Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan"

Transkripsi

1 122 Bab IV Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan IV.1 Kondisi/Status Luas Lahan Sawah dan Perubahannya Lahan pertanian secara umum terdiri atas lahan kering (non sawah) dan lahan sawah, khusus lahan sawah yang digunakan untuk pertanian produksi padi di wilayah Jawa Barat masih menjadi produk unggulan dibandingkan dengan usaha lain di Jawa Barat karena sektor pertanian merupakan sektor dominan ketiga terbesar dalam struktur perekonomian Jawa Barat, setelah sektor industri dan perdagangan. Produksi padi merupakan salah satu jenis tanaman bahan makanan dari sektor pertanian tanaman pangan. Sumber daya lahan sawah di Jawa Barat pada tahun 2006 mempunyai luas lahan sawah hektar dan lahan pertanian khususnya lahan sawah di Jawa Barat dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan dengan luas lahan sawah tersebut. Sektor pertanian tanaman pangan Jawa Barat terus berusaha meningkatkan produksi padi dengan berbagai macam cara seperti intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Adapun perubahan data lahan sawah di Jawa Barat pada tahun seperti pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.1 Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah No. Lahan Sawah (Hektar) , , , , , , , , , Jumlah -225,292 Keterangan: (-) : Luas lahan sawah berkurang (+) : Luas lahan sawah bertambah

2 123 Untuk melihat perubahan alih fungsi lahan per tahun dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Data Perubahan Lahan Sawah Jawa Barat ,400,000 Jumlah (Hektar) 1,200,000 1,000, , , , , Lahan Sawah 1,152,074 1,139,699 1,129,209 1,129,019 1,132,558 1,127, , , , , , ,782 Lahan Sawah Gambar IV.1 Grafik Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah Adapun perubahan data lahan sawah berdasarkan jenis lahan sawah di Jawa Barat seperti pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.2 Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah Berdasarkan Jenis Lahan Sawah No. Jenis Lahan Sawah Luas Lahan (Ha) Pengairan Teknis -6,359-1,858-3, ,309-59,964 2 Pengairan 1/2 Teknis +5,155-6,188 +2, ,302-14,800 3 Sederhana PU +5,700-5,180 +2,944 +2,750 +1,150-18,324 4 Sederhana Non PU -2,522 +1, ,442 +7,537-34,153 5 Tadah Hujan -5,600 +4,351-3,445 +7,050-13,232-66,851 6 Pasang Surut Lebak Sementara tidak diusahakan -11, Polder & Lainnya +3,014-2, Jumlah -12,375-10, ,539-5, ,595 Keterangan: (-) : Luas lahan sawah berkurang (+) : Luas lahan sawah bertambah

3 124 Untuk melihat perubahan alih fungsi lahan per tahun dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Perubahan Luas Lahan Sawah Pertanian Jawa Barat Jumlah (hektar) 1,160,000 1,140,000 1,120,000 1,100, Lahan Sawah 1,152,074 1,139,699 1,129,209 1,129,019 1,132,558 1,127,088 Lahan Sawah Gambar IV.2 Grafik Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah Pada tahun lahan sawah di Jawa Barat mengalami pengurangan lahan sawah sebesar hektar dari berbagai jenis lahan sawah yang ada di Jawa Barat. Pada tahun untuk lahan sawah pertanian tanaman pangan juga mengalami pengurangan lahan sebesar hektar penurunan ini lebih kecil dibandingkan dengan pada tahun lahan sawah pertanian mengalami pengurangan lahan sebesar -190 hektar kondisi ini mengakibatkan lahan sawah mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan pertanian. Pada tahun lahan sawah pertanian tanaman pangan mengalami peningkatan lahan sebesar hektar dengan demikian lahan pertanian pada tahun tersebut mengalami penambahan luas lahan sawah. Pada tahun lahan sawah pertanian justru mengalami pengurangan lahan yang sangat besar yaitu sebesar hektar, dengan kondisi seperti ini lahan pertanian tetap mengalami pengurangan dan terjadi alih fungsi lahan sawah lahan non pertanian yang cukup besar.

4 125 Pada tahun telah terjadi perubahan lahan secara sebesar hektar selain karena alih fungsi lahan pertanian juga karena adanya pembentukan wilayah Banten berdasarkan UU no tentang Propinsi Banten maka dengan demikian Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, Kab/Kota Tanggerang dan Kota Cilegon beralih dari Propinsi Jawa Barat ke Propinsi Banten. Berikut data perubahan alih fungsi lahan sawah di Propinsi Jawa Barat tahun : Tabel IV.3 Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah Berdasarkan Jenis Lahan Sawah No. Jenis Lahan Sawah Luas Lahan (Ha) Jumlah Pengairan Teknis -11,590-9,821 +4, ,298 2 Pengairan 1/2 Teknis +7,157 +1,841-1,552-3, ,680 3 Sederhana PU +8,554 +2,008-2,063-6,889 +9, Sederhana Non PU -15,814 +3,387-6,442 +4,649-7,210-54,035 5 Tadah Hujan +4,569 +7,999 +4, ,128-62,982 6 Pasang Surut Lebak Sementara tidak diusahakan ,171 9 Polder & Lainnya , ,880 Jumlah -6,116 +6,718-1,758-6, ,292 Keterangan: (-) : Luas lahan sawah berkurang (+) : Luas lahan sawah bertambah Perubahan alih fungsi lahan per tahun dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Perubahan Luas Lahan Sawah Pertanian Jawa Barat Jumlah (Hektar) 940, , , Lahan Sawah 933, , , , , ,782 Lahan Sawah Gambar IV.3 Grafik Perubahan Alih Fungsi Lahan Sawah

5 126 Pada tahun 2001 luas lahan pertanian di Jawa Barat mengalami pengurangan dibandingkan dengan pada tahun 2000 secara signifikan karena ada pengurangan luas wilayah Jawa Barat dimana terdapat pemekaran wilayah Jawa Barat menjadi Propinsi Banten pada tahun 2000 dengan luas Hektar, dengan demikian perubahan tersebut mengakibatkan luas lahan pertanian yang awalnya terdata sebagai lahan pertanian Jawa Barat sejak tahun 2001 dipisahkan menjadi lahan pertanian Propinsi Banten. Kalau dilihat dari perubahan data dari tahun 2000 ke tahun 2001 lahan pertanian Jawa Barat mengalami pengurangan hektar dan baru sejak tahun 2001 lahan pertanian Jawa Barat setelah dipisahkan dengan Propinsi Banten luas lahan sawah pertanian Jawa Barat dengan luas lahan hektar. Selanjutnya pada tahun luas lahan sawah di Jawa Barat mengalami pengurangan luas lahan pertanian sebesar hektar dan pada tahun luas lahan sawah di Jawa Barat mengalami peningkatan luas lahan pertanian sebesar hektar dengan demikian pengurangan lahan pada tahun sebelumnya dapat dikembalikan pada tahun 2003 untuk lahan pertanian. Pada tahun luas lahan sawah juga mengalami pengurangan sebesar hektar beralih ke lahan non sawah. Pada tahun untuk lahan sawah pertanian tanaman pangan Jawa barat tetap masih mengalami pengurangan hektar, pengurangan lahan sawah ini lebih besar dibandingkan pada tahun sebelumnya. Pada tahun mengalami penambahan luas lahan sawah sebesar 882 hektar dengan demikian saat ini untuk lahan sawah mengalami peningkatan luas lahan meskipun tidak terlalu besar. Maka secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa perubahan alih fungsi lahan sawah ke lahan kering (non sawah) pada tahun mengalami perubahan lahan sawah ke lahan non sawah sebesar hektar. Pengurangan luas lahan sawah di Jawa Barat apabila dilihat mutasi lahan dari tahun maka terjadi mutasi lahan sawah ke lahan non sawah yang cukup besar, dimana

6 127 pengurangan lahan sawah tersebut dipengaruhi oleh keinginan masyarakat untuk membuat kawasan pemukiman, industri dan lainnya di Jawa Barat. Perubahan alih fungsi lahan sawah berdasarkan Kabupaten dan Kota di Jawa Barat dari tahun setelah dilakukan perhitungan berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat terlampir. Perubahan alih fungsi lahan pertanian di kab/kota di Jawa Barat dari tahun yang mengalami pengurangan lahan sawah terbesar terdapat di Kab Bogor sebesar -8,853 hektar adapun kab/kota yang mengalami pengurangan lahan sawah paling sedikit ada di Kabupaten Kuningan sebesar -132 hektar dan Kabupaten Lebak selama (lima) 5 tahun kondisi untuk perubahan untuk lahan sawah tetap. Perubahan lahan sawah tahun di kab/kota yang mengalami perubahan lahan sawah terbesar ada di wilayah Kabupaten Indramayu sebesar -7,965 hektar, dan wilayah yang mengalami perubahan lahan sawah terkecil ada di Kota Bogor yaitu sebesar -32 hektar kecuali kab/kota yang mutasi ke Propinsi banten. IV.2 Status Produksi Padi di Jawa Barat Produksi padi Jawa Barat dari mengalami peningkatan dan penurunan dari setiap tahunnya, untuk melihat produksi padi di Jawa Barat sebagai berikut: Tabel IV.4 Data Produksi Padi Jawa Barat NO. Produksi Padi (Ton) ,722, ,747, ,352, ,213, ,340, ,873, ,237, ,166, ,776, ,602, ,787, ,417,864

7 128 Apabila dilihat berupa grafik produksi padi dari tahun dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Produksi Padi di Jawa Barat tahun Jumlah (Ton) 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000, Produksi Padi (Ton) Gambar IV.4 Grafik Produksi Padi Jawa Barat Data di atas menunjukkan bahwa produksi padi dari tahun yang mengalami produksi padi terbesar terjadi pada tahun 2000 yang mencapai jumlah produksi ton per tahun, produksi padi yang mengalami produksi padi sedikit pada tahun 1998 dengan jumlah produksi ton per tahun. Pada tahun 2000 terjadi pemekaran wilayah Jawa Barat yang menjadi propinsi baru yaitu Propinsi Banten dengan demikian luas lahan pertanian berkurang tentu akan mengurangi produksi padi di Jawa Barat, apabila dilakukan perhitungan berkurangnya produksi padi akibat pemekaran wilayah tersebut sebesar ton. Untuk tahun produksi padi terbesar terjadi pada tahun 2005 yang mencapai jumlah produksi 9,787,217 ton per hektar, dan jumlah produksi yang terkecil terdapat pada tahun 2003 yang hanya mencapai 8,776,889 ton per tahun. Berikut ini perubahan produksi padi dalam setiap tahun dari tahun adalah:

8 129 Tabel IV.5 Data Perubahan Produksi Padi di Jawa Barat No. Produksi Padi (Ton) , , , , , ,635, , , , , ,353 Jumlah -1,304,853 Keterangan: (-) : Produksi padi berkurang (+) : Produksi padi bertambah Apabila dilihat berupa grafik perubahan produksi padi dikaitkan dengan perubahan luas lahan sawah dari tahun sebagai berikut: Data Perubahan Produksi Padi Berdasarkan Luas Lahan Sawah Jawa Barat ,000,000 10,000, Jum lah (Hektar, Ton 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000, Lahan Sawah 1,152,074 1,139,699 1,129,209 1,129,019 1,132,558 1,127, , , , , , ,782 Produksi Padi 10,722,717 10,747,659 10,352,650 10,213,812 10,340,868 10,873,344 9,237,593 9,166,872 8,776,889 9,602,302 9,787,217 9,417,864 Lahan Sawah Produksi Padi Gambar IV.5 Grafik Perubahan Produksi Padi Jawa Barat

9 130 Untuk produksi padi di wilayah kabupaten/kota di Propinsi Jawa Barat nilai hasil produksi sangat bervariasi dalam setiap tahunnya ada peningkatan produksi dan pengurangan produksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah alih fungsi lahan sawah produktif ke lahan kering (non sawah). Adapun peningkatan produksi padi di Jawa Barat dari tahun berdasarkan Kab/Kota di Jawa Barat terlampir. Produksi padi di Jawa Barat apabila dilihat dari kabupaten/kota tahun yang mempunyai peningkatan produksi padi terdapat di Kabupaten Indramayu dengan jumlah ton dan wilayah yang produksi padi berkurang ada di Kabupaten Tanggerang dengan jumlah produksi padi -36,296 ton. Secara keseluruhan dari tahun produksi padi di Jawa Barat meningkat sebesar ton. Produksi padi untuk tahun di Jawa Barat untuk wilayah yang produksi padi meningkat adalah di Kabupaten Cianjur sebesar 104,891 ton. Wilayah yang mengalami pengurangan produksi padi berada di Kabupaten Cirebon dengan produksi padi ton dalam kurun waktu (lima) 5 tahun. Secara keseluruhan dari tahun produksi padi di Jawa Barat mencapai peningkatan sebesar ton. Untuk melihat berapa besar produksi beras di Jawa Barat maka dari produksi padi hasil panen berupa gabah kering panen dikonversikan ke beras, untuk perubahan tersebut akan mengalami penyusutan sebesar 63,2 %. Adapun konversi dari padi ke beras adalah sebagai berikut: Tabel IV.6 Faktor Konversi Padi ke Beras (Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat 2007) No. Uraian A B C D E 1 Padi Gagang Basah Padi Gagang Kering Gabah Basah Gabah Kering Beras

10 131 Maka perhitungan rumus konversi dari padi ke beras yaitu jumlah produksi padi per tahun di Jawa Barat dibagi dengan konversi gabah kering sesuai dengan ketentuan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, apabila ditulis dengan rumus yaitu: Produksi Padi : 63,2% Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus di atas maka diperoleh data hasil konversi produksi padi ke beras dari tahun adalah sebagai berikut: Tabel IV.7 Hasil Konversi Padi Ke Beras No. Produksi Padi (Ton) Produksi Beras (Ton) ,722,717 6,776, ,747,659 6,792, ,352,650 6,542, ,213,812 6,455, ,340,868 6,535, ,873,344 6,871, ,237,593 5,838, ,166,872 5,793, ,776,889 5,546, ,602,302 6,068, ,787,217 6,185, ,417,864 5,952,090 Produksi beras sesuai dengan data di atas menunjukkan bahwa produksi beras dari tahun selalu mengalami perubahan yang bervariasi karena perubahan tersebut dipengaruhi oleh perubahan produksi padi setiap tahun. Perubahan terbesar terjadi pada tahun ini terjadi karena pada tahun tersebut terjadi pemekaran wilayah maka 4 wilayah yang terpisah dari Jawa Barat menjadi propinsi baru akhirnya tidak masuk dalam perhitungan produksi padi pada tahun Apaabila produksi beras ditampilkan dalam bentuk grafik maka dapat di lihat pada gambar sebagai berikut:

11 132 Data Produksi Beras Jawa Barat Jumlah (ton/thn 8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000, Produksi Beras (Ton/Thn) Gambar IV.6 Grafik Jumlah Produksi Padi Jawa Barat Perubahan produksi padi dan beras di Jawa Barat dari tahun dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.8 Data Perubahan Produksi Beras Jawa Barat No Produksi Padi (Ton) Produksi Beras (Ton) , , , , ,838-87, , , , , ,635,751-1,033, ,721-44, , , , , , , , ,431 Jumlah -1,304, ,667 Keterangan: (-) : Produksi padi/beras berkurang (+) : Produksi padi/beras bertambah

12 133 Apaabila perubahan produksi beras ditampilkan dalam bentuk grafik maka dapat di lihat pada gambar sebagai berikut: Data Perubahan Produksi Beras Jawa Barat ,000,000 Jumlah (ton/thn) 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000, ,000,000 1,000, Produksi Beras 6,776,757 6,792,520 6,542,875 6,455,129 6,535,429 6,871,953 5,838,159 5,793,463 5,546,994 6,068,655 6,185,521 5,952,090 Produksi Beras IV.7 Grafik Perubahan Produksi Beras Jawa Barat IV.3 Surplus Beras di Jawa Barat Untuk melihat pengaruh alih fungsi lahan terhadap surplus beras di Jawa Barat maka perlu dilakukan tahapan tahapan untuk melakukan penelitian ini. Adapun tahapan tersebut adalah melihat produksi padi Jawa Barat, perubahan padi ke beras, jumlah penduduk, konsumsi beras terhadap penduduk, kebutuhan beras di Jawa Barat, dan selanjutnya untuk menghitung surplus pangan di Jawa Barat sebagai berikut. a. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk di Jawa Barat dari tahun mengalami peningkatan sementara luas lahan pertanian semakin berkurang dan produksi padi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan penurunan. Untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah peningkatan produksi padi dan penekanan jumlah penduduk setiap tahunnya, sementara jumlah penduduk di Jawa Barat setiap tahun mengalami peningkatan, untuk melihat kondisi jumlah penduduk Jawa Barat dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut:

13 134 Tabel IV.9 Jumlah Penduduk Jawa Barat No. Jumlah Penduduk ,494, ,285, ,206, ,325, ,428, ,552, ,075, ,914, ,980, ,472, ,960, ,737,594 Jumlah 469,435,382 Jumlah penduduk Jawa Barat dari tahun secara keseluruhan mengalami kenaikan jumlah penduduk sebesar jiwa, apabila di rata-rata setiap tahun jumlah penduduk dari tahun setiap tahunnya Jawa Barat mengalami peningkatan penduduk sebesar jiwa/tahun. Dengan kondisi demikian tentu saja produksi padi di Jawa Barat diupayakan mengalami peningkatan karena harus disesuaikan dengan peningkatan jumlah penduduk di Jawa Barat. Apabila data peningkatan penduduk dilihat dalam bentuk grafik adalah seperti gambar sebagai berikut: Data Jumlah Penduduk Jawa Bara Jumlah (Jiwa) 50,000,000 45,000,000 40,000,000 35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000, Jumlah Penduduk Gambar IV.8 Grafik Jumlah Penduduk Jawa Barat

14 135 Perubahan jumlah penduduk di Jawa Barat dari tahun dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.10 Perubahan Jumlah Penduduk Jawa Barat No Jumlah Penduduk ,790, ,921, ,119, ,102, ,124, ,477, , ,065, ,491, , ,725 Jumlah +5,242,765 Rata-rata Keterangan: (-) : Jumlah penduduk berkurang (+) : Jumlah penduduk bertambah Apabila data peningkatan penduduk dilihat dalam bentuk grafik adalah seperti gambar sebagai berikut: Data Perubahan Jumlah Penduduk Jawa Barat Jumlah (Jiwa) 50,000,000 45,000,000 40,000,000 35,000,000 30,000,000 25,000,000 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000, Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk 35,494,829 37,285,131 39,206,787 40,325,820 42,428,584 43,552,923 36,075,355 36,914,883 37,980,422 39,472,185 39,960,869 40,737,594 Gambar IV.9 Grafik Perubahan Jumlah Penduduk Jawa Barat

15 136 b. Kebutuhan Beras Untuk memenuhi kebutuhan beras di Jawa Barat maka konsumsi beras dan jumlah penduduk harus seimbang sesuai dengan kebutuhan beras di Jawa Barat, untuk melihat kebutuhan beras di Jawa Barat adalah jumlah penduduk Jawa Barat dikalikan dengan konsumsi beras. Diketahui bahwa konsumsi beras selalu berubah - ubah dan sesuai dengan ketentuan dari BPS Jawa barat bahwa konsumsi beras tahun adalah 135 Kg/Kapita/, konsumsi beras tahun adalah 120 Kg/Kapita/, dan tahun 2006 adalah Kg/Kapita/ dikurangi 1000 Kg beras, dan dapat ditulis dengan rumus seperti perhitungan dibawah ini: Penduduk X Konsumsi Beras Kg/Kapita/ : 1000 Maka data kebutuhan beras tahun mengalami peningkatan dan penurunan ini terjadi karena jumlah penduduk di Jawa Barat setiap tahun meningkat, adapun data kebutuhan beras Jawa Barat dapat di lihat pada tabel berikut: Tabel IV.11 Data Jumlah Penduduk, Konsumsi Beras dan Kebutuhan Beras Jawa Barat No. Jumlah Penduduk Konsumsi Beras (Kg/Kapita/Thn) Kebutuhan Beras (Ton/Thn) ,494, ,791, ,285, ,033, ,206, ,292, ,325, ,443, ,428, ,727, ,552, ,879, ,075, ,329, ,914, ,429, ,980, ,557, ,472, ,736, ,960, ,795, ,737, ,312,889 Jumlah 469,435,382 59,331,035

16 137 Kebutuhan beras di Jawa Barat dipengaruhi oleh jumlah penduduk setiap tahun, semakin meningkat jumlah penduduk maka kebutuhan dan konsumsi beras di Jawa Barat akan meningkat. Untuk melihat kebutuhan beras di Jawa Barat dari tahun disajikan dalam bentuk gambar berupa grafik maka dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Data Kebutuhan Beras Jawa Barat ,000,000 6,000,000 Jumlah (Ton/Thn) 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000, Kebutuhan Beras (Ton/Thn) Gambar IV.10 Grafik Kebutuhan Beras Jawa Barat Perubahan kebutuhan beras di Jawa Barat dari tahun dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.12 Data Perubahan Kebutuhan Beras Jawa Barat No Perubahan Kebutuhan Beras , , , , , ,550, , , , , ,415 Jumlah -478,913

17 138 Untuk melihat perubahan kebutuhan beras di Jawa Barat dari tahun disajikan dalam bentuk gambar berupa grafik maka dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Data Perubahan Kebutuhan Beras Jawa Barat Ju m lah ( Ton/Thn) 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000, Kebutuhan Beras 4,791,802 5,033,493 5,292,916 5,443,986 5,727,859 5,879,645 4,329,043 4,429,786 4,557,651 4,736,662 4,795,304 4,312,889 Kebutuhan Beras Gambar IV.11 Grafik Perubahan Kebutuhan Beras Jawa Barat c. Surplus Pangan Untuk melihat keadaan kebutuhan beras apakah mengalami surplus pangan atau tidak di Jawa Barat dapat dilakukan dengan cara melakukan perhitungan yaitu jumlah produksi beras di Jawa Barat dikurangi dengan kebutuhan beras yang ada pada setiap tahunnya, apabila ditulis dengan rumus sebagai berikut: Produksi Beras Kebutuhan Beras adapun data surplus pangan dari tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini, dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa surplus beras paling besar terjadi pada tahun 1995 dengan surplus beras sebesar ton, namun surplus beras terkecil atau paling sedikit terjadi pada tahun 1999 dimana nilai surplus sebesar ton. Adapun tabel surplus beras dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

18 139 Tabel IV.13 Data Produksi Beras, Kebutuhan Beras dan Surplus Pangan Jawa Barat No. Jumlah Penduduk (Jiwa/Thn) Konsumsi Beras (Kg/Kapita/ Thn) Produksi Beras (Ton/Thn) Kebutuhan Beras (Ton/Thn) Surplus Beras (Ton) ,494, ,776,757 4,791,802 1,984, ,285, ,792,520 5,033,493 1,759, ,206, ,542,875 5,292,916 1,249, ,325, ,455,129 5,443,986 1,011, ,428, ,535,429 5,727, , ,552, ,871,953 5,879, , ,075, ,838,159 4,329,043 1,509, ,914, ,793,463 4,429,786 1,363, ,980, ,546,994 4,557, , ,472, ,068,655 4,736,662 1,331, ,960, ,185,521 4,795,304 1,390, ,737, ,952,090 4,312,889 1,639,201 Jumlah 469,435,382-75,359,545 59,331,035 16,028,510 Rata-rata 39,119,615-6,279,962 4,944,253 1,335,709 Apabila data surplus beras disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: Data Surplus Beras Jawa Barat ,500,000 2,000,000 Jumlah (Ton) 1,500,000 1,000, , Surplus Beras (Ton) Gambar IV.12 Grafik Surplus Beras Jawa Barat

