PROSES BELAJAR BERDASARKAN KERJA OTAK Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS Bagian/ SMF Ilmu Penyakit Saraf, Subdivisi Saraf Anak RSHS/FK UNPAD Bandung

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROSES BELAJAR BERDASARKAN KERJA OTAK Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS Bagian/ SMF Ilmu Penyakit Saraf, Subdivisi Saraf Anak RSHS/FK UNPAD Bandung"

Transkripsi

1 PROSES BELAJAR BERDASARKAN KERJA OTAK PROSES BELAJAR BERDASARKAN KERJA OTAK Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS Bagian/ SMF Ilmu Penyakit Saraf, Subdivisi Saraf Anak RSHS/FK UNPAD Bandung PENDAHULUAN Saat ini kita sering mendengar terjadi krisis dibidang pendidikan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Metode pembelajaran yang berlangsung saat ini dengan penyajian lebih menitik beratkan pada rangsangan dengar (auditory) berupa latihan (drill), pengulangan, orientasinya detail, kurang melibatkan proses pemecahan suatu masalah, sangat sesuai dengan pola belajar pada otak kiri, dimana individu tersebut kurang hiperaktif dan tidak mendapatkan terlalu banyak rangsangan. Masalah mulai timbul karena pada generasi anak saat ini dimana dengan berkembangnya budaya, sejak kecil anak telah diberi banyak rangsang penglihatan (visual), misalnya rangsangan dari TV dll; sehingga pola pembelajaran anak bergeser kearah otak kanan dengan pola berpikir secara visual dan lemah dalam menerima rangsang dengar (auditory) tetapi mempunyai kemampuan untuk pemecahan masalah. Hal ini mengakibatkan jurang antara anak didik dan guru menjadi lebar, karena pola pembelajaran disekolah tidak sesuai dengan pola pembelajaran yang dibutuhkan; sekolah menjadi tidak sejalan dengan pikiran anak. Sementara itu para pendidik yang umumnya adalah populasi dengan pola otak kiri, seperti juga pada dominasi otak kiri lainnya, mempunyai kelemahan berupa kesulitan untuk dapat memahami bahwa orang lain mempunyai cara pandang yang berbeda dalam memproses keadaan. (Freed 1997) Dalam makalah ini saya akan menguraikan mengenai proses belajar pada umumnya, perbedaan individu dengan otak kiri, otak kanan dan keduanya, proses belajar pada otak kiri dan otak kanan. I. PROSES BELAJAR (Njiokiktjien 1988) Rangsangan yang masuk melalui indera, akan dipersepsikan (diartikan), kemudian secara selektif informasi tersebut disimpan. Proses penyimpanannya melibatkan kedua belahan otak. Ditingkat pre-kategorikal, informasi tertentu (spesifik) akan bertahan dalam waktu yang singkat (ingatan jangka pendek), untuk informasi yang dilihat ( visual) bertahan 200 ms, untuk informasi

2 yang didengar (auditory) bertahan 2000 ms. Ini merupakan bagian dari working memory. Ditingkat katagorikal, informasi secara kompetitif dipahami, kemudian menuju bagian otak tertentu sesuai jenis informasi yang masuk. Terjadi di working memory. Informasi kemudian disimpan dalam ingatan jangka panjang; dan dapat direproduksi serta dapat dipanggil kembali (retrieval) atau direcall (diingat atau dikenali). Langkah langkah proses informasi yang terjadi di working memori berupa pengenalan, kebermaknaan dan direkam dalam waktu yang singkat. Di ingatan jangka pendek (short term memory) akan menampung unit secara terbatas, informasi dicoding secara semantik (berdasarkan arti), berurutan dan untextuality Memori disimpan dalam berbagai modalitas yaitu Memori episodik (waktu kejadian) memori semantik (diartikan); dapat dalam bentuk verbal fonologi (suara dan bunyi) atau visual tekstual ( yang dilihat) Penyimpanan visual : konkrit penyimpanan auditory : berurutan dan abstrak; ada 2 aspek yaitu verbal dan non verbal Memori prosedural : mengetahui bagaimana melakukan memori deklaratif : mengetahui bahwa. II. PERBEDAAN PADA INDIVIDU DENGAN OTAK KIRI, OTAK KANAN DAN KEDUA OTAK. (Freed 1997) A. INDIVIDU DENGAN OTAK KIRI Informasi diproses secara dengar (auditory); Orang ini senang berbicara dan menuliskan sesuatu. Informasi yang didapat sedikit-sedikit, untuk mengetahui sesuatu secara gambaran utuh. Mudah menangkap peraturan peraturan pada mengeja, tata bahasa, pemisahan kata dan mudah memahami bahasa asing. Pola berpikirnya runtut ( sequensial), sangat logis dan analitik, senang membuat daftar. Senang membuat aturan dan menaati aturan. Belajar lebih berhasil dengan mengetahui langkah demi langkah yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dibanding bila didemonstrasikan. Ingatan disimpan dalam bentuk nama dan kata kata dibandingkan dengan diimajinasikan. Biasanya sangat reliable, prestasi disekolah baik. Menyukai sesuatu yang dikenalnya dan yang dapat diperkirakannya. Tidak menyenangi tantangan, ide baru dan perubahan pada rutinitas. Mempunyai kecenderungan untuk menerima dan menghargai apa yang didengar dan dibaca daripada bertanya dan berpikir secara mandiri.

3 Mengerjakan sesuatu lebih memilih dalam kelompok dibanding bekerja sendiri. Akan berhasil dalam pekerjaan rutinitas, tapi tidak berhasil bila memerlukan kreatifitas untuk penyelesaian masalah. B. INDIVIDU DENGAN OTAK KANAN Tipe pembelajaran visual (melalui rangsang mata). Dia akan belajar dengan gambar lalu membuat dengan caranya sendiri Intuitif dan prosesnya acak (tidak berurutan) Informasi terutama disimpan dalam bentuk gambar. Ingatan visualnya kuat, ingatan dengarnya lemah. Ingatan dalam imajinasi dapat bertahan dalam waktu yang lama Terdapat keterlambatan dalam memproses sesuatu yang didengar, karena kata yang didengar harus diubah menjadi gambar mental (mental picture). Bila mengingat seseorang atau kejadian, akan ingat imajinasi orang tersebut dan dapat mengingat detail kejadian Kurang mampu untuk menampilkan sesuatu secara logis, atau pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa.lebih memilih menggambar dan berkreasi dibanding menulis dan bicara. Senang mengerjakan beberapa pekerjaan pada saat yang bersamaan. Menyukai pekerjaan dimana mereka dapat bergerak bebas dan tidak perlu duduk diam. Tidak menyukai aturan, impulsif dan sering bertanya. Menyenangi tantangan baru, penuh ide, sangat kompetitif dan perfeksionis. Seorang genius yang kreatif, menyenangi seni dan musik Cara berpikirnya menyeluruh (holistik), proses belajar secara menyeluruh untuk mengetahui bagian bagian kecil (whole to part learners) Berpikirnya spasial (ruang) dan 3 dimensi Keterampilan didapat dari demonstrasi, tidak dari penjelasan tahapan tahapan yang harus dilalui C. INDIVIDU DENGAN OTAK KIRI-KANAN Mempunyai kemampuan untuk memindahkan pekerjaan sesuai dengan otak yang dibutuhkan. Bila melibatkan proses membaca dan melakukan pekerjaan yang logis, dapat berlaku secara efisien dan secara berurutan. Mempunyai kemampuan kreatif misalnya menggambar, memainkan musik Mempunyai kemampuan (menyeluruh) holistic untuk menyelesaikan masalah yang besar dan perhatian detail. Mempunyai kemampuan untuk mengorganisir dari otak kiri dan kemampuan kreatif dan brilliant dari otak kanan.

4 III. PROSES BELAJAR PADA OTAK KIRI DAN OTAK KANAN 1. BACA-TULIS- EJA PADA OTAK KIRI. OTAK KIRI-KANAN: (Njiokiktjien 1997, NJiokiktjien 2003) a. Pemahaman dan pengenalan apa yang dilihat. Mula mula anak belajar membaca melalui proses penglihatan, dimana bentuk huruf dan kata harus dicamkan dan diingat; kemudian bentuk tersebut diidentifikasi, diingat dan dihubungkan dengan bunyi huruf/kata. b. Hubungan antara deret huruf dan deret bunyi Setelah ada proses pemahaman tentang apa yang dilihat, didalam otak deretan huruf akan dirubah menjadi deretan bunyi, sehingga terjadi perekaman kata. Deretan huruf ini akan masuk dalam proses didaerah pendengaran sehingga terjadi pemanggilan bunyi. c. Menganalisa apa yang didengar. Perbendaharaan kata pada permulaan bahasa bicara diwujudkan sebagai kesatuan bunyi,kemudian anak tahu bahwa satu kata terdiri dari beberapa bunyi tersendiri. Anak harus belajar untuk menganalisa apa yang didengar. d. Pemahaman apa yang dibaca. Bila sudah terdapat kemajuan dalam proses membaca, bacaan tersebut harus dapat dimengerti sehingga dapat membuat ringkasan atau jalan pikiran dari apa yang telah dilihat. Untuk tahapan ini anak tidak boleh ada kesulitan dalam menemukan kata, dapat bicara dengan lancar, mempunyai tata bahasa yang digunakan. PADA OTAK KANAN (Freed, 1997) a. Mengeja (Visual Spelling) Proses berpikir pada individu dengan otak kanan adalah secara visual dan spasial(penglihatan dalam ruang). Anak dapat membedakan konsonan tapi sulit untuk membedakan vocal tertentu. Karena proses berpikirnya dalam ruang, mudah terjadi inverse huruf, dan terlihat seperti cermin. Karena penglihatannya 3 dimensi, maka kata yang dilihat dapat terimajinasi berotasi (dari arah atas, bawah, seperti cermin). Bentuk kata yang dilihat, diimajinasikan, lalu diingat. Setelah itu baru dapat dieja kedepan atau dieja mundur. Agar lebih mudah terperhatikan kata tersebut harus ditulis berwarna dengan masing suku kata diberi warna yang berbeda. Perlihatkan keanak selama 20 detik agar dapat terekam dipikirannya. Anak akan sulit untuk menuliskan apa yang dilihat karena harus melihat kebawah, yang mempengaruhi proses pemanggilan kembali imajinasi visualnya. Setelah menguasai dengan satu kata, ditingkatkan dengan gabungan

5 beberapa kata atau satu kalimat. b. Membaca Proses membaca dimulai dengan melihat kata, diubah menjadi gambar didalam pikirannya, lalu diucapkan dengan kata. Hal ini akan sulit dikerjakan karena konsentrasi anak lebih mudah beralih, informasi diproses dengan acak dan pandangan dapat melompat atau mundur dari kata yang harus dibaca. Jadi proses membaca menjadi tidak lancar; akan ada kata yang terlewati dan baris yang terlompati. Bila anak ini mengerti konsep untuk mengubah kata menjadi gambar didalam pikirannya (mental picture), anak akan dapat membaca dalam hati. Pola belajar yang whole to part, mengakibatkan ketidak mampuan dalam belajar huruf bunyi (fonem). Anak biasanya baru dapat membaca dikelas 3, setelah perbendaharaan kata yang dilihatnya banyak. Metode phonic yang memecah kata menjadi huruf bunyi seperti yang diajarkan secara konfensional dan memerlukan proses pendengaran dan berurutan, hanya dapat dipakai untuk pola belajar otak kiri atau ke 2 otak (part to whole). Pada otak kanan dipakai metode bahasa yang menyeluruh (whole language), dimana ini akan merangsang anak untuk senang membaca dan mengerti (komprehensif), baru kemudian memperbaiki detail (ejaan dan tata bahasa). Anak diperlihatkan kata utuh dan dibacakan utuh untuk kemudian direkam dalam pikirannya (jangan dibiarkan anak untuk menebak). c. Membaca dalam hati Individu dengan pola belajar dengan otak kanan adalah seorang pembaca dalam hati yang ulung, dan dapat membaca dengan cepat, karena membaca adalah komprehensif (pemahaman) dan komprehensif adalah visual (sesuatu yang dapat dilihat). Pada individu dengan pola belajar memakai otak kiri walau dapat membaca cepat, belum tentu pemahamannya baik. Untuk memahami apa yang dibaca, harus dengan membaca perlahan (silent) dan pelan pelan (slowly), sehingga kata kata tersebut akan masuk kedalam pikirannya. Biasanya menggunakan catatan, sehingga penyimpanan informasinya sistimatik. Individu dengan otak kanan akan membaca dengan cepat, melakukan scanning terhadap kata kata yang ada, sehingga mendapatkan gambaran detailnya. Mula mula dibacakan, lalu disuruh untuk merubah kata kata tersebut menjadi gambar mental. d. Menulis. Merupakan hal yang paling sulit untuk dikerjakan karena koordinasi motorikhalus umumnya juga terganggu.

6 Orientasi visualnya yang multidimensi membuat kecenderungan untuk melakukan kesalahan dalam menyalin huruf dan angka. Terdapat kesulitan dalam mengalihkan dari gambar yang ada dipikirannya kedalam kertas dalam bentuk kata, membentuk huruf, ejaan, pemisahan kata, karena terjadi distorsi dari mental picturenya. Pada otak kiri, berpikirnya secara symbol dan dalam bentuk kata,, sehingga mudah untuk menerjemahkan pikirannya ke kertas. Pada otak kanan, sejak awal anak cenderung perfeksionis. Jadi bila terdapat kesalahan menulis yang harus diperbaiki membuatnya tidak mau menulis. Anak disuruh berbicara lambat, lalu kita menuliskan kata tersebut, beri tanda baca dan pemisahan kata; dengan demikian dia mengerti bagaimana cara menulis. Kemudian kita berbicara dengan lambat, anak disuruh menuliskan. Bila terdapat kesalahan perbaikilah kata tersebut secara kata yang utuh. 2. BERHITUNG PADA OTAK KIRI (Njiokiktjien 1997, Njiokiktjien 2003). a. Dapat menghitung dan mempunyai pengertian bilangan. Sebelum anak mampu berhitung, harus ada pengertian tentang jumlah dan pengertian tentang perbedaan diantara jumlah tersebut. Saat balita anak belajar berhitung dalam situasi fisik dan konkrit, menghubungkan jumlah tersebut dengan bahasa yang diucapkan yaitu bilangan2 kemudian disusul dengan angka angka. Pengertian bilangan ( pengertian jumlah tanpa ada benda fisik /konkrit yang dapat dihitung) harus sudah dimiliki pada usia 5 tahun. b. Bahasa pada proses berhitung Membagi atau merubah suatu jumlah, pengertian ditambah dan dikurangi, lebih besar dan lebih kecil perlu diajarkan selama perkembangan bicara dalam bentuk gerakan dan penglihatan. Salah satu syarat untuk dapat berhitung adalah tidak mengalami gangguan perkembangan berbahasa. c. Mengerjakan simbol simbol hitungan. Syarat lain untuk berhitung adalah mengenal bentuk lambang hitungan, sehingga proses berhitung dapat berlangsung. d. Proses berhitung sentral Operasi matematika (tambah, kurang, kali dan bagi) akan dipelajari pada ahir periode manipulasi secara konkrit. Operasi matematika tidak tergantung dari simbul tertulis. e. Faktor lain pada berhitung. Perhatian, pencaman dan daya ingat jangka pendek yang baik perlu untuk mencongak. Juga perlu daya ingat yang baik tentang apa yang didengar verbal. Pada mencongak juga diperlukan imajinasi penglihatan (visual) selama hitungan hitungan belum mampu dilakukan secara otomatis. Pada operasi yang lebih besar diperlukan keberuntunan, yang

7 satu dulu, baru yang lain dan diperlukan urutan yang tepat serta perencanaan. PADA OTAK KANAN (Freed, 1997) Proses pembelajaran secara berlatih (drill), pengulangan dan ujian dengan waktu yang terbatas, hanya sesuai untuk individu dengan otak kiri. Karena pola belajar pada otak kanan adalah visual, maka ilustrasikan konsep matematika secara visual misalmya menghitung uang, menggunakan sempoa. Kekuatan individu ini terdapat pada intuisi matematika, sedangkan perhitungan arithmatika yang sederhana merupakan sisi kelemahannya. Proses pembelajaran dengan menarik minat mereka dengan memperkenalkannya pada konsep matematika yang kompleks misalnya bilangan negatif, kuadrat, akar, tenaga (power), sebelum ahirnya diperkenalkan pada konsep dasar yaitu penjumlahan, pembagian sederhana, perkalian. Kegiatan tersebut dapat berupa menghitung volume air yang ada di botol, mengetahui berapa lama kereta api dapat menempuh jarak bandungjakarta bila kecepatannya tertentu, kegiatan memasak dengan cara menakar menggunakan cangkir dan sendok akan mengajarkankonsep volume, pecahan, perkalian. Setelah dapat memahami proses perhitungan sederhana dan persamaan, dengan mudah akan dapat memahami sesuatu yang lebih abstrak dan konsep yang sulit ( misalnya geometri, kalkulus) Proses berpikirnya visual; hindari anak disuruh menulis, tidak perlu menghitung dengan jari, dalam suasana relax, tidak ada tekanan karena pembatasan waktu, lakukan latihan mental matematika yang melibatkan keberuntunan secara auditori dan konsep matematika. Dengan cara ini akan memotong daerah kelemahan anak (proses dengar) dan merubahnya menjadi kekuatan menggunakan kemampuan visualnya. Latihan mental matematika ini juga memanfaatkan kemampuan visual tanpa gangguan untuk menuliskan atau menunjukan cara (langkah) penyelesaian. Jangan memberi soal yang berlebihan ; cukup 5-10 soal dengan masalah yang berbeda. KESIMPULAN Terdapat 3 tipe proses belajar pada individu yaitu otak kiri, otak kanan dan kedua otak. Harus dikenali pola belajar pada anak didik agar metode pembelajaran sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga hasil yang diperoleh optimal. DAFTAR KEPUSTAKAAN

8 Freed J. The Left-Right Brain Continum. In: Right Brained Children in a Left Brained World. Simon & Schuster. Avenue Freed J. Spelling. In: Right Brained Children in a Left Brained World. Simon & Schuster. Avenue.1997: Freed J. Reading. In: Right Brained Children in a Left Brained World. Simon & Schuster. Avenue.1997: Freed J. Math. In: Right Brained Children in a Left Brained World. Simon & Schuster. Avenue.1997: Freed J. Writing. In: Right Brained Children in a Left Brained World. Simon & Schuster. Avenue.1997: Njiokiktjien.Attention and Memory Development. In Pediatric Behavioural Neurology. Suyi Publicaties Amsterdam. 1988: Njiokiktjien. Dysleksia and Dyscalculia. In Pediatric Behavioural Neurology. Suyi Publicaties Amsterdam. 1988: Njiokiktjien. Kesulitan Belajar pada Membaca, Menulis, dan Berhitung. Dalam Masalah dalam Perkembangan Psikomotor. Suyi Publ. Indonesia, Semarang. 2003: PERTANYAAN UNTUK MENGINVENTARISIR POLA BELAJAR ANAK USIA 5-13 TAHUN 1. Apakah anak anda sangat banyak bergerak? 2. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam mewarna dan menulis? 3. Apakah anak anda mengalami keterlambatan dalam berjalan? 4. Apakah anak anda sangat sensitif terhadap kritikan? 5. Aapakah anak anda menderita alergi atau asma? 6. Apakah anak anda terampil dalam membangun mainan (building toys), misalnya Lincoln logs Legos dan Tinker toys? 7. Apakah anak anda terampil dalam permainan teka teki (puzzles) dan yang tercerai berai (mazes)? 8. Bila anda membacakan sebuah buku kepada anak anda dua atau 3 kali, dapatkah dia mengisi kata yang hilang dengan ingatan yang sangat baik? 9. Apakah sangat penting bahwa anak menyukai guru disekolah agar dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik didalam kelas? 10. Apakah anak anda mudah beralih perhatiannya, atau sering melamun? 11. Apakah anak anda tidak dapat menyelesaikan tugas secara konsisten? 12. Apakah anak anda cenderung berbuat duli baru berpikir? 13. Apakah anda harus memotong label baju anak anda? Apakah anak anda hanya mau memakai baju yang lembut dan well worn? 14. Apakah anak anda overwhelmed pada saat berolah raga, pesta yang ramai, amusement park?

9 15. Apakah anak nada cenderung malu dan menghindari pelukan? 16. Apakah anak anda harus selalu diingatkan untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan? 17. Apakah anak anda sangat kompetitif (bersaing) dan tidak mau kalah? 18. Apakah anak anda memiliki rasa humor yang baik? Apakah dia mempunyai kemampuan diatas rata rata untuk mengerti dan menciptakan permainan kata? 19. Apakah anak anda sempurna dalam mencoba cara dalam melakukan sesuatu yang baru 20. Mampukah anak anda mengingat kembali saat liburan atau kejadian pada 1 atau 2 tahun yang lalu secara gamblang detailnya? Hasil : makin banyak jawaban "ya" makin kearah kanan "ya" 0-4 = sangat otak kiri 5-8 = lebih otak kiri 9-12 = otak kiri-kanan = lebih otak kanan = sangat otak kanan PERTANYAAN UNTUK MENENTUKAN OTAK KIRI ATAU OTAK KANAN PADA ANAK USIA BELASAN DAN DEWASA 1. Apakah anda lebih baik mengingat wajah dibanding nama seseorang? 2. Bila anda dihadapkan pada mainan atau harus memasangkan perabotan, apakah anda akan membuang petunjuk tertulisnya dan mencoba coba sendiri bagaimana cara memasangnya? 3. Apakah anda lebih baik memikirkan ide bila anda ditinggal sendirian, konsentrasi, dibandingkan bekerja berkelompok? 4. Apakah anda lebih mengandalkan pada gambar untuk mengingat sesuatu dibanding nama dan kata kata? 5. Apakah anda mengalami terutama kehilangan pendengaran akut? 6. Apakah anda memotong label baju? Apakah anda menukai bahan pakaian yang lembut dan well worn, dibanding bahan yang kasar? 7. Apakah anda cenderung untuk sering put yourself down? 8. Bila anda diminta untuk mengeja kata, apakah anda melihat diingatan atau menyebutkannya secara apa yang didengar (phonetic)? 9. Bila anda mempelajari sesuatu, apakah anda lebih memilih mempelajari secara menyeluruh dulu, dibandingkan mempelajari banyak fakta? 10. Apakah anda terampil dalam membuat teka teki (puzzle) dan kesimpang siuran (mazes)? 11. Apakah anda mudah membayangkan dalam 3 dimensi dengan baik? Dengan kata lain dapatkah anda memvisualisasikan kubus dibenak anda,

10 memutarnya, dan melihatnya dari berbagai sudut tanpa kesulitan? 12. Apakah anda tergolong telat berkembang (late bloomer)? 13. Apakah anda harus menyukai guru anda agar dapat berprestasi baik dikelas? 14. Apakah perhatian anda cepat beralih dan sering melamun? 15. Apakah anda seorang yang perfeksionis dalam mencoba menyelesaikan masalah yang baru? 16. Apakah anda seorang yang yang sangat kompetitif, pantang menyerah dibanding orang lain? 17. Apakah anda seorang yang dapat menjelaskan seseorang dengan baik? Apakah orang lain menganggap anda adalah seorang yang dapat membaca seseorang dengan baik? 18. Apakah tulisan tangan anda dibawah rata rata atau termasuk buruk? 19. Apakah saat kanak kanak anda mengalami keterlambatan dalam berjalan atau keterlambatan motorik lainnya? 20. Bila anda berada dalam ruangan yang baru, apakah anda cenderung mudah untuk mencari jalan disekeliling? Hasil : makin banyak jawaban "ya" makin kearah kanan "ya" 0-4 = sangat otak kiri = lebih otak kanan 5-8 = lebih otak kiri = sangat otak kanan 9-12 = otak kiri-kanan option=com_content&task=view&id=195&itemid=68

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN?

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? ASPEK YANG DISUKAI ANAK YANG BISA KITA AJARKAN FISIK Sangat Aktif. Bisa jalan, lari, lompat 2 kaki, bertumpu, dan manjat. Bisa corat-coret, bekerja dengan 3-4

Lebih terperinci

07. KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL. PSIKOLOGI KOMUNIKASI 07 KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL / Hal. 1

07. KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL. PSIKOLOGI KOMUNIKASI 07 KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL / Hal. 1 07. KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL PSIKOLOGI KOMUNIKASI 07 KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL / Hal. 1 KOMUNIKASI VERBAL KOMUNIKASI VERBAL adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (bahasa).

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

Penulis: Penerbit: Tebal: Cetakan: M. Musrofi. Pedagogia. 208 halaman. Desember 2010

Penulis: Penerbit: Tebal: Cetakan: M. Musrofi. Pedagogia. 208 halaman. Desember 2010 Penulis: M. Musrofi Penerbit: Pedagogia Tebal: 208 halaman Cetakan: Desember 2010 DAFTAR ISI 1. Bagaimana Cara Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa? 2. Cara MeningkatkanPrestasi k Akademik kd k yang Lebih

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

FORUM DIKLAT Vol 13 No. 03 MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK AGAR PEMBELAJARAN MENJADI DINAMIS DAN DEMOKRATIS. Oleh : M. Hasan Syukur, ST *)

FORUM DIKLAT Vol 13 No. 03 MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK AGAR PEMBELAJARAN MENJADI DINAMIS DAN DEMOKRATIS. Oleh : M. Hasan Syukur, ST *) MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK AGAR PEMBELAJARAN MENJADI DINAMIS DAN DEMOKRATIS Oleh : M. Hasan Syukur, ST *) Setiap insan manusia adalah unik. Artinya setiap individu pasti memiliki perbedaan antara

Lebih terperinci

9. K omunikasi Bukti Bukti Secara Visual

9. K omunikasi Bukti Bukti Secara Visual 9. Komunikasi Bukti Bukti Secara 9. Komunikasi Bukti Bukti Secara Visual Pembaca akan menilai kualitas dari penelitian anda berdasarkan pentingnya klaim anda dan kekuatan dari argumen anda Sebelumnya,

Lebih terperinci

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom.

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Suka menulis kreatif Menonjol dalam kelas seni di sekolah Mengarang kisah

Lebih terperinci

ANALISIS KURIKULUM & BAHAN AJAR TK A SEMESTER II

ANALISIS KURIKULUM & BAHAN AJAR TK A SEMESTER II 1. Berlari sambil melompat (D.3.20). 2. Meniru gerakan binatang/senam fantasi (D.3.23) 3. Berdiri dengan tumit di atas satu kaki selama 10 detik (D.3.19). 4. Mereyap dan merangkak lurus ke depan (D.3.22).

Lebih terperinci

PRINSIP USABILITY. HUMAN CAPABILITIES Faktor manusia ini harus diperhatikan, karena dari sinilah desain yang lebih baik didapatkan.

PRINSIP USABILITY. HUMAN CAPABILITIES Faktor manusia ini harus diperhatikan, karena dari sinilah desain yang lebih baik didapatkan. PRINSIP USABILITY Prinsip Usability Human Ability Human Capabilities Memori Proses Observations Problem Solving HUMAN ABILITIES BAIK - Kapasitas Long Term Memory (LTM) tidak terbatas - Durasi LTM tidak

Lebih terperinci

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK Fitri Rahmawati, MP. Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik UNY email: fitri_rahmawati@uny.ac.id Seni Berbicara Kemampuan menggabungkan: Penguasaan Pesan

Lebih terperinci

STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL

STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MENCAPAI TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL Oleh: dr. Nia Kania, SpA., MKes PENDAHULUAN Memiliki anak dengan tumbuh kembang yang optimal adalah dambaan setiap orang tua. 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sepertinya sulit untuk dilepaskan dari permasalahan operasi hitungan, penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya. Bagi siswa tertentu yang menganggapnya

Lebih terperinci

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 -2 Checklist Indikator PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 Diolah oleh: http://www.rumahinspirasi.com MORAL & NILAI AGAMA a. Dapat

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

12/19/2013. Setiap orang dewasa mengalaminya ribuan kali dalam hidupnya. Hypnosis adalah alami

12/19/2013. Setiap orang dewasa mengalaminya ribuan kali dalam hidupnya. Hypnosis adalah alami APAKAH HYPNOSIS ITU? Setiap orang dewasa mengalaminya ribuan kali dalam hidupnya. Hypnosis adalah alami 1 TINGKATAN SADAR (CONSCIOUS LEVEL) Contoh Aktivitas 1. Anda sedang bermain tenis 2. Anda melamun

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni.

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni. KOMUNIKASI EFEKTIF Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni Muhammad Hamdi Pokok bahasan Tentang kebutuhan manusia Apakah komunikasi itu? Mengapa

Lebih terperinci

TATA-TERTIB PERKULIAHAN

TATA-TERTIB PERKULIAHAN Mata Kuliah : KREATIVITAS SKS : 2 sks Dosen : Tim Deskripsi Kreativitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mewujudkan suatu ide baru. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari akal pikiran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan hakikat manusia, bergerak adalah salahsatu aktivitas yang tidak akan luput dari kehidupan manusia dalam melaksanakan aktivitasnya seharihari.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd.

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menulis,

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Memori atau daya ingat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia karena merupakan kekuatan jiwa manusia untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan-kesan,

Lebih terperinci

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM 1 Kerangka Belajar Meletakkan Dasar-dasar menemukan pengalaman terapkan lakukan kesimpulan daur belajar analisis ungkapkan 2 BERSTRUKTUR 3 MENGALAMI Proses

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Nama Soal Peta Jalan Batas Waktu - Nama Berkas peta[no.urut].out.[1..10] Batas Memori - Tipe output only Sumber Prima Chairunnanda

Nama Soal Peta Jalan Batas Waktu - Nama Berkas peta[no.urut].out.[1..10] Batas Memori - Tipe output only Sumber Prima Chairunnanda Nama Soal Peta Jalan Batas Waktu - Nama Berkas peta[no.urut].out.[1..10] Batas Memori - Tipe output only Sumber Prima Chairunnanda Pada suatu hari Pak Ganesh ingin pergi ke kota untuk membeli barang keperluan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN PERILAKU AWAL SISWA. Langkah-langkah sistematis pembelajaran secara keseluruhan terdiri dari:

KARAKTERISTIK DAN PERILAKU AWAL SISWA. Langkah-langkah sistematis pembelajaran secara keseluruhan terdiri dari: KARAKTERISTIK DAN PERILAKU AWAL SISWA Dina Amelia 702011094 Mario da Costa 702011901 A. ANALISIS PEMBELAJARAN Analisis pembelajaran adalah: langkah awal yang perlu dilakukan sebelum melakukan pembelajaran.

Lebih terperinci

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar Dalam artikel ini, kita akan membandingkan seperti apakah Frequency Response (selanjutnya disingkat FR) yang terdengar oleh penonton berdasarkan penyebaran direct sound pressure level. Pengaruh ruangan

Lebih terperinci

SOAL MATEMATIKA SD. Jawaban: 39.788 + 56.895 27.798 = 96.683 27.798 = 68.885 (B)

SOAL MATEMATIKA SD. Jawaban: 39.788 + 56.895 27.798 = 96.683 27.798 = 68.885 (B) SOAL MATEMATIKA SD. Hasil 39.788 + 56.895 7.798 adalah A. 68.875 B. 68.885 C. 68.975 D. 69.885 39.788 + 56.895 7.798 = 96.683 7.798 = 68.885 (B) Pengetahuan prasyarat Aturan Internasional operasi hitung

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil 67 BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil penelitian. Pembahasan hasil penelitian berdasarkan deskripsi data tentang strategi

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Edisi 1.0 2 Pendahuluan Tentang headset Dengan Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111, Anda dapat menangani panggilan secara handsfree serta menikmati musik favorit

Lebih terperinci

Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran

Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak, (2) pembelajaran Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : IOF 220 : Perkembangan Motorik Materi 5: Perkembangan Perilaku Gerak Perkembangan Perilaku Gerak Perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) kontrol gerak,

Lebih terperinci

PERAN BERMAIN DALAM PERKEMBANGAN ANAK

PERAN BERMAIN DALAM PERKEMBANGAN ANAK PERAN BERMAIN DALAM PERKEMBANGAN ANAK Defenisi Bermain adalah : Cara ilmiah bagi anak untuk Cara ilmiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari (Miller.P.F.& Klane,1989)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Proses pendidikan

Lebih terperinci

1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan)

1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan) Created by http://www.tellmemore.cjb.net Page 1 of 9 Manual Book 1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan) Microsoft Windows 95 8

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

DETEKSI DINI DAN STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK. Nur Faizah R

DETEKSI DINI DAN STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK. Nur Faizah R DETEKSI DINI DAN STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK Nur Faizah R Tujuan Meletakkan dasar bagi perkembangan selanjutnya yaitu prasekolah, sekolah, dan remaja Deteksi Dini Pengertian : upaya penjaringan yg dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KONSEP BAGI TUNANETRA

PENGEMBANGAN KONSEP BAGI TUNANETRA PENGEMBANGAN KONSEP BAGI TUNANETRA IRHAM HOSNI DOSEN PLB FIP UPI DIKLAT PROGRAM KHUSUS ORIENTAS DAN MOBILITAS TUNANETRA BPPTKPLB DINAS PENDIDIKAN JAWA BARAT HOTEL BMI LEMBANG, 12 19 MARET 2010 Bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sangat penting dalam meningkatkan potensi diri setiap orang. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

Lebih terperinci

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar.

200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. PERHATIKAN data berikut. 200 kata permenit (kpm) : Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar. Benar. Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar, tepatnya mereka yang belum lama dan berlum berpengalaman

Lebih terperinci

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Meditasi jalan Sebaiknya, latihan meditasi dimulai dengan meditasi jalan dahulu. Saat

Lebih terperinci

ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB

ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB ABV 3.1 KETRAMPILAN-KETRAMPILAN MIKRO DALAM KIP/KONSELING KB ABV 3.2 TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan cara melakukan observasi dan memantapkan hubungan baik 2. Mempraktikkan ketrampilan mendengar aktif

Lebih terperinci

Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)

Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) MODUL 22 Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) TUJUAN Memahami prinsip SMART dan WFO dalam perumusan rencana kerja tindak lanjut. Membuat Rencana Kerja sebagai Tindak Lanjut Kegiatan. Advokasi untuk mengawal

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI Suhardi SD Negeri 007 Ranai Bunguran Timur Natuna Abstrak: Siswa kelas IV SDN 007 Ranai cenderungmengalami kesulitan

Lebih terperinci

AL ARIF 2004 HTTP://WWW.ANAKJENIUS.COM CARA MENINGKATKAN DAYA INGAT ANAK

AL ARIF 2004 HTTP://WWW.ANAKJENIUS.COM CARA MENINGKATKAN DAYA INGAT ANAK CARA MENINGKATKAN CARA MENINGKATKAN Oleh AL ARIF http://www.anakjenius.com 2004 HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG Dilarang meng-copy, meniru, menyebarkan, mencetaknya dan mereproduksi dengan cara apapun

Lebih terperinci

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (P2PAUDNI) Regional II Semarang Tahun 2014 PENILAIAN

Lebih terperinci

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol 1. Metode Penerapan Kampanye Kecelakaan Nol Metode secara konkretnya, dikembangkan di tempat kerja untuk menerapkan prinsip menghargai manusia dalam

Lebih terperinci

BAB 6 SIMBOL NON-VERBAL

BAB 6 SIMBOL NON-VERBAL BAB 6 SIMBOL NON-VERBAL Dasar-dasar Komunikasi (KPM 210) Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia -IPB Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari bab ini, Anda

Lebih terperinci

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG 1 PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG Sukmawarti Dosen Kopertis Wilayah I dpk pada FKIP Universitas

Lebih terperinci

Tema Parenting : (Mengasah Kemampuan Berbahasa) SERI BACAAN ORANG TUA TANDA PERKEMBANGAN ANAK USIA 2 4 TAHUN

Tema Parenting : (Mengasah Kemampuan Berbahasa) SERI BACAAN ORANG TUA TANDA PERKEMBANGAN ANAK USIA 2 4 TAHUN Tema Parenting : (Mengasah Kemampuan Berbahasa) SERI BACAAN ORANG TUA TANDA PERKEMBANGAN ANAK USIA 2 4 TAHUN Selama periode usia 2-4 tahun, anak menunjukkan perubahan di seluruh tanda perkembangannya.

Lebih terperinci

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN LATAR BELAKANG Lerner dan Hultsch (1983) menyatakan bahwa istilah perkembangan sering diperdebatkan dalam sains. Walaupun demikian, terdapat konsensus bahwa yang

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT Welhelmus Denny SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Abstrak:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar. Oleh. Dra. Hj. Yunani, M.Pd. *

Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar. Oleh. Dra. Hj. Yunani, M.Pd. * Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar Oleh. Dra. Hj. Yunani, M.Pd. * Makalah Ini Disampaikan Pada Acara Seminar : Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Kabupaten Ogan Ilir Pada Tanggal 9 Februari 2013 *Dosen Pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tumbuh kembang yang normal pada seorang individu sangat dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara pengaruh hormonal, respons jaringan dan gizi. Tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan melibatkan pemerintah sebagai

Lebih terperinci

Oleh Septia Sugiarsih

Oleh Septia Sugiarsih Oleh Septia Sugiarsih Merupakan proses memperoleh makna dari barang cetak ( Spodek dan Saracho, 1994). 2 cara : Langsung Menguhubungkan ciri penanda visual dari tulisan dengan maknanya Tidak langsung Mengidentifikasi

Lebih terperinci

Problem A. Raja yang Bijak

Problem A. Raja yang Bijak Problem A Raja yang Bijak Wacat adalah seorang pangeran yang baru saja diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya, Hubu, seorang raja yang terkenal bijaksana. Hubu mampu mengambil segala keputusan yang

Lebih terperinci

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R A. MENGAPA KEAHLIAN INI PENTING Membaca merupakan salah satu kegiatan yang harus dilalui dalam rangkaian keahlian literasi informasi bagi seseorang. Keahlian ini

Lebih terperinci

HUBUNGAN RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis hubungan ruang : Ruang di dalam ruang. Ruang-ruang yang saling berkait. Ruang-ruang yang bersebelahan

HUBUNGAN RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis hubungan ruang : Ruang di dalam ruang. Ruang-ruang yang saling berkait. Ruang-ruang yang bersebelahan HUBUNGAN RUANG Berikut ini adalah jenis-jenis hubungan ruang : Ruang di dalam ruang Ruang-ruang yang saling berkait Ruang-ruang yang bersebelahan Ruang-ruang yang dihubungkan oieh sebuah ruang bersama

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diajarkan adalah keinginan setiap orang tua (Ummu Shofi, 2008 : 2006).

BAB I PENDAHULUAN. yang diajarkan adalah keinginan setiap orang tua (Ummu Shofi, 2008 : 2006). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki anak yang mudah dibimbing dan mudah mengerti segala hal yang diajarkan adalah keinginan setiap orang tua (Ummu Shofi, 2008 : 2006). Obsesi menjadikan

Lebih terperinci

Semua hak cipta. Hak cipta yang lainnya tetap menjadi milik masing-masing.

Semua hak cipta. Hak cipta yang lainnya tetap menjadi milik masing-masing. Copyright 2014 by ZTE Mobile Telecom Company. Pernyataan Hak Cipta Hak cipta buku manual ini milik SHENZHEN ZTE Mobile Telecom Co., LTD. Tanpa ijin tertulis dari pemilik hak cipta, tidak ada bagian dari

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd.

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. A. Pengantar Sebenarnya apa yang saya kemukakan pada bagian ini, mungkin tidak akan berarti apa-apa kepada

Lebih terperinci

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN BERBASIS KELAS Mata Pelajaran MATEMATIKA LAYANAN KHUSUS SEKOLAH dan MADRASAH IBTIDAIYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia.

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar

Kompetensi Dasar. Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran. Kemampuan Dasar Mengajar Kompetensi Dasar Menerapkan kemampuan dasar mengajar dalam mengelola pembelajaran 2 Indikator Keberhasilan menjelaskan karakteristik 8 kemampuan dasar mengajar dengan lengkap melaksanakan praktek salah

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK Nur Auliah Hafid Widyaiswara LPMP Sulsel 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah Seni dapat meningkatkan Kecerdasan Emosional

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Diskripsi Teori 1. Aktivitas Belajar a. Pengertian Aktivitas Belajar Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting didalam interaksi belajar-mengajar. Dalam aktivitas

Lebih terperinci

SKALA AFEKTIF BERFIKIR KRITIS

SKALA AFEKTIF BERFIKIR KRITIS SKALA AFEKTIF BERFIKIR KRITIS PETUNJUK 1. Skala ini terdiri dari pernyataan. Anda diminta membaca pernyataan dan kemudian memberikan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri Anda sendiri dengan cara

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU

TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU TINGKAH LAKU ANAK DAN PENGELOLAAN PADA PERAWATAN GIGI DEPARTEMEN PEDODONSIA FKG USU 15 BULAN 2,5 TAHUN (TODDLERHOOD) Daya tangkap : Terbatas Perhatian : Tidak tetap Aman, jika : didampingi ibu/orang dikenal

Lebih terperinci

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor Bab 5 Sumber: www.in.gr Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi komposisi dalam pemecahan masalah; menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi invers

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

Hidup Rukun. http://bse.kemdikbud.go.id. Diunduh dari. Tema 1. Buku Guru SD/MI Kelas II

Hidup Rukun. http://bse.kemdikbud.go.id. Diunduh dari. Tema 1. Buku Guru SD/MI Kelas II Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2014 K U R IKU L M U 2013 Tema 1 Hidup Rukun Buku Temati k Terpadu Kuri kulum 2013 Buku Guru SD/MI Kelas II Hak Cipta 2014 pada Kementerian Pendidikan

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK KOMUNIKASI POKOK-POKOK KULIAH PADA PASCASARJANA UNAIR. Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR

TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK KOMUNIKASI POKOK-POKOK KULIAH PADA PASCASARJANA UNAIR. Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK POKOK-POKOK KULIAH KOMUNIKASI PADA PASCASARJANA UNAIR Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR 1 STRATEGI KOMUNIKASI 09 April 2007 FK UNAIR 2 MODEL UTAMA

Lebih terperinci

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy)

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) Apakah hipnoterapi Itu? Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari

Lebih terperinci