KONDISI MACRO DEBRIS DI MANGROVE PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Studi Kasus di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KONDISI MACRO DEBRIS DI MANGROVE PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Studi Kasus di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu"

Transkripsi

1 Kondisi Macro Debris di Mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu... (Adinda, dkk) KONDISI MACRO DEBRIS DI MANGROVE PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Studi Kasus di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu (Macro Debris Condition in Mangrove Untung Java Island, Kepulauan Seribu) Adinda Maharani 1, Dannisa I. Handyman 2, Abdurrahman Salafy 3, Yusuf Nurrahman 3, Noir P. Purba 3 Komitmen Research Group 1 HIMAIKA 2 Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran 3 Jalan Jatinangor-Sumedang ABSTRAK Isu mengenai persebaran sampah di laut atau sering dikenal dengan Marine Debris sedang menjadi perbincangan dunia. Isu ini sangat penting karena berdampak pada ekosistem. Sampah laut terakumulasi di ekosistem terutama di mangrove. Akumulasi ini diakibatkan oleh mangrove sebagai trapping terhadap sampah. Wilayah kajian pada penelitian ini adalah hutan mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu yang berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta. Jakarta merupakan salah satu kota dengan kepadatan penduduk tertinggi, sehingga sampah rumah yang dihasilkan setiap harinya pun tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendata jenis sampah apa saja yang terdapat di daerah mangrove. Terdapat enam stasiun yang digunakan dalam penelitian ini. Pendataan sampah mengacu kepada form International Coastal Cleanup (ICC) dengan luas area pendataan sampah 100 m 2 di setiap stasiun. Terdapat tujuh kategori sampah dalam penelitian ini, dengan kategori yang paling banyak ditemukan adalah kategori A (most likely to find items) dengan jenis sampah paling banyak adalah pembungkus makanan. Ada satu kategori sampah yang ditambahkan karena tidak tercantum dalam form ICC, yaitu kategori G (clothes) yang merupakan tipe sampah tidak biasa ditemukan di wilayah pesisir. Selain pakaian, sampah-sampah tidak biasa lainnya yang ditemukan adalah alat-alat kebersihan diri (personal hygiene). Ekosistem mangrove dapat menjebak segala jenis sampah, mulai dari pembungkus makanan, sisa alat tangkap, hingga pakaian. Sampah-sampah tersebut dapat berasal dari laut maupun dibuang langsung ke ekosistem tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sampah yang paling sering ditemukan adalah jenis A2 yaitu food wrapper (pembungkus makanan). Kata kunci: Ekosistem Mangrove, Macro Debris, Plastik ABSTRACT Issues about the spread of waste at sea or often known as "Marine Debris" are becoming the world's talks. This issue is very important because it affects the ecosystem. The accumulation of macro debris in the mangrove ecosystem can have an impact on environmental health and esthetics. Mangrove have an ecological role in the coastal areas so that the accumulation of macro debris can inhibit the role of the mangrove. Study area in this research is mangrove forest of Untung Java Island, Kepulauan Seribu that borders DKI Jakarta Province. There are 6 stations used in this study. Garbage collection refers to the International Coastal Cleanup (ICC) form with an area of 100 m 2 garbage collection at each station. There are seven categories of garbage in this research, with the category most often found is category A (most likely to find items) with the most waste type is food wrappers. There is one category of garbage added because it is not listed in the ICC form, the category G (clothes) which is the type of waste not commonly found in coastal areas. In addition to clothing, other unusual garbages found are personal hygiene tools. mangrove ecosystem can trap all kinds of garbage, ranging from food wrappers, residual fishing gear, to clothes. The garbage can come from the sea or disposed directly into the ecosystem. The results of this study showed that the most commonly found garbage is the type "A2" which is food wrapper. Keywords: Mangrove Ecosystem, Macro Debris, Plastic 55

2 Seminar Nasional Geomatika 2017: Inovasi Teknologi Penyediaan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Berkelanjutan PENDAHULUAN Isu mengenai persebaran sampah dilaut atau sering dikenal dengan Marine Debris sedang menjadi perbincangan dunia. Isu ini sangat penting karena berdampak pada ekosistem (UNEP, 2009), manusia (Derraik, 2002) dan kehidupan di laut (Tickel, 1997). Marine Debris sudah ada sejak tahun 1820 ketika terjadi revolusi industri di Eropa. Kemudian pada tahun dilakukan penelitian mendasar tentang sampah di laut hingga menjadi isu utama konferensi internasional pada tahun Dalam skala internasional, Marine Debris diangkat sebagai isu utama dalam konferensi internasional, antara lain Konferensi Rio dan World Economic Forum Di Indonesia, penelitian tentang sampah laut masih sangat minim karena hingga kini hanya terdapat 10 penelitian yang mengangkat tema Marine Debris. Kajian mengenai Marine Debris di Indonesia penting untuk dikembangkan karena Indonesia merupakan negara penyumbang sampah terbesar kedua di dunia dengan total sampah sebanyak 3,2 juta ton (Jambeck et. al., 2015). Akumulasi macro debris di wilayah pesisir dan laut dapat memberikan dampak secara ekologi maupun ekonomi karena dapat mengganggu stabilitas ekosistem dan kelangsungan hidup organisme (Boerger et. al 2010), serta mengurangi nilai estetika lingkungan. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang berpotensi menjebak sampah karena mangrove berbatasan dengan darat maupun laut. Selain itu, tanaman mangrove memiliki morfologi akar yang dapat menjebak sampah dalam jumlah besar. Akumulasi macro debris dalam jumlah besar di hutan mangrove dapat mengganggu stabilitas ekosistem karena salah satu peran ekologis tanaman mangrove di wilayah pesisir adalah sebagai habitat bagi organisme lain, seperti ikan dan kelompok crustacea sehingga akumulasi macro debris di ekosistem mangrove dapat mengganggu kelangsungan hidup banyak organisme. Pulau-pulau kecil memiliki potensi mendapatkan sampah kiriman dari daerah lain yang terbawa arus. Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu memiliki potensi besar mendapatkan distribusi sampah karena berbatasan langsung dengan Pulau Jawa yang merupakan pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia. Pulau ini juga merupakan salah satu pulau gugusan Kepulauan Seribu yang letaknya tidak jauh dari Pulau Jawa dan tergolong pulau berpenduduk sehingga dapat dijadikan lokasi untuk mengkaji akumulasi macro debris. METODE Lokasi pengambilan data sampah adalah di Pulan Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Data sampah yang diambil berada di ekosistem mangrove. Ada enam titik yang dijadikan stasiun sehingga didapat sampel yang berbeda dari tiap stasiun. Pulau Untung Jawa dipilih karena letaknya dekat dengan Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga akan banyak aktivitas manusia disana yang akan menghasilkan limbah dan sampah. Limbah dan sampah tersebut akan berdampak pada kondisi Pulau Untung Jawa. Gambar 1. Pulau Untung Jawa. Sumber: Google Earth 56

3 Kondisi Macro Debris di Mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu... (Adinda, dkk) Gambar 2. Peta station pengambilan data. Metode yang digunakan dalam pengambilan data sampah di mangrove menggunakan form International Coastal Cleanup yang diunduh dari (http://www.oceanconservancy.org/ourwork/international-coastal-cleanup/dataform.pdf) untuk pendataan sampah. Ada empat konten dalam form yaitu jenis sampah, berat, lokasi dan lebar area sampah. Lebar area sampah diambil menggunakan transek dengan ukuran 10 x 10 meter. Alat dan bahan yang digunakan yaitu trash bag, GPS, roll meter, transek dan tali rapia. Ada enam kategori sampah yang tertulis di form yaitu a. most likely to find items, b. fishing gear, c. packaging material, d. personal hygiene, e. other trash, f. Tiny trash less than 2.5 cm). Metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Diagram alir penelitian. 57

4 Seminar Nasional Geomatika 2017: Inovasi Teknologi Penyediaan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Berkelanjutan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan sampah di ambil di enam titik stasiun di hutan mangrove. Ada 6 kategori sampah yang ditemukan berdasarkan ICC form yaitu kategoria) most likely to find items, b) fishing gear, c) packaging material, d) personal hygiene, e) other trash, f) tiny trash less than 2.5 cm. Namun demikian, ada satu kategori sampah yang ditemukan di Pulau Untung Jawa dan tidak dicantumkan di dalam form sehingga dilakukan penambahan kategori, yaitu g) clothes. Sampah jenis most likely to find items adalah sampah yang paling sering ditemukan, karena jenis sampah ini meliputi bungkus makanan kemasan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat umum untuk dikonsumsi setiap hari. Sehingga sampah ini akan terus dihasilkan setiap harinya. Kategori yang kedua adalah fishing gear. Fishing gear merupakan sampah alat alat penangkapan ikan yang digunakan oleh para nelayan. Packaging Material adalah jenis sampah bahan-bahan kemasan. Kategori selanjutnya adalah personal hygiene, sampah ini merupakan barang kebersihan pribadi seseorang. Tinny trash less than 2.5 cm adalah sampah yang ukurannya kurang dari 2.5 cm dan biasanya berupa potong-potong kecil dari sampah yang besar. Kategori terakhir yang merupakan jenis kategori tambahan adalah Clothes, sampah ini berupa sandang atau barang pribadi (pakaian, sandals, dll). Gambar 4. Grafik sampah kategori A1 A18. Tabel 1. Keterangan jenis-jenis sampah Most likely to Finds Items. A1 Cigarette butts Puntung rokok A2 Food wrapper Pembungkus Makanan (permen, kripik, dll) A3 Take out/away containers Bungkusan Paket (Plastik) (plastic) A4 Take out/away containers Bungkusan Paket (Foam) (foam) A5 Bottle caps (plastic) Tutup Botol (Plastik) A6 Bottle caps (metal) Tutup Botol (Metal) A7 Lids (plastic) Penutup (Plastik) A8 Straw/stirrers Sedotan / pengaduk A9 Fork, knives, spoons Garpu, Pisau, Sendok A10 Beverage bottles (plastic) Botol Minuman (Plastik) A11 Beverage bottles (glass) Botol Minuman (Kaca) A12 Beverage cans Kaleng minuman A13 Grocery bags (plastic) Tas Kelontong (Plastik) A14 Other plastic bags Tas Plastik Lainnya A15 Paper bags Tas Kertas A16 Cups & plates (paper) Cangkir & Pelat (Kertas) 58

5 Kondisi Macro Debris di Mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu... (Adinda, dkk) A17 Cups & plates (plastic) Cangkir & Pelat (Plastik) A18 Cups & plates (foam) Cangkir & Pelat (Foam) Gambar 4 menunjukkan grafik sampah kategori A1 A18 yang ditemukan. Sampah kategori A1-A18 ditemukan di setiap stasiun pengamatan karena sampah kategori ini termasuk sampah yang umum ditemukan di wilayah pesisir dan laut. Jenis Sampah ini juga merupakan sampah rumah tangga yang paling sering dikonsumsi oleh manusia. Dari 18 jenis sampah yang terdapat dalam kategori ini, 16 diantaranya ditemukan di hutan mangrove Pulau Untung Jawa. Adapun jenis sampah yang paling banyak ditemukan dari kategori ini adalah food wrapper dengan jumlah total yang dikumpulkan dari seluruh stasiun adalah 231 pieces. Stasiun 4 merupakan stasiun yang paling banyak terdapat sampah kategori A1-A18 di dalamnya dengan jumlah sampah sebanyak 154 pieces. Berdasarkan Gambar 2 sampah yang paling sering ditemukan adalah jenis A2 yaitu Foodwrapper. Gambar 5. Grafik sampah kategori B1 B4. Tabel 2. Keterangan jenis-jenis sampah fishing gear. B1 Fishing buoys, pots, & traps Pelampung Jaring, Pot & Perangkap Ikan B2 Fishing nets & pieces Jaring Ikan & Potongan B3 Rope (1 yard/meter = 1 piece) Tambang (1 yard/meter = 1 buah) B4 Fishing line (1 yard/meter = 1 piece) Tali Jaring (1 yard/meter = 1 buah) Gambar 5. menunjukkan grafik sampah kategori B1-B4. Sampah kategori B1-B4 banyak ditemukan di stasiun 3 dengan total sampah 15 pieces jaring dan 5 meter tali. Stasiun 3 merupakan stasiun yang berbatasan langsung dengan laut lepas sehingga sampah kategori B1-B4 paling banyak ditemukan di stasiun tersebut. Dari 4 jenis sampah, 2 diantaranya ditemukan dengan jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah tali. Total jumlah sampah kategori B1- B4 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 16 pieces jaring dan 16 meter tali. Tabel 3. Keterangan jenis-jenis sampah packaging materials. C1 6-Pack holders Wadah Botol Kratan C2 Other plastic/foam packaging Plastik Lainnya/ Foam Kemasan C3 Other plastic bottles (oil, bleach, Botol Plastik Lainnya (Minyak, Pemutih, etc.) dll) C4 Strapping bands Tali Pengemas Box C4 Tobacco packaging/wrap Kemasan Tembakau/ Bungkus 59

6 Seminar Nasional Geomatika 2017: Inovasi Teknologi Penyediaan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Berkelanjutan Gambar 6. Grafik sampah kategori C1-C5. Gambar 6. menunjukkan grafik sampah kategori C1-C5. Jenis sampah dari kategori C1-C5 yang paling banyak ditemukan adalah strapping bands dengan jumlah total yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 8 pieces. Sampah kategori C1-C5 paling banyak terdapat di stasiun 4. Kategori ini bukan kategori sampah yang umum terjebak di hutan mangrove. Total sampah kategori C1-C4 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 14 pieces. Gambar 7. Grafik sampah kategori D1-D4. Tabel 4. Keterangan jenis-jenis sampah Personal Hygiene D1 Condoms Kondom D2 Diapers Popok D3 Syringes Jarum Suntik D4 Tampon/tampon applicator Tampon/ Aplikator Tampon Gambar 7. menunjukkan grafik sampah kategori D1-D4. Jenis sampah dari kategori D1-D4 yang paling banyak ditemukan adalah popok dengan jumlah total yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 9 pieces. Sampah kategori D1-D4 paling banyak ditemukan di stasiun 5 dengan jumlah sampah 6 pieces. Total sampah kategori D1-D4 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 11 pieces. Dari 4 jenis sampah dalam kategori ini, 2 diantaranya ditemukan di stasiun pengamatan, yaitu sampah jenis popok dan tampon. 60

7 Kondisi Macro Debris di Mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu... (Adinda, dkk) Gambar 8. Grafik sampah kategori E1-E7. Tabel 5. Keterangan jenis-jenis sampah other trash E1 Appliances (refrigerators, washers, etc.) Peralatan (Lemari Pendingin, Mesin Cuci, dll) E2 Balloons Balon E3 Cigar tips Cigar Tips (Alat Bantu Merokok) E4 Cigarette lighters Korek Api Rokok E5 Construction materials Bahan Kontruksi E6 Fireworks Kembang Api E7 Tires Ban Gambar 8. menunjukkan grafik sampah kategori E1-E7. Jenis sampah dari kategori E1-E7 yang paling banyak ditemukan adalah ban dengan jumlah total yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 18 pieces. Sampah kategori E1-E7 paling banyak ditemukan di stasiun 1 dengan jumlah sampah 10 pieces. Total sampah kategori E1-E7 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 25 pieces. Sampah kategori ini merupakan sampah yang jarang terdapat dalam hutan mangrove. Jenis sampah kategori ini yang ditemukan hanya appliances dan balloons. Gambar 9. Grafik sampah kategori F1-F3. Tabel 6. Keterangan jenis- jenis sampah Tiny Trash Less Than 2.5 cm. F1 Foam pieces Potongan Busa F2 Glass pieces Potongan Kaca F3 Plastic pieces Potongan Plastik Gambar 9. menunjukkan grafik sampah kategori F1-F3. Jenis sampah dari kategori F1-F3 yang paling banyak ditemukan adalah foam pieces dengan jumlah total sampah yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 19 pieces. Sampah kategori F1-F3 paling banyak ditemukan di stasiun 4 61

8 Seminar Nasional Geomatika 2017: Inovasi Teknologi Penyediaan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan jumlah sampah yang ditemukan sebanyak 13 pieces. Total sampah kategori F1-F3 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 20 pieces. Jenis sampah kategori F1-F3 yang ditemukan adalah foam pieces dan plastic pieces. Gambar 10. Grafik sampah kategori G. Tabel 7. Keterangan jenis-jenis sampah clothes G1 T-Shirt Baju G2 Sandals Sendal G3 Sack Karung Gambar 10. menunjukkan grafik sampah kategori G1-G3. Jenis sampah dari kategori G1-G3 yang paling banyak ditemukan adalah sendal dengan jumlah sampah yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 22 pieces. Sampah kategori G1-G3 banyak ditemukan di stasiun 5 dengan jumlah sampah yang ditemukan 10 pieces. Total sampah kategori G1-G3 yang ditemukan di seluruh stasiun adalah 27 pieces. Kategori ini merupakan kategori tambahan karena sampah-sampah ini ditemukan di sebagian besar stasiun namun tidak ada kategori khusus dalam form ICC. Gambar 11. Sampah di sela-sela akar mangrove. 62

9 Kondisi Macro Debris di Mangrove Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu... (Adinda, dkk) Gambar 12. Kondisi sampah di akar mangrove. Perairan Kepulauan Seribu yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta memiliki resiko yang cukup tinggi terhadap bahaya pencemaran baik yang datang dari daratan maupun kegiatan pelayaran dari dan yang menuju pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Secara umum berdasarkan letak geografisnya, perairan Kepulauan Seribu paling tidak dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar yaitu perairan selatan yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta (Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang dan Pulau Pari), perairan bagian tengah (Pulau Tidung, Panggang, Pramuka, Semak Daun, Karang Cangkok dan Karang Bongkok), dan perairan bagian utara (Pulau Kelapa). Kondisi sampah di akar Mangrove dapat dilihat pada Gambar 11 dan Gambar 12. Pulau Untung Jawa merupakan salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta. Jakarta merupakan salah satu kota yang ada di Pulau Jawa, sehingga sampah yang ditemukan di Pulau Untung, Kepulauan Seribu tidak hanya berasal dari pulau itu sendiri. Namun Pulau Jawa juga berpengaruh terhadap kerapatan sampah yang ada di Pulau Untung Jawa. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan pulau lainnya. Padatnya penduduk disana mengakibatkan tingginya kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap hari, sehingga banyak perindustrian rumah tangga. Hal tersebut memicu banyaknya limbah industri dan sampah rumah tangga. Semua jenis sampah setiap harinya akan dihasilkan, sehingga jumlah sampah di Pulau ini sangat tinggi. Sebagian sampah yang ada di daratan akan terbuang ke laut dari aliran sungai, muara, kegiatan jual-beli di laut, atau pembuangan sampah dengan sengaja ke laut. Awalnya sampah tersebut hanya berada disekitaran pesisir Pulau Jawa, namun seiring berjalannya waktu sampah tersebut dapat berpindah ke pulau lainnya. Hal itu dikarenakan adanya arus permukaan laut. Arus permukaan laut dipengaruhi oleh pergerakan angin. Angin yang berhembus akan menggerakan arus di permukaan. Kondisi angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi angin monsoon yaitu Angin Musim Barat (Desember-Maret) dan Angin Musim Timur (Juni-September). Musim Pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-November. Kecepatan angin pada musim Barat bervariasi antara 7-20 knot/jam dan bertiup dari barat daya sampai barat laut. Angin kencang dengan kecepatan 20 knot/jam biasanya terjadi antara bulan Desember-Februari. Angin musim barat adalah angin yang berhembus dari bagian bumi utara (Asia) menuju bagian bumi selatan (Australia). Hal ini dikarenakan tekanan di daerah Australia lebih rendah dibandingkan di Asia. Sedangkan angin musim timur berhembus dari bagian bumi selatan (Australia) menuju utara (Asia). Angin tersebut akan memicu pola arus permukaan. Kepulauan seribu berada di utara Pulau Jawa. Pada musim timur angin bergerak dari selatan ke utara. Sehingga angin akan bergerak dari Pulau jawa menuju ke Kepulauan seribu. Angin tersebut memicu adanya arus dipermukaan, arus permukaan ini akan bergerak sesuai dengan arah angin yaitu ke utara. Maka arus ini akan bergerak dari Pulau Jawa menuju ke Kepulauan Seribu. Arus tersebut akan membawa dan menyeret sampah yang ada di sekitaran pesisir dan laut jawa bagian utara menuju ke Kepulauan Seribu. Pulau Untung merupakan pulau yang paling dekat dengan daratan jawa, sehingga akan merasakan dampak yang paling pertama dibandingkan pulau-pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu. Sampah yang dibawa oleh arus akan terus bergerak mengikuti arah arus. Namun ada sebagian besar sampah yang mungkin terperangkap di akar mangrove karena akar mangrove berbelit belit. Sampah tersebutlah yang akan menambah kerapatan sampah yang ada di daerah Mangrove Untung Jawa. 63

10 Seminar Nasional Geomatika 2017: Inovasi Teknologi Penyediaan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Berkelanjutan Pada musim timur angin bergerak dari bumi bagian utara menuju selatan angin ini tidak terlalu mempengaruhi kerapatan sampah yang ada di Pulau Untung Jawa, karena pulau-pulau besar yang ada di atas kepulauan seribu jaraknya cukup jauh, sehingga sampah yang terseret dari utara memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke Kepulauan Seribu, terutama Pulau Untung Jawa. Sampah-sampah tersebut dapat terjerat di pulau lain sebelum sampai di Pulau Untung Jawa KESIMPULAN Macro Debris dapat ditemukan di perairan Pulau Untung Jawa. Berat sampah yang ditemukan mencapai 33,9 Kilogram. Sampah yang paling banyak ditemukan adalah jenis Foodwrapers atau pembungkus makanan. Ada jenis sampah yang tidak tercantum dalam form yaitu jenis clothes dengan kode G. Sampah G ini dikelompokan menjadi 3 macam yaitu sandals, T-shirt dan Sack (karung). Kerapatan sampah dipengaruhi oleh arus permukaan. Arus permukaan yang akan membawa sampah disebabkan oleh angin musim barat dan angin musim timur. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Noir P Purba dan Yusuf N selaku pembimbing, yang telah membantu dalam penulisan jurnal ini. Kami juga berterima kasih kepada KOMITMEN Research Group yang telah membantu dalam hal lainnya, serta memberika dukungan. DAFTAR PUSTAKA Boerger, C.M., Lattin, G.L., Moore, S.L., Moore, C.J., Plastic ingestion by planktivorous fishes in the North Pacific Central Gyre. Mar. Pollut. Bull. 60, Derraik, J.G.B The Pollution of Marine Environment by Plastic Debris: A review. Journal of Marine Pollution Bulletin. Issue 44, Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A.,... Law, K. L Plastic waste inputs from land into the ocean. Marine Pollutiion, Tickel, C., The value of biodiversity. In: Ormond, R.F.G., Gage, J.D., Angel, M.V. (Eds.), Marine Biodiversity: Patterns and Processes. Cambridge University Press, Cambridge, pp. xiii xxii. United Nations Environment Programme (UNEP) Marine Litter: A Global Challenge. UNEP, Nairobi, 232 p. 64

INTO HANDYCRAFTS. Chairani, 2Sulyono

INTO HANDYCRAFTS. Chairani, 2Sulyono Ethos (Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat): 159-166 PEMBERDAYAAN KELOMPOK IBU-IBU RUMAH TANGGA MELALUI PEMANFAATAN SAMPAH ANORGANIK MENJADI KERAJINAN TANGAN THE HOUSEWIFE'S GROUP EMPOWERMENT THROUGH

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Pulau Pramuka secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu, Kotamadya Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat. Gambar 1.1 Tempat Penampungan Sampah

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat. Gambar 1.1 Tempat Penampungan Sampah BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Masalah sampah di Indonesia merupakan salah satu permasalahan yang kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat Indonesia dalam membuang

Lebih terperinci

EVALUASI KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

EVALUASI KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU JRL Vol. 4 No.1 Hal 1926 Jakarta, Januari 2008 ISSN : 20853866 EVALUASI KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Suhendar I Sachoemar Pusat Teknologi Pertanian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 28 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis dan Perairan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah sebuah kabupaten administrasi di Provinsi DKI Jakarta dimana sebelumnya menjadi salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seperti yang kita ketahui, kebutuhan pokok manusia terdiri atas kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sandang adalah kebutuhan akan pakaian; pangan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wilayahnya merupakan perairan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia

BAB I PENDAHULUAN. wilayahnya merupakan perairan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang tiga per empat luas wilayahnya merupakan perairan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Panjang garis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam hayati, sumberdaya alam non hayati dan sumberdaya buatan, merupakan salah satu aset pembangunan

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perairan Pulau Pramuka terletak di Kepulauan Seribu yang secara administratif termasuk wilayah Jakarta Utara. Di Pulau Pramuka terdapat tiga ekosistem yaitu, ekosistem

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Oleh : Suhendar I Sachoemar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Abstract An identification of the environment characteristics of the Seribu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laut Indonesia sudah sejak lama didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia terutama pemanfaatan sumberdaya hayati seperti ikan maupun sumberdaya non hayati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Serta peraturan di indonesia memang agak rumit, dan tidak benar-benar

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Serta peraturan di indonesia memang agak rumit, dan tidak benar-benar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah sampah di Indonesia merupakan salah satu permasalahan yang sangat kompleks. Serta peraturan di indonesia memang agak rumit, dan tidak benar-benar memakai konsep

Lebih terperinci

SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT

SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT Martono Divisi Pemodelan Iklim, Pusat Penerapan Ilmu Atmosfir dan Iklim LAPAN-Bandung, Jl. DR. Junjunan 133 Bandung Abstract: The continuously

Lebih terperinci

BAB II DATA DAN ANALISA

BAB II DATA DAN ANALISA BAB II DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Data dan informasi yang dipakai dalam pembuatan tugas akhir ini dapat diperoleh dari beberapa sumber, antara lain : 1. Data Sumatif : Berasal dari beberapa artikel

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP GREEN MANUFACTURING PADA BOTOL MINUMAN KEMASAN PLASTIK

PENERAPAN KONSEP GREEN MANUFACTURING PADA BOTOL MINUMAN KEMASAN PLASTIK PENERAPAN KONSEP GREEN MANUFACTURING PADA BOTOL MINUMAN KEMASAN PLASTIK Wisma Soedarmadji 1*, Surachman 2, Eko Siswanto 3 1,2,3 Universitas Brawijaya, Fakultas Teknik Mesin, Malang 65145, Indonesia ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekurang-pedulian warga negara terhadap lingkungannya sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. kekurang-pedulian warga negara terhadap lingkungannya sendiri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Permasalahan lingkungan sampai dengan saat ini masih menarik banyak perhatian Warga Negara, Perusahaan, Lembaga serta Pemerintah dari sekitar belahan dunia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Penulisan Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations Conference on Environment and Development UNCED) di Rio

Lebih terperinci

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR

5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5 KONDISI PERIKANAN TANGKAP KABUPATEN CIANJUR 5.1 Sumberdaya Ikan Sumberdaya ikan (SDI) digolongkan oleh Mallawa (2006) ke dalam dua kategori, yaitu SDI konsumsi dan SDI non konsumsi. Sumberdaya ikan konsumsi

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang

V. KEADAAN UMUM WILAYAH. 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang V. KEADAAN UMUM WILAYAH 5.1 Kondisi Wilayah Kelurahan Pulau Panggang Wilayah Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari 12 pulau dan memiliki kondisi perairan yang sesuai untuk usaha budidaya. Kondisi wilayah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Saefullah NIP

KATA PENGANTAR. Jakarta, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Saefullah NIP KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya penyusunan KLHS Raperda RTR Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta dengan baik. Kegiatan ini adalah kelanjutan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Posisi Geografis dan Kondisi Perairan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terdiri atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Potensi Keuntungan Bersih per Tahun per km 2 dari Terumbu Karang dalam Kondisi Baik di Asia Tenggara Penggunaan Sumberdaya

I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Potensi Keuntungan Bersih per Tahun per km 2 dari Terumbu Karang dalam Kondisi Baik di Asia Tenggara Penggunaan Sumberdaya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Terumbu karang adalah bangunan ribuan hewan yang menjadi tempat hidup berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang yang sehat dengan luas 1 km 2 dapat menghasilkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan pada bulan Agustus sampai November 2011 yang berada di dua tempat yaitu, daerah hutan mangrove Wonorejo

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. banyak efek buruk bagi kehidupan dan lingkungan hidup manusia. Kegiatan

PENDAHULUAN. banyak efek buruk bagi kehidupan dan lingkungan hidup manusia. Kegiatan PENDAHULUAN Latar Belakang Aktivitas kehidupan manusia yang sangat tinggi telah menimbulkan banyak efek buruk bagi kehidupan dan lingkungan hidup manusia. Kegiatan pembangunan, terutama di sektor industri

Lebih terperinci

MANAGEMENT OF THE NATURAL RESOURCES OF SMALL ISLAND AROUND MALUKU PROVINCE

MANAGEMENT OF THE NATURAL RESOURCES OF SMALL ISLAND AROUND MALUKU PROVINCE MANAGEMENT OF THE NATURAL RESOURCES OF SMALL ISLAND AROUND MALUKU PROVINCE (Environmental Study of University of Pattimura) Memiliki 1.340 pulau Pulau kecil sebanyak 1.336 pulau Pulau besar (P. Seram,

Lebih terperinci

VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI

VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI 55 VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI 6.1 Analisis DPSIR Analisis DPSIR dilakukan dalam rangka memberikan informasi yang jelas dan spesifik mengenai faktor pemicu (Driving force), tekanan

Lebih terperinci

ANALISIS UNDANG-UNDANG KELAUTAN DI WILAYAH ZONA EKONOMI EKSKLUSIF

ANALISIS UNDANG-UNDANG KELAUTAN DI WILAYAH ZONA EKONOMI EKSKLUSIF Ardigautama Agusta. Analisis Undang-undang Kelautan di Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif 147 ANALISIS UNDANG-UNDANG KELAUTAN DI WILAYAH ZONA EKONOMI EKSKLUSIF Ardigautama Agusta Teknik Geodesi dan Geomatika,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota akan selalu berhubungan erat dengan perkembangan lahan baik dalam kota itu sendiri maupun pada daerah yang berbatasan atau daerah sekitarnya. Selain itu lahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Asahan secara geografis terletak pada ,2 LU dan ,4

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Asahan secara geografis terletak pada ,2 LU dan ,4 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai Asahan secara geografis terletak pada 2 0 56 46,2 LU dan 99 0 51 51,4 BT. Sungai Asahan merupakan salah satu sungai terbesar di Sumatera Utara, Indonesia. Sungai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam menghadapi persaingan global pada umumnya setiap perusahaan mengharapakan keberhasilan dalam menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Konsumen

Lebih terperinci

Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah

Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah Karakteristik Pulau Kecil: Studi Kasus Nusa Manu dan Nusa Leun untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Maluku Tengah Ilham Marasabessy 1 Coauthor Achmad Fahrudin 1, Zulhamsyah Imran 1, Syamsul Bahri Agus

Lebih terperinci

pada akhirnya dapat mengganggu keseimbangan biogeokimia perairan laut terutama di areal sepanjang pantai. Bahkan sejalan dengan berbagai pemanfaatan

pada akhirnya dapat mengganggu keseimbangan biogeokimia perairan laut terutama di areal sepanjang pantai. Bahkan sejalan dengan berbagai pemanfaatan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Wilayah perairan pantai memiliki sumberdaya yang tinggi. Namun demikian wilayah ini mempunyai resiko yang tinggi pula terhadap perubahan lingkungan yang disebabkan oleh

Lebih terperinci

Tabel 1. Perkiraan Masuknya Hydrocarbon Minyak Ke Lingkungan Laut

Tabel 1. Perkiraan Masuknya Hydrocarbon Minyak Ke Lingkungan Laut 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laut merupakan suatu lahan yang kaya dengan sumber daya alam termasuk keanekaragaman sumber daya hayati yang kesemuanya dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan

Lebih terperinci

PENCEMARAN LAUT PENDAHULUAN. WAHYU ANDY NUGRAHA, ST, MSc. RABU Jam

PENCEMARAN LAUT PENDAHULUAN. WAHYU ANDY NUGRAHA, ST, MSc. RABU Jam PENCEMARAN LAUT PENDAHULUAN WAHYU ANDY NUGRAHA, ST, MSc RABU Jam 10.40-12.20 12.20 PERATURAN IKUT PERKULIAHAN Datang tepat waktu. Toleransi hanya diberikan 10 menit. Memakai Pakaian berkerah. Boleh kemeja

Lebih terperinci

Berita Resmi Statistik Provinsi Kalimantan Timur No.14/02/64 Th.XIX 1 Februari

Berita Resmi Statistik Provinsi Kalimantan Timur No.14/02/64 Th.XIX 1 Februari BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 14/02/64/TH XIX, 1 Februari 2016 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Triwulan IV Tahun 2015 Produksi Industri Manufaktur

Lebih terperinci

HIDUP DENGAN SAMPAH. Masalah Kebersihan. Oleh : Vylda Riezka Febbyana Studi Futuristik

HIDUP DENGAN SAMPAH. Masalah Kebersihan. Oleh : Vylda Riezka Febbyana Studi Futuristik HIDUP DENGAN SAMPAH Seminar Studi Futuristik Oleh : Vylda Riezka Febbyana 15411093 Masalah Kebersihan Kebersihan menjadi hal yang tidak lagi diperbincangkan. Tidak ada lagi yang mempermasalahkan kebersihan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI IV.1 Gambaran Umum Kepulauan Seribu terletak di sebelah utara Jakarta dan secara administrasi Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi

Lebih terperinci

BIOAKUMULASI LOGAM BERAT DALAM MANGROVE Rhizophora mucronata dan Avicennia marina DI MUARA ANGKE JAKARTA

BIOAKUMULASI LOGAM BERAT DALAM MANGROVE Rhizophora mucronata dan Avicennia marina DI MUARA ANGKE JAKARTA J.Tek.Ling Vol. 7 No. 3 Hal. 266-270 Jakarta, Sept. 2006 ISSN 1441 318X BIOAKUMULASI LOGAM BERAT DALAM MANGROVE Rhizophora mucronata dan Avicennia marina DI MUARA ANGKE JAKARTA Titin Handayani Peneliti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mangrove. Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan

I. PENDAHULUAN. mangrove. Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan

Lebih terperinci

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti Sebuah lagu berjudul Nenek moyangku seorang pelaut membuat saya teringat akan kekayaan laut Indonesia. Tapi beberapa waktu lalu, beberapa nelayan Kepulauan

Lebih terperinci

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R Oleh : Andreas Untung Diananto L 2D 099 399 JURUSAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

Produktivitas Serasah Mangrove di Kawasan Wonorejo Pantai Timur Surabaya. Abi Gayuh Sopana, Trisnadi Widyaleksono, dan Thin Soedarti

Produktivitas Serasah Mangrove di Kawasan Wonorejo Pantai Timur Surabaya. Abi Gayuh Sopana, Trisnadi Widyaleksono, dan Thin Soedarti Produktivitas Serasah Mangrove di Kawasan Wonorejo Pantai Timur Surabaya Abi Gayuh Sopana, Trisnadi Widyaleksono, dan Thin Soedarti Prodi S-1 Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Daerah Kecamatan Pulau Tiga merupakan salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Natuna yang secara geografis berada pada posisi 3 o 34 30 3 o 39

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah teritorial Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah pesisir dan laut kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam ini berpotensi untuk dimanfaatkan bagi

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Lokasi penelitian mengambil tempat di pulau Pramuka Kepulauan Seribu, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta (Peta Lokasi Lampiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ternyata telah menimbulkan bermacam-macam efek yang buruk bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. ternyata telah menimbulkan bermacam-macam efek yang buruk bagi kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas kehidupan yang sangat tinggi yang dilakukan oleh manusia ternyata telah menimbulkan bermacam-macam efek yang buruk bagi kehidupan manusia dan tatanan lingkungan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di dua tempat yaitu pengambilan data di lapangan dilakukan di sempadan muara Kali Lamong dan Pulau Galang, serta pengolahan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN SAMPAH DI JEPANG

BAB II GAMBARAN UMUM GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN SAMPAH DI JEPANG BAB II GAMBARAN UMUM GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN SAMPAH DI JEPANG 2.1 Definisi Sampah Sampah adalah suatu materi yang di buang oleh orang karena rusak, tidak terpakai, tidak dapat digunakan lagi, tidak di

Lebih terperinci

PENGENALAN EKOSISTEM DI LAUT DANGKAL (Biologi(

PENGENALAN EKOSISTEM DI LAUT DANGKAL (Biologi( PENGENALAN EKOSISTEM DI LAUT DANGKAL (Biologi( Biologi) oleh : Yosephine Tuti Puslitbang Oseanologi - LIPI EKOSISTEM DI LAUT DANGKAL (BIOLOGI) I. EKOSISTEM TERUMBU KARANG / CORAL REEFS II. EKOSISTEM LAMUN

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL SUKANDAR, IR, MP, IPM (081334773989/cak.kdr@gmail.com) Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sebagai DaerahPeralihan antara Daratan dan Laut 12 mil laut

Lebih terperinci

Infrastruktur PLP dalam Mendukung Kesehatan Masyarakat

Infrastruktur PLP dalam Mendukung Kesehatan Masyarakat Infrastruktur PLP dalam Mendukung Kesehatan Masyarakat Direktorat Pengembangan PLP Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat APA YANG DISEBUT SANITASI?? Perpres 185/2014

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desakan pertumbuhan penduduk selalu beriring dengan resiko tercemar dan menurunnya kualitas lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan antara lain sebagai akibat pembuangan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/PERMEN-KP/2016 TENTANG PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI DALAM PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

5. HASIL PENELITIAN 5.1 Distribusi Spasial dan Temporal Upaya Penangkapan Udang

5. HASIL PENELITIAN 5.1 Distribusi Spasial dan Temporal Upaya Penangkapan Udang 5. HASIL PENELITIAN 5.1 Distribusi Spasial dan Temporal Upaya Penangkapan Udang Daerah operasi penangkapan udang terbentang mulai dari bagian utara Delta Mahakam, Tanjung Santan hingga Tanjung Sembilang

Lebih terperinci

MODEL PREDIKSI GELOMBANG TERBANGKIT ANGIN DI PERAIRAN SEBELAH BARAT KOTA TARAKAN BERDASARKAN DATA VEKTOR ANGIN. Muhamad Roem, Ibrahim, Nur Alamsyah

MODEL PREDIKSI GELOMBANG TERBANGKIT ANGIN DI PERAIRAN SEBELAH BARAT KOTA TARAKAN BERDASARKAN DATA VEKTOR ANGIN. Muhamad Roem, Ibrahim, Nur Alamsyah Jurnal Harpodon Borneo Vol.8. No.1. April. 015 ISSN : 087-11X MODEL PREDIKSI GELOMBANG TERBANGKIT ANGIN DI PERAIRAN SEBELAH BARAT KOTA TARAKAN BERDASARKAN DATA VEKTOR ANGIN 1) Muhamad Roem, Ibrahim, Nur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman yang kemajuan teknologinya semakin pesat, masyarakat justru

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman yang kemajuan teknologinya semakin pesat, masyarakat justru BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di jaman yang kemajuan teknologinya semakin pesat, masyarakat justru melalaikan satu faktor yang pada awalnya hanya merupakan masalah minor, yaitu meningkatnya

Lebih terperinci

92 pulau terluar. overfishing. 12 bioekoregion 11 WPP. Ancaman kerusakan sumberdaya ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM

92 pulau terluar. overfishing. 12 bioekoregion 11 WPP. Ancaman kerusakan sumberdaya ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM Indonesia diposisi silang samudera dan benua 92 pulau terluar overfishing PENCEMARAN KEMISKINAN Ancaman kerusakan sumberdaya 12 bioekoregion 11 WPP PETA TINGKAT EKSPLORASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Indonesia terkenal memiliki potensi sumberdaya kelautan dan pesisir yang kaya. Hal ini sesuai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan kota pantai merupakan tempat konsentrasi penduduk yang paling padat. Sekitar 75% dari total penduduk dunia bermukim di kawasan pantai. Dua pertiga dari kota-kota

Lebih terperinci

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir BAB V ANALISIS Bab ini berisi analisis terhadap bahasan-bahasan pada bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai komponen-komponen utama dalam pembangunan wilayah pesisir, analisis mengenai pemetaan entitas-entitas

Lebih terperinci

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 8, Nomor 1, April 2012 AN APPROACH TO THE MANAGEMENT OF MUD CRAB Scylla serrata THROUGH THE REPRODUCTIVE STATUS OF MUD CRAB AND SOCIO-ECONOMY AND INSTITUTIONAL

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu

Lebih terperinci

Oleh. Firmansyah Gusasi

Oleh. Firmansyah Gusasi ANALISIS FUNGSI EKOLOGI HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN KWANDANG KABUPATEN GORONTALO UTARA JURNAL Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Menempuh Ujian Sarjana Pendidikan Biologi Pada Fakultas Matematika

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 17 3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2008-Mei 2009 di Lokasi Rehabilitasi Lamun PKSPL-IPB Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua, Kepulauan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan sumberdaya terbarukan yang memiliki fungsi ekologis, sosial-ekonomis, dan budaya yang sangat penting terutama bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau

Lebih terperinci

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing).

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing). I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi sumberdaya perikanan di Indonesia cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Sumberdaya perikanan tersebut merupakan salah satu aset nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi geografis yang dimiliki Indonesia berpengaruh terhadap pembangunan bangsa dan negara. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011 menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Triwulan III Tahun 2015

Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Triwulan III Tahun 2015 BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 72/11/64/TH XVIII, 2 November 2015 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Triwulan III Tahun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian sampah Sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi bagi sebagian orang masih bisa dipakai jika dikelola

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam yang beraneka ragam, yang membentang di sepanjang Teluk Lampung dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat dimasukkannya oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung bahanbahan atau energi

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BAHASA INGGRIS CHAPTER 1Latihan Soal 1.2

SMP kelas 8 - BAHASA INGGRIS CHAPTER 1Latihan Soal 1.2 SMP kelas 8 - BAHASA INGGRIS CHAPTER 1Latihan Soal 1.2 1. Tanjung Setia Beach The beach is probably not popular because it is placed in an isolated district in Lampung, but the wave on the beach in Tanjung

Lebih terperinci

Edu Geography 4 (3) (2016) Edu Geography.

Edu Geography 4 (3) (2016) Edu Geography. Edu Geography 4 (3) (2016) Edu Geography http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edugeo TINGKAT PENGETAHUAN WARGA KAMPUS DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. paling sering ditemui diantaranya adalah sampah plastik, baik itu jenis

BAB I PENDAHULUAN. paling sering ditemui diantaranya adalah sampah plastik, baik itu jenis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah merupakan hasil aktivitas manusia yang tidak dapat dimanfaatkan. Namun pandangan tersebut sudah berubah seiring berkembangnya jaman. Saat ini sampah dipandang

Lebih terperinci

POTENSI ANCAMAN LEDAKAN POPULASI ACANTHASTERPLANCI TERHADAP KELESTARIAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH LAUT JAKARTA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

POTENSI ANCAMAN LEDAKAN POPULASI ACANTHASTERPLANCI TERHADAP KELESTARIAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH LAUT JAKARTA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA POTENSI ANCAMAN LEDAKAN POPULASI ACANTHASTERPLANCI TERHADAP KELESTARIAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH LAUT JAKARTA DAN UPAYA PENGENDALIANNYA http://7.photobucket.com Oleh: Rizka Widyarini Grace Lucy Secioputri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Sibolga yang terletak di pantai barat Pulau Sumatera, membujur sepanjang pantai dari utara ke selatan dan berada pada kawasan teluk yang bernama Teluk Tapian Nauli,

Lebih terperinci

Dampak Pencemaran Pantai Dan Laut Terhadap Kesehatan Manusia

Dampak Pencemaran Pantai Dan Laut Terhadap Kesehatan Manusia Dampak Pencemaran Pantai Dan Laut Terhadap Kesehatan Manusia Dengan semakin meluasnya kawasan pemukiman penduduk, semakin meningkatnya produk industri rumah tangga, serta semakin berkembangnya Kawasan

Lebih terperinci

PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI PANTAI BEROK KELURAHAN TELUK KABUNG TENGAH KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG ABSTRACT

PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI PANTAI BEROK KELURAHAN TELUK KABUNG TENGAH KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG ABSTRACT 1 1 PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN DI PANTAI BEROK KELURAHAN TELUK KABUNG TENGAH KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG Oleh: Risa Okwani*, Slamet Rianto**, Yuherman** Mahasiswa Pendidikan Geografi

Lebih terperinci

Bagaimana Solusinya? 22/03/2017 PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DI KOTA CIAMIS PENGERTIAN SAMPAH

Bagaimana Solusinya? 22/03/2017 PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DI KOTA CIAMIS PENGERTIAN SAMPAH SOSIALISASI DAN PELATIHAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI KOTA CIAMIS Nedi Sunaedi nedi_pdil@yahoo.com PENGERTIAN SAMPAH Suatu bahan yang terbuang dari sumber aktivitas manusia dan/atau alam yang tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki peranan penting sebagai wilayah tropik perairan Iaut pesisir, karena kawasan ini memiliki nilai strategis berupa potensi sumberdaya alam dan sumberdaya

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL

IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL IDENTIFIKASI POTENSI DAN PEMETAAN SUMBERDAYA PULAU-PULAU KECIL Nam dapibus, nisi sit amet pharetra consequat, enim leo tincidunt nisi, eget sagittis mi tortor quis ipsum. PENYUSUNAN BASELINE PULAU-PULAU

Lebih terperinci

Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari

Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari Melestarikan habitat pesisir saat ini, untuk keuntungan di esok hari Kesejahteraan masyarakat pesisir secara langsung terkait dengan kondisi habitat alami seperti pantai, terumbu karang, muara, hutan mangrove

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sekitar kawasan muara Kali Lamong, perbatasan Surabaya- Gresik. Tahapan penelitian pendahuluan dilakukan pada bulan Oktober-

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di hutan mangrove pesisir Desa Durian dan Desa Batu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di hutan mangrove pesisir Desa Durian dan Desa Batu III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di hutan mangrove pesisir Desa Durian dan Desa Batu Menyan Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Penelitian ini berlangsung

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK Penelitian tentang karakter morfologi pantai pulau-pulau kecil dalam suatu unit gugusan Pulau Pari telah dilakukan pada

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah penangkapan ikan merupakan wilayah perairan tempat berkumpulnya ikan, dimana alat tangkap dapat dioperasikan sesuai teknis untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM UKM. Pulau Pasaran SKALA 1:

4 KEADAAN UMUM UKM. Pulau Pasaran SKALA 1: 29 4 KEADAAN UMUM UKM 4.1 Lokasi dan Keadaan Umum Pengolah Unit Pengolahan ikan teri nasi setengah kering berlokasi di Pulau Pasaran, Lingkungan 2, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat,

Lebih terperinci

AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP

AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP Cilacap merupakan salah satu wilayah yang berpotensi maju dalam bidang pengolahan budi daya perairan. Memelihara dan menangkap hewan atau tumbuhan perairan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai dari pulau yang berukuran besar hingga pulau-pulau kecil yang sangat banyak

BAB I PENDAHULUAN. mulai dari pulau yang berukuran besar hingga pulau-pulau kecil yang sangat banyak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari banyak gugusan pulau mulai dari pulau yang berukuran besar hingga pulau-pulau kecil yang sangat banyak jumlahnya.

Lebih terperinci

PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI

PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI Oleh : Tedi Koswara, SP., MM. I. PENDAHULUAN Dalam Peraturan Bupati Nomor 71

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensial untuk pembangunan apabila dikelola dengan baik. Salah satu modal

BAB I PENDAHULUAN. potensial untuk pembangunan apabila dikelola dengan baik. Salah satu modal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau mencapai 17.508 dan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan garis pantai yang panjang menyebabkan Indonesia

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 45 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah perairan laut Selat Rupat yang merupakan salah satu selat kecil di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teluk Jakarta merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang di dalamnya banyak terdapat kegiatan, seperti pemukiman, perkotaan, transportasi, wisata, dan industri.

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN

PETUNJUK TEKNIS PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN PETUNJUK TEKNIS PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.59/DJ-PSDKP/2011 TENTANG PENGAWASAN PENCEMARAN PERAIRAN DIREKTORAT PENGAWASAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan kesejahteraan hidup rakyat melalui pembangunan di bidang industri, nampak memberikan dampak terhadap perubahan lingkungan perairan pesisir dan laut karena

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km 2, panjang garis

I. PENDAHULUAN. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km 2, panjang garis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan alam laut yang banyak dan beranekaragam. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km 2, panjang garis pantai 81.000 km,

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan hasil kajian Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2001 mengenai perubahan iklim, yaitu perubahan nilai dari unsur-unsur iklim dunia sejak tahun

Lebih terperinci

2015 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PERUBAHAN LINGKUNGAN BERBASIS REALITAS LOKAL PULAU BANGKA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI LINGKUNGAN SISWA

2015 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PERUBAHAN LINGKUNGAN BERBASIS REALITAS LOKAL PULAU BANGKA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI LINGKUNGAN SISWA 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lingkungan global saat ini sedang menghadapi sejumlah isu-isu sosial, ekonomi, dan lingkungan akibat interaksi aktivitas manusia dengan ekosistem global (NAAEE, 2011).

Lebih terperinci