Suharsono ABSTRAK. 1. PENDAHULUAN Membicarakan kota atau perkotaan khususnya di Indonesia memiliki iki daya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Suharsono ABSTRAK. 1. PENDAHULUAN Membicarakan kota atau perkotaan khususnya di Indonesia memiliki iki daya"

Transkripsi

1 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses Sosialisasi dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Kota untuk Menciptakan Budaya Gaya Hidup yang Peduli Lingkungan Suharsono ABSTRAK 1. PENDAHULUAN UAN Membicarakan kota atau perkotaan khususnya di Indonesia memiliki iki daya tarik kota besar seperti Jakarta arta seolah memiliki kekuatan atau au magnit yang luar biasa be merasa penat tetapi justru sebagian besar masyarakat arakat daerah masih banyak yang me datang bukan untuk uk melihat persidangan ber bagai kasus korupsi yang tidak kunjung sele tetapi mereka ingin memperjuangkan nasib dengan mencari peluang pekerjaan yang ter 86

2 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses dilihat misalnya ketika terjadi mudik Idul Arus pertambahan jumlah penduduk ini pada gilirannya menimbulkan dampak pada daerah perkotaan misalnya tingkat kepadatan anasaran umum lainnya (Abdul portasi dan saranasarana tentang kota atau au perkotaan maka yang terbayang dikatakan oleh Eko Budihardjo dalam pengantar bahwa karena kepadatan a ruang dan manusia maka berkembang pemukiman kumuh dalam tuk perkampungan kumuh legal () maupun perkampungan kumuh liar ( ben hanya mereka inilah yang menjadi persoalan dae dianggap mengganggu keindahan dan kenyaman bil oleh para pengambil keputusan biasanya dengan menggusur ur mereka dan menggantikannya dengan bangunanbangunan nanbangunan baru seperti pusat perbelanjaan ( Secara sosiologis keberadaan mereka tetap dibu Selain itu menurut u Koswara dalam bukunya Ir tidak ada empat persoalan dalam pembangunan tingkat kepadatan atan penduduk uk dan pola penggu gu demikian yang lebih penting adalah alah bagaimana a menata daerah perkotaan menjadi daerah hunian Menurut ut Eko Budihardjo (ibid) pembangunan kotakota di Indonesia lebih tepat jika berorientasi pada pembangunan kota yang manusiawi (sahabat dengan lingkungan ( bangunan kota yang manusiawi pada dasarnya adalah pembangunan kota yang memperhati kan aspek kebutuhan sosial dan budaya ma tuk saling berinteraksi diantara warga seperti pada dasarnya merupaka pembangu nan kota yang memperhatikan aspek kelestarian an lingkungan seperti tersedianya ruang tercapainya pembangunan kota yang mem perhatikan daya dukung alam yang berkelan jutan ( bahwa dalam perspektif ekopolis maka lahan resapan air dan kawasan lindung merupakan tempat yang harus dihindari untuk pemban han dari masyarakat bahwa tinggal ga di wilayah perkotaan sekarang ini sudah tidak nyaman ini ditangkap oleh para pelaku bisnis peruma han sebagai peluang baru dengan samasama mengangkat gk at isu lingkungan g n namun dengan tindakan (action itu maka banyak pengembang yang menawar kan hasil produknya dengan kemasan penataan lingkungan ngan yang nyaman an melalui berbagai me dengan apa yang ditawarkan a lewat berbagai kurang memperhatikan faktor kelestarian ling bahwa pembangunan perkotaan secara nyata merusak lingkungan alam dan wilayahwilayah 87

3 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses sekarang merupakan hasil dari pembantaian terhadap alam ( bahwa berbagai kasus lingkungan gan hidup yang sekarang terjadi baik pada tingkat global maupun nasional bersumber pada perilaku manusia Bagi masyarakat perkotaan isu peles e tarian lingkungan dan ketersediaan ruang tuk kebutuhan sosial dan budaya masyarakat kota menjadi sangat penting dan mendesak karena mereka yang paling banyak ak merasakan un yang bisa dilakukan untuk pelestarian lingkungan yaitu mengubah gaya hidup yang dinya kurang memperhatikan lingkungan gan men itu yang menjadi persoalan dalam tulisan ini adalah bagaimana aimana meningkatkan partsipasi masyarakat perkotaan dalam menciptakan budaya gaya hidup peduli lingkungan? ta 2. BUDAYA GAYA HIDUP PEDULI LINGKUNGANGAN wilayah perkotaan (baru) misalnya a perumah dan pusatpusat belanja ( merasakan kepengapan an atau panas yang luar bisa pada musim kemarau dan kesusahan ketika banjir terjadi disana a sini pada musim hujan pembangunan berbagai komplek perumahan bahwa sebagian besar sudah kurang memperm er real estate lebih banyak membangun rumah ditambah ah kantor (rukan) dan sarana lain yang bagai gantinya mereka eka lebih banyak menggu nakan AC untuk penyejuk ruangan dan meng pelestarian lingkungan pada dasarnya sudah menjadi pengetahuan umum kita semua baik Tetapi perwujudannya masih lebih banyak pada tataran pengetahuan dalam bentuk semi lum banyak menyentuh pada bentuk perilaku Selain itu mari kita coba perhatikan fenomena lain misalnya jika ratarata setiap (kilo atau ton) sampah yang menjadi beban besar masyarakat berpandangan bahwa sam pertokoan memiliki armada dan petugas khu sus sebagai kolektor dan sekaligus tenaga sebenarnya dapat dikatakan akan tidak bertanggungjawab karena sampah atau limbah yang di lainlah yang harus menanggung efek negatif jalanjalan diaspal atau beton sehingga tidak ada a kesempatan air meresap es ke tanah kembali maka semakin lengkap kerusakan lingkungan chi digambarkan an sebagai akibat tidak baiknya sistem stem manajemen ajemenen lingkungan g n dan gagalnya para tokoh perkotaan bekerjasama meyampaikan berbagai masalah dengan semangat 88

4 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses kondisi ini sebagai akibat kesalahan manusia dalam memandang mandang alam dan menempatkan empatkan atau sekurangkurangnya menjaga kerusakan alam yang lebih parah dapat dilakukan dengan mengubah cara a pandang ang dan perilaku manusia dengan menciptakan budaya gaya hidup pedu Aoshima dalam am pengantar buku Koentjaraningrat dalam bukunya daya itu begitu luasnya karena menyangkut se bahwa untuk mempermudah dalam memahami mi Soedjatmoko dalam pengantar buku yang ditulis van Peursen berjudul Strategi Kebudayaan a usaha pembangunan dan modernisasi kita menghadapkan kita secara langsung dengan masaalah kebudayaan a Indonesia.., dan dengan proses kebudayaan a kita memperbaharui rui diri dalam am kita menjawab ab tantangantantangan kehidupan modern. Selanjutnya dikatakan ak an bahwa van Peursen memandang kebudayan sebagai siasat manusia menghadapi masa depan dan sebagai proses pembelajaran ( ) ) yang penilaian kritis is menjadi sangat penting agar manusia dapat mengabil tanggungjawab secara bebas dan dewasa atas keadaannya dan Van Peursen (ibid:) kemudian mengatakan bahwa manusia selalu mengutikutik lingkungan hidup ini dipandang sebagai strategi tegi atau cara manusia ini pemahaman kebudayaan ditekankan pada wujud kebudayaan yang kedua yaitu segenap perilaku berpola individu dalam masyarakat sebagai cara untuk mengatasi permasalahan tulisan ini adalah menciptakan atau memben tuk perilaku atau gaya hidup yang peduli ling batas kesadaran saja tetapi harus sampai pada tingkat tindakan (action) yang juga menjadi wa di Jepang masyarakat peduli lingkungan ini disebut dengan masyarakat berwawasan ini dapat digunakan sebagai acuan dalam me mahami dan mengembangkan mbangkan lebih lanjut ten tang masyarakat peduli lingkungan pada masyarakat ak at kota khususnya di Indonesia yaitu : Sebuah masyarakata yang peduli terhadap sinar matahari, udara, a air, tanah, tumbuhtumbuhan u hijau, dan karuniakarunia alam lainnya, ny a, sebuah masyarakat arak akata yang men gendalikan konsumsi sumbersumber alam dan energi secara massal dan sebuah generasi yang tidak berguna, yang berusaha keras mendaur ulang menggunakan g na sumbersumber alam secara efektif; sebuah masyarakat yang berusaha keras kembali ke alam dengan membuang sampah yang telah diolah atau didaur d ulang untuk mem perkecil beban lingkungan. Secara umum tujuan masyarakat peduli 89

5 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses sak kemampuan generasi masa depan un Tujuan tersebut ebut konkritnya adalah a ah : memperkecil dan mengatur sampah rumah tang tempat rekreasi yang alamiah dan menyenang merencanakan pembangunan perumahan yang sesuai dengan kebutuhan umat manusia dan Nenek ek moyang kita sebenarnya secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kita untuk hidup harmonis berdampingan dengan mereka diciptakan sistem budaya untuk peduli dalam melestarikan lingkungan yang diwariskan pohon sembarangan karena ada penunggu membuang sampah di sembarang tempat karena ada yang pah pada ini ternyata memiliki iki nilai dasarnya menggambarkan masyarakat yang peduli lingkungan melalui lui kearifan an lokal dalam pelestarian lingkungan n agar terjaga a hubungan kehidupan yang harmonis berdampingan den Sekarang persoalannya bagaimana dengan masyarakat perkotaan yang sudah ti dak banyak yang mengenal ceritacerita sep erti di atas as dan bahkan cenderung terkena vi Meminjam istilah yang sering digunakan budaya peduli lingkungan bagi masyarakat syarakat perkotaan sebagai bentuk kepedulian peduli sampah rumah tangga dan lingkungan membuat biopori dan kompos o sampah rumah aksi peduli lingkungan baik komunitas maupun individu dengan mengubah gaya hidup dengan dan takan budaya gaya hidup peduli lingkungan ini misalnya dapat dilakukan oleh seorang dosen dapat dilakukan misalnya dengan memisahkan komunkasi interpersonal untuk meningkatkan partisipasi asi masyarakat a akata dalam a menciptakan bu 3. PERAN KOMUNIKASI KA INTER PERSONAL DAN PROSES SOSIALISASI has tentang komunikasi dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari komunikator 90

6 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses (sumber) kepada komunikan ( bila pesan yang disampaikan itu menghasilkan dampak (responreaksi) bagi penerimanya yang berupa tanggapan atau au perilaku ( dalam menciptakan budaya gaya hidup peduli karena diharapkan dapat memiliki pengaruh simpulkan bahwa komunikasi interpersosal pada dasarnya a merupakan komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang besi logis yang dimaksudkan adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam proses komunikasi kasi kalau ada yang kurang jelas maka dapat ditanyakan dan dijawab pada saat itu sehingga lan secara akrab ab diharapkan akan memberikan dampak yang lebih kuat pengaruhnya bagi pihak lain yang mendengar engar dan melihat apa yang gaya hidup peduli lingkungan karena menyangkut ngku perubahan baik pola pikir maupun perilaku yang selama ini jarang diperhatikan bahkan an cenderung bertolak belakang dengan kebiasaan yang selama ini dilakukan an takan budaya lingkungan maka pola pikir i dan perilakunya lompok atau masyarakat akat harus peduli terhadap gubah pola pikir dan perilaku tersebut dapat bahwa sosialisasi sial isasi dalam kehidupan seharihari berarti proses belajar untuk mengenal dan me mahami bagaimana hidup bersama dengan orang Proses belajar ini dilakukan secara terus menerus kan secara terus menerus dengan contohcontoh langsung maka diharapkan dapat mempengaruhi orang lain untuk ikut peduli terhadap lingkun 4. BAGAIMANA A MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT A AT? Pada dasarnya keberhasilan pemban gunan itu tergantung antara lain pada parti Budihardjo bahwa dalam rangka mencapai pembangunan perkotaan berkelanjutan yang manusiawi dan ramah terhadap lingkungan antara lain tergantung pada partisipasi warga kota dan segenap Secara umum m partisipasi ipasi sering diartikan sebagai bentuk keterlibatan individu sama dalam proyek pembangunan yang tas bersama dalam pembangunan (bersifat Selama ini partisipasi pasi lebih banyak dipahami hanya sebagai bentuk keikutsertaan 91

7 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses seseorang dalam proses pembangunan nan mulai berkaitan dengan kepedulian ed masyarakat terhadap lingkungan mengacu pada pendapat ini menjadi bagian dalam membudayakan masyarakat ar akat at untuk peduli terhadap pasi seperti kepedulian terhadap lingkungan ini diharapkan dapat menjadi bagian an hidup keseharian ma Selanjutnya bagaimana meningkatkan partisipasi masyarakat a dalam menumbuhkembangkan budaya gaya hidup peduli lingkungan? Agar dapat meningkatkan partisipasi maka harus menghindarkan berbagai bagai persoalan partisipasi masyarakat dalam pembangunan a. Interaksi Aparat dan Masyarakat Selama ini ada anggapan Aparat pem yang datang dari atas (pemerintahdinas) anggap sebagai proyek yang sungguhsungguh merupakan pemenuhan kebutuhan rakydi (rakyat) hanya merupakan keinginan saja a Sikap seperti erti ini menimbulkan dampak merasa lebih tahu segalanya dan meremeh meh dipedulikan dan hanya a akana menerima begitu saja apa yang menjadi program tah tanpa sikap kritis yang berorientasi pada pemerin b. Penggunaan Bahasa (yang berlebihan) hasa asing yang cenderung berlebihan dalam proses pembangunan di Indonesia sering menimbulkan kebingungan bagi masyarakat dan tidak menutup kemungkinan bagi aparat berbagai akronim (singkatan) dan bahasa asing yang digunakan dalam am berbagai bentuk keg iatan pembangunan tetapi realitanya dipertan c. Sikap Paternalistik Masyarakat Indonesia dikenal memiliki intah atau pemimpin yang memposisikan dirinya hubungan bapak dan anak ini maka sering kali pemimpin atau aparat pemerintah lebih bersikap seperti bapak dalam keluarga yang merasa wa jib memberi bantuan terhadap segala permasalah perilaku seperti di atas as menimbulkan sikap sense (sikap ketidakmampuan) yang menyebabkan n masyarakat kurang kreatif dan inova mandiri karena selalu meminta petunjuk atau ada segi positif dari masyarakat yang memi liki nilai berorientasi i ke atas yaitu mereka akan lebih mudah diajak untuk u berpartisipasi dengan memberi contohcontoh perilaku konkrit d. Sikap Traumatik sa tertipu tipu oleh programprogram ram r m yang dicanan mencanangkan angkan penanaman jarak untuk men menanam tetapi ternyata tidak ada tindak lanjut katanya sebagai soko guru perekonomi Indone 92

8 Peran Komunikasi Interpersonal dan Proses ( usaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa program yang dilakukan itu akan mendatang Selain itu menurut ut Koentjaraningrat dalam berbagai aspek pus) dengan cara yang tidak wajar dan cenderung hanya untuk kebutuhan sesaat atau jangka konsumsi masyarakat kota (satelit) yang tidak menjadi pola konsumsi simbolis yang menjadi lambang identitas itas dan citra ( sumsi seperti ini cenderung dan sekaligus sebagai pemisah individu dengan kelompoknya karena masingmasing berusaha mencari barang konsumsi yang membedakan satu dengan yang lain sebagai nilai tambah ( itu sebagai dampak dari pola hidup bersaing satu dengan yang lain ini maka cenderung kurang Koentjaraningrat rat menawarkan beberapa konsep 5. KESIMPULAN bahwa perkembangan pembangunan a daerah perkotaan sekarang ini cenderung n kurang tersedianya berbagai fasilitas it kota seperti tem kebijakan pemerintah dalam am pembangunan kota yang kurang memperhatikan aspek lingkungan sehingga kehidupan wilayah kota terlihat menjadi lebih padat penduduk dan kenda kata lain kota menjadi kurang aman dan nya Kondisi di atas dapat diatasi setidaktidaknya terkurangai permasalahannya alahannya dengan mencip Menanamkan budaya ini dapat dilakukan den ga proses sosialisasi yang terus menerus den gan perilaku konkrit melalui peran komunkasi sonal ini diharapkan masingmasing m s individu dapat berbagi informasi secara langsung sehingga g lebih mudah dalam proses perubahan dan komunikasi interpersonal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi p masyarakat Meskipun tidak semudah membalik kan telapak tangan dalam am menciptakan bu lompok dan masyarakat dengan tindakan DAFTAR PUSTAKA Eko Budihardjo dan Sudanti Hardjohubo 93

9 PEDOMAN PENULISAN JURNAL KOMUNIKASI tetapi dalam penulisannya n a didampingi oleh pembimbingnya dan disesuaikan dengan format yang ditentukan dan referensi yang dirujuk dalam artikel Contoh: Contoh: bulan sebelum periode penerbitan kepada : PUSKA (PUSAT KAJIAN KOMUNIKASI) KASI PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA (UMN) Jalan Boulevard Gading Serpong Tangerang Banten n Telp Indiwan seto di alamat 94

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa A. Latar Belakang KOPI, Dewasa ini, tradisi masyarakat menjadi perhatian aset warisan bangsa. Hal ini disebabkan karena dinamika zaman telah mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Tradisi masyarakat selalu

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

TUGAS KEWARGANEGARAAN TEMA : EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KEBIJAKSANAAN PEMERINTAHAN KASUS : PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN

TUGAS KEWARGANEGARAAN TEMA : EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KEBIJAKSANAAN PEMERINTAHAN KASUS : PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN TUGAS KEWARGANEGARAAN TEMA : EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KEBIJAKSANAAN PEMERINTAHAN KASUS : PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN Penyusun : Angela Geani Bernadette Sonya Anindita Cecilia Grace Hartanty Celia Lagoa Dewike

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS FREQUENTLY ASKED QUESTIONS Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik adalah gerakan nasional yang mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik. Diet memiliki makna BIJAK dalam mengonsumsi.

Lebih terperinci

Komitmen itu diperbaharui

Komitmen itu diperbaharui POS PEM8CRDAYAAH KELUARCA (POSDAYA) bangsa-bangsa lain di dunia. Rendahnya mutu penduduk itu juga disebabkan karena upaya melaksanakan wajib belajar sembilan tahun belum dapat dituntaskan. Buta aksara

Lebih terperinci

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Deputi Big Informasi, Energi, Material, Ba Pengkajian Penerapan Pusat Pengkajian Penerapan (P3TL) mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, penerapan, koordinasi penyiapan penyusunan kebijakan nasional

Lebih terperinci

LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009

LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009 LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009 Yth. Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Yth. Ibu Hj. Mufidah Yusuf Kalla,

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Kesesuaian Perencanaan

Lebih terperinci

BAB III Tahapan Pendampingan KTH

BAB III Tahapan Pendampingan KTH BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15 Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah.

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah. Sekalipun Anda memiliki produk unggulan, konsep layanan prima dan gagasan-gagasan kreatif, tetapi tidak Anda komunikasikan kepada orang lain, tidak ada gunanya. Sehebat apa pun ilmu dan jurus-jurus bisnis

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. Mengingat : 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, bahwa rumah merupakan

Lebih terperinci

Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015

Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015 Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015 GAMBARAN SISTEM PENYEDIAAN AIR DI SAB WAIKANURU MOPIR-SUMBA BARAT DAYA menggunakan sistim

Lebih terperinci

perhatian dari kedua orangtuanya.

perhatian dari kedua orangtuanya. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek Anak adalah asset set paling berharga rga bagi suatu bangsa. Anak merupakan penerus masa depan bagi bangsa. Disisi lain, bagi orang tua, anakak adalah

Lebih terperinci

PROSEDUR KERJA. Kencana Loka BLOK F JABATAN : KOORDINATOR SECURITY TGL TERBIT : 19 1-2014 SATUAN PENGAMAN / SECURITY NO REVISI : 0

PROSEDUR KERJA. Kencana Loka BLOK F JABATAN : KOORDINATOR SECURITY TGL TERBIT : 19 1-2014 SATUAN PENGAMAN / SECURITY NO REVISI : 0 JABATAN : KOORDINATOR SECURITY A. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB 1. Melakukan Rekrut anggota Security sesuai dengan kebutuhan, Yang telah di setujui warga melalui keputusan Ketua RT. 2. Sebagai jembatan komonikasi

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang

Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang kode kegiatan : I.03 Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang Doddy A. Darmajana LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA BALAI BESAR PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor Renstra 2011-2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Renstra Kota Metro merupakan suatu proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kota Metro selama kurun waktu 5 (lima) tahun secara sistematis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Trend dunia pariwisata selalu berubah ubah. Ini dikarenakan pariwisata itu memiliki sifat yang dinamis. Karena dinamis, maka para planer, konseptor, dan juga investor

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan LAMPIRAN 1 KATA PENGANTAR Kuesioner ini dibuat semata-mata untuk maksud penelitian dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

Masalah : Mengatasi Susahnya Masyarakat untuk Naik Angkutan Umum

Masalah : Mengatasi Susahnya Masyarakat untuk Naik Angkutan Umum Masalah : Mengatasi Susahnya Masyarakat untuk Naik Angkutan Umum Mengapa : 1. Kualitas angkutan umum kurang dari kestandaran nasional kendaraan. 2. Suka ugal-ugalan di jalan raya. 3. Lahan yang sempit.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1988 TENTANG RUMAH SUSUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1988 TENTANG RUMAH SUSUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1988 TENTANG RUMAH SUSUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang

Lebih terperinci

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki disampaikan oleh: DR. Dadang Rukmana Direktur Perkotaan 26 Oktober 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Outline Pentingnya Jalur Pejalan

Lebih terperinci

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era

Lebih terperinci

Evaluasi Kinerja - Jokowi Ahok Bidang Perumahan DKI Jakarta 2013. Yayat Supriatna Planologi Trisakti

Evaluasi Kinerja - Jokowi Ahok Bidang Perumahan DKI Jakarta 2013. Yayat Supriatna Planologi Trisakti Evaluasi Kinerja - Jokowi Ahok Bidang Perumahan DKI Jakarta 2013 Yayat Supriatna Planologi Trisakti Program Prioritas Pembangunan Permukiman RPJMD 2013 (sumber : Dokumen Rancangan Rencana RPJMD 2013-1017).

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

terendam akibat dari naiknya muka air laut/rob akibat dari penurunan muka air tanah.

terendam akibat dari naiknya muka air laut/rob akibat dari penurunan muka air tanah. KOTA.KOTA IDENTIK dengan pemusatan seluruh kegiatan yang ditandai dengan pembangunan gedung yang menjulang tinggi, pembangunan infrastruktur sebagai penunjang dan sarana penduduk kota untuk mobilisasi,

Lebih terperinci

a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.

a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. b. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. URUSAN LINGKUNGAN HIDUP Pada Tahun Anggaran 2008, penyelenggaraan urusan wajib bidang lingkungan hidup sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan

Lebih terperinci

Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)

Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) MODUL 22 Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) TUJUAN Memahami prinsip SMART dan WFO dalam perumusan rencana kerja tindak lanjut. Membuat Rencana Kerja sebagai Tindak Lanjut Kegiatan. Advokasi untuk mengawal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roda pemerintahan terus bergulir dan silih berganti. Kebijakan baru dan perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. Dampak

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 Konsep Tapak dan Ruang Luar BAB V KONSEP PERANCANGAN mengaplikasikan konsep rumah panggung pada bangunan pengembangan, agar bagian bawah bangunan dapat dimanfaatkan untuk aktifitas mahasiswa, selain

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 18 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDUNG TAHUN 2011-2031

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 18 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDUNG TAHUN 2011-2031 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 18 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDUNG TAHUN 2011-2031 I. Penjelasan Umum... II. Pasal Demi Pasal Pasal 1 Angka 1 Angka 2 Angka

Lebih terperinci

Latar Belakang. Dari segi udara, DKI Jaya sebagai salah satu kota di tanah air adalah kota terpolusi ke tiga di dunia.

Latar Belakang. Dari segi udara, DKI Jaya sebagai salah satu kota di tanah air adalah kota terpolusi ke tiga di dunia. Konsep PEMELIHARAAN DAN PENGAWASAN LINGKUNGAN HIDUP TINGKAT RUKUN WARGA Yayasan / Non governmental organization Alamat : Jl. Jatibening Kincan No. 16 Rt 001/ Rw 007, Jatibening 17412 Bekasi Indonesia.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di dalam kehidupan masyarakat sangatlah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, budaya dan faktor lainnya.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH PERTEMUAN MINGGU KE 17 PRODUK DAUR ULANG LIMBAH Standar Kompetensi: 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. Kompetensi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN HARI PEDULI SAMPAH 2015 DAN PENCANANGAN GERAKAN TIGA JARI KELOLA SAMPAH; PILAH, KOMPOS DAN DAUR ULANG MENUJU INDONESIA BERSIH SAMPAH

KERANGKA ACUAN HARI PEDULI SAMPAH 2015 DAN PENCANANGAN GERAKAN TIGA JARI KELOLA SAMPAH; PILAH, KOMPOS DAN DAUR ULANG MENUJU INDONESIA BERSIH SAMPAH KERANGKA ACUAN HARI PEDULI SAMPAH 2015 DAN PENCANANGAN GERAKAN TIGA JARI KELOLA SAMPAH; PILAH, KOMPOS DAN DAUR ULANG MENUJU INDONESIA BERSIH SAMPAH 2020 1. Latar Belakang Secara umum pola penanganan sampah

Lebih terperinci

t::iresiden PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2015

t::iresiden PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2015 SA LINAN t::iresiden REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 30 TAHUN 2015 TENT ANG PERUBAHAN KETUJUH BELAS ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1977 TENTANG PERATURAN GAJI PEGAWAI NEGERI SIPIL

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan.

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan. green gauge AECI menyadari bahwa beroperasi pada berbagai sektor yang luas memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan dan oleh karena itu ikut berkontribusi terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karenanya

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 25, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa den ga n a da n ya kenaikan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 1. Program Pelayanan administrasi perkantoran Program

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN, SELAKU KETUA TIM KOORDINASI

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan aktivitas-aktivitas finansial, produksi, maupun marketi ng, dengan berdasar pada perencanaan-perencanaan

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. dalam bidang kependudukan, politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk

BABI PENDAHULUAN. dalam bidang kependudukan, politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dewasa ini situasi di Indonesia mengalami berbagai macam perubahan, baik dalam bidang kependudukan, politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk tuntutan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perumahan mengakibatkan persaingan, sehingga membangun rumah. memerlukan banyak dana. Padahal tidak semua orang mempunyai dana yang

BAB I PENDAHULUAN. perumahan mengakibatkan persaingan, sehingga membangun rumah. memerlukan banyak dana. Padahal tidak semua orang mempunyai dana yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan salah satu kebutuhan paling pokok dalam kehidupan manusia. Rumah sebagai tempat berlindung dari segala cuaca sekaligus sebagai tempat tumbuh kembang

Lebih terperinci

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation [Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation Dimanakah kita pernah menyadari adanya suatu masyarakat yang lestari (berkelanjutan) hanya dengan menggunakan energi matahari dan angin? Barangkali ini hanya dapat

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Pemimpin : Lakukan NetWORK Bukan NetSit Atau NetEat Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Dalam rangka meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan berkomunikasi laksana bernapas bagi manusia. Suatu kegiatan yang sangat tidak mungkin dihindari dan sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Melalui

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transmigrasi merupakan bagian integral

Lebih terperinci

Program Padat Karya Pangan (PKP) MENGATASI SITUASI SULIT DENGAN UPAH BERAS

Program Padat Karya Pangan (PKP) MENGATASI SITUASI SULIT DENGAN UPAH BERAS KABUPATEN PURBALINGGA Program Padat Karya Pangan (PKP) MENGATASI SITUASI SULIT DENGAN UPAH BERAS Sumber: Inovasi Kabupaten di Indonesia. Seri Pendokumentasian Best Practices, BKKSI, 2008 satu SITUASI SEBELUM

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH B PL A PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH T HD AR PRO AK VINSI DKI J KATA PENGANTAR Masalah persampahan di Provinsi DKI Jakarta sulit di tangani secara tuntas sampai saat ini. Banyak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Program Pembangunan Karakter Klinik Abu Albani Centre

Program Pembangunan Karakter Klinik Abu Albani Centre Program Pembangunan Karakter Klinik Abu Albani Centre Tujuan Pembangunan Karakter Anak : Membangun sikap dan watak seseorang sehingga mempunyai sebuah sikap yang dapat dinilai sebagai sikap yang baik menurut

Lebih terperinci

KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR

KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR Oleh: ADHITA KUSUMA DWI CAHYANI L 2D 098 402 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. membuatnya bahkan lebih dikenal dari Indonesia sendiri.

BAB I. Pendahuluan. membuatnya bahkan lebih dikenal dari Indonesia sendiri. 1 BAB I Pendahuluan Keberhasilan pengembangan pariwisata di Bali sudah dikenal secara luas. Sedemikian terkenalnya Bali sebagai salah satu tujuan wisata internasional, membuatnya bahkan lebih dikenal dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang terjadi dalam dunia usaha modern terutama bidang usaha rumah makan dan restoran. Hal tersebut ditandai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang

Lebih terperinci

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT Oleh Samsul Hidayat, M.Ed (Widyaiswara Madya BKD & DIKLAT Provinsi NTB) ABSTRAKSI Peserta didik dalam menempuh pendidikan Pelatihan sangat ditentukan

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN

BAB III KONSEP PERANCANGAN BAB III KONSEP PERANCANGAN 3.1 Strategi Perancangan 3.1.1 Strategi Komunikasi Menurut Laswell komunikasi meliputi lima unsur yakni komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek. komunikasi merupakan proses

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

Mobilisasi Masyarakat

Mobilisasi Masyarakat Mobilisasi Masyarakat Dalam tulisan ini saya mencoba memadukan beberapa pengalaman dan pengamatan tentang Community Mobilization (Penggerakan Masyarakat), dengan tujuan agar masyarakat ikut melakukan kegiatankegiatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1993 TENTANG PEMBERIAN HAK GUNA BANGUNAN ATAS TANAH DALAM KAWASAN KAWASAN TERTENTU DI PROPINSI RIAU PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Proses pendidikan

Lebih terperinci

PERENCANAAN KOTA YANG MENYELURUH UNTUK MASA DEPAN KOTA YANG LEBIH BAIK Holistic Urban Planning for Better Future of the City ABSTRAK

PERENCANAAN KOTA YANG MENYELURUH UNTUK MASA DEPAN KOTA YANG LEBIH BAIK Holistic Urban Planning for Better Future of the City ABSTRAK PERENCANAAN KOTA YANG MENYELURUH UNTUK MASA DEPAN KOTA YANG LEBIH BAIK Holistic Urban Planning for Better Future of the City Teti Handayani* ABSTRAK Tujuan utama dari perencanaan tata ruang daerah adalah

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut : BENTUK DAN FUNGSI HUTAN KOTA 1. Bentuk Hutan Kota Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Kecamatan di Bekasi sering diberitakan kerusakan yang terjadi

Lebih terperinci

Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan

Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan 1. Pendahuluan 1.1.Latar Belakang Dunia, tidak terkecuali Indonesia tengah menghadapai dua masalah yang sangat fundamental dan

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

pelajaran 9 energi tahukah kamu apa itu energi 119

pelajaran 9 energi tahukah kamu apa itu energi 119 pelajaran 9 energi benda yang bergerak butuh energi benda yang bunyi butuh energi benda yang bersinar butuh energi energi diperlukan dalam hidup tahukah kamu apa itu energi energi 119 energi menulis puisi

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci