BAB III METODE PENELITIAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODE PENELITIAN"

Transkripsi

1 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dilahan Unit Pelaksana Teknis Badan Balai Penyuluh Pertanian (UPTB BPP) Desa Ujung Bawang Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Waktu pelelitian dilakukan selama ± 4 bulan mulai April sampai Juli Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam peneltitian ini yaitu: empat varietas benih padi (varietas Lokal, Situ Bagendit, Situ Patenggang dan Batutengi, tanah mineral ultisol dari Kecamatan Gunung Meriah, pestisida. Alat alat yang digunakan dalam penelitian adalah ayakan diameter 2 mesh, cangkul, gembor, timbangan, meteran, oven, handsprayer, bor tanah. 3.3 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor perlakuan yaitu: Faktor I adalah pengunaan varietas padi gogo diberi simbol V terdiri dari 4 varietas yaitu: V 1 : Varietas Lokal Siliam V2 : Varietas Situ Bagendit

2 22 V 3 : Varietas Situ Patenggang V 4 : Varietas Batutengi Faktor II yaitu Ketebalan Tanah Mineral yang diaplikasikan diatas tanah gambut diberi simbol T ada 5 taraf yaitu: T 0 : Tanpa Tanah Mineral/0 cm sebagai kontrol (100% gambut) T 1 : 5 cm T 2 : 10 cm T 3 : 15 cm T 4 : 20 cm Setiap perlakuan dibuat dalam 4 ulangan. Model linier aditif rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini dituliskan sebagai berikut: (Gomez and Gomez, 2005). Yijk = μ + ρk + αi + βj + (αβ )ij + ijk Dimana: Yijk = hasil pengamatan pada faktor V pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke j ulangan ke-k μ = rataan nilai tengah ρk = pengaruh kelompok pada taraf ke-k αi = pengaruh perlakuan dari faktor V ke-i βj = pengaruh perlakuan dari faktor T ke-j

3 23 (αβ )ij = pengaruh interaksi antara perlakuan faktor V pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke-j ijk = galat percobaan dari faktor V pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf kej pada ulangan ke k i = Faktor perlakuan V j = Faktor perlakuan T k = kelompok Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam, jika terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji beda rataan berdasarkan Uji Duncan Berjarak Ganda (DMRT) pada taraf 5% (Gomez and Gomez, 2007). 3.4 Pelaksanaan Penelitian Pengembilan Contoh Tanah Tanah gambut yang dijadikan media tanam diambil contoh tanahnya untuk dianalisis dengan menggunakan bor tanah. Pengambilan contoh tanah yang digunakan diambil secara komposit. Untuk sampel tanah mineral, tanah dibersihkan dari sampah dan akar-akar kayu dengan menggunakan ayakan berdiameter 2 mesh. Selanjutnya tanah diaduk merata, tanah yang telah tercampur diambil sampel tanahnya secara komposit. Kedua sampel tanah di atas selanjutnya dikering anginkan. Dimasukkan kedalam kantong plastik yang diberi label per perlakuan selanjutnya dibawa ke laboratorium.

4 Persiapan Lahan Lahan gambut yang akan dijadikan sebagai lahan penelitian dibersihkan dari rerumputan dan sampah-sampah. Lahan yang telah bersih selanjutnya dibuat bedengan dengan ukuran 160 cm x 160 cm dengan jarak antar bedengan dalam baris 30 cm dan jarak bedengan atar blok/ulangan 100 cm. Denah susunan plot penelitian disajikan pada Lampiran Persiapan Tanah Mineral Tanah mineral yang digunakan jenis Ultisol atau sering disebut dengan podsolik merah kuning (PMK) diambil dari Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil. Sebelum diaplikasikan tanah dibersihkan dari sampah dan akar-akar kayu dengan menggunakan ayakan berdiameter 2 mesh dan diaduk merata. Tanah yang telah merata dan bersih diaplikasikan sesuai perlakuan 2 hari sebelum tanam Persiapan Benih Benih varietas padi gogo yang digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu direndam dalam air. Perendaman dilakukan selama 12 jam, dimaksudkan untuk mempermudah perkecambahan benih setelah penanaman di plot-plot penelitian. Benih yang telah selesai direndam kemudian dikeringkan, setelah itu dilakukan perlakuan benih dengan fungisida Beam 75 Wp dan insektisida Furadan 3G. Perlakuan benih ini dilakukan untuk mencegah serangan jamur dan lalat bibit dilapangan.

5 Penanaman Benih padi ditanam 2 benih pada setiap lobang tanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Penanaman dilakukan dengan cara tugal pada kedalaman 3 cm. Setelah padi berumur 14 hari setelah tanam (HST) dilakukan penjarangan dengan cara menggunting bagian pangkal batang tanaman, sehingga pada setiap lobang tanam terdapat 1. tanaman Penyiangan Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan cara mencabut langsung gulma dengan mengguakan tangan. Didaerah yang pertumbuhan gulma padat penyingan dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan Pengendalian hama dan penyakit Untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit maka dilakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida dengan bahan aktif deltamethrin 25 cc/l dan fungisida dengan bahan aktif mancozeb 80%. Frekuensi penyemprotan dilakukan sesuai dengan intensitas serangan hama dan penyakit dilapangan. Dosis yang digunakan adalah dosis anjuran pada masing-masing label insektisida dan fungisida diatas. Pengendalian hama dan penyakit ini dilakukan dengan menggunakan handspayer Pemanenan Pemanenan gabah dilakukan pada saat daun tanaman padi sudah mulai menguning semuanya atau daun kuning sudah mencapai 90% hanya daun bendera saja yang masih terlihat berwarna hijau. Umur penen setiap varietas berfariasi

6 26 untuk varietas lokal Siliam (V 1 ) 115 HST, varietas Situ Bagendit (V 2 ) 105 HST, varietas Situ Patenggang (V 3 ) 105 HST dan varietas Batutengi (V 4 ) 104 HST. 3.5 Peubah Amatan Tinggi tanaman Pengukuran tinggi tanaman dilakukan saat tanaman berumur 4, 6, 8 dan 10 minggu setelah tanam (MST). Sampel tanaman yang diamati 6 rumpun tanaman untuk setiap plot. Pada setiap sampel tanaman dibuat patok tanda sampel dari bambu. Pengukuran dimulai dari pangkal rumpun sampai ujun daun terpanjang dengan menggunakan meteran Jumlah anakan per rumpun Pengamatan jumlah anakan dihitung saat tanaman berumur 4, 6, 8 dan 10 MST. Jumlah anakan dihitung per rumpun tanaman sampel yang telah ditetapkan pada setiap plot Jumlah anakan produktif Jumlah anakan produktif dihitung saat panen, yang dihitung hanya anakan yang memiliki malai. Jumlah anakan dihitung per rumpun dari tanaman sampel yang telah ditetapkan pada setiap plot Jumlah gabah per malai Jumlah gabah permalai dihitung dengan mengambil semua gabah seluruh malai tanaman sampel kemudian dirata-ratakan. Penghitungan dilakukan pada saat panen.

7 Jumlah gabah berisi per malai Jumlah gabah berisi per malai dihitung dengan mengambil semua gabah berisi dari tanaman sampel kemudian dirata-ratakan. Penghitungan dilakukan setelah panen dari tanaman sampel yang telah ditetapkan pada setiap plot Jumlah gabah hampa per malai Jumlah gabah hampa per malai dihitung dengan mengambil semua gabah hampa dari tanaman sampel. Penghitungan dilakukan setelah panen, dari tanaman sampel yang ditetapkan pada setiap plot Bobot 1000 gabah berisi Pengamatan berat 1000 gabah berisi per rumpun dihitung pada saat gabah dipisahkan dari malai kemudian dikeringkan dengan cara dijemur sampai kadar airnya mencapai 14% Bobot kering tajuk tanaman Tanaman digunting pada leher akar lalu dimasukkan ke dalam amplop, selanjutnya dioven pada suhu 65 0 C selama 72 jam (mencapai beratkonstan) Bobot kering akar tanaman Pengamatan bobot akar tanaman dihitung setelah tanaman dipanen. Tanaman sampel dicangkul secara hati-hati agar akar jangan sampai putus, kemudian dicuci dalam ember dan digoyang-goyang agar tanaman bersih dari tanah, lalu dipotong mulai dari leher akar. Akar dipotong-potong sepanjang ± 5 cm, kemudian dimasukkan ke dalam amplop kertas dan dilem. Amplop

8 28 dimasukkan kedalam oven pada suhu 65 0 C sampai mencapai beratt konstan (tetap) Bobot gabah per malai Pengamatan bobot gabah per malai dilakukan setelah panen. Gabah dipisahkan dari malai kemudian dikeringkan sampai kadar airnya mecapai 14% lalu ditimbang Bobot gabah kering rumpun Pengamatan bobot gabah per rumpun dilakukan setelah panen. Gabah yang telah dikeringkan pada setiap malai dengan kadar air mencapai 14% yang berasal dari satu rumpun yang sama dikumpulkan lalu ditimbang Bobot gabah per plot Pengamatan bobot gabah per plot dilakukan setelah panen. Gabah yang telah dikeringkan pada setiap rumpun dengan kadar air mencapai 14% yang berasal dari satu plot yang sama dikumpulkan lalu ditimbang.

9 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tinggi tanaman Hasil pengamatan tinggi tanaman beberapa varietas padi gogo pada pengamatan 4, 6, 8 dan 10 minggu setelah tanam (MST) dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 6 sampai 13. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa varietas (V) berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 4, 6, 8 dan 10 MST. Pada perlakuan tanah mineral (T) hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 4 MST. Sedangkan pada interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 4, 6, 8 dan 10 MST. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap Tinggi tanaman 4 MST disajikan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Nilai rataan tinggi tanaman 4 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... cm... V 1 (Lokal Siliam) 39,07 38,74 45,52 46,85 46,45 43,33 a V 2 (Situ Bagendit) 33,37 33,88 35,63 28,17 33,94 33,00 c V 3 (Situ Patenggang) 30,30 38,43 38,98 39,58 33,37 36,13 bc V 4 (Batutegi) 33,75 40,90 37,91 37,85 39,63 38,01 b Rataan 34,12 b 37,99 a 39,51 a 38,11 a 38,35 a Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test)

10 31 Tabel 4.1. dapat dilihat bahwa varietas V 1 (Lokal Siliam) berbeda nyata dengan varietas V 4 (Batutegi), V 3 (Situ Patenggang) dan V 2 (Situ Bagendit). Tinggi tanaman pada 4 MST pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,12% sampai dengan 0,23%. Pada Tabel 4.1. juga dapat dilihat bahwa perlakuan T2, T 4, T 3 dan T 1 berbeda nyata dengan perlakuan T 0. Tinggi tanaman pada 4 MST pada perlakuan tanah mineral T 2 (10 cm) nyata lebih tinggi dibandingkan ke empat ketebalan tanah mineral berkisar antara 0,03% sampai dengan 0,14%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap Tinggi tanaman 6 MST disajikan pada Tabel 4.2. Tabel 4.2. Nilai rataan tinggi tanaman 6 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... cm... V 1 (Lokal Siliam) 60,10 60,50 64,08 69,00 67,30 64,19 a V 2 (Situ Bagendit) 52,90 49,41 53,06 47,03 51,16 50,71 c V 3 (Situ Patenggang) 50,60 58,32 59,86 59,14 57,40 57,06 b V 4 (Batutegi) 57,55 58,15 56,19 53,60 59,95 57,09 b Rataan 55,29 56,59 58,30 57,19 58,95 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel 4.2. dapat dilihat bahwa varietas V 1 (Lokal Siliam) berbeda nyata dengan varietas V 4 (Batutegi), V 3 (Situ Patenggang), dan V 2 (Situ Bagendit). Tinggi tanaman pada 6 MST pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi

11 32 dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,11% sampai dengan 0,24%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap Tinggi tanaman 8 MST disajikan pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. Nilai rataan tinggi tanaman 8 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... cm... V 1 (Lokal Siliam) 84,44 79,80 90,33 89,88 81,34 85,16 a V 2 (Situ Bagendit) 63,53 60,78 61,57 56,06 61,65 60,72 c V 3 (Situ 65,93 73,68 69,48 78,56 69,97 71,52 b Patenggang) V 4 (Batutegi) 80,23 81,63 77,36 74,39 83,24 79,37 a Rataan 73,53 73,97 74,68 74,72 74,05 Keterangan : Angkapada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Pada Tabel 4.3. dapat dilihat bahwa tinggi tanaman pada varietas V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), dan V 2 (Situ Bagendit). Tinggi tanaman pada 8 MST pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya antara 0,16% sampai dengan 0,34%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap Tinggi tanaman 10 MST disajikan pada Tabel 4.4.

12 33 Tabel 4.4. Nilai rataan tinggi tanaman 10 minggu setelah tanam (MST) Perlakuan Ketebalan Tanah Mineral (T) T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... cm... V 1 (Lokal Siliam) 94,41 97,89 96,79 99,67 93,54 96,46 a V 2 (Situ Bagendit) 75,67 70,14 72,20 62,64 69,21 69,97 c V 3 (Situ Patenggang) 80,30 92,86 88,20 99,52 77,15 87,61 b V 4 (Batutegi) 92,54 93,05 89,83 87,73 96,33 91,90 ab Rataan 85,73 88,49 86,75 87,39 84,06 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Dari Tabel 4.4. dapat dilihat bahwa varietas V 1 (Lokal Siliam) tidak berbeda nyata dengan varietas V 4 (Batutegi) namun, berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang) dan V 2 (Situ Bagendit). Tinggi tanaman pada 10 MST pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya sebesar 0,05% sampai dengan 0,28% Jumlah anakan Hasil pengamatan jumlah anakan beberapa varietas padi gogo pada pengamatan 4, 6, 8 dan 10 MST dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 14 sampai 29. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada umur 4, 6, 8 dan 10 MST. Sedangkan pada pemberian tanah mineral (T) dan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 4, 6, 8 dan 10 MST. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara

13 34 Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah anakan 4 MST disajikan pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Nilai rataan jumlah anakan 4 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... batang/rumpun... V 1 (Lokal Siliam) 1,49 1,78 1,80 1,62 1,82 1,70 b V 2 (Situ Bagendit) 2,21 3,21 3,85 1,85 2,86 2,80 a V 3 (Situ Patenggang) 1,88 2,53 2,80 2,93 1,97 2,42 a V 4 (Batutegi) 1,63 1,70 1,65 1,60 1,72 1,66 b Rataan 1,80 2,30 2,52 2,00 2,09 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel 4.5. dapat dilihat bahwa varietas V 2 (Situ Bagendit) danv 3 (Situ Patenggang) berbeda nyata dengan varietas V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Jumlah anakan varietas V 2 (Situ Bagendit) pada 4 MST nyata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya berkisar antara 0,14% sampai dengan 0,41%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah anakan 6 MST disajikan pada Tabel 4.6.

14 35 Tabel 4.6. Nilai rataan jumlah anakan 6 minggu setelah tanam (MST) Perlakuan Ketebalan Tanah Mineral (T) T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... batang/rumpun... V 1 (Lokal Siliam) 3,75 3,38 4,83 4,53 4,83 4,26 b V 2 (Situ Bagendit) 7,42 9,63 9,71 5,00 7,58 7,87 a V 3 (Situ Patenggang) 3,83 4,50 5,13 5,38 4,88 4,74 b V 4 (Batutegi) 2,63 2,67 3,02 2,11 2,63 2,61 c Rataan 4,41 5,04 5,67 4,25 4,98 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel 4.6. dapat dilihat bahwa varietas V 2 (Situ Bagendit) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Jumlah anakan varietas V 2 (Situ Bagendit) pada 6 MST nyata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya sebesar 0,40% sampai dengan 0,67%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah anakan 8 MST disajikan pada Tabel 4.7. Tabel 4.7. Nilai rataan jumlah anakan 8 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... batang/rumpun... V 1 (Lokal Siliam) 5,29 4,38 6,13 5,08 5,25 5,23 b V 2 (Situ Bagendit) 10,46 12,50 10,96 7,08 9,38 10,08 a V 3 (Situ Patenggang) 4,71 4,96 5,54 5,75 6,04 5,40 b V 4 (Batutegi) 3,17 3,33 3,74 2,58 3,58 3,28 c Rataan 5,91 6,29 6,59 5,13 6,06 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test)

15 36 Tabel 4.7. dapat dilihat bahwa varietas V 2 (Situ Bagendit) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Jumlah anakan varietas V 2 (Situ Bagendit) pada 8 MST nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,46% sampai dengan 0,67%. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah anakan 10 MST disajikan pada Tabel 4.8. Tabel 4.8. Nilai rataan jumlah anakan 10 minggu setelah tanam (MST) Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... batang/rumpun... V 1 (Lokal Siliam) 5,38 5,25 6,25 4,63 5,33 5,37 b V 2 (Situ Bagendit) 10,75 12,92 11,38 7,46 9,92 10,48 a V 3 (Situ Patenggang) 5,04 5,08 5,58 5,96 6,04 5,54 b V 4 (Batutegi) 3,50 3,42 3,83 2,71 3,71 3,43 c Rataan 6,17 6,67 6,76 5,19 6,25 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel 4.8. dapat dilihat bahwa varietas V 2 (Situ Bagendit) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Jumlah anakan varietas V 2 (Situ Bagendit) pada 10 MST nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,47% sampai dengan 0,67%.

16 Jumlah anakan produktif Hasil pengamatan jumlah anakan produktif beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 30 dan 33. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif. Sedangkan pada pemberian tanah mineral (T) dan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah anakanproduktif disajikan pada Tabel 4.9. Tabel 4.9. Nilai rataan jumlah anakan produktif Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... batang/rumpun... V 1 (Lokal Siliam) 2,38 2,50 2,38 2,58 2,92 2,55 c V 2 (Situ Bagendit) 6,92 8,21 6,67 5,08 7,21 6,82 a V 3 (Situ Patenggang) 3,33 3,58 4,58 4,08 4,50 4,02 b V 4 (Batutegi) 2,29 2,17 2,29 1,92 2,42 2,22 c Rataan 3,73 4,11 3,98 3,42 4,26 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel 4.9. dapat dilihat bahwa varietas V 2 (Situ Bagendit) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Jumlah anakan produktif pada varietas V 2 (Situ Bagendit) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,41% sampai dengan 0,67%.

17 Jumlah gabah per malai Hasil pengamatan jumlah gabah per malai beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 34 dan 35. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai. Sedangkan pada pemberian tanah mineral (T) dan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah gabah per malai disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan jumlah gabah per malai Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... butir... V 1 (Lokal Siliam) 197,03 177,96 203,00 174,98 155,11 181,62 b V 2 (Situ Bagendit) 121,49 120,30 126,17 126,65 100,44 119,01 c V 3 (Situ Patenggang) 168,95 181,62 155,44 172,61 142,84 164,29 b V 4 (Batutegi) 312,61 317,66 293,56 325,60 319,16 313,72 a Rataan 200,02 199,39 194,54 199,96 179,39 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietasv 1 (Lokal Siliam), V 3 (Situ Patenggang)dan V 2 (Situ Bagendit). Jumlah gabah per malai pada varietas V 4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,42 sampai dengan 0,48%.

18 Jumlah gabah berisi per malai Hasil pengamatan jumlah gabah berisi per malai beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 36 dan 37. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah berisi per malai. Sedangkan pada pemberian tanah mineral (T) dan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah berisi per malai. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah gabah berisi per malai disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan jumlah gabah berisi per malai Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... butir... V 1 (Lokal Siliam) 136,94 133,24 136,48 112,03 110,34 125,81 b V 2 (Situ Bagendit) 82,02 82,14 76,08 80,31 70,29 78,17 c V 3 (Situ Patenggang) 116,01 123,32 108,32 125,73 104,27 115,53 b V 4 (Batutegi) 214,61 222,40 204,53 196,01 218,99 211,31 a Rataan 137,40 140,27 131,35 128,52 125,97 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V 1 (Lokal Siliam), V 3 (Situ Patenggang) dan V 2 (Situ Bagendit). Jumlah gabah berisi per malai pada varietas V 4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,41% sampai dengan 0,63%.

19 Jumlah gabah hampa per malai Hasil pengamatan jumlah gabah hampa per malai beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 38 sampai 41. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah hampa per malai. Sedangkan pada pemberian tanah mineral (T) dan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah hampa per malai. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap jumlah gabah hampa per malai disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan jumlah gabah hampa per malai Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... butir... V 1 (Lokal Siliam) 60,09 44,72 66,52 62,95 44,78 55,81 b V 2 (Situ Bagendit) 39,47 38,16 50,09 46,33 30,15 40,84 b V 3 (Situ Patenggang) 52,94 58,30 47,12 46,88 38,57 48,76 b V 4 (Batutegi) 98,00 95,27 89,03 129,59 100,17 102,41 a Rataan 62,62 59,11 63,19 71,44 53,42 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V 1 (Lokal Siliam), V 3 (Situ Patenggang) dan V 2 (Situ Bagendit). Jumlah gabah hampa per malai pada varietas V 4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,67% sampai dengan 0,82%.

20 Bobot 1000 gabah berisi Hasil pengamatan bobot 1000 gabah berisi beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 42 dan 43. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) dan pemberian tanah mineral (T) berpengaruh nyata terhadap bobot 1000 gabah berisi. Sedangkan interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap bobot 1000 gabah berisi. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap bobot 1000 gabah berisidisajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan bobot 1000 gabah berisi Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... g... V 1 (Lokal Siliam) 25,44 21,09 24,24 26,85 26,59 24,84 b V 2 (Situ Bagendit) 25,64 25,44 26,15 27,07 26,63 26,18 a V 3 (Situ Patenggang) 25,47 27,03 27,14 27,54 27,39 26,91 a V 4 (Batutegi) 23,89 24,03 24,06 24,16 25,20 24,27 b Rataan 25,11 b 24,39 b 25,39 ab 26,41 a 26,45 a Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 3 (Situ Patenggang) dan V 2 (Situ Bagendit) berbeda nyata dengan varietas V 1 (Lokal Siliam) dan V 4 (Batutegi). Bobot 1000 gabah berisi pada varietas V 3 (Situ Patenggang) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,03% sampai dengan 0,10%.

21 42 Pada Tabel 4.13, juga dapat dilihat bahwa perlakuan T 4 dan T 3 berbeda nyata dengan perlakuan T 0 dan T 1, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan T 2. Bobot 1000 gabah berisi pada perlakuan tanah mineral T 4 (20 cm) nyata lebih tinggi dibandingkan ke empat ketebalan tanah mineral berkisar antara 0,04% sampai dengan 0,08% Bobot kering tajuk tanaman Hasil pengamatan bobot kering tajuk tanaman beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 44 dan 45. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) dan pemberian tanah mineral (T) serta interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk tanaman. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap bobot kering tajuk tanaman disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan bobot kering tajuk tanaman Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 (20 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) cm)... g... V 1 (Lokal a b b ef cd a Siliam) V 2 (Situ Bagendit) j efg j ghi hi c V 3 (Situ Patenggang) hi hij ij hi j c V 4 (Batutegi) bc de fgh hi ij b Rataan a b c d e Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test)

22 43 Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 1 (Lokal Siliam) berbeda nyata dengan varietas V 4 (Batutegi), V 2 (Situ Bagendit) dan V 3 (Situ Patenggang). Bobot kering tajuk tanaman pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,06% sampai dengan 0,10%. Tabel juga dapat dilihat bahwa perlakuan T0 berbeda nyata dengan perlakuan T 1, T 2, T 3 dan T 4. Bobot kering tajuk tanaman pada perlakuan tanpa pemberian tanah mineral T 0 nyata lebih tinggi dibandingkan ke empat ketebalan tanah mineral berkisar antara 0,01% sampai dengan 0,05% Bobot kering akar tanaman Hasil pengamatan bobot kering akar tanaman beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 46 dan 47. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) dan pemberian tanah mineral (T) serta interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar tanaman. Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap bobot kering akar tanaman disajikan pada Tabel 4.15.

23 44 Tabel Nilai rataan bobot kering akar tanaman Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T 0 T1 T2 T3 T4 Rataan (0 cm) (5 cm) (10 cm) (15 cm) (20 cm)... g... V 1 (Lokal Siliam) 40,53 abc 42,90 a 42,24 ab 35,02 efg 37,69 cde 39,67 a V 2 (Situ Bagendit) 33,73 fgh 37,68 cde 33,94 fgh 43,88 a 36,00 def 37,05 b V 3 (Situ Patenggang) 27,57 i 25,80 i 31,30 hi 34,18 fgh 26,33 i 29,03 c V 4 (Batutegi) 42,45 ab 39,08 bcd 31,99 ghi 32,76 fghi 33,58 fgh 35,97 b Rataan 36,07 a 36,36 a 34,87 a 36,46 a 33,40 b Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 1 (Lokal Siliam) berbeda nyata dengan varietas V 2 (Situ Bagendit), V 4 (Batutegi) dan V 3 (Situ Patenggang). Bobot kering akar tanaman pada varietas V 1 (Lokal Siliam) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,09% sampai dengan 0,27%. Pada Tabel juga dapat dilihat bahwa perlakuan T3, T 1, T 0 dan T 2 berbeda nyata dengan perlakuan T 4. Bobot kering akar tanaman pada perlakuan pemberian tanah mineral T 3 (15 cm) nyata lebih tinggi dibandingkan ke empat ketebalan tanah mineral sebesar 0,08% Bobot gabah per malai Hasil pengamatan bobot gabah per malai beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 48 dan 49. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap bobot gabah kering per malai, sedangkan pemberian tanah mineral (T) serta interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap bobot gabah per malai.

24 45 Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan bobot gabah kering per malai Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T0 (0 cm) T1 (5 cm) T2 (10 cm) T3 (15 cm) T4 (20 cm) Rataan... g... V1 (Lokal Siliam) 6,17 4,94 6,09 5,94 5,26 5,68 b V2 (Situ Bagendit) 4,30 4,22 4,62 4,73 3,81 4,34 b V3 (Situ Patenggang) 5,44 6,11 5,36 5,86 5,03 5,56 b V4 (Batutegi) 8,62 8,81 8,24 9,22 9,23 8,83 a Rataan 6,13 6,02 6,08 6,44 5,84 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Dari Tabel dapat dilihat bahwa varietas V4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V1 (Lokal Siliam), V3 (Situ Patenggang) dan V2 (Situ Bagendit). Bobot gabah per malai pada varietas V4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,35% sampai dengan 0,51% Bobot gabah kering per rumpun Hasil pengamatan bobot gabah kering per rumpun beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 50 dan 51. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap bobot gabah kering per rumpun, sedangkan pemberian tanah mineral (T) serta interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap bobot gabah kering per rumpun.

25 46 Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan bobot gabah kering per rumpun Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T0 (0 cm) T1 (5 cm) T2 (10 cm) T3 (15 cm) T4 (20 cm) Rataan... g... V1 (Lokal Siliam) 11,56 10,11 11,01 10,27 11,55 10,90 b V2 (Situ Bagendit) 11,28 10,28 10,21 10,98 10,43 10,64 b V3 (Situ Patenggang) 10,61 12,13 10,80 11,51 11,14 11,24 b V4 (Batutegi) 15,24 16,66 15,47 14,78 13,29 15,09 a Rataan 12,17 12,29 11,87 11,88 11,60 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Tabel dapat dilihat bahwa varietas V4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V3 (Situ Patenggang), V1 (Lokal Siliam), dan V2 (Situ Bagendit). Bobot gabah kering per rumpun pada varietas V4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,26% sampai dengan 0,32% Bobot gabah per plot Hasil pengamatan bobot gabah kering per plot beberapa varietas padi gogo dan hasil analisa sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 52 dan 53. Dari hasil analisa sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan varietas (V) berpengaruh nyata terhadap bobot gabah per plot, sedangkan pemberian tanah mineral (T) serta interaksi perlakuan varietas dengan tanah mineral (V x T) tidak berpengaruh nyata terhadap bobot gabah kering per plot.

26 47 Hasil uji beda rataan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) terhadap pengaruh faktor perlakuan Varietas, Tanah Mineral dan Interaksi antara Varietas dan Tanah Mineral terhadap bobot gabah perplot disajikan pada Tabel Tabel Nilai rataan bobot gabah kering per plot Ketebalan Tanah Mineral (T) Perlakuan T0 (0 cm) T1 (5 cm) T2 (10 cm) T3 (15 cm) T4 (20 cm) Rataan... g... V1 (Lokal Siliam) 740,01 646,90 704,60 656,98 739,06 697,51 b V2 (Situ Bagendit) 721,69 657,64 653,43 702,81 667,79 680,67 b V3 (Situ Patenggang) 678,88 776,52 691,38 736,50 713,22 719,30 b V4 (Batutegi) 975, ,39 990,23 945,87 850,32 965,58 a Rataan 778,91 786,86 759,91 760,54 742,59 Keterangan : Angka pada kolom atau baris yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji beda rataan DMRT (Duncan Multiple Range Test) Dari Tabel dapat dilihat bahwa varietas V 4 (Batutegi) berbeda nyata dengan varietas V 3 (Situ Patenggang), V 1 (Lokal Siliam) dan V 2 (Situ Bagendit). Bobot gabah kering per plot pada varietas V4 (Batutegi) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga varietas lainnya berkisar antara 0,26% sampai dengan 0,30%. 4.2 Pembahasan Pengaruh pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo (Oriza sativa L.) Varietas padi gogo berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan seperti tinggi tanaman 4, 6, 8 dan 10 MST dan produksi seperti jumlah anakan pada umur 4, 6, 8 dan 10 MST, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, jumlah gabah berisi per malai jumlah gabah hampa per malai, bobot 1000 gabah berisi, bobot

27 48 kering tajuk tanaman, bobot kering akar tanaman, bobot gabah per malai, bobot gabah kering per rumpun dan bobot gabah per plot. Perlakuan varietas padi gogo memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah tinggi tanaman 4, 6, 8 dan 10 MST. Perlakuan varietas Lokal Siliam memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan tinggi tanaman pada setiap umur amatan dibandingkan dengan varietas Situ Bagendit, varietas Situ Patenggang dan varietas Batutegi. Perlakuan varietas Lokal Siliam pada tanaman padi gogo membantu meningkatkan tinggi tanaman 4, 6, 8 dan 10 MST. Hal ini disebabkan karena varietas Lokal Siliam merupakan salah satu varietas unggul padi gogo yang sudah dilakukan introduksi dari luar negeri dan juga program pemuliaan sehingga dapat lebih unggul dibandingkan dengan varietas lainnya. Selain itu, lamanya fase vegetatif yang dimulai saat berkecambah sampai gabah matang untuk setiap varietas berbeda-beda sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan tinggi tanaman hingga perbedaan umur panen. Balai Penelitian Tanaman Padi (2005), menyatakan bahwa cukup banyak varietas padi gogo yang telah dikenal petani. Sejak tahun , Badan Litbang Pertanian telah berhasil melepas 30 varietas unggul padi gogo, baik hasil pemutihan varietas Lokal Siliam, introduksi dari luar negeri maupun dari program pemuliaan. Balai Penelitian Tanaman Padi (2007), menyatakan bahwa lama fase vegetatif tidak sama untuk setiap varietas sehigga menyebabkan terjadinya perbedaan umur panen, sedangkan fase generatif dan pematangan gabah pada umumnya sama setiap varietas. Perlakuan varietas padi gogo memperlihatkan pengaruh nyata terhadap peubah jumlah anakan 4, 6, 8 dan 10 MST dan jumlah anakan produktif. Perlakuan varietas Situ Bagendit memberikan pengaruh nyata lebih baik

28 49 memperbanyak jumlah anakan pada setiap umur amatan dan jumlah anakan produktif, dibandingkan dengan varietas Lokal Siliam, varietas Situ Patenggang dan varietas Batutegi. Perlakuan varietas Situ Bagendit pada tanaman padi gogo memperbanyak jumlah anakan dan jumlah anakan produktif. Hal ini disebabkan karena lamanya fase vegetatif tidak sama untuk setiap varietas padi gogo sehigga menyebabkan terjadinya perbedaan menunjukkan pengaruh yang berbeda pada jumlah anakan. Dimana pola pertumbuhan tanaman padi ada 3 fase yaitu fase generatif, vegetatif dan fase pematangan gabah. Hal senada dikemukakan oleh Manurung dan Ismunadji (1988), menyatakan bahwa fase generatif ditandai dengan pembentukan anakan yang aktif, bertambah tingginya tanaman dan daun tumbuh secara teratur. Hasil penelitian Iwo dan Obok (2010), menyampaikan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada jumlah hari hingga 50% berbunga, jumlah anakan setelah matang, anakan produktif, biji-bijian/malai dan hasil gabah. FARO 43, FARO 49 dan NERICA-1 telah berbunga 50% pada periode yang sama menunjukkan hasil berbeda secara signifikan (PL.05) dari FARO4 6, yang merupakan genotipe matang awal dan FARO 48, akhir genotipe matang. Penelitian ini senada dengan temuan Imolehin dan Wada (2000), seperti yang dilaporkan Kamura (1956), selain matang awal, kemampuan anakan dan produktivitas padi merupakan parameter yang baik yang mempengaruhi hasil gabah yang positif. FARO 48 memiliki jumlah tertinggi jumlah anakan dan NERICA-1 dan anakan produktif yang paling sedikit. Perlakuan varietas padi gogo memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah jumlah gabah per malai, jumlah gabah berisi per malai dan jumlah gabah hampa per malai. Perlakuan varietas Batutegi memberikan pengaruh nyata lebih baik

29 50 meningkatkan jumlah gabah per malai, jumlah gabah berisi per malai dan jumlah gabah hampa per malai dibandingkan dengan varietas Lokal Siliam, varietas Situ Bagendit dan varietas Situ Patenggang. Manurung dan Ismunadji (1988), menyatakan bahwa lama fase reproduktif dan pematangan gabah dipengaruhi oleh faktor genetik yaitu masing-masing 30 hari. Perlakuan varietas padi gogo memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah bobot 1000 gabah berisi, bobot kering tajuk tanaman, bobot kering akar tanaman, bobot gabah per malai dan bobot gabah per plot. Perlakuan varietas Situ Patenggang memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot 1000 gabah berisi dibandingkan dengan varietas Lokal Siliam, varietas Situ Bagendit dan varietas Batutegi. Perlakuan varietas Lokal Siliam memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot kering akar tanaman dibandingkan dengan varietas Situ Bagendit, varietas Situ Patenggang dan varietas Batutegi. Perlakuan varietas Batutengi memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot gabah per malai, dimana diperoleh perbedaan hasil antara varietas Batutengi dan varietas Lokal Siliam sebesar 35,67%, varietas Batutengi dan varietas Situ Patenggang sebesar 37,03% dan varietas Batutengi dan varietas Situ Bagendit sebesar 50,84%. Perlakuan varietas Batutengi memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot gabah kering per rumpun, dimana diperoleh perbedaan hasil antara varietas Batutengi dan varietas Situ Patenggang sebesar 25,51%, varietas Batutengi dan varietas Lokal Siliam sebesar 27,76% dan varietas Batutengi dan varietas Situ Bagendit sebesar 29,48%. Perlakuan varietas Batutengi memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot gabah per plot, dimana diperoleh perbedaan hasil antara varietas Batutengi dan varietas Situ

30 51 Patenggang sebesar 25,50%, varietas Batutengi dan varietas Lokal Siliam sebesar 27,76% dan varietas Batutengi dan varietas Situ Bagendit sebesar 29,50%. Salah satu upaya meningkatkan produksi padi gogo yaitu melalui penggunaan varietas unggul yang tepat. Hasil penelitian ini, varietas Batutengi lebih baik dibandingkan varietas yang lainnya. Sadimantara (2013), menyampaikan bahwa upaya peningkatan beras nasional melalui pengembangan budidaya padi selain padi sawah perlu dilakukan pengembangan budidaya padi gogo merupakan salah satu alternatif peningkatan produksi padi nasional, mengingat lahan kering yang berpotensi untuk budidaya padi tersebut tersedia cukup Pengaruh perbedaan pertumbuhan dan produksi padi gogo (Oriza sativa L.) akibat ketebalan tanah mineral Pemberian amelioran tanah mineral yang diaplikasikan diatas tanah gambut memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah pertumbuhan dan produksi seperti tinggi tanaman 4 MST, bobot 1000 gabah berisi, bobot kering tajuk tanaman dan bobot kering akar tanaman. Pemberian amelioran tanah mineral memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah tinggi tanaman 4 MST. Dimana ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 10 cm (T 2 ) memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan tinggi tanaman pada umur 4 MST dibandingkan dengan tanpa ketebalan tanah mineral (T 0 ), ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 5 cm (T 1 ), 15 cm (T 3 ) dan 20 cm (T 4 ). Ketebalan tanah mineral membantu meningkatkan tinggi tanaman 4 MST. Ketebalan pada tanah gambut meningkatkan K, Na, Ca, Mg, dan ph H 2 O. Hasil analisis tanah sebelum penelitian dan sesudah penelitian meningkatkan

31 52 kandungan N, C, Ca, Mg, ph (H 2 O), dimana kandungan N sebelum penelitian pada tanah gambut 1,92 % dan setelah penelitian meningkat menjadi 2,00%. Kandungan C sebelum penelitian pada tanah gambut adalah 45,45 % meningkat menjadi 49,35%. Kandungan Ca sebelum penelitian pada tanah gambut adalah 7,19 meningkat menjadi 9,06 sesudah penelitian. Kandungan Mg pada tanah gambut sebelum penelitian adalah 2,97 meningkat menjadi 3,12 sesudah penelitian. Kandungan ph (H 2 O) pada tanah gambut sebelum penelitian adalah 3,73 meningkat menjadi 4,01. Hasil penelitian Nurhayati (2013), menunjukkan bahwa perlakuan amelioran berpengaruh sangat nyata terhadap peubah peningkatan tinggi tanaman umur 4 minggu setelah tanam. Hal senada dikemukakan oleh Zuraida (2013), yang menyatakan bahwa pemberian amelioran pada tanah gambut sangat nyata meningkatkan ph H 2 O, K-dd, Na-dd, Ca-dd, Mgdd dan kejenuhan basa. Ketebalan tanah mineral memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah bobot 1000 gabah berisi. Ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan diatas tanah gambut pada ketebalan 20 cm (T4) memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot 1000 gabah berisi dibandingkan dengan tanpa ketebalan tanah mineral (T 0 ), pemberian amelioran tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 5 cm (T 1 ), 10 cm (T 2 ) dan 15 cm (T 3 ). Ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 20 cm (T 4 ) membantu meningkatkan bobot 1000 gabah berisi. Ketebalan tanah mineral memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah bobot kering tajuk tanaman. Pemberian amelioran tanah mineral yang diaplikasikan diatas tanah gambut pada ketebalan 20 cm (T4) memberikan pengaruh nyata lebih

32 53 baik meningkatkan bobot 1000 gabah berisi dibandingkan dengan tanpa ketebalan tanah mineral memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah bobot kering tajuk tanaman. Tanpa ketebalan tanah mineral (T 0 ) memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot kering tajuk tanaman dibandingkan dengan ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 5 cm (T 1 ), 10 cm (T 2 ), 15 cm (T 3 ) dan 20 cm (T 4 ). Tanpa ketebalan tanah mineral lebih baik untuk meningkatkan bobot kering tajuk tanaman. Ketebalan tanah mineral memperlihatkan pengaruh nyata pada peubah bobot kering akar tanaman. Ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 15 cm (T3) memberikan pengaruh nyata lebih baik meningkatkan bobot kering akar tanaman dibandingkan dengan tanpa ketebalan tanah mineral (T 0 ), ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan di atas tanah gambut pada ketebalan 5 cm (T 1 ), 10 cm (T 2 ) dan 20 cm (T 4 ). ketebalan tanah mineral yang diaplikasikan diatas tanah gambut pada ketebalan 15 cm (T 3 ) membantu meningkatkan bobot kering akar tanaman. Amelioran yang mengandung Al dan Fe sebelum penelitian dan sesudah penelitian mengalami peningkatan, dimana kandungan Al sebelum penelitian adalah 0,22 dan setelah penelitian adalah 0,34. Kandungan Fe sebelum penelitian adalah 2,47 dan setelah penelitian adalah 3,61. Amelioran yang mengandung Fe dan Al ini dapat mengurangi dampak buruk asam fenolat. Subiksa (2009), menyatakan bahwa ameliorasi diperlukan untuk mengatasi kendala reaksi tanah masam dan keberadaan asam organik beracun, sehingga media perakaran tanaman menjadi lebih baik. Amelioran alami yang mengandung kation polivalen (Fe, Al, Cu, dan Zn) seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai sangat efektif

33 54 mengurangi dampak buruk asam fenolat. Subiksa (2009), menyatakan bahwa lahan gambut bersifat sangat masam karena kadar asam-asam organik sangat tinggi dari hasil pelapukan bahan organik. Sebagian dari asam-asam organik tersebut, khususnya golongan asam fenolat, bersifat racun dan menghambat perkembangan akar tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman sangat terganggu. Ameliorasi diperlukan untuk mengatasi kendala reaksi tanah masam dan keberadaan asam organik beracun, sehingga media perakaran tanaman menjadi lebih baik. Efektivitas pengendalian asam-asam fenolat dapat ditingkatkan dengan pemberian amelioran tanah mineral yang berkadar Fe tinggi melalui pembentukan senyawa kompleks organik-fe. Hartatik (2008), menyatakan bahwa untuk meningkatkan efektivitas pengendalian asam-asam fenolat pada gambut maka diperlukan bahan amelioran insitu yang mempunyai kadar Fe, Al dan Cu yang tinggi dan dibuat dalam bentuk formula yang tepat dengan mempertimbangkan jenis asam fenolat yang dominan dalam gambut yang akan diameliorasi. Makarim dan Surtatik (2009), menyatakan bahwa perkembangan perakaran tanaman padi gogo pada umumnya sepanjang lapisan olah (± 18 cm). Dengan demikian pada saat aplikasi tanah mineral pada ketebalan 20 cm (T 4 ) tanaman padi tidak merespon positif sehingga akar tanaman tidak dapat melakukan perkembangan perakaran Pengaruh interaksi antara beberapa varietas padi gogo (Oriza sativa L.) dengan ketebalan tanah mineral pada lahan gambut Pada penelitian ini interaksi antara beberapa varietas padi gogo (Oriza sativa L.) dengan ketebalan tanah mineral pada lahan gambut berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk tanaman dan bobot kering akar tanaman.

34 55 Interaksi perlakuan varietas Lokal Siliam (V 1 ) padi gogo dengan tanpa ketebalan tanah mineral pada lahan gambut (T 0 ) meningkatkan bobot kering tajuk tanaman. Interaksi perlakuan padi gogo varietas Situ Bagendit (V 2 ) dengan ketebalan tanah mineral pada lahan gambut 15 cm (T 3 ) meningkatkan bobot kering akar tanaman. Salah satu upaya meningkatkan produksi padi gogo yaitu melalui penggunaan varietas unggul baru dan amelioran tanah mineral yang tepat merupakan salah satu faktor penentu di dalam meningkatkan produksi pangan. Hal ini sejalan dengan Salampak (1999), menyatakan bahwa pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi. Hartatik (1998), pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi sampai dosis 7,5% serapan maksimum mampu menurunkan konsentrasi asamasam fenolat sekitar 30% dan meningkatkan produksi padi. Ketebalan mineral juga dapat memperkuat ikatan-ikatan kation dan anion sehingga konservasi terhadap unsur hara yang berasal dari pupuk menjadi lebih baik.

35 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Varietas padi gogo (Oriza sativa L.) menunjukkan perbedaan pertumbuhan dan produksi terhadap pertumbuhan dan produksi seperti tinggi tanaman tertinggi pada 4, 6, 8 dan 10 MST dan bobot tajuk tanaman serta bobot akar tanaman tertinggi dijumpai pada varietas lokal Siliam; jumlah anakan terbanyak pada setiap umur amatan dan jumlah anakan produktif terlihat pada varietas Situ Bagendit, jumlah gabah per malai, jumlah gabah berisi per malai, jumlah gabah hampa permalai, bobot gabah per malai, bobot gabah kering per rumpun dan bobot gabah per plot tertinggi terdapat pada varietas Batutegi; sedangkan untuk bobot 1000 gabah berisi tertinggi terdapat pada varietas Situ Patenggang Ketebalan tanah mineral berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo (Oriza sativa L.). Komponen pertumbuhan yang dipengaruhi ketebalan tanah mineral meliputi: tinggi tanaman pada umur 4 MST tertinggi dipengaruhi oleh pemberian tanah mineral T 2 (10 cm); bobot tajuk tanaman tertinggi terdapat pada tanpa pemberian amelioran tanah mineral (T 0 ); bobot akar tertinggi terdapat pada T 3 (15 cm). Untuk komponen produksi pemberian tanah mineral hanya berpenagurh terhadap bobot 1000 gabah berisi dimana pemberian amelioran T 2 (10 cm) memberikan pengaruh tertiggi.

Jurnal Pertanian Tropik E-ISSN No : Vol.4, No.1. April (4) : 40-46

Jurnal Pertanian Tropik E-ISSN No : Vol.4, No.1. April (4) : 40-46 RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS PADI GOGO (Oriza sativa L.) DENGAN KETEBALAN TANAH MINERAL PADA LAHAN GAMBUT Growth and Production Response of Upland Rice (Oryza sativa L.) Varieties

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Laboratorium Agronomi. Waktu penelitian dilakaukan selama ± 4 bulan dimulai

III. MATERI DAN METODE. Laboratorium Agronomi. Waktu penelitian dilakaukan selama ± 4 bulan dimulai III. MATERI DAN METODE 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru Riau Jl. H.R. Soebrantas No.155

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di lahan sawah Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan jenis tanah latosol. Lokasi sawah berada pada ketinggian tempat 230 meter

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. beralamat di Jl. H.R. Soebrantas No. 155 Km 18 Kelurahan Simpang Baru Panam,

III. MATERI DAN METODE. beralamat di Jl. H.R. Soebrantas No. 155 Km 18 Kelurahan Simpang Baru Panam, III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Percobaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikarawang, Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Februari 2011.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 Februari 2010. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di lahan sawah Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

II. BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

II. BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 15 II. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang dilaksanakan terdiri atas dua percobaan yaitu percobaan inkubasi dan percobaan rumah kaca. Percobaan inkubasi beserta analisis tanah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu pelaksanaan penelitian mulai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat 18 BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di kebun percobaan Institut Pertanian Bogor, Sawah Baru Babakan Darmaga, selama 4 bulan, dari bulan Mei-September 2010. Bahan dan Alat Bahan-bahan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Genetika) Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan

III. MATERI DAN METODE. Genetika) Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kasa (Laboratorium Pemuliaan dan Genetika) Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan

BAHAN DAN METODE. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut. Penelitian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan 13 diinduksi toleransi stres dan perlindungan terhadap kerusakan oksidatif karena berbagai tekanan (Sadak dan Mona, 2014). BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Oktober 2014 hingga Maret

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dimulai dari April 2009 sampai Agustus 2009. Penelitian lapang dilakukan di lahan sawah Desa Tanjung Rasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011. Analisis tanah dan hara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang dilakukan terdiri dari (1) pengambilan contoh tanah Podsolik yang dilakukan di daerah Jasinga, (2) analisis tanah awal dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica Gel dan Unsur terhadap Sifat Kimia Tanah Pengaplikasian Electric furnace slag (EF) slag pada tanah gambut yang berasal dari Jambi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang Kecamatan Kampar dengan ketinggian tempat 10 meter di atas permukaan laut selama 5 bulan,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui percobaan rumah kaca. Tanah gambut berasal dari Desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh, Jambi, diambil pada bulan

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor mulai bulan Desember 2009 sampai Agustus 2010. Areal penelitian memiliki topografi datar dengan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor mulai bulan Februari 2009 sampai Juni 2009. Bahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Ketinggian tempat ± 90 m dpl, jenis tanah latosol.

BAB III METODE PENELITIAN Ketinggian tempat ± 90 m dpl, jenis tanah latosol. 14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering di Desa Bojongsari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, dan waktu penelitian ± 4 bulan dimulai dari bulan

Lebih terperinci

II. Materi dan Metode. Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan

II. Materi dan Metode. Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan II. Materi dan Metode 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Benih Induk Hortikultura Pekanbaru. waktu penelitian ini dilaksanakan empat bulan yaitu dari bulan Januari-Mei 2013.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Rumah kaca University Farm, Cikabayan, Dramaga, Bogor. Ketinggian tempat di lahan percobaan adalah 208 m dpl. Pengamatan pascapanen dilakukan

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran 14 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan di Screen House, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), Lembang, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan dari bulan September hingga November 2016.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Y ij = + i + j + ij

BAHAN DAN METODE. Y ij = + i + j + ij 11 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, University Farm IPB Darmaga Bogor pada ketinggian 240 m dpl. Uji kandungan amilosa dilakukan di

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto, Kasihan, Bantul dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari bulan Juni sampai bulan Oktober 2011. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari bulan Juni sampai

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari bulan Juni sampai III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H. R. Soebrantas KM.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Benih Induk Hortikultura Pekanbaru yang dibawahi oleh Dinas Tanaman Pangan Provinsi Riau. Penelitian ini dimulai pada

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan tanah gambut dari Kumpeh, Jambi dilakukan pada bulan Oktober 2011 (Gambar Lampiran 1). Penelitian dilakukan mulai dari bulan Februari

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU

PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU PETUNJUK TEKNIS PENGKAJIAN VARIETAS UNGGUL PADI RAWA PADA 2 TIPE LAHAN RAWA SPESIFIK BENGKULU BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat LU

BAHAN DAN METODE. ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat LU 16 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawahkecamatan medan baru dengan ketinggian tempat 41 m di atas permukaan laut pada titik koordinat 3.331810 LU dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Pelaksanaan 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Pelaksanaan Percobaan dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan, dari bulan April sampai Agustus 2010. Bahan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Laboratorium Analitik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Penelitian ini

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Laboratorium Analitik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Penelitian ini BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian USU dan di Laboratorium Analitik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Penelitian ini

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan dengan titik

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro, 20 III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan STIPER Dharma Wacana Metro, Desa Rejomulyo Kecamatan Metro Selatan Kota Metro dengan ketinggian

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR.

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. 21 PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) tahap, pertama pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. Tahap I. Pengujian Karakter Pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Electric Furnace Slag, Blast Furnace Slag dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah 4.1.1. ph Tanah dan Basa-Basa dapat Dipertukarkan Berdasarkan Tabel 3 dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Faktor kedua adalah jumlah bibit per lubang yang terdiri atas 3 taraf yaitu : 1. 1 bibit (B 1 ) 2. 2 bibit (B 2 ) 3.

BAHAN DAN METODE. Faktor kedua adalah jumlah bibit per lubang yang terdiri atas 3 taraf yaitu : 1. 1 bibit (B 1 ) 2. 2 bibit (B 2 ) 3. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan pembenihan padi Balai Benih Induk Hortikultura Pekanbaru. Waktu penelitian dilakukan selama ± 4 bulan dimulai dari bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan 11 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2012 di Dusun Bandungsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang Balai Penelitian Tanaman Sayuran 1250 m dpl mulai Juni 2011 sampai dengan Agustus 2012. Lembang terletak

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 212 sampai dengan September 212. Penelitian terdiri dari 2 percobaan, yaitu (1) Percobaan inkubasi

Lebih terperinci

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas

TATA CARA PENELTIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas III. TATA CARA PENELTIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian telah dilaksanakan pada Bulan Juli 2016 November

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Y ijk = μ + U i + V j + ε ij + D k + (VD) jk + ε ijk

BAHAN DAN METODE. Y ijk = μ + U i + V j + ε ij + D k + (VD) jk + ε ijk 12 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai Februari-Agustus 2009 dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor. Areal penelitian bertopografi datar dengan jenis tanah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Pengamatan setelah panen dilanjutkan di Laboratorium

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan

Lebih terperinci

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA HUSIN KADERI Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru Jl. Kebun Karet, Loktabat Banjarbaru RINGKASAN Percobaan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanaan di kebun percobaan IPB, Leuwikopo, Dramaga dengan jenis tanah latosol Dramaga. Percobaan dilaksanakan pada tanggal 26 September 2010 sampai dengan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian Fakultas Pertanian Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan

BAB III MATERI DAN METODE. sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan 13 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Materi Penelitian Pelaksanaan penelitian lapang meliputi persiapan pupuk, penanaman sampai panen okra pada Januari 2017 Mei 2017 di lahan percobaan dan Laboratorium Ekologi

Lebih terperinci

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut.

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan dilahan pertanian yang beralamat di Jl. Sukajadi, Desa Tarai Mangun, Kecamatan Tambang, Kampar. Penelitian ini dilakukan bulan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penapisan ketahanan 300 galur padi secara hidroponik 750 ppm Fe. Galur terpilih. Galur terpilih

BAHAN DAN METODE. Penapisan ketahanan 300 galur padi secara hidroponik 750 ppm Fe. Galur terpilih. Galur terpilih BAHAN DAN METODE Ruang Lingkup Penelitian Penelitian tentang penapisan galur-galur padi (Oryza sativa L.) populasi RIL F7 hasil persilangan varietas IR64 dan Hawara Bunar terhadap cekaman besi ini dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penanaman caisim dilaksanakan di lahan kebun percobaan IPB Pasir Sarongge, Cipanas dengan ketinggian tempat 1 124 m dpl, jenis tanah Andosol. Penelitian telah dilaksanakan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

Lebih terperinci

Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat, dengan ketinggian 725 m di atas permukaan laut.

Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat, dengan ketinggian 725 m di atas permukaan laut. 25 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Pelaksanaan percobaan berlangsung di Kebun Percobaan dan Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial.

III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial. III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang sebelumnya dilakukan oleh

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang sebelumnya dilakukan oleh 13 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang sebelumnya dilakukan oleh Anjani (2013) pada musim tanam pertama yang ditanami tanaman tomat,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian di Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, dengan ketinggian tempat 10 m di atas permukaan iaut.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2010 sampai dengan bulan Januari 2011 di lahan sawah yang berlokasi di Desa Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Elevasi/GPS

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Kota Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Kota Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun Kota Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, Secara geografis Kota Sepang Jaya terletak pada koordinat antara 105 15 23 dan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo 26 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Adaptasi Galur Harapan Padi Gogo Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo berpengaruh nyata terhadap elevasi daun umur 60 hst, tinggi tanaman

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian tempat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian tempat Tempat dan Waktu Penelitian BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dilahan Pertanian, Fakultas Pertanian, Medan, dengan ketinggian tempat 25 meter di atas permukaan laut, yang di mulai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan September 2011 di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, IPB Darmaga Bogor. Analisis tanah

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE

III. MATERI DAN METODE III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian dilakukan pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Preparasi Serbuk Simplisia CAF dan RSR Sampel bionutrien yang digunakan adalah simplisia CAF dan RSR. Sampel terlebih dahulu dibersihkan dari pengotor seperti debu dan tanah.

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Urea, TSP, KCl dan pestisida. Alat-alat yang digunakan adalah meteran, parang,

MATERI DAN METODE. Urea, TSP, KCl dan pestisida. Alat-alat yang digunakan adalah meteran, parang, III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada bulan Januari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Bahan Alat Rancangan Percobaan Yijk ijk

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Bahan Alat Rancangan Percobaan Yijk ijk BAHAN DAN METODE 9 Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2007 sampai Juni 2007 di rumah kaca Balai Penelitian Biologi dan Genetika Cimanggu, Bogor, Jawa Barat. Rumah kaca berukuran

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan

BAHAN DAN METODE. penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan III. BAHAN DAN METODE 3.1.Tempat dan Waktu Penelitian penelitian ini dilakukan di Gang Metcu, Desa Guru Singa, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, dan jarak penelitian 15 km dari letak gunung sinabung

Lebih terperinci

SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO

SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO Sutardi, Kristamtini dan Setyorini Widyayanti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta ABSTRAK Luas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE 10 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dan Rumah Kaca Instalasi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija Dinas Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang Medan,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Kelurahan

BAHAN DAN METODE. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Kelurahan III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Kelurahan Simpang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan kering, Desa Gading PlayenGunungkidul Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36,

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36, 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilaksanakan di lahan sawah irigasi Desa Sinar Agung, Kecamatan Pulau Pagung, Kabupaten Tanggamus dari bulan November 2014 sampai April

Lebih terperinci