BAB III KONDISI MASYARAKAT KECAMATAN BATURETNO TAHUN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III KONDISI MASYARAKAT KECAMATAN BATURETNO TAHUN"

Transkripsi

1 29 BAB III KONDISI MASYARAKAT KECAMATAN BATURETNO TAHUN A. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur Pembangunan Bendungan Serbaguna Wonogiri bertujuan sebagai penanggulangan bahaya banjir pada tanggal 1 Maret 1966 dan tanggal 16 Maret Akibat dari banjir tersebut tanah pegunungan yang seluruhnya tebing curam longsor dan menimbulkan korban, 9 orang meninggal dunia dan 3 orang luka berat. Selain korban jiwa, 40 rumah hilang dan hanyut, 52 rumah rusak dan roboh sementara 14 rumah lainnya rusak ringan. Luapan air banjir juga menghancurkan 4 jembatan dan 4 dam pengairan desa. Sedangkan kerugian tanaman dan bahan makanan terdiri dari 10 ha tegalan rusak, 3 ha tanaman padi rusak dan 3,5 ton jagung terendam, hewan ternak yang hilang berjumlah 21 ekor sapi, kerbau dan kambing. 1 Pemerintah memasukkan pengembangan wilayah sungai Bengawan Solo dalam PELITA I dan membentuk badan pelaksana Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo dengan Sk Menteri PUTL Nomor 135/KPTS/1969. Pada bulan Juni 1972 Ditjen Pengairan Dep PU bekerjasama dengan The Japanese Oversease Technical Cooperation Agency (OTCA) melaksanakan Survay dan 1 Ridha Taqobalallah, 2009, Banjir Bengawan Solo Tahun 1966: Dampak dan ResponsMasyarakat Kota Solo, Skripsi: Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hlm

2 30 studi pada tahun 1974 berhasil merumuskan Rancangan Induk Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo. 2 Tujuan dari pengembangan wilayah sungai Bengawan Solo adalah untuk mengendalikan sifat-sifat air yang merusak seperti banjir pada musim penghujan dengan luas genangan lebih dari ha. Selain sebagai pengendali banjir, manfaat utama dari bendungan Serbaguna Wonogiri adalah untuk irigasi, penyedia listrik, perikanan darat, air minum, pariwisata dan konservasi sumberdaya air. 3 Untuk kepentingan pembangunan Waduk Gajah Mungkur, pembebasan tanah dengan ganti rugi oleh pemerintah dengan luas daerah genangan sebanyak Ha, dan luas daerah yang dibebaskan Ha. 4 Pengembangan wilayah Waduk dibagi menjadi 5 sub wilayah pengembangan 5, yaitu: 1. Sub wilayah pengembangan daerah aliran Waduk Wonogiri Sub wilayah ini untuk melindungi dan melestarikan sumber air dari kerusakan hidrologis akibat fasilitas manusia serta pemanfaatanya secara optimal telah diusahakan: pencegahan pendangkalan waduk dengan langkah memperkecil erosi didaerah aliran waduk, mencegah pencemaran dan polusi, pengelolaan sabuk 2 Dep. PU DirJen Pengairan Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo,1988, Pengembangan Waduk Wonogiri 3 Radhi Sinaro, Menyimak Bendungan di Indonesia ( ), (Jakarta: Bentara Adi Cipta, 2007), Hlm Perpustakaan Daerah Kab. Wonogiri, Sejarah Terjadinya Pemerintahan di Wonogiri, (Wonogiri: Perpustakaan Daerah Kab. Wonogiri, 2006), hlm Dep. PU DirJen Pengairan Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo,1988, Pengembangan Waduk Wonogiri

3 31 hijau, pengelolaan daerah pasang surut. Kegiatan ini dilaksanakan meliputi pembangunan 6 dam penahan sedimen, 3 waduk kecil, 1453 Ha sabuk hijau, pengelolaan daerah pasang surut seluas 6000 Ha, pengembangan daerah wisata, olahraga dan perikanan darat. 2. Sub wilayah pengembangan daerah irigasi Wonogiri Waduk Gajah Mungkur dapat mengairi lahan seluas Ha (Wonogiri Irigation Projrct) meliputi daerah Sukoharjo, Sragen, Klaten Karanganyar. 3. Sub wilayah pengembangan daerah bebas banjir Sub wilayah pengembangan daerah bebas banjir ini mempunyai manfaat untuk membebaskan daerah banjir seluas seluas Ha dan mengurangi genangan daerah rendah yang disebabkan oleh kurang baiknya sitem drainase. 4. Sub wilayah pengembangan daerah penyebaran tenaga listrik PLTA Wonogiri Sub wilayah ini menyediakan tenaga listrik yang dihasilkan dari PLTA Wonogiri sebesar 12,40 Mw. 5. Sub wilayah pengembangan daerah aliran anak sungai yang memotong daerah irigasi dan daerah bebas banjir Sub wilayah pengembangan daerah aliran anak sungai yang memotong daerah irigasi dan daerah bebas banjir ini mencakup pengaturan kembali sistem irigasi seluas Ha dilembah kanan Bengawan Solo yang telah ada karena terpotong oleh sistem irigasi Wonogiri (Saluran Induk Colo Timur). Proses pembangunan Waduk Gajah Mungkur meliputi beberapa pekerjaan, pekerjaan utama meliputi pembuatan bendungan utama dan bangunan perlengkapan ( waterway, spillway pemasangan generator, pembuatan power

4 32 house dan swtich yard), pembuatan transmisi dari Wonogiri sampai Wuryantoro sepanjang 13,5 Km, pembuatan relokasi jalur telepon (Wonogiri- Ngadirojo- Beji- Semanding sepanjang 35 km) (Wonogiri - Wuryantoro sepanjang 9 Km), pembuatan relokasi jalan kelas II C (Wonogiri- Donorojo- Sambirejo sepanjang 17,5 Km) (Ngadirojo - Krapyak sepanjang 18,2 Km) (Karang Turi - Semanding sepanjang 6,9Km) (Desa Talunombo sepanjang 0,8 Km), pembuatan jembatan sebanyak 16 buah sepanjang 788m. Pengisian pertama dilakukan pada bulan Juli 1981, selanjutnya Bendungan Serbaguna Wonogiri diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 7 november 1981 yang telah berfungsi sebagai pengendali banjir dan baru mulai difungsikan untuk manfaat lainnya pada tahun Bendungan ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 November 1981 yang telah berfungsi sebagai pengendali banjir dan baru mulai di fungsikan untuk manfaat lainnya, seperti irigasi pada tahun Pembangunan Waduk Gajah Mungkur membutuhkan tenaga 2800 dan membutuhkan 35 konsultan dari Jepang. Biaya yang digunakan untuk membangun Waduk Gajah Mungkur lebih dari Rp ,10. Biaya ini belum termasuk untuk biaya pembangunan irigasi di Bendungan Colo. Waduk Gajah mungkur berfungsi sebagai pengendali banjir, dimana bendungan ini mampu mengendalikan air dari 4000m³/ detik menjadi 400 m³/ detik, dibidang irigasi dapat mengairi lahan pertanian seluas Ha di 6 Radhi Sinaro, Menyimak Bendungan di Indonesia ( ), (Jakarta: Bentara Adi Cipta, 2007), halaman 180.

5 33 Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1973 menetapkan pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok sebagai Daerah Asal Transmigrasi. Ada 4 (empat) macam ukuran/ kriteria untuk menentukan prioritas pemindahan penduduk dari pulau- pulau tersebut di atas yaitu (1) daerah asal yang terkena bencana alam, (2) daerah kritis (tanah gundul, daerah aliran sungai dan sebagainya), (4) daerah yang penduduknya terlalu padat, (4) daerah yang terkena pembangunan. 12 Progam transmigrasi ini selain ditujukan untuk memindah penduduk karena daerahnya tergenang proyek Gajah Mungkur juga untuk meratakan penduduk ke daerah yang masih jarang penduduknya. Penduduk yang daerahnya tergenang, ditransmigrasikan ke Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan. Tujuan transmigrasi di Provinsi Sumatra Barat yakni di Sitiung I, Sitiung II, Provinsi Jambi berada di Jujuhan, Rimbo Bujang, Alai Ilir, Pemenang, Provinsi Bengkulu berada di wilayah Air Lais, Ketahun, dan di Provinsi Sumatra Selatan di wilayah Panggang dan Batu Raja Dep. PU DirJen Pengairan Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo,1988, Pengembangan Waduk Wonogiri 8 Badan Statistik Wonogiri, Tahun Sri Edi Swarsono dan Masri Singaribuan, Transmigrasi di Indonesia , ( Jakarta: UI Press, 1986) hlm Ibid Harian Republik, 9 Januari 1973, Koleksi Monumen Pers 12 Ibid hlm Dep. PU DirJen Pengairan Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo,1988, Pengembangan Waduk Wonogiri

6 34 Kebijakan Transmigrasi Bedhol Desa sampai tahun 1970-an menunjukkan bahwa pemerintah tidak terpaksa memindahkan desa- desa seutuhnya dari Jawa atau Bali ke Pulau lain, sistem bedhol desa tidak dilaksanakan. Keadaan terpaksa tersebut terjadi apabila timbul suatu bencana alam atau suatu proyek pemerintah yang dibangun. 14 Transmigrasi Bedhol Desa berhasil memindahkan kk yang terdiri dari jiwa dari 6 Kecamatan yang terdiri dari 45 desa Perpindahan Penduduk Antar Desa/ Kecamatan dan Urbanisasi Manusia mempunyai kebiasaan untuk berpindah tempat tinggal untuk mencari tempat tinggal baru untuk kebutuhan hidupnya hal ini juga karena faktor iklim dan lingkungannya. Migrasi adalah suatu bentuk relokasi sumber daya modal manusia. Pada dasarnya, seperti sumber daya fisik, sumber daya modal manusia cenderung pindah (dilokasikan) pada daerah yang memberikan imbalan yang relatif lebih tinggi. Migrasi adalah suatu mekanisme penyeimbang yang akan memindahkan modal manusia dari suatu tempat yang relatif kurang dimanfaatkan kedaerah yang relatif lebih dimanfaatkan. Migrasi memang merupakan upaya suatu output-nya. Migrasi tidak dijamin selalu berada pada arah yang benar. Walaupun masyarakat dari desa pindah ke kota dengan tujuan untuk memperbaiki hidup mereka, namun usaha ini sering dilihat sebagai suatu yang tidak tepat. Migrasi dari desa ke kota ini tidak jarang dilihat sebagi perpindahan yang tidak 14 Sri Edi Swarsono dan Masri Singaribuan, Transmigrasi di Indonesia , ( Jakarta: UI Press, 1986) hlm Dep. PU DirJen Pengairan Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo. Op Chit

7 35 pada arah yang benar, sebab kota sudah terlalu banyak penduduk sehingga perpindahan itu hanya akan membuat kesengsaraan hidup di kota. 16 Barangkali tidak mengherankan bahwa mereka yang harus dimukimkan kembali sering tidak mau pindah. Keengganan berpindah ini merupakan ciri yang demikian umum untuk program- program pemukiman kembali. Cinta pada tempat kelahiran, yang bagaimanapun tidak ramahnya, tampak bagi orang- orang lain, namun besar sekali kemungkinannya, ini merupakan ciri khas yang universal. Jika harus dimukimkan kembali itu masyarakat suku bangsa, bahwa cinta pada tanah mempunyai arti tertentu yang pada umumnya tidak demikian bagi masyarakat dimana tanahnya hanya dipandang sebagai komoditas, yang dapat diperjualbelikan. Tanah merupakan piagam satu- satunya yang merupakan landasan dari budaya suatu suku bangsa, tempat beristirahat para leluhur dan sumber dari kekuatan spiritual: dengan demikian tanah sering dianggap memberikan penghormatan. 17 Masyarakat yang tidak mau mengikuti program transmigrasi lebih memilih untuk berpindah dan membeli tanah di suatu wilayah. Mereka memiliki kecenderungan untuk membeli tanah di suatu wilayah secara bersama-sama, sehingga mereka tetap mengelompok di wilayah yang baru. Namun demikian, ada di antara mereka yang memilih untuk membeli tanah dari sanak saudara mereka yang tinggal jauh dari wilayah proyek bedhol desa. Ganti rugi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat yang tanah dan rumah mereka genangi dirasa 16 Sri Edi Swarsono Op Chit hlm 17 Edward dan Nicholas Hildyaard, 1993, Dampak Sosial dan Lingkungan.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, hlm 40

8 36 oleh masyarakat kurang ditambah dengan pencairan dilaksanakan beberapa tahap, dan pihak penerima harus mengambilnya ke Wonogiri dan membutuhkan ongkos tambahan. Ganti rugi ini dirasa kurang setelah keseluruhan uang yang mereka peroleh digunakan untuk biaya pemindahan rumah tidak cukup, belum lagi untuk pembelian tanah. Masyarakat yang pindah rumah biasanya dengan cara tukar guling area persawahan yang mereka punya dengan pekarangan atau tegalan. Warga yang perumahan mereka tergenang yang tidak mempunyai lahan lain untuk pindah dan tidak mau untuk ikut program transmigrasi, mereka memilih untuk urbanisasi, mengadu peruntungan mereka ke kota. Mereka membawa modal uang ganti rugi perumahan mereka. Tujuan utama mereka terutama ke Jakarta dan sekitarnya. Awal pembangunan Waduk Gajah Mungkur, masyarakat yang tidak punya tanah ini lebih memilih untuk urbanisasi karena pada awalnya mereka menganggap di wilayah ini tidak memberikan keuntungan ekonomi untuk mereka. Urbanisasi penduduk terus berlanjut, walaupun waduk sudah memberikan keuntungan untuk mereka. Kaum urban ini terutama pada usia lulus sekolah. Mereka menganggap kota lebih menguntungkan daripada bekerja di sekitar Waduk Gajah Mungkur. Namun demikian tidak semua dapat berhasil dan bertahan hidup di kota, setelah merasakan kerasnya hidup di kota, mereka yang gagal ini kembali ke daerah asalnya dan memilih menjadi nelayan waduk. C. Perkembangan Sarana dan Prasarana Transportasi dan perdagangan

9 37 Manusia sudah lama mengenal pengangkutan. Kemajuan pengangkutan berkaitan erat dengan perkembangan kebudayaan manusia. Keinginan manusia untuk bepergian ke daerah yang lebih jauh guna mencari bahan pangan yang lebih baik mendorong terciptanya berbagai alat yang dapat dipakai untuk tujuan tersebut. 18 Pengangkutan diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Dalam hubungan itu terlihat tiga hal berikut: (a) ada muatan yang diangkut, (b) tersedia kendaraan sebagai alat angkutanya, (c) ada jalanan yang dapat dilalui. Proses pengangkutan merupakan gerakan dari tempat asal, dimana kegiatan angkutan dimulai ke tempat tujuan, kemana kegiatan pengangkutan diakhiri. Pengangkutan menyebabkan nilai barang lebih tinggi ditempat tujuan daripada ditempat asal, dan nilai lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk pengangkutan. Nilai yang diberikan oleh pengangkutan adalah berupa nilai tempat (place utility) dan nilai waktu (time utility). Kedua nilai ini diperoleh, jika barang telah diangkut ketempat dimana nilainya lebih tinggi dan dapat dimanfaatkan tepat pada waktunya. 19 Pada saat kereta api tidak lagi melayani rute sampai Baturetno, keberadaan bus sebagai sarana angkutan umum ini masih sangat terbatas. Di wilayah Baturetno hanya terdapat dua jenis bus yaitu Bus ISMO dan Bus RINO dengan jurusan Baturetno-Solo-Semarang 20. Selain itu, ada dua bus 18 Muchtarudin Siregar, Beberapa Masalah Ekonomi dan Manajemen Transportasi. (Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,2012) hlm 1 19 Ibid, Hlm 3 20 Ibid 106

10 38 yang melayani perjalanan Pacitan- Solo yang melalui Baturetno, yaitu MUNCUL dan TIMBUL JAYA. Karena keterbatasan sarana pengangkutan orang, beberapa angkutan Colt yang melayani rute Baturetno-Wonogiri, truk yang digunakan untuk angkutan barang juga digunakan untuk pengangkutan orang. 21 Rute perjalanan/ jalan yang harus dilewati untuk tujuan. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur menyebabkan wilayah Wonogiri seperti daratan yang terpisah oleh air, antara wilayah sebelah barat dengan sebelah timur. Hubungan transportasi antar daerah yang dahulunya berbatasan langsung, setelah adanya waduk harus memutar jalan untuk menuju wilayah lainya, atau di beberapa daerah harus menunggu saat surut untuk dapat dilalui. Kecamatan Baturetno yang sebagian wilayahnya menjadi area genangan Waduk Gajah Mungkur dimana wilayah barat dahulunya berbatasan langsung dengan kecamatan Eromoko, dan dihubungkan dengan sebuah jalan raya, namun setelah adanya Waduk Gajah Mungkur jalan yang menghubungkan Kecamatan Baturetno dengan Kecamatan Eromoko seperti jalan mati. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Baturetno- Kecamatan Eromoko ini juga menghubungkan kedua pasar di kecamatan ini. Para pedagang/ orang yang mau bepergian kedua tempat tersebut harus memutari sebelah selatan waduk yang melewati Kecamatan Giriwoyo terlebih dahulu, namun pada saat surutu dan tanah di area genangan mulai mengering, jalan kedua kecamatan ini bisa dilalui. Mulai tahun 1980 dibuka jasa penyeberangan antar kecamatan. Jasa penyeberangan ini dari Desa Glesungrejo sampai Desa Turirejo (Eromoko). 21 Wawancara dengan Purwahyuningsih, pada 20 Januari 2015

11 39 Ada pengusaha dari Solo yang menawarkan kapal penyeberangan untuk dioperasikan di daerah itu. Kapal angkut ini biasanya beroperasi pada saat air pasang, yaitu sekitar Bulan Februari- Juli, dimana jam operasi jasa penyeberangan ini mulai jam Dalam kapal ini dapat mengangkut 10 orang dengan barang seberat 250kg. Jasa penyeberangan ini sekali jalan membutuhkan waktu sekitar 15 menit. 22 Penyeberangan Desa Turirejo- Glesungrejo menghubungkan 2 pasar di ujungnya. Pasar Baturetno di sebelah timur Desa Glesungrejo dengan Pasar Eromoko di sebalah barat Desa Turirejo. Penyeberangan antar kecamatan ini memiliki izin dari dinas perhubungan. Pengemudi kapal sudah beberpa kali mengikuti pelatihan keselamatan, namun hari minggu tanggal 29 Januari 2006 terjadi kecelakaan. Kapal yang dikemudiakan oleh Jumadi terbalik. Perahu ini berangkat dari Desa Glesungrejo (Baturetno) menuju Desa Ngarakan (Eromoko) dihantam angin besar yang menyebabkan ombak besar. Pengangkutan penumpang juga kelebihan, dimana muatan maksimal kapal ini hanya 10, namun pada saat kejadian diisi 14 orang, sebenarnya kapal juga dilengkapi dengan pelampung, namun penumpang tidak mau memaikainya dengan alasan jarak dekat. 23 Jasa penyeberangan selain menghubungkan antara Kecamatan Baturetno dengan Kecamatan Eromoko, ada juga Jasa Penyeberangan antara Kecamatan Baturetno dengan Kecamatan Giriwoyo. Penyeberangan ini menghubungkan Desa Balepanjang (Baturetno) dengan desa Sendangagung (Giriwoyo). 22 Wawancara dengan Jumadi, Pada 23 Desember Tempo interaktif tanggal 30 Januari 2006

12 40 Keberadaan jalur penyeberangan ini tidak setiap hari melayani jasa penyeberangan. Jasa penyeberangan hanya bisa dilakukan pada saat air tidak deras. Jalur penyeberangan Baturetno- Giriwoyo ini menghubungkan dua pasar, yaitu Pasar Baturetno dan Pasar Dringo di Desa Sirnoboyo Kecamatan Giriwoyo. D. Muncul dan Berkembangnya Mata Pencahariaan Baru Tidak banyak diragukan, bahwa setidak- tidaknya beberapa diantara mereka yang terlibat dalam pengembangan secara besar- besaran proyek pengembangan air, benar- benar percaya, bahwa hal tersebut akan memperbaiki nasib manusia. Proyek- proyek sumber daya air memiliki dampak lingkungan yang positif. Jika proyek- proyek pengolahan air itu mengatur menderaskan aliran- aliran air sungai dan aliran air biasa, mengurangi tingkat erosi mencegah banjir, meniadakan pemborosan air, dan banyak ditemukan mengubah padang pasir menjadi kebun- kebun sehingga manusia dapat hidup sejahtera, maka hasilnya adalah perbaikan hidup manusia Tidak banyak diragukan, bahwa setidak- tidaknya beberapa diantara mereka yang terlibat dalam pengembangan secara besar- besaran proyek pengembangan air, benar- benar percaya, bahwa hal ersebut akan memperbaiki nasib manusia. Proyek- proyek sumber daya air memiliki dampak lingkungan yang positif. Jika proyek- proyek pengolahan air itu mengatur menderaskan aliran- aliran air sungai dan aliran air biasa, mengurangi tingkat erosi mencegah banjir, meniadakan pemborosan air, dan banyak

13 41 ditemukan mengubah padang pasir menjadi kebun- kebun sehingga manusia dapat hidup sejahtera, maka hasilnya adalah perbaikan hidup manusia. 24 Proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang membendung aliran air Sungai Bengawan Solo di Wilayah Wonogiri selain untuk mengendalikan banjir di wilayah yang berada di bawah wilayah ini, air dari waduk bisa dialirkan ke wilayah yang berada di bawah waduk. Dampak positif selain yang dirasakan oleh wilyah lain, ada dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar waduk. Dampak positif yang dirasakan masyarakat sekitar waduk tidak bisa langsung dinikmati setelah pembangunan Waduk Gajah Mungkur ini selesai, masyarakat baru bisa merasakan dampanya setelah bertahun- tahun. Masyarakat mulai memanfaatkan waduk pada akhir tahu 1980-an. Pembangunan Waduk Gajah Mungkur menambah pendapatan masyarakat sekitar dengan mulai adanya masyarakat yang menjadi nelayan waduk, petani pasang surut, dan pedagang ikan. 1. Nelayan Upaya pengelolaan DAS, genangan atau bentuk sumberdaya air lainnya dilakukan guna memenuhi keperluan air dan tenaganya, untuk itu dibangunlah bendungan/ waduk. Pembuatan waduk melalui pembendungan aliran sungai akan merubah ekosistem sungai dan daratan menjadi ekosistem waduk. Dengan adanya ekosistem waduk ini, maka akan ada lahan untuk perikanan. Perikanan waduk dapat dimanfaatkan untuk penambahan/ peningkatan ekonomi, terutama di daerah sekitar waduk. 24 Edward dan Nicholas Hildyaard, 1993, Dampak Sosial dan Lingkungan.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, hlm 8

14 42 Pemanfaatan perikanan di Waduk Gajah Mungkur pada awalnya hanya dimanfaatkan oleh sedikit masyarakat sekitar waduk. Pada awalnya nelayannelayan ini tidak terorganisasi dan jumlahnya sangat sedikit. Nelayan- nelayan di Waduk Gajah Mungkur diajarkan cara menangkap ikan di Waduk oleh nelayannelayan dari Rawa Pening. 25 Nelayan dari Rawa Pening didatangkan untuk mengajari masyarakat di sekitar Waduk Gajah Mungkur mengenai cara menangkap ikan di waduk/ bendungan. Profesi nelayan waduk pertama kali ada Kecamatan Wonogiri, dan di Kecamatan Baturetno dengan jumlah 25 dan 9 nelayan. Jumlah nelayan di Waduk Gajah Mungkur ada kecenderungan untuk terus bertambah, hal ini disebabkan oleh hasil yang diperoleh oleh nelayan. Hasil dari nelayan bisa langsung dijadikan uang seketika itu, hal ini berbeda dengan bertani yang harus menunggu panen sekitar 3 bulan. Selain hasil yang dapat langsung dirasakan seketika, pekerjaan nelayan juga terus bertambah peminatnya karena pekerjaan nelayan bisa dijadikan pekerjaan sambilan, tanpa harus mengganggu pekerjaan lainya, karena biasanya nelayan pergi ke waduk pada sekitar subuh dan waktu pulang bisa disesuaikan. Setelah pergi ke waduk nelayan- nelayan masih bisa menerjakan aktifitas lainya. 26 Berikut ini adalah dinamika nelayan di Kabupaten Wonogiri: 25 Wawancara dengan Sriwiyono, Pada 22 Desember Wawancara dengan Bejo, Pada 15 Desember 2014

15 43 kuantitas ada peningkatan, peningkatan terjadi di Kecamatan Wonogiri menjadi 34 nelayan, dan di Kecamatan Baturetno masih tetap. Perkembangan nelayan bertambah lagi, asal nelayan bertambah, Kecamatan Eromoko mulai ada nelayan. Jumlah nelayan dari Kecamatan Eromoko pada tahun 1988 ada 8 orang, nelayan di Kecamatan Wonogiri bertambah 2 orang, sedangkan di Kecamatan Baturetno tetap. Tahun 1989 jumlah nelayan di Kecamatan Wonogiri jumlahnya tetap, namun di Kecamatan Baturetno terjadi penurunan jumlah nelayan, hal ini disebabkan karena nelayan meninggal/ tua dan merantau, sedangkan di Kecamatan Eromoko bertambah 10 nelayan. Pada tahun itu juga muncul nelayan dari kecamatan Nguntoronadi dan Kecamatan Wuryantoro, Jumlah nelayan di Kecamatan Nguntoronadi pada tahun itu sebanyak 9 orang, dan di Kecamatan Wuryantoro ada 20 orang. Peningkatan nelayan yang signifikan terjadi pada tahun 1990, dimana pada tahun sebelumnya jumlah nelayan waduk baru 87, namun pada tahun itu jumlahnya meningkat menjadi 186. Peningkatan jumlah nelayan terjadi di Kecamatan Wonogiri sebanyak 25 orang, Kecamatan Nguntoronadi 18 orang, Kecamatan Baturetno 29 orang, sedangkan di Kecamatan Eromoko dan Kecamatan Wuryantoro jumlahnya tetap, dan pada tahun itu ada nelayan baru dari Kecamatan Ngadirojo sebanyak 15 nelayan. Tahun 1991 terjadi kenaikan jumlah nelayan waduk, namun jumlahnya tidak signifikan. Kenaikan signifikan terjadi di Kecamatan Baturetno, dimana jumlahnya bertambah 32 nelayan, dan dengan bertambahnya jumlah nelayan yang signifikan membuat Kecamatan Baturetno memiliki nelayan waduk terbanyak, dimana pada sebelumnya paling banyak ada di Kecamatan Wonogiri.

16 44 Jumlah Nelayan di kecamatan- kematan lain pada tahun 1991 jumlahnya cenderung tetap, Di kecamatan Nguntoronadi jumlah nelayan justru menurun 14 orang. Kecamatan- kecamatan yang berbatasan dengan wilayah waduk pada tahun 1992 semua memiliki warga yang berprofesi menjadi nelayan. Kecamatan terakhir yang mempunyai warga yang berprosesi menjadi nelayan adalah Kecamatan Giriwoyo. Jumlah nelayan di Kecamatan Giriwoyo tidak sebanyak kecamatan lainnya, hal ini disebabkan luas area waduk yang berbatasan dengan kecamatan ini tidak luas, dan pada saat airu surut, air terlalu jauh. Tahun 1992 secara keseluruhan jumlah nelayan waduk bertambaha 108 nelayan, namun di Kecamatan Wonogiri jumlahnya justru berkurang 11 nelayan, Kenaikan jumlah nelayan yang signifikan pada tahun itu terjadi di Kecamatan Nguntoronadi sebanyak 70 nelayan, kemudian Kecamatan Wuryantoro yakni sebanyak 21 orang, Kecamatan Baturetno 17, Kecamatan Ngadirojo 8 orang, dan Kecamatan Eromoko 1 orang, dengan adanya penambahan yang seignifikan di Kecamatan Nguntoronadi menjadikan kecamatan tersebut dengan jumlah nelayan terbanyak menggeser Kecamatan Baturetno dan Kecamatan Wonogiri. Tahun 1993 setiap kecamatan jumlahnya ada kecenderungan bertembah, hanya di Kecamatan Giriwoyo dan Kecamatan Ngadirojo dan Kecamatan Nguntoronadi yang jumlahnya tetap. Kenaikan yang paling drastis ada di Kecamatan Wonogiri, dimana kenaikanya sebanyak 35 nelayan, kemudian Kecamatan Baturetno 30 nelayan, Kecamatan Eromoko sebanyak 9 orang, dan Wuryantoro sebanyak8 orang, pada tahun ini juga jumlah nelayan di Kecamatan Baturetno menjadi

17 45 Pemanfaatan lahan pasang surut ada beberapa perbedaan dengan lahan pertaniaan pada umumnya. Perbedaan/ larangan- larangan dalam penanaman di lahan pasang surut yaitu: a) Tanaman yang ditanam adalah tanaman musiman (masa panen 3-4 bulan) b) Cara pemanenan tidak dicabut (supaya tidak menyebabkan erosi) c) Tanaman tidak menimbulkan seresah sedikit d) Penanamanya dimulai pada saat air surut. e) Pembatas antar pemilik lahan tidak boleh dengan pagar hidup, melainkan hanya dengan pematang kecil f) Tidak boleh menggunakan traktor g) Pengelola tidak boleh membuang seresah/ sampah didalam area itu h) Penanggulangan hama tidak boleh menggukan pestisida Luas daerah sabuk hijau (green belt) Bendungan Gajah Mungkur seluas ha, sedangkan luas lahan pasang surut Bendungan Gajah Mungkur saat pertama dibangun adalah 804 ha sekarang 1177 ha. Lahan pasang surut berada didalam sabuk hijau. Lahan pasang surut ini ada karena perubahan volume air waduk. Pada saat air pasang atau saat musim hujan, hampir seluruh waduk sampai dengan area green belt terisi air, namun pada saat air surut inilah ada 27 Nurillah Izzati, 2011, Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Dengan Tingkat Penerapan Konservasi Pengelolaan Lahan Pasang Surut Di Bendungan Gajah Mungkur Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri., Skripsi: Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret,Hlm 2 28 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 1999 BAB III Pasal 3 poin 1

18 46 ruang untuk ditanami. Pengelolaan lahan pasang surut sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, terutama yang tinggal disekitar Waduk Gajah Mungkur. Masayarakat pada awalnya hanya menggunakan lahan pasang surut untuk mencari pakan ternak. Namun demikian seiring dengan perkembanganya, mulai banyak yang mengolah lahan pasang surut, karena hasil dari lahan pasang surut lebih baik dari lahan biasa. Gambar 2 Area Green Belt Waduk Gajah Mungkur

19 47 Sumber: Perum Jasa Tirta I Tabel 5 Luas Lahan Pasang Surut Di Kabupaten Wonogiri No Kecamatan Luas (Ha) 1 Wonogiri 0 2 Ngadirojo 5 3 Nguntoronadi Baturetno Giriwoyo 30 6 Eromoko Wuryantoro 52 Total 804 Sumber : Perum Jasa Tirta I Wonogiri Pengolahan/ hak guna lahan pasang surut berdasarkan kepemilikan lahan sebelum diganti rugi oleh pemerintah untuk pembangunan Waduk Gajah

20 48 Mungkur, atau dengan cara mematok lahan sendiri- sendiri dimana lahan tersebut belum ada hak pakai atau karena yang mempunyai lahan itu dahulunya ikut program transmigrasi, ada juga yang dibagi oleh pihak desa karena warga tersebut tidak memiliki lahan pertanian. Jumlah tanam/ panen setiap lahan berbeda- beda, hal ini disebabkan ketinggian tempat dan jarak dengan Green Belt. Petani ada yang dapat menanam satu kali, dua kali, dan bahkan sampai tiga kali.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan salah satu system pembangunan yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional.pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang terpenting di negara kita, karena sebagian besar warga Indonesia bermatapencaharian sebagai petani, namun juga sebagian besar warga miskin

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sungai sebagai sumber air sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 44, 1991 (PERHUBUNGAN. PERTANIAN. Perikanan. Prasarana. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik

Lebih terperinci

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON No. Potensi Data Tahun 2009 Data Tahun 2010*) 1. Luas lahan pertanian (Ha) 327 327

Lebih terperinci

PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991)

PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991) PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991) Tanggal: 14 JUNI 1991 (JAKARTA) Sumber: LN 1991/44; TLN NO. 3445 Tentang: SUNGAI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara maritim yang lautannya lebih luas daripada daratan. Luas lautan Indonesia 2/3 dari luas Indonesia. Daratan Indonesia subur dengan didukung

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN USAHATANI LAHAN SURUTAN BERBASIS KONSERVASI DI BENDUNGAN GAJAH MUNGKUR KABUPATEN WONOGIRI

TINGKAT PENERAPAN USAHATANI LAHAN SURUTAN BERBASIS KONSERVASI DI BENDUNGAN GAJAH MUNGKUR KABUPATEN WONOGIRI 1 TINGKAT PENERAPAN USAHATANI LAHAN SURUTAN BERBASIS KONSERVASI DI BENDUNGAN GAJAH MUNGKUR KABUPATEN WONOGIRI Oleh : Marcelinus Molo, Bekti Wahyu Utami, Emi Widiyanti Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lampung merupakan salah satu daerah potensial di Indonesia dalam sektor

I. PENDAHULUAN. Lampung merupakan salah satu daerah potensial di Indonesia dalam sektor 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Lampung merupakan salah satu daerah potensial di Indonesia dalam sektor peternakan yakni sapi potong, kambing, dan ayam broiler. Bahkan saat ini menjadi daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banjir sudah menjadi masalah umum yang dihadapi oleh negaranegara di dunia, seperti di negara tetangga Myanmar, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapore, Pakistan serta

Lebih terperinci

KONTRIBUSI USAHATANI LAHAN SURUTAN BENDUNGAN SERBAGUNA WONOGIRI TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI PENYEWA LAHAN SURUTAN

KONTRIBUSI USAHATANI LAHAN SURUTAN BENDUNGAN SERBAGUNA WONOGIRI TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI PENYEWA LAHAN SURUTAN KONTRIBUSI USAHATANI LAHAN SURUTAN BENDUNGAN SERBAGUNA WONOGIRI TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI PENYEWA LAHAN SURUTAN Emi Widiyanti, Marcelinus Molo dan Bekti Wahyu Utami Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian di DAS Ciliwung hulu tahun ,

HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian di DAS Ciliwung hulu tahun , HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di DAS Ciliwung hulu tahun 1990 1996, perubahan penggunaan lahan menjadi salah satu penyebab yang meningkatkan debit puncak dari 280 m 3 /det menjadi 383

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3 SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.3 1. Untuk menambah air tanah, usaha yang perlu dilakukan adalah... membuat sumur resapan penggalian sungai-sungai purba tidak

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

AKU & BUMIKU: BANJIR & LONGSOR

AKU & BUMIKU: BANJIR & LONGSOR AKU & BUMIKU: BANJIR & LONGSOR AKU & BUMIKU: BANJIR & LONGSOR Cetakan ke-1, 2012 Hak cipta dilindungi undang-undang IAARD Press, 2012 Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan penelitian dari Nippon Koei (2007), Bendungan Serbaguna Wonogiri merupakan satu - satunya bendungan besar di sungai utama Bengawan Solo yang merupakan sungai

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermukim pun beragam. Besarnya jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan hal

BAB I PENDAHULUAN. bermukim pun beragam. Besarnya jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semenjak abad ke-18, pertumbuhan penduduk di dunia meningkat dengan tajam. Lahan lahan dengan potensi untuk dipergunakan sebagai tempat bermukim pun beragam. Besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan suatu wilayah di permukaan bumi yang meliputi semua benda penyusun biosfer (atmosfer, tanah dan batuan induk, topografi, air, tumbuhtumbuhan dan binatang),

Lebih terperinci

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR - 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR I. UMUM Air merupakan karunia Tuhan sebagai salah satu sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam, dari daratan sampai pegunungan serta lautan. Keragaman ini dipengaruhi

Lebih terperinci

Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013

Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013 Disampaikan pada Seminar Nasional dan Kongres VIII MKTI Di Palembang 5-7 November 2013 Dr. EDWARD Saleh FORUM DAS SUMATERA SELATAN 2013 Permasalahan Pengelolaan SDA Sampah Pencemaran Banjir Kependudukan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan air memungkinkan terjadinya bencana kekeringan.

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan air memungkinkan terjadinya bencana kekeringan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air adalah salah satu sumberdaya alam yang sangat berharga bagimanusia dan semua makhluk hidup. Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di bumi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAAN. A. Latar Belakang. Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah di

I. PENDAHULUAAN. A. Latar Belakang. Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah di I. PENDAHULUAAN A. Latar Belakang Kabupaten Kulon Progo merupakan bagian dari wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah di Barat dan Utara, Samudra

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang mempunyai karakteristik alam yang beragam. Indonesia memiliki karakteristik geografis sebagai Negara maritim,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah maupun masyarakat mengandung pengertian yang mendalam, bukan hanya berarti penambahan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Solehudin, 2015 Kajian Tingkat Bahaya Erosi Permukaandi Sub Daerah Aliran Sungai Cirompang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Solehudin, 2015 Kajian Tingkat Bahaya Erosi Permukaandi Sub Daerah Aliran Sungai Cirompang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jumlah manusia yang menghuni permukaan bumi kian hari kian meningkat, tetapi kondisi tersebut berlaku sebaliknya dengan habitat hidup manusia, yaitu lahan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai.

Lebih terperinci

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa AY 12 TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa tanah ke tempat yang relatif lebih rendah. Longsoran

Lebih terperinci

JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN

JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SD III (TIGA) ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) LINGKUNGAN ALAM DAN BUATAN A. Ketampakan Lingkungan Alam dan Buatan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waduk (reservoir) merupakan bangunan penampung air pada suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, perikanan, regulator air

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Hal ini terungkap mengingat bahwa negara indonesia adalah salah

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Hal ini terungkap mengingat bahwa negara indonesia adalah salah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara kesatuan republik indonesia bertanggung jawab melindungi segenap bangsa indonesia dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, Indonesia dengan panjang sekitar 548,53 km. Wilayah Sungai Bengawan Solo terletak di Propinsi Jawa Tengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak diantara 6 LU - 11 LS

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak diantara 6 LU - 11 LS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dan memiliki kurang lebih 17.504 buah pulau, 9.634 pulau belum diberi nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni

Lebih terperinci

Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. KEBIJAKAN PERIZINAN BIDANG SUMBER DAYA AIR PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (MK) NOMOR 85/PUU-XI/2013 ATAS UJI MATERI UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR (Bagian 1) Oleh: R.D Ambarwati,

Lebih terperinci

HIDROSFER IV. Tujuan Pembelajaran

HIDROSFER IV. Tujuan Pembelajaran KTSP & K-13 Kelas X Geografi HIDROSFER IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir dan faktor penyebabnya. 2. Memahami

Lebih terperinci

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri. Kerugian langsung berupa korban jiwa, harta

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI PEMANFAATAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI TUKAD PETANU

IDENTIFIKASI PEMANFAATAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI TUKAD PETANU 1 IDENTIFIKASI PEMANFAATAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI TUKAD PETANU Putu Aryastana 1) 1) Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Warmadewa ABSTRAK Sempadan sungai merupakan suatu kawasan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

BAB I PENDAHULUAN. yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam,

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH BANTUL

BAB III TINJAUAN WILAYAH BANTUL BAB III TINJAUAN WILAYAH BANTUL 3.1. Tinjauan Kabupaten Bantul 3.1.1. Tinjauan Geografis Kabupaten Bantul Kabupaten Bantul merupakan salah satu Kabupaten dari 5 Kabupaten/Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA Disampaikan dalam Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Dosen: PELATIHAN DAN SOSIALISASI PEMBUATAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya bagi kesejahteraan manusia. Keberadaan sumber daya alam dan manusia memiliki kaitan yang sangat

Lebih terperinci

DATA KONDISI BENDUNGAN JAWA TENGAH BULAN : FEBRUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO

DATA KONDISI BENDUNGAN JAWA TENGAH BULAN : FEBRUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO DATA KONDISI JAWA TENGAH BULAN : FEBRUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO No. I Balai PSDA B. Solo : 1 Cengklik Februari 4,48 141,93 178,00 Tidak ada a Mercu 25-27 Februari 2015 - Pagar pengaman rusak ringan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi dan Kondisi Fisik Kecamatan Berbah 1. Lokasi Kecamatan Berbah Kecamatan Berbah secara administratif menjadi wilayah Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Seminar Lokakarya Nasional Geografi di IKIP Semarang Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Seminar Lokakarya Nasional Geografi di IKIP Semarang Tahun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Seminar Lokakarya Nasional Geografi di IKIP Semarang Tahun 1989, Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena Geosfer dengan sudut

Lebih terperinci

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU)

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU) Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU) 1 Pendahuluan Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang banyak dijumpai

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran K-13 Kelas X Geografi MITIGASI BENCANA ALAM II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami banjir. 2. Memahami gelombang pasang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung maupun tidak langsung mengganggu kehidupan manusia. Dalam hal

BAB I PENDAHULUAN. langsung maupun tidak langsung mengganggu kehidupan manusia. Dalam hal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bencana alam merupakan suatu fenomena alam yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung mengganggu kehidupan manusia. Dalam hal ini, bencana alam dapat menyebabkan

Lebih terperinci

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU DINAS PENDIDIKAN PROGRAM UMUM PENDIDIKAN DASAR PENDIDIKAN MENENGAH PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN FORMAL

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI IV. 1 Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Daerah Aliran sungai (DAS) Citarum merupakan DAS terbesar di Jawa Barat dengan luas 6.614 Km 2 dan panjang 300 km (Jasa Tirta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN Uraian Umum

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN Uraian Umum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Uraian Umum Banjir besar yang terjadi hampir bersamaan di beberapa wilayah di Indonesia telah menelan korban jiwa dan harta benda. Kerugian mencapai trilyunan rupiah berupa rumah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. prasarana pengairan seperti waduk. Sejumlah besar waduk di Indonesia saat ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. prasarana pengairan seperti waduk. Sejumlah besar waduk di Indonesia saat ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selain memiliki potensi air permukaan yang begitu besar Wilayah Sungai (WS) Brantas juga dihadapkan dengan permasalahan bidang pengairan seperti penyediaan air baku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Danau merupakan sumber daya air tawar yang berada di daratan yang

BAB I PENDAHULUAN. Danau merupakan sumber daya air tawar yang berada di daratan yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danau merupakan sumber daya air tawar yang berada di daratan yang berpotensi untuk dikembangkan dan didayagunakan bagi pemenuhan berbagai kepentingan. Danau secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan

Lebih terperinci

LAMPIRANSURAT UJI VALIDITAS SD MANGUNSARI 05 SALATIGA

LAMPIRANSURAT UJI VALIDITAS SD MANGUNSARI 05 SALATIGA LAMPIRAN 99 LAMPIRAN SURAT 100 LAMPIRANSURAT UJI VALIDITAS SD MANGUNSARI 05 SALATIGA 101 102 103 LAMPIRAN SURAT VALIDASI PAKAR 104 105 106 107 108 109 110 LAMPIRAN SURAT SD PANGUDI LUHUR AMBARAWA 111 112

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo merupakan daerah yang terbentuk karena transmigrasi berasal dari Jawa pada tahun 1979. Desa Tegal Arum merupakan daerah

Lebih terperinci

11/26/2015. Pengendalian Banjir. 1. Fenomena Banjir

11/26/2015. Pengendalian Banjir. 1. Fenomena Banjir Pengendalian Banjir 1. Fenomena Banjir 1 2 3 4 5 6 7 8 Model koordinasi yang ada belum dapat menjadi jembatan di antara kelembagaan batas wilayah administrasi (kab/kota) dengan batas wilayah sungai/das

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Permukiman Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. Permukiman perlu ditata agar dapat berkelanjutan dan

Lebih terperinci

kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan

kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sungai merupakan sumber air yang sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Sungai juga menjadi jalan air alami untuk dapat mengalir dari mata air melewati

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemanfaatan sumber daya alam yang semakin meningkat tanpa memperhitungkan kemampuan lingkungan telah menimbulkan berbagai masalah. Salah satu masalah lingkungan di

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 Tentang : Sungai

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 Tentang : Sungai Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 Tentang : Sungai Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 35 TAHUN 1991 (35/1991) Tanggal : 14 JUNI 1991 (JAKARTA) Sumber : LN 1991/44; TLN NO. 3445 Presiden Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan,

Lebih terperinci

DATA KONDISI BENDUNGAN JAWA TENGAH BULAN : JANUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO

DATA KONDISI BENDUNGAN JAWA TENGAH BULAN : JANUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO DATA KONDISI JAWA TENGAH BULAN : JANUARI 2015 BALAI PSDA BENGAWAN SOLO No. I Balai PSDA B. Solo : 1 Cengklik Januari 4,48 140,95 267,00 Tidak ada a Mercu, - Pagar pengaman rusak ringan - Perlu perbaikan

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI II-1 BAB II 2.1 Kondisi Alam 2.1.1 Topografi Morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali secara umum di bagian hulu adalah daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN. Jalan Raya Pantura Jawa Tengah merupakan bagian dari sub sistem. Jalan Raya Pantai Utara Jawa yang menjadi tempat lintasan

BAB VI KESIMPULAN. Jalan Raya Pantura Jawa Tengah merupakan bagian dari sub sistem. Jalan Raya Pantai Utara Jawa yang menjadi tempat lintasan BAB VI KESIMPULAN Jalan Raya Pantura Jawa Tengah merupakan bagian dari sub sistem Jalan Raya Pantai Utara Jawa yang menjadi tempat lintasan penghubung jaringan transportasi darat antara sentral di Surabaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Gunungkidul adalah daerah yang termasuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara

Lebih terperinci

PENJELASAN A T A S PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN

PENJELASAN A T A S PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 72 PENJELASAN A T A S PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2011-2031 I. UMUM. Latar belakang disusunnya Rencana Tata Ruang

Lebih terperinci

commit to user BAB I PENDAHULUAN

commit to user BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara dengan jumlah kepulauan terbesar didunia. Indonesia memiliki dua musim dalam setahunnya, yaitu musim

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Pulau

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Pulau IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Wilayah Propinsi Lampung 1. Geografi Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Pulau Sumatera dengan luas wilayah 35.288,35 Km 2. Propinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permukaan bumi yang luasnya 510 juta km 2, oleh karena itu persediaan air di

BAB I PENDAHULUAN. permukaan bumi yang luasnya 510 juta km 2, oleh karena itu persediaan air di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara maritim dimana sebagian besar wilayahnya terdiri dari wilayah perairan kurang lebih 70,8 % dari luas permukaan bumi yang luasnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitatif. Suatu saat nanti, air akan menjadi barang yang mahal karena

BAB I PENDAHULUAN. kualitatif. Suatu saat nanti, air akan menjadi barang yang mahal karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan salah satu unsur yang penting di dalam kehidupan. Air juga dipergunakan untuk beberapa kepentingan diantaranya untuk minum, masak, mencuci, dan segala

Lebih terperinci

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah Menurut Penggunaan lahan Utama Tahun 2009 2011... 2 Tabel SD-1B. Topografi Kota Surabaya...

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pemerintah Indonesia memposisikan pembangunan pertanian sebagai basis utama

I. PENDAHULUAN. Pemerintah Indonesia memposisikan pembangunan pertanian sebagai basis utama I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pemerintah Indonesia memposisikan pembangunan pertanian sebagai basis utama untuk menanggulangi dampak krisis ekonomi yang lebih parah lagi. Sejalan dengan

Lebih terperinci

BAB III ISU STRATEGIS

BAB III ISU STRATEGIS BAB III ISU STRATEGIS Berdasar kajian kondisi dan situasi Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2006 2010 (Renstra PLH 2006 2010), dan potensi maupun isu strategis yang ada di Provinsi Jawa Timur, dapat dirumuskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempengan dunia yaitu Eurasia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempengan dunia yaitu Eurasia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempengan dunia yaitu Eurasia, Pasifik dan Australia dengan ketiga lempengan ini bergerak saling menumbuk dan menghasilkan suatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai menjadi salah satu pemasok air terbesar untuk kebutuhan mahluk hidup yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Sungai adalah sumber daya alam yang bersifat

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada kegiatan industri yang rumit sekalipun. Di bidang pertanian air atau yang

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada kegiatan industri yang rumit sekalipun. Di bidang pertanian air atau yang 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air sangat penting bagi kehidupan manusia, hampir semua kegiatan makhluk hidup dimuka bumi memerlukan air, mulai dari kegiatan rumah tangga sehari-hari sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Partisipasi Masyarakat Dalam..., Faizal Utomo, FKIP, UMP, 2016

BAB I PENDAHULUAN. Partisipasi Masyarakat Dalam..., Faizal Utomo, FKIP, UMP, 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Bentuk, Bidang, Pelayanan Umum Bentuk Usaha. Pembangunan Proyek Nasional serbaguna Jatiluhur yang meliputi bendungan

BAB I PENDAHULUAN Bentuk, Bidang, Pelayanan Umum Bentuk Usaha. Pembangunan Proyek Nasional serbaguna Jatiluhur yang meliputi bendungan BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Bentuk, Bidang, Pelayanan Umum 1.1.1. Bentuk Usaha Pembangunan Proyek Nasional serbaguna Jatiluhur yang meliputi bendungan utama dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perumahan merupakan kebutuhan masyarakat yang paling mendasar, dan dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan rendah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan transisi ekosistem terestrial dan laut yang ditandai oleh gradien perubahan ekosistem yang tajam (Pariwono, 1992). Kawasan pantai merupakan

Lebih terperinci

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA DAFTAR TABEL Daftar Tabel... i BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan. l 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS BERITA MELALUI TEKNIK PENGAMATAN GAMBAR FOTO PERISTIWA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KARTASURA SUKOHARJO

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS BERITA MELALUI TEKNIK PENGAMATAN GAMBAR FOTO PERISTIWA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KARTASURA SUKOHARJO PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS BERITA MELALUI TEKNIK PENGAMATAN GAMBAR FOTO PERISTIWA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KARTASURA SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2008/2009 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya lahan merupakan tumpuan kehidupan manusia dalam pemenuhan kebutuhan pokok pangan dan kenyamanan lingkungan. Jumlah penduduk yang terus berkembang sementara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting karena pertanian berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan. Pangan yang dikonsumsi oleh individu terdapat komponen-komponen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu cepat, memberikan dampak terhadap pemanfaatan ruang kota oleh masyarakat yang tidak mengacu pada tata ruang kota yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan :

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : 54 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Tata Guna Lahan Kabupaten Serang Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : a. Kawasan pertanian lahan basah Kawasan pertanian lahan

Lebih terperinci

Tabel 3 Kecamatan dan luas wilayah di Kota Semarang (km 2 )

Tabel 3 Kecamatan dan luas wilayah di Kota Semarang (km 2 ) 8 Tabel 3 Kecamatan dan luas wilayah di Kota Semarang (km 2 ) (Sumber: Bapeda Kota Semarang 2010) 4.1.2 Iklim Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Semarang tahun 2010-2015, Kota

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi makhluk hidup, namun hingga kini belum semua masyarakat mampu menikmatinya secara maksimal.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 96 IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Dalam bab ini, akan dipaparkan secara umum tentang 14 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah penelitian ini. Kabupaten dan kota tersebut adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemampuan manusia dalam menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemampuan manusia dalam menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan manusia dalam menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan menunjukkan bahwa manusia dengan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,

Lebih terperinci

KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

KL 4099 Tugas Akhir. Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari. Bab 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari Bab 2 GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Bab GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau

Lebih terperinci

3.1 Metode Identifikasi

3.1 Metode Identifikasi B A B III IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR DAS PENYEBAB KERUSAKAN KONDISI WILAYAH PESISIR BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR 3.1 Metode Identifikasi Identifikasi adalah meneliti,

Lebih terperinci

LAMPIRAN VII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN

LAMPIRAN VII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN Lampiran VII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR TAHUN 2011 LAMPIRAN VII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011 2031 MATRIK

Lebih terperinci