V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 31 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau Identifikasi Perubahan Luas RTH di Jakarta Timur Identifikasi penyebaran dan analisis perubahan Ruang Terbuka Hijau di kawasan Jakarta Timur dilakukan berdasarkan data RTH Dinas Tata Kota pada tahun 2002 dan Tabel 6menunjukkan dinamika perubahan luas dan proporsi Ruang Terbuka Hijau setiap kecamatan di Jakarta Timur pada periode tahun 2002 sampai Tabel 6. Dinamika Luasan RTH Kawasan Jakarta Timur Kecamatan RTH 2002 % RTH 2007 % (ha ) (ha) Cakung 67,7 8,15 94,7 8,96 Cipayung 172,9 20,82 159,1 15,06 Ciracas 6,.2 0,75 80,0 7,57 Duren Sawit 52,1 6,27 45,2 4,28 Jatinegara 39,5 4,76 42,2 3,99 Kramat Jati 7,0 0,84 90,3 8,55 Makasar 17,7 2,13 309,0 29,24 Matraman 0,1 0,01 1,4 0,13 Pasar Rebo 182,6 21,98 128,5 12,16 Pulo Gadung 162,7 19,59 106,4 10,07 Jumlah 830, ,7 100 Sumber : Analisis Peta Penggunaan Lahan Kawasan Jakarta Timur (2002 dan 2007) Dari Tabel 6 diketahui luasan RTH tahun 2002 sebesar 830,6 ha, sedangkan luas RTH tahun 2007 sebesar 1.056,7 ha. Sejak tahun 2002 hingga tahun 2007 luasan RTH meningkat seluas 226,1 ha. Peningkatan RTH dari tahun 2002 ke tahun 2007 salah satunya dikarenakan banyaknya lahan kosong milik pemerintah yang dijadikan sebagai kawasan RTH seperti jalur hijau dan lapangan golf di Jakarta Timur. Hasil identifikasi luas RTH berdasarkan digitasi ulang data RTH Dinas Tata Kota berbeda dengan data RTH yang resmi dikeluarkan oleh Dinas Tata

2 32 Kota (Tabel 4).Adanya perbedaan luas RTH Tahun 2007 antara hasil klasifikasi sebesar 1.056,7 ha (Tabel 6) dengan data Dinas Tata Kota (Tabel 4) sebesar 1.052,37 ha, salah satunya dikarenakan adanya perbedaan koreksi geometri, sehingga luas total administrasi Jakarta Timur hasil klasifikasi sebesar ha (Tabel 7) sedangkan menurut BPS DKI Jakarta sebesar ha (Tabel 3) Luas dan Penyebaran RTH Setiap Kecamatan di Jakarta Timur Proses perkembangan yang pesat di wilayah DKI Jakarta terjadi juga di Jakarta Timur. Proses perkembangan tersebut mempengaruhi luas RTH di beberapa wilayah kecamatan di Jakarta Timur. Gambar 3 menunjukkan Peta RTH per Kecamatan di Jakarta Timur Tahun 2002, sedangkan Gambar 4 menunjukkan Peta RTH Setiap Kecamatan di Jakarta Timur Tahun Gambar 3. Peta RTH Setiap Kecamatan di Jakarta Timur Tahun 2002 Pada tahun 2002 RTH di Jakarta Timur seluas 830,6 ha. Kecamatan yang memiliki RTH terbesar adalah Kecamatan Pasar Rebo, yaitu seluas 182,6 ha, sedangkan yang memiliki RTH terkecil adalah Kecamatan Matraman sebesar 0,1 ha. Kecamatan Pasar Rebo memiliki RTH paling luas karena selain masih banyak

3 33 RTH yang dilestarikan, juga karena jumlah penduduknya yang relatif sedikit dibandingkan wilayah kecamatan lain. Lokasinya yang berada di area terluar dan berbatasan dengan wilayah Bogor menyebabkan laju perkembangan wilayah yang tidak sepesat wilayah lain dan berimplikasi pada pertumbuhan fasilitas yang tidak terlalu cepat. Kecamatan Matraman memiliki luas terkecil di Jakarta Timur, sehingga luas agregat lahan yang dijadikan sebagai RTH pun relatif kecil. Disamping itu, posisinya yang berbatasan dengan wilayah Jakarta Pusat menyebabkan laju perkembangan yang tinggi dan pertumbuhan fasilitas yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan wilayah Jakarta Timur lainnya. Gambar 4. Peta RTH Setiap Kecamatan di Jakarta Timur Tahun 2007 Luas RTH di Jakarta Timur tahun 2007 sebesar 1.056,7 ha meningkat dari kondisi di tahun Proporsi RTH yang terbesar adalah di Kecamatan Makassar seluas 309,0 ha, dan terkecil di Kecamatan Matraman seluas 1.4 ha. Kecamatan Makasar memiliki potensi lahan kosong cukup luas di tahun Peningkatan RTH di tahun 2007 umumnya berasal dari penataan lahan kosong dan dimanfaatkan menjadi RTH. Kecamatan Matraman di tahun 2007 tetap

4 34 memiliki RTH relatif tersempit. Posisinya yang strategis berdekatan dengan Jakarta Pusat menyebabkan tumbuh suburnya perkantoran dan pusat perbelanjaan dan memperkecil peluang bertambahnya RTH sejak tahun 2002 ke Gambar 5 menunjukkan RTH yang bertambah di Jakarta Timur, diperoleh dari hasil pengecekan lapang. Gambar 5a merupakan gambar lapangan Sarwo Edhie Wibowo di Kecamatan Pasar Rebo; Gambar 5b adalah persawahan di Kecamatan Cipayung; Gambar 5c merupakan gambar jalur hijau di Kecamatan Cipayung, Gambar 5d merupakan Lapangan Golf Halim Perdana Kusuma II di Kecamatan Makasar; Gambar 5e adalah Lapangan Golf Royale Jakarta di Kecamatan Makasar; dan Gambar 5f merupakan gambar Tempat Pemakaman Umum Tanah Merah di Kecamatan Duren Sawit. Gambar 6a merupakan gambar Korea World Center di Kecamatan Pulo Gadung; Gambar 6b adalah Gedung Putih di Kecamatan Pasar Rebo; Gambar 6c merupakan Gambar Kantor Sekretariat di Kecamatan Pasar Rebo; Gambar 6d adalah perumahan Cijantung II di Kecamatan Pasar Rebo; Gambar 6e merupakan gambar rumah susun Komplek Kopassus di Kecamatan Pasar Rebo; dan Gambar 6f adalah gambar perumahan Calista Residence di Kecamatan Cipayung. Dari Gambar 7 diketahui bahwa dari tahun 2002 ke tahun 2007 peningkatan luas RTH terjadi di Kecamatan Makassar sebesar 291,3 ha, sedangkan penurunan luas RTH terbesar di Kecamatan Pulo Gadung sebesar 56,2 ha. Kecamatan Makasar merupakan Kecamatan dengan peningkatan RTH paling luas karena banyaknya lahan kosong yang dijadikan sebagai lokasi RTH, sedangkan Pulo Gadung mengalami penurunan RTH terluas karena perkembangan kawasan industri dan perumahan.

5 35 a. Pasar Rebo ( ; ) b. Cipayung ( ; ) c. Cipayung ( ; ) d. Makasar ( ; ) e. Makasar ( ; ) f. Duren Sawit ( ; ) Gambar 5. Penggunaan Saat Ini di Lokasi Penambahan RTH dari Lahan Kosong di Jakarta Timur

6 36 Gambar 6 menunjukkan RTH yang berkurang menjadi penggunaan lain di Jakarta Timur, diperoleh dari hasil pengecekan lapang. a. Pulo Gadung ( ; ) b. Pasar Rebo ( ; ) c. Pasar Rebo ( ; ) d. Pasar Rebo ( ; ) e. Pasar Rebo ( ; ) f. Cipayung ( ; ) Gambar 6. Penggunaan saat ini dari perubahan RTH menjadi lahan terbangun di Jakarta Timur

7 37 ha 350,0 300,0 250,0 200,0 150,0 100,0 50,0 0,0 50,0 100,0 Kecamatan Gambar 7. Perubahan RTH Tahun 2002 dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta Timur RTRW merupakan wujud kebijakan pemerintah terkait rencana alokasi ruang di masa depan. Peta RTRW yang digunakan dalam analisis adalah Peta RTRW Jakarta Timur Tahun Pada Tabel 7 disajikan luasan penggunaan lahan dalam RTRW di Jakarta Timur. Penggunaan lahan terbesar dalam RTRW adalah perumahan sebesar 7.568,0 ha, sedangkan yang terkecil adalah alokasi untuk jaringan jalan sebesar 191,7 ha. Tabel 7. Luas Penggunaan Lahan menurut RTRW di Jakarta Timur No Penggunaan Lahan Luas (ha) % 1 Jaringan Jalan 191, Rel Kereta 270, Tata Air 363, Bangunan Umum dan Perumahan 370, Bangunan Umum Berkepadatan Rendah 1.243, B angunan Umum 1.374, Perindustrian dan Pergudangan 1.616, Perumahan Berkepadatan Rendah 2.532, Ruang Terbuka Hijau 3.493, Perumahan 7.568, Jumlah ,8 100,00

8 38 Berdasarkan Tabel 7 diketahui alokasi luas RTH dalam RTRW sebesar 3.493,3 ha atau 18,36 %. Sementara itu, berdasarkan identifikasi luas RTH tahun 2002 diketahui seluas 830,6 ha dan tahun 2007 sebesar 1.056,7 ha. Proporsi RTH tahun 2002 dan 2007 lebih kecil dari proporsi RTH dalam RTRW. Hal ini menunjukkan belum tercapainya rencana alokasi ruang untuk RTH sesuai yang diamanatkan dalam RTRW Ketetapan RTH menurut UU adalah sebesar ,6 ha untuk wilayah DKI Jakarta, sedangkan menurut PEMDA DKI Jakarta adalah sebesar 9.195,1 ha. Ketetapan RTH menurut PEMDA untuk wilayah Jakarta Timur sendiri adalah sebesar 3.122,3 ha. Kondisi riil RTH di Jakarta Timur Tahun ,6 ha lebih rendah dari luas RTH yang sudah diamanatkan dalam RTRW.Masih belum tercapainya target yang ditetapkan oleh PEMDA DKI, menuntut upaya antara lain dengan memanfaatkan ketersediaan lahan kosong yang masih ada yang akan dijelaskan lebih rinci pada pembahasan berikutnya. Gambar 8 merupakan peta RTRW Jakarta Timur tahun Identifikasi Perubahan Luas Lahan Kosong di Jakarta Timur Luas lahan kosong di Jakarta Timur dari tahun 2002 ke tahun 2007 menurun cukup drastis. Pada Tahun 2002 luas lahan kosong di Jakarta Timur sebesar 4.395,4 ha, sedangkan pada tahun 2007 menjadi 2.910,8 ha atau terjadi penurunan sebesar 1.484,6 ha.dinamika luasan lahan kosong di Jakarta Timur ditunjukkan pada Tabel 8. Luas lahan kosong yang paling besar pada tahun 2002 adalah di Kecamatan Makasar seluas 1.407,2 ha, sedangkan yang terkecil seluas 21,1 ha di Kecamatan Matraman. Pada tahun 2007 kecamatan dengan luas lahan kosong terbesar adalah Kecamatan Cakung, yaitu seluas 1.160,1 ha, sedangkan yang tidak memiliki lahan kosong lagi adalah Kecamatan Matraman. Gambar 9 menunjukkan perubahan luas lahan kosong tahun 2002 dan Diketahui bahwa dari tahun 2002 ke tahun 2007 luas lahan kosong di semua kecamatan cenderung menurun. Penurunan luas lahan kosong paling besar terjadi di Kecamatan Makasar seluas ha, salah satunya dikarenakan perubahan menjadi lapangan golf dan jalur hijau Bandara Halim Perdana Kusuma.

9 39 Gambar 8. Peta RTRW Jakarta Timur Tahun Tabel 8. Dinamika Luasan Lahan Kosong di Jakarta Timur Kecamatan Lahan Kosong Tahun 2002 (ha) Lahan Kosong Tahun 2007 (ha) Cakung 1.282, ,1 Cipayung 780,3 596,5 Ciracas 197,7 119,6 Duren Sawit 307,8 177,4 Jatinegara 72,4 26,5 Kramat Jati 131,8 64,5 Makasar 1.407,2 581,0 Matraman 21,1 0 Pasar Rebo 136,5 129,7 Pulo Gadung 58,2 55,6 Jumlah 4.395, ,8

10 40 ha 0, , , , , , , ,000 Kecamatan Gambar 9. Perubahan Luas Lahan Kosong Tahun 2002 dan Analisis Laju Pertumbuhan Penduduk dan Pendatang Tahun Berdasarkan penelitian Aurelia (2010) diketahui bahwa pertumbuhan penduduk menjadi faktor penting yang mempengaruhi terjadinya perubahan luas RTH di suatu wilayah. Tabel 9 menunjukkan jumlah penduduk di Jakarta Timur dari tahun 2002 sampai tahun Berdasarkan Tabel 9 nampak bahwa jumlah penduduk tiap tahun di Jakarta Timur dari tahun 2002 sampai 2007 cenderung meningkat. Pada tahun 2002 sebanyak jiwa penduduk yang menempati wilayah Jakarta Timur, sedangkan jiwa penduduk pada tahun Kecamatan Duren Sawit merupakan Kecamatan yang paling padat penduduknya, sebaliknya Kecamatan Cipayung merupakan yang paling jarang penduduknya. Berkembangnya jumlah dan jenis fasilitas seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, sarana pendidikan yang ada merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi meningkatnya jumlah penduduk di Jakarta Timur. Gambar 10 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Jakarta Timur pada periode tahun 2002 sampai 2008 secara umum sebesar 0.9 % per tahun. Tumbuhnya penduduk Jakartasecara umum disebabkan oleh pertumbuhan alamiah maupun karena banyaknya migran. Dalam konteks Jakarta, pertumbuhan melalui proses migrasi disinyalir lebih besar dibandingkan dari proses kelahiran. Oleh karena itu, dalam menganalisis pertumbuhan penduduk Jakarta Timur,

11 41 informasi dan analisis data migran (pendatang) sangat dibutuhkan. Pada Tabel 10disajikan banyaknya jumlah pendatang di Jakarta Timur dari tahun 2002 sampai Tabel 9. Jumlah Penduduk Jakarta Timur Penduduk (Jiwa) Kecamatan Pasar Rebo Ciracas Cipayung Makasar Kramat Jati Jatinegara Duren Sawit Cakung Pulo Gadung Matraman Jumlah Sumber : BPS DKI Jakarta (2009) Laju Pertumbuhan Penduduk 0,014 0,012 0,010 0,008 0,006 0,004 0,002 0, Tahun Gambar 10. Laju Pertumbuhan PendudukTahun Jumlah pendatang yang masuk ke Jakarta Timur tahun 2002 sebanyak jiwa, sedangkan pada tahun 2008 sebanyak jiwa sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 10.

12 42 Tabel 10. Jumlah Pendatang Jakarta Timur No Kecamatan Pendatang(Jiwa) Pasar Rebo Ciracas Cipayung Makassar Kramat Jati Jatinegara Duren Sawit Cakung Pulo Gadung Matraman Jumlah Sumber : BPS DKI Jakarta (2009) Dari tahun 2002 sampai tahun 2008 terjadi fluktuasi jumlah pendatang di Jakarta Timur. Kecamatan yang memiliki jumlah pendatang terbanyak adalah Kecamatan Duren Sawit, sedangkan yang paling sedikit adalah Kecamatan Matraman. Kecamatan Duren Sawit memiliki jumlah pendatang terbanyak karena lokasinya berdekatan dengan Kecamatan Cakung yang merupakan kawasan industri dan adanya konsentrasi sarana ekonomi seperti pusat perbelanjaan, dan pertokoan. Kondisi ini menyebabkan peluang berusaha dan alternatif untuk memilih mata pencaharian bagi para pendatang cukup besar di lokasi tersebut. Menurunnya jumlah pendatang antara di Jakarta Timur salah satunya disebabkan oleh adanya peraturan pemerintah yang mengharuskan pendatang untuk memenuhi persyaratan yang diberlakukan, salah satunya seperti harus memiliki kartu tanda penduduk (KTP) DKI Jakarta. Gambar 11 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan pendatang pada periode 2002 sampai 2006 secara umum sebesar 0.7 % per tahun.

13 43 Laju Pertumbuhan Pendatang 0,300 0,250 0,200 0,150 0,100 0,050 0,000 0,050 0,100 0, Tahun Gambar 11.Laju Pertumbuhan Pendatang Tahun Hirarki, Luas RTH dan Perkembangan Wilayah di Jakarta Timur Tahun 2003 dan 2006 Penetapan hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan pelayanan dengan menggunakan metode skalogram didasarkan pada jumlah jenis dan jumlah unit sarana-prasarana pembangunan dan fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang tersedia. Metode ini menghasilkan hirarki atau peringkat yang lebih tinggi pada pusat pertumbuhan yang memiliki jumlah jenis dan jumlah unit sarana-prasarana pembangunan yang lebih banyak. Distribusi penduduk dan luas jangkauan pelayanan sarana-prasarana pembangunan secara spasial tidak dipertimbangkan secara spesifik.tingkat perkembangan suatu wilayah dinyatakan dalam bentukhirarki I, II, dan III. Pada Gambar 12 ditunjukkan Peta Hirarki Wilayah Jakarta Timur Tahun Di Jakarta Timur, pada tahun 2003 kelurahan yang berhirarki III berjumlah 40. Kelurahan yang berhirarki II berjumlah 18, sedangkan yang berhirarki I berjumlah 7 kelurahan. Kelurahan yang berhirarki I berada berdekatan dengan jalan utama, dan memiliki fasilitas yang paling banyak dan lengkap dibandingkan dengan kelurahan pada kelompok hirarki lain.

14 44 Gambar 12. Peta Hirarki Wilayah Jakarta Timur Tahun 2003 Pada Gambar 13 disajikan Peta Hirarki Wilayah Jakarta Timur Tahun 2006.Kelurahan yang berhirarki I berjumlah 11, jumlah kelurahan yang berhirarki II adalah 19, sedangkan yang berhirarki III berjumlah 35 kelurahan. Adanya jalan utama di kelurahan berhirarki I mempermudah penduduk mencapai fasilitas yang dibutuhkan. Sementara itu kelurahan yang berhirarki III berdekatan dengan jalan tol nasional. Nampaknya keberadaan jalan tol tidak memberikan dampak terhadap tumbuhnya fasilitas di kelurahan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena pembangunan jalan tol tersebut juga masih relatif baru, sehingga dampaknya belum dirasakan bagi wilayah di sekitarnya. Akibatnya fasilitas yang tersedia di kelurahan-kelurahan berhirarki III paling sedikit dan tidak lengkap. Berikutnya pada Gambar 14 disajikan perubahan jumlah desa berhirarki I, II dan III pada periode tahun 2003 dan 2006.

15 45 Gambar 13. Peta Hirarki Wilayah Jakarta Timur Tahun 2006 Kelurahan berhirarki I jumlahnya meningkat sebanyak 4 kelurahan dari 7 kelurahan pada tahun 2003 menjadi 11 kelurahan pada tahun Jumlah kelurahan yang berhirarki II pada tahun 2003 sebanyak 18 kelurahan dan pada tahun 2006 sebanyak 19 kelurahan, sehingga terjadi peningkatan jumlah kelurahan berhirarki II sebanyak 1 kelurahan, sedangkan jumlah kelurahan yang berhirarki III menurun menjadi 35 kelurahan pada tahun 2006 dari tahun 2003 yang jumlahnya 40 kelurahan atau menurun sebanyak 5 kelurahan. Penurunan jumlah kelurahan berhirarki III seiring dengan peningkatan jumlah kelurahan berhirarki II dan I. Hal ini berarti banyak kelurahan berhirarki III yang telah berkembang dari segi jumlah serta kelengkapan fasilitasnya menjadi kelurahan berhirarki II dan I.

16 46 Jumlah Desa Hirarki I Hirarki II Hirarki III Hirarki Gambar 14. Perubahan Jumlah Kelurahan Berhirarki I, II dan III Tahun 2003 dan 2006 Sejalan dengantarget utama penelitian ini, yaitu perubahan luas RTH di Jakarta Timur, pada bagian berikut disajikan luas RTH untuk setiap kelas hirarki wilayah per Kecamatan (Tabel 11) dan pada setiap kelas hirarki pada Tabel 12. Pada tahun 2002 luas RTH yang paling besar dimiliki di kelompok wilayah hirarki III sebesar 572,3 ha, sedangkan yang terkecil kelompok wilayah berhirarki I sebesar 58,5 ha. Pada tahun 2007 kelompok wilayah berhirarki III memiliki luas RTH terluas sebesar 727,2 ha, sedangkan kelompok wilayah berhirarki II memiliki luas RTH terkecil seluas 162,6 ha. Perubahan RTH pada tahun 2002 dan 2007 yang meningkat paling besar berada pada hirarki III sebesar 154,9 ha, salah satunya dikarenakan pada daerah berhirarki III fasilitas yang ada belum berkembang, sehingga masih banyak lahan yang dapat dijadikan RTH. Penurunan luas RTH terluas berada pada hirarki II sebesar 37,2 ha, salah satunya disebabkan karena wilayah pada hirarki II sudah relatif lebih berkembang sehingga banyak fasilitas yang dibangun. Oleh karena itu, luas lahan yang dijadikan RTH juga semakin kecil.

17 47 Tabel 11. Luas RTH setiap Hirarki per Kecamatan Tahun 2002 dan 2007 Kecamatan Luas RTH Tahun 2002 (ha) Luas RTH Tahun 2007 (ha) Hirarki I Hirarki II Hirarki III Hirarki I Hirarki II Hirarki III Cakung Cipayung Ciracas Duren Sawit Jatinegara Kramat Jati Makasar Matraman Pasar Rebo Pulo Gadung Jumlah Tabel 12. Luas RTH Setiap Hirarki RTH Hirarki 2002 (ha) 2007 (ha) Perubahan (ha) I 58,5 166,9 108,4 II 199,8 162,6-37,2 III 572,3 727,2 154,9 Jumlah 830, ,7 226,1 Berkembangnya suatu wilayah umumnya ditandai dengan perkembangan jumlah sarana-prasarana di wilayah tersebut. Sarana-prasarana yang dimaksud adalah fasilitas ekonomi, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. Pada Gambar 15 disajikan laju pertumbuhan setiap fasilitas di Jakarta Timur Tahun 2003 dan Dari Gambar 15 diketahui bahwa laju pertumbuhan fasilitas ekonomi dan kesehatan meningkat masing-masing sebesar 1.1 % dan 6.4 % per tahun, sedangkan laju fasilitas pendidikan menurun sebesar 1.5 % per tahun. Fasilitas ekonomi di Jakarta Timur meningkat salah satunya disebabkan meningkatnya jumlah warnet dan pusat perbelanjaan seperti toko, dan supermarket. Meningkatnya laju pertumbuhan fasilitas kesehatan juga ditandai dengan makin banyaknya rumah sakit, tempat praktek dokter dan bidan, posyandu, apotik dan toko obat yang dibangun. Fasilitas pendidikan yang semakin menurun salah

18 48 satunya disebabkan banyak lembaga-lembaga kursus yang berubah menjadi lahan industri. Gambar 15 menunjukkan perkembangan setiap fasilitas di Jakarta Timur. Laju Pertumbuhan Fasilitas 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 1,0 2,0 Fasilitas Ekonomi Fasilitas Pendidikan Fasilitas Kesehatan Fasilitas Gambar 15. Laju Perkembangan Setiap Fasilitas di Jakarta Timur Tahun 2003 dan 2006 Fasilitas perekonomian terdiri dari wartel, warnet, toko, supermarket, hotel, industri kecil dan menengah, serta bank. Pada Gambar 16 disajikan jumlah fasilitas perekonomian pada tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur. Jumlah Fasilitas Perekonomian Tahun 2003 Tahun 2006 CAKUNG CIPAYUNG CIRACAS DUREN SAWIT JATINEGARA KRAMAT JATI MAKASAR MATRAMAN PASAR REBO PULO GADUNG Gambar 16. Jumlah Fasilitas Perekonomian Tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur

19 49 Pada tahun 2003 jumlah fasilitas perekonomian di Jakarta Timur sebesar unit, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak unit atau terjadi peningkatan sebesar 682 unit. Kecamatan yang mengalami peningkatan jumlah fasilitas perekonomian terbanyak adalah Kramat Jati yaitu sejumlah 1477 unit. Peningkatan tersebut terutama karena dibangunnya pasar induk sayur dan buahbuahan serta dibangunnya pusat perbelanjaan sehingga banyak dibangun juga bank sebagai penunjang proses transaksi jual-beli. Kecamatan Pulo Gadung merupakan Kecamatan dengan fasilitas perekonomian yang mengalami penurunan paling banyak sebesar 1147 unit. Sekolah-sekolah negeri dan swasta serta lembaga-lembaga kursus merupakan fasilitas pendidikan yang banyak menurun jumlahnya di Jakarta Timur. Pada tahun 2003 jumlah fasilitas pendidikan di Jakarta Timur sebanyak 2570 unit berkurang 114 unit menjadi 2456 unit pada tahun Gambar 17 menunjukkan Jumlah Fasilitas Pendidikan Pada Tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur. Jumlah Fasilitas Pendidikan Tahun 2003 Tahun 2006 CAKUNG CIPAYUNG CIRACAS DUREN SAWIT JATINEGARA KRAMAT JATI MAKASAR MATRAMAN PASAR REBO PULO GADUNG Gambar 17. Jumlah Fasilitas Pendidikan Tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur Peningkatan jumlah fasilitas pendidikan paling besar terjadi di Kecamatan Duren Sawit sebanyak 17 unit, sedangkan yang menurun paling banyak adalah Kecamatan Cakung sebesar 78 unit. Di Kecamatan Cakung penurunan fasilitas

20 50 pendidikan terbesar salah satunya dikarenakan banyak lahan lembaga-lembaga khursus yang berubah menjadi lahan industri dan perumahan, atau dtutupnya sekolah karena tidak sesuai dengan standar pemerintah. Fasilitas kesehatan terdiri dari rumah sakit, rumah bersalin, puskesmas, tempat praktek dokter, tempat praktek bidan, posyandu, polindes, apotik, dan toko obat. Pada Gambar 18 menunjukkan jumlah fasilitas kesehatan pada tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur. Jumlah Fasilitas Kesehatan Tahun 2003 Tahun 2006 CAKUNG CIPAYUNG CIRACAS DUREN SAWIT JATINEGARA KRAMAT JATI MAKASAR MATRAMAN PASAR REBO PULO GADUNG Gambar 18. Jumlah Fasilitas Kesehatan Tahun 2003 dan 2006 di Jakarta Timur Tahun 2003 jumlah fasilitas kesehatan di Jakarta Timur sebanyak 2450 unit, sedangkan tahun 2006 menjadi 2920 unit sehingga terjadi peningkatan sebanyak 470 unit. Peningkatan jumlah fasilitas kesehatan yang paling besar terjadi di Kecamatan Kramat Jati sebanyak 176 unit, sedangkan yang mengalami penurunan paling banyak adalah Kecamatan Pulo Gadung sebanyak 42 unit. Kecamatan Kramat Jati mengalami banyak peningkatan karena selain merupakan salah satu kecamatan yang padat penduduknya, jumlah fasilitas ekonominya juga yang paling banyak meningkat sehingga pembangunan fasilitas kesehatan lebih dibutuhkan.

21 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan RTH Seiring dengan tingginya pertambahan penduduk di perkotaan, baik akibat proses migrasi dari desa ke kota maupun akibat pertumbuhan penduduk kota itu sendiri secara alamiah, maka peningkatan kebutuhan akan ruang pun semakin meningkat. Hal ini berdampak langsung terhadap pergeseran fungsi lahan RTRW yang telah ditetapkan dan mengakibatkan tingginya intensitas perubahan lahan. Pendekatan yang dilakukan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan RTH adalah dengan menggunakan model analisis regresi berganda dengan prinsip stepwise. Tabel 13 menunjukkan hasil analisis regresi tersebut. Tabel 13. Hasil Analisis Regresi untuk Identifikasi Faktor Penentu Perubahan RTH di Jakarta Timur Variabel Koefisien T P-level Pertambahan Jumlah Fasilitas Kesehatan Pertambahan Lahan Kosong R-square (R²) 0.94 Koefisien determinasi (R²) yang dihasilkan dari analisis regresi untuk mengidentifikasi faktor penentu perubahan luas RTH di Jakarta Timur tersebut adalah sebesar 94 %. Nilai R² yang mendekati 1 menunjukkan bahwa pemilihan variabel penduga sebagai variabel yang mempengaruhi variabel tujuan relatif tepat. Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa variabel yang berpengaruh sangat nyata dengan tingkat kepercayaan ±95% (p-level < 0.05) adalah perubahan lahan kosong tahun 2002 dan 2007 dan alokasi RTH dalam RTRW, sedangkan yang merupakan variabel yang potensial berpengaruh nyata adalah pertambahan jumlah fasilitas kesehatan tahun 2003 dan Secara ringkas penjelasan hasil regresi tersebut adalah sebagai berikut:

22 52 Koefisien regresi pertambahan lahan kosong dan alokasi RTH dalam RTRW bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil pertambahan lahan kosong, maka perubahan luas RTH di kelurahan tersebut semakin besar. Hal ini mengindikasikan bahwa pertambahan RTH di Jakarta Timur sebagian besar berasal dari revitalisasi lahan kosong. Koefisien regresi untuk variabel pertambahan jumlahfasilitas kesehatan tahun 2003 dan 2006 bernilai positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar pertumbahan jumlah fasilitas kesehatan, maka pertambahan luas RTH semakin besar. Kondisi ini mengisyaratkan pembangunan fasilitas kesehatan umumnya selalu mengalokasikan sebagian lahannya untuk RTH.

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI JAKARTA TIMUR

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI JAKARTA TIMUR ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI JAKARTA TIMUR Land use change Analysis of Green Open Space in East Jakarta Santun R.P. Sitorus Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN Bab I merupakan pendahuluan yang merupakan framework dari penyusunan laporan ini. Pada bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran. Dibahas pula ruang lingkupnya

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

IV. KONDISI UMUM WILAYAH STUDI IV. KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 4.1. Geografi dan Lingkungan Jakarta Timur terletak pada wilayah bagian Timur ibukota Republik Indonesia, dengan letak geografis berada pada 106 0 49 ' 35 '' Bujur Timur

Lebih terperinci

2016 KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERD ASARKAN JUMLAH PEND UD UK D I KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMED ANG

2016 KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERD ASARKAN JUMLAH PEND UD UK D I KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMED ANG BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan suatu ruang terbuka di kawasan perkotaan yang didominasi tutupan lahannya oleh vegetasi serta memiliki fungsi antara lain

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM PENELITIAN 33 IV. KONDISI UMUM PENELITIAN 4.1. Letak Geografis dan Peta Lokasi Penelitian a. Letak Geografis Jakarta Timur Kecamatan Ciracas dan Jatinegara merupakan salah satu kecamatan yang terletak di jakarta

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 20 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari 2009 sampai bulan November 2009. Lokasi penelitian adalah wilayah administrasi Kota Jakarta Timur.

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Sejarah Kota Bekasi Berdasarkan Undang-Undang No 14 Tahun 1950, terbentuk Kabupaten Bekasi. Kabupaten bekasi mempunyai 4 kawedanan, 13 kecamatan, dan 95 desa.

Lebih terperinci

ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU DAN KECUKUPANNYA DI KOTA DEPOK. An analysis of Greenery Open Space and Its Adequacy in Depok City ABSTRACT ABSTRAK

ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU DAN KECUKUPANNYA DI KOTA DEPOK. An analysis of Greenery Open Space and Its Adequacy in Depok City ABSTRACT ABSTRAK ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU DAN KECUKUPANNYA DI KOTA DEPOK An analysis of Greenery Open Space and Its Adequacy in Depok City Wuri Setyani 1), Santun Risma Pandapotan Sitorus 2), dan Dyah Retno Panuju

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Laju Perubahan RTH Kota Bekasi Tahun 2003-2010 Laju perubahan RTH di Kota Bekasi dianalisis berdasarkan hasil digitasi Citra QUICKBIRD 2003 dan 2010. Tabel 6 menunjukkan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret hingga bulan November 2009, bertempat di laboratorium dan di lapangan. Penelitian di lapangan ( pengecekan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 24 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Laju dan Pola Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Tangerang 5.1.1. Laju Konversi Lahan di Kabupaten Tangerang Penggunaan lahan di Kabupaten Tangerang dikelompokkan menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan RTH sangat penting pada suatu wilayah perkotaan. Disamping sebagai salah satu fasilitas sosial masyarakat, RTH kota mampu menjaga keserasian antara kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar

BAB I PENDAHULUAN. individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan papan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi individu manusia setelah pangan dan sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap individu manusia pasti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak manusia diciptakan di atas bumi, sejak itu manusia telah beradaptasi

BAB I PENDAHULUAN. Sejak manusia diciptakan di atas bumi, sejak itu manusia telah beradaptasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejak manusia diciptakan di atas bumi, sejak itu manusia telah beradaptasi dengan alam sekelilingnya atau lingkungannya. Seiring dengan perkembangan zaman,

Lebih terperinci

Gambar 1. Lokasi Penelitian

Gambar 1. Lokasi Penelitian BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kota Bekasi dan kegiatan analisis data dilakukan di studio bagian Perencanaan Pengembangan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah

Lebih terperinci

Tabel : SP (T). JUMLAH RUMAH TANGGA MENURUT KECAMATAN DAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR KOTORAN MANUSIA Kotamadya : JAKARTA SELATAN Tahun : 2009

Tabel : SP (T). JUMLAH RUMAH TANGGA MENURUT KECAMATAN DAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR KOTORAN MANUSIA Kotamadya : JAKARTA SELATAN Tahun : 2009 BAB II : TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN Tabel : SP-3.6.1 (T). RUMAH TANGGA MENURUT KECAMATAN DAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR KOTORAN MANUSIA Kotamadya : JAKARTA SELATAN Tahun : 2009 KECAMATAN LUAS PENDUDUK RUMAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan perekonomian di kota-kota besar dan metropolitan seperti DKI Jakarta diikuti pula dengan berkembangnya kegiatan atau aktivitas masyarakat perkotaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri.

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. Seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas perekonomian di suatu wilayah akan menyebabkan semakin

Lebih terperinci

jaktimkota.bps.go.id

jaktimkota.bps.go.id jaktimkota.bps.go.id jaktimkota.bps.go.id jaktimkota.bps.go.id STATISTIK DAERAH KECAMATAN PASAR REBO 206 ISSN : 20896387 No Publikasi : 3720.63 Katalog BPS : 0002.37200 Ukuran Buku : 7,6 cm x 25 cm Halaman

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pada hakekatnya pembangunan adalah upaya perubahan dari kondisi kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu pemanfaatan sumber daya alam dalam proses pembangunan perlu selalu dikaitkan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 9. Klasifikasi dan Sebaran Land Use/Land Cover Kota Bogor Tahun 2003 dan 2007

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 9. Klasifikasi dan Sebaran Land Use/Land Cover Kota Bogor Tahun 2003 dan 2007 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pola Sebaran Penggunaan/Penutupan Lahan dan Perubahan Luasannya di Kota Bogor Kota Bogor memiliki luas kurang lebih 11.267 Ha dan memiliki enam kecamatan, yaitu Kecamatan Bogor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota merupakan suatu tempat terjadinya kehidupan dan aktivitas bagi penduduk yang memiliki batas administrasi yang diatur oleh perundangan dengan berbagai perkembangannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perumahan merupakan kebutuhan masyarakat yang paling mendasar, dan dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan rendah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Tabel Peubah Yang Digunakan pada Analisis Hayashi I

Lampiran 1. Tabel Peubah Yang Digunakan pada Analisis Hayashi I LAMPIRAN 53 Lampiran 1. Tabel Peubah Yang Digunakan pada Analisis Hayashi I No Peubah Kategori 1 Kegiatan 1 6 2 Usia 1= 0-15 2 3 4 5 2= 16-30 3= 31-45 4= >45 3 Status di 1= Ayah 2= Ibu 3= Anak 4= Anggota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan dan membangun pertanian. Kedudukan Indonesia sebagai negara

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan dan membangun pertanian. Kedudukan Indonesia sebagai negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam. Hasil bumi yang berlimpah dan sumber daya lahan yang tersedia luas, merupakan modal mengembangkan dan

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT)

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kesiapan Kebijakan dalam Mendukung Terwujudnya Konsep Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) BAB V PEMBAHASAN Pembahasan ini berisi penjelasan mengenai hasil analisis yang dilihat posisinya berdasarkan teori dan perencanaan yang ada. Penelitian ini dibahas berdasarkan perkembangan wilayah Kecamatan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3. 1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kota Bekasi (Gambar 1) dan analisis data dilakukan di studio Bagian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Departemen

Lebih terperinci

Dihasilkan : 23-Feb-2013

Dihasilkan : 23-Feb-2013 0 Dihasilkan : 23-Feb-2013 1 Dihasilkan : 23-Feb-2013 2 Dihasilkan : 23-Feb-2013 3 Dihasilkan : 23-Feb-2013 4 Dihasilkan : 23-Feb-2013 5 Dihasilkan : 23-Feb-2013 6 PROVINSI : DKI JAKART (31) KABUPATEN/KOTA

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 2 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan waktu pertumbuhan penduduk yang cepat. fungsi. Masalah pertanahan akan selalu timbul dari waktu ke waktu.

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan waktu pertumbuhan penduduk yang cepat. fungsi. Masalah pertanahan akan selalu timbul dari waktu ke waktu. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan kemakmuran masyarakat telah menempuh berbagai cara diantaranya dengan membangun perekonomian yang kuat, yang

Lebih terperinci

Uraian secara lengkap setiap aspek dan kriteria yang menjadi bahan. pertimbangan dalam penentuan teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur

Uraian secara lengkap setiap aspek dan kriteria yang menjadi bahan. pertimbangan dalam penentuan teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur Keterangan Gambar 2 : K 1 = Penyerapan tenaga kerja K 2 = Potensi konflik dengan masyarakat rendah K 3 = Menumbuhkan lapangan usaha K 4 = Menumbuhkan sektor formal dan/atau informal K 5 = Penguatan peran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kawasan(PLP2K-BK) 1 Buku Panduan Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis

BAB I PENDAHULUAN. Kawasan(PLP2K-BK) 1 Buku Panduan Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis BAB I PENDAHULUAN 1.4. Latar Belakang Permukiman kumuh merupakan permasalahan klasik yang sejak lama telah berkembang di kota-kota besar. Walaupun demikian, permasalahan permukiman kumuh tetap menjadi

Lebih terperinci

CARUT MARUT DAFTAR PEMILIH PILKADA DKI 2012 KPUD TIDAK KREDIBEL & PROFESIONAL

CARUT MARUT DAFTAR PEMILIH PILKADA DKI 2012 KPUD TIDAK KREDIBEL & PROFESIONAL CARUT MARUT DAFTAR PEMILIH PILKADA DKI 2012 KPUD TIDAK KREDIBEL & PROFESIONAL TEMUAN DPS BERMASALAH BUKTI ADANYA KESALAHAN SISTEMATIS DAN MASIF OLEH PENYELENGGARA PILKADA JAKARTA GAP yang BESAR antara

Lebih terperinci

Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG

Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT PELAYANAN KAS DI LINGKUNGAN KANTOR PERBENDAHARAAN DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan kota yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota menuntut pula kebutuhan lahan yang semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya tingkat

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografi Secara geografis Kota Bekasi berada pada posisi 106 o 48 28 107 o 27 29 Bujur Timur dan 6 o 10 6 6 o 30 6 Lintang Selatan. Letak Kota Bekasi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Pengalihan fungsi lahan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota semakin banyak terjadi pada saat sekarang. Hal ini seiring dengan permintaan pembangunan berbagai

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. banyaknya daerah yang dulunya desa telah menjadi kota dan daerah yang

PENDAHULUAN. banyaknya daerah yang dulunya desa telah menjadi kota dan daerah yang PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan dunia era sekarang ini begitu cepat, ditandai dengan banyaknya daerah yang dulunya desa telah menjadi kota dan daerah yang sebelumnya kota telah berkembang menjadi

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH Bab ini berisikan gambaran umum wilayah yaitu Kelurahan Purwawinangun Kecamatan Kuningan yang meliputi kondisi geografis, kependudukan, kondisi perekonomian, kondisi fasilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap pembangunan menimbulkan suatu dampak baik itu dampak terhadap ekonomi, kehidupan sosial, maupun lingkungan sekitar. DKI Jakarta sebagai kota dengan letak yang

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG DKI JAKARTA

RENCANA TATA RUANG DKI JAKARTA RENCANA TATA RUANG DKI JAKARTA Bahan Penjelasan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Pada Acara : Penerimaan Kunjungan Lapangan Panja RUU tentang Penataan Ruang DPR-RI ke Provinsi DKI Jakarta Pemerintah Provinsi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5. 1. Penggunaan Lahan 5.1.1. Penggunaan Lahan di DAS Seluruh DAS yang diamati menuju kota Jakarta menjadikan kota Jakarta sebagai hilir dari DAS. Tabel 9 berisi luas DAS yang menuju

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran 29 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran 1. Tata Guna Lahan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses pembangunan yang terjadi di wilayah perkotaan sedang mengalami perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan yang terjadi lebih banyak

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan yang posisinya berada di pusat Kota Bogor dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kota Bogor. Selain pusat pemerintahan, wilayah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di berbagai kota di Indonesia, baik kota besar maupun kota kecil dan sekitarnya pembangunan fisik berlangsung dengan pesat. Hal ini di dorong oleh adanya pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 6 3.3.5 Persamaan Hubungan RTH dengan Suhu Udara Penjelasan secara ilmiah mengenai laju pemanasan/pendinginan suhu udara akibat pengurangan atau penambahan RTH adalah mengikuti hukum pendinginan Newton,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Cakupan Wilayah Kabupaten Bandung Barat Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 13 kecamatan dan 165 desa. Beberapa kecamatan terbentuk melalui proses pemekaran. Kecamatan yang

Lebih terperinci

3 METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

3 METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian 8 3 METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Kabupaten Bogor Jawa Barat yang secara geografis terletak pada 6º18 6º47 10 LS dan 106º23 45-107º 13 30 BT. Lokasi ini dipilih karena Kabupaten

Lebih terperinci

ja :// tp ht id o..g ps.b ta ko kt im ja :// tp ht id o..g ps.b ta ko kt im ja :// tp ht id o..g ps.b ta ko kt im STATISTIK DAERAH KECAMATAN CAKUNG 2015 ISSN : 2089-6441 No Publikasi : 31720.1521 Katalog

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN KOTA TENGAH KOTA GORONTALO. Sri Sutarni Arifin 1. Intisari

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN KOTA TENGAH KOTA GORONTALO. Sri Sutarni Arifin 1. Intisari ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU KECAMATAN KOTA TENGAH KOTA GORONTALO Sri Sutarni Arifin 1 Intisari Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau khususnya pada wilayah perkotaan sangat penting mengingat besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Jakarta sebagai ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kota megapolitan yang memiliki peran sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, bisnis, industri,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Identifikasi Kawasan Permukiman Kumuh di Wilayah Jakarta Timur Di wilayah Provinsi DKI Jakarta, Kota Jakarta Timur merupakan salah satu wilayah yang mempunyai berbagai keunikan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBANGUNAN PERUMAHAN PONDOK RADEN PATAH TERHADAP PERUBAHAN KONDISI DESA SRIWULAN KECAMATAN SAYUNG DEMAK TUGAS AKHIR

PENGARUH PEMBANGUNAN PERUMAHAN PONDOK RADEN PATAH TERHADAP PERUBAHAN KONDISI DESA SRIWULAN KECAMATAN SAYUNG DEMAK TUGAS AKHIR PENGARUH PEMBANGUNAN PERUMAHAN PONDOK RADEN PATAH TERHADAP PERUBAHAN KONDISI DESA SRIWULAN KECAMATAN SAYUNG DEMAK TUGAS AKHIR Oleh: NUR ASTITI FAHMI HIDAYATI L2D 303 298 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi FKIP UMP 2015 ISBN Purwokerto, 13 Juni 2015

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi FKIP UMP 2015 ISBN Purwokerto, 13 Juni 2015 PEMANFAATAN DATA SPASIAL UNTUK MENGKAJI KORELASI PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA SOSIAL EKONOMI DI KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2008 DAN 2012 Umrotun 1, Ratna Kartikawati

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kota Per Kecamatan Kota yang terdiri dari enam kecamatan memiliki proporsi jumlah penduduk yang tidak sama karena luas masing-masing kecamatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan kota tidak akan terlepas dari perkembangan kegiatan ekonomi. Perkembangan kegiatan ekonomi merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat kota untuk meningkatkan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA BITUNG

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA BITUNG ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA BITUNG ANALYSIS OF PUBLIC GREEN OPEN SPACE IN BITUNG CITY Alvira Neivi Sumarauw Jurusan Perencanaan Wilayah, Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah di Kota Jakarta Timur, dengan fokus pada Kecamatan Jatinegara. Kecamatan ini memiliki 8 Kelurahan yaitu Cipinang Cempedak, Cipinang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 133 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan dari studi penelitian dan rekomendasi yang bisa di ambil dalam studi. Selain itu akan dibahas mengenai kelemahan studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkotaan sebagai pusat permukiman dan sekaligus pusat pelayanan (jasa) terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah pengaruhnya (hinterland)

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.. Interpretasi Visual Penggunaan Lahan Setiap obyek yang terdapat dalam citra memiliki kenampakan karakteristik yang khas sehingga obyek-obyek tersebut dapat diinterpretasi dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Konversi Lahan Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh

II. TINJAUAN PUSTAKA Konversi Lahan Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konversi Lahan Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang membawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang merupakan bagian dari pelayanan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat kota, karena sarana merupakan pendukung kegiatan/aktivitas masyarakat kota

Lebih terperinci

BAB IV DASAR PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH

BAB IV DASAR PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH BAB IV DASAR PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH 4.1 Umum Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sistem distribusi air bersih yaitu berupa informasi mengenai kebutuhan air bersih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Perwilayahan adalah usaha untuk membagi bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula (Hadi Sabari Yunus, 1977).

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan tingginya kepadatan penduduk dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang akan memberikan gambaran mutu tindakan non medis pelayanan kontrasepsi oleh bidan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kota Yogyakarta sebagai ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun perekonomian. Laju

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Penduduk di Kecamatan Sukaraja dan di Kecamatan Sukamakmur

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Penduduk di Kecamatan Sukaraja dan di Kecamatan Sukamakmur 26 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pertumbuhan Penduduk di Kecamatan Sukaraja dan di Kecamatan Sukamakmur Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Sukaraja tahun 2006-2009 disajikan pada Tabel 5 dan Gambar 8. Tabel

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Wilayah dan Hirarki Wilayah

II. TINJAUAN PUSTAKA Wilayah dan Hirarki Wilayah II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Wilayah dan Hirarki Wilayah Secara yuridis, dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pengertian wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pembangunan dan pengembangan suatu kota berjalan sangat cepat, sehingga apabila proses ini tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan hidup dikhawatirkan akan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI WILAYAH

BAB II DESKRIPSI WILAYAH BAB II DESKRIPSI WILAYAH 1.1 Kondisi Geografis 2.1.1 Kota Magelang a. Letak Wilayah Berdasarkan letak astronomis, Kota Magelang terletak pada posisi 110 0 12 30 110 0 12 52 Bujur Timur dan 7 0 26 28 7

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses penyehatan perbankan di dalam negeri saat ini masih terus

BAB I PENDAHULUAN. Proses penyehatan perbankan di dalam negeri saat ini masih terus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses penyehatan perbankan di dalam negeri saat ini masih terus berlangsung, sehingga diharapkan industri perbankan benar benar mampu menjadi pendorong bagi

Lebih terperinci

2015 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MIGRAN BERMIGRASI KE KECAMATAN BANTARGEBANG KO TA BEKASI

2015 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MIGRAN BERMIGRASI KE KECAMATAN BANTARGEBANG KO TA BEKASI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Migrasi adalah salah satu fenomena penduduk yang dipelajari dalam studi geografi. Migrasi merupakan salah satu dari tiga faktor dasar yang mepengaruhi pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA CIREBON

BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA CIREBON 110 BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA CIREBON Pada Bab ini dilakukan analisis data-data yang telah diperoleh. Untuk mempermudah proses analisis secara keseluruhan, dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Tanah atau lahan memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. Manusia membutuhkan lahan untuk mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal serta melakukan aktivitasnya

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI WILAYAH. A. Tinjaun Umum Kondisi Kota Administrasi Jakarta Timur

BAB III DESKRIPSI WILAYAH. A. Tinjaun Umum Kondisi Kota Administrasi Jakarta Timur BAB III DESKRIPSI WILAYAH A. Tinjaun Umum Kondisi Kota Administrasi Jakarta Timur Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan salah satu wilayah administrasi di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 47 BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Pada Bagian ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum Kelurahan Tamansari yang diantaranya berisi tentang kondisi geografis dan kependudukan, kondisi eksisting ruang

Lebih terperinci

Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU)

Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU) PENGADAAN TANAH UNTUK RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU) Sekilas RTH Di dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Lebih terperinci

Penentuan Lokasi Alternatif Kawasan Hijau Binaan Di Jakarta Barat

Penentuan Lokasi Alternatif Kawasan Hijau Binaan Di Jakarta Barat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penghijauan dalam kota merupakan satu upaya yang dapat menanggulangi degradasi dari kualitas lingkungan, yang pada dasarnya penghijauan merupakan prioritas pembangunan

Lebih terperinci

Evaluasi terhadap Program Pengembangan Kawasan Siap Bangun (KASIBA) Studi Kasus: Kabupaten Malang

Evaluasi terhadap Program Pengembangan Kawasan Siap Bangun (KASIBA) Studi Kasus: Kabupaten Malang Evaluasi terhadap Program Pengembangan Kawasan Siap Bangun (KASIBA) Studi Kasus: Kabupaten Malang Ir. Hery Budiyanto, MSA, PhD 1) 1) Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang, E-mail: budiyantohery@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan perkotaan yang begitu cepat, memberikan dampak terhadap pemanfaatan ruang kota oleh masyarakat yang tidak mengacu pada tata ruang kota yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Posisi Makro terhadap DKI Jakarta. Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut yang terletak antara 6 12 LS and 106 48 BT.

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Jakarta merupakan kota jasa dan perdagangan yang di dalamnya berkembang berbagai skala usaha baik dari skala kecil, menengah hingga besar. Terlepas dari tingkat perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota seringkali menyebabkan terjadinya perubahan kondisi ekologis lingkungan perkotaan yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu

Lebih terperinci

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah 2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation antara kinerja pembangunan yang dicapai saat inidengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya merupakan modal dasar pembangunan yang perlu digali dan dimanfaatkan dengan memperhatikan karakteristiknya.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan :

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : 54 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Tata Guna Lahan Kabupaten Serang Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan : a. Kawasan pertanian lahan basah Kawasan pertanian lahan

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia adalah negara agraris dimana mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Berbagai hasil pertanian diunggulkan sebagai penguat

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkaan uraian sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Topografinya, Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) zona/klasifikasi

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Perkembangan fisik yang paling kelihatan adalah perubahan penggunaan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Perkembangan fisik yang paling kelihatan adalah perubahan penggunaan BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1. Kesimpulan 1. Perkembangan fisik Kota Taliwang tahun 2003-2010 Perkembangan fisik yang paling kelihatan adalah perubahan penggunaan lahan dari rawa, rumput/tanah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota menurut Alan S. Burger The City yang diterjemahkan oleh (Dyayadi, 2008) dalam bukunya Tata Kota menurut Islam adalah suatu permukiman yang menetap (permanen) dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang. memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah

I. PENDAHULUAN. Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang. memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah beserta dengan perangkat kelengkapannya sejak penerbitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang terus membenahi dirinya melalui pembangunan di segala bidang agar dapat menjadi negara yang makmur setara dengan negara-negara maju

Lebih terperinci