IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan terhadap diferensiasi leukosit mencit (Mus musculus) yang diinfeksi P. berghei, setelah diberi infusa akar tanaman kayu kuning (C. fenestratum) sebagai berikut : Netrofil Berdasarkan Tabel 2 dan Gambar 10, pada kelompok perlakuan A1 hari ke-1 menunjukkan peningkatan persentase netrofil yang nyata jika dibandingkan KN, KP, A2, dan A3 yakni 58.40%. Pada perlakuan AI, hari ke-2, ke-3 dan ke-4 menunjukkan penurunan persentase jika dibandingkan dengan kelompok KN, pada hari ke-7 terjadi peningkatan persentase netrofil jika dibandingkan dengan A2 dan A3. Pada perlakuan A2 hari ke-1 menunjukkan persentase yang lebih rendah dibanding KN, KP, A1, dan A3 yaitu sebesar 46.26%. Pada perlakuan A2, hari ke-2 menunjukkan penurunan persentase netrofil dan pada hari ke-3 terjadi peningkatan netrofil jika dibandingkan dengan KP dan A3. Pada hari ke-4 dan ke-7 terjadi penurunan persentase netrofil jika dibandingkan KN, KP, A1, dan A3. Perlakuan A3 hari ke-1 menunjukkan peningkatan persentase netrofil, pada hari ke-2 hingga hari ke-7 terjadi penurunan persentase netrofil. Persentase netrofil terendah terjadi pada hari ke-3 dibandingkan dengan A1 dan A2 serta berbeda nyata lebih rendah terhadap KN. Gambar 10 Rata-rata persentase netrofil pada mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum).kn : Kontrol negatif hanya diberi larutan PGA 3%,KP : Kontrol positif dengan pemberian klorokuin, A1 : ekstrak air dosis mg/ 25 gr BB mencit, A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 gr BB mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ gr BB mencit.

2 26 Peningkatan persentase netrofil pada perlakuan A1 dan A3 pada hari ke-1 disebabkan oleh fungsi netrofil yang merupakan basis pertahanan pertama dalam menyerang infeksi bakteri/mikroorganisme, trauma jaringan, ataupun respon inflamasi (Kern 2002). Parasit akan mengeluarkan bahan kemotaktik yang dapat menarik netrofil untuk datang dan melakukan fagositosis (Meyer et al. 1992). Kemudian netrofil akan mengalami autolisis setelah proses fagositosis selesai. Histamin dan faktor leukopoietik (sitokin dan interlukin) yang dilepaskan setelah lisisnya netrofil akan merangsang sumsum tulang melepaskan cadangan netrofil sehingga produksi netrofil akan meningkat (Hafizhiah 2008). Netrofil hanya memiliki waktu paruh selama dua hari dan hanya efektif pada hari-hari pertama setelah infeksi parasit (Hargono 1996). Penurunan jumlah netrofil pada kelompok A1, A2, dan A3 pada hari ke-2 sampai hari ke-7 jika dibandingkan dengan hari ke-1, disebabkan oleh pemberian infusa akar kayu kuning, menurut Rojsanga dan Gritsanapan (2005) tanaman akar kayu kuning mengandung senyawa yaitu berberin. Berberin yang merupakan alkaloid isokuinolon diketahui memiliki aktivitas farmakologi seperti aktivitas antimikrobial terhadap bakteri, fungi dan virus, antimalaria, antiinflamasi, dan antiproliferatif (Tungpradit et al. 2011). Menurut penelitian sebelumnya, akar kayu kuning yang diekstrak dengan pelarut air juga mengandung senyawa flavonoid (Kusuma 2011), menurut USDA (2010) flavonoid dapat meningkatkan aktivitas sebagai antiinflamasi. Hasil penelitian yang dilakukan Kusuma (2011), menunjukkan persentase parasitemia pada kelompok A1 dan A2 mengalami peningkatan dari hari ke-1 sampai hari ke-7 setelah infeksi. Sementara untuk kelompok A3 persentase parasitemianya mengalami penurunan sampai hari ke-3 setelah infeksi, dan persentase parasitemianya meningkat pada hari ke-4 setelah infeksi dan turun pada hari ke-7 setelah infeksi (Kusuma 2011). Peningkatan persentase parasitemia pada kelompok A1 dan A2 kemungkinan disebabkan karena penurunan persentase netrofil dan kurangnya dosis pemberian dari akar kayu kuning menyebabkan efek antimalaria berkurang sehingga belum dapat menghambat pertumbuhan P.berghei.

3 27 Eosinofil Hasil pengamatan persentase rata-rata eosinofil mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum), dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 11. Gambar 11 Rata-rata persentase eosinofil pada mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum).kn : Kontrol negatif hanya diberi larutan PGA 3%,KP : Kontrol positif dengan pemberian klorokuin, A1 : ekstrak air dosis mg/ 25 gr BB mencit, A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 gr BB mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ gr BB mencit. Berdasarkan tabel 3 dan gambar 11, pada kelompok KP dan perlakuan AI, A2, dan A3 hari ke-1 persentase eosinofilnya lebih rendah dari kelompok KN. Pada perlakuan A1 hari ke-2 dan ke-3 persentase eosinofil menurun bahkan tidak terdapat eosinofil. Pada perlakuan A1, hari ke-4 dan hari ke-7 menunjukkan peningkatan dan hari ke-7 perlakuan A1 menunjukan persentase yang tertinggi dan berbeda nyata dengan KN, KP, A2 dan A3 yaitu 1.66%. Perlakuan A2, hari ke-2 menunjukkan peningkatan, bahkan persentasenya lebih tinggi dibandingkan KP, A1, dan A3. Perlakuan A2, hari ke-3 terjadi penurunan bahkan tidak terdapat eosinofil. Pada hari ke-4 dan hari ke-7 menunjukkan peningkatan persentase eosinofil, bahkan pada hari ke-7 persentase eosinofilnya lebih tinggi dibandingkan KN dan A3. Pada perlakuan A3, hari ke-2 menunjukkan peningkatan eosinofil jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Perlakuan A3, pada hari ke-3 menunjukkan penurunan bahkan tidak terdapat eosinofil, pada hari ke-4 dan hari ke-7 menunjukkan peningkatan kembali eosinofil. Jadi gambaran eosinofil A2 dan A3 hampir sama. Guyton (1996) menyatakan bahwa eosinofil berperan dalam proses imun tubuh terhadap adanya infeksi parasit seperti cacing, protozoa dan lain-lain.

