BBadan Pengawas Pemilihan Umum

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BBadan Pengawas Pemilihan Umum"

Transkripsi

1 BULETIN EDISI 09, SEPTEMBER 2014 AWASLU BBadan Pengawas Pemilihan Umum Tata Kelola Pemilu Perlu Perbaikan Penguatan Sistem Pemilu Kada Daniel Zuchron, Pemimpin Muda dengan Gagasan Inovatif Optimisme Pilkada Langsung

2 RUU Pilkada, Demokrasi Langsung versus Demokrasi Keterwakilan Sekali lagi, demokrasi Indonesia dipertaruhkan. Di ujung masa jabatannya, DPR periode memutuskan mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Poin krusial UU itu adalah mengembalikan mekanisme pemilihan gubernur, bupati dan walikota kembali ke DPRD. Diskusi RUU Pilkada tidak hanya berlangsung selama satu atau dua bulan. Perdebatan mengenai mekanisme pilkada sudah bergulir sejak Ujungnya, parlemen terpecah menjadi dua kubu. Satu kubu yang mendukung pilkada tetap dilakukan secara langsung. Kubu lainnya menginginkan pilkada dikembalikan ke DPRD. Pada injury time muncul satu opsi lagi, yakni pilkada langsung dengan beberapa perbaikan. Sepuluh syarat diajukan oleh Partai Demokrat agar pilkada tetap digelar secara langsung. Daftar isi: Dari Redaksi... 2 Laporan Utama Tata Kelola Pemilu Perlu Perbaikan... 3 Opini Netralitas PNS dalam Pemilihan Umum... 6 Penguatan Sistem Pemilu Kada... 8 Sorotan Dana Kampanye Pemilu 2014 Belum Transparan Pelaksanaan Sentra Gakkumdu Belum Maksimal Investigasi Berjudi di Kantor, Ketua dan Kasek Bawaslu Maluku Diberhentikan Bawaslu Terkini Soal RUU Pemilukada, Pengawas Pemilu Tak Perlu Khawatir Bawaslu Akan Bangun Psat Pendidikan Pengawasan Partisipatif Profil Daniel Zuchron Pemimpin Muda dengan Gagasan Inovatif Tetapi, pada Sidang Paripurna DPR, suara mayoritas menetapkan hak memilih kepala daerah harus dikembalikan kepada DPRD. Alasannya, demokrasi keterwakilan seperti yang diatur sila keempat Pancasila. Tak ayal, publik mengecam keputusan DPR tersebut. Meski memang, ada sebagian kecil anggota DPR yang memilih agar pilkada tetap dilakukan secara langsung oleh masyarakat. Kemarahan publik memang akhirnya ditujukan kepada koalisi partai yang mendukung pilkada tidak BULETIN EDISI 09, SEPTEMBER 2014 AWASLU BBadan Pengawas Pemilihan Umum Tata Kelola Pemilu Perlu Perbaikan Penguatan Sistem Pemilu Kada Daniel Zuchron, Pemimpin Muda dengan Gagasan Inovatif Optimisme Pilkada Langsung langsung. Kemarahan itu juga diluapkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Umum Partai Demokrat. Hanya 10 tahun atau dua periode lamanya, rakyat merasakan kedaulatan untuk memilih langsung kepala daerahnya. Salam Awas Divisi Update Divisi Organisasi dan SDM Pentingnya Protokol sebagai Dukungan bagi Pimpinan Divisi Organisasi dan SDM Empat Poin Grand Design Pengawasan Pemilu Divisi Pengawasan Bawaslu Siapkan Laporan Pengawasan Pemilu Optimisme Pilkada Langsung Supervisi PSU Pileg 2014: Partisipasi Masyarakat Halsel Turun Sudut Pandang Ketua Bawaslu, Muhammad: Pengawasan Pilpres Sudah Maksimal Lucius Karus: Pilkada oleh DPRD Perburuk Rapor DPR Ekspose Daerah Hadapi Pilkada 2015, Kapolda Halsel Harapkan Upaya Konkrit Sentra Gakkumdu Anekdot Galeri Buletin BAWASLU ini diterbitkan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum, sebagai wahana informasi kepada khalayak serta ajang komunikasi keluarga besar pengawas Pemilu di seluruh tanah air. Terbit satu bulan sekali. B BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM R E P U B L A W A I K S L U - I A R I N D O N E S I Penerbit: Bawaslu RI Pengarah: Dr. Muhammad, S.IP., MSi, Nasrullah, SH., Endang Wihdatiningtyas, SH., Daniel Zuchron, Ir. Nelson Simanjuntak ; Penanggung jawab: Gunawan Suswantoro, SH, M.Si Redaktur: Jajang Abdullah, S.Pd, M.Si, Tagor Fredy, SH, M.Si, Drs. Hengky Pramono, M.Si, Ferdinand ET Sirait, SH, MH, Pakerti Luhur, Ak, Nurmalawati Pulubuhu, S.IP, Raja Monang Silalahi, S.Sos, Hilton Tampubolon, SE, Redaktur Bahasa: Saparuddin, Ken Norton Pembuat Artikel: Falcao Silaban, Christina Kartikawati, Muhammad Zain, Ali Imron, Hendru, Irwan; Design Grafis dan Layout: Christina Kartikawati, Muhammad Zain, Muhtar Sekretariat: Tim Sekretariat Bawaslu Alamat Redaksi: Jalan MH. Thamrin No. 14 Jakarta Pusat, Telp./Fax: (021) , I 2

3 Tata Kelola Pemilu Perlu Perbaikan Pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden 2014 telah usai. Anggota legislatif dan presiden serta wakil presiden terpilih telah dilantik. Pesta demokrasi yang dihelat sekali dalam lima tahun sudah selesai. ILUSTRASI Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi, Universitas Paramadina, Dinna Wisnu mengatakan, banyak catatan dari pelaksanaan pemilu Satu catatan paling mencolok menurutnya adalah masih lemahnya tata kelola pemilihan umum di Indonesia yang melibatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), pemerintah, aparat keamanan, termasuk partai-partai politik yang terlibat. Tata kelola pemilihan umum kita mungkin relatif baik di tingkat nasional atau provinsi di pulau-pulau besar, tetapi ternyata sangat lemah di tingkat bawah dan yang jauh dari pusat kekuasaan, kata Dinna, Kamis (20/11). Menurut dia, tata kelola pemilihan umum Indonesia ketinggalan jauh dibandingkan dengan India yang memiliki penduduk 1 miliar orang. India telah memberlakukan sebuah tata kelola pemilihan yang modern dengan melibatkan electoral voting machines (EVM) atau perangkat elektronik untuk menghemat biaya pencetakan kertas dan keterandalan pilihan. Penggunaan alat ini tidak sertamerta dilakukan seluruh daerah, tetapi dilakukan bertahap mulai tahun 1999 hingga Dengan menggunakan alat tersebut waktu yang dibutuhkan untuk menghitung suara jauh lebih sedikit (2 3 jam) dibandingkan sistem kertas yang membutuhkan 30 jam. Pemerintah akhirnya juga dapat mengumumkan hasil pemilu 3

4 Sambungan: Tata Kelola... dengan jauh lebih cepat. Selain India, Venezuela adalah salah satu negara yang dianggap menjalankan tata kelola pemilihan umum yang paling maju. Mereka juga menggunakan sistem perangkat elektronik berteknologi maju yang dirancang untuk melindungi pemilih dari penipuan dan gangguan sekaligus memastikan keakuratan penghitungan suara. Akurasi dan integritas suara pemilih dijamin sejak pemilih melangkah ke tempat pemungutan suara hingga ke titik di mana penghitungan akhir terungkap. Negara menyediakan semacam tablet yang diletakkan di bilik pemungutan suara dan pemilih memutuskan pilihannya dengan menyentuh layar pada pilihan yang tersedia dan mengonfirmasi pilihan mereka. Setelah konfirmasi, suara elektronik dienkripsi dan secara acak disimpan dalam memori mesin. Pemilih dapat mengaudit suara mereka sendiri dengan memeriksa tanda terima yang dicetak. Tanda terima itu kemudian mereka masukkan ke dalam kotak penyimpanan suara secara fisik. Jadi data tersimpan secara elektronik dan manual. Di akhir hari pemilihan, setiap mesin voting akan menghitung dan mencetak penghitungan resmi yang disebut precint count. Mesin mentransmisikan salinan elektronik dari sejumlah precint count ke server utama di KPU Venezuela tempat suara total secara keseluruhan dihitung. Untuk memastikan hasil suara terjaga, dengan persetujuan para pihak yang berkompetisi, dengan kesepakatan bersama antar pesaing, 52% kotak suara dihitung dan dipilih secara acak dan terbuka. Penghitungan manual dibandingkan dengan precint count yang tersedia. Langkah ini dilakukan agar tidak ada manipulasi suara di tempat pemungutan suara. Kita perlu berani memikirkan bagaimana menghasilkan terobosan seperti yang dilakukan negara-negara seperti India dan Venezuela yang dulu juga memiliki persoalan yang sama seperti kita saat ini, ungkapnya. Perbaikan Hulu dan Hilir Indonesia, lanjut Dinna, pernah menyelenggarakan penghitungan real-time di mana publik dapat melihat dari jam ke KARTIKA Pimpinan Bawaslu, Endang Wihdatiningtyas mengecek daftar pemilih tetap (DPT) di TPS 09, Gunungketur, Pakualaman, Yogyakarta pada Pileg 9 April 2014 lalu. jam penambahan suara partai, tetapi cara ini bukan menjadi sandaran utama karena ketakutan akan cyber crime yang dapat merusak sistem informasi seperti yang pernah terjadi. Sayangnya setelah kejadian tersebut, pemerintah dinilai takut mengambil inisiatif terobosan untuk membuat pemilu lebih berkualitas dan cenderung kembali ke pola lama yang tidak efisien dan terbuka untuk terjadinya beberapa penyimpangan. Mengingat bahwa cita-cita bangsa ketika menggulingkan pemerintahan otoriter Orde Baru adalah untuk meninggalkan cara-cara tidak jujur dan manipulatif dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan, menurut Dinna, selayaknya negara bertanggungtanggung dalam menjamin pemilihan umum yang akuntabel dan berkualitas. Mustahil kita berkutat hanya pada sisi hilir dari pemilihan umum, yakni soal siapa duduk di parlemen dan mencalonkan presiden, jika sisi hulu dari penyelenggaraan pemilihan umum justru terbengkalai dan berantakan, kata dia. Ketua KPU Husni Kamil Manik mengatakan, teknologi informasi pemilu menjadi salah satu perhatian utama pihaknya untuk memperbaiki tata kelola pemilu. Menurutnya teknologi informasi yang digunakan dalam penyelenggaraan tahapan pemilu perlu terus disempurnakan. Lantaran teknologi informasi menjadi bagian yang sangat penting dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan setiap tahapan Pemilu. Untuk itu, ke depan KPU perlu menyiapkan format aplikasi yang lebih baik. Kami ingin perbaikan sistem dan manajemen kepemiluan dari waktu ke waktu. Salah satu pendekatan yang kita lakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Untuk penyempurnaannya ke depan kita perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh dalam rangka menyiapkan sistem dan format aplikasi yang lebih baik, kata Husni. Ketua Bawaslu Muhammad menyampaikan bahwa untuk menunjukkan bahwa proses Pemilihan Umum itu berlangsung secara demokratis paling tidak bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama adalah aspek Pemilih, masyarakat ketika datang ke TPS tidak dalam tekanan apapun, tanpa intimidasi dan merasa nyaman. Yang kedua lanjutnya, adalah peserta Pemilu, baik Caleg, Parpol maupun Capres dan Cawapres, apakah sudah mengikuti peraturan yang ada. Yang ketiga adalah regulasi yang sudah memberikan penguatan terhadap upaya terwujudnya 4

5 Pemilu yang demokratis. Ke depan, bukan Bawaslu ingin hak menyidik diberikan, paling tidak ketika laporan masuk, Bawaslu diberi kewenangan untuk menyidik, ujarnya. Lembaga Peradilan Pemilu Disatukan Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, semua laporan terkait pelanggaran Pemilu apakah administrasi, pidana atau etik itu masuk ke Pengawas Pemilu, setelah dikaji maka Bawaslu memberikan rekomendasi. Menurut Muhammad, untuk memperbaiki penyelenggaraan Pemilu adalah adanya satu Lembaga Peradilan Pemilu yang mengatur tentang regulasi Pemilu. Banyak lembaga peradilan yang memutus perkara pemilu sehingga dimungkinkan adanya multitafsir, kata Muhammad. Dia mengatakan banyak kasus pelanggaran pidana pemilu yang prosesnya mandek di kepolisian. Pelanggaran pemilu yang berhenti proses hukumnya itu, banyak terjadi pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden lalu. Menurut Muhammad, banyak dugaan pelanggaran pemilu berhenti di tengah jalan, lantaran pihak kepolisian tidak sungguh-sungguh menanganinya. Bahkan, banyak laporan dugaan pelanggaran yang telah diklasifikasi Bawaslu tidak ditindaklanjuti pihak kepolisian. Kadang, penyidik kepolisian agak arogan. Mereka bilang, anggota Bawaslu tahu apa soal hukum pidana, kata Muhammad. Padahal, lanjut Muhammad, pihaknya sangat memahami unsur-unsur pelanggaran pidana pemilu. Sebab, anggota Panwaslu, Bawaslu juga dibekali pemahaman, masukan-masukan mengenai hukum pidana pemilu. Anggota kami diberi pemahaman, mendapat masukan tentang hukum pidana dari para pakar hukum, imbuhnya. Muhammad menambahkan, ke depan, cukup satu lembaga yang menangani proses pelanggaran pemilu, mulai administrasi hingga kasus pidananya. Sehingga, proses penanganannya berjalan efektif. Menurut saya, ke depan cukup satu lembaga peradilan pemilu. Sekarang banyak lembaga yang menangani, ada unsur Kepolisian, Kejaksaan, KPU, Bawaslu, DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) hingga MK (Mahkamah Konstitusi), tuturnya. Ke depan, bukan Bawaslu ingin hak menyidik diberikan, paling tidak ketika laporan masuk, Bawaslu diberi kewenangan untuk menyidik, Muhammad Menegakkan Etika Pemilu Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie, mengatakan pembentukan DKPP merupakan upaya untuk belajar menegakan sistem norma yang selama ini kurang berjalan. Diharapkan, peran DKPP dalam menjaga pelaksanaan kode etik para penyelenggara pemilu. DKPP juga memberikan sanksi kepada para penyelenggara pemilu yang terbukti melanggar kode etik. Pemecatan itu kita harapkan akan bisa memperbaiki penyelenggara pemilu, yaitu untuk mempresiapkan infrastruktur penyelenggara pemilu yang terpercaya, ungkapnya. Menurut Jimly, akhlak bangsa ini sedang mengalami kerusakan, sehingga harus dibenahi. Upaya pembenahan itu pun harus dimulai dari politik yang dianggap memiliki kondisi kerusakan paling parah. Untuk itu, lanjut dia, DKPP memprioritaskan ke pelaksanaan pemilu, yaitu melalui para penyelenggara yang memegang peran terbesar dari kesuksesan sebuah pesta demokrasi. Jimly menilai pemilihan Umum 2014 akan lebih baik dibandingkan 2014 seiring dengan peradaban demokrasi di Tanah Air. Dikatakan, saat ini demokrasi sudah berkembang sehingga mekanisme pengontrolan penyelenggaraan di internal Komisi Pemilihan Umum (KPU) terjadi perbaikan. Kita optimistis Pemilu 2014 lebih baik, ujarnya. Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva mengatakan etika penyelenggara pemilu merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas demokrasi di Tanah Air. Etika penyelenggara sangat penting untuk menghasilkan pemilu yang bermartabat dan demokratis, kata Hamdan. Hamdan mencontohkan banyaknya kasus-kasus pemilu kepala daerah yang ditangani MK dan berujung putusan pemilihan ulang, karena tidak independennya penyelenggara pemilu. Dari 500 kasus pemilu kepala daerah yang diperiksa MK dalam beberapa tahun terakhir, umumnya berujung pemilu ulang, katanya. Secara kualitatif pelanggaran terstruktur, sistematis dan masif juga menonjol dalam perkara sengketa pemilu kepala daerah sepanjang Khusus pada 2013, kata dia, dari 196 perkara sengketa pemilu kepala daerah yang diuji, MK menemukan banyak pelanggaran terjadi akibat kurangnya independensi KPU dan Bawaslu. Sering terjadi kebijakan penyelenggara Pemilu yang memihak salah satu pasangan, terutama di level panitia pemilihan kecamatan dan KPU kabupaten kota. Banyak sekali kasus-kasus pemilu kepala daerah rusak karena penyelenggaranya tidak independen dan tidak beretika. Ini biaya negara yang sangat besar, ujarnya. Hamdan berharap, etika buruk penyelenggara Pemilu kepala daerah di banyak daerah itu tidak terulang dalam penyelenggaraaan Pemilu 2014.Pelanggaran lainnya yang juga dikhawatirkan MK yakni mobilisasi birokrasi oleh petahana dengan jalur birokrasi dan memanfaatkan dana bantuan sosial dan dana negara lain untuk memperkuat basis dukungan pemilihnya. (IS) 5

6 Opini BULETIN BAWASLU, EDISI 09, SEPTEMBER 2014 Netralitas PNS dalam Pemilihan Umum Oleh: Ahmad Ali Imron* Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam kedudukannya sebagai unsur aparatur negara, yaitu bertanggung jawab kepada negara dengan tugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan. Dalam kedudukan dan tugas tersebut, PNS harus netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Birokrasi yang bukan merupakan kekuatan politik ini seharusnya dibebaskan dari pengaruh, dan keterjalinan ikatan politik dengan kekuatan-kekuatan politik yang sewaktuwaktu bisa masuk birokrasi. Dalam hal ini diharapkan pelayanan kepada masyarakat yang diberikan oleh birokrasi bisa netral, tidak memihak dan objektif. Sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bahwa Pegawai ASN harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Netralitas PNS menjadi penting karena semakin banyaknya pejabat negara mulai dari presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, yang berasal dari partai politik. Kondisi ini akan membawa implikasi serius terhadap netralitas birokrat. PNS dituntut bertindak profesional antara menjaga netralitas dalam memberikan pelayanan sekaligus tetap menjunjung loyalitas terhadap atasan, meskipun beda warna politiknya. Sehingga PNS tidak mudah terbawa arus pusaran politik atau terkooptasi oleh kepentingan politik atasannya. 6 Ketentuan Normatif Netralitas PNS pertama-tama diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, Pasal 3 ayat (1), (2) dan (3) sebagai berikut.: (1) Pegawai Negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara professional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintah, dan pembangunan. (2) Dalam kedudukan dan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pegawai Negeri harus netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (3) Untuk menjamin netralitas pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1999 tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil Menjadi Anggota Partai Politik sebagaimana disebutkan pada pasal 2 ayat (1) dan (2) sebgai berikut : (1) Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik (2) Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ketentuan ini juga berlaku bagi CPNS sesuai dengan PP No.11 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas PP No. 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil. Ketentuan lainnya: 1. Pegawai Aparatur Sipil Negara harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik (Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) UU No.5 Tahun 2014). 2. Untuk menjamin netralitas tersebut, PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik. (Berdasarkan Pasal 87 ayat (4) huruf c UU No. 5 Tahun 2014). 3. Pegawai Negeri Sipil yang akan menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik wajib mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil. (Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) PP No. 37 Tahun 2004). 4. Pasal 86 ayat (2) huruf e UU No. 8 Tahun 2012 disebutkan bahwa Pelaksana kampanye dalam kegiatan Kampanye Pemilu dilarang mengikutsertakan: a. Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda, Hakim Agung pada Mahkamah Agung, dan Hakim pada semua Badan Peradilan di bawah Mahkamah Agung, dan Hakim Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi; b. Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan; c. Gubernur, Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur Bank Indonesia;

7 Opini d. Direksi, Komisaris, Dewan Pengawas dan Karyawan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah; e. Pegawai Negeri Sipil; f. Anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia; g. Kepala desa; dan h. Perangkat Desa. 5. Kemudian di dalam penjelasan UU No dijelaskan larangan untuk mengikutsertakan pegawai negeri sipil dalam kegiatan Kampanye Pemilu termasuk dilarang memberikan dukungan kepada Partai Politik Peserta Pemilu, calon anggota DPR, calon anggota DPD, calon anggota DPRD dengan cara ikut serta sebagai pelaksana kampanye, menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut pegawai negeri sipil, sebagai peserta Kampanye Pemilu dengan mengerahkan pegawai negeri sipil lain, dan sebagai peserta Kampanye Pemilu dengan menggunakan fasilitas negara. 6. Pejabat negara, pejabat struktural dan pejabat fungsional dalam jabatan negeri, serta Kepala Desa atau sebutan lain dilarang membuat keputusan atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon peserta Pemilu selama masa kampanye dan dilarang mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap salah satu pasangan calon peserta Pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye (Berdasarkan ketentuan Pasal 43 dan Pasal 44 UU No. 42 Tahun 2008). Selanjutnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, masalah netralitas Pegawai Negeri Sipil sudah di atur dalam Pasal 4 angka 12, 13, 14, dan 15, dimana setiap Pegawai Negeri Sipil dilarang : 12. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara: a. ikut serta sebagai pelaksana kampanye; b. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS; c. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/atau d. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara; 13. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara: a. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau b. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat; 14. memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang undangan; dan 15. memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, dengan cara: a. terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah; b. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye; c. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau d. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat. Terkait sanksi, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, telah mengatur dengan tegas dan jelas sanksi hukuman disiplin bagi Pegawai Negeri Sipil yang melanggar netralitas, yakni penjatuhan hukuman disiplin sedang ( di atur pada Pasal 12, angka 6, 7, 8, dan 9), dan penjatuhan hukuman disiplin berat (di atur pada Pasal 13, angka 11, 12, dan 13). Peran Aktif Ada sejumlah peran dan fungsi PNS yang dapat dilaksanakan dalam pemilu. Diantaranya: (1) PNS dapat menjadi juru bicara negara dalam menjelaskan esensi dan proses pemilu kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah Golput, (2) PNS harus bersikap netral dan berada di atas semua kepentingan, (3) PNS tidak boleh menggunakan fasilitas jabatan dan kewenangan yang dimilikinya untuk menguntungkan salah satu calon atau parpol dan mendiskriminasi calon atau parpol lainnya, (4) PNS harus bertindak aktif menjadi pemilih, mendorong keluarga dan sanak-saudara serta masyarakat disekitarnya untuk menggunakan hak pilihnya. Keberadaan PNS dalam pemilu dinantikan secara positif karena jumlahnya yang mencapai 4,5 juta orang serta kualifikasi yang dimilikinya. Keberadaan PNS tidak boleh justru menyebabkan terganggunya proses pemilu. Namun seyogyanya seluruh PNS dapat berperan serta secara aktif dalam mensukseskan pemilu. *Penulis adalah Staff Bagian Humas Bawaslu RI 7

8 Opini BULETIN BAWASLU, EDISI 09, SEPTEMBER 2014 Penguatan Sistem Pemilu Kada Oleh Ferry Kurnia Rizkiyansyah (Anggota KPU RI) Mekanisme pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati dan wali kota) menjadi topik diskusi yang hangat di ranah publik menjelang sidang paripurna DPR, 25 September mendatang. Ada dua arus pemikiran yang berkembang di tataran elit dan publik. Pertama, keinginan untuk tetap mempertahankan mekanisme pemilihan secara langsung. Kedua, keinginan untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD. Secara kelembagaan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memutuskan berada dalam posisi yang tidak berpendapat dalam perdebatan mekanisme pemilihan kepala daerah tersebut. Tetapi kami berkeinginan untuk menyampaikan kepada publik, beberapa hal yang menjadi catatan dan pengalaman bangsa kita selama satu dasawarsa melaksanakan Pemilukada secara langsung sejak terbitnya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Aspek Pembiayaan Undang Undang 32 Tahun 2004 meletakkan tanggung jawab pembiayaan pemilukada kepada pemerintah daerah. Usulan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait pembiayaan Pemilukada harus mendapat persetujuan pemerintahan daerah, yakni pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Situasi ini membuat KPU dalam posisi yang harus berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pemerintah untuk memastikan alokasi anggaran disetujui dan sesuai kebutuhan. Aspek pembiayaan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) berpotensi menjadi senjata kepala daerah yang sedang menjabat untuk menekan dan mengintervensi penyelenggara Pemilu. Jika penyelenggara Pemilu tidak kuat menghadapi situasi demikian, maka prinsip independensi, integritas dan kemandirian akan terabaikan. Tetapi secara nasional, dalam satu dasawarsa terakhir, penyelenggaraan Pemilukada berjalan dengan baik dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Proses komunikasi dan negosiasi anggaran yang cukup panjang dan melelahkan hanya terjadi di dua daerah, yaitu Provinsi Lampung dan Provinsi Maluku Utara untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. Perangkat undang undang sebenarnya telah menyediakan format pembiayaan Pemilukada yang lebih fleksibel. Jika pemerintah merasa berat menyediakan anggaran Pemilukada dalam satu tahun anggaran, pemerintah dapat membentuk dana cadangan. Sehingga tidak ada alasan rasional bagi pemerintah daerah tidak menyediakan anggaran Pemilukada. Ke depan jika pemerintah ingin menghindarkan penyelenggara Pemilu dari posisi yang harus bernegosiasi dengan pemerintah daerah, maka aspek pembiayaan harus menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Hal ini sejalan dengan rezim penyelenggaraan Pemilu yang menjadi kewenangan penuh Komisi Pemilihan Umum. Tahapan Pencalonan Tahapan pencalonan kerap memicu dinamika internal di tubuh partai. Penetapan kandidat calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang menjadi kewenangan pimpinan partai sesuai dengan tingkat daerah pencalonannya menyeret penyelenggara Pemilu dalam pusaran masalah. Ada situasi tertentu, di mana dewan pimpinan pusat (DPP) partai berbeda pendapat dengan dewan pimpinan daerah tingkat I atau tingat II dalam pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah. DPP merekomendasikan nama kandidat tertentu, sementara pengurus di daerah mengajukan kandidat yang lain. Perbedaan sikap politik DPP dan dewan pengurus di tingkat daerah dalam pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah, terkadang berujung pada pergantian kepengurusan partai di tingkat daerah. Akibatnya terdapat dua kandidat calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan partai yang sama tetapi dengan pimpinan partai yang berbeda. Di luar itu, terkadang pengurus partai di tingkat daerah menarik dukungan kepada kandidat kepala daerah dan wakil kepala daerah di tengah-tengah tahapan pencalonan sedang berjalan. Hal ini sudah barang tentu mengganggu kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), sementara tahapan, program dan jadwal Pemilukada sudah diatur secara rigid. Perubahan waktu dalam satu tahapan atau sub tahapan otomatis akan mengganggu tahapan secara keseluruhan. Problem itu sudah diatasi dengan keluarnya Peraturan KPU Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Teknis Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pasal 66 Peraturan KPU Nomor 9 tahun 2012 menegaskan KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dilarang menerima perubahan kepengurusan partai politik sejak pendaftaran bakal pasangan calon. Untuk menjawab adanya kasus partai politik atau gabungan partai politik yang memberi dukungan kepada lebih dari satu pasangan calon, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota hanya menerima satu pasangan calon yang didaftarkan oleh pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang sah. Selain itu jika pimpinan parpol atau gabungan parpol yang sah memberikan dukungan kepada lebih dari satu pasangan calon, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota hanya menerima satu pasangan calon yang lebih awal mendaftar. Tahapan Pemutakhiran Data Pemilih Daftar pemilih menjadi salah satu isu krusial dalam setiap penyelenggaraan Pemilukada. Hal ini seiring dengan tingkat mobilitas penduduk antar daerah di Indonesia yang cukup tinggi. Undang Undang 32 Tahun 2004, pasal 70 ayat 1 dengan tegas menyatakan bahwa daftar pemilih pada saat Pemilihan Umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih 8

9 Opini untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal ini mengandung semangat untuk membangun sistem pemutakhiran data pemilih secara berkelanjutan. Jika konsisten menggunakan pasal tersebut sebagai acuan dalam penyusunan daftar pemilih Pemilukada, untuk daerah yang akan menggelar Pemilukada pada tahun 2015 dapat menggunakan daftar pemilih tetap Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sebagai bahan dasar menyusun daftar pemilih sementara (DPS) Pemilukada. Dengan demikian, sistem informasi daftar pemilih (sidalih) yang memberi jaminan akurasi, kemutakhiran dan kelengkapan data pemilih dapat digunakan untuk memperbaharui daftar pemilih Pemilukada. Sayangnya pasal tersebut kontraproduktif dengan beberapa pasal dalam Undang Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Pasal 9 ayat 3 huruf f yang berbicara tentang tugas dan wewenang KPU dalam pemutakhiran data pemilih menyatakan pemutakhiran data pemilih untuk pemilihan gubernur dilakukan berdasarkan data kependudukan yang disiapkan dan diserahkan oleh pemerintah dengan memperhatikan data Pemilu dan/atau pemilihan gubernur, bupati, wali kota terakhir dan menetapkannya sebagai daftar pemilih. Jika bahan dasar penyusunan DPT dalam Pemilukada menggunakan DPS Pemilu terakhir maka pekerjaan pemerintah menjadi lebih mudah. Pemerintah hanya perlu menyerahkan daftar pemilih tambahan berupa warga Negara yang akan berusia 17 tahun pada hari pemungutan suara. Dengan demikian proses pemutakhiran data pemilih lebih mudah karena cukup melakukan verifikasi ulang secara faktual ke lapangan terhadap data yang sudah tersimpan di sidalih dan data pemilih tambahan dari pemerintah daerah. Di luar problem pemutakhiran data pemilih tersebut, penyelenggaraan Pemilukada telah berkontribusi dalam mendorong pemerintah melakukan perbaikan administrasi kependudukan. Masyarakat juga berkepentingan untuk melengkapi dirinya dengan identitas kependudukan sebagai salah satu syarat untuk didaftar ke dalam daftar pemilih tetap (DPT). Pemilukada secara bertahap telah mendorong peningkatan pengetahuan dan penumbuhan kesadaran warga Negara untuk menjadi warga Negara yang baik dengan melibatkan diri dalam setiap kegiatan pemerintahan di daerah. Tahapan Kampanye Kegiatan kampanye merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam pelaksanaan Pemilu maupun Pemilukada. Kampanye merupakan sarana bagi kandidat untuk menyampaikan visi, misi dan programnya kepada para pemilih. Selain itu, kampanye menjadi sarana bagi publik untuk dapat mengenali kandidat secara detail, tidak hanya berkaitan dengan visi, misi dan programnya, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan pribadi kandidat. Secara umum pengaturan kampanye untuk Pemilukada tak jauh berbeda dengan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Walaupun tentunya ada pengaturan pemasangan baliho dan spanduk untuk adanya keadilan semua peserta pemilu dan semangat efisiensi yang bisa diterapkan dalam pemilukada. Ada 9 metode kampanye Pemilukada yang dibenarkan sesuai pasal 76 Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004, yaitu pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog, penyebaran melalui media cetak dan media elektronik, penyiaran melalui radio dan televisi, pemasangan alat peraga di tempat umum, rapat umum, debat publik/debat terbuka antar calon dan kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. Ruang dialog antara kandidat dengan para pemilih harus dibuka selebar-lebarnya. Pemilih harus mendapat informasi yang seluas-luasnya tentang kandidat. Hal ini penting untuk mendorong lahirnya pemilih yang rasional, cerdas dan mandiri. Sayangnya dalam UU Nomor 32 Tahun 2004, waktu yang disediakan untuk kandidat berkampanye sangat terbatas. Pasal 72 ayat 2 menyebutkan kampanye dilakukan selama 14 hari dan berakhir 3 hari sebelum hari pemungutan suara. Waktu 14 hari tentu terlalu singkat bagi pemilih untuk dapat mengenali secara mendalam profil kandidat. Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemungutan suara merupakan perwujudan bagi rakyat untuk mengekspresikan pilihan politiknya. Karena itu, penyelenggara berkewajiban memberikan layanan terbaik kepada para Pemilih saat menggunakan hak pilihnya. Awalnya, regulasi Pemilukada memiliki titik lemah dalam hal perlindungan hak konstitusional warga Negara. Di mana, untuk dapat menggunakan hak pilih, warga Negara harus terdaftar sebagai pemilih dalam daftar pemilih. Warga yang tercecer dari pendataan panitia pemutakhiran data pemilih (PPDP), tidak dapat menggunakan hak pilih. Regulasi Pemilukada tidak mengenal adanya daftar pemilih khusus (DPK) dan daftar pemilih khusus tambahan (DPK TB). Kelemahan regulasi Pemilukada tersebut, kini telah dapat diatasi setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 85/PUU-X/2012. Putusan MK tersebut menegaskan Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang diartikan tidak mencakup warga negara Indonesia yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT), daftar pemilih sementara (DPS), daftar pemilih sementara hasil perbaikan (DPSHP), daftar pemilih sementara hasil perbaikan (DPSHP) Akhir dan daftar penduduk potensial pemilih pemilu (DP4). Putusan MK tersebut telah ditindaklanjuti dengan Surat Edaran KPU RI bernomor 186/KPU/III/2013 perihal penjelasan tindak lanjut putusan MK nomor 85/ PUU-X/2012 tertanggal 27 Maret Sejak saat itu, pemilih yang namanya tidak tercatat dalam DPT tetap dapat menggunakan hak pilih. KPU telah mengatur tata cara penggunaan hak pilih bagi warga yang tidak tercatat namanya dalam DPT, yaitu : (1) menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga (KK) yang masih berlaku atau nama sejenisnya; (2) penggunaan hak pilih tersebut hanya dapat dilakukan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berada di RT/RW atau nama sejenisnya sesuai dengan alamat yang tertera di dalam KTPnya; (3) sebelum menggunakan hak pilihnya, yang bersangkutan terlebih dahulu mendaftarkan diri pada KPPS setempat; bersambung ke hal. 8 9

10 Dana Kampanye Pemilu 2014 Belum Transparan Pasangan calon presiden dan wakil presiden peserta Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dinilai tidak melakukan pencatatan dan pelaporan dana kampanye secara transparan. Hal itu diketahui dari ditemukannya beberapa penyumbang yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi faktual. Temuan itu berdasarkan penulusuran yang dilakukan oleh Bagian Kajian Dana Kampanye Indonesia Corruption Watch (ICW). Koordinator ICW bagian Kajian Dana Kampanye Firdaus mengungkapkan, berdasarkan audit ICW atas laporan dana kampanye pasangan calom nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, diketahui laporan penerimaan dan penggunaan dana kampanye tidak melampirkan tabel harga pembanding dan ditemukannya pembanding yang tidak wajar. Ia mengatakan, laporan itu tidak menjelaskan berapa jumlah penyumbang yang dikirimkan dan dikonfirmasi terhadap dana kampanye yang di sumbangkan oleh pasangan calon dalam rekening khusus penggunaan dana kampanye Dari semua yang masuk itu tidak ada yang menunjukan bukti untuk menyumbang, apabila dilihat dari sebagian besar penyumbang, ujar Firdaus di Gedung Bawaslu, Jakarata, Jumat (19/9/2014). Sedangkan, pada laporan dana kampanye pasangan calon nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla, diketahui terdapat transaksi penerimaan melebihi batas waktu penerimaan dana kampanye. Dia mengatakan, dari sampel sebanyak penyumbang, hanya 17 badan usaha dan 189 orang yang dilengkapi surat pernyataan menyumbang. Sebanyak 101 di antaranya dilengkapi dengan identitas, orang yang diragukan surat pernyataannya penyumbang diragukan identitasnya. Hal ini dikarenakan mekanisme trasfer langsung yang tidak mensyaratkan adanya surat peryataan menyumbang dan hambatan UU perbankan yang mendorong untuk menutupi indentitas penyumbang, padahal sudah menjadi kewajiban penyumbang menyampaikan surat pernyataan untuk menyumbang dan kewajiban dari tim kampanye untuk mempinta identitas dan surat penyumbang, ujarnya. Selain itu, Firdaus menemukan penerimaan dan penggunaan dana kampanye yang tercatat tanggal 18 Juli 2014, yang menyebutkan ada sisa dana kampanye sebesar Rp 18,3 miliar. Setelah dikonfirmasi kepada tim kampanye, dana tesebut digunakan untuk biaya rapat. Dari laporan yang dilampirkan auditor, tim kampanye belum mencantumkan pengembalian ke kas negara sebanyak Rp 10 miliar untuk penyumbang badan usaha yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh asing. Menanggapi temuan itu, Pimpinan Bawaslu Nelson Simanjuntak mengatakan, kajian Bawaslu terhadap hasil audit laporan dana kampanye Pilpres 2014 Pasangan Prabowo-Hatta, diketahui tidak menyertakan tabel harga pasar atas jasa dalam pencatatan penggunaan dana kampanye dalam bentuk bukan kas. Sedangkan untuk pasangan Jokowi-JK, ditemukan adanya transaksi yang tidak tercatat dalam Laporan Penerimaan dan Penggunaan Dana Kampanye (LPPDK). (4) pemberian suara dilakukan dalam waktu 1 (satu) jam sebelum selesainya pemungutan suara di TPS; (5) pemilih yang menggunakan hak pilih tersebut dicatat dalam Formulir C1-KWK pada kolom pemilih dari TPS lain dan juga dicatat pada Formulir C3 (pernyataan keberatan saksi dan kejadian khusus yang berhubungan dengan hasil pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilukada di TPS) Untuk penghitungan suara, aspek transparansi menjadi hal yang sangat penting dalam memastikan hasil Pemilu sesuai dengan kehendak rakyat yang genuine (asli). KPU telah memulai proses transparansi hasil penghitungan suara pada Pemilu DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun KPU menyediakan hasil scaning sertifikat hasil penghitungan suara di tingkat TPS (formulir C1) di web site KPU yang dapat diakses secara luas oleh publik. Formulir C1 yang berhasil discan dan diupload ke web site mencapai 98 persen. Publikasi hasil Pemilu secara transparan telah mendorong partisipasi publik untuk mengawal penghitungan dan rekapitulasi suara secara bertingkat yang dilakukan oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), panitia pemungutan suara (PPS), panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Setidaknya ada enam website crowdsourching yang ikut melakukan penghitungan suara dan mempublikasikannya seperti kawalpemilu, kawalsuara, realcount, pilpres 2014, datapilpres, dan C1 Yang Aneh. Model transparansi hasil Pemilu pada Pemilu DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dapat diadopsi dalam Pemilukada. Transparansi akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses Pemilu yang sedang berlangsung. Potensi konflik karena adanya tudingan-tudingan manipulasi akan terhindarkan. Masyarakat juga akan tergerak untuk berpartisipasi mengawal proses penghitungan dan rekapitulasi yang sedang berlangsung. Inilah beberapa aspek dalam penyelenggaraan Pemilukada yang perlu menjadi perhatian kita semua. Bangsa kita telah memiliki banyak pengalaman dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pemilukada. Berbagai titik lemah dalam hal electoral law (aspek hukum pemilu) dan electoral process (proses pemilihan) dalam Pemilukada terus diperbaiki untuk melayani rakyat dalam melaksanakan kedaulatannya. *** 10

11 Pelaksanaan Sentra Gakkumdu Belum Maksimal Ketua Bawaslu Muhammad menjelaskan bahwa penerapan Nota Kesepahaman (MoU) Sentra Gakkumdu masih belum terlaksana secara maksimal seperti apa yang diharapkan, karena adanya beberapa kendala. Kendala tersebut antara lain masih ditemukan koordinasi dan sinergi yang kurang memadai dalam penanganan pelanggaran dan penyelesaian tindak pidana Pemilu antara Pengawas Pemilu dan instansi penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan). Untuk itu, masih diperlukan pemahaman yang sama dalam penerapan unsur-unsur tindak pidana Pemilu antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Adanya perbedaan struktur keanggotaan di Sentra Gakkumdu dengan DIPA, belum teranggarkannya kegiatan Gakkumdu pada instansi Kepolisiaan dan Kejaksaan, adanya beberapa provinsi/kabupaten/kota yang belum memiliki Polda/Polres dan atau Kejati/Kejari sehingga mengalami kendala dalam koordinasi dengan Polda/Polres dan atau Kejati/Kejari di daerah induk, kondisi demografis dan geografis serta minimnya peralatan komunikasi di beberapa provinsi/kabupaten/kota yang menghambat kegiatan Sentra Gakkumdu, jelas Muhammad dalam rakor evaluasi Sentra Gakkumdu se- Provinsi Sulteng, Kamis (4/9) di Palu. Oleh karena berbagai kendala tersebut, Ketua Bawaslu RI, Muhammad menyarankan agar Sentra Gakkumdu mengadakan pertemuan/rapat koordinasi untuk memantapkan komunikasi dan segera menuntaskan pembahasan unsur-unsur tindak pidana Pemilu untuk kesamaan persepsi. Agar pimpinan masing-masing menunjuk personil yang bertugas dalam Sentra Gakkumdu dan melaporkan pelaksanaannya kepada pimpinan dan Bawaslu untuk melakukan harmonisasi anggaran terkait Sentra Gakkumdu yang disesuaikan antara isi MoU dengan SOP masingmasing instansi. Terkait masalah demografis dan geografis agar Sentra Gakkumdu dapat mengoptimalkan teknologi informasi, saran Muhammad. Selain itu melihat pro dan kontra di kalangan peserta Pemilu mengenai efektifitas Sentra Gakkumdu, Bawaslu berencana melakukan evaluasi internal secara nasional. Oleh karena itu Ketua Bawaslu, Muhammad mengharapkan masukan dari peserta rakor untuk mendapat masukan, hal penting yang menjadi catatan kritis pengawas pemilu, kepolisian dan kejaksaan terhadap mekanisme atau proses pelaksanaan Sentra Gakkumdu. Di provinsi lain terlihat Gakkumdu ini produktif, namun belum tentu sama untuk Gakkumdu di provinsi lain yang mungkin kurang produktif. Kita mau melihat secara parsial, masing-masing provinsi berbeda, mungkin nanti dari 33 provinsi kita mendapatkan infonya. Jadi rekomendasi forum ini kami tunggu, nanti kita akan sampaikan di tingkat pusat apakah Gakkumdu kita butuhkan untuk kita lanjutkan dalam rangka untuk menangani Pilkada atau Pemilu Nasional yang akan datang, atau kita perlu memikirkan mekanisme lain, kata Muhammad. [CK] 11

12 KPK Harus Awasi Pilkada oleh DPRD DPR akhirnya mengesahkan Undang-Undang Pemilihan kepala Daerah (Pilkada) yang mengatur pilkada dilakukan secara tidak langsung oleh DPRD. Untuk menekan politik uang di lingkaran anggota dewan dengan calon kepala daerah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus terlibat untuk mengawasi pelaksanaan pilkada. Masyarakat harus mengontrol penuh, termasuk pers dan KPK. Mata dan terlinga harus tertuju pada DPRD. Karena DPRD sebagai wujud perwakilan rakyat harus membuktikan pemimpin itu harus bagus. Saya kembalikan pada masyarakat, ujar Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo (PDIP) di Jakarta, Jumat (26/9/2014). Hal senada juga disampaikan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih asal DKI Jakarta Fahira Idris. Dia menuturkan, pilkada yang dilakukan oleh DPRD perlu komitmen kuat agar anggota DPRD steril dari politik uang. Karenanya, ujar dia, KPK pun dirasa perlu turun tangan untuk mengawasi prosesnya. Secara khusus saya meminta kepada KPK untuk turun tangan mengawasi proses pilkada. Saya juga meminta komitmen DPRD di seluruh Indonesia untuk proaktif mengundang KPK agar mengawasi jalannya pemilihan, ujar Fahira, Sabtu (27/9/2014). Salah satu alasan kenapa ada opsi pilkada lewat DPRD, menurutnya, karena terjadi praktik politik uang yang masif yang langsung menyentuh masyarakat selama pilkada langsung. Di sisi lain, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyatakan, lembaganya tak bisa mengawasi proses pemilihan kepala daerah oleh DPRD secara menyeluruh. Sebab, KPK tidak memiliki kantor perwakilan di setiap provinsi di Indonesia. Tidak fair kalau menyerahkan pengawasan sepenuhnya ke KPK. Kami sudah minta membuka kantor perwakilan sejak 2011, tapi tidak direalisasi, ujar Bambang, Selasa, (30/9/2014). Menurut dia, penyidik KPK hanya berjumlah sekitar 50 orang, sedangkan Secara khusus saya meminta kepada KPK untuk turun tangan mengawasi proses pilkada. Saya juga meminta komitmen DPRD di seluruh Indonesia untuk proaktif mengundang KPK agar mengawasi jalannya pemilihan, Fahira jumlah kabupaten/kota sebanyak 500- an. Kalau pemerintah berani membuat kantor KPK di seluruh daerah, maka tak masalah bagi KPK jika harus mengawasi proses pilkada melalui DPRD. Bambang mengatakan alasan DPR mengesahkan aturan pilkada tidak langsung oleh DPRD untuk mengurangi praktek politik uang tidak tepat. Karena, kata dia, berdasarkan kajian pihaknya, sebanyak 313 kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi bukan karena pilkada langsung. Ia menyebutkan, 81 persen dari jumlah itu, terjerat pasal penyalahgunaan wewenang atau jabatan. Sedangkan, lanjutnya, sisanya terjerat kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi. Padahal, sebagai pembanding, anggota DPR dan DPRD yang terjerat korupsi selama sepuluh tahun terakhir sebanyak an orang. Jumlahnya 10 kali lipat dari kepala daerah yang terjerat korupsi. kalau menyerahkan kewenangan ke lembaga yang tersangka korupsinya lebih besar, maka pilkada lewat DPRD diragukan kebersihannya, ujarnya. Selain itu, kata Bambang, bila pemilihan dilakukan secara langsung, politik uangnya hanya berkisar Rp 50 ribu per orang. Itupun, kata dia, hanya dilakukan satu kali menjelang pemungutan suara pilkada. Tetapi, bila pilkada oleh DPRD, Bambang yakin politik uangnya akan jauh lebih banyak. Kalau pemilihan oleh anggota Dewan, yang potensial disuap anggota Dewannya. Apakah Rp 10 ribu? Apakah 1 kali? Tidak! kata Bambang. Sebelumnya, melalui lobi yang alot dan akhirnya voting, DPR mengesahkan RUU Pilkada. Hasilnya, pemilihan kepala daerah tidak akan dipilih lagi secara langsung tetapi beralih menjadi dipilih DPRD. Fraksi dari Koalisi Merah Putih mendominasi pilihan Pilkada melalui DPRD, fraksi dari partai Koalisi Jokowi-JK memilih Pilkada langsung dan Demokrat mengambil sikap walk out dalam voting RUU Pilkada dini hari tadi. (dey) 12

13 Berjudi di Kantor, Ketua dan Kasek Bawaslu Maluku Diberhentikan Berdalih hanya untuk iseng dan penyegaran, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Maluku Barnabas Dumas Manery bermain judi di kantornya bersama Kepala Sekretariat Bawaslu Maluku Lodewyk Brehmer. Tak ada ampun, keduanya pun diberhentikan. Pimpinan Bawaslu Endang Wihdatiningtyas mengatakan, tindakan itu telah mencoreng nama baik Bawaslu. Dia mengatakan, kasus perjudian yang dilakukan keduanya sudah tersiar di media massa dan mengundang keperihatinan jajaran Bawaslu. Dia berharap kepada DKPP untuk memutuskan sidang ini dengan seadiladilnya dan setimpal dengan kasus yang dilakukan oleh teradu. Kami tidak melihat jumlah uang yang dipertaruhkan oleh teradu, akan tetapi ini menyangkut tercorengnya nama lembaga Bawaslu, kata Endang dalam sidang perdana dugaan pelanggaran kode etik di Ruang Sidang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Selasa (2/9/2014). Pada akhir sidang Muhammad menambahkan, Bawaslu selalu mengedepankan komitmen integritas penyelenggara pemilu. Namun, apa yang sudah dilakukan Barnabas dan Lodewyk sangat mencoreng nama lembaga Bawaslu. Dia bahkan menyarankan keduanya dipecat. Jadi saran saya, Ketua Bawaslu Provinsi Maluku, Barnabas Dumas Manery dihukum seberat-beratnya atau diberhentikan secara tetap sebagai ketua Bawaslu Maluku dengan cara tidak terhormat, ujarnya. Dalam persidangan yang sama, Barnabas mengakui, terkadang bermain judi jenis poker di kantornya. Barnabas bermain dengan Lodewyk dan Kasubag Karepa Sina. Barnabas mengatakan mereka bermain judi hanya untuk iseng di waktu senggang. Memang kalau permainan joker merupakan permainan rakyat di Ambon. Memang kami sadar keterlibatan kami dalam kegiatan ini memang salah. Kami tidak memikirkan akibatnya sampai bisa membawa nama lembaga. Kami menyadari itu, ujar Barnabas. Barnabas menegaskan mereka tidak pernah mangkir dari tugasnya karena bermain judi tersebut. Barnabas menolak jika karena berjudi tersebut mereka mangkir dari rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi yang digelar di KPU Maluku pada 29 April lalu. Tuduhan itu tidak benar. Kami sadar memang sebetulnya salah saat itu kami juga tidak berpikir matang, memang peristiwa itu benar tapi tidak sematamata mencari keuntungan tapi mengisi waktu, beber Barnabas yang juga pernah jadi dosen di fakultas hukum di salah satu kampus di Ambon. Akibat perbuatannya itu, Barnabas dijatuhkan sanksi berupa peringatan keras sebagai anggota Bawaslu. Bukan hanya itu, dia juga diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Bawaslu Maluku. Putusan itu mengukuhkan keputusan rapat pleno Bawaslu yang dikeluarkan Juni Bawaslu, melalui pleno itu memberhentikan Barnabas. Muhammad menegaskan, keputusan itu diambil pihaknya untuk membersihkan lembaganya. Dia menuturkan, pihaknya serius melakukan reformasi birokrasi pada tubuh pengawas pemilu di semua jajaran dan tingkatan. Sedangkan kepada Lodewyk, DKPP menjatuhkan hukuman pemberhentian tetap atau pemecatan. [dey] Suasana sidang kode etik Bawaslu Provinsi Maluku infobarumaluku.com 13

14 Soal RUU Pemilukada Pengawas Pemilu Tak Perlu Khawatir Jajaran pengawas pemilu di seluruh Indonesia tidak perlu khawatir dengan pembahasan rancangan undang-undang Pemilu kepala daerah antara pemilihan langsung oleh rakyat atau melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Apapun keputusan DPR bersama Pemerintah, pengawas pemilu tetap dibutuhkan untuk mengawal Pemilukada. Demikian disampaikan Ketua Bawaslu Muhammad kepada peserta Rapat Koordinasi Penyampaian Laporan Akhir Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Bawaslu Provinsi Jawa Timur di Hotel Atria, Kota Malang, Selasa (16/9). Rakor yang berlangsung hingga Rabu (17/9) dihadiri lengkap oleh Pimpinan Bawaslu Jatim (Sufyanto, Sri Sugeng Pujiatmiko dan Andreas Pardede) serta Panwaslu dari 38 kota dan Kabupaten se Provinsi Jawa Timur. Jadi saudara-saudaraku tidak usah galau. Karena misalkan rancangan undang-undang Pemilukada itu jadi disahkan pemilihan oleh DPRD, tidak ujug-ujug anggota dewan itu bisa menjadi pelaksana teknis atau jadi KPU dan sekaligus mengawasi proses yang dia lakukan sendiri, papar Muhammad saat membuka acara rakor laporan pengawas Pemilu. Yang perlu ditelaah dan dicari titik temunya oleh pembuat undang-undang menurut Muhammad adalah menyambungkan antara Undang-undang Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum dan Rancangan Undangundang Pemilukada yang rencananya akan diketuk palu tanggal 25 September Sebab dalam Undang-undang Nomor 15 tahun 2011, jelas dijabarkan definisi tentang Pemilu yakni Pemilu legislatif, Pemilu Presiden dan Pemilu kepala daerah. Rezim pemilu kita adalah legislatif, pilpres dan pilkada. Undang-undang itu menjadi payung besar kita. Jadi yang namanya penyelenggara pemilu itu tetap KPU dan pengawas pemilu bukan anggota dewan, ujar Muhammad. Sebelumnynya, Ketua Bawaslu Jatim Sufyanto dalam sambutannya melaporkan bahwa pada tahun 2015 mendatang, terdapat 18 kabupaten/kota se Jawa Timur Ketua Bawaslu, Muhammad memberikan pengarahan dihadapan Panwaslu se Provinsi Jatim. yang akan menggelar Pemilukada. Namun Bawaslu Jatim belum melaksanakan surat edaran Bawaslu RI untuk memulai perekrutan pengawas pemilu guna mengawal tahapan Pilkada dikarenakan menunggu nasib RUU Pilkada apakah pemilihan langsung atau lewat DPRD. Menurut Sufyanto, semestinya rekruitment pengawas pemilu untuk Pilkada terdekat yakni Kota Surabaya dan Kota Lamongan, sudah dilakukan di bulan September atau Oktober 2014 ini. Sebab Panwaslu kabupaten/kota yang ada saat ini semuanya akan berakhir masa jabatannya pada Bulan Desember Sementara KPU setempat juga belum berani memulai tahapan Pilkada untuk dua kota di Jatim yang dalam waktu dekat menggelar Pilkada, menunggu RUU Pilkada. Lebih lanjut Ketua Bawaslu Muhammad menyatakan, interprestasi arti dari demokrasi perwakilan yang dianut Indonesia dapat berarti pemilihan langsung oleh rakyat atau melalui DPRD tergantung siapa yang menilai. Dua-duanya kena itu, boleh langsung atau tidak langsung. Sudahlah kita tidak usah galau, kita siapkan instrumennya itu. Untuk kepentingan itu Bawaslu RI sudah memutuskan untuk merekrut kembali pengawas pemilu, katanya Terhadap Panwaslu Kabupaten/Kota yang segera berakhir jabatannya di Bulan 14 Desember 2014, Muhammad menegaskan, masih terbuka peluang maupun kesempatan bagi panwas kabupaten/kota dan panwascam untuk melamar kembali sebagai pengawas pemilu periode selanjutnya. Dengan catatan yang bersangkutan tidak pernah mendapat teguran keras atau sanksi pemberhentian oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Bagi teman-teman panwas yang selama ini mengabdi, tidak ada catatan DKPP khususnya tidak ada peringatan keras apalagi pemberhentian, dibuka kesempatan. Kepada Tim Seleksi kita titipkan untuk mereka yang sudah mengabdi dan tidak ada catatan negatif, itu point tersendiri. Selama anda masih bersedia dan memenuhi syarat. Jadi itu perkembangannya. Panduan Timsel sudah disetujui Bawaslu RI dan segera di distribusi ke provinsi, kata Muhammad. Muhammad menambahkan, seluruh Panwas Kabupaten/Kota yang berakhir masa jabatannya di Bulan Desember 2014, berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan evaluasi pengawasan Pileg dan Pilpres sesuai standar yang telah diberikan Bawaslu RI. Laporan itu wajib disampakan ke Bawaslu RI melalui Bawaslu provinsi masing-masing. Termasuk didalamnya, kesimpulan dan evaluasi pengawasan Pileg dan Pilpres sebagai bahan masukan untuk perbaikan kualitas Pemilu di masa mendatang. [RS]

15 Bawaslu Akan Bangun Pusat Pendidikan Pengawasan Partisipatif Pengawasan Pemilu berbasis masyarakat dianggap telah sukses untuk mengawal Pemilu Oleh sebab itu, Bawaslu berencana untuk membangun Pusat Pendidikan Pengawasan Partisipatif Pemilu. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Bawaslu Gunawan Suswantoro, di Solo, beberapa waktu lalu. Di hadapan 33 Pimpinan Bawaslu Provinsi, ia menyampaikan, suksesnya pengawasan Pemilu berbasis masyarakat tak lepas dari keseriusan Pimpinan Bawaslu RI, di bawah Koordinator Divisi Sosialisasi, Humas, dan Hubungan Antar Lembaga. Saya sudah sampaikan ke Bappenas (soal pengawasan partisipatif). Akhirnya, Pusat Pendidikan Pengawasan Partisipatif tersebut sudah tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), tutur Gunawan. Pengawasan partisipatif menurutnya, merupakan bentuk peran aktif Bawaslu untuk melibatkan masyarakat dalam pengawasan Pemilu. Pasalnya, Bawaslu dan jajarannya memiliki kelemahanan terutama soal sumber daya manusia dan luasnya cakupan wilayah pengawasan. Sementara itu, Koordinator Divisi Sosialisasi, Humas, dan Hubal Nasrullah mengatakan bahwa konsep pengawasan partisipatif akan tetap dipakai pada saat pengawasan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada). Saya menginginkan konsep tersebut tetap digunakan. Transformasi pengawasan pemilu terpadu (Awaslupadu) menjadi Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu merupakan sebuah terobosan baik bagi Pengawas Pemilu, tutur Nasrullah. Lebih lanjut, Gunawan mengatakan bahwa, tujuan akhir dari Pengawasan Pemilu berbasis masyarakat adalah menciptakan masyarakat yang sadar untuk mengawasi. Idealnya pengawasan Pemilu, adalah pengawasan masyarakat sipil bukan sebuah lembaga resmi. Namun, tujuan tersebut masih harus dibangun sedikit demi sedikit, karena untuk saat ini pengawasan Pemilu belum dapat dilaksanakan dengan maksimal dan masih membutuhkan waktu lama. Masih butuh waktu minimal 10 tahun lagi bagi masyarakat untuk bisa mengawasi Pemilu secara mandiri. Dan kita sebagai lembaga Pengawas Pemilu harus bisa legowo untuk menyerahkan tanggung jawab pengawasan pemilu kepada masyarakat sipil, jelasnya. [FS] 15

16 Daniel Zuchron Pemimpin Muda dengan Gagasan Inovatif Nama Daniel Zuchron sudah lama dikenal publik, terutama mereka yang giat dalam aktivitas pemilu. Pernyataannya yang vokal dan kritis saat menjadi aktivis penggiat pemilu di Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) membuatnya memegang posisi Koordinator Divisi Pengawasan Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu). Sebagai Pimpinan Bawaslu termuda, pria kelahiran Jakarta, 18 April 1976 itu menunjukkan semangat kemudaannya dengan berbagai inovasi baru strategi pengawasan pemilu. Tak jarang gagasan Pimpinan termuda ini melompat jauh ke depan ketika gagasan itu dilontarkan. Namun, seiring waktu gagasan tersebut menemui kebenaran dan bermanfaat bagi perwujudan pemilu yang berkualitas dan berintegritas melalui jendela pengawasan yang bermartabat. Saat Pemilu Legislatif (Pileg) 2014, lulusan Universitas Islam Malang itu menginisiasi penerbitan peta kerawanan pelanggaran pemilu. Karir mengurus pemilu Daniel dimulai sejak pemilu reformasi pertama, yaitu Pemilu Saat itu, Daniel baru menginjak tingkat lima di Universitas Islam Malang. Kegiatannya di kampus lebih banyak dalam dunia pergerakan. Hal itu membuat dia tertarik mendaftar menjadi relawan pemantau pemilu saat itu. Menurut dia, Pemilu 1999 adalah bentuk baru proses perubahan politik dan masa depan Indonesia. Masyarakat sudah bisa menentukan pilihan dan punya hak pilih penuh, berbeda dengan pemilu sebelum 1999, setidaknya proses lebih baik dimulai, uja Daniel. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Daniel masih menekuni kegiatan seputar pemantauan pelaksanaan pemilu 2004 dan Saat itu, dia menilai, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) berjalan tidak sinergi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga penyelenggara dan masyarakat. Daniel menilai Panwaslu mestinya memposisikan diri sebagai bagian utuh dari penyelenggara Pemilu. Pengawasan 16 FOTO: CHRISTINA K harus aktif, tidak hanya saat Pemilu, namun juga ikut serta dengan KPU dalam sosialisasi ke masyarakat, misal, seperti apa kecurangan dalam Pemilu dan jenisjenisnya, katanya. Dia mengatakan bila sistem itu berjalan baik dan konsisten, laporan-laporan dari masyarakat tentang kecurangan pemilu akan terus meningkat. Dengan begitu, Bawaslu akan punya daya tanggap dan strategi dalam menangggulangi kecurangan-kecurangan itu. Daniel menekankan, dalam pemilu sangat penting pendidikan tentang pemilu bagi masyarakat. Dia berharap, kehadirannya di Bawaslu memberi kontribusi yang baik pada pengawasan pemilu. Dia pun datang dengan berbagai gagasan. Saat mengikuti uji kepatutan dan kelayakan calon anggota Bawaslu di Komisi II DPR, Daniel mengatakan, Bawaslu harus membenahi kewibawaanya yang saat itu masih rendah. Daniel juga giat mendorong kerja sama Bawaslu dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kerja sama itu salah satunya untuk mengawasi mengantisipasi penggunaan dana bantuan sosial (bansos) kementerian untuk kepentingan kampanye. Menurutnya, kerawanan bukan saja akan dimanfaatkan caleg yang duduk di lembaga negara. Tapi juga programprogram semacamnya. Pihaknya masih menunggu informasi lembaga pengawas provinsi, kabupaten atau kota menyusul dugaan penggunaan anggaran negara dan program pemerintah oleh menteri yang jadi caleg di daerah pemilihannya. Biodata Nama: Daniel Zuchron Tempat dan Tanggal Lahir: Jakarta, 18 April 1976 Pengalaman Kerja: Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), Anggota Bawaslu Koordinator Divisi Pengawasan

17 Divisi Oganisasi dan Sumber Daya Manusia Pentingnya Protokol Sebagai Dukungan bagi Pimpinan Pimpinan Bawaslu, Endang Wihdatiningtyas memberikan pengarahan. Bali, Badan Pengawas Pemilu - Bawaslu RI bersama Bawaslu Provinsi kembali melanjutkan Bimtek Keprotokolan. Protokol bertujuan untuk melaksanaan suatu kegiatan dan pada hal-hal yang mengatur setiap individu yang terlibat dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Suatu kegiatan apapun pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari hasil kerja tahapan-tahapan sebelumnya. Tahapan-tahapan tersebut diperlukan untuk menunjang suksesnya suatu acara. Setelah mendapatkan serangkaian pelatihan mengenai keprotokolan dari praktisi keprotokolan dan personality yang merupakan Asisten Staf Khusus Presiden RI, Sandra Erawanto, dan juga nara sumber lain dari Kepolisian yaitu AKP Anhar, diharapkan para peserta bimtek akan memiliki pemahaman tentang bagaimana menjadi seorang protokoler yang profesional, mampu mengelola dan mengatur tempat, tata penghormatan, tata upacara, memiliki kepribadian yang menarik dan meyakinkan dalam berbagai acara. Pelatihan yang diberikan antara lain, melatih otak kanan dan otak kiri, cara bertutur kata yang baik, cara bersalaman, cara berjalan, cara duduk dan bagaimana berpenampilan yang baik dan menarik. Dalam kesempatan ini hadir Ketua Bawaslu RI Muhammad beserta Pimpinan Bawaslu RI Nasrullah dan Endang Wihdatiningtyas. Nasrullah menyampaikan agar ilmu yang didapatkan dari pelatihan keprotokolan ini bisa juga diberikan kepada jajaran staf Bawaslu Provinsi hingga ke Panwas Kabupaten/Kota. Aktualisasi diri dan bisa memahami orang lain memang tidak mudah namun diharapkan dengan pelatihan ini setidaknya para peserta mendapatkan pemahaman bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, ujarnya. Dalam bimtek Keprotokolan ini diajakarkan bagaimana menyikapi kelebihan dan kekurangan masingmasing individu, sehingga bisa memahami tugas dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang maksimal kepada Pimpinan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan ini akan menjadi tidak bermanfaat manakala kita tidak membaginya kepada yang lain, tegas Nasrullah. Dalam kesempatan yang sama Pimpinan Bawaslu RI Endang Wihdatingtyas juga menambahkan agar ilmu yang didapat juga dibagikan kepada teman-teman di Bawaslu Provinsi lain yang belum bisa hadir dalam pelatihan keprotokoleran ini. Karena ilmu tidak akan habis jika dibagi. Pentingnya memahami karakter seseorang merupakan suatu hal yang penting, karena hal tersebut mempengaruhi bagaimana cara untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan Pimpinan, karena setiap manusia memiliki sifat dan karakter berbeda-beda. Dengan mengetahui karakter dari Pimpinan, maka akan lebih mudah menyesuaikan cara untuk berkomunikasi dan berinteraksi sehingga Pimpinan akan menjadi nyaman dalam menjalankan setiap tugasnya. Ketua Bawaslu RI Muhammad menyampaikan bahwa mengetahui dan memahami bahasa tubuh seorang Pimpinan memang bukan sesuatu hal yang mudah. Namun dengan adanya bimtek ini diharapkan para peserta bisa membangun hubungan yang baik dengan Pimpinan, yang mana seorang protokoler memiliki pengawalan yang melekat dengan seorang Pimpinan. Melatih diri untuk lebih percaya diri, mampu membaca situasi, mengetahui seluk beluk sebuah gedung atau tempat, berpenampilan menarik dan bersahaja dan mau terus belajar. Seorang Pemimpin pasti akan bekerja secara nyaman jika di sekelilingnya ada orang-orang yang mencintai pekerjaannya, sehingga bisa memberikan pelayanan yang maksimal dan profesional, tambahnya. [WB/FS] 17

18 Divisi Oganisasi dan Sumber Daya Manusia Empat Poin Grand Design Pengawasan Pemilu Ketua Bawaslu RI, Muhammad, Pimpinan Bawaslu RI, Nasrullah, Endang Wihdatiningtyas, Daniel Zuchron, Sekjen Bawaslu Gunawan Suswantoro, dan Kepala Biro Administrasi, Adhi Santoso. Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI) akan menyusun Grand Design Pengawasan Pemilu. Hal ini menjadi penting karena Indonesia belum memiliki konsep tentang pembangunan demokrasi pemilihan. Hal tersebut diungkapkan oleh Tenaga Ahli Divisi Organisasi dan SDM Bawaslu RI, Ahsanul Minan saat memberikan materi Persiapan Penyusunan Renstra Bawaslu Provinsi Tahun dalam Rapat Kerja Penajaman Usulan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKA-K/L) Bawaslu RI dan Bawaslu Provinsi Tahun Anggaran 2015 di Jakarta, Kamis (11/9). Dampak dari belum adanya konsep tersebut, maka undang-undang Pemilu bisa berubah tiap selesai pemilihan umum. Dan perubahannya bisa ekstrim. Contoh sekarang ini lagi pembahasan tentang undang-undang Pilkada, dimana akan dipilih oleh DPRD, ujar Minan. Ahsanul Minan menjelaskan bahwa empat hal yang menjadi pokok penyusunan grand design tersebut, pertama reformasi kerangka hukum Pemilu. Bawaslu akan mengupayakan penyederhanaan sistem hukum Pemilu dan penyederhanaan model penghukuman terhadap pelanggaran Pemilu. Yang kedua adalah partisipasi masyarakat, Bawaslu akan mendorong pengawasan Pemilu bisa diperluas kepada masyarakat. Hal inilah yang menjadi dasar Bawaslu mendirikan Pusat Pendidikan Politik untuk Pengawasan Paritisipatif. Konsep ini sudah disetujui oleh Bappenas dan hal itu akan dimulai Tahun Ketua Bawaslu Muhamamd, dalam sambutannya juga mengungkapkan bahwa tugas pengawasan Pemilu tidak eksklusif menjadi tugas Bawaslu, tapi juga bisa dilakukan oleh simpul-simpul masyarakat sipil. Pengawasan partisipatif ini pada tahun 2015 perlu didorong lagi dalam bentuk kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil. Sehingga harapan kita, kesadaran pentingnya pengawasan Pemilu bisa lahir di masyarakat Indonesia dan ada dorongan yang kuat untuk ikut mengawasi, ungkap Muhammad. Terkait partisipasi masyarakat ini juga dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Bawaslu RI, Mulyadi yang membawakan materi Peranan Bawaslu dalam Pilkada Pasca Pemilu 2014 menjelaskan bahwa Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu (GRSPP) yang digagas oleh Bawaslu RI, juga menjadi kekuatan eksternal dan membuktikan adanya dukungan masyarakat terhadap lembaga pengawas Pemilu. Sudah muncul dukungan publik secara memadai melalui gerakan tersebut (GRSPP,-red). Walaupun masih perlu evaluasi dan pengelolaan yang baik dan sudah di akui oleh Bappenas sebagai partisipasi politik, karena masyarakat hanya mau berpartisipasi dalam pengawasan Pemilu jika difasilitasi oleh Bawaslu, tambah Mulyadi. Kemudiaan, hal ketiga yang akan dimasukkan dalam grand design tersebut adalah mendorong penguatan peran Bawaslu sebagai lembaga 18 yang berwenang menangani pelanggaran Pemilu. Untuk konsep ini, masih dalam proses diskusi pandang karena ada beberapa opsi dalam diskursus kepemiluan. Sehingga peran Bawaslu sebagai Pengawas, Penyidik dan Menuntut misalnya yang pelanggaran Pidana, dan Bawaslu yang menyelesaikan apabila itu pelanggaran administrasi, jelas Minan Yang terakhir dalam konsep dasar Grand Design pengawasan Pemilu tersebut, Bawaslu akan membangun pusat data dan kajian untuk pengawasan Pemilu. Dari konsep grand design inilah yang menjadi acuan Bawaslu RI dan Provinsi untuk menyusun Renstra , Demikian Ahsanul Minan menutup materinya. Sementara itu, Sekretaris Jende-ral Bawaslu RI, Gunawan Suswantoro menjelaskan bahwa prioritas RKA-K/L Bawaslu dan Bawaslu Provinsi Tahun 2015 adalah penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa. Kedua, Pendidikan Pengawasan partisipatif yang sudah menjadi RKP Tahun 2015, Ketiga, peningkatan kapasitas pengawas pemilu, khususnya untuk pengawas pemilu kabupaten/kota. Faktorfaktor yang perlu dipertimbangkan dalam RKA-K/L ini juga adalah anggaran untuk pembentukan Panwaslu dan juga program sosialisasi yang menitikberatkan pada bagaimana masyarakat lebih mengetahui tentang eksistensi lembaga pengawas Pemilu di provinsi masing-masing. Dan yang terakhir juga perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan pengawasan Pemilu 2014, ujar Gunawan. [MZ/FS]

19 Divisi Pengawasan Bawaslu Siapkan Laporan Pengawasan Pemilu 2014 Sebanyak 99 Pimpinan Bawaslu Provinsi se Indonesia tengah merampungkan laporan pengawasan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 dalam Rapat Evaluasi Nasional Pengawasan Pemilu Tahun 2014 di Hotel Grand Inna Sanur, Denpasar Bali, Minggu (28/9). Sekretaris Jenderal (Sekjen) Bawaslu Gunawan Suswantoro mengatakan, laporan pengawasan Pemilu itu merupakan wujud pertanggungjawaban kelembagaan Bawaslu untuk menjadi bahan evaluasi dan laporan kepada Presiden dan DPR RI. Satu diantara keberhasilan Bawaslu adalah menggerakkan masyarakat menjadi pengawas pemilu partisipatif yang diaplikasikan melalui Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu (GSRPP). Gerakan ini menjadi contoh partisipasi masyarakat dan masuk dalam agenda Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Kita berhasil memperkuat RKP melalui pendidikan pengawasan pemilu partisipatif, kata Gunawan saat pembukaan rapat evaluasi nasional yang dihadiri 4 Pimpinan Bawaslu RI (Nasrullah, Endang Wihdatiningtyas, Nelson Simanjuntak dan Daniel Zukron), serta pejabat struktural dan fungsional Bawaslu. Laporan pengawasan yang tengah disusun Bawaslu kepada Presiden dan DPR RI meliputi laporan empat divisi yang menjadi tugas Pimpinan Bawaslu RI dan Bawaslu Provinsi yakni Divisi Pengawasan, Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran, Divisi Organsiasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Divisi Humas dan Sosialisasi. Dalam hal ini, Bawaslu Provinsi diminta menyusun laporan lengkap terkait pengawasan dan penanganan pelanggaran tahapan Pemilu 2014 sekaligus evaluasi penyelenggaraan Pemilu 2014 dalam bentuk rekomendasi dari setiap Bawaslu Provinsi mengingat kondisi setiap daerah berbeda. Terhadap pengesahan undang-undang pemilihan gubernur, walikota dan bupati melalui DPRD, Sekjen Bawaslu meminta jajarannya dan Pimpinan Bawaslu Provinsi tidak terganggu melainkan tetap fokus dan bekerja profesional. Pengesahan UU tersebut dinilai belum final karena sejumlah pihak akan mendaftarkan gugatannya ke Mahkamah Konstisusi terkait penghilangan hak rakyat untuk memilih gubernur/walikota/bupati secara langsung menjadi dipilih oleh DPRD, seperti di masa orde baru. Kita harus tetap semangat, ini penting untuk eksistensi lembaga Pengawas Pemilu, ujarnya. Hal senada juga dikemukakan Pimpinan Bawaslu, Nasrullah. Meski menyesalkan putusan politik DPR terkait pemilihan kepala daerah oleh DPRD, Nasrullah meminta hal ini tidak mempengaruhi kinerja jajaran Bawaslu. Kalau kita bicara hak konstitusional warga negara harusnya melekat pada individual, tidak ada satu pun yang bisa mewakili. Contoh kalau anda mau jadi bupati, walikota, kepala desa, presiden, anda sendiri yang maju dan tampil. Tidak bisa anda wakili pada saudara anda. Itu menyangkut hak dipilih. Kalau menyangkut hak memilih, konsekuensi logis sama, hak memilih juga hak individu. Tak boleh diwakilkan, ini pelanggaran terhadap hak konstitusional. kata Nasrullah memaparkan. Pemilihan kepala daerah melalui DPRD katanya, merupakan pengembalian masa orde baru dimana tatanan demokrasi berada pada level elite bukan menjadi hak politik rakyat. Karenanya, Bawaslu akan mengkaji keputusan politik DPR tersebut untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi bersama DKPP dan KPU. [RS] Ketua Bawaslu RI, Muhammad, Pimpinan Bawaslu RI, Nasrullah, Endang Wihdatiningtyas, Nelson Simanuntak, Daniel Zuchron, dan Kepala Biro Tehnis Penyelenggaraan Pengawasan Pemilu, Bernad D Sutrisno. 19

20 Divisi Pengawasan Optimisme Pilkada Langsung PEMILIHAN kepala daerah secara langsung sebuah optimisme untuk mewujudkan Negara demokratis. Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 sebuah solusi untuk memastikan bahwa pemilihan langsung adalah perwujudan kedaulatan rakyat yang tidak tergantikan dengan system perwakilan. Walaupun perppu tersebut masih berpotensi ditolak oleh DPR RI dalam masa persidangan berikutnya, tapi dengan komitmen pemerintah dan dukungan masyarakat luas, pemilihan langsung ini akan dipertahankan. Penyelenggara pemilu tidak perlu gamang dalam melaksanakan amanah Perppu Nomor 1 Tahun Dinamika politik soal perppu tidak boleh mengganggu tugas-tugas penyelenggara dalam menyiapkan payung hukum sebagai tindak lanjut dari perppu tersebut. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah harus mempersiapkan seluruh payung hukum program, jadwal, dan tahapan pelaksanaan pilkada. Begitu juga Badan Pengawas Pemilu sudah harus mempersiapkan peraturan yang menyangkut pengawasan, penanganan pelanggaran, dan penyelesaian sengketa. Payung hukum juga sudah harus disiapkan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) untuk menyelesaikan pelanggaran kode etik penyelenggaraan pilkada. Memang ada kekhawatiran bahwa apabila DPR menolak perppu ini, maka semua yang dikerjakakan oleh penyelenggara akan menjadi sia-sia. Tidak ada yang sia-sia. Seandanya pun perppu ditolak DPR pada masa sidang berikutnya, yaitu masa sidang terdekat pada Januari Implikasi dari penolakan sebuah perppu oleh DPR yaitu membuat sebuah undang-undang baru. Artinya Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tidak berlaku, bukan berarti otomatis Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pilkada berlaku. DPR dan Pemerintah harus membuat undang-undang yang baru sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab harus ada pembahasan dan persetujuan bersama antara pemerintah dan DPR dalam pembuatan undang-undang yang baru tersebut. Disinilah, nantinya akan ada kekosongan hukum. Dalam kondisi kekosongan hukum ini, pilkada yang pelaksanaannya tahun 2015 sudah mendesak dilaksanakan. Dengan demikian, mau tidak mau harus ada payung hukum untuk pelaksanaan pilkada tersebut yang bisa jadi diterbitkan lagi sebuah perppu menunggu disahkannya uu yang baru. Lagi pula, peraturan KPU, peraturan Bawaslu, dan Peraturan Bersama DKPP, KPU, dan Bawaslu tentang Kode Etik yang mengacu pada Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tidaklah otomatis gugur walaupun perppu tersebut ditolak oleh DPR. Hampir dapat dipastikan bahwa setidaknya pilkada langsung dapat dilaksanakan pada Sehingga, penyelenggara pemilu tidak perlu ragu menyiapkan dan melaksanakan pilkada langsung sejak dini agar dapat diwujudkan pilkada langsung demokratis. Pelaksanaan pilkada demokratis pada 2015 yang jauh dari kecurangan dan konflik nantinya akan menjadi modal dasar memberi masukan pada perbaikan UU pilkada yang sedang dibahas di DPR. Tentu, harapan kita adalah sebuah undang-undang pilkada langsung yang dilahirkan. Pilkada yang dilaksanakan secara langsung oleh rakyat adalah perwujudan kedaulatan rakyat yang demokratis. Ini tidak terlepas dari historis pelaksanaan pilkada langsung itu sendiri. Pada era Presiden Soeharto kepala daerah ditunjuk oleh presiden. Reformasi tahun 1998 membawa perubahan hingga perubahan dalam penentuan kepala daerah. Di era 1999 hingga 2004 kepala ditentukan melalui penentuan DPRD berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dikenal juga dengan UU Otonomi Daerah. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD yang berlangsung sejak 1999 hingga 2004, ini tentu lebih demokratis dibandingkan dengan ditunjuk oleh Presiden untuk menentukan gubernur. Dan untuk penentuan bupati/wali kota ditunjuk oleh gubernur. Seiring dengan tuntutan reformasi, MPR melakukan perubahan konstitusi yang terjadi empat kali pada rentang waktu Perubahan konstitusi ini mebawa perubahan pada pemilihan kepala daerah yaitu dari ketentuan kepala daerah dipilih oleh DPRD menjadi kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Hal ini dituangkan dalam hasil amandemen yaitu amandemen kedua dengan memuat Pasal 18 UUD yang mengatur Gubernur, Bupati, Wali Kota dipilih secara demokratis. Memang dalam konstitusi disebut dipilih secara demokratis. Demokratis tersebut menurut berbagai pihak bisa diartikan dipilih DPRD atau dipilih secara langsung oleh rakyat. Dua-duanya bagi sebagian pihak adalah demokratis. Namun dalam praktiknya, setelah lahirnya perubahan konstitusi memuat Pasal 18 tersebut, pada undang-undang sebagai payung hukum dan pelaksanaannya demokratis dalam pilkada dimaknai sebagai pemilihan langsung. Pemilihan langsung oleh rakyat itulah yang diatur dalam UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Praktik Gubernur, Bupati, dan Walikota dipilih langsung dilaksanakan mulai 2005 hingga sekarang. Pemilihan langsung adalah hak politik individu memilih pemimpinnya dan perwujudan kedalutan rakyat sesuai Pasal 1 ayat (2) UUD. Dalam praktinya tidak ada persoalan yang krusial yang mengganggu keutuhan Negara yang bisa menjadi alasan agar pilkada dikembalikan dari pemilihan langsung oleh rakyat ke pemilihan oleh DPRD. Alasan biaya mahal dan konflik menjadi sangat tidak mendasar karena hal itu bisa diatasi dengan melakukan efisiensi dan mencegah konflik. Dan tanpa mengubah atau menghilangkan hak warga Negara memilih langsung, tetap saja bisa dilakukan efisiensi dan pencegahan konflik. Konflik yang terjadi selama ini juga tidak laten dalam pemilu. Pilkada hanya sebagai pemicu saja dalam konflik-konflik antarsuku, konflik tanah, atau konflik-konflik lainnya yang bersifat laten. Jadi konflik itu bukan karena pilkada langsung. Penyelenggara pemilu dihadapkan pada tantangan untuk melakukan efisiensi dan memperkecil konflik dalam pelaksanaan pemilu. Pelaksanaan pilkada langsung tahun 2015 yang akan serentak dalam satu provinsi menjadi tantangan bagi penyelenggara untuk membuktikan bahwa pilkada langsung bisa murah, aman, dan nyaman. Inilah menjadi modal agar bisa memberi masukan kepada DPR pada masa sidang berikutnya mempertimbangkan agar pilkada tetap secara langsung dipilih oleh rakyat. (KN) 20

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PENGAWASAN PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

-3- MEMUTUSKAN: Pasal I

-3- MEMUTUSKAN: Pasal I -2-3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (L embaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4252); 4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun

Lebih terperinci

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal...

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal... DAFTAR ISI Hal - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum... - BAB I Ketentuan Umum... 4 - BAB II Asas Penyelenggara Pemilu... 6 - BAB III Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM I. UMUM Pemilihan Umum merupakan perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 0 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

TAHAPAN, PROGRAM DAN JADWAL PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM BUPATI DAN WAKIL BUPATI KUBU RAYA TAHUN 2013

TAHAPAN, PROGRAM DAN JADWAL PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM BUPATI DAN WAKIL BUPATI KUBU RAYA TAHUN 2013 Lampiran Nomor : Berita Acara Komisi Pemilihan Umum : 0 / BA / II / 01 TAHAPAN, PROGRAM DAN PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM BUPATI DAN WAKIL BUPATI KUBU RAYA TAHUN 01 Lampiran : Keputusan Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014;

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014; -2- Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana telah diubah dengan dengan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8,

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM, PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENCALONAN PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, DAN/ATAU WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Memperhatikan : 1. Keputusan Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum tanggal 30 Juli 2012.

Memperhatikan : 1. Keputusan Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum tanggal 30 Juli 2012. 2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8, Tambahan Lembaran

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH KOMISI PEMILIHAN UMUM, Menimbang : a. bahwa ketentuan

Lebih terperinci

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah Seminar Nasional: Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Sukseskan Pemilu 2014. Pusat Study Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. BAWASLU Menurut UU No.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

-2- dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 01 Tahun 2010;

-2- dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 01 Tahun 2010; -- dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 0 Tahun 00; 4. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 06 Tahun 008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum, Sekretariat

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN PENERAPAN SISTEM MERIT DALAM MANAJEMEN ASN DAN NETRALITAS ASN DARI UNSUR POLITIK DALAM UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: Akhmad Aulawi, SH., MH. * Akhir tahun 2013, menjadi momentum yang penting

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM, PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENCALONAN PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

-2- MEMUTUSKAN: BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: -- (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 05 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5678); 3. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05 Tahun 008 tentang Tata Kerja Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

Draft Peraturan KPU tentang Pencalonan Dalam Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESI

Draft Peraturan KPU tentang Pencalonan Dalam Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESI Draft Peraturan KPU tentang Pencalonan Dalam Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESI TAHAPAN DALAM PENCALONAN 1. Pendaftaran Bakal Calon 2. Uji Publik 3. Pendaftaran

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, WEWENANG, DAN TATA KERJA SEKRETARIAT JENDERAL BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM, SEKRETARIAT BADAN PENGAWAS PEMILIHAN

Lebih terperinci

-3- Berpenghargaan...

-3- Berpenghargaan... -2-2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Papua sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berbangsa dan bernegara, baik ekonomi, sosial dan budaya. Tidak terkecuali

I. PENDAHULUAN. berbangsa dan bernegara, baik ekonomi, sosial dan budaya. Tidak terkecuali 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membahas tentang politik tentu tidak ada bosannya karena politik saat ini sudah masuk dalam berbagai sendi kehidupan pada masyarakat dalam proses berbangsa dan bernegara,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua

Lebih terperinci

KODE ETIK PEMANTAU PEMILU

KODE ETIK PEMANTAU PEMILU 15 2012, No.826 LAMPIRAN I PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMANTAU DAN TATA CARA PEMANTAUAN PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN

Lebih terperinci

Menetapkan: PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM TENTANG PENYELESAIAN PELANGGARAN ADMINISTRASI PEMILIHAN UMUM.

Menetapkan: PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM TENTANG PENYELESAIAN PELANGGARAN ADMINISTRASI PEMILIHAN UMUM. - 2 - telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 2.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA Sumber gambar: twicsy.com I. PENDAHULUAN Profesi jaksa sering diidentikan dengan perkara pidana. Hal ini bisa jadi disebabkan melekatnya fungsi Penuntutan 1 oleh jaksa,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

SURAT PERNYATAAN CALON GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR/BUPATI/WAKIL BUPATI/WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA*)

SURAT PERNYATAAN CALON GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR/BUPATI/WAKIL BUPATI/WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA*) CONTOH MODEL BB.1-KWK SURAT PERNYATAAN CALON GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR/BUPATI/WAKIL BUPATI/WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA*) Yang bertanda tangan di bawah ini : a. Nama :... b. NIK :... c. Jenis kelamin :... d.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Akhir-akhir ini gaung reformasi dan atau demokrasi mulai ditabuh lagi dalam tataran strategis. Salah satu bentuknya adalah akan dilaksanakannya

Lebih terperinci

Perolehan Suara Menjadi Kursi

Perolehan Suara Menjadi Kursi Cara Penghitungan Perolehan Suara Menjadi Kursi DPR dan DPRD Pemilu 2014 Cara Penghitungan Perolehan Suara Menjadi Kursi DPR dan DPRD Pemilu 2014 Indonesian Parliamentary Center (IPC) 2014 Cara Penghitungan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT PEMILIHAN UMUM 2014 DI INDONESIA

GAMBARAN SINGKAT PEMILIHAN UMUM 2014 DI INDONESIA GAMBARAN SINGKAT PEMILIHAN UMUM 2014 DI INDONESIA rumahpemilu.org GAMBARAN SINGKAT PEMILIHAN UMUM 2014 DI INDONESIA Cetakan I, November 2013 DITERBITKAN OLEH: rumahpemilu.org Jl. TebetTimur IVA No. 1,

Lebih terperinci

Mengapa Indonesia Membutuhkan e-rekapitulasi dan. Harus Menghindari Pemungutan Suara Secara Elektronik

Mengapa Indonesia Membutuhkan e-rekapitulasi dan. Harus Menghindari Pemungutan Suara Secara Elektronik Mengapa Indonesia Membutuhkan e-rekapitulasi dan Harus Menghindari Pemungutan Suara Secara Elektronik Diskusi Pengalaman Internasional dalam Teknologi Kepemiluan Ramlan Surbakti Hotel Morrissey, 5 Februari

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN DANA KEGIATAN PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH KEPADA PEMERINTAH, LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DAERAH KEPADA DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KOMISI PEMILIHAN UMUM

KOMISI PEMILIHAN UMUM MODUL PEMUTAKHIRAN DATA PEMILIH KOMISI PEMILIHAN UMUM Panduan Pemutakhiran Data Pemilih Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Panduan Pemutakhiran Data Pemilih Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM, PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PEMUNGUTAN DAN PENGHITUNGAN SUARA PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, DAN/ATAU WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

BBadan Pengawas Pemilihan Umum

BBadan Pengawas Pemilihan Umum BULETIN EDISI 12, DESEMBER 2014 AWASLU BBadan Pengawas Pemilihan Umum Evaluasi Pilpres 2014 Untuk Masa Depan Pemilu Berkualitas Bawaslu Sampaikan Hasil Pengawasan Pemilu 2014 Pimpinan Bawaslu, Endang Wihdatiningtyas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGUNDURAN DIRI KEPALA DAERAH, WAKIL KEPALA DAERAH, DAN PEGAWAI

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERSIAPAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH SERENTAK TAHUN 2015

PERSIAPAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH SERENTAK TAHUN 2015 PERSIAPAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH SERENTAK TAHUN 2015 Oleh Menteri Dalam Negeri Disampaikan Pada Acara Evaluasi dan Pemberian Penghargaan Pemilu Tahun 2014 Yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati,

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati, -------------------------------- LAPORAN KOMISI III DPR RI TERHADAP HASIL PEMBAHASAN DAN PERSETUJUAN MENGENAI PENGANGKATAN KAPOLRI (UJI KELAYAKAN CALON KAPOLRI) PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI Kamis, 16 April

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

- 3 - : Keputusan Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 20 Maret 2013; MEMUTUSKAN :

- 3 - : Keputusan Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 20 Maret 2013; MEMUTUSKAN : - 2-2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5246); 3. Undang-Undang

Lebih terperinci

PENGENALAN PUBLIK TENTANG PARTAI POLITIK: BAGAIMANA KUALITAS PILEG 2014?

PENGENALAN PUBLIK TENTANG PARTAI POLITIK: BAGAIMANA KUALITAS PILEG 2014? PENGENALAN PUBLIK TENTANG PARTAI POLITIK: BAGAIMANA KUALITAS PILEG 2014? Jakarta, 29 Januari 2014 Q: Apakah Ibu/Bapak/Saudara tahu atau tidak tahu bahwa Tahun 2014 akan dilaksanakan Pemilihan Legislatif

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 66 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KEBUTUHAN PENGADAAN SERTA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

BAB III MEKANISME DAN PROSEDUR PERGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW) ANGGOTA DPRD FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA KOTA MOJOKERTO

BAB III MEKANISME DAN PROSEDUR PERGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW) ANGGOTA DPRD FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA KOTA MOJOKERTO BAB III MEKANISME DAN PROSEDUR PERGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW) ANGGOTA DPRD FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA KOTA MOJOKERTO A. Pengertian Pergantian Antar Waktu (PAW) Pergantian Antar Waktu (PAW) adalah pemberhentiaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 1 PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN KEUANGAN KEPADA PARTAI POLITIK I. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

URAIAN NO. SUMATERA BARAT SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH ACEH

URAIAN NO. SUMATERA BARAT SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH ACEH HASIL PENGHITUNGAN PEROLEHAN SUARA DARI SETIAP OVINSI DAN LUAR NEGERI DALAM PEMILU ESIDEN DAN WAKIL ESIDEN TAHUN 04 diisi berdasarkan Formulir Model DC PPWP dan Sertifikat Luar Negeri NO. URAIAN I. DATA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

KPU Bali Lantik Empat Pejabat Sekretariat

KPU Bali Lantik Empat Pejabat Sekretariat KPU Bali Lantik Empat Pejabat Sekretariat Bertempat di sekretariat KPU Karangasem, Sekretaris KPU Propinsi Arya Gunawan melantik empat orang pejabat Kasubag di lingkungan secretariat KPU Karangasem dan

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA SATUAN KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN YANG MENERAPKAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Eksistensi KORPRI dalam Meningkatkan Pelayanan Kepada Masyarakat Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014

Eksistensi KORPRI dalam Meningkatkan Pelayanan Kepada Masyarakat Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Eksistensi KORPRI dalam Meningkatkan Pelayanan Kepada Masyarakat Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 KORPRI yang didirikan pada tanggal 29 November 1971 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013 BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA SAMARINDA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci