V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. DESAIN PENGGETAR MOLE PLOW Prototip mole plow mempunyai empat bagian utama, yaitu rangka three hitch point, beam, blade, dan mole. Rangka three hitch point merupakan struktur yang mengikatkan mole pow dengan three hith point traktor. Beam adalah batang baja panjang yang bertumpu pada rangka three hitch point yang berfungsi sebagai rangka penarik. Beam mempunyai panjang 1500 mm, tinggi 150 mm, dan tebal 25 mm. Blade adalah batang baja berbentuk menyerupai bajak yang menempel secara vertikal pada ujung beam. Blade mempunyai panjang 900 mm, lebar 240 mm, dan tebal 25 mm. Blade ini berfungsi untuk memotong tanah pada kedalaman cm. Sementara mole merupakan batang baja bulat dengan diameter 40 mm yang menempel pada ujung blade dan berfungsi untuk membuat lubang di bawah tanah. Penggetaran mole plow dilakukan untuk menurunkan draft saat pengoperasian di lahan. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, penggunaan getaran pada subsoiler terbukti dapat menurunkan draft. Sigit (2009) melakukan penelitian tentang modifikasi bajak subsoiler getar dengan pemupuk mekanis (SIGAP) utuk budidaya tebu lahan kering. Hasil pengujian di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Bogor pada kadar air tanah rata-rata 41.1% menunjukan bahwa efek penggetaran dengan sayap penggetar pada bajak subsoil dapat menurunkan tahanan tarik secara nyata dibandingkan dengan bajak subsoil tanpa getar. Dengan penggetaran, tahanan tarik turun pada kisaran 6.1% sampai 29.9% dengan rata-rata 14.6%. Penggetaran yang diterapkan pada mole plow adalah penggetaran paksa atau forced vibrations, di mana gaya penggetaran dibangkitkan oleh energi eksitasi dari pusat massa unbalanced yang diputar. Gaya penggetaran yang dibangkitkan akan menimbulkan getaran struktur pada struktur yang menerima gaya penggetaran tersebut. 56

2 penggetar beam Gambar 34. Mole plow getar. Bagian dari mole plow yang dijadikan pegas kantilever adalah beam. Unit pembangkit getaran atau penggetar diletakan di bagian ujung atas beam. Ketika bagian unbalanced (exciter +plat pengapit exciter) diputar maka akan terjadi gaya getar yang membangkitkan getaran struktur kantilever beam. pipa penggetar poros penggetar piringan exciter plat pengapit exciter r dudukan tutup penggetar tutup penggetar dudukan penggetar Gambar 35. Rangkaian penggetar mole plow. 57

3 Unit pembangkit getaran atau pnggetar mole plow terdiri dari beberapa bagian, yaitu piringan exciter, plat pengapit exciter, poros penggetar, tutup penggetar, pipa penggetar, dudukan penggetar, dudukan tutup penggetar, sistem transmisi dan kantilever beam. 1. Piringan Exciter Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada penggetaran struktur gaya penggetaran dibangkitkan dari eksitasi pusat massa unbalanced yang diputar. Ketika diputar, pusat massa ini akan cenderung terdorong ke luar dari pusat putaran (sumbu putar). Kondisi ini menimblkan gaya penggetaran ke arah luar dari sumbu putaran. Gaya penggetaran bekerja sejajar dengan bidang yang ditembus oleh sumbu putaran. Besarnya gaya penggetaran (F getar ) dipengaruhi oleh kecepatan putaran (ω), jarak pusat massa unbalanced dari sumbu putaran atau jari-jari eksentrik (e), dan massa unbalanced (m). Piringan exciter dirancang dengan bentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan jari-jari eksentrik (e) dari unbalanced sesuai yang diinginkan. Nilai e dari exciter sebesar 48 mm dan massanya 7.67 kg. Akan tetapi setelah membentuk unbalanced (ditambah plat pengapit exciter), nilai e menjadi 30 mm dan massanya menjadi kg. Piringan exciter dibuat dari plat besi dengan tebal 10 mm. Kemudian plat besi ini dipotong mengikuti pola yang telah dibuat. Untuk memperoleh ketebalan 100 mm dibuat 10 potong piringan exciter. Pada plat exciter dibuat dua buah lubang baut M20 untuk mengunci piringan exciter pada plat pengapit exciter agar membentuk unbalanced. 58

4 poros penggetar piringan exciter plat pengapit exciter Gambar 36. Unbalanced. 2. Plat Pengapit Exciter Piringan exciter diikat pada plat pengapit exciter oleh dua buah baut M20. Pada masing-masing baut dipasang mur dan ring per. Ring per berfungsi memperkuat ikatan baut dan mur agar pada saat bergetar kondisi ikatan tetap kuat. Plat pengapit exciter diikat pada poros penggetar dengan mekanisme pasak dan baut tanam. Baut tanam berfungsi mengencangkan pasak pada alurnya serta menahan geseran plat pengapit exciter pada poros penggetar ke arah depan. Selain baut tanam, untuk mencegah pergeseran plat penngapit exciter ke arah depan dibuatkan juga plat penahan diantara plat pengapit exciter. Plat penahan ini diikatkan pada poros penggetar oleh mekanisme mur baut, dimana mur dilaskan pada poros penggetar dan plat penahan tersebut dibaut pada mur yang sudah dilas. Pasak yang digunakan pada ikatan plat pengapit exciter mempunyai panjang 25 mm, lebar 8 mm dan tinggi 7 mm. Sementara baut tanam berdiameter 6 mm dengan ulir 1.5 mm. Plat pengapit exciter terbuat dari plat besi dengan tebal 10 mm. Diameter plat pengapit exciter adalah 160 mm. Pada salah satu sisinya dibuat naf diameter 60 mm tebal 15 mm. Naf ini berfungsi untuk memperkuat plat pengapit exciter serta untuk memperpanjang alur 59

5 pasak. Pada naf juga dibuat lubang baut tanam tegak lurus pada alur pasak. Pada masing-masing plat pengapit exciter dibuat lima buah lubang baut diameter 20 mm yang posisinya sama pada kedua plat. Masing-masing lubang dari kedua plat berpasangan satu sama lain untuk mengikatkan baut, dimana empat pasang lubang berfungsi untuk perubahan posisi pengikatan baut. Sementara satu pasang lubang tidak mengalami perubahan posisi pengikatan untuk menjadi tumpuan perputaran atau perubahan posisi piringan exciter pada plat pengapit exciter. Dengan membuat empat buah lubang, posisi piringan exiter pada plat pengapit exciter bisa diubah pada empat posisi sehingga jarijari eksentrik juga bisa diubah pada empat posisi. Jarak antar masingasing lubang baut adalah 14 dengan acuan titik senter plat. 3. Poros Penggetar Poros penggetar dibuat dari baja S55C dengan diameter 25 mm dan panjang total 400 mm. Sambungan antara flexible coupling dan poros penggetar menggunakan kopling flens. Untuk mengikatkan poros penggetar pada unbalanced, pada poros penggear dibuat dua buah alur pasak sepanjang 25 mm, lebar 8mm, dan dalam 4 mm. 4. Tutup Penggetar Tutup penggetar terbuat dari plat besi dengan tebal 15 mm. Plat besi ini kemudian dipotong menggunakan las potong sesuai pola yang telah dibuat. Pada tengah-tengah tutup penggetar dibuat lubang untuk menempelkan bearing dengan cara dibubut. Disamping keliling lubang tersebut dibuat empat lubang yang telah di tap dengan diameter 12 mm dan pitch ulir 1.25mm. Dengan melakukan pengetapan pada tutup penggetar, tidak dibutuhkan lagi mur untuk mengunci bearing pada tutup penggetar karena lubang tap tersebut yang berfungsi sebagai mur dari baut M12 yang mengunci bearing. 60

6 Pada tutup penggetar dibuat tiga buah kupingan. Kupingan dibuat dari plat besi tebal 15 mm yang masing-masing dilas pada tutup penggetar. Jarak antar kupingan sebesar 120º dengan acuan putar titik pusat lubang bearing. Pada masing-masing kupingan dibuat lubang diameter 12 mm sebagai lubang baut M12. Kupingan ini berfungsi sebagai tempat penguncian pipa penggetar pada tutup penggetar. Tutup penggetar berjumlah dua buah, yaitu tutup penggetar depan dan tutup penggetar belakang. Tutup penggetar bagian depan langsung dilaskan pada dudukan tutup penggetar, sementara tutup penggetar belakang terpasang pada dudukan tutup penggetar dengan kuncian empat buah baut. Jadi tutup penggetar depan terpasang secara permanen pada dudukan tutup penggetar sementara tutup penggetar belakang bisa dilepas dari dudukan tutup penggetar. Pada bagian depan dan belakang tutup penggetar belakang dibuat kupingan dari plat besi 10 mm. Kupingan ini berfungsi sebagai tempat penguncian tutup penggetar belakang pada dudukan tutup penggetar oleh empat buah baut. Pada kupingan bagian depan dibuat dua buah lubang baut diameter 12 mm. Sedangkan pada kupingan bagian belakang dibuat dua buah lubang baut diameter 16 mm. Gambar 37. Tutup penggetar. 61

7 5. Dudukan Tutup Penggetar Dudukan tutup penggetar menahan bobot dari piringan exciter, plat pengapit exciter, poros penggetar, tutup penggetar dan bearing. Gaya pnggetaran disalurkan pada dudukan penggetar dengan empat buah kuncian baut M16. Dudukan tutup penggetar berbentuk persegi panjang terbuat dari plat besi dengan tebal 15 mm. Pada bagian depan dudukan tutup penggetar dibuat tiga buah lubang baut dengan dua buah lubang diameter 16 mm dan satu lubang berdiameter 20 mm. Pada bagian belakang dudukan tutup penggetar dibuat lima buah lubang baut dengan dua lubang diameter 16 mm, satu lubang diameter 20 mm dan dua lubang diameter 12 mm. Untuk lubang diameter 12 mm dilakukan pengetapan dengan pitch ulir 1.25 mm. Masing-masing lubang baut memiliki fungsi masing-masing. Lubang baut diameter 16 mm berfungsi sebagai lubang penguncian anatara dudukan tutup penggetar dengan dudukan penggetar. Lubang baut diameter 20 mm berfungsi sebagi lubang penguncian dudukan tutup penggetar dengan beam. Sementara lubang baut 12 mm berfungsi sebagai mur untuk baut pengunci tutup penggetar dengan dudukan tutup penggetar. pipa penggetar dudukan tutup penggetar dudukan penggetar Gambar 38. Penggetar mole plow. 62

8 6. Dudukan Penggetar Dudukan penggetar berjumlah dua buah yaitu dudukan penggetar sebelah kiri dan dudukan penggetar sebelah kanan yang kedua-duanya langsung dilaskan pada mole plow. Untuk memperkuat lasan dari guncangan gaya penggetaran, pada masing-masing dudukan penggetar ditambahkan dua buah penguat. Dudukan penggetar dan penguatnya sama-sama terbuat dari plat besi. Dudukan penggetar berbentuk persegi panajng dengan tebal 15 mm. Penguatnya berbentuk segi tiga siku-siku dengan tebal 10 mm. Pada masing-masing dudukan penggetar dibuat dua buah lubang baut diameter 16 mm. Lubang baut ini merupakan pasangan lubang baut pada dudukan tutup penggetar. 7. Pipa Penggetar Untuk menutupi piringan exciter dan plat pengapit exciter, di antara tutup penggetar dipasang sebuah pipa besi. Selain sebagai rumah dari penggetar, pipa penggetar berfungsi juga untuk memperkuat tutup penggetar dalam menyalurkan getaran. Dengan adanya pipa penggetar yang diikat oleh baut pada tutup penggetar, getaran pada masing-masing tutup akan terhubung sehingga mengurangi beban yang ditahan oleh masing-masing tutup. Pipa penggetar terbuat dari pipa besi dengan diameter dalam mm, diameter luar mm, dan panjang 158 mm. Pada bagian depan dan belakang dibuat kupingan yang bentuk serta ukurannya sama dengan kupingan pada tutup penggetar. Akan tetapi yang membedakan kupingan pada pipa pengetar dengan tutup penggetar adalah lubang bautnya. Pada kupingn pipa penggetar dilakukan pengetapan lubang bautnya, sehingga lubang bautnya berfungsi sebagai mur bagi baut M12 yang mengunci tutup penggetar dengan pipa penggetar. 63

9 8. Sistem Transmisi Sistem transmisi terdiri dari kopling-kopling penyalur tenaga. Pada pnggetaran mole plow ini digunakan tiga jenis kopling, yaitu kopling flens, kopling freewheel, dan flexible coupling. Kopling flens menyalurkan tenaga dari flexible coupling ke poros penggetar. Kopling freewheel menyalurkan tenaga dari motor listrik ke flexible coupling. Sementara flexible coupling berfungsi menyalurkan tenaga dari kopling freewheel ke kopling flens dan berfungsi meredam getaran yang terjadi pada sistem transmisi. Kopling flens terbuat dari besi pejal dengan diameter luar 45 mm, kemudian tengahnya dilubangi dengan cara dibubut dengan diameter 25.5 mm. Kemudian besi pejal ini disambungkan dengan cara dilas dengan flens yang terbuat dari besi plat (tebal 5 mm) berbentuk lingkaran diameter 100 mm. Terdapat empat buah lubang baut diameter 8 mm pada bagian flens dengan jarak antar lubang baut 90. Baut berfungsi sebagai pengunci atau penyambung anatar flens. Pada sisi bagian luar dibuat satu lubang baut diameter 8 mm dengan permukaanya ditempeli mur yang dilaskan. Baut diameter 8 mm digunakan untuk mengunci flexible coupling dan poros penggetar pada kopling flens. poros flens flexible coupling Gambar 39. Penyambungan flexible coupling dan poros penggetar oleh kopling freewheel. 64

10 Untuk kopling flens yang menempel pada flexible coupling, besi pejal dengan diameter luar 45 mm dilubangi bagian tengahnya dengan lubang berbentuk segi empat. Ukuran lubangnya sama dengan luas empat buah penampang flexible coupling. Pengerjaan selanjutnya sama dengan pengerjaan kopling flens yang menempel pada poros seperti yang telah dijelaskan di atas. Flexible coupling yang digunakan untuk menggetarkan mole plow merupakan flexible coupling mesin pemotong rumput. Panjang flexible coupling tersebut sekitar 80 cm. Pada sistem transmisi ini digunakan empat buah flexible coupling yang disatukan menjadi satu oleh klem. Tiap ujung flexible coupling ini dimasukan atau disambungkan pada kopling flens serta dikunci oleh baut tanam M8. Kopling freewheel terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kopling flens, rumah freewheeal, dan poros. Kopling flens terbuat dari besi pejal berdiameter luar 45 mm dan bagian dalamnya dibubut dengan diameter 25.5 mm. Kemudian besi pejal tersebut disambungkan dengan cara dilas dengan flens yang terbuat dari besi plat (tebal 5 mm) berbentuk lingkaran dengan diameter 100 mm. Terdapat 4 buah lubang baut diameter 8 mm pada bagian flens dengan jarak antar lubang baut 90. Baut berfungsi sebagai pengunci atau penyambung antar flens. Pada sisi bagian luar dibuat satu lubang berulir untuk baut diameter 10 mm dengan pitch 1.25 mm yang digunakan untuk mengunci kopling freewheel pada poros motor listrik. 65

11 poros motor rumah freewheel flens Gambar 40. Kopling freewheel. Rumah freewheel terbuat dari besi pejal diameter luar 70 mm dan bagian dalamnya dibubut sedalam 48 mm dengan diameter 50 mm. Selanjutnya besi pejal ini dibubut lagi dengan diameter 27 mm untuk memasukan poros dari sisi yang berlawanan. Kemudian besi pejal ini disambungkan dengan lasan pada flens yang terbuat dari besi plat (tebal 5 mm) berbentuk lingkaran diameter 120 mm. Pada lubang hasil bubutan dimasukan freewheel dengan cara dipres supaya freewheel terkuunci pada lubang tersebut. Terdapat 4 buah lubang baut diameter 8 mm pada bagian flens dengan jarak antar lubang baut 90. Baut berfungsi sebagai pengunci atau penyambung antar flens. Pada sisi bagian luar dibuat tiga buah lubang berulir untuk baut M10 dengan pitch 1.25 mm yang digunakan untuk mengunci freewheel pada rumah freewheel. Untuk meneruskan putaran freewheel digunakan poros yang salah satu ujungnya diberi ulir dengan diameter luar 20 mm serta pitch 1.5 mm. Kemudian ujung poros berulir dimasukan atau disambugkan pada lubang freewheel dan dikunci dengan mur M20. Sementara ujung poros yang lain disambungkan pada kopling flens untuk meneruskan putaran ke flexible coupling. 66

12 B. HASIL PENGUJIAN 1. Pengujian di Bengkel Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Departemen Teknik Pertanian IPB Pengujian yang dilakukan di bengkel adalah pengujian kalibrasi inverter. Untuk mengetahui hubungan frekuensi yang terbaca di tampilan digital inverter dengan kecepatan putar motor saat beroperasi maka dilakukan kalibrasi inverter. Hasil kalibrasi inverter dengan menggunakan tachometer pada berbagai frekuensi inverter menunjukan bahwa ada hubungan antara frekuensi inverter dengan kecepatan putar motor listrik. Hubungan tersebut bisa dilihat pada Tabel 5 dan grafik pada Gambar 41. Dari grafik dapat dilihat bahwa perbandingan frekuensi inverter dan motor listrik relatif sama pada berbagai frekuensi inverter. Adapun hubungan frekuensi inverter dan frekuensi motor listrik adalah sebagai berikut. Tabel 5. Hubungan setingan frekuensi inverter dan frekuensi putaran motor Frekuensi inverter (hz) Frekuensi putaran motor (hz) Rasio Rata-rata 2.0 Rata-rata perbandingan setingan frekuensi inverter dan frekuensi putaran motor listrik adalah 2. 67

13 7 6 y = 0.456x R² = y (Hz) x (Hz) Gambar 41. Grafik hubungan frekuensi inverter dan frekuensi motor listrik. Berdasarkan grafik di atas, hubungan frekuensi di inverter dan frekuensi di motor listrik adalah y = 0.456x , dimana y adalah frekuensi motor listrik dan x adalah frekuensi inverter. 2. Pengujian di Laboratorium Lapangan Leuwikopo, Departemen Teknik Pertanian IPB Pengujian yang dilakukan di Laboratorium Lapangan Leuwikopo, Departemen Teknik Pertanian IPB adalah pengujian tahanan tarik (draft), pengujian daya penggetaran, dan pengujian amplitudo getar. Jenis tanah yang digunakan untuk pengujian lapangan di Kebun Percobaan Leuwikopo Departemen Teknik Pertanian IPB adalah tanah latosol coklat kemerahan (Syahbuana, 2009). Kadar air rata-rata pada kedalaman 0-40 cm adalah 42.6 %. Hasil pengukuran kadar air pada percobaan lapangan disajikan pada Tabel 6. 68

14 Tabel 6. Kadar air tiap kedalaman pengukuran Kedalaman (cm) Kadar air rata-rata (%) Rata-rata 42.6 Hasil pengukuran tahanan penetrasi pada lahan percobaan yang diukur menggunakan penetrometer sampai kedalaman 40 cm menunjukan bahwa rata-rata tahanan penetrasi tanah di lahan percobaan sebesar kpa. Tahanan penetrasi pada berbagai titik kedalaman dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Tahanan penetrasi pada berbagai titik kedalaman Kedalaman (cm) Tahanan penetrasi rata-rata (kpa) Rata-rata Hasil pengujian di lapangan menunjukan bahwa mole plow getar dapat beroperasi dengan baik. Pada pengujian ini mole plow getar digandengkan pada traktor Deutz (70 hp) serta pada pengukuran tahanan tarik digunakan traktor Volvo (70 hp) sebagai traktor penarik. Terdapat dua macam perlakuan pada pengukuran tahanan tarik mole plow getar yaitu pengukuran tahanan tarik tanpa penggetaran dan pengukuran tahanan tarik dengan penggetaran. Pengukuran tahanan tarik mole plow getar tanpa penggetaran dilakukan dengan empat kali ulangan pada tingkat transmisi low 1 (L1) dengan putaran engine 1600 rpm. Pengukuran tahanan tarik mole plow getar dengan penggetaran dilakukan dengan lima tingkat frekuensi putaran motor, pada tiap 69

15 frekuensi putaran dilakukan dua kali ulangan. Tingkat transmisi dan putaran engine traktor yang dipakai pada pengukuran tahanan tarik mole plow getar dengan penggetaran sama dengan pengukuran tahanan traik tanpa penggetaran. Pengukuran tahanan tarik dilakukan pada lima kali putaran roda traktor Volvo. Tabel 8. Hasil pengujian lapang mole plow tanpa getar Ulangan Kecepatan maju rata-rata Kedalaman Tahanan tarik rata-rata (m/s) (cm) (N) Rata-rata Hasil pengukuran tahanan tarik mole plow tanpa getar menunjukan bahwa besarnya tahanan tarik berkisar N dengan rata-rata N, kedalaman olah berkisar cm dengan rata-rata 35.9 cm, dan kecepatan maju operasional berkisar m/s dengan rata-rata 0.50 m/s. Tabel 9. Hasil pengujian lapang mole plow dengan penggetaran Frekuensi motor (Hz) Kecepatan maju ratarata (m/s) Kedalaman (cm) Tahanan tarik ratarata (N) Rata-rata

16 Berdasarkan data hasil pengujian lapangan mole plow dengan penggetaran pada Tabel 9 menunjukan bahwa besarnya tahanan tarik dengan penggetaran berkisar N dengan rata-rata N. Tahanan tarik minimum terjadi pada frekuensi motor 9 Hz, sedangkan tahanan tarik maksimum tejadi pada frekuensi motor 4.5 Hz. Kecepatan maju traktor berkisar m/s dengan rata-rata 0.48 m/s. Sedangkan kedalaman olah mole plow dengan penggetaran berkisar cm dengan rata-rata cm. Tabel 10. Penurunan tahanan tarik pada berbagai frekuensi penggetaran (frekuensi putaran motor) Frekuensi putaran motor (Hz) Draft tanpa penggetaran (N) Draft dengan penggetaran (N) Penurunan draft (%) Rata-rata 13.3 Dengan penggetaran terjadi penurunan tahanan tarik mole plow. Penurunan tahanan tarik mole plow dengan penggetaran berkisar % dengan rata-rata 13.3 %. Penurunan tahanan tarik terbesar terjadi pada frekuensi motor (frekuensi penggetaran) 9 Hz. Pengujian daya dilakukan untuk mengetahui besarnya daya yang dipakai untuk memutar unbalanced pada berbagai frekuensi. Daya diperoleh dari pengukuran arus dan tegangan listrik pada kabel yang menyalurkan arus dan tegangan listrik ke motor listrik. 71

17 Tabel 11. Kebutuhan daya pada berbagai frekuensi penggetaran Frekuensi inverter (Hz) Frekuensi motor/frekuensi getar (Hz) Daya (W) Dari tabel di atas diketahui bahwa daya untuk penggetaran meningkat seiring kenaikan frekuensi penggetaran. Y (Watt) y = 4.586x x R² = X (Hz) Gambar 42. Grafik daya penggetaran pada berbagai frekuensi. Dari grafik terlihat bahwa daya listrik meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi penggetaran. Peningkatan daya listrik terhadap frekuensi pengetaran mengikuti persamaan y = 4.586x x , dimana y adalah daya listrik (Watt) dan x adalah frekuensi penggetaran (Hz). Kebutuhan daya untuk mengoperasikan mole plow turun dengan melakukan penggetaran. Kebutuhan daya untuk mengoperasikan mole plow dengan penggetaran adalah penjumlahan dari kebutuhan daya tarik traktor dengan kebutuhan daya penggetaran. Daya untuk 72

18 mengoperasikan mole plow tanpa penggetaran adalah Watt. Sementara daya untuk mengoperasikan mole plow dengan penggetaran berkisar Watt dengan rata-rata Watt. Kebutuhan daya minimum terjadi pada pengoperasian mole plow dengan penggetaran 9 Hz yaitu Watt. Penurunan kebutuhan daya terbesar untuk pengoperasian mole plow terjadi pada frekuensi penggetaran 9 Hz sebesar 29 %. Rata-rata penurunan kebutuhan daya pengoperasian mole plow setelah digetarkan sebesar 12 %. Tabel kebutuhan daya dan penurunan daya pada pengoperasian mole plow tanpa penggetaran maupun dengan penggetaran bisa dilihat pada Lampiran 9. Pengujian amplitudo getar dilakukan utuk mengetahui karakteristik amplitudo getar pada berbagai frekuensi dan berbagai panjang lengan kantilever beam. Getaran terjadi ke arah samping (horizontal) dan atas (vertikal). Pada setiap panjang lengan kantilever beam penggetaran dilakukan pada berbagai frekuensi. Hasil pengukuran amplitudo dapat dilihat pada Lampiran 1. Dari hasil pengukuran amplitudo diperoleh karakteristik amplitudo pada penggetaran struktur kantilever beam. Amplitudo horizontal akan naik dari frekuensi rendah sampai frekuensi tertentu dan kemudian turun lagi dengan naiknya frekuensi penggetaran. Sementara amplitudo vertikal cenderung naik dengan kenaikan frekuensi penggetaran. Pada penggetaran struktur penambahan energi eksternal untuk penggetaran belum tentu menaikan amplitudo getar. 73

ANALISIS RANCANGAN. penggetar. kopling. blade. motor listrik. beam

ANALISIS RANCANGAN. penggetar. kopling. blade. motor listrik. beam IV. ANALISIS RANCANGAN A. RANCANGAN FUNGSIONAL Ide rancangan penggetaran mole plow adalah mengaplikasikan forced vibrations pada kantilever beam dari mole plow. Beam mole plow terbuat dari baja S45C yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Desember 2009 bertempat di Bengkel Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Departemen Teknik Pertanian IPB.

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12

Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12 LAMPIRAN 78 Panjang pegas kantilever (mm) Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12 TABEL PENGOLAHAN DATA AMPLITUDO HORIZONTAL KANTILEVER BEAM F (Hz) T1

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Nopember 2010 September 2011. Perancangan dan pembuatan prototipe serta pengujian mesin kepras tebu dilakukan di Laboratorium Teknik

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pembuatan Prototipe 5.1.1. Modifikasi Rangka Utama Untuk mempermudah dan mempercepat waktu pembuatan, rangka pada prototipe-1 tetap digunakan dengan beberapa modifikasi. Rangka

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGUJIAN PENDAHULUAN Pengujian ini bertujuan untuk merancang tingkat slip yang terjadi pada traktor tangan dengan cara pembebanan engine brake traktor roda empat. Pengujian

Lebih terperinci

IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN B. DESAIN FUNGSIONAL

IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN B. DESAIN FUNGSIONAL IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN Perancangan atau desain mesin pencacah serasah tebu ini dimaksudkan untuk mencacah serasah yang ada di lahan tebu yang dapat ditarik oleh traktor dengan daya 110-200

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Semua mekanisme yang telah berhasil dirancang kemudian dirangkai menjadi satu dengan sistem kontrol. Sistem kontrol yang digunakan berupa sistem kontrol loop tertutup yang menjadikan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Konstruksi Prototipe Manipulator Manipulator telah berhasil dimodifikasi sesuai dengan rancangan yang telah ditentukan. Dimensi tinggi manipulator 1153 mm dengan lebar maksimum

Lebih terperinci

V.HASIL DAN PEMBAHASAN

V.HASIL DAN PEMBAHASAN V.HASIL DAN PEMBAHASAN A.KONDISI SERASAH TEBU DI LAHAN Sampel lahan pada perkebunan tebu PT Rajawali II Unit PG Subang yang digunakan dalam pengukuran profil guludan disajikan dalam Gambar 38. Profil guludan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Desember 2009 bertempat di Bengkel Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Leuwikopo, Departemen

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE A. BAHAN BAB III BAHAN DAN METODE Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Besi plat esser dengan ketebalan 2 mm, dan 5 mm, sebagai bahan konstruksi pendorong batang,

Lebih terperinci

c = b - 2x = ,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = 82 mm 2 = 0, m 2

c = b - 2x = ,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = 82 mm 2 = 0, m 2 c = b - 2x = 13 2. 2,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = mm mm = 82 mm 2 = 0,000082 m 2 g) Massa sabuk per meter. Massa belt per meter dihitung dengan rumus. M = area panjang density = 0,000082

Lebih terperinci

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin BAB III METODE PROYEK AKHIR A. Waktu dan Tempat Tempat pembuatan dan perakitan mesin pemotong kerupuk ini di lakukan di Bengkel Kurnia Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A.WAKTU DAN TEMPAT Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai dengan Juni 2010. Desain pembuatan prototipe, uji fungsional dan uji kinerja dilaksanakan di Bengkel

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 hingga bulan November 2011. Desain, pembuatan model dan prototipe rangka unit penebar pupuk dilaksanakan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENGUJIAN MODEL METERING DEVICE PUPUK

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENGUJIAN MODEL METERING DEVICE PUPUK V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENGUJIAN MODEL METERING DEVICE PUPUK Pengujian penjatah pupuk berjalan dengan baik, tetapi untuk campuran pupuk Urea dengan KCl kurang lancar karena pupuk lengket pada

Lebih terperinci

IV. PENDEKATAN DESAIN

IV. PENDEKATAN DESAIN IV. PENDEKATAN DESAIN A. Kriteria Desain Alat pengupas kulit ari kacang tanah ini dirancang untuk memudahkan pengupasan kulit ari kacang tanah. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa proses pengupasan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pembuatan Alat 3.1.1 Waktu dan Tempat Pembuatan alat dilaksanakan dari bulan Maret 2009 Mei 2009, bertempat di bengkel Laboratorium Alat dan Mesin Budidaya Pertanian, Leuwikopo,

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Perencanaan Tabung Luar Dan Tabung Dalam a. Perencanaan Tabung Dalam Direncanakan tabung bagian dalam memiliki tebal stainles steel 0,6, perencenaan tabung pengupas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Simulasi putaran/mekanisme pisau pemotong tebu (n:500 rpm, v:0.5 m/s, k: 8)

METODE PENELITIAN. Simulasi putaran/mekanisme pisau pemotong tebu (n:500 rpm, v:0.5 m/s, k: 8) III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2011 di Laboratorium Lapangan Departemen Teknik Mesin dan Biosistem. Pelaksanaan penelitian terbagi

Lebih terperinci

SKRIPSI RANCANG BANGUN PENGGETAR STRUKTUR UNTUK MENURUNKAN TAHANAN TARIK DARI MOLE PLOW. Oleh: ARIS F

SKRIPSI RANCANG BANGUN PENGGETAR STRUKTUR UNTUK MENURUNKAN TAHANAN TARIK DARI MOLE PLOW. Oleh: ARIS F SKRIPSI RANCANG BANGUN PENGGETAR STRUKTUR UNTUK MENURUNKAN TAHANAN TARIK DARI MOLE PLOW Oleh: ARIS F14050619 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 RANCANG

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konstruksi Mesin Secara keseluruhan mesin kepras tebu tipe rotari terdiri dari beberapa bagian utama yaitu bagian rangka utama, bagian coulter, unit pisau dan transmisi daya (Gambar

Lebih terperinci

IV. ANALISIS STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL

IV. ANALISIS STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL IV. ANALISIS STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL Tahapan analisis rancangan merupakan tahap yang paling utama karena di tahap inilah kebutuhan spesifik masing-masing komponen ditentukan. Dengan mengacu pada hasil

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL RANCANGAN DAN KONSTRUKSI 1. Deskripsi Alat Gambar 16. Mesin Pemangkas Tanaman Jarak Pagar a. Sumber Tenaga Penggerak Sumber tenaga pada mesin pemangkas diklasifikasikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN

BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN A. ANALISIS PENGATUR KETINGGIAN Komponen pengatur ketinggian didesain dengan prinsip awal untuk mengatur ketinggian antara pisau pemotong terhadap permukaan tanah, sehingga

Lebih terperinci

Pengolahan lada putih secara tradisional yang biasa

Pengolahan lada putih secara tradisional yang biasa Buletin 70 Teknik Pertanian Vol. 15, No. 2, 2010: 70-74 R. Bambang Djajasukmana: Teknik pembuatan alat pengupas kulit lada tipe piringan TEKNIK PEMBUATAN ALAT PENGUPAS KULIT LADA TIPE PIRINGAN R. Bambang

Lebih terperinci

IV. ANALISA PERANCANGAN

IV. ANALISA PERANCANGAN IV. ANALISA PERANCANGAN Mesin penanam dan pemupuk jagung menggunakan traktor tangan sebagai sumber tenaga tarik dan diintegrasikan bersama dengan alat pembuat guludan dan alat pengolah tanah (rotary tiller).

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengukuran Titik Berat Unit Transplanter Pengukuran dilakukan di bengkel departemen Teknik Pertanian IPB. Implemen asli dari transplanter dilepas, kemudian diukur bobotnya.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahan yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Kondisi Serasah dan Lahan Setelah Panen Tebu

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Kondisi Serasah dan Lahan Setelah Panen Tebu HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Kondisi Serasah dan Lahan Setelah Panen Tebu Berdasarkan hasil survey lapangan di PG. Subang, Jawa barat, permasalahan yang dihadapi setelah panen adalah menumpuknya sampah

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN digilib.uns.ac.id 38 BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses PembuatanTabung Peniris Luar dan tutup Tabung luar peniris dan tutup peniris (Gambar 4.1) terbuat dari plat stainless steel berlubang dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 3.1. Tempat Pelaksanaan Tempat yang akan di gunakan untuk perakitan dan pembuatan sistem penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi Universitas

Lebih terperinci

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut 16 III. METODE PEMBUATAN A. Waktu dan Tempat Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut Amanah, jalan raya candimas Natar, Lampung Selatan. Pembuatan mesin pengaduk adonan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga bulan September 2012 di Laboratorium Lapang Siswadhi Soepardjo, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahanbahan yang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. WAKTU DAN TEMPAT Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni hingga Desember 2011 dan dilaksanakan di laboratorium lapang Siswadhi Soepardjo (Leuwikopo), Departemen

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar mesin sortasi buah manggis hasil rancangan dapat dilihat dalam Bak penampung mutu super Bak penampung mutu 1 Unit pengolahan citra Mangkuk dan sistem transportasi

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Perencanaan Rangka Mesin Peniris Minyak Proses pembuatan mesin peniris minyak dilakukan mulai dari proses perancangan hingga finishing. Mesin peniris minyak dirancang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Alat dan Bahan A. Alat 1. Las listrik 2. Mesin bubut 3. Gerinda potong 4. Gerinda tangan 5. Pemotong plat 6. Bor tangan 7. Bor duduk 8. Alat ukur (Jangka sorong, mistar)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DRAINASE MOLE

II. TINJAUAN PUSTAKA DRAINASE MOLE II. TINJAUAN PUSTAKA A. DRAINASE MOLE Pembuatan saluran drainase merupakan salah satu kegiatan utama pada waktu menyiapkan suatu lahan pertanian. Tanaman membutuhkan cukup air untuk pertumbuhannya tetapi

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahanbahan yang

Lebih terperinci

IV. PENDEKATAN RANCANGAN

IV. PENDEKATAN RANCANGAN IV. PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Rancang Bangun Furrower Pembuat Guludan Rancang bangun furrower yang digunakan untuk Traktor Cultivator Te 550n dilakukan dengan merubah pisau dan sayap furrower. Pada furrower

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014 di Laboratorium Daya, Alat, dan Mesin Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 14 METODOLOGI PENELITIAN Tahapan Penelitian Tahap-tahap penelitian terdiri dari : (1) proses desain, () konstruksi alat, (3) analisis desain dan (4) pengujian alat. Adapun skema tahap penelitian seperti

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III METODE PENELITIAN A Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2010 Pembuatan prototipe hasil modifikasi dilaksanakan di Bengkel Departemen Teknik

Lebih terperinci

BAB III. Metode Rancang Bangun

BAB III. Metode Rancang Bangun BAB III Metode Rancang Bangun 3.1 Diagram Alir Metode Rancang Bangun MULAI PENGUMPULAN DATA : DESAIN PEMILIHAN BAHAN PERHITUNGAN RANCANG BANGUN PROSES PERMESINAN (FABRIKASI) PERAKITAN PENGUJIAN ALAT HASIL

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN DAN PABRIKASI PROTOTIPE PENGUPAS KULIT SINGKONG BERPENGGERAK MOTOR LISTRIK

BAB III METODE PERANCANGAN DAN PABRIKASI PROTOTIPE PENGUPAS KULIT SINGKONG BERPENGGERAK MOTOR LISTRIK BAB III METODE PERANCANGAN DAN PABRIKASI PROTOTIPE PENGUPAS KULIT SINGKONG BERPENGGERAK MOTOR LISTRIK 3.1 Perancangan dan pabrikasi Perancangan dilakukan untuk menentukan desain prototype singkong. Perancangan

Lebih terperinci

MODIFIKASI INSTRUMEN PENGUKUR GAYA TARIK (PULL) DAN KECEPATAN MAJU TRAKTOR RODA 2

MODIFIKASI INSTRUMEN PENGUKUR GAYA TARIK (PULL) DAN KECEPATAN MAJU TRAKTOR RODA 2 MODIFIKASI INSTRUMEN PENGUKUR GAYA TARIK (PULL) DAN KECEPATAN MAJU TRAKTOR RODA 2 Oleh : Galisto A. Widen F14101121 2006 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen komponen yang akan dibuat adalah komponen

Lebih terperinci

UJI PERFORMANSI DAN KENYAMANAN MODIFIKASI ALAT PENGEBOR TANAH MEKANIS UNTUK MEMBUAT LUBANG TANAM ARIEF SALEH

UJI PERFORMANSI DAN KENYAMANAN MODIFIKASI ALAT PENGEBOR TANAH MEKANIS UNTUK MEMBUAT LUBANG TANAM ARIEF SALEH UJI PERFORMANSI DAN KENYAMANAN MODIFIKASI ALAT PENGEBOR TANAH MEKANIS UNTUK MEMBUAT LUBANG TANAM Oleh : ARIEF SALEH F14102120 2007 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Arief Saleh. F14102120.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin press serbuk kayu. Pengerjaan dominan dalam pembuatan komponen tersebut

Lebih terperinci

2. Mesin Frais/Milling

2. Mesin Frais/Milling 2. Mesin Frais/Milling 2.1 Prinsip Kerja Tenaga untuk pemotongan berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip Kerja Mesin Perajang Singkong. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai beberapa komponen, diantaranya adalah piringan, pisau pengiris, poros,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam melaksanakan pengujian ini penulis menggunakan metode pengujian dan prosedur pengujian. Sehingga langkah-langkah serta tujuan dari pengujian yang dilakukan dapat sesuai

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI

BAB IV PROSES PRODUKSI BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong kerupuk rambak kulit. Pengerjaan paling dominan dalam pembuatan komponen

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Kegiatan penelitian yang meliputi perancangan, pembuatan prototipe mesin penanam dan pemupuk jagung dilakukan di Laboratorium Teknik Mesin Budidaya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material Pusat Teknologi Nuklir Bahan

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN, HASIL PEMBUATAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN, HASIL PEMBUATAN BAB IV PROSES PEMBUATAN, HASIL PEMBUATAN 4.1 Konsep Pembuatan Mesin Potong Sesuai dengan definisi dari mesin potong logam, bahwa sebuah mesin dapat menggantikan pekerjaan manual menjadi otomatis, sehingga

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN BAB IV PROSES PEMBUATAN 4.1. Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen-komponen yang akan dibuat adalah komponen yang tidak

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM ATAP LOUVRE OTOMATIS

BAB III PERANCANGAN SISTEM ATAP LOUVRE OTOMATIS BAB III PERANCANGAN SISTEM ATAP LOUVRE OTOMATIS 3.1 Perencanaan Alat Bab ini akan menjelaskan tentang pembuatan model sistem buka-tutup atap louvre otomatis, yaitu mengenai konstruksi atau rangka utama

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan bagian rangka, pengaduk adonan bakso dan pengunci pengaduk adonan bakso adalah : 4.1.1 Alat Alat yang

Lebih terperinci

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya IV. PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Kriteria Perancangan Perancangan dynamometer tipe rem cakeram pada penelitian ini bertujuan untuk mengukur torsi dari poros out-put suatu penggerak mula dimana besaran ini

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan bagian rangka, pengaduk adonan bakso dan pengunci pengaduk adonan bakso adalah : 4.1.1 Alat Alat yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)

Lebih terperinci

IV. DESAIN PROSES PRODUKSI MESIN PANGKAS RUMPUT POTRUM BBE-02

IV. DESAIN PROSES PRODUKSI MESIN PANGKAS RUMPUT POTRUM BBE-02 IV. DESAIN PROSES PRODUKSI MESIN PANGKAS RUMPUT POTRUM BBE-02 4.1. Modifikasi Potrum BBE-01 Menjadi Potrum BBE-02 Mesin pangkas rumput BBE-01 tersusun atas beberapa bagian yaitu dek, roda, poros pisau,

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN Pada bab ini akan dibahas mengenai pembuatan dan pengujian alat yang selanjutnya akan di analisa, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan untuk

Lebih terperinci

Gambar 2.1. Struktur buah kelapa muda

Gambar 2.1. Struktur buah kelapa muda BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 Kelapa Muda Kelapa muda (cocos nucifera), merupakan buah dari pohon kelapa yang sengaja dipetik lebih cepat (sebelum buah kelapa itu tua atau jatuh sendiri dari pohonnya) dengan

Lebih terperinci

Presentasi Tugas Akhir

Presentasi Tugas Akhir Presentasi Tugas Akhir Modifikasi Alat Penunjuk Titik Pusat Lubang Benda Kerja Dengan Berat Maksimal Kurang Dari 29 Kilogram Untuk Mesin CNC Miling Oleh : Mochamad Sholehuddin NRP. 2106 030 033 Program

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013 di Laboratorium Daya dan Alat Mesin Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. TINJAUAN PUSTAKA Potato peeler atau alat pengupas kulit kentang adalah alat bantu yang digunakan untuk mengupas kulit kentang, alat pengupas kulit kentang yang

Lebih terperinci

PENDEKATAN DESAIN Kriteria Desain dan Gambaran Umum Proses Pencacahan

PENDEKATAN DESAIN Kriteria Desain dan Gambaran Umum Proses Pencacahan PENDEKATAN DESAIN Kriteria Desain dan Gambaran Umum Proses Pencacahan Mengingat lahan tebu yang cukup luas kegiatan pencacahan serasah tebu hanya bisa dilakukan dengan sistem mekanisasi. Mesin pencacah

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pengerjaan adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong umbi. Pengerjaan yang dominan dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Dalam proses pembuatan mesin pengupas kulit kentang perlu memperhatikan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Adapun maksud

Lebih terperinci

BAB III CARA PEMBUATAN ALAT TRACKE R BEARING. Rahang penahan berfungsi sebagai rumah atau sarang dari bagian komponen lain

BAB III CARA PEMBUATAN ALAT TRACKE R BEARING. Rahang penahan berfungsi sebagai rumah atau sarang dari bagian komponen lain BAB III CARA PEMBUATAN ALAT TRACKE R BEARING 3.1 RAHANG PENAHAN Rahang penahan berfungsi sebagai rumah atau sarang dari bagian komponen lain yaitu - Kaki penahan - Batang ulir. Yang semua komponen akan

Lebih terperinci

III. METODE PROYEK AKHIR. dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 12 Juni 2013, dengan demikian terhitung. waktu pengerjaan berlangsung selama 1 minggu.

III. METODE PROYEK AKHIR. dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 12 Juni 2013, dengan demikian terhitung. waktu pengerjaan berlangsung selama 1 minggu. 24 III. METODE PROYEK AKHIR 3.1. Waktu dan Tempat Proses pembuatan Proyek Akhir ini dilakukan di Bengkel Bubut Jl. Lintas Timur Way Jepara Lampung Timur. Waktu pengerjaan alat pemotong kentang spiral ini

Lebih terperinci

Jumlah serasah di lapangan

Jumlah serasah di lapangan Lampiran 1 Perhitungan jumlah serasah di lapangan. Jumlah serasah di lapangan Dengan ketinggian serasah tebu di lapangan 40 cm, lebar alur 60 cm, bulk density 7.7 kg/m 3 dan kecepatan maju traktor 0.3

Lebih terperinci

BAB 3 REVERSE ENGINEERING GEARBOX

BAB 3 REVERSE ENGINEERING GEARBOX BAB 3 REVERSE ENGINEERING GEARBOX 3.1 Mencari Informasi Teknik Komponen Gearbox Langkah awal dalam proses RE adalah mencari informasi mengenai komponen yang akan di-re, dalam hal ini komponen gearbox traktor

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN 30 BAB IV PROSES PEMBUATAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pengerjaan adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk membuat komponen-komponen pada mesin pembuat stik dan keripik. Pengerjaan yang dominan dalam

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flowchart Perencanaan Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Proses Perancangan mesin pemotong umbi seperti yang terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai mm Studi Literatur

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGUKURAN VISKOSITAS Viskositas merupakan nilai kekentalan suatu fluida. Fluida yang kental menandakan nilai viskositas yang tinggi. Nilai viskositas ini berbanding terbalik

Lebih terperinci

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Perencanaan Proses perancangan alat pencacah rumput gajah seperti terlihat pada diagram alir berikut ini: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan Perencanaan Menggambar

Lebih terperinci

PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI

PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo,

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo, 31 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat Pembuatan Dan Pengujian Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo, Lampung Selatan. Kemudian perakitan dan pengujian dilakukan Lab.

Lebih terperinci

BAB 7 ULIR DAN PEGAS A. ULIR Hal umum tentang ulir Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segitiga digulung pada sebuah silinder,

BAB 7 ULIR DAN PEGAS A. ULIR Hal umum tentang ulir Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segitiga digulung pada sebuah silinder, BAB 7 ULIR DAN PEGAS A. ULIR Hal umum tentang ulir Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segitiga digulung pada sebuah silinder, ulir pengikat pada umumnya mempunyai profil penampang

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai dengan Maret

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai dengan Maret 20 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai dengan Maret 2013. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pembuatan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat dan Bahan A. Alat dan bahan 1. Mesin las listrik 2. Mesin bubut 3. Gerinda potong 4. Gerinda tangan 5. Pemotong plat 6. Bor tangan 7. Alat ukur (jangka sorong, mistar)

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin BAB III METODOLOGI 3.1. Diagram Alur Produksi Mesin Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin 3.2. Cara Kerja Mesin Prinsip kerja mesin pencetak bakso secara umum yaitu terletak pada screw penekan adonan dan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN.. DYNAMOMETER TIPE REM CAKERAM HASIL RANCANGAN Dynamometer adalah alat untuk mengukur gaya dan torsi. Dengan torsi dan putaran yang dihasilkan sebuah mesin dapat dihitung kekuatan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Dari konsep yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan perhitungan pada komponen komponen yang dianggap kritis sebagai berikut: Tiang penahan beban maksimum 100Kg, sambungan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2010 sampai dengan April 2011. Tempat perancangan dilakukan di Laboratorium Teknik Mesin Budidaya Pertanian IPB. Pengambilan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Batasan Masalah...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Batasan Masalah... i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... i iv v viii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan dan Manfaat... 2 C. Batasan Masalah... 2 D. Sistematika

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput BAB II DASAR TEORI 2.1 Prinsip Dasar Mesin Pencacah Rumput Mesin ini merupakan mesin serbaguna untuk perajang hijauan, khususnya digunakan untuk merajang rumput pakan ternak. Pencacahan ini dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Konsep perencanaan komponen yang diperhitungkan sebagai berikut: a. Motor b. Reducer c. Daya d. Puli e. Sabuk V 2.2 Motor Motor adalah komponen dalam sebuah kontruksi

Lebih terperinci

SETYO SUWIDYANTO NRP Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc

SETYO SUWIDYANTO NRP Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc PERHITUNGAN SISTEM TRANSMISI PADA MESIN ROLL PIPA GALVANIS 1 ¼ INCH SETYO SUWIDYANTO NRP 2110 030 006 Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc PROGRAM STUDI DIPLOMA III JURUSAN TEKNIK MESIN Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah tahap-tahap yang harus dilewati dalam memproduksi barang atau jasa. Ada proses produksi membutuhkan waktu yang lama, misalnya

Lebih terperinci