BAB III PELAKSANAAN, HASIL, DAN KENDALA KEGIATAN KKN PPM

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III PELAKSANAAN, HASIL, DAN KENDALA KEGIATAN KKN PPM"

Transkripsi

1 BAB III PELAKSANAAN, HASIL, DAN KENDALA KEGIATAN KKN PPM 3.1 Program Pokok Program Pokok Tema Interdisipliner Judul Kegiatan Pokok Interdisipliner: Penyuluhan Pemanfaatan Kotoran Ternak untuk Pembuatan Biogas a. Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan Biogas Penyuluhan pembuatan biogas dari kotoran ternak dan demonstrasi penyimpanan biogas dalam tabung disampaikan oleh Prof. Dr. Tjokorda Tirta Nindhia, ST, MT. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme (ba kteri) dalam kondisi tanpa udara (anaerob). Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik seperti limbah ternak dan sampah organik. Proses penguraian ini dikenal dengan istilah anaerobic digestion atau pencernaan secara anaerob. Produksi biogas Biogas diproduksi menggunakan alat yang disebut digester yang dirancang kedap udara, sehingga proses fermentasi oleh mikroorganisme dapat berjalan secara optimal (Wahyuni, 2013). Proses fermentasi memerlukan waktu 7 sampai 10 hari untuk menghasilkan biogas dengan suhu optimum 35 o C. Gas yang dihasilkan dari proses fermentasi di dalam digester terdiri atas gas metana (CH4), karbon dioksida (CO2), gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2) dan gas hidrogen sulfida (H2S). Menurut Wahyuni (2013) komposisi biogas seperti disajikan pada Tabel

2 Tabel 1.1 Komposisi gas yang terkandung dalam biogas No. Unsur Simbol Volume (%) 1 Metana CH Karbon dioksida CO Oksigen, Hidrogen, O2, H2, H2S 1-2 dan Hidrogen sulfida Aktivitas mikroorganisme yang berperan selama proses permentasi sangat tergantung pada perbandingan antara Carbon dengan Nitrogen, atau C/N. Mikroorganisme pengurai dapat beraktivitas secara optimum jika perbandingan C/N sebesar Perbandingan C/N yang tinggi pada bahan organik akan menyebabkan produksi metana rendah. Jika perbandingan C/N tinggi hanya mengandung nitrogen dengan kadar yang rendah, padahal nitrogen sangat dibutuhkan sebagai sumber energi untuk perkembangbiakan mikroorganisme pengurai. Sedangkan bila rasio C/N rendah, nitrogen akan bebas dan berakumulasi dalam bentuk amonia sehinggga menyebabkan bau busuk yang berlebihan. Karki et al. (2005) melaporkan rasio C/N beberapa bahan organik seperti terlihat pada Tabel 1.2. Tabel `1.2 Rasio C/N beberapa bahan organik No. Bahan Rasio C/N 1 Kotoran bebek 8 2 Kotoran manusia 8 3 Kotoran ayam 10 4 Kotoran kambing 12 5 Kotoran babi 18 6 Kotoran domba 19 7 Kotoran sapi / kerbau 24 8 Water hyacinth (Enceng gondok) 25 9 Kotoran gajah Jerami (jagung) 60 10

3 11 Jerami (padi) Jerami (gandum) Serbuk gergajian Diatas 200 b. Hasil Kegiatan Instalasi Biogas Sederhana Secara umum instalasi biogas terdiri dari 1) digester, 2) penampung sluge, 3) desulfurizer, 4) alat penampung biogas atau biogas storage bag, dan 5) kompor atau lampu. Gambar 1.1 menunjukkan skema instalasi biogas sederhana Gambar 1.1 Skema Instalasi biogas sederhana Digester Digester atau reaktor merupakan komponen utama dari instalasi biogas. Digester berfungsi sebagai tempat penampungan campuran kotoran sapi dan air yang merupakan ruang hampa udara, dimana pada tempat ini terjadi fermentasi sehingga terbentuk biogas. Secara umum ada 3 tipe digester yaitu: floating drum, fixed drum, dan Deenbandhu (berkembang di India). Jenis digester yang paling banyak digunakan adalah tipe fixed drum dengan model continuous feeding, dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Digester dapat dibuat dari bahan baja, plastik, 11

4 pasangan beton, dan lain sebagainya. Bentuk dan penempatan digester bervariasi ada yang berbentuk segiempat, bulat, dan silinder; dengan penempatan di tanam dalam tanah, atau di permukaan tanah. Ukuran digester tergantung pada banyaknya biogas yang diinginkan, dan jenis kotoran ternak yang digunakan. Karki et al. (2005) dan Deptan (2014) memberikan acuan berdasarkan kapasitas digester seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.3. Tabel 1.3 Kapasitas digester dan laju pengisian Volume (m 3 ) Pengisian per hari (kg) Deptan Karki Penampung sludge Slude atau ampas adalah sisa dari proses pembentukan biogas. Bahan sisa ini dapat berupa cairan maupun padatan, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Desulfurizer Biogas yang dihasilkan dari digester masih mengandung unsur-unsur yang tidak bermanfaat seperti N2, H2O dan H2S. Khusus H2S disamping beracun, juga sangat korosif, sehingga peralatan seperti kompor cepat berkarat (Nindhia et al., 2013). Selain itu kandungan zat pengotor menyebabkan nilai kalor dari biogas menjadi rendah. Untuk menghilangkan H2S dari biogas digunakan alat yang disebut desulfurizer. Cara kerjanya adalah dengan melewatkan biogas ke dalam desulfurizer yang di dalamnya berisi unsur yang dapat mengikat sulfur, seperti besi (Fe) dan seng (Zn), sehingga gas yang keluar dari desulfurizer tidak mengandung H2S lagi. 12

5 Pada akhir penyuluhan dilakukan diskusi tentang teknik pembuatan biogas, cara penyimpanannya, dan pemanfaatannya. Kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penyalaan biogas menggunakan tabung. Aktivitas kegiatan ini disajikan dalam Gambar 1.1 dan 1.2 berikut. Gambar 1.2 Aktivitas Pembuatan Biogas dari Kotoran Ternak Sapi Gambar 1.3 Foto Bersama warga, pembicara, DPL, dan mahasiswa KKN setelah Penyuluhan berlangsung c. Kendala Kegiatan - Kapasitas tempat yang terbatas - Waktu pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rundown acara 13

6 3.1.2 Program Kerja Bidang Prasarana Fisik 1. Pemetaan Wilayah dan Pengadaan Papan Penanda Arah Penjelasan Program Program Pemetaan Wilayah dan Pengadaan Papan Penanda Arah Desa Sakti dilakukan untuk melengkapi prasarana fisik di Desa Sakti sebagai usaha untuk memetakan wilayah pariwisata di Desa Sakti. Papan penanda arah merupakan sarana yang cukup penting untuk menyediakan informasi yang berkaitan dengan penanda desa, batas banjar, lokasi dan posisi objek-objek vital di desa terutama tempat-tempat wisata yang berada di Desa Sakti. Setelah melakukan observasi, di Desa Sakti sudah terdapat beberapa papan penanda arah dan papan penanda objek-objek seperti pura dan puskesmas namun belum semua jalan memiliki papan penanda arah yang jelas apalagi Desa Sakti sedang mengembangkan objek wista baru yakni Gamat Bay sehingga perlu dibuat penanda arah yang jelas untuk objek wisata tersebut. Selain hal tersebut beberapa papan penanda yang telah ada sudah rusak sehingga beberap aplang perlu diganti. Selain papan penanda objek dan arah perlu dibuat papan peringatan untuk menghimbau wisatawan pada jalan jalan menuju objek wisata yang dianggap berbahaya. Pada pembaruan papan penanda dibuat menggunakan papan aluminium sehingga lebih tahan karat akibat kondisi alam di Nusa Penida. Untuk penanda jarak menggunakan bantuan google map untuk karena tingkat akurasi yang lebih baik. Data jarak diperoleh dengan melakuakn observasi manual berupa keliling Desa Sakti kemudian dilakukan pencatatan lokasi koordinat. Dengan penambahan dan pembaharuan papan penanda ini diharapkan wisatawan maupun pendatang lebih mudah untuk menacari lokasi ataupun tempat wisata di Desa Sakti. Serta data dari pemetaan wilayah dapat digunakan untuk peta dalam website Desa Sakti. Persiapan dan Pembagian Tugas Persiapan awal dilakukan dengan mengumpulkan data, korbid bersama anggota prasarana fisik bertindak sebagai inti panitia program, sementara yang lainnya membantu dalam pengumpulan informasi dalam papan penanda. Anggota Prasarana 14

7 fisik beserta korbid dan coordinator kegianat yang berjumlah 11 orang. Kesebelas orang tersebut dibagi dalam tim tim kecil yang memiliki tugasnya masing-masing antara lain, desain papan penanda, survey wilayah pemasangan dan jarak objek,dan tim pemasangan papan penanda. Perizinan Kepada Kepala Desa dan Masyarakat Desa Sakti Perizinan dilakukan secara lisan kepada Kepala Desa Sakti (tahun 2016). Dalam hal ini kepala desa beserta aparat desa lainnya sangat mengapresiasi mengenai program pembuatan papan penanda ini dan tidak memerlukan adanya proses surat menyurat dengan instansi di Desa. Sementara masyarakat Desa Sakti juga cukup antusias dengan adanya pembaruan papan penanda tersebut terutama masyarakat pengelola Crystal Bay dan Gamat Bay. Setiap perkembangan papan penanda dikordinasikan dengan Sekretaris dan Kepala Desa Sakti Survey Lokasi dan Data Papan penanda Survey lokasi dan data papan penanda meliputi pengumpulan informasi batas desa objek objek vital berupa pura dan puskesmas serta persimpangan-persimpangan jalan menuju objek wisata di Desa Sakti. Data-data batas wilayah desa Sakti diperoleh dari google maps dan data yang diperoleh dari Kantor Kepala Desa Sakti. Sedangkan jarak objek dan persimpangan jalan dilakukan dengan terjung langsung ke lapangan. Pembuatan dan Pemasangan Papan penanda Setelah melalui proses perijinan dari Kepala Desa Sakti dan survey lapangan proses pembuatan diawali dengan desain layout dari papan penanda yang deikerjakan selama 1 hari. Kemudian setelah desain dari papan penanda jalan jadi pekerjaan pembuatan papan penanda dilanjutkan dengan survey lokasi pembuatan plang jalan dari aluminium di Desa Sampalan. Setelah melakukan survey ke beberapa tempat pengelasan besi akhirnya dipilih satu tempat untuk memilih membuat papan plang jalan. Dari tempat tersebut disarankan agar mencetak terlebih dahulu desain yang akan dibuat dengan ukuran yang sesuai. Proses mencetak desain plang jalan dilakukan di Denpasar dan hasil dikirim menuju Nusa Penida menggunkan kapal Maruti. Pembuatan papan plang jalan dilakukan selama 2 minggu. Setelah plang jadi, plang jalan baru dipasang pada minggu 15

