAWIT ANTARA HUTAGODANG ESTATE DENGAN PT SARI SAWIT KENCANA LABUHANBATU SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. kualitatif penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

BAB V PENUTUP. kualitatif penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: 82 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan dan dipadukan dengan data yang diperoleh dari kepustakaan, kemudian dianalisis dengan cara kualitatif penulis dapat mengambil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan melakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan melakukan hubungan satu sama lain dalam berbagai bentuk. Hubungan tersebut dapat dilakukan antara individu

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM PENANGGUNG DALAM PENGIKATAN JAMINAN PERORANGAN PADA BPR DUTA ADIARTA TESIS. Oleh. FAHRIAL RAMADHANI /M.

ANALISIS YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM PENANGGUNG DALAM PENGIKATAN JAMINAN PERORANGAN PADA BPR DUTA ADIARTA TESIS. Oleh. FAHRIAL RAMADHANI /M. 1 ANALISIS YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM PENANGGUNG DALAM PENGIKATAN JAMINAN PERORANGAN PADA BPR DUTA ADIARTA TESIS Oleh FAHRIAL RAMADHANI 087011043/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS KONSISTENSI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG DALAM KASUS MEREK YANG MENGANDUNG UNSUR PERSAMAAN PADA POKOKNYA (PUTUSAN PENGADILAN )

ANALISIS YURIDIS KONSISTENSI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG DALAM KASUS MEREK YANG MENGANDUNG UNSUR PERSAMAAN PADA POKOKNYA (PUTUSAN PENGADILAN ) ANALISIS YURIDIS KONSISTENSI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG DALAM KASUS MEREK YANG MENGANDUNG UNSUR PERSAMAAN PADA POKOKNYA (PUTUSAN PENGADILAN 2011-2012) TESIS Oleh ELY YUSNITA 147011048/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

ANALISIS YURIDIS FAKTOR PENYEBAB KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT PADA PNPM MANDIRI PERDESAAN. Oleh : M. LUDVI SUGIYO

ANALISIS YURIDIS FAKTOR PENYEBAB KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT PADA PNPM MANDIRI PERDESAAN. Oleh : M. LUDVI SUGIYO ANALISIS YURIDIS FAKTOR PENYEBAB KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT PADA PNPM MANDIRI PERDESAAN ( Studi di PNPM Mandiri Perdesaan Kec. Kandangan Kab. Kediri ) Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diusahakan atau digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang nyata. perlindungan hukum bagi rakyat banyak.

BAB I PENDAHULUAN. diusahakan atau digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang nyata. perlindungan hukum bagi rakyat banyak. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, merupakan salah satu sumber utama bagi kelangsungan hidup dan penghidupan bangsa sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisis hukum kegiatan..., Sarah Salamah, FH UI, Penerbit Buku Kompas, 2001), hal. 40.

BAB I PENDAHULUAN. Analisis hukum kegiatan..., Sarah Salamah, FH UI, Penerbit Buku Kompas, 2001), hal. 40. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) mengatakan bahwa bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyatakan bahwa, Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan. Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. menyatakan bahwa, Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan. Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara legal formal, keberadaan Nagari dipayungi oleh Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa, Negara mengakui

Lebih terperinci

PROBLEMATIKA YANG TERJADI DALAM MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN DAN KEPASTIAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK ATAS TANAH (Studi Di Kantor Pertanahan Kota Batam)

PROBLEMATIKA YANG TERJADI DALAM MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN DAN KEPASTIAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK ATAS TANAH (Studi Di Kantor Pertanahan Kota Batam) PROBLEMATIKA YANG TERJADI DALAM MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN DAN KEPASTIAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK ATAS TANAH (Studi Di Kantor Pertanahan Kota Batam) TESIS Oleh: ROMELDA PRONIASTRIA SIMAMORA 087011096 /

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemilikan tanah sebgai sebesar besarnnya untuk kemakmuran rakyat. 1. menetapkan kemajuan yang sudah dicapai. 2

BAB I PENDAHULUAN. pemilikan tanah sebgai sebesar besarnnya untuk kemakmuran rakyat. 1. menetapkan kemajuan yang sudah dicapai. 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan salah satu sumber alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena fungsi dan perannya mencakup berbagai aspek kehidupan serta penghidupan masyarakat

Lebih terperinci

PROGRAM SEKOLAH PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

PROGRAM SEKOLAH PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 PERANAN PEMERINTAH DALAM PENGAWASAN PERUSAHAAN PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI TESIS Oleh : LENI WIRANA HARAHAP 087005083 PROGRAM SEKOLAH PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TINJAUAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH TERHADAP TERWUJUDNYA CATUR TERTIB PERTANAHAN DI KOTA TEBING TINGGI

TINJAUAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH TERHADAP TERWUJUDNYA CATUR TERTIB PERTANAHAN DI KOTA TEBING TINGGI TINJAUAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH TERHADAP TERWUJUDNYA CATUR TERTIB PERTANAHAN DI KOTA TEBING TINGGI SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas - Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Mencapai Gelar Sarjana

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Jakarta: LPHI, 2005.

