BAB III PEMBAHASAN. Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III PEMBAHASAN. Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya"

Transkripsi

1 BAB III PEMBAHASAN A. AKTIVA TETAP 1. Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya pengertian aktiva tetap ini memiliki makna dan tujuan yang sama. Ada beberapa definisi aktiva tetap yang diungkapkan oleh beberapa para ahli diantaranya: Menurut Soemarso (2005:20), Aktiva tetap adalah aktiva tetap berwujud (tangible fixed assets) yang: 1. Masa manfaatnya lebih dari satu tahun; 2. Digunakan dalam kegiatan perusahaan; 3. Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta; 4. Nilainya cukup besar. Pengertian aset tetap menurut Dwi Martani, dalam bukunya Akuntansi Keuangan Menengah Versi IFRS (2012:271). Aset tetap adalah aset berwujud yang: 1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk diretalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan 2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode. Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang digunakan dalam kegiatan perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual kembali dan sifatnya relatif permanen atau dapat digunakan lebih dari satu periode.

2 2. Karakteristik Aktiva Tetap Karakteristik aktiva tetap berwujud menurut Sulistiawan (2006: ) adalah sebagai berikut: 1. Dipergunakan untuk operasional perusahaan dan tidak untuk dijual. Aktiva tetap yang diperoleh digunakan dalam kegiatan perusahaan, bukan diperjualbelikan dalam kegiatan normal perusahaan. Karakteristik inilah yang membedakan aktiva tetap dari persediaan barang atau inventory. 2. Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi atau satu siklus operasi normal. Pada karakteristik ini, dikenal istilah penyusutan dalam aktiva tetap, yaitu alokasi biaya dari aktiva tetap tersebut dalam jangka waktu pemakaiannya atau umurnya. 3. Memiliki bentuk fisik. Karakteristik bentuk fisik gunanya untuk membedakan aktiva berwujud dengan aktiva tidak berwujud. 4. Nilainya material. Pengeluaran untuk perolehan aset harus merupakan pengeluaran yang nilainya besar atau material bagi perusahaan tersebut. Dari aspek praktiknya, untuk karakteristik ini pimpinan perusahaan harus membuat kebijaksanaan keuangan atau akuntansi mengenai nilai atau jumlah minimum pengeluaran yang dapat dikapitalisasi atau yang dianggap sebagai pengeluaran barang modal (capital expenditure).

3 3. Perolehan Aktiva Tetap Suatu aktiva tetap berwujud akan dicatat sebesar biaya perolehannya (historical cost). Yang dimaksud dengan biaya perolehan meliputi setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membuat aktiva tersebut berada dalam kondisi siap digunakan. Beberapa contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung selain nilai beli aktiva tersebut adalah biaya persiapan tempat, biaya pengiriman, biaya simpan dan bongkar muat, bea impor, PPN masukan yang tidak boleh direstitusikan, biaya pemasangan, dan biaya profesional. (Sulistiawan 2006:128). Dedhy Sulistiawan dan Yie Ke Feliana (2006: ) menjelaskan bahwa ada beberapa cara untuk memperoleh aktiva tetap, yaitu: 1. Pembelian secara tunggal Akuntansi untuk pembelian secara tunggal bersifat sederhana. Contoh apabila perusahaan membeli tanah, yang termasuk dalam harga perolehan adalah biaya notaris, biaya balik nama, komisi kepada makelar, dan lain sebagainya. 2. Pembelian secara gabungan (Lump Sum) Hal ini terjadi jika perusahaan membeli beberapa aktiva berwujud, dengan satu nilai, misalnya membeli gedung pabrik beserta mesin dan peralatan yang lain senilai 2 miliar. Hal ini menimbulkan masalah dalam mengalokasikan biaya perolehan untuk setiap jenis aktiva yang dibeli. Harga perolehan dari masing-masing aktiva tetap tersebut ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandigan nilai wajar masing-masing aktiva yang bersangkutan.

4 3. Pertukaran dengan aktiva non-moneter (Trade In) Akuntansi untuk pertukaran aktiva non-moneter dibedakan berdasarkan apakah aktiva yang dipertukarkan sejenis atau tidak. Aktiva sejenis adalah aktiva serupa yang memiliki fungsi serupa dalam bidang usaha yang sama, sekaligus dengan nilai wajar yang serupa. Perlakuan akuntansinya dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1) akuntansi untuk pertukaran aktiva yang tidak sejenis (kondisi laba rugi); 2) akuntansi untuk pertukaran aktiva yang sejenis (kondisi rugi); 3) akuntansi untuk pertukaran aktiva yang sejenis (kondisi laba) dengan diterimanya kas atau tidak. Tabel 3.1 Akuntansi Pertukaran Aktiva Jenis pertukaran Akuntansi Alasan Laba atau rugi diakui saat Proses perolehan terjadinya pertukaran. penghasilan oleh aktiva Antara aktiva tidak sejenis yang lama telah berakhir, sedangkan aktiva yang Antara aktiva sejenis tidak ada kas yang diterima Jika laba akan ditangguhkan (dipotongkan ke dalam nilai aktiva yang baru memiliki fungsi yang berbeda. Proses perolehan penghasilan masih berlanjut dengan adanya aktiva baru sejenis yang

5 diperoleh), namun jika rugi akan diakui saat terjadinya pertukaran. menggantikan lama. aktiva Jika laba akan diakui Proses perolehan hasil sebagian sesuai proporsi sebagian telah berakhir Antara aktiva sejenis ada kas yang diterima nilai kas yang diterima dibandingkan dengan total nilai wajar atas aktiva yang diterima, namun jika rugi akan diakui saat terjadinya pertukaran. dengan adanya kas yang diterima selain aktiva baru yang sejenis. Sumber: Akuntansi Keuangan Menengah 1 (Sulistiawan 2006) Dedhy Sulistiawan dan Yie Ke Feliana (2006:131) menyatakan bahwa ada 2 jenis akuntansi untuk pertukaran aktiva non-moneter, yaitu: 1) Akuntansi untuk pertukaran aktiva yang tidak sejenis Aktiva baru yang diperoleh dari pertukaran dengan aktiva tidak sejenis diakui sebesar nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau nilai wajar aktiva yang diterima tergantung mana yang lebih andal. Hal tersebut dilakukan dengan memasukkan nilai kas atau setara kas yang diterima atau dibayarkan. Pertukaran antara aktiva yang tidak sejenis dapat menghasilkan laba atau rugi.

6 2) Akuntansi untuk pertukaran aktiva yang sejenis Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dengan pertukaran aktiva sejenis yang memiliki masa manfaat serupa, dalam bidang usaha yang sama, serta memiliki fungsi yang sama dalam perusahaan. 4. Penerbitan saham perusahaan sendiri Dedhy Sulistiawan (2006:136) menyatakan bahwa jika suatu aktiva tetap diperoleh dengan penerbitan saham perusahaan maka nilai yang menjadi patokan transaksi adalah nilai pasar dari saham tersebut, jika perusahaan tersebut go public. Namun, jika perusahaan tersebut belum go public atau jika nilai pasar dari saham perusahaan go public tersebut tidak dapat ditetukan, maka nilai wajar dari aktiva tetap tersebut akan menjadi patokan transaksi. Penentuan nilai wajar dari aktiva tersebut dapat menggunakan bantuan penilai yang independen. Perolehan aktiva tetap dengan cara ini umumnya terjadi sebagai salah satu bentuk setoran pemegang saham ke perusahaan dalam bentuk aktiva tetap, bukan berupa uang tunai. 5. Sumbangan Kadangkala perusahaan memperoleh aktiva tetapnya dari sumbangan. Jika konsep biaya historis diterapkan secara ketat, maka aktiva tetap tersebut akan dicatat dengan nilai nol atau hanya sebesar biaya lain yang terjadi berkaitan dengan aktiva tetap tersebut (seperti biaya balik nama) yang besarnya tidak mencerminkan nilai aktiva tetap tersebut secara wajar. Namun, praktik akuntansi yang lazim dan sesuai dengan PSAK 16 adalah mengakui bahwa aktiva tersebut sebesar nilai wajarnya. (Sulistiawan 2006:136).

7 6. Pembuatan sendiri Kadangkala perusahaan membuat sendiri aktiva tetapnya, seperti membangun gedung pabrik sendiri atau merancang dan merakit sendiri mesin produksinya. Dalam hal ini nilai perolehan aktiva tetap tersebut memasukkan semua biaya yang terjadi untuk membuat aktiva tetap tersebut dalam kondisi siap untuk digunakan. Biaya yang dimasukkan meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, termasuk biaya tenaga ahli yang digunakan. Biaya abnormal yang terjadi, seperti biaya bahan baku yang tidak terpakai, tidak boleh dimasukkan dalam nilai perolehan aktiva tetap tersebut. Dalam pembuatan sendiri aktiva tetap biasanya membutuhkan dana yang cukup besar sehingga memerlukan dana tambahan dari pihak ketiga. Biaya atas pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung dengan aktiva tertentu harus dikapitalisasikan sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva tetap tersebut. Hal ini sesuai dengan PSAK 26 Biaya Pinjaman (IAI, 2004). Menurut Sulistiawan (2006: ), untuk menghitung berapa biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasikan harus diperhatikan tiga hal sebagai berikut: (1) Aktiva yang memenuhi syarat kapitalisasi biaya pinjaman adalah aktiva yang membutuhkan waktu yang cukup lama agar siap untuk dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Kriteria lamanya yaitu 12 bulan atau lebih. (2) Periode kapitalisasi adalah periode waktu dengan biaya pinjaman yag dapat dikapitalisasikan.

8 (3) Biaya pinjaman yang dikapitalisasi a. Jika pinjaman hanya digunakan untuk membangun suatu aktiva, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah seluruh biaya pinjaman yang timbul selama peminjaman dana, dikurangi dengan pendapatan bunga yang diperoleh dari investasi sementara atas dana pinjaman tersebut yang masih belum digunakan. b. Jika pinjaman tidak digunakan secara khusus untuk membangun suatu aktiva, maka jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi ditentukan dengan mengalikan tingkat kapitalisasi terhadap pengeluaran yang terjadi untuk membangun aktiva tersebut. Tingkat kapitalisasi dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari biaya pinjaman dibagi dengan jumlah pinjaman dari suatu periode (tidak termasuk jumlah pinjaman yang digunakan secara khusus untuk membangun aktiva tersebut). Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi dalam suatu periode tertentu tidak boleh melebihi biaya pinjaman aktual yang terjadi selama periode tersebut. 4. Biaya Selama Masa Perolehan Aset Tetap Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) (2011:16:5) adalah: Entitas tidak boleh mengakui biaya perawatan sehari-hari aset tetap sebagai bagian dari aset bersangkutan. Biaya-biaya ini diakui dalam laba rugi saat terjadinya. Biaya perawatan sehari-hari (consumables) termasuk di dalamnya suku cadang kecil.

9 Pengeluaran-pengeluaran untuk hal tersebut sering disebut biaya pemeliharaan dan perbaikan aset tetap. Pada saat perusahan mengeluarkan uang untuk aset tetap, perusahaan tersebut harus memutuskan apakah akan melaporkannya sebagai pengeluaran modal (Capital Expenditure) atau pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure). Pengeluaran akuntansi terhadap pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan dan penggunaan aset tetap dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure) Menurut Soemarso (2005:52) bahwa: Pegeluaran pendapatan adalah pengeluaran-pengeluaran yang hanya mendatangkan manfaat untuk tahun dimana pengeluaran tersebut dilakukan. Oleh karena itu, pengeluaran pendapatan akan dicatat sebagai beban. Untuk lebih jelas mengetahui pengeluaran setelah perolehan aset tetap menurut Soemarso (2005) dapat diuraikan sebagai berikut: a. Reparasi (Repairs) Reparasi adalah perbaikan yang dilakukan terhadap kerusakan aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan agar aset tetap tersebut dapat menjalankan fungsinya. Biaya reparasi merupakan biaya yang jumlahnya kecil jika reparasinya biasa dan jumlahnya cukup besar jika reparasi besar. Biaya pemeliharaan reparasi kecil merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memelihara aset agar tetap dalam kondisi yang baik. Sedangkan biaya reparasi besar yaitu dengan menambah harga perolehan aset tetap, apabila biaya ini dikeluarkan untuk menaikkan nilai kegunaan aset dan tidak menambah umurnya.

10 Reparasi besar biasanya terjadi selang beberapa tahun, sehingga dapat dikatakan bahwa manfaat reparasi seperti ini akan dirasakan dalam beberapa periode. Oleh karena itu, biaya reparasi besar dilakukan dalam periode-periode yang menerima manfaat. Ada dua cara untuk mencatat reparasi besar itu, yaitu: 1) Menambah harga perolehan aset tetap, apabila biaya dikeluarkan untuk menaikkan nilai kegunaan aset dan tidak menambah nilai umurnya. 2) Mengurangi akumulasi depresiasi, apabila biaya dikeluarkan untuk memperpanjang umur aset tetap dan mungkin juga nilai residunya. b. Pemeliharaan (Maintenance) Biaya pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk memelihara aset agar tetap dala kondisi baik. Contoh pemeliharaan berupa pengecetan gedung. Pemeliharaan ini merupakan pos-pos biasa dan berulang-ulang serta tidak meningkatkan atau menambah usianya, dan pengeluaran ini dicatat sebagai biaya. c. Penggantian Yang dimaksud dengan penggantian adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengganti aset atau suatu bagian aset dengan unit yang baru yang tipenya sama. Penggantian seperti ini biasanya terjadi karena aset lama sudah tidak berfungsi kembali (rusak). 2. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) Menurut Soemarso (2005:52) bahwa:

11 Pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran yang harus dicatat sebagai aset (dikapitalisir). Pengeluaran-pengeluaran yang akan mendatangkan manfaat lebih dari satu periode akuntansi termasuk dalam kategori ini. Pengeluaran modal ini menurut Soemarso (2005) meliputi: a. Reparasi besar yang tidak menambah umur manfaat aset tetap Reparasi besar dan mempunyai manfaat selama sisa umur penggunaan, tetapi tidak menambah umur penggunanya. Pengeluaran ini adalah untuk memperbaiki aset tetap yang mengalami kerusakan sebagian atau seluruhnya, agar dapat menjalankan fungsinya kembali dengan mengadakan penggunaan dari bagian-bagian tertentu dari aset tersebut yang cukup besar. b. Reparasi besar yang menambah umur manfaat aset tetap Pengeluaran untuk reparasi ini adalah penggantian dari aset tetap yang disebabkan karena bagian yang diganti dalam keadaan rusak berat. Pengeluaran ini memberikan manfaat pada periode operasi diluar periode sekarang juga menambah umur pengguaan aset tetap yang bersangkutan. Pengeluaran ini tidak dibukukan sebagai biaya, tetapi dikapitalisasikan dengan mendebet perkiraan akumulasi penyusutan. c. Perbaikan Yang dimaksud dengan perbaikan adalah penggantian suatu aset dengan aset yang baru untuk memperoleh kegunaan yang lebih besar. Perbaikan yang biayanya kecil dapat diperlakukan seperti reparasi biasa, tetapi perbaikan yang memakan biaya yang besar dicatat sebagai aset baru. Aset lama yang diganti dan akumulasi depresiasinya dihapuskan dari rekening-rekeningnya.

12 d. Penambahan (Addition) Yang dimaksud dengan penambahan adalah memperbesar atau memperluas fasilitas suatu aset. Apabila alat tambahan itu dipasang menjadi satu dengan mesin maka biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan memasang alat itu merupakan suatu penambahan. Biaya-biaya yang timbul dalam penambahan dikapitalisasi menambah harga perolehan aset dan didepresiasi selama umur ekonomisnya. e. Penyusunan kembali aset tetap Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam penyusunan kembali aset atau perubahan rute produksi, atau untuk mengurangi biaya produksi, jika jumlahnya cukup berarti dan manfaat penyusunan kembali itu akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi maka harus dikapitalisasi. Biaya-biaya semacam itu dikapitalisasi sebagai biaya dibayar dimuka atau beban tangguhan. 5. Penghapusan Aset Tetap Aset tetap pada dasarnya akan dihapuskan dengan berbagai cara diantaranya dengan dijual, dipertukarkan dengan aset lain, dijual dalam bentuk rongsokan, dan lain-lain. Pada saat aset tetap diberhentikan dari pemakaian maka semua rekening yang berhubungan dengan aset tetap tersebut dihapuskan. Apabila aset tetap itu dijual maka selisih antara harga jual dengan nilai buku atau nilai residu dicatat sebagai laba atau rugi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh IAI dalam Standar Akutansi Keuangan (2007:16:12), yaitu:

13 Laba rugi yang timbul dari penghentian atau pengakuan suatu aset tetap harus dimasukkan ke dalam laporan laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. B. PENYUSUTAN 1. Pengertian Penyusutan Yang dimaksud dengan penyusutan menurut Akuntansi adalah: Pengalokasian harga pokok aktiva tetap selama masa penggunaannya. Atau dapat juga kita sebut sebagai biaya yang dibebankan terhadap produksi akibat penggunaan aktiva tetap itu dalam proses produksi. Menurut Dwi Martani, Akuntansi Keuangan Menengah (2012:313): Depresiasi adalah metode pengalokasian biaya aset tetap untuk menyusutkan nilai aset secara sistematis selama periode manfaat dari aset tersebut. Terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan suatu entitas dalam mengalokasikan nilai aset tetap sebagai biaya depresiasi, yaitu: 1. Nilai biaya aset yang didepresiasikan (depreciable asset); 2. Taksiran masa manfaat aset tetap; 3. Metode penyusutan depresiasi yang sesuai. Dari beberapa definisi diatas dapat diketahui bahwa penyusutan adalah pengalokasian secara sistematis dari harga perolehan aset tetap sepanjang masa manfaat aset tersebut.

14 2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Aktiva Tetap Menurut Sofyan Syafri Harahap dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Aktiva Tetap (2004) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menentukan beban penyusutan antara lain: 1. Harga Pokok Harga pokok merupakan hal yang penting dalam menghitung biaya penyusutan. Mengenai berapa harga pokok aktiva tetap dan hal hal apa yang termasuk dalam harga pokok telah dibahas dimuka. 2. Nilai Residu (Residual atau Salvage Value) Yang dimaksud dengan nilai residu adalah nilai taksiran realisasi (penjualan melalui kas) aktiva tetap tersebut setelah akhir penggunaannya atau pada saat mana aktiva tetap itu harus ditarik dari kegiatan produksi. Nilai residu ini tidak mesti harus ada, bisa saja harga pada saat dibesituakan adalah nihil. 3. Umur Teknis Yang dimaksud dengan umur teknis adalah taksiran jangka waktu penggunaan aktiva tetap itu dalam kegiatan produksi. Umur yang dimaksud disini ada dua yaitu: a. Umur Fisik b. Umur Fungsional Umur fisik berarti berapa lama aktiva tetap itu secara fisik mampu memberikan sumbangan terhadap kegiatan produksi. Umur fisik dapat berakhir disebabkan kerusakan, hancur, terbakar, meledak dan lain lain. Sedangkan umur fungsional berarti berapa lama aktiva tetap itu mampu untuk memproduksi barang

15 barang yang dapat ditawarkan dan diterima masyarakat. Aset tetap yang secara teknis/fisik masih berjalan belum tentu dianggap memiliki umur fungsional, misalnya produk yang dianggap tidak laku atau sudah ketinggalan zaman. 4. Pola Pemakaian Pola pemakaian aktiva tetap itu dalam kegiatan produksi harus dipertimbangkan dalam hubungannya dengan pembebanan penyusutan terhadap produksi. 3. Metode Penyusutan Menurut Dwi Martani, Sylvia Veronica Nps, Ratna Wardhani, Aria Farahmita, Edward Tanujaya dalam bukunya Akuntansi Keuangan Menengah berbasis PSAK (2012: ), metode penyusutan dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria berikut: 1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method) Metode garis lurus merupakan metode yang paling sederhana mengasumsikan adanya penggunaan yang konstan dari suatu aset selama masa manfaatnya. Metode ini merupakan metode yang mendasarkan alokasi dari fungsi waktu penggunaan aset. Berdasarkan metode ini biaya depresiasi dihitung dengan mengalokasikan nilai aset yang didepresiasikan selama masa manfaat aset secara sama untuk setiap periodenya. Untuk menghitung biaya depresiasi digunakan rumus sebagai berikut:

16 C S D = Atau 100% Dalam persentase = = d% Keterangan : D = Beban penyusutan (depreciation) C = Harga Perolehan Aset S = Nilai Residu (salvage value) n = Umur ekonomis (useful life) Tabel 3.2 Daftar Harga Perolehan dan Nilai Residu Aset Tetap PT Perkebunan Nusantara IV Tahun 2014 No Jenis Aktiva Umur Manfaat (Tahun) Harga Perolehan Aset (C) Nilai Residu (S) 1 Tanaman Menghasilkan Bangunan Rumah Bangunan Perusahaan Mesin Mesin dan Instalasi Jalan, Jembatan & Sal. Air Alat Alat Pengangkutan Alat Pertanian & Inventaris Kecil Persemaian Instalasi Sumber: PT Perkebunan Nusantara IV, 2014 (Data Diolah)

17 Berikut contoh perhitungan metode garis lurus untuk aset Bangunan Rumah pada PT Perkebunan Nusantara IV: Diketahui: C = Rp S = Rp n = 20 Penyelesaian: D = n C S Rp Rp D = = Rp Atau 100% Dalam persentase = = d % n 100% Dalam persentase = 20 = 5% x = 5% x (Rp Rp ) = Rp Tabel 3.3 Perhitungan Nilai Buku Aset Bangunan Rumah Dengan Menggunakan Metode Garis Lurus Perhitungan metode garis lurus tahun 1: Perhitungan metode garis lurus tahun ke 2: BBBB 1 = C DD 1 BBBB 1 = BBBB 2 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 1 DD 2 BBBB 2 =

18 BBBB 1 = BBBB 2 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 3: BBBB 3 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 2 DD 3 BBBB 3 = BBBB 3 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 5: BBBB 5 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 4 DD 5 BBBB 5 = BBBB 5 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 7: BBBB 7 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 6 DD 7 BBBB 7 = BBBB 7 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 9: BBBB 9 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 8 DD 9 BBBB 9 = BBBB 9 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 11: BBBB 11 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 10 DD 11 BBBB 11 = BBBB 11 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 4: BBBB 4 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 3 DD 4 BBBB 4 = BBBB 4 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 6: BBBB 6 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 5 DD 6 BBBB 6 = BBBB 6 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 8: BBBB 8 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 7 DD 8 BBBB 8 = BBBB 8 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 10: BBBB 10 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 9 DD 10 BBBB 10 = BBBB 10 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 12: BBBB 12 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 11 DD 12 BBBB 12 = BBBB 12 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 13: Perhitungan metode garis lurus tahun ke 14:

19 BBBB 13 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 12 DD 13 BBBB 13 = BBBB 13 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 15: BBBB 15 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 14 DD 15 BBBB 15 = BBBB 15 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 17: BBBB 17 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 16 DD 17 BBBB 17 = BBBB 17 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 19: BBBB 19 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 18 DD 19 BBBB 19 = BBBB 19 = BBBB 14 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 13 DD 14 BBBB 14 = BBBB 14 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 16: BBBB 16 = NNiiiiiiii BBBBBBBB 15 DD 16 BBBB 16 = BBBB 16 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 18: BBBB 18 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 17 DD 18 BBBB 18 = BBBB 18 = Perhitungan metode garis lurus tahun ke 20: BBBB 20 = NNNNNNNNNN BBBBBBBB 19 DD 20 BBBB 20 = BBBB 20 = Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Tabel 3.4 Daftar Penyusutan dengan Metode Garis Lurus Tahun Harga Pokok Penyusutan Akum. Penyusutan Nilai Buku

20 Tahun Harga Pokok Penyusutan Akum. Penyusutan Nilai Buku Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Dari hasil perhitungan diatas dengan menggunakan metode garis lurus pada akhir tahun ke-20 dapat disimpulkan bahwa nilai residunya adalah sebesar Rp Hal ini dapat dilihat pada tabel diatas, dimana penyusutan setiap tahunnya adalah sebesar Rp dan disusutkan sebanyak 20 tahun

21 sehingga nilai akhir (residu) aset bangunan rumah tersebut adalah sebesar Metode Pembebanan Menurun a) Metode Jumlah Angka Tahun Metode jumlah angka tahun merupakan metode depresiasi yang dihasilkan dari penghapusanbukuan yang bersifat menurun dimana biaya depresiasi tahunan ditentukan dengan mengalikan biaya depresiasi dengan fraksi tahun sebagai tarif pembebanan depresiasi. Tarif pembebanan depresiasi merupakan rasio dengan denominatornya adalah jumlah tahun penggunaan aset (misalnya aset dengan masa manfaat 5 tahun memiliki denominator 15 ( ) dan numeratornya adalah jumlah tahun sisa pada awal tahun yang belum didepresiasikan (misalkan pencatatan beban depresiasi pada akhir tahun ketiga maka numeratornya adalah 3. Fraksi pengali pada metode ini numerator tersebut akan menurun seiring waktu dan denominatornya tetap (5/15, 4/15, 3/15. 2/15. 1/15). Untuk menghitung biaya depresiasi digunakan rumus sebagai berikut: n Diketahui: x n n = Jumlah perkiraan umur ekonomis C = Rp S = Rp n = 20

22 Penyelesaian: Jumlah angka tahun = x = 420 = 210 Maka besarnya nilai penyusutan dapat dihitung dengan: umur ekonomis D = Jumlah angka tahun x (harga perolehan nilai residu) 20 D = x (Rp Rp ) 210 D = Rp Tabel 3.5 Perhitungan Nilai Buku Aset Bangunan Rumah Dengan Menggunakan Metode Jumlah Angka Tahun Perhitungan metode jumlah angka tahun 1: Perhitungan metode jumlah angka tahun 2: BBBB 1 = C - DD 1 BBBB 1 = BBBB 1 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 3: BBBB 3 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 2 - DD 3 BBBB 3 = BBBB 3 = BBBB 2 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 1 - DD 2 BBBB 2 = BBBB 2 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 4: BBBB 4 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 3 - DD 4 BBBB 4 = BBBB 4 =

23 Perhitungan metode jumlah angka tahun 5: BBBB 5 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 4 - DD 5 BBBB 5 = BBBB 5 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 7: BBBB 7 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 6 - DD 7 BBBB 7 = BBBB 7 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 9: BBBB 9 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 8 - DD 9 BBBB 9 = BBBB 9 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 11: BBBB 11 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 10 - DD 11 BBBB 11 = BBBB 11 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 13: BBBB 13 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 12 - DD 13 BBBB 13 = BBBB 13 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 15: BBBB 15 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 14 - DD 15 Perhitungan metode jumlah angka tahun 6: BBBB 6 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 5 - DD 6 BBBB 6 = BBBB 6 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 8: BBBB 8 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 7 - DD 8 BBBB 8 = BBBB 8 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 10: BBBB 10 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 9 - DD 10 BBBB 10 = BBBB 10 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 12: BBBB 12 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 11 - DD 12 BBBB 12 = BBBB 12 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 14: BBBB 14 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 13 - DD 14 BBBB 14 = BBBB 14 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 16: BBBB 16 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 15 - DD 16

24 BBBB 15 = BBBB 15 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 17: BBBB 17 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 16 - DD 17 BBBB 17 = BBBB 17 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 19: BBBB 19 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 18 - DD 19 BBBB 19 = BBBB 19 = BBBB 16 = BBBB 16 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 18: BBBB 18 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 17 - DD 18 BBBB 18 = BBBB 18 = Perhitungan metode jumlah angka tahun 20: BBBB 20 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 19 - DD 20 BBBB 20 = BBBB 20 = Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Tabel 3.6 Daftar penyusutan dengan metode jumlah angka tahun Tahun Penyusutan Akum. Penyusutan Nilai Buku /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp

25 Tahun Penyusutan Akum. Penyusutan Nilai Buku 9 12/210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp /210 x Rp = Rp Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Dari hasil perhitungan diatas dengan menggunakan metode jumlah angka tahun pada akhir tahun ke-20 dapat disimpulkan bahwa nilai residunya adalah sebesar Rp Pada metode ini, nilai residu pada metode garis lurus dan metode jumlah angka tahun sama. Hal ini dapat dilihat pada tabel diatas, dimana penyusutan setiap tahunnya adalah sebesar Rp dan disusutkan hingga 20 tahun sehingga nilai akhir (residu) aset bangunan rumah tersebut adalah sebesar

26 b) Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method) Metode saldo menurun merupakan metode yang membebankan depresiasi dengan nilai yang lebih tinggi pada awal periode dan secara gradual akan berkurang pada tahun tahun selanjutnya. Dalam metode ini beban penyusutan dihitung dengan persentase tertentu yang dihitung melalui rumus tertentu dan dikalikan dengan nilai buku. Oleh karena itu beban penyusutan semakin lama semakin mengecil. Filosofinya sama dengan metode jumlah angka tahun. Untuk menghitung biaya depresiasi digunakan rumus sebagai berikut: nn r = 1 - SS CC r = r = persentase penyusutan (rate) Diketahui: C = Rp S = Rp n = 20 Penyelesaian: 20 r = 1 - RRRR RRRR r = 1-0, r = 1 0, r = 0, r = 2% (dibulatkan menjadi 2%)

27 Tabel 3.7 Perhitungan Nilai Buku Aset Bangunan Rumah Dengan Menggunakan Metode Saldo Menurun Perhitungan metode saldo menurun tahun 1: Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-2: BBBB 1 = C - DD 1 BBBB 1 = BBBB 1 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-3: BBBB 3 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 2 - DD 3 BBBB 3 = BBBB 3 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-5: BBBB 5 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 4 - DD 5 BBBB 5 = BBBB 5 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-7: BBBB 7 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 6 - DD 7 BBBB 7 = BBBB 7 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-9: BBBB 9 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 8 - DD 9 BBBB 9 = BBBB 9 = BBBB 2 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 1 - DD 2 BBBB 2 = BBBB 2 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-4: BBBB 4 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 3 - DD 4 BBBB 4 = BBBB 4 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-6: BBBB 6 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 5 - DD 6 BBBB 6 = BBBB 6 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke-8: BBBB 8 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 7 - DD 8 BBBB 8 = BBBB 8 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 10: BBBB 10 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 9 - DD 10 BBBB 10 = BBBB 10 =

28 Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 11: BBBB 11 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 10 - DD 11 BBBB 11 = BBBB 11 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 13: BBBB 13 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 12 - DD 13 BBBB 13 = BBBB 13 = Perhitungan metode jumlah angka tahun ke-15: BBBB 15 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 14 - DD 15 BBBB 15 = BBBB 15 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 17: BBBB 17 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 16 - DD 17 BBBB 17 = BBBB 17 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 19: BBBB 19 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 18 - DD 19 Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 12: BBBB 12 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 11 - DD 12 BBBB 12 = BBBB 12 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 14: BBBB 14 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 13 - DD 14 BBBB 14 = BBBB 14 = Perhitungan metode jumlah angka tahun ke-16: BBBB 16 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 15 - DD 16 BBBB 16 = BBBB 16 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 18: BBBB 18 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 17 - DD 18 BBBB 18 = BBBB 18 = Perhitungan metode saldo menurun tahun ke- 20: BBBB 20 = NNNNNNNNNNNNNNNNNN 19 - DD 20

29 BBBB 19 = BBBB 19 = BBBB 20 = BBBB 20 = Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Tahun Tabel 3.8 Daftar Penyusutan dengan Metode Saldo Menurun Persentase Beban Akum. Peny. Penyusutan Penyusutan Nilai Buku % % % % % % % % % % % % % % % %

30 Tahun Persentase Peny. Beban Penyusutan Akum. Penyusutan Nilai Buku 17 2% % % % Sumber: Hasil Penelitian Penulis, 2014 (Data Diolah) Dari hasil perhitungan diatas dengan menggunakan metode saldo menurun pada akhir tahun ke-20 dapat disimpulkan bahwa nilai residunya adalah sebesar Rp Berbeda dengan metode garis lurus dan metode jumlah angka tahun yang hasilnya sama. Hal ini dikarenakan persentase penyusutan sebesar 0, dibulatkan menjadi 2% sehingga menghasilkan jumlah yang berbeda dengan metode sebelumnya. C. EVALUASI DAN PEMBAHASAN 1. Pembahasan Metode Penyusutan Aktiva Tetap PTPN IV Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada PTPN IV mengenai penyusutan aktiva tetap yang diterapkan oleh perusahaan dapat disimpulkan bahwa penyusutan aktiva tetap yang diterapkan oleh PTPN IV adalah menggunakan metode garis lurus. Hal ini disebabkan karena cara perhitungannya yang begitu sederhana (tidak rumit) dan lebih menguntungkan. Penggunaan metode penyusutan garis lurus pada aktiva tetap yang dimiliki PTPN IV dapat dikatakan tepat dikarenakan memenuhi kriteria.

31 Tabel 3.9 Penyusutan Aktiva Tetap PT Perkebunan Nusantara IV Tahun 2014 Masa Jenis Aktiva Harga Perolehan Tarif Manfaat Beban Penyusutan Bangunan Rumah % Bangunan Perusahaan % Mesin-Mesin dan Instalasi % Jalan, Jembatan dan Sal. Air ,25% Alat-Alat Pengangkutan % Alat Pertanian & Inventaris Kecil % Persemaian Instalasi % Jumlah Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Berdasarkan laporan penyusutan aktiva tetap diatas dapat dilihat bahwa pada PTPN IV menggunakan metode garis lurus untuk setiap aset tetap yang dimiliki dalam perusahaan. Metode penyusutan yang sebaiknya diterapkan sesuai PSAK No. 16 untuk jenis aktiva alat berat, kendaraan proyek dan kendaraan kantor adalah menggunakan metode penyusutan saldo menurun berganda. Sehingga berkurangnya jumlah penyusutan pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini akan diimbangi dengan peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan. Berdasarkan PSAK No. 16 menyatakan bahwa apabila terjadi perubahan yang signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Oleh karena itu, untuk PT Perkebunan Nusantara IV sebaiknya mengubah metode penyusutan jenis aktiva alat berat, kendaraan proyek dan kendaraan kantor dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun berganda.

32 2. Perbandingan Metode Penyusutan yang Diterapkan Perusahaan dengan Beberapa Metode Penyusutan Alternatif yang Umum Digunakan Metode yang diterapkan PTPN IV adalah metode garis lurus dan metode jumlah angka tahun. Dengan menggunakan metode ini, PTPN IV akan mendapatkan biaya penyusutan aktiva tetap sebagai berikut: Tabel 3.10 Alokasi Biaya Penyusutan Metode Garis Lurus Tahun 2014 No Nama Aktiva Biaya Penyusutan Tahun Bangunan Rumah Rp Bangunan Perusahaan Rp Mesin-Mesin dan Instalasi Rp Jalan, Jembatan dan Sal. Air Rp Alat-Alat Pengangkutan Rp Alat Pertanian & Inventaris Kecil Rp Persemaian Instalasi Rp Jumlah Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Sebagai perbandingan dan penganalisisan, dibawah ini disajikan perhitungan beban penyusutan dengan beberapa metode penyusutan yang umum dan diakui Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method) Dalam metode ini, beban penyusutan diperoleh dengan mengalikan tarif penyusutan dengan nilai perolehan tahun pertama dan dengan nilai buku tahun-tahun selanjutnya dan menghasilkan beban penyusutan yang makin menurun tiap tahunnya selama umur ekonomis aktiva tetap tersebut.

33 Tarif= 2 x tarif Penyusutan Metode Garis Lurus Jadi biaya penyusutan untuk aktiva tetap dengan metode saldo menurun ganda adalah sebagai berikut: Tabel 3.11 Alokasi Biaya Penyusutan Metode Saldo Menurun Ganda Tahun 2014 No Nama Aktiva Biaya Penyusutan Tahun Bangunan Rumah Rp Bangunan Perusahaan Rp Mesin-Mesin dan Instalasi Rp Jalan, Jembatan dan Sal. Air Rp Alat-Alat Pengangkutan Rp Alat Pertanian & Inventaris Kecil Rp Persemaian Instalasi Rp Jumlah Rp Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Perhitungan: 1. Bangunan Rumah Tahun 2014 = 10% x Nilai Buku 2. Bangunan Perusahaan = 10% x Rp = Rp Tahun 2014 = 10% x Nilai Buku = 10% x Rp = Rp Mesin-Mesin dan Instalasi Tahun 2014 = 10% x Nilai Buku = 10% x Rp

34 = Rp Jalan, Jembatan dan Sal. Air Tahun 2014 = 6,25% x Nilai Buku 5. Alat-Alat Pengangkutan = 6,25% x Rp = Rp Tahun 2014 = 20% x Nilai Buku = 20% x Rp = Rp Alat Pertanian Tahun 2014 = 20% x Nilai Buku 7. Persemaian Instalasi = 20% x Rp = Rp Tahun 2014 = 20% x Nilai Buku = 20% x Rp = Rp Metode Jumlah Angka Tahun Besarnya biaya penyusutan dengan menggunakan metode ini adalah dengan mengalikan rate dengan selisih harga perolehan dengan nilai residu. Rate per tahun diperoleh dengan menjumlahkan seluruh umur ekonomis suatu aktiva tetap. Dengan data-data yang diperoleh dari PTPN IV, maka rate per tahun aktiva tetap adalah sebagai berikut:

35 Umur ekonomis aktiva tetap bangunan = 20 Tahun Akumulasi tahun = ( ) = 210 Rate tahun ke 1 = 20/210 Rate tahun ke 2 = 19/210, dan seterusnya. Dengan metode ini biaya penyusutan tiap tahun selalu menurun karena rate yang semakin kecil jadi biaya penyusutan aktiva tetap adalah sebagai berikut: Tabel 3.12 Alokasi Biaya Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun Tahun 2014 No Nama Aktiva Biaya Penyusutan Tahun Bangunan Rumah Rp Bangunan Perusahaan Rp Mesin-Mesin dan Instalasi Rp Jalan, Jembatan dan Sal. Air Rp Alat-Alat Pengangkutan Rp Alat Pertanian & Inventaris Kecil Rp Persemaian Instalasi Rp Jumlah Rp Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Perhitungan: 1. Bangunan Rumah Tahun 2014 = 19/210 x Rp = Rp Bangunan Perusahaan Tahun 2014 = 19/210 x Rp = Rp Mesin-mesin dan Instalasi Tahun 2014 = 19/210 x Rp = Rp Jalan, Jembatan & Sal Air Tahun 2014 = 15/136 x Rp = Rp

36 5. Alat-Alat Pengangkutan Tahun 2014 = 4/15 x Rp = Rp Alat Pertanian Tahun 2014 = 4/15 x Rp = Rp Persemaian Instalasi Tahun 2014 = 4/15 x Rp = Rp Pengaruh Pemilihan Metode Penyusutan Terhadap Laba Kotor Perusahaan Untuk biaya penyusutan yang dibebankan sebagai biaya operasional, besarnya biaya penyusutan aktiva tetap akan mempengaruhi besarnya laba yang diperoleh perusahaan, sedangkan untuk biaya penyusutan yang dibebankan sebagai biaya produksi tidak langsung, besarnya biaya penyusutan aktiva tetap akan mempengaruhi besarnya laba kotor yang diterima oleh perusahaan. Dengan kata lain, metode penyusutan yang diterapkan perusahaan mempunyai pengaruh terhadap besarnya laba (laba kotor) yang diperoleh perusahaan selama umur ekonomis dari aktiva tetap tersebut. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam pembahasan tugas akhir ini, peneliti hanya akan membahas penyusutan aktiva tetap yang digunakan dalam kegiatan operasional saja. Oleh karena itu, peneliti hanya akan membahas biaya penyusutan yang dibebankan sebagai biaya operasional tidak langsung dan

37 pengaruhnya terhadap laba kotor yang akan diperoleh PTPN IV. Laba kotor selama tahun 2014 adalah sebagai berikut: Tabel 3.13 Laba Kotor PT Perkebunan Nusantara IV Metode Penyusutan yang Digunakan adalah Metode Garis Lurus Tahun 2014 Pendapatan Beban Usaha Laba/Rugi Kotor Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Tabel 3.14 Laba Kotor PT Perkebunan Nusantara IV Metode Penyusutan yang Digunakan adalah Metode Saldo Menurun Berganda Tahun 2014 Pendapatan Beban Usaha Laba/Rugi Kotor Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Tabel 3.15 Laba Kotor PT Perkebunan Nusantara IV Metode Penyusutan yang Digunakan adalah Metode Jumlah Angka Tahun Tahun 2014 Pendapatan Beban Usaha Laba/Rugi Kotor Sumber: data perusahaan (Diolah kembali)

38 4. Perbandingan Besarnya Laba Usaha Antara Metode Garis Lurus dengan Metode Alternatif Perbandingan laba kotor yang diperoleh dengan metode penyusutan yang diterapkan perusahaan dengan laba kotor yang menggunakan metode penyusutan alternatif yang umumnya digunakan adalah sebagai berikut: Tabel 3.16 Laba Kotor PT Perkebunan Nusantara IV Metode Penyusutan yang Digunakan adalah Metode Jumlah Angka Metode penyusutan Beban Penyusutan Tahun 2014 Laba Usaha Tahun 2014 Garis Lurus Saldo Menurun Ganda Jumlah Angka Tahun Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa laba usaha dengan menggunakan metode garis lurus pada PTPN IV lebih menguntungkan dibandingkan dengan metode penyusutan saldo menurun ganda dan jumlah angka tahun. Dari laporan laba kotor diatas selisih antara metode penyusutan garis lurus dan metode penyusutan saldo menurun ganda adalah sebesar Rp , dan selisih antara metode penyusutan garis lurus dan metode penyusutan jumlah angka tahun adalah sebesar Rp Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh penggunaan metode penyusutan aktiva tetap yang berbeda terhadap laba kotor yang diperoleh perusahaan setiap tahunnya. Persentase pengaruh penggunaan metode penyusutan aktiva tetap terhadap laba perusahaan dapat dilihat dengan cara:

39 P = Laba metode penyusutan standar Laba metode penyusutan alternatif Laba metode penyusutan standar Besarnya rasio biaya penyusutan aktiva tetap terhadap laba kotor perusahaan adalah sebagai berikut: 1) Metode penyusutan saldo menurun ganda Rp Rp P = x 100% = 2% Rp ) Metode Jumlah Angka Tahun Rp Rp Rp P = x 100% = 2% Rp Pada Tabel 3.17 disajikan selisih laba dalam persentase (%) antara metode penyusutan garis lurus dengan metode saldo menurun ganda dan metode penyusutan jumlah angka tahun: Tabel 3.17 Daftar Selisih Lebih Laba Usaha Antara Metode Garis lurus dengan Metode Alternatif Metode Penyusutan Tahun 2014 Metode saldo menurun ganda 2% Metode jumlah angka tahun 2% Sumber: data perusahaan (Diolah kembali) Pada umumnya, hampir semua perusahaan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Hal ini disebabkan karena proses perhitungan penyusutan aset tersebut sangat sederhana dan tidak rumit. Contoh perhitungan metode penyusutan garis lurus

40 bisa dilihat pada (Tabel 3.4). Alasan lain yang menyebabkan suatu entitas memutuskan memakai metode garis lurus pada perusahaannya adalah laba kotor yang memberikan keuntungan pada perusahaan tersebut dibandingkan metode penyusutan lainnya. Untuk keperluan interpretasi hasil perhitungan, peneliti mengklasifikasikan hubungan antara metode penyusutan dengan laba perusahaan secara umum dengan kriteria sebagai berikut: 0% - 10% = Tidak berpengaruh secara signifikan terhadap laba kotor 11% - 14% = Cukup berpengaruh secara signifikan terhadap laba kotor >15% = Sangat berpengaruh secara signifikan terhadap laba kotor Berdasarkan perhitungan persentase diatas pada tahun 2014 menunjukkan bahwa hasil perhitungan tersebut berada pada kriteria yang telah ditetapkan peneliti yaitu 0% - 10%, sehingga peneliti menarik kesimpulan bahwa metode penyusutan aktiva tetap yang berbeda tidak berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya laba kotor jangka pendek. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan diatas menunjukkan bahwa penerapan beberapa metode penyusutan aktiva tetap pada perusahaan ini tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini ditujukan bahwa penggunaan metode garis lurus hanya lebih tinggi 2% dibandingkan dengan metode menurun berganda dengan kenaikan sebesar 2% dibandingkan dengan metode jumlah angka tahun. (tabel 3.17).

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika BAB 2 LANDASAN TEORITIS A. Pengertian, Penggolongan dan Perolehan Aset Tetap 1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika suatu aset digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap (fixed assets) merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen. Aset tetap sering disebut aset berwujud (tangible assets) karena

Lebih terperinci

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah :

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan apapun jenis usahanya pasti memiliki kekayaan yang digunakan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Aset Tetap Pengertian aset tetap menurut IAI, PSAK No 16 (2011 : 16.2) adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan bagian dari harta kekayaan perusahaan yang memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu periode akuntansi. Manfaat menunjukkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Akuntansi Akuntansi sering disebut sebagai bahasanya dunia usaha karena akutansi akan menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang menyelenggarakannya dan pihak

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aktiva Tetap 2.1.1. Pengertian Aktiva Tetap Beberapa pendapat ahli dan sumber lain memberikan pengertian mengenai aktiva tetap, antara lain : Dalam Standar Akuntansi Keuangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan aset yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan aktivitas usaha dan sifatnya relatif tetap atau jangka waktu perputarannya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan memiliki aktiva yang berbeda-beda dalam hal jumlah dan jenis aktiva yang dimilikinya. Hal ini berdasarkan pada berbedaan jenis operasi

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Aset tetap merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih dari satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (bussnines language). Akuntansi menghasilkan informasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dimiliki oleh perusahaan yaitu aset tetap. Aset tetap yaitu adalah aset berwujud:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dimiliki oleh perusahaan yaitu aset tetap. Aset tetap yaitu adalah aset berwujud: BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan pasti memiliki harta kekayaan yang dimiliki untuk digunakan sebagai proses operasional perusahaan. Salah satu harta kekayaan yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan baik perusahaan yang bergerak dibidang industri, dagang, dan jasa pasti memiliki harta kekayaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan Untuk mengetahui pengertian yang jelas mengenai aktiva tetap tanaman menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penjelasan Umum Aset Tetap Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 16 adalah Standar Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Tetap Setiap perusahaan menggunakan berbagai aktiva tetap, seperti peralatan, perabotan, alat-alat, mesin-mesin, bangunan, dan tanah. Aset tetap (fix asset)

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Kebijakan Akuntansi Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tercantum sebagai berikut: Kebijakan akuntansi meliputi pilihan-pilihan, dasar-dasar, konvensi peraturan

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Pengertian Aktiva Tetap

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Pengertian Aktiva Tetap BAB III PEMBAHASAN 3.1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, dimiliki oleh perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual serta memiliki

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Menurut Reeve, Warren, dkk (2013:2) Aset tetap (fixed asset) adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara relatif memiliki sifat permanen serta

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS 5 BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori 1. Pengertian dan Karakteristik Aset Tetap Aset tetap adalah aset yang memiliki masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan, dimiliki

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relatif permanen dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relatif permanen, seperti peralatan, tanah, bangunan, gedung, dimana merupakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang

BAB II LANDASAN TEORI. adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Akuntansi Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang menjelaskan kinerja

Lebih terperinci

Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP

Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP Listian Nurbaeni Program Studi Akuntansi STIE STEMBI, listian.nurbaeni@gmail.com Abstrak Tujuan_Untuk mengetahui bagaimana implementasi PSAK 16 tentang

Lebih terperinci

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets)

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian aktiva tetap berwujud 2. Menerangkan penentuan harga

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur BAB II BAHAN RUJUKAN Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur sebagai landasan untuk melakukan pembahasan dalam permasalahan yang dijadikan topik tugas akhir ini. 2.1. Kebijakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Akuntansi Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai sistem informasi yang menyediakan laporan untuk para pemangku kepentingan mengenai aktivitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap BAB II TINJAUAN PUSTAKA Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP (FIXED ASSET)

AKTIVA TETAP (FIXED ASSET) AKTIVA TETAP (FIXED ASSET) PENGERTIAN AKTIVA TETAP sebagai aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Akuntansi Menurut Dwi (2012:4) Akuntansi adalah informasi yang menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu periode tertentu dan kondisi keuangan entitas pada

Lebih terperinci

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I Modul ke: AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I DEFINISI ASET TETAP, AKUISISI ASET TETAP, PENILAIAN ASET TETAP, BIAYA SETELAH AKUISISI, DISPOSISI ASET TETAP Fakultas FEB Angela Dirman, SE., M.Ak Program Studi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, dunia usaha telah mengalami perubahan dengan kecepatan yang luar biasa. Selain globalisasi dan perubahan teknologi, kita juga dapat menyaksikan

Lebih terperinci

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PADA CV. KRUWING INDAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PADA CV. KRUWING INDAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PADA CV. KRUWING INDAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Maria Anastasia Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pancasetia Banjarmasin Jl. Ahmad Yani Km 5,5 Banjarmasin, Kalimantan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. jangka waktu kurang dari 1 tahun (seperti tagihan) modal, semua milik usaha yang

BAB II KAJIAN TEORI. jangka waktu kurang dari 1 tahun (seperti tagihan) modal, semua milik usaha yang BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Aktiva Menurut Mardiasmo (2009:158) Aktiva merupakan (harta) kekayaan, baik yang berupa uang maupun benda lain yang dapat dinilai dengan uang ataupun yang tidak berwujud

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset Aset sebagai sumber ekonomi sangat diharapkan oleh seluruh perusahaan dapat memberikan manfaat jangka panjang untuk mencapai tujuan perusahaan di kemudian hari. Hal ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Seiring dengan kemajuan zaman sekarang ini, persaingan dunia usaha semakin berkembang dengan pesat. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan termotivasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori a. Pengertian Akuntansi Manfaat akuntansi dalam menyediakan informasi keuangan sangat berguna untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan serta memudahkan pengendalian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Berbagai definisi aset tetap yang dikemukakan oleh para ahli, semuanya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu merumuskan pengertian aset tetap agar

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi. Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi. Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi 2.1.1 Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang seseorang, akan

Lebih terperinci

Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir

Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir Rizal Effendi Fakultas Ekonomi-Universitas Tridinanti Palembang rizaleffendi31@yahoo.co.id Abstract : This

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Kebijakan Akuntansi Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tercantum sebagai berikut : Kebijakan akuntansi meliputi pilihan prinsip-prinsip, dasardasar, konvensi peraturan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Aktiva Tetap A. Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi. usaha harmonisasi) standar akuntansi dan pilihan metode, teknik

BAB II LANDASAN TEORITIS. 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi. usaha harmonisasi) standar akuntansi dan pilihan metode, teknik BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori - teori 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi a. Pengertian Konvergensi Konvergensi dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyatukan pandangan/ perspektif

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Bank Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 2 Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Akuntansi Keuangan Eksistensi suatu perusahaan sangat tergantung pada transaksitransaksi yang dilakukannya. Perusahaan yang dapat melakukan transaksi dengan baik berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Tetap Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, dalam buku Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan nomer 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain paragraf 5 tahun

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, serta merupakan komponen aset yang paling besar nilainya

Lebih terperinci

(Property, Plant, & Equipment)

(Property, Plant, & Equipment) A S E T T E T A P (Property, Plant, & Equipment) ASET TETAP??? barang berwujud milik perusahaan yang sifatnya jangka panjang relatif permanen dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan, bukan untuk

Lebih terperinci

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION A. Pengertian Sistem Akuntansi Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Aktiva a. Pengertian Aktiva Aktiva/harta adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, yang lebih dikenal dengan istilah asset perusahaan. Jadi, aktiva (asset)

Lebih terperinci

Materi: 11 ASET (ASSETS) (PEROLEHAN, DEPRESIASI & KLASIFIKASI BIAYA ASET)

Materi: 11 ASET (ASSETS) (PEROLEHAN, DEPRESIASI & KLASIFIKASI BIAYA ASET) Materi: 11 ASET (ASSETS) (PEROLEHAN, DEPRESIASI & KLASIFIKASI BIAYA ASET) TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menentukan aset tetap dan akuntansinya 2. Menghitung depresiasi menggunakan metode berikut: metode garis

Lebih terperinci

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN.

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN. ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN (Skripsi) OLEH Nama : Veronica Ratna Damayanti NPM : 0641031138 No Telp :

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS)

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) Dosen : Christian Ramos Kurniawan AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) INTERMEDIATE ACCOUNTING L/O/G/O Referensi : Donald E Kieso, Jerry J Weygandt, Terry D Warfield, Intermediate Accounting Definisi Aktiva

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap PSAK No. 16 (revisi 2007) menjelaskan definisi aset tetap sebagai berikut: Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma),

BAB II LANDASAN TEORI. Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma), BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem informasi Akuntansi Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma), artinya suatu kesatuan komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan

Lebih terperinci

PERLAKUAN AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT. PANCA ABDI NURGAMA PEKANBARU. Oleh : IRA GUSTINA

PERLAKUAN AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT. PANCA ABDI NURGAMA PEKANBARU. Oleh : IRA GUSTINA PERLAKUAN AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT. PANCA ABDI NURGAMA PEKANBARU Oleh : IRA GUSTINA Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Islam Indragiri Tembilahan Email: iragustina85@gmail.com ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu perusahaan selalu berusaha untuk mencapai tujuannya. Untuk menunjang tercapainya tujuan itu, setiap perusahaan mempunyai aktiva tetap tertentu untuk memperlancar

Lebih terperinci

FIXED ASSETS. Click to edit Master subtitle style 4/25/12

FIXED ASSETS. Click to edit Master subtitle style 4/25/12 FIXED ASSETS Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau menyediakan barang dan jasa untuk di sewakan atau untuk keperluan administrasi dan di harapkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu:

BAB II KAJIAN TEORITIS. Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu: BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Analisis Pengertian Analisis Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu: Menurut Kamus Bahasa Indonesia : Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN IV.1 Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan Perlakuan Akuntansi SAK ETAP Setelah mendapatkan gambaran detail mengenai objek penelitian, yaitu PT Aman Investama.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. equipment, machinery, building, and land.

BAB II LANDASAN TEORI. equipment, machinery, building, and land. 9 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap According to the opinion of Carl S. Warren (2011 :415 ) Fixed assets are long-term or relatively permanent assets such as equipment,

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Definisi aset tetap berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2011:16) paragraf 06, adalah Aset tetap adalah aset berwujud yang: (a)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan BAB II TINJAUAN PENELITIAN A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva operasional yang digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan pada umumnya memiliki aset tetap dalam

BAB II LANDASAN TEORI. Setiap perusahaan pada umumnya memiliki aset tetap dalam BAB II LANDASAN TEORI A. Aset tetap 1. Pengertian Aset tetap Setiap perusahaan pada umumnya memiliki aset tetap dalam pengoperasiannya, terlepas apakah perusahaan tersebut adalah perusahaan berskala besar

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap Definisi Aset Tetap

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap Definisi Aset Tetap BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap 2.1.1. Definisi Aset Tetap Aset tetap merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen dan memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, seperti

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement No.4 dalam Smith Skousen (1995:3), pengertian akuntansi adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi Biaya merupakan hal yang penting bagi perusahaan manufaktur dalam mengendalikan suatu biaya

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA

PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA Rizkha Surya Hasanah, Kusni Hidayati, Widya Susanti Prodi Akuntansi, Fakultas

Lebih terperinci

AKUNTANSI PERPAJAKAN. Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud

AKUNTANSI PERPAJAKAN. Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud AKUNTANSI PERPAJAKAN Modul ke: Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud Fakultas EKONOMI Program Studi MAGISTER AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak., CA. HP/WA : 081218888013 Email

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Aset/Aktiva Aset atau aktiva adalah Produk bernilai yang dikuasai atau dimiliki suatu perusahaan, baik berupa harta benda ( properti ), hak atau suatu tuntutan terhadap

Lebih terperinci

BAB II I LANDASAN TEORI

BAB II I LANDASAN TEORI BAB II I LANDASAN TEORI A. Aset Tetap Menurut PSAK No. 16 (2009; 16.2 16.13) 1. Aset Tetap (16.2; 6) Aset tetap merupakan salah satu alat yang penting dan pokok dalam suatu perusahaan. Aset tetap dimiliki

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD

AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA TETAP BERWUJUD A. PENGERTIAN Aktiva tetap berwujud adalah aktivaaktiva yang mempunyai wujud yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Karakteristik utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasional tersebut agar dapat berjalan secara maksimal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Aset Tetap Sebelum membahas mengenai perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, perlu kita ketahui terlebih dahulu beberapa teori mengenai aset tetap.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2009:4) Akuntansi adalah sebuah sistem yang mengidentifikasi, merekam, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi suatu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang akan digunakan untuk membantu menetapkan harga pokok produksi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN A. Kajian Pustaka 1. Aset tetap a. Definisi aset tetap Definisi aset tetap menurut Standar Akuntansi Keuangan No 16 (2011:16.2) adalah aset berwujud yang dimiliki

Lebih terperinci

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. VIII.1 ASET TETAP A. Definisi 01. Aset tetap adalah aset berwujud yang: a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis dan Kebijakan 2.1.1 Pengertian Analisis dan Kebijakan Pengertian analisis menrut Kamus Akuntansi (2000;) Analisis adalah melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO Ayu Lestari, Masthad, Arief Rahman Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi,Universitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan BAB II TINJAUAN PENELITIAN A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva operasional yang digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PT. WIRA DINAMIKA PRATAMA

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PT. WIRA DINAMIKA PRATAMA ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PT. WIRA DINAMIKA PRATAMA Mistika Oktaviani dan Indira Shinta Dewi Program Studi Akuntansi Universitas Satya Negara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Rudianto (2009:4), menjelaskan bahwa Akuntansi dapat

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Rudianto (2009:4), menjelaskan bahwa Akuntansi dapat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Akuntansi Menurut Rudianto (2009:4), menjelaskan bahwa Akuntansi dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem informasi yang menghasilkan informasi keuangan kepada pihak-pihak

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Aktiva Aktiva adalah harta atau kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan dalam kegiatan atau operasi perusahaan yang sewaktu waktu

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Perlakuan Akuntansi Perolehan, Pemeliharaan dan Penyusutan Aktiva Tetap 1. Analisis Perlakuan Akuntansi Perolehan Aktiva Tetap Dalam melakukan perolehan

Lebih terperinci

BAB ASET TETAP. relatif memiliki sifat permanen seperti peralatan, mesin, gedung, dan tanah. Nama lain

BAB ASET TETAP. relatif memiliki sifat permanen seperti peralatan, mesin, gedung, dan tanah. Nama lain BAB ASET TETAP Pengertian dan karakteristik Aset Tetap Aset tetap (fixed asset) adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara relatif memiliki sifat permanen seperti peralatan, mesin, gedung, dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam kedaan siap dipakai atau dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. atau mempertanggungjawabkan. bersangkutan dengan hal-hal yang dikerjakan oleh akuntan dalam

BAB II LANDASAN TEORITIS. atau mempertanggungjawabkan. bersangkutan dengan hal-hal yang dikerjakan oleh akuntan dalam BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Akuntansi Menurut Suwardjono (2013:4), mengatakan: kata akuntansi berasal dari kata bahasa inggris to account yang berarti memperhitungkan atau mempertanggungjawabkan.

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO

ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO Sagita Santiana Dewi, Tri Lestari, Widya Susanti Progam Studi Akuntansi Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. keharusan untuk berhubungan dengan pihak pihak lain yang terkait dengan

BAB II LANDASAN TEORI. keharusan untuk berhubungan dengan pihak pihak lain yang terkait dengan BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Akuntansi Perusahaan adalah sebagai suatu organisasi pencari laba yang memiliki keharusan untuk berhubungan dengan pihak pihak lain yang terkait dengan perusahaan.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam

BAB II LANDASAN TEORITIS. informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam BAB II LANDASAN TEORITIS A. Akuntansi Aset Tetap Berwujud 1. Pengertian Akuntasi Aset Tetap Suwardjono (2005:10) mendefinisikan akuntansi sebagai seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Menurut Munawir (2004) mendefinisikan Akuntansi adalah seni dari pada pencatatan, penggolongan dan peringkasan daripada peristiwa-peristiwa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berbentuk CV Hasjrat Abadi, berdiri pada tanggal 31 Juli 1952 bertempat di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berbentuk CV Hasjrat Abadi, berdiri pada tanggal 31 Juli 1952 bertempat di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan PT Hasjrat Abadi merupakan salah satu perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak dalam bidang perdagangan umum. PT Hasjrat Abadi dahulunya berbentuk

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG Etika Mela Sari Jurusan Akuntansi POLITEK PalComTech Palembang Abstrak

Lebih terperinci