KONDISI LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KONDISI LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI"

Transkripsi

1 BAB 4 KONDISI LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI Program Relokasi di Kelurahan Sewu dilatar belakangi oleh beberapa kondisi, diantaranya kondisi banjir yang tidak dapat di prediksi waktu terjadi seperti yang telah dialami pada tahun Akibat dari banjir ini menimbulkan beberapa bencana seperti kerusakan pada lingkungan masyarakat, hilangnya harta benda, timbulnya penyakit hingga korban jiwa. Selain itu, yang menjadi alasan utama adalah masih banyak masyarakat yang bermukim di daerah bantaran dan badan tanggul. Sedangkan bantaran merupakan daerah berbahaya yang tidak diperuntukkan bagi permukiman masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah terus melakukan penanggulangan banjir dengan mengeluarkan SK Walikota No /25/1/2008 tentang pembentukan tim dan kelompok kerja penanganan pasca banjir Kota Surakarta. Salah satu upaya yang dilakukan adalah program relokasi warga di sepanjang bantaran. Sejak tahun 2008 hingga 2010, pemerintah telah berhasil memindahkan dari 211 rumah di Kelurahan Sewu yang berada di bantaran sungai yaitu di RW 1, 2, dan 3. Relokasi dilakukan ke permukiman baru di Mojosongo yang tersebar di 8 titik yaitu daerah Mipitan 81 rumah, Kedung Tungkul 24 rumah, Sabrang Lor 11 rumah, Sabrang Kulon 15 rumah, Tawangsari 24 rumah, Mertoudan RT 08 sebanyak 25 rumah, Mertoudan RT 05 sebanyak 27 rumah dan Ngemplak 4 rumah. Biaya pengganti bangunan per rumah diberikan sebesar - Rp untuk membeli tanah dan administrasi, - Rp untuk pembangunan rumah dan - Rp untuk fasilitas umum. Sehingga total dari bantuan untuk relokasi sebesar Rp /rumah. 45

2 Gambar 4.1 Peta Lokasi Permukiman Berikut ini merupakan gambaran commit kondisi to lingkungan user permukiman masyarakat setelah menerima bantuan program relokasi: 46

3 4.1. Kondisi Permukiman Pasca Relokasi Setelah adanya relokasi permukiman, perumahan yang dibuat bertujuan untuk tempat memindahkan masyarakat ketempat yang lebih layak dengan segala sarana dan prasarana penunjang perumahan. Dalam proses relokasi bertujuan untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang terelokasi menjadi lebih baik dari kondisi sebelum terjadinya relokasi. Dan kondisi yang lebih baik tersebut sebaiknya bertahan lama dari waktu ke waktu, hal ini termasuk tingkat pendapatan, status dan jaminan kepemilikan di lokasi yang baru, akses terhadap pelayanan dan infrastruktur Kondisi Eksisting Permukiman Lokasi Permukiman 1. Kemiringan Tanah Lokasi permukiman yang layak adalah dimana kondisi tanah bebas banjir dan memiliki kemiringan tanah 0-15 %, sehingga dapat dibuat sistem saluran air hujan (drainase) yang baik serta memiliki daya dukung yang memungkinkan untuk dibangun permukiman. Setelah adanya program relokasi, permukiman masyarakat berada pada kemiringan tertentu. Berikut ini data kemiringan tanah lokasi permukiman pasca relokasi: Tabel 4.1 Data Kemiringan Tanah Lokasi Permukiman Pasca Relokasi Lokasi Pasca Relokasi Kemiringan Tanah Sabrang Kulon 3 7 % Sabrang Lor 3 7 % Tawangsari 3 7 % Mertoudan RT % Mertoudan RT % Kedung Tungkul 8 13 % Mipitan 3 7 % Ngemplak 8 13 % Sumber : Budi Setiyarso, FKIP UNS Dapat diketahui, lokasi lingkungan permukiman Sabrang Kulon, Sabrang Lor, Tawangsari, Mertoudan RT 08, dan Mipitan berada pada kemiringan 3-7 % atau dapat dikatakan landai. Sedangkan lokasi lingkungan permukiman Mertoudan RT 05, Kedung Tungkul dan Ngemplak berada pada kemiringan 8-13 % atau dapat dikatakan pada lokasi yang miring. 47

4 Gambar 4.2 Peta Kemiringan Lereng 48

5 2. Legalitas Lahan Dalam penentuan lokasi suatu permukiman perlu adanya suatu kriteria atau persyaratan untuk menjadikan suatu lokasi sebagai lokasi permukiman, salah satunya yaitu adanya kepastian hukum bagi masyarakat penghuni terhadap tanah dan bangunan diatasnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tujuan dari program relokasi adalah membantu masyarakat untuk hunian yang layak dan terbebas dari bencana banjir. Hal ini dikarenakan sebelum mendapatkan program bantuan relokasi, masyarakat tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo yang sering mengalami banjir saat musim hujan serta berada di tanah milik negara. Menurut pokja dan subpokja, setelah mendapatkan bantuan program relokasi, masyarakat menempati hunian yang berada di tanah legal. Masing-masing rumah mendapatkan sertifikat hak milik terhadap lahan dan bangunan. Berikut ini gambaran kondisi lokasi permukiman masyarakat setelah mendapat bantuan program relokasi : Tabel 4.2 Gambaran Kondisi Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Jarak lokasi permukiman Jarak dari dengan sungai terdekat sungai Status lahan Sabrang Kulon 100 meter Jauh Legal Sabrang Lor 200 meter Jauh Legal Tawangsari 30 meter Jauh Legal Mertoudan RT meter Jauh Legal Mertoudan RT meter Jauh Legal Kedung Tungkul 130 meter Jauh Legal Mipitan 40 meter Jauh Legal Ngemplak 160 meter Jauh Legal 49

6 Gambar 4.3 Peta Jarak Permukiman Dengan Sungai Terdekat 50

7 Aksesibilitas Lokasi hunian dipilih berdasarkan dari tingkat kemudahan transportasi dan jarak ke pusat kota. Aksesibilitas berbicara mengenai ketersediaan transportasi umum. Akses terhadap transportasi umum yang mudah, akan sangan membantu masyarakat dalam kegiatan seharihari serta meringankan beban biaya untuk kendaraan pribadi.. Dekatnya rumah dengan jalur transportasi umum juga merupakan faktor penting kemudahan masyarakat mencapai tempat kerja maupun pusat pelayanan. Namun, kondisi yang ada akses untuk mendapatkan transportasi umum cukup sulit. Tabel 4.3 Gambaran Kondisi Aksesibilitas Jarak lokasi permukiman Lokasi pasca relokasi menuju jalur transportasi publik Sabrang Kulon 80 meter Sabrang Lor 170 meter Tawangsari meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 110 meter Mipitan 10 meter Ngemplak 70 meter Di permukiman pasca relokasi, masyarakat cukup sulit untuk mendapatkan akses transportasi publik. Kondisi ini terlihat dari lokasi rumah yang jauh dari jalur yang dilewati transportasi publik serta jumlah tranportasi publik yang kurang memadai. Sehingga masyarakat yang ingin menggunakan transportasi publik harus mengunggu lama. Dari kondisi tersebut, sebagian besar masyarakat memilih untuk menggunakan transportasi pribadi seperti mobil, motor maupun sepeda untuk menuju tempat kerja maupun ke pusat pelayanan. 51

