Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2013-2018"

Transkripsi

1 BAB II Aspek Geografi dan Demografi Kosali Batunong LASUSUA. Lelewawo Luas daratan 24,74% Uwesi Liasa Wiwirano Lewulo Girowuto Tawanga Matarambeo Pandua Wawotobi Amusu Konaweha Awuliki Kampa KOLAKA Raterate Embetpua Ladianta. Baru ANDOLO. Boroboro Lamangopa Baula Ladongi Motoha Pomalas Landipa Polara Lalomasea Tambosupa Rokoroko Batukilat Horodopi Wamua-emboteo Kolono AlanggaWawooru Paopi PonggalukuLainoa Tondobollo Lalonggasomate Rumba Tinanggea Pamandati Labuhantobelo Wambakowu Polewali Walue LANGKOWALA Towari Koroni. Wubumbaka Lebo Laieja Poleang Daule Lambale Kembano Bone Mulina Rota Kalibu Pulausope. RAHA Lipu Nunu Rombo Lemo Laora Wansaribu Rambaha Latambara Bungingkalo WatumetaDoka Tongkuno Mandulah Kaitala Tontonerele Bungi Pasar Mustari Wasalanangka Tondo Tampunawu PuntauToruku Sikeli Eete WasindoliLasongko Lombai Lasalimu Waha Tangkeno Bonemale Lamboau Pasardongkala Wanci Kapetan Labuandri Ku Lia Mataragas Matanauwe Mandati BAUBAU Kokoe. Ganda Rongi Pasarwajo Batanga Wabula Masiri Luas Laut 74,26% Tambua Anggoro Malowe Liwulo Matingola Sampuagiwolo Waha Usku Kaelati Papalia Karakteristik Lokasi dan Wilayah Luas dan Batas Wilayah Administrasi Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki total luas wilayah km 2, meliputi luas daratan km 2 dan luas laut km 2. Panjang garis pantai km, jumlah pulau 651 buah, 361 pulau diantaranya telah memiliki nama, 290 pulau belum memiliki nama dan hanya 86 pulau yang berpenghuni. 39% penduduk Sulawesi Tenggara bermukim di kepulauan. Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dengan : berbatasan Sebelah Utara : Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah Sebelah Barat : Teluk Bone Sebelah Selatan : Laut Flores (Provinsi NTT) Sebelah Timur : Laut Banda (Provinsi Maluku) Secara administratif Provinsi Sulawesi Tenggara terbagi menjadi 13 kabupaten/kota, 204 kecamatan, 350 kelurahan dan desa. Hingga Tahun 2012 penduduk Sulawesi Tenggara tercatat sebanyak jiwa Letak dan Kondisi Geografis a) Posisi Astronomis Sulawesi Tenggara terletak di selatan garis khatulistiwa pada 02 O O 15 LS dan 120 O O 45 BT, terdiri atas jazirah dan kepulauan. b) Kondisi Topografi Sebagian besar topografi Sulawesi Tenggara terdiri dari tanah berbukit hingga bergunung, yaitu ± 74% sedang selebihnya datar sampai berombak ± 26%, sebagaimana disajikan pada tabel berikut : Tabel 1. Kondisi Topograsi Wilayah Sulawesi Tenggara Kondisi Tanah Luas (km 2 ) Luas (%) Dataran sampai berombak 9.916,40 26 Tanah berbukit 9.535,00 25 Pegunungan relatif rendah ,60 49 Jumlah , Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 1

2 Topografi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Secara umum topografi Sulawesi Tenggara bergelombang hingga bergunung. Pada beberapa tempat terdapat dataran aluvial seperti Mowewe, Lainea, Ladongi dan lain-lain. Berdasarkan kelas kemiringan lahan maka kondisi topografi di Sulawesi Tenggara dapat dibedakan sebagai berikut : a. Dataran Konaweha-Lahumbuti dengan luas kurang lebih ha. b. Dataran Rate-rate Lambandia dengan luas kurang lebih ha. c. Dataran Waworamo Punggaluku dengan luas kurang lebih ha. d. Dataran Tinanggea Lakara dengan luas kurang lebih ha. e. Dataran Lalindu Lasolo dengan luas kurang lebih ha. f. Dataran Konda dengan luas kurang lebih ha. g. Dataran Sampara dengan luas kurang lebih ha. h. Dataran Roraya dengan luas kurang lebih ha. i. Dataran Kolono dengan luas kurang lebih ha. j. Dataran Oko-oko Tawai dengan luas kurang lebih ha. k. Dataran Kolaka Pomalaa dengan luas kurang lebih ha. l. Dataran Watuputih dengan luas kurang lebih ha. Kondisi kelerengan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara didominasi dengan kondisi kelerengan 0-40 % seluas kurang lebih 72,23 persen dari luas daratan, secara rinci tingkat kelerengan tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini Geologi Tabel 2. Luas Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Menurut Kelerengan Wilayah Kemiringan (%) Luas (ha) Persentase ( % ) , , ,86 > ,77 Jumlah ,00 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 Kondisi batuan terdiri dari tiga jenis batuan yaitu batuan sedimen, batuan metamorfosis dan batuan beku. Luas masing-masing jenis batuan tersebut adalah batuan sedimen seluas ha, batuan metamorfosis seluas ha dan batuan beku seluas ha. Terdapat 6 (enam) jenis tanah yaitu tanah podzolik seluas ha atau 60,30 ha persen dari luas tanah di Sulawesi Tenggara, tanah mediteran seluas 898,802 ha (23,57 %) tanah latosol seluas 349,784 ha (9,17 %), tanah alluvial seluas ha (3,40%), tanah organosol seluas ha (3.04 %), dan tanah gromusol seluas ha (0,52%) Hidrologi Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa sungai besar maupun sungai kecil yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan air bersih, irigasi, pembangkit listrik, dan untuk berbagai kebutuhan lainnya. Beberapa sungai besar seperti Sungai Konaweha di Konawe, Sungai Lasolo di Konawe Utara, Sungai Tamboli di Kolaka, memiliki debit air hingga 200 m 3 per detik. Selain sungai di atas masih banyak sungai-sungai di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara antara lain Sungai Lalindu, Sungai Roraya, Sungai Sampolawa, Sungai Wandasa, Sungai Kabangka Balano dan lain-lain. Di samping sungai-sungai tersebut terdapat pula 2 (dua) rawa yang cukup besar, yaitu Rawa Aopa yang terdapat di Kabupaten Konawe Selatan dan Rawa Tinondo yang terdapat di Kabupaten Kolaka. BAB II- 2

3 Klimatologi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson tipe iklim di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dibedakan ke dalam 5 (lima) klasifikasi iklim, yaitu : Tabel 3. Tipe Iklim Berdasarkan Klasifikasi Schmidt dan Ferguson di Provinsi Sulawesi Tenggara No Tipe Iklim Wilayah 1 B Sekitar wilayah Kecamatan Asera (Kab. Konawe Utara) Sekitar wilayah Kecamatan Lainea (Kab. Konawe Selatan) Sekitar wilayah Kecamatan Pakue dan Lasusua (Kab. Kolaka Utara) Sekitar wilayah Kecamatan Kabawo (Kab. Muna) 2 C Sekitar wilayah Kecamatan Lambuya, Wawotobi dan Sampara (Kab. Konawe) Sekitar Kecamatan Lainea, Tinanggea dan Konda (Kab. Konawe Selatan) Sekitar wilayah Kecamatan Wolo, Kolaka, Wundulako dan Mowewe (Kab. Kolaka) Sekitar Kecamatan Pasar Wajo (Kab. Buton) Kecamatan Rarowatu, Kabaena Timur dan Rumbia (Kab. Bombana) Sekitar Kecamatan Wolio (Kota Baubau) Sekitar Kecamatan Kulisusu (Kab. Buton Utara) 3 D Sekitar wilayah Kecamatan Pondidaha, Abuki (Kab. Konawe) Sekitar wilayah Kecamatan Moramo, Tinanggea, Landono, Angata (Kab. Konawe Selatan) Sekitar wilayah Kecamatan Watubangga, Tirawuta dan Ladongi (Kab. Kolaka) Sekitar wilayah Kecamatan Batauga, Sampolawa, Kapontori, Lasalimu, Gu (Kab. Buton) Sekitar wilayah Kecamatan, Kabaena dan Poleang Timur (Kab. Buton) Sekitar wilayah Kecamatan Bungi (Kota Baubau) Sekitar Kota Kendari Sekitar Kecamatan Tikep dan Lawa (Kab. Muna) 4 E Sekitar Wilayah Kecamatan Mawasangka (Kab. Buton) Sekitar Wilayah Kecamatan Kaledupa (Kab. Wakatobi) 5 G Sekitar Kecamatan Tomia (Kab. Wakatobi) Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 Tabel 4. Keadaan Hari Hujan dan Curah hujan di Beberapa Daerah di Sulawesi Tenggara Bulan Pasarwajo Andoolo (Konawe Raha (Muna) Baubau Pomalaa (Kolaka) (Buton) Selatan) Kendari HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH Januari , , , , ,60 Februari , , , , ,30 Maret , , , , ,50 April , , , , ,70 Mei , , , , ,60 Juni , , , , ,90 Juli , , , , ,80 Agustus ,00 1 0, , ,70 3 1,00 September , ,80 7 2, ,00 4 4,00 Oktober ,00 1 1, , ,10 2 1,50 November , , , , ,10 Desember , , , , ,10 Jumlah , , , , ,10 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 3

4 Penggunaan Lahan a) Kawasan Budidaya Total penggunaan tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah seluas ha, yang terbagi ke dalam 8 (delapan) jenis, yaitu : tanah sawah seluas ha, bangunan dan halaman sekitarnya seluas ha, tanah tegalan/kebun seluas , tanah ladang/huma seluas ha, tanah padang rumput ha, tanah rawa yang tidak ditanami ha, tambak, kolam, tebat dan empang seluas ha, lahan yang sementara tidak diusahakan seluas ha, lahan tanaman kayu-kayuan seluas ha tanah hutan negara seluas ha, tanah perkebunan seluas ha dan lainnya ha. b) Kawasan Lindung Untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup maka telah ditetapkan beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Tenggara sebagai berikut : Kawasan Suaka Alam yang meliputi : Cagar Alam Napabalano Cagar Alam Lamedai Cagar Alam Kakinauwe Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo Suaka Margasatwa Buton Utara Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo Suaka Margasatwa Lambusango. Kawasan Pelestarian Alam yang meliputi : Taman Hutan Raya Gunung Nipa-nipa Taman Hutan Nasional Rawa Aopa Watumohai Taman Nasional Laut Wakatobi Taman Wisata Alam Mangolo Taman Wisata Alam Tirta Rimba Moramo Taman Wisata Alam Laut P. Padamarang dan sekitarnya Taman Wisata Alam Teluk Lasolo Taman Buru Mata Osu Flora dan Fauna Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan alam berupa fauna (binatang) yang khas dan jarang dijumpai di daerah lain di Indonesia. Jenis binatang khas atau spesifik di daerah ini antara lain adalah Anoa, Babi Rusa dan Burung Maleo yang merupakan satwa langka sehingga mendapat perlindungan yang ketat. Binatang lain yang hidup di Sulawesi Tenggara adalah Monyet, Musang, Rusa, Ular, Babi Hutan, Burung Nuri dan Kakatua. Jenis-jenis Flora endemik di Sulawesi Tenggara adalah kayu kuku (Pericopsis mooniana) dan jenis komersil lainnya seperti kayu besi, kayu hitam, palapi, jati, rotan dan lain-lain. Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari biosfir, terdiri dari berbagai ekosistem daratan dan lautan yang merupakan sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan secara lestari Potensi pengembangan wilayah Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya, seperti : perikanan, pertanian, pariwasata, industri, pertambangan dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah Pertanian dan Perkebunan Produksi padi dan palawija di Provinsi Sulawesi Tenggara memperlihatkan perkembangan yang meningkat dari tahun ke tahun, sebagaimana disajikan pada tabel berikut : BAB II- 4

5 Tabel 5. Produksi Padi dan Palawija Provinsi Sulawesi Tenggara URAIAN Produksi Padi Produksi Palawija Total (Ton) Sumber : Dinas Pertanian Prov. Sultra Tahun 2013 Peningkatan produksi daging dan telur juga terus terjadi peningkatan, sejak tahun 2008 hingga tahun 2012, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 6. Produksi Daging dan Telur Provinsi Sulawesi Tenggara Uraian Ternak Besar (kg) Ternak Kecil (kg) Telur Unggas (kg) Sumber : Dinas Pertanian Prov. Sultra, Tahun 2013 Perkembangan produksi tanaman perkebunan kakao sejak tahun 2007 hingga tahun 2010 memperlihatkan perkembangan yang terus meningkat. Namun pada tahun 2011 terjadi penurunan produksi, hal ini disebabkan oleh serangan hama dan umur tanaman yang tidak lagi produktif. Karena itu, sejak tahun 2011 telah dilaksanakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Kakao (GERNAS Kakao). Perkembangan produksi kakao di Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Perdagangan Tabel 7. Produksi Kakao Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Produksi Kakao (Ton) Sumber: Disbun & Hortikultura Prov. Sultra, Tahun 2013 Realisasi perdagangan antar pulau dalam bentuk hasil bumi dan hasil laut sejak tahun 2008 hingga 2011 memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan dari sisi volume maupun nilai tambahnya. Pada tahun 2008 nilai perdagangan antar pulau tercatat Rp. 3,64 milyar naik menjadi Rp. 4,25 milyar pada tahun Secara rinci volume dan nilai perdagangan antar pulau Provinsi Sulawesi Tenggara tahun disajikan pada tabel berikut : Tabel 8. Realisasi Perdagangan Hasil Bumi dan Hasil Laut Antar Pulau No. Tahun Volume (Ton) Nilai (Rp) ,401, , ,649,466, ,506, ,352,443, ,957, ,504, ,275, ,254,101, Sumber : Dinas Prindag Prov. Sultra, Tahun 2012 Komoditas ekspor Sulawesi Tenggara Tahun , meliputi hasil tambang nikel, hasil perkebunan yaitu kakao dan jambu mete serta hasil laut seperti ikan, rumput laut dan lain-lain. Dalam periode tersebut rata-rata kenaikan nilai ekspor sebesar 2,41% per tahun, walau pada tahun 2009 terjadi penurunan nilai ekspor. Keadaan volume dan nilai ekspor tahun disajikan pada tabel berikut : BAB II- 5

6 Tabel 9. Volume dan Nilai Ekspor di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun No. Tahun Volume (Ton) Nilai ($ US) , , , , , , , ,74 Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun Perkoperasian Perkembangan perkoperasian di Provinsi Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan baik jumlah lembaga koperasi, anggota, omset dan aset. Hingga Tahun 2011 jumlah koperasi tercatat unit dengan jumlah anggota mencapai orang. Total aset yang dimiliki adalah sebesar Rp ,- dengan omset sebesar Rp , Perindustrian Pertumbuhan industri besar dan industri sedang serta jumlah tenaga kerja dan pengeluaran untuk tenaga kerja disajikan pada tabel berikut ini. Tahun Tabel 10. Pertumbuhan Industri di Provinsi Sulawesi Tenggara Jumlah Industri Besar dan Sedang Tenaga Kerja Pengeluaran Untuk Tenaga Kerja (Rp. 000) Nilai Tambah Harga Pasar (Rp.000) Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 Jumlah industri kecil serta tenaga kerja, investasi dan nilai produksi meningkat pesat dalam kurun waktu Tahun Keadaan pertumbuhan industri kecil yang merupakan industri hasil pertanian, kehutanan, logam dan mesin serta industri aneka ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 11. Keadaan Industri Kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Jumlah Jumlah T. Perusahaan Kerja Investasi Nilai Produksi Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 6

7 Pertambangan Tambang nikel dan aspal merupakan dua jenis produksi pertambangan yang menonjol di Sulawesi Tenggara. Produksi dan nilai produksi kedua jenis tambang tersebut ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 12. Data Produksi Bahan Galian Provinsi Sulawesi Tenggara Jenis Bahan Galian Nickel (wmt) , , , , ,00 Ferro Nickel (wmt) , , , , ,00 Aspal (wmt) 0, , ,13 0, ,00 Kromit (wmt) 0,00 0, , , ,00 Emas (gram) 0, , ,09 789, ,13 Sumber : Dinas ESDM Prov. Sultra, Tahun 2013 Gambar 1. Produksi Bahan Galian Provinsi Sulawesi Tenggara , , , ,00 256,00 16,00 1, Jenis Bahan Galian Nickel (wmt) Ferro Nickel (wmt) Aspal (wmt) Kromit (wmt) Emas (Gram) Sumber : Hasil Olahan, Listrik Pertumbuhan permukiman di Provinsi Sulawesi Tenggara signifikan dengan pertambahan cabang dan ranting perusahaan listrik negara, banyaknya pelanggan, tenaga listrik yang terjual serta nilai penjualan listrik. Keadaan perkembangan listrik di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun disajikan pada tabel berikut : Tabel 13. Perkembangan Kelistrikan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Jumlah Kepala Keluarga (KK) Jumlah KK berlistrik Rasio Elektrifikasi 37, Sumber : Dinas ESDM Prov. Sultra, Tahun 2011 Meningkatnya daya terpasang pada tahun 2010, disebabkan oleh selesainya terbangun PLTU Nii Tanasa di Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe dengan kapasitas MW, sehingga meningkatnya rasio elektrikfikasi dari 45% menjadi 59%. BAB II- 7

8 Wilayah Rawan Bencana Jenis bencana alam yang potensial terjadi di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara, meliputi : gempa bumi, banjir air, angin topan, gelombang pasang/tsunami, tanah longsor, kebakaran dan abrasi. Lokasi yang paling berpotensi terhadap terjadinya bencana alam gempa bumi di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi kawasan Pulau Muna bagian barat dan selatan, Pulau Buton, Kolaka Utara, Konawe Selatan bagian timur, Kota Kendari dan Pulau Wawonii. Sedangkan lokasi yang paling berpotensi terhadap terjadinya bencana alam gelombang pasang/tsunami meliputi kawasan pesisir Pulau Muna bagian barat dan selatan, Pulau Buton bagian selatan dan Kepulauan Wakatobi. Adapun bencana yang diakibatkan oleh kecelakaan laut sangat potensial terjadi di seluruh perairan laut Sulawesi Tenggara seiring dengan terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan semakin tingginya gelombang laut serta semakin meningkatnya intensitas lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut dari waktu ke waktu Demografi Memberikan deskripsi ukuran, struktur dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk pada komposisi dan populasi masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama atau entitas tertentu. Dari segi administrasi pemerintahan, Provinsi Sulawesi Tenggara dibentuk pada tanggal 27 April 1964 berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Nomor 2 Tahun 1964 juncto Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 dengan cakupan wilayah administrasi yang meliputi 4 (empat) kabupaten yakni Kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna. Tabel 14. Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 No Kabupaten/Kota Luas Wilayah (km 2 ) Jumlah Kecamatan Desa/Kel. 1 Konawe 6.568, Kolaka 6.918, Muna 2.041, Buton Kota Kendari 391, Kota Baubau Konawe Selatan 5.779, Kolaka Utara 3.391, Bombana 2.961, Wakatobi 822, Buton Utara 1.959, Konawe Utara 5.101, Jumlah , Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 Dalam perkembangannya, wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2003 berkembang menjadi 6 (enam) kabupaten dan 2 (dua) kota. Seiring dengan euforia pemekaran wilayah maka pada tahun 2007, wilayah administrasi telah menjadi 10 (sepuluh) kabupaten dan 2 (dua) kota, 177 kecamatan dan desa/kelurahan sebagaimana ditunjukkan Tabel 14. Karakteristik demografis Provinsi Sulawesi Tenggara ditandai dengan penyebaran penduduk antar wilayah yang tidak merata, pertumbuhan penduduk yang melampaui angka nasional, struktur penduduk yang berbentuk piramidal dan angka ketergantungan (dependency ratio) yang cukup tinggi yang kesemuanya perlu mendapat perhatian yang lebih seksama. BAB II- 8

9 Kabupaten induk seperti Kolaka dan Kota Kendari memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi dibanding dengan kabupaten kota lainnya di Sulawesi Tenggara. Keadaan jumlah, persebaran dan pertumbuhan penduduk kabupaten kota di Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Tabel 15. Jumlah Pesebaran dan Pertumbuhan Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara No. Kabupaten/Kota Jumlah (jiwa) Pesebaran (%) Pertumbuhan (%)* 1 Buton ,19 0,36 2 Buton Utara ,62 1,80 3 Wakatobi ,68 0,34 4 Bombana ,47 3,81 5 Muna ,91 1,45 6 Konawe ,63 1,87 7 Konawe Selatan ,40 2,55 8 Konawe Utara ,18 2,68 9 Kolaka ,38 3,18 10 Kolaka Utara ,48 3,26 11 Kota Kendari ,92 4,15 12 Kota Baubau ,04 2,62 Jumlah ,00 2,25 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 *) pertumbuhan penduduk tahun Jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas mencapai jiwa atau 62,04% dari jumlah penduduk Sulawesi Tenggara. Dari jumlah tersebut 95,39% tercatat sebagai penduduk yang bekerja dari total angkatan kerja. Kondisi ini sejalan dengan persentase angka pengangguran pada tahun 2011 yang tercatat 3,06% menurun dari 6,39% pada tahun Selanjutnmya struktur penduduk menurut kelompok umur di Provinsi Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Tabel 16. Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Menurut Kelompok Umur Klp Umur > Total Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 9

10 Ditinjau dari Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate atau TFR) sesuai Laporan Pendahuluan SDKI Tahun 2012 dimana TFR adalah jumlah dari angka kelahiran menurut kelompok umur dan merupakan ringkasan ukuran dari tingkat fertilitas. Angka ini menggambarkan rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang wanita pada akhir masa reproduksinya jika ia mengikuti pola fertilitas yang berlaku. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata wanita di Provinsi Sulawesi Tenggara Indonesia akan mempunyai 3 anak selama hidupnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian secara nasional yang sebesar Infrastruktur Daerah Beberapa infrastruktur dasar yang bersifat strategis telah dibangun dalam kurun waktu tahun adalah Pelabuhan Kontainer Bungkutoko, pembangunan jalan provinsi sepanjang 448 km dan jalan nasional sepanjang 227 km serta total pembangunan jembatan sepanjang 596 meter, pembangunan pelabuhan penyeberangan Amolengu Labuan dan pengoperasian Kapal Fery Bahteramas Kamaru Wanci. Selain itu telah direhabilitasi jaringan irigasi, bangunan pengendali banjir dan lain-lain. Di bidang perhubungan, telah dilakukan perpanjangan runway Bandara Haluoleo dari meter menjadi meter, lebar dari 30 meter menjadi 45 meter. Perluasan appron dari 195 meter x 91 meter menjadi 234 meter x 113 meter serta pemasangan garbarata sebanyak 2 unit. Peningkatan arus penumpang, barang dan jasa melalui Bandar Udara Haluoleo, Bandar Udara Betoambari Baubau, Bandar Udara Sangia Ni Bandera Kolaka dan Bandar Udara Matahora Wakatobi, terus meningkat. Keadaan arus penumpang barang dan jasa yang tiba dan berangkat melalui Bandara Haluoleo Kendari dan Bandar Udara Betoambari Baubau disajikan pada tabel berikut : Tabel 17. Keadaan Arus Penumpang dan Barang Arus Penumpang dan Barang Jumlah Penumpang Angkutan Umum Arus Kedatangan dengan Penyeberangan Laut (org) Arus Kedatangan dengan Transportasi Darat (org) Arus Keberangkatan dengan Penyeberangan Laut (org) Arus Keberangkatan dengan Transportasi darat Jumlah Barang yang Terangkut melalui Angkutan Umum Jumlah Barang Masuk melalui Penyeberangan Laut (ton) Jumlah Barang Masuk melalui Moda Transportasi Darat (ton) Jumlah Barang Keluar melalui Penyeberangan Laut Jumlah Barang Keluar melalui Moda Transportasi Darat Arus Angkutan Udara Arus Kedatangan dengan Transportasi Udara (org) Arus Keberangkatan dengan Transportasi Udara (org) Arus Barang Masuk melalui Moda Transportasi Udara (kg) Arus Barang Keluar melalui Moda Transportasi Udara (kg) Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Prov. Sultra Tahun 2011 Pembangunan pelabuhan penyeberangan dan pengoperasian Kapal Ferry Bahteramas yang menghubungkan Kamaru (di Pulau Buton) dan Wanci Wakatobi, merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah Provinsi untuk menghubungkan seluruh wilayah dataran dan kepulauan di Sulawesi Tenggara Pola Ruang dan Struktur Ruang Kebijakan penataan ruang daerah Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri atas : a. menata dan mengalokasikan sumberdaya lahan secara proporsional melalui berbagai pertimbangan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan di sektor unggulan pertanian, pertambangan serta kelautan dan perikanan; b. peningkatan aksesibilitas dan pengembangan pusat-pusat kegiatan sektor terhadap pusat-pusat kegiatan nasional, wilayah dan lokal melalui pengembangan struktur ruang secara terpadu; BAB II- 10

11 c. menetapkan pola ruang secara proporsional untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, seimbang dan berkesinambungan; d. menetapkan kawasan strategis dalam rangka pengembangan sektor unggulan dan pengembangan sosial ekonomi secara terintegrasi dengan wilayah sekitar; dan e. pengembangan sumberdaya manusia yang mampu mengelola sektor unggulan secara profesional dan berkelanjutan. Strategi dalam mewujudkan pengembangan sektor pertanian dalam arti luas terdiri atas : a. menata dan mengalokasikan sumberdaya lahan untuk pengembangan pertanian tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura serta pengembangan lahan peternakan secara proporsional; b. mengembangkan sarana dan prasarana guna mendukung aksesibilitas dan pusat-pusat pertumbuhan pertanian tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura serta pengembangan lahan peternakan terhadap pusat-pusat kegiatan nasional, wilayah dan lokal; c. mengintegrasikan kawasan unggulan pertanian tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura serta pengembangan lahan peternakan dengan wilayah sekitar dan kawasan unggulan lain; dan d. meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang mampu mengelola sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura serta peternakan secara profesional dan berkelanjutan melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Strategi dalam mewujudkan pengembangan sektor pertambangan terdiri atas : a. menata dan menetapkan kawasan pertambangan; b. mengembangkan pusat industri pertambangan nasional sebagai suatu kawasan pertambangan dan pengolahan bahan tambang secara terpadu; c. mengembangkan sarana dan prasarana pendukung guna menunjang aksesibilitas pusat kawasan industri pertambangan dengan usaha ekonomi pada wilayah sekitar; d. mengembangkan sarana dan prasarana pendukung untuk menunjang aksesibilitas perdagangan antar pulau dan ekspor; e. mengintegrasikan usaha-usaha untuk mendukung pengembangan pusat industri pertambangan nasional dengan usaha-usaha ekonomi masyarakat sekitar; f. mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan secara preventif maupun kuratif sebelum dan sesudah eksplorasi bahan tambang dan limbah pabrik pengolahan; dan g. pengembangan sumberdaya manusia secara komprehensif untuk mengelola industri pertambangan nasional secara menyeluruh dengan melaksanakan pelatihan teknis dan membangun sekolah kejuruan dan pendidikan keahlian (sarjana dan pascasarjana). Strategi dalam mewujudkan pengembangan sektor kelautan dan perikanan terdiri atas : a. menata dan mengalokasikan sumberdaya lahan secara proporsional melalui berbagai pertimbangan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan di sektor kelautan dan perikanan; b. meningkatkan aksesibilitas dan pengembangan pusat-pusat kegiatan sektor kelautan dan perikanan terhadap pusat-pusat kegiatan nasional, wilayah dan lokal melalui pengembangan struktur ruang secara terpadu; c. menetapkan pusat kawasan pengembangan sektor perikanan dan kelautan berupa kawasan pengembangan budidaya perairan dan kawasan perikanan tangkap secara terintegrasi dengan usahausaha ekonomi wilayah sekitar; d. melindungi dan mengelola sumberdaya kelautan untuk kebutuhan perlindungan plasma nutfah, terumbu karang dan sumberdaya hayati untuk kelangsungan produksi dan pengembangan ekowisata; dan e. mengembangkan fasilitas pelayanan pendidikan dan latihan secara profesional dan berkelanjutan. BAB II- 11

12 Gambar 2. Peta Struktur Ruang RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara Sumber : Bappeda Prov. Sultra, Tahun 2012 Gambar 3. Peta Pola Ruang RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara Sumber : Bappeda Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 12

13 Gambar 4. Peta Kawasan Strategis RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara Sumber : Bappeda Prov. Sultra, Tahun Aspek Kesejahteraan Masyarakat Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pertumbuhan PDRB Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di Provinsi Sulawesi Tenggara, maka salah satu aspek yang dilihat adalah aspek pertumbuhan ekonomi yang diukur berdasarkan pada kontribusi setiap sektor pada komposisi PDRB. Pada tabel berikut ini diperlihatkan pertumbuhan dan kontribusi setiap sektor pada PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara. Tabel 18. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Juta Rupiah) No Sektor *) (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1 Pertanian ,91 34, ,39 33, ,84 30, ,97 29, ,49 2 Pertambangan & penggalian , ,51 5,12 677,167,15 5, ,55 7, ,34 3 Industri pengolahan ,82 8, ,26 8, ,80 8, ,72 8, ,31 7,97 4 Listrik, gas & air bersih ,67 0, ,84 0, , ,90 0, ,25 0,83 5 Konstruksi ,87 8, ,64 8, ,57 9, ,84 9, ,13 9,61 6 Perdagangan, hotel & restoran ,62 15, ,91 16, ,69 17, ,67 17, ,80 17,96 7 Pengangkutan & komunikasi ,51 7, ,20 8, ,72 8, ,51 8, ,50 8,83 8 Keuangan, sewa & jasa Perusahaan ,93 5,76 618, , ,40 5, ,69 6, ,15 6,53 BAB II- 13

14 No Sektor *) (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 9 Jasa-jasa , ,37 13, ,93 12, ,92 11, ,72 11,44 PDRB , , , , , Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012; *) = Angka Sementara Tabel 19. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah) No Sektor *) (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1 Pertanian ,87 36, , ,11 33, ,69 31, ,33 30,51 2 Pertambangan & penggalian ,22 4, ,80 4,28 1, ,25 4, , ,44 7,75 3 Industri pengolahan ,69 7, ,73 6, ,99 7, ,13 6, ,35 4 Listrik, gas & air bersih ,45 0, , ,68 0, ,49 0, ,12 0,99 5 Konstruksi ,78 7, ,11 7, ,11 8, , ,91 8,79 6 Perdagangan, hotel & restoran ,13 16, ,14 17, ,56 18, ,97 18, , Pengangkutan & komunikasi angkutan & komunikasi ,49 8, ,28 9, ,42 9, ,47 9, ,76 8,99 8 Keuangan, sewa & jasa Perusahaan ,31 5, ,56 5, ,34 5, ,97 5, ,37 5,97 9 Jasa-jasa , ,15 13, ,95 13, , ,56 PDRB , , , , Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 *) = Angka Sementara Tabel 20. Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (HB) dan Harga Konstan (HK) No. Sektor HB HK HB HK HB HK % % % % % % 1 Pertanian 36,44 34, ,11 33,20 30,99 2 Pertambangan & penggalian 4,60 5,19 4,28 5,12 4,90 5,81 3 Industri pengolahan 7,62 8,87 6,43 8,87 7,14 8,80 4 Listrik, gas & air bersih 0,87 0,70 0,93 0,74 0,92 0,75 5 Konstruksi 7,40 8,15 7,72 8,54 8,26 9,10 6 Perdagangan, hotel & restoran 16,26 15,75 17,45 16,79 18,14 17,38 7 Pengangkutan & komunikasi 8,46 7,89 9,26 8,76 9,30 8,83 8 Keuangan, sewa & jasa perusahaan 5,38 5,76 5,30 5,74 5,49 5,97 9 Jasa-jasa 12, ,61 13,18 13,65 12,36 PDRB Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 14

15 No. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sektor Tabel 21. Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (HB) dan Harga Konstan (HK) Pertumbuhan (%) HB HK HB HK HB HK HB HK HB HK 1 Pertanian 18,24 5,04 11,05 2,73 4,83 1,28 8,66 2,56 9,15 4,08 2 Pertambangan & penggalian 18,35-3,26 7,71 6,05 26,57 22,99 40,04 35,12 45,69 43,03 3 Industri pengolahan 19,15 6,18-2,42-2,76 22,8 18,78 9,45 6,50 4,92 2,35 4 Listrik, gas & air bersih ,85 22,89 15,64 10,46 8,79 12,87 11,1 21,46 20,37 5 Konstruksi 32,15 11,30 20,53 12,70 18,38 15,38 16,98 12,76 17,32 12,63 6 Perdagangan, hotel & restoran 32,10 10,49 23,97 14,63 14,88 11,92 15,98 11,18 17,13 11,92 7 Pengangkutan & komunikasi 28,28 13,70 26,23 19,55 11,01 9,04 11,89 9,63 11,45 9,83 8 Keuangan, sewa & jasa perusahaan 31,87 11,51 13,94 7,28 15,40 13,23 21,44 19,91 14,6 10,98 9 Jasa-jasa 24,48 7,06 21,34 8,78 2,66 1,40 7,50 3,59 9,76 7,44 PDRB 23,67 7,27 15,55 7,57 10,6 8,22 13,17 8,96 13,97 10,41 Sumber: BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 Tabel 22. Perkembangan PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku No Kabupaten HB HK HB HK HB HK HB HK 1. Buton , , , , , ,34 2 Muna , , , , , , , ,22 3 Konawe , , , , , , ,24 4 Kolaka , , , , , , , ,80 5 Konawe Selatan , , , , , , , ,90 6 Bombana , , , , , , , ,55 7 Wakatobi , , , , , , , ,24 8 Kolaka Utara , , , , , , , ,78 9 Buton Utara , , , , , , ,39 10 Konawe Utara , , , , , , , ,96 11 Kota Kendari , , , , , , ,23 12 Kota Baubau , , , , , , ,73 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Laju Inflasi Data laju inflasi di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara dari Tahun dapat di lihat pada tebel berikut ini : Fokus Kesejahteraan Sosial Tabel 23. Laju Inflasi Tahun Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Uraian Inflasi (%) 15,28 4,60 3, ,23 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi BAB II- 15

16 murni, angka kelangsungan hidup bayi, angka usia harapan hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan dan rasio penduduk yang bekerja Angka Melek Huruf Rata-rata angka melek huruf di Sulawesi Tenggara telah mencapai di atas 90%, untuk penduduk yang berusia 15 tahun. Sedang untuk penduduk berusia di atas 15 tahun masih berkisar 45%. Tabel 24. Perkembangan Angka Melek Huruf Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara Uraian Angka Melek Huruf (%) 91,29 91,51 91,85 92,50 94,34 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Angka Rata-Rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara sejak tahun 2008 berkisar 8 tahun, pada tabel dibawah ini digambarkan rata-rata lama sekolah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin Angka Partisipasi Kasar Tabel 25. Rata-Rata Lama Sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara L P L P L P L P 8,3 7,2 8,4 7,5 8,5 7,7 8,6 7,8 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 Perkembangan capaian Angka Partisipasi Kasar menurut jenjang pendidikan di Provinsi Sulawesi Tenggara sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2012, diperlihatkan dalam tabel berikut ini : Tabel 26. Capaian APK Sekolah Dasar hingga Menengah Atas di Provinsi Sulawesi Tenggara Indikator APK SD/MI (%) 100,98 101, ,42 117,81 APK SMP/MTs(%) 92, ,21 97,58 100,57 APK SM/MA(%) 56,22 58,59 76,96 77,34 93,28 Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sultra Tahun Angka Pendidikan Yang Ditamatkan Pada tabel di bawah ini digambarkan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang berusia 15 tahun ke atas yang mencari pekerjaan berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. BAB II- 16

17 Tabel 27. Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Mencari Pekerjaan Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin Tahun 2011 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Laki-Laki Perempuan Jumlah Tidak / Belum tamat SD Sekolah Dasar SLTP SMTA Umum SMTA Kejuruan Diploma / Universitas Jumlah Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Angka Partisipasi Murni Indikator penting keberhasilan pendidikan ditunjukkan oleh semakin membaiknya Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). Perkembangan APM dan APK mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas menunjukkan peningkatan yang signifikan. Salah satu faktor keberhasilannya adalah kebijakan pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas, meliputi Sekolah Negeri, Swasta dan Keagamaan. Tabel 28. Capaian APM Sekolah Dasar hingga Menengah Atas di Provinsi Sulawesi Tenggara Indikator APM SD/MI (%) ,81 95,44 95,92 96,19 APM SMP/MTs 69,40 71,13 73,35 74,32 79,70 APM SM/MA 44,26 47,66 63,93 65,15 71,66 Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sultra, Tahun 2012 Peningkatan APK dan APM ditunjang dengan pembangunan infrastruktur pendidikan seperti pembangunan gedung sekolah yang dilengkapi dengan laboratorium dan perpustakaan. Selama Tahun 2008 hingga Tahun 2011 telah terbangun unit gedung sekolah mulai dari SD hingga SMA dan sederajat. Tabel 29. Pembangunan Gedung Sekolah SD, SMP, SMA dan Sederajat di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun SD dan sederajat SMP dan Sederajat SMA dan Sederajat Jumlah Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 17

18 Tabel 30. Jumlah Alumni Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Laki-Laki Perempua Jumlah 2007/2008 6,409 7,293 13, /2009 3,270 3, /2010 3,116 4,217 7, /2011 5,916 7,674 13,590 Sumber : Sultra dalam Angka, Tahun Angka Kelulusan Salah satu indikator utama pembangunan pendidikan adalah angka kelulusan. Perkembangan angka kelulusan meningkat cukup signifikan dari tahun ke tahun. Hal menunjukkan bahwa kualitas pembangunan pendidikan juga meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan Angka kelulusan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun sebagai berikut : Angka Kelangsungan Hidup Bayi Tabel 31. Perkembangan Angka Kelulusan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun TAHUN SD (%) SMP (%) SMA (%) SMK (%) ,03 93,66 76, ,23 96,89 89, ,76 99,38 98, ,96 98,62 98, ,42 99,53 97,98 Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sultra, Tahun 2012 Peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup dari 67,2 tahun pada tahun 2007 menjadi 70,1 tahun pada tahun 2011, menurunnya kasus kematian ibu dari 92 kasus pada tahun 2007 menjadi 69 kasus pada tahun 2011, menurunnya kasus kematian bayi + neonatal dari 518 kasus pada tahun 2007 menjadi 429 kasus pada tahun 2011 dan menurunnya kasus gizi buruk dari kasus pada tahun 2007 menjadi 508 kasus pada tahun Adapun kecenderungan pencapaian indikator aspek kesejahteraan disajikan seperti pada tabel berikut : Tabel 32. Pencapaian Indikator Kesejahteraan Bidang Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Indikator Angka Harapan Hidup (thn) 69,29 69,46 69,63 69,80 70,01 Angka Kelangsungan Hidup Bayi ,2 961,4 962,6 963,8 Jumlah Kasus Kematian Ibu Jumlah Kasus Kematian Bayi Jumlah kematian balita Jumlah Kasus Gizi Buruk Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 Umur harapan hidup waktu lahir sangat berpengaruh pada penurunan kematian bayi. Oleh karena itu umur harapan hidup sangat peka terhadap perubahan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin kenaikan angka harapan hidup pada waktu lahir dan BAB II- 18

19 penurunan AKB. Meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat. Umur Harapan Hidup diproyeksikan meningkat dari 69,29 tahun 2007 menjadi 70,01 tahun Angka kelangsungan hidup bayi memberikan gambaran kemampuan seorang anak dalam periode usia di bawah 12 bulan. Angka kelangsungan hidup merupakan indikator yang memberikan gambaran tingkat kesejahteraan masyarakat. Angka ini selain memberikan gambaran kondisi ekonomi juga memberikan gambaran tentang kemampuan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas khususnya pada ibu hamil. Hasil estimasi yang dilakukan berdasarkan SDKI tahun 2007 dan laporan kematian bayi menunjukkan bahwa AKHB di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan peningkatan yakni dari 959 per 1000 KH menjadi 965 per 1000 KH. Jumlah kasus gizi buruk yang dilaporkan menunjukkan penurunan drastis yakni dari kasus tahun 2007 turun menjadi 508 kasus tahun Semua kasus yang ditemukan telah diintervensi dan beberapa diantaranya dirujuk ke rumah sakit dan puskesmas perawatan. Jumlah kasus kematian ibu dalam lima tahun terakhir menunjukkan penurunan yakni dari 92 kasus tahun 2007 menjadi 69 kasus tahun Kasus kematian bayi dan anak balita menunjukan penurunan pada tahun 2011 bila dibandingkan dengan tahun pada awal RPJMD ini (tahun 2007). Kasus kematian bayi turun dari 518 kasus menjadi 429 kasus. Begitupula kasus kematian anak balita turun dari 151 kasus menjadi 126 kasus. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan pelayanan kesehatan anak diantaranya peningkatan kapasitas tenaga, kunjungan neonatal, pelayanan kesehatan bayi, pelayanan kesehatan balita, penanganan komplikasi neonatal, deteksi dini tumbuh kembang bayi serta kegiatan yang sifatnya dukungan manajemen Angka Usia Harapan Hidup Derajat kesehatan merupakan indikator utama pembangunan sumberdaya manusia. Selama kurun waktu lima tahun , pelayanan kesehatan adalah merupakan salah satu kegiatan unggulan yang termasuk dalam program pokok BAHTERAMAS. Pelaksanaan pembebasan biaya pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap tingkat pertama di puskesmas sampai dengan rawat jalan dan rawat inap tingkat lanjut dengan fasilitas kelas III di RSUD kabupaten/kota, dengan rujukan tertinggi di RSUD provinsi. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup dari 67,2 tahun pada tahun 2007 menjadi 70,1 tahun pada tahun 2011, menurunnya kasus kematian ibu dari 92 kasus pada tahun 2007 menjadi 69 kasus pada tahun 2011, menurunnya kasus kematian bayi + neonatal dari 518 kasus pada tahun 2007 menjadi 429 kasus pada tahun 2011, dan menurunnya kasus gizi buruk dari kasus pada tahun 2007 menjadi 508 kasus pada tahun Rasio Penduduk Yang Bekerja. Rasio penduduk yang bekerja, menggambarkan perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan terhadap akses pekerjaan, pada tabel berikut ini digambarkan Rasio Penduduk yang bekerja pada tahun Tabel 33. Rasio Penduduk Bekerja di Provinsi Sulawesi Tenggara Uraian 2011 Rasio Penduduk yang bekerja 97,66% 95,81% Total 96,94% Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 L P BAB II- 19

20 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Pembangunan kualitas hidup manusia merupakan upaya terus menerus yang dilakukan pemerintah dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik. Upaya pembangunan ini ditujukan untuk kepentingan seluruh penduduk tanpa membedakan jenis kelamin tertentu. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) sebagai ukuran kualitas hidup manusia, yang menunjukkan tiga dimensi dasar kualitas hidup manusia yaitu Kesehatan di lihat melalui hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran, pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa dan kombinasi pendidikan dasar, menengah, serta kesejahteraan, kemampuan ekonomi, yang di lihat dari standar kehidupan yang layak diukur dengan kemampuan daya beli. Di Provinsi Sulawesi Tenggara, terjadi perkembangan yang semakin membaik dari waktu ke waktu. IPM dan IPG Sulawesi Tenggara Pada tahun 2008, IPM mencapai 69,00 kemudian meningkat menjadi 70,55 pada tahun 2011 dan IPG juga mengalami peningkatan dari 62,48 pada tahun 2008 menjadi 64,79 pada tahun Tabel 34. IPM dan IPG Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun NO Provinsi/Kabupaten/Kota IPM IPG SULAWESI TENGGARA , ,55 62,48 62,89 63,87 64,79 1 Buton 67,82 68,24 68,8 69,34 58,63 58,94 59, Muna 66, ,45 67, ,69 61,51 61,94 3 Konawe 68,72 69,27 69,77 70,42 65,11 65,14 65,23 65,91 4 Kolaka ,41 70,83 71,46 55,82 56,15 57,33 57,92 5 Konawe Selatan 68,86 69,24 69,42 69,8 60,37 60,63 61,39 61,85 6 Bombana ,63 67,2 67,85 55,56 55, ,64 7 Wakatobi , ,31 61,9 62,19 63,98 8 Kolaka Utara 67, ,93 69,33 57,27 57,89 58,3 58,37 9 Konawe Utara 67,16 67, ,86 62,75 63,4 65,44 65,94 10 Buton Utara 67,49 67,97 68,38 69,24 65,3 65,5 65,55 66,48 11 Kota Kendari ,31 75, ,28 70,38 70,51 71,15 12 Kota Baubau 72,14 72,87 73,48 74,1 62,3 62,9 63,59 64,56 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 pada Tabel 34 terlihat bahwa terjadi peningkatan indeks pembangunan manusia dan indeks pembangunan gender di seluruh kabupaten dan kota di provinsi Sulawesi tenggara. Ini memberikan gambaran bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan dan pendidikan serta kualitas ekonomi bagi seluruh masyarakat dan juga memperlihatkan bahwa hasil-hasil pembangunan itu telah memberikan manfaat terhadap lakilaki dan perempuan di Sulawesi Tenggara Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Program Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan No Pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial yang mencakup pada program bidang pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan adalah pemberdayaan fakir miskin, pemberdayaan komunitas adat terpencil dan pemberdayaan peran keluarga. Indikator keberhasilan penanganannya adalah jumlah PMKS yang terbantu dan diberdayakan serta memperoleh bantuan pemberdayaan penanggulangan kemiskinan melalui KUBE Pedesaan dan KUBE Perkotaan. Kab/Kota Tabel 35. Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Wanita Rawan Sosial Ekonomi Penduduk Miskin Kemiskinan Rumah Kat Tidak KBSP KFM Layak Lokasi KK Huni Sulawesi Tenggara Buton Muna Konawe Kolaka BAB II- 20

21 No Kab/Kota Wanita Rawan Sosial Ekonomi Penduduk Miskin Kemiskinan Rumah Kat Tidak KBSP KFM Layak Lokasi KK Huni 5 Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kendari Baubau Sumber : Dinas Sosial Prov. Sultra, Tahun Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. No Untuk program pelayanan dan rehabilitasi sosial mencakup penanganan keterlantaran dan ketunasusilaan orang dengan kecacatan dan lanjut usia terlantar. Pelayanan dan rehabilitasi sosial mengupayakan pembangunan kesejahteraan sosial dengan melakukan rehabilitasi dan penanganan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial yang memberikan bantuan rehabilitasi dan pemberian bantuan bagi kelompokkelompok usaha ekonomis produktif sehingga dengan segala keterbatasan yang ada dapat menjadi manusia mandiri dan tidak lagi tergantung dengan masyarakat lain. Pelayanan rehabilitasi ini dilakukan melalui pembinaan di luar panti dan di dalam panti yaitu UPT Panti Sosial Asuhan Anak dan Remaja. Tabel 36. Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kab/Kota Anak Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Jalanan Lansia Terlantar Penyan Ang Cacat Tuna Sosial Pengemis Gelandang an Sulawesi Tenggara 15,328 43,795 6,961 2,254 28,385 ####### , ,735 1 Buton Muna Konawe , Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kendari Baubau Sumber : Dinas Sosial Prov. Sultra, Tahun Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosia,l Program Perlindungan dan Jaminan Sosial Untuk program perlindungan dan jaminan sosial mencakup penanganan perlindungan dan pemberian jaminan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial khususnya korban bencana alam, bencana sosial, korban tindak kekerasan dan pekerja migran, pengumpulan uang dan barang serta program keluarga harapan. Perlindungan dan jaminan sosial adalah upaya penanganan penyadang masalah kesejahteraan sosial dengan memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi para korban bencana, korban tindak kekerasan dan pekerja migran, serta pemberian jaminan sosial berupa ssuransi kesejahteraan sosial bagi keluarga sasaran. Eks Napi Korban Napza BAB II- 21

22 Tabel 37. Rekapitulasi Penyandang Masalah Kesos Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial No Kab/Kota Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerja Migran Terlantar Keluarga Rentan Sulawesi Tenggara , ,543 1 Buton 1, Muna 4, ,689 3 Konawe Kolaka ,528 5 Konawe Selatan Bombana 2, Wakatobi 2, Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kendari Baubau Sumber : Dinas Sosial Prov. Sultra, Tahun Rekapitulasi Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Guna mendukung pencapaian program pembangunan kesejahteraan sosial, maka peran potensi sumber kesejahteraan sosial sebagai partisipan pembangunan kesos yang berbasis masyarakat, maka pemberdayaan PSKS sangat penting guna mempercepat laju pembangunan kesejahteraan sosial. Tabel 38.Rekapitulasi Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial di Kabupaten/Kota Tahun 2012 No Kab/Kota Pekerja Sosial Karang ORSOS Masyarakat Taruna KKDU WKSBM TAGANA Sulawesi Tenggara Buton Muna Konawe Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kendari Baubau Sumber : Dinas Sosial Prov. Sultra, Tahun Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundangundangan Fokus Urusan Layanan Wajib Bidang urusan pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, penataan ruang, perencanaan pembangunan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, kependudukan dan catatan sipil, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, sosial, ketenagakerjaan, koperasi dan usaha kecil menengah, penanaman modal, kebudayaan, kepemudaan dan olah raga, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah,pemerintahan umum, administrasi BAB II- 22

23 keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, statistik, kearsipan, komunikasi dan informatika dan perpustakaan Pelayanan Umum Bidang Urusan Pendidikan a. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pada tabel berikut ini diuraikan Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011, dimana pada tabel tersebut digambarkan bahwa ada kecenderungan menurunnya partisipasi sekolah pada jenjang yang lebih tinggi. Tabel 39. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2008 s.d 2011 Jenjang Pendidikan APS Penduduk Usia 7 12 Th 97,64 97,69 97,81 97,36 APS Penduduk Usia Th 85,62 87,20 88,17 86,88 APS Penduduk Usia Th 59,17 59,19 59,93 62,66 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 b. Rasio guru/murid Pada tabel berikut ini diperlihatkan rasio antara guru dan murid dari tingkat SD sampai ke tingkat SMA/sederajat sejak tahun 2008 hingga tahun Tabel 40. Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1. Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 13,56 13,38 13, SMP/MTs 2.1. Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 12,83 11,36 11,32 10,70 3 SMA/SMK/MA 3.1. Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 11,20 10,42 10,24 10,94 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 23

24 Tabel 41. Jumlah Guru dan Murid Jenjang PAUD dan Pendidikan Dasar Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 TK SD SMP/MTs No Kabupaten/Kota Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Rasio Rasio Rasio Guru Murid Guru Murid Guru Murid (1) (2) (6) (7) (8=6/7) (3) (4) (5=4/3) (6) (7) (8=6/7) 1. Buton , , ,78 2 Muna , , ,26 3 Konawe , , Kolaka , Konawe Selatan , , ,84 6 Bombana , , ,77 7 Wakatobi , , ,18 8 Kolaka Utara , , ,59 9 Buton Utara , , ,67 10 Konawe Utara , , ,72 11 Kota Kendari , ,73 12 Kota Baubau , ,52 Jumlah , ,70 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 c. Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) Pengembangan kualitas sumberdaya manusia di Sulawesi Tenggara diarahkan untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan dalam rangka terciptanya masyarakat yang berkualitas, baik intelektual, emosional, spiritual, fisik maupun kualitas teknisnya yang berorientasi pada pengembangan produktivitas. Hal ini sesuai dengan amanat Undang- Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu kebijakan Pemerintah Provinsi untuk mencapai visi dan misi tersebut adalah Program Bahteramas bidang pendidikan yang dikenal dengan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada jenjang Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Dasar dan Menengah yaitu pemberian Biaya Operasional kepada satuan pendidikan dengan tujuan untuk membebaskan dan/atau meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan, agar semua penduduk usia jenjang pendidikan dasar dan menengah (usia 7 18 tahun) serta usia prasekolah mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu sesuai standar nasional pendidikan (SNP). Sasaran BOP adalah seluruh satuan pendidikan negeri/swasta baik yang dikoordinir oleh Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama se provinsi Sulawesi Tenggara. Tabel 42. Perkembangan Anggaran BOP Tahun TAHUN PAGU (Rp) REALISASI (Rp) PERSENTASE (%) ,66 % ,68 % ,77% ,53% TOTAL Sumber : Dinas Pendidikan Prov.Sultra, Tahun 2013 BAB II- 24

25 Tabel 43. Program Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) Tahun No Pemda Sklh Siswa Sklh Siswa Sklh Siswa Sklh Siswa Sklh Siswa 1 Kab. Bombana 22 4, , , , Kab. Buton 43 8, , , , Kab. Buton Utara 10 2, , , , Kab. Kolaka 48 10, , , , Kab. Kolaka Utara 13 3, , , Kab. Konawe 46 9, , , Kab. Konawe Selatan 41 7, , , , Kab. Konawe Utara 7 1, , , , Kab. Muna , , , Kab. Wakatobi 16 4, , , , Kota Baubau 23 9, , , , Kota Kendari 40 15, , , Jumlah , , Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sultra, Tahun 2013 Dalam Tahun 2008 hingga 2012 melalui BOP Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan insentif kepada guru sebesar Rp per bulan dan hingga tahun 2012 alokasi dana untuk incentife guru mencapai Rp dengan sasaran guru. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara telah mendapat Penghargaan darimuseum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada Desember 2011 Nomor : 5286/R.MURI/XII/2011atas Pelaksanaan Kebijakan Pemberian Insentif Terbanyak Kepada Guru (SD, SMP, SMA) melalui Pemberian BOP Insentif Guru tahun dengan total guru sebanyak orang guru sederajat SD/SMP/SMA dengan anggaran sebanyak Rp Sampai dengan tahun 2012 jumlah incentif guru sebesar Rp Tabel 44. Perkembangan Jumlah Dana BOP Komponen Insentif Guru Tahun No Uraian Guru SD/ sederajat , , ,612, ,740, ,- 2 Guru SMP/sederajat 5,839, , ,135, ,939, ,- 3 Guru SMA/sederajat 4,611, ,973, ,182, ,- Jumlah 22,515, ,276, ,930, , ,- Sumber : Dinas Pendidikan Prov.Sultra, Tahun 2013 Dalam tahun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Program Biaya Operasional Pendidikan telah mengadakan Alat Laboratorium IPA dan Buku teks pelajaran, Buku Panduan Pendidik, Buku Referensi, Buku Pengayaan dan Buku Evaluasi kepada jenjang SMA/MA/SMK/sederajat. Jumlah buku yang telah diadakan sebanyak eksamplar dan anggaran sebanyak Rp sedangkan jumlah sekolah yang mendapat bantuan Alat Laboratorium IPA sebanyak 172 SMA/SMK dengan anggaran sebesar Rp Tabel 45. Perkembangan Jumlah Buku dan Peralatan Laboratorium IPA jenjang Pendidikan Menengah Dana BOP Tahun JENIS TOTAL JUMLAH DANA JUMLAH DANA JUMLAH DANA JUMLAH DANA JENIS DANA BUKU 540,730 11,749,962, ,844, ,667 5,692, ,780 10,954, ,242,123,117 ALAT LAB. IPA ,969, ,670, ,455, , Sumber : Dinas Pendidikan Prov.Sultra, Tahun 2013 Keberhasilan Program pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) khususnya pada jenjang pendidikan menengah, dapat dilihat dari makin meningkatnya capaian angka partisipasi jenjang pendidikan dari tahun-ketahun yang meningkat sangat spektakuler yakni di tahun 2010 APK BAB II- 25

26 SMA/sederajat sebesar 56,22 % di tahun 2012 telah mencapai 93,28% melebihi target APK nasional 69,6% di tahun 2014/2015. Dengan kesuksesan tersebut, maka sejak tahun 2011 pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara melakukan perluasan program pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dalam bentuk pemberian beasiswa kepada siswa/siswi jenjang pendidikan menengah yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan pada Strata 1 dan Strata 2. Program ini dikemas dengan nama Program Cerdas Sulawesi Tenggaraku ( Cerdas Sultraku). Hingga akhir tahun 2012 telah mencapai mahasiswa dengan alokasi anggaran sebesar Rp Salah satu hal unik lainnya dalam pembangunan pendidikan di Sulawesi Tenggara adalah Program Siswa Sahabat Gubernur bagi siswa/siswi SMA/SMK yang berprestasi di masing-masing kabupaten/kota, yang tujuannya adalah membangun daya juang, memberikan penghargaan dan motivasi kepada generasi muda berprestasi agar selalu bersemangat dan bercita-cita tinggi walaupun dalam keadaan terbatas baik ekonomi maupun akses menuju generasi muda yang berkarakter kuat Pelayanan Umum Bidang Urusan Kesehatan a. Pembangunan Fasilitas Kesehatan Pembangunan fasilitas kesehatan di Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu Tahun 2007 hingga Tahun 2011 meningkat pesat, terutama yang terkait langsung dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat seperti Puskesmas Keliling mencapa133 unit (184,7%) dari 72 Unit tahun 2007 menjadi 205 unit tahun 2011, Polindes/Poskesdes 450 unit dari 536 Unit tahun 2007 menjadi 986 Unit Tahun 2011 (84.0%) dan Posyandu 628 unit dari 2241 unit tahun 2007 menjadi unit tahun Pembangunan sarana kesehatan tersebut signifikan dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat seperti dikemukakan terdahulu.secara rinci pembangunan fasilitas kesehatan di Sulawesi Tenggara disajikan pada Tabel berikut. Tabel 46. Perkembangan Pembangunan Fasilitas Kesehatan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Sarana Kesehatan Perubahan Jumlah Persen RS Umum (Pemerintah+ swasta) ,3 Rumah Sakit Jiwa Rumah Bersalin ,0 Puskesmas Perawatan ,7 Puskesmas Non Perawatan ,9 Puskesmas Keliling ,7 Puskesmas Pembantu ,7 Polindes dan poskesdes Posyandu Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 Indikator yang digunakan untuk menilai ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan meliputi ratio posyandu persatuan balita, ratio Puskesmas, poliklinik dan Pustu persatuan penduduk dan ratio Rumah Sakit Persatuan Penduduk. Hal ini dijelaskan pada tabel berikut Tabel 47. Gambaran Ketersediaan sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Per Satuan Penduduk SARANA KESEHATAN Jumlah Puskesmas Rasio Puskesmas per Penduduk 2,5 2,99 3,16 3,2 3,34 Jumlah Puskesmas Pembantu Raio Pustu per penduduk 2,32 2,8 2,7 2,2 1,9 Jumlah Posyandu Rasio Posyandu dalam 1000 balita 11,6 11,6 11,9 11,4 12,9 Jumlah RS BAB II- 26

27 Rasio RS penduduk 1,6 1,5 1,5 1,7 1,7 Jumlah TT Rasio TT terhadap penduduk 0,8 0,9 1 1,1 1,2 Jumlah TT Kelas III Rasio terhadap 1500 penduduk sasaran jamkesmas +Bahteramas 0,7 0,7 0,8 0,9 1 Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 b. Ratio Medis Persatuan Penduduk Pada tabel dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan rasio dokter spesialis dari 2,31 padat tahun 2007 menjadi 3.07 tahun 2011 (4per ), begitu pula dokter umum meningkat dari 9,94 menjadi 19,5 (standar 25 per penduduk). Kondisi ini memberikan gambaran bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara masih memhutuhkan tenaga medis, dan bila hal ini tidak segera dipenuhi maka implikasinya adalah kualitas pelayanan kesehatan masyarakat tidak terjamin. c. Rasio Tenaga Kesehatan persatuan Penduduk Ketersediaan tenaga kesehatan di luar dokter juga menunjukan perbaikan, ratio bidan meningkat dari 32,6 per penduduk menjadi 78,1 (standar 75 per penduduk). Begitu pula tenaga kesehatan lainnya juga menunjukan peningkatan. Berdasarkan ratio tersebut, Provinsi Sulawesi Tenggara, perlu memberikan perhatian terhadap keberadaan tenaga-tenaga sanitasi, farmasi dan perawat yang belummemenuhi standar kebutuhan. d. Rasio Posyandu Persatuan Balita Di Provinsi Sulawesi Tenggara rasio Posyandu terhadap Desa adalah 1,36, yang artinya terdapat Desa yang memiliki 2 Posyandu. Bila di bandingkan dengan jumlah Balita dapat dijelaskan bahwa rata-rata setiap Posyandu memiliki balita atau dengan kata bahwa sampai dengan tahun 2012 Rasio Posyandu per 1000 balita 12. Pencapaian ini sudah cukup baik, karena dalam satu Posyandu idealnya 100 orang balita. Dengan demikian indeks rasio capaian kinerja sudah diatas >100. e. Rasio Puskesmas per satuan penduduk Berdasarkan hasil evaluasi, kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukan kinerja yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat Rasio Puskesmas per penduduk yang cenderung semakin baik yakni dari setiap satu Puskesmas menjadi orang setiap Puskesmas. Begitu pula bila dibandingkan dengan standar menurut Kementerian Kesehatan RI (1 : penduduk) dapat dijelaskan bahwa ketersediaan Puskesmas bukan merupakan hambatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. f. Poliklinik dan Pustu Persatuan Penduduk Berdasarkan hasil evaluasi, kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukan kinerja yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat Rasio Puskesmas Peembantu per penduduk yang cenderung semakin baik yakni rata-rata setiap Pustu memiliki sasaran penduduk orang. Begitu pula bila dibandingkan dengan standar menurut Kementerian Kesehatan RI (1 : penduduk) dapat dijelaskan bahwa ketersediaan Puskesmas Pembantu bukan merupakan hambatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. g. Rasio Rumah Sakit Persatuan Penduduk Ketersediaan Rumah Sakit diukur dengan Rasio terhadap penduduk atau per penduduk. Berdasarkan hasil evaluasi, dari aspek kuantitatif ketersesediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan bukan masalah. Hal ini dijelaskan bahwa Rasio rumah sakit terhadap penduduk (per penduduk) memiliki nilai >1.0, yang artinya keberadaan rumah sakit sudah diatas ambang batas minimal menurut Kementerian Kesehatan. Namun demikian, permasalahan yang sedang dihadapi saat ini adalah kualitas pelayanan kesehatan. Begitu pula ketersedia TT Kelas III, menunjukan perbaikan yakni dari 0,8 per 1500 BAB II- 27

28 penduduk menjadi 1,2 per 1500 penduduk. Kondisi ini menunjukan bahwa permasalahan ketersediaan tempat tidur, secara kuantitif sudah dapat ditanggulangi. Hal yang menarik adalah pengembangan sistem rujukan antara regeonal. Bila akses rujukan yang dilakukan mengikuti alur transportasi secara regeonal, hal ini akan berdampak terhadap resiko yang sangat besar terhadap kematian. Di regeonal kepulauan misalnya transportasi rujukan menggunakan kapal laut. Adapun gambaran sistem rujukan di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat gambar berikut. Gambar 5. Mekanisme Rujukan Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 h. Cakupan Penyediaan Tenaga Kesehatan Jumlah tenaga yang bekerja di pelayanan kesehatan terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2007 jumlah tenaga kesehatan sebanyak orang menjadi tahun 2011, terjadi penambahan sebanyak 3129 orang (81,3%). Persentase Penambahan yang paling besar adalah tenaga farmasi sebesar 193,6%, Bidan sebesar 124,3% dan dokter umum sebesar 119,8%. Perkembangan jumlah Tenaga Kesehatan di Sulawesi Tenggara disajikan pada Tabel berikut Tabel 48. Jumlah Tenaga Kesehatan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Perubahan Tenaga Kesehatan Jumlah Persen Dokter Spesialis ,9 Dokter Umum ,8 Dokter Gigi ,7 Perawat ,8 Bidan ,3 Tenaga Farmasi dan Apoteker ,6 Ahli Gizi ,9 Tenaga Sanitasi ,7 Total ,3 Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 Sehubungan dengan ketersediaan tenaga kesehatan dapat dijelaksan melalui indikator seperti berikut pada Tabel Berikut. BAB II- 28

29 Tabel 49. Rasio Keadaan Tenaga Kesehatan per penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun No Tenaga Kesehatan Jumlah Dokter Spesialis Rasio Dokter Spesialis (4 Per Pddk) 2,31 2,4 2,55 2, Jumlah Dokter Umum Rasio Dokter (25 Per Pddk) 9,94 14,4 14,12 15,77 19,5 3. Jumlah Dokter Gigi Rasio Dokter Gigi (6 Per Pddk) 2,31 3,75 3,63 3,81 5,75 4. Jumlah Perawat Rasio Perawat (158 Per , ,6 141, Jumlah Bidan Rasio Bidan (75 Per Pddk) 32,6 55,4 58,7 67,2 78,1 6. Rasio Tenaga Farmasi dan Apoteker Rasio Tenaga Kefarmasian (28 Per Pddk) 2,7 2,6 4,1 6,1 20,9 7. Jumlah Ahli Gizi Rasio Ahli Gizi (25 Per Pddk) 19 21,3 23,9 25,8 25,5 8. Jumlah Tenaga Sanitasi Rasio Tenaga Sanitarian (30 Per Pddk) 15,9 29,3 23,2 21,9 20,4 Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 i. Rasio Medis per satuan Penduduk Pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan rasio dokter spesialis dari 2,31 padat tahun 2007 menjadi 3.07 tahun 2011 (4per ), begitu pula dokter umum meningkat dari 9,94 menjadi 19,5 (standar 25 per penduduk). Kondisi ini memberikan gambaran bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara masih memhutuhkan tenaga medis, dan bila hal ini tidak segera dipenuhi maka implikasinya adalah kualitas pelayanan kesehatan masyarakat tidak terjamin. j. Rasio Tenaga Kesehatan per satuan Penduduk Ketersediaan tenaga kesehatan di luar dokter juga menunjukan perbaikan, Rasio bidan meningkat dari 32,6 per penduduk menjadi 78,1 (standar 75 per penduduk). Begitu pula tenaga kesehatan lainnya juga menunjukan peningkatan. Berdasarkan Rasio tersebut. Provinsi Sulawesi Tenggara, perlu memberikan perhatian terhadap keberadaan tenaga-tenaga sanitasi, farmasi dan perawat yang belummemenuhi standar kebutuhan. k. Cakupan Pelayanan Kesehatan Dalam rangka mengurukur keberhasilan capaian pelayanan kesehatan ada beberapa indikator yang digunakan yang meliputi indikator pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, pebaikan gizi, Pengendalian Penyakit, Pelayanan kesehatan masyarakat miskin, dan pemberdayaan masyarakat. Adapun pencapaian pelaksanaan program seperti pada Tabel 50. Cakupan pelayanan ibu hamil berkualitas (K4) meningkat dari 70,75% tahun 2007 menjadi 82.09% tahun Begitu pula cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayananibu nifas, penanganan komplikasi dan peserta KB aktif juga menunjukan peningkatan. Kunjungan neonatal lengkap menunjukan peningkatan yakni 74,89% tahun 2007 menjadi 87,71% tahun Begitu pula cakupa penanganan komplikasi walaupun belum mencapai target, tetapi capaiannya cenderung meningkat. Sedangkan cakupan Balita gizi buruk yang dirawat, Rasio capaian kinerjanya sangat baik yaitu 100. Hal ini menunjukan bahwa penderita gizi buruk yang ditemukan semuanya dirawat. BAB II- 29

30 Tabel 50. Pencapaian Pelaksanaan pelayanan Kesehatan Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara NO INDIKATOR Cakupan Kunjungan neonatal lengkap 74,89 75,33 75,85 83,91 87,71 2 Penanganan kasus gizi buruk Cakupan kunjungan ibu hamil K4 70,75 75,76 84,32 85, Cakupan pertolongan persalinan tenaga kesehatan kompeten 71,45 80,38 84,32 85, Cakupan desa UCI ,2 80,2 6 Cakupan masyarakat miskin yg mendapat yankes dasar Cakupan masyarakat miskin yang mendapat yankes rujukan Cakupan Ketersediaan Obat dan Vaksin 80 83,3 86, ,3 9 Cakup Penemuan dan Penanganan BTA Positif Cakupan Rumah Tangga dengan PHBS 19,73 21,9 26,4 38,54 38,72 11 Persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun ,77 65,56 62,6 62,6 54,62 Cakupan desa/kelurahan UCI di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukan peningkatan dari 75 tahun 2007 menjadi 80,2% tahun Cakupan penemuan kasus TB BTA+ befluktuasi. Pada tahun 2009 terjadi penurunan dari 79% tahun 2007 menjadi 49%, kemudian menunjukan peningkatan menjadi 79% tahun Capaian program Rumah Tangga Ber-PHBS pada tahun 2008 sebesar 21,9 % dan pada tahun 2011 sebesar menjadi 38,72%, dengan sasaran target 70 % ditahun Sedangkan cakupan rumah tangga yang memiliki akses terhadap airminum berlualitas menunjukan peningkatan yakni dari 44,77 tahun 2007 menjadi 54,62% tahun l. Angka Kesakitan Data kesakitan terdiri dari dua sumber, yaitu bersumber dari masyarakat (community based data) dan bersumber dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Data kesakitan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat. Kasus Malaria di Sulawesi Tenggara tahun ( ) cenderung berfluktuatif, tahun 2006 jumlah kasus (AMI 15.88), tahun 2007 jumlah kasus (AMI 18.29), tahun 2008 jumlah kasus (AMI 16,87), namun di tahun jumlah kasus cenderung menurun dari tahun 2009 jumlah kasus (AMI 12,82), tahun 2010 jumlah kasus (AMI 12,23) dan pada Tahun 2011 jumlah kasus yakni sebesar (AMI 11.92) Angka kesakitan Malaria dikatakan tinggi apabila angka Annual Malaria Insidens (AMI) > 10 per penduduk dan rendah apabila < 10 per penduduk. Jika diperhatikan AMI selama 5 tahun terakhir, terlihat bahwa angka kesakitan Malaria di Sulawesi Tenggara berada pada kategori sedang dengan AMI Dengan demikian Sulawesi Tenggara masuk dalam kategori daerah endemik. AMI Malaria tahun ditunjukkan pada gambar berikut. BAB II- 30

31 A M I Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Gambar 6. AMI Malaria di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun AMI Linear (AMI) Sumber : Profil Kesehatan Prov. Sultra Tahun Gambar diatas menunjukkan exponetial trendline AMI malaria tahun cenderung mengalami penurunan oleh karena itu program penanggulangan Malaria menjadi perhatian serius untuk mengeliminasi kejadian malaria dalam rangka mencapai target AMI 5per penduduk tahun Penemuan kasus TB Paru/Case Detection Rate (CDR) dilakukan di unit pelayanan kesehatan (Puskesmas, Pustu, dan RS). Berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota CDR TB Paru di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2011 penemuan kasus TB menunjukan peningkatan yakni dan 53,6% tahun 2007 menjadi 64.03%. Dengan demikian CDR TB Paru hampir mencapai target yang ditetapkan, yaitu 70%. Gambaran CDR TB Paru di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun ditunjukkan pada gambar 2.5. Gambar 7. CDR (Case Detection Rate) TB Paru di Provinsi Sulawesi Tenggara 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00-67,10 64,03 53,60 53,56 49, CDR Linear (CDR) Sumber : Profil Kesehatan Prov. Sultra Tahun BAB II- 31

32 Gambar diatas menunjukkan exponential trendline CDR TB Paru di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun cenderung stabil. Diharapkan efektivitas menjaring kasus TB at meningkat, karena semakin banyak kasun yang ditemukan, maka pemutusan rantai penyebarannya akan semakin cepat. Kegiatan penemuan kasus HIV/AIDS di Sulawesi Tenggara dilaksanakan melalui kegiatan zero survei terhadap kelompok beresiko, baik yang beresiko tinggi maupun rendah. Berdasarkan laporan program, jumlah penderita HIV/AIDS hingga 2010 berjumlah 35 kasus dan tahun 2011 terjadi peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 69 kasus yang terdiri dari 17 kasus HIV dan 52 kasus AIDS. Perkembangan jumlah kasus dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Jumlah kasus HIV/AIDs tahun ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 8. Jumlah Kasus HIV/AIDS di Provinsi Sulawesi Tenggara HIV AIDS Expon. (HIV) Linear (AIDS) Sumber : Laporan Tahunan Program P2ML Dinkes Prov. Sultra dan Profil Kes Kab/Kota Tahun 2011 Gambar diatas menunjukkan, kasus HIV/AIDS tahun 2006 berjumlah 29 kasus, tahun 2007 berjumlah 21 kasus, tahun 2008 berjumlah 20 kasus, tahun 2009 berjumlah 13 kasus dan tahun 2010 berjumlah 15 kasus dan tahun 2011 sebanyak 69 kasus. Berdasarkan exponensial trendline jumlah kasus AIDS cenderung meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan kasus HIV, dengan demikian dalam waktu jangka panjang penurunan penemuan kasus HIV akan disertai dengan peningkatan jumlah kasus AIDS hal ini terjadi apabila surveilans tidak mampu melakukan pelacakan kasus dengan baik. Oleh karena itu perlu peningkatan kewaspadaan dini dan penatalaksanaan kasus, serta melibatkan masyarakat dalam penemuan kasus secara dini untuk mencegah penularan lebih luas atau terjadinya ledakan kasus secara tiba-tiba. Angka Prevalensi Kusta di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2011 dilaporkan sebesar 1,45 per penduduk (lebih tinggi dari target nasional < 1 per penduduk). Total kejadian kasus tahun 2011 berjumlah 331 penderita yang terdiri dari laki-laki 198 penderita, perempuan 133 penderita. Dari 331 penderita kusta tahun 2011 terdiri dari 36 penderita kusta type PB (Pausi Basiler) dan 295 penderita type MB (Multi Basiler). Dari 36 kasus type PB 33 kasus (93.94%) diantaranya dinyatakan telah selesai melakukan pengobatan tepat waktu (RFT=Release from Treatment) dan dari 295 penderita type MB, 189 penderita (87.50%) diantaranya juga dinyatakan (RFT). Berdasarkan data tersebut tahun 2011 RFT Kusta Provinsi Sulawesi Tenggara belum mencapai target yang telah ditetapkan (> 90%) khususnya pada type MB. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, prevalensi penderita Kusta tahun cenderung berfluktuasi. Tahun 2007 (1,5), tahun 2008 (1,33), tahun 2009 (1.33), tahun 2010 (1,50) dan tahun 2011 (1.45). Gambaran Prevalensi penyakit Kusta ditunjukkan pada gambar berikut : BAB II- 32

33 Gambar 9. Prevalensi Penderita Kusta per penduduk 1,5 1,5 1,33 1,33 1,5 1, , KUSTA TARGET Sumber : Profil Kesehatan Kab./Kota Tahun 2011 Gambar diatas menunjukkan prevalensi Kusta di Provinsi Sulawesi Tenggara dari tahun belum dapat mencapai target yang telah ditetapkan, yaitu < 1/ penduduk. Kurun waktu , angka prevalensi penyakit kusta secara nasional juga belum menunjukkan penurunan, tahun 2007 sebesar menjadi 1.05 per penduduk, tahun menurun menjadi 1.33 per penduduk, tahun 2010 terjadi peningkatan menjadi 1.5 per penduduk dan tahun 2011 mengalami penurunan dengan angka prevalensi 1.45 pe penduduk. Dengan demikian prevalensi kusta di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun masih diatas prevalensi kusta secara nasional. m. Pembebasan Biaya Pengobatan (PBP) Bahteramas Anggaran yang digunakan untuk kegiatan pelayanan pembebasan biaya pengobatan pada tahun 2008 masih sangat terbatas yakni Rp 428, Hal ini disebabkan pada tahun 2008, kegiatan pelayanan baru dilakukan mulai 1 September 2008 di RSUD Provinsi, sedangkan di Kabupaten/Kota belum diberlakukan.pada tahun 2009, kegiatan pelayanan mulai diberlakukan di seluruh RS Kabupaten/ Kota, dan jumlah anggaran yang digunakan sebanyak Rp.1.087,467,992. BAB II- 33

34 Jumlah Peserta Anggaran (Rp) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Gambar 10. Anggaran Jamkesmas dan Program Pembebasan Biaya Pengobatan Bahteramas Anggaran Jamkesmas dan Program Pembebasan Biaya Pengobatan-Bahteramas 6,000,000,000 Kegiatan pelayanan semakin meningkat pada tahun 2010 tidak hanyak di RS tetapi juga di Puskesmas, jumlah anggaran yang digunakan sebesar Rp 3, ,271. Untuk tahun 2011, anggaran yang sudah dibayarkan mencapai Rp ,000,000,000 4,000,000,000 3,000,000,000 2,000,000,000 1,000,000, Bahtermas 428,449,0 1,087,467 3,626,693 5,856,140 Dengan demikian jumlah anggaran yang telah digunakan untuk program pembebasan biaya pengobatan hingga tahun 2011 ini mencapai Rp 9,151,260,344.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Jumlah sasaran program pembebasan biaya pengobatan meningkat dari jiwa pada tahun 2008, menjadi jiwa pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 bertambah menjadi jiwa. Peningkatan ini merupakan penambahan quota sasaran yang juga mencakup anak-anak di Panti Asuhan, dan adanya quota kepesertaan di setiap rumah sakit.pada grafik di bawah ini dapat dilihat perkembangan kepesertaan jamkesmas dan pembebasan biaya pengobatan Gambar 11. Kepesertaan Jamkesmas dan Pembebasan Biaya Pengobatan Bahteramas Kepesertaan Jamkesmas dan Pembebasan Biaya Pengobatan-Bahteramas Jamkesmas Bahteramas Sumber : Dinkes Prov. Sultra, Tahun 2012 Pada Tahun 2008, Pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas belum dilaksanakan, dan baru dimulai pada tahun 2009 dengan jumlah kunjungan sebanyak 794 kunjungan rawat jalan tingkat lanjut. BAB II- 34

35 Jumlah Kunjungan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pada Tahun 2010, terdapat 18,685 kunjungan rawat jalan tingkat lanjut dan 160 rawat inap tingkat lanjut. Sedangkan pada Tahun 2011 menunjukkan kenaikan yang cukup pesat menjadi 43,354 RJTL dan 52 RITL. Sehingga total kunjungan yang memanfaatkan pelayanan kesehatan melalui program pembebasan biaya pengobatan Bahteramas di Puskesmas sejak Tahun 2009 sampai Tahun 2011 sudah mencapai pasien. Gambar 12. Pemanfaatan Jamkesmas dan Pembebasan Biaya Pengobatan Bahteramas Pemanfataan Jamkesmas dan Pembebasan Biaya Pengobatan-Bahteramas RI-Bahtermas RJ-Bahteramas Ket: RI = Rawat Inap; RJ= Rawat Jalan Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sultra, Tahun 2012 Untuk kunjungan pelayanan kesehatan yang menggunakan fasilitas pembebasan biaya pengobatan bahteramas di seluruh RS di Sulawesi Tenggara sejak tahun 2008 sampai September 2011 sebanyak kunjungan. Jumlah kunjungan pada tahun sebanyak kunjungan, sedangkan pada tahun 2010 sebanyak kunjungan. Kenaikan tersebut pada umumnya sebagai akibat dari semakin tersosialisasinya program ini di tengah masyarakat Sulawesi Tenggara.Pada grafik di bawah ini dapat dilihat perkembangan pelaksanaan pemanfaatan Jamkesmas dan Pembebasan Biaya Pengobatan- Bahteramas tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Pekerjaan Umum Ketersediaan infrastruktur bidang pekerjaan umum di Wilayah Sulawesi Tenggara sangat penting dalam menunjang kegiatan masyarakat dalam bidang perekonomian, pertanian, perkebunan, pariwisata, pertambangan, dan bidang bidang lainnya. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Dinas Pekerjaan Umum, terus berupaya meningkatkan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum berupa bangunan fisik seperti jaringan jalan dan jembatan, jaringan irigasi, air bersih/air minum, sanitasi, serta bangunan pelengkap kegiatan pemukiman lainnya baik secara kuantitas maupun kualitas. Di bidang pembangunan infrastruktur jalan, panjang jalan yang telah terbangun di Provinsi Sulawesi Tenggara sampai tahun 2012 mencapai 1,398, Km, yang terdiri dari 1, Km jalan nasional, Km jalan provinsi, dan Km jalan strategis provinsi. Kondisi jalan provinsi terdiri dari 1, Km jalan beraspal, Km jalan non aspal. Secara umum, walaupun aspek ketersediaan jalan sudah mencukupi, akan tetapi di sisi lain terdapat beberapa aspek yang masih harus terus ditingkatkan pencapaiannya. Beberapa aspek tersebut antara lain belum terintegrasinya secara menyeluruh antara pusat pusat kegiatan/produksi ke daerah pemasaran, di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini akan berdampak pada terhambatnya arus barang dan jasa anatar wilayah tersebut. Tingginya tingat kerusakan jalan, baik rusak ringan, sedang, maupun berat. Hal BAB II- 35

36 ini berdampak pada rendahnya tingkat keselamatan penggguna jalan yang ditandai dengan meningkatnya tingkat kecelakaan lalu lintas. Selain itu kerusakan jalan juga berdampak pada bertambahnya waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai suatu wilayah tertentu, sehingga biaya operasional kendaraan akan meningkat. Di bidang pembangunan infrastruktur jalan, panjang jalan berstatus yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara sampai tahun 2012 mencapai 7.515,85 Km, yang terdiri dari Km jalan nasional, Km jalan provinsi, dan 5.212,71 Km jalan Kabupaten/Kota dimana Km diantaranya sebagai jalan strategis provinsi. Jalan dalam kondisi mantap yaitu jalan dengan kondisi baik dan sedang di provinsi provinsi Sulawesi Tenggara yang terdiri dari jalan nasional dan jalan provinsi mencapai 62,95%. Tabel dibawah menunjukan informasi data dan kondisi jalan di Provinsi Sulawesi Tenggara sampai dengan tahun 2012 Tabel 51. Data dan Kondisi Jalan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2012 No Status Panjang Konstruksi (km) Kondisi (km) (km) Aspal Non Aspal Baik Sedang Rusak 1 Nasional ,41 179,64 570,29 387,30 439,46 2 Provinsi Startegis Provinsi Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Prov. Sultra, Tahun 2012 Secara umum, walaupun aspek ketersediaan jalan sudah mencukupi, akan tetapi di sisi lain terdapat beberapa aspek yang masih harus terus ditingkatkan pencapaiannya. Beberapa aspek tersebut antara lain belum terintegrasinya secara menyeluruh antara pusat pusat kegiatan/produksi ke daerah pemasaran, di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini akan berdampak pada terhambatnya arus barang dan jasa antar wilayah tersebut. Tingginya tingkat kerusakan jalan, baik rusak ringan, sedang, maupun berat. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat keselamatan penggguna jalan yang memungkinkanterjadinya kecelakaan lalu lintas. Selain itu kerusakan jalan juga berdampak pada bertambahnya waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai suatu wilayah tertentu, sehingga biaya operasional kendaraan akan meningkat. Di bidang infrastruktur pengairan, pembangunan diarahkan kepada upaya pemenuhan ketersediaan air baku masyarakat untuk kebutuhan sehari hari, pemenuhan ketersediaan air irigasi untuk pertanian serta upaya penanggulangan bahaya banjir dan abrasi kawasan pantai. Beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan untuk tujuan tersebut di atas, diantaranya melalui pembangunan sarana pengelolaan air minum, peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi, rehabilitasi/normalisasi sungai serta pembangunan/rehabilitasi bangunan penahan gelombang laut. Sampai dengan tahun 2012, di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat 7 Daerah Irigasi (DI) yang merupakan kewenangan pusat dengan luas area Ha, dimana 63,167 % kondisi baik; 24,545 % rusak ringan; dan 12,288 rusak berat. Selain itu, terdapat 15 Daerah Irigasi (DI) yang merupakan kewenangan Provinsi dengan luas area Ha, dimana 79,76 % kondisi baik; 8,53 % rusak ringan; 10,96 % rusak berat Pelayanan Umum Bidang Urusan Perumahan Rumah atau hunian tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar manusia yang mutlak harus terpenuhi. Secara umum, berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sampai dengan tahun 2012, ketersediaan rumah layak huni terjangkau telah mencapai 66,19 %, namun demikian ketersediaan rumah layak huni yang dapat dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) baru mencapai 9,99 %. Sementara itu, ketersediaan fasilitas prasarana, sarana dan utilitas umum kawasan permukiman untuk mendukung lingkungan yang sehat dan aman baru mencapai 67.06%. BAB II- 36

37 Untuk memenuhi kebutuhan tempat hunian, sampai dengan tahun 2012 di Sulawesi Tenggara telah dibangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) sebanyak 7 twin blok dengan kapasitas 650 unit hunian yang berada di kota Kendari, kota Baubau dan kota Kolaka Pelayanan Umum Bidang Urusan Penataan Ruang Di bidang penataan ruang, sampai dengan tahun 2012, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tenggara dan RTRW seluruh Kabupaten Kota telah disusun sesuai amanat Undan-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana di dalamnya telah ditetapkan struktur dan pola ruang serta kawasan strategis.dokumen yang disusun telah mendapat persetujuan substansi dari Menteri Pekerjaan Umum R.I. Sebagai tindak lanjut penyusunan RTRW, lima (5) kota/kabupaten telah menetapkannya sebagai Peraturan Daerah (PERDA) tentang RTRW Pelayanan Umum Bidang Urusan Perencanaan Pembangunan Untuk melaksanakan fungsinya, Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Sulawesi Tenggara, mempunyai kewenangan : a. melakukan Perumusan Kebijaksanaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah sesuai dengan program kerja dan ketentuan serta perundang-undangan yang berlaku ; b. menyelenggarakan rapat berkala untuk mendapatkan masukan dan mengetahui hambatan pelaksanaan tugas masing-masing serta mengupayakan pemecahannya; c. melaksanakan penyusunan Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), Rencana Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RPKD) sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku; d. melaksanakan penyusunan Rencana Pendanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Provinsi sesuai usulan program masing-masing yang berpedoman pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku; e. melaksanakan penyusunan rencana kerja pengalokasian dana yang bersumber dari APBN sebagai masukan BAPPENAS dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP); f. melaksanakan tugas perumusan kebijakan Pemerintah Daerah dibidang Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG) Provinsi sesuai petunjuk dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; g. melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG) Provinsi dalam rangka menciptakan sinkronisasi program kegiatan SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Instansi Vertikal serta berusaha menjaring aspirasi masyarakat dan pelaku pembangunan se-provinsi Sulawesi Tenggara; h. melaksanakan tugas koordinasi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam hal Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (KUA), Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) serta Rencana Anggaran dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi serta perubahannya sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku; i. melaksanakan Koordinasi dengan Pemerintah Pusat, Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi serta membina hubungan kerja dengan Lembaga Non Departemen dan Swasta untuk kelancaran pelaksanaan tugas; j. melaksanakan koordinasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian pelaksanaan pembangunan daerah pada setiap SKPD lingkup Pemerintah Provinsi sebagai bahan penyusunan program kerja pembangunan tahun berikutnya; k. melaksanakan pengkajian dan penelitian pembangunan Daerah untuk perencanaan pembangunan Daerah sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku; l. Melakukan kegiatan lain dalam rangka perencanaan sesuai dengan petunjuk Gubernur. BAB II- 37

38 Pelayanan Umum Bidang Urusan Perhubungan Pada tabel di bawah ini menggambarkan kondisi pelayanan umum di bidang Urusan Perhubungan melalui data jumlah arus penumpang. Tabel 52. Arus Penumpang dan Barang yang Datang Dan Berangkat Melalui Transportasi Darat, Laut, Penyeberangan dan Udara No Arus Penumpang dan Barang Jumlah Penumpang Angkutan Umum 195,202, ,589, ,424, ,356, Arus Kedatangan Dengan Penyeberangan Laut (org) , , , Arus Kedatangan Dengan Transportasi Darat (org) 21,320,410 21,654,520 23,996,472 25,321, Arus Keberangkatan Dengan Penyeberangan Laut (org) 725, , , , Arus Keberangkatan Dengan Transportasi darat 172,322, ,421, ,838, , Jumlah Barang Yang Terangkut Melalui Angkutan Umum 583, , , Jumlah Barang Masuk Melalui Penyeberangan Laut (ton) 121, , , , Jumlah Barang Masuk Melalui Moda Transportasi Darat (ton) 163, , , Jumlah Barang Keluar Melalui Penyeberangan Laut 101, , , , Jumlah Barang Keluar Melalui Moda Transportasi Daarat 197, , , , Arus Angkutan Udara 7,932,184 8, , , Arus Kedatangan Dengan Transportasi Udara (Orang) 207, , , , Arus Keberangkatan Dengan Transportasi Udara (orang) 210, , , Arus Barang Masuk Melalui Moda Transportasi Udara (kg) 4,314,135 4,279,936 3,972,181 4,349, Arus Barang Keluar Melalui Moda Transportasi Udara (kg) 3,199,702 3,621,302 3,541,844 3,112,469 Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Lingkungan Hidup Pada urusan lingkungan hidup, gambaran kondisi lingkungan hidup yang digambarkan melalui beberapa indikator yang terkait dengan lingungan sebagaimana diuraikan pada tabel berikut ini : Tabel 53. Data Indikator Pengelolaan Lingkungan Tahun 2012 Indikator Tahun 2012 Persentase Penanganan Sampah Perkotaan (2009) 50 % Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan AMDAL 7,55% Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk 1/21 Rasio Luas Kawasan Tertutup Pepohonan Terhadap Luas Daratan 51,8% Luas Kawasan Perlindungan Daratan 46,35% Luas Kawasan Lindung Laut (ha) 313,513 Emisi CO Gg CO 2 e Jumlah Perusahaan Yang Memilki AMDAL 151 Jumlah Perusahaan Yang Memiliki Tempat pengelolaan Limbah 5 Jumlah Sumber Air Yang Dipantau Kualitasnya, Ditetapkan Status Mutu Airnya Dan Diinformasikan Status Mutu Airnya Jumlah Kabupaten/Kota Yang Dipantau Kualitas Udara Ambiennya Dan Diinformasikan Mutu Udara Ambiennya Jumlah Pengaduan Masyarakat Akibat Adanya Dugaan Pencemaran Dan/Atau Perusakan Sumber : BLH Prov. Sultra, Tahun % 100% 16,7% BAB II- 38

39 Pelayanan Umum Bidang Urusan Pertanahan Pada urusan pertanahan digambarkan perkembangan realisasi sertifikasi tanah menurut kabupaten/kota pada tahun 2011, sebagaimana terurai pada tabel dibawah ini : Tabel 54. Realisasi Sertifikasi Tanah Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 NO. KABUPATEN/KOTA BIDANG LUAS (HA) 1. Buton Muna Konawe Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kota Kendari Kota Baubau Prov. Sultra Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil Di bidang kependudukan dan catatan sipil sampai dengan tahun 2012, berdasarkan Undang-Undang nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah telah melaksanakan tiga (3) program strategis nasional, yaitu pemutakhiran data penduduk, pemberian NIK dan penerapan e-ktp melalui pelayanan harian pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil termasuk perekaman e-ktp yang dilakukan secara massal yang bertujuan agar semua peristiwa kependudukan akibat LAMPID (Lahir, Meninggal, Pindah dan Datang) tercatat dalam database kependudukan sebagai acuan dasar perencanaan pembangunan. BAB II- 39

40 Gambar 13. Gambaran Umum Pemanfaatan E-KTP KEMEN BUMN DUNIA USAH A PEMDA KEUAN G-AN HUKU M HAM PER BANKA N AGAM A KOM INFO KPU E-KTP & DATABASE KEPENDUDUKAN BERBASIS NIK TNP2K BIN NAKER TRANS BPN SOSIA L POLRI KESE HATAN BNP2 TKI BAPPE NAS KPK Pelayanan Umum Bidang Urusan Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Tabel 55. Jumlah Panti Asuhan, Kapasitas Tampung dan Anak Asuh No. Kabupaten / Kota Panti Asuhan Kapasitas Tampung Anak Asuh Pengasuh 1. Buton Muna Konawe Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kota Kendari Kota Baubau Prov. Sultra Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 dan Dinas Sosial Prov. Sultra BAB II- 40

41 Pelayanan Umum Bidang Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tabel 56. Jumlah Sarana Pelayanan Keluarga Berencana Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 No Kabupaten/ Kota Klinik Keluarga Berencana Pembantu Pembinaan Keluarga Berencana Desa Sub Pembantu Pembinaan Keluarga Berencana Desa Jumlah 1. Buton Muna Konawe Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Buton Utara Konawe Utara Kota Kendari Kota Baubau Prov. Sultra Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Sosial Jenis Pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi merupakan pelayanan dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang bersifat lintas kabupaten/kota terdiri atas : 1. Pelaksanaan program/kegiatan bidang sosial skala provinsi - Pemberian bantuan sosial bagi PMKS skala provinsi - Pelaksanaan kegiatan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi PMKS dalam panti sosial skala provinsi 2. Penyediaan sarana dan prasarana sosial skala provinsi - Penyediaan sarana dan prasaranan panti sosial skala provinsi - Penyediaan sarana prasaranan pelayanan luar panti skala provinsi 3. Penanggulangan korban bencana pada tahap tanggap darurat skala provinsi - Bantuan sosial bagi korban bencana skala provinsi - Evakuasi korban bencana skala provinsi 4. Pelaksanaan dan Pengembangan jaminan sosial bagi penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial terlantar yang berasal dari masyarakat rentan dan tidak mampu skala provinsi 5. Pelaksanaan jaminan sosial skala provinsi Pelayanan Umum Bidang Urusan Ketenagakerjaan a. Rasio daya serap tenaga kerja Rasio daya serat tenaga kerja baik PMDN maupun PMA terus meningkat sejalan dengan peningkatan PMDN dan PMA. sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 57. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tahun 2008 s.d 2012 No Uraian **) 1 Jumlah Tenaga Kerja yang Berkerja pada Perusahaan PMA/PMDN Jumlah Seluruh PMA/PMDN Rasio Daya Serap Tenaga Kerja 1 : 11 1 : 11 1 : 11 1 : 12 1 : 12 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 41

42 b. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Keterampilan, Keahlian dan Kompetensi Tenaga Kerja Upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan, keahlian dan kompetensi terus meningkat dalam lima tahun terakhir sebagaimana ditunjukan pada tabel berikut : No. Tabel 58. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja Kegiatan Tahun/Orang Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelatihan Berbasis Masyarakat Pelatihan Kewirausahaan Jumlah Sumber : Disnakertrans Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Berbagai upaya peningkatan melalui pengembangan koperasi dan lembaga ekonomi lainnya terus meningkat sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 59. Pengelolaan Perkoperasian di Sulawesi Tenggara Tahun No Uraian Capaian Kinerja Persentase Koperasi Aktif (%) 86,33 84,78 84,78 84,82 84,91 2 Persentase Omzet Usaha Mikro dan Kecil (%) 0,20 0,24 0,15 0,31 0,20 3 Persentase Kredit per UMKM (%) 0,80 0,82 0,71 0,89 0,80 4 Jumlah BPR/LKM Beroperasi Aktif (unit) Jumlah Koperasi Berprestasi/Berkualitas Jumlah Wirausaha Baru (Unit) Persentase Pengurus/Karyawan Koperasi yang Pernah Mengikuti Diklat Perkoperasian (%) 8 Persentase UMKM yang Pernah Mengikuti Diklat Sumber : Dinkop, KUKM Prov. Sultra, Tahun ,39 1,53 2,64 9,30 20,53 0,16 0,27 0,31 0,42 0, Pelayanan Umum Bidang Urusan Penanaman Modal Provinsi Sulawesi Tenggara yang kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam, tentunya menjadi perhatian khusus bagi para penanam modal untuk berinvestasi. Kondisi ini diperlihatkan melalui berkembangnya modal investasi di Provinsi Sulawesi Tenggara yang terus meningkat dari Tahun 2007 sampai Tahun 2011 sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut ini : BAB II- 42

43 No. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tabel 60. Banyaknya Proyek Penanaman Modal Dalam Negeri dan Asing Menurut Jenis Proyek Tahun 2011 Jenis Proyek 1. Pertanian 1.1. Tanaman Pangan 1.2. Perkebunan 1.3. Perikanan 1.4. Kehutanan Modal Dalam Negeri Banyaknya Investasi (Juta Proyek Rp) Modal Luar Negeri Banyaknya Investasi (Juta Rp) Proyek Pertambangan Industri Listrik, Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran ,99 7. Angkutan dan Telekomunikasi , Keuangan Persewaan dan jasa Jasa-jasa , ,31 Jumlah , , , , , Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Kebudayaan Bidang Kebudayaan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan program/kegiatan yang berkaitan dengan kesenian, perfilman, cagar budaya, permuseuman, sejarah dan nilai-nilai budaya Dalam melaksanakan tugas, bidang kebudayaan mempunyai fungsi : a. Penyelenggara kegiatan pembinaan dan pengembangan bidang kesenian dan perfilman di daerah; b. Penyelenggara kegiatan pembinaan dan pengembangan bidang bidang cagar budaya dan permuseuman di daerah; dan c. Penyelenggara kegiatan pembinaan dan pengembangan bidang sejarah dan nilai budaya di daerah Pelayanan Umum Bidang Urusan Kepemudaan Dan Olah Raga Kepemudaan dan olahraga merupakan urusan pelayanan wajib yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Keberhasilan pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan wajib tersebut dapat diukur dari indikator kinerja, meliputi jumlah peserta seleksi paskibraka tingkat nasional, jumlah pemuda yang ikut seleksi pertukaran pemuda, jumlah pemuda yang ikut seleksi kapal pemuda nusantara. Di bidang keolahragaan, meliputi : jumlah pembinaan atlet yang dilaksanakan, jumlah kompetisi olahraga yang dilaksanakan, dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 61. Pencapaian Kinerja Pelayanan Umum Bidang Urusan Kepemudaan dan Olahraga No Uraian Realisasi Capaian Tahun A Kepemudaan 1 Jumlah Pemuda yang Berperan di Organisasi Jumlah Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg B Keolahragaan 4 Jumlah Olahraga yang Dibina dan Dimasyarakatkan 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg 5 Jumlah Sarana dan Prasarana Olahraga 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg 1 keg Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 43

44 Pelayanan Umum Bidang Urusan Kesatuan Bangsa Dan Politik Dalam Negeri Adanya pembagian urusan pemerintahan bidang kesatuan bangsa dan politik ke dalam urusan wajib pemerintahan oleh pemerintah daerah, permasalahan yang menyangkut bidang kesatuan bangsa dan politik dalam negeri dapat direspon dengan cepat oleh pemerintah daerah sekaligus dalam kerangka pengawalan kebijakan politik dalam negeri. Suasana kehidupan beragama dan kegiatan berdibadah masyarakat di Provinsi Sulawesi Tenggara secara umum telah berjalan dengan baik. Dilihat dari sisi kuantitas, jumlah rumah-rumah ibadah sudah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Demikian halnya penyelenggaraan pendidikan keagamaan dan penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan juga dapat berjalan dengan baik. Sementara itu kerukunan dan toleransi hidup beragama juga semakin baik, hal tersebut dapat dilihat dalam pelaksanaan Pesparawi tahun 2012 di Kota Kendari dan pelaksanaan event-event keagamaan lainnya dengan melibatkan umat dari berbagai agama. Di samping itu, rendahnya intensitas dan frekuensi kasus konflik yang berlatar belakang agama menunjukkan bahwa kualitas hidup beragama di Sulawesi Tenggara semakin meningkat. Situasi ketenteraman dan ketertiban umum di Provinsi Sulawesi Tenggara sampai dengan tahun 2012 senantiasa tetap kondusif dan terkendali. Indikator tetap kondusif dan terkendalinya stabilitas ketenteraman serta ketertiban tersebut, antara lain ditunjukkan oleh kelancaran penyelenggaraan Pemilihan Langsung Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2008 maupun Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) antara tahun di beberapa kabupaten/kota dan di akhir tahun 2012 pelaksanaan Pemilihan langsung Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur/Wakil Gubernur Sultra dan Pemilihan Walikota/Wakil Walikota Baubau yang berlangsung dalam suasana tertib, aman dan demokratis. Pemilih yang terdaftar pada Pilkada Gubernur/ Wakil Gubernur Sultra Tahun 2012 sebanyak orang yang tersebar pada TPS pada 12 (dua belas) Kabupaten / Kota se Provinsi Sulawesi Tenggara Pelayanan Umum Bidang Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, dan Persandian Pelayanan Umum Bidang Urusan Ketahanan Pangan a. Produksi Secara Umum produksi 12 jenis komoditas pangan penting tahun 2011 mengalami kenaikan antara 0,92 persen pada komoditas ubi kayu hingga 64,05 persen pada komoditas buah-buahan, begitu pula pada komoditas padi mengalami kenaikan sebesar 9,86 persen dan kedelai 23,93 persen. Khusus untuk komoditas pangan hewani produksi tahun 2011 semua mengalami penurunan : daging sapi dan kerbau turun 26,95 persen, daging ayam turun 29,21 persen, komoditas telur turun sebesar 14,98 persen, dan komoditas perikanan mengalami penurunan 16,31 persen. Produksi pangan tersebut dalam 3 (tiga) tahun terakhir periode yang mengalami penurunan rata-rata pertahun pada komoditas jagung 2,35 persen, kacang tanah 5,51 persen, ubi kayu 13,55 persen, sayuran 5,90, daging sapi dan kerbau 11,62 persen, daging ayam 5,69 persen, telur 1,91 persen serta ikan 44,89 persen, sedangkan 4 komoditas lainnya mengalami pertumbuhan mulai dari komoditas ubi jalar naik 1,78 persen, padi naik 9,86 persen, kedelai naik 23,93 persen, serta komoditas buah-buahan, naik sebesar 64,05 persen per tahun. b. Ketersediaan Mengacu pada volume produksi tahun 2011 dikurangi kebutuhan untuk benih, pakan dan tercecer serta dikonversi dalam bentuk yang diperdagangkan, maka ketersediaan bahan pangan Sulawesi Tenggara untuk 12 jenis komoditas yang mengalami penurunan terutama buah-buahan 38,53 persen, sayuran 38,16 persen, daging ayam 29,21 persen, daging sapi dan kerbau 26,95 persen, telur 19,48 persen, ikan 16,31, ubi kayu 10,52 persen, jagung 9,14 persen, serta kacang tanah 8,13 persen. Namun demikian ketersediaan untuk beras naik 7,33 persen, kedelai naik 90,79 persen, dan ubi jalar naik 4,63 persen. BAB II- 44

45 Dalam 3 tahun terakhir periode , ketersediaan pangan yang mengalami penurunan rata-rata pertahun terutama : jagung 2,35 persen, kacang tanah 5,51 persen, ubi kayu 19,27 persen, sayuran 5,91, daging sapi dan kerbau 11,62 persen, daging ayam 5,69 persen, telur 1,91 persen, dan ikan 44,89 persen. Penyediaan untuk 4 komoditas lainnya mengalami pertumbuhan pertahun yang cenderung baik mulai dari beras naik 9,47 persen, kedelai naik 23,93 persen, ubi jalar naik 1,78 persen, dan buah-buahan naik 64,04 persen. c. Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan Neraca pangan yang disusun berdasarkan perkiraan produksi dan kebutuhan dari 12 komoditas menunjukkan bahwa neraca tahun 2011 hanya komoditas telur yang mengalami defisit sebesar 6,11 ton atau 108,61 persen, seperti tertera pada tabel berikut ini : Tabel 62. Perkiraan Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan Beberapa Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 dan 2011 Tahun 2010 (Ton) Tahun 2011 (Ton) No KOMODITAS Perimbangan Perimbangan Ketersediaan Kebutuhan Ketersediaan Kebutuhan Volume % Volume % I Pangan Nabati 1 Beras , , , , , ,24 22,42 2 Jagung , , , , , ,28 80,66 3 Kedelai 2.904,75 89, , ,05 91, ,97 98,36 4 Kacang Tanah 4.299,54 870, , ,80 888, ,76 77,52 5 Ubi Jalar , , , , , ,18 91,79 6 Ubi Kayu , , , , , ,06 89,99 7 Sayuran , , , , , ,17 80,51 8 Buah-buahan , , , , , ,37 95,54 II Pangan Hewani 9 Daging Sapi + Kerbau 3.775,68 156, , ,23 159, ,84 94,22 10 Daging Ayam , , , , , ,51 80,03 11 Telur 7.903, , ,73-64, , , ,60-108,61 12 Ikan , , , , , ,06 90,91 Sumber : Badan Ketahanan Pangan Prov. Sultra (data diolah) Tahun 2012 Pada Tahun 2011, surplus pada 11 komoditas yang cukup tinggi mengindikasikan kinerja produksi komoditas pangan tersebut cukup baik, sehingga kebutuhan konsumsi penduduk Sulawesi Tenggara masih bisa terpenuhi dari produksi dalam daerah meskipun laju pertumbuhan penduduk semakin eningkat. Ketersediaan pangan per kapita mengindikasikan rata-rata peluang individu untuk memperoleh pangan. Ketersediaan pangan dalam bentuk energi per kapita pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dalam tiga tahun terakhir , kinerja ketersediaan energi turun 2,72 persen dan ketersediaan protein turun 4,02 persen. Pada tahun 2011, tingkat ketersediaan energi mencapai kkal/kapita/hari dan protein mencapai 84,73 gram/kapita/hari. Capaian ketersediaan tersebut BAB II- 45

46 sudah berada diatas kebutuhan yang direkomendasikan dalam Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) VIII tahun Tabel 63. Ketersediaan Pangan Dalam Bentuk Energi Realisasi Ketersediaan Per Tahun No Jenis Komoditi Pertumbuhan (%) , , ,73-2,72-4,02 Energi (Kkl/Kapita/Hari) Protein (Gram/Kapita/Hari) Anjuran WKNPG-VIII-2004 : a. Energi (kkal/kapita/hari) b. Protein (gram/kapita/hari) Sumber : Badan Ketahanan Pangan Prov. Sultra (data diolah) Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tabel 64. Pembagian Daerah Administrasi Sulawesi Tenggara Tahun 2011 No Kabupaten/ Kota Ibukota Kecamatan Kelurahan Desa UPT Desa + Kelurahan 1. Buton Pasarwajo Muna Raha Konawe Unaaha Kolaka Kolaka Konawe Selatan Andoolo Bombana Kasipute Wakatobi Wangi-Wangi Kolaka Utara Lasusua Buton Utara Buranga Konawe Utara Asera Kota Kendari Kendari Kota Baubau Baubau Prov. Sultra Kendari Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 46

47 Pelayanan Umum Bidang Urusan Komunikasi dan Informatika Pelayanan dalam urusan komunikasi dan informatika cukup memegang peranan yang penting dalam upaya penyebarluasan informasi maupun efisiensi dalam komunikasi. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perkembangan media komunikasi dan informasi di Provinsi Sulawesi Tenggara memperlihatkan pertumbuhan yang cukup pesat, hal ini tentunya sangat didukung dengan kebutuhan masyarakat akan media komunikasi dan informatika yang terus meningkat. Gambaran tentang perkembangan pelayanan pada urusan komunikasi dan informatika dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 65. Pencapaian Kinerja Pelayanan Bidang Urusan Komunikasi dan Informatika Jumlah Jaringan Komunikasi 195 BTS Jumlah Surat Kabar Nasional dan Lokal 2 dan 3 Jumlah Penyiaran Radio dan TV Lokal 8 dan 3 Persentase Jumlah Penduduk yang Menggunakan Telepon dan HP 40% Sumber : Dinas Perhubungan dan Kominfo Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Perpustakaan. Di bidang perpustakaan selama tahun 2008 hingga 2012 masih dibutuhkan upaya yang maksimal dari pemerintah provinsi dalam memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat sehingga capaian kinerja per tahun bidang perpustakaan semakin meningkat. Capaian kinerja yang telah dicapai dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 66.Pencapaian Kinerja Pelayanan Bidang Urusan Perpustakaan Daerah No Uraian Tahun 1. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Per Tahun , , , , Jumlah Judul Koleksi , Buku yang tersedia di Perpustakaan Daerah 3. Jumlah Eksamplar ,716 1, Koleksi Buku yang Tersedia di Perpustakaan Daerah 4. Desa /Kelurahan yang Mendapatkan Bantuan Buku 5. Presentase Pengelola 13% 1% 7% 5% 3% Perpustakaan Desa/Kelurahan yang Mengikuti Bintek Sumber : Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Prov. Sultra, Tahun Fokus Urusan Layanan Pilihan Analisis kinerja atas layanan urusan pilihan dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelengaraan urusan pilihan pemerintahan daerah provinsi/kabupaten/kota, yaitu bidang urusan pertanian, kehutanan, energi dan sumberdaya mineral, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan, industri dan ketransmigrasian. BAB II- 47

48 Pelayanan Umum Bidang Urusan Pertanian Kondisi pengembangan jaringan irigasi di Sulawesi Tenggara menunjukkan perkembangan yang cukup baik sejak tahun 2008 hingga Walaupun demikian karena beberapa kendala teknis tidak semua lahan yang beririgasi mulai dari irigasi teknis hingga irigasi tadah hujan ada yang tidak dimanfaatkan. Keadaan pemanfaatan irigasi di Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Tabel 67. Keadaan Irigasi Teknis, Semi Teknis hingga Irigasi Tadah Hujan berdasarkan Frekuensi Tanam di Sulawesi Tenggara No. Jenis Pengairan Frekuensi Penanaman Tidak Ditanami Sementara Tidak Tiga kali Dua kali Satu kali Padi *) Diusahakan Jumlah 1 Irigasi Teknis Irigasi 1/2 Teknis Irigasi Sederhana Irigasi Desa/Non PU Tadah Hujan Pasang Surut Lebak Lainnya (Polder, Rembesan dll) J U M L A H Sumber : Dinas Pertanian Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Kehutanan Perkembangan pengelolaan kawasan hutan di Sulawesi Tenggara terus dilakukan berupa kegiatan rehabilitasi hutan, pengembangan produksi hasil hutan, pengamanan kebakaran kawasan hutan, pengawasan hutan, penetapan tata batas kawasan hutan serta perencanaan pembangunan kehutanan. Kondisi pengelolaan kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Tabel 68. Pengelolaan Kawasan Hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun No. Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Capaian pada Tahun Luas Kawasan Hutan dan Lahan yang Direhabilitasi (ha) , Produksi Hasil Hutan : , , , ,55 Hasil Hutan Kayu (m 3 ) , , , Hasil Hutan Bukan Kayu (Ton) 3.512, , , , ,47 3. Peningkatan Kapasitas Penanganan Kasus Kejahatan Kehutanan (%) Luas Kawasan Hutan yang Terbakar Dapat Ditekan (%) Dokumen Perencaan dan Pelaksanaan Pembangunan Kehutanan (dokumen) 6. Pengesahan Dokumen Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan (dokumen) 7. Fasilitasi Pembangunan HTR (kabupaten) Fasilitasi Pembangunan KPH (unit) 25 2 unit - 2 unit - 9. Fasilitasi Hutan Kota (kabupaten) Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral Bidang energi dan sumberdaya mineral mempunyai kontribusi cukup besar dalam mendukung perekonomian Sulawesi Tenggara. Aktivitas pertambangan merupakan sektor yang paling besar dalam menyumbangkan pendapatan daerah dan mendongkrak perekonomian daerah. Selain itu, komitmen pemerintah daerah pada bidang energi dan sumber daya mineral dengan berupaya untuk mengatasi defisit daya listrik di Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2009 diwujudkan dengan cara merelokasi genset BAB II- 48

49 No. 1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) melalui dukungan APBD, tahun 2011 PT. PLN (Persero) telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kapasitas terpasang 2x10 mw, PLTM Rongi 2x0,4 mw, PLTM Sabilambo kapasitas 2x1 MW. Dalam mengatasi krisis listrik skala kecil pada daerah-daerah terpencil telah dikembangkan listrik tenaga surya dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pada tahun 2008 s.d 2012 telah dikembangkan PLTS sebanyak unit dan pada tahun 2009 pemerintah daerah telah membangun Pembakit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) kapasitas 40 kw di Desa Tekonea Kab. Konawe. Adapun capaian kinerja pelayanan umum bidang urusan energi dan sumber daya mineral dapat dilihat pada tabel berikut : Uraian Tabel 69. Kondisi Pengelolaan Bidang Energi Sumberdaya dan Mineral di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Penerimaan Daerah dari sektor Pertambangan Royalti Iuran Tetap Sumbangan Pihak Ketiga Rasio Elektrifikasi (%) 37,16 41,00 50,95 57,59 61,95 3. Rasio Desa Berlistrik (%) 65,25 66,86 69,28 72,32 74,34 4. Daya Terpasang (mw) Sumber : Dinas ESDM Prov. Sultra, Tahun 2012 a. Pertambangan Tambang Nikel dan Aspal merupakan dua jenis produksi pertambangan yang menonjol di Sulawesi Tenggara. Produksi dan nilai produksi kedua jenis tambang tersebut ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 70. Keadaan Komoditas Pertambangan Nikel dan Aspal di Sulawesi Tenggara Tahun Produksi (ton) Nilai Produksi (Rp. Juta Rupiah) Biji Nikel Fero Nikel Aspal Biji Nikel Fero Nikel Aspal , , ,25 Sumber : Dinas ESDM Prov. Sultra, Tahun 2012 b. Listrik Pertumbuhan permukiman di Sulawesi Tenggara signifikan dengan pertambahan cabang dan ranting perusahaan listrik Negara, banyakya pelanggan, tenaga listrik yang terjual serta nilai penjualan listrik. Keadaan perkembangan listrik di Sulawesi Tenggara Tahun disajikan pada tabel berikut : Tabel 71. Perkembangan Kelistrikan di Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Jumlah Kepala Keluarga (KK) Jumlah KK berlistrik Rasio Elektrifikasi 37, Sumber : Dinas ESDM Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 49

50 Pelayanan Umum Bidang Urusan Pariwisata Perkembangan Kepariwisataan Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan yang cukup baik sejalan dengan meningkatnya kualitas aksesibilitas, amenitas dan sarana penunjang dalam melakukan perjalanan di Destinasi Wisata. Capaian kinerja Kebudayaan dan Pariwisata berdasarkan pengukuran yang mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesenian dan Indikator Kinerja Utama (IKU) dijabarkan pada tabel berikut : No Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD Realisasi Capaian Per-Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KEBUDAYAAN 1 Kesenian (Indikator SPM) 1. Cakupan Kajian seni (%) ,3% 13,3% 2. Cakupan Fasilitas Seni (%) % 14% 29% 3. Cakupan Gelar Seni (%) % 100% 50% 4. Misi Kesenian (%) % 100% 100% 5. Cakupan sumber Daya Manusia kesenian (%) % 25% 50% 6. Cakupan Tempat (%) % 100% 100% 7. Cakupan Organisasi (%) ,67% 66,67% 66,67% 2 PARIWISATA 1. Jumlah wisatawan Manca Negara (orang) Jumlah wisatawan Nusantara (Orang) Tingkat Hunian Hotel (Persentase) - Bintang 39,65 36,10 41,89 52,77 52,90 - Non Bintang 34,67 32,86 33,18 33,25 33,82 4. Perkembangan Jumlah Hotel Rata-rata lama tinggal (hari) - Bintang 1,67 1,94 1,79 2,00 2,17 - Non Bintang 1,54 1,37 1,58 1,56 1,63 6. Jumlah Objek Wisata (Lokasi) Jumlah Desa Wisata (Lokasi) Pelayanan Umum Bidang Urusan Kelautan Dan Perikanan Bidang kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar kepada PDRB Sulawesi Tenggara dalam kelompok pertanian. Hal ini disebabkan karena wilayah Sulawesi Tenggara memiliki sumberdaya kelautan yang besar dan beragam juga merupakan salah satu sektor yang diminati investor. Kondisi pengelolaan sektor kelauatan dan perikanan di Sulawesi Tenggara disajikan pada tabel berikut : Tabel 72. Kondisi Pengelolaan Sektor Kelauatan dan Perikanan di Sulawesi Tenggara Tahun No. Indikator Kinerja Utama (IKU) Realisasi Capaian Tahun ke (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) A. FUNGSI EKONOMI 1. Kontribusi PDRB Perikanan terhadap PDRB Provinsi (Triliun Rp.) 2,19 2, ,56 2,88 2. Produksi Perikanan (Ribu ton) - Perikanan Tangkap 213,31 223,29 227,24 237, Perikanan Budidaya 519,18 517,80 570,57 653,17 744,00 3. Nilai Ekspor Hasil Perikanan (USD Ribu) 533,60 578,76 700,30 518,34 867,90 4. Konsumsi Ikan (kg/kap/thn) 38,9 39,1 45,8 49,5 50,6 5. Jumlah Unit Pengolahan Ikan (unit) Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan 102,74 103,24 106,20 107,19 108,52 B. FUNGSI LINGKUNGAN 1. Luas Kawasan Konservasi Laut dan Perairan (juta ha) 1,60 1,60 1,60 1,72 1,84 2. Jumlah Pulau-Pulau Kecil Termasuk Pulau Kecil Terluar yang Dikelola (pulau) Jumlah Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) BAB II- 50

51 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Perdagangan, Industri a. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Tabel 73. Jumlah Investor PMDN/PMA Tahun 2008 s.d 2012 Tahun Uraian PMDN PMA Total (1) (2) (3) (4) (5=3+4) 2008 Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Jumlah Investor Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun 2012 b. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Tahun Tabel 74. Jumlah Investasi PMDN Tahun 2008 s.d 2012 Persetujuan Realisasi Jumlah Proyek Nilai Investasi (Juta Rp), Jumlah Proyek Nilai Investasi , , , ,91 Sumber : BPMD dan PTSP Prov. Sultra, Tahun 2012 Tahun Tabel 75. Jumlah Investasi PMA Tahun 2008 s.d 2012 Provinsi Sulawesi Tenggara Persetujuan Realisasi Jumlah Proyek Nilai Investasi (Juta Rp) Jumlah Proyek Nilai Investasi , , , , , ,51 Sumber : BPMD dan PTSP Prov. Sultra, Tahun 2012 c. Perkembangan Sektor Industri Kecil Perkembangan sektor industri kecil di Sulawesi Tenggara terus berkembang sejak tahun 2008 hingga tahun Perkembangan perusahaan, jumlah tenaga kerja investasi dan nilainya terhadap industri kimia, industri logam dan industri aneka disajikan pada tabel berikut : Tabel 76. Banyaknya Industri, Nilai Produksi dan Tenaga Kerja Menurut Jenis Industri Tahun 2012 Kelompok / Nilai Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja Investasi (Rp.000) Jenis Industri (Rp.000) Industri Kimia Industri Logam dan Mesin Industri Aneka Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan Industri Kecil : BAB II- 51

52 - IK Hasil Pertanian dan Kehutanan - IK Kimia - IK Logam dan Mesin - IK Aneka Jumlah Sumber : Laporan Kinerja Bidang Industri Kecil Tahun 2012 d. Perkembangan Sektor Perdagangan Luar Negeri a. Ekspor Sulawesi Tenggara Menurut Nilai dan Volume Dari Tahun 2008 hingga Tahun 2012 volumen dan ekspor Sulawesi Tenggara terus meningkat, terutama nlai ekspor yang terjadi pada tahun Volume dan nilai ekapor Tahun 2008 hingga Tahun 2012 disajikan pada tabel berikut. Deskripsi Tabel 77. Ekspor Berdasarkan Volume dan Nilai Tahun Tahun Volume (Ton) , , , , ,97 Nilai (USD) , ,44 Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra Tahun 2012 b. Ekspor Sulawesi Tenggara Menurut Eksportir Perkembangan eksportir di Sulawesi Tenggara bertambah secara signifikan, baik eksportir yang mengelola sumberdaya alam yang terbaharui maupun seperti perkebunan, hasil laut serta sumberdaya alam yang tidak terbaharui seperti hasil tambang. Perkembangan eksportir sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2012 disajikan pada tabel berikut : Tabel 78. Keadaan Jumlah Eksportir di Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Jumlah Eksportir Jenis Komoditi Nilai (USD) Volume (Ton) Hasil Tambang (Bijih Nikel, Fero Nikel) Perusahaan Perusahaan Perusahaan Perusahaan Perusahaan Hasil Laut (Bambu Laut) Hasil Perkebunan (Kakao) Hasil Tambang (Bijih Nikel, Fero Nikel) Hasil Perkebunan (Kakao) Hasil Tambang (Bijih Nikel, Fero Nikel, Batu Cromid) Hasil Laut (Gurita Beku, Cakalang, Ikan, Udang, Campuran) Hasil Hutan (Kayu Jati) Hasil Perkebunan (Kakao) Hasil Tambang (Bijih Nikel, Fero Nikel,Aspal) Hasil Laut (Gurita Beku, Cakalang, Ikan, Udang, Campuran, Rumput Laut) Hasil Hutan (Kayu Jati) Hasil Tambang (Bijih Nikel, Fero Nikel, Aspal) Hasil Laut (Gurita Beku, Cakalang, Rumput Laut) Hasil Hutan (Kayu Jati) Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun , , , , , , ,97 BAB II- 52

53 c. Ekspor Sulawesi Tenggara Menurut Negara Tujuan Sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2012, jumlah negara tujuan ekspor Sulawesi Tenggara terus meningkat, baik negara tujuan, nilai maupun volume, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 79. Ekspor Berdasarkan Negara Tujuan Tahun Tahun Negara Tujuan Nilai (USD) Volume (Ton) 2008 Jepang, China, Malaysia, India, Korea Selatan, Swiss, Belgia , , Jepang, China, USA, Malaysia, Belanda, Korea Selatan, Swiss , , Jepang, China, USA, Hongkong, Malaysia, Belanda, Korea Selatan, Swiss, Australia, Italia , , Jepang, Taiwan, China, USA, Hongkong, Belanda, Korea Selatan, Italia, dan Yunani , , Jepang, Taiwan, China, USA, Hongkong, Belanda, Korea Selatan, Tailand, Meksiko, Ukraina , ,97 Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun 2012 d. Ekspor Sulawesi Tenggara Menurut Pelabuhan Muat Jumlah pelabuhan yang digunakan untuk mengekspor komoditas dari Sulawesi Tenggara terus meningkat, baik dari sisi negara tujuan, maupun volume ekspor seperti pada tabel berikut : Tabel 80. Ekspor Berdasarkan Pelabuhan Muat di Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Pelabuhan Muat Jenis Komoditi Negara Tujuan Volume (Ton) Pomalaa Kolaka Kendari Pomalaa Kolaka Konawe Selatan Bombana Pomalaa Kolaka Kendari Kolaka Utara Konawe Utara Konawe Selatan Buton Surabaya Pomalaa Kolaka Konawe Utara Kolaka Utara Konawe Selatan Baubau Buton Bombana Surabaya Pomalaa Kolaka Bijih Nikel, Fero Nikel Kakao Ikan Campuran Bijih Nikel, Fero Nikel Kakao Bijih Nikel, Fero Nikel, Aspal, Batu Cromid Kakao Ikan Campuran, Gurita Beku, Ikan Cakalang, Rumput Laut Kayu Jati Bijih Nikel, Fero Nikel, Aspal, Batu Cromid Kakao Ikan Campuran, Gurita Beku, Ikan Cakalang, Rumput Laut Kayu Jati Bijih Nikel, Fero Nikel, Aspal, Batu Cromid Jepang, China, Malaysia, India, Korea Selatan, Swiss, Belgia Jepang, China, USA, Malaysia, Belanda,Korea Selatan, Swiss Jepang, China, USA, Hongkong, Malaysia, Belanda, Korea Selatan, Swiss, Australia, Italia Jepang, Taiwan, China, USA, Hongkong, Belanda, Korea Selatan, Italia, dan Yunani Jepang, Taiwan, China, USA, Hongkong, Belanda, Korea , , , , ,97 BAB II- 53

54 Kolaka Utara Kakao Konawe Utara Ikan Campuran, Gurita Beku, Ikan Konawe Selatan Cakalang, Rumput Laut Buton Kayu Jati Makassar Bombana Surabaya Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun 2012 Selatan, Thailand, Meksiko, Ukraina e. Perkembangan Sektor Perdagangan Dalam Negeri 1) Perdagangan Antar Pulau Jenis komoditas yang diperdagangkan antar pulau antara lain komoditas perkebunan, peternakan, kehutanan dan industri. Keadaan jenis, volume dan nilai perdagangan antar pulau ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 81. Perdagangan Antar Pulau di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2012 Jenis Komoditi Volume (Ton) Nilai (Rp.000) Hasil Tanaman Pangan , ,60 Hasil Perkebunan , ,10 Hasil Perikanan , ,70 Hasil Peternakan , ,00 Hasil Kehutanan 213, ,00 Produk Industri , ,00 JUMLAH , ,40 Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra Tahun 2012 f. Perkembangan Harga Bahan Pokok Pangan Tabel 82. Harga Rata-Rata Bahan Pokok Pangan Tahun Nama Bahan Pokok Beras Konawe 48 Ciliwung Gula Pasir Dalam negeri (putih) Dalam negeri (kuning) Minyak Goreng Bimoli Tanpa merek Daging Sapi Murni Ayam broiler Ayam kampung Telur Ayam broiler Ayam kampong Itik Susu kental manis bubuk Jagung Pipilan Kering Garam Beryodium kg Satuan Tahun kg lt kg kg 397 gr/kl 400 gr/kl kg kg BAB II- 54

55 Nama Bahan Pokok Satuan Tahun Halus Kasar Tepung Terigu Kompas Gatot kaca kg Kacang Kedelai lokal kg Hijau Tanah Cabe Merah Keriting kg Besar Rawit Bawang Merah Putih kg Ikan Asin Teri kw Teri kw Kg Teri kw Sunu Campuran Ketela Pohon Kg Kelapa Biji buah Minyak Tanah Lt Sayur mayur Buncis Kg Kol Tomat Sumber : Dinas Perindag Prov. Sultra, Tahun Pelayanan Umum Bidang Urusan Ketransmigrasian Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah penerima warga transmigrasi terbanyak di Indonesia. Hal ini telah dilakukan sejak tahun Keadaan permukman transmigrasi sejak tahun 1998 disajikan pada tabel berikut : Tabel 83. Keadaan Penerimaan Transmigrasi Umum menurut Jenis Transmigrasi 1998/ Tahun Umum Transmigrasi Swakarsa Total Mandiri KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa 1998/ / Jumlah BAB II- 55

56 Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Aspek Daya Saing Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Faktor utama yang berperan dalam menciptakan kemajuan ekonomi daerah adalah adanya kejelasan sasaran dan kebijakan pembangunan daerah yang berorientasi pada hasil, manfaat dan dampaknya bagi peningkatan produktivitas daerah. Hal ini ditandai dengan semakin mantapnya stabilitas makro ekonomi daerah sebagaimana disajikan pada tabel berikut : Tabel 84. Kondisi Makro Ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Indikator Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi (%) (Harga Konstan) 7,96 7,27 7,57 8,19 8,68 10,10 Inflasi (%) 7,53 15,88 4,60 4,29 5,09 4,03 Penduduk Miskin 21,33 19,53 18, ,61 13,71 Pengangguran Terbuka 6,39 6,05 5,38 4,77 3,6 3,10 Rasio Investasi Terhadap PDRB 23,2 24,15 30,54 29,54 32,77 30,47 PDRB/Kapita (ADHK) (Rp) PDRB/Kapita (ADHB) (Rp Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 (Hasil Olahan) PDRB Per Kapita Salah satu tolok ukur untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah dapat dilihat dari besarnya PDRB per kapita. Berdasarkan harga berlaku, PDRB per kapita penduduk Sulawesi Tenggara tahun 2012 adalah ,33 ribu rupiah. Nilai tersebut telah meningkat 11,65 persen dari keadaan tahun Pertumbuhan PDRB per kapita itu sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga produksi. Hal itu dapat ditunjukkan dengan peningkatan indeks implisit yang bergerak dari 256,61 tahun 2011 menjadi 263,80 pada tahun Tabel 85. PDRB Per Kapita Sulawesi Tenggara, (Juta Rupiah) Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 (1) (2) (3) , , , , , , , , * , , ** , ,90 ** Angka sangat sementara *Angka Sementara Sumber : B{S Prov. Sultra, Tahun Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup berbagai pengeluaran konsumsi akhir rumah tangga atas barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan individu ataupun kelompok secara langsung. Pengeluaran rumah tangga di sini mencakup pembelian untuk makanan dan bukan makanan (barang dan jasa) di dalam negeri maupun di luar negeri. Termasuk pula di sini pengeluaran lembaga nirlaba yang tujuan usahanya adalah untuk melayani keperluan rumah tangga. BAB II- 56

57 Tabel 86. PDRB Sulawesi Tenggara Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah) Tahun * 2011 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun , , Tabel 87. Angka Konsumsi RT per Kapita Tahun No Uraian **) 1. Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio (1./2.) ,93 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 57

58 Tabel 88. Angka Konsumsi RT per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 No Kabupaten/Kota Total Pengeluaran RT Jumlah RT Rasio (1) (2) (3) (4) (5=3/4) 1 Buton , ,64 2 Muna , ,65 3 Konawe , ,59 4 Kolaka , ,83 5 Konawe Selatan , ,15 6 Bombana , ,86 7 Wakatobi , ,38 8 Kolaka Utara , ,46 9 Buton Utara , ,59 10 Konawe Utara , ,66 11 Kota Kendari , ,52 12 Kota Baubau , ,88 Standar provinsi , ,93 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Nilai tukar petani Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persen), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Tabel 89. Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara No Uraian **) 1. Indeks yang Diterima Petani (lt) 119,53 133,41 136,83 139,80 142,78 2. Indeks yang Dibayar Petani (lb) 116,47 121,37 127, ,41 3. Rasio 1,03 1,10 1,07 1,07 1,06 *) Sesuaikan atau diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita (Persentase Konsumsi RT untuk Non Pangan) Tabel 90. Persentase Konsumsi RT Non-Pangan NO Uraian **) 1. Total Pengeluaran RT Non Pangan , Total Pengeluaran , Rasio 0, Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 58

59 Tabel 91. Persentase Konsumsi RT Non Pangan Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 Total Pengeluaran Rt Total No Kabupaten/Kota Rasio Non Pangan Pengeluaran (1) (2) (3) (4) (5=3/4) 1. Buton , ,02 0,40 2. Muna , ,63 0,46 3. Konawe , ,63 0,50 4. Kolaka , ,06 0,47 5. Konawe Selatan , ,88 0,52 6. Bombana , ,12 0,43 7. Wakatobi , ,50 0,46 8. Kolaka Utara , ,44 0,51 9. Buton Utara , ,94 0,46 10 Konawe Utara , ,73 0,53 11 Kota Kendari , ,69 0, Kota Baubau , ,04 0,55 Provinsi , ,03 0,50 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Analisis kinerja atas fasilitas wilayah/infrastruktur dilakukan terhadap indikator-indikator: rasio panjang jalan per jumlah kendaraan, jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum, jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal per tahun, ketaatan terhadap RTRW, luas wilayah produktif, luas wilayah industri, luas wilayah kebanjiran, luas wilayah kekeringan, luas wilayah perkotaan, jenis dan jumlah bank dan cabang, jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang, jenis, kelas, dan jumlah restoran, jenis, kelas, dan jumlah penginapan/hotel, persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih, rasio ketersediaan daya listrik, persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Beberapa tahapan pembahsan RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara penyusunan dokumen materi teknik, ranperda dan perpetaan telah selesai disusun. Saat ini telah diserahkan ke DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara untuk pembahasan dan penetapan Luas Wilayah Produktif Pada tahun 2011, luas lahan produktif yang terdiri dari kawasan pertanian, permukiman dan areal lainnya adalah seluas ha. Secara keseluruhan luas wilayah budidaya adalah ha. Dengan demikian rasio lahan produktif dan wilayah budidaya adalah 0.836, artinya masih cukup luas wilayah budidaya dibanding lahan produktif. Tabel 92. Persentase Luas Wilayah Produktif Tahun 2008 s.d 2012 Provinsi Sulawesi Tenggara No Uraian Luas wilayah produktif Luas seluruh wilayah budidaya Rasio (1./2.) , Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun 2012 BAB II- 59

60 Luas lahan produktif setiap kabupaten adalah lahan yang terdiri dari pekarangan, lahan pertanian dalam arti luas dan lahan perkantoran. Luas lahan produktif perkabupaten se Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut. No Kabupaten/Kota Tabel 93. Persentase luas Wilayah Lahan Produktif Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 Luas Wilayah Produktif Luas Seluruh Wilayah Budidaya Rasio (1) (2) (3) (4) (5=3/4) 1 Buton ,68 2 Muna ,55 3 Konawe ,63 4 Kolaka ,36 5 Konawe Selatan ,02 6 Bombana ,88 7 Wakatobi ,53 8 Kolaka Utara ,21 9 Buton Utara ,84 10 Konawe Utara ,01 11 Kota Kendari ,88 12 Kota Baubau ,93 Jumlah ,84 Sumber : BPS Prov. Sultra, Tahun Fokus Iklim Berinvestasi Gambaran atas iklim berinvestasi dapat dilihat pada indikator angka kriminalitas, jumlah demo, lama proses perizinan, jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah, jumlah perda yang mendukung iklim usaha dan persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Angka Kriminalitas Angka kriminalitas merupakan cerminan kondisi keamanan dan ketertiban di suatu daerah. Daerah yang aman dan tertib akan menarik investor untuk berinvestasi. Angka kriminalitas Provinsi Sulawesi Tenggara dapat terlihat pada tabel berikut : Tabel 94. Kejadian Kriminalitas di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun JENIS KRIMINAL Jumlah Tindak Kriminal Selama Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun 2012 BAB II- 60

61 Tabel 95. Angka Kriminalitas di Provinsi Sulawesi Tenggara No Jenis Kriminal **) 1 Jumlah Kasus Narkoba Jumlah Kasus Pembunuhan Jumlah Kejahatan Perkosaan Jumlah Kasus Penganiayaan Jumlah Kasus Pencurian Jumlah Kasus Penipuan Jumlah Kasus Pemalsuan Uang Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun Jumlah Penduduk 10 Angka Kriminalitas (8)/(9) Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Jumlah Demonstrasi Kejadian demonstrasi di Sulawesi Tenggara berdasarkan pembidangannya terus meningkat sejak tahun 2008 hingga tahun Keadaan demonstrasi di Sulawesi Tenggara ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 96. Jumlah Demo yang Terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun No Uraian **) JUMLAH 1 Bidang Politik Ekonomi Kasus Pemogokan Kerja Sosial Budaya Jumlah Unjuk Rasa Sumber : Sultra Dalam Angka, Tahun Peningkatan Kinerja Aparat Pemerintahan a. Peningkatan Kinerja Aparat Pemerintahan Salah satu upaya peningkatan kinerja pemerintahan dilakukan melalui pengembangan kompetensi pegawai negeri yaitu dengan pelaksanaan diklat PIM, diklat Teknis Fungsional dan sertifikasi. Sampai dengan Tahun 2012 telah dilakukan diklat sebagai berikut : 1) Diklat PIM ; Prajabatan Gol II, III, IV : orang 2) Diklat Teknis Fungsional 220 orang 3) Sertifikasi Lembaga Pengadaan Secara Elektronik 98 orang 4) Sertifikasi Pelayanan Terpadu 30 orang b. Kinerja Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintahan Untuk menjamin transparansi dan menciptakan akuntabiltas dan efisiensi maka pada tahun 2011 Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara telah mendirikan Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). c. Produk Hukum Total produk hukum yang dihasilkan selama kurun waktu tahun adalah sebanyak keputusan yang meliputi : 35 PERDA ; 261 PERGUB ; SK dan 125 MOU, secara rinci perkembangan penetapan keputusan disajikan pada tabel berikut : BAB II- 61

62 Tabel 97. Produk Hukum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Tahun Peratuan Daerah Peraturan Keputusan. Gubernur Gubernur MOU Jumlah Sumber : Biro Hukum Setda Prov. Sultra, Tahun 2012 d. Penegakan Hukum Penyelesaian perkara yaitu berupa gugatan masyarakat terhadap Pemerintah Provinsi selama tahun adalah sebanyak 27 perkara dengan rincian : 1) Tahun 2008 sebanyak 6 perkara 2) Tahun 2009 sebanyak 5 perkara 3) Tahun 2010 sebanyak 10 perkara 4) Tahun 2011 sebanyak 6 perkara e. Pengamanan dan Ketenteraman Masyarakat Kegiatan Satuan Polisi Pamong Praja berupa pengamanan hari-hari besar kenegaraan dan keagamaan, pengawalan massa, penegakan peraturan daerah dan operasi yustisi. Kegiatan Satuan Polisi Pamong Praja sejak tahun 2008 hingga tahun 2011 adalah sebagai berikut : Tabel 98. Kegiatan Polisi Pamong Praja Tahun Tahun Hari Besar Hari Besar Penegakkan Oprasi Keagamaan Nasional Perda Yustisi Sumber : Kantor Sat. Pol PP, Tahun Pengenaan Pajak Daerah Pengenaan pajak daerah merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pemerintah daerah. Realisasi pajak dan macam pajak Provinsi Sulawesi Tenggara tahun terlihat pada tabel berikut : Tabel 99. Jumlah dan Macam Pajak di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun BAB II- 62

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016

RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN LEBAK 2016 LAMPIRAN I SURAT EDARAN BUPATI LEBAK Nomor : 050/03-Bapp/I/2015 Tanggal : 29 Januari 2015 Tentang : Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Kerja Perangkat (Renja-SKPD) Tahun 2016 RANCANGAN AWAL RKPD KABUPATEN

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU - 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BENGKULU, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MUNA BARAT DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MUNA BARAT DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MUNA BARAT DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini.

gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini. gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini. a. Urusan Pendidikan 1) Angka Melek Huruf Angka melek huruf merupakan tolok ukur capaian

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

dari target 28,3%. dari target 25,37%. dari target 22,37%. dari target 19,37%.

dari target 28,3%. dari target 25,37%. dari target 22,37%. dari target 19,37%. b. 2010 target penurunan 5.544 RTM (3,00%) turun 18.966 RTM (10,26%) atau menjadi 40.370 RTM (21,85 %) dari target 28,3%. c. 2011 target penurunan 5.544 RTM (3,00%) turun 760 RTM (2,03%) atau menjadi 36.610

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI Kota Bandung merupakan Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107 36 Bujur Timur, 6 55 Lintang Selatan. Ketinggian tanah 791m di atas permukaan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

Maksud dan Tujuan. Hasil

Maksud dan Tujuan. Hasil Judul Penelitian : Kerangka Kebijakan Sosial Budaya dan Pemerintahan Umum Kabupaten Sidoarjo Pelaksana : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Salah

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, sebagaimana ditetapkan dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

B. GAMBARAN UMUM DAERAH

B. GAMBARAN UMUM DAERAH BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Pembentukan Kabupaten Bangka ditetapkan dengan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kota Praja di Sumatera Selatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK...

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... I II VII VIII X BAB I PENDAHULUAN BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI... 4 B. KEPENDUDUKAN / DEMOGRAFI...

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Mengingat bahwa RPJMD merupakan pedoman dan arahan bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya, maka penentuan strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN IV.1 Gambaran Umum Kecamatan Biringkanaya IV.1.1 Keadaan Wilayah Kecamatan Biringkanaya merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di kota Makassar dengan luas wilayah 48,22

Lebih terperinci

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Rumusan Visi dan Misi yang telah ditetapkan perlu dijelaskan tujuan dan sasarannya serta perlu dipertegas dengan bagaimana upaya atau cara untuk mencapai

Lebih terperinci

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam.

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam. Datar Luas Gambaran Umum Desa Datar Luas terletak di Kecamatan Krueng Sabee dengan luas 1600 Ha terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Makmur Jaya, Dusun Damai dan Dusun Subur. Desa yang dipimpin oleh Andalan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD Lampiran II Peraturan Gubernur Nomor : 95 Tahun 2013 Tanggal : 31 Desember 2013 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD TAHUN ANGGARAN 201 Urusan Pemerintahan : 1. 07 Urusan Wajib Perhubungan

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2007 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS DAERAH KOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1. Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi a. Karakteristik Wilayah

Lebih terperinci

Profil Kabupaten Aceh Besar

Profil Kabupaten Aceh Besar Ibukota Batas Daerah Profil Kabupaten Aceh Besar : Jantho : Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, Kota Sabang dan Kota Banda Aceh Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya Sebelah Barat

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memacu

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 129 / HUK / 2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG SOSIAL DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN

TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN TATA GUNA LAHAN DAN PERTUMBUHAN KAWASAN Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota Johannes Parlindungan Disampaikan dalam Mata Kuliah Pengantar PWK Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang U ntuk menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus nyata dan bertanggung

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN GUBERNUR NOMOR 188.44 / 0549 / KUM / 2012 TENTANG PENYEMPURNAAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DAN INDIKATOR KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

tidak diminati, diperlukan ketersediaan sarana,

tidak diminati, diperlukan ketersediaan sarana, MENTERI KESEHA TAN PERATURAN NOMOR 6 TAHUN 2OL3 TENTANG KRITERIA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TERPENCIL, SANGAT TERPENCIL, DAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIMINATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.41/Menhut-II/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.41/Menhut-II/2012 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.41/Menhut-II/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.32/MENHUT-II/2010 TENTANG TUKAR MENUKAR KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA Tahapan RPJPN 2005-2025 RPJMN 4 (2020-2024) RPJMN 1 (2005-2009) Menata

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

Lebih terperinci

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah 7 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Tujuan Penataan Ruang Berdasarkan visi dan misi pembangunan Kota Makassar, maka tujuan penataan ruang wilayah kota Makassar adalah untuk

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PROGRAM TKSK

ARAH KEBIJAKAN PROGRAM TKSK KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA ARAH KEBIJAKAN PROGRAM TKSK RABU, 27 AGUSTUS 2014 Disampaikan Oleh : Drs. Hasbullah,M.Si Direktur PKKS Ditjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan 1 MASALAH

Lebih terperinci

LAPORAN REALISASI KEMAJUAN FISIK DAN KEUANGAN APBD II BULAN : SEPTEMBER 2014 Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Purworejo

LAPORAN REALISASI KEMAJUAN FISIK DAN KEUANGAN APBD II BULAN : SEPTEMBER 2014 Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Purworejo LAPORAN REALISASI KEMAJUAN FISIK DAN KEUANGAN APBD II BULAN : SEPTEMBER 2014 Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Purworejo keuangan keuangan A Pelayanan Administrasi Perkantotan 1 Penyediaan

Lebih terperinci

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012 IKHTISAR DATA PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN 2012 Alamat : JL. Jenderal Sudirman, Kompleks Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2005-2025 One Team

Lebih terperinci

Identifikasi Lokasi Desa Terpencil Desa Tertinggal dan Pulau-Pulau Kecil KATA PENGANTAR

Identifikasi Lokasi Desa Terpencil Desa Tertinggal dan Pulau-Pulau Kecil KATA PENGANTAR Identifikasi Lokasi Desa Terpencil Desa Tertinggal dan Pulau-Pulau Kecil KATA PENGANTAR i ii PANDUAN TEKNIS Identifikasi Lokasi Desa Terpencil Desa Tertinggal dan Pulau-Pulau Kecil DAFTAR ISI KEPUTUSAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa di era desentralisasi, demokrasi dan globalisasi ini, strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang 28 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Tarai Bangun Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar yang menurut sejarah berdirinya adalah melalui pemekaran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

c. Perda ini mengatur tentang perubahan pada Ketentuan Umum dan Susunan Organisasi.

c. Perda ini mengatur tentang perubahan pada Ketentuan Umum dan Susunan Organisasi. PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH - PERUBAHAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 1 organisasi di lingkungan Sekretariat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON TENGAH DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON TENGAH DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON TENGAH DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG TATACARA PENYERAHAN URUSAN PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA KEPADA DESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG TATACARA PENYERAHAN URUSAN PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA KEPADA DESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG TATACARA PENYERAHAN URUSAN PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA KEPADA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH BAB VII DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi dalam pembangunan Kabupaten Aceh Tengah tahun 2012-2017 perlu diterjemahkan dalam rumusan kebijakan umum dan program secara konsisten dan spesifik.

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci