PARIWISATA PUSAKA. Masa Depan bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PARIWISATA PUSAKA. Masa Depan bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama"

Transkripsi

1

2

3 PARIWISATA PUSAKA Masa Depan bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) & Program Vokasi Pariwisata, Universitas Indonesia Bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Didukung oleh Agencia Española de Cooperación Internacional para el Desariollo (AECID) Penulis: Rusli Cahyadi Jajang Gunawijaya Anggota Tim Penulis: Boedhihartono Rahmi Setiawati Sri Lukmiyati Editor: Wiwik Mahdayani/UNESCO Office, Jakarta Foto oleh: Meutia Farida Hatta Swasono UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo UNESCO Office, Jakarta Desain grafis oleh Ritchie Ned Hansel Cover: Kampung tradisional Waerebo Foto oleh UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo Buklet ini dapat diperbanyak dengan menyebutkan sumbernya. UNESCO 2009

4 Keindahan sungai yang terdapat di NTT (Foto: UNESCO Office, Jakarta) WISATA PUSAKA: MASA DEPAN BAGI KITA, ALAM DAN WARISAN BUDAYA BERSAMA 4

5 SAMBUTAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA Saya selaku Menteri Kebudayaan & Pariwisata Republik Indonesia mendukung & menyambut baik inisiatif UNESCO & Program Vokasi Pariwisata Universitas Indonesia yang telah menerbitan buklet berjudul: Pariwisata Pusaka, Masa Depan bagi kita, Alam, dan Warisan Budaya Bersama. Pemilihan tema pariwisata pusaka di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ditampilkan dalam buklet ini sudah sejalan dengan kebijakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu destinasi unggulan berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.37/UM.001/ MKP/07 tentang Kriteria dan Penetapan Destinasi Pariwisata Unggulan. Kriteria destinasi wisata unggulan yang dimaksud oleh PerMen tersebut adalah: a. Ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata; b. Fasilitas pariwisata dan fasilitas umum; c. Aksesibilitas; d. Kesiapan dan Keterlibatan masyarakat; e. Potensi pasar; dan f. Posisi strategis pariwisata dalam pembangunan daerah; Pusaka budaya yang telah dikenal wisatawan dunia antara lain sawah berbentuk jaring laba-laba (Lodokh) yang hanya ditemukan di Pulau Flores; Pasola di Pulau Sumba merupakan ritual tahunan yang terus dipertahankan hingga kini; serta ritual Caci yang melibatkan darah dalam setiap pertempurannya. Kesemuanya ini merupakan bentuk-bentuk pusaka alam dan budaya yang menjadi aset pariwisata tingkat dunia dan menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaganya. Salah satu caranya adalah melalui kegiatan pariwisata pusaka yang dipromosikan dalam buklet ini. Program Visit Indonesia 2009 yang kami canangkan telah menargetkan 6,5 juta wisatawan mancanegara. Hal ini membuka peluang pengembangan pariwisata pusaka di destinasi unggulan yang telah kami tetapkan, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemahaman bersama merupakan langkah awal pengembangan pariwisata pusaka yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus melestarikan kekayaan alam dan budaya. Semoga buklet ini bermanfaat dan best practices yang ditampilkan dalam buklet ini dapat diterapkan oleh para pelaku wisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur maupun daerah lainnya. Jakarta, April 2009 Di provinsi ini terdapat pusaka alam yaitu Taman Nasional Komodo yang merupakan Situs Warisan Dunia dengan komodo yang menjadi salah satu ikon pariwisata yang dikenal dunia. Terdapat pula Taman Nasional Kelimutu di Ende yang memiliki fenomena alam unik berupa tiga danau dengan tiga warna.

6 DAFTAR ISI Pendahuluan 1 Definisi Pariwisata Pusaka 2 Mengapa Pariwisata Pusaka? 4 Manfaat Pariwisata Pusaka 8 Bagaimana Mengembangkan Pariwisata Pusaka? 9 Peta Provinsi Nusa Tenggara Timur 12 Peran Serta Masyarakat 17 Potensi Pariwisata Pusaka di Nusa tenggara Timur dan Tujuan Pembangunan Milenium 19 Hal-Hal yang harus Diantisipasi Sebagai Dampak Kegiatan Pariwisata Pusaka 24 Rujukan 26

7 Pendahuluan Pariwisata adalah industri yang paling besar di dunia saat ini bila dilihat dari jumlah orang yang terlibat maupun uang yang beredar di dalamnya. Bersama-sama dengan sektor pertanian dan industri manufaktur, pariwisata adalah ujung tombak perekonomian dunia. Industri pariwisata terbentuk dari 7 unsur yaitu: Informasi wisata Biro Perjalanan Transportasi Aksesibilitas Destinasi Wisata Atraksi Wisata Unsur Penunjang (seperti pendidikan pariwisata maupun pemasaran) Infrastruktur dan sumberdaya alam dan budaya merupakan syarat penting keberhasilan pariwisata. Demikian halnya dengan keinginan baik (public goodwill) dan keramahtamahan penduduk di daerah tujuan wisata. kedua hal di atas merupakan faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan pariwisata pusaka (heritage tourism). 1

8 Definisi Pariwisata Pusaka Menurut Undang-Undang nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Berdasarkan motivasi wisatawan serta atraksi yang terdapat di daerah tujuan wisata maka kegiatan pariwisata dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu pariwisata yang bersifat massal dan pariwisata minat khusus. Jika pada pariwisata jenis pertama lebih ditekankan aspek kesenangan (leisure) maka pada tipe kedua penekanannya adalah pada aspek pengalaman dan pengetahuan. Pariwisata Pusaka adalah salah satu bentuk pariwisata minat khusus yang menggabungkan berbagai jenis wisata (seperti wisata bahari, wisata alam, wisata trekking, wisata budaya, wisata ziarah dan sebagainya) ke dalam satu paket kegiatan yang bergantung pada sumber daya alam dan budaya yang dimiliki oleh suatu daerah. Pariwisata Pusaka atau heritage tourism biasanya disebut juga dengan pariwisata pusaka budaya (cultural and heritage tourism atau cultural heritage tourism) atau lebih spesifik disebut dengan pariwisata pusaka budaya dan alam. Pusaka adalah segala sesuatu (baik yang bersifat materi maupun non materi) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang ingin kita jaga keberadaan dan keberlangsungannya. Dalam undang-undang negara kita, pusaka yang bersifat material disebut sebagai Benda Cagar Budaya. Pada pasal 1 UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya mendefinisikan Benda Cagar Budaya sebagai : 1. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; 2. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Jadi yang dimaksud dengan pusaka bisa berupa hasil kebudayaan manusia maupun alam beserta isinya. 2

