BAB II LANDASAN TEORI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Distribusi Distribusi (distribution) termasuk terminologi dalam ilmu ekonomi dan dalam kalangan perindustrian. Menurut Frank H. Woodward (2002) dijelaskan Industry, distribution has been accepted as: The Performance all business activities involved in moving the goods from the point of proceessing or manufacture to the point sale to the customer and would include : Warehousing Inventory control of finished goods Material handling and packaging Documentation and dispatch Traffic and Transportation After sales services to custumers. Bila dilihat pengertian tersebut di atas kegiatan transportasi merupakan bagian dari pengertian distribusi. Rangkaian kegiatan yang dimulai dari produsen sampai kepada konsumen lazim disebut rantai transpotasi (chain of transportation). Tiap sektor kegiatan disebut mata rantai (link) yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Kelancaran dan kecepatan arus transportasi ditentukkan oleh mata rantai yang terlemah dari dari rangkaian kegiatan transportasi tersebut, sampai pada mata rantai yang terkuat. 2.2 Pengertian Transportasi Transportasi merupakan salah satu komponen yang saangat penting dalam sistem manajemen logistik. Peningkatan efisiensi dari sistem transportasi dapat dilakukan dengan memaksimalkan utilitas dari alat transportasi yang ada. Untuk mengurangi biaya transportasi dan juga untuk meningkatkan pelayanan dalam customer, perlu dicari jalur atau rute transportasi terbaik yang dapat meminimalkan jarak dan waktu. Permasalahan yang bertujuan untuk membuat suatu rute yang optimal, untuk sekelompok kendaraan agar dapat melayani sejumlah konsumen disebut sebagai permasalahan Vehicle Routing Problem (VRP). 6

2 Secara umum VRP dapat digambarkan sebagai permasalahan dalam mendesain rute dari satu depot ke sekumpulan titik yang tersebar dengan biaya termurah. Rute tersebut harus dibuat sedemikian rupa, sehingga setiap titik dikunjungi oleh tepat satu kendaraan, semua rute berawal dan berakhir pada satu depot, dan total demand dari semua titik dalam sebuah rute tidak boleh melebihi kapasitas kendaraan. 2.3 Penentuan Armada Rute merupakan urutan dari lokasi-lokasi permintaan yang harus dikunjungi, sedangkan jadwal menjelaskan waktu dilaksanakannya kegiatan pada lokasi-lokasi permintaan.beberapa variasi pembentukan rute dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe dasar antara lain: 1) Node asal dan node tujuan terpisah dan tunggal Tujuan tipe ini adalah memilih rute yang harus dilalui oleh kendaraan dari satu node asal ke satu node tujuan melalui suatu jaringan yang meminimumkan jarak atau waktu tempuh. Metode yang paling cepat dan sederhana adalah metode rute terpendek (shourtes Route Method). Pendekatan dari metode ini, digambarkan sebagai jaringan yang terdiri dari node dan link, di mana node dapat mewakili kota, distributor, dan lain-lain. Sedangkan link adalah garis yang menghubungkan antara node dan dapat mewakili waktu tempuh, biaya atau jarak anatara node satu dengan node lainnya. 2) Node asal dan node tujuan ganda Jika ada sejumlah node asal yang melayani beberapa node tujuan, maka akan muncul masalah penugasan yang dapat digunakan untuk menentukan rute terbaik. Masalah ini terjadi jika terdapat lebih dari satu supplier, pabrik atau gudang untuk melayani lebih dari satu pelanggan. Masalah akan lebih rumit jika node sumber dibatasi dalam jumlah permintaan pelanggan yang dapat disupplai dari masing-masing lokasi. Permasalahn tersebut biasanya menggunakan metode transportasi (transportation method) 3) Node asal dan node tujuan sama Rute ini biasa digunakan jika kendaraan untuk transportasi adalah milik sendiri, dimana dalam mengirimkan sebuah kendaraan untuk beberapa kali pengiriman atau penjemputan yang akhirnya harus kembali ke tempat asal sebagai tujuan akhir. Masalah rute kendaraan dengan node asal dan node tujuan sama dikenal dengan masalah rute salesman (travelling salesman problem). 7

3 Masalah rute kendaraan VRP (Vehicle Routing Problem) merupakan bagian dari masalah rute Salesmen TSP (Traveling Salesmen Problem) yaitu dengan merencanakan rute yang baik sehingga komponen-komponen seperti jarak tempuh, waktu pengiriman, penjadwalan kendaraan dan sebagainya yang mempengaruhi system distribusi dapat dioptimalkan. 2.4 Metode Penentuan Armada Metode Heuristik merupakan merupakan salah satu metode penentuan solusi optimal dari permasalahn optimasi kombinasi. Berbeda dengan solusi eksak yang menentukan nilai solusi secara tepat, metode ini menghampiri solusi permasalahan utama dengan cara mencari nilai optimal suatu bagian tertentu atau irisan dari masalah utamanya. Dalam hal ini, perolehan fisible solution secara tepat dari segi komputasi lebih ditekankan meskipun tidak dijamin solusi tersebut optimal. Menurut Laporte dan Semet (2002), metode heuristik untuk menyelesaikan VRP dapat digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu metode heuristik konstruktif, metode dua fase, dan metode perbaikan. Pada umumnya metode heuristik konstruktif dan metode perbaikan dilakukan secara bersamaan Metode Konstruktif Metode konstruktif secara bertahap memilih simpul atau sisi untuk membangun suatu solusi atau rute fisible awal denga nmemperhatikan batasan-batasan sepeti kapasitas. a. Metode Saving Savings Heuristic adalah prosedur pengulangan yang pada awalnya menghasilkan rute yang jelas dimana masing masing melayani satu pelanggan. Pada Model VRP akan dilakukan clustering bagi kantor cabang atau DC (delivery center) yang ada dibandung yang akan dilalui oleh sejumlah k kendaraan yang dilakukan secara serentak.dengan kata lain dalam model VRP dipertimbangkan sejumlah k kendaraan yang akan melakukan tour secara serentak. Dalam VRP, terdapat heuristik yang biasanya digunakan untuk memecahkan permasalahan pendistribusian. Salah satunya adalah Savings Heuristic sehingga dapat dilakukan penghematan dari rute pendistibusian yang ada. 8

4 Metode yang sebaiknya digunakan dalam memecahkan masalah pendistribusian dengan jumlah armada kendaraan lebih dari 1 adalah Savings Heuristic. Savings Heuristic atau disebut juga sebagai Clarke and Wright Algorithm, dalam penerapannya terdapat dua model yang berbeda. Pertama, dapat digunakan untuk jumlah armada kendaraan dengan kapasitas angkut yang berbeda untuk tiap tiap kendaraan. Kedua, digunakan untuk kendaraan dengan kapasitas sekali angkut yang dapat memenuhi setiap permintaan. Pemakaian metode ini bertujuan untuk minimasi jarak kendaraan yang ditempuh, sehingga biaya transportasi yang dikeluarkan menjadi optimal. Savings Heuristic dapat diaplikasikan dalam memecahkan permasalahan diatas karena banyaknya jumlah armada kendaraan yang digunakan dalam pendistribusian, adanya demand dari setiap node, dan adanya pembatas jarak dari node satu ke node lainnya. Suatu depot memiliki daftar permintaan dari retailer, nama, alamat dan jumlah permintaan. Depot yang memiliki K buah truk dengan kapasitas angkut yang sama. Permasalahannya adalah bagaimana pemilihan rute yang harus dipilih untuk meminimasi waktu atau jarak perjalanan. Clarke Wright Algorithm digunakan untuk penetuan rute yang harus ditempuh dengan memperhatikan kapasitas angkut tiap truk. Kita mengasumsikan bahwa setiap truk memiliki kapasitas tetap sebesar Г k lalu d(j) melambangkan pada node j dan a(i,j) merupakan waktu, jaak atau ongkos yang berkaitan dengan perjalanan dari no i ke node j. Kita juga mengasumsikan bahwa semua truk memiliki perjalanan dari depot yang disimbolkan dari angka 0. Prosedur Clarke dimulai dengan solusi awal yaitu setiap retailer dilayani secara individu dari depot 9

5 Gambar 2.1 Solusi Awal untuk Clarke Wright Solusi awal ini tidak efisien karena truk harus kembali ke depot setelah melayani setiap retailer. Alternatif lain yang harus dipilih adalah untuk mengkombinasikan rute agar perjalanan balik ke depot yang tidak perlu dilakukan dapat dihilangkan. Anggap dari retailer i dan j dapat dikombinasikan dalam satu rute seperti yang ditujukan dalam gambar 2.1 Penghematan dari kombinasi rute adalah: S (i,j) = a (0,i) + a (0,j) a (i,j)... (1) S (i,j) = penghematan jarak/waktu/biaya yang diperoleh dari penggabungan rute i dan j a (0,i) = arc yang menggambarkan jarak/waktu/biaya dari depot ke retailer i a (0,j) = arc yang menggambarkan jarak/waktu/biaya dari depot ke retailer j a (i,j) = arc yang menggambarkan jarak/waktu/biaya dari retailer ke retailer j Bila S (i,j) positif, maka rute boleh dikombinasikan Gambar 2.2 Kombinasi Retailer i dan j Langkah-langkah algoritma Clarke Wright antara lain: 1) Hitung penghematan/saving S(i,j) untuk semua pasangan retailer 10

6 2) Pilih pasangan retailer dengan penghematan terbesar dan tentukan apakah penggabungan rute tersebut fisible (mengingat kapasitas angkut tiap truk), jika fisible buatlah sebuah rute baru, jika tidak pilih pasangan retailer lain yang mamiliki penghematan terbesar selanjutnya. 3) Teruskan langkah 2 selama penghematan positif. Ketika semua penghematan positif sudah dicoba untuk digabungkan, perhitungan berhenti. b. Metode Swepping Metode ini diperkenalkan oleh Gillet dan Miller tahun Misalkan diasumsikan setiap pelanggan i ditempatkan pada suatu bidang dalam koordinat polar dalam sudut θ i dari garis horizon yang berawal dari depot ke arah kanan. Berawal dari pelanggan dengan nilai θ i terkecil, ditempatkan sebanyak mungkin pelanggan pada tiap-tiap kendaraan dengan urutan θ i yang menaik sampai kapasitas kendaraan terpenuhi. Beberapa penulis seperti Laporte dan Semet (2002), mengelompokan metode ini, kedalam metode dua fasa. Fase pertama adalah pengelompokan berdasarkan sudut θ i.pada fase kedua tiap-tiap kelompok dipandang sebagai TSP yang akan ditentukan rute optimalnya. c. Metode Nearst to depot Metode ini, membangun rute dengan cara menambhkan kunjungan yang terdekat dengan depot. Pada setiap iterasinya, setelah diawali dari depot, dilakukan pencarian pelanggan terdekat dengan depot untuk ditambahkan pada akhir rute. Rute baru dimulai dengan cara yang sama, jika tidak terdapat posisi yang fisible untuk menempatkan pelanggan baru karena kendala kapasitas tidak dipenuhi. Algoritma metode ini adalah sebagai berikut: 1) Misalkan kendaraan yang tersedia dilambangkan dengan w 2) Mulailah suatu rute yang berawal dari depot. 3) Temukan pelanggan beriktnya v yang terdekat dari titik awal rute w. Jika tidak ada pelanggan yang memungkinkan, tutup rute w dan pilih kendaraan baru lainnya lalu kembali ke langkah 2. Jika tidak ada kendaraan lagi, proses selesai. 4) Tambahkan v pada akhir rute tersebut 5) Kembali ke langkah 3 11

7 Gambar berikut memberikan deskripsi tentang metode ini. Pada gambar tersebut setelah diawali dari depot, dilakukan pencarian pelanggan yang terdekat dengan depot yaitu pelanggan i, selanjutnya dari semua pelanggan lainnya yang tersisa, dicari yang terdekat dengan depot yaitu pelanggan j, untuk ditambahkan pada rute yang ada atau setelah pelanggan i. Kasus pelanggan pada VRPTW dipilih yang tidak melanggar kendala kapasitas dan time windows. Jika kapasitas kendaraan telah terpenuhi, mulai rute baru sampai pelanggan terpenuhi Gambar 2.3 Metode Nearst to depot d. Metode nearest addition Menurut Braysy & Genreau (2005) Metode nearest addition sangat mirip dengan metode nearst to depot. Jika setiap iterasinya nearst to depot, menambahkan pelanggan yang terdekat dengan titik awalnya maka pada metode ini ditambahkan pelanggan yang terdekat pada titik akhir dari rute Metode nearest addition juga dinamakan metode nearst neighbord. Pada setiap iterasinya dilakukan pencarian pelanggan terdekat dengan pelanggan yang terakhir untuk ditambahkan pada akhir rute tersebut. Rute baru dimulai dengan cara yang sama jika tidak terdapat posisi yang fisible untuk menempatkan pelanggan baru karena kendala kapasitas. Metode ini dimulai dengan banyaknya kendaraan yang tersedia di depot. Lokasi yang terdekat dengan depot akan dikunjungi pertama kali, kemudian lokasi yang dikunjungi selanjutnya adalah lokasi yang memiliki jarak terdekat dengan lokasi pelanggan sebelumnya. Demikian seterusnya hingga kapasitas kendaraan terpenuhi. Jika kapasitas kendaraan telah terpenuhi 12

8 maka kendaraan tersebut harus kembali ke depot. Selanjutnya kendaraan berikutnya dioperasikan dengan aturan yang sama seperti kendaraan pertama, sampai seluruh lokasi dikunjungi oleh kendaraan yang tersedia di depot. Algoritma metode ini adalah sebagai berikut: 1) Misalnya banyaknya pelanggan adalah n, rute dimulai dari depot atau simpul 0. 2) Tetapkan p=1 dan U = (0), yaitu himpunan simpul atau pelanggan yang telah dilayani. 3) Jika p<n, maka: Pilih pelanggan berikutnya untuk dikunjungi sedemikian hingga Contoh metode ini digambarkan pada gambar.pada gambar tersebut kunjungan berikutnya setelah depot adalah pelanggan yang terdekat dengan depot adalah pelanggan i, dilanjutkan dengan pelanggan berikutnya yang terdekat dengan pelanggan i, yaitu pelanggan j dengan syarat sisi berarah (i,j) fisible. Jika kapasitas kendaraan telah terpenuhi, mulai dengan rute baru Proses berlanjut sampai semua pelanggan terlayani. Gambar 2.4 Metode nearest addition e. Metode insertion Menurut Gambardella (2002 ) Metode ini bekerja dengan menyiisipkan setiap kunjungan pada posisi terbaik dari suatu rute berdasarkan biaya minimum. Algoritma metode ini adalah sebagai berikut: 1) Diawali dengan membuat rute T dari depot ke sembarang pelanggan i yang belum dikunjungi. 13

9 2) Selama T belum memuat semua pelanggan yang ada maka, a. Temukan dua pelanggan yaitu l T dan m T sedemikian hingga sehingga biaya ċ lm minimum b. Temukan posisi terbaik antar pelanggan l dan n pada T, untuk menyisipkan pelanggan k sehingga diperoleh sisi (l,k) dan (k,n). Pelanggan k dipilih. 3) Ulangi langkah (2) sampai semua dikunjungi. Pada gambar berikut rute dimulai dari 0 menuju ke m karena biaya c 0m minimum. Karena ckm minimum maka dibentuk sisi baru (0,k) dan (k,m) menggantikan posisi (0,m). Pelanggan terakhir n diselipkan menggantikan sisi (m,0) menjadi sisi (m,n) dan (n,0). Gambar 2.5 Metode insertion Metode Perbaikan Menurut Laporte dan Semet (2002) Metode ini memperbaiki fisible solution dengan melakukan serangkaian pertukaran sisi dan simpul rute atau antarute. Metode perbaikan antarrute dapat digunakan pada perbaikan dalam rute Perbaikan dalam Rute Perbaikan dalam rute adalah perbaikan yang melibatkan serangkaian pertukaran simpul dan sisi dalam satu rute. Metode ini terdiri atas 2-opt dan Or-opt 14

10 a. Metode 2-opt Algoritma 2-opt merupakan salah satu algoritma yang mengeliminasi arc atau jalur yang bersilangan pada suatu rute tunggal dengan cara mengambil dua jalur lalu lalu menghubungkan kembali keempat lokasi yang berdekatan. Misalkan diberi suatu rute c0,c1,c2...,ck Untuk setiap kombinasi pelanggan ci, cj dengan i<j, i,j {1,...K-1}akan diperiksa apakah jalur dari ci-1 ke cj dan dari ci+cj+1 lebih baik daripada jalur awal dari ci-1 ke ci dan dari cj ke cj+1. Jika demikian bentuk jalur baru dari ci ke cj dan dilanjutkan untuk kombinasi lainnya yang tersisia. Setelah semua kombinasi diperiksa maka urutan kunjungan diperbaiki sesuai urutan perbaikan yang diperoleh. Jadi, jika urutan sebelum perbaikan adalah sebagai berikut: C 0,c 1,c 2,...c -1 c i,c i+1,c i,c i+2, c j-1,c j,c j+1,...c k,c o (1) Maka setelah perbaikan menjadi C 0,c 1,c 2,...c -1 c i,c i-1,c i,c i-2, c j+1,c j,c j+1,...c k,c o...(2) Jadi pada dasarnya metode 2-opt memindahkan dua jalur pada rute yang ada, kemudian menghubungkan kembali jalur tersebut dengan pasangan konsumen yang berbeda. Algoritmanya adalah sebagai berikut: 1) Berawal dari rute awal 2) Dua jalur yang menghubungkan empat konsumen yang berbeda, dihapus kemudian empat pelanggan dihubungkan kembali dengan pasangan yang berbeda 3) Jika biaya berkurang dan tidak melanggar kendala yang ada maka kembali ke langkah (2). 4) Lakukan kembali seperti pada langkah (2) dan (3) 15

11 Gambar 2.6 Metode 2-opt Contoh metode 2-opt dapat dilihat pada gambar diatas. Pada gambar tersebut, pelanggan i+1 yang dilayani setelah pelanggan i yang diubah menjadi pelanggan yang dilayani setelah pelanggan j+1, sedanggkan pelanggan setelah j+1 yaitu j dilayani setelah pelanggan i+1. Hal ini dilakukan dengan mengganti sisi (i,i+j)dan (j+1,j) berturut-turut dengan sisi (i,j+1) dan 9i+1,j). b. Metode Or-OPT Metode Or-Opt identik dengan 2-opt, tetapi banyaknya jalur yang akan dihapus dan ditambahkan lebih dari 2. Metode ini diperkenalkan oleh Or pada tahun 1976 untuk menyelesaikan TSP. Ide dasar metode ini adalah merelokasi beberapa simpul (pelanggan) yang berdekatan. Contohnya dapat dilihat pada gambar berikut. Pada gambar tersebut relokasi simpul dilakukan dengan cara mengganti tiga sisi yang baru tanpa mengubah arah rute. Pelanggan i dan i+1 yang sebelumnya dilayani oleh i-1 dan sebelum i+2 diubah untuk dilayani setelah pelanggan j dan sebelum pelanggan j+1. Jadi sisi (i-1,i), (i+1,i+2) dan (j,j+1) diganti berturut-turut dengan (i+1,i+2),(j,i) dan (i+1,j+1). 16

12 Gambar 2.7 Metode Or-OPT Perbaikan Antar Rute Metode perbaikan antar rute merupakan proses pertukaran himpunan pelanggan untuk dilayani pada tiap-tiap kendaraan. Satu pelanggan atau dua pelanggan yang berdekatan dan terhubung dipilih dari suatu rute dan dipindahkan dari posisi sekarang dengan menyisipkan pada suatu rute yang lain. Metode ini terdiri atas metode relocate, exchange, dan cross. (Kyung et.al 2008). a. Metode Relocate Braysy dan Gendreau (2005) Pada metode relocate pelanggan dapat dipindahkan dari satu rute dan pelanggan tersebut ditambahkan ke rute lainnya dengan syarat biaya rute berkurang dan tidak melanggar kendala. Pada gambar d bawah ini sisi (i-1,i) dan (i,i+1) diganti berturut-turut denga sisi (i-1,i+1) (j,i) dan (i,j+1). 17

13 Gambar 2.8 Metode Relocate b. Metode Exchange Menurut Braysy dan Gendreau (2005), pada metode exchange pelanggan dari dua rute yang berbesa saling dipertukarkan. Pada gambar di bawah ini pelanggan i dan j saling dipertukarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengganti sisi (i-1,i), (i,+1i) (j-1,j) dan (j,j+1) berturut-turut dengan (i-1j), (j,i+1) dan (i,j+1). Gambar 2.9 Metode Exchange 18

14 c. Metode Cross Menurut Braysy dan Gendreau (2005), metode cross saling mempertukarkan pelanggan yang ada pada akhir rute dari dua rute yang berbeda Gambar 2.10 Metode Cross Sisi (i,k0 pada rute pertama diselipkan pada rute kedua dan sisi (j,1) pada rute kedua diselipkan pada rute pertama secara bersamaan. Hal ini dilakukan dengan mengganti sisi (i- 1,i), (k,k+1),(j-1,j) dan (I,I+1) dengan sisi (i-1,j) (l,k+1) dan (k,l+1). 2.5 Penjadwalan Kendaraan VRPs terdiri dari menentukan rute yang digunakan oleh armada untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan. VRPs dapat didefinisikan melalui grafik G = (V, A, E), dimana V adalah puncak, A adalah lingkaran & E adalah sisi. Puncak diwakili dengan 0 dimana kendaraan m merangkap sebagai gudang. Sementara sebagai subset U V dari puncak dan subset R A E dari lingkaran & sisi mewakili pelanggan. VRPs sebagai penentu kecilnya biaya yang dikeluarkan untuk perputaran m yang juga merupakan gudang, termasuk puncak, lingkaran & sisi. Gambar ini diwakili lingkaran & sisi sesuai dengan jalur lalu lintas dan puncak sesuai dengan persimpangan jalan. Pelanggan yang jauh diwakili dengan puncak. Mengingat permintaan 19

15 dari pelanggan untuk melakukan pengiriman selalu ada terus menerus selama ditujukan untuk pelanggan, maka model ini diwakili oleh lingkaran atau sisi (hal ini kerap terjadi pada kasus pengiriman surat & pengangkut sampah di daerah perkotaan). Lihat gambar 2.2 dan 2.3 sebagai contoh. Jika R = 0. VRP disebut masalah simpul rute (NRP), sementara jika U = 0 maka disebut masalah lingkaran rute (ARP). NRPs suatu studi yang lebih ekstensif daripada ARPs dan biasanya lebih sederhana dibandingkan VRPs. Pada umumnya operasional di batasi oleh: Jumlah kendaraan m harus akurat atau dapat menjadi variable penentu, memungkinkan subjek untuk melakukan operasional melebihi kapasitas; Total permintaan pengiriman oleh kendaraan pada satu waktu tidak boleh melebihi kapasitas; Lamanya waktu dari masing-masing rute tidak boleh melebihi waktu kerja; Permintaan pelanggan dapat dilayani dengan cepat; Beberapa pelanggan harus dilayani oleh kendaraan-kendaraan khusus; Pelayanan untuk pelanggan harus terdiri dari satu kendaraan atau mungkin terbagi menjadi beberapa kendaraan; Hubungan baik dengan pelanggan harus diutamakan. Ketika pelanggan menginginkan pelayanan yang cepat atau merubah waktu pengiriman sesuai dengan keinginan mereka, maka waktu merupakan masalah yang penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan rute kendaraan, yang pada kasus VRP sering terjadi daripada pada VRSP. Batasan yang diberlakukan secara alami kapanpun barang harus diantarkan antara titik pengambilan dan pengantaran barang. Dalam beberapa masalah, pengiriman dan pengambilan barang dilakukan oleh kendaraan yang sama (tidak terdapat kendaraan lain di gudang) dan masing-masing titik pengangkutan harus didatangi sebelum melakukan pengiriman. Bentuk lain untuk menciptakan hubungan yang lebih baik jika pengiriman barang lebih diutamakan (angkutan pergi) baru kemudian melakukan pengambilan barang dari pelanggan (angkutan balik. Permasalahan rute dan penjadwalan kendaraan diklasifikasikan berdasarkan beberapa karakteristik. Karakteristik tersebut digunakan untuk membantu menganalisa dan 20

16 mengidentifikasi jenis dari permasalahan. Algoritma-algoritma yang ada dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan sesuai dengan karakteristik-karakteristik tersebut. Secara garis besar klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Klasifikasi Vehicle Routing and Scheduling Sumber : Lawrence Bodin and Bruce Golden, Prinsip-prinsip yang digunakan dalam merancang rute dan jadwal kendaraan yang optimal (Ballau,1992) adalah sebagai berikut:: 21

17 a) Mengisi muatan kendaraan pengirim sesuai dengan kebutuhan untuk node perhentian yang saling berdekatan dan tidak melebihi kapasitan jumlah muatan kendaraan b) setiap rute dan jadwal yang dikembangkan seharusnya menghindari terjadinya overlap, c) maka node pemberhentian yang dikunjungi pada hari yang berbeda harus ditempatkan pada kelompok yang berbeda pula. d) Pembentukan rute sebaiknya dimulai dari node yang lokasinya terjauh dari depot dan kemudian baru dilanjutkan pada node yang lokasinya makin mendekati depot. e) Urutan pemberhentian node pada rute yang dilewati kendaraan tidak terjadi persilangan rute antar satu tujuan dengan tujuan lainnya. f) Rute yang paling efisien dibentuk dengan menggunakan kendaraan yang berkapasitas muatan paling besar. g) Pengambilan barang dan pengiriman barang di pemberhentian nodes sebaiknya dilakukan dalam waktu yang bersamaan. h) Node yang letaknya jauh dari rute yang lain dan permintaan yang rendah diprioritaskan menjadi rute tersendiri dan dilayani dengan menggunakan kendaraan dengan kapasitas yang kecil. i) Batasan waktu perhentian yang sempit harus dihindari dalam pembentukan rute dan jadwal yang baru. Vehicle Routing Problem (VRP) merupakan permasalahan dalam sistem distribusi yang bertujuan untuk membuat suatu rute yang optimal, untuk sekelompok kendaraan yang diketahui kapasitasnya. 22

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan produk ke tangan pemakai akhir.

Lebih terperinci

Pembentukan Rute Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma Sequential Insertion *

Pembentukan Rute Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma Sequential Insertion * Reka Integra ISSN: 2338-508 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 204 Pembentukan Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vehicle Routing Problem (VRP) merupakan salah satu permasalahan yang terdapat pada bidang Riset Operasional. Dalam kehidupan nyata, VRP memainkan peranan penting dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendistribusian suatu barang merupakan persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik oleh pemerintah maupun oleh produsen. Dalam pelaksanaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi adalah kegiatan manusia yang sangat penting dalam menunjang dan mewujudkan interaksi sosial serta ekonomi dari suatu wilayah kajian. Salah satu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan produk dari pihak supplier ke pihak konsumen dalan suatu supply chain (Chopra, 2010, p86). Distribusi terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan utama dari hampir semua aktivitas industri adalah menekan biaya produksi dan biaya operasional seminimal mungkin guna mendapatkan keuntungan semaksimal

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Konsep Supply Chain Supply Chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori graf 2.1.1 Defenisi graf Graf G adalah pasangan {,} dengan adalah himpunan terhingga yang tidak kosong dari objek-objek yang disebut titik (vertex) dan adalah himpunan pasangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya

BAB I PENDAHULUAN. Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya kegiatan atau aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kegiatan manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas

BAB I PENDAHULUAN. Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas pemerintahan yang bergerak di bidang lingkungan hidup daerah yang meliputi kegiatan dalam melakukan pengawasan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 12 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi suatu produk mempunyai peran yang penting dalam suatu mata rantai produksi. Hal yang paling relevan dalam pendistribusian suatu produk adalah transportasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem distribusi/trasportasi adalah salah satu hal yang penting bagi perusahaan, karena berkaitan dengan pelayana kepada konsumen. Dalam sistem distribusi/trasportasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui

BAB 1 PENDAHULUAN. tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam masalah pengiriman barang, sebuah rute diperlukan untuk menentukan tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui darat, air,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebuah pabrik atau distributor tentunya memiliki konsumen-konsumen yang harus dipenuhi kebutuhannya. Dalam pemenuhan kebutuhan dari masing-masing konsumen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Peranan jaringan distribusi dan transportasi sangatlah vital dalam proses bisnis dunia industri. Jaringan distribusi dan transportasi ini memungkinkan produk berpindah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam menyelesaikan persoalan, biasanya diperlukan dasar yang dapat menuntun ke arah pemecahan. Dasar yang digunakan umumnya adalah penjelasan umum mengenai pengertian permasalahan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara

BAB I PENDAHULUAN. konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu hal yang berpengaruh dalam meningkatkan pelayanan terhadap konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu dengan jumlah

Lebih terperinci

Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Metode Sequential Insertion *

Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Metode Sequential Insertion * Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.03 Vol.01 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2014 Penentuan Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tujuan yang sama. Menurutnya juga, Sistem Informasi adalah serangkaian

BAB II LANDASAN TEORI. tujuan yang sama. Menurutnya juga, Sistem Informasi adalah serangkaian BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Menurut Hall (2009), Sistem adalah kelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang saling berfungsi dengan tujuan yang sama.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi merupakan proses penyaluran produk dari produsen sampai ke tangan masyarakat atau konsumen. Kemudahan konsumen dalam menjangkau produk yang diinginkan

Lebih terperinci

MEMECAHKAN PERMASALAHAN VEHICHLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOW MELALUI METODE INSERTION HEURISTIC (STUDI KASUS : PT X WILAYAH BANDUNG)

MEMECAHKAN PERMASALAHAN VEHICHLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOW MELALUI METODE INSERTION HEURISTIC (STUDI KASUS : PT X WILAYAH BANDUNG) Seminar Nasional IENACO 213 ISSN: 23374349 MEMECAHKAN PERMASALAHAN VEHICHLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOW MELALUI METODE INSERTION HEURISTIC (STUDI KASUS : PT X WILAYAH BANDUNG) Putri Mety Zalynda Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penelitian Terdahulu Transportasi merupakan bagian dari distribusi. Ong dan Suprayogi (2011) menyebutkan biaya transportasi adalah salah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Clustering Analysis Clustering analysis merupakan metode pengelompokkan setiap objek ke dalam satu atau lebih dari satu kelompok,sehingga tiap objek yang berada dalam satu kelompok

Lebih terperinci

4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI

4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI 24 4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI 4.1 Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kegiatan distribusi roti Sari Roti di daerah Bekasi dan sekitarnya yang dilakukan setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi adalah salah satu bagian dari sistem logistik yang sangat penting. Transportasi itu sendiri digunakan untuk mengangkut penumpang maupun barang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai tempat, sering menjadi masalah dalam dunia industri sehari-hari. Alokasi produk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena penurunan biaya transportasi dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Bab II dalam penelitian ini terdiri atas vehicle routing problem, teori lintasan dan sirkuit, metode saving matriks, matriks jarak, matriks penghematan, dan penentuan urutan konsumen.

Lebih terperinci

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: X

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: X Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 2 Februari 2017, hlm. 95-99 http://j-ptiik.ub.ac.id Implementasi Algoritma Nearest Insertion Heuristic dan Modified

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bagian ini menjelaskan tentang hal-hal yang erat kaitannya dengan masalah m- ring star. Salah satu cabang matematika yang cukup penting dan sangat luas penerapannya di banyak bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah, salah satu program dari

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah, salah satu program dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kesejahteraan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat berpendapatan rendah merupakan program nasional dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan produk yang siap jual. Setelah menghasilkan produk yang siap jual, maka proses selanjutnya

Lebih terperinci

PADA DISTRIBUTOR BAHAN MAKANAN VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AT FOOD INGREDIENTS DISTRIBUTOR

PADA DISTRIBUTOR BAHAN MAKANAN VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AT FOOD INGREDIENTS DISTRIBUTOR VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS PADA DISTRIBUTOR BAHAN MAKANAN VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AT FOOD INGREDIENTS DISTRIBUTOR Herry Christian Palit, *), Sherly ) ) Industrial Engineering

Lebih terperinci

PANDUAN APLIKASI TSP-VRP

PANDUAN APLIKASI TSP-VRP PANDUAN APLIKASI TSP-VRP oleh Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si Darmawan Satyananda, S.T, M.T JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA UNIVERSITAS NEGERI MALANG 2016 0 Pengantar Aplikasi ini dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih efektif dan efisien karena akan melewati rute yang minimal jaraknya,

BAB I PENDAHULUAN. lebih efektif dan efisien karena akan melewati rute yang minimal jaraknya, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Distribusi merupakan proses penyaluran produk dari produsen sampai ke tangan masyarakat atau konsumen. Kemudahan konsumen dalam mendapatkan produk yang diinginkan menjadi

Lebih terperinci

Usulan Rute Distribusi Roti Dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm

Usulan Rute Distribusi Roti Dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm Reka Integra ISSN: 2338-5081 Teknik Industri Itenas No.1 Vol.1 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juni 2013 Usulan Rute Distribusi Roti Dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm Heru Chrystianto,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persoalan rute terpendek merupakan suatu jaringan pengarahan rute perjalanan di mana seseorang pengarah jalan ingin menentukan rute terpendek antara dua kota berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN an berkembang algoritma genetika (genetic algorithm) ketika I. Rochenberg dalam bukunya yang berjudul Evolution Strategies

BAB I PENDAHULUAN an berkembang algoritma genetika (genetic algorithm) ketika I. Rochenberg dalam bukunya yang berjudul Evolution Strategies BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teori graf sangat pesat dari tahun ke tahun, pada tahun 1960-an berkembang algoritma genetika (genetic algorithm) ketika I. Rochenberg dalam bukunya yang

Lebih terperinci

Penentuan Rute dan Penjadwalan Kendaraan untuk Pengiriman Spon di CV. Prima Maju Jaya

Penentuan Rute dan Penjadwalan Kendaraan untuk Pengiriman Spon di CV. Prima Maju Jaya Penentuan Rute dan Penjadwalan Kendaraan untuk Pengiriman Spon di CV. Prima Maju Jaya Thomas Hariono 1, Herry Christian Palit 2 Abstract: Competition in the industry is getting tighter forcing every company

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hingga ke luar pulau Jawa. Outlet-outlet inilah yang menjadi channel distribusi

BAB I PENDAHULUAN. hingga ke luar pulau Jawa. Outlet-outlet inilah yang menjadi channel distribusi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. Indoberka Investama merupakan perusahaan nasional yang bergerak di bidang kontruksi, pabrikasi, dan distributor rangka atap. Bentuk badan usaha dari PT

Lebih terperinci

Penentuan Rute Distribusi Air Mineral Menggunakan Metode Clarke-Wright Algorithm dan Sequential Insertion *

Penentuan Rute Distribusi Air Mineral Menggunakan Metode Clarke-Wright Algorithm dan Sequential Insertion * Reka Integra ISSN: 2338-5081 Teknik Industri Itenas.2 Vol.1 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2013 Penentuan Rute Distribusi Air Mineral Menggunakan Metode Clarke-Wright Algorithm dan Sequential

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN SIMULASI PENCARIAN JALUR TERAMAN PADA PERUTEAN KENDARAN

PERANCANGAN DAN SIMULASI PENCARIAN JALUR TERAMAN PADA PERUTEAN KENDARAN PERANCANGAN DAN SIMULASI PENCARIAN JALUR TERAMAN PADA PERUTEAN KENDARAN SUHARDIMAN USMAN NRP : 1204 100 027 Dosen Pembimbing : Subchan, Ph.D 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penentuan rute kendaraan merupakan

Lebih terperinci

MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX

MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX Supriyadi 1, Kholil Mawardi 2, Ahmad Nalhadi 3 Departemen Teknik Industri Universitas Serang Raya supriyadimti@gmail.com,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI ABSTRAK...

DAFTAR ISI ABSTRAK... DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GRAFIK... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

Dosen Pembimbing : Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D Oleh : Sas Wahid Hamzah

Dosen Pembimbing : Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D Oleh : Sas Wahid Hamzah Artificial Immune System untuk Penyelesaian Vehicle Routing Problem with Time Windows Dosen Pembimbing : Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D Oleh : Sas Wahid Hamzah 2507100054 Pendahuluan Pendahuluan Fungsi Objektif

Lebih terperinci

PENYELESAIAN MULTIPLE DEPOT VEHICLE ROUTING PROBLEM (MDVRP) MENGGUNAKAN METODE INSERTION HEURISTIC

PENYELESAIAN MULTIPLE DEPOT VEHICLE ROUTING PROBLEM (MDVRP) MENGGUNAKAN METODE INSERTION HEURISTIC PENYELESAIAN MULTIPLE DEPOT VEHICLE ROUTING PROBLEM (MDVRP) MENGGUNAKAN METODE INSERTION HEURISTIC Dima Prihatinie, Susy Kuspambudi Andaini, Darmawan Satyananda JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan usaha bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Terdapat beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang membahas mengenai penentuan rute optimum. Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan manufaktur semakin ketat. Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari strategi yang tepat agar dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Semakin tingginya perkembangan industri membuat persaingan setiap pelaku industri semakin ketat dan meningkat tajam. Setiap pelaku industri harus mempunyai strategi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Menurut Stephen P. Robbins and Mary Coulter (2012:36), manajemen melibatkan koordinasi pengelolaan dan pengawasan kegiatan kerja sehingga selesai secara efisien dan efektif.

Lebih terperinci

OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM

OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM Ade Irman SM, Ratna Ekawati 2, Nuzulia Febriana 3 Jurusan Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan menentukan rute distribusi secara optimal dapat membantu perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan menentukan rute distribusi secara optimal dapat membantu perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Perusahaan yang bergerak di bidang industri harus dapat mengefektifkan penggunaan jalur distribusi dalam menghemat pengeluaran biaya transportasi. Dengan

Lebih terperinci

III PEMBAHASAN. 6. Sisi eg dipilih sebagai sisi yang memiliki bobot terkecil (lihat Gambar 18).

III PEMBAHASAN. 6. Sisi eg dipilih sebagai sisi yang memiliki bobot terkecil (lihat Gambar 18). a d b f 8 e 8 Gambar Sisi be hasil dari algoritme Prim tahap ke-.. Sisi ec dipilih sebagai sisi yang memiliki bobot terkecil (lihat Gambar ). a d b f 8 e 8 Gambar Sisi ec hasil dari algoritme Prim tahap

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Graf Definisi 1 (Graf, Graf Berarah dan Graf Takberarah) 2.2 Linear Programming 4 II TINJAUAN PUSTAKA Untuk memahami permasalahan yang berhubungan dengan penentuan rute optimal kendaraan dalam mendistribusikan barang serta menentukan solusinya maka diperlukan beberapa konsep teori

Lebih terperinci

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 10 & 11: MANAJEMEN TRANSPORTASI & DISTRIBUSI By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE PENGIRIMAN MENGGUNAKAN METODE PARALLEL INSERTION DAN EXHAUSTIVE SEARCH PADA PT. STARMASS LOGISTICS

PERENCANAAN RUTE PENGIRIMAN MENGGUNAKAN METODE PARALLEL INSERTION DAN EXHAUSTIVE SEARCH PADA PT. STARMASS LOGISTICS PERENCANAAN RUTE PENGIRIMAN MENGGUNAKAN METODE PARALLEL INSERTION DAN EXHAUSTIVE SEARCH PADA PT. STARMASS LOGISTICS Irvan Maulana, Rifa Arifati Fakultas Teknik UPN Veteran Jakarta Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. memindahkan barang dari pihak supplier kepada pihak pelanggan dalam suatu supply

BAB II KAJIAN TEORI. memindahkan barang dari pihak supplier kepada pihak pelanggan dalam suatu supply BAB II KAJIAN TEORI Berikut diberikan beberapa teori pendukung untuk pembahasan selanjutnya. 2.1. Distribusi Menurut Chopra dan Meindl (2010:86), distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan barang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam menyelesaikan persoalan, biasanya diperlukan dasar yang dapat menuntun ke arah pemecahan. Dasar yang digunakan umumnya adalah penjelasan umum mengenai pengertian permasalahn,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem informasi terdiri dari dua suku kata, yaitu sistem dan informasi. Kata sistem mengandung arti suatu tatanan yang kompleks yang terdiri dari elemen-elemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aplikasinya di berbagai area telah meningkat pesat. Hal ini ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. aplikasinya di berbagai area telah meningkat pesat. Hal ini ditandai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai transportasi dan aplikasinya di berbagai area telah meningkat pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berpengaruh terhadap keberhasilan penjualan produk. Salah satu faktor kepuasan

BAB I PENDAHULUAN. berpengaruh terhadap keberhasilan penjualan produk. Salah satu faktor kepuasan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Distribusi adalah kegiatan yang selalu menjadi bagian dalam menjalankan sebuah usaha. Distribusi merupakan suatu proses pengiriman barang dari suatu depot ke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat,

BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Distribusi merupakan salah satu faktor penting bagi perusahaan untuk dapat melakukan pengiriman produk secara tepat kepada pelanggan. Ketepatan pengiriman produk kepada

Lebih terperinci

Artikel Ilmiah oleh Siti Hasanah ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing.

Artikel Ilmiah oleh Siti Hasanah ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing. Artikel Ilmiah oleh Siti Hasanah ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing. Malang, 1 Agustus 2013 Pembimbing Dra. Sapti Wahyuningsih,M.Si NIP 1962121 1198812 2 001 Penulis Siti Hasanah NIP 309312426746

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan cabang distributor dari perusahaan manufaktur yang. memproduksi sandal bermerek Zandilac. Dalam menjalankan usahanya

BAB I PENDAHULUAN. merupakan cabang distributor dari perusahaan manufaktur yang. memproduksi sandal bermerek Zandilac. Dalam menjalankan usahanya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PD. Karunia (Zandilac) adalah perusahaan perdagangan yang merupakan cabang distributor dari perusahaan manufaktur yang memproduksi sandal bermerek Zandilac.

Lebih terperinci

Algoritma. Untuk. Problem Dengan. Vehicle. Window. Jasa

Algoritma. Untuk. Problem Dengan. Vehicle. Window. Jasa Pengembangan Algoritma Heuristik Ant Colony System Untuk Menyelesaikan Permasalahan Dynamic Vehicle Routing Problem Dengan Time Window (DVRPTW) Pada Penyedia Jasa Inter-City Courier Nurlita Gamayanti (2207

Lebih terperinci

PENYELESAIAN VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN BEBERAPA METODE HEURISTIK KONSTRUKTIF

PENYELESAIAN VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN BEBERAPA METODE HEURISTIK KONSTRUKTIF i PENYELESAIAN VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN BEBERAPA METODE HEURISTIK KONSTRUKTIF DEIBY TINEKE SALAKI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 iii PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan yang sangat pesat dalam dunia industri menuntut suatu perusahaan melakukan aktifitas bisnisnya secara optimal. Mulai dari penyediaan barang baku,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dalam sistem distribusi pupuk terdapat beberapa masalah yang mucul. Masalah sistem distribusi pupuk antara lain berupa masalah pengadaan pupuk, penentuan stock, proses

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG

PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG Hafidh Munawir, Agus Narima Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Suzuki Indomobil Sales (PT. SIS) adalah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sepeda motor merek Suzuki di Indonesia. PT. SIS selaku ATPM hanya melakukan proses produksi

Lebih terperinci

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI TEH BOTOL MENGGUNAKAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP) UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI TEH BOTOL MENGGUNAKAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP) UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI TEH BOTOL MENGGUNAKAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP) UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI Fahmi Fuadi Al Akbar; Sumiati Prodi Teknik Industri, FTI-UPNV Jawa Timur E-mail :

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi penelitian berperan untuk membantu agar masalah dapat diselesaikan secara lebih terarah dan sistematis. Dalam metodologi penelitian, akan diuraikan

Lebih terperinci

Dea Widya Hutami¹, Wayan Firdaus Mahmudy, Mardji

Dea Widya Hutami¹, Wayan Firdaus Mahmudy, Mardji IMPLEMENTASI ALGORITMA NEAREST INSERTION HEURISTIC DAN MODIFIED NEAREST INSERTION HEURISTIC PADA OPTIMASI RUTE KENDARAAN PENGANGKUT SAMPAH (STUDI KASUS: DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA MALANG) Dea

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab 1 pendahuluan ini berisikan tentang apa-apa saja yang menjadi latar belakang permasalahan yang terjadi pada distribusi pengiriman produk pada distributor PT Coca Cola, posisi penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan dunia usaha mengalami persaingan yang begitu ketat dan peningkatan permintaan pelayanan lebih dari pelanggan. Dalam memenangkan persaingan tersebut

Lebih terperinci

Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour dan Local Search (Studi Kasus di PT. X)*

Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour dan Local Search (Studi Kasus di PT. X)* Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol.02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2014 Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi merupakan salah satu komponen dari suatu sistem logistik yang bertanggungjawab akan perpindahan material antar fasilitas. Distribusi berperan dalam membawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses distribusi barang merupakan bagian dari aktivitas suatu perusahaan atau lembaga yang bersifat komersil ataupun sosial. Distribusi berperan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan operasional pendistribusian suatu produk dilakukan menyusun jadual dan menentukan rute. Penentuan rute merupakan keputusan pemilihan jalur terbaik sebagai upaya

Lebih terperinci

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SURYA MEDIA PERDANA SURABAYA SKRIPSI Oleh : TRI PRASETYO NUGROHO

Lebih terperinci

USULAN PERBAIKAN RUTE PENDISTRIBUSIAN ICE TUBE MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR DAN GENETIC ALGORITHM *

USULAN PERBAIKAN RUTE PENDISTRIBUSIAN ICE TUBE MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR DAN GENETIC ALGORITHM * Reka Integra ISSN: 2338-508 Jurusan Teknik Industri Itenas No.04 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 205 USULAN PERBAIKAN RUTE PENDISTRIBUSIAN ICE TUBE MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu sistem transportasi memegang peran penting dalam masalah pendistribusian, karena harus menjamin mobilitas produk di antara berbagai sistem dengan efisiensi tinggi

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGATURAN RUTE KENDARAAN DENGAN MUATAN KONTAINER PENUH MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI LAGRANGIAN

OPTIMASI PENGATURAN RUTE KENDARAAN DENGAN MUATAN KONTAINER PENUH MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI LAGRANGIAN Tugas Akhir KI 091391 OPTIMASI PENGATURAN RUTE KENDARAAN DENGAN MUATAN KONTAINER PENUH MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI LAGRANGIAN Akhmed Data Fardiaz NRP 5102109046 Dosen Pembimbing Rully Soelaiman, S.Kom.,

Lebih terperinci

Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings Algorithm (Studi Kasus : PT Pikiran Rakyat Bandung) *

Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings Algorithm (Studi Kasus : PT Pikiran Rakyat Bandung) * Reka Integra. ISSN; 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juli 2014 Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I LATAR BELAKANG BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah transportasi merupakan aspek penting dalam kehidupan seharihari. Transportasi juga merupakan komponen yang sangat penting dalam manajemen logistik

Lebih terperinci

Algoritma Penentuan Rute Kendaraan Dengan Memperhatikan Kemacetan Muhammad Nashir Ardiansyah (hal 88 92)

Algoritma Penentuan Rute Kendaraan Dengan Memperhatikan Kemacetan Muhammad Nashir Ardiansyah (hal 88 92) ALGORITMA PENENTUAN RUTE KENDARAAN DENGAN MEMPERHATIKAN KEMACETAN Muhammad Nashir Ardiansyah Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University nashir.ardiansyah@gmail.com Abstrak

Lebih terperinci

USULAN RANCANGAN RUTE TRANSPORTASI MULTI TRIP

USULAN RANCANGAN RUTE TRANSPORTASI MULTI TRIP USULAN RANCANGAN RUTE TRANSPORTASI MULTI TRIP UNTUK MEMINIMASI BIAYA TRANSPORTASI DENGAN HETEROGENEOUS FLEET DAN TIME WINDOW MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA DI PT.XYZ Muhammad Zuhdi Aiman Anka 1,

Lebih terperinci

Usulan Rute Distribusi Roti dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm *

Usulan Rute Distribusi Roti dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm * Reka Integra ISSN: 2338-5081 Teknik Industri Itenas No.1 Vol.1 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juli 2013 Usulan Rute Distribusi Roti dengan Menggunakan Metode Clarke Wright Algorithm * Heru Chrystianto,

Lebih terperinci

Usulan Perbaikan Rute Pengiriman Dengan Menggunakan Metode Nearest Neighbour Dan Branch And Bound Di Home Industry Donat Enak Bandung

Usulan Perbaikan Rute Pengiriman Dengan Menggunakan Metode Nearest Neighbour Dan Branch And Bound Di Home Industry Donat Enak Bandung Reka Integra ISSN:2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol.02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2014 Usulan Perbaikan Rute Pengiriman Dengan Menggunakan Metode Nearest Neighbour

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Tirta Makmur Perkasa adalah perusahaan di bawah naungan Indofood yang bertugas mendistribusikan produk air mineral dalam kemasan dengan merk dagang CLUB di Kota

Lebih terperinci

Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti

Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012 ISBN No. 978-979-96964-3-9 Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti Fifi Herni Mustofa 1), Hari Adianto

Lebih terperinci

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI

MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI MANAJEMEN TRANPRTASI DAN DISTRIBUSI PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat menentukan apakah produk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

BAB I PENDAHULUAN. Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi minuman berisotonik yang terletak di daerah Bojonegoro. Perusahaan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Dalam banyak perusahaan, pengaturan kegiatan distribusi barang dari produsen ke konsumen merupakan faktor yang memegang peranan penting, dikarenakan pengeluaran

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM RUTE DAN PENJADWALAN PENGIRIMAN BARANG di PT. Karya Mandiri Kencana Surabaya

PERANCANGAN SISTEM RUTE DAN PENJADWALAN PENGIRIMAN BARANG di PT. Karya Mandiri Kencana Surabaya PERANCANGAN SISTEM RUTE DAN PENJADWALAN PENGIRIMAN BARANG di PT. Karya Mandiri Kencana Surabaya Onny Setyono, Ahmad Rusdiansyah Program Studi Pascasarjana Magister Manajemen Teknologi ITS Jl. Cokroaminoto

Lebih terperinci

Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq

Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq Manajemen Tranportasi dan Distribusi Dosen : Moch Mizanul Achlaq Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat

Lebih terperinci

Agus Purnomo. Agus Purnomo Jurusan Teknik Industri UNPAS 1

Agus Purnomo. Agus Purnomo Jurusan Teknik Industri UNPAS 1 ANALISIS RUTE PENDISTRIBUSIAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE NEAREST INSERTION HEURISTIC PERSOALAN THE VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS (VRPTW) (STUDI KASUS DI KORAN HARIAN PAGI TRIBUN JABAR) Agus

Lebih terperinci