DAFTAR PUSTAKA. Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Jakarta: LPHI, 2005. DAFTAR PUSTAKA A. Buku buku Ilmiah Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, Jakarta: LPHI, 2005. AP. Parlindungan, Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria, Bandung: Mandar Maju,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. empat untuk menyuplai pasokan barang kebutuhan dalam jumlah yang banyak.

BAB I PENDAHULUAN. empat untuk menyuplai pasokan barang kebutuhan dalam jumlah yang banyak. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zaman yang semakin berkembang membuat pola hidup masyarakat semakin modern. Adanya dampak dari globalisasi membuat pola hidup khususnya kebutuhan primer manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup umat manusia. pertanahan yang dilakukan oleh pemerintah. 1

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup umat manusia. pertanahan yang dilakukan oleh pemerintah. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam rangka penyelenggaraan hidup dan kehidupan manusia. Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia membangun rumah sebagai tempat bernaung dan membangun berbagai

BAB I PENDAHULUAN. manusia membangun rumah sebagai tempat bernaung dan membangun berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas tanah pula manusia membangun rumah sebagai tempat bernaung dan membangun berbagai bangunan lainnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan adanya pembangunan dapat diketahui suatu daerah mengalami kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. dengan adanya pembangunan dapat diketahui suatu daerah mengalami kemajuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu daerah, dengan adanya pembangunan dapat diketahui suatu daerah mengalami kemajuan atau kemunduran.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Maha Esa. Tanah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat absolute dan

BAB I PENDAHULUAN. Maha Esa. Tanah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat absolute dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sebagai salah satu sumber daya alam yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Tanah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat absolute dan vital artinya

Lebih terperinci

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PERKAWINAN CAMPURAN OLEH PENGADILAN KARENA MENGGUNAKAN DOKUMEN YANG TIDAK SAH (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN NO. 586/PDT.G/2014) TESIS Oleh MUTIA RAMADANI 147011133/M.Kn

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode berasal dari bahasa Yunani, Methodos yang artinya adalah cara atau jalan. Dikaitkan dengan penelitian ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja, yaitu cara kerja

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan. bahwa :

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan. bahwa : BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan peraturan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. musibah. Manusia dalam menjalankan kehidupannya selalu dihadapkan

BAB I PENDAHULUAN. musibah. Manusia dalam menjalankan kehidupannya selalu dihadapkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya dalam kehidupan ini manusia selalu dihadapkan dengan dua kejadian yaitu kejadian yang terjadi secara terencana dan kejadian yang muncul secara

Lebih terperinci

KAJIAN YURIDIS TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR DALAM RANGKA PELAKSANAAN LANDREFORM SKRIPSI

KAJIAN YURIDIS TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR DALAM RANGKA PELAKSANAAN LANDREFORM SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR DALAM RANGKA PELAKSANAAN LANDREFORM SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman sekarang semua kegiatan manusia tidak lepas dari yang namanya uang. Mulai dari hal yang sederhana, sampai yang kompleks sekalipun kita tidak dapat lepas dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Tanah adalah elemen sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai Negara agraris karena sebagian besar penduduknya adalah petani yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk, sementara disisi lain luas tanah tidak bertambah. 1 Tanah dalam

BAB I PENDAHULUAN. penduduk, sementara disisi lain luas tanah tidak bertambah. 1 Tanah dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sangat erat sekali hubungannya dengan kehidupan manusia. Setiap orang tentu memerlukan tanah bukan hanya dalam kehidupannya, untuk matipun manusia masih memerlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanahan Nasional juga mengacu kepada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945

BAB I PENDAHULUAN. Pertanahan Nasional juga mengacu kepada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara hukum, hal ini tertuang dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya ditulis UUD

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa: Bumi, air, dan kekayaan. dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa: Bumi, air, dan kekayaan. dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa: Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya

Lebih terperinci

BAB I. Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan. oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB I. Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan. oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan bahwa, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan tanah, dapat dikatakan hampir semua kegiatan hidup manusia baik secara

BAB I PENDAHULUAN. dengan tanah, dapat dikatakan hampir semua kegiatan hidup manusia baik secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar. Tanah sangat erat sekali hubungannya dengan kehidupan manusia. Manusia hidup dan melakukan aktivitas di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasal 1 ayat (2) UUPA menyatakan bahwa seluruh bumi, air dan ruang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasal 1 ayat (2) UUPA menyatakan bahwa seluruh bumi, air dan ruang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasal 1 ayat (2) UUPA menyatakan bahwa seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai

Lebih terperinci

Oleh: DWI PUTRI REZKY SIHITE DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

Oleh: DWI PUTRI REZKY SIHITE DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW 1 ANALISIS YURIDIS TERHADAP IMPLEMENTASI PERJANJIAN PEMBORONGAN REHAB TAMAN MAKAM PAHLAWAN BUKIT BARISAN ANTARA DINAS KESEJAHTERAAN DAN SOSIAL DENGAN CV. RAPIMA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas

Lebih terperinci

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN PENYESUAIAN ATAS ANGGARAN DASAR PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIKELUARKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO. 32/POJK.04/2014 DAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO.33/POJK.04/2014 TESIS Oleh FENDY

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai negara agraris, yang artinya sektor

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai negara agraris, yang artinya sektor 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai negara agraris, yang artinya sektor pertanian memegang peran penting dalam perekonomian negara. Hal ini dapat dilihat dari

Lebih terperinci

ARTICLE PELEPASAN HAK ATAS TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN MALALAK KABUPATEN AGAM. (Studi Kasus Pada Proyek Pembangunan Jalan Malalak

ARTICLE PELEPASAN HAK ATAS TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN MALALAK KABUPATEN AGAM. (Studi Kasus Pada Proyek Pembangunan Jalan Malalak ARTICLE PELEPASAN HAK ATAS TANAH DALAM PEMBANGUNAN JALAN MALALAK KABUPATEN AGAM (Studi Kasus Pada Proyek Pembangunan Jalan Malalak Di Kabupaten Agam) Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh

Lebih terperinci

Djojodirdjo, M.A. Moegni, 1979, Perbuatan Melawan Hukum : Tanggung Gugat(Aansprakelijkheid) Untuk Kerugian, Yang Disebabkan Karena Perbuatan Melawan

Djojodirdjo, M.A. Moegni, 1979, Perbuatan Melawan Hukum : Tanggung Gugat(Aansprakelijkheid) Untuk Kerugian, Yang Disebabkan Karena Perbuatan Melawan DAFTAR PUSTAKA BUKU : A.P.Parlindungan, 1999, Pendaftaran Tanah Indonesia (Berdasarkan P.P. No. 24 Tahun 1997 Dilengkapi dengan Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (P.P. No.37 Tahun 1998), CV.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia termasuk negara dengan penduduk yang mayoritas beragama

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia termasuk negara dengan penduduk yang mayoritas beragama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk negara dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam. Hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah pemeluk

Lebih terperinci

JURNAL HUKUM SAHNYA PEMBUKAAN TANAH ATAS TANAH ULAYAT UNTUK DIJADIKAN TANAH HAK MILIK PERSEORANGAN DI KABUPATEN NABIRE PROVINSI PAPUA.

JURNAL HUKUM SAHNYA PEMBUKAAN TANAH ATAS TANAH ULAYAT UNTUK DIJADIKAN TANAH HAK MILIK PERSEORANGAN DI KABUPATEN NABIRE PROVINSI PAPUA. JURNAL HUKUM SAHNYA PEMBUKAAN TANAH ATAS TANAH ULAYAT UNTUK DIJADIKAN TANAH HAK MILIK PERSEORANGAN DI KABUPATEN NABIRE PROVINSI PAPUA Diajukan oleh : Catur Yanuar Pamungkas NPM : 130511198 Program Studi

Lebih terperinci

ANALISA YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN TERHADAP AKTA NOTARIS YANG BATAL DEMI HUKUM (STUDI KASUS PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI

ANALISA YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN TERHADAP AKTA NOTARIS YANG BATAL DEMI HUKUM (STUDI KASUS PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI ANALISA YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN TERHADAP AKTA NOTARIS YANG BATAL DEMI HUKUM (STUDI KASUS PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk dikelola, digunakan, dan dipelihara sebaik-baiknya sebagai sumber

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk dikelola, digunakan, dan dipelihara sebaik-baiknya sebagai sumber 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada manusia untuk dikelola, digunakan, dan dipelihara sebaik-baiknya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. menentukan bahwa dalam menjalankan tugas jabatannya, seorang

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. menentukan bahwa dalam menjalankan tugas jabatannya, seorang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menentukan bahwa dalam menjalankan tugas jabatannya, seorang Notaris harus memiliki integritas dan bertindak

Lebih terperinci

IMPLIKASI PENCABUTAN HAK ATAS TANAH TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA. Istiana Heriani*

IMPLIKASI PENCABUTAN HAK ATAS TANAH TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA. Istiana Heriani* Al Ulum Vol.64 No.2 April 2015 halaman 14-20 14 IMPLIKASI PENCABUTAN HAK ATAS TANAH TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA Istiana Heriani* ABSTRAK Kepemilikan hak atas tanah merupakan hak dasar yang

Lebih terperinci