BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. puncak pegunungan Jayawijaya. Iklimnya berkisar antara 14,4 dan 25,6 derajat celcius

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. puncak pegunungan Jayawijaya. Iklimnya berkisar antara 14,4 dan 25,6 derajat celcius"

Transkripsi

1 BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Umum Jemaat Jemaat GKI Lachai Roi Wamena merupakan salah satu jemaat dalam wilayah pelayanan Klasis GKI Balim Yalimo, yang terletak sekitar kurang lebih 2,5 km sebelah Barat kota Wamena tepat di tengah lembah Balim. Kota Wamena berada di lembah Agung di atas puncak pegunungan Jayawijaya. Iklimnya berkisar antara 14,4 dan 25,6 derajat celcius dengan suhu dingin dan nyaman untuk menjalani kehidupan. Curah hujan rata-rata milimeter selama lima tahun, dengan rata-rata 237 hari hujan tiap tahun. 1 Jemaat GKI Lachai Roi Wamena terbentuk sejak tahun 1964 sebagai upaya pelayanan dari jemaat induk GKI Betlehem Wamena kepada beberapa keluarga orang asli Balim maupun Yali karena mereka beribadah dalam bahasa daerah. Semenjak kira-kira tahun 1975 perkembangan pembangunan dan pemukiman mulai bergerak dari sekitar kota Wamena ke wilayah HomHom dengan dibangunnya Sekolah Dasar, Puskesmas, Pos Kepolisian dan Asrama, Perumahan Pegawai, maupun Pasar Sentral Jibama dan lain-lain. Terjadi juga pembangunan pemukiman penduduk secara spontan maupun oleh para pedagang. Datanglah ke situ bukan saja orang asli Balim dan Yali, tetapi juga para guru, pegawai negeri, aparat kepolisian, perawat serta petugas kesehatan dan seterusnya dari berbagai daerah di Papua dan di Indonesia. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah juga jumlah warga jemaat GKI. Jarak yang ditempuh untuk beribadah ke jemaat induk GKI Betlehem Wamena di pusat kota Wamena dirasakan cukup jauh. Berdasarkan kenyataan ini maka sejak tahun 1980 dimulailah peribadahan dengan dua kategori pelayanan ibadah, yaitu pelayanan ibadah dalam 1 Koentjaraningrat, Bab XIV. Konfederasi Perang dan Pemimpin Dalam Masyarakat Dani; Dalam : Koentjaraningrat dkk, Irian Jaya. Membangun Masyaraket Majemuk. (Jakarta : Jambatan, 1993), p

2 bahasa daerah untuk jemaat orang asli Balim dan Yali yang berlangsung pada jam , dan pelayanan ibadah dalam bahasa Indonesia untuk jemaat pada umumnya pada jam Berdasarkan data ststistik sampai dengan akhir tahun 2015, Warga jemaat GKI Lachai Roi Wamena terdiri dari 348 kepala keluarga (KK) yang berasal dari orang asli Balim dan Yali, orang Papua dari luar Wamena, yaitu Jayapura, Waropen, Yapen, Biak, Nabire, Manokwari, Sorong dan seterusnya, orang pendatang dari luar Papua, yaitu Maluku, Toraja, Jawa, Batak dan lain-lain dengan jumlah anggota jemaat sebanyak 1155 orang. Jika dikategorikan berdasarkan unsur jemaat maka akan nampak jumlah sebagai berikut : jumlah kaum Bapak (PKB) 307 orang, jumlah kaum ibu (PW) 272 orang, jumlah pemuda (PAM) 148 orang, dan jumlah anak dan remaja (PAR) sebanyak 428 orang. Dengan demikian jemaat ini memiliki keanggotaan warga jemaat yang majemuk dan multibudaya. Jemaat GKI Lachai Roi Wamena sejak tahun 2011 dilayani oleh seorang Pendeta, 34 orang Penatua dan 27 orang Syamas. Istri Pendeta Jemaat adalah juga seorang pendeta GKI yang diberi tugas pokok oleh Klasis GKI Balim Yalimo sebagai Pelayan Jemaat GKI Putikelek yang berjarak kira-kira 750 meter dari GKI Lachai Roi dan merupakan jemaat asli orang Wamena. Pelayanan jemaat berlangsung berdasarkan pola umum pelayanan GKI yaitu persekutuan, kesaksian dan pelayanan kasih berdasarkan urusan-urusan dalam jemaat, yaitu urusan pekabaran injil, pembinaan jemaat, diakonia, pendidikan, maupun ekonomi, keungan dan pembangunan. Pelayanan konseling yang seharusnya menjadi bagian pokok dari program dan kegiatan Urusan Pembinaan Jemaat tidak nampak dalam Hasil Sidang Jemaat dalam bentuk tertulis dan terencana, terutama dalam tiga tahun terakhir, yaitu tahun Menurut 2 Majelis Jemaat GKI Lachai Roi Wamena, Hasil Sidang Jemaat (Wamena: MJ,2015). 30

3 pendeta Jemaat setempat bahwa tidak nampaknya program pelayanan konseling dalam Hasil Sidang Jemaat, karena tidak diberikan perhatian kepada pekerjaan pastoral oleh Pelayan Jemaat sendiri. Salah satu penyebab menurut pendeta adalah karena kondisi cuaca daerah yang dingin pada sore hingga malam hari yang dapat dijadikan sebagai waktu pelayanan konseling. 3 Ditambah dengan warga jemaat yang dimutasikan bekerja sebagai pegawai pemerintah maupun polisi/tentara di beberapa daerah pemekaran kabupaten baru seperti di Yahukimo, Tolikara, Yali maupun Mambramo Tengah dan lain-lain. Kondisi ini diperkuat dengan pendapat beberapa anggota Majelis Jemaat bahwa apa yang dikatakan oleh pendeta sebagai pemimpin jemaat diiyakan sebagai suatu perintah dari atasan kepada bawahan, tetapi juga pendeta dalam banyak hal dipahami sebagai inspirator dari berbagai program dan kegiatan dalam jemaat. Dikatakan demikian karena pendeta-lah yang belajar dan dipersiapkan oleh gereja untuk memimpin jemaat-jemaat. 4 Konsep pemikiran ini melekat erat dalam kehidupan Majelis Jemaat dan warga jemaat, sehingga apa yang menjadi kebijakan dan keputusan pendeta dilakukan sebagaimana disampaikan oleh pendeta. Kondisi ini disebabkan oleh konsep pendeta sentris yang menempatkan pendeta sebagai yang mengetahui segala hal dalam kehidupan kerohanian. Pelaksanaan pelayanan konseling atau lebih tepatnya pelayanan kunjungan kepada warga jemaat dari pihak pendeta, penatua dan syamas sebagai Majelis Jemaat biasanya dilakukan pada saat menjelang natal, yaitu pada minggu pertama hingga minggu ketiga bulan desembar. Dari hasil observasi penulis maupun wawancara dengan pelayan jemaat, maupun kepada beberapa penatua dan syamas, ditemukan informasi bahwa hal itu pun sebenarnya hampir merupakan suatu kebiasaan atau tradisi turun-temurun dalam pekerjaan pelayanan jemaat. Akibatnya banyak diantara warga jemaat tidak terlayani karena ada yang sudah pergi 3 Wawancara dengan Pdt. Bram Tanamal tanggal 22 Desember Wawancara dengan penatua pada tangga 20 desember

4 berlibur atau sementara keluar daerah, bahkan tidak cukup waktu untuk melayani kebutuhan jumlah warga jemaat dengan kemajemukan persoalan kehidupan yang perlu dikomunikasikan dengan pendeta. Penghambat lain yang terlihat adalah bahwa pada awal bulan desember sudah menjadi tradisi telah dilaksanakannya perayaan-perayaan natal oleh unsur-unsur jemaat, kelembagaan adat atau komunitas budaya, instansi pemerintah maupun swasta dan sebagainya. Hal ini akan menyita waktu pendeta untuk memilih antara melayani ibadah dan perayaan natal atau memberi perhatian kepada pelayanan konseling dalam jemaat. Pendeta senior yang adalah suami-istri, mereka telah melayani dalam GKI selama dua puluh tiga tahun dan menjadikan pekerjaan konseling sebagai prioritas program dan kegiatan pelayanannya. Dalam suatu percakapan, mereka mengatakan bahwa : Kegiatan pelayanan konseling merupakan panggilan dan amanat hakiki yang melekat dalam diri seorang Pendeta GKI Di Tanah Papua ke manapun ia diutus dan ditempatkan. Sebab dalam Liturgi Pentahbisan Pendeta GKI maupun Surat Keputusan (SK) peneguhan dan pengangkatan sebagai Pendeta GKI dalam bagian menetapkan dari SK tersebut pada salah satu diktumnya menyatakan tentang adanya tiga amanat dan panggilan seorang Pendeta GKI sebagai Pelayan Firman, yaitu Memberitakan Firman Tuhan, Melayani Sakramen, dan Melaksanakan Pastoral (yang didalamnya ada konseling). 5 Jika demikian maka pendeta GKI perlu memberikan perhatian kepada pelayanan konseling. 2. Realitas Konflik Budaya Suami-Istri Di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena Pada bagian ini penulis hendak memperlihatkan tentang realitas konflik yang terjadi dalam kehidupan beberapa keluarga di Jemaat GKI Lachai Roi wamena, baik pada pasangan suami-istri beda budaya maupun pada pasangan suami-istri yang memiliki budaya suku yang 5 Percakapan dengan pendeta senior Januari

5 sama, yaitu konflik suami-istri sebagai sebuah contoh kasus di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena. Menurut Pendeta Jemaat bahwa melayani dalam jemaat yang majemuk dari berbagai suku, memiliki tantangan yang berat karena persoalan dan keperluannya sangat kompleks. Untuk menjembatani pelayanan dalam jemaat tersebut, maka dalam merencanakan setiap kegiatan sampai pada tahapan pelaksanaannya, selalu dilaksanakan pertemuan dalam bentuk rapat dengan melibatkan setiap orang yang mewakili setiap kelompok dan memberlakukan pelayanan secara merata dalam kehidupan berjemaat, bergeraja dan bermasyarakat. Ada banyak tantangan yang berkaitan dengan kemajemukan jemaat tersebut, ada banyak cerita yang harus didengar dari berbagai pihak, kemudian harus ditampung seluruhnya tanpa membedakan seorang dengan yang lain. 6 Artinya bahwa pelayanan yang dilakukan seorang pendeta dalam konteks jemaat yang majemuk dan multibudaya sedapat-dapatnya harus mempertimbangkan nilai-nilai persekutuan dan keadilan dalam memberi perhatian maupun pelayanan yang sama kepada semua anggota jemaat tanpa perbedaan. Jika hal ini tidak diperhatikan dalam pelayanan oleh pendeta maka akan muncul berbagai sikap dan perilaku sebagai tanggapan terhadap spiritualitas diri pendeta dan pelaksanaan tugas kependetaan dalam jemaat. Berikut adalah hasil penemuan terhadap realitas konflik budaya suami-istri di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena Konflik Budaya Suami Istri Budaya NTT dan Raja Ampat Suami 7 : Bapak A berumur 53 tahun berasal dari daerah Kupang NTT. Ia merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara yang lahir dan besar di Kupang. Ia datang ke Jayapura sejak berumur lima belas tahun untuk melanjutkan pendidikan dan 6 Wawancara dengan Pdt. Bram Tanamal dan Pdt. Enni (istri pendeta) tanggal 20 Desember Wawancara tanggal 18 Desember 2015; Konseling tanggal 21 Desember

6 mencari pekerjaan. Bapak A tinggal di Jayapura bersama keluarga ibunya, lalu menyelesaikan pendidikan sampai mendapat pekerjaan sebagai guru. Kemudian ia bertugas dan tinggal di kota Wamena hingga sekarang. Pekerjaannya adalah sebagai seorang guru yang mengajar pada sebuah sekolah di kota Wamena. Kedatangannya untuk bekerja sebagai guru di kota Wamena mempertemukannya dengan istrinya dan membentuk sebuah rumah tangga. Dalam perjalanan pernikahan mereka takjarang mereka bertemu dengan masalah-masalah dalam rumahtangga mereka. Menurut Bapak A, masalahnya hanya merupakan selisih paham antara dirinya dengan istri dan hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak terlalu rumit. Dalam proses penyelesaian masalah suami-istri ini, Bapak A tidak pernah melibatkan keluarga, baik orang tua dan saudaranya maupun orang tua dan saudara istrinya. Cara Bapak A menyelesaikan permasalahan dengan istrinya adalah dengan berbicara dari hati ke hati dan tidak ingin melibatkan orang lain, seperti orang tuanya atau orang tua istrinya atau saudaranya maupun saudara istrinya, bahkan anak-anaknya sekalipun. Kata Bapak A : jika ada permasalahan yang dianggap berat, maka sebagai suami yang sering saya lakukan terhadap maitua (istri), adalah peluk kakinya, mengungkapkan apa yang terjadi, menceritakan kronologis kejadiannya, lalu akhirinya saya mohon kepada istri untuk memaafkan saya. Dengan demikian persoalan dianggap selesai dan kehidupan berjalan normal kembali seperti biasanya. Jika ada persoalan lain, maka akan dilakukan hal yang sama untuk berbagai masalah keluarganya. Bapak A berpenampilan rileks tetapi agak tertutup, menjaga kewibawaannya sebagai seorang guru senior dan tua-tua dalam jemaat, menghargai 34

7 pendeta sebagai pelayan Tuhan, dimata pelayan jemaat Bapak A bersifat playboy, suka menyembunyikan perbuatan menyimpang dengan kewibawaan dan jabatan. Istri 8 : Ibu A berumur 43 tahun berasal dari daerah Raja Ampat Papua. Ia merupakan anak keempat dari sebelas bersaudara yang lahir dan besar di kota Wamena. Pekerjaan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Menurut Ibu A, ia dan suaminya tidak ada masalah sehari-hari di rumah sebagai suami istri, tetapi suaminya selalu hidup dalam perselingkuhan terus-menerus selama mereka membentuk keluarga dua puluh lima tahun ini. Hasil perselingkuhan itu telah melahirkan seorang anak dan kini dipelihara oleh mereka. Ketika ia mendapat informasi atau menemukan bahwa suaminya berselingkuh, pada tahun-tahun awal selalu terjadi konflik bahkan hingga kontak fisik dan kekerasan. Tetapi kemudian hal itu terus berulang selama bertahun-tahun, ia akhirnya pasrah, menerima kenyataan ini dan memilih untuk berdiam diri. Sampainya ia dalam situasi menerima dan memilih untuk berdiam diri berpijak pada Nats Alkitab yang selalu digunakan untuk menghadapi kenyataan hidup suaminya dan merupakan suatu penghiburan dalam hidup yang pasrah itu adalah Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Hal ini dilakukannya hanya untuk mempertahankan keutuhan keluarga yang sudah dipersatukan oleh Tuhan dalam pernikahan kudus. Menurut Ibu A bahwa dari gereja dan pelayan jemaat tidak ada upaya ataupun pelayanan untuk menolong dan menyelesaikan persoalan kami. Harapannya kalau boleh ada pelayanan pastoral dan konseling dari Pendeta dan Majelis Jemaat dengan pendekatan-pendekatan untuk belajar dari watak jemaat. 8 Wawancara tanggal 18 Desember 2015; Konseling tanggal 21 Desember

8 Pelayanan gereja dalam konteks ini belumlah menyentuh akar masalah keluarga kami sebagai warga jemaat. Ibu A berpenampilan ramah, rileks, selalu memberikan senyuman dan sesekali tertawa dengan tegar, ia menghargai suami sebagai kepala keluarga dan menjaga nama baik suaminya sebagai sosok yang dipandang baik oleh jemaat dan masyarakat. Ibu A rajin beribadah dan melayani sebagai seorang anggota Majelis Jemaat yang bertanggung-jawab. Di mata pelayan jemaat Ibu A adalah sosok yang luar biasa karena mampu menerima keberadaan suaminya dan melayani Tuhan dengan suka-cita Konflik Budaya Suami-Istri Budaya Toraja Suami 9 : Bapak B berasal dari suku Toraja, berumur 35 tahun anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Berprofesi sebagai buruh (tukang) harian kalau ada panggilan kerja atau proyek. Bapak B berperawakan kaku, malu-malu dan agak tertutup. Menurut bapak B masalah yang sering terjadi hanyalah masalah sepele, tetapi diomongkan dalam kapasitas nada suara yang keras. Jadi masalahnya di penggunaan volume suara yang terlalu keras, atau cara penyampaian kepada istri dengan nada suara yang tinggi. Ia juga mengatakan bahwa masalah tidak sering terjadi tetapi begitulah masalah rumah tangga. Ketika terjadi masalah yang sering dilakukan oleh bapak B adalah mendiamkan saja atau mengantung masalah suami-istri. Menurut bapak B masalah yang sering terjadi antara suami-istri adalah masalah penyampaian yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh istri, karena bapak B lebih sering menyelesaikan masalah dengan volume suara keras dan nada yang tinggi serta 9 Wawancara tanggal 19 Desember 2015; Konselingl tanggal 21 Desember

9 membiarkan dan menggantung masalah begitu saja. Katanya lagi, jika timbul masalah ia memilih untuk meninggalkan masalah dan pergi menjauhi istrinya. Dalam konteks ini bapak B tidak menyelesaikan masalah tetapi menggantungkan masalah dan menghindarinya. Sikap bapak B demikian terjadi karena cara ia memahami karakter istrinya sebagai perempuan dimana menurutnya, namanya juga perempuan, semakin dikasih hati semakin sensitif, jadi dibiarkan saja nanti juga akan sadar dengan sendirinya. Jika pada suatu waktu tertentu timbul masalah dengan istri maka masalah tersebut ternyata tidak menganggu aktifitasnya sebagai buruh dan spiritualitasnya. Permasalahan yang dialami tersebut tidak menjadi beban bagi bapak B sehingga didiamkan saja hingga saudara bapak B yang menjabat sebagai majelis jemaat GKI Lachai Roi meminta pendeta untuk datang mengunjungi bapak B dan istrinya atas permintaan istri bapak B. Kedatangan pendeta sebenarnya tidak diharapkan oleh bapak B karena baginya masalah dengan istrinya tidak perlu dibesar-besarkan tetapi karena pertengkaran sering didengar oleh saudaranya, sehingga ia menginformasikannya kepada pendeta untuk melakukan kunjungan kepada bapak B dan istrinya. Bapak B mengatakan bahwa penyelesaian yang diberikan oleh pendeta adalah agar bapak B bersama istri segera menikah karena dalam hubungan antara bapak B dan istrinya belum diikat dalam suatu pernikahan kudus. 37

10 Istri 10 : Ibu B berasal dari suku toraja, berusia 32 tahun, anak ketiga dari enam bersaudara, dan sebagai ibu rumah tangga. Menurut ibu B konflik sering terjadi karena beberapa masalah, yaitu masalah ekonomi keluarga, relasi dengan ibu mertua, cemburu dengan perempuan lain, kejujuran suami, dan cara atau gaya penyelesaian konflik. Menurut ibu B dalam masalah ekonomi sang suami tidak adil untuk pembagian biaya hidup. Biaya hidup yang seharusnya cukup untuk kebutuhan keluarga kecil mereka menjadi tidak cukup karena harus berbagi dengan ibu mertua yang menuntut lebih dari hasil kerja bapak B sebagai anaknya. Masalah uang ini paling sering menimbulkan pertengkaran mereka, bahkan relasi antara ibu B dengan mertuanya menjadi tidak rukun. Masalah uang yang diberlakukan tidak adil oleh bapak B ini menimbulkan asumsi-asumsi yang tidak menentu oleh ibu B. Ia menyatakan bahwa suaminya tidak jujur dan tidak adil karena ibu mertua yang selalu menuntut lebih dari hasil pekerjaan anaknya. Masalah ini memicu sakit hati ibu B terhadap ibu mertuanya. Ia menyatakan bahwa ibu mertua pintar kritik orang tetapi anak-anaknya sendiri tidak dididik dengan benar dan gemar menggosip. Selanjutnya ibu B juga sering cemburu kepada perempuan lain, karena ia sering mendapati sms dari perempuan lain dalam hpnya bapak B sehingga ia protes terhadap suaminya tetapi tidak didengarkan oleh suaminya. Hal ini pun menimbulkan konflik antara suami-istri. Ketika ada masalah-masalah seperti yang telah disebutkan di atas, bapak B dan ibu B tidak menyelesaikan masalah tersebut tetapi meninggalkan masalah-masalahnya menggantung. Bapak B 10 Wawancara tanggal 19 Desember 2015; Konseling tanggal 21 Desember

11 sering emosi dan mengeluarkan nada suara yang keras sehingga memicu emosi yang sama dari ibu B. Kata ibu B, jika ada masalah antara suaminya dengan ibunya, bapak B sering melampiaskan emosi kepada istri dan anaknya. Pada akhirnya ibu B menyimpulkan bahwa semua sumber permasalahan dalam keluarga dikarenakan oleh ibu mertua, oleh sebab itu ia menyalahkan mertua karena menuntut bapak B memenuhi kebutuhannya. Jika harapan mertua akan marah kepada anaknya, lalu dilampiaskan juga oleh anaknya atau bapak B kepada istri dan anak. Hal ini terjadi terus-menerus. Jadi menurut ibu B masalah selalu datang karena mertua, ia pun menaruh dendam, sakit hati, kecewa dan marah sehingga mempengaruhi aktifitas dan spiritualitasnya. Ibu B dalam kekecewaannya terhadap suami maupun mertua dan dengan segala situasi yang ia alami, menanyakan kepada penulis katanya : saya mau tanya ke pendeta, apakah berdosa kalau saya mempunyai perasaan seperti ini terhadap ibu mertua? Artinya bahwa ia merasakan adanya suatu kesulitan besar dalam kehidupan keluarganya dan tidak ada yang mau menolongnya keluar dari masalah bersama suami dan hal ini sangat mengganggu segala aktifitasnya. Ditambah lagi dengan tidak adanya penanganan dari gereja sehingga saudara dari bapak B yang menjabat sebagai majelis jemaat mendatangi ibu B. Penanganan itu pun tidak membuahkan hasil yang maksimal karena ibu B masih ragu-ragu dengan keputusan pendeta yang menyarankan supaya segera melakukan pernikahan. Ia masih ragu-ragu dan bertanya-tanya dalam hati apakah yang akan dilakukannya itu benar? Ibu B masih terlalu sakit. 39

12 2.3. Konflik Budaya Suami-Istri Budaya Wamena Suami 11 : Bapak C berumur 53 tahun, anak ketiga dari tujuh bersaudara, ia bekerja sebagai pegawai negeri. Bapak C berperawakan malu-malu dan tertutup dalam mengungkapkan permasalahan-permasalahannya bersama istri. Bapak C tidak merasa bahwa dalam hubungannya bersama istri ada masalahmasalah tertentu, tetapi bapak C mengakui bahwa ia belum memberikan yang terbaik dan masih menjadi suami yang mementingkan dirinya sendiri. Bapak C bekerja terlalu fokus hingga mengabaikan istri, bahkan dalam hal memberi uang belanja. Bapak C mengakui bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini, ia tidak memberikan uang sepeser pun untuk istrinya. Ia memilih untuk menghabiskan uang tersebut sendiri. Ia juga mengatakan bahwa ia memiliki permasalahan batin yang tidak dapat disampaikan. Permasalahan batin ini berkaitan dengan relasi dengan istri sehingga ia memutuskan untuk menghabiskan gajinya sendiri tanpa berbagi. Kehidupan sehari-hari bapak C menunjukan bahwa ia mengabaikan permasalahannya dan menganggap keadaan itu seperti biasa saja layaknya suami-istri, tetapi ia tetap mempunyai permasalahan tersendiri terhadap istrinya yang terlalu fokus pada pelayanan. Dengan demikian bapak C mempermasalahkan pelayanan istrinya di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena. Istri 12 : Ibu C berusia 51 tahun anak pertama dari dua orang bersaudara, pekerjaannya selain sebagai ibu rumah tangga, juga sebagai seorang petani. 11 Wawancara tanggal 20 Desember 2015; Konseling tanggal 21 Desember Ibid 40

13 Ibu C dalam hubungannya bersama bapak C selama kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini mengalami pergumulan. Pergumulan itu adalah tentang kondisi ekonomi keluarga, relasi suami istri dan pelayanan dalam jemaat. Menurut ibu C, walaupun bapak C bekerja sebagai pegawai negeri namun tidak membiayai ibu C selama sepuluh tahun terakhir ini. Tindakan ini dilakukan bapak C dengan alasan karena ibu C mementingkan pelayanannya di gereja dari pada mengurus bapak C. Suami merasa tidak diperhatikan karena ibu C sibuk pelayanan. Ada kecemburuan dari bapak C terhadap ibu C karena keterlibatannya dalam pelayanan jemaat. Hal ini menurut ibu C merupakan ujian dari Tuhan. Sebenarnya bapak C tidak memberikan uang kepadanya dan ia biasanya hidup dalam kemabukan, perselingkuhan dan berfoya-foya. Kondisi bapak C seperti tersebut membuat pada akhirnya ibu C hidup tidak tergantung lagi pada gaji suaminya tetapi ia pun bekerja sendiri menjadi seorang petani dan menjual hasil tanaman itu untuk membiayai hidupnya sendiri. Berpenghasilan sendiri sebagai petani, ibu C tumbuh menjadi sosok perempuan yang menguatkan perempuan lain yang mengalami hal-hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari dirinya. Ia menyatakan bahwa walaupun hidupnya bersama suami mengalami pergumulan berat dalam hal ekonomi, tetapi ia bersyukur dari pergumulannya bersama suami itu ia bertumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Tentang kecemburuan suami terhadap pelayanan ibu C menurut bapak C, karena istrinya lebih sering pelayanan dibandingkan memperhatikan suami. Ibu C sering memberikan penjelasan jika pulang 41

14 terlambat atau tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan suami, tetapi bapak C tetap menggantungkan saja permasalahan mereka dan enggan membicarakan masalah-masalah tersebut. Jadi masalah antara ibu C dan bapak C adalah tentang ekonomi dan pelayanan. Walaupun demikian permasalahan antara ibu C dan bapak C tidak mengganggu aktivitasnya ibu C sebagai petani dan pelayan Hasil Temuan terhadap Konflik Budaya Suami Istri Budaya NTT dan Raja Ampat Berdasarkan kenyataan dalam kehidupan keluarga di atas sebagai satu contoh realitas konflik sumi istri beda budaya, maka berikut ini akan dilakukan pengkajian terhadapnya untuk menemukan penyebab konflik dan budaya yang menyertai konflik tersebut. Suami (Bapak A) : Bapak A telah mengalami tiga fase dalam kehidupannya. Fase pertama dialami dalam kehidupan bersama orang tuanya di Kupang dan hal itu telah berlangsung selama empat belas tahun. Kemungkinan masa kecilnya dilalui dengan ketakutan karena selalu dimarahi maupun dipukuli baik oleh kedua orang tuanya maupun kakak-kakanya. Hal itu nampak dalam kebiasaan bertelut di kaki istrinya dan mohon maaf atas kesalahannya. Kebiasaan bertelut ini telah dibawah sejak kecil hingga dewasa sebagai akibat dari konteks pertumbuhan hidupnya. Shiraev dan Levy menyebut keadaan ini sebagai bagian dari perkembangan manusia dan sosialisasinya yang berhubungan dengan perubahan pada fisik, psikologis dan perilaku sosial yang dialami individu selama rentang kehidupannya - dari lahir sampai mati. Artinya orang mengalami perubahan hidup, baik positif maupun negatif, berpindah tempat atau 42

15 tetap tinggal di suatu tempat. 13 Fase kedua dialaminya ketika ia datang ke Jayapura dan berdomisili di sini sejak berumur lima belas tahun sampai umur dua puluh satu tahun, selama kurang lebih enam tahun. Ia bertumbuh pada masa remaja hingga pemuda di luar lingkungan keluarganya, yaitu bapa, ibu dan saudara-saudara sekandungnya. Ia tinggal bersama saudara ibunya sambil melanjutkan pendidikan. Pengalaman ini lebih sulit dan keras jika dibandingkan dengan kehidupan di Kupang. Ia harus bekerja keras, mengambil hati tantenya, mencuri waktu untuk belajar, bahkan mungkin ia tidak mempunyai waktu bermain seperti layaknya banyak remaja dan pemuda. Tetapi ia berusaha mandiri untuk menyelesaikan pendidikan dan kalau boleh mendapat pekerjaan yang layak supaya ia bebas dari segala kenyataan hidup ini. Tujuan hidupnya hanya satu, yaitu menyelesaikan pendidikan lalu bekerja. Akhirnya fase kedua ini pun ia lalui dengan baik. Tetapi masalah yang ia temukan dan hal itu berat baginya adalah, ia kehilangan kasih-sayang. Ia kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dari saudara-saudara sekandungnya, mungkin juga kasih sayang di masa remaja dan pemuda dari seorang kekasih tidak ia dapatkan. Apakah kasih sayang ini akan dia gapai ketika memasuki masa berumah tangga? Ataukah ia akan menggunakan masa bekerja untuk merajut kasih sayang itu di tempat kerja atau di lingkungannya yang baru nanti? Fase ketiga merupakan fase ganda, yaitu fase ketiga awal, dimana ia mendapat pekerjaan sebagai seorang guru, mendapat penghasilan tetap sebagai 13 Eric B. Shiraev, David A. Levy, Psikologi Lintas Kultural. Pemikiran Kristis dan Terapan Moderen. (Jakarta : Kencana, 2012), p

16 seorang pegawai negeri dan mendapat awal kasih sayang dari para siswa siswi di sekolah, ia mendapat penghargaan dan saling menghormati dari teman sekerja; sedangkan fase ketiga berikutnya adalah ia mulai memikirkan teman hidup yang akan menjadi istrinya, yaitu seorang perempuan yang daripadanya ia mendapatkan kasih sayang yang hilang selama ini. Masalahnya adalah ia telah bertumbuh menjadi seorang yang plin-plan dalam mengambil keputusan karena ketakutan membuat kesalahan. Dalam hal berpacaran di masa dewasa, ia dikenal sebagai seorang playboy. Kemungkinan besar konteks kota Wamena pada masa tahun 1990 ke atas bahkan sebelumnya merupakan suatu daerah yang sulit keluar jika telah berada di dalamnya. Populasi kaum lelakinya sedikit sedangkan kaum perempuannya lebih banyak. Ini juga menjadi salah satu faktor pemicu keretakan banyak rumah tangga di kota Wamena. 14 Dalam keadaan ini ia menemukan seorang perempuan Raja Ampat yang kemudian menjadi istri. Setelah memasuki kehidupan berumah tangga, awalnya dijalani dengan baik, tetapi setelah kelahiran anak ketiga, keadaan menjadi berubah. Bapak A merasa tidak diperhatikan oleh istrinya, karena harus mengurus dan mengasuh anak anak. Kasih sayang yang ia harapkan dari sang istri yang telah ada, rupanya mulai menjauh dari padanya. Terjadi konflik batin dalam diri Bapak A karena istrinya pun kurang menyadari akan hal ini atau bahkan tidak peka budaya suaminya. Pada fese ketiga inilah keadaan semakin rumit. Persoalan keluarga semakin tidak menentu. Bapak A kini menghargai pekerjaannya yang telah diperoleh melalui susah payah dan 14 Percakapan dengan Pendeta yang pernah melayani pada tahun 1990-an di Wamena. 44

17 kerja keras itu. Ia kurang menghargai keluarganya karena apa yang ia harapkan dalam keluarga melalui istrinya itu ternyata belum ia temui, yaitu kasih sayang. Itulah sebabnya Bapak A mencari kasih sayang di luar rumah dengan cara berselingkuh dan suka mengganti pasangan selingkuhnya. Sumber konflik berasal dari kebutuhannya akan kasih sayang yang tidak terpenuhi. Pruit dan Rubin menyebut kebutuhan seseorang sebagai sumber konflik dengan istilah kepentingan (interes) adalah perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan. Perasaan itu cenderung bersifat sentral dalam pikiran dan tindakan orang, yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan, dan nilai (intensi)-nya. 15 Rupanya Bapak A cenderung memiliki sikap mempertahankan kebutuhannya sebagai bagian budaya hidupnya sementara di pihak lain istrinya tidak peka budaya terhadap kebutuhan suaminya. Artinya bahwa Bapak A ingin supaya kebutuhannya dipenuhi, sementara di pihak lain istrinya menghalangi akan kebutuhan Bapak A sebagai bentuk kepuasan hidup jika kebutuhannya terpenuhi. Akibatnya semakin besar perbedaan kebutuhan di masing-masing pihak lalu lahirlah konflik. Memang benar bahwa Bapak A telah melakukan kesalahan dan dosa dari segi iman dan ketaatan kepada Tuhan, tetapi dalam trangka penanganan konflik ini maka harus dilakukan kajian terkait dengan konteks sosial dan budaya suami istri. Istri (Ibu A) : Ibu A tidak memiliki masalah di masa lalu seperti suaminya. Sebagai anak keempat dari sebelas bersaudara yang lahir dan besar di kota Wamena, ia sepertinya berada di rumah sendiri, dekat dengan orang tua sehingga ia 15 Dean G. Pruitt, Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, p.21 45

18 mengganggap ada sandaran ketika ia mengalami masalah keluarganya. Sebagai anak keempat, ia berfungsi sebagai kakak dari tujuh orang adiknya. Di sini ada konsep dan praktek ketuaan artinya ia merasa bahwa ia adalah kakak harus didengar, diikuti dan menjadi panutan, karakter ini telah bertumbuh dalam hidup keluarganya. 16 Itu berarti bahwa ia tidak mempunyai persoalan khusus di masa lalu, tetapi ia memiliki persoalan khusus di masa kini, yaitu persoalan ketidakharmonisan dalam hidup sebagai suami istri. Dari percakapan dengan Ibu A, penulis mendapat kesan bahwa sebelum menikah dengan suaminya, ia telah mengenal watak dan karakter hidup suaminya. Mungkin juga sudah dinasehati oleh orang tua dan keluarganya supaya ia mempertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menikah dengannya tetapi tidak dipedulikannya. Hal ini nampak dalam konsep hidup dan penangan masalah rumah tangganya, yaitu ia pasrah pada kenyataan hidup yang dijalani bersama suaminya. Karena itu ia berharap atau bergantung pada pelayanan gereja. Bagi dia hanya gereja yang dapat menolongnya keluar dari permasalahannya. Itulah juga yang menjadi salah satu alasan ia melayani dengan penuh sukacita dalam gereja. Tetapi apa yang ia harapkan dari pelayanan gereja terhadapnya ternyata tidak terjadi. Ia kembali pada prinsip hidupnya yaitu pasrah pada kehendak Tuhan. Pruit dan Rubbin menyimpulkan bahwa konflik biasanya terjadi ketika norma sosial dalam keadaan lemah atau sedang mengalami perubahan. 17 Ketika pelayanan konseling dari pihak pendeta jemaat menjadi lemah maka konflik semakin tidak teratasi, apalagi diperkuat dengan aturan, norma dan kebiasaan perselingkuhan dalam masyarakat yang cenderung dibiarkan berlangsung 16 Eric B. Shiraev, David A. Levy, Psikologi Lintas Kultural., p Dean G. Pruitt, Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, p.32 46

19 sebagai suatu kebiasaan sekelompok orang untuk mencari kepuasan hidup, maka konflik dalam keluarga keluarga akan terus meningkat. Akibatnya banyak di antara suami istri akan datang pada sikap pasrah dan bergantung pada pihak lain terutama kepada pelayanan gereja. Ibu A ketika memasuki fase pasrah pada kenyataan karena konflik dengan suaminya maupun selingkuhannya tidak dapat diselesaikan, maka ia merubah sikapnya dari sikap contending, yaitu suka bertengkar dengan diri sendiri atau batinnya dan suaminya menjadi sikap yielding, yaitu suka mengalah atau pasrah dengan cara menurunkan kemauannya untuk bertengkar dan bersedia menerima kurang dari yang sebetulnya ia inginkan. 18 Hal ini disampaikan oleh Paul D. Meier (dkk) tentang pembentukan sikap dan bagaimana sikap itu bisa dipengaruhi dan dirubah. 19 Mereka mengemukakan bahwa sikap terdiri dari pikiran, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak berdasarkan pikiran dan perasaan. Kredibilitas seseorang yang berusaha mengubah sikap merupakan faktor yang penting dalam menentukan kesuksesan. 20 Dalam konteks pemahaman ini dimengerti bahwa Ibu A telah merubah konflik pemahaman dalam dirinya karena ia telah berusaha mempertahankan dua pemikirannya yang saling bertolak belakang, yaitu bertengkar atau pasrah. Pada akhirnya Ibu A memilih untuk pasrah yang dinyatakan dalam tindakan dengan harapan ia dapat menerima yang diinginkannya, yaitu keharmonisan hidup sebagai suami istri berdasarkan firman Tuhan. Inilah yang sekarang sedang dinantikan. Kapan hal itu terjadi? Siapakah yang dapat menolong mereka? Inilah konflik batin dalam diri Ibu 18 Dean G. Pruitt, Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, p Paul D. Meier (eds), Pengantar Psikologi dan Konseling Kristen 1. (Yogyakarta : Andi Offset, 2004), p Ibid, p

20 A yang terus dibawa, digumuli dan didoakan setiap waktu. Semakin panjang waktu pergumulannya, semakin ia akan tertekan dalam dirinaya, sehingga dalam keadaan sakit sekalipun ia berbuat dan berpenampilan seolah-olah ia tidak sakit. Kepada penulis Ibu A mengatakan, ia sedang mengidap penyakit kanker payudara dan sementara diobati melalui terapi herbal. Informasi ini menyatakan tentang beratnya beban hidup Ibu A tidak seperti yang ia katakan pada penulis. Shiraev dan Levy menulis tentang bias bahasa evaluatif sebagaimana penulis alami bersama Ibu A, di mana bahasa memiliki banyak fungsi yang salah satunya dan itu yang terpenting adalah membantu kita untuk mendeskripsikan berbagai macam fenomena, seperti kejadian, situasi, dan orang : Apakah itu? Tujuan lainnya adalah mengevaluasi fenomena yang sama : Apakah itu baik atau buruk? Biasanya, kita menganggap deskripsi adalah objektif, dan evaluasi adalah subjektif... Jadi istilah yang kita pakai tidak hanya untuk mendeskripsikan tetapi juga merumuskan apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan. 21 Penulis memahami bahwa ketika ibu A mengatakan : saya sedang mengidap penyakit kanker payudara, Ibu A hendak menyampaikan dua hal kepada penulis, yaitu ungkapan pasrah pada kenyataan hidup suaminya disebabkan karena penyakitnya yang rawan kematian. Fase bertengkar telah dirubahnya ke fase pasrah terutama berada pada titik balik penemuan penyakit dalam dirinya di satu pihak, dan pilihan untuk melayani Tuhan dengan suka-cita di pihak lain. Ungkapan pasrah yang dipakai oleh ibu A hendak memformulasikan apa yang ia inginkan yaitu sembuh dari kesakitannya dan terlepas dari pergumulan ketidakharmonisan hubungan suami istri dalam keluarganya. 21 Eric B. Shiraev, David A. Levy, Psikologi Lintas Kultural., p

21 2.5. Hasil Temuan terhadap Konflik Budaya Suami-Istri Budaya Toraja Berdasarkan kenyataan dalam kehidupan keluarga di atas sebagai satu contoh realitas konflik sumi istri asal Toraja, maka berikut ini akan dilakukan pengkajian terhadapnya untuk menemukan penyebab konflik dan budaya yang menyertai konflik tersebut. Suami (Bapak B) : Tujuan utama migrasi spontan hampir semua masyarakat non Papua ke Papua adalah untuk mencari pekerjaan dan mengembangan usaha ekonomi mereka. Karena itu segala usaha dan pekerjaan akan ditekuni untuk mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya. Pekerjaan dan usaha untuk penghidupan ini begitu penting dan berharga sehingga segala cara dan pendukungnya akan dikorbankan demi mempertahankan apa yang telah dicapai. 22 Hal ini menurut pengamatan penulis terjadi pada satu keluarga asal Toraja di Wamena. Dengan keahlian sebagai buruh bangunan, bapak B telah datang ke Wamena dan bekerja semaksimal mungkin untuk mendukung kehidupan istri dan anaknya di Wamena tetapi juga ibunya di kampung halaman. Tanggung-jawabnya terhadap ibunya masih melekat bersamaan dengan tanggung-jawabnya terhadap istri dan anaknya. Bapak B memahami pekerjaan sebagai yang utama sehingga istrinya dilihat sebagai pendukung pekerjaannya. Jika ternyata istrinya dianggap tidak mendukung apa yang dinginkannya, maka akan terjadi konflik. Di sini bapak B bersifat egois, ingat diri dan menganggap remeh istrinya. Istrinya dianggap merupakan bagian kedua dari kehidupannya dan pekerjaannya. Pengaruh ibu sangat dominan terhadap anaknya. Artinya ibu mendapat posisi yang penting dalam komunikasi 22 Wawancara dengan Pendeta senior GKI di Jayapura Februari

22 keluarganya, sedangkan istrinya tidak mengalami hal itu secara baik. Untuk mendukung karakter egois dan ingat diri bapak B tersebut, dalam konflik dengan istrinya, ia selalu menggunakan volume suara yang keras dengan intonasi yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk membiaskan realitas yang sesungguhnya, sebab volume suara yang keras dan intonasi yang tinggi merupakan bahasa nonverbal yang digunakan dalam komunikasinya dengan ibu B sebagai istrinya. Sarwono menyebut bahasa nonverbal sebagai simbol komunikasi relatif. 23 Artinya dengan simbol tersebut seseorang hendak membenarkan apa yang tidak dikehendaki oleh pihak lain. Di sini terjadi bias bahasa dan bias asimilasi, yaitu bapak B menggunakan skema kebenaran dirinya dengan bahasa nonverbalnya untuk mengalihkan apa yang kelihatan dan terjadi bersama istrinya ke dalam kosep skema diri sendiri. 24 Di satu pihak bapak A secara sadar melakukan bias budaya terhadap istrinya, tetapi di pihak lain ibu B tidak peka budaya suaminya. Di sini konflik budayapun terjadi sehingga masing-masing pihak akan menjalankan pilihannya demi mempertahankan kehidupan rumah-tangga di mata masyarakat. Istri (Ibu B) : Pemicu konflik rumah tangga yang utama adalah kehadiran ibu bapak B, sebagai mertua dalam kehidupan keluarganya. Ibu mertua selalu mengatur pekerjaan anaknya, mengatur keuangan anaknya bahkan mungkin mengatur tentang bagaimana suami mengatur istrinya. Akibatnya komunikasi lebih 23 Sarlito Sarwono, Psikologi Lintas Budaya, p Eric B. Shiraev, David A. Levi, Psikologi Lintas Kultural, p

23 banyak dibangun oleh bapak B dengan ibunya ketimbang dengan istrinya. Komunikasi antara suami istri yang kurang dibangun ini telah menimbulkan kecurigaan dari pihak istri terhadap suami. Faktor kejujuran dalam pembagian keuangan dari pihak bapak B kepada Ibu B telah menjadi salah satu pemicu konflik dan pertengkaran rumah tangga. Keadaan inilah yang dimaksud oleh Pruit dan Rubbin ketika menyimpulkan bahwa konflik biasanya terjadi ketika norma sosial dalam keadaan lemah atau sedang mengalami perubahan. 25 Kondisi dimana seorang suami wajib secara jujur menginformasikan tentang hasil kerjanya dan memberikannya kepada istri baik dalam bentuk uang atau barang adalah hal yang diakui sebagai norma umum kehidupan suatu keluarga. Ketika norma umum ini lemah dan mengalami perubahan dalam konteks keluarga bapak B dan ibu B, maka hal itu menimbulkan ketidak percayaan dan rasa curiga dari pihak istri terhadap suami atau sebaliknya. Itulah akar munculnya konflik. Masalah keluarga yang dialami ibu B adalah soal ekonomi keluarga, relasi dengan ibu mertua, kecemburuan dan seksualitas serta cara penyelesaian konflik oleh suami. Hal ini nampak ketika ibu B bertanya kepada penulis katanya : saya mau tanya ke pendeta, apakah berdosa kalau saya mempunyai perasaan seperti ini terhadap ibu mertua? Artinya bahwa ia merasakan adanya suatu kesulitan besar dalam kehidupan keluarganya baik masalah ekonomi keluarga, relasi suami istri, perselingkuhan sampai pada nilai kejujuran suaminya berpangkal pada sikap dan perilaku ibu mertuanya. Apakah salah, sebagai menantu dan istri ia bersilang pendapat dengan mertuanya? Ungkapan apakah berdosa yang dipakai oleh ibu B hendak 25 Dean G. Pruitt, Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, p.32 51

24 memformulasikan apa yang ia inginkan yaitu : pertama, ia hendak mendapat kepastian dari tindakannya apakah sesuai dengan kehendak Tuhan ataulah salah? Terutama terkait dengan hukum Tuhan, hormatilah ayahmu dan ibumu... Dan kedua ungkapan ini hendak mendeskripsikan tentang hal pemberkatan pernikahan terhadap kehidupan mereka yang ditunda dan menggantung Hasil Temuan terhadap Konflik Budaya Suami-Istri Budaya Wamena Berdasarkan kenyataan dalam kehidupan keluarga di atas sebagai satu contoh realitas konflik sumi istri asal Wamena maka berikut ini akan dilakukan pengkajian terhadapnya untuk menemukan penyebab konflik dan budaya yang menyertai konflik tersebut. Suami (Bapak C) : Ada empat hal utama penyebab konflik keluarga, yaitu masalah ekonomi dan keuangan keluarga, masalah seksualitas, masalah anak dan masalah relasi dengan orang tua. Jika dalam satu keluarga terjadi salah satu dari keempat penyebab ini maka akan muncul konflik dalam keluarga. Bapak C tidak mempunyai relasi yang harmonis dengan istrinya selama sepuluh tahun terakhir, tetapi mereka tetap merupakan satu keluarga yang tinggal bersama. Pertanyaannya adalah : Bagaimana hubungan intim suami istri dapat terjadi? Apakah mereka pisah ranjang? Bagaimana relasi dan komunikasi dengan orang tua suami atau istri? Bagaimana mungkin mereka mempunyai masalah ekonomi dan keuangan yang serius sebab mereka belum memiliki anak? Dari ungkapan bapak C ketika ia berkata kepada penulis : saya memiliki permasalahan batin yang tidak dapat saya sampaikan. Kata-kata ini mengemukakan tentang ideologi orang Balim tentang nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Dalam kaitan ini Simon Itlay 52

25 (dkk) mengungkapkan bahwa : setiap kali orang Balim terbentur pada halangan dan rintangan dalam usaha mewujudkan hidup baiknya, ia bertanya kepada dirinya dan kepada orang lain serta alam sekitar dan kepada para leluhur. Pertanyaannya adalah : - Henore kii? artinya : mana yang baik? - Hanogenhe kii? artinya : mana yang lebih baik? - Hanorogo logousakhe kiitogo? artinya : bagaimana bisa hidup baik? - Nelaluknen weak agaike? artinya : mengapa menjadi buruk? Bapak C sedang mengalami konflik kepribadian sebagai akibat dari ideologi budaya terutama dalam pertanyaan : Hanorogo logousakhe kiitogo? artinya : bagaimana bisa hidup baik? Nelaluknen weak agaike? artinya : mengapa menjadi buruk? Pertanyaan konflik ideologi budaya interpersonalnya adalah mengapa ia belum memiliki anak? Jika ia belum memiliki anak, bagaimana ia dapat hidup lebih baik? Ia menghargai istrinya sebagai manusia yang berbudaya, tetapi ia belum dapat menerima bahwa istrinya belum dapat memberikan anak dalam keluarga mereka. Kenyataan tentang perilaku hidupnya selama sepuluh tahun terakhir di mana ia hidup dalam kemabukan, perselingkuhan dan foya-foya adalah pelampiasan kelemahan dirinya yang belum dapat menempatkan diri dalam konteks masyarakat adat Balim yang harus memberikan keturunan kepada suku bangsanya. Kelahiran seorang anak dalam konteks manusia Balim adalah hal yang terpenting karena anak, apalagi anak laki-laki merupakan pusaka untuk mempertahankan kelanjutan kehidupan manusia Balim. 53

26 Istri (Ibu C) : Ibu C menyadari akan keberadaannya sebagai seorang perempuan Balim yang belum dapat memberikan keturunan bagi suku bangsanya. Ia sadar bahwa ia memiliki kekurangan dalam hal yang prinsip dari kelanjutan hidup suatu generasi. Karena itu ia mencoba untuk tenang supaya dapat terlibat dalam pelayanan sebagai bagian dari pergumulannya untuk memperoleh anak dari pada Tuhan pemilik kehidupan ini. Ada dua hal yang dilakukan ibu C ketika memasuki masa krisis keluarganya, terutama pada kurun waktu satu dekade terakhir ini, yaitu ia kembali menekuni pekerjaan sebagai petani sambil berdagang dan melayani Tuhan sebagai anggota Majelis jemaat. Orang Balim hidup dari bercocok tanam dan beternak babi. Dalam tradisi bercocok tanam, ladang atau kebun dibuka dengan menebang pohon, membersihkan dan membakar dikerjakan oleh kaum lelaki. Selanjutnya kaum perempuan menanam kebun dengan tanaman, sedangkan kaum lelaki melanjutkan pekerjaan membuat pagar sekeliling kebun dengan kayu maupun batu-batu. Waktu pemeliharaan tanaman hingga panen dilakukan oleh kaum wanita. 26 Ada pembagian kerja dan tanggung-jawab yang harmonis antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks budaya Balim, kaum wanita adalah pekerja untuk menanam, memelihara, hingga panen. Setelah tersentuh dunia pasar, maka mereka juga yang menjadi pedagang hasil kebun. Ini bukan hal baru, pekerjaan tersebut adalah bagian dari kehidupan kaum perempuan Balim. Ketika suaminya tidak memberikan gaji kepada istrinya, ia kembali menjalankan hakekat 26 Koentjaraningkat, Konfederasi Perang dan Pemimpin dalam Masyarakat Dani. Dalam : Koentjaraningrat (dkk), Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk, p

27 kehidupannya dan hal itu tidak menimbulkan konflik. Masalah uang tidak menjadi penyebab untuk melakukan konflik dari pihak istri terhadap suaminya. Menjadi anggota Majelis Jemaat tidak terjadi berdasarkan kemauan seseorang, tetapi hal itu terjadi berdasarkan hasil pemilihan jemaat. Dalam pergumulan dan permasalahan keluarga, ibu C terpilih untuk menjabat Majelis Jemaat. Tetapi kemudian hal ini telah menjadi pemicu konflik suami istri ini. Pertanyaannya adalah apakah hal ini terkait dengan sikap kecemburuan bapak C sebagai suami terhadap istrinya di satu pihak, atau suatu protes kepempinan seorang perempuan dalam keluarganya? 3. Penanganan Konseling Lintas Budaya Suami-Istri di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena. Ada beberapa salah pengertian tentang pelayanan konseling dari sudut anggapan dasar pemikiran, prinsip atau ide utama yang dipakai untuk mengarahkan praktik konseling pastoral. Pertama, konseling pastoral merupakan suatu proses percakapan timbal balik antara konselor dan konseli; Kedua, konseling pastoral dipahami sebagai suatu proses wawancara dari konselor terhadap konseli; Ketiga, konseling pastoral dilihat dalam kaitan dengan hal mengajar dan menasihati dari pihak konselor kepada konseli; Keempat, konseling pastoral sebagai suatu bentuk konsultasi, yaitu adanya hubungan antara konselor sebagai ahli dan klien sebagai yang membutuhkan keahlian konselor dalam memecahkan masalahnya; Kelima, konseling pastoral sebagai proses terapi dan pengobatan ketidaknormalan emosional-mental spiritual dari pihak konselor terhadap konseli; Keenam, konseling pastoral sama dengan berkhotbah, berceramah atau penginjilan. 27 Sejauh yang penulis amati dan wawancara dengan beberapa pendeta GKI Di Tanah 27 Toto S. Wiryasaputra & Rini Handayani, Pengantar Konseling Pastoral, p

28 Papua, ternyata kesalahpahaman inipun masih ada dan nampak dalam praktek pelayanan gereja khususnya dalam diri para pendeta. Dalam Peraturan Penggembalaan GKI Di Tanah Papua, disebutkan tentang bentuk-bentuk penggembalaan yang dilakukan oleh GKI Di Tanah Papua, salah satunya adalah melalui ibadah-ibadah jemaat dan khotbah. 28 Hal ini hampir mirip dengan kesalahpahaman yang disinyalir di atas. Implikasinya bagi GKI adalah segala perkara yang terkait dengan konseling dapat saja dilakukan melalui khotbah maupun ceramah dalam pembinaan-pembinaan. Akibatnya para pendeta akan mengabaikan hakekat konseling yang sesungguhnya dan lebih memprioritaskan khotbah dan ibadah jemaat. Konseling merupakan perjumpaan eksistensial atau perjumpaan antar individu, perjumpaan dan percakapan dari hati ke hati, suatu perjumpaan yang terencana dan sistimatis sehingga konselor dan konseli menantikan adanya hasil akhir yang konkret dan realistis. Konseling merupakan proses perjumpaan pertolongan antara dua orang manusia sebagai subyek, yaitu antara konselor dan konseli dengan tujuan untuk menolong konseli agar dapat menghayati keberadaan dan pengalamannya secara utuh, sehingga ia dapat menggunakan segala potensi dirinya, orang lain dan konteksnya untuk berubah, bertumbuh dan berfungsi sebagai anggota masyarakat dan geraja secara utuh. 29 Dengan demikian maka proses perjumpaan dalam pelayanan konseling bukanlah perjumpaan biasa, bukanlah percakapan sambil-lalu, bukan juga sebuah tradisi pertemuan antara konselor dan konseli atau antara pendeta dengan jemaat. Perjumpaan yang dimaksudkan dalam konseling adalah perjumpaan dan percakapan dalam rangka menolong konseli untuk mengalami pengalaman hidupnya secara utuh, benar dan bertanggung-jawab. Berdasarkan pemahaman tersebut diatas maka penulis hendak meneliti tentang pelaksanaan konseling pada umumnya dan secara khusus tentang pelaksanaan konseling 28 BP Am Sinode GKI Di Tanah Papua, Peraturan Penggembalaan. (Jayapura: CV Anagrafika, 2007). 29 Toto S. Wiryasaputra & Rini Handayani, Pengantar Konseling Pastoral, p

29 lintas budaya yang dilaksanakan oleh pendeta dalam suatu jemaat. Apa yang dipahaminya tentang konseling pada umumnya maupun konseling lintas budaya pada khususnya? Bagaimana praktek pelayanan konseling lintas budaya dalam jemaat? Penulis juga dalam kaitan itu mencoba melaksanakan praktek konseling lintas budaya sebagai contoh dan prototype pelaksanaannya dalam pelayanan jemaat-jemaat GKI Pelayanan Konseling Lintas Budaya oleh Pendeta Jemaat Pertanyaan kritis dalam penelitian ini adalah apa pemahaman pendeta jemaat tentang konseling maupun konseling lintas budaya? Pemahamannya akan membentuk paradikma berpikir dan bertindaknya dalam pelayanan konseling maupun konseling lintas budaya. Menurut Pendeta Jemaat, konseling pastoral adalah proses penggembalaan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli. Penggembalaan yang dimaksudkannya berakar dalam kitab Mazmur 23:1-6 maupun dalam Yohanes 10: Penggembalaan dengan demikian adalah proses membimbing, menuntun dan menyediakan yang dilakukan oleh pendeta sebagai konselor kepada konseli terutama terkait dengan keperluan rohani warga jemaat. Di sini konselor dipahami dan ditampilkan sebagai seorang konsultan atau seorang ahli sebagai subyek konseling sedangkan konseli ditempatkan dan berposisi sebagai yang membutuhkan pertolongan sebagai obyek konseling. Menurut pendeta jemaat bahwa melalui pelayanan konseling, ia mendapatkan informasi dan data tentang berbagai masalah yang dihadapi jemaat lalu mengunjungi mereka dan memberi penguatan supaya mereka tabah menjalani kehidupan ini dalam iman, harap dan kasih. Karena itu konseling atau menurut pendeta jemaat pelayanan konseling adalah 30 Percakapan ulang via HP dan sms dengan Pendeta Jemaat GKI Lachai Roi Wamena tanggal 28 Juli

30 pelayanan pertolongan kepada mereka yang bermasalah. 31 Permasalahan jemaat sangat kompleks dan beragam karena itu diperlukan pendekatan-pendekatan khusus untuk memahami setiap permasalahan dengan penuh tanggung-jawab dan adil. Apalagi dalam jemaat multibudaya atau majemuk seperti Lachai Roi Wamena. Jangan sampai ada warga jemaat yang merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai atau bahkan tidak dilayani secara baik oleh pendeta maupun majelis jemaat. 32 Istilah maupun praktek pelayanan konseling lintas budaya rupanya merupakan hal yang baru bagi pendeta jemaat dan istrinya. Menurut mereka bahwa jangankan konseling lintas budaya, dalam hal pelayanan konseling saja sudah tidak dapat dilaksanakan secara baik dan terencana. Mereka berucap : kami jarang melaksanakan kunjungan konseling kepada warga jemaat. Kalaupun kami datangi warga jemaat, itu bukan karena mereka memerlukan kami, tetapi lebih banyak kali karena kamilah yang memerlukan mereka, bukan karena ada permasalahan yang harus kami selesaikan bersama mereka. 33 Hal praktek yang demikian oleh pendeta jemaat disebabkan karena pengertiannya sendiri tentang konseling kurang berdasar maupun berakar pada profesionalisme kependetaan maupun ilmu konseling itu seendiri. Pada sisi lain, penulis menemukan bahwa dalam Hasil Sidang Jemaat GKI Lachai Roi Wamena pada tahun 2014 maupun Hasil Sidang Jemaat pada tahun 2015, tidak ditemukan adanya program dan kegiatan konseling yang terjadwal secara teratur dan sistimatis sepanjang tahun 2014 ataupun tahun Itu berarti bahwa selama tidak ada permasalahan yang muncul dalam kehidupan berjemaat, maka pelayanan konseling dianggap tidak dibutuhkan 31 Percakapan ulang via HP dan sms dengan Pendeta Jemaat GKI Lachai Roi Wamena tanggal 28 Juli Informasi dari seorang Penatua di Jemaat GKI Lachai Roi Wamena pada Desember Informasi dari Pendeta Jemaat GKI Putikelek, juga adalah istri Pendeta Jemaat Lachai Roi Wamena, pada bulan Desember Panitia Sidang Jemaat 2015, Hasil Sidang Jemaat GKI Lachai Roi Wamena Tahun (HomHom: Majelis Jemaat, 2015). 58

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Keluarga adalah institusi pertama yang dibangun, ditetapkan dan diberkati Allah. Di dalam institusi keluarga itulah ada suatu persekutuan yang hidup yang

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. terhadap permasalahan kekerasan pasangan suami isteri, yakni: 1. Peran Pendeta sebagai Motivator terhadap Permasalahan Ekonomi

BAB V PENUTUP. terhadap permasalahan kekerasan pasangan suami isteri, yakni: 1. Peran Pendeta sebagai Motivator terhadap Permasalahan Ekonomi BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Peran pendeta secara umum dapat dilihat dalam fungsi konseling pastoral, yakni menyembuhkan, menopang, membimbing, memperbaiki hubungan, dan mengasuh. Dari hasil penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pernikahan. Berdasarkan Undang Undang Perkawinan no.1 tahun 1974,

BAB I PENDAHULUAN. pernikahan. Berdasarkan Undang Undang Perkawinan no.1 tahun 1974, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya, setiap individu pada tahap perkembangan dewasa awal menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis yang berujung pada jenjang pernikahan. Berdasarkan

Lebih terperinci

Gereja Menyediakan Persekutuan

Gereja Menyediakan Persekutuan Gereja Menyediakan Persekutuan Pada suatu Minggu pagi sebelum kebaktian Perjamuan Tuhan, lima orang yang akan diterima sebagaianggota gereja berdiri di depan pendeta dan sekelompok diaken. Salah seorang

Lebih terperinci

BAHAN SHARING KEMAH. Oktober VISI & MISI GPdI MAHANAIM - TEGAL. Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama

BAHAN SHARING KEMAH. Oktober VISI & MISI GPdI MAHANAIM - TEGAL. Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama VISI & MISI GPdI MAHANAIM - TEGAL VISI : Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama MISI : Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa didalam Kristus dan melayani

Lebih terperinci

BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. menguraikan terlebih dulu gambaran umum GPM Jemaat Airmanis.

BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. menguraikan terlebih dulu gambaran umum GPM Jemaat Airmanis. BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN Dalam bab III ini akan membahas temuan hasil dari penelitian tentang peran pendeta sebagai konselor pastoral di tengah kekerasan pasangan suami-isteri. Sebelumnya, penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Katolik, Hindu, dan Budha. Negara menjamin kebebasan bagi setiap umat bergama untuk

BAB I PENDAHULUAN. Katolik, Hindu, dan Budha. Negara menjamin kebebasan bagi setiap umat bergama untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam UUD 1945, disebutkan bahwa Indonesia sebagai Negara yang berlandaskan pada Pancasila mengakui adanya lima agama di dalamnya, antara lain: Islam, Kristen,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI

BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI Permasalahan hidup yang dihadapi oleh warga jemaat Pola Tribuana Kalabahi meliputi beberapa aspek, yaitu aspek fisik, sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki 44 wilayah klasis, 2.504 jemaat, dengan jumlah warga mencapai 1.050.411 jiwa yang dilayani oleh 1.072 pendeta, (Lap. MS-

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tana Toraja merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk mayoritas beragama Kristen. Oleh karena itu bukan hal yang mengherankan lagi jikalau kita menjumpai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Gereja adalah komunitas yang saling berbagi dengan setiap orang dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Gereja adalah komunitas yang saling berbagi dengan setiap orang dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Gereja adalah komunitas yang saling berbagi dengan setiap orang dengan memberi sesuai dengan kemampuannya. Gereja adalah tempat setiap orang dalam menemukan belas kasih

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang BAB IV TINJAUAN KRITIS Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya kita dapat melihat bahwa manusia selalu menyatu dengan kebudayaannya dan budaya itu pun menyatu dalam diri manusia. Karena itu budaya menjadi

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendampingan dan konseling pastoral adalah alat-alat berharga yang melaluinya gereja tetap relevan kepada kebutuhan manusia. 1 Keduanya, merupakan cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk religius (homo religious), manusia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk religius (homo religious), manusia memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia sebagai mahluk religius (homo religious), manusia memiliki keterbatasan sehingga manusia dapat melakukan ritual - ritual atau kegiatan keagamaan lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gereja, tetapi di sisi lain juga bisa membawa pembaharuan ketika gereja mampu hidup dalam

BAB I PENDAHULUAN. gereja, tetapi di sisi lain juga bisa membawa pembaharuan ketika gereja mampu hidup dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Gereja tidak bisa lepas dari proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat seperti modernisasi dan sekularisasi. Perubahan akan menimbulkan permasalahan dan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

BAB V PENUTUP. Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. 5.1 Kesimpulan 1. Tidak dapat dipungkiri persoalan dalam kehidupan

Lebih terperinci

BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN. A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan

BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN. A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan Pada Bab II telah dijelaskan bahwa cara pandang Jemaat Gereja terhadap

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN MENGENAI PENGAMPUNAN DALAM MENYIKAPI PERSELINGKUHAN SUAMI

BAB III HASIL PENELITIAN MENGENAI PENGAMPUNAN DALAM MENYIKAPI PERSELINGKUHAN SUAMI BAB III HASIL PENELITIAN MENGENAI PENGAMPUNAN DALAM MENYIKAPI PERSELINGKUHAN SUAMI Bab III ini membahas mengenai data yang ditemui di lapangan. Data yang diperoleh adalah informasi mengenai kondisi keluarga,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan yang ada di gereja, yang bermula dari panggilan Allah melalui Kristus

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan yang ada di gereja, yang bermula dari panggilan Allah melalui Kristus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Agama Kristen Protestan merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia. Pada Agama Kristen biasanya memiliki suatu organisasi di gereja yang melibatkan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin BAB I PENDAHULUAN Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin Gereja dengan Suatu Kajian Pastoral terhadap dampak Psikologis bagi orang-orang yang dikenakan Disiplin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.

Lebih terperinci

RENUNGAN KITAB 1Tesalonika Oleh: Pdt. Yabes Order

RENUNGAN KITAB 1Tesalonika Oleh: Pdt. Yabes Order RENUNGAN KITAB 1Tesalonika Oleh: Pdt. Yabes Order Bacaan Alkitab hari ini: 1Tesalonika 1 HARI 1 MENJADI TELADAN Mengingat waktu pelayanan Rasul Paulus di Tesalonika amat singkat, mungkin kita heran saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komisi Remaja adalah badan pelayanan bagi jemaat remaja berusia tahun. Komisi

BAB I PENDAHULUAN. Komisi Remaja adalah badan pelayanan bagi jemaat remaja berusia tahun. Komisi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1950 di Indonesia adalah Gereja Kristen Indonesia atau yang biasa disebut GKI. GKI adalah sekelompok gereja

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. terjadi tiga macam kekerasan, meliputi kekerasan psikis, fisik, dan. penelantaran rumah tangga namun kekerasan psikis lebih dominan.

BAB V PENUTUP. terjadi tiga macam kekerasan, meliputi kekerasan psikis, fisik, dan. penelantaran rumah tangga namun kekerasan psikis lebih dominan. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Merujuk dari rumusan masalah pada penelitian ini, dan dari hasil serta pembahasan yang telah dilakukan maka didapatkan kesimpulan bahwa, 1. Bentuk KDRT pada keluarga muslim

Lebih terperinci

Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa

Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa!II Allah Ingin Berbicara dengan Saudara *I Bagaimana Allah Berbicara dengan Saudara li Bagaimana Mendengar Allah Berbicara III Bertindak Menurut Apa yang Dikatakan Allah

Lebih terperinci

Bekerja Dengan Para Pemimpin

Bekerja Dengan Para Pemimpin Bekerja Dengan Para Pemimpin Sudah lebih dari setahun Kim menjadi anggota gerejanya. Dia telah belajar banyak sekali! Ia mulai memikirkan pemimpin-pemimpin di gereja yang telah menolongnya. Ia berpikir

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Dampak skizofrenia bagi keluarga sangatlah besar, ini menyebabkan seluruh keluarga ikut merasakan penderitaan tersebut. Jika keluarga tidak siap dengan hal ini,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada di tengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat lebih kuat

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Kristen Maranatha

LAMPIRAN. Universitas Kristen Maranatha LAMPIRAN KATA PENGANTAR Saya adalah mahasiswa Psikologi. Saat ini saya sedang melakukan suatu penelitian untuk tugas akhir saya (skripsi) mengenai kecerdasan dari Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) Persekutuan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Tradisi penjualan anak adalah suatu tradisi masyarakat di pulau Timor dengan tujuan

BAB V PENUTUP. Tradisi penjualan anak adalah suatu tradisi masyarakat di pulau Timor dengan tujuan BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Tradisi penjualan anak adalah suatu tradisi masyarakat di pulau Timor dengan tujuan memperoleh kesehatan dan keselamatan bagi anak dan orang tua yang memiliki kemiripan wajah

Lebih terperinci

Kalender Doa Februari 2017

Kalender Doa Februari 2017 Kalender Doa Februari 2017 Berdoa Bagi Pernikahan Dan Pertalian Keluarga Alkitab memberi gambaran mengenai pengabdian keluarga dalam Kitab Rut. Bisa kita baca di sana bagaimana Naomi dengan setia bepergian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia tentunya memiliki masalah dan pergumulannya masing-masing. Persoalan-persoalan ini mungkin berkaitan dengan masalah orang per

Lebih terperinci

Ibadah Suatu Permata Rohaniah

Ibadah Suatu Permata Rohaniah Ibadah Suatu Permata Rohaniah Hari itu sangat dingin. Di daerah Pegunungan Andes yang tinggi seorang pemuda sedang menelusuri jalan setapak yang berkerikil. Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh sebuah

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN HASIL WAWANCARA Informan I Nama : Manimbul Hutauruk Tanggal Wawancara : 31 Januari 2015 Tempat : Rumah Bapak Manimbul Hutauruk Waktu : Pukul 13.00 WIB 1. Berapa lama anda tinggal di Desa Hutauruk?

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui negara yaitu Islam, Kristen,

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui negara yaitu Islam, Kristen, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui negara yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu (Penetapan Presiden RI Nomor 1 tahun 1965). Setiap agama

Lebih terperinci

-AKTIVITAS-AKTIVITAS

-AKTIVITAS-AKTIVITAS KEHIDUPAN BARU -AKTIVITAS-AKTIVITAS BARU Dalam Pelajaran Ini Saudara Akan Mempelajari Bagaimanakah Saudara Mempergunakan Waktumu? Bila Kegemaran-kegemaran Saudara Berubah Kegemaran-kegemaran Yang Baru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada semua orang agar merasakan dan mengalami sukacita, karena itu pelayan-pelayan

BAB I PENDAHULUAN. kepada semua orang agar merasakan dan mengalami sukacita, karena itu pelayan-pelayan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Kristen Sumba (GKS) Nggongi adalah salah satu dari sekian banyak gereja yang ada di Indonesia. Gereja hadir untuk membawa misi menyampaikan kabar baik

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI Dalam bab ini berisi tentang analisa penulis terhadap hasil penelitian pada bab III dengan dibantu oleh teori-teori yang ada pada bab II. Analisa yang dilakukan akan

Lebih terperinci

BAB V. Penutup: Refleksi, Kesimpulan dan Saran

BAB V. Penutup: Refleksi, Kesimpulan dan Saran BAB V Penutup: Refleksi, Kesimpulan dan Saran I. Refleksi Kehadiran saksi Yehova di tengah masyarakat Kelurahan Kawua yang merupakan bagian dari wilayah pelayanan GKST, pada akhirnya telah melahirkan tanggapan

Lebih terperinci

Roh Kudus GBI JEMAAT INDUK DANAU BOGOR RAYA. Roh Kudus adalah satu pribadi. Pesan Gembala Minggu, 13 Mei 2012 Pdt Sutadi Rusli

Roh Kudus GBI JEMAAT INDUK DANAU BOGOR RAYA. Roh Kudus adalah satu pribadi. Pesan Gembala Minggu, 13 Mei 2012 Pdt Sutadi Rusli GBI JEMAAT INDUK DANAU BOGOR RAYA Pesan Gembala Minggu, 13 Mei 2012 Pdt Sutadi Rusli Roh Kudus Shalom, saya sangat yakin setiap pribadi diberkati oleh Tuhan. Amin! Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan

Lebih terperinci

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Efektivitas Bimbingan Konseling Islam di (BP -4) Kementrian Agama

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Efektivitas Bimbingan Konseling Islam di (BP -4) Kementrian Agama BAB III PENYAJIAN DATA A. Efektivitas Bimbingan Konseling Islam di (BP -4) Kementrian Agama Dalam Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kota Pekanbaru Dalam kehidupan kita berbagai konflik dan permasalahan

Lebih terperinci

TAHUN AYIN ALEPH. Minggu I. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

TAHUN AYIN ALEPH. Minggu I. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. TAHUN AYIN ALEPH Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33) Minggu I Pada tanggal 8 September 2010, kalender orang Yahudi berubah

Lebih terperinci

K2 KEMAMPUAN KUESIONER KARUNIA-KARUNIA ROH

K2 KEMAMPUAN KUESIONER KARUNIA-KARUNIA ROH K2 KEMAMPUAN KUESIONER KARUNIA-KARUNIA ROH Wagner-Modified Houts Questionnaire (WMHQ-Ed7) by C. Peter Wagner Charles E. Fuller Institute of Evangelism and Church Growth English offline version: http://bit.ly/spiritualgiftspdf

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat, memacu orang untuk semakin meningkatkan intensitas aktifitas dan kegiatannya. Tingginya intensitas

Lebih terperinci

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga Suami Rosa biasa memukulinya. Ia memiliki dua anak dan mereka tidak berani berdiri di hadapan ayahnya karena mereka takut akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia diciptakan pastilah memiliki sebuah keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar dan keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang mana

Lebih terperinci

BAB II PROFIL INFORMAN. mendasari mengapa penelitian gaya komunikasi manajemen konflik interpersonal

BAB II PROFIL INFORMAN. mendasari mengapa penelitian gaya komunikasi manajemen konflik interpersonal BAB II PROFIL INFORMAN Dalam bab sebelumnya telah dikemukakan tentang alasan apa saja yang mendasari mengapa penelitian gaya komunikasi manajemen konflik interpersonal pasangan mahasiswa yang hamil diluar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obor Indonesia, 1999, p Jane Cary Peck, Wanita dan Keluarga Kepenuhan Jati Diri dalam Perkawinan dan Keluarga, Yogyakarta:

BAB I PENDAHULUAN. Obor Indonesia, 1999, p Jane Cary Peck, Wanita dan Keluarga Kepenuhan Jati Diri dalam Perkawinan dan Keluarga, Yogyakarta: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pada dasarnya setiap orang memiliki suatu gambaran tentang keluarga dan keluarga harmonis. Keluarga merupakan sistem sosial dari hubungan utama, yang memungkinkan

Lebih terperinci

Rahasia Nikah & Rahasia Ibadah (Bagian I)

Rahasia Nikah & Rahasia Ibadah (Bagian I) Rahasia Nikah & Rahasia Ibadah (Bagian I) Setelah Allah selesai menciptakan langit, bumi dan segala isinya maka pada hari ke 6 Allah menciptakan manusia supaya berkuasa atas segala ciptaannya (Kejadian

Lebih terperinci

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat,

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, BAB IV ANALISIS 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, yang secara sadar maupun tidak telah membentuk dan melegalkan aturan-aturan yang

Lebih terperinci

Seorang Teman Untuk Berbicara (Seorang Teman Seperti Itu), 22 Desember B. Apa yang dikatakan tentang Seorang teman untuk berbicara

Seorang Teman Untuk Berbicara (Seorang Teman Seperti Itu), 22 Desember B. Apa yang dikatakan tentang Seorang teman untuk berbicara Pelajaran 12 SEORANG TEMAN UNTUK BERBICARA Seorang Teman Seperti Itu 22 Desember 2012 1. Persiapan A. Sumber Titus 2:3-7 Mazmur 55:12-14 Amsal 1:8 Amsal 27:6 1 Petrus 5:1-5 Amsal 23:9 Amsal 1:5 B. Apa

Lebih terperinci

Bisa. Mengajar. Merupakan Pelayanan

Bisa. Mengajar. Merupakan Pelayanan Mengajar Bisa Merupakan Pelayanan Tahukah saudara bahwa Allah menginginkan saudara menjadi guru? Dalam pelajaran ini saudara akan belajar bahwa demikianlah halnya. Saudara akan belajar mengapa Allah menghendaki

Lebih terperinci

Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah. Tanggal Penulisan: M Latar Belakang

Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah. Tanggal Penulisan: M Latar Belakang SUPLEMEN MATERI KHOTBAH PELKAT 10 11 MARET 2017 Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah Tanggal Penulisan: 80-95 M Latar Belakang YOHANES 4 : 27 54 Injil Yohanes adalah unik di antara keempat Injil.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun. Pada masa ini, orang-orang mencari keintiman emosional dan fisik

BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun. Pada masa ini, orang-orang mencari keintiman emosional dan fisik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa dewasa awal merupakan waktu perubahan dramatis dalam hubungan personal. Hal tersebut dikarenakan banyaknya perubahan yang terjadi pada individu di masa

Lebih terperinci

Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean

Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean Dalam hidup ini mungkinkah kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki kebanggaan-kebanggaan yang tidak bernilai kekal? Mungkinkah orang Kristen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kristen. Setiap gereja Kristen memiliki persyaratan tersendiri untuk

BAB I PENDAHULUAN. Kristen. Setiap gereja Kristen memiliki persyaratan tersendiri untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan perbedaan, salah satunya adalah agama. Setiap agama di Indonesia memiliki pemuka agama. Peranan pemuka agama dalam

Lebih terperinci

INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN SISWA SD. Berikut ini 50 rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas 4 pernyataan

INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN SISWA SD. Berikut ini 50 rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas 4 pernyataan L A M P I R A N 57 INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN SISWA SD Berikut ini 50 rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas 4 pernyataan Anda diminta untuk memilih 1 (satu) pernyataan dari setiap rumpun yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi, informasi dan juga ledakan populasi

Lebih terperinci

Gereja Mengajarkan Kebenaran

Gereja Mengajarkan Kebenaran Gereja Mengajarkan Kebenaran Sepanjang abad-abad banyak orang pandai telah mencari kebenaran. Namun demikian mereka tidak dapat menemukannya, jika mereka tidak mencarinya di tempat yang benar. Yesus mengatakan

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH (1) Tata Gereja GKJ adalah seperangkat peraturan yang dibuat berdasarkan Alkitab sesuai dengan yang dirumuskan di dalam Pokok-pokok Ajaran GKJ dengan tujuan

Lebih terperinci

MTPJ 26 JULI-1 AGUSTUS '15

MTPJ 26 JULI-1 AGUSTUS '15 MTPJ 26 JULI-1 AGUSTUS '15 TEMA BULANAN: Membangun Solidaritas Dalam Keluarga TEMA MINGGUAN: Berkat Tuhan Untuk Keluarga Bahan Alkitab: Mazmur 128:1-6; Ibrani 13:1-5 ALASAN PEMILIHAN TEMA Pada saat-saat

Lebih terperinci

Revelation 11, Study No. 13 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 13, oleh Chris

Revelation 11, Study No. 13 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 13, oleh Chris Revelation 11, Study No. 13 in Indonesian Language Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 13, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di Pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock

BAB I PENDAHULUAN. matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masa dewasa merupakan masa dimana setiap individu sudah mulai matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock (dalam Jahja, 2011), rentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Gereja adalah persekutuan umat Tuhan Allah yang baru. Ungkapan ini erat hubungannya dengan konsep tentang gereja adalah tubuh Kristus. Dalam konsep ini

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR KUESIONER. Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas

KATA PENGANTAR KUESIONER. Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas LAMPIRAN I KATA PENGANTAR KUESIONER Dengan hormat, Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, maka tugas yang harus dilaksanakan adalah mengadakan

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N. menghargai orang yang menderita itu. Salah satunya dengan memanfaatkan metodemetode konseling dari ilmu psikologi.

BAB I P E N D A H U L U A N. menghargai orang yang menderita itu. Salah satunya dengan memanfaatkan metodemetode konseling dari ilmu psikologi. BAB I P E N D A H U L U A N 1. LATAR BELAKANG Konseling pastoral adalah salah satu bentuk pertolongan dalam pendampingan pastoral yang hingga kini mengalami perkembangan. Munculnya golongan kapitalis baru

Lebih terperinci

BAB 4. Refleksi Teologis. dan kehidupan rohani setiap anggota jemaatnya tidak terkecuali anak-anak yang adalah

BAB 4. Refleksi Teologis. dan kehidupan rohani setiap anggota jemaatnya tidak terkecuali anak-anak yang adalah BAB 4 Refleksi Teologis Ketika Tuhan Yesus naik ke surga, Ia memberikan mandat kepada seluruh murid untuk pergi ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa menjadi muridnya (Matius 28:19-20). Mandat ini

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan UKDW

Bab I Pendahuluan UKDW Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Gereja memiliki tugas untuk memelihara kehidupan warga jemaatnya secara utuh melalui berbagai kegiatan yang meliputi dimensi fisik, sosial, psikologis dan spiritual.

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN MASALAH

BAB V PEMBAHASAN MASALAH BAB V PEMBAHASAN MASALAH A. PEMBAHASAN Setiap manusia memiliki impian untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Tetapi ketika sudah menikah banyak dari pasangan suami istri yang memilih tinggal bersama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang,

BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Gereja adalah mitra kerja Tuhan Allah dalam mewujudkan rencana karya Tuhan Allah yaitu untuk menyelamatkan umat manusia. Dalam memenuhi panggilan-nya tersebut,

Lebih terperinci

SAAT TERJADI KONFLIK

SAAT TERJADI KONFLIK SAAT TERJADI KONFLIK Dalam berumah tangga, tak dapat dihindari yang namanya konflik atau permasalahan. Ibarat sendok dan garpu pasti ada gesekan walaupun kadang tidak disadari. Karena sekali lagi, perempuan

Lebih terperinci

Gereja Melayani Orang

Gereja Melayani Orang Gereja Melayani Orang Beberapa orang mengunjungi sebuah katedral yang indah. Mereka mengagumi keindahan, arsitektur dan harta kekayaannya. Pemimpin-pemimpin gereja setempat itu mengatakan kepada tamu-tamu

Lebih terperinci

Bergabunglah dengan Saudara yang Lain Bila Berdoa

Bergabunglah dengan Saudara yang Lain Bila Berdoa Bergabunglah dengan Saudara yang Lain Bila Berdoa III Berdoalah dengan Seorang Teman II Berdoalah dengan Keluarga Saudara III Berdoalah dengan Kelompok Doa II Berdoalah dengan Jemaat Pelajaran ini akan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan

Lebih terperinci

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PENDAHULUAN Allah tertarik pada anak-anak. Haruskah gereja berusaha untuk menjangkau anak-anak? Apakah Allah menyuruh kita bertanggung jawab terhadap anak-anak?

Lebih terperinci

BAB III BEBERAPA UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBINA EMOSI ANAK AKIBAT PERCERAIAN. A. Fenomena Perceraian di Kecamatan Bukit Batu

BAB III BEBERAPA UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBINA EMOSI ANAK AKIBAT PERCERAIAN. A. Fenomena Perceraian di Kecamatan Bukit Batu BAB III BEBERAPA UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBINA EMOSI ANAK AKIBAT PERCERAIAN A. Fenomena Perceraian di Kecamatan Bukit Batu Upaya orang tua dalam membina emosi anak akibat perceraian di Kecamatan Bukit

Lebih terperinci

Pikiran untuk menderita

Pikiran untuk menderita Ketika saya bertanya ke teman saya yang bekerja di divisi HRD sebuah bank terkenal tentang bagaimana bank tersebut mengelola karyawannya. Ia menjawab bahwa cara berpikir karyawan adalah menghindari penderitaan

Lebih terperinci

1Pet.5:1-4; Yeh.34:1-6; Yoh.10:11. Pdt. DR. Stephen Tong

1Pet.5:1-4; Yeh.34:1-6; Yoh.10:11. Pdt. DR. Stephen Tong 1Pet.5:1-4; Yeh.34:1-6; Yoh.10:11 Pdt. DR. Stephen Tong Yesus mengatakan ada dua macam orang yang melayani Tuhan, yang semacam adalah gembala yang lainnya adalah orang upahan. Gembala mengasihi domba-domba

Lebih terperinci

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. perempuan atau pun jenis kelamin, semuanya pasti akan mengalaminya. Tidak hanya

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. perempuan atau pun jenis kelamin, semuanya pasti akan mengalaminya. Tidak hanya BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Siapa saja bisa mengalami hal itu, baik tua atau pun muda, miskin atau pun kaya, baik perempuan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah bersatunya dua orang manusia yang bersama-sama sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat keterikatan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Indonesia terkenal akan keberagamannya, keberagaman itu bisa dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Indonesia terkenal akan keberagamannya, keberagaman itu bisa dilihat dari BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Indonesia terkenal akan keberagamannya, keberagaman itu bisa dilihat dari kelompok etnik, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Di mana setiap dalam suatu kelompok

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB PEMBUKAAN Sesungguhnya Allah didalam Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Ia adalah sumber kasih, kebenaran, dan hidup, yang dengan kuat kuasa

Lebih terperinci

BAB IV CAWAN DAN SLOKI DALAM PERJAMUAN KUDUS. istilah orang Jawa wong jowo iku nggoning semu artinya orang Jawa itu peka

BAB IV CAWAN DAN SLOKI DALAM PERJAMUAN KUDUS. istilah orang Jawa wong jowo iku nggoning semu artinya orang Jawa itu peka BAB IV CAWAN DAN SLOKI DALAM PERJAMUAN KUDUS Dalam bagian ini akan mengemukakan pengaruh perubahan penggunaan cawan menjadi sloki dalam Perjamuan Kudus dalam kehidupan jemaat masa modern dengan melihat

Lebih terperinci

Karunia Karunia Pelayanan Lainnya: 1 Melayani Mengajar Menasihati

Karunia Karunia Pelayanan Lainnya: 1 Melayani Mengajar Menasihati Karunia Karunia Pelayanan Lainnya: 1 Melayani Mengajar Menasihati Kita telah menyelesaikan penelaahan mengenai keempat karunia yang kita sebut karunia pelayanan. Walaupun daftar karunia-dalam Efesus 4

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Setiap orang yang merencanakan untuk berkeluarga biasanya telah memiliki impian-impian akan gambaran masa depan perkawinannya kelak bersama pasangannya.

Lebih terperinci

TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis

TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN. Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis TIPS MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS DARI KANG MASRUKHAN Tahukah anda bahwa untuk membangun sebuah Rumah Tangga yang harmonis tidaklah sulit. Mudah saja, simple dan sangat sederhana. Sebagai seorang

Lebih terperinci

KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI

KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI KEPUASAN PERNIKAHAN DITINJAU DARI KEMATANGAN PRIBADI DAN KUALITAS KOMUNIKASI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : Dewi Sumpani F 100 010

Lebih terperinci

1. LATAR BELAKANG MASALAH

1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1 1. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia dalam kehidupannya memiliki banyak kebutuhan, antara lain : kebutuhan untuk diperhatikan, mendapatkan bimbingan, pemeliharaan, asuhan, penghiburan,

Lebih terperinci

MTPJ Juli 2014 ALASAN PEMILIHAN TEMA

MTPJ Juli 2014 ALASAN PEMILIHAN TEMA MTPJ 13-19 Juli 2014 TEMA BULANAN: Berdemokrasi Dalam Ekonomi Yang Berkeadilan TEMA MINGGUAN : Kejujuran Sebagai Senjata Melawan Korupsi Bahan Alkitab: Keluaran 22:1-5; Kisah Para Rasul 5:1-11 ALASAN PEMILIHAN

Lebih terperinci

Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran

Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran Setiap Orang Membutuhkan Pengajaran Pernahkah saudara melihat seekor induk burung yang mendesak anaknya keluar dari sarangnya? Induk burung itu memulai proses pengajaran yang akan berlangsung terus sampai

Lebih terperinci

Bertumbuh dalam Mendengarkan Suara Allah

Bertumbuh dalam Mendengarkan Suara Allah Bertumbuh dalam Mendengarkan Suara Allah 2007 Freedom for the Captives Ministries Semua ayat Alkitab dari Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society), 1994 Boleh difotokopi untuk

Lebih terperinci

KEBAIKAN RAHASIA (Perbuatan-perbuatan Tersembunyi), 10 November 2012

KEBAIKAN RAHASIA (Perbuatan-perbuatan Tersembunyi), 10 November 2012 Pelajaran 6 KEBAIKAN RAHASIA (Perbuatan-perbuatan Tersembunyi), 10 November 2012 KEBAIKAN RAHASIA Perbuatan-perbuatan Tersembunyi 10 November 2012 1. Persiapan A. Sumber Matius 6:2-4 Mazmur 139:1-3 Ibrani

Lebih terperinci

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat GIDEON Kelapadua Depok TATA IBADAH MINGGU 18 Juni 2017

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat GIDEON Kelapadua Depok TATA IBADAH MINGGU 18 Juni 2017 Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat GIDEON Kelapadua Depok TATA IBADAH MINGGU 18 Juni 2017 h a l, 1 PERSIAPAN Doa pribadi warga jemaat Pengenalan lagu-lagu yang akan dinyanyikan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Manusia hidup tidak selamanya berada dalam kondisi dimana semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan dan diingininya. Ada saat dimana muncul ketegangan-ketegangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lahir, menikah, dan meninggal. Pernikahan merupakan penyatuan dua jiwa

BAB I PENDAHULUAN. lahir, menikah, dan meninggal. Pernikahan merupakan penyatuan dua jiwa 1 A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Dalam perjalanan hidup manusia, terdapat tiga saat yang penting, yakni lahir, menikah, dan meninggal. Pernikahan merupakan penyatuan dua jiwa menjadi satu

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG Pada Bab ini, penulis akan menggunakan pemahaman-pemahaman Teologis yang telah dikemukakan pada

Lebih terperinci