SKRIPSI untuk. oleh SEMARANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SKRIPSI untuk. oleh SEMARANG"

Transkripsi

1 i HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KUALITAS RUMAH HUNIAN PENDUDUK KELURAHAN MANGUNSARI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Apriani Yunita Purwitasari JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITASS NEGERI SEMARANG 2013

2 ii PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: hari : Selasa tanggal : 22 Januari 2013 Pembimbing I, Pembimbing II, Drs. Sriyono, M. Si NIP Drs. Sutardji NIP Mengetahui Ketua Jurusan Geografi, Drs. Apik Budi Santoso, M. Si NIP ii

3 iii PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: hari : Rabu tanggal : 6 Februari 2013 Penguji Utama, Drs. Saptono Putro, M.Si NIP Anggota I, Anggota II, Drs. Sriyono, M. Si NIP Drs. Sutardji NIP Mengetahui Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Dr. Subagyo, M. Pd NIP iii

4 iv PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat di dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang 16 Januari 2013 Apriani Yunita Purwitasari NIM iv

5 v MOTO DAN PERSEMBAHAN MOTO...(itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS.Ash-Shaff:3) Demi Tuhan, berhentilah sejenak tinggalkan dahulu pekerjaanmu, tengoklah ke sekelilingmu.. (Leo Tolstoy) Hidup hanya sekali, jadi tidak selayaknya dilalui dengan kesalahan tanpa perbaikan. (Penulis) PERSEMBAHAN Karya ini penulis persembahkan kepada: 1. Allah SWT. dan Nabi SAW. 2. Ayahku Purwanto, ibuku Yutini, kakakku Asep Purwo Yudi Utomo, adikku Agus Syarif Mahdi, dan Beyfendy_ku yang setia mendampingiku. 3. Teman-teman perjuanganku di IRM/IPM, IMM, Jurusan Geografi angkatan 2008, Hima Geografi, Kos KB3 Banaran, Kos Trangkil, Asrama Putri Muhammadiyah. 4. Setiap penghuni rumah yang bangga dengan apa yang mereka miliki. v

6 vi PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT. atas berkah, rahmat, dan ridhanya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kualitas Rumah Hunian Penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah banyak memberi motivasi baik secara moral maupun material kepada penulis. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si., selaku Rektor Universitas Negeri Semarang atas kesempatan yang telah diberikan kepada peneliti menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. 2. Dr. Subagyo, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang atas segala kemudahan yang telah diberikan dalam ijin melakukan penelitian. 3. Drs. Apik Budi Santoso, M.Si., selaku Ketua Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial atas persetujuan kepada peneliti dalam melakukan penelitian. 4. Drs. Sriyono, M.Si., selaku pembimbing I yang dengan sabar memberikan arahan, bimbingan, masukan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi. 5. Drs. Sutardji, selaku pembimbing II yang dengan sabar memberikan arahan, bimbingan, masukan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi. vi

7 vii 6. Drs. Saptono Putro, M.Si, selaku penguji utama yang telah bersedia menguji skripsi peneliti dan memberikan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini. 7. Drs. Eko Slamet Riyanto, SH, selaku Lurah Mangunsari yang telah memberikan ijin penelitian. 8. Warga di Kelurahan Mangunsari selaku responden dalam penelitian ini yang telah memberikan data atau informasi, terima kasih atas kerjasama dan bantuannya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Kritik dan saran, penulis harapkan agar semakin sempurnanya penelitian ini. Semarang, 16 Januari 2013 Penyusun vii

8 viii SARI Purwitasari, Apriani Yunita Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kualitas Rumah Hunian Penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Sriyono, M. Si dan Pembimbing II Drs. Sutardji. 93 halaman, 27 tabel, 10 lampiran, 38 gambar. Kata Kunci: Hubungan, Tingkat Pendidikan, Kualitas Rumah Hunian. Makna umum pembangunan di Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dan kehidupan masyarakat. Pada umumnya kualitas kehidupan masyarakat pedesaan di negara kita masih rendah terutama segi pendidikan, kesehatan, dan pemukiman. Perubahan konsep mental manusia tidak dapat berjalan dalam satu hari. Salah satu usaha mempercepat perubahan itu adalah melalui pendidikan. Pendidikan sangat berpengaruh pada perwujudan peningkatan kualitas rumah hunian. Hal tersebut dikarenakan peningkatan pengetahuan tentang standar kesehatan dalam setiap rumah berasal dari pendidikan yang ditempuh seseorang baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Dengan memahami pentingnya kesehatan dalam rumah, setiap warga akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitiannya adalah: 1) Mengetahui tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari, 2) Mengetahui kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Gunungpati Kota Semarang, 3) Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di Kelurahan Mangunsari yaitu 1208 KK. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportionate cluster random sampling diperoleh 84 kepala keluarga sebagai responden. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu tingkat pendidikan dan variabel terikatnya yaitu kualitas rumah hunian. Alat pengumpul data yang digunakan adalah dokumentasi dan panduan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif persentase dan analisis korelasi product moment dari Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah 42,9% (36 KK) tingkat pendidikan penduduk masih rendah (belum sekolah sampai tamat SD), 23,8% (20 KK) dengan kriteria cukup tinggi (SMP), 26,2% (22 KK) dengan kriteria tinggi (tamat SMA), dan 7,1% (4 KK) dengan kriteria sangat tinggi (Perguruan Tinggi). Kondisi kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari menunjukkan bahwa 19,0% (16 rumah) dengan kriteria sangat baik dengan skor 45,50 56,00; 77,4% (65 rumah) dalam kondisi baik karena memiliki skor antara 35,00-<45,50; 3,6% (3 rumah) dengan kriteria cukup baik dengan skor 24,50 <35,00, dan tidak ada rumah yang masuk kriteria kurang baik. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari. Hal ini dapat dilihat dari perhitungan korelasi product moment dari viii

9 ix Pearson, bahwa r hitung = 0,263. Pada α = 5% dengan N = 84, diperoleh r tabel = 0,213, sehingga r hitung (0,263) > r tabel (0,213). Simpulan penelitian ini yaitu: 1) Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Mangunsari, diketahui tingkat pendidikan penduduk termasuk dalam kriteria rendah yaitu sebanyak 36 penduduk (42,9%) hanya menempuh pendidikan formal sampai dengan kelas 6 (SD/sederajatnya) atau tidak sekolah; 2) Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Mangunsari, sebagian besar rumah penduduk termasuk dalam kriteria baik yaitu sebanyak 65 rumah penduduk (77,4%) berada pada skor 35,00 - <45,50; dan 3) Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, karena r hitung (0,263) > r tabel (0,213). Saran yang diajukan adalah: 1) Warga perlu meningkatkan tingkat pendidikan karena berguna untuk peningkatan kualitas rumah hunian; 2) Warga perlu meningkatkan kualitas rumah huniannya karena dapat mempengaruhi kualitas kesehatannya; dan 3) Warga perlu mengikuti penyuluhan lingkungan sehat untuk mewujudkan lingkungan sehat di Kelurahan Mangunsari. ix

10 x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii PENGESAHAN KELULUSAN... iii PERNYATAAN... iv MOTO DAN PERSEMBAHAN... v PRAKATA... vi SARI... viii DAFTAR ISI... x DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat Praktis Penegasan Istilah Pengertian Hubungan Tingkat Pendidikan Kualitas Rumah Hunian Penduduk Penelitian yang Relevan BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.7. Tingkat Pendidikan Pengertian Pendidikan Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Jalur Pendidikan Jenjang Pendidikan Kualitas Rumah Pengertian Rumah Rumah Sehat Syarat Rumah Sehat Penduduk Kelurahan Mangunsari Hubungan Tingkat Pendidikan dan Kualitas Rumah Kerangka Berfikir Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi Penelitian Sampel dan Teknik Sampling Variabel Penelitian x

11 xi Variabel Bebas Variabel Terikat Metode Pengumpulan Data Metode Dokumentasi Metode Observasi Teknik Analisis Data Teknik Analisis Deskriptif Persentase Teknik Analisis Korelasi Product Moment BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian Kondisi Fisik Daerah Penelitian Letak astronomis Letak administrasi Penggunaan lahan Jumlah rumah penduduk Jumlah pemakai air minum Kondisi Sosial Daerah Penelitian Jumlah penduduk menurut kelompok umur Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan Hasil Penelitian Jenis kelamin responden Umur responden Mata pencaharian responden Pendapatan responden Tingkat pendidikan responden Kualitas rumah hunian responden Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Uji Normalitas Data Koefisien Korelasi Pembahasan Tingkat pendidikan Kualitas rumah hunian Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xi

12 xii DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Sampel penelitian di RW Tabel 3.2 Kriteria tingkat pendidikan Tabel 3.3 Frekuensi variabel tingkat pendidikan Tabel 3.4 Kriteria kualitas rumah hunian Tabel 3.5 Frekuensi variabel kualitas rumah hunian Tabel 4.1 Penggunaan lahan di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.2 Jumlah rumah penduduk menurut sifat dan bahannya di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.3 Jumlah pemakai air minum penduduk di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.4 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan kelompok umur Tabel 4.5 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan mata pencaharian Tabel 4.6 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan tingkat pendidikan Tabel 4.7 Jenis kelamin responden di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.8 Umur responden di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.9 Mata pencaharian responden di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.10 Pendapatan responden di Kelurahan Mangunsari Tabel 4.11 Tingkat pendidikan responden Tabel 4.12 Kualitas rumah hunian penduduk Tabel 4.13 Komponen luas rumah responden Tabel 4.14 Komponen langit-langit rumah responden Tabel 4.15 Komponen atap rumah responden Tabel 4.16 Komponen dinding rumah responden Tabel 4.17 Komponen lantai rumah responden Tabel 4.18 Komponen jendela kamar tidur rumah responden Tabel 4.19 Komponen ventilasi udara rumah responden Tabel 4.20 Komponen lubang asap dapur rumah responden Tabel 4.21 Komponen pencahayaan alami dan buatan rumah responden Tabel 4.22 Komponen penyediaan air bersih rumah responden Tabel 4.23 Komponen pembuangan air limbah rumah responden Tabel 4.24 Komponen pembuangan sampah rumah responden Tabel 4.25 Komponen penghijauan halaman rumah responden Tabel 4.26 Komponen jamban rumah responden Tabel 4.27 Uji normalitas data kualitas rumah hunian xii

13 xiii DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Kerangka berpikir Gambar 3.1 Skema hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian Gambar 4.1 Peta administrasi Kelurahan Mangunsari Gambar 4.2 Peta penggunaan lahan Kelurahan Mangunsari Gambar 4.3 Tingkat pendidikan penduduk Gambar 4.4 Kualitas rumah hunian penduduk Gambar 4.5 Rumah tanpa langit-langit rumah Gambar 4.6 Langit-langit rumah yang kotor Gambar 4.7 Langit-langit rumah yang bersih dan terawat Gambar 4.8 Atap rumah dari genteng Gambar 4.9 Rumah dengan dinding kayu Gambar 4.10 Rumah dengan dinding anyaman bambu Gambar 4.11 Rumah dengan lantai keramik Gambar 4.12 Rumah dengan lantai kamar mandi yang rusak Gambar 4.13 Dapur tradisional rumah responden Gambar 4.14 Rumah responden dengan dinding dan lantai yang rusak Gambar 4.15 Jendela rumah tanpa teralis Gambar 4.16 Bentuk jendela yang juga berfungsi seperti teralis Gambar 4.17 Ventilasi rumah responden tanpa pelindung dari nyamuk Gambar 4.18 Dapur tanpa lubang asap dapur Gambar 4.19 Dapur dengan pencahayaan dan ventilasi yang memadai Gambar 4.20 Jendela dan ventilasi rumah untuk masuknya cahaya Gambar 4.21 Saluran air yang digunakan warga dari sumur artesis Gambar 4.22 Selokan terbuka yang tidak terawat Gambar 4.23 Selokan terbuka yang terawat Gambar 4.24 Pembuangan air kamar mandi di halaman rumah Gambar 4.25 Pembuangan limbah dapur di halaman rumah Gambar 4.26 Saluran pembuangan kamar mandi ke halaman rumah Gambar 4.27 Tempat pengumpulan sampah warga Gambar 4.28 Pengumpulan sampah di dalam rumah Gambar 4.29 Sisa pembakaran sampah di halaman rumah Gambar 4.30 Halaman rumah yang dimanfaatkan sebagai taman Gambar 4.31 Rumah dengan teras rumah Gambar 4.32 Halaman rumah untuk beternak Gambar 4.33 Model WC duduk Gambar 4.34 WC model leher angsa Gambar 4.35 Dinding kamar mandi dan WC yang tidak permanen Gambar 4.36 WC dengan dinding yang rusak xiii

14 xiv DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Kisi-kisi panduan dokumentasi variabel tingkat pendidikan Lampiran 2 Kisi-kisi panduan observasi variabel kualitas rumah hunian Lampiran 3 Pengantar Lampiran 4 Lembar dokumentasi dan observasi Lampiran 5 Lembar panduan dokumentasi dan observasi Lampiran 6 Daftar nama responden Lampiran 7 Data penelitian tingkat pendidikan dan kualitas rumah hunian Lampiran 8 Uji normalitas data penelitian kualitas rumah hunian Lampiran 9 Korelasi antara pendidikan dan kualitas rumah xiv

15 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, berisi setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia, dan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif. Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perubahan. Pada zaman purba, manusia bertempat tinggal di gua-gua yang kemudian berkembang dengan mendirikan rumah atau tempat tinggal di hutan-hutan dan di bawah pohon. Pada abad modern ini, manusia sudah membangun rumah (tempat tinggalnya) bertingkat dan dilengkapi dengan peralatan yang serba modern. Sejak zaman dahulu, manusia juga mencoba membangun rumahnya berdasarkan kebudayaan penduduk setempat dan membangun rumah mereka dengan bahan yang ada di daerah setempat (local material). Setelah manusia memasuki abad modern ini, meskipun rumah mereka dibangun bukan dengan bahan-bahan dari daerah setempat tetapi kadang-kadang pembangunannya masih mewarisi kebudayaan generasi sebelumnya (Notoadmojo 2003). 1

16 2 Berdasarkan pemaparan tersebut, rumah menjadi kebutuhan pokok manusia guna membangun kehidupan keluarga dengan memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, misalnya untuk tempat berlindung dari cuaca, tempat pembinaan keluarga, serta sebagai tempat untuk kegiatan keluarga. Oleh karena itu, rumah yang berkualitas dan sesuai standar kesehatan diharapkan akan memenuhi hak-hak dasar seseorang untuk tinggal dan menetap di suatu tempat serta melangsungkan hidupnya dengan sejahtera. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada Bab III Pasal 5 berisi setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur; dan setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk berperan serta dalam pembangunan perumahan. Hal yang sama juga dijelaskan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah nomor: 403/ KPTS/ M/ 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs SEHAT) Lampiran IV, yang menyebutkan hal sebagai berikut. 1) Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi. 2) Rumah sehat merupakan rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi ketetapan dan ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni rumah dari bahaya atau gangguan kesehatan, sehingga memungkinkan penghuni memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

17 3 Kesehatan lingkungan merupakan keadaan lingkungan yang optimal sehingga berpengaruh positif terhadap terbentuknya derajat kesehatan masyarakat yang optimal pula. Masalah kesehatan lingkungan meliputi penyehatan lingkungan pemukiman, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah dan sampah serta pengelolaan tempat-tempat umum dan pengolahan makanan. Lingkungan pemukiman secara khusus adalah rumah yang merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang tidak diikuti pertambahan luas tanah cenderung menimbulkan masalah kepadatan populasi dan lingkungan tempat tinggal yang menyebabkan berbagai penyakit serta masalah kesehatan. Rumah sehat sebagai prasyarat berperilaku sehat memiliki kriteria yang sulit dapat dipenuhi akibat kepadatan populasi yang tidak diimbangi ketersediaan lahan perumahan. Syarat rumah sehat yang tidak terpenuhi dapat menimbulkan masalah kesehatan atau penyakit baik fisik, mental, maupun sosial yang mempengaruhi produktivitas keluarga dan pada akhirnya mengarah pada kemiskinan dan masalah sosial. Rumah memiliki arti penting dalam penjagaannya terhadap kesehatan anggota keluarga yang menempati rumah tersebut. Banyak kasus kesehatan yang terjadi karena tidak menerapkan standar rumah sehat, seperti dalam penelitian oleh Yusup dan Sulistyorini (2005) tentang Hubungan Sanitasi Rumah Secara Fisik dengan Kejadian Ispa pada Balita yang menyimpulkan bahwa a) terdapat hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita dengan p=0,000; b) sanitasi rumah secara fisik yang memiliki hubungan dengan kejadian ISPA pada balita meliputi: kepadatan penghuni (p=0,005), ventilasi (p=0,009),

18 4 dan penerangan alami (p=0,047); c) sanitasi rumah secara fisik yang tidak memiliki hubungan dengan kejadian ISPA pada balita meliputi: kelembaban (p=0,143) dan suhu (p=0,179). Pramudiyani dan Prameswari (2011) juga menjelaskan dengan judul Hubungan antara Sanitasi Rumah dan Perilaku dengan Kejadian Pneumonia Balita berisi adanya hubungan antara luas ventilasi kamar, jenis lantai, kepadatan hunian kamar dengan kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara perilaku membuka jendela setiap pagi dan siang hari, serta perilaku merokok dengan kejadian Pneumonia pada balita. Namun, dalam hasil penelitian ini ditunjukkan tidak ada hubungan antara suhu rumah, kelembaban rumah, kondisi jendela dan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian Pneumonia pada balita. Oktaviani (2011) dalam penelitian yang berjudul Hubungan antara Sanitasi Fisik Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) pada Balita di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali menunjukkan bahwa ada hubungan antara ventilasi rumah (p=0,046), pencahayaan alami rumah (p=0,001), lantai rumah (p=0,025), dinding rumah (p=0,00), dan atap rumah (p=0,026) dengan kejadian ISPA, sedangkan kelembaban rumah (p=0,883) tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah memaparkan kasus-kasus akibat tidak sesuainya kondisi rumah dengan kesehatan penghuni rumah maka peneliti tertarik meneliti variabel terikat dalam penelitian ini. Variabel terikat yang

19 5 dimaksud yaitu kualitas rumah hunian dengan dasar panduan penilaian rumah sehat. Makna umum pembangunan di Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas manusia dan kehidupan masyarakat. Pada umumnya kualitas kehidupan masyarakat pedesaan di negara kita masih rendah terutama segi pendidikan, kesehatan, dan pemukiman. Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan sekarang ini masih menghadapi masalah-masalah antara lain mengenai kependudukan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Tugas pembangunan tersebut hanya akan terlaksana apabila didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia itu sendiri ditujukan pada perwujudan manusia pembangunan yang berbudi luhur, tangguh, cerdas dan terampil, mandiri, produktif, kreatif, inovatif serta berorientasi ke masa depan untuk menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik. Ciri kehidupan masyarakat yang baik antara lain tercermin dari perilaku manusia dan kondisi pemukiman yang sehat. Rendahnya kualitas kesehatan pemukiman merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Masalah kesehatan hunian merupakan masalah klasik yang senantiasa muncul terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Masalah ini merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan, karena kesehatan lingkungan perumahan yang tidak memenuhi persyaratan akan mengakibatkan tumbuh suburnya berbagai masalah dan penyakit menular bagi penduduk, khususnya penghuni rumah masing-masing. Di samping itu, lingkungan dan

20 6 tempat tinggal yang tidak sehat akan menyebabkan menurunnya produktivitas kerja dan daya guna seseorang. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas pemukiman dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja bagi penghuninya, dan dapat meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, baik pemerintah maupun masyarakat sudah sewajarnya menyadari bahwa lingkungan pemukiman dan perumahan perlu diperhatikan kualitasnya dan perlu pula diperhatikan persyaratan kesehatan di samping persyaratan teknisnya. Masalah lingkungan dan perumahan tidak sehat, sebenarnya ditimbulkan oleh perbuatan manusia itu sendiri yang tidak mengetahui dan tidak menyadari pentingnya lingkungan hidup sehat. Masalah lingkungan dan perumahan yang dihadapi sebenarnya adalah masalah perubahan mental dan perilaku manusia yang mungkin tanpa disadari telah menjadi manusia perusak alam lingkungannya sendiri. Mereka harus diubah sikap mentalnya menjadi manusia yang mengetahui dan menyadari pentingnya lingkungan dan rumah sehat. Upaya peningkatan kesehatan perumahan hanya mungkin jika didukung oleh semua warganya. Masyarakat yang sehat memerlukan lingkungan perumahan yang sehat. Dalam upaya merealisasikan lingkungan rumah sehat di pedesaan perlu adanya pengertian, pemahaman dan kesadaran dari penduduk itu sendiri, sehingga apabila nanti sudah menyadari pentingnya rumah sehat, diharapkan ada motivasi dan upaya dari penghuni untuk memenuhi rumahnya masing-masing. Perubahan konsep mental manusia tidak dapat berjalan dalam satu hari. Salah satu usaha mempercepat perubahan itu adalah melalui pendidikan. Pendidikan sangat berpengaruh pada perwujudan peningkatan kualitas rumah

21 7 hunian. Hal tersebut dikarenakan peningkatan pengetahuan tentang standar kesehatan dalam setiap rumah berasal dari pendidikan yang ditempuh seseorang baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Pemahaman pentingnya kesehatan dalam rumah akan membuat setiap warga meningkatkan kualitas hidupnya. Berdasarkan data dinamis monografi Kelurahan Mangunsari semester II Tahun 2011, jumlah penduduk dirinci menurut pendidikan yang ditamatkan yaitu 1) tamat Sekolah Dasar/sederajat sejumlah 1253 orang; 2) tamat SMP/sederajat sejumlah 644 orang; 3) tamat SMA/sederajat sejumlah 615 orang; 4) tamat Akademi/sederajat sejumlah 96 orang; dan 5) tamat PT/sederajat sejumlah 103 orang. Data Statis Monografi Kelurahan Mangunsari semester II Tahun 2011 juga menyebutkan bahwa jumlah rumah penduduk di Kelurahan Mangunsari adalah rumah, yaitu: rumah menurut sifat dan bahannya: 1) dinding yang terbuat dari batu/ gedung permanen sejumlah 791 rumah; 2) dinding yang terbuat dari sebagian batu/ semi permanen sejumlah 215 rumah; dan 3) dinding yang terbuat dari kayu/ papan sejumlah 158 rumah. Penentuan lokasi penelitian mempertimbangan beberapa hal sebagai berikut. 1) Lokasi penelitian merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Gunungpati yang berdasarkan data monografi terdiri dari 3 jenis rumah dengan sifat dan bahan yang berbeda dengan kondisi pendidikan yang cukup baik. 2) Lokasi penelitian merupakan daerah dengan luas wilayah ha yang terbagi menjadi 23 RT dan 5 RW dengan jumlah penduduk 4195 jiwa dan 1208 KK, sehingga memudahkan peneliti dalam pengambilan data dalam waktu yang

22 8 singkat. 3) Lokasi penelitian lebih mudah diakses oleh peneliti selama proses penelitian. Berdasarkan pemaparan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian dengan judul Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kualitas Rumah Hunian Penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan yang diajukan adalah sebagai berikut: Bagaimana tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang? Bagaimana kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang? Bagaimana hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian pada penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang? 1.3. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka tujuan penelitiannya adalah: Mengetahui tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

23 Mengetahui kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian pada penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain: Manfaat Teoritis Bagi Peneliti Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian Bagi Mahasiswa Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian Manfaat Praktis Penelitian ini sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah atau pihak yang berkompeten dalam perancangan kebijakan untuk pembangunan wilayah setempat.

24 PENEGASAN ISLTILAH Peneliti memberikan batasan penelitian dalam penegasan istilah agar tidak terjadi suatu kesalahpahaman tentang pengertian hubungan, tingkat pendidikan, kualitas rumah hunian, dan penduduk seperti berikut ini Pengertian Hubungan Hubungan adalah keadaan saling berkaitan antara jaringan yang terwujud karena interaksi antar satuan-satuan yang aktif (KBBI 1990:313). Hubungan dalam ilmu statistik yaitu hubungan kesejajaran antara 2 (dua) variabel atau lebih (Sudjana 2002:167). Penelitian ini mengkorelasikan atau menghubungkan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian di Kelurahan Mangunsari Tingkat Pendidikan Pendidikan nasional dalam satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Tingkat pendidikan dalam penelitian ini akan lebih fokus pada pendidikan formal terakhir Kepala Keluarga (KK) pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kualitas Rumah Hunian Menurut UU RI Nomor 4 Tahun 1992, rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman, dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga. Hal yang sama juga disebutkan dalam UU No.1 Tahun 2011, rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.

25 11 Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, fungsi hunian sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2) mempunyai fungsi utama sebagai tempat tinggal manusia yang meliputi rumah tinggal tunggal, rumah tinggal deret, rumah tinggal susun, dan rumah tinggal sementara. Berdasarkan penjelasan tersebut, istilah rumah dapat mewakili rumah hunian jika rumah tersebut masih menjadi tempat tinggal penduduk. Standar dalam menentukan kualitas rumah hunian dijelaskan dalam komponen rumah sehat oleh DPU Cipta Karya (1994), yaitu: penyediaan ruang yang cukup, langitlangit, atap rumah, dinding, lantai, jendela, peranginan atau ventilasi udara, lubang asap dapur, penerangan atau pencahayaan, penyediaan air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan sampah, penghijauan halaman rumah, dan jamban. Kriteria penilaian rumah sehat pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 2 halaman Penduduk Menurut Undang-Undang RI No.10 Tahun 1992, penduduk adalah orang dalam matranya sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu. Penduduk dalam penelitian ini adalah sekelompok orang yang tinggal di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

26 PENELITIAN YANG RELEVAN No. Penulis Tahun 1. Kusumawati dkk Judul Penelitian 2008 Hubungan antara Pendidikan dan Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Kesehatan Lingkungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2. Hermawan 2005 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pemeliharaan Kebersihan Lingkungan 3. Amalia 2009 Hubungan antara Pendidikan, Pendapatan Kesimpulan Pendidikan kepala keluarga sebagian besar yakni 64,1% adalah pendidikan dasar, pengetahuan kesehatan lingkungan sebagian kepala keluarga termasuk kategori sedang yakni sebesar 57,7%, sedangkan responden yang berperilaku sehat sebesar 44,6%. Ada hubungan antara pendidikan dan pengetahuan kesehatan lingkungan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan nilai p masing-masing sebesar 0,001. Terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan ibu rumah tangga dengan perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara kebersihan lingkungan; Terdapat hubungan yang positif antara persepsi ibu rumah tangga tentang kebersihan lingkungan dengan perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara kebersihan lingkungan; 3)Terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dan persepsi ibu rumah tangga tentang kebersihan lingkungan dengan perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara kebersihan lingkungan. Pendidikan pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres Kota

27 13 dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (HIK) di Pasar Kliwon dan Jebres Kota Surakarta Surakarta sebagian besar berpendidikan sekolah dasar yaitu sebanyak 16 orang (40%); Pendapatan perhari tertinggi pedagang hidangan istimewa kampung (HIK) yaitu Rp dan pendapatan terendah Rp ; Pedagang HIK sebagian besar berperilaku kurang sehat sebanyak 30 orang (75%) dan hanya 10 orang (25%) yang berperilaku sehat; Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan PHBS (p = 0,003) pada pedagang HIK; dan 5) Ada hubungan antara tingkat pendapatan dan PHBS (p = 0,049) pada pedagang HIK. Berdasarkan penelitian yang relevan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan kulitas rumah hunian. Dalam penelitian ini penulis beranggapan variabel penelitian penulis memiliki kesamaan dari beberapa penelitian yang relevan tersebut karena saling menghubungkan antara variabel satu dengan variabel satunya. Penelitian ini menghubungkan tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk.

28 14 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. TINGKAT PENDIDIKAN Tingkat pendidikan dalam penelitian ini terdiri atas pengertian pendidikan; dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan; jalur pendidikan; serta jenjang pendidikan Pengertian Pendidikan Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidikan adalah memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, penduduk, dan bangsa. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilainilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, Pendidikan nasional berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat 14

29 15 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab Jalur Pendidikan Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Menurut pasal 1 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, ketiga jalur pendidikan tersebut adalah sebagai berikut Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan Jenjang Pendidikan Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 menyebutkan jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, dengan penjelasan sebagai berikut.

30 Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, yang terdiri atas pendidikan menengah dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi, yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi dengan sistem terbuka. Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan berperan membantu manusia untuk memahami rahasia dan cara hidup di balik kehidupan. Pemahaman tersebut menjelaskan bahwa manusia dididik untuk dapat memahami arti, hakikat, dan tujuan hidup dengan benar (Mulyasana 2011:12). Tingkat pendidikan dalam penelitian ini adalah pendidikan

31 17 formal yang terbagi dalam tahun belajar yaitu selama 6 tahun, 7-9 tahun, tahun, dan > 12 tahun. Pendidikan secara umum memberikan manfaat membentuk sikap dan kesadaran dalam menghadapi suatu masalah. Pada penelitian ini, permasalahan tentang kesehatan perumahan yang berhubungan dengan kualitas rumah diharapkan dapat ditingkatkan dengan pendidikan agar kesadaran untuk mengupayakan rumah sehat dapat segera terwujud KUALITAS RUMAH Kualitas rumah dalam penelitian ini terdiri atas pengertian rumah; rumah sehat, dan syarat rumah sehat Pengertian Rumah Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman, dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No.4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/ MENKES/ SK/ VII/ 1999 menjelaskan bahwa rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Selain itu, Hayward dalam Kasjono (2011:21-22), mengemukakan beberapa konsep tentang rumah, yaitu 1) Rumah sebagai pengejawantahan jati diri, rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera pribadi penghuninya; 2) Rumah sebagai wadah keakraban, rasa

32 18 memiliki, rasa kebersamaan, kehangatan, kasih, dan rasa aman; 3) Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi, tempat melepaskan diri dari dunia luar, dari tekanan dan ketegangan, dari dunia rutin; 4) Rumah sebagai akar dan kesinambungan, rumah merupakan tempat kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kasinambungan dalam untaian proses ke masa depan; 5) Rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari; 6) Rumah sebagai pusat jaringan sosial; 7) Rumah sebagai struktur fisik. Berdasarkan pemaparan para ahli tersebut, rumah memiliki arti penting dalam mendukung kehidupan manusia agar tercapai kehidupan yang baik dalam setiap pekerjaan atau kegiatannya dan merupakan bentuk ekspresi penghuninya. Oleh karena itu, perlu diupayakan pembangunannya sesuai standar rumah sehat untuk mencapai derajat kesehatan dan mendukung tujuan tersebut Rumah Sehat Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial budaya, bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit dan kelemahan (kecacatan). Berdasarkan dari pengertian tersebut, rumah sehat diartikan sebagai tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristirahat, sehinggga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial Syarat Rumah Sehat Persyaratan kesehatan rumah tinggal dilihat dari kondisi fisik dan biologik di dalam rumah yang memenuhi Keputusan Menteri Kesehatan No.829/MENKES/VII/1999, menyangkut persyaratan bahan bangunan,

33 19 komponen dan penataan ruang rumah, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, binatang penular penyakit, air, sarana penyimpan makanan yang aman, limbah, dan kepadatan hunian ruang tidur. Menurut Ditjen Cipta Karya, Syarat Rumah Sehat adalah sebagai berikut Memenuhi segi kesehatan, artinya bagian-bagian rumah yang mempengaruhi kesehatan keluarga hendaknya dipersiapkan dengan baik terutama a) penerangan dan peranginan dalam setiap ruang harus cukup, b) penyediaan air bersih, c) pengaturan pembuangan air limbah dan sampah sehingga tidak menimbulkan pencemaran, d) bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab, e) tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor, udara kotor, dan sebagainya Memenuhi segi kekuatan bangunan, artinya bagian-bagian dari bangunan rumah mempunyai konstruksi dan bahan bangunan yang dapat dijamin keamanannya, seperti a) konstruksi bangunan yang cukup kuat, baik untuk menahan beratnya sendiri maupun pengaruh luar seperti angin, hujan gempa, dan lain-lain, b) pemakaian bahan bangunan yang bisa dijamin keawetan dan kemudahan dalam pemeliharaan, dan c) penggunaan bahan tahan api untuk bagian yang mudah terbakar, dan bahan tahan air untuk bagian yang selalu basah Memperhatikan segi kenyamanan, agar keluarga dapat tinggal dengan nyaman dan dapat melakukan kegiatan dengan mudah, diperlukan a) penyediaan ruangan yang cukup, b) ukuran ruangan yang sesuai dengan kegiatan penghuni di dalamnya, c) penataan ruangan yang cukup baik, d)

34 20 dekorasi dan warna ruang yang serasi, dan e) penghijauan halaman diatur sesuai kebutuhan Memenuhi segi keterjangkauan. Hendaknya ruang diperoleh, diperlengkapi, dan dipelihara dengan dana yang sesuai dengan kemampuan pendapatan keluarga. Notoatmojo dalam Kasjono (2011:22-23) dijelaskan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu rumah adalah sebagai berikut Faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biologis maupun lingkungan sosial. Maksudnya membangun suatu rumah harus memperhatikan tempat di mana rumah itu didirikan. Di pegunungan atau di tepi pantai, di kelurahan atau di kota, di daerah dingin atau di daerah panas, di daerah pegunungan dekat gunung berapi (daerah gempa) atau di daerah bebas gempa dan sebagainya. Rumah di daerah pedesaan, sudah barang tentu disesuaikan kondisi sosial budaya pedesaan, misalnya bahannya, bentuknya, menghadapnya, dan lain sebagainya. Rumah di daerah gempa harus dibuat dengan bahan-bahan yang ringan namun harus kokoh, rumah di dekat hutan harus dibuat sedemikian rupa sehingga aman terhadap serangan-serangan binatang buas; Tingkat kemampuan ekonomi penduduk. Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, sehingga bahan-bahan pokok pembuatan rumah berasal dari daerah setempat yang murah misal bambu, kayu atap rumbia dan sebagainya. Perlu dicatat

35 21 bahwa mendirikan rumah adalah bukan sekadar berdiri pada saat itu saja, namun diperlukan pemeliharaan seterusnya. Berdasarkan penjelasan tentang syarat rumah sehat tersebut, peneliti akan menilai rumah sehat dengan subvariabel: penyediaan ruang yang cukup, langitlangit, atap rumah, dinding, lantai, jendela, peranginan atau ventilasi udara, lubang asap dapur, penerangan atau pencahayaan, penyediaan air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan sampah, penghijauan halaman rumah, dan jamban. Kriteria penilaian rumah sehat pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 2 halaman PENDUDUK KELURAHAN MANGUNSARI Lokasi penelitian ini berada di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang yang berdasarkan Data Statis Monografi Kelurahan Semester II Tahun 2011, luas wilayah Kelurahan Mangunsari adalah ha yang terdiri dari 5 Rukun Warga (RW) dan 23 Rukun Tetangga (RT). Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Mangunsari sebanyak KK dengan jumlah penduduk jiwa, jadi rata-rata setiap kepala keluarga memiliki tiga sampai empat anggota keluarga di rumahnya HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KUALITAS RUMAH HUNIAN Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya membangun manusia. Salah satu tujuan pendidikan ialah mengubah tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia sejalan dengan perubahan pengetahuan dan sikapnya. Mengubah sikap

36 22 manusia merupakan pekerjaan yang sulit karena ada keunikan-keunikan di dalam diri setiap manusia. Tujuan pendidikan dalam pembangunan ialah merubah atau menghapus kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan dan memperkuat sikap-sikap yang menunjang pembangunan. Pembangunan yang menjadi hak setiap warga negara menjadi kewajiban pemerintah dan masyarakat sendiri untuk menjaga pelaksanaan pemenuhan hakhak tersebut yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan, baik melalui jalur formal, nonformal, maupun informal. Pendidikan nasional yang diusung dalam UU nomor 1 Tahun 2003 adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional sendiri berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penjabaran dari pendidikan nasional dalam satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Terbentuknya perilaku diawali respon terhadap stimulus pada domain kognitif berupa pengetahuan terhadap obyek tersebut, selanjutnya menimbulkan respon batin (afektif) yaitu sikap terhadap obyek tersebut. Respon tindakan

37 23 (perilaku) dapat timbul setelah respon pengetahuan dan sikap yang searah (sinkron) atau langsung tanpa didasari kedua respon di atas. Namun, jenis perilaku ini cenderung tidak bertahan lama karena terbentuk tanpa pemahaman manfaat berperilaku tertentu. Berdasarkan penjelasan dan analisis data sebelumnya dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat menentukan atau melakukan suatu perubahan (pembangunan) dalam hal kesehatan untuk kesejahteraan maupun peningkatan kualitas hidupnya dengan syarat memiliki pengetahuan tentang kesehatan perumahan atau syarat-syarat rumah sehat yang diperoleh dari pendidikan formal KERANGKA BERFIKIR Penduduk berkualitas adalah penduduk yang sehat sehingga dapat menjalankan segala aktivitas untuk menunjang kehidupannya dan dapat dilihat dari lingkungan perumahan yang sehat. Usaha untuk mencapai lingkungan perumahan yang sehat dilakukan jika penduduk sudah menyadari pentingnya rumah sehat yang bisa diperoleh atau telah melalui usaha pendidikan secara bertahap agar terjadi suatu perubahan. Pendidikan membuat seseorang yang pada awalnya tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak tahu menjadi tahu. Peningkatan pengetahuan tentang standar kesehatan dalam setiap rumah dapat dilalui dengan tahapan dalam proses pendidikan. Standar kesehatan yang diusahakan dimulai dari upaya peningkatan kualitas rumah hunian atau pembangunan rumah sehat. Berdasarkan latar belakang, kajian pustaka, dan analisis penelitian yang relevan, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara tingkat pendidikan

38 24 dengan kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Berikut ditampilkan gambar yang menjelaskan kerangka berpikir secara singkat. Penduduk Sehat Lingkungan Sehat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tinggi Tingkat Pendidikan Rendah Rumah Sehat Rumah Tidak Sehat Gambar 2.1 Kerangka Berpikir 2.6. HIPOTESIS Berdasarkan pemaparan latar belakang, kajian pustaka, kerangka berpikir, dan analisis penelitian yang relevan, maka peneliti mengemukakan hipotesis ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

39 25 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. POPULASI PENELITIAN Menurut Arikunto (2002:108) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Berdasarkan data monografi Kelurahan Mangunsari tahun 2011, populasi penelitian ini terdiri atas 1208 Kepala Keluarga (KK) yang berada di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Merujuk pada data dinamis Kelurahan Mangunsari, lokasi tersebut terdiri atas 5 Rukun Warga (RW) dan 23 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk 4195 jiwa SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING Menurut Arikunto (2006:131) sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Apabila jumlah populasi besar dan relatif homogen, sampel dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportionate cluster random sampling yang menurut Sugiyono (2010: ) teknik ini melalui dua tahap yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah dan tahap berikutnya menentukan sampel orang yang ada pada daerah itu secara acak dengan proporsional. Berdasarkan tingkat pendidikan dan variasi jenis bangunan atau tipe rumah yang bervariasi dari data monografi Kelurahan Mangunsari semester II tahun 2011, maka ditentukan sampel daerahnya adalah RW 1. Tahap berikutnya untuk menentukan sampel orang (responden) secara proporsional dengan mengambil 25% nama kepala keluarga dari masing-masing RT di RW 1 secara acak dan dari 25

40 kepala keluarga di RW 1 diperoleh 84 kepala keluarga sebagai responden. Perhitungan pengambilan jumlah KK dapat dilihat pada tabel 3.1. Tabel 3.1 Sampel Penelitian di RW 1 No. Nama Lingkungan Jumlah KK Sampel 1 RT RT RT RT RT Jumlah Sumber: Data monografi Kelurahan Mangunsari tahun 2011 semester II 3.3. VARIABEL PENELITIAN Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian penelitian (Arikunto 2002:96). Variabel yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono 2010:61). Varibel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan kepala keluarga. Variabel tingkat pendidikan diperoleh dari pendidikan formal terakhir kepala keluarga. Tingkat pendidikan formal dikategorikan dengan pembagian berdasarkan waktu responden menempuh pendidikan formal, yaitu: tidak sekolah sampai dengan kelas 6 (SD/sederajatnya); kelas 7 sampai dengan kelas 9 (SLTP/sederajatnya); kelas 10 sampai dengan kelas 12 (SLTA/sederajatnya);

41 lebih dari kelas 12 (Akademi/PT/sederajatnya) Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas (Sugiyono 2010:61). Varibel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang yang berpedoman pada penilaian rumah sehat dengan kategori sebagai berikut: penyediaan ruang yang cukup; langit-langit; atap rumah; dinding; lantai; jendela; peranginan atau ventilasi udara; lubang asap dapur; penerangan atau pencahayaan; penyediaan air bersih; pembuangan air limbah; pembuangan sampah; penghijauan halaman rumah; dan jamban. Kriteria subvariabel tersebut dapat dilihat pada lampiran 2 yang berupa kisi-kisi panduan observasi variabel kualitas rumah hunian halaman 85.

42 METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode observasi yang akan dijelaskan sebagai berikut Metode Dokumentasi Dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, report, legger, legenda, dan sebagainya (Arikunto 2010:274). Metode ini digunakan untuk memperoleh data jumlah penduduk dan jumlah kepala keluarga dari Data Monografi Kelurahan Mangunsari Tahun 2011, peta Kelurahan Mangunsari, serta data tingkat pendidikan penduduk yang diperoleh dari kartu keluarga atau ijazah kepala keluarga Metode Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data di mana peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap objek yang diteliti, baik dalam situasi buatan yang secara khusus diadakan (laboratorium) maupun dalam situasi alamiah atau sebenarnya (lapangan) (Sambas Ali Muhidin 2005:175). Metode observasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang kualitas rumah hunian kepala keluarga Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang TEKNIK ANALISIS DATA Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif persentase dan teknik analisis korelasi Product Moment yang akan dijelaskan sebagai berikut.

43 Teknik Analisis Deskriptif Persentase Teknik ini digunakan untuk memberikan gambaran kondisi responden atau penduduk mengenai tingkat pendidikan dan kualitas rumah hunian dengan langkah-langkah sebagai berikut Variabel tingkat pendidikan Menentukan skala pengukuran (skoring) Skor 1 jika belajar 6 tahun Skor 2 jika belajar 7 9 tahun Skor 3 jika belajar tahun Skor 4 jika belajar > 12 tahun Menentukan kriteria Tabel 3.2 Kriteria Tingkat Pendidikan No. Skor Kriteria (Tingkat Pendidikan) 1. 4 Sangat tinggi 2. 3 Tinggi 3. 2 Cukup tinggi 4. 1 Rendah Sumber: Hasil perhitungan Membuat tabel frekuensi Tabel frekuensi dibuat untuk mempermudah dalam menghitung jumlah frekuensi berdasarkan Skor yang diperoleh responden dalam penelitian. Tabel 3.3 menunjukkan frekuensi tentang tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

44 30 Tabel 3.3 Frekuensi Variabel Tingkat Pendidikan No. Kriteria Jumlah Persentase Skor (Tingkat Pendidikan) (f) ( %) 1. Sangat tinggi Tinggi Cukup tinggi Rendah f Sumber: Hasil perhitungan Persentase dapat diketahui dari rumus sebagai berikut. Persentase = (f : f) x 100% Keterangan: f = jumlah frekuensi masing-masing kriteria f = jumlah seluruh frekuensi (Ali 1987:189) Deskripsi Berdasarkan data yang telah terkumpul dalam bentuk angka dan telah ditabulasikan kemudian dideskripsikan Variabel kualitas rumah hunian Menentukan skala pengukuran (skoring) Pertanyaan dari setiap subvariabel diberi empat pilihan jawaban yaitu: kurang baik (diberi skor 1), baik (diberi skor 2), cukup baik (diberi skor 3), dan sangat baik (diberi skor 4) Menentukan kriteria Menentukan skor maksimal Skor maksimal = jumlah item x skor maksimal = 14 x 4 = 56

45 Menentukan skor minimal Skor minimal = jumlah item x skor minimal = 14 x 1 = Menentukan rentang skor (range) Range = skor maksimal skor minimal Menentukan interval Interval = = 42 range banyak kriteria , Menentukan kriteria Kriteria kualitas rumah hunian penduduk dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kriteria, yaitu: sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik. Tabel 3.4 Kriteria Kualitas Rumah Hunian No. Skor Kualitas Rumah Hunian 1. 45,50 56,00 Sangat baik 2. 35,00 <45,50 Baik 3. 24,50 <35,00 Cukup baik 4. 14,00 <24,50 Kurang baik Sumber: Hasil perhitungan Membuat tabel frekuensi Tabel frekuensi dibuat untuk mempermudah dalam menghitung jumlah frekuensi berdasarkan Skor yang diperoleh responden dalam penelitian. Tabel 3.5

46 32 menunjukkan frekuensi tentang tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Tabel 3.5 Frekuensi Variabel Kualitas Rumah Hunian No. Kualitas Rumah Hunian Skor Jumlah (f) Persentase (%) 1. Sangat baik 45,50 56, Baik 35,00 <45, Cukup baik 24,50 <35, Kurang baik 14,00 <24, f Sumber: Hasil perhitungan Persentase dapat diketahui dari rumus sebagai berikut. Persentase = (f : f) x 100% Keterangan: f = jumlah frekuensi masing-masing kriteria f = jumlah seluruh frekuensi (Ali 1987:189) Deskripsi Berdasarkan data yang telah terkumpul dalam bentuk angka dan telah ditabulasikan kemudian dideskripsikan Teknik Analisis Korelasi Product Moment Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini bahwa jika tingkat pendidikan tinggi maka kualitas rumah huniannya juga baik, yang digambarkan dalam skema sebagai berikut.

47 33 Variabel X (Tingkat Pendidikan Masyarakat) Variabel Y (Kualitas Rumah Hunian) Gambar 3.1 Skema Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kualitas Rumah Hunian Asumsi tersebut kemudian dihitung dengan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut. Keterangan: r xy Y X = Koefisien korelasi antara variabel = Skor total = Skor butir N = Jumlah subyek (Arikunto 2010: 317) Hasil perhitungan Product Moment kemudian dikonsultasikan dengan harga r tabel. Kriteria valid jika r hitung lebih besar dari r tabel (Arikunto, 2003: 146).

48 34 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Gambaran umum daerah penelitian ini mengemukakan mengenai kondisi fisik dan kondisi sosial daerah penelitian Kondisi Fisik Daerah Penelitian Letak astronomis Daerah penelitian adalah Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Berdasarkan Peta RBI Bakosurtanal lembar Jatingaleh dan lembar Boja, letak astronomis Kelurahan Mangunsari adalah BT BT dan LS LS Letak administrasi Letak administrasi Kelurahan Mangunsari yang merupakan bagian dari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : Kelurahan Ngijo : Kelurahan Pakintelan : Kelurahan Sumurrejo : Kelurahan Plalangan 34

49 Gambar 4.1. Peta Administrasi Kelurahan Mangunsari 35

50 Penggunaan lahan Kelurahan Mangunsari terletak pada ketinggian 307 mdpl dengan suhu minimum 3 0 C dan suhu maksimum 33 0 C. Banyaknya curah hujan di Kelurahan Mangunsari adalah 300mm/tahun. Luas wilayah Kelurahan Mangunsari adalah ha dengan penggunaan lahan yang berbeda-beda. Penggunaan lahan di Kelurahan Mangunsari dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini. Tabel 4.1. Penggunaan Lahan di Kelurahan Mangunsari No. Penggunaan Lahan Jumlah (ha) Persentase (%) 1. Tanah sawah a. Irigasi teknis b. Irigasi setengah teknis c. Tadah hujan/sawah rendengan ,86 31,16 6,95 2. Tanah kering a. Pekarangan/bangunan/emplasement b. Tegal/kabun 3. Tanah keperluan fasilitas umum a. Sarana pendidikan b. Sarana sosial ,26 13, ,04 8,24 Jumlah ,00 Sumber: Data Monografi Kelurahan Mangunsari Semester II Tahun Kelurahan Mangunsari merupakan wilayah pinggiran Kota Semarang yang terletak di Kecamatan Gunungpati yang masih memiliki karakteristik pedesaan. Hal ini ditunjukkan dengan luas areal persawahan yang berupa sawah irigasi setengah teknis mencapai ha (31,16%) dan hanya ha (1,04%) yang digunakan sebagai sarana pendidikan.

51 Gambar 4.2. Peta Penggunaan Lahan Kelurahan Mangunsari 37

52 Jumlah rumah penduduk Jumlah rumah penduduk di Kelurahan Mangunsari adalah 1164 buah. Pembagian rumah menurut sifat dan bahannya berdasarkan data monografi Kelurahan Mangunsari Semester II Tahun 2011 dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.2. Jumlah Rumah Penduduk menurut Sifat dan Bahannya di Kelurahan Mangunsari No. Rumah Menurut Sifat dan Bahannya Jumlah (rumah) Persentase (%) 1. Dinding terbuat dari batu/gedung ,96 permanen 2. Dinding terbuat dari sebagian ,47 batu/gedung/semi permanen 3. Dinding terbuat dari kayu/papan ,57 Jumlah ,00 Sumber: Data Monografi Kelurahan Mangunsari Semester II Tahun Jumlah rumah penduduk sebanyak rumah tidak sebanding dengan jumlah kepala keluarga di Kelurahan Mangunsari yang berjumlah kepala keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat lebih dari satu kepala keluarga yang tinggal bersama dalam satu rumah Jumlah pemakai air minum Jumlah pemakai air minum penduduk di Kelurahan Mangunsari dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini. Tabel 4.3. Jumlah Pemakai Air Minum Penduduk di Kelurahan Mangunsari No. Sumber Air Minum Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1. PAM 158 8,37 2. Badan Pengelola Air ,56 3. Sumur ,07 Jumlah ,00 Sumber: Data Monografi Kelurahan Mangunsari Semester II Tahun 2011.

53 Kondisi Sosial Daerah Penelitian Berdasarkan Data Statis Monografi Kelurahan Semester II Tahun 2011, luas wilayah Kelurahan Mangunsari adalah ha yang terdiri dari 5 Rukun Warga (RW) dan 23 Rukun Tetangga (RT). Kondisi sosial daerah penelitian menjelaskan tentang data mengenai jumlah penduduk, persebaran penduduk, dan susunan penduduk menurut kelompok umur, mata pencaharian, dan tingkat pendidikannya Jumlah penduduk menurut kelompok umur Jumlah penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.4 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan Kelompok Umur No Kelompok Umur Jumlah (jiwa) Persentase (%) , , , , tahun ke atas ,54 Jumlah ,00 Sumber: Data Monografi Kelurahan Mangunsari Semester II Tahun Berdasarkan data monografi Kelurahan Mangunsari semester II tahun 2011, terdapat kepala keluarga dengan jumlah penduduk 4195 jiwa, maka setiap kepala keluarga memiliki anggota keluarga rata-rata sebanyak 3 jiwa Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Mata pencaharian penduduk di Kelurahan Mangunsari sangat beragam yaitu sebagai petani, pengusaha sedang/besar, pengrajin/industri kecil, buruh industri, buruh bangunan, buruh pertambangan, pedagang, pengangkutan,

54 40 Pegawai Negeri Sipil (PNS), ABRI, pensiunan (ABRI/PNS), dan peternak. Khusus mata pencaharian peternak dapat dibagi menjadi peternak sapi perah ada 18 jiwa dengan jumlah ternak 40 ekor, peternak sapi biasa ada 13 jiwa dengan jumlah ternak 41 ekor, peternak kerbau ada 18 jiwa dengan jumlah ternak 34 ekor, peternak kambing ada 36 dengan jumlah ternak 161 ekor, peternak ayam ada 3 dengan jumlah ternak ekor, dan peternak itik ada 19 dengan jumlah ternak ekor. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Tabel 4.5 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan Mata Pencaharian No Jenis Mata pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Petani a. Petani pemilik tanah b. Petani penggarap tanah c. Buruh tani ,13 14,57 13,84 2 Pengusaha sedang/besar 8 0,29 3 Pengrajin/Industri kecil 8 0,29 4 Buruh Industri ,62 5 Buruh Bangunan ,91 6 Buruh Pertambangan 45 1,65 7 Pedagang 131 4,80 8 Pengangkutan 61 2,23 9 Pegawai Negeri Sipil 133 4,87 10 ABRI 51 1,87 11 Pensiunan (ABRI/PNS) 82 3,00 12 Peternak 107 3,92 Jumlah ,00 Sumber: Data Dinamis Monografi Kelurahan Mangunsari Tahun 2011 Penduduk Kelurahan Mangunsari dilihat dari jenis mata pencahariannya sebagian besar merupakan petani pemilik tanah yaitu sejumlah 741 jiwa (27,13%). Jenis mata pencaharian ini lebih besar dibandingkan dengan jenis mata

55 41 pencaharian yang lain terutama yang jumlahnya masih sedikit adalah pengusaha sedang/besar dan pengrajin/industri kecil masing-masing sejumlah 8 jiwa (0,29%) Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan Tingkat pendidikan penduduk di Kelurahan Mangunsari cukup beragam. Berdasarkan tabel 4.4 berikut ini dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan penduduk paling banyak jumlahnya di Kelurahan Mangunsari adalah tamat SD/sederajat yaitu 1253 jiwa (46,22%) dan terendah adalah tamat akademi/sederajat yaitu 96 jiwa (3,54%). Tabel 4.6 Penduduk Kelurahan Mangunsari berdasarkan Tingkat Pendidikan No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Tamat SD/sederajat ,22 2 Tamat SLTP /sederajat ,76 3 Tamat SLTA /sederajat ,69 4 Tamat akademi /sederajat 96 3,54 5 Tamat Perguruan Tinggi/sederajat 103 3,80 Jumlah ,00 Sumber: Data Dinamis Monografi Kelurahan Mangunsari Tahun Hasil Penelitian Hasil penelitian ini mengemukakan mengenai jenis kelamin responden, umur responden, pekerjaan responden, pendapatan responden, dan pendidikan responden Jenis kelamin responden Berdasarkan penelitian, jenis kelamin responden terdiri dari laki-laki 78 responden atau 92,86 % dan perempuan ada 6 responden atau 7,14 %. Data diperoleh seperti pada tabel 4.10 dan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91.

56 42 Tabel 4.7 Jenis Kelamin Responden di Kelurahan Mangunsari No. Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1. Laki-laki 78 92,86 2. Perempuan 6 7,14 Jumlah ,00 Sumber: Data hasil analisis penelitian tahun Umur responden Berdasarkan penelitian mengenai umur responden, diperoleh data seperti pada tabel 4.11 dan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91. Tabel 4.8 Umur Responden di Kelurahan Mangunsari No. Kelompok Umur Jumlah (jiwa) Persentase (%) , , , , ,19 Jumlah ,00 Sumber: Data hasil analisis penelitian tahun 2012 Berdasarkan 84 responden, jumlah penduduk yang paling banyak adalah pada kelompok umur tahun yaitu 44 responden atau 52,38 %, sedangkan yang terkecil pada kelompok umur tahun yaitu 1 responden atau 1,19 % Mata pencaharian responden Pengambilan data tentang mata pencaharian responden diperoleh seperti pada tabel 4.12 dan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa mata pencaharian kepala keluarga di Kelurahan Mangunsari paling banyak sebagai buruh bangunan yaitu 17 responden atau 20,24 %, sedangkan yang paling sedikit sebagai ABRI dan pengrajin/industri kecil yaitu masing-masing 2 responden atau 2,38 %.

57 43 Tabel 4.9 Mata Pencaharian Responden di Kelurahan Mangunsari No Pekerjaan Responden Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Petani a. Petani penggarap tanah b. Buruh tani 8 6 9,52 7,14 2 Pengrajin/Industri kecil 2 2,38 3 Buruh Industri 15 17,86 4 Buruh Bangunan 17 20,24 5 Pedagang 15 17,86 6 Pengangkutan 5 5,95 7 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 8 9,52 8 ABRI/TNI 2 2,38 9 Pensiunan (ABRI/PNS) 6 7,14 Jumlah ,00 Sumber: Data hasil analisis penelitian tahun Pendapatan responden Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa pendapatan kepala keluarga sebagai responden dapat dilihat pada tabel 4.13 dan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91. Tabel 4.10 Pendapatan Responden di Kelurahan Mangunsari No. Pendapatan Responden (Rupiah) Jumlah (Jiwa) Persentase (%) < , < , < , < , < , < , ,19 Jumlah ,00 Sumber: Data hasil analisis penelitian tahun 2012 Pendapatan yang diperoleh sejiwa kepala keluarga paling banyak pada kisaran yaitu 33 responden atau 39,29 %.

58 Tingkat pendidikan responden Berdasarkan hasil penelitian tentang tingkat pendidikan responden, dapat diketahui bahwa 42,9% (36 KK) tingkat pendidikan penduduk masih rendah (belum sekolah sampai tamat SD), 23,8% (20 KK) dengan kriteria cukup tinggi (SMP), 26,2% (22 KK) dengan kriteria tinggi (tamat SMA), dan 7,1% (4 KK) dengan kriteria sangat tinggi (Perguruan Tinggi). Data dijabarkan pada tabel 4.6 berikut ini dan data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91 dan perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 94. Tabel 4.11 Tingkat Pendidikan Responden No. Kriteria Pendidikan Responden Skor Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1. Rendah (Tidak sekolah SD) ,86 2. Cukup tinggi (SMP/sederajat) ,81 3. Tinggi (SMA/ sederajat) ,19 4. Sangat tinggi (Perguruan Tinggi) 1 6 7,14 Jumlah ,00 Sumber : Data hasil analisis penelitian tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.6 tersebut, lebih lanjut disajikan dalam bentuk diagram batang seperti pada gambar 4.1 berikut. Frekuensi ,14 Sangat tinggi 26,19 23,81 Tinggi Cukup tinggi 42,86 Rendah Persentase Gambar 4.3 Tingkat Pendidikan Penduduk

59 Kualitas rumah hunian responden Berdasarkan hasil penelitian, terdapat tiga kriteria kualitas rumah hunian penduduk di Kelurahan Mangunsari yang menunjukkan bahwa 19,0% (16 rumah) dengan kriteria sangat baik dengan skor 45,50 56,00; 77,4% (65 rumah) dalam kondisi baik karena memiliki skor antara 35,00-<45,50; 3,6% (3 rumah) dengan kriteria cukup baik dengan skor 24,50 <35,00, dan tidak ada rumah yang masuk kriteria kurang baik. Data kualitas rumah hunian penduduk dapat dilihat pada tabel 4.7 dan data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 halaman 91 dan perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 94. Tabel 4.12 Kualitas Rumah Hunian Penduduk No. Kriteria Skor Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1. Sangat Baik 45,50 56, ,0 2. Baik 35,00 <45, ,4 3. Cukup Baik 24,50 <35,00 3 3,6 4. Kurang Baik 14,00 <24,50 0 0,0 Jumlah ,0 Sumber : Data hasil analisis penelitian tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.7 tersebut, lebih lanjut disajikan dalam bentuk diagram batang seperti pada gambar 4.2 berikut. Frekuensi Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Persentase Gambar 4.4 Kualitas Rumah Hunian Penduduk

60 46 Berdasarkan uraian tersebut, berikut dipaparkan penjelasan variabel kualitas rumah hunian di Kelurahan Mangunsari dari data lapangan yang diperoleh dengan wawancara dan observasi yaitu: penyediaan ruang yang cukup, langit-langit, atap rumah, dinding, lantai, jendela, peranginan atau ventilasi udara, lubang asap dapur, penerangan atau pencahayaan, penyediaan air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan sampah, penghijauan halaman rumah, dan jamban. 1) Penyediaan ruang yang cukup Terdapat empat kondisi luas rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut. Tabel 4.13 Komponen Luas Rumah Responden No. Komponen Luas Rumah Kondisi Jumlah Rumah Persentase (%) Sangat Baik 37 44,0 Baik 28 33,3 Cukup Baik 14 16,7 Kurang Baik 5 6,0 1. Sesuai standar per jiwa (Internasional) seluas 12,0 m 2 2. Sesuai standar per jiwa (Indonesia) seluas 9,0 m 2 3. Sesuai standar per jiwa (Ambang batas) seluas 7,2 m 2 4. Kurang dari standar per jiwa (Ambang batas) seluas 7,2 m 2 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.8 dapat dikemukakan bahwa luas rumah dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 37 rumah (44,0%) dengan kondisi sangat baik, 28 rumah (33,3%) dengan kondisi baik, 14 rumah (16,7%) dengan kondisi cukup baik, dan 5 rumah (6,0%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian luas rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi

61 47 standar internasional dengan ditandai 37 rumah (44,0%) dalam kondisi sangat baik. 2) Langit-langit Terdapat empat kondisi langit-langit rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut. Tabel 4.14 Komponen Langit-langit Rumah Responden No. Komponen Langit-langit Jumlah Persentase Kondisi Rumah Rumah (%) 1. Ada, bersih, dan tidak rawan Sangat Baik 29 34,5 kecelakaan 2. Ada, kotor, sulit dibersihkan Baik 7 8,3 3. Ada, kotor, sulit dibersihkan, Cukup Baik 1 1,2 dan sudah rusak 4. Tidak ada Kurang Baik 47 56,0 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.9, dapat dikemukakan bahwa unsur langit-langit dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 29 rumah (34,5%) dengan kondisi sangat baik, 7 rumah (8,3%) dengan kondisi baik, 1 rumah (1,2%) dengan kondisi cukup baik, dan 47 rumah (56,0%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian unsur langit-langit rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang tidak memenuhi standar dengan ditandai 47 rumah (56,0%) dalam kondisi kurang baik.

62 48 Gambar 4.5 Rumah tanpa Langit-Langit Rumah Langit-langit rumah dalam kondisi sangat baik, baik, dan kurang baik di Kelurahan Mangunsari dapat dilihat pada gambar 4.5, gambar 4.6, dan gambar 4.7. Langit-langit rumah kondisi kurang baik dapat diamati pada gambar 4.5 dimana rumah responden 1 di RT 1 RW 1 tersebut tidak memiliki langit-langit. Gambar 4.6 Langit-Langit Rumah yang Kotor Langit-langit rumah kondisi baik dapat diamati pada gambar 4.6 dimana langit-langit rumah responden 30 di RT 2 RW 1 cukup aman namun keadaannya kotor. Langit-langit rumah kondisi sangat baik dapat diamati

63 49 pada gambar 4.7 dimana langit-langit rumah responden 29 di RT 2 RW 1 dalam keadaan aman dan keadaannya bersih. 3) Atap rumah Gambar 4.7 Langit-Langit Rumah yang Bersih dan Terawat Terdapat satu kondisi dari empat kondisi atap rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.15 Komponen Atap Rumah Responden No. Komponen Atap Rumah Kondisi Jumlah Persentase Rumah (%) 1. Cor (semen)/asbes Sangat Baik 0 0,0 2. Genteng Baik ,0 3. Seng Cukup Baik 0 0,0 4. Ijuk Kurang Baik 0 0,0 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.10 dapat dikemukakan bahwa semua atap rumah responden atau 84 rumah (100,0%) dalam kondisi baik. Hal ini dikarenakan atap rumah penduduk di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah disusun dari genteng dengan ditandai 84 rumah (100,0%) dalam kondisi baik.

64 50 Gambar 4.8 Atap Rumah dari Genteng Semua sampel yang diteliti dalam penelitian ini memiliki atap rumah genteng meskipun ada beberapa yang rusak atau sebagian atap rumahnya berupa asbes ataupun seng. Kondisi tersebut dapat diamati dalam gambar 4.8 dimana atap rumah responden 30 di RT 2 RW 1 berupa genteng. 4) Dinding Terdapat tiga kondisi dari empat kondisi dinding rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.16 Komponen Dinding Rumah Responden No. Komponen Dinding Rumah Kondisi 1. Permanen (tembok/ pasangan batu bata yang diplester) atau papan kedap air 2. Semi permanen/ setengah tembok/ pasangan bata atau batu yang diplester/ papan yang tidak kedap air Sangat Baik Jumlah Persentase Rumah (%) 68 81,0 Baik 3 3,6 3. Terbuat dari kayu/ papan Cukup Baik 13 15,5 4. Tidak permanen (anyaman Kurang 0 0,0 bambu/ ilalang) Baik Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012

65 51 Berdasarkan tabel 4.11 dapat dikemukakan bahwa unsur dinding rumah dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 68 rumah (81,0%) dengan kondisi sangat baik, 3 rumah (3,6%) dengan kondisi baik, dan 13 rumah (15,5%) dengan kondisi cukup baik. Dengan demikian unsur dinding rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standar bahan permanen (tembok/pasangan batu bata yang diplester) atau papan kedap air dengan ditandai 68 rumah (81,0%) dalam kondisi sangat baik. Kondisi dinding rumah di lokasi penelitian ada yang masih sederhana karena dinding rumahnya berbahan kayu seperti gambar 4.9 yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1 serta dinding anyaman bambu yang dimiliki oleh responden 37 di RT 5 RW 1 ditunjukkan pada gambar Gambar 4.9 Rumah dengan Dinding Kayu Gambar 4.10 Rumah dengan Dinding Anyaman Bambu

66 52 5) Lantai Terdapat empat kondisi lantai rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.17 Komponen Lantai Rumah Responden No. Komponen Lantai Rumah Kondisi Jumlah Persentase Rumah (%) 1. Kedap air Sangat Baik 66 78,6 (diplester/ubin/keramik), papan (rumah panggung). Terawat dan bersih 2. Kedap air Baik 11 13,1 (diplester/ubin/keramik), papan (rumah panggung). Tidak terawat dan berdebu 3. Plesteran yang retak dan Cukup Baik 6 7,1 berdebu 4. Tanah Kurang Baik 1 1,2 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.12 dapat dikemukakan bahwa unsur lantai rumah dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 66 rumah (78,6%) dengan kondisi sangat baik, 11 rumah (13,1%) dengan kondisi baik, 6 rumah (7,1%) dengan kondisi cukup baik, dan 1 rumah (1,2%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian unsur lantai rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi bahan yang kedap air (diplester/ubin/keramik), papan (rumah panggung), serta terawat dan bersih dengan ditandai 66 rumah (78,6%) dalam kondisi sangat baik. Lantai rumah kondisi sangat baik yang berupa lantai keramik kedap air contohnya dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1. Kondisi tersebut dapat dilihat pada gambar Lantai yang kurang baik meskipun dalam

67 53 kriteria baik karena berupa lantai plester namun dalam kondisi yang rusak seperti gambar 4.12 dimana lantai rumah di kamar mandi yang rusak yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1. Gambar 4.11 Rumah dengan Lantai Keramik Gambar 4.12 Rumah dengan Lantai Kamar Mandi yang Rusak Ada beberapa rumah dengan tidak keseluruhan lantai rumahnya menggunakan lantai yang kedap air, karena ada rumah dengan kondisi setengah bagian rumahnya yang kedap air dan setengahnya masih berupa lantai tanah, misalnya bagian dapur pada gambar 4.13 yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1.

68 54 Gambar 4.13 Dapur Tradisional Rumah Responden Ada juga kondisi lantai kamar mandi yang seharusnya dengan lantai dan dinding kedap air, tapi beberapa rumah justru kondisinya kurang baik karena lantai dan dindingnya rusak, seperti gambar 9.14 dimana kondisi WC dengan penutup (dinding) yang rusak yang dimiliki oleh responden 2 di RT 1 RW 1. Gambar 4.14 Rumah Responden dengan Dinding dan Lantai yang Rusak 6) Jendela Terdapat empat kondisi jendela kamar tidur rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.13.

69 55 Tabel 4.18 Komponen Jendela Kamar Tidur Rumah Responden No. Komponen Jendela Kamar Jumlah Persentase Kondisi Tidur Rumah Rumah (%) 1. Ada, luas jendela 10% dari Sangat Baik 1 1,2 luas lantai, dilengkapi tralis, dan bisa dibuka setiap saat 2. Ada, luas jendela 10% dari Baik 76 90,5 luas lantai dan bisa dibuka setiap saat, tetapi tidak dilengkapi tralis 3. Ada, luas jendela 10% dari Cukup Baik 5 6,0 luas lantai dan bisa dibuka setiap saat 4. Tidak ada jendela Kurang Baik 2 2,4 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.13 dapat dikemukakan unsur jendela kamar tidur dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 1 rumah (1,2%) dengan kondisi sangat baik, 76 rumah (90,5%) dengan kondisi baik, 5 rumah (6,0%) dengan kondisi cukup baik, dan 2 rumah (2,4%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian unsur jendela kamar tidur rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standar ada, luas jendela 10% dari luas lantai dan bisa dibuka setiap saat, tetapi tidak dilengkapi tralis dengan ditandai 76 rumah (90,5%) dalam kondisi sangat baik. Gambar 4.15 Jendela Rumah Tanpa Teralis

70 56 Fungsi jendela sebagai tempat pergantian udara atau masuknya cahaya dapat diamati pada gambar 4.15 dimana jendela yang dapat dibuka setiap saat tanpa teralis yang dimiliki oleh responden 4 di RT 1 RW 1 dan gambar 4.16 Tipe jendela yang aman tanpa teralis yang dimiliki oleh responden 3 di RT 1 RW 1. Gambar 4.16 Bentuk Jendela yang juga Berfungsi seperti Teralis 7) Peranginan atau ventilasi udara Terdapat empat kondisi ventilasi udara rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut. Tabel 4.19 Komponen Ventilasi Udara Rumah Responden No. Komponen Ventilasi Udara Jumlah Persentase Kondisi Rumah Rumah (%) 1. Ada, luas ventilasi permanen Sangat Baik 1 1,2 5% dari luas lantai dan ada pelindung dari nyamuk 2. Ada, luas ventilasi permanen Baik 77 91,7 5% dari luas lantai tapi tidak ada pelindung dari nyamuk 3. Ada, luas ventilasi permanen Cukup Baik 6 7,1 <5% dari luas lantai 4. Tidak ada ventilasi Kurang Baik 0 0,0 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012

71 57 Berdasarkan tabel 4.14 dapat dikemukakan bahwa ventilasi udara dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 1 rumah (1,2%) dengan kondisi sangat baik, 77 rumah (91,7%) dengan kondisi baik, dan 6 rumah (7,1%) dengan kondisi cukup baik. Dengan demikian unsur ventilasi udara di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standar ada, luas ventilasi permanen 5% dari luas lantai tapi tidak ada pelindung dari nyamuk dengan ditandai 77 rumah (91,7%) dalam kondisi sangat baik. Ventilasi udara yang baik harus memiliki pelindung dari nyamuk untuk mencegah masuknya nyamuk ke dalam rumah, namun hampir sebagian besar rumah yang menjadi sampel penelitian tidak memiliki pelindung dari nyamuk untuk ventilasinya seperti pada gambar 4.17 yang dimiliki oleh responden 26 di RT 2 RW 1. Gambar 4.17 Ventilasi Rumah Responden Tanpa Pelindung dari Nyamuk 8) Lubang asap dapur Terdapat empat kondisi lubang asap dapur rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15.

72 58 Tabel 4.20 Komponen Lubang Asap Dapur Rumah Responden No. Komponen Lubang Asap Dapur Kondisi 1. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis dan ada pelindung dari nyamuk 2. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis tetapi tidak ada pelindung dari nyamuk 3. Ada, lubang ventilasi dapur <5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis Sangat Baik Jumlah Persentase Rumah (%) 3 3,6 Baik 73 86,9 Cukup Baik 6 7,1 4. Tidak ada lubang asap dapur Kurang 2 2,4 Baik Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.15 dapat dikemukakan bahwa lubang asap dapur dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 3 rumah (3,6%) dengan kondisi sangat baik, 73 rumah (86,9%) dengan kondisi baik, 6 rumah (7,1%) dengan kondisi cukup baik, dan 2 rumah (2,4%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian lubang asap dapur di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standard ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis tetapi tidak ada pelindung dari nyamuk dengan ditandai 73 rumah (86,9 %) dalam kondisi baik.

73 59 Gambar 4.18 Dapur tanpa Lubang Asap Dapur Kondisi dapur juga tidak luput dari perhatian dalam pengaturan lubang ventilasi maupun pencahayaan merupakan bagian penting dalam sebuah rumah. Jika hal tersebut tidak diperhatikan, maka akan terlihat seperti gambar 4.18 dimana dapur tanpa pencahayaan dan ventilasi yang sekaligus sebagai keluarnya asap dapur belum memadai ditunjukkan oleh rumah responden 38 di RT 5 RW 1. Rumah yang memperhatikan ventilasi dan pencahayaan di dapur dapat dilihat pada gambar 4.19 dimana dapur dengan pencahayaan dan ventilasi yang memadai yang dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1. Gambar 4.19 Dapur dengan Pencahayaan dan Ventilasi yang Memadai

74 60 9) Penerangan atau pencahayaan Terdapat tiga kondisi dari empat kondisi pencahayaan alami dan buatan rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.21 Komponen Pencahayaan Alami dan Buatan Rumah Responden No. Komponen Pencahayaan Alami Jumlah Persentase Kondisi dan Buatan Rumah (%) 1. Terang dan tidak silau sehingga Sangat Baik 47 56,0 dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal (huruf kecil) 2. Kurang terang, sehingga kurang Baik 29 34,5 jelas untuk membaca dengan normal (huruf kecil) 3. Kurang terang, sehingga kurang Cukup Baik 8 9,5 jelas untuk membaca dengan normal (huruf kecil), tapi masih dapat membaca huruf besar 4. Tidak terang, tidak dapat Kurang Baik 0 0,0 dipergunakan untuk membaca Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.16 dapat dikemukakan bahwa pencahayaan alami dan buatan dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 47 rumah (56,0%) dengan kondisi sangat baik, 29 rumah (34,5%) dengan kondisi baik, dan 8 rumah (9,5%) dengan kondisi cukup baik. Dengan demikian pencahayaan alami dan buatan di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standard terang dan tidak silau sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal (huruf kecil) dengan ditandai 47 rumah (56,0%) dengan kondisi sangat baik.

75 61 Kondisi jendela dan ventilasi rumah yang baik untuk masuknya cahaya ke dalam rumah dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1 seperti yang terlihat pada gambar Gambar 4.20 Jendela dan Ventilasi Rumah untuk Masuknya Cahaya 10) Penyediaan air bersih Terdapat dua kondisi dari empat kondisi penyediaan air bersih rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.22 Komponen Penyediaan Air Bersih Rumah Responden No. Komponen Penyediaan Air Jumlah Persentase Kondisi Bersih Rumah (%) 1. Ada, milik sendiri dan Sangat Baik 83 98,8 memenuhi syarat kesehatan 2. Ada, bukan milik sendiri dan Baik 1 1,2 memenuhi syarat kesehatan 3. Ada, milik sendiri dan tidak Cukup Baik 0 0,0 memenuhi syarat kesehatan 4. Tidak ada dan kadang-kadang Kurang Baik 0 0,0 ada, tapi bukan milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012

76 62 Berdasarkan tabel 4.17 dapat dikemukakan bahwa penyediaan air bersih dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 83 rumah (98,8%) dengan kondisi sangat baik dan 1 rumah (1,2%) dengan kondisi baik. Dengan demikian penyediaan air bersih di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standard ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan dengan ditandai 83 rumah (98,8%) dalam kondisi sangat baik. Hampir seluruh penduduk Kelurahan Mangunsari menggunakan sumber air PAM yang berasal dari sumur artesis yang dibuat dari dana warga tertentu dan penduduk yang ingin memanfaatkan air dari sumur artesis tersebut hanya cukup membayar seperti sistem menggunakan PAM setiap bulannya. Pipa atau selang-selang disalurkan dari sumur di dekat masjid yang berupa sumur artesis ke rumah setiap warga seperti gambar 4.21 dimana saluran air yang digunakan warga dari sumur artesis yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1. Gambar 4.21 Saluran Air yang Digunakan Warga dari Sumur Artesis 11) Pembuangan air limbah Terdapat tiga kondisi dari empat kondisi pembuangan air limbah rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut.

77 63 Tabel 4.23 Komponen Pembuangan Air Limbah Rumah Responden No. Komponen Pembuangan Air Jumlah Persentase Kondisi Limbah Rumah (%) 1. Ada, dialirkan ke selokan Sangat Baik 0 0,0 tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut 2. Ada, dialirkan ke selokan Baik 22 26,2 terbuka 3. Ada, diresapkan tetapi Cukup Baik 56 66,7 mencemari sumber air (jarak sumber air <10m) 4. Tidak ada, sehingga tergenang Kurang Baik 6 7,1 tidak teratur di halaman rumah Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.18 dapat dikemukakan bahwa pembuangan air limbah dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 22 rumah (26,2%) dengan kondisi baik, 56 rumah (66,7%) dengan kondisi cukup baik, dan 6 rumah (7,1%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian pembuangan air limbah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standard ada, diresapkan tetapi mencemari sumber air (jarak sumber air <10m) dengan ditandai 56 rumah (66,7%) dalam kondisi cukup baik. Gambar 4.22 Selokan Terbuka yang Tidak Terawat Saluran pembuangan limbah dari kamar mandi dan dapur di lokasi penelitian mempunyai banyak bentuk yang ditunjukkan pada gambar 4.22

78 64 hingga gambar Gambar 4.21 menunjukkan selokan terbuka yang tidak terawat di RT 01/ RW 01 yang dimiliki oleh responden 27 di RT 1 RW 1. Gambar 4.23 yang menunjukkan selokan terbuka yang terawat di depan rumah warga RT 01/ RW 01 yang dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1, sedangkan gambar 4.24 yang menunjukkan pembuangan air kamar mandi dan cucian di halaman rumah yang dimiliki oleh responden 2 di RT 1 RW 1. Gambar 4.23 Selokan Terbuka yang Terawat Gambar 4.24 Pembuangan Air Kamar Mandi di Halaman Rumah Gambar 4.25 menunjukkan pembuangan air kamar mandi dan cucian di halaman rumah yang dimiliki oleh responden 4 di RT 1 RW 1 dan gambar 4.26 yang menunjukkan saluran kamar mandi ke halaman rumah yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1 menunjukkan rumah yang sembarangan membuang limbah rumah tangganya karena tidak memiliki

79 65 saluran pembuangan yang rapi tapi hanya dibuang ke samping atau halaman rumah secara tidak teratur atau hanya diresapkan di lubang khusus yang dibuat oleh pemilik rumah. Gambar 4.25 Pembuangan Limbah Dapur di Halaman Rumah Gambar 4.26 Saluran Pembuangan Kamar Mandi ke Halaman Rumah 12) Pembuangan sampah Terdapat satu kondisi dari empat kondisi pembuangan sampah rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.19 berikut. Berdasarkan tabel 4.19 dapat dikemukakan bahwa pembuangan sampah di setiap rumah responden, terdapat 84 rumah (100,0%) menunjukkan kondisi kurang baik. Hal ini disebabkan masih banyak

80 66 penduduk belum memenuhi standard dalam membuang sampah karena kebiasaan warga yang membakar sampah dengan ditandai 84 rumah (100,0%) dalam kondisi kurang baik. Tabel 4.24 Komponen Pembuangan Sampah Rumah Responden No. Komponen Pembuangan Jumlah Persentase Kondisi Sampah Rumah (%) 1. Ada, kedap air dan tertutup Sangat Baik 0 0,0 2. Ada, kedap air dan tidak Baik 0 0,0 tertutup 3. Ada, tetapi tidak kedap air dan Cukup Baik 0 0,0 tidak tertutup 4. Tidak ada Kurang Baik ,0 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Pengelolaan sampah di lokasi peneltian masih menggunakan cara tradisional dengan mengumpulkannya pada lubang tersendiri lalu menguburnya dalan jangka waktu tertentu seperti pada gambar 4.27 yang menunjukkan tempat pengumpulan sampah warga yang dimiliki oleh responden 56 di RT 4 RW 1. Gambar 4.27 Tempat Pengumpulan Sampah Warga Pembakaran sampah dilakukan warga karena tidak ada petugas pengambil sampah yang datang ke lokasi tersebut seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.28 yang menunjukkan sisa pembakaran sampah yang banyak

81 67 dilakukan penduduk di halaman rumah responden 2 di RT 1 RW. Walaupun begitu, ada beberapa warga yang mengumpulkan sampah untuk dijual ke pemulung secara mandiri atau ikut kegiatan masing-masing RT yang dikumpulkan setiap bulan dan uang penjualannya untuk kas RT seperti pada gambar Gambar 4.28 Sisa Pembakaran Sampah di Halaman Rumah Gambar 4.29 Pengumpulan Sampah di Dalam Rumah 13) Penghijauan halaman rumah Terdapat tiga kondisi dari empat kondisi penghijauan halaman rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.30 berikut.

82 68 Tabel 4.25 Komponen Penghijauan Halaman Rumah Responden No. Komponen Penghijauan Jumlah Persentase Kondisi Halaman Rumah (%) 1. Dirawat dan digunakan sebagai Sangat Baik 47 56,0 penyejuk rumah dan pendukung fasilitas bekerja 2. Dirawat dan digunakan sebagai Baik 0 0,0 penyejuk rumah 3. Dirawat tapi belum Cukup Baik 23 27,4 dimanfaatkan 4. Tidak dirawat Kurang Baik 14 16,7 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.20 dapat dikemukakan bahwa penghijauan halaman rumah dari 84 rumah yang diteliti, terdapat 47 rumah (56,0%) dengan kondisi sangat baik, 23 rumah (27,4%) dengan kondisi cukup baik, dan 14 rumah (16,7%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian penghijauan halaman rumah di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standar dirawat dan digunakan sebagai penyejuk rumah dan pendukung fasilitas bekerja dengan ditandai 47 rumah (56,0%) dalam kondisi sangat baik. Gambar 4.30 Halaman Rumah yang Dimanfaatkan sebagai Taman

83 69 Halaman rumah yang luas maupun sempit dapat dimaksimalkan fungsinya dengan merawatnya sebaik mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah dengan menjadikannya sebagai taman rumah seperti gambar 4.30 yang menunjukkan halaman rumah dimanfaatkan sebagai taman yang dimiliki oleh responden 26 di RT 1 RW 1. Gambar 4.31 Rumah dengan Teras Rumah Rumah tanpa halaman atau pekarangan yang kurang memadai seperti gambar 4.31 yang menunjukkan rumah tanpa halaman luas, hanya teras di RT 01/ RW 01 yang dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1. Warga yang memanfaatkan halaman rumahnya seperti gambar 4.32 menunjukkan halaman rumah untuk beternak mencukupi kebutuhan pribadi dan dijual yang dimiliki oleh responden 6 di RT 1 RW 1. Gambar 4.32 Halaman Rumah untuk Beternak

84 70 14) Jamban Terdapat tiga kondisi dari empat kondisi jamban rumah responden yang dimungkinkan berdasarkan data di lapangan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.26 Komponen Jamban Rumah Responden No. Komponen Jamban Kondisi Jumlah Persentase Rumah (%) 1. Ada, leher angsa, septik tank Sangat Baik 79 94,0 2. Ada, bukan leher angsa, ada Baik 0 0,0 tutup, septik tank 3. Ada, bukan leher angsa, tidak Cukup Baik 2 2,4 ada tutup, disalurkan ke sungai/ kolam 4. Tidak ada Kurang Baik 3 3,6 Jumlah ,0 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 4.21 dapat dikemukakan bahwa jamban dari 84 rumah yang diteliti, 79 rumah (94,0%) dengan kondisi sangat baik, 2 rumah (2,4%) dengan kondisi cukup baik, dan 3 rumah (3,6%) dengan kondisi kurang baik. Dengan demikian jamban di Kelurahan Mangunsari banyak yang sudah memenuhi standard ada, leher angsa, dan memiliki septik tank dengan ditandai 79 rumah (94,0%) dalam kondisi sangat baik. Gambar 4.33 Model WC Duduk

85 71 Warga yang memiliki WC baik dan kurang baik ditunjukkan dalam pengambilan data penelitian ini. Kondisi kamar mandi dan WC yang baik ditunjukkan dalam gambar 4.33 yang menunjukkan model WC duduk yang dimiliki oleh responden 7 di RT 1 RW 1 dan gambar 4.34 yang menunjukkan WC model leher angsa yang dimiliki oleh responden 1 di RT 1 RW 1. Gambar 4.34 WC Model Leher Angsa Kondisi kamar mandi dan WC yang rusak dan kurang dilengkapi dengan bangunan WC yang terawat dalam gambar 4.35 yang menunjukkan dinding kamar mandi dan WC yang tidak permanen yang dimiliki oleh responden 56 di RT 1 RW 1 dan gambar 4.36 yang menunjukkan kondisi WC dengan penutup (dinding) yang rusak yang dimiliki oleh responden 2 di RT 1 RW 1. Gambar 4.35 Dinding Kamar Mandi dan WC yang Tidak Permanen

86 72 Gambar 4.36 WC dengan Dinding yang Rusak Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Dalam subbab ini dikemukakan mengenai uji normalitas data dan koefisien korelasi Uji Normalitas Data Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul memenuhi syarat untuk dianalisis atau tidak. Pada pembahasan ini, uji hanya dilakukan pada data hasil dokumentasi dan observasi untuk variabel kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang menggunakan uji normalitas Chi-kuadrat. Uji normalitas data dilakukan dengan cara memasukkan data dalam tabulasi, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan jawaban responden. Hasil uji normalitas data dari variabel kualitas rumah hunian dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut ini dan data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 96.

87 73 Kelas Interval Tabel 4.27 Uji Normalitas Data Kualitas Rumah Hunian Batas Kelas Z untuk batas kls. Peluang untuk Z Luas Kls. Untuk Z Ei Oi (Oi- Ei)² Ei 31,0-34,0 30,95-2,75 0,4970 0,0214 1, , ,1-37,1 34,05-1,97 0,4756 0,0918 7, , ,2-40,2 37,15-1,19 0,3837 0, , , ,3-43,3 40,25-0,42 0,1620 0, , , ,4-46,4 43,35 0,36 0,1398 0, , , ,5-49,5 46,45 1,13 0,3715 0, , ,2969-0,05-10,50 0, x² = 7,1927 Sumber: Hasil analisis penelitian 2012 Keterangan: x² : Chi-kuadrat Oi Ei : Frekuensi yang diperoleh berdasarkan data : Frekuensi yang diharapkan Berdasarkan uji normalitas dengan menggunakan rumus Chi-kuadrat, variabel kualitas rumah hunian seperti pada tabel 4.22 diatas diperoleh hasil x² hitung = 7,1927. Hasil uji normalitas tersebut dikonsultasikan dengan tabel Chikuadrat dengan dk = 6 3= 3, dan tarif signifikansi (α) = 5% diperoleh nilai Chikuadrat x² tabel = 7,81. Data berdistribusi normal jika harga Chi-kuadrat hitung lebih kecil dari nilai Chi--kuadrat tabel. Karena x² hitung < x² tabel atau 7,1927 < 7,81, maka dapat disimpulkan bahwa data variabel kualitas rumah hunian berdistribusi normal Koefisien Korelasi Koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kualitas Rumah Hunian Penduduk Kelurahan Mangunsari

88 74 Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Analisis hubungan kedua variabel dapat dinyatakan dengan hasil perhitungan korelasi product moment sebagai berikut: ,263 Dari perhitungan korelasi product moment dari Pearson diatas, dapat dilihat bahwa r hitung = 0,263. Pada α = 5% dengan N = 84, diperoleh r tabel = 0,213. Karena r hitung (xy) > r tabel, maka h0 ditolak dan ha diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga dengan kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Jadi, terdapat hubungan yang positif antara kedua variabel, dalam artian apabila tingkat pendidikan kepala keluarga tinggi, maka juga diikuti dengan kualitas rumah hunian yang semakin baik pula, karena kedua variabel tersebut saling berhubungan. Perhitungan kedua variabel yaitu korelasi antara pendidikan dan kalitas rumah dapat dilihat pada lampiran 9 halaman Pembahasan Dalam pembahasan ini dikemukakan mengenai tingkat pendidikan masyarakat, kualitas rumah hunian, dan hubungan antara tingkat pendidikan masyarakat dengan kualitas rumah hunian pada penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

89 Tingkat pendidikan Hasil penelitian tentang hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas rumah hunian pada penduduk Kelurahan Mangunsari menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Mangunsari dari 84 responden termasuk kedalam kriteria: sangat tinggi (PT/sederajatnya) yaitu ada 4 penduduk (7,1%), tinggi (SLTA/sederajatnya) ada 22 penduduk (26,2%), cukup tinggi (SLTP/sederajatnya) ada 20 penduduk (23,8%), sedangkan kriteria rendah (SD/sederajatnya) ada 36 penduduk (42,9%). Tingkat pendidikan sesejiwa berbeda-beda. Secara umum tingkat pendidikan sesejiwa dapat diperoleh dari pendidikan formal, non formal, maupun informal. Tingkat pendidikan sesejiwa akan mempengaruhi kualitas kehidupannya, dalam hal ini termasuk kualitas rumah huniannya. Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya membangun manusia. Salah satu tujuan pendidikan ialah mengubah tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia sejalan dengan perubahan pengetahuan dan sikapnya. Mengubah sikap manusia merupakan pekerjaan yang sulit karena ada keunikan-keunikan di dalam diri setiap manusia. Pada masyarakat desa, umumnya melekat sikap dan kebiasaan yang dirasakan menghambat pembangunan, seperti menyerah pada keadaan (fatalism), patuh pada jiwa-jiwa yang dituakan (segi negatif paternalistik), segi negatif patuh pada nilai budaya tradisional dan lain-lain. Oleh karena itu, satu tujuan pendidikan dalam pembangunan ialah merubah atau menghapus kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan dan memperkuat sikap-sikap yang menunjang pembangunan.

90 76 Pendidikan berperan membantu manusia untuk memahami rahasia dan cara hidup dibalik kehidupan. Dengan pemahaman tersebut, manusia dididik untuk dapat memahami arti, hakikat, dan tujuan hidup dengan benar (Mulyasana 2011:2). Pendidikan secara umum memberikan manfaat membentuk sikap dan kesadaran dalam menghadapi suatu masalah. Pada penelitian ini, permasalahan tentang kesehatan perumahan yang berhubungan dengan kualitas rumah diharapkan dapat ditingkatkan dengan pendidikan agar kesadaran untuk mengupayakan rumah sehat dapat segera terwujud Kualitas rumah hunian Syarat rumah sehat dalam penelitian ini yaitu: penyediaan ruang yang cukup; langit-langit; atap rumah; dinding; lantai; jendela; peranginan atau ventilasi udara; lubang asap dapur; penerangan atau pencahayaan; penyediaan air bersih; pembuangan air limbah; pembuangan sampah; penghijauan halaman rumah; dan jamban. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari sebagian besar dalam kondisi baik yaitu sejumlah 77,4% (65 rumah) karena memiliki skor antara 35,00-<45,50; kemudian 19,0% (16 rumah) dalam kondisi sangat baik dengan skor 45,50 56,00; dan 3,6% (3 rumah) dalam kondisi cukup baik dengan skor 24,50 <35,00. Menurut Notoatmodjo (2003), tingkat pendidikan sesejiwa dapat meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan sesejiwa adalah tingkat pendidikan. Pendidikan akan memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang

91 77 meningkat. Menurut Widyastuti (2005), jiwa yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan, dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Masalah kesehatan hunian merupakan masalah klasik yang senantiasa muncul terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Masalah ini merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan, karena kesehatan lingkungan perumahan yang tidak memenuhi persyaratan akan mengakibatkan tumbuh suburnya berbagai masalah dan penyakit menular bagi penduduk, khususnya penghuni rumah masing-masing. Di samping itu, lingkungan dan tempat tinggal yang tidak sehat akan menyebabkan menurunnya produktivitas kerja dan daya guna sesejiwa. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas pemukiman dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja bagi penghuninya, dan dapat meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang sehat memerlukan lingkungan perumahan yang sehat. Dalam upaya merealisasikan lingkungan rumah sehat di pedesaan perlu adanya pengertian, pemahaman, dan kesadaran dari penduduk itu sendiri. Apabila penduduk sudah menyadari pentingnya rumah sehat, diharapkan ada motivasi dan upaya dari penghuni rumah untuk menerapkan syarat rumah sehat masing-masing. Dengan memahami pentingnya kesehatan dalam rumah, setiap warga akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

92 Hubungan antara tingkat pendidikan masyarakat dengan kualitas rumah hunian penduduk Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Secara umum, tingkat pendidikan sesejiwa akan mempengaruhi kualitas rumah huniannya, hal ini tidak terkecuali pada penduduk Kelurahan Mangunsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara tingkat pendidikan masyarakat dengan kualitas rumah hunian pada penduduk Kelurahan Mangunsari karena dari hasil perhitungan korelasi product moment dari Pearson, diperoleh hasil bahwa r hitung = 0,263. Pada α = 5% dengan N = 84, diperoleh r tabel = 0,213, sehingga r hitung (xy) > r tabel. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa sesejiwa dapat menentukan atau melakukan suatu perubahan (pembangunan) dalam hal kesehatan untuk kesejahteraan maupun peningkatan kualitas hidupnya dengan syarat memiliki pengetahuan tentang kesehatan perumahan atau syaratsyarat rumah sehat yang diperoleh dari pendidikan formal. Peneliti menemukan fakta dari observasi kepala keluarga yang dijadikan sampel penelitian, terdapat kepala keluarga yang menjadi single parent dalam menempati rumah mereka. Hal itu dikarenakan suaminya telah meninggal dunia atau sudah bercerai dengan suami mereka sehingga sejiwa istri menjadi kepala keluarga dalam mengasuh anak mereka dan mengelola rumah mereka. Pendidikan yang ditempuh sejiwa kepala keluarga di Kelurahan Mangunsari cukup bervariasi namun masih sedikit yang masuk dalam pendidikan tinggi karena faktor biaya. Sebagian besar meninggalkan pendidikan formal di

93 79 sekolah dan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ratarata pekerjaan yang ditekuni sejiwa kepala keluarga adalah menjadi petani atau buruh tani, pekerja pabrik, perias kecantikan, serta berdagang. Faktor lain yang dibutuhkan dalam memenuhi standar rumah sehat adalah dana yang sesuai. Hal itu menjadi kebutuhan awal setelah pengetahuan yang mereka peroleh dari suatu pendidikan akan informasi tentang rumah sehat. Di Kelurahan Mangunsari, sudah banyak warga yang berusaha memenuhi pembangunan rumah sehat agar kehidupan mereka lebih layak meskipun masih sederhana. Usaha pembangunan yang kurang baik disebabkan oleh kurangnya dana untuk memenuhi pembangunan fasilitas tersebut misalnya: masih kurang layaknya WC karena ada kerusakan dinding atau kamar mandi yang dibuat sederhana; dapur yang berdekatan dengan kamar mandi tanpa sekat yang permanen; pencahayaan yang masih kurang baik meskipun bangunannya cukup luas; tempat tidur yang hampir tanpa sekat dengan dapur tradisional; kurang meratanya pembangunan dinding, lantai, atap, serta jendela, antara bagian depan rumah yang biasa untuk ruang tamu hingga ke bagian belakang yang digunakan sebagai dapur. Kondisi yang masih belum lengkap ini memberikan penilaian bahwa masih ada kekurangan dalam pemenuhan rumah sehat meskipun pada dasarnya mereka sudah mengusahakannya. Mengetahui keterbatasan yang dimiliki penduduk Kelurahan Mangunsari tersebut, salah satu syarat rumah sehat menurut Ditjen Cipta Karya adalah memenuhi segi keterjangkauan. Hendaknya ruang didapat, diperlengkapi, dan dipelihara dengan dana yang sesuai dengan kemampuan pendapatan keluarga.

94 80 Senada dengan hal itu, Notoatmojo dalam Kasjono (2011:22-23) menjelaskan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu rumah yaitu tingkat kemampuan ekonomi penduduk. Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, sehingga bahan-bahan pokok pembuatan rumah berasal dari daerah setempat yang murah misal bambu, kayu atap rumbia dan sebagainya. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah adalah bukan sekadar berdiri pada saat itu saja, namun diperlukan pemeliharaan seterusnya.

95 81 BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Mangunsari, diketahui tingkat pendidikan penduduk termasuk dalam kriteria rendah yaitu sebanyak 36 penduduk (42,9%) hanya menempuh pendidikan formal sampai dengan kelas 6 (SD/sederajatnya) atau tidak sekolah Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Mangunsari, sebagian besar rumah penduduk termasuk dalam kriteria baik yaitu sebanyak 65 rumah penduduk (77,4%) berada pada skor 35,00 - <45, Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga dengan kualitas rumah hunian pada penduduk di Kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, karena r hitung (0,263) > r tabel (0,213). 5.2.Saran Warga perlu meningkatkan tingkat pendidikan karena berguna untuk peningkatan kualitas rumah hunian Warga perlu meningkatkan kualitas rumah huniannya karena dapat mempengaruhi kualitas kesehatannya Warga perlu mengikuti penyuluhan lingkungan sehat untuk mewujudkan lingkungan sehat di Kelurahan Mangunsari. 81

96 82 DAFTAR PUSTAKA Ali, M Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Bumi Aksara. Ali Muhidin, Sambar dan Maman Abdurrahman Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian (dilengkapi dengan aplikasi program SPSS). Bandung: CV Pustaka Setia. Amalia, Imandi Hubungan antara Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (HIK) di Pasar Kliwon dan Jebres Kota Surakarta. Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Arikunto, Suharsimi Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Direktorat Perumahan Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Rumah Sehat dalam Lingkungan Sehat. Departemen Pekerjaan Umum: Kantor Wilayah Jawa Tengah. Hermawan, Yoni. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pemeliharaan Kebersihan Lingkungan. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Siliwangi. Kasjono, Heru Subaris Penyehatan Pemukiman. Yogyakarta: Gosyen Publising. Kelurahan Mangunsari Data Monografi Kelurahan Mangunsari Tahun 2011 Semester 1 dan 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Permukiman. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah nomor: 403/ KPTS/ M/ 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs SEHAT). 82

97 83 Kusumawati, Yuli., dkk Hubungan antara Pendidikan dan Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Kesehatan Lingkungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jurnal Penelitian Kesehatan. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Mulyasana, Dedy Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. PT Remaja Rosdakarya: Bandung. Notoatmodjo, S. Pramudiyani, Novita Aris dan Galuh Nita Prameswari Hubungan antara Sanitasi Rumah dan Perilaku dengan Kejadian Pneumonia Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS) 6 tahun 2011 halaman Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang nomor 28 Tahun 2002 tentang Pembangunan Gedung, pasal 3 ayat 2. Sugiyono Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta: Sinar Grafika. Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman UU RI No.1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Penerbit Pustaka Yustisia: Yogyakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Vita Ayu Oktaviani Hubungan antara Sanitasi Fisik Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) pada Balita di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Skripsi. W.J.S. Poerwadarminta Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. World Health Organisation (WHO) Yusup, Nur Achmad dan Lilis Sulistyorini. Hubungan Sanitasi Rumah secara Fisik dengan Kejadian ISPA pada Balita. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.1 No.2 Januari 2005.

98 84 Lampiran 1 KISI-KISI PANDUAN DOKUMENTASI VARIABEL TINGKAT PENDIDIKAN Sub Variabel Pendidikan formal Indikator Pendidikan terakhir yang pernah ditempuh KK. Jumlah Pertanyaan 1 84

99 85 Lampiran 2 No Sub Variabel 1. Luas rumah Sesuai standar per jiwa (Internasional) seluas 12,0 m 2 2. Langitlangit KISI-KISI PANDUAN OBSERVASI VARIABEL KUALITAS RUMAH HUNIAN Indikator Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sesuai standar Sesuai standar per jiwa per jiwa (Indonesia) (Ambang batas) seluas 9,0 m 2 seluas 7,2 m 2 Ada, bersih, dan tidak rawan kecelakaan 3. Atap rumah Cor (semen)/ Asbes 4. Dinding Permanen (tembok/ pasangan batu bata yang diplester) papan kedap air. 5. Lantai Kedap air (diplester/ ubin/ keramik), papan (rumah panggung). Terawat dan bersih. 6. Jendela Ada, luas jendela 10% dari luas lantai, dilengkapi tralis, dan bisa dibuka setiap 7. Ventilasi udara 8. Lubang asap dapur saat. Ada, luas ventilasi permanen 5% dari luas lantai dan ada pelindung dari nyamuk. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis dan ada Ada, kotor, sulit dibersihkan. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan sudah rusak. Kurang dari standar per jiwa (Ambang batas) seluas 7,2 m 2 Jumlah Pertanyaan 1 Tidak ada 1 Genteng Seng Ijuk 1 Semi permanen/ setengah tembok/ pasangan bata atau batu yang diplester/ papan yang tidak kedap air. Kedap air (diplester/ ubin/ keramik), papan (rumah panggung). Tidak terawat dan berdebu. Ada, luas jendela 10% dari luas lantai dan bisa dibuka setiap saat, tetapi tidak dilengkapi tralis. Ada, luas ventilasi permanen 5% dari luas lantai tapi tidak ada pelindung dari nyamuk. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis tetapi tidak ada 85 Terbuat dari kayu/ papan Plesteran yang retak dan berdebu. Ada, luas jendela 10% dari luas lantai dan bisa dibuka setiap saat. Ada, luas ventilasi permanen <5% dari luas lantai. Ada, lubang ventilasi dapur <5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis. Tidak permanen (anyaman bambu/ ilalang) 1 Tanah 1 Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi. Tidak ada lubang asap dapur

100 86 9. Pencahayaan alami dan buatan 10. Penyediaan air bersih 11. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) 12. Sarana pembuangan sampah (tempat sampah) 13. Penghijauan halaman rumah 14. Jamban (sarana pembuangan kotoran) pelindung dari nyamuk. Terang dan tidak silau sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal (huruf kecil). Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Ada, dialirkan ke selokan tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut. Ada, kedap air dan tertutup. Dirawat dan digunakan sebagai penyejuk rumah dan pendukung fasilitas bekerja. Ada, leher angsa, septik tank. pelindung dari nyamuk. Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk membaca dengan normal (huruf kecil). Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Ada, dialirkan ke selokan terbuka. Ada, kedap air dan tidak tertutup. Dirawat dan digunakan sebagai penyejuk rumah Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septik tank. Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk membaca dengan normal (huruf kecil), tapi masih dapat membaca huruf besar. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber air (jarak sumber air <10m). Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak tertutup. Dirawat tapi belum dimanfaatkan Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan ke sungai/ kolam. Tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk membaca. Tidak ada 1 dan kadangkadang ada, tapi bukan milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan. Tidak ada, 1 sehingga tergenang tidak teratur di halaman rumah. Tidak ada. 1 1 Tidak dirawat 1 Tidak ada. 1 Sumber: Risyanto dalam Tjaturahono. 1991, Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat untuk Puskesmas, dan DPU Cipta Karya.

101 87 Lampiran 3 PENGANTAR Penelitian dengan judul HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KUALITAS RUMAH HUNIAN PADA PENDUDUK DI KELURAHAN MANGUNSARI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas rumah hunian di Kelurahan Mangunsari dan mendeskripsikan apakah ada hubungannya dengan tingkat pendidikan dengan pada penduduk. Sehubungan dengan hal tersebut, kami ingin mengumpulkan data tentang tingkat pendidikan penduduk dan kualitas rumah yang dihuni. Penelitian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah perpajakan atau PBB, atau hal yang semacamnya, tetapi hanya untuk kepentingan pendidikan. Hasil penelitian ini sangat ditentukan oleh data yang Bapak/ Ibu berikan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kesediaan Bapak/ Ibu untuk menjawab pertanyaan kami dengan penuh kejujuran dan kesungguhan dan mempersilahkan kami untuk mengadakan observasi di lingkungan rumah Bapak/ Ibu. Atas perhatian dan kesediaan Bapak/ Ibu, kami ucapkan terima kasih. Peneliti Apriani Yunita P. 87

102 Observer :... Tanggal observasi :... Lampiran 4 88 LEMBAR DOKUMENTASI IDENTITAS RESPONDEN Instruksi bagi pewawancara: isilah untuk pilihan jawaban setiap pertanyaan di bawah ini. Nomor urut responden :... Nama lengkap responden :... Jenis kelamin : Laki-laki/ Perempuan* (coret yang tidak perlu) Umur :... tahun Alamat : RT... RW... Dusun... Pekerjaan : Petani/ Buruh/ PNS/ Pedagang/lainnya... Pendapatan : Rp.../bulan Jumlah anggota keluarga :... orang TINGKAT PENDIDIKAN Instruksi bagi pewawancara:lingkarilah untuk pilihan jawaban setiap pertanyaan di bawah ini. 1. Berapa lama Bapak/Ibu menempuh pendidikan formal? A. > 12 tahun B tahun C. 7 9 tahun D. < 6 tahun LEMBAR OBSERVASI KUALITAS RUMAH HUNIAN Instruksi bagi pewawancara: Berilah tanda centang ( ) sesuai dengan hasil pengamatan tentang kondisi rumah yang sesuai dengan paduan kisi-kisi yang ada. No. Unsur yang diskor (Bagaimana kondisi yang sebenarnya?) Sangat baik Baik Kondisi Cukup baik Kurang baik 1. Luas rumah 2. Langit-langit 3. Atap rumah 4. Dinding 5. Lantai 6. Jendela kamar tidur 7. Ventilasi udara 8. Lubang asap dapur 9. Pencahayaan alami dan buatan 10. Penyediaan air bersih 11. Pembuangan air limbah 12. Pembuangan sampah 13. Penghijauan halaman rumah 14. Jamban Menyertakan fotocopy Kartu Keluarga/ mengijinkan pewawancara untuk mengambil gambar Kartu Keluarga yang asli untuk pendataan. 88

103 Observer Tanggal observasi Lampiran 5 : diisi nama lengkap : diisi waktu dilakukan wawancara dengan LEMBAR PANDUAN DOKUMENTASI 89 IDENTITAS RESPONDEN Instruksi bagi pewawancara: isilah untuk pilihan jawaban setiap pertanyaan di bawah ini. Nomor urut responden : nomor pengisian lembar observasi untuk responden ke berapa. Nama lengkap responden : diisi nama lengkap responden. Jenis kelamin : Laki-laki/ Perempuan* (coret yang tidak perlu) Umur : menyebutkan usia responden berapa tahun. Alamat : RT... RW... Dusun... Pekerjaan umum : Petani/ Buruh/ PNS/ Pedagang/lainnya sebutkan. Jumlah anggota keluarga :... orang (yang menempati rumah tersebut) TINGKAT PENDIDIKAN Instruksi bagi pewawancara:lingkarilah untuk pilihan jawaban setiap pertanyaan di bawah ini. 1. Berapa lama Bapak/Ibu menempuh pendidikan formal? A. > 12 tahun B tahun C. 7 9 tahun D. < 6 tahun LEMBAR PANDUAN OBSERVASI KUALITAS RUMAH HUNIAN Instruksi bagi pewawancara: Berilah tanda centang ( ) sesuai dengan hasil pengamatan tentang kondisi rumah yang sesuai dengan paduan kisi-kisi yang ada. Unsur yang Kondisi No. dinilai 1. Luas rumah Sesuai standar per jiwa (Internasional) seluas 12,0 m Langit-langit Ada, bersih, dan tidak rawan kecelakaan. Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sesuai standar per Sesuai standar per Kurang dari jiwa (Indonesia) jiwa (Ambang standar per jiwa seluas 9,0 m 2. batas) seluas 7,2 (Ambang batas) Ada, bersih, sulit dibersihkan. m 2. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan sudah rusak. 3. Atap rumah Cor (semen)/ Asbes Genteng Seng Ijuk 4. Dinding Permanen (tembok/ pasangan batu bata yang diplester) papan kedap air. Terbuat dari kayu/ papan. 5. Lantai Kedap air (diplester/ ubin/ keramik), papan (rumah panggung). Terawat dan bersih. 6. Jendela Ada, luas jendela 10% dari luas lantai, dilengkapi tralis, dan bisa dibuka setiap saat. Semi permanen/ setengah tembok/ pasangan bata atau batu yang diplester/ papan yang tidak kedap air. Kedap air (diplester/ ubin/ keramik), papan (rumah panggung). Tidak terawat dan berdebu. Ada, luas jendela 10% dari luas lantai dan bisa dibuka setiap saat, tetapi tidak 89 Plesteran yang retak dan berdebu. Ada, luas jendela 10% dari luas lantai dan bisa dibuka setiap saat. seluas 7,2 m 2. Tidak ada. Tidak permanen (anyaman bambu/ ilalang). Tanah Tidak ada jendela.

104 90 7. Ventilasi udara 8. Lubang asap dapur 9. Pencahayaan alami dan buatan 10. Penyediaan air bersih 11. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) 12. Sarana pembuangan sampah (tempat sampah) 13. Penghijauan halaman rumah 14. Jamban (sarana pembuangan kotoran) Ada, luas ventilasi permanen 5% dari luas lantai dan ada pelindung dari nyamuk. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis dan ada pelindung dari nyamuk. Terang dan tidak silau sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal (huruf kecil). Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Ada, dialirkan ke selokan tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut. Ada, kedap air dan tertutup. Dirawat dan digunakan sebagai penyejuk rumah dan pendukung fasilitas bekerja. Tidak ada. dilengkapi tralis. Ada, luas ventilasi permanen 5% dari luas lantai tapi tidak ada pelindung dari nyamuk. Ada, lubang ventilasi dapur 5% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust fan ada peralatan lain yang sejenis tetapi tidak ada pelindung dari nyamuk. Kurang terang, sehingga memerlukan cahaya tambahan untuk dengan normal (huruf kecil). Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan. Ada, dialirkan ke selokan terbuka. Ada, kedap air dan tidak tertutup. Dirawat dan digunakan sebagai penyejuk rumah Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan ke sungai/ kolam. Ada, luas ventilasi permanen <5% dari luas lantai. Ada, lubang ventilasi dapur <5% dari luas lantai dapur. Kurang terang, sehingga memerlukan cahaya tambahan untuk membaca huruf besar. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan. Ada, diresapkan dan tidak mencemari sumber air (jarak dengan sumber air >10m). Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak tertutup. Dirawat tapi belum dimanfaatkan Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septik tank. Tidak ada ventilasi. Tidak ada lubang asap dapur. Tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk membaca. Tidak ada dan kadang-kadang ada, tapi bukan milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan. Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur di halaman rumah. Tidak ada. Tidak dirawat Ada, leher angsa, septik tank. fotocopy Kartu Keluarga atau mengijinkan pewawancara untuk mengambil gambar Kartu Keluarga yang asli untuk pendataan.

105 91 Lampiran 6 DAFTAR NAMA RESPONDEN Kode Responden Responden RT Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan R-01 Suparmin 1 L SD Petani penggarap tanah R-02 Sadjuri 1 L SD Petani penggarap tanah R-03 Langser Iriani 1 P SD ibu rumah tangga (Pensiunan suami) R-04 Wiwin Widyawanto 1 L SMA PNS (Kehutanan) R-05 Subani 1 L S1 Buruh bangunan R-06 Arif Wirawan 1 L SMP Buruh Industri (PT Casindo) R-07 Fariz Ilham 1 L STM Buruh Industri (PT Sumber) R-08 Suharminto 1 L SD Pensiunan dinas pertanian R-09 Sawuri 1 L SD Petani penggarap tanah R-10 Arie Mashadi 1 L SMP Buruh bangunan (bengkel) R-11 Wahyudi 1 L SMP Buruh bangunan (bengkel) R-12 Fajar Feriyanto 1 L Tidak tamat SD Supir R-13 Soekidjan 1 L SMA Pedagang R-14 Muntaha 1 L SMP Pedagang R-15 Soemiyarso Heni Suryanto 1 L SD Pensiunan dari srondol R-16 Bejo Hari Joko Utomo 1 L SD PNS (Guru SD) R-17 Badrodin 1 L STM Pengrajin (sablon) R-18 Karsidi 1 L Tidak sekolah Petani penggarap tanah R-19 Bejo Mulyono 2 L SMA PNS (BUMN) R-20 Mustofa 2 L SMP Buruh Industri (PT Citra) R-21 Jupri 2 L SMA PNS (dinas koperasi dan UMKM) R-22 Budi Santoso 2 L SMA Supir (material sampangan) R-23 Purnomo 2 L SMP Buruh Industri (Gipson) R-24 Jarmono 2 L SD Pedagang (soto keliling) R-25 Ahmadi 2 L SMP Buruh bangunan R-26 Tusrin, SH 2 L SD Pensiunan PNS (lurah) R-27 Amprel Yustian, SE 2 L SMA PNS (di Balai Kota) R-28 Permadi 2 L SD Pedagang Jumlah Anggota Keluarga

106 R-29 Ponidi 2 L S1 TNI R-30 Zaenal 2 L STM Pedagang R-31 Sumaryanto 2 L SMA Pedagang R-32 Bambang Pangarso Widodo 2 L SMP Buruh Industri (di Terboyo) R-33 Kasno 2 L SD Pensiunan di Karyadi R-34 Nur Azis 2 L SMP Pengangkutan (kuli angkat) R-35 Suwandi 2 L SMP Buruh Industri (bina amal) R-36 Sumintar 2 L SD Pensiunan TNI R-37 Musmin 3 L SD Buruh tani R-38 Totok Joko Satmoko 3 L SMP Buruh Industri (garmen) R-39 Sukarni 3 P SMA Buruh industri R-40 Nur Kholis 3 L SMP Pedagang (di Ungaran) R-41 Ngadiyono 3 L SD Petani penggarap tanah R-42 Mundakir 3 L SMP Buruh bangunan R-43 Ahmanto 3 L STM Buruh Industri (SOSRO) R-44 Suwardi 3 L 5 SD Buruh bangunan R-45 Mulyono 3 L SD Buruh tani R-46 Sumeri 3 L SMA Buruh bangunan (bengkel) R-47 Joko Yuli Santoso 3 L SMA PNS R-48 Matisa 3 L 4 SD keluar Buruh tani R-49 Ruminah 3 P SD Petani penggarap tanah R-50 Muhammad Nur Fadeli 3 L SD Pedagang (nasi goreng) R-51 Karyono 3 L SMA Buruh bangunan (bengkel) R-52 Achmad Syaifudin 3 L SMP PNS (di UNNES) R-53 Suroso 4 L Tidak tamat SD Buruh bangunan R-54 Abdul Rokhim 4 L SMP Buruh bangunan (bengkel) R-55 Sumarno 4 L SD Pedagang (penjual buah) R-56 Suwardi 4 L SD Buruh industri (PEPSI) R-57 Surat 4 L SD Petani penggarap tanah R-58 Subarno 4 L SMA Supir truk pasir R-59 Suratman 4 L Tidak tamat SD Buruh bangunan R-60 Suwartono 4 L SMA PNS (di Karyadi) R-61 Nuryani Agustina 4 P SD Buruh industri (kafe) R-62 Muhri 4 L SMA Petani penggarap tanah

107 R-63 Sugiyono 4 L S1 Buruh bangunan R-64 Eko Suyami 4 P SD Pedagang R-65 Widarto 4 L SMP Buruh Industri R-66 Sumadi 5 L SMA Pedagang R-67 Moh Samsuri 5 L SMP Buruh Industri (PT Citra) R-68 Suradi 5 L Tidak tamat SD Buruh bangunan R-69 Dasuki 5 L SD Buruh tani R-70 Solekan 5 L SD Buruh tani R-71 Harmanto 5 L D3 Buruh bangunan R-72 Ahmat 5 L S1 Supir angkot R-73 Kaswadi 5 L D3 Buruh bangunan R-74 Kustiyah 5 P SD Buruh bangunan R-75 Solichin 5 L SMK Pedagang R-76 Supadi 5 L SD TNI (Kodim Semarang) R-77 Kusmiran 5 L SMP Buruh Industri (PT Citra) R-78 Sasmito 5 L STM Buruh Industri (PT Citra) R-79 Riswanto 5 L SMP Pedagang R-80 Junaedi 5 L MTs Buruh bangunan R-81 Maryadi 5 L SD Buruh tani R-82 Achmad Supriyadi 5 L Tidak tamat SD Pedagang R-83 Pasri 5 L SD Industri kecil (Krupuk) R-84 Joko Kelono Cipto 5 L SD Pedagang (di pasar malam)

108 94 Lampiran 7 DATA PENELITIAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN KUALITAS RUMAH HUNIAN Nomor Tingkat Kualitas Rumah Responden Pendidikan Jumlah R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R

109 R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R

110 Lampiran 8 UJI NORMALITAS DATA PENELITIAN KUALITAS RUMAH HUNIAN Hipotesis Ho Ha : : Data berdistribusi normal Data tidak berdistribusi normal Pengujian Hipotesis: Rumus yang digunakan: Kriteria yang digunakan Ho diterima jika c 2 < c 2 tabel Pengujian Hipotesis Nilai maksimal Nilai minimal Rentang Banyak kelas = = = = 49,0 31,0 18,0 6 Panjang Kelas Rata-rata ( x ) s n = = = = 3,0 41,92 4,00 84 Kelas Interval Batas Z untuk Peluang (Oi-Ei)² Luas Kls. Untuk Z Ei Oi Kelas batas kls. untuk Z Ei 31,0 34,1 37,2 40,3 43,4 46, ,0 37,1 40,2 43,3 46,4 49,5 30,95 34,05 37,15 40,25 43,35 46,45-2,75-1,97-1,19-0,42 0,36 1,13 0,4970 0,4756 0,3837 0,1620 0,1398 0,3715 0,0214 0,0918 0,2217 0,3018 0,2318 0,1285 1,7991 7, , , , , ,8016 2,3809 1,6982 0,4430 1,5720 0,2969-0,05-10,500 0, c² = 7,1927 Untuk α = 5%, dengan dk = 6-3 = 3 diperoleh c² tabel = 7,81 7, ,81 Karena c² pada daerah penerimaan Ho, maka data tersebutt berdistribusi normal 96

Pendidikan Dasar Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan Dasar Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. :: Sistem Pendidikan Nasional Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan saja

Lebih terperinci

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA. Imam Gunawan

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA. Imam Gunawan SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA Imam Gunawan Tiap tiap negara memiliki peraturan perundang undangan sendiri. Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai peraturan perundang udangan yang bertingkat,

Lebih terperinci

KORELASI ANTARA KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI DI SDN AJUNG 03 KECAMATAN AJUNG SKRIPSI

KORELASI ANTARA KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI DI SDN AJUNG 03 KECAMATAN AJUNG SKRIPSI KORELASI ANTARA KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI DI SDN AJUNG 03 KECAMATAN AJUNG SKRIPSI Oleh: Devi Amalia Lisalamah NIM. 090210204053 PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baru sehingga dapat diperoleh

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baru sehingga dapat diperoleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan pendidikan nasional ditujukan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR ISI PERNYATAAN... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMAKASIH... iii ABSTRAK... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengetahuan dan teknologi serta mampu bersaing pada era global ini.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengetahuan dan teknologi serta mampu bersaing pada era global ini. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak pihak yang cukup memperhatikan berbagai kegiatan dan permasalahan yang ada di bidang pendidikan. Melalui kegiatan pendidikanakant erbentuk kualitas sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang kehidupan. Hal ini menuntut adanya

Lebih terperinci

Berapa penghasilan rata-rata keluarga perbulan? a. < Rp b. Rp Rp c. > Rp

Berapa penghasilan rata-rata keluarga perbulan? a. < Rp b. Rp Rp c. > Rp LAMPIRAN 1 LEMBAR PERTANYAAN ANALISIS PENILAIAN RUMAH SEHAT DAN RIWAYAT PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN PADA BALITA DI DESA SIHONONGAN KECAMATAN PARANGINAN KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2016 I. Identitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor lingkungan fisik manusia

BAB I PENDAHULUAN. Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor lingkungan fisik manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor lingkungan fisik manusia yang mempengaruhi atau mungkin dipengaruhi, sehingga merugikan perkembangan fisik,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk metode deskriptif kuantitatif dan

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk metode deskriptif kuantitatif dan 24 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk metode deskriptif kuantitatif dan teknik pengumpulan datanya menggunakan kuesioner. Data yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Majunya perkembangan IPTEK pada era globalisasi sekarang ini membuat dunia terasa semakin sempit karena segala sesuatunya dapat dijangkau dengan sangat mudah.

Lebih terperinci

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan investasi penanaman modal manusia, dimana pendidikan berfungsi sebagai pembentuk pribadi manusia yang juga menjadi dasar bagi terciptanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan zaman. Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. perubahan zaman. Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia diupayakan untuk tanggap terhadap perubahan zaman. Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dalam Hari (2003:30) menyebutkan

Lebih terperinci

2015 MANFAAT PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENUMBUHAN SIKAP WIRAUSAHA SISWA SMAN 1 CIMAHI

2015 MANFAAT PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENUMBUHAN SIKAP WIRAUSAHA SISWA SMAN 1 CIMAHI 1 BAB I PENDAHULUAN Bab I pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah mengenai pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dalam penumbuhan sikap wirausaha siswa yang akan diteliti, rumusan masalah,

Lebih terperinci

2015 MANFAAT HASIL BELAJAR MENYEDIAKAN LAYANAN ROOM SERVICE PADA KESIAPAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI SMK ICB CINTA WISATA

2015 MANFAAT HASIL BELAJAR MENYEDIAKAN LAYANAN ROOM SERVICE PADA KESIAPAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI SMK ICB CINTA WISATA 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui pendidikan yang baik sebuah Negara dapat berkembang

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI DUKUH SEPAT KELURAHAN SEPAT KECAMATAN MASARAN KABUPATEN SRAGEN TAHUN Eka Nurjanah ABSTRAK

GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI DUKUH SEPAT KELURAHAN SEPAT KECAMATAN MASARAN KABUPATEN SRAGEN TAHUN Eka Nurjanah ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI DUKUH SEPAT KELURAHAN SEPAT KECAMATAN MASARAN KABUPATEN SRAGEN TAHUN 211 Eka Nurjanah ABSTRAK Rumah sehat adalah sebuah rumah dekat dengan air bersih,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan survei. Menurut Tika (2005: 4) metode deskriptif adalah penelitian yang lebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang mana didalamnya terdapat pembelajaran tentang tingkah laku, norma

I. PENDAHULUAN. yang mana didalamnya terdapat pembelajaran tentang tingkah laku, norma 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran yang menjadikan seseorang mengerti atas suatu hal yang mana sebelumnya seseorang tersebut belum mengerti. Pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

2015 EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK JOHARI WINDOW UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DIRI

2015 EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK JOHARI WINDOW UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN DIRI BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan menjelaskan beberapa hal penting sebagai dasar dalam penelitian. Bab ini membahas latar belakang mengenai topik atau isu yang diangkat dalam penelitian, rumusan masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan individu dan perkembangan masyarakat, selain itu pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan individu dan perkembangan masyarakat, selain itu pendidikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan proses yang sangat menentukan untuk perkembangan individu dan perkembangan masyarakat, selain itu pendidikan merupakan salah satu pilar utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membahas masalah pendidikan tidak dapat terlepas dari pengertian pendidikan secara umum. Pendidikan memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Pendidikan pada

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Oleh : Sri Handayani NIM K

Oleh : Sri Handayani NIM K Hubungan antara lingkungan belajar dan persepsi siswa tentang jurusan yang diminati dengan prestasi belajar siswa kelas X S M A N e g e r i 3 S u k o h a r j o tahun ajaran 2005/2006 Oleh : Sri Handayani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ini ikut menuntut kemajuan dalam segala sektor. Hal ini terlihat dengan adanya persaingan

Lebih terperinci

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Sosialisasi KTSP DASAR & FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN MUATAN LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMP NEGERI 6 SEMARANG

LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMP NEGERI 6 SEMARANG LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMP NEGERI 6 SEMARANG Disusun oleh : Nama : Yermia Yuda Prayitno NIM : 4201409025 Program studi : Pendidikan Fisika FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Penyelenggaraan pendidikan di Negara Indonesia merupakan suatu sistem

I. PENDAHULUAN. Penyelenggaraan pendidikan di Negara Indonesia merupakan suatu sistem 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belekang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Negara Indonesia merupakan suatu sistem Pendidikan Nasional serta pendidikan yang mutlak yang diatur secara tersistem dan terencana.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan serta memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Pendidikan merupakan

I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Pendidikan merupakan I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu yang dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menciptakan manusia

Lebih terperinci

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KE JENJANG SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KECAMATAN BERBAH SLEMAN YOGYAKARTA

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KE JENJANG SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KECAMATAN BERBAH SLEMAN YOGYAKARTA FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KE JENJANG SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KECAMATAN BERBAH SLEMAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab. I, pasal 1:

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab. I, pasal 1: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia karena dalam kehidupannya manusia senantiasa berada dalam proses belajar. Menurut Winkel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa faktor penyebab pertumbuhannya adalah memiliki fasilitas kota

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa faktor penyebab pertumbuhannya adalah memiliki fasilitas kota 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada saat ini penduduk Kota Bandung berkembang semakin pesat. Beberapa faktor penyebab pertumbuhannya adalah memiliki fasilitas kota yang relatif lengkap sehingga

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh Joko Mardiyanto NIM

SKRIPSI. Oleh Joko Mardiyanto NIM i KONTRIBUSI PROGRAM PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP TERHADAP PENINGKATAN LIFESKILL PADA WARGA BELAJAR LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN SANDANG JAYA DI KECAMATAN BANGIL KABUPATEN PASURUAN SKRIPSI Oleh Joko Mardiyanto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena pendidikan adalah upaya manusia untuk memperluas dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam

Lebih terperinci

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar RUMAH SEHAT Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar Pengertian Rumah Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dilahirkan dengan dibekali potensi yang luar biasa oleh Sang Pencipta, baik aspek-aspek yang berkaitan dengan jasmaniah maupun rohaniah. Kenyataannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan kewajiban bagi seluruh. pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan kewajiban bagi seluruh. pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting untuk mempersiapkan kesuksesan dimasa depan. Pendidikan bisa diraih dengan berbagai cara salah satunya

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH. Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Tahun 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG. Katalog BPS nomor :

STATISTIK DAERAH. Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Tahun 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG. Katalog BPS nomor : Katalog BPS nomor : 9213.3273.240 RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG KECAMATAN SUKAJADI MAJU STATISTIK DAERAH Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Tahun 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG STATISTIK DAERAH KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ibu adalah sosok yang penuh pengertian, mengerti akan apa-apa yang ada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ibu adalah sosok yang penuh pengertian, mengerti akan apa-apa yang ada BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Formal Ibu 1. Pengertian Ibu Ibu adalah sosok yang penuh pengertian, mengerti akan apa-apa yang ada pada diri anaknya dalam hal mengasuh, membimbing dan mengawasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang sangat 1 A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan nasional di era globalisasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional di Indonesia adalah pembangunan yang dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional di Indonesia adalah pembangunan yang dilaksanakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional di Indonesia adalah pembangunan yang dilaksanakan secara merata diseluruh tanah air dan ditujukan bukan hanya untuk satu golongan, atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang bersikap rasional, teliti, kreatif, peka terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Angga Triadi Efendi, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Angga Triadi Efendi, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah Menengah Kejururuan (SMK) merupakan salah satu jenjang sekolah lanjutan formal setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA).

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. individu. Pendidikan merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

I. PENDAHULUAN. individu. Pendidikan merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan kemajuan manusia. Pendidikan berfungsi menyiapkan generasi yang terdidik, mandiri dan memiliki keterampilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat diera

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat diera BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat diera globalisasi, memerlukan pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara dan penyiapan tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mundurnya suatu bangsa. Serta membantu perkembangan dan kelangsungan

BAB I PENDAHULUAN. mundurnya suatu bangsa. Serta membantu perkembangan dan kelangsungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Serta membantu perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari segi intelektual maupun kemampuan dari segi spiritual. Dari segi

BAB I PENDAHULUAN. dari segi intelektual maupun kemampuan dari segi spiritual. Dari segi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap Manusia diharapkan memiliki kemampuan, baik kemampuan dari segi intelektual maupun kemampuan dari segi spiritual. Dari segi intelektual manusia dituntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan sebagai tempat penelitin sehingga perlu utuk diadakannya penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan sebagai tempat penelitin sehingga perlu utuk diadakannya penelitian BAB I PENDAHULUAN Pada bab I pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah dalam penelitian ini akan menjabarkan permasalahan yang terjadi ditempat yang akan dijadikan sebagai tempat penelitin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Asyarullah Saefudin, 2014

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Asyarullah Saefudin, 2014 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya, SDM mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan bangsa

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL ORANG TUA DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL ORANG TUA DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL ORANG TUA DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP Yunia Trias Kristiawati, Budiyono, Riawan Yudi Purwoko Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO THE ANALYSIS OF PUBLIC SERVICE PERFORMANCE IN THE MAKING OF RESIDENCE IDENTIFICATION

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Pendidikan merupakan wahana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Banyak cara yang telah dilakukan oleh Indonesia untuk menyelesaikan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Banyak cara yang telah dilakukan oleh Indonesia untuk menyelesaikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitan Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang saat ini masih dialami oleh negara-negara berkembang yang ada di dunia, termasuk negara Indonesia. Banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan dalam bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan dalam bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang membangun. Pembangunan dalam bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan. kepribadian manusia melalui pemberian pengetahuan, pengajaran

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan. kepribadian manusia melalui pemberian pengetahuan, pengajaran BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan kepribadian manusia melalui pemberian pengetahuan, pengajaran sebagai bekal untuk masa depan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk membentuk manusia yang baik dan berbudi luhur menurut cita-cita dan

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk membentuk manusia yang baik dan berbudi luhur menurut cita-cita dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan suatu bangsa. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia, yang bertujuan untuk membentuk manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB II KETENTUAN UMUM BAB III DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN BAB IV PRINSIP PENYELENGGARAAN PEND KEB BAB V PESERTA DIDIK BAB VI JALUR DAN

BAB I PENDAHULUAN BAB II KETENTUAN UMUM BAB III DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN BAB IV PRINSIP PENYELENGGARAAN PEND KEB BAB V PESERTA DIDIK BAB VI JALUR DAN TIM POKJA BAB I PENDAHULUAN BAB II KETENTUAN UMUM BAB III DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN BAB IV PRINSIP PENYELENGGARAAN PEND KEB BAB V PESERTA DIDIK BAB VI JALUR DAN JENJANG PENDIDIKAN BAB VII STANDAR NASIONAL

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Permukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan

I. PENDAHULUAN. Permukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Permukiman dapat diartikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia sebagai negara berkembang dalam pembangunannya membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia Indonesia yang pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu aspek utama suksesnya program

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu aspek utama suksesnya program BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu aspek utama suksesnya program pembangunan nasional, karena pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan pembangunan di

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO ANALISIS KINERJA PELAYANAN PUBLIK DALAM PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK PADA KANTOR KECAMATAN MARON KABUPATEN PROBOLINGGO THE ANALYSIS OF PUBLIC SERVICE PERFORMANCE IN THE MAKING OF RESIDENCE IDENTIFICATION

Lebih terperinci

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI DALAM PEMBELAJARAN PADA SISWA SMA NEGERI 1 BOYOLALI SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat indonesia. Pembangunan yang dimaksud disini adalah pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah mengupayakan pembangunan nasional di berbagai bidang, salah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah mengupayakan pembangunan nasional di berbagai bidang, salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah mengupayakan pembangunan nasional di berbagai bidang, salah satunya di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang

Lebih terperinci

PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SIKAP KEWIRAUSAHAAN

PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SIKAP KEWIRAUSAHAAN PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SIKAP KEWIRAUSAHAAN (Studi Kasus pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Konsentrasi Bisnis FKIP Universitas Jember Angkatan Tahun 2008) SKRIPSI Oleh:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat ditingkatkan melalui bidang pendidikan. Pendidikan berfungsi untuk mewujudkan, mengembangkan

Lebih terperinci

PENGARUH MINAT BELAJAR DAN LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA. KELAS VIII MTs MUHAMMADIYAH WARU TAHUN AJARAN 2013/2014

PENGARUH MINAT BELAJAR DAN LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA. KELAS VIII MTs MUHAMMADIYAH WARU TAHUN AJARAN 2013/2014 PENGARUH MINAT BELAJAR DAN LINGKUNGAN SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII MTs MUHAMMADIYAH WARU TAHUN AJARAN 2013/2014 JURNAL PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah yang luas dan komplek, Indonesia harus bisa menentukan prioritas atau pilihan pembangunan

Lebih terperinci

KURNIA ERJUNI EKO CAHYU NIM

KURNIA ERJUNI EKO CAHYU NIM HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK DENGAN MODALITAS KEMANDIRIAN DAN SIKAP SOSIAL ANAK DI DESA PETUNG KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2011 SKRIPSI Oleh KURNIA ERJUNI EKO CAHYU

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO NOMOR 4 TAHUN 2010 T E N T A N G PENDIDIKAN AL QUR AN

LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO NOMOR 4 TAHUN 2010 T E N T A N G PENDIDIKAN AL QUR AN LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO NOMOR 4 TAHUN 2010 T E N T A N G PENDIDIKAN AL QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SAWAHLUNTO, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya pembangunan nasional suatu negara, sebab pendidikan merupakan tonggak dalam majunya suatu negara. Peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengarahkan pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM)

BAB I PENDAHULUAN. mengarahkan pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diharapkan mampu memberikan sumbangan besar dalam mengarahkan pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif, terampil dan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN AKTIVITAS BELAJAR EKONOMI MELALUI METODE PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 TERAS TAHUN AJARAN 2009/2010

PENGEMBANGAN AKTIVITAS BELAJAR EKONOMI MELALUI METODE PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 TERAS TAHUN AJARAN 2009/2010 PENGEMBANGAN AKTIVITAS BELAJAR EKONOMI MELALUI METODE PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 TERAS TAHUN AJARAN 2009/2010 Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan dan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dari

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan dan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap negara atau bangsa selalu menyelenggarakan pendidikan demi citacita nasional bangsa yang bersangkutan. Pendididikan sangat penting dalam kehidupan dan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian 38 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian observasional, karena di dalam penelitian ini dilakukan observasi berupa pengamatan, wawancara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi. kesehatan lingkungan. (Munif Arifin, 2009)

BAB I PENDAHULUAN. mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi. kesehatan lingkungan. (Munif Arifin, 2009) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang pokok dan sangat penting didapat oleh setiap orang. Dengan pendidikan tersebut manusia selalu berproses menuju ke arah yang

Lebih terperinci

PENGARUH KETAATAN BERIBADAH SISWA TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA KELAS VIII DI SMP NU 07 BRANGSONG KENDAL SKRIPSI

PENGARUH KETAATAN BERIBADAH SISWA TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA KELAS VIII DI SMP NU 07 BRANGSONG KENDAL SKRIPSI PENGARUH KETAATAN BERIBADAH SISWA TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA KELAS VIII DI SMP NU 07 BRANGSONG KENDAL SKRIPSI Disusun guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat Guna memperoleh gelar Sarjana Strata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya,

Lebih terperinci

JURNAL PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Akuntansi.

JURNAL PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Akuntansi. PENGARUH KREATIVITAS BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI PADA SISWA KELAS XI IPS SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 GIRIMARTO TAHUN AJARAN 2013/2014 JURNAL PUBLIKASI Diajukan Untuk

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh. Gelar Sarjana Strata-1. Program Studi Pendidikan Akuntansi

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh. Gelar Sarjana Strata-1. Program Studi Pendidikan Akuntansi 0 PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG PROPORSI WAKTU BELAJAR DAN MINAT BACA TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 14 PURWOREJO TAHUN AJARAN 2009/2010 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR KAJIAN FILOSOFIS DAN TEORITIS TENTANG PEMBELAJARAN BERBASIS HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA INDONESIA Oleh: Dr. Drs. H. Maisondra, S.H, M.H, M.Pd, Dipl.Ed Staf Sekretariat Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan tujuan pendidikan secara umum. peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan tujuan pendidikan secara umum. peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal penting untuk mewujudkan kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan yang bermutu, akan diperoleh Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 16 BAB II LANDASAN TEORI 1. Permukiman A. Tinjauan Pustaka Secara formal, definisi permukiman di Indonesia tertulis dalam UU No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Dalam dokumen tersebut,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional diatur dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun

I. PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional diatur dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem Pendidikan Nasional diatur dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 yang menjelaskan tentang dasar, fungsi dan tujuan sisdiknas yaitu sebagai berikut: Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dan

BAB I PENDAHULUAN. membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dan 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak menuntut seseorang untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dan mempertahankan diri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi berkembangnya sebuah negara dan menunjang program pembangunan nasional. Sebuah negara dapat berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lainnya. Nelayan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan

BAB I PENDAHULUAN. lainnya. Nelayan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya sebagian besar bersumber dari aktivitas menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut lainnya.

Lebih terperinci