JURNAL ILMIAH PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG OLEH RAKYAT DAN MELALUI DPRD. (Studi Komparatif Dalam Telaah Yuridis)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "JURNAL ILMIAH PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG OLEH RAKYAT DAN MELALUI DPRD. (Studi Komparatif Dalam Telaah Yuridis)"

Transkripsi

1 1 JURNAL ILMIAH PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG OLEH RAKYAT DAN MELALUI DPRD (Studi Komparatif Dalam Telaah Yuridis) D I A N T O D1A FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM 2013

2 2 LEMBAR PENGESAHAN JURNAL ILMIAH PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG OLEH RAKYAT DAN MELALUI DPRD (Studi Komparatif Dalam Telaah Yuridis) Oleh: D I A N T O DIA Menyetujui, Pembimbing Kafrawi, S.H.,M.Si NIP

3 3 PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG OLEH RAKYAT DAN MELALUI DPRD (Study Komparatif Dalam Telaah Yuridis) Nama : DIANTO NIM : D1A Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan, perbedaan, kelemahan dan kelebihan pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif dengan menggunakan metode pendekatan sejarah, pendekatan perundangundangan, dan pendekatan konseptual. Pengaturan pemilihan Kepala daerah yang dipilih secara demokratis sebagaimana dimuat dalam konstitusi, UUD NRI 1945 Pasal 18 (4). Secara demokratis dapat dimaknai pemilihan Kepala daerah dilaksanakan secara langsung oleh rakyat maupun melalui DPRD, sehingga kata demokratis bermakna multitafsir. Kesimpulannya, dengan pengaturan pemilihan Kepala yang dilakukan secara demokratis, perlu dilakukan penafsiran agar jelas pengaturannya. Penulis menyarankan untuk dimuat secara jelas pengaturan mengenai pemilihan Kepala Daerah, apakah secara langsung oleh rakyat atau melalui DPRD. Kata kunci : Pemilihan, langsung, tidak langsung CHOICE LEADER OF OTONOM DIRECT BY SOCIETY AND BY LEGISLATIVE OF OTONOM (Study comparatife in yuridic ) This research goals to know about same, different, weakness, and stronght choice leader of otonom direct by society and by legislative of otonom. The kinds of research use is normatife research with use methode historis approach, statue approach, and conceptual approach. Regulation about choice leader of otonom who choiced with democratic like in constitution, UUD NRI 1945 at 18 (4). Democratis can definition choice leader of otonom direct by society and by legislatife of otonom, so the word democratic multiinterpretation. The ending it, with determained about choice leader of otonom do democratic, need interpretation so clear of regulation it. Writer message to make regulation about choice leader of otonom, what direct by society or by legislatife of otonom. Keyword : choice, direct, indirect

4 4 PENDAHULUAN Pada awal reformasi pijakan regulasi otonomi daerah adalah UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah, ternyata proses pelaksanaan pemilihan kepala daerah masih dipilih oleh anggota DPRD yang telah banuak menimbulkan persoalan termasuk adanya mosi tidak percaya DPRD terhadap.kepala Daerah. Proses itu berubah sejak adanya amandemen UUD NRI Tahun 1945 yang dilakukan pada periode DPR/MPR yang membuat pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung, sehingga otomatis berimbas terhadap mekanisme pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah menjadi dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Dalam proses pelaksanaannya, pemilihan Kepala Daerah (pilkada) langsung ternyata memunculkan sejumlah persoalan terkait proses pelaksanaannya yang dinilai cenderung menghamburkan dana rakyat termasuk dugaan money politic (politik uang). Proses pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah (pilkada) langsung yang membawa ekses negatif langsung direspon sejumlah tokoh, suara yang paling keras diutarakan KH Malik Madaniy saat menjelaskan hasil rapat komisi, fakta di lapangan menunjukkan pilkada langsung justru menimbulkan banyak kerugian, seperti maraknya politik uang yang merusak moral, menyedot biaya besar, dan menimbulkan konflik horizontal. 1 Sehingga dirinya mengusulkan bahkan cenderung mendesakkan agar proses pilkada direvisi dan dikembalikan lagi melalui mekanisme pemilihan anggota DPRD. Terdapat persoalan landasan konstitusional pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah (pilkada) 1 pada Minggu 16 September 2012

