DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

Save this PDF as:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,"

Transkripsi

1 PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERLAKUAN SISTEM ELEKTRONIK DAN PENATALAKSANAAN DALAM PELAYANAN PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN PERIZINAN PETUGAS FASILITAS RADIASI DI LINGKUNGAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, Menimbang : a. bahwa Badan Pengawas Tenaga Nuklir perlu memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas bisnis proses serta mekanisme kerja dalam sistem manajemen pemerintahan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi ; b. bahwa untuk meningkatkan layanan perizinan pemanfaatan sumber radiasi pengion dan perizinan petugas fasilitas radiasi, Badan Pengawas Tenaga Nuklir perlu menggunakan sistem elektronik; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menyusun Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir tentang Pemberlakuan Sistem Elektronik dan Penatalaksanaan dalam Pelayanan Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Perizinan Petugas Fasilitas Radiasi di

2 - 2 - Pengion dan Perizinan Petugas Fasilitas Radiasi di Lingkungan Badan Pengawas Tenaga Nuklir; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3676); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843); 3. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4839); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 189, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5348); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5553; 7. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi ; 8. Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 01 rev.2/k-otk/v-04 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Tenaga Nuklir sebagaimana telah

3 - 3 - diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 11 Tahun 2008; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR TENTANG PEMBERLAKUAN SISTEM ELEKTRONIK DAN PENATALAKSANAAN DALAM PELAYANAN PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN PERIZINAN PETUGAS FASILITAS RADIASI DI LINGKUNGAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir ini yang dimaksud dengan : 1. Perizinan adalah penatalaksanaan pemberian dokumen dan bukti legalitas yang membolehkan perbuatan hukum oleh pemohon dalam ranah hukum administrasi negara atas sesuatu perbuatan yang dilarang berdasarkan peraturan perundang-undangan. 2. Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik. 3. Sumber Radiasi Pengion adalah zat radioaktif terbungkus dan terbuka beserta fasilitasnya, dan pembangkit radiasi pengion. 4. Badan Pengawas Tenaga Nuklir yang selanjutnya disebut BAPETEN adalah instansi yang bertugas melaksanakan pengawasan melalui peraturan, perizinan, dan inspeksi terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir. 5. BAPETEN Licensing and Inspection System yang selanjutnya disebut Balis adalah sistem pelayanan

4 - 4 - perizinan sumber radiasi pengion, penerbitan persetujuan, penerbitan ketetapan, dan perizinan petugas fasilitas radiasi pada BAPETEN secara elektronik yang dilakukan secara online melalui internet. 6. Pemohon adalah orang perseorangan, badan usaha, badan hukum, instansi pemerintah atau lembaga negara lainnya yang menggunakan Balis untuk memperoleh perizinan. 7. Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirim, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara atau gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. 8. Pejabat otorisator adalah Administrator (pejabat Eselon III), Pimpinan Tinggi Pratama (pejabat Eselon II) pada Unit Perizinan, Pimpinan Tinggi Madya (Pejabat Eselon I) dan/atau Pimpinan Tinggi Utama (Kepala BAPETEN). 9. Pejabat Penandatangan dokumen perizinan adalah pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (pejabat Eselon II) pada Unit Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif, dan/atau Pimpinan Tinggi Utama (Kepala BAPETEN). 10. Hak Akses adalah hak yang diberikan untuk melakukan interaksi dengan sistem elektronik yang berdiri sendiri atau dengan jaringan melalui akun. 11. Akun virtual adalah akun petugas perizinan yang dipergunakan untuk membantu mengunggah data permohonan izin ke dalam sistem Balis. 12. Prosedur Operasional Baku yang selanjutnya disingkat POB adalah pedoman tertulis yang memuat tata cara atau tahapan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kegiatan layanan perizinan sumber radiasi

5 - 5 - pengion, penerbitan ketetapan dan perizinan petugas fasilitas radiasi. Pasal 2 Peraturan Kepala ini mengatur Sistem Elektronik dan Penatalaksanaan dalam pelayanan Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Perizinan petugas fasilitas radiasi di lingkungan BAPETEN. BAB II PEMBERLAKUAN SISTEM ELEKTRONIK Pasal 3 (1) BAPETEN memberlakukan Sistem Elektronik untuk pelayanan Perizinan Sumber Radiasi Pengion dan petugas fasilitas radiasi meliputi: a. izin; b. persetujuan; dan c. ketetapan (2) Sistem Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui sistem Balis. Pasal 4 (1) Sistem Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilaksanakan oleh unit kerja yang menangani Perizinan fasilitas radiasi dan zat radioaktif, kecuali kegiatan penyimpanan zat radioaktif, produksi radioisotop, dan pengelolaan limbah radioaktif dilaksanakan oleh unit kerja yang menangani perizinan instalasi nuklir dan bahan nuklir. (2) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit kerja yang menangani Perizinan instalasi dan bahan nuklir. (3) Produksi radioisotop sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada produksi yang dihasilkan dari reaktor nuklir.

6 - 6 - Pasal 5 Pelayanan perizinan pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Perizinan petugas fasilitas radiasi dilakukan dengan Sistem Elektronik melalui Balis dengan menggunakan alamat website BAB III PENATALAKSANAAN PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN PERIZINAN PETUGAS FASILITAS RADIASI Pasal 6 (1) Setiap pemohon izin pemanfaatan sumber radiasi pengion dan perizinan petugas fasilitas radiasi harus melakukan registrasi elektronik untuk mendapatkan hak akses pada sistem elektronik Balis. (2) Pelayanan perizinan pemanfaatan sumber radiasi pengion dan perizinan petugas fasilitas radiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Pemohon yang telah memiliki Hak Akses. (3) Pemohon dapat melakukan penelusuran data permohonan perizinan melalui Sistem Elektronik Balis. Pasal 7 (1) BAPETEN melakukan penilaian persyaratan terhadap seluruh dokumen permohonan yang diterima secara elektronik. (2) Dalam hal keabsahan dokumen permohonan yang dikirim secara elektronik diragukan, BAPETEN dapat meminta Pemohon untuk menunjukkan dokumen asli. Pasal 8 BAPETEN menerbitkan izin pemanfaatan sumber radiasi pengion dan petugas fasilitas radiasi apabila dokumen permohonan telah memenuhi persyaratan dan Pemohon telah melunasi biaya permohonan.

7 - 7 - Pasal 9 Permohonan akan dibatalkan oleh BAPETEN apabila Pemohon tidak melaksanakan: a. perbaikan permohonan yang tidak memenuhi syarat sesuai dengan batas waktu perbaikan dokumen yang telah ditentukan; atau b. pembayaran biaya permohonan sampai masa waktu jatuh tempo yang ditentukan. Pasal 10 Pemohon harus melakukan perbaikan dokumen yang tidak sesuai dengan persyaratan dan membayar biaya permohonan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala ini. Pasal 11 (1) Pemohon dapat melakukan pencetakan izin, persetujuan, dan/atau ketetapan secara mandiri melalui Sistem Elektronik Balis (2) Izin, persetujuan, dan/atau ketetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku sebagaimana dokumen yang sah. Pasal 12 Dalam hal terdapat perbedaan data izin, persetujuan, ketetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 antara Sistem Elektronik Balis dengan dokumen fisik yang ada, maka yang dinyatakan sah dan diakui adalah data pada Sistem Elektronik Balis. Pasal 13 (1) Penerapan sistem elektronik dilaksanakan berdasarkan penetapan tingkat layanan dan POB perizinan sumber radiasi pengion dan petugas fasilitas radiasi. (2) Penetapan tingkat layanan dan POB perizinan sumber

8 - 8 - radiasi pengion dan petugas fasilitas radiasi sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala ini. Pasal 14 (1) BAPETEN dapat menggunakan sistem manual apabila terjadi keadaan yang menyebabkan Sistem Elektronik menjadi tidak berfungsi. (2) Keadaan yang menyebabkan Sistem Elektronik menjadi tidak berfungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. keadaan kahar; atau b. kegagalan sistem selama lebih dari 2 hari kerja. Pasal 15 BAPETEN tetap menjamin hak pemegang izin dalam proses perpanjangan izin apabila terjadi keadaan yang menyebabkan Sistem Elektronik menjadi tidak berfungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Pasal 16 (1) Pemohon izin dapat mengajukan permohonan kepada BAPETEN untuk mengunggah dokumen permohonan izin, persetujuan, dan/atau ketetapan apabila tidak dapat mengakses Sistem Elektronik Balis dikarenakan tidak mendapatkan atau mengalami gangguan jaringan internet. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan secara tertulis kepada Kepala BAPETEN dengan melampirkan dokumen persyaratan. (3) BAPETEN akan mengunggah dokumen persyaratan permohonan izin, persetujuan, dan/atau ketetapan melalui akun virtual selaku pemohon.

9 - 9 - Pasal 17 (1) Seluruh data dan informasi yang disampaikan oleh Pemohon harus merupakan data yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal terdapat data dan informasi yang disampaikan oleh Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sesuai dengan peraturan perundangan atau berupa data dan informasi palsu, BAPETEN menolak permohonan izin, persetujuan, atau ketetapan. (3) Dalam hal izin telah diterbitkan berdasarkan data dan informasi yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan atau berupa data dan informasi palsu, BAPETEN membatalkan izin, persetujuan, atau ketetapan yang telah diterbitkan. Pasal 18 (1) BAPETEN menolak setiap permohonan atau perpanjangan izin, persetujuan, dan/atau ketetapan yang diajukan oleh Pemohon yang sedang dalam proses penyidikan oleh pihak Kepolisian dan/atau persidangan untuk kasus pelanggaran ketentuan peraturan perundangan ketenaganukliran. (2) Pemohon yang sedang dalam proses penyidikan oleh pihak Kepolisian dan/atau persidangan untuk kasus pelanggaran ketentuan peraturan perundangan ketenaganukliran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diproses permohonan perpanjangan izin, persetujuan, dan/atau ketetapan apabila telah dikeluarkan Surat Perintah Penyidikan (SP3) oleh Kepolisian atau proses persidangan yang dijalani telah dikeluarkan keputusan yang berkekuatan hukum tetap. Pasal 19 Peraturan Kepala ini berlaku sejak tanggal diundangkan.

10 Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Kepala ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Maret 2016 KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, ttd. JAZI EKO ISTIYANTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Maret 2016 DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA ttd. WIDODO EKATJAHJANA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR 476

11 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERLAKUAN SISTEM ELEKTRONIK DAN PENATALAKSANAAN DALAM PELAYANAN PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN PERIZINAN PETUGAS FASILITAS RADIASI DI LINGKUNGAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR I. PROSEDUR OPERASIONAL BAKU (POB) UNTUK PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION ONLINE. A. Uraian POB untuk perizinan 1. Pemohon mengajukan permohonan perizinan pemanfaatan pembangkit radiasi pengion online melalui aplikasi Balis secara online dengan alamat URL 2. Pemohon menyatakan menerima dan menyetujui seluruh tanggungjawab dan kewajiban dalam memenuhi ketentuan dan persyaratan pengajuan permohonan izin pemanfaatan. 3. Pemohon memilih menu Perizinan. 4. Pemohon memilih menu bidang kegiatan. 5. Pemohon memilih menu kegiatan. 6. Pemohon memilih menu jenis kegiatan". 7. Pemohon memilih menu permohonan baru, perpanjangan, atau perubahan izin. 8. Pemohon mengisi formulir permohonan izin online sesuai dengan jenis permohonan dan menyimpannya jika seluruh isian data telah terisi secara lengkap. 9. Formulir permohonan tidak terisi secara lengkap, permohonan tidak dapat dilanjutkan. 10. Pemohon melengkapi dokumen elektronik permohonan perizinan pemanfaatan pembangkit radiasi pengion online sesuai dengan jenis permohonan. 11. Dokumen elektronik yang tidak terisi secara lengkap, permohonan tidak dapat dilanjutkan.

12 Setelah Pemohon mengisi secara lengkap (formulir online dan dokumen elektronik) maka Pemohon harus mengirimkan ke BAPETEN dengan memilih tombol kirim. 13. Pemohon mendapatkan nomor registrasi permohonan dari BAPETEN secara otomatis dari sistem. 14. BAPETEN melakukan penilaian dokumen elektronik permohonan perizinan pemanfaatan sumber radiasi pengion. 15. Apabila permohonan dinyatakan tidak memenuhi syarat maka BAPETEN menyampaikan pemberitahuan hasil penilaian kepada Pemohon secara online melalui akun Pemohon. 16. Pemohon harus memperbaiki dokumen permohonan dengan jangka waktu sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir. 17. Apabila kekurangan dokumen permohonan tidak dilengkapi, maka permohonan dinyatakan batal dan Pemohon dapat mengajukan kembali permohonan yang baru. 18. Setelah dokumen permohonan perizinan diperbaiki, maka BAPETEN melakukan penilaian kembali dokumen elektronik pemohon paling lama sesuai dengan ketentuan dalam lampiran ini. 19. Apabila dokumen permohonan perizinan dinyatakan memenuhi syarat, pejabat otorisator memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan izin paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak hasil penilaian ditetapkan evaluator. 20. Sejak pejabat otorisator memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan perizinan, BAPETEN menyampaikan surat pemberitahuan biaya permohonan perizinan melalui akun Pemohon. 21. Pemberitahuan biaya permohonan izin dilengkapi dengan tanggal jatuh tempo pembayaran biaya izin. 22. Permohonan dianggap dibatalkan oleh pemohon izin jika masa jatuh tempo untuk melakukan pembayaran biaya izin tidak dilakukan. 23. Bendahara mengirimkan konfirmasi biaya perizinan yang belum dibayar setelah jatuh tempo terlewati kepada perizinan, yang menjadi dasar sistem melakukan pembatalan secara otomatis registrasi permohonan dan pemberitahuan biaya permohonan.

13 Sistem mengirimkan pemberitahuan bahwa permohonan dinyatakan batal disertai penjelasan kepada pemohon untuk mengajukan permohonan ulang. 25. Dalam hal Pemohon melakukan pembayaran biaya permohonan perizinan, Pemohon menerima Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL)/Kuitansi dari Bendahara Penerimaan PNBP yang dikirimkan secara online melalui akun Pemohon. 26. Pejabat Otorisator memberikan persetujuan penerbitan izin pemanfaatan sumber radiasi pengion online paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak penerbitan Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL)/Kuitansi. 27. BAPETEN menerbitkan izin pemanfaatan sumber radiasi pengion dalam bentuk dokumen elektronik setelah mendapat persetujuan penerbitan izin dari Pejabat Otorisator dan mengirimkan izin online secara elektronik kepada akun Pemohon. 28. Pemohon dapat melihat, memverifikasi dan/atau melakukan pencetakan hardcopy dokumen izin pemanfaatan pembangkit radiasi pengion yang telah diterbitkan melalui akun Pemohon. 29. BAPETEN mencetak dokumen hardcopy yang disahkan oleh pejabat yang berwenang dalam jangka waktu sesuai dengan lampiran POB sejak izin pemanfaatan pembangkit radiasi pengion diterbitkan secara elektronik. 30. BAPETEN dapat mengirimkan dokumen hardcopy yang dicetak atas permintaan Pemohon. 31. BAPETEN melakukan pengarsipan elektronik atas dokumen permohonan, kelengkapan, dan tembusan izin pemanfaatan atau surat pemberitahuan. B. Bagan Alur POB Untuk Perizinan Bagan alur POB untuk perizinan pemanfaatan sumber radiasi pengion secara online dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, meliputi: 1. Mekanisme Permohonan Izin; 2. Mekanisme Permohonan Izin dengan Inspeksi Verifikasi; dan 3. Mekanisme Permohonan Perubahan Izin.

14 Mekanisme Permohonan Izin pada Balis Online 2.0 Perusahaan/ Pengguna SIMPONI BAPETEN Pemberitahuan sudah membayar / Kuitansi Permohonan Batal Tidak Cetak Izin Pemanfaatan SRP Login Melakukan pembayaran Surat Pemberitahuan biaya Input data dan Upload dokumen Host to Host Sudah Bayar? Penerbitan Draft Izin Pemanfaatan SRP Tidak Persetujuan Cetak Izin Pemberitahuan Biaya PNBP Tidak Data dan Dokumen lengkap? Disposisi Permohonan (System) Penilaian (Evaluator) Tidak Persetujuan Penilaian (Otorisator) Evaluasi Memenuhi Syarat? Data Storage Tidak Perbaikan dokumen Tidak > 15 hari? Melengkapi persyaratan (Pemohon) Pemberitahuan permohonan tidak memenuhi syarat KTUN Izin Pemanfaatan SRP Upload KTUN Izin Pemanfaatan SRP Online ke Akun Pengguna + Cetak Hardcopy KTUN Izin Pemanfaatan SRP Mekanisme Permohonan Izin pada Balis Online 2.0 (Dengan Inspeksi Verifikasi Permohonan Izin) Perusahaan/ Pengguna SIMPONI BAPETEN Login Pemberitahuan sudah membayar / Kuitansi Melakukan pembayaran Surat Pemberitahuan biaya Input data dan Upload dokumen Host to Host Permohonan Batal Tidak Sudah Bayar? Penerbitan Draft Izin Pemanfaatan SRP Tidak Cetak Izin Pemanfaatan SRP Persetujuan Cetak Izin Pemberitahuan Biaya PNBP Tidak Data dan Dokumen lengkap? Disposisi Permohonan (System) Penilaian (Evaluator) Tidak Persetujuan Penilaian (Otorisator) Evaluasi Memenuhi Syarat? Data Storage Tidak Perbaikan dokumen Inspeksi Verifikasi Tidak > 15 hari? Melengkapi persyaratan (Pemohon) Pemberitahuan permohonan tidak memenuhi syarat KTUN Izin Pemanfaatan SRP Upload KTUN Izin Pemanfaatan SRP Online ke Akun Pengguna + Cetak Hardcopy KTUN Izin Pemanfaatan SRP

15 Mekanisme Permohonan Perubahan Izin Balis Online 2.0 Perusahaan/ Pengguna SIMPONI BAPETEN Pemberitahuan sudah membayar / Kuitansi Permohonan Batal Ceak Perubahan Izin Pemanfaatan SRP Login Melakukan pembayaran Surat Pemberitahuan biaya Input permohonan dan Upload dokumen Host to Host Tidak Sudah Bayar? Penerbitan Draft Perubahan Izin Pemanfaatan SRP Tidak Persetujuan Cetak Izin Pemberitahuan Biaya PNBP Tidak Data dan Dokumen lengkap? Disposisi Permohonan (System) Penilaian (Evaluator) Tidak Persetujuan Penilaian (Otorisator) Evaluasi Memenuhi Syarat? Data Storage Tidak Waktu Tindak Lanjut? > 5 Hari Perbaikan dokumen Melengkapi persyaratan (Pemohon) Pemberitahuan permohonan tidak memenuhi syarat Tidak KTUN Izin Pemanfaatan SRP Upload KTUN Izin Pemanfaatan SRP Online ke Akun Pengguna + Cetak Hardcopy KTUN Izin Pemanfaatan SRP II. PROSEDUR OPERASIONAL BAKU (POB) UNTUK PERSETUJUAN DAN PENETAPAN ONLINE. A. Uraian POB untuk persetujuan dan penetapan 1. Pemohon mengajukan permohonan persetujuan atau penetapan online melalui aplikasi Balis secara online dengan alamat URL 2. Pemohon menyatakan menerima dan menyetujui seluruh tanggungjawab dan kewajiban dalam memenuhi ketentuan dan persyaratan pengajuan permohonan persetujuan atau penetapan. 3. Pemohon memilih menu Persetujuan. 4. Pemohon memilih jenis Persetujuan: Ekspor/Impor, Pengangkutan, atau Penghentian. 5. Pemohon membuat permohonan 6. Pemohon memilih menu bidang.

16 Pemohon memilih kelompok kegiatan persetujuan. 8. Pemohon memilih nama kegiatan persetujuan. 9. Pemohon memilih jenis kegiatan. 10. Pemohon mengisi formulir permohonan persetujuan atau penetapan online sesuai dengan jenis permohonan dan menyimpannya jika seluruh isian data telah terisi secara lengkap. 11. Formulir permohonan tidak terisi secara lengkap, permohonan tidak dapat dilanjutkan. 12. Pemohon melengkapi dokumen elektronik permohonan perizinan pemanfaatan pembangkit radiasi pengion online sesuai dengan jenis permohonan. 13. Dokumen elektronik yang tidak terisi secara lengkap, permohonan tidak dapat dilanjutkan. 14. Setelah Pemohon mengisi secara lengkap (formulir online dan dokumen elektronik) maka Pemohon harus mengirimkan ke BAPETEN dengan memilih tombol kirim. 15. Pemohon mendapatkan nomor registrasi permohonan dari BAPETEN secara otomatis dari sistem. 16. BAPETEN melakukan penilaian dokumen elektronik permohonan Perizinan pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion. 17. Apabila permohonan dinyatakan tidak memenuhi syarat maka BAPETEN menyampaikan pemberitahuan hasil penilaian kepada Pemohon secara online melalui akun Pemohon. 18. Pemohon harus memperbaiki dokumen permohonan dengan jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak hasil penilaian ditetapkan otorisator. 19. Apabila kekurangan dokumen permohonan tidak dilengkapi, maka permohonan dinyatakan batal dan Pemohon dapat mengajukan kembali permohonan yang baru. 20. Setelah dokumen permohonan Perizinan diperbaiki, maka BAPETEN melakukan penilaian kembali dokumen elektronik pemohon paling lama sesuai dengan ketentuan dalam lampiran ini. 21. Apabila dokumen permohonan perizinan dinyatakan memenuhi syarat, Pejabat Otorisator memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan izin paling lama 2 (dua) hari kerja sejak hasil penilaian ditetapkan evaluator.

17 Sejak pejabat otorisator memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan perizinan, BAPETEN menyampaikan surat pemberitahuan biaya permohonan persetujuan atau penetapan melalui akun Pemohon. 23. Pemberitahuan biaya permohonan persetujuan atau penetapan dilengkapi dengan tanggal jatuh tempo pembayaran biaya izin. 24. Permohonan dibatalkan oleh pemohon izin jika masa jatuh tempo untuk melakukan pembayaran biaya izin tidak dilakukan. 25. Bendahara mengirimkan konfirmasi biaya perizinan yang belum dibayar setelah jatuh tempo terlewati kepada perizinan, yang menjadi dasar sistem melakukan pembatalan secara otomatis registrasi permohonan dan pemberitahuan biaya permohonan. 26. Sistem mengirimkan pemberitahuan bahwa permohonan dinyatakan batal disertai penjelasan kepada pemohon untuk mengajukan permohonan ulang. 27. Dalam hal Pemohon melakukan pembayaran biaya permohonan perizinan, Pemohon menerima Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL)/Kuitansi dari Bendahara Penerimaan PNBP yang dikirimkan secara online melalui akun Pemohon. 28. Pejabat otorisator memberikan persetujuan penerbitan izin pemanfaatan sumber radiasi pengion online paling lama 2 (dua) hari kerja sejak penerbitan Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL)/Kuitansi. 29. BAPETEN menerbitkan izin pemanfaatan sumber radiasi pengion dalam bentuk dokumen elektronik setelah mendapat persetujuan penerbitan izin dari pejabat otorisator dan mengirimkan izin online secara elektronik kepada akun pemohon. 30. Pemohon dapat melihat, memverifikasi dan/atau melakukan pencetakan hardcopy dokumen izin pemanfaatan pembangkit radiasi pengion yang telah diterbitkan melalui akun Pemohon. 31. BAPETEN tidak mencetak dokumen hardcopy yang disahkan oleh pejabat yang berwenang yang diterbitkan secara elektronik untuk persetujuan atau penetapan. 32. BAPETEN dapat mengirimkan dokumen hardcopy yang dicetak atas permintaan Pemohon. 33. BAPETEN melakukan pengarsipan elektronik atas dokumen permohonan, kelengkapan, dan tembusan izin pemanfaatan atau

18 surat pemberitahuan. B. Bagan Alur POB untuk Persetujuan dan Penetapan Bagan alur POB untuk persetujuan dan penetapan secara online dibagi menjadi 2 (dua) bagian, meliputi: 1. Mekanisme Permohonan Persetujuan Impor/Ekspor/Re-ekspor/ Negative Statement; dan 2. Mekanisme Permohonan Persetujuan Pengiriman Zat Radioaktif (ZRA) dan Penetapan Penghentian Kegiatan Sumber Radiasi Pengion (SRP). Mekanisme Permohonan Persetujuan Impor/Ekspor/Re-Ekspor/Negative Statement pada Balis Online 2.0 Perusahaan/ Pengguna SIMPONI BAPETEN Sistem Server INSW Pemberitahuan sudah membayar / Kuitansi Melakukan pembayaran Surat Pemberitahuan biaya Host to Host Permohonan Batal Tidak Sudah Bayar? Data Storage Penerbitan Draft Izin Pemanfaatan SRP Cetak Izin Pemanfaatan SRP Persetujuan Cetak Izin Login Input data dan Upload dokumen Tidak Penagihan PNBP Tidak Data dan Dokumen lengkap? Disposisi Permohonan (System Penilaian (Evaluator) Tidak Persetujuan Penilaian (Otorisator) Evaluasi Memenuhi Syarat? INSW Tidak Perbaikan dokumen Tidak Waktu Tindak Lanjut? > 5 Hari Melengkapi persyaratan (Pemohon) Pemberitahuan permohonan tidak memenuhi syarat KTUN Izin Pemanfaatan SRP Upload KTUN Izin Pemanfaatan SRP Online ke Akun Pengguna + Cetak Hardcopy KTUN Izin Pemanfaatan SRP

19 Mekanisme Permohonan Persetujuan Pengiriman ZRA & Penetapan Penghentian Kegiatan SRP pada Balis Online 2.0 Perusahaan/ Pengguna SIMPONI BAPETEN Login Pemberitahuan sudah membayar / Kuitansi Melakukan pembayaran Surat Pemberitahuan biaya Input data dan Upload dokumen Host to Host Permohonan Batal Tidak Sudah Bayar? Penerbitan Draft Izin Pemanfaatan SRP Tidak Cetak Izin Pemanfaatan SRP Persetujuan Cetak Izin Penagihan PNBP Tidak Data dan Dokumen lengkap? Disposisi Permohonan (System) Penilaian (Evaluator) Tidak Persetujuan Penilaian (Otorisator) Evaluasi Memenuhi Syarat? Data Storage Tidak Perbaikan dokumen Tidak Waktu Tindak Lanjut? > 5 Hari Melengkapi persyaratan (Pemohon) Pemberitahuan permohonan tidak memenuhi syarat KTUN Izin Pemanfaatan SRP Upload KTUN Izin Pemanfaatan SRP Online ke Akun Pengguna + Cetak Hardcopy KTUN Izin Pemanfaatan SRP III. TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL) PERMOHONAN IZIN PEMANFAATAN PEMBANGKIT RADIASI PENGION. A. Layanan yang Diberikan Jenis Kegiatan(PP 56/2014) Kegiatan(PP 29/2008) Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Penggunaan dan/atau Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan Nama Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan untuk Keperluan

20 untuk Keperluan Radiologi Diagnostik dan Intervensional Iradiator Kategori I dengan Zat Radioaktif Terbungkus Penggunaan dan/atau Detektor Bahan Peledak Check Source untuk Keperluan Selain Zat Radioaktif untuk Kalibrasi Ekspor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik Konvensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar-x Penunjang Terapi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Penggunaan Detektor Bahan Peledak Detektor Bahan Peledak Zat radioaktif untuk sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Zat Radioaktif untuk Kalibrasi Ekspor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi

21 dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vivo Penutupan Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vivo Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Penutupan Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Penggunaan dan/atau Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan untuk Keperluan Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Operasi Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vivo dan Penelitian Klinik Menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Operasi Kedokteran Nuklir Terapi Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Penutupan Kedokteran Nuklir Terapi Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakhiterapi

22 dalam Radioterapi Konstruksi Pengelolaan Limbah Radioaktif Penggunaan dan/atau Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan Selain Penggunaan dan/atau Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan Selain Penggunaan dan/atau dalam Fluoroskopi Bagasi Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Foton Energi Rendah Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Berkas Partikel Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Linear Accelerator (LINAC) Konstruksi Pengelolaan Limbah Radioaktif Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Penelitian dan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed) Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil Konstruksi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) dalam Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil dalam Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) Peneliian dan dalam Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed)

23 Operasi Untuk Penggunaan dan/atau Iradiator Kategori II Dengan Pembangkit Radiasi Pengion dalam Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah dalam Well Logging dalam Perunut Operasi untuk Penelitian dan dalam Radiografi Fasilitas Tertutup Penutupan Penelitian dan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Operasi Penggunaan dan/atau dalam Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in vitro Konstruksi Penggunaan dan/atau Iradiator kategori IV dengan zat radioaktif terbungkus Konstruksi Penggunaan dan/atau Pengambangan dalam Konstruksi Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II Operasi Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II dalam Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah dalam Well Logging Zat radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging dalam Perunut (Tracer) Operasi untuk dalam Radiografi Fasilitas Tertutup Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Operasi Pengambangan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vitro Konstruksi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi pengembangan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi

24 Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan dan/atau Iradiator Katagori IV dengan Zat Radioaktif Terbungkus Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi Impor, Ekspor, dan/atau Pengalihan Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen dalam Iradiator Kategori I dengan Zat Radioaktif Terbungkus Konstruksi Penggunaan dan/atau Iradiator Kategori II dan III dengan Zat Radioaktif Terbungkus Produksi Barang Konsumen yang Mengandung Zat Radioaktif Konstruksi Penggunaan dan/atau Penelitian Iradiator Kategori II dengan Pembangkit Radiasi Pengion Operasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Operasi Penggunaan dan/atau Fasilitas Kalibrasi Impor Zat Radioaktif untuk Keperluan Selain Konstruksi Pengambangan dalam Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Impor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Pengalihan Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Konsumen dalam Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Produksi barang konsumen yang mengandung zat radioaktif Konstruksi Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Konstruksi dalam Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Operasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Operasi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Operasi untuk Fasilitas Kalibrasi Impor zat radioaktif Untuk Keperluan Selain

25 Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Rendah Well Logging Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Perunut Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Sedang Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Sedang Operasi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah Well Logging Penggunaan Zat Radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Perunut (Tracer) Fotofluorografi Pembangkit Radiasi Pengion Energi Sedang (60 kv kv) Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Sedang Operasi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi Menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakiterapi Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi Menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Linear Accelerator (LINAC) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi berkas partikel

26 Impor dan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Impor Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Selain Operasi Penggunaan dan/atau Iradiator Kategori II dan III dengan Zat Radioaktif Terbungkus Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi foton energi rendah Impor dan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Impor Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Selain Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Operasi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Selain Produksi Radioisotop dalam Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Produksi Pembangkit Radiasi Pengion dalam Radiologi Diagnostik dan Konstruksi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Konstruksi untuk dalam Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Operasi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Pengalihan pembangkit radiasi pengion untuk keperluan selain medik Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan dalam Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Selain dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum

27 Intervensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik konvensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Selain Operasi Penggunaan dan/atau Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi Impor dan Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Komisioning Pengelolaan Limbah Radioaktif Konstruksi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Komisioning untuk Produksi Radioisotop Konstruksi Penggunaan dan/atau dalam Fotofluorografi dengan dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar-x Penunjang Terapi Pengalihan zat radioaktif untuk keperluan selain medik Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan MeV, atau tabung sinar-x dalam rentang energi 160 kv - 6 MV) Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (lebih dari 6 MV) Impor dan pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Komisioning Pengelolaan Limbah Radioaktif Konstruksi Kedokteran Nuklir Terapi Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang

28 Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi energi 160 kv - 6 MV) Konstruksi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vivo Impor Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Operasi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Iradiator Kategori I dengan Pembangkit Radiasi Pengion Penggunaan Check Sources untuk Keperluan Penggunaan Check Source untuk Keperluan Selain Konstruksi Penggunaan dan/atau Fasilitas Kalibrasi Ekspor Zat Radioaktif Konstruksi untuk Produksi Radioisotop Konstruksi untuk dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang energi KV) Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Konstruksi untuk Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Impor pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Operasi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori I Penggunaan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (Check Sources) untuk Keperluan Penggunaan Zat radioaktif untuk sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Konstruksi untuk Pengambangan Fasilitas Kalibrasi Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Selain Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain

29 Ekspor Pembangkit Radiasi Pengion Penyimpanan Zat Radioaktif Zat Radioaktif untuk Standardisasi Checksources untuk Keperluan Konstruksi Penelitian dan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo Konstruksi Penelitian dan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Penutupan Penelitian dan dalam Kedokteran nuklir diagnostik in-vivo Penutupan untuk Produksi Radioisotop Kedokteran Nuklir Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Ekspor Pembangkit Radiasi pengion untuk keperluan selain Penyimpanan Zat Radioaktif Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (check sources) untuk keperluan Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Pencacah (gamma counter) Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vitro

30 Diagnostik In Vitro B. Persyaratan Persyaratan sesuai dengan SLA Masing masing Kegiatan Pemanfaatan yang terdiri dari: 1. Persyaratan Administratif 2. Persyaratan Teknis 3. Persyaratan Khusus (Untuk Jenis Kegiatan Pemanfaatan tertentu) C. Waktu yang Diperlukan Nama Kegiatan Eval. Baru Perpanjangan Perubahan Terbit *) Batas Perbai kan Eval. Terbit *) Batas Perba ikan Eval. Terbit *) Batas Perbai kan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik Konvensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi

31 Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar- X Penunjang Terapi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Penggunaan Detektor Bahan Peledak Detektor Bahan Peledak Zat radioaktif untuk sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Zat Radioaktif untuk Kalibrasi Ekspor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera

32 Gamma Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vivo dan Penelitian Klinik Menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Operasi Penggunaan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Penutupan Kedokteran Nuklir Terapi Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan,

33 untuk Keperluan Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakhiterapi Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Foton Energi Rendah Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Berkas Partikel Operasi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion LINAC Konstruksi Pengelolaan Limbah Radioaktif Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan,

34 Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed) Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil Konstruksi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) dalam Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil dalam Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) Peneliian dan dalam Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed) Konstruksi Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penelitian dan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II Operasi Penelitian dan Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II dalam Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah dalam Well Logging Zat

35 radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging dalam Perunut (Tracer) Operasi untuk dalam Radiografi Fasilitas Tertutup Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Operasi Penelitian dan Pengambangan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vitro Konstruksi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi pengembangan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Konstruksi Pengambangan dalam Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Operasi Penelitian dan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Penggunaan Zat

36 Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Impor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Pengalihan Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Konsumen dalam Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Produksi barang konsumen yang mengandung zat radioaktif Konstruksi Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Konstruksi dalam Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Operasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Operasi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Operasi untuk Fasilitas Kalibrasi Impor zat radioaktif Untuk Keperluan Selain Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah

37 Well Logging Penggunaan Zat Radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Perunut (Tracer) Fotofluorografi Pembangkit Radiasi Pengion Energi Sedang (60 kv kv) Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Sedang Operasi Penelitian dan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi Menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakiterapi

38 Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi Menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Akselerator Linier (Linear Accelerator) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi berkas partikel Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau Penelitian dan dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi foton energi rendah Impor dan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Impor Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Selain Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Operasi Penelitian dan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Penelitian dan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Konstruksi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Konstruksi untuk dalam Radiografi Industri Fasilitas Tertutup

39 Operasi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Pengalihan pembangkit radiasi pengion untuk keperluan selain medik Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan dalam Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Selain dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik konvensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan dalam Radiologi

40 Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar-x Penunjang Terapi Pengalihan zat radioaktif untuk keperluan selain medik Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan MeV, atau tabung sinar-x dalam rentang energi 160 kv - 6 MV) Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (lebih dari 6 MV) Impor dan pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Komisioning Pengelolaan Limbah Radioaktif Konstruksi Kedokteran Nuklir Terapi Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang energi 160 kv - 6 MV) Konstruksi untuk

41 dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang energi KV) Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Konstruksi untuk Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Impor pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Operasi Penelitian dan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori I Penggunaan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (Check Sources) untuk Keperluan Penggunaan Zat radioaktif untuk

42 sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Konstruksi untuk Pengambangan Fasilitas Kalibrasi Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Selain Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Ekspor Pembangkit Radiasi pengion untuk keperluan selain Penyimpanan Zat Radioaktif Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (check sources) untuk keperluan Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission

43 Tomography/PET) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik invivo dan Penelitian Klinik menggunakan Pencacah (gamma counter) Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vitro Catatan: * Waktu Terbit dihitung setelah Konfirmasi Pembayaran biaya PNBP diterima BAPETEN D. Biaya Sesuai dengan PP no 56 Tahun 2014, besarnya biaya untuk masing

44 masing jenis kegiatan adalah sebagai berikut: Nama Biaya (dalam Satuan Rupiah / Rp.) Baru Perpanjangan Perubahan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik Konvensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar-x Penunjang Terapi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Penggunaan Detektor Bahan Peledak Detektor Bahan Peledak Zat radioaktif untuk sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Zat Radioaktif untuk Kalibrasi Ekspor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Operasi Kedokteran

45 Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vivo dan Penelitian Klinik Menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan Kedokteran Nuklir Diagnostik in vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Operasi Kedokteran Nuklir Terapi Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Penutupan Kedokteran Nuklir Terapi Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, untuk Keperluan Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakhiterapi Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Foton Energi Rendah Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Terapi Berkas Partikel Operasi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion LINAC Konstruksi Pengelolaan Limbah Radioaktif Penggunaan Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Zat Radioaktif Terbuka untuk Tujuan Pendidikan, Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan,

46 Penggunaan Zat Radioaktif Terbungkus untuk Tujuan Pendidikan, Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed) Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil Konstruksi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) dalam Fluoroskopi Bagasi dalam Mobil dalam Fluoroskopi bagasi dapat Dipindah (Mobile) dalam Fluoroskopi Bagasi Terpasang Tetap (fixed) Konstruksi Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Fluoroskopi Bagasi untuk Pemindai Tubuh Manusia (Body Scanner) Operasi Penggunaan Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II Operasi Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori II dalam Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah dalam Well Logging Zat radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging dalam Perunut (Tracer) Operasi untuk dalam Radiografi Fasilitas Tertutup Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Terapi Operasi Pengambangan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Operasi Penggunaan Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in Vitro Konstruksi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi pengembangan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Konstruksi Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi Konstruksi Pengambangan dalam Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Tinggi

47 Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori IV Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Penggunaan Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Impor Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Pengalihan Peralatan yang Mengandung Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen Konsumen dalam Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori I Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Konstruksi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Produksi barang konsumen yang mengandung zat radioaktif Konstruksi Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Konstruksi dalam Iradiator Pembangkit radiasi pengion kategori II Operasi Pengelolaan Limbah Radioaktif Gauging Industri dengan Zat Radioaktif Aktivitas Rendah Operasi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Operasi untuk Fasilitas Kalibrasi Impor zat radioaktif Untuk Keperluan Selain Gauging Industri dengan Pembangkit Radiasi Pengion Energi Rendah Well Logging Penggunaan Zat Radioaktif Penanda (Marker) untuk Well Logging Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Perunut (Tracer) Fotofluorografi Pembangkit Radiasi Pengion Energi Sedang (60 kv kv) Fotofluorografi dengan Zat Radioaktif Aktivitas Sedang Operasi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Operasi untuk dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian

48 Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi Menggunakan Zat Radioaktif Teleterapi Co-60 Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan Zat Radioaktif Brakiterapi Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi Menggunakan Pembangkit Radiasi Pengion Akselerator Linier (Linear Accelerator) Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi berkas partikel Konstruksi untuk Penggunaan dan/atau dalam Radioterapi menggunakan pembangkit radiasi pengion terapi foton energi rendah Impor dan Pengalihan Zat Radioaktif untuk Keperluan Impor Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Selain Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Penggunaan Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori II Operasi Iradiator dengan Zat Radioaktif Terbungkus Kategori III Konstruksi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Konstruksi untuk dalam Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Operasi untuk Radiografi Industri Fasilitas Tertutup Pengalihan pembangkit radiasi pengion untuk keperluan selain medik Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Operasi Produksi Radioisotop untuk Keperluan dalam Radiografi Industri Fasilitas Terbuka Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Produksi Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Selain dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Umum dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Radiografi Mobile dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Diagnostik konvensional

49 dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Fluoroskopi Intervensional dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Mamografi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk CT-Scan dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Gigi dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat Sinar-X yang Terpasang di dalam Mobil dalam Radiologi Diagnostik dan Intervensional untuk Pesawat sinar-x Penunjang Terapi Pengalihan zat radioaktif untuk keperluan selain medik Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan MeV, atau tabung sinar-x dalam rentang energi 160 kv - 6 MV) Operasi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (lebih dari 6 MV) Impor dan pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion untuk keperluan Komisioning Pengelolaan Limbah Radioaktif Konstruksi Kedokteran Nuklir Terapi Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Komisioning untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang energi 160 kv - 6 MV) Konstruksi untuk dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (Lebih dari 6 MV) Konstruksi dalam Fotofluorografi dengan Pembangkit Radiasi Pengion dengan Energi Tinggi (LINAC dalam satuan Mev atau Tabung Sinar-X dalam rentang energi KV) Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET)

50 Konstruksi untuk Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Impor pembangkit Radiasi Pengion untuk Keperluan Operasi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Iradiator Pembangkit Radiasi Pengion Kategori I Penggunaan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (Check Sources) untuk Keperluan Penggunaan Zat radioaktif untuk sumber pengecek (check source) untuk Keperluan Selain Konstruksi untuk Penggunaan Fasilitas Kalibrasi Konstruksi untuk Pengambangan Fasilitas Kalibrasi Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Selain Ekspor Zat Radioaktif Untuk Keperluan Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Konstruksi Produksi Radioisotop untuk Keperluan Ekspor Pembangkit Radiasi pengion untuk keperluan selain Penyimpanan Zat Radioaktif Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Selain Pengembanga Zat Radioaktif untuk Standardisasi untuk Keperluan Zat Radioaktif untuk Sumber Pengecek (check sources) untuk keperluan Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Pencacah Gamma (Gamma Counter) Konstruksi dalam Kedokteran Nuklir Terapi Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Teknologi Kamera Gamma Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan

51 Tomografi Emisi Positron (Positron Emission Tomography/PET) Penutupan dalam Kedokteran Nuklir Diagnostik in-vivo dan Penelitian Klinik menggunakan Pencacah (gamma counter) Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Penutupan untuk Produksi Radioisotop untuk Keperluan Selain Kedokteran Nuklir Diagnostik In Vitro Keterangan : Biaya administrasi bank dan meterai ditanggung oleh pemohon. Waktu dan Waktu pengiriman permohonan ke BAPETEN (Online): Kondisi Layanan 24 (dua puluh empat) jam setiap hari dalam 7 (tujuh) hari setiap minggu. Waktu Proses Layanan BAPETEN : Hari : Senin s.d. Jumat Pukul : WIB dan Pukul WIB Dokumen elektronik yang diterima BAPETEN setelah pukul WIB maka waktu proses penilaian dihitung mulai dari hari berikutnya. IV. PROSEDUR OPERASIONAL BAKU (POB) UNTUK PERIZINAN MEMPEROLEH SURAT IZIN BEKERJA (SIB) PETUGAS PROTEKSI RADIASI (PPR) YANG BEKERJA DI PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION A. Uraian POB untuk memperoleh SIB PPR Sumber Radiasi Pengion 1. Pemohon melakukan registrasi untuk memperoleh user name dan password melalui aplikasi BaLIS secara online dengan alamat URL 2. Setelah teregistrasi, konfirmasi user name dan password dikirimkan secara elektronik ke alamat Pemohon. 3. Pemohon melakukan login dengan menggunakan Username dan password yang sudah diberikan oleh BAPETEN.

52 Pemohon memilih Jenis Kegiatan: Ujian, Penyegaran, Validasi SIB, Cetak Ulang SIB, atau Penundaan Kegiatan. 5. Pemohon mengisi formulir permohonan mengikuti kegiatan secara online sesuai dengan jenis permohonan dan menyimpannya jika seluruh isian data telah terisi secara lengkap. 6. Permohonan tidak dapat dilanjutkan apabila Formulir permohonan tidak terisi secara lengkap. 7. Pemohon melengkapi dokumen elektronik permohonan sesuai dengan jenis permohonan. 8. Setelah Pemohon mengisi secara lengkap (formulir online dan dokumen elektronik) maka Pemohon harus mengirimkan ke BAPETEN dengan memilih tombol kirim. 9. Pemohon mendapatkan nomor registrasi permohonan dari BAPETEN secara otomatis dari system. 10. BAPETEN melakukan penilaian dokumen elektronik permohonan untuk memperoleh SIB PPR. 11. Apabila dokumen permohonan untuk memperoleh SIB PPR tidak memenuhi syarat maka BAPETEN menyampaikan pemberitahuan hasil penilaian kepada Pemohon. 12. Dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan dinyatakan tidak memenuhi syarat, Pemohon harus memperbaiki dokumen permohonan untuk memperoleh SIB PPR. Apabila kekurangan dokumen permohonan tidak dilengkapi, maka permohonan dinyatakan batal dan Pemohon dapat mengajukan kembali permohonan. 13. Apabila dokumen permohonan untuk memperoleh SIB PPR dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat, pejabat otorisator akan memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak hasil penilaian ditetapkan evaluator. 14. Setelah pejabat otorisator memberikan persetujuan hasil penilaian permohonan, BAPETEN menyampaikan surat pemberitahuan biaya permohonan perizinan melalui akun Pemohon. 15. Pemberitahuan biaya permohonan akan dilengkapi dengan tanggal jatuh tempo pembayaran. 16. Permohonan akan dianggap dibatalkan oleh Pemohon apabila pembayaran tidak dilakukan hingga masa jatuh tempo. 17. Bendahara akan mengirimkan konfirmasi biaya perizinan yang

53 belum dibayar setelah jatuh tempo terlewati kepada perizinan, yang menjadi dasar sistem melakukan pembatalan secara otomatis registrasi permohonan dan pemberitahuan biaya permohonan. 18. Sistem akan mengirimkan pemberitahuan bahwa permohonan dinyatakan batal disertai penjelasan kepada pemohon untuk mengajukan permohonan ulang. 19. Dalam hal Pemohon melakukan pembayaran biaya permohonan perizinan, Pemohon akan menerima Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL)/Kuitansi dari Bendahara Penerimaan PNBP yang dikirimkan secara online melalui akun Pemohon. 20. BAPETEN menerbitkan surat undangan untuk mengikuti kegiatan yang dipilih (Ujian atau Penyegaran). 21. BAPETEN memproses hasil ujian Pemohon yang mengikuti Ujian. 22. BAPETEN mengunggah daftar hasil kelulusan Ujian SIB PPR yang telah disahkan oleh Ketua Tim Penguji PPR/Direktur atau yang mewakili. 23. BAPETEN menerbitkan Surat Pemberitahuan Kelulusan ujian SIB PPR dan menyampaikan kepada Pemohon. 24. BAPETEN menerbitkan SIB PPR bagi Pemohon yang dinyatakan lulus dan menyampaikan kepada Pemohon. 25. BAPETEN menerbitkan Sertifikat bagi Peserta yang telah mengikuti Penyegaran PPR dan menyerahkannya kepada Pemohon. 26. BAPETEN menerbitkan SIB PPR perpanjangan kepada Pemohon dengan masa berlaku SIB habis pada saat tahun penyegaran berlangsung dan bagi PPR dengan masa berlaku SIB habis setelah tahun palaksanaan penyegaran SIB akan diterbitkan dengan menukar SIB yang lama. 27. Bagi peserta yang tidak hadir dalam kegiatan yang dipilih (Ujian atau Penyegaran), maka biaya yang sudah dibayar dapat dialihkan pada penyelenggaraan berikutnya dalam tahun berjalan. 28. Peserta dapat mengajukan permohonan Penundaan Kegiatan secara online dengan menyertakan dokumen pendukung. 29. Untuk kegiatan Validasi SIB, tidak ada undangan. Setelah menerima konfirmasi pembayaran, BAPETEN akan mencetak SIB dalam waktu 3 (tiga) hari. 30. Untuk kegiatan Cetak Ulang SIB, tidak ada proses pembayaran 31. SIB akan dicetak setelah permohonan dinyatakan memenuhi syarat

54 dan telah disetujui oleh otorisator. 32. BAPETEN melakukan pengarsipan elektronik dan/atau hardcopy atas dokumen permohonan, kelengkapan, surat pemberitahuan dan dupilkat SIB.

55 B. BAGAN ALUR POB untuk memperoleh SIB PPR Sumber Radiasi Pengion Bagan alur POB untuk memperoleh SIB PPR Sumber Radiasi Pengion secara online dibagi menjadi 5 (lima) bagian, meliputi: 1. Mekanisme Permohonan Ujian; 2. Mekanisme Permohonan Penyegaran; 3. Mekanisme Permohonan Validasi; 4. Mekanisme Permohonan Cetak Ulang SIB; dan 5. Mekanisme Permohonan Pengalihan. Mekanisme Permohonan Ujian Pada Balis Online 2.0

56 Mekanisme Permohonan Penyegaran Pada Balis Online 2.0 Mekanisme Permohonan Validasi Pada Balis Online 2.0

2016, No derizinan Petugas Fasilitas Radiasi Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republi

2016, No derizinan Petugas Fasilitas Radiasi Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republi BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.476, 2016 BAPETEN. Radiasi Pengion. Perizinan. Sistem Elektronik. Penatalaksanaan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERLAKUAN

Lebih terperinci

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR JENIS DAN ATAS JENIS PENERIMAAN

Lebih terperinci

2 Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir; Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar N

2 Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir; Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar N LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.156, 2014 KEUANGAN. PNBP. Tarif. Jenis. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5553) PERATURAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

2018, No Indonesia Nomor 5496); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuk

2018, No Indonesia Nomor 5496); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuk No.1110, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. Persyaratan dan Tata Cara Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik Sektor Ketenaganukliran. PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERLAKUAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1536,2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. Pajak. Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penatausahaan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam pemanfaatan sumber

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION DAN BAHAN NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU YANG BEKERJA DI INSTALASI YANG MEMANFAATKAN

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN III KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 572/K/X/2013 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL ARRANGEMENT) PERSETUJUAN

Lebih terperinci

bahwa dalam rangka percepatan dan peningkatan ketentuan terkait pemberlakuan sistem elektronik dalam

bahwa dalam rangka percepatan dan peningkatan ketentuan terkait pemberlakuan sistem elektronik dalam SALINAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2018 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR SECARA

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 572/K/X/2013 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL ARRANGEMENT) PERSETUJUAN

Lebih terperinci

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TANGGAL 19 Maret 2009 JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR I. izinan:

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR... TAHUN 2014 TENTANG SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU YANG BEKERJA DI INSTALASI YANG MEMANFAATKAN

Lebih terperinci

BAPETEN. Petugas Tertentu. Bekerja. Instalasi. Sumber Radiasi Pengion. Bekerja. Surat Izin. Pencabutan.

BAPETEN. Petugas Tertentu. Bekerja. Instalasi. Sumber Radiasi Pengion. Bekerja. Surat Izin. Pencabutan. No.1937, 2014 BAPETEN. Petugas Tertentu. Bekerja. Instalasi. Sumber Radiasi Pengion. Bekerja. Surat Izin. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG SURAT IZIN

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 572/K/X/2013 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL ARRANGEMENT) PERSETUJUAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH SURAT IZIN BEKERJA BAGI PETUGAS TERTENTU DI INSTALASI YANG MEMANFAATKAN SUMBER RADIASI PENGION DENGAN

Lebih terperinci

sesuai dengan jenis permohonan. 8. BAPETEN melakukan penilaian dokumen elektronik permohonan persetujuan

sesuai dengan jenis permohonan. 8. BAPETEN melakukan penilaian dokumen elektronik permohonan persetujuan BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 562/K/IX/2012 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL ARRANGEMENT) DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

I S H A K Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN)

I S H A K Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) I S H A K Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Pembangkit Radiasi Pengion Zat Radioaktif Alfa Beta Netroun Impor Produksi Pengalih Re-ekspor Penggunaan

Lebih terperinci

Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik. bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan perizinan. Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik. bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan perizinan. Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara SALINAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2018 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PERIZINAN BERUSAHA TERINTEGRASI

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 562/K/IX/2012 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERVICE LEVEL ARRANGEMENT) DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 20165 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembarar Negara. memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan

Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembarar Negara. memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan SALINAN PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2018 TENTANG PENATAUSAHAAN PENEzuMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR U M U M Pemanfaatan tenaga nuklir telah berkembang pesat dan secara luas di berbagai

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

2017, No Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan

2017, No Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan No.630, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. Larangan dan Pembatasan Impor dan Ekspor Barang Konsumen, Sumber Radiasi Pengion, dan Bahan Nuklir. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

Lebih terperinci

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENERAPAN TANDA

Lebih terperinci

PETUNJUK OPERASIONAL. Cara Mendapatkan Akun Balis. Cara Pengajuan Permohonan Izin. Cara Pengajuan Permohonan Persetujuan

PETUNJUK OPERASIONAL. Cara Mendapatkan Akun Balis. Cara Pengajuan Permohonan Izin. Cara Pengajuan Permohonan Persetujuan PETUNJUK OPERASIONAL Cara Mendapatkan Akun Balis Cara Pengajuan Permohonan Izin Cara Pengajuan Permohonan Persetujuan BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR 2015 PENDAHULUAN Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: PP 12-1972 dicabut: PP 29-2008 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 137, 2000 IPTEK.Badan.Instalasi.Perizinan.Pemanfaatan.Tenaga Nuklir.

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

2017, No Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5445); 3. Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun

2017, No Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5445); 3. Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun No.573, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BATAN. Zat Radioaktif Terbungkus yang tidak digunakan. Reuse. Recycle. PERATURAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PENGGUNAAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR TENTANG INSPEKTUR KESELAMATAN NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR TENTANG INSPEKTUR KESELAMATAN NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR - 1 - SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG INSPEKTUR KESELAMATAN NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR KOMPETENSI INSPEKTUR BIDANG IBN Kuadran 1: Kompetensi

Lebih terperinci

SISTEM DAN MEKANISME PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION

SISTEM DAN MEKANISME PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION SISTEM DAN MEKANISME PERIZINAN PEMANFAATAN SUMBER RADIASI PENGION Suyati, Nardi, Supriatno Direktorat Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jl. Gajah Mada

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN 2.1. Sejarah Singkat Organisasi Tahun 1954 1957 : Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktif: Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktif dilatarbelakangi oleh adanya

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/M-DAG/PER/6/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/M-DAG/PER/6/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/M-DAG/PER/6/2009 TENTANG KETENTUAN PELAYANAN PERIJINAN EKSPOR DAN IMPOR DENGAN SISTEM ELEKTRONIK MELALUI INATRADE DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL

Lebih terperinci

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawas T

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawas T No.1609, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. IKU Tahun 2015-2019. Perubahan Kedua. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

2018, No Intervensional; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 19

2018, No Intervensional; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 19 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.522, 2018 BAPETEN. Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional. Pencabutan. PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2000 Tentang : Perijinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2000 Tentang : Perijinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2000 Tentang : Perijinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/MENHUT-II/2012 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PERIZINAN DI BIDANG KEHUTANAN SECARA ONLINE

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/MENHUT-II/2012 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PERIZINAN DI BIDANG KEHUTANAN SECARA ONLINE PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/MENHUT-II/2012 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PERIZINAN DI BIDANG KEHUTANAN SECARA ONLINE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK

Lebih terperinci

2 Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir tentang Keamanan Sumber Radioaktif; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (L

2 Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir tentang Keamanan Sumber Radioaktif; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (L BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.654, 2015 BAPETEN. Radioaktif. Sumber. Keamanan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.850, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KKI. Registrasi Dokter dan Dokter Gigi dengan Sistem Elektronik. Pencabutan. PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2018 TENTANG TATA CARA REGISTRASI

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 7 TAHUN

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Ta

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Ta No.1332, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. IKU. Tahun 2015-2019. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS ONLINE INSPEKSI (INSPEKTUR)

PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS ONLINE INSPEKSI (INSPEKTUR) PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS ONLINE INSPEKSI (INSPEKTUR) Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 2017 PENDAHULUAN Dalam

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 74, 2007 LINGKUNGAN HIDUP. Tenaga Nuklir. Keselamatan. Keamanan. Pemanfaatan. Radioaktif. Radiasi Pengion.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS INSPEKSI ONLINE 2.0 (PENGGUNA)

PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS INSPEKSI ONLINE 2.0 (PENGGUNA) PANDUAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DATABASE ONLINE BaLIS INSPEKSI ONLINE 2.0 (PENGGUNA) Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Badan Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 2017 PENDAHULUAN Dalam

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu No.1722, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMTAN. Pelayanan Perizinan Pertanian secara Elektronik. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PERMENTAN/TI.120/11/2017 TENTANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL, PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG LAYANAN INFORMASI PERTANAHAN SECARA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN Tinjauan Umum Badan Pengawas Tenaga Nuklir Sejarah dan Perkembangan Badan Pengawas Tenaga Nuklir

BAB III PEMBAHASAN Tinjauan Umum Badan Pengawas Tenaga Nuklir Sejarah dan Perkembangan Badan Pengawas Tenaga Nuklir BAB III PEMBAHASAN 3.1. Tinjauan Umum Badan Pengawas Tenaga Nuklir 3.1.1. Sejarah dan Perkembangan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Sejak dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di bulan Agustus 1945,

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 49 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU SECARA ONLINE

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 49 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU SECARA ONLINE BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 49 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU SECARA ONLINE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang

Lebih terperinci

MANUAL OPERASIONAL BALIS ONLINE VERSI BACKEND--

MANUAL OPERASIONAL BALIS ONLINE VERSI BACKEND-- MANUAL OPERASIONAL BALIS ONLINE VERSI 2.0 --BACKEND-- BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR 2015 PENDAHULUAN Aplikasi BaLIS Online versi 2.0 terdapat sisi backend yaitu sisi admin bapeten yang menindaklanjuti proses

Lebih terperinci

bahwa dalam rangka melaksanakan pelayanan publik yang berasaskan kecepatan, kemudahan, dan

bahwa dalam rangka melaksanakan pelayanan publik yang berasaskan kecepatan, kemudahan, dan KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NoMoR 5?L lklxl2or3 TENTANG PENETAPAN TINGKAT LAYANAN (SERY/CE LEVBL ARRANGEMENT) PERSETUJUAN PELAKSANAAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU YANG BEKERJA DI INSTALASI YANG MEMANFAATKAN SUMBER RADIASI PENGION DENGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2019 TENTANG PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SECARA DARING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

ISSN Volume 13, Januari 2012

ISSN Volume 13, Januari 2012 ISSN 1411-1349 Volume 13, Januari 2012 ASPEK PERIZINAN DAN PENGAWASAN PEMANFAATAN AKSELERATOR DAN IRADIATOR LAINNYA: MBE UNTUK CROSSLINKING CHITOSAN, GEL DARI RUMPUT LAUT, IRADIATOR LATEX, STERILISASI,

Lebih terperinci

2015, No Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 N

2015, No Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 N No. 2012, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES. Fisika Medik. Pelayanan. Standar. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR PELAYANAN FISIKA MEDIK DENGAN

Lebih terperinci

2016, No Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendahar

2016, No Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendahar No.1937, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKUMHAM. PNBP. Pelayanan Jasa Hukum Ditjen AHU. Tata Cara. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR XXXXX TAHUN 2017 TENTANG SERTIFIKASI ALAT DAN/ATAU PERANGKAT TELEKOMUNIKASI

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR XXXXX TAHUN 2017 TENTANG SERTIFIKASI ALAT DAN/ATAU PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR XXXXX TAHUN 2017 TENTANG SERTIFIKASI ALAT DAN/ATAU PERANGKAT TELEKOMUNIKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.84, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMUNIKASI. INFORMASI. Penggunaan. Sistem Elektronik. Perubahan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

Badan Pengawas Tenaga Nuklir

Badan Pengawas Tenaga Nuklir PANDUAN PENGGUNAAN BALIS SUKSES 1.5 UNTUK LEMBAGA UJI KESESUAIAN https://balis-sukses.bapeten.go.id/sukses15 DIREKTORAT KETEKNIKAN DAN KESIAPSIAGAAN NUKLIR Badan Pengawas Tenaga Nuklir 2019 PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PETUNJUK OPERASIONAL BALIS ONLINE 2.0 PEKERJA

PETUNJUK OPERASIONAL BALIS ONLINE 2.0 PEKERJA PETUNJUK OPERASIONAL BALIS ONLINE 2.0 PEKERJA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR 2016 Cara Mendapatkan Akun Balis Online Pekerja 1. Buka laman Balis Online Pekerja http://balis-pekerja/frontend.bapeten.go.id

Lebih terperinci

bahwa untuk mendukung peningkatan fungsi Utama yang mampu mendukung tugas utama mendapatkan persetujuan Menteri Pendayagunaan

bahwa untuk mendukung peningkatan fungsi Utama yang mampu mendukung tugas utama mendapatkan persetujuan Menteri Pendayagunaan SALINAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2OI9 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

WALI KOTA PALU PROPINSI SULAWESI TENGAH

WALI KOTA PALU PROPINSI SULAWESI TENGAH WALI KOTA PALU PROPINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN WALI KOTA PALU NOMOR 58 TAHUN 2017 TENTANG PELAYANAN SECARA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA PALU Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL. No.22,2016 Dinas Perijinan Kabupaten Bantul. ADMINISTRASI.PELAYANAN.PERIZINAN. Pelayanan Perizinan, Online

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL. No.22,2016 Dinas Perijinan Kabupaten Bantul. ADMINISTRASI.PELAYANAN.PERIZINAN. Pelayanan Perizinan, Online 1 2016 BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL No.22,2016 Dinas Perijinan Kabupaten Bantul. ADMINISTRASI.PELAYANAN.PERIZINAN. Pelayanan Perizinan, Online BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 32/PMK.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 32/PMK. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 32/PMK.05/2014 TENTANG SISTEM PENERIMAAN NEGARA SECARA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 32/PMK.05/2014 TENTANG SISTEM PENERIMAAN NEGARA SECARA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

2018, No Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (Lemb

2018, No Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (Lemb BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.988, 2018 KEMENKUMHAM. Pemberian Visa dan Izin Tinggal bagi TKA. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2018 TENTANG TATA CARA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PENGGUNAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2018 TENTANG INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2018 TENTANG INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2018 TENTANG INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk menjaga kesinambungan

Lebih terperinci

ELIRA - PTLR USER MANUAL V2.0. Badan Tenaga Nuklir Nasional. layanan.batan.go.id/ptlr/elira PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL

ELIRA - PTLR USER MANUAL V2.0. Badan Tenaga Nuklir Nasional. layanan.batan.go.id/ptlr/elira PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL USER MANUAL V2.0 PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL ELIRA - PTLR PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF Badan Tenaga Nuklir Nasional layanan.batan.go.id/ptlr/elira DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i DAFTAR GAMBAR... iii 1.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

2018, No Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5149); 3. Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2

2018, No Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5149); 3. Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2 No.310, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BEKRAF. Pengelolaan Papan. PERATURAN BADAN EKONOMI KREATIF NOMOR 3 TAHUN 2018 TENTANG PENGELOLAAN PAPAN BADAN EKONOMI KREATIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK SATUAN TARIF

JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK SATUAN TARIF LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 134 TAHUN 2000 TANGGAL 18 DESEMBER 2000 TENTANG TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR JENIS

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5,

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1135, 2017 KEMENKEU. Sistem Penerimaan Negara Secara Elektronik PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/PMK.05/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

2018, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997

2018, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 No.396, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKUMHAM. PNBP Ditjen AHU. Pencabutan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2018 XXXX TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN

Lebih terperinci

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 75 TAHUN 2018 TENTANG

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 75 TAHUN 2018 TENTANG BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 75 TAHUN 2018 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN DAN NONPERIZINAN SECARA ELEKTRONIK (ONLINE) PADA DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Undang-undang Nomor 10

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2000 TENTANG PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Undang-undang Nomor 10

Lebih terperinci

2018, No sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008 te

2018, No sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008 te No.85, 2018 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMUNIKASI. Indonesia National Single Window. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2018 TENTANG INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

STATUS KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DI INDONESIA

STATUS KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DI INDONESIA STATUS KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DI INDONESIA Ir. Sugeng Sumbarjo, M.Eng Direktur Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif KORINWAS BAPETEN, Jakarta, 12 Mei 2015 Tugas Pokok BAPETEN Pasal 14 Undang-Undang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

No.1132, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPOM. Standar Pelayanan Publik. Pencabutan. PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 27 TAHUN 20

No.1132, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPOM. Standar Pelayanan Publik. Pencabutan. PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 27 TAHUN 20 No.1132, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPOM. Standar Pelayanan Publik. Pencabutan. PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 27 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN BADAN

Lebih terperinci

2017, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010 tentang Perub

2017, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010 tentang Perub BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1024, 2017 BAPPETEN. Inpassing. Jabatan Fungsional. Pengawas Radiasi PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PELAKSANAAN PENYESUAIAN/INPASSING

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.legalitas.org PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 134 TAHUN 2000 TENTANG TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 2Ol5-2O19; dilakukan penyempurnaan terhadap muatan Rencana. atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir

Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 2Ol5-2O19; dilakukan penyempurnaan terhadap muatan Rencana. atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir SALINAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 8 TAHUN 2OI7 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR

Lebih terperinci

2016, No Negara Republik Indonesia Nomor 4843); 2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia

2016, No Negara Republik Indonesia Nomor 4843); 2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia No.1212, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPERIN. Sistem Elektronik. Pertimbangan Teknis. Rekomendasi. Surat Keterangan. Tanda Pendaftaran. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR Nomor Lampiran Hal : : : 2235 / PI 02 01/DPFRZR/XII-09 1 (satu) berkas Pemberlakuan Persyaratan Keamanan Sumber Radioaktif Jakarta, 06 Desember 2009 Kepada Yth. Pemegang Izin Pemanfaatan Sumber Radioaktif

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembar

2017, No Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembar No.632, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPETEN. Penanganan Benturan Kepentingan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN BENTURAN KEPENTINGAN

Lebih terperinci