BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA"

Transkripsi

1 59 BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA 8.1 Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani adalah dimana petani dihadapkan dalam pemilihan untuk menentukan pilihan apakah akan menerima atau menolak inovasi Prima Tani. Sebagian besar petani di Desa Jatiwangi mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani yaitu sebesar 86,36 persen dan sebesar 13,64 persen tidak mengadopsi. Data ini dapat dilihat pada Tabel 12. Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa baik pada PNKT maupun PKT, sebagian besar petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani, masing-masing sebesar 85,00 persen pada PNKT dan 87,50 pada PKT. Tabel 12. Sebaran Petani Berdasarkan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani di Desa Jatiwangi Respon PNKT PKT Total Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Tidak Mengadopsi 3 15, , ,64 Mengadopsi 17 85, , ,36 Jumlah , , , Hubungan Karakteristik Internal Petani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Keeratan hubungan antara karakteristik internal petani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani disajikan pada Tabel 13.

2 60 Menurut Soekartawi (1988), cepat tidaknya proses adopsi inovasi sangat bergantung dari faktor intern dari adopter itu sendiri. Latar belakang sosial, ekonomi, budaya ataupun politik sangat mempengaruhi cepat atau tidaknya proses adopsi inovasi. Hal penting lain yang mempengaruhi adopsi inovasi adalah umur. Makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman dalam soal adopsi inovasi tersebut. Tabel 13. Hubungan Antara Karakteristik Internal Petani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani di Desa Jatiwangi Karakteristik Jumlah Keputusan adopsi Orang Persentase Tidak Persentase Ya Persentase Umur Tua 15 34,09 1 6, ,33 Sedang 17 38, , ,35 Muda 12 27, , ,33 Pendidikan Rendah 32 72, , ,38 Sedang 11 25,00 1 9, ,91 Tinggi 1 2,27 0 0, ,00 Luas Lahan Garapan Sempit 34 77, , ,24 Sedang 6 13, , ,33 Luas 4 9, , ,00 Rs (Nilai Peluang) 0,219 (0,153) 0,242 (0,113) 0,071 (0,649) Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa pada umur muda, petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani sebesar 83,33 persen sedangkan petani yang tidak sebesar 16,67 persen. Pada umur sedang, persentase petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani adalah sebesar

3 61 82,25 persen sedangkan petani yang tidak adalah sebesar 17,65 persen dan pada umur tua sebesar 93,33 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan sebesar 6,67 persen tidak. Dari Tabel 13 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara umur dengan pengambilan keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,219 dengan nilai peluang sebesar 0,153. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara umur dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara umur dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Menurut Soekartawi (1988), faktor internal petani lain yang dapat mempengaruhi keputusan dalam melaksanakan adopsi inovasi adalah pendidikan. Petani yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Begitu pula sebaliknya petani yang berpendidikan rendah, agak sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat. Tabel 13 menunjukkan bahwa pada tingkat pendidikan rendah, sebesar 84,38 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan sebesar 15,63 persen tidak. Pada tingkat pendidikan sedang, persentase petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani lebih besar yaitu sebesar 90,91 persen dan 9,09 persen tidak, sementara pada tingkat pendidikan tinggi, persentase petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani lebih besar lagi yaitu sebesar 100,00 persen. Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa terbentuk pola hubungan semakin tinggi pendidikan formal maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani, namun dari uji korelasi rank Spearman didapatkan

4 62 nilai korelasi sebesar 0,242 dengan nilai peluang sebesar 0,113. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara pendidikan formal dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara pendidikan formal dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Ini menunjukkan bahwa pendidikan formal petani sebenarnya berhubungan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani tetapi tidak signifikan. Hasil penelitian Yusnadi (1992) menemukan bahwa petani yang mempunyai luas garapan yang lebih sempit kurang responsif untuk menggunakan inovasi. Hal ini disebabkan mereka kurang memiliki kesanggupan dalam hal biaya dan keberanian menanggung resiko dalam menerapkan inovasi. Tabel 13 menunjukkan bahwa pada lahan garapan sempit, petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani sebesar 88,24 persen sementara pada lahan garapan sedang, lebih sedikit sebesar 83,33 persen dan pada luas lahan garapan luas semakin sedikit sebesar 75,00 persen. Dari Tabel 13 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara luas lahan garapan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,071 dengan nilai peluang sebesar 0,649. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara luas lahan garapan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara luas lahan garapan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Luas lahan garapan sebagian besar petani adalah sempit yaitu sebesar 77,27 persen. Luas lahan garapan yang sempit ini disebabkan oleh kondisi alam yang berbukit dan bergelombang. Hal ini

5 63 membuat petani mengalami kesulitan dalam berusahatani. Kesulitan lain yang dihadapi petani diantaranya adalah pengairan yang belum memadai dan serangan hama penyakit tanaman. Kesulitan-kesulitan tersebut membuat petani kurang responsif untuk menggunakan inovasi teknologi pertanian. 8.3 Hubungan Karakteristik Eksternal Petani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Keeratan hubungan antara karakteristik eksternal petani dengan pengambilan keputusan inovasi disajikan pada Tabel 14 dan Tabel 15. Tabel 14 menunjukkan hubungan antara karakteristik eksternal petani (intensitas menghadiri penyuluhan, persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh, persepsi petani terhadap peran penyuluh, dan tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani) dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani dan Tabel 15 menunjukkan hubungan antara karakteristik eksternal petani (tingkat kemudahan mendapatkan bibit/benih, pupuk, dan obat-obatan) dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani. Dalam pelaksanaan Prima Tani diselenggarakan penyuluhan dengan bentuk pertemuan-pertemuan dengan penyuluh, petak percontohan (demplot), dan temu lapang. Setelah mengikuti penyuluhan, petani diharapkan mau mengadopsi Prima Tani. Tabel 14 menunjukkan bahwa pada intensitas menghadiri penyuluhan kategori rendah, sebesar 83,78 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani sementara pada intensitas menghadiri penyuluhan kategori sedang dan tinggi masing-masing sebesar 100,00 persen.

6 64 Tabel 14. Hubungan Antara Karakteristik Eksternal Petani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani di Desa Jatiwangi Karakteristik Jumlah Keputusan Inovasi Rs (Nilai Peluang) Orang Persentase Tidak Persentase Ya Persentase Intensitas petani menghadiri penyuluhan Rendah 37 84, , ,78 Sedang 4 9,09 0 0, ,00 Tinggi 3 6,82 0 0, ,00 Persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh Rendah 5 11, , ,00 Sedang 13 29, , ,23 Tinggi 26 59,09 1 3, ,15 Persepsi petani terhadap peran penyuluh Rendah 13 29, , ,23 Sedang 10 22, , ,00 Tinggi 21 47,73 1 4, ,24 Tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani Tidak pernah 18 40, , ,78 Jarang 4 9, , ,00 Sering 22 50,00 1 4, ,45 Keterangan: * : Nyata ( P< 0,10 ) 0,191 (0,215) 0,287 (0,059)* 0,272 (0,074)* 0,254 (0,096)* Dari Tabel 14 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara intensitas menghadiri penyuluhan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,191 dengan nilai peluang sebesar 0,215. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara intensitas petani menghadiri penyuluhan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara intensitas petani menghadiri penyuluhan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Secara umum petani tidak pernah menghadiri penyuluhan hanya beberapa petani saja yang menghadiri penyuluhan. Petani tersebut adalah petani anggota kelompok tani dan memiliki hubungan kekeluargaan/kekerabatan dengan ketua kelompok tani. Petani yang

7 65 merupakan anggota kelompok tani tetapi tidak memiliki hubungan kekeluargaan/kekerabatan tidak pernah menghadiri penyuluhan karena tidak tahu dan tidak diajak untuk hadir oleh ketua kelompok tani. Hal ini diungkapkan oleh Tatang -petani anggota kelompok tani Sawaluyu- Kalau ada pertemuan penyuluhan, yang diundang hanya keluarga dan kerabatnya saja Apalagi petani yang non kelompok tani, mereka sama sekali tidak pernah menghadiri penyuluhan. Menurut mereka penyuluh hanya mengadakan pertemuan penyuluhan dengan petani-petani anggota kelompok tani saja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Irin -petani di Dusun Bojong- Penyuluh hanya datang pada kelompok tani saja, tidak pernah datang pada petani seperti saya. Rendahnya intensitas petani menghadiri penyuluhan ini menyebabkan petani tidak memiliki cukup informasi untuk mengambil keputusan inovasi Prima Tani. Penyuluhan yang diselenggarakan dalam Prima Tani dimotori oleh penyuluh. Kemampuan dan peran penyuluh sangat penting dalam suksesnya penyelenggaraan penyuluhan dan secara tidak langsung dalam proses pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani. Pada persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh kategori rendah, sebesar 80,00 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sedang sebesar 69,23 persen serta pada kategori tinggi sebesar 96,15 persen. Dari Tabel 14 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani, namun dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,287 dengan nilai peluang sebesar 0,059. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh dengan pengambilan

8 66 keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Walaupun penyuluh hanya mengadakan penyuluhan pada kelompok tertentu saja, sebagian besar petani tetap menganggap penyuluh memiliki kemampuan tinggi terkait dengan tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Menurut petani penyuluh memiliki kemampuan tinggi dalam mengetahui produksi tanaman, mengetahui produksi ternak, dapat menjelaskan suatu teknologi baru sebagai teknologi yang dinilai lebih baik, mengetahui dengan baik potensi sumberdaya wilayah yang menjadi binaannya, memahami kebutuhan petani yang menjadi binaannya, mengetahui budaya masyarakat petani yang menjadi binaannya, dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan petani secara tuntas dan memberi penjelasan yang baik, selalu berpihak kepada petani, selalu beranggapan bahwa petani setara kedudukannya dengan penyuluh, dapat berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami petani, dapat membangun jaringan kerjasama antara petani dengan pihak lain sebagai mitra usaha, dapat mengembangkan usahatani baru secara berkelanjutan, dan selalu mendorong petani untuk mengembangkan kemampuannya. Menurut petani tidak ada hubungan antara intensitas penyuluh melakukan penyuluhan dengan kemampuan yang dimiliki. Alasan petani sederhana, seorang penyuluh tentunya memiliki kemampuan-kemampuan tersebut di atas tetapi belum tentu penyuluh yang memiliki kemampuan itu akan sering melakukan penyuluhan. Pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dilakukan melalui proses sharing informasi, ide, dan pendapat secara informal dari petani lain yang sering

9 67 bertemu dengan penyuluh dalam pertemuan-pertemuan penyuluhan, demplot, dan temu lapang. Pada persepsi petani terhadap peran penyuluh kategori rendah, sebesar 69,23 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sedang sebesar 90,00 persen, serta pada kategori tinggi sebesar 95,24 persen. Dari Tabel 14 dapat dilihat terbentuk pola hubungan semakin tinggi persepsi petani terhadap peran penyuluh maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,272 dengan nilai peluang sebesar 0,074. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara persepsi petani terhadap peran penyuluh dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara persepsi petani terhadap peran penyuluh dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Petani menganggap penyuluh telah berperan tetapi belum bisa menyentuh semua petani di wilayah binaannya disebabkan oleh wilayah binaan yang relatif luas. Luasnya wilayah binaan menjadi kendala utama penyuluh dalam melaksanakan tugasnya. Honor yang diterima penyuluh hanya habis untuk biaya transportasi turun ke wilayah binaan padahal penyuluh memiliki kebutuhan lain yang mau tidak mau harus dipenuhi seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, dan pendidikan untuk anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, penyuluh harus mencari pekerjaan sampingan seperti bertani. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada kinerja penyuluh salah satunya adalah intensitas dalam mengadakan pertemuan dengan penyuluh. Salah satu langkah yang dapat

