RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,"

Transkripsi

1 RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 55 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penataan Daerah; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

2 - 2 - Menetapkan : MEMUTUSKAN: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENATAAN DAERAH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Penataan Daerah adalah upaya mewujudkan efektifitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah melalui Pembentukan dan penyesuaian Daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pelayanan publik, memperkuat daya saing daerah, dan menjaga integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. Daerah Otonom, yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3 Pembentukan Daerah adalah penetapan status Daerah pada wilayah tertentu sebagai Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota. 6. Pemekaran Daerah adalah pemecahan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota untuk menjadi 2 (dua) atau lebih Daerah baru serta penggabungan bagian Daerah dari Daerah yang bersanding dalam 1 (satu) Daerah provinsi menjadi 1 (satu) Daerah baru. 7. Penggabungan Daerah adalah penyatuan daerah yang dihapus ke dalam Daerah lain yang bersandingan. 8. Daerah Persiapan adalah bagian dari 1 (satu) atau lebih Daerah yang bersanding yang dipersiapkan untuk dibentuk menjadi Daerah baru. 9. Penyesuaian Daerah adalah kegiatan perubahan batas wilayah Daerah, perubahan nama Daerah, pemberian nama dan perubahan nama bagian rupa bumi, pemindahan ibu kota, dan perubahan nama ibu kota. 10. Cakupan Wilayah adalah Daerah kabupaten/kota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah provinsi atau kecamatan yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah kabupaten/kota. 11. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Dewan Perwakilan Rakyat, yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Dewan Perwakilan Daerah, yang selanjutnya disingkat DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Kementerian/Lembaga Pemerintah Nonkementerian, yang selanjutnya disebut Kementerian/LPNK adalah kementerian yang membidangi urusan tertentu/lembaga negara yang dibentuk untuk

4 - 4 - membantu presiden dalam melaksanakan tugas pemerintahan tertentu. 15. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, yang selanjutnya disingkat DPOD adalah dewan yang memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai rancangan kebijakan Otonomi Daerah. 16. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri. 17. Pemerintah Daerah adalah kepala Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. 18. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat Daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Pasal 2 Penataan Daerah terdiri atas: a. Pembentukan Daerah; dan b. Penyesuaian Daerah. BAB II PEMBENTUKAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 3 (1) Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a terdiri atas: a. Pemekaran Daerah; dan b. Penggabungan Daerah. (2) Pembentukan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Pembentukan Daerah provinsi atau

5 - 5 - Pembentukan Daerah kabupaten/kota. Bagian Kedua Pemekaran Daerah Paragraf 1 Umum Pasal 4 (1) Pemekaran Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a, berupa: a. pemecahan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota untuk menjadi dua atau lebih Daerah baru; atau b. penggabungan bagian Daerah dari Daerah yang bersanding dalam 1 (satu) provinsi menjadi Daerah baru. (2) Pemecahan Daerah provinsi atau Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a melalui: a. pemecahan Daerah provinsi menjadi Daerah provinsi baru; b. pemecahan Daerah kabupaten menjadi Daerah kabupaten baru atau kota baru; atau c. pemecahan Daerah kota menjadi Daerah kota baru. (3) Penggabungan bagian Daerah dari Daerah yang bersanding dalam 1 (satu) provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terjadi melalui penggabungan bagian Daerah kabupaten/kota menjadi Daerah kabupaten/kota baru. Pasal 5 (1) Pemekaran Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan melalui tahapan Daerah Persiapan provinsi atau Daerah Persiapan kabupaten/kota. (2) Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan

6 - 6 - dasar dan persyaratan administratif. (3) Untuk pembentukan Daerah Persiapan kota, selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wilayahnya harus memiliki ciri perkotaan yakni 50% (lima puluh persen) atau lebih dari penduduk bekerja di luar sektor primer. Paragraf 2 Persyaratan Dasar Pembentukan Daerah Persiapan Pasal 6 (1) Persyaratan dasar Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) meliputi: a. persyaratan dasar kewilayahan; dan b. persyaratan dasar kapasitas Daerah. (2) Persyaratan dasar kewilayahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: a. luas wilayah minimal; b. jumlah penduduk minimal; c. batas wilayah; d. Cakupan Wilayah; dan e. batas usia minimal Daerah provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan. (3) Persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1) huruf b didasarkan pada parameter: a. geografi; b. demografi; c. keamanan; d. sosial, politik, adat, dan tradisi; e. potensi ekonomi; f. keuangan Daerah; dan g. kemampuan penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 7 (1) Luas wilayah minimal dan jumlah penduduk minimal

7 - 7 - untuk Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a dan huruf b ditentukan berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan. (2) Pengelompokan pulau atau kepulauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut: a. Kelompok I Sumatera; b. Kelompok II Jawa dan Bali; c. Kelompok III Kalimantan; d. Kelompok IV Sulawesi; e. Kelompok V Nusa Tenggara; f. Kelompok VI Maluku; dan g. Kelompok VII Papua. (3) Penentuan luas wilayah Daerah Persiapan dilakukan setelah penegasan batas termasuk Cakupan Wilayah dan penentuan luas bagi Daerah induk ditetapkan dengan Peraturan Menteri. (4) Jumlah penduduk minimal yang harus dimiliki oleh Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh mengakibatkan tidak terpenuhinya syarat minimal jumlah penduduk Daerah induk. Pasal 8 (1) Penentuan luas wilayah Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 didasarkan pada penghitungan teknis menggunakan batas wilayah. (2) Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. batas wilayah antara Daerah induk dengan Daerah sekitarnya; dan b. batas wilayah antara calon Daerah persiapan dengan Daerah induk setelah dikurangi calon Daerah Persiapan. (3) Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuktikan dengan titik koordinat pada peta dasar skala 1 : dan/atau citra tegak resolusi tinggi

8 - 8 - dengan resolusi spasial paling rendah 4 (empat) meter. (4) Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digambarkan dalam peta batas. Pasal 9 (1) Cakupan Wilayah Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf d meliputi: a. paling sedikit 5 (lima) Daerah kabupaten/kota untuk Pembentukan Daerah provinsi; b. paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk Pembentukan Daerah kabupaten; dan c. paling sedikit 4 (empat) kecamatan untuk Pembentukan Daerah kota. (2) Cakupan Wilayah Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh melebihi cakupan wilayah Daerah induknya. (3) Daerah yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sudah memiliki sarana dan prasarana dasar pemerintahan. (4) Cakupan Wilayah untuk Pembentukan Daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memuat rincian nama kabupaten, nama kecamatan pada masing-masing kabupaten, dan nama desa pada masing-masing kecamatan yang masuk menjadi Cakupan Wilayahnya. (5) Cakupan Wilayah untuk Pembentukan Daerah kabupaten dan Daerah kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c harus memuat rincian nama-nama kecamatan pada masing-masing kabupaten dan nama-nama desa pada masing-masing kecamatan yang masuk menjadi Cakupan Wilayahnya. (6) Dalam hal Pembentukan Daerah Persiapan yang wilayahnya terdiri dari beberapa pulau, selain Cakupan Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat

9 - 9 - (4) dan ayat (5) juga harus memuat rincian nama pulau sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 10 (1) Cakupan Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dituangkan dalam peta wilayah. (2) Peta wilayah sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berdasarkan peta batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4). (3) Peta wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. peta wilayah Daerah induk; b. peta wilayah calon Daerah Persiapan; dan c. peta wilayah Daerah induk setelah dikurangi wilayah calon Daerah Persiapan. (4) Pembuatan peta wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 11 Batas usia minimal Daerah provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf e sebagai berikut: a. batas usia minimal Daerah provinsi induk 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak pembentukan; b. batas usia minimal Daerah kabupaten/kota induk 7 (tujuh) tahun terhitung sejak pembentukan; c. batas usia minimal Daerah kabupaten/kota yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi 7 (tujuh) tahun terhitung sejak pembentukan; atau d. batas usia minimal kecamatan yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota 5 (lima) tahun terhitung sejak pembentukan.

10 Pasal 12 (1) Parameter geografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf a terdiri dari indikator: a. lokasi ibu kota; b. hidrografi; dan c. kerawanan bencana. (2) Lokasi ibu kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan: a. rasio ketimpangan jarak antara batas terdekat dan batas terjauh Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan calon ibu kotanya; dan b. ketersediaan lahan untuk pusat pemerintahan calon Daerah Persiapan yang sudah ada berita acara penyerahannya dihadapan notaris. (3) Hidrografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan: a. potensi air permukaan dan air tanah di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan klasifikasi dan kriteria tinggi, sedang, atau rendah; dan b. ketersedian air baku untuk kebutuhan sehari-hari penduduk dan untuk kegiatan ekonomi di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. (4) Kerawanan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diukur dengan: a. jumlah jenis potensi bencana yang diukur dengan indeks risiko bencana Indonesia; dan b. jumlah kejadian bencana alam dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. Pasal 13 (1) Parameter demografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf b terdiri dari indikator: a. kualitas sumber daya manusia; dan b. distribusi penduduk.

11 (2) Kualitas sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan: a. rasio angka lama bersekolah di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan rata-rata angka lama bersekolah berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan; b. rasio angka partisipasi kasar pendidikan menengah atas di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan rata-rata angka partisipasi kasar berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan; dan c. rasio angka partisipasi kasar pendidikan dasar di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan rata-rata angka partisipasi kasar berdasarkan pengelompokan pulau atau kepulauan. (3) Distribusi penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan rasio tingkat kepadatan penduduk di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan rata-rata kepadatan penduduk berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan. Pasal 14 (1) Parameter keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf c terdiri dari indikator: a. tindakan kriminal umum; dan b. konflik sosial. (2) Tindakan kriminal umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan rasio jumlah tindak pidana kriminal umum per penduduk di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dengan ratarata rasio jumlah tindak pidana kriminal umum per penduduk berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan. (3) Konflik sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan jumlah konflik sosial yang terjadi di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan.

12 Pasal 15 (1) Parameter sosial, politik, adat, dan tradisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf d terdiri dari indikator: a. partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum; b. kohesivitas sosial; dan c. organisasi kemasyarakatan. (2) Partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan persentase jumlah penduduk yang ikut pemilihan umum terhadap jumlah penduduk yang memiliki hak pilih di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. (3) Kohesivitas sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan jumlah etnik/subetnik di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. (4) Organisasi kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diukur dengan jumlah organisasi kemasyarakatan yang terdaftar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. Pasal 16 (1) Parameter potensi ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf e terdiri dari indikator: a. pertumbuhan ekonomi; dan b. potensi unggulan Daerah. (2) Pertumbuhan ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan: a. rasio rata-rata pertumbuhan ekonomi selama 5 (lima) tahun di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan terhadap rata-rata pertumbuhan ekonomi berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan selama 5 (lima) tahun; b. rasio pendapatan per kapita di Cakupan Wilayah

13 calon Daerah Persiapan terhadap pendapatan perkapita berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan; c. rasio indeks pembangunan manusia di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan terhadap indeks pembangunan manusia berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan; dan d. rasio persentase angka kemiskinan di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan terhadap persentase angka kemiskinan berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan. (3) Potensi unggulan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan: a. jumlah cadangan tambang minyak dan gas yang terukur di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; b. jumlah cadangan tambang mineral dan batu bara yang terukur di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; c. jumlah cadangan panas bumi yang terukur di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; d. rasio nilai kontribusi produk domestik regional bruto sektor pertanian perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor pertanian perkapita nasional; e. rasio nilai kontribusi produk domestik regional bruto sektor industri perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor industri perkapita berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan; f. rasio nilai kontribusi produk domestik regional bruto sektor perdagangan, hotel, dan restoran perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor perdagangan, hotel, dan restoran perkapita

14 nasional; g. rasio nilai kontribusi produk domestik regional bruto sektor pengangkutan dan komunikasi perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor pengangkutan dan komunikasi perkapita berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan; h. rasio nilai kontribusi produk domestik regional bruto sektor keuangan dan persewaan perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor keuangan dan persewaan perkapita berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan; dan i. rasio nilai produk domestik regional bruto sektor jasa perkapita di wilayah induk terhadap nilai kontribusi produk domestik bruto sektor jasa perkapita berdasarkan pengelompokan pulau dan kepulauan. (4) Potensi unggulan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, huruf b, dan huruf c hanya berlaku untuk Pembentukan Daerah Persiapan provinsi. Pasal 17 (1) Parameter keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf f terdiri dari indikator: a. kapasitas pendapatan asli Daerah induk; b. potensi pendapatan asli calon Daerah Persiapan; dan c. pengelolaan keuangan dan aset Daerah. (2) Kapasitas pendapatan asli Daerah induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan rasio pendapatan asli Daerah induk terhadap total pendapatan Daerah induk. (3) Potensi pendapatan asli calon Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan rasio pendapatan asli calon Daerah Persiapan terhadap total pendapatan asli Daerah induk.

15 (4) Pengelolaan keuangan dan aset Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diukur berdasarkan opini Badan Pemeriksa Keuangan atas laporan keuangan Pemerintah Daerah induk dalam waktu 5 (lima) tahun terakhir. Pasal 18 (1) Parameter kemampuan penyelenggaraan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf g terdiri dari indikator: a. aksesibilitas pelayanan dasar pendidikan; b. aksesibilitas pelayanan dasar kesehatan; c. aksesibilitas pelayanan dasar infrastruktur; d. jumlah pegawai aparatur sipil negara di Daerah induk; dan e. rancangan rencana tata ruang wilayah calon Daerah Persiapan. (2) Aksesibilitas pelayanan dasar pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diukur dengan: a. rata-rata jumlah murid sekolah dasar pada setiap ruang belajar sekolah dasar di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; b. rata-rata jumlah murid sekolah menengah pertama pada setiap ruang belajar sekolah menengah pertama di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; dan c. rata-rata jumlah murid sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan pada setiap ruang belajar sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. (3) Aksesibilitas pelayanan dasar kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diukur dengan: a. rasio jumlah dokter terhadap jumlah penduduk di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan; dan b. rasio jumlah tempat tidur rumah sakit atau puskesmas rawat inap terhadap jumlah penduduk di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan. (4) Aksesibilitas pelayanan dasar infrastruktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diukur

16 dengan: a. rasio panjang jalan dibandingkan luas wilayah pada calon Daerah Persiapan terhadap rata-rata panjang jalan dibandingkan rata-rata luas wilayah di kelompok pulau dan kepulauan; dan b. rasio jumlah pelabuhan yang menghubungkan antar pulau di Cakupan Wilayah calon Daerah Persiapan dibandingkan dengan rata-rata jumlah pelabuhan di kelompok pulau dan kepulauan, untuk wilayah kepulauan. (5) Jumlah pegawai aparatur sipil negara di Daerah induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diukur dengan: a. rasio jumlah pegawai aparatur sipil negara terhadap jumlah penduduk di Daerah induk terhadap rata-rata pegawai aparatur sipil negara berdasarkan kelompok pulau dan kepulauan; dan b. rasio jumlah pegawai aparatur sipil negara pada calon Daerah Persiapan terhadap jumlah pegawai aparatur sipil negara di Daerah induk. (6) Rancangan rencana tata ruang wilayah calon Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e diukur dengan ketersediaan dokumen rancangan rencana tata ruang wilayah calon Daerah Persiapan. Pasal 19 (1) Persyaratan dasar kapasitas Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b diukur berdasarkan nilai total seluruh parameter yang ditetapkan. (2) Ketentuan mengenai tata cara penilaian persyaratan dasar kapasitas Daerah tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini. Paragraf 3 Persyaratan Adminsitratif Pasal 20 (1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud

17 dalam Pasal 5 ayat (2), untuk Pembentukan Daerah Persiapan provinsi terdiri atas: a. persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi; dan b. persetujuan bersama DPRD provinsi induk dan gubernur provinsi induk, dan khusus untuk wilayah: 1. Papua, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur provinsi induk setelah mendapatkan pertimbangan Majelis Rakyat Papua; 2. Papua Barat, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat dan gubernur provinsi induk setelah mendapatkan pertimbangan Majelis Rakyat Papua Barat; dan 3. Aceh, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan gubernur provinsi induk. (2) Persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b didasarkan pada adanya persetujuan bersama pada ayat (1) huruf a. Pasal 21 (1) Persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf a dituangkan dalam berita acara persetujuan yang ditandatangani oleh seluruh Ketua DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi. (2) Persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi; b. nama Daerah Persiapan provinsi; dan c. lokasi ibu kota Daerah Persiapan provinsi beserta

18 koordinatnya yang tergambar dalam peta sebagai lampiran. Pasal 22 (1) Persetujuan bersama DPRD provinsi induk dan gubernur provinsi induk tentang Pembentukan Daerah Persiapan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b dituangkan dalam berita acara persetujuan yang ditandatangani oleh ketua DPRD provinsi dan gubernur provinsi induk, dan khusus untuk wilayah: a. Papua, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur provinsi induk serta ketua Majelis Rakyat Papua; b. Papua Barat, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat dan gubernur provinsi induk serta ketua Majelis Rakyat Papua Barat; dan c. Aceh, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan gubernur provinsi induk. (2) Persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. nama kabupaten/kota yang menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan provinsi; b. nama Daerah Persiapan provinsi; c. lokasi ibu kota Daerah Persiapan provinsi beserta koordinatnya yang tergambar dalam peta sebagai lampiran; d. dukungan dana dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan provinsi untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun berturut-turut terhitung sejak peresmian sebagai Daerah Persiapan; dan e. penyerahan personel, sarana prasarana, dan dokumen yang dibutuhkan oleh Daerah Persiapan.

19 Pasal 23 Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2), untuk Pembentukan Daerah Persiapan kabupaten/kota terdiri atas: a. keputusan musyawarah desa yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota; b. persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota induk dengan bupati/walikota kabupaten/kota induk; dan c. persetujuan bersama DPRD Provinsi dan gubernur dari Daerah provinsi yang mencakupi Daerah Persiapan kabupaten/kota yang akan dibentuk, dan khusus untuk wilayah: 1. Papua, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur provinsi induk setelah mendapatkan pertimbangan Majelis Rakyat Papua; 2. Papua Barat, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat dan gubernur provinsi induk setelah mendapatkan pertimbangan Majelis Rakyat Papua Barat; dan 3. Aceh, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan gubernur provinsi induk. Pasal 24 (1) Keputusan musyawarah Desa yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a dituangkan dalam berita acara persetujuan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Keputusan musyawarah desa yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. persetujuan menjadi Cakupan Wilayah Daerah

20 Persiapan kabupaten/kota; b. persetujuan nama Daerah Persiapan kabupaten/kota; dan c. persetujuan calon ibu kota Daerah Persiapan. (3) Keputusan musyawarah desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi lampiran yang merupakan satu kesatuan dengan berita acara persetujuan DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota kabupaten/kota yang akan menjadi Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota. Pasal 25 (1) Persetujuan bersama DPRD kabupaten/kota induk dengan bupati/walikota kabupaten/kota induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b dituangkan dalam berita acara persetujuan DPRD kabupaten/kota induk dan bupati/walikota kabupaten/kota induk. (2) Berita acara persetujuan DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota kabupaten/kota induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. Pembentukan Daerah Persiapan kabupaten/kota; b. Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota; c. nama Daerah Persiapan kabupaten/kota; d. lokasi ibu kota Daerah Persiapan kabupaten dengan menunjuk kecamatan yang menjadi lokasi ibu kota dan menyebutkan koordinatnya yang tergambar dalam peta sebagai lampiran; e. dukungan dana dari kabupaten/kota induk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan kabupaten/kota untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun berturut-turut terhitung sejak peresmian sebagai Daerah Persiapan; dan f. penyerahan personel, sarana dan prasarana, serta dokumen yang dibutuhkan oleh Daerah Persiapan.

21 Pasal 26 (1) Persetujuan bersama DPRD provinsi dan gubernur dari Daerah provinsi yang mencakupi Daerah Persiapan kabupaten/kota yang akan dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf c dituangkan dalam berita acara persetujuan yang ditandatangani oleh Ketua DPRD provinsi dan gubernur dari Daerah provinsi yang mencakupi Daerah Persiapan kabupaten/kota yang akan dibentuk, dan khusus untuk wilayah: a. Papua, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan gubernur provinsi induk serta ketua Majelis Rakyat Papua; b. Papua Barat, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat dan gubernur provinsi induk serta ketua Majelis Rakyat Papua Barat; dan c. Aceh, berita acara persetujuan ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan gubernur provinsi induk. (2) Persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. Pembentukan Daerah Persiapan kabupaten/kota; b. Cakupan Wilayah Daerah Persiapan kabupaten/kota; c. nama Daerah Persiapan kabupaten/kota; d. lokasi ibu kota Daerah Persiapan kabupaten/kota dengan menunjuk kecamatan yang menjadi lokasi ibu kota dan menyebutkan koordinat pendekatan lokasi kantor bupati/walikota yang tergambar dalam peta sebagai lampiran; dan e. pemberian hibah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan kabupaten/kota untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak peresmian sebagai Daerah Persiapan.

22 Pasal 27 Dalam hal Pembentukan Daerah Persiapan yang Cakupan Wilayahnya merupakan ibu kota Daerah induk, Daerah induk tersebut harus mempersiapkan lokasi ibu kota yang baru. Paragraf 4 Tata Cara Pembentukan Daerah Persiapan Pasal 28 (1) Gubernur menyampaikan usulan Pembentukan Daerah Persiapan provinsi dan kabupaten/kota kepada Pemerintah Pusat, DPR, atau DPD dengan melampirkan dokumen persyaratan dasar kewilayahan dan dokumen persyaratan administratif. (2) Dalam hal gubernur menyampaikan usulan Pembentukan Daerah Persiapan kepada DPR atau DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPR atau DPD menyampaikan usulan dimaksud kepada Pemerintah Pusat. (3) Penilaian terhadap pemenuhan persyaratan dasar kewilayahan dan persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Pusat. (4) Dalam hal berdasarkan hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinyatakan bahwa usulan Pembentukan Daerah Persiapan telah memenuhi syarat, Pemerintah Pusat menyampaikan hasil penilaian tersebut kepada DPR dan DPD. (5) Dalam hal usulan Pembentukan Daerah Persiapan dinyatakan oleh Pemerintah Pusat telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4), Pemerintah Pusat membentuk tim kajian independen dengan persetujuan DPR dan DPD. (6) Dalam hal pembentukan tim kajian independen telah

23 terlaksana, proses usulan Pembentukan Daerah Persiapan diteruskan pada proses penilaian terhadap persyaratan dasar kapasitas Daerah. Pasal 29 (1) Hasil tim kajian independen disampaikan kepada Menteri untuk dibahas dalam sidang DPOD. (2) Hasil tim kajian independen, setelah dibahas dalam sidang DPOD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikonsultasikan oleh Menteri kepada DPR dan DPD. (3) Dalam hal hasil konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyatakan usulan Pembentukan Daerah Persiapan memenuhi persyaratan, Menteri menyampaikan izin prakarsa penyusunan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pembentukan Daerah Persiapan kepada Presiden. (4) Pembentukan Peraturan Pemerintah tentang Pembentukan Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Dalam hal usulan Pembentukan Daerah Persiapan tidak disetujui oleh Presiden, usulan Pembentukan Daerah Persiapan dihentikan. Paragraf 5 Penetapan Daerah Persiapan Pasal 30 (1) Pembentukan Daerah Persiapan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk untuk jangka waktu selama 3 (tiga) tahun. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat ketentuan mengenai: a. Cakupan Wilayah; b. batas wilayah Daerah Persiapan beserta titik koordinatnya; dan

24 c. perubahan batas Daerah induk sebagai akibat Pembentukan Daerah Persiapan dengan Daerah yang berbatasan. Paragraf 6 Kepala Daerah Persiapan Pasal 31 (1) Daerah Persiapan dipimpin oleh seorang Kepala Daerah Persiapan. (2) Kepala Daerah Persiapan provinsi merupakan jabatan pimpinan tinggi madya dan Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota merupakan jabatan pimpinan tinggi pratama. (3) Kepala Daerah Persiapan provinsi dan kabupaten/kota diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang paling sedikit memenuhi persyaratan: a. pernah atau sedang menduduki jabatan pimpinan tinggi madya dengan golongan paling sedikit IV/c bagi Kepala Daerah Persiapan provinsi dan jabatan pimpinan tinggi pratama dengan golongan paling sedikit IV/b bagi Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota; dan b. mempunyai pengalaman di bidang pemerintahan pada lembaga pemerintah yang dibuktikan dengan riwayat jabatan. Pasal 32 (1) Kepala Daerah Persiapan provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri. (2) Kepala Daerah Persiapan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilantik oleh Menteri atas nama Presiden bersamaan dengan peresmian Daerah Persiapan. (3) Pelantikan Kepala Daerah Persiapan provinsi sebagaimana maksud pada ayat (2) diselenggarakan di

25 ibu kota negara. Pasal 33 (1) Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atas usul gubernur provinsi induk. (2) Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilantik oleh Gubernur atas nama Menteri bersamaan dengan peresmian Daerah Persiapan. (3) Pelantikan Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan di ibu kota Daerah provinsi induk. Pasal 34 (1) Kepala Daerah Persiapan menduduki jabatan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 2 (dua) kali masa jabatan berikutnya. (2) Menteri setiap tahun melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Daerah Persiapan provinsi dan gubernur setiap tahun melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota. (3) Hasil evaluasi Kepala Daerah Persiapan provinsi dilaporkan oleh Menteri kepada Presiden dan hasil evaluasi Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota dilaporkan oleh gubernur kepada Menteri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara evaluasi Kepala Daerah Persiapan diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 35 (1) Ketentuan mengenai hak keuangan Kepala Daerah Persiapan provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Peraturan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Menteri

26 yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan. Pasal 36 (1) Kepala Daerah Persiapan provinsi bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri. (2) Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota bertanggung jawab kepada Menteri melalui Gubernur (3) Kepala Daerah Persiapan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Presiden melalui Menteri. (4) Kepala Daerah Persiapan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Menteri melalui Gubernur. Pasal 37 Kepala Daerah Persiapan setelah selesai masa jabatannya dikembalikan ke instansi asalnya pada jabatan yang setara dengan atau lebih tinggi dari jabatan sebelum memulai menjabat sebagai Kepala Daerah Persiapan. Paragraf 7 Kewajiban Daerah Induk dan Daerah Persiapan Pasal 38 (1) Kewajiban Daerah induk terhadap Daerah Persiapan meliputi: a. membantu penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan; b. melakukan pendataan personel, pembiayaan, peralatan, dan dokumentasi; c. membuat pernyataan kesediaan untuk menyerahkan personel, pembiayaan, peralatan, dan dokumentasi apabila Daerah Persiapan ditetapkan menjadi Daerah baru; dan

27 d. menyiapkan dukungan dana. (2) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan dukungan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan jumlah dana yang akan dialokasikan dari anggaran pendapatan dan belanja Daerah induk kepada Daerah Persiapan atau jumlah dana yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja Daerah induk kepada Daerah Persiapan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Persiapan. Pasal 39 (1) Kewajiban Daerah Persiapan meliputi: a. menyiapkan sarana dan prasarana pemerintahan; b. mengelola personel, peralatan, dan dokumentasi; c. membentuk perangkat Daerah Persiapan; d. melaksanakan pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan; e. mengelola pendanaan atau anggaran belanja Daerah Persiapan; dan f. menangani pengaduan masyarakat. (2) Pelaksanaan kewajiban Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diprioritaskan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Persiapan. (3) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Persiapan juga melaksanakan urusan pemerintahan konkuren di Cakupan Wilayah Daerah Persiapan. (4) Pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diprioritaskan pada urusan wajib yang terkait dengan pelayanan dasar. (5) Pelaksanaan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

28 Pasal 40 (1) Sarana dan prasarana pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf a disiapkan selama masa Daerah Persiapan. (2) Penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prioritas kantor gubernur/bupati/walikota dan kantor satuan kerja perangkat Daerah penyelenggara urusan pemerintahan wajib yang terkait dengan pelayanan dasar. (3) Dalam hal sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimiliki Daerah induk dan berlokasi di wilayah Daerah Persiapan, kepemilikan dan dokumen pendukungnya diserahkan kepada Daerah Persiapan yang dibuktikan dengan berita acara penyerahan. Pasal 41 (1) Dalam hal Daerah Persiapan berdasarkan hasil evaluasi akhir dinyatakan tidak layak, Pemerintah Pusat menetapkan Peraturan Pemerintah mengenai pencabutan Peraturan Pemerintah tentang pembentukan Daerah Persiapan. (2) Seluruh sarana dan prasarana yang telah disiapkan untuk membangun Daerah Persiapan selama masa Daerah Persiapan menjadi milik Daerah induk sejak Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku. Pasal 42 (1) Personel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf b merupakan pegawai aparatur sipil negara pusat, pegawai aparatur sipil negara Daerah induk, dan/atau pegawai aparatur sipil negara Daerah selain Daerah induk yang ditempatkan di Daerah Persiapan.

29 (2) Status kepegawaian personel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap sebagai pegawai instansi induknya yang pembinaannya sementara dilaksanakan oleh pejabat pembina kepegawaian Daerah Persiapan. (3) Pejabat pembina kepegawaian Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yaitu Kepala Daerah Persiapan. (4) Penggajian personel yang merupakan pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari instansi asalnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Apabila Daerah Persiapan gagal menjadi Daerah, pegawai yang ditugaskan di Daerah Persiapan dikembalikan ke instansi asalnya. Pasal 43 (1) Peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf b merupakan peralatan dari satuan kerja perangkat Daerah induk yang diserahkan pengelolaannya kepada Daerah Persiapan. (2) Penyerahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan berita acara penyerahan. Pasal 44 (1) Dokumentasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf b merupakan dokumentasi dari satuan kerja perangkat Daerah induk yang diserahkan pengelolaannya kepada Daerah Persiapan. (2) Penyerahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan berita acara penyerahan. Pasal 45 (1) Perangkat Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf c merupakan pelaksana urusan pemerintahan konkuren di Daerah Persiapan.

30 (2) Pembentukan perangkat Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan pada sekretariat Daerah dan perangkat Daerah penyelenggara urusan pemerintahan wajib yang terkait dengan pelayanan dasar. (3) Kepala Daerah Persiapan mengusulkan pembentukan perangkat Daerah Persiapan kepada: a. kepala Daerah induk untuk ditetapkan dengan peraturan kepala Daerah induk, untuk Daerah Persiapan yang 1 (satu) Daerah induk; b. kepala Daerah induk provinsi untuk ditetapkan dengan peraturan kepala Daerah induk provinsi, untuk Daerah Persiapan kabupaten/kota yang lebih dari 1 (satu) Daerah induk kabupaten/kota namun masih dalam 1 (satu) Daerah induk provinsi; atau c. Menteri untuk ditetapkan dengan Peraturan Menteri, untuk Daerah Persiapan yang lebih dari 1 (satu) Daerah induk provinsi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai perangkat Daerah Persiapan diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 46 (1) Pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf d dilakukan untuk perangkat Daerah Persiapan sebagai penyelenggara urusan pemerintahan konkuren di Daerah Persiapan. (2) Pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Pengisian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan dari pegawai aparatur sipil negara Daerah induk yang memenuhi persyaratan administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

31 (4) Dalam hal aparatur sipil negara dari Daerah induk tidak dapat memenuhi persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kesempatan pengisian jabatan di Daerah Persiapan diberikan kepada aparatur sipil negara kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi untuk Daerah persiapan kabupaten/kota dan secara nasional untuk Daerah Persiapan provinsi. (5) Jenjang jabatan perangkat Daerah Persiapan setingkat lebih rendah dari jenjang jabatan perangkat Daerah pada Daerah induk, kecuali perangkat Daerah yang sudah ada sebelum Daerah Persiapan dibentuk. (6) Apabila Daerah Persiapan menjadi Daerah, jenjang jabatan perangkat Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disesuaikan jenjangnya berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. (7) Apabila Daerah Persiapan gagal menjadi Daerah, pejabat aparatur sipil negara yang ditugaskan di Daerah Persiapan dikembalikan ke instansi asalnya. (8) Dalam hal dikembalikan ke instansi asalnya sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 47 (1) Pendanaan atau anggaran belanja Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf e berasal dari: a. bantuan pengembangan Daerah Persiapan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara; b. bagian pendapatan dari pendapatan asli Daerah induk yang berasal dari Daerah Persiapan; c. penerimaan dari bagian dana perimbangan Daerah induk secara proporsional; dan d. sumber pendapatan lainnya yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan

32 perundang-undangan. (2) Pendanaan atau anggaran belanja Daerah Persiapan ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja Daerah induk. (3) Pendanaan atau anggaran belanja Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam lampiran yang terpisah dari dokumen belanja Daerah induk dalam anggaran pendapatan dan belanja Daerah induk. (4) Kekuasaan pengelolaan atau penggunaan anggaran belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan oleh Kepala Daerah Persiapan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 48 (1) Bantuan pengembangan Daerah Persiapan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) huruf a dialokasikan melalui dana alokasi khusus dan/atau hibah. (2) Bagian pendapatan dari pendapatan asli Daerah induk yang berasal dari Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) huruf b merupakan pendapatan asli Daerah induk yang dipungut dari Daerah Persiapan. (3) Penerimaan dari bagian dana perimbangan Daerah induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) huruf c merupakan penerimaan Daerah Persiapan sebagai bagian dari dana perimbangan yang diterima oleh Daerah induk sebagaimana diatur dalam anggaran pendapatan dan belanja negara yang dibagi secara proporsional. (4) Anggaran belanja Daerah Persiapan dialokasikan untuk pelaksanaan kewajiban Daerah Persiapan, penyelenggaraan pemerintahan Daerah Persiapan, serta pelayanan publik di Daerah Persiapan.

33 (5) Ketentuan mengenai tata cara penyusunan, pengelolaan, dan pertanggungjawaban anggaran belanja Daerah Persiapan diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 49 (1) Pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) huruf f merupakan pengaduan yang disampaikan masyarakat kepada Pemerintah Daerah Persiapan terkait penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik yang diberikan oleh Pemerintah Daerah Persiapan. (2) Pemerintah Daerah Persiapan wajib menindaklanjuti pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Dalam hal Pemerintah Daerah Persiapan tidak menindaklanjuti pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri memberikan sanksi kepada Pemerintah Daerah Persiapan provinsi atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat memberikan sanksi kepada Pemerintah Daerah Persiapan kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 8 Partisipasi dan Pengawasan Masyarakat Pasal 50 (1) Masyarakat di Daerah Persiapan melakukan partisipasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang dilakukan oleh Daerah Persiapan. (2) Partisipasi dan pengawasan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. pelaksanaan, pemonitoran, dan pengevaluasian

34 penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Persiapan; b. pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam di Daerah Persiapan; dan/atau c. penyelenggaraan pelayanan publik. (3) Partisipasi dan pengawasan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam bentuk: a. konsultasi publik; b. musyawarah; c. kemitraan; d. penyampaian aspirasi; e. pengawasan; dan/atau f. keterlibatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Partisipasi dan pengawasan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 9 Pembinaan, Pengawasan, dan Evaluasi Daerah Persiapan Pasal 51 Pemerintah Pusat melakukan pembinaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan selama masa Daerah Persiapan. Pasal 52 (1) Pembinaan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dilaksanakan oleh Kementerian/LPNK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pembinaan umum dan pembinaan teknis. (3) Pembinaan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri. (4) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat

35 (2) dilakukan oleh Kementerian/LPNK terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya. (5) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikoordinasikan oleh Menteri. Pasal 53 (1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dilaksanakan sejak peresmian Daerah Persiapan dan/atau pelantikan kepala Daerah Persiapan. (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui fasilitasi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan dalam kebijakan yang terkait dengan Otonomi Daerah. (3) Pembinaan berupa fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kegiatan pemberdayaan pemerintahan Daerah Persiapan, penguatan kapasitas pemerintahan Daerah Persiapan, dan bimbingan teknis kepada Daerah Persiapan yang berkaitan dengan: a. penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan; b. pengelolaan personel, peralatan, dan dokumentasi; c. pembentukan perangkat Daerah Persiapan; d. pengisian jabatan aparatur sipil negara pada perangkat Daerah Persiapan; e. pengelolaan anggaran belanja Daerah Persiapan; dan f. penanganan pengaduan masyarakat. Pasal 54 (1) Dalam pelaksanaan pembinaan umum, Menteri dapat menugaskan pejabat di lingkungan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri untuk memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Persiapan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melibatkan tenaga ahli.

36 Pasal 55 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dilakukan untuk memastikan Pemerintah Daerah Persiapan melaksanakan kewajiban Daerah Persiapan. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh aparat pengawas internal pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Aparat pengawas internal pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a. inspektorat Daerah induk; b. inspektorat jenderal Kementerian/LPNK; dan c. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. (4) Inspektorat Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a melakukan pengawasan berdasarkan perintah dari Kepala Daerah Persiapan. (5) Inspektorat jenderal Kementerian/LPNK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b melakukan pengawasan umum dan teknis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c melakukan pengawasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (7) Ketentuan mengenai organisasi dan tata cara pengawasan oleh inspektorat Daerah Persiapan diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 56 (1) Pemerintah Pusat melakukan evaluasi terhadap Daerah Persiapan pada akhir tahun pertama dan pada akhir tahun kedua. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menilai kemampuan Daerah Persiapan dalam melaksanakan kewajiban Daerah Persiapan. Pasal 57

37 Pemerintah Pusat menyampaikan perkembangan pembinaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap Daerah Persiapan kepada DPR dan DPD. Pasal 58 (1) Pemerintah Pusat melakukan evaluasi akhir masa Daerah Persiapan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum Daerah Persiapan berusia 3 (tiga) tahun. (2) Evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk menilai kemampuan Daerah Persiapan dalam melaksanakan kewajiban Daerah Persiapan dan menilai layak tidaknya Daerah Persiapan ditetapkan sebagai Daerah baru. Pasal 59 (1) Evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dilakukan oleh tim yang dibentuk DPOD. (2) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memaparkan hasil evaluasi akhir masa Daerah Persiapan di depan sidang pleno DPOD. (3) Sidang pleno DPOD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memutuskan hasil evaluasi akhir masa Daerah Persiapan. (4) Pemerintah Pusat mengonsultasikan hasil evaluasi akhir masa Daerah Persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada DPR dan DPD. (5) Daerah Persiapan yang berdasarkan hasil evaluasi akhir dinyatakan tidak layak, dicabut statusnya sebagai Daerah Persiapan dengan Peraturan Pemerintah dan dikembalikan ke Daerah induk. (6) Apabila hasil evaluasi akhir terhadap Daerah Persiapan menyatakan bahwa Daerah Persiapan layak untuk menjadi Daerah, Pemerintah Pusat mengajukan

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU www. luwukpos.blogspot.co.id I. PENDAHULUAN Otonomi daerah secara resmi telah diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 2001. Pada hakekatnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.244, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Otonomi. Pemilihan. Kepala Daerah. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN... TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN... TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN... TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 228

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

- 1 - MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA

- 1 - MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA - 1 - MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

2017, No Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); M

2017, No Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); M No.73, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Penyelenggaraan. Pembinaan. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041) PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 126 ayat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI DAERAH OTONOM BARU

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI DAERAH OTONOM BARU PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI DAERAH OTONOM BARU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2017 TAHUN 2017 TENTANG KODE DAN DATA WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 126 ayat (1)

Lebih terperinci

2017, No telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2017, No telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.451, 2017 KEMENDAGRI. Cabang Dinas. UPT Daerah. Pembentukan. Pedoman. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

2013, No.20 2 di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah untuk penyelenggaraan otonomi

2013, No.20 2 di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah untuk penyelenggaraan otonomi No.20, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Wilayah. Pembentukan. Kabupaten Banggai Laut. Provinsi Sulawesi Tengah. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

2013, No.21 2 c. bahwa pembentukan Kabupaten Pulau Taliabu dimaksudkan untuk mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan k

2013, No.21 2 c. bahwa pembentukan Kabupaten Pulau Taliabu dimaksudkan untuk mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan k No.21, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Wilayah. Pembentukan. Kabupaten. Pulau Taliabu. Provinsi Maluku. Utara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2016 TENTANG KERJA SAMA DAN INOVASI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2016 TENTANG KERJA SAMA DAN INOVASI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2016 TENTANG KERJA SAMA DAN INOVASI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk

Lebih terperinci

2008, No Mengingat : 1. c. bahwa pembentukan Kabupaten Pulau Morotai bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan,

2008, No Mengingat : 1. c. bahwa pembentukan Kabupaten Pulau Morotai bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.190, 2008 PEMERINTAH DAERAH. Wilayah. Provinsi Maluku Utara. Kabupaten/Kota. Pulau Morotai. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4937)

Lebih terperinci

2008, No.99 2 c. bahwa pembentukan Kabupaten Lombok Utara bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakat

2008, No.99 2 c. bahwa pembentukan Kabupaten Lombok Utara bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakat No. 99, 2008 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Wilayah. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kabupaten/Kota. Lombok Utara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4872)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 81 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PERHUBUNGAN DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG SERTA KEDUDUKAN KEUANGAN GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DI WILAYAH PROVINSI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BURU SELATAN DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PENATAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK, Menimbang : a. bahwa penataan desa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH. No 23 Tahun 2014 BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH. No 23 Tahun 2014 BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH. No 23 Tahun 2014 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Inovasi Daerah adalah semua bentuk pembaharuan da

2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Inovasi Daerah adalah semua bentuk pembaharuan da No.206, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Daerah. Inovasi. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6123) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN PULAU MOROTAI DI PROVINSI MALUKU UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DEIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DEIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DEIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memacu

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG SERTA KEDUDUKAN KEUANGAN GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DI WILAYAH PROVINSI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai Undang-Undang Dasar Negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LOMBOK UTARA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB II PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENGATUR PERALIHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN. A. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

BAB II PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENGATUR PERALIHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN. A. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa BAB II PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENGATUR PERALIHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN A. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 disebutkan pengertian desa

Lebih terperinci

INTISARI PP NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN OLEH : SADU WASISTIONO

INTISARI PP NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN OLEH : SADU WASISTIONO INTISARI PP NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN OLEH : SADU WASISTIONO A P R I L 2 0 0 8 KETENTUAN UMUM (Pasal 1) Pembentukan kecamatan adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai kecamatan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1745, 2014 KEMENDAGRI. Pengawasan. Pembinaan. Kebijakan. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2014 TENTANG KEBIJAKAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SABU RAIJUA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memacu perkembangan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 31 TAHUN 2007 (31/2007) TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 31 TAHUN 2007 (31/2007) TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 31 TAHUN 2007 (31/2007) TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI BIMA PERATURAN BUPATI BIMA NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG URAIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN BIMA

BUPATI BIMA PERATURAN BUPATI BIMA NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG URAIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN BIMA BUPATI BIMA PERATURAN BUPATI BIMA NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG URAIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN BIMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BIMA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: PP 8-2003 file PDF: [1] LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 89, 2007 OTONOMI. PEMERINTAHAN. PEMERINTAHAN DAERAH. Perangkat Daerah. Organisasi.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PEMBENTUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berhubung dengan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung Tahun 2016 2 BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 27 TAHUN 2006 TENTANG K E L U R A H A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 27 TAHUN 2006 TENTANG K E L U R A H A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 27 TAHUN 2006 TENTANG K E L U R A H A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG SERTA KEDUDUKAN KEUANGAN GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DI WILAYAH PROVINSI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

2008, No c. bahwa pembentukan Kabupaten Buru Selatan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyaraka

2008, No c. bahwa pembentukan Kabupaten Buru Selatan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyaraka LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.105, 2008 PEMERINTAH DAERAH. Wilayah. Provinsi Maluku. Kabupaten/Kota. Buru Selatan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4878) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SAMARINDA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU UTARA DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU UTARA DI PROVINSI SUMATERA UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN LABUHANBATU UTARA DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN KAMPUNG DAN PERUBAHAN STATUS KAMPUNG MENJADI KELURAHAN DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DOGIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DOGIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN DOGIYAI DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memacu

Lebih terperinci

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN WALIKOTA KEDIRI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KEDIRI, Menimbang : a. bahwa produk hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN NIAS BARAT DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN NIAS BARAT DI PROVINSI SUMATERA UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN NIAS BARAT DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH K A B U P A T E N B A N D U N G NOMOR 9 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG

LEMBARAN DAERAH K A B U P A T E N B A N D U N G NOMOR 9 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG LEMBARAN DAERAH K A B U P A T E N B A N D U N G NOMOR 9 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

2011, No Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repu

2011, No Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repu BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.712, 2011 KEMENTERIAN DALAM NEGERI. Daerah Otonom Baru. Pedoman Pembinaan. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

2012, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran

2012, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.215, 2012 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5357) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 96 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA DI PROVINSI MALUKU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA GUNUNGSITOLI DI PROVINSI SUMATERA UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG SERTA KEDUDUKAN KEUANGAN GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DI WILAYAH PROVINSI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA KOTAMOBAGU DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA KOTAMOBAGU DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA KOTAMOBAGU DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON UTARA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON UTARA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN BUTON UTARA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SUMBA TENGAH DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA DI PROVINSI SULAWESI UTARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA DI PROVINSI SULAWESI UTARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA DI PROVINSI SULAWESI UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

2017, No Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah beberapa kali diub

2017, No Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah beberapa kali diub No.1884, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana Desa. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 199/PMK.07/2017 TENTANG TATA CARA PENGALOKASIAN DANA DESA SETIAP KABUPATEN/KOTA

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT JENDERAL BADAN PENGAWAS PEMILIHAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN, DAN PERUBAHAN STATUS DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci