BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK"

Transkripsi

1 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK 4.1 Membuat Desain Sirkuit Sistem Hidrolik Penyangga Tengah dan Cara Kerjanya Seperti sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa konsep yang dipilih adalah konsep pada prinsip solusi 3 dimana pada sistem hidrolik penyangga tengah menggunakan 3 silinder hidrolik. Komponen-komponen yang dibutuhkan pada konsep ini adalah; motor penggerak, pompa hidrolik, relief valve, selang hidrolik, tangki penampungan, katup kontrol arah, check valve, check valve bertekanan, silinder hidrolik pengungkit dan silinder hidrolik pengangkat. Berikut adalah desain sirkuit hidrolik penyangga tengah yang akan dilakukan pembuatannya. 69

2 Gambar 4.1 Sirkuit Hidrolik Komponen-komponen dari sistem hidrolik diatas adalah sebagai berikut; 1. Motor Penggerak 2. Pompa Hidrolik 3. Tangki Penampung 4. Relief Valve 5. Saringan Fluida 6. Selang Hidrolik 7. Katup Kontrol Arah 8. Check Valve 1 9. Check Valve bertekanan Silinder Hidrolik Penyangga sebelah kiri 11. Silinder Hidrolik Penyangga sebelah Kanan 12. Check Valve 2

3 Check Valve bertekanan Silinder Hidrolik Pengungkit Cara kerja sirkuit: Pada saat katup kontrol arah diposisi netral tidak ada fluida yang mengalir ke sililnder hidrolik dan sistem valve. Pada kondisi ini pompa tetap berputar karena terhubung langsung dengan putaran mesin, fluida yang mengalir dialirkan ke katup kontrol arah dan kembali ke tangki penampung A B P T Gambar 4.2 Posisi netral pada sirkuit hidrolik Pada saat katup kontrol arah diputar ke arah kanan aliran fluida mengalir dari lubang P ke lubang A pada katup kontrol arah, kemudian fluida mengalir ke silinder pengungkit dan silinder pengungkit bekerja. Dikarenakan ruang di bawah piston silinder pengungkit menyempit hal ini mengakibatkan fluida yang ada di bawah piston tertekan keluar dan mengalir ke check valve nomor 13, lubang B dan T kemudian ke tangki penampung yang terlebih dahulu melaui filter.

4 A B P T Gambar 4.3 Sirkuit hidrolik ketika katup kontrol arah diputar ke kanan Pada saat tekanan dalam system mencapai tekanan kerja check valve nomor 9, check valve nomor 9 akan terbuka dan fluida mengalir ke silinder hidrolik nomor 10 dan 11 dan mengakibatkan piston terdorong dan rod memanjang bar Gambar 4.4 Sirkuit Hidrolik ketika tekanan mencapai tekanan kerja check valve Ketika katup kontrol arah diputar ke kiri fluida mengalir dari pompa hidrolik ke lubang P lalu ke lubang B, kemudian fluida mengalir ke silinder

5 73 hidrolik nomor 10 dan nomor 11, menekan piston dan membuat rod bergerak ke arah memendek. Fluida yang berada di atas piston akan tertekan keluar dan mengalir ke check valve nomor 8, lubang A lalu ke lubang T pada kontrol arah kemudian mengalir ke tangki penampung A B P T Gambar 4.5 Sirkuit hidrolik ketika katup kontrol arah diputar ke kiri Ketika tekanan dalam system mencapai tekanan kerja check valve nomor 12, check valve nomor 12 akan terbuka fluida akan mengalir melalui check valve ke dalam ruangan di bawah piston silinder hidrolik nomor 14 dan akan menggerakkan piston dan rod ke arah memendek, dikarenakan ruangan di atas piston menyempit fluida tertekan dan keluar mengalir ke lubang A dan T pada katup kontrol arah kemudian fluida mengalir ke tangki penampung.

6 bar Gambar 4.6 Sirkuit hidrolik ketika tekanan mencapai tekanan kerja check valve 4.2 Menentukan Fluida Yang Digunakan Fluida yang digunakan pada sistem hidrolik ini adalah oli dengan SAE 10 yang biasa digunakan untuk power steering kendaraan dan sistem hidrolik lainnya. Temperatur fluida (T), Massa jenis (ρ), berat jenis (γ), viskositas dinamik (μ) dan viskositas kinematik (ν) dari fluida ini perlu diketahui untuk dilakukannya analisa terhadap kerja sistem. Temperatur fluida telah diukur dan mencapai 60 0 C karena pengaruh panas mesin. Gambar 4.7 Termometer yang menunjukkan temperature 60 0 C pada fluida

7 Viskositas Dinamik bawah ini. Untuk mengetahui besarnya viskositas dinamik dapat dilihat dari grafik di 1,55 x 10-2 N.s/m 2 Gambar 5.8 Grafik viskositas dinamik ( Munson, Bruce., F. Young, Donald., & H. Okiishi Theodore., Mekanika Fluida, 525) Berdasarkan grafik diatas maka viskositas dinamik minyak SAE 10 pada temperatur 60 0 C adalah 1,55 x 10-2 N.s/m Viskositas Kinematik ini. Untuk mengetahui viskositas kinematik dapat dilihat dari grafik di bawah

8 76 Gambar 4.9 Grafik viskositas kinematik ( Munson, Bruce., F. Young, Donald., & H. Okiishi Theodore., Mekanika Fluida, 525) Berdasarkan grafik di atas maka viskositas kinematik dari oli SAE 10 pada temperatur 60 o C adalah 1,7 x 10-5 m 2 /s Massa Jenis Dan Berat Jenis Oli SAE 10 Dari data viskoisitas dinamik dan kinematik maka dapat diketahui massa jenis (ρ) dan berat jenis (γ) oli SAE 10 pada temperatur 60 o C. Dimana : Massa Jenis Viskositas Dinamik Viskositas Kinematik Berat Jenis Massa Jenis x Gravitasi berikut: Jadi besarnya massa jenis dan berat jenis oli SAE 10 adalah sebagai

9 77 1. Massa Jenis ρ μ ν ρ 1,55 x ,7 x ,912 x kg/m 3 2. Berat Jenis γ ρ.g γ (912)(9,8) 8937,6 N/m Perhitungan Hidrostatis Direncanakan sistem hidrolik penyangga tengah ini dapat mengangkat beban 250 kgf dengan asumsi beban tersebut adalah beban sepeda motor ditambah dengan beban pengendara dan penumpang, silinder hirolik yang digunakan adalah silinder yang berdiameter 26 mm atau 2,6 cm, jadi tekanan yang bekerja pada sistem ini jika silinder bekerja mengangkat beban adalah: Diketahui: F (beban) 250 kgf D (diameter) 2,6 cm 1 A (Luas Penampang) πd ,14. (2,6 cm) 2 4 5,31 cm 2

10 78 P (Tekanan) F A 182 kgf 5,31 cm 2 34,27 kgf/cm 2 Berdasarkan perhitungan di atas diperlukan tekanan balik sebesar 34,27 kgf/cm 2 untuk dapat mengangkat sepeda motor dan beban pengendara. Pada rancangan mekanisme hidrolik ini digunakan 2 silinder hidrolik untuk mengangkat beban yang ditetapkan itu artinya masing-masing silinder bekerja pada tekanan 17,14 kgf/cm Pemilihan Pompa Hidrolik Seperti sudah dijelaskan pompa hidrolik pada sistem hidrolik ini digunakan pompa hidrolik tipe roda gigi. Pompa hidrolik ini menggunakan pompa bekas dengan sedikit modifikasi pada tingginya untuk mengurangi ruang pemasangan pada sistem. Berikut adalah proses pemilihan pompa, modifikasi dan uji kemampuan pompa. 1. Mencari pompa hidrolik tipe roda gigi bekas yang masih baik kondisinya karena pertimbangan faktor ekonomis pembuatan alat. 2. Menentukan tempat pemasangan pompa. 3. Mengukur dimensi pompa dan ruang pemasangannya. 4. Memodifikasi tinggi pompa. 5. Membuat penghubung putaran mesin ke pompa hidrolik. 6. Memodifikasi tutup mesin untuk dudukan pompa hidrolik. 7. Melakukan uji kemampuan pompa.

11 Tempat Pemasangan Pompa. Pompa hidrolik akan dipasangan pada sebelah kiri cylilnder head mesin sepeda motor, terpasang pada cover sprocket camshaft. Pompa akan mendapatkan putaran dari cover sprocket camshaft. Putaran yang dihasilkan adalah ½ dari putaran poros engkol (crankshaft). Perlu dilakukan modifikasi cover sprocket camshaft agar pompa dapat terpasang dan membuat penghubung putaran dari sprocket ke pompa. Dan berikut adalah hasil modifikasi dan pembuatannya; Cover Sprocket Camshaft Gambar 4.10 Cover sprocket camshaft yang sudah dimodifikasi Gambar 4.11 Penghubung putaran mesin ke pompa

12 80 Tempat Pemasangan Penghubung Putaran Gambar 4.12 Tempat pemasangan penghubung putaran mesin ke pompa Memodifikasi Tinggi Pompa. Tinggi keseluruhan pompa sebelumnya adalah 120 cm dan dikurangi menjadi 8,8 cm dengan mengurangi tinggi dari bodi tengah pompa. Modifikasi pompa ini dilakukan di bengkel bubut. Cover Head Camshaft Drive Gear Body Atas Body Bawah Driven Gear Body Tengah Gambar 4.13 Pompa hidrolik yang sudah di modifikasi

13 81 Pompa hidrolik yang sudah terpasang pada mesin Gambar 4.14 Pompa hidrolik yang sudah terpasang pada mesin sepeda motor Pengujian dan Pengukuran Kemampuan Pompa Setelah terpasang pada mesin sepeda motor, dilakukan pengujian dan pengukuran pompa. Yang akan dilakukan uji dan pengukuran adalah pada kapasitas output fluida yang dikeluarkan dan tekanan yang dihasilkan pompa pada rpm tertentu. Alat yang digunakan adalah gelas ukur, rpm analog, pressure gauge dan timer. Gelas Ukur Pressure Gauge Timer Rpm Analog Gambar 4.15 Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran

14 82 Dari hasil uji dan pengukuran didapat data sebagai berikut: 1. Kapasitas pompa 2. Tekanan Pompa Tabel 4.1 Hasil pengukuran kapasitas pompa Tes RPM Mesin RPM Pompa Kapasitas Pompa Waktu Yang Yang Diukur (cc) Dibutuhkan (s) , , , , , , ,29 Tabel 4.2 Hasil pengukuran tekanan pompa Berdasarkan perhitungan hidrostatis diperlukan tekanan 17,14 kgf/cm 2 agar silinder hidrolik dapat mengangkat sepeda motor dan bebannya, itu berarti diperlukan rpm 7000 pada mesin atau 3500 pada pompa agar dapat mengangkat sepeda motor dan beban. Tes RPM Mesin RPM Pompa Tekanan Yang Dihasilkan (kgf/cm 2) , , Perhitungan Motor Penggerak Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pada sistem hidrolik ini akan digunakan mesin sepeda motor itu sendiri untuk memutar pompa hidrolik. Sepeda motor yang digunakan adalah sepeda motor jenis bebek merk Kawasaki Kaze R

15 83 tahun Adapun spesifikasi sepeda motor Kawasaki Kaze R adalah sebagai berikut; Spesifikasi Teknik Sepeda Motor Tabel 4.3 Spesifikasi teknik sepeda motor Kawasaki Kaze R Tipe Mesin 4 Langkah, SOHC 2 Katup Diameter x Langkah 56.0 mm x 50.6 Jumlah Silinder 1 Isi Silinder cc Pebandingan Kompresi 9.5 : 1 Daya Maksimum 9.9 PS / rpm Torsi Maksimum Nm / rpm Karburator Keihin PB 18 Jumlah Transmisi 4 Speed Kopling Centrifugal, Multiple Wet Disk Rasio Gigi Rasio Gigi Rasio Gigi Rasio Gigi Tipe Sistem Final Gear Chain Drive Final Gear Drive Rasio Keseluruhan Sistem Pengapian Sistem Pelumasan Oli Sistem Pendingin DC-CDI Forced Lubrication (Wet Sump) Pendinginan Udara Sistem Penyaringan Oli DFLS (Double Filter Lubrication System) Filter Ganda Kapasitas Pelumas Mesin 1.1 Liter Tipe Oli Mesin SAE 10W-40 Kapasitas Tangki Bahan Bakar 4.5 Liter Busi NGK C6HSA Panjang x Lebar x Tinggi Tinggi Tempat Duduk Jarak Poros Roda Jarak Terendah Ke Tanah Berat Kosong Tipe Rangka Suspensi Depan Suspensi Belakang Tipe & Ukuran Ban Depan Tipe % Ukuran Ban Belakang Rem Depan Rem Belakang Pelek Roda Spesifikasi Teknik Kawasaki Kaze R Mesin Kelistrikan dan Pelumasan Dimensi Suspensi 1915 mm x 700 mm x 1040 mm 750 mm mm 130 mm 102 kg Full Frame Teleskopik Swing Arm PR PR Cakram Twin Pot Drum / Tromol Spoke-Kaze R, Cast Wheel Kaze R

16 Menghitung Daya Mesin Sepeda Motor Pada rancangan hidrolik ini digunakan mesin sepeda motor untuk memutar pompa hidrolik dan diperlukan daya pada mesin untuk menghasilkan tekanan pompa sebesar 17,14 kgf/cm2. Untuk menghitung daya mesin kita haru mengetahui kapasitas dan tekanan pompa. Dan kita ketahui sebelumnya pada rpm mesin 7000 rpm tekanan pompa dapat mencapai 17 kgf/cm 2 dan kapasitasnya atau laju aliran mencapai 250 cc dalam waktu 7,29 detik. Untuk menghitung daya mesin dapat menggunakan rumus sebagai berikut: Daya Laju aliran (lpm) x Tekanan (bar) 600 (kw) Diketahui: Laju Aliran atau Kapasitas Pompa Laju Aliran 250 cc 7,29 s 34,29 cc/s 2057,40 cc/menit 2,057 l/menit Tekanan 17 kgf/cm 2 Maka daya pada mesin sepeda motor adalah: Daya 2,057 x ,058 kw 0,078 HP

17 85 Daya mesin yang dihasilkan pada rpm 7000 adalah 0,078 HP. 4.5 Pembuatan Silinder Hidrolik Karena pertimbangan ekonomis dimana lebih sedikit biaya yang dikeluarkan untuk membuat silinder hidrolik daripada membelinya di pasaran, untuk itu perancang memilih untuk membuatnya. Untuk melakukan pembuatan silinder hidrolik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut; 1. Bahan yang digunakan. 2. Seal yang akan digunakan 3. Luas penampang piston 4. Panjang langkah rod Pada sistem hidrolik ini digunakan 3 silinder hidrolik, 1 silinder hidrolik pengungkit dan 2 silinder hidrolik pengangkat. 2 silinder hidrolik pengangkat mempunyai dimensi yang sama karena akan bekerja bersama mengangkat sepeda motor dan beban Silinder Pengungkit Silinder pengungkit ini fungsinya untuk mengungkit 2 silinder pengangkat ke posisi siap mengangkat dan mempunyai ukuran diameter dalamnya 18 mm, diameter poros 10 mm dan panjang langkah rodnya 100 mm.

18 86 Silinder Pengungkit Gambar 4.16 Silinder Pengungkit yang terpasang pada sepeda motor Silinder Pengangkat Silinder pengangkat ini mempunyai ukuran diameter dalamnya 26 mm, diameter poros 18 mm dan panjang langkah rodnya 80 mm. Ada dua buah silinder pengangkat dan dua-duanya mempunyai dimensi yang sama. Seal Silinder Silinder Tutup Silinder Poros atau rod Tutup Silinder Gambar 4.17 Silinder hidrolik pengangkat setelah proses pembuatan

19 87 Silinder Pengangkat Gambar 4.19 Silinder hidrolik pengangkat yang terpasang pada sepeda motor Menghitung Kecepatan Silinder Kecepatan silinder perlu dihitung untuk mengetahui lamanya silinder bekerja, silinder hidrolik bekerja tidak boleh terlalu lama jika dibanding pemilik motor mengoperasikan penyangga tengah manual. Kecepatan silinder dapat dihitung dengan rumus; v Q A Dimana : Q Debit aliran (m 3 /s) v Kecepatan silinder (m/s) A Luas penampang silinder hidrolik (m 2 ) Kecepatan Silinder Hidrolik Pengungkit 1. Saat poros memanjang Diketahui : Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s D 18 mm 0,018 m πd 2 (3,14)(0,018) 2 A 0, m 2 4 4

20 88 Jadi kecepatan silinder hidrolik pengungkit pada saat poros memanjang adalah: v 0, , ,097 m/s 2. Saat poros memendek Diketahui : Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s D 10 mm 0,010 m A A silinder - A poros A (0,000254) - (0,000254) - (3,14)(0,010) 2 4 (0, ) 0, m 2 Jadi kecepatan silinder hidrolik pengungkit pada saat poros memendek adalah: v 0, , ,19 m/s Kecepatan silinder hidrolik pengangkat Dikarenakan 2 silinder hidrolik bekerja secara bersamaan maka luas penampangnya adalah jumlah dari luas penampang kedua silinder. 1. Saat poros memanjang Diketahui: Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s

21 89 D silinder 26 mm 0,026 m πd 2 (3,14)(0,026) 2 A 0, m Jadi kecepatan silinder hidrolik pengungkit pada saat poros memanjang adalah: v v Q 2A 0, (2)(0,000531) 0, , ,032 m/s 2. Saat poros memendek Diketahui: Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s D poros 18 mm 0,018 m A A silinder - A poros A (0,000531) - (3,14)(0,018) 2 4 (0,000531) - (0,000254) 0, m 2 Jadi kecepatan silinder hidrolik pengungkit pada saat poros memendek adalah: v Q 2A

22 90 v 0, (2)(0,000277) 0, , ,62 m/s Kecepatan Seluruh Operasi Silinder Dikarenakan silinder pengungkit dan pengangkat bekerja berurutan maka kecepatan keseluruhan sistem harus dihitung dan berikut hasil perhitungannya; v Q A 1 + A 2 + A 2 1. Saat silinder hidrolik bekerja mengangkat Diketahui : Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s A total A pengungkit + A pengangkat 0, , , m 2 Jadi kecepatan seluruh operasi silinder saat mengangkat adalah; v 0, , ,026 m/s 2. Saat silinder hidrolik bekerja turun Diketahui : Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s A total A pengungkit + A pengangkat 0, , , Jadi kecepatan seluruh operasi silinder saat mengangkat adalah;

23 91 v 0, , ,076 m/s 4.6 Pemilihan Katup Kontrol Arah Pada sistem hidrolik ini digunakan katup kontorl arah tipe rotary valve yang digerakkan manual oleh tangan atau digerakan secara mechanical, katup ini adalah jenis katup 4/3 yaitu katup yang mempunyai 4 lubang dan 3 posisi kerja. Gambar 4.20 Katup kontrol arah tipe rotary valve A B P T Silinder Hidrolik Memendek (B) Silinder Hidrolik Memendek (B) Dari Pompa (P) (T) Ke Tangki Dari Pompa (P) (T) Ke Tangki Hidrolik Penampung Hidrolik Penampung (A) Silinder Hidrolik Memanjang Fixed Gate (A) Silinder Hidrolik Memanjang Rotary Gate Gambar 4.21 Gate pada katup kontrol arah

24 92 Cara kerja rotary valve terbagi dalam 3 bagian yaitu posisi 1, 2 dan 3. Berikut adalah penjelasan cara kerjanya: 1. Posisi 1 Pada posisi 1 atau pada posisi rotary valve belum digerakkan aliran fluida mengalir ke lubang P lalu keluar melalui lubang T kemudian aliran fluida mengalir ke tangki penampung. Gambar 4.22 Saat katup kontrol posisi netral A B P T Fixed Gate Pompa Hidrolik (P) (T) Tangki Penampung Gambar 4.23 Posisi ke-1 rotary valve Rotary Gate

25 93 2. Posisi 2 Ketika rotary valve diputar ke arah kanan fluida mengalir dari lubang P ke lubang A mengakibatkan silinder hidrolik bekerja memanjang. Lubang B akan terhubung dengan lubang T dan fluida akan mengalir dari lubang saluran silinder hidrolik bagian bawah ke tangki penampung. Gambar 4.24 Saat Katup kontrol arah diputar ke kanan A B P T Fixed Gate Saluran Bawah Silinder Hidrolik (B) Pompa Hidrolik (P) (T) Ke Tangki Penampung (A) Silinder Hidrolik Memanjang Gambar 4.25 Posisi ke-2 rotary valve Rotary Gate

26 94 3. Posisi 3 Ketika rotary valve diputar ke arah kiri aliran fluida mengalir dari lubang P ke lubang B dan mengakibatkan silinder memendek. Lubang A akan terhubung denga lubang T, fluida akan mengalir dari saluran silinder hidrolik bagian atas ke tangki penampung. Gambar 4.26 Saat katup kontrol arah diputar ke arah kiri A B P T Fixed Gate Silinder Hidrolik Memendek (B) Pompa Hidrolik (P) (T) Ke Tangki Penampung Rotary Gate (A) Saluran Atas Silinder Hidrolik Gambar 4.27 Posisi ke-3 rotary valve

27 Check Valve Pada rangkaian hidrolik ini menggunakan 4 buah check valve, 2 check valve bertekanan dan 2 check valve tak bertekanan. 2 check valve bertekanan selain berfungsi untuk mengalirkan fluida pada satu arah juga berfungsi untuk membuat urutan kerja dari silinder pengungkit dan silinder pengangkat, sedangkan check valve hanya berfungsi untuk mengalirkan fluida pada satu arah saja. Seumumnya yang tersedia dipasaran adalah check valve yang mempunyai tekanan spring yang kecil, untuk itu karena dibutuhkan 2 check valve yang bertekanan agak besar 4 10 kgf/cm 2, perancang memodifikasinya dengan mengganti spring dengan yang lebi keras. Snap Ring Spring Valve Body Spring Holder Valve Gambar 4.26 Komponen-komponen check valve Nama dan Fungsi Komponen 1. Body Valve Body Vavle berfungsi sebagai rumah dari valve dan saluran fluida. 2. Valve Valve berfungsi untuk membuka dan menutup saluran.

28 96 3. Spring Spring berfungsi untuk membalikkan valve pada posis menutup dan menahan valve untuk membuka sampai tekanan tertentu. 4. Spring Holder Spring holder berfungsi sebagai dudukan spring dan menahan spring pada posisi terkunci. 5. Snap Ring Snap ring berfungsi untuk mengunci spring pada posisinya. check valve Gambar 4.29 Check valve yang sudah terpasang pada sepeda motor Mengukur Tekanan Spring Pada Check Valve Pengukuran dilakukan dengan menggunakan pressure gauge, diukur sampai pada tekanan berapa check valve tersebut terbuka dan mengalirkan fluida. Berikut adalah cara pengukurannya; 1. Menyambungkan output pompa dengan sambungan T. 2. Sambungkan input check valve dengan salah satu lubang pada sambungan T.

29 97 3. Sambungan pressure gauge dengan lubang sambungan yang tersisa pada sambungan T. 4. Nyalakan mesin sepeda motor dan lihat hasil ukuran dari pressure gauge. Pressure gauge check valve Sambungan T Tangki penampung Pompa Gambar 4.30 Pengukuran tekanan spring check valve Ada dua buah check valve yang bertekanan yang akan digunakan, satu check yang beroperasi saat poros silinder memanjang dan satu lagi saat poros silinder memendek. Kedua check valve mempunyai tekanan yang berbeda, tekanan pada check valve saat silinder memendek lebih besar dari pada check valve pada posisi silinder memanjang hal ini karenan luas penampang silinder hidrolik lebih kecil pada saat poros memendek untuk itu diperlukan tekanan yang lebih besar. Berikut adalah hasil pengukurannya;

30 98 Gambar 4.31 Hasil pengukuran check valve pertama Terlihat pada gambar hasil pengukuran check valve pertama adalah check valve terbuka pada tekanan 4 kgf/cm 2. Gambar 4.32 Hasil pengukuran check valve kedua Terlihat pada gambar hasil pengukuran check valve kedua adalah check valve terbuka pada tekanan 7 kgf/cm Selang Hidrolik Pada sisitem hidrolik ini menggunakan selang hidrolik untuk mengalirkan fluida. Selang ini dapat menahah tekanan sampai pada tekanan 150 kgf/cm 2. Diameter dalam selang adalah sebesar 7 mm. Selang Hidrolik Gambar 4.33 Selang hidrolik yang sudah terpasang pada sepeda motor

31 99 Dari data diameter selang yang diketahui kita dapat menghitung kecepatan aliran fluida, untuk perhitungannya dapat dihitung dengan menggunakan rumus; v Q A Dimana : v Kecepatan aliran fluida (m/s) Q Debit aliran fluida (m 3 /s) A Luas penampang selang (m 2 /s) Diketahui : Q 2,057 l/menit 0, m 3 /s D 7 mm 0,007 m πd 2 (3,14)(0,007) 2 A 0, m Maka kecepatan aliran fluida adalah; v 0, , ,89 m/s 4.9 Perhitungan Head Loss Major Dan Head Loss Minor Head loss Major Head loss major dapat dicari dengan persamaan darcy, yaitu: H L λ x L x v 2 D x 2g Dimana : λ : faktor gesekan L : panjang pipa (m) D : diameter dalam pipa (m) v : kecepatan rata-rata fluida (m/s)

32 100 g : gravitasi (m/s 2 ) Untuk mengetahui head loss major perlu dicari terlebih menentukan dahulu besarnya bilangan Reynold, dan menentukan koofisien gesek. Dari hasil pengujian diperoleh data sebagai berikut: 1. Mencari bilangan Reynolds Mencari bilangan Reynolds digunakan rumus di bawah ini: Re ν D v Dimana: Re Bilangan Reynolds v Kecepatan aliran fluida (m/s) D Diameter selang (m) ν Viskositas kinmatik Diketahui, v 0,89 m/s D 0,007 m ν 1,7 x 10-5 m 2 /s Maka Bilangan Reynolds yang di dapat adalah; Re (0,89)(0,007) 1,7 x , ,7 x ,00366 x Menghitung koofisien gesek

33 101 Karena bilangan Reynolds < 2300 maka aliran fluida bersifat laminer, untuk aliran laminer koofisien gesek pada pipa atau selang dapat dicari dengan rumus: λ 64 Re Jadi koofisien gesek yang terjadi adalah : λ ,17 3. Menghitung Head Loss Major Diketahui : Koofisien gesekan (λ) : 0,17 Panjang pipa atau selang (L) : 90 cm atau 0,9 m Diameter selang (D) : 7 mm atau 0,007 m Kecepatan aliran fluida (v) : 0,89 m/s H L λ x L x v 2 D x 2g H L (0,17)(0,9)(0,89) 2 (0,07)(2 x 9,8) 0,121 1,372 0,088 m Head Loss Minor diantaranya : Kerugian perpipaan akibat penggunaan aksesoris pipa dan terbagi menjadi

34 102 o Akibat sambungan tee 2 buah o Akibat gate valve o Check valve 2 buah H lminor k v 2 2g (2tee + gate valve + 2check valve) v 2 2g ((2 x 1,8) + 4,5 + (2 x 4)) (0,89) 2 (2 x 9,8) (3,6 + 4,5 + 8)( 0,040) 0,644 m Head Loss Total H loss major H loss Total + H lminor 0, ,644 0,732 m Menghitung Head Pompa yang dibutuhkan Head pompa dapat dihitung dengan menggunakan rumus; P v 2 H P + + Z+H loss total γ g Diketahui : P 17,14 kgf/cm 2 atau kgf/m 2 γ 8937,6 N/m 3 v 0,89 m/s

35 103 g 9,8 m/s 2 z 60 cm atau 0,6 m H loss total 0,732 m Maka Head pompa yang dibutuhkan adalah H (0,89) 2 P + + (0,6 + 0,732) 8937,6 9,8 19,18 + 0, ,332 20,593 m Menghitung daya pompa Daya pompa dapat dihitung dengan rumus: W H p. γ.q s Dimana : H p Head Pompa γ Berat Jenis Fluida Q s Kapasitas Silinder Diketahui: H p 20,57 m γ 8937,6 N/m 3 Q s v.(asilinder1 + A silinder 2 + A silinder 3) Diketahui : v 0,022 m/s A 1 0, m 2 A 2 0, m 2 A 3 0, m 2

36 104 Q s 0, , , (0,89) ( ) (0,89) (0,001316) 0,00117 m 3 /s Maka Daya Pompa yang dibutuhkan adalah: W H p. γ.q s (20,593)( 8937,6)(0,00117) 215,34 Watt 0,289 HP Gambar 4.34 Gambar 3 dimensi hasil rancangan dan pembuatan

ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK

ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK 1 JTM Vol. 04, No. 1, Februari 2015 ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK Pathul Wadi Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana

Lebih terperinci

ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK

ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK JTM Vol. 04, No. 1, Februari 2015 1 ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK Pathul Wadi Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA 4.1 Identifikasi Kendaraan Gambar 4.1 Yamaha RX Z Spesifikasi Yamaha RX Z Mesin : - Tipe : 2 Langkah, satu silinder - Jenis karburator : karburator jenis piston - Sistem Pelumasan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR BAGAN... vii DAFTAR NOTASI... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix BAB I PENDAHULUAN... 1

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skematik Chassis Engine Test Bed Chassis Engine Test Bed digunakan untuk menguji performa sepeda motor. Seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1, skema pengujian didasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL

BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL 3.1 DESKRIPSI PERALATAN PENGUJIAN. Peralatan pengujian yang dipergunakan dalam menguji torsi dan daya roda sepeda motor Honda Karisma secara garis besar dapat digambarkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL

BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL BAB III METODOLOGI KAJI EKSPERIMENTAL 3.1 Deskripsi Peralatan Pengujian Peralatan pengujian yang dipergunakan dalam menguji torsi dan daya roda sepeda motor Yamaha Crypton secara garis besar dapat digambarkan

Lebih terperinci

ANALISIS KERJA MOBIL TENAGA UDARA MSG 01 DENGAN SISTEM DUA TABUNG

ANALISIS KERJA MOBIL TENAGA UDARA MSG 01 DENGAN SISTEM DUA TABUNG UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI ANALISIS KERJA MOBIL TENAGA UDARA MSG 01 DENGAN SISTEM DUA TABUNG Disusun Oleh : Nama : Tohim Purnanto Npm : 27411140 Jurusan : Teknik Mesin Pembimbing

Lebih terperinci

UNJUK KERJA MOBIL MSG 01 DENGAN SISTEM TENAGA UDARA

UNJUK KERJA MOBIL MSG 01 DENGAN SISTEM TENAGA UDARA UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNJUK KERJA MOBIL MSG 01 DENGAN SISTEM TENAGA UDARA Disusun Oleh : Nama : Muhammad Rizki Npm : 24411960 Jurusan : Teknik Mesin Pembimbing : 1. Dr. Rr.

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK 4.1 Perhitungan Beban Operasi System Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat movable bridge kapasitas 100 ton yang akan diangkat oleh dua buah silinder hidraulik kanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Penelitian 3.1.1 Alat Penelitian Dalam melakukan proses penelitian digunakan alat sebagai berikut: 1. Dynamometer Dynamometer adalah sebuah alat yang digunakan

Lebih terperinci

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT PENGUJIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini berupa alat sederhana. Alat yang di desain untuk mensirkulasikan fluida dari tanki penampungan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Diagram alir adalah suatu gambaran utama yang dipergunakan untuk dasar dalam bertindak. Seperti halnya pada perancangan diperlukan

Lebih terperinci

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek dari saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan Penelitian 3.1.1. Sepeda Motor Untuk penelitian ini sepeda motor yang digunakan YAMAHA mio sporty 113 cc tahun 2007 berikut spesifikasinya : 1. Spesifikasi Mesin

Lebih terperinci

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan dalam pengontrolan dan kemudahan dalam pengoperasian

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1. HONDA SUPRA X 125 PGM-FI Honda Supra X adalah salah satu merk dagang sepeda motor bebek yang di produksi oleh Astra Honda Motor. Sepeda motor ini diluncurkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Mulai Studi Literatur, Persiapan alat dan bahan modifikasi Cylinder Head 2 lubang busi Pengujian performa Engine 2 busi Pengujian dengan peng. std

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan dalam penelitian ditunjukkan pada gambar berikut :

BAB III METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan dalam penelitian ditunjukkan pada gambar berikut : BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Bahan dan Alat 3.1.1. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ditunjukkan pada gambar berikut : a. Yamaha Jupiter MX 135 1) Sepesifikasi Gambar 3.1 Yamaha Jupiter MX 135

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS

PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS 1. Dongkrak Hidrolik Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum Pascal. Berikut ini prinsip kerja dongkrak hidrolik. Saat pengisap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram alir penelitian Diagram alir penelitian yang dilakukan dengan prosedur adalah sebagai berikut seperti pada Gambar 3.1 MULAI Persiapan Penelitian 1. Sepeda motor standar

Lebih terperinci

PRESTASI MOTOR BENSIN HONDA KARISMA 125 CC TERHADAP BAHAN BAKAR BIOGASOLINE, GAS LPG DAN ASETILEN

PRESTASI MOTOR BENSIN HONDA KARISMA 125 CC TERHADAP BAHAN BAKAR BIOGASOLINE, GAS LPG DAN ASETILEN Jakarta, 26 Januari 2013 PRESTASI MOTOR BENSIN HONDA KARISMA 125 CC TERHADAP BAHAN BAKAR BIOGASOLINE, GAS LPG DAN ASETILEN Nama : Gani Riyogaswara Npm : 20408383 Fakultas : Teknologi Industri Jurusan :

Lebih terperinci

3.2. Prosedur pengujian Untuk mengetahui pengaruhnya perbanding diameter roller CVT Yamaha mio Soul, maka perlu melakukan suatu percobaan. Dalam hal i

3.2. Prosedur pengujian Untuk mengetahui pengaruhnya perbanding diameter roller CVT Yamaha mio Soul, maka perlu melakukan suatu percobaan. Dalam hal i BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Diagram Tahap Pengujian Sepeda Motor Yamaha Mio Soul Tune Up Roller CVT Diameter 15mm Roller CVT Diameter 16mm Roller CVT Diameter 17mm Variasi Putaran Mesin Pengukuran Daya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian Didalam melakukan pengujian diperlukan beberapa tahapan agar dapat berjalan lancar, sistematis dan sesuai dengan prosedur dan literatur

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perancangan Produk Dengan Metode Pahl Dan Beitz Perancangan merupakan kegiatan awal dari usaha untuk merealisasikan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan. Setelah perancangan

Lebih terperinci

Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk

Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk DAFTAR ISI Halaman Judul... i Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing... ii Lembar Pengesahan Dosen Penguji... iii Halaman Persembahan... iv Halaman Motto... v Kata Pengantar... vi Abstrak... ix Abstract...

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan tempat pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan tempat pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut : BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Waktu dan tempat pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut : 1. Tempat pengujian :Dynotest center Mototech Jalan Ringroad Selatan,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian untuk menguji pengaruh jenis larutan elektrolit pada Hydrogen Eco Booster tipe Wet Cell terhadap konsumsi bahan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Peralatan 3.1.1 Instalasi Alat Uji Alat uji head statis pompa terdiri 1 buah pompa, tangki bertekanan, katup katup beserta alat ukur seperti skema pada gambar 3.1 : Gambar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Diagram Alir Pengujian Proses penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditunjukkan pada gambar 3.1. : 3.1.1. Diagram alir pengujian percikan bunga api pada busi

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian BAB III METODOLOGI PENGUJIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi Pengujian MULAI STUDI PUSTAKA PERSIAPAN MESIN UJI PEMERIKSAAN DAN PENGESETAN MESIN KONDISI MESIN VALIDASI ALAT UKUR PERSIAPAN PENGUJIAN PEMASANGAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Mesin mesin dan Alat Uji Pengujian kendaraan bermotor menggunakan bermacam macam jenis standarisasi diantaranya BSN, ISO, IEC, DIN, NISO, ASTM dll. Sebelum melakukan pengujian

Lebih terperinci

Oleh : Endiarto Satriyo Laksono Maryanto Sasmito

Oleh : Endiarto Satriyo Laksono Maryanto Sasmito Oleh : Endiarto Satriyo Laksono 2108039006 Maryanto Sasmito 2108039014 Dosen Pembimbing : Ir. Syamsul Hadi, MT Instruktur Pembimbing Menot Suharsono, S.Pd ABSTRAK Dalam industri rumah untuk membuat peralatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA 4. 1. Perhitungan Pompa yang akan di pilih digunakan untuk memindahkan air bersih dari tangki utama ke reservoar. Dari data survei diketahui : 1. Kapasitas aliran (Q)

Lebih terperinci

JUDUL TUGAS AKHIR ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI

JUDUL TUGAS AKHIR  ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI JUDUL TUGAS AKHIR http://www.gunadarma.ac.id/ ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI ABSTRAKSI Alat uji kehilangan tekanan didalam sistem perpipaan dibuat dengan menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR

ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR Oleh : DEKY PUTRA 04 04 22 013 3 DEPARTEMEN TEKNIK MESIN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Pengujian Proses pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari 3 bagian yang dapat ditunjukkan pada gambar-gambar di bawah ini: A. Diagram

Lebih terperinci

BAB I KOMPONEN UTAMA SEPEDA MOTOR

BAB I KOMPONEN UTAMA SEPEDA MOTOR BAB I KOMPONEN UTAMA SEPEDA MOTOR Sepeda motor terdiri dari beberapa komponen dasar. Bagaikan kita manusia, kita terdiri atas beberapa bagian, antara lain bagian rangka, pencernaan, pengatur siskulasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Aliran Pengujian Proses pengambilan data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari 3 bagian yang dapat ditunjukan pada gambar gambar dibawah ini : A. Diagram

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan

BAB I PENDAHULUAN. Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan yang memiliki kekentalan (viskositas) yang tinggi dari tempat satu ke tempat yang lain. Ada berbagai

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK

BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK.1. Perhitungan Silinder-silinder Hidraulik.1.1. Kecepatan Rata-rata Menurut Audel Pumps dan Compressor Hand Book by Frank D. Graha dan Tara Poreula, kecepatan piston dipilih

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental, yaitu metode yang digunakan untuk menguji karakteristik percikan bunga api dan kinerja motor dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan dan Alat 3.1.1. Bahan Penelitian a. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepeda motor 4 langkah 110 cc seperti dalam gambar 3.1 : Gambar 3.1. Sepeda

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Bahan Penelitian Pada penelitian ini, terdapat beberapa bahan yang digunakan dalam proses penelitian diantaranya adalah : 3.1.1. Sepeda Motor Sepeda motor yang digunakan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses BAB II DASAR TEORI 2.1. Definisi Motor Bakar Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses pembakaran. Ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini mesin kalor dibagi menjadi 2

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Perpipaan Dalam pembuatan suatu sistem sirkulasi harus memiliki sistem perpipaan yang baik. Sistem perpipaan yang dipakai mulai dari sistem pipa tunggal yang sederhana

Lebih terperinci

ANALISA PERANCANGAN INSTALASI GAS

ANALISA PERANCANGAN INSTALASI GAS Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri 2018 ISSN 2085-4218 ANALISA PERANCANGAN INSTALASI GAS UNTUK RUMAH SUSUN PENGGILINGAN JAKARTA TIMUR Surya Bagas Ady Nugroho 1), 2. Ir. Rudi Hermawan,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Pengujian Proses pengujian ini sesuai dengan prosedur diagram alir dapat dilihat pada gambar 3.1. Mulai Studi Literatur Kajian tentang karakteristik Viskositas

Lebih terperinci

Mesin Kompresi Udara Untuk Aplikasi Alat Transportasi Ramah Lingkungan Bebas Polusi

Mesin Kompresi Udara Untuk Aplikasi Alat Transportasi Ramah Lingkungan Bebas Polusi Mesin Kompresi Udara Untuk Aplikasi Alat Transportasi Ramah Lingkungan Bebas Polusi Darwin Rio Budi Syaka a *, Umeir Fata Amaly b dan Ahmad Kholil c Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik, Universitas Negeri

Lebih terperinci

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan

Lebih terperinci

Gambar 3.1. Diagram alir percikan bunga api pada busi

Gambar 3.1. Diagram alir percikan bunga api pada busi BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Diagram Alir Pengujian Proses pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi 3 bagian yang dapat ditunjukkan pada gambar-gambar di bawah ini : 1.1.1. Diagram

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini antara lain : 1. Motor Bensin 4-langkah 110 cc Pada penelitian ini, mesin uji yang

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA 4.1 DATA Selama penelitian berlangsung, penulis mengumpulkan data-data yang mendukung penelitian serta pengolahan data selanjutnya. Beberapa data yang telah terkumpul

Lebih terperinci

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR JPTM FPTK 2006 KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BAHAN AJAR NO 2 Motor TANGGAL : KOMPETENSI Komponen Utama

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DATA

BAB III ANALISA DATA BAB III ANALISA DATA 3.1 Prosedur Pengujian Untuk melakukan pengujian, motor harus memiliki prosedur tersendiri. Berikut prosedur yang harus dipenuhi sebagai berikut : a. Motor harus dalam kondisi standar

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental, yaitu metode yang digunakan untuk menguji karakteristik pengaruh variasi CDI Standar dan CDI Racing

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. MESIN-MESIN FLUIDA Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis poros menjadi energi potensial atau sebaliknya mengubah energi fluida (energi potensial

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini antara lain :. Motor Bensin 4-langkah 5 cc Pada penelitian ini, mesin uji yang digunakan

Lebih terperinci

PERENCANAAN POWER PACK MESIN PRESS HIDROLIK

PERENCANAAN POWER PACK MESIN PRESS HIDROLIK PERENCANAAN POWER PACK MESIN PRESS HIDROLIK SKRIPSI Diajukan Untuk Penulisan Skripsi Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S.T) Pada Program Studi TEKNIK MESIN UN PGRI Kediri

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON

TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON Diajukan Guna Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir Pada Program Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh

Lebih terperinci

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA 3.1 Metode Pengujian 3.1.1 Pengujian Dual Fuel Proses pembakaran di dalam ruang silinder pada motor diesel menggunakan sistem injeksi langsung.

Lebih terperinci

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II BAB II FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS 2.1 Tujuan Pengujian 1. Mengetahui pengaruh factor gesekan aliran dalam berbagai bagian pipa pada bilangan reynold tertentu. 2. Mengetahui pengaruh

Lebih terperinci

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK Dalam ilmu hidraulik berlaku hukum-hukum dalam hidrostatik dan hidrodinamik, termasuk untuk sistem hidraulik. Dimana untuk kendaraan forklift ini hidraulik berperan

Lebih terperinci

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA Untuk mendapatkan koefisien gesek pada saluran pipa berpenampang persegi, nilai penurunan tekanan (pressure loss), kekasaran pipa dan beberapa variabel

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERAWATAN DAN PERBAIKAN

BAB III PROSES PERAWATAN DAN PERBAIKAN DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN NOMOR PERSOALAN... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii LEMBAR PERNYATAAN... iv LEMBAR PERSEMBAHAN... v MOTTO... vi KATA PENGANTAR... vii ABSTRACT... ix INTISARI... x DAFTAR

Lebih terperinci

PENGERTIAN HIDROLIKA

PENGERTIAN HIDROLIKA HYDRAULICS PENGERTIAN HIDROLIKA Hidrolika : ilmu yang menyangkut berbagai gerak dan keadaan kesetimbangan zat cair dan pemanfaatannya untuk melakukan suatu kerja. Hidrostatika memiliki prinsip bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENGUJIAN. Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) seperti Uji emisi, Akselerasi, dan. Kendaraan uji yang disiapkan adalah :

BAB III METODE PENGUJIAN. Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) seperti Uji emisi, Akselerasi, dan. Kendaraan uji yang disiapkan adalah : BAB III METODE PENGUJIAN 3.1 Mesin - mesin dan Alat Uji Sebelum melakukan pengujian emisi kita harus mengetahui standarisasi yang akan kita gunakan. Standarisaisi yang akan saya gunakan disini adalah Standarisasi

Lebih terperinci

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya IV. PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Kriteria Perancangan Perancangan dynamometer tipe rem cakeram pada penelitian ini bertujuan untuk mengukur torsi dari poros out-put suatu penggerak mula dimana besaran ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Penelitian Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai maka dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian eksperimental yaitu metode yang dapat dipakai untuk menguji

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi motor bensin 4-langkah 135 cc. mesin uji yang digunakan adalah sebagai berikut. : 4 langkah, SOHC, 4 klep

METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi motor bensin 4-langkah 135 cc. mesin uji yang digunakan adalah sebagai berikut. : 4 langkah, SOHC, 4 klep III. METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian 1. Spesifikasi motor bensin 4-langkah 135 cc Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor bensin 4- langkah 135 cc, dengan merk Yamaha

Lebih terperinci

BAB III SET-UP ALAT UJI

BAB III SET-UP ALAT UJI BAB III SET-UP ALAT UJI Rangkaian alat penelitian MBG dibuat sebagai waterloop (siklus tertutup) dan menggunakan pompa sebagai penggerak fluida. Pengamatan pembentukan micro bubble yang terjadi di daerah

Lebih terperinci

: Suzuki Satria F 150 cc. : 150 cc, 4 langkah, DOHC pendingin udara. : Cakram depan belakang

: Suzuki Satria F 150 cc. : 150 cc, 4 langkah, DOHC pendingin udara. : Cakram depan belakang BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan penelitian Dibawah ini adalah spesifiksi dari motor 4 langkah Suzuki Satria F 150 cc : Gambar 3.1 Suzuki Satria F 150 cc 1. Motor 4 Langkah 150 cc : Jenis kendaraan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN SISTEM HIDROLIK Sistem hidrolik adalah sistem penerusan daya dengan menggunakan fluida cair. minyak mineral adalah jenis fluida yang sering dipakai. prinsip dasar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART 4.1. Analisa Performa Perhitungan ulang untuk mengetahui kinerja dari suatu mesin, apakah kemampuan

Lebih terperinci

Gambar 4.1 mesin Vespa P150X. Gambar 4.2 stand mesin. 4.2 Hasil pemeriksaan komponen mesin VESPA P150X Hasil pemeriksaan karburator

Gambar 4.1 mesin Vespa P150X. Gambar 4.2 stand mesin. 4.2 Hasil pemeriksaan komponen mesin VESPA P150X Hasil pemeriksaan karburator BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Mesin Dan Transmisi Vespa P150X Engine stand merupakan sebuah alat bantu stand engine yang digunakan untuk mengkondisikan mesin agar dapat diletakan pada besi plat yang

Lebih terperinci

Pembakaran. Dibutuhkan 3 unsur atau kompoenen agar terjadi proses pembakaran pada tipe motor pembakaran didalam yaitu:

Pembakaran. Dibutuhkan 3 unsur atau kompoenen agar terjadi proses pembakaran pada tipe motor pembakaran didalam yaitu: JPTM FPTK 2006 KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BUKU AJAR NO 2 Motor Bensin TANGGAL : KOMPETENSI Mendeskripsikan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Mesin uji yang akan menggunakan cylinder head, cylinder dan crankshaft

III. METODOLOGI PENELITIAN. Mesin uji yang akan menggunakan cylinder head, cylinder dan crankshaft III. METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Penelitian 1. Spesifikasi Sepeda Motor 4-langkah Mesin uji yang akan menggunakan cylinder head, cylinder dan crankshaft sepeda motor Honda Supra X 125 dalam

Lebih terperinci

ANALISA KAPASITAS DAN EFESIENSI POMPA TORAK. : Danang Sularso Wicaksono :

ANALISA KAPASITAS DAN EFESIENSI POMPA TORAK. : Danang Sularso Wicaksono : ANALISA KAPASITAS DAN EFESIENSI POMPA TORAK Nama NPM Jurusan Fakultas Pembimbing : Danang Sularso Wicaksono : 21411710 : Teknik Mesin : Teknologi Industri : Dr. Ridwan ST., MT. Latar Belakang 1. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan dan pembahasan dimulai dari proses pengambilan dan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan meliputi data dan spesifikasi obyek penelitian dan hasil pengujian. Data-data

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Modifikasi kendaraan bermotor di Indonesia sering dilakukan, baik kendaraan

I. PENDAHULUAN. Modifikasi kendaraan bermotor di Indonesia sering dilakukan, baik kendaraan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Modifikasi kendaraan bermotor di Indonesia sering dilakukan, baik kendaraan mobil maupun sepeda motor. Khusus pada modifikasi sepeda motor banyak dilakukan pada kalangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pompa Pompa adalah peralatan mekanis yang digunakan untuk menaikkan cairan dari dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk mengalirkan cairan dari daerah bertekanan

Lebih terperinci

yang digunakan adalah sebagai berikut. Perbandingan kompresi : 9,5 : 1 : 12 V / 5 Ah Kapasitas tangki bahan bakar : 4,3 liter Tahun Pembuatan : 2004

yang digunakan adalah sebagai berikut. Perbandingan kompresi : 9,5 : 1 : 12 V / 5 Ah Kapasitas tangki bahan bakar : 4,3 liter Tahun Pembuatan : 2004 24 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian. Spesifikasi motor bensin 4-langkah 0 cc Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor bensin 4- langkah 0 cc, dengan merk Suzuki

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor bensin 4-langkah

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor bensin 4-langkah BAB III METODE PENELITIAN 3. Alat dan Bahan Pengujian. Motor bensin 4-langkah 0 cc Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor bensin 4-langkah 0 cc dengan merk Honda Blade. Adapun spesifikasi

Lebih terperinci

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAAN 4.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI KOPLING Kopling adalah satu bagian yang mutlak diperlukan pada truk dan jenis lainnya dimana penggerak utamanya diperoleh dari hasil pembakaran di dalam silinder

Lebih terperinci

PERANCANGAN INTALASI ALAT TEST PENYEMPROTAN INJEKTOR MOBIL TOYOTA AVANZA 1.3 G (1300 cc) ENGINE TIPE K3-VE DENGAN KAPASITAS 40 LITER/JAM

PERANCANGAN INTALASI ALAT TEST PENYEMPROTAN INJEKTOR MOBIL TOYOTA AVANZA 1.3 G (1300 cc) ENGINE TIPE K3-VE DENGAN KAPASITAS 40 LITER/JAM JURNAL TEKNOLOGI & INDUSTRI Vol. 3 No. 1; Juni 2014 ISSN 2087-6920 PERANCANGAN INTALASI ALAT TEST PENYEMPROTAN INJEKTOR MOBIL TOYOTA AVANZA 1.3 G (1300 cc) ENGINE TIPE K3-VE DENGAN KAPASITAS 40 LITER/JAM

Lebih terperinci

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel Konsep Aliran Fluida Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel Hal-hal yang diperhatikan : Sifat Fisis Fluida : Tekanan, Temperatur, Masa

Lebih terperinci

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2 Sistem Hidrolik No HP : 082183802878 Tujuan Training Peserta dapat : Mengerti komponen utama dari sistem hidrolik Menguji system hidrolik Melakukan perawatan pada sistem hidrolik Hidrolik hydro = air &

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN

UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN DOKUMEN NEGARA UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kompetensi Keahlian : Teknik Sepeda Motor Kode Soal : 1316 Alokasi Waktu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. Tekanan Atmosfer Tekanan atmosfer adalah tekanan yang ditimbulkan oleh bobot udara di atas suatu titik di permukaan bumi. Pada permukaan laut, atmosfer akan menyangga kolom air

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Pengujian Proses pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari 3 bagian yang dapat ditunjukkan pada gambar-gambar di bawah ini: A. Diagram

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang masuk melalui lubang intake dengan 7 variabel bukaan klep in saat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang masuk melalui lubang intake dengan 7 variabel bukaan klep in saat BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1. Hasil pengujian flowbench 1.1.1. Pengambilan data awal airflow (cfm) pada lubang intake standar Pengujian dilakukan untuk mencari data banyaknya campuran bahan bakar yang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN 4.1 Perhitungan Pengurangan Tekanan pada Katup. Pada bab ini akan dilakukan analisa kebocoran pada power steering system meliputi perhitungan kerugian tekanan yang dialami

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai. Observasi & Studi Literatur. Identifikasi Sistem. Mekanisme Katup. Pengujian Dynotest awal

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai. Observasi & Studi Literatur. Identifikasi Sistem. Mekanisme Katup. Pengujian Dynotest awal 3.1 Diagram Alir (Flow Chart) BAB III METODE PENELITIAN Mulai Observasi & Studi Literatur Identifikasi Sistem Mekanisme Katup Pengujian Dynotest awal Proses Modifikasi Camshaft Pengujian Dynotest Hasil

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER

BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER 4.1 Perhitungan Blower Untuk mengetahui jenis blower yang digunakan dapat dihitung pada penjelasan dibawah ini : Parameter yang diketahui : Q = Kapasitas

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini meliputi : mesin

III. METODOLOGI PENELITIAN. Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini meliputi : mesin III. METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini meliputi : mesin bensin 4-langkah, alat ukur yang digunakan, bahan utama dan bahan tambahan..

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN. penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN 3.1. Tempat Pelaksanaan Tempat yang akan di gunakan untuk perakitan dan pembuatan sistem penggerak belakang gokart adalah bengkel Teknik Mesin program Vokasi Universitas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PRINSIP PEMINDAHAN TENAGA Sepeda motor dituntut bisa dioperasikan atau dijalankan pada berbagai kondisi jalan. Namun demikian, mesin yang berfungsi sebagai penggerak utama pada

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Power Steering Dalam mengemudikan kendaraan roda empat, terkadang kita menemukan kendaraan yang mudah untuk dikendarai dan ada juga yang sulit. Salah satu faktornya adalah

Lebih terperinci