IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 58 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Alam a. Lokasi Penelitian, Keadaan Topografi dan Iklim Desa Pranan merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan yang paling luas di Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kecamatan Polokarto. Secara administratif Desa ini terbagi dibagi menjadi 4 RW dan 15 RT dimana terdiri dari beberapa dukuh dengan pembagian wilayah sebagai berikut: RW I: Dukuh Kuluwan (RT 1), Dukuh Kuluwan (RT 2) dan Dukuh Dukuh (RT 3) RW II: Dukuh Pranan (RT 1), Dukuh Sudan (RT 2), Dukuh Pronojayan (RT 3) dan Dukuh Ngiri Pasar (RT 4) RW III: Dukuh Terpengan (RT 1), Dukuh Terpengan (RT 2), Dukuh Kalangan (RT 3), Dukuh Tegalrejo (RT 4) dan Dukuh Tegalrejo (RT 5) RW IV: Dukuh Balong (RT 1), Dukuh Menggah (RT 2), Dukuh Menggah (RT 3) Luas wilayah Desa Pranan adalah 194 ha atau 3,12% dari keseluruhan luas wilayah Kecamatan Polokarto yang memiliki luasan total sebesar ha dimana penggunaan terbesarnya untuk lahan pertanian. Luas yang digunakan untuk lahan sawah sebesar 135 ha atau 69,59% dari jumlah luas keseluruhan desa (Tabel 7). Jarak pusat pemerintahan wilayah Desa Pranan dengan Kecamatan Polokarto adalah 10 km, dan jarak dengan Kabupaten Sukoharjo adalah 14 km, dengan batas wilayah sebagai berikut: Sebelah utara : Kecamatan Mojolaban Sebelah selatan : Desa Pandeyan Sebelah barat : Kecamatan Grogol Sebelah timur : Desa Bugel 58

2 59 Topografi Desa Pranan sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Polokarto tergolong dalam kelompok daerah yang miring serta sebagai tempat tertinggi se-kabupaten Sukoharjo dengan ketinggian 125 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lahan berdasarkan wilayah Kecamatan ini mulai dari 2% hingga >40%. Daerah ini beriklim tropis dan bertemperatur sedang dimana terdapat musim hujan dan musim kemarau yang silih berganti sepanjang tahun dengan suhu udara rata-rata 23 C- 32 C, sedangkan kelembaban udara bervariasi dari 75% sampai dengan 92%, dan rata-rata hari hujan tahunan di tahun 2013 sebanyak 95 hari/tahun serta banyaknya curah hujan mm/tahun dengan rata-rata curah hujan sebesar 148 mm/tahun (LAKIP, 2013:42). b. Keadaan Lahan dan Tataguna Lahan Luas wilayah merupakan potensi yang dimiliki suatu wilayah yang dapat memberikan manfaat bagi penduduk yang mendiami wilayah tersebut apabila didayagunakan secara optimal. Luas wilayah dengan jenis tanah yang berbeda-beda akan membuat pemanfaatan lahan yang berbeda pula tergantung kebutuhan dan kesesuaian dari potensi lahan tersebut. Wilayah Desa Pranan terdiri dari tanah sawah 135 ha (69,59%), dan pekarangan 54 ha (27,84%) dan sisanya 5 ha untuk penggunaan lain. Data mengenai luas wilayah dan tipe pemanfaatan lahan di Desa Pranan pada tahun 2013 terlihat pada Tabel 10. Tabel 10. Luas Lahan di Desa Pranan Menurut Pemanfaatannya Jenis tanah Luas (Ha) (%) Tanah Sawah a. Irigasi teknis b. Irigasi setengah teknis c. Irigasi sederhana d. Tadah hujan e. Lain-lain 2 Tanah kering a. Pekarangan/bangunan b. Tegal/kebun c. Lain-lain 69,59 69, ,41 27,84 0 2,57 Jumlah Sumber : Kecamatan Polokarto dalam Angka Tahun 2013

3 60 Sumber: Analisis Data Sekunder, 2014 Gambar 4. Diagram Lingkaran Persentase Lahan Menurut Jenis Tanah di Desa Pranan Tahun 2013 Tabel 10 dan gambar 4 memperlihatkan bahwa lahan yang tersedia sebagian besar berupa jenis tanah sawah. Jenis tanah ini kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok lahan berdasarkan penggunaannya, untuk tanah sawah Desa Pranan berdasarkan tabel 10 hanya terdapat tanah sawah dengan sistem irigasi teknis saja yaitu 135 ha (total luasaan lahan tanah sawah), hal ini dikarenakan suplai pengairan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman sepanjang tahun, aliran irigasi ini berasal dari waduk Colo Timur yang koordinasinya melalui organisasi P3A Dharma Tirta yang ada di tiap desa Kecamatan Polokarto, sehingga tidak terdapat jenis irigasi lain seperti irigasi setengah teknis, sederhana, tadah hujan ataupun jenis irigasi lainnya. Bagian lahan yang lebih kecil berupa tanah kering yang berdasarkan penggunaannya ada 2 macam, yaitu pekarangan/bangunan sebesar 27,84% dan penggunaan lainnya sebesar 2,57%. Berdasarkan pembagian tata guna lahan yang ada, Desa Pranan berpotensi untuk pengembangan komoditas tanaman dengan kebutuhan penggenangan air yang cukup sepanjang tahun, dan padi merupakan salah satu tanaman yang sangat potensial untuk dibudidayakan di tanah jenis ini. Meski padi sawah adalah yang sangat cocok ditanam di sini, namun tidak menutup kemungkinan desa ini berpotensi untuk ditanami komoditas lain seperti jagung, kacang tanah dan kedelai serta buah seperti semangka dan melon seperti yang ditanam di desa lain dalam satu area kecamatan ini

4 61 (Kecamatan Polokarto Dalam Angka, 2013:65). Desa Pranan memiliki potensi tanaman pangan selain padi namun meski demikian petani di daerah ini kurang minat untuk membididayakannya, karena kebiasaan lama petani wilayah kabupaten Sukoharjo yang sudah turun-temurun tidak bisa lepas dari bertanam padi sawah, sehingga berbagai upaya dikerahkan agar usaha tanam padinya tetap berjalan sepanjang tahun. 2. Keadaan Penduduk a. Jumlah Penduduk Penduduk merupakan setiap orang yang menetap pada suatu daerah yang menjadi unsur penting dalam setiap kegiatan ekonomi dan dalam usaha membangun perekonomian suatu daerah. Keberadaannya menjadi objek dan subjek pembangunan daerah, penduduk juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduknya. Jumlah dan kepadatan penduduk Desa Pranan tahun disajikan pada Tabel 11: Tabel 11. Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Pranan Tahun Tahun Luas Daerah (Km 2 ) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan (Jiwa/Km 2 ) ,94 1,94 1, Sumber : Kecamatan Polokarto dalam Angka, keluaran tahun Sumber: Analisis Data Sekunder, 2014 Gambar 5. Diagram Batang Jumlah Penduduk di Desa Pranan Tahun Tabel 11 menyajikan jumlah penduduk Desa Pranan dari tahun mengalami pertumbuhan yang positif. Luas lahan yang tetap

5 62 dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kepadatan penduduk tiap Km 2 juga mengalami peningkatan yang positif. Tahun 2010, Desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak jiwa sehingga diperoleh kepadatan penduduk sebesar jiwa/km 2. Tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 10 jiwa sehingga kepadatan penduduk naik 5 jiwa/km 2. Tahun 2012 kembali mengalami peningkatan sebesar 12 jiwa sehingga kepadatan penduduk naik 6 jiwa/km 2. Peningkatan jumlah penduduk dapat dilihat dengan lebih jelas melalui sajian Gambar 5. b. Komposisi Penduduk 1) Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin Desa Pranan terbagi menjadi penduduk yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Komposisi ini mengalami perubahan dari pencatatan tahun Komposisi ini akan disajikan dalam Tabel 12. Tabel 12. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Pranan Tahun Tahun Laki-Laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Sex Rasio ,95 98,56 98,44 Sumber: Kecamatan Polokarto Dalam Angka, keluaran tahun Sumber: Analisis Data Sekunder, 2014 Gambar 6. Diagram Batang Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Desa Pranan Tahun Gambar 6 memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki di Desa Pranan dari tahun 2010 hingga 2012 mengalami perubahan yang

6 63 positif, perubahan angkanya ditunjukkan Tabel 12 dimana terjadi peningkatan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2 jiwa dari tahun 2010 ke tahun 2011, dan meningkat kembali sebanyak 5 jiwa dari data tahun 2011 ke tahun Komposisi jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan berdasarkan Gambar 6 juga membentuk grafik yang positif, dimana dari tahun 2010 sampai tahun 2012 terus mengalami kenaikan. Tahun 2011 ke tahun 2012 menurut Tabel 12 dan Gambar 6 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk perempuan sebesar 8 jiwa, dan tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat sebanyak 7 jiwa. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa angka peningkatan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki, namun pertumbuhan jumlah perempuan mengalami penurunan dari peningkatan sebesar 8 menjadi 7 jiwa saja pada kurun waktu 3 tahun tersebut dan pertumbuhan jumlah laki-laki mengalami peningkatan dari naik 2 jiwa naik menjadi 5 jiwa. Jumlah penduduk perempuan di desa pranan lebih banyak dibanding penduduk laki-lakinya. Perbandingan ini dapat dilihat berdasarkan besaran perbandingan sex rasio yang ada di daerah tersebut. Gambaran sex rasio dapat dilihat pada Gambar 7. Sumber: Analisis Data Sekunder, 2014 Gambar 7. Sex Rasio Penduduk Desa Pranan Tahun Sex ratio merupakan perbandingan banyaknya penduduk lakilaki dengan penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu

7 64 tertentu, biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan dengan rumus : jumlahpenduduklaki laki Sex Ratio = x100 jumlahpendudukperempuan Diambil contoh perhitungan tahun 2012 sebagai berikut, Sex Rasio = x = 98,44= 98 orang Perhitungan tersebut didapat sex rasio sebesar 98, artinya jika pada suatu wilayah terdapat 100 orang perempuan, maka di wilayah tersebut terdapat 98 orang laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan perempuan dan lelaki di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo sebesar 100:98. Gambar 7 menunjukkan gambaran perubahan yang negatif, dimana sex rasio yang terjadi dari data kurun waktu yang diteliti mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan pertumbuhan penduduk berjenis kelamin perempuan di Desa ini dalam kurun waktu 3 tahun terakhir lebih tinggi dari laki-laki. 2) Komposisi Penduduk Menurut Pendidikan Formal Tingkat pendidikan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia yang menjadi modal peningkatan pembangunan serta dapat memperlancar proses pembangunan. Jumlah penduduk yang mendapatkan pendidikan hingga jenjang tinggi merupakan salah satu indikator bahwa penduduk cenderung mempunyai tingkat pemikiran yang maju. Hal ini dapat digunakan untuk memajukan daerahnya sendiri dengan memberdayakan sumber daya yang ada secara optimal. Jumlah penduduk menurut pendidikan formal yang ditamatkan di Desa Pranan tahun 2010 disajikan dalam Tabel 13.

8 65 Tabel 13. Jumlah Penduduk Usia 5 Tahun ke atas menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Desa Pranan (Sensus Tahun 2010) No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) (%) Tidak/ Belum Pernah Sekolah 296 Tidak/ Belum Tamat SD Tamat SD/ MI 651 Tamat SLTP/ Mts 565 Tamat SLTA/ MA 16 Akademi/ Diploma 26 S1/ S2/ S ,34 40,14 24,93 21,64 0,61 1,00 0,34 Jumlah ,00 Sumber : Hasil Sensus Penduduk Kecamatan Polokarto, BPS, Tahun 2010 Sumber : Analisis Data Sekunder, 2014 Gambar 8. Persentase Jumlah Penduduk Usia 5 Tahun ke Atas menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Desa Pranan Tahun Tabel 13 menunjukkan bahwa pendidikan penduduk Desa Pranan paling tinggi adalah tidak/belum tamat SD dengan persentase yang ditunjukkan Gambar 8 sebesar 40,14%, dan yang paling rendah adalah tamatan S1/S2/S3 dengan persentase sebesar 0,34%. Jumlah keseluruhan ini berdasarkan usia 5 tahun ke atas, dimana pada range usia ini dianggap sebagai batas seseorang memperoleh pendidikan secara formal, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (5-6 tahun) hingga perguruan tinggi yang tidak dibatasi oleh usia. Jumlah keseluruhan penduduk yang bersekolah adalah orang dari jumlah total penduduk range usia 5 tahun ke atas sebanyak orang, sedangkan jumlah penduduk di desa ini yang masuk dalam kategori tidak bersekolah sebanyak orang. Besarnya jumlah penduduk yang mengenyam pendidikan formal tidak lebih tinggi dari

9 66 yang tidak bersekolah artinya sebagian besar penduduk belum cukup sadar akan kebutuhan pendidikan formal bagi kepentingan hidupnya Sejumlah penduduk yang tidak mengenyam pendidikan dikarenakan alasan keterbatasan ekonomi maupun kesadaran terhadap pentingnya pendidikan yang belum dimiliki. Persentase tingkat pendidikan tinggi tidak begitu besar sehingga tingkat pendidikan Desa Pranan belum bisa dikategorikan maju. 3. Keadaan Pertanian Sektor pertanian memegang peranan penting dalam kegiatan pembangunan perekonomian di Desa Pranan. Peranan pentingnya ini membutuhkan dukungan berupa sarana dan prasarana yang menunjang, salah satunya berupa prasarana irigasi. Data sekunder Kecamatan Polokarto Dalam Angka 2013 menunjukkan bahwa Desa Pranan memiliki luas total lahan sawah sebesar 135 ha dengan keseluruhannya beririgasi teknis, karena Desa ini mendapatkan saluran irigasi langsung yang berasal dari waduk Colo Timur di Kabupaten Wonogiri bagian barat (Kecamatan Selogiri), sehingga pasokan air cenderung lancar untuk tiap tahunnya. Luas total lahan panen padi sawah Desa Pranan pada Tahun 2013 adalah 316 ha. Desa Pranan secara keseluruhan memiliki lahan pertanian yang hanya ditanami tanaman pangan berupa padi sawah saja sesuai catatan dalam data sekunder perolehan dari data Kecamatan Polokarto dalam Angka tahun Hal ini menunjukkan bahwa tanaman padi sebagai komoditi makanan pokok masih merupakan pilihan utama petani dalam usaha tani atau bercocok tanam. Perekonomian Desa Pranan tidak hanya bisa berjalan dengan satu macam sektor saja. Penunjang perekonomian wilayah ini selain mengusahakan tanaman pangan juga didukung adanya masyarakat yang mengusahakan budidaya ternak. Adapun jumlah ternak besar dan kecil di Desa Pranan dapat dilihat pada Tabel 14.

10 67 Tabel 14. Jumlah Ternak Besar dan Kecil di Desa Pranan No Komoditas Jumlah (Ekor) Sapi Kambing Domba Kerbau Ayam Kampung Itik/angsa Sumber: Cabang Dinas Pertanian Kecamatan, Kecamatan Polokarto dalam Angka, Tabel 14 menunjukkan bahwa jenis ternak yang paling banyak diusahakan oleh masyarakat desa ini berupa ayam kampung dengan jumlah ekor. Hal ini dapat disebabkan karena pemeliharaan ayam kampung cukup mudah dan sangat menguntungkan karena tidak memerlukan perawatan khusus. Pemeliharaan ayam dapat dijadikan usaha sampingan yang tidak memerlukan tempat yang terlalu luas, dan dana yang dibutuhkan tidak banyak. Penjualan dapat dilakukan kapan saja, dapat dijual ke pasar ataupun ke tengkulak yang ada di sekeliling rumah penduduk. 4. Gambaran Kelompok Tani di Lokasi Penelitian Kelompok tani merupakan kumpulan petani yang dibentuk berdasarkan keakraban dan keserasian serta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya dalam suatu kawasan wilayah pertanian. Anggota kelompok tani adalah para petani sebagai pengelola usaha tani yang terdaftar dari berbagai golongan usia. Anggota kelompok tani didasarkan pada wilayah garapan lahan usaha tani ataupun satu dusun sehingga dapat berbentuk kelompok hamparan atau kelompok domisili tergantung dari kondisi penyebaran penduduk dan lahan usaha taninya di wilayah tersebut. Penumbuhan kelompok tani perlu memperhatikan kondisi-kondisi kesamaan kepentingan sumber daya alam, sosial ekonomi, keakraban, saling mempercayai dan keserasian hubungan antar petani sehingga setiap anggota kelompok dapat merasakan, memiliki dan menikmati manfaat sebesar-besarnya dari kelompok. Jumlah kelompok tani di Desa Pranan adalah 4 kelompok yang tersebar di 11 dukuh dengan jumlah anggota 212 orang. Secara umum kelompok tani di Desa Pranan sudah berdiri lebih dari 20 tahun. Kegiatan

11 68 yang umum dilakukan kelompok tani Desa Pranan adalah melakukan pertemuan rutin, mendistribusikan bantuan dari pemerintah seperti pupuk, bibit, sebagai fasilitas untuk mengadakan kegiatan penyuluhan serta sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi dari petani khususnya anggota kelompok tani. Keanggotaannya didasarkan pada area lahan pertanian yang dimiliki atau digarap petani, sehingga anggotanya menyebar di semua dukuh Desa ini tiap kelompoknya. Empat kelompok tani Desa ini memiliki ukuran lahan yang dikelola berkisar 134,5 Ha ditambah sejumlah lahan yang disewakan dari tanah kas Desa. Jumlah anggota kelompok tani Pranan I sebanyak 53 orang, Kelompok Pranan II sebanyak 88 orang, kelompok Pranan III sebanyak 35 orang dan kelompok Pranan IV sebanyak 36 orang yang berada menyebar di masing-masing dukuh Desa Pranan. Rata-rata anggota menanam padi sawah. Namun, Akhir-akhir ini juga terdapat beberapa petani yang menanam tanaman palawija dan buah yang dirasa lebih banyak memberikan keuntungan daripada tanaman padi saja. Meskipun biaya usaha tanamnya lebih tinggi dibandingkan bertanam padi. Ketua Kelompok tani Sekretaris Bendahara Anggota Sumber: Analisis Hasil Wawancara, 2014 Gambar 9. Struktur Kelompok Tani di Desa Pranan Stuktur organisasi kelompok tani Desa Pranan terdiri dari Ketua kelompok tani, Sekretaris dan Bendahara kemudian Anggota. Fungsi dari masing-masing struktur itu tidak berbeda dengan fungsi struktur lainnya. Ketua kelompok tani mempunyai fungsi untuk mengatur dan mengkoordinasi semua anggota kelompok guna mencapai tujuan organisasinya. Sekretaris sebagai orang yang mengurus semua hal yang berhubungan dengan administrasi kelompok tani. Bendahara untuk

12 69 mengatur keuangan organisasi. Semuanya bertanggung jawab pada anggota kelompok tani. Ketua kelompok tani mempunyai dua peranan penting dalam kelompok tani yaitu sebagai manajer maupun sebagai pemimpin. Secara khusus Ketua kelompok tani di Desa Pranan memiliki fungsi penghubung antara pihak pemerintah maupun dinas lainnya dengan anggota-anggotanya, sebagai koordinator berbagai kegiatan yang dilakukan kelompok tani, sebagai perwakilan kelompok untuk kegiatan-kegiatan yang diadakan lembaga-lembaga pertanian, dan sebagai fasililator bagi anggota-anggotanya dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam usaha tani yang dialami. Sekretaris dan Bendahara di kelompok tani Desa Pranan dijabat oleh orang yang berbeda. Beberapa kelompok tani terdapat fungsi sekretaris dan bendaharanya dirangkap oleh satu orang sehingga disebut sebagai Sekben (sekretaris-bendahara). Sekretaris dan Bendahara ini mempunyai peranan penting bagi kelompok karena keduanya merupakan pengurus inti pembantu ketua kelompok tani menjalankan tugas. Pengganti ketua ketika berhalangan tidak bisa melakukan fungsinya yaitu diganti oleh sekretaris ataupun bendaharanya. B. Identitas Responden Responden dalam penelitian ini diambil secara systematic sampling dengan selang 2 dari daftar anggota Kelompok Tani Pranan 2 yang ada di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Identitas responden yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lima indikator yang berkontribusi dalam penelitian ini. Datanya dapat dilihat pada Tabel 15.

13 70 Tabel 15. Identitas Responden No Keterangan Kategori Jumlah (orang) (%) 1. Jenis Kelamin Laki-laki 46 97,87 Perempuan 1 2,13 Jumlah Usia (thn) , ,06 > ,53 Jumlah 47 99,99 3. Luas Usaha (Ha) < 0, ,66 0, ,32 > ,02 Jumlah ,00 a. Lahan Milik sendiri < 0,75 0,75-1 > ,80 48,94 4,26 Jumlah ,00 b. Lahan Sewa 0,25 0, ,77 19, ,09 Jumlah ,01 4. Lama ikut Kelompok Tani (thn) < , ,09 > ,02 Jumlah ,00 5. Jumlah tanggungan keluarga , ,62 >6 1 2,13 Jumlah ,01 Sumber : Analisis Data Primer, 2014 Tabel 15 baris nomor satu menunjukkan komposisi responden berdasarkan jenis kelamin, dimana dari 47 responden terdapat 1 orang perempuan dan 46 laki-laki. Komposisi responden didominasi oleh petani berjenis kelamin laki-laki, berbeda dengan sex rasio penduduk Desa Pranan tahun (Bab IV: 62) yang menunjukkan rasio perbandingan rata-rata perempuan dan laki-laki adalah 99 yang artinya jumlah perempuan lebih besar 1 jiwa dibanding laki-laki dalam perbandingan 100 orang perempuannya. Komposisi responden ini disebabkan karena yang sering mengikuti kegiatan kelompok tani adalah laki-laki, selain itu kaitannya dengan keaktifan di lahan sawah dimana biasanya laki-laki lebih dominan daripada perempuan. Penyebab lainnya yaitu kegiatan perempuan lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi rumah tangga dan kebetulan perempuan yang menjadi responden hanya satu orang saja berdasarkan teknik yang dipakai. Dengan demikian keaktifan dan

14 71 keikutsertaaan perempuan di Desa Pranan dalam kegiatan kelompok tani dinilai lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki. Usia mempengaruhi seseorang dalam merespon hal baru, selain itu usia juga mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Tabel 15 baris nomor dua menunjukkan komposisi responden berdasarkan usia, berikut ini dijelaskan dalam diagram pada Gambar 10 mengenai komposisi responden berdasarkan kelompok usia agar lebih mudah dipahami: Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 10. Diagram Persentase Komposisi Responden berdasarkan Kelompok Usia Gambar 10 menunjukkan bahwa komposisi responden berdasarkan kelompok usia didominasi kelompok usia tahun, dimana kelompok ini masih berada pada golongan usia produktif. Golongan usia produktif memiliki kecenderungan berpikir yang dewasa dengan kematangan usia dan kecukupan pengalaman yang dimiliki. Golongan ini juga berada pada masa-masa dimana beban dan tanggung jawab keluarga itu besar di tangan mereka, sehingga menuntut untuk harus terus bekerja secara produktif. Menurut Hasyim (2003;71), umur petani adalah salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kemampuan kerja dalam melaksanakan kegiatan usahatani, umur dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk melihat aktivitas seseorang dalam bekerja bilamana dengan kondisi umur yang masih produktif maka kemungkinan besar seseorang dapat bekerja dengan baik dan maksimal. Kelompok usia responden didominasi oleh kelompok usia produktif, meskipun demikian tidak berarti petani pada kelompok usia yang tidak lagi produktif tidak melibatkan diri dalam usaha pertanian. Artinya semakin tua

15 72 seseorang maka semakin panjang daftar pengalaman dalam hidupnya. Pada bidang pertanian jika pengetahuan bertani seorang petani diperoleh sejak kecil dari orang tuanya maka pengalaman dan pengetahuan bertaninya akan berjalan sesuai perjalanan hidupnya, dalam (Kurniawati, 2012:72). Akan tetapi keterbukaannya untuk menerima hal baru tidak semudah orang dengan usia lebih muda yang cenderung lebih banyak memperoleh informasi mengenai kemajuan jaman. Jumlah total luas lahan garapan responden adalah 43,75 ha, dan luas lahan garapan tiap responden bervariasi. Luas lahan yang digarap akan berpengaruh terhadap pembagian subsidi bantuan yang didistribusikan pemerintah melalui kelompok tani misalnya distribusi pupuk, bibit dan sebagainya. Tabel 15 baris nomor tiga menunjukkan data luas lahan garapan responden, gambaran persentase lahan garapan responden akan diperjelas dengan sajian Gambar 11. Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 11. Diagram Persentase Komposisi Responden berdasarkan Luas Lahan Garapan Gambar 11 menunjukkan bahwa petani responden di Desa Pranan ratarata memiliki luasan lahan garapan total berkisar 0,75 Ha hingga 1 Ha. Seluruh responden berstatus sebagai pemilik dan penggarap, berdasarkan Tabel 15 baris nomor 3 poin kedua menunjukkan bahwa persentase tertinggi adalah pada luasaan lahan 0,75 Ha hingga 1 Ha. Sebagian responden juga merangkap sebagai petani penyewa artinya petani tersebut mengganti uang sebagai kompensasi lahan yang digarap dari lahan sewanya tersebut. Jumlah responden yang bertindak sebagai penyewa sebanyak 15 orang dengan persentase

16 73 tertinggi dari lahan yang disewa adalah responden yang menyewa lahan seluas 0,5 ha. Lahan sewa Desa ini berasal dari tanah kas Desa yang dikhususkan untuk disewakan kepada para anggota kelompok tani di daerah ini dalam rangka mengembangkan usaha pertaniannya. Lahan sewa di Desa ini dibatasi luasan sewanya agar bisa merata untuk semua anggota kelompok tani yang membutuhkan, yaitu minimal 0,25 ha (0,5 patok) dan maksimal 0,5 ha (1 patok) dimana sewanya sebesar 10 juta rupiah per patok per tahunnya. Hasil sewa yang terkumpul akan dimasukkan ke kas Desa, sebagai tambahan pengahasilan Desa. Lamanya keikutsertaan seseorang dalam sebuah organisasi berpengaruh pada produktivitas dan kesungguhannya dalam organisasi tersebut. Tabel 15 baris nomor empat menunjukkan lamanya keikutsertaan petani menjadi anggota kelompok tani Pranan II, berikut ini Gambar 12 yang akan memperjelas gambaran persentase tentang lamanya keikutsertaan responden dalam kelompok tani: Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 12. Diagram Persentase Komposisi Responden berdasarkan Lama Keikutsertaan dalam Kelompok Tani Gambar 12 menunjukkan bahwa komposisi responden berdasarkan lama keikutsertaan dalam kelompok tani rata-rata berada pada kategori 10 hingga 20 tahun. Artinya sebagian besar petani padi sawah Desa Pranan telah memiliki cukup banyak pengalaman diukur dari lamanya keikutsertaan sebagai anggota kelompok tani. Lamanya keikutsertaan dalam kelompok tani

17 74 didistribusikan dengan usia dianggap sesuai, dimana tingkat pengalaman yang cukup banyak dalam kelompok usia yang produktif didapati satu kedewasaan berpikir yang sejalur. Menurut Soekartawi (2003:55), pengalaman seseorang dalam berusahatani berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar dan pengalaman seseorang yang cukup lama akan memberikan pengaruh pada mereka dalam mengambil keputusan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Semua responden hampir memulai keanggotaannya bersamaan dengan dimulainya profesi bertaninya itu. Petani yang sudah terlalu lama menjadi bagian kelompok tani akan mengakibatkan kejenuhan dan ketidakproduktifan dalam organisasi. Namun, hal ini sulit dihindari karena memang kelompok tani merupakan organisasi yang berada di desa-desa dan merupakan oganisasi turun-temurun yang mungkin secara struktur akan berganti. Namun, kelompok tani akan selalu ada sehingga kemungkinan petani yang ada di wilayah kelompok tani tersebut akan menjadi anggota kelompok tani tersebut selama masih hidup karena tidak ada pensiun. Jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan dalam usaha taninya. Semakin besar tanggungan maka biaya rumah tangga yang akan dikeluarkan juga akan semakin tinggi. Seperti dalam (Soekartawi 2003: 43), semakin banyak anggota keluarga akan semakin besar pula beban hidup yang akan ditanggung atau harus dipenuhi. Jumlah tanggungan keluarga mempengaruhi jumlah tenaga kerja dari luar yang akan digunakan dalam suatu usaha tani, semakin banyak jumlah anggota keluarga atau tanggungan keluarga dapat mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja dari luar, sehingga mampu memperkecil jumlah pengeluaran atau biaya mengusahakan. Tabel 15 baris nomor lima menunjukkan komposisi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga. Diagram persentase komposisinya akan diperjelas pada Gambar 13.

18 75 Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 13. Diagram Persentase Komposisi Responden berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Gambar 13 memperlihatkan persentase yang paling tinggi dimiliki oleh responden dengan kelas jumlah tanggungan 3 sampai 6 orang sebesar 93,62%. Artinya sebagian besar petani padi sawah Desa Pranan memiliki jumlah tanggungan yang terhitung sedang sehingga tidak akan menimbulkan biaya pemenuhan kebutuhan yang terlalu besar atau masih mudah dijangkau masyarakat di wilayah ini bila diasumsikan bahwa pemasukan hanya berasal dari usaha tani saja. Jumlah tanggungan pada kelas ini juga akan mengurangi biaya pengeluaran tenaga kerja luar apabila seluruh keluarga bisa terjun langsung dalam kegiatan pertanian, ataupun jika tidak semua keluarga bisa ikut serta dalam kegiatan usaha tani, paling tidak anggota keluarga lain akan ikut menyumbangkan pendapatan dari usaha lain di luar pertanian. Tingkat pendidikan responden juga turut mempengaruhi keaktifan dalam berkelompok. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi cara seseorang merespon berbagai hal. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 16 sebagai berikut. Tabel 16. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) (%) 1 Akademi/ Sarjana 4 8,51 2 SMA/SMK 20 42,55 3 SMP 13 27,66 4 SD 10 21,28 Jumlah ,00 Sumber: Analisis Data Primer, 2014

19 76 Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 14. Diagram Persentase Komposisi Responden menurut Tingkat Pendidikannya Tabel 16 dan Gambar 14 menunjukkan bahwa lulusan SMA dan setingkatnya menduduki persentase paling tinggi, yaitu sebesar 42,55%. Artinya kesadaran akan pendidikan dari sebagian besar Petani padi sawah sudah cukup tinggi di Desa ini, akantetapi masih perlu ditingkatkan lagi sehingga kualitas SDM akan lebih maju. SDM yang maju akan memudahkan penduduk di Desa ini khususnya petani padi sawah dalam menerima segala macam informasi dan inovasi baru sehingga mampu menyetarakan keadaan dengan globalisasi yang sedang berkembang saat ini. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka kesadaran berorganisasinya lebih besar dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya rendah. Dikemukakan oleh (Soekartawi, 2003:63) bahwa banyaknya atau lamanya sekolah/ pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapannya dalam pekerjaan tertentu. Pendidikan formal tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai pengetahuan petani di Desa Pranan khususnya kelompok tani Pranan II karena pendidikan yang bersifat non formal juga akan mendukung upaya peningkatan pengetahuan petani, terutama bagi petani yang tidak sempat bersekolah secara formal. Pendidikan non-formal juga mempengaruhi cara berpikir petani untuk menerima hal baru, seperti yang disampaikan Bapak Heri dari divisi Tanaman Hasil Pangan, Dinas Pertanian Sukoharjo menerangkan bahwa pada bulan September 2014 dilaksanakan Sekolah Lapang Iklim bagi petani se Kecamatan Polokarto (sesuai pembagian wilayah kerjanya). Kegiatan Sekolah Lapang Iklim ini juga diiyakan oleh Bapak Sarbini selaku pegawai

20 77 kantor Balai Desa Pranan yang menangani bagian pertanian, beliau menerangkan bahwa Desa Pranan telah mengirim semua ketua kelompok taninya sebagai perwakilan untuk melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim tersebut, cara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan petani terhadap pertanian khususnya pengetahuan tentang iklim. Beliau juga menambahkan bahwa pertemuan anggota kelompok tani Desa Pranan dilaksanakan secara rutin setiap 2 minggu sekali dan lebih intensif ketika terjadi permasalahan yang serius. C. Iklim Wilayah Penelitian Keadaan iklim daerah penelitian dapat digunakan untuk mengukur terjadi tidaknya peristiwa perubahan iklim pada suatu wilayah. Perubahan iklim ditandai oleh perubahan dari indikatornya. Indikator tersebut antara lain berupa suhu, curah hujan, kelembaban, angin, tinggi permukaan laut, emisi gas, dan lain sebagainya. Penelitian mengenai perubahan iklim yang sederhana dapat dilakukan dengan indikator suhu dan curah hujan, selain itu kedua unsur iklim ini memang yang paling erat kaitannya dengan pertanian dibandingkan unsur iklim yang lain. Berikut ini keadaan iklim wilayah penelitian berdasarkan indikator perubahan iklim: 1. Suhu Suhu permukaan bumi rata-rata secara tahunan meningkat sekitar 0,3 C, menurut (Adiyoga, et al., 2012: 3). Peningkatan suhu memicu kehadiran fenomena perubahan iklim. Peningkatan suhu tidak hanya terjadi secara global, namun juga terjadi secara lokal. Besar perubahan suhu secara lokal berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat lain, namun perubahannya rata-rata sama yaitu mengalami peningkatan. Berikut ini data mengenai perubahan suhu yang terjadi selama 5 tahun terakhir yang bisa didapat dari stasiun klimatologi terdekat dengan daerah penelitian, karena Kabupaten Sukoharjo belum memiliki catatan data khusus mengenai suhu sehingga dipakailah data yang disajikan dalam Gambar 15.

21 78 Sumber: Analisis Data Sekunder, Puslitbang FK. UNS Kr Anyar, Stasiun Klimatologi Klas I, Semarang, 2012 Gambar 15. Grafik Perubahan Suhu yang terjadi di Wilayah Penelitian Gambar 15 menunjukkan lonjakan peningkatan suhu paling drastis terjadi pada tahun 2006 ke 2007 dari 26,8 C menjadi rata-rata 27,6 C dengan peningkatan sebesar 0,8 C. Tahun 2008 menurun sebesar 0,4 C, tahun 2009 meningkat kembali sebesar 0,3 C, tahun 2010 tidak terjadi perubahan secara rata-rata dan kemudian menurun kembali 0,3 C. Grafik tersebut menunjukkan gambaran peningkatan suhu yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat karena rata-ratanya berada di atas suhu normal rata-rata permukaan bumi yaitu 27 C. Rata-rata suhu permukaan bumi daerah penelitian yang meningkat menjadi salah satu indikasi terjadinya perubahan iklim. Hal tersebut kemudian memicu terjadinya dampak berupa perluasan penyebaran OPT seperti yang dirasakan responden (akan dibahas pada pokok bahasan selanjutnya). Suhu yang semakin hangat akan menyebabkan siklus hama tanaman khususnya wereng batang coklat (WBC) menjadi lebih baik karena terbentuknya habitat yang sesuai dengan siklus hidup binatang ini. Kejadian ini didukung pola tanam yang sama sehingga tidak terjadi pemotongan siklus, sehingga menyebabkan terjadinya ledakan perkembang biakan opt ini. Ledakan serangan OPT semacam ini akan menyebabkan penurunan pada produksi padi sawah. Seperti dalam (Ameden dan David, 2001:2), banyak ahli biologi memprediksi penambahan frekuensi serangan dari optopt yang eksotis sebagai akibat dari peningkatan temperatur global.

22 79 2. Curah Hujan Curah hujan merupakan indikator perubahan iklim yang berkaitan erat dengan pertanian berikutnya. Menurut (Anonim, 2014:1), curah hujan di Indonesia memiliki kecenderungan menurun tiap musimnya per tahun 1960, kejadian tersebut memiliki kecenderungan penurunan yang sama pada semua musim, bervariasi antara -7,5 mm (3,3%) per dekade di Oktober, November, Desember hingga -8,9 mm per bulan (3,6%) per dekade. Namun, penurunan proporsional terbesar terjadi di musim kemarau Juli, Agustus, September, sebanyak -4,8% per dekade. Curah hujan rata-rata wilayah penelitian yang di dapat dari stasiun pencatat curah hujan terdekat disajikan dalam Gambar 16. Sumber: BMKG Jateng, 2013 Gambar 16. Grafik Normal Curah Hujan Tahun dengan Stasiun Hujan Salatiga Gambar 16 menunjukkan bahwa curah hujan wilayah stasiun hujan Salatiga dan sekitarnya mengalami penurunan dari grafik yang ditunjukkan tahun ke tahun rata-rata tiap bulannya. Data ini sesuai dengan paragraf sebelumnya yang menyatakan bahwa curah hujan Indonesia cenderung menurun, dan hal tersebut terbukti bahwa penurunan curah hujan tidak hanya terjadi secara global saja namun juga terjadi secara lokal yang lebih sempit. Data curah hujan 10 tahun terakhir dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo untuk Kecamatan Polokarto disajikan pada Gambar 17.

23 80 Sumber: Analisis Data Sekunder, Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, 2014 Gambar 17. Grafik Curah Hujan Kecamatan Polokarto Tahun Gambar 17 menunjukkan bahwa curah hujan wilayah Kecamatan Polokarto dari tahun mengalami kecenderungan menurun. Grafik menunjukkan fluktuasi yang terjadi hampir setiap tahunnya, hal ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim terjadi di daerah ini. Kecenderungan curah hujan yang menurun memicu perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan air bagi kebutuhan pertanian, penurunan curah hujan berangsur tiap tahunnya namun dari angka yang ditunjukkan masih berada di atas tingkat curah hujan normal seperti dalam(anonim, 2012 b : 29), bahwa curah hujan rata-rata tahunan secara global mencapai 990 millimetre (39 in). Keadaan yang masih di atas normal inilah yang menjadikan penurunan curah hujan tiap tahunnya belum memberikan dampak yang cukup berarti bagi petani padi sawah Desa Pranan, selain karena pasokan air irigasi teknis dari waduk Colotimur yang mencukupi kebutuhan air selama ini. kecenderungan penurunan curah hujan ini perlu diwaspadai untuk kedepannya, sebagai upaya antisispasi terhadap perubahan iklim yang mungkin terjadi akan lebih ekstrim yang akan menyebabkan kurangnya pasokan kebutuhan air untuk proses produksi tanaman padi sawah.

24 81 D. Hasil Pengukuran Variabel Empat permasalahan yang telah dirumuskan diukur berdasarkan konsep pengukuran yang telah dibentuk pada bab sebelumnya guna mempermudah cara menganalisis penelitian ini. Empat masalah ini mencakup empat variabel diantaranya adalah variabel pengetahuan petani terhadap perubahan iklim, variabel dampak perubahan iklim yang dirasakan petani responden, strategi adaptasi responden terhadap fenomena perubahan iklim dan perbedaan pendapatan rata-rata antara responden dalam strategi adaptasi kategori sangat adaptif dengan kategori cukup dan belum adaptif. Keempat variabel ini mencakup sub-sub variabel masing-masing yang kemudian dituangkan kedalam Tabel 17 untuk mempermudah dalam pembacaan hasil penelitian ini.

25 82 Tabel 17. Hasil Pengukuran Variabel Data Variabel dan No Sub- variabel 1. Pengetahuan Petani terhadap Perubahan Iklim. a.tingkat pengetahuan petani terhadap peru-bahan iklim b.perubahan unsur iklim yang dirasakan petani c.sumber informasi 2. Dampak Perubahan Iklim 3. Strategi Adaptasi Anak Sub Variabel 1) Pengetahuan lokal petani terhadap perubahan iklim 2) Pengetahuan petani terhadap perubahan iklim sesuai definisi 3) Lama petani merasakan Perubahan Iklim 1) Suhu, 2) Curah hujan, 1) Kondisi ketersediaan air, 2) serangan OPT 3) Produksi Hasil Pengukuran Kategori Skor Jumlah (%) Akumulasi 3 Sub Paham/Mengerti Hanya tahu Tidak tahu sama sekali Akumulasi 3 anak Sub Paham/Mengerti Hanya tahu Tidak tahu sama sekali Akumulasi 2 anak Sub Peka Kurang peka Tidak peka sama sekali Sangat maju Maju Kurang maju Akumulasi Sub Berdampak Besar Berdampak Sedang Berdampak Kecil Akumulasi 2 Sub Sangat adaptif Cukup adaptif Kurang adaptif 13,6 17,3 9,8 13,5 6,0 9, ,30 38,30 23,40 Jumlah ,00 6,6 8,3 4,8 6,5 3,0 4, ,79 38,30 31,91 Jumlah ,00 4,9 6,2 3,4 4,8 2,0 3, ,19 14,89 31,91 Jumlah 47 99,99 2,5 3,2 5 10,64 1,8 2, ,45 1,0 1, ,91 Jumlah ,00 6,2 7,2 5,1 6,1 4,0 5, ,85 2,13 17,02 Jumlah ,00 28,8 31,1 26,4 28,7 24,0 26, ,55 25,53 31,91 Jumlah 47 99,99 a. Strategi adaptasi yang dipilih b.kapasitas /kemampuan adaptasi 4. Perbedaan Rata-rata Pendapatan 1) Keterampilan manajerial usaha tani 2) Ketersadiaan lembaga sharing; misalnya lembaga penyuluh - Keikutsertaan dalam kegiatan sharing - Kemanfaatan lembaga sharing 3) Penguasaan teknologi usahatani yang lebih produktif dan adaptif terhadap variabilitas iklim terkait dengan kiat-kiat menghadapi efek perubahan iklim; 4) Kemampuan mengakses pinjaman modal - kemudahan mendapatkan pinjaman modal - besar perolehan pinjaman 5) Kemampuan merespon kebijakan pemerintah terkait adaptasi perubahan iklim 6) Kemampuan menjangkau pasar input - Jarak - Kemudahan mengakses jalan 7) Kemampuan menjangkau pasar output - Jarak - Kemudahan mengakses jalan Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Memilih >4 adaptasi Memilih 2-4 adaptasi Memilih 1 adaptasi Akumulasi 7 anak Sub Sangat baik Cukup baik Belum baik 2,6 3,3 1,8 2,5 1,0 1, ,43 59,57 0 Jumlah ,00 25,9 28,2 23,4 25,8 21,0 23, ,45 29,79 12,77 Jumlah ,01 Z 0,025 = ±1,97 (pengujian dua sisi) Z hitung = -0,97 Tidak dapat menolak H0, karena Z hitung dalam penerimaan H0 (tidak ada perbedaan rata-rata pada pendapatan petani dari dua kelompok kategori adaptasi)

26 83 Faktor Penyebab Perubahan Iklim : 1. Efek Rumah Kaca yang menyebabkan Global Warming 2. Aktivitas Manusia 3. Faktor Alamiah dalam Sistem Iklim 4. Proses Alamiah dalam Sistem Iklim Perubahan Iklim: 1. peningkatan/penurunan suhu 2. perubahan jumlah dan pola curah hujan 3.kejadian perubahan iklim ekstrim, dll. Pertanian Subsektor Tanaman Pangan (Padi Sawah) 2 Unsur Iklim yang Berkaitan Erat dengan Pertanian (indikator perubahan iklim): 1. Suhu 2. Curah Hujan Pengetahuan Petani tentang Perubahan Iklim Kategori: Paham/mengerti= 38,30% Hanya tahu= 38,30% Tdak tahu sama sekali= 23,40% Dampak yang dirasakan Petani Padi Sawah terhadap perubahan Iklim Kategori: Berdampak besar= 80,85% Berdampak sedang= 2,13% Berdampak kecl= 17,02% Perbedaan Rata-Rata Pendapatan Petani Responden Dalam Strategi Adaptasi Kategori Sangat Adaptif Dengan Kategori Cukup dan Belum Adaptif: Zhitung= -0,97 (berada dalam daerah penerimaan Ho) Adaptasi Strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, sektor pertanian Kategori: Sangat adaptif= 42,55% Cukup adaptif= 25,53% Kurang adaptif= 31,91% Keterangan = Batasan kajian Gambar 18. Bagan Kerangka Hasil Pengukuran Variabel Tabel 17 menunjukkan hasil analisis data primer untuk menyelesaikan persoalan dari empat perumusan masalah yang didapatkan berdasarkan tujuannya. Hasil analisis data ini akan dibahas secara komprehensif dengan menggabungkan teori-teori yang telah dipaparkan di bab-bab sebelumnya dan ditunjang dengan data primer pendukung serta data sekunder yang berkontribusi dengan penelitian ini. Berikut ini pembahasan variabel serta subsubnya: 1. Pengetahuan Petani Padi Sawah Desa Pranan mengenai Perubahan Iklim Petani Desa Pranan merasakan adanya dampak perubahan iklim di daerahnya, hal tersebut diperlihatkan dari dampak yang dirasakan berupa penurunan produksi padi sawah. Penurunan produksi ini ditandai dengan dampak lain berupa penyebaran opt secara besar-besaran, inilah yang

27 84 menyebabkan tidak sedikit petani mengalami gagal panen. Meskipun para petani padi sawah di daerah penelitian bisa merasakan dampak yang terjadi, namun tidak semuanya mengetahui dan memahami apa itu perubahan iklim. Oleh karena itu penting dalam penelitian ini mencari tahu bagaimana kondisi pengetahuan responden mengenai perubahan iklim, sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk mencari solusi meningkatkan pengetahuan petani mengenai kerentanan dan dampak dari perubahan iklim agar bisa disebar-luaskan dan memberi pemecahan untuk permasalahan yang sama. Pengetahuan petani mengenai perubahan iklim dapat dinilai menggunakan tiga indikator yaitu dari sisi tingkat pengetahuan responden terhadap fenomena perubahan iklim berdasarkan local knowledge, pengetahuannya tentang perubahan iklim secara global, serta pengetahuannya mengenai mulai kapan perubahan itu dirasakan. Indikator kedua dilihat dari sisi perubahan unsur iklim yang dirasakan petani berdasarkan keadaan suhu dan curah hujan 5-10 tahun terakhir. Indikator ketiga berdasarkan sumber informasi yang diperoleh responden mengenai perubahan iklim. Indikator untuk menilai pengetahuan responden mengenai perubahan iklim ini dapat dianalisis dengan menggunakan rumus lebar interval sebagai berikut : Adapun rumus diatas dapat digunakan untuk menilai pengetahuan responden di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto mengenai perubahan iklim sebagai berikut: a) Tingkat Pengetahuan Petani mengenai Perubahan Iklim Tingkat pengetahuan petani mengenai perubahan iklim menunjukkan seberapa besar petani mengenal dan memahami apa itu perubahan iklim, baik dari sisi pengetahuannya terhadap perubahan iklim dalam local knowledge, pengetahuan mengenai perubahan iklim secara definitif dan juga seberapa lama mereka merasakan fenomena yang terjadi tersebut hingga saat ini (tahun penelitian). Tiga indikator tersebut

28 85 dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan antar responden mengenai keseluruhan perubahan iklim sebagai isu yang sedang banyak didiskusikan secara internasional ini. Berikut ini diagram persentase ketiga indikator tersebut disajikan pada Gambar 18: Sumber: Analisis Data Primer, 2014 Gambar 19. Tiga Diagram Persentase Indikator Penentu Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Perubahan Iklim. Gambar 19 menunjukkan persentase dari tiga indikator yang menentukan tingkat pengetahuan responden terhadap perubahan iklim. Gambar tersebut didapatkan dari analisis Tabel 17 baris nomor 1 poin a,b dan c. Diagram pertama (kiri atas) menggambarkan persentase dari indikator pengetahuan responden terhadap iklim dalam perspektif local knowledge, dimana jumlah yang paling tinggi adalah pada responden dengan kategori tidak tahu sama sekali yaitu sebesar 48,94% dari keseluruhan responden yang dimintai keterangan melalui wawancara. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden mampu menyebutkan jenis local knowledge, namun masih salah atau tidak bisa menyebutkan, jawaban petani yang salah itu misalnya petani menjawab bahwa mereka bercocok tanam hanya berpatokan pada apa yang petani lain lakukan

29 86 sebagai awal tanam maupun panennya. Kriteria ini dengan persentase palng rendah adalah kategori hanya tahu yaitu sebesar 12,77%, hal ini menunjukkan bahwa petan dalam kategori ini hanya sebatas tahu pengetahuan iklim berdasarkan local knowledge namun mereka tidak paham bagamana cara kerjanya. Gambaran tersebut dapat diartikan bahwa sebagian besar pengetahuan responden yaitu 61,71% (akumulasi kategori hanya tahu dan tidak tahu sama sekali) mengenai iklim dalam perspektif local knowledge sudah mulai luntur. Kebanyakan dari responden tidak mengetahui dengan pasti alasan atau acuan apa yang mereka gunakan untuk kegiatan pertaniannya. Local knowledge yang disebutkan oleh responden dalam kategori paham/mengerti biasanya mengacu pada pranata mangsa (mangsa kasa, karo, katiga, kapat, kalimo, kaenem, kapitu, kawolu, kasanga, kasepuluh, dastha, dan sodo), rasi bintang (misalnya, rasi lumbung/ crux melambangkan mangsa katiga, banyak angkrem/scorpio melambangkan mangsa kalimo, waluku/orion melambangkan mangsa kasepuluh, dll) ataupun keberadaan binatang-binatang sebagai tanda kedatangan suatu musim (misalnya, hewan yang dikenal dengan gareng poung sebagai tanda peralihan musim penghujan ke kemarau). Para responden dalam kategori ini berpendapat bahwa hal tersebut sudah sulit untuk dipakai sebagai acuan karena kondisi alam yang tidak menentu, meskipun sebagian kecil responden yang memahami local knowledge masih ada yang tetap memperhatikannya sebagai pembanding dengan pengetahuan iklim saat ini. Diagram kedua (kanan atas) menunjukkan persentase dari indikator pengetahuan responden mengenai perubahan iklim secara definitif, dimana jumlah persentase yang paling tinggi adalah pada pengetahuan perubahan iklim responden dalam kategori tidak tahu sama sekali yaitu sebesar 51,06% dari keseluruhan jumlah responden, hal ini dapat diartikan bahwa tidak banyak petani di wilayah ini yang memahami apa itu perubahan iklim, responden dalam kategori ini

30 87 memberi jawaban yang salah atau tidak bisa memberikan jawaban terkait pertanyaan tentang makna dari perubahan iklim. Jawaban salah responden adalah mereka beranggapan bahwa tidak terjadi perubahan unsur iklim. Persentase kategori hanya tahu sebesar 42,55%, diartikan bahwa petani hanya tahu bahwa terjadi perubahan iklim sesuai berita yang beredar dilingkungan pertaniannya (kelompok tani) namun mereka tidak mampu menjelaskan pengertiannya dengan tepat baik berdasarkan definisi dan keadaan unsur-unsur iklimnya. Garis besar pengetahuan petani padi sawah Desa Pranan terhadap makna fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi terkait kegiatan pertaniannya dalam kategori tidak paham/mengerti, karena persentase pada kategori paham/mengerti hanya sebesar 6,38% saja. Diagram ketiga (bawah) menunjukkan persentase dari indikator lamanya responden merasakan adanya perubahan iklim, dimana jumlah persentase tertinggi adalah pada responden dengan jawaban dalam kategori sedang yaitu sebesar 51,06%. Artinya responden merasakan perubahan iklim sejak 3 sampai 8 tahun terakhir, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman responden mengenai perubahan iklim lebih mengacu pada kejadian iklim secara ekstrim. Persentase tertinggi kedua adalah pada kategori belum lama yaitu sebesar 27,66%. Artinya responden merasakan bahwa perubahan klim terjadi sejak 1 sampai 2 tahun terakhir, hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim lebih mengacu pada kejadian dari dampak anomali iklim berupa gelombang panas, kekeringan/kebanjiran, siklon, dll. Persentase paling rendah dduduki kategori lama yaitu sebesar 21,28%. Artinya responden dalam kategori ini merasakan bahwa perubahan iklim telah terjadi selama kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir sebagai dampak dari perubahan iklim berupa keragaman dasawarsa, keragaman matahari, sirkulasi bawah laut dan GRK (Gas Rumah Kaca). Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam kategori ini telah mengacu pada indikator perubahan iklim yang dimaksudkan dalam penelitian ini. Kategori sedang dan belum lama bila

31 88 digabung akan menunjukkan angka persentase sebesar 78,72%, hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan perubahan iklim sebagian besar petani Desa Pranan belum mengacu pada pengertian perubahan iklim yang dimaksud dalam penelitian ini. Sumber: analisis data primer, 2014 Gambar 20. Diagram Batang Distribusi dan Komparasi Persentase Pengetahuan Petani Responden Mengenai Iklim dalam Perspektif Local Knowledge Kategori Paham/mengerti dan Pengetahuan Perubahan Iklim Kategori Paham/mengerti Berdasarkan Masa Pengalaman Bertani Persentase pengetahuan responden mengenai iklim dalam perspektif local knowledge dan perubahan iklim dalam kategori paham/mengerti dapat didistribusikan dengan data berdasarkan pengalaman bertani responden, kemudian keduanya dikomparasikan. Pertama Gambar 20 memperlihatkan nilai persentase yang ditunjukkan pada masing-masing kelas lama pengalaman bertani yang didistribusikan dengan pengetahuan petani mengenai iklim dalam perspektif local knowledge kategori paham/mengerti tidak terlalu besar, mengingat persentase kategori ini hanya menduduki urutan kedua (berdasarkan Gambar 19). Perbedaan persentase distribusinya cukup dapat dilihat meski perbesaran persentase kategorinya kecil, dimana responden dengan pengalaman 10 sampai 20 tahun lebih besar persentase distribusinya dibanding kelas pengalaman yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa

32 89 responden dengan pengalaman di kelas ini masih mengenal serta memahami mengenai local knowledge tentang iklim. Responden dengan kelas ini rata-rata berusia produktif, dimana dalam usia ini cara pikir yang dimiliki lebih dewasa dibanding kelas pengalaman di bawahnya dan lebih muda dibanding kelas di atasnya. Kelompok ini lebih teliti dalam melihat dan mengamati kejadian disekitarnya karena keinginan mereka untuk meningkatkan dan mempertahankan usaha tani mereka lebih tinggi daripada kelompok usia yang lain. Alasannya adalah kelompok usia ini memiliki beban/tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang lebih besar dibanding kelompok usia yang lain, serta didukung keterbukaannya terhadap informasi lama maupun baru lebih maju dibanding kelas atau kelompok pengalaman lainnya. Kedua, Gambar 20 menyajikan pengetahuan responden mengenai perubahan iklim dalam kategori paham/mengerti menunjukkan nilai perbesaran persentase yang tidak tinggi. Perbesaran semacam itu dikarenakan dalam indikator pengetahuan responden mengenai perubahan iklim kategori ini berada pada kedudukan persentase terendah (6,38%) dibandingkan kategori hanya tahu dan tidak tahu sama sekali. Kedudukan persentase kategori paham/mengerti rendah, namun distribusinya ke dalam persentase berdasarkan lamanya pengalaman masih memperlihatkan perbedaan. Perbedaan tersebut ditunjukkan melalui distribusi persentase responden dalam kategori paham/mengerti dengan kelas pengalaman kurang dari 10 tahun lebih besar dari kelas yang lain. Data ini menunjukkan bahwa petani dengan kategori pengalaman tersebut dianggap lebih banyak tahu mengenai pengetahuan perubahan iklim dikarenakan mereka rata-rata berada pada kelompok usia muda dan memiliki banyak kesempatan (waktu dan ruang) untuk mencari informasi tentang hal baru maupun pengetahuan lokal. Gambar 20 juga menunjukkan bahwa responden dengan pengalaman lebih dari 20 tahun tidak ada sama sekali yang memahami pengetahuan tersebut. Mengingat kembali, isu mengenai perubahan iklim

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Desa Gunung Malang merupakan salah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari tiga puluh lima daerah otonom di Propinsi Jawa Tengah yang terletak di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi dan Kondisi Fisik Kecamatan Berbah 1. Lokasi Kecamatan Berbah Kecamatan Berbah secara administratif menjadi wilayah Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah provinsi di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Kersana mempunyai 13

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Kersana mempunyai 13 V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Kondisi Umum Desa Kemukten 5.1.1 Letak Geografis Desa Kemukten secara administratif terletak di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Kersana

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT. STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan iklim telah menjadi isu paling penting dalam kebijakan pembangunan dan global governance pada abad ke 21, dampaknya terhadap pengelolaan sektor pertanian dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian. Kabupaten Wonosobo, terletak lintang selatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian. Kabupaten Wonosobo, terletak lintang selatan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian Kecamatan Mojotengah merupakan salah satu dari 15 kecamatan di Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan 1. Keadaan Geografi Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105,14 sampai dengan 105,45 Bujur Timur dan 5,15 sampai

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 No Publikasi : 2171.15.27 Katalog BPS : 1102001.2171.060 Ukuran Buku : 24,5 cm x 17,5 cm Jumlah Halaman : 14 hal. Naskah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM KECAMATAN TOSARI

V. GAMBARAN UMUM KECAMATAN TOSARI V. GAMBARAN UMUM KECAMATAN TOSARI 5.1. Gambaran Umum Kabupaten Pasuruan Kabupaten Pasuruan adalah salah satu daerah tingkat dua di Propinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Pasuruan. Letak geografi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia

I. PENDAHULUAN. Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia terutama terhadap pertumbuhan nasional dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan. Sebagai negara

Lebih terperinci

LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada

LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada IV. LOKASI PENELITIAN A. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada dinaungan Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara Berdasarkan Perda

Lebih terperinci

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Desa 5.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif Desa Ringgit terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Letak Desa

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Pulorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Batas-batas

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 43 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Kudus secara geografis terletak antara 110º 36 dan 110 o 50 BT serta 6 o 51 dan 7 o 16 LS. Kabupaten Kudus

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO 2014 Statistik Daerah Kecamatan Air Manjunto 2014 Halaman i STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR MANJUNTO 2014 Statistik Daerah Kecamatan Air Manjunto 2014 Halaman i

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Wilayah Desa Jogonayan 1. Kondisi Geografis dan Administrasi Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah 1. Keadaan Geografis Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Lampung. Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Hasil Sensus Pertanian 1993

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Hasil Sensus Pertanian 1993 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional sebagai sumber pendapatan, pembuka kesempatan kerja, pengentas kemiskinan dan peningkatan ketahanan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49 29 Lintang Selatan dan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Desa Purwasari Desa Purwasari merupakan salah satu Desa pengembangan ubi jalar di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Usahatani ubi jalar menjadi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia kaya akan potensi sumberdaya alam, tanah yang subur dan didukung

I. PENDAHULUAN. Indonesia kaya akan potensi sumberdaya alam, tanah yang subur dan didukung 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia kaya akan potensi sumberdaya alam, tanah yang subur dan didukung oleh ketersediaannya air yang cukup merupakan faktor fisik pendukung majunya potensi

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN digilib.uns.ac.id 66 BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Kabupaten Grobogan terletak pada posisi 68 ºLU dan & 7 ºLS dengan ketinggian rata-rata 41 meter dpl dan terletak antara

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH. tenggara dari pusat pemerintahan kabupaten. Kecamatan Berbah berjarak 22 km

GAMBARAN UMUM WILAYAH. tenggara dari pusat pemerintahan kabupaten. Kecamatan Berbah berjarak 22 km IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kecamatan Berbah 1. Lokasi Kecamatan Berbah Kecamatan Berbah secara administrasi menjadi wilayah bagian dari Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terletak

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. I. Keadaan Umum Wilayah Penelitian. Secara Geografis Kabupaten Soppeng terletak antara 4 o 06 o LS dan 4 o 32 o

PEMBAHASAN. I. Keadaan Umum Wilayah Penelitian. Secara Geografis Kabupaten Soppeng terletak antara 4 o 06 o LS dan 4 o 32 o PEMBAHASAN I. Keadaan Umum Wilayah Penelitian A. Kondisi Fisik Alami Secara Geografis Kabupaten Soppeng terletak antara 4 o 06 o LS dan 4 o 32 o LS serta 119 o 42 o 18 o BT 120 o 06 o 18 o BT yang terdiri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Iklim merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan di bumi. Dimana Iklim secara langsung dapat mempengaruhi mahluk hidup baik manusia, tumbuhan dan hewan di dalamnya

Lebih terperinci

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Agroekonomi Kabupaten Garut Kabupaten Garut memiliki 42 kecamatan dengan luas wilayah administratif sebesar 306.519 ha. Sektor pertanian Kabupaten

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 Nomor ISSN : Nomor Publikasi : 1706.1416 Katalog BPS : 4102004.1706040

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan

BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian Desa Banjarharjo adalah salah satu desa di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, Daerah

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi 4.1.1 Keadaan Geografis Desa Oluhuta Utara merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 18 km dari ibu kota Kabupaten Buleleng

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. iklim sudah menjadi pengetahuan yang umum saat ini. Pemanasan global adalah

BAB I PENDAHULUAN. iklim sudah menjadi pengetahuan yang umum saat ini. Pemanasan global adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu pemanasan global yang diindikasikan sebagai penyebab perubahan iklim sudah menjadi pengetahuan yang umum saat ini. Pemanasan global adalah kondisi dimana terdapat

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian 60 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian Daerah penelitian terletak di Desa Fajar Asri Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah. Desa Fajar Asri

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan. 43 BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan. Kecamatan Sragi merupakan sebuah Kecamatan yang ada

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Lampung Tengah. Kecamatan Bangun Rejo merupakan pemekaran

Lebih terperinci

Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut:

Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut: KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Biofisik 4.1.1 Letak dan Aksesibilitas Berdasarkan buku Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Purwakarta (21) Dinas Kehutanan Purwakarta merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian suatu daerah harus tercermin oleh kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak ketahanan pangan. Selain

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Kondisi Wilayah Kabupaten Gorontalo Kabupaten Gorontalo terletak antara 0 0 30 0 0 54 Lintang Utara dan 122 0 07 123 0 44 Bujur Timur. Pada tahun 2010 kabupaten ini terbagi

Lebih terperinci

Kontribusi Parameter Iklim Untuk Peringatan Dini Serangan Wereng Batang Coklat (WBC)

Kontribusi Parameter Iklim Untuk Peringatan Dini Serangan Wereng Batang Coklat (WBC) 1234567 89111121234567891111212345678911112123456789111121234567891111212345678911112123456789111121234567891111212345678911112123456789111121234567891111212345678911112123456789111121234567891111212345678911112

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Kecamatan Leuwiliang Penelitian dilakukan di Desa Pasir Honje Kecamatan Leuwiliang dan Desa Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan pertanian

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Karangsewu terletak di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun batas wilayah Desa Karangsewu adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting. Indonesia dikenal dengan negara yang kaya akan hasil alam, kondisi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan 77 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada 104 552-105 102 BT dan 4 102-4 422 LS. Batas-batas wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat secara geografis

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Letak Geografis Kabupaten Sleman Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110⁰ 13' 00" sampai dengan 110⁰ 33' 00" Bujur Timur, dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Kabupaten Kulonprogo Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di propinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

NO KATALOG :

NO KATALOG : NO KATALOG : 1101002.3510210 STATISTIK DAERAH KECAMATAN WONGSOREJO 2013 Katalog BPS : 1101002.3510210 Ukuran Buku Jumlah Halaman : 25,7 cm x 18,2 cm : vi + Halaman Pembuat Naskah : Koordinator Statistik

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI. Tabel 7. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW, RT, dan KK di Kabupaten Jepara Tahun Desa/ Kelurahan

KEADAAN UMUM LOKASI. Tabel 7. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW, RT, dan KK di Kabupaten Jepara Tahun Desa/ Kelurahan KEADAAN UMUM LOKASI Keadaan Wilayah Kabupaten Jepara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ujung utara Pulau Jawa. Kabupaten Jepara terdiri dari 16 kecamatan, dimana dua

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN digilib.uns.ac.id 40 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis Desa Bedono merupakan salah satu Desa di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak yang terletak pada posisi 6 0 54 38,6-6 0 55 54,4

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Bantarjati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Di

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Di Indonesia salah satu tanaman pangan yang penting untuk dikonsumsi masyarakat selain padi dan jagung

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum dan Geografis Penelitian dilakukan di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa Lebak Muncang ini memiliki potensi yang baik dalam

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani Identitas petani merupakan suatu tanda pengenal yang dimiliki petani untuk dapat diketahui latar belakangnya. Identitas

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Desa Pagerharjo terletak antara 07 O LS

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Desa Pagerharjo terletak antara 07 O LS IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Desa Pagerharjo a. Keadaan fisik wilayah Desa Pagerharjo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Desa Pagerharjo

Lebih terperinci

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang saat ini telah menjadi penyebab berubahnya pola konsumsi penduduk, dari konsumsi pangan penghasil energi ke produk penghasil

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMPANG

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMPANG 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMPANG 4.1 Kondisi Geografis dan Administratif Luas wilayah Kabupaten Sampang 1 233.30 km 2. Kabupaten Sampang terdiri 14 kecamatan, 6 kelurahan dan 180 Desa. Batas administrasi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan :

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : 54 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Tata Guna Lahan Kabupaten Serang Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : a. Kawasan pertanian lahan basah Kawasan pertanian lahan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH. Projotamansari singkatan dari Produktif-profesional, ijo royo royo, tertib, aman,

KEADAAN UMUM WILAYAH. Projotamansari singkatan dari Produktif-profesional, ijo royo royo, tertib, aman, IV. KEADAAN UMUM WILAYAH A. Keadaan Fisik Daerah Kabupaten Bantul merupakan kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibukotanya adalah Bantul. Motto dari Kabupaten ini adalah Projotamansari

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi 70 V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis katulistiwa

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Pati merupakan salah satu bagian dari 35 Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Pati merupakan

Lebih terperinci

BAB III KERJA SAMA PENGAIRAN SAWAH DI DESA KEDUNG BONDO KECAMATAN BALEN KABUPATEN BOJONEGORO. Tabel 3.1 : Batas Wilayah Desa Kedung Bondo

BAB III KERJA SAMA PENGAIRAN SAWAH DI DESA KEDUNG BONDO KECAMATAN BALEN KABUPATEN BOJONEGORO. Tabel 3.1 : Batas Wilayah Desa Kedung Bondo BAB III KERJA SAMA PENGAIRAN SAWAH DI DESA KEDUNG BONDO KECAMATAN BALEN KABUPATEN BOJONEGORO A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Kedung Bondo merupakan salah satu desa yang terletak di daerah paling

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Desa Purwasari terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Desa Purwasari terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Purwasari terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Petir, sebelah Selatan berbatasan dengan

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi Gambaran umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi dalam penelitian ini dihat

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu

Lebih terperinci

BAB III LAPORAN PENELITIAN

BAB III LAPORAN PENELITIAN BAB III LAPORAN PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Berdirinya Gapoktan Kelompok Tani Bangkit Jaya adalah kelompok tani yang berada di Desa Subik Kecamatan Abung Tengah Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN 0 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Gelar Sarjana

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN LOBALAIN 2016

STATISTIK DAERAH KECAMATAN LOBALAIN 2016 STATISTIK DAERAH KECAMATAN LOBALAIN 2016 STATISTIK DAERAH KECAMATAN LOBALAIN 2016 ISSN : No. Publikasi: 5314.1615 Katalog BPS : 1101002.5314030 Ukuran Buku: 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : iv + 8 halaman

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Faktor-Faktor Yang berhubungan dengan Partisipasi Petani dalam Kebijakan Optimalisasi dan Pemeliharaan JITUT 5.1.1 Umur (X 1 ) Berdasarkan hasil penelitian terhadap

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU ABSTRAK FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU Umi Pudji Astuti, Wahyu Wibawa dan Andi Ishak Balai Pengkajian Pertanian Bengkulu,

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non

IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG A. Letak Geografis Wilayah Kecamatan Srumbung terletak di di seputaran kaki gunung Merapi tepatnya di bagian timur wilayah Kabupaten Magelang. Kecamatan Srumbung memiliki

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Keadaan Anggota Kelompok Wanita Tani Menurut Umur. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Pakel Jaluk juga merupakan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Keadaan Anggota Kelompok Wanita Tani Menurut Umur. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Pakel Jaluk juga merupakan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Keadaan Anggota Kelompok Wanita Tani Menurut Umur Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Pakel Jaluk juga merupakan ibu rumah tangga yang mengurusi kebutuhan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Desa Banyuroto adalah 623,23 ha, dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Desa Banyuroto adalah 623,23 ha, dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Kondisi Topografi Desa Banyuroto terletak di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Desa Banyuroto adalah 623,23 ha, dengan batas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya bahwa pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Padi (Oryza Sativa) Tanamanpadimerupakantanamansemusim,termasukgolonganrumputrumputandenganklasifikasisebagaiberikut:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. paling terasa perubahannya akibat anomali (penyimpangan) adalah curah

BAB I PENDAHULUAN. memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. paling terasa perubahannya akibat anomali (penyimpangan) adalah curah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris yang amat subur sehingga sebagian besar penduduknya bergerak dalam sektor agraris. Indonesia memiliki iklim tropis basah, dimana iklim

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-nya kepada kita sekalian.

SAMBUTAN. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-nya kepada kita sekalian. KATA PENGANTAR Kecamatan Adiwerna Dalam Angka Tahun 2008, merupakan publikasi data statistik dan data sekunder yang memuat data lengkap dan diterbitkan secara series setiap tahunnya tentang Kacamatan Adiwerna.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada zaman pemerintahan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada zaman pemerintahan IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Sejarah Berdirinya Kelurahan Karangrejo Karangrejo adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Metro Utara Kota Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah 39 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisiografis a. Letak, Luas dan Batas Wilayah Letak geografis Kabupaten Landak adalah 109 40 48 BT - 110 04 BT dan 00

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Gunungkidul adalah daerah yang termasuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskrifsi Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Popayato Barat merupakan salah satu dari tiga belas Kecamatan yang ada di Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Kecamatan Popayato

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM POTENSI WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM POTENSI WILAYAH V. GAMBARAN UMUM POTENSI WILAYAH 5.1. Kondisi Umum Kecamatan Leuwisadeng Kecamatan Leuwi Sadeng merupakan kecamatan yang terletak di Leuwi Sadeng, Kabupaten Bogor. Kecamatan Leuwi Sadeng terdiri dari 8

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan 78 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Pesawaran Kabupaten Pesawaran merupakan kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan UU No.33 Tahun 2007 yang diundangkan pada tanggal 10 Agustus

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Lampung Selatan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Lampung Selatan 47 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Lampung Selatan 1. Letak geografis, topografi, dan pertanian Kabupaten Lampung Selatan Wilayah Kabupaten Lampung Selatan

Lebih terperinci