8 ke 4. Pemasangan plang jalan terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan kepala dan sekretaris desa. Pasir dan semen berasal dari Kepala Desa Sakti. Pekerjaan pemasangn plang jalan dilakukan selama 2 hari dengan jumlah anggota yang bekerja sejumlah 11 orang. Tindakan Pelaksanaan No Kegiatan Tempat Tim Jam/ Individu Jumlah 1 Persiapan dan pembagain tugas Desa Sakti, Kec jam 11 jam Penida, Klungkung orang 2. Proses perijinan dengan Desa Sakti, Kec jam 11 jam sekretaris dan kepala desa Penida, Klungkung orang 2 Proses layout dasar papan Desa Sakti, Kec jam 55 jam penanda Penida, Klungkung orang 3 Survey batas-batas desa, lokasi Desa Sakti, Kec jam 44jam objek dan penanda arahyang dibutuhkan Penida, Klungkung orang 4 Survey lokasi pembuatan papan BPS Gianyar 11 2 jam 22 jam penada jalan orang 5 Pemasangan papan penanda Desa Sakti, Kec jam 66 jam wilayah, penunjuk arah dan peringatan Penida, Klungkung orang Total Volume JKEM 19 jam 209 jam Kendala - Jalan yang rusak menuju Pantai Gamat menyulitkan mahasiswa KKN PPM untuk membawa arah penanda jalan. - Harga untuk membuat arah penanda jalan yang relatif mahal. 16

9 Gambar 2.1 Kondisi saat melaksanakan Program Kerja Pemetaan Wilayah dan Pengadaan Papan Penanda Arah Program Kerja Bidang Peningkatan Produksi 1. Pelatihan dan Penyuluhan bagi Kelompok Usaha Tani Ternak tentang Perkandangan Pembibitan Pemeliharaan dan Kesehatan Ternak Babi dan Sapi. 1.1 Penyuluhan Ternak Babi dan Sapi Penyuluhan ternak meliputi pembibitan, perkandangan, pemeliharaan dan kesehatan ternak babi, dan sapi disampaikan oleh Drh. Tjokorda Sari Nindhia, SKH, MP. Ternak babi dan sapi merupakan komoditas peternakan yang cukup potensial untuk dikembangkan di Nusa Penida. Umumnya usaha ternak merupakan usaha pembibitan dan penggemukkan dan masuk kategori peternakan rakyat dengan sumber bibit berasal dari daerah sekitarnya. Agar usaha peternakan yang ada di pedesaan ini dapat berjalan dengan baik, maka perlu sistem pemeliharaan ternak, terutama pemeliharaan ternak babi di pedesaan kearah usaha budidaya ternak babi yang ramah lingkungan. Hasil sampingan ternak babi dan sapi berupa limbah dari usaha yang semakin intensif dan skala usaha besar dapat dikelola untuk berbagai macam tujuan, terutama menjadi pupuk. Pada saat krisis energi seperti saat ini limbah ternak babi dan sapi juga dapat diolah untuk menghasilkan biogas. Biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif, untuk memasak, penerangan dan lain-lain. Sebagai pekerjaan sambilan petani di Nusa Penida umumnya memelihara ternak babi bagi wanita (Ibu rumah tangga), dan ternak sapi bagi laki-laki. Pemeliharaan ternak di Nusa Penida masih dilakukan secara tradisional. Kebanyakan peternak belum memiliki kandang. Babi dilepas begitu saja atau diikat di halaman pekarangan atau di kebun. Babi yang lepas 17

10 bebas selain mengganggu pemandangan dan kenyamanan juga menyebabkan lingkungan menjadi bau dan tercemar, akibat dari kotoran yang tersebar dimana-mana. Permasalahan lainnya adalah penyediaan pakan yang sangat terbatas terutama dimusim kemarau peternak kesulitan dalam mencari pakan. Prospek peternakan cukup menjanjikan, permintaan cukup tinggi, dan harga jual cukup stabil. Sektor peternakan inilah yang harus terus mendapat perhatian dan perlu untuk terus dikembangkan. Kegiatan penyuluhan sistem perkandangan, pemilihan bibit, penyiapan pakan yang bergizi, pemeliharaan dan kesehatan babi dan sapi memberikan pemahaman pengetahuan baru. Mereka sangat antusias mengikuti acara penyuluhan sampai akhir. Pada akhir penyuluhan dibagikan vitamin untuk menjaga kesehatan terutama dimusim kemarau ini. Kegiatan penyuluhan ternak babi dan sapi ditunjukkan dalam gambara 1.4 berikut. Gambar 3.1 Penyuluhan ternak babi dan sapi 1.2 Pembibitan, kandang, dan ransum babi a. Pembibitan Usaha peternakan babi secara umum meliputi pembibitan dan penggemukan. Pembibitan memegang peranan penting dalam keberlajutan usaha ternak babi, oleh karena itu perlu dilakukan seleksi agar didapat bibit yang unggul. Untuk memilih babi yang hendak dijadikan bibit, dapat dilakukan atas dasar seleksi individu, hasil produksi, dan berdasarkan silsilah. b. Kandang Kandang dalam peternakan babi berfungsi sebagai perlindungan babi terhadap cuaca (panas, hujan), dan juga sebagai tempat berlindung dari serangan binatang liar seperti anjing terhadap anak babi yang baru lahir. 18

11 Syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang babi (LIPTAN Koya Barat, 1996): Kandang dibangun dengan model terbuka dibagian atas dinding kandang, supaya mendapat cukup sinar matahari dan pertkaran udara yang cukup baik. Tembok kandang dibuat setinggi 1 meter dengan bahan lokal batu atau batako. Lantai kandang dibuat dari dasar yang kuat, kalau memungkinkan dibuat dari plesteran semen, tidak terlalu licin, dan dirancang sedikit miring, agar kotorannya mudah dialirkan. Pada bagian yang rendah dibuat lubang saluran air, yang berfungsi membuang kotoran sewaktu membersihkan. Atap terbuat dari bahan yang tidak menyerap panas misalnya daun kelapa, atau alang-alang Luas kandang disesuaikan dengan ketersediaan lahan untuk kandang. Kandang induk beranak dengan ukuran 3 m x 2,5 m Kandangpejantan berukuran 3 m x 2 m Kandang untuk babi berumur 3 bulan 1 tahun dengan ukuran 2 m x 2 m untuk tiap ekor. Desain kandang babi untuk induk ditunjukkan dalam Gambarr 2.2 Persyaratan teknis lainnya adalah sebagai berikut: Lantai kandang dibuat dari campuran semen, dibuat agak miring Memiliki saluran untuk pembuangan kotoran agak jauh dari kandang 1m Batako/batu 3m Saluran pembuanga Gambar 3.2 Kandang untuk induk babi c. Ransum Makanan ternak babi biasanya merupakan campuran basil-basil pertanian dan basil-basil ikan, sisa-sisa dapur/warung, hijauan muda sebagai sumber vitamin seperti kangkung, keladi, ketela pohon, garam dapur dan lain-lain (LIPTAN Koya Barat, 1996). Susunan makanan yang diberikan seperti bungkil kelapa, dedak padi, jagung, sisa-siasa ubi kayu, ubi jalar dan daun-daun ikutan pertanian. 19

12 Makanan diberikan 2-3 kali sehari dan tidak mutlak harus dimasak karena zat-zat vitamin dalam campuran makanan yang dimasakakan rusak atau hilang, namun ada pula yang perlu dimasak seperti ubi kayu, daun keladi, dan kacang kedelai sebab mengandung racun, dapat menimbulkan gatal-gatal, mengandung zat anti metabolik. Ternak babi disamping membutuhkan makanan juga membutuhkan air minum yang bersih setiap hari dan disediakan secara tak terbatas dalam kandang sehingga babi dapat minum sesuai dengan kebutuhannya. 1.3 Ternak sapi Prospek peternakan sapi di Nusa Penida cukup menjanjikan, permintaan cukup tinggi, dan harga jual cukup stabil. Terlebih lagi sapi asal nusa penida terkenal tahan terhadap berbagai macam penyakit. Sektor peternakan inilah yang harus mendapat perhatian dan perlu untuk terus dikembangkan. Permasalahan yang dihadapi oleh peternak adalah masalah pakan, terutama dimusim kemarau, hampir semua tumbuhan kering tak berdaun kecuali pohon bunut yang jumlahnya terbatatas. Oleh karena itu perlu ada upaya bagaimana cara menyediakan pakan ketika musim kemarau. Petani ternak sapi di Nusa Penida telah banyak disentuh oleh program pemerintah seperti bantuan sapi bergulir, pusat pembibitan sapi, dan belakangan ini program Simantri. Namun demikian produksi ternak sapi di Nusa Penida belum mengalami peningkatan, hal ini karena peternakan sapi masih menjadi pekerjaan sambilan dengan kemampuan pemeliharaan rata-rata 2 ekor per kepala keluarga. Disamping itu yang menjadi faktor utama adalah kesediaan pangan terutama dimusim kemarau, boleh dikatan tidak ada daun atau rumput yang hijau untuk pakan. Persiapan dan Pembagian Tugas Kegiatan ini diawali dengan briefing sebelum kegiatan dimulai, pembagian tugas untuk masng-masing sie. Mempersiapkan tempat dan alat yang akan digunakan untuk melaksanakan penyuluhan dan demo kegiatan. Menjemput pemateri yang akan memberikan penyuluhan dan teknisi yang akan melakukan demo. Selain itu alat-alat yang dipersiapkan adalah proyektor, sound system, sabun yang digunakan dalam penyuluhan yang diberikan kepada warga desa sakti. Perizinan Kepada Kepala Desa Sakti. Kegiatan selanjutnya adalah meminta izin untuk melakukan kegiatan penyuluhan kepada Kepala Desa Sakti sekaligus berkoordinsi dengan Kepala 20

13 dusun untuk mengundang warga tiap dusun di yang ada di desa Sakti untuk mengikuti penyuluhan. Pelaksanaan Pelatihan dan penyuluhan bagi kelompok usaha tani ternak tentang perkandangan pembibitan pemeliharaan dan kesehatan ternak babi. Dalam pelaksanaan penyuluhan, materi disampaikan secara lisan dengan alat pendukung yaitu power point dan sound system serta vitamin ternak yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti oleh warga desa Sakti. Untuk membantu menjaga kesehatan ternak yang dimiliki oleh warga, penyuluh membagikan vitamin ternak kepada warga. Tindakan Pelaksanaan No Kegiatan Tempat Tim Jam/Individu Jumlah 1 Persiapan dan pembagian Desa Sakti 12 orang 5 Jam 60 Jam tugas 2 Perizinan Kepada Kepala Desa Sakti 2 Orang 2 Jam 4 Jam Desa 3 Pelaksanaan Penyuluhan Desa Sakti 3 Orang 1 Jam 3 Jam 4 Sesi Tanya Jawab Desa Sakti 3 Orang 1 Jam 3 Jam 5 Pembagian Konsumsi Desa Sakti 4 Orang 1 Jam 4 Jam Total Volume JKEM 24 Orang 10 jam 240m 2. Penyuluhan Pemanfaatan Kotoran Ternak untuk Pupuk Organik o Penjelasan Kegiatan Sub sektor peternakan mempunyai peran besar dalam kegiatan perekonomian masyarakat, dengan demikian perencanaan pembangunan sistem agribisnis peternakan harus dimulai dari kejelasan identitas dan potensi lokal yang akan dikembangkan. Pengembangan usaha ternak ruminansia perlu memperhatikan tiga komponen utama yang saling terkait, yaitu tersedianya lahan, ternak dan pakan (Soedarjat, 2000). Ketersediaan pakan sangat tergantung pada ketersediaan lahan. Padahal untuk pemeliharaan ternak maupun sumber pakan hijauan khususnya di Bali terbatas. 21

14 Pemanfaatan lahan tidur dan lahan integrasi masih rendah sedangkan lahan yang dimiliki peternak sempit. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan menjadi sangat kurang (Ilham, 1995; Tabrany et al., 2003). Penyediaan pakan dari segi kualitas, kuantitas maupun kesinambungan ketersediaan hijauan pakan sangat fluktuatif sepanjang tahun di Bali. Potensi limbah pertanian di Nusa Penida cukup besar. Salah satunya adalah pelepah pisang yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Produksi pelepah pisang yang cukup besar ini apabila dikelola dengan baik maka akan menjadi sumber pakan ternak yang cukup menjanjikan untuk dapat mengatasi permasalahan sumber pakan hijauan yang semakin hari semakin sulit akibat ketersediaan lahan yang semakin sempit. Disamping adanya kecenderungan petani menanam tanaman pangan atau perkebunan daripada menanam hijauan pakan ternak karena tanaman tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia (Soebarinoto, 1997). Meningkatnya intensifikasi tanaman pangan akan mengakibatkan hasil ikutan pertanian dalam bentuk pelepah pisang melimpah. Pelepah pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan. Untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi perlu sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya dengan menerapkan teknologi biofermentasi biochast. Disisi lain isu pertanian organik makin kuat diwacanakan sejalan dengan semakin diminatinya produk-produk pangan organik. makin mahalnya pupuk buatan pabrik (anorga nik) serta makin derasnya kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk pabrik secara terus-menerus. Dalam dasa warsa terakhir ini penggunaan pupuk organik makin diminati berbagai pihak, baik petani maupun pengusaha pertanian walaupun sifat masih partial. Diantara bahan baku produk organik yang jumlahnya relatif besar dan mutunya paling baik adalah kotoran ternak diantaranya adalah sapi. Hal ini sebenarnya telah disadari para petani, kususnya petani kebun. Karena itu sudah sejak lama petani juga memelihara ternak terutama sapi. Sehingga secara traclisinai integrasi tanaman industri dengan ternak telah dilakukan sejak dulu kala. Karena para petani amat memerlukan kotoran ternak tersebut sebagai bahan pupuk. Namun upaya untuk membuat pupuk organik masih dilakukan secara tradisional. Dimana kotoran ternak ditumpuk begitu saja sehingga fermentasi berjalan secara alamiah, sehingga mutu kompos yang dihasilkan kurang memadai. Untuk memperoleh mutu kompos yang baik diperlukan teknik pengolalian kotoran secara 22

15 baik. Kini beberapa teknik pengomposan secara. modern telah ditemukan. Penerapan teknologi maju ini akan diperoleh kompos secara lebih cepat dengan mutu yang lebih baik. Diantara teknik yang ditemukan adalah menggunakan mokulan "Rumino Baciliis" RB dimana fermentor ini terdiri dari 2 bagain yaitu Rummino Coccus dan Bacillus thuringienis yang berfungsi sebagai dekomposer serta merupakan biofestisida yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan-gangguan bakteri-bakteri pathogen. Berdasarkan analisis diatas kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan pada kelompok masyarakat ternak tentang pemanfaatan pelepah pisang atau dedaunan dan kotoran ternak. o Hasil Kegiatan Masalah yang ada di desa Sakti tersebut dipecahkan dengan cara mengumpulkan masyarakat khususnya petani peternak beserta ketua simantri pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 yang dilaksanakan di SDN 6 Sakti, kemudian diberikan ceramah/pembinaan/penyuluhan tentang teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak sapi dengan teknologi biofermentasi, untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk organik melalui demonstasi secara langsung. Adapun dalam pemecahan masalah yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah : 1. Sosialisasi program yang akan dilaksanakan kepada masyarakat petani peternak di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. 2. Penyuluhan dalam bentuk ceramah dengan materi manajemen pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak untuk dijadikan pakan dan pupuk organik. 3. Pengenalan terhadap teknologi biofermentasi pada pakan ternak berupa pelepah pisang atau dedaunan kering dan kotoran sapi. 4. Pelatihan dengan cara melaksanakan secara langsung pengolahan pakan ternak dan kotoran sapi agar peternak dapat melaksanakannya secara mandiri setelah kegiatan ini selesai. Untuk mengatasi masalah yang muncul saat ceramah/pembinaan/penyuluhan dilaksanakan, dilakukan dengan diskusi yang melibatkan masyarakat petani dan peternak dengan narasumber dari Fakultas Peternakan Universitas Udayana dibantu dengan mahasiswa KKN PPM Periode XIII Tahun

16 o Jadwal Pelaksanaan Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 14 Agustus 2016 di SDN 6 Sakti Nusa Penida, yang diikuti oleh masyarakat petani dan peternak desa Sakti. Tim penyuluh terdiri dari: Dosen UNUD yaitu I Putu Ari Astawa, S.Pt., MP dan dibantu mahasiswa KKN PPM Periode XIII tahun Materi ceramah yang diberikan adalah manajemen pengolahan pakan dan pupuk pada ternak sapi Bali secara umum dan memperkenalan terhadap teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran sapi dengan teknologi biofermentasi. o Kendala Teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak oleh sebagian masyarakat desa Sakti masih dianggap rumit dan memerlukan biaya tambahan, sehingga tidak jarang beberapa masyarakat malas melaksanakannya. Gambar 3.3 Suasana saat Penyuluhan dan Sosialisasi tentang Pupuk Organik 3. Pelatihan dan Penyuluhan Bagi Kelompok Usaha Ternak Tentang Pembuatan Pakan Ternak dengan Teknik Fermentasi o Penjelasan Kegiatan Sub sektor peternakan mempunyai peran besar dalam kegiatan perekonomian masyarakat, dengan demikian perencanaan pembangunan sistem agribisnis peternakan harus dimulai dari kejelasan identitas dan potensi lokal yang akan dikembangkan. Pengembangan usaha ternak ruminansia perlu memperhatikan tiga komponen utama yang saling terkait, yaitu tersedianya lahan, ternak dan pakan (Soedarjat, 2000). Ketersediaan pakan sangat tergantung pada ketersediaan lahan. Padahal untuk pemeliharaan ternak maupun sumber pakan hijauan khususnya di Bali terbatas. Pemanfaatan lahan tidur dan lahan integrasi masih rendah sedangkan lahan yang 24

17 dimiliki peternak sempit. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan menjadi sangat kurang (Ilham, 1995; Tabrany et al., 2003). Penyediaan pakan dari segi kualitas, kuantitas maupun kesinambungan ketersediaan hijauan pakan sangat fluktuatif sepanjang tahun di Bali. Potensi limbah pertanian di Nusa Penida cukup besar. Salah satunya adalah pelepah pisang yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Produksi pelepah pisang yang cukup besar ini apabila dikelola dengan baik maka akan menjadi sumber pakan ternak yang cukup menjanjikan untuk dapat mengatasi permasalahan sumber pakan hijauan yang semakin hari semakin sulit akibat ketersediaan lahan yang semakin sempit. Disamping adanya kecenderungan petani menanam tanaman pangan atau perkebunan daripada menanam hijauan pakan ternak karena tanaman tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia (Soebarinoto, 1997). Meningkatnya intensifikasi tanaman pangan akan mengakibatkan hasil ikutan pertanian dalam bentuk pelepah pisang melimpah. Pelepah pisang dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan. Untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi perlu sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya dengan menerapkan teknologi biofermentasi biochast. Disisi lain isu pertanian organik makin kuat diwacanakan sejalan dengan semakin diminatinya produk-produk pangan organik. makin mahalnya pupuk buatan pabrik (anorga nik) serta makin derasnya kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk pabrik secara terus-menerus. Dalam dasa warsa terakhir ini penggunaan pupuk organik makin diminati berbagai pihak, baik petani maupun pengusaha pertanian walaupun sifat masih partial. Diantara bahan baku produk organik yang jumlahnya relatif besar dan mutunya paling baik adalah kotoran ternak diantaranya adalah sapi. Hal ini sebenarnya telah disadari para petani, kususnya petani kebun. Karena itu sudah sejak lama petani juga memelihara ternak terutama sapi. Sehingga secara traclisinai integrasi tanaman industri dengan ternak telah dilakukan sejak dulu kala. Karena para petani amat memerlukan kotoran ternak tersebut sebagai bahan pupuk. Namun upaya untuk membuat pupuk organik masih dilakukan secara tradisional. Dimana kotoran ternak ditumpuk begitu saja sehingga fermentasi berjalan secara alamiah, sehingga mutu kompos yang dihasilkan kurang memadai. Untuk memperoleh mutu kompos yang baik diperlukan teknik pengolalian kotoran secara baik. Kini beberapa teknik pengomposan secara. modern telah ditemukan. Penerapan 25

18 teknologi maju ini akan diperoleh kompos secara lebih cepat dengan mutu yang lebih baik. Diantara teknik yang ditemukan adalah menggunakan mokulan "Rumino Baciliis" RB dimana fermentor ini terdiri dari 2 bagain yaitu Rummino Coccus dan Bacillus thuringienis yang berfungsi sebagai dekomposer serta merupakan biofestisida yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan-gangguan bakteri-bakteri pathogen. Berdasarkan analisis diatas kegiatan ini dilakukan dalam rangka untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan pada kelompok masyarakat ternak tentang pemanfaatan pelepah pisang atau dedaunan dan kotoran ternak. o Hasil Kegiatan Masalah yang ada di desa Sakti tersebut dipecahkan dengan cara mengumpulkan masyarakat khususnya petani peternak beserta ketua simantri pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 yang dilaksanakan di SDN 6 Sakti, kemudian diberikan ceramah/pembinaan/penyuluhan tentang teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak sapi dengan teknologi biofermentasi, untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk organik melalui demonstasi secara langsung. Adapun dalam pemecahan masalah yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah : 1. Sosialisasi program yang akan dilaksanakan kepada masyarakat petani peternak di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. 2. Penyuluhan dalam bentuk ceramah dengan materi manajemen pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak untuk dijadikan pakan dan pupuk organik. 3. Pengenalan terhadap teknologi biofermentasi pada pakan ternak berupa pelepah pisang atau dedaunan kering dan kotoran sapi. 4. Pelatihan dengan cara melaksanakan secara langsung pengolahan pakan ternak dan kotoran sapi agar peternak dapat melaksanakannya secara mandiri setelah kegiatan ini selesai. Untuk mengatasi masalah yang muncul saat ceramah/pembinaan/penyuluhan dilaksanakan, dilakukan dengan diskusi yang melibatkan masyarakat petani dan peternak dengan narasumber dari Fakultas Peternakan Universitas Udayana dibantu dengan mahasiswa KKN PPM Periode XIII Tahun

19 o Jadwal Pelaksanaan Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 14 Agustus 2016 di SDN 6 Sakti Nusa Penida, yang diikuti oleh masyarakat petani dan peternak desa Sakti. Tim penyuluh terdiri dari: Dosen UNUD yaitu I Putu Ari Astawa, S.Pt., MP dan dibantu mahasiswa KKN PPM Periode XIII tahun Materi ceramah yang diberikan adalah manajemen pengolahan pakan dan pupuk pada ternak sapi Bali secara umum dan memperkenalan terhadap teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran sapi dengan teknologi biofermentasi. o Kendala Teknologi pengolahan pakan ternak dan kotoran ternak oleh sebagian masyarakat desa Sakti masih dianggap rumit dan memerlukan biaya tambahan, sehingga tidak jarang beberapa masyarakat malas melaksanakannya. Gambar 4.1 Suasana Saat Program Kerja Penyuluhan Membuat Pakan Ternak dengan Teknik Fermentasi Program Kerja Sosial Budaya 4.1 Pelatihan dan Workshop Pengelolaan dan Pegembangan Objek Wisata Pantai Penida dan Pantai Gamat o Deskripsi Kegiatan Pengelolaan Kawasan Wisata Terintegrasi Berbasis Potensi Desa Adat, dengan studi kasus Kawasan Wisata Pantai Pandawa dan LPD, Desa Adat Kutuh, Kec. Kuta Selatan, Kabupaten Badung disampaikan oleh Maha Manggala Utama (Direktur Utama) BUMDA Desa Adat Kutuh Dr. Drs. I Made Wena, M.Si., seperti ditunjukkan 27

20 dalam Gambar 1. Dalam paparannnya disampaikan bahwa Desa Adat harus menguasai ekonomi, setelah menguasai ekonomi baru bisa melestarikan Desa Adat. Dengan demikian harus dipahami bahwa desa adat tidak berada di bawah desa dinas, akan tetapi memiliki posisi yang sejajar. Pemaparan oleh Direktur Utama BUMDA Peserta Studi Lapangan Gambar 1. Studi Lapangan ke Pantai Pandawa Desa Adat Kutuh Sejarah perkembangan Kawasan Wisata Pantai Pandawa pada awalnya hanya membikin akses untuk mengangkut hasil pertanian para petani rumput laut. Namun secara tidak sengaja banyak wisatawan berkunjung ke pantai ini (belum bernama pantai pandawa). Lalu muncul ide untuk mengembangkan menjadi kawasan wisata. Berdasarkan kesepakatan Desa Adat maka mulai dilakukan inventarisasi serta mengajukan permohonan dari tanah negara menjadi tanah hak milik desa adat. Sealanjutnya dilakuakn kerja sama dengan berbagai pihak sehingga kawasan ini berkembang pesat dan terkenal dengan nama Pantai Pandawa. Persiapan dan Pembagian Tugas Kegiatan ini diawali dengan koordinasi dengan Prof Surata selaku Dosen Pembimbing Lapangan desa Sakti. Lalu menginformasikan kepala desa selaku ketua perbekel desa sakti dengan mensyaratkan 12 orang peserta termasuk sekdes, kadus, bendahara, arsitek, ketua bumdes, lpd dan pkk desa sakti. Perizinan Kepada Maha Manggala Utama BUMDA Desa Adat Kutuh Desa sakti sebagai peserta study kasus pengelolaan pariwisata pantai pandawa tentunya berkoordinasi dengan pihak Dirut Desa Adat Kutuh dan dipelopori oleh Universitas Udayana untuk mengadakan kesepakatan untuk 28

21 melakukan kegiatan study kasus ke pantai pandawa dan berjalan dengan baik dengan disepakatinya kegiatan pada tanggal 20 Agustus 2016 Pukul Wita. Pelaksanaan Study Kasus Pengelolaan Kawasan Wisata Terintegrasi Berbasis Potensi Desa Adat Dalam pelaksanaan study kasus, diawali dengan materi yang disampaikan secara lisan oleh Maha Manggala Utama (Direktur Utama) BUMDA Desa Adat Kutuh Dr. Drs. I Made Wena, M.Si, yang berlangsung sekitar 120 Menit, dan diikuti dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Lalu Peserta dari desa sakti langsung diajak berkeliling pantai pandawa untuk mengetahui sistem pengelolaan kawasan wisata pantai pandawa secara langsung. Dan diakhiri dengan sesi foto bersama seperti ditunjukkan di gambar 1. Tindakan Pelaksanaan No Kegiatan Tempat Tim Jam/Individu Jumlah 1 Persiapan dan pembagian Desa Sakti 15 orang 5 Jam 75 Jam tugas 2 Perizinan Kepada Maha Desa Kutuh 2 Orang 2 Jam 4 Jam Manggala Utama BUMDA Desa Adat Kutuh 3 Pelaksanaan Study Kasus Desa Sakti 18 Orang 4 Jam 72 Jam Pengelolaan Kawasan Wisata Terintegrasi Berbasis Potensi Desa Adat Total Volume JKEM 35 Orang 11 jam 151 jam Kendala Kegiatan - Tidak ada kendala. Acara berjalan dengan baik. 4.2 Penyuluhans Stasiun Kerja dan Penggunaan APD bagi Industri Kerajinan Seni Ukir Batu Paras o Deskrispsi Kegiatan Perkembangan pariwisata Nusa Penida yang sangat pesat juga menjadi peluang usaha bagi pengerajin batu paras. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya bangunan seperti vila, rumah kost, penginapan yang memanfaatkan ukiran batu paras sebagai aksesoris. 29

22 Disamping itu dengan meningkatnya kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara juga menjadi peluang untuk membuat souvenir dari bahan batu paras putih asli Nusa Penida. Proses pembuatan batu paras ukir dimulai dari menggali batu kapur, kemudian dibuat bakalan dalam berbetuk balok dan bidang dengan ukuran tertentu seperti terlihat dalam Gambar 1. Selanjutnya bakalan diukir dan dirakit menjadi bentuk yang dinginkan sesuai dengan pesanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 2. Produk yang sudah jadi dan dipajang di toko bangunan seperti ditunjukkan Gambara 3. Gambar 1. Bakalan Batu Paras 30

23 Gambar 2. Proses Pengerjaan Gambar 3. Produk Hasil Ukiran Pengerajin seni ukir paras pada umumnya bekerja dalam ruangan/bangunan darurat dengan peralatan kerja sebagian masih tradisional dan sebagian lagi sudah menggunakan electrical hand tools. Kondisi dan lingkungan kerja tukang ukir batu paras ini sangat tidak nyaman, hal ini karena tempat kerjanya biasanya berupa emperan, terpapar angin langsung, sikap kerja yang tidak alamiah, dan monoton, serta tidak menggunakan APD. Kondisi ini menyebabkan pekerja cepat lelah, mengalami gangguan muskuloskeletal, nyeri pinggang, dan gangguan pernapasansehingga berdampak pada rendahnya produktivitas. Berdasarkan survei pendahuluan pada satu kelompok pengerajin ukir di desa Sakti, diketahui ada anggotanya yang menderita sesak napas (asma), berdasarkan pengamatan kondisi ini disebabkan oleh debu yang dihasilkan dari proses pemotongan menggunakan elictric circle sementara pekerja tidak memakai masker. Untuk mengatasi masalah ini maka dilakukan pendekatan dengan penerapan ergonomi untuk memperbaiki sikap kerja dan organisasi kerja serta membudayakan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker sehingga akan tercapai keadaan nyaman dan sehat. o Hasil Kegiatan Evaluasi kegiatan dilakukan terhadap proses dan hasil. Keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat dari aktivitas peserta dan perubahan sikap peserta setelah diberikan 31

24 pemahaman tentang manfaat ergonomi. Kriteria indikatornya adalah pengerajin seni ukir dapat menerapkan ergonomi dengan baik yaitu: (1) mengangkat beban dengan teknik squat, untuk menghindari cedera punggung; (2) menggunakan landasan sebagai alas benda kerja, sehingga punggung tidak membungkuk; (3) menggunakan masker untuk mencegah debu agar tidak terhirup, terutama saat pemotongan menggunakan cutter electric. o Pelatihan dan Demonstrasi Setelah mengikuti ceramah dan diskusi dilanjutkan dengan pelatihan dan demonstrasi cara mengangkat beban yang benar dengan memperagakan teknik squat, sikap duduk yang alami dengan menggunakan landasan sebagai alas benda kerja dan dingklik sebagai tempat duduk, penggunaan masker, serta demo penggunaan alat potong listrik dan gerinda. Kegiatan pelatihan dan demonstrasinya tersebut ditunjukkan dalam Gambar 3.2, dan Gambar 3.3 berikut ini. (a) Mengangkat dengan teknik Squat (b) Benda kerja di atas landasan Gambar 3.2 Teknik mengangkat dan sikap kerja 32

25 (a) Memotong dengan gergaji tangan (b) Memotong menggunakan cutter electric Gambar 3.3 Memotong batu paras 4.3 Pembersihan Pantai Penida dan Gamat Kegiatan bersih-bersih pantai atau clean beach ini di lakukan di dua objek wisata yang ada di Desa Sakti yaitu pantai crystal bay dan pantai gamat bay. Kegiatan ini di lakukan setiap hari minggu pagi jam 8 sampai dengan jam 11 siang dengan melibatkan masyarakat setempat. Kegitan ini berfungsi untuk menjaga lingkungan agar bersih dari sampah terutama sampah plastik dan untuk kenyamanan wisatawan saat berlibur. Persiapan dan pembagian tugas Kegiatan ini diawali dengan survey ke lokasi untuk melihat kondisi di pantai crystal bay dan pantai gamat bay, kemudian merencanakan segala hal yang di butuhkan saat kegiatan ini di laksanakan. Selain itu alat-alat yang dipersiapkan adalah kantong sampah, linggis, cangkul dll. Perizinan kepada kepala Desa Sakti dan ketua pemuda-pemudi Desa Sakti Kegiatan selanjutnya adalah meminta izin untuk melakukan kegiatan clean beach kepada Kepala Desa Sakti dan Ketua pemuda-pemudi sekaligus berkoordinasi dengan Ketua Pemuda dalam penetapan tanggal pelaksanaan kegiatan ini. Pelaksanaan kegiatan materi clean beach Sumberdaya yang berada di kawasan Nusa Penida telah lama dimanfaatkan, dari waktu ke waktu semakin meningkat dan cenderung menurunkan kualitas lingkungannya. Pariwisata yang berada di Nusa Penida tepatnya di desa Sakti merupakan industri yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh baik buruknya 33

26 lingkungan dan sangat peka dalam kerusakan lingkungan, misalnya pencemaran oleh limbah domestik yang berbau dan tampak kotor sampah yang bertumpuk dan kerusakan pemandangan yang disebabkan oleh ulah dari manusia itu sendiri. Perairan Nusa Penida memiliki icon bawah laut, Nusa Penida yang terkenal memiliki ekosistem dan biota pesisir dan laut yang lengkap, terdapat terumbu karang, mega fauna laut yang harus dijaga kebersihan agar tetap indah dipandang dan menyelamatkan biota-biota laut dari kerusakan. Tanpa lingkungan yang baik tidak mungkin pariwisata akan berkembang. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata haruslah memperhatikan terjaganya mutu lingkungan, sebab dalam industri pariwisata lingkungan itulah yang sebenarnya dijual. Seperti halnya dengan industri lain, pariwisata menjadi tidak laku jika mutunya tidak memadai. Maka dari itu dalam pengembangan pariwisata, asas pengelolaan lingkungan untuk melestarikan kemampuan lingkungan guna mendukung pembangunan berkelanjutan bukanlah merupakan hal yang abstrak,melainkan benarbenar konkrit. Tujuan Melaksanakan kebersihan di sepanjang Pantai Penida (Crystal Bay) dan Pantai Gamat Bay. Merumuskan pendekatan perencanaan pengelolaan kawasan Pantai Penida (Crystal Bay) dan Pantai Gamat Bay. Hasil yang diharapkan Wisatawan yang berkunjung di Pantai Crystal Bay dan Pantai Gamat Bay dapat menikmati lingkungan yang bersih. Di harapkannya masyarakat sekitar dapat menjaga kebersihan dikawasan Pantai Crystal Bay dan Gamat Bay. Mewujudkan Lingkungan yang bersih dan nyaman. Praktik di lapangan Praktik bersih-bersih pantai dilakukan di dua lokasi yang berbeda minggu pertama dan kedua dilakukan di pantai gamat bay, kegiatan yang dilakukan adalah membuat jalan dan menyemen jalan bersama masyarakat dan mahasiswa KKN, karena pantai gamat bay yang ada di Desa Sakti belum memiliki jalan akses yang baik sehingga lokasi pantai agak curam hal ini menjadi kendala jalan akses menuju ke pantai gamat bay sampai sekarang masih dalam proses perbaikan. 34

27 Sedangkan minggu ke tiga dan minggu ke empat bersih-bersih pantai dilakukan di pantai crystal bay, kegiatan yang dilakukan adalah memungut sampah yang ada di sekitar pantai. Pantai crytal bay lumayan bersih karena warga disana setiap minggu pagi melakukan bersih-bersih pantai sehingga lingkungan sekitar pantai masih terjaga. Tindakan pelaksanaan No Kegiatan Tempat Tim Jam Jumlah 1. Persiapan dan Desa Sakti 26 orang 4 jam 104 jam pembagian tugas 2. Perizinan kepada kepala Desa Sakti dan ketua pemuda-pemudi Desa Sakti 3. Pelaksanaan kegiatan materi clean beach Desa Sakti 26 orang 2 jam 52 jam Desa Sakti 24 orang 2 jam 48 jam 4. Praktek di lapangan Desa Sakti 24 orang 4 jam 96 jam Minggu pertama 5. Praktek di lapangan Desa Sakti 20 orang 4 jam 80 jam Minggu kedua 6. Praktek di lapangan Desa Sakti 24 orang 4 jam 96 jam Minggu ke tiga 7. Praktek di lapangan Desa Sakti 22 orang 4 jam 88 jam Minggu ke empat Total volume JKEM

28 Lampiran foto kegiatan clean beach Gambar 4.1 Suasana saat membersihkan Pantai Penida Gambar 4.2 Suasana saat membangun infrastruktur jalan bersama warga Dusun Sakti menuju Pantai Gamat 4.4 Pembuatan Situs Web Objek Wisata Desa Sakti o Pelaksanaan Kegiatan pembuatan situs web pariwisata desa sakti dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama adalah melakukan analisa dan perancangan konsep situs 36

29 web, tahap kedua adalah desain tampilan ( front-end), tahap ketiga adalah melakukan pengkodean back-end, tahap keempat adalah uji coba dan tahap kelima adalah pelatihan pada staf desa. Berdasarkan analisa konsep situs web, maka situs web yang dibuat akan berisi empat fitur utama yaitu sistem informasi geografis Desa Sakti yang akan memudahkan wisatawan untuk mengetahui lokasi-lokasi yang penting bagi mereka seperti destinasi wisata, penginapan dan rumah makan. Fitur galeri gambar yang akan memperlihatkan foto-foto pemandangan indah destinasi wisata di Desa Sakti seperti Crystal Bay dan Gamat Bay. Fitur deskripsi destinasi wisata untuk memperjelas keadaan destinasi wisata tersebut. Fitur cerita rakyat yang menjelaskan mengani asal usul sesuatu atau mitos dari Desa Sakti. Pembuatan situs menggunakan Bahasa HTML5, CSS3, Javascript, jquery dan PHP dengan memanfaatkan tools seperti XAMPP, MySQL dan browser seperti Opera, Mozilla FireFox dan Microsoft Edge. Hasil Situs web yang dibuat memiliki empat fitur utama yaitu sistem informasi geografis desa sakti, galeri foto, deskripsi destinasi wisata serta tempat penting lainnya dan cerita rakyat. Situs web yang dibuat dapat dikelola seperti layaknya blog karena telah dibuatkan halaman administrator. Tampilan situs yang digunakan untuk halaman utama pengguna dan administrator bersifat one-page sehingga memudahkan pengguna dalam bernavigasi. Halaman utama untuk pengguna dapat diakses melalui alamat pariwisatadesasakti.com, sedangkan halaman admin dapat diakses melalui pariwisatadesasakti.com/admin.php. Ketika membuka halaman admin, pengguna akan diminta untuk login dengan memasukkan username dan password. 37

30 Gambar 5.1 Form Login Administrator Setelah berhasil login, maka admin akan melihat tampilan halaman admin utama. Pada halaman ini admin dapat menambah dan mengubah data sesuai keinginan. Halaman admin memiliki empat bagian utama, yaitu peta yang merupakan sistem informasi geografis desa Sakti, form untuk menambah data destinasi, form untuk mengunggah gambar berdasarkan destinasi, dan form untuk menambah cerita rakyat. A. Sistem Informasi Geografis Gambar 5.2 Tampilan Sistem Informasi Geografis Desa Sakti Admin dapat menambahkan marker (penanda) destinasi dengan cara mengklik wilayah yang berwarna hijau. Kemudian akan muncul form seperti gambar berikut. 38

31 Gambar 5.3 Form Input Marker Admin cukup memilih nama destinasi yang tersedia pada kotak pilihan. Setelah menekan tombol Save maka halaman akan ter-refresh secara otomatis dan penanda akan muncul pada peta. Jika admin ingin mengubah destinasi dari suatu penanda dapat dilakukan dengan cara menekan penanda yang berada pada peta, kemudian akan muncul form yang berisi kotak pilihan untuk memilih destinasi pada marker tersebut. Jika admin ingin menghapus penanda maka dapat dilakukan dengan cara menekan penanda yang berada pada peta, kemudian akan muncul form, lalu tekan tombol Delete. Halaman akan terrefresh secara otomatis dan penanda akan terhapus. B. Menambahkan Destinasi Gambar 5.4 Form Input Destinasi 39

32 Admin dapat menambah destinasi dengan cara mengetikkan nama destinasi kemudian memilih jenis destinasi lalu menekan tombol Simpan Destinasi. Setelah pengguna menekan tombol tersebut maka pada kotak pilihan Pilih Destinasi destinasi tersebut akan muncul. Admin kemudian dapat mengisi deskripsi mengenai destinasi tersebut lalu menekan tombol Simpan Deskripsi. Untuk mengubah deskripsi, admin dapat memilih destinasi pada kotak pilihan Pilih Destinasi deskripsi sebelumnya otomatis akan muncul pada form deskripsi destinasi, dan admin dapat mengubahnya sesuai keinginan. C. Mengunggah Gambar Destinasi Gambar 5.5 Form Input Gambar untuk Galeri Admin dapat menambahkan gambar destinasi dengan cara memilih destinasi, kemudian menekan tombol Browse untuk mencari gambar yang diinginkan. Admin dapat memilih lebih dari 1 gambar, namun ukuran total gambar yang dapat diunggah hanya 5MB. Setelah pengguna memilih gambar, preview gambar akan muncul, dan admin dapat menekan tombol simpan. D. Menambahkan Cerita Rakyat Gambar 5.6 Form Input Cerita Rakyat 40

33 Admin dapat menambah cerita rakyat dengan cara mengetikkan judul cerita rakyat kemudian menekan tombol Simpan Judul. Setelah pengguna menekan tombol tersebut maka pada kotak pilihan Pilih Cerita cerita tersebut akan muncul. Admin kemudian dapat mengisi deskripsi mengenai cerita tersebut lalu menekan tombol Simpan cerita. Untuk mengubah cerita, admin dapat memilih judul cerita pada kotak pilihan Pilih Cerita deskripsi sebelumnya otomatis akan muncul pada form cerita, dan admin dapat mengubahnya sesuai keinginan. Halaman utama untuk pengguna akan terlihat seperti gambar berikut. 41

34 Gambar 5.7 Halaman Utama Bagi Pengunjung Situs Setelah situs web selesai dibuat dan diuji coba kemudian dilakukan pelatihan pada staf kantor desa untuk dapat mengelola situs ini. Selain diberikan pelatihan staf desa juga diberikan panduan cara penggunaan situs ini dalam bentu file PDF. Gambar 5.8 Proses Pelatihan Penggunaan Situs Web Pada Staf Desa Kendala Kendala yang dihadapi dalam pembuatan situs ini adalah waktu pembuatan yang tidak tentu karena berbenturan dengan program kerja lainnya. Pembuat situs juga memerlukan waktu untuk memahami penggunaan jquery sehingga jika menghadapi kesulitan diperlukan waktu cukup lama untuk mengatasinya. 42

35 4.5 Pembelajaran Bahasa Inggris dan IT pada Anak-Anak Sekolah Dasar Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak desa yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik dalam mengembangkan desanya di bidang pariwisata namun sayang sebagian besar masyarakatnya belum menguasai bahasa asing padahal bahasa merupakan media utama yang dapat mendukung agar interaksi dapat berjalan dan pesan dapat tersampaikan secara benar. Terdapat banyak potensi yang dimiliki oleh Desa Sakti seperti pertanian, peternakan, pariwisata, dan industri kerajinan seni ukir. Di bidang pariwisata, Desa Sakti memiliki 2 objek wisata pantai yaitu Pantai Penida yang oleh wisatawan mancanegara disebut dengan crystal bay dan Pantai Gamat yang jika dikelola dengan baik akan membantu meningkatkan PAD karena pantai ini dapat dijadikan kegiatan fishing, diving dan snorkeling serta ditunjang dengan kerajinan seni ukir yang dapat menarik perhatian para wisatawan baik domestik ataupun mancanegara. Menyadari pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal, maka program kerja ini memberi pengajaran bahasa Inggris, matematika dan pengenalan teknologi informasi bagi anak-anak yang dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar di SDN 1 Sakti, SDN 6 Sakti dan SDN 7 Sakti untuk memperkuat sistem pengelolaan, meningkatkan swadaya masyarakat, dan peningkatan Pendapatan Asli Desa sehingga dapat mensejahterakan masyarakat. Tujuan dari program KKN-PPM ini antara lain: Memberikan pendidikan mengenai bahasa Inggris, Matematika dan IT pada anak-anak sekolah dasar, Membantu guru dan pihak sekolah dalam proses pembelajaran, Memberikan nuansa baru dalam pembelajaran bahasa Inggris, Matematika dan Teknologi Informasi dalam lingkup sekolah formal, dan Menjadi partner serta teman belajar untuk anak-anak sekolah dasar. Persiapan dan Pembagian Tugas Kegiatan ini diawali dengan penyusunan materi pengajaran dengan menyesuaikan kompetensi siswa siswi sd sakti. Selain itu penjadwalan pengajaran pun disesuaikan di membagi tugas kepada seluruh mahasiswa KKN Desa Sakti untuk dapat mengajar di 3 sd di Sakti, yaitu SD 1, 6, dan 7. 43

36 Perizinan Kepada Kepala Desa SD 1, SD 6 dan SD 7 Sakti Kegiatan selanjutnya adalah meminta izin untuk melakukan kegiatan pengajaran kepada Kepala Desa di 3 SD di Sakti sekaligus berkoordinsi dengan Kepala SD dalam penetapan tanggal pelaksanaan jadwal pengajaran. Pelaksanaan Pengajaran. Dalam pelaksanaan pengajaran, materi disampaikan secara lisan dengan menyesuaikan jadwal belajar dari siswa siswi SD 1,6, dan 7, serta disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti oleh anak-anak SD. Untuk memudahkan pengajaran siswa siswi diajak bermain disela-sela pengajaran. Tindakan Pelaksanaan No Kegiatan Tempat Tim Jam/Individu Jumlah 1 Persiapan dan pembagian Desa Sakti 24 orang 4 Jam 96 Jam tugas 2 Perizinan Kepada Kepala SD Desa Sakti 2 Orang 2 Jam 4 Jam 1, SD 6, SD 7 Sakti 3 Pelaksanaan Pengajaran Desa Sakti 24 Orang 4 Jam 96 Jam Total Volume JKEM 26 Orang 10 jam 196 jam Gambar 6.1 Suasana saat proses pengajaran Bahasa Inggris dan TI berlangsung 44

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013 Sejarah Biogas BIOGAS (1770) Ilmuwan di eropa menemukan gas di rawa-rawa. (1875) Avogadro biogas merupakan produk proses anaerobik atau proses fermentasi. (1884) Pasteur penelitian biogas menggunakan kotoran

Lebih terperinci

Bakteri Untuk Biogas ( Bag.2 ) Proses Biogas

Bakteri Untuk Biogas ( Bag.2 ) Proses Biogas Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik

Lebih terperinci

PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK/CAIR MENJADI BIOGAS, PUPUK PADAT DAN CAIR

PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK/CAIR MENJADI BIOGAS, PUPUK PADAT DAN CAIR MODUL: PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK/CAIR MENJADI BIOGAS, PUPUK PADAT DAN CAIR I. DESKRIPSI SINGKAT S aat ini isu lingkungan sudah menjadi isu nasional bahkan internasional, dan hal-hal terkait lingkungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1.Pengertian Biogas Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan bahan organik oleh mikroorganisme (bakteri) dalam kondisi tanpa udara (anaerobik). Bakteri ini

Lebih terperinci

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI Pita Sudrajad, Muryanto, dan A.C. Kusumasari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah E-mail: pitosudrajad@gmail.com Abstrak Telah

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU

TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU Wiwaha Anas Sumadja, Zubaidah, Heru Handoko Staf Pengajar Fakultas Peternakan, Universitas Jambi Abstrak Kotoran ternak sapi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi

Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi Bangkinang-Salah satu kegiatan diseminasi inovasi hasil penelitian dan Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau adalah kegiatan temu lapang. Pada sabtu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peradaban manusia terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Perubahan ini didorong oleh perkembangan pengetahuan manusia, karena dari waktu ke waktu manusia

Lebih terperinci

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI Bambang Susilo Retno Damayanti PENDAHULUAN PERMASALAHAN Energi Lingkungan Hidup Pembangunan Pertanian Berkelanjutan PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BIOGAS Dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi Desa Bakas adalah salah satu dari 13 (tiga belas) Desa di kecamatan Banjarangkan. Desa sebagai subsistem kabupaten/kota merupakan pelaksana pemerintahan, pembangunan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI TENTANG PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN PEMBERDAYAAN USAHA EKONOMI TERPADU WANITA PERDESAAN DI PROVINSI BALI

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI TENTANG PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN PEMBERDAYAAN USAHA EKONOMI TERPADU WANITA PERDESAAN DI PROVINSI BALI GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 201216 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN PEMBERDAYAAN USAHA EKONOMI TERPADU WANITA PERDESAAN DI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LIMBAHPUN BERMANFAAT INOKULAN RB UNTUK PRODUKSI KOMPOS BERMUTU

LIMBAHPUN BERMANFAAT INOKULAN RB UNTUK PRODUKSI KOMPOS BERMUTU LIMBAHPUN BERMANFAAT INOKULAN RB UNTUK PRODUKSI KOMPOS BERMUTU Kini isu pertanian organik makin kuat diwacanakan sejalan dengan makin diminatinya produk-produk pangan organik, makin mahalnya pupuk an organik

Lebih terperinci

MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN TERNAK

MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN TERNAK MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN TERNAK Permintaan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia dari tahun ketahun semakinÿ meningkat, menyebabkan harga minyak melambung. Pemerintah berencana menaikkan lagi harga

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Penelitian TNI

LAMPIRAN. Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Penelitian TNI A. IDENTITAS PERSEPSIDEN LAMPIRAN Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Penelitian Nama : Umur : Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan Pekerjaan : PNS Wiraswasta/Pengusaha TNI Pensiunan Jumlah Ternak dimiliki Lainnya

Lebih terperinci

MEMBUAT SILASE PENDAHULUAN

MEMBUAT SILASE PENDAHULUAN MEMBUAT SILASE Oleh : Drh. Linda Hadju BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI 2014 PENDAHULUAN Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Untuk meningkatkan

Lebih terperinci

Majalah INFO ISSN : Edisi XVI, Nomor 1, Pebruari 2014 BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI

Majalah INFO ISSN : Edisi XVI, Nomor 1, Pebruari 2014 BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI M. Christiyanto dan I. Mangisah ABSTRAK Tujuan dari kegiatan ini adalah peningkatan produktivitas ruminansia, penurunan pencemaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkurangnya cadangan sumber energi dan kelangkaan bahan bakar minyak yang terjadi di Indonesia dewasa ini membutuhkan solusi yang tepat, terbukti dengan dikeluarkannya

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk

PENGANTAR. Latar Belakang. Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk PENGANTAR Latar Belakang Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga yang berbasis pada keragaman bahan pangan asal ternak dan potensi sumber

Lebih terperinci

Sepuluh Faktor Sukses Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternak

Sepuluh Faktor Sukses Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternak Sepuluh Faktor Sukses Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternak Oleh: Dede Sulaeman, ST, M.Si Pemanfaatan kotoran ternak menjadi energi biasa disebut dengan pemanfaatan biogas. Berdasarkan definisinya, biogas

Lebih terperinci

I. DESKRIPSI KEGIATAN

I. DESKRIPSI KEGIATAN I. DESKRIPSI KEGIATAN 1.1 JUDUL KKN PPM Manggis. 1.2 TEMA Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Buah Manggis Sebagai Komoditas Ekspor Unggulan 1.3 LOKASI Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN KKN-PPM BAB I DESKRIPSI KEGIATAN

RENCANA KEGIATAN KKN-PPM BAB I DESKRIPSI KEGIATAN RENCANA KEGIATAN KKN-PPM BAB I DESKRIPSI KEGIATAN 1.1. Judul Peran Mahasiswa Universitas Udayana dalam PemberdayaanMasyarakatuntukMensosialisasikanPerilakuHidupSehatdanMeningkatka nproduktivitasdesabayunggedesebagaidesawisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan energi gas memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi. berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya.

BAB I PENDAHULUAN. dan energi gas memang sudah dilakukan sejak dahulu. Pemanfaatan energi. berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Energi mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas manusia sangat tergantung pada energi. Berbagai alat pendukung, seperti alat penerangan,

Lebih terperinci

Program Bio Energi Perdesaan (B E P)

Program Bio Energi Perdesaan (B E P) Program Bio Energi Perdesaan (B E P) Salah satu permasalahan nasional yang kita hadapi dan harus dipecahkan serta dicarikan jalan keluarnya pada saat ini adalah masalah energi, baik untuk keperluan rumah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Biogas merupakan salah satu energi berupa gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Biogas merupakan salah satu energi terbarukan. Bahanbahan yang dapat

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN (JERAMI) DAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN (JERAMI) DAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS LAPORAN TUGAS AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN (JERAMI) DAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS Disusun Oleh: ALDINO OVAN YUDHO K. INDRA KUSDWIATMAJA I8311001 I8311024 PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

Lebih terperinci

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

Kompos Cacing Tanah (CASTING) Kompos Cacing Tanah (CASTING) Oleh : Warsana, SP.M.Si Ada kecenderungan, selama ini petani hanya bergantung pada pupuk anorganik atau pupuk kimia untuk mendukung usahataninya. Ketergantungan ini disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis energi yang terjadi secara global sekarang disebabkan oleh ketimpangan antara konsumsi dan sumber energi yang tersedia. Sumber energi fosil yang semakin langka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Analisis Situasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Analisis Situasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Analisis Situasi Berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Udayana Nomor: 156/H14/HK/2010 tentang Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Wujud nyata ini dapat

Lebih terperinci

Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat. dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan

Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat. dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian dan peternakan merupakan satu kesatuan terintegrasi yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. Pembangunan kedua sektor ini bertujuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai potensi biomassa yang sangat besar. Estimasi potensi biomassa Indonesia sekitar 46,7 juta ton per tahun (Kamaruddin,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi memiliki peran penting dan tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Terlebih, saat ini hampir semua aktivitas manusia sangat tergantung pada energi.

Lebih terperinci

BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA. Kelompok Tani Usaha Maju II. Penerima Penghargaan Energi Prakarsa Kelompok Masyarakat S A R I

BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA. Kelompok Tani Usaha Maju II. Penerima Penghargaan Energi Prakarsa Kelompok Masyarakat S A R I BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA Kelompok Tani Usaha Maju II Penerima Penghargaan Energi Prakarsa 2011 - Kelompok Masyarakat S A R I Kelompok Tani Usaha Maju II adalah salah satu Penerima Penghargaan Energi Prakarsa

Lebih terperinci

LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI

LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI Istiyarto Ismu Manager Kampanye Bali Barat Pengantar Strategi penyingkir halangan yang diterapkan oleh Yayasan Seka dalam rangka penyelamatan habitat Jalak Bali (Leucopsar

Lebih terperinci

MODUL PENERAPAN TEKNOLOGI BIOGAS MELALUI DAUR ULANG LIMBAH TERNAK

MODUL PENERAPAN TEKNOLOGI BIOGAS MELALUI DAUR ULANG LIMBAH TERNAK MODUL PENERAPAN TEKNOLOGI BIOGAS MELALUI DAUR ULANG LIMBAH TERNAK Oleh : Drs. Budihardjo AH, M.Pd. Dosen Teknik Mesin FT Unesa LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM: BIOGAS DARI LIMBAH DAUN BAWANG MERAH SEBAGAI SUMBER ENERGI RUMAH TANGGA ALTERNATIF DI KABUPATEN BREBES

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM: BIOGAS DARI LIMBAH DAUN BAWANG MERAH SEBAGAI SUMBER ENERGI RUMAH TANGGA ALTERNATIF DI KABUPATEN BREBES PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM: BIOGAS DARI LIMBAH DAUN BAWANG MERAH SEBAGAI SUMBER ENERGI RUMAH TANGGA ALTERNATIF DI KABUPATEN BREBES BIDANG KEGIATAN: PKM-PENERAPAN TEKNOLOGI Diusulkan Oleh:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Judul Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Judul Kegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Judul Kegiatan Kegiatan KKN PPM yang dilaksanakan di Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini memiliki judul Program Peningkatan Taraf Kesehatan dan Kesejahteraan Penduduk

Lebih terperinci

PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA

PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA PENDAHULUAN Petani pakai pupuk kimia Tekstur & struktur tanah ( sulit diolah & asam) Mobilisasi unsur hara Suplai

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH BAGLOG

TEKNOLOGI PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH BAGLOG TEKNOLOGI PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH BAGLOG Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si. Widyaiswara Madya I. PENDHULUAN A. Latar Belakang Energi mempunyai peranan yan sangat penting dalam kehidupan manusia, karena

Lebih terperinci

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah peternak yang mengusahakan anakan ternak sapi dengan jumlah kepemilikan sapi betina minimal 2 ekor.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura berjenis umbi lapis yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomis tinggi serta

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga VI. ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Ketersediaan Input Dalam mengusahakan ternak sapi ada beberapa input yang harus dipenuhi seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan,

Lebih terperinci

PROSPEK PENGEMBANGAN BIOGAS DI KABUPATEN LOMBOK BARAT. Oleh:

PROSPEK PENGEMBANGAN BIOGAS DI KABUPATEN LOMBOK BARAT. Oleh: ISSNNo.2355-9292 JurnalSangkareangMataram 29 PROSPEK PENGEMBANGAN BIOGAS DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh: I Made Anggayuda Pramadya 1), I Gusti Lanang Parta Tanaya 2) dan Adinul Yakin 2) 1) Dosen Fakultas

Lebih terperinci

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pupuk Organik Unsur hara merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan pupuk sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan

Lebih terperinci

Ketua Tim : Ir. Salundik, M.Si

Ketua Tim : Ir. Salundik, M.Si BIODIGESTER PORTABLE SKALA KELUARGA UNTUK MENGHASILKAN GAS BIO SEBAGAI SUMBER ENERGI Ketua Tim : Ir. Salundik, M.Si DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB II RANCANGAN KEGIATAN

BAB II RANCANGAN KEGIATAN BAB II RANCANGAN KEGIATAN 2.1 Rencana Program KKN TEMATIK 2.1.1 Program Pokok Tema No Nama Program Sumber Dana 1 Pembuatan Peraturan Iuran Air Minum 2 Pembuatan Saringan Air 2.1.2 Program Bantu Tema No

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waktu demi waktu kini industri baik industri rumahan maupun pabrik semakin banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri meskipun letaknya dekat

Lebih terperinci

Iklim Perubahan iklim

Iklim Perubahan iklim Perubahan Iklim Pengertian Iklim adalah proses alami yang sangat rumit dan mencakup interaksi antara udara, air, dan permukaan daratan Perubahan iklim adalah perubahan pola cuaca normal di seluruh dunia

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Biogas Biogas adalah gas yang terbentuk melalui proses fermentasi bahan-bahan limbah organik, seperti kotoran ternak dan sampah organik oleh bakteri anaerob ( bakteri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 6% 1% Gambar 1.1 Sumber Perolehan Sampah di Kota Bandung

BAB I PENDAHULUAN 6% 1% Gambar 1.1 Sumber Perolehan Sampah di Kota Bandung 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan sampah di Kota Bandung merupakan masalah yang belum terselesaikan secara tuntas. Sebagai kota besar, jumlah penduduk Kota Bandung semakin bertambah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tema Memajukan Desa Demulih melalui Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih dan Gerakan Indonesia Tertib.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tema Memajukan Desa Demulih melalui Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih dan Gerakan Indonesia Tertib. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tema Memajukan Desa Demulih melalui Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih dan Gerakan Indonesia Tertib. 1.2 Lokasi Kegiatan Desa Demulih, Kecamatan Susut, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan. Limbah Cair Industri Tahu COD. Digester Anaerobik 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Kerangka Teori Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Energi Terbarukan Limbah Cair Industri Tahu Bahan Organik C/N COD BOD Digester Anaerobik

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA DKI Jakarta merupakan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 13,7 ribu/km2 pada tahun

Lebih terperinci

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA AgroinovasI SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ternak ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan rusa dan lain-lain mempunyai keistimewaan dibanding ternak non ruminansia yaitu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sampah masih merupakan masalah bagi masyarakat karena perbandingan antara

I. PENDAHULUAN. Sampah masih merupakan masalah bagi masyarakat karena perbandingan antara I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Sampah masih merupakan masalah bagi masyarakat karena perbandingan antara jumlah sampah yang dihasilkan dengan sampah yang diolah tidak seimbang. Sampah merupakan

Lebih terperinci

Oleh: ANA KUSUMAWATI

Oleh: ANA KUSUMAWATI Oleh: ANA KUSUMAWATI PETA KONSEP Pencemaran lingkungan Pencemaran air Pencemaran tanah Pencemaran udara Pencemaran suara Polutannya Dampaknya Peran manusia Manusia mempunyai peranan dalam pembentukan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk kemakmuran rakyat hendaknya dilakukan secara terencana, rasional, optimal,

BAB I PENDAHULUAN. untuk kemakmuran rakyat hendaknya dilakukan secara terencana, rasional, optimal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sub-sektor peternakan yang merupakan bagian integral dari sector pertanian pembangunanya terus diupayakan melalui peningkatan usaha diversifikasi, intensifikasi, dan

Lebih terperinci

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu :

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu : PROJECT DIGEST NAMA CLUSTER : Ternak Sapi JUDUL KEGIATAN : DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI pembibitan menghasilkan sapi bakalan super (bobot lahir > 12 kg DI LOKASI PRIMA TANI KABUPATEN TTU PENANGGUNG JAWAB

Lebih terperinci

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI Sampah?? semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga

Lebih terperinci

ANALISIS BIAYA PRODUKSI PENGOLAHAN PAKAN DARI LIMBAH PERKEBUNAN DAN LIMBAH AGROINDUSTRI DI KECAMATAN KERINCI KANAN KABUPATEN SIAK

ANALISIS BIAYA PRODUKSI PENGOLAHAN PAKAN DARI LIMBAH PERKEBUNAN DAN LIMBAH AGROINDUSTRI DI KECAMATAN KERINCI KANAN KABUPATEN SIAK ANALISIS BIAYA PRODUKSI PENGOLAHAN PAKAN DARI LIMBAH PERKEBUNAN DAN LIMBAH AGROINDUSTRI DI KECAMATAN KERINCI KANAN KABUPATEN SIAK Susy Edwina, Dany Varian Putra Fakultas Pertanian Universitas Riau susi_edwina@yahoo.com

Lebih terperinci

PROPOSAL PROGAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA KAMBING MODERN DENGAN TEKNIK FERMENTASI PAKAN DI BIDANG PETERNAKAN PKM KEWIRAUSAHAAN.

PROPOSAL PROGAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA KAMBING MODERN DENGAN TEKNIK FERMENTASI PAKAN DI BIDANG PETERNAKAN PKM KEWIRAUSAHAAN. PROPOSAL PROGAM KREATIVITAS MAHASISWA BUDIDAYA KAMBING MODERN DENGAN TEKNIK FERMENTASI PAKAN DI BIDANG PETERNAKAN PKM KEWIRAUSAHAAN Diusulkan oleh : Indah Novita Sari F 0315042 / 2015 Riantika Nur Hidayati

Lebih terperinci

Analisis Kelayakan Ekonomi Alat Pengolah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Biogas

Analisis Kelayakan Ekonomi Alat Pengolah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Biogas Analisis Kelayakan Ekonomi Alat Pengolah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Biogas Tofik Hidayat*, Mustaqim*, Laely Dewi P** *PS Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal ** Dinas Lingkungan

Lebih terperinci

cair (Djarwati et al., 1993) dan 0,114 ton onggok (Chardialani, 2008). Ciptadi dan

cair (Djarwati et al., 1993) dan 0,114 ton onggok (Chardialani, 2008). Ciptadi dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu merupakan komoditi pertanian yang utama di Provinsi Lampung. Luas areal penanaman ubi kayu di Provinsi Lampung pada tahun 2009 adalah sekitar 320.344

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI SAMPAH DAUN KAMPUS MEMAKAI REAKTOR BIODIGISTER PENELITIAN

KAJIAN AWAL PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI SAMPAH DAUN KAMPUS MEMAKAI REAKTOR BIODIGISTER PENELITIAN KAJIAN AWAL PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI SAMPAH DAUN KAMPUS MEMAKAI REAKTOR BIODIGISTER PENELITIAN Oleh : NYOMAN ANDIKA MAULANA 0631010018 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Organisasi Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama dalam suatu pembagian kerja untuk mencapai tujuan bersama (Moekijat, 1990). Fungsi struktur

Lebih terperinci

PERNYATAAN ABSTRAK ABSTRACT KATA

PERNYATAAN ABSTRAK ABSTRACT KATA DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii ABSTRACT... iii KATA PENGANTAR... iv UCAPAN TERIMAKASIH... v DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia adalah kebutuhan akan pangan. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat akan pemenuhan pangan, maka banyak industri

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH

V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH 5.1. Sejarah dan Perkembangan P4S Nusa Indah Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa Indah adalah sebuah pusat pelatihan usaha jamur tiram dan tanaman hias

Lebih terperinci

Edisi Juni 2013 No.3511 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

Edisi Juni 2013 No.3511 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian Zero Waste Integrasi Pertanian Tanaman Pangan dan Ternak Pada Lahan Sawah Tadah Hujan Indonesia sebagai negara agraris yang beriklim tropis memiliki sumberdaya pertanian dan peternakan yang cukup besar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tema Kegiatan 1.2 Lokasi Kegiatan 1.3 Bidang Kegiatan 1.4 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tema Kegiatan 1.2 Lokasi Kegiatan 1.3 Bidang Kegiatan 1.4 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tema Kegiatan Pengembangan Taraf Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan, Kesehatan, dan Peningkatan Produktivitas di Desa Pemuteran. 1.2 Lokasi Kegiatan Kuliah Kerja

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI

TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI I. Pendahuluan Ternak ruminansia diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati dan banyak manfaatnya bagi masyarakat. Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati dan banyak manfaatnya bagi masyarakat. Lingkungan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Lingkungan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamis, kaya keanekaragaman hayati dan banyak manfaatnya bagi masyarakat. Lingkungan pantai ini sangat

Lebih terperinci

PUPUK KANDANG MK : PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN SMT : GANJIL 2011/2011

PUPUK KANDANG MK : PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN SMT : GANJIL 2011/2011 PUPUK KANDANG MK : PUPUK DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN SMT : GANJIL 2011/2011 TUJUAN PEMBELAJARAN Memahami definisi pupuk kandang, manfaat, sumber bahan baku, proses pembuatan, dan cara aplikasinya Mempelajari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri penghasil devisa non migas di

I. PENDAHULUAN. Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri penghasil devisa non migas di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri penghasil devisa non migas di Indonesia dengan komoditas utama yaitu minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO). Minyak sawit

Lebih terperinci

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO 10.1. Kebijakan Umum Penduduk Kabupaten Situbondo pada umumnya banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba sebagian besar bahan

BAB I PENDAHULUAN. Ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba sebagian besar bahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba sebagian besar bahan pakannya berupa hijauan. Pakan hijauan dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK MENJADI BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA (Oleh: ERVAN TYAS WIDYANTO, SST.)

TEKNOLOGI PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK MENJADI BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA (Oleh: ERVAN TYAS WIDYANTO, SST.) TEKNOLOGI PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK MENJADI BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA (Oleh: ERVAN TYAS WIDYANTO, SST.) PENDAHULUAN Makin mahal dan langkanya BBM, menyebabkan makin tingginya kebutuhan hidup peternak.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun mempunyai sumber daya minyak melimpah, Indonesia masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

2015 POTENSI PEMANFAATAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI DESA CIPOREAT KECAMATAN CILENGKRANG KABUPATEN BANDUNG

2015 POTENSI PEMANFAATAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI DESA CIPOREAT KECAMATAN CILENGKRANG KABUPATEN BANDUNG 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Sebagian besar energi yang digunakan di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pupuk Bokasi adalah pupuk kompos yang diberi aktivator. Aktivator yang digunakan adalah Effective Microorganism 4. EM 4 yang dikembangkan Indonesia pada umumnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam negeri sehingga untuk menutupinya pemerintah mengimpor BBM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam negeri sehingga untuk menutupinya pemerintah mengimpor BBM BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Masyarakat di Indonesia Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia sangat problematik, hal ini di karenakan konsumsi bahan bakar minyak ( BBM ) melebihi produksi dalam

Lebih terperinci

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah Oleh : Nur Laili 3307100085 Dosen Pembimbing : Susi A. Wilujeng, ST., MT 1 Latar Belakang 2 Salah satu faktor penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini masalah sampah menjadi permasalahan yang sangat serius terutama bagi kota-kota besar seperti Kota Bandung salah satunya. Salah satu jenis sampah yaitu sampah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju peningkatan produktivitas tanaman padi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung melandai, ditandai salah satunya dengan menurunnya produksi padi sekitar 0.06 persen

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. 1.1 Kesimpulan

BAB IV PENUTUP. 1.1 Kesimpulan 1.1 Kesimpulan BAB IV PENUTUP Berdasarkan latar belakang pada KKN Tematik Revolusi Mental XIII di Desa Gubug ini diangkat tema Indonesia Melayani, Indonesia Bersih, dan Indonesia Tertib. Pemanfaatan lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI

BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI KKN-PPM merupakan media penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat secara sistematis dalam program pemberdayaan masyarakat. KKN- PPM adalah upaya perwujudan

Lebih terperinci

BAB II REALISASI PENYELESAIAN MASALAH

BAB II REALISASI PENYELESAIAN MASALAH BAB II REALISASI PENYELESAIAN MASALAH a. Tema dan Program Untuk tujuan yang ingin dicapai, maka diusulkan program dengan tema Optimalisasi Pengolahan Sampah dan Pola Hidup Sehat Guna Mewujudkan Lingkungan

Lebih terperinci

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 Sesi : PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

Lebih terperinci

APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI

APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI Fatati, Sri Novianti, Adriani dan Jul Andayani Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Lebih terperinci

RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN

RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN MASKAMIAN Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Jl. Jenderal Sudirman No 7 Banjarbaru ABSTRAK Permintaan pasar

Lebih terperinci

BAB I DESKRIPSI KEGIATAN

BAB I DESKRIPSI KEGIATAN BAB I DESKRIPSI KEGIATAN 1.1 Judul Tema Pengabdian Masyarakat Berbasis Inovasi dan Tri Dharma Perguruan Tinggi Untuk Mengembangkan Potensi Desa Sulangai. Dengan tema pengembangan potensi Desa Sulangai.

Lebih terperinci

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi i PETUNJUK PRAKTIS MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PAKAN TERNAK SAPI Penyusun: Nurul Agustini Penyunting: Tanda Sahat Panjaitan

Lebih terperinci

PEMBUATAN INSTALASI UNTUK BIOGAS DARI ENCENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES ) YANG EFISIEN UNTUK LAHAN KECIL

PEMBUATAN INSTALASI UNTUK BIOGAS DARI ENCENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES ) YANG EFISIEN UNTUK LAHAN KECIL PEMBUATAN INSTALASI UNTUK BIOGAS DARI ENCENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES ) YANG EFISIEN UNTUK LAHAN KECIL Fahma Riyanti, Poedji Loekitowati, Nova Yuliasari, Nurlisa Hidayati, Eliza, Dosen Fakultas Matematika

Lebih terperinci

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak 1. Limbah Cair Tahu. Tabel Kandungan Limbah Cair Tahu Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg Proses Tahu 80 kg manusia Ampas tahu 70 kg Ternak Whey 2610 Kg Limbah Diagram

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Simantri, Subak Renon, Dampak.

ABSTRAK. Kata kunci : Simantri, Subak Renon, Dampak. ABSTRAK Ahmad Surya Jaya. NIM 1205315020. Dampak Program Simantri 245 Banteng Rene Terhadap Subak Renon di Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar. Dibimbing oleh: Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, SU dan Ir.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai dari sumber daya alam yang diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Dengan potensi tanah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk

I. PENDAHULUAN. anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan usaha tani yang intensif telah mendorong pemakaian pupuk anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan adalah

Lebih terperinci