SUSUNAN REDAKSI. Ketua LPPM STKIP Taman Siswa Bima

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SUSUNAN REDAKSI. Ketua LPPM STKIP Taman Siswa Bima"

Transkripsi

1

2 Jurnal Pendidikan MIPA, Vol. 6. No. 1, Jan Juni 2016 ISSN: SUSUNAN REDAKSI Pelindung dan Penasehat Muslim, S.Sos. Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si. Penganggung Jawab Mariamah, M.Pd. Ketua Yayasan STKIP Taman Siswa Bima Ketua STKIP Taman Siswa Bima Ketua LPPM STKIP Taman Siswa Bima Ketua Penyunting Asriyadin, M.Pd.Si. Sekretaris Penyunting Nanang Diana, M.Pd. Penyunting Pelaksana Syarifuddin, S.Si., M.Pd. Yus iran, S.Si., M.Pd. Muliana, M.Pd. Agustinasari, M.Pd.Si. Muliansani, M.Kom. Penyunting Ahli (Mitra Bestari) Prof. Dr. Mansyur Dr. M. Firmansyah, M.Si Dr. Karyadin Desain Cover Asriyadin, M.Pd.Si. Alamat Redaksi Redaksi Jurnal Pendidikan MIPA LPPM STKIP Taman Siswa Bima Jln. Lintas Bima Tente Palibelo. Tlp (0374) Jurnal Pendidikan MIPA STKIP Taman Siswa Bima, terbit 2 kali setahun dengan edisi Januari Juni dan Juli-Desember. Sebagai media informasi, pemikiran dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Volume 6 no 1, Januari - Juni 2016 ISSN: Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima i

3 Jurnal Pendidikan MIPA, Vol. 6. No. 1, Jan Juni 2016 ISSN: JURNAL PENDIDIKAN MIPA DAFTAR ISI Analisis Kelemahan Siswa Terhadap Penguasaan Konse Statistika dan Peluang Pada Siswa SMA N 5 Pekanbaru Suripah & maya rhamadani Kemampuan Sistem Penyaringan Air Sederhana Dalam Menurunkan Nilai Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Air Sumur Gali Di Lingkungan Kekalik Indah Kecamatan Sekarbela Irwan Aprayadi Biologi Kelas yang Menerapkan Model Pembelajaran Student Teams Achievemen T Division(Stad) dengan Team Games Tournament (Tgt) Dengan Menggunakan Handout Pada Siswa Kelas Vii SMPN 10 Pekanbaru Nurzilawati anggraini, sri amnah & desti Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi Matakuliah Persamaan Diferensial Di Prodi Pendidikan Matematika Jurusan Pmipa Fkip Universitas Riau Armis, Suhermi & Rahmi Fauziah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mahasiswa Stkip Taman Siswa Bima Menggunakan Jasa Konsultan Dalam Penyusunan Skrispsi Tahun Akademik 2015 Mariamah.M.Pd Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Penalaran Matematis dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Rohmah Indahwati Implementasi Model Pembelajarankooperatif Tipe Think Pair And Share (Tps) Dapat Meningkatkan Sikap Matematika Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas Xi IPS SMA N 1 Palibelo Pada Materi Statistika Tahun Pelajaran 2015/2016 Raodatul Jannah Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima ii

4 Jurnal Pendidikan MIPA, Vol. 6. No. 1, Jan Juni 2016 ISSN: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Himpunan Kelas Vii.B Mts Darul Hikmah Tente Tahun Pelajaran 2012/2013 Syarifuddin Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Sains, Teknologi, Masyarakat Dan Lingkungan (Stml) Terhadap Sikap Ilmiah Siswa Kelas viii² Pada Smp Negeri 4 Bolo Tahun Pelajaran 2014/2015 Syarifuddin Keefektifan Pembelajaran Dengan Program Geometer s Sketchpad Untuk Materi Sudut Pusat Dan Sudut Keliling Pada Lingkaran Di Kelas VIII SMPN 1 Wawo Fatmah Penggunaan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Pemahaman Matematika Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Sederhana Nurrahmah Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima iii

5 ANALISIS KELEMAHAN SISWA TERHADAP PENGUASAAN KONSEP STATISTIKA DAN PELUANG PADA SISWA SMA N 5 PEKANBARU Suripah a, Maya Rhamadani b a, Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UIR b Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UIR ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pada kompetensi dasar mana dalam pembahasan statistika dan peluang dikelas XI SMA N 5 Pekanbaru siswa banyak mengalami kelemahan konsep. Adapun kelemahan siswa yang dimaksud ditunjukkan pada tingkat penguasaan yang rendah sehingga mengakibatkan ketidakmampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Populasinya adalah seluruh siswa kelas XI SMA N 5 Pekanbaru dan sampel diambil secara purposive (pertimbangan) dan proporsional sebanyak 33 siswa. Berdasarkan teori yang mendasari kajian ini diharapkan dapat diketahui kelemahan-kelemahan konsep pada kompetensi dasar bahasan statistika dan peluang, sehingga dapat dijadikan perbaikan penerapan konsep pengajaran yang benar pada materi statistika dan peluang secara khusus dan kompetensi dasar yang lain secara umum. Metode penelitiannya adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan berupa data tes dan wawancara. Sedangkan teknik analisis datanya adalah analisis statistik deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara menghitung persentase kelemahan konsep pada setiap kompetensi dasar statistika dan peluang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kelemahan siswa dalam penguasaan konsep tertinggi adalah 37,58% yaitu pada KD Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya. Dan terendah pada KD Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya. Sebesar 9,01%. Hasil penelitian juga menunjukkan persentase kelemahan siswa dalam penguasaan konsep secara umum sebesar 30,10%. Kata Kunci: Kelemahan siswa, Konsep Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1356

6 Pendahuluan Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 tahun 2003). Pencapaian dari fungsi dan tujuan tersebut, merupakan harapan bagi semua pihak terutama dalam dunia pendidikan. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut salah satunya diupayakan pendidikan yang berorentasi pada proses pembelajaran yang sesuai dengan standar proses. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 tentang standar proses, menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipatif aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. Salah satu yang diamanatkan dalam standar proses tersebut bahwa pembelajaran diselenggarakan dengan memotivasi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Peranan matematika adalah bagian yang esensial dalam pendidikan. Salah satu usaha perbaikan dibidang pendidikan yang dapat dilakukan adalah perbaikan pada pembelajaran matematika. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah tidak hanya digunakan untuk mencerdaskan satu tujuan saja. Siswa dapat memiliki sikap dan kebiasaan berpikir logis, kritis, sistematik, kerja cepat, tekun dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan (Permendiknas No. 23 tahun 2006) bahwa siswa dapat mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. Menghargai dan meresapi keindahan konsep-konsep, strukturstruktur dan pola-pola matematika, (Ruseffendi, 1991: 35). Seorang pendidik yang menguasai konsep materi pelajaran dengan baik, jika dalam menyampaikan kepada siswanya kurang jelas, terkadang penerimaan siswa menjadi salah. Hal ini yang akan menyebabkan siswa misunderstanding dalam memahami konsep materi selanjutnya. Oleh karenanya seorang guru dituntut untuk profesional dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1357

7 pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, (UU No 14 tahun 2005: 2). Pada kurikulum 2013, Statistik dan Peluang termasuk salah satu kompetensi dasar dalam jenjang SMA. Peluang merupakan konsep awal dari materi selanjutnya yaitu statistika yang tidak terlepas dari data-data dan perhitungan. Harapan besar tenaga pendidik di perguruan tinggi seperti dosen program studi matematika atau bidang lain yang berkaitan dengan matematika, siswa dapat melanjutkan konsep statistik yang ada di perguruan tinggi dengan baik. Pada selang waktu pertama konsep diajarkan secara sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret atau gambargambar sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pada tahap berikutnya konsep yang diajarkan secara sederhana dapat diperluas lagi, sehingga peserta didik dalam belajar matematika dapat dilakukannya secara sistematik, (Soemarsono, 2007). Bekal konsep materi yang matang dari tingkat SMA akan mendukung kelancaran terselenggaranya pembelajaran dibangku kuliah. Kenyataan yang ada di lapangan penguasaan konsep kompetensi dasar statistika masih rendah. Berdasarkan data dari BSNP Propinsi Riau untuk sekolah SMA Negeri dan Swasta di kota Pekanbaru secara nasional persentase penguasaan konsep diperoleh ratarata nilai 67,36. Khususnya untuk kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan permutasi sederhana. Persentase ini masih jauh di bawah kemampuan indikator penguasaan soal yang lain. Berdasarkan hasil ulangan harian pada standar kompetensi Statistika dan Peluang dbeberapa SMA di Pekanbaru juga masih rendah. Data ini juga diperjelas dari rendahnya daya tangkap mahasiswa pada statistik dasar diperguruan tinggi selama proses pembelajaran berlangsung. Hal tersebut mengundang ketertarikan peneliti sebagai dosen statistik untuk berkolaborasi dengan beberapa guru di sekolah menengah atas, perihal penguasaan konsep siswa dalam pembelajaran. Menurut keterangan beberapa guru SMA di Pekanbaru, ketika proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung menunggu apa yang disampaikan guru. Siswa banyak diam dan kurang mau bertanya tentang konsep pelajaran yang belum jelas. Siswa mudah lupa terhadap materi yang disampaikan sebelumnya. Siswa yang pandai semakin pandai dan yang kurang semakin tertinggal, hal itu disebabkan daya tangkap terhadap materi pelajaran menjadi lemah karena lemahnya konsep awal dalam pembelajaran. SMAN 5 Pekanbaru, berdasarkan level tingkat akademik termasuk sebagai salah satu kategori sekolah level akademik tinggi. Oleh karena itu peneliti secara bertahap tertarik untuk melihat sejauh mana tingkat pencapaian pembelajaran khususnya penguasaan konsep pada Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1358

8 materi statistika dan peluang. Pada tahap atau kesempatan berikutnya peneliti juga akan melihat sejauh mana penguasaan konsep pada level sekolah kategori akademik menengah dan bawah. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, peneliti berharap bisa melihat perbandingan sejauh mana penguasaan konsep pada sekolah SMA berdasarkan tingkatan akademiknya. Hasil yang bisa diperoleh diharapkan dapat dijadikan kajian khusus untuk mendesain bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna menjawab permasalahan yang ada yakni dengan judul Analisis Kelemahan Siswa Terhadap Penguasaan Konsep Statistika dan Peluang Pada siswa SMA N 5 Pekanbaru. Metode Penelitian Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatis. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI SMA N 5 Pekanbaru. Sedangkan sampel merupakan sebagian yang diambil dari populasi. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling yaitu dari jumlah populasi ditentukan jumlah sampel sebagai obyek penelitian yaitu sebanyak 33 siswa. TTeknik Pengumpulan Data Instrumen tes prestasi belajar matematika pada penelitian ini berupa seperangkat tes berupa pilihan ganda. Tes ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan konsep. Instrumen tes ini disusun berdasarkan kisi-kisi soal dengan mengacu pada standar isi dalam Kurikulum Kemudian dilakukan validasi dan reliabilitasnya. 1. Tes penguasaan konsep Instrumen tes prestasi belajar matematika pada penelitian ini berupa seperangkat tes berupa pilihan ganda. Tes ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan konsep. Instrumen tes ini disusun berdasarkan kisi-kisi soal dengan mengacu pada standar isi dalam Kurikulum Validitas dan Reliabilitas Penyusunan tes, terlebih dilakukan validasi dan dihitung reliabilitasnya. Dalam penelitian ini peneliti cukup memvalidasi isi dan validasi ahli sesuai dengan bidang statistika dan peluang, tentunya dengan memperhatikan masukan dan saran yang diberikan. Dalam hal ini peneliti berkonsultasi dengan teman sejawat yakni bapak Dr. Zulkarnain, M.Pd. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan yaitu dengan menghitung persentase kelemahan konsep pada Kompetensi Dasar Statistika dan Peluang. Untuk menghitung persentase kelemahan konsep pada tiap-tiap Kompetensi Dasar digunakan rumus sebagai berikut: Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1359

9 k j P j = i=1 n ij K j x N x100% Keterangan: P j = Persentase kelemahan konsep ke-j K j = Banyak butir untuk konsep ke-j n ij = Jumlah siswa yang menjawab salah butir ke-i pada konsep ke-j N = Jumlah responden Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian Data hasil penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berupa deskripsi data tentang tes hasil belajar siswa pada Standar Kompetensi Menggunakan aturan Statistika, Kaidah Pencacahan, dan Sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah. Adapun data yang dimaksud adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kelemahan siswa dalam penguasaan konsep materi pelajaran khususnya Statistika dan Peluang. Sebagai data pendukung peneliti juga mengambil data dari hasil wawancara tidak terstruktur kepada beberapa guru-guru matematika yang ada di sekolah penelitian. 1. Persentase kelemahan konsep tiap-tiap Kompetensi Dasar pada materi statistika dan peluang dari 33 siswa dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut: P j = i=1 n ij K j x N x100% Keterangan: P j = Persentase kelemahan konsep ke-j K j = Banyak butir untuk konsep ke-j n ij = Jumlah siswa yang menjawab salah butir ke-i pada konsep ke-j N = Jumlah responden J = 1, 6 tentang Secara rinci kelemahan konsep setiap k j Kompetensi Dasar data dianalisis sebagai berikut: Tabel 1. Persentase Kelemahan Siswa dalam Penguasaan Konsep. Kelemahan Penguasaan Standar Kompetensi Konsep ke-j (%) Konsep ke-j (%) 1.1 Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive. 13,13 86, Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya. 1.3 Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data, serta penafsirannya. 9,01 90,99 31,99 68,01 Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1360

10 1.4 Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah. 1.5 Menentukan ruang sampel suatu percobaan. 1.6 Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya. 2. Persentase Kelemahan Konsep pada Standar Kompetensi Menggunakan aturan Statistika, Kaidah Pencacahan, dan Sifatsifat peluang dalam pemecahan masalah. Persentase Kelemahan Konsep materi statistika dan Peluang secara umum dari 33 siswa diperoleh dengan analisis data sebagai berikut. P = 30 i=1 n i Kx N x100% Keterangan: P = Persentase kelemahan Konsep K = Banyak Butir n i = Jumlah siswa yang menjawab salah butir ke-i N = Jumlah Responden Persentase kelemahan konsep dari 33 siswa adalah sebagai berikut. P = x33 x100% P = x100% = 30,10 % 3. Deskripsi data Hasil Wawancara dengan Guru Matematika Kelas XI Semester II Dari hasil perbincangan dengan guru-guru yang ada di 28,28 71,72 27,27 72,73 37,58 62,42 sekolah, permasalahan yang dihadapi hampir sama. Yakni permasalahan hasil akhir dari pembelajaran yang ditargetkan. Ada yang terlupa oleh teman guru di sekolah bahwa sesungguhnya proses pembelajaran adalah titik tolak yang harus diperhatikan. Permasalahan hasil akhir atau nilai adalah dampak dari sebuah proses. Salah satu hal yang menarik dari apa yang disampaikan guru adalah bagaimana sikap siswa selama belajar. Seperti yang diungkapkan salah seoarang Guru, bahwa selama proses pembelajaran siswa terlihat tanpa ada masalah, beberapa siswa saja yang memang sudah rutin membuat masalah di kelas. Ketika di ajar cenderung tenang dan diam, akan tetapi diamnya siswa perlu dipertanyakan apakah diam karena paham atau sebaliknya. Siswa yang mau bertanya justru siswa yang memang kategori lebih, padahal harapan guru siswa yang tidak paham yang harusnya bertanya agar menjadi tahu. Sebagai Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1361

11 akibat adalaha adanya jurang atau batas sehingga ada konsep tertentu yang disampaikan guru tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada siswanya. Efek jangka menengah berimbas pada penguasaan indikator yang lebih tinggi, dan efek jangka panjangnya adalah tidak dapat mengkaitkan antara konsep yang saling membangun untuk berpikir lebih tinggi. Dengan adanya penelitian ini, guru mendukung peneliti untuk mendapatkan gambaran sejauh mana tingkat penguasaan materi yang telah berlalu, untuk membantu guru dalam memperbaiki proses pembelajaran khususnya pada konsep-konsep yang persentase kelemahanya masih tinggi. Satu hal yang peneliti tegaskan sebagai bentuk kolaborasi dan pedulinya terhadap masa depan pendidikan adalah terinspirasi bukan hanya sekedar ingin mengetahui konsep mana yang belum dikuasai. Pada tahap berikutnya adalah mendesain bahan ajar untuk SMA yang dapat memfasilitasi belajar siswa. Pembahasan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pada kompetensi dasar mana dalam pembahasan statistika dan peluang siswa SMA kelas XI di Pekanbaru banyak mengalami kelemahan konsep. Pada deskripsi data dperoleh adanya kelemahan konsep dalam tiap-tiap Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Kompetensi (SK) menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah. Persentase tertinggi pada KD ke 6 yakni menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya sebesar 37,58 %. Dan persentase terendah pada KD ke-2 yakni menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya. yaitu sebesar 9,01 %. Dari hasil analisis data diperoleh persentase kelemahan konsep pada tiap-tiap KD. KD membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis dan lingkaran serta ogive sebesar 13,13%, KD Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya sebesar 9,01 %, KD Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data, serta penafsirannya sebesar 31,99 %, KD Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah sebesar 28,28 %, KD Menentukan ruang sampel suatu percobaan sebesar 27,27 %, dan KD Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya sebesar 37,58 %. Dari hasil analisis data yang telah diuraikan di atas menunjukkan gambaran bahwa kelemahan siswa dalam penguasaan konsep masih cukup tinggi jika Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1362

12 dikaitkan dengan pencapaian target ketuntasan kriteria minimum (KKM) nilai yang ada di sekolah. Jika dicermati lebih jauh, tamapk gambaran secara kajian teoritis bahwa penguasaan konsep awal sangat menetukan konsep berikutnya. Pada penanaman konsep awal, harapan yang diperoleh adalah siswa tidak ada kendala disaat konsep materi yang diberikan masih relatif sederhana dan mudah dipahami. Telihat dari hasil persentase kelemahan konsep cukup rendah. Artinya disana siswa belum ada kendala yang berarti jika dilihat dari indikator pencapaian belajarnya masih tahap pengetahuan. Selanjutnya jika dilihat dari besarnya angka persentase kelemahan penguasaan konsep semakin tinggi SSimpulan levelan pencapaian indikator belajarnya semakin tinggi pula persentase kelemahan konsepnya. Artinya disana ada makna tersirat yang dapat peneliti maknai. yakni adanya penumpukan ketidakpahaman atau misunderstanding materi sehingga semakin besar pula permasalahan yang menyebabkan kendala ketidakpahaman pada proses abstraksi pada levelan pencapaian indikator berikutnya yang lebih tinggi. Pada tahapan definisi, kemudian memahami konsep masih bisa terkafer. Namun pada tahapan aplikasi analisis dan sintesis, siswa mulai kurang bekal dikarenakan ada sinyal-sinyal konsep yang terputus. Sebagai akibat jangka panjang tidak dapat mengingat kembali bahwa ada keterkaitan antara indikator yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut menunjukkan masih terdapat kelemahan siswa dalam penguasaan konsep pada KD- KD materi statistika dan peluang. Oleh karena itu, peneliti berharap sederhananya hasil penelitian ini, dapat dijadikan perhatian untuk proses perbaikan dimasa yang akan datang. Khususnya pada KD menggunakan aturan permutasi dan kombinasi lebih dikuatkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kd terakhir yang berkaitan dengan menyelesaikan masalah peluang suatu kejadian. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Siswa masih banyak mengalami kelemahan konsep khususnya pada KD Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data, serta penafsirannya 31,99 %, KD Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah sebesar 28,28 %, dan KD Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya sebesar 37,58 %. 2. Persentase kelemahan konsep tiap-tiap KD materi Statistika dan Peluang, persentase tertinggi sebesar 37,58 % yaitu pada KD menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya, dan Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1363

13 persentase terendah sebesar 9,01 % yakni pada KD Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya. Persentase kelemahan konsep secara keseluruhan diperoleh 30,10%. Daftar Pustaka Arends, R.I., & Kilcher, A. (2010). Teaching for student learning: becoming an accomplished teacher. New York: Routledge. Arikunto, Suharsimi. (2002). Dasardasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20, tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.. (2005). Undang-Undang RI Nomor 14, tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.. (2006.) Peraturan menteri pendidikan nasional repoblik Indonesia no 23, tahun 2006 tentang standar isi.. (2007). Peraturan menteri pendidikan nasional republik indonesia nomor 41, tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ebel, R.I., & Frisbie, D.A. (1986). Essential of educational measurement (4 th ed). New Jersey: Prentice-Hell, Inc. Ferguson, George A dan Takane, Yoshio Statistical Analysis in Psychology and Education. Sixth edition. New York: McGraw Hill Book Company. Johnson, D.W., & Johnson, R.T. (2002). Meaningful assessment: A manageable and cooperative process. Boston: Allyn and Bacon Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2004). Models of teaching (7 th ed). Boston, MA: Pearson Education. Nitko, A.J., & Brookhart, S.M. (2007). Educational assessment of student (5 th ed). New Jersey: Pearson Education.. Russefendi. (1991). Dasar-dasar Matematika Modern untuk Orang Tua Murid dan Guru. Bandung: Tarsito. Sudjana. (2002). Metode Statistika: Bandung: Tarsito. Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1364

14 KEMAMPUAN SISTEM PENYARINGAN AIR SEDERHANA DALAM MENURUNKAN NILAI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) PADA AIR SUMUR GALI DI LINGKUNGAN KEKALIK INDAH KECAMATAN SEKARBELA 1 Irwan Aprayadi (Guru Kimia SMA Negeri 1 SEMBALUN) ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh warga Lingkungan Kekalik Indah saat ini adalah tingginya kadar Chemical Oksigen Demand (COD) pada air sumur yang melebihi ambang batas mutu air bersih, mengakibatkan air sumur menjadi keruh, berbau, dan memiliki rasa tidak enak untuk diminum. Penyaringan Air Sederhana merupakan suatu teknologi pengolahan air bersih yang terdiri dari media pasir, arang tempurung kelapa dan kerikil. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui apakah sistem Penyaringan Air Sederhana dapat menurunkan konsentrasi COD pada air sumur gali di Lingkungan Kekalik Indah dan Untuk mencari variasi komposisi media yang paling efektif sehingga mendapatkan penurunan konsentrasi COD yang paling optimal. Dari hasil penelitian didapat konsentrasi rata-rata awal COD sebesar 16,48 mg/l. Setelah dilakukan pengolahan dengan Penyaringan Air sederhana diperoleh variasi komposisi media pasir, arang dan kerikil yang optimal dalam menurunkan konsentrasi COD yaitu variasi 1:3:1 yang menunjukkan efisiensi penurunan konsentrasi COD paling efektif sebesar 55,60% jika dibandingkan dengan variasi media yang lainnya. Kapasitas penyaringan pada variasi komposisi media 1:3:1 mampu menurunkan kadar COD sesuai ambang batas yang diperbolehkan sebanyak 6 L air. Kata Kunci: Air Sumur, Penyaringan Air Sederhana, Chemical Oxygen Demand (COD). Pendahuluan Air merupakan sumber kehidupan yang sangat vital bagi manusia. Dan dapat dikatakan air merupakan sumber daya yang terbatas dan kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat air bagi kehidupan kita antara lain untuk kebutuhan rumah tangga yaitu sebagai air minum dan MCK (mandi cuci kakus), kebutuhan industri, air irigasi untuk pertanian sampai pembangkit listrik tenaga air Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1365

15 (Surososipil, 2008). Menurut Kusnaedi (2006), air yang dapat diminum dapat diartikan sebagai air yang bebas dari bakteri yang berbahaya dan tidak murni secara kimiawi. Air minum harus bersih dan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau, dan tidak mengandung bahan tersuspensi atau kekeruhan. Standar untuk air minum telah ditentukan oleh WHO baik untuk Eropa (WHO 1970) maupun internasional (WHO 1971). Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak, pernyataan ini pada peraturan menteri kesahatan nomor 416/MEN.KES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air. Pernyataan ini juga sesuai dengan keputusan menteri kesehatan No.907/Menkes/SK/VII/2002 yang menyatakan bahwa syarat air minum harus bebas dari bahan-bahan organik dan anorganik. Untuk menyatakan kandungan bahan organik di dalam perairan dilakukan dengan mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan tersebut sehingga menjadi senyawa yang stabil. Salah satu cara yang digunakan untuk menganalisa kandungan oksigen tersebut yaitu dengan menganalisis Chemical Oxygen Demand (COD). Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 L sampel air. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung di dalam air dan diukur dalam satuan ppm. Oksigen yang terlarut ini dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor air baku. Semakin besar oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran yang relatif kecil (Admin, 2008). Masyarakat di Lingkungan Kekalik Indah Kecamatan Sekarbela masih menggunakan air sumur gali untuk memenuhi kebutuhan akan air minum maupun keperluan rumah tangga lainnya. Umumnya warga Kekalik Indah mengalirkan limbah rumah tangganya ke sungai dan got yang mengalir melewati daerah tersebut. Limbah ini terdiri dari zat-zat organik dan anorganik seperti tinja, sisa-sisa sabun, sampah dan sebagainya. Masyarakat Kekalik Indah yang umumnya bermata Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1366

16 pencaharian sebagai pembuat tahu banyak memanfaatkan got dan aliran sungai sebagai tempat pembuangan limbah tahu tersebut. Hal ini mengakibatkan air sumur gali di daerah sekitar pembuangan air limbah menjadi berwarna keruh, berbau, dan memiliki rasa tidak enak untuk diminum. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingginya konsentrasi COD yang terkandung pada air sumur masyarakat Kekalik Indah yang melebihi ambang batas baku mutu air yaitu 13,6 mg/l. Dimana menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 konsentrasi COD untuk air yang dapat diminum konsentrasi COD tidak melebihi 10 mg/l. Sehingga air sumur gali ini perlu penanganan untuk meminimalkan konsentrasi COD yang dikandungnya. Guna mendapatkan air yang bersih banyak cara yang dilakukan antara lain dengan menggunakan metode penyaringan sederhana, dimana metode ini menggunakan media pasir, arang dan kerikil sebagai media penyaring yang persediaannya cukup banyak dan mudah mendapatkannya. Cara membersihkan air dengan metode penyaringan sederhana yaitu dengan mengalirkan air pada bak penyaringan yang telah diisi dengan media penyaringan berupa pasir, arang dan kerikil. Dimana pada proses penjernihan air media arang digunakan sebagai adsorben yang berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan bau dan mengurangi rasa yang kurang sedap pada air dimana media arang menyerap kandungan bahan organik dan nonorganik dalam air dapat meningkatkan konsentrasi COD. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian menggunakan penyaringan air sederhana dengan media pasir, arang dan kerikil sehingga efektif dalam menurunkan konsentrasi COD yang ada di dalamnya. Pemanfaatan Sumber Daya Air Dalam kehidupan di bumi kita ini, air merupakan suatu kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan untuk kehidupan manusia. Kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat air bagi kehidupan kita antara lain untuk kebutuhan rumah tangga yaitu sebagai air minum dan MCK (mandi cuci kakus), kebutuhan industri, air irigasi untuk pertanian sampai pembangkit listrik tenaga air. Air di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyar km 3 dengan 97,5% berupa air laut dan 1,75% berbentuk es serta 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Kenyataannya hanya Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1367

17 air di daratan seperti air sungai, air danau, air tanah yang telah dimanfaatkan secara besarbesarnya untuk kepentingan manusia. Di Indonesia, dari potensi air yang ada (100%) yang menjadi aliran mantap dan yang termanfaatkan baru sebesar 28% sedangkan sisanya 72% terbuang percuma (langsung ke laut) (Surososipil, 2008). Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak, peryataan ini pada peraturan menteri kesahatan nomor 416/MEN.KES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air. Pernyataan ini juga sesuai dengan keputusan menteri kesehatan No.907/MENKES/SK/VII/2002 yang menyatakan bahwa syarat air minum harus bebas dari bahan-bahan organik dan anorganik. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang kreteria mutu air dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 2.1 Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 kriteria mutu air berdasarkan kelas. PARAMETER SATUAN KELAS KETERAN I II III IV GAN FISIKA Temperatur o C Devisi alamiahnya Devisi Devisi Devisi Devisi temperatur dari keadaan Residu terlarut mg/l Residu tersuspensi KIMIA ANORGANIK mg/l Ph mg/l Bagi pengolahan air minum secara konvensiona l, residu tersuspensi 5000 mg/l Apabila secara alamiah diluar rentang tersebut, maka Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1368

18 BOD mg/l COD mg/l DO mg/l Total fosfat sbg P mg/l 0,2 0,2 1 5 NO3 Sebagai N mg/l NH3 N mg/l 0, Arsen mg/l 0, Kobalt mg/l 0,2 0,2 0,2 0,2 Berium mg/l 1 Boron mg/l 0,01 0,05 0,05 0,05 Selenium mg/l 0,01 0,01 0,01 0,01 Kadnium mg/l 0,05 0,05 0,05 0,01 Tembaga mg/l 0,02 0,02 0,02 0,2 Besi mg/l 0, Timbal mg/l 0,03 0,03 0,03 1 Mangan mg/l 0, Air raksa mg/l 0,001 0,002 0,002 0,005 Seng mg/l 0,05 0,05 0,05 2 ditentukan berdasarkan kondisi alamiah Angka batas minimum Bagi perikanan, kandungan amonia bebas untuk ikan yang peka 0,02 mg/l sebagai NH3 Bagi pengolahan air minum secara konvensional, Cu 1 mg/l Bagi pengolahan air minum secara konversional, Fe 5 mg/l Bagi pengolahan1 Bagi pengolahan air minum secara konvensional, Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1369

19 Kholorida mg/l Sianida mg/l 0,02 0,02 0,02 - Fluorida 0,5 1,5 1,5 - Nitrat sebagai N 0,06 0,06 0,06 - Sulfat Khlorin bebas 0,03 0,03 0,03 - Belerang sebagai H2S MIKROBIOLOGI Jml/100 Fecal coliform ml Total coliform Jml/100 ml 0,002 0,002 0, RADIOAKTIF Gross-A Bq/L 0,1 0,1 0,1 0,1 Gross-B KIMIA ORGANIK Minyak dan lemak µg/l Deterjen sbg MBAS µg/l Senyawa fenol sbg. Fenol µg/l Zn 5 mg/l Bagi pengolahan air secara konvensional, NO2-N 1 mg/l Bagi ABAM tidak dipersharatkan Bagi pengolahan air secara konvensional, S sebagai H2S < 0,1 mg/l Bagi pengolahan air minum secara konvensional, fecal coliform 2000 jml/100 ml dan total coliform jml/100ml Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1370

20 BHC µg/l Aldrin/Dieldrin µg/l Chlordane µg/l DDT µg/l Heptaklor dan Heptaklor µg/l epoxide Lindane µg/l Methoxyclor µg/l Endrin µg/l Toxaphan µg/l Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1371

21 Tinjauan Tentang Air Sumur Gali /Air Tanah Dalam situs wikipidia.com mengatakan Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Sedangkan Sumur Air Tanah Dalam (SATD) adalah sarana penyediaan air bersih berupa sumur dalam yang dibuat dengan membor tanah pada kedalaman muka air minimal 7 meter dari permukaan tanah. Kedalaman dasar pada umumnya lebih dari 30 meter sehingga diperoleh air sesuai dengan yang diinginkan. Pergerakan air tanah sangat lambat, kecepatan arus berkisar antara m/detik dan dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari lapisan tanah, dan pengisian kembali. Karakteristik utama yang membedakan air tanah dan air permukaan adalah pergerakannya yang sangat lambat dan waktu tinggal yang sangat lama, dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Karena pergerakannya yang sangat lambat dan waktu tinggal yang lama tersebut, air tanah akan sulit untuk pulih kembali jika mengalami pencemaran. Pada saat infiltrasi ke dalam tanah, air permukaan mengalami kontak dengan air mineralmineral yang terdapat di dalam tanah dan melarutkannya, sehingga kulitas air mengalami perubahan karena terjadi reaksi kimia. Konsentrasi oksigen dalam air yang masuk ke dalam tanah menurun, digantikan oleh karbondioksida yang berasal dari aktivitas biologis. Dalam pembuatan sumur, sebaiknya harus diberi tembok sedalam tiga meter dengan pinggir disemen dan dibuatkan selokan air atau parit supaya kotoran tidak meresap ke tanah dan merembes ke dalam sumur. Kondisi Air Sumur di Daerah Kekalik Indah Sarana air bersih yang ada di Lingkungan Kekalik Indah Kecamatan Sekarbela pada umumnya adalah sumur dengan kedalaman 7-15 meter, dimana masyarakatnya menggunakan air tersebut untuk keperluan mandi, mencuci, minum dan memasak. Sebagian masyarakat menggunakan air gallon dan air dari PDAM untuk kebutuhan air minum. Masyarakat Kekalik Indah umumnya mengalirkan limbah rumah tangganya ke sungai dan got yang mengalir melewati daerah tersebut. Limbah ini terdiri dari air zat-zat organik dan anorganik seperti tinja, sisa-sisa Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1372

22 sabun, sampah dan sebagainya. Masyarakat Kekalik yang sebagian bermata pencarian sebagai pembuat tahu banyak memanfaatkan got dan aliran sungai sebagai tempat pembuangan limbah tahu tersebut. Hal ini mengakibatkan air sumur gali di daerah sekitar pembuangan air limbah menjadi berwarna keruh, berbau, dan memiliki rasa tidak enak untuk diminum. Kondisi penduduk yang padat dan banyak sekali tempat pembuangan limbah serta sungaisungai yang kotor di sekitar Lingkungn Kekalik Indah memungkinkan terjadinya peresapan limbah tersebut ke dalam tanah apalagi kondisi air tanahnya sangat dangkal. Kondisi demikian membuat air di daerah tersebut menjadi berbau dan tidak layak konsumsi. Pencemaran yang berasal dari zat organik maupun nonorganik tersebut menyebabkan tingginya konsentrasi COD yang terkandung dalam air sumur. Menurut penelitian Imam Zarkasi (2008), konsentrasi COD yang terkandung dalam air sumur di wilayah Kekalik Jaya melebihi ambang batas yang telah ditentukan oleh pemerintah melalui PP No. 82 Tahun 2001 yang terlihat pada Tabel 2.2 di bawah ini. Tabel 2.2 Konsentrasi COD pada air sumur Kelurahan Kekalik Jaya (Zarkasi, 2008) Lingkungan Volume FAS (ml) Konsentrasi COD (mg/l) Ratarata Kekalik Timur Kekalik Barat Kekalik Kijang Kekalik Gerisak Kekalik Indah Keterangan: mg = miligram µg = mikrogram ml = mililiter L = liter U1 U2 U1 U2 Sumur 1 4,53 4,50 6,6 7,5 Sumur 2 4,44 4,43 9,3 9,6 Sumur 1 4,48 4,47 8,1 8,4 Sumur 2 4,47 4,45 8,4 9,0 Sumur 1 4,39 4,39 10,8 10,8 Sumur 2 4,32 4,34 12,9 12,3 Sumur 1 4,33 4,34 12,6 12,3 Sumur 2 4,32 4,33 12,9 12,6 Sumur 1 4,29 4,27 13,8 14,4 Sumur 2 4,34 4,23 12,3 12,6 8,2 8,4 11,7 12,6 13,2 Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1373

23 Bq = Bequerel MBAS = Methylene Blue Active Substance ABAM = Air Baku untuk Air Minum Logam berat merupakan logam terlarut Nilai di atas merupakan batas maksimum, kecuali untuk ph dan DO. Bagi ph merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang atau lebih dari nilai yang tercantum. Nilai DO merupakan batas minimum. Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termasuk, parameter tersebut tidak dipersyaratkan Tanda adalah lebih kecil atau sama dengan Tanda < adalah lebih kecil Analisis COD Dalam Air Pengertian COD Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat dibandingkan dengan uji Biological Oxygen Demand (BOD), yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan yang disebut uji COD. Uji COD yaitu suatu uji yang menetukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan seperti kalium dikromat yang digunakan untuk mengoksidasi bahan bahan organik yang terdapat didalam air. Dimana Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat zat organis yang ada dalam 1 L sampel air. Dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksidasi. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung di dalam air dan diukur dalam satuan ppm. Oksigen yang terlarut ini dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor air baku. Semakin besar oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran yang relatif kecil. Rendahnya nilai oksigen terlarut berarti beban pencemaran meningkat sehingga koagulan yang bekerja untuk mengendapkan koloida harus bereaksi dahulu dengan polutan-polutan dalam air menyebabkan konsumsi oksigen bertambah Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1374

24 (Admin, 2008). COD menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O, sedangkan BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis. Gambar 2.2 Alat Penyaringan Air Sederhana Bak penampungan Alat Penyaringan Sumber: Suriawira (2005) Metodologi Penelitian Jenis Penelitian Hasil Penelitian mengenai teknologi penyaringan air sederhana dalam mengolah air telah banyak dilakukan, biasanya teknologi ini digunakan untuk pengolahan air bersih. Oleh sebab itu, pada penelitian ini peneliti mencoba untuk membahas sejauh mana efektifitas penyaringan air sederhana dalam menurunkan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) air sumur gali di Lingkungan Kekalik Indah Kecamatan Sekarbela. Sesuai dengan judul dari penelitian ini yaitu Kemampuan Sistem Penyaringan Air Sederhana Dalam Menurunkan Nilai Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1375

25 COD Pada Air Sumur Gali di lingkungan Kekalik Indah Kecamatan Sekarbela Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimen yang dilaksanakan dalam skala laboratorium dan dalam batasan waktu tertentu. untuk titrasi blanko b = ml FAS yang digunakan untuk titrasi sampel N = Normalitas FAS Analisis Data Untuk menentukan konsentrasi COD dalam sampel dapat dihitung dengan rumus Sebagai berikut: COD (mg O2/L) = ( a b) x N x8000 ml sampel Dimana : a = ml FAS yang digunakan Hasil Penelitian dan Pembahasan Konsentrasi awal Chemical Oxygen Demand (COD) pada air sumur Data rata-rata konsentrasi COD pada air sumur sebelum proses penyaringan tertera pada tabel 4.1. Perhitungan secara terperinci pada lampiran 3. Tabel 4.1 Hasil pengujian awal konsentrasi COD sebelum proses penyaringan Ulangan FAS (ml) (b) Kadar COD (mg/l) 1 4,20 13,49 2 4,15 19,48 Rerata (mg/l) (C0) 16,48 Dari Tabel 4.1 diperoleh rata-rata konsentrasi COD dalam dua kali pengulangan sebesar 16,48 mg/l. Kadar rata-rata COD tersebut telah melebihi ambang baku mutu air bersih berdasarkan PP No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas air dan Pengendalian pencemaran Air sebesar 10 mg/l, maka air sumur tersebut perlu diperlakukan dengan Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1376

26 menggunakan penyaringan air sederhana untuk mendapatkan air yang sesuai mutu air bersih. Proses Penyaringan Air Pada proses penyaringan, sampel dimasukkan pada bak penampungan sebanyak 2 L selanjutnya dialirkan menuju pipa penyaringan dan hasil penyaringan ditampung. Dapat dilihat secara visual (fisik), dimana pada hasil penyaringan air yang semula berwarna keruh setelah dilewatkan melalui Penyaringan Air Sederhana air berwarna bening. Konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) setelah penyaringan Pada penilitian ini menggunakan enam variasi yang berbeda tiap variasi dilakukan dengan dua kali pengulangan dan diperoleh data rata-rata COD setelah penyaringan pada Tabel 4.2. perhitungan secara lengkap pada lampiran 3. Tabel 4.2 Konsentrasi COD sesudah melalui Penyaringan Air Sederhana. Variasi Komposisi Media penyaringan kerikil : Arang : pasir 3 : 1 : 1 2 : 1 : 2 1 : 1 : 3 2 : 2 : 1 1 : 2 : 2 1 : 3 : 1 FAS (ml) Kadar COD (mg/l) U1 4,20 13,49 U2 4,30 10,49 U1 4,25 11,99 U2 4,30 10,49 U1 4,30 10,49 U2 4,30 10,49 U1 4,45 5,99 U2 4,25 11,99 U1 4,40 7,50 U2 4,40 7,50 U1 4,40 7,50 U2 4,50 4,49 Rerata COD (mg/l) Efektifitas (%) 11,99 11,12 11,24 16,68 10,49 22,24 9,74 27,80 7,50 44,40 5,99 55,60 Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1377

27 Keterangan : U1 = Ulangan ke-1 U2 = Ulangan ke-2 Dari Tabel 4.2 dilihat bahwa variasi komposisi media penyaringan berpengaruh terhadap penurunan kadar COD dan variasi yang paling efektif dalam menurunkan kadar COD yaitu pada komposisi pasir, arang dan kerikil dengan perbandingan 1:3:1 dimana efektifitas penurunan kadar COD sebesar 55,60%. Pada variasi ini komposisi arang paling banyak dibandingkan komposisi media yang lainnya. Uji Statistik Hasil uji statistik dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan yang signifikan dalam penurunan konsentrasi COD untuk setiap variasi unit pengolahan yang memiliki ketebalan media yang berbeda. Uji statistik yang digunakan adalah dengan menggunakan Anava dengan metode satu jalur. Ha Tabel 4.3 Penentuan Analisis Of Varian (ANAVA) Penyaringan Air Sederhana Berbagai Variasi Variasi kerikil : Arang : pasir Sebelum penyaringan 3 : 1 : 1 2 : 1 : 2 1 : 1 : 3 2 : 2 : 1 1 : 2 : 2 1 : 3 : 1 Kadar COD (mg/l) U1 22,48 505,35 U2 19,48 379,47 U1 13,49 181,98 U2 10,49 110,04 U1 11,99 143,76 U2 10,49 110,04 U1 10,49 110,04 U2 10,49 110,04 U1 5,99 35,88 U2 11,99 143,76 U1 7,50 56,25 U2 7,50 56,25 U1 7,50 56,25 U2 4,49 20,16 Xij 2 T T 2 41, ,64 23, , , , , , Jumlah ( ) 2019,27 154, ,23 Penyusunan hipotesis = Terdapat perbedaan yang signifikan antara variasi komposisi media Penyaringan Air Sederhana dalam menurunkan konsentrasi COD Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1378

28 pada air sumur gali. Ho = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara variasi komposisi media Penyaringan Air Sederhana dalam menurunkan konsentrasi COD pada air sumur gali. Tabel 4.4 Sidik Ragam analisis ANAVA Ha = A1 A2 A3 A4 A5 A6 Ho = A1 = A2 = A3 = A4 = A5 = A6 Dimana A = Variasi ketebalan media Penyaringan Air Sederhana Jika : F hitung F tabel maka tolak Ho Sumber variasi Dk SS MS Antar kelompok (b) 6 122,13 20,35 Dalam kelompok (w) 7 64,11 9,16 Total ,24 F Fhitung 0,05 0,01 2,22 3,87 7,19 Nilai statistik F tabel adalah F(1-0,05);(6,7) = 3,87 (dari tabel distribusi F) Nilai statistik F tabel adalah F(1-0,01);(6,7) = 7,19 (dari tabel distribusi F) Terlihat dari tabel ANAVA bahwa nilai F hitung = 2,22 F hitung F tabel 3,87, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho diterima, yang artinya perbedaan variasi media pada Penyaringan Air sederhana tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD). Penentuan Kapasitas Penyaringan Pada pengujian ini, variasi 1:3:1 diuji dengan pengulangan penambahan volume tiap 2 L sampel hingga memperoleh kapasitas penyaringan sampai konsentrasi COD kembali pada konsentrasi awal. Hasil penentuan volume optimum pada variasi 1:3:1 dapat dilihat pada Tabel 4.3 dibawah ini. Perhitungan secara terperinci dapat dilihat pada Lampiran 5. Tabel 4.5 Penentuan kapasitas penyaringan pada variasi 1:3:1 Penambahan sampel 2 L ke- FAS (ml) (b) COD (mg/l) Rerata (mg/l) Efektifitas (%) 0 U1 3,90 22,48 20,98 0 Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1379

29 (Sebelum Penyaringan) U2 4,0 19,48 U1 4,50 4,49 U2 4,45 5,99 U1 4,50 4,49 U2 4,40 7,50 U1 4,40 7,50 U2 4,40 7,50 U1 4,20 13,49 U2 4,15 14,99 U1 4,20 13,49 U2 4,05 17,99 U1 4,0 19,48 U2 4,0 19,48 U1 3,9 22,48 7 U2 4,0 19,48 Keterangan : U1 = Ulangan ke-1 U2 = Ulangan ke-2 5,24 75,02 5,99 71,44 7,50 64,25 14,24 32,12 15,47 26,26 19,48 7,15 20,98 0 Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan Penyaringan Air Sederhana dapat digunakan sebanyak 6 kali penambahan 2 L sampel atau sebanyak 12 L. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang didasarkan pada tujuan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penyaringan air sederhana dapat menurunkan konsentrasi COD pada air sumur gali di Lingkungan kekalik Indah Kelurahan Kekalik Jaya. 2. Variasi komposisi media pasir, arang dan kerikil yang optimal dalam menurunkan konsentrasi COD yaitu variasi 1:3:1 yang menunjukkan effisiensi penurunan konsentrasi COD paling efektif sebesar 55,60% jika Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1380

30 dibandingkan dengan variasi media yang lainnya. 3. Kapasitas penyaringan pada variasi komposisi media pasir, arang dan kerikil dengan perbandingan 1:3:1 mampu menurunkan kadar COD sesuai ambang batas yang diperbolehkan sebanyak 6 L air. Daftar Pustaka Admin BOD Dan COD. [online]. m/2008/07/15/bod-dancod/ - 39k. (diakses tanggal 10 Februari 2009). Alaerts A Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional. Anonim. Arang. [online]. ng. [pdf] (diakses tanggal 04 April 2009). Anonim. Arang Batok Kelapa. [online]. indonetwork.co.id/all/agra ris/arang_batok_kelapa/0. html (diakses tanggal 04 April 2009). Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/199 0 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air, [pdf], web.ipb.ac.id/~tml_atsp/tes Anonim Anonim t/permenkes%20416_90.p df. (diakses tanggal 10 Februari 2009). Pencemaran Air. [online]. digilib.itb.ac.id/gdl.php?mo d=browse&op=read&id=ji ptumm-gdl-heritage drsludwalu-675&q=jalan - 14k. (diakses tanggal 16 Februari 2009).. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. [pdf]. http//www.menlh.go.id/i/art /pdf_ pdf (diakses tanggal 04 April 2009). Anonim Fungsi dan kegunaan arang batok kelapa. [online]. s/fungsi_dan_kegunaan_ar ang_batok_kelapa (diakses tanggal 11 April 2009) Arikunto. S Metodelogi Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Efendi Hanif Telaah kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius. Furchan. A Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kusnaedi Mengolah Air Gambut dan AirKotor untuk Air Minum. Jakarta: Swadaya. Margono. S Metode Penelitian Pendidikan. Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1381

31 Jakarta: Rineka Cipta. Riduwan Dasar-Dasar Statistik. Bandung: PT Alfabeta Bandung. Sugiharto Dasar-Dasar Pengolahan Air limbah. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Sugiyono Statistik Untuk Penelitian. Bandung: PT Alfabeta Bandung. Sukawati Tri Anna Penurunan Konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Air Limbah Laundry Dengan Menggunakan Reaktor Biosand Filter Diikuti Dengan Reaktor Activated Carbon, Tugas Akhir,Jurusan Teknik Lingkungan,UII,Yogyakart a [pdf]. rac.uii.ac.id/server/docume nt/public/ Anna.pdf (diakses tanggal 10 Februari 2009). Suriawiria Unus Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. Bandung: PT. Alumni. Surososipil Air Sumber Kehidupan. [pdf], press.com/2008/08/bab1- agung.pdf, (diakses tanggal 10 Februari 2009). Sutrisno Teknologi Penyediaan Air bersih. Jakarta: Rineka Cipta. Suyasa I W. Budiarsa Kemampuan Sistem Saringan Pasir- Tanaman Menurunkan Nilai BOD Dan COD Air Tercemar Limbah Pencelupan. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana [pdf]. journal.unud.ac.id/?module...idf=10&idj (diakses tanggal 16 Februari 2009). Trisnawulan. Dkk Analisis Kualitas Air Sumur Gali. [pdf]. tan/index2.php?option=co m_content&do_pdf=1&id= 46. (diakses tanggal 10 Februari 2009) Zarkasi Imam Analisis Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) Pada Air Sumur di Kelurahan Kekalik Jaya Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Skripsi. Mataram: IKIP Mataram. Jurnal Pendidikan MIPA, LPPM STKIP Taman Siswa Bima 1382

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM I. PARAMETER WAJIB No. Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimum Yang Diperbolehkan 1. Parameter

Lebih terperinci

Lampiran 1 Hasil analisa laboratorium terhadap konsentrasi zat pada WTH 1-4 jam dengan suplai udara 30 liter/menit

Lampiran 1 Hasil analisa laboratorium terhadap konsentrasi zat pada WTH 1-4 jam dengan suplai udara 30 liter/menit Lampiran 1 Hasil analisa laboratorium terhadap konsentrasi zat pada WTH 1-4 jam dengan suplai udara 30 liter/menit Konsentrasi zat di titik sampling masuk dan keluar Hari/ mingg u WT H (jam) Masu k Seeding

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kriteria mutu air berdasarkan kelas (PP Nomor 82 Tahun 2001) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV FISIKA

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kriteria mutu air berdasarkan kelas (PP Nomor 82 Tahun 2001) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV FISIKA LAMPIRAN Lampiran 1. Kriteria mutu air berdasarkan kelas (PP Nomor 82 Tahun 2001) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV FISIKA o C Temperatur mg/l Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 3 Residu Terlarut mg/l

Lebih terperinci

LAMPIARAN : LAMPIRAN 1 ANALISA AIR DRAIN BIOFILTER

LAMPIARAN : LAMPIRAN 1 ANALISA AIR DRAIN BIOFILTER LAMPIARAN : LAMPIRAN 1 ANALISA AIR DRAIN BIOFILTER Akhir-akhir ini hujan deras semakin sering terjadi, sehingga air sungai menjadi keruh karena banyaknya tanah (lumpur) yang ikut mengalir masuk sungai

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 02 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN KELAS AIR PADA SUNGAI DI WILAYAH KABUPATEN TABALONG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan

1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi yang hingga saat ini

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air

PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air SALINAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syaratsyarat Dan Pengawasan Kualitas Air MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah materi esensial di dalam kehidupan dan merupakkan substansi kimia dengan rumus kimia HH2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara

Lebih terperinci

LAMPIRAN I. No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan

LAMPIRAN I. No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan LAMPIRAN I Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 / Menkes / Per / IV / 2010 Tanggal 19 April 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. I. PARAMETER WAJIB No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia ini. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari disegala

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 200 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu dari sarana dasar yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Kebutuhan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk

Lebih terperinci

Lampiran 1 ph. Hasil seperti pada tabel berikut : Tabel 1 Hasil pengukuran ph sebelum dan sesudah elektrokoagulasi ph. Pengambilan Sampel 1 4,7 6,9

Lampiran 1 ph. Hasil seperti pada tabel berikut : Tabel 1 Hasil pengukuran ph sebelum dan sesudah elektrokoagulasi ph. Pengambilan Sampel 1 4,7 6,9 97 Lampiran 1 ph Alat Ukur : ph meter Prosedur Pengukuran 1. Kalibrasi dengan larutan buffer sampai ph 4 2. Pengukuran ph air gambut (dicelupkan ph meter ke air gambut) 3. Dicatat berapa ph yang terukur

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Air Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat di daratan, perairan lepas pantai (off shore water) dan perairan laut. Ekosistem air yang terdapat

Lebih terperinci

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian. Pengambilan Sampel Rhizophora apiculata. Dekstruksi Basah

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian. Pengambilan Sampel Rhizophora apiculata. Dekstruksi Basah Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian Pengambilan Sampel Rhizophora apiculata Dekstruksi Basah Lampiran 1. Lanjutan Penyaringan Sampel Air Sampel Setelah Diarangkan (Dekstruksi Kering) Lampiran 1. Lanjutan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PASURUAN

PEMERINTAH KOTA PASURUAN PEMERINTAH KOTA PASURUAN PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PASURUAN, Menimbang

Lebih terperinci

ANALISIS WARNA, SUHU, ph DAN SALINITAS AIR SUMUR BOR DI KOTA PALOPO

ANALISIS WARNA, SUHU, ph DAN SALINITAS AIR SUMUR BOR DI KOTA PALOPO Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 ANALISIS WARNA, SUHU, ph DAN SALINITAS AIR SUMUR BOR DI KOTA PALOPO Hasrianti 1, Nurasia 2 Universitas Cokroaminoto Palopo 1,2 hasriantychemyst@gmail.com

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 A. PEMANTAUAN KUALITAS AIR DANAU LIMBOTO Pemantauan kualitas air ditujukan untuk mengetahui pengaruh kegiatan yang dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan. kebutuhan rumah tangga (Kusnaedi, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan. kebutuhan rumah tangga (Kusnaedi, 2010). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat di antaranya tingkat ekonomi, pendidikan, keadaan lingkungan, dan kehidupan sosial budaya. Faktor yang penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Aktivitas pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari suatu kegiatan industri merupakan suatu masalah yang sangat umum dan sulit untuk dipecahkan pada saat

Lebih terperinci

Lampiran 1. Kebutuhan air di kampus IPB Dramaga saat libur

Lampiran 1. Kebutuhan air di kampus IPB Dramaga saat libur LAMPIRAN 55 Lampiran 1. Kebutuhan air di kampus IPB Dramaga saat libur Hari/ Tgl Menara Fahutan No Jam Meteran terbaca Volume Ketinggian Air Di Air Menara Terpakai Keterangan (m 3 ) (m 3 ) (m 3 ) 1 6:00

Lebih terperinci

LAMPIRAN A : KOMPILASI DATA KUESIONER. Tabel 1 Perhitungan Profil Sosial-Ekonomi

LAMPIRAN A : KOMPILASI DATA KUESIONER. Tabel 1 Perhitungan Profil Sosial-Ekonomi LAMPIRAN A : KOMPILASI DATA KUESIONER Tabel 1 Perhitungan Profil Sosial-Ekonomi No Pertanyaan Jawaban Jumlah Responden (jiwa) Persentase (%) SD 15 50.0 1 2 3 Pendidikan terakhir Apa pekerjaan Bapak/ Ibu

Lebih terperinci

L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH

L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH 323 BAKU MUTU AIR LIMBAH INDUSTRI KECAP PARAMETER BEBAN PENCEMARAN Dengan Cuci Botol (kg/ton) Tanpa Cuci Botol 1. BOD 5 100 1,0 0,8 2. COD 175 1,75 1,4 3. TSS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan unsur penting dalam kehidupan. Hampir seluruh kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari adanya unsur air. Sumber utama air yang mendukung kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat (PP No.19 tahun 2005). Salah satu

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Alat dan Bahan Penelitian DO Meter ph Meter Termometer Refraktometer Kertas Label Botol Sampel Lampiran 1. Lanjutan Pisau Cutter Plastik Sampel Pipa Paralon Lampiran 2. Pengukuran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum sehingga merupakan modal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung

BAB I PENDAHULUAN. tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan. Limbah

Lebih terperinci

ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU

ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU ISSN 2085-0050 ANALISIS TEMBAGA, KROM, SIANIDA DAN KESADAHAN AIR LINDI TPA MUARA FAJAR PEKANBARU Subardi Bali, Abu Hanifah Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau e-mail:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan. Bagi manusia, air digunakan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, memasak dan sebagainya.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan laut

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PRT/M/2017 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN BESARAN NILAI PEROLEHAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air A. Daftar Kriteria Kualitas Air Golonagan A (Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO

PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO PENGARUH JARAK ANTARA SUMUR DENGAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TALUMOPATU KECAMATAN MOOTILANGO KABUPATEN GORONTALO Indra Anggriani Buka, Rany Hiola, Lia Amalia 1 Program Studi Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Keberadaan industri dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun juga tidak jarang merugikan masyarakat, yaitu berupa timbulnya pencemaran lingkungan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No Seri D

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No Seri D LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No. 27 2000 Seri D PERATURAN DAERAH JAWA BARAT NOMOR : 39 TAHUN 2000 TENTANG PERUNTUKAN AIR DAN BAKU MUTU AIR PADA SUNGAI CITARUM DAN ANAK-ANAK SUNGAINYA DI JAWA BARAT

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI CaCo3 DAN KARBON AKTIF TERHADAP KUALITAS AIR DI DESA NELAYAN I KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA

PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI CaCo3 DAN KARBON AKTIF TERHADAP KUALITAS AIR DI DESA NELAYAN I KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA Vol 3 Nomor 1 Januari-Juni 2015 Jurnal Fropil PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI CaCo3 DAN KARBON AKTIF TERHADAP KUALITAS AIR DI DESA NELAYAN I KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA Endang Setyawati Hisyam

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 No

2017, No Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 No BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1195, 2017 KEMENPU-PR. Penghitungan Besaran Nilai Perolehan Air Permukaan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PRT/M/2017

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri tahu mempunyai dampak positif yaitu sebagai sumber pendapatan, juga memiliki sisi negatif yaitu berupa limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan oleh

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (2017), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (2017), Hal ISSN : Analisis Kualitas Air Sumur Bor di Pontianak Setelah Proses Penjernihan Dengan Metode Aerasi, Sedimentasi dan Filtrasi Martianus Manurung a, Okto Ivansyah b*, Nurhasanah a a Jurusan Fisika, Fakultas Matematika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semakin besarnya laju perkembangan penduduk dan industrialisasi di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Padatnya pemukiman dan kondisi

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NO. 13 2000 SERI D KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 28 TAHUN 2000 T E N T A N G PERUNTUKAN AIR DAN BAKU MUTU AIR PADA SUNGAI CIWULAN DAN SUNGAI CILANGLA DI JAWA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian Terdahulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian Terdahulu BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Sudah banyak yang melakukan penelitian mengenai analisis kualitas air dengan alat uji model filtrasi buatan diantaranya; Eka Wahyu Andriyanto, (2010) Uji

Lebih terperinci

SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN

SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA IPAL PT. TIRTA INVESTAMA PABRIK PANDAAN PASURUAN (1)Yovi Kurniawan (1)SHE spv PT. TIV. Pandaan Kabupaten Pasuruan ABSTRAK PT. Tirta Investama Pabrik Pandaan Pasuruan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meningkatnya kegiatan manusia akan menimbulkan berbagai masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air karena menerima beban pencemaran yang melampaui

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bohulo. Desa Talumopatu memiliki batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bohulo. Desa Talumopatu memiliki batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Gambaran Umum Lokasi 1.1.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Desa Talumopatu merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Mootilango, kabupaten Gorontalo mempunyai

Lebih terperinci

NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E

NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 16 2008 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum sehingga

Lebih terperinci

Repository.Unimus.ac.id

Repository.Unimus.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya air merupakan kemampuan kapasitas potensi air yang dapat dimanfaatkan semua makhluk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk manusia dalam menunjang berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan komponen utama untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Air merupakan kebutuan yang sangat vital bagi manusia. Air yang layak diminum,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru, dalam menyampaikan materi yang diajarkan kepada siswa dalam suatu lembaga pendidikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah materi di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk hidup yang ada di planet ini yang tidak membutuhkan air. Di dalam sel hidup baik pada sel tumbuh-tumbuhan

Lebih terperinci

I. ACARA : DISSOLVED OXYGEN (DO), CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) DAN CO 2 : 1. Untuk Mengetahui Kadar CO 2 yang terlarut dalam air 2.

I. ACARA : DISSOLVED OXYGEN (DO), CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) DAN CO 2 : 1. Untuk Mengetahui Kadar CO 2 yang terlarut dalam air 2. I. ACARA : DISSOLVED OXYGEN (DO), CHEMICAL OXYGEN II. TUJUAN DEMAND (COD) DAN CO 2 : 1. Untuk Mengetahui Kadar CO 2 yang terlarut dalam air 2. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan oksigen kimia 3. Untuk mengoksidasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator harapan hidup manusia. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat diantaranya tingkat ekonomi,

Lebih terperinci

METODELOGI PENELITIAN. penduduk yang dilalui saluran lindi bermuara ke laut dengan jarak drainase 2,5

METODELOGI PENELITIAN. penduduk yang dilalui saluran lindi bermuara ke laut dengan jarak drainase 2,5 III. METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kelurahan Bakung desa Keteguhan Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung, jarak Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL)

Lebih terperinci

GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 ABSTRAK

GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 ABSTRAK GAMBARAN KADAR Fe (BESI) PADA AIR TANAH DANGKAL (SUMUR) DI KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG TAHUN 2012 Witi Karwiti Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Palembang ABSTRAK Besi merupakan salah satu logam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mau tidak mau menambah pengotoran atau pencemaran air (Sutrisno dan

BAB I PENDAHULUAN. yang mau tidak mau menambah pengotoran atau pencemaran air (Sutrisno dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan perkembangan peradaban serta semakin bertambahnya jumlah penduduk di dunia,

Lebih terperinci

Bab V Hasil dan Pembahasan

Bab V Hasil dan Pembahasan biodegradable) menjadi CO 2 dan H 2 O. Pada prosedur penentuan COD, oksigen yang dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang digunakan untuk mengoksidasi air sampel (Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup lebih dari 4 5 hari tanpa minum air dan sekitar tiga perempat bagian tubuh

BAB I PENDAHULUAN. hidup lebih dari 4 5 hari tanpa minum air dan sekitar tiga perempat bagian tubuh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia di bumi, air sangat penting bagi pemeliharaan bentuk kehidupan. Tidak seorang pun dapat bertahan hidup lebih dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. industri berat maupun yang berupa industri ringan (Sugiharto, 2008). Sragen

BAB I PENDAHULUAN. industri berat maupun yang berupa industri ringan (Sugiharto, 2008). Sragen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbagai usaha telah dilaksanakan oleh pemerintah pada akhir-akhir ini untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan yaitu masyarakat

Lebih terperinci

PENURUNAN KADAR BESI (FE) PADA AIR SUMUR SECARA PNEUMATIC SYSTEM ABSTRAK

PENURUNAN KADAR BESI (FE) PADA AIR SUMUR SECARA PNEUMATIC SYSTEM ABSTRAK PENURUNAN KADAR BESI (FE) PADA AIR SUMUR SECARA PNEUMATIC SYSTEM Hermin Poedjiastoeti 1) dan Benny Syahputra 2) ABSTRAK Masalah yang sering timbul pada air tanah adalah kandungan Fe, Mn, Mg dan sebagainya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat (PP No.19 tahun 2005). Salah satu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit Pencemaran air limbah sebagai salah satu dampak pembangunan di berbagai bidang disamping memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Selain itu peningkatan

Lebih terperinci

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM L A M P I R A N 268 BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN MAKSIMUM (gram/ton) TSS 20 0,40 Sianida Total (CN) tersisa 0,2 0,004 Krom Total (Cr) 0,5

Lebih terperinci

PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA PADA LAHAN SEMPIT

PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA PADA LAHAN SEMPIT PRO S ID IN G 20 11 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA PADA LAHAN SEMPIT Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10Tamalanrea

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat

I. PENDAHULUAN. kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya tujuan dari Pendidikan Nasional yaitu untuk mengembangkan kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat bangsa Indonesia. Penegasan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini, data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Penyajian grafik dilakukan berdasarkan variabel konsentrasi terhadap kedalaman dan disajikan untuk

Lebih terperinci

PENENTUAN KUALITAS AIR

PENENTUAN KUALITAS AIR PENENTUAN KUALITAS AIR Analisis air Mengetahui sifat fisik dan Kimia air Air minum Rumah tangga pertanian industri Jenis zat yang dianalisis berlainan (pemilihan parameter yang tepat) Kendala analisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSATAKA. Prinsipnya jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti sebuah alur yang

BAB II TINJAUAN PUSATAKA. Prinsipnya jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti sebuah alur yang BAB II TINJAUAN PUSATAKA 2.1 Air 2.1.1 Air Bersih Prinsipnya jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti sebuah alur yang dinamakan siklus hidrologi. Air yang berada di permukaan menguap ke langit, kemudian

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN JARAK SEPTIC TANK, KONSTRUKSI SUMUR GALI, DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI Escherichia coli AIR SUMUR GALI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permintaan pasar akan kebutuhan pangan yang semakin besar. Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. permintaan pasar akan kebutuhan pangan yang semakin besar. Kegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di tengah era globalisasi ini industri pangan mulai berkembang dengan pesat. Perkembangan industri pangan tersebut disebabkan oleh semakin meningkatnya laju pertumbuhan

Lebih terperinci

PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT

PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT Oleh : Agus Mirwan, Ulfia Wijaya, Ade Resty Ananda, Noor Wahidayanti Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan karena

I. PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan karena I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.

Lebih terperinci

Hasil uji laboratorium: Pencemaran Limbah di Karangjompo, Tirto, Kabupaten Pekalongan Oleh: Amat Zuhri

Hasil uji laboratorium: Pencemaran Limbah di Karangjompo, Tirto, Kabupaten Pekalongan Oleh: Amat Zuhri Hasil uji laboratorium: Pencemaran Limbah di Karangjompo, Tirto, Kabupaten Pekalongan Oleh: Amat Zuhri Semua limbah yang dihasilkan home industry dibuang langsung ke sungai, selokan atau, bahkan, ke pekarangan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pencemaran Organik di Muara S. Acai, S. Thomas, S. Anyaan dan Daerah Laut yang Merupakan Perairan Pesisir Pantai dan Laut, Teluk Youtefa. Bahan organik yang masuk ke perairan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau hambatan, antara lain dalam bentuk pencemaran. Rumus kimia air

BAB I PENDAHULUAN. atau hambatan, antara lain dalam bentuk pencemaran. Rumus kimia air 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena air diperlukan untuk bermacam-macam kegiatan seperti minum, pertanian, industri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang

BAB I PENDAHULUAN. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air sangat penting bagi kehidupan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Seluruh metabolisme dalam tubuh berlangsung dalam media air. Air didalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan Bogor ABSTRAK

Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan Bogor ABSTRAK Efektivitas Eceng Gondok Terhadap Penurunan Kadar COD dan BOD pada Limbah Cair Industri Kembang Gula Lunak Mega Masittha, Dra. Ani Iryani, M.Si dan Farida Nuraeni, M.Si. Program Studi Kimia, Fakultas Matematika

Lebih terperinci

I.1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan salah satu faktor rusaknya lingkungan yang akan berdampak pada makhluk hidup di sekitarnya.

I.1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan salah satu faktor rusaknya lingkungan yang akan berdampak pada makhluk hidup di sekitarnya. BAB I PENDAHULUAN I.1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan merupakan salah satu faktor rusaknya lingkungan yang akan berdampak pada makhluk hidup di sekitarnya. Sumber pencemaran lingkungan diantaranya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan zat penting kedua untuk hidup setelah oksigen. Setiap

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan zat penting kedua untuk hidup setelah oksigen. Setiap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat penting kedua untuk hidup setelah oksigen. Setiap makhlukhidup bergantung kepada air. Selain dikonsumsi untuk mencuci, mandi, makan dan minum, air

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan zaman sekarang ini, banyak siswa mulai malas belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Sehingga kerap sekali banyak siswa yang kurang memahami

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR Lampiran PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan terutama bagi makhluk hidup, makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air, terutama

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pengukuran Konsentrasi Logam Sebenarnya

Lampiran 1. Pengukuran Konsentrasi Logam Sebenarnya LAMPIRAN 55 Lampiran 1. Pengukuran Konsentrasi Logam Sebenarnya Pengukuran konsentrasi logam berat dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry) menurut Siaka (2008) dapat dihitung menggunakan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

BAB V ANALISA AIR LIMBAH BAB V ANALISA AIR LIMBAH Analisa air limbah merupakan cara untuk mengetahui karakteristik dari air limbah yang dihasilkan serta mengetahui cara pengujian dari air limbah yang akan diuji sebagai karakteristik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua makhluk hidup. Maka, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat. dimana saja karena bersih, praktis, dan aman.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat. dimana saja karena bersih, praktis, dan aman. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan suatu unsur penting dalam kehidupan manusia untuk berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat konsumsi air minum dalam kemasan semakin

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH Rezha Setyawan 1, Dr. Ir. Achmad Rusdiansyah, MT 2, dan Hafiizh

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Proses ini yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU BAB IV TINJAUAN AIR BAKU IV.1 Umum Air baku adalah air yang berasal dari suatu sumber air dan memenuhi baku mutu air baku untuk dapat diolah menjadi air minum. Sumber air baku dapat berasal dari air permukaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa sawit tumbuh cukup pesat. Pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif, keberadaan industri juga dapat menyebabkan dampak

BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif, keberadaan industri juga dapat menyebabkan dampak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberadaan sektor industri menjadi salah satu sektor penting, dimana keberadaannya berdampak positif dalam pembangunan suatu wilayah karena dengan adanya industri maka

Lebih terperinci

Buku Panduan Operasional IPAL Gedung Sophie Paris Indonesia I. PENDAHULUAN

Buku Panduan Operasional IPAL Gedung Sophie Paris Indonesia I. PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN Seiring dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk dan pesatnya proses industrialisasi jasa di DKI Jakarta, kualitas lingkungan hidup juga menurun akibat pencemaran. Pemukiman yang padat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menggunakan air untuk

BAB I PENDAHULUAN. untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menggunakan air untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai kebutuhan dasar dalam kehidupan, air selalu diperlukan manusia untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menggunakan air untuk keperluan sehari-hari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Pengenalan Air Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN % air. Transportasi zat-zat makanan dalam tubuh semuanya dalam

BAB I PENDAHULUAN % air. Transportasi zat-zat makanan dalam tubuh semuanya dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsinya bagi kehidupan tidak akan dapat digantikan oleh senyawa lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah senyawa H2O yang merupakan bagian paling penting dalam kehidupan dan manusia tidak dapat dipisahkan dengan air. Air dalam tubuh manusia berkisar antara 50

Lebih terperinci