Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Terhadap Penanganan PMKS Guna Mendukung Penurunan Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2014

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Terhadap Penanganan PMKS Guna Mendukung Penurunan Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2014"

Transkripsi

1 LOGO Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Terhadap Penanganan PMKS Guna Mendukung Penurunan Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2014 Ir. Idee Sasongko Korprov PNPM-MPd Jateng Koordinasi Program-Program Penanggulangan Kemiskinan Secara Sinergis melalui Tenaga Sosial Kecamatan (TKSK) se Jawa Tengah Semarang, 27 Agustus 2014

2 PNPM MERUPAKAN BENTUK PROGRAM PENANGGULANAN KEMISKINAN UNTUK KLASTER II Klaster I Klaster II Klaster III Klaster IV Bantuan dan Perlindungan Sosial Berbasis Keluarga Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Usaha kecil mikro Program Pro Rakyat Mengurangi Beban Kehidupan dan Memperbaiki Kualitas Kehidupan Masyarakat Miskin PNPM Meningkatkan Kapasitas Kelompok Masyarakat Miskin untuk Terlibat dalam Proses Pembangunan Meningkatkan Tabungan dan Menjamin Keberlanjutan Usaha Menyediakan Fasilitas Dasar Bagi Masyarakat Miskin dengan harga murah melalui Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Sektoral pada Wilayah Tertentu Keterangan: 3 klaster program penanggulangan kemiskinan di Indonesia berdasarkan Inpres 15/2010

3 Hakikat PNPM Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Tri Bina 1. Bina Manusia : Peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia 2. Bina Usaha : Penyediaan sumber daya keuangan (dana bergulir) 3. Bina Lingkungan : Pembangunan sarana prasarana (infrastruktur)

4 Hambatan yang merupakan dasar daripada masalah kesejahteraan sosial Ketergantungan ekonomi Ketidakmampuan menyesuaikan diri Kesehatan yang buruk Kurang atau tidak adanya pengisian waktu senggang dan sarana rekreasi Kondisi sosial, penyediaan dan pengelolaan pelayanan sosial yang kurang atau tidak baik.

5 Kebutuhan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Pelatihan / Ketrampilan Pelatihan dan Rehabilitasi Bantuan uang biaya hidup Bantuan modal Pemberian pekerjaan / peluang usaha Pemberian alat produksi Peningkatan Pendidikan

6 Kerentanan Ketidakberdayaan Tingkat Kesehatan Keterisolasian

7 Kompetensi Tenaga Profesional Pendamping PMKS Pertolongan kepada individu (dengan metode case work), Pertolongan kepada kelompok (dengan metode group work) Pertolongan kepada masyarakat (dengan metode Community Organization / Community Development).

8 Masalah Sektor Kesejahteraan Sosial Masih kurang dipahami secara utuh oleh masyarakat, bahkan oleh para pembuat kebijakan sendiri. Pemahaman dan pengenalan masyarakat yang masih kurang terhadap pembangunan kesejahteraan sosial salah satunya tampak dari minimnya usulan program yang disampaikan masyarakat dalam mekanisme perencanaan pembangunan berbasis masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) terutama di tingkat desa/kecamatan. Terdapat pemahaman yang terlanjur melekat di benak masyarakat luas bahwa penanganan kesejahteraan sosial semata-mata memberikan bantuan sosial dan tindakan karikatif lainnya. Ketiadaan inisiatif dalam perumusan rencana program dari bawah yang berimplikasi pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial

9 Bagaimana PNPM Bisa Berperan dalam Penanganan PMKS? Memberikan penyadaran dan pemahaman kepada masyarakat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Perlu pembekalan kepada Fasiltator PNPM tentang PMKS Muncul usulan yang pro PMKS Pengawalan terhadap usulan yang pro PMKS agar terdanai Pelatihan ketrampilan bagi PMKS melalui kegiatan program maupun dari Surplus Dana Bergulir Dukungan pengurangan beban PMKS melalui Surplus Dana Bergulir, misalnya bantuan bedah rumah, subsidi pendidikan/kesehatan, bantuan alat produksi, dll.

10 PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT di PNPM Mandiri Perdesaan STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN MENINGKATKAN PENDAPATAN KELUARGA MISKIN (CLUSTER II, III) MENGURANGI BEBAN PENGELUARAN KELUARGA MISKIN (CLUSTER I) PENCIPTAAN AKSES BAGI MASYARAKAT UTK MENGEMBANGKAN USAHA EKONOMI PRODUKTIF MENYEDIAKAN BANTUAN/SUBSIDI BAGI MASYARAKAT DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR

11 Pilot Project Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B) 3 (tiga) strategi utama penanggulangan kemiskinan : 1. Pengembangan sistem perlindungan sosial yang menyeluruh dan terintegrasi; 2. Pemenuhan pelayanan dasar bagi penduduk miskin dan rentan; 3. Pengembangan penghidupan secara berkelanjutan (sustainable livelihood) bagi masyarakat miskin dan rentan melalui berbagai kebijakan dan dukungan di tingkat lokal, regional, dan nasional dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

12 Pentagonal Asset HUman Capital (SD Manusia) Social Capital (Modal Sosial) Livelihood Asset Natural Capital (SD Alam) Physical Capital (SD Fisik) Financial Capital (Modal Keuangan)

13 Pilot Project Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B) Strategi yang dikembangkan dalam program ini adalah: 1. Meningkatkan kemampuan/ketrampilan masyarakat miskin untuk mengisi kesempatan yang tersedia; 2. Mendorong kewirausahaan dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

14 Pilot Project Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B) Kegiatan program ini terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1. Peningkatan Kapasitas Masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan ekonomi produktif. Kegiatan ini dilakukan melalui: a. Pelatihan pengelolaan kelompok kepada anggota kelompok dan pengurus; b. Pelatihan keahlian yang disesuaikan dengan minat usaha anggota kelompok, terbagi menjadi dua pilihan, yaitu: i. Pelatihan kewirausahaan, yaitu pembekalan keahlian untuk mengembangkan usaha secara mandiri; ii. Pelatihan keterampilan, yaitu pembekalan keahlian dan keterampilan untuk mengisi peluang kerja atau untuk bekal sebagai karyawan/pegawai.

15 Pilot Project Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B) 2. Pengembangan Penghidupan Masyarakat sebagai upaya untuk mendorong kewirausahaan masyarakat sesuai dengan minat, kemampuan, serta potensi ekonomi yang terdapat di masing-masing wilayah. Kegiatan ini dilakukan melalui: a. Pendampingan mulai dari tahapan analisis potensi, pengusulan kegiatan usaha produktif, hingga pelaksanaan kegiatan ; b. Penyaluran dana bergulir melalui kelompok swadaya masyarakat untuk membiayai kegiatan usaha produktif anggota kelompok; c. Penyerahan pinjaman kepada kelompok yang bentuknya disesuaikan dengan usulan kelompok dan ketentuan program; d. Penyaluran ke pasar kerja bagi tenaga kerja produktif yang sudah memperoleh pelatihan.

16 Pilot Project Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B) 3. Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam mendukung pelaksanaan pengembangan penghidupan masyarakat yang berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan melalui: a. Pelatihan pemetaan potensi ekonomi daerah yang bertujuan agar pemda mampu membuat dokumen potensi ekonomi daerah yang akan dipergunakan sebagai dasar bagi pengembangan perekonomian daerah dan perekonomian rumah tangga/masyarakat; b. Mendorong pengembangan dan peningkatan mutu dari Balai Latihan Kerja (BLK) melalui penguatan kapasitas Pemda.

17 Terima kasih -Idee Sasongko-

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK)

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) Daftar Isi Sekapur Sirih 3 Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) PPKK & Upaya Penanggulangan Kemiskinan & 8 Kerentanan di Indonesia Kebijakan & Landasan Hukum 15

Lebih terperinci

GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA

GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA Oleh: Makmun 1 Abstraksi Dalam rangka penanggulangan masalah kemiskinan diperlukan adanya penanganan secara sungguh-sungguh. Seiring dengan dinamika masyarakat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI Bahwa kemiskinan adalah ancaman terhadap persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa, karena itu harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Menghapuskan kemiskinan merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA 1 SAMBUTAN Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan SDM seutuhnya dimana untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa periode

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 31 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sekretariat PNPM MP Kecamatan Ranomeeto, maka adapun hasil penelitian. yang didapatkan dapat digambarkan sebagai berikut:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Sekretariat PNPM MP Kecamatan Ranomeeto, maka adapun hasil penelitian. yang didapatkan dapat digambarkan sebagai berikut: BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada Kantor Sekretariat PNPM MP Kecamatan Ranomeeto, maka adapun hasil penelitian yang didapatkan dapat digambarkan sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN

PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG 2014 DAFTAR

Lebih terperinci

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI SERTA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Pemberdayaan koperasi usaha mikro, kecil, dan menengah (KUMKM) merupakan upaya strategis dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007 ANALISIS DAMPAK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN TERHADAP PENGENTASAN KEMISKINAN DI KABUPATEN DELI SERDANG T E S I S Oleh: JAMES ERIK SIAGIAN 057018033 / EP SEKOLAH PASCASARJANA

Lebih terperinci

Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan

Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-Urban) CATATAN KEBIJAKAN JANUARI 2013 CATATAN KEBIJAKAN Indonesia:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. 1 Di sisi lain, salah satu kata

BAB I PENDAHULUAN. memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. 1 Di sisi lain, salah satu kata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan dimana masyarakat bernisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.

Lebih terperinci

Buletin Teknis Nomor 10 tentang Akuntansi Belanja Bantuan Sosial KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP)

Buletin Teknis Nomor 10 tentang Akuntansi Belanja Bantuan Sosial KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP) KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN Komite Konsultatif : 1. Direktur Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan, Ketua merangkap Anggota 2. Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri,

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD)

LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD) LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD) PEMERINTAH KOTA MADIUN TAHUN 2012 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan KaruniaNya Laporan Pelaksanaan

Lebih terperinci

1. Judul I. COMMUNITY HEALTH SERVICES 2. HEALTH DEVELOPMENT 3. PUBLIC HEATLH SERVICES

1. Judul I. COMMUNITY HEALTH SERVICES 2. HEALTH DEVELOPMENT 3. PUBLIC HEATLH SERVICES 351.077 Ind p Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 351.077 Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Promosi Kesehatan P Pedoman umum pengembangan desa dan keluarga siaga aktif: dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi.

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. Disampaikan Pada: DIKLAT KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Bagian

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI (Studi Kasus: PT Coca Cola Bottling Indonesia Divisi Jawa Tengah, PT. Leo Agung Raya, PT Djarum Kudus, dan Sentra Industri

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5.

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak

Lebih terperinci