Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya di Era Globalisasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya di Era Globalisasi"

Transkripsi

1 Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya di Era Globalisasi Abstak Oleh: F.X. Supriyono Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya sebagai solusi pemerintah mengentaskan pengangguran yang jumlahnya terus bertambah. Saat ini pemerintah tengah giat-giatnya mempromosikan SMK, bahkan sedang mengubah proporsi jumlah SMA dan SMK dari semula 70 : 30 menjadi 30 : 70. Karena SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dianggap mampu menyiapkan peserta didik yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Sesuai logo SMK BISA dengan ciri khas Siap Kerja, Santun dan Kompetitif di harapkan lulusan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya mampu bersaing di era globalisasi ini. Peran globalisasi terhadap pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia pendidika khususnya pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi yang ap bersang d era globalsas i. Dampak globalisasi terhadap pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non- akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Strategi SMK Program Keahlian Seni Rupa Dan Desain Produksi Kriya Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi mampu melahirkan lulusan yang memiliki perilaku wirausaha, maka perlu dikembangkan Bisnis Centre sebagai media pembelajaran bagi siswa dalam berwirausaha, latihan-latihan ketrampilan lain yang berbasis pada produksi. Kata kunci : Pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dan era globalisasi PENDIDIKAN SMK PROGRAM KEAHLIAN SENI RUPA DAN

2 DESAIN PRODUKSI KRIYA DI ERA GLOBALISASI Oleh: F.X. Supriyono A. PENDAHULUAN Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Hari Sudrajat (2003) mengemukakan bahwa : Muara dari suatu proses pendidikan, apakah itu pendidikan yang bersifat akademik ataupun pendidikan kejuruan adalah dunia kerja, baik sektor formal maupun sektor non formal. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Memasuki abad ke-21, paradigma pembangunan yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan. Paradigma ini menegaskan tiga hal. Pertama, kemajuan ekonomi dalarn banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid. Ketiga, pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang (Alhumami, 2004). Telah banyak sumber dan pakar ekonomi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Berbagai kajian akadernis dan kajian empiris telah membuktikan hal ini. Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas (merniliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi) tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Menjawab kebutuhan pada persaingan global tersebut, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya hadir sebagai kebutuhan pendidikan yang lebih mengacu pada sumber daya manusia yang siap pakai, mempunyai kompetensi yang handal, yang mampu menjawab tantangan global. B. PERASALAHAN Berdasarkan pendahlan tersebutdiatas, maka permasalahan yang dapat di ambil adalah sebagai berikut :

3 1. Bagaimana prospek pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dalam era globalisasi? 2. Bagaimana peran dan dampak globalisasi tehadap pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya? 3. Apa strategi yang digunakan di pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya untuk menjawab tantangan globalisasi? C. PEMBAHASAN 1. Prospek Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya Di Era Globalisasi Era globalisasi beberapa terakhir ini menghadapkan manusia pada keadaan dimana perubahan terjadi secara cepat disegala aspek kehidupan manusia. Kemampuan beradaptasi dan berinovasi untuk mencapai kemandirian merupakan suatu keniscayaan. Sayangnya bangsa Indonesia yang telah lebih dari 67 tahun merdeka masih menjadi penonton di negerinya sendiri. Padahal di era tanpa batas saat ini, kualitas kemandirian manusia akan diuji sebagai perubahan tersebut. Era globalisasi juga berdampak pada persaingan yang semakin kompetitif. Untuk bisa memenangkan persaingan, setiap negara tak terkecuali Indonesia harus memiliki sumber daya yang berkualitas. Saat ini bangsa Indonesia masih terlilit persoalan kemiskinan dan pengangguran. Hal tersebut sangat mempengaruhi daya saing bangsa. Hal tersebut bisa dilihat dari Human Development Index yang semakin menurun. Pada tahun 2011 Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan Singapore. Lebih memprihatinkan lagi, jumlah pengangguran terdidik yang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS pada Februari 2013, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana masing-masing 7,5% dan 6,95%. TPT pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 10,34% dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 9,51%. Banyaknya lulusan terdidik yang menganggur bisa jadi disebabkan kualifikasi yang tidak sesuai akibat rendahnya relevansi kurikulum dengan keahlian yang dibutuhkan terutama untuk pengangguran lulusan SMA. Lulusan SMA di persiapkan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, namun kenyataannya banyak lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan sehingga akhirnya mereka harus menganggur karena tidak dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Selain lulusan SMA, angka pengangguran yang cukup tinggi juga terjadi di level sarjana. Hal tersebut menjadi Pekerjaan Rumah besar untuk kita semua. Nampaknya kita segera berbenah dengan cara menambah dan mensosialisasikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya khususnya kriya kayu sebagai pencetak tenaga ahli dan wirausahawan tangguh dan dan juga mengubah mindset para sarjana untuk menjadi seorang wirausahawan yang mampu melahirkan inovasi- inovasi melalui risetnya sehingga kita menjadi salah satu pemain utama dalam percaturan global. SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya hadir sebagai solusi pemerintah mengentaskan pengangguran yang jumlahnya terus bertambah. Saat ini pemerintah tengah giat-giatnya mempromosikan SMK, bahkan sedang mengubah proporsi jumlah SMA dan SMK dari semula 70 : 30 menjadi 30 : 70. Karena SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dianggap mampu menyiapkan peserta didik

4 yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Joko Sutrisno (2008). Bahkan, hasil sebuah survei menunjukkan bahwa di kota-kota di mana populasi SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya lebih tinggi dari SMA, maka daerah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto yang lebih tinggi. Namun melihat masih banyaknya lulusan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang menganggur kita harus segera membenahi sistem pembelajaran SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya berbasis kompetensi sehingga bisa menghasilkan inovasi dan juga mencetak jiwa kewirausahaan mereka. Sesuai logo SMK BISA dengan ciri khas Siap Kerja, Santun dan Kompetitif di harapkan lulusan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya mampu bersaing di era globalisasi ini. Dengan kurikulum yang di rancang khusus, menyebabkan siswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya tidak hanya mendapatkan pendidikan secara teori saja, namun dibekali keterampilan yang bisa di manfaatkan setelah lulus nanti. Saat ini parasiswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya sudah mulai menunjukkan prestasinya dalam berinovasi. Beberapa hasil inovasi anak SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya adalah: a. Meja Makan Berukir. Sungguh prestasi yang luar biasa dimana siswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya telah mampu mengeluarkan meja makan berukir. Sekolah ini dipimpin oleh Kepala Sekolah yang luar biasa, yang belum lama ini mendapatkan Penghargaan karena prestasinya dalam pendidikan. b. Kotak tempat perhiasan. Salah satu hasil karya anak negeri yang fenomenal adalah kotak tempat perhiasan yang diaplikasikan dengan logam. Hasil karya asli anak negeri ini telah cukup banyak menyita perhatian publik dan pemerintah dan menjadi bahan pembiacaraan dimana-mana. Tentunya masih banyak karya siswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya lainnya di Indonesia yang belum terungkapkan disini. Banyak juga siswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya di tempat lain yang telah mampu berinovasi. Semoga semakin banyaknya inovasi yang lahirkan bisa memacu motivasi siswa-siswa SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya lainnya untuk menunjukkan karya-karya inovatif lainnya dan pemerintah hendaknya bisa lebih mengingkatkan kompetensi mereka dengan banyak menggandeng dunia usaha/industri sehingga bisa mengetahui apa yang mereka butuhkan. Jika hal-hal tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu negara yang mampu bersaing di tengah tantangan zaman di era globalisasi.

5 2. Peran Dan Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya 2.1. Peran globalisasi terhadap pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya Dunia globalisasi yang semakin terasa mau tidak mau telah membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya. Perubahan-perubahan tersebut telah membawa sebuah paradigma baru dalam dunia SMK. Beberapa perubahan yang mendasar dalam paradigma baru pendidikan menengah kejuruan adalah: a. Proses peralihan dari orientasi lama, ke orientasi baru yang sering diistilahkan dari sistem supply driven atas kebutuhan sosial masyarakat, ke sistem demand driven yang dipacu oleh kebutuhan pasar kerja. Selama ini kata- kata, berapa prosen tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang diluluskan, dibalik menjadi berapa prosen tamatan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dapat diserap di dunia usaha dan industri; b. Pendidikan berbasis sekolah (School Based Program), mengacu ke pendidikan berbasis ganda (Dual Based Program); c. Pengajaran berbasis pelajaran (Subject Matter Based Program), menuju pengajaran berbasis kompetensi (Competencies Based); d. Program dasar yang sempit (Narrows Based Program), menuju ke program dasar yang mendasar, kuat, dan lebih luas (Broad Based Curriculum); e. Pendidikan formal yang kaku menuju ke pendidikan yang luwes (Multy Entry and Multy Exit); f. Tidak mengakui keahlian dari luar sekolah, paradigma baru mengakui kompetensi yang diperoleh dari manapun, dan dengan cara apapun (Recognition of Prior Learning); g. Pemisahan yang tegas antara pendidikan dan pelatihan menjadi program diklat; h. Pendidikan bersifat terminal (Dead End), menuju pendidikan berkelanjutan (Bridging Program); i. Manajemen terpusat, menuju pada manajemen mandiri Dampak globalisasi terhadap pendidikan SMK Program Keahlian Seni Rupa dan Desain Produksi Kriya Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non- akademik, dan memperbaiki

6 manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluasluasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poinpoin berikut: a. Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia 1) Pengajaran Interaktif Multimedia. Kemajuan tekonologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti komputer dan internet. Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada computer. Sehingga tulisan, film, suara, musik, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi suatu proses komunikasi. Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat. Levie dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang membaca kembali hasilhasil penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dengan konsep. 2) Perubahan Corak Pendidikan Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis

7 menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan, teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing antar siswa terutama dengan mereka yang berjauhan tempat tinggalnya. 3) Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu Kurikulum dahulu paling utama didasarkan pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum didasarkan pada tingkat kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun 2004 merupakan langkah awal pemerintah dalam mengikutsertakan secara aktif siswa terhadap pelajaran di kelas yang kemudian disusul dengan KTSP yang didasarkan pada tingkat satuan pendidikan dan yang sekarang kurikulum Di dalam kelas, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang memegang otoritas kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendngarkan dan mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui presentasi. Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu menemukan konsep- konsep, dan fakta sendiri. b. Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia 1) Komersialisasi Pendidikan Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya Masa Depan Sempurna bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya ialah semangat menguji murid ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind dalam karya Dickens. Perusahaan-perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka memberikan hasil, bukan hanya bagi murid, tapi juga pemegang saham (John Micklethwait, 2007:166). 2) Bahaya Dunia Maya Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dap at memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Contohnya, tahun lalu diberitakan salah seorang siswi SMK pergi meninggalkan sekolah demi menemui

8 seorang lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan facebook. Hal ini sangat berbahaya pada proses belajar mengajar. 3) Ketergantungan Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut. 3. Strategi SMK Program Keahlian Seni Rupa Dan Desain Produksi Kriya Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi Siap kerja atau tidak tentunya tidak lepas dari strategi ataupun managemen pendidikan yang di terapkan di suatu SMK terkait. Beberapa analisis mengenai managemen pendidikan terkait dengan program yang akhirnya menghasilkan input mutu lulusan yang kompeten yang mampu bersaing di tengah arus globalisasi. Semua itu tidak lepas dari profesionalisme dari berbagai elemen di dalam lingkungan pendidikan, termasuk guru, staff, dan system yang berjalan dalam kancah arena pendidikan tersebut. Beberapa program dikembangkan itu dapat dipaparkan pelaksanaannya sebagai berikut: a. Melakukan kerjasama dengan industri-industri yang sesuai dengan kompetensi sekolah. Di dalam meningkatkan mutu lulusan, maka dilakukan usaha untuk menjalin hubungan kerjasama dengan industri-industri yang terkait. Hal ini dilakukan untuk memacu motivasi siswa dalam meraih ambisi dan prestasinya untuk siap terjun di dunia kerja. Dalam hal ini kepala sekolah melakukan managemen untuk mewujudkan hal ini. Dengan di bantu staf-staf terkait,misal membentuk staf khusus untuk menangani hal ini,yaitu staf yang berfungsi untuk mengkoordinasi dengan industri-industri untuk melancarkan hubungan kerja sama ini. Untuk mensukseskan kerjasama ini maka sekolah mengadakan evaluasi tentang standard sekolah tersebut. Penentu keberhasilan tidak terbatas pada apa yang terjadi di lingkungan sekolah. Standar keberhasilan di luar sekolah berkaitan dengan pekerjaan atau kemampuan kerja yang biasanya dilakukan oleh dunia usaha atau dunia industri. Menurut Starr (1975), bahwa : Walaupun standar keberhasilan beragam antar sekolah dan antar Negara, tetapi keberhasilan tersebut seringkali mengambil bentuk kepuasan pegawai dengan keahlian lulusan, suatu persentase tinggi lulusan yang mendapatkan pekerjaan di bidang persiapan atau dalam bidang yang berhubungan, kepuasan kerja lulusan, kemajuan yang dialami lulusan. Langkah-langkah yang dapat di ambil untuk memudahkan kerjasama industri ini adalah faktor meningkatkan mutu sekolah untuk menjalin kepercayaan dengan pihak industri sehingga sekolah akan dapat memberikan komitmen kepada industri atas lulusannya, sehingga kepercayaan industri terhadap lulusan akan tinggi. Langkah-langkah yang dapat dilaknsanakan diantaranya :

9 1) Meningkatkan managemen sekolah tentang pelaksanaan praktek industri (magang) Sekolah. 2) Menjalin hubungan yang lebih erat dengan dunia usaha. saling menguntungkan. 3) Melaksanakan komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja. Memanagemen pengeluaran rutin sebagai biaya pendidikan pada pendidikan kejuruan yang menunjang kegiatan pembelajaran, mencakup biaya listrik, air, pemeliharaan dan penggantian peralatan, biaya transportasi ke lokasi/industri (tempat praktek kerja/magang) yang jauh dari sekolah. Di samping itu, peralatan harus diperbaharui secara periodik juga guru berharap untuk memberikan pengalaman belajar yang sebenarnya bagi peserta didik sebagaimana layaknya di industri, maka ini bisa menjadi mahal. Yang terakhir yang juga harus menjadi perhatian adalah pembelian bahan habis sebagai bahan praktikum yang digunakan secara rutin sesuai dengan program keahlian yang dikembangkan pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya. b. Meningkatkan sarana dan prasarana sekolah. Kurikulum pendidikan kejuruan dalam implementasi kegiatan pembelajaran perlu didukung oleh fasilitas beajar yang memadai, karena untuk mewujudkan situasi belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif, diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik. Bengkel kerja dan laboratorium adalah kelengkapan utama dalam sekolah kejuruan yang harus ada sebagai fasilitas bagi peserta didik di dalam mengembangkan kemampuan kerja sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri. Hal ini sangat crusial dan penting dilakukan untuk dilakukan karena sarana dan prasarana sekolah adalah hal yang sangat pokok dalam penciptaan kesuksesan belajar mengajar di sekolah. Pengadaan alat-alat praktek serta laboratorium praktek yang dapat menunjang pengaplikasian teori ke dalam dunia realita adalah sangan mutlak dilakukan dalam pembelajaran kejuruan di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya, sehingga output lulusan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya tidak hanya mengetahui dan memahami akan suatu teori belaka, tetapi dapat lebih interaktif mengimplementasikan teori-teori yang didapat dalam hubungannya dengan dunia kerja dan dunia nyata yang secara harfiah SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya menciptakan lulusan yang trampil dan siap kerja. Untuk melakukan dan mewujudkan hal ini, maka di adakan suatu audit kontrol managemen, baik keuangan maupun managemen staff yang baik. Dengan di bantu staff ataupun guru-guru, dilakukan evaluasi atau observasi, adakah kekurangan sarana dan prasarana yang ada di sekolah tersebut. Hasil observasi ini di data dan dirapatkan, kemudian dengan menimbang audit keuangan sekolah tersebut maka dapat di rancang suatu program kelengkapan/pembelian alat-alat sekolah secara terencana sesuai

10 dengan kemampuan keuangan sekolah tersebut. Hal lain yang bisa dilakukan adalah membuat suatu tim untuk mengajukan proposal kepada pemerintah agar pemerintah bisa ikut andil dalam membantu perwujudan kelengkapan sarana dan prasarana sekolah ini. Tentu hal ini dilakukan dalam suatu team managemen yang baik, dan diawasi pelaksanaannya oleh semua pihak yang terkait. c. Mengadakan pengelolaan pendidikan yang baik. Pengelolaan pendidikan adalah mutlak dilakukan secara baik untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, income yang berbeda-beda jika di lakukan proses pengelolaan yang baik maka akan menghasilkan output yang baik dan relatif sama, dalam artian misi dan kemampuannya akan sama jika digodog dengan proses pendidikan yang pengelolaannya baik. Untuk mewujudkan hal ini, maka di adakan suatu kerjasama dengan pihak-pihak terkait, di antaranya pihak guru dalam mengelola pendidikan di dalam kelas, pihak staf-staf dalam usahanya membangun suatu managemen di luar kegiatan Proses pembelajaran dan pihak external lainnya dalam managemen yang bergerak di bidang kerjasama dan pengelolaan. Dengan di bantu suatu managemen dan pengawasan yang baik maka di lakukan suatu keseragaman visi dan misi dari SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang dikelola, keseragaman pola pengelolaan yang akan di terapkan dalam SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang akan dikelola tersebut. Hal yang bisa dilakukan adalah di antaranya : 1) Perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven. Dengan demand driven ini mengharapkan dunia usaha dan dunia industri atau dunia kerja lebih berperan di dalam menentukan, mendorong dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja. Dalam pelaksanaannya, dunia kerja ikut berperan serta karena proses pendidikan itu sendiri lebih dominan dalam menentukan kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun dunia kerja ikut menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan ukuran dunia kerja. Sebagai salah satu bentuk penerapan prinsip demand driven, maka dalam pengembangan kurikulum SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya harus melakukan sinkronisasi kurikulum yang direalisasikan dalam program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dengan melakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan pembelajaran di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya diupayakan sedekat mungkin dengan kebutuhan dan kondisi dunia kerja/industri, serta memiliki relevansi dan fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Melalui sinkronisasi kurikulum ini, diharapkan sekolah dapat membaca keahlian dan performansi apa yang dibutuhkan dunia usaha atau

11 industri untuk dapat dimasuki oleh lulusan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya. 2) Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda (Dual Based Program). Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah, ke pendidikan berbasis ganda sesuai dengan kebijakan link and match, mengharapkan supaya program pendidikan kejuruan itu dilaksanakan di dua tempat. Sebagian program pendidikan dilaksanakan di sekolah, yaitu teori dan praktek dasar kejuruan, dan sebagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keterampilan produktif yang diperoleh melalui prinsip learning by doing. Pendidikan yang dilakukan melalui proses bekerja di dunia kerja akan memberikan pengetahuan keterampilan dan nilainilai dunia kerja yang tidak mungkin atau sulit didapat di sekolah, antara lain pembentukan wawasan mutu, wawasan keunggulan, wawasan pasar, wawasan nilai tambah, dan pembentukan etos kerja. 3) Perubahan dari model pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran berbasis kompetensi. Perubahan ke model pengajaran ke berbasis kompetensi, bermaksud menuntun proses pengajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi ini sekaligus memerlukan perubahan kemasan kurikulum kejuruan ke dalam kemasan berbentuk paket-paket kompetensi. 4) Perubahan dari program dasar yang sempit (Narrow Based) ke program dasar yang mendasar, kuat dan luas (Broad Based). Kebijakan link and match menuntut adanya pembaharuan, mengarah kepada pembentukan dasar yang mendasar, kuat dan lebih luas. Sistem baru yang berwawasan sumberdaya manusia, berwawasan mutu dan keunggulan menganut prinsip, bahwa : tidak mungkin membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas dan yang memiliki keunggulan, kalau tidak diawali dengan pembentukan dasar yang kuat. Dalam rangka penguatan dasar ini, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar yang berfungsi untuk membentuk keunggulan, sekaligus beradaptasi terhadap perkembangan IPTEK, dengan memperkuat penguasaan matematika, IPA, Bahasa Inggris dan Komputer. Sistem baru ini harus memberi dasar yang lebih luas tetapi kuat dan mendasar, yang memungkinkan seseorang tamatan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap kemungkinan perubahan pekerjaan. 5) Perubahan dari sistem pendidikan formal yang kaku, ke sistem yang luwes dan menganut prinsip multy entry, multy exit. Dengan adanya perubahan dari supply driven ke demand driven, dari schools based program ke dual based program, dari model pengajaran mata pelajaran ke program berbasis kompetensi; diperlukan adanya keluwesan yang memungkinkan pelaksanaan praktek kerja industri

12 dan pelaksanaan prinsip multy entry multy exit. Prinsip ini memungkinkan peserta didik SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang telah memiliki sejumlah satuan kemampuan tertentu (karena program pengajarannya berbasis kompetensi), mendapatkan kesempatan kerja di dunia kerja, maka peserta didik tersebut dimungkinkan meninggalkan sekolah. Dan kalau peserta didik tersebut ingin masuk sekolah kembali menyelesaikan program SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya nya, maka sekolah harus membuka diri menerimanya, dan bahkan menghargai dan mengakui keahlian yang diperoleh peserta didik yang bersangkutan dari pengalaman kerjanya. Di samping itu, sistem program berbasis ganda juga memerlukan pengaturan praktek kerja di industri sesuai dengan aturan kerja yang berlaku di industri yang tidak sama dengan aturan kalender belajar di sekolah. 6) Perubahan dari sistem yang tidak mengakui keahlian yang telah diperoleh sebelumnya,ke sistem yang mengakui keahlian yang diperoleh dari mana dan dengan cara apapun kompetensi itu diperoleh (Recognition of prior learning). Sistem baru pendidikan kejuruan harus mampu memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Sistem ini akan memotivasi banyak orang yang sudah memiliki kompetensi tertentu, misalnya dari pengalaman kerja, berusaha mendapatkan pengakuan sebagai bekal untuk pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Untuk ini SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya perlu menyiapkan diri sehingga memiliki instrument dan kemampuan menguji kompetensi seseorang darimana dan dengan cara apapun kompetensi itu didapatkan. 7) Perubahan dari pemisahan antara pendidikan dengan pelatihan kejuruan, ke sistem baru yang mengintegrasikan pendidikan dan pelatihan kejuruan secara terpadu. Program baru pendidikan yang mengemas pendidikannya dalam bentuk paket-paket kompetensi kejuruan, akan memudahkan pengakuan dan penghargaan terhadap program pelatihan kejuruan dan program pendidikan kejuruan. Sistem baru ini memerlukan standarisasi kompetensi, dan kompetensi yang terstandar itu bisa dicapai melalui program pendidikan, program pelatihan atau bahkan dengan pengalaman kerja yang ditunjang dengan inisiatif belajar sendiri. 8) Perubahan dari sistem terminal ke sistem berkelanjutan. Sistem baru tetap mengharapkan dan mengutamakan tamatan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya langsung bekerja, agar segera menjadi tenaga produktif, dapat memberi return atas investasi SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya. Sistem baru juga mengakui banyak tamatan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang potensial dan potensi keahlian

13 kejuruannya akan lebih berkembang lagi setelah bekerja. Terhadap mereka ini diberi peluang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalnya program Diploma), melalui suatu proses artikulasi yang mengakui dan menghargai kompetensi yang diperoleh dari SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dan dari pengalaman kerja sebelumnya. Untuk mendapatkan sistem artikulasi yang efisien diperlukan program antara (bridging program) guna memantapkan kemampuan dasar tamatan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang sudah berpengalaman kerja, supaya siap melanjutkan ke program pendidikan yang lebih tinggi. 9) Perubahan dari manajemen terpusat ke pola manajemen mandiri (prinsip desentralisasi). Pola baru manajemen mandiri dimaksudkan memberi peluang kepada propinsi dan bahkan sekolah untuk menentukan kebijakan operasional, asal tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Kebijakan nasioanl dibatasi pada hal-hal yang bersifat strategis, supaya memberi peluang bagi para pelaksana di lapangan berimprovisasi dan melakukan inovasi. Proses pendewasaan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya perlu ditekankan, untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekolah melakukan apa yang baik menurut sekolah, dengan prinsip akuntabilitas (accountability) yang secara taat azas memberikan penghargaan kepada mereka yang pantas dihargai, dan menindak mereka yang pantas ditindak. 10) Perubahan dari ketergantungan sepenuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, ke swadana dengan subsidi pemerintah pusat. Sejalan dengan prinsip demand driven, dual based program, pendewasaan manajemen sekolah, dan pengembangan unit produksi sekolah, sistem baru diharapkan dapat mendorong pertumbuhan swadana pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya, dan posisi lokasi dana dari pemerintah pusat bersifat membantu atau subsidi. Sistem ini juga diharapkan mampu mendorong SMK berpikir dan berperilaku ekonomis. Semua pengelolaan yang di paparkan dalam berbagai perubahan secara terpadu terrsebut dapat dilaksanakan dengan baik jika di koordinir dengan managemen staff yang baik, kesatuan misi, dan kontrol yang baik pula, di perlukan usaha keras untuk bisa mewujudkan pola-pola pengelolaan baik dalam hal pembelajaran maupun non pembelajaran, sehingga dalam jangka waktu tertentu dapat di evaluasi hasilnya demi terwujudnya lulusan yang kompetitif dan mempunyai kemampuan baik di dunia masyarakat maupun di dunia kerja. d. Menekankan pembelajaran berbasis IPTEK pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang dikelola.

14 Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan umum. Perbedaan tersebut dapat dikaji dari kriteria pendidikan, substansi pelajaran dan lulusannya. Pendidikan kejuruan seyogianya memiliki kriteria sebagai berikut : Orientasi pada kinerja individu dunia kerja Jastifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan Fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotor, afektif dan kognitif Tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah Kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja Memerlukan saana dan prasarana yang memadai Adanya dukungan masyarakat e. Menerapkan asas belajar tuntas pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang dikelola. Model pembelajaran yang dapat dikembangkan di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya dapat dipilih dari rumpun yang berhubungan dengan perilaku (behavioral), karena di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya pada intinya mendasarkan pada teori pembelajaran behaviorism. Teori ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, yang menjadi prinsip dalam pembelajaran keahlian di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya. Model mengajar dari rumpun sistem tingkah laku (the behavioral systems family of models, Joyce : 2000) yang dapat diterapkan di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya diantaranya adalah belajar tuntas. Belajar tuntas merupakan suatu kerangka dalam merencanakan pembelajaran yang berurutan, dirumuskan oleh John B. Carroll (1971) dan Benyamin Bloom (1971). Belajar tuntas disajikan secara ringkas dan menarik untuk meningkatkan pencapaian hasil belajar (kinerja) peserta didik. Secara tradisional, kecerdasan dianggap sebagai karakter yang berhubungan dengan hasil belajar peserta didik. Carroll memandang kecerdasan sebagai sejumlah waktu yang digunakan seseorang untuk belajar dibanding kapasitasnya untuk menguasai bahan ajar. Dalam pandangan Carroll, peserta didik yang mempunyai penguasaan bahan ajar dibanding dengan peserta didik yang mempunyai kecerdasan lebih tinggi. Oleh karena itu, dilakukan usaha untuk mewujudkan pola belajar tuntas ini di SMK yang akan dikelola. Peran guru, staff, dan elemen pendidikan yang lain sangat penting dalam menjlai kerjasama untuk mewujudkan suatu managemen yang bertujuan untuk membangun pola belajar tuntas pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang akan saya kelola. Dalam upaya penerapan model belajar tuntas pada pembelajaran keahlian di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya, dapat digunakan berbagai pendekatan sebagai berikut :

15 1) Pelatihan Berbasis Kompetensi (Competency Based Training). Pelatihan berbasis kompetensi merupakan proses pengajaran yang perencanaan, pelaksanaan dan penilaiannya mengacu kepada penguasaan kompetensi peserta didik. Tujuan dari pendekatan ini adalah agar kegiatan yang dilakukan dalam proses pengajaran benar- benar mengacu dan mengarahkan peserta didik untuk mencapai penguasaan kompetensi yang telah diprogramkan bersama antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri. Dengan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi ini, pembelajaran pada intinya berisi seperangkat kompetensi yang perlu dimiliki peserta didik melalui proses kegiatan pembelajaran yang memiliki ciri sebagai berikut : a) Kegiatan pembelajaran adalah penguasaan kompetensi oleh peserta didik b) Proses pembelajaran harus memiliki kesepadanan dengan kondisi dimana kompetensi tersebut akan digunakan c) Aktivitas pembelajaran bersifat perseorangan (individualized instruction), antara satu peserta didik dengan peserta didik lainnya tidak ada ketergantungan d) Di program pengayaan (enrichment) bagi peserta didik yang lebih cepat dan program perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang lebih lamban. Strategi pembelajaran ini menekankan penguasaan kompetensi sesuai standar yang ditentukan, melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara terstruktur serta berfokus pada peserta didik (learner focused) melalui penyelesaian tugas/kompetensi (task focused) secara bertahap. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pembelajaran dengan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) Kurikulum harus dikembangkan mengacu kepada standar kompetensi yang ditetapkan oleh industri/asosiasi profesi, dan memuat isi yang menunjang pencapaian kompetensi b) Modul/bahan ajar harus dikembangkan berdasarkan kurikulum dan standar kompetensi, serta mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti program sesuai dengan tingkat kecepatan yang dimilikinya c) Guru atau instruktur harus memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya d) Peserta didik, telah memiliki pengetahuan dasar yang memadai e) Kegiatan diklat diorganisasi secara tepat agar dapat dilaksanakan secara fleksibel dan memberikan perlakuan secara adil kepada peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya f) Fasilitas harus memadai untuk seluruh peserta didik, baik dari sisi jenis, jumlah dan kualitas

16 g) Manajemen institusi perlu dikembangkan sesuai dengan semangat pembaharuan h) Biaya operasional diklat, memadai sesuai kebutuhan operasional dalam pencaaian kompetensi peserta didik 2) Pelatihan Berbasis Produksi (Production Based Training) Pelatihan berbasis produksi adalah proses pembelajaran keahlian atau keterampilan dirancang berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Tujuan dari pelatihan berbasis produksi adalah : Membekali peserta dengan kompetensi yang sepadan dengan tuntutan dunia kerja, sekaligus menghasilkan produk/jasa yang laku dijual. Menanamkan pengalaman produktif dan mengembangkan sikap wirausaha, melalui pengalaman langsung memproduksi barang atau jasa yang berorientasi pasar (konsumen) Dengan kriteria pembelajaran tersebut di atas, pada dasarnya desain yang lebih memungkinkan adalah mengintegrasikan pelaksanaan pelatihan berbasis produksi dengan penyelenggaraan unit produksi sekolah. Kondisi ini sejalan dengan tujuan penyelenggaraan unit produksi, yaitu : a) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan praktik yang berorientasi pasar b) Mendorong peserta didik dan guru dalam pengembangan wawasan ekonomi dan kewirausahaan c) Memperoleh tambahan dana untuk membantu mengatasi kekurangan biaya operasional sekolah, terutama digunakan untuk perawatan dan perbaikan fasilitas d) Meningkatkan pendayagunaan sumber daya pendidikan yang ada di sekolah e) Meningkatkan kreativitas peserta didik dan guru f) Dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, terutama menyangkut keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan pesanan masyarakat, sehingga diharapkan dapat lebih cepat menyesuaikan diri terhadap dunia kerja. 3) Pelatihan berbasis industri (Pembelajaran di dunia kerja) Pembelajaran di dunia kerja adalah suatu strategi dimana setiap peserta mengalami proses belajar melalui bekerja langsung (learning by doing) pada pekerjaan yang sesungguhnya. Pelaksanaannya dinamakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG)/Praktek Industri sesuai dengan bidang keahlian yang dikembangkan. PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di

17 sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Dalam pelaksanaan PSG, kedua belah pihak secara sungguh-sungguh terlibat dan bertanggung jawab mulai dari tahap peencanaan program, tahap penyelenggaraan, sampai pada tahap penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik, serta upaya pemasaran tamatannya. Mengingat iklim kerja yang ada di sekolah berbeda dengan yang terjadi di dunia kerja, maka sekolah harus benar- benar menyiapkan peserta sesuai dengan karakteristik dan tuntutan dunia kerja tempat berlatih. Bukan hanya menyangkut dasar-dasar kompetensi, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik, mental, wawasan dan orientasi kerja yang benar. Pelatihan berbasis industri pada dasarnya memiliki nilai kebermaknaan lebih tinggi, terutama dalam memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik. Pelatihan berbasis industri ini dapat memberikan pengalaman belajar dan bekerja bagi peserta didik sesuai dengan dunia nyata pada dunia kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki, sehingga lulusan pendidikan kejuruan mampu bersaing untuk bekerja pada dunia usaha atau industri sesuai dengan bidang keahlian yang dikuasainya. f. Pembelajaran akhlak, keimanan,nasionalisme dan kedisiplinan. Kompetensi yang akan di tembak sasarannya pada pengelolaan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yaitu terwujudnya lulusan yang berkompeten di dunia kerja akan tidak ada gunanya jika tidak di bekali dengan akhlak dan keimana yang kuat. Oleh karena itu ujung akhir dalam pengelolaan pendidikan pada SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya yang akan saya kelola akan saya acukan kepada pembentukan moral yang beriman dan berakhlak, hal ini bisa dilakukan dengan penambahan mata pelajaran agama serta mata pelajaran akhlak yang dicontohkan melalui pembelajaran dan teladan-teladan para guru dan elemen terkait. Di samping hal itu pendidikan kewarganegaraan yang mengacu pada rasa nasionalisme dan pengajaran kedisiplinan juga penting dilakukan. Dengan memperketat kedisiplinan di sekolah yang akan saya kelola dengan menjalin suatu managemen yang merangkul semua elemen termasuk pembuatan kebijakan yang mengacu pada kedisiplinan sekolah, yang tidak lepas dari kerjasama dengan pihak konseling ( BP ) akan diterapkan untuk mewujudkan hal itu. Perencanaan, pelaksanana, pengontrolan dan evaluasi dari berbagai pihak tentang mewujudkan poin ini tentu akan sangat membantu menerapkan jiwa disiplin, jiwa nasionalis, dan jiwa manusia yang beralhlak untuk terwujudnya lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang IPTEK dan dunia kerja, tetapi juga menciptakan lulusan yang berkualitas, berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. g. Pengenalan Dunia Kewirausahaan

18 Suatu negara bisa makmur jika dinegara tersebut memiliki sedikitnya 2% wirausahawan dari total populasi. Sayangnya saat ini Indonesia baru memiliki sekitar wirausahawan atau sekitar 0,24% dari total penduduk Indonesia. Jauh dari kondisi ideal, yaitu baru sepersepuluhnya. Sedangkan negara tetangga terdekat, Malaysia jumlah wirausahanya sebanyak 5% dan Singapura sebanyak 7%. Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha. Indonesia memiliki sekitar 10% wirausahawan potensial namun karena tidak pernah dididik, dilatih dan diberi kesempatan mereka tidak berhasil menjadi wirausahawan. Pada lingkup pendidikan kewirausahaan di sekolah yang paling penting adalah pemberian motivasi dengan kehidupan nyata melalui pemberian pengalaman langsung menjadi seorang wirausaha. Dari sini diharapkan timbul perilaku antusias yang besar dalam diri tiap peserta didik untuk mengikuti pendidikan kewirausahaan yang mereka tidak pernah kenal sebelumnya dan seakan-akan menjadi seorang pengusaha itu merupakan sesuatu yang sulit. Kewirauasaan di sekolah bertujuan agar siswa mampu membuka usaha mandiri yang lebih kreatif dan inovatif. Agar proses pembelajaran di sekolah terutama di SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya mampu melahirkan lulusan yang memiliki perilaku wirausaha, maka perlu dikembangkan Bisnis Centre sebagai media pembelajaran bagi siswa dalam berwirausaha, latihan-latihan ketrampilan lain yang berbasis pada produksi D. KESIMPULAN DAN SARAN Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Dunia globalisasi telah melahirkan persaingan tanpa batas antar negara di dunia. Hal ini membuat kesenjangan akan semakin tercipta tatkala suatu negara tidak bisa menyikapi globalisasi secara bijaksana. SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya hadir di tengah globalisasi sebagai wujud persaingan negara Indonesia di bidang SDM. Dengan SDM yang cakap pada bidangnnya di harapkan Indonesia mampu menempatkan dirinya menjadi salah satu negara yang di perhitungkan dunia. Meskipun banyak menuai dampak baik itu positif ataupun negativ akibat globalisasi, pendidikan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya harus terus di kembangkan agar mampu dan sesuai dengan tantangan global. Dengan berbagai macam strategi di harapkan SMK program keahlian seni rupa dan desain produksi kriya mampu berbicara banyak pada kancah internasional. E. Daftar Pustaka Asri B Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta. Munir Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI. Surya, M Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan Universitas Terbuka. Suryabrata, S Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.

19 Januar, I Globalisasi pendidikan di indonesia Wardoyo, C Urgensi Pendidikan Moral Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Sinar Grafika, Jakarta, E Mulyasa. Menjadi guru professional. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, Depdiknas, Panduan KTSP. Jakarta, Firestone, W.A. Why Professionalizing Teaching Is Not Enough, No. 6 March. Tilaar, H.A.R. Manajemen Pendidikan nasional, Kajian Pendidikan masa depan. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.

20 . Biodata N a m a : Drs.FX.Supriyono, M.Ds Tempat, Tanggal Lahir : Lubuk Linggau, 13 Desember 1965 N I P : Pangkat / Gol / Ruang : Pembina, IV /a Jabatan : Widyaiswara Madya Instansi Alamat Kantor : PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta : Jln Kaliurang Km.12,5, klidon Sleman Yoyakarta Alamat Rumah : Senowo RT 19 Argorejo, Sedayu, Bantul No HP / Telp : E- mail : Face Book : Supriyono Goet

21