APLIKASI PERLAKUAN BENIH UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN PATOLOGIS BENIH PADI HANA NABILAH ROSALINA A

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "APLIKASI PERLAKUAN BENIH UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN PATOLOGIS BENIH PADI HANA NABILAH ROSALINA A"

Transkripsi

1 APLIKASI PERLAKUAN BENIH UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN PATOLOGIS BENIH PADI HANA NABILAH ROSALINA A DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2016

2

3 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Aplikasi Perlakuan Benih untuk Meningkatkan Mutu Fisiologis dan Patologis Benih Padi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Oktober 2016 HANA NABILAH ROSALINA NIM A

4 ABSTRAK HANA NABILAH ROSALINA. Aplikasi Perlakuan Benih untuk Meningkatkan Mutu Fisiologis dan Patologis Benih Padi. Dibimbing oleh CANDRA BUDIMAN Pengujian mutu benih sangat penting untuk memberikan informasi mengenai kualitas benih yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan pertanaman di lapang. Perlakuan invigorasi efektif digunakan sebagai perlakuan benih untuk meningkatkan mutu fisiologis. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan viabilitas benih dan mereduksi tingkat infeksi patogen akibat cendawan dan bakteri. Benih yang digunakan adalah varietas IPB 3S dan IPB 4S yang di dapatkan dari Sawah Baru, Babakan Dramaga, Bogor dan Inpari 19 dan Ciherang dari Balai Besar Penelitian Padi Muara, Bogor. Penelitian di lakukan di Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan Benih dan Laboratorium Pengujian dan Penyimpanan Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilaksanakan bulan Desember Juni Rancangan yang digunakan petak terbagi rancangan kelompok lengkap teracak dengan empat ulangan sebagai kelompok. Perlakuan matriconditioning yang diintegrasikan dengan Streptomycin sulfat 0,2% merupakan perlakuan terbaik dalam memperbaiki viabilitas dan vigor benih selain itu mampu mereduksi tingkat infeksi patogen oleh cendawan dan bakteri pada varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Kata kunci : bakteri, cendawan, matriconditioning, viabilitas, vigor

5 ABSTRACT HANA NABILAH ROSALINA. Seed Treatment Application to Improve Quality of Physiological and Pathological Rice Seed. Supervised by CANDRA BUDIMAN Seed quality tested was important to give an information quality of the seeds, that will determine the success of crop in the field. Seed invigoration was effective as seed treatment to increase physiologycal quality. The purpose of this research is to improve viability of the seed and reducing level of pathogenic infections caused fungi and bacteria.the research used seed varieties IPB 3S and 4S from Sawah Baru, Dramaga Babakan,Bogor, Inpari 19 and Ciherang from Muara Research Center of Rice, Bogor. The experiment was conducted at Physiology and Seed Health Laboratory and Seed Storage and Seed Quality Testing Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, IPB in December June 2016 with a split plot of randomized complete block design with four replications. The result showed that integrated matriconditioning with Streptomycin sulfat 0,2% is the best treatment to improve viability and vigor of seeds, and it also able to reduced level phatogenic infection to varieties Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, and IPB 4S. Keywords: bacteria, fungi, matriconditioning, viability, vigor

6 APLIKASI PERLAKUAN BENIH UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN PATOLOGIS BENIH PADI HANA NABILAH ROSALINA Skripsi sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Agronomi dan Hortikultura DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2016

7

8 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta ala atas segala karunia-nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Desember 2015-Juni 2016 ini dengan judul Aplikasi Perlakuan Benih untuk Meningkatkan Mutu Fisiologis dan Patologis Benih Padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan benih padi yang terinfeksi patogen yang diintegrasikan dengan menggunakan agens hayati, bakterisida sintesis, fungisida sintesis, dan pestisida nabati melalui teknik invigorasi serta meningkatkan mutu fisiologis dan patologis benih padi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan benih, dan Laboratorium Pengujian dan Pengujian dan Penyimpanan Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: 1. Bapak Buyung Safarudin, Ibu Dewi Rodhiana, adik Arief Abyansah, dan Nasywa Safna Rizkia yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, dan doa yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, dan doa yang selalu mengiringi langkah penulis 2. Candra Budiman, S.P. M.Si selaku dosen pembimbing skripsi, atas dukungan baik moral maupun arahan yang diberikan selama membimbing penulis dalam menyelesaikan penelitian ini 3. Dr. Ir. Nurul Khumaida, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi 4. Nurul, Devi, Riri, Mira, Danti, Intan, Sulis, dan Rina yang telah mendukung dan membantu sebelum penelitian sampai menyelesaikan rangkaian penelitian ini 5. Teman-teman Agronomi dan Hortikultura angkatan 49 yang telah membantu, memberi dukungan moral dan menyelesaikan penelitian ini 6. Teman KKN-P Bendanpete, Jepara, Tri, Amin, Inez, dan Lana yang selalu mendukung dan memotivasi hingga penulis sampai menyelesaikan rangkaian penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca. Bogor, Oktober 2016 Hana Nabilah Rosalina

9 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR vii DAFTAR LAMPIRAN viii PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan 2 Hipotesis 2 TINJAUAN PUSTAKA 3 Botani Tanaman Padi 3 Mutu Benih 3 Matriconditioning 4 Patogen Terbawa Benih 5 Agens Hayati 6 Bakterisida dan Fungisida 7 METODE 8 Tempat dan Waktu Penelitian 8 Bahan dan Alat 8 Rancangan Percobaan 8 Prosedur Percobaan 9 Pengamatan Percobaan 13 Analisis Data 15 HASIL DAN PEMBAHASAN 16 Mutu Fisiologis Awal 16 Mutu Fisiologis Setelah Perlakuan 16 Mutu Patologis Setelah Perlakuan 24 KESIMPULAN DAN SARAN 27 Kesimpulan 27 Saran 27 DAFTAR PUSTAKA 28 LAMPIRAN 32 RIWAYAT HIDUP 40

10 DAFTAR TABEL 1 Mutu fisiologis benih padi sebelum perlakuan 16 2 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh perlakuan benih terhadap viabilitas 17 dan tingkat infeksi patogen 3 Pengaruh perlakuan benih terhadap daya berkecambah benih padi 18 varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 4 Pengaruh perlakuan benih terhadap indeks vigor benih padi varietas 20 Inpari19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 5 Pengaruh perlakuan benih terhadap kecepatan tumbuh benih padi 22 varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 6 Pengaruh perlakuan benih terhadap bobot kering kecambah normal 23 benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 7 Pengaruh perlakuan benih terhadap tingkat infeksi cendawan benih 25 padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 8 Pengaruh perlakuan benih padi terhadap jumlah bakteri Xoo pada varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S 26 DAFTAR GAMBAR 1 Media agar YDCA 10 2 Prosedur identifikasi Xoo 11 3 Isolat murni Bacillus subtillis 5/B 11 4 Suspensi Bacillus subtillis 5/B 11 5 Perendaman benih dengan metode priming 12 6 Perendaman benih dengan metode matriconditioning 13 7 Penampang mikroskopik cendawan 24 8 Literatur pembanding pada gambar 7 24 DAFTAR LAMPIRAN 1 Mutu fisiologis setelah perlakuan 34 2 Mutu patologis tingkat infeksi cendawan pada benih padi setelah 35 perlakuan 3 Mutu patologis jumlah bakteri Xoo pada benih padi setelah perlakuan 36 4 Deskripsi varietas Ciherang 37 5 Deskripsi varietas IPB 3S 37 6 Deskripsi varietas IPB 4S 38 7 Deskripsi varietas Inpari Karakter morfologi dan biokimia yang untuk membedakan 39 Xanthomonas

11 PENDAHULUAN Latar Belakang Padi (Oryza sativa) merupakan komoditas tanaman pangan utama di Indonesia. BPS (2015) menjelaskan bahwa produksi nasional padi tahun mengalami peningakat, produksi nasional padi pada tahun 2015 mencapai 75 juta ton. Produksi padi harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional serta kualitas benih juga harus di perhatikan. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi padi salah satu faktornya adalah penggunaan benih bermutu tinggi. Mutu benih yang terdiri atas: 1) mutu genetis, menjabarkan sifat unggul yang diwariskan oleh tanaman induk; 2) mutu fisik yaitu struktur morfologis, ukuran, berat, dan penampakan benih; 3) mutu fisologis meliputi viabilitas dan vigor benih; dan 4) mutu patologis yang ditujukan oleh keberadaan infeksi penyakit terbawa benih (seed borne) atau kesehatan benih (seed health) (Ilyas, 2012). Keempat aspek ini merupakan satu kesatuan untuk menentukan apakah benih tersebut bermutu dan layak ditanam di lapang atau tidak. Kesehatan benih berhubungan dengan mutu patologis. Kesehatan benih ditandai dengan ada atau tidaknya suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (cendawan, bakteri, dan virus), penyakit yang disebabkan oleh hewan (nematoda dan serangga) dan kondisi fisiologis seperti kekurangan unsur mikro. Keberadaan patogen yang terbawa oleh benih akan memberikan dampak yang meluas terhadap pertanaman di lapang dan mengakibatkan epidemi penyakit, karena benih dapat menjadi sumber penyebaran patogen (ISTA, 2014). Cendawan merupakan kelompok mikroorganisme yang paling banyak diketahui menginfeksi dan menginfestasi benih dibandingkan virus, bakteri maupun nematoda. Cendawan patogenik yang terbawa benih menimbulkan penyakit pada tanaman dari benih, cendawan juga menjadi sumber infeksi untuk tanaman lain yang sehat (Ou, 1985). Beberapa cendawan yang banyak menginfeksi benih padi antara lain Alternaria padwickii, Fusarium moniliforme, Drechslera oryzae, Aspergillus sp., dan Curvularia (Fiana, 2010). Alternaria padwickii merupakan salah satu cendawan terbawa benih yang di laporkan paling banyak menginfeksi benih padi sebesar 75% (Neergaard, 1977). Bakteri merupakan salah satu patogen terbawa benih selain cendawan. Bakteri yang dapat menginfeksi benih antara lain Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Xanthomonas campestris pv. oryzicola, Pseudomonas avenae, dan Acidovorax avenae pv. oryzae (Yukti, 2009). Bakteri seed borne dapat menimbulkan penyakit di lapang. Penyakit yang banyak menyerang tanaman padi di lapang adalah hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Ilyas et al., 2007). Sulistiani (2009) menunjukkan bahwa kerugian yang disebabkan oleh bakteri tersebut berkisar antara 20-30%. Kerugian yang ditimbulkan bergantung dari varietas yang akan ditanam dan musim tanam. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri X. oryzae pv. oryzae (Xoo) bersifat seed borne. Bakteri Xoo ini dapat terbawa benih dan bertahan dalam waktu yang cukup lama. Salah satu alternatif pengendalian penyakit terbawa benih adalah dilakukan dengan perlakuan benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan pestisida sintesis, nabati, dan agens hayati. Perlakuan benih yang mampu

12 2 memperbaiki viabilitas dan vigor benih melalui teknik invigorasi. Invigorasi benih adalah perbaikan fisiologis dan biokimiawi yang berhubungan dengan kecepatan, keserempakan berkecambah, perbaikan, serta peningkatan kemampuan berkecambah benih. Salah satu perlakuan invigorasi yaitu matriconditioning dan priming. Perlakuan invigorasi pada tanaman padi bertujuan untuk meningkatkan viabilitas dan vigor, namun menurut Ilyas et al. (2008) perlakuan matriconditioning plus minyak serai wangi 1% pada benih varietas IR 64 dan Ciherang mampu meningkatkan mutu fisiologis dan mampu menurunkan tingkat infeksi Xoo. Agustiansyah et al. (2011) juga melaporkan bahwa perendaman benih padi dalam suspensi Bacillus subtillis, maupun dalam suspensi Pseudomonas diminuta, serta perlakuan matriconditioning yang dikombinasikan dengan Bacillus subtillis atau Pseudomonas diminuta. mampu menekan pertumbuhan Xoo pada benih padi varietas Ciherang yang diuji. Varietas yang digunakan pada penelitian adalah Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Keempat varietas ini merupakan tipe varietas padi sawah yang saat ini ditanam. Varietas Inpari 19 merupakan varietas unggul baru yang ditanam di Balai Besar Penelitian Padi Muara, Bogor; varietas Ciherang merupakan padi sawah yang secara umum masyarakat menanam varietas tersebut; dan varietas IPB 3S dan IPB 4S merupakan varietas unggul baru hasil pemuliaan dosen IPB. Keempat varietas ini diuji untuk melihat kondisi mutu viabilitas dan status kesehatan benih. Benih yang mengalami kemunduran atau benih teridentifikasi terbawa patogen, melalui metode invigorasi merupakan solusi dan peluang yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan mutu fisiologis, serta invigorasi yang diintegrasikan dengan berbagai perlakuan baik penggunaan pestisida sintetik, nabati, atau agens hayati pada benih padi diharapkan mampu memperbaiki mutu kesehatan benih. Informasi mengenai status mutu benih padi sangat dibutuhkan. Peningkatan mutu benih diharapkan pertumbuhan tanaman dan hasil padi di lapang dapat meningkat. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui pengaruh perlakuan benih padi yang terinfeksi patogen yang diintegrasikan dengan menggunakan agens hayati, pestisida sintesis, dan pestisida nabati melalui teknik invigorasi. 2. Meningkatkan mutu fisiologis dan patologis benih padi. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh aplikasi perlakuan benih terhadap mutu fisiologis dan patologis. 2. Terdapat interaksi antara perlakuan benih dengan empat varietas benih padi terhadap peningkatan mutu benih padi. 3. Penggunaan matriconditioning yang di kombinasikan dengan agens hayati mampu mengendalikan patogen yang terbawa oleh benih padi untuk

13 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Padi Tanaman padi berdasarkan taksonominya diklasifikasikan ke dalam divisi Spermatophytae dengan subdivisio Angiospermae, digolongkan ke dalam kelas Monocotyledonae, termasuk ordo Poales dengan famili Graminae serta genus Oryza dan dengan nama spesies Oryza sativa L. (Grist, 1959). Pertumbuhan tanaman padi dibagi menjadi tiga fase pertumbuhan, yaitu: fase vegetatif mulai dari awal pertumbuhan sampai pembentukan bakal malai atau primordia, fase reproduktif mulai pembentukan primordia sampai pembungaan, dan fase pematangan malai mulai dari pembungaan sampai gabah matang (Makarim dan Suhartatik, 2009). Fase vegetatif merupakan fase pertumbuhan organ-organ vegetatif, seperti pertambahan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah bobot, dan luas daun. Fase reproduktif ditandai dengan munculnya ruas teratas batang tanaman, berkurangnya jumlah anakan atau matinya anakan tidak produktif, munculnya daun bendera, bunting, dan pembungaan. Fase pematangan diawali dengan gabah yang mulai terisi dengan cairan kental berwarna putih susu yang disebut dengan gabah matang susu, gabah setengah matang ditandai dengan isi gabah yang menyerupai susu berubah menjadi gumpalan lunak dan akhirnya mengeras, dan gabah matang penuh (Makarim dan Suhartatik, 2009). Mutu Benih Penggunaan benih bermutu tinggi merupakan salah satu syarat penting dalam proses budidaya tanaman agar dapat berproduksi yang menguntungkan secara ekonomis. Penggunaan benih bermutu diharapakan dapat meningkatkan produksi persatuan luas, mendapatkan keseragaman pertanaman dan produk yang dihasilkan, serta dapat mengurangi hama dan penyakit. Penggunaan benih bermutu rendah akan menghasilkan presentase pemunculan bibit yang rendah, bibit yang kurang toleran terhadap cekaman abiotik, sensitif terhadap penyakit tanaman dan dapat menjadi sumber inokulum bagi penyakit terbawa benih (Ilyas, 2012). Pengujian terhadap mutu benih sangat penting untuk memberikan informasi mengenai kualitas benih yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan pertanaman dilapang. Kriteria mutu benih meliputi empat aspek terdiri atas: 1) mutu genetis yang menjelaskan mengenai sifat unggul yang diwariskan oleh tanaman induk dan dicirikan dengan tingkat kemurnian; 2) mutu fisik meliputi struktur morfologis, ukuran, berat, dan penampakan benih; 3) mutu fisologis meliputi viabilitas dan vigor benih; serta 4) mutu patologis yang ditujukan oleh keberadaan infeksi penyakit terbawa benih (seed borne) atau kesehatan benih (seed health) (Ilyas, 2012). Mutu fisiologis benih berkaitan dengan aktivitas perkecambahan benih yang didalamnya terdapat aktivitas enzim, reaksi-reaksi biokimia serta respirasi benih. Benih pada beberapa varietas jagung mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda. Ukuran biji mempunyai korelasi positif dengan berat biji maupun vigornya. Berat

14 4 biji menunjukkan jumlah cadangan makanan, protein, aktivitas mitokondria, kecepatan atau kemampuan produksi ATP dan growth potential (Rahmawati dan Saenong 2010). Selain mutu fisiologis benih, pengujian terhadap mutu patologis atau kesehatan benih juga memiliki arti yang sangat penting. Mutu patologis benih yang rendah ditandai dengan adanya patogen terbawa benih dapat merugikan pada hampir semua tahap pertumbuhan. Dampak yang dapat diakibatkan oleh patogen terbawa benih antara lain adalah benih mengalami penurunan vigor dan viabilitas, peningkatan kematian bibit atau tanaman muda, penurunan hasil, peningkatan perkembangan penyakit di lapangan, munculnya peluang terjadinya ledakan penyakit di daerah baru, serta toksik yang dihasilkan patogen terbawa benih akan menyebabkan perubahan komponen biokimia dari benih tersebut (Agarwal dan Sinclair 1996). Invigorasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk meningkatkan vigor benih yang telah mengalami deteriorasi atau kemunduran. Selama invigorasi terjadi. Peningkatan kecepatan dan keserempakan perkecambahan, serta mengurangi tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. invigorasi banyak dilakukan sebagai perlakuan pratanam. Invigorasi dimulai saat benih berhidrasi secara terkontrol pada medium imbibisi yang berpotensial air rendah (Ilyas 2012). Penyerapan air terkontrol terdiri dari dua macam yaitu osmoconditioning atau priming dan matriconditioning. Priming merupakan hidrasi benih terkontrol dengan larutan berpotensi osmotik rendah dan potensial matriknya dapat diabaikan (Khan et al., 1990). Widajati et al. (2013) b menjelaskan bahwa perlakuan priming dapat mencegah penurunan daya simpan benih, selain itu benih dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit pada beberapa tanaman. Gardner et al. (1991) menjelaskan Priming dapat menyebabkan terjadinya penguatan membran plasma, meningkatkan perkecambahan, kekuatan semai, dan memperkecil kehilangan elektrolit. Matriconditioning Perlakuan benih sebelum tanam merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan viabilitas dan vigor benih dengan memperbaiki perkecambahan benih. Khan et al. (1990) menjelaskan banyak cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki perkecambahan benih melalui metode matriconditioning dan hydropriming. Perlakuan benih yang terbukti efektif dan paling mudah dilakukan melalui teknik matriconditioning. Matriconditioning merupakan perlakuan invigorasi benih yang telah terbukti efektif. Khan et al. (1990) menjelaskan bahwa matriconditioning adalah perlakuan hidrasi benih terkontrol dengan media padat lembab yang menggunakan potensial matriks dalam proses imbibisi air ke benih untuk memperbaiki pertumbuhan bibit. Matriconditioning dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan dalam benih melalui proses metabolisme yang terkendali. Media yang digunakan untuk matriconditioning harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) memiliki potensial matriks yang rendah, 2) Tidak larut dalam air dan dapat utuh selama matriconditioning, 3) kapasitas daya pegang air yang cukup tinggi, 4) memiliki permukaan yang cukup luas, 5) merupakan bahan inert

15 5 yang tidak beracun terhadap benih, dan 6) mampu menempel pada permukaan benih (Khan et al., 1990). Matriconditioning berhasil memperbaiki viabilitas dan vigor benih kacangkacangan dan sayur-sayuran, selain itu matriconditioning mampu menurunkan waktu perkecambahan dan meningkatkan daya berkecambah benih, serta meningkatkan kemampuan tumbuh dan produksi di lapangan (Khan et al., 1990). Ilyas et al. (2007) menjelaskan juga bahwa metode matriconditioning dapat meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi. Perlakuan peningkatan mutu seperti matriconditioning dapat diintegrasikan dengan hormon untuk meningkatkan perkecambahan. Selain itu, bisa juga dengan pestisida, biopestisida, dan mikroba yang menguntungkan untuk melawan penyakit benih dan bibit selama awal penanamaan, atau memperbaiki status hara, pertumbuhan, dan hasil tanaman (Ilyas, 2012). Perlakuan matriconditioning menggunakan arang sekam plus inokulan Bradyrhizobium japonicum dan Azospirillum lipoferum selama 12 jam pada suhu kamar terbukti dapat meningkatkan mutu benih dan pertumbuhan tanaman kedelai. Sifat efektif tersebut ditandai dengan nilai daya hantar listrik yang rendah dan meningkatnya persentase daya berkecambah. Ilyas dan Sopian (2013) menyebutkan pengujian dengan metode matriconditioning pada kacang bambara terhadap peubah kecepatan tumbuh relatif, indeks vigor, bobot kering akar, dan bobot kering tajuk memiliki hasil yang baik dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan invigorasi benih lainnya. Perlakuan matriconditioning plus agens hayati yaitu Bacillus subtilis dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan menurunkan jumlah koloni X. oryzae pv. oryzae dan menurunkan persentase infeksi Alternaria padwickii pada benih padi, selain itu perlakuan matriconditioning yang diintegrasikan dengan bakterisida sintesis mampu meningkatkan berat gabah bernas (Ilyas et al, 2008). Patogen Terbawa Benih Keberadaan patogen terbawa benih padi akan memberikan dampak meluas terhadap pertanaman di lapang bahkan mengakibatkan epidemi penyakit karena benih merupakan sumber penyebaran patogen. Akibatnya akan berpengaruh negatif terhadap mutu dan hasil tanaman (Ilyas et al., 2008). Telah banyak diketahui macam jasad renik yang dapat bersifat patogenik. Penyakit yang ditimbulkan dapat terjadi pada benih, kecambah, tanaman muda maupun tanaman yang telah dewasa. Patogen terbawa benih tersebut selain dapat menimbulkan penyakit pada tanaman itu sendiri, juga dapat menjadi sumber infeksi untuk tanaman sehat yang lain (Kuswanto, 1997). Semua jenis patogen tanaman seperti cendawan, bakteri, virus, dan nematoda dapat terbawa benih. Patogen yang paling banyak ditemui pada benih adalah patogen dari golongan cendawan. Menurut Kuswanto (1997) patogen yang menginfeksi benih dapat didefinisikan yaitu, (1) seedborne diseases ialah inokulum yang terdapat pada benih dan ditularkan oleh tanaman induk, (2) seed transmitted diseases ialah inokulum yang terdapat pada benih dan ditularkan ke tanaman lain di lahan, (3) seed contamination diseases ialah inokulum yang terdapat pada benih yang bukan berasal dari tanaman induk.

16 6 Cendawan merupakan kelompok mikroorganisme yang paling banyak diketahui menginfeksi dan menginfestasi benih dibandingkan virus, bakteri maupun nematoda. Cendawan patogenik yang terbawa benih menimbulkan penyakit pada tanaman dari benih, cendawan juga menjadi sumber infeksi untuk tanaman lain yang sehat (Ou, 1985). Beberapa cendawan yang banyak menginfeksi benih padi antara lain Alternaria padwickii, Fusarium moniliforme, Drechslera oryzae, Aspergillus sp., dan Curvularia (Fiana, 2010). Alternaria padwickii merupakan salah satu cendawan terbawa benih yang di laporkan paling banyak menginfeksi benih padi sebesar 75% (Neergaard, 1977). Bakteri merupakan salah satu patogen terbawa benih selain cendawan. Bakteri yang dapat menginfeksi benih antara lain Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Xanthomonas campestris pv. oryzicola, Pseudomonas avenae, dan acidovorax avenae pv. oryzae (Yukti, 2009). Bakteri seed borne dapat menimbulkan penyakit di lapang. Penyakit yang banyak menyerang tanaman padi di lapang adalah hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Ilyas et al., 2007). Sulistiani (2009) menunjukkan bahwa kerugian yang disebabkan oleh bakteri tersebut berkisar antara 20-30%. Kerugian yang ditimbulkan bergantung dari varietas yang akan ditanam dan musim tanam. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri X. oryzae pv. oryzae (Xoo) bersifat seed borne. Bakteri Xoo ini dapat terbawa benih dan bertahan dalam waktu yang cukup lama. Suryanarayana (1978) menjelaskan bakteri Xoo menginfeksi tanaman melalui hidatoda maupun stomata daun. Bakteri ini berkembangbiak di sistem vaskular, bermultiplikasi, kemudian dikeluarkan kembali melalui hidatoda. Penyebaran bakteri tersebut secara sistemik pada seluruh tanaman dengan penampakan melalui daun. Gejala pada tanaman muda disebut gejala kresek dan gejala yang ditimbulkan pada tanaman dewasa disebut hawar (IRRI, 2008). Keberadaan Xoo pada sampel benih padi asal Sukamandi, Jawa barat, menunjukkan bahwa presentase benih padi varietas Ciherang dan IR-64 serangan dilapang jauh lebih tinggi dibandingkan dari hasil isolasi. Bakteri tersebut menempel bagian kulit benih padi. Benih varietas IR-64 merupakan varietas dengan presentasi serangan tertinggi dengan tingkat keparahan sebesar 90,5%, sedangkan untuk varietas ciherang termasuk varietas yang tergolong resisten dengan tingkat keparahan 89,9% (Ilyas et al., 2008). Agens Hayati Pengendalian hayati merupakan proses pengurangan kepadatan inokulum atau aktivitas patogen dalam menimbulkan penyakit yang berada dalam keadaan aktif maupun dorman oleh satu atau lebih organisme baik secara aktif maupun manipulasi lingkungan dan inang, dengan menggunakan agens antagonis atau dengan mengintroduksi secara massal satu atau lebih organisme anatagonis (Baker dan cook, 1974). Ilyas (2006) menjelaskan bahwa untuk melindungi benih dari patogen dapat dilakuakan dengan perlakuan benih diantaranya menggunakan pestisida sintetik, pestisida nabati, dan mikroorganisme yang memberikan pengaruh berlawanan terhadap patogen. Mikroorganisme yang mampu menekan pertumbuhan patogen

17 7 pada tanaman padi yaitu, Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas. Laporan hasil penelitian Ilyas et al. (2007) menjelaskan bahwa bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan Xoo adalah Bacillus sp. benih tersebut diuji secara in vitro. Pengendalian hayati dengan mengunakan bantuan mikroorganisme yang berasosiasi dan sinergis semakin populer, seiring dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan dan kepedulian masyarakat. Ilyas (2006) menyebutkan bahwa peningkatan pertumbuhan tanaman akan meningkatkan hasil sebagai akibat dari pengendalian jangka panjang melalui pengendalian secara biologis. Bacillus sp. merupakan kelompok bakteri yang umum ditemukan di berbagai lingkungan ekologi, baik di tanah, air, maupun udara. Bakteri ini merupakan bakteri Gram positif yang dapat membentuk endospora yang berbentuk oval di bagian sentral sel. Spora berfungsi untuk bertahan hidup antara lain pada suhu dan kondisi lingkungan yang ekstrim. Sel Bacillus spp. berbentuk batang, berukuran 0,3-2,2 x 1,2-7,0 μm dan mempunyai flagel peritrikus. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 45 C, ph 5-7, NaCl 7%, menghidrolisis pati, serta membentuk asam sitrat dari karbohidrat glukosa, manitol, dan silosa (Sonenshein et al. 2002). Bakterisida dan Fungisida Perlakuan benih yang umum digunakan adalah menyelimuti benih dengan menggunakan bahan kimia (Sigge, 1993). Bahan kimia yang digunakan seperti, bakterisida, fungisida, dan insektisida umumnya diberikan pada benih sebelum ditanam dilapang. Pengendalian dilapang dengan menggunakan bahan kimia sangat penting untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Bakterisida, fungisida, dan insektisida merupakan suatu zat yang bersifat racun, menghambat pertumbuhan, serta aktivitas lainnya yang dapat mempengaruhi OPT (IRRI, 2008). Bakterisida sintesis merupakan bakterisida kimia konsentrat buatan pabrik sehingga kemampuan penghambatannya akan selalu meningkat seiring dengan penambahan konsentrasi. Bakterisida sintesis umumnya dilarutkan dalam air. Bakterisida yang beredar di Indonesia antara lain, Agrept 20 WP yang memiliki bahan aktif streptomycin sulfat 20%, Plantomycin 7 SP (Streptomycin sulfat 7%), dan Nordox 56 WP (tembaga oksida). Agrept 20 WP dan Plantomycin 7 SP memiliki bahan aktif yang sama yaitu dengan kandungan streptomycin sulfat. Agrept lebih efektif dibandingkan Plantomycin 7SP. Kandungan streptomycin sulfat merupakan bahan aktif yang efektif dalam pengendalian penyakit yang disebabkan bakteri seperti yang disebabkan Erwinia amylovlora pada tanaman pear (Tsiantos dan Psallidas, 2002). Pengendalian OPT selain melalui penggunaan pestisida sintesis, pestisida nabati juga mampu mengendalikan penyakit di areal pertanaman. Pestisida nabati yang mampu mengendalikan Xoo adalah minyak cengkeh dan minyak serai wangi. Penggunaan minyak cengkeh atau minyak serai wangi pada benih padi dengan konsentrasi 0,5%-2% secara in vitro mampu menghambat pertumbuhan patogen terbawa benih Xoo tanpa menimbulkan toksisitas (Ilyas et al., 2007). Perlakuan minyak serai wangi pada benih padi dengan konsentrasi 1% juga dapat menghasilkan daya berkecambah, indeks vigor, dan kecepatan tumbuh yang lebih tinggi dan efektif untuk mengendalikan Xoo dibanding dengan konsentrasi lainnya (Ilyas et al., 2008).

18 8 METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Kesehatan Benih, dan Laboratorium Penyimpanan Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Juni Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas Ciherang, Inpari 19, IPB 4S, dan IPB 3S. Bakterisida sintesis yaitu Agrept 20 WP (Streptomycin sulfat 20%), pestisida nabati yaitu minyak serai wangi dan minyak cengkeh, agens hayati menggunakan Bacillus subtillis, fungisida sintesis yaitu Benlox 50 WP (Benomil 50%), media YDCA (agar, CaCO3, dextrose, yeast extract, chlorampenicol) NaOCl, aquades steril, kertas merang, kertas saring, plastik, kapas, arang sekam, aluminium foil, plastik wrap, sprirtus, plastik klip. Alat yang digunakan adalah laminar air flow cabinet, cawan petri, autoclave, gelas ukur, tabung reaksi, jarum ose, dreglaski, oven, alat pengecambah benih germinator tipe IPB 72-1, vortex, dan mikroskop. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu perlakuan benih. Terdapat 18 taraf perlakuan benih yaitu (P1) kontrol, (P2) Benomil 0,1%, (P3) Benomil 0,2%, (P4) Streptomycin sulfat 0,1%, (P5) Streptomycin sulfat 0,2%, (P6) minyak serai wangi 1%, (P7) minyak cengkeh 1%, (P8) minyak serai wangi + minyak cengkeh 1%, (P9) matriconditioning, (P10) matriconditioning + Benomil 0,1%, (P11) matriconditioning + Benomil 0,2%, (P12) matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,1%, (P13) matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2%, (P14) matriconditioning + minyak serai wangi 1%, (P15) matriconditioning + minyak cengkeh 1%, (P16) matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1%, (P17) Bacillus subtillis 5/B, (P18) matriconditioning + Bacillus subtillis 5/B. Perlakuan benih dicoba pada empat varietas yaitu Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Yi = μ + αi + εi Keterangan: Yi : nilai pengamatan pada perlakuan faktor α ke-i μ : rataan umum αi : pengaruh faktor perlakuan α taraf ke-i i : galat percobaan faktor perlakuan α taraf ke-i

19 9 Prosedur Percobaan Sumber Benih Padi Benih padi yang digunakan untuk penelitian diperoleh dari beberapa lokasi. Benih padi varietas Inpari 19 dan Ciherang berasal dari Balai Besar Tanaman Padi Muara, Bogor sedangkan benih padi varietas IPB 3S dan IPB 4S berasal dari sawah baru, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Benih disimpan dalam kemasan plastik sebelum digunakan dan ditempatkan pada ruangan dengan suhu konstan 16 C di Laboratorium Penyimpanan Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB, penyimpanan dilakukan selama 2 bulan. Benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S dan IPB 4S juga telah mengalami penyimpanan sebelumnya pada suhu kamar di gudang penyimpanan. Deskripsi masing-masing varietas disajikan pada lampiran 4 (Ciherang), lampiran 5 (IPB 3S), lampiran 6 (IPB 4S), dan lampiran 7 (Inpari 19) 1. Pengujian Mutu Fisiologis dan Patologis awal Benih 1.1 Mutu Fisiologis Uji mutu fisiologis meliputi uji viabilitas dan vigor. Uji viabilitas dan uji vigor menggunakan metode UKDdp. Benih padi ditanam sebanyak 50 benih di media kertas lembab yang dilapisi tiga lembar dan diberi penutup dua lapis lembar dan plastik untuk setiap gulungannya. Benih dikecambahkan pada alat pengecambah benih tipe IPB 72-1 dengan suhu ± 30 C, benih yang digunakan sebanyak 200 benih (empat ulangan) untuk setiap varietasnya. Peubahnya yang akan diuji terdiri atas (daya berkecambah, kecepatan tumbuh, dan bobot kering kecambah normal). Sehingga total pengujian mutu fisiologis setiap perlakuannya sebanyak 48 gulung. Penetapan kadar air dilakukan dengan metode langsung yaitu dengan penggunaan oven dengan suhu rendah. Uji kadar air dilakukan secara duplo. Bobot benih padi setiap ulangannya diuji sebanyak 4-5 gram. Waktu yang dibutuhkan selama 17 ± 1 jam untuk tanaman padi dengan suhu konstan 103 ± 2 C (ISTA, 2014). 1.2 Uji Mutu Patologis Pengujian mutu patologis meliputi identifikasi cendawan dan identifikasi bakteri (Xoo). Identifikasi cendawan terbawa benih padi dilakukan untuk mengetahui adanya cendawan yang menginfeksi benih dan persentasenya. Pengujian cendawan yang terbawa benih padi dilakukan dengan metode Blotter test yaitu 400 benih padi ditanam di cawan petri yang dilapisi tiga lembar kertas saring, setiap ulangan ditanam sebanyak 100 benih padi. Benih diinkubasi selama 7x24 jam dengan penyinaran near ultra violet (NUV), 12 jam terang dan 12 jam gelap, pada suhu kamar. Benih yang telah diinkubasi selama 24 jam, penelitian ini dilakuakan modifikasi, dengan metode mengeringkan benih pada deep freezing pada suhu -20 ± 2C selama 24 jam yang bertujuan untuk menghambat perkecambahan. Benih diinkubasi kembali 12 jam terang dan 12 jam gelap selama 5 hari pada suhu kamar. Benih kemudian diamati dibawah mikroskop stereo dan dapat diidentifikasi pada perbesaran kali (ISTA 2014).

20 10 Pengujian jumlah infeksi Xoo dilakukan dengan cara metode grinding. Pengujian tersebut sebelumnya penyiapan inokulum yang terdiri atas penyiapan media, sterilisasi alat dan isolasi. Media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri Xoo adalah menggunakan media YDCA (yeast dextrose carbonate agar). Media YDCA terdiri atas agar, CaCO3, dextrose, yeast extract, dan antibiotik chlorampenicol 250g (Gambar 1). Sterilisasi alat dilakukan dengan menggunakan mencuci alat dengan sabun pencuci, dikeringkan, kemudian seluruh alat dibungkus plastik tahan panas, disterilisasi dengan autoclave selama 15 menit pada suhu 121 C dan tekanan 1 atm. Alat yang telah di sterilisasi disimpan dalam oven pada suhu 60 C bertujuan untuk menjaganya tetap steril saat digunakan. Isolasi dilakukan pada benih sampel dengan metode grinding. Benih diambil sebanyak 400 butir, benih dicuci bersih dan direndam dengan larutan NaOCl 1% selama 1 menit, benih dibilas dengan menggunakan air steril dan di gerus halus ditambahkan air steril sebanyak (1,9 x berat 400 butir) + 50ml. Hasil ekstrasi diinkunbasi selama 2 jam pada suhu ± 5 C. Suspensi bakteri diambil dengan menggunakan pipet steril sebanyak 1 ml dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi air steril 9 ml, sehingga diperoleh dengan perbandingan suspensi baru 1:10 (10 1 ), kemudian dikocok hingga homogen menggunakan. Pengenceran yang dilakukan perbandingan 10 4 hingga Masing- masing pengenceran diulang sebanyak dua kali atau duplo. Pengenceran yang dibuat, diambil 100µl (0,1 ml) suspensi dituang pada media YDCA. Suspensi yang dituang kedalam media YDCA disebar dengan dreglaski. Prosedur Xoo pada benih padi ditampilkan pada gambar 2. Cawan petri diinkubasi dalam keadaan terbalik pada suhu C selama 2-4 hari. Jumlah koloni tumbuh pada tiap-tiap pengenceran dihitung berdasarkan karakter morfologi. Gambar 1. Media agar YDCA

21 11 a b d c Gambar 2. Prosedur identifikasi Xoo pada benih padi (a) perendaman benih dengan NaOCl 1% (b) benih yang telah di gerus menjadi suspensi (c) pengenceran bakteri , (d) Suspensi dituang pada media YDCA 2. Penyiapan Isolat Isolat agens hayati yang digunakan dalam penelitian yaitu Bacillus subtillis kode 5/B. Isolat agens hayati diperoleh dari kultur stok koleksi Laboratorium Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Isolat yang digunakan berasal dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Isolat B. subtillis 5/B disiapkan dengan cara menumbuhkan dalam media padat nutrient agar (NA) selama 48 jam. Isolat B. subtillis di perbanyak dengan mengambil isolat murni B. Subtillis 5/B dengan jarum oose dan di perbanyak dalam media padat NA dengan tujuan untuk pengujian perendaman dengan metode priming dan matriconditioning (Gambar 3). Suspensi B.subtillis diencerkan mencapai kerapatan 4.5 x 10 8 sel ml -1 (Gambar 4). Penyiapan isolat dilakukan secara aseptik di laminar air flow cabinet (Agustiansyah, 2011). Gambar 3. Isolat murni B.subtillis 5/B Gambar 4. Suspensi B.subtillis 5/B

22 12 3. Penyiapan Bakterisida dan Fungisida Bakterisida sintesis yang digunakan yaitu Agrept 20 WP, pestisida nabati minyak serai wangi dan minyak cengkeh. Fungisida sintesis yang digunakan yaitu Benlox 50WP. Konsentrasi yang digunakan untuk bakterisida sintesis dan fungisida sintesis 0,1% dan 0,2%, sedangkan untuk pestisida nabati 1%. Penggunaan pestisida nabati pada minyak serai, minyak cengkeh atau campuran minyak serai wangi dan minyak cengkeh dengan konsentrasi 1% perlu ditambahkan dengan tween 80 dengan perbandingan 1:1 yang berfungsi untuk melarutkan minyak agar tidak menggumpal dan pengadukan menggunakan vortex. 4. Perlakuan Benih 4.1 Priming Perlakuan invigorasi terdiri atas perendaman dalam air dan perlakuan (pestisida sintetik, pestisida nabati, dan agens hayati) Perbandingan benih dan larutan 1:2. Benih disimpan di suhu kamar (25-28 C). Perendaman dilakukan selama 12 jam. Perendaman dilakuakan dengan menggunakan wadah, setelah itu dikering anginkan selama 1 jam dan disimpan di ruang kamar (Widajati et al., 2013 b ). Prosedur perendaman benih dengan metode priming disajikan pada gambar 5. a b c Gambar 5. Perendaman benih padi dengan metode priming. (a) suspensi perlakuan (b) benih + suspensi perlakuan (c) benih dikeringangin 4.2 Matriconditioning Media yang digunakan untuk perlakuan matriconditioning adalah arang sekam yang diperoleh dengan mengoven arang sekam selama 1x24 jam pada suhu 105 C kemudian dihaluskan dan disaring mengunakan saringan yang lolos untuk arang sekam sebesar 0,5 mm. Perlakuan matriconditioning yang dikombinasikan dengan agens hayati, pestisida sintetik, dan pestisida nabati, sebelumnya bahan perlakuan tersebut dilarutkan dengan air steril terlebih dahulu. Perbandingan benih : bubuk arang sekam : air adalah 1,0 : 0,8 : 1,2 (Ilyas et. al., 2007). Larutan pestisida atau agens hayati tersebut ditambahkan ke bubuk arang sekam, diaduk, benih dimasukkan diaduk rata kembali. Botol kultur ditutup dengan plastik polietilen bening dan dilubangi menggunakan jarum sebanyak tiga lubang, kemudian diinkubasi selama 30 jam pada suhu C (Gambar 6). Benih dicuci dan dibersihkan dengan saringan lalu dikeringanginkan menggunakan kipas angin selama 1 jam. Benih setelah dikering anginkan, benih bisa langsung dilakukan pengujian atau disimpan terlebih dahulu.

23 13 a a b b c Gambar 6. Perendaman benih dengan metode matriconditioning (a) suspensi perlakuan (b) benih + arang sekam (c) Benih diinkubasi 5. Pengujian Mutu Fisiologis dan Patologis Setelah Perlakuan Benih Pengujian yang dilakukan setelah perlakuan priming dan matriconditioning, benih di uji kembali mutu fisiologis dan patologis. Pengujian mutu fisiologis meliputi pengujian daya berkecambah (DB), bobot kering kecambah normal (BKKN), kecepatan tumbuh (Kct), dan kadar air (KA). Pengujian mutu patologis terdiri atas identifikasi cendawan dan bakteri. Identifikasi cendawan dilakukan dengan metode blotter test dan identifikasi bakteri diuji dengan metode grinding. Prosedur percobaan yang dilakukan sama dengan poin 1. Pengamatan Percobaan Pengamatan dilakukan dalam penelitian yaitu pengamatan mutu fisiologis dan mutu patologis. Pengamatan mutu fisiologis dilakukan dua tahap, pada tahap pertama pengujian mutu fisiologis sebelum perlakuan dan tahap kedua pengujian mutu fisiologis setelah perlakuan. Pengamatan mutu fisiologis dan patologis yang diamati terdiri atas: 1. Mutu Fisiologis a. Daya berkecambah (DB) Benih padi ditanam sebanyak 200 benih dengan (4 benih) ditanam dengan pada kertas stensil dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik (UKDdp), kemudian dikecambahkan pada alat pengecambah benih tipe IPB 72-1 (Sadjad, 1993). Pengamatan dihitung berdasarkan persentase kecambah normal pada hitungan pertama (5HST) dan kedua (7HST) pada suhu ± 30 C. DB(%) = Σ KN hitungan 5+ Σ KN hitungan 7 Σ Benih yang ditanam x 100% b. Kecepatan tumbuh (Kct) Kecepatan tumbuh ditentukan dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya radikel atau plumula selama jangka waktu tertentu (7 hari).

24 14 i=n KCT = % Kn/etmal i=0 Keterangan: KT = kecepatan tumbuh benih Kn = kecambah normal Etmal = 24 jam c. Bobot kering kecambah normal (BKKN) Pengamatan BKKN dilakukan dengan menimbang kecambah normal umur 7 HST yang dikeringkan pada suhu 60 C selama 3 x 24 jam. BKKN = K1 K2 Keterangan : K1 = Bobot kecambah + amplop setelah dioven K2 = Bobot amplop kosong d. Kadar Air (KA) Penetapan kadar air dilakukan dengan metode langsung yaitu dengan penggunaan oven dengan suhu rendah. Waktu yang dibutuhkan selama 17 ± 1 jam untuk tanaman padi dengan suhu konstan 103 ± 2 C (ISTA, 2014). KA (%) = M2 M3 x 100% M2 M1 Keterangan: KA = Kadar air (%) M1 = Bobot cawan dan tutup (g) M2 = Bobot contoh kerja dan cawan beserta tutupnya sebelum dioven (g) M3 = Bobot contoh kerja dan cawan beserta tutupnya setelah dioven (g) 2. Mutu Patologis a. Identifikasi Cendawan Patogen Benih Pengujian cendawan dilakukan dengan metode blotter test, yaitu dengan menanam 400 benih padi (empat benih) yang sudah didisinfeksi dengan natrium hipoklorit 1% selama satu menit dan dicuci dengan air steril dan dikeringkan dengan menggunakan tisu. Identifikasi dilakukan setelah 7 hari inkubasi pada inkubator suhu C dengan penyinaran near ultra violet (NUV) 12 jam terang dan gelap. Pengamatan dilakukan dengan mikroskop stereo dan mikroskop compound terhadap semua jenis cendawan terbawa benih dengan rumus: % infeksi = Jumlah benih yang terinfeksi Jumlah benih yang ditanam x 100%

25 15 b. Perhitungan Jumlah Bakteri Terbawa Benih Pengenceran dilakukan dengan perbandingan 10 4, 10 5, dan 10 6, dan Kegiatan pengenceran dari beberapa perbandingan diambil 100 µl (0,1 ml), selanjutnya dituang ke dalam cawan petri yang berisi media YDCA dan disebar dengan dreglaski. Inokulum diinkubasi pada suhu ruang (28-30 C) selama 2-4 hari. Jumlah koloni yang tumbuh pada tiap-tiap pengenceran dihitung berdasarkan karakter morfologi (Ilyas, 2007). Jumlah bakteri: Y = X. n. 10 Keterangan : Y = jumlah bakteri per ml X = jumlah rata-rata koloni per petri pada suatu tingkat pengenceran n = tingkat pengenceran 10 = menunjukkan per ml karena yang ditabur per petri 0,1 ml Analisis Data Data hasil pengamatan dianalisis dengan Uji F dan jika nilai F-hitung berbeda nyata pada taraf 5%, maka akan dilanjutkan dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Aplikasi yang digunakan menggunakan SAS 9.0.

26 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Mutu Fisiologis Awal Tabel 1 menunjukkan pada varietas IPB 4S, Ciherang, dan IPB 3S memiliki persentase daya berkecambah lebih tinggi dibandingkan varietas Inpari 19, varietas IPB 4S memiliki persentase daya berkecambah sebesar 95,5%, varietas Ciherang sebesar 95%, dan varietas IPB 3S sebesar 88,5%. Kadar air yang diperoleh dari keempat varietas tersebut memiliki persentase kadar air yang optimal untuk tanaman padi, varietas Inpari 19 memiliki kadar air sebesar 11,3%, Ciherang (10,8%), IPB 3S dan IPB 4S memiliki persentase kadar air yang tidak berbeda nyata sebesar (10,1%). Varietas IPB 4S dan IPB 3S memiliki kecepatan tumbuh yang baik sebesar 12,6% etmal -1 dan 12,4% etmal -1 dibanding Ciherang dan Inpari 19. Pengujian kecepatan tumbuh benih merupakan salah satu uji vigor benih. Kecepatan tumbuh benih sebagai tolok ukur vigor kekuatan tumbuh benih. Tingginya persentase kecepatan tumbuh memiliki vigor yang tinggi karena mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan benih yang kurang vigornya (Widajati et al., 2013 a ). Tabel 1. Mutu fisiologis benih padi sebelum perlakuan Varietas KA (%) DB (%) Peubah Kct (% etmal -1 ) BKKN (g) Inpari 19 11,3 72,5 8,7 0,07 Ciherang 10,8 95,0 11,8 0,09 IPB 3S 10,1 88,5 12,4 0,10 IPB 4S 10,1 95,5 12,6 0,13 Keterangan : KA = kadar air, DB = daya berkecambah, IV = indeks vigor, Kct = kecepatan tumbuh, BKKN = bobot kering kecambah normal Mutu Fisiologis setelah Perlakuan Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan benih berpengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal, tingkat infeksi cendawan, dan jumlah bakteri Xoo pada benih padi varietas Inpari 19 dan Ciherang. Hasil sidik ragam pada varietas IPB 3S bahwa perlakuan benih berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah. Perlakuan benih varietas IPB 3S berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal, tingkat infeksi cendawan, dan jumlah bakteri Xoo. Hasil sidik ragam pada varietas IPB 4S bahwa perlakuan benih terhadap daya berkecambah menunjukkan pengaruh yang tidak nyata. Perlakuan benih padi varietas IPB 4S berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal, tingkat infeksi cendawan, dan jumlah bakteri Xoo. Hasil pengujian mutu fisiologis setelah perlakuan benih ditampilkan pada lampiran 1, sedangkan pengujian mutu patologis pada cendawan dan bakteri setelah perlakuan disajikan pada lampiran 2 dan lampiran 3.

27 17 Tabel 2. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh perlakuan benih terhadap viabilitas dan tingkat infeksi patogen Peubah KT Perlakuan KK (%) (P) Varietas Inpari 19 DB (%) 174,2** 7,3 IV (%) 11 ** 11,7 TF Kct (% etmal -1 ) 49,1 ** 10,5 BKKN (g) 0,01 ** 1,9 TF Tingkat Infeksi Cendawan (%) 5,50 ** 14 TF Jumlah bakteri Xoo (cfu/ml) 150 ** 10.4 TF Varietas Ciherang DB (%) 58,5 ** 4,5 IV (%) 11,7 ** 7 TF Kct (% etmal -1 ) 37,1 ** 6,8 BKKN (g) 0,01 ** 2,8 TF Tingkat Infeksi Cendawan (%) 4 ** 15 TF Jumlah bakteri Xoo (cfu/ml) 78,3 ** 4,7 TF Varietas IPB 3S DB (%) 50,1* 3,5 IV (%) 13,6 ** 8,2 TF Kct (% etmal -1 ) 25,4 ** 7,2 BKKN (g) 0,01 ** 2,3 TF Tingkat Infeksi Cendawan (%) 3** 20,7 TF Jumlah bakteri Xoo (cfu/ml) 3597,4 ** 6,5 Varietas IPB 4S DB (%) 8,7 tn 2,4 IV (%) 8,8 ** 9,9 TF Kct (% etmal -1 ) 32,1 ** 9,6 BKKN (g) 0,01 ** 3,5 TF Tingkat Infeksi Cendawan (%) 2,6** 18.9 TF Jumlah bakteri Xoo (cfu/ml) ** 7,5 Keterangan: ** = berpengaruh sangat nyata pada α=1%, * = berpengaruh nyata pada α=5% tn = tidak berpengaruh nyata pada KT = kuadrat tengah, cfu = colony forming unit, KT V*P = interaksi varietas dan perlakuan, KK = koefisien keragaman TF = hasil transformasi X + 0,5 Daya Berkecambah Tabel 3 menunjukkan pengaruh perlakuan benih memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap daya berkecambah. Semua perlakuan benih mampu meningkatkan persentase daya berkecambah pada varietas Inpari 19. Perlakuan matriconditioning + Bacillus subtillis 5/B maupun tanpa memberikan pengaruh yang nyata sebesar 96,5% dan 95% terhadap persentase daya berkecamabah dibanding kontrol sebesar 67%. Perlakuan lain menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata.

28 18 Peningkatan daya tumbuh benih pada perlakuan matriconditioning + B. Subtillis 5/B disebabkan oleh adanya kombinasi antara agens hayati dan matriconditioning. Agens hayati B.subtillis yang digunakan pada tanaman padi menghasilkan hormon IAA (Agustiansyah et al ) dan perbaikan viabilitas dan vigor benih disebabkan terjadinya peningkatan sintesis hormon seperti giberelin sebagai pemicu aktivitas enzim amilase yang berperan dalam perkecambahan (Gholami et al., 2009). Tabel 3. Pengaruh perlakuan benih terhadap daya berkecambah benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Inpari 19 Ciherang IPB 3S IPB 4S...%... P1 67,0 b 91,5 b-f 96,0 a-c 96,5 b P2 77,0 b 96,0 a-d 98,5 ab 95,5 b P3 79,0 b 97,0 a-c 94,0 a-e 99,5 ab P4 81,0 b 94,5 a-e 97,5 ab 99,5 ab P5 75,0 b 98,5 ab 98,5 ab 97,5 ab P6 81,5 b 96,0 a-d 98,0 ab 98,0 ab P7 74,5 b 85,5 h-j 90,5 de 98,5 ab P8 73,0 b 89,5 f 89,5 de 96,5 ab P9 76,5 b 96,5 a-d 98,0 ab 99,0 ab P10 78,0 b 98,5 ab 99,5 a 99,0 ab P11 78,5 b 99,5 a 96,5 a-c 100 a P12 77,5 b 93,5 a-e 93,5 b-e 99,5 ab P13 82,0 b 96,5 a-d 99,5 a 100 a P14 77,5 b 93 a-e 94,5 a-d 97,3 ab P15 79,5 b 92,5 a-e 97,0 a-c 98,5 ab P16 73,5 b 88,0 e-f 91,5 c-e 96,5 ab P17 95,0 a 91,0 c-f 96,5 a-c 96,8 ab P18 96,5 a 91,5 b-f 98,5 ab 97,5 ab Keterangan: angka pada kolom sama yang diikuti huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. P1 = Kontrol, P2 = Benomil 0,1%, P3 = Benomil 0,2%, P4 = Streptomycin sulfat 0,1%, P5 = Streptomycin sulfat 0,2%, P6 = minyak serai wangi 1%, P7 = minyak cengkeh 1%, P8 = minyak serai wangi+ minyak cengkeh 1%, P9 = matriconditioning, P10 = matriconditioning + Benomil 0,1%, P11 = matriconditioning + Benomil 0,2%, P12 = matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,1%, P13 = matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2%, P14 = matriconditioning + minyak serai wangi, P15 = matriconditioning + minyak cengkeh 1%, P16 = matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% P17 = Bacillus subtillis 5/B, P18 = matriconditioning + Bacillus subtillis 5/B Semua perlakuan benih pada varietas Ciherang berpengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah. Pengujian viabilitas awal pada tolok ukur daya berkecambah varietas Ciherang sebesar 95%. Kondisi viabilitas awal menunjukkan bahwa varietas Ciherang memiliki mutu benih yang tinggi, namun pengujian benih setelah perlakuan terdapat perlakuan yang mampu meningkatkan persentase daya

29 19 berkecambah secara nyata pada varietas Ciherang adalah perlakuan matriconditioning + Benomil 0,2%. Perlakuan matriconditioning + Benomil 0,2% merupakan perlakuan terbaik meningkatkan persentase daya berkecambah sebesar 99,5% dibanding kontrol. Perlakuan minyak cengkeh 1%, matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% maupun tanpa menunjukkan bahwa persentase yang dihasilkan lebih rendah dibanding kontrol yang memiliki persentase sebesar 91,5%. Sutariati et al.(2005) menjelaskan bahwa perbedaan efektivitas minyak cengkeh dengan minyak serai wangi atau ekstrak daun nimba selain karena konsentrasi bahan aktif juga akibat jenis bahan aktif dari masing- masing fungisida tersebut. Eugenol pada minyak cengkeh, sitronela pada minyak serai wangi atau pada ekstrak daun nimba. Eugenol merupakan senyawa fenol yang menyebabkan lisis pada sel mikroba dan merusak sistem kerja sel sehingga benih mengalami abnormal. Penggunaan konsentrasi pada perlakuan pestida nabati (minyak serai wangi dan minyak cengkeh) lebih baik diturunkan, sehingga penggunaan pestisida nabati yang diaplikasikan ke benih lebih efektif. Rachmawati (2009) melaporkan dari penelitiannya dengan penggunaan minyak serai wangi pada benih padi dengan konsentrasi 0% mampu meningkatkan daya berkecambah, namun perlakuan minyak serai wangi 1% masih relatif aman digunakan untuk perlakuan benih karena belum menunjukkan toksisitas. Semua perlakuan benih secara nyata mampu meningkatkan viabilitas daya berkecambah pada varietas IPB 3S. Pengujian viabilitas awal persentase daya berkecambah sebelumnya sebesar 88,5%, dan setelah perlakuan mengalami peningkatan. Peningkatan yang diperoleh menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain. Perlakuan matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% merupakan perlakuan terbaik karena perlakuan tersebut memberikan pengaruh terhadap varietas IPB 3S untuk menghasilkan persentase daya berkecambah tertinggi sebesar 99,5% dibanding kontrol sebesar 96%. Mutu viabilitas awal pada tolok ukur daya berkecambah pada varietas IPB 4S memiliki persentase daya berkecambah yang tinggi sebesar 95,5%, dan pengujuan benih setelah perlakuan menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan yang diperoleh tidak berbeda nyata dibanding perlakuan lain. Perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan daya berkecambah pada varietas IPB 4S adalah perlakuan matriconditioning yang diintegrasikan dengan Benomil 0,2% atau Streptomycin sulfat 0,2% mampu meningkatkan daya berkecambah sebesar 100%. Indeks Vigor Perlakuan benih memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap indeks vigor (Tabel 4). Semua perlakuan benih pada varietas Inpari 19 meningkatkan indeks vigor benih kecuali perlakuan minyak serai wangi 1%, minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% dibanding kontrol. Perlakuan matriconditioning + Bacillus subtillis 5/B merupakan perlakuan terbaik meningkatkan persentase indeks vigor sebesar 97,5% dibanding perlakuan lainnya. Perlakuan minyak serai wangi 1%, minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% memiliki persentase indeks vigor yang rendah dibanding dengan kontrol yang memiliki nilai indeks vigor sebesar 20%. Semua perlakuan benih padi varietas Ciherang sangat nyata meningkatkan indeks vigor benih kecuali perlakuan Benomil 0,2% dan minyak serai wangi 1% +

30 20 minyak cengkeh 1% dibanding kontrol (Tabel 4). Nilai indeks vigor yang tinggi menunjukkan benih berkecambah lebih cepat, sehingga digolongkan dalam vigor kuat. Benih yang cepat tumbuh menunjukkan benih tersebut mampu mengatasi segala macam kondisi sub optimum (Sadjad, 1993). Perlakuan matriconditioning, matriconditioning yang diintegrasikan dengan (Benomil dengan konsentrasi 0,1% dan 0,2%, serta Streptomycin sulfat 0,2%) merupakan perlakuan secara nyata mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan nilai indeks vigor pada benih varietas Ciherang sebesar 94%, 98,5%, 97,5%, dan 96,5%. Perlakuan benih yang memberikan pengaruh yang nyata juga diikuti perlakuan minyak serai wangi 1% dan Benomil 0,1% sebesar 96% dan 94,5%. Astuti (2009) menyatakan bahwa penggunaan Benomil yang merupakan bahan aktif Benlox dapat masuk hingga kedalam jaringan benih yang merupakan ciri fungisida sistemik. Kemungkinan terdapat residu benomil dalam benih yang besifat toksik sehingga meracuni benih selama perkecambahan. Oksidasi fenolik senyawa eugenol yang merupakan bahan aktif dari minyak cengkeh selain bersifat tokisik terhadap patogen, diduga dapat pula menghambat perkecambahan. Tabel 4. Pengaruh perlakuan benih terhadap indeks vigor benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Varietas Inpari19 Ciherang IPB 3S IPB 4S...%... P1 20,0 g-i 30,0 f 39,5 ef 47,0 d P2 31,5 b-f 94,5 a 95,5 a 93,0 a-c P3 30,0 c-f 28,0 f 22,0 f 26,0 e P4 23,5 e-i 52,5 e 42,0 e-d 47,5 d P5 35,0 b-d 90,5 ab 77,5 bc 95,5 a-c P6 18,5 hi 96,0 a 88,5 a-c 93,5 a-c P7 20,5 f-i 69,5 d 27,5 ef 78,5 c P8 14,0 i 22,5 f 19,5 f 44,0 d P9 20,0 g-i 94,0 a 89,0 a-c 96,0 ab P10 42,0 b 98,5 a 96,5 a 99,0 a P11 34,0 b-e 97,5 a 93,0 ab 99,0 a P12 28,5 c-h 78,5 b-d 54,5 d 84,0 a-c P13 37,0 bc 96,5 a 97,0 a 99,5 a P14 27,0 c-h 89,5 ab 77,0 bc 83,0 a-c P15 24,0 d-i 79,0 b-d 83,5 a-c 83,5 a-c P16 23,0 e-i 85,5 a-c 73,0 c 84,0 a-c P17 95,0 a 76,0 cd 74,5 c 80,0 bc P18 97,5 a 79,0 b-d 84,0 a-c 88,0 a-c Keterangan: Penjelasan perlakuan seperti pada tabel 3 Perlakuan matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2%, matriconditioning + Benomil 0,1% maupun tanpa merupakan perlakuan yang efektif pada varietas IPB 3S, karena meningkatkan nilai indeks vigor dibanding kontrol sebesar 39,5% dan perlakuan lain menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Rachmawati

31 21 (2009) juga melaporkan bahwa perlakuan matriconditioning + Agrept 0,2% pada benih padi menunjukkan peningkatan indeks vigor tertinggi dibanding perlakuan lainnya yaitu 87,5%, selain itu perlakuan minyak serai wangi 1% juga menunjukkan peningkatan indeks vigor dibanding kontrol. Semua perlakuan benih padi varietas IPB 4S sangat nyata meningkatkan indeks vigor benih kecuali pada perlakuan Benomil 0,2% dibanding kontrol. Perlakuan matriconditioning yang dikombinasikan dengan (Streptomycin sulfat 0,2%, serta Benomil dengan konsentrasi 0,1% dan 0,2%) merupakan perlakuan yang baik dibanding perlakuan lainnya dan kontrol, karena perlakuan tersebut mampu meningkatkan indeks vigor benih nyata lebih tinggi. Perlakuan tersebut memiliki persentase indeks vigor sebesar 99,5% dan 99%. Kecepatan Tumbuh Tabel 5 menunujukkan perlakuan benih berpengaruh sangat nyata terhadap kecepatan tumbuh. Pengujian vigor awal pada tolok ukur kecepatan tumbuh pada varietas Inpari 19 menunjukkan hasil yang diperoleh sebesar 8,7 % etmal -1. Pengujian benih setelah perlakuan menunjukkan adanya peningkatan kecepatan tumbuh pada varietas Inpari 19. Perlakuan matriconditioning yang diintegrasikan dengan Bacillus subtillis 5/B maupun tanpa merupakan perlakuan terbaik dibanding perlakuan lain, karena mampu meningkatkan kecepatan tumbuh sebesar 97,5% etmal -1 dan 95% etmal -1. Perlakuan matriconditioning + Benomil 0,2% secara nyata juga mampu meningkatkan kecepatan tumbuh sebesar 22,9% etmal -1, dibanding perlakuan lain. Pengujian vigor awal benih varietas Ciherang pada tolok ukur kecepatan tumbuh nilai yang diperoleh sebesar 11,8% etmal -1, namun pengujian setelah perlakuan benih menunjukkan pengaruh yang baik terhadap peningkatan kecepatan tumbuh. Perlakuan yang mampu meningkatkan kecepatan tumbuh pada varietas Ciherang adalah perlakuan matriconditioning + Benomil 0,1% yaitu sebesar 28,1% etmal -1 dan perlakuan minyak serai wangi 1% sebesar 28% etmal -1. Astuti (2009) menyebutkan bahwa secara umum perlakuan benih efektif meningkatkan viabilitas dan vigor benih pada tolok ukur daya berkecambah, indeks vigor, dan kecepatan tumbuh, terutama benih yang diberikan perlakuan matriconditioning, matriconditioning yang diintegrasikan dengan minyak cengkeh atau minyak serai wangi atau Benlox 0,1%. Semua perlakuan benih pada varietas IPB 3S sangat nyata mampu meningkatkan kecepatan tumbuh dibanding kontrol. Perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan kecepatan tumbuh pada varietas IPB 3S adalah perlakuan matriconditioning + minyak cengkeh 1% sebesar 25,4% etmal -1. Sitrait (2006) melaporkan bahwa perlakuan matriconditioning, matriconditioning yang dikombinasikan dengan minyak cengkeh atau minyak serai wangi pada benih cabai menunjukkan perlakuan perlakuan tersebut lebih baik dibanding perlakuan lainnya karena menghasilkan potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh relatif, spontanitas tumbuh, dan laju pertumbuhan kecambah yang lebih tinggi. Semua perlakuan benih pada varietas IPB 4S sangat nyata meningkatkan kecepatan tumbuh dibanding kontrol. Perlakuan yang mampu meningkatkan kecepatan tumbuh pada varietas IPB 4S adalah perlakuan matriconditioning +

32 22 Benomil 0,2% (28,7% etmal -1 ) dan Benomil 0,1% (28% etmal -1 ) dibanding perlakuan lain. Tabel 5. Pengaruh perlakuan benih terhadap kecepatan tumbuh benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Varietas Inpari 19 Ciherang IPB 3S IPB 4S...% etmal P1 11,7 h 15,9 j 15,2 j 15,0 g P2 16,8 c-f 23,3 cd 21,8 c-f 28,0 a P3 14,4 f-h 21,4 d-g 19,2 gh 21,3 d-f P4 17 c-f 18,2 i 19,4 f-h 19,7 ef P5 18,8 b-d 22,0 de 20,5 d-h 21,7 d-f P6 17,6 b-d 28,1 a 23,5 bc 22,5 de P7 12,5 gh 21,8 d-f 16,8 i 22,9 c-e P8 19,0 b-d 19,7 e-i 19,9 e-h 20,6 ef P9 14,7 e-g 20,8 d-h 21,8 c-f 24,6 b-d P10 19,4 bc 28,0 a 22,6 cd 27,3 ab P11 22,9 a 26,6 ab 27,7 a 28,7 a P12 19,0 b-d 21,6 d-g 22,3 c-e 23,0 c-e P13 20,0 b 21,8 d-f 21,9 c-f 22,9 c-e P14 16,1 d-f 19,2 g-i 21,0 c-g 21,6 d-f P15 16,8 c-f 24,7 bc 25,4 b 26,0 a-c P16 15,2 e-g 18,6 ho 20,6 d-h 21,5 d-f P17 22,8 a 20,3 e-h 21,0 c-g 21,9 d-f P18 24,7 a 20,0 e-h 21,4 c-g 22,4 de Keterangan: Penjelasan perlakuan seperti pada tabel 3 Bobot Kering Kecambah Normal Bobot kering kecambah normal merupakan tolok ukur viabilitas potensial yang menggambarkan banyaknya cadangan makanan yang tersedia sehingga bila dikondisikan pada lingkungan yang sesuai mampu tumbuh dan berkembang dengan baik (Sadjad,1993). Tabel 6 menunjukkan pengaruh perlakuan benih memberikan respon yang sangat nyata terhadap bobot kering kecambah normal. Semua perlakuan benih yang diuji mengindikasikan adanya peningkatkan bobot kecambah normal. Pengujian setelah perlakuan pada benih varietas Inpari 19 menunjukkan bahwa perlakuan matriconditioning + Bacillus subtillis 5/B maupun tanpa matriconditioning merupakan perlakuan terbaik mampu meningkatkan bobot kering kecambah normal sebesar 0,4g, namun pada perlakuan lainnya menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Agustiansyah et al. (2011) melaporkan bahwa perlakuan benih padi dengan agens hayati mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen, serta mampu menurunkan tingkat intensitas serangan hawar daun bakteri pada tanaman padi. Peningkatan pertumbuhan tanaman padi yang disebabkan perlakuan benih dengan agens hayati dapat dilihat pada peubah yang diamati seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang akar, berat basah akar, dan berat kering berangkasan.

33 23 Semua perlakuan benih padi varietas Ciherang sangat nyata meningkatkan bobot kering kecambah normal kecuali pada perlakuan minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% dibanding kontrol. Perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan bobot kering kecambah normal adalah perlakuan Benomil 0,1% sebesar 0,4 g dibanding kontrol yaitu 0,09g. Perlakuan lain menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata. Perlakuan minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% terjadinya penurunan bobot kecambah normal sebesar 0,06 dibanding kontrol. Astuti (2009) menyebutkan bahwa adanya senyawa fenolik pada minyak cengkeh mengakibatkan benih dalam perkecambahan tumbuh abnormal. Tabel 6. Pengaruh perlakuan benih terhadap bobot kering kecambah normal benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Varietas Inpari 19 Ciherang IPB 3S IPB 4S...g... P1 0,06 g 0,09 e 0,12 h 0,12 d P2 0,23 b 0,40 a 0,48 a 0,48 ab P3 0,18 cd 0,39 ab 0,39 c-f 0,43 ab P4 0,10 fg 0,27 d 0,40 b-e 0,38 b P5 0,07 fg 0,26 d 0,33 ef 0,41 ab P6 0,08 fg 0,26 d 0,41 a-d 0,44 ab P7 0,08 fg 0,30 d 0,33 fg 0,41 ab P8 0,06 g 0,06 e 0,27 g 0,23 c P9 0,20 c 0,29 d 0,38 c-f 0,45 ab P10 0,17 cd 0,39 ab 0,45 a-c 0,46 ab P11 0,19 c 0,38 a-c 0,47 a 0,48 ab P12 0,15 cd 0,31 cd 0,43 a-d 0,44 ab P13 0,15 cd 0,32 b-d 0,48 a 0,50 a P14 0,17 cd 0,38 a-c 0,38 d-f 0,50 a P15 0,10 ef 0,38 a-c 0,43 a-d 0,45 ab P16 0,15 de 0,32 b-d 0,37 d-f 0,40 b P17 0,40 a 0,40 ab 0,47 a 0,47 ab P18 0,40 a 0,37 a-c 0,46 ab 0,40 ab Keterangan: Penjelasan perlakuan seperti pada tabel 3 Semua perlakuan benih pada varietas IPB 3S mampu meningkatkan bobot kering kecambah normal dibanding kontrol yang memiliki bobot kering kecambah normal sebesar 0,12g. Perlakuan benih secara nyata mampu meningkatkan bobot kering kecambah normal adalah perlakuan mariconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% dan Benomil 0,1% sebesar 0,48g dan 0,47g. Perlakuan lain menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Budiman (2009) melaporkan matriconditioning + Agrept 0,2% merupakan perlakuan yang terbaik dalam meningkatkan bobot kering berangkasan pada tanaman padi yang dihasilkan. Bobot kering kecambah yang tinggi dapat menggambarkan pemanfaatan cadangan makanan dalam benih yang efisien. Semua perlakuan benih mengalami peningkatan bobot kering kecambah normal dibanding kontrol pada varietas IPB 4S. Perlakuan yang mampu

34 24 meningkatkan bobot kering kecambah normal nyata lebih tinggi yaitu pada perlakuan matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% dan perlakuan minyak serai wangi 1% sebesar 0,5g. Perlakuan lain menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata Hakim (2014) menjelaskan bahwa meningkatnya berat jenis biji akan meningkatkan mutu fisiologis benih berdasartkan daya berkecambah dan kekuatan tumbuhnya. Tingginya nilai daya berkecambah juga akan mempengaruhi bobot kering kecambah normal. Cendawan Terbawa Benih Padi Mutu Patologis Setelah Perlakuan Identifikasi cendawan pada benih padi dilakukan dengan pengujian Blotter test (ISTA, 2014), selama pengujian di temukan terdapat tiga jenis cendawan yang berhasil di identifikasi dengan mikroskopik yaitu Alternaria padwickii, Curvularia sp, dan Aspergillus spp. (Gambar 7), dan sebagai pembanding mikroskopik ditampilkan literatur (Gambar 8). Cendawan yang diidentifikasi merupakan cendawan terbawa benih yang paling dominanan menginfeksi benih padi. Serangan patogen terjadi berasal karena lingkungan yang diberikan untuk pertumbuhan cendawannya optimum, terinfeksi sejak di lapang, dan penyebaran infeksi diduga terjadi selama penyimpanan (ISTA, 2014). Tingginya tingkat infeksi penyebab cendawan dapat dilakukan dengan mengaplikasikan perlakuan benih yang bertujuan untuk mengahmbat patogen dan menurunkan tingkat infeksi cendawan yang terbawa benih (Tabel 7). a 40x 40x 40x b c d Gambar 7. Penampang mikroskopik pada perbesaran 40x (a) Alternaria padwicki, (b) Curvularia sp. (c) Aspergillus spp., (d) Benih terinfeksi cendawan (visual) Aspergillus spp. 100x a 100x b 100x c d Gambar 8. Literatur pembanding pada gambar 7 (a) Alternaria padwicki (Anggun, 2013), (b) Curvularia sp. (Apri, 2012), (c) Aspergillus spp. (Queen, 2016), (d) Aspergillus spp. (Bartholomew, 2012)

35 25 Tabel 7. Pengaruh perlakuan benih terhadap tingkat infeksi cendawan benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Varietas Inpari 19 Ciherang IPB 3S IPB 4S... %... P1 21,8 a 18,0 a 12,5 a 9,8 a P2 5,5 d 8,5 bc 4,3 c-f 3,3 de P3 5,0 d 2,5 de 3,8 d-f 2,3 ef P4 11,3 b 9,3 bc 8,3 b 8,3 b P5 9,0 c 7,5 c 6,5 bc 6,5 c P6 0 e 0 f 0 h 0 g P7 0 e 0 f 0 h 0 g P8 0,8 e 2,3 d-f 2,0 e-h 1,3 fg P9 0,3 e 4,5 d 2,3 e-h 1,3 fg P10 0,5 e 0,3 ef 0,3 h 0 g P11 0 e 0 f 0 h 0 g P12 10,5 b 10,5 b 8,8 b 6,0 c P13 8,5 c 8,0 c 6,3 b-d 4,3 d P14 0 e 2,3 d-f 1,8 f-h 1,5 fg P15 0,8 e 0,8 ef 1,3 gh 0,8 fg P16 0,5 e 0,3 ef 0 h 0,8 fg P17 0,5 e 3,8 d 0 h 2,0 ef P18 2,5 e 4,5 d 4,5 cd 0,8 fg Keterangan: Penjelasan perlakuan seperti pada tabel 3 Tabel 7 menunjukkan perlakuan benih memberikan respon positif terhadap tingkat infeksi cendawan. Semua perlakuan benih sangat nyata menurunkan tingkat infeksi cendawan pada benih varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S dibanding kontrol. Perlakuan yang nyata lebih tinggi mampu menurunkan tingkat infeksi cendawan sebesar 0% adalah perlakuan minyak serai wangi 1%, minyak cengkeh 1%, dan matriconditioning + Benomil 0,2% untuk benih padi varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Keempat varietas tersebut memberikan respon yang sama terhadap perlakuan yang efektif menurunkan tingkat infeksi cendawan. Astuti (2009) menjelaskan bahwa benih padi yang diberi perlakuan matriconditioning, matriconditioning yang dikombinasikan dengan minyak cengkeh atau Benlox 0,1% lebih efektif dalam menurunkan tingkat infeksi A. padwickii. Penggunaan fungisida sintesis pada Benlox 50WP lebih efektif menurunkan tingkat infeksi Alternaria padwickii maupun cendawan lainnya karena Benlox memiliki bahan Benomil 50% bekerja secara sistemik, senyawa ini mengikat pembuluh mikro sehingga mengganggu fungsi sel seperti pembelahan sel dan transportasi intraseluler dan menghambat penyusunan beta-tubulin saat mitosis (Djojosumarto, 2008).

36 26 Jumlah Infeksi Xoo pada benih padi Tabel 8 menunjukkan perlakuan benih memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah bakteri Xoo. Semua perlakuan benih mampu mereduksi jumlah bakteri Xoo dibanding kontrol. Perlakuan Bacillus subtillis 5/B, matriconditioning yang dikombinasikan dengan (Streptomycin sulfat 0,1% dan 0,2%, minyak serai wangi 1%, minyak cengkeh 1%, dan Bacillus subtillis 5/B) merupakan perlakuan yang efektif menekan jumlah bakteri Xoo terbawa benih padi pada varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Perlakuan tersebut dapat menekan keberadaan Xoo terbawa benih pada keempat varietas tersebut sebesar 6,0 x 10 5 cfu dibanding perlakuan lainnya. Tabel 8. Pengaruh perlakuan benih padi terhadap jumlah bakteri Xoo pada varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S Perlakuan Varietas Inpari 19 Ciherang IPB 3S IPB 4S...cfu/ml... P1 1,3 x 10 8 a 4,9x 10 7 a 4,4 x10 7 a 3,5 x 10 7 a P2 3,4 x 10 7 c-f 3,2 x 10 7 ef 2,5 x10 7 d 2,0 x10 7 c P3 2,8 x 10 7 d-f 2,2 x 10 7 hi 1,8 x 10 7 e 1,6 x 10 7 c P4 2 x 10 7 cd 2,0 x 10 7 c 1,9 x 10 7 c 1,7 x 10 7 b P5 1,3 x 10 7 c-e 1,2 x 10 7 de 1,7 x 10 7 de 1,6 x 10 7 c P6 2 x 10 7 c-f 1,6 x 10 7 gh 1,8 x 10 7 de 1,5 x 10 7 c P7 2,4 x 10 7 c-e 1,8 x 10 7 e-g 2,0 x 10 7 d 1,7 x 10 7 c P8 4,0 x 10 7 bc 2,5 x 10 7 d 2,6 x 10 7 c 2,2 x 10 7 b P9 5,7 x 10 7 b 3,6 x 10 7 b 4,0 x 10 7 b 3,4 x 10 7 a P10 1,6 x 10 7 d-f 1,4 x 10 7 gh 1,4 x 10 7 f 1,1 x 10 7 d P11 1,1 x 10 7 ef 9 x 10 6 i 1,1 x 10 7 g 8,4 x 10 6 e P12 6,0 x 10 5 f 6,0 x 10 5 j 6,0 x 10 5 h 6,0 x 10 5 f P13 6,0 x 10 5 f 6,0 x 10 5 j 6,0 x 10 5 h 6,0 x 10 5 f P14 6,0 x 10 5 f 6,0 x 10 5 j 6,0 x 10 5 h 6,0 x 10 5 f P15 1,7 x 10 7 d-f 1,4 x 10 7 h 1,3 x 10 7 f 1,3 x 10 7 d P16 2,0 x 10 7 c-f 1,7 x 10 7 f-h 6,0 x10 5 h 6,0 x 10 5 f P17 6,0 x 10 5 f 6,0 x 10 5 j 6,0 x10 5 h 6,0 x 10 5 f P18 6,0 x 10 5 f 6,0 x 10 5 j 6,0 x 10 5 h 6,0 x 10 5 f Keterangan: Penjelasan perlakuan seperti pada tabel 3 Yukti (2009) melaporkan hasil identifikasi koloni bakteri secara morfologi dan biokimia dari penelitiannya, bahwa morfologi Xoo bulat kecil dan cembung, memiliki warna kuning keputih-putihan sampai kuning tua. Bakteri Xoo paling banyak ditemukan pada benih yang diuji. Benih merupakan sumber utama dan pertam penularan Xoo di lapangan. Bakteri dapat bertahan hidup dalam benih selama semusim hingga 11 bulan. Karakter morfologi dan biokimia untuk identifikasi patogen Xanthomonas disajikan pada lampiran 8. Ilyas et al., (2008) melaporkan bahwa agens hayati kode 5/B (Bacillus subtilis) mampu menghambat X. oryzae pv. oryzae terbawa benih padi. Perlakuan matriconditioning plus agens hayati kode 5/B secara nyata menurunkan tingkat infeksi Xoo dan meningkatkan vigor benih padi.

37 27 Penggunaan minyak cengkeh atau minyak serai wangi dengan konsentrasi 0,5-2% dapat menghambat pertumbuhan koloni Xoo tanpa menimbulkan fitotoksik terhadap padi secara in vitro (Ilyas et al., 2007). Rachmawati (2009) juga melaporkan bahwa hasil uji mutu patologis terhadap varietas IR-64 dan Ciherang menunjukkan perlakuan matriconditioning yang diintegrasikan dengan Agrept 0,2% dan matrionditioning + minyak serai wangi 1% sama-sama mampu menekan Xoo hingga 100%. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Perlakuan benih memberikan pengaruh dalam meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi pada varietas Inpari 19, Ciherang, IPB 3S, dan IPB 4S. Perlakuan terbaik dalam meningkatkan mutu fisiologis dan mampu menekan pertumbuhan patogen pada benih padi adalah perlakuan matriconditioning + Benomil 0,1%. Perlakuan B. subtillis 5/B, matriconditioning yang dikombinasikan dengan ( B. subtillis 5/B, Streptomycin sulfat 0,2%, Benomil 0,1%, atau Benomil 0,2%) merupakan perlakuan yang mampu memperbaiki viabilitas dan vigor benih. Semua perlakuan benih dapat menurunkan tingkat infeksi cendawan patogen dan jumlah bakteri Xoo terutama pada perlakuan minyak serai wangi1%, minyak cengkeh 1%, dan matriconditioning, matriconditioning yang diintegrasikan dengan Benomil dengan konsentrasi 0,1% dan Streptomycin sulfat 0,2%. Saran Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk melihat pengaruh perlakuan benih terhadap mutu fisiologis dan patologis benih padi dengan menggunakan varietas lain atau komoditas lain, serta perlu juga adanya pengembangan pada penelitian terhadap patogen terbawa benih padi.

38 28 DAFTAR PUSTAKA Agarwal V.K. and Sinclair J.B Principles of Seed Pathology Vol I. CRC Press, Inc Florida. Agustiansyah, Ilyas S., Sudarsono dan Machmud Y Pengaruh perlakuan benih dengan agens hayati terhadap pertumbuhan hasil padi, dan pengendalian penyakit hawar daun bakteri di rumah kaca. Jurnal Agrotropika 16(2): Anggun Alternaria padwickii (Ganguly) M.B. Ellis. http :// [27 September 2016]. Apri Mycology Online: Curvularia. edu.au//fungaldescriptions/hyphomycetes(dematiaceous)/curvularia/. [27 September 2016]. Astuti D Pengaruh matriconditioning plus minyak cengkeh terhadap viabilitas, vigor, dan kesehatan benih padi (Oryza sativa) yang terinfeksi Alternaria padwickii (Ganguly) M. B. Ellis. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Baker K.F. and Cook R.J Biological Control of Plant Pathogens. W.H. Freeman and Co. San Fransisco, USA. Bartholomew J Aspergillus spp. [18 Oktober 2016] [Balitbangtan] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Deskripsi varietas padi. [16 Oktober 2015]. [BPS] Badan Pusat Statistika. Produksi padi menurut provinsi [19 Oktober 2015]. Budiman C Pengaruh perlakuan pada benih padi yang teinfeksi hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil padi di rumah kaca. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Direktorat Riset dan Inovasi IPB Varietas Tanaman Unggul IPB, Bogor. Djojosumarto P Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka, Jakarta. Fiana Y Efektivitas matriconditioning plus pestisida nabati dalam pengendalian patogen seedborne dominan dan peningkatan mutu benih padi (Oryza sativa L.). Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Gardner F.P., Pearce R.B. dan Mitchell R.L Fisiologi Tanaman Budidaya. Herawati S., penerjemah. UI Pr, Jakarta. Terjemahan dari: Physiology of Crop Plant. Gholami A., Shahsavani S. and Nezarat S The effect of plant growth promoting rhizobacteria on germination,seedling growth and yield of maize. World Acad Sci. Tech. 49: Grist D.H Rice. Longmans, London, England. Haas D. and Devago G Biological Control of Soil Borne Pathogens by fluorescenst Pseudomonas. Nature Reviews Microbiology vol 3(4): Hakim M.A.R Penentuan masak fisiologi dan ketahanan benih kenikir (Cosmos caudatus) terhadap desikasi. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

39 Ilyas S Review: Seed treatments using matriconditioning to improve vegetable seed quality. Bul. Agron. 34 (2): Ilyas S Ilmu dan Teknologi Benih: Teori dan Hasil-hasil Penelitian. IPB Press, Bogor. Ilyas S. and Sopian O Effect of seed maturity and invigoration on seed viability and vigor, plant growth, and yield of bambara groundnut (Vigna subterranea (L.) Verdcourt). Acta Hort. 979: Ilyas S., Amiyarsih T. dan Kadir S Metode uji dan teknik peningkatan kesehatan benih padi. Prosiding Pengembangan Mutu Benih Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Banten, Agustus Ilyas S., Sudarsono, Nugraha U. S., Kadir T.S., Yukti A.M. dan Fiana Y Teknik Pengujian Kesehatan dan Mutu Benih Padi. Laporan Hasil Penelitian. Institut Pertanian Bogor Bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian, Deptan, Bogor. [ISTA] International Seed Testing Association International Rules for Seed Testing. ISTA, Switzerland. [IRRI] International Rice Research Institute Bacterial Leaf Blight, Diagnostic Summary. [10 September 2015]. Kadir T.S Influence of races III, IV and VIII of Xanthomonas oryzae pv.oryzae to production of double haploid population crosses IR-64 and wild species Oryza rufipogon. Proceedings The Third Asian Conference on Plant Phatology. Gajah Mada University, Jogjakarta. Khan A.A., Miura H., Prusinski J. and Ilyas S Matriconditioning of Seed to Improve Emergence. Proceeding of the Symposium on Stand Establishment of Horticultural Crops. Minnesota (US). Kuswanto H Anaslisis Benih. Andi Offset, Yogyakarta. Lamtiar Invigorasi benih terhadap pertumbuhan dan produksi kacang panjang (Vigna sinensis (L.) Savi ex Hask) pada media tanah pantai. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Makarim A.K. dan E. Suhartatik Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Mew T.W. and Mirsa J,K Amanual of Rice Seed Health Testing. International Rice Research Institute, Phillipines Neegaard P Seed Pathology Vol 1. Macmillan pr, London. Ou S.H Rice deseases. CAB International Mycological Institute. Farnham Royal, United Kingdom. Purwono dan Purnamawati H Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta. Rachmawati A.Y Pengaruh perlakuan matriconditioning untuk mengendalikan hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) terbawa benih serta meningkatkan viabilitas dan vigor benih padi (Oryza sativa L.). Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 29

40 30 Rahmawati dan Saenong S Mutu fisiologis benih pada beberapa varietas jagung selama periode simpan. Prosiding Pekan Sereal Nasional Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros. Rahmitasari D Analisis kadar air benih. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Surabaya. Sadjad S Dari Benih Kepada Benih. Grasindo, Jakarta. Setiyowati H., Surahman M. dan Wiyono S Pengaruh seed coating dengan fungisida benomil dan tepung curcuma terhadap patogen antraknosa terbawa benih dan viabilitas benih cabai besar (Capsicum annuum L.). Bul. Agron. 35 (3): Sigee D.C Bacterial Plant Pathology: Cell and Molecular Aspect. First Edition. Cambridge Univerity Press, England. Sinclair J.B. and Backman P.A Compendium of Soybean Diseases. 3rd Ed. The American Phytopathological Society, United States of America. Sirait M.R Pengujian daya simpan dan kesehatan benih cabai (Capsicum annuum L.) yang telah diberi perlakuan benih dengan fungisida nabati. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Stein T Bacillus subtilis antibiotics: structures, syntheses and specificfunctions. Molecular Microbiology. 56(4): Sulistiani Formulasi spora Bacillus subtillis sebagai agens hayati dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) pada berbagai bahan pembawa. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Suryanarayana D Seed Pathology. Vikas Publishing, New Delhi, India. Sutariarti G.A.K., Widodo, Sudarsono, dan Ilyas S. Isolasi bakteri rizosfer dan karakterisasi kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan koloni cendawan patogen. Agriplus. 15: Sutopo Teknologi Benih. Penerbit Rajawali, Jakarta. Sonenshein A.l., Kim S.I., Kim H.J. and Jourllin C Regulation of the Bacillus subtillis ccpc gene by ccpa and ccpc. Molecular Microbiology. 43(2): Tsiantos J. and Psallidas P The effect of inoculum concentration and time of aplication of various bactericides on the control of fire blight (Erwinia amylovlora) under atificial inoculation. Phytopathol Mediterraneae. 41: Widajati E., Murniati E., Palupi E.R., Kartika T., Suhartanto M.R. dan Qadir A a. Dasar dan Ilmu Teknologi Benih. IPB Press. Bogor. Widajati E., Sari M., dan Utami E.P b. Perlakuan priming benih untuk mempertahankan vigor benih kacang panjang (Vigna unguiculata) selama penyimpanan. Bul. agrohorti 1 (4) : (2013). Yukti A.M Efektivitas matriconditioning plus agens hayati dalam pengendalian patogen terbawa benih, peningkatan vigor dan hasil padi. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor Yukti A.M. dan Ikrawati Evaluasi mutu fisiologis dan patologis benih padi varietas ciherang dan hipa 8. Buletin Pertanian Perkotaan Depok 4 (1) : Queen C Aspergillus niger. [27 September 2016].

41 32 LAMPIRAN

42 34 Lampiran 1. Mutu fisiologis pada benih padi setelah perlakuan a b c d e f g h i j k l m n o p q r Keterangan: Kontrol (a), Benomil 0,1% (b), Benomil 0,2% (c), Streptomycin sulfat 0,1% (d), Streptomycin sulfat 0,2% (e), minyak serai wangi 1% (f), minyak cengkeh 1% (g), minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (h), matriconditioning (i), matriconditioning + Benomil0,1% (j), matriconditioning + Benomil 0,2% (k), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,1% (l), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% (m), matriconditioning + minyak serai wangi 1% (n), matriconditioning + minyak cengkeh 1% (o), matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (p), B.subtillis 5/B (q), matriconditioning +B.subtillis 5/B

43 35 Lampiran 2. Mutu patologis tingkat infeksi cendawan pada benih padi setelah perlakuan a b c d e f g h i j k l m n o p Keterangan: Bagian yang dilingkari merupakan bagian yang terinfeksi patogen pada cendawan. Kontrol (a), Benomil 0,1% (b), Benomil 0,2% (c), Streptomycin sulfat 0,1% (d), Streptomycin sulfat 0,2% (e), minyak serai wangi 1% (f), minyak cengkeh 1% (g), minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (h), matriconditioning (i), matriconditioning + Benomil0,1% (j), matriconditioning + Benomil 0,2% (k), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,1% (l), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% (m), matriconditioning + minyak serai wangi 1% (n), matriconditioning + minyak cengkeh 1% (o), matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (p), B.subtillis 5/B (q), matriconditioning +B.subtillis 5/B q r

44 36 Lampiran 3. Mutu patologis jumlah bakteri Xoo pada benih padi setelah perlakuan a b c d e f g h i j k l m n o p q r Keterangan: Kontrol (a), Benomil 0,1% (b), Benomil 0,2% (c), Streptomycin sulfat 0,1% (d), Streptomycin sulfat 0,2% (e), minyak serai wangi 1% (f), minyak cengkeh 1% (g), minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (h), matriconditioning (i), matriconditioning + Benomil0,1% (j), matriconditioning + Benomil 0,2% (k), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,1% (l), matriconditioning + Streptomycin sulfat 0,2% (m), matriconditioning + minyak serai wangi 1% (n), matriconditioning + minyak cengkeh 1% (o), matriconditioning + minyak serai wangi + minyak cengkeh 1% (p), B.subtillis 5/B (q), matriconditioning +B.subtillis 5/B

45 37 Lampiran 4. Deskripsi varietas Ciherang Ciherang Tanggal Lepas : 2000 Asal Persilangan : IR /IR //IR ///IR64/////IR64 Anakan Produktif : batang Bentuk Gabah : Panjang Ramping Golongan : Cere Tahan Hama : Wereng Coklat biotipe 2 dan 3 Tahan Penyakit : Hawar Daun Bakteri (HDB) strai III dan IV Tinggi Tanaman : cm Umur Tanaman : hari Hasil : 5-8,5 t/ha Bobot : 1000 butir = 27-28g Tekstur Nasi : Pulen Anjuran : Cocok ditanam pada musim hujan dan kemarau dengan ketinggian dibawah 500m dpl Warna Gabah : Kuning bersih Keterangan : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan agak tahan biotipe 3. Tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan IV. Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah sampai 5000 m dpl. Status : Komersial Sumber : Balitbangtan 2015 Lampiran 5. Deskripsi varietas IPB 3S IPB 3S Tahun Lepas : 2012 Umur Tanaman : 112 hari Tinggi Tanaman : 118 hari Anakan Produktif : 7-11 batang Golongan : Cere Bentuk Tanaman : Tegak Warna Gabah : Kuning Jerami Jumlah gabah : 223 butir per malai Rata-rata Hasil : 7.0 ton/ha Potensi Hasil : 11.2 ton/ha Bobot : 1000 butir = 28.2 g Tahan hama : Tahan terhadap tungro, tahan terhadap penyakit blas, agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III Keterangan : Baik ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan mdpl Pemulia : Dr. Hajrial Aswidinnoor, Dr. Willy B. Suwarno, Dr. Desta Wirnas, dan Dr. Yudiwanti WE Kusmo Sumber : Buku Deskripsi Varietas tanaman IPB 2013

46 38 Lampiran 6. Deskripsi varietas IPB 4S IPB 4S Tanggal Lepas : 2012 Umur Tanaman : 112 hari Tinggi Tanaman : 114 hari Anakan Produktif : 8-12 batang Golongan : Cere Bentuk Tanaman : Tegak Warna Gabah : Kuning Jerami Jumlah Gabah : 218 butir per malai Rata-rata hasil : 7.0 ton/ha Potensi Hasil : 10.5 ton/ha Bobot : 1000 butir = 27.6 g Tahan Hama : Tahan terhadap tungro, tahan terhadap penyakit blas, agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III Keterangan : Baik ditanam dilahan irigasi dan tadah hujan m dpl Pemulia : Dr. Hajrial Aswidinnoor, Dr. Willy B. Suwarno, Dr. Desta Wirnas, dan Dr. Yudiwanti WE Kusmo Sumber : Buku Deskripsi Varietas Tanaman Unggul IPB 2013 Lampiran 7. Deskripsi varietas Inpari 19 INPARI 19 Komoditas : Padi Sawah Tahun : 2011 Anakan Produktif : +/- 15 malai Asal : BP342B-MR-1-3 / BP226E-MR-76 Bentuk gabah : Panjang/ramping Bentuk Tanaman : Tegak Berat 1000 butir : +/- 25,0 g Golongan : Indica Jumlah gabah per malai : +/- 203 butir Kadar amilosa : +/- 18 % Kerebahan : Tahan rebah Kerontokan : Sedang Nomor pedigri : B C-PN-5-MR-2-3-Si Permukaan daun : Kasar Posisi daun : Tegak Posisi daun bendera : Tegak Potensi hasil : 9,5 ton/ha GKG Rata-rata hasil : 6,7 ton/ha GKG Tekstur nasi : Pulen Tinggi Tanaman : +/- 102 cm

47 39 Umur tanaman : +/- 104 hari Warna batang : Hijau kekuningan Warna daun : Hijau Warna gabah : Kuning Warna kaki : Hijau kekuningan Warna lidah daun : Tidak berwarna Warna telinga daun : Tidak berwarna Keterangan : Umur tanaman 104 hari. Potensi hasil 9,5/ha GKG. Tekstur nasi Pulen. Ketahanan terhadap hama, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3. Ketahanan terhadap penyakit, tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII. Cocok ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian m dpl. Sumber: Balitbangtan 2015 Lampiran 8. Karakter morfologi dan biokimia yang digunakan untuk membedakan patogen Xanthomonas Karakter Xoo Xco Xcc Warna kuning keputihputihan sampai kuning tua kuning keputihputihan sampai kuning pucat kuning muda sampai kuning Morfologi cembung, bulat licin, cembung, kecil bulat Gram Negatif Negatif Negatif Oksidase Negatif Negatif Negatif Hidrolisis pati Negatif Positif Positif Tumbuh pada suhu 35 C bulat kecil, licin, berkilau, berlendir Positif Positif Positif Sumber : Mew et al Keterangan : Xoo = Xanthomonas oryzae pv oryzae, Xco = Xanthomonas campestris pv oryzicola, Xcc = Xanthomonas campestris pv campestris

48 40 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Juli Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yaitu Muhammad Arief Abyansah dan Nasywa Safna Rizkia dari pasangan Buyung Safarudin dan Dewi Rodhiana. Tahun 2006 penulis lulus dari SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyah Karawang, kemudian pada tahun 2009 menyelesaikan studi dari SMPN 1 Karawang Barat. Penulis lulus dari SMAN 3 kota Karawang pada tahun 2012 kemudian lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur SNMPTN Undangan dan diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi staf Departemen kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura pada tahun 2013/2014 dan 2014/2015. Penulis juga aktif pada beberapa kepanitiaan diantaranya adalah Divisi Konsumsi Masa Perkenalan Departemen Agronomi dan Hortikultura 50, Divisi Acara Seminar PT Bumitama Gunajaya Agro Goes To Campus, Divisi Humas Agrosportmen V, Divisi Event Karnaval Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2015, Divisi Bendahara Konsumsi Fruit Indonesian 2016.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat 11 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Desember 2011 di Laboratorium Agromikrobiologi, Balai Pengkajian Bioteknologi, BPPT PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan;

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni sampai dengan Oktober 2011 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor dan di Balai

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang BAHAN DAN METODE

PENDAHULUAN. Latar Belakang BAHAN DAN METODE Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PENGARUH MATRICONDITIONING PLUS FUNGISIDA NABATI ATAU SINTETIS TERHADAP VIGOR DAN KESEHATAN BENIH PADI (Oryza

Lebih terperinci

PERLAKUAN MATRICONDITIONING BENIH SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN VIGOR DAN VIABILITAS BENIH

PERLAKUAN MATRICONDITIONING BENIH SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN VIGOR DAN VIABILITAS BENIH PERLAKUAN MATRICONDITIONING BENIH SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN VIGOR DAN VIABILITAS BENIH Zaki Ismail Fahmi (PBT Ahli Pertama) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional di masa yang akan datang

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional di masa yang akan datang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional di masa yang akan datang dan mencukupi kebutuhan pangan Indonesia memerlukan peningkatan produksi padi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2012 sampai Mei 2012. Penderaan fisik benih, penyimpanan benih, dan pengujian mutu benih dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian 17 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Benih, Laboratorium Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dramaga

Lebih terperinci

PENGARUH PERLAKUAN MATRICONDITIONING TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH JAGUNG. Fauziah Koes dan Ramlah Arief Balai Penelitian Tanaman Serealia

PENGARUH PERLAKUAN MATRICONDITIONING TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH JAGUNG. Fauziah Koes dan Ramlah Arief Balai Penelitian Tanaman Serealia PENGARUH PERLAKUAN MATRICONDITIONING TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH JAGUNG Fauziah Koes dan Ramlah Arief Balai Penelitian Tanaman Serealia ABSTRAK Upaya peningkatan produksi dan produktivitas jagung

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE 10 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dan Rumah Kaca Instalasi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Rancangan Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Rancangan Percobaan 14 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Leuwikopo dan Laboratorium Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Lebih terperinci

PERLAKUAN INVIGORASI UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN KESEHATAN BENIH PADI HIBRIDA INTANI-2 SELAMA PENYIMPANAN PURNAWATI

PERLAKUAN INVIGORASI UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN KESEHATAN BENIH PADI HIBRIDA INTANI-2 SELAMA PENYIMPANAN PURNAWATI PERLAKUAN INVIGORASI UNTUK MENINGKATKAN MUTU FISIOLOGIS DAN KESEHATAN BENIH PADI HIBRIDA INTANI-2 SELAMA PENYIMPANAN PURNAWATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Bahan dan Alat Metode Pelaksanaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Bahan dan Alat Metode Pelaksanaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB, Darmaga, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Februari 2011 sampai dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Benih Kedelai. penyediaan benih berkualitas tinggi. Pengadaan benih kedelai dalam jumlah yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Benih Kedelai. penyediaan benih berkualitas tinggi. Pengadaan benih kedelai dalam jumlah yang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Benih Kedelai Salah satu faktor pembatas produksi kedelai di daerah tropis adalah cepatnya kemunduran benih selama penyimpanan hingga mengurangi penyediaan benih berkualitas tinggi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, hal ini dikarenakan kebiasaan dan tradisi masyarakat Indonesia ketergantungan dengan beras. Oleh

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan 14 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro pada tanggal 27 Maret 2017-23 Mei

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode 23 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret Agustus 2012. Perbanyakan benih dilakukan pada bulan Maret-Juni 2012 di KP Leuwikopo. Pengujian benih dilakukan pada bulan

Lebih terperinci

II. MATERI DAN METODE

II. MATERI DAN METODE II. MATERI DAN METODE 2.1 Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 2.1.1 Materi Alat yang digunakan dalam penelitian adalah cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur, pembakar spiritus, pipet, jarum ose, erlenmeyer,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 13 METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 hingga Januari 2011 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dan Laboratorium Mikrobiologi dan Kesehatan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Pengaruh Lot Benih dan Kondisi Tingkat Kadar Air Benih serta Lama Penderaan pada PCT terhadap Viabilitas

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Pengaruh Lot Benih dan Kondisi Tingkat Kadar Air Benih serta Lama Penderaan pada PCT terhadap Viabilitas 16 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Laboratorium Hortikultura dan rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 13 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, Dramaga, Bogor untuk pengujian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tabel 1 Kombinasi perlakuan yang dilakukan di lapangan

BAHAN DAN METODE. Tabel 1 Kombinasi perlakuan yang dilakukan di lapangan 13 BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor serta di Laboratorium Bakteriologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan dan Rumah Kaca University Farm, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Pelaksanaan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Pelaksanaan 13 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2011 hingga bulan Februari 2012 di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan Juli

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dalam penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB. Pelaksanaan percobaan dimulai dari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pra-pengamatan atau survei

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pra-pengamatan atau survei BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pusat Kajian Buah-Buahan Tropika IPB (PKBT-IPB) Pasir Kuda, Desa Ciomas, Bogor, dan Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan

BAHAN DAN METODE. Bahan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Patologi Serangga, dan Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang HASIL DA PEMBAHASA 21 Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang Tabel 1 menunjukkan hasil rekapitulasi sidik ragam pengaruh

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Oktober 2013 sampai bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyiapan tanaman uji

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyiapan tanaman uji BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2010 Maret 2011. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Darmaga pada

Lebih terperinci

PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI

PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI (Oryza sativa Linn.) YANG TERINFEKSI Xanthomonas oryzae pv. oryzae TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL PADI DI RUMAH KACA CANDRA BUDIMAN A24050099 DEPARTEMEN AGRONOMI

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Hama dan Penyakit dan rumah kaca Balai penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITTRO), Bogor; pada bulan Oktober

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. = nilai peubah yang diamati µ = nilai rataan umum

BAHAN DAN METODE. = nilai peubah yang diamati µ = nilai rataan umum 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Leuwikopo, Institut Pertanian Bogor, Dramaga-Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober

Lebih terperinci

Gambar 1 Tanaman uji hasil meriklon (A) anggrek Phalaenopsis, (B) bunga Phalaenopsis yang berwarna putih

Gambar 1 Tanaman uji hasil meriklon (A) anggrek Phalaenopsis, (B) bunga Phalaenopsis yang berwarna putih BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Isolasi dan perbanyakan sumber inokulum E. carotovora dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Kegiatan penelitian terdiri dari tiga percobaan. Percobaan pertama yaitu

BAHAN DAN METODE. Kegiatan penelitian terdiri dari tiga percobaan. Percobaan pertama yaitu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB Darmaga pada bulan Februari April 2012. Bahan dan Alat Bahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 8 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2008 hingga Maret 2009 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari Bulan April sampai dengan Juni 2013, di

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari Bulan April sampai dengan Juni 2013, di 17 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan dari Bulan April sampai dengan Juni 2013, di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Oktober 2011 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Laboratorium Kromatografi dan Analisis Tumbuhan, Departemen

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan 11 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Agroteknologi Bidang Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian, Medan dengan ketinggian tempat + 25 m dpl pada Bulan Mei

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pembiakan P. fluorescens dari Kultur Penyimpanan

BAHAN DAN METODE. Pembiakan P. fluorescens dari Kultur Penyimpanan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor mulai bulan Februari

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas 13 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Bidang Proteksi Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun 17 III. BAHAN DAN MEODE 3.1 empat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit umbuhan dan ebun Percobaan di dalam kampus di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great Giant Pineapple (GGP) di Lampung Timur dan PT. Nusantara Tropical Farm, Lampung

Lebih terperinci

Metode Penelitian. Rancangan Percobaan

Metode Penelitian. Rancangan Percobaan Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Pengaruh Perlakuan Matriconditioning Plus Bakterisida Sintetis atau Nabati untuk Mengendalikan Hawar Daun

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi dan eksperimen. Penelitian eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

Lebih terperinci

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHA DA METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu penelitian Bahan dan Alat Isolasi dan Uji Reaksi Hipersensitif Bakteri Penghasil Siderofor

BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu penelitian Bahan dan Alat Isolasi dan Uji Reaksi Hipersensitif Bakteri Penghasil Siderofor BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dari Oktober 2010

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan Laboratorium Teknologi Benih dan Pemuliaan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan Laboratorium Teknologi Benih dan Pemuliaan 30 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan Laboratorium Teknologi Benih dan Pemuliaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai bulan Agustus sampai Oktober

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Peremajaan Aktinomiset dari Kultur Penyimpanan Perbanyakan Sclerotium rolfsii dari Kultur Penyimpanan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Peremajaan Aktinomiset dari Kultur Penyimpanan Perbanyakan Sclerotium rolfsii dari Kultur Penyimpanan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai Maret 2011 sampai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Uji Pemeliharaan dan Penyiapan Suspensi Bakteri Endofit dan PGPR

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penyiapan Tanaman Uji Pemeliharaan dan Penyiapan Suspensi Bakteri Endofit dan PGPR 17 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan di Rumah Kaca, University Farm,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan Laboratorium Lapangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan Januari 2012

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan November

Lebih terperinci

PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI YANG TERINFEKSI Xanthomonas oryzae pv. oryzae TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL PADI DI LAPANG

PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI YANG TERINFEKSI Xanthomonas oryzae pv. oryzae TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL PADI DI LAPANG PENGARUH PERLAKUAN PADA BENIH PADI YANG TERINFEKSI Xanthomonas oryzae pv. oryzae TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL PADI DI LAPANG AHMAD ZAMZAMI A24052270 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS

Lebih terperinci

PENGARUH KOMBINASI KADAR AIR BENIH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS DAN SIFAT FISIK BENIH PADI SAWAH KULTIVAR CIHERANG

PENGARUH KOMBINASI KADAR AIR BENIH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS DAN SIFAT FISIK BENIH PADI SAWAH KULTIVAR CIHERANG Jurnal Agrorektan: Vol. 2 No. 1 Juni 2015 53 PENGARUH KOMBINASI KADAR AIR BENIH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS DAN SIFAT FISIK BENIH PADI SAWAH KULTIVAR CIHERANG Tita Kartika Dewi 1 1) Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pangan dan Hortikultura Sidoarjo dan Laboratorium Mikrobiologi, Depertemen

BAB III METODE PENELITIAN. Pangan dan Hortikultura Sidoarjo dan Laboratorium Mikrobiologi, Depertemen BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di UPT Pengembangan Agrobisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura Sidoarjo dan Laboratorium Mikrobiologi, Depertemen Biologi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya dan

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya dan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya dan kumbung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 13 METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Desember 2011 sampai Agustus

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada bulan November 2016

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada bulan November 2016 17 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada bulan November 2016 Januari 2017 di Food Technology Laboratory, Laboratorium Terpadu, Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Penelitian Metode Penelitian Isolasi dan Identifikasi Cendawan Patogen

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan Penelitian Metode Penelitian Isolasi dan Identifikasi Cendawan Patogen 14 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Juli 2012 di Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015).

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015). IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Invigorasi Terhadap Viabilitas dan Vigor Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biji Buru Hotong Gambar biji buru hotong yang diperoleh dengan menggunakan Mikroskop Sterio tipe Carton pada perbesaran 2 x 10 diatas kertas millimeter blok menunjukkan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penapisan ketahanan 300 galur padi secara hidroponik 750 ppm Fe. Galur terpilih. Galur terpilih

BAHAN DAN METODE. Penapisan ketahanan 300 galur padi secara hidroponik 750 ppm Fe. Galur terpilih. Galur terpilih BAHAN DAN METODE Ruang Lingkup Penelitian Penelitian tentang penapisan galur-galur padi (Oryza sativa L.) populasi RIL F7 hasil persilangan varietas IR64 dan Hawara Bunar terhadap cekaman besi ini dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan Tanaman dan Media BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Medan dengan ketinggian tempat + 25 meter di atas permukaan laut pada bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan tempat Bahan dan alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan tempat Bahan dan alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan tempat Penelitian ini dilakukan di Bagian Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Darmaga dan Balai Besar

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat. Tabel 1. Keterangan mutu label pada setiap lot benih cabai merah

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat. Tabel 1. Keterangan mutu label pada setiap lot benih cabai merah 11 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Agustus 2012 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga pada bulan Januari-Mei

Lebih terperinci

Pengaruh Perlakuan pada Benih Padi yang Terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. oryzae terhadap Pertumbuhan Tanaman dan Hasil Padi di Lapang

Pengaruh Perlakuan pada Benih Padi yang Terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. oryzae terhadap Pertumbuhan Tanaman dan Hasil Padi di Lapang Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Pengaruh pada Benih Padi yang Terinfeksi Xanthomonas oryzae pv. oryzae terhadap Pertumbuhan Tanaman dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2014.

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2014. 10 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2014. Pengambilan sampel tanah dilakukan di Hutan mangrove Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Analisis

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari Oktober 2013 sampai dengan Januari

Lebih terperinci

Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat, dengan ketinggian 725 m di atas permukaan laut.

Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat, dengan ketinggian 725 m di atas permukaan laut. 25 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Pelaksanaan percobaan berlangsung di Kebun Percobaan dan Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi 11 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Pelaksanaan penelitian

Lebih terperinci

KIRANA NUGRAHAYU LIZANSARI

KIRANA NUGRAHAYU LIZANSARI 1 Perlakuan Benih dan Perendaman Akar Bibit dengan Agens Hayati untuk Mengendalikan Serangan Xanthomonas oryzae pv. oryzae serta Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Padi di Rumah Kaca KIRANA NUGRAHAYU LIZANSARI

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pertanian Universitas Lampung dari Bulan Agustus 2011 sampai dengan Bulan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pertanian Universitas Lampung dari Bulan Agustus 2011 sampai dengan Bulan 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari Bulan Agustus 2011 sampai

Lebih terperinci

HAMA DAN PENYAKIT BENIH Oleh: Eny Widajati

HAMA DAN PENYAKIT BENIH Oleh: Eny Widajati HAMA DAN PENYAKIT BENIH Oleh: Eny Widajati SERANGGA HAMA Di lapang Di gudang Menyerang benih dengan kadar air masih tinggi Mampu menyerang benih berkadar air rendah Serangga hama di penyimpanan dibedakan

Lebih terperinci

PENINGKATAN PERFORMANSI BENIH KACANGAN DENGAN PERLAKUAN INVIGORASI. Agus Ruliyansyah 1

PENINGKATAN PERFORMANSI BENIH KACANGAN DENGAN PERLAKUAN INVIGORASI. Agus Ruliyansyah 1 Perkebunan dan Lahan Tropika ISSN: 2088-6381 J. Tek. Perkebunan & PSDL Vol 1, Juni 2011,hal 13-18 PENINGKATAN PERFORMANSI BENIH KACANGAN DENGAN PERLAKUAN INVIGORASI Agus Ruliyansyah 1 ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya

Lebih terperinci

STUDI UJI DAYA HANTAR LISTRIK PADA BENIH KEDELAI (Glycine max L. (Merr.)) DAN HUBUNGANNYA DENGAN MUTU FISIOLOGIS BENIH

STUDI UJI DAYA HANTAR LISTRIK PADA BENIH KEDELAI (Glycine max L. (Merr.)) DAN HUBUNGANNYA DENGAN MUTU FISIOLOGIS BENIH STUDI UJI DAYA HANTAR LISTRIK PADA BENIH KEDELAI (Glycine max L. (Merr.)) DAN HUBUNGANNYA DENGAN MUTU FISIOLOGIS BENIH Oleh: NURUL FITRININGTYAS A10400019 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Metode Penelitian Perbanyakan Propagul Agens Antagonis Perbanyakan Massal Bahan Pembawa Biopestisida

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Metode Penelitian Perbanyakan Propagul Agens Antagonis Perbanyakan Massal Bahan Pembawa Biopestisida 7 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan Balai Penelitian Tanaman

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang pada bulan Agustus

BAB III METODE PENELITIAN. Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang pada bulan Agustus 40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balitkabi yang terletak di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang pada bulan Agustus sampai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih serta Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA TANAM DAN SUHU TERHADAP PENGUJIAN DAYA BERKECAMBAH BENIH KEDELAI (Glycine max ) DI LABORATORIUM BPSBTPH KALIMANTAN SELATAN

PENGARUH MEDIA TANAM DAN SUHU TERHADAP PENGUJIAN DAYA BERKECAMBAH BENIH KEDELAI (Glycine max ) DI LABORATORIUM BPSBTPH KALIMANTAN SELATAN PENGARUH MEDIA TANAM DAN SUHU TERHADAP PENGUJIAN DAYA BERKECAMBAH BENIH KEDELAI (Glycine max ) DI LABORATORIUM BPSBTPH KALIMANTAN SELATAN Siti Saniah dan Muharyono Balai Pengujian dan Sertifikasi Benih

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian produksi benih dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung mulai dari bulan Maret sampai Juni 2009. Pengujian viabilitas benih

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus Uji potensi

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus Uji potensi BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2016. Uji potensi mikroba pelarut fosfat dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan 14 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Pelaksanaan penelitian

Lebih terperinci

Keywords : cowpea, invigoration, matriconditioning, priming, storage PENDAHULUAN

Keywords : cowpea, invigoration, matriconditioning, priming, storage PENDAHULUAN Makalah Seminar Departemen Agronomi Dan Hortikultura PENGGUNAAN METODE INVIGORASI UNTUK MENINGKATKAN DAYA SIMPAN BENIH KACANG PANJANG (Vigna sinensis (L). Savi Ex Hask ) Using Method Of Invigoration To

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Februari sampai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) yaitu dengan pemberian insektisida golongan IGR dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) yaitu dengan pemberian insektisida golongan IGR dengan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Jenis Penelitian ini adalah penelitian experimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu dengan pemberian insektisida golongan IGR dengan jenis

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN Berbagai jenis makanan dan minuman yang dibuat melalui proses fermentasi telah lama dikenal. Dalam prosesnya, inokulum atau starter berperan penting dalam fermentasi.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci