HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh (Guyton 2008). Kondisi tubuh dan lingkungan yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan fisiologis yang akan berakibat juga pada nilai hematologi (Ma ruf et al. 2005). Hewan yang digunakan pada penelitian ini diasumsikan dalam keadaan sehat. Definisi sehat menurut World Health Organization (WHO) bukan hanya meliputi ketidakadaan penyakit atau kelemahan, tetapi meliputi keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial. Peninjauan kesehatan hewan secara klinis dapat dilakukan antara lain melihat perilaku hewan, nafsu makan, cara bernapas, cara berjalan, konsistensi feses, pemeriksaan suhu tubuh, dan inspeksi beberapa organ tubuh seperti mata, hidung, mulut, kulit dan rambut, limfonodus, serta kebersihan daerah anus. Hewan yang sehat memiliki perilaku yang aktif, nafsu makan yang baik, bernapas secara normal, cara berjalan dengan koordinasi yang baik, konsistensi feses padat (tidak terlalu keras), suhu tubuh normal, bola mata bersih, bening dan cerah, hidung agak lembap, turgor kulit baik, tidak ada luka, rambut bersih, limfonodus tidak bengkak, dan daerah anus bersih (Widyani 2008). Jumlah leukosit total pada rusa Timor pada penelitian ini berkisar antara x 10 3 /µl (Tabel 2). Jumlah leukosit total pada rusa Timor ini lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah leukosit total pada ruminansia kecil lain, seperti rusa Sambar ( x 10 3 /µl), dan rusa Bawean ( x 10 3 /µl) (Yusmin 1998). Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Yusmin (1998) yang memperoleh kisaran jumlah leukosit total rusa Timor antara x 10 3 /µl, maka hasil yang diperoleh berada di bawah batas normal. Namun jika dibandingkan dengan hasil penelitian Zein (1998) yang memperoleh jumlah leukosit total pada rusa Timor berkisar antara x 10 3 /µl, maka hasil yang diperoleh ini masih dalam rentang normal.

2 Tabel 2 Jumlah leukosit total pada rusa Timor hasil penelitian dibandingkan dengan rusa Sambar, dan rusa Bawean Jenis Hewan Rusa Timor Jumlah Leukosit Total (x 10 3 /µl) * ** * * Rusa Sambar Rusa Bawean Keterangan: * Yusmin (1998) ** Zein (1998) Yusmin (1998) melakukan penelitian tentang komponen darah pada beberapa jenis rusa di Indonesia yang ditangkarkan secara ex-situ. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa jumlah leukosit total pada rusa Sambar lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah leukosit total pada rusa Bawean dan rusa Timor. Faktor yang Mempengaruhi Leukosit Total Menurut Weiss dan Wardrop (2010), profil hematologi dari Cervidae dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti umur, jenis kelamin, status reproduksi, iklim, cara penangkapan, dan penyakit. (1) Umur Belum diketahui secara pasti hubungan antara umur dengan jumlah total dan diferensial leukosit. Weiss dan Wardrop (2010) menyatakan bahwa pada rusa jantan muda, jenis leukosit yang dominan adalah neutrofil, dan pada saat dewasa adalah limfosit. Chapple et al. (1991) melakukan percobaan pada rusa totol (Axis axis) dan menyatakan bahwa pada anak rusa yang baru lahir memiliki jumlah neutrofil lebih banyak dibandingkan dengan jumlah limfosit, dengan perbandingan 2:1. Jenis leukosit pada rusa totol (Axis axis) dewasa didominasi oleh limfosit. Penelitian pada sapi yang dilakukan Knowles et al. (2000) menyatakan bahwa pedet memiliki jumlah leukosit total lebih tinggi dibandingkan dengan sapi dewasa, namun demikian ada pula laporan yang menyatakan bahwa jumlah leukosit total pada pedet dan sapi dewasa relatif sama. Perbedaan yang terdapat pada gambaran darah pedet dan sapi dewasa adalah rasio antara netrofil dan limfosit. Rasio neutrofil pada saat pedet lebih tinggi dibandingkan dengan

3 limfosit, dan sebaliknya pada saat setelah dewasa. Hal ini diduga disebabkan pedet memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi dewasa sehingga terjadi pelepasan kortisol yang menyebabkan jumlah neutrofil yang tinggi di dalam sirkulasi. Pada rusa jantan dewasa, perubahan rasio limfosit dan neutrofil dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Perubahan rasio ini sebagai salah satu parameter bahwa rusa dalam musim kawin, atau mengalami infeksi. (2) Jenis Kelamin Rusa jantan memiliki jumlah leukosit total yang lebih tinggi dibandingkan dengan rusa betina. Namun teori ini tidak bersifat absolut karena tidak semua hasil penelitian menunjukkan pola yang sama (Weiss dan Wardrop 2010). (3) Status Reproduksi Status reproduksi mempengaruhi complete blood count, baik pada hewan jantan maupun hewan betina. Selama musim kawin, chital deer jantan dewasa mengalami perubahan pada diferensial leukosit, dan pada jantan dewasa red deer, mengalami penurunan jumlah eritrosit. Perubahan diferensial leukosit yang terjadi yaitu peningkatan persentase neutrofil yang lebih dominan dibanding dengan limfosit (Thrall et al. 2004). Weiss dan Wardrop (2010) menyatakan bahwa rasio neutrofil dengan limfosit akan lebih kecil dari 1 pada ruminansia dewasa. (4) Respon Stres dan Handling Rusa merupakan spesies yang mudah stres, dan dapat dilihat melalui pemeriksaan parameter hematologi. Jumlah eritrosit dan leukosit akan meningkat secara signifikan pada rusa yang stres akibat handling dibandingkan dengan rusa yang dianastesi. Kondisi stres ini terkait juga dengan seberapa sering hewan tersebut di-handle. Hewan yang sering di-handle secara berkala akan mengurangi stres sehingga tidak terjadi banyak perubahan parameter hematologi. Diferensiasi Leukosit Hasil pengamatan diferensial leukosit per-seratus sel leukosit dapat dilihat pada Tabel 3. Jumlah yang bervariasi pada setiap jenis leukosit dapat dilihat pada

4 Tabel 3 tersebut. Tampak bahwa limfosit memiliki populasi paling dominan, diikuti berturut-turut oleh neutrofil, monosit, eosinofil, dan basofil. Menurut Weiss dan Wardrop (2010), karakter leukosit pada Cervidae menunjukkan bahwa limfosit dan neutrofil merupakan jenis leukosit dengan populasi yang paling dominan. Rasio neutrofil terhadap limfosit bisa lebih sedikit atau sama. Beberapa studi pada chital deer, fallow deer, red deer, white-tailed deer, dan rusa Timor menunjukkan bahwa neutrofil lebih dominan dibandingkan dengan jenis leukosit yang lain. Tabel 3 Rataan persentase eosinofil, basofil, neutrofil, monosit, dan limfosit pada rusa Timor Jenis Leukosit Nilai relatif (%) Min. Maks. Rataan ± SD Eosinofil Basofil Neutrofil Monosit Limfosit ± ± ± ± ± 2.10 Keterangan : 0 tidak ditemukan pada preparat ulas Secara umum, jenis sel leukosit yang paling dominan pada penelitian ini adalah limfosit. Hasil ini didukung oleh laporan Thrall et al. (2004) yang menyatakan bahwa limfosit merupakan jenis sel leukosit yang dominan pada rusa Timor dewasa yang normal. Interpretasi hasil diferensial leukosit sebaiknya didasarkan pada nilai absolut masing-masing jenis leukosit. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jumlah leukosit total, dimana jumlah leukosit total digunakan untuk menghitung nilai absolut dari masing-masing jenis leukosit. Jika jumlah leukosit total menurun, maka ditinjau nilai absolut setiap jenis sel untuk mengetahui sel mana yang mengalami penurunan. Jika jumlah leukosit total meningkat, maka ditinjau nilai absolut untuk mengetahui sel mana yang mengalami peningkatan. Meskipun jumlah leukosit total normal, perlu dilakukan penilaian secara absolut pada masing-masing jenis sel untuk mengetahui jumlah yang sebenarnya dari masing-masing jenis sel tersebut, sehingga dapat diketahui adanya abnormalitas dalam distribusi sel (Thrall et al. 2004).

5 Karakter leukosit Cervidae dapat dilihat dengan menggunakan pewarnaan sitokimia. Leukosit rusa dan wapiti menunjukkan morfologi yang sama seperti pada pewarnaan Romanowsky (Weiss & Wardrop 2010). Neutrofil Neutrofil merupakan sel polimorfonuklear karena inti memiliki berbagai bentuk dan bersegmen. Neutrofil dewasa yang berada dalam peredaran darah perifer memiliki bentuk inti yang terdiri dari dua sampai lima segmen, sedangkan neutrofil yang belum dewasa (neutrofil band) memiliki bentuk inti seperti ladam kuda (Colville & Bassert 2008). Gambar 5 menunjukkan bentuk neutrofil pada rusa Timor. Jika dibandingkan dengan neutrofil ruminansia lain, misalnya sapi, tidak terlihat adanya ciri khas yang menunjukkan adanya perbedaan gambaran neutrofil pada kedua spesies tersebut. Baik neutrofil pada rusa Timor maupun sapi, keduanya memiliki sitoplasma yang tidak terlalu jelas dan lobus nukleus berkisar antara 2-5 lobus. Gambar 5 Neutrofil rusa Timor; bar = 10 µm. Rataan persentase neutrofil rusa Timor dapat dilihat pada Tabel 4. Persentase neutrofil (nilai relatif) rusa Timor berkisar antara 46-53%, sedangkan jumlah absolut yang diperoleh berada dalam kisaran x 10 3 /µl. Jika dibandingkan dengan beberapa ruminansia kecil lainnya, maka terdapat kesamaan yaitu neutrofil merupakan jenis leukosit dengan jumlah populasi kedua terbanyak

6 setelah limfosit, seperti terlihat pada Tabel 3. Perbandingan persentase neutrofil rusa Timor terhadap beberapa ruminansia kecil lainnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Perbandingan persentase neutrofil rusa Timor dengan rusa Timor*, rusa Sambar*, dan rusa Bawean* Jenis Hewan Rusa Timor Rusa Timor* Rusa Sambar* Rusa Bawean* Persentase (%) Min. Maks. Rataan±SD ± ± ± ±2.88 Keterangan : * sumber: Yusmin (1998) Thrall et al. (2004) menyatakan bahwa pada saat periode rutting, rusa jantan dan betina memiliki persentase neutrofil lebih tinggi dibandingkan dengan limfosit. Periode rutting adalah periode musim kawin, dan untuk mendapatkan rusa betina, seekor rusa jantan harus bertarung dengan rusa jantan lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh Chapple et al. (1991) pada rusa totol (Axis axis) diperoleh jumlah neutrofil pada rusa muda lebih tinggi dibandingkan dengan rusa dewasa. Jumlah neutrofil pada rusa muda, dua kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah limfosit. Sedangkan pada rusa dewasa, populasi leukosit didominasi oleh sel limfosit. Hal ini disebabkan hewan muda memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan hewan dewasa sehingga terjadi pelepasan kortisol yang menyebabkan jumlah neutrofil yang tinggi di dalam sirkulasi. Data yang diperoleh (Tabel 4) menunjukkan bahwa rusa Timor hasil penelitian memiliki persentase neutrofil yang paling tinggi dibandingkan dengan rusa Timor, rusa Sambar, dan rusa Bawean hasil penelitian Yusmin (1998). Nilai relatif ini masih dikatakan normal karena jika dibandingkan dengan limfosit, rasio antara neutrofil dan limfosit lebih kecil dari 1. Weiss dan Wardrop (2010) menyatakan bahwa rasio neutrofil dengan limfosit akan lebih kecil dari 1 pada ruminansia dewasa. Pada kondisi abnormal, dapat terjadi peningkatan jumlah neutrofil (neutrofilia) maupun penurunan jumlah neutrofil (neutropenia). Neutrofilia dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis. Neutrofilia fisiologis dapat terjadi pada saat hewan mengalami stres atau terlalu bersemangat (Weiss & Wardrop

7 2010). Neutrofilia yang bersifat patologis sering terjadi pada kondisi peradangan terutama yang bersifat akut. Agen yang menyebabkan neutrofilia antara lain bakteri, virus, jamur dan protozoa. Neutropenia sering terjadi pada ruminansia yang menderita mastitis, peritonitis, metritis, pneumonia, dan penyakit saluran pencernaan (Weiss & Wardrop 2010). Neutropenia paling sering terjadi pada infeksi virus. Studi yang dilakukan secara in-vitro pada sapi menunjukkan bahwa virus yang memiliki tingkat virulensi yang tinggi dapat menurunkan kemampuan proliferasi dari sel progenitor pada sumsum tulang (Keller et al. 2006). Beberapa kasus yang juga menyebabkan neutropenia yaitu theileriosis, mikoplasmosis, dan tripanosomiasis. Pada rusa, agen yang dapat menyebabkan neutrofilia antara lain stres akibat handling, bruselosis. Agen infeksius yang menyebabkan munculnya gejala neutropenia pada rusa dan kaitannya penting untuk manusia yaitu tuberkulosis. Pada rusa yang teridentifikasi tuberkulosis, daging rusa (venison) harus dimasak sampai matang sempurna (Wisconsin Department of Natural Resources 2011). Eosinofil Jumlah eosinofil pada penelitian ini berkisar antara x 10 3 /µl dengan rataan persentase 0.25 ± 0.53%. Tabel 5 memperlihatkan perbandingan persentase eosinofil rusa Timor dengan jenis rusa lain. Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa eosinofil pada rusa Timor hasil penelitian ini bernilai 0.25 ± 0.53%, sedangkan hasil penelitian menurut Yusmin (1998) memiliki nilai masingmasing rusa Timor 1.75 ± 0.58%, rusa Sambar 3.50 ± 0.71%, rusa Bawean 3.25 ± 2.06%. Tabel 5 Perbandingan persentase eosinofil rusa Timor dengan rusa Timor*, rusa Sambar*, dan rusa Bawean* Jenis Hewan Rusa Timor Rusa Timor * Rusa Sambar* Rusa Bawean* Persentase (%) Min. Maks. Rataan ± SD ± ± ± ± 2.06 Keterangan : 0 tidak ditemukan pada preparat ulas * sumber: Yusmin (1998)

8 Perbedaan jumlah eosinofil pada rusa Timor hasil penelitian dengan literatur (Yusmin 1998) dapat terjadi karena perbedaan umur hewan yang digunakan, dan status nutrisi. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa rusa Timor hasil penelitian memiliki persentase eosinofil paling rendah. Eosinofil hanya ditemukan pada empat sampel dari dua belas sampel ulas darah rusa Timor jantan. Secara umum, ciri khas sel eosinofil mamalia yaitu memiliki granul berwarna jingga yang mirip dengan eritrosit. Eosinofil berdiameter µm, inti bergelambir dua, sitoplasma dikelilingi butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran µm, dengan jangka waktu hidup berkisar antara tiga sampai lima hari (Junqueira & Caneiro 2005). Hasil pada penelitian ini diperoleh gambaran eosinofil rusa Timor yang berbentuk bulat dengan inti bergelambir dua dengan bentuk yang khas seperti kacamata, dengan warna yang cenderung mengambil warna eosin (merah). Granul sel eosinofil memiliki kandungan utama Major Basic Protein (MBP) yang bersifat toksik terhadap bakteri, eosinofil peroksidase yang berfungsi untuk melawan parasit dan virus, serta protein kationik yang dapat merusak dan membentuk lubang pada membran, serta menginisiasi degranulasi sel mast yang bersifat bakterisidal. Kandungan granul eosinofil menyebabkan sel ini memiliki kemampuan untuk melawan parasit cacing, dan bersama dengan basofil atau sel mast berperan sebagai mediator peradangan dan memiliki potensi untuk merusak jaringan inang (Weiss & Wardrop 2010). Eosinofil juga ikut berperan dalam respon alergi dan reaksi imun kompleks (Thrall et al. 2004). Eosinofil merupakan sel yang penting dalam respon inang terhadap infeksi parasit dan reaksi alergi. Peningkatan jumlah eosinofil (eosinofilia) dapat terjadi pada kasus investasi endoparasit pada kambing, sapi, dan domba. Eosinofilia tidak selalu hadir dalam infeksi parasit. Penurunan jumlah eosinofil (eosinopenia) diduga sebagai akibat respon stres pada ruminansia. Eosinopenia ekstrim juga telah dilaporkan terjadi pada kasus theileriosis pada sapi. Gangguan pada sumsum tulang seperti nekrosis, fibrosis, atau penekanan akibat obat-obat kemoterapi dapat mengakibatkan pansitopenia yang mencakup eosinopenia (Weiss & Wardrop 2010).

9 Gambar 6 Eosinofil rusa Timor; bar = 10 µm. Gambaran sel eosinofil rusa Timor dapat dilihat pada Gambar 6. Granulgranul yang terdapat pada sel eosinofil menyerap warna eosin, sehingga sitoplasmanya tertutup warna merah. Gambaran ini sama dengan gambaran eosinofil umum pada ruminansia lainnya. Basofil Basofil merupakan jenis leukosit bergranul yang mengandung histamin dan heparin. Membran sitoplasma mampu menggandeng Immunoglobulin E, seperti sel mast. Basofil memiliki diameter yang lebih besar dibandingkan dengan neutrofil. Basofil memiliki nukleus bersegmen, dan bentuk bervariasi tergantung spesies. Permukaan sel basofil pada sapi tertutupi oleh granul ungu gelap karena terhimpit oleh banyaknya jumlah granul (Thrall et al. 2004). Gambar 7 Basofil rusa Timor; bar = 10 µm.

10 Gambaran sel basofil rusa Timor (Gambar 7) dominan warna biru, karena permukaan sel basofil yang tertutupi dengan granul yang menyerap metilen biru. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara gambaran sel basofil rusa Timor dengan sel basofil sapi. Tabel 6 memperlihatkan rataan persentase basofil rusa Timor hasil penelitian. Jumlah basofil hasil penelitian ini berkisar antara /µL dengan nilai relatif 0-1%. Hasil pengamatan pada penelitian ini menunjukkan bahwa basofil merupakan jenis sel leukosit dengan populasi paling sedikit. Menurut Thrall et al. (2004), konsentrasi basofil dalam sirkulasi ruminansia sangat rendah dan sering kali tidak ditemukan pada pemeriksaan preparat ulas. Tabel 6 Perbandingan persentase basofil rusa Timor dengan rusa Timor*, rusa Sambar*, dan rusa Bawean* Jenis Hewan Rusa Timor Rusa Timor* Rusa Sambar* Rusa Bawean* Persentase (%) Min. Maks. Rataan±SD ± ± ± ± 1.41 Keterangan : 0 tidak ditemukan pada preparat ulas * sumber: Yusmin (1998) Data yang disajikan pada Tabel 6 menunjukkan rusa Timor hasil penelitian memperoleh hasil persentase basofil sebesar 0.08 ± 0.28%, sedangkan penelitian Yusmin (1998) diperoleh 4.75 ± 0.96%, pada rusa Sambar 2.00 ± 1.41%, dan rusa Bawean 3.00 ± 1.41%. Perbandingan ini menunjukkan bahwa persentase basofil pada penelitian ini memiliki nilai paling rendah dibanding rusa Timor, rusa Sambar, dan rusa Bawean hasil penelitian Yusmin (1998). Basofil memiliki peran penting dalam reaksi hipersensitivitas. Basofil akan memasuki jaringan yang mengalami peradangan. Basofil memiliki fungsi serupa dengan sel mast, yang memiliki kemampuan untuk fagositosis agen penyebab hipersensitivitas. Basofil akan berperan dalam reaksi alergi seperti pada kasus rhinitis, urtikaria, asma, alergi, konjungtivitis, dan anafilaksis (Weiss & Wardrop 2010). Peningkatan jumlah basofil (basofilia) akan terjadi sebagai respon terhadap infeksi parasit dan hipersensitivitas. Basofilia telah dilaporkan pada sapi

11 dengan infestasi caplak, dan pada kambing yang terinfeksi nematoda secara eksperimental. Penurunan basofil (basopenia) sangat jarang dilaporkan karena jumlah basofil dalam sirkulasi pada ruminansia yang normal sangat rendah (Rothwell et al. 1994). Limfosit Tabel 7 memperlihatkan rataan persentase limfosit pada rusa Timor hasil penelitian dan perbandingannya dengan rusa Timor, rusa Sambar, dan rusa Bawean hasil penelitian Yusmin (1998). Nilai absolut limfosit yang diperoleh dari sampel darah rusa Timor berkisar antara x 10 3 /µl dengan persentase 47-55%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limfosit merupakan jenis leukosit dengan persentase tertinggi. Hal ini didukung oleh Chapple et al. (1991) yang menyatakan bahwa pada rusa jantan dewasa, jenis leukosit yang dominan adalah limfosit. Menurut Knowles et al. (2000) yang melakukan penelitian pada pedet dan sapi dewasa, perbedaan rasio neutrofil dan limfosit ini diduga disebabkan pedet memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi dewasa sehingga terjadi pelepasan kortisol yang menyebabkan jumlah neutrofil yang tinggi di dalam sirkulasi. Tabel 7 Perbandingan persentase limfosit rusa Timor dengan rusa Timor*, rusa Sambar*, dan rusa Bawean* Jenis Hewan Rusa Timor Rusa Timor* Rusa Sambar* Rusa Bawean* Persentase (%) Min. Maks. Rataan±SD ± ± ± ± 2.94 Keterangan : * sumber: Yusmin (1998) Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase limfosit rusa Timor hasil penelitian sebesar ± 2.1%, hampir sama dengan hasil penelitian Yusmin (1998) yaitu ± 0.96%. Nilai relatif limfosit pada rusa Sambar ± 6.36%, dan rusa Bawean ± 2.94%. Persentase limfosit rusa Timor lebih rendah jika dibandingkan dengan rusa Sambar, tetapi lebih tinggi jika dibandingkan persentase limfosit rusa Bawean.

12 Limfosit merupakan jenis leukosit yang tidak bergranul (agranulosit). Limfosit terdiri dari beberapa jenis, yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang berperan dalam respon imunitas humoral untuk memproduksi antibodi, sedangkan limfosit T akan berperan dalam respon imunitas seluler (Junqueira & Caneiro 2005). Menurut Weiss & Wardrop (2010), sulit untuk membedakan diantara kedua macam limfosit, terutama jika hanya dengan pengamatan melalui preparat ulas darah atau dengan teknik yang secara rutin dilakukan di laboratorium. Jenis limfosit B berfungsi untuk membentuk kekebalan humoral, sedangkan limfosit T bertanggung jawab dalam membentuk kekebalan seluler dan respon terhadap sitokin. Sel T dapat dibagi lagi menjadi sel T-inducer/helper dan sel T- sitotoksik/supressor. Limfosit memiliki nukleus yang bervariasi, dari yang berbentuk bulat sampai lonjong, memiliki sitoplasma sangat sedikit dan hampir tidak terlihat. Limfosit yang bersirkulasi pada umumnya memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan neutrofil. Limfosit pada sapi memiliki bentuk yang bervariasi mulai dari nukleus yang bulat sampai oval, dan diameter yang hampir sama dengan neutrofil (Thrall et al. 2004). Limfosit pada rusa Timor memiliki inti yang berbentuk bulat, dan sitoplasma relatif sedikit (Gambar 8). Gambaran limfosit rusa Timor memiliki gambaran yang umum seperti limfosit pada ruminansia lainnya. Gambar 8 Limfosit rusa Timor; bar = 10 µm.

13 Peningkatan jumlah limfosit (limfositosis) dapat terjadi pada kasus infeksi virus yang berjalan kronis, tripanosomiasis kronis, leukemia limfoblastik, leukemia limfositik kronik. Virus penyebab leukemia, misalnya Bovine Leukemia Virus pada sapi, dapat menyebabkan leukemia yang menyebabkan limfositosis. Penyebab paling umum terjadinya penurunan jumlah limfosit (limfopenia) pada ruminansia adalah kortikosteroid yang diinduksi oleh keadaan stres. Limfopenia juga dapat terjadi pada fase akut infeksi virus, mikoplasma, infeksi bakteri, dan septikemia (Weiss & Wadrop 2010). Monosit Monosit merupakan jenis leukosit berukuran terbesar, berdiameter µm, dengan persentase berkisar antara 3-9% dari jumlah leukosit total. Sitoplasma monosit berwarna biru abu-abu pucat dan berinti lonjong seperti ginjal atau tapal kuda (Junqueira & Caneiro 2005). Selain ciri khas yang disebutkan di atas, ciri lain yang menandakan monosit yaitu adanya vakuol pada sitoplasma (Thrall et al. 2004). Hasil yang diperoleh dari preparat ulas, sel monosit memiliki bentuk inti seperti ladam, dan ukurannya paling besar dibanding jenis leukosit lainnya. Gambaran monosit rusa Timor dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9 Monosit rusa Timor; bar = 10 µm. Nilai rataan persentase monosit pada rusa Timor hasil penelitian dan jenis rusa lain dapat dilihat pada Tabel 8. Jumlah monosit yang diperoleh dari sampel

14 darah rusa Timor berkisar antara x 10 3 /µl dengan persentase 0-2%. Terdapat perbedaan antara persentase monosit rusa Timor hasil penelitian ini yang memiliki rataan ± 0.58 % dengan hasil penelitian Yusmin (1998) yang memperoleh persentase monosit sebesar 3.00 ± 0.82%. Persentase monosit rusa Sambar 1.50 ± 0.71%, dan rusa Bawean 3.50 ± 1.29%. Tabel 8 memperlihatkan bahwa rusa Timor pada hasil penelitian memiliki jumlah monosit yang paling rendah jika dibandingkan dengan rusa Timor pada penelitian Yusmin (1998), rusa Sambar, dan rusa Bawean. Tabel 8 Perbandingan persentase monosit rusa Timor dengan rusa Timor*, rusa Sambar*, dan rusa Bawean* Jenis Hewan Persentase (%) Min. Maks. Rataan±SD Rusa Timor Rusa Timor* Rusa Sambar* Rusa Bawean* ± ± ± ± 1.29 Keterangan : 0 tidak ditemukan pada preparat ulas * sumber: Yusmin (1998) Monosit berpartisipasi dalam respon peradangan. Monosit akan berpindah ke jaringan, dan berubah menjadi makrofag. Sel mononuklear ini mampu memfagosit bakteri, organisme yang lebih besar dan kompleks (seperti ragi dan protozoa), sel yang terinfeksi, sel debris, dan partikel asing (Thrall et al. 2004). Weiss dan Wardrop (2010) menyatakan bahwa peningkatan jumlah monosit (monositosis) dapat terjadi sebagai respon stres pada ruminansia, namun demikian monositosis dapat juga terjadi pada kondisi peradangan. Penurunan jumlah monosit (monositopenia) dapat disebabkan oleh endotoksemia, peradangan perakut dan akut yang disebabkan oleh berbagai agen penyebab.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kerbau lumpur betina, diperoleh jumlah rataan dan simpangan baku dari total leukosit, masing-masing jenis leukosit, serta rasio neutrofil/limfosit

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah LeukositTotal Leukosit merupakan unit darah yang aktif dari sistem pertahanan tubuh dalam menghadapi serangan agen-agen patogen, zat racun, dan menyingkirkan sel-sel rusak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara

BAB 1 PENDAHULUAN. menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obat tradisional telah lama digunakan diseluruh dunia dan menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk

Lebih terperinci

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung 16 HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung memiliki kelainan hematologi pada tingkat ringan berupa anemia, neutrofilia, eosinofilia,

Lebih terperinci

LEUKOSIT SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER KESEHATAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis) DI USAHA PENANGKARAN RUSA TIMOR KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS

LEUKOSIT SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER KESEHATAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis) DI USAHA PENANGKARAN RUSA TIMOR KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS LEUKOSIT SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER KESEHATAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis) DI USAHA PENANGKARAN RUSA TIMOR KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS THEODORA MEILIANA TJENDRADJAJA FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Leukosit Total Data hasil penghitungan jumlah leukosit total, diferensial leukosit, dan rasio neutrofil/limfosit (N/L) pada empat ekor kerbau lumpur betina yang dihitung

Lebih terperinci

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba

Tabel 1 Nilai (rataan ± SD) PBBH, FEC, dan gambaran darah domba selama masa infeksi Parameter Amatan Domba 3 Diferensiasi SDP dilakukan berbasis preparat ulas darah total. Darah diulas di preparat kemudian difiksasi dengan metanol selama 2 menit. Preparat ulas darah diwarnai menggunakan pewarna giemsa selama

Lebih terperinci

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) FUNGSI SISTEM IMUN: Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan

Lebih terperinci

Bila Darah Disentifus

Bila Darah Disentifus Judul Fungsi Darah Bila Darah Disentifus Terdiri dari 3 lapisan yaitu : Darah di sentrifuse q Lapis paling bawah (merah) 45% adalah Eritrosit atau hematokrit q Lapis tengah (abu-abu putih) 1 % adalah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa zat warna lalu dikeringkan. Selanjutnya, DPX mountant diteteskan pada preparat ulas darah tersebut, ditutup dengan cover glass dan didiamkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya kesehatan transfusi darah adalah upaya kesehatan berupa penggunaan darah bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan. Sebelum dilakukan transfusi darah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Parasitemia Hasil penelitian menunjukan bahwa semua rute inokulasi baik melalui membran korioalantois maupun kantung alantois dapat menginfeksi semua telur tertunas (TET). Namun terdapat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hematologi Hasil pemeriksaan hematologi disajikan dalam bentuk rataan±simpangan baku (Tabel 1). Hasil pemeriksaan hematologi individual (Tabel 5) dapat dilihat pada lampiran dan dibandingkan

Lebih terperinci

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda

Lebih terperinci

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Mekanisme Pertahanan Tubuh Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Total Leukosit Pada Tikus Putih Leukosit atau disebut dengan sel darah putih merupakan sel darah yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh dan merespon kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN

BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN BAB II KOMPONEN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM STEM IMUN Sel yang terlibat dalam sistem imun normalnya berupa sel yang bersirkulasi dalam darah juga pada cairan lymph. Sel-sel tersebut dapat dijumpai dalam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi dan Persentase Parasit Darah Hasil pengamatan preparat ulas darah pada enam ekor kuda yang berada di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR FKH IPB) dapat dilihat sebagai berikut

Lebih terperinci

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Jumlah Leukosit Data perhitungan terhadap jumlah leukosit pada tikus yang diberikan dari perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 6. Rata-rata leukosit pada tikus dari perlakuan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kuda (Dokumentasi)

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kuda (Dokumentasi) TINJAUAN PUSTAKA Kuda Gambar 1 Kuda (Dokumentasi) Kuda (Equus caballus) masih satu famili dengan keledai dan zebra, berjalan menggunakan kuku, memiliki sistem pencernaan monogastrik, dan memiliki sistem

Lebih terperinci

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI

BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI 1 BAHAYA AKIBAT LEUKOSIT TINGGI TUGAS I Disusun untuk memenuhi tugas praktikum brosing artikel dari internet HaloSehat.com Editor SHOBIBA TURROHMAH NIM: G0C015075 PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN FAKULTAS

Lebih terperinci

SISTEM PEREDARAN DARAH

SISTEM PEREDARAN DARAH SISTEM PEREDARAN DARAH Tujuan Pembelajaran Menjelaskan komponen-komponen darah manusia Menjelaskan fungsi darah pada manusia Menjelaskan prinsip dasar-dasar penggolongan darah Menjelaskan golongan darah

Lebih terperinci

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI rina_susilowati@ugm.ac.id Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi. Obat analgesik akan menghilangkan rasa sakit, sementara obat tranquilliser akan menenangkan hewan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator dibanding respons imun yang didapat. Inflamasi dapat diartikan

Lebih terperinci

Tabel 3 Tingkat prevalensi kecacingan pada ikan maskoki (Carassius auratus) di Bogor

Tabel 3 Tingkat prevalensi kecacingan pada ikan maskoki (Carassius auratus) di Bogor HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pemeliharaan Ikan Maskoki (Carassius auratus) Pengambilan sampel ikan maskoki dilakukan di tiga tempat berbeda di daerah bogor, yaitu Pasar Anyar Bogor Tengah, Batu Tulis Bogor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Tubuh manusia secara fisiologis memiliki sistim pertahanan utama untuk melawan radikal bebas, yaitu antioksidan yang berupa enzim dan nonenzim. Antioksidan enzimatik bekerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah 2.1.1 Definisi Darah Darah merupakan jaringan cair yang terdiri dari dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Plasma darah adalah bagian cair yang terdiri dari air,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sel sel darah primitif dibentuk dalam saccus vitelinus. Sel sel darah disini masih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sel sel darah primitif dibentuk dalam saccus vitelinus. Sel sel darah disini masih BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembentukan Sel Darah (hemopoiesis) Terdiri dari 3 fase hemopoesis : 1. Fase mesoblastik Sel sel darah primitif dibentuk dalam saccus vitelinus. Sel sel darah disini masih serupa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Pedaging Klasifikasi biologis ayam (Gallus gallus) berdasarkan Rasyaf (2003) adalah sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Pedaging Klasifikasi biologis ayam (Gallus gallus) berdasarkan Rasyaf (2003) adalah sebagai berikut : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Pedaging Klasifikasi biologis ayam (Gallus gallus) berdasarkan Rasyaf (2003) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordate Kelas : Aves Ordo : Galliformes

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIKUM HISTOLOGI II MODUL 2.3 KARDIOVASKULER DAN HEMATOLOGI DARAH

PANDUAN PRAKTIKUM HISTOLOGI II MODUL 2.3 KARDIOVASKULER DAN HEMATOLOGI DARAH PANDUAN PRAKTIKUM HISTOLOGI II MODUL 2.3 KARDIOVASKULER DAN HEMATOLOGI DARAH Tujuan pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu memahami istilah plasma, serum, hematokrit 2. Mahasiswa mampu memahami komposisi plasma

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga pada bulan Desember 2012 - Februari 2013. Jumlah sampel yang diambil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai dengan adanya kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme karbohidrat,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tumbuhan nimba (Azadirachta indica A. Juss.) merupakan tumbuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tumbuhan nimba (Azadirachta indica A. Juss.) merupakan tumbuhan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan Tumbuhan nimba (Azadirachta indica A. Juss.) merupakan tumbuhan yang dapat tumbuh pada jenis tanah berpasir maupun tanah liat. Wilayah penyebaran nimba yaitu

Lebih terperinci

LEUKOSIT. 1.Puspha Dyah F. (A ) 2.Retri Retnaningtyas (A ) 3.Shindhu Anggraini (A )

LEUKOSIT. 1.Puspha Dyah F. (A ) 2.Retri Retnaningtyas (A ) 3.Shindhu Anggraini (A ) LEUKOSIT 1.Puspha Dyah F. (A102.09.039) 2.Retri Retnaningtyas (A102.09.045) 3.Shindhu Anggraini (A102.09.052) 4.Tiska Ageng P. (A102.09.058) 5.Ulfi Binartawati (A102.09.060) 6.Zerlinda Anita S. (A102.09.070)

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol

PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol 30 PEMBAHASAN Jumlah dan Komposisi Sel Somatik pada Kelompok Kontrol Sel somatik merupakan kumpulan sel yang terdiri atas kelompok sel leukosit dan runtuhan sel epitel. Sel somatik dapat ditemukan dalam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum HIV/AIDS HIV merupakan virus yang menyebabkan infeksi HIV (AIDSinfo, 2012). HIV termasuk famili Retroviridae dan memiliki genome single stranded RNA. Sejauh ini

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit dan Indeks Eritrosit Jumlah eritrosit dalam darah dipengaruhi jumlah darah pada saat fetus, perbedaan umur, perbedaan jenis kelamin, pengaruh parturisi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ayam petelur adalah ayam yang mempunyai sifat unggul dalam produksi telur atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas sistem imun sangat diperlukan sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap ancaman,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susu formula yang diberikan kepada bayi sebagai pengganti ASI, kerap kali memberikan efek samping yang mengganggu kesehatan bayi seperti alergi. Susu formula secara

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi,

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi, PENGETAHUAN DASAR IMUNOLOGI KULIT Dr. Ariyati Yosi, SpKK PENDAHULUAN Kulit: end organ banyak kelainan yang diperantarai oleh proses imun kulit berperan secara aktif sel-sel imun (limfoid dan sel langerhans)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk melawan segala macam organisme pengganggu atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Kemampuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. putih (leukosit). Eritrosit berperan dalam transpor oksigen dan. Sebagian dari sel-sel leukosit bersifat fagositik, yaitu memakan dan

I. PENDAHULUAN. putih (leukosit). Eritrosit berperan dalam transpor oksigen dan. Sebagian dari sel-sel leukosit bersifat fagositik, yaitu memakan dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Darah merupakan komponen yang berfungsi dalam sistem transportasi pada tubuh hewan tingkat tinggi. Jaringan cair ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian cair yang disebut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum Kerbau

TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum Kerbau TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum Kerbau Menurut Bhattacharya (1993), semua kerbau domestik diduga berevolusi dari arni (Bubalus arnee) yaitu kerbau liar dari India yang masih dijumpai di hutan-hutan di daerah

Lebih terperinci

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu.

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu. Kelompok 2 : INDRIANA ARIYANTI (141810401016) MITA YUNI ADITIYA (161810401011) AYU DIAH ANGGRAINI (161810401014) NURIL NUZULIA (161810401021) FITRI AZHARI (161810401024) ANDINI KURNIA DEWI (161810401063)

Lebih terperinci

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed

FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH. TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed FISIOLOGI SISTEM PERTAHANAN TUBUH TUTI NURAINI, SKp., M.Biomed 1 PENDAHULUAN Sistem imun melindungi tubuh dari sel asing & abnormal dan membersihkan debris sel. Bakteri dan virus patogenik adalah sasaran

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Lele Masamo Taksonomi Dan Morfologi. Klasifikasi lele menurut Saanin (1984) adalah :

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Lele Masamo Taksonomi Dan Morfologi. Klasifikasi lele menurut Saanin (1984) adalah : II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Lele Masamo 2.1.1. Taksonomi Dan Morfologi Klasifikasi lele menurut Saanin (1984) adalah : Kingdom Phyllum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 27 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Diferensiasi Leukosit Tubuh manusia maupun hewan sepanjang waktu terpapar oleh agen infeksius seperti bakteri, virus, jamur dan parasit dalam berbagai tingkatan

Lebih terperinci

Sistem Imun. Leukosit mrpkn sel imun utama (disamping sel plasma, 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal

Sistem Imun. Leukosit mrpkn sel imun utama (disamping sel plasma, 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal Kuntarti, SKp Sistem Imun Fungsi: 1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor)

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) (Robbani et al. 2010).

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) (Robbani et al. 2010). 3 TINJAUAN PUSTAKA Kerbau Lumpur Kerbau lumpur yang termasuk ke dalam spesies Bubalus bubalis, Genus Bubalus, Subfamili Bovinae, Famili Bovidae, Subordo Ruminantia, Ordo Artiodactyla, Subkelas Theria,

Lebih terperinci

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Dr. Nia Kurniati, SpA (K) Manusia mempunyai sistem pertahanan tubuh yang kompleks terhadap benda asing. Berbagai barrier diciptakan oleh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Berdasarkan Morfologi Berdasarkan hasil identifikasi preparat ulas darah anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok, ditemukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Babi Babi adalah ternak monogastric dan bersifat prolific (banyak anak tiap kelahiran), pertumbuhannya cepat dan dalam umur enam bulan sudah dapat dipasarkan. Selain itu ternak

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Eritrosit Fungsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sel darah putih ( lekosit ) rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sel darah putih ( lekosit ) rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Lekosit Sel darah putih ( lekosit ) rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar dari sel darah merah, tetapi jumlah sel darah putih lebih sedikit. Diameter

Lebih terperinci

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2. PROTOZOA Entamoeba coli E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran 15-50 μm 2. sitoplasma mengandung banyak vakuola yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mengalami proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan. merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari (Astari, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. yang mengalami proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan. merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari (Astari, 2010). BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Lansia (Lanjut usia) adalah sekelompok orang dengan usia lanjut yang mengalami proses penuaan yang terjadi secara bertahap dan merupakan proses alami yang tidak

Lebih terperinci

SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII

SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII SISTEM IMUN Pengantar Biopsikologi KUL VII SISTEM KEKEBALAN TUBUH Imunologi : Ilmu yang mempelajari cara tubuh melindungi diri dari gangguan fisik, kimiawi, dan biologis. . SISTEM IMUN INNATE : Respon

Lebih terperinci

Penyakit Leukimia TUGAS 1. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Browsing Informasi Ilmiah. Editor : LUPIYANAH G1C D4 ANALIS KESEHATAN

Penyakit Leukimia TUGAS 1. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Browsing Informasi Ilmiah. Editor : LUPIYANAH G1C D4 ANALIS KESEHATAN Penyakit Leukimia TUGAS 1 Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Browsing Informasi Ilmiah Editor : LUPIYANAH G1C015041 D4 ANALIS KESEHATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Lebih terperinci

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS. Praktikum IDK 1 dan Biologi, 2009 Tuti Nuraini, SKp., M.Biomed. 1 TUJUAN Mengetahui asal sel-sel

Lebih terperinci

IMUNITAS NON-SPESIFIK DAN SINTASAN LELE MASAMO (Clarias sp.) DENGAN APLIKASI PROBIOTIK, VITAMIN C DAN DASAR KOLAM BUATAN ABSTRAK

IMUNITAS NON-SPESIFIK DAN SINTASAN LELE MASAMO (Clarias sp.) DENGAN APLIKASI PROBIOTIK, VITAMIN C DAN DASAR KOLAM BUATAN ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume IV No 2 Februari 2016 ISSN: 2302-3600 IMUNITAS NON-SPESIFIK DAN SINTASAN LELE MASAMO (Clarias sp.) DENGAN APLIKASI PROBIOTIK, VITAMIN C DAN DASAR

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 Pewarnaan Proses selanjutnya yaitu deparafinisasi dengan xylol III, II, I, alkohol absolut III, II, I, alkohol 96%, 90%, 80%, dan 70% masing-masing selama 2 menit. Selanjutnya seluruh preparat organ

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kepadatan Ayam Petelur Fase Grower Ayam petelur adalah ayam yang efisien sebagai penghasil telur (Wiharto, 2002). Keberhasilan pengelolaan usaha ayam ras petelur sangat ditentukan

Lebih terperinci

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya SISTEM SIRKULASI Kompetensi Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya Suatu sistem yang memungkinkan pengangkutan berbagai bahan dari satu tempat ke tempat lain di dalam tubuh organisme Sistem

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Respon deferensiasi sel darah perifer mencit terhadap vaksin S. agalactiae yang diradiasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Respon deferensiasi sel darah perifer mencit terhadap vaksin S. agalactiae yang diradiasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Vaksinasi adalah suatu proses membangkitkan kekebalan protektif dengan menggunakan antigen yang relatif tidak berbahaya (Tripp 2004). Vaksinasi merupakan metode yang paling efektif

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 8 HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Parasitemia Menurut Ndungu et al. (2005), tingkat parasitemia diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat ringan (mild reaction), tingkat sedang (severe reaction),

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. : Carnivora. : Felis domestica

TINJAUAN PUSTAKA. : Carnivora. : Felis domestica 3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kucing Kucing termasuk keluarga Felidae, termasuk di dalamnya spesies kucing besar seperti singa, harimau dan macan. Kucing tersebar secara luas di seluruh Eropa, Asia Selatan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : kambing kacang, eritrosit, Denpasar Barat

ABSTRAK. Kata kunci : kambing kacang, eritrosit, Denpasar Barat ABSTRAK Telah dilakukan penelitian pada 40 ekor kambing kacang betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sitologi sel darah abnormal pada kambing kacang yang berada di Rumah Potong Kambing

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui 41 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Uji LD-50 Uji LD-50 merupakan uji patogenitas yang dilakukan untuk mengetahui kepadatan bakteri yang akan digunakan pada tahap uji in vitro dan uji in vivo. Hasil

Lebih terperinci

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit

Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Darah 8 % bb Komposisi darah : cairan plasma ± 60 % Padatan 40-45% sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, trombosit Plasma (40%-50%) Lekosit Eritrosit sebelum sesudah sentrifusi Fungsi utama eritrosit:

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan histopatologi pada timus Jaringan limfoid sangat berperan penting untuk pertahanan terhadap mikroorganisme. Ayam broiler memiliki jaringan limfoid primer (timus dan bursa

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan terhadap diferensiasi leukosit mencit (Mus musculus) yang diinfeksi P. berghei, setelah diberi infusa akar tanaman kayu kuning (C. fenestratum) sebagai berikut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Penurunan jumlah ookista dalam feses merupakan salah satu indikator bahwa zat yang diberikan dapat berfungsi sebagai koksidiostat. Rataan jumlah ookista pada feses ayam berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian. pemeriksaan kultur darah menyebabkan klinisi lambat untuk memulai terapi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian. pemeriksaan kultur darah menyebabkan klinisi lambat untuk memulai terapi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Deteksi dini bakteremia memfasilitasi inisiasi terapi antimikroba, mengurangi morbiditas dan mortalitas, dan mengurangi biaya kesehatan hal ini menjadi tujuan

Lebih terperinci

SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS

SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS Sistem Imun Organ limfatik primer Sumsum tulang belakang Kelenjar timus Organ

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rata-rata persentase diferensiasi leukosit pasien anjing di RSH-IPB Momo. Kronis 1-8.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rata-rata persentase diferensiasi leukosit pasien anjing di RSH-IPB Momo. Kronis 1-8. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambaran Umum Berikut ini disajikan tabel hasil pemeriksaan differensial leukosit pada pasien RSH-IPB. Secara umum dapat dikatakan bahwa gambaran leukosit pada semua pasien cenderung

Lebih terperinci

Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian 2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil leukosit (nilai total leukosit diferensiasi jenis leukosit, dan jumlah masing-masing jenis leukosit) kambing PE setelah vaksinasi iradiasi

Lebih terperinci

menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal

menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Penggunaan obat tradisional telah lama digunakan diseluruh dunia dan menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk

Lebih terperinci

Makalah Sistem Hematologi

Makalah Sistem Hematologi Makalah Sistem Hematologi TUGAS I untuk menyelesaikan tugas browsing informasi ilmiah Disusun Oleh: IBNU NAJIB NIM. G1C015004 PROGRAM DIPLOMA IV ANALISI KESEHATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

Lebih terperinci

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM

FIRST LINE DEFENCE MECHANISM Pengertian Sistem Pertahanan Tubuh Pertahanan tubuh adalah seluruh sistem/ mekanisme untuk mencegah dan melawan gangguan tubuh (fisik, kimia, mikroorg) Imunitas Daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit (Sel Darah Merah) Profil parameter eritrosit yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit kucing kampung (Felis domestica) ditampilkan

Lebih terperinci

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE ANFIS HEMATOLOGI Darah Tempat produksi darah (sumsum tulang dan nodus limpa) DARAH Merupakan medium transport tubuh 7-10% BB normal Pada orang dewasa + 5 liter Keadaan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah bertambahnya bahan atau substrak fisik atau bahan kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai jumlah tertentu.( Fardiaz S, 1992

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tikus Putih Tikus putih termasuk dalam kingdom Animalia, Filum Chordata, Klas Mamalia, Ordo Rodentina, Famili Muridae, Subfamily Muroidae, Genus Rattus, Species Rattus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus mengalami peningkatan sehingga permintaan makanan yang memiliki nilai gizi baik akan meningkat.

Lebih terperinci

KESEHATAN IKAN. Achmad Noerkhaerin P. Jurusan Perikanan-Untirta

KESEHATAN IKAN. Achmad Noerkhaerin P. Jurusan Perikanan-Untirta KESEHATAN IKAN Achmad Noerkhaerin P. Jurusan Perikanan-Untirta Penyakit adalah Akumulasi dari fenomena-fenomena abnormalitas yang muncul pada organisme (bentuk tubuh, fungsi organ tubuh, produksi lendir,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Leucocytozoon caulleryi Morfologi

TINJAUAN PUSTAKA Leucocytozoon caulleryi Morfologi TINJAUAN PUSTAKA Leucocytozoon caulleryi Leucocytozoon merupakan parasit darah dan jaringan yang telah ditemukan pada unggas sejak 200 tahun yang lalu oleh Danilewsky pada tahun 1884. Pertama kalinya,

Lebih terperinci

Jurnal Kajian Veteriner Volume 3 Nomor 1 : ISSN: Gambaran Hematologi pada Rusa Timor (Cervus timorensis)

Jurnal Kajian Veteriner Volume 3 Nomor 1 : ISSN: Gambaran Hematologi pada Rusa Timor (Cervus timorensis) Gambaran Hematologi pada Rusa Timor (Cervus timorensis) (Hematologic Description of Timor Deer (Cervus timorensis) Yanse Yane Rumlaklak 1) dan Novianti Neliyani Toelle 1) 1) Program Studi Kesehatan Hewan,

Lebih terperinci

serta terlibat dalam metabolisme energi dan sintesis protein (Wester, 1987; Saris et al., 2000). Dalam studi epidemiologi besar, menunjukkan bahwa

serta terlibat dalam metabolisme energi dan sintesis protein (Wester, 1987; Saris et al., 2000). Dalam studi epidemiologi besar, menunjukkan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam tubuh manusia, sistem imun sangat memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh terhadap berbagai antigen (benda asing) dengan memberantas benda asing tersebut

Lebih terperinci

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan pengertian dan fungsi jaringan embrional 2. Menjelaskan ciri dan fungsi jaringan epitelium 3. Menjelaskan ciri dan fungsi jaringanjaringan

Lebih terperinci

SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006

SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006 SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006 1. Imunitas natural :? Jawab : non spesifik, makrofag paling berperan, tidak terbentuk sel memori 2. Antigen : a. Non spesifik maupun spesifik,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil perhitungan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC pada kerbau lumpur betina yang diperoleh dari rata-rata empat kerbau setiap

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Temperatur Tubuh Peningkatan temperatur tubuh dapat dijadikan indikator terjadinya peradangan di dalam tubuh atau demam. Menurut Kelly (1984), temperatur normal tubuh sapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada individu dengan kecenderungan alergi setelah adanya paparan ulang antigen atau alergen

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba

Lebih terperinci