VI ANALISIS RISIKO HARGA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VI ANALISIS RISIKO HARGA"

Transkripsi

1 VI ANALISIS RISIKO HARGA 6.1 Analisis Risiko Harga Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembudidayaan tanaman hortikultura yang potensial di Kota Batu. Salah satu komoditas hortikultura yang dihasilkan yang menjadi unggulan perusahaan ini adalah apel. Varietas apel yang dihasilkan antara lain apel jenis Rome Beauty, Manalagi, Anna dan Wanglin, namun yang yang paling utama dibudidayakan di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya adalah apel jenis Manalagi. Pemasaran yang dilakukan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya antara lain melalui wisata petik dan penjualan melalui Divisi Trading yaitu divisi yang bertanggung jawab untuk memasarkan seluruh komoditas hortikultura yang dihasilkan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya. Dalam menjalankan usahanya PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya menghadapi beberapa macam risiko antara lain risiko produksi dan risiko harga, namun dalam penelitian ini hanya akan dibahas risiko harga yang dihadapi PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya. Harga apel yang berlaku di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya berfluktuasi, terutama harga apel yang ditetapkan pada penjualan langsung oleh Sub Divisi Trading. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan apel dengan penawaran apel. Sepanjang bulan Januari 2009 sampai bulan April 2010 diperoleh harga terendah yaitu sebesar Rp ,00 per kg sedangkan harga tertinggi yaitu Rp ,00 per kg. Harga terendah tersebut dicapai pada hari ke 276 yaitu jatuh pada tanggal 3 Oktober Berdasarkan wawancara dengan Manager Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya, harga apel pada periode September sampai dengan November tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Hal tersebut disebabkan karena pada saat bulan tersebut terjadi panen raya di seluruh wilayah Kota Batu. Melimpahnya apel menyebabkan harga apel turun baik di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya maupun di pasar. Harga tertinggi apel yaitu sebesar Rp ,00 per kg yang dicapai pada hari ke 196 yaitu jatuh pada tanggal 15 Juli 2009, dimana pada periode tersebut persediaan apel mengalami kelangkaan. Adanya fluktuasi harga apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dapat ditunjukkan pada Gambar 13 berikut. 61

2 Gambar 13. Plot Harga Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Periode Januari 2009 April 2010 Sumber : Sub Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya 2010 Risiko harga apel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan model ARCH-GARCH dan dilanjutkan dengan perhitungan Value at Risk (VaR). Variabel yang digunakan dalam analisi ARCH-GARCH yaitu harga apel sebagai variabel dependen (variabel terikat), harga apel sebelumnya dan jumlah penawaran sebagai variabel independen (variabel bebas). Sebelum dianalisis dengan metode ARCH-GARCH, terlebih dahulu dilakukan analisis regresi. Analisis regresi dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah residual dalam model persamaan harga apel mengandung heteroskedastisitas. Pembuktian ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam model persamaan harga apel membuktikannya dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu melihat nilai kurtosis pada ringkasan data, Uji ARCH LM, dan Uji White Heteroskedasticity. Hasil dari uji nilai kurtosis (Gambar 14) didapatkan nilai kurtosis pada data sebesar Nilai kurtosis ini lebih dari tiga menunjukkan bahwa data mengandung heteroskedastisitas. Selain itu untuk mengetahui kebaikan model dilakukan pemeriksaan terhadap galat terbakukan dengan mengamati nilai statistik Jarqua-Bera berdasarkan nilai probability Jarque-Bera yaitu lebih kecil dari taraf nyata lima persen yang berarti bahwa hipotesis nol ditolak atau galat terbakukan tidak menyebar normal. 62

3 Series: Residuals Sample Observations 485 Mean 1.62E-14 Median Maximum Minimum Std. Dev Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Gambar 14. Nilai Kurtosis Model Regresi Apel Selain uji nilai kurtosis, selanjutnya untuk mengetahui ada atau tidaknya heteroskedastisitas pada residual model persamaan harga apel dilakukan dengan menggunakan uji ARCH LM. Pengujian Uji ARCH LM ini didasarkan pada hipotesis nol yaitu tidak terdapatnya efek ARCH error. Hasil uji ARCH LM pada model persamaan harga apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dapat dilihat pada Lampiran 3 dan Tabel 8 menunjukkan ringkasan hasil pengujian ARCH LM untuk model persamaan harga apel. Tabel 8. Ringkasan Hasil Uji ARCH LM Model Regresi Harga Apel No. Kriteria Uji ARCH LM Komoditas Apel 1. Obs*R-Squared Probability Berdasarkan uji ARCH LM pada model diatas didapatkan bahwa nilai Obs*R-Squared memiliki probability yang lebih kecil dibandingkan α (taraf nyata) yaitu lima persen. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa residual diatas mengandung efek ARCH yang berarti juga bahwa residual mengandung heteroskedastisitas dan model layak untuk dianalisis menggunakan metode ARCH-GARCH. 63

4 Selain uji ARCH LM pengujian untuk mengetahui data mengandung heteroskedastisitas juga dapat dilaku kan melalui uji White Heteroscedasticity. Uji White Heteroscedasticity ini didasarkan pada hipotesis nol yaitu data Homoskedastisitas yang hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 4 dan Tabel 9 yang merupakan ringkasan hasil uji White Heteroscedasticity terhadap model. Tabel 9. Ringkasan Hasil Uji White Heteroscedasticity Model Regresi Harga Apel No. Kriteria Uji Komoditas Apel 1. Obs*R-Squared Probability F-Statistic Probability Pada uji White ini didapatkan bahwa nilai Obs*R-Squared memiliki probability yang lebih kecil dari taraf nyata lima persen sehingga dapat disimpulkan bahwa data mengandung heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji nilai kurtosis, uji ARCH LM dan uji White Heteroskedasticity diperoleh hasil bahwa persamaan model harga apel masih mengandung heteroskedastisitas, sehingga untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan menggunakan analisis model ARCH-GARCH. Penentuan model ARCH-GARCH yang tepat dilakukan dengan simulasi beberapa model ragam. Pendugaan parameter model menggunakan metode kemungkinan maksimum atau quasi maximum likelihood. Simulasi model mengkombinasikan nilai r = 0,1,2,3 dengan nilai m = 1,2,3. Pemilihan model ragam terbaik dilakukan dengan melihat salah satu dari alternatif model yang mempunyai nilai AIC (akaike info criterion) dan SC (Schwarz criterion) terendah dan sudah tidak terdapat efek ARCH pada model tersebut. Hasil dari pengujian untuk mendapatkan model ARCH-GARCH terbaik dapat dilihat pada Lampiran 5 sampai lampiran 28. Sedangkan ringkasan hasil uji coba model ARCH-GARCH apel dapat dilihat pada Tabel

5 Tabel 10. Ringkasan Uji Coba Model ARCH GARCH Harga Apel Model Nilai Error Tidak Ada Efek ARCH AIC SC ARCH (1) GARCH (0) ARCH (1) GARCH (1) ARCH (1) GARCH (2) ARCH (1) GARCH (3) ARCH (2) GARCH (0) ARCH (2) GARCH (1) ARCH (2) GARCH (2) ARCH (2) GARCH (3) ARCH (3) GARCH (0) ARCH (3) GARCH (1) ARCH (3) GARCH (2) ARCH (3) GARCH (3) Pemilihan model ARCH-GARCH terbaik melalui kriteria nilai AIC dan SC terkecil serta sudah tidak terdapat efek ARCH pada model tersebut. Selain itu model yang dipilih adalah model yang variabel penyusunnya tidak bernilai negatif pada varian dan volatilitasnya. Berdasarkan kriteria tersebut model ARCH- GARCH terbaik untuk apel adalah ARCH (1) GARCH (1) dan hasil olahan model tersebut dapat dilihat pada Tabel 11 berikut. Tabel 11. Model ARCH (1) GARCH (1) untuk Persamaan Harga Apel Model ARCH (1) GARCH (1) Apel Persamaan Rataan Variabel Koefisien Probability К ( Konstanta) LnPt_1 (Harga Apel Periode Sebelumnya) LnS (Jumlah Penawaran Apel) Persamaan Varian К (Konstanta) ε 2 t-1 (Volatilitas Periode Sebelumnya) h t-1 (Varian Periode Sebelumnya) Hasil output pada Tabel 11 menunjukkan bahwa berdasarkan nilai probability variabel penyusun model lebih kecil dari taraf nyata lima persen maka didapatkan bahwa variabel harga apel periode sebelumya dan jumlah penawaran 65

6 apel berpengaruh signifikan terhadap harga apel. Harga apel periode sebelumnya memiliki koefisien positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa penetapan harga apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya mempertimbangkan harga yang terbentuk pada periode sebelumnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan setiap satu minggu sekali perusahaan mengeluarkan pre list harga buah yang dihasilkan. Pre list tersebut yang menjadi acuan dalam penetapan harga buah satu minggu ke depan. Dalam penyusunan pre list harga ini perusahaan mempertimbangkan harga pokok produksi, harga yang terbentuk di pasar, perkiraan besarnya penawaran buah, dan perkiraan besarnya permintaan akan buah tersebut. Selain faktor harga apel itu sendiri, risiko harga apel juga dipengaruhi oleh jumlah penawaran apel. Jumlah penawaran apel berpengaruh negatif terhadap harga apel, sehingga dapat disimpulkan bahwa penawaran apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya memiliki kecenderungan tidak stabil. Harga apel akan mengalami peningkatan ketika penawaran apel sedikit dan akan mengalami penurunan ketika penawaran apel meningkat. Kebun apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dibagi menjadi dua yaitu kebun wisata petik dan kebun produksi. Kebun wisata dikhususkan untuk memenuhi permintaan apel untuk wisata petik, sedangkan kebun produksi untuk memenuhi kebutuhan apel di Divisi Trading. Berdasarkan wawancara dengan Manager Trading penawaran buah apel untuk penjualan di Divisi Trading tidak hanya berasal dari produksi kebun sendiri melainkan juga berasal dari mitra beli maupun mitra tani perusahaan. Hal tersebut disebabkan produksi kebun belum mampu memenuhi permintaan apel utnuk penjualan melalui divisi ini. Tanaman apel di kebun produksi sebagian besar masih berumur di bawah 10 tahun, sehingga belum mampu berproduksi secara maksimal. Hal tersebut juga menjadi penyebab penawaran buah apel di divisi ini tidak stabil sehingga harga apel yang terbentuk juga akan tergantung pada jumlah penawaran buah yang tersedia. Hasil akhir dari analisis ARCH-GARCH (Tabel 11) didapatkan peramalan model persamaan risiko harga apel yang digunakan untuk menghitung besarnya risiko harga apel. Hasil pendugaan persamaan varian harga apel menunjukkan bahwa pola pergerakan dipengaruhi oleh volatilitas periode sebelumnya dan 66

7 varian periode sebelumnya. Hasil analisis model persamaan varian harga apel (Tabel 11) juga menunjukkan bahwa parameter volatilitas dan varian harga apel periode sebelumnya bertanda positif dan berpengaruh signifikan pada taraf nyata lima persen. Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas dan varian harga apel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi risiko harga jual apel pada periode berikutnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan risiko harga jual apel periode sebelumnya akan meningkatkan risiko harga apel periode berikutnya. Setelah dilakukan pendugaan varian harga apel maka selanjutnya adalah perhitungan tingkat risiko harga apel yang dihadapi PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya melalui perhitungan VaR. Pada perhitungan VaR dilakukan dengan skenario periode penjualan yakni selama 1 hari. 7 hari, 14 hari, dan 30 hari. Berdasarkan perhitungan VaR, maka risiko yang ditanggung PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Risiko Harga Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Besar Risiko Komoditas Apel Hari Nilai (Rp) Nilai (%) 1 Hari ,57 7 Hari ,54 14 Hari ,51 30 Hari ,79 Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa tingkat risiko harga apel yang dihadapi perusahan dalam satu hari sebesar Rp , 00 atau sekitar 14,57 persen dari total pendapatan yang diperoleh per harinya yaitu sebesar Rp , 00 (perhitungan pendapatan tercantum Tabel 7). Sehingga apabila terjadi peningkatan pendapatan satu rupiah maka risiko yang ditanggung akan meningkat sebesar 14,57 persen. Namun apabila perusahaan menahan untuk tidak menjual apel pada hari itu juga atau melakukan penyimpanan dengan harapan akan memperoleh harga tinggi di kemudian hari maka risiko harga apel yang dihadapi perusahaan juga akan meningkat. Risiko harga tersebut semakin meningkat seiring semakin lama periode penjualannya seperti yang terlihat pada 67

8 Tabel 13. Peningkatan risiko harga ini disebabkan tidak selamanya proses penyimpanan memberikan keuntungan bagi suatu usaha karena proses penyimpanan biasanya membutuhkan biaya yang relatif besar. Selain itu proses penyimpanan juga dapat menyebabkan semakin menurunnya kualitas apel sehingga pada saat dilakukan penjualan belum tentu mendapatkan harga tinggi seperti yang diharapkan oleh perusahaan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, penawaran apel di divisi trading berlangsung setiap hari. Perusahaan akan berusaha menjual seluruh penawaran apel yang ada pada hari itu juga. Hal tersebut dilakukan agar risiko harga yang ditanggung oleh perusahaan tidak terlalu besar. Namun terdapat kondisi dimana apel tersebut tidak habis terjual pada hari itu, sehingga mengakibatkan harga apel tersebut akan mengalami penurunan pada hari berikutnya. Penurunan harga tersebut dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Namun berdasarkan wawancara dengan Manager Trading perusahaan menetapkan kebijakan batas maksimal buah apel tersebut harus terjual. Batas maksimal apel terjual adalah 14 hari setelah pemetikan, setelah 14 hari maka apel yang belum terjual akan dijadikan bahan baku minuman sari buah pada industri pengolahan perusahaan. 6.2 Sumber Risiko Harga Apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Dalam kegiatan pertanian, setiap aktivitas produksi selalu dihadapi dengan situasi risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty). Hasil produksi pertanian sulit untuk diprediksi, karena cenderung disebabkan oleh faktor alam seperti iklim, hama dan penyakit maupun kekeringan. Harga jual produk pertanian juga sulit diprediksi secara tepat begitu kompleksnya faktor yang menyebabkan terbentuknya harga. Adanya spekulasi para petani maupun pengusaha yang cenderung ingin memperoleh keuntungan yang besar dan rantai pemasaran yang panjang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap fluktuasi harga. Adanya fluktuasi harga selain menimbulkan suatu risiko juga merupakan peluang bagi para petani, misalnya dengan melakukan penyimpanan pada jangka waktu tertentu dengan tujuan memperoleh harga jual yang lebih baik. Namun pada dasarnya proses penyimpanan tersebut mengandung risiko yaitu risiko yang berhubungan dengan perubahan harga, menurunnya kualitas dan berkurang atau menyusutnya hasil produksi. Risiko perubahan harga merupakan risiko yang 68

9 paling utama. Kenaikan harga yang terjadi selama proses penyimpanan tidak selalu cukup untuk menutupi ongkos penyimpanan bahkan kadang-kadang harga menjadi turun. Sumber risiko harga apel adalah adanya fluktuasi penawaran apel untuk penjualan apel di Divisi Trading. Penawaran apel di divisi ini berasal dari kebun pribadi dan dari luar. Penawaran dari luar berasal dari mitra tani dan mitra beli perusahaan. Berikut adalah tabel perbandingan penawaran buah dari kebun perusahaan dan kebun luar perusahaan. Tabel 13. Perbandingan Jumlah Produksi Apel per Bulan dari Kebun Milik Sendiri dan Kebun Luar PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Periode Januari 2009 April Tahun Bulan Produksi Apel Untuk Divisi Trading (Kg) % Produksi Apel Luar Perusahaan (Kg) % Total Penawaran Apel Divisi Trading (Kg) 2009 Januari ,00 93, ,07 6, ,07 Februari 6.582,71 74, ,00 25, ,71 Maret 5.661,00 62, ,80 37, ,80 April 2.828,00 72, ,62 27, ,62 Mei 857,57 18, ,13 81, ,70 Juni 980,00 12, ,69 87, ,69 Juli 5.316,43 82, ,45 17, ,88 Agustus 4.245,14 99,78 9,23 0, ,37 September 5.148,14 76, ,88 23, ,02 Oktober 9.328,71 68, ,39 31, ,10 November 6.834,29 77, ,99 22, ,28 Desember ,86 82, ,06 17, , Januari 3.916,86 37, ,77 62, ,63 Februari 7.432,85 94,05 470,54 5, ,40 Maret 3.112,14 63, ,13 36, ,27 April 2.233,71 77,18 660,46 22, ,17 Sumber : Laporan Manajemen dan Rekapitulasi Data Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya 69

10 Berdasarkan Tabel 13 dapat disimpulkan bahwa penawaran apel di Divisi Trading berfluktuasi antara penawaran dari kebun milik sendiri dan kebun dari luar. Pada tabel tersebut juga terlihat bahwa sebagian besar penawaran apel di Divisi Trading berasal dari kebun sendiri. Kecuali pada bulan Mei hingga Juni, produksi apel di divisi ini didominasi oleh produksi dari luar kebun perusahaan. Hal itu dikarenakan produksi apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya mengalami penurunan seperti terlihat pada Gambar 15. Gambar 15. Perkembangan Produksi Total Buah Apel Per Bulan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Tahun Sumber : Laporan Manajemen, PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Berdasarkan keterangan dari Manager Budidaya Tanaman Tahunan penurunan produksi ini disebabkan oleh adanya faktor iklim dan cuaca. Pada musim penghujan produksi apel perusahaan cenderung mengalami penurunan akibat terjadinya kegagalan pembungaan dan meningkatnya serangan hama dan penyakit. Kegagalan pembungaan ini disebabkan bunga apel bertangkai pendek, menghadap ke atas, dan bertandan, sehingga akan mudah rontok apabila terkena air hujan. Sedangkan meningkatnya serangan hama dan penyakit disebabkan pada musim hujan kelembaban udara menjadi meningkat sehingga merangsang pertumbuhan hama dan penyakit tersebut. Apabila kebun perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan apel, maka kebijakan yang diambil adalah mencari sumber pasokan di luar perusahaan yaitu dari mitra tani dan mitra beli perusahaan. Jumlah penawaran ini akan berpengaruh terhadap harga jual yang terbentuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar

11 Gambar 16. Perbandingan Harga Buah Apel dan Jumlah Penawaran Apel per Bulan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Periode Januari 2009 April 2010 Sumber : Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya 2010 Gambar 16 memperlihatkan bahwa ketika penawaran apel meningkat maka harga yang terbentuk akan rendah dan sebaliknya ketika penawaran berkurang harga apel akan meningkat. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah penawaran sangat berpengaruh terhadap harga jual apel. Adanya fluktuasi harga input produksi juga berpengaruh terhadap harga jual apel. Fluktuasi harga input yang dihadapi perusahaan dapat dilihat terlihat pada Gambar 17. Gambar 17. Perkembangan Harga Input Produksi Apel Per Bulan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Tahun Sumber : Laporan Manajemen, PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya

12 Gambar 17 menunjukkan bahwa harga input utama produksi apel di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya yaitu harga obat-obatan atau pestisida dan upah tenaga kerja mengalami fluktuasi. Perubahan harga obat-obatan salah satunya dipengaruhi oleh nilai kurs mata uang, karena sebagian besar bahan penyusun pestisida berasal dari bahan impor. Upah tenaga kerja di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya tegantung pada Upah keja Minimum (UMR) Kota Batu selain itu juga dipengaruhi oleh besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi keuntungan perusahaan maka besarnya tunjangan bagi tenaga kerja semakin meningkat pula. Fluktuasi Harga input produksi akan mempengaruhi harga pokok penjualan (HPP) perusahaan yang akhirnya berpengaruh terhadap harga jual apel. Sehingga fluktuasi harga input dapat menjadi salah satu sumber risiko harga apel. Karakteristik dari buah apel sendiri sebenarnya relatif lebih tahan lama daripada buah buahan lainnya. Hanya saja untuk memperoleh kualitas buah yang tetap terjaga diperlukan fasilitas penyimpanan seperti cold storage. Penggunaan fasilitas cold storage sebenarnya sudah diterapkan di perusahaan, hanya saja belum memadai dan belum maksimal dalam penggunaannya. PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya khususnya Divisi Trading hanya memiliki satu lemari pendingin. Hal ini sangat tidak memadai mengingat berbagai macam produk buah maupun sayuran yang dihasilkan oleh perusahaan. Adanya risiko harga apel yang relatif tinggi dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Untuk menghadapi risiko harga tersebut perusahaan melakukan beberapa tindakan salah satunya dengan melakukan kegiatan diversifikasi produk. Diversifikasi pada kegiatan usahatani dapat diartikan dua hal yaitu menanam beberapa komoditas berbeda secara tumpangsari pada lahan yang sama. Pengertian kedua adalah menanam beberapa komoditas yang berbeda secara monokultur pada waktu yang sama namun lahan berbeda. Diversifikasi yang dilakukan PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya adalah menanam komoditas buah selain apel pada waktu yang sama di lahan yang berbeda. Selain apel, komoditas buah yang dibudidayakan perusahaan adalah buah jeruk, jambu, buah naga dan strawberi. Pertimbangan bagi perusahaan melakukan diversifikasi antara lain apabila terjadi kegagalan pada salah satu 72

13 komoditas maka masih ada komoditas lain yang dapat menjadi sumber pendapatan perusahaan. Pada dasarnya apel merupakan tanaman yang dapat berbuah sepanjang tahun. Sehingga tindakan yang dilakukan perusahaan dalam upaya menanggulangi ketidakpastian produksi adalah dengan melakukan pengaturan pola tanam pada apel. Lahan budidaya apel di bagi menjadi beberapa blok, pada setiap blok waktu tanam diatur sedemikian rupa sehingga diharapkan kebun apel tersebut dapat memproduksi apel sepanjang tahun. Dengan adanya pengaturan pola tanam ini juga diharapkan dapat menjaga agar penawaran apel untuk penjualan Divisi Trading tetap ada sepanjang tahun sehingga dapat meminimalkan fluktuasi harga. Selain itu perusahaan juga melakukan kerjasama dengan produsen apel di Kota Batu, hal tersebut dilakukan untuk mengatasi kurangnya penawaran apel akibat produksi apel perusahaan mengalami penurunan. Divisi Trading juga menerapkan sistem grading untuk apel yang dijual di divisi tersebut. Pembedaan tingkatan buah apel didasarkan pada ukuran buah tersebut dan dilakukan secara manual oleh karyawan divisi tersebut. Dengan adanya sistem grading ini diharapkan semua apel yang dihasilkan oleh perusahan dapat terjual semua sehingga dapat memaksimalkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Strategi lain yang dilakukan perusahaan untuk mengurangi risiko harga yang dihadapi perusahaan yaitu melakukan integrasi vertikal dengan membangun industri pengolahan apel. Tujuan didirikannya industri pengolahan adalah untuk menutupi tingginya biaya produksi serta memanfaatkan dan mengefisienkan buah apel kualitas rendah atau buah apel yang rusak. Apel tersebut diolah menjadi beberapa produk seperti sari apel, jenang apel, cuka apel, minuman brem apel, apel cider dan selai apel. 73

VII ANALISIS PENAWARAN APEL

VII ANALISIS PENAWARAN APEL VII ANALISIS PENAWARAN APEL 7.1 Analisis Penawaran Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Pada penelitian ini penawaran apel di Divisi Trading PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya dijelaskan dengan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian 4.2. Data dan Sumber Data 4.3 Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian 4.2. Data dan Sumber Data 4.3 Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian Penelitian mengenai risiko harga dan perilaku penawaran apel dilakukan di PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya yang beralamat di Jalan Abdul Gani Atas, Kelurahan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik 2009

I PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik 2009 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat strategis dalam pembangunan perekonomian negara Indonesia. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia yaitu sekitar

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian tentang risiko harga sayuran di Indonesia mencakup komoditas kentang, kubis, dan tomat dilakukan di Pasar Induk Kramat Jati, yang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sekunder deret waktu (time series) mulai dari Januari 2013 sampai

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sekunder deret waktu (time series) mulai dari Januari 2013 sampai BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis dan Hasil Regresi Semua data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder deret waktu (time series) mulai dari Januari 2013 sampai Desember

Lebih terperinci

(Data Mentah) Data Penerimaan Asli Daerah Sektor Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Jumlah Kunjunga Wisatawan dan Jumlah Objek Wisata

(Data Mentah) Data Penerimaan Asli Daerah Sektor Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Jumlah Kunjunga Wisatawan dan Jumlah Objek Wisata L A M P I R A N 95 96 Lampiran 1 (Data Mentah) Data Penerimaan Asli Daerah Sektor Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Jumlah Kunjunga Wisatawan dan Jumlah Objek Wisata TAHUN PAD Sektor Pariwisata Jumlah

Lebih terperinci

PENGARUH INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN

PENGARUH INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN PENGARUH INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2006-2013 INDAH AYU PUSPITA SARI 14213347/3EA16 Sri Rakhmawati, SE.,

Lebih terperinci

Kredit (Y) Pendapatan (x1) Usia (x3) Modal Kerja (x2) Universitas Sumatera Utara

Kredit (Y) Pendapatan (x1) Usia (x3) Modal Kerja (x2) Universitas Sumatera Utara No Kredit (Y) Pendapatan (x1) Modal Kerja (x2) Usia (x3) Jumlah Tanggungan (x4) 1 1000000 80000 80000 20 0 2 1000000 275000 500000 21 1 3 1500000 400000 550000 25 1 4 2000000 400000 1000000 25 1 5 2000000

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. atau tidak dalam penelitian ini jarque-berra dimana hasilnya dapat. ditunjukkan dari nilai probabilitas Jarque-Berra.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. atau tidak dalam penelitian ini jarque-berra dimana hasilnya dapat. ditunjukkan dari nilai probabilitas Jarque-Berra. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak dalam penelitian ini jarque-berra dimana hasilnya dapat

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Metode yang digunakan untuk menduga faktor-faktor yang memengaruhi

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Metode yang digunakan untuk menduga faktor-faktor yang memengaruhi BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Estimasi Parameter Model Metode yang digunakan untuk menduga faktor-faktor yang memengaruhi Penanaman Modal Asing di Provinsi Jawa Timur adalah dengan menggunakan metode

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. Kuisioner Penelitian KUISIONER

LAMPIRAN 1. Kuisioner Penelitian KUISIONER LAMPIRAN 1 Kuisioner Penelitian No : KUISIONER ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MASYARAKAT DALAM MEMANFAATKAN KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS PT. BRI MEDAN) Oleh:

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini didasari oleh gejolak/volatilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (valuta asing).pada nilai transaksi jual beli valuta asing yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Heterokidastisitas Dalam uji white, model regresi linier yang digunakan dalam penelitian ini diregresikan untuk mendapatkan nilai residualnya. Kemudian

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Struktur Pasar Industri Kakao di Indonesia

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Struktur Pasar Industri Kakao di Indonesia VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Struktur Pasar Industri Kakao di Indonesia Struktur pasar dapat dianalisis dengan tiga pokok elemen, yaitu nilai pangsa pasar, konsentrasi rasio empat perusahaan

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Kajian Risiko Harga Komoditas Pertanian

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Kajian Risiko Harga Komoditas Pertanian II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Kajian Risiko Harga Komoditas Pertanian Risiko harga suatu komoditas dapat bersumber dari fluktuasi harga output maupun harga input pertanian. Umumnya kegiatan produksi

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. 1 Pengantar Bab 5 akan memaparkan proses pengolahan data dan analisis hasil pengolahan data. Data diolah dalam bentuk persamaan regresi linear berganda dengan menggunakan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Jumlah Deposito, Suku Bunga Deposito, dan Inflasi di Indonesia Tahun

Lampiran 1. Jumlah Deposito, Suku Bunga Deposito, dan Inflasi di Indonesia Tahun 69 Lampiran 1. Jumlah Deposito, Suku Bunga Deposito, dan Inflasi di Indonesia Tahun 2004-2010 Periode sbdepo Inflasi depo Jan-04 6.27 0.57 426.424 Feb-04 5.99-0.02 409.204 Mar-04 5.86 0.36 401.686 Apr-04

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

BAB V PENUTUP , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa perhitungan regresi dan efisiensi, serta pembahasan permintaan (konsumsi) energi listrik di Indonesia dalam periode 1990-2010, maka dapat ditarik

Lebih terperinci

Lampiran 1. Data Regresi. 71 Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1. Data Regresi. 71 Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Data Regresi I obs X1 X2 X3 X4 Y 1 5.000000 1.000000 2.000000 18.00000 20.00000 2 4.000000 1.000000 2.000000 20.00000 20.00000 3 4.000000 2.000000 3.000000 20.00000 20.00000 4 3.000000 5.000000

Lebih terperinci

PENGARUH RISIKO HARGA TERHADAP PENAWARAN APEL PT KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA KOTA BATU JAWA TIMUR

PENGARUH RISIKO HARGA TERHADAP PENAWARAN APEL PT KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA KOTA BATU JAWA TIMUR PENGARUH RISIKO HARGA TERHADAP PENAWARAN APEL PT KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA KOTA BATU JAWA TIMUR SKRIPSI INIKE RAHMADITIYANI H34063433 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT

Lebih terperinci

Lampiran 2 Penduduk Menurut Status Pekerjaan Utama (jiwa)

Lampiran 2 Penduduk Menurut Status Pekerjaan Utama (jiwa) 81 Lampiran 1 Jumlah Penduduk, Rumahtangga, dan Rata-rata Anggota Rumahtangga Tahun Jumlah Penduduk (ribu jiwa) Jumlah Rumahtangga Rata-rata Anggota Rumahtangga (1) (2) (3) (4) 2000 205.132 52.008,3 3,9

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 44 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Integrasi Pasar (keterpaduan pasar) Komoditi Kakao di Pasar Spot Makassar dan Bursa Berjangka NYBOT Analisis integrasi pasar digunakan untuk mengetahui bagaimana

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Agribisnis Cabai Merah Cabai merah (Capsicum annuum) merupakan tanaman hortikultura sayursayuran buah semusim untuk rempah-rempah, yang di perlukan oleh seluruh lapisan masyarakat

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KASUS. Indeks merupakan daftar harga sekarang dibandingkan dengan

BAB IV STUDI KASUS. Indeks merupakan daftar harga sekarang dibandingkan dengan BAB IV STUDI KASUS 4.1 Indeks Harga Konsumen Indeks merupakan daftar harga sekarang dibandingkan dengan sebelumnya menurut persentase untuk mengetahui turun naiknya harga barang. Indeks Harga Konsumen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. sekunder dalam bentuk deret waktu (time series) selama 15 tahun pada periode

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. sekunder dalam bentuk deret waktu (time series) selama 15 tahun pada periode 38 BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Analisis Deskripsi Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya merupakan data sekunder dalam bentuk deret waktu (time series) selama 15 tahun pada periode

Lebih terperinci

Produktivitas Padi, Luas Panen dan Produksi Padi di Kabupaten Deli Serdang,

Produktivitas Padi, Luas Panen dan Produksi Padi di Kabupaten Deli Serdang, Lampiran 1. Produktivitas Padi, Luas Panen dan Produksi Padi di Kabupaten Deli Serdang, 2004-2010 Tahun Semester Produktivitas Padi (ton/ha) Luas Panen (ha) Produksi Padi (ton) 2004 1 4.585 40.187 184257.4

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. model struktural adalah nilai PDRB, investasi Kota Tangerang, jumlah tenaga kerja,

III. METODE PENELITIAN. model struktural adalah nilai PDRB, investasi Kota Tangerang, jumlah tenaga kerja, III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk time series dari tahun 1995 sampai tahun 2009. Data yang digunakan dalam model

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Model pada penelitian ini digunakan untuk melihat perbedaan pendapatan petani yang menggunakan Sub Terminal Agribisnis (STA) dengan petani yang tidak menggunakan Sub Terminal

Lebih terperinci

V. ANALISIS VOLATILITAS VARIABEL EKONOMI. Perkembangan yang terjadi pada data harga minyak dunia, harga ekspor

V. ANALISIS VOLATILITAS VARIABEL EKONOMI. Perkembangan yang terjadi pada data harga minyak dunia, harga ekspor 117 V. ANALISIS VOLATILITAS VARIABEL EKONOMI 5.1. Deskripsi Data Perkembangan yang terjadi pada data harga minyak dunia, harga ekspor industri, SBI riil dan devaluasi riil diuraikan pada bagian berikut.

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan Aek Pamienke, Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara. Pemilihan provinsi Sumatera Utara sebagai lokasi penelitian

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini penulis melakukan pengujian mengenai Luas panen, Jumlah Penduduk dan Harga terhadap produksi padi di Kabupaten Gunungkidul periode tahun 1982-2015.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari 34 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari tahun 2005-2012, yang diperoleh dari data yang dipublikasikan

Lebih terperinci

RISET ITU MUDAH. Salah satu contoh pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah:

RISET ITU MUDAH. Salah satu contoh pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah: Rangga Handika Salah satu contoh pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah: Apakah berinvestasi pada saham bisa menutup penurunan pendapatan real kita yang tergerus inflasi? Untuk itu, marilah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 4 Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011]

TINJAUAN PUSTAKA. 4  Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011] II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-sumber Risiko Risiko dapat dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Risiko dapat terjadi pada pelayanan,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. mengalami fluktuasi antar waktu. Data tersebut mengindikasikan adanya

HASIL DAN PEMBAHASAN. mengalami fluktuasi antar waktu. Data tersebut mengindikasikan adanya 47 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Volatilitas Harga Minyak 4.1.1 Deskripsi Data Plot data harga minyak pada bulan Januari 2000 hingga bulan Desember 2011 dapat dilihat pada Gambar 4.1. Hal ini menunjukan

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengantar Bab 4 akan memaparkan proses pengolahan data dan analisis hasil pengolahan data. Data akan diolah dalam bentuk persamaan regresi linear berganda dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB IV HASIL DAN ANALISIS BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1. Deskripsi Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan datatime series atau data runtun waktu sebanyak 12 observasi, yaitu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, kurtosis. dan skewness (kemencengan distribusi).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, kurtosis. dan skewness (kemencengan distribusi). BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif Menurut Ghozali (2011: 19), statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean),

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Regional Bruto tiap provinsi dan dari segi demografi adalah jumlah penduduk dari

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Regional Bruto tiap provinsi dan dari segi demografi adalah jumlah penduduk dari 54 V. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dibahas hasil dari estimasi faktor-faktor yang memengaruhi migrasi ke Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Adapun variabel

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Daftar Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman

LAMPIRAN. Lampiran 1. Daftar Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar Sampel Perusahaan Makanan dan Minuman No Nama Perusahaan Tanggal Listing Kriteria 1 2 3 1. PT. Cahaya Kalbar Tbk 9 Juli 1996 2. PT. Delta Djakarta Tbk 27 Februari 1984 3. PT.

Lebih terperinci

REGRESI LINIER SEDERHANA

REGRESI LINIER SEDERHANA REGRESI LINIER SEDERHANA Model fungsi : Y = f (X) LAHIR = F (WUS) LAHIR, yaitu data jumlah kelahiran setahun lalu di sejumlah Kecamatan di Jateng WUS, yaitu data jumlah wanita usia subur di sejumlah Kecamatan

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

HASIL ANALISA DATA ROE LDA DA SDA SG SIZE

HASIL ANALISA DATA ROE LDA DA SDA SG SIZE HASIL ANALISA DATA STATISTIK DESKRIPTIF Date: 06/15/16 Time: 11:07 Sample: 2005 2754 ROE LDA DA SDA SG SIZE Mean 17.63677 0.106643 0.265135 0.357526 0.257541 21.15267 Median 11.00000 0.059216 0.251129

Lebih terperinci

VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK

VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK VI RISIKO PRODUKSI SAYURAN ORGANIK 6.1. Analisis Risiko Produksi Risiko produksi menyebabkan tingkat produktivitas tanaman sayuran organik mengalami fluktuasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Data yang dipakai untuk penelitian ini adalah data sekunder (time series)

METODE PENELITIAN. Data yang dipakai untuk penelitian ini adalah data sekunder (time series) 48 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang dipakai untuk penelitian ini adalah data sekunder (time series) yang didapat dari Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 TABEL RESPONDEN No. y x1 x2 x

LAMPIRAN 1 TABEL RESPONDEN No. y x1 x2 x LAMPIRAN 1 TABEL RESPONDEN No. y x1 x2 x3 1 1.12 8979000 3000000 4 2 1.15384 8979000 3500000 2 3 1.25 9000000 4000000 2 4 1.12 8900000 4000000 4 5 1.53846 10165900 7000000 3 6 1.875 10165900 9000000 2

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif. Definisi dari penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008) 1 komoditi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Pengaruh Tingkat

III. METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Pengaruh Tingkat III. METODE PENELITIAN Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga Deposito (3 Bulan) Dan Kredit Macet (NPL) Terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Di

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN Penilaian risiko produksi pada caisin dianalisis melalui penggunaan input atau faktor-faktor produksi terhadap produktivitas caisin. Analisis risiko produksi menggunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. bentuk deret waktu (time series) selama 17 tahun, yaitu tahun Data

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. bentuk deret waktu (time series) selama 17 tahun, yaitu tahun Data 1.1 Analisis Deskripsi Data BAB IV HASIL DAN ANALISIS Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk deret waktu (time series) selama 17 tahun, yaitu tahun 1996-2012. Data tersebut

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN

BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN 6.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor Teh PTPN Analisis regresi berganda dengan metode OLS didasarkan pada beberapa asumsi yang harus

Lebih terperinci

KUISIONER. 2. Berapa besar nilai Modal kerja yang diperlukan untuk produksi setiap bulan?

KUISIONER. 2. Berapa besar nilai Modal kerja yang diperlukan untuk produksi setiap bulan? Lampiran 1 : Kuisioner KUISIONER A. PROFIL USAHA 1. Nama Usaha :. Alamat Usaha : 3. Pemilik Usaha :. Alamat Pemilik : 5. Jenis Usaha : 6. Usia : 7. Jenis Kelamin : 8. Jumlah Tanggungan : B. DAFTAR PERTANYAAN

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA

BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA BAB VI ANALISIS PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA DI KELAPA DUA 6.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan adalah model fungsi Cobb- Douglas. Faktor-faktor produksi yang diduga

Lebih terperinci

VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA

VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA VI ANALISIS EKSPOR KEPITING INDONESIA 6.1 Pengujian Asumsi Gravity model aliran perdagangan ekspor komoditas kepiting Indonesia yang disusun dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria pengujian asumsi-asumsi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan studi kasus Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini dilakukan berdasarkan data series bulan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS), diantaranya adalah

Lebih terperinci

1) Kriteria Ekonomi Estimasi model dikatakan baik bila hipotesis awal penelitian terbukti sesuai dengan tanda dan besaran dari penduga.

1) Kriteria Ekonomi Estimasi model dikatakan baik bila hipotesis awal penelitian terbukti sesuai dengan tanda dan besaran dari penduga. LAMPIRAN Lampiran 1. Evaluasi Model Evaluasi Model Keterangan 1) Kriteria Ekonomi Estimasi model dikatakan baik bila hipotesis awal penelitian terbukti sesuai dengan tanda dan besaran dari penduga. 2)

Lebih terperinci

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Tengah tahun dan apakah pengangguran berpengaruh terhadap

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Tengah tahun dan apakah pengangguran berpengaruh terhadap BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah diperoleh sekaligus pembahasannya. Hasil penelitian ini menjawab masalah penelitian pada Bab I yaitu apakah jumlah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah indeks harga saham gabungan

BAB IV HASIL PENELITIAN. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah indeks harga saham gabungan BAB IV HASIL PENELITIAN IV.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah indeks harga saham gabungan (JSX dan IDX), indeks Dow Jones (DJIA), indeks FTSE (FTSE), indeks

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. yakni sebesar 33,03% diterangkan di luar model dari penelitian ini. Dengan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. yakni sebesar 33,03% diterangkan di luar model dari penelitian ini. Dengan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa dari hasil analisisis regresi diperoleh nilai dari R 2 sebesar 0.669740, berarti penyebaran data

Lebih terperinci

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA 66 VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA 6.1. Keragaan Umum Hasil Estimasi Model Model ekonometrika perdagangan bawang merah dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB IV HASIL DAN ANALISIS BAB IV HASIL DAN ANALISIS Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan analisis dari data-data penelitian yang telah diolah menggunakan Eviews, diikuti dengan pembahasan dari hasil pengolahan data.

Lebih terperinci

Pusat Statistik. Adapun data yang telah di olah terdapat terdapat pada tabel 6.1

Pusat Statistik. Adapun data yang telah di olah terdapat terdapat pada tabel 6.1 BAB VI ANALISA DATA 6.1. Deskripsi Data Data yai g dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, terutama bersumber dari Badan Pusat Statistik, Intenational Financial Statistic dan situs Badan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan provinsi ini merupakan wilayah

III METODE PENELITIAN. dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan provinsi ini merupakan wilayah III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Utara. Penentuan daerah ini dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan provinsi ini merupakan

Lebih terperinci

VOLATILITASHARGA CABAI MERAH KERITING DAN BAWANG MERAH

VOLATILITASHARGA CABAI MERAH KERITING DAN BAWANG MERAH VOLATILITASHARGA CABAI MERAH KERITING DAN BAWANG MERAH Ari Tresna Sumantri 1, Efri Junaidi 2, Ratna Mega Sari 1 1 Staf Pengajar Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Lebih terperinci

KONDISI UMUM PT. KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA

KONDISI UMUM PT. KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA KONDISI UMUM PT. KUSUMA SATRIA DINASASRI WISATAJAYA Sejarah PT. Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya PT. Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya (Kusuma Agrowisata) didirikan oleh Ir. Edy Antoro pada lahan seluas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Metode Pewarnaan Blok

HASIL DAN PEMBAHASAN Metode Pewarnaan Blok 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Metode Pewarnaan Blok Sistem manajemen perkebunan kelapa sawit pada umumnya terdiri atas Kebun (Estate) yang dikepalai oleh seorang Estate Manager. Seorang Estate Manager membawahi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas

Lebih terperinci

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 72 BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini alat analisis data yang digunakan adalah model regresi linear klasik (OLS). Untuk pembuktian kebenaran hipotesis dan untuk menguji setiap variabel

Lebih terperinci

Lampiran-Lampiran ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PEDAGANG SEKTOR INFORMAL KUISIONER. ( Pedagang di Kawasan Pasar Buah Berastagi )

Lampiran-Lampiran ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PEDAGANG SEKTOR INFORMAL KUISIONER. ( Pedagang di Kawasan Pasar Buah Berastagi ) 71 Lampiran-Lampiran Lampiran 1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PEDAGANG SEKTOR INFORMAL KUISIONER ( Pedagang di Kawasan Pasar Buah Berastagi ) PELAKU KEGIATAN USAHA 1. Nama : 2. Alamat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program

BAB I PENDAHULUAN. Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program pengembangan agribisnis. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi berkembangnya usaha agribisnis

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang potensial dalam memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan ekonomi dan memegang peranan penting

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN Dalam bab V ini akan diuraikan analisis hasil penelitian yaitu hasil analisis kovariansi (covariance anaysis) dan ekonometrika yang mencoba melihat pengaruh jumlah penduduk bekerja,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian 28 III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kuantitatif. Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk melihat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh debt to equity ratio. sampel penelitian dengan rincian sebagai berikut :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh debt to equity ratio. sampel penelitian dengan rincian sebagai berikut : 44 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengumpulan Data Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh debt to equity ratio (DER), price to earning ratio (PER), dan earning pershare (EPS) terhadap return

Lebih terperinci

LAMPIRAN Langkah-Langkah Pemilihan Model Regresi Data Panel

LAMPIRAN Langkah-Langkah Pemilihan Model Regresi Data Panel LAMPIRAN Langkah-Langkah Pemilihan Model Regresi Data Panel Hasil Common Effect Method: Panel Least Squares Date: 12/06/11 Time: 18:16 C 12.40080 1.872750 6.621707 0.0000 LOG(PDRB) 0.145885 0.114857 1.270151

Lebih terperinci

Perhitungan Value at Risk (VaR) Berdasarkan Model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH)

Perhitungan Value at Risk (VaR) Berdasarkan Model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) Prosiding Statistika ISSN: 2460-6456 Perhitungan Value at Risk (VaR) Berdasarkan Model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) 1 Wahyuni Fatma Mufti, 2 Sutawanir Darwis, 3 Nusar Hajarisman

Lebih terperinci

PERAMALAN NILAI TUKAR DOLAR SINGAPURA (SGD) TERHADAP DOLAR AMERIKA (USD) DENGAN MODEL ARIMA DAN GARCH

PERAMALAN NILAI TUKAR DOLAR SINGAPURA (SGD) TERHADAP DOLAR AMERIKA (USD) DENGAN MODEL ARIMA DAN GARCH Jurnal Matematika UNAND Vol. VI No. 1 Hal. 110 117 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PERAMALAN NILAI TUKAR DOLAR SINGAPURA (SGD) TERHADAP DOLAR AMERIKA (USD) DENGAN MODEL ARIMA DAN GARCH

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, khususnya dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, khususnya dalam 21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, khususnya dalam ruang lingkup sektor pertanian. Waktu penelitian untuk mengumpulkan data

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan alur berfikir dalam melakukan penelitian berdasarkan tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bursa Efek merupakan lembaga yang menyelenggarakan kegiatan sekuritas di Indonesia.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bursa Efek merupakan lembaga yang menyelenggarakan kegiatan sekuritas di Indonesia. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Deskripsi Objek Penelitian Bursa Efek merupakan lembaga yang menyelenggarakan kegiatan sekuritas di Indonesia. Dahulu terdapat dua bursa efek di Indonesia, yaitu Bursa Efek

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah perusahaan industri asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode tahun 2010-2013.

Lebih terperinci

Data return 7 mata uang asing diuji dengan beberapa pengujian yang meliputi tes stasionaritasitas, tes normal dan tes heteroskedastik.

Data return 7 mata uang asing diuji dengan beberapa pengujian yang meliputi tes stasionaritasitas, tes normal dan tes heteroskedastik. 40 Tabel 4.2. Gambaran Statistik Data Return NAB Schroder dan Trimegah Parameter Statistik Schroder Dana Istimewa in the out the Schroder dana Prestasi in the out the Trim Kapital in the out the Mean 0.00182-0.00123

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan 40 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan rentang waktu dari tahun 2001 2012. Tipe data yang digunakan adalah data runtut

Lebih terperinci

Kuisioner Skripsi. Analisis Faktor faktor yang mempengaruhi Pendapatan Pedagang Ikan di Kecamatan Tanah Jawa dan Hutabayu Raja di Kabupaten Simalungun

Kuisioner Skripsi. Analisis Faktor faktor yang mempengaruhi Pendapatan Pedagang Ikan di Kecamatan Tanah Jawa dan Hutabayu Raja di Kabupaten Simalungun LAMPIRAN 1 Kuisioner Skripsi Analisis Faktor faktor yang mempengaruhi Pendapatan Pedagang Ikan di Kecamatan Tanah Jawa dan Hutabayu Raja di Kabupaten Simalungun A. IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama : 2. Usia

Lebih terperinci

Analisis Harga Saham Properti di Indonesia menggunakan metode GARCH

Analisis Harga Saham Properti di Indonesia menggunakan metode GARCH Analisis Harga Saham Properti di Indonesia menggunakan metode GARCH Dhafinta Widyasaraswati1,a), Acep Purqon1,b) 1 Laboratorium Fisika Bumi, Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGUJIAN. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan uji hipotesis untuk membuktikan adanya

BAB IV HASIL PENGUJIAN. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan uji hipotesis untuk membuktikan adanya BAB IV HASIL PENGUJIAN IV.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif berdasarkan data empiris. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan uji hipotesis untuk

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dimana keempat sub sektor tersebut mempunyai peranan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA 7.1. Analisis Fungsi Produksi Analisis untuk kegiatan budidaya ganyong di Desa Sindanglaya ini dilakukan dengan memperhitungkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Unit Analisis dan Ruang Lingkup Penelitian. yang berupa data deret waktu harga saham, yaitu data harian harga saham

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Unit Analisis dan Ruang Lingkup Penelitian. yang berupa data deret waktu harga saham, yaitu data harian harga saham 32 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Unit Analisis dan Ruang Lingkup Penelitian 3.1.1. Objek Penelitian Objek sampel data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa data deret waktu harga saham,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan output yang dibentuk oleh berbagai sektor ekonomi sehingga dapat menggambarkan bagaimana kemajuan atau kemunduran yang telah

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Istilah risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty) sering digunakan secara bersamaan atau bahwa risiko sama dengan ketidakpastian.

Lebih terperinci

PENENTUAN RESIKO INVESTASI DENGAN MODEL GARCH PADA INDEKS HARGA SAHAM PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK.

PENENTUAN RESIKO INVESTASI DENGAN MODEL GARCH PADA INDEKS HARGA SAHAM PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK. Jurnal Matematika UNAND Vol. VI No. 1 Hal. 25 32 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENENTUAN RESIKO INVESTASI DENGAN MODEL GARCH PADA INDEKS HARGA SAHAM PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK.

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam bab ini adalah dengan menggunakan

METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam bab ini adalah dengan menggunakan III. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam bab ini adalah dengan menggunakan data sekunder. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder sehingga metode pengumpulan data

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Keterangan : KV = risiko produksi padi σ y. = standar deviasi = rata rata produksi

2. TINJAUAN PUSTAKA. Keterangan : KV = risiko produksi padi σ y. = standar deviasi = rata rata produksi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Risiko Produktivitas Setiap aktivitas manusia selalu mengandung risiko karena ada keterbatasan dalam memprediksi hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kejadian yang memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komoditas hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha di bidang

Lebih terperinci

VI. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI

VI. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI VI. FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI 6.1. Analisis Faktor-Faktor Risiko Produksi Pada penelitian ini dilakukan pada peternak ayam broiler yang bekerja sama dengan pihak perusahaan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 34 IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi harga komoditas kakao dunia tidak ditentukan. Waktu pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari

Lebih terperinci