8 Gambar 4.4 Peta Jalur Transportasi Umum 52

9 Kondisi Prasarana Permukiman 1. Jaringan Jalan Menurut Kepmenkimpraswil Nomor 534/KPRS/M/2001 disebutkan bahwa untuk jaringan jalan lingkungan memiliki ketentuan lebar 2-5 m dan dapat memenuhi akses ke semua bagian permukiman dengan mudah baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. Kondisi jaringan jalan di lingkungan hunian masyarakat sudah mengakses keseluruh rumah yang ada. Dapat terlihat, kondisi jalan lingkungan di permukiman masyarakat telah memiliki lebar rata rata 2 sampai dengan 3 meter. Artinya, kondisi jaringan jalan yang ada di lingkungan hunian masyarakat telah memenuhi standar kriteria layak huni. Bahan yang digunakan untuk jalan lingkungan berupa paving dan bahan campuran semen dan pasir. Lokasi pasca relokasi Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawangsari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Lebar jalan Tabel 4.4 Kondisi Jaringan Jalan Kondisi jalan 242 cm Jaringan jalan mengakses ke seluruh bagian permukiman, perkerasan berupa paving dengan kondisi yang masih baik 157cm Jaringan jalan menjangkau seluruh permukiman dengan perkerasan menggunakan paving 285 cm Perkerasan menggunakan paving. Seluruh bagian 210cm permukiman terjangkau oleh jaringan jalan dengan kondisi yang baik 290 cm Kondisi jaringan jalan mengjangkau seluruh bagian permukiman dengan perkerasan paving 360 cm Berada di jalan utama permukiman. Perkerasan menggunakan paving, kondisi jaringan jalan baik. 223 cm Perkerasan menggunakan cor dan paviing dengan kondisi baik. Perkerasan jalan menggunakan paving dan cor dengan 246 cm kondisi yang baik. Jaringan jalan menjangkau seluruh bagian permukiman 310 cm Lebar 310 hanya untuk jalan utama, perkerasan dengan paving dan cor dengan kondisi yang masih baik 230 cm Lebar 230 untuk selain jalan utama. Perkerasan menggunakan paving. Ngemplak 288cm Perkerasan menggunakan cor dengan kondisi baik 53

10 Gambar 4.5 Peta Jaringan Jalan Sabrang Kulon Gambar 4.6 Peta commit Jaringan to user Jalan Sabrang Lor 54

11 Gambar 4.7 Peta Jaringan Jalan Tawangsari Gambar 4.8 Peta Jaringan Jalan Mertoudan RT 05 55

12 Gambar 4.9 Peta Jaringan Jalan Mertoudan RT 08 Gambar 4.10 Peta Jaringan Jalan Kedung Tungkul 56

13 Gambar 4.11 Peta Jaringan Jalan Mipitan Gambar 4.12 Peta Jaringan Jalan Ngemplak 57

14 2. Saluran Drainase Jaringan drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan, yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan. Menurut Kepmenkimpraswil Nomor 534/KPRS/M/2001, standar pelayanan jaringan drainase adalah dengan tidak terjadi lagi genangan banjir bila terjadi genangan; tinggi genangan rata rata <30 cm, lama genangan < 2 jam. Frekuensi kejadian banjir < 2 kali setahun. Sedangkan menurut Permen No.32 tahun 2006 disebutkan bahwa kondisi saluran drainase yang baik adalah saluran berupa saluran terbuka/tertutup dengan lebar minimum 20cm dan kedalaman minimum 30cm Kondisi saluran drainase yang berada di lingkungan permukiman masyarakat ada yang berupa saluran terbuka dan ada pula saluran tertutup. Untuk ukuran saluran berbeda beda pada setiap daerah, namun seluruh saluran yang ada di permukiman pasca relokasi telah memenuhi ukuran standar saluran pun telah memenuhi standar kelayakan prasarana lingkungan yaitu lebar >20cm dan kedalaman sekitar 30cm dengan tidak ada genangan pada saluran tersebut. Tabel 4.5 Kondisi Saluran Drainase Lokasi pasca relokasi Ukuran saluran drainase Lebar Tinggi Kondisi pada musim hujan Saluran drainase berfungsi dengan baik Sabrang Kulon 30 cm 37 cm sehingga tidak ada genangan pada saat musim hujan Sabrang Lor 26 cm 35 cm Tidak ada genangan saat musim hujan Tawangsari 30 cm 40 cm Air mengalir dengan baik pada saat musim hujan, sehingga tidak ada banjir Mertoudan RT cm 38 cm Air cepat mengalir ke saluran drainase, tidak ada genangan Mertoudan RT cm 40 cm Tidak pernah terjadi genangan maupun banjir saat musim hujan Kedung Tungkul 30 cm 35 cm Dengan lokasi permukiman berada di dataran lebih tinggi, air hujan langsung mengalir ke saluran drainase dan tidak ada genangan Mipitan 35 cm 43 cm Tidak ada genangan maupun banjir pada saat musim hujan. Air langsung mengalir ke sungai di belakang lokasi permukiman Ngemplak 37 cm 52 cm Tidak ada genangan maupun banjir. Sumber : Observasi Lapangan, Wawancara dan Identifikasi Penulis,

15 Gambar 4.13 Peta Jaringan Drainase Sabrang Kulon Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis, 2015 Gambar 4.14 Peta Jaringan Drainase Sabrang Lor Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis,

16 Gambar 4.15 Peta Jaringan Drainase Tawangsari Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis, 2015 Gambar 4.16 Peta Jaringan Drainase Mertoudan RT 05 Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis,

17 Gambar 4.17 Peta Jaringan Drainase Mertoudan RT 08 Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis, 2015 Gambar 4.18 Peta Jaringan Drainase Kedung Tungkul Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis,

18 Gambar 4.19 Peta Jaringan Drainase Mipitan Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis, 2015 Gambar 4.20 Peta Jaringan Drainase Ngemplak Sumber : Observasi Lapangan Dan Identifikasi Penulis,

19 3. Persampahan Sarana pembuangan sampah merupakan kelengkapan yang penting terkait dengan persyaratan kesehatan lingkungan. Tempat pembuangan sampah rumah tangga sebaiknya disediakan pada setiap unit hunian. Dari unit hunian ini sampah diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS), Pengelolaan sampah yang ada di lingkungan masyarakat, seluruhnya dilakukan secara individu. Setiap hunian memiliki tempat sampah pribadi lalu pengelolaan nya dilakukan dengan dibakar, maupun dibawa ke tempat sampah komunal terdekat. Belum ada fasilitas pengangkutan sampah dari pihak terkait. Pada daerah Mipitan, ada beberapa masyarakat yang membuang sampahnya dilahan dekat sungai, sampah di kumpulkan lalu dibakar apabila kondisinya sudah menumpuk. Untuk daerah lainnya tidak ada penumpukan sampah di lingkungan permukiman. Rumah Masyarakat Pengelolaan individu Dibakar pada lahan kosong Dibuang ke TPS terdekat Gambar 4.21 Peta Kondisi Persampahan 63

20 Kondisi Sarana Permukiman 1. Sarana Pendidikan Sarana pendidikan yang dibahas dalam penilitian ini adalah sarana pendidikan mulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Berikut ini jumlah sarana pendidikan yang ada di sekitar permukiman pasca relokasi. Tabel 4.6 Jumlah Sarana Pendidikan Sarana Pendidikan Jumlah TK 2 SD 2 SMP 1 SMA 1 a. Sekolah Pra Belajar (TK) Keberadaan sekolah pra belajar / TK dikatakan baik apabila terletak dekat dengan permukiman dan dapat dijangkau dengan jalan kaki. Untuk daerah yang dapat menjangkau sekolah pra belajar dengan jalan kaki di lingkungan daerah Mipitan dan Mertoudan RT 08. Sedangkan untuk daerah lainnya, masyarakat harus menggunakan kendaraan pribadi untuk menjangkaunya. Tabel 4.7 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap TK Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap TK Sabrang Kulon 170 meter Sabrang Lor 200 meter Tawangsari 500 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 600 meter Mipitan 30 meter Ngemplak 200 meter b. Sekolah Dasar (SD) Terdapat 2 unit sekolah dasar di lingkungan pasca relokasi yang berada di daerah Sabrang Kulon. Dengan standar radius pencapaian m, keberadaan sekolah dasar ini telah menjangkau seluruh daerah permukiman pasca relokasi. Tabel 4.8 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap SD Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap SD Sabrang Kulon 100 meter Sabrang Lor 90 meter Tawangsari 1000 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 500 meter 64

21 Mipitan 700 meter Ngemplak 600 meter c. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tidak terdapat SMP di sekitar daerah permukiman pasca relokasi. Sarana pendidikan SMP cukup jauh untuk di jangkau oleh masyarakat. Tabel 4.9 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap SMP Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap SMP Sabrang Kulon 1400 meter Sabrang Lor 1300 meter Tawangsari 2400 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 1100 meter Mipitan 1700 meter Ngemplak 1800 meter d. Sekolah Menengah Atas (SMA) Hanya terdapat 1 unit SMA di lingkungan permukiman pasca relokasi yaitu SMA N 8 Surakarta. Terletak dekat dengan daerah permukiman di Mertoudan. Dengan radius pencapaian m, sekolah ini telah menjangkau seluruh daerah permukiman pasca relokasi. Untuk menjangkau sekolah ini masyarakat harus menggunakan kendaraan pribadi, karena sekolah ini terletak pada jalur yang tidak dilewati oleh kendaraan umum. Tabel 4.10 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap SMA Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap SMA Sabrang Kulon 600 meter Sabrang Lor 500 meter Tawangsari 400 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 800 meter Mipitan 1000 meter Ngemplak 700 meter 65

22 Gambar 4.22 Peta Sebaran Sarana Pendidikan 66

23 Gambar 4.23 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan 67

24 2. Sarana Perniagaan Sarana perbelanjaan dan niaga merupakan fasilitas komersil sebagai layanan sebuah lingkungan permukiman. Sarana ini direncanakan dengan tujuan untuk mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat Sarana perbelanjaan yang ada di lingkungan hunian masyarakat berupa warung atau toko kelontong. Kesesuaian kondisi sarana niaga berupa toko/ warung dinilai berdasarkan SNI mengenai tata cara perencanaan lingkungan perumahan perkotaan, dimana radius pencapaiannya 300m dan berada di lingkungan permukiman masyarakat. Untuk kondisi eksisting yang ada, seluruh kawasan permukiman pasca relokasi telah terjangkau sarana perniagaan yang ada di lingkungan permukiman. Masyarakat dapat dengan mudah menjangkau sarana perniagaan untuk membeli atau memenuhi kebutuhan mereka sehari hari. Tabel 4.11 Jumlah Sarana Pendidikan Sarana Pendidikan Jumlah Toko/warung 14 Pertokoan 10 Gambar 4.24 Peta Sebaran Sarana Perniagaan Sumber : Observasi Lapangan commit to dan user Identifikasi Penulis,

25 Gambar 4.25 Peta Jangkauan Sarana Perniagaan 69

26 3. Sarana Kesehatan Sarana kesehatan merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan di bidang kesehatan yang berupa pemeriksaan, pengobatan dan perawatan. Berdasarkan standar kesesuaian yang ada pada SNI mengenai tata cara perencanaan lingkungan perumahan perkotaan, sarana kesehatan berupa posyandu dikatakan baik apabila memiliki radius pencapaian 500m. sedangkan untuk balai pengobatan berada pada radius pencapaian 1000m dan berada di ligkungan permukiman masyarakat. Sarana kesehatan yang ada di lingkungan masyarakat berupa posyandu keliling Si Bella yang kunjungannya sudah terjadwal ke daerah daerah relokasi. Ada pula posyandu untuk lansia. Selain posyandu, terdapat pula Griya PMI yang berada di RW 09. Dengan adanya standard dan kondisi yang ada, kesesuaian sarana kesehatan dikatakan sudah memenuhi standar layak huni, karena seluruh daerah permukiman pasca relokasi telah terjangkau oleh sarana kesehatan. Masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan di bidang kesehatan. Tabel 4.12 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap Sarana Kesehatan Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap Sarana Kesehatan Sabrang Kulon 300 meter Sabrang Lor 400 meter Tawangsari 700 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 800 meter Mipitan 600 meter Ngemplak 400 meter 70

27 Gambar 4.26 Peta Persebaran Sarana Kesehatan 71

28 Gambar 4.27 Peta Jangkauan Sarana Kesehatan 72

29 4. Sarana Peribadatan Sarana peribadatan merupakan sarana kehidupan untuk mengisi kebutuhan rohani yang perlu disediakan di lingkungan perumahan yang direncanakan selain sesuai peraturan yang ditetapkan, juga sesuai dengan keputusan masyarakat yang bersangkutan.struktur penduduk yang memeluk suatu agama tertentu akan sangat mempengaruhi dalam penempatan lokasi fasilitas peribadatan. Pengadaan fasilitas masjid perlu mempertimbangkan jarak standar jarak terjauh kemampuan seseorang dan waktu perjalanan dengan tidak menggunakan bantuan kendaraan. Jarak tersebut 750m 1km dengan waktu maksimal 15 menit perjalanan dalam melakukan sholat jumat Sarana peribadatan yang ada di lingkungan permukiman disesuaikan dengan kondisi dan struktur penduduk menurut agama yang dianut. Jenis sarana peribadatan yang ada pada lokasi pasca relokasi adalah berupa masjid dengan jarak yang mudah di jangkau dengan jalan kaki dan dalam kondisi yang baik. Dengan standard dan kondisi eksisting yang ada, maka sarana peribadatan yang ada di lingkungan permukiman pasca relokasi telah memenuhi standar layak huni. Masyarakat dengan mudah menjangkau sarana peribadatan dengan cara berjalan kaki. Tabel 4.13 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap Sarana Peribadatan (Masjid) Jarak Lokasi Permukiman Lokasi pasca relokasi Terhadap Masjid Sabrang Kulon 100 meter Sabrang Lor 70 meter Tawangsari 100 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 60 meter Mipitan 70 meter Ngemplak 40 meter 73

30 Gambar 4.28 Peta Sebaran Sarana Peribadatan 74

31 Gambar 4.29 Peta Jangakauan Sarana Peribadatan 75

32 5. Ruang Terbuka Kesesuaian kondisi sarana ruang terbuka berupa ruang terbuka taman di lokasi penelitian dinilai berdasarkan SNI mengenai tata cara perencanaan lingkungan perumahan perkotaan. Dimana menyebutkan bahwa radius pelayanan sarana ruang terbuka berupa taman adalah 100m. Di lingkungan permukiman pasca relokasi sangat minim akan ketersediaan ruang terbuka. Lingkungan yang memiliki ruang terbuka hanya di daerah Mipitan yang berupa lapangan badminton dan ruang terbuka yang sengaja dibuat untuk kegiatan warga berkumpul. Namun beberapa ruang terbuka tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk menambah penghasilan mereka dengan berjualan. Kondisi ruang terbuka dapat dilihat pada gambar berikut ini. Selain itu, dekat dengan daerah permukiman di Kedungtungkul terdapat ruang terbuka berupa lapangan kosong yang sering dimanfaatkan warga sekitar untuk berolah raga. Tabel 4.14 Jumlah Sarana Ruang Terbuka Sarana Pendidikan Jumlah Taman 1 Lapangan 1 Tabel 4.15 Jarak Lokasi Permukiman Terhadap Ruang Terbuka Lokasi pasca relokasi Jarak Lokasi Permukiman Terhadap Ruang Terbuka Sabrang Kulon 600 meter Sabrang Lor 400 meter Tawangsari 1000 meter Mertoudan RT meter Mertoudan RT meter Kedung Tungkul 100 meter Mipitan 20 meter Ngemplak 200 meter 76

33 Gambar 4.30 Peta Jangakauan Ruang Terbuka 77

34 Kondisi Permukiman Berdasarkan Pendapat Masyarakat Akses transportasi publik Tabel 4.16 Data Aksesibilitas Transportasi Umum Aksesibilitas Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawang sari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Ngemplak Total % Rumah jauh Masyarakat sulit mengakses ,17% transportasi publik Rumah dekat Masyarakat sulit mengakses transportasi ,41% publik Rumah dekat Masyarakat mudah mengakses transportasi ,42% publik Total % Sumber : Kuisioner Dan Identifikasi Penulis, % 24.17% Rumah jauh Masyarakat sulit mengakses transportasi publik 65.41% Gambar 4.31 Aksesibilitas Rumah dekat Masyarakat sulit mengakses transportasi publik Rumah dekat Masyarakat mudah mengakses transportasi publik Aksesibilitas berbicara mengenai ketersediaan transportasi umum. Akses terhadap transportasi umum yang mudah, akan sangan membantu masyarakat dalam kegiatan sehari hari serta meringankan beban biaya untuk kendaraan pribadi. Namun, kondisi yang ada akses untuk mendapatkan transportasi umum cukup sulit. Sebanyak 24,17% masyarakat berpendapat rumah masyarakat jauh dari jalur transportasi publik sehingga masyarakat sulit untuk mengaksesnya. Sedangkan sebanyak 65,41% masyarakat mengatakan bahwa rumahnya dekat dengan jalur transportasi publik, namun sulit mengakses dikarenakan jumlah angkutan serta memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengaksesnya. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap tranportasi tergolong cukup sulit. 78

35 Persampahan Dilingkungan masyarakat kondisi persampahan dikatakan dalam kondisi baik. Persampahan dikelola secara individu oleh masyarakat sendiri dengan cara masyarakat menyediakan tempat sampah dirumah masing-masing, lalu sampah dibawa ke TPS terdekat. Namun ada beberapa titik penumpukan sampah dilingkungan masyarakat. Masih ada masyarakat yang menumpuk sampah di pinggir sungai maupun pada tanah kosong disekitar rumah sehingga menyebabkan bau pada waktu tertentu. Tabel 4.17 Pendapat Masyarakat Terhadap kondisi persampahan Sampah Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawang sari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Ngemplak Total % Mencemari udara (bau), mencemari air dan tanah Pencemaran ringan (hanya bau), namun tidak mencemari air ,37% dan tanah Tidak mencemari lingkungan ,63% Total % Sumber : Kuisioner Dan Identifikasi Penulis, Jaringan listrik Tabel 4.18 Pendapat Masyarakat Terhadap Jaringan Listrik Listrik Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawang sari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Ngemplak Total % Tidak terlayani jaringan listrik Terlayani jaringan listrik dengan daya % Va Terlayani jaringan listrik dengan daya Va Total % Sumber : Kuisioner Dan Identifikasi Penulis, 2015 Jaringan listrik yang harus disediakan dalam lingkungan perumahan adalah kebutuhan daya listrik dan jaringan listrik. Dalam penyediaan daya listrik, setiap unit rumah tangga mendapatkan daya listrik dari PLN dan commit harus terlayani to user daya listrik minimum 450VA. Dalam program relokasi, setiap masyarakat menghuni rumah yang telah di lengkapi dengan fasilitas 79

36 listrik sesuai dengan standar minimum yaitu 450Va. Namun ada beberapa masyarakat yang menambahkan daya listrik sesuai dengan kebutuhan mereka sehari hari Air bersih Tabel 4.19 Pendapat Masyarakat Terhadap Air Bersih Air bersih Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawang sari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Ngemplak Total % Tidak terlayani, pasokan air bersih tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dan MCK Terlayani, pasokan air bersih hanya mencukupi kebutuhan MCK Terlayani, pasokan air bersih mencukupi kebutuhan konsumsi % dan MCK Total % Sumber : Kuisioner Dan Identifikasi Penulis, 2015 Dapat dilihat dari tabel hasil kuisioner, kondisi air bersih yang ada di lingkungan permukiman masyarakat pasca relokasi telah memenuhi untuk kebutuhan konsumsi seharihari serta memenuhi kebutuhan untuk MCK. Dalam standar penyediaan jaringan air bersih (SNI ), disebutkan bahwa setiap lingkungan perumahan harus menyediakan sumber air bersih bagi warganya. Sumber air bersih ini dapat saja disediakan per unit ataupun secara sentral untuk seluruh area permukiman. Sedangkan menurut SK MENKES No.416/MENKES/PER/IX/1990 air bersih yang layak pakai yaitu dalam kondisi air tidak berwarna, air tidak berasa, dan air bersih dapat diminum setelah di masak. Air yang bau dan berwarna mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar oleh limbah. Tabel 4.20 Sumber Air Bersih Air bersih Sabrang Kulon Sabrang Lor Tawang sari Mertoudan RT 05 Mertoudan RT 08 Kedung Tungkul Mipitan Ngemplak Total Menggunakan air sungai/ air hujan Menggunakan sumur/ mata air tidak terlindungi %

37 Menggunakan air kemasan/ air ledeng/ sumur atau mata air % terlindung Total % Sumber : Kuisioner Dan Identifikasi Penulis, 2015 Untuk kondisi pada permukiman pasca relokasi, pada masing masing lingkungan permukiman disetiap rumah dilengkapi dengan fasilitas air bersih yang bersumber dari PDAM. Selain menggunakan air bersih untuk kegiatan sehari hari, masyarakat menggunakan air tersebut untuk air minum setelah melalui proses dimasak. Pada rumah sebelum relokasi, masyarakat mendapatkan sumber air bersih dari sumur sumur pribadi yang menggunakan jet pump dimana tidak pernah mengeluarkan biaya dalam penggunaan air. Sedangkan setelah adanya program relokasi, masyarakat mendapatkan fasilitas air bersih dari PDAM dan dipungut biaya setiap bulannya. Ada beberapa masyarakat yang mengeluhkan tentang penambahan pengeluaran untuk biaya penggunaan air bersih. Pada wilayah Sabrang Lor dan Tawangsari, pada setiap gang disediakan sumber air bersih yang dapat digunakan untuk umum (keran umum). Berdasarkan standar penyediaan air bersih yang layak untuk lingkungan permukiman dan kondisi eksisting di wilayah penelitian, maka kondisi air bersih di permukiman pasca relokasi telah memenuhi batas stadar minimum pelayanan air bersih. Gambar 4.32 Keran umum 81

38 4.2. Resume Kondisi Permukiman Pasca Relokasi Tabel 4.18 AnalisisKondisi Permukiman Pasca Relokasi Skor Variabel Subvariabel Kondisi Eksisting Permukiman Standar Permukiman Layak Huni Pendapat Eksisting Masyarakat Lokasi permukiman berada pada Lahan memiliki kemiringan tanah 0- Kemiringan Tanah 2,62 - kemiringan 3 13% 8% Lokasi Permukiman berada di tanah legal. Jarak Lokasi rumah jauh dari sungai, status Permukiman Legalitas Lahan dari lokasi permukiman ke sungai tanah legal 3 - meter Aksesibilitas Akses Kondisi Transportasi public sulit untuk diakses, Akses masyarakat menggunakan Transportasi transportasi public perlu menunggu lama untuk transportasi umum ke semua bagian Publik mendapatkannya. kota mudah Jarak rumah ke jalur transportasi public Jarak lokasi permukiman ke jalur transportasi publik mulai dari meter. <200 meter menuju jalur transportasi umum 2,25 - Kesesuaian Jaringan Ukuran jalan Lebar jalan yang berada di permukiman Terdapat jalan lingkungan dengan lebar Kondisi Jalan yaitu cm 2-5m. 1,87 - Prasarana Kondisi jalan Perkerasan jalan berupa paving dan cor Seluruh bagian permukiman dapat dengan kondisi yang baik dan mengakses ke seluruh bagian permukiman terakses dengan kondisi baik untuk pejalan kaki/ pengguna kendaraan 3 - Saluran Ukuran saluran Rata-rata saluran drainase berukuran lebar Saluran drainase sudah memenuhi Drainase cm dan tinggi 35-52cm ukuran lebar 20-30cm dan kedalaman minimum 30cm 2,25 - Tinggi genangan Di lokasi permukiman tidak pernah terjadi Tinggi genangan rata rata <30cm, 3 - Lama genangan genangan mauppun banjir saat musim Lama genangan <2jam. 3 - Frekuensi banjir hujan Frekuensi kejadian banjir <2 kali setahun 3 - Persampahan Pengolahan Setiap rumah memiliki termpat sampah Setiap rumah memiliki tempat sampah sampah pribadi, dan harus membuang sendiri ke pribadi, tidak ada pengangkutan 2 - Sarana Pendidikan TK Kondisi persampahan TPS terdekat Ada beberapa penumpukan sampah dibeberapa titik lokasi permukiman sehingga menimbulkan bau. Tersedia TK di lingkungan permukiman dengan jarak dari permukiman yaitu meter Tidak mencemari lingkungan Tersedia sarana pendidikan TK dengan radius pencapaian m dari unit terjauh ,75-82

39 Sarana Perniagaan Sarana Kesehatan Sarana Peribadatan Ruang Terbuka SD SMP SMA Toko/ Warung Pertokoan Posyandu Balai Pengobatan Masjid Taman Tersedia SD di lingkungan permukiman dengan jarak dari permukiman yaitu meter Tidak terdapat SMP di lingkungan permukiman masyarakat. Masyarakat harus menjangkau lebih dari 1500m Tersedia SMA di lingkungan permukiman dengan jarak dari permukiman yaitu meter Terdapat warung dan pertokoan di sekitar lingkungan masyarakat. Sehingga masyarakat mudah untuk menjangkaunya. Jarak yang di tempuh <300meter Terdapat posyandu keliling serta balai pengobatan (Griya PMI) dengan jarak meter dari permukiman Terdapat masjid di sekitar lingkungan permukiman dengan jarak jangkau meter Sebagian besar permukiman jauh dari lokasi ruang terbuka.yang dapat digunakan. Jarak dari permukiman menuju ruang terbuka yaitu meter Utilitas Jaringan Listrik Setiap rumah mendapat pasokan listrik sebesar 450Va. Ada beberapa masyarakat yang menambah daya sesuai dengan kebutuhan masing-masing Air Bersih Sumber : Analisis Penulis, 2015 Kondisi air bersih Sumber air bersih Seluruh permukiman pasca relokasi mendapatkan pasokan air bersih dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seharihari Sumber air bersih yang digunakan masyarakat bersumber dari PDAM. JUMLAH Tersedia SD dengan radius pencapaian m 2,3 - Tersedia SMP dengan radius pencapaian m 1 - Tersedia SMA dengan radius pencapaian m 3 - Terdapat warung di sekitar lingkungan permukiman dengan radius pencapaian 300m 3 - Terdapat pertokoan dengan radius pencapaian m 3 - Terdapat balai pengobatan dengan radius pencapaian m 2,75 - Terdapat masjid dengan radius pencapaian m 3 - Tersedia di lingkungan permukiman dengan radius pencapaian m Terlayani jaringan listrik dengan daya Va Terlayani, pasokan air bersih mencukupi kebutuhan konsumsi dan MCK Menggunakan air kemasan/ air ledeng/ sumur atau mata air terlindung 1, , ,54 83

40 Dari tabel 4.18 dapat terlihat bahwa sebagian besar kondisi permukiman pasca relokasi telah memenuhi standar permukiman layak huni. Aspek-aspek yang telah memenuhi standar layak huni dengan baik yaitu legalitas lahan, kondisi jalan lingkungan, kondisi saluran drainase, sarana pendidikan SMA, sarana perniagaan, sarana peribadatan dan utilitas permukiman. Namun terdapat beberapa aspek yang belum masuk ke dalam standar layak huni seperti lebar jalan, pengeloaan sampah, keberadaan sarana pendidikan SMP serta ketersediaan ruang terbuka yang berupa taman masih minim di lingkungan permukiman pasca relokasi. Yang pertama, aspek lokasi permukiman dilihat dari segi kemiringan tanah dan legalitas lahan. Untuk kemiringan tanah, lokasi permukiman pasca relokasi terletak di menyebar di beberapa wilayah yang memiliki kemiringan berbeda. Secara keseluruhan kemiringan tanah lokasi permukiman pasca relokasi berada dalam batas aman yaitu 3-13%. Legalitas lahan dilihat dari segi jarak lokasi permukiman terhadap sungai terdekat dan status tanah yang di tempati saat ini. Dari segi jarak terhadap sungai, lokasi permukiman berada dalam jarak yang memenuhi standar yaitu lebih dari 30m dari sungai terdekat. Sedangkan untuk status tanah, seluruh wilayah permukiman pasca relokasi menempati lahan legal serta telah memiliki status hak milik terhadap hunian masyarakat saat ini. Aksesibilitas dilihat dari kondisi akses transportasi publik yang ada di lingkungan masyarakat. Dari segi jarak permukiman masyarakat terhadap jalur transportasi umum terdapat beberapa lokasi permukiman yang jauh untuk menjangkaunya. Sedangkan masyarakat yang tinggal di permukiman memiliki jarak dekat dengan transportasi umum mengatakan bahwa transportasi umum sulit untuk didapatkan. Masyarakat harus menunggu lama untuk mengaksesnya. Dari kedua kondisi tersebut maka sebagian besar masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi pribadi untuk menuju tempat kerja, sekolah serta fasilitas lainnya. Kondisi prasarana dilihat dari beberapa aspek seperti jaringan jalan, saluran drainase dan persampahan. Untuk jaringan jalan, sebagian besar lokasi permukiman pasca relokasi memiliki lebar jalan 2-4 meter. Namun ada 1 lokasi yaitu di Sabrang Lor yang memiliki lebar jalan hanya 1,57m. Untuk kondisi jalan di lingkungan permukiman masih dalam kondisi yang baik. Jalan menggunakan perkerasan cor atau paving block serta mengakses ke seluruh bagian permukiman. Saluran drainase yang ada di lingkungan ermukiman masyarakat mengikuti arah jaringan jalan. Dari segi ukuran dan kondisi saluran drainase telah memenuhi standar layak huni. karna ukuran yang sesuai standar dan berada pada ketinggian lahan yang sesuai maka daerah permukiman pasca relokasi tidak pernah mengalami banjr atau tidak ada genangan saat musim hujan. Untuk prasarana persampahan di lingkungan masyarakat dikatakan masih kurang dalam pengelolaan persampahan, hal tersebut dikarenakan hanya tersedia tempat 84

41 sampah pribadi di masing-masing rumah lalu masyarakat harus membuang sendiri ke TPS terdekat karena tidak ada pengangkutan sampah di lingkungan permukiman mayarakat. Ada beberapa masyarakat yang tidak membuang sampahnya ke TPS terdekat, masyarakat membuang sampah di lahan kosong atau pinggir sungai dekat rumah lalu dibakar. Hal tersebut menimbulkan ada beberapa titik penumpukan sampah di lingkungan permukiman masyarakat, sehingga menimbulkan bau disekitar penumpukan sampah tersebut. Standar sarana pendidikan yang ada di lingkungan permukiman pasca relokasi dilihat dari segi jarak jangkauan terhadap sarana. Untuk sarana pendidikan TK, SD, dan SMA telah memenuhi standar jarak yang ada. Hanya saja sarana pendidikan SMP yang masih jauh untuk di jangkau oleh masyarakat. Untuk sarana perdagangan dan peribadatan seluruh permukiman pasca relokasi telah terjangkau dengan baik, sehingga masyarakat mudah untuk menjangkau sarana tersebut. Sarana kesehatan yang ada di lingkungan permukiman masyarakat dikatakan telah memenuhi standar jarak yang ada. Masyarakat dengan mudah menjangkau dan memenuhi kebutuhan akan sarana kesehatan. Pada permukiman pasca relokasi, kondisi ruang terbuka yang berupa taman sangat minim. Sebagian besar wilayah permukiman tidak memiliki taman. Sedangkan untuk menjangkau ruang terbuka berupa taman atau lapangan memerlukan jarak yang cukup jauh, kondisi tersebut tidak sesuai dengan standar permukiman layak huni dimana sebaiknya tersedia taman dengan radius m yang terletak di tengah permukiman. Utilitas permukiman dilihat dari jaringan listrik serta air bersih yang ada di masingmasing rumah masyarakat. Untuk jaringan listrik pada permukiman pasca relokasi disediakan pasokan listrik dengan daya sebesar 450Va disetiap rumah. Namun masyarakat ada yang menambahkan daya listrik sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Air bersih yang ada di permukiman pasca relokasi di katakan sudah memenuhi standar layak huni. Setiap rumah mendapatkan air bersih yang bersumber dari PDAM dengan kondisi yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. 85

TUGAS AKHIR TINGKAT KESESUAIAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI DENGAN STANDAR PERMUKIMAN LAYAK HUNI

TUGAS AKHIR TINGKAT KESESUAIAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI DENGAN STANDAR PERMUKIMAN LAYAK HUNI TUGAS AKHIR TINGKAT KESESUAIAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI DENGAN STANDAR PERMUKIMAN LAYAK HUNI (Studi Kasus Permukiman Pasca Relokasi di Kelurahan Mojosongo, Surakarta) Oleh : AULIA RASMA INDAH

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KONDISI PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK ( STUDI KASUS RW 13 KELURAHAN DEPOK )

IDENTIFIKASI KONDISI PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK ( STUDI KASUS RW 13 KELURAHAN DEPOK ) IDENTIFIKASI KONDISI PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK ( STUDI KASUS RW 13 KELURAHAN DEPOK ) Bagus Ahmad Zulfikar 1) ; Lilis Sri Mulyawati 2), Umar Mansyur 2). ABSTRAK Berdasarkan hasil

Lebih terperinci

Tabel 2.2 Sintesa Teori Faktor Bermukim Masyarakat

Tabel 2.2 Sintesa Teori Faktor Bermukim Masyarakat 2.5 Sintesa Teori dan Penentuan Variabel Penentuan variabel penelitian yang akan dilakukan melalui sintesa teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Sintesa teori yang dilakukan merupakan penggabungan dari

Lebih terperinci

STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH KELURAHAN GANDUS 1

STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH KELURAHAN GANDUS 1 STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH Raghanu Yudhaji 2014280001 Retno Kartika Sari 2014280003 Resty Juwita 2014280021 Antya Franika 2014280013 Aprido Pratama 2014280024 Khoirurozi Ramadhan G 2014280005

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian Pengaruh faktor bermukim masyarakat terhadap pola persebaran adalah pendekatan penelitian deduktif

Lebih terperinci

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI A. LINGKUNGAN 1. Jaringan Jalan dan Drainase Banyak rumah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang rawan akan bencana dapat dilihat dari aspek geografis, klimatologis, dan demografis. Letak geografis Indonesia di antara dua Benua

Lebih terperinci

Salah satunya di Kampung Lebaksari. Lokasi Permukiman Tidak Layak

Salah satunya di Kampung Lebaksari. Lokasi Permukiman Tidak Layak Keberdayaan masyarakat dalam mendukung upaya perbaikan permukiman masih kurang Upayaupaya perbaikan permukiman menjadi tidak berarti Contohnya, luas Permukiman Tidak Layak Huni Kota Bogor meningkat Salah

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMANFAATAN LAHAN UNTUK PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa dinamika perkembangan

Lebih terperinci

BAB VI RENCANA DAN GAGASAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS TAMMUA

BAB VI RENCANA DAN GAGASAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS TAMMUA BAB VI RENCANA DAN GAGASAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS TAMMUA 6.1. RENCANA DAN PROGRAM PENGEMBANGAN Pembahasan ini adalah untuk mendapatkan rencana dan program pengembangan kawasan permukiman

Lebih terperinci

PENANGANAN PERMUKIMAN RAWAN BANJIR DI BANTARAN SUNGAI Studi Kasus: Permukiman Kuala Jengki di Kelurahan Komo Luar & Karame, Kota Manado

PENANGANAN PERMUKIMAN RAWAN BANJIR DI BANTARAN SUNGAI Studi Kasus: Permukiman Kuala Jengki di Kelurahan Komo Luar & Karame, Kota Manado PENANGANAN PERMUKIMAN RAWAN BANJIR DI BANTARAN SUNGAI Studi Kasus: Permukiman Kuala Jengki di Kelurahan Komo Luar & Karame, Kota Manado Windy J. Mononimbar Program Studi Arsitektur dan Perencanaan Wilayah

Lebih terperinci

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3.1. Analisis Kedudukan Kawasan A. Analisis Kedudukan Kawasan Kawasan prioritas yaitu RW 1 (Dusun Pintu Air, Dusun Nagawiru, Dusun Kalilangkap Barat, dan Dusun Kalilangkap

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini merupakan hasil temuan dan hasil analisa terhadap kawasan Kampung Sindurejan yang berada di bantaran sungai

Lebih terperinci

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM BAB 6 TUJUAN DAN KEBIJAKAN No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM Mengembangkan moda angkutan Program Pengembangan Moda umum yang saling terintegrasi di Angkutan Umum Terintegrasi lingkungan kawasan permukiman Mengurangi

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016

IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN KUMUH KELURAHAN TANJUNG KETAPANG TAHUN 2016 Syauriansyah Tugas Akhir Fakultas Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Esa Unggul LAMPIRAN I LEMBAR KUESIONER MASYARAKAT IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANAN YANG TEPAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

Gambar 5 Peta administrasi kota Tangerang Selatan

Gambar 5 Peta administrasi kota Tangerang Selatan METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Kota Tangerang Selatan yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Tangerang propinsi Banten. Kota Tangerang Selatan mempunyai luas wilayah

Lebih terperinci

BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI

BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI Keadaan sungai Deli yang sekarang sangat berbeda dengan keadaan sungai Deli yang dahulu. Dahulu, sungai ini menjadi primadona di tengah kota Medan karena sungai ini

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN LEMBAH NYIUR KAIRAGI MAS

ANALISIS KELAYAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN LEMBAH NYIUR KAIRAGI MAS ANALISIS KELAYAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN LEMBAH NYIUR KAIRAGI MAS Mentari Ngodu 1, Sonny Tilaar²,&Fella Warouw 3 1 Mahasiswa S1 Program Studi Perencanaan Wilayah & Kota Universitas Sam Ratulanggi

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN. Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan

V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN. Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan Kapuk, Kelurahan Kamal dan Kelurahan Tegal Alur, dengan luas wilayah 1 053 Ha. Terdiri dari 4 Rukun

Lebih terperinci

Standar Pelayanan Minimal untuk Permukiman Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 Standar Pelayanan Bidang

Standar Pelayanan Minimal untuk Permukiman Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 Standar Pelayanan Bidang Standar Minimal Permukiman Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 Standar No 1. Kasiba/ Lisiba - Badan Pengelola Kawasan - Rencana terperinci tata ruang - Jumlah ijin lokasi

Lebih terperinci

KUESIONER. Lampiran 1. Judul Penelitian : Analisis kesesuaian Lahan dan Kebijakan Permukiman Kawasan Pesisir Kota Medan

KUESIONER. Lampiran 1. Judul Penelitian : Analisis kesesuaian Lahan dan Kebijakan Permukiman Kawasan Pesisir Kota Medan Lampiran 1. KUESIONER Judul Penelitian : Analisis kesesuaian Lahan dan Kebijakan Permukiman Kawasan Pesisir Kota Medan Nama : Rabiatun NIM : 097004004 Institusi : Mahasiswa Pascasarjana, Program Studi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyajian Data Survei Dari survei menggunakan metode wawancara yang telah dilakukan di Desa Karanganyar Kecamatan Karanganyar RT 01,02,03 yang disebutkan dalam data dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Padang adalah salah satu kota besar di Pulau Sumatera yang dikelilingi oleh perbukitan dan berbatasan dengan lautan serta memiliki kepadatan penduduk yang cukup

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Permukiman Kumuh Berdasarkan Dinas Tata Kota DKI tahun 1997 dalam Gusmaini (2012) dikatakan bahwa permukiman kumuh merupakan permukiman berpenghuni padat, kondisi sosial ekonomi

Lebih terperinci

Tabel VIII. 1 Aturan Bersama Desa Kemasan KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI

Tabel VIII. 1 Aturan Bersama Desa Kemasan KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI Dokumen Aturan Bersama ini merupakan tindak lanjut dari dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) Desa Kemasan yang telah dibuat sebelumnya. Aturan-aturan yang ada di masyarakat terkait masalah

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN II. 1. Umum Ujung Berung Regency merupakan perumahan dengan fasilitas hunian, fasilitas sosial dan umum, area komersil dan taman rekreasi. Proyek pembangunan perumahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan akan dipaparkan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan infrastruktur permukiman kumuh di Kecamatan Denpasar

Lebih terperinci

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang

Lebih terperinci

BAB IV PANDUAN KONSEP

BAB IV PANDUAN KONSEP BAB IV PANDUAN KONSEP 4.1. Visi Pembangunan Sesuai dengan visi desa Mekarsari yaitu Mewujudkan Masyarakat Desa Mekarsari yang sejahtera baik dalam bidang lingkungan, ekonomi dan sosial. Maka dari itu visi

Lebih terperinci

USULAN ATURAN BERSAMA

USULAN ATURAN BERSAMA PENGANTAR Seringkali proses-proses perencanaan yang partisipatif dan baik tidak serta merta menjamin proses pelaksanaan akan baik pula. Tak jarang proses perencanaan yang baik dan partisipatif berhenti

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 43 BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 3.1 Umum Kelurahan Depok Berdasarkan ketentuan Pasal 45 ayat (3) Peraturan Daerah Kota Depok Nomor : 8 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Lurah bertanggung

Lebih terperinci

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa BAB VII RENCANA 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa 7.1.1 Tahapan Pembangunan Rusunawa Agar perencanaan rumah susun berjalan dengan baik, maka harus disusun tahapan pembangunan yang baik pula, dimulai dari

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 28 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas Wilayah Kelurahan Pasir Mulya merupakan salah satu Kelurahan yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu cepat, memberikan dampak terhadap pemanfaatan ruang kota oleh masyarakat yang tidak mengacu pada tata ruang kota yang

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN Pada Bab V akan diuraikan mengenai kesimpulan dari hasil dan pembahasan pada penelitian yang telah dilakukan. Hasil dan pembahasan terdiri dari kondisi infrastruktur pada permukiman

Lebih terperinci

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN Daerah pemukiman perkotaan yang dikategorikan kumuh di Indonesia terus meningkat dengan pesat setiap tahunnya. Jumlah daerah kumuh ini bertambah dengan kecepatan sekitar

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... x BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... x BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... x BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 5 C.

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN Nama SKPD : DINAS PUHUBKOMINFO Jenis Data :Pemerintahan Tahun : 2016 PEKERJAAN UMUM Nama Nilai Satuan Ketersediaan Sumber Data 1 2 3 4 5 A. Panjang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. 4.1 ANALISIS FUNGSIONAL a) Organisasi Ruang

BAB IV ANALISIS. 4.1 ANALISIS FUNGSIONAL a) Organisasi Ruang BAB IV ANALISIS 4.1 ANALISIS FUNGSIONAL a) Organisasi Ruang Skema 1 : Organisasi ruang museum Keterkaitan atau hubungan ruang-ruang yang berada dalam perancangan museum kereta api Soreang dapat dilihat

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi)

LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi) LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi) 101 KUESIONER PENELITIAN IDENTIFIKASI RISIKO DALAM ASPEK PRASARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA BIAYA DEVELOPER

Lebih terperinci

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek

Lebih terperinci

VII. ESTIMASI NILAI KERUGIAN EKONOMI PENDUDUK AKIBAT PENCEMARAN AIR TANAH. air tanah dengan sumber air bersih lainnya yakni air PDAM.

VII. ESTIMASI NILAI KERUGIAN EKONOMI PENDUDUK AKIBAT PENCEMARAN AIR TANAH. air tanah dengan sumber air bersih lainnya yakni air PDAM. VII. ESTIMASI NILAI KERUGIAN EKONOMI PENDUDUK AKIBAT PENCEMARAN AIR TANAH 7.1 Memperoleh Sumber Air Tanah Air tanah merupakan salah satu sumber air bersih utama yang masih digunakan oleh sebagian besar

Lebih terperinci

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA Perumahan menengah : meliputi kompleks perumahan atau dan sederhana permukiman Perumahan pasang surut : meliputi perumahan yang berada di daerah

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DASAR PERMUKIMAN DI KELURAHAN MAASING, KECAMATAN TUMINTING, KOTA MANADO

ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DASAR PERMUKIMAN DI KELURAHAN MAASING, KECAMATAN TUMINTING, KOTA MANADO Sabua Vol.6, No.1: 199-206, Mei 2014 ISSN 2085-7020 HASIL PENELITIAN ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DASAR PERMUKIMAN DI KELURAHAN MAASING, KECAMATAN TUMINTING, KOTA MANADO Alfath S.N. Syaban 1, Sonny Tilaar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Menurut Avelar et al dalam Gusmaini (2012) tentang kriteria permukiman kumuh, maka permukiman di Jl. Simprug Golf 2, Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Atika Permatasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Atika Permatasari, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah kependudukan yang saat ini banyak dihadapi oleh banyak negara berkembang termasuk Indonesia adalah pertambahan penduduk yang relatif cepat.

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE 4.1. Konsep Dasar Rumah susun sederhana sewa di Kalurahan Pandean Lamper ini direncanakan untuk masyarakat berpenghasilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga

BAB I PENDAHULUAN. Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga ke daratan. Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai.

Lebih terperinci

PROFIL DESA. Profil Kelurahan Loji. Kondisi Ekologi

PROFIL DESA. Profil Kelurahan Loji. Kondisi Ekologi 23 PROFIL DESA Pada bab ini akan diuraikan mengenai profil lokasi penelitian, yang pertama mengenai profil Kelurahan Loji dan yang kedua mengenai profil Kelurahan Situ Gede. Penjelasan profil masingmasing

Lebih terperinci

1 Halaman 1. Kabupaten Banyuwangi

1 Halaman 1. Kabupaten Banyuwangi K ondisi permukiman kumuh di Kabupaten Banyuwangi secara umum barada pada kawasan pesisir. Pada umumnya tingkat kepadatan bangunan dapat diklasifikasikan ke dalam kepadatan sedang. Kawasan permukiman kumuh

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Perencanaan pengembangan drainase di wilayah Kota Batam khususnya di Kecamatan Batam Kota sangatlah kompleks. Banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI 62 b a BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI Bahasan analisis mengenai persepsi masyarakat tentang identifikasi kondisi eksisting ruang terbuka di Kelurahan Tamansari,

Lebih terperinci

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR

INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR INVENTORY SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR KELURAHAN FATUBESI KEC. KOTA LAMA KOTA KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Kelurahan Fatubesi merupakan salah satu dari 10 kelurahan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah. menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah. menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di wilayah perkotaan. Salah satu aspek

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH BAB III TINJAUAN WILAYAH 3.1 TINJAUAN UMUM KOTA MAGELANG 3.1.1 Tinjauan Administratif Wilayah Kota Magelang Kota Magelang merupakan salah satu kota yang terletak di tengah Jawa Tengah dengan memiliki luas

Lebih terperinci

WALIKOTA PANGKALPINANG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 17 TAHUN 2016

WALIKOTA PANGKALPINANG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 17 TAHUN 2016 WALIKOTA PANGKALPINANG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENINGKATAN KUALITAS TERHADAP PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH

Lebih terperinci

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 0000 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ACUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN TAPAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ACUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN TAPAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA -1- PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ACUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN TAPAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kawasan perumahan pada hakekatnya tidak akan pernah dapat dipisahkan dari lingkungan sekitarnya. Terlebih pada kenyataannya lingkungan yang baik akan dapat memberikan

Lebih terperinci

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh; Mengingat : 1. Undang-Undang N

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh; Mengingat : 1. Undang-Undang N BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 172, 2016 KEMENPU-PR. Perumahan Kumuh. Permukiman Kumuh. Kualitas. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PRT/M/2016 TENTANG

Lebih terperinci

Konsep Hunian Vertikal sebagai Alternatif untuk Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh, Kasus Studi Kampung Pulo

Konsep Hunian Vertikal sebagai Alternatif untuk Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh, Kasus Studi Kampung Pulo Konsep Hunian Vertikal sebagai Alternatif untuk Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh, Kasus Studi Kampung Pulo Felicia Putri Surya Atmadja 1, Sri Utami 2, dan Triandriani Mustikawati 2 1 Mahasiswa Jurusan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Laporan Akhir PENYUSUNAN LAYANAN PERSAMPAHAN KOTA BOGOR

KATA PENGANTAR. Laporan Akhir PENYUSUNAN LAYANAN PERSAMPAHAN KOTA BOGOR KATA PENGANTAR Dokumen Layanan Persampahan Kota Bogor merupakan dokumen yang memuat keadaaan terkini kondisi persampahan Kota Bogor. Penyusunan dokumen ini pada dasarnya ditujukan pada pendayagunaan segenap

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM SITE PERENCANAAN. Gambar Peta Surakarta Sumber : (Bappeda, 2016)

BAB 3 GAMBARAN UMUM SITE PERENCANAAN. Gambar Peta Surakarta Sumber : (Bappeda, 2016) 49 BAB 3 GAMBARAN UMUM SITE PERENCANAAN 3.1. Lokasi/Data fisik Gambar 3.1.1 Peta Surakarta Sumber : (Bappeda, 2016) Kota Surakarta merupakan kota budaya dengan status kota dibawah Provinsi jawa tengah.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR ISI PERNYATAAN... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMAKASIH... iii ABSTRAK... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang...

Lebih terperinci

KONSEP PENANGANAN SANITASI DI KAWASAN KUMUH PERKOTAAN

KONSEP PENANGANAN SANITASI DI KAWASAN KUMUH PERKOTAAN KONSEP PENANGANAN SANITASI DI KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DIREKTORAT PENGEMBANGAN PLP DITJEN CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT KONDISI SANITASI DI KAWASAN KUMUH Permukiman Kumuh adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal yaitu rumah sebagai unit hunian tunggal

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal yaitu rumah sebagai unit hunian tunggal BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Manusia memiliki berbagai macam kebutuhan dasar, salah satunya adalah kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal yaitu rumah sebagai unit hunian tunggal dalam permukiman.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Wilayah. dengan batas-batas administratif sebagai berikut:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Wilayah. dengan batas-batas administratif sebagai berikut: 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Luas, dan Batas Wilayah Desa Argomulyo merupakan salah satu desa di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak

Lebih terperinci

PROFIL KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS

PROFIL KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS BAB 4 PROFIL KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS Kawasan prioritas yang terpilih selanju Permukiman Kumuh Bandar Kidul yang kawasan sentra industri Bandar Kidul (C Kawasan Prioritas Pakalan-Jagalan (Kaw Kawasan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR : 47 TAHUN 2011.

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR : 47 TAHUN 2011. PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR : 47 TAHUN 2011. TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DI

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN. 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN. 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting BAB IV ANALISIS PERANCANGAN 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting Terdapat beberapa hal yang benar-benar harus diperhatikan dalam analisis obyek perancangan terhadap kondisi eksisting

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN 4.1 ANALISIS LOKASI TAPAK BAB IV ANALISIS PERANCANGAN Dalam perancangan arsitektur, analisis tapak merupakan tahap penilaian atau evaluasi mulai dari kondisi fisik, kondisi non fisik hingga standart peraturan

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA T U G A S A K H I R FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mencapai Jenjang Sarjana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keberadaan ruang terbuka hijau saat ini mengalami penurunan yang

I. PENDAHULUAN. Keberadaan ruang terbuka hijau saat ini mengalami penurunan yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan ruang terbuka hijau saat ini mengalami penurunan yang disebabkan oleh konversi lahan. Menurut Budiman (2009), konversi lahan disebabkan oleh alasan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam, dari daratan sampai pegunungan serta lautan. Keragaman ini dipengaruhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di Kecamatan Tambora yang merupakan salah satu dari dari 8 kecamatan yang berada di Wilayah Kotamadya Jakarta Barat. Dengan luas

Lebih terperinci

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG PENYERAHAN DAN PENGELOLAAN PRASARANA, SARANA, DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Akhir kata kepada semua pihak yang telah turut membantu menyusun laporan interim ini disampaikan terima kasih.

Kata Pengantar. Akhir kata kepada semua pihak yang telah turut membantu menyusun laporan interim ini disampaikan terima kasih. Kata Pengantar Buku laporan interim ini merupakan laporan dalam pelaksanaan Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU Ciptakarya Kabupaten Asahan yang merupakan kerja sama

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul Halaman Pengesahan Halaman Pernyataan Halaman Persembahan Kata Pengantar. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

DAFTAR ISI. Halaman Judul Halaman Pengesahan Halaman Pernyataan Halaman Persembahan Kata Pengantar. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Pengesahan Halaman Pernyataan Halaman Persembahan Kata Pengantar Intisari Abstract Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii iii iv v vii viii ix xii xiii BAB I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara

LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA. Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN BANJARNEGARA Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara September 2011 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di dataran pantai Utara Jawa. Secara topografi mempunyai keunikan yaitu bagian Selatan berupa pegunungan

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print C-45 Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Kawasan Wisata Bahari di Desa Sumberejo, Desa Lojejer dan Desa Puger Kulon, Kabupaten

Lebih terperinci

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEGAL, Menimbang : a. bahwa pengelolaan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 29 TAHUN 2003 T E N T A NG KEBERSIHAN, KEINDAHAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 29 TAHUN 2003 T E N T A NG KEBERSIHAN, KEINDAHAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 29 TAHUN 2003 T E N T A NG KEBERSIHAN, KEINDAHAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa dalam upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (2006) menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (2006) menyebutkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (2006) menyebutkan Kota Surakarta memiliki pengalaman banjir pada Tahun 2009 yang tersebar di wilayah Solo utara. Cakupan banjir

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Peraturan Perumahan dan Kawasan Permukiman Peraturan terkait dengan perumahan dan kawasan permukiman dalam studi ini yaitu Undang-Undang No. 1 Tahun 11 tentang Perumahan dan Kawasan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. keadaan responden berdasarkan umur pada tabel 12 berikut ini:

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. keadaan responden berdasarkan umur pada tabel 12 berikut ini: 50 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian. Umur Responden Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data wawancara langsung kepada responden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Hal ini terungkap mengingat bahwa negara indonesia adalah salah

BAB I PENDAHULUAN. bencana. Hal ini terungkap mengingat bahwa negara indonesia adalah salah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara kesatuan republik indonesia bertanggung jawab melindungi segenap bangsa indonesia dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan

Lebih terperinci

KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI

KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI 93 KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI Oleh Bambang Hutojo Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK Di Kabupaten Ngawi, wilayah yang didefinisikan sebagai kawasan permukiman perkotaan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 47 BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Pada Bagian ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum Kelurahan Tamansari yang diantaranya berisi tentang kondisi geografis dan kependudukan, kondisi eksisting ruang

Lebih terperinci

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah 2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation antara kinerja pembangunan yang dicapai saat inidengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT PELAYANAN FASILITAS SOSIAL BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI PERKOTAAN SUBANG

KAJIAN TINGKAT PELAYANAN FASILITAS SOSIAL BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI PERKOTAAN SUBANG KAJIAN TINGKAT PELAYANAN FASILITAS SOSIAL BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT DI PERKOTAAN SUBANG Oleh : Meyliana Lisanti 1, Reza M. Surdia 2 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Pasundan

Lebih terperinci

POHON KINERJA DINAS PEKERJAAN UMUM TAHUN 2016

POHON KINERJA DINAS PEKERJAAN UMUM TAHUN 2016 POHON KINERJA DINAS PEKERJAAN UMUM TAHUN 2016 ESELON II ESELON III ESELON IV INPUT SASARAN STRATEGIS (SARGIS) IK SARGIS SASARAN PROGRAM IK PROGRAM SASARAN KEGIATAN IK KEGIATAN Persentase prasarana aparatur

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pasar Oeba selain sebagai layanan jasa komersial juga sebagai kawasan permukiman penduduk. Kondisi pasar masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain : sampah

Lebih terperinci

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH B3 PERMUKIMAN DI KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA LISA STUROYYA FAAZ

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH B3 PERMUKIMAN DI KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA LISA STUROYYA FAAZ STUDI PENGELOLAAN SAMPAH B3 PERMUKIMAN DI KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA LISA STUROYYA FAAZ 3306 100 086 Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

Pengaruh Faktor Bermukim Masyarakat Terhadap Pola Persebaran Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Magetan

Pengaruh Faktor Bermukim Masyarakat Terhadap Pola Persebaran Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Magetan TUGAS AKHIR Pengaruh Faktor Bermukim Masyarakat Terhadap Pola Persebaran Permukiman di Kawasan Rawan Bencana Longsor Kabupaten Magetan Diajukan Sebagai Syarat untuk Mencapai Jenjang Strata-1 Perencanaan

Lebih terperinci