Sorgum Village: Strategi Branding Desa Berbasis Agroeduwisata Melalui Model Quadruple Helix Di Desa Keyongan, Babat, Lamongan, Jawa Timur

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Sorgum Village: Strategi Branding Desa Berbasis Agroeduwisata Melalui Model Quadruple Helix Di Desa Keyongan, Babat, Lamongan, Jawa Timur"

Transkripsi

1 Sorgum Village: Strategi Branding Desa Berbasis Agroeduwisata Melalui Model Quadruple Helix Di Desa Keyongan, Babat, Lamongan, Jawa Timur Arini Amirah Hidayat 1, Nur Azizah Charir, Zakiyyatun Nafiisah Universitas Brawijaya Malang correspondence: 1 A B S T R A C T Lamongan regency is one of sorghum producing area, especially in Keyongan Village, Babat District with 600 ha of land has been planted with sorghum. However, the yield is sold very cheap, the price per kg of sorghum seeds ranges from Rp. 1,400, -. In addition, the knowledge of farmers and sorghum processing technology is still low, so that Keyongan Village is less developed with potential owned. The purpose of this paper is to identify the potential of sorghum by forming the village of Keyongan into "Sorgum Village" as a Branding Village-based Agroedutourism strategy through the Quadruple Helix model. Quadruple Helix is a collaboration of 4 sectors namely Government, Industry, Academic and Community role to encourage the growth of innovation, especially in the field of Sorghum development. Data and information collected in the form of primary and secondary data related to the problem. The data were analyzed by qualitative descriptive. The results show that Quadruple Helix can give significant influence to creativity, innovation capability, and product competitiveness. This is due to increased synergy and cooperation among 4 different productive sectors, so as to create a Village Branding known as "Sorgum Village" based Agroeduwisata which is able to integrate the stages of cultivation, processing, and marketing of sorghum in an educational based tourism site. The realization of Branding Village "Sorgum Village" can add value to the potential of sorghum, so it can improve the economy in Keyongan Village, District Babat, Lamongan District, East Java Keywords: Agroedutourism, Sorgum, Sorgum Village, Quadruple Helix A B S T R A K Kabupaten Lamongan merupakan salah satu daerah penghasil sorgum, khususnya di Desa Keyongan, Kecamatan Babat dengan luas lahan 600 ha telah ditanami sorgum. Namun, hasil panen sorgum dijual sangat murah, harga per kg biji sorgum berkisar Rp ,-. Selain itu, pengetahuan petani dan teknologi pengolahan sorgum masih rendah, sehingga Desa Keyongan kurang berkembang dengan potensi yang dimiliki. Tujuan penulisan ini untuk mengidentifikasi potensi sorgum dengan membentuk Desa Keyongan menjadi Sorgum Village sebagai strategi Branding Desa berbasis Agroeduwisata melalui model Quadruple Helix. Quadruple Helix merupakan kolaborasi 4 sektor yaitu Pemerintah, Industri, Akademik dan Masyarakat berperan untuk mendorong tumbuhnya inovasi, khususnya dibidang pengembangan Sorghum. Data dan informasi yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder yang terkait dengan permasalahan. Data tersebut dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa Quadruple Helix dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap kreativitas, kapabilitas inovasi, serta keunggulan daya saing produk. Hal ini disebabkan adanya peningkatan sinergitas dan kerjasama antar 4 sektor produktif yang berbeda, sehingga mampu mewujudkan sebuah Branding Desa dikenal sebagai Sorgum Village berbasis Agroeduwisata yang mampu mengintegrasikan tahap budidaya, pengolahan, serta pemasaran sorghum dalam satu lokasi wisata berbasis edukasi. Terwujudnya Branding Desa Sorgum Village dapat menambah nilai jual terhadap potensi sorgum, sehingga dapat meningkatkan perekonomian di Desa Keyongan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Kata Kunci: Agroeduwisata, Sorgum, Sorgum Village, Quadruple Helix PENDAHULUAN Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan jenis tanaman serealia penting dengan kandungan zat besi tertinggi, dimana posisinya berada pada peringkat ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan kedelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di daerah tropis setengah kering di Asia, Afrika dan Amerika. Nilai gizi sorgum sebagai bahan pangan tidak kalah penting dengan makanan pokok beras yaitu kandungan gizi sorgum sebanyak 5,4 mg/100 g lebih tinggi dibandingkan zat besi dalam beras (1,8 mg/100 g), kandungan protein sorgum 10-11% lebih tinggi dibandingkan protein beras giling (7-7%) (Lufiria, 2012). Selain sebagai bahan pangan sorgum juga dapat 88

2 dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol dan bahan pakan ternak. Perlu diketahui bahwa, secara teknis tanaman sorgum memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. (Sri Widowati, 2015) sesuai dengan Dirjen Tanaman Pangan 2010, menyatakan bahwa areal yang berpotensi untuk pengembangan sorgum di Indonesia sangat luas, meliputi iklim kering atau musim hujan yang pendek dan tanah yang kurang subur. Oleh karena itu, tanaman sorgum toleran terhadap kekeringan dan genangan air. Produktivitas sorgum cukup tinggi berkisar antara 4,241 6,172 ton/ha serta sorgum dapat dibudidayakan di segala jenis tanah, termasuk tanah marginal. Berdasarkan data tahun dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah penghasil sorgum di pulau Jawa telah bergeser dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Luas penyebaran tanaman sorgum di Jawa Timur memiliki jumlah tertinggi sebesar hektar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki luas tanam 938 hektar, Jawa Tengah memiliki luas tanam 45 hektar dan Jawa Barat memiliki luas tanam 258 hektar. Salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang memiliki luas tanam sorgum tinggi yaitu Kabupaten Lamongan sebesar 665 hektar. Menurut Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur pada Tahun 2011, Khusus Kecamatan Babat, Lamongan luas sorgum pada tahun 2012 mencapai 634 hektar. Desa Keyongan Kecamatan Babat memiliki luas lahan sebesar 600 hektar yang telah ditanami sorgum. Hasil panen yang diperoleh dari luas lahan 1 hektar dapat menghasilan sorgum sekitar 7-8 ton, harga per kg dari sorgum sangat murah berkisar antara Rp Rp (Subagio dan Aqil, 2013), Namun, terdapat beberapa kendala dalam memanfaatkan potensi tanaman sorgum tersebut. Hal ini disebabkan oleh kurangnya teknologi dalam penyosohan biji sorgum, kurangnya pengetahuan para petani dalam menangani pasca panen sorgum, sehingga adanya produk diversifikasi sorgum masih sangat terbatas. Selain itu, Program-program pemerintah dalam pengembangan sorgum berjalan lambat. Akibatnya perluasan tanaman dan peningkatan produksi belum ditindak lanjuti dengan baik, sehingga banyak hasil panen sampai saat ini masih dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Oleh karena itu, potensi sorgum di Desa Keyongan belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Mengingat harga sorgum yang sangat murah, maka perlunya diversifikasi produk dengan cara memanfaatkan seluruh bagian tanaman sorgum, sehingga mampu meningkatkan harga jual sorgum dan dapat meningkatkan penghasilan para petani sorgum, khususnya di Desa Keyongan, Babat, Lamongan Jawa Timur. Seluruh bagian tanaman sorgum dapat dimanfaatkan dari biji, daun, akar dan batang. Biji sorgum dimanfaatkan sebagai bahan pangan, daun sorgum sebagai sumber pakan ternak, akar sorgum digunakan sebagai obat herbal yang dapat memperlancar peredaran darah dan batang sorgum digunakan sebagai lumbung bioetanol dan bahan pembuat kertas. Selain itu, tangkai sorgum juga dapat dibuat kerajinankerajinan. (Leo, 2013), Melihat potensi sorgum di Kabupaten Lamongan, Khususnya di Desa Keyongan, Babat, maka perlu memiliki inovasi untuk membuat sebuah branding desa dengan adanya kelebihan potensi yang ada di Desa Keyongan. Istilah branding merupakan aktivitas menentukan citra yang ingin dibentuk, sehingga terciptanya sebuah merek atau nama yang khas bagi suatu produk. Jenis branding yang sekarang sedang banyak dibicarakan adalah branding daerah wisata. Mengingat di Desa Keyongan sektor pertanian yang sangat berpotensi, maka branding berbasis agroeduwisata adalah mode yang cocok untuk diterapkan. Agroeduwisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya untuk memperluas pengetahuan di bidang pertanian, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian, khususnya sorgum. Pelaksanaan dalam mewujudukan branding desa berbasis agroeduwisata dengan adanya potensi sorgum tersebut perlu dukungan dari berbagai pihak sepertipemerintah, Industri atau Bisnis, Akademik (Pihak Perguruan Tinggi) dan Masyarakat. Tujuan kerjasama tersebut agar dapat meningkatkan kreatifitas sumberdaya manusia serta kapabilitas inovasi dalam pengembangan sorgum. Bentuk kerjasama tersebut dapat dikenal dengan model Quadruple Helix. Menurut (Mulyana, 2014), Quadruple Helix merupakan kolaborasi antar `empat sektor yaitu pemerintah (goverment), Industri (Business), Akademik (Academia) dan Masyarakat (Civil Society) yang berperan mendorong tumbuhnya inovasi dan keunggulan daya saingproduk. Diharapkan model tersebut dapat diterapkan di Desa Keyongan, Babat, Lamongan Jawa Timur untuk menciptakan branding desa berbasis agroeduwisata dengan mengoptimalkan potensi desa yang dimiliki yaitu sorgum. Selain itu, juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Keyongan, Babat, Lamongan 89

3 Jawa Timur. KAJIAN PUSTAKA Sorgum adalah salah satu bahan pangan yang potensial untuk substitusi terigu dan beras karena masih satu famili dengan gandum dan padi, hanya berbeda. Oleh karena itu, sorgum dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti karbohidrat (Ruchjaniningsih, 2008). Tanaman sorgum memiliki banyak manfaat mulai dari pangan, pakan hingga industri. Kandungan gizi pada tanaman sorgum memilki banyak sekali manfaat bagi tubuh kita dan tidak kalah penting dengan tanaman pangan lainnya seperti padi maupun jagung. Menurut Leder (2004), kandungan karbohidrat biji sorgum relatif sama dengan beras, bahkan kadar protein, kalsium, besi, dan posfor lebih tinggi. Kandungan protein dan mineral yang tinggi ini menunjukkan kelayakan sorgum sebagai bahan pangan, khususnya bagi masyarakat pedesaan di lahan marjinal. Kandungan protein pada sorgum lebih tinggi dari jagung dan hampir sama dengan gandum, namun protein sorgum bebas glutein. Berikut komposisi nutrisi sorgum dibandingkan dengan serealia lainnya Tanaman sorgum dapat dibudidayakan pada lahan yang kurang subur, air yang terbatas dan input yang rendah. Daerah penghasil sorgum dengan pola tradisional adalah Jawa Tengah (Purwodadi, Pati, Demak, Wonogiri), Daerah Istimewa Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo), Jawa Timur (lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo), dan sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sirappa, 2003). Sorgum ditanam pada ketinggian m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh pada suhu berkisar 23o-30oC dengan kelembaban relatif 20-40%, curah hujan mm/tahun dan ph tanah yang baik untuk pertumbuhan yaitu 5,0-7,5 (Hermawan, 2013). Tanaman sorgum telah banyak dilakukan pengembangan varietas untuk mendapatkan varietas unggul. Salah satu pengembangan varietas sorgum dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada tahun 2014 denganmenghasilkan 3 varietas yaitu varietas Pangan Sehat (PAHAT), sorgum mutasi radiasi (Samurai) 1 dan samurai 2 (RRI, 2014). Varietas pangan sehat (PAHAT) memiliki produktivitas mencapai 5 ton/ha, Samurai 1 memiliki produktivitas 7,5 ton/ha dan samurai 2 memiliki produktivitas mencapai 8,5 ton/ha. (Hendig, 2014), Varietas samurai 2 ini memiliki beberapa keunggulan seperti memiliki nilai produktivitas 8,5 ton/ha, biomassa 47 ton/ha, tahan terhadap penyakit karat daun dan busuk pelepah (Sihono et al., 2013). Oleh karena itu, dengan didukungnya varietas yang diunggul diharapkan produktivitas sorgum di Indonesia dapat memberikan keuntungan kepada Indonesia dan dapat bersaing dengan varietas-varietas unggul dari luar Indonesia. Upaya dalam memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan bahan industri yang terus meningkat, serta untuk meningkatkan pendapatan petani di daerah beriklim kering, pengembangan sorgum merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Sedangkan di daerah-daerah yang sering mengalami kekeringan atau mendapat genangan banjir, tanaman sorgum masih dapat diusahakan. Oleh karena itu, terdapat peluang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi sorgum melalui perluasan areal tanam (Sirappa, 2003). Branding merupakan strategi untuk mengenalkan keunggulan suatu produk dengan cara membangun citra dan menyediakan informasi mengenai kualitas produk tersebut. Branding tidak hanya ditemukan pada suatu produk saja, namun sekarang juga berkembang branding pada kota maupun wilayah yang dikenal dengan city branding. Upaya city branding bisa dilakukan dengan berbagai cara, menurut Kemendagri (2013), langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun citra kuat suatu wilayah yaitu; 1) Mapping survey, meliputi survei persepsi dan ekspektasi tentang suatu daerah baik dari masyarakat daerah itu sendiri maupun pihak-pihak luar yang mempunyai keterkaitan dengan daerah itu. 2) Competitive Analysis, Melakukan analisis daya saing baik di level makro maupun mikro daerah itu sendiri. 3) Blueprint, penyusunan grand design daerah yang diinginkan baik logo, semboyan, nick names, tag line, dan lain-lain beserta stategi branding dan strategi komunikasinya. 4) Implementation, pelaksanaan grand design dalam berbagai bentuk media, seperti pembuatan media center, pembuatan events, iklan, dan lain-lain. Konsep Quadruple Helix merupakan pengembangan Triple Helix dengan mengintegrasikan civil society serta mengintegrasikan inovasi dan pengetahuan (Oscar, 2010 dalam Mulyana dan Sutapa 2014). Quadruple Helix merupakan kolaborasi empat sektor yaitu government, business, academica, dan civil society yang berperan mendorong tumbuhnya inovasi. Tujuan dari kolaborasi empat sektor tersebut adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peran pemerintah (government) adalah sebagai 90

4 lembaga yang memiliki otoritas pengembangan industri kreatif, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, serta keterkaitan dalam substansi maupun keterkaitan administrasi. Sinergi antar departemen dan badan di pemerintah pusat, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk mencapai visi, misi dan sasaran pengembangan industri kreatif. Peran bisnis atau perusahaan adalah sebagai entitas organisasi yang diciptakan untuk menyediakan barang atau jasa bagi konsumen. Bisnis umumnya dimiliki swasta yang dibentuk untuk menghasilkan keuntungan dan meningkatkan kemakmuran bagi pemiliknya, serta dapat terbentuk melalui kepemilikan tunggal, kemitraan, korporasi dan koperasi. Kemudian fasilitas riset dan pengembangan, laboratorium Perguruan Tinggi dan civil society sebagai dasar sumber inovasi dan pengetahuan (Carayannis and Campbell, 2009 dalam Mulyana dan Sutapa 2014). Selain hal tersebut civil society memainkan peran penting sebagai pendukung pasar ramah lingkungan melalui perubahan gaya hidup, perilaku konsumsi, partisipasi dalam pengaturan kelembagaan yang memacu inovasi sosial dan kelembagaan (Yan, 2012 dalam Mulyana dan Sutapa 2014). METODE Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuannya untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai realilasi penerapan Model Quadruple Helix Sebagai Strategi Menciptakan branding desa berbasis agroeduwisata di Desa Keyongan, Babat, Lamongan Jawa Timur. Metode perolehan sumber data dalam penulisan karya tulis dengan menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi secara langsung yang dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan dalam penulisan yang bersangkutan secara obyektif. Penggunaan data sekunder berupa studi kepustakaan dengan membaca literaturliteratur yang berkaitan serta menunjang penulisan ini. Literatur yang digunakan adalah literaturliteratur tentang potensi tanaman sorgum, Model Quadruple Helix, branding desa dan agroeduwisata. Metode teknis analisis data yang digunakan terdiri dari 3 tahapn yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahapan Branding Desa Sorgum Village Berbasis Agroeduwisata di Desa Keyongan Desa Keyongan merupakan desa yang memiliki potensi untuk pengembangan pengolahan sorgum di Kabupaten Lamongan. Desa Keyongan memiliki keunikan dan ciri khas yang harus dikembangkan sehingga menciptakan kemandirian pada desa. Konsep branding diadopsi dengan harapan dapat meningkatkan daya saing Desa Keyongan baik di level mikro maupun makro dengan memasarkan produk unggulan yaitu sorgum. Membangun citra Desa Keyongan sangat diperlukan mengingat potensi besar yang dimiliki. Sorgum sebagai komoditi utama Desa Keyongan harus dimanfaatkan dengan maksimal, dengan membentuk brand Sorgum Village di Desa Keyongan diharapkan mampu mengembangkan sorgum sebagai produk multifungsi. Upaya dalam menciptakan branding Desa Keyongan tersebut mengusung konsep agroeduwisata. Agroeduwisata merupakan gabungan dari dua konsep yaitu agrowisata dan edukasi. Agrowisata merupakan istilah dari wisata pertanian dengan serangkaian aktivitas dalam memanfaatkan lokasi atau sektor pertanian. Edukasi merupakan aktivitas dalam pengembangan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman. Adanya sebuah branding desa dengan konsep agroeduwisata diharapkan dapat memberi manfaat yang banyak, tidak hanya bagi masyarakat pedesaan, melainkan juga masyarakat perkotaan dengan tujuan untuk memahami dan memberikan apresiasi pada bidang pertanian, khususnya tanaman sorgum yang sangat berpotensi di desa tersebut serta dapat menjadi sarana edukasi. Adanya konsep agroeduwisata secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif bagi petani sorgum dan masyarakat akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian tanam sorgum. Selain itu, juga dapat melestarikan kearifan lokal, teknologi lokal dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi petani dan masyarakat desa setempat. Pengembangan kawasan pertanian sorgum menjadi area agroeduwisata akan meningkatkan kunjungan wisatawan.tidak hanya pengalaman rekreasi yang didapat, tetapi akan menambah ilmu pengetahuan di bidang pertanian sorgum, mulai dari penyiapan varietas unggul, budidaya, pemeliharaan tanaman, penanganan pasca panen dan lainlain. Berikut Program Agroeduwisata yang perlu disiapkan dalam menciptakan sebuah branding Desa Keyongan, Babat, Lamongan, Jawa Timur sebagai Sorgum Village diantaranya : 1. Melakukan penataan dan penyiapan obyek wisata. Potensi obyek wisata pertanian di Desa Keyongan yaitu budidaya tanaman sorgum, potensi tersebut dikembangkan dengan berbasis agroeduwisata. 2. Potensi tanaman sorgum di Desa Keyongan diintegrasikan mulai dari tahap pemilihan vari- 91

5 etas, budidaya, pengolahan pasca panen serta pemasaran produk dengan nuansa edukasi. 3. Penataan lokasi tempat di Desa Keyongan sebagai tempat Agroeduwisata. 4. Peningkatan kretaifitas sumberdaya manusia yang ada melalui pelatihan dan sinergi kelembagaan di Desa untuk mengembangkan potensi sorgum berbasis agroeduwisata, sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung. Baik pengunjung yang hanya berekreasi atau pengunjung yang melakukan kegiatan study tour. 5. Adanya perbaikan akses jalan untuk kemudahan akses pengunjung ke daerah Sorgum Village yang berbasis agroeduwisata. 6. Perbaikan konservasi sumberdaya lahan (lahan, vegetasi dan satwa) untuk keberlanjutan sistem pertanian sorgum untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. 7. Peningkatan usaha pengolahan produk tanaman sorgum melalui pelatihan dan pembinaan dinas terkait (Misalnya Dinas Perindustrian/UKM/Koperasi). 8. Pemanfaatan potensi sorgum melalui konsep agroeduwisata dengan peran aktif masyarakat dan pengembangan obyek wisata alam di Desa Keyongan. Sedangkan untuk membangun citra atau branding Desa Keyongan sebagai Sorgum Village diperlukan beberapa proses, yaitu: 1. Mapping Survei Sebelum memulai merumuskan konsep branding Desa Keyongan, langkah awal yang perlu disiapkan adalah melakukan survei mengenai perilaku masyarakat sekitar dengan adanya branding Desa Keyongan sebagai desa pengembang tanaman sorgum. Tujuan hal ini untuk menciptakan respon positif dari masyarakat dan menimbulkan ketertarikan untuk ikut serta mengembangkan produk sorgum di Desa Keyongan. Melihat ketertarikan masyarakat tersebut diharapkan timbul pengakuan dari masyarakat bahwa Desa Keyongan berpotensi sebagai desa sorgum (Sorgum Village). Selain itu pihak perangkat desa setempat memiliki peran penting dalam hal perizinan dan penyedia lahan yang mana nanti akan digunakan untuk lokasi pengembangan sorgum. 2. Competitive Analysis Kunci untuk meningkatkan daya saing produk sorgum adalah dengan menciptakan branding yang lebih baik untuk meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk tersebut dan melakukan pengembangan kualitas produk juga harus dibarengi dengan upaya pemerintah baik pusat maupun pemerintah Kabupaten Lamongan serta ahli di bidangnya agar lebih memfokuskan diri terhadap pembinaan dan pengembangan produk sorgum dan memotivasi munculnya inovasi dan pengembangan produk baru yang dilakukan secara terus menerus. 3. Blueprint Konsep yang ditawarkan dalam Sorgum Village yaitu Agroeduwisata. Gabungan dari kedua konsep tersebut akan menimbulkan efek positif kepada petani sorgum maupun masyarakat Desa Keyongan secara umum, karena adanya wisata dengan konsep pertanian yang mampu meningkatkan perekonomian sekaligus mampu mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman para wisatawan mengenai sorgum. Desain logo digunakansebagai salah satu brand identifier dari Sorgum Village. Kemudian untuk mengenalkan Sorgum Village baik di tingkat lokal maupun nasional dipergunakan berbagai media, yaitu: a. Surat Kabar Surat kabar merupakan media cetak yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan paling sering dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari. Surat kabar yang akan dipilih sebagai media perkenalan Sorgum Village adalah Jawa Pos, karena Jawa Pos memiliki cakupan yang luas terutama di Pulau Jawa b. Billboard Papan yang berisi iklan yang berukuran besar dengan tujuan untuk dilihat oleh pengendara di jalanan. Seringnya masyarakat yang melewati daerah yang terdapat billboard dapat meningkatkan awareness produk ke dalam benak mereka. Iklan Sorgum Village melalui billboard akan dilakukan di jalan-jalan raya di Kabupaten Lamongan agar siapapun yang berkunjung ke daerah Lamongan dapat mengetahui dan tertarik untuk mengunjungi Desa Agroeduwisata Keyongan yang telah dikenal sebagai Sorgum Village. c. Website Media yang berada dalam jaringan internet memiliki penyebaran yang luas dan biaya yang relatif murah. Pembuatan website mengenai Sorgum Village di Desa Keyongan dapat membantu masyarakat mengakses dengan mudah produk maupun fasilitas-fasilitas wisata yang diberikan ketika berkunjung. d. Souce of Authority Pencanangan Sorgum Village sebagai desa agroeduwisata dapat juga melalui dinas terkait 92

6 yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lamongan, hal ini dilakukan guna mendapatkan legalitas lokasi wisata. 4. Implementation Upaya Desa Keyongan agar dikenal dengan nama Desa Sorgum Village dibuat sedemikian rupa sebagai kawasan agroeduwisata yang meliputi berbagai aktivitas di dalamnya. Berdasarkan hal tersebut aktivitas-aktivitas yang dilakukan diantaranya pengenalan tanaman dan varietas sorgum dengan membuka stand. Selanjutnya diperlihatkan pula lokasi budidaya sorgum dan proses pengolahan pasca panen yang meliputi sorgum sebagai bahan pangan, pakan ternak, bahan bioetanol, obat herbal, serta bahan kerajinan. Selain pengolahan juga ada proses packing sampai pemasaran produk yang semuanya dilakukan di Sorgum Village dan wisatawan dapat ikut serta di dalamnya. Kegiatan lain untuk menunjang eksistensi dari Sorgum Village adalah mengadakan pameran produk di event-event besar Kabupaten Lamongan, selain itu juga akan sering diadakan workshop guna meningkatkan kualitas produk dan sistem yang dimiliki Sorgum Village. Implementasi Model Quadruple Helix Model Quadruple Helix merupakan kolaborasi empat sektor yang saling berkejasama, sehingga mampu terwujudnya branding Sorgum Village. Empat sektor tersebut diantaranya: 1. Pemerintah (Government) yang terlibat meliputi pemerintah tingkat desa sebagai pengawas teknis pelaksanaan kegiatan, pemerintah tingkat Kecamatan Babat, tingkat Kabupaten Lamongan meliputi Dinas Pertanian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perindustrian, tingkat Provinsi Jawa Timur maupun tingkat Kementrian. Pemerintah diharapkan dapat melaukan pembinaan dan pendampingan untuk terus mendorong tumbuhnya kreatifitas dan inovasi masyarakat dalam pengembangan sorum, serta berperan sebagai regulator dan fasilitator dalam mewujudkan branding desa. Selain itu, dalam mewujudkan sebuah branding Desa Keyongan melalui potensi sorgum, maka pemerintah memiliki kewenangan atas pembuatan kebijakan pemasaran, kebijakan harga, kebijakan dalam pengembangan teknologi pengolahan sorgum dan mampu merevitalisasi kebijakan dengan memprioritaskan penggunaan produk-produk dari tanaman sorgum. 2. Bisnis atau Industri (Business), melalui branding desa agroeduwisata peran bisnis atau industri sebagai pelaku usaha, creator produk dari tanaman sorgum, sehingga dapat menghasilkan pasar baru yang dapat menyerap produk yang dihasilkan oleh Desa Keyongan. Segi bisnis atau industri tersebut dapat membangun masyarakat berwirausaha dengan menggali potensi tempat tinggal mereka. Pelaku usaha dalam suatu bisnis diharapkan mampu mengubah budaya hidup mereka yang berorientasi pada keuntungan menjadi berorientasi pelanggan agar terbentuk kerjasama yang menguntungkan dalam jangka panjang (Halim, 2011). Oleh karena itu, sistem bisnis tersebut jika diterapkan di Desa Keyongan dalam upaya branding desa agroeduwisata dapat berjalan dengan baik. Adanya koperasi dan toko-toko yang berada di Desa Keyongan sebagai salah satu wujud untuk membantu upaya pengenalan produk sorgum kepada masyarakat luas. 3. Akademik atau Perguruan Tinggi (Academica), perlu diketahui bahwa peran ini menerapkan tri dharma penguruan tinggi yaitu pengembangan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Peran akademik dalam upaya branding Desa Keyongan memberikan sumbangan hasil penelitian tentang tanaman atau produk sorgum dengan adanya fasilitas Laboratorium dari pemerintah di Desa Keyongan, diaharpakn hasil penelitian dapat diaplikasikan oleh pelaku usaha dan melakukan pendampingan atau istilah lain program pemberdayaan kepada masyarakat Desa Keyongan untuk mendorong tumbuhnya inovasi dan kreatifitas masyarakatnya dan kapabilitas inovasi, sehingga akademisi dijadikan sebagai agen yang menyebarkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi yang mengembangkan potensi tanaman sorgum di Desa Keyongan. Menurut Pujiasmanto (2013), peranan para civitas akademik di bidang pertanian ada 3 yaitu: (1) Berperan serta dalam mengembangkan aspek kesiapan manusia dalam pendidikan formal. (2) Mengembangkan IPTEK dan konsep alternatif kebijakan pembangunan melalui aktivitas penelitian. (3) Menhembangkan pemberdayaan masyarakat melalui diseminasi inovasi, pendidikan non formal dan bentuk pengabdian kepada masyarakat. 4. Masyarakat (Civil Society) sebagai pihak pemakai barang yang dihasilkan dari pelaku usaha. Masyarakat dalam upaya branding desa agroeduwisata ini termasuk pengunjug yang akan berwisata di Sorgum Village Desa Keyongan. Empat sektor dalam model Quadruple Helix harus 93

7 dapat bekerjasama dengan baik sesuai dengan peran masing-masing. Tujuan dari peran tersebut untuk meningkatkan kreatifitas inovasi dalam mengembangkan potensi tanaman sorgum sebagai branding Desa Keyongan. Adanya inovasi tersebut akan memacu pelaku usaha agroeduwisata di Desa Keyongan untuk terus menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil, sehingga terciptanya suatu produk yang lebih baik dan mampu bersaing di pasar. Selain itu, melakukan kreatifitas, inovasi terhadap suatu produk harus memenuhi harapan masyarakat sebagai pemakai produk. Oleh karena itu, kreatifitas memiliki pengaruh terhadap kapabilitas inovasi dan keunggulan daya saing produk, sehingga terciptanya branding Desa Keyongan dikenal sebagai Sorgum Village berbasis agroeduwisata KESIMPULAN DAN SARAN Kerjasama yang baik antar 4 sektor dalam model Quadruple Helix sebagai strategi branding Desa Keyongan dapat memberikan pengaruh terhadap kreatifitas inovasi dalam mengembangkan potensi sorgum yang ada di Desa Keyongan, sehingga memiliki kapabilitas inovasi, mampu berdaya saing serta memiliki keunggulan produk tanaman sorgum di Desa Keyongan. Mengingat potensi di bidang pertanian yang melimpah, maka branding desa di Desa Keyongan ini mengusung konsep agroeduwisata. Tujuan dari adanya inovasi branding desa berbasis agroeduwisata ini memberi manfaat yang banyak, tidak hanya bagi masyarakat pedesaan, melainkan juga masyarakat perkotaan dengan tujuan untuk memahami dan memberikan apresiasi pada bidang pertanian, khususnya tanaman sorgum yang sangat berpotensi di desa tersebut serta dapat menjadi sarana edukasi. Adanya konsep agroeduwisata secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif bagi petani sorgum dan masyarakat akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian tanam sorgum. Selain itu, adanya pengembangan kawasan pertanian sorgum menjadi area agroeduwisata dengan mengenalkan berbagai produk olahan sorgum akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Desa Keyongan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi petani danmasyarakat desa setempat serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat di Desa Keyongan, Babat, Lamongan, Jawa Timur Konsep model Quadruple Helix sebagai strategi branding desa berbasis agroeduwisata dapat dijadikan pertimbangan pemerintah daerah Kabupaten Lamongan atau Pemerintah Kota untuk dapat diimplementasikan dalam mengenalkan sebuah citra di Desa Keyongan sebagai Sorgum Village dengan menggali potensi desa tersebut. Hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik petani, masyarakat desa setempat atau pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga tercapai masyarakat petani yang sejahtera. DAFTAR PUSTAKA Halim, A The Measurement of Entrepreneurial Personality and Business Performance in Terengganu Creative Industry. International Journial of Business dan Management 6(2): Hermawan, Rudy Usaha Budidaya Sorgum Si Jago Lahan Kekeringan. (Jilid 1). Yogyakarta : Pustaka Baru Press. Leder, I Sorghum and Millets, in Cultivated Palnts, Primarily as Food Sources Encyclopedia of Life Supports Systems. Eolss Publisher. Oxford, UK. Leo, Omdsmy N Sorgum, dari Daun Sampai Akar Bisa Jadi Duit. orgum-dari-daun-sampai-akarnya-bisa-jadi-duit. [9 Agustus 2016]. Lufiria, Priskila Y Kadar Protein, Zat Besi dan Mutu Organoleptik Kue Kering Berbahan Dasar Tepung Terigu dan Tepung Beras dengan Substitusi Tepung Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) [skripsi]. Semarang (ID). Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Mulyana, dan Sutapa Peningkatan Kapabilitas Inovasi, Keunggulan Bersaing dan Kinerja melalui Pendekatan Quadruple Helix: Studi pada Industri Kreatif Sektor Fashion. Jurnal Manajemen Teknologi 13 (3): Pujiasmanto, Bambang Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Energi Berbasis Pertanian [Artikel]. Surakarta (ID) : Universitas Surakarta. RRI /pangan/sorgum_unggul_ala_batan_sol usi_pangan pakan_ternak_dan_energi.html. [8 Agustus 2016] Ruchjaniningsih Rejuvenasi dan Karakterisasi Morfologi 225 Aksesi Sorgum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, Sulawesi Selatan Sihono, Human, S., Indriatama, W.M., Puspitasari W., Parno dan Carkum Galur Mutan Sorgum PATIR-1 Berdaya Hasil Biji, Biomasa dan Gula Batang Tinggi serta Galur PATIR-4 Hasil Biji Tinggi Kualitas Baik. Perbaikan Proposal Pelepasan Varietas: Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN. 94

8 Sirappa, M.P Prospek pengembangan sorghum di Indonesia sebagai komoditas alternatif untuk pangan, pakan dan industri 22(4): Subagio, Herman dan Muh. Aqil Pengembangan Produksi Sorgum di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Balai Penelitian Tanaman dan Serealia, 16 Juni hlm

I. PENDAHULUAN. kurangnya Indonesia dalam menggali sumberdaya alam sebagai bahan pangan

I. PENDAHULUAN. kurangnya Indonesia dalam menggali sumberdaya alam sebagai bahan pangan I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman bahan pangan yang melimpah. Bahan pangan memang melimpah namun Indonesia masih memiliki ketergantungan dengan impor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan substansi pokok dalam kehidupan manusia sehingga

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan substansi pokok dalam kehidupan manusia sehingga 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pangan merupakan substansi pokok dalam kehidupan manusia sehingga diperlukan untuk mencukupi kebutuhan setiap penduduk. Di Indonesia, masalah ketahanan pangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Adalah penting bagi Indonesia untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan

I. PENDAHULUAN. Adalah penting bagi Indonesia untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Salah satu tantangan terbesar yang dimiliki oleh Indonesia adalah ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan nasional adalah masalah sensitif yang selalu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan dan energi masih menjadi salah satu perhatian besar di

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan dan energi masih menjadi salah satu perhatian besar di 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ketahanan pangan dan energi masih menjadi salah satu perhatian besar di Indonesia. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2012), pada tahun 2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli

BAB I PENDAHULUAN. Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli tropis Ethiopia, Afrika Timur, dan dataran tinggi Ethiopia dianggap sebagai pusat utama domestikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan adalah padi,

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan adalah padi, 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Di Indonesia komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan adalah padi, padahal ketahanan pangan yang terlalu bergantung pada satu komoditas tanaman mengandung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kekayaan sumber daya alam dalam bidang pertanian merupakan keunggulan yang dimiliki Indonesia dan perlu dioptimalkan untuk kesejahteraan rakyat. Pertanian merupakan aset

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tanaman sorghum merupakan salah satu jenis tanaman serealia yang berpotensi sebagai sumber pangan alternatif yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan secara komersial

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kacang tanah. Ketela pohon merupakan tanaman yang mudah ditanam, dapat tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. kacang tanah. Ketela pohon merupakan tanaman yang mudah ditanam, dapat tumbuh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ketela pohon (Manihot utilissima) adalah salah satu komoditas pangan yang termasuk tanaman penting di Indonesia selain tanaman padi, jagung, kedelai, dan kacang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional. Pembangunan pertanian memberikan sumbangsih yang cukup besar

I. PENDAHULUAN. nasional. Pembangunan pertanian memberikan sumbangsih yang cukup besar 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan pertanian memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan terigu dicukupi dari impor gandum. Hal tersebut akan berdampak

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan terigu dicukupi dari impor gandum. Hal tersebut akan berdampak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan pola konsumsi makanan pada masyarakat memberikan dampak positif bagi upaya penganekaragaman pangan. Perkembangan makanan olahan yang berbasis tepung semakin

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. dengan laju pembangunan dan pertambahan penduduk. Usaha ini tidak. terbatas pada tanaman pangan utama (padi) melainkan penganekaraman

PENDAHULUAN. dengan laju pembangunan dan pertambahan penduduk. Usaha ini tidak. terbatas pada tanaman pangan utama (padi) melainkan penganekaraman PENDAHULUAN Latar Belakang Usaha peningkatan produksi bahan pangan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama makanan pokok terus meningkat sejalan dengan laju pembangunan dan pertambahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan energi dunia yang dinamis dan semakin terbatasnya cadangan energi

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan energi dunia yang dinamis dan semakin terbatasnya cadangan energi 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan energi dunia yang dinamis dan semakin terbatasnya cadangan energi fosil menyebabkan perhatian terhadap energi terbarukan semakin meningkat, terutama

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ketela pohon atau ubi kayu dengan nama latin Manihot utilissima merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia selain tanaman padi, jagung, kedelai, kacang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ketergantungan terhadap bahan pangan impor sebagai akibat kebutuhan. giling (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2015).

I. PENDAHULUAN. Ketergantungan terhadap bahan pangan impor sebagai akibat kebutuhan. giling (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2015). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketergantungan terhadap bahan pangan impor sebagai akibat kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap komoditas beras sebagai bahan pangan utama cenderung terus meningkat setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Deskripsi 1.2 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Deskripsi 1.2 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Deskripsi Judul laporan Studio Konsep Perancangan Arsitektur yang diangkat adalah Pusat Rekreasi dan Edukasi Pertanian Kacang Tanah Kabupaten Pati. Untuk mengetahui perngertian dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting dari keseluruhan

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting dari keseluruhan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting dari keseluruhan jenis perekonomian nasional. Hal ini terjadi karena Indonesia mempunyai stuktur sistem perekonomian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terutama pangan dan energi dunia, termasuk Indonesia akan dihadapkan pada

I. PENDAHULUAN. terutama pangan dan energi dunia, termasuk Indonesia akan dihadapkan pada I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Peningkatan jumlah penduduk akan terus menuntut pemenuhan kebutuhan dasar terutama pangan dan energi dunia, termasuk Indonesia akan dihadapkan pada krisis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keharusannya memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Berdasarkan Sensus

I. PENDAHULUAN. keharusannya memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Berdasarkan Sensus I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Peranan sektor pertanian tanaman pangan di Indonesia sangat penting karena keharusannya memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan dan krisis energi sampai saat ini masih menjadi salah satu

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan dan krisis energi sampai saat ini masih menjadi salah satu 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ketahanan pangan dan krisis energi sampai saat ini masih menjadi salah satu perhatian utama dalam pembangunan nasional. Usaha peningkatan produksi bahan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 71 PENDAHULUAN Latar Belakang Sorgum manis [Sorghum bicolor (L.) Moench] merupakan salah satu tanaman pangan utama dunia. Hal ini ditunjukkan oleh data mengenai luas areal tanam, produksi dan kegunaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1.1 Latar Belakang Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam mempertahankan kelangsungan bisnisnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN ton (US$ 3,6 juta) (Jefriando, 2014). Salah satu alternatif pemecahan

I. PENDAHULUAN ton (US$ 3,6 juta) (Jefriando, 2014). Salah satu alternatif pemecahan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tepung terigu sangat dibutuhkan dalam industri pangan di Indonesia. Rata-rata kebutuhan terigu perusahaan roti, dan kue kering terbesar di Indonesia mencapai 20 ton/tahun,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lokal karena memiliki kandungan karbohidrat yang relatif tinggi. Zuraida dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lokal karena memiliki kandungan karbohidrat yang relatif tinggi. Zuraida dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu jenis tanaman budidaya yang dapat dimanfaatkan bagian umbinya sebagai bahan pangan alternatif lokal karena memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesultanan Surakarta dan Mangkunegaran masa lalu (Soemardjan, 1990).

BAB I PENDAHULUAN. Kesultanan Surakarta dan Mangkunegaran masa lalu (Soemardjan, 1990). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak di Jawa Tengah, wilayahnya meliputi 3.100 km 2 termasuk 105 km 2 daerah enclave yang masuk dalam wilayah Kesultanan Surakarta

Lebih terperinci

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan agribisnis nasional diarahkan untuk meningkatkan kemandirian perekonomian dan pemantapan struktur industri nasional terutama untuk mendukung berkembangnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus tantangan baru yang harus dihadapi dalam pembangunan pertanian ke depan. Globalisasi dan liberasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorgum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman yang termasuk di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorgum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman yang termasuk di 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sorgum 2.1.1. Klasifikasi Tanaman Sorgum Sorgum (Sorgum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman yang termasuk di dalam famili Graminae bersama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan pangan ketiga di

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan pangan ketiga di 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan pangan ketiga di Indonesia setelah padi dan jagung. Dengan perkembangan teknologi, ubi kayu dijadikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penghasil devisa potensial selain sektor migas. Indonesia sebagai suatu negara kepulauan memiliki potensi alam dan budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa. memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan.

BAB I PENDAHULUAN. subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa. memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia terletak di negara beriklim tropis, memiliki tanah yang cukup subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa wilayah di Indonesia cukup

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. didasarkan pada nilai-nilai karakteristik lahan sangat diperlukan sebagai

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. didasarkan pada nilai-nilai karakteristik lahan sangat diperlukan sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penentuan jenis tanaman pangan yang sesuai ditanam pada lahan tertentu didasarkan pada nilai-nilai karakteristik lahan sangat diperlukan sebagai pendukung pengambilan keputusan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan industri yang berkembang sangat pesat saat ini. Selain menjadi sorotan dunia, pariwisata juga mampu menjadi andalan dalam menghasilkan

Lebih terperinci

Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan

Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Anton J. Supit Dewan Jagung Nasional Pendahuluan Kemajuan teknologi dalam budidaya jagung semakin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Usaha perkebunan merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial untuk

I. PENDAHULUAN. Usaha perkebunan merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha perkebunan merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Hal itu dikarenakan Indonesia memiliki potensi sumber daya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan sosial. Oleh sebab

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan sosial. Oleh sebab II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Diversifikasi Pangan Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu dalam stabilitas nasional suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan sosial. Oleh sebab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. petani, mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. petani, mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus memenuhi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebijakan pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengembangkan agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani, mengisyaratkan bahwa

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KARAWANA KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KARAWANA KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI e-j. Agrotekbis 2 (3) : 332-336, Juni 2014 ISSN : 2338-3011 ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KARAWANA KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI Analysis of income and feasibility farming

Lebih terperinci

Strategi Pengembangan dan Riset Jagung untuk Diversifikasi Pangan

Strategi Pengembangan dan Riset Jagung untuk Diversifikasi Pangan ferfr/t CENTER Strategi Pengembangan dan Riset Jagung untuk Diversifikasi Pangan Oleh Dahrul Syah Dian Herawati Antung Sima Firlieyanti Ratih Dewanti Hariyadi Feri Kusnandar Nurtleni Sri Palupi Sutrisno

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pariwisata merupakan salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup

Lebih terperinci

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang saat ini telah menjadi penyebab berubahnya pola konsumsi penduduk, dari konsumsi pangan penghasil energi ke produk penghasil

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang dimiliki oleh suatu negara. Indonesia merupakan negara berkembang

I. PENDAHULUAN. yang dimiliki oleh suatu negara. Indonesia merupakan negara berkembang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Perekonomian nasional tidak terlepas dari berkembangnya sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gandum (Triticum aestivum L.) berasal dari daerah subtropik dan salah satu serealia dari famili Gramineae (Poaceae). Komoditas ini merupakan bahan makanan penting di

Lebih terperinci

KAJIAN USAHA PENGOLAHAN HASIL SAYURAN PRODUKSI MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (MKRPL) KABUPATEN BOYOLALI

KAJIAN USAHA PENGOLAHAN HASIL SAYURAN PRODUKSI MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (MKRPL) KABUPATEN BOYOLALI KAJIAN USAHA PENGOLAHAN HASIL SAYURAN PRODUKSI MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (MKRPL) KABUPATEN BOYOLALI Qanytah dan Trie Reni Prastuti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Bukit Tegalepek,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang subur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Hal ini dikarenakan Indonesia berada di wilayah tropis. Sehingga berbagai jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beragam. Penyediaan bahan pangan sesuai potensi daerah masingmasing

BAB I PENDAHULUAN. beragam. Penyediaan bahan pangan sesuai potensi daerah masingmasing BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki beragam ekosistem sangat cocok bila bahan pangan pokok penduduknya beragam. Penyediaan bahan pangan sesuai potensi daerah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat memerlukan dukungan semua pihak terkait, termasuk perguruan tinggi dan peran aktif para mahasiswanya. Peran perguruan tinggi

Lebih terperinci

6. MODEL PENGEMBANGAN DAN RANCANGAN IMPLEMENTASI

6. MODEL PENGEMBANGAN DAN RANCANGAN IMPLEMENTASI 6. MODEL PENGEMBANGAN DAN RANCANGAN IMPLEMENTASI 6.1 Model Pengembangan Agrowisata Mempertimbangkan berbagai hasil yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, maka model pengembangan agrowisata berbasis

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I LATAR BELAKANG BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan daerah tropis yang kaya akan hasil sumber daya alam. Salah satu hasilnya adalah umbi-umbian, salah satunya adalah singkong yang mempunyai potensi

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang penuh dengan keberagaman budaya dan pariwisata. Negara yang memiliki banyak kekayaan alam dengan segala potensi didalamnya, baik

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA BARAT

GUBERNUR SUMATERA BARAT GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR : 08 TAHUN 2017 TENTANG PENGANEKARAGAMAN PANGAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

IbM Kelompok Tani Buah Naga

IbM Kelompok Tani Buah Naga IbM Kelompok Tani Buah Naga Wiwik Siti Windrati, Sukatiningsih, Tamtarini dan Nurud Diniyah Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto Jember ABSTRAK Tujuan dari

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan pendapatan negara. Saat ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting karena pertanian berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan. Pangan yang dikonsumsi oleh individu terdapat komponen-komponen

Lebih terperinci

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN Pada tahun 2009, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian melakukan kegiatan analisis dan kajian secara spesifik tentang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Peranan studi kelayakan dan analisis proyek dalam kegiatan pembangunan. keterbatasan sumberdaya dalam melihat prospek usaha/proyek yang

PENDAHULUAN. Peranan studi kelayakan dan analisis proyek dalam kegiatan pembangunan. keterbatasan sumberdaya dalam melihat prospek usaha/proyek yang PENDAHULUAN Latar Belakang Peranan studi kelayakan dan analisis proyek dalam kegiatan pembangunan cukup besar dalam mengadakan penilaian terhadap kegiatan usaha/proyek yang akan dilaksanakan. Demikian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jajanan pasar adalah makanan tradisional Indonesia yang diperjual belikan di pasar, khususnya di pasar-pasar tradisional. Atau definisi lain dari jajanan pasar adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan sektor pertanian didalam pembangunan sangat penting karena sektor ini mampu menyerap sumber daya yang paling besar dan memanfaatkan sumberdaya yang ada, serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. 6. Hipotesis Penelitian, dan 7. Waktu dan Tempat Penelitian. keperluan. Berdasarkan penggolongannya tepung dibagi menjadi dua, yaitu

I PENDAHULUAN. 6. Hipotesis Penelitian, dan 7. Waktu dan Tempat Penelitian. keperluan. Berdasarkan penggolongannya tepung dibagi menjadi dua, yaitu I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : 1. Latar Belakang, 2. Identifikasi Masalah, 3. Maksud dan Tujuan Penelitian, 4. Manfaat Penelitian, 5. Kerangka Pemikiran, 6. Hipotesis Penelitian, dan 7. Waktu

Lebih terperinci

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN Emlan Fauzi Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai sekitar 220

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang hal-hal yang mendasari penelitian diantaranya yaitu latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bertumpu pada satu sumber karbohidrat yaitu beras, melemahkan ketahanan. pangan dan menghadapi kesulitan dalam pengadaanya.

BAB I PENDAHULUAN. yang bertumpu pada satu sumber karbohidrat yaitu beras, melemahkan ketahanan. pangan dan menghadapi kesulitan dalam pengadaanya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan beras sebagai bahan pangan utama Indonesia cenderung terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Menurut Suswono (2011),

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Padi merupakan komoditas yang sangat penting, karena saat ini beras

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Padi merupakan komoditas yang sangat penting, karena saat ini beras 12 BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Padi merupakan komoditas yang sangat penting, karena saat ini beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari 90% rakyat

Lebih terperinci

XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU

XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU Ubi kayu menjadi salah satu fokus kebijakan pembangunan pertanian 2015 2019, karena memiliki beragam produk turunan yang sangat prospektif dan berkelanjutan sebagai

Lebih terperinci

memenuhi kebutuhan warga negaranya. Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan nasional bisa

memenuhi kebutuhan warga negaranya. Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan nasional bisa BAB I PENDAHULUAN Kebutuhan pangan secara nasional setiap tahun terus bertambah sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk, sementara lahan untuk budi daya tanaman biji-bijian seperti padi dan jagung luasannya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan sangat penting. Sektor ini mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, laju pertumbuhannya sebesar 4,8 persen

Lebih terperinci

POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN

POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN Suwarno Asisten Direktur Perum Perhutani Unit 2 PENDAHULUAN Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Unit 2 berdasar Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2010 mendapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam

I. PENDAHULUAN. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, sehingga sering disebut sebagai negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah selatan DI Yogyakarta merupakan bentangan pantai sepanjang lebih dari 113 km, meliputi wilayah Kabupaten Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. setengah dari penduduk Indonesia bekerja di sektor ini. Sebagai salah satu

I. PENDAHULUAN. setengah dari penduduk Indonesia bekerja di sektor ini. Sebagai salah satu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan strategis karena merupakan sebagai tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia, dimana hampir setengah dari

Lebih terperinci

KOMPARASI UJI KARBOHIDRAT PADA PRODUK OLAHAN MAKANAN DARI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum Linn)

KOMPARASI UJI KARBOHIDRAT PADA PRODUK OLAHAN MAKANAN DARI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum Linn) KOMPARASI UJI KARBOHIDRAT PADA PRODUK OLAHAN MAKANAN DARI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum Linn) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1

Lebih terperinci

beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri dan lain sebagainya.

beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri dan lain sebagainya. PENDAHULUAN Kebutuhan pangan secara nasional setiap tahun terus bertambah sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk sementara lahan untuk budidaya untuk tanaman bijibijian seperti padi dan jagung luasannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi, karena pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi manfaat tidak saja digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetapi sebagai tempat usaha yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.

BAB I PENDAHULUAN. tetapi sebagai tempat usaha yang cukup banyak menyerap tenaga kerja. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peran industri dalam sebuah negara atau kota dapat kita lihat dalam bagaimana peran industri sebagai salah satu penggerak roda perekonomian di tempat dia berdiri.

Lebih terperinci

PROSIDING ISSN: E-ISSN:

PROSIDING ISSN: E-ISSN: PRODUKSI IKAN PATIN SUPER Dwi Puji Hartono* 1, Nur Indariyanti 2, Dian Febriani 3 1,2,3 Program Studi Budidaya Perikanan Politeknik Negeri Lampung Unit IbIKK Produksi Ikan Patin Super Politeknik Negeri

Lebih terperinci

Tabel 1.1 Daftar Impor Bahan Pangan Indonesia Tahun

Tabel 1.1 Daftar Impor Bahan Pangan Indonesia Tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu produk pertanian yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia adalah tepung terigu. Tepung terigu merupakan salah satu bahan dasar kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam negeri. Berdasarkan data dari Wardhana (2013) dalam Majalah Tempo

BAB I PENDAHULUAN. dalam negeri. Berdasarkan data dari Wardhana (2013) dalam Majalah Tempo BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat konsumsi mi di Indonesia cukup tinggi. Kurniawati (2006) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara ke dua terbesar di dunia dalam tingkat konsumsi mi gandum

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor pertanian unggulan yang memiliki beberapa peranan penting yaitu dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KADAR PROTEIN DAN LEMAK MI ALTERNATIF DARI PATI GANYONG (Canna edulis Ker) DAN PATI UBI KAYU (Manihot utilissima Pohl) SKRIPSI

PERBANDINGAN KADAR PROTEIN DAN LEMAK MI ALTERNATIF DARI PATI GANYONG (Canna edulis Ker) DAN PATI UBI KAYU (Manihot utilissima Pohl) SKRIPSI PERBANDINGAN KADAR PROTEIN DAN LEMAK MI ALTERNATIF DARI PATI GANYONG (Canna edulis Ker) DAN PATI UBI KAYU (Manihot utilissima Pohl) SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, pembangunan pertanian pada abad ke-21 selain bertujuan untuk mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan

Lebih terperinci

Pusat Wisata Kopi Sidikalang BAB 1 PENDAHULUAN

Pusat Wisata Kopi Sidikalang BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas penting yang diperdagangkan secara luas di dunia. Bagi bangsa Indonesia, kopi merupakan salah satu komoditi perdagangan yang memiliki

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dapat menghasilkan genotip baru yang dapat beradaptasi terhadap berbagai

I. PENDAHULUAN. dapat menghasilkan genotip baru yang dapat beradaptasi terhadap berbagai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan salah satu tanaman serealia yang tumbuh hampir di seluruh dunia dan tergolong spesies dengan viabilitas genetik yang besar. Tanaman jagung dapat menghasilkan

Lebih terperinci

POTENSI DAN USAHA PENGEMBANGAN EKOWISATA TELUK PENYU CILACAP

POTENSI DAN USAHA PENGEMBANGAN EKOWISATA TELUK PENYU CILACAP POTENSI DAN USAHA PENGEMBANGAN EKOWISATA TELUK PENYU CILACAP Ekowisata pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, sehingga keadaan

BAB I PENDAHULUAN. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, sehingga keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tiga terbesar di dunia. Kekayaan alam yang melimpah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. yang cukup baik terutama kandungan karbohidrat yang tinggi.

1 I PENDAHULUAN. yang cukup baik terutama kandungan karbohidrat yang tinggi. 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis,

Lebih terperinci

DIVERSIFIKASI PANGAN POKOK BERBASIS PANGAN LOKAL (ENBAL)

DIVERSIFIKASI PANGAN POKOK BERBASIS PANGAN LOKAL (ENBAL) DIVERSIFIKASI PANGAN POKOK BERBASIS PANGAN LOKAL (ENBAL) UNTUK MEMBANGUN KEMANDIRIAN PANGAN DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA OLEH : IR. ANDERIAS RENTANUBUN BUPATI MALUKU TENGGARA DAN DRS. YUNUS SERANG, MSI

Lebih terperinci

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena berkah kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pertanian organik menjadi suatu bisnis terbaru dalam dunia pertanian Indonesia. Selama ini produk pertanian mengandung bahan-bahan kimia yang berdampak

Lebih terperinci

TANAMAN PENGHASIL PATI

TANAMAN PENGHASIL PATI TANAMAN PENGHASIL PATI Beras Jagung Sagu Ubi Kayu Ubi Jalar 1. BERAS Beras (oryza sativa) terdiri dari dua jenis, yaitu Japonica yang ditanam di tanah yang mempunyai musim dingin, dan Indica atau Javanica

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. namun WHO menetapkan remaja (adolescent) berusia antara tahun.

BAB 1 PENDAHULUAN. namun WHO menetapkan remaja (adolescent) berusia antara tahun. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Remaja merupakan salah satu kelompok usia yang memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi disaat masa pertumbuhan dan pada masa ini terjadi proses kehidupan menuju kematangan

Lebih terperinci