SETAHUN DI KOTA KECIL Guna Sitompul. Edit & Convert: inzomnia.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SETAHUN DI KOTA KECIL Guna Sitompul. Edit & Convert: inzomnia. http://inzomnia.wapka.mobi"

Transkripsi

1 SETAHUN DI KOTA KECIL Guna Sitompul Edit & Convert: inzomnia Nana memilih bekerja di Kota Kecil, tak hanya untuk membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia sanggup, tapi juga ingin tahu, apakah ia istimewa di hati ayahnya... Nana tidak pernah mengkhawatikan posisinya di bank tempatnya bekerja. Hal yang paling merisaukannya, apabila dia tidak bisa lagi menulis. Di mana pun dia berada, asal dapat menulis, hal lainnya dapat ditoleransi. Nana dan rekan seangkatannya - semuanya dua puluh lima orang - karyawan baru di Bank Nasional. Setelah melewati masa pelatihan selama sebelas bulan, mereka ditempatkan di cabang-cabang bank di daerah. Nana memilih Kota Kecil di Sumatra, karena merupakan tanah leluhurnya. Keluarga besarnya bermukim di sana. Sebenarnya, Nana bisa memilih kantor pusat, karena bosnya sangat membutuhkan tenaga analis seperti dirinya. Selama pelatihan, dialah satu-satunya orang yang beruntung karena bisa magang di kantor pusat. Hal ini tak terlepas dari latar belakang pendidikannya, strategi manajemen. Kepala bagian pelatihan menilai Nana cenderung berpikir secara konseptual ketimbang secara teknis. Alasan inilah yang membuat Nana

2 mendapat kesempatan magang di kantor pusat, di mana kebijakan-kebijakan disusun secara konseptual. Tapi, toh, Nana memilih Kota Kecil dengan berbagai pertimbangan yang sebelumnya telah dibicarakannya dengan Pak Adi, mantan dosennya di universitas. Ia ingin tahu bagaimana rasanya bekerja berhadapan langsung dengan nasabah, selain tentu saja ingin lebih dekat dengan keluarga besarnya. "Ibu saya pendiam, Ayah suka mengatur. Mungkin mereka pasangan yang cocok. Ah, entahlah. Tapi, pada dasarnya, saya kurang mengenal mereka. Dari kecil saya tinggal dengan Ompung, nenek dari pihak Ibu, sampai beliau meninggal lima tahun lalu. Ayah jarang berbicara dengan anak perempuannya. Ia lebih dekat dengan adik laki-laki saya. Sungguh, saya sangat ingin lebih mengenal keluarga besar saya." Pak Adi mendengarkan cerita Nana sambil menekuk tangannya. Matanya yang teduh dan wajah ramahnya mendorong mahasiswa bercerita terbuka kepadanya. "Akan ada mutasi di kantor, Pak. Saya bisa saja memilih kota metropolitan, tapi lowongan di Kota Kecil, tempat kelahiran saya, rasanya lebih menarik. Ada baiknya jika saya bertugas di sana. Saya punya waktu untuk mengenal keluarga lebih dekat," Nana melanjutkan. Matanya menerawang, memandang ke sekeliling ruangan Pak Adi, sesuatu yang selalu dilakukannya bila dia ingin menangis. "Saya ingin tahu, apakah ada tempat yang istimewa bagi saya di dalam hati Ayah," Nana akhirnya berkata pelan sembari membuang mukanya, agar tidak tampak seperti orang yang bersedih.

3 Pak Adi memberi jawaban setelah menunggu emosi Nana reda. "Ikutilah kata hatimu, Nak. Saya termasuk orang yang mengikuti kata hati. Walau terkadang yang saya lakukan itu tidak selalu yang terbaik, setidaknya dengan mengikuti kata hati, saya jujur pada diri sendiri." "Oh, ya. Ada hal lain lagi, Pak! Sebenarnya saya juga bertaruh dengan teman-teman di kantor pusat. Mereka bilang, saya tidak mampu bertahan di kantor cabang selama satu tahun. Mereka bilang, saya sangat kaku dan tidak ramah. Mereka bahkan mengatakan, seminggu pun saya tidak tahan, karena saya akan bertemu dengan banyak nasabah yang memiliki beragam karakter!" Nana cemberut, membuat Pak Adi geli melihatnya. Dibayangkannya wajah gadis itu ketika digoda teman-teman sekantornya. Pasti dia cemberut seperti saat ini! "Saya benar-benar merasa dilecehkan, Pak. Kemampuan inteligensi saya dipertanyakan. Saya ingin membuktikan, bahwa saya mampu bekerja di kantor cabang dan menghadapi nasabah dengan berbagai sifat. Bukan hanya seminggu atau dua minggu, tapi satu tahun penuh! Saya yakin, saya pasti mampu!" Kalau saja Nana dapat menyemburkan api seperti naga, pastilah Pak Adi sudah terbakar. Yang jelas, mantan dosennya itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa lucu, karena tampaknya Nana tidaklah membutuhkan jawaban lagi darinya. Gadis itu sudah mengambil keputusannya sendiri! Akhirnya, Nana bertugas ke Kota Kecil. Ia sempat menyesali keputusannya, karena merasa akan masuk ke dalam mulut harimau yang siap melumat dirinya Tapi, Eve, salah seorang mentornya yang selalu berusaha memahami dirinya yang kaku,

4 sudah membekalinya banyak hal. Bahkan, Eve meminta Bebe - seorang teman seangkatannya ketika diterima bekerja di bank, yang kebetulan bertugas di Kota Kecil- untuk membantu Nana. JULI Nana dijemput Aji, adiknya yang paling kecil, di terminal. Mereka lima bersaudara. Nana anak ketiga. Dua kakak perempuannya sudah menikah dan dua adik lelakinya sudah menyelesaikan kuliah tanpa mempunyai pekerjaan tetap. Setibanya di rumah orang tuanya, Nana memeluk Mama yang kelihatan lebih tua dari lima tahun lalu. Rambutnya hampir berwarna putih semua. Ayahnya tidak kelihatan, masih di kebun jeruk. Ah, tak apa, pikir Nana. Ayahnya selalu bekerja keras, sehingga tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mengganggu rutinitasnya. Sementara Hara dan Ijo, kedua orang anak Yos, kakaknya yang kedua, memandangnya heran. "Ayo, beri salam pada Tante," Yos menyuruh Hara yang berusia tujuh tahun menyalami Nana. Sedangkan adiknya, Ijo, yang usianya kata Yos baru sembilan bulan, belum dapat berbicara. Ia hanya tersenyum, menatap Nana. Selesai melepas rindu, Nana baru sempat memperhatikan sekelilingnya. Rumahnya sudah tua dan mulai digerogoti ngengat. Nana jarang berada di rumahnya sendiri. Ia tinggal bersama Ompung. Saat liburan saja dia baru pulang ke rumahnya. Malam harinya, Nana bertemu dengan ayahnya yang hanya memandangnya sekilas sambil berucap, "Kau sudah datang rupanya." Nada suaranya datar. Kehadiran Nana seakan tak ada artinya sama sekali. Hati Nana terluka. Tadinya dia berpikir,

5 ayahnya akan banyak bertanya kepadanya. Paling tidak, mengajak Nana berbasa-basi. Tapi, sampai Nana siap tidur, ayahnya hanya bertanya, apakah ia sudah mulai bekerja besok. Ya, cuma itu percakapan di awal perjumpaan mereka. Tidak ada satu pun yang istimewa. Keesokan paginya, Nana sudah berada di bank di Kota Kecil. Letak kantornya tepat di sudut jalan. Pintu masuk menuju gedung berada di depan jalan, tanpa ada halaman pembatas. Agak ke samping kiri, barulah terdapat area parkir yang terbilang sempit. Bentuk gedungnya yang kotak persegi mirip jejeran tiga buah ruko (rumah toko) yang dijadikan satu. Kantor tersebut hanya terdiri dari satu lantai. Nana berjalan menuju area parkir dan berdiri tepat di depan ATM yang terletak di ujung area itu. Di ujung sebelah kanan, terdapat pintu yang menghubungkan ke bagian dalam kantor barunya. Dalam hati Nana berpikir, mungkin itu pintu belakang. Dari situ Nana dapat memandang ke segenap penjuru arah. Di sebelah depan area parkir terdapat tiang bendera yang sudah usang, terbukti di sekeliling tiang itu penuh karat yang menandakan umurnya yang sudah uzur. Di pinggiran area parkir ditanami tumbuhan pagar. Tidak ada hal yang istimewa dari gedung tersebut. Tentunya Nana tidak berharap mendapati gedung yang mirip dengan gedung kantor pusat di Jakarta. Matanya masih menyapu sekelilingnya, ketika pintu belakang tersebut terbuka. Dan, muncul sesosok tubuh pria yang diyakini Nana bernama Bebe. Entah apa yang membuat Nana begitu yakin bahwa pria itu adalah kenalan Eve yang dianjurkan sebagai pembina dirinya di

6 kota ini. Sosok pria berusia tiga puluhan itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam. Dari depan ATM, Nana belum dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi, Nana dapat melihatnya menjinjing dua boks yang diyakini Nana merupakan kotak uang untuk dimasukkan ke dalam ATM. Nana memandang dengan seksama sosok pria yang sedang berjalan menuju ATM itu. Wajahnya yang sudah tampak lebih jelas, kosong tanpa ekspresi. Seakan-akan tidak ada kehidupan di sana, selain organ-organ tubuhnya saja yang bergerak. Tibatiba Nana merasa hatinya iba. Ah, mudah-mudahan ini hanya ilusinya saja! Pria itu memandang Nana sekilas, dan rupanya memutuskan keberadaan Nana tidaklah penting, sehingga dia lalu berbalik kembali ke dalam gedung. Pukul pagi, Nana masuk dari pintu depan. Dia duduk dan memandang ke sekeliling ruangan. Interiornya sederhana. Letak meja dan kursinya mengingatkan Nana pada ruang tunggu praktik dokter. Nana masih memandang ke sekeliling, ketika seseorang menyapanya. "Ibu Andriana?" Meskipun wajah pria itu 'menyeramkan', layaknya mayoritas penduduk di Kota Kecil ini, ia terlihat ramah dengan senyumnya yang tulus. "Benar, Pak," kata Nana sambil berdiri dan mengulurkan tangannya, lalu menyebutkan kembali nama lengkapnya, "Andriana." "Namaku Poltak Panjaitan," dia berbicara sambil menyambut uluran tangan Nana. Lalu Nana dipersilakan menghadap Pak Jey, seorang pria kurus berkacamata yang mengenalkan dirinya

7 sebagai kepala cabang. Dan, di ruangan itu Nana melihat pria berekspresi dingin di ATM tadi. Pak Jey lalu memperkenalkan Nana pada Pak Poltak yang bekerja di bagian umum. "Kalau perlu apa-apa, dapat menghubunginya," katanya sambil mengalihkan pandangan kepada pria yang diyakini Nana sebagai Bebe. Dan, benar saja! "Ini atasan langsung Anda, Pak Bebe Setiadi. Anda akan mendapat pengarahannya selama bekerja di sini. Nah, selamat bekerja, Ibu Andriana." Nana sudah berdiri ketika Pak Jey tiba-tiba bertanya, "Oh, ya! Kenapa selama ini Anda tidak pernah ditempatkan di kantor cabang? Karyawan baru biasanya kan magang di kantor cabang dulu. Tapi, kenapa Anda tidak?" "Mungkin karena saya tidak cantik, Pak," Nana menjawab serius. Menurut hemat Nana, biasanya yang ditempatkan di kantor cabang tentulah mereka yang berparas menarik. Maklum, untuk menggaet perhatian nasabah. Ah, itu kan sudah lumrah! Jawaban Nana tampaknya membuat ketiga orang pria yang berada di ruangan itu terkejut. Namun, Nana tidak peduli. Memang begitulah, pikirnya. Toh, sejak dulu pun Nana tahu, dirinya tak mampu bersaing dengan wanita mana pun secara ragawi. Ya, Nana merasa dirinya tidaklah cantik! Hari pertama bekerja di Kota Kecil waktu terasa berjalan lambat. Sebagai atasannya langsung, Bebe memberi pengarahan secara teknis kepada Nana. Saat dekat-dekat berhadapan dengannya itulah, Nana dapat melihat wajah pria itu dengan

8 jelas. Nyaris sempurna sebenarnya, jika saja tidak terlalu banyak tahi lalat di wajahnya! Seumur hidup Nana belum pernah melihat makhluk yang memiliki tahi lalat di wajahnya sebanyak yang dimiliki Bebe. Wajahnya mengingatkan Nana pada keju Belanda yang dijual di pasar swalayan. Keju berwarna krem dengan sejumlah bintik hitam di sekelilingnya! Dan, ada satu hal lagi yang menarik perhatian Nana. Bebe memiliki sepasang alis mata yang bagus sekali! Mirip benar dengan sepasang alis mata detektif Conan di komik Jepang yang sering dibaca Nana! Melihat Nana yang terpaku saja menatapnya, Bebe tampak tak senang. Tapi, rupanya gadis itu tidak menyadari kegelisahan Bebe. Padahal, kalau saja ada air, pasti ia sudah menyiramkannya ke kepala Nana. Akhirnya ia berdehem keraskeras sebagai upaya terakhirnya untuk mengembalikan Nana ke bumi. Dan, rupanya cukup berhasil karena akhirnya Nana mengalihkan pandangan matanya dengan malu. Sorenya, Nana pulang dengan pikiran kacau. Ia merasa lelah, tidak menyangka pekerjaannya sangat jauh berbeda seperti yang dipikirkannya. Apalagi kebanyakan rekan di kantornya semua sudah menikah, kecuali... Bebe. Ya, mentor yang direkomendasikan Eve itu sudah hampir tiga tahun bertugas di sini. Diam-diam, entah kenapa, Nana merasa kasihan padanya. Sendirian tanpa keluarga di Kota Kecil ini, pastilah sangat berat bagi dirinya. Mama menyambut Nana beserta si kecil Hara dan Ijo. Dipeluknya Mama dan diciuminya makhluk-makhluk kecil itu. "Tante capek?" tanya Hara dengan suaranya yang lucu. "Tante

9 sudah makan?" tanyanya lagi. Dan, sebelum Nana menjawab, lagi-lagi Hara memburunya dengan pertanyaan yang membuat Nana takjub, "Tante sibuk, ya?" Ha, baru kali ini ada yang menanyakan dia sibuk atau tidak! Nana membelai pipi Hara sambil mengangguk mengiyakan. Sementara itu, Ijo, adik Hara, nyengir saja, karena dia memang belum bisa bicara. Nana sendiri, setelah selesai makan, tidak ingin bercerita panjang lebar dengan Mama yang bertanya bagaimana pekerjaannya di kantor hari ini. Kalau Nana menjawab jujur, bahwa pekerjaannya amburadul, tentu Mama akan resah. Ya, tetapi tidak ada salahnya bersikap jujur kepada Yos. Sejak dulu Nana memang lebih banyak berbicara kepadanya ketimbang saudara-saudaranya yang lain. Maka, dengan begitu saja ia menceritakan keberadaan Bebe, atasannya, yang dirasakannya sangat 'menjaga jarak'. Bahkan, Nana juga kemudian mengatakan bahwa rasanya ia ingin lari saja dari kantor barunya itu! "Aku banyak melakukan kesalahan. Tidak kusangka, sesukar itu menghadapi para nasabah! Berinteraksi dengan manusia ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi editor buku-buku ilmiah!" ungkap Nana yang selama ini dikenal lebih berkutat dengan buku daripada dengan manusia, apalagi orang-orang yang sulit dipahaminya. Selain menulis artikel di majalah manajemen kantornya, ia juga suka menulis di berbagai majalah dan harian ibu kota. "Bersabarlah, lama-lama juga kau mahir sendiri. Yang penting, konsentrasi penuh pada pekerjaan yang kita lakukan," Yos berkomentar optimistis. Dan, semangatnya menular pada Nana.

10 Kakaknya benar, ia hanya butuh waktu untuk memahami pekerjaannya. Bebe mewanti-wanti Nana agar jangan percaya kepada orang yang baru dikenal. Tapi, Bebe sendiri sangat percaya kepada Nana, yang jelas-jelas baru ia kenal! Ini hari terakhir di bulan Agustus. Seperti biasanya, Nana menulis di buku hariannya. Aku mulai dekat dengan keluargaku. Aku menyayangi keponakanku, Hara dan Ijo. Kedua makhluk mungil itu selalu membuatku bahagia. Tapi, aku tidak pernah menduga Kak Yos mengalami kesulitan membiayai rumah tangga dengan jumlah gaji yang diterimanya. Sebenarnya, ada dua keluarga di rumah ini. Keluarga Kak Yos dan keluarga kami: Papa, Mama, aku, dan adik-adik. Aku memang tidak tahu bahwa selama ini Kak Yos yang menanggung semuanya. Kak Yos hanya karyawan biasa di kantor pemerintah, begitu pula suaminya. Apalagi kedua adikku, Aji dan Muda, masih menganggur. Papa dan Mama tidak pernah menceritakan, hujan badai telah menyebabkan panen cabai gagal. Untunglah Kak Yos bercerita jujur tentang kesulitannya. Paling tidak sekarang, aku bisa membantu mereka dengan penghasilan yang kudapat setiap bulan. Ketika aku jatuh sakit (mungkin karena aku belum bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan baruku!), Bebe yang menggantikan pekerjaanku dan juga mengerjakan laporanku. Ah, aku mulai bersimpati pada Bebe. Dia rajin dan cekatan. Meskipun Bebe bawel, pekerjaan beres jika dikerjakannya. Aku harus berupaya lebih giat lagi! Sebenarnya tidak ada pekerjaan

11 yang sulit. Asalkan aku mau berusaha, pasti bisa secanggih Bebe juga akhirnya! Aku hanya merasa heran, mengapa Bebe menganggap bahwa orang baik hanya ada di dalam cerita-cerita sinetron? Apakah Bebe belum pernah bertemu dengan orang-orang yang berhati tulus? "Berhati-hatilah, Bu, dalam bekerja, karena pekerjaan kita berhubungan langsung dengan uang. Risikonya tinggi. Tidak ada salahnya bersikap waspada, bahkan dengan teman sekerja sekalipun!" Itu kalimat yang keluar dari mulutnya ketika aku sedang mendiskusikan masalah perolehan dana di bank tempat kami bekerja. Selain itu, Bebe juga menasihati agar aku lebih proaktif 'merayu' nasabah! Ha, mungkin Bebe menyadari, sebagai anak buahnya, aku tidak ahli dalam memengaruhi orang lain! Jika nasabah tidak berminat menanamkan modalnya, biasanya aku hanya berdiam diri memakluminya. Usul Bebe agar aku lebih memperbanyak jaringan sehingga menambah jumlah nasabah, sebetulnya boleh juga! Harus diakui, Bebe memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal menggaet nasabah. Bebe memiliki keterampilan dan keramahan seorang ahli pemasaran. Hmm, tidak percuma dia ditempatkan sebagai kepala bagian pemasaran! SEPTEMBER Bebe membereskan file-file penting dan mengeluarkan beberapa buku petunjuk operasional bank. Bebe merasa Nana akan membutuhkan buku panduan tersebut, meskipun sebenarnya Bebe tidak peduli apakah Nana paham atau tidak tentang cara kerja operasional bank mereka. Bagaimanapun,

12 Bebe yakin, dengan pendidikannya yang tinggi Nana tentu dapat memahami buku petunjuk itu selama ia kursus ke Medan. Bebe memulai pembicaraan dengan menyatukan kedua telapak tangannya untuk menunjukkan bahwa pembicaraan mereka teramat penting. Di depannya, Nana diam mendengarkan. Apa pun itu, intinya pastilah. Nana yang harus menggantikan pekerjaan Bebe selama ia kursus ke Medan selama seminggu! "Kalau saya tidak ada di kantor, Ibu yang menggantikan pekerjaan saya. Begitu pula sebaliknya," Bebe berbicara panjang lebar tentang cara kerja operasional bank. Setelah itu, baru ia bertanya pada Nana, apakah gadis itu memahami ulasan yang diberikannya. Wajah Nana yang menyiratkan ketegangan membuat Bebe merasa kasihan. Jawaban 'tidak' yang keluar dari mulut Nana membuat Bebe terperanjat. Apalagi setelah itu, Nana memberikannya sehelai surat! "Apa ini?" Bebe bertanya heran. Dia menimang surat di tangannya. "Itu surat pengakuan, Pak," Nana menjawab jujur. Setelah itu, dia berbalik meninggalkan Bebe yang terpaku di tempat duduknya. Sepeninggal Nana, Bebe langsung membuka surat itu. Rasa penasaran memenuhi dadanya. Belum pernah ada orang yang mengirimi dia surat dengan cara ini. Biasanya, Bebe menerima surat melalui pos. Dibacanya surat tersebut, sesekali dia tersenyum. Pak Bebe yang baik,

13 Diam-diam sebenarnya saya telah berbuat sesuatu yang egois pada Anda, Pak! Dan, inilah hukumannya! Anda akan kursus ke Medan seminggu dan saya yang menggantikan pekerjaan Anda yang tidak saya pahami sepenuhnya! Oh, ya! Anda ingin tahu keegoisan saya? Hari pertama bekerja di Kota Kecil ini, saya kaget sekali melihat pekerjaan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Rasanya saya ingin pingsan, tapi tidak jadi saya lakukan karena. malu. Lalu, saya lihat Anda pontang-panting hampir 50 kali dari muka ke belakang, dari belakang ke muka (saya hitung, lho, jumlahnya!). Saya sungguh tidak mengerti, apa saja yang Anda kerjakan. Lalu terlintas di pikiran saya, kalau Anda tidak ada, siapa yang menggantikan? Mestinya bukan. saya! Hingga Rabu kemarin, saya selalu berdoa untuk Anda, "Semoga Anda baik-baik saja." Tapi jujur, saya lakukan bukan karena saya ingin Anda sehat secara tulus dan ikhlas, tapi demi kepentingan diri saya. Kalau Anda sehat, Anda akan bekerja setiap hari, sehingga saya tidak perlu menggantikan Anda! Namun, akhirnya pekerjaan itu datang juga! Terus terang, saya hampir pingsan ketika mendengar Anda akan kursus selama seminggu. Saya sadar, jahat sekali saya telah berdoa dengan cara seperti itu! Namun, percayalah, Pak, mulai hari ini saya tidak akan melakukannya lagi. Saya benar-benar minta maaf dari relung hati saya yang terdalam.. NB: Ingatkah Anda ketika saya pernah bertanya, "Percayakah Anda pada saya, Pak?" Dan, Anda secepat kilat menjawab, bahwa Anda percaya pada saya. Terus terang, belum pernah saya mendengar ada orang lain secepat Anda dalam menjawab

14 pertanyaan sesulit itu. Anda sungguh luar biasa, Pak! Walaupun, mungkin, hanya ada tiga kemungkinan: Anda tidak mengerti maksud saya Anda tidak peduli Memang demikianlah adanya Kok, Anda bisa percaya pada saya, Pak? Anda kan belum mengenal saya? Bahkan, Anda sendiri yang wanti-wanti kepada saya, agar bersikap waspada, terhadap seorang teman sekalipun! Andriana Nana menuliskan nama lengkapnya di akhir surat itu. Bebe melipatnya hati-hati. Nana memang aneh, tapi dia begitu jujur mengakuinya. Ah, Bebe geli membaca surat Nana yang lugu itu! Seminggu tanpa Bebe akhirnya dilalui Nana dengan baik, meskipun hal itu menguras energinya. Setiap hari Nana selalu pulang malam dan datang paling pagi. Nana tidak sempat melihat matahari terbit ketika tiba di kantor dan tidak sempat pula melihat matahari terbenam pada saat pulang kantor. Setiap kali pintu kantor terbuka, Nana mengangkat matanya dari komputer sambil berharap yang muncul adalah Bebe. Jam kerja sudah akan dimulai, tapi Bebe belum juga muncul. Padahal, Nana sudah membayangkan hari ini pekerjaannya akan berkurang. Ketika dia hampir putus asa, bayangan yang teramat dikenalinya itu datang! Berkemeja putih dengan celana panjang warna hitam, dan tas hitam yang tersandang di bahunya seperti anak sekolahan, Bebe mengucapkan 'selamat pagi' kepada pak satpam. Wah, belum pernah Nana sebahagia itu melihat Bebe! Serta-merta

15 dia menghampirinya. Nana ingin sekali menggandeng lengan Bebe seperti yang selalu dilakukannya pada Pridy, sahabatnya. Tapi, niat itu diurungkannya. Nana tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dia memandangi Bebe dari atas ke bawah, seakan mencari-cari sesuatu yang hilang. Ketika Nana merasa tidak ada satu pun yang berubah pada Bebe, maka Nana mengembangkan senyumnya. "Saya belum pernah sesenang ini melihat Bapak," Nana mengungkapkan perasaannya dengan jujur. Bebe ibarat seorang malaikat yang turun dari langit untuk sesegera mungkin menyelesaikan masalah-masalahnya! Sebenarnya, Bebe merasa 'gerah' dipandangi seperti itu. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang menanti-nantikan kedatangannya seperti ini! Diam-diam Bebe merasa tersanjung. Nana masih tersenyum sambil menggenggam tangan Bebe. Ketika Bebe berusaha menarik lengannya. barulah Nana tersadar. Nana lalu melonggarkan pegangannya dan menjauh. Dia berusaha menguasai dirinya dengan lagi-lagi mengulas senyum di bibirnya. Dan, Bebe baru menyadari, ternyata gadis ini manis juga jika tersenyum! "Saya sungguh senang melihat Anda kembali, Pak. Saya hanya ingin Anda tahu itu," Nana berbicara tulus. Bebe dapat melihatnya dari pancaran mata Nana. Nana mengerjapkan matanya dan masih terus tersenyum. Bebe jarang sekali melihat Nana tersenyum selama itu. Paling lama kan Nana tersenyum hanya dalam hitungan detik. Itu pun sudah sangat terpaksa!

16 "Terima kasih, Bu," Bebe cepat-cepat berjalan ke mejanya untuk menyembunyikan keharuannya. Meskipun mejanya mengalami 'perubahan', tidak terlalu parah. Bebe ingat, meja kerja Nana sendiri sangat berantakan. Beberapa peralatan kantor di meja Bebe agak berubah posisinya, tapi masih terlihat rapi. Bebe tersenyum membayangkan Nana berusaha sepenuh hati untuk merapikan mejanya. Sambil mengingatingat ucapan Nana tadi, Bebe mengembalikan posisi peralatannya ke tempat semula. Bagaimanapun, ini kan meja kerjanya sendiri! Sore harinya mereka baru sempat bercerita panjang lebar. Nana mengenakan pakaian warna hitam kegemarannya. Nana kelihatan menarik dan dia pasti lebih cantik, kalau saja dia mau berusaha sedikit. Baju yang dikenakannya sangat cocok di tubuhnya. Hanya, Nana tidak suka berdandan seperti layaknya wanita, apalagi mereka yang memilih bekerja di bank! Entah mengapa, kala itu Nana yang lebih banyak bercerita kepada Bebe. Meski agak bingung, Bebe berusaha berkonsentrasi mendengarkan. Dinikmatinya saja cara berbicara Nana yang simpang siur, walaupun kalimat yang keluar dari mulutnya penuh bahasa formal dan kedengaran ilmiah. Bebe teringat, dulu ayahnya selalu mengatakan, bahwa 'wanita pintar itu biasanya suka mengatur dan ingin menang sendiri'. Ya, Bebe menyadari, Nana berwawasan luas dan sangat pintar. Ah, apakah Nana juga seperti kebanyakan wanita yang dikatakan ayahnya? Terus-terang sajalah, hal itu yang menjadi penyebab mengapa Bebe selalu berusaha menjaga jarak dengan Nana! Selain itu, pengalamannya ketika bekerja di kantor pusat

17 di Jakarta, ia dipimpin oleh seorang wanita pintar yang arogan. Hal ini menimbulkan trauma pada dirinya yang cenderung pendiam. Wanita pintar kerap melecehkan orang lain dan sulit diajak kompromi, itu yang tertanam di kepala Bebe! Tetapi, ah, tampaknya Nana tidak seperti itu! Ia sangat baik dan rendah hati! Apalagi sikapnya yang amat hangat tadi saat menyambut kedatangannya kembali di kantor. Spontanitas Nana menghangatkan ruang hati Bebe yang selama ini dingin... Nana sendiri hari ini sangat gembira. Selain bisa kembali ke rumah lebih cepat dari biasanya, karena Bebe sudah masuk kantor, ia juga ingin segera memberi ucapan selamat ulang tahun kepada ayahnya. Apalagi Mama masak masakan istimewa: soto ayam kesukaan Papa! Rasanya tidak sabar menyantap masakan rumahan itu! Nana juga ingin segera memberikan hadiah ulang tahun kepada Papa. Sehelai kemeja yang sangat halus buatannya! Tapi Papa belum juga pulang dari ladang. Selama ini mereka masih sangat jarang berbicara. Nana tidak pernah berhasil mengenalnya secara pribadi. Tidak seperti adiknya, Muda. Selain memiliki kesamaan fisik, mereka memang cocok sifatnya. Opung selalu mengatakan hal itu berulang kali. Ketika Papa pulang, hari sudah terlalu malam. Yos, Nana, dan Aji, sudah kehilangan semangat. Lain halnya dengan Mama dan Muda, mereka begitu antusias menyambut Papa. Nana takjub melihat mereka. Kira-kira dari mana, ya, mereka menemukan semangat sebesar itu? Apalagi ekspresi Papa biasa-biasa saja. Papa tidak menganggap penting hari ulang tahunnya, tapi ia pun tak mau berpura-pura berbahagia karena keluarganya telah

18 merayakan hari ulang tahunnya. Kado Nana juga disambut Papa dengan dingin. "Kenapa harus buang-buang uang hanya untuk memperingati hari kelahiran!" Papa berbicara sambil cemberut. Nana menghentikan tangannya yang hendak meraih sendok. Dia menatap satu per satu keluarganya yang hadir, sambil menunggu reaksi mereka. Sunyi tanpa reaksi, seolah tanggapan seperti itu adalah hal yang biasa. Tapi, tiba-tiba si kecil Hara terbangun. "Mama, Opung sudah pulang?" tanyanya dengan mata masih mengantuk. Ia lalu berlari memeluk Papa dan mengucapkan selamat ulang tahun. Merasa pesta itu terlalu senyap, Hara kemudian berbisik kepada Nana. "Kenapa Opung tidak bahagia di hari ulang tahunnya, Tante?" tanya Hara lugu, sambil memandang bola mata Nana. Ingin sekali Nana memberikan jawaban, bahwa Opung menganggap perayaan ulang tahun hanyalah pemborosan. Tapi, Nana mengurungkan niatnya. Akhirnya Nana mengatakan bahwa hari sudah malam, sehingga semuanya mengantuk. Hara mengangguk seperti orang dewasa, seakan memahami jawaban Nana. Ya, mengapa Papa tidak bahagia di hari ulang tahunnya? Mengapa perayaan dianggapnya identik dengan pemborosan, padahal hidangan yang disajikan tidak terlalu mewah? Ini, kan hanya sekali dalam setahun, mengapa Papa tidak mencoba memakluminya? Bagaimanapun, Nana mencoba memahami ayahnya. Sebaiknya pendapatnya tidak usah ditentang, hanya akan menimbulkan konflik.

19 Ayahnya selalu merasa benar. Walaupun suatu hari pendapatnya terbukti keliru, tetap saja ia tidak mau mengakuinya, bahkan menutupinya dengan bersikap marah. Nana tidak pernah menyukai sikap seperti itu. Ingin sekali Nana mengatakannya, tapi tidak pernah terlaksana, karena hal itu hanya menimbulkan konflik. Biasanya, yang paling bersedih adalah Mama. Dan Nana tidak pernah berkeinginan melihat Mama menangis. Mereka semua tahu, Mama sangat menghormati dan mencintai Papa. Cinta memang mengalahkan segalanya. Ya, biarlah Papa tidak bahagia, ulang tahunnya dirayakan. Tapi setidaknya, ada orang lain yang lebih berbahagia, yaitu Mama. Wanita terkasih itu selalu mengusahakan perayaan di ulang tahun Papa, agar keluarganya tidak melupakan hari bersejarah itu. Demi Papa tercinta.. Sehari setelah ulang-tahun Papa, Nana mendapati Mama menangis. Nana tidak menanyakan sebabnya, karena ia tahu Mama akan berbicara sendiri jika memang ingin bercerita. Dihapusnya air mata Mama, mereka saling diam duduk bersebelahan. Tiba-tiba Mama menoleh dan memandang Nana sambil tersenyum. Nana memeluk Mama sambil tertawa. "Ayo, bantu Mama memasak," Mama berdiri dan beranjak ke dapur. Nana mengikuti dari belakang. Ia tidak pandai memasak seperti Mama. Satu-satunya yang bisa ia lakukan di dapur hanyalah merebus air. Nana tahu, Mama hanya ingin ditemani bercerita. Sambil memotong kentang, Nana menceritakan pengalamannya di kantor hari itu. Sengaja hanya hal-hal lucu yang diceritakannya, sementara Mama menyahuti sesekali.

20 Nana tahu pikiran Mama sedang melayang, tapi Nana tetap berbicara memecahkan sunyi di antara mereka. "Nana, coba kamu nasihati adikmu, Aji,"Mama memulai pembicaraan. Oh, rupanya Mama menangis karena Aji! "Tadi pagi ia bertengkar dengan Papa." Ini berita basi. Sejak dulu keduanya tidak pernah cocok. Biasanya Papa pemicu pertengkaran itu. Nana tahu betul sifat adiknya. Aji pendiam seperti Nana, ia tidak akan berbicara jika tidak diminta. Nana teringat, pertengkaran hebat di antara keduanya. Setamat SMU, sebetulnya Aji ingin sekali jadi tentara, tapi Papa tidak mengizinkan. Papa ingin Aji dan Muda menggantikannya di kebun. Namun, Aji berbeda dengan Muda. Ia punya keinginan sendiri, sementara Muda memang merasa lebih cocok mengurus kebun ketimbang mencari pekerjaan di luaran. "Aji pulang dalam keadaan mabuk tadi pagi," Mama melanjutkan ceritanya. Kali ini Nana terbelalak heran. Sejak kapan Aji punya kebiasaan memalukan itu? "Papa menasihatinya baik-baik. Tapi, Aji tidak terima. Ia melawan Papa!" Mama berbicara penuh emosi. Kelihatan sekali Mama membela suaminya. Nana paham benar situasinya. Sejak kecil Aji jarang membantah, walaupun bukan berarti dia setuju pada pendapat Papa yang suka mengatur. Jika akhirnya ia 'perang mulut' dengan Papa, pastilah sudah mencapai puncaknya! Nana tidak ingin memihak siapa pun. Meski hatinya bersimpati pada adiknya, jika Aji mulai mabuk-mabukan, ia pun tidak setuju. Aji sedang melukai dirinya sendiri!

21 "Mungkin Aji mau mendengarkan kalau kamu berbicara padanya, Nana," Mama menggenggam jemarinya. Mama yakin putrinya yang satu ini bisa menyelesaikan masalah keluarga mereka. Ah, apa yang harus dilakukan Nana selain berusaha menyanggupinya? Nana harus mencari saat yang tepat untuk berbicara dengan Aji, hingga terjadilah peristiwa itu. Aji diminta menjaga Hara dan Ijo karena pengasuh mereka pulang kampung. Yos dan suaminya masih di kantor, sementara Papa, Mama, dan Muda pergi ke kebun. Dan, Aji telah tega menelantarkan kedua makhluk mungil itu di rumah hanya gara-gara ia dijemput temannya untuk pergi minum tuak! Ia lupa memberi makan keduanya sebelum pergi! Beruntung Nana pulang cepat dari kantornya hari itu. Ia terkejut melihat Hara dan Ijo sedang menangis sekuat tenaga, tanpa seorang pun di rumah. Ternyata keduanya mengaku. kelaparan! Duh! Aji keterlaluan betul! Nana marah. Ia harus menegur Aji! Tengah malam barulah adiknya itu pulang ke rumah. Nana sengaja menunggunya untuk menceritakan secara detail kejadian tadi siang. Aji diam saja, tapi dari wajahnya kelihatan betul ia merasa bersalah. Nana mencium bau tuak dari mulut Aji. Ah, adiknya itu memang sudah berubah! Pergaulan dengan teman-temannya akhir-akhir ini mengkhawatirkan Nana. Tapi diam-diam, ia kasihan melihat Aji. Ia bukannya tidak mempunyai hati nurani. Buktinya, setelah mendengar cerita Nana, Aji pergi ke kamar Hara dan Ijo. Nana melihat sendiri betapa Aji menyayangi mereka. Dengan kata-kata lembut, Aji membisikkan permintaan

Santhy Agatha. Perjanjian Hati. Penerbit : Saira Publisher

Santhy Agatha. Perjanjian Hati. Penerbit : Saira Publisher Santhy Agatha Perjanjian Hati Penerbit : Saira Publisher 2 Santhy Agatha PERJANJIAN HATI Oleh: (Santhy Agatha) Copyright Maret 2013 by (Santhy Agatha) Penerbit (Saira Publisher) (www.anakcantikspot.blogspot.com)

Lebih terperinci

THE LABOURS OF HERCULES. by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES. Alih bahasa: Widya Kirana. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

THE LABOURS OF HERCULES. by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES. Alih bahasa: Widya Kirana. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama THE LABOURS OF HERCULES by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES Alih bahasa: Widya Kirana Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua: September 2002 Untuk Edmund Cork yang karena tugas-tugasnya

Lebih terperinci

Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta

Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta Mr. Quin yang Misterius la muncul entah dari mana, dan lenyap begitu saja setelah tugasnya selesai. Tapi Mr. Satterthwaite yang cepat tanggap segera menyadari bahwa setiap kali Mr. Harley Quin muncul,

Lebih terperinci

-TRUE STORY GITTA SESSA WANDA CANTIKAKISAH NYATA GADIS BERUSIA 13 TAHUN BERTAHAN HIDUP DARI KANKER GANAS PALING MEMATIKAN DI DUNIA.

-TRUE STORY GITTA SESSA WANDA CANTIKAKISAH NYATA GADIS BERUSIA 13 TAHUN BERTAHAN HIDUP DARI KANKER GANAS PALING MEMATIKAN DI DUNIA. Surat Kecil Untuk Tuhan download dan baca secara online di http://ceritasilat.mywapblog.com Pedang Sakti Cersil Istana Pendekar Dewa Naga Raja Iblis Racun Ceritasilat... thank.-true STORY GITTA SESSA WANDA

Lebih terperinci

JINGGA UNTUK MATAHARI

JINGGA UNTUK MATAHARI JINGGA UNTUK MATAHARI Tari menggigit bibir bagian bawahnya. Sedikit tegang ia duduk di belakang orang yang selama ini sangat dibencinya, yang telah memorakporandakan hidupnya, tapi tanpanya Tari hampa.

Lebih terperinci

Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI Kelas I Sri Mulyaningsih Tuju Widodo PUSAT PERBUKUAN Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional dilindungi Undang-undang Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

KAU TAK PERLU MENCINTAIKU

KAU TAK PERLU MENCINTAIKU KAU TAK PERLU MENCINTAIKU Almino Situmorang www.ac-zzz.blogspot.com Hanya ada satu pria yang mampu membuat hatinya bergetar. Tapi, hingga kini, entah mengapa, ia masih ragu menerima cintanya. Tolong beri

Lebih terperinci

Download ebook/audiobook Indonesia Gratis: http://myebookyourebook.blogspot.com/ Berpikir dan Berjiwa Besar 1

Download ebook/audiobook Indonesia Gratis: http://myebookyourebook.blogspot.com/ Berpikir dan Berjiwa Besar 1 Download ebook/audiobook Indonesia Gratis: http://myebookyourebook.blogspot.com/ Berpikir dan Berjiwa Besar 1 UNTUK DAVID III Putra kami yang berusia enam tahun, David, merasa sangat bangga akan dirinya

Lebih terperinci

Serial Tujuh Manusia Harimau (1) Pantang Berdendam

Serial Tujuh Manusia Harimau (1) Pantang Berdendam Serial Tujuh Manusia Harimau (1) Pantang Berdendam KUMAYAN NEGERI ILMU HITAM Karya Motinggo Boesye Sejak Gumara tiba di desa Kumayan, dia sudah diberitahu. Bahwa desa Kumayan adalah biang dari segala ilmu

Lebih terperinci

Ki Putih Kelabu rupanya sudah mengakhiri pidatonya. Guru Gumara mencoba memahami kalimat terakhir guru yang rendah hati itu.

Ki Putih Kelabu rupanya sudah mengakhiri pidatonya. Guru Gumara mencoba memahami kalimat terakhir guru yang rendah hati itu. Tujuh Manusia Harimau (7) Pendekar Wanita Buta Motinggo Busye - Novelis Malam Jahanam Semuanya diluar dugaan orang banyak, Ki Putih Kelabu mengirimkan undangan kepada beberapa orang yang disegani di Kumayan.

Lebih terperinci

Delapan kasus mencekam yang memiliki satu kesamaansemuanya dipecahkan dengan brilian oleh Miss Marple

Delapan kasus mencekam yang memiliki satu kesamaansemuanya dipecahkan dengan brilian oleh Miss Marple Agatha Christie Kasus-kasus Terakhir Miss Marple Pertama-tama, cerita tentang seorang pria tak dikenal yang muncul di gereja dengan luka tembak di tubuhnya lalu teka-teki harta karun peninggalan seorang

Lebih terperinci

TOLERAN HORMAT JUJUR. Membentuk ERDAS RBAIK JUJUR PERCAYA D KEDAMAIAN SANTUN ERANSI SANTUN KEPEMIMPINAN CERDA GOTONG-RO TANGGUNG JAWAB

TOLERAN HORMAT JUJUR. Membentuk ERDAS RBAIK JUJUR PERCAYA D KEDAMAIAN SANTUN ERANSI SANTUN KEPEMIMPINAN CERDA GOTONG-RO TANGGUNG JAWAB Rahasia Sukses Pendidikan Karakter: 7 Hari Membentuk Karakter Anak Timothy Wibowo ERDAS RBAIK OLERANSI IS S DIRIAN AWAN ERANSI TANGGUNG JAWAB SANTUN KEPEMIMPINAN SANTUN DERMAWAN KEMANDIRI HORMAT TOLERAN

Lebih terperinci

LUPUS JJS - JALAN-JALAN SERAM SAAT PALING BAHAGIA...

LUPUS JJS - JALAN-JALAN SERAM SAAT PALING BAHAGIA... LUPUS JJS - JALAN-JALAN SERAM SAAT PALING BAHAGIA... BUAT Lupus atau buat anak sedunia, mungkin masa ia mungil adalah masa yang paling bahagia di mana setiap hari kita bisa menemukan halhal yang baru,

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia 3. Untuk SMK/MAK Semua Program Kejuruan Kelas XII. Mokhamad Irman Tri Wahyu Prastowo Nurdin

Bahasa Indonesia 3. Untuk SMK/MAK Semua Program Kejuruan Kelas XII. Mokhamad Irman Tri Wahyu Prastowo Nurdin Bahasa Indonesia 3 Untuk SMK/MAK Semua Program Kejuruan Kelas XII Mokhamad Irman Tri Wahyu Prastowo Nurdin Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional i Hak Cipta ada Pada Departemen Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

365 Hari Tuntunan Menulis

365 Hari Tuntunan Menulis 365 Hari Tuntunan Menulis 365 Hari Tuntunan Menulis Dorongan untuk mengobarkan imajinasi Anda, setiap hari selama setahun Tim Penyunting, WordPress.com 365 Hari Tuntunan Menulis Copyright 2014 by WordPress.com.

Lebih terperinci

Lho, apa itu tak wajar? tanya Pita Loka pada sang penanya.

Lho, apa itu tak wajar? tanya Pita Loka pada sang penanya. Tujuh Manusia Harimau (5) Rahasia Kitab Tujuh Motinggo Busye Sejak ribuan lebah itu berhasil diusir oleh Pita Loka secara ajaib. Penduduk Kumayan merasa berhutang budi padanya. Tiap hari ada saja di antara

Lebih terperinci

GENTA KEMATIAN. oleh Teguh Suprianto. Cetakan pertama. Penerbit Cintamedia, Jakarta. Penyunting : Puji S. Gambar Sampul oleh Soeryadi

GENTA KEMATIAN. oleh Teguh Suprianto. Cetakan pertama. Penerbit Cintamedia, Jakarta. Penyunting : Puji S. Gambar Sampul oleh Soeryadi amy GENTA KEMATIAN oleh Teguh Suprianto Cetakan pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta Penyunting : Puji S. Gambar Sampul oleh Soeryadi Hak cipta pada Penerbit Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Bersama

Tanggung Jawab Bersama Tanggung Jawab Bersama Ven. Sri Paññāvaro Mahāthera Ven. Dr. K. Sri Dhammananda Daftar Isi Tanggung Jawab Bersama 5 Engkau Bertanggung Jawab 14 Tanggung Jawabmu Menciptakan Saling Pengertian 17 Jangan

Lebih terperinci

Buat yang Terkasih. Dari. Tanggal

Buat yang Terkasih. Dari. Tanggal Buat yang Terkasih Dari Tanggal The VOICE of The MARTYRS Serving the Persecuted Church for more than 30 years YAYASAN KASIH DALAM PERBUATAN The Voice Of The Martyrs Indonesia Kunjungi kami di http://www.persecution.com

Lebih terperinci

Harga Diri. Kunci Kesuksesan dan Pencapaian Prestasi. Ariesandi S.,CHt SekolahOrangtua.com

Harga Diri. Kunci Kesuksesan dan Pencapaian Prestasi. Ariesandi S.,CHt SekolahOrangtua.com Harga Diri Kunci Kesuksesan dan Pencapaian Prestasi Ariesandi S.,CHt Bab 1: Harga Diri Rendah Pemicu Ledakan Amarah Bab 1 Harga Diri Rendah Pemicu Ledakan Amarah Seorang anak laki- laki dilahirkan di sebuah

Lebih terperinci

Ada apa. dengan Cinta? Teaching Resources for Advanced Indonesian based on the film by Rudi Soedjarwo

Ada apa. dengan Cinta? Teaching Resources for Advanced Indonesian based on the film by Rudi Soedjarwo Ada apa dengan Cinta? Teaching Resources for Advanced Indonesian based on the film by Rudi Soedjarwo Uli Kozok, 2009 Last Revision: Nov. 2011 Introduction Ada Apa Dengan Cinta (What s Up with Love?) is

Lebih terperinci

Tidak Ada. Ajahn Chah

Tidak Ada. Ajahn Chah Dhamma Citta Tidak Ada Ajahn Chah No Ajahn Chah P E R E N U N G A N Suatu ketika ada seorang umat biasa datang untuk bertemu Ajahn Chah untuk bertanya. Ajahn Chah melihat perkembangan spiritualnya belum

Lebih terperinci

AUTHOR: Kho Ping Ho TITLE: Pendekar Kelana

AUTHOR: Kho Ping Ho TITLE: Pendekar Kelana AUTHOR: Kho Ping Ho TITLE: Pendekar Kelana Pegunungan itu jelas memperlihatkan sentuhan musim kering yang berkepanjangan. Pohon-pohon kehilangan banyak daunnya, bahkan ada di antara pohon-pohon yang gundul.

Lebih terperinci

Djvu bu Syauggy_ar TXT by Raynold www.tagtag.com/ taman bacaan/ Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.

Djvu bu Syauggy_ar TXT by Raynold www.tagtag.com/ taman bacaan/ Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz. Serii P.. Rajjawallii Saktii 70 Kembang Bunga Lontar Djvu bu Syauggy_ar TXT by Raynold www.tagtag.com/ taman bacaan/ Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

Lebih terperinci

Bebas lepas beterbangan. dari taman ke taman. mencari kembang harum jelita. untuk kuhisap sari madunya. setelah puas kumenikmatinya

Bebas lepas beterbangan. dari taman ke taman. mencari kembang harum jelita. untuk kuhisap sari madunya. setelah puas kumenikmatinya Pria itu usianya sudah limapuluh lima tahun, akan tetapi masih nampak tampan, gagah dengan pakaiannya yang rapi, dengan rambutnya yang sudah terhias uban itu tersisir rapi dan halus mengkilap oleh minyak

Lebih terperinci

Edisi 38 / November - Desember 2003. Tidakkah Kamu Baca? Mencari Kedamaian. Pengkhotbah 2 : Prestasi Hidup. Artikel Utama

Edisi 38 / November - Desember 2003. Tidakkah Kamu Baca? Mencari Kedamaian. Pengkhotbah 2 : Prestasi Hidup. Artikel Utama Edisi 38 / November - Desember 2003 Tidakkah Kamu Baca? Mencari Kedamaian Pengkhotbah 2 : Prestasi Hidup Artikel Utama Satu Roh Pengajaran tentang Roh Kudus telah menjadi subjek yang secara luas diinterpretasikan

Lebih terperinci

suara hati anak tentang peran ayah

suara hati anak tentang peran ayah suara hati anak tentang peran ayah suara hati anak-anak terhadap peran ayahnya ayah ada ayah tiada penyunting Irwan Rinaldi AYAH ADA, AYAH TIADA Penyunting: Irwan Rinaldi Cetakan Pertama 44; 148 X 210

Lebih terperinci

LUPUS. THE LOST BOY : SALAH CULIK Ebook by Syauqy_arr 1 AIR MATA PALSU

LUPUS. THE LOST BOY : SALAH CULIK Ebook by Syauqy_arr 1 AIR MATA PALSU LUPUS THE LOST BOY : SALAH CULIK Ebook by Syauqy_arr 1 AIR MATA PALSU SEJAK punya cita-cita jadi penyanyi, saban belajar malem Lulu selalu nggak lupa memakai walkman. sambil nyanyi-nyanyi kenceng, Lulu

Lebih terperinci

BANGUN DONG, LUPUS! 1. Diary Boim

BANGUN DONG, LUPUS! 1. Diary Boim BANGUN DONG, LUPUS! 1. Diary Boim JANGAN heran, ya, Boim ternyata punya diary juga. Isinya tentang kisah perjalanan masa remaja Boim. Diary ini agak unik, sebab terbuat dari daun lontar. Tapi Boim sayang,

Lebih terperinci

Hidup Baru Dalam Kristus Buku Kegiatan Bagi Jemaat Baru

Hidup Baru Dalam Kristus Buku Kegiatan Bagi Jemaat Baru Hidup Baru Dalam Kristus Buku Kegiatan Bagi Jemaat Baru Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti

Lebih terperinci