BAB II KAJIAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 digilib.uns.ac.id BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Hakikat Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia Dini a. Pengertian Perkembangan McLeod mendefinisikan secara singkat perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan a stage of development (Syah, 2010: 40). Hawadi menyatakan perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian (Desmita, 2009: 4). Santrock menjelaskan pengertian perkembangan adalah, Development is the pattern of change that begins at conception and continues through the life span. Most development involves growth, although it includes decay (as in death and dying). The pattern of movement is complex because it is product of several processes-biological, cognitive, and socioemotional (Desmita, 2009: 4). Perkembangan atau development merupakan perubahan yang terjadi secara bertahap yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas, kemampuan, kompleksitas, serta kedewasaan individu (Sefrina, 2013: 8) Berdasarkan pengertian perkembangan menurut beberapa ahli di atas disimpulkan bahwa perkembangan merupakan proses atau tahapan pertumbuhan yang berkelanjutan sebagai akibat dari proses kematangan yang mencakup konsep usia berawal dari pembuahan dan diakhiri kematian yang terjadi secara bertahap. 7

2 digilib.uns.ac.id 8 b. Pengertian Motorik Sujiono (2008) menyatakan, Motorik adalah semua gerakan yang mungkin dapat dilakukan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkembangan motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh (hlm. 1.3). Motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya atau dapat dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik. (Syah: 2010: 59). Ismail (2009) mendefinisikan, motorik adalah gerakan yang menunjukan kerja otot. Pada anak, motorik atau gerakan terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian otot besar otot kasar tubuh yang membutuhkan tenaga besar (hlm. 83) Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas disimpulkan bahwa motorik adalah gerakan yang melibatkan kerja otot yang terdiri dari otot kasar dan halus yang dilakukan oleh tubuh yang menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik. c. Pengertian Perkembangan Motorik Perkembangan motorik yang di definisikan oleh Suyanto (2005: 51) meliputi otor kasar dan otot halus. Otot kasar atau otot besar ialah otot-otot badan yang tersusun oleh otot lurik yang berfungsi untuk melakukan gerakan dasar tubuh yang terkoordinasi oleh otak seperti berjalan, berlari, melompat, menendang, melempar, memukul, mendorong dan menarik, sedangkan motorik halus meliputi perkembangan otot halus dan fungsinya untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik seperti menulis, melipat, merangkai, mengancing baju, menali sepatu, dan menggunting.

3 digilib.uns.ac.id 9 Perkembangan motorik adalah proses seorang anak belajar untuk terampil menggerakkan anggota tubuh. Untuk itu, anak belajar dari guru tentang beberapa pola gerakan yang dapat mereka lakukan yang dapat melatih ketangkasan, kecepatan, kekuatan, kelenturan, serta ketepatan koordinasi tangan dan mata. Mengembangkan kemampuan motorik sangat diperlukan anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Sujiono, 2008: 1.12). Williams and Monsma dalam jurnal internasional University of South Carolina yang berjudul Assessment of Gross Motor Development (2006: 397) mendefinisikan pengertian perkembangan motorik, yaitu: Motor development can be defined as the gradual acquisition of control and/or use of the large and small muscle masses of the body (neuromuscular coordination), motor development is also often referred to as perceptual-motor development and/or physical or motor coordination in part because both the brain/nervous system and the muscles interact in intricate ways to allow the child to move the body skillfully in manipulating objects and exploring the physical world around him/her. Motor development is known to be an important dimension of child development and is a universally recognized means for assessing the overall rate and level of development of the child during the early months and years after birth. Uraian di atas menjelaskan pengertian perkembangan motorik sebagai akuisisi bertahap kontrol dan/atau penggunaan massa otot besar dan kecil dari tubuh (koordinasi neuromuscular). Perkembangan motorik juga sering disebut sebagai "pembangunan perseptual-motor" dan/atau "fisik atau koordinasi motorik" sebagian karena ke dua otak/sistem saraf dan otot-otot berinteraksi dengan cara-cara yang rumit untuk memungkinkan anak untuk menggerakkan tubuh terampil dalam memanipulasi objek dan menjelajahi dunia fisik di sekitarnya. Perkembangan motorik dikenal sebagai dimensi penting dari perkembangan anak dan merupakan sarana yang diakui secara universal untuk menilai tingkat keseluruhan dan tingkat

4 digilib.uns.ac.id 10 perkembangan anak selama bulan-bulan awal tahun dan setelah lahir. Dari berbagai pendapat mengenai perkembangan motorik di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah menggunakan otot kasar dan halus yang sangat penting yang dapat melatih ketangkasan, kecepatan, kekuatan, kelenturan, serta ketepatan koordinasi tangan dan mata agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. d. Pola Umum Perkembangan Motorik Pada Anak Perkembangan motorik anak lebih halus, lebih sempurna, dan terkoordinasi dari masa sebelumnya, seiring bertambahnya berat dan tinggi badan. Mereka sudah mampu mengontrol dan mengoordinasi setiap gerakan badan, seperti kemampuan mengoordinasi kakinya untuk menendang bola ke gawang secara akurat sebagaimana yang dikemukakan Thobrini & Mumtaz (2011: 18). Untuk mengembangkan gerak motorik, biasanya anak lebih banyak melakukan aktivitas permainan dan olahraga. Hal ini dapat memberikan latihan dan kesempatan belajar bersaing, berteman, bersahabat, dan memperluas pergaulan. Selanjutnya mengenai perkembangan motorik, Gassel, Ames dan Illingsworth menyatakan bahwa perkembangan motorik pada anak meliputi delapan pola umum (Suyanto, 2005: 51-53) yaitu sebagai berikut: 1) Continuity (bersifat kontinyu), dimulai dari yang sederhana ke yang lebih kompleks sejalan dengan bertambahnya usia anak. 2) Uniform Sequence (memiliki tahapan yang sama), yaitu memiliki pola tahapan yang sama untuk semua anak, meskipun kecepatan tiap anak untuk mencapai tahapan tersebut berbeda. 3) Maturity (kematangan), yaitu dipengaruhi oleh perkembangan sel syaraf, sel syaraf telah terbentuk semua saat anak lahir, tetapi proses mielinasinya masih terus berlangsung sampai beberapa tahun kemudian. Anak tidak dapat melakukan suatu gerak motorik tertentu yang terkoordinasi sebelum proses mielinasi tercapai. 4) Umum ke khusus, yaitu dimulai dari gerak yang bersifat umum ke gerak yang bersifat khusus. Gerakan secara menyeluruh dari badan terjadi lebih dahulu commit sebelum to user gerakan bagian-bagiannya. Hal ini

5 digilib.uns.ac.id 11 disebabkan karena otot-otot besar (gross muscles) berkembang terlebih dahulu ketimbang otot-otot halus (fine muscles). 5) Dimulai dari gerak refleks bawaan ke arah gerak yang terkoordinasi. Anak lahir di dunia telah memiliki refleks, seperti menangis bila lapar, haus, sakit, atau merasa tidak enak. Refleks tersebut akan berubah menjadi gerak yang terkoordinasi dan bertujuan. Misalnya orang dewasa tidak lagi menangis hanya karena lapar. 6) Bersifat chepalo-caudal direction, artinya bagian yang mendekati kepala berkembang lebih dahulu dari bagian yang mendekati ekor. Otot pada leher berkembang terlebih dahulu dari pada otot kaki. 7) Bersifat proximo-distal, artinya bahwa bagian yang mendekati sumbu tubuh (tulang belakang) berkembang lebih dahulu dari yang lebih jauh. Otot da syaraf lengan berkembang lebih dahulu dari pada otot jari. Oleh karena itu anak TK menangkap bola dengan lengan, dan bukan dengan jari. 8) Koordinasi bilateral menuju crosslateral, artinya bahwa koordinasi organ yang sama berkembang lebih dahulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan. Contoh pada saat anak TK melempar bola tenis, tangan kanan terayun, disertai ayunan kaki kanan. Bagi orang dewasa, justru kaki kiri maju, diikuti ayunan tangan kanan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola umum perkembangan motorik pada anak merupakan kemampuan mengontrol dan mengoordinasi setiap gerakan badan yang mana perkembangan motorik pada anak juga meliputi delapan pola umum, yaitu bersifat kontinyu, memiliki tahapan yang sama, kematangan, umum ke khusus, dari gerak refleks ke arah terkoordinasi, bersifat chepalo-caudal direction, proximo distal, bilateral menuju crosslateral. e. Prinsip Perkembangan Motorik Prinsip perkembangan motorik merupakan berbagai kegiatan motorik yang menggunakan tangan, pergelangan tangan, dan jari tangan untuk menjangkau, menggenggam, dan melipat ibu jari, berkembang dalam urutan yang dapat diramalkan, selain itu kegiatan motorik lainnya adalah yang melibatkan kaki, tangan, dan keseluruhan anggota badan seperti berjalan, melompat jauh, berlari, dan melompat tinggi dan mencakup umur dan urutan perkembangan keterampilan khusus seperti makan sendiri, berpakaian sendiri, melempar dan menangkap bola.

6 digilib.uns.ac.id 12 Terdapat lima prinsip perkembangan motorik menurut Hurlock (2005: ) yakni sebagai berikut: 1) Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan syaraf Perkembangan motorik setiap individu berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pusat syaraf dan urat syaraf. Sistem syaraf diperlukan untuk menunjang terwujudnya keterampilan motorik, selain itu perkembangan motorik juga bergantung pada koordinasi yang baik antar otot. Sistem syaraf tersebut akan berkembang selama tahun awal perkembangan individu, ketika usia 4-5 tahun pasca lahir, mereka dapat melakukan gerakan dasar yang melibatkan hampir semua bagian badan, akan tetapi setelah umur 5 tahun terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan otot yang lebih kecil. Hal itu dikarenakan pada masa kanak-kanak otot berbelang (stipped muscle) yakni otot yang mengendalikan gerakan sukarela berkembang dalam laju yang agak lambat. 2) Belajar keterampilan motorik tidak terjadi sebelum anak matang Sebelum sistem syaraf dan otot berkembang dengan baik, upaya untuk mengajarkan gerakan terampil bagi anak akan sia-sia. Sama juga halnya apabila upaya tersebut diprakarsai oleh anak itu sendiri. Pelatihan seperti itu mungkin menghasilkan beberapa keuntungan sementara, tetapi dalam jangka panjang pengaruhnya tidak akan berarti atau nihil. 3) Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan Pola perkembangan motorik yang diramalkan terbukti dari adanya perubahan kegiatan massa ke kegiatan khusus. Dengan matangnya mekanisme urat syaraf, kegiatan massa digantikan dengan kegiatan spesifik; dan secara acak gerakan kasar membuka jalan untuk memperhalus gerakan yang hanya melibatkan otot dan anggota badan yang tepat. 4) Dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik Berdasarkan umur rata-rata dimungkinkan untuk menentukan norma untuk bentuk kegiatan commit motorik to user lainnya. Norma tersebut dapat

7 digilib.uns.ac.id 13 digunakan sebagai petunjuk yang memungkinkan orang tua dan orang lain untuk mengetahui apa yang dapat diharapkan dan pada umur berapa hal itu dapat diharapkan dari anak. Petunjuk tersebut dapat juga digunakan untuk menilai kenormalan perkembangan anak. 5) Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik Meskipun dalam apek yang lebih luas perkembangan motorik mengikuti pola yang serupa untuk semua orang, dalam rincian pola tersebut terjadi perbedaan individu. Hal ini mempengaruhi umur pada waktu perbedaan individu tersebut mencapai tahap yang berbeda. Sebagian kondisi tersebut mempercepat laju perkembangan motorik, sedangkan sebagian lagi memperlambatnya. Kondisi yang dilaporkan memiliki dampak paling besar terhadap laju perkembangan motorik. Secara garis besarnya, urutan perkembangan keterampilan motorik mengikuti dua prinsip sebagaimana yang dikemukakan Desmita (2009: 98) yaitu, Pertama, prinsip cephalocaudal (dari kepala ke ekor), menunjukan urutan perkembangan, di mana bagian atas badan lebih dahulu berfungsi dan terampil digunakan sebelum bagian yang lebih rendah. Kedua, prinsip proximodistal (dari dekat ke jauh), menunjukan perkembangan keterampilan motorik, di mana bagian tengah badan lebih dahulu terampil sebelum bagian-bagian di sekelilingnya atau bagian yang lebih jauh Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip perkembangan motorik adalah berbagai kegiatan motorik yang dilakukan oleh anggota badan yang mengikuti prinsip perkembangan motorik yang mana setiap prinsip memiliki perkembangan berbeda, dan secara garis besar perkembangan motorik mengikuti dua prinsip yaitu cephalocaudal dan proximodistal. f. Fungsi perkembangan motorik Nisnayeni (2012) berpendapat, Tujuan dan Fungsi perkembangan motorik adalah penguasaan keterampilan yang tergrafik dalam perkembangan menyelesaikan commit tugas to user motorik tertentu. Kualitas motorik

8 digilib.uns.ac.id 14 terlihat dari seberapa jauh anak tersebut mampu menampilkan tugas motorik yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu. Jika keberhasilan dalam melaksanakan tugas motorik tinggi, berarti motorik yang dilakukan efektif dan efisien (hlm. 2). Perkembangan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Hurlock dalam Fridani, Wulan, Pujiastuti (2009: ) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi sebagai berikut: perkembangan individu yaitu 1) Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang, seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan lainnya. 2) Melalui keterampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi helplesness (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ke kondisi yang independence (bebas, tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat ketempat lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan self confidence (rasa percaya diri). 3) Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjusment). Pada usia pra sekolah (TK) atau usia kelas awal sekolah dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis dan baris berbaris. 4) Melalui perlembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan). 5) Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self concept atau konsep diri/kepribadian anak. Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa fungsi perkembangan motorik adalah penguasaan keterampilan yang mana melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya sendiri, dari tidak berdaya menjadi tidak bergantung atau mandiri, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak bergaul dengan teman sebaya, dan keterampilan motorik sangat penting bagi kepribadian anak.

9 digilib.uns.ac.id 15 g. Jenis-jenis Perkembangan Motorik Suyadi (2010) berpendapat, Perkembangan motorik terdiri dari dua jenis, yakni motorik kasar dan motorik halus. Gerak motorik kasar bersifat gerakan utuh, sedangkan gerakan motorik halus lebih bersifat keterampilan detail (hlm. 68). Jenis-jenis perkembangan motorik akan dijelaskan sebagai berikut: 1) Motorik kasar Motorik kasar adalah gerak anggota badan secara kasar atau keras. Mengakibatkan tumbuh kembang otot semakin membesar dan menguat. Dengan membesar dan menguatnya otot tersebut, keterampilan baru selalu bermunculan dan semakin bertambah kompleks. 2) Motorik halus Motorik halus adalah meningkatnya pengoordinasian gerak tubuh yang melibatkan otot dan syaraf yang jauh lebih kecil atau detail. Kelompok otot dan syaraf inilah yang nantinya mengembangkan gerak motorik halus, seperti meremas kertas, menyobek, menggambar, menulis, dan lain sebagainya. Izzaty (2005: 54) mengemukakan bahwa perkembangan motorik secara umum dikategorikan dalam dua jenis yaitu perkembangan motorik kasar dan halus. Perkembangan motorik kasar dan halus tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: 1) Motorik Kasar Motorik kasar anak usia 4-6 tahun diantaranya adalah mampu berjalan, berlari, melompat, memanjat, melempar dan menangkap. 2) Motorik Halus Pada usia 4-6 tahun, koordinasi mata dan tangan anak semakin baik. Anak dapat menggunakan kemampuannya untuk melatih diri dengan bantuan orang dewasa. Anak dapat menyikat gigi, menyisir, mengancingkan baju, membuka dan memakai sepatu serta makan menggunakan sendok dan garpu.

10 digilib.uns.ac.id 16 Berdasarkan beberapa pendapat mengenai jenis-jenis perkembangan motorik, dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis-jenis perkembangan motorik terbagi menjadi dua yaitu motorik kasar dan motorik halus. h. Pengertian Motorik Kasar Menurut Fikriyati (2013) berpendapat, Motorik kasar adalah gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh (hlm. 32). Sejalan dengan pendapat tersebut Yusmarni (2005) berpendapat, Kegiatan pengembangan fisik motorik mencakup kegiatan yang mengarah pada kegiatan untuk melatih motorik kasar yang terdiri atas gerakan jalan, lari, lompat, senam, keterampilan dengan bola, keterampilan menggunakan peralatan, menari, latihan ritmik dengan gerak gabungan (hlm. 2) Dalam jurnal internasional University of South Carolina yang berjudul Assessment of Gross Motor Development, Williams and Monsma (2006: 399) mendefinisikan pengertian perkembangan motorik kasar, yaitu: Gross motor development may be defined simply as the acquisition of control and use of the large muscle masses of the body, the preschool years are characterized by the appearance and mastery of a number of gross motor skills also known as the fundamental motor skills, these fundamental motor skills include body projection (locomotor skills), body manipulation (nonlocomotor actions), and object control or ball handling skills, body projection or locomotor skills include running, jumping, hopping, skipping, galloping, leaping, and sliding. Pengembangan motorik kasar di atas dapat diartikan bahwa motorik kasar secara sederhana sebagai akuisisi kontrol dan penggunaan massa otot besar tubuh, tahun-tahun prasekolah ditandai dengan penampilan dan penguasaan sejumlah keterampilan motorik kasar juga dikenal sebagai "fundamental keterampilan motorik" Keterampilan ini meliputi proyeksi motorik dasar tubuh (keterampilan gerak), manipulasi tubuh (tindakan nonlocomotor), dan kontrol obyek atau bola keterampilan penanganan, tubuh proyeksi atau lokomotor keterampilan termasuk berlari, melompat, melompat, melompat-lompat, berlari, melompat, dan geser.

11 digilib.uns.ac.id 17 Berdasarkan pada pengertian motorik kasar para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa motorik kasar adalah perkembangan dari unsur kematangan yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar. i. Tahap-tahap Perkembangan Motorik Kasar Fridani, Wulan, & Pujiastuti mengemukakan tahap perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Ada tiga unsur yang menentukan dalam perkembangan motorik, yaitu otak, syaraf, dan otot. Ketika motorik bekerja, ketiga unsur tersebut melaksanakan masing-masing peranannya secara interaktif positif, artinya unsur-unsur yang satu saling berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi dengan unsur yang lainnya untuk mencapai kondisi motoris yang lebih sempurna keadaannya (2008: 2.5). Menurut Andrie (2010) pada dasarnya yang dimaksud dengan tahap perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Secara umum, perkembangan motorik dibagi menjadi dua yaitu motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang melibatkan keterampilan otot-otot besar. Gerakan-gerakan seperti tengkurap, duduk, merangkak, dan mengangkat leher adalah bagian dari aktivitas motorik kasar. Gerakan inilah yang pertama terjadi pada tahun pertama usia anak. Sedangkan motorik halus merupakan aktivitas keterampilan yang melibatkan gerakan-gerakan otot kecil. Menggambar, meronce manik-manik, menulis dan makan adalah contoh beberapa gerakan motorik halus. Adapun tahap-tahap perkembangan motorik kasar yang dikemukakan Fikriyati (2013: 33-38) adalah sebagai berikut: 1) Usia bulan (1-1;6 tahun) Sampai usia 15 bulan, anak diharapkan mampu berdiri tanpa bantuan; terbangun langsung ke posisi duduk; merambat dengan berpegangan menjelajah dari satu area ke area lain. Sebagian besar anak

12 digilib.uns.ac.id 18 mampu berdiri sendiri, bangkit untuk berdiri, bahkan beberapa anak dapat berjalan. Usia bulan mampu berjalan dengan baik; berdiri kembali dari posisi duduk; berlari; membungkukan badan dan memungut benda; melempar bola; menendang bola; menarik dan mendorong benda. Beberapa anak dapat berlari; bahkan senang mengejar orang tua atau saudaranya yang lebih besar. Ada pula yang sudah mampu berjalan menaiki tangga. 2) Usia bulan (1;6-2 tahun) Berlari; menarik mainan sambil belajar, membawa mainan besar sambil berjalan; naik-turun bangku tanpa bantuan, menendang bola ke arah muka; menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur. Beberapa anak mungkin mampu melompat. 3) Usia bulan (2-3 tahun) Melompat di tempat; memanjat dengan baik; berjalan naik-turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga. Beberapa anak mampu berdiri seimbang pada satu kaki selama 2 detik, dan meloncat jauh. 4) Usia 3-4 tahun Berdiri di atas satu kaki selama 2 detik lalu secara bertahap meningkat hingga akhirnya anak mampu berdiri di atas satu kaki selama 6 detik pada usia 4 tahun. Melompat di atas benda setinggi 15 cm. 5) Usia 4-5 tahun Selain kemampuan-kemampuan sebelumnya, anak juga diharapkan dapat berjalan pada garis lurus ke depan atau ke belakang; berjalan di atas papan keseimbangan; dapat melompat sambil berlari; melompat di tempat dengan satu kaki; melompat ke depan 10 kali tanpa jatuh; mampu berlari, menikung, dan berhenti secara efektif/terkontrol. Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa tahap perkembangan motorik kasar adalah perkembangan dari unsur kematangan berupa proses tumbuh kembang commit kemampuan to user ge rak seorang anak dan

13 digilib.uns.ac.id 19 terbagi ke dalam 5 tahap perkembangan dari usia bulan, usia bulan, usia bulan, usia 3-4 tahun, dan usia 4-5 tahun yang mempunyai target pencapaian perkembangan yang berbeda. j. Pencapaian Perkembangan Motorik Kasar Usia 4-<5 Tahun Dalam Permendiknas (2009: 11) pada lingkup perkembangan motorik kasar terdapat 8 indikator yang terkait dengan perkembangan motorik kasar, yaitu: (1) menirukan gerakan binatang, pohon tertiup angin, pesawat terbang, dsb, (2) melakukan gerakan menggelantung (bergelayut, (3) melakukan gerakan melompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi, (4) melempar sesuatu secara terarah, (5) menangkap sesuatu secara tepat, (6) melakukan gerakan antisipasi, dan (7) menendang sesuatu secara terarah. (8) memanfaatkan alat permainan diluar kelas. Dalam Permendiknas (2009) di atas, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa aspek dalam tingkat pencapaian perkembangan. Akan tetapi dalam penelitian ini, kegiatan bermain balap karung mencari bola hanya menggunakan 3 dari 8 aspek perkembangan motorik kasar. Alasannya karena disebabkan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki sehingga peneliti memilih 3 aspek perkembangan yaitu (1) melakukan gerakan molompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi. (2) melempar sesuatu secara terarah. (3) melakukan gerakan antisipasi. 2. Hakikat Bermain Balap Karung Mencari Bola a. Pengertian Bermain Tokoh yang mengawali anggapan pentingnya bermain adalah Plato, seorang filsup yang berasal dari Yunani. Menurut Plato, membagikan apel kepada anak-anak akan memudahkan mereka belajar aritmetika. Sedang pemberian mainan berupa miniatur balok-balok akan mengajarkan anak akan ilmu bangunan (Martuti, 2008: 1). Iran J Pediatr dalam jurnal internasional yang berjudul The Effect of Traditional Games in Fundamental Motor Skill Development in 7-9 Year- Old Boys oleh Akbari, Abdoli, Shafizadeh, Khalaji, Hajihosseini, Ziaee (2009: 124) mendefinisikan:

14 digilib.uns.ac.id 20 Play can be proposed as an approach for movement skill instruction it is the primary mode by which children learn about their bodies and movement capabilities. It also serves as an important facilitator of cognitive and affective growth in young children as well as an important means of developing both fine and gross motor skills. Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa bermain dapat diusulkan sebagai pendekatan untuk instruksi keterampilan gerakan itu adalah modus utama anak-anak belajar tentang tubuh mereka dan kemampuan gerak. Hal ini juga berfungsi sebagai fasilitator penting petumbuhan kognitif dan afektif dalam muda anak-anak serta sarana penting mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar. Kegiatan bermain adalah hak asasi bagi anak usia dini yang memiliki nilai utama dan hakiki pada masa pra-sekolah. Kegiatan bermain bagi anak usia dini adalah sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan kepribadiannya. Bermain bagi anak tidak sekedar mengisi waktu, tetapi media bagi anak untuk belajar. Setiap bentuk kegiatan bermain pada anakanak pra sekolah mempunyai nilai positif terhadap perkembangan kepribadiannya (Wiyani & Barnawi, 2012: 91). Menurut Montessori dalam Sudono (2000: 2), menekankan bahwa ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dan juga seorang tokoh pendidikan prasekolah, yaitu Frobel juga menyatakan bahwa imajinasi merupakan dunia anak. Gordon & Browne dalam Moeslichatoen (2004: 32) menyatakan bahwa apapun batasan yang diberikan tentang pengertian bermain membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan, dan memungkinkan anak berkhayal seperti sesuatu atau seseorang, suatu dunia yang dipersiapkan untuk berpetualang dan mengadakan telaah suatu dunia anak-anak. Bermain merupakan wahana yang memungkinkan anak-anak berkembang secara optimal, seperti yang didefinisikan oleh Catron & Alen dalam Musfiroh (2005: 1). Bermain secara langsung mempengaruhi seluruh

15 digilib.uns.ac.id 21 wilayah dan aspek perkembangan anak. Kegiatan bermain memungkinkan anak belajar tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya anak bebas berimajinasi, bereksplorasi, dan mencipta sesuatu. Dan bermain merupakan suatu kegiatan yang sangat disenangi anak (Yus, 2011). Dari berbagai macam pengertian bermain di atas dapat di simpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang memudahkan anak belajar melalui bermain sesuai keinginan dengan tujuan mengisi waktu agar anak melalui bermain dapat mengetahui segala sesuatu yang ada di lingkungan dan anak bebas berimajinasi, bereksplorasi, dan mencipta sesuatu yang menimbulkan kesenangan dalam diri anak. b. Ciri-ciri Bermain Musfiroh (2005: 6) mengemukakan bermain memiliki ciri-ciri yang khas, yang membedakannya dengan kegiatan lain. Kegiatan bermain pada anak-anak memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Bermain selalu menyenangkan (pleasurable) dan menikmatkan atau menggembirakan (enjoyable). 2) Bermain tidak bertujuan ekstrinsik, motivasi bermain adalah motivasi intrinsik. Berarti anak bermain semata-mata karena anak memang ingin melakukannya. 3) Bermain bersifat spontan dan sukarela. 4) Bermain melibatkan peran aktif semua peserta. 5) Bermain juga bersifat nonliteral, pura-pura, atau tidak senyatanya. 6) Bermain tidak memiliki kaidah ekstrinsik artinya memiliki aturan ditentukan sendiri oleh pemain. 7) Bermain bersifat aktif. 8) Bermain bersifat fleksibel. Anak bebas bermain apa saja yang mereka inginkan. Berikut terdapat beberapa macam ciri-ciri bermain menurut Mayke dalam Suyadi, (2010: 284) yaitu: 1) Dilakukan atas pilihan sendiri, motivasi pribadi, dan untuk kepentingan sendiri. 2) Anak yang melakukan aktivitas bermain mengalami emosi-emosi positif.

16 digilib.uns.ac.id 22 3) Adanya unsur fleksibilitas, yaitu mudah ditinggalkan untuk beralih ke aktivitas yang lain tanpa beban. 4) Tidak ada tekanan tertentu atas permainan tersebut, hingga tidak ada target yang harus dicapai. 5) Bebas memilih, cara ini mutlak bagi anak usia dini 6) Mempunyai kualitas pura-pura, seperti anak memegang kertas lipat pura-pura menjadi pesawat dan sejenisnya. Solehuddin, dkk (2009: 5.4) mengemukakan tujuh ciri bermain yaitu sebagai berikut: 1) Voluntir, yaitu anak bermain dengan suka rela tanpa paksaan 2) Spontan, yaitu nak dapat bermain kapanpun anak mau 3) Berorientasi pada proses, yaitu fokus dalam bermain melakukan aktivitas bermain itu sendiri, bukan hasil akhir dari kegiatan 4) Didorong motivasi intrinsik, yaitu yang mendorong adalah kegiatannya itu sendiri 5) Menyenangkan, yaitu bisa memberikan perasaan-perasaan positif bagi para pelakuknya 6) Aktif, yaitu mmemerlukan keterlibatan aktif dari para pelakunya 7) Bersifat fleksibel, yaitu bermain memiliki kebebasan untuk memilik jenis kegiatan yang ingin dilakukannya Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan ciri-ciri bermain yaitu kegiatan yang bersifat menyenangkan bagi anak yang dilakukan berdasarkan keinginannya sendiri tanpa adanya paksaan dari siapapun. c. Fungsi Bermain Hartley, Frank dan Goldenson dalam Moeslichatoen (2004: 33-34) menyatakan ada 8 fungsi bermain bagi anak, yaitu: 1) Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa 2) Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, sopir mengendarai bus, petani menggarap sawah, dan sebagainya. 3) Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata

17 digilib.uns.ac.id 23 4) Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-neluk air, dan sebagainya 5) Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima 6) Untuk kilas balik peran-peran yang bisa dilakukan 7) Mencerminkan pertumbuhan 8) Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah Tidak hanya itu, bermain menurut Sutrisno & Harjono (2005: 50) dapat berfungsi sebagai (1) sarana untuk ekspresi diri, (2) untuk mengurangi kecemasan, tekanan, emosional, dan egosentrisme, dan (3) media yang memungkinkan anak untuk mengeksplorasi pengalaman yang bermanfaat untuk kehidupannya kelak. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai fungsi bermain di atas disimpulkan bawa fungsi bermain bagi anak adalah meniru dan melakukan berbagai peran, mencerminkan hubungan dalam keluarga, menyalurkan perasaan, melepaskan dorongan yang tidak diterima, kilas balik peran, mencerminkan pertumbuhan, untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaiannya. Selain itu bermain juga berfungsi untuk sarana ekspresi diri, mengurangi kecemasan dan anak dapat bereksplorasi dengan lingkungannya. d. Manfaat Bermain Adapun manfaat bermain yang dikemukakan oleh Nakita dalam Kamtini & Tanjung (2005: 55) meliputi tiga ranah yaitu sebagai berikut: (a) Fisik-motorik. Anak akan terlatih motorik kasar dan halusnya. Dengan bergerak, ia akan memiliki otot-otot tubuh yang terbentuk secara baik dan lebih sehat secara fisik. (b) Sosial-emosional. Anak merasa senang karena ada teman bermainnya. Di tahun-tahun pertama kehidupan, orang tua merupakan teman bermain yang utama bagi anak. Ini membuatnya

18 digilib.uns.ac.id 24 merasa disayang dan ada kelekatan dengan orang tua, selain itu anak juga belajar komunikasi dua arah. (c) Kognisi. Anak belajar mengenal atau mempunyai pengalaman kasar-halus, rasa asam, manis, dan asin. Ia pun belajar perbendaharaan kata, bahasa, dan berkomunikasi timbal balik. Ismail (2009: 29) mengemukakan bahwa bermain juga dapat bermanfaat sebagai: (a) Sarana untuk membawa anak ke alam bermasyarakat (b) Untuk mengenal kekuatan sendiri (c) Untuk memperoleh kesempatan mengembangkan fantasi dan menyalurkan kecenderungan pembawaannya (d) Dapat melatih emosi (e) Untuk memperoleh kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan (f) Melatih diri untuk menaati peraturan yang berlaku Adapun manfaat bermain yang dikemukakan Thobroni & Mumtaz (2011: 42) yaitu: (a) Aspek fisik. Bermain membutuhkan fisik yang sehat untuk melakukan gerakan-gerakan kecil dan besar (b) Aspek perkembangan motorik kasar dan halus. Anak akan belajar membuat keputusan dan menyiasati suatu permainan sehingga memunculkan kecerdasannya yang akan berimplikasi pada keterampilannya (c) Aspek sosial. Anak belajar untuk berinteraksi dengan orang lain (d) Aspek bahasa. Adalah keterampilan anak dalam melakukan komunikasi verbal dan komunikasi sosial (e) Aspek emosi dan kepribadian. Melalui bermain, anak memiliki rasa percaya diri dan merasa dihargai. Adapun kesimpulan dari manfaat bermain yaitu bermanfaat untuk fisik motorik, sosial-emosional, dan kognisi. Selain itu untuk mengetahui jati diri sendiri, serta kemampuan bahasa dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. e. Tahap-tahap Perkembangan Bermain Anak Adapun tahap-tahap perkembangan bermain pada anak yang dinyatakan oleh Fikriyati (2013: ) dijelaskan sebagai berikut:

19 digilib.uns.ac.id 25 1) Usia 1-2 tahun Masih bermain eksplorasi/menjelajah, namun daerah eksplorasinya lebih luas lantaran kemampuan fisiknya makin berkembang, yakni sudah bisa jalan, naik turun tangga dan sebagainya. Mulai mengenal mainan namun belum memainkannya sesuai fungsinya, misalnya, boneka atau buku masih digigit, dipukul, dipencet, dibanting, dibolak-balik, dan lainnya. semakin gesit dan tertarik mempraktikan kemampuan motoriknya, seperti naik turun kursi, memanjat meja tamu. Masih asyik bermain sendiri. Walaupun ada anak lain didekatnya, terkesan tak memperhatikan lingkungan sekelilingnya. Kalaupun tertarik dengan kehadiran anak lain, aktivitasnya lebih pada mengamati apa yang dilakukan anak lain. 2) Usia 2-3 tahun Masih memiliki kecenderungan bermain independen. Ia belum mau berbagi dengan temannya. Meski mereka terlihat bersama, tapi sebenarnya bermain sendiri-sendiri. Mulai bereksplorasi di luar rumah dalam arti halaman dan teras, seperti mencari bebatuan di halaman, mengamati iringan semut berjalan, meraba aneka macam dedaunan dan bunga. Mulai bermain simbolis atau bermain pura-pura/berkhayal, semisal pura-pura jadi batman, superman, atau dokter, polisi, dan lainnya, juga dapat menggunakan berbagai media sebagai simbol, semisal pisang menjadi gagang telepon, tali sebagai ular, dan lainnya. mampu memainkan permainan secara lebih kompleks, misal menyusun balok yang diinginkan anak, memasukkan gelang ke dalam pasak, dan sebagainya. 3) Usia 3-4 tahun Mampu membentuk konstruksi yang merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya dari kehidupan sehari-hari. Misal, membuat istana dari pasir atau membuat menara dari balok-balok, dan lainnya. Mampu melakukan dua aktivitas sekaligus, seperti melompat sambil kedua tangannya memegang commit bola. Mampu to user mengelompokkan sesuatu tapi

20 digilib.uns.ac.id 26 dengan karakteristik yang belum beragam. Misal, berdasarkan warna/bentuknya saja. Contoh, sama-sama warna biru atau sama-sama berbentuk binatang. 4) Usia 4-5 tahun Lebih menyukai permainan yang dimainkan bersama-sama teman sebayanya. Mulai berbagi mainan, mengikuti aturan main, bermain bergantian, dan patuh menunggu giliran. Mulai melakukan kegiatan bermain yang dianggap sesuai dengan kelompok seksnya. Misal, anak lelaki bermain balap mobil, kejar-kejaran, perang-perangan, dan lainnya serupa itu, sementara anak perempuan lebih senang bermain boneka, masak-masakan, rumah-rumahan, dan lainnya. Hurlock dalam Ismail (2009: 49) mengemukakan bahwa perkembangan bermain terjadi melalui tahapan-tahapan berikut: 1) Tahap Penjelajahan (Exploratory Stage) Ciri utama adalah berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda di sekelilingnya, lalu mengamatinya. 2) Tahap Mainan (Toy Stage) Bermain dengan alat permainan dimulai pada tahun pertama dan mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. 3) Tahap Bermain (Play Stage) Jenis permainannya sangat beragam. Semula mereka meneruskan bermain dengan alat permainan, terutama bila sendirian, setelah itu tertarik dengan permainan seperti olahraga, hobi, dan bentuk permainan matang lainnya. 4) Tahap Melamun (Daydream Stage) Semakin mendekati masa puber, mereka mulai kehilangan minat dalam permainan yang sebelumnya disenangi. Sebagai gantinya, mereka banyak menghabiskan waktu dengan melamun.

21 digilib.uns.ac.id 27 Adapun kesimpulan dari tahap-tahap perkembangan bermain anak terbagi menjadi empat tahap yaitu usia 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun, 4-5 tahun melalui tahap penjelajahan, mainan, dan bermain serta tahap melamun yang memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda. f. Resiko Bermain Beberapa masalah di bawah ini merupakan resiko bermain yang bisa terjadi sebagaimana yang dijelaskan oleh Tedjasaputra (2001: 95-99) yaitu: 1) Terlalu banyak waktu bermain Ada beberapa alasan yang mendasari bahwa membiarkan anak bermain akan membuat anak menjadi lebih pandai dan lebih mampu menyesuaikan diri. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Beberapa alasannya yaitu: (a) Terlalu banyak waktu yang digunakan anak untuk bermain membuatnya merasa bosan walau jenis permainannya sangat bervariasi. Sehingga anak mengulang permainan agar tidak bosan. Kebosanan akan mempengaruhi motivasi anak dalam melakukan kegiatan lainnya di luar bermain. Sehingga mempengaruhi kinerja anak menjadi tidak optimal. (b) Sedikitnya waktu yang digunakan anak untuk belajar dan berkarya, membuat anak kurang mendapatkan dukungan sosial yang sebenarnya dibutuhkannya. (c) Kurangnya kesempatan yang diberikan kepada anak untuk berkarya dapat membuat anak menganggap bahwa melakukan kegiatan di luar bermain merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan dan perlu dihindari. Dampaknya bisa berlanjut ketika anak memang harus belajar dan berkarya, sehingga timbul sikap anti-bekerja, padahal sikap yang sebaliknya justru berguna untuk perkembangan personal dan sosialnya di kemudian hari.

22 digilib.uns.ac.id 28 2) Ketidakseimbangan antara bermain untuk sosialisasi dan bermain sendiri Sebenarnya bermain sosialisasi dan sendiri sangat penting bagi perkembangan anak. Bermain dengan teman sebaya mengembangkan kemampuan personal dan dirinya, anak belajar bagaimana berinteraksi dengan anak lain. Tetapi apabila anak kurang melibatkan diri pada kegiatan bermain sendiri, anak mengalami kesulitan melakukannya, seperti ketika sakit yang tidak mungkin bermain bersama teman. 3) Penekanan yang berlebihan untuk melakukan kegiatan bermain yang sesuai dengan jenis kelamin anak Pemilihan alat permainan yang sesuai dengan jenis kelamin akan meningkat sejalan dengan pertambahan usia, mungkin disebabkan oleh pengaruh orang tua dan teman sebayanya. Anak akan selalu diberikan alat permainan dari jenis kelaminnya dan dihindari untuk bermain dengan alat permainan dari jenis kelamin yang berbeda. 4) Alat permainan yang tidak tepat Ada beberapa alasan mengapa alat permainan tidak tepat untuk anak, yaitu sebagai berikut: (a) Berbahaya (b) Pilihan orang tua (c) Terlalu sedikit jenisnya (d) Memilih alat permainan sesuai usia kronologis anak (e) Alat permainan terlalu rumit untuk anak (f) Alat permainan terlalu mudah untuk anak (g) Alat permainan yang terlalu rapuh 5) Terlalu banyak atau terlalu sedikit bimbingan yang diberikan Anak yang terlalu sedikit mendapat bimbingan tentang cara memainkan alat permainan akan cepat merasa bosan, karena tidak tahu cara memainkannya. Sedang anak yang terlalu banyak mendapat instruksi akan cenderung merasa bahwa bermain sama dengan belajar dan

23 digilib.uns.ac.id 29 yang penting adalah hasil akhirnya dan bukan rasa senang yang ditimbulkan dari kegiatan bermain itu sendiri. Berdasarkan pemaparan di atas, disimpulkan bahwa resiko bermain terdiri dari beberapa macam yaitu terlalu banyak bermain menjadikan anak cepat bosan meskipun permainannya bervariasi, ketidakseimbangan antara bermain untuk sosialisasi dan bermain sendiri, penekanan yang berlebihan untuk melakukan kegiatan bermain yang sesuai dengan jenis kelamin anak, alat permainan yang tidak tepat, dan terlalu banyak atau terlalu sedikit bimbingan yang diberikan. g. Jenis-jenis Permainan Aisyah Fad (2014: 99) mengemukakan bahwa jenis-jenis permainan yang biasa dilakukan terutama pada saat perayaan peringatan 17 Agustus ada 19 jenis permainan diantaranya sebagai berikut: 1) Permainan makan kerupuk, 2) Bakiak beregu, 3) Gepuk bantal, 4) Balap karung, 5) Sepeda lambat, 6) Balap kelereng, 7) Pukul air, 8) Memindahkan belut, 9) Memasukan pensil dalam botol, 10) Sepak bola sarung, 11) Nyunggi tempeh, 12) Koin dalam jeruk, 13) Tarik tambang dalam lumpur, 14) Bendera dalam botol, 15) Pawai sepeda hias, 16) Balap terompah batok, 17) Balap enggrang, 18) Balap roda, dan 19) Kipas balon. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan permainan balap karung, balap karung yang dimainkan adalah bermain balap karung mencari bola yang bertujuan untuk meningkatkan perkembangan motorik kasar anak agar dapat berkembang dengan baik. h. Pengertian Balap Karung Mencari Bola Menurut Suwandi (2012), Balap karung merupakan permainan yang termasuk jenis permainan anak tradisional karena memang telah dilakukan dalam waktu yang lama dan peralatan yang digunakan juga sederhana. Balap karung ini bisa dilakukan oleh anak-anak, remaja, dewasa, hingga para orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Biasanya dikelompokkan berdasarkan tingkatan umur dan jendernya. Kelompok anak-anak dimainkan oleh anak-anak, demikian pula commit dengan to user kelompok lainnya.

24 digilib.uns.ac.id 30 Balap karung termasuk dolanan kompetisi atau jenis permainan yang selalu dilombakan. Ada pihak yang kalah dan menang. Minimal harus ada 2 anak yang bermain. tetapi lebih seru dimainkan, jika pesertanya semakin banyak. Namun begitu, setiap tahapan, sebaiknya menghadirkan antara 2-5 peserta, disesuaikan dengan tempatnya. Lokasi yang dipakai bisa tanah berumput, tanah beraspal, tanah konblok, atau jenis lainnya. tetapi sebaiknya tempat yang dipakai aman dan nyaman bagi peserta. Peserta dianggap pemenang apabila mencapai finish atau garis akhir paling cepat. Peserta boleh melompat-lompat atau berlari dengan kaki-kaki tetap di dalam ujung karung goni. Namun demikian, selama perlombaan, karung goni tidak boleh terlepas dari pegangan tangan dan tubuh tetap berada di dalam karung goni. Itu merupakan beberapa peraturan dalam permainan balap karung. Selain itu, biasanya ada peserta yang jatuh atau karungnya terlepas dari genggaman tangan, harus diawali lagi dari garis start. Balap karung ini selalu ramai ketika menjelang perayaan peringatan hari kemerdekaan RI atau sering disebut dengan peringatan Tujuh Belasan. Hampir di setiap kampung, selalu menggelar berbagai perlombaan, salah satunya adalah lomba balap karung. Selain itu balap karung juga dapat melatih motorik kasar anak, melatih kelincahan, mengajarkan kemampuan sosial, berkompetensi dan membangun sportifitas. Untuk lebih meningkatkan minat anak dalam bermain balap karung ini, khususnya anak TK, permainan balap karung yang biasanya dimainkan hanya dengan menggunakan karung goni kemudian anak memasukkan tubuhnya dan melompat dari garis start sampai finish, terdapat pula permainan balap karung yang berbeda yaitu permainan balapan karung mencari bola. Tujuan dari permainan Balap Karung Mencari Bola yaitu mengasah kecerdasan kinestetik dan logika matematika anak (Madyawati, 2012: 7). Dalam pembelajaran menggunakan kegiatan bermain balap karung mencari bola, peneliti menfokuskan commit kegiatan to user bermain ini untuk meningkatkan

25 digilib.uns.ac.id 31 perkembangan motorik kasar anak dan dengan diterapkannya kegiatan bermain balap karung mencari bola diharapkan motorik kasar anak dapat meningkat dan berkembang secara optimal. Dari berbagai macam pengertian mengenai bermain balap karung mencari bola, dapat disimpulkan bahwa permainan balap karung mencari bola adalah salah satu jenis permainan tradisional yang dapat dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa, serta orang tua dengan memasukkan tubuhnya kedalam karung goni kemudian melompat dari garis start sampai finish yang mana dapat melatih kecerdasan kinestetik seperti motorik kasar anak, melatih kelincahan, mengajarkan kemampuan sosial, berkompetensi dan membangun sportifitas. i. Alat dan Bahan dalam bermain Balap Karung Mencari Bola Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam bermain balapan karung mencari bola sebagaimana dikemukakan oleh Lilis Madyawati (2012: 7) ini adalah sebagai berikut: 1) Sarung bantal/karung kecil 2) Bola warna merah, kuning, dan hijau (masing-masing warna lima buah) 3) Kardus ukuran sedang satu buah 4) Garis pembatas (rafia) 5) Keranjang warna tiga buah (sesuai warna bola) Alat yang dipakai dalam permainan balap karung mencari bola adalah karung goni yang terbuat dari bahan tanaman. Karung goni mudah didapat di pasar-pasar. Karung goni ini sering dipakai sebagai tempat menyimpan beras, gula pasir, atau palawija lainnya. jadi bahan yang dipakai adalah terbuat dari goni dan bukan dari plastik. Selain kuat, juga nyaman dipakai saat tanding, dan tidak mudah melecetkan kaki. Prosedur permainan: 1) Pemanasan: anak diajak menyanyi dan menari poki-poki, sambil menggerakkan kepala, bahu, tangan, dan kaki sesuai dengan syair nyanyian 2) Guru memberi contoh cara bermain

26 digilib.uns.ac.id 32 3) Kesembilan anak dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok I merah, kelompok II biru, kelompok III hijau) 4) Masing-masing kelompok berbaris memanjang ke belakang 5) Keranjang bola ditempatkan dengan tidak urut dan kardus diletakkan berjauhan 6) Kemudian guru memberi aba-aba yaitu : (a) Anak paling depan mengenakan sarung bantal/karung kecil (b) Kemudian lari/melompat mengambil bola satu buah dari dalam dus sesuai dengan warna kelompok (c) Masukkan bola itu ke dalam keranjang warna (sesuai warna kelompok) (d) Kembali ke barisan dan berdiri di bagian belakang setelah menyerahkan karung kepada teman urutan kedua (e) Teman yang mendapat giliran segera mengenakan karung berlompat mengambil bola dalam dus untuk dimasukkan ke dalam keranjang warna, kembali ke barisan serahkan karung kepada teman urutan ketiga. Berbaris dibelakang demikian terus menerus (f) Apabila bola salah satu warna telah habis dipindahkan ke dalam keranjang, itulah kelompok pemenangnya (g) Guru menunjukan bola pemenang dan bersama anak menghitungnya (h) Guru menentukan kelompok pemenang, memberikan reward (i) Dan yang terakhir melakukan pendinginan Tahap permainan, diawali dari sejumlah pemain yang hendak bermain. Misalkan ada 5 anak. Sebelumnya, disiapkan tempat dengan garisgaris lajur sepanjang sekitar meter (disesuaikan dengan tempat dan kesepakatan di awal), serta lebar setiap jalus sekitar 1 meter. Lalu 5 karung goni ditempatkan di satu sisi garis start sesuai lajurnya. Kemudian, 5 anak tadi bisa mengambil start dari garis finish atau garis ujung satunya. Mereka

27 digilib.uns.ac.id 33 berjajar urut nomor. Setiap anak dikatakan diskualifikasi atau gagal apabila nanti dalam berlari, menyebrang garis lajur milik temannya. Setelah semua siap, saat aba-aba mulai mereka berlari hingga menempuh pada tempat karung diletakkan. Setelah itu, tubuhnya dimasukkan ke dalam karung, dan mulai melompat atau berlari-lari menuju ujung satunya. Jika dalam kesepakatan, harus dua putaran (harus membalik), maka setelah sampai pada garis ujung, setiap anak wajib berbalik arah menuju ke ujung garis berikutnya. Apabila ada anak jatuh di tengah perjalanan, bisa diawali dari garis start lagi atau dari tempatnya terjatuh (semua itu tergantung dari kesepakatan awal). Anak yang mencapai pada garis finish paling awal dianggap sebagai pemenang. B. Hasil Penelitian yang Relevan 1. Penelitian Sri Indarti (2012) Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang dengan judul Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Permainan Tradisional Lompat Tali Pada Anak Kelompok B Di TK Al Ikhlas Karangkates Sumberpucung Malang. Dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa dengan permainan tradisional lompat tali dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar anak dalam berlari sambil melompat anak kelompok B Di TK Al Ikhlas Karangkates Sumberpucung Malang. Persamaan dari penelitian Indarti (2012) dan penelitian ini terdapat pada variabel terikatnya yaitu peningkatan kemampuan motorik kasar. Sedangkan perbedaannya terdapat pada variabel bebasnya. Penelitian yang dilakukan oleh Indarti (2012) mengenai Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Permainan Tradisional Lompat Tali, sedangkan penelitian ini adalah Peningkatan Perkembangan Motorik Kasar Melalui Bermain Balap Karung Mencari Bola. Terdapat pada lampiran 53 halaman Lilik Maslahah Muslimin (2012) Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang dengan judul Pengembangan Permainan commit to Sirkuit user Bakiak Untuk Pembelajaran

28 digilib.uns.ac.id 34 Fisik Motorik Kasar Anak Kelompok B di TKAisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang. Dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa Pengembangan Permainan Sirkuit Bakiak dapat dijadikan pembelajaran fisik motorik kasar anak kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Malang. Persamaan dari penelitian Muslimin (2012) dan penelitian ini terdapat pada variabel terikat yaitu pada motorik kasar. Sedangkan perbedaannya terdapat pada variabel bebasnya. Penelitian yang dilakukan oleh Muslimin (2012) mengenai Pengembangan Permainan Sirkuit Bakiak Untuk Pembelajaran Fisik Motorik Kasar, sedangkan penelitian ini menggunakan Permainan Balap Karung Mencari Bola untuk Meningkatkan Perkembangan Motorik Kasar. Terdapat pada lampiran 54 halaman Penelitian Anis Khoirun Nisa' (2010) Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang dengan judul Pengembangan kemampuan Motorik Kasar Kelompok B melalui Permainan Rainbow Circuit Di RA Al-QUR AN Sunan Kalijaga Karangploso Kabupaten Malang. Dalam penelitian beliau menyimpulkan bahwa melalui permainan Rainbow Circuit dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar anak kelompok B RA Al- QUR AN Sunan Kalijaga Karangploso Kabupaten Malang. Persamaan dari penelitian Nisa' (2010) dan penelitian ini terdapat pada variabel terikatnya yaitu pengembangan motorik kasar. Sedangkan perbedaannya terlihat pada variabel bebas yaitu penelitian Nisa' (2010) kemampuan Motorik Kasar melalui Permainan Rainbow Circuit, sedangkan di dalam penelitian ini Peningkatan Perkembangan Motorik Kasar melalui Permainan Balap Karung Mencari Bola. Terdapat pada lampiran 55 halaman 259. C. Kerangka Berfikir Perkembangan motorik kasar pada anak kelompok A TK Siwi Peni XI Surakarta masih kurang berkembang. Hal ini disebabkan karena guru masih jarang menerapkan permainan commit ke to dalam user pembelajaran. Kegiatan yang di