9 Taman Nasional Komodo (Foto: UNESCO Office, Jakarta) Beberapa lembaga telah mendefinisikan pariwisata pusaka dengan titik berat yang berbeda-beda. Organisasi Wisata Dunia (World Tourism Organization) mendefinisikan pariwisata pusaka sebagai kegiatan untuk menikmati sejarah, alam, peninggalan budaya manusia, kesenian, filosofi dan pranata dari wilayah lain. Badan Preservasi Sejarah Nasional Amerika (The National Trust for Historic Preservation) mengartikannya sebagai perjalanan untuk menikmati tempattempat, artefak-artefak dan aktifitas-aktifitas yang secara otentik mewakili cerita/sejarah orang-orang terdahulu maupun saat ini. Suatu negara bagian di Amerika, Texas (Texas Historical Commission) mengartikannya sebagai perjalanan yang diarahkan untuk menikmati peninggalan-peninggalan yang terdapat di suatu kota, daerah, provinsi atau negara. Kegiatan ini membuat wisatawan dapat mempelajari, dan dilingkupi oleh adat-istiadat lokal, tradisi, sejarah dan budaya. Berdasarkan berbagai definisi yang telah ada, maka dapatlah disimpulkan bahwa pariwisata pusaka adalah sebuah kegiatan wisata untuk menikmati berbagai adat istiadat lokal, benda-benda cagar budaya, dan alam beserta isinya di tempat asalnya yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman akan keanekaragaman budaya dan alam bagi pengunjungnya. 3

10 Mengapa Pariwisata Pusaka? Persawahan yang berbentuk sarang laba-laba (Foto: UNESCO Office, Jakarta) Berbagai penelitian tentang industri pariwisata akhir-akhir ini telah sampai pada kesimpulan yang pasti bahwa pariwisata pusaka adalah bagian dari industri pariwisata yang paling maju perkembangannya (lihat misalnya Jamieson, 1998; Boniface & Fowler, 1993). Hal ini bisa terlihat dari jumlah penyelenggara (negara, lembaga dan operator/penyelenggara), dan terutama dari segi jumlah wisatawannya. Meningkatnya jumlah wisatawan jenis ini terkait dengan nilai tambah yang mereka dapatkan berupa pengetahuan dan pengalaman budaya serta kenyamanan, yang akhirnya dapat meningkatkan kemungkinan untuk datang kembali. 4

11 Namun sayangnya, sebagian besar daerah tujuan wisata saat ini berkembang ke arah yang membuat satu sama lain semakin mirip. Atraksi-atraksi yang ditawarkan, bentuk pelayanan yang seragam, pengalaman yang diperoleh dan bahkan cindera mata yang dibawa pulang hampir tidak bisa dibedakan lagi. Kondisi semacam ini dianggap membosankan oleh sebagian besar wisatawan yang menghendaki pengalaman yang berbeda, spesifik dan otentik/asli dari berbagai tujuan wisata yang didatanginya. Dengan kata lain, tren wisata dunia berkembang dari pariwisata yang bersifat massal/umum ke pariwisata yang bersifat alternatif/khusus. Di sisi lain, masyarakat di berbagai tempat mulai resah dengan kondisi memudarnya berbagai praktek budaya lokal (adat istiadat hingga berbagai kesenian dan kerajinan lokal) serta semakin rusaknya kondisi alam. Hal ini disebabkan oleh adanya persinggungan dengan budaya luar dan anggapan bahwa budaya sendiri sudah kuno dan tidak menarik. Pemanfaatan sumberdaya alam kian meningkat untuk memenuhi kebutuhan manusia juga telah menyebabkan lingkungan alam menjadi semakin rusak. Di tengah kondisi semacam inilah diperlukan sebuah alternatif usaha yang bisa memberikan keuntungan ekonomi sekaligus menjaga martabat dan keberadaan budaya lokal serta melindungi lingkungan alam. Pariwisata pusaka merupakan bentuk pariwisata yang menyatukan kegiatan pendidikan, wisata, pelestarian budaya maupun alam dan aktifitas ekonomi. Karena budaya lokal dalam konteks aslinya adalah atraksi utama, maka keresahan akan pudarnya budaya lokal bisa diatasi. Demikian pula dengan kelestarian lingkungan alam. Alam tidak perlu lagi dieksploitasi untuk menghasilkan uang akan tetapi justru akan menghasilkan uang dengan cara dipertahankan kelestariannya. 5

12 GAMBARAN SINGKAT PARIWISATA PUSAKA Internasional Menurut Departemen Perdagangan Amerika, pada tahun 2004, terdapat lebih dari 10,6 juta wisatawan yang melakukan kunjungan antar negara dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata pusaka selama mereka berada di negara tujuan wisata. Lima negara yang wisatawannya paling banyak melakukan kegiatan wisata jenis ini adalah Inggris, Jepang, Jerman, Perancis dan Australia. Wisatawan pusaka-budaya mancanegara yang berkunjung ke suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) rata-rata menghabiskan lebih dari 19 hari (sementara rata-rata lama berkunjung wistawan mancanegara adalah 16 hari) Lebih dari 72% berkunjung untuk tujuan bersenang-senang/berlibur (sementara hanya 62% wistawan mancanegara melakukannya untuk tujuan yang sama) 41% wisatawan jenis ini menyatakan keinginan mereka untuk mengunjungi lebih dari satu negara (hanya 30% pada wisatawan mancanegara lainnya). (Sumber: Departemen Perdagangan Amerika, 2005) Di Amerika Serikat 81% dari total 146,4 juta orang dewasa yang melakukan perjalanan wisata di Amerika adalah mereka yang melakukan kegiatan pariwisata pusaka. Jika dibandingkan dengan tipe wisatawan umum, wisatawan tipe ini: Mengeluarkan uang lebih banyak (US$ 623:US$ 457) Menggunakan hotel, motel atau penginapan lebih banyak (62%: 55%) Total pengeluaran kurang lebih US$ 1000 lebih banyak( 19% :12%) Rata-rata waktu bermalam lebih lama (5,2 malam: 3,4 malam) Jumlahnya meningkat dari 192,4 juta orang pada tahun 1996 menjadi 216,8 juta orang pada tahun 2002 Mereka lebih muda dan lebih kaya, lebih berpendidikan dan lebih paham akan teknologi 35,3 juta orang dewasa menyatakan bahwa aktifitas atau kegiatan kesenian, budaya yang spesifik sangat mempengaruhi pilihan tujuan wisata mereka (Sumber: Asosiasi Industri Perjalanan Amerika dan Majalah Smithsonian The Historic/Cultural Traveler,edisi tahun 2003) Di Indonesia Meski data wisatawan yang berhubungan dengan pariwisata pusaka di Indonesia tidak tersedia, akan tetapi jumlah pengunjung lokasi-lokasi wisata yang menawarkan warisan budaya kita seperti, Istana Tampak Siring di Bali, Istana Yogyakarta serta bangunan candi seperti Borobudur dan Prambanan terus mengalami peningkatan. Tahun 2006 jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi-lokasi tersebut hanya , sementara tahun 2007 (hingga bulan Mei saja) telah mencapai Taman Nasional Komodo (sebagai salah satu warisan alam yang penting), jumlah pengunjungnya hampir mencapai orang setiap tahunnya. Meskipun tidak ada data statistik yang mendukung akan tetapi, jumlah kunjungan wisatawan (nusantara maupun mancanegara) ke daerah-daerah di Indonesia yang menawarkan keanekaragaman budaya dan bentang alam dipercaya terus mengalami peningkatan. (Sumber: Buku Saku Statistik Kebudayaan dan Pariwisata, 2007) 6

13 Pengamatan Burung, salah satu kegiatan wisata di alam (Sumber Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo) PERUBAHAN TREN DI DUNIA PARIWISATA Wisata sambil belajar dan wisata petualangan semakin meningkat popularitasnya. Penyelenggaraan wisata berskala kecil semakin diminati. Jumlah wisatawan yang berkunjung harus dibatasi pada tingkatan yang bisa ditolerir oleh sumberdaya yang dipromosikan. Daerah-daerah terpencil dan cenderung tertutup justru dipandang sebagai tempat wisata yang aman. Wisatawan ingin melihat budaya yang berbeda, melihat atraksi lokal, membeli barang produksi lokal, bertemu dengan penduduk lokal dan menghadiri acara-acara lokal. 7

14 Manfaat Pariwisata Pusaka Keuntungan-keuntungan pengembangan pariwisata pusaka (Walker, 1996): 1. Ekonomi Tersedianya kesempatan kerja; Keragaman lapangan pekerjaan; Peningkatan pendapatan penduduk maupun daerah; 2. Fisik Mempertahankan bangunan bersejarah dan pusaka budaya/alam; Peningkatan infrastruktur; Meningkatnya upaya-upaya konservasi flora/fauna dan ekosistemnya; 3. Sosial Semakin dikenalnya masyarakat di daerah tujuan wisata; Meningkatnya upaya-upaya menjaga nilai-nilai budaya setempat; Meningkatnya kebanggaan warga; meningkatnya kesempatan akan pendidikan yang lebih tinggi; Membantu warga untuk lebih memahami diri sendiri (siapa mereka, di mana mereka berada serta apa keunikan mereka); 8

15 Bagaimana Mengembangkan Pariwisata Pusaka Belajar dari hal-hal yang dilakukan oleh beberapa negara maju di Eropa dan Amerika, terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan jika ingin memastikan keberhasilan pariwisata pusaka yaitu: 1. Pengelompokkan produk-produk pariwisata sehingga saling mendukung usaha yang lainnya. 2. Komitmen yang kuat untuk menghindari pengulangan. 3. Kerjasama antara anggota komunitas dengan unsur-unsur lain di tingkat daerah dan nasional. 4. Partisipasi warga dalam perencanaan kepariwisataan. 5. Sumberdaya keuangan yang cukup untuk memulai pembangun sektor publik dan swasta. 6. Komitmen untuk memberikan pengalaman yang asli/otentik melalui interaksi dan keterlibatan langsung warga masyarakat. 7. Penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. 8. Komitmen untuk menjaga dan membangun kembali sumber daya sejarah dan budaya. 9. Pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan kesadaran, pendidikan dan pelatihan. 10. Pengidentifikasian atraksi-atraksi budaya yang sesuai dengan minat dan ketertarikan target pasar. 11. Visi untuk menjamin kelangsungan hingga ke masa depan dengan tetap mempertahankan integritas sumberdaya yang menjadi daya tarik. 9

16 Pertunjukan Caci sebagai salah satu atraksi budaya Manggarai (Foto: UNESCO Office, Jakarta) TAHAPAN-TAHAPAN PEMBANGUNAN PARIWISATA PUSAKA Secara umum, Erickson (2001) menyatakan bahwa terdapat 6 tahapan pengembangan program. Tahapan ini dilakukan untuk destinasi yang belum teridentifikasi obyek dan daya tarik wisatanya. Langkah-langkah tersebut adalah: 1. Identifikasi sumberdaya; 2. Penyelidikan terhadap potensi-potensi yang ada; 3. Membuat rencana program dan penatalaksanaannya; 4. Pengembangan produk; 5. Marketing dan Komunikasi; 6. Penelitian; Sementara itu Walker (1996) dalam buku petunjuknya tentang urutan-urutan pengembangan pariwisata pusaka menyajikan langkah-langkah yang lebih terinci. Adapun langkah-langkah ini dilakukan pada destinasi yang obyek dan daya tarik wisatanya telah teridentifikasi. Langkah-langkah tersebut lebih berorientasi pada program. Langkah-langkah yang telah dimodifikasi tersebut adalah: 10

17 Keindahan pemandangan yang dapat dilihat saat trekking di hutan lindung Todo, Kabupaten Manggarai (Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo) Keindahan hutan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat (Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo)

18 12

19

20 keunikan Kampung Adat Tarung, Sumba Barat (Foto: UNESCO Office, Jakarta) Ornamen rumah adat Todo, salah satu kekayaan budaya NTT (Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo)

21 1. Menentukan pihak yang terlibat 2. Menentukan tujuan 3. Mengidentifikasi sumberdaya 4. Membangun konsep pengembangan program 5. Membuat rencana aksi yang terdiri dari rencana kerja, tata waktu, dan prioritas 6. Menentukan target pasar 7. Membuat analisa SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity, Threat) 8. Membuat rencana pemasaran 9. Melakukan analisa keuangan 10. Menentukan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan 11. Menyiapkan rencana pelayanan wisatawan 12. Membuat rencana konservasi 13. Meluncurkan dan mempromosikan program 14. Monitor dan evaluasi perkembangan program Kedua pendapat tersebut, bersama dengan pendapat-pendapat lain (lihat misalnya bersifat saling melengkapi satu sama lain. Semuanya menekankan empat kegiatan utama yaitu: 1. Identifikasi (sumber daya berupa alam, budaya serta manusia) 2. Perencanaan (atraksi, wisatawan, termasuk rencana pemasaran) 3. Pelaksanaan 4. Evaluasi. Sebagai tahap permulaan kita bisa memulai kegiatan dengan mengacu pada apa yang telah dibuat oleh Walker & Brooks (1999). Buku manual yang dibuat oleh keduanya telah dilengkapi dengan berbagai daftar pertanyaan yang akan membantu kita menemukan apa yang harus kita lakukan pada berbagai tahapan kegiatan. Namun demikian, manual tersebut harus diikuti secara hatihati karena konteks pembuatannya sangat tergantung pada kondisi daerah dan masyarakat kita. Namun demikian, terdapat pra-kondisi yang harus disiapkan sebelum melakukan berbagai tahapan di atas, yaitu timbulnya kesadaran bahwa kegiatan pariwisata hanya dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dengan posisi yang setara. 15

22 Apa yang telah dilakukan daerah lain terkait pariwisata pusaka alam dan/atau budaya? 1. Lembaga Pariwisata Tangkahan di Taman Nasional Gunung Leuser. Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) didirikan dengan inisiatif dari sekelompok orang yang semula menebang kayu secara tidak sah di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sumatera Utara. Kelompok masyarakat ini menyadari perbuatan mereka dan kemudian membentuk kelompok (LPT) untuk mengatur kegiatan pariwisata di wilayah mereka. LPT memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat, pemerintah setempat dan pengelola TNGL dengan membawa bendera pelestarian lingkungan. Kelompok ini mengembangkan paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Paket wisata tersebut berupa trekking di hutan, berperahu karet di sungai, menjelajah goa, patroli dengan gajah di hutan dan memandikan gajah. Paket wisata ini termasuk menginap, jasa pemanduan, dan makan. 2. Wisata kota tua di Jakarta. Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia mengadakan kegiatan Wisata Kota Tua yang dilakukan pada akhir pekan. Peserta berkumpul di depan Museum Bank Mandiri yang memanfaatkan gedung tua. Wisata kota tua tersebut terdiri dari berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi bagian sejarah Kota Jakarta yaitu Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Chartered Bank, Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Cafe Galangan, Gudang Kayu VOC, Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kalapa, Menara Syahbandar, Jalan Tongkol, Cipta Niaga, Dasaad Musin Concern, Taman Fatahillah, PT Pos Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, serta Escompto Bank. Seorang pemandu wisata menemani peserta untuk menerangkan cerita dibalik tempat-tempat tersebut. 3. Revitalisasi budaya di Nias Selatan melalui pariwisata. Yayasan Ragi Buana, sebuah lembaga swadaya masyarakat bekerja sama dengan kelompok ibu-ibu, para pemuda, dan kelompok adat di Kampung Onohondro dan Hilinawalo Fau di Nias Selatan, Sumatra Utara untuk menghidupkan kembali kebudayaan mereka. Kegiatan dilakukan melalui membentuk paket wisata budaya dan alam di Nias Selatan. Bersama kelompok ibu-ibu yang mengatur makanan untuk wisatawan yang berkunjung, pemandu yang merupakan para pemuda dari kampung tersebut, membentuk paket wisata yang terdiri dari kunjungan ke dua kampung tersebut untuk melihat rumah adat, serta arsitektur asli Nias Selatan yang masih bertahan hingga saat ini, menyaksikan lompat batu, pertunjukan budaya seperti tari perang, proses pembuatan kerajinan dan trekking di sepanjang aliran sungai yang menghubungkan kedua kampung tersebut. Yayasan ini juga menggagas kerjasama dengan para ibu dan pemuda kampung untuk membuat baju dan aksesoris pelengkap pertunjukan budaya secara swadaya. 4. Menjelajahi keindahan hutan Todo dan Kampung Waerebo. Untuk menuju Kampung Waerebo, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki melintasi hutan lindung Todo yang sangat indah. Para pemuda di Waerebo akhirnya bersepakat agar perjalanan para tamu yang datang dari berbagai negara di dunia ke kampung mereka dapat difasilitasi dengan baik. Penduduk kampung menyambut tamu dengan acara adat, para ibu memasak untuk setiap tamu yang datang, para lelaki di kampung tersebut juga melakukan pertunjukan seni tanpa diminta dan mengharapkan imbalan. Penduduk Kampung Waerebo juga secara swadaya bekerja memperbaiki jalan menuju kampung mereka agar aman bagi pengunjung. 16

23 Peran Serta Masyarakat Salah satu kunci keberhasilan pariwisata pusaka adalah pentingnya keterlibatan masyarakat setempat pada keseluruhan tahapan pelaksanaan kegiatan. Masyarakat setempat harus terlibat dan dilibatkan pada tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Anggota masyarakat yang terlibat diharapkan akan mampu menyampaikan kepentingan bersama serta memberikan ide-ide bagi pengembangan kegiatan maupun bentuk peran serta warga. Warga masyarakat harus ditempatkan dalam kerangka mitra kerja yang setara, terjamin dan efektif. Kerangka kemitraan yang menjamin keterlibatan warga secara setara dengan pemangku kepentingan lainnya harus diimbangi pula oleh kemampuan masyarakat untuk mengelola bentuk-bentuk wisata yang akan dikembangkan agar sesuai dengan visi dan karakter masyarakat setempat. Kemampuan menenun yang di masa lalu dijadikan tolok ukur kemampuan memasuki kehidupan rumah tangga, saat ini bisa menjadi daya tarik pariwisata (Foto: UNESCO Office, Jakarta) 17

24 Kopi Flores terkenal akan cita rasanya yang khas dan nikmat, salah satu hasil bumi masyarakat Flores yang disuguhkan pada tamu, seperti di Waerebo, Kabupaten Manggarai. (Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo) PARIWISATA WISATA PUSAKA: PUSAKA: MASA DEPAN BAGI BAGI KITA, KITA, ALAM ALAM DAN WARISAN DAN WARISAN BUDAYA BERSAMA BUDAYA BERSAMA

25 Potensi Pariwisata Pusaka di Nusa Tenggara Timur dan Tujuan Pembangunan Milenium Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi pusaka budaya dan alam yang banyak dan unik. Seluruh dunia telah mengenal Pulau Komodo yang masuk ke dalam Natural World Heritage. Selain itu, ada juga danau tiga warna (Kelimutu) yang bisa berubah-ubah warna. Keanekaragaman budaya baik yang bersifat fisik (tangible) maupun non-fisik (non-tangible) yang hingga kini masih ada dan terus dipraktekkan oleh penduduk merupakan potensi atraksi wisata yang menarik. Jumlah yang banyak serta sifatnya yang unik jika telah didata dan kategorikan berdasarkan satuan-satuan geografi dimasa yang akan datang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan masyarakat dan daerah. 19

26 Aset pariwisata pusaka alam dan budaya di Nusa Tenggara Timur: Taman Nasional Komodo Foto: UNESCO Office, Jakarta Hutan Mbeliling Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo Kampung tradisional Waerebo Foto: UNESCO Office, Jakarta 1. Taman Nasional Komodo Taman Nasional Komodo terletak di ujung barat Pulau Flores. Taman ini adalah rumah bagi kadal purba raksasa Komodo yang menjadi primadona kawasan ini. Selain terkenal dengan Komodonya, Taman Nasional Komodo memiliki keindahan alam bawah laut, pulau-pulau kecil dengan pantai yang indah dan bersih, dan flora fauna lain yang menghuni pulau-pulau tersebut. Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1986 dan Situs Warisan Dunia pada tahun Hutan Mbeliling Hutan yang terletak di Flores bagian barat ini merupakan salah satu kekayan alam di Kabupaten Manggarai, NTT. Hutan lindung seluas Ha ini adalah rumah dari berbagai burung endemik di Flores seperti Kehicap flores, Serindit flores dan Gagak flores. 3. Kampung tradisional Waerebo Kampung tradisional yang terletak di Kabupaten Manggarai ini adalah salah satu kampung Manggarai tradisional yang tersisa di Flores. Terdapat 4 rumah tradisional yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Masyarakat di Waerebo masih mempertahankan keaslian tradisi dengan tidak melakukan ritual adat untuk tujuan dipertontonkan kepada pengunjung. Kampung in terletak di dalam hutan lindung Todo yang masih utuh dan kaya akan keragaman hayati khas Nusa Tenggara. 20

27 Caci Foto: UNESCO/National Geographic Indonesia-Dwi Oblo Perkampungan Megalitik Bena Foto: Meutia Farida Hatta Swasono Lodokh (sawah berbentuk jaring laba-laba) Foto: UNESCO Office, Jakarta 4. Caci Caci adalah ritual adu cambuk masyarakat Manggarai di Flores yang dilakukan untuk menyambut tamu besar, acara pernikahan, serta membuka ladang baru. Caci saat ini juga dilakukan untuk menyambut pastor yang baru dilantik. Caci harus dilakukan oleh pria dan menjadi bukti keperkasaan dan kegagahan dengan melecutkan rotan yang ujungnya terbuat dari kulit ekor kerbau yang dikeringkan. Ketangkasan memukul lawan dan kemampuan menghindar sangat diperlukan dalam permainan ini. Lawan harus menghindar bila tak ingin terluka akibat lecutan tersebut. 5. Perkampungan Megalitik Bena Masyarakat di Kampung Bena, yang terletak di Kabupaten Ngada tetap mempertahankan keaslian rumah di kampung tersebut dengan tidak membangun rumah modern. Terdapat rumah-rumah yang terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang berderet berhadapan dengan halaman tengah berbentuk segi empat. Rumah di Kampung Bena terdiri dari tiga jenis bangunan utama yaitu sao saka puu, sao saka lobo dan sao wua ghao serta bangunan pendukung lainnya yakni ngadhu, bhaga, sao kaka dan wekawoe. Pembangunan rumah di kampung ini selalu didasari oleh penghormatan pada leluhur. Masyarakat di kampung ini umumnya masih bertani dan menenun. 6. Lodokh (sawah berbentuk jaring laba-laba) Lodokh adalah sawah yang berbentuk jaring laba-laba. Dihasilkan dari pola penanaman sawah atau kebun secara tradisional di Flores Barat. Setiap bagian dari sawah/kebun berbentuk jaring laba-laba tersebut dilakukan dengan sistem pembagian tanah oleh ketua adat. Pembagian ini selalu dianggap adil oleh masyarakat. Keluarga yang memiliki sawah/kebun harus mematuhi aturan seperti masa tanam, upacara yang harus dilakukan, dan pengerjaan sawah/kebun tersebut. 21

28 Danau Kelimutu Foto: Meutia Farida Hatta Swasono Kuburan Raja Foto: Meutia Farida Hatta Swasono Rumah Adat di Sumba Timur Foto: Meutia Farida Hatta Swasono 7. Danau Kelimutu Danau Kelimutu yang terkenal sebagai Danau Tiga Warna merupakan salah satu keajaiban alam yang terletak sekitar 66 km dari Kota Ende. Terletak di kawasan Taman Nasional Kelimutu dengan ketinggian berkisar antara m dpl. Danau ini memiliki tiga warna yang selalu berubahubah. Warna danau ini adalah merah, biru dan putih dengan perbandingan beberapa macam warna antara lain hijau, hijau muda dan hitam. Perubahan warna ini diakibatkan garam besi dan sulfur serta mineral yang terkandung di dalamnya yang menyebabkan kawah danau itu berubah setiap waktu, adanya aktivitas gas vulkanik dan pancaran sinar matahari. 8. Kuburan Raja Terletak di daerah Sumba Timur, di beberapa kampung seperti Prailiu, Pau- Desa Watu Hadang, Praiyawang & Rambangaru. Kuburan ini terbuat dari batu megalitik yang ditutup dengan batu persegi empat dengan empat tiang yang tingginya sekitar 1,5 m. Kuburan ini biasanya terletak di depan rumah raja. 9. Rumah Adat di Sumba Timur Bentuk atapnya tinggi lancip, didalamnya tersimpan benda-benda pusaka. Rumah adat ini terbagi dalam 2 bagian, bagian lakilaki dan bagian perempuan. Sekeliling rumah adat ini terdapat kuburan megalitik yang menarik. Rumah adat ini dapat dilihat di Kampung Wunga-Kecamatan Haharu dari kota Waingapu yang merupakan Kampung Pertama dan Tertua di Sumba Timur. 22

29 Contoh salah satu Kain Tenun di NTT Foto: UNESCO Office, Jakarta 10. Kain Tenun di NTT Kain tenun terdapat hampir di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Kain tenun adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang masih dipertahankan hingga saat ini. Kain dipakai untuk seharihari, perkawinan, pernikahan dan upacara menyambut panen. Di beberapa daerah di NTT, proses pembuatan kain tenun masih mengggunakan peralatan tradisional dan bahan-bahan alami yang diambil dari alam sekitar. Motif kain tenun dari tiap daerah memiliki ciri khas berbeda dan arti tersendiri bagi masyarakatnya. Di beberapa daerah di NTT, masyarakat memakai seragam dengan motif khas daerah masingmasing seminggu sekali ke sekolah maupun ke kantor. Kondisi alam NTT bersifat unik secara ekologi dan biogeografi karena terdiri dari gugusan pulau-pulau beraneka ukuran, sehingga rentan terhadap perubahan lingkungan. Di sisi lain, dengan kondisi alam tersebut justru melahirkan keanekaragaman budaya lokal yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Dengan keunikan alam dan keanekaragaman budaya lokal di NTT tersebut, pengembangan pariwisata pusaka merupakan salah satu cara untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs). Terutama tujuan 1 dan 7 yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, serta; memastikan kelestarian lingkungan hidup. 23

30 Hal-Hal yang Harus Diantisipasi sebagai Dampak Kegiatan Pariwisata Pusaka Pelaksanaan kegiatan wisata ibarat pisau bermata dua, selain membawa keuntungan juga membawa kerugian bagi masyarakat. Hal-hal yang harus diantisipasi antara lain: 1. Ekonomi a. Meningkatnya investasi publik b. Meningkatnya biaya-biaya pelayanan c. Ketergantungan yang berlebihan terhadap pariwisata d. Pekerja di sektor pariwisata biasanya diupah lebih rendah dibanding- kan dengan sektor industri e. Meningkatnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari f. Meningkatnya harga tanah 2. Fisik a. Merosotnya sumberdaya alam dan budaya b. Jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas c. Polusi dan sampah 3. Sosial a. Konflik dengan pekerja pendatang b. Meningkatnya kejahatan c. Berubahnya gaya hidup (terutama di kalangan muda) d. Konflik penggunaan sumberdaya 24

31 Komodo sang fosil hidup yang menjadikan NTT terkenal di seluruh dunia (Foto: UNESCO Office, Jakarta) Keindahan Pantai di Taman Nasional Komodo (Foto: UNESCO Office, Jakarta ) 25

32 RUJUKAN U.S. Department of Commerce and the President s Committee on the Arts and the Humanities 2005 A Position Paper on: CULTURAL & Heritage Tourism in The United States. Position paper was developed by the U.S. Department of Commerce and the President s Committee on the Arts and the Humanities for the 2005 U.S. Cultural & Heritage Tourism Summit. Hargrove, Cheryl M Heritage Tourism. CRM No 1. Boiface, Priscilla & Peter J. Fowler 1993 Heritage and Tourism in the global village. Routledge, London Erickson, Valerie A A Research Paper Submitted in Partial Fulfillment for the Requirements for the Masters of Science Degree With a Major in Hospitality and Tourism. The Graduate College University of Wisconsin-Stout. Heritage Tourism: A Case Study Of The Laura Ingalls Wilder Heritage Tourism Site At Pepin, Wisconsin. National Trust For Historic Preservation NWHO McManus, Ruth 2007 Cultural Heritage Tourism 2007 Fact Sheet 1999 Sustainable Tourism and Cultural Heritage A Review of Development Assistance and Its Potential to Promote Sustainability Heritage and Tourism in Ireland -an unholy alliance? Irish Geography, Volume 30(2), 1997,

33 RUJUKAN McKercher, Bob and Pamela S.Y. Ho NN 2006 Assessing the Tourism Potential of Smaller Cultural and Heritage Attractions. Journal of Sustainable Tourism Vol. 14, No. 5, Report prepared for the Department of Conservation and Natural Resources (DCNR), the Department of Community and Economic Development (DCED), the Pennsylvania Historical and Museum Commission (PHMC), and the Center for Rural Pennsylvania. Moving Heritage Tourism Forward in Pennsylvania. Silver, Christopher 2007 Tourism, Cultural Heritage and Human Rights in Indonesia: The Challenges of an Emerging Democratic Society. Dalam Helaine Silverman dan D. Fairchild Ruggles, Cultural Heritage and Human Rights. Springer. Texas Historical Commission (THC) tt Heritage Tourism Guidebook. Environment Protection and Heritage Council 2002 Issues Paper, National Tourism and Heritage Taskforce for the Environment Protection and Heritage Council Going Places. Developing natural and cultural heritage tourism in Australia. Walker, Lee-Anne and Diana Brooks Kompas 1996 The Tourism Action Society in the Kootenays Step-by-Step Guide to Heritage Tourism Development in the Kootenay-Boundary Berburu Hantu di Parijs van Java. Kompas 18 April

34

35

36

Dari Bukit Turun Ke Sawah PLPBK di Kawasan Heritage Mentirotiku dan Lakessi

Dari Bukit Turun Ke Sawah PLPBK di Kawasan Heritage Mentirotiku dan Lakessi Dari Bukit Turun Ke Sawah PLPBK di Kawasan Heritage Mentirotiku dan Lakessi PLPBK DI KAWASAN HERITAGE MENTIROTIKU Kabupaten Toraja Utara memiliki budaya yang menarik bagi wisatawan dan memilki banyak obyek

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 1.1 Latar Belakang Seni dan budaya daerah mempunyai

Lebih terperinci

Pengembangan Pariwisata untuk Destinasi Terpilih di Indonesia Flores Tanjung Puting Toraja Wakatobi

Pengembangan Pariwisata untuk Destinasi Terpilih di Indonesia Flores Tanjung Puting Toraja Wakatobi Wisata II Pengembangan Pariwisata untuk Destinasi Terpilih di Indonesia Flores Tanjung Puting Toraja Wakatobi Daftar Isi Kawah danau Kelimutu, Flores Swisscontact dan SECO Kerjasama Pengembangan di Indonesia

Lebih terperinci

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan.

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan. - 458 - Q. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 1. Kebijakan Bidang Kebudayaan 1. Kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga. Wisata Alam merupakan salah satu pilihan wisata yang menarik bagi para wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Bagi sebagian orang, wisata alam bisa di jadikan sebagai alternatif untuk

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) Diajukan

Lebih terperinci

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUBJENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUBJENIS USAHA 1. Daya Tarik Wisata No. PM. 90/ HK. 2. Kawasan Pariwisata No. PM. 88/HK. 501/MKP/ 2010) 3. Jasa Transportasi Wisata

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI,

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Pembangunan Kepariwisataan di

Lebih terperinci

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT Gusti Asnan (Jur. Sejarah, Fak. Ilmu Budaya, Univ. Andalas Padang gasnan@yahoo.com) Berbincang mengenai budaya maritim Nusantara sesungguhnya membincangkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Trend dunia pariwisata selalu berubah ubah. Ini dikarenakan pariwisata itu memiliki sifat yang dinamis. Karena dinamis, maka para planer, konseptor, dan juga investor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU,

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, - 1 - SALINAN Desaign V. Santoso PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

ekowisata: panduan dasar pelaksanaan

ekowisata: panduan dasar pelaksanaan UHJAK/2009/PI/H/9 ekowisata: panduan dasar pelaksanaan Pengantar Buku panduan ini disusun untuk masyarakat yang tertarik mengetahui dasar-dasar pengetahuan pariwisata, pariwisata berkelanjutan dan ekowisata.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG PEDOMAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keadaan alam, flora, dan fauna, sebagai

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DR. Wahiduddin Adams, SH., MA ** Pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berawal dari bersatunya komunitas adat yang ada di seluruh

Lebih terperinci

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Negara ini luas. Indonesia, dengan segala kekayaannya, hamparan pulau ini layaknya sebuah surga untuk mereka yang merasa memilikinya. Penjelajahan mengelilingi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT

Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia Januari

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PRESS KIT MAY 2015 PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS

PRESS KIT MAY 2015 PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS http://rahalasia.com http://wstars.com PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR ʺPerburuan Harta Makassarʺ Rahal adalah serangkaian seri pertama yang menyenangkan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN

BAB III KONSEP PERANCANGAN BAB III KONSEP PERANCANGAN 3.1 Strategi Perancangan 3.1.1 Strategi Komunikasi Menurut Laswell komunikasi meliputi lima unsur yakni komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek. komunikasi merupakan proses

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.20/MEN/2008 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL DAN PERAIRAN DI SEKITARNYA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.20/MEN/2008 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL DAN PERAIRAN DI SEKITARNYA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.20/MEN/2008 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL DAN PERAIRAN DI SEKITARNYA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

LAPORAN KELANGKAAN PERUSAHAAN KONSULTASI DAN JASA SERTIFIKASI UNTUK VERIFIKASI ASAL- USUL BAHAN BAKU (VLO)

LAPORAN KELANGKAAN PERUSAHAAN KONSULTASI DAN JASA SERTIFIKASI UNTUK VERIFIKASI ASAL- USUL BAHAN BAKU (VLO) LAPORAN KELANGKAAN PERUSAHAAN KONSULTASI DAN JASA SERTIFIKASI UNTUK VERIFIKASI ASAL- USUL BAHAN BAKU (VLO) JULI 2008 KOORDINATOR TEKNIS SENADA LAPORAN INI DIBUAT UNTUK DIKAJIAN OLEH BADAN PEMBANGUNAN INTERNASIONALL

Lebih terperinci

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar Menetapkan konsep

Lebih terperinci

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 5 TAHUN 1990 (5/1990) Tanggal : 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) Sumber :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), yang dalam Pedoman ini disebut BADAN, adalah badan hukum publik yang dibentuk dengan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERMENDES NO.1: Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa PERMENDES NO.5: Penetapan

Lebih terperinci

ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN

ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN B U K U S A K U B A G I ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA Penyusun Desainer : Tim ACILS dan ICMC : Marlyne S Sihombing Dicetak oleh : MAGENTA FINE PRINTING Dikembangkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

Tinjauan Tentang Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Pengembangan Kepariwisataan Di Sumatera Utara (Studi Kasus Kota Medan)

Tinjauan Tentang Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Pengembangan Kepariwisataan Di Sumatera Utara (Studi Kasus Kota Medan) 1 Laporan Akhir TINJAUAN TENTANG KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TERKAIT PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI SUMATERA UTARA (STUDI KASUS KOTA MEDAN) Kegiatan penelitian ini disusun atas kerjasama : antara TIM PENELITI

Lebih terperinci

BUTUH KESADARAN PEMERINTAH DAERAH UNTUK PENGELOLAAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN CILACAP. Oleh: Depi Andy Viantoro

BUTUH KESADARAN PEMERINTAH DAERAH UNTUK PENGELOLAAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN CILACAP. Oleh: Depi Andy Viantoro BUTUH KESADARAN PEMERINTAH DAERAH UNTUK PENGELOLAAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN CILACAP Oleh: Depi Andy Viantoro MENDENGAR nama Kabupaten Cilacap, yang terlintas di benak kita pastilah kawasan industri

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

PROVINSI BALI. Tanah Lot

PROVINSI BALI. Tanah Lot PROVINSI BALI BY: SUVI Pantai Kuta (Atas) Garuda Wisnu Kencana Pantai Nusa dua (Bawah) Ada patung yang sangat gede, patung itu berwarna biru campur sama abu abu. Ada orang yang melihat patung itu. Ada

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

Eksotisme & GALLERY. Vol. 13 No. 05 Mei 2012

Eksotisme & GALLERY. Vol. 13 No. 05 Mei 2012 Eksotisme KONSEP RESTO & GALLERY Penulis Qisthi Jihan Fotografer Ahkamul Hakim Berwisata kuliner di Bali, tidak sekadar mencari makanan yang nikmat, tetapi kebanyakan dari pengunjung juga mencari sebuah

Lebih terperinci

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk 11 Salah satu warisan lembaga ini adalah Museum Sono Budoyo di dekat Kraton Yogyakarta. 8 Tahun 1900, benda-benda warisan budaya Indonesia dipamerkan dalam Pameran Kolonial Internasional di Paris dan mendapat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017 Laporan Sekjen AMAN Periode 2007-2012, Hasil Pertemuan-pertemuan Komite Pengarah dan Hasil Sarasehan Masyarakat Adat yang dilaksanakan pada tanggal

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Development Study Tour Teknologi Tepat Guna Geng Motor imut: Digester Portable Biogas dan Desalinator

Kerangka Acuan Development Study Tour Teknologi Tepat Guna Geng Motor imut: Digester Portable Biogas dan Desalinator Kerangka Acuan Development Study Tour Teknologi Tepat Guna Geng Motor imut: Digester Portable Biogas dan Desalinator Latar Belakang Berbagi ilmu. Inilah yang mendorong sekelompok pemuda asal Kupang melakukan

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL

BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL 3.1 Strategi Perancangan Permasalahan yang ditemukan penulis setelah melakukan penelitian adalah mengenai kurangnya perhatian pengelola terhadap media informasi berupa

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA

KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA KERANGKA ACUAN KONSULTAN KOMUNIKASI CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA Nama Organisasi Periode pekerjaan: Conservation International Indonesia Mei : Mendukung pencapaian visi dan misi CI Indonesia melalui

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR TAHUN 2012 TENTANG PELESTARIAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Siaran Pers UNESCO No. 2015-xx DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Paris/New Delhi, 9 April 2015

Lebih terperinci

Memahami dan Memobilisasi untuk Kesehatan Masyarakat

Memahami dan Memobilisasi untuk Kesehatan Masyarakat 2 Memahami dan Memobilisasi untuk Kesehatan Masyarakat Dalam bab ini: halaman Memobilisasi untuk kesehatan masyarakat...12 Perubahan butuh waktu...13 Kegiatan-kegiatan untuk belajar dan memobilisasi...14

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 35/06/51/Th. VIII, 2 Juni 2014 Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan 2014 mencapai 280.096 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara

Lebih terperinci

Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya

Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya Pemahaman Progresif tentang Hak Perempuan atas Waris, Kepemilikan Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya Beberapa Istilah Penting terkait dengan Hak Perempuan atas Waris dan Kepemilikan Tanah: Ahli

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal.

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pusat perbelanjaan merupakan istilah yang tak asing lagi, terlebih bagi masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. Mal merupakan

Lebih terperinci

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa A. Latar Belakang KOPI, Dewasa ini, tradisi masyarakat menjadi perhatian aset warisan bangsa. Hal ini disebabkan karena dinamika zaman telah mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Tradisi masyarakat selalu

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perairan Indonesia merupakan perairan yang sangat unik karena memiliki keanekaragaman Cetacea (paus, lumba-lumba dan dugong) yang tinggi. Lebih dari sepertiga jenis paus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan alam Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan/Buatan LINGKUNGAN HIDUP Manusia Sebagai Makhluk Sosial -Membentuk Pengelompokkan Sosial (Social Grouping) mempertahankan

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 1. PENDAHULUAN Program TFCA- Sumatera merupakan program hibah bagi khususnya LSM dan Perguruan Tinggi di Indonesia

Lebih terperinci

Favehotel: Salah Satu Hotel Murah Terbaik di Jakarta Majalah Teen Online - teen.co.id Tuesday, 24 March 2015 10:28

Favehotel: Salah Satu Hotel Murah Terbaik di Jakarta Majalah Teen Online - teen.co.id Tuesday, 24 March 2015 10:28 Kebutuhan hidup di Kota Jakarta yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain sering membuat calon wisatawan agak mengurungkan niatnya guna berpelesiran ke ibu kota negara ini. Padahal, objek-objek wisata

Lebih terperinci

Wisata Kep.Seribu Jakarta

Wisata Kep.Seribu Jakarta 1. WISATA Pulau Tidung Pulau Tidung (Wisata Pulau Tidung ) Merupakan suatu Wilayah di Kab Adm Kepulauan Seribu di Perairan Teluk Jakarta merupakan Wisata Bahari Wisata Unik berbasis Masyarakat, 2 tahun

Lebih terperinci

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan 158 Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Sumber Daya Manusia Filosofi BCA membina pemimpin masa depan tercermin dalam berbagai program pelatihan dan pengembangan

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah 7 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Tujuan Penataan Ruang Berdasarkan visi dan misi pembangunan Kota Makassar, maka tujuan penataan ruang wilayah kota Makassar adalah untuk

Lebih terperinci

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hotel merupakan salah satu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, yang disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan berikut makanan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

newflash 134-141 SPACE TREE.indd 134 1/28/12 11:22 PM

newflash 134-141 SPACE TREE.indd 134 1/28/12 11:22 PM newflash 134 134-141 SPACE TREE.indd 134 1/28/12 11:22 PM No place beats home merupakan ucapan yang seringkali terdengar dari banyak orang yang menandakan bahwa tiada tempat lain (mau seunik apapun tempat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebudayaan masa prasejarah pada masyarakat sekarang di antaranya hanya dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebudayaan masa prasejarah pada masyarakat sekarang di antaranya hanya dapat BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan masa prasejarah pada masyarakat sekarang di antaranya hanya dapat dilihat dari tinggalan-tinggalan budaya materi dan beberapa perilaku masyarakatnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor

BAB I PENDAHULUAN. yang merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa yang memiliki berbagai ragam kebudayaan yang merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia. Hal ini di sebabkan oleh beberapa

Lebih terperinci

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation.

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Becking, Leontine Elisabeth Title: Marine lakes of Indonesia Date: 2012-12-04

Lebih terperinci

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia?

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia? Brief CIFOR memberi informasi mengenai topik terkini di bidang penelitian kehutanan secara ringkas, akurat dan ilmiah. CIFOR No. 01, April 2010 www.cifor.cgiar.org Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah

Lebih terperinci

Arah Pembangunan Perpustakaan Digital Nasional Indonesia 1

Arah Pembangunan Perpustakaan Digital Nasional Indonesia 1 Arah Pembangunan Perpustakaan Digital Nasional Indonesia 1 oleh: Lilik Soelistyowati 2 A. Latar Belakang Pembangunan Pusaka Digital Nasional tentunya merupakan salah satu wujud pelaksanaan visi dan misi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang

Lebih terperinci