PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan"

Transkripsi

1 PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA Logo perusahaan DISETUJUI OLEH: PRESIDEN DIREKTUR Dokumen ini terkendali ditandai dengan stempel DOKUMEN TERKENDALI. Dilarang mengubah atau menggandakan dokumen tanpa seizing dan sepengetahuan dari Presiden Direktur dan atau Wakil Manajemen Mutu.

2 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Daftar Isi 1.2 Daftar Riwayat perubhan dokumen 1.3 Daftar pemegang dokumen 1.4 Profil perusahaan 1.5 Struktur organisasi BAB II RUANG LINGKUP SISTEM MANAJEMEN MUTU 2.1 Ruang lingkup system manajemen mutu 2.2 Proses bisnis BAB III KEBIJAKAN MUTU 3.1 KEBIJAKAN MUTU DAN SASARAN MUTU BAB IV SISTEM MANAJEMEN MUTU 4.1 Persyaratan umum 4.2 Persyaratan dokumentasi BAB V TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 5.1 Komitmen manajemen 5.2 Perhatian terhadap pelanggan 5.3 Kebijakan Mutu 5.4 Rencana manajemen 5.5 Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi 5.6 Tinjauan manajemen BAB VI MANAJEMEN SUMBER DAYA 6.1 Kebutuhan sumber daya 6.2 Sumber daya manusia 6.3 Infrastruktur 6.4 Lingkungan kerja BAB VII REALISASI PRODUK 7.1 Perencanaan realisasi produk 7.2 Proses yang berhubungan dengan pelanggan 7.3 Desain dan pengembangan 7.4 Pembelian 7.5 Operasi produksi dan pelayanan 7.6 Pengendalian peralatan pengukuran dan pemantauan BAB VIII PENGUKURAN, ANALISIS DAN PENINGKATAN 8.1 Umum 8.2 Pengukuran dan pemantauan 8.3 Pengendalian Ketidak sesuaian produk 8.4 Analisa data 8.5 Peningkatan

3 DAFTAR RIWAYAT PERUBAHAN DOKUMEN PEDOMAN MUTU Tgl. Perubahan no. perubahan halaman alasan perubahan tertulis diubah menjadi FRM MRP.09/Rev.00

4 DAFTAR PEMEGANG DOKUMEN No. Nama Jabatan No. Salinan Mengetahui; (Wakil Manajemen Mutu)

5 COMPANY PROFILE PT YUSA INDONESIA ALAMAT: Telephone No. Facsimile No. SHARE HOLDERS BUSINESS CUSTOMER/PELANGGAN PERSETUJUAN BKPM IZIN EPTE KONSTRUKSI PABRIK PEMASANGAN MESIN LOKASI PABRIK STRUKTUR ORGANISASI

6 2.1 Ruang Lingkup Sistem Manajemen Mutu PT Yusa Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing. Pelanggan dari perusahaan ini adalah. Ruang lingkup implementasi Sistem Manajemen Mutu di PT Yusa Indonesia mencakup semua elemen dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, kecuali: 1. Pasal 7.3 Desain dan Pengembangan Pada saat ini PT Yusa Indonesia tidak menerapkan Desain dan Pengembangan, karena tidak aktivitas desain dan pengembangan. Bilamana dikemudian hari kegiatan ini akan dilaksanakan, maka pasal ini akan dicakup dalam Sistem Manajemen Mutu 2. Pasal 7.6 Pembelian PT Yusa Indonesia tidak menerapkan pemilihan dan evaluasi pemasok untuk pemasok yang berasal dari Jepang. Pemasok di Jepang produknya sudah mengacu pada JIS. Pemilihan dan evaluasi pemasok hanya dilakukan pada pemasok lokal.

7 PROSES BISNIS

8 3.1 KEBIJAKAN MUTU DAN SASARAN MUTU Kebijakan Mutu Kebijakan Mutu PT Yusa Indonesia adalan KEPUASAN PELANGGAN. Perusahaan akan memenuhi persyaratan mutu yang diajukan oleh pelanggan, dan untuk itu perusahaan menerapkan perbaikan berlanjut atau penyempurnaan yang berkesinambungan Komitmen perusahaan kepada pelanggan mencakup: - Kualitas produk yang baik - Pengiriman tepat waktu - Pelayanan terpecaya - Harga bersaing Sasaran Mutu Sasaran Mutu PT Yusa Indonesia periode April 2012 September 2012 adalah: Keluhan Pelanggan: masalah mutu kurang dari xxx% masalah diluar mutu kurang dari 15 kasus per bulan, ditangani dalam waktu paling lambat 3 hari Pengiriman tepat waktu diatas 95% Kerusakan pada material selama proses kurang dari 2% Kerusakan produk yang tidak dapat diproses kembali kurang dari 1%

9 4.1 PERSYARATAN UMUM 1.0 Ruang Lingkup Pedoman ini mencakup penjelasan tentang Persyaratan Umum dalam Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 di PT Yusa Indonesia 2.0 Tanggung Jawab 2.1 Presiden Direktur: untuk memastikan tersedianya sumber daya dan informasi Yang dibutuhkan untuk mendukung operasi dan memantau proses. 2.2 Direktur: mengidentifikasi proses yang dibutuhkan oleh perusahaan, Menetapkan urutan daninteraksi dari proses tersebut 2.3 Wakil Manajemen Mutu: menetapkan criteria dan metoda untuk memastikan bahwa pelaksanaan dan pengendaliannya berjalan efektif. 2.3 Manajer Terkait: memastikan untuk mengukur, memantau dan menganalisa Proses, melakukan tindakan untuk mencapai hasil yang ditetapkan dan perbaikan terus menerus. PT Yusa Indonesia 3.1 Mengidentifikasi proses yang dibutuhkan 3.2 Menetapkan urutan dan interaksi proses 3.3 Menetapkan criteria dan metode untuk memastikan bahwa pelaksanaan dan pengendaliannya berjalan dengan efektif 3.4 Memastikan tersedianya sumber daya dan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung operasi dan memantau proses 3.5 Memastikan untuk mengukur, memantau dan menganalisis proses 3.6 Melakukan tindakan untuk mencapai hasil yang ditetapkan dan perbaikan berlanjut Semua prosedur

10 4.2 PERSYARATAN DOKUMENTASI 1.0. Ruang Lingkup Pedoman ini menjelaskan tentang system dokumentasi mutu yang digunakan dalam PT YUSA INDONESIA 2.0. Tanggung Jawab Presiden Direktur Menetapkan dan menerapkan Kebijakan Mutu serta Sasaran Mutu Menetapkan dan menerapkan serta memelihara Pedoman Mutu terdokumentasi Manager terkait Menetapkan, menerapkan dan memelihara Prosedur terdokumentai yang terkait dengan persyaratan ISO 9001:2000 Mengendalikan dokumen sesuai dengan prosedur pengendalian dokumen terdokumentasi Mengendalikan catatan mutu sesuai dengan prosedur terdokumentasi 3.0. Policy 3.1 PT YUSA INDONESIA memastikan sistem dokumentasinya terdiri dari: - Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu - Pedoman Mutu - Prosedur terdokumentasi yang dipersyaratkan oleh Standar Internasional ini - Dokumen yang dipersyaratkan oleh perusahaan untuk memastikan keefektifan perencanaan, operasi dan pengendalian prosesnya - Catatan mutu yang dipersyaratkan oleh standar internasional 3.2 PT YUSA INDONESIA menetapkan dan memelihara Pedoman Mutu yang isinya termasuk: - Ruang lingkup dari system manajemen mutu, termasuk rincian dan keterangan persyaratan yang tidak ditetapkan - Prosedur terdokumentasi yang ditetapkan untuk system manajemen mutu atau sebagai acuannya - Keterangan mengenai interaksi proses system manajemen mutu 3.3 PT YUSA INDONESIA menetapkan dan memelihara Prosedur Pengendalian Dokumen dan Prosedur Pengendalian Catatan Mutu 3.4 PT YUSA INDONESIA menetapkan prosedur pengendalian dokumen, yang berisikan: - Persetujuan dokumen - Tinjauan dan up-date dokumen jika diperlukan serta adanya persetujuan ulang - Pemastian perubahan dan status revisi dokumen diidentifikasi

11 - Pemastian bahwa hanya dokumen dengan status revisi terakhir, tersedia ditempat kegiatan, dan diidentifikasi - Pemastian dokumen yang berasal dari luar diidentifikasi serta pengendalian distribusinya - Dokumen kadaluarsa dicegah pemakaiannya. dan diidentifikasi dengan cukup bilamana masih diperlukan untuk suatu tujuan 3.5 PT YUSA INDONESIA menetapkan dan memelihara catatan mutu yang dibutuhkan oleh Sistem Manajemen Mutu untuk memperagakan kesesuaiannya terhadap persyaratan dan keefetifan dari system ini. QP 001 Pengendalian Dokumen QP 002 Pengendalian Catatan Mutu

12 5.1 KOMITMEN MANAJEMEN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tanggunga jawab manajemen dalam komitmennya terhadap mutu di PT YUSA INDONESIA 2.0 Tanggung Jawab Direktur: menetapkan Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu Wakil Manajemen Mutu mengkoordinasikan penerapan sosialisasi dari Kebijakan Mutu dan penerapan system mutu PT YUSA INDONESIA mempunyai komitmen untuk mengembangkan dan meningkatkan system manajemen mutu dengan: 5. Mengkomunikasikan kepada seluruh fungsi organisasi akan pentingnya memenuhi persyaratan pelanggan termasuk peraturan dan persyaratan hokum 5. Menetapkan Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu 5. Memastikan bahwa Kebijakan Mutu dan sasaran mutu tercapai 5. Melaksanakan tinjauan manajemen 5. Memastikan tersedianya sumber daya yang diperlukan dalam system manajemen mutu : QP 003 Komunikasi Internal dan Eksternal QP 004 Pembelian QP 005 Tinjauan Manajemen QP 006 Penerimaan Karyawan Baru

13 PERHATIAN PADA PELANGGAN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tanggung jawab manajemen dalam merumuskan persyaratan pelanggan di PT YUSA INDONESIA Marketing manager mengadakan hubungan dengan pelanggan dan merumuskan persyaratan pelanggan kedalam catatan terdokumentasi Seluruh manager terkait memastikan kegiatan yang berada dibawahnya terkendali PT YUSA INDONESIA memastikan kebutuhan dan keinginan pelanggan ditetapkan dan dipenuhi dengan tujuan mencapai kepuasan pelanggan QP 008 Pengendalian produksi

14 KEBIJAKAN MUTU 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tanggung jawab manajemen dalam pembuatan kebijakan mutu di PT YUSA INDONESIA Direktur : menetapkan kebijakan mutu Wakil Manajemen Mutu: mengkoordinasikan penerapan kebijakan mutu, sasaran mutu dan penerapan system mutu secara efektif Mengendalikan dokumen kebijakan mutu serta mensosialisasikan pada seluruh tingkatan organisasi PT YUSA INDONESIA menetapkan kebijakan mutu sesuai dengan kondisi perusahaan PT YUSA INDONESIA memastikan bahwa kebijakan mutu tersebut: - sesuai dengan tujuan dari organisasi perusahaan - komitmen untuk memenuhi persyaratan dan peningkatan terus menerus - menyediakan kerangka kerja dalam menetapkan dan meninjau sasaran mutu - dikomunikasikan dan dimengerti pada tingkatan yang sesuai dalam perusahaan - ditinjau untuk selalu sesuai penerapannya QP 003 Komunikasi Internal dan Eksternal QP 005 Tinjauan Manajemen QP 009 Perencanaan Manajemen Mutu

15 RENCANA MANAJEMEN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tanggung jawab manajemen dalam penetapan Rencana Manajemen di PT YUSA INDONESIA Direktur: menetapkan dan menerapkan sasaran mutu dan menuangkannya kedalam Rencana Manajemen Mutu untuk dilaksanakan pada seluruh tingkatan organisasi Seluruh Manager: mengkoordinasikan penerapan rencana manajemen mutu dibagiannya PT YUSA INDONESIA menetapkan sasaran mutu termasuk untuk memenuhi persyaratan produk dan diturunkan sampai pada tingkatan yang sesuai dalam perusahaan PT YUSA INDONESIA menetapkan sasaran mutu yang dapat diukur dan konsisten dengan kebijakan mutu Perusahaan menetapkan perencanaan system manajemen mutu untuk mencapai sasaran mutu dan persyaratan umum ISO 9001 elemen 4.1 (lihat Pedoman Mutu 4.1) PT YUSA INDONESIA memelihara integritas system manajemen mutu bila terjadi perubahan system manajemen mutu QP 009 Perencanaan Manajemen Mutu

16 TANGGUNG JAWAB, WEWENANG DAN KOMUNIKASI 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup semua aspek tanggung jawab, wewenang dan komunikasi untuk menerapkan system manajemen mutu secara efektif di PT YUSA INDONESIA Presiden Direktur: menetapkan wewenang dan tanggung jawab serta hubungan antar karyawan terhadap karyawan terkait dengan mutu Menetapkan seorang wakil manajemen mutu Menetapkan proses komunikasi Wakil Manajemen Mutu: Memastikan proses system manajemen mutu ditetapkan dan dipelihara Melaporkan penerapan system manajemen mutu kepada Presiden Direktur Memastikan karyawan memahami persyaratan pelanggan PT YUSA INDONESIA memastikan bahwa tanggung jawab, wewenang dan hubungan antar personel ditetapkan dan dikomunikasikan kedalam perusahaan PT YUSA INDONESIA menunjuk dan menetapkan wakil manajemen mutu dengan tugas: - memastikan proses yang diperlukan oleh system manajemen mutu ditetapkan, diterapkan dan dipelihara - melaporkan kepada presiden direktur kinerja penerapan system manajemen mutu dan keperluan peningkatan - memastikan kepedulian terhadap pemenuhan persyaratan pelanggan PT YUSA INDONESIA memastikan proses komunikasi di setiap tingkat dan fungsi ditetapkan dan diterapkan, yang menyangkut keefektifan proses system manajemen mutu QP 003 Komunikasi Internal dan Eksternal QP 005 Tinjauan Manajemen

17 TINJAUAN MANAJEMEN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup semua yang termasuk dalam tinjauan manajemen untuk meninjau penerapan system manajemen mutu dan rekomendasi untuk peningkatan berlanjut di PT YUSA INDONESIA Direktur: meninjau system manajemen mutu secara periodic Mengevaluasi kebutuhan perubahan organisasi system manajemen mutu, termasuk kebijakan mutu dan sasaran mutu Wakil manajemen mutu: menetapkan, memelihara dan menerapkan prosedur tinjauan manajemen PT YUSA INDONESIA meninjau system manajemen mutu secara berkala untuk memastikan keefektifannya, kecukupan dan kesesuaiannya. Hasil tinjauan termasuk mengevaluasi untuk peningkatan dan keperluan untuk merubah system manajemen mutu perusahaan termasuk kebijakan mutu dan sasaran mutu Masukan tinjauan manajemen termasuk kinerja terkini dan kesempatan peningkatan yang berhubungan dengan: Hasil audit Umpan balik pelanggan Kinerja proses dari kesesuaian produk Status tindakan perbaikan dan pencegahan Tindak lanjut tinjauan manajemen sebelumnya Perubahan yang berdampak terhadap system manajemen mutu Rekomendasi peningkatan Keluaran dari tinjauan manajemen termasuk tindakan yang berhubungan dengan: Peningkatan sistem manajemem mutu dan prosesnya Peningkatan produk sesuai persyaratan pelanggan Kebutuhan sumber daya yang diperlukan Rekaman hasil tinjauan manajemen dipelihara QP 005 Tinjauan manajemen

18 6.1 KEBUTUHAN SUMBER DAYA 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini menerangkan kebutuhan seluruh sumber daya termasuk fasilitas manusia dan lingkungan kerja untuk penerapan dan peningkatan system manajemen mutu PT YUSA INDONESIA Direktur: menyediakan kebutuhan sumber daya yang diperlukan Deputy Manager administrasi: menetapkan kebutuhan sumber daya manusia PT YUSA INDONESIA menetapkan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk: 1. menerapkan dan memelihara system manajemen mutu serta peningkatan yang berkesinambungan terhadap keefektifannya. 2. mengarahkan kepada kepuasan pelanggan QP 010 Pembelian selain bahan baku QP 011 Perekrutan karyawan baru

19 6.2 SUMBER DAYA MANUSIA 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup kebutuhan seluruh sumber daya termasuk penunjukkan personel serta pelatihan, kesadaran dan kemampuan personel di PT YUSA INDONESIA Presiden Direktur: menyediakan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan Deputy Manager administrasi: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pelatihan, prosedur penempatan dan prosedur perekrutan karyawan baru 3.0 POLICY PT YUSA INDONESIA memastikan penempatan sumber daya manusia sesuai dengan kemampuannya ditinjau dari kesesuaian pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman PT YUSA INDONESIA memastikan untuk: - Mengidentifikasi kebutuhan kemampuan personel yang kegiatannya memiliki dampak terhadap mutu. - Meyediakan pelatihan atau langkah lainnya - Melakukan evaluasi terhadap efektivitas dari tindakan yang dilakukan - Memastikan bahwa semua personel memahami keterkaitan dan pentingnya kegiatan mereka serta bagaimana kontribusinya terhadap sasaran mutu - Memelihara catatan pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman QP 012 Pelatihan Karyawan QP 013 Penempatan Karyawan QP 011 Perekrutan Karyawan Baru

20 6.3 INFRASTRUKTUR 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian produk Direktur menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian produk Manager terkait mengidentifikasi dan memelihara fasilitas produksi Melakukan tinjauan terhadap penyediaan fasilitas produksi secara berkala Perusahaan mengidentifikasi, menyediakan dan memelihara infrastruktur yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian produk yang meliputi: - bangunan, fasilitas, tempat kerja dan pendukungnya - peralatan baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak - perlengkapan pendukung (a.l. transportasi, komunikasi) QP Pemeliharaan mesin dan alat QP Perbaikan mesin dan alat QP Pemeliharaan fasilitas dan lingkungan kerja

21 6.4 LINGKUNGAN KERJA 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup identifikasi factor manusia dan fisik dari lingkungan kerja yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian produk Direktur: menyediakan kebutuhan yang menyangkut lingkungan kerja guna memenuhi kesesuaian produk Deputy production manager: melakukan identifikasi lingkungan kerja yang dibutuhkan Melakukan tinjauan atas lingkungan kerja yang dibutuhkan PT YUSA INDONESIA menetapkan dan mengelola factor lingkungan kerja yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian produk. QP 0703 Pemeliharaan fasilitas dan lingkungan kerja

22 7.1 PERENCANAAN REALISASI PROSES 1.0 LINGKUP Pedoman ini mencakup perencanaan terhadap seluruh rangkaian proses dan sumber daya yang diperlukan untuk mengadakan produk/kontrak Deputy production manager: menetapkan, menerapkan dan memelihara rencana mutu sesuai dengan produk/proyek/kontrak 3.1 PT YUSA INDONESIA merencanakan dan menetapkan proses-proses yang dipersyaratkan untuk merealisasikan produk serta konsistensi dengan persyaratan system manajemen mutu lainnya 3.2 Rencana mutu untuk merealisasikan produk termasuk: - sasaran mutu produk/proyek/kontrak - kebutuhan untuk menentukan proses dan dokumentasi serta kebutuhan lain untuk produk - kebutuhan verifikasi, validasi, pemantauan, inspeksi dan fasilitas pengujian produk serta criteria keberterimaan produk - catatan mutu yang dibutuhkan sebagai bukti pemenuhan realisasi proses memenuhi persyaratan QP QP Pengendalian produksi Pengiriman produk jadi

23 7.2 PROSES YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELANGGAN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup seluruh proses yang berhubungan dengan pelanggan di PT YUSA INDONESIA Marketing manager: menetapkan dan memelihara prosedur penanganan pesanan pelanggan Deputy production manager: menetapkan prosedur penanganan pesanan pelanggan PT YUSA INDONESIA mengidentifikasi persyaratan pelanggan yang terkait dengan produk: 1. persyaratan produk yang dinyatakan oleh pelanggan termasuk persyaratan untuk aktifitas pengiriman dan setelah pengiriman 2. persyaratan produk yang tidak dinyatakan oleh pelanggan 3. kewajiban terkait dengan produk termasuk persyaratan hokum dan peraturan terkait 4. persyaratan lain yang ditetapkan oleh perusahaan PT YUSA INDONESIA melakukan tinjauan terhadap persyaratan pelanggan dan persyaratan lainnya yang ditentukan Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan bahwa: - setiap persyaratan produk ditetapkan - perbedaan dengan persyaratan pesanan/kontrak sebelumnya diselesaikan - perusahaan mempunyai kemampuan untuk memenuhi persyaratan pelanggan PT YUSA INDONESIA memastikan untuk mengkonfirmasikan ke pelanggan jika pelanggan tidak memiliki persyaratan atau pernyataan terdokumentasi PT YUSA INDONESIA memastikan untuk mengubah dokumen terkait jika terjadi perubahan persyaratan produk dan memastikan karyawan terkait peduli terhadap perubahan tersebut. Perusahaan mengidentifikasikan dan menerapkan pengaturan komunikasi dengan pelanggan dalam hubungannya dengan: 1. informasi produk 2. penanganan permintaan, kontrak atau oder termasuk perubahaannya 3. umpan balik pelanggan QP Penanganan pesanan pelanggan QP Komunikasi internal dan eksternal

24 7.3 DESAIN DAN PENGEMBANGAN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup proses desain dan pengembangan mulai dari perencanaan desain sampai validasi produk desain di PT YUSA INDONESIA PT YUSA INDONESIA TIDAK MENERAPKAN DESAIN DAN PENGEMBANGAN

25 7.4 PEMBELIAN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup proses pembelian terhadap produk yang mempengaruhi mutu di PT YUSA INDONESIA Marketing manager: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pembelian bahan baku Deputy administration manager: menetapkan, memelihara prosedur pembelian selain bahan baku Deputy production manager: mengadakan pengendalian terhadap produk yang dipasok oleh pelanggan. PT YUSA INDONESIA memastikan produk yang dibeli sesuai dengan persyaratan yang diminta, menggunakan metoda yang disesuaikan dengan manajemen mutu Pengendalian pembelian tergantung dampak terhadap mutu PT YUSA INDONESIA memilih dan mengevaluasi pemasok berdasarkan kemampuannya menyediakan produk yang sesuai permintaan/persyaratan Kriteria pemilihan dan penilaian berkala ditentukan dan hasilnya dicatat untuk ditindak lanjuti Dokumen pembelian termasuk informasi yang menjelaskan produk yang dibeli memuat: - persyaratan persetujuan atau kualifikasi produk, prosedur, proses peralatan dan fasilitas - persyaratan kualifikasi karyawan - persyaratan sistem manajemen mutu PT YUSA INDONESIA memastikan kecukupan persyaratan yang dimuat dalam dokumen pembelian sebelum melakukan pembelian PT YUSA INDONESIA mengidentifikasikan dan menerapkan aktifitas pemeriksaan produk yang dibeli Bila diperlukan pemeriksaan (baik oleh perusahaan maupun oleh pelanggan) ditempat pemasok, maka persyaratan ini dinyatakan dalam dokumen pembelian

26 PT YUSA INDONESIA tidak melakukan evaluasi pemasok untuk; Pemasok bahan baku sebagai berikut: -pt.. Jasa subkontrak oleh Jasa forwarding oleh QP Pembelian bahan baku QP Pembelian selain bahan baku QP Pemilihan dan evaluasi pemasok

27 1.0 RUANG LINGKUP 7.5 OPERASI PRODUKSI DAN PELAYANAN Pedoman ini mencakup operasional produksi dan pelayanan dari identifikasi hingga pengendalian peralatan ukur dan pemantauan Deputy production manager: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pengendalian produksi dan perawatan alat dan mesin Quality control engineer: melakukan pengukuran produk PT YUSA INDONESIA merencanakan dan mengendalikan operasional produksi dan pelayanan melalui: - penyediaan informasi tentang spesifikasi dan karakteristik produk - penyediaan instruksi kerja ditempat yang membutuhkan - penggunaan dan perawatan terhadap peralatan yang disediakan untuk operasional produksi dan pelayanan - penyediaan dan penggunaan peralatan ukur dan pemantauan - penerapan aktivitas-aktivitas pemantauan dan pengukuran - penerapan proses-proses terdefinisi untuk pelepasan, pengiriman dan kegiatan-kegiatan pasca pengiriman yang diterapkan Validasi proses PT YUSA INDONESIA memvalidasi proses produksi dan pelayanan dimana output yang dihasilkan tidak dapat diverifikasi dengan pengukuran atau pemantauan secara langsung Validasi menyajikan kemampuan proses untuk mencapai hasil yang direncanakan PT YUSA INDONESIA menetapkan pengaturan untuk validasi sebagai berikut: - mendefinisikan criteria untuk pengkajian dan persetujuan proses - kualifikasi personel dan peralatan - pemakaian prosedur dan metoda spesifik - persyaratan untuk catatan mutu - validasi ulang (re-validasi) Identifikasi dan penelusuran - PT YUSA INDONESIA meng-identifikasi produk pada operasional produksi dan pelayanan. - PT YUSA INDONESIA mengidentifikasi status produk dengan mempertimbangkan persyaratan-persyaratan pengukuran dan pemantauan

28 - Jika mampu telusur dipersyaratkan, PT YUSA INDONESIA mengendalikan dan mendokumentasikan identifikasi setiap produk KEPEMILIKAN PELANGGAN PT YUSA INDONESIA mengidentifikasi, memverifikasi, melindungi dan memelihara produk milik pelanggan yang berada dibawah kendalinya atau yang sedang dipergunakan Jika barang milik pelanggan rusak, hilang atau lainnya,perusahaan mencatat dan memberitahukan kepada pelanggan PERLINDUNGAN PRODUK PT YUSA INDONESIA melakukan perlindungan terhadap produk sesuai dengan persyaratan pelanggan selama proses internal dan pengiriman ketempat tujuan Perlindungan ini meliputi identifikasi, penanganan, pengemasan, penyimpanan dan Perlindungan Perlindungan diterapkan juga pada bagian-bagian integral dari produk QP QP QP QP QP Perencanaan produksi Pengendalian produksi Pengiriman produk jadi Pemeliharaan mesin dan alat Perbaikan mesin dan alat

29 7.6 PENGENDALIAN PERALATAN PENGUKURAN DAN PEMANTAUAN 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup pengendalian terhadap peralatan pengukuran dan pemantauan di PT YUSA INDONESIA Quality control engineer: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pengendalian peralatan pengukuran dan pemantauan PT YUSA INDONESIA mengidentifikasi peralatan pengukuran dan pemantauan yang dipersyaratkan untuk menjamin kesesuian terhadap produk sesuai persyaratan PT YUSA INDONESIA memastikan peralatan pengukuran dan pemantauan digunakan dan dikendalikan untuk menjamin bahwa kemampuan peralatan pengukuran konsisten dengan persyaratan yang ditetapkan PT YUSA INDONESIA memastikan untuk memelihara hasil yang benar dari peralatan pengukuran dengan cara: - dikalibrasi dan disesuaikan secara berkala atau sesuai kepentingannya untuk penelusuran peralatan terhadap standar internasional atau nasional dan dasar yang digunakan untuk kalibrasi atau verifikasi dicatat - di jaga keamanannya dari penyetelan yang dapat merusak hasil kalibrasi - dijaga dari kerusakan dan penurunan kualitasnya selama penanganan, perawatan dan penyimpanan - disesuaikan bila diperlukan - diidentifikasi untuk menetapkan status kalibrasi PT YUSA INDONESIA memeriksa dan mencatat keabsahan hasil pengukuran jika Ditemukan peralatan rusak atau diluar persyaratan kalibrasi PT YUSA INDONESIA mengambil tindakan perbaikan terhadap peralatan Pengukuran yang rusak dan produk-produk yang telah terukur PT YUSA INDONESIA menggunakan perangkat lunak untuk pengukuran dan pemantauan, maka harus dipastikan bahwa perangkat lunak tersebut mampu untuk pengukuran dan pemantauan QP Prosedur pengendalian peralatan pengukuran dan pemantauan

30 8.1 UMUM 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup perencanaan, pengukuran dan pemantauan kepuasan pelanggan, audit internal, pengendalian proses dan pengukuran karakteristik produk di PT YUSA INDONESIA Quality control engineer: menetapkan, menerapkan prosedur pengukuran dan pemantauan Deputy production manager: menerapkan prosedur pengukuran dan pemantauan PT YUSA INDONESIA menetapkan dan menerapkan aktifitas pengukuran, pemantauan dan analisis serta proses perbaikan berlanjut yang diperlukan untuk: - memperlihatkan kesesuaian produk - memastikan kesesuaian dengan system manajemen mutu - mencapai peningkatan system manajemen mutu yang efektif PT YUSA INDONESIA memastikan untuk menetapkan metoda keperluan dan kegunaan termasuk teknik statistik. QP QP QP Analisa data Tindakan perbaikan Tindakan pencegahan

31 1.0 RUANG LINGKUP 8.2 PENGUKURAN DAN PEMANTAUAN Pedoman ini mencakup perencanaan, penerapak dan analisa, pengukuran guna mencapai perbaikan di PT YUSA INDONESIA Marketing manager: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pengukuran kepuasan pelanggan Wakil manajemen mutu: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur audit internal PT YUSA INDONESIA melakukan pemantauan kepuasan atau ketidak puasan pelanggan sebagai pengukuran kinerja dari system manajemen mutu PT YUSA INDONESIA memastikan untuk menetapkan metode yang diperlukan untuk pengukuran kepuasan pelanggan termasuk penggunaan informasi PT YUSA INDONESIA melakukan internal audit secara berkala agar sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2000 Rencana audit diterapkan dan dipelihara sesuai dengan status dan kepentingan dari kegiatan dan bidang yang diaudit PT YUSA INDONESIA menetapkan tujuan, ruang lingkup, frekuensi dan metodologi audit PT YUSA INDONESIA menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur terdokumentasi audit internal PT YUSA INDONESIA memastika audit internal dilakukan: - sesuai dengan prosedur terdokumentasi - auditor mandiri - audit tindak lanjut untuk memeriksa audit terdahulu - manajemen melakukan tindakan perbaikan sesuai batas waktu yang ditetapkan atas suatu ketidak sesuaian dan mencari akar dari permasalahan tersebut - audit tindak lanjut ini termasuk kegiatan verifikasi pelaksanaan tindakan perbaikan dan pelaporan atas hasil verifikasi

32 PT YUSA INDONESIA melakukan metoda yang tepat untuk pengukuran dan pemantauan pengadaan proses yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pelanggan, dimana metoda ini ditujukan untuk memastikan kemajuan setiap proses dan memastikan kesesuaian produk. PT YUSA INDONESIA mengukur dan memantau tahapan proses dan karakteristik produk Bukti kesesuaian dengan criteria keberterimaan dicatat dan catatannya mencantumkan penanggung jawab untuk melepas produk Pelepasan produk tidak dilakukan sampai seluruh aktivitas spesifik dilakukan secara menyeluruh kecuali mendapat persetujuan dari pelanggan QP QP QP Prosedur pemantauan kepuasan pelanggan Prosedur internal audit Prosedur analisa data

33 8.3 PENGENDALIAN KETIDAK SESUAIAN PRODUK 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tindakan perbaikan dan pencegahan untuk menghilangkan penyebab dari ketidak sesuaian yang telah terjadi atau yang potensial Deputy production manager: menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur ketidak sesuaian produk PT YUSA INDONESIA menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur pengendalian ketidak sesuaian produk PT YUSA INDONESIA memastikan bahwa produk yang tidak sesuai dengan persyaratan diidentifikasikan dan dikendalikan untuk mencegah penggunaannya dan pengirimannya kepelanggan PT YUSA INDONESIA menetapkan tanggung jawab dan wewenang untuk mengkaji dan menyelesaikan ketidak sesuaian produk Tindakan yang diambil atas ketidak sesuaian produk adalah: - tindakan untuk mengurangi ketidak sesuaian - konsesi dengan pelanggan - reject QP Prosedur Pengendalian Produk Tidak Sesuai

34 8.4 ANALISA DATA 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup tanggung jawab terhadap analisa data pada PT YUSA INDONESIA Deputy manager terkait: 1. Menetapkan. Menerapkan dan memelihara prosedur terdokumentasi tentang Analisa data 2. Mengumpulkan data mengenai penerapan system manajemen mutu 3. menganalisa data tersebut untuk perbaikan berlanjut PT YUSA INDONESIA menetapkan dan memelihara prosedur terdokumentasi Analisa Data PT YUSA INDONESIA menetapkan, mengumpulkan dan menganalisis data yang terkait dengan: - kepuasan pelanggan - kesesuaian terhadap persyaratan produk - karakteristik proses, produk dan trend termasuk kesempatan untuk tindakan pencegahan - pemasok PT YUSA INDONESIA memastikan bahwa analisa data dilakukan untuk memperlihatkan kesesuaian dan efektifitas sistem manajemen mutu serta untuk dievaluasi untuk dapat melakukan perbaikan berlanjut QP Prosedur analisa data

35 8.5 PERBAIKAN BERLANJUT 1.0 RUANG LINGKUP Pedoman ini mencakup penjelasan perbaikan berlanjut, tindakan perbaikan serta tindakan pencegahan yang dilakukan di PT YUSA INDONESIA QMR : menetapkan. Menerapkan dan memelihara prosedur terdokumentasi untuk Tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan Seluruh karyawan menerapkan prosedur tersebut PT YUSA INDONESIA memfalitasi perbaikan berlanjut melalui kebijakan mutu, sasaran mutu, hasil audit, analisa data, tindakan perbaikan, tindakan pencegahan dan tinjauan manajemen PT YUSA INDONESIA melakukan tindakan perbaikan untuk menghilangkan penyebab ketidak sesuaian dengan cara: - mengkaji ketidak sesuian (termasuk keluhan pelanggan) - menganalisa penyebab ketidak sesuaian - mengevaluasi tindakan yang perlu diambil untuk memastikan ketidak sesuaian tersebut tidak terjadi lagi - menentukan dan menerapkan tindakan perbaikan - mencatat hasil tindakan perbaikan - mengkaji tindakan perbaikan yang diambil PT YUSA INDONESIA melakukan tindakan pencegahan untuk menghilangkan Penyebab potensial ketidak sesuaian dengan cara: - menganalisa penyebab ketidak sesuaian potensial - mengevaluasi tindakan yang perlu diambil untuk mencegah terjadinya ketidak sesuian yang potensial - menentukan dan menerapkan tindakan pencegahan - mencatat hasil tindakan pencegahan - mengkaji tindakan pencegahan yang diambil QP tindakan perbaikan Qp tindakan pencegahan Qp tinjauan manajemen Qp perencanaan system manajemen mutu

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN 5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. 7. 8. 1.1 UMUM Persyaratan SMM ini untuk organisasi adalah: Yang membutuhkan kemampuan untuk menyediakan produk secara konsisten yang sesuai dengan persyaratan pelanggan

Lebih terperinci

Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008

Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008 Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008 Klausul 4.0 Sistem Manajemen Mutu 4.1 Persyaratan umum Apakah organisasi telah : (a) Menetapkan proses-proses yang dibutuhkan oleh SMM serta aplikasinya

Lebih terperinci

KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001

KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001 KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001 Oleh: Dimas Rahadian AM, S.TP. M.Sc Email: rahadiandimas@yahoo.com PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA KLAUSUL-KLAUSUL ISO

Lebih terperinci

ISO 9001:2000. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu

ISO 9001:2000. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu Quality Mangement System ISO 9000 series.. Published by International Organization for Stantardization (ISO) a world wide federation of national

Lebih terperinci

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU -1- LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 27/PRT/M/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU 1. Lingkup Sistem Manajemen

Lebih terperinci

PERSYARATAN ISO 9001:2008 (KLAUSUL 7 8)

PERSYARATAN ISO 9001:2008 (KLAUSUL 7 8) #4 - Klausul 7-8 ISO 9001:2008 1 PERSYARATAN ISO 9001:2008 (KLAUSUL 7 8) TIN420 Sistem Manajemen Kualitas #7 Realisasi Produk (1) 2 #7.1 #7.2 Perencanaan Realisasi Produk Proses Yang Berkaitan Dengan Pelanggan

Lebih terperinci

ZAKIYAH Badan Standardisasi Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Bandung, 13 Juni 2007

ZAKIYAH Badan Standardisasi Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Bandung, 13 Juni 2007 SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001: 2000/SNI 19-9001-2001 ZAKIYAH Badan Standardisasi Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Bandung, 13 Juni 2007 1 OBJEKTIF : Mendapatkan gambaran

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan Kode Dokumentasi : M SPS SMK3 Halaman : 1 dari 2 J udul Dokumen : M - SPS - P2K3 Dokumen ini adalah properti dari PT SENTRA PRIMA SERVICES Tgl Efektif : 09 Februari 2015 Dibuat Oleh, Disetujui Oleh, Andhi

Lebih terperinci

PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN PRINSIP 2: PERENCANAAN

PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN PRINSIP 2: PERENCANAAN PRINSIP 1: KOMITMEN DAN KEBIJAKAN 4.2. Kebijakan Lingkungan Manajemen puncak harus menetapkan kebijakan lingkungan organisasi dan memastikan bahwa kebijakan tersebut: a) sesuai dengan skala dan karakteristik

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM BAGI PENYEDIA JASA Elemen-elemen yang harus dilaksanakan oleh

Lebih terperinci

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Pedoman KAN 801-2004 Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Komite Akreditasi Nasional Kata Pengantar Pedoman ini diperuntukkan bagi lembaga yang ingin mendapat akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi

Lebih terperinci

PERATURAAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 04/PRT/M/2009

PERATURAAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 04/PRT/M/2009 MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 04/PRT/M/2009 TENTANG SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ DEPERTEMEN PEKERJAAN

Lebih terperinci

Daftar Periksa Audit SMM ISO 9001:2008. Memeriksa Ada struktur organisasi

Daftar Periksa Audit SMM ISO 9001:2008. Memeriksa Ada struktur organisasi Daftar Periksa Audit SMM ISO 9001:2008 Nomor Substansi Persyaratan Yang Diperiksa Klausul 4.1. Persyaratan umum organisasi seperti : struktur organisasi, bisnis proses organisasi, urutan proses, criteria

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA

Lebih terperinci

AUDIT INTERNAL (SNI ) Nama Laboratorium : Alamat

AUDIT INTERNAL (SNI ) Nama Laboratorium : Alamat AUDIT INTERNAL (SNI 19 17025) Nama Laboratorium Alamat Bagian 1 : Informasi Umum Beri tanda X pada kotak yang sesuai Keterangan (bila diperlukan) 1.1 Apakah laboratorium memiliki kegiatan lain selain pengujian

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Audit Operasinal 2.1.1 Pengertian Audit Operasional Audit operasional merupakan salah satu istilah yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan untuk menilai efisiensi dan

Lebih terperinci

SISTEM-SISTEM TERKAIT MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI PANGAN

SISTEM-SISTEM TERKAIT MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI PANGAN SISTEM-SISTEM TERKAIT MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI PANGAN ISO 22000 ISO 14001 ISO 17025 OHSAS Budaya Kerja 5S/5R Budaya Kerja K3 Sistem Manajemen Halal ISO 9001 Konsumen/Masyarakat IMPLEMENTASI ISO 9001:

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN PENERAPAN BAGI USAHA KECIL DAN MENENGAH RPSN XX: 2013

DRAFT PEDOMAN PENERAPAN BAGI USAHA KECIL DAN MENENGAH RPSN XX: 2013 RPSN XX: 2013 PEDOMAN PENERAPAN SNI ISO 9001:2008 BAGI USAHA KECIL DAN MENENGAH Daftar isi Kata Pengantar... 3 1. Persyaratan Umum... 6 2 Tanggung jawab manajemen... 10 3. Pengelolaan sumberdaya... 13

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG BAB II PROSES BISNIS PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG PT. Indonesia Power UBP Kamojang saat ini telah menerapkan sistem manajemen terpadu, dengan tiga sub sistemnya yang terdiri dari Sistem Manajemen Mutu

Lebih terperinci

Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA

Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA Lampiran 3 FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA FORMAT DAFTAR SIMAK AUDIT INTERNAL PENYEDIA JASA 1 NO U R A I A N 1 KEBIJAKAN 7.00% a. Apakah Penyedia Jasa mempunyai Kebijakan K3? 0 50 100

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENERAPAN MANAJEMEN MUTU LABORATORIUM PADA UNIT PELAKSANA TEKNIS DI BIDANG TEKNIK KESEHATAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2011 MODUL IX SISTEM MANAJEMEN

Lebih terperinci

4 In 1 Integrasi Sistem Manajemen ISO 9001, ISO 14001, OHSAS & SMK3

4 In 1 Integrasi Sistem Manajemen ISO 9001, ISO 14001, OHSAS & SMK3 DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN...3 2. SISTEM MANAJEMEN...6 3. KONSEP PLAN DO CHECK ACT (PDCA)...11 4. PENDEKATAN PROSES...13 5. PETA BISNIS PROSES (BISNIS PROCESS MAP BPM)...17 6. DELAPAN PRINSIP MUTU...20

Lebih terperinci

LEMBAGA SERTIFIKASI SISTEM MUTU BENIH TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA (LSSMBTPH)

LEMBAGA SERTIFIKASI SISTEM MUTU BENIH TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA (LSSMBTPH) LEMBAGA SERTIFIKASI SISTEM MUTU BENIH TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA (LSSMBTPH) DASAR HUKUM PEMBENTUKAN : Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1100.1/Kpts/KP.150/ 10/1999 Tahun 1999 jo Nomor : 361/Kpts/

Lebih terperinci

PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2

PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2 PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2 HALAMAN PENGESAHAN Dibuat oleh: Diperiksa oleh: Disahkan oleh: Nama

Lebih terperinci

INFORMASI SERTIFIKASI ISO 9001

INFORMASI SERTIFIKASI ISO 9001 LSSM BBTPPI Semarang (BISQA) adalah lembaga sertifikasi sistem manajemen mutu yang telah diakreditasi (diakui) oleh Komite Akreditasi Nasional - Badan Standardisasi Nasional (KAN-BSN) dalam memberikan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6 Panduan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

LAMPIRAN 1 SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BAB I PENDAHULUAN Pelaksanaan penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum perlu dilakukan untuk mengakomodasi

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang Mengingat a. Bahwa

Lebih terperinci

LAMP03-PM12 Ketentuan & Syarat Sertifikasi rev dari 5

LAMP03-PM12 Ketentuan & Syarat Sertifikasi rev dari 5 1. Pengantar Skema Aturan ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan dari Anggota Badan Akreditasi Nasional IAF di bawah Skema Sertifikasi Terakreditasi. PT. Global Certification Indonesia, selanjutnya

Lebih terperinci

ISO 1001 By: Ryan Torinaga

ISO 1001 By: Ryan Torinaga ISO 1001 By: Ryan Torinaga Daftar Isi Arti ISO Tujuan ISO 9001 Klausul ISO 9001 Kunci Penerapan ISO Cara Penerapan ISO Arti dari ISO Berarti Sama Badan standarisasi dunia Didirikan sejak tahun 1947 Terdiri

Lebih terperinci

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN I. Persiapan Penerapan a. Langkah-langkah penerapan SML; Tahap 1 : Pengembangan dan komitmen terhadap kebijakan lingkungan Tahap 2 : Perencanaan Aspek lingkungan dan dampak

Lebih terperinci

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL NOMOR: 153/KA/VII/2010 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN SISTEM MANAJEMEN KEAMANAN (STANDAR BATAN BIDANG ADMINISTRASI, MANAJEMEN, DAN ORGANISASI) KEPALA BADAN TENAGA

Lebih terperinci

Spesifikasi sistem manajemen keamanan pada rantai pasokan

Spesifikasi sistem manajemen keamanan pada rantai pasokan Standar Nasional Indonesia Spesifikasi sistem manajemen keamanan pada rantai pasokan Specification for security management systems for the supply chain (ISO 28000:2007, IDT) ICS 47.020.99 Badan Standardisasi

Lebih terperinci

PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI

PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI Budiman Kusumah Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Krida Wacana Abstract: To achieve and organize the organization need guidance and evaluation which

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu

Sistem manajemen mutu Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Pedoman untuk rencana mutu Quality management systems Guidelines for quality plans (ISO 10005:2005,IDT) ICS 01.040.03; 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional

Lebih terperinci

Pengendalian Mutu Produk Agroindustri KULIAH PENGANTAR AGROINDUSTRI

Pengendalian Mutu Produk Agroindustri KULIAH PENGANTAR AGROINDUSTRI Pengendalian Mutu Produk Agroindustri KULIAH PENGANTAR AGROINDUSTRI Latar Belakang Pengembangan agroindustri memandang pengendalian mutu sangat strategis karena : Mutu terkait dengan kepuasan konsumen

Lebih terperinci

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Hand-out Industrial Safety Dr.Ir. Harinaldi, M.Eng Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tempat Kerja Produk/jasa Kualitas tinggi Biaya minimum Safety comes

Lebih terperinci

Manual Prosedur Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai

Manual Prosedur Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai Manual Prosedur Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang 2012 Manual Prosedur Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya

Lebih terperinci

DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi

DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi 1 2 3 4 5 6 Apakah internal auditor memiliki kedudukan yang independen dalam melakukan pemeriksaan

Lebih terperinci

Panduan Wawancara dan Daftar Pertanyaan tentang Audit Produksi

Panduan Wawancara dan Daftar Pertanyaan tentang Audit Produksi LAMPIRAN 119 Panduan Wawancara dan Daftar Pertanyaan tentang Audit Produksi di Perusahaan PT Kripton Gama Jaya : 1. Melakukan pengamataan fasilitas fisik yang digunakan untuk proses produksi di Perusahaan

Lebih terperinci

Pedoman KAN KLASIFIKASI KETIDAKSESUAIAN

Pedoman KAN KLASIFIKASI KETIDAKSESUAIAN Pedoman KAN KLASIFIKASI KETIDAKSESUAIAN 1. Pendahuluan Untuk mengharmonisasikan hasil asesmen laboratorium yang dilaksanakan oleh KAN, diperlukan Pedoman tentang Klasifikasi Ketidaksesuaian. Pedoman KAN

Lebih terperinci

1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG

1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG Mata Kuliah - 12 1. INPUT : KEBIJAKAN DAN PERENCANAAN 2. PROCESS: IMPLEMENTASI DAN OPERASI 3. OUTPUT : EVALUASI DAN TINJAU ULANG 1. Pembentukan tim 2. Penentuan lingkup SMK3 3. Tinjau awal 4. Kebijakan

Lebih terperinci

Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS

Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS 1 SNI Standar Nasional Indonesia Dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) SNI SNI 19-14001 14001-1997: 1997: Sistem manajemen

Lebih terperinci

Komite Akreditasi Nasional

Komite Akreditasi Nasional PEDOMAN 501-2003 Penilaian Kesesuaian Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Personel Adopsi dari ISO/IEC 17024 : 2003 Komite Akreditasi Nasional 1 dari 14 Penilaian Kesesuaian - Persyaratan Umum Lembaga

Lebih terperinci

MANUAL MUTU. Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang Batch PDF Me

MANUAL MUTU. Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang Batch PDF Me MANUAL MUTU Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang 2012 Batch PDF Me MANUAL MUTU Kode Dokumen : 000XX 04000 Revisi Tanggal 01 Oktober 2012 Diajukan oleh Manajer Riset dan Kerjasama Dr. drg.

Lebih terperinci

KLAUSUL-KLAUSUL ISO 9001

KLAUSUL-KLAUSUL ISO 9001 KLAUSUL-KLAUSUL ISO 9001 Oleh Ir. Sadar Wahjudi,M.T. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu 1. Ruanglingkup 1.1Umum 1.2Aplikasi 2. RujukanNormatif 3. IstilahdanDefinisi 4. Sistemmanajemenmutu 4.1

Lebih terperinci

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan 1. Pendahuluan Codes of Practice ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan badan akreditasi nasional dan dengan persetujuan PT AJA Sertifikasi Indonesia yang saat ini beroperasi. PT. AJA Sertifikasi

Lebih terperinci

PT. GLOBAL MITRA PROTEKSINDO

PT. GLOBAL MITRA PROTEKSINDO Penyebab Perusahaan/ Bisnis Terus Berkembang? PROFIT PENJUALAN KONSUMEN Seperti apa produk / jasa yang dapat memuaskan konsumen? Gambaran & karakteristik barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya

Lebih terperinci

SMM LABORATORIUM SEKOLAH BERDASAR ISO DAN PROSEDURNYA

SMM LABORATORIUM SEKOLAH BERDASAR ISO DAN PROSEDURNYA SMM LABORATORIUM SEKOLAH BERDASAR ISO 9001-2008 DAN PROSEDURNYA Oleh: Dr. Widarto, M.Pd. FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DISAMPAIKAN PADA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN MANAJEMEN MUTU PENGELOLAAN

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 51/M-DAG/PER/10/2009 TENTANG PENILAIAN TERHADAP UNIT PELAKSANA TEKNIS DAN UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH METROLOGI

Lebih terperinci

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK"

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK PEDOMAN KAN 402-2007 PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" Komite Akreditasi Nasional Adopsi dari IAF-GD5-2006 Issue 2 1 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 69 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa data, observasi dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Persyaratan telah tertulis dalam kebijakan perusahaan (baik pada

Lebih terperinci

DWI PURNOMO FTIP - UNPAD

DWI PURNOMO FTIP - UNPAD Manajemen Mutu Terpadu DWI PURNOMO FTIP - UNPAD Biaya dan Pangsa Pasar Hasil yang diperoleh dari Pasar Perbaikan reputasi Peningkatan volume Peningkatan harga Perbaikan Mutu Peningkatan Laba Biaya yang

Lebih terperinci

Apa Tujuan ISO. Material SDM. Resource. Alat. Metode. Output 3 C. Input Proses. Procedure IK Control. Monev

Apa Tujuan ISO. Material SDM. Resource. Alat. Metode. Output 3 C. Input Proses. Procedure IK Control. Monev Apa Tujuan ISO Material Alat Resource SDM Metode Input Proses Output 3 C Procedure IK Control Monev 3.C Adalah : 1. Comply to requirement (customer & regulation) 2. Consistency of product/service 3. Continual

Lebih terperinci

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Standar Nasional Indonesia Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Food safety management system Requirements for any organization in the food chain (ISO 22000:2005,

Lebih terperinci

Manual Prosedur Pelaksanaan Audit Internal

Manual Prosedur Pelaksanaan Audit Internal Manual Prosedur Pelaksanaan Audit Internal Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang 2012 Manual Prosedur Audit Internal Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Kode Dokumen : 000xx 05004

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS

BAB II PROSES BISNIS BAB II PROSES BISNIS 2.1 Proses Bisnis Utama Semua proses bisnis yang dijalankan PT X ditujukan langsung untuk melayani klien mulai dari proses mencari proyek sampai penyerahan produks. Jenis proses bisnis

Lebih terperinci

PT DAB INDONESIA KOMPLEKS PERGUDANGAN PANTAI INDAH DADAP Q 32 www dabindonesia.com PEDOMAN MUTU. Wakil Manajemen Direktur NANANG SUKMANA

PT DAB INDONESIA KOMPLEKS PERGUDANGAN PANTAI INDAH DADAP Q 32 www dabindonesia.com PEDOMAN MUTU. Wakil Manajemen Direktur NANANG SUKMANA PEDOMAN MUTU 14 April, 2014 Jabatan Rev : 01 Dibuat : Disahkan : Wakil Manajemen Direktur N a m a NANANG SUKMANA Tanda tangan No. Copy : Status : A S L I Copyright; PT. DAB INDONESIA Prosedur ini beserta

Lebih terperinci

Menetapkan : PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESESUAIAN - PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI

Menetapkan : PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESESUAIAN - PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 1 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESESUAIAN - PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA BADAN

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pengertian Audit Pengertian audit menurut para ahli ekonomi dapat diartikan secara umum menurut Konrath (2002:5) sebagai suatu proses sistematis untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Manajemen Mutu Dalam usaha lebih memahami sistem manajemen mutu perlu dijabarkan pengertiannya. Adapun pengertiannya adalah seperti di bawah ini. 2.1.1 Pengertian Mutu

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek 2012 Oleh: Arrigo Dirgantara 1106069664 Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2012 Pertanyaan:

Lebih terperinci

INTERNATIONAL STANDARD ISO 9001

INTERNATIONAL STANDARD ISO 9001 INTERNATIONAL STANDARD ISO 9001 Fourth edition 2008-11-15 Quality management systems - Requirements FOR TRAINING PURPOSE ONLY Diterjemahkan dan diedit oleh: Iskandar Sadikin www.lembayungcenter.com iskandarsadikin@gmail.com

Lebih terperinci

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN MUTU

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN MUTU MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN MUTU PAM.MM02.001.01 BUKU PENILAIAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN

Lebih terperinci

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI DOKUMENTASI PENDAHULUAN Dokumentasi adalah suatu bukti yang dapat dipercaya pada penerapan/pemenuhan CPOTB. Mutu yang direncanakan adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi keluhan yang terkait dengan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BADAN PENJAMINAN MUTU (BPM) PENGESAHAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BADAN PENJAMINAN MUTU (BPM) PENGESAHAN Halaman 1 dari 10 PENGESAHAN Dibuat Oleh Diperiksa Oleh Dr. H. Abdi Fitria, S.Hut. MP Nama Jabatan Tanda Tangan Ir. Hairil Ifansyah, MP Ketua Bidang Monev Wakil Manajemen Mutu Disahkan Oleh Dr.Ir.H.Rustam

Lebih terperinci

BAB 5 ASPEK MUTU PRODUK

BAB 5 ASPEK MUTU PRODUK BAB 5 ASPEK MUTU PRODUK Desain Produk : Dwi Purnomo www. agroindustry.wordpress.com Setelah membaca bab ini,diharapkan: Memahami arti dan pentingnya peranan mutu suatu produk Mengetahui batasan mutu produk

Lebih terperinci

PROSEDUR TINDAKAN PERBAIKAN DAN PENCEGAHAN

PROSEDUR TINDAKAN PERBAIKAN DAN PENCEGAHAN PROSEDUR TINDAKAN No. Dokumen : PT-KITSBS-04 No. Revisi : 00 : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum & Fas 2. Abdan Syakuro PLT

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Perkembangan, dan Sistem Manajemen Mutu Untuk lebih mengenal dan memahami tentang apa itu mutu, berikut ini dijabarkan mengenai pengertian, perkembangan, dan sistem

Lebih terperinci

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang mengkhususkan diri pada pengembangan manajemen proyek. PMBOK merupakan

Lebih terperinci

AUDIT INTERNAL Kode. Dok Revisi Tgl Terbit Halaman LPM-POS-MNV Maret dari 9

AUDIT INTERNAL Kode. Dok Revisi Tgl Terbit Halaman LPM-POS-MNV Maret dari 9 LPM-POS-MNV.02 01 1 Maret 2016 1 dari 9 PENGESAHAN Nama Jabatan Tanda Tangan Dibuat Oleh Dr. H. Abdi Fithria, S.Hut., M.P Kabid Monevin Disahkan Oleh Dr. Ir. M. Ahsin Rifa i, M.Si Ketua LPM Status Distribusi

Lebih terperinci

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Malang 2012 Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya Kode

Lebih terperinci

Manual Mutu. Revisi 08. Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang Halaman 1 dari 26. Manual Mutu LSIH-UB 2011

Manual Mutu. Revisi 08. Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang Halaman 1 dari 26. Manual Mutu LSIH-UB 2011 Manual Mutu Revisi 08 Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang 2015 Halaman 1 dari 26 KEBIJAKAN MUTU Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya (LSIH-UB) merupakan institusi

Lebih terperinci

Manual Prosedur Pengendalian Produk Tidak Sesuai

Manual Prosedur Pengendalian Produk Tidak Sesuai Manual Prosedur Pengendalian Produk Tidak Sesuai Unit Jaminan Mutu Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang 2013 Manual Prosedur Pengendalian Produk Yang Tidak

Lebih terperinci

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM PERSYARATAN SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI SISTIM MUTU () KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI PALEMBANG JL. PERINDUSTRIAN II

Lebih terperinci

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Unit Jaminan Mutu Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang 2015 Manual Prosedur Tindakan Korektif

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PEMELIHARAAN, PERLUASAN, PENGURANGAN, PENANGGUHAN/PEMBEKUAN, DAN / ATAU PENCABUTAN/ PEMBATALAN SERTIFIKAT (SISTEM SMKP/ISO 22000)

PEMELIHARAAN, PERLUASAN, PENGURANGAN, PENANGGUHAN/PEMBEKUAN, DAN / ATAU PENCABUTAN/ PEMBATALAN SERTIFIKAT (SISTEM SMKP/ISO 22000) PEMELIHARAAN, PERLUASAN, PENGURANGAN, PENANGGUHAN/PEMBEKUAN, DAN / ATAU PENCABUTAN/ PEMBATALAN SERTIFIKAT (SISTEM SMKP/ISO 22000) 6.1 Pemeliharaan Sertifikat 6.1.1 Pemeliharaan Sertifikat meliputi kegiatan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DOKUMEN MUTU ISO 9001: 2008 DI PT X

PERANCANGAN DOKUMEN MUTU ISO 9001: 2008 DI PT X PERANCANGAN DOKUMEN MUTU ISO 9001: 2008 DI PT X Jessica 1, I Nyoman Sutapa 2 Abstract: In this paper, we diagnosis the quality management system of ISO 9001: 2008 s clauses, particulary on PPIC and Production

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR: PER.05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang : a. bahwa terjadinya kecelakaan ditempat kerja sebagian besar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan

Lebih terperinci

GLP PERTEMUAN KE-5 SEJARAH ISO : 2008 PENGENALAN DAN PEMAHAMAN ISO : /16/2011

GLP PERTEMUAN KE-5 SEJARAH ISO : 2008 PENGENALAN DAN PEMAHAMAN ISO : /16/2011 PERTEMUAN KE-5 PENGENALAN DAN PEMAHAMAN ISO 17025 : 2005 SEJARAH ISO 17025 : 2008 GLP 1. The New Zealand Testing Laboratory Registration Act of 1972 2. Mendirikan A Testing Laboratory Registration Council

Lebih terperinci

AUDIT SML SML

AUDIT SML SML No.Terbit: 01 Halaman: 1 / 7 SML-2.454.00-00 Nama: Disiapkan oleh Tanggal: Tanda-Tangan Jabatan: Sekretaris ISO Nama: Diperiksa oleh Tanggal: Tanda-Tangan Jabatan: Manajer Mutu Nama: Disetujui oleh Tanggal:

Lebih terperinci

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan

Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang 2012 Manual Prosedur Tindakan Korektif dan Pencegahan Jurusan Manajemen Fakultas

Lebih terperinci

ISO 9001: 2008 DOCUMENT DEVELOPMENT COMPLIANCE MANUAL. Media Guru. Purwadi, M.Pd

ISO 9001: 2008 DOCUMENT DEVELOPMENT COMPLIANCE MANUAL. Media Guru. Purwadi, M.Pd ISO 9001: 2008 DOCUMENT DEVELOPMENT COMPLIANCE MANUAL Purwadi, M.Pd Media Guru ISO 9001: 2008 Document Development Compliance Manual Oleh: PURWADI, M.Pd. Editor : Tiara Desain Sampul : Bowo Tata letak

Lebih terperinci

Pelaksanaan Audit sesuai SNI ISO 19011:2012. Nurlathifah

Pelaksanaan Audit sesuai SNI ISO 19011:2012. Nurlathifah Pelaksanaan Audit sesuai SNI ISO 19011:2012 Nurlathifah nurlathifah@bsn.go.id Management System set of to interrelated or interacting elements establish policy and objectives and to achieve those objectives

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

Menjaga Mutu(Quality Assurance)

Menjaga Mutu(Quality Assurance) Menjaga Mutu(Quality Assurance) Disebut juga jaminan mutu, merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menetapkan, melaksanakan dan memonitor pelaksanaan standar, serta rangkaian peningkatan kinerja

Lebih terperinci

PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN Oleh : Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (cevest or id)

PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN Oleh : Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (cevest or id) PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN Oleh : Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (cevest or id) 1. TUJUAN 1.1 Untuk memastikan dan menjamin bahwa dokumen sistem manajemen mutu telah dikendalikan.

Lebih terperinci

MANUAL MUTU UNIVERSITAS BINA DARMA

MANUAL MUTU UNIVERSITAS BINA DARMA VISI Menjadi Universitas Berstandar Internasional Berbasis Teknologi Informasi Pada Tahun 2025 MISI Menghasilkan Lulusan yang Cerdas, Professional, dan Berkarakter yang Berdaya Saing Internasional 1. Kebijakan

Lebih terperinci

Kuesioner SNI Award 2013 Kategori Perusahaan/Organisasi Besar Jasa. Nomor/Kode Pertanyaan Panduan Pengisian

Kuesioner SNI Award 2013 Kategori Perusahaan/Organisasi Besar Jasa. Nomor/Kode Pertanyaan Panduan Pengisian A A.1 KINERJA PERUSAHAAN/ORGANISASI Kepemimpinan dan Manajemen Klausul ini dimaksudkan untuk menilai bagaimana pimpinan mengelola dan mengarahkan perusahaan/organisasi dalam mengupayakan pencapaian sasaran.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

Per/II/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran; 10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata

Per/II/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran; 10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4431); 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP

KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP BATAN D11-2 Rev. 0 KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP TIM KERJA PENATAAN TATALAKSANA REFORMASI BIROKRASI BATAN Badan Tenaga

Lebih terperinci