5 5 langsung. Dalam aturan tertinggi UUD NRI Tahun 1945 pada perubahan kedua sama sekali tidak menyebutkan proses pemilihan langsung, namun pilkada meski dilakukan secara demokratis.. Selain itu, pilkada langsung merupakan variable penting terkait derajat kesuksesan pelaksanaan proses otonomi atau desentralisasi di sebuah negara. Bila ada ekses, maka hal-hal negatif tersebut yang mesti dicarikan jalan keluar bukan malah kembali dengan merevisi untuk kembali ke sistem pilkada dengan dipilih oleh DPRD. Dengan melihat adanya kontradiksi pelaksanaan kedaulatan rakyat yang demokratis dalam hal pemilihan Kepala Daerah baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan dalam hal ini melalui DPRD, penulis merasa tertarik untuk membahas dan menelitinya dengan mengambil judul Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD (Studi Komparatif Dalam Telaah Yuridis) Dalam penelitian ini penulis mengambil permasalahan mengenai persamaan dan perbedaan kelebihan dan kelemahan pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui persamaan, perbedaan, kelebihan dan kekurangan pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan untuk menambah wawasan serta pengetahuan di bidang hukum, Birokrasi dan Tata Negara, khususnya tentang persamaan, perbedaan, kelemahan dan kelebihan pemilihan Kepala

6 6 Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pembaca sebagai tambahan pengetahuan tentang persamaan, perbedaan, kelemahan dan kelebihan pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif dengan menggunakan metode pendekatan sejarah, pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan konseptual.

7 7 PEMBAHASAN A. Persamaan dan Perbedaan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD 1. Persamaan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD a. Pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara demokratis Dalam UUD 1945 Bab VI Pemerintahan Daerah Pasal 18 (4) menyatakan bahwa Gubernur, Bupati, dan Walikota masingmasing sebagai kepala pemerintahan daerah propinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis. Tidak ada kata-kata pemilihan langsung sebagaimana dalam pasal yang mengatur tentang pemilihan presiden dan tidak ada kata-kata pemilihan kepala daerah secara tidak langsung atau melalui DPRD. Dalam negara demokrasi perwakilan atau demokrasi tidak langsung, maka memenuhi kaidah demokratis jika pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD. Begitupun dalam Negara demokrasi langsung pemlihan kepala daerah secara langsung memenuhi kaidah demokratis sebagai bentuk pelaksanaan kedaulatan rakyat. b. Menempatkan kedudukan Gubernur sebagai Wakil pemerintah dan Kepala Daerah Dalam Pasal 24 (1) UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa setiap daerah dipimpin

8 8 oleh kepala pemerintahan daerah yang disebut dengan Kepala daerah. Secara sistematis pemeritah pusat dan pemerintah daerah mempunyai hubungan hirarkis baik hubungan kordinasi, pengawasan dan pembinaan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 38 ayat (1) UU No. 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa kedudukan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah memiliki fungsi pembinaan, pengawasan dan koordinasi urusan pemerintahan di daerah serta tugas pembantuan. 2. Perbedaan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD a. Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Oleh Rakyat 1) Kepala Daerah dipilih Oleh Rakyat Secara langsung Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati dan Walikota)yang dipilih secara demokratis sebagaimana muatan Pasal 18 ayat (4)) UUD 1945 yang kemudian perwujudan demokratis diterapkan dalam demokrasi langsung yang diatur dalam Pasal 24 (5) UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bahwa Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan. selanjutnya dalam Pasal 56 UU No. 32 tahun 2004 menentukan bahwa Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah

9 9 dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Dalam Pasal 25 UU No 12 Tahun 2005 tentang ratifikasi International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) secara tegas memuat ketentuan tentang hak untuk berpartisipasi dalam politik, termasuk hak untuk memilih, dipilih dan hak untuk tidak memilih. 2) KPUD sebagai penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah Dalam proses pelaksanaan pilkada diserahkan kewenangannya sesuai aturan UU N o. 32 Tahun 2004 kepada sebuah lembaga yang dinamakan Komisi Pemiihan Umum Daerah (KPUD) di masing-masing daerah untuk menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah di setiap provinsi dan/atau kabupaten/kota. b. Pemilihan Kepala Daerah melalui DPRD 1) Kepala Daerah Dipilih Oleh anggota DPRD Pelaksanaan kedaulatan rakyat dapat dilakukan melalui sistem perwakilan. Alasan ini bisa diterima jika saja sejarah menunjukkan bahwa pemilihan kepala daerah di DPRD, baik di era orde baru maupun di era penerapan UU No. 22 tahun 1999 meninggalkan catatan sejarah pelaksanaan demokrasi secara baik.. Di era orde baru, kepala daerah dipilih oleh DPRD dengan

10 10 persetujuan pemerintah pusat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kepentingan DPRD acapkali tak memiliki hubungan apapun dengan kepentingan rakyat. 2) Panitia Pemilihan Sebagai Penyelenggra Pemilihan Kepala Daerah Dalam pemilihan kepala daerah melalui DPRD dibentuk panitia pemilihan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 35 UU No. 22 Tahun 1999 dengan tugas sebagai berikut : a. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33; b. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon; dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan B. Kelebihan dan Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD 1. Kelebihan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung Oleh rakyat dan Melalui DPRD a. Kelebihan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh Rakyat 1) Memutus Politik Oligarki oleh Sekelompok Elite Politik Dalam Penentuan Kepala Daerah; Rekrutmen jabatan politik atau publik yang dilakukan dengan partisipasi sekelompok rakyat atau sering dikenal dengan elite politik akan menimbulkan pemerintahan yang oligarki karena Kepala Daerah ditentukan oleh sekelompok orang yang dalam prosesnya terdapat tarik menarik kepentingan

11 11 antara calon Kepala Daerah dan para elite sehingga Kepala Daerah hanya takut kepada para elite dengan mengenyampingkan kehendak rakyat. 2) Memperkuat Checks and Balances Dengan DPRD Setiap eksekutif dan legislatif mempunyai tugas dan kewajiban sehingga ada bentuk saling mengimbangi. Hal ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa badan legislative yang dapat mewakili rakyat dan memiliki kompetensi untuk memenuhi kehendak rakyat. Sementara eksekutif hanya mengikuti dan mengimplentasikan hukum dan prinsip-prinsip dasar yang ditetapkan legislative. 2 3) Menghasilkan Kepala Daerah yang Akuntabel Kepala Daerah harus dapat mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang dilakukan baik sebagai pribadi maupun sebagai pejabat publik sehingga mendapatkan legitimasi yang kuat, karena langsung mendapat mandat dari rakyat. Kekuasaan dalam suatu organisasi dapat diperoleh berdasarkan legitimasi religious, legitimasi ideologis egaliter, ataupun legitimasi pragmatis. 3 b. Kelebihan Pemilihan Kepala Daerah melalui DPRD 1) Optimaliasi Fungsi DPRD Sebagai Wakil Rakyat 2 Siswanto Sunarno, Hokum Pemerintahan Daerah Di Indonesia,(Jakarta:Sinar Grafika,2009) hal Frans Magnis-suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Kenegaraan Modern (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 1999). Hal 30-66

12 12 Menurut Amin Rais, praktik demokrasi memiliki prinsip operasional yang cukup menarik, salah satunya adalah Upaya Negara terlibat langsung dalam keputusan Negara yang berbeda dengan keputusan kelompok kecil elite penguasa. 4 Ketelibatan DPRD dalam penentuan Kepala Daerah merupakan momentum untuk menilai kadar keterwakilan DPRD sebagai wakil rakyat. Kadar keterwakilan adalah derajat atau tingkat sensitivitas legislatif terhadap persoalan-persoalan rakyat, yang dijewantahkan dalam fungsi legislasi, kontrol dan anggaran, termasuk dalam pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh DPRD. Perjalanan sejarah menunjukan keterpurukan demokrasi sehingga beralih mekanisme pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat. Fakta tersebut disebabkan kualitas DPRD yang masih rendah. 2) Efisiensi Dalam pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat membutuhkan biaya yang sangat banyak untuk pembiayaan logistik pilkada, maupun biaya penyelenggara pilkada. soal biaya pemilihan Gubernur secara langsung yang dinilai terlalu mahal sementara kewenangan Gubernur terbatas Menurut KPU, antara tahun 2010 hingga 2014, Pemilukada bisa menelan biaya hingga Rp 15 triliun. 4 Mulyana W. Kusumah, dkk, Wacana Polotik Dan Demokrasi Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka, 1999), hal. 82

13 13 Angka yang sangat fantastis sekaligus kontradiktif ditengah kondisi ekonomi Negara yang masih seret. 5 3) Efektif Pemilihan Kepala Daerah melalui DPRD sangat efektif karena hanya DPRD yang melakukan pemilihan Kepala Daerah dan rakyat tidak disibukkan dengan pemilihan-pemilihan baik pemilihan presiden, pemilihan DPRD, DPD, DPR, Pemilihan Bupati/walikota sehingga rakyat bosan mendatangi Tempat Pemungutan Suara. Dengan berkali-kali rakyat mendatangi Tempat Pemungutan Suara maka tidak akan efektif pelaksanaan pemilihan kepala daerah sehingga banyak rakyat memilih untuk tidak memilih wakilnya seperti terjadi di Provinsi Banten sebanyak 60,83 % dan Provinsi DKI Jakarta: 65, 41 % 6 pada tahun 2005 yang berpartisipasi dalam memilih kepala daerahnya. Hal tersebut menunjukan banyaknya rakyat yang tidak memberikan hak suaranya. 2. Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Oleh Rakyat dan melalui DPRD a. Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Oleh Rakyat 1) Mahalnya Biaya Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah 5 diunduh Pada Tanggal 16 November Muchamad Isnaeni Ramdhan, Kompendium Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), (Jakarta: Badan Pembinanan Hukum Nasional, Departemen Hukum dan HAM RI, 2009), hal. 53

14 14 Menurut Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah diperkirakan belanja untuk pemilukada 2010 mencapai 4, 2 Trilun dari total 244 pemilukada yang akan berlangsung Untuk pemilihan kepala daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, anggaran pengawasan yang dibutuhkan dalam pemilihan kepada Daerah NTB tahun 2013 membutuhkan anggaran 50 Milyar seperti yang diungkapkan oleh ketua Bawaslu NTB. 8 2) Maraknya Money Politck Berdasarkan Hasil survey Lab Administrasi Negara FISIP Untirta misalnya menemukan bahwa 75% masyarakat akan menerima uang dari kandidat. Alasan utama, sebanyak 70% menganggap bahwa uang yang diberikan adalah rejeki yang tidak boleh ditolak. Lebih celaka lagi adalah bahwa 54% responden yang akan menerima uang akan memilih kandidat yang memberikan uang. 9 3) Kurang Efektif Rakyat mendatangi Tempat Pemungutan suata (TPS) yang berkali-kali untuk memilih wakilnya, terutama untuk memilih kepala daerah sebagai kepala pemerintahan daerah, sangat 7 http;//www.medeiaindoneesia.com/read/2010/07/07/152998/31/bi-biayapemilikada Capai-4,2-Triliun, diunduh 6 November Pernyataan ketua Bawaslu Provinsi NTB pada Hari sabtu 01 Desember 2012 Pukul WITA melalui RRI Mataram 9 diunduh pada hari senin 16 November 2012

15 15 berpengaruh terhadap partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah cendrung menurun. 10 b. Kelemahan Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD 1) Kurang Akuntabel Pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan salah satu tuntutan reformasi, namun dalam perjalanan menyisakan banyak persoalan yang dinilai partisipasi rakyat sangat terbatas dalam menentukan wakil-wakilnya. 2) Adanya mosi tidak percaya DPRD terhadap kepala Daerah Dalam menyampaikan laporan pertanggungjawabannya, Kepala Daerah dihadapkan dengan berbagai persoalan di hadapan DPRD atas kinerja kepala daerah selama tahun berjalan bahkan sering terjadi penolakan laporan pertanggungjawaban oleh DPRD Sehingga kepala daerah tidak melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya karena DPRD yang mempunyai kewenangan besar tersebut tidak lagi menjadi pengawas akan tetapi sudah menjelma sebagai penghambat kebijkan dan program yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Mirdedi, Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Dalam Negara Republic Indonesia Sebagai Negara Kesatuan. Jurnal Konstitusi PKK Fakultas Hukum UNRAM. Volume I Nomor 1, Juni 2010 ), Hal Hamid Awaludin, Eksekutif VS Legislatif : Kompetisi dalam Pespektif Etika Pemerintahan, (Semarang: FokusMedia, 2003),hal. 50

16 16 PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan dapat disimpulkan mengenai pemilihan Kepala Daerah baik secara langsung oleh rakyat maupun melalui DPRD antara lain : 1. Persamaan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat dan melalui DPRD merupakan pemilihan yang dilakukan secara demokratis, menempatkan kedudukan Gubernur sebagai Kepala Pemerintah/Kepala Daerah dan wakil pemerintah. Perbedaan pemilihan Kepala Daerah meliputi, Rakyat secara langsung menentukan Kepala Daerah yang dikehendaki, kemudian Kepala Daerah dipilih oleh anggota DPRD. Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang apabila Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat. Maka, Kepala Daerah memberikan laporan penyelenggaraan pertanggungjawaban pemerintahan daerah kepada pemerintah, dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD, serta mengimformasikan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada masyarakat. Apabila Kepala Daerah dipilih oleh DPRD maka pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD dengan DPRD dapat menolaknya bahkan memberhentikan Kepala daerah melalui usulan kepada Presiden. 2. Kelebihan pemilihan kepala Daerah secara langsung antara lain, Memperkuat Checks and Balances Kepala Daerah dengan DPRD,

17 17 Menghasilkan Kepala Daerah yang Akuntabel,. Sedangkan kelebihan sistem pemilihan Kepala daerah melalui DPRD antara lain, Optimaliasi Fungsi DPRD Sebagai Wakil Rakyat, lebih Efesien dan lebih efektif. Kelemahan pilkada langsung oleh rakyat antara lain, Mahalnya Biaya Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Maraknya Money Politic dan Kurang efektif serta kurang efisien. Sedangkan kelemahan pilkada melalui DPRD, kurang akuntabel dan adanya mosi tidak percaya DPRD terhadap Kepala Daerah sehinggga tercipta hubungan yang tidak harmonis antara Kepala Daerah dan DPRD. B. Saran 1. Diharapkan agar pemilihan Kepala Daerah dikembalikan dengan menggunakan pemilihan Kepala Daerah secara tidak langsung yaitu melalui DPRD. 2. Dalam pemilihan Kepala Daerah secara tidak langsung, diharapkan harus menjamin kualitas DPRD dengan sistem rekrutmen anggota DPRD secara objektif.

18 18 DAFTAR PUSTAKA A. Buku Awaludin, Hamid Eksekutif VS Legislatif, Kompetisi dalam Pespektif Etika Pemerintahan, Semarang: FokusMedia Kusumah, Mulyana W. dkk Wacana Polotik Dan Demokrasi Indonesia.. Yogyakarta: Pustaka. Magnis-suseno, Frans, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Kenegaraan Modern Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Mirdedi. Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung Dalam Negara Republic Indonesia Sebagai Negara Kesatuan. Jurnal Konstitusi PKK Fakultas Hukum UNRAM. Mataram: Volume I Nomor 1 Juni 2010 Ramdhan, Muchamad Isnaeni Kompendium Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Jakarta: Badan Pembinanan Hukum Nasional, Departemen Hukum dan HAM RI. Sunarno, Siswanto, Hokum Pemerintahan Daerah Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika B. Peraturan Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara 1945 Indonesia, Undang-Undang Tentang Penyelengaraan Pemilihan Umum. UU Nomor 15 Tahun 2011 TLN No Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemeritahan Daerah. UU Nomor 32 Tahun LN No. 125 Tahun 2004 TLN Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemerintahan Daeah. UU Nomor 22 Tahun LN NO. 125 Tahun 1999 Indonesia, Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. UU Nomor 12 Tahun LN No.

19 19 C. Internet diunduh pada hari Senin tanggal 29 Oktober diunduh Pada Tanggal 21 November 2012 http;//www.medeiaindoneesia.com/read/2010/07/07/152998/31/bi- Biayapemilikada-2010-Capai-4,2-Triliun, diunduh 6 November diunduh pada hari senin 16 November diunduh Pada Tanggal 16 November 2012

Evaluasi Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung di Kabupaten/Kota

Evaluasi Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung di Kabupaten/Kota Evaluasi Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung di Kabupaten/Kota Local leaders election directly is one of the political change and lead to two different perspectives, democracy consolidation

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

Jurnal RechtsVinding BPHN

Jurnal RechtsVinding BPHN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DALAM PEMERINTAHAN TERBUKA MENUJU TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK (Public Information Disclosure in Open Government Towards Good Governance) Nunuk Febriananingsih Pusat Penelitian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintahan Daerah

Lebih terperinci

BBadan Pengawas Pemilihan Umum

BBadan Pengawas Pemilihan Umum BULETIN EDISI 09, SEPTEMBER 2014 AWASLU BBadan Pengawas Pemilihan Umum Tata Kelola Pemilu Perlu Perbaikan Penguatan Sistem Pemilu Kada Daniel Zuchron, Pemimpin Muda dengan Gagasan Inovatif Optimisme Pilkada

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN GOOD GOVERNANCE (ANTARA DAS SEIN DAN DAS SOLLEN)

KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN GOOD GOVERNANCE (ANTARA DAS SEIN DAN DAS SOLLEN) Retnowati, Keterbukaan Informasi Publik dan Good Governance... KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN GOOD GOVERNANCE (ANTARA DAS SEIN DAN DAS SOLLEN) Endang Retnowati Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

Menyederhanakan Waktu Penyelenggaraan Pemilu:

Menyederhanakan Waktu Penyelenggaraan Pemilu: Seri Demokrasi Elektoral Buku 2 Menyederhanakan Waktu Penyelenggaraan Pemilu: Pemilu Nasional dan Pemilu Daerah Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan www.kemitraan.or.id Seri Demokrasi Elektoral Buku

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PENGAWASAN PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

FUNGSI KEPALA DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI

FUNGSI KEPALA DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI TESIS FUNGSI KEPALA DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI I NENGAH SURIATA PROGRAM STUDI ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA... 79 A. Bali Dalam Era Otonomi Daerah... 79 B. Konsep Bali One Island One Management... 84 C. Hasil Analisa... 89

BAB IV ANALISA... 79 A. Bali Dalam Era Otonomi Daerah... 79 B. Konsep Bali One Island One Management... 84 C. Hasil Analisa... 89 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Abstrak... iii Daftar Isi... v BAB I Pendahuluan... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Permasalah... 6 C. Maksud dan Tujuan... 6 D. Kegunaan... 6 E. Kerangka Teori dan Konsepsional...

Lebih terperinci

Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara

Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara KONTRAS CLD 1 Kata pengantar KONTRAS dan Centre for law and Democracy (CLD) Kebebasan informasi sebenarnya sudah diatur dalam peraturan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, KOMISI INFORMASI Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci