PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK"

Transkripsi

1 PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK (ROLE CURATOR BANK IN BANKRUPTCY AGAINST CUSTOMERS) Ni Wayan Umi Martina I Made Arjaya Kantor Hukum Arjaya Umi Martina & Partners Jl. By. Pass Ngurah Rai, No. 61 Kedonganan, Badung, Bali Fakultas Hukum Universitas Warmadewa Jl. Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali Hp ABSTRAK Tujuan dari kajian hukum ini adalah untuk memaparkan bagaimanakah peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta Debitor Pailit, dan bagaimanakah kedudukan bank apabila nasabah bank Pengadilan Niaga. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian hukum ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Dari hasil kajian hukum yang telah dilakukan, maka diketahui bahwa peranan Kkurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan UUK, kurator dapat melakukan pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan dan memberikan laporan pertanggungjawaban dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit kepada Hakim Pengawas. Kedudukan bank apabila nasabah bank Pengadilan Niaga, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis. Sedangkan bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren apabila di dalam perjanjian kredit aantara bank dengan debitor pailit diletakkan jaminan kebendaan, dan apabila dalam perjanjian kredit tersebut tidak terdapat jaminan/agunan. Kata kunci: Kurator, Kepailitan, Nasabah Bank ABSTRACT The aim of this study is to show the law how is the role of a curator to manage and dispose of the bankrupt Ddebtor s assets, and how the position of the bank if the customer is declared bankrupt bank based on decision of the Commercial Court. The method used in the study of this law is a normative legal research with the approach of statute and conceptual approach. The results of the study of law has been committed, it is known that the role of the curator to manage and dispose of property bankrupt debtor based on the bankruptry law, a curator can perform management and liquidation of the debtor s assets bankrupt since decision bankruptcy pronounced and accountability report in managing and tidy property bankrupt debtor to the Supervising Judge. The position of the bank if the customer and the bank declared bankrupt by the Commercial Court, as the Creditor Bank is separatists. While the bank is domisiled as a concurrent creditor, if in the loan agreement between the bank and bankrup debtor is placed a collaterial material, when the credit agreement there is no quarantee/collateral. Key words: Curator, Bankruptcy, Bank Customers PENDAHULUAN Perkembangan perekonomian di Indonesia sejak terjadi krisis ekonomi di Asia pada tahun 1997, menunjukkan perkembangan perekonomian yang lambat, banyak pelaku usaha yang mengalami kesulitan keuangan bahkan banyak perusahaan yang pailit. Pailit merupakan suatu keadaan debitor tidak mampu untuk melakukan pembayaran terhadap utangutang kepada para kreditor (Hadi Shubhan,2008:1). Black s Law Dictionary menyebutkan kepailitan adalah Bankrupt is the state or condition of one who is unable to pay his debts as they are, or due. (Henry Campbell Black, 1979:134). Beberapa tahun terakhir ini, terdapat beberapa nasabah bank yang dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Nasabah bank yang dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga tersebut sebagian besar usahanya bergerak di bidang hotel. Pengusaha hotel yang memperoleh 31

2 pinjaman dari bank yang digunakan untuk biaya pembangunan serta operasional hotelnya. Nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, biasanya tidak dapat melakukan kewajiban pembayaran utangnya kepada bank dengan baik sebagaimana yang telah ditentukan di dalam perjanjian kredit. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam UU ini (Pasal 1 angka 1 UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, selanjutnya disebut UUK). Apabila nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka nasabah bank tersebut berkedudukan sebagai debitor pailit. Debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan (Pasal 1 angka 4 UUK). Putusan pailit mengakibatkan debitor pailit demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan (Pasal 24 ayat (1) UUK). Debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan tidak mempunyai kapasitas hukum (legal capacity) untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sampai dengan berakhirnya kepailitan. Pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit dilakukan oleh kurator dan diawasi oleh Hakim Pengawas yang diangkat oleh Pengadilan Niaga dalam putusan pailit. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan pada hukum serta peraturan perundang-undangan. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta pailit mempunyai tanggung jawab hukum ( legal obligation) kepada Pengadilan Niaga, Majelis Hakim perkara a quo, Hakim Pengawas, Debitor Pailit, dan para kreditor. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit sebaiknya bersikap obyektif berdasarkan hukum, netral, memperhatikan, dan menjaga kepentingan hukum para pihak dalam kepailitan, agar semua pihak terlindungi hakhaknya serta tidak ada pihak yang dirugikan. Lembaga kepailitan merupakan penyelesaian utang-piutang secara hukum (legal formal) berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga terhadap kewajiban debitor kepada para kreditor secara lebih efektif, efisien, proporsional, dan keseluruhan/penyelesaian penuh atau pelunasan. Fungsi lembaga kepailitan adalah untuk melindungi kreditor dari kreditor lainnya, melindungi kreditor dari debitor, dan melindungi debitor yang beritikad baik dari para kreditor, sebagaimana pendapat Harold F.Lusk menyatakan: The purpose of the bankruptcy act are (a) to protect creditors from one another, (b) to protect creditors from their debtor, and (c) to protect the honest debtor from his creditors.(harold F. Lusk, 1986: 1076). Kepailitan menganut prinsip universal yaitu putusan pailit dari suatu pengadilan di suatu negara, putusan pailit tersebut mengikat demi hukum terhadap semua harta debitor baik yang berada di dalam negeri di tempat putusan pailit dijatuhkan maupun terhadap harta debitor yang berada di luar negeri. Prinsip universal kepailitan ini menekankan aspek internasional dari kepailitan yang dikenal dengan sebutan cross border insolvency (Hadi Shubhan, 2008:.47). berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, dapat mengikuti proses kepailitan di Pengadilan Niaga. Apabila bank yang nasabahnya Pengadilan Niaga tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga, maka bank akan kehilangan haknya dan kehilangan kesempatan untuk mengikuti proses kepailitan. yang tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga berpotensi dapat merugikan kedudukan bank dalam mendapatkan kembali pembayaran tagihannya dari debitor pailit melalui kurator. Bank yang nasabahnya Pengadilan Niaga yang tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga, berpotensi mendapatkan pembayaran tagihannya dari debitor pailit berdasarkan perhitungan kurator yang mungkin tidak sesuai dengan perhitungan dari nank. berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, apabila mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga untuk memperoleh pembayaran tagihannya dari debitor pailit melalui kurator berpotensi untuk mendapatkan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian kredit atau sesuai dengan ekspektasi dari perhitungan bank. Bank apabila sudah mengikuti semua proses kepailitan dan 32

3 berusaha untuk mendapatkan pembayaran tagihannya dari debitor pailit melalui kurator, berpotensi meminimalisir kerugian yang mungkin timbul akibat adanya nasabah bank yang dinyatakan pailit tersebut. Bank dalam mengikuti proses kepailitan di Pengadilan Niaga sebaiknya didampingi dan/atau diwakili oleh kuasa hukum yang mengerti hukum kepailitan, dan sudah berpengalaman beracara di Pengadilan Niaga, karena proses dan hukum acara yang berlaku dalam proses kepailitan adalah hukum acara khusus sebagaimana diatur di dalam UUK. UUK menganut beberapa asas, salah satunya yaitu asas integrasi yang mengandung makna bahwa hukum formil dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional. UUK mengatur hukum formil/hukum acara dalam Persidangan Permohonan Pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadian Niaga. Apabila di dalam UUK tidak diatur Hukum Acaranya, maka diberlakukan Hukum Acara Perdata Indonesia. berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dalam mengikuti proses persidangan sebaiknya mengikuti semua proses persidangan dan menggunakan haknya dengan baik secara maksimal untuk mendapatkan pembayaran tagihannya kepada debitor pailit melalui kurator. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah: 1. Bagaimakah peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit? 2. Bagaimanakah kedudukan bank apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga? PEMBAHASAN Peranan Kurator Dalam Mengurus dan Membereskan Harta Debitor Pailit Kurator adalah balai harta peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit di bawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan UU ini (Pasal 1 angka 5 UUK). Siapa saja yang dapat menjadi kurator adalah: a. Orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang mempunyai keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan/atau membereskan harta pailit, dan; b. Terdaftar pada kementrian yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan (pasal 70 ayat (2) UUK). Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan peraturan perundang-undangan, prinsip paritas creditorium, prinsip pari passu prorate parte, dan prinsip structured prorate. (Hadi Shubhan,2008:.27). Prinsip paritas creditorium (para kreditor mempunyai kedudukan yang setara) yang mengandung makna para kreditor mempunyai hak yang sama terhadap semua harta benda debitor. Prinsip paritas creditorium dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia ditentukan di dalam Pasal 1131 yang menentukan bahwa Segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada, maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan. Kurator dalam menjalankan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit yang biasa disebut harta pailit/ budel pailit, memberikan perlakuan yang sama dan memberikan kesempatan yang sama kepada para kreditor di dalam proses kepailitan untuk mendapatkan pembayaran dari debitor pailit berdasarkan peraturan perundang-undangan. Prinsip kesetaraan kedudukan para kreditor ini sesuai dengan keadilan comulatif menurut Aristoteles yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan. (Chairul Arrasjid, 2000: 40). Prinsip kesetaraan kedudukan para kreditor merupakan salah satu prinsip dalam kepailitan. Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit dalam melaksanakan prisnsip kesetaraan kreditor juga berdasarkan prinsip pari passu prorate parte. Prinsip pari passu prorate parte mengandung makna bahwa harta kekayaan debitor menjadi jaminan bersama bagi para kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara proporsiaonal kepada para kreditor, kecuali diantara para kreditor tersebut ada yang menurut undang-undang harus didahulukan dalam menerima pembayaran tagihannya. 33

4 Prinsip pari passu prorate parte dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia diatur di dalam Pasal 1132 yang menentukan bahwa Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangannnya, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing. Prinsip pari passu prorate parte sesuai dengan keadilan distributif menurut Aristoteles yang menentukan keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap jatah menurut jasanya.(chairul Arrasjid, 2000: 40). Kurator di dalam melakukan kewajibannya mengurus harta debitor pailit/harta pailit, setelah menerima salinan putusan pailit dari Pengadilan Niaga akan mengumumkan Putusan pernyataan pailit dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas, sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (4) UUK. Kurator dalam pengumuman kepailitan tersebut mengenai ikhtisar Putusan Pernyataan Pailit, meliputi : nama, alamat, dan pekerjaan debitor, nama hakim pengawas, nama, alamat, dan pekerjaan kurator, nama, alamat, dan pekerjaan anggota panitia kreditor Sementara, apabila telah ditunjuk, batas waktu terakhir mendaftarkan tagihan pada kurator, tempat dan waktu penyelenggaraan rapat Kkeditor pertama, waktu penyelengaraan rapat verifikasi dan pencocokan piutang, waktu penyelenggaraan rapat pembahasan rencana perdamaian dan pemungutan suara (Voting). Kurator berwenang melakukan kewajiban mengurus dan/atau pemberesan atas harta debitor pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1) UUK. Putusan pailit dari Pengadilan Niaga mempunyai kekuatan hukum serta merta (uitvoerbaar bij vooraad) artinya putusan pailit dapat dijalankan lebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut sedang dikakukan upaya hukum kasasi atau peninjauan kembali ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan serta merta (uitvoerbaar bij vooraad) diatur dalam Pasal 180 ayat (1) HIR, Pasal 191 ayat (1) RBg, jo SEMA No.3 Tahun 2000, dan SEMA No.4 Tahun Kurator dalam melakukan kewajibannya mengurus dan/atau membereskan harta debitor pailit, setelah mengumumkan putusan pailit mengamankan harta pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek, dan surat berharga lainnya dengan memberikan tanda terima, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 98 UUK. Kurator membuat pencatatan, menginventarisasi, dan membuat daftar harta pailit, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 100 ayat (1) UUK. Kurator setelah mengamankan dan mencatat harta pailit/budel pailit untuk kepentingan debitor dan para kreditor dalam pemberesan harta pailit. Kurator dalam mengamankan harta pailit/ budel pailit dapat memohon pemblokiran mutasi keluar terhadap rekening debitor pailit dan memberitahukan kepada bank untuk memberikan catatan khusus terhadap rekening debitor pailit. Kurator juga mengganti specement tandatangan di Bank terhadap rekening debitor pailit. Kurator melakukan kewajibannya mengurus dan mengamankan harta pailit/budel pailit untuk kepentingan bersama-sama (Debitor dan Para Kreditor) dan untuk memaksimalkan budel pailit. Kurator dapat melanjutkan usaha debitor pailit, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 104 UUK. Kurator dapat melanjutkan usaha debitor pailit karena di dalam UUK menganut asas kelangsungan usaha, yaitu terhadap perusahaan debitor pailit yang prospektif tetap dilangsungkan untuk menambah dan memaksimalkan budel pailit. Kelangsungan usaha debitor pailit menguntungkan bagi debitor dan para kreditor, apabila dari usaha debitor pailit menghasilkan keuntungan/laba yang menambah nilai budel pailit. Kurator dapat menghentikan kelangsungan usaha debitor pailit apabila usaha debitor pailit berpotensi rugi yang dapat mengurangi budel pailit dan menjadi beban pengeluaran dalam pengurusan harta pailit/budel pailit atas seijin dari Hakim Pengawas. Kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit melakuan pencatatan pendaftaran tagihan para kreditor sebagaimana ditentukan dalam Pasal 113 ayat (1) UUK. Kurator mengumumkan melalui media massa dan kepada para kreditor yang telah dikenal alamatnya dapat dikirimkan surat pemberitahuan batas akhir pengajuan tagihan dan pendaftaran tagihan kepada kurator. Para kreditor dalam melakukan pendaftaran tagihan kepada Kurator menyertakan buktibukti yang cukup, jumlah tagihan, dan sifat tagihannya. Kurator dalam pengurusan dan pemberesan 34

5 harta pailit/budel pailit wajib memanggil para kreditor dan debitor pailit untuk mengikuti rapat kreditor pertama dan rapat verifikasi dan pencocokan piutang, sebagaimana ditentukan didalam Pasal 113 UUK. Kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit mengupayakan untuk dapat tercapainya perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 144- Pasal 177 UUK. Apabila rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit disetujui oleh para kreditor dan disahkan/ homologasi oleh Majelis Hakim, maka kepailitan berakhir dengan perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (1) UUK. Kurator wajib mengumumkan perdamaian yang telah disahkan/dihomologasi oleh Pengadilan Niaga, dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian nasional dan lokal, yang merupakan dasar hukum berakhirnya kepailitan dengan perdamaian sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (2) UUK. Kurator dalam mengurus dan membereskan harta pailit/budel pailit telah mengupayakan perdamian kepada para kreditor, apabila perdamaian tidak disetujui oleh para kreditor, atau Perdamaian yang disetujui oleh para kreditor tidak disahkan/homologasi oleh Majelis Hakim Pemutus berdasarkan Putusan Hakim Majelis yang telah berkekuatan hukum tetap, maka demi hukum harta pailit/ budel pailit berada dalam keadaan insolvensi, sebagaimana diatur didalam Pasal 178 ayat (1) UUK. Apabila harta pailit/budel pailit berada dalam keadaan insolvensi, maka kurator melakukan pemberesan harta pailit sebagaimana diatur didalam Pasal 178 Pasal 203 UUK. Kurator dalam pemberesan harta pailit/budel pailit melakukan pelelangan harta pailit sebagimana ditentukan dalam Pasal 184 Pasal 187 UUK. Kurator setelah melakukan pelelangan harta pailit/budel pailit melakukan pembayaran kepada para kreditor sebagaimana ditentukan dalam Pasal 188 Pasal 203 UUK. Kurator dalam melakukan pemberesan harta pailit/budel pailit, berdasarkan peraturan perundangundangan, prinsip paritas creditorium dan prinsip pari passu pro rata parte. Kurator dalam melakukan pembayaran kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, prinsip paritas creditoriun, prinsip pari passu prorate parte, dan prinsip structured creditors. Prinsip structured creditor adalah prinsip yang mengelompkkan atau mengklasifikasikan para kreditor berdasarkan kelasnya atau sifatnya masing-masing.(chairul Arrasjid, 2000:32). Kreditor dalam kepailitan dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: kreditor separatis, kreditor preferen, dan kreditor konkuren. (Chairul Arrasjid, 2000:32). Kreditor separatis adalah kreditor yang memegang jaminan kebendaan dari debitor pailit. Kreditor preferen adalah kreditor yang menurut undangundang harus didahulukan pembayaran piutangnya. Kreditor konkuren adalah kreditor yang tidak memegang jaminan kebendaan dari debitor pailit. Kurator dapat mengelompokkan atau menggolongkan para kreditor pada saat para kreditor melakukan pendaftaran tagihan yang disertai dengan bukti-bukti yang cukup serta menyebutkan jumlah tagihan dan sifat tagihannya. Kurator dalam melakukan pemberesan atau pembayaran hasil penjualan harta pailit/budel pailit kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan urutan sebagai berikut: biaya kepailitan, fee kurator, kreditor preferen, kreditor separatis, dan kreditor konkuren. Kurator dalam melakukan kewajibannya mengurus dan membereskan harta pailit/budel pailit menyampaikan laporan kepada Hakim Pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan, berdasarkan Pasal 74 ayat (1) UUK. Kurator setelah melakukan pemberesan dan pembayaran kepada para kreditor, membubarkan perusahaan debitor pailit dan menyerahkan semua dokumen mengenai harta pailit kepada debitor berdasarkan Pasal 202 ayat (4) UUK. Kurator melaporkan pertanggungjawaban kepada Hakim Pengawas berkenaan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit berdasarkan Pasal 202 ayat (3) UUK. Kurator mengumumkan pengakhiran/ berakhirnya kepailitan pada Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) koran harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas berdasarkan Pasal 202 ayat (2) jo Pasal 15 ayat (4) UUK. Kedudukan Bank dalam Kepailitan terhadap Nasabah Bank Nasabah bank yang dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, hal ini dapat terjadi atas permohonan dari bank pemberi 35

6 kredit, atas permohonan sendiri dari nasabah bank tersebut, atau atas permohonan dari salah satu atau beberapa kreditor dari nasabah bank tersebut. Apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka Nasabah Bank tersebut tidak mempunyai kapasitas hukum ( legal capasity) untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sejak putusan pailit diucapkan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 24 ayat (1) UUK. Nasabah bank yang Pengadilan Niaga berkedudukan sebagai debitor pailit sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 1 angka 4 UUK. Bank sebagai pemberi kredit apabila nasabah bank tersebut dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka bank berkedudukan sebagai kreditor. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 2 UUK. Nasabah Bank mempunyai utang kepada Bank berdasarkan perjanjian kredit yang telah ditandatangani antara nasabah bank dan bank sebagai pemberi pinjaman kredit. Apabila dalam perjanjian kredit antara nasabah bank yang Pengadilan Niaga tersebut dengan bank sebagai pemberi kredit terdapat jaminan kebendaan/ agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor separatis. Perjanjian kredit antara nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dengan bank sebagai pemberi kredit yang tidak terdapat jaminan kebendaan/agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren. berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, dimana dalam perjajian kreditnya terdapat jaminan kebendaan/agunan, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis, setelah membaca pengumuman/mengetahui adanya putusan pailit, mempersiapkan semua dokumen-dokumen berkenaan dengan debitor pailit dan mendaftarkan tagihan kepada kurator dalam tenggat waktu yang ditentukan, dengan menyebutkan jumlah tagihan, sifat tagihan, dan disertai bukti-bukti, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 113 ayat (1) UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, setelah mendaftarkan tagihan kurator dan meminta tanda bukti pendaftaran tagihan yang telah didaftarkan sebagaimana diatur dalam Pasal 115 ayat (2) UUK. berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga akan menerima suratpermohonan kurator untuk merubah specement tandatangan, memblokir mutasi keluar rekening debitor pailit, dan memberikan catatan khusus terhadap rekening debitor pailit. berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, akan mengikuti Rapat-Rapat dalam proses kepailitan di Pengadilan Niaga, sebagaimana diatur dalam Pasal 113-Pasal 143 UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dalam mengikuti rapat-rapat ataupun persidangan di Pengadilan Niaga, sebaiknya didampingi dan/atau diwakili oleh kuasa hukum yang mengerti hukum kepailitan, dan sudah berpengalaman beracara di Pengadilan Niaga, karena proses dan hukum acara yang berlaku dalam proses kepailitan adalah Hukum Acara Khusus sebagaimana diatur di dalam UUK. dengan Putusan Pengadilan Niaga, bank dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan, setelah menunggu masa waktu penanguhan paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 55 ayat (1) jo Pasal 56 ayat (1) UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, dapat melakukan eksekusi terhadap agunannya debitor pailit, dengan meperhatikan masa stay selama 90 (sembilan puluh) hari, sejak putusan pailit diucapkan, serta memberikan pertanggungjawaban eksekusi agunan tersebut kepada Kurator, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 60 ayat (1) UUK. dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan setelah melewati masa stay yang ditentukan, maka bank kehilangan haknya untuk melakukan eksekusi sendiri dan agunan debitor pailit yang menjadi harta pailit/budel pailit akan dibereskan oleh kurator. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi sendiri terhadap hak tanggungan setelah masa tunggu, maka bank akan mengikuti proses kepailitan sampai dengan 36

7 pemberesan untuk mendapatkan pembayaran tangihannya dari kurator. Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit/budel pailit sedapat mungkin mengupayakan untuk dapat tercapainya perdamaian sebagaimana diatur dalam Pasal 144- Pasal 177 UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi terhadap agunan debitor pailit selama masa tunggu, maka Bank dapat mengikuti proses kepailitan termasuk dan terbatas untuk menghadiri rapat kreditor pertama, rapat verifikasi dan pencocokan piutang, rapat pemungutan suara, sidang majelis hakim pengesahan perdamaian/homologasi, rapat-rapat, dan persidangan dalam proses pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit. Rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit dalam rapat pemungutan suara/ voting apabila disetujui oleh para kreditor dan disahkan/homologasi oleh Majelis Hakim dengan Putusan Majelis Hakim, maka kepailitan berakhir dengan perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (1) UUK. bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, akan mendapatkan pembayaran sebagaimana ditentukan di dalam perdamaian. Kurator wajib mengumumkan perdamaian yang telah disahkan/dihomologasi oleh Pengadilan Niaga, dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 ( dua) surat kabar harian nasional dan lokal, yang merupakan dasar hukum berakhirnya kepailitan dengan perdamaian sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (2) UUK. bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, akan mendapatkan pembayaran sebagaimana ditentukan di dalam perdamaian Rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit apabila tidak disetujui atau ditolak oleh para kreditor dalam rapat pemungutan suara/voting, atau rencana perdamaian yang disetujui oleh para kreditor dalam rapat pemungutan suara yang tidak disahkan/ homologasi oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga, maka harta pailit berada dalam keadaan insolvensi. Bank dapat melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan paling lambat dalam waktu 2 (dua) bulan setelah dimulainya keadaan insolvensi sebagaima dimaksud Pasal 178 ayat (1) UUK. Bank wajib memberikan pertanggungjawaban atas eksekusi hak tanggungan kepada kurator sebagaimana diatur dalam Pasal 60 ayat (1) UUK. Bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan maka setelah lewat waktu 2 (dua) bulan setelah insolvensi Bank wajib menyerahkan benda yang menjadi agunan kepada kurator sebagaimana ditentukan Pasal 59 ayat (2) UUK. Bank dapat mengikuti proses pemberesan harta pailit yang dilakukan kurator sebagaimana ditentukan Pasal 178 Pasal 203 UUK. Kurator melakukan pemberesan harta pailit sebagaimana diatur dalam Pasal 178 Pasal 203 UUK. Kurator melakukan pelelangan harta pailit sebagaimana ditentukan Pasal 184 samapai dengan Pasal 187 UUK. Kurator berdasarkan hasil pelelangan harta pailit melakukan pembayaran kepada para kreditor sebagaimana diatur Pasal 188 Pasal 203 UUK. Kurator dalam melakukan pemberesan atau pembayaran hasil penjualan harta pailit/budel pailit kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan urutan sebagai berikut: biaya kepailitan, fee kurator, kreditor preferen, kreditor separatis, dan kreditor konkuren. Kurator dalam melakukan pemberesan harta pailit, apabila terdapat kelebihan hasil pelelangan, maka kurator akan mengembalikan kelebihan hasil lelang harta pailit/budel pailit kepada Debitor pailit. Kurator menyerahkan semua dokumen mengenai harta pailit kepada debitor pailit sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (4) UUK. Kurator setelah selesai melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit wajib melaporkan pertanggungjawaban kepada Hakim Pengawas berkenaan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (3) UUK. Setelah laporan pertanggungjawaban kurator diterima dan disetujui oleh Hakim Pengawas, kurator mengumuman pengakhiran/ berakhirnya kepailitan pada Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) koran harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (2) jo Pasal 15 ayat (4) UUK. SIMPULAN 37

8 Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: a. Peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan UUK, kurator dapat melakukan pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan dan memberikan laporan pertanggungjawaban dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit kepada Hakim Pengawas. b. Kedudukan bank apabila nasabah bank Pengadilan Niaga, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis, apabila didalam perjanjian kredit antara bank dengan debitor pailit diletakkan jaminan kebendaan, dan apabila didalam perjanjian kredit tidak terdapat jaminan/agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren. Direkomendasikan agar bank yang nasabahnya pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, sebaiknya mengikuti seluruh proses kepailitan dan didampingi kuasa hukum (advokat) yang mengerti hukum kepailitan dan mempunyai pengalaman menangani perkara kepailitan di Pengadilan Niaga. DAFTAR PUSTAKA Arrasjid Chairul, 2000, Dasar-Dasar Ilmu Hukum. Jakarta : Sinar Grafika. Black Henry Campbell, Black s Law Dictionary. St. Paul Minnesota : West Publishing Co. Lusk Harold F, Business Law: Principles and Cases. Illinois : Ricard D. Irwin Inc, Homewood. Shubhan Hadi, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan. Jakara : Prenada Media Group. Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, 38

PENGATURAN DAN PENERAPAN PRINSIP PARITAS CREDITORIUM DALAM HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA

PENGATURAN DAN PENERAPAN PRINSIP PARITAS CREDITORIUM DALAM HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA PENGATURAN DAN PENERAPAN PRINSIP PARITAS CREDITORIUM DALAM HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA oleh Raden Rizki Agung Firmansyah I Dewa Nyoman Sekar Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT Principle

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK KETIGA (NATUURLIJKE PERSOON) DALAM HUKUM KEPAILITAN TERKAIT ADANYA ACTIO PAULIANA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK KETIGA (NATUURLIJKE PERSOON) DALAM HUKUM KEPAILITAN TERKAIT ADANYA ACTIO PAULIANA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK KETIGA (NATUURLIJKE PERSOON) DALAM HUKUM KEPAILITAN TERKAIT ADANYA ACTIO PAULIANA Oleh I Komang Indra Kurniawan Ngakan Ketut Dunia Ketut Sukranatha Hukum Perdata, Fakultas

Lebih terperinci

TUGAS DAN WEWENANG HAKIM PENGAWAS DALAM PERKARA KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG OLEH: LILIK MULYADI 1

TUGAS DAN WEWENANG HAKIM PENGAWAS DALAM PERKARA KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG OLEH: LILIK MULYADI 1 TUGAS DAN WEWENANG HAKIM PENGAWAS DALAM PERKARA KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG OLEH: LILIK MULYADI 1 I. TUGAS DAN WEWENANG HAKIM PENGAWAS DALAM PERKARA KEPAILITAN Putusan perkara kepailitan

Lebih terperinci

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang TUJUAN KEPAILITAN TUJUAN KEPAILITAN. 22-Nov-17

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang TUJUAN KEPAILITAN TUJUAN KEPAILITAN. 22-Nov-17 Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Ranitya Ganindha, SH. MH. Dosen Hukum Dagang Fakultas Hukum Univ Brawijaya Dalam suatu kegiatan usaha / bisnis berutang merupakan hal yang lazim. Permasalahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, baik orang perorangan (natural person) maupun

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, baik orang perorangan (natural person) maupun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan, baik orang perorangan (natural person) maupun suatu badan hukum (legal entity) adakalanya tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai keperluan atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perusahaan harus dijalankan dan dikelola dengan baik. Pengelolaan perusahaan

I. PENDAHULUAN. perusahaan harus dijalankan dan dikelola dengan baik. Pengelolaan perusahaan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Perusahaan adalah badan usaha yang dibentuk untuk menjalankan kegiatan usaha di bidang ekonomi. Sebagai badan yang dibentuk untuk menjalankan usaha maka perusahaan harus

Lebih terperinci

PENGURUSAN HARTA PAILIT PEMBERESAN HARTA PAILIT TUGAS KURATOR. Heri Hartanto, Hukum Acara Peradilan Niaga (FH-UNS)

PENGURUSAN HARTA PAILIT PEMBERESAN HARTA PAILIT TUGAS KURATOR. Heri Hartanto, Hukum Acara Peradilan Niaga (FH-UNS) PENGURUSAN HARTA PAILIT PEMBERESAN HARTA PAILIT TUGAS KURATOR 1 Menyimpan: Surat,dokumen, uang, perhiasan, efek, surat berharga lainnya dengan memberikan tanda terima (Ps.98 UUK) MENGAMANKAN HARTA PAILIT

Lebih terperinci

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Istilah Kepailitan 9/4/2014

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Istilah Kepailitan 9/4/2014 Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Ranitya Ganindha, SH. MH. Dosen Hukum Dagang Fakultas Hukum Univ Brawijaya Dalam suatu kegiatan usaha / bisnis berutang merupakan hal yang lazim. Permasalahan

Lebih terperinci

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Proses Penyelesaian Kepailitan Melalui Upaya Perdamaian Berdasarkan UU No. 37 Tahun 2004

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Proses Penyelesaian Kepailitan Melalui Upaya Perdamaian Berdasarkan UU No. 37 Tahun 2004 29 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Proses Penyelesaian Kepailitan Melalui Upaya Perdamaian Berdasarkan UU No. 37 Tahun 2004 Pasal 144 UU No. 37 Tahun 2004 menentukan, debitor pailit berhak untuk

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dasar hukum bagi suatu kepailitan (Munir Fuady, 2004: a. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU;

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dasar hukum bagi suatu kepailitan (Munir Fuady, 2004: a. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU; 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Kepailitan 1. Dasar Hukum dan Pengertian Kepailitan Dasar hukum bagi suatu kepailitan (Munir Fuady, 2004: 10) adalah sebagai berikut: a. Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

PENUNJUK Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

PENUNJUK Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang PENUNJUK Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang 1 Tahun - Jangka Waktu Hibah - Kecuali dapat dibuktikan sebaliknya, Debitor dianggap mengetahui atau patut mengetahui bahwa hibah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP HARTA KEKAYAAN DEBITOR

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP HARTA KEKAYAAN DEBITOR AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP HARTA KEKAYAAN DEBITOR (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan Nomor 2/Pdt.Sus-PAILIT/2016.PN.NiagaMdn.) Oleh: I Gede Andi Iswarayana

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT DI KABUPATEN BADUNG

TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT DI KABUPATEN BADUNG TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT DI KABUPATEN BADUNG Oleh : Made Bagoes Wiranegara Wesna Ngakan Ketut Dunia Ida Ayu Sukihana Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

1905:217 juncto Staatsblad 1906:348) sebagian besar materinya tidak

1905:217 juncto Staatsblad 1906:348) sebagian besar materinya tidak UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. PRESIDEN, bahwa pembangunan hukum nasional dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 3 B. Saran... 81 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 4 A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan pelaku-pelaku ekonomi

Lebih terperinci

Oleh : A.A. Nandhi Larasati Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana

Oleh : A.A. Nandhi Larasati Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana TINJAUAN YURIDIS PADA SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA (UIT VOERBAAR BIJ VOORAAD) DAN PROVISIONIL TERHADAP PUTUSAN PAILIT YANG BERSIFAT SERTA MERTA Oleh : A.A.

Lebih terperinci

Apakah Pailit = Insolvensi? Heri Hartanto, Hukum Acara Peradilan Niaga (FH-UNS)

Apakah Pailit = Insolvensi? Heri Hartanto, Hukum Acara Peradilan Niaga (FH-UNS) 1 Apakah Pailit = Insolvensi? Heri Hartanto, Hukum Acara Peradilan Niaga (FH-UNS) Debitor Pailit menjadi Insolvensi, 2 Jika : Pada rapat pencocokan piutang, Debitor tdk mengajukan rencana Perdamaian Rencana

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa gejolak moneter yang terjadi di

Lebih terperinci

BAB VIII KEPAILITAN. Latar Belakang Masalah

BAB VIII KEPAILITAN. Latar Belakang Masalah Latar Belakang Masalah BAB VIII KEPAILITAN Dalam undang-undang kepailitan tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan kepailitan tetapi hanya menyebutkan bahwa debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur

Lebih terperinci

PENAGIHAN SEKETIKA SEKALIGUS

PENAGIHAN SEKETIKA SEKALIGUS PENAGIHAN SEKETIKA SEKALIGUS DASAR HUKUM tindakan Penagihan Pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelunasan dari debitor sebagai pihak yang meminjam uang. Definisi utang

BAB I PENDAHULUAN. pelunasan dari debitor sebagai pihak yang meminjam uang. Definisi utang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Keterbatasan finansial atau kesulitan keuangan merupakan hal yang dapat dialami oleh siapa saja, baik orang perorangan maupun badan hukum. Permasalahan

Lebih terperinci

Penundaan kewajiban pembayaran utang

Penundaan kewajiban pembayaran utang Penundaan kewajiban pembayaran utang PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG (PKPU) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diajukan oleh Debitor atau kreditor Debitor mempunyai lebih dari 1 (satu) Kreditor

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga dalam kasus PT. Indo Plus dengan PT. Argo Pantes Tbk.

BAB IV ANALISIS Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga dalam kasus PT. Indo Plus dengan PT. Argo Pantes Tbk. BAB IV ANALISIS C. Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga dalam kasus PT. Indo Plus dengan PT. Argo Pantes Tbk. Salah satu upaya penyelamatan kebangkrutan perusahaan dapat dilakukan dengan cara yuridis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kebutuhannya begitu juga dengan perusahaan, untuk menjalankan suatu perusahaan

I. PENDAHULUAN. kebutuhannya begitu juga dengan perusahaan, untuk menjalankan suatu perusahaan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perekonomian dunia yang semakin kompleks mengakibatkan semakin meningkatnya pula kebutuhan ekonomi masyarakat terutama para pelaku usaha. Dalam menjalani kehidupan

Lebih terperinci

BAB II PENGAJUAN PERMOHONAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG KEPADA PENGADILAN NIAGA

BAB II PENGAJUAN PERMOHONAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG KEPADA PENGADILAN NIAGA 20 BAB II PENGAJUAN PERMOHONAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG KEPADA PENGADILAN NIAGA A. Pengertian PKPU Istilah PKPU (suspension of payment) sangat akrab dalam hukum kepailitan. Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban debitor untuk membayar kembali utang sesuai jangka waktu yang telah

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban debitor untuk membayar kembali utang sesuai jangka waktu yang telah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam perjanjian utang piutang, para pihak yang terkait adalah debitor dan kreditor. Gatot Supramono menjelaskan bahwa pihak yang berpiutang atau memberi pinjaman

Lebih terperinci

melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. 2

melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari. 2 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para kreditornya, 1 sedangkan kepailitan

Lebih terperinci

UU 37/2004, KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG *15705 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA (UU) NOMOR 37 TAHUN 2004 (37/2004)

UU 37/2004, KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG *15705 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA (UU) NOMOR 37 TAHUN 2004 (37/2004) Copyright (C) 2000 BPHN UU 37/2004, KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG *15705 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA (UU) NOMOR 37 TAHUN 2004 (37/2004) TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara yang berkembang, baik dari sumber alam,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara yang berkembang, baik dari sumber alam, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara yang berkembang, baik dari sumber alam, sumber manusia termasuk juga perkembangan di sektor ekonomi dan bisnis. Perkembangan perekonomian

Lebih terperinci

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga JOURNAL SKRIPSI KEDUDUKAN HUKUM KURATOR PERUSAHAAN DEBITOR PAILIT YANG DILANJUTKAN KEGIATAN USAHANYA Oleh : NIM. 031011202 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS AIRLANGGA 2015 JURNAL SKRIPSI ABSTRAKSI Didalam dinamika

Lebih terperinci

Asas dan Dasar Hukum Kepailitan. Dr. Freddy Harris Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Asas dan Dasar Hukum Kepailitan. Dr. Freddy Harris Fakultas Hukum Universitas Indonesia Asas dan Dasar Hukum Kepailitan Dr. Freddy Harris Fakultas Hukum Universitas Indonesia Sumber Hukum Kepailitan di Indonesia BW secara umum Khususnya pasal 1131, 1132, 1133 dan 1134 HIR (Peraturan( Acara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa sehingga mengakibatkan banyak sekali debitor tidak mampu membayar utangutangnya.

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa sehingga mengakibatkan banyak sekali debitor tidak mampu membayar utangutangnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Krisis moneter pada tahun 1997 di Indonesia membuat utang menjadi membengkak luar biasa sehingga mengakibatkan banyak sekali debitor tidak mampu membayar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG. mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG. mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG 2.1. Pengertian Utang Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 2 ayat (1) menentukan

Lebih terperinci

KEWENANGAN PENYELESAIAN SENGKETA KEPAILITAN YANG DALAM PERJANJIANNYA TERCANTUM KLAUSUL ARBITRASE

KEWENANGAN PENYELESAIAN SENGKETA KEPAILITAN YANG DALAM PERJANJIANNYA TERCANTUM KLAUSUL ARBITRASE KEWENANGAN PENYELESAIAN SENGKETA KEPAILITAN YANG DALAM PERJANJIANNYA TERCANTUM KLAUSUL ARBITRASE Oleh Ni Made Asri Alvionita I Nyoman Bagiastra Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses perniagaan, apabila debitor tidak mampu ataupun tidak mau

BAB I PENDAHULUAN. Proses perniagaan, apabila debitor tidak mampu ataupun tidak mau 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses perniagaan, apabila debitor tidak mampu ataupun tidak mau membayar utangnya kepada kreditor, maka telah disiapkan suatu pintu darurat untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perjanjian pinjam meminjam uang. Akibat dari perjanjian pinjam meminjam uang

BAB I PENDAHULUAN. perjanjian pinjam meminjam uang. Akibat dari perjanjian pinjam meminjam uang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepailitan biasanya pada umumnya dikaitkan dengan utang piutang antara debitor dengan kreditor yang didasarkan pada perjanjian utang piutang atau perjanjian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDINESIA NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

ORGANISASI PERUSAHAAN DAN KEPAILITAN WISHNU KURNIAWAN SEPTEMBER 2007

ORGANISASI PERUSAHAAN DAN KEPAILITAN WISHNU KURNIAWAN SEPTEMBER 2007 ORGANISASI PERUSAHAAN DAN KEPAILITAN WISHNU KURNIAWAN SEPTEMBER 2007 LITERATUR Kitab Undang Undang Hukum Perusahaan ( Prof. Drs. C.S.T. Kansil dan Christie S.T. Kansil, S.H., M.H.) Hukum Perusahaan Perseroan

Lebih terperinci

KEPAILITAN PERUSAHAAN INDUK TERHADAP PERUSAHAAN ANAK DALAM GRUP

KEPAILITAN PERUSAHAAN INDUK TERHADAP PERUSAHAAN ANAK DALAM GRUP KEPAILITAN PERUSAHAAN INDUK TERHADAP PERUSAHAAN ANAK DALAM GRUP Oleh : Anton Dinata I Ketut Westra Marwanto Bagian Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT A holding company which is incorporated

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.82, 2013 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Kurator. Pengurus. Imbalan. Pedoman. PERATURAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN IMBALAN BAGI

Lebih terperinci

Disusun Oleh : Anugrah Adiastuti, S.H., M.H

Disusun Oleh : Anugrah Adiastuti, S.H., M.H Disusun Oleh : Anugrah Adiastuti, S.H., M.H A. PENGANTAR Disaat pertama kali kita mendengar Pailit, maka yang pertama kali ada di dalam bentak kita adalah bangkrut. Bangkrut, diidentikkan dengan keadaan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang timbul hanya dari adanya perjanjian utang-piutang sedangkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang timbul hanya dari adanya perjanjian utang-piutang sedangkan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Utang-piutang 1. Pengertian utang Pengertian utang pada dasarnya dapat diartikan secara luas maupun secara sempit. Pengertian utang dalam arti sempit adalah suatu kewajiban yang

Lebih terperinci

KEDUDUKAN KREDITUR SEPARATIS DALAM HUKUM KEPAILITAN

KEDUDUKAN KREDITUR SEPARATIS DALAM HUKUM KEPAILITAN KEDUDUKAN KREDITUR SEPARATIS DALAM HUKUM KEPAILITAN Oleh: Adem Panggabean A. PENDAHULUAN Pada dunia bisnis dapat terjadi salah satu pihak tidak dapat melakukan kewajibannya membayar hutang-hutangnya kepada

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tah

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tah No.1514, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKUMHAM. Kurator. Pengurus. Imbalan. Pedoman. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

DIPONEGORO LAW REVIEW Volume 1, Nomor 2, Tahun 2013Online di

DIPONEGORO LAW REVIEW Volume 1, Nomor 2, Tahun 2013Online di Mekanisme Perdamaian dalam Kepailitan Sebagai Salah Satu Cara Penyelesaian Utang Menurut Undang-Undang No.37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Studi Kasus PT. Pelita

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERTANGGUNG DALAM HAL TERJADI KEPAILITAN SUATU PERUSAHAAN ASURANSI

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERTANGGUNG DALAM HAL TERJADI KEPAILITAN SUATU PERUSAHAAN ASURANSI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERTANGGUNG DALAM HAL TERJADI KEPAILITAN SUATU PERUSAHAAN ASURANSI Oleh : Anak Agung Cynthia Tungga Dewi Ni Made Ari Yuliartini Griadhi Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana

Lebih terperinci

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB III HAK KREDITOR ATAS EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA BILAMANA DEBITOR PAILIT

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB III HAK KREDITOR ATAS EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA BILAMANA DEBITOR PAILIT BAB III HAK KREDITOR ATAS EKSEKUSI OBJEK JAMINAN FIDUSIA BILAMANA DEBITOR PAILIT 3.1. Klasifikasi Pemegang Jaminan Fidusia Atas Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Bilamana Debitor Pailit 3.1.1. Prosedur Pengajuan

Lebih terperinci

KETENTUAN PENANGGUHAN EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN OLEH KREDITUR SEPARATIS AKIBAT ADANYA PUTUSAN PAILIT. Oleh :

KETENTUAN PENANGGUHAN EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN OLEH KREDITUR SEPARATIS AKIBAT ADANYA PUTUSAN PAILIT. Oleh : 1 KETENTUAN PENANGGUHAN EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN OLEH KREDITUR SEPARATIS AKIBAT ADANYA PUTUSAN PAILIT Oleh : Komang Trianna A.A. Ngurah Gede Dirksen Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Koperasi menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong dan. meningkatkan pembangunan serta perekonomian nasional.

BAB I PENDAHULUAN. Koperasi menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong dan. meningkatkan pembangunan serta perekonomian nasional. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Koperasi menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong dan meningkatkan pembangunan serta perekonomian nasional. Pada awal kemerdekaan Indonesia, koperasi diatur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbangnya perusahaan-perusahaan skala kecil, menengah, besar dan

BAB I PENDAHULUAN. tumbangnya perusahaan-perusahaan skala kecil, menengah, besar dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keterpurukan perekonomian Indonesia pada tahun 1997 menyebabkan tumbangnya perusahaan-perusahaan skala kecil, menengah, besar dan menyisakan sedikit yang mampu bertahan.

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP DEBITOR YANG MELAKUKAN PERJANJIAN PEMISAHAAN HARTA PERKAWINAN

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP DEBITOR YANG MELAKUKAN PERJANJIAN PEMISAHAAN HARTA PERKAWINAN AKIBAT HUKUM PUTUSAN PAILIT TERHADAP DEBITOR YANG MELAKUKAN PERJANJIAN PEMISAHAAN HARTA PERKAWINAN Oleh : Ida Bagus Yoga Adi Putra I Wayan Novy Purwanto Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KEPENTINGAN PARA KREDITOR AKIBAT ACTIO PAULIANA DALAM HUKUM KEPAILITAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KEPENTINGAN PARA KREDITOR AKIBAT ACTIO PAULIANA DALAM HUKUM KEPAILITAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KEPENTINGAN PARA KREDITOR AKIBAT ACTIO PAULIANA DALAM HUKUM KEPAILITAN Oleh Ida Ayu Kade Winda Swari A.A. Gede Ngurah Dirksen A.A. Sagung Wiratni Darmadi Hukum Bisnis Fakultas

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No. 4443 (Penjelasan Atas Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 131) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

Kepailitan. Miko Kamal. Principal, Miko Kamal & Associates

Kepailitan. Miko Kamal. Principal, Miko Kamal & Associates Kepailitan Miko Kamal Principal, Miko Kamal & Associates Sejarah Kepailitan Pada masa Hindia- Belanda: Faillissements- verordening Staatblad 1905:217 juncto Staatblad 1906: 348) Masa merdeka: - Peraturan

Lebih terperinci

(SKRIPSI) Oleh: Anik Suparti Ningsih

(SKRIPSI) Oleh: Anik Suparti Ningsih ANALISIS YURIDIS PUTUSAN PENGADILAN NIAGA NO: 01/ PEMBATALAN PERDAMAIAN/ 2006/ PN. NIAGA.JKT. PST. TENTANG PEMBATALAN PERDAMAIAN TERHADAP P.T. GORO BATARA SAKTI (SKRIPSI) Oleh: Anik Suparti Ningsih FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK TANGGUNGAN DAN KEPAILITAN. Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah beserta

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK TANGGUNGAN DAN KEPAILITAN. Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah beserta 25 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK TANGGUNGAN DAN KEPAILITAN 1.1 Hak Tanggungan 1.1.1 Pengertian Hak Tanggungan Undang-Undang Pokok Agraria menamakan lembaga hak jaminan atas tanah dengan sebutan Hak

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS PERKARA KEPAILITAN MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN

TINJAUAN YURIDIS PERKARA KEPAILITAN MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN TINJAUAN YURIDIS PERKARA KEPAILITAN MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN Dhevi Nayasari Sastradinata *) *) Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Berlatar belakang

Lebih terperinci

Windry Yohanna Shinta Uli Situmorang, Parulian P Aritonang (Pembimbing)

Windry Yohanna Shinta Uli Situmorang, Parulian P Aritonang (Pembimbing) KEDUDUKAN KREDITOR SEPARATIS SEBAGAI PEMEGANG HAK JAMINAN DALAM MELAKSANAKAN HAK EKSEKUTORIAL HARTA DEBITOR YANG DINYATAKAN PAILIT (STUDI KASUS : PUTUSAN NOMOR 758L/PDT.SUS/2012) Windry Yohanna Shinta

Lebih terperinci

BAB II TANGGUNG JAWAB PERSONAL GUARANTOR DALAM KEPAILITAN

BAB II TANGGUNG JAWAB PERSONAL GUARANTOR DALAM KEPAILITAN 15 BAB II TANGGUNG JAWAB PERSONAL GUARANTOR DALAM KEPAILITAN 1. Guarantor dengan Personal Guarantee : 1.1 Definisi Guarantor is a person or entity that agrees to be responsible for another s debt or a

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu barang maupun jasa agar menghasilkan keuntungan.

BAB I PENDAHULUAN. suatu barang maupun jasa agar menghasilkan keuntungan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman modern ini, persaingan ekonomi di dunia sangatlah ketat. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkembang pesatnya makro dan mikro seiring dengan pertumbuhan unit-unit

Lebih terperinci

PELAKSANAAN TUGAS KURATOR DALAM MENGURUS HARTA PAILIT BERDASARKAN PASAL 72 UNDANG UNDANG NO

PELAKSANAAN TUGAS KURATOR DALAM MENGURUS HARTA PAILIT BERDASARKAN PASAL 72 UNDANG UNDANG NO PELAKSANAAN TUGAS KURATOR DALAM MENGURUS HARTA PAILIT BERDASARKAN PASAL 72 UNDANG UNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG Oleh Arkisman ABSTRAK Setelah dijatuhkannya

Lebih terperinci

PENANGGUHAN EKSEKUSI OBJEK HAK JAMINAN KREDIT DI BANK DARI PERUSAHAAN YANG PAILIT 1 Oleh : Timothy Jano Sajow 2

PENANGGUHAN EKSEKUSI OBJEK HAK JAMINAN KREDIT DI BANK DARI PERUSAHAAN YANG PAILIT 1 Oleh : Timothy Jano Sajow 2 120 PENANGGUHAN EKSEKUSI OBJEK HAK JAMINAN KREDIT DI BANK DARI PERUSAHAAN YANG PAILIT 1 Oleh : Timothy Jano Sajow 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kedudukan

Lebih terperinci

Penundaan Pembayaran Utang bagi Debitor yang dinyatakan Pailit dalam Kasus Kepailitan Oleh : Umar Haris Sanjaya 1 ABSTRAKSI

Penundaan Pembayaran Utang bagi Debitor yang dinyatakan Pailit dalam Kasus Kepailitan Oleh : Umar Haris Sanjaya 1 ABSTRAKSI Penundaan Pembayaran Utang bagi Debitor yang dinyatakan Pailit dalam Kasus Kepailitan Oleh : Umar Haris Sanjaya 1 ABSTRAKSI Pada kasus hukum kepailitan, setiap debitor yang dinyatakan pailit akan dapat

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. A. Kedudukan Hukum Karyawan Pada Perusahaan Pailit. perusahaan. Hal ini dikarenakan peran dan fungsi karyawan dalam menghasilkan

BAB IV PEMBAHASAN. A. Kedudukan Hukum Karyawan Pada Perusahaan Pailit. perusahaan. Hal ini dikarenakan peran dan fungsi karyawan dalam menghasilkan BAB IV PEMBAHASAN A. Kedudukan Hukum Karyawan Pada Perusahaan Pailit Karyawan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan peran dan fungsi karyawan dalam

Lebih terperinci

BAB II PENGANGKATAN PENGURUS DALAM PKPU. Ada dua cara yang disediakan oleh UU Kepailitan dan PKPU agar debitur

BAB II PENGANGKATAN PENGURUS DALAM PKPU. Ada dua cara yang disediakan oleh UU Kepailitan dan PKPU agar debitur BAB II PENGANGKATAN PENGURUS DALAM PKPU A. Prosedur Permohonan PKPU Ada dua cara yang disediakan oleh UU Kepailitan dan PKPU agar debitur dapat terhindar dari ancaman harta kekayaannya dilikuidasi ketika

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KURATOR DALAM MENJALANKAN TUGAS PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KURATOR DALAM MENJALANKAN TUGAS PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT 1 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KURATOR DALAM MENJALANKAN TUGAS PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT Oleh: I Made Darma Adi Putra Marwanto Ida Ayu Sukihana Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

PENGERTIAN PERDAMAIAN

PENGERTIAN PERDAMAIAN 1 PENGERTIAN PERDAMAIAN Suatu Perdamaian dalam kepailitan pada dasarnya adalah suatu kesepakatan antara debitur dan kreditor utk merestrukturisasi utang secara paksa (kreditur konkuren). Penyelesaian utang-piutang

Lebih terperinci

disatu pihak dan Penerima utang (Debitur) di lain pihak. Setelah perjanjian tersebut

disatu pihak dan Penerima utang (Debitur) di lain pihak. Setelah perjanjian tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pemberian kredit dapat diberikan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan, untuk itu melalui perjanjian utang piutang antara Pemberi utang (kreditur)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang berarti bahwa manusia

BAB I PENDAHULUAN. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang berarti bahwa manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang berarti bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa manusia lain. Hanya dalam kehidupan bersamalah manusia dapat

Lebih terperinci

Universitas Kristen Maranatha

Universitas Kristen Maranatha ANALISIS YURIDIS PELAKSANAAN EKSEKUSI DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KREDITUR PEMEGANG JAMINAN DALAM KEPAILITAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Krisis ekonomi yang telah berlangsung mulai dari tahun 1997, cukup

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Krisis ekonomi yang telah berlangsung mulai dari tahun 1997, cukup BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Krisis ekonomi yang telah berlangsung mulai dari tahun 1997, cukup memberikan dampak yang negatif terhadap keadaan ekonomi di Indonesia. Krisis ekonomi tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era modern ini Indonesia harus menghadapi tuntutan yang mensyaratkan beberapa regulasi dalam bidang ekonomi. tidak terkecuali mengenai perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KEPAILITAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa gejolak moneter yang terjadi di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk pula kebutuhan keuangan, sehingga untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEPAILITAN. 2.8 Pengertian, Dasar Hukum, dan Tujuan Kepailitan. failite yang artinya kemacetan pembayaran.

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEPAILITAN. 2.8 Pengertian, Dasar Hukum, dan Tujuan Kepailitan. failite yang artinya kemacetan pembayaran. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEPAILITAN 2.8 Pengertian, Dasar Hukum, dan Tujuan Kepailitan Menurut Peter Mahmud, kata Pailit berasal dari bahasa Perancis yaitu failite yang artinya kemacetan pembayaran.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Perbankan) Pasal 1 angka 11, menyebutkan : uang agar pengembalian kredit kepada debitur dapat dilunasi salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Perbankan) Pasal 1 angka 11, menyebutkan : uang agar pengembalian kredit kepada debitur dapat dilunasi salah satunya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ekonomi menyebabkan meningkatnya usaha dalam sektor Perbankan. Fungsi perbankan yang paling utama adalah sebagai lembaga intermediary, yakni menghimpun

Lebih terperinci

Annisa Chaula Rahayu,Herman Susetyo*, Paramita Prananingtyas. Hukum Perdata Dagang ABSTRAK

Annisa Chaula Rahayu,Herman Susetyo*, Paramita Prananingtyas. Hukum Perdata Dagang ABSTRAK PUTUSAN PAILIT ATAS PERUSAHAAN ASURANSI DAN AKIBAT HUKUMNYA DI INDONESIA ( KAJIAN YURIDIS ATAS PUTUSAN NO. 10/PAILIT/2002/PN.JKT.PST DAN PUTUSAN MA NO. 021/K/N/2002 ) Annisa Chaula Rahayu,Herman Susetyo*,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan dan kecanggihan teknologi dan sumber informasi semakin menunjang

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan dan kecanggihan teknologi dan sumber informasi semakin menunjang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan dan kecanggihan teknologi dan sumber informasi semakin menunjang perkembangan dan perekonomian, dalam perekonomian banyak faktor yang mempengaruhi perekonomian

Lebih terperinci

Prosiding Ilmu Hukum ISSN: X

Prosiding Ilmu Hukum ISSN: X Prosiding Ilmu Hukum ISSN: 2460-643X Penerapan Pengajuan Kepailitan Perusahaan Sekuritas dalam Putusan Nomor: 08/Pdt.Sus.PAILIT/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst Dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

Lebih terperinci

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Website :

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Website : TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEDUDUKAN DEWAN KOMISARIS PADA KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS Phyca Cintya A*., Etty Susilowati, Siti Mahmudah Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya dengan sejumlah uang misalnya, dapat meminjam dari orang

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya dengan sejumlah uang misalnya, dapat meminjam dari orang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan hidup financial setiap orang dapat diperoleh dengan berbagai cara. Orang (orang perseorangan dan badan hukum) yang hendak memenuhi kebutuhan hidupnya dengan

Lebih terperinci

Sri Redjeki Slamet Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul Jalan Arjuna Utara No.9, Jakarta Barat

Sri Redjeki Slamet Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul Jalan Arjuna Utara No.9, Jakarta Barat KEDUDUKAN KURATOR SEBAGAI PENGAMPU DEBITOR PAILIT, PERAN, TUGAS DAN TANGGUNG JAWABNYA DALAM PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT Sri Redjeki Slamet Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul Jalan Arjuna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penundaan kewajiban pembayaran utang yang semula diatur dalam Undang-

BAB I PENDAHULUAN. penundaan kewajiban pembayaran utang yang semula diatur dalam Undang- BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu sarana hukum yang diperlukan dalam menunjang pembangunan nasional adalah peraturan tentang kepailitan termasuk peraturan tentang penundaan kewajiban

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan ekonomi tersebut. Modal yang dimiliki oleh para pengusaha

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan ekonomi tersebut. Modal yang dimiliki oleh para pengusaha BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 membuat perekonomian Indonesia belum seutuhnya stabil bahkan sampai saat ini. Banyak dunia usaha yang

Lebih terperinci

BAB III UPAYA HUKUM DEBITOR PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OLEH KREDITOR

BAB III UPAYA HUKUM DEBITOR PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OLEH KREDITOR BAB III UPAYA HUKUM DEBITOR PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OLEH KREDITOR 3.1. Upaya Hukum dalam Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Dalam penyelesaian permasalahan utang

Lebih terperinci

BAB II. A. Akibat Hukum Dikabulkannya Permohonan Kepailitan Terhadap Debitor Maupun Kreditor Serta Harta Pailit

BAB II. A. Akibat Hukum Dikabulkannya Permohonan Kepailitan Terhadap Debitor Maupun Kreditor Serta Harta Pailit BAB II HAK SUARA KREDITOR SEPARATIS DALAM PERSETUJUAN PENGAJUAN UPAYA PERDAMAIAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG A. Akibat Hukum Dikabulkannya

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENYELESAIAN PERKARA HUTANG PIUTANG ANTARA BANK CIMB NIAGA DENGAN PT. EXELINDO CELULLAR UTAMA

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENYELESAIAN PERKARA HUTANG PIUTANG ANTARA BANK CIMB NIAGA DENGAN PT. EXELINDO CELULLAR UTAMA TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENYELESAIAN PERKARA HUTANG PIUTANG ANTARA BANK CIMB NIAGA DENGAN PT. EXELINDO CELULLAR UTAMA (Studi Kasus Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI Oleh: SELVIA

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kepailitan secara etimologis berasal dari kata pailit. 6 Istilah pailit berasal dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kepailitan secara etimologis berasal dari kata pailit. 6 Istilah pailit berasal dari II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Dasar Hukum Kepailitan Kepailitan secara etimologis berasal dari kata pailit. 6 Istilah pailit berasal dari bahasa Belanda yaitu Faiyit yang mempunyai arti ganda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, yang merata secara materiil maupun

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PERNYATAAN PAILIT. Saryana * ABSTRACT

AKIBAT HUKUM PUTUSAN PERNYATAAN PAILIT. Saryana * ABSTRACT ISSN : NO. 0854-2031 AKIBAT HUKUM PUTUSAN PERNYATAAN PAILIT Saryana * ABSTRACT Bankruptcy is all things related to the bankrupt event, i.e. borrowers' circumstances which are unable to pay its debts which

Lebih terperinci

HUKUM DAGANG. Panji Susilo ( ) 03 HUKMD 417 KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

HUKUM DAGANG. Panji Susilo ( ) 03 HUKMD 417 KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG HUKUM DAGANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG Panji Susilo (2012020338) 03 HUKMD 417 PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PAMULANG TANGERANG SELATAN 2013 Kata pengantar

Lebih terperinci

Heri Hartanto - FH UNS

Heri Hartanto - FH UNS 1 Kekuasaan Kehakiman Psl 13 UU 14/1970 Jo. UU 4/2004 ttg Kekuasaan Kehakiman : memungkinkan di bentuk peradilan khusus di dalam peradilan Umum. Psl 8 UU 2/1986 Jo. UU 8/2004 ttg Peradilan Umum : Di dlm

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS TENTANG HAK KREDITOR DALAM MELAKSANAKAN EKSEKUSI SELAKU PEMEGANG JAMINAN DENGAN HAK TANGGUNGAN

TINJAUAN YURIDIS TENTANG HAK KREDITOR DALAM MELAKSANAKAN EKSEKUSI SELAKU PEMEGANG JAMINAN DENGAN HAK TANGGUNGAN 1 TINJAUAN YURIDIS TENTANG HAK KREDITOR DALAM MELAKSANAKAN EKSEKUSI SELAKU PEMEGANG JAMINAN DENGAN HAK TANGGUNGAN NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

AKIBAT KEPAILITAN TERHADAP ADANYA PERJANJIAN HIBAH

AKIBAT KEPAILITAN TERHADAP ADANYA PERJANJIAN HIBAH AKIBAT KEPAILITAN TERHADAP ADANYA PERJANJIAN HIBAH Oleh Gede Adi Nugraha I Ketut Keneng Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar Abstract : The paper is titled as a result of the bankruptcy

Lebih terperinci

BAB II KEDUDUKAN KREDITUR PREFEREN DALAM KEPAILITAN

BAB II KEDUDUKAN KREDITUR PREFEREN DALAM KEPAILITAN BAB II KEDUDUKAN KREDITUR PREFEREN DALAM KEPAILITAN A. Kepailitan 1. Pengertian dan Syarat Kepailitan Secara tata bahasa, kepailitan berarti segala yang berhubungan dengan pailit. Istilah pailit dijumpai

Lebih terperinci

BAB III JUDICIAL REVIEW TERHADAP KEWENANGAN KURATOR DALAM MENGURUS DAN MEMBERESKAN HARTA PAILIT

BAB III JUDICIAL REVIEW TERHADAP KEWENANGAN KURATOR DALAM MENGURUS DAN MEMBERESKAN HARTA PAILIT BAB III JUDICIAL REVIEW TERHADAP KEWENANGAN KURATOR DALAM MENGURUS DAN MEMBERESKAN HARTA PAILIT A. Pembatasan Tugas dan Wewenang Kurator dalam Mengurus dan Membereskan Harta Pailit 1. Tugas dan Wewenang

Lebih terperinci

BAB III UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA WANPRESTASI ATAS OBJEK FIDUSIA BERUPA BENDA PERSEDIAAN YANG DIALIHKAN DENGAN JUAL BELI

BAB III UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA WANPRESTASI ATAS OBJEK FIDUSIA BERUPA BENDA PERSEDIAAN YANG DIALIHKAN DENGAN JUAL BELI BAB III UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA WANPRESTASI ATAS OBJEK FIDUSIA BERUPA BENDA PERSEDIAAN YANG DIALIHKAN DENGAN JUAL BELI 1. Ketentuan Dalam Pasal 21 UUJF Mengenai Benda Persediaan yang Dialihkan dengan

Lebih terperinci