BAB II METODOLOGI PENELITIAN...

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II METODOLOGI PENELITIAN..."

Transkripsi

1

2

3

4 DAFTAR ISI SAMBUTAN... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR LAMPIRAN... vi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Dasar Hukum Tim Penyusun... 4 BAB II METODOLOGI PENELITIAN Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data... 6 BAB III PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN Permukiman Transmigrasi menurut Umur Bina Tahun Permukiman Transmigrasi menurut Pola Permukiman Tahun Transmigran menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun Transmigran menurut Pola Permukiman Tahun BAB IV PENDAPATAN TRANSMIGRAN DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN Pendapatan Menurut Provinsi Pendapatan Menurut Tahun Bina Permukiman Pendapatan Menurut Pola Permukiman BAB V PENGELUARAN TRANSMIGRAN DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN Pengeluaran Transmigran menurut Provinsi Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Pangan Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Non Pangan Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Sekunder BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun 2014 iii

5 DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Provinsi yang Mengirimkan Data Kesejahteraan dan Pendapatan Transmigran Tahun Tabel 2.2. Permukiman Transmigrasi yang Data Kesejahteraan dan Pendapatan Transmigrannya Dilaporkan Tahun Tabel 3.1. Permukiman Transmigrasi Bina menurut Umur Bina Tahun Tabel 3.2. Permukiman Transmigrasi Bina menurut Pola Permukiman Tahun Tabel 3.3. Transmigran (KK) menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun Tabel 3.4. Transmigran (KK) menurut Pola Permukiman Tahun Tabel 4.1. Pendapatan Transmigran menurut Provinsi Tabel 4.2. Pendapatan Transmigrasi pada Permukiman Transmigrasi T Tabel 4.3. Pendapatan Transmigrasi pada Permukiman Transmigrasi T Tabel 4.4. Pendapatan Transmigrasi pada Permukiman Transmigrasi T Tabel 4.5. Distribusi Permukiman Transmigrasi menurut Pendapatan Standar Bina dan Garis Kemiskinan Desa di Provinsi Tahun Tabel 4.6. Pendapatan Transmigran menurut Pola Permukiman Transmigrasi Tabel 5.1. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran menurut Provinsi Tabel 5.2. Pengeluaran Kebutuhan Dasar Pangan... Tabel 5.3. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Non Pangan Tabel 5.4. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Sekunder dan Tabungan Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun 2014 iv

6 DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Permukiman Transmigrasi Bina Tahun Gambar 3.2. Transmigran (KK) menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun 2014 v

7 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Provinsi Sumatera Utara Lampiran 2 Provinsi Jambi Lampiran 3 Provinsi Sumatera Selatan Lampiran 4 Provinsi Kalimantan Barat Lampiran 5 Provinsi Sulawesi Utara Lampiran 6 Provinsi Gorontalo Lampiran 7 Provinsi Nusa Tenggara Timur Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun 2014 vi

8 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transmigrasi merupakan salah satu bagian dari Pembangunan Nasional, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari ruang lingkup Pembangunan Nasional. Kegiatan-kegiatan penyelenggaraan transmigrasi termasuk dalam lingkup pembangunan nasional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dalam Penyelenggaraan Transmigrasi diarahkan untuk mewujudkan suksesnya pembangunan daerah, terutama di bidang pembangunan pertanian. Dengan adanya pembangunan pertanian dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga dengan demikian pada hakekatnya transmigrasi membantu meningkatkan martabat manusia. Peningkatan kesejahteraan, dimaksudkan bahwa melalui perpindahan untuk bermukim menetap serta berusaha di daerah yang baru dengan dukungan fasilitas yang disiapkan melalui program transmigrasi diharapkan dapat mengubah tingkat kehidupan transmigran kearah yang lebih baik daripada sebelum berpindah. Dalam rangka peningkatan kualitas hidup transmigran, upaya pembinaan daerah transmigrasi diarahkan pada pembinaan ekonomi yang semakin meningkat dan intensif sejak awal penempatan transmigran di lokasi. Titik penekanan pembinaan masyarakat transmigrasi adalah pada kegiatan ekonomi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pusat pertumbuhan atau kawasan ekonomi yang mampu memberi kontribusi bagi pembangunan wilayah. Dalam unit permukiman transmigrasi terdapat tahapan-tahapan guna mengembangkan permukiman menjadi permukiman yang mandiri. Adapun Tingkat perkembangan permukiman transmigrasi dan kesejahteraan transmigran dilakukan melalui tahapan: 1. Tingkat penyesuaian adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya sedang beradaptasi di lingkungan baru (sosial ekonomi, budaya dan fisik) untuk mampu melaksanakan kehidupan di Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

9 lokasi baru. Pada tahap penyesuaian berlangsung selama satu setengah tahun. 2. Tingkat pemantapan adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya telah berkemampuan mengelola asset produksi secara optimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tahap pemantapan berlangsung selama satu setengah sampai dengan dua tahun. 3. Tingkat pengembangan adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya telah mandiri dalam arti mampu mengembangkan potensi diri dan masyarakatnya dalam bentuk partisipasi aktif guna mengembangkan usaha dan kehidupannya secara berkelanjutan. Pada tahap pengembangan berlangsung kurang lebih selama dua tahun. Untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan suatu permukiman transmigrasi diperlukan suatu analisis tingkat kesejahteraan transmigran. Dalam Buku Data dan Informasi Analisis Kesejahteraan Transmigran ini menyajikan data statistik dan indikator kesejahteraan rakyat dari aspek pendapatan dan pengeluaran yang diharapkan dapat digunakan sebagai dasar analisis terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya para transmigran. Aspek pendapatan yaitu Upah / Gaji yang diterima oleh setiap pekerja yang digunakan demi memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan baik untuk kebutuhan dirinya sendiri maupun untuk kebutuhan keluarganya. Aspek pengeluaran yaitu jumlah uang dalam rupiah yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan dan non pangan, kebutuhan sekunder dan barang tahan lama, dan tabungan. Adapun dalam peningkatan taraf hidup transmigran terdapat hambatan atau kendala yang dihadapi, pengalaman selama ini menunjukan bahwa terjadi variasi tingkat kesejahteraan transmigran dan tidak seluruh transmigran mampu memenuhi indikator kesejahteraan yang sudah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai kendala / permasalahan antara lain yang terkait sumber daya alam seperti tanah yang kurang subur, topografi yang kurang mendukung, atau yang terkait sumber daya manusia seperti terbatasnya tingkat keterampilan dan Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

10 modal yang dimiliki serta bangunan / infrastruktur yang kurang mendukung seperti jalan dan jembatan dari dan ke lokasi rusak berat, serta sarana / prasarana pendidikan dan kesehatan yang belum memadai / tersedia Tujuan Tujuan dilakukannya analisis ini adalah untuk menyajikan data dan informasi tingkat kesejahteraan transmigran ditinjau dari tingkat pendapatan dan pengeluaran, Keluarga Transmigran di Pemukiman Transmigrasi yang masih di bina Tahun 2014, berdasarkan ketentuan yang mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.25/Men/IX/2009 tentang Tingkat Perkembangan Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigran Dasar Hukum Beberapa landasan hukum yang terkait dengan Penyusunan Buku Data dan Informasi Analisis Kesejahteraan Transmigran Tahun 2014: 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2015 tentang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 25 Tahun 2009 tentang Tingkat Perkembangan Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigran. 3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Data dan Informasi Ketransmigrasian. 4. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

11 1.4. Tim Penyusun Pengarah Ir. Anto Pribadi, MM., MM.Si. Penanggung Jawab Ir. Elly Sarikit, MM Tim Penyusun Ria Fajarianti, SE., MM. Anton Tri Susilo, BE., SE. Alfandi Pramandanu, ST. Esti Afriyani, S.Sos. Dian Mariyani, SE. Firda Shintia Dewi, S.Si. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

12 BAB II METODOLOGI 2.1. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data tingkat kesejahteraan transmigran yang berasal dari laporan Dinas Provinsi tahun Form isian data adalah form pada data kesejahteraan transmigrasi yang mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Data dan Informasi Ketransmigrasian. Berdasarkan data tahun 2014, terdapat jumlah permukiman transmigrasi (Kimtrans) Bina sebanyak 168 unit. Dari jumlah tersebut terdapat 157 unit yang usia binanya berumur T+2 s.d T 5 harus melaporkan data kesejahteraan transmigrannya. Dari 24 Provinsi secara nasional, Provinsi yang melaporkan data kesejahteraan transmigran ada 7 (tujuh) Provinsi, terdiri dari data kesejahteraan transmigran sebanyak 26 unit permukiman transmigrasi dan data pendapatan sebanyak 22 unit permukiman transmigrasi. Pengumpulan data dilakukan secara acak kepada 579 responden. Persebaran perolehan data menurut Provinsi disajikan pada Tabel 2.1. PROVINSI UPT (T + 2 S/D T 5) Tabel 2.1. Provinsi yang Mengirimkan Data Kesejahteraan dan Pendapatan Transmigran Tahun 2014 Jambi Kalimantan Barat Sulawesi Utara Sumatera Selatan Sumatera Utara KIMTRANS TARGET LAPOR Gorontalo Nusa Tenggara Timur KK KIMTRANS LAPOR KESTRAN PENDAPATAN RESPONDEN (KK) Sumber: Provinsi yang Melaporkan Data Perkembangan dan Kesejahteraan Transmigran ke Pusat Data dan Informasi, 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

13 Berdasarkan Tabel 2.2., pada tahun bina ke 2 atau (T+2) terdapat unit permukiman yang melaporkan data kesejahteraan transmigran dan pendapatan masing-masing sebanyak 1 unit, sedangkan pada tahun bina ke 3 atau (T+3) terdapat unit permukiman yang melaporkan data kesejahteraan transmigran dan pendapatan sebanyak 7 dan 4 unit, dan pada tahun bina lebih dari 5 tahun atau (T 5) terdapat unit yang melaporkan data kesejahteraan transmigran dan pendapatan sebanyak 18 dan 17 unit. Tabel 2.2. Permukiman Transmigrasi yang Data Kesejahteraan dan Pendapatan Transmigrannya Dilaporkan Tahun Total Kimtrans target Lapor Kimtrans KK T T T TOTAL Kimtrans Lapor Kestran Pendapatan Kimtrans Sampel (KK) T T T TOTAL Sumber: Provinsi yang Melaporkan Data Perkembangan dan Kesejahteraan Transmigran ke Pusat Data dan Informasi, 2014 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Dari data yang melaporkan kesejahteraan transmigrannya kemudian dapat dianalisis tingkat pendapatan dan dapat mengetahui tingkat kesejahteraan transmigran sampai sejauh mana keberhasilan program transmigrasi berjalan efektif dan untuk menjadi acuan pemerintah dalam memberi kebijakan selanjutnya dalam meningkatkan taraf hidup para transmigran Pengolahan dan Analisis Data Data yang sudah dikumpulkan diolah dengan menggunakan fasilitas program aplikasi Tingkat Perkembangan Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigrasi. Hasil olahan data kemudian dianalisis dan diinterpretasikan sehingga dapat menjawab fenomena yang berhubungan aspek Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

14 kesejahteraan transmigran dengan mengidentifikasi pendapatan dan pengeluaran transmigran. Untuk lebih jelas hasil dari olahan aplikasi termuat di dalam lampiran. Adapun rincian lampiran sebagai berikut: 1. Tabel menjelaskan tentang Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Pangan; 2. Tabel 31 menjelaskan tentang Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Non Pangan; 3. Tabel 32 menjelaskan tentang Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Sekunder dan Tabungan; 4. Tabel 33 menjelaskan tentang Pengeluaran Rumah Transmigran untuk Pembelian Barang Tahan Lama; 5. Tabel 34 menjelaskan tentang Rekapitulasi Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran; 6. Tabel 35 menjelaskan tentang Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Transmigran Setara Beras, Pendapatan Per Kapita Transmigran. Analisis pendapatan transmigran dilakukan untuk menyajikan informasi tentang pendapatan transmigran menurut Provinsi, Tahun Bina, dan Tipologi Permukiman. Pendapatan disajikan dalam bentuk total pendapatan setahun (per KK/tahun) dan pendapatan sebulan (per kapita/bulan). Pendapatan transmigran dihitung dari besarnya pengeluaran keluarga transmigran selama setahun terakhir. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi dan kenyataan bahwa pada dasarnya neraca ekonomi rumah tangga adalah seimbang (balance) antara pendapatan dan pengeluaran. Artinya setiap pendapatan pasti akan dikeluarkan, baik dalam bentuk belanja kebutuhan konsumsi, maupun dalam bentuk kebutuhan sekunder lainnya, serta dalam bentuk investasi dan tabungan (saving). Analisis pengeluaran untuk menyajikan informasi tentang distribusi pengeluaran pada keluarga transmigran, serta penggunaan pengeluaran antara lain untuk: 1) pangan, 2) kebutuhan dasar non pangan, 3) kebutuhan sekunder dan barang tahan lama, 4) tabungan, serta 5) investasi. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

15 BAB III PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN Permukiman Transmigrasi menurut Umur Bina Tahun 2014 Berdasarkan Tabel 3.1. dan Gambar 3.1. dapat digambarkan bahwa jumlah permukiman transmigrasi bina tahun 2014 terdapat 168 unit permukiman transmigrasi yang tersebar di 24 (dua puluh empat) Provinsi. Sebanyak 29 unit atau sebesar 17.26% merupakan pemukiman transmigrasi dengan usia bina lebih dari 5 tahun (T 5), dengan jumlah unit permukiman transmigrasi terbanyak terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah sebanyak 6 unit atau sebesar 20.69% dan jumlah unit permukiman transmigrasi paling sedikit terdapat di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua dengan masing-masing berjumlah 1 unit atau sebesar 3.45%. Sedangkan, jumlah unit permukiman transmigrasi dengan usia bina (T+1) terbanyak terdapat di Provinsi Aceh sebanyak 5 unit atau sebesar 45.45%, di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, tidak terdapat permukiman transmigrasi dengan usia bina T+1. Dari data tersaji, dapat dilihat bahwa Provinsi dengan jumlah permukiman transmigrasi tertinggi terdapat di Provinsi Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dengan masing-masing berjumlah 17 unit atau sebesar 10.12%, kemudian Provinsi Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tenggara dengan masing-masing berjumlah 13 unit atau sebesar 7.74%. Selanjutnya Provinsi Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur dengan jumlah permukiman transmigrasi masing-masing 11 unit atau sebesar 6.55% dan Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah 10 unit atau sebesar 5.95%. Serta Provinsi dengan jumlah permukiman transmigrasi terendah terdapat di Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kalimantan Timur dengan jumlah masing-masing 1 unit atau 0.60%. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

16 NO Tabel 3.1. Permukiman Transmigrasi Bina menurut Umur Bina Tahun 2014 PROVINSI STATUS UMUR PERMUKIMAN TRANSMIGRASI T+1 T+2 T+3 T+4 T+5 >T+5 JUMLAH PERMUKIMAN TRANSMIGRASI UPT % 1 ACEH SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG BENGKULU KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA GORONTALO SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI BARAT SULAWESI TENGGARA NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA PAPUA PAPUA BARAT JUMLAH PERSENTASE Sumber : Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 100 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

17 Gambar 3.1. Permukiman Transmigrasi Bina Tahun 2014 Permukiman Transmigrasi Bina Menurut Umur Bina Tahun , ,24 14,88 16,07 17, ,55 0 T+1 T+2 T+3 T+4 T+5 >T STATUS UMUR PERMUKIMAN TRANSMIGRASI permukiman Persentase permukiman Sedangkan, Permukiman Transmigrasi dengan Umur Bina (T+1) terdapat 11 unit permukiman atau sebesar 6.55%, (T+2) terdapat 42 unit permukiman atau 25.00%, (T+3) terdapat 25 unit permukiman atau sebesar 14.88%, (T+4) terdapat 34 unit permukiman atau sebesar 20.24% dan (T+5) terdapat 27 unit permukiman atau sebesar 16.07%. Pada Umur Bina (T+5), jika transmigran berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Tim yang dibentuk oleh Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) / Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PKT) telah mencapai kesejahteraan yang cukup baik, maka pembinaan unit permukiman akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

18 3.2. Permukiman Transmigrasi menurut Pola Permukiman Tahun 2014 Pola permukiman transmigrasi dikelompokkan menjadi Pola Tanaman Pangan Lahan Kering (), Pola Tanaman Pangan Lahan Basah (TPLB), dan Pola Rintisan (meliputi pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR), usaha nelayan, tambak, HTI Trans). Pola Tanaman Pangan lahan kering mendominasi permukiman transmigrasi dengan jumlah 124 unit atau sebesar 73.81%. Provinsi Aceh memiliki Pola Tanaman Pangan Lahan Kering terbanyak dengan jumlah 17 unit atau sebesar 10.12%. Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan Timur adalah Provinsi yang memiliki unit permukiman transmigrasi dengan Pola paling sedikit, dimana pada provinsi tersebut masing-masing terdapat 1 (satu) unit atau sebesar 0.60%. Provinsi Kalimantan Barat memiliki Pola Tanaman Pangan Lahan Basah terbanyak dengan jumlah 13 unit atau sebesar 7.74%. Sedangkan, untuk Pola TPLB paling sedikit terdapat di Provinsi Riau dengan jumlah 1 unit atau sebesar 0.60%. Serta Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat yang tidak memiliki Pola TPLB. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki Pola Rintisan terbanyak dengan jumlah 2 unit atau sebesar 1.19%. Sedangkan, untuk Pola Rintisan paling sedikit terdapat di Provinsi Jambi, Kalimantan Barat, Gorontalo dan Sulawesi Tengah dengan jumlah 1 unit atau sebesar 0.60%. Sedangkan di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat tidak terdapat permukiman transmigrasi yang dibangun dengan pola rintisan. Secara keseluruhan, jumlah Permukiman Transmigrasi Bina menurut pola permukiman terbanyak dengan jumlah 17 unit atau sebesar 10.12% terdapat di Provinsi Aceh, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah. Sedangkan, paling sedikit Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

19 dengan jumlah 1 unit atau sebesar 0.60% terdapat di Provinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung dan Kalimantan Timur. Uraian secara rinci mengenai jumlah permukiman menurut pola permukiman pada tahun 2014, dapat dilihat pada Tabel 3.2. berikut: Tabel 3.2. Permukiman Transmigrasi Bina menurut Pola Permukiman Tahun 2014 POLA PEMUKIMAN JUMLAH NO PROVINSI TPLB RINTISAN UPT % UPT % UPT % UPT % 1 ACEH SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG BENGKULU KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA GORONTALO SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI BARAT SULAWESI TENGGARA NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA PAPUA PAPUA BARAT JUMLAH PERSENTASE Sumber : Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 100 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

20 3.3. Transmigran menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun 2014 Dari data permukiman transmigrasi bina tahun 2014 yang disajikan pada Tabel 3.3. dan Gambar 3.3., terlihat bahwa dari sebanyak 168 Unit Permukiman Transmigrasi terdapat.271 Kepala Keluarga (KK). transmigran terbanyak berada di Provinsi Kalimantan Barat KK (11.18%) dan jumlah transmigran paling sedikit berada di Provinsi Bangka Belitung, yaitu sebanyak 43 KK (0.14%). Jika dilihat berdasarkan usia bina, jumlah transmigran terbanyak terdapat pada UPT dengan usia bina (T+3), yaitu sebanyak KK (24.10%), dan jumlah transmigran paling sedikit terdapat pada UPT dengan usia bina 1 tahun (T+1), yaitu sebanyak KK (6.98%). Transmigran pada UPT dengan usia bina 1 tahun (T+1) sebanyak KK (6.98%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu 449 KK (1.48%) berada di Provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan, jumlah transmigran paling sedikit yaitu 10 KK (0.03%) berada di Provinsi Sulawesi Utara. Tidak terdapatnya jumlah transmigran di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat, disebabkan karena pada tahun 2014, Provinsi tersebut tidak menjadi target Pembangunan dan Penempatan Transmigrasi. Transmigran pada UPT dengan usia bina 2 tahun (T+2) sebanyak KK (20.86%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu 750 KK (2.48%) berada di Provinsi Aceh. Tidak terdapatnya jumlah transmigran di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, disebabkan karena pada tahun 2013, Provinsi tersebut tidak menjadi target Pembangunan dan Penempatan Transmigrasi. Transmigran pada UPT dengan usia bina 3 tahun (T+3) sebanyak KK (24.10%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu KK (3.80%) berada di Provinsi Kalimantan Barat. Sedangkan, jumlah transmigran paling sedikit yaitu 50 KK (0.17%) berada di Provinsi Sumatera Barat. Tidak terdapatnya jumlah transmigran di Provinsi Riau, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara, disebabkan karena Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

21 pada tahun 2012, Provinsi tersebut tidak menjadi target Pembangunan dan Penempatan Transmigrasi. Transmigran pada UPT dengan usia bina 4 tahun (T+4) sebanyak KK (21.39%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu 810 KK (2.68%) berada di Provinsi Kalimantan Tengah, sedangkan jumlah transmigran paling sedikit yaitu 45 KK (0.15%) berada di Provinsi Riau. Tidak dilaksanakannya pembangunan dan penempatan transmigran pada tahun 2011 menyebabkan di Provinsi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat, tidak memiliki permukiman transmigrasi dengan usia bina T+4. Transmigran pada UPT dengan usia bina lebih dari 5 tahun (T 5) sebanyak KK (11.05%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu 400 KK (1.32%) berada di Provinsi Kalimantan Tengah dan Gorontalo. Sedangkan, jumlah transmigran paling sedikit yaitu 70 KK (0.23%) berada di Provinsi Kalimantan Utara. Tidak terdapat permukiman transmigrasi dengan usia bina lebih dari 5 tahun di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua Barat, sebagai akibat pada tahun 2009, atau sebelumnya tidak terdapat Pembangunan dan Penempatan Transmigrasi. Menurut UU 29 Tahun 2009, UPT yang pembinaannya masih menjadi tanggung jawab Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi adalah UPT dengan usia bina 5 tahun (T+5), dari data yang terkumpul diketahui bahwa jumlah transmigran pada UPT bina (T+5) sebanyak KK (15.62%), dimana jumlah transmigran terbanyak yaitu 900 KK (2.97%) berada di Provinsi Kalimantan Barat. Sedangkan, jumlah transmigran paling sedikit yaitu 37 KK (0.12%) berada di Provinsi Kalimantan Timur. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

22 Tabel 3.3. Transmigran (KK) menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun 2014 NO PROVINSI T+1 % T+2 % T+3 % T+4 % T+5 % >T+5 % KK % 1 ACEH SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG BENGKULU KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA GORONTALO SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI BARAT SULAWESI TENGGARA NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA PAPUA PAPUA BARAT JUMLAH PENEMPATAN TRANSMIGRAN KEPALA KELUARGA (KK) PERSENTASE Sumber: Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. JUMLAH TRANSMIGRAN SAAT INI 100 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

23 Kepala Keluarga (KK) Gambar 3.2. Transmigran (KK) menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun 2014 Transmigran Menurut Permukiman Transmigrasi Bina Tahun T+1 T+2 T+3 T+4 T+5 >T Penempatan Transmigran Sumber: Pusat Data dan Informasi, 2014 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Transmigran menurut Pola Permukiman Tahun 2014 Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah transmigran (KK) yaitu sebesar.271 KK. Jika dilihat berdasarkan pola permukiman terlihat bahwa: 1. Sebagian besar transmigran yaitu sebanyak KK (68.18%) berada pada unit permukiman yang dibangun dengan pola pengembangan tanaman pangan lahan kering (), terbanyak berada di Provinsi Sulawesi Tengah KK (10.01%) dan paling sedikit berada di Provinsi Bangka Belitung 43 KK (0.14%). 2. Sebanyak KK (27.94%) berada pada unit permukiman yang dibangun dengan pola pengembangan tanaman pangan lahan basah (TPLB), terbanyak berada di Provinsi Kalimantan Barat KK (8.62%). Sedangkan, paling sedikit berada di Provinsi Riau 45 KK (0.15%). Tidak terdapat transmigran di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

24 Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, yang dibangun dengan pola tanaman pangan lahan basah. 3. Sebanyak KK (3.87%) transmigran yang ditempatkan pada unit permukiman yang dibangun dengan pengembangan pola-pola rintisan (Perikanan Tambak, Nelayan, Peternakan, Ulat Sutera, Jasa Industri, Pola Hutan Rakyat) terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan 560 KK (1.85%). Sedangkan, paling sedikit terdapat di Provinsi Gorontalo 20 KK (0.07%). Di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat tidak terdapat permukiman transmigrasi yang dibangun dengan pola rintisan. Uraian secara rinci mengenai jumlah transmigran (KK) menurut pola permukiman pada tahun 2014, dapat dilihat pada Tabel 3.4. berikut: Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

25 NO Tabel 3.4. Transmigran (KK) menurut Pola Permukiman Tahun 2014 PROVINSI POLA PEMUKIMAN TPLB RINTISAN JUMLAH KK % KK % KK % KK % 1 ACEH SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BANGKA BELITUNG BENGKULU KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA GORONTALO SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI BARAT SULAWESI TENGGARA NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA PAPUA PAPUA BARAT JUMLAH PERSENTASE Sumber : Pusat Data dan Informasi, 2014 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

26 BAB IV PENDAPATAN TRANSMIGRASI DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN 2014 Pendapatan Transmigran adalah pendapatan yang diperoleh keluarga transmigran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendapatan transmigran diolah berdasarkan data dan informasi pendapatan transmigran dan pendapatan per kapita setahun. Sedangkan, Pengeluaran Transmigran adalah biaya yang dikeluarkan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam analisis ini, jenis pengeluaran rumah tangga dikelompokkan sebagai berikut: (1) Pengeluaran untuk kebutuhan pangan; (2) Pengeluaran untuk kebutuhan dasar non pangan; (3) Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder inventaris; (4) Pengeluaran untuk tabungan; dan (5) Pengeluaran untuk investasi. Variabel diatas merupakan topik utama yang akan dibahas pada buku ini, berikut untuk penjelasan lebih lanjut Pendapatan Transmigran menurut Provinsi Berdasarkan hasil analisis dari data yang disajikan pada Tabel 4.1. dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan keluarga transmigran per kapita per bulan adalah sebesar Rp ,-. Pendapatan per kapita tertinggi terdapat di Provinsi Sumatera Selatan sebesar Rp ,-. Sedangkan, Pendapatan per kapita terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp ,-. Apabila dibandingkan dengan garis kemiskinan desa di Provinsi, Provinsi Sumatera Utara memiliki tingkat pendapatan per kapita (Rp/bulan) dibawah garis kemiskinan, dimana garis kemiskinan desa di Provinsi Sumatera Utara berada pada angka Rp ,-, sedangkan pendapatan keluarga transmigran perkapita per bulan adalah sebesar Rp ,-. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

27 No Provinsi Tabel 4.1. Pendapatan Transmigran menurut Provinsi Rata-rata Anggota (Jiwa) Pendapatan Per Kapita/Bln Garis Kemikinan Desa di Provinsi (Rp/Bln) 1 Sumatera Utara Jambi Sumatera Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Utara Gorontalo Nusa Tenggara Timur Rata-rata Sumber: - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik Pendapatan Transmigran menurut Tahun Bina Permukiman Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 3.1., terlihat bahwa jumlah permukiman transmigrasi bina pada tahun 2014 sebanyak 168 unit permukiman transmigrasi. Dari jumlah tersebut sebesar 11 unit (6.55%) merupakan permukiman tahun pembinaan pertama, sebesar 42 unit (25%) merupakan tahun pembinaan kedua, sebesar 25 unit (14.88%) merupakan tahun pembinaan ketiga, 34 unit (20.24%) merupakan tahun pembinaan keempat, sebesar 27 unit (16.07%) merupakan tahun pembinaan kelima dan sebesar 29 unit (17.26%) merupakan tahun pembinaan lebih dari lima tahun. Perkembangan permukiman transmigrasi menurut Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2009 dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu tingkat penyesuaian, tingkat pemantapan, dan tingkat pengembangan. Tahap penyesuaian adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya sedang beradaptasi di lingkungan baru (sosial ekonomi, budaya dan fisik) untuk mampu melaksanakan kehidupan di lokasi baru, tingkat pemantapan adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya telah berkemampuan mengelola aset produksi secara optimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya; sedangkan tingkat perkembangan adalah kondisi perkembangan permukiman dimana transmigrannya telah mandiri, dalam arti mampu mengembangkan potensi diri dan masyarakatnya Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

28 dalam bentuk partisipasi aktif guna mengembangkan usaha dan kehidupannya secara berkelanjutan. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan kesejahteraan transmigran adalah parameter ekonomi, dimana pendapatan merupakan indikator utama yang dapat menunjukkan kondisi dimaksud secara signifikan. Tingkat pendapatan transmigran sesuai standar pembinaan pada masingmasing tingkat perkembangan permukiman transmigrasi per KK per tahun dengan satuan Kg setara beras adalah: a. Tingkat Penyesuaian (T < 1.5) : 1600 Kg/KK/Th; b. Tingkat Pemantapan (T.1.5 2) : 2400 Kg/KK/Th; c. Tingkat Pengembangan (T > 2) : 00 Kg/KK/Th. Pada Tabel 4.2. dibawah ini, dapat diketahui bahwa hasil perhitungan dan analisis pendapatan dari 7 Provinsi yang melapor pada tahun bina kedua (T+2), hanya terdapat satu Provinsi yang pendapatan transmigrannya dibawah standar bina dalam tahap pemantapan yaitu Provinsi Gorontalo. Dengan pendapatan transmigran per KK/tahun adalah Rp ,-, Provinsi Gorontalo memiliki rata-rata pendapatan transmigran lebih rendah dari standar bina (2400 Kg/KK/Th) yaitu sebesar 639. Apabila dibandingkan dengan garis kemiskinan desa di Provinsi, Provinsi Gorontalo memiliki tingkat pendapatan transmigran per KK/tahun diatas garis kemiskinan, dimana garis kemiskinan desa di Provinsi Gorontalo berada pada angka Rp ,-, sedangkan pendapatan keluarga transmigran perkapita per KK/tahun adalah Rp ,-. No Tabel 4.2. Pendapatan Transmigrasi pada Permukiman Transmigrasi T+2 Provinsi Kimtrans Lapor Pendapatan Per KK/Thn (x Rp.1000) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) Garis Kemiskinan Desa di Provinsi (Rp/Bln) 1 Gorontalo Sumber : - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi, 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

29 No Pada Tabel 4.3. dibawah ini, dapat diketahui bahwa hasil perhitungan dan analisis pendapatan dari 7 Provinsi yang melapor pada tahun bina ketiga (T+3), terdapat 2 (dua) Provinsi yang pendapatan keluarga transmigrannya diatas standar bina dalam tahap pengembangan yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Selatan. Dengan rata-rata pendapatan transmigran per KK/tahun adalah Rp ,-, kedua Provinsi memiliki rata-rata pendapatan transmigran lebih rendah dari standar bina (00 Kg/KK/Th) yaitu sebesar Apabila dibandingkan dengan garis kemiskinan desa di Provinsi, Kedua Provinsi yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Selatan memiliki tingkat pendapatan perkapita per KK/tahun diatas garis kemiskinan, dimana garis kemiskinan desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur berada pada angka Rp ,- dan di Provinsi Sumatera Selatan berada pada angka Rp ,-, sedangkan pendapatan keluarga transmigran perkapita per KK/tahun adalah Rp ,-. Tabel 4.3. Pendapatan Transmigran pada Permukiman Transmigrasi T + 3 Provinsi Kimtrans Lapor Pendapatan per KK/Thn (x Rp.1000) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) Garis Kemiskinan Desa di Provinsi (Rp/Bln) 1 Sumatera Selatan NTT Rata-rata Sumber: - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik. Pada Tabel 4.4. dibawah ini, dapat diketahui bahwa hasil perhitungan dan analisis pendapatan dari 7 Provinsi yang melapor pada tahun bina ke empat (T+4), terdapat 3 (tiga) provinsi yang pendapatan keluarga transmigrannya diatas standar bina dalam tahap pengembangan yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan dan Gorontalo. Dengan rata-rata pendapatan transmigran per KK/tahun adalah Rp ,-, ketiga Provinsi memiliki rata-rata pendapatan transmigran lebih tinggi dari standar bina (00 Kg/KK/Th) yaitu sebesar Apabila dibandingkan dengan garis kemiskinan desa di Provinsi, kedua Provinsi yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Selatan memiliki tingkat Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

30 No pendapatan perkapita per KK/tahun diatas garis kemiskinan, dimana garis kemiskinan desa di Provinsi Gorontalo berada pada angka Rp ,-, di Provinsi Sumatera Selatan berada pada angka Rp ,- dan di Provinsi Gorontalo berada pada angka Rp ,-, sedangkan pendapatan keluarga transmigran perkapita per KK/tahun adalah Rp ,-. Tabel 4.4. Pendapatan Transmigran pada Permukiman Transmigrasi T + 4 Provinsi Kimtrans Lapor Pendapatan per KK/Tahun (x Rp.1000) Pendapatan Setara Beras (kg/kk/thn) Garis Kemiskinan Desa di Provinsi (Rp/Bln) 1 Sumatera Selatan Gorontalo NTT Rata-rata Sumber: - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik. Seperti yang disajikan pada Tabel 4.5. dibawah ini, menurut umur bina yang kondisinya di bawah standar bina pada permukiman transmigrasi T+2 sebanyak 1 unit, pada permukiman T+3 tidak terdapat jumlah transmigrannya dan pada permukiman T 4 sebanyak 3 unit. Sedangkan, menurut umur bina yang kondisinya di atas standar bina pada permukiman transmigrasi T+2 tidak terdapat jumlah transmigrannya, pada permukiman T+3 sebanyak 3 unit dan pada permukiman T 4 sebanyak 1 unit. Secara keseluruhan, proporsi permukiman transmigrasi yang berada di bawah standar bina mencapai 50.00% dan di atas standar bina mencapai 50.00%. Menurut Garis Kemiskinan Desa di Provinsi, yang kondisinya di bawah garis kemiskinan pada permukiman T+2 tidak terdapat jumlah transmigrannya, pada permukiman T+3 tidak terdapat jumlah transmigrannya dan pada permukiman transmigrasi T 4 sebanyak 2 unit. Sedangkan, yang kondisinya di atas garis kemiskinan pada permukiman T+2 sebanyak 1 unit, pada permukiman T+3 sebanyak 1 unit dan pada permukiman T 4 sebanyak 1 unit. Secara keseluruhan, proporsi permukiman transmigrasi yang berada di bawah garis kemiskinan desa di Provinsi mencapai 40.00% dan di atas garis kemiskinan desa di Provinsi mencapai 60.00%. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

31 TAHUN BINA Tabel 4.5. Distribusi Permukiman Transmigrasi menurut Pendapatan Standar Bina dan Garis Kemiskinan Desa di Provinsi Tahun 2014 Kimtrans STANDAR BINA GARIS KEMISKINAN < > < > % Kimtrans % Kimtrans % Kimtrans T T T Sumber : - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik. % 4.3. Pendapatan Transmigran menurut Pola Permukiman Pola usaha di permukiman transmigrasi terdiri dari Transmigrasi Pola Tanaman Pangan Lahan Kering (), Transmigrasi Pola Tanaman Pangan Lahan Basah (TPLB) dan Transmigrasi Pola Rintisan. Seperti yang disajikan pada Tabel 4.6. dibawah ini, berdasarkan masingmasing pola pada permukiman transmigrasi pola sebanyak 9 unit (50.00%), pola TPLB sebanyak 1 unit (5.56%) permukiman transmigrasi, dimana pendapatan keluarga transmigrannya berada dibawah standar bina (Kg Setara Beras/KK/Tahun). Sedangkan, pada permukiman transmigrasi pola sebanyak 5 unit (27.78%), pola TPLB sebanyak 1 unit (5.56%) dan pola PIRTRANS sebanyak 2 unit (11.11%) pendapatan keluarga transmigrannya berada di atas standar bina (Kg Setara Beras/KK/Tahun). Secara keseluruhan, proporsi permukiman transmigrasi dengan pendapatan keluarga transmigran yang berada di bawah standar bina mencapai 10 unit (55.56%) dan yang berada di atas standar bina mencapai 8 unit (44.44%). Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

32 Tabel 4.6. Pendapatan Transmigran menurut Pola Permukiman Transmigrasi JUMLAH KIMTRANS DENGAN STANDAR BINA JUMLAH KIMTRANS No POLA T+2 T+3 T 4 STANDAR BINA < > < > < > < > TPLB PIRTRANS JUMLAH Sumber : - Hasil Analisis Pendapatan Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. - Data dan Informasi Kemiskinan 2014, Badan Pusat Statistik. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

33 BAB V PENGELUARAN TRANSMIGRAN DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI BINA TAHUN 2014 Dari data Kesejahteraan Transmigran untuk selanjutnya dapat di susun hasil analisis kesejahteraan transmigran dari aspek pengeluaran tahun Pengeluaran rumah tangga transmigran digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan, kebutuhan dasar non pangan, kebutuhan sekunder dan barang tahan lama, tabungan, dan investasi Pengeluaran Transmigran menurut Provinsi Seperti disajikan pada Tabel 5.1., dari data rekapitulasi rata-rata pengeluaran rumah tangga transmigran, diketahui rata-rata pengeluaran rumah tangga transmigran secara nasional adalah sebesar Rp ,- per tahun. Pengeluaran tertinggi berada pada keluarga transmigran di Provinsi Sumatera Selatan yaitu Rp ,-, sedangkan pengeluaran terendah ada pada keluarga transmigran di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar Rp ,-. Pengeluaran untuk pangan tertinggi ada pada rumah tangga transmigran di Provinsi Kalimantan Barat yaitu Rp ,-, pengeluaran pangan terendah ada pada Provinsi Gorontalo yaitu Rp ,-, dengan rata-rata pengeluaran pangan transmigran seluruh Indonesia yaitu Rp ,- per tahun. Pengeluaran untuk non pangan tertinggi ada pada rumah tangga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Rp ,-, pengeluaran non pangan terendah ada pada Provinsi Gorontalo yaitu Rp ,-, dengan rata-rata pengeluaran non pangan transmigran seluruh Indonesia yaitu Rp ,- per tahun. Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder dan tabungan tertinggi ada pada rumah tangga transmigran di Provinsi Gorontalo yaitu Rp ,-, pengeluaran kebutuhan sekunder dan tabungan terendah ada pada Provinsi Sumatera Utara yaitu Rp ,-, dengan rata-rata pengeluaran kebutuhan sekunder dan tabungan transmigran seluruh Indonesia yaitu Rp ,- per tahun. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

34 Tabel 5.1. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran menurut Provinsi Jenis Pengeluaran (x Rp. 1000) No Provinsi Dasar Pangan Dasar Non Pangan Sekunder dan Tabungan Total Pengeluaran Per KK / Tahun 1 Sumatera Utara 4,957 3,865 2,887 11,709 2 Jambi 7,573 8,497 10,242 26,312 3 Sumatera Selatan 7,424 5,6 17,724,454 4 Kalimantan Barat 9,0 2,406 9,535 21,241 5 Sulawesi Utara 7,037 13,528 8,850 29,415 6 Gorontalo ,383 24,060 7 Nusa Tenggara Timur 7,369 3,262 6,026 16,657 Rata-rata 6,317 5,283 11,323 22,923 Presentase ,217 36,984 78, ,848 Sumber : - Hasil Analisis Pengeluaran Transmigran Pusat Data dan Informasi 2014, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Disamping itu, pada Tabel 5.1. disajikan data secara persentase dari pola pengeluaran rumah tangga transmigran. Dari pendapatan yang diperoleh 49% dipergunakan untuk pengeluaran kebutuhan sekunder dan tabungan, disusul pengeluaran untuk kebutuhan dasar pangan sebesar 28% dan kebutuhan dasar non pangan sebesar 23%. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

35 5.2. Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Pangan Seperti disajikan Tabel 5.2., pengeluaran rumah tangga transmigran untuk kebutuhan dasar pangan digunakan untuk konsumsi padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, ikan, daging, sayuran, buah-buahan dan konsumsi lainnya seperti garam, gula pasir, minyak goreng, rokok, dll. Rata-rata total pengeluaran untuk kebutuhan dasar pangan sebesar Rp ,-. Rata-rata pengeluaran kebutuhan dasar pangan terbesar ada pada keluarga transmigran di Provinsi Kalimantan Barat, yaitu sebesar Rp ,- per tahun, dan terendah ada pada keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo, sebesar Rp ,- per tahun. Pengeluaran kebutuhan dasar pangan paling besar digunakan untuk pembelian padi-padian yaitu senilai Rp ,-, diikuti pengeluaran untuk konsumsi lain Rp ,-, ikan Rp ,-, daging Rp ,-, dan sayuran Rp ,-. Jika dikaji lebih lanjut, terlihat bahwa dalam hal pengeluaran kebutuhan dasar pangan, keluarga transmigran di Provinsi Nusa Tenggara Timur paling besar mengalokasikan pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli padi-padian, yaitu sebesar Rp ,- atau 22,48%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 1,91%. Dalam pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli umbi-umbian, keluarga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara mengalokasikan paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 24,68%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 0,67%. Sedangkan pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli kacang-kacangan, keluarga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 29,83%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 0,94%. Pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli ikan, keluarga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 27,16%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 0,90%. Sementara pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli daging, keluarga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara paling besar yaitu sebesar Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

36 Rp ,- atau 25,73%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 1,12%. Diikuti pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli sayur-sayuran, keluarga transmigran di Provinsi Sumatera Selatan paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 29,93% dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 1,16% dan Pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk membeli buah-buahan, keluarga transmigran di Provinsi Sumatera Selatan paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 22,48% dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 0,98%. Serta pengeluaran kebutuhan dasar pangan untuk konsumsi lain, keluarga transmigran di Provinsi Kalimantan Barat paling besar yaitu sebesar Rp ,- atau 28,21%, dan keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo paling sedikit yaitu Rp ,- atau 0,34%. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

37 Tabel 5.2. Pengeluaran Kebutuhan Dasar Pangan No Provinsi Padipadian Padipadian (%) Umbiumbian Umbiumbian (%) Sumber: Aplikasi Database Permukiman Transmigrasi 2014 Kacangkacangan Kacangkacangan (%) Ikan Jenis Pengeluaran (x Rp. 1000) Ikan (%) Daging Daging (%) Sayursayuran Sayursayuran (%) Buahbuahan Buahbuahan (%) Konsumsi Lain Konsumsi Lain (%) 1 Sumatera Utara 3, ,957 2 Jambi 3, , ,573 3 Sumatera Selatan 2, , ,424 4 Kalimantan Barat 4, , , ,0 5 Sulawesi Utara , , , ,037 6 Gorontalo Nusa Tenggara Timur 4, ,369 19,071 1,945 1,810 5,567 3,917 2,322 1,5 8,057 44,217 Rata-rata 2, ,151 6,317 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun 2014

38 5.3. Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Non Pangan Kebutuhan dasar non pangan rumah tangga transmigran dibedakan atas sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, alat memasak dan transportasi. Seperti disajikan pada Tabel 5.3, Rata-rata nasional kebutuhan rumah tangga transmigran untuk memenuhi dasar non pangan sebesar Rp ,- per tahun. Rata-rata total pengeluaran untuk kebutuhan dasar non pangan terbesar ada pada rumah tangga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu sebesar Rp ,- per tahun dan terendah ada pada rumah tangga transmigrasi di Provinsi Gorontalo, yaitu Rp ,- per tahun. Pengeluaran terbesar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan transportasi yaitu masing-masing sebesar Rp ,- dengan nilai ratarata Rp ,- per tahun dan Rp ,- dengan nilai rata-rata Rp ,- per tahun, pengeluaran untuk pendidikan sangat besar dikarenakan masyarakat transmigran saat ini sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak dan keturunan mereka, terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dengan kesejahteraan. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk cenderung semakin tinggi juga tingkat kesejahteraannya. Pengeluaran transportasi nomor dua dikarenakan akses mereka ketempat jual beli (pasar) atau ke pusat perdagangan cukup jauh sehingga mereka mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit. Sedangkan pengeluaran terkecil dialokasikan untuk kebutuhan alat memasak sebesar Rp ,-, dikarenakan masyarakat transmigran dalam membeli perabot memasak cukup jarang. Alokasi pengeluaran lainnya untuk kebutuhan sandang sebesar Rp ,-, perumahan Rp ,- dan kesehatan Rp ,-. Pengeluaran untuk kesehatan dan perumahan porsinya relatif kecil, karena pemerintah menyediakan layanan kesehatan dan penyediaan rumah bagi keluarga transmigran. Pengeluaran untuk sandang, pendidikan dan transportasi lebih tinggi dibandingkan pengeluaran lainnya. Letak lokasi yang cukup jauh dari kota dapat menyebabkan harga pakaian dan ongkos transport cukup mahal. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

39 No Provinsi Tabel 5.3. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Dasar Non Pangan Sandang Sandang (%) Perumahan Perumahan (%) Sumber: Aplikasi Database Permukiman Transmigrasi 2014 Pendidikan Pendidikan (%) Jenis Pengeluaran (x Rp. 1000) Kesehatan Kesehatan (%) Alat Memasak Alat Memasak (%) Transportasi Transportasi (%) 1 Sumatera Utara , ,865 2 Jambi 1, , , ,497 3 Sumatera Selatan 1, , , , ,6 4 Kalimantan Barat ,406 5 Sulawesi Utara 2, , , , , ,528 6 Gorontalo Nusa Tenggara Timur ,262 7,129 4,943 13,379 2, ,738 Rata-rata 1, , ,105 5,283 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

40 5.4. Pengeluaran Transmigran untuk Kebutuhan Sekunder Pengeluaran kebutuhan sekunder merupakan pengeluaran kebutuhan pokok rumah tangga diluar kebutuhan dasar, terdiri dari pengeluaran untuk pesta dan upacara, rekreasi dan olahraga, pemeliharaan badan (odol, sabun, sikat gigi, dll), sumbangan ke daerah asal/pendidikan anak, pulang pergi ke daerah asal,surat/komunikasi ke daerah asal, iuran/pajak, tabungan dan investasi barang tahan lama. Semakin tinggi pengeluaran rumah tangga transmigran untuk kebutuhan sekunder maka semakin kecil peluang rumah tangga transmigran dikategorikan miskin. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi pendapatan transmigran maka pengeluaran kebutuhan dasar (dibelanjakan untuk makanan) semakin rendah, dan porsi pengeluaran kebutuhan sekunder akan semakin tinggi. Ini sesuai dengan hukum ekonomi, dimana penduduk/transmigran sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup, maka pengeluaran lebih digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder (barang bukan makanan), sehingga menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan transmigran yang bersangkutan. Seperti disajikan Tabel 5.4, rata-rata nasional pengeluaran rumah tangga transmigran untuk memenuhi kebutuhan sekunder sebesar Rp ,- per tahun. Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder dan tabungan terbesar berada pada rumah tangga transmigran Provinsi Gorontalo yaitu Rp ,- per tahun, pengeluaran terkecil berada pada rumah tangga Provinsi Sumatera Utara yaitu Rp ,- per tahun. Investasi atau pembelian barang tahan lama rumah tangga transmigran, terdiri dari perabotan (kursi, meja, dan tempat tidur), emas/perhiasan, lampu petromak, radio, televisi, sepeda, sepeda motor, mobil, perahu, tanah dan rumah, perbaikan rumah serta sapi/ternak lainnya. Semakin tinggi investasi/pembelian barang tahan lama rumah tangga transmigran maka semakin kecil peluang rumah tangga transmigran dikategorikan miskin. Semakin tinggi pendapatan transmigran maka semakin tinggi tingkat pengeluaran yang dibelanjakan untuk barang bukan makanan (pembelian barang tahan lama/investasi). Alokasi terbesar pengeluaran rumah tangga transmigran adalah untuk memenuhi kebutuhan investasi barang tahan lama yaitu sebesar Rp ,- Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

41 dengan nilai rata-rata Rp ,- per tahun, diikuti pemeliharaan badan sebesar Rp ,- dengan nilai rata-rata Rp ,- per tahun. Barang tahan lama relatif cukup mahal di permukiman transmigrasi, mengingat barang tersebut harus dibeli di luar permukiman. Transmigran juga perlu mendapat bimbingan dalam mengelola keuangan rumah tangga, agar tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk barang-barang konsumtif. Pengeluaran pemeliharaan badan urutan kedua setelah pengeluaran untuk investasi, dalam hal ini rumah tangga transmigran lebih sering membeli kebutuhan badan seperti odol, sabun, sikat gigi, dll. Pengeluaran tabungan sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun, pesta/upacara sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun, pulang pergi ke daerah asal sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun, untuk pengeluaran tabungan transmigran masih sedikit melakukannya dikarenakan lokasi transmigrasi jauh dari pelayanan perbankan, sehingga ongkos/transportasi yang dikeluarkan lebih banyak. Pengeluaran komunikasi sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun, sumbangan ke daerah asal sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun. Pada permukiman transmigrasi yang masih dibina, transmigran dibebaskan dari pembayaran pajak (tanah dan rumah), sehingga iuran/pajak hanya sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun. Pengeluaran terkecil untuk kebutuhan rekreasi sebesar Rp ,- atau nilai rata-rata Rp ,- per tahun, dalam kajian ini masyarakat transmigran masih belum mengutamakan kebutuhan rekreasi. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

42 Tabel 5.4. Pengeluaran Rumah Tangga Transmigran untuk Kebutuhan Sekunder dan Tabungan Jenis Pengeluaran (x Rp. 1000) No Provinsi Pesta / Upacara Pesta / Upacara (%) Iuran / Pajak Iuran / Pajak (%) Rekreasi Rekreasi (%) Pemeliharaan Badan Pemeliharaan Badan (%) Sumbangan Ke Dasal Sumbangan Ke Dasal (%) PP Ke Dasal PP Ke Dasal (%) Komunikasi Komunikasi (%) Tabungan Tabungan (%) Investasi Investasi (%) 1 Sumatera Utara , ,887 2 Jambi , , , ,242 3 Sumatera Selatan , , ,724 4 Kalimantan Barat , ,535 5 Sulawesi Utara 2, , , ,850 6 Gorontalo , ,383 7 Nusa Tenggara Timur , ,026 3, ,331 1,361 3,115 1,840 3,691 59,950 Rata-rata ,564 11,323 Sumber : Aplikasi database Permukiman Transmigrasi 2014 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

43 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1) Berdasarkan Data Tahun 2014, terdapat 168 unit permukiman transmigrasi yang masih dibina. Sebanyak 29 unit (17.26%) merupakan pemukiman transmigrasi dengan masa bina lebih dari 5 tahun. Jika dilihat berdasarkan Provinsi, Provinsi Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan jumlah permukiman transmigrasi di atas 5 tahun terbanyak, yaitu 17 (tujuh belas) unit atau dengan persentase sebesar (10.12%). 2) Permukiman transmigrasi dengan Pola Tanaman Pangan Lahan Kering merupakan permukiman transmigrasi paling dominan, dimana 124 unit permukiman transmigrasi atau sekitar 73.81% dari seluruh unit permukiman transmigrasi bina pada tahun ) Permukiman Transmigrasi dengan Pola Pengembangan Tanaman Pangan Lahan Kering, di Provinsi Aceh memiliki permukiman transmigrasi bina terbanyak 17 unit (10.12%). 4) Permukiman Transmigrasi dengan Pola Pengembangan Tanaman Pangan Lahan Basah di Provinsi Kalimantan Barat memiliki permukiman transmigrasi bina terbanyak yaitu 13 unit atau setara dengan 7.74% dari jumlah UPT Bina di Indonesia. 5) transmigran yang berada pada 168 permukiman transmigrasi sebanyak.271 KK. transmigran terbanyak berada di Provinsi Kalimantan Barat yaitu sebanyak KK (11.18%) dan jumlah transmigran paling sedikit berada di Provinsi Bangka Belitung, yaitu sebanyak 43 KK (0.14%). 6) Berdasarkan usia bina permukiman transmigrasi, jumlah transmigran terbanyak terdapat pada UPT dengan usia bina (T+3), yaitu sebanyak KK (24.1%), dan jumlah transmigran paling sedikit terdapat pada UPT dengan usia bina (T+1), yaitu sebanyak KK (6.98%). Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

44 7) Pendapatan per kapita keluarga transmigran tertinggi Rp ,- berada pada permukiman transmigran di Provinsi Sumatera Selatan sedangkan yang terendah terjadi pada transmigran di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar Rp ,-. 8) Rata-rata pendapatan transmigran menurut Provinsi berada diatas tingkat garis kemiskinan dengan rata-rata pendapatan Provinsi per kapita/per bulan sebesar Rp ,-. 9) Rata-rata pendapatan transmigran sebesar Rp ,-/KK/Tahun. Rata-rata pendapatan transmigran pada permukiman transmigrasi dengan tahun bina (T+2) adalah Rp ,-/KK/Tahun. Pada permukiman transmigrasi (T+3) rata-rata pendapatan transmigrasi sebesar Rp ,-/KK/Tahun dan pada (T 4) adalah Rp ,-/KK/Tahun. 10) Pengeluaran keluarga/rumah tangga transmigran terbesar terdapat di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar Rp ,-/Tahun, sedangkan pengeluaran keluarga/rumah tangga transmigran terkecil terdapat di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar Rp ,-/ Tahun. 11) Secara umum keluarga transmigran tidak termasuk dalam kategori miskin, karena rata-rata pengeluaran yang dialokasikan untuk kebutuhan pangan (konsumsi) hanya Rp ,-/Tahun atau (28.00%) dibandingkan pengeluaran kebutuhan sekunder dan tabungan sebesar Rp ,-/Tahun atau (49%) dalam arti masyarakat transmigran sudah dapat menyisakan kebutuhan untuk menabung/investasi. 12) Pengeluaran terbesar untuk kebutuhan dasar pangan ada pada keluarga transmigran di Provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp ,- /Tahun dan pengeluaran terendah untuk kebutuhan dasar pangan ada pada keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo yaitu sebesar Rp ,-/Tahun. 13) Pengeluaran dasar pangan terbesar digunakan untuk komoditas padipadian sebesar Rp ,-/Tahun, disusul konsumsi lain Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

45 Rp ,-/Tahun, ikan Rp ,-/Tahun, daging Rp ,-/Tahun, sayuran Rp ,-/Tahun, umbi-umbian Rp ,-/Tahun, kacang-kacangan Rp ,-/Tahun, dan buah-buahan Rp ,-/Tahun. 14) Pengeluaran terbesar untuk kebutuhan dasar non pangan ada pada keluarga transmigran di Provinsi Sulawesi Utara yaitu sebesar Rp ,-/Tahun dan pengeluaran terendah untuk kebutuhan dasar non pangan ada pada keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo sebesar Rp ,-/Tahun. 15) Pengeluaran dasar non pangan terbesar digunakan untuk pembiayaan pendidikan sebesar Rp ,-/Tahun, disusul kebutuhan transportasi Rp ,-/Tahun, sandang Rp ,-/Tahun, perumahaan Rp ,-/Tahun, kesehatan Rp ,-/Tahun dan alat memasak Rp ,-/Tahun. 16) Pengeluaran terbesar untuk kebutuhan sekunder ada pada keluarga transmigran di Provinsi Gorontalo yaitu sebesar Rp ,- /Tahun dan pengeluaran terendah untuk kebutuhan sekunder ada pada keluarga transmigran di Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp ,-/Tahun. 17) Pengeluaran sekunder terbesar digunakan untuk kebutuhan investasi sebesar Rp ,-/Tahun, disusul kebutuhan pemeliharaan badan Rp ,-/Tahun, pp ke dasal Rp ,-/Tahun, tabungan Rp ,-/Tahun, pesta/upacara Rp ,-/Tahun, kebutuhan komunikasi Rp ,-/Tahun, sumbangan ke dasal Rp ,-/Tahun, iuran/pajak Rp ,-/Tahun, dan rekreasi Rp ,-/Tahun. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

46 6.2. Saran 1) Diharapkan Pemerintah yang terkait dapat mendukung programprogram pengembangan potensi lahan agar lahan potensial di lokasi transmigrasi dapat dimanfaatkan secara maksimal, misalnya penyediaan bibit unggul. 2) Kemudahan fasilitas dan sarana pendukung bagi masyarakat transmigran dalam mengembangkan potensi misalnya, diadakan penyuluhan pelatihan bercocok tanam atau usaha mandiri sehingga masyarakat transmigran dapat meningkatkan pendapatannya. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

47 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik, dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, September On line (bps.go.id). Diakses 21 Agustus Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Data dan Informasi Ketransmigrasian. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 25 Tahun 2009 tentang Tingkat Perkembangan Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigran. Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

48 LAMPIRAN Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

49 Lampiran 1 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

50 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi : SUMATERA UTARA Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Padi - padian Umbi -umbian Kacang - kacangan Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan Konsumsi lain SIMPANG BOLON T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

51 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : SUMATERA UTARA Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi SIMPANG BOLON T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

52 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : SUMATERA UTARA Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Pesta / Upacara Iuran / Pajak Rekreasi Pemeliharaan Badan Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sumbangan ke Dasal PP Ke Dasal Komunikasi Tabungan SIMPANG BOLON T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

53 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA UTARA : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi SIMPANG BOLON T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

54 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA UTARA : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi SIMPANG BOLON T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

55 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA UTARA : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample KK Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) Harga Beras (Rp/Kg) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) SIMPANG BOLON T Jiwa Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

56 Lampiran 2 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

57 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : JAMBI : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha SUNGAI BERNAS BUN Tahun Bina T + 6 Sample (KK) Padi - padian 3480 Umbi -umbian 138 Kacang - kacangan 131 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan 252 Konsumsi lain LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

58 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : JAMBI Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina SUNGAI BERNAS BUN T + 6 Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

59 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : JAMBI Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha SUNGAI BERNAS BUN Tahun Bina T + 6 Sample (KK) Pesta / Upacara 13 Iuran / Pajak 38 Rekreasi Pemeliharaan Badan 0 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) 1158 Sumbangan ke Dasal 203 PP Ke Dasal 774 Komunikasi Tabungan LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

60 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : JAMBI : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi SUNGAI BERNAS BUN T LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

61 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : JAMBI : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi SUNGAI BERNAS BUN T LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

62 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : JAMBI : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina SUNGAI BERNAS BUN T + 6 Sample KK Jiwa 112 Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) 7125 Harga Beras (Rp/Kg) 7800 Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) LAMBAN SIGATAL TERNAK T GEDONG KARYA TPLB T RANTAU PANDAN X T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

63 Lampiran 3 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

64 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA SELATAN : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 Tahun Bina T + 3 T + 3 Sample (KK) Padi - padian Umbi -umbian Kacang - kacangan Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan Konsumsi lain TABALA JAYA SP2 TPLB T RAMBUTAN SP.3 BUN T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

65 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : SUMATERA SELATAN Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 T + 3 T + 3 Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi TABALA JAYA SP2 RAMBUTAN SP.3 TPLB BUN T + 3 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

66 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : SUMATERA SELATAN Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 Tahun Bina T + 3 T + 3 Sample (KK) Pesta / Upacara Iuran / Pajak Rekreasi Pemeliharaan Badan 12 0 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sumbangan ke Dasal 54 0 PP Ke Dasal Komunikasi Tabungan TABALA JAYA SP2 TPLB T RAMBUTAN SP.3 BUN T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

67 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA SELATAN : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 T + 3 T TABALA JAYA SP2 TPLB T RAMBUTAN SP.3 BUN T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

68 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA SELATAN : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 T + 3 T TABALA JAYA SP2 TPLB T RAMBUTAN SP.3 BUN T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

69 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : SUMATERA SELATAN : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina CECAR BUNGA MAS SP 10 AIR BALUI SP.2 T + 3 T + 3 Sample KK Jiwa Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) Harga Beras (Rp/Kg) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) TABALA JAYA SP2 TPLB T RAMBUTAN SP.3 BUN T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

70 Lampiran 4 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

71 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : KALIMANTAN BARAT : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha SERAT AYON SP 2 Tahun Bina T + 8 Sample (KK) 18 Padi - padian 4682 Umbi -umbian 253 Kacang - kacangan 23 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan 140 Konsumsi lain SUNGAI BESAR SP 1 T SEI MATA MATA SP 4 T Sungai Radak I SP 2 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

72 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : KALIMANTAN BARAT Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina SERAT AYON SP 2 T + 8 Sample (KK) 18 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi SUNGAI BESAR SP 1 SEI MATA MATA SP 4 Sungai Radak I SP 2 T + 5 T + 15 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

73 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : KALIMANTAN BARAT Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha SERAT AYON SP 2 Tahun Bina T + 8 Sample (KK) 18 Pesta / Upacara 266 Iuran / Pajak 151 Rekreasi Pemeliharaan Badan 46 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) 676 Sumbangan ke Dasal 0 PP Ke Dasal 278 Komunikasi Tabungan SUNGAI BESAR SP 1 T SEI MATA MATA SP 4 Sungai Radak I SP 2 T + 15 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

74 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : KALIMANTAN BARAT : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi SERAT AYON SP 2 T SUNGAI BESAR SP 1 T SEI MATA MATA SP 4 T Sungai Radak I SP 2 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

75 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : KALIMANTAN BARAT : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi SERAT AYON SP 2 T SUNGAI BESAR SP 1 T SEI MATA MATA SP 4 T Sungai Radak I SP 2 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

76 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : KALIMANTAN BARAT : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina SERAT AYON SP 2 T + 8 Sample KK Jiwa Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) 6016 Harga Beras (Rp/Kg) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) SUNGAI BESAR SP 1 T SUNGAI PELANG SEI T MATA MATA SP 4 T Sungai Radak I SP 2 T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

77 Lampiran 5 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

78 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : Sulawesi Utara : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Padi - padian Umbi -umbian Kacang - kacangan Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan Konsumsi lain Liandok T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

79 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : Sulawesi Utara Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi Liandok T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

80 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : Sulawesi Utara Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Pesta / Upacara Iuran / Pajak Rekreasi Pemeliharaan Badan Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sumbangan ke Dasal PP Ke Dasal Komunikasi Tabungan Liandok T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

81 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : Sulawesi Utara : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi Liandok T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

82 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : Sulawesi Utara : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi Liandok T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

83 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : Sulawesi Utara : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) Liandok T KK Jiwa Harga Beras (Rp/Kg) Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

84 Lampiran 6 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

85 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi : GORONTALO Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha PUNCAK Tahun Bina T + 6 Sample (KK) Padi - padian 387 Umbi -umbian 14 Kacang - kacangan 15 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan 15 Konsumsi lain AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

86 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : GORONTALO Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina PUNCAK T + 6 Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

87 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : GORONTALO Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha PUNCAK Tahun Bina T + 6 Sample (KK) Pesta / Upacara 31 Iuran / Pajak 3 Rekreasi Pemeliharaan Badan 1 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) 338 Sumbangan ke Dasal 4 PP Ke Dasal 1 Komunikasi Tabungan AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

88 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : GORONTALO : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi PUNCAK T AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

89 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : GORONTALO : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi PUNCAK T AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

90 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : GORONTALO : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina PUNCAK T + 6 Sample KK Jiwa 126 Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) 3912 Harga Beras (Rp/Kg) 8000 Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) AYUMOLINGO T PANGEA SP 2 T PANGEA SP 4 T PANGEA SP 6 T MARISA V/B T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

91 Lampiran 7 Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

92 TABEL RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR PANGAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : NUSA TENGGARA TIMUR : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha HALITUKU Tahun Bina T + 3 Sample (KK) Padi - padian 5586 Umbi -umbian 0 Kacang - kacangan 356 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Ikan Daging Sayur - sayuran Buah - buahan 347 Konsumsi lain KOLIKAPA T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

93 TABEL 31 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN DASAR NON PANGAN Propinsi : NUSA TENGGARA TIMUR Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina HALITUKU T + 3 Sample (KK) Jenis Pengeluaran ( x Rp ) Sandang Perumahan Pendidikan Kesehatan Alat Memasak Transportasi KOLIKAPA T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

94 TABEL 32 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK KEBUTUHAN SEKUNDER DAN TABUNGAN Propinsi : NUSA TENGGARA TIMUR Kabupaten : Semua Kabupaten Tahun Data : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha HALITUKU Tahun Bina T + 3 Sample (KK) Pesta / Upacara 773 Iuran / Pajak 26 Rekreasi Pemeliharaan Badan 45 Jenis Pengeluaran ( x Rp ) 790 Sumbangan ke Dasal 607 PP Ke Dasal 265 Komunikasi Tabungan KOLIKAPA T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

95 TABEL 33 RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN UNTUK PEMBELIAN BARANG TAHAN LAMA Propinsi Kabupaten Tahun Data : NUSA TENGGARA TIMUR : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Jenis Pengeluaran Pembelian Barang Tahan Lama / Investasi HALITUKU T KOLIKAPA T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

96 TABEL 34 REKAPITULASI RATA-RATA PENGELUARAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : NUSA TENGGARA TIMUR : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina Sample (KK) Dasar Pangan Dasar Non Pangan Jenis Pengeluaran x (Rp. 1000) Sekunder Tabungan Investasi HALITUKU T KOLIKAPA T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

97 TABEL 35 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA TRANSMIGRAN SETARA BERAS, PENDAPATAN PER KAPITA TRANSMIGRAN Propinsi Kabupaten Tahun Data : NUSA TENGGARA TIMUR : Semua Kabupaten : 2014 Tahun Bina : Semua Tahun Bina Jenis Trans : Semua Jenis Pola Usaha : Semua Pola Kode UPT Nama UPT Pola Usaha Tahun Bina HALITUKU T + 3 Sample KK Jiwa 136 Pendapatan Per KK/Thn (x Rp. 1000) Pendapatan Per Kapita/Thn (x Rp. 1000) 4588 Harga Beras (Rp/Kg) 9000 Pendapatan Setara Beras (Kg/KK/Thn) REMASINGFUI T LEWOMADA T KOLIKAPA T WALANDIMU T Total UPT : Analisis Kesejahteraan Transmigrasi Tahun

98

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN Pembangunan Perumahan Dan Kawasan Permukiman Tahun 2016 PERUMAHAN PERBATASAN LAIN2 00 NASIONAL 685.00 1,859,311.06 46,053.20 4,077,857.49 4,523.00 359,620.52 5,293.00 714,712.50 62,538.00 1,344,725.22

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2015

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2015 BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 5/01/76/Th. X, 4 Januari 2016 PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2015 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2015 SEBANYAK 153,21 RIBU JIWA Persentase penduduk

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2016

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2016 BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 42/07/76/Th. X, 18 Juli 2016 PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2016 JUMLAH PENDUDUK MISKIN MARET 2016 SEBANYAK 152,73 RIBU JIWA Persentase penduduk miskin

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2016

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2016 No. 05/01/Th. XX, 3 Januari 2017 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2016 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2016 SEBESAR 10,70 PERSEN Pada bulan September 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2016

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2016 BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 05/01/76/Th.XI, 3 Januari 2017 PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT SEPTEMBER 2016 JUMLAH PENDUDUK MISKIN sebesar 146,90 RIBU JIWA (11,19 PERSEN) Persentase penduduk

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2010

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2010 BADAN PUSAT STATISTIK No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2010 JUMLAH PENDUDUK MISKIN MARET 2010 MENCAPAI 31,02 JUTA Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2017

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2017 BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 41/07/76/Th.XI, 17 Juli 2017 PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI BARAT MARET 2017 JUMLAH PENDUDUK MISKIN sebesar 149,76 RIBU JIWA (11,30 PERSEN) Persentase penduduk miskin

Lebih terperinci

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara. LAMPIRAN I ZONA DAN KOEFISIEN MASING-MASING ZONA Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 Zona 5 Zona 6 Koefisien = 5 Koefisien = 4 Koefisien = 3 Koefisien = 2 Koefisien = 1 Koefisien = 0,5 DKI Jakarta Jawa Barat Kalimantan

Lebih terperinci

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor), Babi Aceh 0.20 0.20 0.10 0.10 - - - - 0.30 0.30 0.30 3.30 4.19 4.07 4.14 Sumatera Utara 787.20 807.40 828.00 849.20 871.00 809.70 822.80 758.50 733.90 734.00 660.70 749.40 866.21 978.72 989.12 Sumatera

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2011 MENCAPAI 29,89 JUTA ORANG Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2014

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2014 No. 04/ 01/ 94/ Th.IX, 2 Januari 2015 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2014 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2014 MENCAPAI 864,11 RIBU ORANG. Jumlah penduduk miskin di Papua pada bulan September

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI MALUKU TAHUN 2013

PROFIL KEMISKINAN DI MALUKU TAHUN 2013 No., 05/01/81/Th. XV, 2 Januari 2014 Agustus 2007 PROFIL KEMISKINAN DI MALUKU TAHUN 2013 RINGKASAN Jumlah penduduk miskin (penduduk yang pengeluaran per bulannya berada di bawah Garis Kemiskinan) di Maluku

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 17 /04/63/Th.XV, 1 April 2011 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI KALIMANTAN SELATAN *) Pada Maret 2011, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 107,64 atau

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Profil Kemiskinan Provinsi Bengkulu September 2017 No. 06/01/17/Th. XII, 2 Januari 2018 BERITA RESMI STATISTIK PROVINSI BENGKULU Profil Kemiskinan Provinsi Bengkulu September 2017 Persentase Penduduk Miskin

Lebih terperinci

RINGKASAN DATA DAN INFORMASI KEMISKINAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 2016 ISSN : 2528-2271 Nomor Publikasi : 53520.1702 Katalog : 3205008.53 Jumlah halaman : viii + 24 halaman Ukuran : 21 cm x 14,5 cm

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No. 43/07/Th. XII, 1 Juli 2009 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2016

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2016 No. 37/ 07/ 94/ Th.VIII, 18 Juli 2016 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2016 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MARET 2016 MENCAPAI 28,54 PERSEN Persentase, penduduk Miskin di Papua selama enam bulan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 041/P/2017 TENTANG PENETAPAN ALOKASI DANA DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017 MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2017

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2017 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2017 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MARET 2017 MENCAPAI 10,64 PERSEN No. 66/07/Th. XX, 17 Juli 2017 Pada bulan Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran

Lebih terperinci

2

2 2 3 c. Pejabat Eselon III kebawah (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN HALFDAY FULLDAY FULLBOARD (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2016

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2016 No. 04/ 01/ 94/ Th.IX, 3 Januari 2017 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER, 2016 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2016 MENCAPAI 28,40 PERSEN Persentase, penduduk Miskin di Papua selama enam

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2017

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2017 No. 38/07/94/Th.IX 17 Juli 2017 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2017 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MARET 2017 MENCAPAI 27,62 PERSEN Persentase penduduk miskin di Provinsi Papua selama enam bulan

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2012

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2012 BADAN PUSAT STATISTIK No. 06/01/Th. XVI, 2 Januari 2013 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2012 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2012 MENCAPAI 28,59 JUTA ORANG Pada bulan September 2012, jumlah penduduk

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2014

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2014 BADAN PUSAT STATISTIK No. 52/07/Th. XVII, 1 Juli 2014 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2014 JUMLAH PENDUDUK MISKIN MARET 2014 MENCAPAI 28,28 JUTA ORANG Pada Maret 2014, jumlah penduduk miskin (penduduk

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2015

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2015 No. 56/ 10/ 94/ Th.IX, 1 Oktober 2015 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA MARET, 2015 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MARET 2015 MENCAPAI 28,17 PERSEN Persentase, penduduk Miskin di Papua selama enam bulan

Lebih terperinci

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 / HUK / 2012 TENTANG

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 / HUK / 2012 TENTANG KEPUTUSAN NOMOR 23 / HUK / 2012 TENTANG PENETAPAN NAMA NAMA PENERIMA DANA PROGRAM ASISTENSI SOSIAL LANJUT USIA TAHUN 2012 Menimbang :, a. bahwa jumlah lanjut usia yang membutuhkan perhatian dan penanganan

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008 BADAN PUSAT STATISTIK No. 37/07/Th. XI, 1 Juli 2008 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008 Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2008 sebesar

Lebih terperinci

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER 2015

KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER 2015 KEADAAN KEMISKINAN DI PROVINSI PAPUA SEPTEMBER 2015 No. 04/ 01/ 94/ Th.VIII, 4 Januari 2016 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2015 MENCAPAI 28,40 PERSEN Persentase, penduduk Miskin di Papua selama enam

Lebih terperinci

- 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018

- 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018 - 1 - KEPUTUSAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5/HUK/2018 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2018 MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154 ALOKASI ANGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA GUBERNUR (Alokasi Anggaran Dekonsentrasi Per Menurut Program dan Kegiatan) (ribuan rupiah) 1 010022 : DKI Jakarta 484,909,154

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPNAKERTRANS. Perkembangan. Pemukiman. Kesejahteraan. Evaluasi Kinerja. Pencabutan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPNAKERTRANS. Perkembangan. Pemukiman. Kesejahteraan. Evaluasi Kinerja. Pencabutan. No.368, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPNAKERTRANS. Perkembangan. Pemukiman. Kesejahteraan. Evaluasi Kinerja. Pencabutan. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan. S ensus Penduduk, merupakan bagian terpadu dari upaya kita bersama untuk mewujudkan visi besar pembangunan 2010-2014 yakni, Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan. Keberhasilan

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2016 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2013

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 06/01/Th. XVII, 2 Januari 2014 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2013 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2013 MENCAPAI 28,55 JUTA ORANG Pada bulan September 2013, jumlah

Lebih terperinci

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 1 I. Aspek Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2009 2013 Komoditas

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP)

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) No. 08/02/15/Th.IV, 1 Februari 2010 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) DESEMBER 2009 NILAI TUKAR PETANI PROVINSI JAMBI SEBESAR 94,82 Pada bulan Desember 2009, NTP Provinsi Jambi untuk masing-masing

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN BADAN PUSAT STATISTIK No.06/02/81/Th.2017, 6 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN GINI RATIO MALUKU PADA SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,344 Pada September 2016,

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No.39/07/Th.XX, 17 Juli 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SULAWESI TENGGARA MARET 2017 MENURUN TERHADAP MARET 2016 GINI RATIO PADA MARET 2017 SEBESAR

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI PROVINSI LAMPUNG NAIK 0,61 PERSEN

NILAI TUKAR PETANI PROVINSI LAMPUNG NAIK 0,61 PERSEN BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI LAMPUNG NILAI TUKAR PETANI PROVINSI LAMPUNG NAIK 0,61 PERSEN Nilai Tukar Petani Subsektor Peternakan Merupakan NTP tertinggi, dengan Angka 116,18 NTP Provinsi Lampung Oktober

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah penduduk adalah salah satu input pembangunan ekonomi. Data

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah penduduk adalah salah satu input pembangunan ekonomi. Data 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Jumlah penduduk adalah salah satu input pembangunan ekonomi. Data jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 sampai 2015 menunjukkan kenaikan setiap tahun. Jumlah penduduk

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.25/MEN/IX/2009 TENTANG PERKEMBANGAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI DAN KESEJAHTERAAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 002/02/63/Th.XIV, 1 Pebruari 2010 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI KALIMANTAN SELATAN *) Pada Desember 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat 104,76

Lebih terperinci

2. Indeks Harga Dibayar Petani (Ib)

2. Indeks Harga Dibayar Petani (Ib) No. 36 / 07 / 94 / Th. X, 03 Juli 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN JUNI 2017 TURUN -0,51 PERSEN Pada Bulan Juni 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Papua mengalami

Lebih terperinci

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019 Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Jakarta, 10 Maret 2015 Universal Access Air Minum dan Sanitasi Target RPJMN 2015-2019 ->

Lebih terperinci

2017, No tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigras

2017, No tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigras No.808, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-DPDTT. UPT. ORTA. Perubahan. PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 21/04/12/Th. XIX, 01 April 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kemiskinan merupakan hal klasik yang belum tuntas terselesaikan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kemiskinan merupakan hal klasik yang belum tuntas terselesaikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan hal klasik yang belum tuntas terselesaikan terutama di Negara berkembang, artinya kemiskinan menjadi masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian

Lebih terperinci

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 1 Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 2014 Komoditas Produksi Pertahun Pertumbuhan Pertahun

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI

Lebih terperinci

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan

Lebih terperinci

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur* Menurut Sub Sektor Bulan September 2017

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur* Menurut Sub Sektor Bulan September 2017 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur* Menurut Sub Sektor Bulan September 2017 NTP September 2017 sebesar 96,17 atau turun 0,46 persen dibanding

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan.

I. PENDAHULUAN. orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemiskinan adalah kondisi dimana ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan. Masalah kemiskinan

Lebih terperinci

RILIS HASIL AWAL PSPK2011

RILIS HASIL AWAL PSPK2011 RILIS HASIL AWAL PSPK2011 Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30

Lebih terperinci

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT

PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT No. 42 / IX / 14 Agustus 2006 PROFIL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH MASYARAKAT Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2005 Dari hasil Susenas 2005, sebanyak 7,7 juta dari 58,8 juta rumahtangga

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 33/06/12/Th. XIX, 01 Juni 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPKP. Pembinaan. Pengawasan. Perubahan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPKP. Pembinaan. Pengawasan. Perubahan. No.1562, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPKP. Pembinaan. Pengawasan. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian merupakan sektor yang penting dalam pembangunan Indonesia, yaitu sebagai dasar pembangunan sektor lainnya. Sejalan dengan itu, sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor utama di negara ini. Sektor tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor utama di negara ini. Sektor tersebut 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertanian merupakan salah satu sektor utama di negara ini. Sektor tersebut memiliki peranan yang cukup penting bila dihubungkan dengan masalah penyerapan

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/9/13/Th. XIX, 1 ember 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA BARAT MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,331 Pada 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BULAN JUNI 2013 SEBESAR 117,68

NILAI TUKAR PETANI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BULAN JUNI 2013 SEBESAR 117,68 No. 33/07/34/TH.XV, 01 Juli 2013 NILAI TUKAR PETANI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BULAN JUNI 2013 SEBESAR 117,68 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Juni 2013, Nilai Tukar Petani

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI BPS PROVINSI LAMPUNG No. 04/12/18/Th. IX, 1 Desember 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NTP Provinsi Lampung November 2015 untuk masing-masing subsektor tercatat sebesar

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018

RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018 RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 30 Mei 2017 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN PERKEBUNAN NO.

Lebih terperinci

U r a i a n. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Pendidikan Nonformal dan Informal

U r a i a n. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Pendidikan Nonformal dan Informal SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI TAHUN

Lebih terperinci

Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan Per Provinsi Tahun 2014 (ribu ha)

Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan Per Provinsi Tahun 2014 (ribu ha) Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan Per Provinsi Tahun 2014 (ribu ha) Kawasan Hutan Total No Penutupan Lahan Hutan Tetap APL HPK Jumlah KSA-KPA HL HPT HP Jumlah Jumlah

Lebih terperinci

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011

TABEL 1 GAMBARAN UMUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) KURUN WAKTU 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2011 TABEL 1 GAMBARAN UMUM No. Provinsi Lembaga Pengelola Pengunjung Judul Buku 1 DKI Jakarta 75 83 7.119 17.178 2 Jawa Barat 1.157 1.281 72.477 160.544 3 Banten 96 88 7.039 14.925 4 Jawa Tengah 927 438 28.529

Lebih terperinci

LAMPIRAN 19. ANGGARAN BADAN LITBANG PERTANIAN MENURUT UNIT KERJA, TAHUN Lan (Rp. JENIS PENGELUARAN Belanja Pegawai Belanja Barang Modal

LAMPIRAN 19. ANGGARAN BADAN LITBANG PERTANIAN MENURUT UNIT KERJA, TAHUN Lan (Rp. JENIS PENGELUARAN Belanja Pegawai Belanja Barang Modal LAMPIRAN 19. ANGGARAN BADAN LITBANG PERTANIAN MENURUT, TAHUN 2010 Lan (Rp. I Sekretariat Badan Litbang 9,326,653 76,024,972 16,263,255 101,614,880 II Puslitbang Tanaman Pangan 28,749,973 23,081,033 23,828,928

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016 No. 11/02/82/Th. XVI, 1 Februari 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016 GINI RATIO DI MALUKU UTARA KEADAAN SEPTEMBER 2016 SEBESAR 0,309 Pada September 2016, tingkat ketimpangan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN NOVEMBER 2016 TURUN -0,90 PERSEN

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN NOVEMBER 2016 TURUN -0,90 PERSEN No. 64 / 12 / 94 / Th. IX, 01 Desember 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI PAPUA BULAN NOVEMBER 2016 TURUN -0,90 PERSEN Pada Bulan November 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Papua

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masalah kompleks yang telah membuat pemerintah memberikan perhatian khusus

I. PENDAHULUAN. masalah kompleks yang telah membuat pemerintah memberikan perhatian khusus 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Kemiskinan merupakan isu sentral yang dihadapi oleh semua negara di dunia termasuk negara sedang berkembang, seperti Indonesia. Kemiskinan menjadi masalah kompleks yang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Helmiati, SH, M.SI

KATA PENGANTAR. Helmiati, SH, M.SI KATA PENGANTAR Buku Data dan Informasi Perkembangan Daerah Tertentu (Daerah Rawan Bencana) ini disusun dengan mengacu pada Undangundang Tentang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, Peraturan Menteri,

Lebih terperinci

Mengikat Mengikat Tak Mengikat Mengikat Tak Mengikat

Mengikat Mengikat Tak Mengikat Mengikat Tak Mengikat I Sekretariat Badan Litbang Pertanian 9,326,653 10,850,949 65,174,023 16,263,255 101,614,880 II Puslitbang Tanaman Pangan 28,749,973 3,760,375 19,320,658 23,828,928 75,659,934 1 Puslitbang 5,659,782 962,600

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPPENAS. Pelimpahan Urusan Pemerintahan. Gubernur. Dekonsetrasi. Perubahan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPPENAS. Pelimpahan Urusan Pemerintahan. Gubernur. Dekonsetrasi. Perubahan. No.526, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPPENAS. Pelimpahan Urusan Pemerintahan. Gubernur. Dekonsetrasi. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JULI 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JULI 2017 No.43/08/36/Th.XI, 1 Agustus 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JULI 2017 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) JULI 2017 SEBESAR 99,60 ATAU TURUN

Lebih terperinci

BPS PROVINSI ACEH PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, INFLASI PEDESAAN DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2013

BPS PROVINSI ACEH PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, INFLASI PEDESAAN DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2013 Pada Februari, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Aceh tercatat sebesar 103,36 turun sebesar 0,08 persen dibandingkan bulan Januari. Hal ini disebabkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami peningkatan

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2014 SEBESAR 102,63

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2014 SEBESAR 102,63 No. 14/03/34/TH.XVI, 3 Maret 2014 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2014 SEBESAR 102,63 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Mulai Desember 2013, penghitungan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN JUNI 2015 SEBESAR 100,36

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN JUNI 2015 SEBESAR 100,36 No. 39/07/34/Th.XVII, 1 Juli 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN JUNI 2015 SEBESAR 100,36 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Juni 2015, NTP Daerah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN DANA DEKONSENTRASI

Lebih terperinci

Indikator Pelayanan Sosial Dasar di Desa

Indikator Pelayanan Sosial Dasar di Desa SASARAN STRATEGIS TAHUN 2019 AGENDA NAWA CITA 3 "PENGENTASAN 5000 DESA TERTINGGAL, MEWUJUDKAN 2000 DESA MANDIR" PermenDesa PDTT No 2 Tahun 2016 INDEKS DESA MEMBANGUN (Sosial, Ekonomi, Ekologi) Indikator

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN KONSUMSI MARET 2017

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN KONSUMSI MARET 2017 No. 41/07/36/Th.XI, 17 Juli 2017 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN KONSUMSI MARET 2017 GINI RATIO PROVINSI BANTEN MARET 2017 MENURUN Pada 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Banten yang diukur

Lebih terperinci

Laporan Keuangan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Semester 1 Tahun 2013

Laporan Keuangan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Semester 1 Tahun 2013 RINGKASAN Berdasarkan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 sebagaimana telah diubah dengan 233/PMK.05/2011

Lebih terperinci

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN BADAN PUSAT STATISTIK BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No.53/09/16 Th. XVIII, 01 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK SUMATERA SELATAN MARET 2016 GINI RATIO SUMSEL PADA MARET 2016 SEBESAR

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2017 No. 103/11/Th. XX, 06 November 2017 BERITA RESMI STATISTIK Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2017 A. KEADAAN KETENAGAKERJAAN Agustus 2017: Tingkat

Lebih terperinci

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN No.54/09/17/I, 1 September 2016 TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK PROVINSI BENGKULU MARET 2016 MULAI MENURUN GINI RATIO PADA MARET 2016 SEBESAR 0,357 Daerah Perkotaan 0,385 dan Perdesaan 0,302 Pada

Lebih terperinci

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Arsip Nasional Re

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Arsip Nasional Re BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 454, 2016 ANRI. Dana. Dekonsentrasi. TA 2016. Pelaksanaan. PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU APRIL 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU APRIL 2015 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI No. 37/05/21/Th. X, 4 Mei PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU APRIL Pada April NTP di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 98,69 mengalami penurunan sebesar

Lebih terperinci

Tabel 1 Nilai Tukar Petani Provinsi Sumatera Utara per Subsektor Maret-April 2012 (2007=100)

Tabel 1 Nilai Tukar Petani Provinsi Sumatera Utara per Subsektor Maret-April 2012 (2007=100) 2013-02-01 BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 29/05/12/Th. XV, 1 Mei 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 11/02/12/Th. XVII, 03 Februari 2014 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA

Lebih terperinci

POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017

POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017 POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017 Kepala Subdirektorat Keuangan Daerah Bappenas Februari 2016 Slide - 1 KONSEP DASAR DAK Slide - 2 DAK Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI 2015 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI No. 24/03/21/Th.X, 2 Maret PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI Pada Februari NTP di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 100,54 mengalami kenaikan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 09/02/12/Th. XIX, 01 Februari 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU SEPTEMBER 2016.

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU SEPTEMBER 2016. BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI No.81/10/21/Th. XI, 3 Oktober 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI KEPULAUAN RIAU SEPTEMBER 2016. Pada September 2016 NTP di Provinsi Kepulauan Riau tercatat 97,02

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI SULAWESI TENGGARA APRIL 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI SULAWESI TENGGARA APRIL 2016 No. 04/05/Th.X, 2 Mei 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI SULAWESI TENGGARA APRIL 2016 Indeks NTP Sulawesi Tenggara pada April 2016 tercatat 98,62 atau mengalami penurunan sebesar 0,69 persen

Lebih terperinci

2017, No telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahu

2017, No telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahu No.740, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Penyelenggaraan Dekonsentrasi. TA 2017. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG PELIMPAHAN

Lebih terperinci

BPS PROVINSI ACEH PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, INFLASI PEDESAAN DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2013

BPS PROVINSI ACEH PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, INFLASI PEDESAAN DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2013 Pada Januari 2013, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Aceh tercatat sebesar 103,44 turun sebesar 0,36 persen dibandingkan bulan Desember 2012. Hal ini disebabkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami

Lebih terperinci

BPS PROVINSI LAMPUNG A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

BPS PROVINSI LAMPUNG A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI BPS PROVINSI LAMPUNG No. 04/10/18/Th. X, 3 Oktober 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NTP Provinsi Lampung September 2016 untuk masing-masing subsektor tercatat sebesar

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar Kata Pengantar KATA PENGANTAR Buku 2 Neraca Satelit Pariwisata Nasional (Nesparnas) ini disusun untuk melengkapi buku 1 Nesparnas, terutama dalam hal penyajian data yang lebih lengkap dan terperinci. Tersedianya

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN MARET 2015 SEBESAR 99,48

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN MARET 2015 SEBESAR 99,48 No. 23/04/34/Th.XVII, 1 April 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN MARET 2015 SEBESAR 99,48 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Maret 2015, NTP Daerah

Lebih terperinci