10 68 dilakukan pemerintah untuk memecahkan masalah tersebut adalah menyediakan atau memberikan kendaraan operasional bagi penyuluh. Menurut petani penyuluh berperan dalam mengidentifikasi permasalahan petani, mengidentifikasi kebutuhan petani, mendorong petani untuk berubah, membangun dan memelihara hubungan dengan lingkungan petani, mendorong petani untuk menerapkan usahatani baru, mendorong petani mengembangkan skala usaha yang lebih luas, mendengarkan permasalahan-permasalahan petani dalam usahatani dan mencari pemecahannya, dan mendatangi petani/kelompok tani untuk melakukan kegiatan penyuluhan. Pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dilakukan melalui proses sharing informasi, ide, dan pendapat secara informal dari petani lain yang sering bertemu dengan penyuluh dalam pertemuan-pertemuan penyuluhan, demplot, dan temu lapang. Tabel 14 menunjukkan bahwa pada tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani kategori tidak pernah, sebesar 77,78 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori jarang sebesar 75,00 persen, sementara pada kategori sering sebesar 95,45 persen. Dari Tabel 14 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara tingkat aktifitas dalam kelompok tani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani, namun dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,254 dengan nilai peluang sebesar 0,096. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat

11 69 aktifitas petani dalam kelompok tani maka semakin tinggi pula pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan tingginya aktifitas petani dalam kelompok tani, petani mendapatkan informasi yang memadai untuk mengambil keputusan adopsi inovasi Prima Tani Dalam penerapan Prima Tani, sarana produksi pertanian seperti benih/bibit, pupuk, dan obat-obatan sesuai anjuran mutlak diperlukan petani. Tingkat kemudahan petani dalam mendapatkan sarana produksi pertanian tersebut akan mempengaruhi keputusan inovasi petani. Data mengenai hubungan antara tingkat kemudahan petani mendapatkan benih/bibit, pupuk, dan obat-obatan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani oleh petani disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Hubungan Antara Karakteristik Eksternal Petani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani di Desa Jatiwangi Karakteristik Jumlah Keputusan Inovasi Rs (Nilai Peluang) Orang Persentase Tidak Persentase Ya Persentase Tingkat kemudahan mendapatkan benih/bibit Sangat sulit 1 2, ,00 0 0,00 Sulit 6 13,64 0 0, ,00 Mudah 22 50, , ,82 Sangat mudah 15 34,09 1 6, ,33 Tingkat kemudahan mendapatkan pupuk Sangat sulit 1 2, ,00 0 0,00 Sulit 1 2,27 0 0, ,00 Mudah 22 50, , ,36 Sangat mudah 20 45, , ,00 Tingkat kemudahan mendapatkan obat-obatan Sangat sulit 1 2, ,00 0 0,00 Sulit 1 2,27 0 0, ,00 Mudah 23 52, , ,96 Sangat mudah 19 43, , ,47 0,131 (0,395) 0,145 (0,349) 0,130 (0,400)

12 70 Tabel 15 menunjukkan bahwa tingkat kemudahan mendapatkan benih/bibit kategori sangat sulit, tidak ada petani yang mengambil keputusan adopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sulit sebesar 100,00 persen petani mengambil keputusan adopsi inovasi, sementara pada kategori mudah sebesar 81,82 persen, dan pada kategori sangat mudah sebesar 93,33 persen. Dari Tabel 15 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara tingkat kemudahan mendapatkan benih/bibit dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,131 dengan nilai peluang sebesar 0,395. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan benih/bibit dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan benih/bibit dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Petani di Desa Jatiwangi relatif mudah mendapatkan benih/bibit karena dapat dibeli di dalam desa namun harganya mahal dibandingkan dengan harga di luar desa. Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa pada tingkat kemudahan mendapatkan pupuk kategori sangat sulit, tidak ada petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sulit sebesar 100,00 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani, sementara pada kategori mudah sebesar 86,36, dan pada kategori sangat mudah sebesar 90,00 persen. Dari Tabel 15 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara tingkat kemudahan mendapatkan pupuk dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,145 dengan nilai peluang sebesar 0,349. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan

13 71 tidak nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan pupuk dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan pupuk dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Sama seperti benih/bibit, pupuk juga relatif mudah didapatkan oleh petani karena dapat dibeli di dalam desa namun harganya mahal dan mutunya tidak terjamin dibandingkan dengan yang dijual di luar desa. Pada tingkat kemudahan mendapatkan obat-obatan kategori sangat sulit, tidak ada petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sulit sebesar 100,00 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi, sementara pada kategori mudah sebesar 86,96 persen, dan pada kategori sangat mudah sebesar 89,47 persen. Dari Tabel 15 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara tingkat kemudahan mendapatkan obatobatan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,130 dengan nilai peluang sebesar 0,400. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan obat-obatan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kemudahan mendapatkan obat-obatan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Obat-obatan relatif mudah didapatkan oleh petani karena dapat dibeli di dalam desa namun harganya mahal dan mutunya tidak terjamin dibandingkan dengan yang dijual di luar desa.

14 Hubungan Karakteristik Inovasi Prima Tani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Keeratan hubungan antara karakteristik inovasi Prima Tani dengan pengambilan keputusan inovasi disajikan pada Tabel 16. Menurut Soekartawi (1988) karakteristik inovasi akan menentukan kecepatan adopsi inovasi. Sejauh mana inovasi baru (teknologi baru), akan memberikan keuntungan daripada teknologi lama yang digantikannya. Bila teknologi baru akan memberikan keuntungan yang relatif besar dari nilai yang dihasilkan oleh teknologi lama, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan cepat. Tabel 16 menunjukkan bahwa pada tingkat keuntungan relatif kategori lebih merugikan, tidak ada petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori sedang sebesar 92,00 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani serta pada kategori lebih menguntungkan sebesar 83,33 persen. Dari Tabel 16 dapat dilihat tidak terbentuk pola hubungan antara tingkat keuntungan relatif dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,116 dengan nilai peluang sebesar 0,455. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan tidak nyata antara tingkat keuntungan relatif dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat keuntungan relatif dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani ditolak. Keuntungan yang didapatkan petani dari Prima Tani sama saja dengan teknologi lokal. Pada tahun awal yaitu tahun 2005, hasil demplot Prima Tani berhasil meningkatkan produktivitas padi gogo, dari 1,44 ton GKP/hektar menjadi 4,98 ton GKP/hektar. Dari keberhasilan itu, petani terpacu untuk memanfaatkan

15 73 lahannya dan mengadopsi Prima Tani. Pada musim tanam (MH 2006/2007) di Desa Jatiwangi terjadi peningkatan luas tanam padi gogo dari 25 hektar menjadi lebih dari 200 hektar. Pada awal tahun 2007 terjadi serangan hama (petani setempat mengenal hama tersebut dengan nama ku-uk ) yang memakan akar padi gogo yang ditanam di ladang. Hampir semua ladang di Desa Jatiwangi diserang kuuk. Bencana ini membuat petani menderita kerugian besar karena gagal panen. Sejak saat itu, petani tidak berani menanami padi gogo di ladang, petani lebih memilih menanam kayu-kayuan. Tabel 16. Hubungan Antara Karakteristik Inovasi Prima Tani dengan Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani di Desa Jatiwangi Karakteristik Jumlah Keputusan Inovasi Rs (Nilai Peluang) Orang Persentase Tidak Persentase Ya Persentase Tingkat keuntungan relative Lebih merugikan 1 2, ,00 0 0,00 Sama saja 25 56,82 2 8, ,00 Lebih menguntungkan 18 40, , ,33 Tingkat kesesuaian Tidak sesuai 7 15, , ,14 Sama saja 20 45, , ,00 Sesuai 17 38,64 1 5, ,12 Tingkat kerumitan Lebih rumit 1 2, ,00 0 0,00 Sama saja 13 29, , ,23 Lebih sederhana 30 68,18 1 3, ,67 Tingkat kemudahan dicoba Lebih sulit 2 4, , ,00 Sama saja 3 6, , ,67 Lebih mudah 39 88, , ,74 Tingkat kemudahan diamati Lebih sulit 1 2, ,00 0 0,00 Sama saja 3 6, , ,67 Lebih mudah 40 90, , ,00 Keterangan: * : Nyata ( P< 0,10 ) 0,116 (0,445) 0,261 (0,087)* 0,449 (0,002)* 0,289 (0,057)* 0,340 (0,024)*

16 74 Seringkali teknologi baru yang menggantikan teknologi lama tidak saling mendukung, namun banyak pula dijumpai penggantian teknologi lama dengan teknologi baru merupakan kelanjutan saja. Bila teknologi baru itu merupakan kelanjutan dari teknologi lama yang telah dilaksanakan petani, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan relatif lebih cepat. Hal ini disebabkan karena pengetahuan petani yang sudah terbiasa untuk menerapkan teknologi lama yang tidak banyak berbeda dengan teknologi baru tersebut (Soekartawi, 1988). Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa di tingkat kesesuaian kategori tidak sesuai, sebesar 57,14 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani, di kategori sama saja sebesar 90,00 persen, dan di kategori sesuai sebesar 94,12 persen. Dari Tabel 16 dapat dilihat terbentuk pola hubungan semakin tinggi tingkat kesesuain maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,261 dengan nilai peluang sebesar 0,087. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara tingkat kesesuaian dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kesesuaian dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Menurut Soekartawi (1988), inovasi suatu ide baru atau teknologi baru yang cukup rumit untuk diterapkan akan mempengaruhi kecepatan proses adopsi inovasi. Artinya, makin mudah teknologi baru tersebut dapat dipraktekkan, maka semakin cepat pula proses adopsi inovasi yang dilakukan petani. Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa tidak ada petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani di tingkat kerumitan kategori lebih rumit, di tingkat kerumitan

17 75 kategori sama saja sebesar 69,23 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani, dan di tingkat kerumitan kategori lebih sederhana sebesar 96,67 persen. Dari Tabel 16 dapat dilihat terbentuk pola hubungan semakin sederhana Prima Tani maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,449 dengan nilai peluang sebesar 0,002. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara tingkat kerumitan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kerumitan dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Sebelum diterapkan, sepintas komponen teknologi Prima Tani lebih rumit dibandingkan teknologi lokal karena membutuhkan benih/bibit tertentu dan cara tanam berbeda tetapi setelah diterapkan petani merasa lebih teratur dan rapi dalam melakukan usahatani yang pada akhirnya menjadi lebih sederhana daripada teknologi lokal. Makin mudah teknologi baru dilakukan, maka relatif makin cepat proses adopsi inovasi yang dilakukan petani (Soekartawi, 1988). Tabel 16 menunjukkan bahwa pada tingkat kemudahan dicoba dengan kategori lebih sulit, sebesar 50,00 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi, pada kategori sama saja sebesar 66,67 persen, dan pada kategori lebih sulit sebesar 89,74 persen. Dari Tabel 16 dapat dilihat terbentuk pola hubungan semakin tinggi tingkat kemudahan dicoba maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,289 dengan nilai peluang sebesar 0,057. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara tingkat kemudahan dicoba dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani.

18 76 Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kemudahan dicoba dengan pengambilan keputusan adopsi inovasi Prima Tani diterima. Komponen teknologi Prima Tani lebih mudah dicoba dibandingkan teknologi lokal karena komponen teknologinya sederhana. Menurut Soekartawi (1988) seringkali ditemui bahwa banyak kalangan petani yang cukup sulit untuk diajak mengerti mengadopsi inovasi dari teknologi baru, walaupun teknologi baru tersebut telah memberikan keuntungan karena telah dicoba di tempat lain. Masalahnya adalah bagaimana memberikan pengertian itu semudah mungkin agar petani dapat mengerti sehingga ia mampu dan mau melakukan adopsi inovasi. Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa tidak ada petani yang mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani pada tingkat kemudahan diamati kategori lebih sulit sementara pada kategori sama saja sebesar 66,67 persen petani mengambil keputusan mengadopsi inovasi Prima Tani dan pada kategori lebih mudah sebesar 90,00 persen. Dari Tabel 16 dapat dilihat terbentuk pola hubungan semakin tinggi tingkat kemudahan diamati maka semakin tinggi pengambilan keputusan inovasi Prima Tani dan dari uji korelasi rank Spearman didapatkan nilai korelasi sebesar 0,340 dengan nilai peluang sebesar 0,024. Nilai tersebut menunjukkan taraf hubungan nyata antara tingkat kemudahan diamati dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat kemudahan diamati dengan pengambilan keputusan inovasi Prima Tani diterima. Petani dapat dengan mudah mengamati keberhasilan Prima Tani dalam meningkatkan produktivitas padi gogo di demplot. Dari demplot juga petani dapat dengan mudah mengamati varietas unggul yang ditanam dan cara tanamnya.

BAB VII KARAKTERISTIK INTERNAL, KARAKTERISTIK EKSTERNAL, DAN KARAKTERSTIK INOVASI PRIMA TANI

BAB VII KARAKTERISTIK INTERNAL, KARAKTERISTIK EKSTERNAL, DAN KARAKTERSTIK INOVASI PRIMA TANI 48 BAB VII KARAKTERISTIK INTERNAL, KARAKTERISTIK EKSTERNAL, DAN KARAKTERSTIK INOVASI PRIMA TANI 7.1 Karakteristik Internal Petani Karakteristik internal petani adalah faktor yang datang dari dalam diri

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 19 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Prima Tani merupakan salah satu program Badan Litbang Pertanian yang di dalamnya terdapat unsur inovasi. Sebagai suatu inovasi, Prima Tani diperkenalkan

Lebih terperinci

BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI

BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI Sebagaimana telah dikemukakan di depan, fokus studi difusi ini adalah pada inovasi budidaya SRI yang diintroduksikan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Faktor-Faktor Yang berhubungan dengan Partisipasi Petani dalam Kebijakan Optimalisasi dan Pemeliharaan JITUT 5.1.1 Umur (X 1 ) Berdasarkan hasil penelitian terhadap

Lebih terperinci

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian. Menurut Rogers (1983),

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian. Menurut Rogers (1983), II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Landasan Teori 1. Penerapan Inovasi pertanian Inovasi merupakan istilah yang sering digunakan di berbagai bidang, seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan para

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan para BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan para petani di daerah pedesaan dimana tempat mayoritas para petani menjalani kehidupannya sehari-hari,

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran 283 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN Bagian ini menyajikan uraian kumpulan dan rekomendasi penelitian. Kesimpulan yang disajikan merupakan hasil kajian terhadap permasalahan penelitian, sedangkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Program adalah pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai tujuan yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Inovasi Rogers (2003) mengartikan inovasi sebagai ide, praktik atau objek yang dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya pengetahuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Program adalah pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai tujuan yang disusun dalam bentuk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penyuluhan pertanian mempunyai peranan strategis dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (petani) sebagai pelaku utama usahatani. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga

I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendapatan rumahtangga petani adalah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga petani dapat berasal dari

Lebih terperinci

MOTIVASI PETANI DALAM MENGGUNAKAN BENIH PADI HIBRIDA PADA KECAMATAN NATAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN. Oleh: Indah Listiana *) Abstrak

MOTIVASI PETANI DALAM MENGGUNAKAN BENIH PADI HIBRIDA PADA KECAMATAN NATAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN. Oleh: Indah Listiana *) Abstrak MOTIVASI PETANI DALAM MENGGUNAKAN BENIH PADI HIBRIDA PADA KECAMATAN NATAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Oleh: Indah Listiana *) Abstrak Penelitian ini dilakukan pada petani padi yang menggunakan benih padi

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERANAN WANITA TANI DALAM BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT)

HUBUNGAN PERANAN WANITA TANI DALAM BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) HUBUNGAN PERANAN WANITA TANI DALAM BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) (Suatu Kasus di Desa Wanareja Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap) Oleh: Eni Edniyanti

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Umur responden petani mina padi yaitu berkaitan dengan kemampuan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Umur responden petani mina padi yaitu berkaitan dengan kemampuan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Mina Padi 1. Umur Umur responden petani mina padi yaitu berkaitan dengan kemampuan berfikir petani dalam melaksanakan usaha taninya, hal tersebut juga berkaitan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya

TINJAUAN PUSTAKA. komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya TINJAUAN PUSTAKA Peranan Penyuluh Pertanian Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya memberikan pendapat sehingga

Lebih terperinci

METODELOGI PENELITIAN. sistematis, faktual dan akuran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan

METODELOGI PENELITIAN. sistematis, faktual dan akuran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan III. METODELOGI PENELITIAN A. Metode Dasar Metode penelitian adalah suatu cara yang harus di tempuh dalam suatu penelitian untuk mencapai tujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

Lebih terperinci

VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN

VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN 73 VI. KERAGAAN USAHATANI KENTANG DAN TOMAT DI DAERAH PENELITIAN 6.1. Karakteristik Lembaga Perkreditan Keberhasilan usahatani kentang dan tomat di lokasi penelitian dan harapan petani bagi peningkatan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian lapangan dilaksanakan Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian lapangan dilaksanakan Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, III. METODE PENELITIAN Penelitian lapangan dilaksanakan Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Penelitian ini berlangsung pada bulan April sampai dengan Mei 2017. Kecamatan Sayegan berada pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi 4.1.1 Keadaan Geografis Desa Oluhuta Utara merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusi

TINJAUAN PUSTAKA. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusi TINJAUAN PUSTAKA Padi Sebagai Bahan Makanan Pokok Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan-bahan yang mudah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. seluruh uang atau hasil material lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan

TINJAUAN PUSTAKA. seluruh uang atau hasil material lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pendapatan Petani Salah satu indikator utama untuk mengukur kemampuan masyarakat adalah dengan mengetahui tingkat pendapatan masyarakat. Pendapatan menunjukkan

Lebih terperinci

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 45 V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG 5.1 Karakteristik Petani Responden Penelitian dilakukan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke 20 di dunia serta

TINJAUAN PUSTAKA. budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke 20 di dunia serta TINJAUAN PUSTAKA Monokultur Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya

Lebih terperinci

Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali

Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali L A M P I R A N Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali 151 152 Lampiran 2. Hasil uji CFA peubah penelitian Chi Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 153 Lampiran 3. Data deskriptif

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Karakteristik Individu 6.1.1. Umur BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Responden yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 30 orang dan berada pada rentang usia 40 sampai 67 tahun. Sebaran responden hampir

Lebih terperinci

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB II TINJUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Ilmu usaha tani merupakan proses menentukan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi pertanian untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan yang

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Desa Situ Udik Desa Situ Udik terletak dalam wilayah administratif Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa Situ Udik terletak

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi 45 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Berdasarkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, secara operasional dapat diuraikan tentang definisi operasional,

Lebih terperinci

program yang sedang digulirkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang

program yang sedang digulirkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembangunan pertanian di Indonesia telah mengalami perubahan yang pesat. Berbagai terobosan yang inovatif di bidang pertanian telah dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian Populasi

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian Populasi METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian berbentuk survei deskriptif korelasional, yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antar gejala (peubah) serta menganalisis hubungan antara peubah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan produksi dan memperluas keanekaragaman hasil pertanian. Hal ini berguna untuk memenuhi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian 5 TINJAUAN PUSTAKA Pertanian organik Pertanian organik meliputi dua definisi, yaitu pertanian organik dalam definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian sempit, pertanian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea TINJAUAN PUSTAKA Pupuk Anorganik Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea berkadar N 45-46

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 98 BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian ini akan dikemukakan hasil temuan studi yang menjadi dasar untuk menyimpulkan keefektifan Proksi Mantap mencapai tujuan dan sasarannya. Selanjutnya dikemukakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani Identitas petani merupakan suatu tanda pengenal yang dimiliki petani untuk dapat diketahui latar belakangnya. Identitas

Lebih terperinci

BAB IX FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DALAM PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK

BAB IX FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DALAM PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK 68 BAB IX FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DALAM PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK 9.1 Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Program Pemberdayaan Pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Pada dasarnya perilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan, dan sikap mental

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan kondisi kehidupan para petani di daerah pedesaan dimana tempat mayoritas para petani menjalani kehidupannya sehari-hari,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Bagi negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, pembangunan pertanian pada abad ke-21 selain bertujuan untuk mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. mereka berniat meningkatkan produksi padi semaksimal mungkin menuju

PENDAHULUAN. mereka berniat meningkatkan produksi padi semaksimal mungkin menuju PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, mata pencaharian mereka adalah usaha pertanian. Umumnya mereka berniat meningkatkan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel 26 METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi petani terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut rancangan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENYULUH DAN ADOPSI TEKNOLOGI OLEH PETANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN TASIKMALAYA

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENYULUH DAN ADOPSI TEKNOLOGI OLEH PETANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN TASIKMALAYA HUBUNGAN ANTARA PERAN PENYULUH DAN ADOPSI TEKNOLOGI OLEH PETANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN TASIKMALAYA Oleh: Tri Ratna Saridewi 1 dan Amelia Nani Siregar 2 1 Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Tahun. Pusat Statistik 2011.htpp://www.BPS.go.id/ind/pdffiles/pdf [Diakses Tanggal 9 Juli 2011]

BAB I. PENDAHULUAN. Tahun. Pusat Statistik 2011.htpp://www.BPS.go.id/ind/pdffiles/pdf [Diakses Tanggal 9 Juli 2011] BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sumber mata pencaharian masyarakat Indonesia. Sektor pertanian yang meliputi pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah sedang berupaya menjaga ketahanan pangan Indonesia dengan cara meningkatkan produksi tanaman pangan agar kebutuhan pangan Indonesia tercukupi. Ketidak tersediaan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Boalemo, Di lihat dari letak geografisnya, Kecamatan Wonosari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian sangat diandalkan sebagai salah satu tumpuan. dalam memulihkan kondisi perekonomian masyarakat, bahkan secara

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian sangat diandalkan sebagai salah satu tumpuan. dalam memulihkan kondisi perekonomian masyarakat, bahkan secara I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian sangat diandalkan sebagai salah satu tumpuan dalam memulihkan kondisi perekonomian masyarakat, bahkan secara bertahap sektor pertanian diharapkan mampu

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Petani Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi Umur, Pendidikan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Petani Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi Umur, Pendidikan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi Umur, Pendidikan formal, Pendidikan nonformal, Luas usahatani, Pengalaman usahatani, Lama bermitra, Status

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Undang-Undang No 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyebutkan bahwa penyuluhan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan

Lebih terperinci

ABSTRAK PENDAHULUAN. Akhmad Ansyor, Zikril Hidayat dan Nia Kaniasari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung

ABSTRAK PENDAHULUAN. Akhmad Ansyor, Zikril Hidayat dan Nia Kaniasari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SIKAP ANGGOTA KELOMPOK AFINITAS TERHADAP PROGRAM AKSI DESA MANDIRI PANGAN DI PEKON RANTAU TIJANG KECAMATAN PARDASUKA KABUPATEN TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG Akhmad Ansyor,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertanian tanaman pangan masih menjadi usaha sebagian besar petani. Di Indonesia sendiri, masih banyak petani tanaman pangan yang menanam tanaman pangan untuk dikonsumsi

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN. minimal 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan/atau jenis tanaman

1.PENDAHULUAN. minimal 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan/atau jenis tanaman 1.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengertian hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan/atau jenis tanaman lainnya lebih dari

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN

VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN Karakteristik umum dari responden pada penelitian ini diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan di luar usahatani

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PETANI PENERIMA METODE SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SLPTT) PADI DI KECAMATAN CIAWI BOGOR.

KARAKTERISTIK PETANI PENERIMA METODE SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SLPTT) PADI DI KECAMATAN CIAWI BOGOR. KARAKTERISTIK PETANI PENERIMA METODE SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SLPTT) PADI DI KECAMATAN CIAWI BOGOR Diarsi Eka Yani 1 Pepi Rospina Pertiwi 2 Program Studi Agribisnis, Fakultas MIPA, Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembangunan pertanian merupakan faktor penunjang ekonomi nasional. Program-program pembangunan yang dijalankan pada masa lalu bersifat linier dan cenderung bersifat

Lebih terperinci

Hubungan Karakteristik Individual Anggota Masyarakat dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan

Hubungan Karakteristik Individual Anggota Masyarakat dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan 101 HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDUAL DAN SOSIAL EKONOMI ANGGOTA MASYARAKAT SERTA DUKUNGAN PEMIMPIN, PROGRAM DAN KELEMBAGAAN NON FORMAL DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN HUTAN Kajian hubungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor

I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sektor andalan perekonomian di Propinsi Lampung adalah pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Lampung

Lebih terperinci

VII ANALISIS KEPUASAN PETANI MITRA TERHADAP PELAKSANAAN KEMITRAAN

VII ANALISIS KEPUASAN PETANI MITRA TERHADAP PELAKSANAAN KEMITRAAN VII ANALISIS KEPUASAN PETANI MITRA TERHADAP PELAKSANAAN KEMITRAAN 7.1 Analisis Kepuasan Petani Mitra Evaluasi kemitraan dapat juga dilihat dari tingkat kepuasan petani mitra yang menjalankannya. Kepuasan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. profil Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang tahun 2016.

HASIL DAN PEMBAHASAN. profil Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang tahun 2016. 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian Keadaan umum daerah penelitian meliputi, keadaan administratif daerah, tata guna lahan, dan mata pencaharian penduduk. Keadaan umum didapat

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seluruh rangkaian program pertanian Indonesia pada masa Orde Baru diarahkan kepada swasembada beras. Cara utama untuk mencapai tujuan itu adalah dengan pemakaian varietas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar, Definisi Operasional dan Pengukuran. variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur dan

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar, Definisi Operasional dan Pengukuran. variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur dan 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar, Definisi Operasional dan Pengukuran Definisi opersional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai bagaimana variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekonomi Padi Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Kasryno dan Pasandaran (2004), beras serta tanaman pangan umumnya berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya bahwa pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya

Lebih terperinci

Alang-alang dan Manusia

Alang-alang dan Manusia Alang-alang dan Manusia Bab 1 Alang-alang dan Manusia 1.1 Mengapa padang alang-alang perlu direhabilitasi? Alasan yang paling bisa diterima untuk merehabilitasi padang alang-alang adalah agar lahan secara

Lebih terperinci

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada

Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada 47 Produksi Padi Tahun 2005 Mencapai Swasembada Abstrak Berdasarkan data resmi BPS, produksi beras tahun 2005 sebesar 31.669.630 ton dan permintaan sebesar 31.653.336 ton, sehingga tahun 2005 terdapat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial

TINJAUAN PUSTAKA. Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial TINJAUAN PUSTAKA Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Pada umumnya usahatani padi masih merupakan tulang punggung perekonomian keluarga tani dan perekonomian

Lebih terperinci

Diarsi Eka Yani. ABSTRAK

Diarsi Eka Yani. ABSTRAK KETERKAITAN PERSEPSI ANGGOTA KELOMPOK TANI DENGAN PERAN KELOMPOK TANI DALAM PEROLEHAN KREDIT USAHATANI BELIMBING (Kasus Kelompok Tani di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Depok) Diarsi Eka Yani

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Padi Sawah Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman semusim yang sangat bermanfaat di Indonesia karena menjadi bahan makanan pokok. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah mulai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mutu hidup serta kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan

I. PENDAHULUAN. mutu hidup serta kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memegang peranan yang strategis dalam perekonomian nasional. Tujuan pembangunan pertanian adalah untuk memperbaiki taraf dan mutu hidup serta kesejahteraan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Perberasan Indonesia Kebijakan mengenai perberasan di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1969/1970. Kebijakan tersebut (tahun 1969/1970 s/d 1998) mencakup kebijakan

Lebih terperinci

Gambar 10. Sebaran Usia Petani Responden

Gambar 10. Sebaran Usia Petani Responden VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Profil Responden Karakteristik petani dalam penelitian ini diidentifikasi berdasarkan usia, jenis kelamin, statuss pernikahan, jumlah anggota keluarga, pendapatan diluar usahatani,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Saat ini kedelai merupakan salah satu tanaman multiguna, karena dapat digunakan untuk sumber pangan, pakan ternak, sampai untuk bahan baku berbagai industri manufaktur dan

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) OLEH PETANI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) OLEH PETANI PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) OLEH PETANI (Kasus di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Provinsi

Lebih terperinci

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 2 September 2012

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 2 September 2012 PERSEPSI PETANI TEBU TERHADAP PROGRAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) (Studi Kasus di Kelompok Tani Santoso Desa Kesidan Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo) Admin, Istiko Agus Wicaksono dan Zulfanita

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR INTERNAL PETANI DALAM MENGADOPSI TEKNOLOGI

PENGARUH FAKTOR INTERNAL PETANI DALAM MENGADOPSI TEKNOLOGI PENGARUH FAKTOR INTERNAL PETANI DALAM MENGADOPSI TEKNOLOGI Pandu Sumarna 1, Neneng Sri Mulyati 2 1 Fakultas Pertanian Universitas Wiralodra, Jl. Ir. H. Juanda Km 3 Indrmayu, sumarnapandu@gmail.com 2 Fakultas

Lebih terperinci

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani.

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani. 85 VI. KERAGAAN USAHATANI PETANI PADI DI DAERAH PENELITIAN 6.. Karakteristik Petani Contoh Petani respoden di desa Sui Itik yang adalah peserta program Prima Tani umumnya adalah petani yang mengikuti transmigrasi

Lebih terperinci

BAB VI FAKTOR FAKTOR PENDUKUNG PERUBAHAN PRODUKSI PERTANIAN 6.1 Faktor Eksternal Komoditas Kelapa Sawit memiliki banyak nilai tambah dibandingkan

BAB VI FAKTOR FAKTOR PENDUKUNG PERUBAHAN PRODUKSI PERTANIAN 6.1 Faktor Eksternal Komoditas Kelapa Sawit memiliki banyak nilai tambah dibandingkan 51 BAB VI FAKTOR FAKTOR PENDUKUNG PERUBAHAN PRODUKSI PERTANIAN 6.1 Faktor Eksternal Komoditas Kelapa Sawit memiliki banyak nilai tambah dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya. Harga pasaran yang

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI PADI DAN PALAWIJA PADA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN

ANALISIS USAHATANI PADI DAN PALAWIJA PADA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN ANALISIS USAHATANI PADI DAN PALAWIJA PADA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN (Studi Kasus di Desa Budi Mulia, Kabupaten Tapin) Oleh : Adreng Purwoto*) Abstrak Di masa mendatang dalam upaya mencukupi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB VII PELAKSA AA MODEL PEMBERDAYAA PETA I SEKOLAH LAPA GA PE GELOLAA TA AMA TERPADU

BAB VII PELAKSA AA MODEL PEMBERDAYAA PETA I SEKOLAH LAPA GA PE GELOLAA TA AMA TERPADU BAB VII PELAKSA AA MODEL PEMBERDAYAA PETA I SEKOLAH LAPA GA PE GELOLAA TA AMA TERPADU Kegiatan SL-PTT di Gapoktan Sawargi telah berlangsung selama empat kali. SL-PTT yang dilaksanakan adalah SL-PTT padi.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi

BAB I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi manfaat tidak saja digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Keunggulan Padi Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh

Lebih terperinci

BAB III MATERI PENYULUHAN KEHUTANAN

BAB III MATERI PENYULUHAN KEHUTANAN BAB III MATERI PENYULUHAN KEHUTANAN A. RAGAM MATERI PENYULUHAN Materi penyuluhan kehutanan, pada hakekatnya merupakan segala pesan-pesan mengenai pengelolaan hutan yang ingin dikomunikasikan oleh seorang

Lebih terperinci

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun

Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Agroekonomi Kabupaten Garut Kabupaten Garut memiliki 42 kecamatan dengan luas wilayah administratif sebesar 306.519 ha. Sektor pertanian Kabupaten

Lebih terperinci

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan 31 BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak dan Kondisi Geografis Desa Jatiwangi terletak di wilayah Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki,

Lebih terperinci

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang saat ini telah menjadi penyebab berubahnya pola konsumsi penduduk, dari konsumsi pangan penghasil energi ke produk penghasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki

BAB I PENDAHULUAN. penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kedelai merupakan sumber protein nabati utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki peranan yang besar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi andalan bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Kekayaan alam Indonesia yang berlimpah dilengkapi dengan iklim

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 27 PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma baru pembangunan Indonesia lebih diorientasikan pada sektor pertanian sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas lokal. Salah satu fokus

Lebih terperinci

M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali, Yulian Junaidi, Henny Malini Dosen Fakutas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK

M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali, Yulian Junaidi, Henny Malini Dosen Fakutas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI INTRODUKSI TEKNOLOGI PEMBUATAN DAN APLIKASI PESTISIDA NABATI PADA DEMPLOT SAYURAN ORGANIK DI KELURAHAN TALANG KERAMAT KABUPATEN BANYUASIN M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tugas Pokok Penyuluh Pertanian Tugas pokok penyuluhan pertanian adalah melakukan kegiatan penyuluhan pertanian untuk mengembangkan kemampuan petani dalam menguasai, memanfaatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya adalah komoditas padi, karena komoditas padi sebagai sumber penyediaan kebutuhan pangan pokok berupa

Lebih terperinci

BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH

BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH 67 BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH Bab ini akan membahas keefektifan Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi Mantap) dalam mencapai sasaran-sasaran

Lebih terperinci

HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI

HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI (Oryza sativa L) (Suatu Kasus di Desa Kabupaten Ciamis) Oleh: Yogi Rosdiawan 1, Dedi Herdiansah S, Muhamad Nurdin Yusuf 3 1) Mahasiswa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Untuk menunjang pembangunan pertanian tidak terlepas dari kemampuan petani dalam menerapkan teknologi

Lebih terperinci

BAB VIII HUBUNGAN PARTISIPASI DENGAN SIKAP DAN KARAKTERISTIK INTERNAL INDIVIDU PETANI

BAB VIII HUBUNGAN PARTISIPASI DENGAN SIKAP DAN KARAKTERISTIK INTERNAL INDIVIDU PETANI 62 BAB VIII HUBUNGAN PARTISIPASI DENGAN SIKAP DAN KARAKTERISTIK INTERNAL INDIVIDU PETANI 8.1 Hubungan Partisipasi dengan Sikap Petani terhadap Sistem Pertanian Organik Sikap seringkali mempengaruhi tingkah

Lebih terperinci

Lampiran 1. Gambar Paradigma Laju Adopsi Inovasi

Lampiran 1. Gambar Paradigma Laju Adopsi Inovasi Lampiran 1. Gambar Paradigma Laju Adopsi Inovasi Variabel-variabel Pengaruh Variabel Terpengaruh I. KARAKTERISTIK INOVASI Keuntungan Relatif Kompatibilitas Kompleksitas Kemungkinan Dicoba kemungkinan Diamati

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Aigner (1985:18), filosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak

II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Aigner (1985:18), filosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak 10 II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan tentang Produktivitas Menurut Aigner (1985:18), filosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak peradaban manusia karena makna produktivitas adalah keinginan

Lebih terperinci