KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010 2014"

Transkripsi

1 KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN DEWAN KETAHANAN PANGAN 2010

2 .

3 PESAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ketahanan Pangan mash merupakan su yang pentng bag bangsa Indonesa. Sekalpun saat n Indonesa telah berhasl mencapa swasembada beras, namun ketahanan pangan mash menjad salah satu prortas pembangunan nasonal. Hal n antara lan karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusa yang tdak bsa dsubsttus dengan bahan lan. Sementara, pertumbuhan jumlah penduduk ndonesa yang terus menngkat memerlukan penyedaan bahan pangan dalam jumlah yang sangat besar. D ss lan, kapastas penyedaan bahan pangan justru menghadap sejumlah tantangan sepert perubahan klm global, kompets pemanfaatan sumberdaya lahan dan ar untuk kegatan pertanan dan non pertanan, serta degradas lngkungan yang menurunkan kapastas produks pangan nasonal. Kta juga menghadap persoalan penanganan kerawanan pangan mash terjad d Indonesa. Sehubungan dengan persoalan tersebut d atas, maka dalam RPJMN , Pemerntah menempatkan pembangunan ketahanan pangan sebaga salah satu prortas nasonal. Dalam katan dengan pembangunan ketahanan pangan, pemerntah memberkan penekanan pada perbakan subsstem ketersedaan pangan, subsstem dstrbus pangan dan subsstem konsums pangan. Pembangunan subsstem ketersedaan darahkan guna menjamn ketahanan dan kedaulatan pangan nasonal. Dalam hal n, Pemerntah berupaya mencapa swasembada dan mempertahankan swasembada berkelanjutan bag komodtas pangan strategs, melalu snerg dan keterpaduan antar sektor, sehngga tujuan tersebut dapat dcapa secara efektf dan efsen. Upaya pengembangan subsstem ketersedaan pangan juga darahkan sebaga bass untuk mengks persoalan kerawanan pangan yang mash terjad dsebagan wlayah Indonesa. i

4 Pembangunan subsstem dstrbus pangan darahkan untuk menjamn ketersedaan pangan, bak d tngkat nasonal maupun d setap daerah selalu dalam konds cukup, memada, dan terkelola dengan bak, yang dtanda oleh stabltas harga pangan yang terjangkau bag konsumen, namun dss lan juga memberkan penghaslan yang memada bag petan. Upaya pembangunan dstrbus pangan antara lan melalu pengembangan cadangan pangan dan perbakan ranta dstrbus logstk nasonal yang efektf dan efsen. Pengembangan substem konsums pangan dmaksudkan untuk memperbak kualtas konsums pangan masyarakat, khususnya melalu penganekaragaman konsums pangan dengan memanfaatkan sumberdaya pangan lokal, termasuk menngkatkan aspek keamanan pangan. Kekayaan sumberdaya hayat Indonesa perlu dmanfaatkan untuk menngkatkan kualtas dan keragaman konsums pangan masyarakat, sekalgus mengatas ketergantungan pada beras. Guna memberkan arahan mengena mplementas RPJMN bdang ketahanan pangan, dsusun Kebjakan Umum Ketahanan Pangan Penerbtan buku n dmaksudkan sebaga pedoman bag seluruh pemangku kepentngan, Pemerntah Pusat dan Daerah serta komponen bangsa lannya mengena program-program pembangunan ketahanan pangan secara terpadu dan snergs. Saya berharap dengan berpedoman pada Kebjakan Umum Ketahanan Pangan n, kta mampu secara terarah memusatkan semua upaya dan sumberdaya untuk percepatan pencapaan tujuan pembangunan ketahanan pangan nasonal. Karena tu, saya berharap semua pemangku kepentngan menjadkan buku n sebaga acuan dalam perumusan langkah operasonal pembangunan ketahanan pangan d bdang dan wlayah kerjanya masng-masng sesua dengan peran dan tanggung jawabnya. Jakarta, Maret 2011 Presden RI/Ketua Dewan Ketahanan Pangan, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono ii ii

5 SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Pembangunan Ketahanan Pangan bertujuan untuk menjamn ketersedaan pangan yang cukup dar seg jumlah, mutu, keamanan dan keragaman sehngga setap rumah tangga mampu mengkonsums pangan dalam setap saat, mampu mengkonsum pangan yang cukup, aman, bergz dan sesua plhannya, untuk menjalan hdup sehat dan produktf. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan mengamanatkan pembangunan pangan untuk memenuh kebutuhan dasar manusa, dmana pemerntah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan. Untuk mencapa tujuan n, pemerntah dan masyarakat bertanggung jawab sesua dengan peran dan sumberdaya yang dmlknya. Pemerntah bertanggung jawab menyelenggarakan pengaturan, pembnaan, pengendalan dan pengawasan terhadap ketersedaan pangan, sedangkan masyarakat berperan menyelenggarakan produks dan penyedaan, perdagangan, dstrbus dan konsumen. Mengngat pentngnya masalah pangan, setap negara memprortaskan pembangunan ketahanan pangan dan pencapaannya dposskan sebaga fondas bag pembangunan sektor-sektor lannya. Berbaga tantangan dan perubahan lngkungan strategs bak secara global maupun nasonal, telah mempengaruh stuas ketahanan pangan nasonal. Berkatan dengan hal tersebut, pemerntah Indonesa menempatkan pembangunan ketahanan pangan sebaga salah satu prortas pembangunan nasonal, sebagamana yang tercantum d dalam RPJMN Sebaga tndak lanjut dan penjabaran dar kebjakan pembangunan ketahanan pangan nasonal, maka dsusun Kebjakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) sebaga kelanjutan penyempurnaan dar KUKP Dokumen KUKP n dharapkan dapat menjad acuan atau i iii

6 referens bag para perumus kebjakan, pelaksana pembangunan, pelaku referens ekonom, bag serta para masyarakat perumus kebjakan, pada umumnya pelaksana dalam pembangunan, melaksanakan pelaku ekonom, pembangunan serta ketahanan masyarakat pangan pada d berbaga umumnya tngkatan, dalam dem melaksanakan terwujudnya pembangunan ketahanan pangan ketahanan nasonal, pangan daerah d dan berbaga rumah tngkatan, tangga secara dem berkelanjutan. terwujudnya ketahanan Buku KUKP pangan nasonal, n juga daerah dharapkan dan rumah dapat tangga dgunakan secara sebaga berkelanjutan. arahan Buku untuk KUKP menykap dnamka n juga konds dharapkan global yang dapat mempengaruh dgunakan sebaga stuas arahan dan untuk dnamka menykap ketahanan dnamka pangan konds d dalam global neger, yang bak mempengaruh pada tngkat stuas nasonal dan dnamka maupun sampa ketahanan pada tngkat pangan daerah. d dalam neger, bak pada tngkat nasonal maupun Penyusunan sampa dokumen pada tngkat KUKP daerah n dmula dengan menugaskan Penyusunan Kelompok Kerja dokumen (Pokja KUKP Ahl) Dewan Ketahanan n dmula Pangan dengan (DKP) menugaskan untuk Kelompok merumuskan Kerja de-de (Pokja dasar Ahl) dar Dewan pembangunan Ketahanan ketahanan Pangan pangan. (DKP) Proses untuk merumuskan penyusunan konsep de-de awal dasar KUKP dar pembangunan n dlakukan ketahanan melalu pangan. peneltan, Proses penyusunan stud pustaka, konsep dskus awal nternal KUKP dengan Pokja Tekns, n dlakukan Tm Asstens melalu peneltan, dan Pokja stud Khusus pustaka, Pemberdayaan dskus nternal Ketahanan dengan Pangan Pokja Masyarakat Tekns, Tm DKP. Asstens Konsep dan Pokja awal Khusus KUKP Pemberdayaan n telah Ketahanan dsemnarkan Pangan Masyarakat dan dbahas DKP. berkal-kal Konsep dalam awal KUKP berbaga dskus publk, n telah mula dsemnarkan dar pengenalan, dan dbahas perumusan, berkal-kal dentfkas dalam berbaga masalah, prortsas dskus publk, kebjakan, mula langkah dar pengenalan, aks, sampa perumusan, pada pembagan dentfkas tugas masalah, dan tanggung prortsas jawab kebjakan, stake holder. langkah Dskus aks, publk sampa telah pada melbatkan pembagan unsur tugas dan lembaga tanggung pemerntah, jawab perguruan stake holder. tngg, Dskus swasta, publk organsas telah melbatkan profes, lembaga unsur lembaga swadaya masyarakat, pemerntah, dan perguruan organsas tngg, kemasyarakatan swasta, organsas lannya. profes, lembaga swadaya Mengngat masyarakat, setap daerah dan organsas memlk kemasyarakatan sumberdaya dan lannya. persoalan ketahanan Mengngat pangan yang setap spesfk daerah lokas, memlk maka dhmbau sumberdaya agar dan setap persoalan daerah dapat ketahanan juga pangan merumuskan yang Langkah spesfk lokas, Operasonal maka Pembangunan dhmbau agar Ketahanan setap daerah Pangan dapat tngkat juga propns merumuskan dan kabupaten/kota Langkah Operasonal sebaga Pembangunan penjabaran dan Ketahanan mplementas Pangan kebjakan tngkat propns pembangunan dan kabupaten/kota ketahanan pangan sebaga d penjabaran tngkat daerah, dan mplementas dengan mengacu kebjakan pada pembangunan KUKP ketahanan n. pangan d tngkat daerah, dengan mengacu pada KUKP n. Jakarta, Maret 2011 Menter Pertanan/ Jakarta, Ketua Haran Maret Dewan 2011 Ketahanan Pangan, Menter Pertanan/ Ketua Haran Dewan Ketahanan Pangan, Suswono Suswono ii iv ii

7 DAFTAR ISI Hal. PESAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... i SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GRAFIK DAN GAMBAR... viii I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Landasan Hukum Ruang Lingkup Proses Penyusunan II. DINAMIKA KONSEP KETAHANAN PANGAN Konsep Global Ketahanan Pangan Dinamika Konsep Ketahanan Pangan Nasional III. KERAGAAN KETAHANAN PANGAN TAHUN Ketersediaan Pangan Stabilisasi Harga Pangan Cadangan Pangan Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan Keamanan Pangan Kesejahteraan Masyarakat IV. POTENSI, PERMASALAHAN DAN TANTANGAN KETAHANAN PANGAN Potensi Permasalahan Tantangan Ketahanan Pangan v

8 V. KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN NASIONAL Arah dan Tujuan Kebijakan Sasaran Kebijakan Ketahanan Pangan Strategi Umum Kebijakan Umum Ketahanan Pangan VI. RENCANA AKSI KETAHANAN PANGAN VII. PENUTUP vi

9 DAFTAR TABEL Hal. Tabel 3.1. Perkembangan Produksi Beberapa Komoditas Pangan Tabel 3.2. Ketersediaan Beberapa Komoditas Pangan Tabel 3.3. Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan Komoditas Pangan Penting tahun Tabel 3.4. Ketersediaan Energi dan Protein Tahun Tabel 3.5. Perbandingan Rata-rata Median dan Coefisien Variasi Harga Bahan Pangan Pokok - Strategis Bulan Januari - Desember Tahun Tabel 3.6. Perbandingan Rata-rata Median dan Persentase Kenaikan Harga Pangan Pokok Strategis Bulan Januari-Agustus Tahun Tabel 3.7. Perkembangan Rata-rata Konsumsi Energi dan Protein Tahun Tabel 3.8. Rata-rata Konsumsi Kelompok Pangan Rumah Tangga Tahun Tabel 3.9. Konsumsi Penduduk Indonesia dan Selisih Aktual terhadap Berbagai Kelompok Makanan Tahun Tabel Perkembangan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan Tahun Tabel Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin dan Penganggruan Tahun Tabel Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Menurut Kelompok Barang Penduduk Indonesia Tahun Tabel 4.1. Potensi Ketesediaan Lahan Pertanian Indonesia Tabel 4.2. Keragaman Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun Tabel 4.3. Proyeksi Penduduk Indonesia Menurut Provinsi Tahun vii

10 Tabel 4.4. Proyeksi Konsumsi Pangan Penduduk Indonesia Tahun Tabel 4.5. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin Tabel 5.1. Sasaran Skor PPH Tabel 5.2. Sasaran Penurunan Jumlah Penduduk Rawan Pangan DAFTAR GRAFIK DAN GAMBAR Grafik 3.1. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis di Pasar Dalam Negeri Tahun Grafik 3.2. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis di Pasar Internasional Tahun Gambar 3.3. Persentase Jumlah Penduduk Miskin di Perkantoran dan Perdesaan Tahun Gambar 3.4. Pengeluaran Rata-rata per Kapita sebulan di Daerah Perkotaan dan Perdesaan menurut Kelompok Barang dan Golongan Pengeluaran per Kapita sebulan Tahun viii

11 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan dasar manusa yang palng utama, karena tu pemenuhannya menjad bagan dar hak asas setap ndvdu. D Indonesa, pemenuhan kecukupan pangan bag seluruh rakyat merupakan kewajban, bak secara moral, sosal, maupun hukum termasuk hak asas setap rakyat Indonesa. Selan tu juga merupakan nvestas pembentukan sumberdaya manusa yang lebh bak d masa datang untuk melaksanakan pembangunan nasonal, dan prasyarat bag pemenuhan hak-hak dasar lannya sepert penddkan, pekerjaan, dan sebaganya. Mengngat pentngnya memenuh kecukupan pangan, setap negara mendahulukan pembangunan ketahanan pangannya sebaga pondas bag pembangunan sektor-sektor lannya. Pembangunan ketahanan pangan d Indonesa dtujukan untuk menjamn ketersedaan dan konsums pangan yang cukup, aman, bermutu, bergz, dan sembang pada tngkat rumah tangga, daerah, nasonal, sepanjang waktu dan merata. Hal n dapat dlakukan melalu pemanfaatan sumberdaya dan budaya lokal, teknolog novatf dan peluang pasar, untuk memperkuat ekonom perdesaan dan mengentaskan masyarakat dar kemsknan. Dengan demkan, ketahanan pangan d Indonesa ddefnskan sebaga konds terpenuhnya pangan bag rumah tangga yang tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Berbaga tantangan dan perubahan lngkungan strategs bak secara global maupun nasonal telah mempengaruh pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan tdak saja d Indonesa, tetap juga d hampr semua negara d duna, bak negara maju maupun negara 1

12 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan berkembang. Tantangan dan perubahan lngkungan strategs secara global dtanda oleh pergerakan harga-harga pangan strategs, bak sebaga dampak beranta dar kenakan harga mnyak bum duna, perubahan klm dan pemanasan global, maupun sebaga dampak dar krss fnansal global yang mempengaruh daya bel konsumen mskn, dan menngkatkan kerawanan pangan terutama d negaranegara berkembang. Hal n juga dapat bermplkas terhadap ketahanan pangan dan pencapaan tujuan pembangunan millennium (MDGs) menurunkan jumlah penduduk mskn dan rawan pangan hngga setengahnya pada tahun Serng dengan adanya perubahan fenomena dan dnamka konds global yang mempengaruh stuas dan dnamka nternal d dalam neger, maka dperlukan perubahan pada kebjakan ketahanan pangan, bak secara umum maupun khusus d tngkat pusat dan daerah. Kebjakan tersebut berupa pembentukan kelembagaan ketahanan pangan tngkat daerah sebaga konsekuens dar ketentuan terbaru bahwa ketahanan pangan adalah urusan wajb pemerntah daerah. Selan tu, Indonesa juga telah berupaya untuk mengembangkan kebjakan yang mengarah pada satu sasaran strategs tentang Indonesa Tahan Pangan dan Gz 2015 sebaga konsekuens dar mplementas kebjakan dan kesepakatan pmpnan daerah, Gubernur selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan (DKP) d tngkat provns. Pada dekade mendatang peranan pemerntah pusat dan pemerntah daerah dalam mencapa ketahanan pangan mash sangat pentng, walaupun akhr-akhr n terdapat kecenderungan semakn aktfnya fungs sektor swasta dan kelembagaan pasar. Peran pemerntah pusat pentng dalam menentukan arah kebjakan, strateg yang akan dtempuh, dan sasaran yang akan dcapa menuju tngkat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Ketdakjelasan dan terputusnya herark level polts-strategs, organsas, dan mplementas 2 2

13 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan kebjakan sangat mempengaruh perjalanan serta kualtas ketahanan pangan yang ngn dwujudkan, yang melput dmens ketersedaan, aksesbltas dan stabltas harga, serta utlsas produk pangan. Dengan demkan, kehadran DKP daerah, dmana gubernur dan bupat/walkota selaku Ketua DKP Provns dan Kabupaten/Kota perlu berperan aktf dan kreatf dalam melakukan koordnas dan snkronsas kebjakan ketahanan pangan dan mplementasnya secara harmons yang dapat membantu memperlancar terwujudnya pembangunan ketahanan pangan. Desentralsas ekonom adalah ttk tolak untuk memperbak kerja sama, terutama snerg kebjakan ketahanan pangan antara pemerntah pusat dan pemerntah daerah. Sstem organsas dan enforcement, rasa tanggung jawab pejabat pusat dan daerah juga perlu dtngkatkan, terutama dalam hal tersedanya mekansme pengawasan untuk menetapkan prortas alokas anggaran pusat dan daerah yang dapat mendukung terwujudnya pembangunan ketahanan pangan. Sebaga contoh adalah tersedanya kejelasan pembagan tugas dan tanggung jawab dalam rehabltas nfrastruktur pertanan dan perdesaan, sepert dkenal dengan stlah O&M (operation and maintenance) jarngan rgas, saluran dranase, jalan produks, jalan desa dan tentunya jalan provns, jalan negara, dan lan-lan. Dalam rangka menghadap tantangan perubahan fenomena dan dnamka ketahanan pangan sepert yang telah dkemukakan d atas, dsusun Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) sebaga penyempurnaan dar KUKP Dokumen KUKP n dharapkan dapat menjad acuan atau referens yang berharga bag para perumus dan pelaksana kebjakan d lapangan, pelaku ekonom, serta masyarakat madan pada umumnya dalam menyusun penetapan kebjakan ketahanan pangan pada berbaga tngkat dan terwujudnya pembangunan ketahanan pangan nasonal, daerah dan rumah tangga d masa yang akan datang. 3

14 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Tujuan Tujuan penyusunan Kebjakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) , adalah untuk : 1. Menjad acuan dan common platform bag para stakeholders ketahanan pangan, mula dar nstans pemerntah, sektor swasta, Badan Usaha Mlk Negara (BUMN), perguruan tngg, petan, nelayan, ndustr pengolah, pedagang, penyeda jasa lan dan masyarakat umum dalam peran dan upayanya untuk memberkan kontrbus yang optmal dalam mewujudkan ketahanan pangan. 2. Menjad acuan dasar bag lembaga pemerntah dan pemerntah daerah untuk membangun snerg, ntegras dan koordnas, sehngga palng tdak kedua lembaga dapat salng mengnformaskan kegatan yang dlaksanakan secara transparan, akuntabel dan efektf (good governance), serta secara maksmal dapat mendukung terwujudnya tujuan ketahanan pangan Landasan Hukum Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 mengamanatkan pembangunan pangan untuk memenuh kebutuhan dasar manusa, dan pemerntah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk mewujudkan ketahanan pangan, serta menjelaskan tentang konsep ketahanan pangan, komponen dan phak yang berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Undang-undang tersebut telah djabarkan dalam beberapa peraturan pemerntah (PP) antara lan: (a) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan mengatur tentang ketahanan pangan yang mencakup aspek ketersedaan pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran pemerntah pusat dan daerah 4 4

15 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusa dan kerja sama nternasonal; (b) PP Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembnaan dan pengawasan d bdang label dan klan pangan dalam rangka mencptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (c) PP Nomor 28 Tahun 2004 yang mengatur tentang keamanan, mutu dan gz pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wlayah Indonesa, pengawasan dan pembnaan serta peran serta masyarakat mengena hal-hal d bdang mutu dan gz pangan. Undang-undang Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perkanan yang terkat dengan Ketahanan Pangan, adalah mengena wlayah penangkapan dan pembuddayaan kan yang berfungs sebaga potens sumberdaya pangan. Kebjakan n bertujuan untuk mewujudkan penyedaan kan dalam jumlah yang memada sebaga upaya mencukup gz masyarakat dengan harga yang layak. Berbaga peraran dan Zona Ekonom Eksklusf (ZEE) wlayah Indonesa, yang mengandung berbaga sumberdaya jens kan akan memberkan penngkatan ketahanan pangan dan pemerataan ketersedaan pangan daerah provns, kabupaten/kota sampa pada tngkat rumah tangga, serta menjad sumber pendapatan para nelayan yang juga dapat menngkatkan daya bel untuk memperoleh pangan beragam bergz dan sembang. Undang-undang n secara tegas mengamanatkan snergtas dalam pasal 24 ayat (1), (2) dan (3), bahwa pemerntah mendorong penguatan nla tambah produk hasl pertanan, membatas ekspor bahan baku ndustr pengolahan kan untuk menjamn ketersedaan bahan baku d dalam neger. Hal n berart bahwa strateg d bdang ketahanan pangan dan perkanan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan nasonal guna menngkatkan kesejahteraan petan dan masyarakat pada umumnya. 5

16 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Undang-undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan khususnya pasal 35 ayat (2) menyebutkan bahwa pemerntah dan pemerntah daerah memfasltas pengembangan unt pasca panen produk hewan skala kecl dan menengah. Selan tu, pemerntah juga berkewajban untuk membna penngkatan produks dan konsums proten hewan dalam mewujudkan ketersedaan pangan bergz sembang bag masyarakat dengan tetap menngkatkan kesejahteraan pelaku usaha peternakan, serta mendorong dan memfasltas pengembangan produk hewan yang dtetapkan sebaga bahan pangan pokok strategs dalam mewujudkan ketahanan pangan nasonal (pasal 76 ayat (4)). Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan, menyebutkan bahwa alh fungs lahan pertanan merupakan ancaman terhadap pencapaan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Alh fungs lahan mempunya mplkas yang serus terhadap produks pangan, lngkungan fsk, serta kesejahteraan masyarakat pertanan dan perdesaan yang kehdupannya tergantung pada lahannya. Perlndungan lahan pertanan pangan berkelanjutan merupakan upaya yang tdak terpsahkan dar reforma agrara, yatu penataan yang terkat dengan aspek penguasaan/pemlkan serta aspek penggunaan/pemanfaatan berdasarkan pasal 2 Ketetapan Majels Permusyawaratan Rakyat RI Nomor IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaharuan Agrara dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan merupakan acuan dar berbaga peraturan perundang-undangan yang berkatan dengan pangan. Dalam pekembangannya peraturan perundang-undangan yang berkatan dengan pangan antara lan: 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perndustran (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); 6 6

17 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sstem Buddaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478); 3. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantna Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482); 4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502); 5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecl (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3611); 6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 3612); 7. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asas Manusa; 8. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888; 9. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlndungan Varetas Tanaman (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 241, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412); 10. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4411); 11. Undang-undang Nomor 21Tahun 2004 tentang Pengesahan Cartagena Protocol on Biossafety to The Convention on Biological Diversity (Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayat atas Konvens Keanekaragaman Hayat) (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4414); 7

18 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerntahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagamana telah beberapa kal dubah, terakhr dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); 13. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratfkas Kovenan Internasonal Hak-Hak Ekonom, Sosal dan Budaya (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4557); 14. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (Perjanjan mengena Sumberdaya Genetk Tanaman untuk Pangan dan Pertanan); 15. Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perkanan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5073); 16. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5015); 17. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlndungan dan Pengelolaan Lngkungan Hdup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059; 18. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063); 19. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5068); 8 8

19 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Peraturan Pemerntah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867); 21. Peraturan Pemerntah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4254); 22. Peraturan Pemerntah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gz Pangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4424); 23. Peraturan Pemerntah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayat Produk Rekayasa Genetk (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 498); 24. Peraturan Presden Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan; 25. Peraturan Presden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebjakan Percepatan Penganekaragaman Konsums Pangan Berbass Sumberdaya Lokal. Dsampng mengacu pada berbaga dokumen hukum nasonal tersebut, pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan juga mengacu pada komtmen bangsa Indonesa dalam berbaga kesepakatan duna. Indonesa sebaga salah satu anggota PBB berkomtmen untuk melaksanakan aks-aks mengatas kelaparan, kekurangan gz serta kemsknan duna. Komtmen tersebut antara lan tertuang dalam Deklaras World Food Summit 1996 dan dtegaskan kembal dalam World food Summit: five years later 2002, serta Millenium Development Goals tahun 2000, untuk mengurang angka kemsknan ekstrm dan kerawanan pangan duna sampa setengahnya d tahun Pada ntnya dketahu bahwa pencapaan sasaran tersebut sangat sult dcapa dan perlu ada upaya sungguh-sungguh dar masyarakat duna untuk mencapanya. 9

20 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Beberapa konvens nternasonal yang memuat komtmen bangsa-bangsa d duna termasuk Indonesa terhadap pembangunan d bdang pangan, gz dan kesehatan antara lan adalah : (a) Deklaras Unversal tentang Hak Asas Manusa (Universal Declaration of Human Rights) tahun 1948 yang menyatakan bahwa hak atas pangan adalah bagan yang tdak terpsahkan dar hak asas manusa; (b) Konvens Internasonal tentang ekonom, sosal dan budaya (ECOSOC) tahun 1968, yang mengaku hak setap ndvdu atas kecukupan pangan dan hak dasar (asas) untuk terbebas dar kelaparan; (c) Konvens tentang Hak Anak (International Convention on the Right of Child) yang salah satu temnya menyatakan bahwa negara anggota mengaku hak asas dar setap anak kepada standar kehdupan yang layak bag perkembangan fsk, mental, sprtual, moral dan sosal anak, juga mengaku hak anak untuk mendapatkan gz yang bak. Dar berbaga dokumen hukum serta kesepakatan nasonal maupun nternasonal, maka pemerntah Indonesa menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Peran pemerntah daerah dalam pembangunan ketahanan pangan, datur dalam PP Nomor 3 tahun 2007 tentang pertanggungjawaban gubernur dan bupat/walkota, dmana gubernur dan bupat/walkota wajb melaporkan pembangunan ketahanan pangan d daerahnya. PP Nomor 38 tahun 2007 bahwa ketahanan pangan menjad urusan wajb pemerntah provns dan kabupaten/kota. Berdasarkan kedua peraturan pemerntah tersebut jelas secara tegas bahwa ketahanan pangan menjad urusan wajib bag pemerntah provns dan kabupaten/kota, dan berdasarkan PP Nomor 41 tahun 2007 bahwa perlu ada kelembagaan atau unt kerja yang menangan ketahanan pangan untuk menangannya. Berdasarkan Peraturan Presden Nomor 83 Tahun 2006 tentang DKP, tugas DKP adalah membantu Ketua DKP (presden, 10 10

21 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan gubernur dan bupat/walkota) d pemerntah pusat, pemerntah provns dan kabupaten/kota dalam menyusun dan merumuskan kebjakan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasonal dan wlayah. Sebaga lembaga fungsonal, DKP dapat menjalankan fungs koordnas dengan cara memfasltas kerja sama lntas sektor d tngkat wlayah (provns dan kabupaten/kota) dan nasonal. Tanpa melebh batas kewenangan daerah otonom, serta mash dalam kerangka sstem negara kesatuan, maka pada urusan pangan yang bersfat lntas daerah, pembangunan ketahanan wlayah dan nasonal tdak dapat dlepaskan dar dnamka kehdupan d tngkat lokal, regonal, hngga nasonal. Oleh karena tu koordnas yang efektf akan menngkatkan pemahaman terhadap makna, manfaat, ruang lngkup, serta unsur-unsur yang berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan sebaga plar ketahanan nasonal Ruang Lingkup Mengacu pada pengertan dan landasan hukum d atas, maka ruang lngkup dokumen Kebjakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) mencakup tga plar utama yatu ketersedaan, dstrbus, dan konsums pangan. Pada plar dstrbus dan konsums merupakan penjabaran dar aksesbltas masyarakat terhadap pangan. Jka salah satu plar tersebut tdak dpenuh maka suatu negara belum dapat dkatakan mempunya ketahanan pangan yang bak. Walaupun pangan terseda cukup d tngkat nasonal dan regonal, tetap jka akses ndvdu untuk memenuh kebutuhan pangannya tdak merata, maka ketahanan pangan mash dkatakan rapuh. Akses terhadap pangan, ketersedaan pangan dan resko terhadap akses dan ketersedaan pangan tersebut merupakan determnan yang esensal dalam ketahanan pangan. Aspek kesembangan ketahanan pangan, melput ketersedaan, aksesbltas dan stabltas harga pangan, bak dalam skala rumah 11

22 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan tangga, regonal wlayah dan skala nasonal. Sesua dengan tujuan penyusunan buku n sebaga salah satu acuan bag pemerntah dan seluruh stakeholder dalam pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan, maka secara sstemats akan dsampakan substans dasar dar kebjakan ketahanan pangan yang melput aspek-aspek yang mendukung tercapanya ketahanan pangan yang deal. KUKP n dawal dengan pendahuluan (Bab I) yang antara lan memuat latar belakang, tujuan, landasan hukum, dan ruang lngkup. Bab II mengurakan tentang dnamka konsep ketahanan pangan saat n. Ketahanan pangan mengalam dnamka dan tantangan baru yang semakn kompleks serng dengan beberapa perubahan yang terjad pada tngkat global dan dnamka perkembangan ekonom nasonal. Keragaan ketahanan pangan saat n yang dgambarkan oleh knerja umum ketahanan pangan yang dcapa selama 5 tahun, secara lengkap dtamplkan pada bab III. Pada Bab IV djelaskan tentang bagamana potens (peluang), permasalahan dan tantangan yang dhadap dalam upaya pemantapan ketahanan pangan bak dar ss sumberdaya alam, sumberdaya mansa, keanekaragaman hayat, teknolog, nfrastruktur, stuas pasar komodtas, teknolog, kelembagaan, dan konds budaya masyarakat yang sangat bervaras. Dalam bab n juga dbahas mengena berbaga tantangan dalam upaya penyedaan pangan strategs dan pangan pentng serta dampak krss ekonom yang berkepanjangan dserta dengan tuntutan lngkungan strategs bak domestk maupun nternasonal. Bab V secara rnc membahas substans butr-butr kebjakan umum ketahanan pangan yang terdr dar 18 elemen pentng yang dharapkan menjad panduan bag pemerntah, swasta dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan d tngkat rumah tangga, tngkat wlayah dan tngkat nasonal

23 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Pada Bab VI dtamplkan matrks Rencana Aks Ketahanan Pangan Tahun yang menjabarkan secara rnc tujuan kebjakan, program kegatan, lembaga/nstans penanggung jawab dar setap elemen kebjakan, dan ndkator keberhaslan (output). Matrks tersebut dharapkan dapat menjad panduan bag para stakeholders yang berkontrbus dalam pembangunan ketahanan pangan. Sebaga penutup Bab VII menjelaskan harapan agar KUKP n dapat menjad acuan bag seluruh stakeholders ketahanan pangan dalam melaksanakan peran dan memberkan kontrbusnya untuk pemantapan ketahanan pangan bak d tngkat nasonal maupun wlayah Proses Penyusunan Penyusunan dokumen KUKP dmula dengan menugaskan Kelompok Kerja (Pokja) Ahl DKP untuk merumuskan de-de dasar dar pembangunan ketahanan pangan. Proses penyusunan konsep awal KUKP n dlakukan melalu peneltan, stud pustaka, dskus nternal dengan Tm Asstens dan Kelompok Kerja Khusus (Pokjasus) Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat DKP. Pokjasus memberkan masukan yang sgnfkan ke dalam KUKP n dengan saran tertuls yang sangat krts dan berharga. Konsep awal KUKP , kemudan dsemnarkan dan dbahas berkal-kal dalam berbaga dskus publk, mula dar pengenalan, perumusan, dentfkas masalah, prortsas kebjakan, langkah aks, sampa ada pembagan tugas dan tanggung jawab stakeholders. Dskus publk telah melbatkan unsur lembaga pemerntah, perguruan tngg, swasta, organsas profes, lembaga swadaya masyarakat, dan organsas kemasyarakatan lannya. Untuk mengolah kembal saran dan masukan dar peserta dskus, dbentuk Tm Ad Hoc penyusunan KUKP yang lebh lengkap. Tahap terakhr proses n adalah dskus nternal 13

24 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan nstans pemerntah dalam wadah rapat koordnas Dewan Ketahanan Pangan. Hasl dar pembahasan tersebut telah dmasukkan kedalam website Kementan untuk mendapatkan masukan dar publk, sebelum dfnalkan menjad dokumen resm yang dkeluarkan melalu Dewan Ketahanan Pangan

25 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan BAB II DINAMIKA KONSEP KETAHANAN PANGAN 2.1. Konsep Global Ketahanan Pangan Ketahanan pangan yang merupakan terjemahan dar food security mencakup banyak aspek dan luas, sehngga setap orang mencoba menerjemahkan sesua dengan konds dan stuas yang berkembang pada perode jamannya. Ketahanan pangan dnterpretaskan dengan banyak cara, sehngga pemakaan stlah ketahanan pangan tu sendr telah menmbulkan perdebatan. Pada tahun an, ketka Perang Duna II (PD II) baru usa, setap negara, bahkan negara maju dan pemenang PD II pun harus memkrkan pangan rakyatnya setelah beberapa tahun dtnggalkan untuk menyapkan dan berkonsentras pada perang duna yang sedang dhadap tersebut. Dengan konds sepert n tdak heran apabla pada perode tersebut, pengertan ketahanan pangan lebh menekankan perhatannya pada ketersedaan pangan, bak pada tngkat nasonal maupun tngkat global darpada tngkat rumah tangga. Apalag pada tahun 1970-an terjad krss pangan d Afrka karena gagal panen yang dsebabkan karena kekerngan maupun perluasan penggurunan. Keadaan n mendorong negara-negara donor dan masyarakat nternasonal untuk semakn memberkan perhatan pada penyedaan pangan secara global dan nasonal. Pemahaman ketahanan pangan sepert n mendapatkan legtmasnya dalam Konferens Pangan Duna tahun 1974 yang dselenggarakan oleh Badan Perserkatan Bangsa-bangsa (PBB) Food and Agriculture Organization (FAO). Kedaulatan pangan menuntut hak rakyat atas pangan, yang menurut FAO merupakan hak untuk memlk pangan secara teratur, permanen dan bsa mendapatkannya secara bebas, bak secara cumacuma maupun membel dengan jumlah dan mutu yang mencukup, serta cocok dengan trads kebudayaan rakyat yang 15 15

26 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan mengkonsumsnya. Menjamn pemenuhan hak rakyat untuk menjalan hdup yang bebas dar rasa takut dan bermartabat, bak secara fsk maupun mental, serta secara ndvdu maupun kolektf. Kenyataannya, kelaparan sebaga ndkas tndasan terhadap hak atas pangan mash berlangsung dmana-mana bahkan bertambah buruk saja. Inda neger dengan jumlah penderta kelaparan tertngg d duna, dsusul oleh Chna. Sektar 60 persen dar total penderta kelaparan d seluruh duna berada d Asa dan Pasfk, dkut oleh neger-neger Sub-Sahara dan Afrka sebesar 24 persen serta Amerka Latn dan Karba sebesar 6 persen. Setap tahun orang yang menderta kelaparan bertambah 5,4 juta. Juga setap tahunnya 36 juta rakyat mat karena kelaparan dan gz buruk, bak secara langsung maupun tdak langsung. Dalam usaha mengatas masalah kelaparan dan akses pangan, PBB melalu FAO memperkenalkan stlah ketahanan pangan dengan harapan adanya persedaan pangan setap saat, dmana semua orang dapat mengaksesnya dengan bebas dengan jumlah, mutu dan jens nutrs yang mencukup serta dapat dterma secara budaya. Keterbatasan pemahaman ketahanan pangan sebaga ketersedaan pangan pada tngkat nasonal dan global sepert d atas mendapatkan pencerahannya ketka terjad krss pangan, yang sekal lag terjad d Afrka pada pertengahan tahun 1980-an, dmana secara global ketersedaan pangan cukup untuk memenuh seluruh penduduk duna. Hal n menunjukkan bahwa konds ketersedaan pangan yang cukup pada tngkat nasonal dan global tdak secara otomats menunjukkan konds ketahanan pangan pada tngkat ndvdu maupun rumah tangga. Para pakar dan prakts pembangunan kemudan menyadar bahwa kerawanan pangan bsa terjad dalam konds dmana ketersedaan pangan cukup tetap kemampuan memperoleh pangannya tdak cukup. Teor Sen tentang food entitlement memperoleh pengaruh yang sangat luas dan membawa perubahan 16 16

27 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan pemkran dalam pemahaman konsep ketahanan pangan. Food entitlement rumah tangga dperoleh bak dar produks sendr, pendapatan yang dtermanya, atau mengumpulkan pangan dar sumberdaya alam yang ada, dukungan dan bantuan dar masyarakat, aset sendr maupun ketka mereka melakukan mgras untuk dapat memperoleh pangan yang lebh bak. Dengan demkan, konds sosal dan varabel ekonom rumah tangga memlk pengaruh yang besar kepada rumah tangga dalam memperoleh pangan. Memburuknya konds kerawanan pangan dapat dpandang sebaga proses perubahan jangka panjang dmana korbannya tdak secara pasrah menerma keadaan tersebut, tetap memang keadaanlah yang menyebabkan mereka mengalam konds yang semakn buruk. Para pakar anthropolog berpendapat bahwa populas yang rentan terhadap kerawanan pangan sesungguhnya menunjukkan upaya-upaya untuk mengatas masalah gangguan secara ekonom, sehngga memberkan pemahaman tentang perlaku (behavioural) rumah tangga dalam merespon masalah tersebut dan bagamana mereka menghadap (coping mechanism) keadaan krss pangan. Pada akhr tahun 1990-an, lembaga donor, pemerntah, dan LSM mula mengumpulkan nformas dan varabel sosal ekonom d dalam menganalss kerawanan pangan. Pendekatan ketahanan pangan rumah tangga yang mula berkembang pada tahun 1980-an menekankan bak ketersedaan maupun akses yang stabl terhadap pangan. Dengan demkan, pemahaman ketahanan pangan pada perode n mula menekankan dua aspek pentng dalam ketahanan pangan, yatu ketahanan pangan dalam art ketersedaan pangan pada tngkat nasonal (dan regonal) maupun akses yang stabl pada tngkat lokal. Hal-hal lan yang menjad perhatan adalah berkenaan dengan pemahaman pangan sebaga satu sstem (food system), sstem produks, dan faktor-faktor lan yang dapat mempengaruh komposs dar ketersedaan pangan serta akses rumah tangga terhadap 17

28 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan ketersedaan pangan tersebut secara terus menerus. Sekal lag, perubahan pemahaman ketahanan pangan dengan menekankan aspek aksesbltas pada tngkatan rumah tangga mendapatkan legtmasnya pada Konferens Pangan Tngkat Tngg tahun 1996, yang dselenggarakan oleh FAO, dengan memberkan pengertan baru berkenaan dengan ketahanan pangan, yatu food security exists when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs and food preferences for an active and healthy life. Hal lan yang juga belum begtu jelas hubungannya adalah bagamana dampak nutrs dapat dntegraskan kedalam pemahaman ketahanan pangan. Rset-rset tentang gz buruk (malnutrs) menunjukkan bahwa pangan hanyalah salah satu faktor penyebab gz buruk. Faktor-faktor lan yang memlk dampak kepada gz buruk antara lan adalah konsums dan kompossnya (dietary intake and diversity), kesehatan dan penyakt, serta perawatan bu dan anak (maternal and child care), sehngga dapat dsmpulkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga merupakan prasyarat untuk ketahanan gz, tetap belum cukup untuk menjamn ketahanan gz. Para pakar menunjukkan bahwa ada dua proses utama yang dapat mewujudkan ketahanan gz, yang pertama menentukan akses dar rumah tangga terhadap pangan bag seluruh anggota rumah tangganya, dan yang kedua menunjukkan bagamana pangan yang telah dperoleh tersebut dtransmskan menjad kecukupan nutrs bag setap anggota rumah tangga (World Bank, 1989). Proses yang kedua menentukan dan berasal dar bdang kesehatan, lngkungan, budaya dan perlaku yang dapat memberkan dampak postf bag kecukupan gz dar pangan yang dkonsumsnya. Proses yang pertama dsebut jalur ketersedaan dan akses, sedangkan jalur kedua dsebut jalur konsums dan gz. Pemahaman kerawanan pangan sepert d atas, telah merubah pemahaman ketahanan pangan rumah tangga dar 18 18

29 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan sekedar kemampuan/akses pangan rumah tangga dan sstem pangan, menjad perluasan pemahaman tentang dampak dar kesehatan/ penyakt, santas lngkungan, daya dukung (carrying capacity), kualtas dan komposs konsums sehngga dapat memberkan dampak gz yang cukup. Rset yang dlakukan pada akhr 1980-an dan awal 1990-an menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan gz sebagamana pemahaman yang ada memerlukan pengembangan yang lebh komprehensf. Hasl-hasl rset tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan hanyalah merupakan salah satu tujuan rumah tangga mskn; kecukupan pangan hanyalah salah satu faktor yang menentukan bagamana rumah tangga mskn menentukan pengamblan keputusannya dan bagamana mereka mampu menyebar berbaga resko sehngga akhrnya mereka mampu menyembangkan berbaga tujuan agar tetap hdup bak dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Beberapa kelompok mungkn berseda untuk menahan lapar agar asetnya mash dapat dpertahankan atau untuk memenuh kehdupan yang lebh jangka panjang. Oleh karena tu, menempatkan ketahanan pangan sebaga satu-satunya kebutuhan yang fundamental mungkn akan memberkan kesmpulan yang salah, apabla tanpa memperhatkan kebutuhan-kebutuhan lannya Dinamika Konsep Ketahanan Pangan Nasional Setap pemerntahan suatu negara mempunya kewajban memenuh hak masyarakat atas pangan. Sejarah perekonoman pangan Negara Kesatuan Republk Indonesa (NKRI) mencatat dengan jelas bahwa para pmpnan negara secara konssten meletakkan ekonom pangan sebaga sesuatu hal yang sangat strategs. Presden RI pertama, Ir. Soekarno menyadar betul pentngnya penyedaan pangan bag kelangsungan kehdupan bangsanya. Pada tanggal 27 Aprl 1952, saat acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanan 19

30 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Unverstas Indonesa d Bogor, Presden Soekarno menyatakan bahwa: apa yang saya hendak katakan itu, adalah amat penting, bahwa mengenai soal mati-hidupnya bangsa kita di kemudian hari oleh karena itu, soal yang hendak saya bicarakan itu mengenai soal persediaan makan rakyat. Pandangan dan pola pkr sepert n mash danut oleh Presden RI kedua Soeharto. Hal In terbukt bahwa 21 tahun kemudan, pada 11 Me 1973, dalam salah satu acara kunjungan kerja d Yogyakarta, Presden Soeharto waktu tu mengemukakan:. jadi kalau kita akan mengatasi kekurangan beras itu dengan mengimpor, bilamana kemungkinan devisa itu ada, keadaan di duniapun juga tidak mengijinkan kita. Selanjutnya Presden Soeharto mengemukakan Kita harus menghasilkan sendiri bahanbahan pangan khususnya beras dalam jumlah yang kita telah ketahui agar kestabilan dari pada harga beras itu betul-betul akan terjamin. Pada bagan lan Presden Soeharto berujar.kalau kita simpulkan keseluruhannya jelas daripada harga beras yang tidak bisa dikendalikan, stabilitas nasional akan terganggu... (Sawt dkk, 2002). Dalam pdato Presden Soeharto n, dengan sangat jelas pangan tu dartkan sebaga beras. Implementas dar pandangan kedua pmpnan termasuk dmula pada dekade tahun 1960-an pemerntah berupaya keras menngkatkan produks pad nasonal dalam rangka mewujudkan Swasembada Beras, dan mengatas krss (kelangkaan) beras yang terjad saat tu. Program besar n dawal dengan suatu program Action Research oleh Lembaga Pengabdan Masyarakat Fakultas Pertanan Unverstas Indonesa (IPB-belum terbentuk), dengan tujuan mengajak para petan pad agar berseda menggunakan lmu pengetahuan dan menerapkan teknolog produks pad modern dalam mengelola usaha pertanannya. Mengubah pertanan tradsonal menjad pertanan modern merupakan perjuangan panjang. Program 20 20

31 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Action Research dlaksanakan dalam bentuk Proyek Panca Usaha Karawang, d atas hamparan lahan sawah seluas 100 hektar tersebar d tga desa dengan konds tata ar dan ragam perlaku petan yang berbeda. Pelaksana lapangan juga harus menghadap petan yang memlk phoba terhadap pendatang (orang asng). Untuk mengawal pelaksanaan transfer teknolog kepada para petan, Fakultas Pertanan melakukan pembmbngan dan pendampngan secara terus-menerus dengan menempatkan para mahasswa untuk tnggal dan hdup bersama para petan bnaannya. Program penerapan lmu pengetahuan dan teknolog d atas hamparan sawah seluas 100 hektar berlangsung sangat sukses. Keberhaslan tersebut kemudan dperluas ke seluruh Indonesa secara bertahap dalam bentuk program BIMAS (Bmbngan Massal) dengan melbatkan seluruh Fakultas Pertanan d Indonesa melalu Program KKN (Kulah Kerja Nyata). BIMAS dkembangkan lebh lanjut menjad Program INMAS (Intensfkas Massal) serng dengan keberhaslan para penelt menghaslkan varetas pad unggul dan upaya untuk melakukan ntroduks teknolog revolus hjau. Upaya n membuahkan hasl dengan tercapanya swasembada beras pada tahun Pada masa reformas, yang dmula dar pemerntahan Presden B.J. Habbe, Presden Abdurrahman Wahd dan Presden Megawat Soekarnoputer, su pangan dan beras tetap menjad prortas. Dalam masa-masa pemerntahan tersebut, yang dcrkan oleh adanya krss ekonom yang cukup berat, swasembada beras tetap menjad sasaran utama kebjakan pangan. Pada perode tersebut, untuk merespon menurunnya produks beras domestk karena krss ekonom dan anomal klm (kemarau panjang), pemerntah berkal-kal dalam waktu relatf sngkat menakkan harga dasar gabah, mengeluarkan kebjakan nsentf berproduks dan membuka lebar pasar domestk bag beras mpor. 21

32 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Pada era n program swasembada ala BIMAS dan INMAS dkemas dan dperluas cakupannya dalam bentuk GEMA (Gerakan Mandr) untuk gerakan swasembada pad, jagung dan kedele (PALAGUNG), swasembada proten hewan (PROTEINA), dan swasebada hortkultura (HORTINA). Untuk mengawal keberhaslan GEMA, sebagamana program BIMAS dan INMAS, pemerntah menyedakan tenaga pendampng dar perguruan tngg d Indonesa yang dkoordnaskan oleh Insttut Pertanan Bogor (IPB) dan mengalokaskan anggaran APBN yang sangat besar untuk menyedakan kredt bag petan (Kredt Usaha Tan). Memang upaya n belum mampu dalam jangka pendek menghaslkan hasl-hasl sepert yang dharapkan, tetap beberapa waktu kemudan, pemerntah mampu melakukan larangan mpor, tdak hanya pada waktu-waktu tertentu (masa panen raya) saja, bahkan selama setahun penuh pada tahun Pada era Presden Suslo Bambang Yudhoyono, flosof kebjakan umum perberasan pada ntnya tetap sama dengan era pemerntahan sebelumnya, dengan varas pada tataran kebjakan operasonalnya. Penegasan skap n dtanda dengan pencanangan Revtalsas Pertanan, Perkanan dan Kehutanan (RPPK) oleh Presden RI tanggal 11 Jun 2005 d Waduk Jatluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Tujuan RPPK adalah membangun ketahanan pangan dengan: (a) mengoptmalkan pemanfaatan dan menngkatkan kapastas sumberdaya pertanan; (b) menngkatan daya sang, produktvtas, nla tambah dan kemandran produks dan dstrbus; dan (c) melestarkan lngkungan hdup dan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Sepert halnya pada awal reformas, kengnan untuk mengulang swasembada juga menjad mpan pemerntah dengan mengembangkan program Penngkatan Produks Beras Nasonal (P2BN), bahkan juga dperluas dengan upaya pencapaan swasembada jagung, kedela, gula, dan dagng sap, yang juga merupakan sumber proten hewan

33 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Pada tahun 2008 swasembada beras kembal drah, setelah tahun Hal n merupakan wujud dar keberhaslan menngkatkan produktvtas pad hngga lebh dua kal lpat, dar 2,42 ton per hektar pada tahun 1969 menjad 4,88 ton per hektar pada tahun Keberhaslan penngkatan produktvtas pad erat katannya dengan penerapan teknolog produks sepert varetas pad baru, manajemen usahatan sepert Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), pemberan nsentf berproduks sepert subsd nput (benh, pupuk, modal kerja), jamnan harga gabah/beras, dan perlndungan perdagangan nternasonal. Dalam perkembangan upaya pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan, sejauh n masyarakat sudah mula memaham pentngnya mewujudkan ketahanan pangan dengan memperkokoh plar-plar ketahanan pangan dalam penyedaan pangan yang cukup bag rumah tangganya. Kesadaran masyarakat n terlhat dengan terbentuknya lumbung-lumbung pangan bak d tngkat kelompok maupun d tngkat rumah tangga, sebaga upaya dalam penanganan masalah ketahanan pangan. Beberapa program pemerntah yang semakn luas dan lebh memprortaskan kesejahteraan masyarakat, antara lan adalah dengan: (a) membangun ekonom berbass pertanan dan perdesaan untuk menngkatkan produks pangan pertanan, menyedakan lapangan kerja dan pendapatan, melalu Program P2BN serta CSR; dan (b) memenuh pangan bag kelompok masyarakat mskn dan rawan pangan melalu pemberan bantuan langsung pangan dan pemberdayaan masyarakat, sepert PNPM, PUAP, Desa Saga, Desa Mandr Energ; kemandran pangan masyarakat dalam bentuk gerakan Desa Mandr Pangan; penanganan kerawanan pangan transen; percepatan penganekaragaman konsums pangan; keamanan pangan; dan program-program terkat lannya

34 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlndungan Lahan Pertanan Pangan Berkelanjutan (PLPPB) mendefnskan: - ketahanan pangan adalah konds terpenuhnya bak pangan bag rumah tangga yang tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. - kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandr dapat menentukan kebjakan pangannya yang menjamn hak atas pangan bag rakyatnya, serta memberkan hak bag masyarakatnya untuk menentukan sstem pertanan pangan yang sesua dengan potens sumberdaya lokal. - kemandirian pangan adalah kemampuan produks pangan dalam neger yang ddukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamn pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup d tngkat rumah tangga, bak dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang ddukung oleh sumbersumber pangan yang beragam sesua dengan keragaman lokal. Dar pengertan tersebut jelas bahwa konds terpenuhnya pangan bag rumah tangga tercermn dar tersedanya pangan yang cukup, bak jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau, artnya bahwa substans PLPPB dmaksudkan untuk memperkuat ketersedaan pangan sampa pada tngkat rumah tangga. Hal n dapat dtunjukkan dengan upaya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan adalah untuk kesejahteraan rakyat yang pentng untuk drealsaskan dalam memenuh hak negara dan bangsa yang secara mandr dapat menentukan kebjakan pangannya yang menjamn hak atas pangan bag masyarakatnya, serta memberkan hak bag masyarakatnya untuk menentukan sstem pertanan pangan sesua dengan potens sumberdaya lokal. Satu hal yang menjad catatan pentng, bahwa PLPPB secara sstem merupakan pencermnan snergtas dar proses perkembangan ketahanan pangan tu sendr, karena kemandran pangan adalah kemampuan produks pangan dalam neger yang ddukung kelembagaan ketahanan pangan yang 24 24

35 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan mampu menjamn pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup d tngkat rumah tangga, bak dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang ddukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesua dengan keragaman lokal. Dalam rancangan RPJM , arah kebjakan dan strateg Kementeran Pertanan mengacu kepada 11 (sebelas) prortas kebjakan dan strateg nasonal. Dar 11 (sebelas) prortas nasonal tersebut, yang terkat dengan Kementeran Pertanan adalah prortas nomor 5 yatu ketahanan pangan. Yang dmaksud dengan prortas ketahanan pangan adalah penngkatan ketahanan pangan dan lanjutan revtalsas pertanan untuk mewujudkan kemandran pangan, penngkatan daya sang produk pertanan, penngkatan pendapatan petan, serta kelestaran lngkungan dan sumberdaya alam. Secara nasonal, target pertumbuhan ekonom rata-rata 6,3-6,8 persen, mencapa 7 persen pada tahun 2013 dan mnmal 7 persen pada tahun 2014, dengan nflas rata-rata 4-6 persen, pengangguran 5-6 persen pada tahun 2014, dan kemsknan 8-10 persen pada tahun Penngkatan pertumbuhan Pendapatan Domestk Bruto (PDB) sektor pertanan sebesar 3,7 persen dan ndeks Nla Tukar Petan (NTP) sebesar pada tahun Dalam arah kebjakan dan strateg nasonal, prortas ketahanan pangan memlk 6 (enam) substans utama, yatu: (a) lahan, pengembangan kawasan dan tata ruang pertanan dlaksanakan dengan penataan regulas untuk menjamn kepastan hukum atas lahan pertanan, pengembangan areal pertanan baru seluas dua juta hektar, dan penertban dan optmalsas penggunaan lahan terlantar; (b) nfrastruktur dlaksanakan melalu pembangunan dan pemelharaan sarana transportas dan angkutan, jarngan lstrk serta teknolog komunkas dan sstem nformas nasonal yang melayan daerahdaerah sentra produks pertanan dem penngkatan kuanttas dan kualtas produks serta kemampuan pemasarannya; (c) peneltan dan 25

36 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan pengembangan bdang pertanan, dalam kemampuan mencptakan benh unggul dan peneltannya; (d) nvestas pangan pertanan dan ndustr perdesaan berbass pangan lokal, penyedaan pembayaan dan subsd yang menjamn ketersedaan benh unggul, pupuk, teknolog dan sarana pasca panen yang tepat waktu, tepat jumlah dan terjangkau; (e) penngkatan kualtas gz dan keanekaragaman pangan melalu Pola Pangan Harapan (PPH); dan (f) pengamblan langkah konkrt terkat adaptas dan antspas sstem pangan dan pertanan terhadap perubahan klm. Dsampng prortas nomor 5 ketahanan pangan, Kementeran Pertanan juga mendapat amanah untuk terlbat dalam pelaksanaan prortas nomor 1: Reformas Brokras dan Tata Kelola, nomor 8: Energ dan nomor 9: Lngkungan Hdup dan Pengelolaan Bencana. Dengan demkan pembangunan pertanan utamanya adalah penngkatan ketahanan pangan dan revtalsas pertanan, perkanan dan kehutanan. Ada 4 target/sasaran utama kebjakan Kementeran Pertanan, yatu: (a) pemantapan swasembada beras, jagung, dagng ayam, telur, dan gula konsums melalu penngkatan produks berkelanjutan, dan pencapaan swasembada kedela, dagng sap dan gula ndustr secara berkelanjutan; (b) pengembangan penganekaragaman pangan dan pembangunan lumbung pangan masyarakat untuk mengatas rawan pangan dan stablsas harga d sentra produks; (c) penngkatan nla tambah dan daya sang ekspor; dan (d) penngkatan kesejahteraan petan. Dalam menjalankan tugas pelaksanaan pembangunan pertanan d Indonesa, strateg yang akan dkembangkan oleh Kementeran Pertanan selama perode adalah 7 (tujuh) gema revtalsas, yatu: (a) revtalsas lahan; (b) revtalsas perbenhan dan pembbtan; (c) revtalsas nfrastruktur dan sarana; (d) revtalsas sumber daya manusa; (e) revtalsas pembayaan petan; (f) revtalsas kelembagaan petan; dan (f) revtalsas teknolog dan ndustr hlr

37 BAB III KERAGAAN KETAHANAN PANGAN TAHUN Knerja umum ketahanan pangan selama perode menunjukkan kecenderungan yang lebh bak dar tahun-tahun sebelumnya. Hal n dtanda oleh berbaga keberhaslan Indonesa dalam mewujudkan ketahanan pangan pada saat terjadnya krss secara global akhr-akhr n. D tengah turunnya produks pangan pokok strategs duna sejak tahun 2007 hngga semester I tahun 2009 akbat terjadnya berbaga perubahan klm yang tdak menentu sepert kekerngan hebat d Australa dan beberapa negara Amerka Latn, Indonesa justru mengalam pertumbuhan produks pangan pokok yang menngkat secara sgnfkan dar tahun 2004 hngga tahun 2009 khususnya pada komodt pad, jagung, dan gula tebu. Pencapaan angka produks tersebut merupakan angka tertngg yang pernah dcapa selama n, sehngga akhrnya Indonesa kembal dapat mencapa swasembada beras, jagung, dan gula konsums pada tahun 2008 sepert yang pernah dcapa pada tahun-tahun sebelumnya. Pencapaan Indonesa dalam penngkatan produks pangan pokok tersebut tdak terlepas dar keberhaslan pemerntah dalam membuat kebjakan dan program-program yang telah dlaksanakan secara terpadu dengan melbatkan berbaga stakeholder ketahanan pangan (Kementan, 2009). Kebjakan dan program pemerntah tersebut dantaranya penetapan harga, pengendalan mpor, subsd pupuk dan benh, bantuan benh grats, penyedaan modal, akseleras penerapan novas teknolog dan penyuluhan. Hal tu memotvas petan/pelaku usaha pertanan untuk menngkatkan produksnya. Selan keberhaslan dalam penngkatan produks pangan pokok, Indonesa juga telah berhasl dalam menjaga stabltas harga d dalam neger. Pada saat harga pangan pokok strategs d pasar 27 27

38 nternasonal tdak stabl dan berfluktuas akbat menurunnya produks pangan strategs duna. Fluktuas harga pangan d pasar nternasonal juga mempengaruh fluktuas harga pangan d dalam neger. Namun demkan, harga pangan d dalam neger khususnya beras cenderung lebh stabl darpada harga pangan d pasar nternasonal (Grafik 3.1 dan 3.2). Stablsas harga pangan pokok strategs d pasar dalam neger n tdak terlepas dar knerja pemerntah yang cukup bak dalam merespon adanya krss ekonom, bahan bakar mnyak, dan pangan yang terjad secara global. Respon pemerntah tersebut dantaranya: (a) Kebjakan Harga Pembelan Pemerntah (HPP) untuk pembelan gabah dan beras; (b) Kebjakan pengadaan cadangan pangan pemerntah yang dlaksanakan oleh Perum Bulog; dan (c) Kebjakan pembelan gabah/beras saat panen raya. Stablsas harga pangan pokok strategs khususnya beras, jagung, dan gula juga terwujud karena adanya kebjakan pemerntah yang mendukung penngkatan produks dan produktvtas serta proteks perdagangan pangan pokok strategs domestk dar produk pangan dar luar neger. Grafik 3.1. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategs d Pasar Dalam Neger tahun ,000 10,000 Harga (Rp/Kg) 8,000 6,000 4,000 2, Harga Riil Beras (Rp/Kg) Harga Riil Minyak Goreng (Rp/Kg) Harga Riil Daging Ayam (Rp/Kg) Harga Riil Jagung (Rp/Kg) Harga Riil Gula Pasir (Rp/Kg) Sumber : Kementeran Perdagangan (Dolah BKP) 28 28

39 Grafik 3.2. Perkembangan Harga Pangan Pokok Strategis di Pasar Internasional Tahun ,100 14,100 Beras Thai 5% Kedelai Rotterdam Gula (Contract No. 5, London) Jagung US Gulf Ports CPO (Malaysia) Harga (USD/ton) 12,100 10,100 8,100 6,100 4,100 2, Jan-07 Mar-07 Sumber : World Bank (Diolah BKP) May-07 Jul-07 Sep-07 Nov-07 Jan-08 Mar-08 May-08 Jul-08 Sep-08 Nov-08 Jan-09 Mar-09 May-09 Jul-09 Sep-09 Nov-09 Sumber: Worldbank Krisis ekonomi, bahan bakar minyak, dan pangan secara global tidak hanya mempengaruhi turunnya produksi pangan pokok dunia dan stabilitas harga pangan di pasar internasional, tetapi juga telah mengakibatkan pencapaian penurunan angka kemiskinan menjadi lebih sulit. Berdasarkan data yang diperoleh dari The World Bank, United Nations (2009), angka kemiskinan di dunia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kemiskinan yang ekstrim sejak tahun 1990 hingga tahun 2005 cenderung berkurang setiap tahunnya. Sepanjang periode tersebut, jumlah penduduk miskin yang memiliki pendapatan kurang dari $1,25 per hari menurun dari 1,80 juta menjadi 1,40 juta. Pada tahun 2009, diperkirakan terdapat 55 juta sampai dengan 90 juta penduduk dunia yang akan hidup dalam kemiskinan yang ekstrim dibandingkan dengan apa yang diharapkan sebelumnya. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Roma dikemukakan oleh FAO bahwa jumlah penduduk miskin tahun 2009 mencapai satu milyar orang. 29

40 Sedangkan angka kelaparan yang sebelumnya telah menurun sejak tahun 1990, kembal menngkat sejak tahun 2008 karena adanya kenakan harga pangan. Kecenderungan penduduk duna yang mengalam kelaparan d negara berkembang saat n mengalam penngkatan dar 16 persen d tahun 2006 menjad 17 persen d tahun Hal n menunjukkan bahwa penurunan harga pangan duna pada pertengahan tahun 2008 tdak berpengaruh terhadap daya bel seluruh penduduk duna. Pada saat kemsknan dan kelaparan d duna mengalam penngkatan, angka kemsknan dan kerawanan pangan d Indonesa cenderung semakn turun setap tahunnya. Keberhaslan Indonesa dalam menurunkan jumlah penduduk mskn dan rawan pangan tdak terlepas dar upaya dan komtmen pemerntah untuk kut merealsaskan kesepakatan yang tercantum dalam Millenium Development Goals (MDGs) tahun Komtmen tersebut dlaksanakan melalu program-program pemberdayaan masyarakat mskn dan organsas kelompok masyarakat d daerah rawan pangan, sepert pengembangan PNPM Mandr, PUAP, Desa Mandr Pangan, pengembangan Partspas Masyarakat d Daerah Lahan Kerng (PIDRA), pengembangan usaha mkro, serta penngkatan akses masyarakat adat/penduduk asl dan komuntasnya terhadap kegatankegatan ekonom dengan memperhatkan hakekat hdup mereka yang selama n selalu bergantung pada ekosstem alam dmana mereka hdup dan bekerja. Namun demkan, dsampng keberhaslan-keberhaslan yang telah dcapa dalam mewujudkan ketahanan pangan, Indonesa mash menghadap berbaga permasalahan dan tantangan yang mash harus dwaspada untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan mencapa salah satu target MDGs, yatu mengurang kemsknan dan kerawanan pangan setengahnya pada tahun 2015, atau palng tdak mempertahankan knerja ketahanan pangan yang telah dcapa pada 30 30

41 tahun Permasalahan yang dhadap Indonesa salah satunya adalah jumlah penduduk yang cenderung terus menngkat setap tahunnya dan dapat mengakbatkan terjadnya kompets dalam pemanfaatan lahan untuk lahan usaha, pemukman penduduk, dan pembangunan sarana dan prasarana publk. Pemanfaatan lahan yang tdak terkendal dapat mempengaruh terjadnya degradas lngkungan dan akhrnya dapat mengancam kebutuhan pangan umat manusa atau krss pangan. Penngkatan jumlah penduduk apabla dserta dengan menngkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pangan yang berkualtas akan menngkatkan permntaan bahan pangan bak dalam jumlah, mutu, dan keragaman. Pada ss lan menurunnya kualtas lahan untuk pertanan dapat mengakbatkan berkurangnya kemampuan domestk untuk memenuh kebutuhan pangan dalam neger dan menngkatnya ketergantungan terhadap produk pangan dar mpor. Hal n dapat mengakbatkan ketahanan pangan Indonesa menjad semakn rentan karena mash tergantung dar kebjakan negara lan. Dengan mengacu pada keberhaslan yang telah dcapa dan permasalahan yang mash dhadap oleh Indonesa, mash dperlukan adanya berbaga kebjakan pemerntah yang kondusf dalam mewujudkan pembangunan ketahanan pangan Ketersediaan Pangan Produksi Konds klm yang tdak menentu akbat pemanasan global telah mengakbatkan menurunnya produks pangan pentng d duna, antara lan d beberapa negara d Afrka bagan Barat (Ngera dan Chad), Afrka bagan Tmur (Somala, Kenya, Ertrea, Ethopa, Sudan dan Uganda), Afrka bagan Selatan (Zmbabwe, Malaw, Mozambque, Madagascar, Swazland, Lesotho, dan Angola), 31

42 Democratic Republic of the Congo, Burund, Flpna, Myanmar, Srlanka, Pakstan, Bangladesh, Nepal, Afganstan, serta Amerka Tengah dan Karba. Selan akbat konds klm yang tdak menentu, penurunan produks pangan dperparah dengan adanya konflk warga spl yang terus berkelanjutan terutama d negara Somala dan Sudan. Konds n tergambar pada produks pangan pokok duna tahun 2009/2010 sepert beras, gandum, dan sereal yang turun masngmasng 1,9 persen; 0,4 persen; dan 2,0 persen dbandngkan dengan tahun 2008/2009 yatu masng-masng sebesar 459,6 juta; 681,4 juta; dan 2.284,1 juta ton (FAO, 2009). Namun d Indonesa, pada perode , sebagan besar produks pangan pokok mengalam penngkatan, yatu pad, jagung, kedela, ub kayu, ub jalar, sayur, buah-buahan, mnyak sawt (CPO), gula puth, telur, susu, dan kan. Sedangkan produks pangan pentng yang mengalam penurunan adalah kacang tanah, dagng sap dan kerbau serta dagng ayam. Untuk pangan nabat, penngkatan pertumbuhan yang cukup besar berturut-turut terdapat pada produks jagung yang nak dengan rata-rata 8,49 persen per tahun dan gula puth 6,88 persen per tahun. Sedangkan penngkatan pertumbuhan yang cukup tngg pada pangan hewan terdapat pada produks telur yang mencapa kenakan rata-rata 9 persen per tahun serta susu yang nak 6,5 persen per tahun (Tabel 3.1)

43 Tabel 3.1. Perkembangan Produks Beberapa Komodtas Pangan Komoditas Produksi (ton) Pertumb (%) Pertumb (%) I. Pangan Nabati 1. Pad ,69 3,78 2. Jagung ,49 7,45 3. Kedela ,43 21,55 4. Kc Tanah ,20-0,13 5. Ub Kayu ,31 5,55 6. Ub Jalar ,26 6,74 7. Sayur ,88-0,43 8. Buah-2 an ,68-5,07 9. Mnyak Sawt (CPO) na Na na 10. Gula puth ,88 27,23 II. Pangan Hewani 11. Dagng sap& kerbau ,06-33, Dagng ayam ,18-39, Telur ,00-0, Susu ,59 18, Ikan ,84 8,24 Sumber Data: Tahun 2009: Produksi Padi dan Palawija: ARAM II BPS, Produksi Hortikultura (Sayur dan Buah): Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan: Angka Sementara Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan: Angka Sementara Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan: Angka Sementara DKP; Produksi Gula: Angka Prognosa DGI (Data Diolah BKP) 33 33

44 Ketersediaan Ketersedaan pangan dar produks domestk dperoleh dar produks dtambah mpor dkurang kebutuhan untuk konsums pakan, benh, dan tercecer serta ekspor. Ketersedaan sebagan besar pangan pokok duna menurun akbat adanya penurunan produks d sebagan besar negara utama produsen beras yang mengakbatkan menngkatnya harga pangan duna. Sebaga contoh terjad pada komodt beras. Produks beras duna yang turun 1,9 persen selama perode 2008/ /2010 dserta dengan permntaan mpor yang menngkat 2,7 persen dan total penggunaan beras untuk konsums penduduk duna, ndustr dan sebaganya telah mengakbatkan turunnya ketersedaan akhr beras duna sebesar 2,7 persen, yatu dar 124,4 juta ton pada tahun 2008/2009 menjad 121,1 juta ton pada tahun 2009/2010 (FAO, 2009). Sementara tu, ketersedaan beras d Indonesa justru mengalam hal yang sebalknya. Ketersedaan beras mengalam penngkatan 2,95 persen, yatu dar 34,17 juta ton pada tahun 2008 menjad 35,17 juta ton pada tahun Perkembangan selama kurun waktu (Tabel 3.2) juga menunjukkan bahwa ketersedaan sebagan besar bahan pangan nabat mengalam penngkatan, kecual untuk komodtas kacang tanah yang mengalam penurunan 2,28 persen per tahun. Sedangkan untuk komodtas pangan hewan, secara keseluruhan telah mengalam penngkatan, yatu komodtas telur, susu, dan kan masng-masng sebesar 10,62 persen, 3,72 persen, dan 4,82 persen per tahun

45 Tabel 3.2. Ketersedaan Beberapa Komodtas Pangan Komoditas I. Pangan Nabati Ketersediaan (000 Ton) Pertumb. 05-'09 (%) Pertumb. 08-'09 (%) 1. Beras ,50 2,95 2. Jagung ,65 4,45 3. Kedela ,73 19,45 4. Kc Tanah ,28-0,97 5. Ub Kayu ,34 1,07 6. Ub Jalar ,21 3,48 7. Sayuran ,90 1,54 8. Buah-2an ,51 1,52 9. M.Goreng ,91-24, Gula puth ,04 29,39 II. Pangan Hewani 11. Dagng sap & kerbau ,75 11, Dagng ayam ,93 9, Telur ,62 5, Susu ,72 18, Ikan ,82 5,97 Sumber : BPS; Statistik Pertanian Deptan; Statistik Perikanan DKP; Tahun 2008, Angka Tetap; Tahun 2009: Produksi Padi dan Palawija, ARAM II BPS; Produksi Hortikultura (sayur dan buah), Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan, ASEM Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan, ASEM Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan, ASEM DKP; Produksi Gula, Angka Prognosa DGI (Diolah BKP) 35 35

46 Neraca Ketersediaan dan Kebutuhan Kemandran pangan dtunjukkan oleh permbangan atau neraca ketersedaan dan kebutuhan komodtas pangan pentng. Nla postf pada neraca permbangan menunjukkan bahwa penngkatan ketersedaan pangan lebh besar dar penngkatan kebutuhan penduduk akan pangan. Sedangkan neraca permbangan yang bernla negatf menunjukkan bahwa penngkatan kebutuhan penduduk yang belum dapat dpenuh seluruhnya sehngga terjad defst. Neraca ketersedaan dan kebutuhan komodtas pangan pentng Indonesa selama lma tahun terakhr ( ) menunjukkan bahwa kebutuhan penduduk akan sebagan besar komodtas pangan pentng sepert beras, jagung, ub kayu, ub jalar, mnyak goreng sawt, gula, dan kan telah dapat dpenuh dar ketersedaan pangan d dalam neger pada tahun 2009 (Tabel 3.3). Hal n dsebabkan karena adanya penngkatan produks komodt pangan yang bersangkutan (Tabel 3.1). Adapun pertumbuhan penngkatan ketersedaan pangan khususnya untuk komodtas kedela, susu, dan telur sehngga neracanya negatf. (Tabel 3.3). Dsampng tu terjad kecenderungan penurunan ketersedaan dbandng dengan kebutuhan dagng sap, kerbau dan ayam yang tdak sembang sehngga menyebabkan defst (Tabel 3.3). Khusus untuk beras yang merupakan komodt yang palng strategs dan mengandung unsur polts, neraca ketersedaan dan kebutuhannya menunjukkan adanya surplus yang cukup sgnfkan. Hal n menunjukkan bahwa Indonesa telah berhasl mencapa swasembada beras sepert yang telah terjad pada tahun 1984, sehngga kebutuhan penduduk akan beras telah dapat dpenuh dar ketersedaan beras yang ada d dalam neger

47 Tabel 3.3. Neraca Ketersedaan dan Kebutuhan Komodtas Pangan Pentng Tahun Komoditas * I. Pangan Nabati 1. Beras Jagung Kedela Kc Tanah Ub Kayu Ub Jalar Sayur Buah-2 an Mnyak Goreng Sawt Gula II. Pangan Hewani 11. Dagng sap&kerbau Dagng ayam Telur Susu Ikan Sumber : BPS; Statistik Pertanian Deptan; Statistik Perikanan DKP; Tahun 2008, Angka Tetap; Tahun 2009, Angka Sementara: Produksi Padi dan Palawija, ARAM II BPS; Produksi Hortikultura -sayur dan buah, Angka Sasaran Ditjen Hortikultura; Produksi Peternakan, ASEM Ditjen Peternakan; Produksi Perkebunan, ASEM Ditjen Perkebunan; Produksi Perikanan, ASEM DKP; Produksi Gula, Angka Prognosa DGI (Diolah BKP) Neraca komodtas pangan pentng berdasarkan perkraan produks dan kebutuhan menunjukkan bahwa beberapa komodtas pangan pentng yang semula mengalam defst d tahun 2008 mengalam surplus pada tahun 2009, antara lan pada komodt jagung 37

48 yang surplus 89,93 persen, gula 20,05 persen, dan ub kayu 0,20 persen. Komodtas yang tetap mengalam surplus d tahun 2009 adalah: beras surplus 8,47 persen, ub jalar 0,25 persen, mnyak goreng 61,02 persen, dan kan 7,69 persen. Komodtas lannya yang mengalam defst cukup besar adalah: susu 136,12 persen, kedela 109,32 persen, dagng ayam 41,98 persen, telur 33,73 persen, kacang tanah 18,87 persen, serta dagng sap dan kerbau 14,04 persen. Sedangkan buah-buahan dan sayuran mengalam defst berturut-turut 1,96 dan 3,11 persen. Walaupun neraca permbangan menunjukkan konds yang semakn membak dengan banyaknya pangan pentng yang mengalam surplus, namun konds n mash perlu mendapat perhatan serus karena kebutuhan domestk cenderung menngkat bersamaan dengan menngkatnya pertumbuhan ketersedaan, sehngga kapastas produks domestk tdak mampu memenuh kebutuhan. Ketersedaan pangan per kapta mengndkaskan rata-rata peluang ndvdu untuk memperoleh bahan pangan. Secara umum, tngkat ketersedaan energ dan proten perode telah melebh rekomendas Wdyakarya Nasonal Pangan dan Gz (WNPG) VIII tahun 2004 sebesar kalor/kapta/har untuk energ dan 57 gram/kapta/har untuk proten. Tngkat ketersedaan energ maupun proten selama tahun 2005 hngga tahun 2009 cenderung menngkat dengan rata-rata penngkatan berturut-turut 7,74 persen dan 2,81 persen per tahun, sepert tertera pada Tabel 3.4. Pertumbuhan penngkatan ketersedaan energ dan proten yang tngg dperkrakan karena adanya penngkatan produks d tahun

49 Tabel 3.4. Ketersedaan Energ dan Proten Tahun Energ Proten Tahun Kal/Kap/Har Gram/Kap/Har , , , * , ** ,32 Pertumbuhan -%/th 7,74 2,81 Sumber: Neraca Bahan Makanan, Diolah oleh BKP Tahun 2007 Angka Tetap; Tahun 2008 Angka Sementara; Tahun 2009 Angka Perkiraan Awal (Diolah BKP) * Angka Sementara ** Angka Perkiraan Awal 3.2. Stabilisasi Harga Pangan Intenstas fluktuas harga pangan tahun 2005 hngga tahun 2008 relatf menurun setap tahunnya. Harga pangan haran/bulanan berfluktuas pada tahun 2005, terutama pada komodtas beras dan cabe merah. Hal n dsebabkan oleh adanya kebjakan pengurangan subsd bahan bakar mnyak sebanyak dua kal pada bulan Maret dan Oktober 2005 akbat adanya kenakan harga bahan bakar mnyak mentah duna. Namun demkan, fluktuas harga pangan d tahun-tahun selanjutnya cenderung kan stabl dan lebh rendah dar tahun-tahun sebelumnya, yang dtunjukkan oleh nla CV (Coefisien Variasi). Harga komodtas pangan secara rl tahun 2008 relatf lebh tngg dar tahun 2007 dan 2006 terutama terjad sektar har-har besar keagamaan pada bulan Oktober sampa Desember, kecual untuk komodtas gula pasr yang kenakannya relatf kecl dan cenderung stabl. Namun demkan, kenakan harga komodtas pangan tersebut mash lebh stabl jka dbandngkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal n tampak dar nla CV untuk komodtas: jagung 12,7 persen, 39

50 mnyak goreng 22,6 persen, dagng sap 6,4 persen, dagng ayam 13,8 persen, telur ayam ras 12,7 persen, dan gula pasr 0,7-0,9 persen, sepert tertera dalam Tabel 3.5. Tabel 3.5. Perbandngan Rata-Rata Medan dan Coefsen Varas Harga Bahan Pangan Pokok-Strategs Bulan Januar Desember Tahun Komoditas Rerata CV Rerata CV Rerata CV Rerata CV (Rp/Kg) % (Rp/Kg) % (Rp/Kg) % (Rp/Kg) % Beras IR I , , , ,2 Beras IR II , , , ,7 Beras IR III na na na na ,5 na na Jagung Pplan , , , ,7 Kedela -Lokal , , , ,5 Kedela -Impor , , , ,4 Gula Pasr -SHS -1 Lokal , , , ,7 Gula Pasr -Import , , , ,9 Kacang Tanah , , , ,2 Mnyak Goreng , , , ,6 Cabe Merah Basa , , , ,2 Cabe Merah Kertng , , , ,4 Bawang Merah , , , ,2 Dagng Sap , , , ,4 Dagng Ayam , , , ,8 Telur Ayam Ras , , , ,7 Sumber: Kementerian Perdagangan (Diolah BKP) Perkembangan harga pangan pada tahun 2008 dan 2009 relatf stabl. Sampa dengan bulan Agustus 2009, rata-rata harga sebagan besar komodtas pangan cenderung nak dar bulan yang sama pada tahun sebelumnya, kecual untuk komodtas beras IR I yang turun 0,34 persen, kedela mpor turun 1,60 persen, tergu segtga bru turun 0,06 persen, kacang tanah turun 21,25 persen, cabe merah basa dan kertng yang turun 17,55 dan 26,40 persen, serta bawang merah turun 40 40

51 8,62 persen, sepert yang tercantum pada Tabel 3.6. Penngkatan sebagan besar harga komodtas pokok strategs tersebut dperkrakan terjad selama bulan Ramadhan dan menjelang Har Raya Besar Keagamaan (HBKN) Idul Ftr. Tabel 3.6. Perbandngan Rata-Rata Medan dan Persentase Kenakan Harga Pangan Pokok Strategs Bulan Januar-Agustus Tahun Komoditas Harga Rata-rata (Rp/kg) Perubahan harga (%) Beras IR I ,34 Beras IR II ,33 Beras IR III ,93 Jagung Pplan ,71 Kedela -Lokal ,08 Kedela -Impor ,60 Gula Pasr -SHS -1 Lokal ,07 Gula Pasr - Import ,01 Tergu -Segtga Bru ,06 Kacang Tanah ,25 Mnyak Goreng ,62 Cabe Merah Basa ,55 Cabe Merah Kertng ,40 Bawang Merah ,62 Dagng Sap ,32 Dagng Ayam ,73 Telur Ayam Ras ,03 Sumber: Kementerian Perdagangan (Diolah BKP) 3.3. Cadangan Pangan Cadangan pangan merupakan salah satu sumber pasokan untuk mengs kesenjangan antara produks dan kebutuhan dalam neger atau daerah. Stabltas pasokan pangan dapat djaga dengan pengelolaan cadangan pangan yang tepat

52 Cadangan pangan daerah khususnya cadangan pangan pemerntah desa yang dlaksanakan beberapa provns dan kabupaten/ kota, ddasarkan pada Peraturan Menter Dalam Neger Nomor 30 Tahun 2008, Instruks Gubernur, dan Instruks Bupat/Walkota. Melalu APBD I dan APBD II, beberapa Pemerntah Daerah telah menyelenggarakan cadangan pangan pemerntah daerah dan pemberdayaan lumbung pangan masyarakat dalam rangka penanggulangan kerawanan pangan, pemenuhan pangan pada saat paceklk, dan pengendalan gejolak harga. Provns Jawa Tengah, melalu Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur/Bupat/Walkota telah dbentuk lembaga pengelola cadangan pangan dalam bentuk BUMD atau Unt Pelaksana Tekns (UPT) dalam struktur Badan/Instans Ketahanan Pangan. Beberapa daerah lannya juga sedang memproses pembentukannya. Untuk pemberdayaan lumbung pangan masyarakat, Pemerntah provns dan kabupaten/kota telah memanfaatkan Dana Alokas Khusus (DAK) untuk membangun atau merehabltas fsk lumbung serta dana APBD I dan APBD II untuk mengs lumbung. Sementara tu, selama tahun , Badan Ketahanan Pangan (BKP) dengan dana APBN telah mengalokaskan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk pemberdayaan kelompok lumbung pangan senla Rp 29,381 mlyar yang tersebar d 170 kabupaten pada 26 provns. Anggaran DAK yang dalokaskan per kabupaten untuk pembangunan fsk lumbung jumlahnya beragam, yatu dar Rp 30 juta hngga Rp 1,0 mlyar, dengan dukungan dana pendampng dar APBD II senla Rp 20 juta juta. Kabupaten Solok-Sumatera Barat mengalokaskan Rp 30 juta, Cams-Jawa Barat Rp1 mlyar, Pamekasan-Jawa Tmur Rp 921 juta, dan Kota Metro-Lampung Rp 953 juta. Keragaman alokas anggaran tersebut dsebabkan oleh beragamnya kemampuan keuangan dan perhatan terhadap masalah ketahanan pangan dar masng-masng kabupaten

53 Provns Jawa Tmur, jumlah lumbung pangan yang sudah dbangun dan dkelola oleh masyarakat dengan dukungan APBN dan APBD ada sebanyak unt, dengan kapastas penympanan ratarata 20 ton per unt. Selan tu, melalu dukungan APBD juga telah dkembangkan cadangan pangan hdup d pekarangan untuk 72 kelompok senla Rp 720 juta. D beberapa provns lannya, yatu Nusa Tenggara Tmur, Sulawes Selatan, dan Gorontalo, cadangan pangan dkelola oleh masyarakat dalam bentuk beras, jagung, umbumban, sagu, dan ternak yang dpelhara d pekarangan atau kebun d sektar rumah. Penyelenggaraan cadangan pangan daerah melalu pengembangan lumbung pangan masyarakat mash terkendala oleh beberapa hal yatu: (a) penanganan cadangan pangan membutuhkan dana yang cukup besar untuk pembelan gabah atau bahan pangan lannya, penympanan, pengolahan, peralatan, dan dstrbus; (b) keberadaan lumbung pangan belum dapat dharapkan untuk mengelola cadangan pangan secara optmal, karena kemampuan permodalan yang sangat terbatas dan kapastas lumbung yang relatf kecl, sehngga hasl panen masyarakat tdak banyak yang dapat dtampung; (c) pengetahuan, skap, dan keteramplan pengurus lumbung pangan relatf mash rendah, khususnya dalam manajemen kelompok; dan (d) perhatan pemerntah daerah dalam pembnaan lumbung pangan belum memada Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan Hasl Surve Sosal Ekonom Nasonal (Susenas) yang dpublkaskan BPS menunjukkan perkembangan konsums energ dan proten pada perode sepert tertera dalam Tabel 3.7 berkut. 43

54 Tabel 3.7. Perkembangan Rata-rata Konsums Energ dan Proten Tahun Uraian 1. Energ -kkal/kap/har 2. Proten -gram/kap/har Perkembangan Konsumsi Per Kapita Per Hari Pertumb. (%) ,54 54,65 55,27 53,66 57,65 57,43 54,35-0,02 Sumber: Susenas 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, dan 2009, BPS; (Diolah BKP) Konsums energ dan proten perode cenderung turun dengan penurunan rata-rata untuk energ 0,54 persen per tahun dan proten 0,02 persen per tahun. Konss n dsebabkan adanya penurunan konsums energ dan proten pada tahun 2009 yang cukup sgnfkan. Pada tahun 2009 konsums energ sebesar kkal/kapta/har atau turun 111 kkal/kapta/har dbandngkan dengan konsums energ tahun 2008 sebesar kkal/kapta/har. Demkan pula dengan konsums proten tahun 2009 sebesar 54,35 gram/kapta/ har yang turun secara sgnfkan sebesar 5,36 persen atau 3,08 gram/kapta/har dbandngkan dengan konsums proten d tahun 2008 sebesar 57,43 gram/kapta/har. Konsums energ yang dcapa tersebut, 73 kkal/kapta/har lebh rendah dar angka kecukupan yang danjurkan WNPG VIII tahun 2004, yatu kkal/kapta/har. Sedangkan angka konsums proten mash lebh tngg dar angka kecukupan yang danjurkan WNPG VIII tahun 2004, yatu proten 52 gram/kapta/har. Dar seg kualtas/keragaman yang dtunjukkan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH), skor mutu konsums pangan penduduk perode menunjukkan adanya fluktuas. Hal n dtunjukkan adanya penurunan Skor PPH dar 81,9 pada tahun 2008 menjad 75,7 pada tahun Konds tersebut dsebabkan adanya penurunan konsums sebagan besar komodtas terutama buah/bj 44 44

55 Kebijakan Umum Ketahanan Pangan bermnyak serta sayur dan Kebijakan buah. Umum Ketahanan Penurunan Pangan mutu konsums pangan bermnyak serta sayur dan buah. Penurunan mutu konsums pangan penduduk menunjukan kurangnya kesadaran masyarakat akan pangan penduduk menunjukan kurangnya kesadaran masyarakat akan pangan yang beragam, bergz sembang, dan aman. Kurangnya kesadaran yang beragam, bermnyak bergz serta sayur sembang, dan buah. Penurunan dan aman. mutu konsums Kurangnya pangan kesadaran masyarakat penduduk akan menunjukan pangan beragam kurangnya kesadaran tersebut masyarakat juga dtunjukkan akan pangan oleh pola masyarakat akan pangan beragam tersebut juga dtunjukkan oleh pola konsums yang energ beragam, kelompok bergz sembang, pangan dan aman. masyarakat Kurangnya terhadap kesadaran Angka konsums energ kelompok pangan masyarakat terhadap Angka Kecukupan masyarakat Energ akan (AKE) pangan beragam yang tersebut mash juga ddomnas dtunjukkan kelompok oleh pola padpadan 61,8 konsums Kecukupan Energ persen energ (AKE) dmana kelompok yang mash pangan mash lebh masyarakat ddomnas besar 11,8terhadap kelompok persen Angka padpadan 61,8 dar propors deal sebesar Kecukupan persen 50 persen. Energ dmana (AKE) mash Sementara yang lebh mash besar tu, konsums ddomnas 11,8kelompok persen dar pangan yang padpadan 61,8 50 persen. dmana Sementara mash lebh tu, besar konsums 11,8 persen pangan dar propors yang lannya propors lannya deal sebesar mash belum memenuh komposs deal yang danjurkan, sepert pada mash belum deal sebesar memenuh 50 persen. komposs Sementara tu, deal konsums yang pangan danjurkan, yang lannya sepert pada Tabel 3.8. Tabel 3.8. mash belum memenuh komposs deal yang danjurkan, sepert pada Tabel 3.8. Tabel Rata-rata 3.8. Konsums Kelompok Pangan Rumah Tangga Tabel 3.8. Rata-rata Tahun 2005 Konsums 2009 Kelompok Pangan Rumah Tangga Tabel Tahun 3.8. Rata-rata 2005 Konsums 2009 Kelompok Pangan Rumah Tangga Tahun Th Th Th Anjuran Kelompok Th Th Th Anjuran Kelompok Pangan % Gram Energ Th AKG Gram Energ Th % AKG Gram Th Energ % Anjuran AKG Gram Energi % Pangan Kelompok % Gram AKG Padpadan Pad- 320, ,0 Pangan Energ Gram Energ AKG % Gram 320, ,0 61,8 AKG 326,0 Gram Energ % 1.283,0 Energ AKG % AKG 64,1 Gram Gram 314,4 Energ Energ % % 1.235,8 AKG Gram AKG 61,8 Energi Gram % Energi % AKG 275AKG Padpadapadan 60,0 73,0 3,6 51,8 62,0 3,1 40,2 47,7 2, Umbumban Umb- Umb- 60,0 60,0 73,0 73,0 3,6 3,651,8 51,8 62,0 3,1 3,1 40,2 40,2 47,7 47,7 2, , , ,0 61,8 61,8 326,0 326, , ,0 64,1 64,1 314,4 314, , ,8 61, , umban Pangan umban Pangan 88,0 139,0 6,8 89,6 156,0 7,8 84,8 148,0 7, hewan Pangan 88,0 139,0 88,0 139,0 6,8 6,889,6 89,6 156,0 7,8 7,8 84,8 84,8148,0 148,0 7, , hewan Mnyak hewan Mnyak 22,0 199,0 9,9 22,8 204,0 10,2 21,8 195,1 9, dan lemak Mnyak dan 22,0 lemak 199,0 22,0 199,0 9,9 9,922,8 22,8 204,0 10,2 10,2 21,8 21,8195,1 195,1 9,8 20 9, dan Buah/bj lemak Buah/bj Buah/bj 9,0 51,0 2,5 7,6 42,0 2,1 6,8 37,3 1, bermnyak 9,0 51,0 2,5 7,6 42,0 2,1 6,8 37,3 1, bermnyak 9,0 51,0 2,5 7,6 42,0 2,1 6,8 37,3 1, bermnyak Kacangkacangan 25,0 67,0 3,4 24,3 62,0 3,1 22,4 57,5 2, Kacangkacangan 25,0 67,0 3,4 24,3 62,0 3,1 22,4 57,5 2, Kacangkacangan Gula Gula 27,0 27,0 99,0 99,0 4,9 4,925,8 25,8 94,0 4,7 4,7 23,8 23,8 87,0 87,0 4,4 30 4, ,0 67,0 3,4 24,3 3,1 22,4 57,5 2, Gula Sayur dan Sayur 27,0dan 99,0 4,9 25,8 94,0 4,7 23,8 87,0 4, ,0 226,0 93,0 93,0 4,6 4,6 241,9 241,9 100,0 5,0 5,0 199,5 199,5 84,0 84,0 4, , Sayur buah dan buah 226,0 93,0 4,6 241,9 100,0 5,0 199,5 84,0 4, buah Lan-lan Lan-lan 49,0 49,0 35,0 35,0 2,3 2,351,8 51,8 36,0 1,8 1,8 53,6 53,6 35,1 35,1 1,8 1, Lan-lan Total Total 49,0 35,0 1997,0 1997,0 2,3 99,8 99,851,8 2038,0 36,0 101,9 1,8 53,6 101,9 1927,0 35,1 1927,0 96,4 1,8 96, Total Skor Skor 1997,0 79,2 99,8 2038,0 81,9 101,9 75,7 1927,0 96, PPH Skor 79,2 81,9 75,7 100 PPH 79,2 81,9 75,7 100 PPH Sumber : Susenas 2005, 2008, dan 2009, BPS; (Diolah BKP) Sumber : Susenas 2005, 2008, dan 2009, BPS; (Diolah BKP) Sumber : Susenas 2005, 2008, dan 2009, BPS; (Diolah BKP)

56 Walaupun kelompok pad-padan mash mendomnas konsums pangan masyarakat, namun tngkat konsums pad-padan tersebut cenderung semakn turun setap tahunnya. Pada perode tahun 2005 hngga 2009 penurunan tersebut sebesar 0,45 persen, yang terdr dar penurunan konsums beras 0,67 persen per tahun dan jagung 5,96 persen per tahun (Tabel 3.9). Namun demkan, hal n perlu dwaspada karena ternyata penurunan konsums pangan beras dan jagung beralh ke konsums tergu yang cenderung semakn menngkat secara sgnfkan sebesar 6,63 persen per tahun. Perubahan konsums pangan per kapta menurut kelompok pangan selan pad-padan pada perode sepert yang tertera pada Tabel 3.9, adalah sebaga berkut : 1. Umb-umban turun 8,86 persen per tahun, yatu dar 21,9 kg/kapta/tahun pada tahun 2005 menjad 14,7 kg/kapta/tahun pada tahun 2009 karena adanya penurunan yang sgnfkan pada konsums ub jalar sebesar 11,04 persen per tahun dan sngkong sebesar 9,68 persen per tahun. 2. Pangan hewan turun 0,64 persen per tahun karena adanya penurunan konsums dagng rumnansa sebesar 1,94 persen dan kan 2,00 persen per tahun. 3. Mnyak dan lemak turun 0,88 persen per tahun dar 8,2 kg/kapta/tahun pada tahun 2005 menjad 7,9 kg/kapta/tahun pada tahun Hal n dsebabkan karena adanya penurunan yang cukup sgnfkan pada konsums mnyak kelapa dan mnyak lannya secara berturut-turut 20,35 persen dan 12,50 persen per tahun. 4. Kacang-kacangan turun 2,81 persen per tahun karena konsums kacang hjau yang turun secara sgnfkan sebesar 11,31 persen per tahun, kacang tanah turun 4,29 persen per tahun, dan kedela turun 1,73 persen per tahun

57 5. Gula turun 2,91 persen per tahun. 6. Sayuran dan buah turun 1,98 persen per tahun karena konsums sayur turun 0,11 persen dan buah turun 3,76 persen per tahun. 7. Konsums pangan lannya yang terdr dar mnuman dan bumbu-bumbuan cenderung menngkat 2,93 persen per tahun karena konsums mnuman yang nak 4,45 persen per tahun, walaupun terdapat penurunan konsums bumbu-bumbuan 3,63 persen per tahun. 47

58 Tabel 3.9. Konsums Penduduk Indonesa dan Selsh Aktual Terhadap Berbaga Kelompok Makanan Tahun Kelompok Bahan Pangan Konsumsi (kg/kap/tahun) Pertumbuhan (%) I. Padi-padian ,3 115, ,8-0,45 a. Beras 105, ,9 102,2-0,67 b. Jagung 3,3 3 4,2 2,9 2,21-5,96 c. Tergu 8,4 8,2 11,3 11,2 10,3 6,63 II. Umbi-umbian 21,9 18,5 19,4 18,9 14,7-8,86 a. Sngkong 15 12,6 13,5 13 9,6-9,68 b. Ub jalar 4 3,2 2,5 2,8 2,4-11,04 c. Kentang 1,7 1,7 2,1 2 1,7 0,94 d. Sagu 0,5 0,5 0,8 0,5 0,4 0,63 e. Umb lannya 0,6 0,6 0,5 0,6 0,6 0,83 III. Pangan Hewani 32 29,9 33,1 32,7 30,9-0,64 a. Dagng rumnansa 1,8 1,5 1,8 1,6 1,6-1,94 b. Dagng unggas 4,1 3,3 4,4 4,2 3,9 0,53 c. Telur 6,1 5,8 6,8 6,4 6,4 1,61 d. Susu 1,4 1,5 2,2 2,1 1,9 9,94 e. Ikan 18,6 17,8 17,9 18,4 17,1-2,00 IV. Minyak dan Lemak 8,2 8,1 8,4 8,3 7,9-0,88 a. Mnyak kelapa 3,3 3,1 2,3 1,8 1,3-20,35 b. Mnyak sawt 4,8 4,8 5,9 6,4 6,6 8,63 c. Mnyak lannya 0,2 0,1 0,1 0,1 0,1-12,50 V. Buah/biji berminyak 3,4 3 3,2 2,8 2,5-7,08 a. Kelapa 3 2,6 2,8 2,4 2,2-7,07 b. Kemr 0,4 0,4 0,4 0,4 0,3-6,25 VI. Kacang-kacangan 9,3 9,4 10,1 8,9 8,2-2,81 a. Kedela 7,8 8,3 8,6 7,7 7,2-1,73 b. Kacang tanah 0,7 0,5 0,7 0,5 0,5-4,29 c. Kacang hjau 0,7 0,5 0,6 0,5 0,4-11,31 d. Kacang lan 0,2 0,1 0,2 0,2 0,2 12,50 VII. Gula 9,9 8,9 9,7 9,4 8,7-2,91 a. Gula pasr 8,9 8 8,6 8,4 7,9-2,72 b. Gula merah 1 0,8 1,1 1 0,8-2,

59 Kelompok Bahan Pangan Konsumsi (kg/kap/tahun) Pertumbuhan (%) VIII. Sayuran dan buah 82,5 74,7 91,9 88,3 72,8-1,98 a. Sayur 50,8 51,1 57,8 56,3 49,8-0,11 b. Buah 31,7 23,6 34, ,1-3,76 IX. Lain-lain na na 18,5 18,9 19,6 2,93 a. Mnuman na na 14,3 14,8 15,6 4,45 b. Bumbu-bumbuan na na 4,2 4,1 3,9-3,63 Sumber : Susenas 2005, 2006, 2007, 2008 dan 2009, BPS (Diolah BKP) 3.5. Keamanan Pangan Stuas keamanan pangan d Indonesa selama lma tahun terakhr, yatu sejak tahun 2005 hngga pertengahan tahun 2009 mash ddomnas oleh dua hal, yatu: (a) keberadaan resdu pestsda pada berbaga jens hasl pertanan, terutama pada sayur, buah, dan pangan segar; dan (b) perlaku produsen makanan jajanan yang menggunakan zat pengawet, zat pewarna, dan zat pemans buatan yang tdak sesua ketentuan. Kedua hal tersebut dapat menmbulkan keracunan pada makanan, bahkan dapat menjad salah satu penyebab Penyakt Bawaan Makanan/PBM (food borne diseases) bag konsumen. Hal n dsebabkan adanya cemaran racun kma atau toxn, logam berat, dan bahan kma lannya, serta cemaran mkroba dar bakter, jamur, parast, dan vrus. Kasus keracunan pada bahan pangan segar d berbaga jens buah dan sayur, terutama dsebabkan oleh resdu pestsda yang dgunakan untuk pemberantasan hama dan penyakt yang mash tertnggal melebh ambang batas yang dtetapkan untuk kesehatan manusa. Cemaran oleh mkroba dsebabkan karena rendahnya konds higienis dan sanitasi, sedangkan cemaran kma karena konds lngkungan yang tercemar lmbah ndustr, penyalahgunaan bahan berbahaya yang dlarang untuk pangan sepert formalin, rhodamin B, 49 49

60 boraks, dan methanil yellow, serta penggunaan Bahan Tambahan Pengawet (BTP) dan pemans yang melebh batas maksmal yang djnkan. Menurut Kementeran Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), secara umum dalam beberapa tahun terakhr, kejadan keracunan makanan menngkat sangat sgnfkan. Pada perode , jumlah kasus keracunan menngkat dar 72 kasus pada tahun 2001 menjad 153 kasus pada tahun 2006, 179 kasus pada tahun 2007, dan 197 kasus pada tahun Penngkatan kasus tersebut dkut juga dengan jumlah orang yang terkena sakt dar orang pada tahun 2001 menjad orang pada tahun Demkan juga jumlah yang mennggal semakn menngkat dar 40 orang atau 0,47 persen pada tahun 2006 menjad 54 orang atau 0,72 persen pada tahun 2007, dan menjad 79 orang atau 0,88 persen pada tahun 2008 sepert tertera dalam Tabel 3.10 berkut. Tabel Perkembangan Kejadan Luar Basa Keracunan Pangan Tahun Tahun Jumlah Kejadan (Kasus) Jumlah Sakt (Orang) Jumlah Mennggal (Orang) (%) * ,78 0,28 0,65 0,52 0,55 0,47 0,72 0,88 0,53 Sumber: Badan POM *Tahun 2009: angka sementara sampai bulan Juni 2009 (Diolah BKP) 50 50

61 Sampa dengan bulan Jun 2009, jumlah kejadan yang telah tercatat sebanyak 43 kasus, dengan jumlah orang yang sakt sebanyak orang dan mennggal sebanyak 6 orang atau 0,53 persen dar jumlah orang yang sakt. Jumlah kasus dan penderta dperkrakan akan bertambah sampa dengan akhr tahun 2009, namun dharapkan tdak melebh jumlah kasus yang terjad pada tahun-tahun sebelumnya karena sudah semakn membaknya pemahaman masyarakat terhadap makanan, zat kma, dan produk pangan segar yang tdak aman untuk dkonsums serta penyebab keracunan lannya akbat menngkatnya kegatan promos dan publkas yang dlakukan oleh Badan POM, Kementeran Kesehatan, dan nstans terkat lannya, termasuk Badan Ketahanan Pangan- Kementeran Pertanan Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan masyarakat sangat terpaut dengan konds ketahanan pangan. Semakn bak tngkat kesejahteraan masyarakat, maka semakn bak pula tngkat ketahanan pangan keluarga. Untuk melhat konds ketahanan pangan masyarakat dlakukan penlaan terhadap konds kesejahteraan masyarakat yang dtnjau dar beberapa aspek berkut: Kemiskinan Dalam upaya menngkatkan pengentasan kemsknan, pemerntah secara bertahap selalu mempersapkan perencanaan dan mplementas program dan kegatan yang dlaksanakan, antara lan melalu pemberdayaan masyarakat serta revtalsas pertanan dan perdesaan. Melalu program/kegatan tersebut, jumlah penduduk mskn selama tahun 2005 hngga tahun 2009 telah berhasl dkurang secara sgnfkan dar perode sebelumnya.selama perode , jumlah penduduk mskn telah berkurang dar 38,40 juta jwa (18,20 persen) pada tahun 2002 menjad 36,80 juta jwa (16,69 persen) pada tahun Namun pada tahun 2006, jumlah penduduk mskn 51

62 menngkat cukup drasts yatu menjad 39,30 juta jwa (17,75 persen). Penngkatan jumlah dan persentase penduduk mskn tersebut terjad karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama perode tersebut menngkat yang dgambarkan oleh nflas umum sebesar 17,95 persen (BPS, 2009). Dengan demkan, penduduk yang tergolong tdak mskn namun penghaslannya berada d sektar gars kemsknan banyak yang bergeser possnya menjad mskn. Jumlah penduduk mskn terus mengalam penurunan dmana tahun 2009 menjad 32,53 juta jwa (14,15 persen) atau berkurang 6,77 juta orang dbandngkan tahun Jumlah penduduk mskn pada tahun 2009 tersebut bahkan lebh kecl dar jumlah penduduk mskn sebelum krss ekonom dan moneter tahun 1998 sebesar 34,01 juta jwa (17,47 persen). Turunnya jumlah penduduk mskn n juga dkut dengan turunnya jumlah pengangguran terbuka yang turun secara sgnfkan dar 10,85 juta jwa pada tahun 2005 menjad 7,87 juta jwa pada bulan Agustus 2009 (BPS, 2009), sepert tertera pada Tabel 3.11 dan Gambar 3.3 berkut n. Tabel 3.11 Perkembangan Jumlah Penduduk Mskn dan Pengangguran Tahun Rincian 2002 a) 2003 b) 2004 c) Jumlah penduduk 212,6 215,3 216,4 219,3 d) 220,5 224,2 228,5 231,4 (juta jwa) Jumlah Penduduk Mskn 38,4 37,3 36,1 36,80 39,30 37,17 34,96 32,53 (juta jwa) Persentase Penduduk 18,20 17,3 16,7 16,69 e) 17,75 16,58 15,42 14,15 Mskn Jumlah Pengangguran terbuka (juta jwa) c) 9,13 9,53 9,67 10,85 10,93 10,01 9,43 7,87 f) Sumber: BPS -berbagai tahun. Keterangan: a) Berdasarkan Susenas 1999, menggunakan metode 1998 tanpa TimTim; b) BPS tahun 2003 berdasarkan P4B; BPS -2004; c) BPS -Rapat Dengar Pendapat Komisi XI DPR 24 Nopember 2004; d) Dit Gizi Masyarakat Depkes 2005; e) Berita Resmi Statistik September Press Release BPS 1 Desember 2006, tahun 2007 dari buletin Juli 2007 dan BPS 2008; f) Statistik Indonesia 2009, data Agustus 2009 (Diolah BKP) 52 52

63 Gambar 3.3. Persentase Jumlah Penduduk Miskin di Perkotaan dan Perdesaan Tahun Sumber: BPS, 2004; 2005; 2006; 2007; 2008; 2009 (Diolah BKP) Gambar 3.3. menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin di perdesaan dari tahun 1997 hingga tahun 2009 selalu lebih besar dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di perkotaan. Pada tahun 2009, persentase penduduk miskin di perdesaan mencapai 17,35 persen yang lebih besar dari di perkotaan yaitu sebesar 10,72 persen. Persentase penduduk miskin tersebut masih lebih kecil daripada persentase penduduk miskin tahun 2005 yaitu sebesar 19,98 persen di perdesaan dan 11,68 persen di perkotaan. Tingginya persentase penduduk miskin di perdesaan dapat disebabkan oleh: (a) adanya perbedaan tingkat pendidikan penduduk perdesaan yang cenderung lebih rendah dari penduduk di perkotaan; (b) sebagian besar mata pencaharian penduduk perdesaan adalah buruh tani atau mengelola lahan dengan luasan lahan yang sangat kecil, dan (c) terbatasnya fasilitas, sarana dan prasana transportasi, komunikasi dan kesehatan. 53

64 Akses Pangan Aksesbltas atau keterjangkauan pangan oleh masyarakat dpengaruh oleh berbaga hal, antara lan: harga pangan, tngkat pendapatan atau daya bel, kestablan keamanan sosal, anomal klm, bencana alam, jarak lokas dan topograf wlayah, keberadaan sarana dan prasarana transportas, konds jalan perhubungan, dan lannya. Permasalahan akses pangan secara fsk mash dsebabkan oleh kurang memadanya konds sarana dan prasarana (nfrastruktur) d Indonesa. Fasltas prasana jalan, pelabuhan, dan sarana angkutan yang kurang memada menyebabkan baya dstrbus dar sentra produks ke sentra konsums menjad mahal, terutama untuk daerahdaerah d luar Jawa dan daerah-daerah terpencl lannya. Kurang memadanya sarana dan prasarana tersebut telah mengakbatkan daerah-daerah tertentu menjad sangat tersolr dan masyarakat menjad sangat kesultan dalam mengakses pangan. Sarana dstrbus pangan sepert fasltas-fasltas pasar umum, sarana penympanan dan pengolahan hasl pertanan, bak yang dkelola oleh pemerntah maupun swasta, juga belum berkembang dan mash terbatas jumlahnya. Kurang berkembangnya sarana dstrbus pangan tersebut dapat mempersult masyarakat perdesaan untuk melakukan fungs penympanan dan pengolahan, sehngga petan tdak dapat memperoleh nla tambah dan poss tawar yang tngg. D sampng sarana prasana transportas dan dstrbus pangan, kelembagaan pemasaran d perdesaan juga mash lemah. Selan tu, sarana pasar secara fsk juga kurang terseda. Terkadang beberapa desa yang terpencl hanya memlk satu pasar yang berada dekat dengan kota. Dengan kurangnya sarana pasar secara fsk dserta dengan kelembagaan pemasaran perdesaan yang kurang memada menyebabkan pemasaran produk-produk pangan d Indonesa harus melalu pedagang perantara yang ada d berbaga tngkatan mula dar desa, kecamatan, kabupaten sampa dengan provns. Hal n 54 54

65 menyebabkan mata rantai pemasaran menjadi sangat panjang dan tingginya biaya pemasaran, rendahnya margin pemasaran di tingkat petani, dan tingginya harga pangan yang harus dibayar oleh konsumen akhir. Peraturan perundangan yang tersedia juga masih belum dapat mendukung kelancaran arus distribusi pangan. Berbagai pungutan seperti retribusi dan pungutan jembatan timbang telah mengakibatkan meningkatnya biaya distribusi pangan. Selain permasalahanpermasalahan tersebut di atas, permasalahan distribusi pangan lainnya yang dihadapi oleh Indonesia antara lain: (a) terbatasnya kemampuan daerah dan masyarakat dalam mengelola cadangan pangan; (b) rendahnya efisiensi dan efektivitas sistem perdagangan antar daerah dan antar pulau baik transportasi darat maupun laut; (c) perdagangan komoditas pangan strategis di pasar internasional yang tidak adil; dan (d) struktur pasar nasional yang asimetris. Tinjauan aspek ekonomi mengenai akses penduduk terhadap pangan diukur dari pendapatan yang digunakan untuk pembelian pangan khususnya beras, dan persentase pengeluaran penduduk untuk pangan pada setiap tingkat pendapatan (Gambar 3.4). Gambar 3.4. Pengeluaran Rata-rata per Kapita sebulan di Daerah Perkotaan dan Perdesaan menurut Kelompok Barang dan Golongan Pengeluaran per Kapita sebulan Tahun

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN (THE ANALYSIS OF ADDED VALUE AND INCOME OF HOME INDUSTRY KEMPLANG BY USING FISH AND TAPIOCA AS

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI 1 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI Shanmada Smanjuntak 1), Dr.Hj. Farda Kohar, MP ), St Syuhada, S.Pd.

Lebih terperinci

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian SIFAT-SIFAT ANALISIS REGRESI PowerPont Sldes by Yana Rohmana Educaton Unversty of Indonesan 2007 Laboratorum Ekonom & Koperas Publshng Jl. Dr. Setabud 229 Bandung, Telp. 022 2013163-2523 Hal-hal yang akan

Lebih terperinci

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO Oleh; Zulfah Abdussamad Dosen FEB Unverstas Neger Gorontalo Abstrak Persangan bsns d bdang kesehatan

Lebih terperinci

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com Apled Customer Satsfacton Index (CSI) and Importance- Performance Analyss (IPA) to know Student Satsfacton Level of Srwjaya Unversty Lbrary Servces Sr Indra Mayant, Irmelyana,Verawaty Jurusan Matematka

Lebih terperinci

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK 34 III PEMODELN MTEMTIS SISTEM FISIK Deskrps : Bab n memberkan gambaran tentang pemodelan matemats, fungs alh, dagram blok, grafk alran snyal yang berguna dalam pemodelan sstem kendal. Objektf : Memaham

Lebih terperinci

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM BAB X RUANG HASIL KALI DALAM 0. Hasl Kal Dalam Defns. Hasl kal dalam adalah fungs yang mengatkan setap pasangan vektor d ruang vektor V (msalkan pasangan u dan v, dnotaskan dengan u, v ) dengan blangan

Lebih terperinci

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14 Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan d Jepang P.10 Merencanakan Belajar ke Luar Neger P.11 Memlh Sekolah P.12 Jadwal P.14 Mengumpulkan Informas P.16 Sstem Penddkan d Jepang Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan

Lebih terperinci

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN RUSNIAR. Analss

Lebih terperinci

IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING

IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING M. Helmy Noor 1, Moh. Harad 2 Program Pasasarjana, Jurusan Teknk Elektro, Program Stud Jarngan Cerdas

Lebih terperinci

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381 Bab 1 Ruang Vektor Defns Msalkan F adalah feld, yang elemen-elemennya dnyatakansebaga skalar. Ruang vektor atas F adalah hmpunan tak kosong V, yang elemen-elemennya merupakan vektor, bersama dengan dua

Lebih terperinci

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN Hendra Bunyamn Jurusan Teknk Informatka Fakultas Teknolog Informas Unverstas Krsten Maranatha

Lebih terperinci

: Prodi D III Keperawatan STIKes ICMe Jombang

: Prodi D III Keperawatan STIKes ICMe Jombang KEJADIAN INSOMNIA PADA LANJUT USIA STUDI DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JOMBANG Ika candra fbrant,rulat,s.km.m,kes,agus Muslm.,S.Kep.Ns Korespondens : Ika candra fbrant : Prod D III Keperawatan STIKes

Lebih terperinci

PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER

PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER Karya Tuls Ilmah Dsusun untuk Memenuh Sebagan Syarat Memperoleh Derajat Sarjana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 1 ARAHAN UU NO. 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN A. KERANGKA KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN Kedaulatan Pangan Kemandirian Pangan Ketahanan Pangan OUTCOME Masyarakat

Lebih terperinci

PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION

PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION Ar Wbowo Teknk Multmeda dan Jarngan, Polteknk Neger Batam wbowo@polbatam.ac.d Abstract Development

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis Regresi Linear Sederhana Analss Regres Lnear Sederhana Al Muhson Pendahuluan Menggunakan metode statstk berdasarkan data yang lalu untuk mempredks konds yang akan datang Menggunakan pengalaman, pernyataan ahl dan surve untuk mempredks

Lebih terperinci

Dalam rangka persiapan pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2013 bagi tenaga

Dalam rangka persiapan pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2013 bagi tenaga N{ENTER P},NDA\ AGUNAAN,\PAR{TUR NEGARA DAN REFOR\TAS BROKRAS REPBL1K NDONESA Yth. 1. Pejabat Pembna Kepegawaan Pusat; 2. Pejabat Pembna Kepegawaan Daerah. d Tempat SURAT EDARAN Nomor: SE/ l0 /M.PAN-R8rc812013

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP

EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP NOOR ANIS KUNDARI, DJOKO MARJANTO, ARDHANI DYAH W Sekolah Tngg Teknolog Nuklr, BATAN Yogyakarta Jl.Babarsar Kotak Pos

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

FAKTO OR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN II SLEMAN YOGYAKARTA

FAKTO OR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN II SLEMAN YOGYAKARTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKATT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN III SLEMAN YOGYAKARTA Karya Tuls Ilmah Dsusun Untuk Memenuh Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan Pada Program

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan VARIABEL RANDOM. Statistika dan Probabilitas

Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan VARIABEL RANDOM. Statistika dan Probabilitas Unverstas Gadjah Mada Fakultas Teknk Jurusan Teknk Sl dan Lngkungan VARIABEL RANDOM Statstka dan Probabltas 2 Pengertan Random varable (varabel acak) Jens suatu fungs yang ddefnskan ada samle sace Dscrete

Lebih terperinci

EVALUASI UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR G.A SIW ABESSY SETELAH BEROPERASI SELAMA 15 TAHUN1)

EVALUASI UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR G.A SIW ABESSY SETELAH BEROPERASI SELAMA 15 TAHUN1) Prosdng Semnar Hasl Peneltan P2TRR SSN 0854-5278 EVALUAS UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR SERBAGUNA G.A SW ABESSY SETELAH BEROPERAS SELAMA 15 TAHUN1) Pusat Pengembangan Suroso, Slamet Wranto Teknolog

Lebih terperinci

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha lha ry rq 9 g rrq hq rr! L, +, : F L ah{ _ L.{ b.{ PRATURAN DRKS PRUSAHAAN UMUM PRUM) JAMNAN KRDTT NDONSA NOMOR : 2 /PerDrp{ll2ml TNTANG STANDARD OPRATNG PROCD,R (SOP) PMAMNAN KRDT UMUM BRBASS RJSKO PRUSAHAAN

Lebih terperinci

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP)

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Rencana strategis (Renstra) instansi pemerintah merupakan langkah awal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transmigrasi merupakan bagian integral

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

Meningkatkan Produktivitas Pertanian guna Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Rangka Ketahanan Nasional

Meningkatkan Produktivitas Pertanian guna Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Rangka Ketahanan Nasional Ekonomi http://1.bp.blogspot.com/-odi9xladhaq/tn6s19dfxxi/aaaaaaaaasi/0wwxleafvq4/s1600/sby+panen+big.jpg Meningkatkan Produktivitas Pertanian guna Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Rangka Ketahanan Nasional

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS

FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS V FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS Tujuan: Mhs mampu melakukan analss respon proses terhadap perubahan nput snus Mater:. arakterstk respon sstem order satu terhadap perubahan snus nput. Nyqust Plot 3. Bode

Lebih terperinci

S A R I 1. PENDAHULUAN 2. KEADAAN GEOLOGI. Oleh : Eddy R. Sumaatmadja dan Iskandar Sub Direktorat Batubara

S A R I 1. PENDAHULUAN 2. KEADAAN GEOLOGI. Oleh : Eddy R. Sumaatmadja dan Iskandar Sub Direktorat Batubara PENYELIDIKAN BATUBARA BERSISTIM DALAM CEKUNGAN SUMATERA SELATAN DI DAERAH NIBUNG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SAROLANGUN, PROVINSI JAMBI; KABUPATEN BATANGHARILEKO DAN MUSI RAWAS, PROVINSI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

P ESIDEN REPUB IK INDONESIA

P ESIDEN REPUB IK INDONESIA P ESDEN REPUB K NDONESA PERATURAN PR SDEN REPUBLK NDONESA 45 TAHUN 2012 ENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTU PRESDEN NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN B AN PENGATUR PENYEDAAN DAN PENDSTRBUSAN BAHAN MNYAK

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016 DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 OUTLINE 1 Rancangan Awal RKP 2016 2 3 Pagu Indikatif Tahun 2016 Pertemuan Tiga Pihak 4 Tindak

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 1 TAHUN 2011 Tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan Ditjen PSP, Kementerian Pertanian ALUR PERATURAN

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan Rahmat serta Karunia-nya kita masih diberi

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan Rahmat serta Karunia-nya kita masih diberi SAMBUTAN BUPATI ACEH BESAR PADA ACARA RAPAT TURUN KE SAWAH MEUGO RUWENG MUSIM TANAM GADU TAHUN 2014 SELASA, 18 MARET 2014 Assalammualaikum Wr. Wb. Yang Kami hormati, Kepala badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN TERORISME

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 Oleh: Menteri PPN/Kepala Bappenas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PADA UPACARA BENDERA MEMPERINGATI HARI BHAKTI PEKERJAAN UMUM KE 65 Tanggal, 3 Desember 2010 Seluruh keluarga besar Pekerjaan Umum

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2004 TENTANG PERKEBUNAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2004 TENTANG PERKEBUNAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2004 TENTANG PERKEBUNAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, sebagai karunia dan amanat

Lebih terperinci

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP)

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) Pegerta: Rata-rata (average) alah suatu la yag mewakl suatu kelompok data. Nla dsebut juga ukura gejala pusat karea pada umumya mempuya kecederuga terletak d tegah-tegah da memusat

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN)

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN) SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN) TAHUN 2014 DI SELURUH INDONESIA Yang terhormat : Gubernur/Bupati/Walikota

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA?

SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA? SEJAUH MANA KEAMANAN PRODUK BIOTEKNOLOGI INDONESIA? Sekretariat Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia Puslit Bioteknologi LIPI Jl. Raya Bogor Km 46 Cibinong Science Center http://www.indonesiabch.org/

Lebih terperinci

Optimisasi Operasi Sistem Tenaga Listrik dengan Konstrain Kapabilitas Operasi Generator dan Kestabilan Steady State Global

Optimisasi Operasi Sistem Tenaga Listrik dengan Konstrain Kapabilitas Operasi Generator dan Kestabilan Steady State Global Optmsas Operas Sstem Tenaga Lstr dengan Konstran Kapabltas Operas Generator dan Kestablan Steady State Global Johny Custer,, Indar Chaerah Gunadn, Ontoseno Penangsang 3, Ad Soeprjanto 4,,3,4 Jurusan Ten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS Oleh: Ginandjar Kartasasmita Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Bogor, 29 Agustus 1998 I. SITUASI

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN - 1 - SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer)

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer) RUMUS PERHITUNGAN DANA ALOKASI ASI UMUM I. PRINSIP DASAR Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer) pusat kepada daerah otonom dalam bentuk blok. Artinya, penggunaan dari DAU ditetapkan sendiri

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK)

DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK) DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK) JAKARTA, 3 APRIL 2014 UUD 1945 KEWAJIBAN NEGARA : Memenuhi, Menghormati dan Melindungi hak asasi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010010 TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010010 TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010010 TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR I. UMUM Tanah adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi rakyat, bangsa

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA Tahapan RPJPN 2005-2025 RPJMN 4 (2020-2024) RPJMN 1 (2005-2009) Menata

Lebih terperinci

- Kuesioner Awal. - Kuesioner Penelitian Pendahuluan

- Kuesioner Awal. - Kuesioner Penelitian Pendahuluan - Kuesoner Awal - Kuesoner Peneltan Pendahuluan KUESIONE AWAL Saya Albertus Isha, mahasswa yang sedang menyusun Tugas Ahr. Saya mohon esedaan saudara untu meluangan watu saudara yang berharga untu mengs

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

Komitmen itu diperbaharui

Komitmen itu diperbaharui POS PEM8CRDAYAAH KELUARCA (POSDAYA) bangsa-bangsa lain di dunia. Rendahnya mutu penduduk itu juga disebabkan karena upaya melaksanakan wajib belajar sembilan tahun belum dapat dituntaskan. Buta aksara

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI Bahwa kemiskinan adalah ancaman terhadap persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa, karena itu harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Menghapuskan kemiskinan merupakan

Lebih terperinci

Peran Parlemen dalam Implementasi SJSN- BPJS

Peran Parlemen dalam Implementasi SJSN- BPJS Peran Parlemen dalam Implementasi SJSN- BPJS Oleh: dr. AHMAD NIZAR SHIHAB,SpAn Anggota Komisi IX DPR RI Rakeskesnas, 17 April 2013 Makasar VISI Kementerian Kesehatan MASYARAKAT SEHAT YANG MANDIRI DAN BERKEADILAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK C'ONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan Oleh: Hidayat Amir Peneliti Madya pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Email: hamir@fiskal.depkeu.go.id

Lebih terperinci