19 140 Sesuai dengan tabel di atas menunjukkan bahwa untuk kebutuhan beras di Jawa Barat masih mengalami surplus beras dari setiap tahunnya, maka Jawa Barat masih dapat menyimpan stok beras dari hasil panen dari petani dari tahun Untuk surplus beras di Jawa Barat tahun 2006 mencapai sekitar 1,639,201 ton dengan kondisi ini untuk tahun 2006 Jawa Barat tidak kekurangan pangan karena stok beras masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jawa Barat. Perubahan kebutuhan beras di Jawa Barat dari tahun dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel IV.14 Data Perubahan Surplus Pangan Jawa Barat No Perubahan Surplus Beras , , , , , , , , , , ,984 Jumlah -345,754 Data perubahan surplus beras di atas menunjukkan bahwa hampir setiap tahun Jawa Barat mengalami pengurangan surplus beras dengan demikian dapat disimpulkan kondisi ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang terus meningkat akhirnya kebutuhan beras terus meningkat dan setiap tahun produksi padi mengalami pengurangan. Dari tahun yang mengalami peningkatan surplus padi terjadi pada tahun , dan tahun namun yang mengalami peningkatan

20 141 paling besar terjdi pada tahun dengan jumlah surplus beras sebesar ton. Apabila disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar dibawah ini sebagai berikut: Data Perubahan Surplus Beras Jawa Barat ,500,000 2,000,000 Ju m lah ( Ton) 1,500,000 1,000, , Surplus Beras 1,984,955 1,759,027 1,249,959 1,011, , ,308 1,509,116 1,363, ,343 1,331,993 1,390,217 1,639,201 Surplus Beras Gambar IV.13 Grafik Perubahan Surplus Beras Jawa Barat Berdasarkan data uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lahan pertanian yang ada di Jawa Barat terutama lahan produktif mengalami pengurangan setiap tahun ini dapat menjadi pengaruh terhadap produksi padi yaitu berkurangnya produktivitas untuk di wilayah Jawa Barat dengan demikian akan mempengaruhi tidak stabilnya ketahanan pangan dimasa yang akan datang. IV.4 Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan Perubahan alih fungsi lahan sawah di Jawa Barat dari tahun dan produksi padi semakin lama semakin menurun, ini terbukti dengan perubahan luas lahan sawah menjadi lahan non sawah, perubahan tersebut karena disebabkan karena adanya desakan dari masyarakat yang ingin membuka pemukiman baru sebagai tempat tinggal, adanya kawasan industri, pengembangan sarana dan prasarana, perkebunan dan lainnya, maka perubahan tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

21 142 Data Luas Lahan Sawah, Luas Panen dan Produksi Padi di Jawa Barat ,000,000 10,000,000 Jum lah (Ton) 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000, Luas Lahan Sawah (Ha) 1,152,074 1,139,699 1,129,209 1,129,019 1,132,558 1,127, , , , , , ,782 Luas Panen (Ha) 2,125,666 2,118,956 2,040,680 2,182,996 2,186,165 2,206,929 1,866,069 1,792,320 1,664,386 1,880,142 1,894,796 1,798,247 Produksi (Ton) 10,722,71710,747,659 10,352,65010,213,81210,340,868 10,873,344 9,237,593 9,166,872 8,776,889 9,602,302 9,787,217 9,417,864 Luas Lahan Sawah (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Gambar IV.14 Grafik Lahan Sawah, Luas Panen dan Produksi Padi Jawa Barat Maka berkurangnya produksi padi selain disebabkan oleh produktivitas pertanian disebabkan adanya berkurangnya lahan sawah menjadi lahan non sawah, untuk melihat pengaruh alih fungsi lahan sawah terhadap produksi padi di Jawa Barat tahun dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel IV.15 Data Alih Fungsi Lahan terhadap Produksi Padi Jawa Barat No. Luas Lahan Sawah (Ha) Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produktivitas (Kuintal/Ha) Produksi (Ton) ,152,074 2,218,166 2,125, ,722, ,139,699 2,208,227 2,118, ,747, ,129,209 2,162,433 2,040, ,352, ,129,019 2,313,072 2,182, ,213, ,132,558 2,307,444 2,186, ,340, ,127,088 2,326,946 2,206, ,873, ,493 1,939,307 1,866, ,237, ,377 1,923,797 1,792, ,166, ,095 1,787,027 1,664, ,776, ,337 2,013,571 1,880, ,602, ,900 1,968,788 1,894, ,787, ,782 1,940,876 1,798, ,417,864 Jumlah 12,389,631 25,109,654 23,757, ,239,787 Rata-rata 1,032,469 2,092,471 1,979, ,936,649

22 143 Berdasarkan data di atas dilihat dari perubahan alih fungsi lahan pertanian dari tahun dilihat dari perubahan fungsi lahan mengalami perubahan dan pada produksi padi dari tahun ke tahun juga ada pengaruh terhadap perubahan alih fungsi lahan di Jawa Barat. Maka untuk perubahan alih fungsi lahan sawah pertanian tanaman pangan di Jawa Barat dari tahun mengalami pengurangan lahan sawah menjadi lahan non sawah sebesar -225,292 dan berpengaruh terhadap produksi padi akhirnya produksi padi mengalami penurunan produksi sebesar -1,304,853 ton dalam jangka waktu 11 tahun, meskipun berkurangnya produksi padi disebabkan oleh adanya alih fungsi lahan juga disebabkan oleh produktivitas pertanian karena 2 variabel ini sangat mempengaruhi terhadap produksi padi. Apabila lahan sawah di Jawa Barat tidak mengalami perubahan alih fungsi lahan yang setiap tahun, maka produksi padi pada tahun tentunya akan meningkatkan produksi padi lebih banyak dari jumlah produksi padi yang didapat saat ini meskipun terjadi mutasi lahan pertanian. Alih fungsi lahan mudah terjadi karena kebutuhan masyarakat untuk kegiatan industri, pemukiman dan sarana infrastruktur, selain itu karena kecilnya penghasilan, kecilnya harga jual padi dan beras yang didapat petani akhirnya petani atau penduduk petani dengan mudahnya beralih ke sektor lainnya dengan cara menjual lahannya untuk beralih ke pekerjaan lain, juga karena masyarakat sedikit demi sedikit telah meninggalkan budaya tani dan pewarisan ke pemuda tani, serta kurangnya peran pemerintah untuk memperhatikan petani yang mempunyai lahan sawah. Untuk mengatasi hal tersebut di atas agar penduduk petani tetap mempertahankan kehidupannya sebagai petani maka penyelesaiannya dapat dilakukan yaitu memperbaiki kehidupan petani dengan cara meningkatkan pendapatan petani, dengan kegiatannya antara lain pemerintah dapat meningkatkan harga jual produksi beras, mempermudah akses petani, adanya subsidi pupuk bagi petani dan

23 144 pemberian insentif bagi petani yang mampu mempertahankan lahan sawah khususnya di pengairan irigasi, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan penghasilan para petani dan akhirnya petani tidak akan beralih pekerjaan lain. Pada tahun 2006 untuk produksi beras di Jawa Barat tidak semua wilayah mengalami ketersediaan pangan beras ini menunjukkan tidak semua wilayah di Jawa Barat mengalami surplus beras untuk menjaga agar setiap rumah tangga cukup pangan maka aspek distribusi antar wilayah seperti infrastruktur harus baik. Berikut data yang menunjukkan wilayah yang mengalami surplus beras dan tidak surplus beras adalah sebagai berikut: Tabel IV.16 Ketersediaan Beras Berdasarkan kab/kota di Jawa Barat 2006 NO KAB/KOTA PRODUKSI BERAS KEBUTUHAN BERAS KETERSEDIAAN BERAS (+/-) 1 BEKASI 318, , ,880 2 KARAWANG 613, , ,810 3 PURWAKARTA 120,575 83, ,488 4 SUBANG 580, , ,444 5 BOGOR 257, , ,573 6 SUKABUMI 433, , ,271 7 CIANJUR 435, , ,478 8 BANDUNG 352, , ,103 9 SUMEDANG 243, , , GARUT 386, , , TASIKMALAYA 359, , , CIAMIS 344, , , CIREBON 236, , , KUNINGAN 195, , , MAJALENGKA 321, , , INDRAMAYU 651, , , KOTA BOGOR 4,806 90,608-85, KOTA SUKABUMI 13,220 31,194-17, KOTA BANDUNG 10, , , KOTA CIREBON 1,615 30,211-28, KOTA BEKASI 3, , , KOTA DEPOK 3, , , KOTA TASIKMALAYA 40,105 64,629-24, KOTA BANJAR 21,125 18,751 +2, KOTA CIMAHI 1,773 53,597-51,823

24 145 Berdasarkan data di atas menujukkan bahwa ada beberapa wilayah yang masih kekurangan tersedianya kebutuhan beras adapun wilayah tersebut adalah Kabupaten Bogor, Bandung, Kota Bogor, Bandung, Sukabumi, Cirebon, Bekasi, Depok, Tasikmalaya dan Cimahi. Selain data wilayah tersebut merupakan wilayah yang masih cukup ketersediaan pangan untuk produksi beras. Dengan demikian apabila kondisi ini tidak segera diperhatikan keterkaitannya dengan produksi beras sebagai komoditi unggulan maka akan mengancam pada ketahanan pangan di Jawa Barat, karena di setiap wilayah Jawa Barat masih menggantungkan kebutuhan pangan pada konsumsi beras. Secara umum faktor - faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan khususnya produksi beras di Jawa Barat adalah sebagai berikut: 1. Lahan baru sawah yang sangat terbatas di Jawa Barat 2. Adanya konversi lahan atau alih fungsi lahan setiap tahun 3. Belum optimalnya intensifikasi pertanian 4. Peningkatan jumlah penduduk setiap tahun mencapai rata-rata 2 % 5. Produksi padi setiap tahun belum optimal 6. Beras masih menjadi produk unggulan Jawa Barat dan beras masih menjadi konsumsi utama masyarakat Jawa Barat. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian antara lain: 1. Kebutuhan masyarakat akan lahan untuk kegiatan pemukiman, industri dan infrastruktur lainnya 2. Pendapatan sebagai petani sangat rendah sehingga tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarganya. 3. Dukungan dari pemerintah daerah yang kurang memperhatikan nasib para petani sehingga dengan mudahnya petani menjual lahan pertaniannya kepada orang lain. Apabila kendala-kendala yang mempengaruhi ketahanan pangan dilihat berupa alur gambar maka dapat dilihat seperti di bawah ini:

25 146 Lahan Baku Luas Tanam Alih Fungsi Lahan Luas Panen Intensifikasi Pertanian dan Teknologi Pertanian Produks Padi Penduduk Ketahanan Pangan Gambar IV.15 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Jawa Barat Adapun kendala ketahanan pangan dilihat dari aspek indikator indikator ketahanan pangan adalah sebagai berikut: 1. Aspek produksi / ketersediaan bahan pangan daerah : Tingginya alih fungsi lahan sawah Tingginya laju pertumbuhan penduduk ( sekitar 2 % / tahun) Tingginya ketergantungan terhadap produksi dan konsumsi beras Adanya gangguan produksi padi Lambatnya adopsi inovasi petani akibat alih generasi petani tidak berlangsung 2. Aspek distribusi / cadangan pangan daerah : Budaya jual habis sehabis panen, termasuk buruh tani (Pemanen) Keragaman potensi produk antar daerah Semakin tingginya permintaan beras di luar Jawa Barat Sistem perdagangan beras Semakin hilangnya lumbung beras dan cadangan beras bagi keluarga Keterbatasan stok beras di Jawa Barat 3. Aspek keamanan pangan : Pendidikan keluarga tentang keluarga sehat dan norma gizi Transformasi budaya modern dan perilaku manusia yang konsumtif

26 147 Pengawasan dan pengendalian terhadap proses produk, olah hasil dan distribusi Untuk mengatasi hal tersebut maka Jawa Barat membuat program kebijakan tentang ketahanan pangan tahun 2008 dengan harapan dapat masyarakat dapat mencukupi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraan penduduk Jawa Barat. Adapun program kebijakan ketahanan pangan adalah: Pengendalian tingkat kerawanan pangan masyarakat Peningkatan keragaman konsumsi, kualitas dan menurunnya ketergantungan pada pangan pokok beras serta ketersediaannya sepanjang tahun Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi pangan yang beragam, bergizi dan berimbang Apabila dilihat dari sektor pertanian maka posisi Jawa Barat terhadap ketahanan pangan di Indonesia sangat penting, seperti dalam gambar sebagai berikut: NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA : Indonesia merupakan negara agraris SDA mendukung sektor pertanian Sektor pertanian dalam PDB sebesar 13,29 % (tahun 2006) Tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 43 % PROPINSI BANTEN PROPINSI Kab. Bekasi DKI Kota Bekasi Kab. Karawang Kota Depok Kab. Indramayu Kab. Subang Kota Bogor Kab. Bogor Kab. Purwakarta Kab. Cirebon Kota Cirebon Kab. Sumedang Kab. Majalengka Kota Cimahi Kota Bandung Kota Sukabumi Kab. Kuningan Kab. Sukabumi Kab. Bandung PROPINSI Kab. Cianjur JAWA TENGAH Kota Tasikmalaya Kota Banjar Kab. Garut Kab. Tasikmalaya Kab. Ciamis KONTRIBUSI JAWA BARAT DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL : Propinsi dengan jumlah penduduk terbesar di indonesia (18 %) Jawa Barat sebagai kontributor beras terbesar di Indonesia (17,84 %) Beras sebagai komoditi unggulan Jawa Barat Jawa barat penghasil kualitas beras terbaik (Beras Cianjur, Sumedang, Setra, Jembar) Gambar III.16 Wilayah Indonesia dan Propinsi Jawa Barat

27 148 Dengan demikian beras merupakan komoditi unggulan Jawa Barat dan sebagai penghasil kualitas beras terbaik, beras juga dapat memberikan nilai tambah petani seperti nilai tambah ekonomi, sosial budaya dan keamanan pangan, serta dapat meningkatkan daya beli petani. Dalam hal ini pemerintah dalam Inpres No tentang kebijakan perberasan, maka instruksi tentang beras dalam hal penjabaran dari Inpres tersebut dalam hal kebijakan non harga adalah: 1. Mendorong dan memfasilitasi penggunaan benih padi unggul-bersertifikat 2. Mendorong dan memfasilitasi penggunaan pupuk berimbang dalam usaha tani padi 3. Mendorong dan memfasilitasi pengurangan kehilangan pasca-panen padi 4. Memfasilitasi pengurangan penurunan luas lahan beririgasi teknis 5. Memfasilitasi rehabilitasi lahan dan penghijauan daerah tangkapan air dan rehabilitasi jaringan irigasi utama Dalam upaya mempertahankan dan mencapai swasembada pangan, khususnya beras banyak hal yang harus dihadapi, antar lain: 1. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini menuntut penyediaan bahan makanan yang lebih banyak dengan mutu yang lebih baik. 2. Semakin luasnya lahan pertanian produktif yang beralih fungsi menjadi areal pemukiman, kawasan industri, jalan maupun kawasan olahraga dan wisata. Dukungan infrastruktur yang baik, membuat harga lahan meningkat pesat dan mendorong terjadinya pelapasan aset tanah oleh keluarga petani, akibat nilai tambah usaha tani yang masih rendah dan kalah bersaing dengan usaha lainnya. 3. Semakin menurunkan tingkat kesuburan tanah, baik fisika, kimia, maupun biologi, sehingga memerlukan upaya konservasi dan penerapan inovasi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan unsur-unsur annorganik.

28 Pada sebagian wilayah dan peroide waktu tertentu, telah dirasakan kekurangan tenaga kerja pertanian, baik akibat pola distribusi kesempatan kerja yang belum merata dan sangat fluktuatif seiring dengan musim tanam, ataupun akibat semakin tidak menariknya bidang usaha tani sebagai lapangan pekerjaan yang layak, sehingga sebagian tenaga kerja di pedesaan beralih kepada sektor lain seperti industri, jasa maupun sektor informal lainnya. 5. Kualitas sistem irigasi yang ada cenderung menurun 6. Semakin sempitnya rata-rata pemilikan dan penguasaan lahan usaha tani. 7. Semakin tidak berimbangnya kenaikan nilai tukar produk-produk pertanian dengan kenaikan harga input produksi, baik sarana produksi maupun tuntutan upah tenaga kerja. Dengan demikian kebutuhan pangan khususnya beras masih menjadi sesuatu yang penting untuk kebutuhan masyarakat Jawa Barat. Para petani Jawa Barat saat ini masih sebagai petani subsisten dimana petani dari hasil produksi padi hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja, ini terlihat sebagian besar petani hanya memiliki lahan yang sangat terbatas yaitu 0,25 Ha setiap petani, padahal idealnya setiap rumah tangga petani memiliki lahan 2 Ha. maka pengendalian alih fungsi lahan harus dipertahankan dan penyelesaian / solusinya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Pengembangan sistem informasi pertanahan pertanian yang handal dan aktual, mendorong pemanfaatan lahan produktif yang terlantarkan dan menekan laju alih fungsi lahan pertanian produktif dan daerah aliran sungai. Meningkatkan optimasilasi lahan pertanian Penetapan, penegasan dan penegakan hukum bagi tersedianya lahan pertanian abadi dengan fasilitas infrastruktur yang memadai khususnya di daerah pedesaan, berupa irigasi, jalan desa, listrik, air bersih, telepon dan ifrastruktur pesisir dan pulau kecil serta terpencil Pemberian intensif bagi petani yang mampu mempertahankan lahan sawah. Peningkatan mutu intensifikasi pertanian

29 150 Penyebaran teknologi pertanian tepat guna, spesifik lokasi dan berwawasan lingkungan. Meningkatkan optimasilasi lahan dengan pola produksi terpadu melalui produksi unggulan. Menciptakan budaya tani dengan peningkatan program penyuluhan pertanian. Diversifikasi pangan untuk melepaskan ketergantungan pangan. Penggalakan sistem alih teknologi melalui sekolah lapang yang berbasis teknologi tepat guna bagi petani. Perbaikan kesejahteraan petani dan pengentasan kemiskinan serta penanggulangan pengagguran melalui pengembangan agribisnis/ogroindustri pedesaan. Pendidikan pertanian untuk meningkatkan minat belajar pertanian dalam hal Iptek pertanian dan teknologi dalam bidang pertanian. Untuk meningkatkan pendapatan petani diusulkan perlu adanya pengelolaan lahan pertanian yang dikelola oleh petani misalnya melalui koperasi petani yang berbadan hukum dengan demikian diharapkan konversi lahan pertanian akan berkurang dan diupayakan dapat meningkatkan pendapatan petani dipedesaan. Peningkatan alat teknologi pertanian disetiap daerah di Jawa Barat. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani di pedesaan dan masyarakat pesisir perlu dikembangkan melalui pengembangan pertanian kawasan pesisir atau pedesaan.

Bab V Analisis, Kesimpulan dan Saran

Bab V Analisis, Kesimpulan dan Saran 151 Bab V Analisis, Kesimpulan dan Saran V.1 Analisis V.1.1 Analisis Alih Fungsi Lahan Terhadap Produksi Padi Dalam analisis alih fungsi lahan sawah terhadap ketahanan pangan dibatasi pada tanaman pangan

Lebih terperinci

diterangkan oleh variabel lain di luar model. Adjusted R-squared yang bernilai 79,8%

diterangkan oleh variabel lain di luar model. Adjusted R-squared yang bernilai 79,8% VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah Irigasi Teknis di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh pada Tabel 16 menunjukkan bahwa model yang

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 5.1. Kondisi Geografis V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 Lintang Selatan dan 104 o 48-108 o 48 Bujur Timur, dengan batas wilayah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri.

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Jawa merupakan wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan industri. Seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas perekonomian di suatu wilayah akan menyebabkan semakin

Lebih terperinci

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Di lihat dari sisi ekonomi, lahan merupakan input

Lebih terperinci

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN Pada tahun 2009, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian melakukan kegiatan analisis dan kajian secara spesifik tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dan pengurangan kemiskinan yang absolut (Todaro, 2000).

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dan pengurangan kemiskinan yang absolut (Todaro, 2000). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental dan lembaga termasuk pula percepatan/akselerasi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda. perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda. perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian merupakan basis utama perekonomian nasional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kemampuan sektor pertanian dalam

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kemampuan sektor pertanian dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian, dimana pertanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dari

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. keterampilan para petani dan petugas melalui sekolah lapangan serta pelatihan pemandu (PL I, PL II, PL III).

KATA PENGANTAR. keterampilan para petani dan petugas melalui sekolah lapangan serta pelatihan pemandu (PL I, PL II, PL III). KATA PENGANTAR Kegiatan SL-PTT merupakan fokus utama program yang dilaksanakan dalam upaya mendorong terjadinya peningkatan produktivitas padi. Kegiatan ini dilaksanakan secara serempak secara nasional

Lebih terperinci

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN

POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN POLITIK KETAHANAN PANGAN MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN Emlan Fauzi Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai sekitar 220

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM, KONDISI FISKAL, KEMISKINAN, DAN KETAHANAN PANGAN DI JAWA BARAT

V. GAMBARAN UMUM, KONDISI FISKAL, KEMISKINAN, DAN KETAHANAN PANGAN DI JAWA BARAT V. GAMBARAN UMUM, KONDISI FISKAL, KEMISKINAN, DAN KETAHANAN PANGAN DI JAWA BARAT 5.1. Kondisi Wilayah Provinsi Jawa Barat Jawa Barat merupakan provinsi yang dibentuk pertama kali di wilayah Indonesia (staatblad

Lebih terperinci

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT 5.1. PDRB Antar Kabupaten/ Kota eranan ekonomi wilayah kabupaten/kota terhadap perekonomian Jawa Barat setiap tahunnya dapat tergambarkan dari salah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam

I. PENDAHULUAN. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, sehingga sering disebut sebagai negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan

Lebih terperinci

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT 5.1. PDRB Antar Kabupaten/ Kota oda perekonomian yang bergulir di Jawa Barat, selama tahun 2007 merupakan tolak ukur keberhasilan pembangunan Jabar.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sumber pangan utama penduduk Indonesia. Jumlah penduduk yang semakin

I. PENDAHULUAN. sumber pangan utama penduduk Indonesia. Jumlah penduduk yang semakin I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan khususnya tanaman padi. Beras sebagai salah satu sumber pangan utama

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Tahun. Pusat Statistik 2011.htpp://www.BPS.go.id/ind/pdffiles/pdf [Diakses Tanggal 9 Juli 2011]

BAB I. PENDAHULUAN. Tahun. Pusat Statistik 2011.htpp://www.BPS.go.id/ind/pdffiles/pdf [Diakses Tanggal 9 Juli 2011] BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sumber mata pencaharian masyarakat Indonesia. Sektor pertanian yang meliputi pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan kegiatan

Lebih terperinci

SATU DATA PEMBANGUNAN JAWA BARAT PUSAT DATA DAN ANALISA PEMBANGUNAN (PUSDALISBANG) DAFTAR ISI DAFTAR ISI

SATU DATA PEMBANGUNAN JAWA BARAT PUSAT DATA DAN ANALISA PEMBANGUNAN (PUSDALISBANG) DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI...... i 1. GEOGRAFI Tabel : 1.01 Luas Wilayah Provinsi Jawa Barat Dan Kabupaten/Kota... 1 Tabel : 1.02 Jumlah Kecamatan Dan Desa Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011... 2 2. KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Upaya mewujudkan pembangunan pertanian tidak terlepas dari berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. Upaya mewujudkan pembangunan pertanian tidak terlepas dari berbagai macam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya mewujudkan pembangunan pertanian tidak terlepas dari berbagai macam masalah yang dihadapi pada saat ini. Masalah pertama yaitu kemampuan lahan pertanian kita

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Laju 2008 % 2009 % 2010* % (%) Pertanian, Peternakan,

I PENDAHULUAN. Laju 2008 % 2009 % 2010* % (%) Pertanian, Peternakan, I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan permasalahan yang banyak dihadapi oleh setiap negara di dunia. Sektor pertanian salah satu sektor lapangan usaha yang selalu diindentikan dengan kemiskinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan sandang dan papan. Pangan sebagai kebutuhan pokok bagi kehidupan umat manusia merupakan penyedia

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan pembangunan di Indonesia telah sejak lama mengedepankan peningkatan sektor pertanian. Demikian pula visi pembangunan pertanian tahun 2005 2009 didasarkan pada tujuan pembangunan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1 Kesimpulan Kabupaten karawang sebagai lumbung padi mempunyai peran penting dalam menjaga swasembada beras nasional tentunya demi menjaga swasembada beras nasional

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah dan desentralisasi yang efektif berlaku sejak tahun 2001

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah dan desentralisasi yang efektif berlaku sejak tahun 2001 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Otonomi daerah dan desentralisasi yang efektif berlaku sejak tahun 2001 merupakan awal pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Otonomi daerah

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Geografis dan Administratif Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 0 50 7 0 50 Lintang Selatan dan 104 0 48 108 0 48 Bujur Timur, dengan batas-batas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam

I. PENDAHULUAN. bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Pembangunan pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS)

PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS) BAB II PENCAPAIAN SURPLUS 10 JUTA TON BERAS PADA TAHUN 2014 DENGAN PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM (SYSTEM DYNAMICS) Agung Prabowo, Hendriadi A, Hermanto, Yudhistira N, Agus Somantri, Nurjaman dan Zuziana S

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan pangan, pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi beras perkapita per tahun

I. PENDAHULUAN. yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi beras perkapita per tahun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan luas lahan yang sangat luas dan keanekaragaman hayati yang sangat beragam, memungkinkan Indonesia menjadi negara agraris terbesar

Lebih terperinci

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Geografis Wilayah Provinsi Jawa Barat Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak antara 5 54' - 7 45' LS dan 106 22' - 108 50 BT dengan areal seluas 37.034,95

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan pemerintah daerah, baik ditingkat propinsi maupun tingkat

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan pemerintah daerah, baik ditingkat propinsi maupun tingkat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pengelolaan pemerintah daerah, baik ditingkat propinsi maupun tingkat kabupaten dan kota memasuki era baru sejalan dengan dikeluarkannya UU No. 32 Tahun 2004

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Permalan mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan, untuk perlunya dilakukan tindakan atau tidak, karena peramalan adalah prakiraan atau memprediksi peristiwa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik material maupun spiritual. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik material maupun spiritual. Untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan nasional merupakan salah satu kegiatan pemerintah Indonesia yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan

Lebih terperinci

Katalog BPS

Katalog BPS Katalog BPS. 5214.32 PRODUKSI TANAMAN PADI DAN PALAWIJA JAWA BARAT TAHUN 2010-2014 ISSN: - Nomor Publikasi: 32.530.15.01 Katalog BPS: 5214.32 Ukuran Buku: 19 cm x 28 cm Jumlah Halaman: vii + 71 halaman

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sub sektor pertanian tanaman pangan memiliki peranan sebagai penyedia bahan pangan bagi penduduk Indonesia yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan pertambahan

Lebih terperinci

7. Pencapaian Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi

7. Pencapaian Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi 7. Pencapaian Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Komoditi padi sebagai bahan konsumsi pangan pokok masyarakat, tentunya telah diletakkan sebagai prioritas dan fokus kegiatan program

Lebih terperinci

ARAHAN PERENCANAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN SOPPENG. Maswirahmah Fasilitator PPSP Kabupaten Soppeng

ARAHAN PERENCANAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN SOPPENG. Maswirahmah Fasilitator PPSP Kabupaten Soppeng ARAHAN PERENCANAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN SOPPENG Maswirahmah Fasilitator PPSP Kabupaten Soppeng wiwifadly@gmail.com ABSTRAK Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah enganalisis dan

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti: PROPOSAL PENELITIAN TA. 2015 POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN BUKAN SAWAH Tim Peneliti: Bambang Irawan PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN

Lebih terperinci

DIPA BADAN URUSAN ADMINISTRASI TAHUN ANGGARAN 2014

DIPA BADAN URUSAN ADMINISTRASI TAHUN ANGGARAN 2014 TOTAL BAES01 JAWA BARAT 129,401,372,000.00 BELANJA PEGAWAI 100,974,521,000.00 BELANJA BARANG OPERASIONAL 8,203,990,000.00 BELANJA BARANG NON OPERASIONAL 2,838,361,000.00 BELANJA MODAL 17,384,500,000.00

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bahan pangan utama berupa beras. Selain itu, lahan sawah juga memiliki

I. PENDAHULUAN. bahan pangan utama berupa beras. Selain itu, lahan sawah juga memiliki 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan sawah memiliki manfaat sebagai media budidaya yang menghasilkan bahan pangan utama berupa beras. Selain itu, lahan sawah juga memiliki manfaat bersifat fungsional

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara Lintang

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara Lintang 56 BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN A. Letak Wilayah dan Luas Wilayah Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 Lintang selatan dan 104 48-108 48 Bujur Timur, dengan luas

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya

PENDAHULUAN. mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya PENDAHULUAN Latar Belakang Padi (Oryza sativa L.) adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan-bahan yang mudah diubah

Lebih terperinci

EVALUASI KETERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI PANGAN RONI KASTAMAN DISAMPAIKAN PADA ACARA DISEMINASI LITBANG BAPEDA KOTA BANDUNG 29 NOPEMBER 2016

EVALUASI KETERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI PANGAN RONI KASTAMAN DISAMPAIKAN PADA ACARA DISEMINASI LITBANG BAPEDA KOTA BANDUNG 29 NOPEMBER 2016 EVALUASI KETERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI PANGAN RONI KASTAMAN DISAMPAIKAN PADA ACARA DISEMINASI LITBANG BAPEDA KOTA BANDUNG 29 NOPEMBER 2016 ISSUE PEMBANGUNAN KOTA PERTUMBUHAN EKONOMI INFLASI PENGANGGURAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN

PEMERINTAH KABUPATEN POTENSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG Lahan Pertanian (Sawah) Luas (km 2 ) Lahan Pertanian (Bukan Sawah) Luas (km 2 ) 1. Irigasi Teknis 15.250 1. Tegal / Kebun 30.735 2. Irigasi Setengah Teknis

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL UU NO 7 TH 1996: Pangan = Makanan Dan Minuman Dari Hasil Pertanian, Ternak, Ikan, sbg produk primer atau olahan Ketersediaan Pangan Nasional (2003)=

Lebih terperinci

pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. pelaksanaan pencapaian ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. 2.2. PENDEKATAN MASALAH Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014 dirumuskan menjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sebagai dasar pembangunan sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian memiliki

I. PENDAHULUAN. sebagai dasar pembangunan sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian memiliki 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang penting dalam pembangunan Indonesia, yaitu sebagai dasar pembangunan sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian memiliki peranan penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan gaya hidup dan tatanan dalam masyarakat saat kini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang memacu perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Kandungan Zat Gizi Komoditas Kedelai. Serat (g) Kedelai Protein (g) Sumber: Prosea 1996 ( Purwono: 2009)

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Kandungan Zat Gizi Komoditas Kedelai. Serat (g) Kedelai Protein (g) Sumber: Prosea 1996 ( Purwono: 2009) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komoditas kedelai merupakan jenis barang yang termasuk ke dalam kebutuhan penting bagi masyarakat Indonesia yaitu sebagai salah satu makanan pangan selain beras,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi masyarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat (Sugiarti, 2003).

