MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Tidak dapat dipungkiri bahwa ada begitu banyak tuntutan, tanggungjawab dan kewajiban yang tidak bisa diabaikan oleh seorang pendeta jemaat. Dengan berbagai macam dan ragam tuntutan tanggungjawab profesional, ditambah lagi dengan semangat pelayanan yang tinggi, seringkali para pendeta menghabiskan waktunya di luar rumah dan melakukan pelayanan kepada jemaat. Bahkan ada pendeta yang memiliki komitmen dan terlalu sibuk mengerjakan tugas intelektual kependetaannya, entah dalam pelayanan pastoral atau pembinaan program misi sesuai dengan waktu dan tenaga yang tersedia 1. Hal ini tidak mengherankan karena pendeta pada umumnya dikenal sebagai gembala dalam gereja yang dituntut selalu ada bagi jemaatnya. Hal tersebut mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi pendeta jemaat yang single, yang secara sengaja memilih untuk tidak menikah. Tetapi bagi pendeta yang menikah akan memiliki tanggungjawab yang lain, yang sama pentingnya yaitu keluarga. Kedua tanggungjawab ini menuntut perhatian yang sama besarnya. Bagi pendeta laki-laki, tanggungjawab profesional dan tanggungjawab untuk keluarga akan mudah diseimbangkan karena laki-laki sebagai pencari nafkah akan ditopang oleh isterinya yang mengurus rumah tangga. Hal yang dianggap wajar jika laki-laki lebih sibuk di luar rumah. Namun, bagaimana dengan pendeta perempuan, apalagi jika diperhadapkan dengan budaya patriarkhal? Perbedaannya sangat jelas dan akan kita lihat melalui pengalaman para pendeta perempuan di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Persoalan tersebut penting untuk dibicarakan mengingat semakin meningkatnya jumlah pendeta perempuan di GBKP. Pendeta dikenal sebagai Gembala atau Pelayan Khusus Penuh Waktu 2 (full time) yang harus bersedia kapan saja jika ada jemaat yang membutuhkannya. Sebutan ini berlaku bagi semua pendeta jemaat, baik laki-laki maupun perempuan. Melihat kenyataan ini, penulis melihat bahwa walaupun dalam gereja, perempuan sudah diberi kebebasan untuk 1 Gaylord Noyce, Tanggungjawab Etis Pelayanan Jemaat, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hal Tata gereja Moderamen GBKP Bab III tentang Pelayan Khusus dan Panggilannya Pasal 10 ayat 4, hal

2 menunjukkan kompetensinya, tetapi seringkali perempuan diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang mengakibatkan sebuah dilema bagi dirinya sendiri. Inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengkajinya lebih dalam. B. Deskripsi Permasalahan Jika diperhatikan secara teologis, perempuan memang sudah diberi tempat untuk ikut berperan. Gereja sudah terbuka matanya akan ketertindasan yang dialami oleh perempuan selama ini baik dalam masyarakat maupun dalam gereja sendiri. Gereja ikut dalam gerakan feminisme yang bertujuan untuk membebaskan perempuan dari ketertindasannya. Penafsiran ulang terhadap ayat-ayat yang bias gender juga sudah dilakukan 3. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara teologis penerimaan itu membebaskan perempuan. Tetapi ketika berinteraksi dengan masyarakat, apakah perempuan dapat memperoleh kebebasannya dan mengaktualisasikan dirinya secara utuh? Sejalan dengan pendapat Anne Hommes 4 bahwa peran perempuan dalam gereja sangat dipengaruhi oleh ajaran agama, budaya dan sistem patriarkhi. Oleh karena itu, gereja juga seharusnya memperhatikan dilema yang dihadapi oleh pendeta perempuan dalam melakukan tugas pelayanannya. Realita yang tidak dapat dipungkiri bahwa GBKP merupakan salah satu gereja suku di Indonesia. GBKP hidup di tengah-tengah masyarakat Karo dan dihidupi oleh orang-orang Karo 5 yang pada dasarnya menganut kuat tatanan dan struktur budaya Patriarkhi 6. Di satu sisi perempuan terkesan dianggap penting, namun di sisi lain justru dinomor duakan bahkan direndahkan. Perempuan diakui sebagai penolong bagi kaum laki-laki. Namun, pada prakteknya perempuan hanya dipandang sebagai pelengkap demi tercapainya tujuan kaum laki-laki. Misalnya saja, kehidupan keluarga dibawah kekuasaan laki-laki. Laki-laki merupakan kepala keluarga, penerus keturunan, pewaris segala sesuatu yang dimiliki oleh orangtua. Sementara perempuan berperan dalam hal melahirkan anak laki-laki dalam keluarga sebagai penerus keturunan dari ayah. Budaya ini sudah sangat mendarah daging 3 Bdk. Almanak GBKP 2009 tentang tema dan materi-materi pengajarannya. 4 Hommes, Anne, Perubahan Peran Pria dan Wanita dalam Gereja dan Masyarakat, Jakarta Yogyakarta: BPK Gunung Mulia-Kanisius, 1992, hal Sekarang sudah ada kemajuan dalam artian sudah mulai terbuka dengan suku-suku lain diluar suku Karo. Sudah banyak anggota jemaat yang terdaftar di GBKP yang bukan dari suku Karo. 6 Dalam budaya Patriarkhi pada dasarnya menempatkan kaum perempuan sebagai manusia kelas dua dalam masyarakat. 2

3 dalam masyarakat Karo pada umumnya. Peran perempuan hanyalah sebagai pelaksana keputusan-keputusan kaum laki-laki semata. Sama halnya dalam adat, keputusan selalu ada di tangan kaum laki-laki. Ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi seorang pendeta (dengan berbagai macam alasan yang melatarbelakanginya), maka dia harus bekerja keras untuk keluar dari sistem dan struktur Patriarkhi tersebut. Dalam gereja, pendeta perempuan akan menjadi seorang pemimpin yang melayani jemaat yang menuntutnya menjadi seorang profesional. Namun, seringkali karena faktor budaya perempuan mengalami kesulitan untuk menunjukkan profesionalitasnya dalam pelayanan. Hal tersebut akan kita fokuskan pada pendeta perempuan yang berkeluarga 7. Dalam gereja mereka akan menjadi pemimpin bagi jemaat yang memiliki tuntutan profesional dan pada waktu yang sama mereka tetap dibawah kekuasaan suaminya yang juga menuntutnya supaya melakukan perannya sebagai isteri dan ibu. Ketika kedua peran tersebut tidak dapat dilakukan dengan seimbang biasanya ada perasaan gagal bagi pendeta tersebut. Hal tersebut mengakibatkan dilema bagi pendeta perempuan khususnya di GBKP. Pergumulan yang demikian sering kali menjadi dilema bagi mereka yaitu sebagai berikut: Jemaat sebagai Prioritas Pelayanan Di tengah-tengah jemaat GBKP dipakai istilah Gembala atau Pelayan Khusus Penuh Waktu 8 (full time), yang pada umumnya disebut Pendeta. Dengan latar belakang pendidikan teologi atau berdasarkan karunia khusus seseorang diangkat menjadi seorang pendeta. Hasil dari belajar itu dipakai dalam pelayanan secara profesional. Pendeta tidak lebih tinggi atau lebih penting daripada anggota majelis yang lain. Yang membedakannya adalah seorang pendeta merupakan seorang ahli yang memakai keahliannya demi kepentingan pembangunan jemaat. Seringkali sebutan Gembala atau Pelayan Khusus Penuh Waktu bagi para pendeta, membuatnya terjebak dalam pelayanan dalam jemaat. Untuk memaksimalkan pelayanannya, maka jemaat memberi gaji (sehingga tidak perlu mencari nafkah di luar), diberi fasilitas (kendaraan dan rumah). Dengan demikian, rasa tanggungjawab yang besar 7 Penulis mengkhususkan pembahasannya bagi pendeta yang berkeluarga karena pada umumnya tuntutan dan tanggungjawab mereka lebih besar. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa pendeta lajang tidak memiliki tuntutan dan tanggungjawab tersendiri. 8 Tata gereja Moderamen GBKP Bab III tentang Pelayan Khusus dan Panggilannya Pasal 10 ayat 4, hal 8-9 3

4 muncul pada diri pendeta dan seluruh waktu pendeta akan dicurahkan bagi jemaat. Jemaat pada umumnya mengharapkan agar pendetanya siap sedia setiap saat bilamana mereka membutuhkannya dan ingin bertemu dengannya. Seorang pendeta akan dikagumi apabila dia pintar dalam berkhotbah, pandai berorganisasi, menguasai administrasi gereja. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah seorang pendeta harus rajin perkunjungan ke rumah-rumah jemaat. Ketika ada jemaat yang sakit, pendeta dipanggil untuk mendoakannya. Ketika jemaat berulang tahun, pendeta diharapkan datang dan membuat ibadah syukuran. Ketika ada kelahiran, kematian, memasuki rumah baru dan lain sebagainya, pendeta diharapkan hadir bagi jemaat yang bersangkutan. Bahkan ketika ada jemaat yang ingin bercerai atau ingin rujuk kembali, pendeta juga diundang untuk ikut berperan di dalamnya. Dengan kata lain, pendeta harus hadir dalam setiap moment kehidupan jemaat dan untuk itulah pendeta hadir sebagai pelayan bagi jemaat. Selain itu, hal tersebut juga menunjukkkan bahwa begitu pentingnya seorang pendeta bagi jemaat dan begitu tergantungnya jemaat pada pendeta. Pendeta menjadi satusatunya aktor penting dalam gereja. Apakah tugas pelayanan dalam gereja hanya merupakan tanggungjawab pendeta saja? Dengan demikian, seringkali tidak ada waktu yang cukup bagi seorang pendeta untuk memberi perhatian bagi keluarganya. Akibatnya, yang paling sering menjadi korban adalah anak. Anak adalah korban dari kurangnya perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Dampaknya antara lain, anak kurang percaya diri, anak menjadi pribadi yang nakal serta pendidikan anak pun terabaikan. Dan jika ini terjadi dalam keluarga maka orang yang dianggap paling bertanggungjawab adalah orangtua, khususnya ibu karena tugas utamanya sebagai isteri adalah melayani suami dan anak-anak. Keluarga sebagai Prioritas Pelayanan Keluarga merupakan suatu komunitas penting yang diikat oleh cinta kasih antara suamiisteri dan anak-anak. Cinta kasih tersebut memperhatikan komitmen yang penuh. Autentisitas dari suatu komitmen tidak dapat ditukar dengan antusiasme di hari-hari pertama atau minggu-minggu sesudah upacara pernikahan, tetapi diuji dalam kesediaan untuk saling memperhatikan dan saling menaruh kepedulian dalam hidup sehari-hari 9. 9 Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hal.23 4

5 Dalam janji pernikahan Aku mengambil engkau baik dalam keadaan sakit maupun sehat, dalam keadaan susah maupun senang untuk mengasihi dan menghormati sepanjang hidup kita mengarah kepada pelayanan yang sungguh-sungguh terhadap isteri atau suami. Seorang pendeta yang berkhotbah, melakukan konseling kepada jemaat dengan maksimal akan merasa gagal ketika dia tidak mampu memberikan pelayanan dan perhatian yang sama kepada keluarganya. Bukan tidak mungkin bahwa ada pendeta perempuan yang menderita dan mengeluh, sebab mereka terpaksa mengabaikan pendidikan anak-anaknya dan urusan rumah tangganya oleh karena jemaat selalu berharap supaya pendeta maupun suaminya keluar rumah untuk hadir dalam upacara-upacara dalam jemaat. Ketika semua tugas pelayanan seorang pendeta dalam jemaat dilaksanakan dengan baik, belumlah menjamin bahwa pendeta tersebut berhasil. Menurut Maurice Eminyan, keluarga secara universal dianggap sebagai sel utama dan sangat vital bagi masyarakat. Tidak mungkin suatu masyarakat (jemaat) dapat dikatakan sehat tanpa keluarga yang sehat pula 10. Keberhasilan pelayanan pendeta juga diukur dari bagaimana anggota keluarganya bisa menjadi teladan bagi jemaat. Jemaat seringkali melihat pendeta dan keluarganya sebagai orang yang kudus, orang yang saleh dan bukan orang biasa. Dari mereka dituntut standar-standar sosial yang lebih tinggi daripada anggota jemaat biasa. Hal ini juga semestinya disadari oleh seorang pendeta agar mampu profesional dalam menjalankan peran kependetaannya. Standar-standar sosial yang dibentuk oleh jemaat ini seringkali menjebak pendeta dalam tanggungjawab profesionalnya dalam pelayanan. Disengaja atau tidak banyak pendeta ikut melanggengkan pandangan jemaat tersebut terhadap keluarga pendeta. Konsekuensinya, banyak pendeta yang bekerja keras dalam usaha pembentukan anggota keluarganya sesuai dengan harapan jemaat, tanpa mempertimbangkan potensi dan karakter anggota keluarganya. Untuk mendapatkan pengakuan akan keluarganya seringkali menjebak pendeta untuk lebih memfokuskan pelayanannya pada keluarganya. Atar-jemput anak ke sekolah, les privat, dan lain-lain. Hal tersebut sangat rentan bagi pendeta perempuan di GBKP yang masih dihidupi oleh orang-orang Karo yang masih kental dengan budaya Patriarkhi-nya. Seorang isteri harus melayani suami dan bertanggungjawab terhadap anak, 10 Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hal 8 5

6 sehingga ada kecenderungan bagi mereka untuk memberikan perhatian lebih bagi keluarganya. Hal ini sangat tampak jelas dari pemahaman tentang perempuan dalam masyarakat Karo. Seorang isteri dipahami sebagai sirukat nakan 11 yang artinya bahwa yang menyendok nasi adalah seorang isteri atau ibu yang memberikan kehidupan dan kekuatan bagi keluarga. Dalam kenyataan, kata ini dimaknai bahwa perempuan harus melayani keluarga, yakni harus melakukan pekerjaan domestik. Selain itu, istilah lain yang juga sampai sekarang masih dipakai adalah istilah tukur emas 12 artinya perempuan yang sudah dibeli. Seorang suami akan memperkenalkan isterinya dengan sebutan sikutur yang berarti yang telah saya beli. Sementara seorang isteri akan memperkenalkan suaminya dengan sebutan sinukur aku yang berarti orang yang telah membeli saya. Secara langsung hal ini menempatkan perempuan di posisi yang lebih rendah daripada laki-laki dan secara otomatis perempuan (berlaku bagi seorang pendeta) harus tunduk pada suami. Akibatnya seorang pendeta perempuan mengalami kesulitan dalam pelayanan profesionalnya dan pelayanan keluarganya padahal keduanya menuntut porsi yang seimbang. Melalui pembahasan diatas yang menjadi permasalahan yang ingin diangkat oleh penulis adalah: 1. Bagaimana GBKP menerima perempuan sebagai pendeta? Hal ini terkait dengan latar belakang penerimaan pendeta perempuan di GBKP. Apakah ada ketegangan antara penerimaan perempuan sebagai pendeta dengan budaya patriarkhi? Bagaimana gereja mendamaikan teologi dan budaya yang kurang kondusif terhadap penerimaan perempuan sebagai pemimpin dalam gereja? 2. Bagaimana pendeta perempuan sendiri menghadapi kondisi tersebut khususnya menyangkut tugas profesionalnya dan pelayanan kepada keluarganya? C. Batasan Masalah Agar lebih terfokus dan tidak meluas, maka pembahasan tentang dilema yang dihadapi oleh pendeta perempuan akan dilihat dari sudut pandang etika profesi. Pembahasan dilema tersebut dibatasi hanya pada pendeta perempuan yang sudah berkeluarga karena penulis ingin fokus pada dilema antara pelayanan kepada jemaat dan pelayanan kepada keluarga yang dikaitkan dengan budaya setempat yang ikut mempengaruhinya. 11 Suenita Sinulingga, Feminisme: Apakah sebuah Dilema dalam Asnath (ed), Perempuan Indonesia: Berteologi dalam Konteks, Yokyakarta: Pusat Study Feminis UKDW, 2004, hal Ibid, hal. 45 6

7 D. Hipotesa Berdasarkan pembahasan di atas, hipotesa saya adalah: GBKP sudah menerima perempuan secara teologis tetapi belum melakukan reinterpretasi terhadap budaya, sehingga pendeta perempuan seringkali menghadapi dilema ketika diperhadapkan antara pelayanan jemaat dan pelayanan keluarga. E. Judul Berdasarkan permasalahan di atas, maka penyusun merumuskan judul untuk skripsi ini sebagai berikut: Tinjauan Etis Teologis Terhadap Dilema Pendeta Perempuan Berkeluarga di GBKP F. Tujuan Tujuan dari penulisan ini antara lain; 1. Untuk melihat latar belakang penerimaan pendeta perempuan di GBKP dan bagaimana gereja mempertimbangkan budaya setempat. 2. Untuk melihat permasalahan-permasalahan etis yang sering dihadapi oleh pendeta perempuan dalam pelayanannya di GBKP, dan bagaimana pendeta perempuan sendiri menghadapi kondisi tersebut? 3. Untuk memperlihatkan bahwa profesionalisme pendeta perempuan harus diiringi dengan reinterpretasi budaya. G. Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan oleh penulis dalam skripsi ini adalah penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Dalam rangka mengkaji dilema yang dihadapi oleh para pendeta perempuan dalam pelayanannya maka penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif menyiratkan penekanan pada proses dan makna yang tidak secara ketat diukur dari segi jumlah, intensitas dan frekuensinya, melainkan menekankan realitas yang secara sosial, hubungan antara peneliti dan yang diteliti dan pembatasan situasional yang membentuk penelitian. 13 Penelitian tersebut menekankan sifat penelitian yang bermuatan nilai dan mencari jawaban atas 13 Andreas B Subagyo, Pengantar Riset Kualitatif dan Kuantitatif, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2004, hal 62 7

8 pertanyaan-pertanyaan yang menekankan bagaimana pengalaman sosial diciptakan dan diberi makna. Proses pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara. Untuk responden pertama, yakni jemaat yang dilayani oleh pendeta perempuan digunakan metode pengisian kuesioner karena adanya keterbatasan waktu dan peluang bagi penulis untuk mewawancarai responden. Responden penelitian dipilih secara acak, yaitu mewakili majelis jemaat dan masing-masing kategorial, yaitu Mamre (Kaum Bapak), Moria (Kaum Ibu), Permata (Pemuda) dan Remaja. Untuk responden selanjutnya, yang merupakan responden utama penelitian yakni pendeta perempuan sebagai PKPW, penulis menggunakan metode wawancara. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam bagaimana pengalaman pendeta perempuan dalam menjalankan beban ganda yang biasa diberikan kepada perempuan berkeluarga yang memiliki profesi (dalam hal ini sebagai pendeta). Di samping itu, penulis juga memanfaatkan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data-data sekunder melalui sumber-sumber tertulis baik teologis maupun non-teologis yang relevan dengan topik yang dibahas dalam skripsi tersebut, baik berupa buku, arsip gereja, artikel, jurnal, dan internet untuk memperoleh informasi yang komprehensif. Karena skripsi ini berupaya merefleksikan permasalahan yang muncul terkait dilema yang dihadapi oleh pendeta perempuan dalam budaya Karo (keluarga) dan GBKP maka penulis meninjau persoalan tersebut dari perspektif etika profesi yang juga tidak terlepas dari unsur-unsur feminis yang terkandung di dalamnya. H. Sistematika Penyajian Sistematika yang disusun dalam skripsi tersebut adalah sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan Pada bab ini akan berisi tentang latar belakang permasalahan, deskripsi permasalahan, judul skripsi, batasan masalah yang akan dibahas, tujuan penulisan serta metode yang dipakai dalam penulisan skripsi tersebut. 8

9 Bab II : Peran Dan Kedudukan Perempuan Berkeluarga Dalam Budaya Karo Dan GBKP A. Peran dan Kedudukan Perempuan dalam Budaya Karo Dalam pembahasan ini, penulis akan memaparkan secara singkat tentang bagaimana kondisi wilayah Tanah Karo dan budaya yang menghidupi dan dihidupi oleh masyarakatnya. Selain itu, untuk melihat bagaimana peran dan kedudukan perempuan di masyarakat Karo, penulis akan memaparkan dengan jelas melalui sistem kehidupan yang dipakai oleh masyarakat Karo. B. Peran dan Kedudukan Perempuan dalam Keluarga Karo Dalam bagian ini, penulis juga akan melihat sejauh mana pengaruh budaya dan sistem kehidupan masyarakat Karo mempengaruhi peran dan kedudukan perempuan dalam keluarga. C. Peran dan Kedudukan Perempuan dalam Gereja Selain berpengaruh dalam keluarga, penulis juga akan melihat pengaruhnya terhadap kehidupan bergereja di GBKP yang merupakan gereja lokal. Dalam bagian ini juga akan dipaparkan bagaimana sejarah dan perjuangan penerimaan peran perempuan sebagai pendeta dalam gereja. Bab III : Deskripsi dan Analisa Hasil Penelitian terhadap Pelayanan Pendeta Perempuan Berkeluarga. A. Deskripsi Hasil Penelitian Dalam bab ini, penulis akan memaparkan hasil penelitian terhadap pelayanan pendeta perempuan berkeluarga untuk melihat permasalahan-permasalahan yang dihadapinya seputar pelayanan dalam jemaat dan juga dalam keluarga. Selain itu, juga akan dilihat bagaimana harapan jemaat terhadap pelayanan seorang pendeta perempuan yang berkeluarga. B. Analisa Sebagai kelanjutan pengolahan data-data yang diperoleh di lapangan, penulis melakukan analisa terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pendeta perempuan berkeluarga seputar pelayanan kepada jemaat dan keluarganya. 9

10 Bab IV :Tinjauan Etis Teologis terhadap Pelayanan Pendeta Perempuan Berkeluarga di GBKP Setelah melakukan analisa terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pendeta perempuan berkeluarga, penulis akan melakukan suatu tinjauan etis teologis terhadapnya. Upaya ini dimaksudkan untuk mencapai profesionalisme pendeta dalam pelayanan jemaat dan keluarga. Bab V : Penutup, yang memuat: A. Kesimpulan B. Saran-Saran 10

Bab I Pendahuluan. Edisi 55, Fakultas Teologi UKDW, Yogyakarta, 1999, hal

Bab I Pendahuluan. Edisi 55, Fakultas Teologi UKDW, Yogyakarta, 1999, hal 1 Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Permasalahan Kesetaraan laki-laki dan perempuan sudah seringkali dibicarakan dan diperjuangkan. Meski demikian, tetap saja kita tidak bisa mengabaikan kodrat seorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2000, p.11

BAB I PENDAHULUAN. 2000, p.11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan Pandangan tradisional yang mengatakan bahwa keluarga yang ideal adalah keluarga dimana suami berperan sebagai pencari nafkah dan istri menjalankan fungsi pengasuhan

Lebih terperinci

UKDW BAB I Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I Latar Belakang Permasalahan BAB I 1. 1. Latar Belakang Permasalahan Pendeta dipandang sebagai tugas panggilan dari Allah, karenanya pendeta biasanya akan dihormati di dalam gereja dan menjadi panutan bagi jemaat yang lainnya. Pandangan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan di perkotaan diperhadapkan dengan sebuah realita kehidupan yang kompleks. Pembangunan yang terus berlangsung membuat masyarakat berlomba-lomba untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan di kota saat ini mulai dipenuhi dengan aktivitas yang semakin padat dan fasilitas yang memadai. Kenyataan tersebut tidak dapat dipungkiri oleh gereja-gereja

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Khotbah mempunyai tempat yang penting bagi jemaat. Hal ini sempat penyusun amati, yaitu bagaimana jemaat menunjukkan keseriusan mereka ketika khotbah akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dra.Ny.Singgih D.Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988 hal. 82

BAB I PENDAHULUAN. 1 Dra.Ny.Singgih D.Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988 hal. 82 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak orang berpendapat bahwa siklus hidup manusia adalah lahir, menjadi dewasa, menikah, mendapatkan keturunan, tua dan mati. Oleh karena itu pernikahan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN Masyarakat Karo terkenal dengan sikap persaudaraan dan sikap solidaritas yang sangat tinggi. Namun ironisnya sikap persaudaraan dan kekerabatan yang mewarnai

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Permasalahan Perkawinan adalah bersatunya dua orang manusia yang bersama-sama sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Dalam menjalani proses kehidupan, peristiwa kematian tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Namun, peristiwa kematian sering menjadi tragedi bagi orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obor Indonesia, 1999, p Jane Cary Peck, Wanita dan Keluarga Kepenuhan Jati Diri dalam Perkawinan dan Keluarga, Yogyakarta:

BAB I PENDAHULUAN. Obor Indonesia, 1999, p Jane Cary Peck, Wanita dan Keluarga Kepenuhan Jati Diri dalam Perkawinan dan Keluarga, Yogyakarta: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pada dasarnya setiap orang memiliki suatu gambaran tentang keluarga dan keluarga harmonis. Keluarga merupakan sistem sosial dari hubungan utama, yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Pada umumnya dipahami bahwa warga gereja terdiri dari dua golongan, yaitu mereka yang dipanggil penuh waktu untuk melayani atau pejabat gereja dan anggota jemaat biasa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. GPIB, 1995 p. 154 dst 4 Tata Gereja GPIB merupakan peraturan gereja, susunan (struktur) gereja atau sistem gereja yang ditetapkan

BAB I PENDAHULUAN. GPIB, 1995 p. 154 dst 4 Tata Gereja GPIB merupakan peraturan gereja, susunan (struktur) gereja atau sistem gereja yang ditetapkan 10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Secara umum gereja berada di tengah dunia yang sedang berkembang dan penuh dengan perubahan secara cepat setiap waktunya yang diakibatkan oleh kemajuan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kepemimpinan merupakan hal yang penting berada dalam gereja. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan gereja sebagai organisasi. Dalam teori Jan Hendriks mengenai jemaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Kehidupan manusia tidak pernah statis, ia senantiasa berada dalam sebuah proses yang tidak pernah berhenti. Dari pembuahan hingga berakhir dengan kematian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum Emeritasi merupakan istilah yang tidak asing di telinga kita. Dalam dunia pendidikan kita mengetahui adanya profesor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta sebagai Runggun dan termasuk di dalam lingkup Klasis Jakarta-Bandung.

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta sebagai Runggun dan termasuk di dalam lingkup Klasis Jakarta-Bandung. BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan 1. Latar Belakang Masalah Gereja 1 dipahami terdiri dari orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama, yakni kepada Yesus Kristus dan melakukan pertemuan ibadah secara

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Keluarga adalah institusi pertama yang dibangun, ditetapkan dan diberkati Allah. Di dalam institusi keluarga itulah ada suatu persekutuan yang hidup yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ada sebagian kecil orang yang memilih untuk hidup sendiri, seperti Rasul Paulus

BAB I PENDAHULUAN. ada sebagian kecil orang yang memilih untuk hidup sendiri, seperti Rasul Paulus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Pernikahan merupakan salah satu fase dari kehidupan manusia. Memasuki jenjang pernikahan atau menikah adalah idaman hampir setiap orang. Dikatakan hampir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang,

BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Gereja adalah mitra kerja Tuhan Allah dalam mewujudkan rencana karya Tuhan Allah yaitu untuk menyelamatkan umat manusia. Dalam memenuhi panggilan-nya tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat, memacu orang untuk semakin meningkatkan intensitas aktifitas dan kegiatannya. Tingginya intensitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?, Bandung, Penerbit Mizan, 1999, p. 101

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?, Bandung, Penerbit Mizan, 1999, p. 101 1 BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Permasalahan Dalam kehidupan ini, manusia tercipta sebagai laki-laki dan perempuan. Mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain. Seorang laki-laki membutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1

BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada di tengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat lebih kuat

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kebudayaan dalam arti luas adalah perilaku yang tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN

BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN PRESPEKTIF KONSELING PASTORAL DAN REFLEKSI TEOLOGIS Dalam Bab ini akan dipaparkan analisa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan semua kajian dalam bab-bab yang telah dipaparkan di atas, pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan dan rekomendasi. Rekomendasi ini terutama bagi gereja

Lebih terperinci

BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. menguraikan terlebih dulu gambaran umum GPM Jemaat Airmanis.

BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN. menguraikan terlebih dulu gambaran umum GPM Jemaat Airmanis. BAB III TEMUAN HASIL PENELITIAN Dalam bab III ini akan membahas temuan hasil dari penelitian tentang peran pendeta sebagai konselor pastoral di tengah kekerasan pasangan suami-isteri. Sebelumnya, penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Bungaran A. Simanjuntak, Konflik, status dan kekuasaan orang Batak Toba, Yogyakarta, Jendela, 2002, hal 10

BAB I PENDAHULUAN. 1 Bungaran A. Simanjuntak, Konflik, status dan kekuasaan orang Batak Toba, Yogyakarta, Jendela, 2002, hal 10 BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN A.1 LATAR BELAKANG MASALAH Orang Batak Toba sebagai salah satu sub suku Batak memiliki perangkat struktur dan sistem sosial yang merupakan warisan dari nenek moyang. Struktur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia tentunya memiliki masalah dan pergumulannya masing-masing. Persoalan-persoalan ini mungkin berkaitan dengan masalah orang per

Lebih terperinci

Perceraian, Perkawinan Kembali, dan Komunitas yang Kurang Piknik

Perceraian, Perkawinan Kembali, dan Komunitas yang Kurang Piknik Perceraian, Perkawinan Kembali, dan Komunitas yang Kurang Piknik Timothy Athanasios CHAPTER 1 PERCERAIAN SEBAGAI ISU PASTORAL Pertama-tama izinkanlah saya untuk mengakui bahwa saya bukanlah seorang praktisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada semua masyarakat (Chamamah-Soeratno dalam Jabrohim, 2003:9). Karya sastra merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau di kota. Namun banyak manusia yang sudah mempunyai kemampuan baik

BAB I PENDAHULUAN. atau di kota. Namun banyak manusia yang sudah mempunyai kemampuan baik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan bermasyarakat, hampir semua manusia hidup terikat dalam sebuah jaringan dimana seorang manusia membutuhkan manusia lainnya untuk dapat hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya di dalam Kristus.

BAB I PENDAHULUAN. Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya di dalam Kristus. BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya di dalam Kristus. Dasar kesaksian dan pelayanan gereja adalah Kristus. Kekuasaan dan kasih Kristus tidak terbatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan diartikan sebagai suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita, yang bersama-sama menjalin hubungan sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

BAB V PENUTUP. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: BAB V PENUTUP Pada bagian ini penulisan akan dibagi menjadi dua bagian yaitu kesimpulan dan saran. 5.1.KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Gereja adalah persekutuan orang percaya

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja Kristen Jawa Kutoarjo merupakan salah satu gereja dari 11 Gereja Kristen Jawa yang berada dibawah naungan Klasis Purworejo. GKJ Kutoarjo merupakan sebuah gereja

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kehidupan seseorang dalam perjalanannya akan selalu mengalami perubahan. Perubahan ini dapat dikarenakan perkembangan dan pertumbuhan normal sebagai pribadi, maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1976, p. 5

BAB I PENDAHULUAN. 1 K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1976, p. 5 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia yang hidup dalam dunia pada umumnya menginginkan suatu hubungan yang didasari rasa saling mencintai sebelum memasuki sebuah perkawinan dan membentuk sebuah

Lebih terperinci

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Victoria Park-Hongkong adalah salah satu tempat favorit untuk berkumpulnya Tenaga Kerja Indonesia (dan selanjutnya dalam skripsi ini akan disebut TKI), orang Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Sakramen berasal dari bahasa Latin; Sacramentum yang memiliki arti perbuatan kudus 1. Dalam bidang hukum dan pengadilan Sacramentum biasanya diartikan sebagai barang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern dan maju secara tidak langsung menuntut setiap orang untuk mampu bersaing dalam mewujudkan tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin BAB I PENDAHULUAN Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin Gereja dengan Suatu Kajian Pastoral terhadap dampak Psikologis bagi orang-orang yang dikenakan Disiplin

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA USAHA PENGEMBANGAN JAMUR DI GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (GBKP) BOGOR. 4.1 Analisa Usaha Pengembangan Jamur di GBKP Bogor

BAB IV ANALISA USAHA PENGEMBANGAN JAMUR DI GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (GBKP) BOGOR. 4.1 Analisa Usaha Pengembangan Jamur di GBKP Bogor BAB IV ANALISA USAHA PENGEMBANGAN JAMUR DI GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (GBKP) BOGOR 4.1 Analisa Usaha Pengembangan Jamur di GBKP Bogor Bila dilihat dari hasil penelitian yang penulis telah lakukan, usaha

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI Dalam bab ini berisi tentang analisa penulis terhadap hasil penelitian pada bab III dengan dibantu oleh teori-teori yang ada pada bab II. Analisa yang dilakukan akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Gereja dalam melaksanakan tugas dan panggilannya di dunia memerlukan beberapa alat pendukung, contohnya: kepemimpinan yang baik, organisasi yang ditata dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jawa Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki agama-agama suku dan kebudayaan-kebudayaan lokal serta masih dipelihara. Salah satu agama suku yang ada di Jawa

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendampingan dan konseling pastoral adalah alat-alat berharga yang melaluinya gereja tetap relevan kepada kebutuhan manusia. 1 Keduanya, merupakan cara

Lebih terperinci

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. perempuan atau pun jenis kelamin, semuanya pasti akan mengalaminya. Tidak hanya

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. perempuan atau pun jenis kelamin, semuanya pasti akan mengalaminya. Tidak hanya BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Siapa saja bisa mengalami hal itu, baik tua atau pun muda, miskin atau pun kaya, baik perempuan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar belakang. Keluarga adalah kelompok terkecil dari masyarakat. Setiap anggota dalam

BAB I PENDAHULUAN. Latar belakang. Keluarga adalah kelompok terkecil dari masyarakat. Setiap anggota dalam BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Keluarga adalah kelompok terkecil dari masyarakat. Setiap anggota dalam keluarga memiliki ikatan yang sangat kuat, bahkan disebut sebagai kekerabatan yang sangat mendasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Gereja merupakan lembaga keagamaan yang ada dalam dunia ini. Sebagai sebuah lembaga keagamaan tentunya gereja juga membutuhkan dana untuk mendukung kelancaran

Lebih terperinci

UKDW BAB I. PENDAHULUAN

UKDW BAB I. PENDAHULUAN BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Pada jaman sekarang, tidak dapat dipungkiri bahwa Gereja berada di tengah-tengah konteks yang kian berubah dan sungguh dinamis. Hal tersebut tampak jelas

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Warga jemaat HKBP adalah orang Kristen yang namanya tercatat dalam buku register warga jemaat HKBP dan menaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di HKBP. Lebih jelasnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang terdiri dari beragam budaya dan ragam bahasa daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bernilai, penting, penerus bangsa. Pada kenyataannya, tatanan dunia dan perilaku

BAB I PENDAHULUAN. bernilai, penting, penerus bangsa. Pada kenyataannya, tatanan dunia dan perilaku BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Realitas keadaan anak di muka peta dunia ini masih belum menggembirakan. Nasib mereka belum seindah ungkapan verbal yang kerap kali memposisikan anak bernilai,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat tidak dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat tidak dapat dihindari. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (10/2), mencatat ekonomi Indonesia tumbuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perempuan sudah lama berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia. Perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. perempuan sudah lama berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia. Perkembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sejarah mencatat bahwa hampir semua bangsa di dunia ini mempunyai riwayat yang sama dalam satu hal yakni bertatanan patriarkhal. Marjinalisasi terhadap kaum

Lebih terperinci

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Kasus hamil sebelum menikah saat ini bukan lagi menjadi hal yang aneh dan tabu dalam masyarakat. Dalam pemikiran banyak orang hasil akhirnya yang sangat menentukan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Di dalam sebuah gereja, peran dan fungsi seorang pendeta sangatlah vital. Secara sederhana, kita bisa melihat bahwa pendeta adalah seorang pemimpin dalam sebuah gereja.

Lebih terperinci

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. dalam keluarga dengan orang tua beda agama dapat dipahami lebih baik.

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. dalam keluarga dengan orang tua beda agama dapat dipahami lebih baik. BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Dalam bab IV ini akan dipaparkan suatu refleksi teologis tentang PAK dalam keluarga dengan orang tua beda agama. Refleksi teologis ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu PAK keluarga

Lebih terperinci

FINDING YOUR LIFE PURPOSE #3 - MENEMUKAN TUJUAN HIDUPMU #3 GROWING IN THE FAMILY OF GOD BERTUMBUH DALAM KELUARGA ALLAH

FINDING YOUR LIFE PURPOSE #3 - MENEMUKAN TUJUAN HIDUPMU #3 GROWING IN THE FAMILY OF GOD BERTUMBUH DALAM KELUARGA ALLAH FINDING YOUR LIFE PURPOSE #3 - MENEMUKAN TUJUAN HIDUPMU #3 GROWING IN THE FAMILY OF GOD BERTUMBUH DALAM KELUARGA ALLAH PEMBUKAAN: Hari ini saya ingin melanjutkan bagian berikutnya dalam seri khotbah Menemukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan Indonesia kearah modernisasi maka semakin banyak peluang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan. Tetapi berhubung masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pernikahan merupakan suatu hal yang dinantikan dalam kehidupan manusia karena melalui sebuah pernikahan dapat terbentuk satu keluarga yang akan dapat melanjutkan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan 1.1 Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN Berbicara mengenai gereja tentu saja ada berbagai permasalahan yang terdapat dalam setiap jemaat-jemaat, bukan hanya soal perkembangan jumlah anggota jemaat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendeta adalah seorang pemimpin jemaat, khususnya dalam hal moral dan spiritual. Oleh karena itu, dia harus dapat menjadi teladan bagi jemaatnya yang nampak

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Setiap orang yang merencanakan untuk berkeluarga biasanya telah memiliki impian-impian akan gambaran masa depan perkawinannya kelak bersama pasangannya.

Lebih terperinci

Dalam rangka mewujudkan kehidupan bergereja yang lebih baik, GKJ Krapyak mempunyai strategi pelayanan kemajelisan sebagai berikut :

Dalam rangka mewujudkan kehidupan bergereja yang lebih baik, GKJ Krapyak mempunyai strategi pelayanan kemajelisan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jika melihat sekilas tentang bagaimana Gereja menjalankan karyanya -khususnya Gereja Kristen Jawa (GKJ)-, memang sangat tampak bahwa Gereja merupakan sebuah organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja adalah persekutuan orang percaya yang dipanggil oleh Allah dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia, ini merupakan hakikat gereja. Gereja juga dikenal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Permasalahan Seksualitas merupakan pemberian dari Allah. Artinya bahwa Allah yang membuat manusia bersifat seksual. Masing-masing pribadi merupakan makhluk seksual

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berbicara akan persoalan Perjamuan Kudus maka ada banyak sekali pemahaman antar jemaat, bahkan antar pendeta pun kadang memiliki dasar pemahaman berbeda walau serupa.

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1.LATAR BELAKANG

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1.LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1.LATAR BELAKANG Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng

BAB V PENUTUP. tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Pertama, sebuah konsep etika dibangun berdasarkan konteks atau realita pada masa tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng ditinjau

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. A. Analisa Makna Pernikahan di Gereja Bethany Nginden Surabaya. untuk menghasilkan keturunan. kedua, sebagai wujud untuk saling

BAB IV ANALISA DATA. A. Analisa Makna Pernikahan di Gereja Bethany Nginden Surabaya. untuk menghasilkan keturunan. kedua, sebagai wujud untuk saling BAB IV ANALISA DATA A. Analisa Makna Pernikahan di Gereja Bethany Nginden Surabaya Makna Pernikahan di Gereja Bethany Nginden Surabaya bisa tergolong memiliki makna, Diantara makna tersebut bisa di bilang

Lebih terperinci

PEMBERIAN SEBAGAI WUJUD PELAYANAN KASIH 2 Korintus 8:1-15 I Gede Puji Arysantosa

PEMBERIAN SEBAGAI WUJUD PELAYANAN KASIH 2 Korintus 8:1-15 I Gede Puji Arysantosa PEMBERIAN SEBAGAI WUJUD PELAYANAN KASIH 2 Korintus 8:1-15 I Gede Puji Arysantosa Tujuan: Jemaat memahami bahwa pemberian (sumber daya, ide, waktu, dana, dan materi) merupakan salah satu wujud perbuatan

Lebih terperinci

Level 2 Pelajaran 11

Level 2 Pelajaran 11 Level 2 Pelajaran 11 PERNIKAHAN (Bagian 2) Oleh Don Krow Hari ini kita akan kembali membahas mengenai pernikahan, dan satu pertanyaan yang muncul adalah, Apakah itu pernikahan? Apakah anda pernah memikirkan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pekabaran Injil (PI) atau penginjilan sering disebut juga dengan evangelisasi atau evangelisme, 1 merupakan salah satu bentuk misi Gereja. Kata Injil yang

Lebih terperinci

BAB V REFLEKSI TEOLOGIS

BAB V REFLEKSI TEOLOGIS BAB V REFLEKSI TEOLOGIS Menurut Kejadian 1:27, 1 pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan keunikan masing-masing. Baik laki-laki dan perempuan tidak hanya diberikan kewajiban saja, namun

Lebih terperinci

UKDW BAB I : PENDAHULUAN. I. Latar Belakang

UKDW BAB I : PENDAHULUAN. I. Latar Belakang BAB I : PENDAHULUAN I. Latar Belakang Keberagaman merupakan sebuah realitas yang tidak dapat dipisahkan di dalam dunia. Terkadang keberagaman menghasilkan sesuatu yang indah, tetapi juga keberagaman dapat

Lebih terperinci

Level 2 Pelajaran 10

Level 2 Pelajaran 10 Level 2 Pelajaran 10 PERNIKAHAN (Bagian 1) Oleh Don Krow Hari ini kita akan bahas mengenai pernikahan. Pertama-tama, saya ingin sampaikan beberapa data statistik: 75% dari seluruh rumah tangga memerlukan

Lebih terperinci

BAB IV KOMPARASI PANDANGAN MAJELIS ADAT ACEH (MAA) DAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA (MPU) KOTA LANGSA TERHADAP PENETAPAN EMAS SEBAGAI MAHAR

BAB IV KOMPARASI PANDANGAN MAJELIS ADAT ACEH (MAA) DAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA (MPU) KOTA LANGSA TERHADAP PENETAPAN EMAS SEBAGAI MAHAR BAB IV KOMPARASI PANDANGAN MAJELIS ADAT ACEH (MAA) DAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA (MPU) KOTA LANGSA TERHADAP PENETAPAN EMAS SEBAGAI MAHAR Setelah mempelajari lebih lanjut mengenai hal-hal yang terkandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Kata gender berasal dari kata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Aji Samba Pranata Citra, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Aji Samba Pranata Citra, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia melewati beberapa fase dalam siklus kehidupannya. Fase kedua dari siklus kehidupan manusia adalah terbentuknya pasangan baru (new couple), di mana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. MASALAH. A.1. Latar belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN A. MASALAH. A.1. Latar belakang masalah BAB I PENDAHULUAN A. MASALAH A.1. Latar belakang masalah Gereja merupakan sebuah kehidupan bersama yang di dalamnya terdiri dari orang-orang percaya yang tumbuh dan berkembang dari konteks yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perkawinan poligami

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perkawinan poligami 114 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perkawinan poligami dibawah tangan pada masyarakat batak toba di Kota Bandar Lampung saat ini, maka dapat disimpulkan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Simpulan dan Saran. Keduanya merupakan bagian penutup dari tesis ini.

BAB V PENUTUP. Simpulan dan Saran. Keduanya merupakan bagian penutup dari tesis ini. BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan dikemukakan tentang dua hal yang merupakan Simpulan dan Saran. Keduanya merupakan bagian penutup dari tesis ini. A. Simpulan 1. Denda adat di Moa merupakan tindakan adat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Prinsip dasar bahwa untuk beriman kita membutuhkan semacam jemaat dalam bentuk atau wujud manapun juga. Kenyataan dasar dari ilmu-ilmu sosial ialah bahwa suatu ide atau

Lebih terperinci

UKDW. BAB I Pendahuluan

UKDW. BAB I Pendahuluan BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Secara umum kita dapat mengamati bahwa para pelayan jemaat atau pendeta, pengerja maupun para calon pendeta yang ditempatkan di berbagai gereja-gereja arus utama di

Lebih terperinci

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan subyek yang ikut berperan 14 1 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Menurut Anda pribadi, manakah rencana Allah bagi keluarga Anda? Dengan kata lain, apa yang menjadi harapan Allah dari keluarga Anda? Menurut Anda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam kebaktian yang dilakukan oleh gereja. Setidaknya khotbah selalu ada dalam setiap kebaktian minggu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memanggil mereka di dalam dan melalui Yesus Kristus. 1 Ada tiga komponen. gelap kepada terang, dari dosa kepada kebenaran.

BAB I PENDAHULUAN. memanggil mereka di dalam dan melalui Yesus Kristus. 1 Ada tiga komponen. gelap kepada terang, dari dosa kepada kebenaran. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gereja adalah kumpulan orang-orang yang telah dipanggil Allah keluar dari dunia ini untuk menjadi miliknya, umat kepunyaan Allah sendiri. Allah memanggil mereka di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Tidak seorangpun ingin dilahirkan tanpa dekapan lembut seorang ibu dan perlindungan seorang ayah. Sebuah kehidupan baru yang telah hadir membutuhkan kasih untuk bertahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kristen. Setiap gereja Kristen memiliki persyaratan tersendiri untuk

BAB I PENDAHULUAN. Kristen. Setiap gereja Kristen memiliki persyaratan tersendiri untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan perbedaan, salah satunya adalah agama. Setiap agama di Indonesia memiliki pemuka agama. Peranan pemuka agama dalam

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Permasalahan. Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Permasalahan. Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut Gereja Bali atau singkatannya GKPB, adalah salah satu dari sedikit gerejagereja

Lebih terperinci

Gembala Jemaat adalah pemimpin regu, untuk memberikan sokongan rohani dan arah pada jemaat Ketua Jemaat penolong Pendeta dalam kepemimpinan

Gembala Jemaat adalah pemimpin regu, untuk memberikan sokongan rohani dan arah pada jemaat Ketua Jemaat penolong Pendeta dalam kepemimpinan Pelajaran 4 Gembala Jemaat adalah pemimpin regu, untuk memberikan sokongan rohani dan arah pada jemaat Ketua Jemaat penolong Pendeta dalam kepemimpinan Pendeta di pilih, ditugaskan dan bertanggung jawab

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN BAB V PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka berikut ini penulis mencoba memaparkan beberapa kesimpulan serta mengusulkan beberapa saran, yaitu : 5.1 KESIMPULAN GKJ (Gereja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan pada hakikatnya secara sederhana merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan pada hakikatnya secara sederhana merupakan bentuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan pada hakikatnya secara sederhana merupakan bentuk kerjasama kehidupan antara pria dan wanita di dalam masyarakat. Perkawinan betujuan untuk mengumumkan

Lebih terperinci

Pentingnya peran saksi dalam pernikahan (Suatu tinjauan terhadap pendampingan saksi nikah di jemaat GMIT Efata Benlutu)

Pentingnya peran saksi dalam pernikahan (Suatu tinjauan terhadap pendampingan saksi nikah di jemaat GMIT Efata Benlutu) Pentingnya peran saksi dalam pernikahan (Suatu tinjauan terhadap pendampingan saksi nikah di jemaat GMIT Efata Benlutu) 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Permasalahan Perkawinan ialah ikatan lahir batin

Lebih terperinci

Jodoh dan pernikahan yang sempurna

Jodoh dan pernikahan yang sempurna Menemukan jodoh atau pasangan hidup yang tepat bukanlah hal yang sederhana dan tidak dapat dianggap remeh. Banyak pasangan suami-istri pada akhirnya menyesal menikah karena merasa salah memilih pasangan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki biaya menikah, baik mahar, nafkah maupun kesiapan

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki biaya menikah, baik mahar, nafkah maupun kesiapan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menikah adalah bagian dari ibadah, karena itu tidak ada sifat memperberat kepada orang yang akan melaksanakannya. Perkawinan atau pernikahan menurut Reiss (dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila terutama pada sila yang pertama,

Lebih terperinci