4 28 Jumlah eosinofil akan meningkat apabila ada reaksi alergi dan infeksi dari parasit (Kern 2002). Rata-rata persentase eosinofil kelompok A1, A2 dan A3 pada harihari pertama tidak menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari KN. Ini disebabkan karena ekstrak air akar kayu kuning yang menghambat produksi eosinofil. Menurut Sudharshan et al. (2010) bahwa kandungan flavonoid dalam kayu kuning berperan dalam aktivitas antiinflamasi. Berbeda dengan hari ke-7 yang menunjukkan rata-rata nilai ketiga perlakuan lebih tinggi dibanding KN. Terutama pada kelompok A1 hari ke-7, persentase eosinofilnya berbeda nyata dengan KN. Eosinofil tidak seefisien netrofil dalam fagositosis, namun memiliki lisosom yang dapat menghancurkan parasit bila dirangsang dengan tepat (Tizard 1988) sehingga nilainya tidaklah tinggi didalam darah. Tingkat parasitemia pada kelompok perlakuan A1 pada hari ke-7 mengalami peningkatan yang drastic (Kusuma 2011), sehingga keadaan umum hewan pun ikut memburuk, yang merangsang tubuh untuk memproduksi eosinofil. Menurut Tizard (1988), secara umum, antibodi yang ada didalam tubuh membantu mengontrol jumlah parasit dalam aliran darah.

5 29 Tabel 2 Rata-rata persentase netrofil dari mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa akar kayu kuning Perlakuan Pengamatan pada Hari ke- (setelah pemberian ekstrak) KN 53.89±8.03 cdefg 52.44±8.10 bcdefg 54.44±6.87 cdefg 57.01±8.05 efg 59.89±3.83 g 61.66±4.71 g KP 55.60±6.62 defg 46.20±9.16 abcde 41.73±9.03 ab 43.00±10.39 abc 53.08±10.84 cdefg 61.50±4.12 g A ±13.15 cdefg 58.40±11.97 fg 48.66±1.65 abcdef 47.00±6.13 abcde 46.33±0.00 abcde 54.00±3.06 cdefg A ±4.40 abcdef 46.26±4.97 abcde 40.73±8.94 a 47.25±2.10 abcdef 45.41±8.33 abcd 44.66±4.02 abcd A ±7.38 g 53.93±4.27 cdefg 43.20±10.93 abc 39.59±11.08 a 47.58±3.92 abcdef 48.00±2.53 abcdef *Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KN: Kontrol Negatif; KP: Kontrol Positif; A1, A2, dan A3: Infusa akar kayu kuning dengan dosis 0.625,1.25, Tabel 3 Rata-rata persentase eosinofil dari mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa akar kayu kuning. Perlakuan Pengamatan pada Hari ke- (setelah pemberian ekstrak) KN 0.44±0.54 abcd 0.55±0.49 abcd 0.66±0.47 bcd 0.55±0.36 abcd 0.66±0.47 bcd 0.44±0.14 abcd KP 0.40±0.55 abcd 0.26±0.43 ab 0.53±0.38 abcd 0.93±1.03 cd 0.25±0.27 ab 1.00±0.00 d A1 0.00±0.00 a 0.13±0.18 ab 0.00±0.00 a 0.00±0.00 a 0.16±0.11 ab 1.66±1.17 e A2 0.06±0.15 ab 0.13±0.18 ab 0.66±0.15 ab 0.00±0.00 a 0.41±0.27 abcd 0.89±0.49 cd A3 0.00±0.00 a 0.13±0.18 ab 0.33±0.24 abc 0.00±0.00 a 0.08±0.14 ab 0.66±0.47 bcd *Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KN: Kontrol Negatif; KP: Kontrol Positif; A1, A2, dan A3: Infusa akar kayu kuning dengan dosis 0.625; 1.25; 3.75.

6 30 Monosit Hasil pengamatan persentase rata-rata monosit mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning, dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 12. Gambar 12 Rata-rata persentase monosit pada mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum). KN: Kontrol negatif hanya diberi larutan PGA 3%, KP : Kontrol positif dengan pemberian klorokuin, A1 : ekstrak air dosis mg/ 25 gr BB mencit, A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 gr BB mencit dan A3: ekstrak air dosis 3.75 mg/ gr BB mencit. Berdasarkan tabel 4 dan gambar 12, persentase monosit perlakuan A1, A2 dan A3 pada hari ke-1 lebih rendah dibandingkan kelompok KN dan KP. Pada perlakuan A1 pada hari ke-2 mengalami peningkatan, persentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan KN, A2, dan A3, tetapi masih rendah dari pada KP. Kemudian pada hari ke-3 dan ke-4 terjadi penurunan persentase monosit. Pada hari ke-7 terjadi peningkatan monosit, persentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan KN, A2, dan A3. Persentase monosit A2 pada hari ke-2 lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok KN, KP, A1, dan A3. Pada hari ke-3, ke-4 dan ke-7 terjadi peningkatan, dimana persentasenya lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan A3. Pada perlakuan A3 hari ke-2 terjadi peningkatan monosit jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, tetapi persentasenya lebih rendah dari kelompok KN, KP, dan A1. Kemudian terjadi penurunan persentase monosit pada hari ke-3, ke-4, dan ke-7, dimana persentasenya lebih rendah dari kelompok KN, KP, A1, dan A2. Tingginya persentase dari monosit pada perlakuan A1 dan A2 pada hari ke-7, dapat disebabkan oleh senyawa flavonoid yang terkandung di dalam akar kayu kuning (Kusuma 2011). Flavonoid berpotensi sebagai antioksidan dan mampu meningkatkan respon imun (Depkes RI 1985). Flavonoid berpotensi

7 31 bekerja terhadap limfokin yang dihasilkan oleh sel T, sehingga akan meransang sel-sel fagosit (monosit) untuk melakukan respon fagositosis (Kusmardi et al. 2006). Dengan adanya flavonoid, jumlah monosit di dalam tubuh akan meningkat. Monosit merupakan salah satu sel yang berperan penting dalam respon imun, baik berperan fungsional dalam fagositosis maupun perannya sebagai antigen presenting cells (APC) (Bratawidjaja 2003, Kern 2002). Dengan demikian, pemberian infusa akar kayu kuning dapat meningkatkan jumlah monosit di dalam tubuh. Peningkatan monosit juga disebabkan karena terjadi peningkatan persentase parasitemia, sehingga merangsang tubuh untuk melakukan perlawanan dengan mengeluarkan monosit. Sementara itu, penurunan monosit pada kelompok A3 hari ke-3 sampai hari ke-7 dapat disebabkan oleh penurunan tingkat parasitemia dank arena adanya pengaruh dari kandungan infusa akar kayu kuning yang berfungsi sebagai anti plasmodial. Limfosit Hasil pengamatan persentase rata-rata limfosit mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum), dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 13. Gambar 13 Rata-rata persentase limfosit pada mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum). KN : Kontrol negatif hanya diberi larutan PGA 3%, KP : Kontrol positif dengan pemberian klorokuin, A1 : ekstrak air dosis mg/ 25 gr BB mencit, A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 gr BB mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ gr BB mencit. Berdasarkan tabel 5 dan gambar 13, pada perlakuan A1 hari ke-1 menunjukkan penurunan persentase limfosit jika dibandingkan KN, KP, A2, dan A3 yakni 38.26%. Pada perlakuan A1, hari ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-7 masih

8 32 menunjukkan penurunan persentase jika dibandingkan dengan kelompok perlakuan A2 dan A3. Pada perlakuan A2 hari ke-1 dan ke-2 menunjukkan peningkatan persentase limfosit jika dibanding KN, KP, A1, dan A3 yaitu sebesar 50.73% dan 56.86%. Pada hari ke-3 terjadi penurunan persentase limfosit jika dibandingkan dengan kelompok KP dan A3. Kemudian pada hari ke-4 dan ke-7 terjadi peningkatan persentase limfosit jika dibandingkan semua kelompok. Persentase limfosit perlakuan A3 pada hari ke-1 lebih tinggi daripada perlakuan A1 tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok A2. Pada hari ke-2 dan ke-3 terjadi peningkatan limfosit, bahkan pada hari ke-3 persentase limfositnya lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, KP, A1, dan A2 yaitu 57.46%. Pada hari ke-4 dan ke-7 terjadi penurunan persentase limfosit jika dibandingan dengan kelompok perlakuan A2, tetapi lebih tinggi jika dibandingkan dengan KN, KP, dan A1. Rendahnya persentase limfosit pada kelompok A1 jika dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang lain, bisa disebabkan karena nilai netrofil yang lebih tinggi sebagai garis pertahanan utama pada hari pertama setelah infeksi, sehingga organ limfoid utama lebih banyak mengeluarkan netrofil jika dibandingkan dengan limfosit (Baratawidjaja 2003). Peningkatan dari limfosit pada perlakuan A2 hari ke-1, ke-2, ke-4, dan ke-7, serta perlakuan A3 pada hari ke-2 sampai hari ke-7, disebabkan karena terjadi peningkatan persentase parasitemia pada setiap perlakuan (Kusuma 2011). Peningkatan limfosit ini dapat disebabkan oleh kandungan berberin dan flavonoid pada C. fenestratum. Menurut Wongbutdee (2009) C. fenestratum berfungsi sebagai imunostimulator sehingga merangsang tubuh untuk memproduksi limfosit. Jiao et al. (1999) menyatakan bahwa flavonoid dapat meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit. Ganong (2002) menyatakan bahwa adanya benda asing (P. berghei) akan meransang terbentuknya antigen precenting cell (APC), APC ini akan meransang tubuh untuk membentuk sel limfosit T. Selain itu, IL-2 akan diproduksi dengan adanya sel limfosit T, IL-2 ini akan meransang sel T sitotoksik untuk menghancurkan benda asing (P. berghei) yang masuk ke dalam tubuh. Pemberian infusa akar kayu kuning dapat meningkatkan jumlah limfosit, sehingga dengan adanya kerjasama antara sistem kekebalan tubuh dan infusa akar kayu kuning

9 33 dalam tubuh mencit dapat mengeliminasi jumlah parasit yang ada. Hal ini dapat dilihat pada kelompok A3 yaitu jumlah parasitemianya berkurang pada hari ke-7 setelah infeksi (Kusuma 2011).

10 34 Tabel 4 Rata-rata persentase monosit dari mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa akar kayu kuning. Perlakuan Pengamatan pada Hari ke- (setelah pemberian ekstrak) KN 3.44±1.56 abcdef 3.44±1.11 abcdef 3.66±1.24 abcdef 4.66±0.85 defg 4.88±0.68 fgh 3.77±1.18 abcdef KP 4.26±1.32 cdefg 3.86±0.72 abcdef 4.79±1.17 efgh 4.20±1.12 bcdefg 3.75±1.31 abcdef 5.66±0.23 gh A1 6.26±2.78 h 3.20±1.23 abcde 4.16±1.53 bcdefg 3.16±0.59 abcde 3.66±0.23 abcdef 5.00±0.94 fgh A2 2.99±1.02 abcd 2.80±0.80 abc 2.33±0.97 a 2.99±0.91 abcd 3.08±0.49 abcd 4.33±0.81 cdefg A3 3.00±0.97 abcd 2.53±1.06 ab 3.00±0.52 abcd 2.66±0.97 abc 2.25±0.63 a 2.50±0.82 ab *Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KN: Kontrol Negatif; KP: Kontrol Positif; A1, A2, dan A3: Infusa akar kayu kuning dengan dosis 0.625; 1.25; Tabel 5 Rata-rata persentase limfosit dari mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa akar kayu kuning. Perlakuan Pengamatan pada Hari ke- (setelah pemberian ekstrak) KN 42.22±7.26 abcdefgh 43.33±8.38 bcdefgh 40.88±6.64 abcdefg 37.77±7.43 abc 34.44±3.30 ab 34.11±5.19 ab KP 39.66±5.93 abcdef 49.66±8.79 defghi 52.86±8.71 hi 51.66±10.88 ghi 42.91±11.06 abcdefgh 31.83±4.35 a A ±13.03 abcdef 38.26±12.47 abcd 47.15±0.10 cdefghi 49.66±5.41 defghi 49.66±0.23 defghi 39.18±5.29 abcde A ±3.58 defghi 50.73±5.17 fghi 56.86±9.52 i 49.66±2.69 defghi 50.75±8.62 fghi 49.77±4.22 efghi A ±7.78 ab 43.33±5.58 bcdefgh 53.33±10.62 hi 57.46±11.46 i 50.00±3.86 efghi 47.83±0.35 cdefghi *Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KN: Kontrol Negatif; KP: Kontrol Positif; A1, A2, dan A3: Infusa akar kayu kuning dengan dosis 0.625; 1.25; 3.75.

11 35 Basofil Hasil pengamatan persentase rata-rata limfosit mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning, dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 14. Gambar 14 Rata-rata persentase basofil pada mencit yang diinfeksi P.berghei dan diberi infusa tanaman akar kayu kuning (Coscinium fenestratum).kn : Kontrol negatif hanya diberi larutan PGA 3%, KP : Kontrol positif dengan pemberian klorokuin, A1 : ekstrak air dosis mg/ 25 gr BB mencit, A2 : ekstrak air dosis 1.25 mg/ 25 gr BB mencit dan A3 : ekstrak air dosis 3.75 mg/ gr BB mencit. Berdasarkan tabel 6 dan gambar 14, pada kelompok A1 pada hari ke-1 dan ke-2 menunjukkan nilai nol atau tidak ditemukan basofil. Kemudian mulai pada hari ke-3 sampai hari ke-7 persentase basofilnya meningkat dan menunjukkan persentase yang sama yakni 0.16%. Persentase basofil pada kelompok A2 dan A3 pada hari ke-1 menunjukkan hasil yang sama yakni 0.06%, persentasenya lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, KP, dan A1. Pada hari ke-2 tidak ditemukan adanya basofil pada kelompok perlakuan A2, kemudian pada hari ke-3 sampai hari ke-7 terjadi peningkatan basofil. Persentase basofil pada hari ke-4 lebih tinggi dibandingkan dengan semua kelompok. Kelompok perlakuan A3 pada hari ke-2 dan ke-3 mengalami peningkatan basofil, persentasenya lebih tinggi dari semua kelompok. Pada hari ke-4 terjadi penurunan basofil dan pada hari ke-7 terjadi peningkatan kembali, persentasenya lebih tinggi daripada KN, KP, A1, dan A2, yakni 1.00%. Persentase basofil pada tiap perlakuan tidak menunjukan hasil yang berarti. Hal ini dikarenakan basofil kurang merespon akan adanya parasit. Menurut Campbell et al. (2004), basofil memiliki peran utama dalam berbagai proses alergi dan penutupan luka, serta basofil kurang berperan terhadap adanya parasit. Selain itu, basofil juga berperan dalam respon peradangan, basofil mengandung zat

12 36 heparin (antikoagulan) yang dilepas didaerah peradangan guna mencegah pembekuan darah dalam reaksi inflamasi (Frandson 1992). Peningkatan persentase basofil pada kelompok A3 tiap harinya, mungkin karena peningkatan persentase limfosit. Menurut Tizard (1988), adanya infiltrasi basofil dapat disebabkan karena adanya pelepasan limfokin basofil-kemotaktik dari sel T. Peningkatan basofil ini menunjukkan keterlibatan basofil dalam mencegah rekasi inflamasi akibat tingginya persentase limfosit dan kerjasama dengan berberin yang terkandung dalam ekstrak yang mempunyai fungsi antiinflamasi.

13 37 Tabel 6 Rata-rata persentase basofil dari mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa akar kayu kuning. Perlakuan Pengamatan pada Hari ke- (setelah pemberian ekstrak) KN 0.00±0.00 a 0.22±0.13 a 0.00±0.00 a 0.00±0.00 a 0.11±0.13 a 0.00±0.00 a KP 0.06±0.14 a 0.00±0.00 a 0.06±0.14 a 0.26±0.15 a 0.00±0.00 a 0.00±0.00 a A1 0.00±0.00 a 0.00±0.00 a 0.00±0.00 a 0.16±0.11 a 0.16±0.11 a 0.16±0.11 a A2 0.00±0.00 a 0.06±0.14 a 0.00±0.00 a 0.08±0.14 a 0.33±0.40 a 0.33±0.40 a A3 0.00±0.00 a 0.06±0.14 a 0.13±0.18 a 0.26±0.59 a 0.08±0.14 a 1.00±0.70 b *Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KN: Kontrol Negatif; KP: Kontrol Positif; A1, A2, dan A3: Infusa akar kayu kuning dengan dosis 0.625; 1.25; 3.75.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari pengamatan diferensial leukosit pada mencit yang diinfeksi dengan P.berghei setelah pemberian ekstrak akar kayu kuning (C. fenestratum) dengan pelarut etanol yaitu sebagai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Neutrofil pada Mencit Jantan Berdasarkan Tabel 2, rata-rata persentase neutrofil ketiga perlakuan infusa A. annua L. dari hari ke-2 sampai hari ke-8 setelah infeksi cenderung lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Parasitemia Hasil penelitian menunjukan bahwa semua rute inokulasi baik melalui membran korioalantois maupun kantung alantois dapat menginfeksi semua telur tertunas (TET). Namun terdapat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kerbau lumpur betina, diperoleh jumlah rataan dan simpangan baku dari total leukosit, masing-masing jenis leukosit, serta rasio neutrofil/limfosit

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Penurunan jumlah ookista dalam feses merupakan salah satu indikator bahwa zat yang diberikan dapat berfungsi sebagai koksidiostat. Rataan jumlah ookista pada feses ayam berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan di sekitar manusia banyak mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa zat warna lalu dikeringkan. Selanjutnya, DPX mountant diteteskan pada preparat ulas darah tersebut, ditutup dengan cover glass dan didiamkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. benda asing dan patogen di lingkungan hidup sekitar seperti bakteri, virus, fungus

BAB I PENDAHULUAN. benda asing dan patogen di lingkungan hidup sekitar seperti bakteri, virus, fungus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem imun berfungsi dalam mempertahankan kondisi tubuh terhadap benda asing dan patogen di lingkungan hidup sekitar seperti bakteri, virus, fungus dan parasit. Sistem

Lebih terperinci

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN Sel yang terlibat dalam sistem imun normalnya berupa sel yang bersirkulasi dalam darah juga pada cairan lymph. Sel-sel tersebut dapat dijumpai dalam

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Total Leukosit Pada Tikus Putih Leukosit atau disebut dengan sel darah putih merupakan sel darah yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh dan merespon kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. jenis teripang yang berasal dari Pantai Timur Surabaya (Paracaudina australis,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. jenis teripang yang berasal dari Pantai Timur Surabaya (Paracaudina australis, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tiga jenis teripang yang berasal dari Pantai Timur Surabaya (Paracaudina australis,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius Hasil pengamatan histopatologi bursa Fabricius yang diberi formula ekstrak tanaman obat memperlihatkan beberapa perubahan umum seperti adanya

Lebih terperinci

ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun.

ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun. ii ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Viusid Pet terhadap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara

BAB 1 PENDAHULUAN. menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obat tradisional telah lama digunakan diseluruh dunia dan menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Kim et al., 2009). Tuberkulosis pada umumnya terjadi di paru-paru

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. Mencit Balb/C yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari. Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah

BAB VI PEMBAHASAN. Mencit Balb/C yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari. Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah BAB VI PEMBAHASAN Mencit Balb/C yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah Yogyakarta. Banyaknya mencit yang digunakan adalah 24

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tubuh manusia secara fisiologis memiliki sistim pertahanan utama untuk melawan radikal bebas, yaitu antioksidan yang berupa enzim dan nonenzim. Antioksidan enzimatik bekerja

Lebih terperinci

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI 1 BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI TUGAS I Disusun untuk memenuhi tugas praktikum brosing artikel dari internet HaloSehat.com Editor SHOBIBA TURROHMAH NIM: G0C015075 PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. benda tajam ataupun tumpul yang bisa juga disebabkan oleh zat kimia, perubahan

BAB I PENDAHULUAN. benda tajam ataupun tumpul yang bisa juga disebabkan oleh zat kimia, perubahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perlukaan merupakan rusaknya jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam ataupun tumpul yang bisa juga disebabkan oleh zat kimia, perubahan suhu,

Lebih terperinci

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba 3 Diferensiasi SDP dilakukan berbasis preparat ulas darah total. Darah diulas di preparat kemudian difiksasi dengan metanol selama 2 menit. Preparat ulas darah diwarnai menggunakan pewarna giemsa selama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi dan Persentase Parasit Darah Hasil pengamatan preparat ulas darah pada enam ekor kuda yang berada di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR FKH IPB) dapat dilihat sebagai berikut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui 41 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Uji LD-50 Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui kepadatan bakteri yang akan digunakan pada tahap uji in vitro dan uji in vivo. Hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit akibat tubuh tidak mampu melawan zat asing yang masuk ke dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit akibat tubuh tidak mampu melawan zat asing yang masuk ke dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penurunan sistem imun dapat menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit akibat tubuh tidak mampu melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh (Murphy et al.,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya semua manusia memiliki sistem imun. Sistem imun diperlukan oleh tubuh sebagai pertahanan terhadap berbagai macam organisme asing patogen yang masuk ke

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 3 penyakit menyular setelah TB dan Pneumonia. 1. Diare dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya infeksi bakteri.

BAB 1 PENDAHULUAN. 3 penyakit menyular setelah TB dan Pneumonia. 1. Diare dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya infeksi bakteri. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Salah satu penyakit yang sering dialami adalah diare. Penyakit diare merupakan masalah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Perbanyakan tanaman cabai secara in vitro dapat dilakukan melalui organogenesis ataupun embriogenesis. Perbanyakan in vitro melalui organogenesis dilakukan dalam media MS dengan penambahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tubuh yaitu terjadinya kerusakan jaringan tubuh sendiri (Subowo, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. tubuh yaitu terjadinya kerusakan jaringan tubuh sendiri (Subowo, 2009). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunitas merupakan suatu mekanisme untuk mengenal suatu zat atau bahan yang dianggap sebagai benda asing terhadap dirinya, selanjutnya tubuh akan mengadakan tanggapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. infeksi setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Berdasarkan hasil Survei

BAB I PENDAHULUAN. infeksi setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Berdasarkan hasil Survei BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor dua karena infeksi setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Berdasarkan hasil Survei Kesehatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Diferensial leukosit ayam perlakuan berumur 21 hari selama pemberian ekstrak tanaman obat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Diferensial leukosit ayam perlakuan berumur 21 hari selama pemberian ekstrak tanaman obat 33 HASIL DAN PEMBAHASAN Diferensial Leukosit Ayam Perlakuan Pemeriksaan diferensial leukosit ayam broiler dalam kelompok perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali selama penelitian berlangsung. Pemeriksaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Respon deferensiasi sel darah perifer mencit terhadap vaksin S. agalactiae yang diradiasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Respon deferensiasi sel darah perifer mencit terhadap vaksin S. agalactiae yang diradiasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Vaksinasi adalah suatu proses membangkitkan kekebalan protektif dengan menggunakan antigen yang relatif tidak berbahaya (Tripp 2004). Vaksinasi merupakan metode yang paling efektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. digunakan sebagai alternatif pengobatan seperti kunyit, temulawak, daun sirih,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. digunakan sebagai alternatif pengobatan seperti kunyit, temulawak, daun sirih, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan bahan alam untuk mengobati penyakit sudah sejak lama diterapkan oleh masyarakat. Pada jaman sekarang banyak obat herbal yang digunakan sebagai alternatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolitis Ulserativa (ulcerative colitis / KU) merupakan suatu penyakit menahun, dimana kolon mengalami peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Alergi terjadi akibat adanya paparan alergen, salah satunya ovalbumin.

BAB I PENDAHULUAN. Alergi terjadi akibat adanya paparan alergen, salah satunya ovalbumin. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alergi adalah suatu keadaan hipersensitivitas yang diinduksi oleh pajanan suatu antigen tertentu yang menimbulkan reaksi imunologi yang berbahaya pada pajanan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah LeukositTotal Leukosit merupakan unit darah yang aktif dari sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi serangan agen-agen patogen, zat racun, dan menyingkirkan sel-sel rusak

Lebih terperinci

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed 1 PENDAHULUAN Sistem imun melindungi tubuh dari sel asing & abnormal dan membersihkan debris sel. Bakteri dan virus patogenik adalah sasaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. inflamasi. Hormon steroid dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu glukokortikoid

BAB 1 PENDAHULUAN. inflamasi. Hormon steroid dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu glukokortikoid BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kortikosteroid adalah derivat hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memiliki peranan penting seperti mengontrol respon inflamasi. Hormon

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Eritrosit Fungsi

Lebih terperinci

Sistem Imun. Leukosit mrpkn sel imun utama (disamping sel plasma, 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal

Sistem Imun. Leukosit mrpkn sel imun utama (disamping sel plasma, 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal Kuntarti, SKp Sistem Imun Fungsi: 1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reaksi hipersensitivitas tipe I atau reaksi alergi adalah reaksi imunologis (reaksi peradangan) yang diakibatkan oleh alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyerang banyak orang sehingga menimbulkan wabah. Demam

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyerang banyak orang sehingga menimbulkan wabah. Demam BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi Salmonella typhi. Demam tifoid masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia, penyakit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara empiris dapat mengobati berbagai macam penyakit. Tumbuh subur pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara empiris dapat mengobati berbagai macam penyakit. Tumbuh subur pada BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Mahkota Dewa Mahkota dewa merupakan tanaman asli Indonesia tepatnya Papua dan secara empiris dapat mengobati berbagai macam penyakit. Tumbuh subur pada ketinggian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya teknologi di segala bidang merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Diantara sekian banyaknya kemajuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator dibanding respons imun yang didapat. Inflamasi dapat diartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk melawan segala macam organisme pengganggu atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Kemampuan

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Fungsi utama eritrosit:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tumbuhan Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tumbuhan Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) 2.1.1 Klasifikasi tumbuhan Dalam taksonomi tumbuhan, tanaman mahkota dewa diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Divisi Subdivisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas sistem imun sangat diperlukan sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap ancaman,

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK AKAR KAYU KUNING (Coscinium fenestratum) DENGAN PELARUT ETANOL TERHADAP GAMBARAN LEUKOSIT MENCIT YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei

PENGARUH EKSTRAK AKAR KAYU KUNING (Coscinium fenestratum) DENGAN PELARUT ETANOL TERHADAP GAMBARAN LEUKOSIT MENCIT YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei PENGARUH EKSTRAK AKAR KAYU KUNING (Coscinium fenestratum) DENGAN PELARUT ETANOL TERHADAP GAMBARAN LEUKOSIT MENCIT YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei ARIEF PURWO MIHARDI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 27 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Diferensiasi Leukosit Tubuh manusia maupun hewan sepanjang waktu terpapar oleh agen infeksius seperti bakteri, virus, jamur dan parasit dalam berbagai tingkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sistem imunitas didalam tubuh manusia merupakan satu kesatuan yang

BAB I PENDAHULUAN. Sistem imunitas didalam tubuh manusia merupakan satu kesatuan yang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sistem imunitas didalam tubuh manusia merupakan satu kesatuan yang kompleks dan berlapis-lapis dalam menghadapi invasi patogen yang masuk seperti bakteri, jamur, virus

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi,

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi, PENGETAHUAN DASAR IMUNOLOGI KULIT Dr. Ariyati Yosi, SpKK PENDAHULUAN Kulit: end organ banyak kelainan yang diperantarai oleh proses imun kulit berperan secara aktif sel-sel imun (limfoid dan sel langerhans)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. supaya tidak terserang oleh penyakit (Baratawidjaja, 2000). keganasan terutama yang melibatkan sistem limfatik (Widianto, 1987).

BAB I PENDAHULUAN. supaya tidak terserang oleh penyakit (Baratawidjaja, 2000). keganasan terutama yang melibatkan sistem limfatik (Widianto, 1987). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan disekitar kita banyak mengandung agen infeksius maupun non infeksius yang dapat memberikan paparan pada tubuh manusia. Setiap orang dihadapkan pada berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika merupakan suatu reaksi hipersensitivitas, yang disebut juga sebagai dermatitis atopik. Penderita dermatitis atopik dan atau keluarganya biasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan suatu masalah kesehatan di Indonesia yang menjadi perhatian serius untuk segera ditangani. Rendahnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total Data hasil penghitungan jumlah leukosit total, diferensial leukosit, dan rasio neutrofil/limfosit (N/L) pada empat ekor kerbau lumpur betina yang dihitung

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. fagositosis makrofag pada kelompok perlakuan (diberi ekstrak daun salam)

BAB V PEMBAHASAN. fagositosis makrofag pada kelompok perlakuan (diberi ekstrak daun salam) BAB V PEMBAHASAN 1. Kemampuan fagositosis makrofag Kemampuan fagositosis makrofag yang dinyatakan dalam indeks fagositosis makrofag pada kelompok perlakuan (diberi ekstrak daun salam) lebih tinggi dibandingkan

Lebih terperinci

serta terlibat dalam metabolisme energi dan sintesis protein (Wester, 1987; Saris et al., 2000). Dalam studi epidemiologi besar, menunjukkan bahwa

serta terlibat dalam metabolisme energi dan sintesis protein (Wester, 1987; Saris et al., 2000). Dalam studi epidemiologi besar, menunjukkan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam tubuh manusia, sistem imun sangat memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh terhadap berbagai antigen (benda asing) dengan memberantas benda asing tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang cukup tinggi karena sebagian besar kawasannya berupa perairan. Nontji (2002)

BAB I PENDAHULUAN. yang cukup tinggi karena sebagian besar kawasannya berupa perairan. Nontji (2002) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi sumber daya laut yang cukup tinggi karena sebagian besar kawasannya berupa perairan. Nontji

Lebih terperinci

Sistem Imun. Organ limfatik primer. Organ limfatik sekunder. Limpa Nodus limfa Tonsil. Sumsum tulang belakang Kelenjar timus

Sistem Imun. Organ limfatik primer. Organ limfatik sekunder. Limpa Nodus limfa Tonsil. Sumsum tulang belakang Kelenjar timus Sistem Imun Organ limfatik primer Sumsum tulang belakang Kelenjar timus Organ limfatik sekunder Limpa Nodus limfa Tonsil SISTEM PERTAHANAN TUBUH MANUSIA Fungsi Sistem Imun penangkal benda asing yang masuk

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mencit terinfeksi E. coli setelah pemberian tiga jenis teripang ditunjukkan pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mencit terinfeksi E. coli setelah pemberian tiga jenis teripang ditunjukkan pada BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Data hasil penelitian jumlah netrofil yang menginvasi cairan intraperitoneal mencit terinfeksi E. coli setelah pemberian tiga jenis teripang ditunjukkan

Lebih terperinci

PEMBAEIASAN. leukosit, jenis leukosit, nilai indeks fagositik serta adanya perbedaan tingkat

PEMBAEIASAN. leukosit, jenis leukosit, nilai indeks fagositik serta adanya perbedaan tingkat PEMBAEIASAN Penambahan Spirulina platensis dalam pakan ikan sebanyak 296, 4% dan 6% baik secara kontinyu maupun diskontinyu dapat meningkatkan respon kekebalan ikan patin. Peningkatan ini dapat dilihat

Lebih terperinci

BAB 3 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 3 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 3 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Tumbuhan uji yang digunakan adalah pegagan dan beluntas. Tumbuhan uji diperoleh dalam bentuk bahan yang sudah dikeringkan. Simplisia pegagan dan beluntas yang diperoleh

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN. Gambar 3 Garis besar jalannya penelitian

3 METODE PENELITIAN. Gambar 3 Garis besar jalannya penelitian 3 METODE PENELITIAN 3. 1 Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium Protozoologi, Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006

SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006 SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006 1. Imunitas natural :? Jawab : non spesifik, makrofag paling berperan, tidak terbentuk sel memori 2. Antigen : a. Non spesifik maupun spesifik,

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. Mencit yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari Laboratorium

BAB 5 PEMBAHASAN. Mencit yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari Laboratorium 49 BAB 5 PEMBAHASAN Mencit yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari Laboratorium Biokimia Universitas Muhammdiyah Jogjakarta. Banyaknya mencit yang digunakan adalah 24 ekor, di mana tiap kelompok

Lebih terperinci

ulangan pada tiap perlakuan. Pada penelitian ini dilakuan sebanyak 6 kali ulangan.

ulangan pada tiap perlakuan. Pada penelitian ini dilakuan sebanyak 6 kali ulangan. Hasil dari perhitungan rumus di atas diperoleh nilai minimal 3 kali ulangan pada tiap perlakuan. Pada penelitian ini dilakuan sebanyak 6 kali ulangan. 3.6. Analisis Data Data-data yang diperoleh adalah

Lebih terperinci

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Dr. Nia Kurniati, SpA (K) Manusia mempunyai sistem pertahanan tubuh yang kompleks terhadap benda asing. Berbagai barrier diciptakan oleh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus Jaringan limfoid sangat berperan penting untuk pertahanan terhadap mikroorganisme. Ayam broiler memiliki jaringan limfoid primer (timus dan bursa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi penyakit endemis di beberapa daerah tropis dan subtropis dunia. Pada tahun 2006, terjadi 247 juta kasus malaria,

Lebih terperinci

Sistem Imun BIO 3 A. PENDAHULUAN SISTEM IMUN. materi78.co.nr

Sistem Imun BIO 3 A. PENDAHULUAN SISTEM IMUN. materi78.co.nr Sistem Imun A. PENDAHULUAN Sistem imun adalah sistem yang membentuk kekebalan tubuh dengan menolak berbagai benda asing yang masuk ke tubuh. Fungsi sistem imun: 1) Pembentuk kekebalan tubuh. 2) Penolak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI rina_susilowati@ugm.ac.id Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang. masih menjadi masalah di negara tropis dan subtropis

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang. masih menjadi masalah di negara tropis dan subtropis BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah di negara tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Penyebab penyakit malaria ini adalah parasit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi yang kompleks terhadap agen penyebab jejas, seperti mikroba dan kerusakan sel. Respon inflamasi berhubungan erat dengan proses penyembuhan,

Lebih terperinci

Gambar 1 Rata-rata Jumlah Sel Darah Putih Ikan Lele Dumbo Setiap Minggu

Gambar 1 Rata-rata Jumlah Sel Darah Putih Ikan Lele Dumbo Setiap Minggu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Jumlah Sel Darah Putih (Leukosit) Ikan Lele Dumbo Pada penelitian ini dihitung jumlah sel darah putih ikan lele dumbo untuk mengetahui pengaruh vitamin dalam meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh, terhitung sekitar 16% dari berat badan manusia dewasa. Kulit memiliki banyak fungsi penting, termasuk sebagai sistem pertahanan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol 30 PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol Sel somatik merupakan kumpulan sel yang terdiri atas kelompok sel leukosit dan runtuhan sel epitel. Sel somatik dapat ditemukan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Istilah asma berasal dari bahasa Yunani yang artinya terengahengah dan berarti serangan napas pendek. Meskipun dahulu istilah ini digunakan untuk menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tumbuh secara liar maupun yang sengaja dibudidayakan. Sejak zaman

BAB I PENDAHULUAN. yang tumbuh secara liar maupun yang sengaja dibudidayakan. Sejak zaman BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumbuhan merupakan keragaman hayati yang selalu ada di sekitar kita, baik yang tumbuh secara liar maupun yang sengaja dibudidayakan. Sejak zaman dahulu, tumbuhan sudah

Lebih terperinci

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. Praktikum IDK 1 dan Biologi, 2009 Tuti Nuraini, SKp., M.Biomed. 1 TUJUAN Mengetahui asal sel-sel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika adalah suatu peradangan pada kulit yang didasari oleh reaksi alergi/reaksi hipersensitivitas tipe I. Penyakit yang berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Ketika tubuh terpajan oleh suatu antigen atau benda asing,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Ketika tubuh terpajan oleh suatu antigen atau benda asing, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketika tubuh terpajan oleh suatu antigen atau benda asing, secara otomatis tubuh akan memberi tanggapan berupa respon imun. Respon imun dibagi menjadi imunitas

Lebih terperinci

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM Pengertian Sistem Pertahanan Tubuh Pertahanan tubuh adalah seluruh sistem/ mekanisme untuk mencegah dan melawan gangguan tubuh (fisik, kimia, mikroorg) Imunitas Daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi

Lebih terperinci

BAB 2 TERMINOLOGI SITOKIN. Sitokin merupakan protein-protein kecil sebagai mediator dan pengatur

BAB 2 TERMINOLOGI SITOKIN. Sitokin merupakan protein-protein kecil sebagai mediator dan pengatur BAB 2 TERMINOLOGI SITOKIN Sitokin merupakan protein-protein kecil sebagai mediator dan pengatur immunitas, inflamasi dan hematopoesis. 1 Sitokin adalah salah satu dari sejumlah zat yang disekresikan oleh

Lebih terperinci

IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER

IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER BAB 8 IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER 8.1. PENDAHULUAN Ada dua cabang imunitas perolehan (acquired immunity) yang mempunyai pendukung dan maksud yang berbeda, tetapi dengan tujuan umum yang sama, yaitu mengeliminasi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Histopatologi

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Histopatologi HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Histopatologi Pengamatan histopatologi limpa dilakukan untuk melihat lesio pada limpa. Dari preparat yang diamati, pada seluruh kelompok perlakuan baik kontrol (-) maupun

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 18 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Respon Umur Tanaman Pada Cekaman Kekeringan Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperacae,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperacae, 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sirih Merah 2.1.1 Gambaran Umum Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperacae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan khususnya untuk bahan obat-obatan (Susi et al., 2009). Sesuai

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan khususnya untuk bahan obat-obatan (Susi et al., 2009). Sesuai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki posisi sangat penting dan strategis dari sisi kekayaan dan keanekaragaman jenis tumbuhan beserta ekosistemnya (Walujo, 2011). Kekayaan dan keanekaragamannya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian dan pengembangan tumbuhan obat saat ini berkembang pesat. Oleh karena bahannya yang mudah diperoleh dan diolah sehingga obat tradisional lebih banyak digunakan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Uraian Tumbuhan 1. Sistematika Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Ordo : Annonales Famili : Annonaceae Genus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman flora terbesar kedua setelah Brazil, sangat potensial dalam mengembangkan obat herbal yang berbasis pada tanaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penggunaan obat-obat kemoterapi seperti doxorubicin memiliki efek

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penggunaan obat-obat kemoterapi seperti doxorubicin memiliki efek 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan obat-obat kemoterapi seperti doxorubicin memiliki efek samping menurunkan sistem imun yang dapat menyebabkan tubuh mudah terkena serangan penyakit.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. 2 Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi. 2 Indonesia merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi. 1 Penyakit ini banyak ditemukan di negara berkembang dan menular melalui makanan atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia hidup dalam dunia yang penuh dengan mikroorganisme, dan setiap saat tubuh manusia terpapar oleh bakteri, fungi, parasit, dan virus. Paparan antigen yang terus-menerus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan

BAB I PENDAHULUAN. (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada zaman nenek moyang kita dengan pengetahuan dan peralatan yang sederhana telah mampu mengatasi masalah kesehatan. Berbagai macam penyakit dan keluhan ringan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biji Buru Hotong Gambar biji buru hotong yang diperoleh dengan menggunakan Mikroskop Sterio tipe Carton pada perbesaran 2 x 10 diatas kertas millimeter blok menunjukkan

Lebih terperinci