A. PHYSIO EX 8.0 : MUSCLE PHYSIOLOGY ISOMETRIK DAN ISOTONIK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "A. PHYSIO EX 8.0 : MUSCLE PHYSIOLOGY ISOMETRIK DAN ISOTONIK"

Transkripsi

1 A. PHYSIO EX 8.0 : MUSCLE PHYSIOLOGY KONTRAKSI ISOMETRIK DAN ISOTONIK Pendahuluan Hampir semua sel hidup memiliki perangkat intrasel untuk menghasilkan gerakan tertentu, misalnya redistribusi komponen-komponen sel selama pembelahan sel. Sel darah putih menggunakan protein-protein kontraktil intrasel untuk bergerak di dalam lingkungannya sendiri. Namun, spesialis kontraksi pada tubuh adalah sel-sel otot. Melalui kemampuan mereka yang tinggi untuk berkontraksi, sel-sel otot mampu memendek dan membentuk tegangan, yang memungkinkan mereka menghasilkan gerakan dan melakukan kerja. Berbeda dengan sistem sensorik, yang mengubah bentuk energi lain dalam lingkungan menjadi sinyal listrik sebagai respon terhadap sinyal listrik otot yang mengubah energi kimia ATP menjadi energi mekanis yang dapat bekerja pada lingkungan. Kontraksi terkontrol otot memungkinkan gerakan bertujuan tubuh secara keseluruhan atau bagian-bagian tubuh dalam kaitannya dengan lingkungan misalnya berjalan atau melambaikan tangan. Otot merupakan kelompok jaringan terbesar dalam tubuh dan membentuk sekitar separuh berat tubuh. Terdapat dua jenis utama kontraksi, bergantung pada apakah terjadi perubahan panjang otot selama kontraksi. Pada kontraksi isotonik, ketegangan otot tetap konstan ketika panjang otot berubah. Pada kontraksi isometrik, otot dicegah untuk memendek sehingga terjadi pembentukan ketegangan pada panjang otot yang konstan. Pada kontraksi isotonik dan isometrik terjadi proses-proses internal yang sama, proses kontraktil yang menghasilkan ketegangan diaktifkan oleh eksitasi otot, jembatan silang mulai melakukan siklusnya dan pergeseran filamen yang memperpendek sarkomer yang meregangkan komponen rangkaian elastik untuk menimbulkan gaya. 1

2 Tujuan 1. Mengerti hubungan antara pasif, aktif dan gaya total 2. Mengidentifikasi keadaan kontraksi otot isometrik atau isotonik 3. Mendeskripsikan hubungan antara panjang dan gaya transisi antara keadaan isometrik dan isotonik selama kedut otot tunggal 4. Mendeskripsikan pengaruh resistensi dan panjang dimulai pada kecepatan awal dari pemendekan 5. Menjelaskan mengapa kekuatan otot tetap konstan selama pemendekan isotonik Alat bahan : 1. Laptop 2. Akses internet Cara kerja Mengakses website Physio Ex Hubungkan laptop ke akses internet 2. Buka browser ke 3. Klik Log In sebelah kiri bawah pada halaman 4. Pilih Human Anatomy & Physiology 8e book by Elaine Marieb & Katja Hoehn 5. Username : Physiologyui 6. Tanyakan pada tutor untuk mengisi password 7. Pilih Physio Ex 8.0 pada sebelah kiri bawah pada halaman Tinjauan Pustaka Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh. Kemampuan tersebut disebabkan karena jaringan otot mampu 2

3 berkontraksi. Kontraksi otot dapat berlangsung karena molekul-molekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan memendek. Jaringan otot dapat dibedakan menjadi 3 macam : 1. Jaringan Otot Polos Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut (fibril) yang homogen. Otot ini berkontraksi secara refleks dan di bawah pengaruh saraf otonom. Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah dan saluran pernapasan. 2. Jaringan Otot Lurik atau Otot Rangka Sebagian besar jenis otot ini menempel pada kerangka tubuh. Kontraksinya di bawah pengaruh saraf sadar dan menurut kehendak kita. Fungsi otot lurik ini adalah untuk menggerakkan tulang dan melindungi kerangka dari benturan keras. 3. Jaringan Otot Jantung atau Miokardium Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Strukturnya menyerupai otot lurik tetapi kontraksi otot jantung terjadi secara refleks. Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah keluar jantung. Dasar Molekular Kontraksi Otot Proses yang menimbulkan pemendekan unsur kontraktil di dalam otot merupakan peluncuran filamen tipis di atas filamen tebal. Dikenal sebagai Sliding Filament Theory. Lebar pita A tetap, sedangkan garis Z bergerak saling mendekat. Peluncuran selama kontraksi otot dihasilkan oleh pemutusan dan pembentukan kembali hubungan silang antara filamen aktin dan miosin. Urutan kontraksi otot : Pelepasan muatan listrik neuron motorik. Pelepasan transmitter (asetilkolin) pada terminal akson motorik. Pengikatan asetilkolin ke reseptor asetilkolin nikotinik. Peningkatan Na+ dan K+ dalam membran terminal akson. Pembentukan potensial terminal akson. Pembentukan potensial aksi dalam serabut otot. Penyebaran depolarisasi ke dalam sepanjang tubulus T. 3

4 8. Pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasma serta difusi ke dalam filamen tipis dan tebal. 9. Pengikatan Ca2+ pada troponin C membuka tempat pengikatan miosin ke aktin. 10. Pembentukan jembatan silang antara aktin dan miosin serta terjadi sliding filamen tipis dan filamen tebal yang menimbulkan kontraksi otot. Tahap dalam relaksasi : 1. Ca2+ dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma. 2. Pelepasan Ca2+ dan troponin. 3. Penghentian interaksi antara aktin dan miosin. Jenis Kontraksi Otot 1. Kontraksi Isometrik Kontraksi isometrik menimbulkan tenaga dengan cara peningkatan tegangan intramuskuler tanpa disertai perubahan panjang eksternal otot. Kontraksi isometrik tidak memerlukan banyak pergeseran miofibril satu sama lain. Panjang otot saat kontraksi mempengaruhi tegangan intramuskuler yang terjadi. Bila otot diregangkan, maka sliding antara filamen aktin dan miosin berkurang sehingga jembatan silang berkurang. Sebaliknya bila otot dipendekkan, maka sliding antara filamen aktin dan miosin bertambah sehingga jembatan silang yang terbentuk bertambah juga. 2. Kontraksi Isotonik Kontraksi isotonik merupakan terjadinya tegangan intramuskuler disertai dengan perubahan panjang otot baik memendek atau memanjang. Ada 2 faktor yang menimbulkan efek pada ketegangan serat adalah : 1. Frekuensi perangsangan yang menentukan tingkat penjumlahan. 2. Panjang serat, sebelum permulaan kontraksi. Pada kontraksi isotonik sebuah beban digerakkan yang melibatkan fenomena inersia yaitu beban atau obyek lain yang digerakkan mula-mula harus dipercepat dan bila kecepatan itu telah dicapai, maka beban mempunyai daya gerak yang menyebabkan ia dapat terus bergerak walaupun kontraksinya 4

5 telah berhenti. Oleh karena itu kontraksi isotonik berlangsung lebih lama dibandingkan kontraksi isometrik pada otot yang sama. KONTRAKSI ISOMETRIK 1. Pilih Chapter 2 : Skeletal Muscle Physiology pada menu, lalu pilih Isometric contraction pada Experiment. 2. Atur voltage pada rangsang maximal ( volts) dan panjang otot 75 mm. 3. Untuk melihat bagaimana peralatan bekerja, berikan stimulus sekali dengan meng-klik Stimulate. Bisa dilihat kedutan otot tunggal menelusuri pada layar oscilloscope dan tiga titik data mewakili aktif, pasif dan gaya total pada sebelah kanan layar. Kuning mewakili gaya total, merah mewakili gaya aktif dan hijau mewakili gaya pasif. 4. Klik Clear Tracings untuk menghapus layar oscilloscope. 5. Perpendek panjang otot pada 50 mm dengan meng-klik tombol (-) pada kotak Muscle length. 6. Klik Stimulate dan ketika tracing lengkap, klik Record Data. 7. Ulangi urutan Stimulate dan Record Data, tambahkan panjang otot 2 mm setiap saat sampai mencapai panjang otot maximum yaitu 100 mm. 8. Perhatikan gaya aktif, gaya pasif dan gaya total pada layar oscilloscope di sebelah kanan. 9. Klik Tools Print Data dan pilih Adobe PDF sebagai printer untuk menyimpan grafik dalam format PDF (lampirkan data pada laporan Hasil 5

6 6

7 Tabel Voltage Length Active Force Passive Force Total Force

8 Pembahasan Panjang otot ditambah 2 mm setiap saat dari 50 mm hingga mencapai rangsang maximal yaitu 100 mm. Pada kurva gaya aktif mengalami kenaikan seiring bertambahnya panjang otot. Lalu ketika panjang otot mencapai 76 mm, kurva mulai menurun walaupun panjang otot tetap ditambah. Pada kurva gaya pasif yang awalnya nol sampai panjang otot mencapai 78, lalu kurva mengalami kenaikan pada saat panjang otot mencapai 80 mm. sedangkan kurva pada gaya total mengalami kenaikan dari awal bersamaan dengan gaya aktif sampai akhirnya panjang otot mencapai 76 mm, kurva mulai menunjukkan penurunan tetapi penurunan pada gaya total tidak secepat gaya aktif yang disebabkan karena kurva gaya pasif secara perlahan mengalami kenaikan seiring dengan pertambahan panjang otot. Pada saat panjang otot 96 mm, kurva mengalami kenaikan kembali sehingga membentuk tukikan gaya total. Pertanyaan 1. Apa yang terjadi pada gaya pasif dan gaya aktif jika panjang otot ditambah dari 50 mm ke 100 mm? 2. Jelaskan tukikan yang terjadi pada kurva gaya total? Jawaban 1. Pada gaya pasif : jika panjang otot ditambah dari 50 mm ke 100 mm, gaya pasif yang mulanya 0, lalu kira-kira saat panjang otot 80 mm, gaya pasif mulai mengalami kenaikan tajam. 8

9 Pada gaya aktif : jika panjang otot ditambah dari 50 mm ke 100 mm, gaya aktif mengalami kenaikan tetap sampai panjang otot 76 mm lalu mulai menurun dengan bertambahnya panjang otot. Pada gaya total : jika panjang otot ditambah dari 50 mm ke 100 mm, gaya total tetap naik, lalu saat panjang otot 76 mm, mulai menurun dan akhirnya saat panjang otot 96 mm meningkat kembali membuat tukikan pada gaya total. 2. Tukikan yang terjadi pada kurva gaya total adalah karena kurva gaya total adalah hasil dari penjumlahan numerik atau angka dari gaya aktif dan pasif. Bisa dilihat kenaikan pada sebelah kiri disebabkan oleh kenaikan pada gaya aktif. Gaya pasif tidak mempengaruhi kenaikan pada sebelah kiri. Gaya total mulai menurun karena gaya aktif juga menurun. Gaya total tidak menurun secepat gaya aktif karena gaya pasif secara simultan meningkat. Peningkatan tajam pada sebelah kanan pada kurva gaya total hampir sepenuhnya disebabkan karena gaya pasif. KONTRAKSI ISOTONIK 1. Pilih Isotonic Contraction pada menu Experiment. Jendela awal akan terbuka dalam beberapa saat. Atur voltage ke stimulus maksimal (8,2 volts) Angkat dan taruh beban 0,5gr ke tendon bawah otot. Panjang otot harus 75mm Klik Stimulate dan perhatikan layar osiloskop. Klik tombol Record Data untuk menyimpan dan menampilkan data pada tabel. 7. Kembalikan beban tadi ke kabin. Angkat beban 1,5gr ke otot. Klik Stimulate, dan klik Record Data. 8. Ulangi langkah 7 untuk 2 beban yang lain. 9. Pilih Plot Data pada menu Tools. 10. Atur berat sebagai X-axis dan gaya total sebagai Y-axis dengan cara memindahkan kotak sliding. Klik Print Plot pada atas kiri pojok dari jendela Plot Data dan pilih Adobe PDF sebagai format penyimpanan. 11. Klik Clear Table pada unit pengontrol data pada layar bagian bawah. Klik Yes saat muncul konfirmasi penghapusan. 12. Kembalikan beban ke tempatnya 13. Pasang beban 1,5gr ke otot dan jalankan percobaan dengan range 6090mm dengan kenaikan 5mm tiap percobaan. Pastikan klik tombol Record Data setiap kenaikan. 9

10 14. Setelah selesai, pilih Plot Data dari menu Tools 15. Atur panjang sebagai X-axis dan Velocity sebagai Y-axis. Klik Print Plot pada atas kiri pojok dari jendela Plot Data dan pilih Adobe PDF sebagai format penyimpanan. Hasil 10

11 Panjang otot tetap, tetapi beban yang digantungkan pada otot berubah-ubah beratnya. Semakin bertambah berat beban maka semakin menurun kecepatan kontraksi otot dan semakin meningkat total gaya yang dihasilkan. 11

12 Beban yang digantungkan pada otot tetap tetapi panjang otot diubah menjadi semakin panjang. Semakin panjang otot, semakin menurun kecepatan kontraksi dan semakin menurun pula total gaya yang dihasilkan. 12

13 Pertanyaan 1. Apa yang terjadi pada otot selama tracing? 2. Bagaimana gaya pada otot berubah selama tracing atau alur datar? 3. Berapa beban yang digunakan menghasilkan kecepatan awal tertinggi dari pemendekan? 4. Ulangi langkah nomor 7 untuk mendapatkan 2 beban? 5. Apa yang terjadi pada alur yang menunjukkan tentang hubungan antara resistensi dan kecepatan awal dari pemendekan? 6. Deskripsikan hubungan antara panjang awal dan kecepatan awal dari pemendekan? Jawaban 1. Yang terjadi pada otot adalah otot menunjukkan kenaikan dari permukaan awal lalu turun kembali. 2. Gaya pada otot selama tracing datar adalah tetap sama. 3. Kecepatan awal tertinggi Berat : 0.5 g Kecepatan : 3.77 mm/sec 4. 2 beban yang didapat setelah mengulangi langkah nomor 7 Berat :1g Kecepatan : 1.34 mm/sec Berat :2g Kecepatan : mm/sec 5. Alur semakin bertambah atau meningkat yang menunjukkan tentang hubungan antara resistensi dan kecepatan awal. 6. Hubungan antara panjang awal dan kecepatan awal adalah saat mulai ditambahkan perlahan-lahan panjang otot dari 60 mm sampai 90 mm, kecepatan awal dari pemendekan meningkat pada saat awal lalu menurun. Semakin menjauh dari panjang optimum, kecepatan semakin kecil. 13

14 Kesimpulan Semakin bertambah berat beban maka semakin menurun kecepatan kontraksi otot dan semakin meningkat total gaya yang dihasilkan. Semakin panjang otot, semakin menurun kecepatan kontraksi dan semakin menurun pula total gaya yang dihasilkan. Bila otot diregangkan melebihi panjang optimum, maka sliding antara filamen aktin dan miosin berkurang sehingga jembatan silang berkurang. Sebaliknya bila otot dipendekkan, maka sliding antara filamen aktin dan miosin bertambah sehingga jembatan silang yang terbentuk bertambah juga Daftar Pustaka 1. Sherwood Lauralee. Alih bahasa, Brahm U. Pendit; editor, Beatricia I. Santoso. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Ed. 2. Jakarta: EGC, Hal ; Guyton, Arthur C dan Hall, John E. Alih bahasa, Irawati; editor, Luqman Y. Rachman. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 11. Jakarta: EGC, Hal. 77; Panduan Pratikum Physio Ex 8. B. PHYSIO EX 8.0: MUSCLE MULTIPLE STIMULUS I. PHYSIOLOGY SINGLE AND PENDAHULUAN Otot merupakan kelompok jaringan terbesar dalam tubuh dan membentuk sekitar separuh berat tubuh otot rangka membentuk sekitar 40% dari berat tubuh pria dan 32% pada wanita. Sementara otot polos dan otot jantung membentuk 14

15 sekitar 10% sisnya dari berat tubuh total. Walaupun secara struktural dan fungsional berbeda ketiga jenis otot diklasifikasikan dalam beberapa cara sesuai dengan karakteristik umumnya. Pertama, otot digolongkan sebagai seran lintang ( otot rangka dan jantung ) atau polos ( otot polos ), bergantung pada apakah dapat ditemukan pita atau garis gelap terang berganti-ganti saat otot dilihat di bawah mikroskop cahaya. Kedua, otot digolongkan sebagai volunter ( otot rangka ) atau involunter (otot jantung dan otot polos ), bergantung pada apakah dipersarafi oleh system saraf somatic dan berada dibawah pengaruh kesadaran atau oleh system saraf otonom dan tidak berada dibawah kontrol kesadaran. 1 Serat-serat otot rangka memiliki susunan internal yang sangat terorganisasai yang menghasilkan gambaran serat lintang otot rangka dirangsang untuk berkontraksi melalui pengeluaran asetil kolin (Ach) ditaut neuromukulos antara ujung-ujung akhir neuron motorik dan sel otot. Pemahaman mendasar mengenai komponen struktural serat otot rangka sangat penting untuk memahami bagaimana potensial aksi otot yang di cetuskan oleh Ach dapat menimbulkan kontraksi.1 Satu potensial aksi di sebuah serat otot menghasilkan kontraksi singkat lemah yang disebut kedutan, yang terlalu singkat dan terlalu lemah untuk dapat digunakan dan secara normal tidak berlangsung di tubuh. Serat-serat otot tersusun membentuk otot lengkap, yang berfungsi secara operatif untuk menghasilkan kontraksi dengan kekuatan bervariasi dan lebih kuat daripada kedutan. Ketegangan sebuah otot bergantung tidak saja pada jumlah serat otot yang berkontraksi tetapi juga pada tegangan yang dibentuk oleh masingmasing serat yang berkontraksi tersebut. Berbagai faktor mempengaruhi kekuatan tegangan yang dapat dicapai. Faktor-faktor tersebut mencakup : Frekuensi rangsangan Panjang serat pada awal kontraksi Tingkat kelelahan Ketebalan serat Pada praktikum kali ini, digunakan simulasi tegangan listrik untuk menemukan dimana potensial aksi berlangsung pada stimulus tunggal (single) dan ganda (multiple). Potensial aksi berhubungan dengan tegangan listrik yang dialirkan melalui akson. Tujuan dari praktikum ini ialah mengamati secara visual pada simulasi komputer, potensial aksi yang terjadi melalui tegangan listrik tertentu dan pada tenggang waktu tertentu. Dan mahasiswa mampu menentukan istilah-istilah yang digunakan dalam menggambarkan fisiologi otot. Serta mampu menjelaskan bagaimana lambat, halus, kontraksi berkelanjutan dimungkinkan dalam otot rangka. Tujuan Praktikum : 15

16 1. Untuk menentukan istilah-istilah yang digunakan dalam menggambarkan fisiologi otot: beberapa bermotor Unit penjumlahan, stimulus maksimal, Treppe, penjumlahan gelombang, dan tetanus 2. Untuk mengidentifikasi dua cara bahwa modus stimulus dapat mempengaruhi produksi kekuatan otot. 3. Untuk plot grafik yang berkaitan kekuatan stimulus dan kekuatan berkedut untuk menggambarkan respon otot granded. 4. Untuk menjelaskan bagaimana lambat, halus, kontraksi berkelanjutan dimungkinkan dalam otot rangka II. TINJAUAN PUSTAKA Mekanisme Molekular Pada Kontraksi Otot Kontraksi otot merupakan mekanisme pergeseran filamen antara filamen aktin dan filamen miosin. Pergeseran filamen aktin kedalam filamen miosin disebabkan oleh kekuatan yang dibentuk oleh interaksi jembatan silang dari filamen miosin ke filamen aktin. Filamen aktin terdiri dari tiga komponen protein yaitu aktin, tropomiosin, dan troponin. Troponin terbagi lagi menjadi 3 sub unit 16

17 yaitu troponin I, troponin T, troponin C. Kepala jembatan silang berikatan dengan ATP kemudian ATP dipecah oleh ATPase menjadi ADP dan fosfat dan terikat pada kepala. Bila kompleks troponin-tropomiosin berikatan dengan ion-ion kalsium, bagian aktif pada filamen aktin menjadi tersingkap, kepala miosin kemudian berikatan dengan filamen aktin. Kepala kemudian menekuk ke arah lengan jembatan silang dengan menarik filamen aktin. Energi yang digunakan untuk menarik filamen aktin adalah molekul ATP yang telah dipecah sebelumnya. Ketika jembatan silang menekuk menyebabkan pelepasan ADP dan ion fosfat yang sebelumnya melekat di kepala. Ditempat pelepasan ADP terikat molekul ATP yang baru. Pelepasan ikatan baru ini menyebabkan terlepasnya kepala dari aktin. Proses akan berlangsung terus sampai filamen aktin menarik membran Z menyentuh ujung akhir filamen miosin atau sampai beban pada otot menjadi terlalu besar untuk tarikan lebih lanjut. Mekanisme Umum Kontraksi Otot Tahap-tahap kontraksi otot adalah sebagai berikut : a. Pada serat otot, suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai pada ujungnya. b. Pada setiap ujung, saraf mensekresi substansi neutransmiter yaitu asetilkolin dalam jumlah sedikit. c. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serat otot untuk membuka saluran bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein dalam membran serat otot. d. Terbukanya saluran asetilkolin memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk mengalir ke bagian dalam membran serat otot pada titik terminal saraf. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi dalam serat otot. e. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serat otot dalam cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran saraf. f. Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran serat otot pada tempat dimana potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium yang telah disimpan di dalam retikulum ke dalam miofibril. g. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan tarik-menarik antara filamen aktin dan miosin yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergerak bersama-sama dan menghasilkan proses kontraksi. h. Setelah kurang dari satu detik ion kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma (tempat ion-ion ini disimpan sampai potensial aksi otot yang barn datang lagi). Pengeluaran ion kalsium dari miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti. Karakteristik Kontraksi Otot Rangka (Sloane, 2003) a. Stimulus Ambang Adalah voltase listrik minimum yang menyebabkan kontraksi serabut 17

18 otot tunggal. Respons all-or-none serabut otot Jika stimulasi ambang telah tercapai; maka serabut otot akan merespons secara maksimal atau tidak sama sekali selama kondisi lingkungan serabut tidak berubah. Dengan meningkatkan stimulus sampai melebihi ambang batasnya, tidak akan memperbesar respons serabut otot tunggal. b. Kedutan Otot (i) Jika preparat otot distimulasi, maka setiap serabut otot dalam otot akan mematuhi semua hukum all-or-none tetapi serabut yang berbeda memiliki ambang yang berbeda pula. (ii) Jika derajat voltase stimulus meningkat maka serabut tambahan turut merespons. (iii) Kedutan otot (kontraksi maksimum keseluruhan otot) akan terjadi saat intensitas stimulus cukup untuk seluruh serabut. Faktor yang mempengaruhi kontraksi otot 1. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril. 2. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang). 3. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi. 4. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan. Penjumlahan mengacu kepada peningkatan ketegangan yang menyertai stimulasi repetitif pada serat otot. Setelah mengalami potensial aksi, membrane sel otot pulih dari periode refrakternya dan mampu dirangsang kembali, sementara sebagian aktifitas kontraktil yang dipicu oleh potensial aksi pertama masih berlangsung. Akibatnya, respon kontraktil yang diinduksi oleh dua potensial aksi yang timbul berurutan dapat dijumlahkan, sehingga terjadi peningkatan 18

19 ketegangan yang diciptakan oleh serat. Jika serat otot dirangsang sedemikian cepat, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk berelaksasi diantara rangsangan, timbul kontraksi maksimum (maksimum untuk serat pada panjang tersebut) yang menetap dan mulus yang dikenal sebagai tetanus. Kontraksi Tetani Bila otot di rangsang berulang-ulang, dimana rangsangan berikutnya terjadi sebelum fase relaksasi, maka akan di hasilkan suatu kontraksi maksimum yang dikenal sebagai Tetani. Ketegangan yang dihasilkan oleh kontraksi serat-serat otot meningkat seiring dengan pergeseran filamen- filamen tipis kedalam lebih jauh akibat siklus jembatan silang. Seiring dengan peningkatan frekuensi potensial aksi jarak pergeseran filamen dan ketegangan yang terbentuk semakin menigkat sampai kontraksi tetani maksimum tercapai sebagai respon terhadap sebuah potensial aksi terjadi pengeluaran Ca2+. Ketegangan yang terbentuk pada kontraksi tetani juga bergantung pada panjang serat pada awal kontraksi. Pada panjang optimum, yaitu panjang otot saat istirahat, terdapat kesempatan bagi jembatan silang untuk interaksi secara maksimum, karena tumpang tindih filament tebal dan tipis yang optimum; jadi, ketegangan terbesar dapat dibentuk. Pada ukuran yang lebih pendek atau panjang daripada panjang optimum, ketegangan yang dapat ditimbulkan pada kontraksi berkurang, terutama karena sebagian jembatan silang tidak dapat ikut serta. Kelelahan Otot ( Fatigue muscle ) Kelelahan otot adalah gejala kesakitan yang dirasakan otot terlalu tegang. Ketika otot diberi stimulus, ia akan berkontraksi dan terjadi ketegangan. Jika stimulus diberikan terus menerus, maka performanya akan semakin menurun, yaitu pada kekuatan otot dan gerakan yang semakin lambat. Kelelahan otot meningkat hampir berbanding langsung dengan kecepatan penurunan glikogen otot. Pada kondisi tubuh terdapat cukup oksigen, kontraksi otot akan berlangsung secara aeobik. Sedangkan pada kondisi tubuh tidak terdapat cukup oksigen, kontraksi otot akan berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan asam laktat. Kandungan asam laktat yang tinggi inilah yang akan menimbulkan rasa lelah Selain itu, kelelahan dapat berasal dari otot atau sentral. Aktivitas kontraktil suatu otot rangka tidak dapat dipertahankan pada tingkat tertentu secara terus menerus. Akhirnya tegangan di otot berkurang seiring dengan munculnya kelelahan. Kelelahan otot terjadi jika otot beraktivasi tidak lagi dapat berespon terhadap rangsangan dengan derajat kontraksi yang sama. Kelelahan otot adalah 19

20 suatu mekanisme pertahanan yang melindungi otot agar otot tidak mencapai titik dimana ATP tidak lagi dapat diproduksi Kekuatan pasif (Passive Force) adalah Setiap gerakan yang dihasilkan oleh kekuatan yang berada di luar otot atau kelompok otot biasanya bertanggung jawab untuk gerakan. Kekuatan aktif (Active Force) adalah Sebuah gaya akibat gerakan seluruhnya dikendalikan oleh aktivitas otot. Jumlah Kekuatan (Total Force) adalah Proses di mana rangsangan beberapa atau berulang-ulang dapat menghasilkan respon saraf, otot, atau bagian lain yang satu stimulus saja tidak dapat menghasilkan. Penjumlahan Kedutan Meskipun satu potensial aksi disebuah serat otot hanya menghasilkan kedutan, namun dapat dihasilkan kontraksi dengan durasi lebih lama dan tegangan lebih besar oleh stimulasi berulang serat otot. Jika serat otot telah melemas sempurna sebelum potensial aksi berikutnya timbul, maka akan terbentuk kedutan kedua dengan kekuatan sama seperti yang pertama. Setiap kali akan terjadi proses eksitensi-kontraksi yang sama dan menghasilkan respons kedutan yang identik. Namun, jika serat otot dirangsang kedua kalinya sebelum serat tersebut mengalami relaksasi sempurna dari kedutan pertama maka potensial aksi kedua menyebabkan respons kontraktil kedua, yang ditambahkan diatas kedutan pertama. Kedua kedutan dari dua potensial aksi dijumlahkan untuk menghasilkan tegangan serat yang lebih besar daripada yang dihasilkan oleh satu potensial aksi. Penjumlahan kedutan ini serupa dengan penjumlahakan temporal PPE di neuron pascasinaps. Penjumlahan kedutan hanya dapat terjadi karena durasi potensial aksi (1 sampai 2 mdet) jauh lebih singkat daripada durasi kedutan yang ditimbulkannya (100 mdet). Setelah terbentuk suatu potensial aksi akan timbul periode refrakter singkat saat tidak dapat terjadi potensial aksi berikutnya. Karena itu penjumlahan potensial aksi tidak dapat terjadi pada periode ini. Membrane harus kembali ke potensial istirahatnya dan pulih dari periode refrakter sebelum potensial aksi berikutnya dapat terjadi. Namun karena potensial aksi dan periode refrakter telah selesai jauh sebelum kedutan otot yang di timbulkannya berakhir,maka serat otot dapat dirangsang kembali selagi sebagian aktivitas kontraksi masih berlangsung, untuk menghasilkan penjumlahan respons mekanis. 20

21 METODE ALAT DAN BAHAN - Laptop - Internet - Penuntun praktikum Physio Ex 8 CARA KERJA I. Mengakses The Physio EX 8,0 Website 1) Akses situs 2) Menekan tombol Log In di bagian kiri bawah halaman. 3) Pilih Anatomi Fisiologi Manusia &, buku 8e oleh Elaine Marieb & Katja Hoehn. 4) Ketik "phisiologyui" dalam Nama Login. 5) Mintalah guru Anda untuk mengisi Password. 6) Pilih PhysioEx 8,0 di daerah kiri bawah halaman. II. SINGLE STIMULUS Pilih Bab 9: Fisiologi Otot Rangka dari menu, kemudian klik Single Stimulus. a. Menentukan Periode Laten Mengatur tegangan 5,0 volt dan panjang otot pada 75 mm. Tarik tombol 200 msec ke tepi kanan dari oscilloscope. Klik tombol stimulate sekali. Ketika mengukur panjang periode laten dari grafik, yang harus diukur adalah waktu antara aplikasi stimulus hingga munculnya gaya/active force. Untuk mengukur panjang periode laten menggunakan komputer, klik tombol Measure. Kemudian klik tombol panah kanan di jendela Time berulangkali sampai terlihat kenaikan pertama dalam jendela Active Force. Hasil pengamatan pertama ini adalah waktu yang terjadi lebih panjang dari periode laten yang sebenarnya. Sekarang klik tombol panah kiri disebelah jendela Waktu sampai jendela Active Force ke angka nol. Pada titik ini komputer mengukur waktu antara penerapan stimulus dan titik terakhir dimana active force adalah nol (hanya sebelum kontraksi). b. Menyelidiki Stimulus Tanggapan Otot Terhadap Peningkatan Intensitas 1. Klik tombol clear tracing setelah percobaan pertama. 2. Mengatur tegangan voltase pada 0,0 dan panjang otot pada 75 mm, dan klik Stimulate. 3. Klik record data. 21

22 4. Ulangi langkah 2 dan 3, dengan meningkatkan tegangan 0,5 setiap kali sampai mencapai tegangan maksimum 10,0. Pastikan untuk mengklik record data setiap kali. 5. Amati penelusuran pada kedutannya. Klik menu Tools dan kemudian pilih data Plot. 6. Gunakan slider bar untuk menampilkan active force pada sumbu Y dan Voltage pada sumbu-x. 7. Jawab pertanyaan bedasarkan grafik 8. Klik Print Plot di sudut kiri atas jendela data Plot dan pilih Adobe PDF sebagai printer untuk menyimpan grafik dalam format PDF (lampirkan grafik dalam laporan lab). Setelah selesai, klik X di kanan atas jendela plot. 9. Klik Tools Print Data dan pilih Adobe PDF sebagai printer untuk menyimpan grafik dalam format PDF. c. Menyelidiki Pengaruh Panjang Otot Pada Kekuatan Kontraksi Otot 1. Klik clear tracing 2. Klik Clear untuk menghapus Tabel data sebelumnya 3. Mengatur tegangan hingga 5.0 volt dan panjang otot pada 50 mm, dan klik Stimulate 4. Klik Record data 5. Ulangi langkah 2 dan 3, dengan meningkatkan panjang otot dengan 5 mm setiap kali hingga mencapai panjang otot maksimal 100 mm. 6. Amati penelusuran berkedut. Klik pada menu Tools dan kemudian pilih data Plot. 7. Gunakan slider bar untuk menampilkan Active force pada sumbu Y dan Musclelenght pada sumbu-x. 8. Gunakan grafik untuk menjawab pertanyaan 9. Klik Print Plot di sudut kiri atas jendela data Plot dan pilih Adobe PDF sebagaiprinter untuk menyimpan grafik dalam format PDF 10. Klik ToolS print Data dan pilih Adobe PDF sebagai printer untuk menyimpangrafik dalam format PDF. III. MULTIPLE STIMULUS Pilih Multiple Stimulus dari menu Percobaan. Layar pembuka akan muncul dalam beberapa detik. a. MENYELIDIKI TREPPE 1. Tegangan harus di set ke 8,2 volt, dan panjang otot harus 75 mm. 2. Tarik tombol 200 msec ke pusat rentang waktu Sumbu X. 3. Ikuti 3 langkah berikut : 22

23 i. Klik Stimulus tunggal. Perhatikan Kedutan pada grafik ii. Setelah menelusuri menunjukkan bahwa otot telah benar-benar rileks, segera klik Single stimulus lagi. Ketika berkedut kedua selesai, klik Tunggal Stimulus sekali lagi. 4. Simpan Grafiknya b. MENYELIDIKI penjumlahan GELOMBANG 1. Klik Hapus untuk menghapus penelusuran layar osiloskop. 2. Mengatur dan menjaga tegangan pada stimulus yang maksimal (8,2 volt) dan panjang otot 75 mm. 3. Tarik tombol 200 msec ke tepi kanan dari layar. 4. Klik Single Stimulus, dan kemudian klik Single Stimulus lagi ketika otot menjadirelaks sekitar setengah. Dan otot tidak dibiarkan rileks seenuhnya. 5. Berikan stimulus lagi pada frekuensi yang lebih besar dengan mengklik tombolsingle Stimulus beberapa kali dengan cepat 6. Simpan grafiknya. c. MENYELIDIKI FREKUENSI FUSION / TETANUS Klik Clear untuk menghapus penelusuran layar osiloskop. Tegangan harus di set ke 8,2 volt, dan panjang otot harus 75 mm. Atur rangsangan stimulus untuk 30 / detik. Lakukan langkah-langkah berikut dalam satu percobaan i. Klik Multiple Stimulus. ii. Ketika Penelusuran dekat ke sisi kanan layar, klik Stop untuk mematikanstimulus stimulator. iii. Klik Record Data untuk menyimpan data 5. Ulangi langkah 3 dan 4, meningkatkan tingkat stimulasi oleh rangsangan 10 detik setiap percobaan hingga 150 rangsangan / detik. 6. Setelah selesai masuk Plot Data. 7. Atur slider sumbu Y untuk menampilkan Active Force dan slider sumbu X untuk menampilkan Stimuli/sec. 8. Klik Print Plot untuk menyimpan data. d. MENYELIDIKI Kelelahan Otot Klik Clear untuk menghapus penelusuran layar osiloskop. Tegangan harus di set ke 8,2 volt, dan panjang otot harus 75 mm. Sesuaikan tingkat rangsangan stimulus untuk 120 / detik. Klik Multiple Stimulus hingga melalui tiga layar, dan kemudian klik Stop untuk menghentikan Stimulus stimulator. 5. Simpan grafik dengan Print Graph 6. Klik Clear untuk menghapus penelusuran layar osiloskop. 23

24 7. Ikuti langkah-langkah berikut : ii. Klik Multiple Stimulus iii. Ketika penelusuran mencapai tengah layar, matikan sebentar stimulator dengan mengklik Stop Stimulate, lalu segera klik multiple Stimulus lagi lagi. iv. Akan Terlihat penurunan dalam kekuatan penulusuran di mana stimulator dihentikan, lalu dinyalakan lagi. Penelusuran akan terus turun akibat kelelahan otot. v. Sebelum otot lelah sepenuhnya, ulangi tombol on / off sebanyak dua kali lagi tanpa membersihkan layar. 8. Save grafik dengan Print Graph. 9. Untuk melihat perbedaan antara multiple stimulus terus menerus dan multiple stimulus dengan pemulihan dengan pemulihan, klik multiple stimulus dan biarkan jatuh menelusuri tanpa gangguan hingga gaya menjadi nol. Penelusuran ini akanmengikuti myogram asli persis sampai "dip" pertama ditemui, setelah itu akan terlihatperbedaan dalam jumlah gaya yang dihasilkan antara dua berjalan. 10. Simpan Grafik dengan Print Graph. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN I. Single Stimulus a. Menentukan periode laten 24

25 Gambar 1.1 Menentukan periode laten pada voltage 5.0 Pada tabel terdapat sebuah otot dengan panjang 75mm yang kemudian diberikan tegangan 5.0 volt, terdapat periode laten dengan nilai 0,56 msec. Periode laten adalah kesenjangan waktu beberapa milidetik antara stimulasi dan mulainya kontraksi. Aktivitas kontraksi berlangsung jauh lebih lama daripada aktifitas listrik yang diberikan. b. Menyelidiki Tanggapan Otot Terhadap Peningkatan Intensitas Stimulus Gambar 1.2 Menyelidiki Tanggapan otot terhadap peningkatan intensitas stimulus Panjang otot 75 mm, diberikan rangsang awal 0.0 V kemudian dinaikkan secara bertahap setiap 0.5 Volt sampai tegangan maksimum 10,0 V. Terjadi kedutan otot atau threshold saat diberikan rangsang 1.0V. Kekuatan aktif terus meningkat sampai pada tegangan 8,5 Volt di mana kekuatan aktif tidak dapat meningkat lagi (1,82 gms) walaupun rangsang tetap dinaikkan. Sedangkan panjang otot tetap 75 mm. c. Menyelidiki Pengaruh Panjang Otot Pada Kekuatan Kontraksi Otot 25

26 Gambar 1.3 Menyelidiki pengaruh panjang otot pada kekuatan kontraksi otot Pada otot dengan panjang awal 50mm diberikan rangsangan 5,0 V timbullah kekuatan aktif. Dengan rangsangan yang sama, tetapi panjang otot dinaikan 0,5 mm setiap kali sampai 100mm, terjadi kenaikan pada grafik, tetapi hanya sampai panjang otot 75mm (panjang optimum). Grafik mengalami penurunan ketika panjang otot dinaikan melebihi panjang optimum, yang berarti kekuatan aktifnya juga menurun. Ini disebabkan filamen tipis tidak akan membentuk jembatan silang karena peregangan otot melebihi optimum sehingga hanya ada sedikit miofilamen untuk aktifasi aktin miosin. II. Multiple Stimulus a. Investigating Treppe 26

27 Gambar 1.1 investigating treppe pada voltage Voltage Length Stimuli/sec Act.Force Pass.Force Total Force 2.64 Rangsangan diberikan berkali-kali dengan jarak waktu yang relatif dekat. Ketika otot baru selesai relaksasi, rangsangan berikutnya sudah diberikan lagi. Gaya aktif yang dihasilkan oleh rangsangan berikutnya lebih tinggi dibandingkan gaya aktif yang dihasilkan oleh rangsangan sebelumnya. b. Investigating Wave Summation 27

28 Gambar 1.2 Investigating wave summation pada voltage Voltage Length Stimuli/sec 1 1 Act.Force Pass.Force Total Force Rangsangan diberikan berkali kali dalam jarak waktu yang relatif dekat. Ketika otot belum selesai relaksasi sepenuhnya, rangsangan diberikan lagi sehingga otot kembali berkontraksi. c. Investigating Fusion Frequency/Tetanus 28

29 Gambar 1.3 frekuensi tetanus pada voltage Voltage Length Stimuli/sec Act.Force Pass.Force Total Force Otot di rangsang berulang-ulang, dimana rangsangan berikutnya terjadi sebelum fase relaksasi selesai. Gaya aktif meningkat secara perlahan-lahan. Tetanus dapat dibedakan menjadi 2 yaitu tetanus sempurna, yaitu rangsang berikutnya diberikan sebelum relaksasi terjadi dan tetanus tidak sempurna yaitu rangsang berikutnya diberikan saat mulai relaksasi. Data hasil percobaan di atas menunjukkan tetanus tidak sempurna. 29

30 Gambar 1.4 frekuensi tetanus d. Investigating Muscle Fatigue Gambar 1.5 Fatigue muscle pada voltage 30

31 Voltage Length Stimuli/sec Act.Force Pass.Force Total Force Gambar 1.6 fatigue muscle Stimulus diberikan terus menerus, maka kontraksi otot akan semakin menurun. Aktivitas kontraktil suatu otot rangka tidak dapat dipertahankan pada tingkat tertentu secara terus menerus. Akhirnya tegangan di otot berkurang seiring dengan munculnya kelelahan. Kelelahan otot terjadi jika otot beraktivasi tidak lagi dapat berespon terhadap rangsangan yang diberikan. Kesimpulan: I. Single Stimulus Aktivitas kontraksi berlangsung jauh lebih lama daripada aktifitas listrik yang diberikan. Kekuatan aktif terus meningkat sampai pada rangsang optimum di 31

32 mana kekuatan aktif tidak dapat meningkat lagi walaupun rangsang tetap dinaikkan. Kekuatan aktif akan menurun jika otot diregangkan melebihi panjang optimumnya, karena filamen tipis tidak akan membentuk jembatan silang sehingga hanya ada sedikit miofilamen untuk aktifasi aktin miosin. II. Multiple Stimulus Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan bahwa stimulasi mempengaruhi kekuatan otot terutama saat otot berkontraksi. Semakin besar tegangan yang dibentuk oleh setiap serat yang berkontraksi semakin kuat kontraksi otot keseluruhan. Lampiran Pertanyaan : III. Single Stimulus Menentukan periode laten Pertanyaan : 1. Bagaimana panjang periode latennya? 0,56 msec 32

33 2. Apa yang terjadi pada otot ketika diberikan aktifitas yang kurang nyata ini? Otot berkedut satu kali. Menyelidiki Tanggapan Otot Terhadap Peningkatan Intensitas Stimulus Pertanyaan: 1. Berapa stimulus minimal atau nilai ambangnya? 1,0 V 2. Berapakah stimulus maksimalnya? 8,5 V 3. Bagaimana anda dapat menjelaskan penambahan kekuatan yang anda amati? Karena terus diberikan rangsang yang tegangannya semakin tinggi. Menyelidiki Pengaruh Panjang Otot Pada Kekuatan Kontraksi Otot Pertanyaan: 1. Berapa panjang otot maksimum untuk kekuatan aktif? 75mm 2. Bagaimana anda dapat menjelaskan penambahan dan pengurangan dalam kekuatan aktif yang anda amati? Peningkatan kekuatan kontraksi otot mencapai aktif force maksimum akan naik di grafik. Tetapi kekuatan aktif akan menurun pada grafik jika otot diregangkan melebihi panjang optimumnya, maka filamen tipis tidak akan membentuk jembatan silang sehingga hanya ada sedikit miofilamen untuk aktifasi aktin miosin. IV. Multiple stimulus Investigating Treppe : 1. Apa yang terjadi pada kekuatan produksi dengan masing-masing stimulus berikutnya? Jawaban : 1. Selama rangsangan yang disampaikan relatif dekat bersama-sama, kekuatan aktif yang dihasilkan oleh rangsangan berikutnya sedikit meningkatkan untuk rangsangan pertama. Wave Summation : 2. Apakah kekuatan puncak yang dihasilkan dalam kontraksi kedua yang lebih besar daripada yang dihasilkan oleh stimulus pertama? 3. Apakah gaya total produksi semakin lebih besar? 4. Bagaimana frekuensi rangsangan mempengaruhi jumlah gaya yang dihasilkan oleh otot? Jawaban : 33

34 2. Iya. Kekuatan puncak yang dihasilkan dalam kontraksi kedua lebih besar daripada kontraksi yang dihasilkan oleh stimulus pertama 3. Iya. Gaya total menjadi lebih besar dari sebelumnya. 4. Semakin banyak dan semakin cepat rangsangan yang diberikan, maka semakin meningkat jumlah gaya yang dihasilkan. Investigating Fusion Frequency/Tetanus 5. Bagaimana perubahan alur seiring tingkat rangsang meningkat? Jawaban : 6. Semakin tinggi rangsangan yang diberikan semakin meningkat alurnya. Fatigue Muscle 7. Mengapa gaya mulai menurun seiring waktu? Perhatikan bahwa penurunan kekuatan menunjukkan kelelahan otot. 8. Mematikan stimulator off memungkinkan ukuran pemulihan kecil. Otot akan menghasilkan kekuatan untuk jangka waktu lebih lama jika stimulator secara singkat dimatikan dibandingkan jika rangsangan diizinkan untuk melanjutkan tanpa gangguan. Jelaskan mengapa. 9. Jelaskan perbedaan antara penelusuran saat ini dan myogram dihasilkan pada langkah 7. Jawaban : 5. Bahwa suatu penurunan kekuatan menandai (adanya) kelelahan otot. Kekuatan otot berkurang sebab otot sedang mengkonsumsi ATP lebih cepat dari yang sedang diproduksi. 6. Ketika stimulator dimatikan otot bisa mengejar ketinggalan; mengikat dengan pita sempit dengan ATP produksi 7. Yang kedua penelusuran menunjukkan kelelahan lebih cepat daripada melacak di mana stimulator menghidupkan dan mematikan. DAFTAR PUSTAKA 1. Sherwood L Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC. 2. Guyton AC, Hall JE Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. 3. Penuntun Praktikum Physio Ex 8. 34

35 C. Laporan Praktikum Kelelahan Otot Pada Manusia I. Pendahuluan Dengan menggerakkan komponen-komponen intrasel tertentu, sel otot dapat menghasilkan tegangan dan memendek, yaitu, berkontraksi,. Ingatlah bahwa tiga tipe otot adalah otot rangka, otot jantung, dan otot polos. Melalui kemampuan berkontraksinya yang berkembang sempurna, kelompok-kelompok sel otot yang bekerja sama dalam suatu otot dapat menghasilkan gerakan dan melakukan kerja. 35

36 Kontraksi terkontrol otot memungkinkan (1) terjadinya gerakan bertujuan tubuh keseluruhan atau bagian-bagiannya (misalnya berjalan atau melambaikan tangan), (2) kita memanipulasi benda eksternal (misalnya menyetir atau memindahkan furnitur), (3) terdorongnya atau mengalirnya isi berbagai organ internal berongga (misalnya sirkulasi darah atau mengalirnya makanan melalui saluran cerna), dan (4) kita mengosongkan isi organ tertentu ke lingkungan eksternal (misalnya berkemih atau melahirkan). Otot membentuk kelompok jaringan terbesar di tubuh, menghasilkan sekitar sepuruh dari berat tubuh. Otot rangka saja membentuk sekitar 40% berat tubuh pada pria dan 32% pada wanita, dengan otot polos dan otot jantung membentuk 10% lainnya dari berat total. Meskipun ketiga jenis otot secara struktural dan fungsional berbeda namun mereka dapat diklasifikasikan dalam dua cara berlainan berdasarkan karakteristik umumnya. Pertama, otot dikategorikan sebagai lurik atau seran-lintang (otot rangka dan otot jantung) atau polos (otot polos), bergantung pada ada tidaknya pita terang gelap bergantian, atau garis-garis, jika otot dilihat di bawah mikroskop cahaya. Kedua, otot dapat dikelompokkan sebagai volunter (otot rangka) atau involunter (otot jantung dan otot polos), masingmasing bergantung pada apakah otot tersebut disarafi oleh sistem saraf somatik dan berada di bawah kontrol kesadaran, atau disarafi oleh saraf otonom dan tidak berada di bawah kontrol kesadaran. Meskipun otot rangka digolongkan sebagai volunter, karena dapat dikontrol oleh kesadaran, namun banyak aktifitas otot rangka juga berada di bawah kontrol involunter bawah-sadar, misalnya aktivitas yang berkaitan dengan postur, keseimbangan, dan gerakan stereotipikal seperti berjalan. II. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Untuk memahami perbedaan kerja steady state dan kerja dengan kelalahan. 2. Untuk memahami pengaruh berbagai faktor eksternal (beban kerja) dan internal (aliran darah lokal, waktu istirahat dan massage) terhadap kerja otot. 3. Untuk mendeteksi berbagai perubahan yang terjadi akibat berbagai faktor pada butir 2 (baik melalui analisis hasil mekanomiogram 36

37 maupun analisis pada OP) dan menjelaskan mekanisme yang mendasari terjadinya berbagai perubahan tersebut. III. Tinjauan Pustaka Setiap orang memiliki sekitar 600 otot rangka, yang ukurannya berkisar dari otot eksternal yang halus dan mengontrol gerakan mata serta mengandung hanya beberapa ratus serat, hingga otot kaki yang besar dan kuat yang mengandung beberapa ratus ribu lemak. Setiap otot diselubungi oleh jaringan ikat yang menembus dari permukaan kedalam otot untuk membungkus masing masing serat oto menjadi kolom kolom atau berkas berkas. Jaringan ikat meluas melewati ujung ujung otot untuk membentuk tendon kolagenosa yang kuat untuk melekatkan otot ketulang. Tendon dapat cukup panjang, melekat ke suatu tulang yang berjarak dari bagian daging otot. Sebagai contoh, sebagian dari oto yang berperan dalam pergerakan jari tangan terletak di lengan bawah, dengan tendon tendon ini bergerak di punggung tangan (anda ketika anda menggerakan jari jari jari tangan). Susunan ini memungkinkan tagan tangan bergerak terampil; jari jari tangan akan jauh lebih besar dan lebih canggung jika semua otot yang digunakan untuk menggerakan jari tangan berada di jari itu sendiri. Kekuatan kontraksi otot rangka dapat bervariasi. Satu potensial aksi di sebuah serat otot menghasilkan kontraksi singkat lemah yang disebut kedutan, yang terlalu singkat dan terlalu lemah untuk dapat digunakan dan secara normal tidak berlangsung di tubuh. Serat serat otot tersusun membentuk otot lengkap, yang berfungsi secara kooperatif untuk menghasilkan kontraksi dengan kekuatan bervariasi dan lebih kuat daripada kedutan. Dengan kata lain, anda dapat mengubah ubah kekuatan yang anda hasilkan oleh otot yang sama, bergantung pada apakah anda mengambil sehelai kertas, sebuah buku atau karung 50 pon. Dua faktor utama yang dapat diubah ubah untuk menghasilkan variasi tegangan otot utuh adalah: 1. Jumlah serat otot yang berkontraksi dalam satu otot 2. Tegangan yang dhasilkan oleh masing masing serat yang berkontraksi Dasar molekular kontraksi otot rangka. Sewaktu kontraksi, siklus pengikatan dan penekukan jembatan silang menari filamen tipis kearah dalam. Interaksi jembatan silang antara aktin dan miosin menyebabkan kontraksi otot melalui mekanisme pergesaran filamen. mekanisme pergesaran filamen, sewaktu kontraksi, filamen tipis di kedua sisi sarkomer bergeser kearah dalam terhadap filamen tebal 37

38 yang diam menuju ke pusat A. Sewaktu bergeser ke dalam, filamen tipis menarik garis garis zat tempat filamen tersebut saling mendekat sehingga sarkomer memendek karena semua sarkomer dikeseluruhan panjang otot memendek bersamaan maka seluruh serat otot memendek. Karena semua sarkomer di keseluruhan panjang otot memendek bersamaan maka seluruh serat otot memendek. Ini adalah mekanisme pergeseran filamen pada kontraksi otot. Zona H, di bagian tengah pita A yang tidak dicapai oleh filamen tipis menjadi lebih kecil karena filamen filamen tipis saling mendekati ketika mereka bergeser semakin ke arah dalam. pita I, yang terdiri dari bagian filamen tipis yang tidak bertumpang tindih dengan flamen tebal, menyempit ketika filamen filamen tipis semakin bertumpang tindih dengan filamen tebal sewaktu pergeseran tersebut.filamen tipis itu sendiri tidak mengalami perubahan paanjang selama proses pemendekan otot. Perhatikan bahawa panjang filamen tebal atau tipis tidak berkurang untuk memeperpendek sarkomer. Kontraksi dicapai oleh pergeseran saling mendekat filamaen filamen tipis disisi sarkomer yang berlawanan diantara filamen filamen tebal. Terdapat hubungan antara panjang otot sebelum awitan kontraksi dan tegangan tetanik yang kemudian dihasilkan oleh setiap serat pada panjang tersebut. untuk setiap otot terdapat panjang optimal dimana dapat diperoleh gaya maksimal pada tetanik berikutnya. Tegangan yang dicapai selama tetanus akan lebih besar jika dimulai pada panjang optimal otot daripada ketika kontraksi dimulai dengan panjang otot lebih besar atau lebih kecil daripada panjang optimal tersebut. hubungan panjang tegangan ini dapat dijelaskan oleh mekanisme pergeseran filamen kontraksi otot. Pada panjang optimal dihasilkan tegangan maksimal,filamen - filamen tipis secara optimal bertumpang tindih pada regio regio filamen tebal tempat menonjolnya jembatan silang. Pada panjang ini, jembatan silang yang dapat diakses bagi molekul aktin unutk pengikatan dan dan penekukan jumlahnya maksimal. bagian tengah filamen tebal, dimana tidak terjadi tumpang tindih dengan filamen tipis, tidak memiliki jembatan silang, disini hanya akan dijumpai ekor miosin. Pada panjang yang lebih besar, misalnya ketika otot secara pasif digerakan, filamen tipis tertarik dari antara filamen filamen tebal sehingga jumlah tempat aktin yang tersedia untuk mengikat jembatan silang berkurang ; yaitu sebagian dari tempat di aktin dan jembatan silang tidak lagi berpasangan sehingga keduannya tidak terpakai. Karena aktivitas jembatan silang yang berlangsung kebih sedikit maka tegangan yang akan terbentuk juga lebih kecil. Pada kenyataannya, 38

39 ketika otot diregangkan kembali sekitar 70% lebih panjang daripada panjang optimal filamen filamen yang tipis ini akan tertarik seluruhnya dari antara filamen filamen yang tebal, menghambat aktifitas jembatan silang dan karenanya tidak terjadi kontraksi. Jika sebelum kontraksi otot lebih pendek daripada panjang maksimal maka tegangan yang terbentuk akan lebih kecil karena tiga alasan : 1. Filamen tipis dari sisi sarkomer yang berlawanan menjadi bertumpang tindih dan membatasi kesempatan interaksi jemabatan silang dengan aktin. 2. Ujung ujung filamen yang tebal akan tertekan ke garis Z, sehingga tidak terjadi pemendekan lebih lanjut. 3. Selain kedua faktor mekanis ini, pada panjang otot yang kurang dari 80 panjang optimal,tidak banyak kalsium yang akan dibebaskan selama penggabu gna eksitasi kontraksi oleh sebab sebabb yang belum diketahui. Selain itu, oleh mekanisme yang belum jelas, kemampuan kalsium mengikat troponin dan menarik kompleks troponi tropomiosin ke samping berkurang pada panjang otot yang lebih kecil. Karena itu, lebih sedikit bagian yang terpajan untuk ikut serta dalam aktivitas jembatan silang. Panjang ekstrim otot yang mencegah terbentuknya tegangan hanya terjadi pada kendosi percobaan, ketika suatu otot diangkat, dan rangasangan pada berbagai panjang. Ditubuh otot otot memiliki letak sedemikian rupa sehingga panjangnya dalam keadaan melemas mendekati panjang otot optimalnya;karena itu, otot umunya dapat mencapai kontraksi tetanik hampir maksimal. Karena perlekatan ke tulang menimbulkan pembatasan, maka otot tidakdapat diregangkan atau diperpendek lebih dari 30% panjang optimaln istirahatnya, dan biasanya otot berubah jauh lebih kecil daripada 30% panjang normalnya. Bahkan pada batas batas luar, otot masih tetap dapat menghasilkan separuh dari tegangan maksimalnya. Faktor faktor yang mempengaruhi berapa besar tegangan yang dapat dihasilkan oleh suatu serat otot yang telah dibahas sejauh ini frekuensi rangsangan dan panjang otot pada awal kontraksi dapat bervariasi dari kontraksi ke kontraksi lainnya. Penentu lain tegangan serat otot kemamouan metabolik serat relatif terhadao ketahanann akan kelelahan dan ketebala serat tidak bervariasi dari kontraksi tetapi bergantung pada jenis serat dan dapat dimodofikasi setelah suatu periode waktu. Setelah kita menyelesaikan pembahasan kita tentang mekanika otot rangka. 39

MEKANISME KERJA OTOT LURIK

MEKANISME KERJA OTOT LURIK MEKANISME KERJA OTOT LURIK Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. MEKANISME OTOT LURIK/OTOT RANGKA Mekanisme kerja otot pada dasarnya

Lebih terperinci

Tinjauan Umum Jaringan Otot. Tipe Otot

Tinjauan Umum Jaringan Otot. Tipe Otot Tinjauan Umum Jaringan Otot Tipe Otot Otot rangka menempel pada kerangka, lurik, dapat dikontrol secara sadar Otot jantung menyusun jantung, lurik, dikontrol secara tidak sadar Otot polos, berada terutama

Lebih terperinci

Otot rangka tersusun dari serat-serat otot yang merupakan unit. penyusun ( building blocks ) sistem otot dalam arti yang sama dengan

Otot rangka tersusun dari serat-serat otot yang merupakan unit. penyusun ( building blocks ) sistem otot dalam arti yang sama dengan MORFOLOGI Organisasi Otot rangka tersusun dari serat-serat otot yang merupakan unit penyusun ( building blocks ) sistem otot dalam arti yang sama dengan neuron yang merupakan unit penyusun sistem saraf.

Lebih terperinci

Mekanisme Kerja Otot

Mekanisme Kerja Otot Mekanisme Kerja Otot 1. Sarkolema Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai pelindung otot 2. Sarkoplasma Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada setiap sediaan otot gastrocnemius dilakukan tiga kali perekaman mekanomiogram. Perekaman yang pertama adalah ketika otot direndam dalam ringer laktat, kemudian dilanjutkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Praktikum Manfaat Praktikum

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Praktikum Manfaat Praktikum I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap makhluk hidup memiliki kemampuan untuk bergerak. Salah satu bagian tubuh yang berfungsi sebagai alat gerak adalah otot. Otot merupakan jaringan yang terbentuk dari

Lebih terperinci

Neuromuskulator. Laboratorium Fisiologi Veteriner PKH UB 2015

Neuromuskulator. Laboratorium Fisiologi Veteriner PKH UB 2015 Neuromuskulator Laboratorium Fisiologi Veteriner PKH UB 2015 STRUKTUR SARAF 3/12/2015 2 SIFAT DASAR SARAF 1. Iritabilitas/eksisitaas : kemampuan memberikan respon bila mendapat rangsangan. Umumnya berkembang

Lebih terperinci

BIOMEKANIKA SISTEM MUSKULOSKELETAL & FISIOLOGI OTOT

BIOMEKANIKA SISTEM MUSKULOSKELETAL & FISIOLOGI OTOT BIOMEKANIKA SISTEM MUSKULOSKELETAL & FISIOLOGI OTOT dr. Aditya Candra Fakultas Kedokteran Abulyatama PENDAHULUAN Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Struktur Anatomi Otot Rangka

TINJAUAN PUSTAKA Struktur Anatomi Otot Rangka 3 TINJAUAN PUSTAKA Struktur Anatomi Otot Rangka Otot rangka (skeletal muscle) bertanggung jawab atas pergerakan tubuh secara sadar. Otot rangka disebut juga otot lurik (striated muscle) karena pengaturan

Lebih terperinci

BIOLISTRIK PADA SISTEM SARAF A. Hasil

BIOLISTRIK PADA SISTEM SARAF A. Hasil BIOLISTRIK PADA SISTEM SARAF A. Hasil normal alkohol Saraf 3.50 menit 2.30 menit Otot 3.40 menit 1.20 menit B. Pembahasan Pada praktikum kali ini, praktikan mengamati kontraksi otot gastrocnemius pada

Lebih terperinci

Skeletal: Otot: Sendi: Fasia Hubungan sistem muskuloskeletal dengan reproduksi wanita

Skeletal: Otot: Sendi: Fasia Hubungan sistem muskuloskeletal dengan reproduksi wanita Skeletal: Struktur jaringan tulang Klasifikasi tulang Tulang tengkorak, rangka dada, tulang belakang, panggul, ekstremitas atas dan bawah Sendi: Klasifikasi berdasarkan gerakan Klasifikasi berdasarkan

Lebih terperinci

MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA SIFAT KERJA OTOT RANGKA

MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA SIFAT KERJA OTOT RANGKA MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA SIFAT KERJA OTOT RANGKA ARBI WIGUNA JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2017 Otot lurik mempunyai serabut kontraktil

Lebih terperinci

Jenis jenis otot. Cara kerja otot polos

Jenis jenis otot. Cara kerja otot polos SISTEM OTOT Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Selain

Lebih terperinci

iii. Bekerja di luar kesadaran, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah. b. Otot Lurik

iii. Bekerja di luar kesadaran, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah. b. Otot Lurik III. OTOT 1. Jenis-Jenis Jaringan Otot Ada beberapa jeni jaringan otot pada tubuh manusia yang perlu diketahui, antara lain: a. Jaringan Otot polos (Otot Volunter) Jaringan otot polos merupakan otot yang

Lebih terperinci

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA OTOT

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA OTOT LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA OTOT KELOMPOK/GELOMBANG : II/I KELAS : II C ANGGOTA : CIPTO SURIANTIKA (1204015080) FAJAR ADE KURNIAWAN (1204015163) KUDRAT RAHARDITAMA (1204015223)

Lebih terperinci

Kuntarti, SKp, MBiomed. motorik. Sistem saraf. PDF Created with deskpdf PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com

Kuntarti, SKp, MBiomed. motorik. Sistem saraf. PDF Created with deskpdf PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com Sistem saraf motorik Kuntarti, SKp, MBiomed PDF Created with deskpdf PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com Bagian Aferen Somatik SISTEM SARAF PUSAT (Otak & Med.Spinalis) SISTEM SARAF TEPI Viseral

Lebih terperinci

HISTOLOGI JARINGAN OTOT

HISTOLOGI JARINGAN OTOT Judul Mata Kuliah : Biomedik 1 (7 SKS) Standar Kompetensi : Area Kompetensi 5 : Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Kompetensi Dasar : Menerapkan ilmu kedokteran dasar pada blok biomedik 1 Indikator : Mampu

Lebih terperinci

FISIOLOGI OTOT. Detty Iryani Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran UNAND. Kuliah Pengantar Blok 1.3 Minggu IV

FISIOLOGI OTOT. Detty Iryani Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran UNAND. Kuliah Pengantar Blok 1.3 Minggu IV FISIOLOGI OTOT Detty Iryani Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran UNAND SIFAT-SIFAT KHUSUS OTOT Mudah terangsang (irritability) Mudah berkontraksi (contractility) Dapat melebar (extensibility) Dapat diregang

Lebih terperinci

MAKALAH STRUKTUR DAN FUNGSI OTOT BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

MAKALAH STRUKTUR DAN FUNGSI OTOT BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang MAKALAH STRUKTUR DAN FUNGSI OTOT BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Sel

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI KELELAHAN OTOT

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI KELELAHAN OTOT LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI KELELAHAN OTOT Oleh: Nama : Yuni Aisyah Puteri NIM : 121610101006 LABORATORIUM FISIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2012/2013 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL DAFTAR

Lebih terperinci

OTOT DAN SISTEM GERAK ridwan@sith.itb.ac.id GERAK --- ciri makhluk hidup Macam-macam gerak : gerak amoeboid, gerak silia, gerak flagela, gerak sebagian anggota tubuh, gerak seluruh tubuh. Gerak melibatkan

Lebih terperinci

DISUSUN OLEH MUHAMMAD HANAFI ( ) HERKA ARDIYATNO ( ) LESTARI PUJI UTAMI

DISUSUN OLEH MUHAMMAD HANAFI ( ) HERKA ARDIYATNO ( ) LESTARI PUJI UTAMI OTOT MANUSIA UNIVERSITAS PGRI Y O G T A Y A K A R DISUSUN OLEH MUHAMMAD HANAFI (09144600025) HERKA ARDIYATNO (09144600172) LESTARI PUJI UTAMI (09144600214) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN Laporan lengkap praktikum Struktur Hewan dengan judul Jaringan Otot yang disusun oleh: Nama : Lasinrang Aditia Nim : Kel

LEMBAR PENGESAHAN Laporan lengkap praktikum Struktur Hewan dengan judul Jaringan Otot yang disusun oleh: Nama : Lasinrang Aditia Nim : Kel LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN (JARINGAN OTOT) Disusun oleh: NAMA : LASINRANG ADITIA NIM : 60300112034 KELAS : BIOLOGI B KELOMPOK : I (Satu) LABORATORIUM BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB II PENJALARAN IMPULS SARAF. Ganglia basalis merupakan bagian dari otak yang memiliki peranan penting antara lain

BAB II PENJALARAN IMPULS SARAF. Ganglia basalis merupakan bagian dari otak yang memiliki peranan penting antara lain BAB II PENJALARAN IMPULS SARAF 2.1 Ganglia basalis dan subthalamik nukleus Ganglia basalis merupakan bagian dari otak yang memiliki peranan penting antara lain dalam menghasilkan gerakan motorik terutama

Lebih terperinci

BAB VI OTOT A. RANGSANGAN TERHADAP SEDIAAN OTOT SARAF.

BAB VI OTOT A. RANGSANGAN TERHADAP SEDIAAN OTOT SARAF. BAB VI OTOT A. RANGSANGAN TERHADAP SEDIAAN OTOT SARAF. Tujuan Praktikum 1. Mempelajari cara mematikan katak dan membuat sediaan otot saraf. 2. Mengenal jenis dan kerja beberapa alat perangsang. 3. Mengenal

Lebih terperinci

SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA MANUS. Regita Tanara / B1

SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA MANUS. Regita Tanara / B1 SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA MANUS Regita Tanara 102015121 / B1 SKENARIO Seorang anak 5 tahun dibawa ibunya ke UGD rumah sakit dengan keluhan jari telunjuknya memar akibat terjepit daun pintu IDENTIFIKASI

Lebih terperinci

Jaringan Otot dan Saraf Sebuah Karya Presentasi Kelompok 4

Jaringan Otot dan Saraf Sebuah Karya Presentasi Kelompok 4 Jaringan Otot dan Saraf Sebuah Karya Presentasi Kelompok 4 DOSEN Pengampu : Eva Tyas Utami,S.Si,M.Si Disusun Oleh : Laili Nur Azizah Lutfi (131810401004) Novita Nur Kumala (161810401003) Desy Lutfianasari

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesegaran Jasmani 2.1.1 Definisi Kesegaran jasmani adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari dan adaptasi terhadap pembebanan fisik tanpa menimbulkan

Lebih terperinci

Jaringan Otot Pada Hewan

Jaringan Otot Pada Hewan Jaringan Otot Pada Hewan # Jaringan adalah kumpulan dari beberapa sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama. Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh.

Lebih terperinci

PENGANTAR STRUKTUR DAN FUNGSI HEWAN

PENGANTAR STRUKTUR DAN FUNGSI HEWAN PENGANTAR STRUKTUR DAN FUNGSI HEWAN Tingkat-tingkat tingkat Organisasi Struktural Pada jaringan hewan, fungsi berkorelasi dengan struktur Sistem-sistem organ hewan saling bergantung satu sama lain Pengantar

Lebih terperinci

DASAR-DASAR SISTEM SYARAF DAN JARINGAN SYARAF

DASAR-DASAR SISTEM SYARAF DAN JARINGAN SYARAF DASAR-DASAR SISTEM SYARAF DAN JARINGAN SYARAF Sistem syaraf bertanggung jawab dalam mempertahankan homeostasis tubuh (kesetimbangan tubuh, lingkungan internal tubuh stabil) Fungsi utamanya adalah untuk:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena 65% penduduk Indonesia adalah usia kerja, 30% bekerja disektor

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena 65% penduduk Indonesia adalah usia kerja, 30% bekerja disektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu dari negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia, sangat berkepentingan terhadap masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini disebabkan

Lebih terperinci

Reflex adalah rangkaian gerakan yang dilakukan secara cepat, involunter dan tidak direncanakan sebagai respon terhadap suatu stimulus

Reflex adalah rangkaian gerakan yang dilakukan secara cepat, involunter dan tidak direncanakan sebagai respon terhadap suatu stimulus Reflex adalah rangkaian gerakan yang dilakukan secara cepat, involunter dan tidak direncanakan sebagai respon terhadap suatu stimulus Merupakan fungsi integratif Lengkung reflex (reflex arc) adalah jalur

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kimiawi, listrik, dan mekanik untuk menghasilkan potensial aksi yang dihantarkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kimiawi, listrik, dan mekanik untuk menghasilkan potensial aksi yang dihantarkan 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Otot Rangka Otot merupakan jaringan peka rangsang. Sel otot dapat dirangsang secara kimiawi, listrik, dan mekanik untuk menghasilkan potensial aksi yang dihantarkan sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan olahraga dewasa ini semakin pesat di Indonesia seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan. Dari sejumlah daftar cabang olahraga yang berkembang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Waktu Reaksi 2.1.1 Definisi Waktu Reaksi Waktu reaksi merupakan jarak waktu antara diberikannya stimulus dengan kontraksi otot pertama setelah stimulus diberikan. 4,5 Waktu

Lebih terperinci

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan pengertian dan fungsi jaringan embrional 2. Menjelaskan ciri dan fungsi jaringan epitelium 3. Menjelaskan ciri dan fungsi jaringanjaringan

Lebih terperinci

FISIOLOGI SEL & OTOT OLEH: NINING WIDYAH KUSNANIK

FISIOLOGI SEL & OTOT OLEH: NINING WIDYAH KUSNANIK FISIOLOGI SEL & OTOT OLEH: NINING WIDYAH KUSNANIK SEL-SEL SEBAGAI SATUAN HIDUP TUBUH Dasar satuan hidup tubuh adalah sel, dan tiap-tiap organ sebenarnya merupakan kumpulan banyak sel yang tidak sama, yang

Lebih terperinci

Sistem Saraf pada Manusia

Sistem Saraf pada Manusia Sistem Saraf pada Manusia Apa yang dimaksud dengn sistem saraf? Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh

Lebih terperinci

AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG. Potensial Aksi Pada Jantung

AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG. Potensial Aksi Pada Jantung AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG Potensial Aksi Pada Jantung Pendahuluan Jantung : Merupakan organ vital Fungsi Jantung : Memompakan darah ke seluruh tubuh. Jantung terletak pada rongga dada sebelah kiri. Batas

Lebih terperinci

Kontraksi otot membutuhkan energi, dan otot disebut sebagai mesin. pengubah energi kimia menjadi kerja mekanis. sumber energi yang dapat

Kontraksi otot membutuhkan energi, dan otot disebut sebagai mesin. pengubah energi kimia menjadi kerja mekanis. sumber energi yang dapat SUMBER-SUMBER ENERGI DAN METABOLISME Kontraksi otot membutuhkan energi, dan otot disebut sebagai mesin pengubah energi kimia menjadi kerja mekanis. sumber energi yang dapat segera digunakan adalah derivat

Lebih terperinci

METODE. Gambar 7 Kimograf dan stimulator induksi (dokumentasi pribadi)

METODE. Gambar 7 Kimograf dan stimulator induksi (dokumentasi pribadi) 15 METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Agustus-September tahun 2009 di Laboratorium Fisiologi-Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut

Lebih terperinci

Sistem Muskuloskeletal. Yuliati Departemen Biologi Oral

Sistem Muskuloskeletal. Yuliati Departemen Biologi Oral Sistem Muskuloskeletal Yuliati Departemen Biologi Oral Sistem Muskuloskeletal Bones internal framework Muscles generate force and movement Ligaments connect bones Tendons connect muscles to bone Semua

Lebih terperinci

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN JARINGAN DASAR HEWAN Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN Tubuh hewan terdiri atas jaringan-jaringan atau sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi

Lebih terperinci

Kejang Pada Otot Betis yang Terjadi. Karena Kontraksi Secara Terus-menerus

Kejang Pada Otot Betis yang Terjadi. Karena Kontraksi Secara Terus-menerus Kejang Pada Otot Betis yang Terjadi Karena Kontraksi Secara Terus-menerus Maria Firstly Lorincia Awarawi 102012162 F 11 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat korespodensi: mariaawarawi@gmail.com

Lebih terperinci

PERUBAHAN SIFAT PADA DAGING

PERUBAHAN SIFAT PADA DAGING PERUBAHAN SIFAT PADA DAGING SIFAT FISIOLOGI PRE RIGOR RIGOR MORTIS POST RIGOR DAGING LENTUR KERAS & KAKU DAG ING LUNAK FASE PRE RIGOR Setelah hewan mati, metabolisme yang terjadi tidak lagi sabagai metabolisme

Lebih terperinci

BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM FISIOLOGI (BLOK BS 2)

BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM FISIOLOGI (BLOK BS 2) BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM FISIOLOGI (BLOK BS 2) BAGIAN FISIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2016 PRAKATA Puji syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Robi, atas segala rahmat dan karunia-nya

Lebih terperinci

Oleh: Diah Tri Widayati, Ph.D Kustono, Ph.D

Oleh: Diah Tri Widayati, Ph.D Kustono, Ph.D Oleh: Diah Tri Widayati, Ph.D Kustono, Ph.D Dasar bagi pergerakan pada sel hidup melibatkan zat protein kontraktil, yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi mekanis dalam bentuk tensi dan pergerakan.

Lebih terperinci

Fungsi Jaringan Otot. Pergerakan. Mempertahanlan postur tubuh. Menstabilkan sendi. Menghasilkan panas

Fungsi Jaringan Otot. Pergerakan. Mempertahanlan postur tubuh. Menstabilkan sendi. Menghasilkan panas Histologi Otot Fungsi Jaringan Otot Pergerakan Mempertahanlan postur tubuh Menstabilkan sendi Menghasilkan panas Kontraktilitas Karakteristik khusus Otot Hanya satu kerja: untuk memendek Pemendekan menghasilkan

Lebih terperinci

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK Kuntarti, SKp, M.Biomed PDF Created with deskpdf PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com FISIOLOGI Ilmu yang mempelajari fungsi biologis tubuh

Lebih terperinci

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK. Kuntarti, SKp

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK. Kuntarti, SKp PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK Kuntarti, SKp tanggal upload : 23 April 2009 FISIOLOGI Ilmu yang mempelajari fungsi biologis tubuh yang bekerja dalam rentang normal Tubuh individu

Lebih terperinci

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK. Kuntarti, SKp

PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK. Kuntarti, SKp PENGANTAR FISIOLOGI, HOMEOSTASIS, & DASAR BIOLISTRIK Kuntarti, SKp FISIOLOGI Ilmu yang mempelajari fungsi biologis tubuh yang bekerja dalam rentang normal Tubuh individu pengorganisasian biologis sel yang

Lebih terperinci

KULIAH 5 SS SISTEM OTOT

KULIAH 5 SS SISTEM OTOT KULIAH 5 SS SISTEM OTOT O SISTEM OTOT Pustaka acuan: Gartner & Hiatt (1997). Color Text of Histology Bab Junquiera (1980). Basic Histology. Bab McFadden & Keeton (1995) Biology, an exploration of life.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Pada remaja kemampuan berkembang secara fisik masih sangat baik. Waktu utama untuk pertumbuhan otot yang optimal adalah

Lebih terperinci

SPORTS MEDICINE: ADAPTASI PADA OTOT RANGKA SETELAH MELAKUKAN LATIHAN BEBAN (HIGH-RESISTANCE EXERCISE) DAN OLAHRAGA KETAHANAN OTOT (ENDURANCE EXERCISE)

SPORTS MEDICINE: ADAPTASI PADA OTOT RANGKA SETELAH MELAKUKAN LATIHAN BEBAN (HIGH-RESISTANCE EXERCISE) DAN OLAHRAGA KETAHANAN OTOT (ENDURANCE EXERCISE) SPORTS MEDICINE: ADAPTASI PADA OTOT RANGKA SETELAH MELAKUKAN LATIHAN BEBAN (HIGH-RESISTANCE EXERCISE) DAN OLAHRAGA KETAHANAN OTOT (ENDURANCE EXERCISE) LENY PURNAMASARI 14711018 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Laktat merupakan produk akhir dari metabolisme anaerobik, proses ini berlangsung tanpa adanya oksigen.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Laktat merupakan produk akhir dari metabolisme anaerobik, proses ini berlangsung tanpa adanya oksigen. digilib.uns.ac.id 18 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Laktat merupakan produk akhir dari metabolisme anaerobik, proses ini berlangsung tanpa adanya oksigen. Selama latihan fisik akan terjadi

Lebih terperinci

SKRIPSI PENGARUH KONTRAKSI KONSENTRIK DAN EKSENTRIK TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT BICEPS BRACHII

SKRIPSI PENGARUH KONTRAKSI KONSENTRIK DAN EKSENTRIK TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT BICEPS BRACHII SKRIPSI PENGARUH KONTRAKSI KONSENTRIK DAN EKSENTRIK TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT BICEPS BRACHII Disusun Oleh SUPRIN HUMONGGIO J 110 070 060 Diajukan untuk memenuhi tugas dan syarat syarat guna memperoleh

Lebih terperinci

II B. Sistem Kerja dan Kontrol pada Manusia

II B. Sistem Kerja dan Kontrol pada Manusia II B. Sistem Kerja dan Kontrol pada Manusia Sistem komunikasi utama dalam tubuh manusia: Sistem Syaraf Perangkat Penunjang: Otot Perangkat sensor tubuh (panca indera) Berfungsi mengontrol keseimbangan

Lebih terperinci

PENGARUH OKSITOSIN TERHADAP KONTRAKSI OTOT POLOS UTERUS. Risma Aprinda Kristanti

PENGARUH OKSITOSIN TERHADAP KONTRAKSI OTOT POLOS UTERUS. Risma Aprinda Kristanti Pengaruh Oksitosin (17-21) El-Hayah Vol. 5, No.1 September 2014 PENGARUH OKSITOSIN TERHADAP KONTRAKSI OTOT POLOS UTERUS Risma Aprinda Kristanti Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

Lebih terperinci

SYARAF. Gamaliel Septian Airlanda

SYARAF. Gamaliel Septian Airlanda SYARAF Gamaliel Septian Airlanda Tujuan Mahasiswa dapat mengetahui bentuk fisik dan mekanisme molekuler yang terjadi dalam neuron beserta fungsinya dalam menghantarkan informasi Struktur dan Fungsi Neuron

Lebih terperinci

BIOFISIKA SEL KULIAH SMT IVA FAKULTAS KEDOKTERAN UWKS Paul S. Poli/Biofisika/2006 1

BIOFISIKA SEL KULIAH SMT IVA FAKULTAS KEDOKTERAN UWKS Paul S. Poli/Biofisika/2006 1 BIOFISIKA SEL KULIAH SMT IVA FAKULTAS KEDOKTERAN UWKS 2006 Paul S. Poli/Biofisika/2006 1 Selamat pagi!!! Paul S. Poli/Biofisika/2006 2 SEL PEKA RANGSANGAN Sel-sel yg dapat dirangsang utk membentuk aliran

Lebih terperinci

BAB 6 PEMBAHASAN. tingkat waktu kematian terhadap kemampuan pergerakan silia cavitas nasi hewan

BAB 6 PEMBAHASAN. tingkat waktu kematian terhadap kemampuan pergerakan silia cavitas nasi hewan 42 BAB 6 PEMBAHASAN Penelitian ini mempunyai tujuan untuk melihat pengaruh perbedaan suhu dan tingkat waktu kematian terhadap kemampuan pergerakan silia cavitas nasi hewan coba post mortem. Penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Paru-paru, jantung, pusat syaraf dan otot skelet bekerja berat dalam melakukan

I. PENDAHULUAN. Paru-paru, jantung, pusat syaraf dan otot skelet bekerja berat dalam melakukan I. PENDAHULUAN Stamina adalah kemampuan daya tahan lama organisme manusia untuk melawan kelelahan dalam batas waktu tertentu, dimana aktivitas dilakukan dengan intensitas tinggi (tempo tinggi, frekuensi

Lebih terperinci

Tubuh kita juga memiliki komponen yang membuatnya dapat bergerak atau beraktivitas. Apa saja yang terlibat bila kita melakukan gerak?

Tubuh kita juga memiliki komponen yang membuatnya dapat bergerak atau beraktivitas. Apa saja yang terlibat bila kita melakukan gerak? Belajar IPA itu asyik, misalnya saat mempelajari tentang astronomi dan benda-benda langit, kita bisa mengenal lebih dekat tentang planet, bintang, dan benda-benda langit lainnya. Pelajaran seperti ini

Lebih terperinci

SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014

SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014 SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014 PENGERTIAN SISTEM SARAF Merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh Merupan

Lebih terperinci

By. Slamet Firmansyah. Sistem Gerak Manusia

By. Slamet Firmansyah. Sistem Gerak Manusia Sistem Gerak Manusia Sistem Gerak Manusia Kelainan Alat Gerak Pasif Alat Gerak Aktif Tulan Otot Bentuk Fungsi Jantung Polos Lurik Pipa Pipih Pendek Ini garis besar sub materi yang akan di ulas Jalan ke

Lebih terperinci

SISTEM SARAF. Sel Saraf

SISTEM SARAF. Sel Saraf SISTEM SARAF Sel Saraf Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistemn ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai

Lebih terperinci

BAB VII Biokimia Muskuloskeletal

BAB VII Biokimia Muskuloskeletal BAB VII Biokimia Muskuloskeletal pg. 144 A. KOMPOSISI STRUKTUR TULANG DAN OTOT Tulang merupakan jaringan ikat termineralisasi. Tulang terdiri atas bahan organik (protein) & anorganik. Bahan organik yaitu

Lebih terperinci

PEMODELAN ALIRAN LISTRIK PADA SEL SARAF MANUSIA

PEMODELAN ALIRAN LISTRIK PADA SEL SARAF MANUSIA Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 04, No. 2 (2015), hal 95 100. PEMODELAN ALIRAN LISTRIK PADA SEL SARAF MANUSIA Sunindri, Nilamsari Kusumastuti, Mariatul Kiftiah INTISARI Seluruh

Lebih terperinci

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI SISTEM SARAF SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI 1. SEL SARAF SENSORIK. 2. SEL SARAF MOTORIK. 3. SEL SARAF INTERMEDIET/ASOSIASI. Sel Saraf Sensorik Menghantarkan impuls (pesan) dari reseptor ke sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakang Masalah. Lari jarak pendek (sprint) adalah lari yang menempuh jarak antara 100

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakang Masalah. Lari jarak pendek (sprint) adalah lari yang menempuh jarak antara 100 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Masalah Lari jarak pendek (sprint) adalah lari yang menempuh jarak antara 100 meter sampai dengan 400 meter (Yoyo, 2000). Lari sprint 100 meter merupakan nomor lari jarak

Lebih terperinci

A. PENGARUH BESARNYA RANGSANGAN TERHADAP KEKUATAN KONTRAKSI.

A. PENGARUH BESARNYA RANGSANGAN TERHADAP KEKUATAN KONTRAKSI. A. PENGARUH BESARNYA RANGSANGAN TERHADAP KEKUATAN KONTRAKSI. Mempelajari rangsangan subminimal, minimal, submaksimal, maksimal dan supramaksimal dan kontraksi maksimal, submaksimal dan maksimal yang dihasilkannya.

Lebih terperinci

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar. Pengertian Sistem saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya. Sistem Saraf tersusun dari

Lebih terperinci

Bio Psikologi. Firman Alamsyah, MA

Bio Psikologi. Firman Alamsyah, MA Bio Psikologi Modul ke: Konduksi Neural / Sinapsis: 1. Konsep sinapsis 2. Peristiwa kimiawi pada sinapsis 3. Obat-obatan dan sinapsis Fakultas Psikologi Firman Alamsyah, MA Program Studi Psikologi Konsep

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kesegaran Jasmani Definisi Komponen Kesegaran Jasmani Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kesegaran Jasmani Definisi Komponen Kesegaran Jasmani Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kesegaran Jasmani 2.1.1. Definisi Kesegaran jasmani adalah suatu keadaan energi dan kekuatan yang dimiliki atau dicapai seseorang dalam kaitannya dengan kemampuan untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari kegiatan belajar, mengingat dan mengenal sesuatu. Belajar merupakan proses mendapatkan informasi yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kelelahan 1. Pengertian Lelah Beberapa ahli mendefinisikan kelelahan kerja adalah : a. Kelelahan kerja ditandai oleh adanya perasaan lelah, output dan kondisi psikologis yang

Lebih terperinci

FISIOLOGI SISTEM SARAF PADA KATAK

FISIOLOGI SISTEM SARAF PADA KATAK FISIOLOGI SISTEM SARAF PADA KATAK Lela Juwita Sari (3415080205), Riski Sulistyani (3415080207), Eka Puspita Sari (3415080209) dan Lia Indrianita (3415083256) 1 ABSTRAK Sistem saraf adalah suatu sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Oksigen kaleng lazim digunakan di dunia olahraga karena ada anggapan bahwa penggunaan oksigen kaleng mempercepat waktu istirahat menjadi pulih setelah tubuh lelah akibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waktu reaksi adalah waktu yang diperlukan seseorang untuk menjawab sesuatu rangsangan secara sadar dan terkendali, dihitung mulai saat rangsangan diberikan sampai dengan

Lebih terperinci

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Materi 3 Kardiovaskular III A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Tujuan a. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara palpasi b. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara auskultasi Dasar Teori

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metabolisme Energi Otot Rangka Kreatin fosfat merupakan sumber energi pertama yang digunakan pada awal aktivitas kontraktil. Suatu karakteristik khusus dari energi yang dihantarkan

Lebih terperinci

Intro. - alifis.wordpress.com

Intro. - alifis.wordpress.com Intro. Manusia tidak bisa melihat, merasa, mencium atau menyadari keberadaan listrik dengan inderanya, baik untuk muatan maupun untuk medan listriknya. Baru pada akhir abad 18 hal-hal mengenai listrik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia adalah mahluk yang bergerak. Dalam melakukan aktifitasnya

BAB I PENDAHULUAN. manusia adalah mahluk yang bergerak. Dalam melakukan aktifitasnya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Olahraga merupakan suatu kebutuhan bagi setiap manusia.dikarenakan manusia adalah mahluk yang bergerak. Dalam melakukan aktifitasnya manusia tidak pernah terlepas

Lebih terperinci

Perwujudan kerja ditampilkan oleh rangka yg digerakkan oleh otot-otot. Gerakan otot-otot diatur oleh syaraf

Perwujudan kerja ditampilkan oleh rangka yg digerakkan oleh otot-otot. Gerakan otot-otot diatur oleh syaraf Perwujudan kerja ditampilkan oleh rangka yg digerakkan oleh otot-otot. Gerakan otot-otot diatur oleh syaraf SKELET OTOT SARAF KESATUAN PERTAMA YG MELAKSANAKAN GERAK ERGOSISTEMA I MENDUKUNG DARAH & CAIRAN

Lebih terperinci

SISTEM CARDIOVASCULAR

SISTEM CARDIOVASCULAR SISTEM CARDIOVASCULAR Forewords Jantung (bahasa Latin, cor) adalah sebuah rongga, rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. gerak: nyeri cukup berat, sedangkan pada terapi ke-6 didapatkan hasil bahwa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. gerak: nyeri cukup berat, sedangkan pada terapi ke-6 didapatkan hasil bahwa BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Nyeri Hasil evaluasi nyeri dengan menggunakan VDS didapatkan hasil bahwa pada terapi ke-0 nyeri diam: tidak nyeri, nyeri tekan: nyeri ringan, nyeri gerak: nyeri

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. spektrofotometer UV-Vis dan hasil uji serapan panjang gelombang sampel dapat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. spektrofotometer UV-Vis dan hasil uji serapan panjang gelombang sampel dapat BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian diawali dengan pembuatan sampel untuk uji serapan panjang gelombang sampel. Sampel yang digunakan pada uji serapan panjang gelombang sampel adalah

Lebih terperinci

1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI

1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI 1.1PENGERTIAN NYERI Nyeri merupakan sensasi yang terlokalisasi berupa ketidaknyamanan, kesedihan dan penderitaan yang dihasilkan oleh stimulasi pada akhiran saraf tertentu. Nyeri terjadi sebagai mekanisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari mulai alat komunikasi, alat perkantoran, alat transportasi sampai sistem

BAB I PENDAHULUAN. Dari mulai alat komunikasi, alat perkantoran, alat transportasi sampai sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kini, perkembangan zaman semakin pesat. Setiap waktunya lahir berbagai teknologi baru yang memudahkan manusia melakukan aktivitas sehari-hari. Dari mulai alat komunikasi,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada (kurangnya aktivitas fisik), merupakan faktor resiko independen. menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada (kurangnya aktivitas fisik), merupakan faktor resiko independen. menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI 1. Aktivitas Fisik a. Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik

Lebih terperinci

Curah jantung. Nama : Herda Septa D NPM : Keperawatan IV D. Definisi

Curah jantung. Nama : Herda Septa D NPM : Keperawatan IV D. Definisi Nama : Herda Septa D NPM : 0926010138 Keperawatan IV D Curah jantung Definisi Kontraksi miokardium yang berirama dan sinkron menyebabkan darah dipompa masuk ke dalam sirkulasi paru dan sistemik. Volume

Lebih terperinci

Xpedia Fisika. Optika Fisis - Soal

Xpedia Fisika. Optika Fisis - Soal Xpedia Fisika Optika Fisis - Soal Doc. Name: XPFIS0802 Version: 2016-05 halaman 1 01. Gelombang elektromagnetik dapat dihasilkan oleh. (1) muatan listrik yang diam (2) muatan listrik yang bergerak lurus

Lebih terperinci

OTOT DAN SKELET Tujuan 1. Mengidentifikasi struktur otot 2. Mempelajari mekanisme otot pada saat berkontraksi 3. Mengetahui macam-macam otot

OTOT DAN SKELET Tujuan 1. Mengidentifikasi struktur otot 2. Mempelajari mekanisme otot pada saat berkontraksi 3. Mengetahui macam-macam otot OTOT DAN SKELET Tujuan. Mengidentifikasi struktur otot. Mempelajari mekanisme otot pada saat berkontraksi. Mengetahui macam-macam otot berdasarkan lokasi 4. Mengetahui macam-macam kerja otot yang menggerakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Orang yang mampu mempertahankan agar tubuhnya tetap bugar dapat memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup. Beberapa cara untuk mempertahankan kebugaran adalah dengan menjaga

Lebih terperinci

listrik Gaya fundamental Berkas Elektron Sinar - X Hukum Coloumb Induksi Tabung Katoda Tabung Televisi Isolator dan konduktor Sistem Syaraf

listrik Gaya fundamental Berkas Elektron Sinar - X Hukum Coloumb Induksi Tabung Katoda Tabung Televisi Isolator dan konduktor Sistem Syaraf listrik Gaya fundamental Berkas Elektron Hukum Coloumb Sinar - X Induksi Tabung Katoda Isolator dan konduktor Tabung Televisi Mesin penginduksi Sistem Syaraf Medan Listrik Potensial listrik Ikan Listrik

Lebih terperinci

POKOK BAHASAN IX IX. PENGGUNAAN ENERGI MEKANIK PADA TERNAK KERJA. Mengetahui proses metabolisme dan dinamika fisiologi pada ternak kerja

POKOK BAHASAN IX IX. PENGGUNAAN ENERGI MEKANIK PADA TERNAK KERJA. Mengetahui proses metabolisme dan dinamika fisiologi pada ternak kerja Tatap muka ke : 13 POKOK BAHASAN IX IX. PENGGUNAAN ENERGI MEKANIK PADA TERNAK KERJA Tujuan Instruksional Umum : Memberikan pengetahuan tentang penggunaan energi mekanik yang dihasilkan dari proses metabolisme

Lebih terperinci

Laporan Praktikum. Fisiologi Hewan. Berbagai Rangsangan Pada Sediaan Otot Saraf

Laporan Praktikum. Fisiologi Hewan. Berbagai Rangsangan Pada Sediaan Otot Saraf Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Berbagai Rangsangan Pada Sediaan Otot Saraf Laporan ini disusun guna memenuhi nilai praktikum mata kuliah yang dibimbing oleh Dra.Moerfiah, M.Si dan Rouland Ibnu Darda,

Lebih terperinci

SISTEM SARAF MANUSIA

SISTEM SARAF MANUSIA SISTEM SARAF MANUSIA skema sistem saraf manusia m e li p u ti m e li p u ti m e li p u ti m e li p u ti m e li p u ti m e li p u ti SEL SARAF Struktur sel saraf neuron: Badan sel, Dendrit Akson Struktur

Lebih terperinci