Thia Lestari
|
|
|
- Inge Susanto
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 IMPLEMENTASI PERDA NO. 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DESA PANCURAN GADING KECAMATAN TAPUNG KABUPATEN KAMPAR Oleh: Thia Lestari Pembimbing: Dr. H. Zaili Rusli SD, M.si Jurusan Ilmu Administrasi Prodi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau Kampus Bina Widya jl. H.R. Soebrantas KM Simp. Baru Pekanbaru Telp/Fak Abstract Regional autonomy is a form of delegation of authority from central government to local government. One form of regional autonomy that is the transfer of the management of land and building tax Rural and Urban Development (PBB-P2). Kampar district receives delegation of PBB - P2 in 2012 by issuing a Regional Regulation number 11 of 2011 About Tax on Land and Building Rural and Urban. The Purpose of this research was to describe the implementation of the Regional Regulation number 11 of 2011 About Tax on Land and Building Rural and Urban. This type of research is descriptive qualitative method. Subjects in this study was employes DPPKA Kampar, head village and taxpayer. Data retrieved by using semi-structured interviews, observation frankly, documentation, and triangulation techniques. Based on theory of Van Horn Van Matter consisting of size and policy objectives, resources, implementing agent characteristics, attitudes implementing, managing communications between organizations and activities as well as the economic, social and political. Implementation of PBB-P2 in Kampar DPPKA has met six of these variables although there are still some shortcomings such as socialization is done only through banners, village heads and radio, many taxpayers still have to pay awareness of PBB-P2 low and external environmental influences that hinder the implementation of PBB-P2. Keywords: Implentation policy, property taxes in rural and urban PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, dimana pemerintahan daerah diberikan hak khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Hal ini dilakukan dengan tujuan dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan pemerintahan, persaingan pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan antar pemerintah daerah di tanah air. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 1
2 Dalam menyelenggarakan pemerintahan, pelayanan masyarakat dan pembangunan, pemerintah daerah juga mengambil peranan penting dalam hal pengelolaan keuangan dan sumber-sumber pendapatan pemerintah. sehingga dalam konteks hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah prinsip pembagian kewenangan, rentang kendali, pertanggung jawaban serta pembinaan dan pengawasan menjadi pilar khusus demi terlaksananya penyelenggaraan pemerintahan yang baik di daerah. Seiring dengan itu Undang- Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga mengamanatkan dua sistem pelaksanaan pemerintahan di daerah yang dikenal dengan sistem pelaksanaan pemerintahan dekonsentrasi yakni pemerintahan daerah yang diberikan kebebasan atau hak khusus untuk berinisiatif dalam melaksanakan dan memenuhi kebutuhan daerahnya. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu atau sewaktu-waktu pemerintahan pusat dapat melakukan pengawasan terhadap pemerintahan pusat dapat melakukan pengawasan terhadap pemerintahan daerah terkait dengan kepentingan negara. Selanjutnya sistem pelaksanaan pemerintahan desentralisasi yakni pemerintahan pusat memberikan kebebasan kepada pemerintahan daerah untuk berinisiatif dalam menyelenggarakan kebutuhannya serta meningkatkan laju pertumbuhan daerahnya. Kuncoro Mudrajad dalam bukunya mengatakan bahwa dalam catatan sejarah perekonomian desentralisasi telah muncul kepermukaan sebagai pradigma baru dalam kebijakan dan administrasi pembangunan sejak dasawarsa 1970-an. Tumbuhnya perhatian terhadap desentralisasi tidak hanya dikaitkan dengan gagalnya perencanaan terpusat dan populernya strategi pertumbuhan dengan pemerataan, tetapi juga adanya kesadaran bahwa pembangunan adalah suatu proses yang kompleks dan penuh ketidak pastian yang tidak mudah dikendalikan dan direncanakan dari pusat. Dalam proses perencanaan pembentukan peraturan daerah yang dimulai dengan perencanaan program legislasi, daerah diharapkan mampu melahirkan produk hukum yang terencana, terpadu dan sistematis. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek kepentingan negara dan daerah. Salah satu sumber penghasilan daerah yang sangat potensial adalah pajak daerah. Sebagai suatu pajak, maka pemungutan pajak daerah harus didasarkan pada suatu aturan hukum yang mendasari pemungutan pajak. Peraturan tentang Pajak Daerah senantiasa dengan dinamika masyarakat, dan sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka telah terjadi pembaruan di bidang pajak daerah. Selanjutnya juga ditetapkan bahwa peraturan pelaksananya selambatlambatnya telah diundangkan satu tahun sejak Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dengan demikian setiap Pemerintahan Daerah akan bekerja keras selama satu tahun ini untuk menyusun Naskah Akademik serta Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah agar pada saat peraturan pelaksanaan telah diundangkan seketika dapat dilakukan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah melalui Peraturan Daerah yang baru, sehingga tidak terjadi kekosongan hukum yang dapat berdampak pada Pendapatan Asli Daerah. Pajak Bumi dan Bangunan sebagai pajak daerah sangat penting untuk dilaksanakan dalam upaya meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Untuk itulah di perlukan adanya suatu JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 2
3 langkah serius bagi setiap pemerintah daerah untuk menyusun Peraturan Daerah sebagai dasar pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Penyusunan Peraturan Daerah tentang Pajak Bumi dan Bangunan merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, sehingga pemerintah daerah harus segera menyusun Peraturan Daerah agar dapat melaksanakan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Pemungutan pajak daerah di suatu daerah disesuaikan dengan potensi dan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda). Dengan berlakunya Peraturan Daerah Kabupaten kampar Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), maka PBB-P2 merupakan kewenangan Pemerintah Daerah kabupaten/kota untuk melakukan pengelolaan, yakni melalui Dinas Pendapatan Daerah. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB- P2) adalah pajak atas bumi dan bangunan yang dimiliki, dikuasai dan dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah kota. Sedangkan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan perairan pedalaman dan laut. Mengingat pentingnya peran Pajak Bumi dan Bangunan bagi kelangsungan dan kelancaran pembangunan, maka diperlukan penanganan dan pengelolaan yang lebih intensif. Penanganan dan pengelolaan yang lebih intensif. Penanganan dan pengelolaan tersebut diharapkan mampu menuju tertib administrasi serta mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan melalui pembayaran pajak,penanganan dan pengelolaan pajak dapat diwujudkan salah satunya dalam pemungutan PBB diharapkan pelaksanaan pemungutan PBB sesuai dengan aturan undang-undang PBB yang berlaku saat ini yaitu Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1984 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Subjek pajak Bumi dan Bangunan adalah orang atau badan yang nyata-nyata memiliki dan menguasai bumi dan bangunan. Objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah bumi dan bangunan. Bumi adalah tubuh bumi, permukaan bumi atau tanah, bangunan yang ada di atasnya, perairan maupun udara di atas tanah tersebut, sedangkan yang di maksud dengan bangunan adalah gedung, jalan, kolam renang, pagar, tempat olah raga, dermaga, tanaman, dan lain-lain yang memberikan manfaat. Wajib pajak adalah orang atau badan yang memenuhi syaratsyarat obyektif yaitu yang memiliki obyek yang nilai jualnya melebihi nilai minimum yang dibebankan dari pengenaan pajak. Perpajakan Indonesia menganut Self assesment system, dalam sistem ini wajib pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung, membayar, dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri. Jumlah objek pajak yang besar, tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah, rendahnya kesadaran wajib pajak tentang arti penting pemungutan yang masih rendah mempengaruhi penyelenggaraan pajak di pedesaan, masih banyak wajib pajak tidak dapat melaksanakan kewajiban untuk mendaftarkan dan melaporkan obyek pajaknya dengan baik dan jujur. Pendataan terhadap obyek dan subyek Pajak Bumi dan Bangunan perlu dilakukan dalam rangka membuat pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan wajib pajak. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 3
4 Demi kelancaran serta keberhasilan dalam melaksanakan pemungutan pajak harus didukung dan dijalankan oleh pihak fiskus, yaitu Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP PBB) yang ada di setiap Kabupaten di Indonesia dan para wajib pajak. Sebagai unit kerja modern, struktur organisasi KP PBB mengalami perubahan sesuai fungsi yang menggabungkan fungsi pelayanan Kantor Pelayanan Pajak (KPP), fungsi pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari KP PBB kedalam satu atap pelayanan yaitu Kantor Pelayanan Pajak. Kedua pihak diatas saling berhubungan dan saling mempengaruhi terutama dalam hal proses pemungutan pajak. Dalam menjalankan fungsinya keduanya perlu mengetahui dengan jelas hak-hak dan kewajiban masing-masing dan selanjutnya menerapkannya dalam praktek. Disini pihak yang menentukan dalam pemungutan PBB adalah fiskus. Dalam menjalankan hak dan kewajiban fiskus, untuk mencapai kinerja yang baik dan positif, fiskus harus dilakukan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku, serta mengacu pada prinsip yang ada dalam tata pemerintahan yang baik (Good Governance). Dalam praktek berorganisasi, good governance biasanya dikaitkan dengan mekanisme pengawasan internal yang bertujuan untuk meminimalkan terjadinya penyimpangan ataupun penyelewengan dalam organisasi, baik itu dilakukan oleh pegawai maupun pihak lainnya, baik disengaja maupun tidak. Good governance tidak hanya terbatas pada masalah integritas, tetapi juga menyangkut efesiensi dan efektivitas, serta profesionalisme dan akuntabilitas organisasi, sedangkan bagi para wajib pajak dan menjalankan hak dan kewajibannya dengan tingkat kesadaran hukum yang tinggi diharapkan mematuhi aturan yang ada yaitu undang-undang khususnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Penulis memilih lokasi penelitian yaitu di Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar. Dilihat dari wilayahnya Desa Pancuran Gading secara geografis, banyak didominasi oleh tanah-tanah perdesaan serta rumah-rumah penduduk dan lahanlahan perkebunan. Dari ketiga sektor ini dapat menunjang peningkatan realisasi penerimaan pajak di Kabupaten Kampar pada setiap tahunnya, maka Kantor Pelayan Pajak didalam kegiatannya melakukan proses pemungutan PBB perlu adanya pelaksanaan pemungutan pajak Bumi dan Bangunan serta administrasi yang sesuai dengan ketentuan Undang- Undang PBB, sehingga keberhasilannya sesuai dengan yang diharapkan dan tunggakan yang ada dapat diatasi. Cepat dan tidaknya dalam melakukan proses pemungutan tersebut secara akurat akan mempengaruhi perolehan dalam pembayaran PBB yang sesuai dengan target dan waktu. Hal ini sering kali menjadi acuan untuk mengukur kinerja pengelolaan pajak oleh KPP (kantor pelayanan pajak) dalam arti proses pemungutan dan hasilnya. Dikarenakan KPP kurang melakukan sosialisasi masalah pelaksanaan pemungutan PBB, yang mengakibatkan para wajib pajak banyak yang kurang tentang pelaksanaan pemungutan PBB. Hal itu sangat berpengaruh pada kesadaran wajib pajak dalam membayar dan melunasi pajak terutangnya secara tepat waktu atau sebelum jatuh tempo. Jal ini dapat terlihat di KPP daerah Kebupaten Kampar masih terjadi tunggakan-tunggakan disetiap tahunnya dan masih ada wajib pajak yang tidak membayar atau melunasi pajak terhutangnya khususnya di Desa Pancuran Gading yang banyak melakukan tunggakan didalam pembayaran PBB. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 4
5 Adapun data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Pajak Kabupaten Kampar bahwa Desa Pancuran Gading dalam kurun waktu 8 (delapan) tahun terakhir banyak mengalami tunggakan dalam pembayaran adalah sebagai berikut Tah un Tabel 1.I Penyetoran Wajib Pajak PBB di Desa Pancuran Gading Jumlah Wajib Pajak 775 ( WP yang menyet or 60) ( ) 778 ( ) 778 ( ) 778 ( ) 778 ( ) 786 ( ) 819 ( ) 4 WP ( ) 9 WP ( ) 273 WP ( ) 49 WP ( ) 10 WP ( ) 3 WP ( ) 42 WP ( ) Piutang Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Kabupaten Kampar 2015 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dalam 8 (delapan) tahun terakhir penerimaan PBB selalu gagal untuk memenuhi target PBB yang telah di tetapkan yaitu mencapai 100%, hal ini menunjukkan masih ada sebagian wajib pajak yang tidak melakukan pembayaran PBBnya karena kurangnya kesadaran dari masyarakat tersebut. Salah satu usaha dari Desa untuk meningkatkan target PBB dilakukan cara pemberian penyuluhan kepada wajib pajak tentang arti pentingnya Pajak Bumi dan Bangunan guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak serta meningkatkan kedatangan para petugas pemungut kepada wajib pajak yang menunda pembayaran PBBnya dan melakukan pengawasan terhadap petugas pemungut yang ada dilapangan. Menurut Friedrich dalam Winarno (2007 : 17) dikatakan bahwa kebijakan sebagai suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang memberikan hambatanhambatan dan peluang-peluang terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu maksud tertentu. Implementasi pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan tidak terlepas dari usaha-usaha yang dilakukan oleh petugas pemungut Pajak Bumi dan Bangunan mulai dari penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) sampai dengan pendataan yang diterima dari hasil pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan, termasuk di dalamnya adalah proses administrasi yang dijalankan. Pada pelaksanaan di lapangan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan dapat dilihat pada pelaksanaan beberapa bagian dari proses pemungutan itu sendiri, yang meliputi : Penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) dan Penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT), Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, Pemberian Penyuluhan serta Pengawasan sebagai kebijakan pemerintah dalam memenuhi target penerimaan Pajak Bumi dan JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 5
6 Bangunan (PBB) serta kendala-kendala yang dapat mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Sesuai dengan UU Nomor 12 Tahun 1994 pasal 10 tertulis bahwa berdasarkan Surat Pemberitahuan Objek Pajak, Direktur Jendral Pajak menerbitkan SPPT untuk disampaikan kepada masingmasing Kepala Desa/Kelurahan. Namun, pada dasarnya dilakukan oleh petugas dari masing-masing RT namun pada masyarakat ditemukan bahwa yang menyampaikan SPPT adalah petugas desa. Serta masih ditemukkan kendala-kendala, antara lain objek pajak tidak sesuai dengan yang dimiliki wajib pajak serta kurangnya sosialisasi tentang PBB secara langsung dari petugas yang ada di lapangan. Seperti yang dikemukakan oleh Buk Syamsidar selaku petugas loket PBB di Kabupaten, pada 8 juli 2015 : Dalam penyampaian SPPT yang melakukan adalah pegawai dari Kabupaten yang didampingi oleh petugas masing-masing RT. Penyampaian SPPT ini masih ditemukan kendala-kendala diantaranya Objek Pajak tidak sesuai dengan yang dimiliki oleh wajib pajak serta rendahnya sosialisasi tentang PBB secara langsung dari petugas-petugas yang ada dilapangan. Dari apa yang disampaikan oleh Ibu Syamsidar ternyata dalam penyampaian SPPT masih belum terimplementasi secara baik sesuai UU No. 12 Tahun 1994 pasal 10 ayat (1) bahwa terdapat kendala-kendala, seperti masih rendahnya sosialisasi tentang penyampaian SPPT kepada wajib pajak. Sementara mengenai masalah pembayaran PBB sesuai dengan UU No. 12 Tahun 1994 pasal 11 tertulis bahwa pembayaran PBB dilakukan di bank maupun kantor pos yang telah ditunjuk oleh menteri keuangan. Namun kenyataannya masyarakat lebih memilih membayar melalui pegawai yang datang ke wilayah masing-masing. Seperti apa yang disampaikan oleh Ibu Syamsidar selaku petugas loket PBB di Kabupaten pada 8 juli 2015 yang mengatakan bahwa: Masyarakat cenderung lebih memilih membayar melalui pegawai yang datang ke wilayah masing-masing atau ke loket yang ada di kecamatan karena dianggap cenderung tidak membuang biaya yang terlampau besar dibandingkan membayar melalui bank maupun kantor pos. Sementara mengenai masalah pembayaran juga belum terimplementasi secara baik sesuai dalam UU No. 12 Tahun 1994 pasal 11 ayat (5) yang tertulis bahwa pembayaran PBB dilakukan di bank maupun kantor pos yang telah ditunjuk oleh menteri Keuangan. Akan tetapi masyarakat lebih memilih membayar melalui petugas yang datang ke wilayah masing-masing dari pada melalui bank atau kantor pos maupun melalui loket pembayaran yang ada di Kecamatan. Hal ini akibat kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh tim intensifikasi kecamatan kepada masyarakat tentang mekanisme pembayaran PBB. Serta masih banyaknya ditemukan wajib pajak yang menunggak pajaknya, seperti yang terjadi di Desa Pancuran Gading pada 8 (delapan) tahun terakhir ini bahwa masih banyak ditemukan wajib pajak yang terlambat memenuhi kewajibannya. Hal inilah yang mengakibatkan pendapatan yang diperoleh melalui PBB menurun. Masyarakat tidak memiliki inisiatif sendiri dalam melakukan pembayaran. Sementara itu masih terdapat komunikasi yang belum efektif dan sikap petugas kepada masyarakat. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 6
7 Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang perubahan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, disebutkan bahwa Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data subjek pajak dan objek pajak atau retribusi, penentuan besarnya pajak atau retribusi yang terhutang sampai pada kegiatan penagihan pajak atau retribusi kepada wajib pajak atau wajib retribusi serta pengawasan penyetorannya. Berdasarkan observasi dan data yang ada, dapat ditarik fenomena sebagai berikut : 1. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar PBB-P2. 2. Masih banyaknya masyarakat yang kurang setuju terhadap beberapa penetapan kebijakan tentang pemungutan PBB-P2. 3. Kurangnya sosialisasi dari para petugas pajak kepada para wajib pajak secara langsung ke Desa. Berdasarkan beberapa fenomenafenomena yang diidentifikasi oleh penulis sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian lebih lanjut dengan menetapkan judul yaitu IMPLEMENTASI PERDA NO. 11 TAHUN 2011 tentang PAJAK BUMI dan BANGUNAN DESA PANCURAN GADING KECAMATAN TAPUNG KABUPATEN KAMPAR A. Rumusan Masalah Perumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam suatu penelitian, oleh karena itu berarti seorang peneliti telah mengidentifikasi persoalan yang akan diteliti, sehingga sasaran yang hendak dicapai menjadi jelas, tegas, terarah dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang digunakan peneliti dalam penelitian ini, sebagai berikut : 1. Bagaimana Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Kampar no 11 Tahun 2011 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No 11 Tahun 2011 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan? B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui implementasi dari peraturan Daerah Kabupaten Kampar No. 11 Tahun 2011 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. 2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No. 11 tahun 2011 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. C. Manfaat Penelitian Nilai suatu penelitian ditentukan oleh besarnya manfaat yang dapat diambil dari penelitian tersebut. Adapaun manfaat yang di harapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis a. Memberikan perkembangan pemikiran dalam ilmu hukum pada umumnya, dan pada Hukum Administrasi Negara pada khususnya. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 7
8 b. Dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang akan diteliti. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan pengetahuan pemikiran bagi para pihak yang memiliki kepentingan dalam penelitian ini. b. Untuk melatih penulis dalam mengungkapkan adanya semacam permasalahan tertentu secara sistematis dan berusaha memecahkan permasalahn yang ada tersebut dengan metode ilmiah yang baik. c. Dapat memberikan pengetahuan tentang pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan yang dilakukan pegawai pajak yang bersangkutan kepada para wajib pajak bumi dan bangunan pada umumnya dan penulis sendiri khususnya. METODE Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek dan objek, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan maksud untuk memberikan gambaran secara sistematis mengenai fakta-fakta atau fenomena yang ada dilapangan dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Penelitian dengan pendekatan deskriptif bermaksud membuat penyanderaan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu. HASIL A. IMPLEMENTASI PERDA TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA PANCURAN GADING KECAMATAN TAPUNG KABUPATEN KAMPAR Implementasi Perda Tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Pelaksanaan sangat diperlukan karena bertujuan untuk mengetahui bagaimana setiap kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan rencana yang ada selain itu setiap organisasi pasti memerlukan adanya suatu kegiatan pelaksanaan karena dengan adanya pelaksanaan maka kegiatan yang ada akan dapat di nilai kembali. a. Komunikasi Yaitu alat kebijakan untuk menyampaikan informasi, yang mana hal ini berkenaan dengan bagaimana kebijakan di sosialisasikan kepada organisasi atau public dan adanya efek atau dampak yang timbul dari komunikasi tersebut yaitu mengenai PBB. Penelitian pada indikator ini dilihat dari aturan, prosedur dan petunjuk dalam pelaksanaan pendataan PBB, sarana komunikasi, yang akan berefek pada pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kewajiban dalam pendataan PBB setiap objek pajak yang mereka miliki. b. Sumberdaya Sumberdaya, Sumberdaya yang dimaksudkan adalah mencakup jumlah staff pelaksana yang memadai dengan keahlian yang memadai, informasi, wewenang atau kewenangan dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjamin kebijakan dijalankan sesuai dengan apa yang diharapkan. Yang dilihat dari segi jumlah dan pemahaman staff atas tugas yang diembannya, tercapainya JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 8
9 sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. c. Struktur Birokrasi Yaitu kemampuan dan kriteria staff tingkat pengawas (control) hirarki terhadap setiap keputusan atau kebijakan yang telah diambil yang berhubungan dengan pelaksanaan PBB. Dalam penelitian ini pada indikator struktur birokrasi dilihat berdasarkan pendataan objek pajak, objek tersebut harus sesuai dengan rekomendasi peruntukan daerah di Kabupaten Kampar, tindakan nyata pada objek yang tidak melaporkan data subjeknya. B. Hambatan dalam Implementasi Perda Tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Dari analisa yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa terdapat beberapa hambatan dalam Implementasi Perda Tentang Pajak Bumi dan Bangunan Di Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar ini anatar lain yaitu : 1. Kurangnya sosialisasi mengenai PBB terhadap masyarakat dan pengawasan terhadap obyek pajak yang banyak tidak mendaftarkan hak milik atas obyek pajaknya. 2. Kurangnya jumlah personil untuk melakukan Implementasi Perda Tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Pancuran Gading Kabupaten Kampar 3. Kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pegawai dalam menerangkan prosedur untuk mendaftarkan dan membayarkan obyek pajak yaitu tidak adanya spanduk maupun baliho yang menerangkan bagaimana prosedur untuk memperoleh wajib pajak. Kurangnya kegiatan pengawasan yang dilakukan pegawai Dinas Pendapatan Daerah yang hanya dilakukan setiap satu bulan satu kali ini tentu saja sangat kurang dengan kondisi pembangunan saat ini Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil penelitian Implementasi Perda no 11 tahun 2011 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar disimpulkan bahwa hasilnya cukup baik karena Dinas Pendapatan Daerah pada telah berusaha melaksanakan tugas dan fungsi dalam implementasi perda tentang PBB namun masih terdapat obyek pajak yang tidak terdaftar bahkan membayarkannya, pola sosialisasi dan komunikasi yang belum maksimal. 2. Dari analisa yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa terdapat beberapa hambatan dalam Implementasi Perda no 11 tahun 2011 tentang PBB Desa Pancuran Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar ini antara lain yaitu : - Kurangnya sosialisasi mengenai PBB terhadap masyarakat dan pengawasan terhadap obyek yang tidak mendaftarkan hak milik atas obyek pajaknya. - Kurangnya jumlah personil untuk melakukan Implementasi Perda Tentang Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Pancuran Gading Kabupaten Kampar. - Kurangnya kegiatan pengawasan yang dilakukan pegawai Dinas Pendapatan Daerah yang hanya dilakukan setiap satu bulan satu kali ini tentu saja sangat kurang dengan kondisi pembangunan saat ini. JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 9
10 Saran Sebelum mengakhiri hasil penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut : 1. Menambah jumlah agen pelaksana PBB-P2 agar meningkatkan kinerja pelaksanaan PBB-P2 mengingat jumlah wajib pajak yang semakin tahunnya bertambah. 2. Meningkatkan keinginan wajib pajak untuk membayar pajak dengan cara menentukan tarif sesuai dengan kondisi wajib pajak 3. DPPKA mengkomunikasikan perda tentang PBB-P2 kepada wajib pajak dilakukan langsung tanpa melalui perantara sehingga tidak terjadi miskomunikasi. Serta sosialisasi dilakukan secara maksimal dan jelas sehingga wajib pajak paham dan sadar akan pentingnya membayar pajak khususnya PBB-P2 4. Memberikan sanksi sosial kepada wajib pajak yang tidak membayar PBB-P2 Daftar Pustaka Buku : AG, Sugiono, Analisis kebijakan public, Ghalia Indonesia Jakarta Dye, Thomas. R Understanding Public Policy. New Jersey: Prentice Hall Dunn, William N, Analisis Kebijakan Publik, Hanindita Graha Widya, Jogjakarta Dunn, William N, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Edisi 2, Gajah Mada University Press, Jogjakarta Dona, Lusia Implementasi Program ASKESKIN di kota Padang Panjang. Pekanbaru JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 10
Implementasi Kebijakan Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kelurahan Taman Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo SKRIPSI
Implementasi Kebijakan Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kelurahan Taman Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP
HAMBATAN KEPALA DESA DALAM PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI DESA CANDIMULYO KABUPATEN TEMANGGUNG
Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum 1 HAMBATAN KEPALA DESA DALAM PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI DESA CANDIMULYO KABUPATEN TEMANGGUNG HEAD OF VILLAGE OBSTACLES IN THE COLLECTION
BUPATI JEMBER SALINAN PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG
BUPATI JEMBER SALINAN PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGGUNAAN JASA PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) KEPADA DESA, KELURAHAN DAN
BAB I PENDAHULUAN. UU No. 28 Tahun 2009 mulai 1 Januari 2010 Pajak Bumi dan Bangunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring berjalannya otonomi daerah maka dalam rangka meningkatkan kemampuan keuangan daerah, pemerintah menetapkan berbagai kebijakan perpajakan daerah, diantaranya
BUPATI JEMBRANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
BUPATI JEMBRANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pajak
BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN. A. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN A. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi
BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG
BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGGUNAAN JASA PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN KEPADA DESA,
DASAR HUKUM DAN TERMINOLOGI PBB
DASAR HUKUM DAN TERMINOLOGI PBB I. Dasar Hukum Pemungutan PBB 1. UU No. 6 Tahun 1983 diperbaharui dengan UU No. 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum Perpajakan 2. UU No. 12 tahun 1985 diperbaharui dengan
Landasan Filosofi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah sebagai berikut:
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) A. Filosofi Pajak Bumi dan Bangunan Landasan Filosofi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah sebagai berikut: a) Bahwa pajak merupakan sumber penerimaan negara yang penting
BAB I PENDAHULUAN. Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Undang Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pajak merupakan salah satu pemasukan tertinggi bagi negara, yang digunakan untuk pembangunan Negara dan mensejahterakan masyarakat. Menurut Undang Undang nomor 28 Tahun
BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukan konsep baru di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukan konsep baru di Indonesia. Perjalanan reformasi manajemen keuangan daerah dapat dilihat dari aspek history yang dibagi
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa Pajak Bumi dan Bangunan
IMPLEMENTASI RETRIBUSI PARKIR DI TEPI JALAN UMUM
141 IMPLEMENTASI RETRIBUSI PARKIR DI TEPI JALAN UMUM Dwi Nursepto dan Yoserizal FISIP Universitas Riau, Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 Abstract: Implementation Parking Levy
BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN PERKOTAAN. A. Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan
39 BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN PERKOTAAN A. Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan di Kabupaten Langkat Berdasarkan Peraturan Daerah
BAB I PENDAHULUAN. digolongkan menjadi penerimaan pajak dan penerimaan bukan pajak.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Terwujudnya masyarakat yang Adil, makmur dan merata berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah tujuan yang menjadi idaman masyarakat setelah
BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
22 BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. GAMBARAN UMUM INSTANSI 1. Sejarah Berdirinya Instansi Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2008 tentang
Pemerintahan adalah segala urusan yang dilakukan oleh negara dalam. menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan negara.
BAB II KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN KELURAHAN DAN PERKOTAAN BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN KELURAHAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian Pajak menurut beberapa ahli antara lain :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pajak 1. Pengertian Pajak Pengertian Pajak menurut beberapa ahli antara lain : a. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang undang (yang dapat
PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN
PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN A. UMUM Pajak Daerah dipungut berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
1 Menimbang : a. Mengingat : 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,
BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas utama pemerintah. Berdasarkan data APBN tahun pajak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan salah satu potensi penerimaan dalam negeri terbesar yang menjadi prioritas utama pemerintah. Berdasarkan data APBN tahun 2006-2011 pajak memberi kontribusi
Analisis Prosedur Pelaksanaan Pemungutan Pajak Restoran dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang
Analisis Prosedur Pelaksanaan Pemungutan Pajak Restoran dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang Nurul Octaviani Universitas Bina Nusantara, Pinang Griya Jalan Beo B.568, 021-7310267,
BAB I PENDAHULUAN. badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah di Indonesia telah membawa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG
PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBETULAN KESALAHAN TULIS, KESALAHAN HITUNG, DAN/ATAU KEKELIRUAN PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU DALAM PERATURAN DAERAH PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Novi Norma Melya Nugraha, 2015
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara hukum yang berpedoman pada Pancasila dan juga berpegang teguh pada aturan yang ada di negaranya
BAB I PENDAHULUAN. secara adil dan merata. Pembangunan yang baik harus memiliki sasaran dan tujuan
Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di Benua Asia, oleh karena itu Indonesia melakukan berbagai pembangunan nasional pada semua aspek
PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU TENGAH,
PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH NOMOR 09 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU
BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan Pemerintah dalam penerapan otonomi daerah, memberikan kewenangan kepada daerah untuk dapat mengurus dan mengatur sendiri urusan di daerahnya. Otonomi daerah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang tidak bisa hanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang tidak bisa hanya menggantungkan dana dari luar negeri saja, melainkan harus menggali sendiri terutama dari
BAB II TINJAUAN PUSATAKA. Menurut Moekijat (1989:194), ciri-ciri prosedur meliputi : tidak berdasarkan dugaan-dugaan atau keinginan.
6 BAB II TINJAUAN PUSATAKA A. PROSEDUR Menurut Mulyadi (2001:5) prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih yang dibuat untuk menjamin
BAB 4 ANALISIS EFEKTIFITAS PEMUNGUTAN PBB DAN TINJAUAN PERANAN PBB SEBAGAI PAJAK DAERAH
BAB 4 ANALISIS EFEKTIFITAS PEMUNGUTAN PBB DAN TINJAUAN PERANAN PBB SEBAGAI PAJAK DAERAH Bab ini merupakan inti dari penulisan tesis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Keseluruhan pembahasan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional, Indonesia menganut pada asas desentralisasi dengan memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah dalam
EVALUASI PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN
79 EVALUASI PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN Tengku Rahardian dan Isril FISIP Universitas Riau, Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 Abstract: Evaluation Tax Withholding of
BUPATI MANGGARAI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
BUPATI MANGGARAI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MANGGARAI BARAT, Menimbang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Peran pemerintah daerah semakin meningkat dengan adanya kebijakan otonomi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Peran pemerintah daerah semakin meningkat dengan adanya kebijakan otonomi daerah. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah,
Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3091) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN 2012 PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN 22 HLM, LD No 15 ABSTRAK : - bahwa untuk
BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah perubahan dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dengan diberlakukan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah perubahan dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, dan Undang-undang Nomor 33
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Pajak 2.1.1. Pengertian Pajak secara Umum Pengertian pajak menurut Undang-Undang No. 16 tahun 2009 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor
PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA, Menimbang : a. bahwa
BAB 1 PENDAHULUAN. Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna bagi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna bagi kepentingan bersama. Pembangunan di segala bidang merupakan tanggung jawab pemerintah dan rakyat Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang hasilnya dipergunakan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pajak diartikan sebagai pungutan yang di lakukan oleh pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang hasilnya dipergunakan untuk pembiayaan pengeluaran umum
ABSTRAK. Kata kunci : intensifikasi Pajak, pekan panutan, oprasi sisir, surat himbauan dan penagihan aktif, penerimaan PBB.
ABSTRAK Pembangunan dalam suatu negara merupakan kegiatan yang terus menerus dan berkesinambungan yang mempunyai tujuan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan suatu masyarakat. Usaha untuk mencapai
BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN LINPERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN LINPERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG PEMBEBASAN DENDA PIUTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam budaya, ras, etnik, agama dan keragaman lainnya. Guna
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu peran penting Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu peran penting Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) adalah untuk pembangunan nasional. Pembangunan nasional yang dimaksud adalah penciptaan akselerasi
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PONOROGO, Menimbang
BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang sangat penting bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang sangat penting bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan sumber keuangan negara yang sangat penting untuk. mengelola keuangan negara. Sebagaimana diketahui sumber Anggaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak merupakan sumber keuangan negara yang sangat penting untuk mengelola keuangan negara. Sebagaimana diketahui sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang adil dan
BAB II. Tinjauan Pustaka. Puspitasari dkk (2016) menjelaskan bahwa 1. Proses pemungutan Pajak
BAB II 1. Penelitian Terdahulu Tinjauan Pustaka Puspitasari dkk (2016) menjelaskan bahwa 1. Proses pemungutan Pajak Parkir di Kota Malang telah dilaksanakan dengan baik. Proses pemungutan telah dilaksanakan
BAB I PENDAHULUAN. pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Penerimaan pajak digunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pajak merupakan penerimaan negara terbesar yang digunakan untuk pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Penerimaan pajak digunakan sebagai alat bagi pemerintah
I. PENDAHULUAN. daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya undang-undang otonomi daerah yang terdiri
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tekad pemerintah pusat untuk meningkatkan peranan pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya undang-undang otonomi daerah yang terdiri
BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa Pajak Bumi
BAB I PENDAHULUAN. 1. Sejarah Berdirinya DPPKAD Karanganyar. Karanganyar yang berkedudukan sebagai Dinas Daerah. DPPKAD
BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya DPPKAD Karanganyar Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Karanganyar adalah salah satu dari
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA DI DESA MPANAU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA DI DESA MPANAU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI Muh. Rifai Sahempa [email protected] (Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Publik Pascasarjana
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara besar yang memiliki tujuan nasional untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam