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian suatu daerah harus tercermin oleh kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak ketahanan pangan. Selain

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi manfaat tidak saja digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB)

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sawah irigasi sebagai basis usahatani merupakan lahan yang sangat potensial serta menguntungkan untuk kegiatan usaha tani. Dalam satu tahun setidaknya sawah irigasi dapat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2014 BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 46/08/32/Th. XVII, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2014 TAHUN 2014, PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 253.296 TON, CABAI

Lebih terperinci

A. Latar Belakang. ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian

A. Latar Belakang. ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan pertanian dapat memberikan banyak manfaat seperti dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kebutuhan lahan untuk kegiatan nonpertanian cenderung terus meningkat

Lebih terperinci

DATA PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PMA DAN PMDN SE JAWA BARAT PERIODE LAPORAN JANUARI - MARET TAHUN 2017

DATA PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PMA DAN PMDN SE JAWA BARAT PERIODE LAPORAN JANUARI - MARET TAHUN 2017 DATA PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PMA DAN PMDN SE JAWA BARAT PERIODE LAPORAN JANUARI - MARET TAHUN 2017 I. REALISASI INVESTASI PMA & PMDN 1. Total Realisasi Investasi PMA dan PMDN berdasarkan Laporan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah konsumsi beras dan pemenuhannya tetap merupakan agenda

BAB I PENDAHULUAN. Masalah konsumsi beras dan pemenuhannya tetap merupakan agenda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah konsumsi beras dan pemenuhannya tetap merupakan agenda penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Beras merupakan makanan pokok utama penduduk Indonesia

Lebih terperinci

Sosialisasi Undang-Undang 41/2009 beserta Peraturan Perundangan Turunannya

Sosialisasi Undang-Undang 41/2009 beserta Peraturan Perundangan Turunannya Sosialisasi Undang-Undang 41/2009 beserta Peraturan Perundangan Turunannya Latar Belakang Permasalahan yang menghadang Upaya pencapaian 10 juta ton surplus beras di tahun 2014 : Alih fungsi lahan sawah

Lebih terperinci

Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan

Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Organisme Pengangganggu an (OPT) utama yang menyerang padi ada 9 jenis, yaitu : Tikus, Penggerek Batang, Wereng Batang Coklat,

Lebih terperinci

IV.B.13. Urusan Wajib Ketahanan Pangan

IV.B.13. Urusan Wajib Ketahanan Pangan 13. URUSAN KETAHANAN PANGAN Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap manusia untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari guna mempertahankan hidup. Pangan juga merupakan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 36/07/32/Th XIX, 3 Juli PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN NILAI TUKAR PETANI JUNI SEBESAR 104,46 (2012=100) Nilai Tukar Petani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu

I. PENDAHULUAN. pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang kaya dengan ketersediaan pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu padi-padian, umbi-umbian,

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Indeks Kemampuan Keuangan (IKK) Indeks Kemampuan Keuangan (IKK) yang didapatkan dari perhitungan setiap kabupaten/kota di Jawa Barat pada tahu 2015 dibawah ini

Lebih terperinci

DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN.

DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN. DAFTAR ISI DAFTAR ISI.. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN. iv viii xi xii I. PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Perumusan Masalah 9 1.3. Tujuan Penelitian 9 1.4. Manfaat Penelitian 10

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal

I. PENDAHULUAN. Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting perananya dalam Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal tersebut bisa kita lihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam struktur pembangunan perekonomian nasional khususnya daerah-daerah.

BAB I PENDAHULUAN. dalam struktur pembangunan perekonomian nasional khususnya daerah-daerah. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional khususnya daerah-daerah. Sektor pertanian sampai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting karena pertanian berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan. Pangan yang dikonsumsi oleh individu terdapat komponen-komponen

Lebih terperinci

Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (2012)

Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (2012) 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pariwisata adalah salah satu sektor penting yang bisa menunjang pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, mendorong pemerataan pembangunan nasional dan mempercepat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penduduk merupakan suatu hal yang penting karena merupakan modal dasar dalam pembangunan suatu wilayah. Sukirno (2006) mengatakan penduduk dapat menjadi faktor pendorong

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA BARAT

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA BARAT BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA BARAT Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disegala bidang. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang

BAB I PENDAHULUAN. disegala bidang. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang sedang melaksanakan pembangunan disegala bidang. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang diandalkan, karena sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pembangunan pertanian periode dilaksanakan melalui tiga

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pembangunan pertanian periode dilaksanakan melalui tiga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Musyawarah perencanaan pembangunan pertanian merumuskan bahwa kegiatan pembangunan pertanian periode 2005 2009 dilaksanakan melalui tiga program yaitu :

Lebih terperinci

BAB VII PEMBAHASAN. guna membiayai pembangunan pada suatu negara. Pajak merupakan salah satu

BAB VII PEMBAHASAN. guna membiayai pembangunan pada suatu negara. Pajak merupakan salah satu BAB VII PEMBAHASAN 7.1 Pajak Tanah Kewajiban pembayaran pajak merupakan perwujudan partisipasi masyarakat guna membiayai pembangunan pada suatu negara. Pajak merupakan salah satu sumber terbesar dari pemasukan

Lebih terperinci

PRODUKSI PANGAN INDONESIA

PRODUKSI PANGAN INDONESIA 65 PRODUKSI PANGAN INDONESIA Perkembangan Produksi Pangan Saat ini di dunia timbul kekawatiran mengenai keberlanjutan produksi pangan sejalan dengan semakin beralihnya lahan pertanian ke non pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dalam pembangunan pertanian, beras merupakan komoditas yang memegang posisi strategis. Beras dapat disebut komoditas politik karena menguasai hajat hidup rakyat Indonesia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat

Lebih terperinci

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada 47 Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada Abstrak Berdasarkan data resmi BPS, produksi beras tahun 2005 sebesar 31.669.630 ton dan permintaan sebesar 31.653.336 ton, sehingga tahun 2005 terdapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. substitusinya sebagaimana bahan bakar minyak. Selain itu, kekhawatiran global

I. PENDAHULUAN. substitusinya sebagaimana bahan bakar minyak. Selain itu, kekhawatiran global I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Populasi manusia yang meningkat mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia yang tidak terbatas namun kondisi sumberdaya alam terbatas. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan

Lebih terperinci

5. Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan

5. Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan 5. Antisipasi Gangguan Bencana Alam dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Organisme Pengangganggu Tanaman (OPT) utama yang menyerang padi ada 9 jenis, yaitu : Tikus, Penggerek Batang, Wereng Batang

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia adalah negara agraris dimana mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Berbagai hasil pertanian diunggulkan sebagai penguat

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pertambahan penduduk Indonesia setiap tahunnya berimplikasi pada semakin meningkatkan kebutuhan pangan sebagai kebutuhan pokok manusia. Ketiadaan pangan dapat disebabkan oleh

Lebih terperinci

Pada saat ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunan

Pada saat ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunan jangka panjang ke dua (PJP II) dan tahun terakhir pelaksanaan Repelita VI. Selama kurun waktu Pembangunan Jangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Jawa Barat adalah salah satu Provinsi di Indonesia. Provinsi Jawa Barat memiliki luas wilayah daratan 3.710.061,32 hektar, dan Jawa Barat menduduki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai perusahaan penyedia listrik milik pemerintah di tanah air, PT.

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai perusahaan penyedia listrik milik pemerintah di tanah air, PT. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Sebagai perusahaan penyedia listrik milik pemerintah di tanah air, PT. (Persero) Perusahaan Listrik Negara (PLN) berusaha untuk terus meningkatkan kualitas

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN

POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN POTENSI PENGEMBANGAN KEDELAI DI KAWASAN HUTAN Suwarno Asisten Direktur Perum Perhutani Unit 2 PENDAHULUAN Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Unit 2 berdasar Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2010 mendapat

Lebih terperinci

MODAL DASAR PD.BPR/PD.PK HASIL KONSOLIDISASI ATAU MERGER

MODAL DASAR PD.BPR/PD.PK HASIL KONSOLIDISASI ATAU MERGER LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 30 Tahun 2010 TANGGAL : 31 Desember 2010 TENTANG : PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH

Lebih terperinci